The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yayasan ananda Nurul hayana, 2024-10-31 04:02:13

Laras

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Keywords: Novel Remaja

242pun sudah enggak mau,” jawab Salsa.“Gue juga benci sama itu anak, Bisa-bisanya dia dekati Deo.” “Untung Galang enggak ikut-ikutan didekati Laras,” ucap Sindi. Mendengar ucapan Sindi, tiba-tiba jantung Salsa berdetak lebih kencang.“Pulang” “Kok pulang? Kan belum selesai jadi detektif,” tanya Sindi.“Iya Sa, kok pulang sih? ““Gue masih ada urusan,” ucap Salsa. Salsa yang merasa tidak enak, dia kepikiran atas ucapan Sindi. Ya, memang benar Sahabatnya itu memang sedari kelas X sudah mulai menyukai Galang. Tapi bagaimana jadinya jika Sindi tahu bahwa Galang adalah selingkuhannya. Apakah masih tetap mau berteman atau tidak? Entahlah ini semakin rumit jika rahasia perselingkuhannya dan Galang selama ini ditutup rapat-rapat akan terkuak. ***


243Maafkan Aku, Laras!“Malam nanti gue yang jemput ya?” ajak Sagara“Jangan,” tolak Laras. “Kenapa?” tanya Sagara“Nanti ada yang lihat, semestinya kamu datang bareng Kak Salsa,” ucap Laras“Bahas itu lagi, kayak enggak ada pembahasan yang lain saja,” ucap Sagara dengan emosi, entah kenapa setiap gadis di depannya ini membahas Salsa tiba-tiba moodnya jadi hilang. “Kenapa sih? Mulut-mulut aku, kenapa Kakak yang sewot coba?” ucap Laras“Terserah,” jawab Sagara kesal.“Ambekan saja tetap ganteng,” usil Laras yang menyentil dagu lelaki itu. Sepertinya sifat pendiam pada lelaki itu sudah mulai berkurang dan diganti dengan sifat usil. “Pergi sendiri nanti malam,” ucap Sagara yang bertolak untuk pergi.


244“Ambekan banget sih itu orang,” ucap Laras yang masih berdiam diri di taman belakang rumahnya. “Enggak terasa sudah tujuh hari saja Papa pergi, Laras kangen banget sama Papa,” ucap Laras yang mengusap air matanya. “Kira-kira Papa lagi apa ya?” tanya Laras sambil menatap langit. ***Jam 19:00Gadis itu sedang sibuk memilih baju untuk dipakai pada acara makan malam bersama kedua keluarga dari sahabatnya. Yang membuat dia kesal saat ini adalah lelaki yang sedang berada di ruang keluarga. Bukan tanpa sebab dia kesal dengan lelaki itu, karena siang tadi lelaki itu menyuruh Laras pergi sendiri, tapi setengah jam yang lalu lelaki itu sudah berada di rumah untuk mengajak pergi bersama. Padahal dia sudah ada janji akan pergi bersama Arin tapi harus dibatalkan karena lelaki itu. Ingin sekali dia mengusirnya tapi dengan baik hatinya Susan, mamanya tercinta mengizinkan Laras pergi dengan lelaki itu bahkan


245dengan santainya mamanya mengizinkan lelaki itu duduk di ruang keluarga. Bunyi ketukan sepatu terdengar. Sagara yang sedari tadi fokus dengan ponsel genggamnya kini beralih pada sumber suara. “Cantik,” guman Sagara terpesona akan kecantikan Laras. “Ayo,” ucap Laras. Sedangkan Sagara masih belum bergerak. Menurutnya malam ini Laras memang benar-benar cantik dengan gaun hitam dan rambut dibiarkan tergerai indah bergelombang. Cukup serasi dengan jas yang dipakainya mungkin orang mengira mereka adalah sepasang kekasih. “Jadi pergi enggak nih?” tanya Laras kesal. “Hem, ayo!” jawab Sagara.“Ya, ayo,” ketus Laras. “Jangan galak-galak kenapa,” ucap Sagara.Setelah sampai di kediaman Amel mereka berdua sama-sama masih terdiam. Tampaknya Laras masih kesal pada Sagara.


246“Gila cocok banget mereka,” ucap Melisa saat melihat pasangan itu masuk. “Cocokan yang ini sih daripada yang ono,” sahut Bibin. “Siapa?” tanya Bahar. Dia sedikit terkejut dengan pemandangan di depannya itu. Bukankah Sagara sudah bertunangan dengan Salsa, lalu ini siapa?“Teman Sagara Bang,” jawab Bibin.“Yakin?” tanya Bahar lagi.“Eh, enggak tahu juga gue Bang,” sahut Bibin kembali. “Lo cantik banget malem ini Ras,” puji Melisa. “Halo Bang,” Sapa Sagara pada Bahar. “Siapa?” tanya BaharKalau pun itu pacar Sagara dia enggak masalah, baginya cukup Sagara bahagia dia juga bahagia. Karena dia tahu betul menderitanya lelaki itu. Dia bukan kepo tapi memastikan agar tidak terjadi permasalahan ke depannya bagi Sagara. Karena Sagara juga sudah dianggap adik sendiri olehnya. “Doakan saja Bang,” ucap Sagara.“Selesaikan dulu masalah lo,” ucap Bahar.


247“Rencananya begitu,” jawab Sagara.Mereka semua terlihat menikmati acara tersebut, tapi seketika pandangan semuanya tertuju pada pintu utama. “Arin! Kak Carles!” panggil Melisa.Kedua orang yang sedang jadi perhatian itu tidak sama sekali menampakkan raut senyum melainkan keduanya samasama salah tingkah. “Lihatnya enggak usah melotot begitu,” ucap Arinpada teman-temannya. “Kok bisa bareng? Janjian ya?” tanya Melisa. “Enggak, Tadi ketemu di depan halaman Amel kok,” jelas Arin sambil melirik Carles.Lirikan mata elang Carles mampu membuat Arin merasa ingin tengelam ke dasar bumi. “Hem...,” gelagat gelisah dari Arin membuat Carles mengakhiri lirikan matanya dan bersikap seperti biasa. “Maaf ya Rin,” ucap Laras dengan raut muka yang bersalah. “Sudah biasa saja,” jawab Arin“Hem,” deheman Carles mengalihkan perhatian


248mereka. “Kenapa Car? Gatal tenggorokan lo?” tanya Bibin yang memperlihatkan wajah tanpa dosa. “Panas... Panas,” ucap Sagara menunjukkan gelagat sindiran yang entah ditunjukkan pada siapa. Mereka menjadi bingung dengan Sagara. “Sudah pakai AC masih saja kepanasan!” sahut Bahar yang sedikit bingung. “Wow... Ini mah bukan lagi panas tapi mau meledak Gar!” ucap Bibin yang sudah mulai mengerti arah pembicaraan ke mana, bahkan saat ini dapat dilihat orang tersebut sedang menahan gejolak amarah. “Cantik benar itu cewek di samping Carles,” ucap Yayan yang baru saja datang sambil membawa segelas minuman. “Ras ikut gue,” ucap Sagara sambil menarik pergelangan tangan Laras dan menjauh dari kerumunan itu. “Melisa si mili kity mending kita cari tempat duduk,” ajak Bibin pada gadis itu. “Eh...kok pada kabur semua?” ucap Yayan bingung. Ada apa dengan dirinya coba? Mengapa pada pergi


249semua?. Carles yang memang sedari tadi sudah menahan amarah pun langsung menggerutu dan langsung pergi dari hadapan mereka, sedangkan Arin hanya terdiam di tempat dia merasa bersalah pada Carles. “Makanya Yan, kalau ikut nimbrung jangan suka bacot duluan,” ucap Arlen yang hanya menyimak dari tadi ikut bicara. “Emang kenapa?” bingung Yayan. “Sudah lo enggak usah merasa bersalah begitu, nanti bisa lo jelaskan maksud perkataan lo yang tadi,” ujar Arlen yang menghiraukan perkataan sahabatnya. Bahkan dia lebih memilih memberi pencerahan pada Arin. “Ayo gue temani cari kursi untuk duduk, enggak capek apa berdiri dari tadi?” ajak Arlen.“Eh iya, Makasih Kak,” ucap Arin yang tidak enak hati.“Lah salah gue di mana coba Har?” tanya Yayan pada Orang yang ada di sampingnya. “Entah,” ucap Bahar yang tidak mau ambil pusing. “Emang cewek tadi siapanya Carles?” tanya Yayan.


250“Sudah enggak usah banyak bacot deh, ribet amat mengurusi hidup orang,” jawab Bahar yang memang tidak tahu apa yang terjadi. “Santuy dong Bos,” ujar Yayan sambil mengikuti Bahar ke kursi yang telah disediakan. “Ini acara apaan sih?” tanya Bibin“Kenapa?” ujar Melisa bingung dengan menoleh ke Bibin. “Katanya acara makan malam. Kenapa jadi kayak pesta nikahan?” ucap Bibin.“Orang kaya mah bebas Kak,” jawab Melisa.“Gimana kalo nikah beneran nanti, bisa-bisa satu Jakarta diundang semua,” ucap Bibin. “Selamat malam semua, malam ini adalah malam perkenalan dua keluarga antara keluarga Bapak Burhan dan keluarga Bapak Somat. semoga kalian menikmati acara ini dan terimakasih,” ucap Mc. “Cantiknya calon bini orang,” sindir Mamat. “Apa?” tanya Amel yang menoleh calon tunangannya. “Enggak usah galak begitu, nanti tambah jelek,” ucap


251Mamat. “Mulut-mulut gue,” ucap Amel bete.“Ya ini gue ulang, cantiknya calon bini gue!” ulang Mamat dengan wajah dibuat sesenyum mungkin. “Tadi katanya milik orang,” sindir Amel. “Enggak seru ambekan lo,” ucap Mamat.“Mel,” sambungnya. “Hem” jawab Amel“Makasih ya sudah mau terima gue, jangan pernah untuk tinggalkan gue ya Mel. Pokoknya biar pun pikiran kita kadang suka enggak sependapat tapi gue mohon jangan pernah bosan ya,” ucap Mamat dengan tulus sambil menatap manik mata Amel. “Gue juga mau bilang makasih ya Mat, maaf kalau gue suka ngegas,” ucap Amel dengan sungguh-sungguh, dia terharu akan ucapan lelaki itu. “Iya,” jawab Mamat.“Hem…hem…,” Ayah dan Bunda Mamat berdehem.“Kenapa Bunda sama Ayah lagi sakit tenggorokan?” tanya Mamat yang menatap kedua orang tuanya sedang Amel


252sudah bersembunyi di balik punggung Mamat, dia sangat malu sekali. “Amel kok malu sih, Bunda malahan senang lo kalian akur begini,” ucap Sinta, Bunda Mamat. “Bunda jangan begitu Amel kan jadi malu,” ucap Amel semakin mengcekram bahu Mamat. “Enggak usah malu begitu, baju gue jadi lecek,” bisik Mamat tepat di telinga Amel. Mendengar bisikan itu membuat Amel melepaskan cekraman tangannya dari baju Mamat dan kembali betedengan sikap lelaki itu. “Mel!” panggil Ayah Mamat.“Iya Ayah,” jawab Amel.“Walaupun kamu akan jadi mantu Ayah, tapi sampai saat ini Ayah akan tetap anggap kamu jadi putri bungsu Ayah,” ucap Somat dengan mata berkaca-kaca. Ya, Amel adalah anak dari sahabatnya semasa kecilnya yaitu anak dari Burhan. Mereka memang sedari dulu sudah berkeinginan jika memiliki anak akan menjodohkan mereka, sewaktu Burhan mempunyai anak pertama dia jadi sedih


253karena belum dikaruniai anak. Tapi tepat Saat istrinya bisa mengandung begitu juga Nisa istri Burhan kembali mengandung dan setelah melahirkan mereka sepakat akan menjodohkan mereka. Maka dari itulah Amel sedari kecil sudah dekat dengan keluarga Mamat begitu pula sebaliknya. “Ayah jangan begitu, kan Amel jadi sedih nih,” ucap Amel. “Plis deh Mel, enggak usah drama,” jahil Mamat, sengaja mencairkan suasana. “Mat!” ujar Ayah Mamat.“Iya Yah, iya bela saja terus, anak ayahkan memang Amel bukan Mamat,” ujar Mamat bete. “Cemburunya kambuh Yah, mending kita samperibesan kita,” ucap Sinta, Bunda Mamat. “Apa?” ucap Amel kesal.“Dramatis,” ucap Mamat yang beranjak pergi menghampiri sahabatnya. “Mat!” tegur Amel saat melihat lelaki itu akan pergi. “Apalagi?” tanya Mamat yang berhentikan langkahnya. “Ikut,” ucap Amel yang memang sudah tahu arah


254perginya Mamat. “Hem, ayo!” ajak Mamat.Suara langkah mereka berdua membuat sahabatsahabatnya mengarahkan pandangan pada calon ratu dan raja itu. “Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau,” Bibin menyanyikan lagu pengantin baru saat melihat pasangan itu. “Aduh senang....ah,” sambungan lagu pun terputus saat pukulan melayang di bahu Bibin. “Sakit!” ujar Bibin yang pura-pura sakit. “Lagi mulut lo kayak enggak dikasih makan,” ucap Mamat. “Lah kenapa lo yang sewot?” tanya Bibin.“Sudah dong Mat!” ucap Amel melerai perdebatan itu. Sebuah pesan masuk ke handphone Sagara.“Jaga jarak ada mata-mata Papa di sini!” pesan dari Deo, saudaranya lain Ibu itu mampu membuat Sagara terdiam seketika. Ya, Deo memang malam ini hadir di acara tersebut


255menemani mamanya yang memang mengenal mama Amel. Sagara mengarahkan pandangannya ke segala penjuru, dia langsung memicingkan matanya saat melihat orang yang tidak asing lagi yang juga sedang menatapnya. “Kurang ajar,” guman Sagara. “Kak kenapa?” tanya Laras dengan menoleh ke arah Sagara. “Enggak usah banyak bertanya,” ucap Sagara dengan intonasi mencekam. “Kak Gara ada apa?” ulang Laras yang berusaha mencoba mencerna ucapan Sagara. Ya sedari tadi dia sedang asyik mengobrol dengan ketiga sahabatnya. “Bukan urusan lo,” bentak Sagara membuat mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan. “Mending lo jauh-jauh dari gue!” Lagi-lagi kalimat menyakitkan keluar dari lelaki itu. “Tenang Bro!” ujar Bahar yang menenangkan Sagara, sedangkan yang lain hanya diam. Mereka bingung dengan perubahan sikap Sagara yang tiba-tiba.


256“Salah aku apa coba?” ucap Laras dengan mata berkacakaca, dia saat ini merasa malu sekali dibentak di depan orang banyak. Mendengar pertanyaan dari gadis itu mampu membuat Sagara menjadi diam seketika, bibirnya kelu seakan terkunci. Ya, memang benar gadis itu tidak ada salah bahkan memang tidak ada sikap yang merugikannya. Tapi ini demi kebaikan gadis itu dia rela melakukan hal yang tidak masuk akal. Kenapa tiba-tiba marah? Bahkan orang yang berada di sana, sahabat-sahabat mereka menjadi bingung. Lagi-lagi bunyi pesan masuk dari telepon genggamnya mengalikan perhatian Sagara. “Gue titip Laras,” bisik Sagara pada Carles yang berada di dekatnya. Dengan tergesa-gesa Sagara keluar dari rumah Amel, pikirannya sedang kalang kabut memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Sedangkan yang lainnya terbengong menatap kepergiannya. “Ras!” panggilan Amel menyadarkan mereka. “Kenapa sih?” tanya mereka bingung.


257“Kak, tunggu,” teriak Laras. Mendengar panggilan Laras membuat Sagara memberhentikan langkahnya. “Bodoh, gue bilang jauh-jauh dari gue mengerti enggak sih!” bentak Sagara. Air mata yang sedari tadi ditahan kini tumpah. Dia sudah tidak bisa menahan lagi. Dia kecewa atas perlakuan Sagara. Melihat Laras menangis membuat Sagara mengalihkan tatapannya ke arah lain. Karena merasa tidak sanggup melihat gadis itu menangis dia memutuskan pergi tanpa pamit. “Maafkan aku Laras,” batin Sagara.***


258“Semesta, jika aku sudah tak dapat lagi menahan perihnya luka, bantu aku untuk rehat dari dunia”


259KecewaSudah 15 menit berlalu setelah kepergian Sagara dengan meninggalkan goresan luka di hatinya. Laras duduk di halaman rumah sahabatnya, dia tidak berniat sama sekali untuk beranjak dari tempat itu. Memori saat Sagara membentaknya masih terbayang jelas. “Gue dari tadi mencari lo,” sapa seseorang.Mendengar ada suara yang menghampirinya dengan cekatan dia langsung menghapus air matanya. “Kak Deo,” ujar Laras berusaha tidak menangis. Lama mereka terdiam seakan bibir keduanya terkunci, saling menikmati hamparan angin yang terasa menusuk kulit mereka. “Enggak usah dimasukan ke hati ucapan Sagara tadi, mungkin dia lagi ada urusan mendadak,” ujar Deo memecahkan keheningan. Dia sangat perihatin pada gadis di depannya ini, terlihat sekali gadis itu sedang kacau dan berusaha menahan tangisan.


260“Lihat Gara, beruntung sekali lo dicintai oleh gadis di depan gue,” batin Deo. “Kali ini bolehkah gue kecewa?” tanya gadis itu pada orang di sampingnya. “Lo berhak kecewa,” ucap Deo yang menatap dalam Laras. Kali ini dia memang sedikit menyalahkan saudara tirinya itu. Tidak sepatutnya membentak seseorang di depan umum, apalagi ini perempuan. “Tapi! Setelah kecewa lo sembuh, gue sarankan minta penjelasan dari Sagara.” Sebuah pesan masuk dari ponsel milik Deo, dengan segera ia membuka isi pesan itu. “Ras, kayaknya gue harus pamit! Nyokap sudah mengajak pulang,” ucap Deo dengan terpaksa. Sebenarnya ingin sekali dia berada di dekat gadis itu. Tapi sepertinya tidak mungkin karena ada masalah yang lebih genting lagi. “Enggak masalahkan gue tinggal?” tanya Deo.“Iya Kak, enggak apa-apa kalau mau pulang,” jawab


261Laras.“Gue pamit, hati-hati pulang nanti,” pesan Deo.Deo ingin beranjak dari tempat itu, tapi langkahnya terhenti dan menoleh kembali ke belakang. “Pesan gue, mending kasih dia pilihan yang terbaik buat hubungan segitiga kalian,” ucap Deo.Setelah menyampaikan pesan tersebut akhirnya Deo benar-benar pergi dari tempat itu. Sebenarnya hatinya juga sakit melihat orang yang dia cintai sedang terluka batin apalagi itu ulah saudaranya. Tubuh Laras menegang seketika, dia sangat kalah telak saat mendengar penuturan Deo. Dipikir-pikir lagi selama ini dia selalu memberi ruang untuk Sagara tanpa disadari ada yang terluka olehnya. Ya, dia adalah Salsa tunangan Sagara. Cairan bening mengalir deras dari pelupuk mata indah gadis itu. “Bodoh!” gerutu Laras dalam hati.“Kamu terlalu bodoh Laras,” ucap gadis itu pada dirinya sendiri sambil menangis. “Dengan mudahnya bisa bertahan di hubungan gila


262ini,” ucap Laras dengan gagap, sesak di relung dadanya tak sebanding dengan luka yang ditorehkan oleh lelaki itu. “Siapa yang bilang lo bodoh?” sebuah suara menjawab ucapan Laras.“Gue!” jawab Laras tanpa menoleh lelaki itu, dari suaranya saja dia sudah mengenali jadi tak perlu untuk melihat ke arah lelaki itu. Lelaki itu menghela napas, mencoba untuk tidak terpancing emosi sehingga tidak menyakiti gadis itu dengan kata-kata kasar. Jika terpancing sedikit sudah dipastikan nyawanya adalah taruhannya. “Ayo gue antar pulang,” ajak Carles, sebenarnya dia enggan ikut campur. Tapi ya mau bagaimana lagi sebelumSagara pamit dia sudah menitipkan pesan padanya. “Aku naik ojek online saja Kak,” tolak Laras. “Dengan keadaan lo begini? Terus pakaian yang macam ingin mengoda kaum Adam?” ucap Carles tanpa perasaan. “Kalo enggak mau gue antar, is oke gue pergi,” ucap Carles yang berlalu pergi. Baru berapa langkah dia sudah mendengar namanya


263dipanggil. “Kak Carles, gue mau,” ucap Laras.“Ya sudah, langsung ke mobil gue,” lanjutnya kembali pergi. “Tapi Arin gimana kak?” tanya Laras yang merasa tidak enak dengan sahabatnya. “Sudah di mobil,” ujar Carles tanpa menoleh sedikit pun. “Syukurlah,” jawab Laras.“Duduk di depan,” ucap Carles saat melihat Laras ingin membuka pintu bagian bekalang. Tunggu apakah dia tidak salah dengar? Bagaimana bisa dia duduk di depan sedangkan Arin duduk di belakang. “Tapi,” ucap Laras yang belum masuk ke dalam mobil tersebut. “Masuk!” tekan Carles yang sudah duduk di bagian pengemudi, tanpa menghiraukan ada hati yang tersakiti. Seakan dia buta dengan orang yang berada di bagian kursi belakang. “Ayo masuk Ras,” ucap Arin yang sedikit membuka


264kaca jendela dan dia berusaha setegar mungkin untuk tidak menangis, dia juga tahu Laras tidak bermaksud merebut posisinya duduk di samping pengemudi. Itu kehendak pemiliknya. Setelah Laras masuk dan mobil pun pergi meninggalkan perkarangan rumah Amel. Di dalam mobil ketiga orang tersebut sama-sama diam dan hanya ada bunyi lantunan suara merdu dari salah satu artis ibukota ternama, iringan demi iringan lagu pun menjadi saksi keadaan hati ketiga orang tersebut sedang kacau. Sebenarnya aku ingin dekatmuNamun ku sadari ku tak bisaTak boleh ku disiniBahaya ku makin cintaKu tak ingin jauhTak ingin berpisahMengapa semua selalu indahSaat denganmu?Sayang untuk diakhiriAndai kau bisa mengerti


265Betapa beratnya akuHarus aku tetap tersenyumPadahal hatiku terlukaAir mata Laras pun jatuh, demi Tuhan hati Laras semakin hancur mendengar lirik demi lirik. Begitu juga Arin menangis seakan lagu tersebut membuat mereka berlomba menangis dengan cara diam. Sedangkan Carles hanya dapat melirik mereka berdua secara bergantian. “Bucin,” guman Carles singkat jelas padat. Adakah arti cinta ini?Bila ku tak jadi denganmuJika memang ku harus pergiYakinlah hatiku kamuBukankah semesta yang pertemukan kita?Haruskah kusampaikan pada bintang?Mengapa bukan kamuYang memiliki aku?Andai kau bisa mengertiBetapa beratnya akuHarus aku tetap tersenyum


266Padahal hatiku terluka“Terimakasih Kak, Arin gue duluan,” ucap Laras setelah mobil itu berhenti di depan gerbang rumahnya dan bertepatan lirik lagu pun berhenti juga. Saat ini Laras sudah berada di tempat ternyamannya yaitu kamarnya, di sinilah dia dengan leluasa menumpahkan tangisnya. “Sakit Tuhan, hati Laras sakit!” keluhnya.“Mungkin jalan yang terbaik adalah melupakannya,” ucap Laras dengan masih menitikan air mata. Saat Laras sedang menikmati sakit yang ditorehkan Sagara. Dengan kobaran emosi di dalam dadanya, dia masuk ke halaman rumah megah berlantai dua milik seorang yang sudah membuatnya bertambah merasa kecewa teramat dalam. Setelah pergi meninggalkan Laras, gadis yang yang telah membuat harinya lebih berwarna, Sagara langsung menuju ke kediaman papa kandungnya. “Papa!” teriak Sagara di depan pintu utama. “Akhirnya kamu menginjakkan kaki ke rumah ini juga, Anakku!” ucap Wira dengan senyum hangat.


267“Ayo masuk!” ajaknya.Tatapan sinis Sagara pun terlihat jelas di mata Wira, tapi dia tidak menghiraukan tatapan tidak suka dari anaknya itu dan menyusul masuk ke dalam rumahnya. “Aku minta sama Papa stop untuk mengusik hidup aku,” tekan Sagara saat melihat Wira masuk. “Kamu bicara apa? Papa kurang mengerti dengan ucapan kamu!” ucap Wira sebisa mungkin untuk tersenyum hangat. “Stop pura-pura enggak tahu! Dan stop untuk meneror Gara Pa, Gara capek,” ucap Sagara.“Tunggu! Teror apa?” tanya Wira, Papa Sagara.“Rupanya Papa lupa ingatan atau emang pura-pura lupa?” cibir Sagara yang sedang mencoba mengontrol emosinya. Bagaimana pun orang yang dihadapannya adalah papa kandungnya sendiri. “Stop teror Gara dengan cara menyakiti orang yang Gara sayang! Apa kurang cukup Papa melihat aku menderita setelah kepergian Mama?”“Tujuh belas tahun Pa,” ucap Sagara yang mengingat


268kejadian-kejadin pahit dalam hidupnya. “Tujuh belas tahun Gara enggak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Gara kecil yang menderita sejak kecil. Rumah dan kehidupan mewah namun tanpa sedikit pun kehangatan kasih sayang dari papa kandungnya. Apa Papa tahu Gara kesepian? Sedangkan Papa malah enak-enakan bercanda gurau dengan keluarga baru Papa,” sambungnya yang menatap papanya dengan luka yang tergores indah di relung hatinya. “Gara enggak minta lebih Pa, cuma minta waktu Papa sehari atau 1 jam saja untuk menemani Gara, agar Gara tahu apa itu kebahagiaan?” “Dari mana kamu tahu kalau Papa tidak sayang kamu? Dari mana?” tanya Wira dengan kilatan amarah menatap anaknya. “Rumah, ekonomi dan pengasuh itu apa? semua fasilitas yang kamu dapat selama ini apa? Kamu kira itu bukan kasih sayang?” ucap Wira dengan nada meninggi. “Buka mata kamu Gara. Papa hanya minta satu, teruskan perjodohan kamu. Dengan begitu orang terdekat kamu tidak


269akan menderita,” ucapnya lagi dengan menatap anaknya itu. “Dan itu sudah cukup membuat Papa merasakan hutang budi darimu sebagai anak,” ucap Wira tanpa perasaan. Sedangkan yang ditatap menunjukkan raut wajah yang berbeda, dia terluka, kecewa dengan ucapan orang di depannya ini. Bukan, bukan itu maunya. Dia meminta kasih sayang sesungguhnya bukan materi yang dia inginkan tapi hangatnya pelukan papanya. “Papa hebat,” dengan senyum sinisnya dia mengatakan itu. “Oke, jika memang selama ini Gara Papa anggap beban. Gara minta Maaf! Mulai besok dan seterusnya Sagara akan cabut dari rumah serta fasilitas yang Papa berikan. Semua Gara kembalikan,” ucap Sagara dengan tatapan sulit diartikan. “Mas,” suara dari lain arah terdengar memasuki rumah mewah itu dengan senyuman hangat wanita itu menatap Sagara. Mau bagaimana pun dia adalah anak dari mantan sahabatnya dan sekaligus suaminya. “Sudah lama di sini Gara?” tanyanya tulus.


270“Pa, kok bicaranya enggak duduk saja, jangan berdiri begitu kayak mau adu jotos,” ucap Maria mencairkan suasana. “Ayo Sayang duduk dulu,” ajak Maria pada Sagara. Tanpa menjawab sepatah kata pun Sagara pergi, dia marah, dia kecewa, dia terluka. Jika boleh memilih dia lebih baik tidak hadir ke dunia jika itu hanya menjadi beban bagi papanya. “Dan perlu Papa sadari bukan aku yang ingin hadir ke dunia ini, tapi Papa sendiri!” ucapnya dari ambang pintu. Setelah mengatakan itu semua dia melanjutkan langkahnya. Dia menatap orang di depannya dengan aura permusuhan. Ya, ada Deo yang sedang berdiri di dekat mobilnya. “Pinggir,” bentak Sagara.“Ucapan Papa jangan lo tanggapi, mungkin Papa lagi banyak pikiran,” ujar Deo. “Bukan urusan gue,” ucap Sagara, lalu langsung masuk mobil meninggalkan kediaman Wiraatmaja, papanya.


271“Maafkan gue,” guman Deo yang menatap kepergian Sagara. Malam semakin larut, jalanan tampak sudah sepi, Sagara sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dengan pikiran yang kalut ia mengemudi mobil tersebut, dia rindu akan sosok mamanya dan dia merasa sudah menjadi lelaki yang sangat egois terhadap Laras. Sekali ia menyeka air mata yang mengalir dari manik mata elangnya. Dengan tanpa sadarnya lelaki itu melewati arus jalan yang sepi, lalu tiba-tiba.... ***


272Lukanya Masih MembekasHari Senin pagi, tampaknya cuaca di Jakarta sedang dirundung hujan, membuat gadis yang sedang menatap awan dari balik jendela kamarnya, enggan berangkat sekolah. “Segitu bencinya kamu, hingga hilang seperti ditelan bumi,” lirih Laras sambil menatap keluar.“Aku yang kecewa, kok kamu yang hilang,” ucap Laras lagi seraya mengusap air matanya. Ya, terakhir dia melihat Sagara seminggu yang lalu bertepatan dengan insiden lelaki itu membentak laras di depan umum. Hingga sekarang dia sudah tidak pernah lagi melihat Sagara. Terhitung satu minggu pula sudah Sagara tidak hadir di sekolah. Bahkan aktivitas lelaki itu seolah ditutup rapat oleh orang terdekatnya. “Ah, kenapa sih memikirkan dia lagi!” ucap Laras dengan nada tidak suka. “Sayang, Mama boleh masuk?” panggil Mama dari luar pintu kamar Laras. “Masuk saja Ma!” jawab Laras yang duduk di pinggir


273kasur. Pintu kamar Laras terbuka, mamanya masuk dan duduk di dekatnya. “Anak Mama, enggak jadi sekolah?” tanya Mama yang duduk di samping Laras. “Bentar lagi menunggu hujan reda Ma,” balas Laras. Lama Mama menatap Laras sedangkan yang ditatap sudah mulai gelisah takut dia ketahuan baru saja menangis. “Kamu habis menangis?” tanya Mama curiga. “Enggak kok,” ujar Laras dengan sebaik mungkin. “Mama kira..., kenapa enggak izin saja hari ini?”“Maunya begitu Ma, tapi hari ini ada ulangan harian,” jawab Laras.“Ya sudah, minta diantar Abang kamu saja,” usul Mama. “Tapi...,” jawab Laras tak selesai.“Sudah enggak usah banyak pikir, nanti Mama yang bilang! Kamu siap-siap sana. Mama ke kamar Bang Daffa dulu,” ucap Susan lalu keluar dari kamar Laras. Saat ini Laras sudah berada di dalam mobil milik


274Daffa, keduanya sama-sama diam. Gadis itu lebih memilih menyaksikan hujan yang turun membasahi bumi dibanding bercanda gurau dengan abangnya. “Kamu sehat?” tanya Daffa memecahkan keheningan di dalam mobil, dia curiga dengan adiknya ini jangan-jangan lagi ada masalah atau ada hal yang lain?Laras menoleh ke abangnya “Memang aku kelihatan sakit begitu?”“Enggak sih, kayak banyak diam saja. Ada masalah?”“Enggak ada Bang,” ucap Laras dengan mencoba tidak panik.Keheningan pun terjadi kembali, kali ini Daffa semakin yakin ada yang disembunyikan adiknya itu, tapi apa? Entahlah biar gadis itu sendiri yang akan bercerita. “Laras pamit ya Bang!” ucap Laras sesampai di sekolah.“Iya, sekolah yang rajin ya,” jawab Daffa saat sudah sampai di depan sekolah Harapan Bangsa. Ulangan sudah dimulai semenjak 20 menit yang lalu, mereka yang berada di kelas hanya fokus pada lembaran soal itu.


275“Yang sudah selesai, boleh tinggalkan kelas!” ujar Bu Mifta guru Biologi. Terhitung 1 jam sudah Laras dan yang lain mengikuti ulangan.“Permisi Bu, Laras selesai” ujar Laras sopan dengan mendatangi meja guru di depan. “Oke, silakan keluar Laras,” ucap Bu Mifta“Baik bu,” jawab Laras.Gadis itu kini sedang duduk di kursi depan kelas dengan menyenderkan tubuhnya, seminggu ini menurutnya hari yang cukup melelahkan. Dia termenung, ucapannya tidak peduli tapi hatinya sangat peduli pada Sagara. Dia takut lelaki itu kenapa-kenapa. “Ras,” seseorang memanggilnya.Posisi duduk gadis itu berubah saat mendengar ada yang memanggilnya, dari suaranya dia sudah tahu. Siapa lagi kalau bukan Carles. “Iya Kak, ada apa?” tanya Laras.“Boleh obrol sebentar enggak?” tanya Carles dengan tampang cueknya.


276“Kalau mengenai Kak Gara, mending enggak usah,” ujar Laras dengan nada tidak biasa, dia tidak mau lagi membahas tentang Sagara. “Kasih waktu 30 menit buat gue jelaskan,” pinta Carles.Laras berpikir sejenak dan akhirnya, “Oke, di taman saja ya Kak,” ucap Laras.Setelah mereka sudah sampai di taman, baik Carles maupun Laras tidak ada membuka suara. “Sagara lagi butuh lo,” ujar Carles yang lebih dahulu membuka suara. “Tapi gue enggak butuh dia lagi,” ucap Laras berbohong, padahal jauh di lubuk hatinya dia rindu akan sosok Sagara. “Gue akui dia sudah buat lo malu, bahkan kecewa atas sikapnya,” sesaat Carles menjeda ucapannya, dia takut salah, “Tapi coba sedikit buka pintu maaf baginya, enggak usah diperbesar begini.”“Mungkin maaf untuk dia sudah ada, tapi luka yang ditorehkannya masih membekas. Kak Carles jangan hakimi Laras kayak begini,” ucap Laras.“Tapi, lo har...,” ucap Carles mengantung.


277“Sudah 30 menit, Laras pamit ke kelas ya Kak!” ujar Laras yang memotong pembicaraan Carles tadi. “Iya,” jawab Carles tidak semangat. Carles menghela napas panjang, entah bagaimana lagi mereka bisa membujuk gadis itu. Sudah berbagai cara tapi jawaban Laras hanya itu-itu saja. “Gimana?” tanya Bibin dan Mamat saat melihat Carles masuk kelas. “Masih sama,” jawab Carles.Mereka sama-sama menghela napas panjang, lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba....“Kita culik sa...,” ucap Mamat dengan tiba-tiba. “Goblok!” ucap Carles dan Bibin berbarengan. Carles dan Bibin keluar dari kelas itu. Bisa-bisa mereka ikut stress jika ikut ide gila Mamat. ***


278Kritis“Belum sadar?” ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan bercat putih itu. “Hem,” helaan napas terdengar dari lawan bicaranya. Sudah terhitung seminggu Sagara terbaring lemah di rumah sakit dengan berbagai alat medis melekat di tubuh kekarnya itu. Ia mengalami kecelakaan tunggal malam itu. Kekecewaannya kepada papanya membuat ia tak dapat mengendalikan emosinya sehingga kecelakaan tak dapat dihindari.Karena kecelakaan tersebut sudah seminggu Sagara dalam keadaan koma, waktu dilarikan ke rumah sakit dia mengalami pendarahan di otak beruntungnya dari salah satu The Tiger memiliki darah yang sama yaitu A+, sehingga ia terselamatkan.“Gue pulang sebentar!” ucap Yayan. “Iya,” ucap Bahar sambil mendekati ranjang Sagara. “Ayo dong Gar bangun!” bisiknya pelan di samping telinga kanan Sagara.


279“Enggak capek apa, tidur melulu,” ucap Bahar yang sudah putus asa melihat orang yang sudah dianggap adik itu terbaring lemah tak berdaya. “Ada masalah apa sih, kok bisa jadi begini? Biasanya lo cerita sama Abang lo ini,” ucap Bahar dengan nada pelan sambil menahan tangisnya, pedih rasanya melihat Sagara terbaring tidak berdaya. “Bangun ya, gue tunggu lo di depan ruangan lo,” ucap Bahar lagi.“Har,” panggil Arlen yang melihat Bahar keluar, dia saat ini sedang duduk di depan pintu ruangan inap Sagara. Bahar menoleh ke arah suara, “Ada apa?”Dia langsung mendekat dan ikut duduk bersama Arlen. “Gue baru dapat kabar dari pihak polisi, mengenai kecelakaan Sagara,” ucap Arlen.Lama Bahar terdiam mendengar info dari sahabatnya itu, “Terus?” tanyanya kemudian.“Pihak keluarga disuruh menghadap ke kantor polisi,” lanjut Arlen.“Nanti biar gue ke sana,” ujar Bahar.


280***“Dok jantung pasien melemah,” ucap salah seorang perawat kepada dokter yang menangani Sagara. Dengan segera dokter memeriksa gerakan dada Sagara, kemudian dokter kembali memeriksa denyut nadi pasien. “Siapkan AED,” ujar Dokter. AED (automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung.Dokter melakukan prosedur sesuai yang diderita pasien, detak jantung Sagara pun belum sama sekali menunjukkan reaksi normal padahal sudah dilakukan tindakan oleh dokter. “Dok, ada apa?” tanya Bahar setelah beberapa menit yang lalu mereka melihat proses pemindahan sahabatnya ke ruang ICU. “Mohon maaf sebelumnya, saya akan mengabarkan kabar buruk pada kalian,” ujar Dokter Harun pada keluarga


281pasien yang berada di dalam ruangannya. Keringat dingin menghampiri Bahar dan Arlen, mendengar penyampaian dokter di depannya ini membuat detak jantungnya berdetak dua kali lipat dari normalnya. “Kabar buruk apa Dok?” tanya Bahar yang mencoba menetralkan jantungnya.“Keadaan jantung pasien kian melemah, besar kemungkinan pasien kembali koma dan kami menyarankan untuk terus berdoa. Supaya keadaan pasien kembali normal,” jelas Dokter Harun dengan nada serius. “Tadi kami sudah melakukan tindakan medis, yaitu alat bantu pernapasan pada pasien. Dan kami sarankan orang terdekat atau keluarganya harus segera diberi tahu, supaya kami dapat melakukan tindak lanjut,” ucap Dokter Harun lagi.Mendengar pembahasan Dokter Harun membuat dunia mereka berhenti seketika, bagaimana nasib sahabat mereka. Sungguh berita ini bukan yang mereka inginkan, mereka pikir dokter akan menyampaikan perkembangan sahabatnya. “Kenapa bisa terjadi Dok? Bukankah seharusnya


282pasien sudah sadar?” tanya Bahar dengan cemas, dia terpukul mendengar penyampaian tersebut. “Har sabar,” ucap Arlen menenangkan sabahatnya itu. “Jadi begini, melihat dari kecelakaan pasien yang parah dan koma sudah seminggu besar kemungkinan mengakibatkan tubuh pasien melemah, itu saja yang dapat saya sampaikan kalau ada perkembangan nanti bakal diberitahu lagi, jangan lupa tetap berdoa,” ujar Dokter Harun dengan hati-hati. Dia sudah biasa menghadapi keluarga pasien seperti Bahar. Dia juga dapat merasakan apa yang ada di benak mereka. Jadi sebagai Dokter dia berusaha sebaik mungkin untuk dapat menenangkan. “Baik Dok, terimakasih dan maaf atas ucapan teman saya ini,” ucap Arlen meminta maaf, sedangkan Bahar hanya diam tidak bersuara karena pikirannya sedang kalut. “Sudah enggak apa-apa, kalau saya berada di posisi teman kamu mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih,” ucap Dokter Harun dengan senyum tulus. Setelah mereka keluar kini mereka berjalan ke arah


283ruang ICU, di perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali dari keduanya, mereka sama-sama memikirkan nasib Sagara. “Har, Len. Apa kata dokter?” tanya Yayan saat melihat mereka berdua ada di hadapannya. Arlen memilih duduk dan menyandarkan bahunya ke dinding dengan tangan meremas rambutnya terlebih dahulu dari pada menyampaikan pesan Dokter Harun, sedangkan Yayan semakin bingung, dia mendengar helaan napas dari Bahar cukup membuat penasarannya. Lama mereka terdiam, Arlen termenung dan Bahar sudah memandangi Sagara dari kaca luar ruangan itu batinnya cukup sakit melihat pemandangan di dalam.“Detak jantung Sagara melemah,” ujar Arlen menjeda sebentar, “Kata Dokter besar kemungkinan Sagara akan kembali koma,” sambungnya. Kemarin sebenarnya Sagara sudah melewati masa keritisnya dan itu sudah cukup membuat mereka lega tapi kecemasan mereka kembali lagi pagi ini saat mendapatkan kabar dari dokter bahwa detak jantung Sagara melemah. “Ya Tuhan,” tubuh Yayan melemah mendengar kabar


284tersebut. Mereka kembali terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. ***


285Tentang SagaraSore harinya Bahar sudah mengumpulkan The Tiger di rumah bersama mereka. Kini dia sedang duduk termenung di sofa ruang tengah, pikirannya sungguh kalut, bukan biaya tapi ini menyangkut hidup dan mati Sagara.Sedari tadi semua anggota The Tiger bingung dengan sikap bosnya yang hanya berdiam diri. Kalau ditegur akan marah, kalau dibiarkan hanya terdiam. Padahal mereka sudah satu jam menunggu Bahar berbicara tapi....“Bang Bahar kenapa sih?” bisik Mamat pada Bibin. “Kerasukan kali,” ucap Bibin pelan. Dengan setengah keberanian Carles menghampiri Bahar, sebab dia sudah tidak tahan lagi untuk bertanya. Bukankah ini jadwal mereka untuk berjaga di rumah sakit? Kenapa harus duduk di sini? “Bang, mohon maaf mengganggu dari tadi kita menunggu Abang berbicara,” ucap Carles sedikit pelan. “Astaghfirullah, maaf gue lupa,” ucap Bahar menatap sekilingnya.


286Dia kembali menghela napas, “Tadi pagi, detak jantung Sagara kembali melemah,” ucapnya kemudian.Dia menjeda sebentar, “Sekarang dia sudah dibawa ke ruang ICU, besar kemungkinan dia kembali koma. Jadi kalian semua gue harap bisa bantu doa buat kesembuhan teman kita,” sambungnya. Raut wajah semuanya menjadi sedih mendengar kabar Sagara kembali koma. Mamat, Bibin, Carles syok dan tubuh mereka lemas mendengar pembicaraan tersebut. “Bin, gue enggak lagi halukan? Coba cubit tangan gue,” ujar Mamat. Dengan segera Bibin mencubit tangan Mamat dengan kuat. “Aduh!” teriak Mamat. “Sakit!” ucap Mamat menatap Bibin. “Tadi disuruh cubit, ini malah marah-marah. Stress lo,” ujar Bibin. “Ternyata ini nyata,” ujar Mamat kembali sedih. “Jadi gue minta sama lo bertiga antar gue ketemu Laras, sebelum ke sana mampir bentar ke rumah bokap Sagara,”


287ucap Bahar.“Bang boleh izin besuk Gara dulu?” tanya Carles yang sedari tadi diam. “Boleh,” jawab Bahar.“Kita gimana Bang? Besuk Sagara atau tetap di sini?” tanya anggota yang lain.“Kalian semua tetap jaga rumah ini biar kita saja ke sana, karena percuma juga kita semua kesana akhirnya kena usir. Memang mau dikira mau tawuran? Kalian bantu doa saja ya,” ucap Bahar. “Sebelumnya mari kita sama-sama memanjatkan doa untuk kesembuhan saudara kita menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa mulai,” pimpin Bahar.“Selesai,” ucap Bahar menutup doa. ***Saat ini, mereka sedang berada di depan ruang ICU dari kejauhan mereka melihat bagaimana Sagara bertahan hidup dengan dibantu alat pernapasan yang menempel di tubuhnya. Tubuh yang dulu kekar kini kian mengurus. “Gar cepat bangun, kita enggak tega lihat lo kaya


288begini,” ucap Mamat dengan lirih. Sedih sekali melihat orang yang selalu tegar itu kini terbaring sakit. “Sedih gue lihat lo begini Gar. Andai waktu bisa diputar gue akan cegah lo pergi,” ucap Carles dengan pandangan lurus ke depan. “Ayo dong Gar bangun ya lawan koma lo jangan menyerah, kita pada kangen muka dingin lo. Bagi gue enggak apa-apa lo cuek asal masih bisa main sama kita,” ucap Bibin sambil mengusap air matanya. “Sudah lega kan hati kalian? Kalau sudah kita pergi sekarang,” ucap Bahar.“Iya Bang,” ucap mereka lesu.“Gue akan bawa bokap lo dan bidadari lo Gar, tapi syaratnya habis ini lo harus bangun ya. Kita pergi dulu,” batin Bahar menatap ke arah Sagara. Setelah dari rumah sakit mereka langsung menuju ke kediaman milik Wiraatmaja, papa Sagara.“Kalian tunggu di sini saja, biar gue yang masuk,” ucap Bahar saat masih di dalam mobil. Mereka sudah berada di halaman rumah papa Sagara.


289“Siap Bos!” ujar mereka. Bahar menekan bel yang ada di pagar depan rumah. Dengan segera orang di dalam rumah membukakan pintu. “Maaf siapa?” tanya Maria saat sudah membukakan pintu tersebut. “Assalamualaikum Tante,” ucap Bahar dengan santun. “Waalaikumsalam, cari siapa ya?” “Saya Bahar mau ketemu Om Wira, apa beliau ada di rumah,” ucap Bahar.“Oh suami saya, barusan saja dia bilang sedang dalam perjalanan pulang, apakah mau menunggu?” ucap Maria.“Iya akan menunggu,” jawab Bahar.“Ya sudah silakan masuk dulu,” ucap Maria.“Makasih Tante, biar saya menunggu di teras saja,”“Ya sudah Tante masuk dulu ya. Mau minum apa?” tanya Maria.“Enggak usah tante, enggak apa-apa soalnya enggak lama juga kok bicaranya,” jawab Bahar.Saat akan masuk ke rumah, Maria mendengar bunyi mobil berhenti di perkarangan rumahnya. Dia sudah hapal


290betul pemilik mobil itu. “Papa, ada tamu,” ucap Maria sambil membawa tas milik Wira. “Assalamualaikum Om,” ucap Bahar.“Waalaikumsalam, ada keperluan apa Anda ke sini?” tanya Wira yang tidak bersahabat. “Pa, enggak boleh begitu. Mending kita bicara di dalam saja, mari Nak Bahar silahkan masuk,” tegur Maria. “Ada apa?” tanya Wira, Saat ini mereka sudah berada di ruang tamu. “Jadi begini Om, sudah seminggu Sagara masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Dan sekarang dia kritis. Tadi pagi detak jantungnya melemah. Karena itu saya harap Om dan Tante bisa meluangkan waktu untuk membesuk,” jelas Bahar.“Mau uangkan untuk biaya administrasi? Jika iya nanti saya transfer. Saya enggak ada waktu untuk besuk,” ucap Wira dengan santai tanpa beban. “Mohon maaf Om tapi saya ke sini bukan untuk minta biaya, tapi saya ke sini ingin memberi tahu bahwa anak Om sedang sekarat di rumah sakit,” ucap Bahar yang sudah mulai


291emosi. “Apa peduli saya sama anak itu, jika dia sekarat itu namanya karma atas dosanya pada kedua orangtuanya. Mau dia mati pun saya tidak peduli,” ucap Wira, papa Sangara. “Om, jaga omongan Om ya, ini anak kandung Om, di mana hati nurani Om sebagai bokapnya,” ucap Bahar tak dapat membendung rasa marahnya.“Jangan kurang ajar kamu,” ucap Wira sambil mengacungkan telunjuk pada Bahar. “Saya datang ke sini dengan cara baik-baik tapi Anda yang nyolot lebih dulu,” ucap Bahar.“Mending pergi sana dan jangan pernah ke sini lagi,” bentak Wira.“Saya juga tidak sudi teralu lama di sini dan ingat Om kesempatan tidak datang dua kali. Jangan menyesal,” ucap Bahar.Setelah mengatakan itu, Bahar keluar rumah dengan penuh dendam dan emosi yang membara. “Orang tua macam apa Wira itu?” celetuk Bahar saat baru masuk dalam mobil.


Click to View FlipBook Version