● Latar Tempat = Lantai Sembilan tempat tinggal Karmain dan jalan Trotoar.
● Latar Waktu = Subuh, siang, sore, senja, dan malam hari saat waktu ibadah.
● Latar Suasana = mengerikan dan menegangkan.
Sudut Pandang
Menggunakan sudut pandang orang ketiga sebagi pengamat.
Amanat
Setiap manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk di dalam hidupnya sehingga jangan
menilai manusia dari salah satu sisi saja.
Nilai nilai yang dapat diambil
1. Nilai Keagamaan
Tokoh Karmain menggambarkan seseorang yang taat beribadah, hal tersebut dapat
menjadi contoh untuk kita untuk selalu taat dan menjalankan kewajiban yang telah
ditetapkan oleh agama masing masing, bahkan tokoh Karmain saat ada yang
menganggunya saat beribadah ia akan mendatanginya dan memminta agar tidak
mengganggunya saat beribadah.
Analisis Cerpen Ah Jakarta
Karya Ahmad Tohari
Cerpen = Ah Jakarta
Penulis = Ahmad Tohari
Tema = Keadaan sosial Jakarta
Tokoh = Aku, Gali (Karib tokoh aku), Istri, dan Polisi
Penokohan
● Aku
Digambarkan memiliki sifat yang baik, selalu menolong , setia terhadap sahabatnya.
● Gali
Digambarkan memiliki sifat yang baik terhadap sahabatnya,namun karena keadaan ia
Ia terpaksa merampok dan menjadi komplotan rampok.
● Istri
Digambarkan memiliki sifat yang baik dan penolong, namun ia sempat takut dan khawair
ketika gali menginap di kediamannya.
● Polisi
Digambarkan tokoh yang hanya formalitas terhadap perkerjaannya saja, selebihnya ia
terkesan cuek dan enggan terhadap tanggung jawabnya sebagai yang melayani masarakat.
Alur = menggunakan alur campuran( alur maju dan alur mundur)
Sudut Pandang = Menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama
Latar
● Latar Tempat = Rumah tokoh aku, pasar, Sungai Serayu.
● Latar Waktu = Malam hari, sore hari, dan subuh.
● Latar Suasana = Menegangkan, ada rasa haru diantara persahabatan mereka.
Amanat
Digamparkan pada cerpen Ah Jakarta bahwa kehidupan di Jakarta terlihat sangat sulit dan
menggambarkan kerasnya Jakarta dalam berbagai hal kehidupan masyarakat khususnya kelas
bawah, secara tidak langsung menggambarkan letimpangan sosial, perselingkuhan, perampokan,
sikap cuek, antipasti, dan tidak pedulian masyarakat Jakarta. Sehingga amanat yang sampaikan
bahwasannya ini adalah sindiran penulis pada pemerintah dan masyarakat Jakarta sendiri tentang
kondisi Jakarta yang terbilang buruk ini.
Nilai nilai yang dapat diambil
1. Nilai kemanusiaan
Nilii kemanusiaan tercermin saat tokoh aku selalu membantu temannya yaitu Gali, pada
saat akhir hayat dari karibnyapun tokoh aku selalu setia berada disamping Gali dan
membantu proses pemakamannya, berbeda dengan tokoh polisi dan masyarakat yang
seolah acuh tak acuh pada mayat dari Gali. Kita sebagai makhluk sosial sudah sepatutnya
membantu satu sama lain, karena kita juga membutuhkan orang lain.
2. Nilai Sosial
Nilai sosial yang tergambar pada cerpen ini adalah ketika Tokoh aku menyediakan tempat
untuk istirahat (Rumah) sebagai upaya pelarian temannya, walaupun pada dasranya
temannya adalah seorang komplotan pencuri yang meresahkan masyarakat. Namun disisi
lain ada rasa persahabata yang membuat tokoh aku mau menong karibnya tersebut.
Analisis Cerpen Seribu Kunang Kunang di Manhattan
Karya Umar Kayam
Cerpen = Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Penulis = Umar Kayam
Tema = Perbedaan kultur barat dan timur
Tokoh = Marno dan Jane
Penokohan
● Marno
Digambarkan sebagai tokoh sabar dan pendengar yang baik, namun disisi lain ia juga
digambarkan sebagai tokoh yang tidak setia pada pasangannya.
● Jane
Digambarkan sebagai tokoh yang cerewet, keras kepala, dan ingin selalu di dengar.
Alur = menggunakan alur campuran (alur maju dan alur mundur)
Sudut Pandang = Menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama
Latar
● Latar Tempa = Rumah Jane, Balkon depan, kamar Jane
● Latar Waktu = Malam Hari
● Latar Suasana = Hening dan sedih
Amanat
Perbedaan kultul antara barat dan timur yang membaur tidak semudah seperti yang dipirkan dan
amanita yang ditampilkan adalah kesetiaan yang harus dimiliki sepasang kekasih walau
perbedaan jarak, waktu, dan benua seharusnya kesetiaan itu tetap ada.
Nilai nilai yang dapat diambil
1. Nilai Kesetiaan
Nilai kesetiaan ditunjukan saat tokoh Jane mengajak tokoh Marno untuk tidur bersama,
namun tokoh Marno menolak. Walaupun Jane dan Marno memiliki hubungan special,
namun demikian dapat dikatakan Marno mulai menyadari tentang hubungannya dengan
Jane yang tidak benar, dan seharunya akhiri hubungan tersebut.
2. Nilai Kasih sayang
Nilai ini digambarkan oleh tokoh Marni yang masih mendengarkan Jane bercerita
walaupun terlihat jelas Marno sudah mulai bosan dengan pembahasannya.
3. Nilai Moral dan Etika.
Nilai moral tergambar pada kedekatan antara Marno dan Jane yang seharunya tida
diperbolehkan dalam satu ruangan tanpa siapapun. Hal ini karena Marno yang yang
bernarnya sudah memiliki Istri. Dalam nilai moral dan etika tidak dapat dibenarkan.
Analisis Cerpen Sungai
Karya Nugroho Notosusanto
Cerpen = Sungai
Penulis = Nugroho Notosusanto
Tema = Pengorbanan
Tokoh = Sersan Kasim, Acep, Aminah, Komandan/Bapak Letnan, Pak Lurah, Anggota.
Penokohan
● Sersan Kasim
Digambarkan sebagai tokoh yang baik dan rela berkorban.
● Aminah
Digamabrkan tokoh yang manja dan tak mau dipisahkan dengan suaminya.
● Komandan/Bapak Letnan
Digambarkan tokoh yang tegas dan perhatian, namun disisi lain ia juga khawatir atas
keselamatan seluruh anggota dengan adanya Acep diantara barisannya.
● Pak Lurah
Digambarkan tokoh yang suka menolong dan baik hati.
Alur = Menggunakan alur Campuran (alur maju dan alur mundur)
Sudut Pandang = Menggunakan sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat
Latar
● Latar Tempat = Sungai, Jawa Barat, Di pinggir desa,dan Yogya
● Latar Waktu = Jam satu malam, sepuluh bulan yang lalu, siang hari, dan subuh.
● Latar Suasana = Menengangkan, menyedihkan, menakutkan.
Amanat
Mengambarkan pengorbanan seorang ayah yang tetap melindungi anaknya dalam kondisi
apapun( dalam cerita pada kondisi sedang menjalankan tugas pekerjaannya) sesulit apapun
keadaanya, seberbahaya keadannya namun tokoh Sersan Kasim tetap melindungi tokoh Cecep
sebagai anaknya. Mengambarkan pula kasing kasih sayang seorang ayah, tanggung jawab serta
amanah terhadap pekerjaannya.
Nilai nilai yang dapat diambil
1. Nilai Kasih Sayang
Nilai kasih sayang tergambar dari Sersan Kasim yang masih tetap mmbawa Acep
anaknya walaupun sedang menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. Kasih sayang
seorang ayah pada anaknya yang sudah di tinggal ibunya sedari kecil, walaupun pada
akhirnya Acep harus kehilangan nyawanya pada saat ayahnya sedang bekerja.
2. Nilai Tanggung Jawab
Nilai Tanggung Jawab terlihat pada tokoh Sersan Kasim yang tetap menjalankan
tugasnya dengan bertanggung jawab tetap menjalankan misi nya sebagai abdi negara
walaupun tetap membawa Acep anaknya.
3. Nilai Sosial
Nilai sosial yang tergambar pada cerpen ini adalah ketika pak lurah menawarkan untuk
Acep dititipkan saja padanya saat sersan Kasim sedang bertugas. Lalu Komandan yang
memberi penawaran agar Acep dititipkan saja karena umurnya yang terlalu kecil untuk
mengikuti tugas negara tersebut. Selanjutnya pada saat pemakaman Acep yang dibantu
oleh semua anggota.
3
ANALISIS NOVEL
Novel : Bekisar Merah
Penulis : Ahmad Tohari
Tokoh
Lasi, Darsa, Eyang Mus, Mbok Mus, Murki, Bunek, Ipah, Mbok Wiryaji, Wiryaji, Pardi,
Sapon,Kanjat, Pak Tir, Bu Koneng, Bu Lanting, Bapak Handarbeni.
Analisis Tokoh
1. Lasi
Digambarkan adalah wanita blasteran Indonesia Jepang. Yang dibesarkan dengan kondisi
ekonomi cukup bahkan kekurangan, dengan pendidikan yang hanya tamatan sekolah
dasar.Ia digambarkan wanita yang sabar dan kuat pada saat merawat suaminya yang
sedang sakit.Lugu digambarkan pada saat ia tinggal bersama ibu lanting .
2. Darsa
Merupakan suami Lasi yang berkerja sebagai penderas Nira kelapa yang nantinya akan
menjadi gula jawa. Ia digambarkan lelaki pekerja keras, namun pada akhirnya ia harus
menikahi Ipah yang merupakan anak Bunek ,yang akhirnya memulai konflik pada novel
ini.
3. Mbok Wiryaji
Merupakan ibu lasi digambarkan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya lasi.
4. Bunek
Merupakan dukun atau perawat Darsa yang merawat dalam penyembuhan Darsa.
Digambarkan sosok yang sangat terus terang dan blak blakan dalam menyampaikan
sesuatu, hingga akhirnya ia menyuruh Iapah untuk menggoda Darsa yang akhirnya
memunculkan konflik pada Novel ini.
5. Pardi dan Sapon
Merupakan supir pengantar gula jawa milik Pak Tir, dua tokoh ini digambarkan sangat
perhatian dengan Lasi dan banyak membantu lasi. Mereka juga yang membawa lasi ke
Jakarta.
6. Eyang Mus dan Mbok Mus
Adalah salah satu tetua di desa Karangsoka yang merupakan panutan. Orang orang desa
biasa meminta saran dan wejenang kepada kedua tetua di desa Karangsoka. Termauk lasi
dan mbok wieyaji yang sedang tertimpa masalah yaitu ketika darsa jatuh dari pohon
kelapa pada saatmengambil nira.
7. Kanjat
Merupakan teman sepermainan yang umurnya lebih kecil dari lasi. Dia adalah satu
satunya teman lasi yang tidak pernah mengolok olok lasi. Ia adalah anak laki laki Pak Tir
yang nantinya Lasi digambarkan menaruh hati pada kanjat begitupun sebaliknya, namun
tidak sempat tersampaikan.
8. Ibu Koneng
Perempuan pemilik warung sekaligus mucikari untuk perempuan perempuan yang tinggal
di warungnya. Ia juga menampung lasi dengan maksud nantinya lasi akan diserahkan
pada tokoh bu lanting. Digambarkan ia sosok yang baik namun ada maksud tertentu di
nbalik kebaikannya.
9. Ibu Lanting
Perempuan kaya raya yang menjadi mucikari untuk para pejabat pejabat, hingga akhirnya
ia menampung lasi yang nantinya akan diserahkan pada Bapak Handarbeni. Digambarkan
sosok yang baik namun di balik kebaikannya ia bermaksud ingin menyerahkan Lasi
sebagai wanita simpanan.
10. Bapak Handarbeni
Laki laki berumur 60 tahunan yang sudah memiliki 2 istri dan tertarik dengan Lasi yang
ingin ia jadikan sebagai wanita simpanannya. Digambarkan sosok yang baik pada lasi
dan selalu memanjakan lasi.
Tema : Bertema Sosial dan Percintaan
Alur : menggunakan alut campuran (alur maju dan mundur)
Latar
1. Latar Tempat : Desa Karangsoka,rumah Lasi dan darsa, rumah mbok wiryaji, rumah
eyang mus, sawah ,rumah Bunek,rumah sakit(puskesmas), Jakarta,rumah makan ibu
koneng, rumah ibu Lanting, dan rumah Bapak Handarbeni
2. Latar Waktu : Pagi,Siang, Sore, Malam, Subuh
3. Latar Suasana : kalut, marah, menyesal, takut, cinta,nafsu,kerakusan.kebencian
Sudut Pandang :Orang ke tiga serba tahu.
Sinopsis
Menceritakan kehidupan masyarakat Karangsoka yang kesehariannya berkerja sebagai penderas
nira kelapa yang nantinya akan dijadikan gula merah, dan di gambarkan kehidupan
perekonomian masyarakat terbilang sangat rendah. Di ceritakan ada suami istri bernama Darsa
dan Lasiah yang harus menanggung kesulitan hidup yang berat, Darsa yang seorang penderas
nira dan Lasiah seorang perempuan cantik keturunan jepang dan indonesia. Digambarkan
ketimpangan perekonomian yang jelas di Karangsoka.
Pada awal cerita digambarkan tokoh Darsa yang terkena musibah karena terjatuh dari pohon
kelapa saat ia sedang mendaras nira kelapa. Pada keaadan ekomomi sulit, lasiah selaku istri tetap
setia merawat dan mencari nafkah untuk tetap menyambung hidup, namun sial untuk lasiah
setelah Darsa pulih kembalia ia harus menerima keadaan bahwa suaminya itu harus menikahi
anak dari bunek karena perbuatannya.Merasa dihkianati oleh suaminya yaitu darsa akhirnya ia
merantau ke Jakarta ditemani Pardi dan Sapon, dijakarta Lasih bertemu dengan tokoh Ibu
koneng, yang nantinya akan memperkenalkan Lasih oleh tokoh bernama Ibu Lanting, Ibu Lnting
yang selalu bersikap baik dan memperlakukan Lasih seperti halnya anaknya sendiri membuat
lasih nyaman, namun dibalik sikap baik Ibu Lating ternyata ada maksud lain. Ternyata Ibu
Lanting ingin “menjual” Lasih pada pejabat kaya raya bernama Bapak Handarbeni yang
membawa lasi pada sebuah pernikahan baru dengan Bapak Handarbeni
Tanggapan
Setelah saya membaca novel ini, saya menyadari akan beberapa masalah sosial diindonesia
seperti ketimpangan sosial dari bidang ekonomi dan pendidikan. Novel ini menggambarkan
kehidupan masyarakat desa Karangsoka yang mayoritas pekerjaan mereka adalah penderas nira
kelapa yang akan dibuat sebagai gula merah, mereka para penderes kelapa harus berjuang setiap
hari mengambil nira kelapa dengan pempertarukan nyawa, namun yang hanya mendapat upah
yang kecil bahkan tidak sebanding. Dalam bidang pendidikan sendiri masyarakat karangsoka
dilihat masih sangat kurang, dibuktikan dengan hanya Kanjat yang dapat menyelesaikan
pendidikannya samapai bangku perkuliahan.Novel ini kaya akan masalah sosial seperti
prostitusi, pendidikan yang kurang merata, kesenjangan ekonomi, dan kemiskinan.
Namun disisi lain ada norma kesusilaan yang dapat disoroti pada saat Darsa yang jatuh dari
pohon kelapa dan mengalami sakit yang dapat dikatakan parah, masyarakat Karangsoka bersama
sama membantu dan bergotong royong membantu Lasi membantu kesembuhan Darsa.
Novel : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penilis : Haji Abdul Malik Karim Amrullah(HAMKA)
Tema : Cinta Sejati
Alur : Menggubakan alur Maju
Tokoh :
Zainudin, Hayati, Aziz, khadijah, Pendekar Sutan, Daeng Habibah, Mak Base (Orang Tua
Angkat Zainudin), Muluk (Sahabat Zainudin), Daeng Masiga, Mak Tengah Limah (Mamak dari
Hayati).
Analisis Tokoh :
1. Zainudin digambarkan adalah pemuda yang baik budinya, alim , peduli dengan sesame,
taat beribadah, sabar, penyayang, sederhana, dan memiliki cita cita yang tinggi , cerdas,
menghargai orang lain, dan sangat menghargai orang tua.
2. Hayati (Protagonis)
Hayati digambarkan sosok wanita yang lembut, baik, pendiam, penurut sampai tak dapat
melawan atau menolak, dan memilik sifat yang setia, sabar, dan menghormati orang
tuanya.
3. Aziz (Antagonis)
Aziz digambarkan sebagai lelaki yang kasar, boros, kasar, tidak setia, tidak ada tujuan
hidup, tidak beriman, putus asa, dan menelantarkan istrinya.
4. Khadijah
Perempuan yang berpendidikan, keras, suka mempengaruhi orang lain, kaya raya, baik
kepada teman, orang kota, memiliki keinginan yang kuat.
5. Mak Base (Ibu angkat Zainudin)
Digambarkan sebagai tokoh yab baik hati, lembut, dan penyayang.Mak Base sudah
menganggap Zainudin sebagai anaknya sendiri dan merawatnya setulus hati.
6. Muluk (Sahabat Zainudin)
Muluk digambarkan tokoh sahabat yang setia menemani Zainudin dalam merintis
kariernya, dalam keadaan susah maupun senang.
7. Mak Limah (Mamak Hayati)
Mak Limah digambarkansebagai tokoh yang keras kepala pada pendiriannya, Mak limah
selalu merujuk pada adat istiadat di Batipuh, Minangkabau.
Sudut Pandang : Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu
Latar :
1. Latar Tempat :
a. Mengkasar (Tempat lahir zainudin)
b. Dusun Batipuh (Tempat lahirnya Hayati dan tempat bertemunya Zainudin dan Hayati)
c. Batavia (Tempat Muluk dan Zainudin pertama kali pindah ke jawa)
d. Surabaya ( Tempat zainudin dan Muluk bekerja )
2. Latar Waktu :
a. Pagi
b. Siang
c. Sore
d. Malam
e. Petang
f. Senja
g. Subuh
3. Latar Suasana:
a. Bahagia (ketika Zainudin dan Hayati saling mengungkapkan perasaan)
b. Sedih (ketika Zainudin tau bahwa hayati sudah dinikahi oleh Aziz)
c. Kecewa dan marah (ketika Aziz mulai bangkrut karena judi dan melakukan KDRT
pada Hayati)
d. Menegangkan (ketika Zainudin akhirnya meminta Hayati untuk kembali ke Batipuh,
Minangkabau)
e. Kehilangan (Ketika Zainudin menemani Hayati diakhir hidupnya)
Gaya Bahasa:
Novel ini menggunakan gaya bahasa melayu yang di padukan dengan bahasa minaukabau.
Sinopsis :
Pendekar Sutan yang membunuh Mamaknya (saudara laki-laki ibunya) karena masalah warisan,
sehingga ia harus dihukum dengan diasingkan ke luar dari Batipuh, Minangkabau dan dipenjara
di Cilacap selama 12 tahun. Usai menjalani hukuman tersebut, Sutan pun pergi merantau ke
Makassar dan berjumpa dengan wanita bernama Daeng Habibah. Ia lalu menikahinya. Mereka
memiliki seorang putra yang dinamai Zainuddin. Namun tak lama setelah melahirkan, Daeng
Habibah meninggal karena penyakit. Tak lama Sutan pun menyusul setelah istrinya meninggal.
Zainuddin yang hidup sebatang kara lalu diasuh oleh Mak Base. Setelah dewasa, Zainuddin
memutuskan pergi ke tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Minangkabau. Akan tetapi, bukannya
disambut dengan baik oleh sanak keluarga sang ayah, Zainuddin malah diacuhkan. Itu karena ia
memiliki darah ibu dari luar suku Minangkabau, walau ayahnya berasal dari sana. Ia dianggap
sudah terputus darah dengan keluarganya di Batipuh, sebab daerah Minangkabau menganggap
wanita lah yang menjadi kepala keluarga (matrilineal) dan menjadi penyambung keturunan.
Di tempat yang baru itu, Zainuddin memiliki seorang teman bernama Hayati, wanita asal Minang
yang kerap jadi tempatnya berkeluh kesah melalui surat. Keduanya kemudian lama kelamaan
saling suka, karena Hayati merasa kasihan pada Zainuddin yang terlunta-lunta. Namun, mamak
Hayati menyuruh Zainuddin pergi keluar dari Batipuh karena tak suka dengan hubungan mereka.
Zainuddin pun pergi ke Padang Panjang, meninggalkan Hayati yang berjanji untuk setia. Mamak
Hayati kemudian menjodohkan wanita itu dengan Aziz, pria Minang yang berasal dari keluarga
terpandang serta kaya. Hayati mau tidak mau menerima pinangan Azi dan menikah dengannya.
Zainuddin yang mengetahui bahwa kekasihnya Hayati sudah menikah dengan pria lain,
kemudian memutuskan pindah ke Batavia bersama dengan temannya yang bernama Muluk. Ia
mulai menjadi penulis yang karya-karyanya disukai banyak orang. Setelahnya, ia kembali hijrah
ke Surabaya, dan tinggal di sana dengan pekerjaan yang mapan.
Tak disangka, Aziz pun pindah ke Surabaya bersama Hayati, istrinya. Namun karena sering
bertengkar, rumah tangga Aziz dan Hayati terpaksa berpisah. Aziz yang dipecat dari
pekerjaannya tak bisa lagi sombong dan terpaksa menumpang di rumah Zainuddin. Ia dan Hayati
tinggal sementara di rumah mantan kekasih Hayati itu, yang kini sudah menjadi penulis terkenal.
Karena frustasi, Aziz memutuskan bunuh diri dan menuliskan surat wasiat untuk Zainuddin. Ia
meminta Zainuddin menjaga Hayati. Zainuddin menolak menerima Hayati kembali, karena sakit
hati wanita itu sudah mengkhianati dirinya. Ia malah membelikan untuk Hayati sebuah tiket
kapal Van Der Wijck yang berlayar dari Jawa ke Sumatera. Dengan sedih karena suaminya
meninggal dan Zainuddin menolaknya, Hayati pun pulang ke Minang. Di perjalanan, kapal Van
Der Wijck tenggelam namun sebagian penumpangnya berhasil diselamatkan di rumah sakit
wilayah Tuban. Zainuddin yang mendengar kabar tersebut segera berangkat ke Tuban untuk
mencari Hayati.
Di rumah sakit, ia menemukan Hayati sedang sekarat dan kemudian meninggal dunia. Muluk,
teman Zainuddin mengatakan bahwa Hayati sebenarnya masih mencintai Zainuddin. Mendengar
hal itu, Zainuddin menyesali dirinya. Setelah memakamkan Hayati, Zainuddin dilanda kesedihan
panjang dan jatuh sakit pula. Kondisi tubuhnya menjadi lemah, dan tak lama kemudian
Zainuddin meninggal. Zainuddin dan Hayati dimakamkan berdampingan di tanah Jawa.
Tanggapan :
Setelah membaca novel ini saya melihat ada budaya atau adat istiadat yang beragam. Dalam
Novel ini terlihat dari Zainudin yang tidak di terima lamarannya karena bukan berasal dari darah
Minangkabau asli. Selanjutnya ada terlihat jelas ketimpangan sosial antara Aziz dan Zainudin,
selain itu terdapat gambaran sebuah cinta sejadi yang di gambarkan dari sosok Zainudin yang
selalu mencintai Hayati meskipun tidak memilikinya, gambaran ini terus digambarkan sosok
Zainnudin yang selalu menolong Hayati danAziz sekalipun disaat sedang kesulitan.
Novel : Salah Asuhan
Penulis : Abdoel Moeis
Tema : Perbedaan Adat Istidiadat
Alur : Menggunakan alur maju
Tokoh :
Hanafi, Corrie, Rapiah, Ibu Hanafi, Tuan Du Busse, Si Buyung, Syafei
Penokohan :
1. Hanafi
Hanafi merupakan pribumi dijagambarkan memiliki watak yang kasar dan Keras Kepala.
2. Corrie
Corrie adalah keturunan indo-prancis digambarkan memiliki watak yang baik dan mudah
bergaul.
3. Rapiah
Rapiah adalah mantan istri dari Hanafi digambarkan memilik watak yang sabar, sopan,
baik hati, dan taat pada adat istiadat .
4. Ibu Hanfi
Memiliki watak yang sabar, baik hati, dan sopan.
5. Tuan Du Busse
Digambarkan sebagai tokoh yang tegas.
6. Si Buyung
Memiliki watak yang polos dan penurut.
7. Syafei
Digambarkan Memilik watak yang berani.
Sudut Pandang:
Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Latar :
Latar Tempat:
1. Lapangan Tenis
2. Minangkabau
3. Betawi
4. Semarang
5. Surabaya
Latar Waktu :
1. Pagi
2. Siang
3. Sore
4. Malam
Latar Suasana
1. Menyedihkan
2. Ketakutan
3. Rasa bersalah
4. Penyesalan
5. Pada zaman penjajahan Belanda
Sinopsis :
Bercerita tentang putra minangkabau yaitu Hanfi yang menjalani pendidikan pada lingkungan
yang menganut budaya barat. Karena lingkunganya tersebut membuat ia tidak bisa membaur
dengan bangsanya sendir, ia juga tidak diterima oleh bangsa barat, Hanafi dianggap salah asuhan
karena bersikap dan pola pikirnya kebarat baratan. Hanafi dinakahkan oleh Rapiah, namun
karena sikapnya ia bercerai dan menjalin kasih dengan Corrie yang merupakan blasteran
indo-prancis,namun ternyata kehidupan pernikahan Hanafi dan Corrie pun tak seindah yang
dibayangkan, akhirnya corrie meninggalkan Hanafi dan hanafi menyesal. Sebab dari
perceraiannya adalah Corrie yang diduga oleh Hanafi telah selingkuh di belakangnya, hingga
akhirnya Corrie pun meninggal karena penyakit korela.
Tanggapan
Dalam Novel Salah Asuhan ini, banyak menceritakan tentang kedurhakaan seorang anaka pada
ibunya. Pada zaman sekarang juga banyak anak yang durhaka pada ibunya, menentang ibunya,
dan tak mau menghormati ibunya. Dalam novel ini juga dijelaskan bahwa adanya orang yang
melupakan adat istiadatnya, yang mana saat ini juga banyak anak anak dan remaja mulai
melupakan adat istiadat m
Novel : Layar Berkembang
Penulis: Sutan Takdir Alisjahbana
Tema : Bertema sebuah perjuangan sesosok wanita
Tokoh : Tuti, Maria, Yusuf, Supono, Wiriatmaja, Partadiharja, Saleh, Rarna, Rukamah
Penokohan :
1. Tuti
Tuti digambarkan seorang wanita yang memmiliki pemikiran bahwa laki laki dan
perempuan memiliki derajat yang setara, ia juga wanita yang memiliki pemikiran yang
modern terhadap perempuan.
2. Maria
Maria merupakan adik dari Tuti, maria digambarkan tokoh yang selalu mendukung
kakanya dan memiliki pembawaan yang ceria.
3. Yusuf
Yusuf merupakan seorang mahasiswa kedokteran yang di gambarkan seorang yang
memiliki hati baik dan terpelajar .
4. Supono
Supono digambarkan sebagai pemuda yang baik hati dan terpelajar.
5. Wiriatmaja.
Wiriatmaja merupakan ayah dari Tutu dan Maria, digambarkan sebagai tokoh yang baik
hati, penyayang , dan agamis.
6. Partadiharja
Partadiharja merupakan adik ipar dari Wiriatmaja, dan digambarkan sebagai tokoh yang
baik hati, berprinsip, agamis, dan penyanyang.
7. Saleh
Saleh merupakan pemuda yang terpelajar. Ia begitu peduli dengan lingkungan alam dan
sangat mencintai alam, ia mengabdikan diri pada alam dengan menjadi petani, ia
merupakan adik dari Partadiharja.
8. Ratna
Ratna merupakan istri dari Saleh, ia digambarkan sebagai wanita penyayang dan baik
hati, selain itu ia juga seorang yang pintar dan berpikiran modern. Ratna merupakan Istri
Soleh.
9. Rukamah
Rukamah merupakan sepupu dari Tuti dan Maria, ia digambarkan sebagai tokoh yang
ceria dan humoris.
Sudut Pandang : Menggunakan sudut pandang orang ketiga
Gaya Bahasa :
pada novel Layar Bekambang banyak menggunakan gaya bahasa personifikasi dan sangat kental
dengan bahasa melayu.
Latar :
1. Latar Tempat :
-Kediaman Wiriatmaja
-Hotel Des Indes
-Rumah sakit di kota Pacet
-Kota Martaputa Provinsi Kalimantan Selatan
-Kediaman Partadiharjo
-Gedung permufakatan
-Gedung Akuarium di Pasar Ikan
2. Latar Waktu :
-Pagi hari
-Malam Hari
-Sore hari
3. Latar Suasana :
-Keramaian
-Jatuh cinta
-kalut
-Hitmah
-Kemarahan
-Haru
-Ketenangan
Sinopsis :
Berlisah tentang kedua sodara kakak beradik perempuan yaitu Tuti dan Maria, mereka
merupakan anak dari mantan Bupati Banten yang bernama Raden Wiriatmadja. Ibu mereka
sudah lama meninggal. Merkipun Tuti dan Maria saudara namun keduanya memiliki watak yang
berbeda. Tuti seorang yang pendiam, berprinsip, tegar, dan sangat aktif dalam berbagai
organisasi perempuan. Sedangkan Maria adalah seorang gadis periang, mudah akab, dan mudah
mengagumi seseorang.
Suatu hari ketika Tuti dan Maria mengunjungi pasar ikan. Di tempat tersebut mereka
bertemu dengan seorang pemuda bernama Yusuf, yang memiliki perawakan yang tinggi dan
gagah, ia juga merupakan Mahasiswa kedokteran yang terpelajar. Mereka bebinang ringan dan
melanjutkan aktivitas masing masing. Namun ternyata diantara Maria dan Yusuf muncul
ketertarikan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka melanjutkan hubunganya dan bertunangan.
Namun konflik terjadi pada hubungan mereka. Tuti sebagai kakak mengkritiki maria agar
mencintai dengan sewajarnya dan tidak berlebihan pada Yusuf dan Maria direndahkan sebagai
perempuan. Hingga akhirnya Maria divonis mengalai penyakit malaria dan TBC akut yang
membuat kondisinya semakin melemah hingga akhirnya Maria meninggal.
Setelah kepergian Maria, Tuti sebagai kakak mendapat wasiat dari Maria agar Yusuf dan
Tuti menikah. Akhirnya Tuti dan Yusuf menikah untuk melaksanakan permintaan Maria.
Tanggapan :
Wanita memiliki Peranan yang berbeda dari laki laki namun memiliki strata yang sama. Oleh
karena itu digamparkan pada novel ini adalah tokoh Tuti yang memiliki pengetahuan luas dan
berwawasan luas. Hal tesebut agar wanita tetap dihargai,bermartabat, dan lebih berdaya guna.
Perempuan tidak seharunya terus menunduk dan tidak dapat berperan dalam berbagai hal.
Perempuan dapat menyumbangkan pemikiranya sama halnya yang dilakukan laki-laki.
Novel : Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Tema : Sosial ( Seorang Anak bangsa yang mulai mengenal bangsanya, mulai prihatin dan
sadar aka situasi yang diderita oleh bangsanya)
Tokoh :
1. Mingke
2. Nyai Ontorsoh
3. Darsam
4. Surati
5. Robert Mellema
6. Jean Marrais
7. Maysaroh
8. Djumilah
9. Kommer
10. Khoe Ah Soe
Penokohan :
1. Mingke
Mingke digambarkan tokoh yang
-Pencemburu (mengetahui bahwa Robert Suurhof yang merupakan temannya
dahulu sering mengirim surat pada istrinya Annelies)
-Pemarah( Mingke yang kesal karena ia mendengar ucapan dari teman temannya
agar tidak perlu memikirkan surat yang datang dari Robert Suurhof)
-Teguh pada pendirian
-Mudah tersentuh
-Mudah berpuas diri
2. Nyai Antosoroh
-Kritis
-Teguh pendirian
3. Darsam
-Curiga
-Pemarah
4. Surati
-Mudah Putus Asa
-Tidak Gentar
5. Robert Malema
-Penakut
-Penyesal
6. Jean Marrais
-Bijaksana
7. Maysaroh
-Manja
-Periang
8. Djumilah
-Teguh Pendirian
9. Kommer
-Menghargai
10. Khow Ah Soe
- Rendah Hati
Sudut Pandang :
Pada pengisahannya sudut pandang orang ketiga, namun dalam tulisannya menggunakan sudut
pandang orang pertama “aku”.
Latar :
1. Latar Tempat : Berlatar tempat di Wonokromo, Di Atas Kapal, Nederland, Sidoarjo,
Wonokromo.
2. Latar Waktu : Pagi, Siang, Sore, Malam
3. Latar Suasana : Panas, Cemas
Sinopsis :
Novel Anak Semua Bangsa adalah novel lanjutan dari novel sebelumnya yaitu Bumi
Manusia. Novel yang berisi penderitaan rakyat jawa di bawah pemerintahan Belanda yang licik
dan haus akan kekuasaan .
Ceita dimulai pada saat minke kehilangan istrinya, Annelies Mellema, pada bagian awal
Panji Darma atau Robert Jan Dapperste lah yang menemani Annelies samapai ajalnya di
Belanda. Minke dan Nyai Ontosoroh selalu dikirimi surat oleh Panji Darma, selama masa ini
mereka berdua saling menguatkan atas kehilangannya Annelies Mellema, hingga akhirnya kabar
meninggalnya Annelies Mellema datang.
Pandangan mingke pada dunia dang bangsa bangsa di dalamnya di pengaruhi oleh teman
temannya karena ia sendiri adalah lulusan HBS. Setelah kematian Annelies mingke sering
bertukar pikiran dengan bertukar surat dengan keluerga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert).
Salah satu sahabatnya yaitu Jean Marais , adalah seniman berkebangsaan Prancis, suatu ketika ia
meminta Mingke untuk menulis dalam bahasa melayu, dengan tujuan agar bangsanya
sendiri(Indonesia) dapat memaca karyanya Mingke. Namun demikian Mingke merasa
tersinggung, ia merasa rendah jika harus menulis dengan bahasa melayu. Karena percakapan ini
hubungan keduanya menjadi renggang. Namun demikian dengan bantuan Maysaroh, yang
merupakan anak dari Jean , mingke akhirnya mau berbaikan dengan Jean
Selanjutnya mingke diminta oleh Maarten Niijiman, atasannya di A.N v/d D., untuk
mewawancarai Khoul Ah Soe , yang meupakan seorang aktivis dari Cina yang berusaha
meembangun bangsanya dari mimpi mimpi mereka. Namun pada saat itu kedudukan jepang
sudah mulai terlihat. Setelah hasil wawancaranya selesai. Lalu diterbitkan, namun harian itu
terbit dengan isi yang menyatakan tuduhan pada Khouw Ah Soe yang menyatakan dirinya
seorang pelarian. Kejadian ini membuat Mingke yang sebelumnya sangat mengagung agungkan
Eropa mulai bertolak.
Dengan kejadian ini pula Kommer yang merupakan teman dari Jean ikut mendukung
pernyataan Jean, bahwa Mingke Tidak mengenal bangsanya sendiri. Kommer yang selama ini
menerjemahkan karya karya Mingke ke dalam bahasa melayu. Mingke yang tidak terima dengan
hal itu memutuskan untuk pergi.
Mingke pergi ke Tulangan, Sidoarjo, saudara mama, dan kampong halaman mama. Disini
Mingke banyak mendapati kenyataan bangsanya dan terbuka atas semuanya.Kepercayaan
Mingke pada Belanda mulai pudar ia mulai terbuka untuk mengenal bangsanya. Hingga akhirnya
menginaplah ia di rumah satu petani benama Trunodongso yang tinggal bersama istri dan empat
anaknya. Trunodongso bercerita tentang kepahitannya menjadi seorang petani yang diperbudak
oleh Belanda dan tak dapat berbuat apa apa.
Mingke berjanji akan membantu Trunodongsi dengan jalan menulis kisah penderitannya,
namun hal ini di tentang oleh Niijman, mingke yang putus asa memutuskan melanjutkan
studinya di betawi untuk menjadi dokter. Dalam perjalannya ia bertemu dengan Ter Haar yang
menjeramahi tentang cara kerja penjajahan Belanda di Hindia. Mingke hampir berkunjung ke
kantor Koran lokaldi semarang untuk menulis lagi, namun hal itu di cegat polisi dan mingke
dikembalikan ke Wonokromo, rumah mama. Saat mingke pulang, mama harus berhadapan
dengan anak resmi tuan Mellema, Ir Maurits Mellema, yang menuntuk hak waris Annelies.
Tanggapan :
Dengan membaca novel Anak Semua Bangsa, sang penulis Pramudya Ananta Toer mengangkat
topik tentang perjalanan Mingke dan tokoh tokoh lain yang berupaya mengenal bangsanya
sendiri, untuk menemukan cara agar bisa terbebasa dari penjajahan.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
Analisis Drama Bila Malam Bertambah Malam
A. Analisis Unsur Intrinsik
Judul Drama : Bila Malam Bertambah Malam
Penulis: I Gusti Ngurah Putu Wijaya
Tokoh : Gusti Biang, Wayan, Nyoman, Ngurah
Tema : Budaya Kasta
Penokohan :
1. Gusti Biang
Gusti Biang digambarkan memiliki watak yang Cerewet, pelit, pemarah, perhitungan, dan
sombong. Ia juga menganggap rendah kasta yang berada dibawahnya, dan tidak pernah
bersyukur dengan apa yang telah didapatkannya.
2. Wayan
Wayan digambarkan seorang lelaki yang setia pada wanita yang ia sayangi. Selain setia ia
juga digambarkan memiliki pembawaan yang santai dan tidak mudah terselut emosi, dan
selalu menjaga kekasihnya yaitu Gusti Biang
3. Nyoman
Merupakan anak dari Gusti Biang, seorang anak yang jujur, dan tidak mau memikirkan
kasta , tidak somobong, dan setia, selain itu ia juga selalu menghargai seseorang
walaupun terdapat perbedaan kasta yang cukup jauh.
4. Ngurah
Merupakan wanita yang dirawat oleh Gusti Biang, digambarkan wanita yang sopan dang
tabah. Selain itu ia juga wanita yang sabar dalam keadaan apapun.
Latar:
1. Latar Tempat
-Rumah Gusti Biang
-Didepan Rumah Gusti Biang
-Di kamar Gusti Biang
2. Latar Waktu
-Pada Malam hari
3. Latar Suasana
-Tegang
-Penuh perdebatan
Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan pada naskah drama ini yaitu kental dengan logat dan bahasa bali.
Amanat
Drama ini meperlihatkan suatu budaya khususnya di bali yaitu sistem kasta, yang sampai saat ini
masih di pergunakan. Dalam cerita ini dijabarkan bahwa cinta itu jatuh untuk siapa saja dan tidak
memandang jenjang kasta yang melekat sejak kecil. Pesan yang sersirat adalah jangan
memandang kasta ataupun status sosial untuk jatuh cinta. Selain itu digambarkan seorang kasta
tinggi tidak seharunya menyombongkan atau bertindak seenaknya namun haruslah membantu
dan memberi teladan yang baik pada kasta yang lainnya. Karena kita sebagai manusia tentulah
membutuhkan manusia lain untuk membantu kehidupan kita, oleh karena itu kita seharusnya
bersikap sebaik baiknya.
B. Analisis Unsur Ekstrinsik
I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang biasa dikenal dengan putu wijaya adalah seorang
satrawan asal Bali yang lahir di Tabanan, Bali, pada 11 April 1944.selain itu ia juga merupakan
penulis skaenario film ataupun sisnetron, tercatat kurang lebih sudah 30 novel, 40 naskah drama,
dan ribuan cerpen yangtelah ia tulis, belum lagi ratusan esai, artikel lepas dan kritik drama.
Cerita pendeknya seringkali ia publikasiakan lewat harian Kompas dan Sinar Harapan.
Perannya di dunia Drama pun sudah tidak dapat diragukan lagi, ia memimpin kelompok teater
mandiri sejak 1971. Bersama timnya ia berhasil menyukseskan pementasanya sampai Amerika
Serikat.
Teks ini dilatar belakangi dari latar belakang penulis yang merupakan orang bali. Kasta di
bali terbagi menjadi empat yaitu Brahmana yang pada status sosial palin tinggi, ksatria, waisya,
sampai sudra sistem kasta paling rendah. Budaya di bali juga memberikan nama awalan pada
setiap kasta. Seperti kasta brahmana dengan nama ‘ida bagus’ untuk laki laki dan ‘ida ayu’ atau
‘dayu’ untuk perempuan. Pada ksatria menggunakan ‘anak agung’ atau ‘agung’ ,’dewa’,untuk
laki laki dan untuk perempuan menggunakan ‘dewa ayu’, ‘dewa’. Selanjutnya untuk kasta
waisha ‘gusti’untuk perempuan dan ‘dewa’ untuk laki laki.yang terakhir adalah kasta sudra yaitu
‘putu,wayan.iluh,ngurah,made,kadek, nengah’.
Oleh karena itu Putu Wijaya yang masuk dalam kasta sudra secara tidak langsung
memaparkan bagaimana kasta sudra diperlakukan pada sistem kasta di bali.selain itu ia
memperlihatkan beberapa kebudayaan di bali seperti harus menikah dengan sstem kasta dan
tradisi lisan dan bahasa. dalam tokoh Gusti Biang yang digambarkan selalu membanggakan
kasta kebangsawanannya juga digambarkan semana menannya terhadap kasta yang dibawahnya
padahal sebagai seharusnya menjadi suri teladan bagi kasta di bawahnya.
Teks drama Bila Malam Bertambah Malam menceritakan realitas sosial kehidupan
masyarakat Bali, yang menganut sistem kasta. Diceritakan melalui dialok antar empat tokoh
yang menggambarkan karakter dari tokoh masing masing.
Nilai Sosial
Nilai Sosial yang dapat diambil dari novel ini adalah bahwa manusia adalah makhluk
sosial yang membutuhkan manusia lain untuk hidupnya. Oleh karena itu kita sebagai makluk
sosial yang hidup berdampingan dengan manusia lain haruslah saling menolong, saling
menghormati, saling toleransi dan tidak memandang apapun untuk terus bersosialisasi. Pada saat
susahlah kita akan di bantu oleh orang lain begitu juga kita juga harus menolong orang lain saat
orang lain kesusahan.Tetaplah perlakukan sama semua orang tanpa memandang status sosial
yang di sandang, karena kita tahu tanpa mereka kita tidak bisa seperti sekareng. Sama halnya
Gusti Biang tidak akan menjadi kasta Barhamana jika tidak ada kasta ksatria, Waisha, dan Shiwa.
Nilai Budaya
Nilai budaya adalah kita haruslah tetap menjaga budaya tetap ada, digambarkan pada
cerita yaitu budaya sistem kasta. Sampai saat ini pun sistem kasta masih ada walaupun dalam
perembangannya penikahan antar kasta yang berbeda sudah mulai terjadi.
Nilai Kesusilaan
Nilai kesusilaan yang dapat diambil adalah sikap sopan santun pada orang tua, ketika
Nyoman tetap menghormati ibunya walau berbeda pendapat, ia mencoba memahami kondisi
sang ibu yaitu Gusti Biang yang sudah tua dan menjelaskan apa yang menjadi keinginannya.
Sopan dan santu adalah kekhasan dari orang indonesia, hal ini juga masuk dalam budaya dan
adat istiadat dari masyarakat indonesia. Jadi tetap hormati orang tua apapun yang terjadi.
Nilai Kesetiaan
Nilai kesetiaan digambarkan oleh tokoh Wayan yang ternyata merupakan cinta pertama
dari Gusti Biang, mereka harus berpisah karena perbedaan kasta yang melekat pada diri masing
masing. Kesetiaan tersebut terlihat hingga Wayan akhirnya menjadi pembantu di rumah Gusti
Biang dan suaminya, hal ini ia lakukan karena ingin tetap bersama Gusti Biang dantak ingin jauh
dengan kekasihnya itu, ia harus memastikan kekasihnya itu dalam keadaan baik baik saja.
Nilai Kejujuran
Drama ini secara tidak langsung menyampaikan bahwa sehebat hebatnya kebohongan di tutupi
lama kelamaan kebenaran tetap akan muncul. Hal ini digambarkan dengan Gusti Biang yang
menutupi bahwa Nyoman yang merupakan anaknya dengan wayan namun disembunyikannya
dan Nyoman dianggap adalah anak dari seorang tokoh Brahmana yang merupakan pahlawan
masyarakat. Namun demikian akhirnya terbongkar juga dengan pengakuan tang dikeluarkan oleh
Wayan.
Naskah Drama Bebasari
A. Unsur Intrinsik
Penulis: Roestam Effendi
Tokoh :
Bujangga, Bebasari, Raja Takuran, Rawana, Sabainaratju, Alzamanur, Lidasmu, Dahsyatia,
Lela, Armasegara, Esaputra.
Tema : Drama ini bertemakan tentang kebebasan setiap umat manusia
Penokohan
1. Bujangga : pemeberani dan setia
2. Bebasari : Sabar dan Setia
3. Raja Takutar : Penasihat yang baik
4. Rawana : Jahat dan kejam
5. Sabainaratju : Baik hati
6. Alzamanur : Jahat, kejam , membantu Rawana
7. Lidasmu : Jahat dan Kejam merupkan anak buah dari Rawana
8. Dahsyatia : Jahat dan kejam
9. Lela : Jahat dan kejam
10. Armasegara : Kejam
11. Esaputra : Jahat dan kejam
Sudut Pandang :
Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Alur : Menggunakan alur maju
Latar :
1. Latar Tempat : Kerajaan Maharaja.
2. Latar Suasana : Menegangkan, mencekam, dan merindu.
Amanat :
Amanat yang disampaikan pada naskaha drama ini adalah kita harus keluar dari keterkurungan
dan bebas untuk melakukan hal yang kita mau, selagi hal hal terebut tidak keluar dari norma dan
aturan yang berlaku dan cita cita sudah sehatusnya di kejar samapai kita daoat mendapatkannya.
selain itu juga menggambarkan kisah percintaan yang tulus, digambarkan oleh tokoh Bujangga
yang pemberani demi menyelamatkan pujaan hatinya yang terkurung oleh Rawana.
B. Unsur Ekstrinsik
Naskah Drama berjudul Bebasari yang diterbitkan pada 1926, yang kita tahu semua pada
tahun itu Belanda masih menjajah indoenesia. Hal ini tentu saja berpengaruh pada tulisan
Roestam Effendi yang secaa implisit menceritakan tentang kebebasan melalui teks drama yang ia
buat. Sehingga terbentuklah Bebasari yang menceritakan tentang kisah percibtaan yang harus
dipisahkan karena salah satunya dikurung dan tentunya tidak dapat bertemu.
Drama ini adalah karya Roestam Effendi yang lahir pada 13 Mei 1903,di Padang, sumatra
Barat .Ia merupakan sastrawan indonesia sekaligus mantan Dewan Perwakilan Rakyat Belanda,
meski demikian ia sangat kritis untuk terus mempejuangkan kemerdekaan indonesia, lewat karya
karyanya tersebut ia memperjuangkannya. Salah satu karyanya adalah Bebasari yang mengkritiki
masa kolonial Belanda, namun pada saat itu naskanya di larang dan dikecam oleh pemerintah
belanda karena dianggap menyinggung Pemerintah Belanda.
Makna dari naskah drama ini adalah kebebasan dari masa yang dilarang yaitu masa
kolonial Belanda, masyarakat indonesia yang digambarkan dengan tokoh Bujangga, haruslah kita
memperjuangkan kebebasnya tangan pemerintah belanda, pemerintah belanda dalam hal ini
adalah rawana. Penulis menyuarakan akankebebasan Indonesia dari tangan penjajahan yang
sangat kejam, selama ii rakyat dikurung dalam keterbatasan berbagai hal, dankemerdekaan masih
menjadi cita-cita yang terus diharapkan akan terjadi di suatu hari nanti, kita seharusnya dapat
memperjuangkan dan bersatu untuk melawan pemerintah belanda. Penulis mencoba membakar
semangat masyarakat indonesia untuk dapat keluar dari sangkar dan merasakan kebebasannya.
Nilai- nilia yang dapat diambil dari teks drama Bebasari
Nilai Sosial
Naskah drama ini berkaitan akan saling tolong molong antar sesama, Kebebasan adalah
hak semua. Menjadi kritikan yang mungkin saat ini relevan dengan kehidupan sehari hari, masih
ada ketidakbebasan untu menyuarakan yang benar, karena banyaknya ancaman yang diberikan
untuk tetap menutupi. Ketidaktransparannya berbagai hal untuk menutupi suatu yang bobrok di
dalamnya.
Nilai Budaya
Naskah drama ini mengingatkan kita pada suatu cerita pewayangan yang familiar di tanah
jawa yaitu cerita Rama dan Shinta, atau barangkali drama ini merupakan adabtasi dari cerita
pewayangan rama dan shinta , walaupun berbeda pada beberapa bagian, namun nama Rawana
hampir sama dengan Rahwana pada Rama dan Shinta, penggambarannya pun sama yaitu
menculik wanita dan mengurungnya.
Nilai Politik
Naskah drama ini dikatakan mengandung nikai politi karena berisi kritikan penulis
sebagai protes kerasnya terhadap penjajahan Belanda di Indonesia. Hal ini terbukti dengan di
kencamnya penerbitan dan penampilan drama dengan naskah ini, karena berisi protes kerasa
tentang kebebasan untuk rakyat indonesia.
Analisis Teks Drama RT Nol, RW Nol
A. Unsur Intrinsik
Judul Drama : RT Nol, RW Nol
Penulis : Iwan Simatupang
Tokoh :
Ani, Ina, Pincang, Kakek, Bopeng, Ati.
Tema : Bertema Realitas sosial masyarakat gelandangan dibawah kolong jembatan.
Penokohan :
1. Ani dan Ina
Ani dan Ina digambarkan adalah salah satu penduduk yang tinggal di kolong jembatan
tersebut, mereka berkerja sebagai PSK, dan sangat mengidamkan memiliki kehidupan
yang jelas seperti memiliki kartu keluarga.
2. Pincang
Pincang adalah salah satu tokoh yang tinggal di kolong jembatan tersebut, ia
digambarkan oleh tokoh ina adalah orang yang hanya dapat berangan angan dan
memberikan harapan harapan palsu, tidak memiliki masa depan yang jelas dan pemalas.
Selain itu ia juga digambarkan sebagai sosok yang emosional dibuktikannya dengan
mudah tersinggungnya ia dengan beberapa kata yang dilontarkan oleh Bopeng.
3. Bopeng
Bopeng digambarkan adalah lelaki yang giat, sebelum sebelumnya ia bekerja dengan tak
jelas seperti menjadi maling dan hal lain yang berkaitan dengan “otot” , namun pada
akhirnya ia di terima kerja menjadi kelasi atau awak kapal.
4. Kakek
Kakek digambarkan adalah mantan kelasi atau awak kapal yang memiliki watak yang
bijaksana dan sabar, ia juga mau menerima apapun keadaannya.
5. Ati
Digambarkan ada sebagai wanita penurut. Ia datang ke kolong jembatan bersama
Bopeng.
Latar
1. Latar Tempat : Dibawah kolong jembatan (RT Nol, RW Nol)
2. Latar Waktu : Malam hari di saat hujan
3. Latar Suasana : Penuh kritik, menyedihkan, bahagia, dan prihatin.
Amanat
Amanat yang disamapikan pada drama ini adalah berusahalah semaksimal mungkin sampai
sebuah harapan menjadi nyata. Dalam hidup kita harus terus berjuang untuk mendapatkan yang
kita inginkan perlu pengorbanan, bermalas malasan tidak akan merubah semua mimpi yang
sudah di rangkai, permohonan akan tetap menjadi permohonan jika tidak di usahakan sedemikian
rupa. Hidup juga adalah sebuah pilihan, pihan apa yang kita pilih sudah seharunya kita bijak dan
wajib menerima resiko yang ada .
B. Unsur Ekstrinsik
pada naskah drama RT Nol, RW Nol mengambarkan realitas sosial kehidupan masyarakat di
bawah kolong jembatan , yang hidupnya terluntang luntang dan tak mengerti hidup besok akan
ada atau tidak. Mereka hidup dalam lilitan kemiskinan dan kesengsaraan dengan hidup seadanya.
Selain itu menggambarkan kejenuhan dan kebosan para tokoh yang telah lama hidup dalam
keadaan yang susah dan memprihatinkan, yang setelahnya mereka membuat keputusan tentang
pilihan hidup, yang tentunya berisiko dan didalanya tentu ada harapan yang dipegang oleh orang
orang kolong jembatan. Digambarkan tentang harapan mereka yang hanya sebuah pengakuan,
pengakuan diri mereka di kehidupan ini.
Dari pekerjaan mereka digambarkan realitas kehidupan di indonesia yang masih penuh
dengan berbagai masalah sosial seperti masalah nilai moral dan etika yang ada di masyarakat,
antropologi sosial, masalah keagamaan, emansipasi wanita, logika dan nalar, masalah
pemerintahan, perilaku hedonism, masalah ketidakadilan, pendidikan yang rendah. Sehingga
fungsi dari teks drama ini adalah sebagai media kritik untuk semua permasalahan tersebut.
1. Kritik terhadap masalah nilai moral dan etika.
Pada naskah drma RT Nol, RW Nol secara langsung tokoh Pincang mengkritika
bagaimana Satpol PP memperlakukan mayat mayat gelandangan secara tidak layak,
dengan menguburkan mayat tanpa melakukan upacara pemakaman dan diberi tanda ‘tak
dikenal’. Selain itu memaparkan akan bersyukur jika mayatnya di jadikan sebagai media
belajar mahasiswa kedokteran, yang secara tidak langsung mayat tersebut menjadi guru
ilmu bagi mereka.
2. Kritik terhadap Antropologi Sosial
Pada bagian ini Pincang mengkritiki mengenai penampilan, segaanya berpengaruh pada
penampilan begitu pula dengan gelandangan dianggap sebagai orang yang tidak memiliki
tujuan hidup dan tidak dapat diberi kesempatan hidup untuk bekerja. Disamping itu para
pencari kerja juga enggan menerima karyawan dari latar belakang yang tidak jelas.
3. Kritik masalah keagamaan
Dalam hal ini kakek dan Pincang mengkritiki pekerjaan yang tidak halal namun uang
hasil bekerjanya tersebut dipergunakan sebagai beribadah agar orang orang tersebut
memiliki derajat yang tinggi di masyarakat. Hal ini relevan dengan kondisi keadaan
sekarang seorang koruptor yang sering tertangkap basah menggnakan uangnya untuk
pergi haji atau umroh, berbagi pada kaum dhuafa dan masih banyak lagi.
4. Kritik sosial terhadap kedudukan wanita
Pada naskah ini tersebutlah 2 tokoh pelacur yaitu Ina dan Ani. Mereka biasa menjajakan
dirinya pada para lelaki hidung belang untuk mendapatkan uang sebagai pemenuh
kehidupan mereka hari hari. Hal ini angat relevan pada saat ini banyak wanita yang
terpaksa menjajakan dirinya pada lelaki karena tuntutan ekonomi yang menghimpit
kehidupan mereka.
5. Kritik terhadap Logika dan nalar
Pada kritik ini disampaikan oleh kakek yang menyindir mengenai jembatan yang sudah
dilarang dilewati oleh kendaraan besar tetapi tetap aja dilewati. Ha ini mencermin suatu
logika dan nalar yang tidak berjalan semestinya, sudah di beri tahu dan mengetahui apa
akibatnya namun masih dilakukan, seperti halnya seirang yang dungu dan buta akan
informasi.
6. Kritik terhadap permasalahan Pemerintah
Dala teks ini digambarkan kakek yang berkomentar tentang truk gandeng yang
seharusnya tidak dapat melewati jembatan itu, namun masih saja ada pelangar. Hal ini di
tanggapi oleh Ani jika peraturan di buat untuk dilanggar, jika tidak dilanggar aparat
semua tak memiliki pekerjaan, dan dikatakan jika jembatan tak rusak maka tak ada
kesibukan dan jika ada kesibukan maka baru itu namanya bernegara.
7. Kritik terhadap masalah hedonisme
Hal ini disampaikan oleh tokoh ani yang menganggap bahwa saham yang dimiliki si
Pincang semuanya busuk. Hal ini menggambarakan sikap tak bersyukur terhadap yang
ada.
8. Kritik sosial mengenai ketidakadilan
Dalam naskah ini disampaikan oleh tokoh Pincang beranggapan bahwa prasangka
prasangka para gelandangan yang sudah tidak mungkin bisa bekerja. Hal ini relvan pada
kehidupan sehari hari kita sering menemukan orang orang gelandanga yang luntang
luntung mencari pekerjaa yang baik, namun tetap di tolak karena anggapan negative
tersebut.
9. Kritik terhadap permasalahan pengetahuan.
Pemasalahan pengetahuandisebabkan oleh sumber daya manusia yang rendah atau
pendidikan yang rendah. Pada naskah initokoh Pincang berpendapat bahwa para
gelandngan memiliki pengetahuan yang minim, bahkan pengetahua tentang dunia hanya
mereka dapatkan dari sobekan sobekan Koran.
Drama RT Nil, RW Nol memiki beragam kritikan mengenai masalah masalah
sosial di masyarakat. Dari kemiskinan samapai pendidikan yang rendah itu sebagian kecil
gambaratan tentang indonesia dan hal hal negative di balik negara indonesia ini. Hal ini
menjadikan kritikan keras untuk pemerintah dan masyarakat sendiri mengenai
pandangannya, sudah seharunya gelandangan mendapatkan pengakuan dari negara dan
masyarakat, dan tidak seharusna hanya menjadi sampah masyarakat yang dihindari dan
tidaka diperhatikan.
Analis Naskah Drama Pada Suatu Hari
Judul : Pada Suatu Hari
Penulis: Arifin C. Noer
Tema : bertemakan sebuah lika liku rumah tangga
Tokoh :
Nenek, Kakek, Pesuruh, Nyonya Wenas,Abra, Novia, Nita, Feri, Meli, Vita, Icih.
Penokohan
1. Nenek
Nenek digambarkan sebagai tokoh yang pencemburu, suka menyindir, suka menasehati,
dan romantis. Nenek juga digambarkan sebagai tokoh wanita yang berwibawa.
2. Kakek
Kakeh diagambaarkan sebagai tokoh yang sabar, jujur, penasehat yang baik, suami yang
romantis pada istrinya. Selain itu ia juga sosok ayah yang selau menasehati anak anaknya
tentang keluar yang harmonis.
3. Pesuruh
Pesuruh digambarkan sebagai orang yang bertanggung jawab, jujur dan selalu siap siaga
terhadap tuannya, namun disisi lain ia juga terkadang lalai pada tanggung jawabnya,
terutama pada saat menjaga Meli dan Feri.
4. Abra
Abra digambarkan adalah sopir dari Novia, ia memiliki sifat yang amanat dan jujur pada
pekerjaannya.
5. Novia
Novia adalah putri dari kakek dan nenek, ia digambarkan memiliki sifat yang
pencemburu, berburuk sangka, keras kepala, dan cepat memutuskan sesuatu tanpa
berpikir beberapa kali.
6. Nita
Nita merupakan anak dari kakek dan nenek ia digambarkan adalah penasehat yang baik
untuk adeknya yaitu Novia.
Latar
1. Latar Tempat
Berlatarkan dirumah kediaman Kakek dan Nenek pada acara perkawinan
emas(perkawinan 50 tahun) kakek dan nenek. Khususnya di ruang tamu.
2. Latar Suasana
Latar suasannanya penuh kecemburuan, terdapat keceriaan, rasa amarah, dan penuh
ketegangan.
Amanat
Amanat yang dapat disampaikan pada teks drama ini adalah kesetiaan pada
keleluarga. Digambarkan dua keluarga yaitu keluarga dari Kakek Nenek dan keluarga
dari Novia dan Vita yang semuannya menginginkan perceraian karena rasa cemburu, rasa
cemburu tersebut di buat karena dugaan dugaan tak beralasan dari si Nenek dan
Novia.Kakek berulang kali memberikan kritikan tentang perceraiaan dan dampak
perceraian yang terjadi jika benar benar terjadi. Beberapa nilai moral yang diambil adalah
nilai kesetiaan, kesabaran, dan mempertahankan sebuah hubungan.
Nilai nilai yang dapat diambil:
1. Nilai keagamaan
Nilai keagamaan yang diambail terlihat pada saat Kakek dan Nenek membahasa kisah
cinta Nabi Adam dan Hawa yang suci dan setia, sehingga dapat dikatakan didalam
agama juga mengajarkan kesetiaan dan membenci perceraian oleh karena itu menjaga
keutuhan keluarga adalah salah satu jalan mengikuti ajaran agama.
2. Nilai Moral
Nilai Moral yang dapat diambil adalah pada saat Nenek menjelaskan tentang
pekerjaan Vita sebagai dokter merupakan pekerjaan moral yang suci dan semuanya
dilakukan untuk menyelamatkan pasiennya, nenek berpesan seperti itu karena
anaknya Novia terbakar cemburu Karena perlakuan Vita yang dianggap berlebihan
terhadap icih.
3. Nilai kesetiaan
Nilai kesetiaan yag dapat diambil diperlihatkan dari awal cerita yaitu pernikahan
Emas Kakek dan Nenek, menggambarkan kesetiaan keduanya karena sudah melwati
rumah tangga selama 50 tahun atau setengah abad.
4. Nilai Kesusilaan
Nilai kesusilaan yang digambarkan pada drama ini adalah ketika nyonya Wenas yang
tiba tiba datang ke acara pernikahan emas Kakek dan Nenek. Nenek menduga bahwa
Nyonya Wenas adalah mantanpacarnya dahulu dan menyimpan rasa cemburu pada
Nyonya Wenas. Namun demikian sikap yang ditunjukan oleh Nenek adalah tetap
ramah dan menghormati tamunya itu. Hal ini menggambarkan nilai kesopanan dan
rasa hormat yang sepatutnya tetap dilakukan dimanapun, kapanpun, dan pada
siapapun.
5. Nilai Tanggu Jawab
Nilai tanggung jawab diperlihatkan pada tokoh pesuruh/memet/joni yang selalu
bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, selalu siap siaga ketika atasnnya meminta
dan mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab.
Novel ini memiliki gambaran yang beragam tentang kehidupan rumah tangga.
Cerita dari teks drama berjudul ‘Pada Suatu Hari’ menggambarkan lika liku rumah
tangga seuatu pasangan, yang saling melengkapi, saling menghormati, saling
toleransi. Walaupun terkadang terdapat masalah hidup, tetapi suami istri harus terus
memberi dukungan dan berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang sedang
dihadapi.
Novel ini juga menggmbarkan bagaimana masalah selingkuh dan saling curiga
antar suami istri sudah lumrah terjadi, sebaiknya antara keduanya saling menjelaskan
dan tidak terlarut oleh emosi semata, karena akibat dari adanya perceraian adalah
anak yang akan kurang dari berbagai hal, seperti kasih sayang, kedekatan emosional,
dan tak mendapat perhatian yang penuh dari kedua orang tuanya.
Analisis Teks Drama Kereta Kencana
Judul : Kereta Kencana
Penulis: Eugene Ionesco, lalu diterjemahkan oleh W.S Rendra.
Tema : Kemantian yang akan datang.
Latar :
1. Latar Tempat : bertempat di rumah Kakek dan Nenek
2. Latar Waktu : waktunya adalah malam hari
Tokoh : Kakek dan Nenek
Penokohan :
1. Kakek
Kakek digambrkan sebagai tokoh yang jenaka, setia pada Nenek, manja, rewel, mudah
mengeluh, cepat bosan, suka meratapi nasib, dan senang bersandiwara. Namun demikian
sebenarnya kakek meninyimpan rasa bosan dan menantikan kereta kencana untuk
melepas kebosanannya tersebut.
2. Nenek
Nenek digambarkan adalah tokoh yang perhatian, cerewet, baik hati dan merupakan
wanita yang bijak. Ia juga membantu menemani kebosanan yang dirasakan oleh kakek
dengan bercerita masa lalu, dimasa masa masa mereka saat masih muda.
Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa yang lugas dan mudah dipahami oleh pembaca,
walaupun banyak makna makna kata lain yang di ubah seperti kereta kencana yang bermakna
kematian yang akan tiba.
Amanat
Amanat yang disampaikan melalui teks drama ini adalah kita sebgai manusia tidak boleh putus
asa tentang apapun, kita patutlah harus berusaha dan terus tegar dalam menjalani hidup ini.
Nilai nilai yang dapat diambil
1. Nilai kerja keras
Dalam naskah drama Kereta kencana penulis secara tersirat mengatakan sebuah ajakan
agar kita bekerja keras dan tidak pasrah dengan keadaan, seperti halnya kakek dan nenek
yang pasrah akan kereta kencana atau maut yang akan datang.
2. Nilai Kesetiaan
Digambarkan pada naskan ini sepasang kekasih yang masih bersama sampai umurnya
sudah 2 abad, mereka saling mengasihi, menyayangi, dan membantu satu samalain
hingga akhirnya mereka siap untuk dijemput oleh kereta kencana atau maut yang akan
memisahkan mereka.
3. Kebosanan
Kebosanan sangat terlihat pada tokoh namun kita haruslah tidak pasrah dengan keadaan
kita di ajak oleh penulis untuk mewarnai hari hari kita sendiri mengisinya menjadi
bermanfaat untuk orang lain sampai nanti akhirnya maut yang akan menghentikannya.
4. Rasa Bersyukur
Rasa bersyukur dicerminkan lewat umur sepasang kekasih yang sudah mencapai 2 abad.
Hal ini menggambarkan umur dinilai sebagai berkah yang wajib kita syukuri, walaupun
didalanya tidak selamanya menginginkan umur selama itu namun tuhan tau mana yang
terbaik dan pastilah ada alasan mengapa tuhan memberikan sesuatu pada umatnya.
Teks drama ini mengisahkan berbagai sindiran pada manusia yang tidak
bersyukur atas nikmat tuhan yang telah diberikan. Ditambah dengan kurangnya kerja
kerasa yang relevan pada saat ini, kita seharusnya dapat bekerja keras lebih kuat lagi dan
keluar dari zona nyaman. Memanfaatkan waktu untu beberapa hal yang penting untuk
diri sendiri dan orang lain, sehingga kita di dunia tidak hanya menjadi penghuni namun
dapat bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu manfaatkanlah waktu semaksimal mungkin, jaduilah manusia
yang dapat bermanfaat, Karena waktu terus berjalan, menjadi bermanfaat tidak perlu
menunggu namun harus dimulai dari diri kita sendiri.
Octaviani Putri Anggraeni
22201241069
1
ANALISIS PUISI
Surat Dari Ibu
Karya : Asrul Sani
Pergi ke dunia luas anakku sayang
pergi ke hidup bebas
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam Rimba dan padang hijau.
Pergi ke laut lepas anakku sayang
pergi ke alam bebas
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang kesarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nahkoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”
1. Tema : Kasih sayang
2. Pesan : Gapailah cita-cita sampai tercapai dan janganlah melupakan orang tua
3. Diksi : Pada bait ke dua ini ada kata yang memiliki makna konotatif dan denotatif. Kata
yang memiliki makna konotatif adalah “Selama hari belum petang”, kata petang memiliki
makna kiasan umur tua. Sedangkan makna denotatif dalam kata “Menutup pintu waktu
lampau”, kata waktu lampau ini adalah makna sebenarnya yang bermakna masa lalu.
4. Gaya Bahasa ( majas ) :
- Majas personifikasi : Pada bait ke dua, baris ke lima dalam kalimat “Menutup pintu
waktu lampau” terdapat majas personifikasi karena makna dalam kalimat ini yakni kita
tidak bisa kembali ke masa lalu mengandaikan berlaku seperti manusia (menutup pintu).
- Majas anafora : Pada bait ke empat, baris ke satu dan dua terdapat pengulangan kata
“kembali” maka kalimat ini termasuk majas anafora.
5. Pencitraan :
● Imaji penglihatan : Pada bait ke dua terdapat imaji penglihatan seperti pada kalimat
“Selama hari belum petang”
● Imaji pendengaran : Pada bait ke empat terdapat imaji pendengaran seperti pada kalimat
“Kita akan bercerita, Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”
6. Persajakan : Pada puisi ini menggunakan sajak bebas karena pada akhir kata setiap baris
berbeda.
7. Tipografi : Pada puisi ini penyair menggunakan tipografi huruf besar ,kecil dan tanda baca
lengkap.
Komentar : Gapailah cita-cita kita sampai tercapai,carilah wawasan yang luas dan
sebanyak-banyaknya karena tercapainya cita-cita adalah harapan seorang bibu untuk anaknya
dan doanya akan turut menyertai.
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Karya : Taufik Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun‐tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan‐bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana‐mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang‐abang beca, kuli‐kuli pelabuhan
teriakan‐teriakan di atas bis kota, pawai‐pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN!
1. Tema : Puisi ini bertema semangat perjuangan(patriotism)
2. Pesan :kita harus berani dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan mampu melawan
ketidakadilan
3. Diksi :
● Dalam puisi ini terdapat kata “berlumur” kata berlumur darah menguatkan arti
penuh dengan darah dan kepedihan yang menimbulkan rasa sakit.
● Kata “darah” menggambarkan telah terjadinya perjuangan yang sangat besar
untuk mempertahankan tanah air.
4. Gaya Bahasa :
o -Majas repetisi pada kalimat "Spanduk kumal itu,ya spanduk itu"
o -Majas Personifikasi pada kalimat "Menunduk bendera setengah tiang"
5. Pencitraan : imaji pengelihatan pada kalimat “ kami semua telah menatapmu dan imaji
pendengaran pada kalimat “teriakan-teriakan diatas bis kota”
6. Persajakan : Pada puisi ini menggunakan sajak bebas karena pada akhir kata setiap baris
berbeda.
7 Tipografi : Penyajian tipografi pada puisi ini, yaitu rata kiri biasa dan tidak ada tipografi
khusus yang menarik. Jumlah baris tiap bait bervariasi.
Derai-Derai Cemara
Karya: Chairil Anwar
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada satu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.
1. Tema: Kehidupan
2. Pesan:Kehidupan manusia hanyalah perjalanan yang keras untuk ditempuh dan setiap
manusia akan mati dengna tenang bila apa yang diharapkannya tercapai,sekeras apapun
kita berusaha tetap saja semua jalan hidup dan keputusan Tuhan yang menentukannya.
3. Diksi: menggunakan kata konotatif yaitu “ malam” yang sebenarnya berarti
kematian,“cemara” yang berarti fase perubahan dari kanak-kanak menjadi tua.
4. Gaya Bahasa: Pada baris keempat “Dipukul angin yang terpendam “menggunakan gaya
bahasa personifikasi yaitu penggambaran mengenai benda mati atau seolah-olah memiliki
sifat layaknya manusia.
5. Pencitraan : menggunakan imaji pendengaran pada kalimat “ Dan tahu ada yang tetap
tidak diucapkan” dan imaji perabaan atau taktil pada kalimat “ Dipukul amgin yang
terpendam”
6. Persajakan : menggunakan sajak a-b-a-b
7. Tipografi : jumlah pada tiap baitnnya sama
Komentar : pesan yang terkandung dalam puisi tersebut sangat bermakna sehingga membuat
pembaca percaya bahwa sekeras apapun kita berusaha tetap saja semua jalan hidup dan
keputusan Tuhan yang menentukannya.
Hujan Bulan Juni
Karya: Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
1. Tema : Percintaan (cinta terpendam yang tak sempat diungkapkan)
2. Pesan : Kita semua harus memiliki sifat yang tabah,bijak,dan arif meskipun hal tersebut
tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan
3. Diksi : Menggunakan kata yang bermakna konotasi yaitu “jalan” yang berarti alur
kehidupan, “akar” yang berarti awal kehidupan serta “diserap “yang berarti dimanfaatkan
4. Gaya Bahasa : Majas personifikasi karena mengibaratkan hujan seperti manusia yaitu
tabah,bijak,dan arif serta menggunakan majas repetisi pada kalimat “taka da yang lebih”
dan “dari hujan bulan juni”
5. Pencitraan : Imaji pengelihatan pada kalimat “ kepada pohon berbunga itu” dan imaji
pendengaran pada kalimat “
6. Persajakan : menggunakan sajak bebas karena huruf pada akhir barisnya berbeda-beda
7. Tipografi : Terdiri dari tiga bait yang masing-masing terdiri dari empat.
Komentar : puisi tersebut menginspirasi pembaca agar memiliki sifat yang tabah,bijak,dan arif
meskipun apa yang terjadi tidak sesuai harapan kita.
Gugur
Karya : W.S Rendra
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya.
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya.
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya.
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
“Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya. Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa.
Orang tua itu kembali berkata:
“Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah, kita akan berpelukan buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata:
“Alangkah gembur tanah di sini!
Hari pun lengkap malam
ketika ia menutup matanya
1. Tema : Perjuangan seorang Pahlawan
2. Pesan : hargailah pahlawan yang telah berjuang mati-matian demi kemerdekaan negara
kita.
3. Diksi : terdapat makna denotatif dalam kalimat “menatap musuh menjauh dari kotanya”
dan makna konotatif dalam kalimat “matanya bagai saga” yang berarti tatapannya tajam.
4. Gaya Bahasa : Menggunakan majas metafora dan majas personifikasi pada kalimat “
matanya bagai saga” dan “bagai harimau tua”
5. Pencitraan : imaji pengelihatan pada kalimat “Lihatlah,hari telah fajar!” dan “luka-luka
dibadannya”
6. Persajakan : ada yang menggunakan sajak rata yaitu a-a-a-a dan ada yang bersajak bebas
7. Tipografi : tidak terikat oleh bait dan larik serta terdapat variasi taanda baca yaitu
titik,koma,titik dua,dan tanda seru.
Komentar : Puisi tersebut memberikan pesan kepada pembaca agar menghargai perjuangan
pahlawan yang rela gugur demi negara. Puisi ini sangat menarik untuk dibaca.
Berdiri Aku
Karya : Amir Hamzah
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datar ubur terkembang.
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
1. Tema : kesedihan
2. Pesan : jangan mudah menyerah dalam menjalani hidup.
3. Diksi : menggunakan kata arkaik seperti leka yang artinya lengah atau lalai
4. Gaya Bahasa : menggunakan majas personifikasi pada kalimat “ Angin pulang menyejuk
bumi.Menepuk teluk mengempas emas”
5. Pencitraan : menggunakan imaji pengelihatan pada kalimat “ berdiri aku di senja senyap”
serta “Camar melayang menepis buih”
6. Persajakan : menggunakan sajak silang yaitu a-b-a-b
7. Tipografi : terdiri dari empat bait yang masing-masing terdapat empat baris serta sangat
memperhatikan EYD.
Komentar : Puisi ini sangat bagus untuk memotivasi pembaca agar tidak mudah menyerah
karena sampai saat ini pun masih banyak orang yang lebih memilih menyerah atas kehidupan
mereka dan macam-macam penyebabnya.
Dari Bentangan Langit
Karya : Emha Ainun Najib
Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.
1. Tema : Ketuhanan
2. Pesan : memberi tahu kenimkmatan yang telah diberikan Tuhan,namun masih banyak
manusia yang tidak bersyukur.
3. Diksi : menggunakan diksi konotatif seperti dalam kalimat "Ia, kemarau itu, datang
kepadamu" dalam kata kemarau tidak memiliki arti kemarau sesungguhnya yang akan
datang
4. Gaya Bahasa : menggunakan majas metafora pada kalimat “ Dari tangan dingin yang tak
menyapa” , majas personifikasi pada kalimat “Ia kemarau itu,datang kepadamu” , majas
hiperbola pada kalimat “ Menyapu lautan,Mengekal tanah berbongkahan,menyapu hutan”
5. Pencitraan : imaji pengelihatan pada kalimat “ Yang tak menoleh barang sekejab” serta
“Dari Bentangan Langit yang semu”dan imaji perasa pada kalimat “ Dari tangan yang
dingin dan tak menyapa”
6. Persajakan : Menggunakan sajak bebas
7. Tipografi : tidak terikat oleh bait dan larik.
Komentar : Saat ini masih ada saja orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang telah
diberikan Tuhan mereka seakan-akan menutup mata tentang nikmat itu dan dalam puisi ini
terkandung pesan agar kita mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan Tuhan
Bunga dan Tembok
Karya : Wiji Thukul
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
1. Tema : Sosial-politik (pemerintah dan rakyat kecil)
2. Pesan : Sebagai rakyat kecil yang telah mengalami penggusuran rumah dan perampasan
tanah harus memperjuangkan hak-hak yang seharusnya didapatkan.
3. Diksi : Menggunakan kata konotatif pada kata “bunga” yang sebenarnya bunga adalah
gambaran rakyat kecil dan “tembok” yang sebenarnya dalah penguasa.
4. Gaya Bahasa : Menggunakan majas repetisi pada kalimat “ Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang”. Menggunakan majas simile pada kalimat “ Seumpama bunga
Kami adalah bunga”
5. Pencitraan : Menggunakan imaji pengelihatan pada kalimat “sebar biji-biji” dan “ Jalan
raya dan pagar besi”
6. Persajakan : Menggunakan sajak bebas.
7. Tipografi : Paragraf rata kiri dan terdiri dari lima bait dan 21 baris.
Komentar : Puisi ini menceritakan tentang tindakan sewenang-wenang penguasa pada rakyat
kecil,penyair menulis puisi ini dengan maksud membangkitkan semangat untuk kita pembaca
agar memperjuangkan hak-hak kita.
Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini