The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yayasan ananda Nurul hayana, 2024-10-31 04:02:13

Laras

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Keywords: Novel Remaja

292“Gimana Bos?” tanya Bibin. “Percuma sudah terkunci hatinya,” jawab Bahar.“Gila bokap Sagara,” celetuk Mamat. “Sudah gue bilang percuma ke sini, enggak bakal dapat hasil,” sahut Carles. “Sudah jalan!” perintah Bahar.Kini mereka telah sampai di depan pagar rumah Laras. Lama mereka memantau rumah itu tapi sepertinya tidak ada penghuninya. Sepi! “Itu Laras,” tunjuk Mamat. “Kok bisa bareng Deo,” ucap Bibin. Mereka berempat turun dari mobil dan menghampiri Laras. Setelah di hadapan Laras dan Deo, mereka menatap tajam Deo. “Kalian,” ucap Laras terkejut, dia merasa seperti kepergok selingkuh. “Lo tega Ras,” ucap Bibin menatap Laras dan Deo dengan sinis. “Kita ke sini cuma mau kasih kabar ke lo, tapi percuma lo juga kelihatannya bahagia banget. Sudah dapat gebetan


293baru, gatal,” sindir Carles. Mendengar ucapan pedas Carles membuat Laras sakit, seolah-olah dia wanita murahan. Laras hanya diam menahan emosi. “Mulut lo dijaga ya,” ucap Deo emosi, dia tidak terima atas ucapan Carles. “Kalau kalian mau mojokkan aku dengan kata-kata pedas, kalian mending pergi dari sini,” usir Laras. “Kita enggak mau ribut, kita cuma mau kasih kabar buruk ke lo,” ucap Bahar. “Kabar apa?” tanya Laras menatap Bahar. “Sagara,” ucap Bahar.“Oh dia lagi, sudah aku bilang waktu itu percuma bahas dia. Aku enggak akan peduli sama sekali,” ucap Laras.Lagi-lagi dia berbohong, dia peduli tapi dia kecewa kenapa Sagara tidak pernah muncul untuk menjelaskan, kenapa malah para sahabatnya. Sedangkan Deo hanya diam, dia memikirkan ada apa dengan saudara itu. Ingin dia bertanya tapi percuma tidak bakal dijawab mending dia diam dan mendengarkan.


294“Lo sudah keterlaluan Ras, buka mata lo jangan jadi wanita sok tersakiti tanpa tahu apa yang terjadi,” jeda Bahar untuk mengontrol emosinya, “Lo harus tahu saat ini Sagara sedang melawan sakitnya, ia antara hidup dan mati,” ucap Bahar melanjutkan.Tubuh Laras menegang seketika, rasa khawatir menyeruap dari dasar hatinya. “Maksud Kakak apa?” tanya Laras harap-harap cemas. “Sagara kecelakaan, sudah seminggu dia koma. Sekarang dia kritis detak jantungnya melemah,” potong Mamat yang sudah emosi dengan gadis itu. Tubuh Laras lemas seketika mendengarkan kabar tersebut, masih teringat jelas saat seminggu lalu dia dibentak oleh Sagara dan setelah itu tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Sagara. “Kenapa tidak lapor Papa?” tanya Deo, dia juga syok mendengar kabar tersebut. “Percuma basi,” ucap Carles sinis. “Boleh gue besuk Sagara?” ucap Deo yang mengalihkan pembicaraan, kali ini papanya sudah kelewatan.


295“Terserah,” jawab Bibin singkat.“Sudah Bos mending pulang percuma berhadapan dengan orang egois begini,” ucap Carles sengaja berbicara begitu biar Laras sadar. “Iya benar aku egois, jadi mending kalian pergi saja. Enggak bakal berpengaruh juga,” ucap Laras menahan untuk tidak menangis. “Kita pulang kalau begitu, makasih atas waktunya,” ucap Bahar. Biar semua tidak peduli terhadap Sagara setidaknya ada sahabat Sagara yang masih peduli. Soal biaya dia tidak memikirkan itu dia bisa membayarnya. Mereka pergi dari hadapan Laras dan Deo, namun belum sempat mereka masuk mobil sudah ada yang memanggil Bahar dengan serentak mereka menghentikan gerak langkah kaki mereka.


296BesukSesuai janjinya hari ini setelah pulang sekolah gadis itu akan pergi ke rumah sakit. Seperti biasanya kali ini pun dia tidak banyak bicara. Dia lebih memilih banyak diam dengan orang yang membawanya ini. Ya, dia dibonceng oleh Carles. “Kak boleh bertanya?” ucap Laras pada Carles, mereka saat ini sudah berada di parkiran rumah sakit. “Hem,” jawab Carles.Laras ragu-ragu untuk bertanya, apakah ini waktu yang tepat atau tidak. Sebab dia sangat penasaran apa yang dilihat waktu jam pelajaran tadi. Dengan keberanian dia berucap. “Kak Gara masih tunangannya Kak Salsa?” tanya Laras.“Kenapa?” Carles balik bertanya.“Enggak apa-apa Kak bertanya doang,” ujar Laras sedikit bohong. Biarlah dia saja yang akan mencari tahu sendirinya baru setelah itu dia akan membongkar kebenarannya. “Serius?” tanya Carles sedikit curiga.


297“Serius,” jawab Laras.“Yang gue dengar katanya memang Sagara berniat untuk menyudahi pertunangan dengan Salsa tapi belum tahu kapan,” jelas Carles. “Sudahkan? Kalau sudah, ayo masuk,” ajak Carles.“Eh, iya Kak,” jawab Laras.Perasaan Laras saat ini sedang tidak karuan, sepanjang perjalanan jantungnya berdetak dua kali lipat dari normalnya. Dia memikirkan bagaimana kondisi Sagara saat ini. “Kak,” seru Laras pada Carles. “Jangan takut, enggak akan terjadi apa-apa kok,” jawab Carles.Kini mereka telah sampai di depan pintu ruang inap Sagara. “Berhubung lo sudah datang, gue permisi sebentar mau ke kantin,” ucap Bahar, dia sengaja memberi ruang buat Laras untuk berbicara lebih leluasa dengan Sagara. “Yang lain belum pada datang Bang?” tanya Carles.“Belum,” jawab Bahar yang segera pergi dari sana. “Mau masuk atau di luar lihat dari kaca?” tanya Carles


298pada Laras. Dapat dilihat dari gerak-gerik tubuh gadis itu sedang tidak baik-baik saja. “Boleh masuk?” tanya Laras.“Hem, boleh,” jawab Carles.Setelah melakukan prosedur untuk steril dengan keberanian Laras masuk ruangan putih dengan berbagai alatalat medis. Tubuhnya kini bergetar melihat keadaan Sagara yang terbaring lemah tak berdaya. “Assalamualaikum,” ucap Laras.“Apa kabar Kak, maaf baru bisa datang, butuh waktu untuk bisa mengobati rasa luka yang Kakak torehkan menjadi maaf,” ujar Laras yang menangis dalam diam sambil memegang wajah Sagara. “Kakak enggak usah khawatir aku sudah maafkan Kakak kok, tapi rasa kecewa itu masih ada, jadi ayo bangun bantu aku untuk menghilangkan rasa kecewa itu,” jeda Laras sebentar, “Nanti kalau Kakak bangun Laras janji akan masakan Kakak makanan yang enak, kan waktu itu Kakak mau coba masakan aku,” ucap Laras.


299Lama Laras terdiam menikmati wajah indah Sagara. Pedih, sakit bahkan kecewa pada dirinya sendiri kenapa membiarkan lelaki itu berjuang sendiri dengan keadaan kritis begini. “Bangun ya Kakak Ganteng, nanti aku bakal kasih tahu apa yang aku lihat dalam seminggu terakhir saat Kakak enggak ada di sekolah,” ujar Laras. “Laras pamit pulang dulu ya Kak, besok Laras besuk Kakak lagi. Cepat bangun,” ucapnya mencium kening Sagara. Semua yang di sana seketika menatap pintu yang terbuka, mereka menatap Laras dengan perihatin. Terlihat jelas bekas air mata di wajahnya.“Sudah mau pulang?” tanya Carles yang sedari tadi menunggu gadis itu di depan ruangan bersama yang lainnya. “Iya Kak,” ucap Laras berusaha tenang. “Gue antar Laras pulang,” pamit Carles pada temantemannya. “Iya hati-hati Ras, nanti dibawa ke kandang buaya,” ujar Mamat.


300“Stres,” sahut Carles sambil pergi dari hadapan mereka. “Semuanya, aku pamit pulang ya,” ucap Laras. “Iya hati-hati Ras,” ucap Bibin. ***Carles dan Laras baru saja sampai di depan halaman rumah Laras. “Makasih ya Kak,” ucap Laras.“Ya,” jawab Carles.Bunyi panggilan masuk dari handphone Carles. “Iya,” jawab Carles pada lawan bicaranya di telepon.“Alhamdulillah,” jawabnya lagi. Raut wajahnya bahagia. “Oke, gue segera ke sana,” dengan segera dia mematikan panggilan telepon. “Kenapa Kak?” tanya Laras, dia sedikit kepo mengapa Carles terlihat senang. “Baru dapat kabar, katanya detak jantung Sagara kembali normal, InsyaAllah malam nanti sudah siuman,” ucap Carles dengan bahagia. “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah,” ucap Laras


301“Ya sudah gue pulang ya,” ucap Carles.“Iya, nanti kabari ya Kak, kalau Kak Gara sudah bangun,” pinta Laras.“Hem, iya,” jawab Carles.


302WiraatmajaDi sebuah rumah mewah dan megah tampak penghuninya sedang tidak baik-baik saja. “Kalian mau ke mana?” tanya wira pada istri dan anaknya. “Kita mau besuk Sagara Pa,” ucap Maria dengan keberanian, sebab sudah berapa kali dia membujuk suaminya untuk berkunjung ke rumah sakit tapi tidak mau. “Sudah Papa bilang enggak usah ke sana, apa Mama tuli hah?” bentak Wira. “Pa, bisa enggak sehari saja enggak kasar sama Mama?” ucap Deo yang sedari tadi menyaksikan pertikaian di depannya ini. “Diam kamu!” bentak Wira. “Anak sama ibu sama saja tidak tahu diuntung,” ucap Wira.“Aku heran dengan Papa, kenapa sih kalo bahas Sagara, Papa selalu emosi dan marah-marah padahal itu juga darah daging Papa,” ujar Deo dengan mencoba menahan emosinya,


303dia menjeda sebentar, “Papa harusnya sadar sudah berapa kali Papa buat Gara menderita. Sudah berapa kali Pa?” tanya Deo dengan amarah. “Anak kecil enggak usah sok menasehati Papa, belajar saja yang benar,” bentak Wira. “Ayo Ma, percuma meladeni Papa yang sudah tertutup dendam,” ajak Deo pada Mamanya. “Tapi...,” jawab Mama Deo ragu.“Ma,” tekan Deo menatap Mamanya. Saat mereka baru membuka pintu utama suara terikan Wira mengema di penjuru ruangan itu, “Berani keluar dari rumah ini, siap-siap angkat kaki dari rumah ini.”“Oh Papa mau mengusir kita, iya? Ingat Pa jabatan dan kekayaan Papa tidak menjamin Papa bahagia di hari tua,” ucap Deo. “Kenapa sih Papa enggak sadar-sadar. Pa Sagara sedang sakit dia butuh dukungan dari keluarga kita,” ucap Deo dengan nada lembut. “Tapi dia bukan lagi bagian keluarga kita, dia sendiri yang tidak mau diurus. Ingat itu!” ucap Papa.


304“Terserah Papa, tapi jika terjadi sesuatu dengan Sagara, Papa jangan menyesal karena percuma saja jika saat itu dia sudah mati,” ucap Deo“Deo!” teriak Maria yang sedari tadi diam menyaksikan suami dan anaknya bertengkar.“Mama jadi ikut atau tidak?” tanya Deo. “Mama titip salam buat Sagara saja ya Sayang,” ucap Maria. Ya, dia lebih baik mengalah dari pada membuat peperangan. “Hem,” ucap Deo, “Assalamualaikum Ma.”“Waalaikumsalam,” jawab Maria.Kini Deo sedang menyusuri jalanan di sore hari, sendiri, namun tiba-tiba di lampu merah dia melihat sosok seorang yang sudah dikenalnya pergi berdua. Dia bergegas mengeluarkan handphone di saku celananya dan merekam kejadian di depannya itu.


305SiumanMalam harinya inti dari The Tiger sedang menunggu di depan ruangan ICU mereka sedang menunggu kabar dari dokter yang merawat Sagara. Tadi sore tepatnya setelah Laras pulang, tiba-tiba detak jantung Sagara kembali normal. Itulah yang membuat mereka bahagia serta harap-harap cemas. Kenapa pintu di depan mereka tidak terbuka-buka sedari tadi. “Lama banget sih,” ucap Arlen tidak sabar. “Tahu jantung gue kayak mau lompat saking cemasnya,” ucap Bibin. “Diam dulu bisa enggak sih?” ucap Carles. “Memang hati lo ...,” ucapan Bibin terjeda saat melihat pintu ruangan ICU terbuka dengan segera dia ikut beranjak seperti teman-temannya. “Gimana Dok?” tanya Bahar tidak sabar. “Alhamdulillah, sungguh luar biasa pasien mampu melewati masa kritisnya lebih cepat, itu berkat doa kalian semua. Keadaan pasien sudah benar-benar stabil dan mungkin malam ini juga sudah bisa dibawa ke ruangan rawat inap


306pasien,” ucap Dokter Harun dengan senyum bahagia. “Alhamdulillah,” ucap semua yang hadir di sana.“Terimakasih ya Allah,” ucap Bahar.“Terimakasih banyak Dokter Harun sudah mau membantu sahabat kami,” ucap Bahar dengan tulus, kelopak matanya sudah berkaca-kaca sungguh dia sudah tidak sabar lagi melihat lelaki itu bangun dari tidurnya. “Iya sama-sama, tapi,” ucap Dokter Harun terputus.Mereka semua yang ada di sana kembali dibuat penasaran entah kabar apa yang akan disampaikan, mereka semua sudah dibuat gugup. “Tapi apa Dok?” tanya Bahar“Mengingat pasien hampir sudah seminggu terbaring koma, besar kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan sementara,” ucap Dokter Harun.Semua yang berada di sana tertunduk lesu dan terdiam mendengar ucapan Dokter Harun. “Tapi masih bisa sembuhkan Dok?” tanya Bahar.“Bisa, tapi harus rutin untuk terapi,” jawab Dokter Harun.


307“Baik Dok, terimakasih,” ucap Bahar dan temantemannya.Setelah sedikit berbincang dengan Dokter Harun, kini mereka telah berada di ruangan nuansa putih. Ya, berapa jam yang lalu Sagara sudah dipindahkan lagi ke ruang rawat inap.Deo sedari tadi memperhatikan The Tiger bukan untuk berniat jahat. Namun dia sangat bersyukur Sagara berada di lingkungan yang peduli terhadapnya. “Bang, kayaknya Deo harus pulang soalnya nyokap dari tadi sudah menyuruh pulang,” ucap Deo pada Bahar. “Dasar anak Mama,” ucap Mamat sinis. “Mat!” tegur Bahar. “Sudah Deo, lo enggak usah ambil hati perkataan Mamat,” ucap Carles. “Lo kalau mau pulang enggak apa-apa, hati-hati di jalan,” ucap Bahar. “Iya Bang, semua gue permisi titip Sagara,” ucap Deo.“Iya, hati-hati,” ucap Carles sedangkan yang lain hanya memberikan cap jempol mereka. “Sok-sokan peduli, bosan gue lihatnya,” ujar Mamat


308saat Deo sudah tak ada di sana. “Tahu sakit mata gue lihatnya,” ujar yang lain.“Yang penting dia sudah ada niat baik untuk datang ke sini,” ucap Yayan. “Tangan Gara bergerak,” dengan girangnya Arlen berucap sampai lupa ini adalah rumah sakit. “Enggak usah teriak-teriak kenapa Bang,” ucap Bibin mewakili yang lainnya, mereka juga bahagia tapi tidak perlu teriak-teriak seperti itu. Mereka bertujuh kini sedang menatap ke arah Sagara dengan melingkar dan Sagara berada di tengah-tengah mereka. “1,2,3,” Mamat menghitung dalam hati. “Yaelah, enggak mempan,” lagi-lagi Mamat berguman. “Alhamdulillah,” mereka semua mengucap syukur saat melihat Sagara sedikit demi sedikit membuka matanya. “Kalian semua siapa?” tanya Sagara yang bingung melihat ketujuh sahabatnya itu. “Jangan mengada-ada deh Gar,” ucap Bibin mencoba sabar.


309“Enggak lucu ya Gar,” Mamat juga ikut-ikutan buka suara. “Lo enggak ingat kita sama sekali Gar?” tanya Bahar. “Gue Arlen, Gar,” ucap Arlen.“Bang Yayan, Ya...yan...,” ucap Yayan menyebut namanya. “Maaf gue enggak ingat sama sekali,” ucap Sagara.“Serius Gar?” tanya Bahar.“Pacar gue mana?” tanya Sagara.“Ni anak, bukannya pas bangun cari kita, malahan cari orang lain. Kita sudah rela enggak tidur buat jaga dia,” ucap Mamat yang emosi. Dia sebenarnya tidak marah tapi hanya tidak bisa mengekspresikan wajahnya yang sedih. “Lo enggak ikhlas?” tanya Sagara dengan tatapan tajam. “Ikhlas Bos, ikhlas lahir batin,” jawab Mamat.“Gue tanya ulang, lo memang enggak ingat kita atau ...?” tanya Bahar.“Tadi bercanda,” ucap Sagara dengan santai.


310“Benar-benar ya lo, enggak sehat, enggak sakit, samasama bikin orang Stres,” ucap Carles. “Gue enggak jadi sedih Gar, kalau lo enggak sakit sudah gue celupkan ke mesin cuci,” gemas Mamat pada Sagara hobinya bikin jantungan melulu. “Sudah-sudah, dia belum sembuh total jadi biar dia istirahat dulu,” ucap Arlen. Sedangkan Sagara tersenyum bahagia melihat para sahabatnya kesal pada dia. Dengan berhati-hati dia mulai mencoba untuk duduk tapi....“Bang, kaki gue kenapa?” tanya Sagara yang bingung kenapa kakinya tidak bisa digerakkan. Semua yang berada di sana terdiam tidak mau membuka suara, mereka bingung mau menyampaikan dari mana. mereka merasa kasihan dengan Sagara. “Kenapa diam, kaki gue kenapa?” ulang Sagara panik. Mereka saling menatap satu sama lain, sedangkan Bahar menghela napas panjang. “Kata dokter lo lumpuh sementara,” ucap Bahar.Sagara sudah tidak bersuara lagi, dia sakit, kecewa


311terluka dengan kondisinya sekarang. “Gue cacat,” dengan isakan tangis yang keluar dari kelopak matanya, kali ini dia menjadi manusia lemah bukan Sagara yang seperti biasanya. “Gue sudah enggak sempurna lagi, buat apa gue hidup Tuhan. Gue sudah enggak punya keluarga dan sekarang gue cacat,” keluhnya.“Apa yang lo bilang?” marah Bahar. “Lo masih ada kita, The Tiger itu keluarga lo Gar, gue sudah anggap lo seperti adik gue sendiri, dengan mudahnya lo bilang enggak punya keluarga,” ucap Bahar.“Har, kontrol emosi lo. Maklum dia saat ini lagi terpukul,” ucap Arlen mencoba menengahi perdebatan itu. “Sudah Gar mending lo istirahat dulu, tenangkan pikiran lo. Kata dokter lo bisa sembuh asal rajin terapi,” ucap Carles sambil membantu Sagara berbaring di tempat tidur. Sedangkan Bibin, Mamat dan Yayan hanya diam saja. Mereka tak mau banyak bicara lagi. Kenapa nasib sahabatnya begini? Bunyi dering ponsel dari Carles membuat mereka


312mengalihkan tatapan dari Sagara ke Carles. “Siapa?” tanya Yayan. “Laras,” jawab Carles.“Enggak usah diangkat” ucap Sagara. Dia tidak mau terlihat lemah di depan gadis itu. “Tapi dia cuma mau dengar kabar lo Gar,” ucap Carles.“Gue bilang enggak usah ya enggak usah,” ucap Sagara dan mencoba memejamkan mata. ****Di kamarnya Laras saat ini sedang duduk termenung. Sedari tadi dia sudah menghubungi Carles tapi entah kenapa tidak dijawab? Apakah sibuk atau terjadi sesuatu pada Sagara. Dia semakin cemas dan kembali mencoba menghubungi tapi percuma tidak diangkat. “Kak Carles mana sih,” ucapnya khawatir dengan keadaan Sagara. “Katanya tadi sore kalau Kak Gara bangun bakal menghubungi aku,” gerutu Laras.Telepon genggam Laras berdering. Dengan cepat Laras mengangkat teleponnya.


313“Kak Carles ke mana sih? Kok dari tadi enggak diangkat? Aku sudah khawatir terjadi apa-apa sama Kak Gara,” tanyanya dengan tidak sabar. “Kak,” panggil Laras.“Is kok diam saja sih, aku bertanya Kak Gara sudah siuman belum?” lanjut Laras.“Kak Carles punya mulut enggak sih?” tanya Laras.Sambungan terputus sepihak, entah ada apa dengan Carles. Laras bingung bahkan dia sekarang sedih tidak bisa mendapatkan kabar Sagara.


314JadianTepat pukul 2 siang gadis itu sudah berada di rumah sakit tempat Sagara dirawat. Kali ini dia hanya pergi sendiri tanpa sepengetahuan anak geng Woktai dan sahabat-sahabatnya. Dengan membawa kantong putih yang berisi makanan dia masuk ke rumah sakit. Kali ini sungguh beda karena hatinya tidak tenang sejak semalam. Setelah Carles menghubunginya kembali namun tidak menyampaikan kabar apapun tentang Sagara. Saat ini dia sudah berada di depan ruang ICU yang dia datangi kemarin, tapi ada yang ganjal kenapa tempat itu kosong. “Suster mau bertanya? Pasien atas nama Sagara Mahendra yang berada di ruangan ICU kemana ya?” tanya Laras pada perawat yang baru saja melintas di hadapannya. “Oh pasien semalam sudah dipindahkan ke ruangan No 134 Mbak,” jawab suster.“Makasih ya Sus,” ucap Laras.Dengan semangat Laras berbalik arah menuju ruangan


315yang disebutkan perawat tadi. Kini dia sudah berada tepat di depan pintu No 134 yang kedengarannya sangat ramai dengan celotehan serta tawa dari sahabat Sagara. Dengan ragu dia membuka knop pintu tersebut. “Kiri-kiri Mat,” ujar Bibin“Yaelah, dibilangi kiri dia balik kanan. Kiri bego nanti kalah,” ujar Bibin lagi.“Diam dulu kenapa.”“Yes menang,” teriak Carles. “Sudah gue bilang, kalian berdua enggak bakal bisa lawan kita,” ucap Sagara sombong. “Gara-gara lo soplak, jadi kalah kita,” ucap Bibin yang sedikit emosi. “Lagi pula suara lo ribut banget, HP gue kan jadi enggak konsen,” ucap Mamat.“Stres memang titisan Somat,” ucap Bibin.Pintu kamar rawat dibuka dari luar. Semua yang berada di dalam menoleh ke arah pintu. Laras tersenyum kikuk karena ditatap oleh mereka. “Assalamualaikum,” ucap Laras.


316“Waalaikumsalam,” jawab mereka dengan berbarengan. “Laras boleh masuk?” tanya Laras.“Masuk saja Ras,” jawab Sagara.Merasa mendapatkan izin Laras segera masuk ke dalam ruangan itu. “Ini Laras bawakan makanan buat kalian,” ucap Laras.“Wah, baik banget calon Bu Bos kita,” ucap Bibin. “Giliran makan nomor satu,” ujar Mamat. “Memang!” jawab Bibin.Laras berbalik arah tepat saat itu matanya bertemudengan orang yang selama ini dia khawatirkan. Bersamaan dengan Sagara juga menatapnya. Sedangkan Carles memberikan kode pada Mamat dan Bibin untuk segera keluar, karena ingin memberikan sedikit ruang bagi pasangan itu. Sagara dapat merasakan Laras sedang menahan butiran air mata agar tidak keluar, dia merasa sangat bersalah pada gadis cantik itu. Masih ingat jelas bagaimana dia membentak dan memarahinya di hadapan orang ramai. “Hai,” sapa Sagara dengan senyum tulusnya. Sungguh Laras sudah tidak sanggup lagi untuk tidak


317menangis, dengan naluri hatinya dia langsung menubruk dada bidang lelaki itu. “Kenapa menangis? Gue jahat banget ya?” ucap Sagara membalas pelukan sambil mengusap rambut gadis itu. “Kakak jahat,” ucap Laras.“Iya, maaf!” ucapnya dengan penuh penyesalan. “Aku kira Kakak bakal tinggalkan aku!” ucapnya masih dengan posisi yang sama, dapat dirasakan detak jantung keduanya berdetak kuat. Lama Sagara terdiam dengan mengelus surai rambut milik gadis itu, entahlah pikirannya sekarang sedang terbagi, antara berhenti atau lanjut. “Gue sayang banget sama lo, bahkan bila perlu nyawa gue jadi taruhannya jika ada yang mau menyakiti lo,” bisik Sagara tepat di telinga Laras. “Gue minta maaf atas kejadian waktu itu,” lanjut Gara.Merasa tidak ada jawaban dia sedikit memisahkan pelukan mereka, dia melihat gadis yang tidak berani menatapnya.“Maaf,” ulangnya dengan sesal saat Laras kembali


318menatapnya, terlihat jelas dari mata Laras bahwa dia menyimpan luka. “Kemarin sudah aku maafkan pas aku ke sini, tapi posisinya Kakak masih belum sadar. Berhubung kamu sudah bangun jadi aku ulangi lagi,” Laras menjeda sebentar ucapannya, “Sagara Mahendra dengan ini aku menyatakan bahwa aku sudah memaaafkan kamu! Tanpa rasa sesal,” ucap Laras.Mendengar ucapan dari gadis itu membuat dia tersenyum bahagia, dan kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya. “Lucu, jadi pacar gue ya,” bisik Sagara. Jantung Laras berdetak dua kali lipat dari normalnya, benarkah dia tidak salah dengar atau ini hanya mimpi. “Kamu lagi menyatakan perasaan ke aku?” tanya Laras dengan sedikit bergetar. “Hem,” deheman Sagara dengan membenamkan wajahnya ke curuk leher milik gadis itu, dia menghirup aroma wangi dari gadis itu. Nyaman, sungguh dia tidak berbohong. “Tapi..,” ucap Laras.


319“Harus mau,” tegas Sagara.“Jadi ini kita pacaran?” tanya Laras masih tidak percaya. Mendengar itu Sagara langsung menguraikan pelukannya dan menatap mata gadis itu. “Iya Laras Putri Baskara, hari ini tepat pukul 3 sore hari minggu kita resmi sepasang kekasih,” tegas Sagara.“Kak Salsa?” tanya Laras lagi.“Panjang ceritanya, yang intinya aku sama dia sudah enggak ada hubungan apa-apa lagi dan sekarang aku sepenuhnya milik kamu,” ucap Sagara.“Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu,” ucap Sagara dengan tidak semangat. “Apa?” tanya Laras.“Gue sudah enggak sempurna lagi, sekarang gue tanya lo mau menerima gue apa adanya?” tanya Sagara.“Masih bertanya padahal selama ini aku sudah buktikan,” jawab Laras. “Gue lumpuh sementara,” sungguh lega sudah pikirannya karena sudah jujur dan kini dia kembali pada gadis itu mau atau tidak, dia pasrah.


320Kabar tersebut sungguh membuat gadis itu syok, tubuhnya lemah dan sedikit bergetar menahan tangis. “Gue kasih pilihan, mau tetap bertahan atau menyerah. Jika bertahan artinya harus siap menerima kekurangan gue tapi kalau menyerah lo boleh pergi sekarang dari hadapan gue”“Gue hitung satu sampai tiga, satu,” ucap Sagara.“Dua,” sela Laras.“Ti...,” Lama Laras terdiam dan kini dia sudah memantapkan apa yang harus ia jawab. “Aku mau,” jawab Laras.“Mau apa?” goda Sagara dengan senyum jahilnya. “Mau jadi pacar Kakak,” ucap Laras malu-malu. “Ulangi coba enggak dengar kuping gue,” pinta Sagara. “Sudah deh enggak jadi kalau begitu,” ucap Laras dengan memanyunkan bibirnya. “Ya sudah,” jawab Sagara.Mendengar itu Laras membulatkan bola matanya sempurna, apa Sagara sudah gila tadi dia membuat Laras


321terbang tinggi kini dijatuhkan dengan tiba-tiba. “Serius enggak jadi?” tanya Laras.“Tadi lo bilang enggak mau, gimana sih jadi orang,” ucap Sagara cuek. “Dasar!” ucap Laras.“Hei, mau ke mana?” ujar Sagara melihat Laras ingin keluar. “Pulang,” jawab Laras“Siapa yang menyuruh kamu pulang?” “Tahu nih, Car matikan dulu nanti kita ketahuan mengintip,” ucap Mamat.“Pinggir,” ucap Carles.“Hei, jangan masuk,” ucap Bibin, dia dan Mamat berusaha menghalangi Carles. Namun dengan sengaja Carles membuka knop pintu tersebut. “Aduh!” ucap ketiganya yang sudah terguling di depan ruang pintu masuk. “Kalian bertiga sedang apa?” tanya Sagara dengan tatapan marah. “Lomba lari Bos,” ucap Mamat.


322“Pinjam dulu,” ucap Sagara.“Nih, baru juga 15 menit jadi pacar sudah pinjam HP,” sindir Laras, tapi yang disindir malah sibuk sendiri dengan mengotak-atik handphone Laras. “Makasih,” ucap Sagara saat memberikan handphoneLaras. Ting...“Astaghfirullah, kaget gue,” ucap Bibin kaget.Sedangkan Mamat, Bibin dan Carles sudah mati-matian menahan tawa, mereka berucap dalam hati, “Oh, jadi begini kalau orang lagi kasmaran.”“Iya sudah aku pulang, kamu jangan lupa istirahat,” ucap Laras.“Hem,” jawab Sagara.Sagara menatap ke arah Carles, “Antar dengan selamat ya!” Ucapan menusuk dari Sagara membuat mereka merinding seketika. “Siap!” jawab Carles.


323“Iya betul,” ucap Bibin.“Jadi enggak Gar?” tanya Carles yang sudah berdiri lebih dulu. Lebih baik dia cepat-cepat menghindar dari pada kena amukan Sagara. “Pulangnya diantar Carles ya, sudah sore nanti dicari Tante Susan,” ucap Sagara beralih menatap gadis yang satu jam lalu resmi jadi pacarnya. “Kan belum jam 5,” ucap Laras.“Sudah sore, nanti macet. Pulang ya,” ucap Sagara. “Inisiatif aku sendiri,” jawab Laras“Enggak sopan sama pacar,” ucap Sagara.“Pacar siapa?” tanya Laras.“Pacar Laras,” ucap Sagara.“Gue jomlo,” ucap Laras jutek. “Jam 3 tadi apa?” tanya Sagara.“Kan tadi kata kamu ...,” jawab Laras“Lo pacar gue, sini,” ucap Sagara.“Dasar plin plan,” ucap Laras mendekati Sagara. “Pinjam HP,” ucap Sagara.“Buat apa?” tanya Laras.


324“Aku pulang ya, besok aku ke sini lagi,” ucap Laras.“Iya, kalau sudah sampai kabari gue!” ucap Sagara. “Hati-hati,” lanjut Sagara.“Kak Bibin, Kak Mamat aku pamit pulang,” ucap Laras.“Iya hati-hati Ras,” jawab Mamat dan Bibin serentak.“Rasanya kayak ada yang aneh dari tatapan Kak Gara, ada apa ya kayak ada yang disembunyikan dari aku,” batin Laras. Entah apa itu hanya perasaannya saja atau memang akan terjadi sesuatu.


325“Yakinlah kepergiantanpa pamit adalah suatu hal yang menyakitkan”


326Sagara, Kamu Di mana?Setelah pulang sekolah gadis itu bergegas pergi ke kamar mandi. Rencananya malam ini dia akan menginap di rumah sakit untuk menjaga Sagara. Setelah bersiap-siap dengan baju santai dan rambut diikat, Laras menghampiri mamanya yang sedang berada di ruang tamu. “Ma, Laras pergi dulu ya,” ucap Laras.“Iya titip salam buat Sagara,” jawab Mamanya.“Siap Ma,” ucap Laras dengan semangat. “Oh iya Mama lupa, bentar,” ucap Susan yang pergi ke dapur. “Ini berikan pada Sagara, tenang gulanya sedikit kok jadi enggak terlalu manis,” ucap Mama Laras.“Oke Ma, Laras pamit dulu ya Ma,” ucap Laras.Laras sudah sampai di rumah sakit, dengan langkah semangatnya Laras menyusuri lorong demi lorong. Saat ini dia sudah berada di depan pintu rawat inap milik Sagara. Dengan senyum bahagianya dia membuka pintu tersebut, karena dia lagi senang Mamanya mengizinkan dia untuk


327menginap di sini. “Assalamualaikum,” ucap Laras.DegLaras terkejut, ruangan itu saat ini kosong bahkan tempat tidur yang biasa Sagara gunakan sudah rapi. Seperti tidak ada yang menghuni ruangan itu. Dengan penasaran serta gelisah dia menuju bagian administrasi. “Suster, pasien ruang inap 134 sudah pulang?” tanya Laras pada bagian administrasi. Kini dia seperti orang linglung, sejak melihat ruangan inap Sagara kosong. Kemanakah dia? Apakah pindah ruangan? Atau sudah pulang? Entahlah dia bingung. “Sebentar ya Mbak, kami cek dulu,” dengan segera suster tersebut memeriksa dan hasilnya… “Mohon maaf Mbak atas perintah dari keluarga, kami pihak rumah sakit tidak bisa memberi informasi mengenai pasien atas nama Sagara Mahendra,” ucap Suster. Jantung Laras berdetak lebih cepat. Berita apa ini, kenapa tidak ada orang yang memberitahunya kalau Sagara sudah diperbolehkan pulang. Dengan perasaan yang gelisah


328dia menghubungi beberapa orang yang mungkin dapat memberikan informasi tentang Sagara. Tetapi semuanya tidak dapat dihubungi.“Kamu di mana sih?” ucapnya dengan gelisah. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Berulang kali ia mencoba menelepon tapi sama sekali dia tidak mendapatkan jawaban. “Kamu kemana? kenapa enggak kasih kabar aku kalau mau pulang?” lagi-lagi Laras bertanya pada dirinya sendiri. Kini dia sedang berada di halaman rumah sakit, dia tidak tahu lagi harus ke mana, orang terdekat Sagara pun tidak ada yang bisa dihubungi. ***Di tempat lain sahabat-sahabat Sagara berkumpul untuk mengantarkan kepergian Sagara. Suasana sungguh berbeda kali ini tidak ada canda gurau yang biasanya mereka lakukan hanya ada raut wajah kesedihan. “Hati-hati di sana Bos,” ucap Bibin.“Jangan lupa pulang Bos,” ujar Mamat.“Cepat sembuh ya Bos,” doa Carles.


329“Ah, kok jauh banget si Bos. Jadi kita enggak bisa menjaga lo, enggak bisa bantu lo,” ucap Bibin sedih. “Kalian, gue tugaskan jaga cewek gue, jangan ada yang sakiti dia, nanti lapor sama gue apa saja kegiatannya seharihari,” ucap Sagara.“Lo serius enggak mau ketemu dia dulu?” tanya Carles. “Demi kebaikan bersama Car, biar untuk saat ini gue dan dia sama-sama merasakan sakit dulu. Gue titip dia ya!” ucap Sagara mencoba tegar.Dia tahu ini salah tapi ini harus dilakukannya demi kebaikan Laras dan dirinya. Sagara memang sengaja tidak memberi tahu dulu Laras, karena pasti gadis itu tidak akan terima jika dia akan pergi. Makanya dia cap Laras jadi kekasihnya dulu baru dia pergi biar nanti pada saat dia pulang mereka berdua masih terikat. “Berapa lama?” lagi-lagi Carles bertanya, sebenarnya dia merasa keberatan dengan semua ini.Dia merasa keberatan jika Sagara tidak menemui Laras dulu yang notabenya adalah kekasih dari lelaki itu.“Kurang tahu, makanya gue titip Laras ke kalian. Jagai


330dia tapi ingat jangan kasih tahu gue ada di mana! Biar nanti gue yang kasih tahu,” ucap Sagara.“Attention for passengers going to paris, in 10 minutes will depart. perhatian untuk penumpang yang pergi ke paris, dalam 10 menit akan berangkat,” suara pemberitahuan dari pengeras suara bandara.Pemberitahuan tersebut membuat mereka harus mengakhiri perbincangan mereka, semua yang berada di sana sedih melihat Sagara pergi dalam waktu tidak bisa ditentukan. Di mana kondisi Sagara sangat memprihatinkan dengan kaki lumpuh, siapa yang akan menjaga dia di sana. Sungguh malang sekali nasib Sagara dengan kondisi seperti itu dia rela pergi ke Paris hanya untuk keselamatan orang yang dia sayang. Dan beruntungnya di sana dia akan melakukan penyembuhan kakinya yang lumpuh. “Nanti kasih ini ke dia, gue pamit” ucap Sagara dengan berat hati. “Hati-hati Bos, jaga kesehatan kalau sudah sehat cepat pulang,” ucap Mamat lirih. “Sudah enggak usah sedih begitu kalian, kayak gue


331mau ke mana saja padahal cuma Paris loh. Kalian bisa liburan ke sana kapan saja,” ucap Sagara mencairkan suasana sedih, dia juga sedih tapi ya mau bagaimana lagi. “Terserah lo deh Bos,” ucap Mamat.“Dikira Jakarta Bandung kali,” ucap Bibin. “Enggak lucu bercandaan lo,” ucap Carles tidak suka. “Sudah kita pergi dulu,” ucap Bahar yang sedari tadi hanya diam. Ya, Sagara pergi bersama Bahar nanti di sana dia akan menjalani terapi serta sekolah dari rumah, di sana akan ada yang merawatnya. Bahar hanya akan menemaninya berapa hari saja. Sebenarnya dia tidak mau pergi ke sana tapi karena dipaksa oleh Bahar akhirnya dia luluh, bukan karena apa pengobatan serta biaya keperluan lainnya cukup banyak. Bahkan tabungannya saja tidak cukup. Dengan langkah pelan Bahar mendorong kursi roda milik Sagara, ini bukan tanda bentuk untuk memisahkan Sagara dan Laras! Tapi ini demi kebaikan mereka. Setelah mendengar penjelasan Sagara waktu itu, dia dan anak lainnya


332menjadi takut jika Sagara akan diikuti lagi dengan kondisi begini bukan tidak mungkin orang itu akan semena-mena dengan Sagara. Ini saja mereka mengambil jadwal pagi sekali, karena biasanya jam segini orang dengan baju serba hitam selalu berkeliaran di area ruang rawat inap Sagara. Entahlah siapa, mereka hanya menduga-duga itu adalah kelakuan orang terdekat Sagara. “Semoga lo enggak bakal benci gue Ras,” batin Sagara. Kini dia dan Bahar sudah berada di dalam pesawat, mungkin beberapa menit lagi pesawat akan terbang ke Prancis. “Mau dibatali dulu enggak?” ucap Bahar yang merasa kasihan dengan Sagara, dia yakin lelaki di sampingnya ini pasti berat meninggalkan kekasihnya. Dia tahu betul sifat Sagara. “Enggak usah Bang, lanjutkan saja”“Yakin?” ulang Bahar lagi. “Hem, iya,” jawab Sagara.Pesawat yang ditumpangi mereka berdua kini perlahan


333mulai mengudara. “Selamat tinggal Indonesia, selamat tinggal Laras,” batin Sagara. ***


334Sebuah SuratSeminggu sudah semenjak kepergian Sagara, Laras masih belum mau menyerah mencari keberadaannya. sudah berulang kali dia menanyakan keberadaan Sagara kepada sahabat-sahabatnya. Tapi, jawaban mereka tidak tahu Sagara pergi ke mana. Bahkan kali ini dia rela panas-panasan berdiri di depan markas The Tiger. Laras sengaja membuntuti ketiga sahabat Sagara untuk tahu markas mereka. “Kak Carles tolong buka pintunya,” teriak Laras dari luar pagar. Tampaknya suasana markas lagi sepi. Dia hanya melihat motor Carles, Bibin dan Mamat yang terparkir di halaman tersebut. Awalnya dia masih tidak percaya ternyata Sagara termasuk dari geng motor yang menakutkan. Pantas sewaktu di rumah sakit, sewaktu datang ke rumahnya dan sewaktu acara Mamat dan Amel, ketua dari The Tiger datang. “Aduh kenapa bisa dia ada di sini sih,” ucap Bibin yang mengintip dari balik tirai. “Ya bisalah, diakan mengikuti kita,” sahut Mamat.


335“Bahaya kalau dia terus-terusan ada di situ,” ucap Carles. “Jadi gimana menurut kalian?” tanya Bibin. “Ya mau gimana lagi dia sudah tahu identitas kita, bahaya kalau tahu geng lain dia adalah pacar dari ketua The Tiger,” ucap Carles yang memijit pelipisnya, masalah apa lagi yang akan dihadapinya. “Sudah Mat, mending lo buka tu pintu suruh dia masuk,” sambung Carles. Mamat yang ditugaskan tersebut langsung keluar dan dia sedikit berlari menuju pagar tersebut dan membuka pintu pagar itu. “Berani banget sih lo, Ras,” ucap Mamat dengan geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis di depannya ini. “Kalian yang bikin gue begini ya,” ucap Laras dengan kesal. “Kalau bukan amanah dari Sagara sudah gue ...,” ucap Mamat dalam hati sambil mengelus dadanya. “Plis satu kali ini ijinkan gue buat tahu dia di mana,” ucap Laras dengan memelas menatap Mamat.


336“Jangan tatap gue begitu, horor tahu,” ucap Mamat yang merinding dengan kelakuan gadis di depannya ini. “Kak Mamat gue serius,” ucap Laras.“Bawa masuk itu motor, di sini enggak aman,” ucap Mamat.“Oke,” ucap LarasDengan semangat Laras mengikuti intruksi dari Mamat, kini dia sudah berada di dalam halaman markas The Tiger. “Enggak mau masuk Ras,” ucap Mamat saat melihat Laras hanya menatap sekeliling halaman. “Eh iya,” jawab Laras.Kini Laras dan Mamat sudah berada di dalam rumah bersama Carles dan Bibin. Mereka semua sama-sama terdiam seakan bibir mereka terkunci. “Duduk dulu Ras,” ucap Carles yang memecahkan keheningan. “Makasih Kak,” jawab Laras.“Langsung ke intinya saja Ras, lo mengikuti kita karena mau tahu keberadaan Sagara?”“Iya Kak, karena aku sudah enggak tahu lagi mau cari


337informasi ke siapa,” ucap Laras.“Lo tahu enggak dengan kecerobohan lo mengikuti kita bakal masuki lo ke dalam bahaya,” ucap Carles.Deg“Bahaya?” tanya Laras.“Iya, kalau lo mau tahu kita ini adalah bagian dari The Tiger dan lo harus dengar baik-baik ucapan gue,” ucap Carles yang menjeda ucapannya, “Banyak yang enggak suka sama The Tiger apalagi Galang, dia paling benci sama Sagara. Dengan lo mengikuti kita ke sini sama saja elo menjemput musuh,” jelas Carles.“Terus aku harus gimana?” tanya Laras yang sedikit takut. Carles, Bibin dan Mamat merasa iba dengan gadis di depannya ini. Carles menghela napas panjang. “Kita yang bakal jagai lo,” ucap Carles. “Aku bisa jaga diri aku sendiri,” jawab Laras.“Jangan egois, ini demi kebaikan Sagara dan lo, Ras!” ucap Bibin sedikit tidak suka mendengar ucapan Laras. “Jadi bisa jelaskan di mana Sagara?”


338“Maaf Ras, kita sudah janji buat enggak kasih tahu lo ke mana dia,” ucap Carles. “Kenapa?” tanya Laras tak paham.“Ini pesan dia ke kita, dia bilang biar dia langsung yang memberi tahu lo,” ucap Carles lagi.“Intinya dia menitipkan lo ke kita-kita dan tolong jangan tanya kenapa lagi atau apalah, ini demi kebaikan lo, dia rela menghindar,” jelas Carles.“Segitunya dia enggak mau kasih tahu gue, dia sebenarnya anggap gue apa?” ucap Laras menahan isak.“Buang pikiran negatif lo, justru dia sayang banget sama lo buktinya dia rela mengasingkan diri demi lo,” ucap Bibin. “Ras, dengarkan omongan kita ya! Dia baik-baik saja di sana sekarang, lo yang enggak baik-baik saja,” ucap Mamat. “Tapi dia lagi keadaan sakit,” ucap Laras.“Kita tahu, tenang saja di sana dirawat dengan baik,” ucap Bibin.“Ras, kehidupan Sagara itu cukup menyedihkan. Dan kita mohon tunggu dia pulang karena cuma lo yang bisa buat


339dia kembali bangkit, walaupun entah kapan dia pulang kita juga enggak tahu,” ucap Carles dengan sedih. “Tapi kenapa dia enggak pamit ke gue dulu, Kak,” ucap Laras dengan tubuh bergetar, air matanya sudah tak terbendung lagi. “Dia enggak mau lihat lo sedih,” jawab Mamat.“Tapi dia sukses buat aku sedih, dia yang memberi tawa dia juga yang memberi luka,” ucap LarasLaras sedikit menjeda pembicaraannya. “Setidaknya dia pamit atau enggak bisa telepon aku, ini apa enggak ada sama sekali,” ucap Laras.“Sudah tenang dulu Ras, minum dulu,” ucap Mamat yang memberikan segelas air putih, dia tidak tega melihat gadis itu terluka. Biar bagaimana pun gadis di depannya ini pernah menjadi wanita yang dia suka. “Makasih,” ucap Laras menerima gelas itu. “Ras lo itu sudah kita anggap keluarga kita sendiri, jadi lo jangan sungkan untuk minta bantuan kita. Oke,” ucap Bibin“Makasih sebelumnya, maaf jika Laras merepotkan


340kalian,” ucap Laras.“Enggak merepotkan sama sekali, Ras,” ucap Mamat. “Ya sudah, aku mau pamit pulang,” ucap Laras.“Biar Bibin yang antar lo pulang,” ucap Carles.“Makasih,” ucap Laras.“Ras,” panggil Carles.“Iya,” jawab Laras menoleh ke belakang. “Jangan lupa pesan gue, jaga diri lo baik-baik. Kalau butuh bantuan hubungi kita,” ucap Carles.“Hem,” jawab Laras.Setelah sampai di depan pintu gerbang rumah Laras. “Makasih Kak Bibin,” ucap Laras.“Iya, pokoknya lo jangan sungkan untuk minta bantuan kita,” ucap Bibin.“Iya Kak, Hati-hati di jalan,” ucap Laras.“Ras,” panggil Bibin“Iya,” panggilan Bibin membuat Laras menghentikan membuka pintu pagar. “Kata Carles, paket dari Sagara sudah sampai rumah lo,” ucap Bibin.


341“Paket,” Laras mengerutkan keningnya. “Iya buat lo, gue pulang ya,” ucap Bibin.Dengan segera Laras membuka pintu pagar dan langsung memarkir motornya di halaman rumah.“Assalamualaikum,” ucap Laras.“Waalaikumsalam,” jawab Mama.“Ma ada kiriman paket enggak?” tanya Laras.“Ada, katanya buat kamu tapi Mama enggak tahu dari siapa,” jawab Mama Laras.“Di mana?” tanya Laras.“Sudah Abang kamu letakan di kamar,” jawab Mama.“Oke makasih Ma, Laras ke atas dulu ya,” ucap Laras.“Iya, jangan lupa ke bawah kamu belum makan siang,” ucap Mama.“Siap Bos,” ucap Laras.Di kamarnya dengan rasa haru dia menatap boneka beruang besar di hadapannya, sungguh dia bahagia ternyata lelaki itu tahu bahwa dia suka boneka beruang. Tapi dia juga kecewa kenapa saat begini dia mengantarkan paket boneka apakah ini bentuk sogokan atau apa?.


Click to View FlipBook Version