The Blue Lantern
Legacy & Beyond
Penasihat (Advisors):
dr. Cynthia Limandibrata
Sr. Maria Elly Budiarti, CB
dr. Chandra Mulyono, Sp.S.
Ketua Panitia Perayaan 100 Tahun Rumah Sakit Santo Borromeus
(Chair of the Committee for 100th Anniversary of Santo Borromeus Hospital):
dr. Paul Jonathan, Sp.OT., M.Kes.
Tim Penyusun:
Penulis (Writers):
Sr. Maria Elly Budiarti, CB
P. Krismastono Soediro
Irwan Akhmad
Editor (Editor):
Dudi Sugandi
Tim Buku 100 Tahun RS Santo Borromeus (Team Members):
Ns. Ursula Anita Karmina, S.Kep.
Ns. Yuni Susilawati, S.Kep.
Ns. Wulan Puspitasari, S.Kep.
Ns. Rosalia Melik Handayani, S.Kep.
Ns. Maria Asitoret, S.Kep.
drg. Waty Sumiati Halim, Sp.KGA
Penerjemah (Translators):
Wanda Firmansyah, S.Pd.
Dede Rakhmawati, S.S., M.Ed.
Kanya Varistha Devi
Tim Fotografi (Photography Team):
Dudi Sugandi & Tim
dr. Dandy Tanuwidjaya, Sp.U
Borromeus Photography Club
Sumber Foto (Sources of Photos):
Dokumentasi Rumah Sakit Santo Borromeus
Artistik (Artistic):
Irman Nugraha
ISBN 978-623-7879-24-4
Copyright © PPSB
Diterbitkan oleh (Published by):
Unpar Press
Jalan Ciumbuleuit No. 100 Bandung
[email protected]
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Nomor 19 Tahun 1992.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis.
Copyright Protected by Law Number 19 of 1992. Reproduction of part or all of the contents of this book
without written permission is prohibited.
Sambutan Sekretaris Jenderal
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
P uji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan
Yang Mahakuasa atas perkenan-Nya saat ini
kita masih dapat menjumpai Rumah Sakit
Santo Borromeus yang secara tulus mengabdi dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
selama satu abad.
Pada kesempatan ini kami ucapkan selamat
kepada Rumah Sakit Santo Borromeus yang dalam
memperingati hari ulang tahun yang ke-100 secara
khusus menerbitkan buku yang berjudul “The Blue
Lantern” yang berisi rangkuman rekam jejak Rumah
Sakit Santo Borromeus dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan
rangkaian panjang prestasi yang telah diraih.
Dalam perjalanannya, rumah sakit ini telah menghasilkan tenaga
kesehatan yang melayani dengan ketulusan. Cinta dan kasih sayang adalah
karakteristik dasar bagi seorang pelayan. Berakhir dengan persembahan
pelayanan yang terbaik adalah motivasi utama dari nilai tertinggi bagi
seorang pelayan. Berawal dari karakter sebagai pelayan yang menjadi nilai
utama kristiani tersebut telah berhasil diwujudkan menjadi sebuah
komitmen yang teguh dalam perjalanan kasih yang panjang. Semua itu
terhimpun sebagai sebuah pesan moral, yaitu empati yang mampu
menyembuhkan. Semuanya itu, kini diabadikan dalam catatan sejarah 100
tahun Rumah Sakit Santo Borromeus (1921-2021).
Rumah Sakit Santo Borromeus sebagai salah satu rumah sakit swasta
di Provinsi Jawa Barat yang memiliki visi “Menjadi rumah sakit layanan
kelas dunia, terpercaya dan profesional berlandaskan semangat cinta
kasih” diharapkan dapat terus berkomitmen dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan secara prima yang peka dan berfokus menjawab
kebutuhan masyarakat, kompetitif, mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi bidang kesehatan. Hal yang terpenting lainnya
adalah mampu untuk berpihak kepada masyarakat sesuai standar
penyelenggaraan paripurna.
Message from General Secretary 5
of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia
P raise and gratitude we pray to the presence of Almighty
God for His grace, at this time we can still find Santo
Borromeus Hospital which has sincerely served to
provide health services to the society for a century.
On this occasion, we would like to congratulate Santo
Borromeus Hospital which, in commemoration of its 100th
anniversary, has specifically published a book entitled “The Blue
Lantern” which contains a summary of the track record of Santo
Borromeus Hospital in providing health services to the society
and a long series of achievements that have been realized.
In its journey, this hospital has produced health workers who
serve with sincerity. Love and compassion are fundamental
characteristics for a servant. Ending up with the best service offer
is the main motivation of the highest value for a servant. Starting
from the servant character which is the main value of
Christianity, it has successfully materialized into a firm
commitment in a long journey of love. All this is collected as a
moral message, namely empathy that can heal. All this is now
inscribed in the centennial history of Santo Borromeus Hospital
(1921-2021).
Santo Borromeus Hospital as one of private hospitals in West
Java Province that has the vision of “becoming a world-class,
trustworthy and professional hospital based on the spirit of love”
should continue to commit to improving health services in an
excellent way that is sensitive and focused on meeting the needs
of the society, competitive, following the development of science
and technology in the health sector. The other most important
thing is to be able to side with the society according to the
standards of the plenary administration.
The Blue Lantern
Rumah Sakit Santo Borromeus juga diharapkan dapat
mengembangkan layanan. Kementerian Kesehatan mengharapkan agar
layanan yang dihasilkan merupakan layanan unggulan dengan tim
multidisiplin yang komprehensif sebagaimana model layanan yang ada
saat ini dan merupakan unggulan, yaitu Borromeus Children Medical Center
(BCMC), sebuah layanan kesehatan anak yang menggunakan pendekatan
kecanggihan peralatan modern dan ilmu pengetahuan terbaru, serta
modalitas pemeriksaan yang up to date sesuai perkembangan teknologi
terkini.
Apresiasi yang tinggi juga saya sampaikan kepada Rumah Sakit Santo
Borromeus yang telah turut serta memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu kepada masyarakat, dengan dibuktikan melalui akreditasi Komisi
Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Tingkat lnternasional agar rumah sakit
mampu berkompetisi baik di tingkat nasional, bahkan internasional.
Harapan saya, semoga Rumah Sakit Santo Borromeus semakin maju
dalam memberikan pelayanan kesehatan dan menjadi kebanggaan
masyarakat Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat, bahkan kebanggaan
seluruh masyarakat Indonesia.
Jakarta, September 2021
Sekretaris Jenderal,
Kunta Wibawa Dasa Nugraha
Santo Borromeus Hospital should also expand its services. 7
The Ministry of Health expects that the services produced will
be superior services with a complete multidisciplinary team as
the current and superior service model, namely Borromeus Children
Medical Center (BCMC), a child health service that uses a
sophisticated approach of modern equipment and the latest
science and inspection modalities updated according to the latest
technological developments.
I also express my high appreciation to Santo Borromeus
Hospital for participating in the provision of quality health
services to the society, as evidenced by the accreditation of the
Commission on Accreditation of Hospitals (KARS) at the
international level so that hospitals are able to compete at both
the national and even international level.
My hipse is that Santo Borromeus Hospital will be more
advanced in providing health services and will become the pride
of the people of the City of Bandung and the Province of West
Java, indeed the pride of all the Indonesian people.
Jakarta, September 2021
General Secretary,
Kunta Wibawa Dasa Nugraha
The Blue Lantern
Sambutan Gubernur Jawa Barat
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
R umah Sakit Santo Borromeus tahun ini
genap berusia 100 tahun. Rumah sakit yang
memiliki sejarah panjang dan luar biasa
pelayanannya kepada masyarakat di bidang
kesehatan.
Tentunya perjalanan seabad ini telah memberikan
banyak hal dan saya mencatat Rumah Sakit Santo
Borromeus sudah luar biasa memberikan kontribusi
peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Jawa
Barat di bidang kesehatan.
Selamat hari jadi ke-100 tahun untuk Rumah Sakit Santo Borromeus.
Terima kasih atas segala dedikasi dan saya doakan umurnya panjang. Para
dokter, tenaga kesehatan dan segenap jajaran manajemen selalu Tuhan
beri perlindungan dan kesuksesan di masa-masa mendatang.
Saya berharap, Rumah Sakit Santo Borromeus tetap memberikan
pelayanan kesehatan terbaik bagi semua orang tanpa membeda-bedakan
latar belakang dan keyakinan. Menjadi rumah sakit yang terus mengikuti
perkembangan teknologi, terdepan dalam inovasi, dan tetap diandalkan
oleh masyarakat.
Pada kesempatan ini, saya juga mengucapkan selamat atas peluncuran
buku 100 Tahun Rumah Sakit Santo Borromeus The Blue Lantern:
Legacy and Beyond.
Buku yang informatif, inspiratif, mengandung banyak nilai dan spirit
dalam pelayanan kesehatan yang dibangun di rumah sakit ini. Semoga
buku ini turut menyebarluaskan bara semangat berkarya dalam pelayanan
menunaikan misi kemanusiaan.
Gubernur Jawa Barat
Mochamad Ridwan Kamil, S.T.,M.U.D.
Welcoming Remarks from 9
The Governor of West Java
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
T his year’s Santo Borromeus Hospital marks its 100th
anniversary. A hospital that has a long and extraordinary
history of service to the community in the health sector.
Of course, this century’s journey has provided many things and
I note that the Santo Borromeus Hospital has made an
extraordinary contribution to increasing the West Java Human
Development Index in the health sector.
Happy 100th anniversary to Santo Borromeus Hospital. Thank
you for your hard work, and I wish this hospital a long and
prosperous journey. May God always provides protection and
success in the future to doctors, health workers, and all levels of
management.
I hope that Santo Borromeus Hospital will continue to provide
the best health services for all people regardless of their
background and belief. And to become a hospital that is
technologically advanced, innovative, and trusted by the community.
On this occasion, I would also like to congratulate you on the
publication of The Blue Lantern: Legacy and Beyond, a book
commemorating the 100th anniversary of Santo Borromeus
Hospital.
A book that is both informative and inspirational, containing
many values and spirit in the health services established at this
institution. Hopefully, this book will assist to spread the flames of
working spirits in the service of carrying out humanitarian missions.
Governor of West Java
Mochamad Ridwan Kamil, S.T.,M.U.D.
The Blue Lantern
Sambutan Wali Kota Bandung
Assalamu’alaikum Wr., Wb.
P erjalanan 100 tahun bukanlah perkara yang
mudah untuk tetap berkiprah dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan
masyarakat. Rumah Sakit Santo Borromeus mampu
membuktikan diri bisa bertahan menerjang segala
badai ujian dalam kurun waktu yang tidak singkat.
Budaya ICARE yang dijunjung dan dijalankan
setiap sumber daya manusia di salah satu rumah sakit
tertua di Kota Kembang menjadi kunci penting.
Belum lagi ditambah dengan konsistensi dalam
menjaga nilai-nilai kemanusiaan, tidak membeda-
bedakan latar belakang maupun keyakinan.
Rumah Sakit Santo Borromeus sejauh ini telah menjadi mitra
pemerintah dalam pelayanan kesehatan bagi warga Kota Bandung
khususnya dan Indonesia pada umumnya. Termasuk menjadi bagian
penting dalam penanganan pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung
saat ini.
Buku yang ada di hadapan pembaca budiman memberikan gambaran
perjalanan panjang Rumah Sakit Santo Borromeus sejak mulai dirintis
hingga kini genap satu abad. Kita dapat memetik pelajaran berharga
dari kiprah dan kisah yang tersaji di dalamnya.
Semoga buku ini dapat menjadi penanda zaman sekaligus
menyebarluaskan nilai-nilai dedikasi dan pantang menyerah dalam
menjalankan misi kemanusiaan.
Wali Kota Bandung
Oded M. Danial, S.A.P.
Welcoming Remarks from 11
The Mayor of Bandung City
Assalamu’alaikum Wr., Wb.
I t is not easy to maintain delivering public health services
after a 100-year of journey. In a brief length of time, Santo
Borromeus Hospital demonstrated its ability to survive all
tribulations.
The important key is the ICARE culture, which is preserved
and carried out by every human resource in this City of Flowers’
one of the oldest hospital. Not to mention the additional
consistency in upholding human values and not discriminating
against people of different backgrounds and beliefs.
So far, Santo Borromeus Hospital has been the government’s
partner in providing health services for the inhabitants of
Bandung City, in particular, and Indonesia in general. This
includes playing a critical role in dealing with the current Covid-
19 pandemic.
The book in front of you, dear reader, presents an overview
of Santo Borromeus Hospital’s long journey from its beginnings
until now, when it has achieved a century. The gait and the stories
depicted in it can teach us important lessons.
Hopefully, this book can serve as a historical marker while
also spreading the principles of determination and
unyieldingness in carrying out humanitarian missions.
Mayor of Bandung
Oded M. Danial, S.A.P.
The Blue Lantern
Sambutan Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
P ertama-tama marilah kita panjatkan puji
dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan
Yang Maha Esa atas karunia-Nya kita
bersama dapat menyambut Hari Ulang Tahun ke-
100 berdirinya Rumah Sakit Santo Borromeus dan
dibuatnya buku sejarah 100 tahun Rumah Sakit
Borromeus “Blue Latern”. Rumah sakit sebagai
fasilitas pelayanan publik dan mitra pemerintah
dalam bidang kesehatan menjadi salah satu fasilitas
strategis yang memegang peranan yang sangat
penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya dalam bidang Kesehatan.
Pembuatan buku ini dapat menjadi pembelajaran dari waktu ke waktu tidak saja bagi
keluarga besar Rumah Sakit Santo Borromeus, tetapi bagi seluruh masyarakat. Rumah
Sakit Santo Borromeus sebagai salah satu rumah sakit tertua dan terkemuka di Jawa
Barat telah banyak berkiprah dalam membantu masyarakat Jawa Barat. Dan suatu hal
yang langka ketika sejarah mencatat kita pernah berada di masa pandemi Covid-19 di
mana Rumah Sakit Santo Borromeus dapat menceritakan bagaimana strategi dan upaya
yang dilakukan dalam mengatasi penanganan pandemi Covid-19 ini.
Saya ikut bangga atas pembuatan buku “Blue Lantern“ ini karena buku ini menjadi
saksi sejarah di mana kiprah Rumah Sakit Santo Borromeus menjadi cahaya lentera
yang menerangi pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya di Jawa Barat.
Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan kepada manajemen dan seluruh
jajaran keluarga besar Rumah Sakit Santo Borromeus.
Sekali lagi saya ucapkan selamat dan semoga Rumah Sakit Santo Borromeus dapat
mewujudkan visinya menjadi rumah sakit layanan kelas dunia dengan berbagai fasilitas
penunjang yang modern dan mutakhir.
Wassalammu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam Sehat
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
dr. R. Nina Susana Dewi, Sp.PK(K), M.Kes, MMRS.
Welcoming Remarks from 13
The Head of West Java Provincial Health Office
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
F irst and foremost, let us express our gratitude to Allah SWT,
God Almighty, for allowing us to commemorate the 100th
anniversary of the establishment of the Borromeus Hospital
and the publication of the “Blue Lantern” 100-year History Book of
the Borromeus Hospital.
As public service facilities and government partners in the health
sector, hospitals are one of the strategic facilities that play a very
important role in meeting the needs of the community, especially in the
health sector. The publication of this book may serve as a reminder
from time to time not only for the large family of Borromeus Hospital,
but for the entire community. Borromeus Hospital, as one of West
Java’s oldest and leading hospitals, has been very active in assisting the
people of West Java. And it is remarkable when history recalls that we
were in the Covid 19 epidemic period, but Santo Borromeus Hospital
is able to illustrate how strategies and efforts are being conducted to
overcome this pandemic.
I am proud of the publication of the “Blue Lantern” book because
it is a witness to history in which Borromeus Hospital’s work has
become a lantern that illuminates health services to the community,
particularly in West Java. May God always bless the management and
the entire Borromeus Hospital family.
I once again congratulate Borromeus Hospital and hope that it can
realize its vision of becoming a world-class service hospital with a
variety of modern and up-to-date supporting facilities.
Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Stay Healthy,
Head of West Java Provincial Health Office
dr. R. Nina Susana Dewi, Sp.PK(K), M.Kes, MMRS.
The Blue Lantern
Sambutan Kepala Dinas Kesehatan
Kota Bandung
P uji dan syukur kami panjatkan ke hadirat
Allah SWT atas berkah dan karunia-Nya
dalam rangka HUT ke-100 Rumah Sakit
Santo Borromeus.
Pemerintah telah mengamanatkan dalam UU N0.
44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Kota Bandung merupakan kota metropolitan di
mana hampir semua jenis fasilitas kesehatan ada, dari mulai fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama sampai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjut. Ada 36 rumah
sakit dengan jenis pelayanan umum dan khusus serta berbagai klasifikasi kelas dari kelas
A sampai dengan kelas D tersebar di wilayah Kota Bandung.
Rumah Sakit Santo Borromeus merupakan rumah sakit umum kelas B, salah satu dari
36 rumah sakit yang ada di Kota Bandung dan sudah lama berdiri (100 tahun). Di era
pandemi Covid-19 saat ini rumah sakit sangat dibutuhkan warga masyarakat. Demikian
juga Rumah Sakit Santo Borromeus yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan
Covid-19 di Kota Bandung telah berkontribusi dengan menyediakan ruangan perawatan
khusus Covid-19 dengan jumlah konversi TT sebesar 56% dari jumlah keseluruhan TT
yang ada di Rumah Sakit Santo Borromeus.
Semoga di usia yang ke-100 tahun Rumah Sakit Santo Borromeus ini semakin
kuat/kokoh dan bersatu dengan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan
terhadap masyarakat khususnya warga Kota Bandung, umumnya semua warga masyarakat
yang membutuhkan terhadap pelayanan kesehatan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Direktur dan jajarannya serta
tenaga kesehatan di Rumah Sakit Santo Borromeus yang telah memberikan dedikasi dan
pengabdiannya terhadap pelayanan kesehatan di Kota Bandung.
Demikian sambutan ini kami sampaikan. Salam sehat, sehat Indonesia-ku, sehat kita
semua.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung
dr. Hj. Ahyani Raksanagara, M.Kes.
Welcoming Remarks from 15
The Head of the Bandung City Health Office
L et us praise and thank Allah SWT for His blessings and mercies
on the occasion of the 100th Anniversary of Santo Borromeus
Hospital.
Hospitals, as defined by the government in the Constitution No. 44
of 2009, are health-care establishments that provide comprehensive
individual health-care services, including inpatient, outpatient, and
emergency services.
Bandung is a metropolitan city with almost all types of health care
services exist, from primary care to advanced referral. In the city of
Bandung, there are 36 hospitals offering general and specialty
services, as well as numerous class classifications ranging from class
A to class D.
Santo Borromeus Hospital, one of 36 hospitals in Bandung City, is
a class B general hospital that has been in operation for a long time (100
years). In the current era of Covid-19 pandemic, hospitals are needed
by the public. Similarly, the Santo Borromeus Hospital, one of the
Covid-19 referral hospitals in Bandung, has made a contribution by
creating a specific Covid-19 treatment room with a total TT conversion
of 56 % of TTs in the Santo Borromeus Hospital.
Hopefully, at the age of 100, the Santo Borromeus Hospital will be
stronger and more united with the government in providing healthcare
services to the community, particularly the people of Bandung City, and
to all members of the community who require health services in
general.
Our gratitude goes to the Director and his staff, as well as the health
workers at the Santo Borromeus Hospital, for their dedication and
contribution to health services in the city of Bandung.
Thus we convey this remarks. Stay healthy, for Indonesia, for all of us!
Head of Bandung City Health Office
dr. Hj. Ahyani Raksanagara, M. Kes.
The Blue Lantern
Sambutan
Uskup Keuskupan Bandung
Cahaya Cinta Kasih
Borromeus Makin Terang
D alam Bulla Misericordia
Vultus (MV, Wajah
Kerahiman, 2015), Sri
Paus Fransiskus kiranya hendak
mengatakan bahwa karya belas
kasih adalah jantung Gereja.
“Gereja diutus untuk mewartakan
kerahiman Allah, hati Injil yang
berdetak, yang dengan caranya
sendiri harus menembus hati dan
pikiran setiap orang.” (MV 12).
Karya belas kasih ini diwujudkan
dalam tiga bidang, yaitu pendidik-
an, kesehatan, dan pelayanan karitatif. Maka, di mana pun Gereja hadir,
di situ diupayakan ketiga karya tersebut.
Seratus tahun yang lalu, Minggu, 18 September 1921, atas undangan
Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ yang berawal
dari inisiatif Pastor Petrus J.W. Muller, SJ selaku Pastor Kepala Bandung,
dalam kerja sama dengan beberapa tokoh awam yang terhimpun dalam
Perkumpulan Santo Borromeus, para biarawati dari Kongregasi Suster-
Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus (CB) memulai Rumah
Perawatan Orang Sakit Katolik Roma Santo Borromeus sebagai pelayanan
belas kasih Gereja di bidang kesehatan yang menjadi cikal bakal Rumah
Sakit Santo Borromeus. Sejak itu cahaya cinta kasih para suster CB
bersinar menjelajah waktu dan merambah berbagai wilayah. Bahkan,
sinarnya makin terang dengan melahirkan pelayanan kesehatan di tempat-
tempat lain: Rumah Sakit Santo Yusup di Cicadas - Bandung (1937),
Rumah Sakit Sekar Kamulyan di Cigugur - Kuningan (1965), dan Rumah
Sakit Cahya Kawaluyan di Kota Baru Parahyangan - Padalarang (2006).
Kehadiran Rumah Sakit Santo Borromeus bukanlah sekadar
pelayanan sosial di bidang kesehatan yang menawarkan pengalaman
Message from 17
The Bishop of the Diocese of Bandung
The light of Borromeus love
is getting brighter
P ope Francis would like to say in the Bull of Misericordia Vultus
(MV, Face of Mercy, 2015) that the work of mercy is at the
heart of the Church. “The Church is sent to proclaim God’s
mercy, the beating heart of the Gospel, which must penetrate the hearts
and minds of every person in its own way.” (12th MV). This
compassionate work is manifested in three areas: education, health, and
charitable services. Thus, wherever the Church is present, these three
works must be pursued.
One hundred years ago, on Sunday, September 18, 1921, at the
invitation of the Apostolic Vicar of Batavia Mgr. Edmundus S. Luypen,
SJ, which was initiated by Pastor Petrus J.W. Muller, SJ as the Head
Pastor of Bandung, in collaboration with several lay figures gathered in
the Santo Borromeus Association, the nuns from the Congregation of
the Sisters of Charity of Santo Carolus Borromeus (CB) started the
Santo Borromeus Roman Catholic Hospital as a compassionate service
of church in the health sector, which became the forerunner of the
Santo Borromeus Hospital. The light of the CB Sisters’ love has
radiated through time and penetrated numerous locations since then.
In fact, the light was illuminated even brighter by the birth of health
services in various locations: Santo Yusup Hospital in Cicadas -
Bandung (1937), Sekar Kamulyan Hospital in Cigugur - Kuningan
(1965), and Cahya Kawaluyan Hospital in Kota Baru Parahyangan -
Padalarang (2006).
The presence of the Santo Borromeus Hospital is not only a social
service in the health sector that offers a curative experience that heals
many patients and a preventive experience that prevents people from
falling ill by maintaining health alone, but also offers a promotive
experience that makes people appreciate and give meaning to physical
health as well as a redemptive experience. which makes people
experience spiritual (redemptive) experiences because they are touched
by God’s mercy through medical services. That’s where the presence of
The Blue Lantern
kuratif yang menyembuhkan banyak pasien dan pengalaman preventif
yang mencegah orang jatuh sakit dengan memelihara kesehatan saja,
tetapi juga menawarkan pengalaman promotif yang membuat orang
makin menghargai dan memaknai kesehatan badan serta pengalaman
redemtif yang membuat orang mengalami pengalaman rohani
(penebusan) karena tersentuh oleh belas kasih Allah lewat pelayanan
medis. Di situlah kehadiran seabad rumah sakit yang memiliki fondasi
rohani spiritualitas Bunda Elisabeth Gruyters, Pendiri CB, yang dalam
hidupnya memiliki passion untuk melayani orang yang miskin dan
menderita (sakit) ini, makin menyinarkan karya cinta kasih terutama
pada mereka yang membutuhkan seberkas cahaya kasih.
Pada usia 10 dekade ini, Rumah Sakit Santo Borromeus dipanggil menjadi
rumah sehat penuh belas kasih, tempat Allah bermurah hati yang secara
berani dan kreatif makin menyinarkan belas kasih. Bukan hanya kepada umat
Keuskupan Bandung atau masyarakat Jawa Barat saja, tetapi juga ke tempat-
tempat lain di mana tiada pelayanan kesehatan yang memadai dan ke
wilayah-wilayah di mana menantikan cahaya belas kasih. Dengan begitu,
cahaya cinta kasih abadi yang menghadirkan karya penyembuhan dan
penebusan Tuhan makin dirasakan banyak orang hingga orang pun takjub
dan memuliakan Allah “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Mrk 2: 12).
Seraya bersyukur kepada Allah, kita patut berterima kasih kepada semua
pribadi dan institusi, baik yang namanya tercatat maupun tak tertulis dalam
buku ini, tetapi telah memberikan hati, budi, energi, dan materinya dalam
melahirkan dan membesarkan Rumah Sakit Santo Borromeus. Secara
khusus kita berterima kasih kepada para rohaniwan, biarawati Kongregasi
Suster-suster Cinta Kasih Santo Borromeus, anggota Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus, dokter, tenaga medis lain, pekarya, dan
semua pihak yang telah dan akan terus terlibat dalam mengembangkan karya
kesehatan Rumah Sakit Santo Borromeus. Dirgahayu Rumah Sakit Santo
Borromeus. Terima kasih atas kehadirannya di Keuskupan Bandung dan
telah menjadi jantung Gereja di Bumi Parahyangan. Semoga cahaya cinta
kasih Borromeus tetap bersinar, bahkan makin luaslah jangkauan terangnya.
Selamat Pesta! Tuhan memberkati!
Bandung, 22 Juli 2021, Pesta Santa Maria Magdalena
Ut diligatis invicem,
+Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Uskup Keuskupan Bandung
a century-old hospital with a spiritual foundation based on Mother 19
Elisabeth Gruyters’ spirituality, the Founder of CB, who has a lifelong
devotion for assisting the poor and suffering (ill), shines a light on the
work of love, especially for those who need it.
St. Borromeus Hospital, at the age of ten decades, is asked to be a
healthy, compassionate home where Allah, who courageously and
artistically radiates mercy, can be found. Not only to the people of the
Diocese of Bandung and West Java, but also to those in other places
where there is a lack of adequate health care and where the light of
mercy is waiting. As a result, many people are becoming increasingly
aware of the light of eternal love that reveals God’s healing and
redeeming works, causing them to be astounded and glorify God. “We
have never seen anything like this,” (Mrk 2:12).
While giving thanks to God, we should also express gratitude to
all individuals and institutions, both whose names are recorded or
not in this book, but who have offered their hearts, minds, energies,
and materials in giving birth to and raising St. Borromeus Hospital.
We thank the clergy, nuns of the Sisters of Charity of Saint
Borromeus Congregation, members of the Society of Saint
Borromeus, doctors, other medical personnel, workers, and all those
who have been and will be involved in strengthening the health work
of the Hospital of Saint Borromeus in particular. The Hospital of
Saint Borromeo is commemorated. Thank you for your presence in
the Diocese of Bandung and for being the heart of the Church on
Earth Parahyangan. May the light of Borromeus’ love continue to
shine, spreading its light even more.
Happy Feast! God bless!
Bandung, July 22, 2021, Feast of Saint Mary Magdalene
Ut diligatis invicem,
+Antonius Subianto Bunjamin, OSC
The Bishop of the Diocese of Bandung
The Blue Lantern
Sambutan
Pemimpin Umum Kongregasi CB
Kisah Kasih di Jalan Dago
100 Tahun Rumah Sakit Santo Borromeus
Y ang saya hormati dan kasihi
anggota keluarga besar Rumah
Sakit Santo Borromeus: para
karyawan, jajaran manajemen dan direksi
serta Pengurus Perkumpulan Perhimpunan
Santo Borromeus. Saat ini Anda semua
merayakan yubileum agung Rumah Sakit
Santo Borromeus, 100 Tahun kehadirannya
melayani masyarakat di tanah Priangan.
Perkenankan saya mengawali sambutan
ini dengan mengucapkan syukur kepada
Allah yang telah memberi rahmat
berlimpah kepada keluarga besar Santo Borromeus dalam perjalanan melayani
Tuhan dalam diri sesama yang menderita sakit.
Saya mengucapkan selamat kepada Anda semua, keluarga besar Santo
Borromeus atas hari istimewa ini. Selamat atas segala daya dan upaya Anda
sehingga karya pelayanan ini dimahkotai dengan usia panjang, satu abad
melayani dan memberi diri.
Perjalanan selama seabad ini tentu mencatat banyak kisah duka maupun
suka, pahit dan manisnya kehidupan. Dalam kurun waktu ini, banyak orang
yang sudah terlibat dalam mencetak sejarah perjalanan rumah kita ini. Marilah
bersama-sama kita mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang
namanya mungkin terlupakan, tetapi jasanya besar dalam membesarkan karya
pelayanan ini. Begitu banyak tangan dan hati yang ikut mengukir karya ini
sehingga dapat bertahan dan setia memberikan pelayanan kepada mereka yang
sakit dan berkesesakan. Kepada masyarakat di Bandung dan sekitarnya yang
sudah mempercayakan kesehatannya kepada rumah ini, kami mengucapkan
terima kasih yang tidak terhingga. Tanpa kepercayaan Anda, maka kehadiran
Santo Borromeus ini tidaklah bermakna.
Message from The General Superior of the Congregation 21
of Sisters of Charity of St. Charles Borromeo
Love Story on Dago Street
100 Years of Santo Borromeus Hospital
M y love and respect to the members of the Hospital of Santo
Borromeus’ extended family: employees, managers, and
directors, as well as the Board of the Society of Santo
Borromeus. At this moment, you are all celebrating the wonderful
jubilee of Santo Borromeus Hospital, which has been serving the
community of Priangan for the past 100 years.
Let me begin this greeting by thanking God for the great graces
bestowed upon the large family of Santo Borromeus in their journey
of serving God by caring people who are suffering.
On this auspicious day, I wish to congratulate all of you, Santo
Borromeus’ extended family. Congratulations on all of your strength
and efforts to ensure that this work of service be blessed with a long
life, a century of serving and giving yourself.
This century-long voyage has undoubtedly documented many stories
of pain and joy, bitterness and sweetness in life. Many persons were
involved in printing the history of our home voyage during this time
period. Let us all show our gratitude to individuals whose names may
be forgotten, but whose contributions to this ministry have been
significant. So many hands and hearts went into carving this masterpiece
in order for it to live and continue to serve those who are sick and in
need. We are eternally grateful to the people of Bandung and its vicinity
who have entrusted their health to our house. Without your belief, the
presence of Santo Borromeus is meaningless.
The theme chosen for this commemoration is “100 Years of Legacy
and Beyond”.
When people read this topic, they naturally wonder what the
extended family of Santo Borromeus Hospital would transmit, tell,
and preach. What will be remembered, celebrated, and be grateful for?
The Blue Lantern
Tema yang dipilih dalam perayaan ini adalah “100 Years of Legacy and
Beyond”.
Membaca tema ini, tentu orang dapat bertanya, apa yang akan disampaikan,
diceritakan dan diwartakan oleh keluarga besar Rumah Sakit Santo
Borromeus? Apa yang akan diperingati, dirayakan dan disyukuri? Warisan
seperti apakah yang akan diturunkan atau diwariskan kembali kepada generasi
yang akan datang?
Pada Buku Peringatan 100 Tahun berdirinya Kongregasi Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus, 29 April 1937, ada ulasan yang menjadi saksi
tentang kelahiran Rumah Sakit Santo Borromeus di Bandung. Dalam buku itu
antara lain tertulis “Rumah Sakit Borromeus terletak di Jalan Dago 80.” Bagaimana
para Suster CB mengawali karya pelayanan ini? Para suster memberi kesaksian
bahwa mereka tidak mempunyai sesuatu pun. Bahkan, dilukiskan bahwa situasi
awal itu bagaikan berada dalam kemiskinan yang dialami oleh Keluarga Kudus di
Nazareth. Mereka mempersiapkan segala sesuatu dari nol, tanpa perabot rumah,
dengan bangunan yang belum jadi. Mereka berhadapan dengan tugas akbar, modal
kecil, tetapi dibekali iman yang teguh dan harapan yang besar.
Dengan kerja keras dan keinginan yang kuat untuk melayani sesama yang
menderita, para Suster CB tersebut akhirnya dapat memulai pelayanan kasih
mereka. Pada 18 September 1921, rumah sakit dibuka dengan kapasitas 17
tempat tidur yang semuanya langsung terisi oleh pasien. Sr. Gaudentia yang
menjadi pemimpin pada waktu itu mempersembahkan rumah ini kepada Hati
Kudus Yesus. Beliau menyerahkan segala urusan dan kesulitan kepada Hati
Tuhan yang penuh kasih dan kelembutan serta memohon agar Dia yang
menjadi Tuan atas Rumah Sakit Santo Borromeus yang miskin ini.
Ketika rumah sakit mulai beroperasi, para pionir harus mengalami
berbagai macam tantangan dan kesulitan. Ada beberapa upaya yang dilakukan
untuk menggagalkan karya baru tersebut. Para pemula pelayanan kasih ini
harus mendengarkan banyak ungkapan yang tidak sedap untuk didengar.
Dalam menghadapi kesulitan itu Sr. Gaudentia tiada henti berdoa “Hati Yesus
yang Maha Suci, aku percaya kepadaMu! Bantulah agar di rumah ini tiada
satu jiwa pun yang tidak selamat”.
Itulah cuplikan dari sejarah lahirnya Rumah Sakti Santo Borromeus
tercinta. Kembali pada pertanyaan awal saya, apa yang akan diwariskan oleh
keluarga besar Santo Borromeus? Kalau mau membandingkan wajah rumah
sakit tercinta ini pada awal berdirinya dengan saat ini, kita akan melihat
perbedaan yang luar biasa. Dari sisi fisik, fasilitas, perlengkapan, dan
What kind of legacy will be passed down or transferred to future 23
generations?
There is a commentary in the Book of the 100th Anniversary of the
Congregation of the Sisters of Charity of Saint Charles Borromeo, 29
April 1937, that testifies to the birth of the Santo Borromeus Hospital
in Bandung. In the book, it is said that “Hospital Borromeus is located
on Jalan Dago 80.” How did the CB Sisters get started in their ministry?
The sisters testified that they had nothing at that time. In fact, it was
described that the initial situation was like being in poverty experienced
by the Holy Family in Nazareth. They prepared everything from scratch,
without furniture, with unfinished buildings. They faced a difficult task
with limited resources, but they were armed with unwavering faith and
optimism.
The CB Sisters were eventually able to launch their compassionate
ministry after putting in a lot of effort and having a great desire to help
others in need. The hospital opened on September 18, 1921, with a
capacity of 17 beds, which were quickly filled with patients. This house
was dedicated to the Sacred Heart of Jesus by Sr. Gaudentia, the leader
at the time. He entrusted all his worries and concerns to God’s loving
and caring heart, and begged Him to be Lord of this impoverished
Santo Borromeus Hospital.
When the hospital first opened its doors, the pioneers faced plenty
of problems and hardships. Several attempts were made to prevent the
new construction from being completed. These novice to the ministry
of love must listen to a lot of nasty phrases. In the face of tremendous
adversity, Sr. Gaudentia continued to pray, “Most Sacred Heart of Jesus,
I believe in You! Help that not a single soul in this home perishes.”
That is an excerpt from the history of the revered Santo Borromeus
Sanctuary’s birth. Returning to my original question, what will the Santo
Borromeus family inherit? If we compare the face of this beloved
hospital during the beginning of its existence to today, we will notice a
significant shift. The difference is palpable in terms of physical facilities,
equipment, and external look. The hospital building was not yet
constructed, and the furnishings was not yet available. The sisters started
out poor and underprivileged. Let’s see what happens now. Hospitals
can dress up in their centennial year. It is desirable to have a beautiful
physical look. Employees’ equipment for serving patients is obviously
The Blue Lantern
penampilan luar, perbedaan itu sangat nyata. Pada awal, bangunan rumah
sakit belum jadi, perabotan belum tersedia. Para suster memulai dalam
keadaan miskin, serba-kekurangan. Sekarang marilah kita saksikan. Dalam
seabad usianya, rumah sakit boleh berdandan. Penampilan fisik menjadi
cantik. Perlengkapan untuk karyawan dalam melayani pasien tentu boleh
dikatakan cukup memadai. Dari waktu ke waktu, rumah sakit tumbuh dan
berkembang. Dari 17 tempat tidur untuk pasien, sekarang rumah sakit sudah
dapat menyediakan hampir 400 kapasitas tempat tidur. Menyaksikan
perkembangan ini, kalau kita bertanya kepada Bunda Elisabeth Gruyters,
pendiri Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus, dari
mana datangnya semua ini? Beliau akan menjawab “… dari mana datangnya
uang itu, dari mana asalnya … Penyelenggaraan Ilahi telah mengatur segala-
galanya.” (Elisabeth Gruyters, 60).
Keluarga besar Rumah Sakit Santo Borromeus yang terkasih, apa yang
akan saudara-saudari wariskan kepada generasi penerus? Mari kita lihat dunia
di sekitar kita. Ada banyak pelayanan kesehatan atau rumah sakit lain yang
memiliki sarana hardware dan software yang mungkin jauh lebih modern atau
memadai dibandingkan dengan rumah sakit kita. Kemungkinan mereka
memiliki tenaga kesehatan yang lebih profesional dan terampil. Mungkin
Rumah Sakit Santo Borromeus tidak akan dapat menawarkan fasilitas atau
kelengkapan medis yang serbamodern dan canggih seperti rumah sakit lain.
Pertanyaannya, lalu apa yang akan kita wariskan kalau yang serbamodern dan
canggih tidak dapat kita berikan?
Saya ingin menawarkan dua realita sejarah di atas yang mungkin dapat
direnungkan, dimaknai dan diteruskan kepada generasi muda yang akan
melanjutkan misi kasih di rumah kita ini. Pertama, karya pelayanan ini dari
awal tidak sekadar mengandalkan kemampuan dan kepintaran manusia belaka.
Rumah sakit ini diserahkan dalam perlindungan Hati Tuhan Yesus yang Maha
Kudus. Para suster pemula mewariskan sebuah nilai iman, kepercayaan besar
kepada Allah yang mendasari pelayanan mereka. Ini bukan karya kami, ini
karya Tuhan. Kemajuan ilmu dan teknologi di dunia kesehatan tidak boleh
menjadi raja di rumah ini. Keahlian dan keterampilan dari para tenaga
kesehatan yang semakin canggih tidak boleh menjadi tuan penguasa di keluarga
besar kita. Satu hal yang diwariskan oleh suster pemula, hanya Tuhan yang
menjadi Tuan atas Rumah Sakit Santo Borromeus ini.
Kedua, rumah ini didirikan untuk melayani mereka yang menderita sakit.
Para suster pionir menyerahkan para pasien yang datang kepada Hati Yesus
yang Maha Suci. Kepada hati yang lembut dan penuh belas kasih ini, para
adequate. The hospital grew and evolved over time. From 17 beds for 25
patients, the hospital can currently supply over 400 beds. In light of this
development, if we ask Mother Elisabeth Gruyters, founder of the
Congregation of the Sisters of Charity of Saint Charles Borromeo,
where it all came from. She would reply, "...where does this money come from,
where it comes from... Divine Providence took care of everything". (EG, 60)
What will you bequeath to the next generation, O! the extended
family of the loving Santo Borromeus Hospital? Let’s take a look at the
world around us. Many other health services or hospitals may have
equipment and software that is far more modern or adequate than ours.
They are more likely to have professional and skilled medical personnel.
Other hospitals may be able to provide modern and complex medical
facilities and equipment, but the Santo Borromeus Hospital may not.
The question is, what will we inherit if we can’t provide the modern
and sophisticated ones?
I would like to offer the two historical realities above that may be
contemplated, interpreted and passed on to the younger generation who
will continue the mission of love in our home. First, the work of this
ministry from the beginning did not rely solely on human abilities and
intelligence. This hospital is entrusted to the protection of the Most
Sacred Heart of the Lord Jesus. This hospital is under the protection
of the Most Sacred Heart of Jesus. The novice sisters instilled in their
students a value of faith, a deep trust in God that underpins their
ministry. This is not our handiwork; it is God’s work. Advances in
science and technology in the field of health care should not be king in
this house. The expertise and skills of increasingly sophisticated health
workers should not be the rulers of our extended family. One thing that
the novice nuns inherited, only God is the Lord of this Santo
Borromeus Hospital.
Second, this house was built to serve those who are sick. The pioneer
sisters turned their patients to the Sacred Heart of Jesus. To this tender
and compassionate heart, patients were entrusted, and not a single one
of them was left unsaved. Those who suffer were welcomed as great
guests so that the health workers in our home could share in the suffering
of others and relieve them. We serve others with love and kindness in
this house, because we wish to serve God, the Lord of this house. What
manner of service shall be rendered to God? Of course, only the best
will be provided by this extended family of Santo Borromeus.
The Blue Lantern
pasien dipercayakan, dan tidak satu pun di antara mereka dibiarkan tidak
selamat. Mereka yang menderita disambut sebagai tamu agung agar para
pelayan kesehatan di rumah kita ini dapat mengambil bagian dalam derita
sesama dan meringankannya. Di rumah ini, sesama dilayani dengan penuh
kasih dan kelembutan sebagaimana kita mau melayani Tuhan yang menjadi
Tuan di rumah ini. Bagaimana Tuhan akan dilayani? Tentu hanyalah yang
terbaik yang akan diberikan oleh keluarga besar Santo Borromeus ini.
Tidak boleh ada satu jiwa pun yang tidak selamat. Panggilan saudara-saudari
adalah membawa keselamatan jiwa bagi tamu yang datang. Apakah di rumah
ini pasien mengalami kehadiran Tuhan yang membawa keselamatan? Sebuah
refleksi di hari jadi ke-100 ini, bagaimana pelayanan kepada pasien diberikan
dan apa motivasi yang mendasari? Masihkah warisan dari cita-cita awal para
pendahulu dihayati dan akan diteruskan?
Saudara-saudari anggota keluarga besar Santo Borromeus, satu abad usia
rumah ini dirayakan di tengah duka dunia yang sedang terluka karena serangan
virus corona. Saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas ketulusan
hati saudara-saudari ikut serta ambil bagian dalam meringankan derita sesama.
Anda mengalami kecemasan, ketakutan dan mungkin juga keengganan untuk
tetap datang melayani di tengah pandemi ini karena pikiran akan keselamatan
diri sendiri dan keluarga. Akan tetapi, Anda tetap datang melayani di rumah kita
ini. Terima kasih Anda mewarisi semangat para pendiri yang tidak menyerah di
tengah hambatan dan kesulitan. Ketika semua upaya dan karya kita serahkan
kepada Tuhan demi kemuliaan-Nya dan keselamatan sesama, maka keluarga
Santo Borromeus ini sudah mewujudkan upaya untuk meneruskan warisan yang
sangat berharga kepada generasi muda. Berbahagialah Anda yang menjadi bagian
dari karya keselamatan Tuhan di rumah sakit tercinta ini.
Semoga iman, kasih dan pelayanan Anda di rumah ini menjadi sebuah
warisan sejati yang akan terukir indah dalam sejarah Santo Borromeus. Nama
Tuhan senantiasa dimuliakan dan sesama kita diberkati.
Selamat ulang tahun, wilujeng tepang taun Rumah Sakit Santo Borromeus.
Tuhan memberkati.
Salam kasih,
Sr. Rosaria, CB
Pemimpin Umum Kongregasi CB
There should not be a single unredeemed soul. The brothers and 27
sisters are called to provide salvation to the guests that come. Is the
patient aware of God’s presence in this house, who brings salvation?
Reflections on the 100th anniversary, including how patients are served
and the underlying motivation. Is the legacy of the predecessors’ initial
ideals still being lived and will be continued?
Brothers and sisters of the extended family of Santo Borromeus,
a century of this house is commemorated in the midst of the world’s
sadness over the corona virus attack. I am deeply grateful for the
sincerity of the brothers and sisters who are helping to alleviate the
pain of others. Because you are concerned about the safety of
yourself and your family, you may experience anxiety, fear, and a
reluctance to continue serving in the thick of the epidemic. However,
you continue to come to our house to serve. Thank you for carrying
on the spirit of the founders, who did not give up in the face of
adversity. When all of our efforts and deeds are left to God for His
glory and the salvation of others, the Santo Borromeus family has
made an attempt to pass on a very precious legacy to the next
generation. Be glad that you are a part of God’s work of salvation in
our valued hospital.
May your faith, love, and service in this house produce a true legacy
that will be gloriously carved in the history of Santo Borromeus. God’s
name is continually exalted, and our neighbors are blessed.
Happy anniversary, wilujeng tepang taun, Santo Borromeus Hospital.
God bless.
Kind regards,
Sr. Rosaria, CB
The General Superior of the Congregation
of Sisters of Charity of St. Charles Borromeo
The Blue Lantern
Sambutan
Pemimpin Provinsial CB Indonesia
”K endati para suster
sedemikian banyak
pekerjaan sehingga
mereka sering berjaga malam dan
tidak jarang mengalami kelelahan.
Namun demikian, mereka tetap
dalam kegembiraan. Inilah suatu
ungkapan kasih yang mendayai
mereka dalam rela berkorban untuk
siapa saja dan di mana pun yang
dibutuhkan.” Demikianlah peng-
galan buku harian Sr. Gaudentia
Brandt, salah satu perintis Rumah
Sakit Santo Borromeus, misionaris yang tiba di Bandung bersama Sr.
Crispine CB, Sr. Judith CB, Sr. Ludopha CB, Sr. Ambrosine CB, dan Sr.
Lioba CB.
Merefleksikan kembali kisah kasih ke-6 suster misionaris mengajak kita
untuk memaknai kembali semangat para misionaris dalam konteks zaman
kini. “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan
buah.” (Yoh 15: 16). Misionaris sebagai pembawa kabar sukacita yang
harus siap memberi dan menerima, mengevangelisasi dan dievangelisasi,
mengubah dan diubah, mengundang pertobatan dan bertobat terlebih
dahulu.
Misi merupakan transformasi diri untuk berkolaborasi, bersinergi, dan
berdialog dengan siapa saja yang dijumpai. Seorang misionaris melintasi
batas-batas yang kompleks, hidup dalam kontak dengan realitas orang
yang dievangelisasi, melampaui kebudayaan, sejarah, bahasa mereka
sendiri, mengadopsi gaya hidup dan kebudayaan orang yang
dievangelisasi, yang bermakna “mengosongkan diri,” sehingga dapat
menyatu dengan pribadi-pribadi yang dilayani.
Message from The Provincial Superior of the Congegration 29
of Sisters of Charity of St. Charles Borromeo, Indonesia
“...Even though the sisters have so much work to accomplish that they
frequently remain awake at night and are frequently weary. Nonetheless, they
remained joyful. This is a statement of love that motivates them to be willing to
sacrifice for whoever and wherever it is needed.” An excerpt from the diary
of Sr. Gaudentia Brandt, one of the pioneers of the Santo
Borromeus Hospital, a missionary who arrived in Bandung with Sr.
Crispine CB, Sr. Judith CB, Sr. Ludopha CB, Sr. Ambrosine CB, and
Sr. Lioba CB.
Reflecting on the love story of the six missionary sisters inspires us
to reinterpret the missionary spirit in today’s context. "I have appointed
you to go and bear fruit" (John 15:16). As messengers of the good news,
missionaries must be prepared to give and receive, to evangelize and be
evangelized, to change and be changed, to inspire repentance and to
repent first.
The mission is a self-transformation that allows us to collaborate,
synergize, and converse with anybody we meet. As a missionary, you
transcend your own culture, history, and language and adopt the
lifestyle and culture of the evangelized person, which implies
“emptying yourself ” to become one with the person you’re trying to
reach out to.
The missionary sisters are inspired to devote themselves in the
work of saving others by the love and sacrifice exemplified by Jesus
on the Cross. "... the eternal happiness of fellowman is very dear to me" (EG,
40). Thus, in her book of vocations, Mother Elisabeth, founder of
the Congregation of Sisters of Charity of Saint Charles Borromeo
(CB), wrote about her faith experience. The spiritual inheritance that
constituted the basic spirit of the work of health services was carried
down from generation to generation by the six sisters and apostolic
companions who pioneered the Santo Borromeus Hospital and
continues to be manifested in the ministry today.
The Blue Lantern
Cinta dan pengorbanan yang bersumber dari kasih Yesus Tersalib
menggerakkan para suster misionaris untuk ambil bagian dalam karya
keselamatan sesama. “…Keselamatan sesama sangat kupentingkan.” (EG,
40). Demikian Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus (CB) menulis pengalaman imannya
dalam buku kisah panggilan yang beliau tulis. Warisan rohani yang menjadi
spirit dasar karya pelayanan kesehatan ini diteruskan oleh keenam suster
dan mitra kerasulan yang merintis Rumah Sakit Santo Borromeus dan
terus diwujudkan dalam pelayanan hingga kini dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, kita semua berharap agar kehadiran Rumah Sakit Santo
Borromeus dapat mengambil bagian demi menyehatkan bangsa Indonesia
dengan mengembangkan semangat nasionalisme, pluralitas, kebhinekaan
dalam keberagaman, perdamaian, keadilan serta undangan mewujudkan
keberpihakan kepada sesama yang kecil, lemah, miskin, dan berkesesakan
hidup sehingga yang kita layani mengalami keselamatan dan sukacita.
Limpah terima kasih kepada: (1) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin,
OSC Uskup Keuskupan Bandung yang memperkenankan Kongregasi CB
untuk ambil bagian berkarya di Keuskupan Bandung khususnya di Rumah
Sakit Santo Borromeus, (2) Para pendahulu yang meletakkan dasar yang
kuat nilai-nilai spiritualitas CB, (3) Segenap organ Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus (PPSB) dan keluarga besar Rumah Sakit
Santo Borromeus yang terus mengupayakan kemajuan Rumah Sakit Santo
Borromeus, (4) Institusi pemerintah dan swasta, jejaring, dan berbagai
pihak yang membantu dalam pengembangan Rumah Sakit Santo
Borromeus, (5) Panitia Jubilee seabad Rumah Sakit Santo Borromeus yang
mempersiapkan berbagai aktivitas untuk memaknai seabad Rumah Sakit
Santo Borromeus. Akhir kata, proficiat, dan semoga kita terus dikobarkan
dalam mengembangkan layanan di Rumah Sakit Santo Borromeus yang
semakin bermartabat.
Salam Kasih Yesus Tersalib,
Sr. Yustiana Wiwiek Iswanti, CB.
Pemimpin Provinsial CB Indonesia
Eventually, we all hope that the presence of the Santo Borromeus 31
Hospital can contribute to the health of the Indonesian people by
developing the spirit of nationalism, plurality, unity in diversity,
peacefulness, and justice, as well as the invitation to realize our stand
for those who are small, weak, poor, and living in desperation, so that
those we serve experience salvation and joy.
Abundant gratitude to: (1) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC
Bishop of the Diocese of Bandung, who allowed the CB
Congregation to partake in the Diocese of Bandung’s work,
particularly at the Santo Borromeus Hospital, The predecessors who
established the solid foundation for CB’s spiritual values, (3) All organs
of the Society of Santo Borromeus (PPSB) and the extended family
of the Santo Borromeus Hospital who continue to strive towards the
improvement of the Santo Borromeus Hospital, (4) Government and
private institutions, networks, and various parties that assist in the
development of the Santo Borromeus Hospital, (5) The Jubilee
Committee for a Century of Santo Borromeus Hospital, who
organized various activities to commemorate the Hospital’s centennial.
Finally, proficiat, and hopefully we will be encouraged to continue
offering increasingly dignified services at the Santo Borromeus
Hospital.
Kind Regards of Crucified Jesus
Sr. Yustiana Wiwiek Iswanti, CB.
The Provincial Superior of the Congegration
of Sisters of Charity of St. Charles Borromeo, Indonesia
The Blue Lantern
Sambutan Ketua Pengurus
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus
“100 Years of
Legacy and Beyond”
PSalam sejahtera,
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa,
atas kasih karunia-Nya,
100 tahun perjalanan Rumah Sakit
Santo Borromeus, cikal bakal
Pelayanan Kesehatan Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus/
PPSB. Selamat satu abad Rumah
Sakit Santo Borromeus yang kita
cintai; disertai sujud syukur atas
anugerah yang sungguh tak terkira,
bahwa kita semua diperkenankan
mengalaminya dalam keadaan
penuh sukacita.
Terima kasih yang setulusnya kepada Mgr. Antonius Subianto
Bunjamin, OSC dan seluruh lingkupnya; kepada para Suster Kongregasi
Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus/CB, atas doa yang
selalu mengalir, bimbingan, dukungan dan penyertaan kasihnya
senantiasa; kepada Direktur Utama Rumah Sakit Santo Borromeus dr.
Chandra Mulyono, Sp.S.; kepada direksi dan seluruh jajarannya, kepada
para dokter, perawat, tenaga kesehatan, semua mitra karya (karyawan)
dan keluarganya, kepada para sesepuh dan purnabakti atas pengabdian
Message from The Chair of The Executive Board 33
of The Society of Saint Borromeo
“100 Years of
Legacy and Beyond”
Best wishes,
P raise and gratitude to the presence of Almighty
God, for His grace, 100 years of journey of Saint
Borromeo Hospital, precursor of the Health Service
of the Society of Saint Borromeo / PPSB. Congratulations
to our beloved Saint Borromeo Hospital; accompanied by a
prostration of gratitude for a truly immeasurable gift, which
we are all allowed to experience in a state of joy.
Sincere thanks to Mgr. Antonius Subianto Bunjamin,
OSC and the entire perimeter; to the sisters of the
Congregation of Sisters of Charity of Saint Charles
Borromeo/CB, for their constant prayers, guidance,
support and love; to the President Director of Saint
Borromeo Hospital, dr. Chandra Mulyono, Sp. S.; to the
Board of Directors and all the staff, doctors, nurses, health
care workers, all the working partners (employees) and
their families, seniors and retirees, for their extraordinary
service for the advancement of Saint Borromeo Hospital;
to the patients, patients’ families, local residents, society,
business partners, government and related offices/
institutions, for the support, trust, appreciation and
reputation they have given, so that Saint Borromeo
Hospital could work and obtained various awards, and be
The Blue Lantern
yang luar biasa bagi kemajuan Rumah Sakit Santo Borromeus; kepada
para pasien, keluarga pasien, warga lingkungan sekitar, masyarakat luas,
mitra kerja, pemerintah dan instansi/institusi terkait, atas dukungan,
kepercayaan, penghargaan dan nama baik yang diberikan, sehingga
Rumah Sakit Santo Borromeus dapat berkarya dan memperoleh
berbagai penghargaan, serta terakreditasi internasional dengan peringkat
paripurna (KARS); kepada seluruh unit operasional, yayasan dalam
bidang pelayanan dan pendidikan kesehatan di lingkungan PPSB yang
tergabung dalam keluarga Borromeus Group, atas segala upaya, kerja
sama yang saling melengkapi, persatuan dalam semangat persaudaraaan
dan cinta kasih membangun Borromeus Group yang kuat; kepada
anggota luar biasa, anggota, pengawas, pengurus dan staf PPSB beserta
keluarga, atas jasa-jasa yang dicurahkan bagi karya pelayanan PPSB.
Perjuangan dalam rentang waktu yang panjang, menempa Rumah
Sakit Santo Borromeus semakin matang, terpercaya; tergerak untuk
mengasah kepekaan, kepedulian, kemampuannya untuk terus berproses
meningkatkan kinerja menjadi lebih baik setiap saat.
Dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf atas sesuatu hal
yang tidak berkenan selama ini, dan kami akan terus mengadakan
pembenahan yang diperlukan.
Genap satu abad, kita berada di suatu titik pusat terkumpulnya
berkas-berkas cahaya warisan yang tak terhitung jumlah dan terangnya;
pada titik inilah muatan sujud syukur kita mengubahnya untuk menjelma
sebagai titik api cahaya, syukur, cinta dan berbela rasa dengan daya pijar
yang kuat memancar ke segala penjuru, melintasi ruang dan waktu tanpa
batas, melanjutkan perjalanan, menggapai harapan … senantiasa …
selamanya ... ”100 Years of Legacy and Beyond”….
Kita memaknai warisan dengan mensyukuri atas semua yang ada,
anugerah keselamatan yang tiada taranya, untuk semua jalan yang
diberikan, kebanggaan-kebanggaan yang sepatutnya.
internationally accredited with a plenary rating (KARS); to all 35
the operational units, foundation in the field of health services
and education within PPSB that are members of the
Borromeus Group family, for all their efforts, complementary
cooperation, unity in the spirit of brotherhood and love,
building a strong Borromeus Group; to the extraordinary
members, the supervisory board, the board of directors and
the staff of PPSB and their families, for the services rendered
to the work of PPSB services.
Struggle over a long period of time, forging Santo
Borromeus Hospital to be more mature, reliable; moved to
refine its sensitivity, concern, ability to continue the process of
improving performance for the better all the time.
In all humility, we apologize for any inconvenience so far,
and we will continue to make the necessary improvements.
After a century, we are at the center of the accumulation of
countless bright beams of legacy; at this point, the charge of
our prostration of gratitude transforms it into a flash of light,
gratitude, love and compassion with a strong incandescent
power radiating in all directions, crossing space and time
without limits, continuing the journey, seeking hope, always,
forever ... forever … “100 Years of Legacy and Beyond”...
We interpret this heritage with gratitude for all that exists,
for the incomparable gift of salvation, for all the paths traced,
a just pride.
Thank you to the Founders, Pioneers, Predecessors and
Successors for the abundant provisions, all the valuable
experiences, the noble values described in “Carolus
Borromeus” ICARE Culture, for the defense and the great
sacrifices, which helped us to get to where we are now and
The Blue Lantern
Terima kasih kepada para pendiri, perintis, pendahulu dan penerus
untuk bekal yang sedemikian melimpah, semua pengalaman berharga,
nilai-nilai mulia yang dituangkan dalam Budaya ICARE “Carolus
Borromeus”, atas pembelaan dan pengorbanan besar, yang turut
menghantar keberadaan kita sekarang dan menyadarkan bahwa
sesungguhnya semangat pelayanan merupakan rahmat yang agung dan
mengagumkan.
Kita bersyukur atas kepercayaan yang dilimpahkan secara istimewa
dan khusus itu, berupa panggilan untuk menolong, merawat,
menyelamatkan dan membantu penyembuhan dalam kebersamaan,
kemajemukan, kebhinekaan yang kaya.
Landasan belas kasih yang ditanamkan menjadi dorongan atas semua
kiprah, harapan, dan gerak napas Rumah Sakit Santo Borromeus, yang
terus berpacu pada keunggulan untuk mencapai pelayanan kesehatan
yang unggul dan andalan, bukan hanya demi persaingan semata.
Landasan itu mendorong Rumah Sakit Santo Borromeus hidup, dinamis,
terbuka pada perubahan, belajar dari pengalaman, terus menimba ilmu,
meningkatkan kemampuan, keterampilan, mengikuti perkembangan
kemajuan pengetahuan dan teknologi kedokteran terkini, selaras dengan
melengkapi sarana medis dan penunjang lainnya, untuk memberikan
pelayanan yang terbaik pada masanya.
Demikian pula dengan penyediaan prasarana yang bersih, aman, asri
untuk mendukung pelayanan yang bermutu tinggi, berpusat pada
keselamatan pasien, membantu proses penyembuhan, serta sebagai
ungkapan menghargai sesama dan peduli lingkungan hidup.
Pelayanan bernuansa ICARE dan persaudaraan membangun suasana
“Borromeus Rumah untuk Semua”. Kemajuan teknologi peralatan,
obat-obatan dan tindakan medis diupayakan untuk memberikan
penanganan yang lebih cepat, tepat, lengkap, memudahkan,
meringankan, lebih sederhana, nyaman dan terpadu.
realize that in fact the spirit of service is a great and admirable 37
grace.
We are grateful for the trust that has been placed in us in
an extraordinary and special way, in the form of a call to help,
to care, to save and to help heal in conviviality, heterogeneity
and rich diversity.
The foundation of compassion that was instilled has
become the impetus for all the efforts, hopes and breathing
movements of Saint Borromeo Hospital as it continues to
strive for excellence in achieving superior and reliable health
services, not just for competitive reasons. This foundation
encourages Saint Borromeo Hospital to live, to be dynamic,
open to change, to learn from experience, to continue to
acquire knowledge, to improve capabilities, skills, to keep up
with the latest advances in medical knowledge and technology,
in harmony with the medical and other support facilities, to
provide the best service in its time.
Likewise with the provision of clean, safe and beautiful
infrastructure to support high quality services, focused on
patient safety, helping the healing process and as an expression
of respect for others and care for the environment.
Service to ICARE shades and fellowship creates a
“Borromeo, Home for All” atmosphere. Advances in
technology of medical equipment, medications and
procedures are aimed at providing faster, more accurate,
comprehensive, easier, simpler, more convenient and
integrated treatment.
In this digital age, IT development is intended to help
mitigate the limitations to be possible, skillfully done but
always flexible with a helpful attitude, not being hostage to
The Blue Lantern
Pada era digital ini, pembangunan IT dimaksudkan untuk membantu
kelancaran membuka keterbatasan menjadi memungkinkan, dilaksanakan
dengan cekatan namun tetap luwes dengan sikap menolong, tidak
tersandera pada pelayanan yang dingin, kaku, terpaku, terbatas, dan
sempit. Generasi milenial dengan kelebihan dalam kecerdasan dan
kemampuan belajar cepat, diarahkan dan dilatih agar mempunyai etos
kerja yang tinggi dan kepekaan hati, teguh berpegang pada nilai-nilai
berharga, setia, tekun, ulet, berbobot; berselera tinggi dalam bahasa, tutur
kata; mampu menyesuaikan dan dapat membawa diri, mampu
menghargai kekayaan dan keindahan alam, hasil karya, dan pola hidup
sehat; membangun generasi kekinian dengan jati diri yang “keren”.
Benih pelayanan yang disemai, tumbuh subur, mekar berkembang
dalam keberagaman cita rasa, warna dan aroma harum semerbak di
Tatar Priangan nan jelita dan berhawa sejuk; terjalin dalam harmoni
tatanan dan mengembangkan seni dalam penyelenggaraannya untuk
menciptakan keindahan simfoni yang menakjubkan, membuka
cakrawala membentang, mengobarkan semangat menjadi penerus cita-
cita luhur yang tangguh dan tangkas, melangkah tegap sebagai insan
syukur dan duta ICARE, yang dalam segala tindakannya menandakan
nuansa syukur, sebagai pembaharu dengan tindakan-tindakan terpuji
dan pembawa damai.
Menghadapi pandemi Covid-19, walaupun wajah tertutup masker
dan sekujur tubuh dibalut “APD” yang pengap dan gerah, namun hal
itu tidak meredupkan pancaran hati yang melegakan, dalam uluran
tangan tanpa ragu, sorot mata yang mengerti kepada mereka yang
berkesesakan, jangan sampai terjadi punahnya sapa, hapusnya senyum.
Hati yang peduli, rela mendengarkan, terus mengadakan dan
membangun komunikasi yang tulus, bermutu dan dapat dipercaya,
mengungkapkan penghargaan pada hal kecil sekalipun, melalui kata-
kata, isyarat bahasa tubuh dan perbuatan-perbuatan kreatif lainnya;
tata krama yang halus dengan ucapan “maaf ”, “tolong”, dan “terima
kasih”.
cold, rigid, obsessed, limited and narrow services. The 39
millennial generation with intelligence advantages and the
ability to learn quickly, is led and trained to have a high work
ethic and heart sensitivity, firmly adhere to valuable values,
loyal, diligent, tenacious, weighty; good taste in language,
speech; able to adapt and carry themselves, able to appreciate
the richness and beauty of nature, work and a healthy lifestyle;
build the current generation with a “cool” identity.
Seeds of service that are sown, grow, bloom in a variety
of flavors, colors and aromas fragrant in the beautiful and
fresh air of Priangan Land; intertwined in the harmony of
order and develop art in its implementation to create a
breathtaking beauty of symphony, open horizons, ignite the
spirit to be the successor of noble ideals that are strong and
agile, walk straight as a person of gratitude and ambassador
of ICARE, which in all their actions means the shades of
gratitude, as a reformer with commendable actions and
peacemakers.
Faced with the Covid-19 pandemic; even if the face is
covered with a mask and the whole body is wrapped in stuffy
and stifling “PPE”, this does not obscure the glow of the heart
that is relieved, in the hand extended without hesitation, the
look in the eyes that understand those in the crowd, do not let
greetings disappear, erase smiles.
A caring heart, ready to listen, to continue to establish and
build sincere, quality and trustworthy communication, to
express appreciation for even the smallest things, through
words, gestures, body language and other creative actions;
gentle manners with words “sorry”, “please” and “thank you”.
This concern will translate into a call for health and
education services as fundamental, to build a sustainable
golden generation.
The Blue Lantern
Kepedulian akan membuahkan panggilan pada pelayanan kesehatan
dan pendidikan sebagai hal yang mendasar, untuk membangun generasi
emas yang berkesinambungan.
Terima kasih bahwa pukulan hebat pandemi Covid-19 tidak
menyurutkan niat untuk terus mengabdi dengan rela, tulus dan kesetiaan
yang menguatkan. Tanpa semangat kasih dan pengabdian, memang tak
dapat diharapkan adanya buah pelayanan. Yang terjadi hanya antara ada
dan tiada, menuju pada kehampaan nilai dan kesia-siaan belaka.
Walaupun merupakan pilihan bebas, upaya dan rahmat untuk tetap
setia, kita bersyukur dan bangga atas semua pribadi ajaib yang memilih
panggilan berbela rasa dan mengabdikan diri demi kepedulian; dengan
kemurahan hati berlimpah bagi kebaikan orang lain daripada untuk
kepentingan diri sendiri, sebagai pemberian diri dan persembahan hidup;
merupakan sumber terang dan bakti bagi kemanusiaan, bangsa, negeri
dan dunia. Integritas yang tinggi sebagai harapan untuk membangun
masa depan yang menjunjung tinggi martabat manusia, berjuang untuk
kesejahteraan, keselamatan serta kebahagiaan alam semesta beserta isinya.
Ke depan, rencana setinggi gunung dan seluas lautan tak akan habis
menanti, terpanggil hati akan lambaian nyiur hijau di kejauhan. Dalam
suasana doa dan berpegangan tangan erat, menjalin hubungan dan kerja
sama, kita bersiap menghadapi tantangan, perubahan dan godaan yang
mungkin terjadi, dengan “berpandai-pandailah meniti buih” dalam
melintasi lembah dan bukit, mengarungi gelombang; dengan percaya
akan jalan yang ditunjukkan, hingga selamat sampai di samudera yang
tenang dan cerah. Kita berserah dalam tangan Yang Mahakuasa.
Kita tetap mawas diri, rendah hati dalam semangat kesederhanaan;
membumi di Tanah Priangan, membumbung tinggi namun bersahaja,
bagaikan yang tersirat dalam wastra Megamendung yang jernih murni,
bersemburat cahaya, melukis angkasa raya yang megah, melingkupi,
melindungi, anggun meneduhkan, mantap, cakap, lembut,
mendengarkan, dan mengerti, setia hadir menyelimuti tidur kita di
malam hari dengan taburan kelip bintang dan cahaya bulan; bersama
sang mentari yang selalu terbit tepat pada waktunya, menyapa hangat,
Thank you that the great blow of the Covid-19 pandemic 41
did not dampen the intention to continue to serve willingly,
sincerely and with strengthened loyalty. Without the spirit of
love and devotion, the fruit of service cannot be expected.
What happens is only between being and not being, leading to
a void of value and mere futility.
Although it is a free choice, effort and grace to remain
faithful, we are grateful and proud of all the magical individuals
who choose the call of compassion and dedicate themselves
to care; with abundant generosity for the good of others,
rather than for self-interest, as a gift of self and offering of
life; is a source of light and devotion to humanity, nation,
country and world. Integrity elevated as a hope to build a
future that respects human dignity, fights for the well-being,
security and happiness of the universe and its contents.
We remain introspective, humble in a spirit of simplicity;
grounded in the Land of Priangan, soaring high but humble,
as suggested by the Megamendung scriptures that are clear and
pure, glittering with light, painting the majestic sky,
encompassing, protecting, shading gracefully, stable, capable,
gentle, listening and understanding, faithfully the present that
envelops our nightly slumber is dotted with twinkling stars and
moonlight; with the sun that always rises on time, warmly
welcomes, shines, gives enthusiasm for a new day. Even in the
cloud, it beckons to take shelter and promises to bring rain
that falls on the earth, cleanses, refreshes the tired, the lazy;
watering the arid and weary; wherever it goes, it always
resonates, reliable, embraces nature like a sparkling blue sky,
merges with the blue of the ocean on the perfect horizon line.
A century of love journey, built thanks to the many
contributors; prayers, services and immeasurable energy, with
all your heart, mind and self, it is certainly impossible to write
and mention them all, but in essence, without exception, all
The Blue Lantern
menyinari, memberi semangat akan hari baru. Sekalipun dalam
mendungnya, ia memberi tanda agar berteduh dan janji mencurahkan
hujan yang mengguyur bumi, membersihkan, menyegarkan yang lesu,
lamban; menyirami yang gersang dan letih; ke mana pun melanglang
tetap bergaung, terpercaya, mendekap alam sebagai langit biru kemilau,
berpadu dengan lautan biru di garis cakrawala yang sempurna.
Satu abad perjalanan cinta kasih dibangun berkat banyak sekali yang
memberikan sumbangsihnya; doa, jasa, dan tenaga yang tak terukur,
dengan segenap hati, budi dan diri, niscaya tak mungkin cukup ditulis
dan disebut seluruhnya, tetapi pada hakekatnya tanpa kecuali semuanya
penting dan berharga dalam mempersembahkan secercah cahaya yang
tak akan sirna. Setitik kasih tetaplah sebagai pendar terang Yang Ilahi
dan abadi.
Terima kasih untuk menjadi sahabat seperjalanan yang setia; atas
kepercayaan dan pemberian diri sebagai jembatan kasih dan kabar
gembira, sumber inspirasi, semangat, teladan dan sukacita; dan atas
kemurahan berlimpah bagai air mengalir, yang mengukir dengan pendar
cahaya pelayanan terindah, yang memantik syukur dalam hati sanubari
setiap insan. Bercahaya tiada henti, bergulir sejarah, terus mewariskan,
meneladani, senantiasa, selamanya …
Dirgahayu Rumah Sakit Santo Borromeus
Semoga berbuah berlimpah, mekar semerbak mewangi
Tetap sukacita dan semakin dicintai
Tuhan senantiasa memberkati
Bandung, 18 September 2021
dr. Cynthia Limandibrata
Ketua Perkumpulan “Perhimpunan Santo Borromeus”
are important and valuable to offer a glimmer of light that will 43
not disappear. A grain of love remains as a shining light of the
Divine and eternal.
Thank you for being a faithful companion on the journey;
for trusting and giving as a bridge of love and good news, a
source of inspiration, encouragement, example and joy; and
for the abundance of generosity like flowing water, etching
with the most beautiful light of service, igniting gratitude in
the heart of every human being. Shines infinitely, history
continues, continues to bequeath ... always, forever ...
Celebrating a century of Saint Borromeo Hospital
May it bear abundant fruit, bloom with fragrant aroma
Stay happy and be more loved
God bless always
Bandung, September 18, 2021
dr. Cynthia Limandibrata
Chair of The Society of Saint Borromeus
The Blue Lantern
Sambutan Direktur Utama
Rumah Sakit Santo Borromeus
Salam sejahtera,
Mengawali kata sambutan ini,
marilah kita memanjatkan puji
syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga
Rumah Sakit Santo Borromeus saat
ini berusia 100 tahun.
Dipenuhi dengan pengorbanan,
perjuangan, dan semangat kasih
serta bela rasa yang begitu besar
dari para perintis pendiri Rumah Sakit Santo Borromeus, yaitu Suster-
Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus maka tanggal 18 September
1921 merupakan hari yang memiliki nilai sejarah yang sangat penting
karena tanggal tersebut merupakan awal berdirinya karya pelayanan
kesehatan “Rumah Sakit Santo Borromeus” di Kota Bandung.
Waktu berlalu begitu cepat, berbagai tantangan dan perubahan
zaman pun telah dilalui oleh Rumah Sakit Santo Borromeus dengan
penuh perjuangan dan kerja keras dari seluruh komponen Rumah Sakit
Santo Borromeus pada masa-masa yang lalu. Pada saat ini Rumah Sakit
Santo Borromeus telah mencapai usia 100 tahun, dan atas segala
anugerah tersebut maka selayaknya kita mengucapkan syukur kepada
Tuhan, semoga pelayanan Rumah Sakit Santo Borromeus tak
berkesudahan.
Inilah bakti kami “Rumah Sakit Santo Borromeus” bagi bangsa dan
negara Indonesia tercinta, bagi upaya memperjuangkan keselamatan dan
kesehatan jiwa dan raga masyarakat yang membutuhkan pelayanan
kesehatan dengan berlandaskan semangat cinta kasih dan nilai-nilai
ICARE (Integrity, Compassion, Assurance, Respect, dan Embrace Innovation).
Message from 45
The President Director of Santo Borromeus Hospital
Best wishes,
As I begin this message, let us express our gratitude to
our Almighty God, who has abundantly given HIs grace
and graciousness to enable Santo Borromeus Hospital
reaches the 100 years old milestone.
Filled with sacrifices, strive and the spirit of love and
great compassion of Santo Borromeus Hospital foundation
pioneers, namely the Sisters of Charity of Saint Charles
Borromeo, dated back on September 18.1921, is considered
as a day that has a significantly important historical value
as this date marks the beginning of the establishment of
the healthcare service “Santo Borromeus Hospital” in the
city of Bandung.
Time has flown by so fast that each of every
components of this hospital has tenaciously withstood
various challenges and change of times throughout the time
that has been flying by ever-so quickly. At this very moment
Santo Borromeus Hospital reaches the its’ 100 years
milestone, and for that grace it is righteously for us to give
thanks to God. We hope that Santo Borromeus Hospital
would be unceasingly able to serve more people in the
future.
Grounded by the spirit of love and values of ICARE
(Integrity, Compassion, Assurance, Respect, and Embrace
Innovation), we dedicate “Santo Borromeus Hospital” for
our beloved nation and country of Indonesia, as our effort
to fight for the welfare and well-being of those who are in
need of healthcare services.
The Blue Lantern
Pada era Industri 4.0 yang diikuti era Teknologi 5.0, dan era pandemi
Covid-19 yang membuat kita harus beradaptasi secara cepat, kita sebagai
penerus karya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Santo Borromeus
berkomitmen untuk berusaha terus memberikan pelayanan dengan
mutu dan keselamatan terbaik. Peningkatan mutu pelayanan harus
dimulai dengan “Mengoptimalkan Kualitas Sumber Daya Manusia yang
Unggul” agar mampu menghadapi tuntutan dan perubahan zaman yang
serbacepat ini, untuk menuju “Borromeus Healthcare 100 Years of Legacy
and Beyond”.
Di akhir kata sambutan ini, perkenankan kami mengucapkan terima
kasih kepada Mgr. Antonius Subianto B., OSC, Suster-Suster Cintakasih
Santo Carolus Borromeus, dan dr. Cynthia Limandibrata atas dukungan,
bimbingan, dan perlindungan untuk Rumah Sakit Santo Borromeus
sehingga Rumah Sakit Santo Borromeus tetap dapat berkembang terus
memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi, profesional, dan
safety bagi masyarakat Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, dan secara
lebih luas lagi bagi bangsa Indonesia.
Selamat ulang tahun ke-100 Rumah Sakit Santo Borromeus.
Tuhan memberkati.
dr. Chandra Mulyono, Sp.S.
Direktur Utama Rumah Sakit Santo Borromeus