The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"..sementara itu kami mempersiapkan rumah untuk menyongsong tamu agung. Kami menyalakan lilin-lilin... Saat itu hatiku menyala-nyala; aku ingat St. Marta ketika berkata kepada adiknya, Tuhan datang, marilah kita menyiapkan segala sesuatunya." (Elisabeth Gruyters 35)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by timbuku100th, 2021-09-27 07:33:45

The Blue Lantern, Legacy and Beyond

"..sementara itu kami mempersiapkan rumah untuk menyongsong tamu agung. Kami menyalakan lilin-lilin... Saat itu hatiku menyala-nyala; aku ingat St. Marta ketika berkata kepada adiknya, Tuhan datang, marilah kita menyiapkan segala sesuatunya." (Elisabeth Gruyters 35)

Keywords: The Blue Lantern,100 Years of Legacy and Beyond

Professional and Modern

E very step of the way in working and interacting with patients,
dedication and loyalty are crucial. Everything he does is
guided by the profession’s noble values, which prioritize the
desire to help others. The testimony of his predecessors’ and colleagues’
lives, which are full of love for this service and a pleasant working
environment, makes him even more determined to serve in Bandung’s
best private hospital.

Since October 1994, being a part of the Santo Borromeus Hospital
has been a way of life for him. He wants to improve his knowledge and
abilities through independent study because he enjoys his profession.
As a result, he can give the patient the best care possible. This gives him
a sense of fulfillment in his work because he can devote himself
completely to a hospital that values loving service and humanism.

He noticed that the hospital’s services were well-supported by
qualified medical personnel and management. These two things, he
claims, have remained constant throughout history and are still felt
today.

349

“Rumah Sakit Santo Borromeus memberikan pelayanan
dengan cinta, profesional, dan modern.”

“Hospital of Santo Borromeus provides service with love,
professionalism and modernity.”

(Setyo Budiono, AMK)

The Blue Lantern



Jujur dan Lurus 351

K ecintaan kepada Rumah Sakit Santo Borromeus tak pernah
pudar dan tetap tertanam dalam hatinya. Sejak bergabung
sebagai dokter tahun 1985, ia berkomitmen hanya berkarya
di rumah sakit ini. Pemberian dirinya pun semakin utuh dengan
menjalankan tugas lain di samping tugas profesinya, yakni dengan
mengambil peran di jajaran direksi.

Dalam pandangannya, nilai-nilai dasar pelayanan yang disarikan dari
semangat para suster perintis merupakan roh yang mesti menjiwai setiap
pribadi yang terlibat saat bekerja dan melayani pasien. Dengan demikian,
rasa empati akan terus tumbuh dan semakin berkembang. Pembangunan
gedung dan pengadaan penunjang medis juga dibenahi secara
berkelanjutan untuk memberikan pelayanan yang andal dan paripurna
bagi masyarakat.

Menurutnya, Rumah Sakit Santo Borromeus adalah rumah sakit yang
jujur dan lurus, selalu berupaya memenuhi regulasi serta transparan
dalam hal perpajakan. Rumah sakit senantiasa memegang teguh etika
profesinya. Selain itu, rumah sakit ini dinilainya sebagai tempat berbagi
dan menolong banyak orang yang membutuhkan dan orang yang sedang
berada dalam kesesakan hidup.

The Blue Lantern

Honest and Upright

S anto Borromeus Hospital had always held a special place in her
heart. She has worked exclusively at this hospital since joining
as a doctor in 1985. She goes above and beyond by taking on
additional responsibilities in addition to his professional responsibilities,
including serving on the board of directors.

She believes that the basic values of service that are derived from
the pioneering sisters’ spirit should guide everyone who works with and
serves patients. In this way, empathy will continue to grow and develop.
Additionally, the community is provided with reliable and
comprehensive services through the construction of new buildings and
the provision of medical care.

According to her, Santo Borromeus Hospital is an honest and
upright hospital that strives to comply with regulations and be
transparent in terms of taxation. The hospital always follows its
professional ethics. Furthermore, this hospital is regarded as a place to
share and assist many people in need and in distress.

“Rumah Sakit Santo Borromeus itu jujur dan lurus. Dalam 353
hal perpajakan, gak pernah ada main-main. Selalu memegang

etika profesi.”

“The Hospital of Santo Borromeus is honest and upright.
There is no such thing as a tax game. Always abide
professional ethics.”

(dr. Widyastuti Amidjojo, Sp.PD)

The Blue Lantern

Tidak Diskriminatif

T ahun 1984 menjadi hari bahagianya karena beroleh kesempatan
bekerja di Rumah Sakit Santo Borromeus. Batinnya termangu dan
bertanya: Apa betul rumah sakit ini akan mempekerjakan seorang
tunanetra? Ia memang telah mengalami kebutaan sejak berusia tujuh tahun,
tetapi pihak manajemen memahami keadaan fisiknya. Meskipun awalnya
bingung dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan di tempat kerjanya yang baru,
berbekal pelatihan dan keterampilan ia mampu menjalankan pekerjaannya.

Non-Discriminatory

1984 was a happy year for him because he was given the opportunity to
work at the Santo Borromeus Hospital. His mind was stunned and he
inquired, “Is it true that this hospital will employ a blind person?” He
has been blind since he was seven years old, but management understands his
physical condition. Although he was initially perplexed and unsure of what to
do in his new workplace, he was able to perform his duties thanks to the
training and skills he received.

355

The Blue Lantern

Central Supply Rumah Sakit Santo Borromeus menjadi tempat
pertamanya bekerja untuk menyediakan kebutuhan rumah sakit, seperti
kapas lidi, kapas injeksi hingga perban kasa. Bekerja dengan
mengandalkan indera peraba tak membuatnya canggung. Apalagi ia
tidak sendiri, ada pula penyandang disabilitas yang bekerja di bagian
ruang cuci (bagian yang bertanggung jawab atas manajemen linen rumah
sakit).

Toleransi dan kekeluargaan di Rumah Sakit Santo Borromeus sangat
dirasakannya selama 34 tahun bekerja. Tak pernah ada sedikit pun
perlakuan diskriminasi, baik dari manajemen, perawat, dokter maupun
staf lain. Hal inilah yang membuatnya nyaman bekerja dan menambah
banyak kawan, semua menghargai dan menghormati satu sama lain.

The Central Supply of Santo Borromeus Hospital became his first
place of employment to provide hospital necessities such as cotton
swabs, injection cotton, and gauze bandages. Working by relying on the
sense of touch does not make it awkward. Furthermore, he is not alone;
people with disabilities also work in the laundry room (the part
responsible for hospital linen management). Tolerance and kinship were
felt at the Hospital of Santo Borromeus over the course of 34 years of
service. There was never any form of discrimination from management,
nurses, doctors, or other personnel. This is what allows him to work
comfortably and make many friends who all value and respect one
another.

357

“Kalau saya renungkan, Rumah Sakit Santo Borromeus ini
rumah sakit Katolik yang paling baik dan sangat toleran.
Orang dengan disabilitas bisa bekerja di sini, di tempat lain

belum tentu dapat diterima.“

“When I think about it, Santo Borromeus Hospital is the best
Catholic hospital and is very tolerant. People with disabilities,
who are not always welcome in other places, can work here.”

(Paulus Imam Bedjo)

The Blue Lantern

Rumah Sakit
Santo Borromeus di Mata

Masyarakat

Saint Borromeus Hospital
in the Eyes of the Community

Rumah Kedua 359

S ebagai seorang yang setia mengakses pelayanan Rumah Sakit
Santo Borromeus sejak tahun 1970-an, membuatnya tahu betul
perkembangan rumah sakit ini dari masa ke masa. Kepercayaan
yang besar kepada Rumah Sakit Santo Borromeus berimbas pula dalam
pilihan orang-orang terdekatnya. Keluarga besarnya boleh dikata tidak
memilih rumah sakit lain di Bandung untuk hal pengobatan atau
perawatan kesehatan, bahkan tempat persalinan. Pelayanan terbaik pun
ia rasakan saat sang suami, Ama Soewarma, menghembuskan napas
terakhirnya di rumah sakit ini pada 2018.

Ia melihat perkembangan Rumah Sakit Santo Borromeus menjadi
semakin baik, sarana dan prasarananya pun kini jauh lebih lengkap.
Perubahan yang dirasakannya hanya pada aturan jam berkunjung (besuk)
yang sedikit berbeda. Jika dulu lebih ketat, sekarang dirasakannya lebih
fleksibel. Ia pun menilai Rumah Sakit Santo Borromeus adalah yang terbaik,
bahkan kualitasnya mampu bersaing dengan rumah sakit di luar negeri.

Second house

A As someone who has faithfully used the services of the Santo
Borromeus Hospital since the 1970s, she is well aware of the
hospital’s development over time. Great trust in the Hospital
of Santo Borromeus also affects the choices of those closest to her.
Her extended family did not choose any other hospital in Bandung for
medical treatment or health care, including the location where her baby
was born. She also felt the best service when her husband, Ama
Soewarma, breathed his last in this hospital in 2018.

The Blue Lantern

Ketika sang suami dirawat di Rumah Sakit Santo Borromeus sekitar
tahun 2005-an, ia harus banyak berada di rumah sakit. Hal itu kiranya
bukan menjadi masalah baginya sebab suasana kekeluargaan dan
kenyamanan yang ada membuatnya merasa betah walaupun harus
menunggu di kamar rawat. Yang terpenting, menurutnya, sehat dan
semangat untuk sembuh tetap tumbuh.

She noticed that the Santo Borromeus Hospital was progressing well,
with its facilities and infrastructure becoming more complete. The only
differences she noticed were the slightly different visiting hours rules.
It used to be tighter, but it now feels more flexible. She also thought
the Santo Borromeus Hospital was the best, even though its quality
could compete with hospitals in other countries.

She had to spend a lot of time in the hospital when her husband was
admitted to the Santo Borromeus Hospital around 2005. This would
not be an issue for her because the family atmosphere and comfort
made her feel at home, even though she had to wait in the hospital
room. According to her, the most important thing was to be healthy,
and her determination to recover grew stronger by the day.

361

“Pernah delapan kali opa (Ama Sooewarma) masuk rumah
sakit sekitar tahun 2005-an. Dirawat seminggu, pernah juga
sebulan. Rumah Sakit Santo Borromeus serasa rumah kedua,

setelah masuk kamar saya tak pernah keluar.”

“Opa (Ama Sooewarma) was admitted to the hospital eight
times around 2005’s. Treated a week, once a month. St

Borromeus Hospital feels like a second home, once I enter my
room I never leave.”

(Ny. Erwina Soewarma)

The Blue Lantern



Sehat, Cerdas, dan Manusiawi 363

K etika Pondok Pesantren
Alzaytun memulai pendidik-
an pada tahun 1999,
pertanyaan yang sempat terlintas di
benaknya adalah ke mana merujuk
keluarga besar pesantren jika terjadi
masalah kesehatan? Tahun 2000 beliau
memberanikan diri datang ke Rumah
Sakit Santo Borromeus di Kota Bandung
untuk melakukan general check up.

Healthy, Smart, and Humane

W hen the Alzaytun Islamic
Boarding School began
teaching in 1999, he
wondered where to refer the big family
of pesantren if there was a health
problem. In the year 2000, he went to
Santo Borromeus Hospital in Bandung
City for a general check-up.

The Blue Lantern

Terkesan akan pelayanan, keramahan dokter dan perawat khususnya
di Gedung Yosef yang menjadi tempat pemeriksaannya waktu itu,
membuatnya jatuh hati pada pengalaman pertama. Jika sudah jatuh hati,
jarak yang jauh pun terasa demikian dekat. Menurutnya, Rumah Sakit
Santo Borromeus mencerminkan sehat, cerdas, dan manusiawi sehingga
beliau merekomendasikannya kepada segenap keluarga besar Pondok
Pesantren Al Zaytun sampai saat ini.

Rumah Sakit Santo Borromeus sudah tersimpan di hati dan menjadi
andalannya dalam hal kesehatan. Ketika bicara kesehatan, ia selalu
mengesampingkan latar belakang agama karena Tuhan yang memberi
kesembuhan dan kesehatan.

Impressed by the service and friendliness of the doctors and nurses,
especially at the Yosef Building, where his examination was taking place
at the time, he fell in love with the first experience. If you have fallen in
love, even the far distance feels so close. Impressed by the service and
friendliness of the doctors and nurses, especially at the Yosef Building,
where his examination was taking place at the time, he fell in love with
the first experience. When you’re in love, even the greatest distance feels
so close. According to him, Santo Borromeus Hospital reflects being
healthy, intelligent, and humane, so he recommends it to the entire Al
Zaytun Islamic Boarding School family until now.

The Hospital of Santo Borromeus has been kept in his heart and has
become his first choice for health care. When it comes to health, he always
sets aside his religious beliefs because God gives healing and health.

365

“Saya mengetahui kesehatan saya secara detail dari Rumah
Sakit Santo Borromeus sehingga bisa menganjurkan kepada

keluarga dan lainnya. Rumah sakit ini sehat, cerdas, dan
manusiawi.”

“I have detailed knowledge of my health from the Santo
Borromeus Hospital, which allows me to recommend it to my
family and others. This hospital is healthy, intelligent, and

humane.”

(Shaykh Abdusalam R. Panji Gumilang)

The Blue Lantern



Top of Mind 367

A yah, nenek, dan beberapa anggota keluarganya pernah
merasakan sentuhan asuhan keperawatan di Rumah Sakit
Santo Borromeus sejak dulu. Dalam pandangannya, rumah
sakit ini sudah melakukan penanganan dan pelayanan yang cepat, ramah
serta punya fasilitas kesehatan yang luar biasa. Bahkan, diakuinya bahwa
rumah sakit ini menjadi rujukan untuk keluarga besarnya ketika
mengalami masalah kesehatan.

Bukan tanpa alasan. Sebab, suatu hari dirinya merasakan betul harus
mendampingi ayahnya yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Santo
Borromeus. Ia menghabiskan waktu berhari-hari, menginap, bahkan
harus berangkat ke sekolah langsung dari rumah sakit. Pengalaman
tersebut masih diingatnya hingga saat ini.

Selain memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik, menurutnya
rumah sakit ini paling modern di Bandung. Begitu pun dengan lokasinya
yang paling strategis sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
Ia menyebut bahwa nama Rumah Sakit Santo Borromeus sudah melekat
kuat di hati masyarakat. Namanya sudah top of mind di Bandung sekaligus
salah satu rumah sakit dengan pelayanan yang prima.

The Blue Lantern

Top of Mind

F or a long time, his father, grandmother, and several members
of his family had felt the touch of nursing care at the Hospital
of Santo Borromeus. This hospital, in his opinion, has
provided prompt, friendly treatment and services, as well as exceptional
health-care facilities. In fact, he admitted that this hospital had become
a resource for his extended family when they were experiencing health
issues.

Not without reason. Because one day he felt compelled to
accompany his father, who was ill and being treated at the Santo
Borromeus Hospital. He was in the hospital for days, stayed overnight,
and even had to go to school straight from the hospital. He recalls the
incident vividly to this day.

In addition to providing the best services and facilities, he claims that
this hospital is the most modern in Bandung. Likewise, its most strategic
location ensures that it is easily accessible to the larger community. He
stated that the name Santo Borromeus Hospital was deeply ingrained
in the hearts of the people. His name is already well-known in Bandung,
as is one of the hospitals that provides excellent service.

369

“Rumah Sakit Santo Borromeus sudah top of mind di
Bandung dan menjadi salah satu rumah sakit yang terbaik.”

“Hospital Santo Borromeus is already top of mind in
Bandung and is one of the best hospitals.” (Raffi Ahmad)

(Raffi Ahmad)

The Blue Lantern

Pelayanan Paripurna

B agi keluarga mantan Presiden B.J. Habibie, Rumah Sakit Santo
Borromeus merupakan rumah sakit yang cukup nyaman dengan
pelayanan yang baik. Bukan hanya karena lokasinya strategis, tetapi juga
kepercayaan kepada rumah sakit ini yang sudah terbangun sedari dulu. Bahkan,
Habibie pernah melakukan general check up dan dirawat di rumah sakit ini pada
2014 dan masuk melalui Instalasi Gawat Darurat.

Excellent Service

S anto Borromeus Hospital is a fairly comfortable hospital with good
service for the family of former President B.J. Habibie. Not only
because of its strategic location, but also because of the long-
standing trust in this hospital. In fact, Habibie had a general check-up and
treatment at this hospital in 2014, and was admitted through the Emergency
Room.

Keluarga Habibie juga mengenal Rumah Sakit Santo Borromeus
cukup lama. Oleh karena itu, pelayanan yang dihadirkan rumah sakit
dirasakan betul apalagi sebagai keluarga yang paham soal kesehatan.
Sebagai pasien, rumah sakit ini menjadi daftar teratas pilihannya dalam
hal pengobatan atau perawatan kesehatan keluarga di Bandung.

Menurutnya, pelayanan di Rumah Sakit Santo Borromeus terbilang
paripurna dan andalan di Kota Bandung dan Jawa Barat. Oleh karena
itu, tak heran jika banyak orang yang ingin memperoleh pelayanan yang
lengkap datang ke Rumah Sakit Santo Borromeus. Citra tersebut lahir
karena kepercayaan yang tinggi dari masyarakat akan pelayanan dan
fasilitas yang terus ditingkatkan mengikuti perkembangan zaman.

Habibie’s family has also had a long relationship with Santo
Borromeus Hospital. Thus, the hospital’s services feel right, especially
as a family that understands health. As a patient, this hospital is at the
top of his list of options for treatment or family health care in Bandung.

According to him, the services provided by the Santo Borromeus
Hospital in Bandung and West Java are comprehensive and dependable.
Therefore, it is not surprising that many people seeking comprehensive
care come to the Santo Borromeus Hospital. The image was created as
a result of the community’s high trust in services and facilities that are
constantly being improved to keep up with the times.

373

“Pada umumnya jika orang-orang ingin mendapatkan
pelayanan yang paripurna, pasti larinya ke Rumah Sakit
Santo Borromeus. Artinya, kepercayaannya sudah sangat

tinggi.”

“In general, if people want to receive excellent care, they should
go to the Santo Borromeus Hospital.” This indicates that their

trust level is already very high.”

(dr. Rama Nusjirwan, Sp.BTKV)

The Blue Lantern

Penanganan Cepat

D idiagnosis penyakit langka Chronic Regional Pain and Syndrome
(CRPS) tipe 2 sempat membuatnya putus asa dan hilang
harapan. Mengapa Tuhan memberi cobaan yang demikian
berat ketika dirinya sedang meraih puncak prestasi akademik? Namun,
untaian doa, segala keyakinan, dan semangat yang perlahan tumbuh dalam
jiwa membuatnya kembali menuai kesembuhan dan kesehatan yang baik.

375

Quick Handling

S he had lost hope after being diagnosed with the rare disease
Chronic Regional Pain and Syndrome (CRPS) type 2. Why did
God send her through such a difficult test when she was at the
pinnacle of her academic achievement? However, the string of prayers,
all beliefs, and the spirit that gradually grew in the soul resulted in her
healing and good health.

The Blue Lantern

Selama tujuh tahun menjalani perawatan, baik rawat inap maupun
rawat jalan, membuat Rumah Sakit Santo Borromeus dikenalnya dengan
cukup baik. Menurutnya, penanganan di rumah sakit ini lebih cepat dan
mendahulukan penanganan pasien ketimbang urusan administrasi
keuangan. Dukungan tim dokter dan perawat yang terlibat menangani
penyakitnya diakuinya sangat responsif, komunikatif, dan ramah
sehingga mempercepat proses kesembuhan.

Tak ada keraguan dalam dirinya menentukan fasilitas kesehatan ketika
pertama kali memulai perawatan tahun 2012 dan berlanjut di tahun 2014
akibat kecelakaan. Meskipun berbeda keyakinan, ia memilih Rumah Sakit
Santo Borromeus atas inisiatif dirinya dan orang tuanya. Ia merasa lebih
nyaman menjalani perawatan di rumah sakit ini karena penanganannya
yang cepat dan akurat.

During the seven years of treatment, both inpatient and outpatient,
Santo Borromeus Hospital became well-known. According to her,
treatment at this hospital is more expedient and prioritizes patient care
over financial administration. The team of doctors and nurses involved
in his care were responsive, communicative, and friendly, which aided
in her recovery.

When she first began treatment in 2012 and continued in 2014 due
to an accident, she had no hesitations about choosing a health facility.
Despite their differing beliefs, she and her parents decided to go to
Santo Borromeus Hospital. She felt more at comfortable receiving
treatment at this hospital because it was fast and accurate.

377

“Saya merasa ada kenyamanan, kekeluargaan, dan kesembuhan. Ketika
rumah sakit lain angkat tangan, dapat diagnosis yang pasti sejauh itu di
Borromeus sudah keren dan penanganannya lebih cepat. Apalagi penyakit

yang saya alami terbilang langka.”

“I felt comfort, kinship, and hope for healing. When compared to other
hospitals, getting a definite diagnosis in Borromeus was already great, and

treatment was faster. Furthermore, the disease I have is relatively
uncommon.”

(Dita Dwi Putri)

The Blue Lantern

Bersih dan Tertib

U sianya hampir satu abad, tetapi semangatnya untuk sehat
terus tumbuh di dalam hati dan jiwanya. Rumah Sakit Santo
Borromeus telah menjadi pilihan utama sebagai fasilitas
kesehatan bagi keluarga. Menurutnya, selain pelayanan yang baik juga
punya nilai histori yang panjang sebagai rumah sakit modern dan terbaik
di Kota Bandung dan Jawa Barat.

379

Clean and Orderly

H e is nearly a century old, but his passion for health grows in
his heart and soul. The Santo Borromeus Hospital has
emerged as the preferred health-care facility for families. He
claims that, in addition to providing excellent service, it has a long
history of being the best and most modern hospital in Bandung and
West Java.

The Blue Lantern

Oleh karena itu, pihak keluarganya tidak berpikir panjang untuk
menentukan rumah sakit ketika ia harus beroleh perawatan di usia
senjanya. Salah satunya pada tahun 2018, ia menghabiskan waktu
perawatan selama lima malam di Rumah Sakit Santo Borromeus. Ketika
program vaksinasi Covid-19 bagi lansia digulirkan, ia langsung memilih
rumah sakit ini karena kepercayaan dan jaminan bahwa Rumah Sakit
Santo Borromeus akan melayani vaksinasi Covid-19 dengan baik.

Menurutnya, juga diamini oleh pihak keluarga, ruang pelayanan yang
bersih dan modern membuatnya nyaman selama perawatan. Pelayanan
yang memuaskan masih selalu dirasakannya. Karena faktor usia, kini ia
lebih banyak menjalani perawatan di rumah (home care). Tenaga kesehatan
Rumah Sakit Santo Borromeuslah yang melakukan kunjungan rutin
setiap dua bulan. Baginya, kualitas pelayanan rumah sakit tetap terjaga
dalam bentuk pelayanan home care.

As a result, when he needed to be treated in his old age, his family
did not waste time in selecting a hospital. In 2018, he spent five nights
in the Hospital of Santo Borromeus. When the Covid-19 vaccination
program for the elderly was implemented, he immediately chose this
hospital because he had faith and assurance that the Santo Borromeus
Hospital would serve the Covid-19 vaccination well.

According to him, and as agreed upon by the family, the clean and
modern service room makes treatment more comfortable. Service that
is satisfactory is always felt. Because of his age, he is now receiving more
treatment at home (home care). Every two months, health workers from
Santo Borromeus Hospital pay regular visits. For him, the quality of
hospital services is preserved through home care services.

381

“Pelayanan di Rumah Sakit Santo Borromeus menurut saya tidak ada
komplain, sudah tertib dan sesuai aturan. Yang juga membedakan dengan rumah

sakit lain adalah historical-nya.”

“In my opinion, the service at the Santo Borromeus Hospital is faultless; it is
orderly and follows the rules. Its history also sets it apart from other hospitals.”

(Eddy Yoshawirja)

The Blue Lantern







5

Belajar dan
Berkembang untuk

Kemanusiaan

Learning and Developing
for Humanity

Sebuah kelahiran baru yang menggembirakan dan membanggakan
selalu diawali dengan cinta, kesetiaan, usaha keras dan pengorbanan.
Demikianlah batu dasar yang telah membentuk karya ini. Sepotong
kutipan manuskrip Bunda Elisabeth menulis demikian:

“…hanya Allah yang tahu betapa banyak aku berdoa dan
menderita pada waktu itu, tak perlu kuulang lagi di sini, sebab
berkat doa yang berkanjang dan dengan kepercayaan kepada
Allah, segala-galanya dapat diatasi.”

(Elisabeth Gruyters, 69).

Semangat yang mendasari pelayanan dan nilai-nilai yang ditanamkan
para suster Carolus Borromeus mampu mengantarkan Rumah Sakit
Santo Borromeus mencapai usia 100 tahun. Setia pada semangat awal
dengan tetap berlayar di tengah arus zaman dalam karya pelayanan
kesehatan dalam kurun yang panjang merupakan hal yang luar biasa.

Ajoyful and proud of new birth always begins with love, loyalty, 387
hard work and sacrifice. Such is the foundation stone that has
formed this work. An excerpt from the manuscript of Mother
Elisabeth wrote this:

“… how much I prayed and suffered meanwhile
is only known to God and I will not relate it here, for
we can overcome anything by persevering prayer and
trust in God”

(Elisabeth Gruyters, 69).

The spirit that underlies the service and the values inculcated by the
Sisters of Carolus Borromeus was able to bring Santo Borromeus
Hospital to 100 years. Continuing to sail in the midst of the currents
of time in the work of health services for a long time while remaining
faithful to the initial spirit is an extraordinary thing.

The Blue Lantern

Semua ini bukanlah prestasi semata, tetapi lebih
sebagai sebuah anugerah atau hadiah dari Allah.
Anugerah itu disyukuri sekaligus serta-merta membawa
konsekuensi untuk terus dijaga dan dikembangkan.
Semua yang ada di dunia tak ada yang sempurna dan
paripurna. Teknologi dan peralatan medis yang
mutakhir bisa dibeli oleh siapa saja. Namun, semangat dan
nilai-nilai yang telah mengakar, tumbuh, dan berkembang
sejak seratus tahun yang lalu tidaklah dapat ditiru begitu saja.
Semangat serta nilai-nilai yang diestafetkan para suster perintis
kepada generasi penerusnya telah menjadi napas kasih yang berembus
dalam setiap layanan Rumah Sakit Santo Borromeus. Inilah yang
membedakannya dari yang lain.

Sebuah langkah besar terjadi tatkala Love that Renews diusung guna
memperkokoh identitas rumah sakit yang terus menjaga pelita tetap
bernyala sebagai upaya untuk terus menghidupkan nilai inti CB dalam
pelayanan. Meskipun semangat yang dihidupi merupakan warisan
pendahulu, tetapi pilihan cara mewujudkannya tetaplah baru. Sumber
daya manusia yang andal serta didukung oleh teknologi kesehatan yang
mutakhir menjadikan Rumah Sakit Santo Borromeus ibarat selalu siap
beradaptasi dan dilahirkan kembali dan kontekstual untuk menjawab
kebutuhan masyarakat serta tuntutan zaman.

Segala sesuatu yang telah dicapai dan menjadi prestasi Rumah Sakit
Santo Borromeus merupakan buah dari sinergi seluruh sumber daya
manusia yang mumpuni di dalam organisasi. Oleh sebab itu, integritas
setiap sumber daya manusia yang terlibat di dalam pelayanan Rumah
Sakit Santo Borromeus terus-menerus dibangun dalam nilai inti
ICARE. Implementasi ICARE mengarahkan setiap mitra kerasulan
berperan sesuai bidang dan profesinya masing-masing sehingga
Rumah Sakit Santo Borromeus dikenal karena pelayanan kesehatannya
yang baik.

389

All of these are not mere accomplishments, but rather a gift or grace
from God. This grace is being grateful while also bringing consequences
to being maintained and developed. Nothing in the world is perfect and
faultless. The latest medical technology and equipment can be
purchased by anyone. However, the spirit and values that have been
rooted, grown, and developed over a century cannot be imitated. The
pioneering sisters’ spirit and values have become the breath of love that
breathes in every service at the Santo Borromeus Hospital.  This is what
distinguishes it from the other hospitals.

A significant step forward was taken when “Love that Renews” was
promoted to strengthen the identity of the hospital, which continues
to keep the lamp burning in an effort to live up to CB’s core value of
service. Although the living spirit is a legacy of the forefathers, the
method of implementation is always new. Santo Borromeus Hospital,
with its dependable human resources and cutting-edge medical
technology, is always ready to adapt, be reborn, and contextualize to
meet the needs of society and the demands of the times.

The Blue Lantern



Everything that the Santo Borromeus Hospital has achieved and
continues to accomplish is the result of the synergy of all qualified
human resources in the organization. As a result, the integrity of every
human resource involved in Santo Borromeus Hospital’s services is
continuously incorporated into ICARE’s core values. The
implementation of ICARE directs each apostolic partner to play a role
based on their respective fields and professions, so that the Santo
Borromeus Hospital is known for providing high-quality health care.

391

“Kombinasi infrastruktur yang ada, lokasi yang sangat strategis, bangunan-
bangunan yang cukup luas, dukungan SDM yang baik, terus mau berubah dan
memperbaiki diri dalam layanan yang lebih baik dengan teknologi yang canggih,
tetapi juga tepat guna. Rumah Sakit Santo Borromeus sudah established, punya

positioning, dan menghadapi tantangan.”

“With the combination of existing infrastructure, a very strategic location, quite
spacious buildings, good human resource support, and a constant willingness to
change and improve itself in better services with sophisticated but also effective

technology, the Santo Borromeus Hospital is well established, has a
good positioning, and is up for the challenge.”

(dr. Suriyanto)

The Blue Lantern

Motion is Life and Life is Motion

Dalam bidang ortopedi dikenal istilah “motion is life and life is motion”.
Pergerakan atau bergerak adalah sendi utama kehidupan. Kehidupan
dapat terganggu apabila pergerakan seseorang terbatas. Sebaliknya,
ketika seseorang dapat bergerak dengan bebas dan nyaman, maka
dirinya merasa lebih hidup. Peningkatan aktivitas masyarakat, kesadaran
akan pentingnya berolahraga dan meningkatnya angka harapan hidup
masyarakat berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan masyarakat
untuk memiliki tulang dan sendi yang sehat. Masalah-masalah tulang
dan sendi dapat dialami mulai dari kelainan bawaan, cedera ligamen,
patah tulang, tumor tulang hingga pengapuran sendi. Pengapuran sendi,
cedera olahraga, dan patah tulang merupakan contoh yang bisa
menyebabkan pergerakan seseorang mengalami keterbatasan.

393

Motion is Life and Life is Motion

The phrase “motion is life, and life is motion” is well known in the field
of orthopedics. Life revolves around movement. Life can be disrupted
if a person’s mobility is restricted. In contrast, when a person can move
freely and comfortably, he feels more alive. Increased community
activities, increased awareness of the importance of exercise, and
increased community life expectancy are directly proportional to the
community’s need for healthy bones and joints. Congenital
abnormalities, ligament injuries, fractures, bone tumors, and joint
calcification are all examples of bone and joint problems. Calcification
of the joints, sports injuries, and fractures are all examples of conditions
that can limit a person’s mobility.

The Blue Lantern

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan masyarakat untuk
mendapatkan layanan prima semakin bertambah dan rumah sakit terus
melengkapi fasilitas dan layanan temasuk di dalam bidang ortopedi.

Pelayanan ortopedi di Rumah Sakit Santo Borromeus berkembang
semakin pesat, ditandai dengan bertambahnya layanan subspesialistik.
Jika sebelumnya bagian ortopedi melayani kesehatan tulang dan sendi
secara umum, saat ini sudah memiliki unit spesifik yang menangani
kasus-kasus ortopedi khusus. Misalnya sendi bahu dan siku, pergelangan
kaki, tulang belakang, sendi panggul dan lutut, cedera olahraga dan
penanganan kasus-kasus terkait tumor tulang.

Perkembangan dunia ortopedi sudah semakin canggih dan terus
melahirkan banyak terobosan baru. Salah satunya penggunaan teknik
bedah minimal invasif. Ini pula yang sedang menjadi “tren” dalam
penanganan pasien ortopedi di Rumah Sakit Santo Borromeus. Bagi
sebagian pasien yang mengalami cedera olahraga dan mereka yang sudah
berusia lanjut, teknik bedah minimal invasif menjadi pilihan dan disukai
karena memiliki banyak manfaat terutama untuk pasien. Luka sayatan
yang kecil, kesakitan yang minimal, perdarahan yang lebih sedikit, tidak
perlu lama opname serta bisa segera kembali beraktivitas menjadi daya
tarik bagi pasien ortopedi terutama bagi atlet dan mereka yang sudah
berusia lanjut.

Kini, Rumah Sakit Santo Borromeus bisa dikatakan rumah sakit
kedua setelah Rumah Sakit Hasan Sadikin yang memiliki subspesialis
ortopedi yang paling lengkap di Jawa Barat. Dukungan kelengkapan alat-
alat dengan teknologi mutakhir memfasilitasi bagian ortopedi Rumah
Sakit Santo Borromeus sehingga kualitas tindakan dan layanannya bisa
disejajarkan dengan rumah sakit di negara maju. Hal ini tentunya
merupakan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
ortopedi berkualitas internasional di negeri sendiri.

The Blue Lantern

As time passes, the community’s need for excellent service grows,
and hospitals continue to build new facilities and services, including in
the orthopedic field.

Orthopedic services at Santo Borromeus Hospital are rapidly
expanding, as evidenced by an increase in subspecialty services.
Previously, the orthopedic department was responsible for general bone
and joint health; however, it now has a separate unit that handles special
orthopedic cases. For example, shoulder and elbow joints, ankles, spine,
hip and knee joints, sports injuries, and bone tumor treatment.

The world of orthopedics is becoming increasingly sophisticated,
and many new breakthroughs are being made. The use of minimally
invasive surgical techniques is one of them. This is also the “trend” in
orthopedic patient care at Santo Borromeus Hospital. Minimally
invasive surgical techniques are the preferred option for some patients
with sports injuries and the elderly because they have numerous
advantages, particularly for patients. Small incisions, minimal pain, less
bleeding, no need for lengthy hospitalization, and the ability to return
to activities immediately are all appealing to orthopedic patients,
particularly athletes and the elderly.

Santo Borromeus Hospital is now the second hospital in West Java,
after Hasan Sadikin Hospital, to have the most comprehensive
orthopedic subspecialty. The support of completeness of equipment
with the latest technology facilitates the orthopedic section of the Santo
Borromeus Hospital, allowing the quality of its actions and services to
be compared to hospitals in developed countries. It is certainly a
convenience for the public to be able to obtain international quality
orthopedic services in their own country.


Click to View FlipBook Version