1. Tempat : Rumah kediaman Kakek & Nenek.
2. Suasana : Tegang, penuh perdebatan, dan sindiran.
3. Waktu : Setelah pesta pernikahan Kakek & Nenek usai.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Romansa dan Cemburu Buta pada Naskah Drama Pada Suatu Hari
Naskah drama Pada Suatu Hari karya Arifin C Noer menceritakan akan sepasang
kekasih yang telah berusia lanjut, mereka baru saja merayakan pesta pernikahan, namun pada
saat itu mereka dikunjungi oleh seorang wanita bernama Nyonya Wenas, mantan kekasih si
Kakek. Berawal dari situ api-api cemburu si Nenek pada Kakek dan Nyonya Wenas mulai
muncul. Nenek mulai cemburu buta, bahkan oleh hal-hal sepele. Oleh karena kalut dalam rasa
cemburu, Nenek pun meminta cerai pada Kakek. Hal inilah yang menandai awal munculnya
konflik.
Cerita pada naskah drama ini juga dibumbui oleh masalah salah satu anak Kakek dan
Nenek bernama Novia yang masalahnya diakibatkan pula oleh rasa cemburu yang berlebihan.
Hal itu menjadikan cerita ini lebih menarik karena mendapati dua konflik yang berbeda tetapi
masih dalam satu masalah yang sama. Melalui naskah drama ini, Arifin C Noer
menggambarkan masalah yang sering terjadi dalam suatu hubungan, masalah yang pada
mulanya selalu diakibatkan oleh rasa cemburu yang berlebihan, masalah yang sering dipandang
sebagai bentuk kasih sayang, dan masalah yang pada akhirnya akan melebar pada hal-hal yang
lebih besar.
Naskah drama karya Arifin C Noer ini menggunakan gaya bahasa sehari-hari yang baku
tapi tetap santai. Ada selipan-selipan komedi yang ditambahkan, membuat cerita dalam naskah
drama ini lebih menarik dan menghibur. Selain itu, naskah drama ini juga sarat akan pesan
moral untuk para pasangan yang sedang menjalani bahtera rumah tangga. Dewasa ini banyak
kasus perceraian terjadi yang pada awalnya hanya diakibatkan oleh perasaan cemburu yang
berlebihan, sehingga akhirnya melebar ke permasalahan-permasalahan yang lebih besar.
Naskah drama bertema kekeluargaan ini sangat merepresentasikan masalah kehidupan dan
penuh akan pesan moral.
4. Naskah Drama Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan.
Pengarang : Puthut Buchori.
Tema : Perjuangan hidup yang dibumbui dengan mistis.
Tokoh : Peronda, Pencuri, Warga, Pak Aman, Pak Lurah.
Alur : Campuran (Maju-Mundur).
Latar
1. Tempat : Pekuburan
2. Suasana : Tegang dan penuh amarah.
3. Waktu : Pada malam hari.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Mistis dan Mitos dalam Naskah Drama Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan
Naskah drama Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan karya Puthut Buchori ini merupakan
sebuah adaptasi dari cerpen karya Kuntowijoyo yang juga berjudul sama. Meskipun naskah
drama ini dibumbui dengan cerita mistis yang berkaitan dengan mitos seperti pesugihan,
naskah drama ini sebenarnya bertema perjuangan hidup.
Diceritakan ada seorang pemuda yang mencoba mencuri mayat Lik Rumini demi
sebuah syarat pesugihan. Hal tersebut dikarenakan Lik Rumini adalah orang yang meninggal
pada Selasa Kliwon, mitosnya orang yang meninggal pada hari itu membawa sebuah aura yang
berbeda, dan digunakan sebagai syarat pesugihan. Oleh sebab itu, kuburan Lik Rumini dijaga
oleh peronda untuk berjaga-jaga jika seandainya ada orang yang ingin mencuri mayatnya.
Hingga akhirnya ada yang benar-benar ingin mencuri mayat Lik Rumini, ia menggunakan
sebuah mantra yang diberikan Eyang Gurunya untuk membuat peronda lengah dan tertidur
nyenyak. Pada saar itu, ia mulai menjalankan aksinya. Namun sayang, usaha pemuda tersebut
digagalkan oleh anjing-anjing liar yang tiba-tiba menyerbu, ikut memperebutkan mayat Lik
Rumini. Pada mulanya pemuda tersebut masih berusaha melawan, tetapi ia tetap gagal dan
akhirnya ia menyerah. Bersamaan dengan itu, mantra-mantra yang tadi diberikan oleh pemuda
tersebut mulai menghilang, para peronda akhirnya sadar degan para warga yang juga
berdatangan. Pencuri mayat tersebut dipukuli habis-habisan atas aksinya yang tercela dan tidak
beretika.
Bila melihat sinopsisnya, cerita pada naskah drama ini mungkin lebih menjorok pada
hal-hal berbau mistis, atau lebih tepatnya horor. Namun, seperti yang sudah saya katakan
sebelumnya, sebenarnya naskah drama ini mengusung tema perjuangan hidup. Hal ini terlihat
dari dialog-dialog si pencuri yang selalu berharap untuk bisa berubah menjadi seorang yang
kaya raya.
Sebagai contoh ;
Pencuri Mayat : Uh.. baunya, amis, anyir, busuk bercampur aduk. Tetapi tak apa, demi
anak,istri, demi masa depan keluarga.
Pencuri Mayat : Dasar binatang tidak mau lihat orang punya cita-cita. Pergi sana ! Asu kowe ! !
Shah !.. Hushah… !
Pencuri Mayat : Kalian memusnahkan harapanku untuk jadi kaya, kalian memupuskan cita-
cita keluargaku untuk jadi makmur.
Mistis dan mitos yang ada pada naskah drama ini adalah bumbu-bumbu yang
mengiringi jalan cerita, yang membuat cerita lebih menarik, dan yang membuat terciptanya
konflik. Naskah drama ini menggunakan alur campuran dengan gaya bahasa sehari-hari.
Amanat dan pesan yang terkandung dalam naskah drama ini ialah jangan mengambil jalan
pintas untuk mendapatkan yang diinginkan atau dicita-citakan dan jangan pernah
menyekutukan Tuhan sebab jika demikian pada akhirnya kau hanya akan mendapati kegagalan.
5. Naskah Drama Ayahku Pulang
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Ayahku Pulang.
Pengarang : Usmar Ismail.
Tema : Masalah keluarga yang berujung penyesalan.
Tokoh : Raden Saleh (Ayah), Tina Saleh (Ibu), Gunarto, Maimun, Mintarsih.
Alur : Maju.
Latar
1. Tempat : Rumah kediaman Tina Saleh (Ibu)
2. Suasana : Emosional dan penuh ketegangan.
3. Waktu : Malam hari selepas Maghrib.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Naskah Drama Ayahku Pulang
Naskah drama Ayahku Pulang yang ditulis oleh Usmar Ismail ini merupakan naskah
drama yang kaya akan pesan moral. Naskah drama ini secara garis besar menceritakan tentang
seorang ayah yang meninggalkan istri dan anak-anaknya pergi, lalu kemudian setelah sekian
lama akhirnya ia datang kembali, dengan keadaan yang memprihatinkan dan dengan umur yang
sudah tua. Laki-laki itu disambut bahagia oleh istrinya Tina Saleh dan dua dari tiga anaknya,
Maimun dan Mintarsih, namun salah satu anaknya yang paling tua, Gunarto, tidak senang
melihat ayahnya pulang. Gunarto menghina ayahnya karena telah meninggalkan istrinya
dengan anak-anaknya, ia menyalahkan ayahnya atas penderitaan yang selama ini ia alami, ia
juga mengusir ayahnya pergi dengan mengatakan bahwa ia dan adik-adiknya tidak memiki
ayah lagi setelah dua puluh tahun lalu ayahnya meninggalkan mereka pergi. Mendengar
perkataan dan melihat sikap Gunarto kepadnya, sang ayah merasa sangat sedih, ia memutuskan
untuk kembali pergi dan berjanji bahwa ia tidak akan mengusik mereka lagi, sang ayah juga
meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan selama ini. Oleh karena merasa sangat
sedih, sang ayah pun memutuskan bunuh diri dengan meloncat ke sungai.
Naskah drama ini mengandung nilai moral yang cukup banyak. Dari segi sosial dan
budaya, naskah drama ini menginterpretasikan realitas sosial dimana sekarang banyak laki-laki
yang meninggalkan keluarganya pergi hanya demi uang, tetapi setelah laki-laki mengalami
kegagalan, ia akan kembali lagi pada keluarganya yang lama. Dari segi moral, naskah drama
ini mencerminkan beberapa moral yang buruk, contohnya pada sikap tidak sopan Gunarto
kepada ayahnya. Dari segi agama, naskah drama ini memberi pesan tersirat bahwa kita harus
saling memaafkan dan dilarang bermusuhan. Dari segi ekonomi, naskah drama ini
merpresentasikan realitas sosial tentang betapa sulitnya mencari uang.
Amanat dan pesan yang hendak disampaikan dalam naskah drama ini adalah, jangan
bertindak angkuh karena suatu saat keangkuhan itu akan menyebabkan penyesalan, jangan
mudah tergiur terhadap kekayan sampai mengorbankan suatu hal yang penting, dan harus
saling memaafkan sesama manusa sebagaimana yang diajarkan oleh agama.
Lisa Anastya Aroyyani
22201241065
1
ANALISIS PUISI
DARI BENTANGAN LANGIT
Oleh : Emha Ainun Nadjib
Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu,datang kepadamu Tumbuh perlahan.
Berhembus amat panjang Menyapu lautan.
Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu,Ia,kemarau itu dari Tuhan yang senantia diam dari tangan-Nya.
Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap.
Yang tak menoleh barang sekejap.
Komentar: Menurut saya puisi “Dari Bentangan Langit” ini merupakan pesan dari Sang
Penulis bahwa kita sebagai manusia harus senantiasa waspada dengan musibah yang akan
datang. Hal ini terlihat pada kata kemarau, yang mana musim kemarau merupakan salah
satu musibah atau ujian dari Tuhan kepada manusia. Oleh karena itu, kita sebagai manusia
harus selalu memiliki sikap waspada karena Tuhan Maha Kuasa. Ia dapat secara tiba-tiba
memberikan ujian kepada manusia, kapan saja bisa terjadi.
Analisis Struktur: Puisi ini termasuk puisi kontemporer karena berkaitan dengan
ketuhanan yang dirasakan satu orang saja bukan universal. Ada beberapa majas yang
digunakan dalam puisi ini, yaitu majas personifikasi yang didasari kalimat menyapu lautan
yang mana kemarau tidak dapat menyapu layaknya manusia; majas metafora didasari kata
perbandingan pada kalimat “Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap”; dan
majas pars pro toto pada kata “Tangan” yang ditulis kapital karena menggambarkan tangan
milik Tuhan. Nada dan suasana yang sendu karena pada puisi tersebut menyebutkan
kemarau yang mana kemarau merupakan musibah. Pencitraan pada puisi ini adalah
pencitraan visual yang terdapat pada kalimat pertama.
HUJAN DI BULAN JUNI
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya (merahasiakan perasaan rindu)
Kepada pohon berbunga itu (sosok yang dirindukan)
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya (rasa rindu yang dihapus karena prasangka buruk)
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu tetap (menyembunyikan kerinduan)
Komentar: Dilihat dari latar belakang penulisan puisi tersebut terjadi pada bulan juni
tahun 1989 yang mana bulan tersebut sedang mengalami masa kemarau. Sang penulis
mengekspresikan kerinduan terhadap hujan. Dikutip dari beberapa artikel yang
menerangkan bahwa Bapak Sapardi ini sangat menyukai hujan. Jadi beliau
mengungkapkan kerinduan pada hujan saat masa kemarau. Nah, menurut pandangan saya
sebagai pembaca, saya memaknai puisi tersebut sebagai ungkapan sang penulis bahwa ia
begitu sabar dan tabah, bijak, serta arif. Sabar dan tabah dapat saya simpulkan pada bait
pertama yang mana saya mengartikan sang penulis begitu sabar dalam merahasiakan
kerinduannya terhadap hujan, karena pada bulan juni mengalami musim kemarau. Bijak
pada bait kedua mengartikan bahwa sang penulis begitu bijak menerima keadaan yang
demikian itu. Sampai sampai sang penulis menghapus keraguan dan prasangka jelek
terhadap kejadian pada bulan kemarau itu. Kata arif dalam bait ketiga saya maknai sang
penulis pintar dalam hal menyimpan, menyembunyikan rasa sayang dan rindunya terhadap
hujan.
Analisis Struktur: Puisi yang bertemakan kerinduan tersurat pada kalimat
“Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga itu”. Majas yang digunakan
dalam puisi ini adalah majas personifikasi, disimpulkan dari puisi itu yang menerangkan
bahwa Hujan Bulan Juni memiliki sifat sabar, bijak, dan arif layaknya manusia. Pada puisi
ini terdapat repetisi pada kalimat “dari hujan bulan Juni” dan rima yang berakhiran
aiau-aiau-iiau. Pemilihan kata pada puisi ini menggambarkan kesabaran dengan suasana
yang menggambarkan kerinduan teramat dalam. Serta pencitraan yang menggunakan
indera penglihatan karena penulis menulis puisi ini dengan analogi hujan yang mana beliau
mengamati bagaimana keadaan hujan dan mengaitkannya dengan suasana kebatinan. Puisi
ini mengajarkan kepada kita untuk tetap tabah dan sabar atas keadaan yang menimpa kita.
AKU
Oleh : Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku (maksudnya, ketika sudah mati)
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang (sebutan bagi sosok aku/penulis)
Dari kumpulannya terbuang (sosok yang tersisihkan)
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang (terus berjuang)
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi. (perumpamaan bahwa sosok aku ingin terus berjuang)
Komentar: Puisi "Aku" karya Chairil Anwar bercerita tentang perjuangan sampai titik
darah penghabisan. Sosok “Aku” dalam puisi ini seolah tidak peduli dengan banyaknya
rintangan. Dia akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan. Sosok aku dalam puisi
ini ingin berjuang tanpa di halangi oleh siapapun, sesuai dengan bait “Ku mau tak
seorang‘kan merayu. Tidak juga kau”. Meskipun dia adalah sosok binatang jalang dia tetap
ingin berjuang walau harus merasakan luka lara. Sosok aku menulis bait ingin hidup seribu
tahun lagi yang mana arti dari kalimat tersebut adalah sosok aku ingin memiliki lebih
banyak waktu untuk terus berjuang.
Analisis Struktur: Majas yang digunakan pada puisi ini yaitu personifikasi, terlihat pada
kalimat “Biar peluru menembus kulitku” yang mana peluru merupakan benda mati namun
seolah hidup. Selain itu, majas hiperbola juga terdapat pada kalimat “Aku mau hidup
seribu tahun lagi” terkesan berlebihan karena pada realita manusia tidak hidup selama
lebih dari seribu tahun. Puisi ini bertema perjuangan sehingga suasana yang tergambar
dalam puisi ini terkesan tegas dengan emosi dan lugas, sesuai dengan pemilihan kata oleh
penulis yang lugas dan padat. Rima yang digunakan mayoritas menggunakan huruf u dan
i, tidak ada repetisi pada puisi ini. Pencitraan pada puisi ini menggunakan panca indera
perasa yang menerangkan rasa sakit. Dengan puisi ini, saya menemukan amanat agar kita
senantiasa memperjuangkan apa yang telah menjadi tekad dan tujuan kita dengan
sungguh-sungguh sampai titik darah penghabisan.
DENGAN PUISI, AKU
Oleh : Taufik Ismail
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti (sudah tua)
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala (setinggi langit)
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris (menyayat)
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk (keadaan zaman yang sudah rusak)
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Komentar: Menurut saya puisi ini menjelaskan bahwa Sang Penulis memaparkan fungsi
puisi yang tidak hanya sebagai sebuah karya sastra saja. Dilihat dari irama yang
digunakan, puisi dapat dijadikan sebagai sarana menyampaikan perasaan bagi Sang
Penulis. Puisi ini seolah menjelaskan bahwa dengan menulis puisi Sang Penulis
membagikan perasaannya saat ia mencintai, mengenang, menangis, dan mengutuk. Ia juga
berdoa melalui puisi dengan harapan Tuhan akan mengabulkan doanya. Selain itu, puisi ini
juga menggambarkan keyakinan atas tingginya martabat manusia.
Analisis Struktur: Tema puisi ini adalah kemanusiaan sesuai dengan penggambaran dari
penyair yang membicarakan tentang martabat manusia. Suasana dan nada pada puisi
terkesan sendu dan kharismatik. Terdapat repetisi pada kalimat “Dengan puisi aku” dan
rima pada puisi tidak teratur atau bebas. Dalam puisi ini pengimajian yang digunakan
adalah pengimajian visual. Sedangkan majasnya adalah majas personifikasi karena dalam
puisi tersebut seolah-olah puisi dapat melakukan apa yang manusia lakukan. Contohnya,
Dengan puisi aku menangis padahal puisi adalah benda mati yang tidak dapat menangis
layaknya manusia.
PERINGATAN
Oleh : Wiji Thukul
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Komentar : Puisi ini adalah salah satu karya sastra Wiji Thukul yang bertema kritik
sosial. Terlihat jelas dari pemilihan diksi yang banyak menggunakan kata kata kritis.
Dilihat dari latar belakang penulis yang merupakan aktivis, puisi ini menyuarakan
kegelisahan rakyat terhadap para penguasa yang menyeleweng.
Analisis Struktur: Puisi ini bertema kritik sosial. Pemilihan katanya tegas dan kritik
terhadap pemerintahan. Pencitraan yang digunakan adalah citra pendengaran. Tidak ada
repetisi dan bahasa yang digunakan cukup sederhana sehingga memudahkan pembaca
untuk mengetahui makna dan maksud dari puisi tersebut.
KATA
Oleh : Subagio Sastrowardoyo
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata (segala sesuatu yang ada di dunia)
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata (hantu)
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa
Komentar: Menurut saya, puisi ini merupakan salah satu puisi yang mudah untuk
dipahami. Pemilihan diksi yang umum membuat saya sebagai pembaca lebih mudah
memahami makna yang terkandung dalam puisi ini. Dalam puisi ini, saya memaknai
bahwa penulis ingin menjelaskan kepada pembaca arti pentingnya sebuah “kata”. Terlihat
jelas dalam bait puisi tersebut bahwa banyak aspek kehidupan yang dimulai dan didasari
oleh “kata”. Oleh karena itu, penulis sangat gemar dalam bermain kata. Maksudnya, pada
bait “Karena itu aku bersembunyi di belakang kata dan menenggelamkan diri tanpa sisa”
seolah menjelaskan bahwa Sang Penulis sangat menyukai segala sesuatu yang
berhubungan dengan kata, membuat puisi contohnya.
Analisis Struktur: Pencitraan visual terlihat pada bait kedua dan keempat yaitu jagat dan
ruang kosong. Hampir keseluruhan puisi “Kata” menggunakan kata konotatif karena
pembaca tidak dapat memahami makna puisi tersebut hanya dengan mengungkap makna
denotatifnya. Terdapat repetisi yang merupakan judul puisi itu sendiri, yaitu “kata”. Pilihan
kata (diksi) dalam puisi “Kata” mempunyai efek sedih, berat, tragis, dan keputusasaan. Hal
itu dapat terlihat dari penggunaan kata: ruang kosong, momok, terperangkap, bersembunyi,
menenggelamkan, dan tanpa sisa.
TIDAK SETIAP TUNAS AKAN TUMBUH
Oleh : Eka Budianta
tidak setiap tunas akan tumbuh
tidak setiap tumbuh jadi kuncup
tidak setiap kuncup jadi bunga
tidak setiap bunga jadi buah
tidak setiap buah akan masak
masakan tiap luka jadi bencana?
Komentar: Pada puisi ini menjelaskan bahwa segala kemungkinan yang terpikirkan oleh
manusia tidak semestinya akan terjadi. Terlihat jelas dalam kalimat yang digunakan oleh
Sang Penulis, seolah menegaskan bahwa kemungkinan itu hanyalah Tuhan yang Maha
Tahu. Seperti harapan manusia bahwa semua tunas pasti akan tumbuh, namun jika Tuhan
menghendaki lain itu bisa saja terjadi. Begitu juga dengan luka, tidak semua luka akan
menjadi bencana. Bisa saja luka itu akan menjadi hikmah bagi hambanya. Tuhan pasti
memiliki rencananya sendiri.
Analisis Struktur: Puisi ini mengandung repetisi pada kata tidak setiap terlihat jelas
hampir setiap bait mengandung kalimat itu, kecuali bait terakhir. Pemilihan kata atau diksi
yang digunakan dalam puisi ini sangat sederhana sehingga tidak sulit untuk diketahui
maknanya. Pencitraan puisi ini adalah pencitraan visual. Rima yang tersusun pada puisi ini
berbentuk u-u-a-a-a-a. Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah kita sebagai
manusia tidak dapat menerka apa yang akan terjadi nanti, tidak ada yang pasti dalam dunia
ini. Karena hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Rumpun Alang-alang
Oleh : W.S Rendra
Engkaulah perempuan terkasih, (wanita yang dicintai)
yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang (selingkuhan)
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya (wanita yang dicintai tadi tetap menjadi pemenangnya)
tapi alang-alang tumbuh di dada.
Komentar : Menurut saya puisi ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang sudah
memiliki kekasih. Namun, dia sempat melupakan kekasihnya sesaat. Saat dia merasa
kesepian laki-laki itu memiliki wanita lain atau selingkuhan. Dia memiliki sosok
selingkuhan yang nakal dan sering menimbulkan dosa. Meskipun laki-laki itu berselingkuh
dia tetap mencintai kekasih nya dan tetap bersama dengan selingkuhannya.
Analisis Struktur : Majas yang digunakan dalam puisi ini adalah majas metafora dan
personifikasi. Majas metafora teridentifikasi dari bait puisi yang seolah membandingkan
perempuan terkasih dengan alang-alang alias selingkuhannya. Sedangkan, majas
personifikasi teridentifikasi pada kalimat “Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal.
Gelap dan bergoyang ia” kalimat tersebut mengungkapkan seolah-olah alang-alang bersifat
nakal dan bergoyang layaknya manusia”. Pemilihan kata yang digunakan W.S Rendra pada
puisi ini sangat menarik karena beliau memadukan majas personifikasi dan majas metafora
dengan sangat indah. Tidak ada repetisi dan rima tidak beraturan. Suasana yang tercipta
saat membaca puisi ini menyedihkan terlebih jika yang membaca puisi ini mengalami hal
yang sama, yaitu diselingkuhi. Pencitraan puisi ini adalah pencitraan visual dan gerak.
Cerita dari Luar Tembok
Oleh : Mochtar Lubis
Dari balik tembok
datang berdentam
bunyi tembakan
masuk ke dalam
kamarku yang kecil
dalam penjara kecil ini
di jalan bernama palsu Keagungan
Siapa menembak siapa
baru kemudian kami tahu
ada seorang anak perempuan
bernama Zubaedah
ada seorang pemuda
bernama Arif Hakim
dibunuh pengawal istana
ketika menyampaikan
tangis rakyat (keluh kesah)
yang menderita sengsara
bertahun-tahun di bawah
sepatu kaum tirani (aparat pemerintah dengan kepentingan pribadi)
dalam penjara lebih besar
di luar tembok penjara kecil ini
di jalan bernama palsu Keagungan
Komentar: Dilihat dari isi puisi dan latar belakang penulis. Puisi ini terkesan seperti
catatan harian sang penulis. Penulis menceritakan keadaan yang dia alami selama
mendekam di penjara.
Analisis Struktur: Tema yang diangkat pada puisi ini adalah kritik sosial yang mana puisi
ini mengkritik para aparat pemerintahan. Penggunaan bahasa yang lugas memberikan
kesan yang jelas dan tidak ambigu. Mayoritas bait puisi tersebut diakhiri huruf a dan i.
Majas personifikasi terdapat pada kalimat “bunyi tembakan masuk ke dalam”.
Berdiri Aku
Oleh : Amir Hamzah
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang dating ubur terkembang
Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
Benang raja mencelup ujung
Naik marak menggerak corak (cahaya)
Elang leka sayap tergulung (lengah)
Dimabuk warna berarak-arak
Dalam rupa maha sempurna (Tuhan)
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju. (merasakan)
Komentar: Tema dan suasana terkesan menyiratkan kesedihan dan melankolis. Pemilihan
kata sangat puitis dan representative dalam menyampaikan gagasannya. Puisi ini seolah
mengajak para pembaca untuk menjadikan hidupnya lebih optimis karena isi puisi ini
menggambarkan sifat yang pesimis dalam menjalani hidupnya.
Analisis Struktur: Tema dan suasana yang digunakan adalah kesedihan. Pilihan kata atau
diksi yang terkandung merupakan diksi konotasi misalnya, Maha Sempurna yang memiliki
arti konotasi Tuhan. Majas yang digunakan adalah majas personifikasi, terlihat pada
kalimat “Angin pulang menyeduk bumi”. Pencitraan yang digunakan adalah pencitraan
visual. Dan puisi ini memiliki pesan atau amanat supaya manusia selalu optimis dan
menyerahkan semua kepada Tuhan Yang Maha Sempurna.
2
ANALISIS NOVEL
1. Judul Novel: Layar Terkembang
Nama Pengarang: St. Takdir Alisjahbana
Jumlah Halaman: 166 halaman
Terbit: Cetakan ke-29 tahun 2006
Tokoh dan Penokohan
● Tuti, memiliki wawasan yang luas, hobi membaca buku yang bersifat menambah
wawasan. Tegas, mempunyai cita-cita untuk menyamakan kedudukan dan hak
perempuan. Rajin mengikuti organisasi wanita, mahir dalam berbicara atau berpidato.
Pendiam, rajin, dan kritis.
● Maria, gadis yang sifatnya bertolak belakang dengan kakaknya, Tuti. Periang, mudah
kagum dan takjub, ekspresif, pemalas, dan menyukai kehangatan serta dapat
mencairkan suasana. Sangat bucin dengan kekasihnya, Yusuf.
● Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran yang tertarik dengan Maria dan Tuti. Yusuf
tertarik dengan sifat dan seluruh pembawaan yang Maria miliki. Juga tertarik dengan
pola pikir Tuti yang kritis. Baik hati dan memiliki budi pekerti yang luhur. Sangat
menyukai alam.
● Supomo, rekan kerja Tuti yang mengajar di sekolah. Sangat menyukai Tuti, pemuda
yang baik hati dan terpelajar.
● Raden Wiriaatmaja, merupakan ayah dari Maria dan Tuti. Memiliki sifat yang baik
dan penyayang. Termasuk orang yang taat pada agama, memberi kebebasan pada
kedua anaknya, terlihat pasrah sejak istrinya meninggal dunia.
● Parta, paman Tuti dan maria yang memiliki sifat peduli namun keras terhadap
anaknya. Sangat berpegang teguh pada pendiriannya.
● Saleh, anaknya paman parta yang merupakan lulusan sarjana namun memilih menjadi
seorang petani.
● Ratna, istri parta yang baik hati dan pandai. Dengan tindakannya yang membantu
suaminya bercocok tanam dan membuat karangan di sebuah majalah "Dunia Istri"
dengan maksud menjadikan Sindanglaya menjadi pusat pertanian yang terpelajar dan
tidak terpencil. Hal itu mampu membuat pikiran Tuti terbuka.
● Rukamah, sepupu Maria dan Tuti yang jahil dan suka becanda.
● Juru rawat memiliki sifat yang baik, ramah, dan suka menghibur.
Latar
● Latar tempat, pasar ikan, bawah pohon mangga, rumah Maria dan Tuti, gedung
permufakatan, rumah Parta, rumah Saleh, rumah Yusuf, sekolah tempat mengajar Tuti
dan Supomo, danau Ranau, air terjun Dago, rumah sakit, tempat pemakaman Maria.
● Latar suasana, ramai, tenang, tegang, hikmat, hangat, mengharukan, menakjubkan,
pilu.
● Latar waktu, pagi, sore, malam hari.
Jalan Cerita dan Jenis Alur
Kisah berawal dari sosok kakak beradik yang memiliki sifat berbeda, Tuti dan Maria.
Tuti seorang kakak yang selalu serius dan aktif dalam berbagai kegiatan wanita, ia
bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita.
Pada saat itu, semangat kaum wanita sangat menggebu sehingga mereka mulai
menuntut persamaan dengan kaum pria. Sedangkan Maria adalah adik yang mudah
kagum dan takjub pada suatu hal. Dia tidak bertekad kuat seperti kakaknya.
Namun,dia memiliki sifat yang periang dan hangat sehingga mampu mencairkan
suasana dimanapun dia berada.
Suatu hari Maria dan Tuti bertemu dengan Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran
yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan sekolah tabib tinggi. Sejak
pertemuannya yang pertama di gedung akuarium pasar ikan, antara maria dan yusuf
timbul kontak batin sehingga mereka menjadi sepasang kekasih. Sementara itu, Tuti
yang melihat hubungan Maria dan Yusuf merasa terganggu pikirannya. Terlepas dari
kandasnya hubungan Tuti dengan mantan tunangannya yang bernama Hambali. Tuti
merasa bahwa ia tidak perlu seorang laki-laki karena menurutnya laki-laki hanya akan
mengekangnya. Tuti ingin bebas. Suatu hari rekan kerjanya yang bernama Supomo
mengirimkan surat cinta untuknya. Supomo adalah seorang pemuda terpelajar yang
baik hati dan berbudi luhur. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia
menolak cintanya. Sejak itu Tuti semakin disibukkan dengan kegiatan organisasi dan
melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan
angan-angannya tentang seorang kekasih.
Setelah melalui tahap-tahap perkenalan, pertemuan dengan keluarga, dan kunjungan
oleh Yusuf, diadakanlah ikatan pertunangan antara Maria dan Yusuf. Tiba-tiba Maria
jatuh sakit. Penyakitnya parah, malaria dan TBC, sehingga Maria harus dirawat di
rumah sakit. Saat Maria dirawat di rumah sakit Tuti dan Yusuf berkunjung ke rumah
Saleh dan Ratna, saat itu pikiran Tuti terbuka bahwa memiliki suami tidak seperti
yang dibayangkan. Dengan hidup bersama seorang laki-laki yang tepat, perempuan
dapat hidup dengan baik layaknya Saleh dan Ratna.
Tidak lama kemudian, Maria Menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum ajal
datang, Maria berpesan agar Tuti bersedia menerima Yusuf. Tuti tidak menolak dan
keduanya menikah dan hidup dengan bahagia.
Alur yang digunakan adalah alur maju.
Tema: Cerita ini bertema perjuangan hak dan kedudukan wanita, percintaan, dan
pengorbanan.
Pokok Persoalan: Dalam novel ini menceritakan sebuah perjuangan emansipasi
wanita dalam hal persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Seorang
perempuan harus mampu mandiri dan tidak terlalu bergantung pada laki-laki.
Meskipun demikian, sebagai makhluk sosial sudah semestinya untuk saling
membantu dan menghargai. Bagaimanapun juga seorang wanita membutuhkan
bantuan laki-laki, begitu juga sebaliknya. Hal ini memperjelas bahwa antara laki-laki
dan perempuan mendapatkan hak yang sama. Hak untuk dihargai dan tidak dibedakan
menurut jenis kelamin.
Respon Pembaca: Saya sebagai pembaca novel "Layar Terkembang" merasa cerita
yang terkandung sangat menarik dan realistis karena memang terjadi di dunia nyata.
Meskipun terkadang saya merasa kesulitan memahami kalimat yang tertuang
didalamnya karena menggunakan bahasa sastra lama, hal itu membuat saya bertekad
untuk mencari tahu agar saya dapat memahami jalan ceritanya. Saya harap semakin
banyak orang yang membaca novel karya St. Takdir Alisjahbana ini karena kisahnya
memberikan pengajaran untuk saling menghargai dan tidak membedakan orang
berdasarkan jenis kelamin. Perempuan itu tidak lemah, begitu juga dengan laki-laki
tidak memperbudak perempuan. Laki-laki dan perempuan saling membutuhkan dan
memiliki hak serta kedudukan yang sama. Cerita ini juga membuktikan sekeras
apapun hati seseorang tetap membutuhkan cinta dan kasih untuk meluluhkan hatinya.
Dan pengorbanan seseorang akan berdampak baik untuk orang lain.
2. Judul Novel: Bumi Manusia
Nama Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Jumlah Halaman: 314 halaman dalam pdf
Tokoh dan Penokohan
● Minke, tokoh utama dalam novel bumi manusia yang memiliki kepribadian cerdas,
kritis, pantang menyerah, tidak suka di remehkan. Memiliki kesempatan bersekolah di
HBS membuat Minke menjadi sosok yang terpelajar.
● Annelies, tokoh utama perempuan yang menjadi pasangannya Minke. Annelies adalah
putri dari pasangan Belanda-Pribumi yang bernama Herman Mellema dan Nyai
Ontosoroh. Annelies merupakan sosok yang pendiam, mudah tersipu, labil, manja,
kekanak-kanakkan, mudah terguncang, cekatan dalam pekerjaan.
● Nyai Ontosoroh atau Sanikem merupakan istri simpanan Herman Mellema. Memiliki
kepribadian yang bijaksana, tegas, keibuan, pendendam, cerdas, berwawasan luas,
bijak, dan meskipun seorang pribumi dia mampu berperilaku seperti orang yang
terpelajar.
● Herman Mellema, ayah dari Annelies yang awalnya bersikap baik dan membantu
Nyai Ontosoroh untuk berkembang sehingga menjadi sosok yang terpelajar dan
dihormati. Namun, setelah didatangi oleh anak sahnya Herman Mellema berubah
menjadi kasar dan tidak peduli pada keluarganya lagi.
● Robert Mellema, anak sulung Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema yang
berperangai buruk, arogan, tidak menyukai pribumi, tinggi hati, kasar, penipu, iri hati,
tidak bermoral dan tidak peduli pada keluarganya sendiri.
● Robert Suurhof, teman sekolah Minke di HBS yang suka meremehkan, memiliki niat
buruk, menyukai Annelies namun ditolak olehnya. Sengaja mengajak Minke ke
kediaman Mellema dengan tujuan untuk menjadikan Minke alat agar Annelies lebih
memilih Robert Suurhof yang tidak memiliki darah eropa dan berkebangsaan Belanda
sehingga Minke dipermalukan.
● Ayah Minke yang merupakan Bupati kota B (Bojonegoro) bersifat keras hati, tidak
sabaran, pemarah, dan sangat berpacu pada adat jawa.
● Bunda Minke lembut hatinya, penyayang, keibuan, dan lemah lembut.
● Jean Marais, sahabat Minke yang merupakan mantan angkatan perang dan pelukis
berkebangsaan Perancis. Menjadi pendengar yang baik saat Minke berkeluh kesah,
mampu memberi solusi yang baik, rendah diri karena kondisi kakinya yang diaputasi
akibat perang.
● May Marais, anak dari Jean Marais yang periang dan manja namun sangat sayang
pada ayahnya bagaimanapun keadaannya.
● Darsam adalah kaki kanan Nyai Ontosoroh berasal dari Madura yang berwatak
garang, keras, seram, mudah marah namun sangat setia dan dapat diandalkan oleh
Nyai Ontosoroh.
● Babah Ah Tjong tetangga kediaman keluarga Mellema yang memiliki rumah plesiran
atau rumah bordil. Berwatak licik, kejam, dan merupakan seorang pembunuh.
● Maiko seorang pelacur berasal dari jepang yang egois dan pembohong.
● Herbert de la Croix merupakan Asisten Residen Kota B yang tidak berwatak kolonial.
Dia prihatin dengan keadaan pribumi sehingga mendorong Minke agar mau untuk
mengubah nasib kaumnya. Berwatak baik, mau menolong Minke saat kesulitan, dan
berani mengorbankan jabatannya demi keadilan.
● Sarah dan Miriam de la Croix, dua bersaudara yang merupakan anak Asisten Residen
Kota B. Mereka merupakan lulusan HBS yang cerdas dan agresif. Pertemuan pertama
mereka pada Minke sangat menjengkelkan bagi Minke. Namun, sebenarnya mereka
berdua memiliki niat baik seperti ayahnya. Sarah dan Miriam sering bertukar surat
dengan Minke untuk berdiskusi hal kritis.
● Dokter Martinent, dokter pribadi keluarga Mellema yang memiliki jiwa kemanusiaan
tinggi.
● Magda Peters, Juffrouw adalah guru bahasa dan sastra Belanda HBS. Dia adalah guru
Minke yang berpandangam liberal, menentang keras pemerasan kolonial, dan
mendukung Minke.
● Jan Dapperste atau Panji Darman merupakan teman sekelas Minke di HBS. Dia
seorang pribumi yang diangkat oleh pendeta menjadi anak angkatnya. Namun,
pemerintah Belanda tidak mengakuinya. Sangat mengagumi Minke, penakut, selalu
memberi informasi pada Minke mengenai apa yang dilakukan oleh Robert Suurhof
pada Minke. Ia juga menemani Annelies ke Belanda karena Nyai Ontosoroh dan
Minke tidak diperbolehkan untuk menemani Annelies.
● Maurits Mellema, anak sah dari Herman Mellema dan Amelia Mellema. Seorang
Insinyur yang berwatak arogan, ambisius, licik, dan tidak bermoral. Dia berusaha
mengambil alih harta kekayaan keluarga Mellema dan hak asuh Annelies.
● Amelia Mellema, istri sah yang merupakan korban dari Herman Mellema. Ia
ditinggalkan Herman Mellema tanpa kepastian sehingga ketika Herman Mellema
meninggal, Amelia Mellema meminta seluruh harta kekayaan Mellema untuk
dialihkan padanya sebagai bentuk tanggung jawab.
Latar
● Latar tempat, di Wonokromo, Surabaya. Rumah keluarga Mellema, Boerderij
Buitenzorg (perusahaan keluarga Mellema), Hoogere Burger School (HBS), rumah
plesiran atau rumah bordil Babah Ah Tjong, rumah Bupati kota B, rumah Asisten
Residen Kota B, pengadilan, kamar Annelies, rumah Jean Marais, padepokan.
● Latar suasana, menegangkan, memilukan, membahagiakan, menjengkelkan, dan
memprihatinkan.
● Latar waktu, sekitar tahun 1918 masa kolonial Belanda. Karena karya ini adalah novel
maka latar waktu pagi, siang, sore dan malam hari.
Jalan Cerita dan Jenis Alur
Minke merupakan seorang pribumi anak dari Bupati kota B sehingga mendapatkan
hak istimewa untuk bersekolah di HBS. Suatu ketika Minke diberi tantangan oleh
teman sekolahnya yang bernama Robert Suurhof untuk menaklukkan dara cantik
kenalannya. Minke mengetahui bahwa Robert Suurhof memiliki niat buruk, namun
dia tidak ingin diremehkan akhirnya dia menerima tantangan Robert Suurhof.
Robert Suurhof mengajak Minke ke kediaman Mellema, dia memiliki janji temu
dengan anak sulung Mellema usai bertemu saat menonton pertandingan sepak bola.
Robert Mellema menerima Robert Suurhof dengan baik, namun tidak dengan Minke.
Robert Mellema sangat tidak menyukai orang-orang pribumi, seperti Minke.
Seorang dara cantik bernama Annelies menghampiri Minke dan menjadikan Minke
sebagai tamunya. Minke diajak oleh Annelies mengelilingi Boerderij Buitenzorg,
Minke dibuat kagum olehnya. Di tengah perjalanan Minke mencium pipi Annelies
sehingga membuat Annelies tersipu malu lalu mengadu pada ibunya, Nyai Ontosoroh.
Nyai Ontosoroh mengetahui bahwa Annelies menyukai Minke, diameminta Minke
untuk tinggal di rumahnya. Minke memutuskan untuk berpikir dahulu karena dia
merasa bingung tentang keluarga Mellema. Masyarakat umum menganggap Nyai
Ontosoroh orang yang rendah karena dia seorang gundik. Namun, Minke merasa
anggapan masyarakat salah setelah dia masuk ke dalam rumah itu.
Minke meminta pendapat Jean Marais lalu Jean Marais memberikan nasihat untuk
tidak percaya dengan anggapan orang dan mencari tahu sendiri. Karena Minke
penasaran dengan keluarga Mellema, akhirnya Minke mau untuk tinggal di rumah
Mellema. Hal itu membuat Robert Suurhof dan Robert Mellema tidak senang. Setelah
Minke tinggal di rumah Nyai Ontosoroh, Minke dikucilkan di sekolah dan dibawa
paksa oleh seorang polisi untuk menghadap ke ayahnya. Setelah Minke menghadap ke
ayahnya, dia berniat untuk kembali ke rumah Nyai Ontosoroh dan diikuti oleh "Si
Gendut". Dalam perjalanannya Minke dijemput oleh Annelies dan Darsam. Darsam
memberi tahu bahwa dia diminta oleh Robert Mellema untuk membunuh Minke. Oleh
karena itu, Darsam meminta Minke untuk kembali ke padepokan.
Karena Minke jauh dari Annelies, dia jatuh sakit. Nyai Ontosoroh meminta Minke
untuk datang ke rumahnya, Minke bersedia. Kedatangan Minke membuat Annelies
sembuh dari sakitnya.
"Si Gendut" terlihat di area rumah Nyai Ontosoroh, Darsam memburu Si Gendut
dengan parangnya. Minke yang mengetahui hal itu mengejar Darsam agar tidak
sembrono, Annelies mengejar Minke, dan Nyai Ontosoroh mengejar Annelies. Si
Gendut masuk ke rumah plesiran Babah Ah Tjong diikuti oleh Darsam, Minke,
Annelies, dan Nyai Ontosoroh. Mereka tidak menemukan Si Gendut justru
menemukan jasad Herman Mellema. Masalah tersebut menyeret Nyai Ontosoroh ke
pengadilan. Nyai Ontosoroh tidak bersalah karena Herman Mellema diracuni oleh
Babah Ah Tjong.
Setelah masalah tersebut usai, Ir. Maurits Mellema datang ke kediaman Mellema
untuk meminta seluruh harta kekayaan keluarga Mellema sebagai warisan dan hak
asuh Annelies. Nyai Ontosoroh dan Minke berjuang untuk mempertahankan, usaha
yang mereka lakukan gagal. Seluruh harta kekayaan diambil oleh Ir. Maurits Mellema
dan Annelies pergi ke Belanda ditemani oleh Panji Darman.
Alur yang digunakan mayoritas maju, ada alur mundur saat Minke menceritakan
mengapa dia dipanggil Minke, Annelies menceritakan bagaimana dia kehilangan
keperawanannya dan Nyai Ontosoroh yang menceritakan masa lalunya.
Tema: Novel ini mengangkat tema percintaan, perjuangan, dan pengorbanan.
Pokok Persoalan: Dalam novel ini inti permasalahan yang terjadi adalah perjuangan
pribumi dalam mempertahankan haknya. Pribumi yang dimaksud yaitu Minke dan
Nyai Ontosoroh. Minke memperjuangkan istri yang telah dia nikahi sah secara agama.
Namun, pemerintah Belanda memisahkan mereka karena Ir. Maurits Mellema ingin
mengambil hak asuh dengan maksud mengambil alih harta warisan Herman Mellema.
Sedangkan perjuangan Nyai Ontosoroh untuk mempertahankan hasil jerih payah
usaha yang ia jalani sendiri dan hak atas anak kandungnya sendiri.
Respon Pembaca: Menurut saya, novel ini banyak menunjukkan isu isu sosial yang
terjadi selama masa kolonial Belanda. Dimana pribumi masih terjerat dengan hukum
ketidakadilan dari pemerintah Belanda. Novel ini mengajarkan bagaimanapun
hasilnya harus tetap berjuang sampai titik penghabisan. Hal itu dilakukan oleh tokoh
yang ada dalam novel tersebut. Minke dan Nyai Ontosoroh tetap berjuang meskipun
hasil yang mereka dapat sangat tidak adil bagi mereka.
3. Judul Novel: Ladang Perminus
Pengarang: Ramadhan K.H
Jumlah Halaman:
Terbit: Cetakan ke
Tokoh dan Penokohan:
● Hidayat adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia memiliki sifat yang bijaksana, sabar,
penyayang, baik hati, jujur, idealis, dan apa adanya. Karena sifat Hidayat yang
demikian, akhirnya dia mendapatkan ketentraman dalam hidupnya dan bahagia
bersama keluarganya.
● Ikhlasari atau Ias adalah istri dari Hidayat. Dia memiliki sifat yang lemah lembut,
penyayang, pengertian, dan sabar. Dia selalu ada di sisi suaminya bagaimanapun
keadaan suaminya. Ias selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Hidayat.
● Ita merupakan seorang pramugari yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan
Hidayat. Sifatnya yang lugu menarik perhatian Hidayat. Ita tetap ingin mencintai
Hidayat meskipun tahu bahwa Hidayat telah memiliki istri. Bahkan Ita rela jika
Hidayat mengambil keperawanannya. Untung saja Hidayat tidak melakukan itu
sehingga Ita mendapatkan seorang suami dan hidup dengan bahagia.
● Kahar merupakan tokoh antagonis dalam novel ini. Kahar adalah atasan Hidayat yang
menyeleweng. Bahkan dia menuduh Hidayat agar dia dipecat dari perusahaan. Kahar
juga menerima segala bentuk hadiah yang seharusnya milik Hidayat.
● Kolonel Sudjoko merupakan kaki tangan Pak Dirut di Perusahaan Minyak Nusantara.
Ia seorang yang cukup dipercaya oleh atasannya. Ia bekerja dengan teliti dan
sungguh-sungguh dalam menghadapi permasalahan dikantornya. ia juga memiliki
sikap yang dapat dipercaya, ia mampu menyimpan rahasia. Ia cukup pandai menjaga
rahasia, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan
Latar
● Latar waktu terjadi pada pagi, siang, sore, dan malam hari pada masa krisis ekonomi
sekitar tahun 1970-an
● Latar tempat terjadinya peristiwa ada di Jakarta, rumah Hidayat, kandang ayam
belakang rumah Hidayat, kantor Perminus, mobil, Singapura, RS Perminus, gedung
Granada, Bandung, Hotel.
● Latar suasana yang tercipta beragam mulai dari menegangkan, mengherankan,
mengharukan, menyenangkan.
Jalan Cerita dan Jenis Alur
Perminus merupakan singkatan dari Perusahaan Minyak Nusantara. Salah satu
karyawan Perminus ialah Hidayat, umurnya kurang lebih empat puluh lima tahun. Ia
selalu sibuk melayani tamu-tamunya bahkan tak sedikit tamu-tamu asing yang bekerja
di Indonesia memanfaatkan analisisnya dalam menilai situasi. Banyak yang merasa
puas atas arahan Hidayat.
Perminus sering menjadi sorotan masyarakat terutama karena tindak korupsi
besar-besaran di perusahaan itu. Media masa menyuguhkan berita yang menyudutkan.
Akibatnya para karyawan resah dan saling curiga, dan khawatir dipecat. Kolonel
mencari siapa yang menjadi narasumber berita tersebut. Salah satu karyawan yang
ditendang adalah Hidayat, ia dibebas tugaskan dari urusan kantor. Beruntung Hidayat
memiliki istri yang baik menenangkannya. Selama dibebas tugaskan Hidayat dengan
mengurus peternakan ayam dan sekali-kali ia bekerja dengan memberikan nasihat
kepada kontraktor yang membutuhkan pengetahuannya.
Hidayat akhirnya dipanggil bekerja kembali. Tugas pertamanya ialah mengadakan
perundingan dengan kontraktor dan pihak kedutaan Singapura. Dalam perjalanan
tugas ia sempat berkenalan dengan seorang pramugari Garuda yang bernama Ita. Pada
pertemuan itu pula, Ita jatuh cinta Hidayat. Sebagai lelaki yang telah memiliki istri,
Hidayat tidak tergoda. Ia justru merasa kasihan pada Ita. Penyidikan masih
berlangsung, namun hal itu tidak membuat kegiatan kantor berhenti. Hidayat ditunjuk
oleh Kahar yang merupakan tangan kanan direktur, untuk menghadapi orang-orang
dari wakil perusahaan patungan Belgia, Jerman, dan Belanda. Tugasnya adalah
menurunkan penawaran yang diajukan perusahaan asing itu. Sesuai dugaan, Hidayat
berhasil menurunkan penawaran perusahaan asing itu. Hal itu merupakan sebuah
prestasi bagi Hidayat. Namun, pada kenyataannya angka penawaran yang telah ia
turunkan justru dinaikkan kembali. Ia merasa berang, sedih, karena usahanya
disia-siakan. Oleh karena itulah, ia menghadap Kahar dan memprotes tindakan
permainan angka itu. Kahar merasa terancam dengan sikap Hidayat, ia berpikir untuk
memecatnya. Kahar mengetahui pencalonan Hidayat sebagai Gubernur Jawa Barat.
Kahar segera memanggil Kolonel Sukojo dan ia menceritakan, bahwa Hidayat telah
main politik dengan mencalonkan diri untuk diangkat menjadi Gubernur Jawa Barat
tanpa seizinnya. Dengan tuduhan itu, ia meminta Hidayat dipensiunkan dini. Hari-hari
tenang dilalui Hidayat setelah berita kematian Kahar. Sebagai orang yang bekerja di
bawah Kahar, ia memang mengetahui kecurangan-kecurangan dan penyelewengan
yang dilakukan atasannya itu. Ia merasa lega karena Perminus telah kehilangan
seorang pimpinan yang tidak jujur. Meskipun begitu, ia juga merasa kecewa, karena
pria seperti Kahar dimakamkan di makam pahlawan. Akan tetapi, Hidayat meras lega
ketika Ita, pramugari yang sempat hendak menyerahkan keperawanannya kepada
Hidayat menjenguknya bersama sang suami. Hidayat bersyukur kala itu menolak Ita
sehingga Ita dapat menikah dengan keadaan masih suci. Ia yakin bahwa hidup tegar
dengan keyakinan pada kejujuran hati nuraninya merupakan senjata ampuh untuk
menghadapi zaman ini.
Alur yang digunakan adalah alur maju.
Tema yang tercipta dari novel ini yaitu permasalahan korupsi di perusahaan,
percintaan, pengorbanan, persahabatan.
Pokok Persoalan yang terjadi pada novel “Ladang Perminus” memberikan informasi
mengenai jenis praktik korupsi dan dampak dari korupsi, serta memberikan pelajaran
tentang nilai kejujuran.
4. Judul Novel: Ronggeng Dukuh Paruk
Nama Pengarang: Ahmad Tohari
Tokoh dan Penokohan
● Rasus memiliki sifat yang pemberani, pendendam, berusaha menegakkan kebenaran,
penyayang dan bersahabat.
● Srintil adalah seorang ronggeng yang cantik, centil, agresif dan dewasa.
● Dursun adalah sahabat Rasus dan Srintil sejak masih kecil.
● Warta sama seperti Dursun yang lebih bersifat menghibur.
● Sakarya merupakan kakek Srintil yang baik kepada cucunya namun tega. Dia
merelakan Srintil untuk dijadikan bahan sayembara.
● Kartareja dan Nyai Kartareja berwatak egois dan percaya dengan hal-hal mistis.
Latar
● Latar tempat dukuh Paruk, ladang, bawah pohon nangka, kediaman Kartareja,
kuburan, pasar, markas tentara, rumah, kantor polisi, rumah sakit, sawah, pantai.
● Latar waktu pagi, siang, sore, dan malam hari.
● Latar suasana yang tercipta yaitu tenang, tentram, gembira, menegangkan, dan
genting.
Jalan Cerita dan Jenis Alur
Srinthil adalah bocah berusia 11 tahun yang berprofesi sebagai ronggeng. Dia
dianggap sebagai keturunan Ki Secamenggala yang diyakini dapat mengembalikan
citra pedukuhan.
Masyarakat setempat meyakini kehadiran Srinthil menjadi pelengkap. Mereka
meyakini kelengkapan dukuh terdiri dari keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul,
sumpah serapah, dan ronggeng bersama perangkat calungnya.
Srinthil adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal bersama 16
penduduk lainnya yang mengalami keracunan tempe bongkrek. Kedua orang tua
Srinthil merupakan pembuat tempe itu.
Srinthil yang kala itu masih bayi, lalu dirawat kakek-neneknya. Kakeknya meyakini
Srinthil sudah kerasukan indang ronggeng dan dilahirkan sebagai ronggeng dengan
restu arwah Ki Secamenggala.
Karena anggapan seperti itu, Srinthil digembleng menjadi ronggeng. Kartareja, sang
dukun ronggeng, mengajak Srinthil mengikuti tahapan sebagai ronggeng
sesungguhnya.
Sebagai awalan, Srinthil mandi kembang di depan cungkup makam Ki Secamenggala.
Tahapan lain yang dilalui Srinthil adalah buka kelambu. Dirinya tidak tidak bisa
memungut bayaran saat berpentas jika belum melalui tahapan ini.
Di sisi lain, ada Rasus yang keberatan jika Srinthil harus melalui semua syarat
tersebut. Dia adalah teman main Srinthil sejak kecil. Rasus merasa sakit hati dan
cemburu karena Srinthil menjadi ronggeng.
Profesi ronggeng artinya Srinthil menjadi milik umum. Kegadisan Srinthil
disayembarakan. Rasus makin marah saat dirinya yang berusia 14 tahun itu tidak bisa
berbuat banyak pada gadis yang dicintainya.
Hingga suatu hari, terjadi pertengkaran antara Dower dan Sulam di emper samping
rumah Kertareja untuk memperebutkan keperawanan Srinthil.
Rasus yang juga berada di sisi lain rumah tersebut, tidak bisa melakukan apa pun.
Kartareja menyaratkan seringgit uang emas untuk nilai keperawanan Srinthil.
Tapi, Srinthil mendadak muncul dari belakang rumah Kartareja dan mendatangi
Rasus. Dia meminta Rasus untuk menggaulinya.
Srinthil lebih suka kehilangan keperawanan karena Rasus, ketimbang dengan dua
orang yang sedang memperebutkannya.
Rasus mengiyakan permintaan Srinthil. Setelah itu, giliran Dower dan Sulam.
Sementara Kartareja menikmati hasil menjadi mucikari berupa seringgit uang emas
dari Sulam, lalu seekor kerbau dan dua keping perak dari Mahar.
Meski bisa mendapatkan keperawanan Srinthil, Rasus justru semakin membencinya
karena pekerjaan ronggeng itu.
Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk dan meninggalkan sosok Srinthil sebagai
bayang-bayang ibunya yang telah pergi entah ke mana.
Srinthil sempat menawarkan dirinya pada Rasus untuk dinikahi. Namun, Rasus sudah
yakin dengan keputusan untuk menolaknya.
Tema yang diangkat dari cerita novel ini adalah percintaan, pengorbanan, pembalasan
dendam.
Pokok Persoalan yang terjadi dalam novel ini adalah tentang harapan ronggeng
Srintil untuk dapat hidup bersama dengan lelaki yang sangat dicintai dan didambakan
sejak kecil, karena dia memang teman bermainnya, yaitu Rasus. Namun Rasus tidak
mau menerima ajakan Srintil untuk menikah, karena bagi Rasus, Ronggeng adalah
milik masyarakat, milik orang banyak, dan milik semua orang. Maka Rasus merasa
akan sangat egois jika harus menikahi Srintil. Meskipun sebenarnya hati Rasus sangat
sakit ketika harus mengatakan hal itu kepada Srintil. Srintilpun sebenarnya tahu
perasaan Rasus, bahwa dia masih sangat mencintainya. Namun Rasus tidak mau
mengakuinya dan lebih memilih pergi meninggalkan Srintil, neneknya yang sudah
tua, dan Dukuh Paruk.
5. Judul Novel: Siti Nurbaya
Nama Pengarang: M. Rusli
Jumlah Halaman: 271 halaman
Tahun Terbit: 2008
Tokoh dan Penokohan
● Siti Nurbaya, gadis lembut dan penurut.
● Syamsul Bahri, penyayang, sabar, dan penurut.
● Sulaiman, penyayang dan sabar.
● Datuk Maringgih, dengki, pendendam, dan iri hati.
● Ayahanda Syamsul Bahri, bijaksana, sopan, dan ramah.
Latar
● Latar waktu pagi, siang, sore, dan malam hari.
● Latar tempat terjadi di kota Padang, Jakarta, rumah Siti Nurbaya, rumah Datuk
Maringgih, di pasar, di jalan, di Rumah Sakit.
● Latar suasana yang tercipta menyedihkan, menyenangkan, menegangkan.
Jalan Cerita dan Jenis Alur
Sejak kecil, Siti telah ditinggal ibunya meninggal. Sejak saat itu, kehidupan Siti
memang sangat menderita. Ia tinggal bersama ayahnya yang bernama Sulaiman. Siti
Nurbaya sangat menyayangi ayahnya. Sulaiman adalah seorang pedagang yang
terkenal di Kota Padang. Awal mula, ayah Siti Nurbaya berjualan yaitu meminjam
uang dari seorang rentenir yaitu Datuk Maringgih. Di awal menjalankan usaha
dagangnya, Sulaiman mempunyai kesuksesan penjualan yang sangat tinggi. Tetapi,
hal tersebut tidak disukai oleh rentenir yang bernama Datuk Maringgi. Untuk
melampiaskan kekesalan dan keserakahan Datuk Maringgi, ia menyuruh orang
suruhannya membakar kios milik ayah Siti Nurbaya. Sejak saat itu, semua usaha
Sulaiman hancur. Kejadian itu membuat keluarga Siti Nurbaya jatuh miskin,
kemudian Sulaiman juga tidak dapat membayar hutangnya kepada Datuk Maringgih.
Dalam kondisi ini, Datuk Maringgih sengaja menagih Sulaiman untuk melunasi
semua hutangnya. Tetapi, Datuk Maringgih sengaja memberikan penawaran kepada
Sulaiman untuk meminta Siti Nurbaya menjadi istrinya agar hutang kepadanya
menjadi lunas. Menghadapi kenyataan bahwa dirinya memang sudah tidak mampu
membayarkan hutang maka Sulaiman pun menerima penawaran Datuk Maringgih.
Siti Nurbaya sangat sedih untuk menerima kenyataan bahwa dirinya harus menikah
dengan Datuk Maringgih yang sudah sangat tua.
Konflik dimulai saat Siti Nurbaya teringat kekasihnya yang bernama Samsul Bahri.
Kekasihnya sedang kuliah di Jakarta pasti akan sangat kecewa mendengar berita ini.
Tetapi, untuk kebahagiaan dan keselamatan ayahnya, Siti Nurbaya menerima
perjodohan itu dengan berat hati. Ia rela mengorbankan dirinya untuk keluarganya.
Suatu waktu, Syamsul Bahri mendengar berita tersebut lewat surat yang Siti Nurbaya
kirimkan mengenai nasib yang sedang dialami keluarganya. Saat Syamsul Bahri
kembali ke Padang, ia bertemu dengan Siti Nurbaya yang sudah resmi menjadi istri
Datuk Maringgih. Hal tersebut diketahui oleh Datuk Maringgih, tentu saja pertemuan
itu memicu keributan. Teriakan Siti Nurbaya atas keributan yang terjadi terdengar
oleh ayahnya yang sedang sakit. Kemudian Sulaiman berusaha bangun, tetapi terjatuh
dan tersungkur hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya. Hal tersebut ternyata
terdengar oleh ayah Samsul Bahri yang bernama Sultan Mahmud Syah yang
merupakan seorang penghulu di Kota Padang. Beliau malu atas perbuatan anaknya
sehingga Syamsul Bahri harus kembali ke Jakarta, bahkan ia tidak diizinkan kembali
ke kota Padang lagi. Dengan kejadian itu, Siti Nurbaya pun diusir oleh Datuk
Maringgih. Tak lama kemudian, Siti Nurbaya meninggal dunia karena sengaja
diracuni oleh orang suruhan rentenir jahat Datuk Maringgih.
Kematian Siti Nurbaya diketahui oleh Syamsul Bahri, tentu saja hal tersebut
membuatnya sangat sedih dan putus asa. Hal tersebut membuat Syamsul Bahri
mencoba untuk bunuh diri, tetapi ia tidak meninggal. Sejak saat itu, Syamsul Bahri
tidak meneruskan kuliahnya kemudian sekolah di Dinas Militer. Sepuluh tahun
kemudian, terjadi hura hara di kota Padang akibat perilaku Datuk Maringgih. Syamsul
Bahri yang sudah mempunyai pangkat Letnan ditugaskan ke kota Padang. Di Kota
Padang, Syamsul Bahri bertemu Datuk Maringgih kemudian terjadi keributan bahwa
Letnan Samsul menembak Datuk Maringgih. Dari kejadian itu, Syamsul Bahri juga
mengalami cedera. Kemudian, ia dibawa ke Rumah Sakit. Saat itu, Syamsul Bahri
meminta bertemu dengan ayahandanya. Di akhir ceritanya, Syamsul Bahri meninggal
dunia.
Alur yang digunakan adalah alur maju.
Tema dalam novel Siti Nurbaya yaitu tentang percintaan dan pengorbanan. Dimana,
tokoh Siti Nurbaya harus mengorbankan perasaan cintanya untuk kekasihnya agar
dapat menolong ayahnya dalam memenuhi permintaan Datuk Maringgih.
Pokok Persoalan Siti Nurbaya menceritakan cinta remaja antara Samsul Bahri dan
Siti Nurbaya, yang hendak menjalin cinta tetapi terpisah ketika Samsul terpaksa pergi
ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan. Belum lama kemudian, Siti Nurbaya
menawarkan diri untuk menikah dengan Datuk Meringgih (yang kaya tetapi kasar)
sebagai cara untuk ayahnya hidup bebas dari utang. Siti Nurbaya kemudian dibunuh
oleh Meringgih. Pada akhir cerita Samsul yang menjadi anggota tentara kolonial
Belanda, membunuh Meringgih dalam suatu revolusi lalu meninggal akibat lukanya.
3
ANALISIS CERPEN
Menjadi Seorang Guru Seperti Tokoh Taksu Dalam Cerpen “Guru” Karya Putu
Wijaya
Oleh Lisa Anastya Aroyyani
Sedikit informasi tentang sastrawan Indonesia yang merupakan pengarang dari cerpen
“Guru”. Putu Wijaya dikenal sebagai novelis, cerpenis, dramawan, dan wartawan. Ia lahir
tanggal 11 April 1944 di Puri Anom, Tabanan, Bali. Nama lengkapnya adalah I Gusti Ngurah
Putu Wijaya. Dari namanya ini dapat diketahui bahwa ia berasal dari keturunan bangsawan.
Putu Wijaya telah menulis karya sastra dalam jumlah yang besar, baik dalam bentuk drama,
novel, cerpen, maupun puisi. Salah satu karya sastra yang berupa cerpen yaitu cerpen dengan
judul “Guru”. Sumber: Ensiklopedia
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Putu_Wijaya
Cerpen yang berjudul “Guru” memberikan pandangan yang lebih luas mengenai arti
dari guru yang sebenarnya. Cerpen ini menggunakan sudut pandang dari tokoh Ayah yang
menghendaki anaknya untuk mengganti cita-cita. Suatu hari, tokoh Ayah dan Ibu sedang
mengunjungi anak semata wayangnya yang tinggal di sebuah kost. Namanya adalah Taksu.
Kedua orang tua Taksu menanyakan kepadanya mengenai apa cita-cita yang akan dicapai.
Lalu, Taksu menjawab pertanyaan kedua orang tuanya bahwa ia ingin menjadi seorang guru.
Orang tua Taksu sangat tidak menyukai jawaban anaknya. Mereka beranggapan bahwa
menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang tidak memiliki keuntungan. Gaji kecil namun
pekerjaannya berat. Jika Taksu menjadi seorang guru, orang tuanya khawatir Taksu akan
memiliki masa depan yang suram. Oleh karena itu, beberapa kali orang tua Taksu berupaya
untuk membujuk anaknya supaya mengganti cita-citanya. Mereka bahkan membelikan Taksu
mobil mewah. Namun, Taksu menolak mobil itu dan tetap pada pendiriannya.
Akhir cerita, Taksu menjadi seorang pengusaha yang sukses. Ia tidak mengganti
cita-citanya karena Taksu tetap menjadi seorang guru bagi pegawai-pegawainya. Dari cerita
pendek ini dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru bukanlah sebuah profesi,
melainkan jasa. Siapa pun dapat menjadi seorang guru. Guru bukan hanya sosok pengajar di
dalam kelas, melainkan di mana saja berada. Taksu menjadi seorang guru bagi pegawainya
dengan mengajarkan hal-hal mengenai pekerjaan kepada pegawainya. Hal itu sudah dapat
menjadikan Taksu seorang guru. Karena Taksu memberikan pengajaran yang berharga bagi
pegawainya.
Jadi, anggapan orang tua Taksu tidaklah benar. Menjadi seorang guru tidak berarti
memiliki masa depan yang suram. Semua sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta alam
semesta. Menjadi guru adalah sosok yang mulia. Tanpa guru manusia akan tersesat di jalan
kehidupan. Guru berperan sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena guru
membimbing manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Pekerjaan yang baik tidak dinilai dari
besar kecilnya gaji yang didapatkan. Melainkan, apa yang kita berikan kepada orang lain
akan bermanfaat bagi mereka. Itulah definisi pekerjaan yang mulia.
Dalam cerita ini amanat yang dapat kita ambil yaitu kita tidak boleh meremehkan
suatu pekerjaan. Karena setiap pekerjaan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Setiap pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain adalah pekerjaan yang mulia. Dari perilaku
tokoh Taksu yang gigih dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita, dapat menjadi
teladan bagi kita semua. Kita harus bisa mencontoh perilaku Taksu. Meskipun dihadapkan
berbagai rintangan kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus mampu membuktikan
bahwa apa yang menjadi cita-cita kita bukanlah cita-cita yang dapat dipandang sebelah mata.
Jika dilihat dari perilaku tokoh Ayah dan Ibunya Taksu, memberi kita pengajaran bahwa kita
tidak boleh memandang suatu pekerjaan melalui materi. Kita juga tidak boleh memaksakan
kehendak kepada siapa pun termasuk anak. Biarkan anak memilih apa yang ingin dia raih.
Sebagai orang tua sebaiknya mempercayakan keputusan kepada anak. Orang tua berhak
untuk mengarahkan keputusan yang lebih baik namun tidak diperkenankan untuk memaksa
atau memprovokasi.
Kandungan Makna Dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis
Oleh Lisa Anastya Aroyyani
Sebelum mengulas karyanya alangkah baiknya jika kita mengetahui sedikit biografi
pengarangnya terlebih dahulu. Seperti yang telah dikatakan oleh Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd
bahwa kita jangan mengenal karyanya saja, tapi kenali juga pengarangnya. Ali Akbar Navis
atau biasa dikenal dengan sebutan A.A. Navis adalah seorang sastrawan Indonesia yang
terkenal. Beliau lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang, Sumatera Barat pada tanggal 17
November 1924. Dan meninggal pada tanggal 22 Maret 2003 di Padang setelah menjalani
perawatan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. Dalam karya-karyanya A.A Navis
memberikan penggambaran tokoh dan gaya bahasa yang kritis terhadap persoalan-persoalan
kehidupan. Oleh karena itu, A.A Navis diberi julukan “Pencomooh Nomor Wahid” dan
“Sastrawan Satiris Ulung”. Cerpen pertama A.A Navis yang berjudul “Robohnya Surau
Kami” terbit di majalah Kisah pada tahun 1955 mendapatkan tanggapan yang serius dari
berbagai pihak. Bahkan, cerpen tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman,
Jepang, dan Perancis. Sumber: Ensiklopedia
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/A_A_Navis
Cerpen dengan judul “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis sangat menarik
untuk dibaca dan dipelajari amanat yang terkandung dalam cerpen tersebut. Cerpen ini
menceritakan tentang seorang kakek penjaga masjid yang bunuh diri karena memikirkan
bualan Ajo Sidi. Bualan Ajo Sidi berupa cerita percakapan seorang hamba yang taat
beribadah terhadap Tuhan di akhirat. Seorang hamba yang taat beribadah itu bernama Haji
Saleh. Dalam cerita Ajo Sidi, Haji Saleh dimasukkan ke dalam neraka oleh Tuhan, padahal
Haji Saleh adalah sosok yang taat beribadah. Seluruh hidupnya dihabiskan hanya untuk
menyembah, mengagungkan, dan melayani Tuhan saja. Namun, Haji Saleh seolah
mementingkan dirinya sendiri dengan selalu beribadah dan mengharapkan belas kasihan dari
orang lain untuk bertahan hidup. Haji Saleh menelantarkan istri dan anaknya dan melepaskan
tanggung jawab atas keluarganya. Haji Saleh menyibukkan diri untuk terlihat sholeh dan
bertakwa kepada Tuhan. Padahal sebagai seorang kepala keluarga dia tidak hanya
berkewajiban untuk menyembah Tuhan saja. Menyembah Tuhan adalah kewajiban seluruh
umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, sebagai manusia terlebih seorang
laki-laki juga berkewajiban untuk menafkahi dan mengajak keluarganya (keluarga dan
sesama manusia) masuk ke dalam surga bersamanya. Manusia tidak hanya menyembah
langit, tapi juga menyembah bumi. Tuhan dalam ajarannya mengajarkan seluruh hambanya
untuk bertoleransi, saling tolong menolong dengan sesama, dan menjaga keluarganya dari
siksa api neraka. Apa yang dilakukan oleh Haji Saleh tidak mencerminkan sosok yang suka
menolong orang lain dan menjaga keluarganya dengan baik.
Cerita yang diceritakan oleh Ajo Sidi membuat Kakek Si Penjaga Masjid terguncang
dan akhirnya memilih bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur.
Menurut saya, Si Kakek itu terguncang karena merasa apa yang dia lakukan selama ini sama
seperti yang dilakukan oleh Haji Saleh, tokoh yang diceritakan oleh Ajo Sidi. Dalam cerpen
tersebut amanat yang dapat kita ambil yaitu, kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh
Tuhan sudah seharusnya menyembah dan mengagungkan Tuhan menurut kepercayaan
masing-masing. Selain sebagai makhluk Tuhan, kita sebagai manusia juga merupakan
makhluk sosial yang memerlukan dan saling membantu antar umat manusia. Selain
sembahyang sebagai amalan kita kepada Tuhan, kita juga harus beramal saleh dengan berbuat
baik dan mengajarkan hal-hal baik kepada sesama umat. Tuhan telah menciptakan dunia yang
kita tinggali dengan banyak limpahan rahmat, sebagai bentuk taat dan syukur sudah
seharusnya kita memanfaatkan limpahan rahmat tersebut untuk bertahan hidup selama di
dunia, dan menjadi amal baik kepada sesama. Dengan begitu bertambahlah amalan yang
disenangi oleh Tuhan. Jika Tuhan senang dengan amalan kita, maka amalan yang kita perbuat
selama hidup di dunia akan diterima oleh Tuhan.
Makna Tersirat Dalam Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya
Kuntowijoyo
Oleh Lisa Anastya Aroyyani
Biografi singkat tentang seorang sastrawan Indonesia yang terkenal, Kuntowijoyo.
Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 18 September 1943 dan
meninggal pada tanggal 22 Februari 2005. Ia dibesarkan di Ceper, Klaten, dalam lingkungan
keluarga Jawa yang beragama Islam beraliran Muhammadiyah. Kuntowidjoyo tergolong
pengarang yang mampu menulis berbagai genre. Namun, kekuatannya lebih bertumpu pada
penulisan cerpen. Salah satu cerpen karya Kuntowijoyo yaitu Dilarang Mencintai
Bunga-Bunga (1992). Sumber: Ensiklopedia:
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Kuntowidjojo.
Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” karya Kuntowijoyo memberikan makna
yang mendalam bagi pembacanya. Cerpen ini menceritakan seorang anak laki-laki yang
sangat penasaran dengan Si Kakek, tetangganya setelah pindah rumah. Si Kakek adalah sosok
yang misterius karena tidak ada seorang pun yang mengetahuinya secara pasti. Suatu hari,
ketika anak laki-laki tersebut main layang-layang, layangannya putus. Lalu dia diajak
berbicara dan diberi bunga anggrek berwarna violet oleh Si Kakek. Saat Si Kakek menarik
anak laki-laki tersebut ke arah rumahnya, anak laki-laki itu jatuh pingsan. Setelah anak itu
sadar, ayahnya marah karena anaknya memegang bunga. Ayah anak laki-laki itu
melemparkan bunga yang dipegang anaknya karena merasa seorang laki-laki tidak boleh
menyukai bunga.
Seiring dengan berjalannya waktu, Si Kakek dan anak laki-laki itu menjadi sahabat.
Anak laki-laki sering berkunjung ke rumah kakek. Saat-saat bersama dengan kakek, anak
laki-laki itu mendapatkan pengajaran dari kakek. Bahwa manusia perlu menemukan
ketenangan jiwa dan keteguhan hati. Semenjak anak laki-laki itu bergaul dan bersahabat
dengan Si Kakek, dia menjadi lebih sering di rumah dan enggan melakukan pekerjaan atau
kegiatan seperti seorang laki-laki. Karena itu, anak laki-laki itu dipaksa oleh ayahnya untuk
membantu dia bekerja di bengkel. Awalnya buyung menolak, lama-lama dia menyadari
bahwa untuk membangun dunia tidak hanya membutuhkan ketenangan jiwa tapi juga harus
bekerja.
Dalam cerpen ini, anak laki-laki itu seolah mendapatkan pengajaran yang berbeda tapi
saling melengkapi jika dipadukan. Ayahnya mengajarkan kepadanya bahwa untuk
membangun dunia kita harus bekerja keras. Kita tidak boleh lemah. Harus kuat untuk
menghadapi dunia. Persaingan di dunia ini sangat keras, maka kita harus mampu
mengimbangi diri supaya dapat mengikuti arus. Sedangkan, Si Kakek mengajarkan bahwa
dalam hidup memerlukan ketenangan jiwa. Dengan ketenangan jiwa hidup kita akan
mendapatkan ketentraman hati. Hidup yang dipenuhi oleh hawa nafsu dapat merusak diri.
Seperti tokoh Ayah yang hanya mengejar dunia, dia tidak memiliki ketentraman hati. Adapun
tokoh Kakek yang hanya mencari ketenangan jiwa, ia tidak memiliki pekerjaan untuk
memenuhi hidupnya. Dan tokoh Buyung (anak laki-laki) menjadi tokoh yang memiliki
ketenangan jiwa dan mau bekerja keras.
Maka, makna tersirat yang terkandung yaitu kita sebagai manusia seharusnya mampu
menggabungkan untuk bekerja keras dan menenangkan hati. Jiwa dan tubuh saling terikat
satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Sebagai manusia kita harus mampu berdiri di kaki
sendiri untuk memperjuangkan hidup. Kita harus bekerja keras dalam mencapai tujuan yaitu
membangun dunia yang lebih baik. Namun, ketenangan jiwa juga tidak dapat diabaikan. Agar
kita dapat bekerja dengan baik kita memerlukan ketenangan jiwa dan keteguhan hati. Jika
kita memiliki ketenangan jiwa dan keteguhan hati, hasil dari usaha dan kerja keras kita akan
maksimal.
Kritik Sosial Terhadap Cerpen “Senyum Karyamin” Karya Ahmad Tohari
Oleh Lisa Anastya Aroyyani
Ahmad Tohari adalah seorang pengarang yang lahir pada tanggal 13 Juni 1948 di
Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah dari keluarga santri. Ayahnya
adalah seorang kiai (pegawai KUA) dan ibunya pedagang kain. Ahmad Tohari menikah tahun
1970 dengan Siti Syamsiah yang bekerja sebagai guru SD. Dari perkawinannya itu, ia
dikaruniai lima orang anak. Karya-karyanya mulai dipublikasikan tahun 1970-an.
Sebenarnya, saat masih belajar di SMA, ia telah menulis, tetapi tulisannya hanya disimpan di
laci meja belajarnya. Selepas SMA, barulah ia mengirimkan karyanya itu ke berbagai media
massa, antara lain ke Kompas. Salah satu karya milik Ahmad Tohari yaitu cerpen yang
berjudul “Senyum Karyamin”. Sumber:
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Ahmad_Tohari.
Cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul “Senyum Karyamin” sangat berkesan.
Ahmad Tohari membuat cerpen ini dengan mengangkat permasalahan-permasalahan sosial
yang sesuai dengan dunia nyata. Dalam cerpen ini, Ahmad Tohari menceritakan tokoh kelas
bawah. Karyamin namanya. Karyamin merupakan seseorang yang bekerja sebagai tukang
batu. Pada suatu hari, dia bekerja mengangkat batu dengan melewati sungai seperti biasanya.
Namun, dia jatuh terpeleset sebanyak dua kali dia terjatuh karena badannya lemas. Ketika
Karyamin terjatuh dia ditertawakan oleh teman-temannya. Teman-temannya memang suka
menjadikan kemalangan mereka sebagai hiburan. Karyamin hanya tersenyum saat
teman-temannya menertawakannya. Karena perutnya sangat lapar dia tidak mampu untuk
menyumpahi atau membalas lelucon temannya. Setelah itu, Karyamin memutuskan untuk
pulang ke rumah. Meskipun saat dia pulang nanti dia tidak dapat memuaskan rasa laparnya,
atau membawa uang untuk istrinya dia tetap merasa ingin pulang.
Dalam perjalanan pulang Karyamin bertemu dengan penjual pecel yang bernama
Saidah. Saidah menawari makan kepada Karyamin karena dia terlihat tidak sehat. Namun,
Karyamin menolak karena dia telah berhutang banyak padanya. Dia merasa tidak enak
kepada Saidah. Akhirnya, Karyamin hanya tersenyum lalu melanjutkan perjalanan pulang ke
rumah. Saat dia hampir sampai di rumah dia melihat ada penagih bank harian yang sedang
menagih hutangnya pada istri Karyamin. Hal itu membuat Karyamin berputar arah untuk
kembali bekerja. Namun, saat dia memutar arah dia bertemu dengan Pak Pamong. Pak
Pamong mengira Karyamin menghindarinya karena dia meminta iuran kepada seluruh
masyarakat untuk menolong orang-orang Afrika yang kelaparan. Mendengar hal itu
Karyamin tersenyum. Tak lama kemudian Karyamin jatuh pingsan.
Dari cerpen tersebut arti dari senyum yang diperlihatkan oleh Karyamin berarti
ketabahan hati Karyamin dalam menghadapi segala masalah. Dia begitu sabar dalam
menghadapi persoalan-persoalan yang sulit dalam hidupnya. Tidak hanya itu saja, di akhir
cerita senyum Karyamin seolah menunjukkan bahwa dia putus asa atas apa yang
menimpanya hingga dia jatuh pingsan. Senyum itu terlihat getir dan menyedihkan. Dari
tindakan Karyamin, kita dapat mencontoh tindakannya. Bahwa segala permasalahan yang
kita hadapi tidak perlu ditanggapi dengan kemarahan atau kemurkaan. Kita juga harus
berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri dengan segala kemampuan yang kita
punya. Kita tidak dapat mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan permasalahan yang
kita hadapi. Seperti saat Karyamin ditawari oleh Saidah untuk makan, dia menolak karena dia
tahu bahwa Saidah juga mengalami permasalahan jika dia terus hutang kepada Saidah.
Kritik sosial yang terkandung dalam cerpen ini yaitu dalam kehidupan nyata masih
ada orang yang membutuhkan pertolongan di sekelilingnya namun orang-orang justru
memilih untuk membantu orang asing di luar negara. Terlihat jelas ketika Pak Pamong
meminta iuran kepada Karyamin untuk orang-orang yang kelaparan di Afrika. Padahal
Karyamin sendiri adalah orang yang tidak mampu. Dia bahkan merasa sangat kelaparan dan
sedang terlilit hutang yang banyak sehingga rumahnya sering ditagih oleh penagih bank
harian. Seharusnya, masyarakat bergotong royong untuk membantu keluarga Karyamin dan
keluarga orang-orang yang bernasib sama seperti Karyamin. Untuk membantu orang lain
memang tidak perlu memandang siapa dan dari mana orang itu berasal. Namun, alangkah
baiknya jika kita dapat membantu orang-orang di sekitar kita terlebih dahulu sebelum
membantu orang asing di luar negara.
Perjuangan Seorang Sersan Dalam Cerpen “Sungai” Karya Nugroho
Notosusanto
Oleh Lisa Anastya Aroyyani
Nugroho Notosusanto adalah sastrawan yang lahir 15 Juni 1931 di Rembang (Jawa Tengah),
sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Dia beragama Islam. Ayahnya, Prof. Mr. R.P.
Notosusanto adalah guru besar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Nugroho
Notosusanto menikah dengan Irma Savitri Ramelan tanggal 12 Desember 1960 dan
mempunyai tiga orang anak, yang pertama bernama Indrya Smita, kedua Inggita Sukma, dan
yang ketiga Norottama. Nugroho meninggal 3 Juni 1985 di Jakarta karena pendarahan di
otak, pada waktu ia menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Nugroho Notosusanto
adalah sastrawan yang banyak menulis kisah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan
Belanda. H.B. Jassin menggolongkan Nugroho Notosusanto ke dalam angkatan '66. Nugroho
melukiskan suasana front, lengkap dengan segala kepercayaan, kekacauan, nafsu, kekejaman,
kemanusiaan, harapan, kebanggaan, keberanian, dan ketakutan. Semuanya baik sekali
dilukiskan, terutama karena didukung oleh pengalaman dan ingatan yang masih segar.
Pengalaman ini bukanlah semata-mata yang secara langsung dialaminya, tetapi pengetahuan
yang luas untuk menyusun latar belakang cerita sehingga cerita, itu bisa kita terima sebagai
sesuatu yang wajar dan "hidup" (Ajip Rosidi. 1968:140). Selain sebagai seorang pengarang,
Nugroho adalah juga seorang penulis esai sastra. Dia adalah pembela sastrawan-sastrawan
muda. Karyanya lebih banyak berbentuk cerita pendek, salah satu cerpennya berjudul
"Sungai". Sumber: Ensiklopedia
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Nugroho_Notosusanto.
Cerpen “Sungai” merupakan cerpen yang menceritakan perjuangan sersan bernama
Kasim. Berlatar tempat di sungai terbesar di Jawa Tengah, Sungai Serayu. Cerpen ini
mengisahkan seorang Kepala Regu 3, Pleton 2 dari Kompi TNI terakhir yang kembali ke
daerah operasi di Jawa Barat. Saat itu Sersan Kasim menggendong anaknya yang masih bayi
di panggul kirinya untuk menyeberangi sungai. Sebelumnya, pada bulan Februari 1948 dia
pernah menyeberangi sungai itu bersama dengan istrinya yang tengah mengandung 5 bulan.
Saat itu istrinya memaksa ikut meskipun sudah diminta oleh Kasim untuk tinggal dengan
mertuanya. Akhirnya ketika istri Kasim melahirkan Acep, anaknya Kasim. Dia meninggal
sehari setelahnya. Kasim tidak ingin kehilangan anaknya seperti dia kehilangan istrinya.
Maka dari itu, Kasim memutuskan untuk terus menggendong anaknya daripada menitipkan
anaknya pada Lurah atau orang-orang desa setempat.
Sebelum menyeberang sungai, seluruh Kepala Regu diminta untuk berkumpul
menghadap Komandan Pleton. Setelah diberi instruksi, Komandan Pleton menyarankan
Kasim untuk menitipkan anaknya kepada Lurah desa setempat agar peristiwa yang sudah
terjadi tidak terulang kembali. Kasim sempat mengalami perang batin, namun pada akhirnya
dia memutuskan untuk membawa Acep bersamanya. Komandan Pleton memberikan ijin
setelah Kasim memastikan bahwa anaknya tidak akan menangis.
Saat itu, pasukan Kasim mendapatkan giliran untuk menyeberangi sungai. Tiba-tiba
Kasim terperosok ke dalam lubang dasar sungai sehingga Acep terendam air sungai. Acep
yang masih bayi menangis dengan sangat kencang sehingga di hulu sungai terjadi peluncuran
peluru ke udara oleh musuh. Hal itu menandakan bahwa pasukan Kasim dalam bahaya.
Sejurus kemudian, Acep berhenti menangis. Keadaan menjadi sunyi kembali dan suara
peluru sudah berhenti. Kasim dan pasukannya merasa lega dan melanjutkan perjalanannya
untuk menyeberangi sungai. Setelah menyeberangi sungai, mereka menunda perjalanan dan
berhenti di sebuah desa untuk mengubur Acep. Acep telah meninggal dunia. Kasim merasa
sangat sedih dan terpukul. Seolah apa yang menimpanya sama seperti Nabi Ibrahim yang
mengorbankan Ismail, anaknya.
Setengah jam kemudian, Kasim dan rekan-rekannya melanjutkan perjalanan. Kasim
melanjutkan perjalanan dengan perasaan hampa karena telah ditinggalkan oleh anak dan
istrinya. Secara keseluruhan cerpen ini sangat menarik untuk dibaca. Perjuangan seorang
ayah dalam memimpin pasukan dan mempertahankan anaknya sangat mengharukan. Dari
tindakan sersan Kasim dapat kita ambil pengajarannya. Sebagai warga negara yang baik
sudah seharusnya kita menjaga kedaulatan negara. Sersan Kasim mampu memimpin
pasukannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Selain itu, Sersan Kasim juga memiliki hati
yang tabah. Dia mampu mengikhlaskan anak dan istrinya yang meninggal saat menemaninya
mengabdi pada negara. Meskipun berat, Sersan Kasim berusaha untuk ikhlas dan tabah lalu
tetap melanjutkan tugasnya meskipun dia merasa sangat sedih.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
1. Kereta Kencana oleh W.S RENDRA
Naskah drama karya Eugene Ionesco yang diterjemahkan oleh W.S Rendra menurut
saya cukup absurd karena mayoritas peristiwa dalam cerita ini kental akan imajinasi.
Drama tersebut menceritakan sepasang kakek dan nenek yang sudah berusia 200
tahun atau dua abad. Kakek dan nenek itu sedang menunggu kereta kencana yang
akan menjemput mereka. Menurut saya, kereta kencana yang dimaksud dalam drama
ini adalah kendaraan menuju ajal bagi kakek dan nenek. Karena dalam drama tersebut
diceritakan bahwa kakek dan nenek akan menemui ajal saat sudah berusia 200 tahun.
Kakek dan nenek hanya hidup berdua, tidak memiliki anak apalagi cucu. Kakek dan
nenek tahu bahwa mereka akan segera meninggal. Mereka mengisi saat-saat
terakhirnya dengan mengenang masa lalu. Seolah-olah mereka kembali ke masa muda
dulu. Berbagai cerita, pengalaman, dan tingkah laku mereka menemani kesepian yang
mereka rasakan. Lama-kelamaan mereka merasa jenuh. Untuk melawan rasa jenuh,
mereka melakukan sandiwara seolah ada tamu-tamu yang mulai berdatangan ke
rumah mereka. Drama berakhir ketika suara kereta mulai terdengar dengan tokoh
Kakek seolah memberikan teh dari timur untuk tokoh Nenek. Dan tokoh Nenek
memberikan tokoh Kakek kue Cherio. Lalu keduanya jatuh dengan memegang dada
masing-masing.
Meskipun drama ini absurd, cerita mampu tersampaikan dengan baik karena penulis
menggambarkan keadaan dengan sangat jelas. Pembaca naskah dapat membayangkan
bagaimana alur cerita tersebut. Adapun pesan yang saya ambil setelah membaca
naskah drama ini, yaitu kesetiaan kedua tokoh yang sangat kental di drama ini patut
untuk ditiru. Selain itu, karakter kedua tokoh yang saling menghibur, mendukung,
menyayangi dan mengasihi sangat terlihat dengan jelas. Adapun makna tersirat yang
saya tangkap yaitu sepanjang hidup yang kita tidak tahu kapan berakhir. Kita harus
menikmati kehidupan dengan penuh kegembiraan. Janganlah terfokus untuk bekerja
keras dan mengejar dunia saja. Bahagiakanlah diri sendiri dan orang lain agar hidup
lebih bermakna.
1. Peace karya Putu Wijaya
Drama dengan judul “Peace” karya Putu Wijaya merupakan salah satu naskah drama
yang saya sukai dan saya nikmati. Bahasa yang digunakan membuat pesan yang ingin
disampaikan sangat mudah dipahami. Selain itu, cerita yang diambil dari kehidupan
riil masyarakat dikemas dengan baik dalam bentuk drama. Tokoh yang diperankan
dalam drama ini cukup banyak sehingga ketika pembaca tidak membaca dengan
sungguh-sungguh akan kesulitan untuk memahami isi cerita. Tokoh yang ada dalam
drama tersebut adalah Pemburu Jahat, Raksasa Gimbal, Anak Raksasa Gimbal, Telur
dan Anak Dunia. Mulai dari tokoh Pemburu Jahat. Pemburu jahat menjadi simbol
orang-orang yang haus akan kekayaan dan kekuasaan. Pengarang seolah menjadikan
tokoh Pemburu Jahat sebagai kritik untuk para pejabat yang mengumbar janji palsu.
Terlihat jelas dalam naskah bahwa Pemburu Jahat mempengaruhi tokoh Anak Dunia
dengan perkataan manis agar bisa mendapatkan telur untuk dijual. Dia melakukan
segala cara dengan berbagai tipu muslihat. Akhir cerita Anak Dunia menyadari bahwa
dia telah ditipu. Setelah itu Telur yang telah menetas menjadi Binatang Purba, Anak
Dunia, Raksasa Gimbal, Anak Raksasa Gimbal bersatu untuk mengalahkan Pemburu
Jahat.
Dari drama ini dapat ditarik kesimpulan bahwa segala tipu muslihat akan kalah
dengan persatuan. Kita tidak boleh terlalu percaya kepada orang lain, setidaknya perlu
hati-hati. Agar kita tidak menjadi korban pembodohan orang lain, terlebih para
penguasa.
2. Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer
Drama dengan judul “Kapai-Kapai” karya Arifin C. Noer merupakan salah satu drama
terbaik. Namun, jika dilihat dari naskahnya saja menurut saya kurang jelas dalam
memanfaatkan teks samping. Teka-teki yang terkandung di dalamnya kurang
dipahami dengan baik jika ditinjau dari naskahnya saja. Dalam naskah ini, tokoh
Emak memiliki karakter seperti seorang pemimpin. Emak memiliki kemampuan
untuk mengatur tokoh Abu, Bulan, Yang Kelam. Sedangkan, tokoh Abu merupakan
anak Emak yang hidup miskin dan memiliki banyak majikan. Dan tokoh lain seperti
Bulan, Yang Kelam, Majikan, Bel, Iyem (istri Abu), Putri Cina, Raja Jin, Pangeran,
hanya tokoh pembantu yang memiliki ciri khas dan karakter masing-masing. Jujur
saja, saya kurang memahami apa isi dari drama ini. Yang dapat saya tangkap yaitu
dalam drama ini menunjukkan kesenjangan sosial yang terlihat bagaimana Abu
berperan di dalamnya. Abu memiliki banyak majikan dan berperan sebagai orang
miskin. Emak menjadi sosok yang membimbing Abu dan memberi penerangan
kepada Abu. Segala nasihat dan perintah Emak selalu dipatuhi.
3. Jalan Asmarandana karya Kuntowijoyo
Drama yang berjudul “Jalan Asmarandana” merupakan adaptasi dari cerpen yang
memiliki judul sama persis serta pengarang yang sama, yaitu Kuntowijoyo. Drama ini
mengandung tiga segmen atau babak. Babak pertama obrolan tokoh saya dan pak
Nurhasan, babak kedua pemilihan ketua rt, dan terakhir mengungkap kasus pak
Dwiyatmo vs Said. Kuntowijoyo menyajikan naskah drama dengan sangat baik. Saya
sebagai pembaca naskah dapat mengerti jalan ceritanya tanpa harus menonton
pementasan drama. Inti dari cerita naskah drama ini adalah kegagalan pak rt yang
bernama Pak Kusnaidi untuk mendamaikan Said dan Pak Dwiyatmo. Pak Kusnaidi
merupakan seorang dosen lulusan S3 yang dipercaya oleh masyarakat jalan
Asmarandana untuk menjadi ketua rt. Namun, selisih antara Said dengan Pak
Dwiyatmo yang merupakan tetangga gagal untuk diselesaikan oleh Pak Kusnaidi. Dia
merasa bodoh karena gelar yang ia dapat tidak berguna untuk menyelesaikan masalah.
Konflik yang terjadi dalam drama ini ringan. Seperti naskah drama pada umumnya,
dalam dialog terdapat beberapa kalimat yang menyindir atau memberi kritik pada
tokoh masyarakat di dunia nyata. Secara keseluruhan, drama ini sangat bagus dan
menghibur untuk dinikmati.
4. Petang di Taman karya Iwan Simatupang
Naskah drama ini tergolong naskah drama yang sulit untuk ditafsirkan. Iwan
Simatupang sebagai seorang pengarang dari naskah drama ini seolah memberi
kebebasan pada siapa saja yang menikmati karyanya untuk menafsirkan apa yang
dimaksud dari drama ini. Saya sebagai pembaca naskah merasa bahwa lakon demi
lakon dari drama ini adalah cerminan dari segala bentuk kesepian dan
ketidakmengertian manusia. Pertama kali membaca naskah drama ini saya justru
bingung dengan isi dari drama ini. Dengan sedikit keributan di awal cerita yang
sebenarnya tidak perlu untuk diributkan. Perihal cuaca, tokoh Orang Tua dan Lelaki
Setengah Baya berdebat untuk menemukan jawaban apakah saat itu musim kemarau
atau hujan. Sampai pada kedatangan tokoh Pecinta Balon dan Wanita, di mana Pecinta
Balon dituduh sebagai pasangan Wanita yang tidak bertanggung jawab. Cukup sulit
menemukan makna apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis kepada pembaca.
Butuh waktu untuk membaca dengan fokus dan penuh pemahaman. Akan tetapi, hal
itulah yang membuat drama ini menarik perhatian. Setelah saya telusuri akhirnya saya
memaknai bahwa drama ini menyiratkan bentuk prasangka pada diri manusia.
Manusia sering berprasangka buruk dan menuduh dengan sembarangan. Lalu bertikai
dengan sesama manusia dan akhirnya berdamai dengan sendirinya. Itulah yang
dilakukan manusia manusia dalam kesehariannya.
Daftat Pustaka
Afrianti, Winda. 2022. “Resensi Dan Sinopsis Novel Siti Nurbaya Dan Unsur
Intrinsiknya”, https://mustakim.org/sinopsis-novel-siti-nurbaya/. Diakses pada 21
Desember 2022.
Dayanti, Rosi. 2016. “Analisis Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsik Novel Ronggeng
Dukuh Paruk”,
http://dayantisiro.blogspot.com/2016/11/analisis-unsur-intrinsik-dan-unsur.html?m=1.
Diakses pada 21 Desember 2022.
Shindi Alfiani
22201241066
1
ANALISIS PUISI
Daftar Puisi :
1. Tak Sepadan karya Chairil Anwar
2. Sajak Rajawali karya WS Rendra
3. Kerendahan Hati karya Taufik Ismail
4. Petuah karya Kuntowijoyo
5. Yang Fana Adalah Waktu karya Sapardi Djoko Damono
6. Puisi Untuk Adik karya Wiji Thukul
7. Sujud karya Mustofa Basri
8. Menuju Negeri Abadi karya Eka Budianta
9. Surat Dari Ibu karya Asrul Sani
10. Subuh karya Amir Hamzah
Menganalisis puisi :
Tak Sepadan
Karya Chairil Anwar
Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Komentar :
Puisi yang berjudul Tak Sepadan karya Chairil Anwar memiliki tema keputusasaan
dan kesedihan seseorang kepada sang kekasih. Diksi atau pemilihan kata yang ada
didalam puisi ini antara lain, Ahasveros, Eros, dinding buta,kawin, dan tinggal
rangka. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini terdapat pada bait terakhir dan
dibagian akhir kalimat (i-i-a-a). Gaya Bahasa yang digunakan adalah menggunakan
majas hiperbola yang terdapat pada kalimat “Aku terpanggan tinggal rangka”. Dan
untuk pencitraan di puisi karya Chairil Anwar ini adalah pencitraan visual yaitu pada
kata “merangkaki” dan pencitraan perasaan pada kata “berbahagia”. Sedangkan untuk
typografi pada puisi ini yaitu menggunakan huruf besar pada awal kalimat serta
memiliki tiga bait puisi. Untuk kesan saya awalnya saya tidak begitu mengerti tetapi
setelah membaca bait demi bait saya mulai mengerti makna puisi tersebut yaitu
sebuah keikhlasan untuk merelakan seseorang yang dicintai.
Sajak Rajawali
Karya WS Rendra
Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka
Komentar :
Puisi ini memiliki tema kebebasan. Diksi atau pemilihan kata pada puisi ini yaitu
sangkar besi, Rajawali, pacar langit, sukma, keringat matahari, matamorgana dan
membela langit. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini terdapat pada pengulangan
kata pada kata “merjan-merjan”. Untuk gaya Bahasa yang digunakan dalam puisi ini
yaitu menggunakan majas personifikasi pada kalimat “ Rajawali terbang tinngi
memasuki sepi. menatap langit”, “Rajawali disangkar besi. duduk bertapa” dan majas
hiperbola pada kalimat “ yang terjadi dari keringat matahari”. Pencitraan yang ada
dipuisi ini adalah pencitraan visual pada kata “sepi”. Typografi puisi ini adalah
memiliki lima bait puisi dan disetiap awal kalimat pada bait pertama puisi
menggunakan huruf kapital. Kesan yang saya dapatkan dalam puisi ini adalah
menyadarkan saya bahwa manusia memiliki kebebasan dan hak nya masing-masing.
Yang Fana Adalah Waktu
Karya Sapardi Djoko Damono
Yang fana dalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa,
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
Komentar :
Puisi yang berjudul Yang Fana Adalah Waktu karya Sapardi Djoko Damono memiliki
tema waktu. Diksi atau pemilihan kata yang ada didalam puisi ini yaitu pada kata
“fana” dan “abadi”. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini terdapat pada huruf akhir
{i-a-i-a-i-a-i). Gaya Bahasa yang digunaka dalam puisi ini ialah menggunakan majas
metafora. Metafora yang terdapat di puisi ini ditunjukkan dengan membandingkan
waktu dan kita, yang dimana keduanya adalah hal yang tidak berhubungan satu sama
lain. Dan untuk pencitraan di puisi karya Sapardi Djoko Damono ini adalah
pencitraan visual yaitu pada kata “memungut”. Sedangkan untuk typografi pada puisi
ini yaitu menggunakan huruf kapital di kalimat pada baris pertama dan baris kelima.
Untuk kesan saya pada puisi ini adalah puisi ini sangat menarik karena pemilihan kata
yang unik bagi saya dan memiliki makna yang begitu berarti karena mengajarkan kita
untuk selalu menghargai waktu.
Kerendahan Hati
Karya Taufik Ismail
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Komentar :
Puisi yang berjudul Kerendahan Hati karya Taufik Ismail memiliki tema kerendahan
hati seseorang. Diksi atau pemilihan kata yang ada didalam puisi ini antara lain
belukar, tanggul dan setapak. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini terdapat pada
kata “ jalan setapak”.Gaya Bahasa yang digunakan adalah menggunakan gaya bahasa
konotasi atau Bahasa yang tidak menggunakan makna sebenarya. Dan untuk
pencitraan di puisi ini adalah pencitraan visual yaitu pada kata tegak, bukit, tinggi,
besar dan kecil. Sedangkan untuk typografi pada puisi ini yaitu menggunakan huruf
besar pada awal kalimat serta memiliki tiga bait puisi. Untuk kesan saya puisi ini
sangat bagus karena memiliki makna dan arti yang begitu dalam tetang kerendahan
hati.
Petuah
Karya Kuntowijoyo
Langkah tidak untuk dihitung
ia musnah disapu hujan