The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini berisi kumpulan analisis karya sastra berupa puisi, novel, cerpen, dan naskah drama mahasiswa PBSI kelas K. E-Book ini disusun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Membaca Sastra yang diampu oleh Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ancasnurul1, 2022-12-27 23:34:22

Analisis Karya Sastra PBSI K (1)

E-Book ini berisi kumpulan analisis karya sastra berupa puisi, novel, cerpen, dan naskah drama mahasiswa PBSI kelas K. E-Book ini disusun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Membaca Sastra yang diampu oleh Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd.

Keywords: Analisis Karya Sastra

Karya : Taufiq Ismail

Tidak ada pilihan lain
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”
Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.

(Taufik Ismail/1966)

1. Tema : Perjuangan.

2. Pesan : Kita harus mempertahankan kemerdekaan ini dan terus berjuang untuk negara
maju dan berkembang.

3. Diksi : Kalimat “para pembunuh” memiliki arti sebenarnya yaitu penjajah.“ kita” yang
bermakna orang banyak yaitu rakyat Indonesia.“Akan maukah kita duduk satu meja”
kata meja yang sebenarnya adalah Kerjasama atau perundingan.

4. Gaya Bahasa : Menggunakan majas personifikasi pada kalimat “ dipukul banjir”.
Menggunakan majas hiperbola pada kalimat “apakah akan kita jual keyakinan kita?”

5. Pencitraan : Menggunakan imaji pendengaran pada kalimat “Dan seribu pengeras suara
yang hampa suara”. Imaji pengelihatan pada kalimat “Kita adalah manusia bermata sayu,
yang di tepi jalan.Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh”

6. Persajakan: Menggunakan sajak bebas.
7. Tipografi : Rata kanan,terdiri dari empat bait dan 24 baris
Komentar : Kita semua sebagai pemilik sah republik Indonesia harus mempertahankan
kemerdekaan yang telah diperjuangakan oleh pahlawan dulu seperti apa yang dituangakn pada
puisi ini oleh Taufiq Ismail.

Kepada Uang
Karya : Joko Pinurbo

Uang, berilah aku rumah yang murah saja, (1)
Yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku, (2)
Yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku. (3)
Sabar ya, aku harus menabung dulu. (4)
Menabung laparmu, menabung mimpimu. (5)
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu. (6)
Uang, berilah aku ranjang yang lugu saja, (7)

Yang cukup hangat buat merawat encok-encokku, (8)
Yang kakinya lentur dan liat seperti kaki masa kecilku. (9)

(Joko Pinurbo 2006 :18)

1. Tema : Kemiskinan
2. Pesan : Uang memang penting,namun jangan selalu bergantungbpada uang. Jika

menginginkan sesuatu dan tidak memiliki uang maka menabung dulu dan gunakanlah
untuk membeli hal yang sangat dibutuhkan.
3. Diksi : Menggunakan kata-kata umum yang mudah dipahami.
4. Gaya Bahasa : Menggunkan majas personifikasi pada kalimat “ Yang jendelanya hijau
menganga seperti jendela mataku”
5. Pencitraan : Imaji pengelihatan pada kalimat “Yang kakinya lentur dan liat seperti kaki
masa kecilku” dan “Yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.”
6. Persajakan : Menggunakan sajak bebas.
7. Tipografi : Terdiri dari sembilan baris dengan menggunakan huruf kapital pada awal
kalimat.

Komentar : Uang itu bukanlah segalanya jangan terus bergantung dengan uang belajarlah hemat
dan menabung. Gunakan uang sesuai kebutuhan.

Ibu

Karya : Zawawi Imron

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir
Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
Ibu adalah gua pertapaanku
Dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti
Bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
Lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu
Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
Dengan sajakku.

1. Tema : Kasih sayang
2. Pesan : Selalu mengingat jasa ibu yang telah ia berikan.
3. Diksi : Menggunakan kata denotatif pada kata “kemarau” yang berarti kekeringan.

Menggunakan kata konotatif pada kalimat “ angin sakal” yang berarti
masalah,cobaan,atau hambatan.
4. Gaya bahasa : Menggunakan majas metafora yaitu “ Ibu adalah gua pertapaanku” ,
“Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala” , “ Menyuruhku menulis langit biru” .
Menggunakan majas simile yaitu “kasihmu ibarat samudera”.

5. Pencitraan : Imaji pengelihatan yaitu “ Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama
reranting”. Menggunakan imaji penciuman yaitu “Saat bunga kembang menyemerbak
bau sayang”.

6. Persajakan : Menggunakan sajak bebas.
7. Tipografi : Menggunkan tanda baca titik dan koma serta huruf kapital diawal kalimat dan

pada kata Tuhan.

Komentar : kita tidak boleh melupakan jasa ibu yang telah ia berikan,ibu telah berkorban untuk
kita sebagi anaknya jadi kita juga harus mengingat jasanya dan membalasnya kelak

2

ANALISIS NOVEL

1. Judul : Lintang Kemukus Dini Hari

Pengarang : Ahmad Tohari

Tokoh : Tokoh utama :

● Srintil

Tokoh Pembantu :

● Nyai Sakarya
● Sakarya
● Nyai Kartareja
● Tampi
● Marsusi
● Sentika
● Waras
● Pak Bakar

Tema : Sosial,Politik,Percintaan

Alur : Menggunakan alur maju dari mencerintakan Srintil merasa kehilangan
karea ditinggalkan Rasus kemudian ia tidak mau lagi melayani para lelaki,namun ia kemudian
menjadi gowok dan ikut Pak Bakar meronggeng dalam rapat-rapat. Namun ternyata Pak Bakar
merupakan anggota PKI sehingga dalam penumpasan Gerakan PKI Srintil ikut ditahan

Latar :

● Tempat : Dukuh Paruk,Pasar Dawuan,Segara Anakan,Alaswungkal
● Waktu : 1964
● Sosial : Masyarakat pedesaan masih sangat percaya terhadap klenik serta jauh dari ilmu

pengetahuan

Ringkasa : Novel ini menceritakan tentang Srintil yang merasa kehilangan karena ditinggal
begitu saja oleh Rasus tanpa pamit. Setelah kepergian Rasus,Srintil menjadi pemurung tidak
seperti layaknya seorang Ronggeng.Dia juga sudah dua kali menolak untuk pentas.Hal tersebut
menimbulkan spekulasi dari masyarakat bahwa Srintil telah tergila-gila dengan Rasus.Mereka
menyalahkan Nyai Kartareja karena ia sebagai dukun Ronggeng tidak mampu mendidik Srintil
dengan baik.Hal ini membuat nyai Kartareja memutus hubungan Srintil dan Rasus dengan cara
gaib namun karena hal yang tidak sengaja dilakukan Srintil membuat mantra tersebut
luruh.Suatu Ketika datang Marsusi Dia ingin bertemu Srintil. Bukannya bertemu dengan pria itu,
Srintil melarikan diri ke Pasar Dawuan. Penampilan Srintil dan wajahnya yang tidak
menyenangkan membuat warga Pasar Dawuan berspekulasi macam-macam. Ada yang
mengatakan bahwa Srintil tidak terlalu ingin menjadi Ronggeng lagi, ada yang mengatakan
bahwa uang yang didapatnya untuk tidur dengan laki-laki tidak cukup, ada pula yang
mengatakan bahwa Nyai Kartareja sebagai orang yang merawat Srintil terlalu rakus.

Di sini keserakahan Nyai Kartareja terbukti. Untuk menyangkal bahwa Srintil ditangkap sendiri,
ia mengatakan kepada Marsusi bahwa Srintil adalah Ronggeng muda yang labil. Srintil cemburu
pada istri kepala desa Pecikalan yang memiliki kalung 100 gram. Ketika Marsusi mendengar ini,
hatinya sedih, jadi dia memutuskan untuk pulang dan kembali dengan kalung emas 100 gram
dengan berlian. Kemudian Nyai Kartareja mengikuti Srintila ke Dawuhan. Namun sesampainya
di Dawuhan, masyarakat tidak memberitahukan bahwa Srintil ada di sana, melainkan mereka
berbohong dengan menunjukkan arah yang salah tentang kepergian Srintil. Setelah merasa aman,
Srintil menuju ke markas tentara, sesampainya di sana secara tidak terduga, Kopral Pujo
mengatakan bahwa sebelumnya Nyai Kartareja menemukan Srintil di markas. Dia juga
menyatakan bahwa Rasus tidak ada di pangkalan. Rasus berada di luar kota. Tidak dapat
menemukan Rasus, Srintil memutuskan untuk kembali ke Dawuhan.

Kepergian Rasus memang berdampak besar, Srintil jatuh sakit. Bayangan Nyai Kartareja
membunuh rahimnya membuatnya ketakutan. Inilah sebabnya dia ingin mengendalikan Goder,
putra Tampi. Hanya si kecil yang bisa membuat hari-harimu lebih ceria.

Suatu hari Marsusi datang lagi. Dia ingin membawa Srintila keluar selama dua atau tiga hari.
Srintil tiba-tiba menolak. Tidak gentar, Marsusi mencabut kalung itu seperti yang diminta Nyai
Kartareja, Srintil kembali menolak, hal ini membuat Marsusi marah. Srintil bahkan tidak

melayaninya untuk berhubungan seks, karena Srintil memutuskan untuk berhenti berhubungan
seks dengan siapa pun. Kemarahan Marsusi mempengaruhi tantangan Kartareja kepada Srintil.
Tapi Srintil merasa tenang, setidaknya dia berusaha mengikuti jalan terbaik. Keengganan Srintil
untuk tampil membuat khawatir kakeknya Sakarya. Kemudian dia menangkap sasmita alam
bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Musim Agustus sudah dekat. Pemerintah Kecamatan Srintila diminta mundur. Meski awalnya
ragu, ia menerima ajakan itu dengan berbagai pertimbangan. Di sisi lain, Marsusi ingin menilai
penolakan Srintila, dia mendatangi dukun untuk mempermalukan Srintila di depan umum. Tentu
saja, ia beberapa kali terengah-engah saat menari di pertunjukan Augustan Srintila hingga
pertunjukan dihentikan.

Kemasyhuran Srintil terkuak, salah satunya didengar oleh Goder Alaswungkal. Goder sendiri
adalah orang yang sangat kaya dan baik hati. Ia bertemu dengan Srintila yang ingin
menggertaknya di rumahnya, selain itu ia juga meminta Srintila menjadi gowok, semacam istri
sementara untuk membesarkan laki-laki. Dia menjelaskan bagaimana sebuah rumah tangga
dibangun. Srintil setuju, tetapi kemudian memutuskan untuk menjadi laki-laki.

Setelah sampai di Alaswungkal, Srintil sebenarnya ingin menjadi Gowok juga. Bukan karena
pria yang dinikahinya kaya dan tampan, tapi karena hati nuraninya menyebut dia wanita.
Seorang wanita sebagai penyeimbang bagi seorang pria. Sekedar himbauan untuk berhati-hati
ketika menyadari bahwa orang yang akan menjadi suami Anda adalah anak yang masih
kekanak-kanakan. Seorang pria dewasa kurus yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, seperti
anak kecil. Seorang pria berusia tujuh belas tahun yang bahkan tahu apa itu nafsu.

Dengan susah payah, Srintil menjadi pria dewasa dengan akal sehat. Tapi dia menyerah dengan
penyesalan. Hanya sedikit perubahan yang masuk akal. Srintil merasakan kegagalan yang
mengerikan. Dia hanya bertahan tiga hari. Srintil merasa kecewa, bukan karena kebutuhan hawa
nafsunya tidak terpenuhi, tetapi karena kewanitaannya sama sekali tidak berarti.

Tahun 1964 adalah kejayaan Ronggeng Dukuh Paruk, meskipun Srintil tidak lagi ingin mengabdi
kepada laki-laki tetapi hanya ingin tampil. Terkadang dia diundang ke pertemuan. Berawal dari
Pak Bakar, lelaki Dawuan yang selalu berpidato tanpa suara, memberinya seperangkat pembicara

dan alat peraga untuk kebutuhan Ronggeng. Sejak saat itu, satu-satunya akses menuju Dukuh
Paruk dihiasi dengan lambang pesta.

Perubahan yang cepat di kawasan Dukuh Paruk membuat Sakarya dan Kartareja bingung, namun
ia tidak bisa berbuat banyak karena Pak Bakar telah banyak membantu masyarakat. Pak Bakar
selalu memasukkan hal-hal yang berbau propaganda ke dalam pidatonya, seringkali pertunjukan
ronggeng juga berakhir dengan kerusuhan. Inilah sebabnya Srintil dan kelompok ronggengnya
memilih untuk tidak mengikuti program Pak Bakar.

Hingga suatu hari, Sakarya menemukan bahwa cangkir masak Ki Secamenggala rusak. Ini
menyempit lebih jauh ketika topi hijau ditemukan. Informasi Caping Green adalah sesuatu yang
digunakan oleh para Bakar, orang-orang yang diduga merusak kubah. Untuk menjaga
kehormatan dan balas dendamnya, Srintil bergabung kembali dengan kelompok Bakar.

Pada tahun 1965, situasi semakin tidak terkendali, tentara terus melakukan ekspansi ke desa,
rumah-rumah Bakar dibakar. Rumor ini, dan itu dihabiskan sampai Dukuh Paruk. Bakar
diturunkan menjadi orang PKI. Untuk mengatasi masalah tersebut, Srintil dan Kartareja
memutuskan untuk datang ke kantor polisi. Mereka menjelaskan bahwa mereka hanya
berkecimpung di bidang seni dan tidak terlibat dalam kegiatan PKI sama sekali. Bukannya
diizinkan kembali, mereka berdua ditahan. Ini membunuh semangat Dukuha Paruk, wanita yang
sombong dan para tetua tidak lagi di tempat.

Tentu saja yang terpenting adalah Sakarya, tapi itu baru permulaan, karena beberapa hari
kemudian, sekelompok orang membakar Dukuh Paruk hingga menjadi puing-puing. Banyak
orang mengira Dukuh Paruk sudah di ambang kematian, apalagi Srintil sudah tidak tahu lagi di
mana letak hutannya. Sakarya, Nyai Kartareja, Sakum dan dua orang lainnya juga ditangkap.

Komentar : Setelah membaca novel ini saya menjadi tahu saya menyadari bahwa yang pantas
dipuja dan dipercayai hanya Tuhan seperti pada novel ini yang hanya memuja seorang Ronggeng
dan percaya hal hal klenik. Tokoh utama Srintil dalam novel ini sangat berani dalam mengambil
sikap,teguh pendirian,penyayang,serta peduli.

2. Judul : Laut Bercerita

Pengarang : Leila Salikha Chudori

Tokoh :

Tokoh Utama : Biru Laut

Tokoh Pendukung :

● Kasih Kinanti
● Asmara Jati
● Naratama
● Gusti
● Anjani
● Alex
● Daniel
● Sunu
● Gala Pranaya
● Bram
● Bapak
● Ibu

Tema : Sosial,Politik

Latar :

● Latar Tempat : Seyegan Yogyakarta,Ciputat,Jakarta
● Latar Waktu : Pagi,siang,malam,1998,1991
● Latar Suasana : Senang,sedih,takut,tegang

Alur : Campuran

Ringkasan : Novel ini memiliki beberapa babak. Babak pertama novel berlatar di tahun
1998 mengisahkan tentang seorang mahasiswa bernama Biru Laut yang diculik oleh sekelompok
orang tidak dikenal. Bersama dengan tiga temannya yang lain, ia dibawa ke sebuah tempat tidak
dikenal dan disekap selama berbulan-bulan. Selama disekap keempat sekawan itu diinterogasi,
dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia membuka suara. Orang-orang itu
ingin tahu, siapa dalang di balik gerakan aktivis dan mahasiswa kala itu. Masih di tahun yang
sama, keluarga Wibisono tengah menjalani aktivitas di hari Minggu seperti biasanya. Setelah

acara masak bersama, sang ayah menyusun piring di atas meja untuk empat orang, untuk dirinya,
untuk sang ibu, untuk si bungsu, dan juga untuk Biru Laut. Namun, meski lama menunggu Biru
Laut tidak kunjung muncul. Dua tahun selang hilangnya Biru Laut secara misterius, sang adik
Asmara Jati dan Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin oleh Aswin Pradana mencoba mencari
jejak mereka yang hilang. Mereka juga mempelajari testimoni dari mereka yang kembali. Tidak
hanya Asmara Jati, kekasih Laut, Anjani dan juga orang tua serta istri aktivis yang hilang turut
menuntut kejelasan nasib anggota keluarga mereka. Sementara itu, dari dasar laut yang sunyi,
Biru Laut bercerita kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Setelah membaca novel ini saya menjadi tahu bahwa biru laut memiliki watak yang
pemberani,optimis,keras kepala. Seharusnya kita jangan melanggar sebuah larangan yang ada
walaupun sebenarnya itu adalah hal yang kita sukai karena bisa saja itu malah membuat masalah
yang besar untuk kita seperti apa yang Biru Laut dan teman-temanya alami.

3. Judul ; Bumi Manusia
Pengarang
Tokoh ; Pramoedya Ananta Toer

Tema ;
Latar
● Minke
● Annelies
● Nyai Ontosoroh
● Herman Mellema,
● Robert Mellema
● Ayah Minke
● Ibu Minke,

; Percintaan

; Latar Tempat : Indonesia,Surabaya,Wonokromo

Latar Waktu : Masa Pemerintahan Belanda,1889

Latar Suasana : tegang,genting

Alur ; Campuran

Ringkasan ;

Novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan desa
yang dinikahkan dengan kaum bangsawan oleh ayahnya. Ia dinikahkan oleh ayahnya saat masih
berumur sangat muda. Akan tetapi, nikah paksa kali ini bukan suatu keterpaksaan yang membuat
Nyai Ontosoroh kecewa. Walaupun ia sangat membenci orang tuanya akan tetapi banyak
keuntungan yang dia dapat dari kaum bangsawan tersebut. Ia diajarkan menulis dan membaca
dalam bahasa Belanda. Ia mulai diajarkan bagaimana mengelola perusahaan dan ladang yang
dimiliki oleh kaum bangsawan tersebut.

Nyai Ontosoroh tidak hanya bisa baca tulis dan berbahasa Belanda tanpa cela, ia bahkan
memimpin perusahaan keluarga. Menjadi Ibu tunggal bagi Robert dan Annelies Mellema, juga
bisa bersolek dengan necis layaknya priyayi, meski darah biru tak pernah mengalir dalam
tubuhnya. Nyai Ontosoroh berperan besar bagi Minke, tokoh utama dalam Tetralogi Pulau Buru.
Minke adalah menantu Nyai Ontosoroh, ia menikahi Annelies. Konflik pun terjadi, suami Nyai
Ontosoroh, Herman Mellema dibunuh. Statusnya sebagai penguasa pabrik goyah, dia sadar
dirinya gundik yang tidak memiliki hak sedikit pun untuk memiliki perusahaan termasuk
anaknya sendiri. Ia tak mau menyerah begitu saja, lantas bangkit melawan untuk
mempertahankan haknya bersama Minke menantunya.Tapi apa daya sekuat apa pun melawan,
Nyai Ontosoroh hanya seorang Nyai. Dia benar-benar tak berkutik di hadapan hukum kolonial
Belanda.Mereka kalah di hadapan peradilan kolonial Belanda. Annelies Mellema diambil oleh
orang-orang Belanda. Minke kekasihnya tak mampu berbuat banyak. Semua orang melepas
kepergian Annelies dengan duka.

Komentar : Setelah membaca novel ini saya menjadi tahu bahwa Minke adalah tokoh utama
yang merupakan keturunan priyayi yang cerdas.Seseorang yang berlaku terpelajar sudah
seharusnya berlaku adil.

4. Judul : Amba
Pengarang
Tokoh : Laksmi Pamuntjak

:

● Amba
● Bhisma
● Salwa
● Ambika
● Ambalika

Tema : Politik

Latar : Latar Tempat : Kadipura(Jawa Tengah),Yogyakarta,RS Seno

Waluyo Kediri,Sanggar Bumi Tarung,Pulau Buruh,Jakarta

Latar Waktu : 2006

Latar Suasana : Sedih

Alur : Campuran

Ringkasa :

Novel Amba ini menceritakan Amba yang sebagai tokoh protagonis menyusuri kalang kabut
kehidupan dengan kecakapan dan ekspektasinya. Di dasari ketidakpercayaannya pada insiden
kematian Bhisma yang telah menjadikannya kekasih dengan benih rahim di luar nikah,
membuatnya melanglang buana dengan harapan yang tak pasti. Sampai pada rasa penasaran,
hingga keingintahuan mencuat untuk pengidentifikasian dengan mengeksplore ke tempat
pengasingannya, yaitu Pulau Buru. Perihal memastikannya, ia telusuri jejak-jejak yang terjalin
dengan Bhisma.

Amba adalah anak dari keluarga seorang guru yang dikagumi oleh pihak sekolah, bahkan
ayahnya pernah diundang untuk menghadiri pertemuan antar guru unggulan di UGM
Yogyakarta. Walaupun ibunya adalah bekas kembang desa, tapi toh Amba tak begitu menggugat,

malahan makin meningkatkan kreatifitasnya. Amba yang dikenalkan seseorang bernama Salwa
oleh orang tuanya tak begitu mempertanggungjawabkan dan lenyap kredibilitas ketika ia
menerimanya sebagai janji dan akan kasih sayang. Walaupun harus runtuh di lelaki lain yang
bernama Bhisma, gejolak batin lebih mengharukan.

Ketika mengalami kebingungan yang begitu kontras menapaki janji terhadap Salwa. Namun,
dibalik parasnya yang sederhana, ia tak kenal menyerah. Begitu berbeda dirinya dengan kedua
saudara kembarnya yaitu Ambika dan Ambalika yang agak tenang saja, monoton. Amba lebih
menjunjung pendidikannya ketimbang cepat berkeluarga, dengan hasil memuaskan di tingkat
sekolah menengah ia lanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, UGM.
Dengan mengambil program sastra bahasa Inggris, ia mendapatkan keberungan di kampusnya.
Amba mendapatkan lowongan kerja sampingan di sebuah rumah sakit yang berlokasi di Malang
sebagai penerjemah. Di tempat itulah asal-usulnya Amba mengenal Bhisma seorang dokter
lulusan dari Leipzig, Jerman Timur.

Kehidupannya di tengah kekisruhan yang mengintai di mana-mana antara PKI dan varian
organisasi sayap kiri dengan aparatus negara, yang terutama militerisme serta para
agamawanman maupun kalangan masyarakat sendiri tak dapat dielakkan. Menderai berangsur
menjadi makin besar dan menjadi dinamik di tengah kekacauan. Itulah fenomena yang
berkelebat di tengah kehidupan Amba. Bahkan menerka, sampai pada suatu pertemuan besar
yang telah diformulasikan di Universitas Res Publica terpaksa tersungkur, dibubarkan dengan
tembakan dan kekerasan. Terjadi malapetaka yang memisahkan antara Amba dan Bhisma di
kerumunan yang berjejalkan ideologi kiri. Pengasingan bagi orang-orang yang dianggap tahanan
politik telah dilegitimasikan oleh pihak negara di atas system administrasi manipulatif.

Amba yang merasakan perpisahan itu mengalami keraguan dan kecemasan yang mengawang.
Sampai beberapa hari ia kepikiran setelah insiden kericuhan itu berlalu. Bahkan apakah ia masih
akan bertemu kembali Bhisma. Pikiran itu yang sering mencuat hadir meracau. Namun
perjalanannya tak mudah ia putuskan. Dengan beberapa kenangan luka yang menggores di
hatinya, ia luput dan mengenyahkan semua tentang keluarga, kerap tak mau mereka menanggung
semua apa yang dihadapinya. Hanya dengan surat-menyurat, menampik segala ingkarnya. Dan
Amba kecewa terhadap dirinya sendiri yang tak bisa menjaga kehormatan, kasih sayang Salwa

dan orangtuanya. Amba menitihkan goresan luka kembali ketika sepeninggalnya Adielhard
disebabkan kanker akut, yang setelah menjalani pernikahannya.

Rasa rindu yang tak kunjung tersingkap, lalu pada sekitaran tahun 2006 ia pun memutuskan
hendak ke pulau Buru tempat pengasingan para tahanan politik. Untuk mengidentifikasi
mengapa Bhisma tak juga pulang setelah pembubaran kamp tahanan politik, dan pembebasan
menyeluruh. Penasaran yang tinggi mendorongnya untuk bertekad. Pada petualangannya, Amba
membiarkan semua nasibnya kepada seluruh perjalanannya menuju Maluku. Menepis segala
kekalahan sebelumnya di masa orde baru.

Kini, suatu masa baru yang penuh guratan tak asri, penuh teka-teki yang harus ia jebol di tanah
Maluku. Penginjakannya di tanah ada sampai di pulau Buru Amba baru mengerti dan menyadari
semuanya. Dari sekian waktu menunggu tak kunjung ada kepastian, yang sebenarnya kini
menjadi tersingkap. Bahwa tabir yang selama ini tertutup telah luluh dengan kebenaran. Bhisma
yang dikhawatirkannya benar-benar telah mati. Ia memiliki istri anak dari kepala adat, yang
bernama Mukaburung. Bhisma sang resi dihormati berkat perjuangannya pula harus rela
mempertahankan dirinya sampai akhir hayatnya hingga tewas tertembak.

Amba yang menuntut kepastian menemukan kebenaran dari keseluruhan cerita yang
diperolehnya. Ketika mendapati pemakamannya dan meringkik tersedu diatasnya, tiba-tiba
kebimbangan menghentikan isakan rintihan yang keluar dari dalam kejujuran Amba. Sebab
kehadiran Mukaburung mengacaukan semuanya, tanpa disangka terjadilah peristiwa penikaman
sekaligus sayatan di heningnya pemakaman. Mereka berdua beradu nyali yang diakibatkan
kesalahpahaman. Perawatan intensif diupayakan bagi mereka. Setelah penyembuhan, izin keluar
dicanangkan. Dan kebebasan Amba pun menjulur. Ia tak lagi meratapi ketidakpastian, yang ia
peroleh kini hal yang telah terjadi. Mengakui itu adalah keharusan.

Komentar ; Setelah membaca novel ini saya menjadi tahu bahwa Amba memiliki sifat tidak
putus asa,berkemauan keras,dan berani dalam mengambil keputusan namun sayangnya ia juga
memiliki sifat yang buruk yaitukeras kepala sombong dan bimbang.

5. Judul : Perahu Kertas

Pengarang : Dewi Lestari

Tokoh : Keenan,Kugy,Noni,Eko,Wanda,Luhde,Remi

Tema : Percintaan dan Persahabatan

Latar : Latar Tempat : Kampus,Kos,Kereta api,Bali,Jakarta,Bandung

Latar Waktu : Siang,sore,malam

Latar Suasana : Tegang,sedih,bahagia

Alur : Campuran

Ringkasan : Novel ini bercerita tentang Kugy seorang gadis yang suka menlis
terutama menulis dongeng karena ia suka berkhayal.Ia suka membuat surat yang kemudian ia
buat menjadi perahu kertas lalu kemudian ia hanyutkan di sungai,danau,laut,atau selokan
air.Kugy menempuh Pendidikan sastra di salah satu Universitas di Bandung.Kugy memiliki
sahabat yang bernama Noni.Noni, mempertemukan dirinya dengan Keenan. Keenan sendiri

merupakan sepupu dari kekasih Noni yang bernama Eko. Sementara itu, Keenan adalah seorang
pria yang gemar melukis. Setelah tinggal di Amsterdam bersama sang nenek, Keenan akhirnya
kembali ke Indonesia dan mengenyam pendidikan di Kota Bandung. Keenan sebenarnya
bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis. Namun, ia terpaksa masuk ke Fakultas Ekonomi
karena keinginan ayahnya. Namun,perasaan itu mereka pendam dalam hati karena Kugy
sudah memiliki kekasih bernama Joshua. Sedangkan Keenan dijodohkan dengan sepupu
Noni yang bernama Wanda.Hubungan Kugy dan Keenan semakin merenggang setelah
Keenan berpacaran dengan Wanda. Suatu saat, Keenan mengalami masalah sehingga ia
harus mengakhiri hubungannya dengan Wanda.Masalah keluarga dan patah hati yang
dialaminya membuat Keenan meninggalkan kehidupan di Kota Bandung. Ia pun pergi
ke Bali dan bertemu dengan Pak Wayan yang memiliki hobi melukis.

Selama menetap di Pulau Dewata, Keenan mulai melanjutkan bakatnya di bidang seni
lukis. Ia juga jatuh cinta dengan keponakan Pak Wayan, Ludhe Laksmi.Di sisi lain, Kugy
bekerja di Jakarta sebagai copywriter. Dia bertemu dengan Remi, atasan dan sahabat
kakaknya. Keduanya jatuh cinta dan memutuskan untuk menjalin hubungan.Suatu
ketika, Keenan harus kembali ke Jakarta karena harus melanjutkan perusahaan
keluarganya. Kugy dan Keenan pun bertemu kembali di Kota Jakarta.Dan pada akhirnya
mereka kembali Bersama

Komentar : Novel karya Dewi Lestari ini sangat menarik untuk dibaca apalagi
untu seusia anak reamaja.Bahasa yang digunakan oleh penulispun mudah

dipahami.Setelah membaca novel ini saya menjadi tahu bahwa Kugy dan Keenan sama
sama gengsi atas perasaan yang mereka rasakan.

3

ANALISIS CERPEN

1.Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis

Cerpen ini menceritakan tentang seorang garin penjaga surau yang dipanggil kakek oleh
orang-orang.Ia tak pernah mendapatkan bayaran apapun sebagai penjaga surau.Kakek itu juga
dikenal sebagai pengasah pisau yang mahir sehingga orang-orang sering meminta bantuan
kepadanya.Jika laki-laki yang meminta tolong ia akan mendapatkan imbalan rokok atau uang
sedangkan jika perempuan ia akan mendapatkan sambal dan yang paling sering adalah ucapan
terima kasih saja. Namun kini surau iti sudah hamper roboh,anak-abak bermain di dalam surau
dan banyak pula orang-orang yang menggambil bahan bangunan yang masih bisa digunakan
karena kakek sang penjaga surau sudah meninggal. Sebelum meninggal kakek didatangi Ajo
Sidi,si pembual yang meminta tolong untuk mengasahkan pisaunya.Ajo Sidi bercerita kepada
kakek tentang kehidupan di akhirat.Ajo Sidi meceritakan seorang haji yang bernama Haji
Saleh,ia dimasukkan ke neraka oleh Tuhan padahal ia rajin beribadah.Namun ternyata Haji Saleh
hanya mementingkan dirinya sendiri karena takut masuk neraka,ia egois dengan beramal kepada
orang lain namun keluarganya sendiri dibiarkan melarat,ia hanya suka beribadah yang tidak
membanting tulang. Setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi kakek menjadi pemurung dan
keesokkan harinya kakek meninggal di surau dengan keadaan mengerikan,ia bunuh diri dengan
menggorok lehernya menggunakan pisau cukur karena ia merasa tersinggung dengan cerita Ajo
Sidi.

Cerpen ini bertemakan tentang kehidupan karena di dalamnnya menceritakan kehidupan sebagai
makhluk Tuhan.Tokoh yang ada dalam cerpen ini adalah tokoh aku,kakek,Ajo Sidi,dan Haji
Saleh.Latar yang terdapat dalam cerpen ini ialah di sebuah kota,di surau,dan di neraka.Cerpen ini
menggunakan alur campuran.Amanat yang disampaikan ialah jangan mementingkan diri sendiri
dan jangan mudah tersinggung dengan perkataan orang lain.Kritik sosial yang ada dalam cerpen
ini adalah A.A. Navis menggambarkan perilaku manusia yang saat ini masih banyak yang taat
beribadah namun tidak memmpedulikan kehidupan duniawinya,hal tersebut tergambarkan
dengan cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh.

2. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam

Cerpen ini menceritakan tentang Marno dan Jane yang sedang berdialog di apartemen
Jane.Jane yang saat itu sedang setengah mabuk bercerita tentang mantan suaminya kepada
Marno yaitu Tommy.Marno sendiri juga dalam pikirannya sendiri teringat tentang kampung
halaman dan istrinya.Jane memberikan piaya pada Marno yang sama dengan milikknya,ia
mengajak Marno untuk tidur bersamanya di apartemen itu namun Marno memilih
mengembalikkan piyama itu dan pulang.

Cerpen ini bertemakan sosial kehidupan karena menceritakan kehidupan sosial di barat
yaitu Manhattan dimana sudah biasa tidur bersama walaupun tidak ada ikatan dan juga chiri khas
orang timur yang setia kepada pasangannya.Tokoh dalam cerpen tersebut adalah Marno dan
Jane.Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalahalur maju.Latarnya adalah di apartemen
Jane,Manhattan.Amanat yang terkandung dalam cerpen ini yaitu kita tidak boleh terpengaruh
budaya lain jika itu buruk serta harus setia kepada pasangan.Kritik sosial pada cerpen ini yaitu
orang barat tidur dengan laki -laki sudah biasa sedangkan orang timur mayoritas tidak tidur
dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan karena hal tersebut termasuk hal yang tabu.

3. Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari

Cerpen ini menceritakan tentang Karyamin seorang buruh pengangkut batu
kali.Karyamin sudah berpengalamaan agar saat memikul keranjang yang berisi batu kali
melewati jalan tanah yang licin dengan selamat. Namun pagi ini ia sudah tergelincir dua kali dan
hal itu membuat Karyamin ditertawakan oleh teman-temannya.Dan sekali lagi ia jatuh tergelincir
karena seekor burung paruh udang terbang didepannya hanya bejarak satu jengkal dari matanya
dan membuat empat atau lima temannya tertawa terbahak-bahak dan menyuruhnya untuk pulang.
Saat teman-temannya menertawakannya Karyamin hanya tersenyum.Karyamin pun akhirnya
pulang dengan kepala yang pusing dan berkunang-kunang.Saat sampai rumah Karyamin melihat
duasepeda jengki yang terpakir di halaman rumahnya milik penagih bank harian.Dengan mata
yang berkunang-kunang Karyamin berpikir jika ia pulang pun ia tak akan bisa membantu istrinya
dan akhirnya berbalik Kembali ingin pergi namun penagih bank sudah melihatnnya. Saat penagih

bank itu menagih hutang kepadanya ia hanya tersenyum dan akhirnya ia jatuh terguling ke
lembah karena pusing akibat kelaparan.

Cerpen ini bertemakan tentang perjuangan,dapat dilihat dari Karyamin yang berjuang
mengangkut batu dari kali padahal sudah tergelincir serta ia menahan lapar karena tidak memiliki
uang untuk membeli makanan. Tokoh dalam cerpen ini adalah Karyamin,Teman
Karyamin,Sardji,Saidah,dan Pak Pamong.Cerpen ini memiliki latar tempat di sungai dan rumah
Karyamin serta latar waktunya pagi hari. Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur
maju. Amanat yang dapat diambil dari cerpen ini adalah tidak boleh menyerah dalam keadaan
sesulit apapun itu. Kritik sosial yang ada dalam cerpen ii adalah penggambaran masyarakat desa
yang miskin,mereka harus berjuang sangat keras untuk mendapatkan sepeser uang untuk makan.

4. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo

Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang bernama Buyung yang baru
pindah Bersama keluarganya karena ayahnya dipindahkan ke kota itu untuk bekerja. Di samping
rumah Buyung terdapat rumah tua berpagar tinggi yang kabarnya rumah seorang kakek yang
tinggal sendiri. Buyung selalu penasaran dengan rumah itu setiap hari ia mencoba mengintipnya.
Pada suatu hari Buyung memberanikan diri masuk ke rumah kakek itu ter nyata kakek tersebut
baik dan ramah,di halaman rumahnya terdapat banyak bunga,ia pun diberi setangkai bunga oleh
kakek itu sebelum pulang.Saat pulang ke rumah ia sudah ditunggu oleh ayahnya,ayahnya
memarahi Buyung karena ia membawa bunga. Ayah Buyung mengatakan bahwa laki-laki tidak
perlu bunga,ia tidak suka jika Buyung menyukai bunga karena ia anak laki-laki bukan
perempuan.

Cerpen ini bertemakan kehiduoan,dapat dilihat kakek yang menjelaskan tentang
ketentraman jiwa . Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur maju.Tokoh yang ada
dalam cerpen ini adalah Buyung,Ayah,Kakek,dan Ibu.Latar tempaat cerpen ini adalah rumah
Buyung dan rumah kakek.Amanat yang dapat diambil ialah semua orang memiliki keinginan
yang berbeda sehingga kita tidak boleh mengatr dan memaksakannya.Kritikk sosial yang ada
dalam cerpen ini ialah perbedaan yang sangat menonjol antara desa dan kota dimana masyarakat
desa lebih suka bersosialisasi dengan orang sekitar sedangkan masyarakat kota banyak yang
menutup diri tanpa besosialisasi bahkan kepada tetangga dekat serta kritik sosial bahwa orang
menganggap laki laki itu harus bekerja tidak boleh menyukai bunga karena seperti perempuan.

5. Guru karya Putu Wijaya

Cerpen ini menceritakan seorang anak yang bernama Taksu.Taksu bercita-cita ingin
menjadi guru namun kedua orang tuanya tidak setuju.Ayahnya mengatakan bahwa guru itu
pekerjaan gagal dan memiliki gaji kecil.Ayahnya memberikan waktu satu bulan agar Taksu
kembali memikirkan tentang keinginannya namun saat ditanyai kembali Taksu tetap ingin
menjadi guru.Lalu ayahnya memberi waktu tiga bulan lagi dan saat ayahnya kembali bertanya
serta membawa kunci mobil untuk diberikan agar Taksu berubah pikiran Taksu tetap ingin
menjadi guru ayahnya pun murka ia menganggap bahwa Taksu terpengaruh oleh pacarnya yang
merupakan anak dari seorang guru.Namun Taksu tetap ingin menjadi guru sehingga ia memilih
meninggalkan kosnya dan meninggalkan catatan kecil untuk orang tuanya. Sepuluh tahun
kemudian merubah segalanya Taksu tetap menjadi guru,guru untuk 10.000 orang pegawainya
karena ekarang Taksu menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang
mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah
mancanegara.

Cerpen ini bertemakan tekat dan pendirian,dapat dilihat dari Taksu yang bertekat menjadi
guru tanpa goyah sedikitpun walaupun diiming-imingi hadiah oleh ayahnya. Alur yang
digunakan adalah alur maju.Tokoh yang berperan dalam cerpen ini ialah Taksu,Ayah dan Ibu
Taksu. Latar tempat cerpen ini adalah di rumah dan kos,latar suasanya adalah menegangkan.
Amanat yang dapat diambil adalah janganlah memaksakan kehendakaa orang lain serta gapailah
cita-cita.Kritik sosial yang ditampilkan di cerpen ini adalah kritik kepada banyak orang yang
menganggap bahwa guru adalah pekerjaan yang sepele dengan gaji rendah.

4

ANALISIS NASKAH DRAMA

1. Matahari di Sebuah Jalan Kecil karya Arifin C.Noor

Cerita drama ini berawal dari penjaga malam yang mengeluh bangun kesiangan karena
semalam ada pencuri di ujung jalan. Para karyawan pabrik berkumpul di warung Simbok untuk
sarapan pecel.Mereka mengeluh karena nasi pecel cuma sedikit dan harga tempe mahal yaitu
lima ribu rupiah karena semua bahan pokok meningkat harganya.Mereka menginga-ingat bahwa
pada zaman Belanda dulu harganya masih murah-murah.Diantara mereka hanya Si Pendek saja
yang tidak mengeluh dan malah menasehati teman-temannya agar tidak banyak
mengeluh.Mereka juga membicarakan bahwa akan bisa mencapai keinginan mereka dengan
bekerja keras jika saja para koruptor tidak ada di dunia ini.Mereka menyindir Si Pendek karena
setahun yang lalu ia menggerogoti uang serikat kerja. Tiba-tiba ada pemuda yang datang lalu ikut
bergerombol makan pecel. Para karyawan pabrik pun pergi dari warung Simbok setelah
mendengar lonceng bekerja berbunyi setelah membayar makananya kecuali Si Pendek yang
hutang.

Pemuda tadi makan dengan lahap,setelah selesai makan ia membuang cekodongnya ia meminta
air yang biasa disediakan penjuaal pecel.Kemudian ia berdiri merogoh saku celananya tiba-tiba
ia cemas.Pemuda itu mengaku dompetnya tertinggal di rumah dalam saku baju hijau. dan ingin
mengambilnya. Namun, Simbok keberatan jika Pemuda itu pergi tanpa membayar terlebih
dahulu karena peristiwa seperti ini sering dialami Simbok. Minggu lalu, Simbok tertipu dua
puluh rupiah. Tampangnya gagahdan meyakinkan sekali, waktu itu ia bilang uangnya tertinggal
di rumah. Tapi tidak pernah kembali sampai saat ini. Sekarang Simbok sudah kapok dan cukup
pengalaman. Si Kurus tiba-tiba bersuara dan ikut membantu Simbok menahan Pemuda tersebut
pergi. Pemuda tersebut mengaku bahwa dirinya orang baru di kampung dan tinggal di dekat
warung Simbok untuk meyakinkan Simbok dan Si Kurus. Kemudian Si Peci juga ikut muncul
dan ikut menahan Pemuda dengan mengintrogasinya dulu.Pemuda itu mengaku tinggal di RT
Lima Pegulen. Namun, saat ditanyai siapa nama ketua RT lima dan dimana rumah yang ia
tinggali, Pemuda tersebut tidak dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Hal ini, membuat Si
Kurus emosi dan berkata kasar kepada Pemuda.Lalu, beberapa karyawan datang dan bertanya
apa yang sedang terjadi hingga Si Kacamata dan yang lainnya datang dan mempunyai ide
Pemuda tersebut boleh pergi asalkan ia melepas celananya sebagai jaminan. Namun tiba-tiba saja
ada seorang perempuan juragan batik bersama pembantunya datang lalu ia membayari makanan
pemuda itu lalu pergi begitu saja tanpa mau mendengarka Si Kurus dan yang lainnya jika
Pemuda itu penipu.

Kemudian karyawan-karyawan dan Si Sopir meminta Pemuda melepaskan baju,awalnya ia tidak
mau akhirnya mau juga. Si Peci menyuruh Simbok agar menyimpan baju tersebut. Kemudian,
saat warga sudah bubar pemuda kembali mendatangi Simbok dan membohongi Simbok dengan
kalimat yang meyakinkan. Sehingga Simbok merasa kasihan terhadapnya karena teringat dengan
anaknya. Kemudian, Simbok memberikan bajunya kembali.Namun saat pemuda itu sudah pergi,
datanglah penjaga malam yang menanyakan kejadian yang menimpa Simbok tadi. Penjaga
malam memberi tahu Simbok bahwa pemuda tersebut juga menipu di warung lain. Simbok
terkejut dan merasa menyesal

Drama ini bertemakan kehidupan sosial masyarakat.Tokoh dalam drama tersebut adalah
penjaga malam, si pendek,si tua,simbok,si kacamata,si peci,pemuda,si kurus,perempuan dan so
sopir.Alur yang digunakan adalah alur maju.Latar tempat pada drama ini adalah di warung
Simbok.Amanat yang terkandung pada drama ini adalah jangan suka berbohong yang kelak
dapat membuat kita sendiri rugi jika kebohongan itu terungkap.

2. Kereta Kencana karya Euene lonesco terjemahan W.S. Rendra

Drama ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang sudah berusia dua

abad.Mereka selalu mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa kematian akan segera

menjemput mereka.Mereka tidak mempunyai anak membuat mereka merasa bosan dan

kesepian.Mereka menunggu kereta kencana dengan sepuluh ekor kuda,satu warna yang akan me

jemput mereka kepada kematian. Dua orang tua ini tidak terlihat mengeluh dalam menunggu

kereta yang tak kunjung menjemputnya. Hari – hari dilalui dengan duduk disebuah kursi goyang.

Si Nenek bercanda mesra dengan Kakek. Tak jarang mereka membahas kembali masa lalu yang

sudah terlewatkan. Kakek selalu bercumbu rayu, terkadang merayu sedikit, dan selalau diakhiri

dengan kebosanan. Jika mereka sudah merasa bosan, mereka kembali bernostalgia, sesekali

melihat ke jendela, apakah kereta kencana yang mereka tunggu. Dua orang tua itu tak beda

halnya seperti bermain main, bercanda tertawa, bersenda guarau, sampai pertengkaran tak jarang

menghiasi kesepian mereka.Begitu terus menerus,kereta yang mereka tunggu ternyata hanyalah

ilusi saja.

Drama ini bertemakan tentang kehidupan,dapat dilihat dari kedua orang itu yang

menunggu kematian menjemputnya. Tokoh yang terdapat dalam drama ini adalah kakek dan

nenek. Dalam drama ini penulis menggunakan alur maju.Latar tempat pada drama ini adalah

rumah kakek dan nenek sedangkan latar waktunya adalah malam hari.Amanat yang dapat

ditemukan yaitu selalu ingat kematian itu datang tanpa ada yang tau serta setialah kepada

pasangan kita.

3. RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang

Drama ini bercerita tentang sekelompok orang yang tinggal di bawah jembatan
kota besar.Mereka telah lama meratapi kejamnya kota besar, sampai suatu hari Ani dan Ina yang
telah lama menjalani profesi sebagai wanita penghibur memutuskan untuk menikah setelah
tertangkap razia polisi. Ani dijanjikan untuk dinikahi oleh laki-laki yang dipanggil Ina sebagai
Babah, dan Ina menerima lamaran Bang Becak yang selama ini turut andil dalam pekerjaannya
sebagai wanita penghibur.

Sepeninggal Ani, tersisa Kakek, Pincang, Bopeng, dan orang yang baru dibawa Bopeng
yaitu Ati. Ina sempat kembali menceritakan rencana pernikahan dan menyampaikan pesan
perpisahannya kepada Kakek, Pincang, Bopeng, dan Ati. Kemudian Ina menyebut kolong
jembatan tempat tinggalnya selama ini  sebagai RT. Nol RW. Nol. Bopeng adalah laki-laki yang
juga telah lama tinggal di kolong jembatan, ketika Ani dan Ina memutuskan untuk pergi, Bopeng
telah diterima bekerja sebagai klasi kapal yang artinya Bopeng pun akan pergi juga meinggalkan
kolong jembatan tersebut. Bopeng mengenalkan seorang perempuan yang dijumpainya di
pelabuhan bernama Ati. Ati adalah korban penipuan seorang laki-laki yang telah menikahinya di
kampung halamannya. Ati dijanjikan akan dibawa ke kampung sebrang, namun setibanya
dipelabuhan kota, laki-laki tersebut menghilang dengan membawa barang-barang Ati.Setelah
melalui diskusi panjang, Pincang setuju untuk mengantarkan Ati kembali ke kampung
halamannya dan berniat mencari pekerjaan di sana. Ati sempat mengajak dan membujuk Kakek
untuk ikut ke kampungnya, namun Kakek menolaknya karena menganggap kolong jembatan
tersebut bagian dari hidupnya.

Drama ini bertemakan tentang kehidupan sosial yang penuh perjuangan.Tokoh yang ada
dalam drama ini adalah kakek,si pincang,Ani,Ina,Bopeng dan Ati.Alur yang digunakan drama ini
adalah alur maju. Latar waktu dalam drama ini adalah di bawah kolong jembatan sedangkan latar
waktunya adalah malam hari.Amanat yang dapat diambil dari drama tersebut adalah kita harus
memperlakukan lain seperti lakyaknya manusia pada umumnya janganlah memandang seseorang
hanya dari satu sudut pandang saja.

4. Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya

Drama ini menceritakan tentang Gusti Biang yang sangat membanggakan

kebangsawaannya ia adalah janda dari almarhum I Gusti Ngurah Ketut Mantri. Setelah I Gusti

Ngurah Ketut Mantri meninggal Gusti Biang hanya atinggal dengan Wayang,lelaki tua teman

seperjuangan suaminya dulu dan Nyoman Niti,seorang gadis desa miskin yang tinggal

bersamanya sejak kecil. Kesombongn Gusti Biang yang suka membanggakan gelarnya sebagai

bangsawan juga suka meandang rendah orang lain dan menginjak harga dirinya membuat

Nyoman akan mmeninggalkan puri namun di cegah oleh Wayan

Ketika malam bertambah malam pertengkaran pun pecah,Nyoman sudah tidak sanggup
lagi dengan sikap Gusti Biang. Nyoman tak kuasa lagi menahan emosi yang bertahun-tahun ia
pendam manakala Gusti Biang benar-benar menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan
meracuninya dengan obat-obatan. hingga membuatnya meninggalkan puri.Tidak lama kemudian
Wayan pun juga pergi setelah bertengkar hebat tentang Nyoman dan Ngurah.

Drama ini bertemakan tentang status sosial,hal ini dapat dilihat dari adanya kasta.Tokoh
dalam drama ini adalah Gusti Biang,Nyoman Niti,Wayan,Ngurah.Drama ini menggunakan alur
maju.Latar tempat dalam drama ini yaitu rumah Gusti Ngurah,latar waktu pada malam hari,dan
latar suasana yang tegang dan penuh emosi. Amanat yang dapat diambil dari drama ini adalah
manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain jadi kita harus
memperlakukan orang lain dengan baik tanpa merendahkan status soial sekalipun.

5. Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang

Drama ini menceritakan tentang tokoh yang bernama orang tua yang selama hidup
akhirnya berhasil mencapai keinginannya membangun tiang gantung sesuai keinginannya selama
ini. Tokoh orang tua menganggap sebuah tiang gatung itu adalah sebuah penentu awal dan akhir,
apakah kita yang akan dimatikan atau mematikan dalam tiang itu. Pada hari itu datang pula tokoh
anak muda yang heran melihat tiang besar itu dan menganggap orang tua sebagai musuh. Anak
muda mencoba membunuhnya, namun tokoh orang tua mencoba melawan dengan cara
meyakinkan dan mempengaruhi pikiran anak muda. Keinginan anak muda pun sirna ketika ia
mendengarkan dan menafsirkan kata-kata yang terucap dari mulut orang tua, ia menjadi
terpengaruhi bahwa kehidupan adalah pilihan untuk mati dan dimatikan. Dari pengaruh yang
telah dilakukannya itu tokoh orang tua berhasil menghasut dan membuat anak muda menjadi
pelengkap dari tiang gantungan barunya, menjadi akhir kehidupan bagi tokoh anak muda.Drama
ini bertemakan kehidupan, alur yang digunakan adalah alaur maju.Tokoh yang ada dalam drama
ini adalah orang tua,anak muda,dan perempuan

Yusnia Nanda Aulia
22201241070

1
ANALISIS PUISI

1. Kangen karya W.S Rendra
Kangen

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

⮚ Analisis :
Puisi ini merupakan puisi romantis bertema kerinduan. Menggambarkan kesedihan
seseorang yang sedang rindu kekasihnya. Penyair menggunakan sudut pandang aku
(orang pertama) dengan diksi yang jelas.
a. Terdapat kata yang tidak baku yaitu pada kalimat “karna cinta telah
sembunyikan pisaunya”.
b. Puisi ini menggunakan citraan perasaan & pikiran, terdapat pada kalimat
membayangkan wajahmu adalah siksa
kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
c. Majas dalam puisi ini adalah majas metafora (perbandingan analogis secara
langsung), terdapat pada kalimat
aku tungku tanpa api
d. Rima pada baris 1-4 menggunakan rima silang (u,a,u,a), baris 5-8
menggunakan rima patah (a,n,u,i), dan baris 9-10 menggunakan rima
rangkai (i,i).
e. Tipografi/penataan larik dalam puisi ini 1 baitnya ada yang berisi 2 dan ada
juga yang 3 baris.
f. Penggunaan kata konkret terdapat pada kalimat

Engkau telah menjadi racun bagi darahku
g. Penulis mengibaratkan rindu/kangen sebagai racun.
h. Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah jika mencintai seseorang,

hendaknya tidak berlebihan. Kita juga harus rela walaupun kita tidak bersatu
dengan orang yang kita cinta karena semua itu merupakan takdir Tuhan.

2. Sajak Putih karya Chairil Anwar
Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah

⮚ Analisis :
Puisi ini bertema percintaan/romantisme. Menceritakan seorang gadis cantik yang
mencintai seorang pria dengan tulus. Tetapi keduanya memilih untuk diam.
a. Pilihan diksi dalam puisi ini mengandung makna konotatif. Misal pada
kalimat
Warna Pelangi, merupakan penggambaran hati seorang pemuda yang sedang
senang.
Bertudung sutra senja, yang berarti pada sore hari.
b. Puisi ini menggunakan citraan penglihatan, penciuman, dan pendengaran
dalam kalimat
Kau depanku dan menarik menari,Harum rambutmu, dan Sepi menyayi
c. Puisi ini menggunakan majas metafora, repetisi, dan personifikasi..
Metafora : Dihitam matamu kembang mawar dan melati menggambarkan
cinta yang suci.
Repetisi : Hidup dari hidupku menggambarkan hidupnya penuh dengan
kemungkinan.
Personifikasi : Tari warna Pelangi, Rambutmu mengalun bergelut senda, Sepi
menyanyi (jiwa penyair digambarkan seperti kolam yang terkena angin)

d. Rimanya didominasi dengan adanya vokal /a/, /i/, dan /u/. Asonansi vokal /a/
terdapat pada baris puisi yaitu baris 2, 4, 5, 6, 9, 10, 11, dan 12. Dari asonansi
vokal diatas dapat disimpulkan bahwa puisi ini mempunyai irama yang tepat
dan beraturan yakni irama vokal i i a a.

e. Amanat yang dapat diambil adalah jika kita mencintai seseorang harus berani
untuk menyatakaan perasaan kita, menerima segala kelebihan dan kekurangan
pasangan kita, dan teruslah mencintai dan ada disisinya sampai hembusan
nafas terakhir.

3. Kata karya Subagio Sastrowardoyo

Kata

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
Ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
Bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
Diri tanpa sisa

⮚ Analisis
Puisi ini bertema bahwa kata merupakan sebuah awal dan akhir dari segalanya.

a. Diksi yang digunakan jelas dan mudah dipahami karena sering digunakan sehari-hari.
Terdapat repetisi pada kata kita, kepada, karena, dan kata dalam kalimat
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata 
Kita percaya kepada Tuhan karena kata 

b. Jenis-jenis citraan antara lain: citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan
gerakan, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan, dan citraan
intelektual. Dalam puisi “Kata” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan
imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Citraan visual (penglihatan)
terlihat pada umpan kedua dan keempat yaitu jagat dan ruang kosong. Kata jagat
membangkitkan imaji pembaca dengan membayangkan sebuah penglihatan alam
semesta yang luas dengan segala isinya. Sedangkan kata ruang
kosong membangkitkan imaji pembaca dengan penglihatan sebuah ruang
kosong. Selain itu, citraan visual terdapat pada kata bumi. Citraan perabaan terdapat
pada kata angin pagi. Secara tidak langsung kata angin pagi menimbulkan imaji rasa
dingin. Kita mengetahui adanya angin pagi dengan indera perabaan yaitu kulit dengan
merasakan hawa dingin.

c. Menggunakan majas metafora dan repetisi
d. Rima didominasi akhiran (a) pada baris 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 10, 12.
e. Amanat yang didapat setelah membaca puisi ini adalah hendaknya berhati-hati dan

waspada atas apa yang diucapkan.

4. Doa Seorang Pesolek karya Joko Pinurbo
Doa Seorang Pesolek

Tuhan yang cantik,
temani aku
yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.

Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.

Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.

Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.

Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.

Semoga kecantikanku tak lekas usai
dan cepat luntur seperti pupur.

Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan menghangatkanku.

Sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku.

Sebelum Kau senyapkan warna.

Sebelum Kau oleskan
lipstik terbaik
di bibirku yang mati kata.

⮚ Analisis
Tema dalam puisi ini adalah tentang harapan manusia kepada Tuhannya. Kata “Tuhan”
digunakan sejak bait pertama. Makna tentang harapan manusia kepada Tuhannya pun
diperkuat dengan penulisan kata “Kau” pada puisi serta kata “Doa” pada judul puisi.

Seorang pesolek itu memiliki makna tentang manusia yang ingin menghidupkan
kehidupannya sebelum Tuhan mengambil alih kehidupannya.
a. Diksi yang digunakan mengandung makna konotatif
b. Imaji/citraan yang digunakan citraan penglihatan, citraan alat gerak
c. Menggunakan majas personifikasi
d. Rima yang digunakan adalah rima bebas
e. Tipografi/penataan larik 1 bait berisi 4 dan 2 baris
f. Amanat yang kita dapat setelah membaca puisi ini adalah sebaik-baiknya menaruh

harapan ialah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mintalah ampun dan petunjuk
sebelum ajal menjemput.

5. Puisi Untuk Adik karya Widji Thukul

Puisi Untuk Adik
Apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
O... tidak, dik!
kita akan terus melawan
Waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan

Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan
kita akan terus bergulat

Apakah nasib kita akan terus seperti

sepeda rongsokan karatan itu?
O... tidak, dik!
kita harus membaca lagi
agar bisa menuliskan isi kepala
dan memahami dunia

⮚ Analisis
Puisi ini bertema motivasi seorang kakak untuk terus berjuang memperbaiki
kehidupan dan pentingnya pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik.

a. Diksi yang digunakan banyak mengandung makna denotatif yang gamblang
menerangkan

b. Imaji/citraan yang digunakan citraan indra pengecap, citraan penglihatan, citraan alat
gerak

c. Menggunakan majas metafora dan personifikasi
d. Puisi ini menggunakan rima bebas
e. Tipografi/penataan larik 1 bait ada yang berisi 9, 2, dan 6 baris
f. Amanat yang dapat kita petik adalah teruslah berjuang demi kebaikan hidupmu di

masa depan. Perkaya dirimu dengan ilmu pengetahuan agar bisa menjalani
kehidupan.

6. Antara Tiga Kota karya Emha Ainun Nadjib

Antara Tiga Kota

Di yogya aku lelap tertidur
Angin di sisiku mendengkur
Seluruh kota pun bagai dalam kubur
Pohon-pohon semua mengantuk
Di sini kamu harus belajar berlatih
Tetap hidup sambil belajar mengantuk
Ke manakah harus kuhadapkan muka
Agar seimbang antara tidur dan jaga?

Jakarta menghardik nasibku
Melecut menghantam pundakku
Tiada ruang bagi diamku
Matahari memelototiku
Bising suaranya mencampakkanku
Jatuh bergelut debu
Ke manakah harus kuhadapkan muka
Agar seimbang antara tidur dan jaga?

Surabaya seperti di tengahnya
Tak tidur seperti kerbau tua
Tak juga membelalakkan mata
Tetapi di sana ada kasihku
Yang hilang kembangnya
Jika aku mendekatinya
Ke manakah harus kuhadapkan muka
Agar seimbang antara tidur dan jaga?

⮚ Analisis

Puisi ini menceritakan tentang seseorang yang berkelana ke tiga kota mencari
kenyamanan dan ketenangan hidup.

a. Diksi yang digunakan banyak mengandung makna konotatif
b. Imaji/citraan yang digunakan citraan penglihatan, pendengaran, perasaan, alat gerak
c. Menggunakan majas metafora, personifikasi, dan hiperbola.
d. Rima didominasi akhiran a dan u
e. Tipografi/penataan larik 1 bait berisi 8 baris
f. Amanat yang dapat diambil dari puisi ini bahwa setiap tempat punya kelebihan,

kekurangan, dan kesan masing-masing.

7. Pahlawan Tak dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar

Pahlawan Tak Dikenal
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur saying

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

⮚ Analisis
Puisi ini bertema patriotisme. Penulis menceritakan pahlawan yang berjuang
mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya pada 10 November.
a. Pemilihan kata/diksi
Pada kalimat “Senyum bekunya mau berkata : aku masih sangat muda” berarti di
usianya yang masih muda, para pahlawan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Kalimat tersebut membuat pembaca ikut merasakan semangat patriotisme.
Terdapat repetisi pada kalimat “dia datang”.
b. Imaji/citraan
Menggunakan imaji penglihatan, pendengaran, alat gerak, dan indra pengecap
c. Majas
Puisi ini menggunakan majas personifikasi dan hiperbola
d. Rima
Rima didominasi akhiran (ng)
e. Tipografi
Penulisan urut dari samping kiri. Tiap bait berisi 4 baris.
f. Kata konkret
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Kata lubang peluru bundar melambangkan luka tembak di bagian dada. Senyum
beku menggambarkan senyuman di tengah kesakitan karena luka tembak tersebut.
g. Amanat
Kita sebagai generasi muda harus menghargai jasa pahlawan serta menumbuhkan
dan mengamalkan sikap patriotisme dalam kehidupan sehari-hari.

8. Tapi karya Sutardji
TAPI

Aku bawakan bunga padamu
Tapi kau bilang masih

Aku bawakan resah padamu
Tapi kau bilang hanya

Aku bawakan darahku padamu
Tapi kau bilang Cuma

Aku bawakan mimpiku padamu
Tapi kau bilang meski

Aku bawakan dukaku padamu
Tapi kamu bilang tapi

Aku bawakan mayatku padamu
Tapi kau bilang hampir

Aku bawakan arwahku padamu
Tapi kau bilang kalau

⮚ Analisis
Puisi ini bertema hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
a. Pemilihan kata/diksi banyak mengandung makna konotatif. Pada kata aku, mayat,

dan arwah menggambarkan ‘aku’. Kata “bilang” menggambarkan Firman Tuhan.
Terdapat repetisi kata tapi, bilang, kau, bawakan, dan padamu.
b. Citraan yang digunakan dalam puisi ini antara lain citraan alat gerak dan perasaan.
c. Puisi ini menggunakan majas hiperbola
d. Puisi ini menggunakan rima sejajar dan rima tak sempurna
e. Tipografi puisi ini ditulis dengan 1 baris rata kanan kemudian baris selanjutnya
rata kiri. Begitu pun seterusnya
f. Amanat yang dapat kita petik dari puisi ini adalah kita tidak boleh sombong.
Manusia tidaklah tinggi di hadapan Tuhan bila menyombongkan apa yang mereka
punya. Pahami bahwa di atas langit masih ada langit.

9. Tuhan Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi
Tuhan Kita Begitu Dekat
Tuhan,
Kita begitu dekat.
Sebagai api dengan panas.
Aku panas dalam apimu.

Tuhan,
Kita begitu dekat.
Seperti kain dengan kapas.
Aku kapas dalam kainmu.

Tuhan,
Kita begitu dekat.
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu.

⮚ Analisis
Puisi ini bertema bagaimana keimanan bisa mendekatkan manusia dengan tuhannya.

a. Diksi yang digunakan mengandung makna konotatif, misal pada kalimat “Aku
panas dalam apimu”

b. Menggunakan majas metafora pada kalimat “Seperti kain dengan kapas” dan
majas asosiasi pada kalimat “Kini aku nyala”

c. Kata konkret dalam puisi ini ada pada kata “Api” yang melukiskan Sang Pencipta
d. Imaji/citraan pada puisi ini adalah citraan penglihatan dan peraba
e. Tipografi puisi ini adalah 1 bait terdiri dari 4, 3, dan ada juga yang 1 baris.
f. Amanat yang didapat setelah membaca puisi ini adalah selalu percaya akan adanya

Tuhan. Tingkatkan keimanan kepada Tuhan karena hanya dengan keimananlah
yang mampu mendekatkan manusia dengan Tuhan.

10. Kenangan karya Sapardi Djoko Damono
Kenangan
Ia meletakkan kenangannya
dengan sangat hati-hati
di laci meja dan menguncinya
memasukkan anak kunci ke saku celana
sebelum berangkat ke sebuah kota
yang sudah sangat lama hapus
dari peta yang pernah digambarnya
pada suatu musim layang-layang.

Tak didengarnya lagi
suara air mulai mendidih
di laci yang rapat terkunci.

Ia telah meletakkan hidupnya
di antara tanda petik.

⮚ Analisis :

Dalam puisi ini, penulis menyampaikan bahwa ia tidak ingin mengingat dan
mengungkit masa lalu lagi.
a. Diksi yang digunakan mengandung makna konotatif. Pada kalimat

Di laci meja dan menguncinya, laci meja dilambangkan sebagai hati.
b. Juga terdapat penyederhanaan kata dari “tidak” menjadi “tak” pada kalimat

Tak didengarnya lagi.
c. Imaji/citraan yang digunakan ialah citraan pendengaran (suara air mulai

mendidih) dan citraan alat gerak (di laci meja dan menguncinya).
d. Puisi ini menggunakan majas personifikasi pada kalimat

Ia meletakkan kenangannya
dengan sangat hati-hati
di laci meja dan menguncinya, pengibaratan laci meja sebagai hati
menunjukkan majas personifikasi.

e. Rima dalam puisi ini keseluruhan menggunakan rima patah.
f. Tipografi/penataan larik, bait pertama berisi 8 baris, bait kedua berisi 3 baris,

dan bait ketiga berisi 2 baris.
g. Kata konkret dalam puisi ini adalah penggunaan kalimat

ia telah meletakkan hidupnya di antara tanda petik, untuk menegaskan
bahwa ia tidak ingin mengingat kenangan masa lalu
h. Amanat yang dapat kita ambil adalah tidak perlu untuk mengingat-ingat
kenangan/masa lalu.

2

ANALISIS NOVEL

1. Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari
A. Identitas Buku
Judul : Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 76 halaman
ISBN : 9786020604176
B. Ringkasan
Novel ini bercerita tentang sebuah desa bernama Desa Tanggir.
Desa Tanggir dipimpin oleh lurah bernama Pak Dirga. Pak Dirga adalah
seorang lurah yang curang dan tidak bertanggung jawab. Pemuda bernama
Pambudi yang bekerja mengurus lumbung koperasi Desa Tanggir
bercita-cita menjadikan koperasi menjadi usaha yang bonafide. Namun
tidak terlaksana. Suatu hari datang seorang wanita bernama Mbok Ranem
meminta pinjaman padi ke koperasi. Ditanyalah oleh Pambudi untuk apa
pinjaman itu. Mbok Ranem meminjam padi untuk biaya berobat penyakit
di lehernya. Pambudi menyanggupi dan mengajak Mbok Ranem
menghadap Pak Lurah. Namun pengajuannya ditolak dengan alasan Mbok
Ranem masih mempunyai tanggungan hutang padi 2 tahun lalu. Pambudi
tetap mengusahakan namun nihil. Alih-alih disetujui, Pambudi malah
diajak kerja sama oleh Pak Lurah untuk berbuat curang.
Pambudi memutuskan untuk keluar dari kepengurusan koperasi
dan berangkat ke Yogyakarta bersama Mbok Ranem dengan uang
tabungannya. Ia ingin menolong Mbok Ranem agar mendapat pengobatan.
Namun, uangnya tidak cukup. Pambudi akhirnya memasang iklan di
sebuah koran daerah bernama Kalawarta. Uang hasil sumbangan itu sudah
terkumpul banyak dan bisa membiayai pengobatan Mbok Ranem. Karena
Pambudi memasang iklan di koran, tentu permasalahan Mbok Ranem

diketahui banyak orang. Sampailah kabar itu ke telinga Gubernur.
Gubernur menegur Bupati, kemudian Bupati menegur Pak Lurah dan
Camat. Pak Dirga mengaku, ia ditegur langsung oleh Bupati karena
dianggap teledor menyikapi masalah Mbok Ranem.

Pambudi naksir dengan seorang gadis belia bernama Sanis.
Perasaannya gamang karena menaruh hati pada anak berusia 13 tahun.
Sedangkan Pambudi umurnya sudah 24 tahun. Di suatu malam, Pambudi
tengah memikirkan Sanis. Tiba-tiba terdengar suara burung. Pambudi
mengintip dan melihat ada sesorang di luar. Pambudi kemudian
menangkapnya dan di bawa masuk ke rumah. Rupanya ia adalah suruhan
Pak Lurah yang diperintahkan meletakkan jimat di atap kamar Pambudi.
Menyadari bahwa anaknya dibenci oleh Pak Lurah, ayah Pambudi
memintanya untuk meninggalkan Desa Tanggir. Pambudi akhirnya
menurutinya dan pergi ke tempat teman lamanya di Yogyakarta. Teman
lama Pambudi bernama Topo. Topo menyarankan agar Pambudi berkuliah,
dan itu disetujui Pambudi. Pambudi bekerja pada Nyonya Wibawa
menjaga dagangan jam tangan, menyapu, mengepel, dan melakukan
pekerjaan rumah lainnya.

Menetap di Yogyakarta lumayan lama, Pambudi memutuskan
untuk pulang ke Tanggir menilik orang tuanya. Rupanya di desa itu tersiar
kabar bahwa Pambudi menggelapkan dana koperasi sebesar 125.000
rupiah. Namun Bambang Sumbodo, putra Camat Kalijambe tidak percaya
hal itu. Pambudi bekerja di Kalawarta atas permintaan Pak Barkah. Ia
menulis berita-berita kritis yang salah satunya mengenai Desa Tanggir.
Pak Camat resah dan berdiskusi dengan anaknya bagaimana
menyelesaikan permasalahan itu. Ia juga menemui Bupati dan diminta
menuntaskan masalah ini. Akhirnya Pak Camat menjebak Lurah Dirga di
tempat perjudian dan Lurah Dirga pun ditahan. Lurah Desa Tanggir yang
baru bernama Hadi.

Pambudi akhirnya wisuda dan mendapat ijazah. Ia hendak pulang
ke Tanggir dan memberitahu orang tuanya namun sebelum dia sempat
berangkat, ayahnya telah meninggal. Pambudi cepat-cepat pulang dan
mengurus jenazah ayahnya. Ia disusul oleh Mulyani, anak Nyonya
Wibawa. Tentang kisah cinta Pambudi, ia harus mengubur perasaannya
karena Sanis sudah diperistri Pak Lurah. Namun dengan ditahannya Pak
Lurah, Sanis kini menjanda. Pambudi pada akhirnya bersama dengan
Mulyani dan Sanis bersama penyesalannya.

C. Unsur Intrinsik
1. Tema
Tema dalam novel ini ialah kehidupan sosial. Digambarkan dalam novel
tentang masalah-masalah yang terjadi di masyarakat desa Tanggir.
2. Tokoh dan Penokohan

● Pambudi
Pambudi digambarkan seseorang yang berwatak belas kasih, jujur, dan
suka menolong.

● Mulyani
Mulyani merupakan tokoh yang berwatak manja, suka merajuk, dan
agresif.

● Sanis
Sanis berwatak pemalu dan labil.

● Pak Dirga
Pak Dirga adalah lurah Tanggir yang berwatak licik, surang, serakah, dan
tidak bertanggung jawab.

● Poyo
Poyo adalah bawahan Pak Lurah yang sama liciknya dan suka
ceplas-ceplos.

● Eyang Wira
Eyang wira adalah seorang dukun yang berwatak mesum.

● Topo
Topo adalah teman Pambudi yang berwatak optimis dan suka menolong.

● Mbok Ranem
Mbok Ranem adalah seseorang yang dibantu Pambudi, ia berwatak sabar
dan pantang menyerah.

● Pak Barkah
Tokoh ini berwatak suka menolong dan penuh perhatian.

● Bambang Sumbodo
Tokoh ini berwatak bijaksana dan tidak mudah percaya.

3. Alur
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Dapat dilihat dari
jalan cerita yang runtut dari awal hingga akhir. Juga tidak ditemukan adanya
kilas balik dalam cerita.

4. Sudut Pandang
Pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Dapat
dilihat dari kata ganti ia, dia, atau mereka yang digunakan dalam cerita.

5. Latar
1. Latar tempat

● Bukit Cibalak
● Desa Tanggir
● Yogya
● Kantor harian Kalawarta
● Pedukuhan Eyang Wira

2. Latar waktu
● Transisi zaman tradisional menuju zaman modern
Latar ini dijelaskan di awal cerita tentang bagaimana kondidi sekitar kaki
Bukit Cibalak.
● Pagi hari
● Siang hari
● Malam hari

3. Latar suasana
● Suasana peralihan dari masa tradisional ke masa modern
● Mencekam, suasana ini terasa saat Pak Dirga datang ke area
pemakaman/kuburan.
● Mengharukan, suasana ini terasa saat Mbok Ralem berhasil mendapat
pengobatan.
● Miris, suasana ini terasa saat Sanis dilamar oleh Pak Dirga.
● Menyenangkan, suasana ini terasa saat Pambudi lulus kuliah.
● Menyedihkan, suasana ini terasa saaat ayah Pambudi meninggal dunia.

6. Amanat
Amanat yang dapat diambil dari novel ini adalah kita harus senantiasa jujur dan
saling tolong menolong. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada
dan selalu bersikap optimis serta bekerja keras.

2. Pulang karya Leila. S. Chudori
a. Identitas Buku

Judul Buku/ Novel  : Pulang
Penulis                        : Leila S. Chudori
Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia ( KPG )
Tahun Terbit            : 2012
Jumlah Halaman    : 461 Halaman
B. Ringkasan
Novel ini bercerita tentang empat sekawan yang merupakan mantan
wartawan di Kantor Berita Nusantara. Mereka adalah Dimas Suryo,
Nugroho, Tjai, dan Risjaf. Mengisahkan perjalanan mereka di tahun 1968,
ketika Hananto Prawiro, sahabat mereka dinyatakan tewas. Hananto adalah
sahabat sekaligus musuh Dimas Suryo karena jatuh cinta pada seorang
wanita yang sama. Ia bernama Surti. Walaupun pada akhirnya Surti
menjadi istri Hananto Prawiro.
Empat sekawan tadi melakukan perjalanan ke Paris. Di Paris mereka
melepas segala identitas. Mereka ingin mendapat keluarga baru.

Di paris Dimas Suryo bertemu dengan Vivienne Deveroux. Wanita
bermata hijau yang menjatuhkan hatinya. Vivienne memberinya seorang
anak bernama Lintang Utara. Putri yang pada akhirnya membawa separuh
jiwanya kembali ke Indonesia. Negara yang menurutnya penuh
ketidakadilan, namun selalu ia rindukan.
C. Unsur Intrinsik
1. Tema

Tema yang terkandung dalam novel itu yaitu politik. Mengisahkan
seorang wartawan dan kawan-kawannya yang dianggap sebagai eksil
politik yang berhubungan dengan tragedi G30SPKI dan runtuhnya rezi
m 1998.

2. Tokoh dan Penokohan
● Dimas Suryo, tokoh yang memandang lurus kehidupan.
● Nugroho Dewantoro, berwatak ceria, optimis, dan
penyemangat.
● Risjaf, berwatak lugu dan penurut.
● Tjai Sin Soe (Tjahjadi Sukarna), digambarkan sebagai tokoh
yang optimis.
● Hananto Prawiro, tokoh yang berwatak kepemimpinan.
● Vivienne Deveraux, merupakan istri Dimas Suryo
● Lintang Utara, digambarkan tokoh yang kuat dan cerdas
● Segara Alam,
● Surti Anandari,

3. Alur
Novel ini menggunakan alur campuran. Dimana ada alur maju dan alur
mundur di dalamnya.

4. Latar Waktu
Latar waktu yang digunakan yaitu sekitar tahun 1952 hingga 1998.

5. Latar Tempat
● Paris
● Universitas Sorbone
● Jakarta
● Tjahaja Foto
● Jalan Sabang
● Rumah Surti Anandari
● Kantor satu bangsa
● Kampus Trisakti

6. Sudut Pandang
Menggunakan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga maha
tahu. Dan sudut pandang ini di dominasi oleh Dimas Suryo juga
Lintang Utara.

7. Amanat
Amanat yang terkandung adalah jangan pernah menyerah untuk
memperjuangkan agar mendapatkan keadilan hidup. Ungkapkan
kebenaran dengan sungguh-sungguh. Meski cobaan terus menerpa,
tetaplah menjalani hidup dengan baik meski hidup tidak selalu seperti
yang diinginkan.

3. Sang Pemimpi karya Andrea Hirata

A. Identitas Buku

Judul : Sang Pemimpi

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Halaman : 292 Halaman

ISBN : 979-3062-92-4

B. Ringkasan
Novel ini bercerita tentang tiga anak asal Belitung. Mereka adalah Ikal,
Arai, dan Jimbron. Kehidupan merreka penuh dengan tantangan dan
pengorbanan. Mereka sekolah di SMA Negeri Bukan Main dan tinggal di
salah satu kos di pasar kumuh Magai Pulau Belitung. Mereka bekerja
sebagai kuli ngambat. Ikal dan Arai memiliki ikatan darah kekeabatan.
Nenek Arai adalah adik kandung kakek Ikal dari pihak ibu. Saat Arai kelas
1 SD, ibunya meninggal dan ayahnya meninggal kelas 3 SD. Ini adalah
kisah mereka yang senantiasa belajar di tengah sulitnya kehidupan.

2. Tema
Tema yang digunakan adalah perjuangan serta kegigihan dalam
menjalani kehidupan dan meraih impian, demi masa depan yang lebih
baik.

3. Tokoh dan Penokohan
● Ikal
Seorang anak yang baik hati, cerdas, memiliki optimistis yang tinggi,
pekerja keras, dan pantang menyerah.
● Arai
Seorang yang sangat optimis, cerdas, mampu melihat suatu peristiwa
dari sudut pandang yang positif, pekerja keras, dan pantang menyerah.
● Jimbron
Sosok berhati tulus. Kepolosan dan ketulusannya membuat Ikal dan
Arai sangat simpati serta mengasihinya.
● Seman Said Harun (ayah Ikal)
Sosok yang pendiam namun sabar, penuh kasih sayang, dan bijaksana.

● A Masturah (ibu Ikal)
Digambarkan sebagai sosok murah hati, penuh kasih sayang, rajin,
dan cerewet.

● Pak Mustar (Wakil Kepala Sekolah dan Pendiri SMA Negeri Bukan
Main)
Sosok yang penyayang namun keras dan galak ketika berhadapan
dengan siswa yang melanggar aturan.

● Pak Balia (Kepala Sekolah dan Pendiri SMA Negeri Bukan Main)
Sosok yang jujur, cerdas, kreatif, konsisten dalam menerapkan suatu
aturan, dan selalu menghargai pendapat siswanya,

● Nurmala (Gadis pujaan Arai)
Sosok yang cantik, cerdas, acuh, serta memiliki harga diri yang tinggi.

● Laksmi (Gadis pujaan Jimbron)
Sosok yang rajin beribadah namun pemurung karena masa lalunya
yang kelam.

● Taikong Hamim
Tokoh agama yang sangat ditakuti, memiliki sifat yang keras dalam
menerapkan aturan.

● Bang Zaitun
Pimpinan orkes melayu yang ramah, humoris, dan pribadi yang
menyenangkan.

● Mak Cik Maryamah:
Tetangga Ikal yang walaupun hidup dalam keadaan miskin, namun
selalu tau cara berterima kasih kepada orang lain.

● Nurmi
Anak Mak Cik Maryamah yang sangat patuh terhadap perintah
ibunya.

● Pendeta Geovanny
Seorang ayah angkat Jimbron, sosok yang baik hati dan lemah lembut.

● Nyonya Lam Nyet Pho
Ketua preman pasar ikan yang terkenal bengis, sok berkuasa, tak
kenal ampun, dan sosok yang tak mau kalah.

● Mertua Nyonya Deborah Wong
Nenek berumur hampir 100 tahun yang terkenal mudah marah.

● Mualim Kapal
Seorang yang baik hati dan sering menolong Ikal dan Arai.

● Mei-Mei
Anak kecil yang belum lancar berbicara, cerewet, menggemaskan,
ceria, aktif, pintar, dan tak mengenal rasa takut.

● Profesor
Sosok yang cerdas, penuh humor, dan baik hati.

● Capo
Sederhana, penuh semangat, dan pekerja keras.

● Odji Darodji
Mandor Ikal saat bekerja di kantor pos, terkenal baik hati, penuh
perhatian, dan peduli dengan orang lain.

4. Alur
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, namun
didominasi oleh alur maju.

5. Latar Tempat
● Di sekolah
● Gudang peti es
● Rumah Ikal
● Kos kontrakan
● Pabrik cincau
● Gubuk Arai
● Tengah lapangan dekat rumah Nurmala
● Rumah Bang Zaitun
● Bogor
● Terminal Tanjung Priok
● UI Depok
● Bioskop
● Terminal Bus Bogor
● Di kapal

6. Latar Waktu
● Senin pagi
● Hari Minggu
● Suatu pagi buta
● Sore hari
● 15 Agustus 1988
● Usai sholat isya
● Pukul 12 malam
● Pagi yang indah
● Usai sholat maghrib
● Lewat tengah malam.

7. Latar Suasana
● Suasana tegang
● Panik
● Terharu
● Gugup
● Jengkel
● Ketakutan
● Penyesalan
● Gaduh
● Marah
● Lega

● Kaget
● Bahagia.
8. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama.
9. Amanat
Hiduplah dengan sederhana. Berdamai dengan keadaan adalah salah satu
caranya. Teruslah bermimpi dengan tekad yang semakin kuat dan
keyakinan yang semakin besar.

4. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

A. Identitas Buku

Judul Buku : Laut Bercerita

Penulis Buku : Leila S. Chudori

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :379

ISBN : 978-602-424-694-5

B. Ringkasan

Novel ini bercerita tentang kejamnya rezim 1998 yang dirasakan

sekelompok aktivis mahasiswa di masa Orde Baru. Novel ini juga

menceritakan hilangnya 13 aktivis yang sampai sekarang belum ada titik

terang petunjuknya. Dalam novel ini, cerita terbagi atas dua jarak waktu

yang jauh berbeda. Cerita bagian waktu pertama diceritakan dari sudut

pandang Biru Laut, sedangkatn cerita kedua dari sudut pandang Asmara

Jati, adik Biru Laut.

C. Unsur Intrinsik

1. Tema

Tema yang diangkat dalam novel ini adalah Rezim 1998

2. Tokoh dan Penokohan

● Biru Laut pantang menyerah, setin, pekerja keras.

● Asmara Jati, adik Biru Laut yang pantang menyerah mencari

keberadaan sang kakak.

● Anjani, kekasih Biru Laut yang penyayang dan selalu merasa lelah

keadaan Biru Laut.

● Arya Wibisono, ayah Biru Laut yang penyabar dan rajin berdoa untuk

anaknya yang hilang.

3. Alur

Campuran antara maju dan mundur

4. Latar Tempat

● Seyegan Yogyakarta

● Ciputat

● Jakarta
5. Latar Waktu

Pagi, siang, dan malam.
6. Latar Suasana

Senang dan takut.
7. Sudut pandang

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama.
8. Amanat

Hal yang dapat dipetik dari novel ini yaitu janganlah kita mudah percaya
kepada orang lain dan kita harus menjadi seseorang yang mandiri

5. Olenka karya Budi Darma

A. Identitas Buku

Judul Novel : Olenka

Karya : Budi Darma

Diterbitkan : Tahun 1983

Penerbit : Balai Pustaka

B. Ringkasan
Olenka dan Fanton jatuh cinta. Namun Olenka sudah memiliki suami,
yaitu Wayne Danton. Olenka dan Fanton berselingkuh, walaupun mereka
sepakat bahwa nanti akan berpisah. Namun ternyata Fanton tidak bisa
melupakan Olenka dan mencarinya, namun tidak berhasil.
Namun kenyataanya bayangan Olenka selalu menjelma dalam kehidupan
Fanton. Fandon begitu gelisah dan tak tahan ditinggal Olenka. Dia nekat
berkelan mencari Olenkakebeberapa kota di Amerika. Dia kejar Olenka ke
Indiana, Kenthucky, dan kembali lagi ke Illinois lagi. Namun usahanya
sia-sia, ia tak berhasil menemukan Olenka.
Suatu hari Fanton mendapat surat dari Olenka yang menyatakan bahwa
Olenka menikah dengan suaminya karena terpaksa. Ia sebenarnya adalah
lesbian. Namun bersama Fanton ia juga merasa lebih nyaman.
Di tengah pencariannya, di Chicago dia bertemu gadis bernama Mary.
Sebagai usaha menghilangkan bayangan Olenka, ia tergesa-gesa
menyatakan cintanya pada Mary., tapi cintanya ditolak secara halus oleh
Mary. Mary beralasan bahwa ia belum memikirkan mengenai pernikahan.
Akibatnya Fanton sakit hati, ia sering menulis surat untuk Mary, tapi tak
pernah ia kirim. Surat itu hanya ia simpan dan dibalasnya sendiri
solah-olah surat itu sudah dibalas Mary. Begitulah ia lakukan

berulang-ulang. Cukup lama ia berlaku aneh dan betapa gembiranya saat
sepucuk surat dari Olenka datang.
Dalam suratnya, Olenka menceritakan bahwa dia lebih mencintai Fanton
ketimbang Danton. Olenka terpaksa menikahi Danton karena dia ingin
hidup normal seperti wanita normal, karena dia merupakan seorang
lesbian.
Lama tak lagi mengirim surat, Fanton mendapat kabar bahwa Olenka
ditemukan tak sadarkan diri karena terlalu banyak mengonsumsi obat tidur.
Fanton mendatangi ke rumah sakit tempat Olenka dirawat, namun Olenka
dinyatakan sudah meninggal. Namun Fanton tidak merasa kecewa karena
tidak bertemu Olenka. Dalam dirinya muncul kesadaran bahwa Tuhan
memang menakdirkan begitu, bahwa dirinya sudah ditakdirkan tidak akan
menyatu dengan Olenka.
C. Unsur Intrinsik
1. Tema

Tentang kepahitan hidup seseorang yang sudah berkeluarga sehingga
mengakibatkan terjadinya perselingkuhan. Perselingkuhan ini terjadi
karena Olenka itu tidak merasa cocok dengan suaminya.
2. Tokoh dan penokohan
● Funton Drummond

Sosok orang yang temperamental atau orang yang mudah marah.
● Olenka

Egois, terlihat dari sikapnya yang memilih selingkuh padahal sudah
bersuami.
3. Alur
Novel ini menggunakan alur campuran. Secara keseluruhan, alur novel
ini adalah alur maju, tetapi pada bagian-bagian tertentu ada peristiwa
yang diceritakan mundur.
4. Setting
● Latar Tempat

Novel ini berlatar di Bloomington. Terutama di sekitar apartemen
Tulip Tree. Novel ini juga berlatar tempat di negara bagian
Kentucky, Indianapolis dan Chicago.
● Latar waktu
Waktu yang terjadi dalam ini yaitu pada tahun 1983. Sesuai dengan
tahun novel ini selesai dibuat oleh Budi Dharma.
● Latar Suasana
Miris. Sebab ada seorang perempuan yang sudah mempunyai
suami tapi memilih selingkuh.
5. Sudut Pandang
Dalam novel Olenka bahwa sudut pandang yang dipakai oleh penulis
adalah sudut pandang orang pertama.
6. Amanat

Yang dapat kita petik dari novel ini ialah janganlah berselingkuh bila
sudah memiliki suami dan jangan mengejar cinta orang yang sudah
jadi milik orang lain.

3

ANALISIS CERPEN

1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam
A. Fakta Cerita
Seribu Kunang-Kunang di Manhattan merupakan salah satu judul dari
kumpulan cerpen Umar Kayam.Dalam kumpulan cerpen itu termuat
enam cerpen yang berlatar Amerika. Cerpen ini ditulis oleh Umar
Kayam saat ia tinggal di Amerika untuk menempuh pendidikan.
Pertama diterbitkan pada 1972 oleh Pustaka Jaya.
B. Unsur Intrinsik
a. Tema
Cerita ini mengusung tema sosial. Seribu Kunang-Kunang di
Manhattan bercerita tentang pertemuan dua budaya, yakni budaya
Timur (Asia/Indonesia) dan Barat (Eropa/Amerika). Orang Timur
dalam cerita ini digambarkan sebagai sosok yang lembut, mesra,
dan penuh toleransi. Cerita pertemuan dua budaya ini digambarkan
dalam percakapan seorang pria bernama Marno dan seorang wanita
Barat bernama Jane.
b. Alur
Cerpen ini menggunakan alur campuran. Dapat dilihat dari
percakapan Jane dan Marno, yang mana di sela-sela percakapannya
ada pembahasan mengenai orang di masa lalu Jane.
c. Tokoh & Penokohan
Tokoh dalam cerita ini yaitu :
● Marno
Marno digambarkan sebagai orang Timur yang memegang
teguh ‘ketimurannya’. Sikap orang-orang Timur yang identik
dengan rasa sungkan dan terikat akan norma-norma
kebudayaan dapat dilihat pada penolakan Marno untuk
menginap di kediaman Jane.
"Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan
Jane. "Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak."
● Jane
Dalam cerita ini, Jane adalah orang berbudaya Barat. Jane
digambarkan sebagai orang yang liberal. Tergambar dari

bagaimana Jane mabuk dan meracau tentang apa pun yang mau
dia katakan. Jane juga bersikap acuh terhadap hubungan terikat
yang bagi orang Timur merupakan keharusan.
● Tommy
Suami atau sudah menjadi mantan suami Jane.

d. Latar
2. Latar Tempat
● Apartemen Jane, terdapat dalam kutipan :
Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas
bangunan apartemen Jane. "Jet keparat!". Jane mengutuk sambil
berjalan terhuyung ke dapur.
3. Latar Waktu
● Malam hari, latar waktu dijelaskan pada awal percakapan
Marno dan Jane yang memperdebatkan bulan. Dalam hal ini
bulan tentu saja ada saat malam hari. Latar waktu juga
dijelaskan pada kutipan :
“Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit
yang kelihatan dari jendela menginginkan Marno pada ratusan
kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah
embahnya di desa.".

e. Sudut Pandang
Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan diceritakan dari sudut
pandang orang ketiga.

a. Amanat
Amanat dalam cerpen ini ialah walaupun tengah di negeri orang,
kita tetap harus memegang prinsip budaya dari mana kita berasal.
Cerpen ini juga mengajarkan kita untuk senantiasa setia kepada
pasangan.

2. Guru karya Putu Wijaya
A. Fakta Cerita
Cerpen ini merupakan karya seorang sastrawan bernama asli I Gusti
Ngurah Putu Wijaya. Berkisah tentang profesi guru yang dipandang
rendah karena dianggap pekerjaan yang tidak memiliki masa depan
dan merupakan pekerjaan bagi orang yang gagal. Cerpen ini menjadi
gambaran orang-orang masa kini yang menganggap bahwa profesi
guru tidak menjanjikan masa depan yang sukses.
B. Unsur Intrinsik
a. Tema

Tema dalam cerpen ini ialah keinginan dan tekad. Guru bercerita
tentang keinginan seorang anak untuk menjadi guru namun tidak
direstui kedua orang tuanya. Akan tetapi karena kegigihan dan
tekad kuatnya, ia akhirnya bisa menjadi seorang guru (bagi para
pegawainya).
b. Alur
Cerpen ini menggunakan alur campuran. Hal ini karena dalam
cerpen diceritakan masa lalu (saat Taksu masih tinggal di kos) dan
masa kini (saat Taksu sudah sukses).
c. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini adalah :
● Taksu

Taksu digambarkan memiliki tekad yang kuat dan konsisten.
Terlihat bagaimana dia terus-terusan menolak permintaan orang
tuanya agak ia tidak menjadi guru karena dianggap kurang
menjanjikan.
● Ayah (saya)
Dalam cerita ini, tokoh Ayah digambarkan keras dan terlalu
penurut dengan istrinya. Ia juga hanya melihat suatu
permasalahan hanya dari satu sisi. Ia tidak mau
mempertimbangkan pilihan Taksu.
● Ibu (istri)
Tokoh Ibu dalam cerpen ini digambarkan sosok yang tidak
konsisten dan mudah marah. Terlihat dari bagaimana ia
memerintah suaminya untuk memberikan Taksu hadiah, tapi
tak lama malah diminta agar dibawa pulang kembali oleh
suaminya.
d. Latar
1. Latar Tempat
● Rumah Kos, terdapat dalam kutipan :

Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami
berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya.

2. Latar Waktu
● 10 tahun yang lalu, terdapat dalam kutipan :

Tetapi itu 10 tahun yang lalu.

3. Latar Suasana
● Menegangkan

Suasana menegangkan saat Taksu menolak permintaan orang
tuanya untuk mengubah keinginannya menjadi seorang guru.
Taksu banyak melayangkan kalimat-kalimat sergahan dan
penolakan. Respon dari ayah dan ibunya juga semakin
membuat suasana tegang karena keduanya diliputi emosi.

● Senang
Suasana senang tergambar di akhir cerita. Ketika ayah Taksu
menceritakan bahwa Taksu telah menjadi seorang pengusaha
besar yang sukses.

e. Sudut Pandang
Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama atau pelaku
terlibat langsung di dalam cerita.

f. Amanat
Amanat dalam cerpen ini ialah kita harus memiliki tekad yang kuat
dan pendirian yang kuat dalam mengambil keputusan. Cerpen ini
juga mengajarkan kita agar menjadi orang tua yang bijaksana.
Tidak terlalu mengekang anak dan tidak melihat sesuatu hanya dari
satu sisi saja. Kita juga diajarkan untuk tidak memandang rendah
cita-cita atau profesi seseorang.

3. Matinya Seorang Demonstran karya Agus Noor
A. Fakta Cerita
Cerpen ini pertama kali diunggah oleh akun website ruangsastra pada
26 Januari 2014. Cerpen karya Agus Noor yang bercerita tentang
perjuangan demonstran yang berujung kematian.
B. Unsur Intrinsik
a. Tema
Cerpen ini mengusung tema tentang perjuangan. Tentang
perjuangan yang tidak ternilai karena pejuangnya tak cukup
terkenal. Para pejuang yang sudah memiliki nama besar tentu
perjuangannya tidak akan sia-sia, karena sudah pasti dikenang.
Namun yang tidak memiliki nama besar akan lenyap begitu saya
tanpa pernah terkenang.
b. Alur
Cerpen ini menggunakan alur campuran. Terlihat dari
penggambaran masa lalu Ratih bersama Eka dan penggambaran
masa kini saat Ratih sudah kuliah dan tidak lagi mendengar kabar
Dari Eka.
c. Tokoh & Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini adalah :
● Ratih
Tokoh Ratih digambarkan sebagai seseorang tidak bisa
memilih/mengambil keputusan. Hal ini sesuai dengan keadaan
dalam cerita di mana Ratih tidak bisa memutuskan harus bersama
Eka atau Arman.
● Eka


Click to View FlipBook Version