Tokoh Eka dalam cerpen ini merupakan sosok yang suka
mengkritisi kerja pemerintahan. Ia selalu sinis terhadap segala
sesuatu yang dilakukan para petinggi negara. Eka juga merupakan
sosok yang ceria, romantis dan gemar berkelakar.
● Munarman atau Arman
Dalam cerita ini, Arman adalah pacar dari Ratih. Ia merupakan
orang yang tidak mau ketinggalan zaman dan suka berfoya-foya. Ia
juga orang yang sombong karena selalu memamerkan pekerjaan
ayahnya yang merupakan seorang tentara.
● Ibu
Karakter Ibu dalam cerita ini merupakan sosok yangmenyayangi
anaknya. Ia selalu menasehati Ratih untuk selalu berhati-hati dan
melarang Ratih bergaul dengan orang-orang yang dapat
membahayakan keselamatannya.
d. Latar
1. Latar Tempat
● Jalan Sutowijayan, jalan ini telah berganti nama menjadi Jalan
Munarman, ini adalah jalan yang selalu dilewati Ratih saat akan
pulang ke rumahnya.
● Auditorium Fakultas Filsafat, merupakan tempat Eka mengsjsk
Rtih menonton teater.
● Rumah Ratih, dalam cerpen ini Eka dan Arman sering berkunjung
ke rumah Raih. Ada banyak juga kejadian dalam cerpen di rumah
Ratih.
● Kodim, tempat menyekap para mahasiswa pembangkang.
● Gang Rode, tempat pertemuan “Rapat Gelap” para demonstran.
● Di dalam rumah penduduk, tempat para demonstran sembunyi dari
kejaran aparat.
2. Latar Waktu
● Malam hari
Dalam cerpen ini, peristiwa banyak terjadi di malam hari. Mulai
dari Eka yang kerap mengajak Ratih jalan hingga larut malam
hingga demonstrasi mahasiswa yang dilakukan dari pagi hingga
malam.
3. Latar Suasana
● Bahagia
Suasana bahagia tergambar saat Ratih dan Eka jalan berdua dan
berbagi cerita
● Menegangkan
Suasana menegangkan saat masa-masa demonstran bentrok
● Sedih
Suasana sedih muncul saat Ratih mendengar kabar bahwa Arman
tewas tertembak dan Eka yang tak kunjung ada kabar.
e. Sudut Pandang
Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga.
f. Amanat
Amanat yang dapat kita ambil adalah tidak salah jika kita gemar
berdemo atau mengkritisi pejabat negara, namun perlu diingat
bahwa keselamatan kita jauh lebih penting. Kita juga harus bisa
mengambil keputusan agar tidak terombang-ambil di antara
ketidakpastian.
4. Kartu Pos dari Surga karya Agus Noor
A. Fakta Cerita
Kartu Pos dari Surga merupakan satu dari dua puluh cerpen
Indonesia terbaik pilihan juri Anugerah Sastra Pena Kencana 2009.
Karya Agus Noor ini menyiratkan perpaduan dunia nyata (kartu
pos) dan metafisik (surga).
B. Unsur Intrinsik
a. Tema
Tema cerpen ini ialah kejujuran. Kita harus senantiasa jujur walau
kenyataannya pahit.
b. Alur
Cerpen ini menggunakan alur campuran. Hal ini karena terdapat
beberapa kilas balik masa lalu seperti saat Marwan
mengingat-ingat perkataan Ren dan saat ia mengingat zaman
sekolahnya dulu.
c. Tokoh & Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini adalah :
● Beningnya
Sifatnya pintar dan polos. Tokoh ini digambarkan sebagai orang
yang peka dan tajam memorinya. Seorang anak kecil yang
digambarkan selalu mencari kartu pos kiriman dari mamanya. Ia
mengingat tulisan ibunya dan selalu menunggu balasan surat dari
ibunya.
● Ren
Ren merupakan seorang ibu yang penyayang. Tokoh ini bersifat
kreatif. Hal itu terlihat dari bagaimana ia mencoba menarik
perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun
kesukaannya.
● Marwan
Tokoh ini bersifat bohong. Walaupun dalam cerita ia berbohong
untuk kebaikan anaknya. Namun, tidak seharusnya kebenaran
ditutup-tutupi.
● Ita
Ita bersifat tidak bijaksana. Ia memberi saran kurang baik kepada
Marwan bagaimana memberitahu Beningnya tentang kondisi sang
ibu yang telah tiada.
● Bik Sari
Tokoh ini bersifat baik hari. Ia tidak menginginkan Beningnya
sedih.
d. Latar
1. Latar Tempat
● Halaman rumah, saat Beningnya mencari surat kiriman Ren di
kotak pos.
● Di dalam rumah, setting ini paling banyak digunakan karena
peristiwa banyak terjadi di dalam rumah.
● Di kantor pos, saat Beningnya meminta untuk di antar ke kantor
pos dan menanyakan tentang surar dari mamanya.
2. Latar Waktu
● Malam hari, saat Beningnya menerima surat dari mamanya yang
telah meningal.
3. Latar Suasana
● Menegangkan, saat pintu kamar Beningnya tidak bisa dibuka
● Cemas, suasana cemas terasa saat muncul asap dari dalam kamar
Beningnya.
● Mengharukan, suasana ini terasa saat Beningnya menerima “kartu
pos dari surga” di kamarnya.
e. Sudut Pandang
Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama.
f. Amanat
Hendaknya tidak menyembunyikan sesuatu, khususnya yang
memang penting untuk diketahui. Cepat atau lambat kebenaran
pasti akan terungkap.
2. Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari
A. Fakta Cerita
Buku ini terdiri atas 13 kumpulan cerita pendek karya Ahmad Tohari yang
ditulis sekitar tahun 1976 sampai 1986. Dalam buku ini disajikan
kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan
sederhana.
B. Unsur Intrinsik
a. Tema
Cerpen ini bercerita tentang perjuangan seorang Karyamin yang
hidupnya susah namun malu untuk meminta bantuan kepada orang
lain.
b. Alur
Cerpen ini menggunakan alur maju. Tidak ditemukan kilas balik
ataupun penayangan masa lalu dalam cerpen ini.
c. Tokoh & Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini adalah :
● Karyamin
Tokoh ini bersifat pantang menyerah dan sabar.
● Saidah
Tokoh ini bersifat baik dan peduli. Tergambar dari ia yang
menawarkan makan kepada Karyamin.
● Pak Pamong
Tokoh ini bersifat tegas namun tidak peduli. Ia terlalu sibuk donasi
untuk yang jauh namun tidak memerhatikan yang dekat.
d. Latar
1. Latar Tempat
● Sungai, terlihat dari kutipan :
“Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu
yang mereka lempar ke tepi sungai. Air mendesau-desau oleh
langkah- sungai langkah mereka.”
● Pangkalan material, terdapat pada kutipan :
“Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang
menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik
mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana.”
● Halaman rumah, dapat dilihat dalam kutipan :
“Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia
melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya.”
2. Latar Waktu
● Pagi hari, terlihat dari kutipan :
“Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas
perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang
berkunang-kunang. ”
3. Latar Suasana
● Sedih dan memrihatinkan, suasana ini terasa saat Karyamin merasa
kelaparan namun malu untuk meminta bantuan.
● Senang, suasana senang terlihat dalam kutipan :
“Mereka, para pengumpul batu itu, mencari senang hiburan dengan
cara menertawakan diri mereka sendiri.”
e. Sudut Pandang
Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga.
f. Amanat
Jangan pernah menyerah dan jangan bersenang-senang di atas
penderitaan orang lain. Meminta bantuan itu tidak apa-apa dan tidak
ada salahnya. Tetapi kita juga harus tahu diri. Selagi masih bisa,
berusahalah.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
1. Pada Suatu Hari karya Arifin C. Noer
i. Tema
Naskah drama ini bertema keluarga. Bercerita tentang seorang kakek dan nenek
yang mengadakan acara ulang tahun pernikahan namun kedatangan tamu tak
diundang, seorang janda seksi yang ternyata adalah mantan pacar sang kakek.
ii. Alur
Naskah drama ini menggunakan alur maju. Dapat dilihat dari tidak adanya adegan
kilas balik dalam cerita.
iii. Tokoh dan penokohan
● Kakek
Kakek digambarkan sebagai sosok yang jujur, bijak, dan romantis. Dapat
dilihat dari kata-kata kakek yang dilontarkan kepada nenek.
● Nenek
Nenek merupakan tokoh berwatak romantis, pencemburu, dan keras
kepala. Dapat dilihat dalam cerita, saat nenek merasa kesal karena Nyonya
Wenas datang dan meminta cerai pada kakek saat diberi susu dingin oleh
pembantunya.
● Novia
Novia merupakan anak kedua dari kakek dan nenek. Wataknya
pencemburu, keras kepala, dan mudah curiga. Dapat dilihat saat Novia
meminta cerai kepada suaminya karena cemburu berlebihan.
● Nita
Nita digambarkan sebagai sosok yang bijaksana.
● Nyonya Wenas
Nyonya Wenas merupakan mantan pacar kakek. Ia berwatak centil, tidak
tahu malu, dan penggoda. Dapat dilihat dari kedatangannya secara
tiba-tiba di acara kakek dan nenek padahal tidak diundang.
● Pesuruh
Berwatak amanah, jujur, namun pelupa atau lalai.
iv. Latar
Latar tempat : Di rumah kakek Nenek
Latar waktu : Setelah pesta pernikahan kakek-nenek usai
Latar suasana : Tegang penuh sesak dan sindiran
v. Amanat
Pesan yang dapat kita ambil dalam naskah drama ini ialah hendaknya tidak
mengambil kesimpulan saat diliputi emosi agar keputusan yang kita ambil dapat
dipikirkan dengan matang dan tidak menjadi penyesalan.
2. RT NOL RW NOL karya Iwan Simatupang
1. Tema
Tema dalam naskah drama ini ialah sosial. Naskah drama ini menceritakan
perjuangan hidup yang dapat dilihat pada sebagian besar dialog yang
menggambarkan sikap pantang menyerah.
2. Alur
Naskah drama ini menggunakan alur maju. Terlihat dari penggambaran jalan cerita
yang menceritakan adegan dari awal mula hingga akhir.
3. Tokoh dan penokohan
● Kakek
Digambarkan sebagai sosok yang sabar dan bijaksana. Terlihat dari kakek
yang melerai pertengkaran Pincang dan Bopeng.
● Pincang
Pincang digambarkan sebagai orang yang mudah emosi dan mengambil
keputusan dengan terburu-buru.
● Bopeng
Bopeng merupakan tokoh yang berwatak penolong dan pantang menyerah.
Dapat dilihat dari adegan Bopeng yang menolong Ati untuk mencari
suaminya.
● Ani
Ani tokoh yang berwatak keras kepala. Ia tidak mau mendengar saran dari
orang-orang yang peduli dengannya.
● Ati
Ati digambarkan sebagai orang yang berhati lembut dan penurut. Dapat
dilihat saat ia terus menangis ketika Bopeng akan pergi berlayar dan saat
Kakek, Bopeng, dan Pincang memintanya kembali ke kampung, ia
menurut.
● Ina
Ina merupakan tokoh berwatak baik hati, lembut, dan pantang menyerah.
Dapat dilihat saat Ina memberikan semua uangnya untuk Ati kembali ke
kampung. Ina juga melakukan apa saja untuk bisa mendapat KTP,
termasuk menikah dengan Bang Becak.
4. Latar
Latar tempat dalam naskah drama ini adalah di bawah jembatan besar (kemudian
dinamai RT 0 RW 0).
5. Amanat
Amanat dalam naskah drama ini ialah kita harus selalu berusaha dalam berjuang
menghadapi kehidupan. Segala keputusan yang kita ambil merupakan tanggung
jawab yang sudah kita pilih untuk dilakukan sebaik-baiknya.
3. Cermin karya Nano Riantiarno
1. Tema
Tema dari naskah drama ini adalah sosial. Bagaimana seorang manusia harus
senantiasa introspeksi diri (bercermin) untuk menilai baik atau buruk diri sendiri.
2. Alur
Alur yang digunakan dalam naskah drama ini adalah alur mundur. Dapat dilihat
saat tokoh laki-laki saat ini yang menceritakan masa lalu melalui cermin.
3. Tokoh/Penokohan
Naskah ini hanya memiliki satu tokoh, yaitu tokoh laki-laki. Ia berperan dalam
menceritakan atau menggambarkan masa lalunya dan masa kini yang dialaminya.
4. Latar
Di depan cermin (dilihat dari keseluruhan cerita yang menggambarkan bahwa
tokoh laki-laki tengah bercermin).
4. AYAHKU PULANG karya Usmar Ismail
1. Alur
Alur dalam naskah drama ini maju.
2. Setting
● Setting suasana : sedih, terharu, dan tegang
● Setting latar : Di dalam rumah ketika sedang duduk
● Setting waktu : Malam hari ketika takbiran
3. Tokoh dan Penokohan
● Gunarto (anak pertama Raden Saleh dan Tina), bersifat keras kepala,
pendendam, mudah marah dan kasar.
● Raden Saleh (Ayah dari Gunarto, Maimun dan Mintarsih/ mantan Suami
Tina), bersifat manusiawi (khilaf), tidak bertanggung jawab.
● Ibu Tina ( Mantan Istri Raden Saleh/ Ibu dari Gunarto, Maimun dan
Mintarsih), bersifat besar hati, sabar, pekerja keras.
● Maimun (Adik Gunarto atau anak kedua dari Raden Saleh dan Tina), bersifat
penengah, besar hati, berbakti kepada orang tua.
● Mintarsih (Adik Gunarto dan Maimun atau anak ketiga dari Raden Saleh dan
Tina), bersifat besar hati, sabar, berbakti kepada orang tua.
4. Amanat
Amanat yang dapat kita ambil dalam drama ini yaitu janganlah kita dendam
kepada orang tua, kita harus menerima keadaan keluarga kita.
5. MAJALAH DINDING karya Bakdi Soemanto
1. Tema
Naskah drama ini bercerita tentang pendidikan.
2. Alur
Alur dalam naskah drama ini ialah alur maju.
3. Tokoh dan penokohan
● Anton, berperan sebagai pimpinan redaksi majalah dinding
Berwatak tidak berpikir Panjang dan tidak sabaran.
● Rini, berperan sebagai sekretaris redaksi
Berwatak bijak dalam mengambil keputusan, berpikir panjang dengan
mengajukan banyak pertanyaan, dan pemarah
● Kardi
Berwatak sabar, berhati-hati dalam mengambil keputusan
● Trisno
Berwatak tidak berpikir panjang dalam berbuat sehingga menimbulkan
masalah bagi orang-orang di sekitarnya.
● Wilar, berperan sebagai wakil pimpinan redaksi
Berwatak suka memberi kejutan
4. Latar/setting
● Latar tempat : sekolah
● Latar waktu : Pada hari Minggu, pagi hari (dapat dilihat pada pengantar)
● Latar suasana : Mencekam sebab ada konflik pembredelan/pencopotan
secara paksa majalah dinding oleh kepala sekolah.
5. Amanat
Amanat yang dapat kita petik adalah hendaknya berpikir panjang sebelum
mengambil keputusan. Senantiasa sabar dan tidak mendahulukan emosi dalam
bertindak karena masalah akan mudah diselesaikan dengan kepala dingin.
Lucky Setyawan
22201241071
1
ANALISIS NOVEL
1. KUBAH
Keterangan Buku:
Judul: KUBAH
Penulis: ahmad tohari
Penerbit: pustaka jaya
Terbit: 1980
Tebal: 184 Halaman
Unsur Instrinsik
a) Tema
Novel ini merupakan sebuah novel tentang peristiwa kelam yang melibatkan komunis
dan gerakan 30 september 1965
b) Alur
Alur yang digunakan Alur dalam novel ini adalah alur campuran.
c) Sudut Pandang
sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah orang ketiga
d) Amanat :
memaafkan orang yang pernah bersalah terhadap kita. Karena kita pun seperti manusia
pada umumnya yang tak luput dari kesalahan
e) Penokohan
Tokoh yang ada dalam novel tersebut: karman, marni, haji bakir,tini,triman, margo,gigi
baja,komandan, kapten somad,parta, birin,asep,ajudan, mayor darius, sutri, Rudio, Gono,
Jabir, Paman Hasyim, Bu Mantri, prajurit berbaret merah, Pak Mantri, Bu Haji Bakir,
Rifah, Pohing, Kinah, Abdul Rahman, Suto dan Kastagethek.
f) Latar
Latar tempat : latar dalam novel ini adalah desa Pegaten. Pulau B saat Karman di
pengasingan dan juga Kota kabupaten saat Karman pertama kali dibebaskan.
Sinopsis cerita
Menceritakan seorang tokoh bernama karman yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara
karena bergabung dan berhubungan dengan pki. Dimulai dari kaarman yang dibebaskan karena
masa tahannya habis. Walaupun ia sudah bebas, ia merasa asing karena ia bekas tahanan politik.
Ia kehilangan dirinya sendiri selama 12 tahun. Setelah keluar dari tahan ia bertemu dengan parta
seorang teman sekampung parta menceritakan bahwa ketika karman masih dalam tahanan parta
menceraikan istrinya dan menikahi marni istri dari karman. Karman tidak bisa berbuat apa,
kecuali Menerima kenyataan itu dengan hati pasrah. Hingga membuat jiwa dan raga karman
terpuruk hingga membuat dirinya jatuh Karman yang dulunya seorang ateis menjadi percaya atas
keberadaan tuhan Setelah menjalani hidup menjadi orang yang percaya akan tuhan karman pergi
ke rumah sepupunnya (bu gono) disana ia bertemu rudio putranya,
Kemudian flashback kehidupan karman dahulu waktu kecil yang sangat sederhana dan
mengalami krisis pangan dimasa penjajahan jepang sebelum menjadi bagian dari pki hingga
menjadi tahanan karena menjadi bagian dari pki setelah dari bertemu sepupu karman Karman
kembali ke rumah orangtuanya, marni mantan istrinya dan tini beserta kedua adik tiri tini dating
ke rumah bu mantri orang tua karman. karman diberi kesempatan memperbaiki sumur masjid
haji bakir yang membuatnya merasa bangga sekali.
Cerita belanjut Haji bakir dan rombongan datang bermaksud melamar tini putri dari
karman untuk cucunya jabir. Yang diterima baik oleh bu mantri karmann beserta keluarganya
Pada saat itu mesjid haji bakir makin tua seperti usia pemiliknya. Para jamah sepakat
hendak memugar mesjid itu. Pikiran demikian makin mendesak karena jumlah jamaah terus
bertambah hanyak. Karman mendapat bagian membuat kubah yang baru
Karman bekerja dengan sangat hati -hati. Ia menggabungkan kesempurnaan teknik,
keindahan estetika, serta ketekunan. Mengapa tidak, Pada kubah itu terpampang kaligrafi indah
empat ayat surat al-fajr “hai jiwa Yang tentram, yang telah sampai kepada kebenaran hakiki.
Kembalilah Engkau ke dalam barisan hamba-hamba-ku. Dan masuklah engkau ke dalam
Kedamaian abadi, di surga-ku”. (sanit)
Atas hasil yang luar biasa itu karman mendapat banyak pujian dia yakin bahwa dirinya
tidak berhak menerima semua pujian itu. Tetapi wajah orang -orang pegaten yang berhias
senyum, sikap mereka yang makin ramah, membuat karman merasa sangat bahagia. Karman
sudah melihat jalan kembali menuju kebersamaan dan kesetaraan dalam pergaulan yang hingga
hari-hari kemarin terasa mengucilkan dirinya.
Respon : bahasa yang digunakan dalam novel tersebut mudah dipahami. Latar suasana yang
diangkat sebagai cerita menarik karena yang diambil adalah pada masa pki. Nilai moral yang
terkandung dalam novel tersebut yaitu politik, sosial, dan religious
2. Laskar Pelangi
Keterangan Buku:
Judul: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: 2005
Tebal: 529 Halaman
Unsur Instrinsik
a) Tema
Novel ini merupakan sebuah novel tentang perjuangan dan semangat para siswa.
Keterbatasan bukan halangan untuk tetap semangat bersekolah dan mengejar cita-cita.
b) Alur
Alur yang digunakan Alur dalam novel “Laskar Pelangi” menggunakan jenis alur maju
c) Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam novel laskar pelangi adalah sudut pandang
pertama, yakni tokoh aku (Ikal)
d) Amanat :
Amanat dalam novel ini adalah agar kita senantiasa Semangat, gigih, jangan mudah
menyerah dan putus asa dengan keadaan, Bergembira, optimis, jangan mudah pesimis,
Berjuang dengan gigih Bermimpi dan bercita-citalah yang tinggi
e) Penokohan
Tokoh yang ada didalam novel ini antara lain : Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong,
Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, Bu Muslimah, Pak Harfan.
f) Latar
Latar tempat : Latar tempat dalam novel “Laskar Pelangi Di kampung gantung,
Kepulauan Bangka Belitung, SD Muhammadiyah Gantung, di bawah Pohon, dan Di
dalam Gua
Sinopsis Cerita
Rencana penutupan SD Muhammadiyah Gantung, Diizinkan kegiatan belajar mengajar
apabila terdapat minimal 10 orang siswa ditahun angkatan tersebut SD Muhammadiyah yang ada
di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur, Sumatera Selatan. Sebuah daerah yang
kaya akan sumber daya alamnya yaitu timah. Belitong merupakan daerah yang menjadi tempat
penambangan timah terbesar dan menghasilkan banyak sekali keuntungan. Meski pun begitu,
kehidupan di sana seperti terpetak-petak antara yang kaya dan yang miskin.
Pagi itu, satu demi satu calon siswa yang didampingi oleh orang tuanya berdatangan
mendaftarkan diri di sekolah yang hampir roboh dan mungkin sudah tidak layak untuk dipakai
sebagai tempat belajar-mengajar Namun suasana mulai tegang karena ternyata pendaftar tidak
mencukupi batas minimal siswa yang disyaratkan oleh Depdikbud Sumsel.
Sampai pada akhirnya Pak Harfan memutuskan untuk memberikan pidato sekaligus
mengumumkan bahwa penerimaan siswa baru dibatalkan. Sesaat hampir saja Pak Harfan
memulai pidatonya untuk memberitahuakan bahwa penerimaan siswa baru di SD
Muhammadiyah dibatalkan, seorang ibu muncul untuk mendaftarkan anaknya (Harun) yang
mengidap keterbelakangan mental.
Sekolah itu akhirnya memulai kegiatan belajar-mengajar meski dengan fasilitas yang
seadanya. Tiba saatnya mengikuti karnaval antar sekolah. Keikutsertaan SD Muhammadiyah
sempat diperdebatkan karena ketidakadaan dana dan sikap pesimistis yang muncul. Namun, Bu
Muslimah bersikeras mengikutkan murid-muridnya. Karena nilai keseniannya paling tinggi dan
dianggap sebagai murid yang kreatif, Mahar pun ditunjuk sebagai ketua untuk mengurusi
persiapan karnaval. Dengan ide cemerlang dan kreativitasnya, Mahar berhasil menggiring
teman-temannya merebut piala kemenangan.
SD Muhammadiyah kembali mengikuti perlombaan. Kali ini adalah perlombaan cerdas
cermat. Bu Muslimah, Ikal dan kawan-kawan sempat khawatir karena tak lama perlombaan akan
dimulai namun ujung tombak tim mereka belum juga datang. Untungnya meski hampir
terlambat, akhirnya si cerdas itu pun datang (Lintang). Awalnya tim dari SD Muhammadiyah
tertinggal angka melawan SD PN dan SD Negeri. Namun pada saat memasuki soal yang berbau
angka SD Muhammadiyah mengejar ketertinggalan dan berhasil keluar sebagai juara. Persabatan
mereka terus berjalan dan mereka semakin dekat seperti keluarga satu sama lain. Mereka semua
beranjak dewasa dan mengejar cita-cita mereka masing-masing.
Respon :
Novel ini sangat menarik dan didalam cerita novel ini terkandung banyak nilai nilai
seperti : Nilai budaya, nilai budaya dapat dilihat dari penggambaran kebiasaan atau adat istiadat
yang menunjukkan budaya tertentu. Dan setelah membaca novel tersebut dan sedikit
membandingkan dengan masa saat ini di lingkungan sekitar sangat berbeda dan memprihatinkan
bukan soal insfrastuktur atau ketersediaan sarana prasarananya namun lebih ke anak anaknya
generasi saat ini yang kurang memahami akan pentingnya Pendidikan
3. Bumi Manusia
Keterangan Buku:
Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Terbit: 1980
Tebal: 535 Halaman
Unsur Instrinsik
a) Tema
Novel ini merupakan sebuah novel tentang percintaan pemuda keturunan priyayi jawa
dengan gadis keturunan belanda
b) Alur
Alur yang digunakan Alur dalam novel Bumi Manusia ini menggunakan jenis alur maju
c) Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam novel laskar pelangi adalah sudut pandang pertama
d) Amanat :
Amanat dalam novel ini adalah pemuda pemuda zaman sekarang meskipun tidak ada
penjajahan belanda namun pemuda Indonesia pada saat ini haruslah semangat
e) Penokohan
Tokoh yang ada dalam novel tersebut:
f) Tokoh dalam cerita novel ini yaitu Minke, Annelies Mellema, Nyai Ontosoroh, Herman
Mellema, Robert Mellema, Darsam, Robert Suurhof, Juffrow Magda Peters,
g) Latar
Latar tempat : Latar tempat dalam novel ini di wonokromo,Surabaya, dirumah minke,
dirumah annelies, diladang, dihutan
Sinopsis Cerita
Novel yang berjudul Bumi Manusia ini merupakan sebuah novel karya Pramoedia Ananta Toer
yang mengambil tema kehidupan dan history bangsa Indonesia pada periode 1898 sampai
dengan 1918. Buku ini memiliki tebal 535 halaman, adapun setting tempat dalam cerita tersebt
yaitu di sekolah di H.B.S atau Hogere Burgerschool, Rumah Nyai Ontosoroh
Isi Cerita
Minke atau Sinyo merupakan seorang pribumi anak dari seorang bupati, minke adalah anak yang
pandai ia bersekolah di H.B.S, Pendidikan yang ia dapatkan di H,B.S, membuat pribadi minke
menjadi menghormati bangsa Eropa ditambah lagi dengan pengajaran dari gurunya, yaitu
Juffrouw Magda Peters. Dalam Novel Bumi Manusia, Minke amat menyanjung dan
menghormati bangsa Eropa dan tidak memedulikan lagi budaya Jawa, sebagai budaya asalnya.
Pada akhirnya Minke menyadari dan mendapati Bangsa Eropa yang ia sanjung dan ia
hormati itu tidak lain adalah penindas bangsa lain. Minke yang awalnya menghormati dan
menyanjung bangsa Eropa sampai akhirnya dirinya membenci akan perbuatan yang telah ia
lakukan. Kisah di dalam Novel Bumi Manusia diawali dengan Minke mendapatkan sebuah
tantangan dari Robert Suurhof untuk ke Wonokromo mendatangi seorang gadis Indo Eropa yang
bernama Annelies Mellema hingga kemudian, Suurhof kemudian menjadi rival dari Minke
karena mereka menyukai orang yang sama yaitu Annelies Mellema.
Namun, Annelies justru mencintai Minke, Annalies tinggal di sebuah rumah mewah dan
indah bersama seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh dan kakaknya, yaitu Robert Mellema.
Dalam novel Bumi Manusia ini, tidak hanya Minke dan Annelies yang mendapatkan penekanan,
melainkan Nyai Ontosoroh pun. Hal itu dikisahkan bahwa ia dijual ke orang Belanda oleh
ayahnya sendiri. Hal itu dilakukan agar ayahnya dapat menempati jabatan yang lebih tinggi.
Naasnya tanpa adanya ikatan pernikahan, Nyai Ontosoroh harus hidup bersama dengan Tuan
Mellema, yaitu orang yang belum pernah diketahui dan dikenal olehnya.
Nyai Ontosoroh memiliki perasaan dendam pada orangtuanya sehingga memiiki tekad
untuk mengangkat derajat dan martabatkan dirinya sendiri melalui pengetahuannya. Nyai
Ontosoroh banyak belajar dari Tuan Mellema, yakni berkehidupan bak bangsa Eropa, membaca
berbagai buku Eropa, belajar membaca dan menulis, dan manajemen perusahaan. Pada awalnya,
Tuan Mellema adalah orang yang sangat ramah dan mencintai Nyai Ontosoroh, meskipun dia
tidak menikah secara agama maupun hukum. Namun,pribadi tuan Mellema berubah semua itu
sirna ketika anak sah Mellema dari Belanda datang ke Indonesia untuk bekerja dan menggugat
Mellema. Hal ini mendorong Pak Mellema untuk meninggalkan Nyai Ontosoroh dan keadaan
menjadi kacau balau. Namun, Nyai Ontosoroh sudah memiliki pengalaman dan belajar banyak
dari Annelies hingga akhirnya mendirikan dan membangun perusahaan yang sangat besar
. Dengan cara itu dia menunjukkan kepada orang-orang bahwa meskipun dia hanya
seorang nyai, dia bisa dihormati dan menjadi wanita mandiri karena kekayaan melimpah yang
dia peroleh melalui pekerjaannya sendiri. Apalagi Robert Mellema, kakak dari Annelies
Mellema, berusaha mengikuti ayahnya dan enggan mengakui Nyai Ontosoroh sebagai ibunya.
Minke yang hadir dalam hidupnya, yaitu Nyai Ontosoroh dan Annelies, keduanya menerima
dengan sangat hangat. Namun, banyak yang tidak menyukai hal tersebut, terutama orang tua
Minke. Ini karena Ontosoroh adalah nyai.
Dikarenakan sebutan nyai pada saat itu digunakan untuk perempuan yang tidak memiliki
standar kesopanan karena statusnya sebagai "nyonya". Sejak saat itu, Nyai Ontosoroh mulai
berusaha giat belajar agar dapat diperlakukan secara umum sebagai manusia. Minke kemudian
tidak hanya ditolak oleh orang tuanya, tetapi Robert Mellema dan Suurhof menyerangnya
dengan mengatakan bahwa dia hanya mengincar harta Nyai Ontosoroh. Di tengah berbagai
rintangan dan tantangan, Minke tetap berusaha mencari Annelies. Ini sebanding dengan banyak
tantangan karena Annelies adalah wanita cantik dengan kepribadian yang lembut dan baik hati.
Ini membuktikan kemampuannya memimpin perusahaan sebagai ibu Nyai Ontosoroh.
Setelah melalui berbagai rintangan dan rintangan yang sangat panjang dan rumit akhirnya
Minke dan Annelies menikah, mereka hidup bahagia, karir Minke berkembang dengan sangat
baik. Minke pun menamatkan sekolahnya yaitu H.B.S dengan nilai memuaskan. Padahal,
sebelumnya Minke dipecat dari sekolah setelah dituduh berbuat tidak senonoh dengan Nyai.
Namun, dia berhasil bertahan dari semua ini dan menghadapinya. Minke menjalani semua
kebahagiaan ini sampai akhirnya bertemu dengan bencana lain, dia sangat-sangat tertekan.
Hukum Belanda, atau bisa dikatakan hukum bangsa Eropa, jatuh. Orang yang dia hormati dan
kagumi.
Setelah kematian Tuan Mellema yang masih menjadi tanda tanya besar, anak sah
Mellema dari Belanda memisahkan rumah tangga antara Mellema dan Nyai Ontosoroh sejak
awal dengan menuntut harta benda Tuan Mellema. yang diperintah oleh Ontosoroh sejak lama.
Annelies juga di-bully karena dia anak Pak Mellema yang sudah menikah. Annelies harus
dibawa kembali ke Eropa dan siap meninggalkan Minke dan Nyai Ontosoroh. Mengapa Nyai
tidak dilibatkan? Ini karena Nyai tidak menikah secara sah dengan Pak Mellema sejak awal,
sehingga dia harus meninggalkan bisnis yang dia dan Annelies bangun.
Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha sekuat tenaga mempertahankan dan melindungi
kompeni dan Annelies yang harus dibawa ke Negeri Belanda. Namun, legislasi Eropa tetap tidak
berpihak pada masyarakat adat seperti mereka (Minke dan Nyai Ontosoroh).
Setelah membaca Novel tersebut banyak yang dapat diambil dan dapat dipelajari, tentang
bagaimana kehidupan pada saat ini dimana banyaknya ketimpangan sosisal dan penindasan atas
pribumi oleh bangsa eropa yang membuat pada akhirnya tokoh utama dalam novel yaitu Minke
harus bersusah payah memperjuangkannya meskipun pada akhirnya kalah oleh bangsa
4. Laut Bercerita
Keterangan Buku:
Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila Salikha Chudori
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2017
Tebal: 394 Halaman
Unsur Instrinsik
a. Tema
Novel ini merupakan sebuah novel tentang kekejaman dan kebengisan yang dirasakan
oleh kelompok aktivis mahasiswa di masa Orde Baru.
a) Alur
Novel Laut Bercerita ini menggunakan alur mundur
b) Sudut Pandang
sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang orang pertama dari dua orang
berbeda yaitu dari Laut Wibisono dan juga Asmara Jati.
c) Amanat :
Amanat dalam novel ini adalah para pejuang yang rela untuk jatuh, lalu bangkit dengan
harapan agar kelak di masa mendatang semuanya sudah tidak sama seperti pada di
d) Penokohan
Tokoh yang ada dalam novel tersebut: Biru Laut, Kinan, Arifin Bramantyo, Sunu
Dyantoro, Sang Penyair, Alex Perazon, Daniel Tumbuan dan seluruh aktivis mahasiswa
organisasi Winatra dan Wirasena saat itu
e) Latar
Latar tempat : Daerah Jawa timur, Jakarta, new york
Sinopsis Cerita
Novel Bercerita dibagi menjadi dua bagian dengan periode waktu yang sangat berbeda. Bagian
pertama diceritakan dari sudut pandang seorang tokoh bernama Biru Laut dan kawan-kawannya
yang menyelesaikan visi atau cita-citanya. Di bagian kedua, cerita direkam dari sudut pandang
Asmara Jati, adik Laut, yang biasanya memiliki tujuan atau visi yang berbeda dengan Laut.
Bagian 1
Pada bagian ini cerita dan narasinya diceritakan dari sudut pandang Biru Laut. Laut
adalah mahasiswa program studi Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia
sangat berkecimpung di dunia sastra dan tentunya memiliki banyak buku sastra klasik, baik buku
sastra Indonesia maupun Inggris. Laut adalah orang yang gemar membaca buku karangan
Pramoedya Ananta Toer yang ketika itu peredarannya dilarang di Indonesia. ini tentang seorang
siswa bernama Biru Laut yang diculik oleh sekelompok orang asing. Bersama dengan tiga teman
lainnya, dia dibawa ke lokasi yang dirahasiakan dan disekap selama berbulan-bulan. Selama
penangkapan, keempat sahabat itu diinterogasi, dipukuli, ditendang, digantung, dan disetrum
dengan listrik agar mereka berbicara. Orang-orang ini ingin tahu siapa yang berada di balik
gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu. Di tahun yang sama, keluarga Wibisono mengadakan
kegiatan di hari Minggu seperti biasanya. Selesai memasak, ayah meletakkan piring untuk empat
orang di atas meja untuk dirinya sendiri, ibu, si bungsu dan juga laut biru. Namun, meski sudah
lama ditunggu, Laut Biru tak kunjung muncul.
Bagian 2
Cerita berlanjut dari sudut pandang Asmara Jat, adik perempuan Biru Laut sekaligus
kekasih Alex. Sebagai sebuah keluarga yang ditinggalkan secara misterius oleh kakak laki-laki
mereka, mereka kehilangan banyak hal. Kisah cinta dimulai pada abad ke-21. Dua tahun setelah
hilangnya misterius Biru Laut, adiknya Asmara Jati dan tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin
Aswin Pradana berusaha mencari jejak orang hilang. Mereka juga memeriksa pengalaman para
pengungsi yang kembali. Tak hanya Asmara Jati, kekasih Laut Anjani serta orang tua dan istri
aktivis yang hilang itu menuntut informasi tentang nasib anggota keluarganya. Sementara itu, di
dasar laut yang tenang, Biru Laut menceritakan kepada dunia apa yang terjadi pada dirinya dan
teman-temannya. Bersama keluarga aktivis lainnya, Asmara bergabung dengan keluarga Aswin
dalam upaya menuntut keadilan dari pemerintah yang lebih mereka sayangi. Bereavement
menyebabkan banyak keluarga hidup dalam penyangkalan. Mereka hidup dalam fantasi di mana
keluarga mereka yang hilang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Ayahnya masih
menyiapkan empat piring pada hari Minggu dalam ritual makan malam bersama. Memutar lagu
yang menggambarkan keberadaan laut, membersihkan buku-buku dan ruangan-ruangan yang
dimiliki laut, seolah-olah suatu saat laut tiba-tiba datang.
5. Ronggeng Dukuh Paruk
Keterangan Buku:
Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Ilustrasi dan desain sampul: Adi Permadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2009 (Cetakan Keempat)
Tebal: 405 hlm.
Unsur Instrinsik
1. Tema
Novel ini merupakan sebuah novel tentang Percintaan
2. Alur
Alur yang digunakan Alur dalam novel "Ronggeng Dukuh Paruk" menggunakan alur
maju mundur.
3. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan oleh Pengarang dalam penulisan novel "Ronggeng
Dukuh Paruk" ini adalah menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku
utama,
4. Amanat
Amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca melalui
novel "Ronggeng Dukuh Paruk" ini adalah: agar kita semua mau dan mampu melihat
seseorang itu tidak hanya dari luarnya saja melainkan juga dari hatinya. Pesan lain
mungkin juga seperti jangan menyia- nyiakan orang yang telah sepenuh hati mencintai
kita, karena belum tentu suatu saat nanti kita dapat menemukan orang yang mencintai
kita seperti itu. Di dalam kehidupan banyak sekali aturan dan tata krama dari setiap
daerah. Kita hanya perlu untuk meyakini dan menghargai setiap adat istiadat yang
berlaku.
5. Penokohan
Tokoh yang ada dalam novel tersebut: Rasus, Srintil, Sakarya (Kakek Srintil), Ki
Secamenggala (Nenek moyang asal Dukuh Paruk, Kartareja dan Nyai Kartareja), Nenek
Rasus, Kopral Pujo, Tampi, Masusi, Diding, Tamir, Bajus, Darman (Aparat kepolisian
yang membantu Srintil), Pak Blenger (Bos besar pemegang tender pembuatan jalan).
6. Latar
Latar tempat: Dukuh paruk, ladang kebun, Rumah Nyai Karteraja, Perkuburan, Pasar
Dawuan, Rumah Sakarya, Rumah nenek. Rumah Sakum, Rumah Tarim, Lapangan bola
dekat kantor kecamatan, Di alaswangkal, Kantor polisi, penjara/tahanan, pantai, sawah,
rumah sakit.
1. Sinopsis
Novel ini mengisahkan tetang Srinthil adalah bocah berusia 11 tahun yang berprofesi
sebagai ronggeng. Dia dianggap keturunan Ki Secamenggala yang diyakini dapat
mengembalikan citra pedukuhan. Masyarakat setempat meyakini kehadiran Srinthil menjadi
pelengkap. Mereka meyakini kelengkapan dukuh terdiri dari keramat Ki Secamenggala, seloroh
cabul, sumpah serapah, dan ronggeng bersama perangkat calungnya. Srinthil adalah anak yatim
piatu. Kedua orang tuanya meninggal bersama 16 penduduk lain yang mengalami keracunan
tempe bongkrek. Kakeknya meyakini Srinthil sudah kerasukan indang ronggeng dan dilahirkan
sebagai ronggeng dengan restu arwah Ki Secamenggala. Karena anggapan seperti itulah, Srinthil
digembleng menjadi ronggeng. Kartareja, sang dukun ronggeng. mengajak Srinthil mengikuti
tahapan sebagai ronggeng sesungguhnya. Sebagai awalan, Srinthil mandi kembang di depan
cungkup makam Ki Secamenggala Tahapan lain yang dilalui Srinthil adalah buka kelambu.
Dirinya tidak tidak bisa memungut bayaran saat berpentas jika belum melalui tahapan ini. Di lain
sisi, ada Rasus yang keberatan jika Srinthil harus melalui semua syarat tersebut.
2
ANALISIS PUISI
1. “AKU ”
Chairil Anwar, Maret 1943
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Analisis:
Puisi tersebut bertemakan sebuah perjuangan semangat dan kegigihan untuk
membebaskan diri dari belenggu penjajahan, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi.
Terbukti dari kalimat “Biar peluru menembus kulitku”, “Aku tetap meradang menerjang”, “Luka
dan bisa kubawa berlari”, “Berlari”, “Hingga hilang pedih peri”.
Diksi (Pemilihan Kata) dari puisi tersebut adalah konotatif pantang menyerah, kuat dan
tegar. Sajak dari Puisi ‘’ Aku ‘’ menggunakan sajak bebas atau tidak berpola.
Gaya Bahasa/ Majas dalam puisi tersebut menggunakan majas hiperbola dan majas
metafora
a. Majas Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya dengan maksud memberi
penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan
kesan dan pengaruhnya. Terdapat pada kalimat “Aku tetap meradang menerjang”.
b. Majas Metafora
Majas metafora merupakan majas yang menggunakan analogi atau
perumpamaan terhadap dua hal yang memiliki sifat yang sama, tetapi dalam bentuk yang
berbeda. pada kalimat “Aku ini binatang jalang”.
Pencitraan (Pengimajinasian) yang terkandung di dalam sajak ini terdapat beberapa
pengimajian antara lain :
a. Imaji Perasaan
Imaji perasaan yaitu memilih kata untuk membangkitkan emosi pada sajak guna
menggiring daya bayang pembaca yang seolah olah dapat dirasakan oleh indera
pencecapan pembaca. Kalimat yang menyebutkan diantaranya ‘Hingga hilang pedih
perih’ dan ‘Biar peluru menembus kulitku’
b. Imaji Pendengaran
Imaji Pendengaran yaitu berhubungan dengan usaha memancing bayangan pendengaran
guna membangkitkan suasana tertentu. Kalimat yang menyebutkan diantaranya :‘Ku mau tak
seorang ’kan merayu‘ dan ‘Tak perlu sedu sedan itu’.
Tipografi dalam puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar menggunakan Tipografi konvensional
dan Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca yang terdiri atas tujuh
bait. Bait pada puisi ini singkat dan padat. Pada bait kedua, keenam, dan ketujuh hanya berisi
satu baris dengan satu kalimat. Ada baris yang hanya berisi satu kata.
Komentar : Menurut saya setelah membaca puisi “Aku” yaitu : “Menurut saya puisi
tersebut bagus dapat mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan, seseorang harus bertahan
melawan kesulitan dan berusaha menjadi lebih baik”.
Amanat
- Sebagai manusia kita harus tegar, kokoh, terus berjuang dan pantang mundur meskipun
rintangan menghadang.
- Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan
kelebihannya saja. Harus mempunyai semangat maju agar tujuan yng ingin dicapai bisa
didapatkan juga memiliki semangat hidup yang tinggi
2. Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Analisis:
Tema dalam puisi ini adalah tema cinta. Hal ini tidak dipungkiri karena puisi “Aku Ingin”
secara literal dan frekuensi menggunakan kata “cinta” dan “mencintaimu”. Kemudian diksi
(Pemilihan Kata) dalam puisi tersebut adalah menggunakan diksi konotatif yang lembut,
romantis, dan sungguh-sungguh.
Sajak dari Puisi “Aku Ingin” menggunakan sajak bebas atau tidak berpola. Sedangkan
Gaya Bahasa/ Majas didalam puisi terssebut adalah :
a. Majas Repetisi yakni pengulangan kata, frasa, atau klausa yang bertujuan untuk
mempertegas maksud dari penulis. Terdapat pada larik awal, bait pertama dan
kedua, pada kalimat “Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana”.
b. Majas Metafora yakni majas yang memakai analogi atau perumpamaan terhadap
dua hal yang berbeda. Terdapat pada bait pertama, pada kalimat “dengan kata
yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu”. Dan bait
kedua : “ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, awan kepada hujan yang
menjadikannya tiada”.
Pencitraan (Pengimajinasian) yang terdapat didalam puisi tersebut adalah
a. Imaji Pendengaran yaitu citraan yang menyebutkan atau menggunakan bunyi
suara. Terdapat dalam kalimat “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu”.
b. Imaji Penglihatan yaitu citraan yang memberikan rangsangan kepada indra
penglihatan melalui mata. Terdapat pada kalimat “Dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan
Kemudian Tipografi Puisi “Aku Ingin” adalah Tipografi konvensional dan Menggunakan
huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca terdiri dari dua bait. Pada bait pertama
dan kedua masing-masing berisi tiga baris atau larik puisi. Bait 1: larik 1 (15a); larik (12b); larik
3 (15c). Bait 2: larik 1 (15a); larik 2 (13b); larik 3 (16c).
Komentar : Menurut saya Puisi “Aku Ingin” sangat bagus pemilhan katanya sangat baik
kata kata yang dipiih dapat membawa pembaca larut denga nisi dari puisi tersebut
Amanat dari puisi tersebut adalah perasaan cinta itu yang apa adanya saja dan tak perlu
dibuktikan dengan kata atau isyarat yang menggebu-gebu, melainkan dengan pengorbanan besar
untuk orang yang dicintainya.
3. SUBUH – ASRUL SANI
Kalau subuh kedengaran tabuh
semua sunyi sepi sekali
bulan seorang tertawa terang
bintang mutiara bermain cahaya
Terjaga aku tersentak duduk
terdengar irama panggilan jaya
naik gembira meremang roma
terlihat panji terkibar di muka
Seketika teralpa;
masuk bisik hembusan setan
meredakan darah debur gemuruh
menjatuhkan kelopak mata terbuka
Terbaring badanku tiada berkuasa
tertutup mataku berat semata
terbuka layar gelanggang angan
terulik hatiku di dalam kelam
Tetapi hatiku, hatiku kecil
tiada terlayang di awang dendang
menangis ia bersuara seni
ibakan panji tiada terdiri
Analisis
Tema dari puisi tersebut adalah ketuhanan, Hal ini dibuktikan mulai dari judulnya yaitu
Subuh yaitu waktu ibadah seorang muslim diperkuat dengan kalimat “terdengar irama panggilan
jaya “. Diksi dari Puisi Tersebut adalah konotatif yang menggambarkan seseorang yang tampak
krisis iman sehingga diksi yang digunakan penyair adalah kata-kata yang bernada ragu, lemah,
bimbang, dan rapuh.
Sajak dari Puisi “Subuh” menggunakan sajak bebas atau tidak berpola. Sedangkan Gaya
Bahasa/ Majas didalam puisi terssebut adalah : Majas yang digunakan dalam puisi adalah maja,
hiperbola, dan personifikasi(bulan seorang tertawa terang) (bintang mutiara bermain cahaya),
dan repetisi (Tetapi hatiku, hatiku kecil)
Pencitraan (Pengimajinasian) yang terdapat didalam puisi tersebut adalah Imaji Perasaan,
Imaji pendengaran Tipografi dari puisi ini adalah Tipografi konvensional dan Menggunakan
Huruf Besar-Kecil dan Tanda Baca Lengkap
Komentar menurut saya puisi ini bagus pesan yang terkandung dalam puisi tersebut
sangat baik yaitu mengingatkan kita para pembaca akan kewajian menunaikan ibadah
Amanat kepada pembaca agar tidak meninggalkan kewajiban sholat lima waktunya
apalagi waktu subuh. Yang sering terlewat
4. Doa - Taufik Ismail 1966
Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga
Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin.
Puisi DOA adalah puisi yang bertemakan Ketuhanan yang dibuktikan dengan adanya
kalimat “Tuhan kami” “Telah nista kami dalam dosa bersama” dan “Tuhan kami” “Telah terlalu
mudah kami”. Diksi puisi Doa menggunakan diksi atau pilihan kata yang sederhana dengan
bermakna denotasi namun tetap indah ketika dinikmati.
Puisi ini menggunakan sajak dari Puisi ‘’ DOA ‘’ menggunakan sajak bebas atau tidak
berpola. Gaya Bahasa/ Majas dalam puisi tersebut menggunakan majas Repetisi Pencitraan
dalam puisi ini adalah Imaji Perasaan. Sedangkan untuk tipografinya adalah Tipografi
konvensional dan menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca
Kesan setelah membaca puisi tersebut puisi tersebut adalah puisi yang mengambarkan si
penyair telah berbuat doa dan meminta pengampunan dari tuhan serta dari puisi ini juga penyair
menyelipkan harapan agar tuhan mau menerima permohonan ampun mereka
Amanat dari puisi tersebut selalu menjadi orang yang rendah hati, meskipun tidak dalam
cakupan yang terlalu besar dan selama hidup mereka bisa bermanfaat bagi orang lain.
5. “Kangen” karya W.S Rendra
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
aku tungku tanpa api.
Analisis
Tema dari puisi tesebut adalah tentang Pecintaan yang lebih mengarah ke kesedihan dan
kesepian yang mendalam karena perasaan rindu yang penulis rasakan. Diksi yang terkandung
dalam puisi ini adalah konotatif
Sajak dari puisi ini ialah sajak bebas karena tidak mempunyai bentuk ataupun bunyi yang
sama.Gaya bahasa dalam puisi ini yaitu Majas metafora dibuktikan di kalimat “aku tungku tanpa
api”. “kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta”.
Pencitraan didalam puisi ini ialah pencitraan : Imaji perasaan.
Untuk tipografinya puisi ini adalah Tipografi konvensional dan menggunakan tipografi Huruf
Besar-Kecil dan Tanda Baca Lengkap
Puisi ini sangat mudah dipahami maknanya maksud dari puisi yang dibuat oleh penulisnya (WS
Rendra)
Pesan dari puisi tersebut yang dapat kita ambil kita harus bisa merelakan seseorang yang kita
cintai karena keadaan yang tidak dapat mempersatukan kita, seperti berbeda keyakinan dan tidak
direstui orang tua, menerima dengan ikhlas agar tidak membuat diri tersiksa dengan perasaan
kita sendiri.
6. Malam (Karya Kuntowijoyo)
Bayang-bayang bumi
Memalingkan tubuh
Memejam lelah
Meletakkan beban ke tanah
Maka malam pun turun
Memaksa kucing putih
Mengeong di pojok rumah
Memanggil pungguk
Yang sanggup mengundang bulan
Karena hari sedang istirahat
Di ladang angin mengendap
Tidur bersama ibu bumi
Dari kasih mereka
Ilalang berisik
Ditingkah suara jangkrik
Di sungai, air
Pelan-pelan
Melanda pasir
Analisis
Tema dari puisi ini adalah tentang Lingkungan. Diksi yang terkandung dalam puisi ini
adalah Konotatif, Gaya bahasa/ Majas yang ada dalam puisi ini yaitu menggunakan majas
personifikasi(Ilalang berisik)
Pencitraan dalam puisi ini menggunakan imaji pendengaran, imaji gerak. Sedangan
tipografi puisi ini yait menerapkan Tipografi konvensional dan Menggunakan huruf besar pada
setiap awal kalimat, tanda baca lengkap
Menurut saya penulis melalui puisi ini ingin mengambarkan suasana malam melalui
tulisannya dengan pemilihan kata kata yang baik pembaca dapat memahami makna dari puisi ini
7. Doa Sehelai Daun Kering Emha Ainun Najib
Jakarta 11 Pebruari 1999
Janganku suaraku, ya Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu ma¨ªshum dan aku bergelimang hawa¨ª
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu
Analisis
Puisi ini bertemakan Ketuhanan, Diksi yang ada didalam puisi ini adalah donotatif,
kelembutan, ketulusan. Pencitraan dalam puisi ini adalah menggunakan pencitraan imaji
perasaan(Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu),
menggunakan imaji penglihatan (Engkau Maha Suci dan aku kumuh), pencitraan gerakan
(Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu).
Gaya Bahasa dalam puisi ini menerapkan gaya bahasa/ majas : majas repetisi, majas
perbandingan, majas penegasan, majas hiperbola majas metafora. Tipografi dari puisi tersebut
yaitu Tipografi konvensional Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda
baca
Menurut saya puisi ini adalah puisi yang memperlihatkan/ mengambarkan tentang
bgaimana kebesaran tuhan dengan membandingkan dengan dirinya yang seorang hamba
ciptaanya yang digambarkan lemah bukan apa apa dibandingkan tuhan dan percaya pada tuhan
akan kasih sayang dan pembelaan tuhan, juga dari puisi ini penulis mengambarkan seorang
hamba yang sedang lemah gundah yang mengingkan banyak hal namun dirinya sendiri
melupakan banyak hal (perintah tuhan)
8. Sebelum Laut Bertemu Langit (Karya Eka Budianta)
Seekor penyu pulang ke laut
Setelah meletakkan telurnya di pantai
Malam ini kubenamkan butir-butir
Puisiku di pantai hatimu
Sebentar lagi aku akan balik ke laut.
Puisiku - telur-telur penyu itu -
mungkin bakal menetas
menjadi tukik-tukik perkasa
yang berenang beribu mil jauhnya
Mungkin juga mati
Pecah, terinjak begitu saja
Misalnya sebutir telur penyu
menetas di pantai hatimu
tukik kecilku juga kembali ke laut
Seperti penyair mudik ke sumber matahari
melalui desa dan kota, gunung dan hutan
yang menghabiskan usianya
Kalau ombak menyambutku kembali
Akan kusebut namamu pantai kasih
Tempat kutanamkan kata-kata
yang dulu melahirkan aku
bergenerasi yang lalu.
9. Gandrung
Oleh: KH A Mustofa Bisri
o, damaiku, o resahku
o teduhku, o terikku
o gelisahku, o tentramku
o, penghiburku, o fitnahku
o harapanku, o cemasku
o tiraniku,
selama ini
aku telah menghabiskan umurku
untuk entah apa. di manakah
kau ketika itu, o, kekasih ?
mengapa kau tunggu hingga
aku lelah
tak sanggup lagi
lebih keras mengetuk pintumu
menanggung maha cintamu ?
benarkah
kau datang kepadaku
o, rinduku,
benarkah ?
Analisis
Tema dari puisi ini ialah puisi ini tentang percintaan penulis, Diksi didalam puisi tersebut
yaitu menggunakan diksi denotatif. Sajak dari puisi ini ialah sajak bebas karena tidak
mempunyai bentuk ataupun bunyi yang sama. Gaya bahasa dalam puisi ini yaitu Majas
Repetisi”. Pencitraan didalam puisi ini ialah pencitraan : Imaji perasaan.Untuk tipografinya puisi
ini menggunakan tipografi Huruf Kecil semua dan Tanda Baca Lengkap
Menurut saya puisi ini adalah puisi yang bagus puisi yang diciptakan atas bentuk cinta
kasih kerinduan si penulis terhadap kekasihnya
Amanat dari puisi ini ialah cintailah seseorang secara sederhana saja sewajarnya jangan
malah perasaan cinta itu berubah menjadi perasaan yang menyiksamu karena apa yang terjadi
tidak seperti apa yang diinginkan
10. BUNGA DAN TEMBOK – WIJI TUKUL
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
Analisis
Tema dari puisi Bunga dan Tembok adalah kritik social atas penderitaan. penderitaan
akibat penggusuran rumah dan perampasan tanah dan kesewenang-wenangan pemerintah yang
menggusur rumah dan merampas tanah. Diksi yang tekandung didalamnya adalah diksi konotatif
Sajak dari puisi tersebut adalah Sajak dari puisi ini ialah sajak bebas karena tidak
mempunyai bentuk ataupun bunyi yang sama. Puisi ini mengunakan gaya bahasa/ majas yaitu
Repetisi dibuktikan dengan adanya beberapa pengulangan seperti pada kalimat “Seumpama
bunga Kami adalah bunga yang tak” pencitraan(pengimajinasian) puisi ini menggunakan imaji
perasaan,
Tipografi yang terkandng dalam puisi tersebut yaitu: puisi tersebut menggunakan tipografi
Huruf Besar-Kecil dengan Tanda Baca Lengkap
Amanat dalam puisi Bunga dan Tembok adalah sebagai rakyat kecil harus
memperjuangkan hak-hak. Apalagi jiwa rumah dan tanah telah dirampas
Menurut saya puisi ini bagus memiliki makna/ pesan dari penulis yang mempelihatkan
keresahan dengan tindakan tindakan yang dilakukan pemerintah puisi ini sangat berani menurut
saya karena puisi tersebut menjadi sarana protes oleh masyarakat kepada pemerintah atas hal hal
yang pemerintah lakukan kepada masyarakat.
3
ANALISIS CERPEN
1. Analisis Cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan" karya Umar Kayam
Sinopsis
Cerpen ini berawal dari sepasang manusia yang saling menyayangi tetapi tidak bisa
meninggalkan keegoisan masing-masing. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri, dimana tokoh
wanita dalam cerpen ini (Jane) masih tidak bisa melupakan masa lalunya bersama mantan
suaminya (Tommy) dan tokoh pria (Marno) yang terus membayangkan desanya di Indonesia.
Hubungan mereka yang dianggap tidak benar oleh Marno menimbulkan konflik batin yang
menyebabkan Mamo harus meninggalkan Jane.
Ulasan dan Unsur Intrinsik Cerpen
1. Tema: Percintaan
Cerpen ini mengangkat kisah cinta antara laki-laki kepada perempuan, menyajikan kekosongan
jiwa dari manusia metropolis. Mereka ingin kembali kepada impian- impian, tetapi justru
pelarian kepada dunia romantis membuat mereka kian terpencil dan sendiri.
2. Alur: menggunakan alur maju progresif dalam ceritanya. Pada cerpen ini alur cerita sangat
sederhana karena hanya menceritakan percakapan Marno dan Jane dalam satu waktu sehingga
memiliki alur maju.
3. Setting: di dalam kamar (di Manhattan)
Cerpen ini mengisahkan citra masyarakat modern di Manhattan, di New York, Amerika. Ketika
itu penulis memang bermukim di sana, sebagai pengamat sastra dan budaya. laia mencoba
merekam situasi masyarakat ber modern di sana.
4. Tokoh Marno dan Jane
Marno ditokohkan sebagai orang yang memegang teguh budaya Timur, sentimentil, dan
terikat pada norma budaya Timur. Sedangkan Jane adalah perwakilan budaya Barat, yang liberal
dan tak acuh pada keterikatan yang bagi orang Timur dianggap wajib. Marno dalam cerpen ini
juga terikat pada norma ketimuran, meski dia juga sanggup menyelaraskan diri dengan
modernisasi dan kebaratan Jane hingga menjalin cerpen yang utuh dan lembut. Sedangkan Jane
adalah cerminan budaya Barat. Dia melakukan apa yang bagi budaya Barat sudah biasa. Dia
mabuk bersama Marno, menceracau tentang hal-hal sehari-hari dan pengalaman Baratnya, serta
lupa akan status perkawinannya.
5. Kelebihan : bahasanya mudah dipahami, konfliknya membuat kita penasaran. Cerpen ini
memiliki nilai sastra tinggi di bidang sosial dan budaya. Suasana yang diceritakan dalam cerpen
ini tergambarkan dengan jelas sehingga mampu membuat pembaca mendalami cerpen ini.
Cerpen ini menyajikan nilai edukasi dimana kita harus menghargai budaya lain.
6. Kelemahan : akhir cerita yang tidak jelas, serta Kalimat dalam cerpen ini pun memiliki makna
tersembunyi sehingga bisa menimbulkan kebingungan bagi pembaca.
7. Amanat: meskipun tinggal di negeri orang hendaknya kita tetap menjaga adat istiadat dan
budaya timur. Menahan diri agar tidak terpengaruh budaya dan kebiasaan- kebiasaan yang buruk
dimana tidak sesuai dengan budaya kita.
8. Ulasan/komentar
Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan merupakan sebuah antologi 14 cerpen dengan
judul yang sama buah karya Umar Kayam terbit pada tahun 1968. Dalam kumpulan cerpen ini
sebagian besar mengisahkan tentang kehidupan-kehidupan di luar negeri, kecuali Bawuk dan Sri
Sumarah. Saya menyukai cerita ini karena ceritanya yang mudah dimengerti dan tidak berat.
Beberapa faktor yang menyebabkan saya menyukai cerpen ini adalah dengan gaya bahasa nya
yang tidak bertele-tele dan juga banyak menggunakan majas metafora, sehingga kata-katanya
lebih bernuansa romantis.
2. Robohnya surau kami
Judul : Robohnya Surau Kami
Penulis : AA Navis
Tema : Kehidupan, Masalah sosial
Alur : Cerpen ini menggunakan alur mundur karena menceritakan penyebab kakek mati
Latar :
Latar tempat : pada cerpen ini di dekat pasar, di surau, di rumah Ajo Sidi. di Sebuah Kota, di
neraka,
Latar sosial : Seorang kakek yang menjadi penjaga surau
Sudut Pandang : Sudut pandang orang pertama
Tokoh : Aku, Kakek, Ajo Sidi, Haji Saleh
Amanat : kita tidak takut akan neraka sehingga hanya mementingkan untuk beribadah tanpa
memperdulikan keadaan sekitar. Jangan mudah mengambil hati omongan orang yang belum
tentu benar
Sinopsis
Cerpen tersebut menceritakan tokoh aku yang bertemu dengan kakek yang murung,
kemudian tokoh aku bertanya alasan kakek murung, si kakek bercerita bahwa iya merasa
dikatakan secara tidak langsung orang terkutuk, iya merasa seperti itu setelah diceritakan cerita
haji saleh oleh ajo sidi, dalam ceritanya ajo sidi bercerita tentang haji saleh yang masuk neraka
padahal selalu taat beribadah dalam ceritanya haji saleh bertanya pada tuhan alasan ia bisa masuk
neraka, dan tuhan menjawab karena semasa hidupnya mereka hanya mengejar surga karena
terlalu takut akan neraka hingga melupakan istri anak lingkungan sekitarnya.
Cerita tersebut membuat sang kakek tersentak dan murung karena cerita tersebut kakek
menganggap serius hingga kakek tidak kuat dan mengakhiri hidupnya surau yang dulu dijaga
oleh kakek sepeninggalannya kakek surau itu menjadi tidak terurus dan hampir roboh
3. Dilarang mencintai Bunga Bunga
Judul : Dilarang mencintai Bunga Bunga
Penulis : Kuntowijoyo
Tema : masalah kehidupan, pandangan hidupnya,
Alur : alur dari cerpen ini yaitu alur maju
Sudut pandang : sudut pandang yang digunakan pada cerpen ini yaitu sudut pandang orang
pertama
Latar tempat : Rumah Buyung, Halaman rumah, Kamar buyung
Tokoh : Buyung, Ayah, Ibu, dan Kakek.
Sinopsis :
Menceritakan buyung seorang anak laki laki yang berteman dengan seorang kakek yang
menyukai bunga bunga dan seiring pertemanan mereka buyung pun juga menjadi suka kepada
bunga setiap pulang dari rumah kakek itu buyung selalu membawa bunga namun hobi
kesenangan buyung itu tidak disukai oleh yang ayah. Ayah menentang buyung yang seorang laki
laki bermain bunga dan menyukai bunga. Ayah buyung menganggap bahwa itu bukan sesuatu
yang pantas untuk dilakukan seorang anak laki laki menurut ayah laki laki itu haruslah
mencerminkan laki laki dan menurut ayah laki laki itu hakikatnya untuk bekerja
Amanat : Semua orang memiliki persepsi dan pandangan mereka masing masing akan
kehidupan, namun pandangan
4. Kemarau
Judul : Kemarau
Penulis : Andrea Hirata
Tema : Lingkungan, keadaan alam
Alur : Alur yang digunakan pada cerpen ini aur campuran
Sudut Pandang : sudut pandang orang pertama yang digunakan
Latar tempat : kamar kamar sempit dan
Tokoh :Bujang dan Penjual Tebu
Sinopsis :
Cerpen kemarau yaitu mengisahkan seorang pemuda kampung yang merasa bosan akan
keadaan daerah tempat ia tinggal Dalam cerpen ini sarat akan kritik terhadap pemerintah. Sang
tokoh merasa kecewa terhadap pemerintah. Karena propaganda yang dikeluarkan politisi di
papan reklame itu, megah bertalu-talu tentang perubahan-perubahan yang akan mereka buat.
Sang tokoh terpana menatap propaganda para politisi di papan reklame. Periode ke
periode silih berganti mereka telah berkoar tentang perubahan namun jam besar yang berada di
depan hidung mereka rusak selama 56 tahun tetap rusak selama 56 tahun, dan para pejuang 45
tetap mengacungkan tinjunya pada mereka. Sampai disana yang kutemui hanya semilir angin dan
riak-riak halus gelombang. Bangkai keruk itu telah lenyap, macam telah disulap seorang
illusionist.Si penjual tebu berkata kapal keruk itu sudah di potong-potong menjadi besi kiloan.
Aku terhenyak sirna sudah kenangan manis itu, lenyap sudah kebanggaan masa kecilku itu,
hapus sudah kebudayaan itu.
Namun, tak kulakukan, karena aku sudah terlambat untuk pulang, sudah sore. Ku lihat
jam besar itu sudah pukul 5. Musim masih kemarau saat aku kembali ke jakarta dan hidup
berlangsung seperti biasa.. Lalu selanjutnya di akhir cerita Andrea Hirata menuliskan “sepuluh
tahun telah hangus sejak terakhir aku melamun di rongsokan kapal keruk itu”.
Ia bermaksud ingin menuju sungai tempat merapatnya sebuah kapal keruk yang penuh
dengan kenangan dari ayahnya. Namun, ditengah perjalanan dia merenungkan tentang nasib
indonesia mulai dari kampung yang minim fasilitas, hingga ke calon pemimpin yang sibuk
berkampanye janji-janji palsu yang hanya omong kosong doang. Buktikan dengan tak ada
pembangunan apapun bahkan jam dinding besar di dekat hidung mereka saat kampanye pun tak
bisa diperbaiki. Miris sekali indonesiaku.
Amanat : Ketika kita berada dalam situasi yang berpengaruh dan membutuhkan banyak orang,
kita jangan sampai hanya menjadi pengkhotbah palsu/orang yang hanya mengumbar janji tanpa
bukti, tetapi juga agen dan pelaksana perubahan.
5. ANAK INI MAU MENGENCINGI JAKARTA?
Sinopsis
"Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?" karya Ahmad Tohari menjadi metafor yang sangat
kuat dan produktif untuk menggambarkan warga masyarakat miskin yang tersisih dan tidak
mendapat kesempatan di ibu kota. Di situ bercampur-baur antara harapan dan kenyataan di
dalam satu helaan napas. "Mengencingi" di dalam cerpen ini tumbuh menjadi perlambang dari
kemarahan terselubung dari kalangan wong cilik yang sadar akan posisinya, sadar akan
kemampuannya yang sangat terbatas dibanding dengan pihak-pihak yang menjadi alamat
kemarahannya
Tema: Realitas kehidupan
Isi Cerpen ini memuat kritik terhadap kemiskinan yang masih dirasakan oleh masyarakat
kalangan bawah di negeri ini. Ahmad Tohari memilih kelompok masyarakat yang tinggal di
pinggiran rel kereta api di Stasiun Senin Jakarta. Jakarta sebagai ibukota negara, tidak hanya
tempat gedung-gedung megah tetapi juga tempat berkumpulnya orang-orang miskin seperti
gelandangan. Kemiskinan digambarkan dengan gubug-gubug dari kardus sebagai tempat tinggal
para gelandangan, mi instan sebagai makanan mewah, serta prostitusi sebagai pekerjaan. Tokoh
Laki-laki, anak laki-laki dan perempuan atau apanya menjadi gambaran hal tersebut.
"Kereta itu berhenti di wilayah kehidupan orang-orang pinggir rel. Kehidupan yang
sungguh merdeka dan berdaulat, sedang bergerak. Tetapi, sebagian besar mereka masih terbaring
dalam gubug-gubug kardus yang menyandar ke tembok pembatas jalur jalur rel Ada yang
tampak kaki, di balik semak yang meranggas dan berdebu, seorang lelaki dan anak kecilnya
sudah bangun. Di dekat mereka ada perempuan masih tertidur, berbantal buntalan kain melingkar
di atas gelaran kardus. Wajah perempuan yang masih lelap itu tampak lelah. Tetapi gincu bibir
dan bedak pipinya tebal. Entahlah, mungkin perempuan itu tadi malam berjualan berahi sampai
pagi." Penggunaan kata-kata "bedak", "gincu" dan "berjualan dipakai oleh Ahmad Tohari untuk
mewakili profesi si perempuan atau apanya sebagai seorang pramuria. Kehidupan yang keras
dari tokoh perempuan tersebut dianalogikan sebagai Dan kehidupan yang amat berdebu dan jauh
dari air membuat perempuan itu sewarna dengan sekelilingnya yang juga penuh debu Debu
adalah kotoran yang sering kali mengganggu keberadaannya. Seperti juga profesi pramuria yang
dianggap kotor oleh masyarakat.
Tokoh
1. Laki-laki
2. Anak laki-laki
3. Perempuan/apanya
Amanat :Sebenarnya cerpen ini dimaksudkan untuk menjadi kritik sosial terhadap kemiskinan di
negeri ini.
Respon :Setelah membaca cerpen karya Ahmad Tohari ini saya merasa Ide yang disampaikan
oleh penulis ini cukup berat namun berkesan di hati saya dengan sedemikian rupa. Ia memotret
kehidupan kalangan bawah dengan rinci. Selain itu harapan dan kenyataan bercampur baur dari
dialog antara si Anak dan Bapak. Penggambaran "mi instan" sebagai sarapan adalah
penggambaran makanan pengganti nasi yang merakyat dan murah. Dengan harga yang murah,
mi instan dimaksudkan sebagai pelambang dari kemiskinan, untuk orang yang tidak mampu
membeli nasi sebagai makanan sehari-hari, Hal ini yang membuat cerita terasa menarik dan
berkesan.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
Analisis drama
1. Pada Suatu Hari karya Arifin C. Noer
● Judul : pada suatu hari
● Penulis : Arifin C. Noer.
● Unsur intrinsik yang ada dalam naskah drama tersebut
● Tema yang diambil pada drama ini yaitu tentang keluarga. Hal tersebut terlihat dari
adanya problematika keluarga antara kakek dan nenek yang ditampilkan dalam
drama.
● Alur dalam drama ini adalah maju.
● Tokoh yang terdapat dalam drama ini antara lain: kakek, nenek, pesuruh, janda
(nyonya Wenas), Arba (supir), Novia, Nita, Meli, Feri, dan Vita.
● Latar tempat pada drama tersebut berada di sebuah ruang tamu rumah kakek dan
nenek.
● Latar waktu pada siang hari,
● Latar suasana yang ada pada drama berbagai macam diantaranya, keceriaan dan
kebahagiaan ketika kakek dan nenek sedang bercengkrama, tegang ketika nenek dan
kakek bertengkar karena kedatangan nyonya Wenas
Secara garis besar drama ini menceritakan tentang kehidupan rumah tangga pada umumnya,
yang selalu terdapat konflik kecemburuan. Dimulai ketika sepasang suami istri yang sudah tua
yakni kakek dan nenek yang sedang menggelar acara ulang tahun pernikahan mereka kedatangan
tamu tak diundang yang merupakan mantan dari sang kakek bernama nyonya Wenas. Karena hal
itu nenek pun menjadi marah dan cemburu hingga pada akhirnya meminta cerai dengan si kakek.
Di tengah pertengkaran mereka, datanglah anak mereka yang bernama Nita hanya bisa terdiam
Melihat kedua orang tuanya bermusuhan. Kemudian anak kedua dari kakek dan nenek datang
nama dari anak itu Novia yang ternyata juga memiliki konflik yang sama dan ingin mengajukan
cerai kepada suaminya yang bernama Vita karena cemburu kepada pasien yang ditangani
suaminya. Pada akhirnya sang nenek menasehati Novia agar tidak bercerai dengan
suaminya.Akhirnya permasalahan nenek dan kakek terhapus begitu saja karena anaknya.
Drama ini membahas isu unik tentang masalah yang dihadapi dalam kehidupan rumah tangga
saat memasuki usia tua. Kata perceraian terdengar mudah diucapkan dalam drama ini. Melalui
tokoh nenek, kita bisa belajar bahwa kita harus memikirkan masalah dengan tenang dan juga
Melihat masalah dari berbagai sisi.
Amanat atau pesan yang terkandung dan dapat diambil dari drama ini adalah dalam berumah
tangga hendaklah untuk tidak gegabah dalam mengambil segala keputusan, terlebih yang
mengacu pada perceraian. Pikirkan semuanya dengan matang-matang jangan sampai keluarga
terdekat seperti anak menjadi korbannya. Sebagai keluarga hendaknya juga saling menasehati
jika anggota keluarga sedang dilanda masalah. Peran orang tua juga sangat penting dalam rumah
tangga anak.
2. Ayahku Pulang
● Judul : Ayahku Pulang
● Penulis : Umar Ismail
● Tema : Kehidupan sosial masyarakat yaitu rasa penyesalan
● Alur : Alur yang digunakan yaitu alur maju
● Latar tempat : Di dalam rumah (ruang tamu)
● Latar waktu : Waktu setelah berbuka puasa
● Tokoh : Ayah (Raden Saleh), Ibu (tina), Gunarto, Maimun dan Mintarsih.
Bercerita tentang seorang ayah bernama Raden Saleh yang tega meninggalkan istri dan
anaknya yang masih kecil untuk merantau. Setelah menemukan kesuksesan di sana melupakan
keluarganya namun setelah dia menderita dan sudah tua Raden Saleh memutuskan untuk kembali
ke keluarga lamanya.
Dua puluh tahun berlalu, Gunarto telah tumbuh dewasa dan menjadi tulang punggung
keluarganya. Gunarto bekerja di pabrik tekstil dan karakternya keras karena perjuangan hidup
yang sulit harus dia lalui tanpa cinta dan pendidikan ayahnya. Dimalam itu ada lelaki tua itu
mendekati rumahnya. Sang ibu langsung mengenali lelaki tua itu sebagai suaminya yang sudah
lama meninggalkannya.
Maimun dan Mintarsih yang tidak mengerti masalah yang muncul sebelumnya, langsung
menerima laki-laki itu sebagai ayah mereka. Berbeda dengan Gunarto yang masih menyimpan
dendam mendalam pada sang ayah, kemudian ayah bercerita tentang kehidupannya ketika dia
di singapura, dia punya istri tapi kemudian tokonya terbakar dan sekarang hidupnya hancur.
Gunarto menjadi marah, sifat sombong yang diwarisi dari ayahnya muncul dan dia memarahi
ayahnya. Ia mengingatkan ayah, ibu, dan adik-adiknya atas kesalahan yang dilakukan sang ayah
di masa lalu dan mengingatkannya akan perjuangannya sebagai tulang punggung keluarga.
Sang ayah menyesali hal tersebut dan akhirnya memutuskan untuk pergi, karena tidak
ingin mengganggu ketentraman keluarganya. Maimun kemudian memutuskan untuk melawan
saudaranya dan pergi untuk memanggil ayahnya di rumah. Namun Maimun hanya menemukan
baju dan peci ayahnya di pinggir jembatan. Ternyata sang ayah bunuh diri dengan melompat
dari jembatan ke sungai. Kemudian Gunarto kaget dan sangat menyesali perlakuan kepada
ayahnya. Gunarto mengejar ayahnya ke jembatan kemudian Gunarto mencari ayahnya dan
memanggil nama ayahnya. Namun usaha Gunarto sia-sia, kini tinggal penyesalan mendalam
Gunarto.
Drama ini memberi pelajaran bahwa dengan harta yang banyak tidak mesti bahagia terus.
Harta kadang akan pergi begitu cepat seperti dicontohkan dalam tokoh ayah yang rela
meninggalkan keluarga memburu kesenangan berujung kebrangkutan. Ujung-ujungnya ingat
keluarga setelah tua.
Amanat atau pelajaran yang dapat diambil dari pementasan naskah "ayahku pulang" hidup
tak selamanya mujur. Kadang kita diatas kejayaan kadang terpuruk di bawah oleh karena itu kita
tidak boleh sombong tidak boleh angkuh selalu bersyukur
3. Dua orang tua menanti kematian yang dibawa kereta kencana
● Judul : Dua orang tua menanti kematian yang dibawa kereta kencana
● Penulis : Eugene Ionesco yang diterjemahkan oleh Ws Rendra ditulis dan kemudian
dipentaskan pertama kali oleh Ws Rendra di yogyakarta pada tahun 1961
● Tokoh dalam drama ini hanya dua orang yakni: kakek yang bernama Henry. Kakek
dalam drama tersebut memiliki sifat yang manja kepada nenek, senang bersandiwara,
mudah mengeluh. Dan tokoh yang kedua yaitu nenek. Nenek memiliki sifat perhatian
kepada kakek, bijak dan sabar.
● Latar di rumah mereka pada malam hari
Drama ini mengisahkan tentang sepasang suami istri yang sudah berusia dua abad sedang
menunggu kereta kencana mereka. Selama menunggu ajal, mereka sering bersenda gurau dengan
melakukan nostalgia. Keduanya tidak terlihat sering mengeluh dalam menunggu kereta kencana
mereka karena mereka selalu bercanda mesra dan tak jarang mereka membahas kembali masa
lalu yang sudah terlewat. Tak jarang juga mereka bertengkar kemudian bersenda gurau kembali.
Begitulah kehidupan mereka yang sudah tua tanpa mempunyai anak. Kesepian tiada tara yang
mereka coba menutupinya dengan saling bercanda. Menunggu kereta kencana yang tak kunjung
datang yang ternyata hanyalah ilusi mereka yang tak pasti.
Drama ini menarik untuk dibaca karena penulisan yang mengambil latar belakang keadaan
masa tua yang menanti ajal yang tak kunjung datang. Walaupun monoton, namun penulis mampu
membuat setiap percakapannya menarik karena gaya bahasa dan isi dari pesan tersebut sangat
dalam.
Amanat atau pesan dari drama ini adalah sebenarnya sangat mendasar, yakni jadilah orang
yang setia kepada pasangan, mampu menerima dan menjalani kehidupan bersama sampai ajal
menjemput. Bersenda gurau dan bercengkrama sejatinya adalah teman selama bosan melanda.
4. Ending tak terduga dalam drama Bulan Bujur Sangkar
● Judul : Bulan Bujur Sangka
● Penulis : Iwan Simatupang.
● Tema : Tema drama ini adalah tentang arti hidup dan mati. Hal ini didasarkan pada
tokoh orang tua yang meributkan hal tersebut.
● Bahasa : Bahasa yang digunakan dalam naskah ini sangat sulit untuk dipahami,
karena menggunakan filsafat yang sulit dicerna oleh orang awam.
● Alur : Alur dalam drama ini bersifat maju.
● Latar tempat yang terdapat dalam drama ini adalah di sebuah lereng gunung.
● Tokoh yang terdapat dalam drama ini antara lain; orang tua, anak muda, dan
perempuan.
Lakon Bulan Bujur Sangkar merupakan penggambaran tentang pemberontakan yang terjadi
pada masa 1950-an, terutama di daerah Sulawesi dan Sumatera. Sebelumnya lakon Bulan Bujur
Sangkar berjudul buah delima dan Bulan Bujur Sangkar. Ditulis pada tahun 1957
Bulan Bujur Sangkar menggambarkan drama ini mengisahkan tentang orang tua yang selama
hidupnya berhasil mencapai keinginannya untuk membangun tiang gantung sesuai keinginannya.
Tiang gantung disini dapat diartikan sebagai penentu awal dan akhir apakah kita akan mematikan
atau dimatikan. Selain tokoh orang tua ada juga tokoh anak muda yang mencoba membunuh
orang tua, karena ia menganggapnya sebagai musuh. Namun, orang tua itu mempengaruhi anak
muda dengan mencoba meyakinkan bahwa kehidupan adalah pilihan untuk mati dan dimatikan.
Akhirnya pemuda itu meninggal. Kemudian di adegan selanjutnya ada seorang gadis yang
datang kepada orang tua tersebut menanyakan pemuda yang telah meninggal tadi yang ternyata
tunangannya, mendengar berita bahwa tunangannya meninggal akhirnya gadis itu pun bunuh
diri. Orang tua yang sebelumnya ingin memperkosa gadis itu kaget ketika Melihat gadis tersebut
gantung diri, akhirnya orang tua pun ikut bunuh diri.
Drama ini memiliki amanat atau pesan moral yang sangat mendalam yakni bahwa semua
makhluk hidup pasti akan mati dan kematian akan datang di waktu yang tidak bisa kita duga dan
kita harus siap menghadapinya. Pengarang juga ingin menyampaikan kepada pembaca untuk
selalu menjaga diri agar tidak mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang tercela dan jangan
mudah terkena hasut orang yang tidak dikenali atau jangan mudah percaya dengan orang lain.
5. Konflik penggusuran makhluk halus dalam drama dhemit
● Judul : Dhemit
● Penulis : Heru Kesawa Murti.
● Tema : Tema yang terdapat dalam drama ini adalah perusakan alam dan lingkungan
akibat keserakahan manusia.
● Penokohan : Tokoh yang terdapat dalam drama ini antara lain; rajegwesi sebagai mandor,
suli pembantu rajegwesi, para dhemit (gendruwo, kuntilanak, jin pohon preh, wilwo,
egrang dan sawan), sesepuh desa, dan pembantu sesepuh desa.
● Latar tempat : Latar tempat yang diambil dalam naskah drama tersebut adalah di sebuah
hutan dusun, di tempat tinggal jin pohon preh,
Drama ini diadaptasi dari masalah lingkungan sekitar, drama ini menceritakan penebangan
hutan dan perebutan lahan yang akan dijadikan sebuah proyek perumahan, namun dalam hutan
tersebut terdapat dhemit yang menunggu hutan. Seorang mandor bernama rajegwesi berdiskusi
dengan bawahannya untuk memecahkan solusi karena masih ada satu pohon besar bernama
pohon preh yang tidak bisa ditebang karena ada dhemit yang menungguinya. Golongan dhemit
terusik atas aksi penebangan hutan tempat tinggal mereka. Hingga pada akhirnya golongan
dhemit menculik salah satu pembantu mandor yang bernama suli. Namun, berkat bantuan dari
sesepuh desa, suli dapat kembali lagi dengan syarat para penebang harus meninggalkan hutan.
Namun, rajegwesi tetap saja menebang pohon itu, hingga pada akhirnya pohon itu tumbang dan
tanah-tanah yang ada di sekitarnya longsor dan rajegwesi ikut tertimbun longsor dan terkapar tak
berdaya.
Drama ini sangat menarik untuk dibaca karena didalamnya terdapat banyak sindiran yang
diberikan pengarang antara lain proyek pembangunan yang dilakukan secara tidak hati-hati maka
akan mengakibatkan lingkungan sekitar rusak. Selain itu kesadaran mengenai pentingnya
menjaga kelestarian alam juga disampaikan oleh tokoh yang ada dalam drama tersebut, yakni
ketika rajegwesi berdialog dengan suli mengenai cara menjaga tanah agar tidak mudah longsor
yakni dengan membuat sistem terasering.
Abdullah Mahbub Ahmad
22201241072
1
ANALISIS PUISI
Analisis Puisi Karawang-Bekasi
Karya Chairil Anwar
Menurut saya, puisi Charil Anwar ini mengangkat tema perjuangan bangsa Indonesia
yang memiliki latar tempat Kota Karawang sampai Kota Bekasi. Hal ini dapat dilihat pada
baris pertama, Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi.
Puisi ini juga menggunakan gaya bahasa (majas) yang bermacam-macam, sehingga
mampu memberi makna dalam pada puisi. Adapun majas yang digunakan pada puisi ini,
antara lain, majas personifikasi (jam dinding yang berdetak), majas hiperbola (Beribu kami
terbaring antara Karawang-Bekasi).
Citraan yang ada antara lain, citraan pendengaran (kami bicara padamu), citraan
penglihatan dan perasaan (kenang, kenanglah kami). Sajaknya bebas. Diksinya beragam,
serta tipografinya rata tepi kiri dan memerhatikan EYD yang berlaku.
Amanat yang disampaikan yakni selalu mengingat sejarah, serta mengenang
perjuangan para pendahulu dalam memerjuangkan Indonesia serta mengamalkan sikap
keteladannya dan menjaga persatuan Indonesia.
Analisis Puisi Sajak Orang Lapar
Karya W.S Rendra
Menurut saya, puisi W.S Rendra ini mengangkat tema sosial. Hal ini dikemukakan
pada bait kedua, sebagaimana saya menafsirkannya, maksud dari bait kedua yaitu karena
kelaparan, masyarakat mampu melakukan perbuatan yang keji semisal pembunuhan
ataupun pemberontakan (berkaitan dengan sosial).
Pada puisi ini saya menemukan beberapa gaya bahasa yang digunakan, antara lain:
1. Majas Pararelisme (pengulangan kata dengan definisi berbeda), pada kata
kelaparan.
2. Majas Simile (perumpamaan), pada kalimat, “kelaparan adalah iblis” atau
“jutaan burung gagak bagai awan hitam”.
Selain itu, pada puisi ini menggunakan tipografi rata tepi kiri, tanpa menggunakan
kapital di awal kalimatnya, dan setiap baitnya diberi spasi. Ada beberapa yang bagi saya
berkesan terkait puisi ini yakni makna yang terkandung di dalamnya. Puisi ini banyak
menggunakan makna kiasan/ konotatif. Mengenai sajak, puisi ini menggunakan sajak bebas,
karena tidak terikat oleh aturan yang berlaku.
Adapun citraan yang terdapat pada puisi tersebut antara lain, citraan penglihatan,
“jutaan burung gagak bagai awan hitam”, sertacitraan perasaan dan pendengaran, “seorang
pemuda yang gagah akan menangis tersedu”. Sementara itu, amanat yang bisa saya
dapatkan dari puisi tersebut adalah seburuk apapun keadaan kita, hendaknya kita tetap
berdo’a dan berusaha, serta menjauhi dari perbuatan terlarang.
Analisis Puisi Aku ini Termasuk Orang yang Sukar Berbahagia
Karya Emha Ainun Najib
Karya puisi yang dihasilkan oleh penyair Emha Ainun Najib ini mampu menjadikan
para penikmat sastra dalam menginterpretasikan karyanya tersebut yang berjudul “Aku Ini
Termasuk Orang yang Sukar Berbahagia” bahkan beberapa kalangan akan berupaya dalam
komentar ataupun kritik sastra.
Puisi yang kerap dipanggil Cak Nun ini memiliki beberapa diksi sinonim, seperti kata
ruwet dan sukar. Penyajian sajak pada puisi menggunakan sajak bebas, rata dan sama. Pada
bait 1, sajak bebas. Pada bait 2 sampai 4 menggunakan sajak rata. Pada tipografinya, Cak
Nun sangat memerhatikan kaidah huruf kapital dan menggunakan tipografi konvensional.
Adapun majas yang digunakan antara lain majas alegori terdapat pada kalimat hidup
ini ruwet seperti lingkaran setan, dan majas ironi pada bait 3. Citraan pada puisi ini terdapat
pada kalimat “memandang adegan kehidupan” melibatkan citraan penglihatan atau pada
kalimat “Hidup ini ruwet” melibatkan citraan perasaan. Adapun pesan yang terkandung
adalah kita seorang hamba hendaklah selalu bersyukur apapun yang telah dianugerahi oleh
Tuhan YME, serta berusaha selalu berbaik sangka kepada Tuhan.
Analisis Puisi Guruku
Karya Mustofa Bisri
Karya puisi yang dihasilkan oleh penyair Musthofa Bisri ini mampu menjadikan para
penikmat sastra dalam menginterpretasikan karyanya tersebut yang berjudul “Guruku”
bahkan beberapa kalangan akan berupaya dalam komentar ataupun kritik sastra.
Puisi Mustofa Bisri ini memiliki beberapa diksi antonim, seperti kata kecil yang
berlawanan dengan besar. Pada puisi ini menyajikan sajak paruh dan sajak patah. Pada
tipografinya, Mustofa Bisri begitu memerhatikan kaidah penggunaan huruf kapital.
Majas yang digunakan mudah dipahami dan terdapat satu majas retorika yang
terletak pada kalimat, “Ataukah kini aku tak tahu menghargai guru?”. Citraan yang digunakan
antara lain citraan perasaan, seperti kalimat “aku menghargai dulu”. Adapun pesan yang
terkandung yakni menjelaskan fenomena yang ada pada dunia ini tentang tata krama
seorang murid terhadap guru setelah seorang murid itu menjadi sosok yang besar atau
terkenal.
Analisis Puisi Berdiri Aku
Karya Amir Hamzah
Menurut saya, puisi Amir Hamzah yang berjudul “Berdiri Aku” ini mengangkat tema
kesedihan, hal ini digambarkan oleh penyair dengan suasana sore hari atau senja yang
biasanya memang mendeskriprikan arti kesedihan, kerinduan, dan perpisahan.
Saya juga dapat menangkap rasa yang dialami Amir Hamzah melalui puisi ini yakni
Amir Hamzah dalam keadaan melankolis. Selain itu, terdapat beberapa citraan, seperti
citraan penglihatan, “senja senyap”, citraan perasaan, “rindu sendu mengharu kalbu, dan
citraan perabaan “angin pulang menyejuk bumi”.
Amir Hamzah menggunakan sajak bebas dalam mengekspresikan diri ke puisi.
Diksi-diksi pada puisi ini kebanyakan menggunakan diksi yang masih memiliki identik, seperti
diksi identik kesunyian terdapat pada kata senyap, mengempas, mengurai, dan sunyi.
Diksi-diksi tersebut oleh Amir Hamzah digunakan sebagai ekspresi kesendirian atau
kesunyian. Selain itu, tipografi yang digunakan yakni rata tengah dan setiap bait ditandai
huruf kapital pada awal kalimatnya. Mengenai majas-majas, saya berpendapat gaya bahasa
yang digunakan termasuk tingkat tinggi. Maka, dari itu saya mencoba menganalisis majas
yang ada pada puisi ini.
1. Majas Hiperbola (Berlebihan), di mabuk warna berarak-arak, rindu sendu
mengharu kalbu.
2. Majas Tautologi (Sinonim untuk penegasan), menyejuk bumi, menepuk teluk,
menghempas emas
Amanat yang bisa diambil dari puisi “Berdiri Aku” adalah bertawakal kepada Tuhan,
pada dasarnya manusia tidak mengetahui kepastian ke depannya. Amanat ini hasil dari
penafsiran saya secara singkat, penyair merasaka kesedihan yang tidak ia duga (Berdiri aku
senyap …) sebelumnya lalu ia tersadar akan keberadaan Tuhan (dalam rupa maha
sempurna) sehingga ia akhirnya pasrah (ingin datang sentosa.