The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"..sementara itu kami mempersiapkan rumah untuk menyongsong tamu agung. Kami menyalakan lilin-lilin... Saat itu hatiku menyala-nyala; aku ingat St. Marta ketika berkata kepada adiknya, Tuhan datang, marilah kita menyiapkan segala sesuatunya." (Elisabeth Gruyters 35)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by timbuku100th, 2021-09-27 07:33:45

The Blue Lantern, Legacy and Beyond

"..sementara itu kami mempersiapkan rumah untuk menyongsong tamu agung. Kami menyalakan lilin-lilin... Saat itu hatiku menyala-nyala; aku ingat St. Marta ketika berkata kepada adiknya, Tuhan datang, marilah kita menyiapkan segala sesuatunya." (Elisabeth Gruyters 35)

Keywords: The Blue Lantern,100 Years of Legacy and Beyond

4

Cinta Kasih dalam
Karya Pelayanan

Love in the Work of Service



“…aku bersenang hati dengan kehendak Tuhan yang Kudus… ,
aku akan tetap setia kepada Tuhan dan akan tetap bertekun dalam
cinta kasih-Nya sampai mati…”

(Elisabeth Gruyters, 20)

“…that now I was quite satisfied with God’s Holy Will … ,
I would always remain faithful to God and persevere in His love until
my death …” (Elisabeth Gruyters, 20)…”

(Elisabeth Gruyters, 20)



Seabad perjalanan adalah anugerah yang harus disyukuri berkat 301
kehendak Allah Yang Kudus. Ketekunan dan kesetiaan pada misi
merupakan nilai kunci perjalanan pelayanan ini. Zaman boleh
berganti, tetapi pelayanan tetaplah dijiwai oleh cinta kasih sebagaimana
ditanamkan para suster perintis.

Semangat cinta kasih dan bela rasa serta nilai inti ICARE digelorakan
di setiap aspek kehidupan Rumah Sakit Santo Borromeus secara
berkelanjutan. Komitmen menghadirkan suasana yang aman, nyaman,
pelayanan bermutu, dan paripurna telah memberi dampak yang
siginifikan terhadap keberlangsungan rumah sakit dan dapat dirasakan
secara langsung oleh masyarakat.

T hanks to the will of the Holy God, a century of journey is
truly a gift to be grateful for. The key values of this ministry
journey are diligence and mission faithfulness. Even though
times have changed, the pioneer sisters’ love for service lives on.

On an ongoing basis, the spirit of love and compassion, as well as
ICARE’s core values, are instilled in every aspect of Santo Borromeus
Hospital’s life. The commitment to providing a safe, comfortable,
quality, and comprehensive service has had a significant impact on the
hospital’s sustainability, and the community can directly feel it.

The Blue Lantern

Rumah Sakit
Santo Borromeus
di Mata Mitra Kerasulannya

Santo Borromeus Hospital
in the Eyes of

Its Apostolic Partners

Sehat Fisik, Sehat Jiwa 303

Berkarya sebagai dokter di Rumah Sakit Santo Borromeus sejak
1975 membuat sosok ini mengalami dari dekat perkembangan
rumah sakit ini dalam lima dekade terakhir. Bahkan, jauh sebelum
itu ketika masih belia, rumah sakit ini sudah dikenalnya. Beliau kerap
berkunjung dan bermain karena sang ibunda sudah lebih dulu berkarya
di Rumah Sakit Santo Borromeus antara tahun 1955 dan 1960-an.

Menurutnya, nilai-nilai yang ditanamkan para suster perintis sudah
sangat melekat di rumah sakit ini sekaligus membedakannya dengan
rumah sakit lain. Disiplin yang ketat, kebersihan, dan toleransi yang
besar sungguh dirasakan dan dialaminya selama berkarya di Rumah Sakit
Santo Borromeus. Sarana dan prasarana, bangunan, serta fasilitas-
fasilitas penunjang pelayanan medis yang mengikuti perkembangan
teknologi terkini dinilainya terus berkembang dari waktu ke waktu.

In Good Physical and Mental Health

W orking as a doctor at the Santo Borromeus Hospital since
1975, this individual has witnessed the hospital’s growth
over the last five decades. In fact, he was familiar with this
hospital long before that, when he was young. Because his mother had
previously worked at Santo Borromeus Hospital between 1955 and the
1960s, he frequently visited and played there.

According to him, the values instilled by the pioneering sisters are
deeply embedded in this hospital while also distinguishing it from other
hospitals. During his time at the Santo Borromeus Hospital, he felt and
experienced strict discipline, cleanliness, and a high level of tolerance.
Facilities and infrastructure, buildings, and supporting facilities for
medical services that adhere to the most recent technological
developments are expected to develop over time.

The Blue Lantern

Dua hal utama yang dimiliki Rumah Sakit Santo Borromeus adalah jiwa
dan fisiknya yang sehat, seperti halnya seorang manusia. Menurut beliau,
ini merupakan kunci sehingga bisa mencapai usia seratus tahun dan tetap
mampu bersaing dengan rumah sakit lain di Indonesia. Rumah Sakit Santo
Borromeus bersyukur boleh berkolaborasi dalam karya bersama pribadi
yang lebih dari separuh hidupnya telah dicurahkan untuk karya pelayanan
di tempatnya bekerja. Kecintaannya begitu dalam hingga mengalami
Rumah Sakit Santo Borromeus sebagai rumah kedua bagi beliau.

The two main characteristics that Santo Borromeus’ Hospital shares
are that it is both physically and mentally healthy, just like a human being.
According to him, this is the key to being able to reach the age of one
hundred years and still be able to compete with other Indonesian
hospitals. The Hospital of Santo Borromeus is grateful to be able to
collaborate in the work of a person who has devoted more than half
of his life to the service of his place of work. His devotion was so
strong that he made Santo Borromeus Hospital his second home.

305

“Kita merasa nyaman karena toleransinya. Saya sudah merasa Rumah Sakit
Santo Borromeus adalah rumah saya. Kecintaan itulah yang tidak bisa hilang

dan diturunkan dari dokter-dokter zaman dulu.”
“We feel comfortable because of its tolerance. Santo Borromeus Hospital has
already become my home. That love is irreplaceable and was passed down from the

late doctors.”
(Prof. Dr. Rully MA. Roesli, dr., Sp.PD-KGH).

The Blue Lantern



Sarana Membalas Kasih Tuhan 307

P erjalanan rohaninya bersama Kongregasi Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus dimulai 31 tahun yang lalu.
Mempersembahkan hidup untuk melayani Tuhan telah menjadi
pilihan dan komitmen baginya. Oleh karena itulah, maka saat menjalankan
peran sebagai perawat pun dimaknainya sebagai pelayanan bagi Tuhan.

Pengalaman dicintai Tuhan yang dialaminya secara nyata di dalam
seluruh hidupnya telah menjadi undangan baginya untuk mencintai
sesama. Hal inilah yang terus menggerakkannya merawat setiap pasien
dalam cinta kasih.

Biarawati CB yang ditugaskan di Rumah Sakit Santo Borromeus selama
kurang lebih 14 tahun ini mengenang masa saat dirinya harus berkeliling
ke seluruh afdeling rumah sakit agar benar-benar memahami situasi dan
kondisi pelayanan. Pengenalan medan pelayanan yang baik akan sangat
membantu saat bertugas.

Dari kacamatanya, nilai bela rasa dan cinta kasih yang diterapkan adalah
dua hal penting yang membuat Rumah Sakit Santo Borromeus bertahan
hingga saat ini. Cinta kasih terwujud secara nyata dalam kasih sayang bagi
pasien serta keluarga mereka. Pun begitu bagi seluruh mitra kerasulan
yang terlibat dalam karya pelayanan kesehatan ini.

The Blue Lantern

The Way to Repay God’s Love

H er spiritual journey began 31 years ago with the
Congregation of the Sisters of Charity of Saint Carolus
Borromeus. Choosing to devote her life to God has become
a choice and a commitment for her. As a result, when she performs her
duties as a nurse, she sees it as a service to God.

Her entire life’s experience of being loved by God has become an
invitation for her to love others. This is what drives her to treat each
patient with love. The CB Sister, who worked at Santo Borromeus
Hospital for about 14 years, recalls having to go around all of the
hospital offices to truly understand the situation and service conditions.
While on duty, a good introduction to the field of service will be very
useful.

According to her, the values of compassion and love that are
practiced are two important factors that have allowed the Santo
Borromeus Hospital to survive to this day. Compassion for patients and
their families is an expression of love. The same is true for all apostolic
partners involved in this health-care work.

309

“Cinta kasihlah yang menjadi nilai spiritual tertinggi Rumah Sakit Santo
Borromeus hingga mencapai satu abad. Sejak awal sampai hari ini, cinta
tanpa syarat terus dihidupi dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayanan

kesehatan bermutu.”

“Love is the highest spiritual value of Santo Borromeus Hospital until it
reaches a century. From the beginning until today, unconditional love

continues to be lived out in fulfiling its function as a quality health service.”

(Sr. Sofia Gusnia Nurmaida Saragih, CB, BSN, M.Kep.)

The Blue Lantern



Teknologi Canggih 311

Rumah Sakit Santo Borromeus tidaklah asing bagi beliau. Ibu
dan ayahnya yang juga berprofesi sebagai dokter membantu
beliau mengenal fasilitas pelayanan kesehatan ini. Meski sejak
kecil telah mengenal Rumah Sakit Santo Borromeus, tetapi
perkembangan rumah sakit lebih beliau rasakan dan pahami sejak
bergabung pada 2006. Beliau bangga bekerja di rumah sakit yang
dilengkapi dengan fasilitas Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography
(ERCP), sesuai spesialisasinya. Masih jarang rumah sakit khususnya di
Bandung yang dilengkapi dengan alat tersebut.

Advanced technology

H e was no stranger to the Santo Borromeus Hospital. Both
his mother and father are physicians and they helped him
get to know this facility. He has known Santo Borromeus
Hospital since childhood, but he has felt and understood its
development more since joining in 2006. According to his specialty, he
is proud to work in a hospital that offers Endoscopic Retrograde
Cholangiopancreatography (ERCP). Even in Bandung, it is rare for
hospitals to be equipped with such devices.

The Blue Lantern

Baginya rumah sakit yang didukung oleh sumber daya manusia yang
mumpuni dan teknologi yang mutakhir memosisikannya sebagai leader.
Rumah Sakit Santo Borromeus adalah salah satu fasilitas pelayanan
kesehatan yang mengambil posisi itu. Didukung oleh para dokter
spesialis dan subspesialis, serta sarana dan alat medis yang mengikuti
perkembangan teknologi telah menempatkan rumah sakit ini menjadi
yang terlengkap di Parijs van Java.

Menurut beliau, teknologi mutakhir yang melengkapi pelayanan di
Rumah Sakit Santo Borromeus mencirikan keseriusan Rumah Sakit
Santo Borromeus dalam meningkatkan mutu pelayanan. Beliau yakin
tenaga kesehatan rumah sakit ini tidak kalah dan mampu bersaing sesuai
kompetensinya.

According to him, a hospital that is supported by qualified human
resources and cutting-edge technology deserves to be a leader. The
Hospital of Santo Borromeus is one of the health care facilities that
fills that role. This hospital is the most comprehensive in Parijs van Java,
thanks to the support of specialist doctors and sub-specialists, as well
as medical facilities and equipment that keep up with technological
developments.

In his opinion, the latest technology that complements the services
at the Santo Borromeus Hospital characterizes the seriousness of the
Santo Borromeus Hospital in improving the quality of services. He
believes that the hospital’s health workers are not inferior and are able
to compete according to their competence.

313

“Selain alat endoskopi dan penerapan teknologi informasi electronic
medical record, dalam hal prasarana di bidang radiologi Rumah

Sakit Santo Borromeus tak ketinggalan teknologi dengan hadirnya
MRI 3 Tesla yang paling canggih. Ini salah satu bukti ingin
menjadi yang terdepan di bidangnya.”

“In addition to endoscopes and the use of electronic medical record
information technology, Santo Borromeus Hospital does not lag
behind in terms of infrastructure in the radiology field, with the
presence of the most advanced MRI 3 Tesla. This is one example of

their desire to be at the forefront of their field.”

(Dr. dr. M. Begawan B., Sp.PD, K-GEH,
M.Kes., FASGE, FACG)

The Blue Lantern

Cinta kasih

P elayanan dengan cinta kasih dan empati yang ditanamkan di
Rumah Sakit Santo Borromeus merupakan dasar yang kuat
sehingga mampu bertahan lebih dari 100 tahun. Spirit dan nilai
yang ditanamkan para suster perintis serta visi dan misi yang jelas dari
rumah sakit sesuai dengan hati nuraninya sebagai seorang dokter.

315

Love and Compassion

T he service with love and empathy instilled in the Hospital of
Santo Borromeus is a solid foundation that has lasted more
than 100 years. The pioneering sisters’ spirit and values, as well
as the hospital’s clear vision and mission, were in line with her
conscience as a doctor.

The Blue Lantern

Memori indah masa kecil ketika kerap berkunjung ke rumah sakit ini
serta pengalamannya berkarya di Rumah Sakit Santo Borromeus sejak
2006 membuatnya semakin cinta. Seiring waktu, Rumah Sakit Santo
Borromeus serasa menjadi rumah kedua sekaligus nostalgia masa lalu.
Oleh karena itulah, ketika dipercaya membantu di manajemen dan tim,
dirinya semakin bersyukur karena memperoleh kesempatan untuk ikut
ambil bagian dalam apa yang mesti dikembangkan di rumah sakit ini
untuk kemajuan sekarang dan nanti.

Ia percaya Tuhan yang senantiasa membimbing arah kemajuan
Rumah Sakit Santo Borromeus. Dengan adanya Kongregasi Suster-
Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus, Keuskupan Bandung dan
PPSB yang menaungi karya pelayanan ini memperkuat citra rumah sakit
sehingga semakin percaya diri. Menurutnya, cinta kasih yang mengakar
dan senantiasa tumbuh menjadi bagian tak terpisahkan dalam karya
pelayanan Rumah Sakit Santo Borromeus.

Her childhood memories of frequent visits to this hospital, as well
as her experience working at the Santo Borromeus Hospital since 2006,
spurred her love for this institution. Over time, the Hospital of Santo
Borromeus appeared to be a second home as well as nostalgia for the
past. As a result, when she was trusted to assist in the management and
team, she was even more grateful because she had the opportunity to
participate in what needed to be developed at this hospital for progress
now and in the future.

She believes in God who always guides the progress of Santo
Borromeus Hospital. The existence Congregration of Sisters of Charity
of Saint Charles Borromeo, Bandung Diocese and PPSB which oversees
the work of this service strengthens the image of the hospital so that it
becomes more confident. According to her, love that is rooted and
always grows is an inseparable part of the service work of the Santo
Borromeus Hospital.

“Rumah sakit besar yang dibangun atas dasar yang cukup 317
sederhana ingin membantu orang-orang berkesusahan dan
membutuhkan dengan cinta kasih. Itu yang membuat Rumah Sakit
Santo Borromeus dapat menjadi berkembang seperti sekarang.”

“A large hospital with a simple foundation wants to help the poor
and the needy with love. That is what has allowed the Santo
Borromeus Hospital to grow into the institution it is today.”

(dr. Jeanne d'Arc Maria Tjiam Sian Lie, Sp.KK, FINSDV)

The Blue Lantern

Suasana Nyaman

D alam pandangannya, Rumah Sakit Santo Borromeus
memberi cukup ruang untuk berkolaborasi antarbagian.
Baginya, bertugas di Bagian Gizi bukan sekadar menyiapkan
makanan untuk pasien, tetapi menciptakan makanan yang membantu
proses penyembuhan. Dalam pelaksanaan tugasnya, ia bersyukur karena
dapat berkolaborasi dan berbagi ilmu dengan perawat, bidan, dokter, dan
bagian lain sehingga apa yang diupayakan membuahkan hasil yang baik.

Selama 25 tahun mengabdi, menurutnya Rumah Sakit Santo
Borromeus senantiasa mengedepankan semangat pelayanan dalam cinta
kasih. Cinta kasih itu pula yang menjadi “resep” ampuh dalam
menyiapkan kebutuhan makanan dan minuman bagi pasien agar lekas
pulih. Cinta kasih mampu menjadi jembatan terlebih ketika menghadapi
tantangan untuk melayani kebutuhan pasien berkewarganegaraan asing
yang berbeda selera dan kebiasaan.

Ia menilai inovasi-inovasi terkait makanan menjawab kebutuhan
pasien serta sesuai standar kesehatan, termasuk diet dengan kebutuhan
nutrisi yang tetap disesuaikan dengan kondisi pasien. Hal ini turut
mendorong pengembangan sumber daya manusia khususnya di Bagian
Gizi. Menurutnya, suasana kerja yang nyaman di Rumah Sakit Santo
Borromeus menunjang kemudahan berinovasi dan mengembangkan
kreativitas sekecil apa pun, juga dalam penyediaan makanan sehat.

Comfortable Atmosphere 319

A ccording to her, the Hospital of Santo Borromeus provides
enough space for cross-departmental collaboration. For her,
working in the Nutrition Department entails more than just
preparing food for patients; it also involves determining food that aids
in the healing process. In carrying out her responsibilities, she is grateful
for the opportunity to collaborate and share knowledge with nurses,
midwives, doctors, and other departments so that what she strives for
produces positive results. Santo Borromeus Hospital, she asserts, has
always exemplified the spirit of service in love over its 25-year history.
That love is also a powerful “recipe” in preparing food and drink for
patients to quickly recover. Love has the power to bridge gaps, especially
when it comes to meeting the needs of foreign patients with diverse
tastes and habits.

She evaluated food-related innovations that met the patient’s needs
and were in accordance with health standards, such as diets with
nutritional requirements that were still adapted to the patient’s condition.
This also promotes the development of human resources, particularly
in the Nutrition Department. According to her, the comfortable
working environment at Santo Borromeus Hospital facilitates the ease
of innovating and developing the slightest creativity, including in the
provision of healthy food.

The Blue Lantern

“Suasana kerja yang nyaman dan komunikasi antartenaga kesehatan sudah
terjalin dengan baik. Rumah Sakit Santo Borromeus memberikan keleluasaan

kepada karyawan untuk mengembangkan diri dan berinovasi khususnya di
Bagian Gizi.”

“The work environment is pleasant, and communication among health professionals
is well established. Santo Borromeus Hospital provides employees with the

opportunity to grow and innovate, particularly in the Nutrition Department.”

(Anni Liem, S.S.T., RD)

The Blue Lantern



Kompetitif dan Inovatif 323

M engabdi di rumah sakit baginya adalah
mimpi yang menjadi nyata. Rumah Sakit
Santo Borromeus menjadi tempat berkarya
yang hingga kini sudah dijalaninya lebih dari 20 tahun.
Menurut pengalamannya, semangat untuk terus
berinovasi dalam menjawab segala tantangan adalah
salah satu kunci sehingga rumah sakit ini mampu
bertahan hingga usia satu abad dan terus berkembang.

Competitive and Innovative

S erving in the hospital is a dream come true for him.
He has been working at the Hospital of Santo
Borromeus for more than 20 years. According to
his experience, one of the keys to this hospital’s ability to
survive and grow until the age of a century is the spirit to
continue to innovate in responding to all challenges.

The Blue Lantern

Tanggung jawabnya di instalasi farmasi adalah menyediakan obat-
obatan yang baik, benar, aman dan efektif bagi pasien. Semua itu terasa
lebih mantap berkat kolaborasi dan komunikasi yang baik antarsesama
rekan kerja serta rekan kerja pada lini pelayanan yang lain, seperti: perawat,
dokter hingga penata gizi. Memastikan ketersediaan obat juga merupakan
salah satu poin penting yang tak bisa dilepaskan dalam pelayanan.
Semangat dan nilai cinta kasih yang ditanamkan rumah sakit menjadi
pedoman mengupayakan dan menciptakan zero error dalam bekerja.

Menurutnya, Rumah Sakit Santo Borromeus terus mengupayakan
customer care, termasuk inovasi pelayanan kefarmasian. Baik dalam
rutinitas pelayanan pada kondisi normal maupun dalam menghadapi
tantangan, rumah sakit dapat melaluinya dengan baik dan semakin
kompetitif di masa depan.

The responsibility in the pharmacy installation is to provide patients
with good, correct, safe, and effective medicines. Everything feels more
secure as a result of good collaboration and communication among
coworkers and colleagues in other service lines, such as nurses, doctors,
and nutritionists. Ensured drug availability is also a critical point that
cannot be separated from the service. The hospital’s instilled love spirit
and values serve as guidelines for striving for and achieving zero errors
at work.

According to him, Santo Borromeus Hospital continues to strive for
customer satisfaction, including pharmaceutical service innovation.
Hospitals can succeed in routine services under normal conditions as
well as in dealing with challenges, allowing them to become more
competitive in the future.

325

“Melihat perkembangan dunia rumah sakit saat ini, Rumah Sakit
Santo Borromeus semakin kompetitif dan lebih inovatif dalam
menjawab tantangan.”

“In light of the current state of the hospital world, Santo
Borromeus Hospital is becoming more competitive and innovative in

responding to challenges.”

(R.M. Busono Setonugroho, S.Si.,Apt.)

The Blue Lantern

Rumah Sakit Terdepan

S emangat dan keinginan untuk meningkatkan kemampuan serta
keterampilan menjadikannya rindu untuk dapat mengabdi di
rumah sakit yang dapat memberinya kesempatan untuk
mewujudkan kerinduan itu. Telah mengantongi pekerjaan di tempat lain
tidak menyurutkan niatnya melamar ke Rumah Sakit Santo Borromeus
dan bergabung pada 2012. Baginya, Rumah Sakit Santo Borromeus
merupakan institusi pelayanan kesehatan swasta terbesar di Kota
Bandung. Dengan begitu, kasus yang bakal ditangani lebih banyak
sehingga keterampilan pun semakin terasah dalam pengalaman.

327

Leading Hospital

H er desire to improve her abilities and skills made her long to
be able to serve in a hospital that would allow her to fulfill
that desire. Despite having a job elsewhere, she applied to
the Santo Borromeus Hospital and was hired in 2012. According to her,
the Santo Borromeus Hospital is the largest private health-care facility
in Bandung. As a result, more cases will be handled, allowing skills to
be honed through experience.

The Blue Lantern

Harapannya terjawab dalam pelayanan, sejumlah pasien dengan kasus
yang boleh dibilang langka harus menjalani terapi wicara di Rumah Sakit
Santo Borromeus. Mereka yang dilayani beragam, baik pasien dewasa
maupun pasien anak di NICU/PICU dengan kasus khusus seperti
laringomalasia. Menurutnya, melayani pasien di Rumah Sakit Santo
Borromeus memberi nilai tambah dan meningkatkan keilmuannya
termasuk yang ditransfer oleh para senior.

Ia menilai suasana dan lingkungan kerja di Rumah Sakit Santo
Borromeus saling mendukung. Komunikasi antarprofesi terjalin dengan
baik sehingga lebih efektif saat menangani pasien. Bekerja di rumah
sakit besar tidak membuatnya terbebani, tetapi sebaliknya menjadi
motivasi untuk semakin baik lagi.

The service responded to the hope by requiring speech therapy for
a number of patients with relatively uncommon cases at the Santo
Borromeus Hospital. Adult and pediatric patients in the NICU/PICU
with special cases such as laryngomalacia are served in a variety of ways.
Serving patients at Santo Borromeus Hospital, according to her, adds
value and expands their knowledge, including that passed down from
seniors.

She found the atmosphere and working environment at Santo
Borromeus Hospital to be mutually supportive. Interprofessional
communication is well established, allowing for greater effectiveness
when dealing with patients. Working in a large hospital is not a burden;
rather, it serves as a motivator to do even better.

329

“Rumah sakit swasta terbesar di Bandung sekaligus yang
terdepan, terpercaya, dan angka kematian pasiennya kecil.”

“Bandung’s largest private hospital, as well as the leading,
dependable, and low patient mortality rate.”

(Erna Desy Anna, A.Md.,TW)

The Blue Lantern

Kekeluargaannya Tinggi

T ak hanya memberi kenyamanan, Rumah Sakit
Santo Borromeus telah melahirkan rasa
kekeluargaan yang tinggi antara karyawan. Hal
ini dirasakan betul sejak berkarya di Rumah Sakit Santo
Borromeus 37 tahun yang lalu hingga saat ini. Toleransi
yang terbangun dalam rumah sakit membuatnya betah
sehingga lebih fokus dalam bekerja.

Sebagian besar pekerjaannya dalam melayani pasien
dilakukan di belakang layar, sesekali saja harus bertemu
langsung. Suasana kerja yang nyaman di instalasi laboratorium
meneguhkan motivasinya untuk selalu memberi yang terbaik
bagi semua. Buah kinerjanya yang diupayakan sepenuh hati,
yaitu hasil pengujian atau pemeriksaan yang tepat, cepat, dan
akurat dalam segala situasi. Dinas malam atau siang baginya
bukan persoalan sebab hal itu sudah dipahami dan tertanam
sejak awal bekerja.

A Great Kinship

N ot only providing comfort, Santo Borromeus
Hospital has created a high sense of kinship
between employees. This has been true since
she worked at the Santo Borromeus Hospital 37 years ago
until now. The tolerance that was built in the hospital
made her feel at home so she was more focused at work.

The Blue Lantern

Rumah Sakit Santo Borromeus termasuk rumah sakit yang cepat
menyesuaikan penerapan teknologi yang mutakhir, demikian juga untuk
fasilitas laboratorium. Jika dulu didominasi alat manual atau
semiotomatis, sekarang hampir semua autoanalyzer. Itulah sebabnya
rumah sakit ini dapat lebih banyak melayani pengujian sampel. Hal ini
sangat membantu terutama saat terjadi wabah, seperti demam berdarah
dan Covid-19.

Most of her work in serving patients is done behind the scenes,
occasionally having to meet in person. The pleasant working
environment in the laboratory installation motivates her to always do
her best for everyone. The fruition of her hard work, namely the results
of tests or inspections that are precise, quick, and accurate in all
situations. For her, night or day service is not a problem because it has
been understood and ingrained since the beginning of work.

Santo Borromeus Hospital is one of the hospitals that quickly adapts
to the use of cutting-edge technology and laboratory facilities.
Previously, manual or semi-automatic tools dominated, but now almost
all auto-analyzers are used. As a result, this hospital can handle more
sample testing. This is especially useful during outbreaks of dengue
fever and Covid-19.

333

“Saya merasa kekeluargaan di Rumah Sakit Santo Borromeus
sangat baik, di dalam maupun di luar departemen. Toleransi
dalam pekerjaan juga sangat terasa khususnya saat hari raya

Lebaran dan Natal.”

“I have a strong sense of kinship at Santo Borromeus Hospital,
both inside and outside the department. Tolerance is also prevalent

at work, particularly during the Eid and Christmas holidays.”

(Iyar Gustiyarni, A.M.A.K.)

The Blue Lantern

Kebanggaan

K omitmennya dalam menjalani profesi tak pernah pudar
selama 36 tahun mengabdi di Rumah Sakit Santo Borromeus
hingga menjelang pensiun. Baginya, sebuah kebanggaan
telah tumbuh dan berkembang di dalam tubuh dan jiwa rumah sakit ini
sehingga membuat dirinya tak berpaling ke rumah sakit lain.

Pride

H is dedication to his profession has never wavered during his
36 years of service at Santo Borromeus Hospital until his
retirement. For him, a sense of pride has grown and
developed in the body and soul of this hospital, so he does not turn to
another hospital.

Salah satu kebanggaan yang memberinya kepuasan batin adalah
ketika melibatkan dirinya dalam kesiapsediaan menolong siapa pun dan
kapan pun demi kelangsungan hidup mereka, terlebih pada kondisi
pasien kritis. Pelayanan bagi para pasien operasi yang terbilang berat,
seperti operasi bedah jantung, operasi bedah saraf hingga ortopedi
ditunaikan dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab.

Pulang larut, menjelang pagi, bahkan tak pulang berhari-hari agar
dapat mengambil bagian demi kesembuhan dan keselamatan pasien
sudah menjadi bagian hidupnya. Kebijakan rumah sakit dengan
memperbarui mesin-mesin anestesi turut memotivasinya dalam
pelayanan sebab segala sesuatu yang menyangkut keselamatan jiwa
sesama sungguh diperhatikan. Ia berpendapat bahwa kebanggaan yang
muncul dan melekat pada Rumah Sakit Santo Borromeus, salah satunya
karena dipegang oleh orang-orang yang profesional.

One of the things that gives him inner satisfaction is when he
involves himself in to help anyone and at any time for their survival,
especially patient with critical conditions. Services for patients
undergoing major operations, such as heart surgery, neurosurgery, and
orthopedics, are provided wholeheartedly and responsibly.

Coming home late, early in the morning, or even not coming home
for days so that he can contribute to the patient’s healing and safety has
become a way of life for him. The hospital’s policy of updating
anesthesia machines motivates him to serve because everything that
concerns the safety of other people’s souls is taken seriously. He claims
that the pride that arises and is attached to the Santo Borromeus
Hospital is due in part to the fact that it is held by professionals.

337

“Saya berkomitmen dengan bidang saya dan menjiwai profesi
saya karena Rumah Sakit Santo Borromeus sudah menjadi
kebanggaan. Bukan hanya bagi karyawan, tetapi saya juga

mendengar dari banyak pasien.”

“I am committed to my field and live my profession because
Santo Borromeus Hospital has become a source of pride for
me. Not only do I hear from employees, but I also hear from

many patients.”

(S. Suhanan, AMK)

The Blue Lantern



Green Hospital 339

S emakin bersih, semakin nyaman, dan semakin sehat rumah sakit
turut mengangkat kualitas dan kredibilitas rumah sakit tersebut.
Pengolahan limbah cair dan padat yang baik dan benar
mencerminkan rumah sakit yang sehat. Inilah yang menjadi wujud
partisipasinya selama 20 tahun pengabdian di Rumah Sakit Santo
Borromeus.

Bergelut dengan benda-benda kotor alias limbah tak membuatnya
jijik, bahkan hal itu telah menjadi tanggung jawabnya agar tercipta
lingkungan rumah sakit yang bersih dan nyaman. Ia selalu menganggap
bahwa apa yang menjadi tanggung jawabnya ini merupakan hal yang
penting. Sebab, jika masalah limbah rumah sakit tidak segera ditangani
berpotensi menciptakan dampak lain yang lebih berbahaya. Oleh karena
itu, harus ditangani secara cepat dan tepat.

Green Hospital

T he quality and credibility of a hospital will improve as it
becomes cleaner, more comfortable, and healthier. The proper
and correct treatment of liquid and solid waste is a sign of a
healthy hospital. This is a manifestation of his involvement during his
20 years of service at the Santo Borromeus Hospital.

Having to deal with filthy objects or waste does not disgust him; in
fact, it has become his responsibility to keep the hospital clean and
comfortable. He was always aware of the importance of his duties.
Because if the problem of hospital waste is not addressed immediately,
it has the potential to have other, more dangerous consequences. As a
result, it must be dealt with quickly and appropriately.

The Blue Lantern

Insinerator—alat pembakar sampah yang dioperasikan menggunakan
teknologi pembakaran dengan suhu tertentu, sempat menjadi alat yang
demikian akrab dengannya selama bertahun-tahun. Hal itu berlangsung
sebelum pembakaran bahan organik limbah rumah sakit diambil alih
dan dilakukan oleh pihak ketiga sesuai aturan yang berlaku. Proses ini
bukan sesuatu yang dapat ditunda demi menjaga rumah sakit tetap
bersih. Menurutnya, Rumah Sakit Santo Borromeus selalu
mengutamakan pengolahan limbah yang baik sehingga menambah
kepercayaan dari masyarakat.

For many years, an incinerator—a waste-burning device that uses
combustion technology at a specific temperature—had become a
common tool. This occurred prior to the burning of hospital waste
organic matter being taken over and carried out by a third party in
accordance with applicable regulations. This process cannot be
postponed in order to keep the hospital clean. Santo Borromeus
Hospital, he asserts, always prioritizes good waste management in order
to increase public trust.

341

“Rumah Sakit Santo Borromeus adalah green hospital dengan
mengutamakan program-program yang ramah terhadap
lingkungan.”

“The Hospital of Santo Borromeus is a green hospital that
prioritizes environmentally friendly programs.”

(Tri Rudiyanto, S.T.)

The Blue Lantern

Penopang Hidup

T awaran bekerja di tempat lain yang hadir bersamaan
dengan persoalan keluarga yang mendesak perihal
asuhan anak pernah menggodanya untuk
mengundurkan diri dari Rumah Sakit Santo Borromeus yang
telah sekian lama menjadi jalan hidupnya. Dalam kebimbangan
tersebut, pihak rumah sakit dengan bijaksana mendengarkan
keluhannya dan memberikan solusi atas persoalan yang sedang
dihadapinya waktu itu.

343

The Blue Lantern

Bagi bidan yang telah berkarya 34 tahun di Rumah Sakit Santo
Borromeus, memutuskan untuk tetap berkarya di rumah sakit ini adalah
pilihan yang benar. Ia yang kala itu harus menjadi penopang hidup
keluarga sepeninggal sang suami, kini memetik hikmah yang luar biasa
dari keputusannya untuk tetap bekerja dan bertahan hingga saat ini.

Pengalaman yang ia peroleh selama berkarya telah memberinya
kepuasan batin. Terlebih, ketika terjadi booming pelayanan kebidanan di
rumah sakit ini hingga melayani sekitar 300 persalinan dalam sebulan
pada tahun 2000-an. Keterlibatannya dalam membantu persalinan dan
merawat bayi kembar lima pada tahun 1996 juga tak pernah ia lupakan.
Selain penopang hidup, baginya Rumah Sakit Santo Borromeus adalah
rumah sakit yang sudah mempunyai nama dan dibentuk oleh sejarah
yang panjang.

Life Support

A n offer to work somewhere else, combined with family issues
regarding child care, once enticed her to leave the Santo
Borromeus Hospital, where she had spent so much of her
life. During this time of uncertainty, the hospital wisely listened to her
complaints and offered solutions to the problems she was experiencing.

It was the right choice for a midwife who has worked at the Santo
Borromeus Hospital for 34 years to continue working there. She, who
had to support her family after her husband died, has now learned an
incredible lesson from her decision to work and survive until now.

Her inner satisfaction stems from the experience she gained at work.
Furthermore, during a period of high demand for midwifery services
in the 2000s, this hospital served about 300 deliveries per month. Her
role in assisting with childbirth and caring for quintuplets in 1996 would
never be forgotten. Aside from providing life support, the Hospital of
Santo Borromeus is a reputable hospital with a long history for her.

345

“Dulu ada yang menawari bekerja di puskesmas (PNS),
tetapi tidak saya ambil karena sudah dibesarkan di Rumah
Sakit Santo Borromeus. Di sini saya bekerja sesuai iman yang
saya yakini sehingga berat untuk melepaskan itu semua.”

“In the past, someone offered to work at the puskesmas (as
PNS), but I didn’t take it because I was raised at the Santo
Borromeus Hospital. Here I work according to the faith that I

believe in so it is hard to let it all go.”

(V. Sri Kadarsih, AM.Keb.)

The Blue Lantern

Profesional dan Modern

D edikasi dan loyalitas men-
dayai setiap langkahnya
dalam bekerja dan berinter-
aksi dengan pasien. Segala sesuatu yang
dilakukannya senantiasa dilandasi nilai
luhur profesi yang mengedepankan
motivasi menolong sesama. Kesaksian
hidup para pendahulu dan rekan
sejawatnya yang penuh cinta dalam karya
pelayanan ini serta suasana kerja yang
nyaman membuatnya semakin mantap
mengabdi di rumah sakit swasta terbaik
di Kota Bandung.

Menjadi bagian dari Rumah Sakit
Santo Borromeus telah menjadi jalan
hidup yang ditapakinya sejak Oktober
1994. Didasari rasa cinta terhadap
profesinya, ia mau meningkatkan ilmu
serta kemampuannya melalui studi lanjut
secara mandiri. Dengan demikian, ia
dapat memberikan yang terbaik bagi
pasien. Hal ini memberinya kepuasan
batin dalam berkarya karena ia dapat
mendedikasikan dirinya secara total di
rumah sakit yang mengedepankan
pelayanan penuh kasih serta menjunjung
tinggi humanisme.

Ia mengalami pelayanan yang
diberikan rumah sakit ini sungguh
didukung oleh tenaga kesehatan dan
manajemen yang profesional. Menurut-
nya, dua hal tersebut tak pernah berubah
dan masih dirasakannya hingga saat ini.


Click to View FlipBook Version