192Sangara.Mereka saat ini berada di parkiran area pemakaman.“Oke,” jawab Mamat, Bibin dan Carles.“Makasih ya semua,” ucap Laras.“Sama-sama Ras, tetap semangat,” ucap Bibin.“Jangan sedih lagi ya Manis!” ucap Mamat.“Laras pokoknya lo enggak boleh sedih, masih ada kita yang selalu ada buat lo,” ucap Melisa.“Iya Ras, mau peluk?” tanya Amel.“Mau,” jawab Laras.Mereka berempat berpelukan untuk memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu.“Makasih ya,” ucap Laras.“Hem,” jawab ketiga sahabatnya.“Ingin ikutan,” ucap Bibin.“Enggak usah gatal deh!” tegur Carles.“Tahu ni anak!” ucap Mamat yang menepuk bahu Bibin dengan tangan.“Sakit!” teriak Bibin.Carles dan Sagara hanya menggelengkan kepala
193melihat tingkah dua bocah ini.“Kita pulang duluan ya Ras, Jangan sedih lagi,” ucap Carles.“Makasih ya Kak Carles, Kak Bibin, Kak Mamat”“Santai saja Ras,” ucap Bibin.“Hei, mau gue tinggal?” ucap Mamat pada Amel.Teman yang lain sudah pada naik semua sedangkan Amel masih setia di tempat semula.“Gue naik ojek saja!” Amel malas pulang barsama Mamat, pasti nanti akan dikecengin oleh Mama tercintanya.“Ya sudah, lagi di sini juga enggak ada ojek,” ucap Mamat menakuti Amel.“Serius?” tanya Amel.“Hem,” jawab Mamat.“Enggak mungkin, pasti ada,” ucap Amel.“Terserah, gue duluan ya,” ucap Mamat.“Eh tunggu!” panggil Amel.Amel yang memang sudah ketakutan pun langsung ikut duduk di bangku belakang motor Mamat.“Katanya enggak mau,” sindir Mamat.
194“Terpaksa,” ucap Amel.***“Sudah sampai!” ucap Sangara yang memecahkan keheningan, sejak beberapa menit tadi mereka sudah sampai di halaman rumah gadis itu.“Eh, Makasih ya Kak,” ucap Laras yang sedikit terkejut.“Jangan sedih lagi ya Cantik!” ucapnya yang ikut turun dari motor.“Hem,” ucap Laras“Kalau ada apa-apa, Kasih tahu gue ya.” ucap Sagara sambil memandang Laras.“Pokoknya Lo harus ceria enggak boleh sedih,” sambungnya. Laras menangis.“Kok menangis! Tadikan gue bilang enggak boleh sedih, ikhlaskan Om Bagas,” ucap Sagara.“Papa, tempat aku mengadukan segala masalahku!” ucap Laras sambil menangis.“Sekarang mengadunya sama gue!” ucap Sagara yang langsung memeluk Laras.
195 Setelah merasa lebih tenang barulah pelukannya dilepaskan.“Jangan lupa istirahat!” ucap Sagara.“Iya,” jawab Laras.“Gue pulang,” ucap Sagara.“Hati-hati ya,” pesan Laras.Laras memasuki rumahnya dia melihat sekeliling ruang tamu, ruang keluarga, rumah yang selama ini dia tempati bersama keluarga terasa kosong dan hampa.
196“Tolong jangan pernah engkau ambil lagi bagian terpenting dari hidupku Tuhan”
197MemaafkanLaras masih setia berada di ruang keluarga, dia mengamati satu persatu sudut ruang itu. Lama dia terdiam menikmati lamunannya, di sini tempat biasa mereka kumpul, tempat papanya sering menghabiskan waktu bersama.Kini hanya tinggal kenangan, Papa yang selalu menuruti segala kemauannya. Kini telah tidur panjang di dunia berbeda.“Dek,” sapa Daffa.Lamunan Laras buyar, dia mendengar ada yang memanggilnya. Tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa pemilik suara itu.“Abang tahu, kamu masih marah atas apa yang Abang lakukan?” tanya Daffa. “Kamu berhak marah sama Abang, Kamu boleh pukul Abang asal jangan diami Abang kayak ini,” sambungnya. Namun belum ada respon sama sekali dari gadis di depannya.Laras masih tetap tak bergeming sedikit pun, seakan dia tuli dengan perkataan Abangnya. Dia kecewa, dia terluka,
198dia marah mengapa masalah sebesar ini disembunyikan oleh Daffa.“Ras, ayo pukul,” ujar Daffa. “Pukul!” ucapnya menahan air mata. Dia menyesal terlambat memberi kabar kepada adiknya. Wajar adiknya itu kecewa.“Kamu enggak mau bicara sama Abang?” tanya Daffa lagi.“Oke, kalau itu mau kamu, Abang pergi,” ujar Daffa menyerah melihat sikap Laras.Daffa beranjak dari hadapan Laras, dia kecewa terhadap dirinya sendiri. Ini salahnya merahasiakan masalah sebesar itu.“Abang,” ucap Laras dengan suara parau.“Iya,” balas Daffa, dia cukup senang laras mau memanggilnya.“Laras boleh marah? boleh pukul? boleh enggak Laras kecewa?” pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan dari Laras.“Kamu boleh lakukan semuanya,” ucap Daffa.
199Laras menangis“Ayo pukul Abang, biar kamu lega,” ujar Daffa.“Boleh peluk?” tanya Laras“Dengan senang hati,” Daffa mendekati adiknya, dia bahagia karena adiknya masih mau memeluknyanya.“Maafkan Abang ya,” ucap Daffa.“Abang jahat!” ujar Laras di antara tangisnya.Pukulan demi pukulan Laras ajukan tepat di dada Daffa.“Iya, Abang memang jahat tapi maukan maafkan Abang?” tanya Daffa sambil memeluk Laras itu kembali.“Kenapa enggak cerita Bang?” tanya Laras.“Kalau kamu sudah tenang, Abang akan cerita,” jawab Daffa.“Iya, Laras sudah tenang,” ujar Laras.“Maafkan Abang dulu ya,” ucap Daffa.Setelah mendapatkan maaf dari adiknya, Daffa membimbing Laras menuju sofa. Dia cukup senang sebab Laras masih bisa memaafkan walaupun hanya respon anggukan saja. Tak mengapa yang penting sudah dapat maaf.Lama mereka terdiam, Daffa bingung memulai dari
200mana agar tidak membuat kesehatan adiknya drop.“Kamu siap?” tanya Daffa.“Hem,” jawab Laras sambil menganggukkan kepalanya.“Waktu itu Abang lagi di kantor, tiba-tiba ada yang menelepon Abang dan menyampaikan kalau orangtua kita kecelakaan di tol menuju Surabaya. Abang sengaja menutup berita ini dari kamu biar kamu enggak stres. Abang takut kamu sakit,” ucap Daffa.“Abang waktu itu bukan pergi ke Bandung tapi ke Surabaya, menemani Papa Mama. Abang pikir setelah Papa melewati masa kritisnya seminggu, baru Abang beri tahu kamu, tapi perkiraan Abang salah,” ucap Daffa melanjutkan.“Kabar Mama?” tanya Laras.“Mama sudah siuman tapi belum bisa pulang masih harus dirawat. Mama menanyakan kamu terus, dia takut banget kamu tahu. Takut kamu stres padahal kamu mau lomba, makanya Mama bilang jangan kasih tahu Laras,” lanjut Daffa“Laras mau bertemu Mama,” pinta Laras.“Iya, besok kita ke Surabaya. Kamu istirahat ya muka
201kamu sudah pucat banget,” ucap Daffa.“Laras sehat!” ucap Laras menyangkal ucapan abangnya. “Iya, jangan dipikirkan lagi ya. Ikhlaskan Papa biar dia tenang,” ucap Daffa.“Papa enggak kasih pesan terakhir?” tanya Laras.Gelengan kepala dari Daffa menandakan tidak ada informasi lagi.“Istirahat, jangan lupa diminum obatnya,” ucap Daffa.“Hem,” sahut Laras sambil menganggukkan kepalanya.Setelah melihat adiknya pergi barulah Daffa menangis. Dia juga manusia berhak menangis. Bukan cengeng tapi terlalu banyak beban pikiran yang datang. Sedangkan Laras setelah sampai kamar dia kembali memegang perutnya.“Sakit,” guman Laras.Dia benci dengan keadaannya. Kenapa? saat-saat seperti ini penyakitnya kembali kambuh.“Tuhan sakit,” keluhnya sambil mencari Obat yang sering diminumnya.
202Setelah menemukan obat di bawah tempat tidur tersebut dia langsung meminum pil itu.
203Jangan pernah menyerah mencapai cita-citamu, berusahalah terus, belajar dan bangkit menuju suatu kemenangan”
204KemenaganEsok harinya SMA Harapan Bangsa masih melakukan pertandingan terakhir. Ya, tim Sagara masuk ke babak final memperebutkan juara 1.“Ya ampun, Ini muka kamu kenapa? Kok banyak goresan begini,” ucap Salsa yang meneliti wajah Sagara.“Jatuh,” jawab Sagara.“Aku obati ya,” ucap Salsa.“Enggak perlu!” jawab Sagara.“Nanti infeksi Sayang,” pujuk Salsa.“Bisa diam enggak!” bentak Sagara.“Sudah Sal, mending lo cabut deh,” ucap Mamat yang mulai gerah dengan sikap Salsa. Dari dulu Mamat, Bibin, Carles memang sangat tidak suka dengan sikap tunangan sahabatnya itu.“Kok, lo yang nyolot?” protes Salsa pada Mamat.“Mat!” tegur Sagara.“Siap Bos!” ucap Mamat, melihat tatapan tajam dari sahabatnya membuat dia takut.
205“Mending lo pergi deh, gue mau tanding,” ucap Sagara kepada Salsa.“Oh iya, semangat Sayangnya Salsa,” ucap Salsa sebelum pergi dari tempat itu.“Idih najis,” ucap Bibin melihat tingkah Salsa.“Laras apa kabar ya?” tanya Sagara keceplosan.“Eh tunggu, lo lagi mengkhawatirkan keadaan Laras?” tanya Mamat.“Hem,” guman Sagara, karena percuma menutupi pasti bakal ketahuan.“Jadi selama ini lo dekat sama dia?” tanya Bibin.“Iya,” jawab Sagara.“Sudah gue duga!” sahut Carles.“Dia tahu lo sudah ada tunangan?” tanya Bibin.“Awalnya enggak, Tapi sekarang dia sudah tahu,” ucap Sagara yang menghelakan nafasnya.“Terus kenapa? Sekarang semakin dekat?” tanya Carles.“Gue yang memaksa dia untuk enggak menjauh,” jawab Sagara.“Gila,” ucap Carles.
206“Dengan begitu lo biarkan dia untuk sakit hati? begitu maksud lo?” sambung carles.Dia tidak habis pikir dengan jalan pemikiran sahabatnya itu.“Gue enggak bermaksud begitu!” sanggah Sagara.“Tapi gue sudah nyaman sama dia,” ucap Sagara lagi.“Terus itu Salsa mau lo kemanakan?” tanya Mamat.Sagara lebih memilih menghiraukan ucapan Mamat, dibandingkan menjawab.“Lo ambil sono,” sahut Bibin.“Lo saja, gue mending sama Amel,” jawab Mamat.“Lo juga, mau tunangan enggak kabari kita,” ucap Bibin kepada Mamat.“Enggak. Yang ada lo numpang makan gratis,” jawab Mamat bercanda.“Kurang ajar,” sahut Bibin masih bercanda.“Sudah lo bertiga sama saja, enggak ada yang benar,” ucap Carles.Mereka terdiam mendengar ucapan pedas dari Carles. Memang benar ucapan dari lelaki itu. Mereka tidak ada yang
207bercerita satu sama lain. “Setelah tanding basket kita ke Markas ya,” ajak Sagara.“Buat apa?” tanya Mamat.“Kasih makan buaya!” ucap Carles.“Lagian lo kagak ada hp? Sampai enggak baca grup,” tanya Bibin.“Habis kouta,” jawab Mamat.“Sok kaya ternyata...,” sindir Bibin.“Apa? Miskin begitu?” tanya Mamat“Lo yang omong bukan gue,” jawab Bibin.Terdengar suara peluit dari lapangan. Wasit sudah memberi pertanda bahwa pertandingan segera dimulai.Sagara yang sedari tadi memperhatikan layar ponselnya ingin mengabari Laras, tapi dia merasa gengsi. Mendengar peluit berbunyi dengan segera dia meletakkan hpnya ke dalam tas.Makan tuh ngengsi!Sedangkan di gedung belakang sekolah lagi lagi ada yang sedang ribut.
208“Kamukan yang menghalangi rencanaku!” teriak Galang.“Enggak!” ucap Salsa mundur ke belakang yang sedang ketakutan.“Bohong!” teriak Galang lagi.“Bukan aku enggak tahu ya. Kamukan yang sabotase minuman Sagara,” ucap Galang sambil maju mengarah ke Salsa.“Jawab!” bentak Sagara.“Maaf,” ucap Salsa ketakutan dengan Galang.“Ah, sakit Galang!” keluh Salsa saat bahunya dicekram kuat oleh lelaki itu.“Sudah mulai berani?” ucap Galang semakin menekan bahu itu.“Aku takut kamu terluka!” ucap Salsa sambil menangis.“Dia atau aku yang kamu takutkan?” ucapnya mengintimidasi gadis itu.“Kamu,” jawab Salsa.“Bohong!” bentak Galang sambil berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang masih menangis menahan rasa
209sakit dan takut.“Tuhan, aku lelah!” ucap Salsa sambil merosotkan tubuhnya ke lantai.Kembali ke lapangan kali ini pertandingan semakin seru antar dua tim ini. Tim Sagara meraih 15 poin sedangkan tim Cobra mendapat 13 poin.“Sagara go…go...go!” teriak penonton.“Kak Gara semangat!” “Ayo Kak Bibin!” ucap Melisa.“Mat! Awas ya lo kalau kalah!” teriak Amel.“Sudah deh nonton saja enggak usah teriak kuping gue bisa rusak dengarnya!” protes Arin.“Jomlo!” teriak Melisa dan Amel bersamaan.“Kurang ajar!” jawab Arin kesal.“Hahaha,” Melisa dan Arin tertawa melihat Arin yang sedang kesal.Suara peluit kembali terdengar.“Hore!” teriak penonton.“Menang!” heboh Amel.“Yes, sudah gue bilang Sagara memang beda,” ucap
210Melisa.“Yes!” teriak Mamat.“Goodluck semua, kita hebat, bisa mengalahkan mereka,” ucap Sagara.“Yoi Bro,” sambung teman-teman satu timnya.“Tos dulu!” ucap Carles.Mereka bertos ria merayakan kemenangan tim basket. Tidak sia-sia mereka latihan setiap Kamis karena hasilnya memuaskan seperti ini.***
211PertemuanSesuai yang dijanjikan oleh ketua dari geng The Tiger mereka hari ini akan ke markas. Dengan masih menggunakan pakaian kebanggaan tim basket mereka pun berkumpul di sana.Saat mereka telah sampai di sebuah rumah yang jauh dari tempat penduduk, terlihat motor anak The Tiger sudah berjejer dengan rapi di halaman rumah itu.Sedangkan anggota lainnya kini sedang sibuk sendiri, ada yang merokok dan tiduran di bawah pohon jambu, ada yang main game di teras, ada yang menyapu halaman dan lain sebagainya.“Selamat datang Bos,” sapa salah satu dari mereka.“Bang Bahar ada?” tanya Sagara“Barusan keluar sebentar Bos,” jawab salah seorang anggota.“Ke mana?” tanya Sagara lagi.“Wah kagak tahu Bos,” jawab anggota lainnya.Mendengar ucapan tersebut Sagara dan ketiga
212sahabatnya masuk ke dalam rumah tersebut.“Gimana?” tanya Sagara tiba-tiba kepada kepada Arlen yang sedang duduk menikmati kopi panas.“Hampir rampung,” jawab Arlen“Bang lo enggak takut tinggal sendiri di sini?” tanya Mamat.“Kenapa harus takut?” tanya Arlen kembali.“Ya, siapa tahu ada yang niat godai abang begitu,” tanya Mamat lagi.“Godai balik,” jawab Arlen.“Sudah deh Mat, enggak usah omong yang enggak ada faedahnya juga,” ucap Bibin yang baru saja mengambil 4 air mineral di dalam kulkas dan membagikan kepada sahabatsahabatnya.“Eh, hobi benar ya lo cari masalah sama gue,” ucap Mamat sambil menerima minum dari Bibin.“Kembalikan!” ucap Bibin yang ingin mengambil kembali botol itu.“Baper!” ucap Mamat.Mereka yang ada di sana hanya menyaksikan
213perdebatan tersebut.“Bang Bahar ke mana Bang?” tanya Sagara.“Tadi sih pamitnya keluar bentar, ceweknya ngambek.” jawab Arlen.“Bisa bucin juga tuh Bang Bahar,” ucap Bibin.“Iya, gue kira enggak bisa bucin,” ucap Carles yang ikut-ikutan.“Pasti lucu lihat Bang Bahar bucin,” ucap Mamat.“Orangnya dengar baru tahu kalian,” ucap Sagara.“Tahu nih,” sahut Arlen.“Siapa yang bucin?” tanya Bahar yang baru datang.Deg Mereka saling tatap seperti maling yang tertangkap basah.“Siapa bucin?” ulangnya ketika sudah duduk bersama mereka.“Hem,” gagap Mamat.“Itu Bang si Carles bucin,” sahut Bibin.“Eh, iya Bang, Carles kadar buayanya kambuh,” balas Mamat.
214“Enggak usah mengarang, jatuhnya malaikat nanti bingung catat amal kalian,” ucap Carles.“He…mulut,” balas Bibin yang sedikit kesal.“Tahu nih, Carles nanti lo enggak gue kasih makan gratis baru tahu,” ancam Mamat dengan menatap tajam Carles.“Gue orang kaya,” jawab Carles.“Jadi siapa yang bucin?” tanya ulang Bahar.“Bang Bahar, kata mereka Gara enggak ikutan,” ucap Sagara santai sambil menggenggam ponselnya.Tahu bagaimana kabar ketiga sekawan itu? Sekarang mereka pura-pura tuli ada yang membuka buku, angkat telepon dan terakhir berusaha beranjak pergi ke depan ikut gabung dengan yang lain.“Mau ke mana? Ke mana?” teriak Bahar.“Eh anu Bang mau ambil kunci motor,” jawab Mamat.“Balik!” ujar Bahar yang menatap tajam ketiga sekawan itu satu-persatu.Dengan langkah gontai Mamat kembali ke tempat asal.“Kalian bertiga berdiri di depan,” ucap Bang Bahar.
215Dengan deg-degan mereka bertiga berdiri sejajar diri sedangkan Bahar sudah ada di belakang mereka.PlakSandal melayang di bokong Mamat, Carles dan Bibin. “Awas kalau gibahi gue lagi,” ancam Bang Bahar.Sedangkan Sagara dan Arlen yang hanya menyaksikan drama mereka akhirnya pecah juga tawa mereka berdua.“Ampun Bang,” mohon Bibin.“Sakit?” tanya Mamat yang berjalan untuk duduk kembali.“Terimakasih Bang,” ucap Carles.“Car, kumpulin anggota lain,” perintah Bang Bahar.“Siap!” Carles langsung memanggil anggota lainnya.“Yayan ada enggak?” tanya Bang Bahar.“Ada di kamar atas,” ucap Arlen.“Mat, panggil abang lo,” perintah Bang Bahar.“Hem,” jawab Mamat sambil menganggukkan kepalanya.Setelah mereka semua sudah kumpul, maka acara inti siap dilakukan. Mulai dari membahas siapa pelaku yang
216membakar dapur markas dan lainnya.“Sudah ada titik temu belum?” tanya Bahar.“Dari penyelidikan kami selama ini bukan geng Moriam,” jawab salah seorang anggota.“Jadi?” tanya Sagara.“Sepertinya ada campur tangan orang dalam, tapi itu masih perkiraan sih,” ujar Rendi.“Jika itu terbukti siap-siap tinggal nama,” ucap Sagara yang sudah menunjukkan emosi.Deg Mereka yang berada di situ merasa terganggu sebab masalahnya tidak ada yang melakukan penghianatan.“Awas kalau sampai ketahuan!” ancam Bahar sambil mengelilingi anggota lain.“Sudah Har, Gar, kan masih dugaan,” ucap Yayan yang menenangkan ketuanya itu.“Iya belum tentu juga,” sahut Arlen.“Sudah-sudah bahas yang lain,” ucap Carles menenggahi.“Selidiki yang benar Ren!” perintah Yayan.
217“Siap Yan,” jawab Rendi.“Kalian semua ikut selidiki jangan mengandalkan Rendi, Bagas, Andre saja. Ini sudah kelewatan,” ucap Bahar.“Siap Bos!” jawab semua yang hadir.“Iya gue juga bingung sudah hampir seminggu masih belum terungkap, apa gue harus ikut turun tangan juga ya Bang?” tanya Sagara.“Tugas kalian berempat belajar!” ucap Bahar.“Padahal ingin,” ucap Mamat.“Ingin apa?” tanya Arlen.“Jadi detektif,” jawab Mamat.“Gunduli dulu tuh rambut,” sahut Bibin.“Persiapan untuk tanggal 30 sudah sampai mana?” tanya Bahar.Ya, mereka akan mengadakan acara bulanan mereka. Kurang lebih seminggu lagi bulan September akan berakhir.“70% Bang,” jawab Sagara.Ya, kalau urusan bulanan itu akan menjadi urusan Sagara yang mengatur dibantu oleh ketiga sahabatnya.“Bagus,” ucap Bang Bahar lagi.
218“Ada lagi yang mau disampaikan?” tanya Bang Bahar.“Saya Bang,” ucap Mamat.“Silahkan,” ucap Bang Bahar.“Gue mau undang kalian di acara makan malam bareng calon keluarga gue yang baru tanggal 25 nanti, berhubung bokap gue galak jadi mohon maaf hanya yang inti saja menghadiri,” ucap Mamat.“Tapi tenang, makanan tetap akan gue kirim ke markas, sekian terimakasih,” sambungnya.“Good Mamat,” ucap mereka semua yang berada di dalam rumah tersebut.“Asyik dapat 2 kotak dong,” ucap Bibin.“Makan terus yang lo pikir,” ujar Mamat.“Biarlah,” jawab Bibin.“Sudah kalian boleh bubar, terimakasih,” ucap Bahar.Setelah kepergian mereka semua hanya geng inti yang berada di ruangan tersebut.“Har acting lo bagus juga,” ucap Arlen.“Iya keren banget Bang,” sahut Mamat.“Apalagi tuh bos kita yang kedua, makin keluar
219kedinginannya,” sahut Bibin.“Kira-kira dia takut enggak ya?” tanya Yayan.“Menurut gue dia lagi meraton jantung, saking takutnya,” jawab Carles.***
220“Meski badai terus menghampiri kita, percayalah badai tersebut akan terganti dengan hal yang indah”
221Ke SurabayaSesuai janji Daffa hari ini Laras dan Daffa akan pergi ke Surabaya untuk melihat perkembangan kesehatan Mama tercinta. Mereka saat ini sedang melakukan perjalanan menggunakan transportasi pribadi yaitu mobil Daffa.“Capek?” tanya Daffa.“Enggak Bang,” jawab Laras.“Kalau capek bilang ya,” ucap Daffa.Kedua bersaudara itu pun langsung menuju lokasi rumah sakit yang tempat mamanya dirawat.Laras tak banyak bicara dia hanya melihat ke arah jendela memperhatikan suasana jalan raya yang dipenuhi kendaraan.“Ayo turun,” ajak Daffa.“Hem,” jawab Laras sembari turun dari mobil.Laras dan Daffa mulai memasuki rumah sakit itu. Setelah sampai di depan ruangan Mamanya dirawat, Laras berhenti tepat di depan pintu.“Kenapa?” tanya Daffa.
222“Takut,” jawab Laras.“Sudah, Abang yakin Mama enggak bakal marah,” ucap Daffa.Laras membuka pintu, membuat orang yang berada di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara.“Laras,” ucap Susan yang baru saja habis makan siang itu terkejut akan kehadiran anak gadisnya.“Mama,” Laras mendekat ke arah mamanya dengan mata yang memerah menahan tangis.Laras yang merasa sangat merindukan mamanya pun langsung memeluk mamanya sambil menangis.“Sudah Sayang enggak boleh sedih,” ucap Mama.“Maafkan Laras enggak ada saat Mama dan Papa kritis,” ucapnya sambil menangis.“Sudah Mama yang suruh Abang kamu enggak kasih tahu kamu,” ucap Mama.“Papa,” ucap Laras.“Iya, Mama ikhlas kok Papa pergi, kamu juga harus ikhlas ya Sayang, biar Papa tenang,” ucap Susan berusaha menahan tangis.
223“Kalian berdua malaikatnya Daffa,” ucap Daffa sambil mendekati dan memeluk Laras dan mamanya.“Daffa akan berusaha untuk membahagiakan kalian,” ucap Daffa yang sedang menangis.“Kalian berdua sumber kekuatan Mama,” ucap mamanya yang sudah ikut menangis. “Sudah ah nangisnya,” ucap mamanya sambil melepaskan pelukan dari keduanya.“Mama mau apa?” tanya Laras.“Enggak ada Sayang,” jawab mamanya.“Serius?” tanya Laras.“Kamu lelahkan? Tidur dekat Mama sini,” ajak mamanya.“Makasih Ma,” ucap Laras saat berbagi ranjang dengan mamanya.Setelah melihat gadis itu tertidur Susan kembali melihat anak lelakinya yang sedang duduk di sofa.“Bang kamu sudah makan?” tanyanya.“Sudah Ma,” jawab Daffa.Sungguh dia tidak berbohong karena memang tadi
224mereka sempat mampir ke rumah makan.“Ya sudah kamu istirahat juga sana. Kan habis dari perjalanan jauh,” ucap Mama lagi.“Ya Ma,” jawab Daffa.Sungguh saat ini hati Susan sedang tidak baik-baik saja, siapa yang tidak merasakan kehilangan apalagi itu belahan hidupnya. Tapi di depan anak-anaknya dia harus mengorbankan sedikit perasaannya supaya terlihat baik-baik saja.“Pa, yang tenang di sana,” guman Susan sambil menghapus tetesan air matanya.***
225“Saat kita susah kita akan melihat siapa orang yang benar-benar peduli terhadap kita.”
226PulangSetelah 5 hari berada di Surabaya kini keluarga Laras kembali ke Jakarta. Susan, Mama Laras, sudah dikatakan pulih oleh dokter yang menanganinya setelah kecelakaan itu terjadi. “Sudah beres semua Ras?” tanya Daffa yang baru saja masuk ruang rawat itu, dia baru selesai mengurus administrasi mamanya.“Beres Bang,” ucap Laras yang mengacungkan jempolnya, pertanda bahwa sudah selesai.“Ya sudah Abang angkat dulu ke mobil ya,” ucap Daffa.Sedari tadi Susan memperhatikan kedua anaknya. Dia sangat bersyukur masih diberi nyawa kedua. Mungkin ini sudah jalannya untuk tetap stay di dunia menjaga kedua anaknya.“Mas jaga kami dari sana ya,” batin Susan.“Mama,” tegur Laras.“Iya,” jawab Susan sembari buru-buru mengusap air matanya.
227“Mama kenapa menangis?” tanya Laras.“Siapa yang menangis? Mama tadi cuma kelilipan saja,” jawab mamanya berusaha menyembunyikan kesedihannya.“Yakin cuma kelilipan?” tanya Laras yang mendekati Susan.“Hem,” jawab mamanya sambil mengangguk dan tersenyum.“Mama jangan sedih-sedih ya, kalau ada apa-apa cerita sama aku,” ucap Laras sambil memeluk mamanya.Dia bukan tidak tahu mamanya tadi memang sedang menangis, tapi biarlah, mungkin mamanya mau menyimpan kesedihan sendirinya. Dia tidak mau anak-anaknya mengetahui.“Siap,” mereka sama-sama menangis dalam diam, seolah-olah paham dengan keadaan yang tidak mungkin seperti dulu lagi.“Aku bantu naik ke kursi roda ya Ma,” ucap Laras yang lebih dahulu melepaskan pelukan.“Yakin?” tanya mamanya.“Iya yakin,” jawab Laras sambil tersenyum.
228“Mama berat Lo Sayang, mending tunggu Abang saja ya,” kata mamanya.“Laras saja,” ucapnya yang mengambil kursi roda di pojok ruangan.“Ayo Ma,” ajak Laras.Dengan semangat dia memapah Mama ke kursi roda.“Pelan-pelan,” ujar Laras.“Makasih Anak Mama yang Cantik,” puji mamanya saat dia sudah berasa di atas kursi roda.Pintu terbuka, tampak Daffa berdiri di sana.“Eh kok enggak menunggu Abang saja,” ucap Daffa yang melihat mamanya sudah duduk di atas kursi roda.“Laras yang bantu Mama, Bang,” ucap Laras.“Oke! sudah siap?” tanya Daffa.“Siap,” ucap Laras dengan semangat.“Oke, kita pulang sekarang ya,” ajak Daffa.Kini mereka sudah berada di dalam Mobil, siang ini juga mereka akan pulang ke rumah langsung. Mengenai sanak saudara mereka di Surabaya kemarin sudah membesuk, bahkan neneknya menyuruh mamanya
229tinggal di rumah Surabaya. Tapi ditolak oleh mamanya, dia ingin tetap pulang ke Jakarta.“Mama kalau capek duduk bilang ya! Biar ganti posisi jadi tiduran,” ucap Daffa.“Mama juga kalau mau makan bilang sama Laras,” ucap Laras yang tak mau kalah perhatian.“Abang kendarai mobilnya pelan-pelan saja ya,” ucap Susan.Ya, setelah kejadian itu dia langsung trauma dengan jalanan. Apalagi ini jalan menuju Jakarta tempat di mana seminggu yang lalu kecelakaan yang menewaskan suaminya itu terjadi.“Siap Ma,” jawab Daffa.Daffa duduk sendiri di depan yang sedang mengemudikan mobilnya, sedangkan Laras dan mamanya duduk di bangku belakang. Dia mengintip dari kaca depan sambil tersenyum lega, dia cukup bersyukur adiknya mampu tegar di depan mamanya. Padahal berapa hari lalu Laras orang yang pertama kali terpukul atas kepergian papanya.“Mama capek enggak?” tanya Laras.
230“Enggak Sayang,” jawab mamanya.“Mama di rumah sudah ada Arin, Amel dan Melisa menyambut kepulangan Mama,” ucap Laras.“Oh ya!” ucap Susan yang terharu akan kebaikan sahabat anaknya.“Benaran Ma, bahkan ada yang lainnya juga kok,” ucap Laras lagi. Tadi Laras sempat membalas pesan dari sahabatnya itu dan mereka memberi kabar bahwa sudah stay di rumah bersama yang lain. Beruntung di rumah tersebut ada calon kakak ipar Laras.“Bang,” panggil Laras.“Ya,” jawab Daffa.“Kata kak Manda, Abang mau dimasakkan apa?” ujar Laras yang sedang bertukar pesan dengan pacar Abangnya itu.“Bilangi apa saja,” jawab Daffa.“Oke,” jawab Laras.“Calon mantu Mama, sayang banget sama kamu Bang,” ucap Susan yang mendengar pembicaraan mereka tadi.
231“Ah Mama bisa saja deh,” jawab Daffa.“Disegerakan saja Bang,” pinta Mama.“Iya setuju tuh,” komentar Laras.“Iya nanti,” jawab Daffa.Dia sebenarnya sudah mulai kepikiran untuk melamar pujaannya itu, tapi berhubung masih suasana duka ditunda dulu acara lamaran tersebut. Di rumah Laras, sudah ada ketiga sahabat gadis itu dan geng Woktai, Ya geng Woktai sejak di sekolah tadi sudah meneror ingin ikut berkunjung ke rumah Laras. Apalagi Sagara, sejak jam pelajaran pertama sudah meneror Melisa untuk ikut. Ya mau enggak mau harus menyetujui geng woktai tersebut, karena percuma menolak! Sagara orangnya nekat.“Mamat!” Teriakan Amel membuat yang berada di ruangan tersebut terkejut seketika, karena mereka semua sedang asyik dengan dunia sendiri. Ada yang tidur di lantai beralas karpet, main game, stalking media sosial, menonton televisi sambil menikmati cemilan.“Ada apa nih?” tanya Manda yang turun dari lantai dua.
232Manda tadi lagi beristirahat di kamar Laras. Tapi mendengar suara teriakan itu langsung turun melihat kejadian.“Astagfirullah,” ujar Carles kaget, dia sedari main game, mendengar terikan maut membuat dia kalah.TukTutup toples meluncur ke bagian perut Amel.“Aduh,” teriak Amel kesakitan.“Kenapa teriak-teriak? Mau kita semua jantungan!” ucap Arin yang sudah melototkan matanya mengarah Amel.“Tahu nih Amel! Handphone gue jadi jatuhkan,” sahut Melisa sambil mengambil Handphone di atas karpet itu.“Tanya tuh sama Mamat,” tunjuknya mengarah orang di sampingnya.“Kakak apakan Amel?” tanya Arin.Sedangkan Mamat yang sedari tadi hanya diam menanggung malu atas teriakan dari calon tunangannya itu.“Enggak gue apa-apakan juga,” jawab Mamat.“Enggak mau mengaku?” tanya Amel.“Emang aku apakan kamu?” tanya Mamat balik pada Amel.
233 “Lo tadi gigit gue ya!” jawab Amel.“Apaan yang digigit?” tanya Sagara yang baru saja keluar dari dapur.Sedangkan yang di sana sudah menatap Mamat dengan tatapan tajam.“Mat! Kalau mau gigit ya sudah gigit saja tapi plisenggak usah di sini,” nasihat Bibin.“Eh dengar gue dulu! Gue cuma gigit bahunya bukan yang lain,” jelas Mamat.“Lo semua pada negatif,” ujar Mamat.“Lagi lo main gigit anak orang saja,” sahut Bibin.“Ya, dia saja main teriak-teriak enggak jelas,” jawab Mamat membela diri.“Hah! Lo yang gigitnya kencang banget,” ucap Amel galak.“Sudah-sudah bikin heboh saja kalian,” ucap Arin menengahi perdebatan itu.“Bisa galak juga ini cewek,” batin Carles.Carles sedari tadi memperhatikan gadis itu, dia sedikit tidak menyangka Arin bisa emosi yang dia tahu gadis itu
234lemah lembut.“Mat, Mat. Suka benar bikin heboh,” ucap Sagara yang duduk di lantai beralasan karpet.“Kak, maaf atas kegaduhan kita ya,” ujar Arin yang minta maaf kepada Manda.“Iya, enggak apa-apa, Kakak ke atas lagi ya,” jawab Manda.“Bikin malu,” ucap Arin sambil memandang Mamat.“Ya, maaf Rin,” jawab Mamat.“Apa!” bentak Amel pada orang yang di sampingnya itu.“Enggak usah galak,” sahut Mamat.Mereka berdua sedari tadi memang lagi akur makanya bisa duduk berdekatan begitu. Tapi karena Mamat orangnya enggak bisa diam. Dia mulai bosan dengan kesunyian tersebut. Dengan berbagai keusilan dia mengigit bahu gadis yang berada di sampingnya itu.Pukul 2 siang keluarga Laras tiba di rumah. Mereka menempuh perjalanan Surabaya Jakarta selama hampir 8 jam. Beruntung jalanan hari tidak terlalu padat sehingga bisa
235segera tiba di rumah.Mendengar bunyi klakson mobil dari luar membuat orang yang berada di dalam rumah langsung menuju halaman.“Assalamualaikum Ma,” ucap Manda.“Waalaikumsalam Cantik,” jawab Susan, Mama Laras.“Assalamualaikum Tante,” ujar mereka semua.“Waalaikumsalam.”“Ayo masuk Ma,” ucap Manda yang memapah Susan ke dalam rumah.“Biar aku saja Bang,” ucap Sagara saat melihat Daffa akan mengangkat koper.“Makasih ya,” ucap Daffa.“Caper tuh anak,” bisik Bibin pada Carles.“Hem,” jawab Carles sambil menganggukkan kepala.“Jangan iri, nanti aku juga melakukan itu sama Abang kamu,” bisik Mamat pada calon tunangannya.“Apaan sih enggak jelas,” kata Amel.“Makasih ya semua sudah rela menunggu!” ucap Laras tulus.“Ah Ras! Lo kayak sama siapa-siapa saja,” ucap Bibin.
236“Kita mah senang bisa berada di sini Ras,” ucap Amel.“Sudah mengobrolnya dilanjutkan nanti saja, ajak Laras masuk dulu biar dia istirahat,” ujar Arin.Sedari tadi Sagara tidak fokus mendengar pembicaraan Susan, dia lebih memilih menatap objek di depannya, Laras.“Tante apa kabar?” tanya Melisa.“Kabar Tante baik kok, kalian?” jawab Susan.“Alhamdulillah kalau begitu. Kita baik juga , Tante,” sahut Amel dengan semangat.“Arin kabarnya gimana? Kok diam saja,” tanya Susan.“Arin baik kok Tan,” jawab Arin.“Kalian semua satu kelas?” tanya SusanMenatap satu persatu-satu teman anaknya itu, dia melihat mereka semuanya baik.“Eh enggak Tante, Kalo kita berempat beda satu tingkat dari mereka,” jelas Carles.“Oh jadi kalian kakak kelas Laras?”“Iya Tan,” ucap Mamat.“Kok bisa kenal?” tanya Susan.“Kita teman satu ekskul basket Tan!” sahut Sagara yang
237sedari tadi diam.“Oh begitu, titip anak-anak Tante ya,” ucap Susan sambil mengelus rambut Laras.Yang dimaksud anak-anak Tante adalah Laras dan ketiga sahabatnya, karena Susan sudah menganggap mereka seperti anak.“Siap!” sahut Bibin.“Tanpa disuruh kita akan jagai mereka selalu Tan,” ucap Sagara.“Makasih ya,” ucap Susan.Setelah berbincang-bincang pada tuan rumah ketujuh orang tersebut berpamitan pulang. Kini mereka sedang berada di teras rumah milik laras. Mereka sudah terlebih dahulu pamitan pada mama Laras, makanya hanya Laras yang mengantar mereka ke depan.“Kita pamit pulang ya Ras,” ucap Arin.“Iya makasih ya semua,” jawab Laras.“Sama-sama Ras, tetap semangat ya,” ucap Carles.“Gue pamit pulang ya!” ucap Sagara.“Iya hati-hati, makasih juga sudah mau besuk Mama,”
238ucap Laras.Sagara melangkah mendekati gadis tersebut.“Harus dong, calon mama mertua,” bisik Sagara tepat di telinga gadis itu.Sedangkan Laras hanya terdiam mendengar ucapan lelaki di hadapannya itu, bulu kuduknya merinding seketika.“Hem!” Sindiran dari teman-temannya membuat Sagara mundur dari hadapan gadis itu.“Pada iri,” ucap Sagara.“Lagi kasmaran ya,” ucap Bibin.“Sudah-sudah, kita pulang ya Ras,” ucap Carles.“Iya Kak, makasih,” jawab Laras.Setelah merasa semua sudah benar-benar pergi, dia masuk ke dalam rumah. Tak lupa mengunci pintu pagar.***
239Sebuah RahasiaHari demi hari kini sudah dilalui Laras, sudah tujuh hari kepergian papanya tercinta. Kini sekarang mereka sedang berada di sebuah panti asuhan untuk melakukan acara yasinan bersama anak yatim guna mengenang kepergian Papa. Terlihat sekali Mama, Daffa dan Laras sedang khusyuk dalam memanjatkan doa. Begitu juga dengan ketiga sahabat Laras dan geng Woktai. Geng Woktai memang sekarang sudah semakin dekat dengan Laras, Amel, Arin dan Melisa. Bahkan di sekolah pun mereka sudah sering sekali berkumpul. “Semoga amal ibadah Bapak Bagas diterima di sisi Allah SWT, dilapangkan kuburnya,” ucap Ustad yang memimpin doa. “Amin,” ucap seluruh yang hadir. Setelah acara doa selesai, Laras, Mama dan Daffa sedikit memberikan rezeki pada anak yatim tersebut dan sekaligus salam perpisahan pada mereka semua karena acara sudah selesai.
240“Kalian jangan pulang dulu ya, ke rumah Tante dulu,” ucap Susan.“Siap Tante,” ucap mereka. Mereka beriringan menuju rumah Laras, Mobil keluarga Laras di depan dan keempat anggota geng Woktai mengikuti dari belakang berpasang-pasangan dengan sahabat-sahabat Laras. Cuma Sagara yang sendiri. “Mel pegangan yang kuat dong,” ucap Mamat.“Ini sudah pegangan Mat, buta lo ya,” jawab Amel.“Bukan begitu, Nanti lo jatuhkan jadi berabe, bisa-bisa acara malam ini jadi batal,” ucap Mamat.“Biarkan,” jawab Amel.“Kebiasaan,” gerutu Mamat.“Apa? Enggak kedengaran lo omong apa sih?” tanya Amel dengan suara yang sedikit lebih keras, sebab dia tidak mendengar omongan Mamat. Karena bunyi suara motor yang bersahutan. Pasangan Carles dan Arin, sejak sedari tadi mereka hanya diam kalau pun bicara itu hanya seperlunya saja. “Rin, kalau gue bawa motornya ugal-ugalan, lo tegur
241gue ya,” ucap Carles yang memecah keheningan. “Apa Kak? Enggak kedengaran?” tanya Arin sambil sedikit memajukan posisinya. “Itu kalau gue bawa motornya ugal-ugalan, enggak apaapa lo tegur gue,” ucap Carles dengan suara sedikit berteriak. “Oh iya Kak,” ucap Arin canggung. Mereka kembali diam sepertinya sedang menikmati kegugupan masing-masing. “Enggak menyangka gue bisa dibonceng oleh Kak Carles,” batin Arin. “Kenapa sih dengan gue?” batin Carles. Rombongan laras tidak menyadari bahwa sedari tadi ada yang mengintai mereka. Sebuah mobil Avanza hitam mengikuti mereka sejak keluar dari panti asuhan. Dengan emosi orang tersebut membanting barang yang ada di dalam mobil tersebut. “Kurang ajar,” gerutu Salsa.“Lo kenapa sih?” “Gue jadi semakin benci sama Laras, gara-gara dia Sagara sudah jarang ketemu gue. Bahkan untuk balas pesan