hiburan yang mereka cari. Tapi memang jurukunci di taman itu penuh misteri. Selanjutnya
datang kakek tua yang membaca koran dan datang ke taman tersebut untuk mendapatkan
kebijaksanaan. Sampai disana ia menemui jurukunci untuk mendapatkan kebijaksanaan.
Jurukunci bilang kakek tua itu merdeka. Kau bebas berada di sini. Lalu kakek tua bertanya,
dimana kursi untuknya duduk akhirnya Jurukunci pun pergi lalu datang seorang pelacur.
Ia menawarkan dirinya kepada kakek tua tersebut. Awalnya kakek itu menolak tetapi
akhirnya tak berdaya oleh rayuan pelacur tersebut. Saat mereka bersetubuh datanglah seorang
pedagang yang melihat mereka berdua. Lalu ia mengatakan untuk menghentikannya, karena
tak pantaslah mereka melakukan hal semacam itu. Mereka bertiga berbincang hingga keluar
jurukunci yang mengatakan akan memeberitahukan sebuah rahasia. Lalu datanglah topeng
kayu dan topeng-topeng diiringi berlalunya jurukunci. Mereka mengatakan akan
mengabulkan semua yang diinginkan ketiga orang tadi. Mereka terkabul, tetapi mereka hanya
merasakan hampanya hidup. Tak ada hidup yang merdeka jika tak ada penindasan. Tak ada
yang namanya kaya jika tak ada yang miskin. Menurut mereka mereka tetap menjadi budak,
yaitu budak nafsu. Mereka tidak sepenuhnya bebas. Akhirnya ia memohon lagi kepada
topeng kayu dan topeng topeng untuk mengabulkan lagi harapan lain mereka. Setelah
dikabulkan mereka merasa tidak puas. Mereka mencoba membuangnya. Mereka ingin
kembali seperti dulu saja. Naskah diakhiri dengan kakek tua, pelacur, dan pedagang yang
meminta kepada topeng kayu dan topeng-topeng untuk mengakhiri saja hidup mereka.
● Analisis dan Komentar Naskah Drama “Topeng Kayu” Karya Kuntowijoyo
Penokohan
Juru Kunci : Tidak ingin disalahkan, selalu merasa benar
Pelancong : Ingin mendapatkan kesenangan
Pelacur : Seorang perayu handal
Kakek : Tidak memiliki pendirian
Pedagang : seorang yang peduli terhadap sekitar
Topeng-topeng : Memberikan pelajaran kehidupan
Alur
Pada naskah drama ini digunakan alur maju yang progresif
Latar
Latar Tempat : Taman
Latar Suasana : Menegangkan
Latar waktu : Tidak dijelaskan secara detail
Amanat
Naskah Drama ini diberikan pelajaran yaitu dalam usaha mendapatkan kebahagiaan,
manusia sering berorientasi pada materi duniawi. Materi duniawi bisa berupa kekuasaan.
V Musuh utama bagi manusia sesungguhnya adalah dirinya sendiri. manusia sering
kalah dengan dirinya, dengan hawa nafsunya. Oleh karena itu yang perlu disadari oleh setiap
manusia adalah bagaimana mengendalikan diri. Jika manusia ingin mendapat kebahagiaan,
sesungguhnya kebahagiaan itu ada dalam hati mereka sendiri.
Komentar
Naskah Drama ini mengisahkan tentang hawa nafsu manusia yang tidak bisa dikontrol
dengan mudah. Naskah drama ini sangat mudah untuk dipahami arah ceritanya. Nasakh
Drama ini bahkan bisa dikatakan cukup bisa memberikan motivasi hidup bagi manusia yang
selama ini terlalu mengejar yang sifatnya material.
E. Analisis Naskah Drama “Cermin” Karya Nano Riantiarno
Jalan Cerita
Kisah dari naskah drama dengan judul “cermin” ini mengisahkan tentang perjalanan
kehidupan seorang laki-laki yang akan mengalami eksekusi hukuman mati setelah apa yang
telah ia perbuat. Dengan masa lalu yang ke yang suram, mungkin tokoh laki-laki tidak
percaya bahwa ia yang telah melakukannya, membunuh 6 orang dan melukai 3 orang. Seperti
seorang pembunuh ahli dan berpengalaman, dengan mudah menghabisi targetnya, namun itu
sangat berbeda dengan tokoh laki-laki yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan
bahkan sampai berani mengakhiri hidup seseorang.
Awal mulanya yaitu ketika tokoh laki-laki menikahi wanita yang bernama Sun, yang
merupakan mantan pelacur. Bahkan Sun masih terus melacur walaupun ia sudah menikah
dengan tokoh laki-laki. Sun terus melakukan kegiatan laknat itu, bukan hanya dengan satu
orang namun lebih. Ia melakukannya bukan karena cinta, sebab cinta dan sayangnnya hanya
untuk tokoh laki-laki. Awal mula tokoh laki-laki memang menerima kenyataan yang
dilakukan istrinya itu bahwa ia tidak bisa membahagiakan istrinya, ia hanya mampu
memberikan anak, tak mampu berbuat lebih bahkan tokoh laki-laki berpendapat bahwa apa
benar anak yang dilahirkan istrinya itu anaknya karena bukan hanya dia yang menanam benih
pada rahim istrinya. Itu semua terlihat dengan perbedaan paras dan ciri-ciri fisik dari ketiga
anaknya. Selama ini laki-laki terus menahan apa yang ada dipikirannya hingga dalam naskah
ini digunakan perumpamaan yaitu air yang sedang dipanaskan dalam suhu kecil, namun
ketika suhu air lama-kelamaan akan mencapai puncaknya, begitu pula dengan tokoh laki-laki
akibat perlakuan istrinya yang seperti tidak menganggap dirinya, memperlakukannya seperti
bukan manusia, itu membuat geram dan memunculkan kemarahan pada tokoh laki-laki dan
terjadilah peristiwa berdarah itu dengan banyak korban jiwa.
● Analisis dan Komentar Naskah Drama “Cermin” Karya Nano Riantiarno
Tema : Keluarga, sosial
Penokohan :
Laki-laki : Tidak bisa mengontrol diri, Tidak pikir panjang
Istri Laki-Laki : Tidak bisa menghargai suami
Latar : Di rumah kediaman laki-laki, di kampung daerah laki-laki, di tempat eksekusi mati
Alur : Mundur karena Drama ini merupakan Flashback
Amanat :
Dalam naskah drama karya Nano Riantiarno memberikan pelajaran bagi para pembaca
untuk saling menghargai dalam berkeluarga. Ada artinya setia dalam keluarga karena sudah
ada janji suci pada awal pernikahan. Selain itu, berpikirlah dulu sebelum bertindak jangan
kalut dalam emosi karena nanti yang akan rugi adalah kedua belah pihak.
Komentar :
Mengenai cerita naskah drama karya dari Nano Riantiarno ini banyak memberikan
pelajaran arti keluarga yang ideal untuk saling menghargai terhadap pasangan. Naskah drama
ini sangat menarik untuk dibaca karena ada unsur konflik yang bisa dibilang tidak sederhana
karena sampai pada tahap pembunuhan. Naskah drama ini tidak memuat banyak tokoh
sehingga ceritanya tidak bertele-tele. Selain itu, pemaparan dari eksposisi hingga sampai
resolusi semuanya tersusun dengan rapi
Muthik Fauziah
22201241062
1
ANALISIS PUISI
1
Yang Fana adalah Waktu
Oleh: Sapardi Djoko Damono
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
"Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu. Kita abadi.
Analisis:
● Tema: Kemanusiaan
● Pesan: Puisi ini mengandung nasihat untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Selama kita
masih hidup, kita harus menggunakan waktu dengan baik
● Diksi: Puisi ini menggunakan diksi konotatif yaitu menggunakan makna yang tidak
sebenarnya. Seperti dalam kalimat "memungut detik demi detik, merangkainya seperti
bunga" tidak bermakna memungut detik secara sesungguhnya, tetapi memiliki makna
kiasan yang artinya menjalani tiap detik kehidupan dengan sungguh-sungguh.
● Gaya bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa repetisi yaitu diulang-ulang pada
kalimat "yang fana adalah waktu. Kita abadi" diulang selama dua kali di bait satu dan bait
dua.
● Majas: Puisi ini menggunakan majar personifikasi yaitu menggunakan perumpamaan
untuk menggambarkan sesuatu. Seperti dalam kalimat "memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga" menggunakan majas personifikasi.
● Tipografi: Puisi ini memiliki dua bait. Bait pertama berisi empat baris dan bait kedua
berisi tiga baris. Di bait kedua menggunakan tanda kutip yang menunjukkan sebuah
kalimat percakapan.
● Citraan: Puisi ini mengandung citraan berupa ingatan yaitu pada kalimat "kita lupa untuk
apa"
2
Krawang-Bekasi
Oleh: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi kami adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Analisis:
● Tema: Perjuangan
● Makna: Puisi ini memiliki makna tentang perjuangan orang-orang di masa dulu untuk
meraih kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang tidak kenal lelah hingga titik darah
penghabisan
● Diksi: Puisi ini menggunakan kalimat konotatif seperti pada kata “tulang-tulang diliputi
debu” itu tidak benar-benar bermakna tersebut. Kata itu memiliki makna betapa kurusnya
orang-orang di masa peperangan sampai tulang-tulangnya menonjol di balik kulit
● Gaya bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa repetisi yaitu mengulang-ulang, seperti
pada kata “tulang diliputi debu”, “kenang, kenanglah kami”, “menjaga Bung Karno,
menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir”
● Majas: Di dalam puisi ini terdapat majas personifikasipada kata “jam dinding yang
berdetak” dan majas hiperbola pada kata “tulang-tulang berserakan” dan “tulang diliputi
debu”
● Tipografi: Puisi ini memiliki total 32 baris dengan rima campuran
● Citraan: Citraan pendengaran pada kata “deru kami”, “hening di malam sepi”, “jam
dinding yang berdetak” dan citraan penciuman pada kata “mayat” dan “debu”
3
Sebuah Jaket Berlumuran Darah
Oleh: Taufik Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun‐tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan‐bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana‐mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang‐abang becak, kuli‐kuli pelabuhan
teriakan‐teriakan di atas bis kota, pawai‐pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN!
Analisis:
● Tema: Perjuangan
● Makna: Puisi ini bercerita tentang seseorang yang melawan penindasan dan penderitaan
● Diksi: Pilihan kata di dalam puisi ini benar-benar indah dan mengena
● Gaya bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa repetisi yaitu diulang-ulang seperti pada
kalimat “mereka berkata, semuanya berkata”, kata “berkata” di sini menunjukkan sebuah
pengulangan
● Majas: Puisi ini menggunakan majas hiperbola yaitu dilebih-lebihkan seperti pada kata
“jaket berlumur darah”
● Tipografi: Puisi tersebut memiliki lima bait. Bait pertama sampai keempat terdiri dari
masing-masing empat baris dan bait kelimat terdiri dari delapan baris
● Citraan: Citraan yang terdapat dalam puisi yaitu citraan pembauan pada kata “berlumur
darah” dan citraan pengucapan pada kata “berkata”
4
Surat dari Ibu
Oleh: Asrul Sani
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
Analisis:
● Tema : puisi ini memiliki tema harapan dari sang Ibu yang mengharapkan anaknya
menggapai cita-citanya dan tidak lupa dengan orang tuanya.
● Pesan : Gapailah cita-cita sampai tercapai dan janganlah melupakan orang tua
● Diksi : Pada bait ke dua ini ada kata yang memiliki makna konotatif dan denotatif.
● Kata yang memiliki makna konotatif adalah “Selama hari belum petang”, kata petang
memiliki makna kiasan umur tua. Sedangkan makna denotatif dalam kata “Menutup
pintu waktu lampau”, kata waktu lampau ini adalah makna sebenarnya yang bermakna
masa lalu.
● Gaya Bahasa ( majas ) :
• Majas personifikasi : Pada bait ke dua, baris ke lima dalam kalimat “Menutup pintu
waktu lampau” terdapat majas personifikasi karena makna dalam kalimat ini yakni kita
tidak bisa kembali ke masa lalu mengandaikan berlaku seperti manusia (menutup
pintu).
• Majas anafora : Pada bait ke empat, baris ke satu dan dua terdapat pengulangan kata
“kembali” maka kalimat ini termasuk majas anafora.
● Pencitraan :
• Imaji penglihatan : Pada bait ke dua terdapat imaji penglihatan seperti pada kalimat
“Selama hari belum petang”
• Imaji pendengaran : Pada bait ke empat terdapat imaji pendengaran seperti pada kalimat
“Kita akan bercerita, Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”
● Persajakan : Pada puisi ini menggunakan sajak bebas karena pada akhir kata setiap
baris berbeda.
● Tipografi : Pada puisi ini penyair menggunakan tipografi huruf besar ,kecil dan tanda
baca lengkap.
5
Sebelum Laut Bertemu Langit
Oleh: Eka Budianta
Seekor penyu pulang ke laut
Setelah meletakkan telurnya di pantai
Malam ini kubenamkan butir-butir
Puisiku di pantai hatimu
Sebentar lagi aku akan balik ke laut.
Puisiku - telur-telur penyu itu -
mungkin bakal menetas
menjadi tukik-tukik perkasa
yang berenang beribu mil jauhnya
Mungkin juga mati
Pecah, terinjak begitu saja
Misalnya sebutir telur penyu
menetas di pantai hatimu
tukik kecilku juga kembali ke laut
Seperti penyair mudik ke sumber matahari
melalui desa dan kota, gunung dan hutan
yang menghabiskan usianya
Kalau ombak menyambutku kembali
Akan kusebut namamu pantai kasih
Tempat kutanamkan kata-kata
yang dulu melahirkan aku
bergenerasi yang lalu.
Betul, suatu hari penyu itu
tak pernah datang lagi ke pantai
sebab ia tak bisa lagi bertelur
Ia hanya berenang dan menyelam
menuju laut bertemu langit
di cakrawala abadi.
Analisis:
● Tema: Kehidupan
● Makna: Puisi ini bercerita tentang sebuah impian yang akan tercapai apabila dikejar dan
diusahakan secara bersungguh-sungguh, namun juga dapat gagal apabila kita menyerah
dan berpikir ahwa mimpi itu mustahil untuk dicapai
● Diksi: Pilihan kata di dalam puisi ini kebanyakan menggunakan istilah-istilah dalam alam
seperti penyu, telur, ombak, pantai, langit, cakrawala, berenang, dan lainnya.
● Gaya bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa kiasan yang berarti tidak bermakna
sesungguhnya atau perlu diartikan kata demi kata untuk bisa memahami apa yang penulis
ingin sampaikan
● Majas: Puisi ini menggunakan majas personifikasi pada kalimat “kalau ombak
menyambutku kembali” dan “kubenamkan butir-butir puisiku”
● Tipografi: Puisi tersebut memiliki empat bait. Bait pertama terdiri dari dari lima baris, bait
kedua dan ketiga masing-masing terdiri dari enam baris, dan bait keempat terdiri dari sebelas
baris
● Citraan: Citraan yang terdapat dalam puisi yaitu penciuman dan penglihatan pada kata
“laut” dan “pantai”. Laut dan pantai keindahannya dapat dilihat dengan mata, sedangkan
aromanya dapat dicium menggunakan hidung
6
Padamu Jua
Oleh: Amir Hamzah
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai
Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari—bukan kawanku
Analisis:
Tema: Percintaan
Makna: Puisi ini menceritakan tentang asmara cinta yang kadang merasa rindu, ataupun
terbakar api cemburu karena sudah lama terpisah
Majas: Puisi ini menggunakan majas personifikasi "serupa darah dibalik tirai"
Simbol konotasi positif : kandil, pelita, sabar, setia, dara
7
Asmaradana
Oleh: Goenawan Mohamad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di
antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Analisis:
● Tema: Perpisahan
● Makna: Puisi ini bercerita tentang kisah cinta Darma Wulan dan Anjasmara yang sayangnya
berakhir tragis
● Majas: Puisi ini menggunakan majas personifikasi pada kalimat "pangkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti"
● Citraan: Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan visual ditunjukkan pada
kalimat "sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara"
8
Dari Bentangan Langit
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu,datang kepadamu Tumbuh perlahan.
Berhembus amat panjang Menyapu lautan.
Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu,Ia,kemarau itu dari Tuhan yang senantia diam dari tangan-Nya.
Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap.
Yang tak menoleh barang sekejap
Analisis:
● Tema: Ketuhanan
● Pesan: Puisi ini mengajarkan tentang kebesaran-kebesaran Allah SWT dalam
memberikan segala kenikmatan-Nya kepada kita dengan gratis, akan tetapi banyak
manusia yang masih menutup mata dan hatinya untuk hanya sekedar mengucap syukur
● Diksi: Puisi ini menggunakan diksi konotatif yaitu menggunakan makna yang tidak
sebenarnya. Seperti dalam kalimat "Ia, kemarau itu, datang kepadamu" dalam kata
kemarau tidak memiliki arti kemarau sesungguhnya yang akan datang
● Majas:
• Metafora
“Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa” memiliki pengertian bahwa, penyair
menggambarkan Tuhan dalam bentuk lain yang sebenarnya telah dapat kita ketahui di
kaliamat sebelumnya dari penggalan-penggalan kalimat di dalam puisi tersebut yaitu
“dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa”.
• Personifikasi
“Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan!”
Mengandung arti bahwa penyair menggunakan kata “Ia” yang memiliki pegertian
“kemarau itu” yang kemudian di gambarkan seakan-akan hidup dan melakukan
hal-hal seperti “datang kepadamu”, “Tumbuh perlahan”, “Menyapu lautan”,
“Mengekal tanah berbongkah” dan “menyapu hutan”. Apabila kita ketahui bahwa
musim kemarau yang notabennya adalah benda mati akan tetapi oleh penyair
digambarkan seolah-olah hidup.
• Hiperbola
“Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan!”
Mengandung arti bahwa penyair mengambarkan sesuatu yang mampu “menyapu
lautan” dan “menyapu hutan”. Hal ini tentu tidak wajar, karena tidak ada suatu alat
yang mampu melakukan itu dalam konteks secara nyata, oleh karena itu penyair
menggunakan perbandingan secara melebih-lebihkan dalam menggambarkan saat
datangnya musim kemarau tersebut.
● Tipografi:
● Citraan:
• Citraan penglihatan (visual)
“Dari bentangan langit yang semu”
• Citraan Perabaan
“Berhembus amat panjang”
9
Mampir
Oleh: Joko Pinurbo
Tadi aku mampir ke tubuhmu
tapi tubuhmu sedang sepi
dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
Jendela di luka lambungmu masih terbuka
dan aku tidak berani melongoknya.
Analisis:
● Tema: Percintaan
● Makna: Puisi ini memiliki makna tentang seseorang yang tidak memiliki keberanian untuk
mengunjungi hati seseorang yang dicintainya
● Diksi: Puisi ini menggunakan kalimat konotatif seperti pada kata “mampir ke tubuhmu”
dan “jendela di luka lambungmu”
● Gaya bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa yang memerlukan pemahaman terhadap
kata demi kata untuk dapat memahami maksud penyair
● Majas: Di dalam puisi ini terdapat majas personifikasi pada kata “mampir ke tubuhmu”,
“tubuhmu sedang sepi” dan “luka di lambungmu”
● Tipografi: Puisi ini hanya memiliki satu bait yang terdiri dari lima baris
● Citraan: Citraan perasa pada kata “luka”, citraan pendengaran pada kata “mengetuk”, dan
citraan penglihatan pada kata “melongoknya”
10
Guruku
Oleh: Mustofa Bisri
Ketika aku kecil dan menjadi muridnya
Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar
Ketika aku besar dan menjadi pintar
Kulihat dia begitu kecil dan lugu
Aku menghargainya dulu
Karena tak tahu harga guru
Ataukah kini aku tak tahu
Menghargai guru?
Analisis:
● Tema: Pendidikan
● Makna: Puisi ini menceritakn seseorang yang berusaha mnghargai gurunya
● Diksi: Puisi ini menggunakan kalimat denotatif yang merupakan makna sebenarnya
● Gaya bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan dapat dipahami
● kata demi katanya tanpa memerlukan pengartian tiap kata
● Majas: Tidak ada majas apa-apa di dalam puisi ini
● Tipografi: Puisi ini hanya memiliki satu bait yang terdiri dari delapan baris
● Citraan: Citraan perasaan pada kata “menghargai”
2
ANALISIS NOVEL
1. Orang-Orang Proyek (Ahmad Tohari)
● Tema: idealisme yang bersinggungan dengan kepentingan politik
● Alur: alur maju karena pencerita menguraikan dari waktu ke waktu
● Latar/setting:
a) Latar tempat: Desa Cibawor
b) Latar waktu:
Karena peristiwa yang terjadi dalam novel terlalu kompleks, maka latar waktunya
terdapat sepanjang hari. Sedangkan peristiwa yang paling banyak pterjadi adalah
pagi hingga sore hari tepatnya pada jam kerja orang-orang dalam proyek pembuatan
jembatan.
c) Latar sosial:
Latar sosial yang paling menonjol adalah keadaan sosial dimana masyarakat beserta
jajaran pejabat menganggap bahwa manipulasi anggaran proyek merupakan hal yang
lumrah terjadi. Hal ini bertentangan dengan prinsip kejujuran yang diajarkan secara
turun-temurun.
● Penokohan
a. Kabul
Kabul memiliki watak baik hati dan idealis. Karena sikap idealismenya yang tinggi
tersebut ia terpaksa bersitegang dengan atasan dan mundur dari manipulasi proyek
garapannya.
b. Wati
Wati adalah adis cantik berumur 24 tahun yang sudah bertunangan, namun memiliki
perhatian khusus pada Kabul. Karakter Wati dalam novel ini adalah perhatian,
plin-plan dan suka memutuskan perkara secara sepihak.
c. Basar
Basar adalah seorang lurah di desa Cibawor. Dia adalah sahabat Karib Kabul semasa
kuliah. Dahulu, sebagai aktifis, mereka berdua begitu giat menentang segala bentuk
penyimpangan oleh penguasa dan merasa keberatan terhadap demokrasi yang
dipaksakan. Namun karena Basar bekerja di bawah naungan rezim yang dulu
ditentangnya, dia terpaksa tunduk terhadap mereka. Sekalipun harus mengorbankan
perasaan sendiri.
d. Pak Tarya
Tokoh tambahan yang sering memberi nasihat mengenai kehidupan pada Kabul. Ia
bekarakter bijaksana dan netral terhadap keadaan, termasuk ketika Kabul mengeluh
tentang manipulasi proyek atas kepentingan politik suatu golongan.
e. Wiyoso/Yoso
Seorang mahasiswa yang merupakan tunangan tokoh Wati. Ia berkarakter keras,
terbukti ketika meminta kejelasan dan mendatangi kantor dimana Wati bekerja, Yoso
membanting gelas untuk melampiaskan kejengkelan terhadap mantan tunangannya.
f. Sonah
Tokoh tambahan satu ini juga turut menyemarakkan jalan cerita dengan gayanya yang
ceriwis, suka ikut campur namun peka terhadap perasaan orang. Pemilik Warteg di
mana proyek jembatan digarap ini selalu berusaha menyomblangkan Kabul dan Wati.
g. Tante Ana
Banci yang sering mangkal di sekitar proyek, pekerjaan yang digelutinya itu bukan
sekadar untuk sesuap nasi, tetapi juga demi pengakuan bahwa ia berjiwa perempuan,
ia bahkan mengadopsi seorang anak yang akan dijual atas kepentingan materi semata.
Kabul tidak pernah mengusir ketika tante Ana menggoda para kuli karena merasa hal
tersebut merupakan timbal balik antara seorang pengais rejeki dan pekerja kasar yang
butuh hiburan.
● Amanat
Amanat dalam novel Orang-orang Proyek ini adalah jika merasa berpendidikan, maka
kita harus menjalankan sesuatu sesuai displin ilmunya dan dengan sebaik-baiknya. Meski
kepatuhan tersebut menuai banyak penghinaan, kita harus mengamalkan ilmu yang
didapat tanpa terpengaruh intrik politik.
● Gaya Bahasa
Orang-orang proyek memiliki gaya bahasa menarik dan mudah dimengerti. Bahasanya
tidak berbelit-belit sehingga pembaca jadi mengaerti keadaan politik pada masa orde baru
tanpa kesulitan mengerti istilah-istilahnya.
2. Pulang (Leila S. Chudori)
● Tema
Tema novel ini mengenai politik yang merujuk pada tragedi berdaerah 1965 yang dikenal
dengan G30 S PKI dan runtuhnya rezim Orde Baru 1998.
● Amanat
Mengajarkan sejarah masa lalu yang harus dihargai dan dijadikan sebagai kritikan buat
Pemerintah Indonesia. Tokoh utama Dimas Suryo mengajarkan bagaimana menentukan
pilihan dalam hidupnya sebagai suatu anugerah yang harus diperjuangkan. Persahabatan,
pengorbanan dan kesucian cinta adalah gambaran amanat dari kisah tersebut.
● Plot/Alur
Plot/Alur cerita yang digunakan adalah maju mundur dengan melalui flash back.
● Penokohan
a. Dimas dikisahkan sebagai Ekalaya dalam tokoh pewayangan, seseorang yang
memandang lurus kehidupan, alumni Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia yang
bekerja sebagai wartawan di Kantor Berita Nusantara.
b. Hananto dikarakterkan sebagai seorang pimpinan, sahabat dan sekaligus lawan
diskusi Dimas. Surti sebagi perempuan cantik jelita yang tanggung jawab ditengah
perburuan berdarah suaminya, Hananto.
c. Nugroho Dewantoro, asal Jogja yang lebih senior namun berprinsip egaliter dalam
kelompok, yang digambarkan sebagai sosok paling ceria, optimis dan kerap menjadi
motor penyemangat saat mereka dirundung keputusasaan dalam masa pelarian.
d. Risjaf, berasal dari Sumatera dengan perawakan tubuh ideal dan berwajah tampan
yang digambarkan sebagai sosok paling lugu dan penurut. Lalu ada Tjai Sin Soe,
seorang tokoh Tiong Hoa yang paling apolitis dari semuanya.
e. Aji Suryo, adik Dimas yang berbudi dan tulus, seorang lulusan ITB yang memilih
hidup merunduk dan bekerja sebagai kepala laboraturium penelitian sebuah pabrik
ban terkemuka. Ia memang tidak tertarik terlibat dalam politik.
f. Vivienne Deveraux, wanita Prancis yang menjadi istri Dimas karena mengalami efek
le coup de foudre alias cinta pada pandangan pertama pada lelaki Asia yang
ditemuinya di tengah ribuan massa aksi mahasiswa dan buruh dalam revolusi Paris,
Mei 1968 di depan UNiversitas Sorbone.
g. Segara ALam, Bulan, Kenanga, Bimo, Lintang, Rama dan Andini. Serta peran
pembantu, Narayana, Radytia, Yos, Gilang dan Mitha.
● Latar/Setting utama kisah ini adalah Indonesia dan Perancis ketika terjadi gerakan G30
SPKI 1965, Revolusi Perancis Mei 1968, dan Reformasi Rezim Orde Baru Mei 1998.
● Sudut Pandang
Penulis menempatkan dirinya sebagai sudut pandang orang ke satu dan sekaligus orang
ke tiga. Karena sudut pandang dalam novel ini berubah-ubah, hal ini yang sedikit
membuat bingung pembaca karena penempatan tokoh berubah secara tiba-tiba.
3. Laskar Pelangi (Andrea Hirata)
a. Tema: perjuangan dan semangat para siswa
b. Penokohan
● Ikal bisa dibilang adalah tokoh paling pintar. Ia memiliki minat di bidang sastra
yang digambarkan dengan kegemarannya menulis puisi. Ia mencintai A Ling
yang merupakan sepupu A Kiong. Namun, hubungan mereka harus berakhir
karena A Ling pergi ke Jakarta.
● Lintang merupakan teman sebangku Ikal yang sangat jenius. Ia berasal dari
keluarga nelayan miskin yang tidak mempunyai perahu namun harus menghidupi
14 jiwa. Minatnya untuk sekolah sangat besar. Hal ini ditunjukkan sejak pertama
kali di sekolah dan selalu aktif di kelas. Namun, sangat disayangkan cita-citanya
untuk menjadi ahli matematika terpaksa harus ia korbankan. Mengingat ia harus
menggantikan peran ayahnya yang telah meninggal sebagai tulang punggung
keluarga.
● Sahara menjadi satu-satunya anak gadis anggota Laskar Pelangi. Sifatnya keras
kepala, patuh terhadap agama, memiliki pendirian kuat, pandai dan ramah.
● Mahar memiliki paras tampan, tubuhnya kurus dan berbakat di bidang seni. Saat
dewasa, sempat menganggur karena ibunya sakit-sakitan. Suatu hari nasib baik
menghampirinya, salah seorang petinggi mengajaknya membuat dokumentasi
permainan tradisional. Mahar juga berhasil meluncurkan novel persahabatan.
● AKiong merupakan salah satu tokoh dalam novel Laskar Pelangi adalah
keturunan Tionghoa yang menjadikan Mahar sebagai suhunya. Meski buruk rupa,
namun baik hati dan suka menolong.
● Syahdan merupakan sosok yang tidak menonjol dan tidak pernah diperhatikan.
Namun, ia mempunyai cita-cita menjadi aktor. Berkat kerja kerasnya, ia
berkesempatan menjadi aktor meskipun perannya kecil. Akhirnya, karena bosan
ia memutuskan kursus komputer dan menjadi network designer.
● Kucai selalu dipercaya menjadi ketua kelas dalam setiap generasi sekolah. Akibat
kurang gizi, ia mengalami rabun jauh dan penglihatannya melenceng. Sejak kecil
mahir sebagai politikus dan saat dewasa menjadi ketua fraksi DPRD Belitung.
● Borek adalah laki-laki yang ingin selalu tampil macho. Saat dewasa, ia bekerja
sebagai kuli.
● Trapani adalah pria tampan ini baik hati dan pandai. Namun, karena terlalu
bergantung dengan ibunya membuatnya tinggal di rumah sakit jiwa.
● Harun adalah tokoh dalam Laskar Pelangi yang mempunyai keterbelakangan
mental sehingga memulai sekolahnya terlambat. Ia memiliki sifat jenaka.
c. Plot: alur maju
d. Latar
● Latar tempat:
Di Sekolah Dasar Muhammadiyah
Di bawah Pohon
Di dalam Gua
● Latar suasana: menyenangkan, menegangkan, dan juga mengharukan
e. Sudut Pandang: orang pertama dengan Ikal yang menjadi pelaku utama.
f. Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa Indonesia yang terpengaruh dengan
aksen budaya bahasa Melayu.
g. Amanat
- Semangat, gigih, jangan mudah menyerah dan putus asa dengan keadaan
- Bergembira, optimis, jangan mudah pesimis
- Berjuang dengan gigih
- Bermimpi dan bercita-citalah yang tinggi
4. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)
o Tema: Penderitaan masyarakat pribumi pada masa penjajahan.
o Tokoh dan Penokohan
- Minke adalah seorang pemuda pribumi keturunan bangsawan yang cerdas
- Nyai Ontosoroh yaitu istri tak resmi dari Herman Mellema
- Robert Mellema kakak dari Annelies Mallema
- Annelies gadis Indo Belanda anak dari Nyai Ontosoroh dan Herman Mallema.
o Alur: maju
o Latar
- Waktu: sekitar tahun 1898 sampai dengan tahun 1918
- Tempat: di Wonokromo dekat Surabaya di Jawa Timur.
o Sudut pandang: sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama
o Gaya bahasa
Gaya bahasa yang di gunakan pada novel ini banyak menggunakan majas
depersonifikasi. Contoh kutipannya seperti “Baca tulisan komentar. Dia marah
seperti singa terluka. Dia ada pada pihakmu”
o Amanat
Amanat dalam novel ini menceritakan tentang pergerakan, perjuangan, dan semangat
pemuda indonesia. Selain itu novel Bumi Manusia ini penulis menunjukan betapa
pentingnya belajar. Dengan belajar dapat mengubah nasib, belajar dapat dari
pengalaman, dari buku-buku bahkan kehidupan sehari-hari. sehingga kita tahu bahwa
belajar tidak merugikan melainkan menguntungkan.
5. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (Hamka)
o Tema: cinta sejati namun tidak dapat disatukan karena adat Minangkabau yang
terlalu mendiskriminasi.
o Alur: alur maju
o Penokohan
- Zainuddin (Protagonis)
Zainuddin adalah pemuda yang baik, alim, peduli, taat, sabar, penyayang,
sederhana, memiliki cita-cita yang tinggi, cerdas, menghargai orang lain, orang
yang sangat menghormati orang tuanya.
- Hayati (Protagonis)
Hayati adalah wanita yang baik, lemah lembut, pendiam, penurut hingga tidak
bisa melawan, memiliki sifat setia, sabar, Hayati juga sangat menghormati orang
tuanya.
- Aziz (Antagonis)
Aziz adalah pemuda yang kaya raya, orang terpandang, boros, kasar, tidak setia,
tidak memiliki tujuan hidup, orang yang tidak beriman, putus asa, dan
menelantarkan istrinya.
- Khadijah
Perempuan yang berpendidikan, keras, suka mempengaruhi orang lain, kaya raya,
baik kepada teman, orang kota, memiliki keinginan yang kuat.
o Sudut Pandang: orang ketiga
o Latar
Latar tempat
- Mengkasar (tempat lahir Zainuddin)
- Dusun Batipuh (tempat lahir Hayati dan bertemunya Zainuddin dan Hayati)
- Batavia/Jakarta (tempat Muluk dan Zainuddin pertama kali pindah ke jawa)
- Surabaya (tempat Zainuddin dan Muluk bekerja/setelah pergi dari Dusun
Batipuh)
Latar Waktu
- Siang
- Tidak begitu jelas di dalam novel tentang latar waktu.
Latar Suasana
- Senang (Ketika Hayati menerima cinta Zainuddin)
- Sedih (Ketika menerima kenyataan bahwa Hayati harus menikahi pemuda kaya
raya nan sombong yang dijodohkan oleh orang tuanya)
- Menegangkan (Ketika Zainuddin menyuruh Hayati kembali ke kampung
halaman, dan terjadi kecelakaan kapal)
o Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan pada novel ini adalah bahasa melayu yang kental,
dicampur juga dengan bahasa Minangkabau.
o Amanat
Amanat yang disampaikan pada novel ini adalah, bahwa sesuatu yang kita cintai itu
tidak harus kita miliki. Terkadang jika kita melakukannya dengan memaksa atau
harus, itu bisa berujung dengan sesuatu yang tidak kita inginkan.
3
ANALISIS CERPEN
1. Dilarang Mencintai Bunga-bunga (Kuntowijoyo)
a. Tema: filosofi kehidupan
b. Alur/plot: alur maju
c. Tokoh dan penokohan
- Buyung pada cerpen tersebut diceritakan sebagai anak yang haus pengetahuan serta
penuh dihinggapi rasa penasaran,
- Ayah diceritakan sebagai presentatif tokoh laki-laki yang kasar, serta keras
kemauannya. Namun, ia juga penyayang.
- Kakek diceritakan pada tokoh baik hati, ramah, penyayang anak.
- Ibu pada cerpen tersebut digambarkan sosok baik serta penyayang
d. Latar cerita
- Latar Tempat: di Jawa
- Latar Waktu: pagi dan sore hari
- Latar Suasana: menengangkan
e. Sudut pandang: sudut pandang orang pertama
f. Amanat
Pada cerpen dilarang mencintai bunga-bunga adalah semua orang mempunyai persepsi
tersendiri mengenai kehidupan, sehingga harus bertanggung jawab pada kehidupan kita.
Dan kehidupan dunia mesti diselaraskan dengan bekal kehidupan untuk akhirat.
2. Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Umar Kayam)
a. Alur
Cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” menggunakan alur maju/progresif
dalam ceritanya. Cerita ini mengisahkan dialog-dialog antara Marno dan Jane dari awal
sampai akhir. Sedang dari segi kualitas alur, cerpen ini bisa diklasifikasikan beralur
longgar. Karena dialog antara Marno dan Jane membicarakan apa saja. Tentang Marno,
Jane, mantan suami Jane, dan lain-lain. Sedang pada akhir cerita, cerpen ini beralur
terbuka. Diakhiri ketika Marno pergi setelah berpamitan pada Jane.
b. Tokoh & Penokohan
Ada dua tokoh sentral dalam tokoh ini, yaitu Marno dan Jane. Marno ditokohkan
sebagai orang yang memegang teguh budaya Timur, sentimentil, dan terikat pada norma
budaya Timur. Sedangkan Jane adalah perwakilan budaya Barat, yang liberal dan tak
acuh pada keterikatan yang bagi orang Timur dianggap wajib.
Sedangkan Jane adalah cerminan budaya Barat. Dia melakukan apa yang bagi budaya
Barat sudah biasa. Dia mabuk bersama Marno, menceracau tentang hal-hal sehari-hari
dan pengalaman Baratnya, serta lupa akan status perkawinannya.
c. Latar
- Tempat: Manhattan, apartemen Jane
- Waktu: malam hari
- Sosial: Cerita ini berlatar sosial pada kondisi pertemuan sosialita Timur dan Barat.
Marno mewakili Timur, Jane mewakili Barat.
d. Sudut pandang: sudut pandang orang kegita
e. Gaya bahasa: Jika dilihat dari diksi, pilihan bunyi dan sintaksis, cerita ini mengundang
nuansa kelembutan yang begitu halus. Suasana toleransi yang begitu kuat, dan sanggup
mempengaruhi pembaca yang secara halus merasuk mempengaruhi alam pikiran
mereka.
3. Guru (Putu Wijaya)
a. Tema: pendidikan
b. Alur: campuran
c. Latar
Tempat: kos-kosan Taksu
Waktu: sepuluh tahun yang lalu
Suasana: menegangkan
d. Penokohan
- Taksu: memiliki pendirian yang teguh
- Ayah Taksu: memaksakan kehendak pada anaknya
- Ibu: memaksakan kehendak pada anaknya
e. Sudut pandang: orang pertama
f. Amanat
Amanat yang dapat diambil dari cerita ini adalah kita tidak boleh memaksakan
kehendak kita kepada orang lain.
4. Sungai (Nugroho Notosusanto)
a. Tema: perjuangan melawan penjajah
b. Latar
- Waktu: Februari 1948
- Tempat: di tepi Sungai Serayu
- Suasana: menegangkan, menyedihkan, mengharukan
c. Penokohan
- Sersan Kasim: cermat, penyayang, tabah
- Aminah (istri Sersan Kasim): keras kepala
- Komandan: peduli
d. Alur: campuan
e. Nilai moral: setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
f. Amanat:
- Belajar menaruh kepentingan di atas kepentingan sendiri
- Tabah menghadapi masalah yang ada
- Belajar berpikir rasional
5. Senyum Karyamin (Ahmad Tohari)
● Tema: Pengorbanan dan Perjuangan
● Tokoh dan penokohan,
a. Karyamin : pantang menyerah
b. Saidah: baik dan peduli
c. Pak pamong: tegas, tidak peka
● Sudut pandang: orang ketiga
● Latar
a. Tempat: di sekitar sungai
b. Waktu: pagi hari
c. Suasana: mengharukan
● Alur Cerita: maju
● Gaya Bahasa
a. Menggunakan majas hiperbola : “Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena
tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan”
b. Menggunakan majas personifikasi : “Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di
permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin"
● Amanat: harus bersabar akan semua masalah yang dilalui dan pantang menyerah terus
berjuang untuk merubah nasib yang sedang dihadapi.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
1. Pada Suatu Hari (Arifin C. Noer)
● Tema: kekeluargaan
● Alur: maju
● Latar
a. Tempat: ruang tamu rumah
b. Waktu: siang hari
c. Suasana: membahagiakan, menegangkan
● Tokoh dan Penokohan
a. Kakek: Kakek dalam cerita ini adalah sebagai tokoh utama yang memiliki sifat
bijak, penyayang dan sulit ditebak. Terlihat ketika Nyonya Wenas datang
berkunjung dan terdapat beberapa rahasia yang masih disimpan oleh kakek.
b. Nenek: Nenek sebagai tokoh utama yang memiliki sifat pencemburu, bijak, juga
penyayang terhadap anak-anaknya.
c. Nyonya Wenas: Tokoh nyonya Wenas sebagai pemeran pengganggu di sini, sangat
bisa membuat konflik di antara kakek dan nenek. Tidak begitu banyak karakter
nyonya Wenas yang saya dapat dari keterbacaan saya karena nyonya Wenas hanya
ditunjukan pada beberapa sekuen untuk menimbulkan konflik. Namun, di sana
terlihat nyonya Wenas yang sedikit centil mungkin dikarenakan nyonya Wenas
adalah janda dan mantan kekasih kakek juga.
d. Novia: Anak kedua nenek dan kakek ini sifatnya tidak jauh dengan nenek (ibunya),
Novia terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi
setelahnya. Tetapi Novia juga memiliki sifat yang penyayang.
e. Nita: Nita tidak jauh halnya dengan ayahnya, Nita memiliki sifat yang bijak.
Karena Nita hanya pemeran pembantu, karakter Nita hanya sedikit yang
ditunjukkan.
f. Pesuruh: amanat, jujur dan lalai
g. Arba, Sopir: amanat dan jujur
2. Ayahku Pulang (Usmar Ismail)
Alur : Linier atau Maju
Setting :
1. Setting suasana : sedih, terharu, dan tegang
2. Setting latar : Di dalam rumah ketika sedang duduk
3. Setting waktu : Malam hari ketika takbiran
Tokoh :
1. Gunarto (anak pertama Raden Saleh dan Tina)
2. Raden Saleh (Ayah dari Gunarto,Maimun dan Mintarsih/ mantan Suami Tina)
3. Ibu Tina ( Mantan Istri Raden Saleh/ Ibu dari Gunarto,Maimun dan Mintarsih)
4. Maimun (Adik Gunarto atau anak kedua dari Raden Saleh dan Tina)
5. Mintarsih (Adik Gunarto dan Maimun atau anak ketiga dari Raden Saleh dan Tina)
Watak tokoh :
1. Gunarto bersifat keras kepala, pendendam, mudah emosi, kasar.
2. Raden Saleh bersifat manusiawi (Khilaf), tidak bertanggung jawab,
3. Ibu Tina bersifat besar hati, sabar, pekerja keras,kuat dalam menghadapi masalah.
4. Maimun bersifat penengah, besar hati, berbakti pada orang tuanya, pekerja keras
5. Mintarsih bersifat besar hati, sabar, berbakti kepada orang tuanya.
Nilai moral :
1. Jangan tanamkan rasa dendam di hati apalagi kepada orangtua kita
2. Terimalah apa adanya kondisi keluarga kita
3. Jangan lari dari masalah
4. Bersifat terbuka kepada keluarga
3. Majalah Dinding (Bakdi Soemanto)
Tema
Tema yang diangkat dalam cerita drama ini adalah mengenai anggota staf redaksi majalah
dinding yang berusaha menyelesaikan masalah pembredelan mading yang dilakukan oleh
Kepala Sekolah, karena sikap salah satu anggotanya, Trisno, seorang karikaturis telah
mengejek Pak Kusno, guru karate. Temanya : diskusi para anggota staf redaksi dalam
penyelesaian masalah pembredelan mading.
Alur
Alur cerita drama ini adalah alur maju karena diawali dengan Anton, pemimpin redaksi yang
bingung karena masalah pembredelan mading oleh Kepala Sekolah. Hingga akhirnya semua
anggota staf redaksi pun berembug untuk menyelesaikan masalah tersebut. Lalu, mereka pun
mendapatkan solusi dengan Pak Lukas, wali kelasnya yang akan membantu turun tangan
dalam masalah ini dan akhirnya masalah pembredelan pun selesai. Selanjutnya, mereka
merenungkan kalau ternyata kreativitas itu membutuhkan perlindungan.
Tokoh
● Anton: pemimpin redaksi, kurang memperhatikan pada kinerja anggota stafnya sehingga
terjadi masalah pembredelan oleh kepala sekolah, orang yang gampang emosi terhadap
suatu hal yang kurang berkenan di hatinya, menyalahkan orang tanpa mendengarkan
penjelasannya terlebih dahulu, tetapi pada akhirnya ia menyadari semua salahnya dalam
menyikapi masalah dengan mencoba merenungkan semuanya sehingga solusi pun
didapat dan masalah menjadi selesai.
● Rini: sekretaris redaksi, setia menemani anggota staf dalam masalah, mencoba membantu
mencari jalan keluar dalam masalah itu.
● Kardi: eseis atau karikaturis yang tulisannya mulai dikenal lewat majalah dinding,
seseorang yang bijak dalam menyikapi masalah karena ia selalu berpikiran baik terhadap
orang walau tindakannya kurang menyenangkan, dia orang yang cerdik dan cerdas dalam
mencari solusi, seorang penasihat yang baik pada teman-temannya, dia juga orang yang
sering di katakan filsuf oleh teman-temannya karena ucapannya yang selalu bijak.
● Trisno: seorang karikaturis majalah dinding yang mengejek Pak Kusno, biang semua
masalah dalam cerita drama ini, tetapi Trisno orang yang mau bertanggungjawab atas
semua kesalahannya walau tak dihargai oleh pemimpin redaksinya, dia berani mengambil
resiko apapun atas kesalahan yang ia perbuat.
● Wilar: wakil pemimpin redaksi, orang yang mau membantu staf anggota redaksi dalam
menyelesaikan masalah dengan meminta bantuan pada wali kelasnya.
● Pak Kusno: guru karate yang sikapnya kurang beres.
● Pak Lukas: guru wali kelas yang mau melibatkan dirinya dalam masalah anak-anak
didiknya dan seseorang yang ikut bertanggungjawab dalam penyelesaian masalah
anaknya, dia juga guru sejati yang melindungi, sifatnya lembut keibuan, dan seorang
penyelamat bagi anggota staf redaksi saat itu.
Latar
● Latar tempat: ruang kelas dan rumah Pak Kepala Sekolah.
● Latar waktu: hari Minggu dan pagi hari.
● Latar suasana:
● Suasana pada saat itu adalah kaget karena pemimpin redaksi mendapat berita
pembredelan mading oleh kepala sekolah karena salah satu anggotanya Trisno
mengejek Pak Kusno, sebagai guru karate. Semua anggota menjadi bingung bagaimana
menyelesaikan masalah itu. Lalu, berubah menjadi tegang karena Anton, pemimpin
redaksi itu marah kepada Trisno atas sikapnya. Tetapi, keadaan menjadi tenang kembali
dan mereka semua pun mendapatkan solusi dari masalah tersebut dengan datangnya
Wilar yang membawa kabar kalau Pak Lukas mau membantu mereka menghadap ke
Kepala Sekolah untu membicarakan hal tersebut.
Amanat
● Jangan menyelesaikan masalah dengan emosi
● Hargailah keputusan orang lain
● Ingatlah bahwa kreativitas itu membutuhkan perlindungan
4. Pagi Bening (Sapardi Djoko Damono)
Alur: Linear
Perwatakan
- Donna Laura: wanita tua, brumur kira-kira 70 tahun dan masih nampak jelas bahwa
dulunya cantik. Tindak tanduknya menunjukkan mentalnya juga baik.
- Don Gonzalo: Lelaki tua, kira-kira berumur 70 tahun lebih. Agak congkak dan selalu
tampak tidak sabaran.
Setting atau Latar
- Tempat: Di sebuah taman di Daerah Madrid (Spanyol)
- Waktu: pagi hari.
- Ruang: suasana yang romantis.
Tema: Romantisme
Amanat: Bersikap jujur terhadap diri sendiri
5. Kereta Kencana (W.S. Rendra)
Tema: Kehidupan dan kesetiaan
Alur: maju/linear
Tokoh
- Kakek: manja, rewel, gampang mengeluh, cepat bosan, meratapi nasib, senang
bersandiwaea
- Nenek: perhatian, bijak, tegar
Latar
- Tempat: rumah kakek dan nenek
- Waktu: malam hari
Amanat: kita harus berusaha terus tegar dalam menjalani kehidupan dan tidak boleh putus asa.
ANDRIENNE KHANSA
22201241063
1
ANALISIS PUISI
1. Rumahku (Karya Chairil Anwar)
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah ku dirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi
Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
Analisisnya:
Puisi ini menceritakan jika rumah yang ditinggalinya penuh kehangatan yang
membuat penulis betah tinggal di sana. Rumah juga bisa menjadi tempat kita kembali
setelah melewati banyak hal di luar sana. Puisi ini bisa digunakan sebagai renungan.
Diksi yang digunakan adalah kalimat konotatif. Sajak yang digunakan penyair adalah
sajak bebas dan sajak akhir. Contoh dari penggunaan sajak akhir ada di bait 1 dan bait 2.
Gaya bahasa yang digunakan penyair adalah majas hiperbola, buktinya ada di baris
ke-11 “Aku tidak lagi meraih petang”. Pencitraan yang digunakan penyair adalah citraan
penglihatan. Dalam puisi di atas tipografi yang ditampilkan adalah bentuk rata kiri dan
lurus bawah. Puisi di atas terdiri dari tiga bait.
2. Optimisme (Karya W.S. Rendra)
Cinta kita berdua
adalah istana dari porselen.
Angin telah membawa kedamaian
membelitkan kita dalam pelukan.
Bumi telah memberi kekuatan,
kerna kita telah melangkah
dengan ketegasan
Analisisnya:
Puisi Optimisme karya W.S. Rendra mempunyai makna tentang dua orang yang
saling mencintai sekarang hidup bersama dengan penuh keyakinan dan optimis. Puisi
Optimisme karya W.S. Rendra sangat menggambarkan pasangan yang baru saja memulai
hidup baru secara Bersama, mereka mengawalinya dengan penuh rasa optimis. Namun,
baris pertama dan kedua yang berbunyi “Cinta kita berdua adalah istana dari porselen.”
Porselen adalah barang-barang dari tembikar dan barang tersebut mudah hancur, artinya
bahwa hubungan pasangan baru bisa saja berakhir karena suatu masalah.
Puisi ini bertemakan cinta. Gaya bahasa yang digunakan penyair adalah gaya bahasa
personifikasi dan hiperbola. Contoh gaya bahasa personifikasi ada dibaris ke-3 dan
contoh gaya bahasa hiperbola ada dibaris ke-4. Pencitraan yang digunakan penyair
adalah citraan gerak. Puisi di atas dalam satu bait terdiri dari 7 baris.
3. Tatahan Pesan Bunda (Karya Sitor Situmorang)
Bila nanti ajalku tiba
kubur abuku di tanah Toba
di tanah danau perkasa
terbujur di samping Bunda
Bila ajalku nanti tiba
bongkah batu alam letakkan
pengganti nisan di pusara
tanpa ukiran tanpa hiasan
kecuali pesan mahasuci
restu Ibunda ditatah di batu:
Si Anak Hilang telah
kembali! Kujemput di
pangkuanku!
Analisisnya:
Puisi Tatahan Pesan Bunda berisi keinginan penyair agar dikuburkan di Tanah Toba
(Medan). Puisi Tatahan Pesan Bunda adalah puisi yang menarik karena puisi ini
layaknya wasiat bagi para pembacanya. Tema puisi ini adalah rasa sayang seseorang
terhadap tanah kelahirannya. Diksi yang digunakan adalah kata yang menunjukan jika
penyair sedang dalam keadaan murung. Buktinya ada di bait ke-1 dan ke-2. Sajak yang
digunakan penyair adalah sajak merata dan sajak berselang. Pada bait ke-1 dan bait ke-2
menggunakan sajak merata yakni (a,a,a,a), sedangkan bait ke-3 menggunakan sajak
berselang yakni (i,u,i,u).
Gaya bahasa yang digunakan penyair adalah gaya Bahasa tautologi. Contonya pada
bait ke-2, baris ke-4 yaitu “tanpa ukiran tanpa hiasan”. Kata tanpa ditulis beberapa kali
dalam sebuah kalimat. Selanjutnya puisi Tatahan Pesan Bunda menggunakan gaya
Bahasa hiperbola, contohnya ada di bait ke-1, baris ke-3 yaitu “di tanah danau perkasa”.
Pencitraan yang digunakan penyair adalah citraan gerak. Dalam puisi di atas terdapat 3
bait yang masing-masing mempunyai empat baris dan ada penggunaan tanda seru (!)
untuk mempertegas pernyataan.
4. Malam Sabtu (Karya Taufiq Mereka telah menanti lama
Ismail) sekali Menderita dalam nyeri
Berjagalah terus Mereka sedang berdoa malam
Segala kemungkinan bisa terjadi ini Dengar. Dengarlah hati-hati.
Malam ini
Analissnya:
Maukah kita dikutuk anak-cucu Menurut saya, puisi Malam Sabtu
Menjelang akhir abad ini
Karena kita kini berserah diri? karya Taufiq Ismail memiliki makna
Tidak. Tidak bisa. untuk jangan menyerah ketika
menghadapi masalah yang besar karena
Tujuh korban telah jatuh. Dibunuh Ada bisa jadi kita sangat dibutuhkan untuk
pula mayat adik-adik kita yang dicuri menyelesaikan permasalahan itu. Puisi ini
Dipaksa untuk tidak dimakamkan bertemakan tentang perjuangan. Diksi
semestinya yang digunakan adalah kata yang
Apakah kita hanya akan bernafas menunjukan jika penyair sedang dalam
panjang keadaan tegang. Sajak yang digunakan
Dan seperti biasa: sabar mengurut penyair adalah sajak bebas.
dada?
Tidak. Tidak bisa. Gaya bahasa yang digunakan penyair
adalah gaya bahasa tautologi dan
Dengarkan. Dengarkanlah di luar itu hiperbola. Pencitraan yang digunakan
Suara doa berjuta-juta penyair adalah citraan pendengaran dan
Rakyat yang resah dan menanti citraan perasaan. Dalam puisi di atas
terdapat 4 bait: bait ke- 1 berisi 3 baris,
bait ke-2 berisi 4 baris, bait ke-3 berisi 6
baris, dan bait ke-4 berisi 7 baris.
5. Pada Suatu Hari Nanti (Karya Sapardi Djoko Damono)
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari
Analisisnya:
Puisi ini menyampaikan tentang kesetiaan seseorang pada orang yang ia sayangi.
Tema puisi ini adalah kesetiaan. Diksi yang digunakan adalah kata yang mudah dipahami
karena lebih ke makna sebenarnya. Sajak yang digunakan penyair adalah sajak merata.
Gaya bahasa yang digunakan penyair adalah majas metafora. Contonya pada bait ke-
1, bait ke-2, dan bait ke-3. Pencitraan yang digunakan penyair adalah citraan penglihatan,
citraan dengar, dan citraan rasa. Dalam puisi di atas tipografi yang ditampilkan adalah
bentuk rata kiri dan lurus bawah. Puisi di atas terdiri dari tiga bait.
6. Dagang (Karya Amir Hamzah) Menurut saya, puisi ini
menceritakan tentang seseorang
Susahnya duduk berdagang yang pasrah dengan takdirnya. Puisi
tiada tempat mengadukan duka Dagang memiliki tema agama, sebab
bondaku tuan selalu terpandang dibait 4 dituliskan kata “Allah” dan
hendak berjumpa apatah daya. puisi ini berhubungan dengan takdir
yang sudah diatur oleh Tuhan. Diksi
Terlihat-lihat bonda merenung yang digunakan adalah kata yang
rasa-rasa Bonda mengeluh mudah dipahami. Sajak yang
mengenangkan nasib tiada beruntung digunakan penyair adalah sajak
luka penceraian tiadakan sembuh. akhir, (a,a,a,a), (u,u,u,u), (i,i,i,i),
(u,u,u,u), (u,u,u,u).
Bondapun garing seorang diri
hati luka tiada berjampi Gaya bahasa yang digunakan
nangislah ibu mengenangkan kami penyair adalah majas hiperbola,
rasakan tiada berjumpa lagi. buktinya ada di baris ke-16
“bukankah langit tiada berpintu?”
Allah diseru memohonkan restu dan di baris ke- 20 “sudah diikat di
moga kami janganlah piatu aduh rahim ibu”.
ibu, kemala hulu bukankah Pencitraan yang digunakan penyair
langit tiada berpintu? adalah citraan penglihatan, citraan
pendengaran, dan citraan perasaan.
Sudahlah nasib tiada bertemu Dalam puisi di atas tipografi yang
sudahlah untung hendak piatu ditampilkan adalah bentuk rata kiri
bagaimana mengubah janji dahulu dan lurus bawah. Puisi di atas
sudah diikat di rahim ibu. terdiri dari lima bait.
Analisisnya:
7. Juga Waktu (Karya Subagio Sastrowardoyo) Juga waktu
Kita tak pernah memiliki Analisisnya:
Menurut saya, puisi Juga
Rumah yang kita diami semusim
telah dituntut kembali Waktu memiliki makna jika segala
Dan tanah yang kita pijak makin sesuatu yang kita miliki
larut dalam pasang laut sebenarnya bukan milik kita dan
Sedang kesetiaan yang dijanjikan suatu saat semua harta benda yang
kekasih kita punya sewaktu-waktu bisa
berhenti pada kianat Dan diambil oleh Tuhan. Tema puisi ini
nyawa ini sendiri adalah kesabaran. Diksi yang
terancam setiap saat digunakan adalah kata yang
mudah dipahami. Sajak yang
Tak ada yang kita punya digunakan penyair adalah sajak
bebas.
Yang kita bisa hanya
membekaskan telapak kaki, Gaya bahasa yang digunakan
dalam, sangat dalam, penyair adalah gaya bahasa
ke pasir, tautologi, buktinya ada di baris
Lalu cepat lari sebelum ke-14 “dalam, sangat dalam”.
semuanya berakhir Pencitraan yang digunakan
penyair adalah citraan gerak.
Semuanya luput Dalam puisi di atas tipografi yang
ditampilkan adalah bentuk rata
kiri dan lurus bawah.
8. Doa Seorang Pesolek (Karya Joko Pinurbo) merobek-robek bajuku.
Sebelum Kausenyapkan
Tuhan yang cantik, warna.
temani aku yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.
Nyalakan lanskap Sebelum Kauoleskan lipstik
pada alisku yang gelap. terbaik di bibirku yang mati kata.
Ceburkan bulan Analisisnya:
ke lubuk mataku yang dalam. Puisi Doa Seorang Pesolek
Taburkan hitam memiliki makna tentang harapan
pada rambutku yang suram. manusia kepada Tuhan. Puisi ini
bertemakan harapan. Diksi yang
Hangatkan merah digunakan adalah kalimat konotatif.
pada bibirku yang resah. Sajak yang digunakan penyair
adalah sajak bebas dan sajak akhir.
Semoga kecantikanku Contoh dari penggunaan sajak akhir
tak lekas usai dan cepat luntur ada di bait 1, bait 2, bait 3, bait 4,
seperti pupur. bait 5, bait
6.
Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan Gaya bahasa yang digunakan
menghangatkanku penyair adalah majas metafora.
Pencitraan yang digunakan
sebelum jari-jari waktu penyair adalah citraan
yang lembut dan nakal penglihatan. Dalam puisi di atas
tipografi yang ditampilkan adalah
bentuk rata kiri dan lurus bawah.
Puisi di atas terdiri dari sembilan
bait.
9. Teleskop (Karya Goenawan Mohammad)
Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya
takut
menyentuhmu.
Itu sebabnya, nak, pada suatu sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat
kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak
menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang
bergetar berulang kali.
Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur
ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari
jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang
memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu
di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan
pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin
kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di
tanganmu, yang selamanya mengejutkan.
Analisisnya:
Menurut saya, puisi Teleskop bercerita tentang seseorang yang sedang diawasi oleh
orang lain. Bisa jadi orang yang bersembunyi itu ingin mengenal orang yang ia awasi.
Puisi ini bertemakan misteri. Diksi yang digunakan adalah kalimat konotatif. Sajak yang
digunakan penyair adalah sajak bebas
Gaya bahasa yang digunakan penyair adalah gaya bahasa repetisi, buktinya ada di
bait ke-3 “Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang memuai, meskipun
ia tetap sisipkan teleskop itu”. Pencitraan yang digunakan penyair adalah citraan
penglihatan. Dalam puisi di atas tipografi yang ditampilkan adalah bentuk rata kiri dan
lurus bawah. Puisi di atas terdiri dari empat bait.
10. Ketika Cinta Terbata Kubaca (Karya Ibnu Wahyudi)
ketika cinta terbata-bata kubaca
aku perlu segera bertanya-tanya
atau mencari padanannya dalam kamus
hingga benih yang mengada tak segera pupus
lantaran sejatinya cuma soal sinyal
yang lebih sering datang dengan nada janggal
Analisisnya:
Puisi Ketika Cinta Terbatas Kubaca memiliki makna tentang seseorang yang sulit
memahami cinta, tapi perlahan dia bisa memahami ap aitu cinta. Puisi ini memiliki tema
tentang cinta. Diksi yang digunakan adalah kalimat konotatif. Sajak yang digunakan
penyair adalah sajak akhir. Bait 1 berakhiran a,a; bait 2 berakhiran u,u; dan bait 3
berakhiran a,a.
Gaya bahasa yang digunakan penyair adalah majas hiperbola. Pencitraan yang
digunakan penyair adalah citraan penglihatan. Dalam puisi di atas tipografi yang
ditampilkan adalah bentuk rata kiri dan lurus bawah. Puisi di atas terdiri dari tiga bait.
2
ANALISIS NOVEL
1. Kubah Karya Ahmad Tohari
Ringkasan novel: Novel Kubah karya Ahmad Tohari menceritakan kilas balik tentang
seorang pria bernama Karman yang menjadi tawanan politik di Pulau B atau Pulau
Buru karena menjadi anggota PKI. Masa muda Karman cukup berat karena harus
kehilangan ayahnya di usia 12 tahun, Karman pun juga ikut membantu ibunya untuk
mencari singkong atau ubi untuk mengisi perut. Namun Karman adalah pemuda yang
baik dan rajin beribadah. Berkat perilaku dan kebiasaan baik Karman, ia disayangi
bahkan disekolahkan oleh Haji Bakir. Karman pun juga menjadi teman untuk putri
Haji Bakir yang bernama Rifah. Ketika sekolah di SMP ia dibiayai oleh pamannya,
Hasyim. Akan tetapi setamat SMP Karman menganggur dan memilih untuk bekerja.
Karman ditawari pekerjaan oleh Triman, seorang kader PKI. Karman juga mulai
dekat dengan Margo, teman Triman yang juga ikut PKI.
Suatu hari Karman pergi untuk melamar Rifah, tetapi lamarannya ditolak. Karman
tidak terima dan ia mulai membenci keluarga Haji Bakir. Karman beranggapan ia
tidak bisa menikah dengan Rifah karena ia miskin, padahal Haji Bakir menolah
lamaran Karman karena Rifah telah dilamar oleh saudagar mutiara dari Pakistan yakni
Abdul Rahman. Akan tetapi kebencian itu semakin menjadi-jadi karena Karman telah
dipengaruhi oleh ajaran-ajaran PKI. Sejak saat itu Karman tingkah lakunya berubah
dan ia meninggalkan ajaran agama. Karman menjadi pria yang angkuh. Karman pun
melamar Rifah lagi ketika tahu suami Rifah mengalami kecelakaan dan meninggal
dunia. Tetapi lamaran itu Kembali ditolak sebab Haji Bakir tidak suka dengan
perilaku Karman dan tidak ingin putrinya menikah dengan orang komunis.
Hingga suatu hari Karma bertemu dengan Marni, gadis yang sangat mirip dengan
Rifah. Hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya mereka menikah. Namun
saying kebahagian itu tidak berlangsung lama. Akibat kegagalan Partindo yang
mendukung usaha PKI untuk mengambil alih negara, Karman menjadi buronan
sedangkan Triman dan Margo ditangkap lalu dihukum mati. Karman akhirnya
ditangkap dan diasingkan di penjara terpencil di Pulau Buru. Selama di penjara
Karman menyadari semua perbuatannya selama ini salah, ia pun menyesal. Apalagi
setelah tahu jika Marni menikah lagi dengan laki-laki lain bernama Parta, Karman
berniat untuk mengakhiri hidupnya tetapi niatnya digagalkan oleh Kapten Somad,
seorang sipir penjara Pulau Buru. Kapten Somad memberikan bimbingan rohani
kepada Karman. Akhirnya Karman dibebaskan kemudian ia Kembali ke Desa
Pegaten, awalnya ia mengira warga tidak akan menerimanya ternyata semua yang
dipikirkan Karman tidak terjadi. Warga Desa Pegaten menerimanya dengan ikhlas
tanpa ada dendam. Penerimaan itu makin nyata ketika Tini (anaknya) menikah
dengan Jabir (anak Rifah) yang tak lain adalah cucu Haji Bakir. Kemudian, kesadaran
dan tekad Karman bertobat diwujudkan dengan dipersembahkannya sebuah kubah
untuk Masjid di desa itu. Karman telah bertobat.
Kesan dan pesan: Setelah membaca novel Kubah karya Ahmad Tohari, saya jadi
lebih paham jika kita harus berpegang teguh pada agama karena dengan begitu akan
terhindar dari paham-paham yang bertentangan dengan agama yang kita yakini.
Selain itu saya juga kagum dengan masyarakat Pegaten yang mau menerima Karman
kembali, serta kekompakan warga Pegaten ketika membangun masjid di desa mereka.
Padang Bulan Karya Andrea Hirata
Ringkasan novel: Enong adalah gadis kecil kelas enam Sekolah Dasar. Ia merupakan
siswa cerdas yang sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris dan bercita-cita menjadi
guru bahasa Inggris. Enong tinggal bersama orang tua dan ketiga adiknya yang masih
kecil- kecil. Keluarga Enong adalah keluarga miskin, ayahnya seorang buruh
pendulang timah. Walaupun hidup miskin dan serba berkekurangan, keluarga Enong
hidup bahagia. Sang ayah sangat mendukung cita-cita Enong dan rela bekerja keras
demi pendidikan anak-anaknya.
Nasib Enong berubah saat ayahnya mengalami kecelakaan di tambang dan kemudian
meninggal dunia. Sebagai anak tertua Enong mengambil seluruh tanggung jawab
kepala keluarga. Enong yang sangat mencintai sekolahnya terpaksa putus sekolah
empat bulan sebelum waktu kelulusan. Gadis kurus berusia 14 tahun ini pun
meninggalkan kampung menuju kota Tanjong Pandan untuk mencari pekerjaan.
Di kota Enong tak juga mendapat pekerjaan. Enong hidup menggelandang dan
terlunta-lunta di Tanjong Pandan. Setelah beberapa saat, Enong memutuskan kembali