The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini berisi kumpulan analisis karya sastra berupa puisi, novel, cerpen, dan naskah drama mahasiswa PBSI kelas K. E-Book ini disusun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Membaca Sastra yang diampu oleh Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ancasnurul1, 2022-12-27 23:34:22

Analisis Karya Sastra PBSI K (1)

E-Book ini berisi kumpulan analisis karya sastra berupa puisi, novel, cerpen, dan naskah drama mahasiswa PBSI kelas K. E-Book ini disusun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Membaca Sastra yang diampu oleh Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd.

Keywords: Analisis Karya Sastra

1) Pak Danu, bersifat jahat dan sombong karena mencuri dan memamerkan
tabung.

2) Mbok Sum, pembohong dan pandai bermuka dua karena sering membohongi
warga desa ketika membeli gula.

3) Pak Barkah, bersifat antusias, perhatian, suka menolong, sungkan/tidak
enakan.

4) Mbok Ralem, bersifat tegar dan pantang menyerah.
5) Poyo, bersifat jahat, licik, dan mudah terprovokasi.
6) Eyang Wira, bersifat jahat dan bejat.
7) Topo, gemar membantu, bijak, cerdas.
8) Bu Runtah, egois dan pencemburu.

D. Alur

Novel ini beralur maju. Mengisahkan kejadian sejak terpilihnya Pak Dirga
menjadi lurah, mundurnya Pambudi dari koperasi, hingga Pak Dirga mundur dari
jabatannya.

E. Fakta Cerita

Dalam novel ini ada beberapa fakta cerita, antara lain kriminalitas yakni
adanya pencurian seperti yang dilakukan Pak Danu, kemiskinan, perselisihan,
kedengkian, perkawinan paksa.

F. Komentar

Setelah membaca novel Di Kaki Bukit Cibalak, saya menjadi paham bahwa
dunia politik sangatlah kejam, orang-orang bisa melakukan apa saja untuk
melancarkan urusan mereka. Novel ini juga mengajarkan kepada kita bahwa berlaku
jujur dan membantu orang lain itu tidak ada salahnya, sepandai-pandainya berbohong
pasti akan ketahuan juga, jangan menyerah atas penderitaan yang sedang dijalani,
orang yang sabar pasti akan bahagia

2. Negeri 5 Menara

Novel Negeri 5 Menara dikarang oleh Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh
Gramedia pada tahun 2009. Novel ini berjumlah 416 halaman dan bertema

pendidikan. Tokoh yang terdapat dalam novel ini anara lain; Alif, Baso, Raja, Said,
Dulmajid, Atang, dan Ustad Salman.

Novel ini menceritakan seorang laki-laki bernama Alif yang lahir di pinggir
Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Sejak
kecil Alif sudah bercita-cita menjadi B.J. Habibie, maka dari itu sesudah tamat SMP
is berencana melanjutkan sekolah ke SMU negeri di Padang yang akan
memudahkannya untuk kuliah di jurusan yang sesuai. Namun ibunya lebih
menginginkan Alif untuk menjadi Buya Hamka. Alif diberi dua pilihan untuk
ersekolah yakni di sekolah agama atau mondok di pesantren. Walaupun sempat arah,
namun Alif tidak mau mengecewakan ibunya dan memilih sekolah di pondok.yang
ada di Jawa Timur bernama Pondok Madani. Walaupun awalnya ibunya berat dengan
keputusannya yang memilih pondok di Jawa bukan yang ada di rananh Minang,
namun akhirnya ibunya merestui keinginan Alif itu.

Awalnya Alif setengah hati menjalani pendidikan di pondok karena dia harus
merelakan cita-citanya yang ingin kuliah di ITB dan menjadi seperti Habibie. Namun,
kalimat bahasa Arab yang didengar Alif di hari pertama di Pondok Madani mampu
mengubah pandangannya tentang melanjtkan pendidikan di Pesantren sama baiknya
dengan sekolah umum. Ia teringat sebuah kalimat yang di berikan oleh pemimpin
pondok bernama Kiai Rais yang mengucapkan “Man Jadda Wa Jadda“ yang berarti
barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Kalimat tersebut menjadi
tonggaknya untuk tetap semangat mewujukan cita –citanya. Selama Alif berada di
pondok Madani ia berteman akrab dengan 5 santri lainnya yang berasal dari 5 daerah
yang berbeda diantaranya; Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya,
Duulmajid dari Madura, Atang dari Bandung dan Baso Salahudin dari Gowa.
Menjalani kehidupan di pondok pesantren tentu bukan lah hal yang mudah, ketika
hampir mendekati ujian tertulis dan lisan, mereka berenam bahkan harus belajar
selama 24 jam untuk mempersiapkan diri, walaupun tergolong sulit tapi pada akhirnya
Alif dan teman –temannya mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan pondok
pesantren.

Di tahun kedua kehidupan Alif dan rekan-rekannya lebih berwarna, sampai
suatu saat Baso teman mereka yang paling pintar harus keluar dari pondok karena
masalah ekonomi pada keluarganya. Kepergian Baso membangkitkan semangat

mereka berlima untuk menamatkan PM dan menjadi orang sukses yang mampu
mewujudkan cita-cita mereka menginjakkan kaki di benua Eropa dan Amerika. Pada
akhirnya mimpi mereka berenam menjadi kenyataan. Alif berada di Amerika, Raja di
Eropa, Atang di Afrika, Baso di Asia, sedangkan Said dan Dulmajid berada di
Indonesia tercinta.

Tema dari novel ini adalah pendidikan, hal ini ddapat dilihat dari latar tempat
yaitu di pesantren dimana kegiatan utamanya adalah belajar. Alur yang ada dalam
novel ini bersifat campuran. Tokoh yang ada dalam novel ini antara lain; Alif, Baso,
Raja, Said,Dulmajid, Atang, Ustad Salman, Amak. Sedangkan latar tempatnya antara
lain; Washington DC, Maninjau, London, Pondok Madani, Rumah Atang yang berada
di Bandung, Rumah Said (Surabaya), Aparttemen Raja (London).

Menurut saya novel ini sangat menginspirasi karena di dalamnya terdapat
banyak pesan moral yang dapat diambil, diantaranya jika kita berusaha maka akan
berhasil, jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun itu, karena
sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar.

3. Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori

Novel ini ditulis oleh penulis sekaligus wartawan di majalah Tempo bernama
Leila Salikha Chudori. Novel ini diterbitkan oleh Gramedia pada bulan Oktober tahun
2017 dan memiliki tebal 394 halaman. Novel ini mengangkat tema perjuangan para
aktivis di era Orde Baru melawan pemerintah Orde Baru yang otoriter dan tidak
mempedulikan nasib rakyat kecil.

Laut Bercerita merupakan novel karya Laila S. Chudori yang bercerita tentang
Biru Laut dan para aktivis 1998 yang dihilangkan secara paksa serta Asmara Jati, adik
Biru Laut yang mencari jejak sang kakaknya dalam ketidakpastian nasib. Didalam
Novel ini, sang penulis tidak hanya mengangkat masalah perjuangan dan penyiksaan
yang dialami para aktivis namun juga memaparkan persahabatan antar aktivis,
hangatnya keluarga, roman antar aktivis, hingga pengkhianatan dalam kelompok.

A. Unsur Intrinsik

1) Tema
Tema yang diangkat dalam novel Laut Bercerita ialah mengenai
perjuangan para aktivis di era Orde Baru yang menentang pemerintah
yang berlaku tidak adil pada rakyatnya. Novel ini mengisahkan
perjuangan para aktivis, kekerasan, dan kekejaman yang mereka terima
saat berusaha menentang pemerintah untuk melawan ketidakadilan
rezim yang keji. Ketidakpastian yang dialami keluarga korban dalam
mencari anggota keluarga mereka, sekelompok orang yang gemar
menyiksa dan lancer berkhianatjuga tentang cinta yang tak pernah
luntur.

2) Tokoh dan Penokohan
a) Biru Laut
Ia sosok yang tidak banyak bicara tetapi kritis terhadap masalah
sosial disekitarnya. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang
keras kepala terhadap apa yang ia yakini benar dan pantang
menyerah dalam mencari keadilan. Biru Laut menyukai tulis
menulisdan lebih suka berekspresi melalui tulisan.
b) Asmara Jati (Adik Biru Laut)
Ia sangat menyukai dengan hal-hal yang berbau sains. Berbeda
dengan kakanya yang idealis, ia digambarkan sebagai sosok
yang pragmatis. Ia juga merupakan sosok yang cerdas, dewasa,
mandiri, teguh dan takis.
c) Arya Wibisana (Bapak Laut & Asmara)
Ia digambarkan sebagai sosok yang penyayang, lembut, dan
pemberani.
d) Ibu Biru Laut & Asmara
Karakter ibu digambarkan sebagai sosok yang bekerja keras,
lembut dan penyayang.
e) Anjani (kekasih Biru Laut)
Sosok yang percaya diri dan intens. Ketika dia bersiteguh untuk
terlibat, dia akan betul-betul terlibat sepenuhnya pada apapun
dan siapapun yang dia kasihi dan dia percayai.
f) Kinan (aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)

Digambarkan sebagai seseorang yang memiliki pikiran yang
realistis dan jenius dalam menyelesaikan berbagai masalah.
g) Daniel (aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)
Digambarkan sosok yang kritis, crewet, manja, dan suka
mengeluh.
h) Sunu (aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)
Seorang yang bijaksana, perhatian, dan sopan.
i) Alex (aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)
Baik, sopan, dan sensitive. Ia mempunyai suara yang merdu
dan berbakat dibidang fotografi.
j) Naratama (aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)
Cerdas, suka mengkritik, suka mencela dan mencemooh.
k) Bram (aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)
Santun, pemberani dan punya semangat yang tinggi.
l) Mas Gala (sang penyair)
Pandai berpuisis dan bijakssana.
m) Gusti ((aktivis mahasiswa dan teman Biru Laut)
Sosok yang pengkhianat
n) Aswin
Peduli terhadap Hak Asasi Manusia, rasional, dan mempunyai
semangat yang tinggi.
o) Para Intel
Sosok yang keji dan tidak mempunyai perasaan.
3) Tempat
Latar tempat dalam novel ini dikisahkan pada beberapa daerah di Jawa
Tengah yaitu Solo dan Yogyakarta (Sayegan), Jawa Timur (Desa
Blangguan dan Terminal Bungurasih), Jakarta (Ciputat, Pulau Seribu,
Tanah Kusir, Istana Negara), dan New York.
4) Waktu
Novel Laut Bercerita, mengambil latar waktu antara tahun 1991-2008.
Tahun 1991-1998 menamplkan Orde Baru yang berisi perjalanan
aktivis dalam menegakkan keadilan melawan pemerintah pada masa
tersebut. Kemudian pada tahun 1998-2008 menggambarkan kisah
perjuangan keluarga para aktivis dan menuntut pemerintah untuk

menusut kasus penghilangan paksa yang menimpa anggota keluarga
mereka.
5) Suasana
Latar suasana dalam novel ini yaitu menegangkan, mencekam,
memilukan, mengharukan, menakutkan, menyedihkan, penyangkalan,
romantis, dan hangatnya keluarga.
6) Alur
Alur yang terdapat pada novel Laut Bercerita ialah alur Campuran.
Disajikan secara tidak beruntun, namun memiliki hubungan kausalitas.
Jika dilihat, dalam novel ini pada setiap bab menampilkan latar waktu
dan tempat yang berbeda sehingga terkesan terpotong-potong, namun
masih memiliki hubungankausalitas. Sang tokoh utama, Biru Laut
mnceritakan kisahnya antara masa kini dan masa lalu, tidak hanya
tentang pergerakan menuntut keadilan menentang sebuah keadilan kala
itu, tetapi juga kisah persahabatan, hangatnya keluarga, dan kisah
romansa juga dipaparkan sehingga membuat alur dalam novel ini
terasa lebih menarik.
7) Sudut Pandang
Dalam novel Laut Bercerita ini mengambil dua sudut pandang, yakni
sudut pandang Biru Laut sebagai seorang aktivis yang dibunuh secara
keji dan sudut pandang Asmara Jati, adik Biru Laut yang menuntut
keadilan untuk kakaknya. Kedua sudut pandang tersebut sama-sama
menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal itu terlihat dalam
penggunaan kata “Aku” yang digunakan penulis untuk
menggambarkan bagaimana perasaan para tokoh utamanya. Dari sudut
pandang Biru Laut, pembaca diajak untuk merasakan bagaimana
penderitaan dan kekejaman yang dialami para aktivis di era Orde Baru.
Sedangkan dari sudut pandang Asmara Jati, pembaca diajak untuk
merasakan bagaimana rasanya menjadi keluarga yang kehilangan
saudara atau kakak dengan ketidakjelasan nasib yang tidak pernah
kembali hingga saat ini.
8) Amanat

a) Jangan pernah takut untuk berjuang melawan ketidakadilan
walaupun berkali-kali harus menerima kekerasan dan
penyiksaan.

b) Jangan pernah menyerah dalam memperjuangkan sesuatu yang
patut diperjuangkan.

c) Jangan mudah percaya dengan orang lain walaupun itu teman
sendiri, karena bisa jadi orang terdekatlah yang menjadi
musush dalam selimut.

d) Menghadapi kenyataan yang pahit adalah hal yang sulit, walau
bagaimanapun juga hal itu harus dihadapi dan diterima dengan
lapang dada karena dibalik kenyataan yang pahit tersebut pasti
ada hikmah yang dapat diambil.

9) Komentar
Analisis novel Laut Bercerita menggunakan pendekatan objektif terdiri
atas tema, tokoh atau penokohan, latar, alur, amanat, dan sudut
pandang. Tema yang diangka dalam novel Luat Bercerita ialah
mengenai perjuagan para aktivis di era Orde Baru yang menentang
pemerintah yang berlaku tidak adil pada rakyatnya. Dalam novel ini
terdapat dua tokoh utama yaitu Biru Laut dan Asmara Jati. Latar
tempat dalam novel ini dari beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa
Timur, Jakarta, dan New York. Novel ini mengambil latar waktu antara
tahun 1991 sampai 2008. Latar suasana dalam novel ini yaitu
menegangkan, mencekam, memilukan, mengharukan, menyedihkan,
penyangkalan, romantic, dan hangatnya keluarga. Alur yang digunakan
dalam novel ini yaitu alur campuuran. Novel ini menggunakan sudut
pandang orang pertama, dimana terbagi dari sudut pandang Biru Laut
dan Asmara Jati. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari novel Laut
Bercerita yaitu tentang perjuangan, pengorbanan, persahabatan,
kesetiaan, dan keikhlasan.

4. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Novel ini merupakan karya dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih
ikenal dengan Hamka. Roman yang dikarang oleh Prof. Dr. Hamka ini diterbitkan
tahun 1939 dengan jumlah 200 halaman. Diterbitkan di Medan oleh Penerbit Centrale
Courant.

Novel ini mengisahkan tetang cinta, adat, keturunan, dan kekayaan. Semua itu
masuk dalam kisah yang dibungkus oleh Buya Hamka dalam novel Tenggelmanya
Kapal Van Der Wijck ini. Kisah cinta abadi dari Zainuddin dan Hayati yang tak
lekang oleh waktu, tak terpisah oleh dunia dan pincangnya adat di negeri Minang.
Minangkabau sebagai salah satu suku yang memegang tegus adat dan tradisi.
Keturunan dan kekayaan menjadi segala-galanya. Cinta suci Zainuddin untuk Hayati
terhalang oleh keturunan dan kemiskinan. Zainuddin yang merupakan keturuna
campuran Minang dan Bugis tidak mendapat pengakuan sebagai suku Minang asli,
karena ibunya bersuku Bugis. Cinta mereka pun terhalang dan Hayati menikah
dengan Aziz, seorang Minang asli dan kaya. Zainuddin setia dan tetap hidup dengan
dirinya dan karya-karyanya. Zainuddin pindah ke Pulau Jawa bersama bang Muluk
sahabatnya dan menemukan titik kesuksesan disana (Surabaya). Hayati dan Aziz
akhirnya berpisah, Aziz mati bunuh diri dan Hayati menjanda. Zainuddin yang
demawan tidak ingin melihat Hayati menderita, meskipun Hayati telah menjadi janda,
Zainuddin tidak menikahi Hayati.Hayati diminta untuk pulang ke Padang menaiki
kapal Belanda termewah yaitu Kapal Van Der Wijck yang berlabuh ke laut Andalas.
Hingga saatnya tiba Hayati pulang dan tak kembali lagi seiring dengan kecelakaan
yang menenggelamkan Kapal Van Der Wijck tersebut. Nyawa Hayati tidak dapat
diselamatkan. Zainuddin merasa menyesal atas keputusannya menyuruh Hayati
kembali ke Padang. Setelah hayati meningeal dalam peristiwa itu, Zainuddin setiap
hati mendatangi kubur Hayati, ia hidup dalam baying cintanya yang tetap ada
dihatinya, Zainuddin semakin rapuh dan sakit-sakitan, Zainuddin yang terkenal
dengan karya-karya hikayatnya kini telah tenggelam bersama bayang dan angan
bersama Hayati. Hingga setahun kemudian Zainuddin menyusul hayati ke alam abadi.
Zainuddin meninggalkan harta benda melimpah dan karya-karya sastranya yang
indah. Saat maut menjemputnya Zainuddin menyelesaikan kisah hikayat cintanya
bersama Hayati dalam tulisan terkahirnya yang berjudul Tenggelamny

Tema dari novel ini adalah cinta sejati yang tulus antara laki-laki dan
perempuan tetapi terhalang oleh adat yang begitu mengikat. Sedangkan tokoh yang

terdapat dalam novel tersebut antara lain; Zainudin, Hayati, Aziz, Khadijah, Muluk,
Daeng Habibah, Mak Base, Ahmad, Mak Tengah Limah. Alur yang digunakan dalam
novel ini adalah alur maju. Sudut pandang dalam novel ini ialah orang ketiga tunggal
karena pengarang menceritakan secara langsung karakter utamanya secara gamblang.
Latar tempat dalam novel ini antara lain; di Mengkasar, Dusun Batipuh, Padang
Panjang, Jakarta, Surabaya, Lamongan. Sedangkann latar waktunya pada senja, siang,
dan malam hari. Latar suasananya mengharukan ketika Hayati menerima cinta
Zainudin dengan sengsara, menyedihkan ketika Zainudin hidup sengsara ketika
permintaan Zainudin ditolak oleh keluarga Hayati dan ketika Hayati meninggal.

Amanat atau pesan yang teradapat dalam novel ini adalah untuk selalu sabar
karena jodoh ada di tangan Tuhan. Setiap umat-Nya yang ingin berusaha pasti akan
ada jalannya

5. Laskar Pelangi Oleh Andrea Hirata

Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan
oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini menuturkan cerita tentang
kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah
sekolah Muhammadiyah di Belitung yang penuh dengan keterbatasan.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan sekumpulan anak-anak di Belitung.
Tokoh dalam novel ini diantaranya adalah Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong,
Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan juga Harun. 

Kesepuluh anak ini adalah murid dari sebuah Sekolah Dasar yaitu SD
Muhammadiyah di Gantung Belitung Timur. Kondisi pendidikan dalam cerita ini
cukup miris, gedung sekolah hampir roboh dan juga muridnya sedikit, dalam kelas
laskar pelangi isinya hanya sepuluh anak tersebut yaitu mereka yang disebut dengan
para Laskar Pelangi. Ke-sepuluh murid tersebut adalah para laskar pelangi. Nama
yang diberikan guru mereka bernama Bu Mus, oleh karena kegemaran mereka
terhadap pelangi. 

Novel laskar pelangi karya Andrea Hirata ini bercerita keseharian mereka di
sekolah serta juga bagaimana mereka menjalankan kehidupannya di lingkungan
sosial. Mereka adalah anak-anak desa dengan tekad luar biasa. Perjalanan mereka

dipenuhi kejadian yang tak terduga. Berbagai sisi kehidupan para Laskar Pelangi dari
Belitung ini diceritakan dalam novel ini mulai dari tantangan mereka untuk
bersekolah, hingga lucunya persahabatan mereka. Dalam perjalanan mereka pada
novel Laskar Pelangi ini secara perlahan mereka menemukan keunggulan dalam diri
dan persahabatan. 

Novel laskar pelangi berkisah perjuangan hidup kesepuluh anak ini
menghidupkan cita-cita di antara kehidupan mereka yang berat. Ada dinamika di
dalamnya. Manis meski berat. Kisah khas anak-anak yang memandang dunia dengan
ambisi yang sederhana.

Tema dari novel Bumi Manusia adalah pendidikan karena di dalamnya
terdapat perjuangan para tokoh dalam menggapai cita-cita dan menuntut ilmu.

Penokohan dalam novel ini antara lain; Ikal merupakan tokoh utama
protagonis. Ikal memiliki perawakan kecil, berbadan kurus, berkulit hitam,
dan berambut ikal. Tokoh Ikal memiliki kemauan serta tekad yang kuat jika
menginginkan sesuatu, contohnya untuk mendapatkan beasiswa. Tokoh
Lintang memiliki perawakan kecil, berkulit hitam, bertubuh kurus, dan
berambut ikal. Ia memiliki sifat rajin dan merupakan siswa yang tidak pernah
membolos meskipun jarak antara rumah dan sekolahnya jauh. Lintang
merupakan murid yang jenius, tetapi dia tak pernah sombong. Ia dengan
senang hatinya mengajarkan dan membantu kesulitan teman-temannya.
Kemudian tokoh lainnya ada Mahar, Kucai, Syahdan, Bore, A Kiong, Trapani,
Harun, Sahara, Bu Muslimah sebagai guru, Pak Harfan sebagai kepala
sekolah, A Ling, Flo. Sedangkan latar tempat novel ini adalah di Belitong

Menurut saya novel ini sangat menarik untuk dibaca, karena terdapat
banyak nilai di dalamnya. Penulis mampu membuat para pembaca untuk
termotivasi dalam mengejar cita-cita,.

3

ANALISIS CERPEN

1. Aspek Budaya dalam Cerpen Romantik “Seribu Kunang-Kunang di
Manhattan”
Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan ini dikarang oleh penulis
ternama di Indonesia bernama Umar Kayam. Ketika Umar menulis cerpen ini,
ia sedang berada di New York, dari sanalah ia terinspirasi untuk menulis kisah
ini yang berlatar di Manhattan, New York. Cerpen Seribu Kunang-Kunang di
Manhattan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Jakarta pada tahun 1972.
Cerpen ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang sedang
kasmaran tanpa adanya ikatan perkawinan yang sah. Dua orang tersebut
bernama Marno dan Jane. Dalam cerpen tersebut, Marno digambarkan sebagai
orang yang terikat norma dan memegang teguh budaya timur, dia terpisah
dengan istri dan tanah kelahirannya, sedangkan Jane adalah orang yang
kebarat-baratan namun memiliki darah Asia, ia telah berpisah dengan
suaminya. Jane selalu bercerita mengenai mantan suaminya kepada Marno,
namun Marno selalu sabar mendengarkan cerita Jane. Suatu kali ia melihat ke
luar jendela apartemen Jane, dilihatnya lampu-lampu bawah kota sehingga ia
teringat dengan istrinya yang ada di desa. Mereka berdua berbincang-bincang
hingga pada akhirnya Jane menawarkan Marno untuk tidur bersamanya malam
itu, namun Marno memilih pergi meninggalkan Jane.
Umar Kayam dalam cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”
menggambarkan tentang perbedaan budaya dalam kisah asmara sepasang
kekasih. Dari perbedaan budaya itulah, konflik-konflik muncul. Marno
digambarkan sebagai pria yang memegang erat budaya Timur, sejauh-jauhnya
ia melakukan hubungan gelap itu, dalam hati kecilnya ia menyadari bahwa hal
tersebut salah sehingga pada akhirnya ia memilih untuk meninggalkan Jane.
Sedangkan Jane yang memiliki budaya Barat terkesan bebas dalam menjalani
hubungan, ia ingin selalu dekat dengan Marno hingga mengajak Marno tidur
di apartemennya, hal tersebut sangat mencerminkan budaya barat.

2. Pengorbanan Seorang Sersan dalam Cerpen “Sungai”
Cerpen ini ditulis oleh sejarawan militer sekaligus penulis cerpen yang

bernama Brigadir Jenderal TNI Prof. Dr. Raden Panji Nugroho Notosusanto
atau biasa dikenal dengan nama Nugroho Notosusanto. Cerpen ini diterbitkan
oleh Kumpulan Cerpen Rasa Sayange pada tahun 1998. Cerpen ini berjudul
Sungai karena ceritanya yang berlatar di Sungai Serayu, Jawa Tengah.

Cerpen ini mengisahkan tentang pengorbanan seorang kepala regu TNI
bernama Sersan Kasim yang hendak kembali ke daerah operasinya di Jawa
Barat. Mereka harus menempuh Sungai Serayu, selama perjalanan Sersan
Kasim membawa anaknya yang masih bayi karena istrinya meninggal tahun
lalu ketika melahirkan Acep. Mereka harus berjalan jauh melewati lembah,
naik gunung, dan menyeberangi sungai kecil dan sungai besar. Di tengah
perjalanan Komandan Peleton memanggil seluruh kepala regu untuk
berkumpul. Saat itu Komandan meminta Sersam Kasim untuk menitipkan
bayinya kepada barisan keluarga karena dipastikan bahwa jika bayi itu
menangis maka musuh akan mengetahui keberadaan prajurit yang lain, namun
Sersan Kasim menolak karena hanya Acep lah keluarga yang ia punya
sekarang dan ia memastikan bahwa anaknya tidak akan menangis. Namun
pada saat Sersan Kasim dan prajurit lain mulai berjalan menyusuri sungai,
kedalaman sungai membuat Acep menangis karena kedinginan. Saat itulah
tangis Acep memecah kesunyian, dan di hulu sungai sebuah peluru
ditembakkan. Waktu berlalu kini suara Acep meredup, sesaat hening tembakan
berhenti para prajurit tiba di seberang dengan selamat. Keesokannya, para
prajurit menunda perjalanannya dan berbela sungkawa kepada Sersan Kasim
yang telah ditinggalkan Acep.

Dalam cerpen tersebut penulis menyampaikan pesan yang sangat
menyentuh melalui cerita Sersan Kasim yakni betapa besar perjuangan para
prajurit Indonesia, dimana mereka harus ikhlas dalam mengorbankan hal yang
paling dicintainya demi negara. Pengorbanan yang paling mencolok dalam
cerpen ini adalah ketika Sersan Kasim harus merelakan anak semata
wayangnya demi keselamatan para anggota prajurit yang lain. Beberapa pesan
yang tersirat dari cerpen tersebut antara lain sebagai pemimpin hendaknya

mendahulukan kepentingan bersama, selain itu pemimpin juga harus mencari
solusi.
3. Mistisisme Jawa dalam Cerpen Anjing-Anjing Menyerbu Tanah
Kuburan

Cerpen ini dikarang oleh seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan
Indonesia bernama Kuntowijoyo. Diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 1999.
Menggunakan sudut pandang orang ketiga, membuat cerpen ini sangat menarik
untuk dibaca karena di dalamnya tersimpan cerita yang sungguh unik.

Cerpen ini mengisahkan seorang pria yang berencana mencuri daun telinga
sebuah mayat pada malam Selasa Kliwon di sebuah kuburan yang dijaga oleh
masyarakat desa setempat dengan tujuan pesugihan. Pencuri itu menaburkan beras
kuning yang berasal dari gurunya untuk membuat pejaga kuburan dan masyarakat
setempat mengantuk. Kemudian ia mulai menggali kuburan mayat tersebut
menggunakan tangan kosong. Pada saat ia hendak menggigit daun telinga mayat,
terdengarlah suara gonggongan anjing yang membuat malam yang tenang itu
berubah menjadi malam mencekam baginya. Anjing-anjing itu semakin banyak,
sekitar tujuh anjing menghampiri pencuri mayat itu, dan mulai mencakar-cakar
tubuh mayat dan tubuh pencuri, hingga pada akhirmya pencuri itu jatuh pingsan
dan para para warga yang tadinya tidur bangun karena mendengar suara berisik
dari kuburan. Para warga tersebut ragu-ragu apakah pria yang pingsan itu pencuri
atau penyelamat.

Dalam cerpen ini terhadap mistisisme yang masih diyakini oleh sebagian
orang, yakni perbuatan mencuri mayat sebagai syarat pesugihan. Hal tersebut
sebenarnya tidak dibenarkan menurut adat maupun agama. Melalui tokoh pencuri,
Kuntowijoyo menggambarkan hawa nafsu manusia yang serakah, rela melakukan
apa saja demi keinginannya terpenuhi tidak peduli entah hal itu benar atau salah.
Rasa keputusasaanlah yang mendorong tokoh pencuri tersebut melakukan
pesugihan. Ia ingin membahagiakan istrinya, membiayai sekolah anak,
membelikan truk keponakannya, membuat adiknya yang berprofesi TKI pulang
dari Bahrain, dan keinginan-keinginan yang lain.

Dari cerpen tersebut dapat kita ambil amanat bahwa di dunia ini tidak
perlu melakukan hal-hal yang menyimpang agama dan adat karena itu hanya
berakhir sia-sia. Carilah nafkah yang halal untuk keluarga, bekerja dengan

pekerjaan halal untuk menghidupi keluarga walau pas-pasan lebih baik daripada
hidup berkecukupan namun hasil dari perbuatan yang haram.

4. Pandangan Masyarakat Terhadap Profesi Guru dalam Cerpen “Guru”
Karya Putu Wijaya
Cerpen ini ditulis oleh sastrawan yang dikenal serba bisa bernama Putu Wijaya

dan diterbitkan pada tahun 2005. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang anak
bernama Taksu yang sangat ingin menjadi guru. Namun, keinginannya bertolak
belakang dengan keinginan kedua orang tuanya. Orang tua Taksu tidak ingin anak
semata wayangnya menjadi guru karena menurut mereka guru itu bukan cita-cita,
guru adalah pekerjaan yang terpaksa alih-alih daripada menganggur. Orang tuanya
selalu membujuk Taksu dengan berbagai cara, mulai dari membelikan laptop
hingga mobil. Namun Taksu tetap teguh terhadap pendiriannya. Sehingga
barang-barang yang sudah diberikan kepada Taksu ditarik kembali oleh kepada
orang tuanya. Sampai pada suatu hari Taksu pergi merantau dan pada 10 tahun
kemudian ia menjadi guru dari 10.000 orang pegawai.

Dalam cerpen tersebut terdapat anggapan bahwa profesi guru kerap dipandang
sebelah mata oleh banyak orang. Mereka menganggap bahwa guru hanyalah
pekerjaan rendah yang tidak dapat membuat seseorang tersebut berkecukupan.
Namun pada akhir cerita Putu Wijaya membuktikan bahwa profesi guru tidak
seburuk yang di pandang oleh masyarakat lain. Guru tidak hanya bisa mengajar di
sekolah, namun bisa di mana saja.

Menurut saya cerpen ini sangat inspiratif, karena cerpen tersebut
mengajarkan kepada pembaca untuk mempunyai pendirian, apalagi tentang
cita-cita tidak usah mempedulikan pendapat orang lain. Selain itu, sebagai orang
tua hendaklah selalu mendukung cita-cita anak selama hal tersebut positif.

5. Ironi Pada Cerpen Senyum Karyamin
Cerpen ini ditulis oleh sastrawan dan budayawan Indonesia yakni Ahmad

Tohari. Cerpen Senyum Karyamin ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka
Utama Jakarta pada tahun 1995. Berjudul Senyum Karyamin karena dalam cerpen
itu mengisahkan tokoh utamanya yang selalu tersenyum.

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang laki-laki paruh baya yang sudah
beristri bernama Karyamin. Setiap harinya, Karyamin bekerja sebagai pengangkut
batuan kali di desanya. Pekerjaannya yang berat seringkali membuat ia lapar
sehingga kerap kali jatuh karena jalanan yang ia tempuh licin dan
menanjak.Teman-teman kerjanya selalu menertawakannya karena hanya itulah
hiburan mereka. Karyamin yang kelaparan tetap memaksakan bekerja sampai
matanya berkunang-kunang dan telinganya berdengung, ia tidak mempunyai uang
dan enggan berhutang kembali kepada penjual pecel karena ia telah berhutang
banyak. Kemudian atas saran dari teman-temannya ia pulang ke rumah dan ia
bertemu Pak Pamong yang meminta sumbangan untuk bantuan orang-orang
kelaparan di Afrika, namun Karyamin hanya tersenyum getir dan tertawa
terbahak-bahak hingga tubuhnya ambruk.

Menurut saya dari kisah Karyamin ini, kita bisa melihat ironi yang
umumnya terjadi di sekitar masyarakat, yakni orang-orang lebih cenderung
memperhatikan dan menolong orang yang jauh, padahal ada orang terdekat
mereka yang kebih membutuhkan. Berbuat baik memang tidak pandang bulu,
namun alangkah baiknya jika kita membantu orang terdekat kita, salah satunya
tetangga kita karena tetangga adalah orang terdekat yang ada jika saudara kita
jauh.

4

ANALISIS DRAMA

1. Dua Orang Tua Menanti Kematian Yang Dibawa Kereta Kencana

Kereta Kencana merupakan drama karya Eugene Lonesco yang diterjemahkan
oleh WS Rendra. Naskah lakon Kereta Kencana ditulis dan kemudian dipentaskan
pertama kali oleh WS Rendra di Yogyakarta pada tahun 1961 dengan tokoh wanitanya
bernama Ken Zuraida.

Judul Kereta Kencana dalam naskah drama ini merupakan sebuah majas yang
menggambarkan penjemputan kematian. Judul Kereta Kencana menjelaskan keadaan
atau suasana dalam cerita ini yakni sebagai alat transportasi yang digunakan oleh
kaum bangsawan pada lingkungan kerajaan. Drama ini bertema cinta yang sekaligus
merujuk pada penantian ajal. Drama ini mengisahkan tentang sepasang suami istri
yang sudah berusia dua abad sedang menunggu kereta kencana mereka. Selama
menunggu ajal, mereka sering bersenda gurau dengan melakukan nostalgia. Keduanya
tidak terlihat sering mengeluh dalam menunggu kereta kencana mereka karena
mereka selalu bercanda mesra dan tak jarang mereka membahas kembali masa lalu
yang sudah terlewat. Tak jarang juga mereka bertengkar kemudian bersenda gurau
kembali. Begitulah kehidupan mereka yang sudah tua tanpa mempunyai anak.
Kesepian tiada tara yang mereka coba menutupinya dengan saling bercanda.
Menunggu kereta kencana yang tak kunjung datang yang ternyata hanyalah ilusi
mereka yang tak pasti.

Tokoh dalam drama ini hanya dua orang yakn: Kakek yang bernama Henry dan
Nenek. Mengambil latar di rumah mereka pada malam hari. Sifat kakek dalam drama
tersebut manja kepada nenek, senang bersandiwara, mudah mengeluh. Sedangkan si
Nenek bersifat perhatian kepada kakek, bijak dan sabar.

Drama ini menarik untuk dibaca karena penulisan yang mengambil latar belakang
keadaan masa tua yang menanti ajal yang tak kunjung datang. Walaupun monoton,
namun penulis mampu membuat setiap percakapannya menarik karena gaya bahasa
dan isi dari pesan tersebut sangat dalam.

Amanat atau pesan dari drama ini adalah sebenarnya sangat mendasar, yakni
jadilah orang yang setia kepada pasangan, mampu menerima dan menjalani

kehidupan bersama sampai ajal menjemput. Bersenda gurau dan bercengkerama
sejatinya adalah teman selama bosan melanda.

2. Peran Keluarga Dalam Rumah Tangga Dalam Drama Pada Suatu Hari

Pada Suatu Hari merupakan naskah drama yang dikarang oleh Arifin C. Noer.
Tema yang terdapat pada drama ini adalah keluarga. Hal tersebut terlihat dari adanya
problematika keluarga yang ditampilkan dalam drama.

Secara garis besar drama ini menceritakan tentang kehidupan rumah tangga pada
umumnya, yang selalu terdapat konflik kecemburuan. Dimulai ketika sepasang suami
istri yang sudah tua yakni kakek dan nenek yang sedang menggelar acara ulang tahun
pernikahan mereka kedatangan tamu tak diundang yang merupakan mantan dari sang
kakek bernama Nyonya Wenas. Nenek pun menjadi marah dan cemburu hingga pada
akhirnya meminta cerai dengan si Kakek. Di tengah pertengkaran mereka, datanglah
anaknya bernama Nita yang hanya terdiam mellihat kedua orang tuanya bermusuhan.
Kemudian datanglah Novia yakni anak kedua kakek nenek yang ternyata juga ingin
mengajukan cerai kepada suaminya yang bernama Vita karena cemburu kepada pasien
yanng ditangani suaminya. Pada akhirnya sang Nenek menasehati Novia agar tidak
bercerai dengan suaminya. Akhirnya permasalahan Nenek dan Kakek terhapus begitu
saja karena anaknya.

Drama ini membahas isu unik tentang masalah yang dihadapi dalam kehidupan
rumah tangga saat memasuki usia tua. Kata perceraian terdengar mudah diucapkan
dalam drama ini. Melalui tokoh Nenek, kita bisa belajar bahwa kita harus memikirkan
masalah dengan tenang dan juga melihat masalah dari berbagai sisi.

Alur dalam drama ini adalah maju. Tokoh yang terdapat dalam drama ini antara
lain: Kakek, Nenek, Pesuruh, Janda (Nyonya Wenas), Arba (supir), Novia, Nita, Meli,
Feri, dan Vita. Latar tempat pada drama tersebut berada di sebuah ruang tamu rumah
Kakek dan Nenek. Sedangkan untuk latar waktu pada siang hari, suasana yang ada
pada drama berbagai macam diantaranya, keceriaan dan kebahagiaan ketika kakek
dan nenek sedang bercengkerama, tegang ketika nenek dan kakek bertengkar karena
kedatangan Nyonya Wenas

Amanat atau pesan yang dapat diambil dari drama ini adalah dalam berumah
tangga hendaklah untuk tidak gegabah dalam mengambil segala keputusan, terlebih
yang mengacu pada perceraian. Pikirkan semuanya dengan matang-matang jangan
sampai keluarga terdekat seperti anak menjadi korbannya. Sebagai keluarga
hendaknya juga saling menasehati jika anggota keluarga sedang dilanda masalah.
Peran orang tua juga sangat penting dalam rumah tangga anak.

3. Ending Tak Terduga Dalam Drama Bulan Bujur Sangkar

Bulan Bujur Sangkar adalah naskah drama yang ditulis oleh novelis sekaligus
penyair yang bernama Iwan Simatupang. Lakon Bulan Bujurr Sangkar pada awalnya
berjudul Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar. Ditulis pada tahun 1957, Bulan
Bujur Sangkar menggambarkan tentang pemberontakan yang terjadi pada masa
1950-an, terutama di daerah Sulawesi dan Sumatera.

Drama ini mengisahkan tentang orang tua yang selama hidupnya berhasil
mencapai keinginannya untuk membangun tiang gantung sesuai keinginnannya. Tiang
gantung disini dapat diartikan sebagai penentu awal dan akhir apakah kita akan
mematikan atau dimatikan. Selain tokoh orang tua ada juga tokoh ank muda yang
mencoba membunuh orang tua, karena ia menganggapnya sebagai musuh. Namun,
orang tua itu mempengaruhi anak muda dengan mencoba meyakinkan bahwa
kehidupan adalah pilihan untuk mati dan dimatikan. Akhirnya pemuda itu meninggal.
Kemudian di adegan selanjutnya ada seorang gadis yang datang kepada orang tua
tersebut menanyakan pemuda yang telah meninggal tadi yang ternyata tunangannya,
mendengar berita bahwa tunangannya meninggal akhirnya gadis itu pun bunuh diri.
Orang tua yang sebelumnya ingin memperkosa gadis itu kaget ketika melihat gadis
tersebut gantunng diri, akhirnya orang tua pun ikut bunuh diri.

Tema dalam drama ini adalah tentang arti hidup dan mati. Hal ini didasarkan pada
tokoh Orang Tua yanng meributkan hal tersebut. Bahasa yang terdapat dalam naskah
ini sangat sullit untuk dipahami, karena menggunakan filsafat yang sulit dicerna oleh
orang awam. Penyajian alur dalam drama ini diwujudkan dengan urutan adegan.
Terdapat tiga adegan, dengan tokoh yang berbeda pula dalam setiap adegan. Alur
dalam drama ini bersifat maju. Latar tempat yang terdapat dalam drama ini adalah di

sebuah lereng gunung. Tokoh yang terdapatdalam drama ini antara lain; Orang Tua,
Anak Muda, dan Perempuan.

Drama ini memiliki amanat atau pesan moral yang sangat mendalam yakni bahwa
semua makhluk hidup pasti akan mati dan kematian akan datang di waktu yang tidak
bisa kita duga dan kita harus siap menghadapinya. Secara tersirat pengarang juga
ingin menyampaikan kepada pembaca untuk selalu menjaga diri agar tidak mudah
terjerumus ke dalam perbuatan yang tercela dan jangan mudah terkena hasut orang
yang tidak dikenali atau jangan mudah percaya dengan orang lain.

4. Konflik Penggusuran Makhluk Halus Dalam Drama Dhemit

Drama ini ditulis oleh pemeran teater Indonesia yang bernama Heru Kesawa
Murti. Naskah ini berjudul dhemit karena dalam drama tersebut terdapat banyak lakon
yang berupa dhemit atau makhluk halus.

Diangkat dari masalah lingkungan di sekitar kita, drama ini menceritakan
penebangan hutan dan perebutan lahan yang akan dijadikan sebuah proyek
perumahan, namun dalam hutan tersebut terdapat dhemit yang menunggu hutan.
Seorang mandor bernama Rajegwesi berdiskusi dengan bawahannya untuk
memecahkan solusi karena masih ada satu pohon besar bernama pohon preh yang
tidak bisa ditebang karena ada dhemit yang menungguinya. Golongan dhemit terusik
atas aksi penebangan hutan tempat tinggal mereka. Hingga pada akhirnya golongan
dhemit menculik salah satu pembantu mandor yang bernama Suli. Namun, berkat
bantuan dari sesepuh desa, Suli dapat kembali lagi dengan syarat para penebang harus
meninggalkan hutan. Namun, Rajegwesi tetap saja menebang pohon itu, hingga pada
akhirnya pohon itu tumbang dan tanah-tanah yang ada di sekitarnya longsor dan
Rajegwesi ikut tertimbun longsor dan terkapar tak berdaya.

Tema yang terdapat dalam drama ini adalah perusakan alam dan lingkungan
akibat keserakahan manusia. Tokoh yang terdapat dalam drama ini antara lain;
Rajegwesi sebagai mandor, Suli pembantu Rajegwesi, para dhemit (Gendruwo,
Kuntilanak, Jin Pohon Preh, Wilwo, Egrang dan Sawan), Sesepuh Desa, dan
pembantu Sesepuh Desa. Latar tempat yang diambil dalam naskah drama tersebut
adalah di sebuah hutan dusun, di tempat tinggal jin pohon preh. Latar suasana dalam

drama ini cenderung mengarah ke mencekam dan tegang. Drama ini menggunakan
alur maju. Amanat yang terdapat dalam drama ini adalah hendaknya menjaga
kelestarian lingkungan dengan tidak merusak hutan seenaknya, dan janganlah menjadi
manusia yang serakah.

Drama ini sangat menarik untuk dibaca karena didalamnya terdapat banyak
sindiran yang diberikan pengarang antara lain proyek pembangunan yang dilakukan
secara tidak hati-hati maka akan mengakibatkan lingkungan sekitar rusak. Selain itu
kesadaran mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam juga disampaikan oleh
tokoh yang ada dalam drama tersebut, yakni ketika Rajegwesi berdialog dengan Suli
mengenai cara menjaga tanah agar tidak mudah longsor yakni dengan membuat
sistem terrasering.

5. Problematika Kasta Dalam Drama Bila Malam Bertambah Malam

Bila Malam Bertambah Malam adalah sebuah naskah drama yang ditulis oleh
seorang sastrawan yang dikenal serba bisa bernama Putu Wijaya. Beliau menerbitkan
naskah drama Bila Malam Bertambah Malam pada tahun 1970.

Drama ini menceritakan tentang seorang janda yang begitu membanggakan
kebangsawanannya bernama Gusti Biang. Gusti Biang tinggal bersama dengan Wayan
seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan dari mantan suaminya, dan
Nyoman Niti seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal menjadi
pelayan di Puri itu dan diasuh oleh Gusti Biang. Sementara Putra semata wayangnya,
Ratu Ngurah telah lima tahun meninggalkannya karena ia sedang menuntut ilmu di
Pulau Jawa. Gusti Biang sangat sombong kepada para pelayannya, suatu ketika ia
menuduh Nyoman hendak meracuninya, karena ia tidak sanggup lagi akhirnya ia
melarikan diri dari rumah Gusti Biang. Namun sebelum ia pergi, Gusti Biang menagih
utang-utang Nyoman selama hidupnya. Akhirnya Nyoman tidak tahan dan memilih
pergi. Wayan yang menyadari bahwa Nyoman telah pergi akhirnya mencari Nyoman
namun tidak bisa, akhirnya ia bertanya kepada Gusti Biang. Wayan sekaligus
memberitahukan Gusti bahwa anaknya, Ngurah akan bertunangan dengan Nyoman.
Mendengar hal itu Gusti sangat kaget dan tidak setuju dengan keputusan anaknya.
Kemudian Ngurah datang, pulang dan meminta restu ibunya untuk menikahi Nyoman.
Di sana pula Wayan menjelaskan bahwa Wayanlah yang menembak istri ibunya dan

dia juga mengungkapkan bahwa ia adalah ayah kandung Ngurah, dan istri ibunya
hanya lah seorang pengkhianat yang lahir dari keluarga bangsawan. Wayan kemudian
menyuruh Ngurah untuk mengejar Nyoman. Ia juga memberitahu Ngurah bahwa
cintanya dengan Gusti Biang tidak bisa bersatu hanya karena perbedaan kasta.
Hubungan Ngurah dan Nyoman akhirnya direstui oleh Gusti Biang.

Tema dalam drama ini adalah perbedaan status sosial tergambar dari Gusti
Biang yang mempersoalkan derajat kebangsawanannya dihadapan Nyoman yang
bergelar Sudra. Sedangkan latar tempat dalam drama ini yaitu rumah kediaman Gusti
Biang serta latar waktu terjadinya yaitu pada saat malam hari seperti judulnya Bila
Malam Bertambah Malam. Latar suasana tegang karena penuh perdebatan. Alur
dalam drama ini bersifat campuran karena Wayan menjelaskan masa lalu keluarga
Gusti Biang. Adapun amanat dari drama ini adalah janganlah menganggap rendah
orang lain, hormatilah orang yang telah bersama kita, dan jangan mengungkit
kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain apalagi sampai meminta
imbalan.

Nityasa Resti Widiyatna
22201241068

1
ANALISIS PUISI

1. Chairil Anwar

Analisis Puisi Doa Karya Chairil Anwar

Dalam puisi Doa Karya Chairil Anwar tersebut digambarkan pemahaman terhadap keberadaan
Tuhan pemilik alam semesta. Rasa tunduk dan patuh kepada sang pencipta (Tuhan), dalam puisi tersebut
memberikan pesan untuk selalu mengingat dan percaya akan Tuhan dalam keadaan apapun, sejauh kita
melangkah,seberat apapun cobaan tempat terbaik untuk kembali adalah Tuhan. Hal ini relevan dengan
kehidupan manusia, ketika manusia kehilangan arah dan membutuhkan pegangan sebagai tumpuannya
berkeluh kesah sudah sepatutnya manusia pulang dan kembali pada tuhannya. Meminta ampun dan
meminta pertolongan pada tuhan adalah keharusan manusia untuk tetap beriman kepada tuhannya.
Manusia senantia bersama tuhannya dalam berhubungan dan menjalani kehidupan jadi bukakan hati,
pikiran dan jiwa kepada tuhan.

Tema : Keagamaan (Tuhan)

Diksi :

Menggunakan kata ganti (Pronomina) pada beberapa kata dan kalimat.

● Kepada pemeluk teguh, maknanya menggantikan adalah tuhan
● Aku menyebut nama-Mu, Mu bermakna menggantikan tuhan

Menggunaka bahasa kiasan pada beberapa kata dan kalimat

● Dalam temangun, bermakna terdiam/terdiam dengan jiwa yang kosong
● Aku masih menyebut namamu, bermakna sedang berzikir
● Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi, maknanya kesadaran yang tinggal sedikit

Menggunakan Repetisi

● Tuhanku

Majas Metafora

● Kepada pemeluk teguh = Tuhan

Asonansi

● Dalam termangu, aku menyebut namamu

Majas Hiperbola

● Aku hilang, remuk
● Caya-Mu panas suci

Tipografi

1. Menggunakan tipografi semi konsisten
2. Ditulis secara singkat dan jelas ,pemilihan kata di buat semi kiasan, diulis rata kiri dan kalimat di

setiap baris pendek dan singkat.
3. Penggunaan huruf kapital beragam di setiap barisnya.

Pencitraan (Imaji)

1. Pencitraan rabaan , pada kalimat di pintumu aku mengetuk dan cayamu panas suci.
2. Pencitraan penglihatan , pada kalimat tinggal kerlip lilin di kelam sunyi.

2. Amir Hamzah

Analisis Subuh Karya Amir Hamzah

Makna

Menggambarkan seorang umat yang imannya lemah. Digambarkan di waktu subuh seorang umat
yang sudah mendengar seruan panggilan beribadah, namun karena bujukan setan dan iman yang kurang
menjadikan ia tidak jadi menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim yaitu solat subuh. Puisi ini
berhubungan erat untuk umat muslim saat ini yaitu banyak yang lalai dengan kewajibannya sebagai umat
beragama. Agama saat ini hanya dianggap formalitas semata sementara kewajiaban dan aturan pada
tuhannya seringkali dilupakan dan dianggap kuno.

Tema : Keagamaan (Tuhan)

Diksi

Menggunakan kata ganti ( Pronomina) pada beberapa kata dan kalimat.

● Terjaga aku tersentak duduk, bermakna tokoh aku terbangun dari tidurnya.
● Kalau subuh kedengaran tabuh, bermakna suasana subuh yang terdengar bedug
● Terdengar irama panggilan jaya, bermakna suara adzan subuh

Menggunakan kata atau kalimat kiasan

● Masuk bisik hembusan setan, bermakna datangnya godaan setan
● Menjatuhkan kelopak mata terbuka, bermakna seseorang yang kembali tidur.
● Terbaring badanku tiada berkuasa, seseorang yang tidak kuasa dengan kantuknya.
● Bulan seorang tertawa terang, bermakna keadaan alam sedang cerah
● Bintang mutiara bermain cahaya, bermakna cerahnya alam dengan adanya bintang dan bulan.
● Menangis ia bersuara seni,ibakan panji tiada terdiri, bermaka dalam hati kecil sedih karena tidak

bisa menjalankan kewajibannya sebagai umat.

Majas Personifikasi

● Bulan seorang tertawa terang
● Bintang mutiara bercermin cahaya
● Menangis ia bersuara seni

Majas Metafora
● Masuk bisik hembusan setan
● Menjatuhkan kelopak mata terbuka
● Terjaga aku tersentak duduk

Majas Hiperbola
● Terbaring badanku tiada berkuasa
● Tertutup mataku berat semata

Tipografi
● Menggunakan tipografi semi konsisten.
● penulisannya rata kiri, dan bagian kanan terlihat tidak teratur,
● Terkesan singkat dan indah karena tiap baris puisi hanya disusun oleh beberapa kata saja, jadi
baris dalam puisi tersebut tidak panjang.
● dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital

Pencitraan ( Imaji)
● pencitraan pendengaran, kala subuh kedengaran tabuh.
● pencitraan penglihatan ,terlihat panji berkibar dimuka.

3. Subagio Sastrowardoyo

Analisis Puisi Pidato Di Kubur Orang

Karya Subagio Sastrowardoyo

Dalam puisi tersebut bersetting di tempat pemakaman, dan pada saat tokoh “ia” sedang di
makamkan. Digambarkan pada puisi ini bahwa tokoh “ia”sangat baik dan tabah saat menghadapi banyak
cobaan tentang hidup. Pesan yang dapat di ambil adalah setiap manusia memiliki cobaan kehidupan
,kesabaran dalam menjalani kehidupan adalah kunci terpenting .

Tema

Puisi di atas mengandung tema kesabaran. Kesabarannya ini ditunjukan secara tersurat dari puisi
tersebut.

Diksi

Menggunakan

Repetisi

● ia terlalu baik buat dunia ini

menggunakan Aliterasi

● ketika gerombolan menbakar rumahnya,dan menembak kepalanya

Majas Eufinisme

● ia terlalu baik buat dunia ini
Majas Hiperbola

● Ketika gerombolan menculik istri
dan memperkosa anak gadisnya
ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian.

Tipografi

● Menggunakan tipografi semi konsisten.
● Penulisannya rata kiri, dan bagian kanan terlihat tidak teratur,
● Tidak singkat dan indah karena tiap baris puisi , dan jelas.
● Dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital

Pencitraan( Imaji)

Imaji Penglihatan (Citraan Visual)

● Ketika gerombolan mendobrak pintu
● Dan menjarah miliknya
● Ketika gerombolan memukul muka
● Dan mendopak dadanya
● Ketika gerombolan menculik istri
● Dan memperkosa anak gadisnya
● Ketika gerombolan membakar rumahnya
● Dan menembak kepalanya

Imaji Parabaan

● Dan mendopak matanya
● Ketika gerombolan mendobrak pintu

● Dan memperkosa anak gadisnya

4. Sapardi DjokoDamoko

Analisis Puisi yang Fana Adalah Waktu
Karya Sapardi djoko Damoko

Makna
Tuhan memberikan waktu yang baik untuk setiap umatnya, sudah sepatutnya manusia(umatnya)

memanfaatkan waktu dengan sebaiknya pula. Pesan yang dapat diambil adalah setiap manusia haruslah
ingat akan pentingnya waktu sehingga dapat memanfaatkan sebaik mungkin. Hal ini relevan dengan
kehidupan manusia saat ini yang sulit membagi waktunya dengan baik, banyak waktu yang terbuang sia
sia. Padahal yang kita ketahui yang waktu adalah hal yang berharga.
Tema

Bertema mengenai pentingnya waktu. Waktu adalah fan dan tidak nyata. Dan seharusnya kita
memanfaatkan waktu sebaik baiknya.
Diksi
Menggunakan kata kata yang lugas dan mudah dipahami karena memnggunakan kosakata sehari hari.
Menggunakan kalimat Repetisi.
Majas Metafora

● adalah hal yang fana” untuk waktu dan “adalah yang abadi”
Majas Simile

● Bunga memiliki makna detik
Tipografi

● Menggunakan tipografi semi konsisten
● Ditulis secara singkat dan jelas
● dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital
Pencitraan (Imaji)
Imaji rabaan
● Memungut detik demi detik, merangkainya

Willibrordus Surendra Broto Rendra

Sajak Sebatang Lisong

Analisis Puisi Sajak Sebatang Linsong

Karya W.S. Rendra.

Makna

Puisi ini bermakna konotatif berupa sindiran penulis tentang keadaan indonesia, puisi ini di tulis
pada tahun 1973, namun puisi ini masih relevan sampai saat sekarang, tetang keadaan politik
inonesia saat ini, tentang pendidikan diindoneia saat ini, tentang pekerjaan diindonesia saat ini,
ketimpangan sosial sampai saat ini dan masih bayak lain kesenjangan indonesia pada saat
sekarang ini.

Pada bait pertama puisi ini , penulis mengkritik sosial dengan menyampaikan tentang
kondisi rakyat indonesia, serta tindakan seenaknya yang dilakukan oleh para pemegang
kekuasaan terhadap masyarakat lemah.

Selanjutnya pada bait kedua puisi ini, penyair mengkritisi keadaan pendidikan indonesia
yang yang dimana banyak anak anak indonesia masih belum dapat mengenyam pendidikan yang
baik .

Pada bait ketiga puisi ini menyampaikan keinginan penyair untuk memperbaiki kondisi,
namun semuanya sia-sia. Karena setiap usaha yang dilakukan mendapat halangan dan sikap para
pemangku kekuasaan hanya acuh tak acuh.

Bait keempat dari kutipan diatas penyair, menjelaskan tentang nasib anak bangsa
Indonesia menghadapi kehidupan yang panjang tanpa tujuan, serta tiada pilihan hidup. Mereka
tidak mempunyai tempat untuk berlindung, tempat untuk berteduh dan tidak ada harapan untuk
mendapat kehidupan yang lebih baik.

Bait kelima puisi ini bercerita tentang suatu keadaan yang dipaksakan indah, dimana
sarjana-sarjana menganggur dimana, penuh keringat mencari pekerjaan. Sementara itu, para
penguasa menghina bangsanya sendiri, menganggap bahwa yang bersalah atas keadaan ini
adalah rakyatnya yang malas. Mereka mengatakan bahwa bangsa mesti dibangun; mesti
di-up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor. Bangsa ini harusnya siap menghadapi
perubahan zaman, bangsa harus membuka kekakuan mereka untuk memasukkan ilmu baru yang
lebih maju.

Bait keenam menyiratkan bahwa kehidupan telah berubah, telah banyak gedung-gedung
pencakar langit, dan malam penuh gemerlap. Perihal rakyat lemah, mereka tetaplah di bawah.
Begitu banyak protes yang ingin disampaikan tapi hal itu tak bisa mereka sampaikan karena
kekuasaan menghalangi. Lebih baik mereka diam dan tidur dari pada celaka pada akhirnya.

Bait ketujuh berisi kritikan kepada penyair lain yang sibuk menulis hal-hal yang indah
saja. Mereka tidak peka, padahal disamping mereka rakyat menderita.

Bait kedelapan menggambarkan bahwa banyak anak-anak terdiam menunggu nasib
mereka di bawah kekuasaan yang hingar bingar. Sedangkan generasi penerusbangsa
pandangannya kabur melihat kehidupan pemerintah yang gemerlap dan mereka masih belum
bisa menentukan tujuan. Sedangkan orang tua mereka memiliki berjuta harapan terhadap
anak-anaknya yang belum tentu harapan itu terwujud.

Pada bait kesembilan penyair menyampaikan bahwa Indonesia harus berhenti bergantung
kepada negara lain, dan kita harus bangkit dan berbenah diri. Negara tidak akan maju jika kita
mencontoh negara lain. Kita sendirilah yang harus membenahi diri, mencari tahu kekurangan dan
berusaha memperbaikinya dengan kerja yang nyata.

Bait kesepuluh puisi ini menyampaikan bahwa inilah pikiran atau gagasan dari penulis
tentang negeri Indonesia ini. hanya sekedar uraian dari sebagian pemikiran atas permasalahan
bangsa yang ditulis dimasa yang genting. Dan penyair menegaskan bahwa untuk apa kita cerdas,
berpendidikan tinggi, tetapi kita tidak bisa memberi solusi terhadap masalah-masalah yang
terjadi dalam kehidupan ini.

Bait kesebelas, berisi pertanyaan yang mempertanyakan isi sajak-sajaknya. Menggugah
hati nurani pemerintah, rakyat, dan para sastrawan.

Tema :

Tema yang dianggakat adalah membahas soal kesenjangan sosial, khususnya pendidikan.
Penguasa yang berbuat sewenang-wenang, sedangkan banyak masyarakat kesusahan.

Diksi :

Diksi mengunakan bahasa kata kata yang relevan dengan keadaan pada saat itu dan sampai saat
ini keadaan itu masih terjadi. Dibuat seolah olah pembaca melihat, mendengar, merasa, apa yang
digambarkan oleh penulis (W.S. Rendra)

Majas Pleonasme

● Matahari Terbit
● Fajar Tiba

Majas Personifikasi

● Membentur meja kekuasaan yang macet

Majas Hiperbola

● Delapan juta kanak-kanak
Menghadapi satu jalan panjang
Tanpa pilihan,
Tanpa pepohonan,
Tanpa dangau persinggahan
anpa ada bayangan ujungnya

Tipografi

● Menggunakan tipografi rata kiri
● Menggunakan bait dalam puisinya
● Baris setiap bait beragam dan bebas.

Pencitraan (Imaji)

Citraan Visual (pengelihatan)

● aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya

● Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala

Citraan Auditory (Pendengaran)
● Berjuta-juta harapan ibu dan bapa
menjadi gebalau suara yang kacau

Citraan Olfactory (Penciuman)
● Menghisap udara
yang disemprot deodorant

Citraan Kinestetik (Pergerakan)
● Kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa-desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

Citraan Perabaan
● aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya

6. Taufik Ismail

Analisis Puisi Malam Sabtu

Karya Taufik Ismail

Makna
Adalah seorang yang polisi/pejuang yang memperjuangkan keselamatan dan menjaga
masyarakatanya. Karena kala itu banyak terjadi penculikan dan memakan banyak korban
.
Tema

Puisi ini bertemakan perjuangan dari polisi/pejuang untuk tetap siap siaga menjaga masyarakat
sehingga tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

Diksi

● Menggunakan kata kata yang lugas dan mudah dipahami karena memnggunakan
kosakata sehari hari.

● Menggunakan kalimat repetisi
● Dijabarkan dengan terbuka tanpa ada kalimat kias
● Tedapat Pertanyaan Retoris

Majas

Majas Pleonasme

● Bernafas Panjang
● Menanti lama sekali

Majas Hiperbola

● Menderita dalam nyeri

Tipografi

● Menggunakan tipografi yang tidak konsisten
● Ditulis secara panjang dan jelas
● dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital
● dijabarkan dengan lugas tanpa adanya kiasan

Pencitraan (Imaji)

● Imaji Pengelihatan = ada pula mayat adik adik kita yang dicuri
● Imaji pendengaran = dengarkan, dengarkanlah di luar sana
● Imaji rabaan= menderita dalam nyeri
● Imaji Penciuman = Apakah kita hanya akan bernafas panjang

7. Emha Ainun Najib(Cak Nun)
Analisi Puisi Kita Memasuki Pasar Riba

Karya Emha Ainun Najib (Cak Nun)

Makna
menjelaskan tentang gambaran hidup dibawah kepemimpinan dan politik yang tidak tahu dan
tidak sesuai hukum. Yang berbaur antara halal dengan haram.
Tema
Bertemakan tentang Keserahan dan kebohongan manusia pada abad ini, segala cara dihalalkan
untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin tanpa melihat penderitaan orang lain.
Diksi
Mengutarakan dengan bahasa yang kias namun tetap mudah di pahami dan lugas.
Topografi

● Menggunakan tipografi yang semi konsisten
● Ditulis secara singkat dan jelas
● Dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital
● Dijabarkan dengan adanya kiasan
● Ditulis rata tengah
Majas
Majas Hiperbola
● Medan perang keserakahan
Majas Simile
● Seperti ikan dalam air tenggelam
Sarkasme
● Darah riba mengalir
Pencitraan (Imaji)

Pencitraan penglihatan = Kita memasuki pasar riba

8. Linus Suyardi

Analisis Puisi Elegi
Karya Linus Suyardi

Makna
Seorang penulis yang kehilangan kekasihnya. Hidupnya yang seorlah hampa tanpa kekasihnya lalu ia
empaskan semua dengan bernyayi, mungkin saja dengan bermain gitar adalah pelariannya dalam
kesendiriannya tersebut.
Tema
Kisah percintaan sepasang kekasih yang kandas karena pasangannya yang pergi meninggalkannya.
Diksi

● Menggunakan kata kata yang lugas dan mudah dipahami karena memnggunakan kosakata sehari
hari.

● Menggunakan kalimat repetisi
● Dijabarkan dengan terbuka tanpa ada kalimat kias
● Mengunakan repetisi
Tipografi
● Menggunakan tipografi yang semi konsisten
● Ditulis secara singkat dan jelas
● dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital
● dijabarkan dengan adanya kiasan
● ditulis rata kiri
Pencitraan (Imaji)
● Imaji Rabaan (Kinestetik) = Pemuda Itu memetik gitar
● Imaji Pendengaran (Audiovisual) = Ia Berkisah, Jelas kudengar

9. Goenawan Mohamad

Analisi Pada Sebuah Tamasya
karya Goenawan Mohamad

Makna

Seseorang yang mempertanyakan kehadirannya , untuk apa dia disana?
Tema

Menggambarkan orang yang kebingungan
Diksi

Dijelaskan menggunakan beberapa bahasa kiasan yang bermakna ganda.
Majas

Majas Personifikasi = Hutan mengerang, hari mengabu
Tipografi

● Menggunakan tipografi yang semi konsisten
● Ditulis secara singkat dan jelas
● Dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital
● Dijabarkan dengan adanya kiasan
● Ditulis rata kiri
Pencitraan (Imaji)
● Imaji visual =Kenapa kau ikuti aku

10. Kuntowijoyo

Analisis Puisi Yang Terasing

Karya Kuntowijoyo

Makna

Menggambarkan tokoh “engkau” yang dikurung di dalam suatu ruang berdinding baja,
yang kebebasanya direnggut dan kehidupan diluar terlihat tetap berjalan baik seolah tak
memperdulikan tokoh “engkau”

Tema

Menggambarkan kebebasanyang dibatasi.

Diksi

Menggunakan bahasa yang mudah di mengerti namun syarat akan makna yang
terkandung didalamnya.

Majas

Hiperbola

● Kamar kamar raksasa
Tipografi

● Menggunakan tipografi yang semi konsisten
● Ditulis secara singkat dan jelas
● Dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf kapital
● Dijabarkan dengan lugas
● Ditulis rata kiri

Pencitraan (Imaji)

● Imaji Rabaan
Terpaku di kursi

2

ANALISIS CERPEN

Analisis Cerpen Dilarang Mencintai Bunga- Bunga

Karya Kuntowijoyo

Cerpen =Dilarang Mencintai Bunga-Bunga
Penulis =Kuntowijoyo
Tema =kehidupan, pandangan hidup,
Tokoh = Ayah, Buyung, Kakek, Ibu
Penokohan

● Buyung
Tokoh buyung digambarkan seorang anak kecil yang penasaran akan semua hal.

● Ayah
Tokoh ayah di gambarkan sebagai tokoh yang kasar, tegas, suka pemaksa, dan
keras akan pendiriannya.

● Kakek
Tokoh Kakek digambarkan adalah sosok yang tenang, baik hati ramah, pemaaf,
dan penyayang anak.

● Ibu
Tokoh Ibu digambarkan sosok yang sabar,penyang , dan pelindung bagi buyung
dari Ayahnya.

Alur = menggunakan alur maju

Latar
● Latar Tempat = Rumah tokoh Buyung, Rumah kakek, Masjid.
● Latar Suasana = Tenang, mencekam, menakutkan, pasrah.
● Latar Waktu = Pagi , siang, sore, dan malam.

Sudut Pandang

Sudut pandang pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” adalah Orang Pertama
Pelaku Utama.

Amanat

Setiap orang mempunyai pandangan sendiri dalam memaknai hidup, seperti halnya kakek
yang memaknai kebahagiaan datang ketika seseorang memiliki ketenangan batin,
sedangkan ayah berpandangan kerjalah yang akan mendatangkan kebahagiaan.

Nilai nilai yang dapat diambil

1. Nilai kemanusiaan
Digambarkan dengan berbagai wataj tokoh yang bermacam macam, terligat tokoh
kakek yang selalu ada disaat buyung sedang menggalami kebimbangan hati mengenai
pandangan hidupnya tentang sebuah kehidupan. Kakek difisualisasikan adalah
seorang yang bebas dan tidak terbebani akan suatu hal karena sumber
kebahagiaannya adalah ketenangan jiwa dan batin. Namun demikian berbeda dengan
ayah yang merasa segala sesuatu haruslah diusahakan begitu juga dengan
kebahagiaan yang timbul karena usaha yang kita perbuat.

2. Nilai kesusilaan
Diawal digambarkan Buyung yang terlihat tidak sopan dengan mencoba mengintip
rumah si kakek. Hal ini merupakan nilai yang tidak patut ditiru dan tidak dibenarkan,
namun demikian untuk hal hal yang positif hal tersebut dibenarkan. Dalam cerita si
buyung seorang anak kecil yang dengan rasa ingin tahu yang tinggi penasaran ada apa
di balik tembok rumah kakek.

3. Nilai ketenangan
Nilai ini digambarkan dengan bunga bunga kakek yang tumbuh dengan tenang dan
senyap tanpa mengganggu yang lain, disaat bunga telah tumbuh, kemudian
memberikan keindahan yang membuat orang disekitarnya bahagia, hal tersebut
menjadi gambaran dari watak kakek yang mencitai bunga bunga karena bungalah
rumber kebahagiaanya. Karena bunga memberi ketenangan.

4. Nilai Feminisme

Hal ini di gambarkan oleh tokoh kakek yang mencintai bunga bunga, dan akhirnya
mengajak buyung juga untuk mencintai bunga bunga, hal ini untuk sebagian orang
seperti ayah adalah hal yang salah karena bunga adalah interpretasi dari wanita, lelaki
tidak sebaiknya bersinggungan dengan bunga. Namun demikian hal ini tidak
dibenarkan karena sejatinya baik wanita maupun laki laki memiliki hak yang sama
untuk menyukai apapun.

Analisis Cerpen Laki-Laki Pemanggul Goni

Karya Budi Darma

Cerpen = Laki-Laki Pemanggul Goni

Penulis = Budi Darma

Tema = Misteri (dari si laki laki pemanggul goni)

Tokoh = Laki- Laki Pemanggul Goni, Karmain, Ibu Karmain, Ayah Karmain, teman t
eman Karmain (Ahmadi, Qoiri, Abdul Goni)

Penokohan

● Laki laki Pemanggul Goni
Tokoh laki laki pemanggul goni digambarkan sebagai tokoh misterius, kejam,
pemarah.

● Karmain
Tokoh karmain digambarkan sebagai tokoh yang baik , rajin beribadah, murah
hati, dan tegar dalam mengghadapi beberapa cobain.

● Ibu karmain
Tokoh ibu digambarkan tokoh yang baik hati dan perhatian pada karmain.

● Ayah karmain
digambarkan sosok yang bejat karna membunuh babi hutan.

● Tokoh teman teman Karmain
Digambarkan tokoh yang sadis, karna telah membunuh anjing rumah dengan
meracuninya.

Alur = Menggunakan alur campuran

Latar


Click to View FlipBook Version