Posyandu Assistance 197
O ne of the social responsibilities fulfilled by Santo Borromeus
Hospital, is actively giving assistance to the Melati Posyandu
in Bagusrangin RW o7, Coblong Sub-district, Bandung City,
which is geographically located in the same sub-district.
Along with preparing the Melati Posyandu to compete in the
Bandung City Posyandu competition on July 5, 2018, the Santo
Borromeus Hospital’s Health Promotion Section assisted by opening
free health service outlets for the community in the form of health
consultations, blood pressure checks, and blood sugar levels. Posyandu
Melati placed third in the Posyandu competition at the Bandung City
level on that occasion.
The Blue Lantern
Tempat Penitipan Anak & Day Care 199
Anak adalah masa depan. Menyadari pentingnya hal
itu, orang tua akan selalu mengupayakan yang
terbaik bagi anak-anaknya. Akan tetapi, pada
kenyataannya banyak orang tua (ibu dan ayah) yang sama-
sama bekerja, sementara anak-anak masih kecil. Terkadang
kondisi ini menjadi persoalan serius bagi mereka. Kehadiran
Tempat Penitipan Anak dan Day Care memberikan solusi
bagi keluarga-keluarga muda. Rumah Sakit Santo
Borromeus menawarkan solusi bagi para karyawannya
dengan membuka Tempat Penitipan Anak khusus anak
karyawan yang memenuhi standar sebagai “rumah kedua”
yang memberi kenyamanan bagi anak serta ketenangan hati
bagi orang tua. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
umum, tersedia layanan Day Care di Gedung Elisabeth
Lantai 1 yang siap menerima penitipan anak-anak.
Child Care & Day Care
T he future belongs to the children. Realizing the
importance of this, parents will always strive to
provide the best for their children. However,
many parents (both mother and father) work while their
children are still young. This condition can sometimes
become a serious issue for them. The presence of Child
Care Center and Day Care provides a solution for young
families. Santo Borromeus Hospital provides a solution
for its employees by opening a special Child Care Center
for employees’ children that meets the standards as a
“second home” that provides comfort for children as
well as peace of mind for parents. While Day Care
services are available on the first floor of the Elisabeth
Building to meet the needs of the general public.
The Blue Lantern
Borromeus Children Medical Center (BCMC) 201
Rumah Sakit Santo Borromeus adalah rumah sakit
yang sangat peduli terhadap kesehatan anak. Hal ini
dibuktikan dengan hadirnya Borromeus Children Medical
Center (BCMC) yaitu klinik yang menangani segala
permasalahan kesehatan yang dialami anak-anak. BCMC
dilengkapi dengan klinik spesialis anak dan subspesialis anak
seperti klinik alergi imunologi, klinik endokrin, klinik
gastroenterologi, klinik alergi imunologi, klinik bedah anak,
klinik psikologi anak, klinik gigi anak, klinik saraf anak, klinik
mata anak, klinik hematologi anak, dan klinik THT anak.
Di BCMC, anak-anak ditangani oleh para dokter
profesional dengan berprinsip pada atraumatic care dan
berpengalaman. Tak hanya itu, pendekatan kepada anak-anak
sebagai sahabat diutamakan agar mereka sukarela dan bersedia
dilakukan pemeriksaan tanpa paksaan sehingga tidak
menimbulkan trauma kepada mereka.
Borromeus Children Medical Center (BCMC)
Santo Borromeus Hospital is a hospital that genuinely
cares about the health of children. The presence of the
Borromeus Children Medical Center (BCMC), a clinic
that handles all health problems experienced by children,
attests to this. Allergy immunology clinic, endocrine clinic,
gastroenterology clinic, pediatric surgery clinic, pediatric
psychology clinic, pediatric dental clinic, pediatric neurology
clinic, pediatric eye clinics, pediatric hematology clinic, and
pediatric ENT clinic are all available at BCMC.
Children are treated by professional doctors at BCMC
using atraumatic care and experience principles. Further-
more, the approach to children as friends is prioritized so
that they are willing to be examined without coercion in
order to avoid causing trauma to them.
The Blue Lantern
Vaksinasi Measles dan Rubella (MR)
Rumah Sakit Santo Borromeus bekerja sama dengan Dinas
Kesehatan Kota Bandung mengadakan layanan imunisasi
Measles dan Rubella (MR) secara gratis untuk anak usia 9 bulan
sampai di bawah 15 tahun. Bertempat di lobi Gedung Carolus Lantai 1,
pelayanan berlangsung selama Agustus – September 2017. Sesuai
namanya, kegiatan imunisasi secara massal tersebut diadakan dalam
rangka mendukung program pemerintah untuk melindungi anak dan
keluarga dari bahaya campak dan rubella.
Hingga saat ini belum ada pengobatan untuk penyakit campak dan
rubella, tetapi penyakit ini dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR
dinilai sebagai pencegahan terbaik untuk kedua penyakit tersebut.
Measles and Rubella (MR) Vaccination
Santo Borromeus Hospital, in collaboration with the Bandung City
Health Office, offers free Measles and Rubella (MR) vaccinations
to children aged 9 months to under 15 years. The service is held
in the lobby of Carolus Building on First Floor, from August to
September 2017. The mass immunization event, as the name suggests,
was held to support the government’s program to protect children and
families from the dangers of measles and rubella.
There is currently no treatment for measles or rubella, but these
diseases can be avoided. Immunization with the MR vaccine is thought
to be the most effective way to prevent both diseases.
The Blue Lantern
Hari Gizi Nasional
”B ersama membangun gizi menuju bangsa sehat dan
berprestasi” merupakan tema peringatan Hari Gizi Nasional
ke-58 tahun 2018. Masih tingginya angka gizi buruk
masyarakat Indonesia menjadi alasan utama tema tersebut kembali
diusung. Dampak buruk kekurangan gizi tidak sebatas secara fisik
sehingga bentuk tubuh pendek ataupun kurus, tetapi juga berdampak
pada tingkat kecerdasan otak. Jika ini terjadi bisa berimbas pada rendahnya
kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, upaya perbaikan gizi
terutama pada 1000 hari pertama kehidupan terus digencarkan.
Pada puncak peringatan Hari Gizi Nasional yang digelar Dinas
Provinsi Jawa Barat di Dago Car Free Day, Minggu 29 April 2018, Rumah
Sakit Santo Borromeus hadir membuka pelayanan kesehatan bagi
segenap masyarakat. Berbagai pelayanan digelar mulai dari konsultasi
gizi, edukasi kesehatan, pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan
gula darah untuk pengunjung secara cuma-cuma.
205
National Nutrition Day
T he theme of the 58th National Nutrition Day in 2018 is
“Together, to build nutrition towards a healthy and
accomplished nation.” The main reason for bringing back this
theme was the high rate of malnutrition among Indonesians.
Malnutrition has a negative impact on the brain’s intelligence as well as
its physical effects, such as making the body short or thin. If this occurs,
the low quality of human resources may suffer as a result. As a result,
efforts to improve nutrition, particularly in the first 1000 days of life,
are being stepped up.
Santo Borromeus Hospital was present at the peak of the West Java
Provincial Office’s National Nutrition Day commemoration at Dago
Car Free Day on Sunday, April 29, 2018, to provide health services to
the entire community. Visitors were offered a variety of free services,
including nutrition consultations, health education, blood pressure
checks, and blood sugar checks.
The Blue Lantern
Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia)
Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) didirikan sebagai buah
dari kesadaran dan tanggung jawab para dokter, tenaga
kesehatan dan para simpatisan untuk membantu dan mening-
katkan kesejahteraan diabetisi (penderita diabetes). Persadia merupakan
organisasi sosial diabetes tingkat nasional.
Organisasi ini disahkan dalam Kongres Nasional pertama di 207
Bandung pada 1 Juli 1986 dan mempunyai wakil di setiap unit rumah
sakit, instansi/kantor, dan puskesmas. Persadia unit kerja Rumah Sakit
Santo Borromeus diresmikan pada 23 September 2006.
Persadia Rumah Sakit Santo Borromeus bertekad memberikan
bantuan agar para penderita diabetes semakin mengenali kondisi fisiknya.
Pengenalan yang semakin dalam akan kondisi fisik membantu para
penderita penyakit kronis ini untuk mengendalikan kadar gula (glukosa)
dalam darahnya melalui pola-pola hidup sehat. Kegiatan yang dilakukan
antara lain senam diabetes melitus, seminar pendidikan, dan program
keakraban.
Indonesian Diabetes Association (Persadia)
T he Indonesian Diabetes Association (Persadia) was founded
as a result of the awareness and responsibility of doctors,
health workers and sympathizers to help and improve the
welfare of people with diabetes (diabetes). Persadia is a national diabetes
social organization.
This organization was ratified at the first National Congress in
Bandung on July 1, 1986, and has representatives in every hospital unit,
agency or office, and puskesmas (public health center). On September
23, 2006, the Persadia work unit of the Santo Borromeus Hospital was
inaugurated.
Persadia of Santo Borromeus Hospital is determined to help
diabetics become more aware of their physical condition. A better
understanding of physical conditions enables people suffering from
this chronic disease to control their blood sugar (glucose) levels through
healthy lifestyle choices. Diabetes mellitus exercise, educational
seminars, and familiarity programs are among the activities carried out.
The Blue Lantern
Klub Sadar Stroke
Klub Sadar Stroke didirikan bertepatan dengan ulang tahun ke-
80 Rumah Sakit Santo Borromeus pada 18 September 2001.
Klub ini dimaksudkan sebagai wadah berbagi informasi dan
pengalaman bagi sesama penderita stroke maupun keluarganya. Oleh
karena itu, klub ini terbuka bagi masyarakat yang peduli akan
kesehatannya agar pencegahan atau deteksi dini dapat dilakukan. Klub
Sadar Stroke bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap bahaya stroke,
membimbing tindakan-tindakan pencegahan, pengobatan dan membantu
mengoptimalkan hidup setelah stroke. Kegiatan yang dilakukan antara lain
seminar kesehatan, dialog, senam sehat, dan refreshing.
Stroke Awareness Club
T he Stroke Awareness Club was founded on September 18,
2001, to commemorate Santo Borromeus Hospital’s 80th
anniversary. This club is intended to serve as a forum for
fellow stroke survivors and their families to share information and
experiences. As a result, this club is open to anyone who is concerned
about their health in order to prevent or detect disease early. The Stroke
Awareness Club’s mission is to raise awareness of the dangers of stroke,
to guide preventive measures and treatment, and to help people live
better lives after a stroke. Health seminars, dialogues, healthy exercise,
and refreshing are among the activities carried out.
The Blue Lantern
Healing Garden
Kejenuhan yang sangat mungkin dialami
oleh para pasien yang sedang menjalani
rawat inap berpotensi memperburuk
kondisi kesehatannya apabila tidak diberi
perhatian khusus. Salah satu bentuk pendekatan
holistik yang diupayakan demi mendukung proses
penyembuhan pasien adalah program healing
garden. Program ini merupakan terapi
komplementer yang tidak hanya mengandalkan
tindakan medis dan perawatan fisik dalam proses
penyembuhan, tetapi juga memanfaatkan keasrian
taman, kesegaran udara dan paparan sinar
matahari pagi yang memberi efek yang
menenangkan pikiran. Metode ini diharapkan
mampu meningkatkan kesehatan emosi,
menurunkan rasa stres sehingga mempercepat
proses penyembuhan dan pemulihan pasien.
Sesuai namanya, healing garden digelar di taman
kapel Rumah Sakit Santo Borromeus, dikemas
secara kreatif dan menyenangkan serta bernuansa
edukasi kesehatan berupa materi-materi kesehatan
umum, senam ringan, menyanyi, dan doa bersama.
Healing Garden
P atients who are hospitalized are likely to experience
tediousness, which has the potential to worsen their health if
they are not given special attention. The healing garden
program is one example of a holistic approach that is intended to aid
the patient’s healing process. This program is a complementary
therapy that employs not only medical measures and physical
treatments in the healing process, but also the beauty of the garden,
the freshness of the air, and exposure to the morning sun, which has
211
a calming effect on the mind. This method is expected to improve
emotional health and reduce stress, thereby accelerating healing and
patient recovery.
The healing garden, as the name implies, is held in the chapel garden
of Santo Borromeus Hospital and is packaged in a creative and fun
way with health education nuances such as general health materials,
light exercise, singing, and praying together.
The Blue Lantern
Pelayanan Paliatif 213
Berlandaskan semangat cinta kasih, Rumah Sakit Santo
Borromeus menyediakan fasilitas dan pelayanan yang
diharapkan mampu menjawab kebutuhan setiap siklus
kehidupan manusia dan menyentuhnya secara holistik. Perawatan paliatif
contohnya, merupakan pelayanan yang bertujuan untuk mengurangi
penderitaan pasien, meningkatkan kualitas hidupnya dan memberikan
dukungan moral kepada keluarganya. Dengan kata lain, pelayanan ini
bukan hanya berpusat pada penderita atau pada upaya-upaya
menyembuhkan penyakit yang diderita. Perawatan paliatif menyentuh
hingga ke tahapan mempersiapkan pihak keluarga untuk kemungkinan
terburuk yang dapat terjadi. Dengan demikian, keluarga penderita sudah
siap secara psikologis dan spiritual. Dari sisi penderita, perawatan paliatif
menyentuh sisi kemanusiaan pasien sehingga secara bertahap mampu
menerima sakitnya serta didampingi secara khusus agar tidak mengalami
tekanan batin dalam menghadapi penyakit yang dideritanya.
Palliative Services
A s a result of its love-inspired philosophy, Santo Borromeus
Hospital provides facilities and services that are expected to
meet the needs and concerns of every stage of human life.
Such a service aims to alleviate pain and suffering, improve quality of
life for patients, and provide moral support to their families. In other
words, the focus of this service is not solely on the patient or on efforts
to cure the illness. Palliative care involves preparing the family for the
worst-case scenario that may occur. In this way, the patient’s family is
psychologically and spiritually prepared. It allows the patient to gradually
accept his illness and is accompanied so that he does not experience
mental stress when dealing with his illness.
The Blue Lantern
Hari Tanpa Tembakau Sedunia
Masalah yang saat ini menjadi ancaman besar bagi lingkungan
hidup adalah rokok. Dampak negatif rokok tidak hanya
terhadap perokok, tatapi juga orang-orang yang berada di
sekitarnya dan lingkungan hidup. Sebagai upaya peningkatan kesadaran
masyarakat akan kesehatan, negara-negara anggota Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia
pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir, gerakan ini menuai
reaksi positif berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan, dan
organisasi kesehatan masyarakat.
215
The Blue Lantern
World No Tobacco Day
C igarettes are a major threat to the environment at the
moment. Smoking has a negative impact not only on
smokers, but also on those around them and on the
environment as a whole. In 1987, member countries of the World
Health Organization (WHO) established World No Tobacco Day in
an effort to raise public awareness about health. In the last decade,
governments, health activists, and public health organizations have
shown support for this movement.
Santo Borromeus Hospital, aware of the importance of efforts to
raise public awareness about health, participated in the Bandung City
Sadar akan pentingnya upaya peningkatan 217
kesadaran masyarakat tentang kesehatan, Rumah
Sakit Santo Borromeus ambil bagian pada acara
peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang
digelar Pemerintah Kota Bandung. Acara yang
berlangsung pada 27 Mei 2018 itu bertempat di
Taman Film di bawah jalan layang Pasupati
Tamansari Kota Bandung. Rangkaian acara dibuka
oleh Pjs. Wali Kota Bandung Muhamad Solihin dan
dihadiri oleh Direktur Rumah Sakit Santo
Borromeus dr. Chandra Mulyono dan Bagian
Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Rumah
Sakit Santo Borromeus Maria Desli, S.K.M.
Salah satu mata acara penting saat itu adalah
penandatanganan dukungan terhadap kawasan
tanpa rokok serta penyeruan tujuh kebohongan
soal rokok kepada masyarakat. Kampanye ini
merupakan gerakan internasional untuk
menyelamatkan jutaan nyawa manusia dari
ancaman penyakit tidak menular yang secara global
telah merenggut 44 juta nyawa setiap tahun.
Government’s commemoration of World No Tobacco Day. The event,
which took place on May 27, 2018, was held at the Film Park beneath
the Pasupati Tamansari flyover in Bandung City. The Acting Mayor of
Bandung, Muhamad Solihin, opened the series of events, which were
also attended by the Director of Santo Borromeus Hospital, dr.
Chandra Mulyono, and the Health Promotion Section (PKRS) of Santo
Borromeus Hospital, Maria Desli, S.K.M.
One of the important events that moment was the signing of support
for the smoking area as well as the invocation of the seven lies about
smoking to the public. This campaign is an international movement to
save millions of human lives from the threat of non-communicable
diseases which globally have claimed 44 million lives every year.
The Blue Lantern
Fisiologi Klinis 219
Sebagai salah satu rumah sakit ternama di Bandung khususnya dan
Jawa Barat umumnya, Rumah Sakit Santo Borromeus senantiasa
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
terutama dalam hal pelayanan yang mendukung para klinisi untuk
menegakkan diagnosis yang lebih pasti. Fisiologi Klinis, salah satu unit
penunjang medis yang mengakomodasi hal itu, menyediakan fasilitas
pelayanan dengan peralatan modern dan canggih serta menggunakan
modalitas pemeriksaan yang up to date.
Layanan penunjang penegakan diagnosis yang tersedia di Fisiologi
Klinis meliputi pemeriksaan Electro Cardiography (ECG), Electro Encefalography
(EEG), Electroneuromyography (ENMG), Spirometri, Holter Monitoring,
Treadmill Exercise Stress Test, Trans Cranial Doppler (TCD), Ambulatory Blood
Pressure Monitoring (ABPM) dan endoskopi.
Clinical Physiology
Santo Borromeus Hospital, as one of the leading hospitals in
Bandung and West Java, is always at the forefront of scientific
and technological advancements, particularly in terms of services
that help clinicians make more precise diagnoses. One of the medical
support units that accommodates this is Clinical Physiology, which
provides service facilities with modern and sophisticated equipment and
employs cutting-edge examination modalities.
Diagnostic support services available at Clinical Physiology include
Electro Cardiography (ECG), Electro Encephalography (EEG),
Electroneuromyography (ENMG), Spirometry, Holter Monitoring,
Treadmill Exercise Stress Test, Trans Cranial Doppler (TCD),
Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) and endoscopy.
The Blue Lantern
Pelayanan Laboratorium
L aboratorium klinik merupakan sarana penunjang dalam
penatalaksanaan penderita untuk membantu menegakkan
diagnosis, memantau penyakit dan pengobatan yang diberikan
serta menentukan prognosis dari penyakit tertentu. Pelayanan
laboratorium kesehatan yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan
sekaligus memberikan dukungan pula kepada komponen pelayanan
kesehatan lainnya. Mengingat perannya yang vital dalam proses
perawatan dan pengobatan maka dibutuhkan kinerja sumber daya
manusia yang berintegritas dan profesional di bagian laboratorium.
221
Laboratory Services
T he clinical laboratory is a supporting facility in patient
management that helps to establish the diagnosis, monitor the
disease and the treatment given, and determine the prognosis
of certain diseases. Health laboratory services, which are part of health
services, also support other components of health services. Given the
laboratory’s critical role in the care and treatment process, it necessitates
the performance of human resources in the laboratory with integrity
and professionalism.
The Blue Lantern
Laboratorium Klinik Rumah Sakit Santo Borromeus merupakan 223
laboratorium klinik utama yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan
spesimen yang lengkap mulai dari pemeriksaan hematologi, kimia,
imunoserologi, urine, feses, cairan tubuh, mikrobiologi hingga patologi
anatomi. Laboratorium Klinik Rumah Sakit Santo Borromeus juga
sudah menjadi salah satu tempat rujukan dari laboratorium di luar
Rumah Sakit Santo Borromeus.
Untuk mendukung keberhasilan dan mutu laboratorium yang baik
diperlukan manajemen yang berfungsi mengatur dan mengendalikan
agar semua proses dalam laboratorium terkontrol dan bermutu tinggi,
mulai dari proses praanalitik, analitik dan pascaanalitik.
Laboratorium Klinik Rumah Sakit Santo Borromeus selalu
melakukan Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan mengikuti program
Pemantapan Mutu Eksternal (PME) yang diakui oleh pemerintah serta
telah terakreditasi internasional KARS.
Mengingat peran laboratorium sangat dibutuhkan sebagai penunjang
kesehatan maka dibutuhkan tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik
(ATLM) sampai dengan Penanggung Jawab Laboratorium dan Kepala
Bagian Laboratorium yang bekerja secara profesional sehingga didapat
hasil laboratorium yang bermutu tinggi dan dapat dipercaya.
Pelayanan laboratorium Rumah Sakit Santo Borromeus ditunjang
dengan peralatan laboratorium yang canggih dan full automatic, seperti
alat urine flow cytometry, alat hematologi, kimia, imunologi, alat TEG
(Thromboelastography) dari berbagai produk yang terpercaya serta ditunjang
oleh Laboratory Information System (LIS) yang sangat andal.
Penggunaan LIS sangat membantu dan mengurangi human error, salah
satunya adalah pelaporan Nilai Kritis yang harus segera dilaporkan pada
dokter maupun perawat di ruang perawatan sehingga pasien dapat
tertangani dengan lebih cepat.
Sejak bulan Desember 2020 Rumah Sakit Santo Borromeus
melakukan pemeriksaan PCR SARS CoV-2 dengan menggunakan
ruangan yang memenuhi persyaratan Bio Safety Laboratorium (BSL) tipe 2
yang sudah mengikuti Pemantapan Mutu Eksternal ke Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan dan Laboratorium Kesehatan Daerah
Jawa Barat sehingga sudah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia.
The Blue Lantern
The Santo Borromeus Hospital Clinical Laboratory is the main
clinical laboratory that performs complete specimen examination
services ranging from hematology, chemistry, immunoserology, urine,
feces, body fluids, microbiology, and anatomical pathology. The Santo
Borromeus Hospital’s Clinical Laboratory has also become a reference
point for laboratories outside of the Santo Borromeus Hospital.
To support the success and quality of a good laboratory,
management must regulate and control all processes in the laboratory,
starting with the pre-analytical, analytical, and post-analytical processes.
The Santo Borromeus Hospital Clinical Laboratory always conducts
Internal Quality Assurance (PMI) and participates in the External
Quality Assurance (PME) program, which is recognized by the
government and has been internationally accredited by KARS.
Because the laboratory’s role as a health supporter is critical, Medical
Laboratory Technology Experts (ATLM), Laboratory Supervisors, and
Head Section of Laboratory are in high demand. They work
professionally to ensure that high-quality and reliable laboratory results
are obtained. The Santo Borromeus Hospital’s laboratory services are
supported by sophisticated and fully automatic laboratory equipment,
including urine flow cytometry, hematology, chemistry, immunology,
and TEG (Thromboelastography) equipment from a variety of trusted
manufacturers, as well as a very reliable Laboratory Information System
(LIS). reliable.
The use of LIS is highly beneficial and reduces human error, one
of which is the reporting of Critical Values, which must be reported
immediately to doctors and nurses in the treatment room in order for
patients to be treated more quickly.
Since December 2020, Santo Borromeus Hospital has conducted a
PCR examination of SARS CoV2 in a room that meets the
requirements of the Bio Safety Laboratory (BSL) type 2, which has
been recognized by the Government of the Republic of Indonesia after
External Quality Assurance to the Health Research and Development
Agency and the West Java Regional Health Laboratory.
225
“Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, prinsip saya adalah
menganggap bahwa ‘bila pasien itu saya’, artinya menginginkan hasil
yang lebih cepat dan akurat. Bila ada hasil laboratorium yang abnormal
atau nilai kritis harus segera dilaporkan sehingga akan membantu
pasien cepat tertangani.”
“To provide the best services, my principle is to assume that ‘if the patient
were me’ it means that we want faster and more accurate results. If the
laboratory result have an abnormal or critical values, it must be reported
immediately, so it will help the patient to be treated quickly.”
(dr. Retno Dewi Tanujoyo, Sp.PK, MMRS)
The Blue Lantern
Penggunaan MRI 3 Tesla Signa Pioneer 227
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat khususnya di bidang radiologi, Rumah Sakit
Santo Borromeus meresmikan penggunaan Magnetic Resonance
Imaging (MRI) 3 Tesla Signa Pioneer pada Sabtu 30 Juni 2018. Rangkaian
acara peresmian diawali Misa Kudus di Kapel Hati Kudus Yesus
Borromeus dipimpin oleh Uskup Keuskupan Bandung Mgr. Antonius
Subianto Bunjamin, OSC.
MRI merupakan modalitas pencitraan menggunakan medan magnet
dan gelombang radio untuk menghasilkan citra dari organ dan jaringan
yang ada di dalam tubuh tanpa radiasi. MRI 3 Tesla ini adalah MRI 3
Tesla pertama di Bandung. MRI Signa Pioneer 3 Tesla ini juga
merupakan MRI kelas premium dari GE Healthcare yang pertama
diinstalasi Indonesia.
Ternyata tak mudah mendatangkan alat canggih besar dengan bobot
berton-ton tersebut. Truk kontainer yang digunakan pun harus
menggunakan suspensi khusus agar alat MRI yang dibawanya tidak
mengalami guncangan yang terlalu besar. Struktur bangunan untuk
menopang alat tersebut juga memerlukan penguatan khusus agar dapat
diletakkan secara aman.
Beberapa bagiannya memang datang bertahap, tetapi bagian terbesar
dan utama alat harus menggunakan alat berat crane saat tiba di Rumah
Sakit Santo Borromeus. Tak tanggung-tanggung sekira 500–600 personel
ikut terlibat dalam pengadaan alat tersebut. Butuh waktu yang lumayan
lama untuk memindahkan MRI 3 Tesla ke ruangan yang sudah disiapkan
dan disesuaikan strukturnya. Pemindahan alat dilakukan pada malam hari
dari pukul 23.00 hingga pukul 05.oo sehingga tidak terlalu mengganggu
lalu lintas umum serta kenyamanan pengunjung rumah sakit.
Rumah Sakit Santo Borromeus memang terus berlayar di arus zaman
dengan terus memperhatikan kebutuhan masyarakat yang dilayani.
Kehadiran MRI 3 Tesla di Rumah Sakit Santo Borromeus dimaksudkan
agar masyarakat memperoleh kemudahan mengakses pelayanan
kesehatan yang tidak tertinggal dari rumah sakit-rumah sakit di luar
negeri yang mampu memberikan pelayanan terbaik dan paripurna.
The Blue Lantern
Use of MRI 3 Tesla Signa Pioneer
O n Saturday, June 30, 2018, Santo Borromeus Hospital
inaugurated the use of Magnetic Resonance Imaging (MRI)
3 Tesla Signa Pioneer in order to improve the quality of
services to the community, particularly in the field of radiology. The
series of inauguration events began with the Holy Mass at the
Borromeus Chapel of the Sacred Heart of Jesus led by the Bishop of
Bandung Diocese, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC.
MRI is a non-radioactive imaging modality that uses a magnetic field
and radio waves to produce images of organs and tissues in the body.
This was the first Tesla MRI 3 in Bandung. This MRI Tesla Signa
Pioneer 3 was also the first premium class MRI from GE Healthcare
to be installed in Indonesia.
It turned out that bringing in a large sophisticated tool weighing
tons was not easy. The container truck had to have a special suspension
to ensure that the MRI device did not receive too much shock. The
building structure that would support the tool must also be reinforced
in order for it to be placed safely.
Some of the parts arrived in stages, but the largest and most
important piece of equipment required the use of heavy cranes when
it arrived at the Santo Borromeus Hospital. Approximately 500-600
people were directly involved in the procurement of these tools. It took
a long time to move the MRI 3 Tesla to a room that had been properly
prepared and structured. The equipment transfer was done at night,
from 23.00 to 05.00, to avoid interfering with general traffic and the
comfort of hospital visitors.
The Santo Borromeus Hospital continues to sail in the currents of
time by focusing on the needs of the people it serves. The presence of
MRI 3 Tesla at Santo Borromeus Hospital is to ensure that the public
has access to health services that are comparable to those provided by
hospitals abroad.
“MRI 3 Tesla Signa Pioneer memiliki terobosan yang signifikan dalam teknologi 229
pencitraan MRI dengan menyediakan signal to noise ratio (SNR) yang tinggi
sehingga memberikan kualitas citra yang sangat baik dalam hal resolusi spasial,
resolusi kontras dan resolusi temporal ditunjang juga dengan homogeneitas magnet
yang baik. Para dokter radiologi dan juga radiografer di Rumah Sakit Santo
Borromeus sangat puas dengan performa alat ini dalam meningkatkan kualitas
citra MRI karena dapat meningkatkan akurasi diagnosis dan memberikan
pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.”
“MRI 3 Tesla Signa Pioneer represents a significant advancement in MRI
technology by providing a high signal to noise ratio (SNR) that provides excellent
image quality in terms of spatial resolution, contrast resolution, and temporal
resolution, as well as good magnetic homogeneity. The radiologist and radiographers
at Santo Borromeus Hospital are very pleased with the performance of the MRI
device in improving the image quality because it can improve diagnosis accuracy
and provide better services to the community.”
(dr. Robby Hermawan, Sp.Rad., M.Kes.)
The Blue Lantern
Komputerisasi Pengelolaan
dan Sistem Informasi Rumah Sakit
Rumah Sakit Santo Borromeus sudah menerapkan komputerisasi
sejak 1990-an dan memanfaatkan sistem informasi terintegrasi
rumah sakit. Sistem ini diterapkan sebagai langkah menyesuaikan
diri dengan perkembangan teknologi informasi terkini untuk menunjang
pengelolaan manajemen dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Melalui Tim Teknologi Informasi, sistem informasi (Sisfo) Rumah Sakit
Santo Borromeus terus dikembangkan untuk memberikan kemudahan
bagi penggunanya. Salah satunya adalah aplikasi Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berbasis website.
231
Computerized Hospital Management
and Information System
Santo Borromeus Hospital has been using an integrated
information system since the 1990s. This system is being
implemented as a first step toward adapting to the most recent
information technology developments in order to support management
and improve community services. The Santo Borromeus Hospital’s
information system (Sisfo) is still being developed by the Information
Technology Team in order to make it more user-friendly. One of them
is a Hospital Management Information System (SIMRS) application that
can be accessed via the internet.
The Blue Lantern
SIMRS bergulir pada 1 Januari 2019 dimulai dari registrasi dan billing.
Beberapa bulan kemudian diterapkan pada area pelayanan untuk Electronic
Medical Record (EMR) rawat jalan, rawat inap, dan penunjang termasuk
Computerized Physicians Order Entry (CPOE). SIMRS juga sudah integrasi
third party system seperti Laboratorium Information System (LIS), Radiologi
Information System (RIS), dan Borromeus Mobile Apps. Selain SIMRS, Rumah
Sakit Santo Borromeus juga sudah mengimplementasikan Human Resources
Information System (HRIS) pada akhir 2020. Sistem baru ini diharapkan
dapat mengatasi berbagai proses yang sebelumnya secara manual atau
belum terintegrasi antarproses dari sistem lama.
Dengan pengembangan dan implementasi sistem informasi rumah
sakit secara terpadu, Rumah Sakit Santo Borromeus semakin mampu
dan mantap memberikan pelayanan kepada pasien dan mengelola
organisasi secara lebih berkualitas, lebih akurat, dan lebih cepat serta
efisien. Namun, pengembangan teknologi informasi tak akan berhenti
di sini. Digitalisasi berbagai proses akan terus dilakukan seiring dengan
adanya inovasi, hadirnya teknologi informasi mutakhir serta
menyesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit dan masyarakat.
SIMRS began operations on January 1, 2019, with registration and 233
billing as the first steps. It was then implemented in the service area for
outpatient and inpatient electronic medical records (EMR), as well as
Computerized Physicians Order Entry (CPOE), a few months later.
Third-party systems such as the Laboratory Information System (LIS),
Radiology Information System (RIS), and Borromeus Mobile Apps
were also integrated into SIMRS. Santo Borromeus Hospital also had
a Human Resources Information System (HRIS) in service at the end
of 2020, in addition to SIMRS. This new system was expected to be
able to overcome various processes that were previously manual or had
not been integrated between processes from the old system.
Santo Borromeus Hospital has become more capable and stable in
providing services to patients and managing organizations in a more
qualified, more accurate, faster, and more efficient manner as a result
of the development and implementation of an integrated hospital
information system. The advancement of information technology, on
the other hand, would not stop here. The digitization of various
processes would continue to be carried out in accordance with
innovation, the presence of cutting-edge information technology, and
adaptation to the needs of hospitals and the general public.
The Blue Lantern
Menyelamatkan Jiwa
di Lokasi Bencana
Musibah dan bencana
hanyalah bagian ke-
cil dari perjalanan
panjang manusia. Selalu ada
hikmah dan makna yang bisa
diambil dan direnungkan dari
setiap bencana yang datang
tiba-tiba. Sekecil apa pun
bantuan atau dukungan, baik
secara fisik maupun mental
akan menjadi hal yang besar
bagi mereka yang menderita.
Kondisi dan keadaan pasca-
bencana umumnya jauh dari
harapan sehingga para korban
tak bisa berbuat banyak sekali-
pun untuk menjaga kondisi
dirinya sendiri.
Saving Lives in
Disaster Sites
N atural disasters and
calamities are only
a small part of
humanity’s long journey. Every
disaster that strikes unex-
pectedly contains wisdom and
meaning that can be gleaned
The Blue Lantern
Bencana alam sering kali membawa penderitaan, tetapi pada sisi yang
lain menumbuhkan ketergerakan hati dan solidaritas. Karya pelayanan
yang didasari oleh cinta kasih ditantang untuk tidak sebatas
mengungkapkan idealisme di atas kertas, tetapi sungguh merelakan diri
hadir dan menyentuh sesama yang mengalami penderitaan. Iman yang
dalam bahwa Tuhan akan bekerja, merentangkan tangan-Nya serta
memberikan bantuan-Nya, menjadi daya yang menggerakkan hati
segenap tenaga kesehatan untuk turun tangan dan berperan aktif
menangani korban bencana alam di belahan bumi Indonesia. Menolong
sesama dengan tulus dan cinta kasih menjadi motivasi terdepan selama
bertugas di lokasi-lokasi bencana.
Rumah Sakit Santo Borromeus mewujudkan komitmennya dengan 237
ikut ambil bagian dalam karya-karya kemanusiaan tanggap darurat
bencana dan telah mengutus tim tenaga kesehatan ke sejumlah daerah
lokasi bencana di Indonesia, antara lain: gempa bumi dan tsunami Aceh,
gempa bumi Padang, gempa bumi Nias, gempa bumi Yogyakarta,
gempa bumi Pangandaran, dan gempa bumi Palu.
Dari data yang ada, gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004
tercatat sebagai bencana terbesar abad ke-21 dengan memakan korban
meninggal dunia lebih dari 200 ribu jiwa. Selain gempa bumi, Rumah
Sakit Santo Borromeus juga sering kali turut serta dalam penanganan
bencana banjir dan longsor di berbagai daerah.
and pondered. Any small help or support, both physically and mentally,
will mean a lot to those in need. Post-disaster conditions and conditions
are generally far below expectations, to the point where victims cannot
do much to improve their own situation.
Natural disasters often cause suffering, but they also promote heart
movement and solidarity. Service works based on love are challenged
not only to express idealism on paper, but also to truly volunteer to be
present and touch others who are suffering. Deep faith in God’s ability
to work, stretch out His hands, and provide assistance becomes the
force that moves the hearts of all health workers to intervene and play
an active role in dealing with victims of natural disasters in many parts
of Indonesia. The primary motivation for serving in disaster areas is
to help others sincerely and with love.
The Santo Borromeus Hospital has demonstrated its commitment
by participating in humanitarian work in disaster emergency response,
sending a team of health workers to a number of disaster areas in
Indonesia, including the Aceh earthquake and tsunami, the Padang
earthquake, the Nias earthquake, the Yogyakarta earthquake, the
Pangandaran earthquake, and the Palu earthquake. According to
existing data, the 2004 Aceh earthquake and tsunami was the worst
disaster of the twenty-first century, killing over 200 thousand people.
In addition to earthquakes, Santo Borromeus Hospital frequently assists
with floods and landslides in various areas.
The Blue Lantern
Penanganan Kesehatan Gempa Tsunami Aceh 2004
Gempa bumi dan tsunami Aceh terjadi pada Minggu, 26
Desember 2004. Ketika itu gempa dangkal berkekuatan 9,3
SR terjadi di dasar Samudera Hindia sekira pukul 07.59 WIB.
Tak lama kemudian, pesisir Aceh disapu gelombang tsunami yang
dahsyat dengan ketinggian 30 meter dan kecepatan 100 meter per detik
atau 360 kilometer per jam. Dalam sekejap gelombang besar tersebut
telah menghancurkan permukiman dan memporak-porandakan pesisir
Aceh. Minggu itu menjadi sejarah kelam khususnya bagi Indonesia.
239
The 2004 Aceh Tsunami Earthquake Health Handling
On Sunday, December 26, 2004, an earthquake and tsunami
struck Aceh. At around 07.59 WIB, a shallow earthquake
measuring 9.3 on the Richter Scale occurred at the bottom
of the Indian Ocean. Soon after, the Aceh coast was swept away by a
powerful tsunami wave with a height of 30 meters and a speed of 100
meters per second, or 360 kilometers per hour. The massive waves
destroyed settlements and ravaged Aceh’s coast in an instant. That week
went down in history as a dark one, particularly for Indonesia.
The Blue Lantern
Tiga hari setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat di ujung barat
Pulau Sumatera itu, Rumah Sakit Santo Borromeus mengutus segenap
personel tenaga kesehatan untuk turun langsung membantu penanganan
bencana. Mereka diutus secara bergelombang untuk menolong para
korban. Gelombang pertama sebanyak empat tenaga medis terdiri dari
dua dokter dan dua perawat diberangkatkan dengan penuh keyakinan
akan kasih dan pertolongan Tuhan. Segala persiapan pun dilakukan
dengan matang termasuk mengadakan peralatan dan penunjang medis
serta obat-obatan yang akan dibawa serta. Tak hanya itu, jiwa dan fisik
para pengabdi yang diutus itu terus dijaga hingga tetap bisa menunaikan
pengabdiannya dengan baik selama di lokasi bencana. Dalam
penanganan bencana dahsyat seperti ini tim tenaga kesehatan
berkoordinasi dengan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia
(Perdhaki) demi kelancaran selama bertugas.
Three days after the devastating earthquake and tsunami on Sumatra 241
Island’s western tip, the Santo Borromeus Hospital dispatched all
medical personnel to assist with the disaster. They were dispatched in
waves to assist the victims. The first group of four medical personnel,
consisting of two doctors and two nurses, was dispatched with
complete faith in God’s love and assistance. All preparations were
meticulous, including the provision of medical equipment and support,
as well as medicines to be transported. Not only that, but the souls and
bodies of the servants who were dispatched were constantly maintained
so that they could perform their duties effectively while in the disaster
area. In the event of a catastrophic disaster, a team of health workers
collaborates with the Indonesian Health Dharma Karya Association
(Perdhaki) to ensure that their duties are carried out smoothly.
An ambulance carrying medicines was first dispatched from the
Santo Borromeus Hospital to Banda Aceh using a TNI Hercules plane,
due to the post-disaster situation that prevented all planes from landing
there except the military. Meanwhile, civil society, volunteers, and
medical personnel were forced to land at Polonia Airport in Medan,
North Sumatra. This was the nearest airport to the disaster site that
was still in use at the time. Similarly, the Santo Borromeus Hospital’s
medical team had to travel to the disaster site via Medan. The journey
was continued from this city by boarding a TNI Hercules plane. Getting
on the cargo plane, on the other hand, was not easy. The medical team
that left for humanitarian missions had to be patience. They also had
to compete for space with people who wanted to visit their relatives
who were victims of the disaster, because the planes that came and
landed there were rare.
The Santo Borromeus Hospital’s medical team arrived in Banda
Aceh with apprehension. With tears in their eyes from sadness as they
saw the state of the badly damaged area and the number of victims,
they immediately rolled up their sleeves to assist the victims. This
portrait depicted the reality that disaster and death could strike at any
time and in unexpected ways. The buildings were razed to the ground
as far as the eye could see, and an unpleasant odor emanated from all
directions. Because of the ravaged local situation, clean water was
scarce, if not non-existent. Two envoys from the Santo Carolus
The Blue Lantern
Satu mobil ambulans dengan muatan obat-obatan diberangkatkan
terlebih dahulu dari Rumah Sakit Santo Borromeus hingga sampai di
Banda Aceh dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI,
mengingat situasi pascabencana yang tidak memungkinkan setiap
pesawat bisa mendarat di sana, kecuali pihak militer. Sementara itu
masyarakat sipil, relawan hingga tenaga kesehatan harus mendarat di
Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara. Ini adalah bandara terdekat
ke lokasi bencana yang masih beroperasi saat itu. Demikian pula dengan
tim kesehatan yang diutus oleh Rumah Sakit Santo Borromeus harus
menempuh perjalanan menuju lokasi bencana melalui kota Medan. Dari
kota ini perjalanan diteruskan dengan menumpang pesawat Hercules
milik TNI. Namun, untuk dapat menumpang pesawat kargo tersebut
juga tidak mudah. Tim kesehatan yang berangkat untuk menjalankan
misi kemanusiaan harus rela menunggu. Sebab, selain pesawat yang
datang dan mendarat di sana cukup langka juga harus berebut tempat
dengan masyarakat yang hendak menjenguk sanak keluarganya yang
menjadi korban bencana.
Tim kesehatan Rumah Sakit Santo Borromeus tiba di Banda Aceh
dengan perasaan tidak menentu. Dengan air mata berlinang karena
kesedihan melihat kondisi daerah yang rusak parah serta banyaknya
korban, mereka segera menyingsingkan lengan baju menolong para
korban. Potret ini memberi gambar yang nyata bahwa bencana dan
kematian bisa datang kapan saja dan tiba-tiba. Terpampang sepanjang
mata memandang bangunan-bangunan yang hancur rata dengan tanah
serta bau tidak sedap merebak dari berbagai penjuru. Ketersediaan air
bersih sangat minim, bahkan boleh dibilang tak ada sama sekali lantaran
situasi setempat yang porak-poranda.
Berbekal semangat bela rasa yang menyala-nyala demi keselamatan
sesama, dua utusan dari Rumah Sakit Santo Carolus Jakarta tiba dan
melebur bersama. Agar dapat melayani lebih banyak korban, tim
memutuskan untuk membagi anggotanya menjadi dua, masing-masing
terdiri dari tiga orang. Satu tim menempatkan diri di Banda Aceh,
sedangkan tim lainnya berangkat menuju Meulaboh yang relatif masih
minim bantuan medis. Untuk mencapai Meulaboh, karena ketiadaan
akses jalan darat, tim harus menempuh perjalanan dengan perahu motor
sehari semalam. Obat-obatan dan perlengkapan medis yang dapat
243
Hospital Jakarta arrived and fused together, armed with a burning spirit
of compassion for the safety of others. In order to serve more victims,
the team decided to split into two groups of three people each. One
team remained in Banda Aceh, while the other went to Meulaboh,
where medical assistance was still scarce. Due to the lack of road access,
the team had to travel by motorboat for a day and night to reach
Meulaboh. Medicines and medical supplies that could be transported
were loaded onto the motorboat. They had to walk 10 kilometers to
the location of the health command post after arriving at the last point
that could be reached by motorboat. In addition to the TNI, volunteers
from various elements and regions, including those from abroad and
the United Nations (UN), were present at the disaster site. Despite the
fact that it was established in an emergency, the health command post
was in a relatively safer and cleaner location. The treatment center was
not far from the refugee and military housing areas. The medical
command post was open all day, from morning until dusk. If patients
arrived late at night, health workers were always accompanied by fully
armed TNI members.
The Blue Lantern
dibawa dimuat dalam perahu motor. Setelah sampai di titik terakhir yang
dapat ditempuh dengan perahu motor, mereka masih harus berjalan
kaki sejauh 10 kilometer menuju lokasi pos komando kesehatan. Selain
TNI, di lokasi bencana hadir relawan dari berbagai unsur dan daerah,
termasuk di antaranya datang dari mancanegara serta dari Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB).
Meski didirikan dalam kondisi darurat, pos komando kesehatan
relatif berada di tempat yang lebih aman dan bersih. Lokasi pusat
pengobatan tak jauh dengan zona tinggal para pengungsi dan militer.
Pos komando pengobatan buka sepanjang hari dari pagi hingga sore
menjelang senja. Jika ada pasien yang datang pada malam hari, para
petugas kesehatan selalu didampingi oleh anggota TNI dengan
persenjataan lengkap. Di tengah kondisi pascagempa yang belum pulih
tersebut, tim kesehatan yang diutus juga sering dihinggapi kecemasan
mengingat daerah bencana tersebut masih dalam kondisi konflik gerakan
separatis yang ingin memerdekakan diri.
Sekitar tiga pekan pertama dilalui dengan kondisi dan keadaan yang
serbadarurat. Masyarakat terus-menerus mendatangi posko pengobatan
dengan berbagai macam keluhan. Tim kesehatan Rumah Sakit Santo
Borromeus melayani 200 hingga 300 pasien setiap harinya dengan
berbagai keluhan. Kasus yang sering ditemukan di antaranya luka robek
yang menganga, luka yang busuk, demam, pilek, diare, patah tulang dan
kasus-kasus dengan keluhan infeksi paru-paru akibat tenggelam serta
trauma. Hal ini dapat dimaklumi karena pada saat terjadinya bencana
banyak korban mengalami jatuh dan terseret arus, menyangkut di pohon
kelapa, bahkan terdampar di atap rumah yang kemudian roboh.
Air mineral dalam kemasan bantuan dari berbagai pihak menjadi
satu-satunya air yang layak dikonsumsi, baik oleh para relawan maupun
masyarakat yang selamat untuk menunjang kesehatannya. Begitu pun
dengan kebutuhan pangan yang mengandalkan makanan cepat saji yang
dikemas.
Setiap detik begitu berharga di tengah pengharapan akan datangnya
keajaiban Tuhan. Kelelahan fisik dan jiwa senantiasa mengiringi para
pengabdi kehidupan dalam upaya membantu para korban bencana.
Namun, niat yang tulus, perwujudan nyata dari cinta kasih dan bela rasa
membuat mereka mampu bertahan dalam misi kemanusiaan tersebut.
245
The dispatched team was often filled with anxiety in the aftermath
of the earthquake because the disaster area was still in conflict with a
separatist movement seeking independence. The first three weeks were
spent in a state of emergency. People came to the treatment center
with a variety of complaints. Every day, the Santo Borromeus
Hospital’s health team served 200 to 300 patients with various
complaints. Gaping torn wounds, rotten wounds, fever, colds, diarrhea,
broken bones, and cases with complaints of lung infection due to
drowning and trauma were all common findings. This was
understandable given that many victims were swept away by the
current, became stranded in coconut trees, or were stranded on the
roofs of houses that later collapsed.
The only water suitable for consumption, both by volunteers and
survivors, was bottled mineral water, which was aided by various parties.
The same could be said for food requirements that rely on pre-
packaged fast food.
The Blue Lantern
Inkarnasi doa Bunda Elisabeth Gruyters menjadi nyata dalam situasi
tersebut: “O... Pencinta hatiku yang manis. Berilah aku bagian dalam duka-
Mu. Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta. Buatlah aku cakap dalam
pengabdian-Mu tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja. Pun juga bagi keselamatan
sesama manusia”. Iman yang dalam bahwa jika Tuhan sudah berkehendak
dan mengutus hamba-Nya, Ia akan senantiasa menyertai dan
memberikan rahmat yang cukup sehingga apa saja yang dilakukan
menjadi terasa lebih ringan.
Misi kemanusiaan tim relawan gelombang pertama harus berakhir.
Namun, situasi yang masih menuntut solidaritas tetap menggerakkan
hati Rumah Sakit Santo Borromeus untuk mengirimkan tim berikutnya.
Rumah Sakit Santo Borromeus, Rumah Sakit Santo Yusup, dan Rumah
Sakit Sekar Kamulyan kembali menghadirkan diri, ikut mengambil
bagian dalam misi kemanusiaan demi keselamatan sesama.
In the midst of the hope that God’s miracle would arrive, every
second was priceless. The devotees of life were always exhausted
physically and mentally in their efforts to assist disaster victims. Their
sincere intentions, genuine expressions of love and compassion,
however, allowed them to survive this humanitarian mission. In that
situation, Mother Elisabeth Gruyters’ prayer incarnation came to
fruition: “O... Lover of my sweet heart. Give me a piece of Your grief.
May love burn brightly in my heart. Make me adept at Your service,
but it will be useless to me alone. It’s also for the sake of other people’s
safety.” Deep faith that if God wills and sends His servant, He will
always accompany and provide enough grace to make whatever is done
easier.
The first wave of volunteer teams’ humanitarian mission had to
come to an end. The situation, however, compelled the heart of Santo
Borromeus Hospital to dispatch the next team. Santo Borromeus
Hospital, Santo Yusuf Hospital, and Sekar Kamulyan Hospital all
showed up and participated in humanitarian missions to ensure the
safety of others.