Ketika engkau sampai pangkalan
ingatlah, itu bukan tujuan
Cakrawala selalu menjauh
tak pernah meninggalkan pesan
di mana ia tinggal
Hanya matamu yang tajam
menangkap berkas-berkasnya
di pasir, sebelum engkau melangkah
Tanpa tanda-tanda
engkau sesat di jalan
kabut menutupmu
menggoda untuk diam
Karena kabut lebih pekat dari udara
engkau bisa terlupa
Komentar :
Puisi yang berjudul Petuah karya Kuntowijoyo memiliki tema semangat perjuangan .
Diksi atau pemilihan kata yang ada didalam puisi ini antara lain musnah, Cakrawala,
dan pekat. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini terdapat pada kata
“berkas-berkasnya”.Gaya Bahasa yang digunakan adalah menggunakan gaya bahasa
konotasi atau bahasa yang tidak menggunakan makna sebenarya dan majas
personifikasi pada kalimat “ kabut menutupmu. menggoda untuk diam”. Dan untuk
pencitraan di puisi ini adalah pencitraan visual yaitu pada kata tajam dan pekat.
Sedangkan untuk typografi pada puisi ini memiliki satu bait puisi. Untuk kesan saya
puisi ini sangat bagus karena memiliki arti dak makna tetang sebuah perjuangan yang
tak terhentikan walaupun rintangan menghadang.
Puisi Untuk Adik
Karya Wiji Thukul
Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?
O... tidak, dik!
kita akan terus melawan
Waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan
Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan
kita akan terus bergulat
Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?
O... tidak, dik!
kita harus membaca lagi
agar bisa menuliskan isi kepala
dan memahami dunia
Komentar :
Puisi yang berjudul Puisi Untuk Adik karya Wiji Thukul memiliki tema semangat
perlawanan. Diksi atau pemilihan kata yang ada didalam puisi ini yaitu rongsokan dan
bijak bestari. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini terdapat pada kata “bijak
bestari”.Gaya bahasa yang digunakan adalah menggunakan majas simile pada kalimat
“Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?”. Dan untuk
pencitraan di puisi ini adalah pencitraan perasaan yaitu pada kata “ketakutan”.
Sedangkan untuk typografi pada puisi ini memiliki empat bait puisi. Untuk kesan saya
puisi ini memiliki pemilihan kata yang tepat dan unik yang membuat pembaca
merasa bersemangat serta puisi ini menarik untuk dibaca.
Sujud
Karya Mustofa Bisri
Bagaimana kau hendak bersujud pasrah
sedang wajahmu yang bersih sumringah
keningmu yang mulia
dan indah begitu pongah
minta sajadah
agar tak menyentuh tanah.
Apakah kau melihatnya
seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu
dengan congkak,
tanah hanya patut diinjak,
tempat kencing dan berak
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh hanya jadi lahan
pemanjaan nafsu
serakah dan tamak
Komentar :
Puisi ini memiliki tema Kesombongan. Diksi atau pemilihan kata pada puisi ini yaitu
sumringah, pongah, congkak, dan tamak. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini
terdapat pada kata “bersih sumringah”. Untuk gaya bahasa yang digunakan dalam
puisi ini yaitu Bahasa konotasi atau makna yang bukan sebenarya pada kalimat “
sedang wajahmu yang bersih sumringah”. Pencitraan yang ada dipuisi ini adalah
pencitraan peraba pada kata “menyentuh”. Typografi puisi ini adalah memiliki dua
bait puisi dan disetiap awal kalimat pada bait pertama puisi menggunakan huruf
kapital. Kesan yang saya terhadap puisi ini adalah sangat menarik karena pemilihan
kata yang menohok dan jelas membuat pembaca menjadi mudah memahamI.
Menuju Negeri Abadi
Karya Eka Budianta
Aku takut negara ini akan runtuh
Sesaat sesudah lebaran, sesaat sebelum natal
Sesaat sesudah nyepi, sesaat sebelum waisyak
Aku tahu semua rejim akan hancur
Dan muncul penguasa baru.
Tapi kamu tak percaya,
Kamu mengejek ketika aku menangis,
Tak enak makan melihat tentara bubar.
Kamu akan mencari cara
Membuat negara tanpa senjata,
Tanpa kebengisan, tanpa pembunuhan.
Kamu tahu negeri yang abadi
Bukan di bumi letaknya.
Komentar :
Puisi ini memiliki tema Kekhawatiran terhadap negeri ini. Diksi atau pemilihan kata
pada puisi ini yaitu runtuh, rejim, dan kebengisan. Untuk gaya bahasa yang digunakan
dalam puisi ini yaitu menggunakan majas repetisi pada bait pertama kalimat kedua
dan ketiga .Pencitraan yang ada dipuisi ini adalah pencitraan perasaan pada kata
“menangis”. Typografi puisi ini adalah memiliki dua bait puisi dan disetiap awal
kalimat menggunakan huruf kapital. Kesan yang saya terhadap puisi ini terlihat sangat
menarik karena mengandung makna yang kaya dengan arti.
Surat Dari Ibu
Karya Asrul Sani
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
Komentar :
Puisi yang berjudul Surat Dari Ibu karya Asrul Sani memiliki tema Kasih sayang
seorang Ibu. Diksi atau pemilihan kata yang ada didalam puisi ini yaitu pada kata
angin buritan, rimba, nahkoda, dan pudar. Sedangkan untuk persajakan di puisi ini
terdapat pada kata “kemerah-merahan”. Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi ini
ialah menggunakan Bahasa konotasi atau makna yang bukan sebenarya. Dan untuk
pencitraan di puisi ini adalah pencitraan visual yaitu pada kata “bertiup”. Sedangkan
untuk typografi pada puisi ini yaitu memiliki empat bait. Untuk kesan saya pada puisi
ini adalah puisi ini sangat menyentuh karena menggambarkan kasih sayang seorang
ibu yang tidak akan pernah habis kepada anaknya.
Subuh
Karya Amir Hamzah
Kalau subuh kedengaran tabuh
semua sepi sunyi sekali
bulan seorang tertawa terang
bintang mutiara bermain cahaya.
Terjaga aku tersentak duduk
terdengar irama panggilan jaya
naik gembira meremang roma
terlihat panji terkibar di muka.
Seketika teralpa;
masuk bisik hembusan setan
meredakan darah debur gemuruh
menjatuhkan kelopak mata terbuka.
Terbaring badanku tiada berkuasa
tertutup mataku berat semata
terbuka layar gelanggang angan
terulik hatiku di dalam kelam.
Tetapi hatiku, hatiku kecil
tiada terlayang di awang dendang
menangis ia bersuara seni
ibakan panji tiada terdiri.
Komentar :
Puisi ini memiliki tema tentang Ketuhanan . Diksi atau pemilihan kata yang ada
didalam puisi ini yaitu pada kata tabuh, sunyi, dan dendang. Sedangkan untuk persajakan di
puisi ini terdapat pada kata “sepi sunyi”. Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi ini ialah
menggunakan majas personifikasi pada kalimat “ bulan seorang tertawa terang” dan “bintang
mutiara bermain cahaya”. Dan untuk pencitraan di puisi ini adalah pencitraan audio yaitu
pada kata “debur gemuruh” dan pencitraan perasaan pada kata “menangis dan gembira”.
Sedangkan untuk typografi pada puisi ini yaitu memiliki lima bait. Puisi ini sangat menarik
karena pemilihan diksi yang bervariatif dan memikili makna yang mendalam yaitu sebagi
manusia kita tidak boleh meninggalkan sholat lima waktu.
2
ANALISIS CERPEN
Daftar Cerpen :
1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam
2. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo
3. Cerpen Kompas 2007 “Maling” karya Putu Wijaya
4. Guru karya Putu Wijaya
5. Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari
1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam
Tokoh :
a. Marno : Sabar dan Pendengar yang baik
b. Jane : Cerewet dan Keras Kepala
Latar tempat : Kota Manhattan
Latar waktu : malam hari
Kelap-Kelip di Manhattan
Umar Kayam adalah nama yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Semasa hidupnya
ia sangat aktif di berbagai bidang. Ia dikenal sebagai sastrawan, budayawan, sosiolog,
kolumnis, mantan pejabat, penulis skenario, dan aktor film. Salah satu cerpen yang pernah
Beliau tulis ialah Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.
Cerpen ini mengisahkan sepasang kekasih. Cerpen ini berlatar tempat di Manhattan
salah satu kota yang terdapat di Benua Amerika dan memiliki tema kesetiaan, sedangkan latar
waktu cerpen ini adalah malam hari. Didalam cerpen ini terdapat tokoh yang memiliki nama
Marno dan Jane. Marno yang memiliki sifat sabar dan pendengar yang baik, ia merasa rindu
akan kampung halamannya, hal tersebut dapat dilihat dari “Aku sedang enak di jendela sini,
Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.” Disini Marno sebenarnya mengimajinasikan
Manhattan sebagai kampung halamannya dan mengkhayal kunang-kunang ada di Manhattan,
Amerika Serikat yang notabene kunang-kunang adalah hewan tropis. Sedangkan tokoh Jane
memiliki sifat cerewet dan keras kepala. Jane terus-terusan membahas tentang mantan
suaminya didepan Marno. Penulis cerpen ini ingin mengungkapkan sebuah perbedaan dan
persamaan diantara Marno dan Jane dari sisi kebudayaan barat dan kebudayaan timur.
Perbedaan yang ingin ditunjukkan pada situasi ketika tokoh Marno memilih untuk pulang,
tidak tidur dengan Jane serta mungkin Marno ingin segera mengakhiri perselingkuhannya
dengan Jane dan kembali kepada istrinya. Hal tersebut menunjukkan budaya timur yang lebih
menghargai ikatan perkawinan. Sedangkan untuk persamaannya adalah kedua tokoh yang
sama-sama memiliki kasih sayang, Marno yang rindu akan kampung halamannya dan istrinya
dan Jane yang merasa khawatir dan masih menyayangi mantan suaminya, hal tersebut
membuktikan bahwa budaya barat dan timur memiki kesamaan dalam hal kasih sayang.
Kritik sosial yang terdapat dalam cerpen ini yaitu mengenai kebudayaan. Perbedaan
kebudayaan barat dan timur yang mencolok.
Dalam cerpen ini saya belajar bahwa menghargai dan tidak berperilaku semena-mena
kepada orang walaupun kita sudah mengenalnya adalah hal yang penting. Serta menghargai
sesuatu yang kita miliki dan seharusnya kita berusaha melindungi dan menjaga kepercayaan
orang lain kepada diri kita.
2. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo
Tokoh :
a. Buyung : Tokoh yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
b. Kakek tua : Ramah, Baik Hati dan Penyayang
c. Ayah : Tegas, Dingin dan Kasar
d. Ibu : Sabar
Latar tempat : kamar taksu dan rumah kakek
Latar waktu : pagi dan sore hari
Bunga-Bunga disebrang Pagar
Kuntowijoyo adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia
yang lahir pada tanggal 18 September 1943. Sudah banyak karya-karya yang telah ditulis
Beliau, salah satunya adalah cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Dalam cerpen ini
Kuntowijoyo mengusung tema Filosofi Kehidupan.
Didalam cerpen ini terdapat seorang anak laki-laki bernama Buyung yang memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi terhadap rumah yang berada pada samping rumahnya. Ternyata
rumah tersebut ditempati oleh seorang kakek tua yang tinggal sendirian. Dirumah itu, kakek
tua memiliki banyak tanaman bunga yang bermacam-macam. Hingga pada akhirnya Buyung
dan Kakek tua bersahabat dan sering bercengkrama serta berbincang-bincang tentang banyak
hal. Akan tetapi, ketika Ayah Buyung mengetahui bahwa Buyung sering membawa dan
menyukai bunga, Ayah Buyung melarangnya karena bagi Ayahnya tidak pantas untuk
laki-laki untuk gemar ataupun menyukai bunga karena laki-laki itu harus kerja.
Kritik sosial yang terdapat dalam cerpen ini yaitu mengenai hak manusia untuk
menyukai suatu hal. Didalam cerpen ini tokoh Ayah melarang anak laki-lakinya karena ia
menyukai bunga, tokoh Ayah menganggap bahwa seorang laki-laki itu harus kerja bukan hobi
atau menyukai bunga-bunga.
Dari cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” karya Kuntowijoyo saya belajar
bahwa manusia harus saling memahami dan menghargai serta tidak memaksakan kehendak
kepada orang lain. Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk kita memenuhi tuntutan dunia yang
bukan kebutuhan hidup. Tetapi tanpa disadari kita dipaksa oleh standar-standar kehidupan
yang dibangun oleh pandangan sosial tertentu.
3. Cerpen Kompas 2007 “Maling” karya Putu Wijaya
Tokoh :
a. Pak Amat : Sentimental, Tegas dan Pemaaf
b. Bu Amat : Sabar, Penolong, dan Pemaaf
c. Ketut : Suka Mencuri. Pengkhianat, dan Baik
d. Ami : Baik
Latar tempat : Rumah Pak Amat
Salah Paham atau Memang Kenyataan?
Didalam cerpen ini menceritakan ketika Pak Amat yang kehilangan Jambangan bunga
porselen yang merupakan hadiah dari Gubernur. Ia uring-uringan dan menyalahkan segala
macam yang dianggapnya sebagai penyebabnya. Tetapi ternyata Jambangan bunga itu tidak
hilang dicuri melainkan diberikan sendiri oleh Bu Amat kepada Ketut. Tetapi Pak Amat
sudah terlanjur menghajar Ketut yang telah dibawa kehadapannya oleh para tetangga.
Kemudian Pak Amat meminta maaf kepada Ketut karena telah menghajar Ketut. Tanpa
disangka Ketut adalah orang yang telah mencuri dompet dan perhiasan Bu Amat,akan tetapi
Ketut kemudian mengembalikannya kepada Bu Amat karena merasa bersalah telah
mengkhianati orang yang telah bersikap baik dan mau menolongya.
Kritik sosial yang terdapat dalam cerpen ini yaitu mengenai kriminalitas. Hal ini
dijelaskan oleh penulis bahwa tokoh Ketut telah mencuri dompet dan perhiasan Bu Amat,
padahal Bu Amat telah banyak menolong dan membantu Ketut. Disini penulis ingin
memberikan suatu pelajaran bahwa wajib hukumnya untuk menolong seseorang yang sedang
mengalami kesulitan.
Dari cerpen “Maling” karya Putu Wijaya saya belajar bahwa kepercayaan adalah hal
yang mudah dan rentan untuk dihancurkan seseorang. Kepercayaan yang sudah diberikan
sepatutnya dijaga karena kepercayaan mahal harganya. Serta sudah seharusnya sebagai
manusia kita harus saling tolong menolong dan memaafkan kesalahan manusia lain dan tidak
boleh malu untuk meminta maaf apabila telah melakukan sebuah kesalahan.
4. Guru karya Putu Wijaya
Tokoh :
a) Taksu : Teguh pendirian
b) Ayah Taksu : Licik,
c) Ibu Taksu : Pemarah
Latar tempat : Kos, rumah dan kamar
Tekad Kuat Demi Sebuah Mimpi
Putu Wijaya adalah salah satu sastrawan Indonesia yang memiliki nama asli I Gusti
Ngurah Taksu Wijaya. Beliau lahir dan besar di Taliban, Bali. Sudah banyak karya sastra
telah ditulis beliau, salah satunya adalah cerpen yang memiliki judul "Guru".
Cerpen ini mengisahkan seorang tokoh yang bernama Taksu. Taksu berkeinginan
untuk menjadi seorang Guru. Akan tetapi, keinginannya tersebut ditentang dan ditolak
mentah-mentah oleh Ayah dan Ibu Taksu. Ayahnya berusaha untuk merubah keinginan dan
cita-cita Taksu dengan menyogok Taksu dengan barang-barang mewah, mobil buatan Jerman
BMW contohnya. Namun semua barang yang diberikan oleh kedua orangtua nya tak mampu
merubah keinginan Taksu tersebut. Taksu tetap teguh pada pendiriannya. Kemudian semua
barang yang telah diberikan oleh kedua orangtua Taksu ditarik kembali karena Taksu tak
segera mengubah keinginannya tersebut. Hingga pada puncaknya, Taksu diusir oleh kedua
orang tuanya karena masih ngeyel dengan pendiriannya tersebut. Hingga 10 tahun berlalu,
Taksu menjelma menjadi seorang Guru bagi 10.000 pegawainya. Taksu berubah menjadi
seseorang yang sukses dan kaya raya.
Kritik sosial yang terdapat dalam cerpen ini yaitu Pendidikan, mengenai pengertian
Guru yang mengalami penyempitan. Profesi guru kerap kali dipandang sebelah mata.
Dari cerpen "Guru" karya Putu Wijaya saya belajar bahwa tidak seharusnya kita
memaksakan kehendak kepada orang lain, bahkan kepada anak kita sendiri. Seorang anak
berhak atas pilihan dan hidupnya. Sebagai orang tua, sudah seharusnya kita selalu
mendukung selama pilihan tersebut baik dan tidak merugikan orang lain. Selain itu, guru
tidak hanya seseorang yang berdiri didepan kelas disebuah sekolah, akan tetapi siapa saja bisa
menjadi guru. Apapun profesinya selama itu bermanfaat untuk orang lain. Dan pada
realitanya, profesj Guru saat ini masih saja dipandang sebelah mata, tak jarang orang-orang
menganggap Guru dengan tatapan remeh. Mereka menganggap profesi Guru penuh dengan
tatapan rendah. Profesi Guru sudah terlanjur melekat pada kalimat Pahlawan Tanpa Tanda
Jasa, sehingga mereka selalu berpikir demikian.
5. Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari
Tokoh :
a) Karyamin : Baik, sabar dan murah senyum
b) Teman- Teman Karyamin : Suka menggunjing
c) Saidah : Baik
d) Pak Pamong : Kurang peka
Latar tempat : sungai, rumah dan pangkalan material
Latar waktu : pagi dan siang hari
Batu- Batu Kali untuk Menghidupi
Ahmad Tohari merupakan sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia.
Beliau lahir pada tanggal 13 Juni 1948. Sudah banyak karya-karya yang telah ditulis beliau,
salah satunya adalah cerpen yang memiliki judul “Senyum Karyamin”. Didalam cerpen ini
beliau mengusung tema perjuangan. Perjuangan Karyamin dalam menghidupi istrinya.
Latar tempat didalam cerpen ini yaitu sungai, pangkalan material, dan rumah.
Sedangkan latar waktu dalam cerpen ini yaitu di pagi dan siang hari. Cerpen ini mengisahkan
seorang laki-laki yang bernama Karyamin. Ia memiliki pekerjaan sebagai tukang panggul
batu. Suatu hari ketika Karyamin sedang bekerja, ia terpeleset berkali-kali dan tak jarang
Karyamin tertimpa batu yang sedang ia bawa. Teman -teman Karyamin yang melihat
kejadian tersebut tidak menolong melainkan mereka tertawa terbahak-bahak dan menjadikan
peristiwa itu bahan olokan.
Karyamin yang mengetahuinya hanya membalas dengan sebuah senyuman dan tidak
marah ataupun membalas perbuatan teman-temannya tersebut. Diperjalanan Karyamin
bertemu dengan Saidah, seorang penjual nasi pecel. Saidah yang melihat wajah Karyamin
yang terlihat pucat, akhirnya menawari Karyamin untuk berhenti dan makan terlebih dahulu.
Akan tetapi Karyamin menolak, karena ia mengingat bahwa utang-utangya belum ia bayar
dan berakhir Karyamin hanya meminta segelas air putih.
Ketika Karyamin berjalan menuju rumah, Karyamin sudah merasakan bahwa
tubuhnya tidak baik-baik saja tetapi ia tetap melanjutkan perjalanannya untu segera pulang.
Ketika ia memasuki halaman rumahnya, Karyamin melihat dua buag sepeda jengki milik
penagih utang yang dating, kemudian ia berbalik dan menuruni tanjakan. Namun dibawah
Karyamin melihat Pak Pamong yang ingin memintai iuran dana kemanusian untuk Afrika.
Ketika Pak Pamong hendak meminta dana, Karyamin hanya membalasnya dengan senyum
getir, kemudian tertawa dengan keras dan akhirnya tubuh Karyamin terjatuh hingga terguling
ke lembah.
Kritik sosial yang terdapat pada cerpen ini yaitu tentang kemiskinan. Hal ini dapat
dilihat ketika tokoh Karyamin yang sebenarnya masih dalam keadaan kekurangaan dalam
segi ekonomi akan tetapi ia dimintai untuk memberikan sumbangan dana untuk warga Afrika.
Padahal tokoh Karyamin juga membutuhkan uluran dana dari manusia lain.
Cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari menurut saya sangat menarik dan
banyak mengandung pesan-pesan yang luar biasa. Dari cerpen ini saya belajar bahwa sudah
seharusnya kita menolong orang yang sedang mengalami kesulitan serta sebaiknya kita
menolong orang yang ada disekitar kita terlebih dahulu, bukannya menolong orang yang jauh
sementara orang disekitar kita juga membutuhkan pertolongan.
3
ANALISIS NOVEL
Daftar Novel :
1. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
2. Negeri 5 Menara karya A. Fuadi
3. Layer terkembang karya St. Takdir Alishjahbana
4. Entrok karya karya Okky Madasari
5. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori
ANALISIS NOVEL
1. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
Judul buku : Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Graamedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 108 halaman
Tahun terbit : 1982
Tema : Sosial, budaya dan percintaan
Latar waktu : tahun 1960
Latar tempat : Dukuh Paruk
Tokoh :
• Rasus : penyayang dan pemberani
• Srintil : lembut dan penyayang
• Sakarya ( Kakek Srintil) : tega
• Kartareja : egois
• Nyai Kartareja : egois
• Nenek Rasus : linglung
• Sakum : hebat
• Warta : perhatian dan penghibur
• Darsun : bersahabat
Buku ini ditulis oleh sastrawan Indonesia terkenal yang bernama Ahmad Tohari.
Beliau lahir di Jawa Tengah dan beliau menamatkan pendidikannya di SMA di Purwokerto.
Karya -karya beliau yang memiliki gagasan kebudayaan mampu dimuat diberbagai negara.
Salah satu karya yang monumentalnya adalah novel yang memiliki judul “ Ronggeng Dukuh
Paruk”. Novel tersebut sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan tentunya novel ini
mendapatkan kesempatan untuk difilmkan.
Dalam buku ini dikisahkan seorang tokoh utama yang bernama Rasus. Ia merupakan
salah satu anak yang tinggal di dukuh Paruk akan tetapi dia sangat berbeda dengan
orang-orang yang tinggal di dukuh Paruk karena ia memiliki pemikiran yang berbeda dan
terbuka terhadap dunia luar. Dia dibesarkan oleh neneknya karena kedua orangtuanya telah
meninggal dunia saat ia masih belia. Rasus memliki tiga orang teman yaitu Srintil, Darsun
dan Warta. Didalam novel ini Rasus jatuh hati kepada teman masa kecilnya yaitu Srintil, akan
tetapi Srintil terlahir untuk menjadi seorang ronggeng di dukuh Paruk. Yang mana Srintil
memiliki sebuah kewajiban yang harus dijalankan sebagai seorang ronggeng dukuh Paruk.
Perjalanan Srintil menjadi seorang ronggeng tidaklah mudah, ia harus melalui beberapa
ritual. Dan salah satu ritual yang harus dijalankan adalah bukak-klambu, dimana Srintil harus
melepaskan kesuciannya kepada laki-laki yang telah memenangkan sayembara.
Kelebihan dari novel ini adalah pemilihan cover buku yang sudah tepat karena telah
mewakili isi dari novel ini dan dari segi warna pun cukup menarik. Selain itu pemilihan kata
untuk menggambarkan latar tempat khas pedesaan mampu membuat pembaca terlarut dalam
cerita, alur yang digunakan dalam novel ini cukup menarik serta penokohan yang
digambarkan pengarang sudah memiliki karakter yang kuat dari masing-masing tokoh.
Sedangkan untuk kekurangan dari ini novel ini adalah adanya beberapa (cukup banyak)
kata-kata kasar sehingga untuk sebagian pembaca yang sensitif merasa kurang nyaman. Dan
untuk penjabaran pada latar suasana menurut saya terlalu panjang dan itu membuat bosan
untuk sebagian pembaca. Serta adanya bebarapa kalimat yang mengandung konten dewasa
sehingga alangkah lebih baik buku ini dibaca oleh pembaca yang sudah cukup umur.
Kesan yang saya dapat setelah membaca buku ini adalah kita harus siap menerima
resiko yang akan dihadapi setelah mengambil suatu keputusan dengan penuh tanggung jawab
serta teladan yang dapat saya ambil dari tokoh Rasus adalah pemikirannya yang terbuka
terhadap dunia luar ditengah-tengah masyarakat di Dukuh Paruk tersebut membuat saya
terkesan dan takjub.
2. Negeri 5 Menara karya A. Fuadi
Judul buku : Negeri 5 Menara
Pengarang : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia
Jumlah halaman : 416
Tahun terbit : 2009
Tema : Pendidikan dan persahabatan
Latar tempat :Washington DC, Bayur, Maninjau, Bukittinggi, Pondok Madani,
Ponorogo
Latar waktu : Pagi, sore dan malam
Tokoh :
• Alif : tokoh Alif digambarkan sebagai orang yang patuh terhadap keinginan orang
tuanya walaupun ia berkorban untuk mengikhlaskan keinginannya pribadi. Alif juga
dikenal sebagai pribadi yang cerdas, percaya diri, pamtang menyerah dan
bersemangat.
• Raja : tokoh Raja digambarkan sebagai seseorang yang kreatif, optimis dan cerdas.
• Baso : tokoh Baso digambarkan sebagai seseorang yang kreatif, cerdas dan pandai
hafalan.
• Said : tokoh Said digambarkan sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi, penasaran dan cerdas.
• Dulmajid : tokoh Dulmajid digambarkan sebagai seseorang yang serius, lugu, dan
cerdas
• Atang : tokoh Atang digambarkan sebagai seseorang yang pandai dan berwawasan
luas
• Amak : tokoh Amak (Ibu) digambarkan sebagai seseorang yang teguh akan
pendiriannya walaupun ia menjadi terasingkan karena pendiriannya tersebut. Tokoh
Amak juga digambarkan sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang
terhadap anak-anaknya.
• Ayah : tokoh ayah digambarkan sebagai seseorang yang tenang, sederhana dan
lembut
• Randai : tokoh Randai digambarkan sebagai seseorang yang optimis, rajin, dan
cerdas.
• Kiai Rais : tokoh Kiai Rais digambarkan sebagai seseorang yang penuh wibawa,
cerdas, tegas, lembut, dan berpendidikan.
• Ustad salman : tokoh Ustad Salman digambarkan sebagai seseorang yang tegas,
cerdas, dan berpendidikan
• Ustad Torik : tokoh Ustad Torik digambarkan sebagi seseorang yang tegas, serius
dan berwibawa.
Buku ini ditulis oleh seseorang yang bernama Ahmad Fuadi. Ia adalah seorang
novelis, pekerja sosial, dan mantan wartawan dari Indonesia. Novel pertamanya adalah novek
Negeri 5 Menara. Didalam novel ini ia mampu menumbukan semangat untuk berprestasi dan
tidak takut untuk bermimpi bagi para pembacanya.
Novel ini mengisahkan tentang sebuah perjalanan kehidupan dari 6 orang santri yang
berasal dari daerah berbeda serta memiliki latar belakang yang berbeda pula. Tokoh aku
didalam novel ini bernama Alif. Alif yang berasal dari tanah Minangkabau, Sumatera Barat
memiliki mimpi untuk menjadi seseorang seperti B.J Habibie. Ketika alif sudah menamatkan
sekolah di MTS ia berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya di SMA Bersama kawannya
Randai. Akan tetapi keinginannya tidak didukung oleh Amak (Ibu), tetapi Alif bersikeras
untuk tetap melamjutkan ke SMA. Hingga pada akhirnya Alif mendapatkan sebuah surat
yang ditulis oleh Pak Etek Gindo yang sedang belajar di Mesir, setelah membaca surat
tersebut Alif mengikhlaskan keinginannya untuk melanjutkan ke Pondok Madani yang berada
di Pulau Jawa.
Setelah alif berada di Pomdok Madani, ia bertemu dengan teman-teman yang berasal
dari daerah yang berbeda-beda. Hingga pada akhirnya ia memiliki 5 sahabat yang bernama
Raja, Baso, Dulmajid, Said dan Atang. Mereka mendapatkan juluan Sahibul Menara karena
mereka kerap menunggu maghrib sambil menatap awan dan bercerita di bawah menara
masjid. Di Pondok Madani ia belajar banyak. Mulai dari menghafal Al-Qur’an, belajar
bahasa asing, mengikuti komunitas majalah Syams dan masih banyak lagi. Ia dan sahabatnya
juga tak jarang menjadi Jasus. Jasus adalah sebuah sebutan untuk orang yang sedang
mendapatkan misi untuk mencari Jasus lain ketika masa hukuman.
Menjalani kehidupan di Pondok Madani tentu saja tidak semudah yang dibayangkan,
para santri diwajibkan untuk menggunakan bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan Arab,
bahasa yang lain tidak diperbolehkan, termasuk bahasa Indonesia. Jika ada yang melanggar
maka orang tersebut sudah harus siap menjadi Jasus.
Pada tahun terakhir, sayangnya Baso memutuskan untuk keluar dari Pondok Madani
karena permasakahn ekonoi dan keluarga, ia harus merawat neneknya yang sakit di kampung.
Tentu saja hal ini membuat Alid dan kawan yang lain merasa sedih karena harus berpisah
dengan Baso. Hal ini membuat Alif ragu akan dirinya, apakah dia salah memilih jalan untuk
tinggal dan mencari ilmu di Pondok Madani, karena pada awalnya ia memulai semua ini
dengan setengah hati. Kemudian ia teringat dengan katavKiai Rais, ikhlaskan semuanya,
sehingga tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Akan tetapi disisi lain hal ini mebuat
mereka kembali bersemangat untuk segera lulus dari Pondok Madani dan melanjutkan
masing-masing mimpi mereka.
Didalam novel ini tentunya ada kelebihan dan kekurangan seperti novel-novel
lainnya. Untuk kelebihan novel ini disusun dengan baik dan menarik serta didalamnya
dilenglapi dengan bantuan arti kata daerah atau arti kata asing sehingga memudahkan
pembaca dalam memahami novel tersebut. Novel ini juga memberikan motivasi dan pelajaran
berharga untuk selalu bermimpi, meraih cita-cita,rasa patuhke pada orangtua, dan setia kawan
bagi para pembacanya karena memuat berbagai macam perjuangan yang dilalui oleh para
tokoh. Novel ini juga mengubah pola pikir dan menghancurkan stigma kita tentang
kehidupan pondok pesantren yang hanya belajar tentang ilmu agama saja, karena didalam
novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata belajar tentang ilmu pengetahuan juga.
Sedangkan ntuk kelemahan, sayangnya novel ini tidak memberikan gambaran yang tajam
mengenai akhir cerita perjalanan para tokoh.
Kesan saya setelah membaca novel ini, saya merasa bahwa penulis sudah berhasil
menghinoptis pembaca karena sajian kata-kata yang mampu membuat pembaca larut dalam
ceritanya. Hal yang menarik menurut saya adalah ketika rambut Alif dan kawan-kawan yang
dibabat habis oleh Ustad Torik karena mereka nekat pergi ke Surabaya untuk mencari batang
karbon guna kepentinga penampilan mereka tanpa ijin terlebih dahulu. Walaupun mereka
salah tapi saya kagum karena mereka rela berkorban demi kepentingan banyak orang.
Pelajaran yang dapat saya petik dari novel ini adalah jangan pernah takut untuk bermimpi
setinggi-tinggi nya “ Man Jadda Wa Jadda” barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti
akan berhasil.
3. Layar Terkembang karya St. Takdir Alishjahbana
Judul buku : Layar Terkembang
Pengarang : St. Takdir Alishjahbana
Penerbit : Balai Pustaka
Jumlah halaman : 166
Tahun terbit : 2006
Tema : Percintaan dan Perjuangan Seorang Wanita Indonesia
Latar tempat : Rumah Wiriatmaja, kota Martapura, dan rumah sakit
Latar waktu : Pagi, siang dan malam
Tokoh :
• Tuti : pandai, pendiam, tertutup, teliti
• Maria : mudah kagum, ceria, suka berbicara, ramah
• Yusuf : pandai, suka alam
• Wiriatmaja (ayah) : agamis, dan penyayang
• Rukamah : usil, himoris, dan suka menggoda
• Partadiharja (adik ipar Wiriatmaja) : baik hati dan berprinsip
• Saleh (adik Partadiharja) : pandai, teguh pendirian
• Ratna (istri Saleh) : pintar
Novel ini ditulis oleh seorang sastrawan, budayawan dan ahli tata bahasa Indonesia
yang bernama Sutan Takdir Alishjabana. Belia lahir di Natal pada 11 Februari 1908. Telah
banyak karya-karya beliau yang telah ditulis, salah satunya ialah novel dengan judul Layar
Terkembang.
Novel ini mengisahkan tentang kakak beradik yang memiliki pandangan berbeda
tentang cinta. Kakaknya yang bernama tuti lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
membaca buku-buku serta ia juga menjadi salah satu aktivis pergerakan Wanita yang tegas,
cakap dan mandiri dan ia cenderung tidak terlalu mempedulikan tentang hubungan
asmaranya. Sedangkan adiknya yang bernama Maria, ia memiliki watak yang sangat berbeda
dengan kakaknya (Tuti), ia adalah gadis yang lembut, ceria, suka berbicara dan ramah.
Didalam novel ini disebutkan bahwa Maria mempunya seorang kekasih yang bernama Yusuf.
Mereka menjalin hubungan asmara yang bahagia. Hingga suatu hari ketika Tuti memberikan
nasihat kepada Maria, bahwa perempuan tidakboleh terlalu bergantung kepada laki-laki akan
tetapi Maria membalas nasihat itu dengan sedkit pedas dengan mengungkit-ungkit kisah
asmara Tuti yang telah kandas bersama kekasihnya dahulu. Tuti yang merasa tersinggung
dengan ucapan sang adik, ia pun sedih dan selalu memikirkan apa yang telah Maria tuturkan
kepadanya tersebut.
Hingga suatu hati, Maria jatuh sakit karena penyakit malaria yang terbilang parah.
Maria dirawat dirumah sakit. Tuti dan Yusuf kerap kali mengunjungi Maria, karena Maria
merasa kesepian sendirian di rumah sakit. Akan tetapi Tuti dan Yusuf tidak bisa sering-sering
menjenguyuk Maria karena Tuti yang sibuk dengan organisasinya dan Yusuf yang sibuk
dengan ujiannya. Seiring berjalannya waktu, tetapi penyakit yang diderita Maria tak kunjung
memberikan tanda-tanda akan sembuh, dan Maria pun menyadari kondisinya tersebut.
Hingga suatu ketika Maria mengatakan kepada Tuti dan Yusuf untuk menjalin hubungan
asmara sebagai permintaan terakhirnya. Maria tidak ingin melihat kakaknya hidup tanpa
menikah. Akan tetapi hal tersebut ditolak oleh Tuti, kemudian Tuti mengatakan bahwa Maria
akan segera sembuh dari penyakitnya tersebut. Tetapi takdir berkata lain, Maria meninggal
dunia diusianya yang baru berumur 22 tahun. Diakhir cerita novel ini Tuti dan Yusuf akan
segera melangsungkan pernikahan.
Selain membahas tentang kisah cinta para tokoh, novel ini juga membahas tentang
emansipasi perempuan. Tokoh Tuti yang notabene adalah seorang aktivis Putri Sedar
(Organisasi Gerakankan Perempuan) ia mengajak perempuan untuk berdiri sendiri dan tidak
bergantung pada laki-laki. Karena pada dasarnya kodrad seorang perempuan hanya mecakup
tiga hal yaitu menstruasi, mengandung, dan menyusui. Diluar itu laki-laki dan perempuan
memiliki hak yang sama. Tetapi pada realitasnya, masih banyak masyarakat yang
menganggap bahwa Pendidikan tinggi bagi perempuan tidaklah penting, karena mereka
memiliki pemikiran yang sempit. Mereka menganggap bahwa perempuan ujung-ujungnya
hanya akan didapur saja.
Kesan saya setelah mebaca novel ini adalah takjub akan kegigihan tokoh Tuti akan
perjuangannya dalam menyejajarkan kaum perempuan dan kaum laki-laki. Dari novel ini
saya memetik sebuah pelajaran yang amat penting, bahwa perempuan juga memiliki hak
yang sama dengan laki-laki. Perempuan tidak perlu merasa bahwa dirinya lebih rendah
daripada laki-laki karena perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara. Novel ini
juga memuat semangat perjuangan kaum terpelajar untuk membawa sebuah perubahan yang
jauh lebih baik bagi bangsa dan warganya.
4. Entrok karya Okky Madasari
Judul buku : Entrok
Pengarang : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2010
Jumlah halaman : 284
Tema : Kegigihan dan ketidakadilan gender
Latar tempat : Desa Singget dan Magelang
Latar waktu : berkisar tahun 1950-1999
Tokoh :
a. Sumarni : pekerja keras, sabar, baik
b. Rahayu : cerdas, keras kepala, baik, dan teguh pendirian
c. Teja : pemalas
d. Amir : cerdas dan baik
e. Kyai Hasbi : baik dan jago bela diri
f. Wagimun : pantang menyerah
g. Tentara : bertindak semena-mena
Novel ini ditulis oleh seorang penulis perempuan kelahiran Magetan yang bernama
Okky Madasari. Beliau dikenal sebagai penulis novel yang menggugah kesadaran dan lekat
akan kritik sosial. Beliau selalu menyuarakan permasalahan yang ada dalam masyarakat.
Salah satu novel yang ditulis beliau adalah “Entrok”, novel ini terbit pada tahun 2010 dan
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Novel ini mengisahkan dua tokoh utama yaitu Sumarni dan Rahayu. Sumarni adalah
seorang perempuan Jawa yang buta huruf dan terlahir dari kelurga kere (miskin). Kehidupan
Sumarni kecil sangat susah, untuk makan saja Sumarni dan ibunya harus bekerja sebagai
buruk kupas singkong dipasar. Hingga suatu hari, Sumarni kecil memilki sebuah keinginan,
ia ingin memilki sebuah entrok seperti sepupunya, Tinah. Akan tetapi, untuk makan saja, ibu
Sumarni dan Sumarni kecil sangat susah apalagi jika ia harus membeli entrok. Hingga pada
suatu hari, Sumarni kecil mencoba bekerja sebagai kuli panggul dipasar. Awalnya Sumarni
kecil diremehkan, karena biasanya profesi ini hanya dilakkan oleh laki-laki. Akan tetapi
Sumarni kecil tetap melakukannya demi sebuah kepingan uang untuk ia belikan sebuah
entrok. Hari-hari ia lalui sebagai kuli panggul dipasar, hingga suatu hari ia berhasil membeli
entrok yang ia idam-idamkan sebelumnya. Walaupun entrok tersebut sudah berhasil terbeli,
akan tetapi Sumarni kecil tetap bekerja, ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga
terkumpul lumayan banyak. Kemudian uang itu ia belajakan sayur-sayuran yang kemudian ia
keliling didusun Singget untuk menjajakan dagannya tersebut.
Hingga pada suatu hari ia menikah dengan kuli panggul yang bernama Teja. Dalam
keseharian Teja, ia membantu Sumarni keliling untuk berdagang. Hingga pada akhirnya,
dagangan Sumarni semakin lengkap dan banyak orang yang berhutang padanya, baik
berhutang dalam wujud benda maupun uang. Dari hasil tersebut Sumarni berhasil menjelma
menjadi orang yang kaya yang lebih Makmur dari kehidupan masa kecilnya dahulu. Akan
tetapi, masa kejayaan Sumarni terusik oleh orang-orang yang tidak suka kepada Sumarni, ia
dicap sebagai rentenir, lintah darat, ngingu pesugihan (memelihara pesugihan), dan lain-lain.
Kemudian ia meminta perlindungan kepada tentara. Tentu saja tentara itu meminta jatah
sebagai gantinya. Berkat dekengan tentara tersebut tidak ada lagi yang berani mengusik usaha
Sumarni
Dalam pernikahannya dengan Teja suaminya, ia dikarunia seorang anak perempuan
yang mereka namai Rahayu. Rahayu tumbuh menjadi anak yang lebih beruntung daripada
kehidupan Sumarni dahulu. Rahayu sekolah hingga tamat SMA kemudian ia melanjutkan
kuliah di Jogja. Akan tetapi, sumarni dan Rahayu memiliki perbedaan. Sumarni yang percaya
pada roh leluhur dan memuja Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Sumarni sering membuat sesaji
sebagai bentuk rasa syukur, akan tetapi hal itu sangat ditolak oleh anaknya, Rahayu. Rahayu
memilki keyakinan, bahwa Tuhan yang harus disembah hanyalah menyembah kepada Allah
SWT. Hubungan mereka semakin jauh bagaikan orang asing karena perdebatan itu yang tidak
kunjung selesai,
Hingga pada akhirnya Rahayu menikah dengan seorang wartawan yang bernama
Amir. Perjuangan Rahayu dimulai ketika ia, Amir, dan kyai Hasbi , (guru ngaji mereka) ,
Wagimun dan para warga yang mempertahankan tanah mereka yang ingin digusur. Dalam
peristiwa ini, Amri meninggal dunia karena melawan aparat negara. Akan tetapi, Rahayu dan
lainnya tetap melanjutkan perjuangan mereka demi tanah mereka. Tetapi perjuangan Rahayu
berakhir gagal, ia malah dipenjara selama 5 tahun dan dicap sebagai pengkhianat negara.
Sementara Sumarni juga mengalami masa-masa sulit, ia ditinggal mati oleh Teja
suaminya karena kecelakaan dan usahanya berangsur-angsur memburuk. Hal ini disebabkan
oleh anjloknya harga tebu dan program baru kredit dari bank yang memiliki bunga lebih
kecil. Sumarni juga dikejutkan oleh nasib anaknya yang dipenjara. Untuk menebus putrinya
itu, Sumarni harus menebus uang yang tak sedikit, kemudian Sumarni menjual harta yang
masih ia miliki. Setelah Rahayu bebas dari penjara, ternyata penderitaanya tidak berhenti saja
disitu, selepas dari penjara Rahayu dicap sebagai seorang PKI, yang kemudian di KTP nya
terdapat tanda bahwa ia adalah seorang PKI. Dalam menjalani kehidupannya, Rahayu
benar-benar kehilangan semangat untuk hidup. Ibu mana yang tega melihat anaknya seperti
itu, kemudian Sumarni berusaha mencarikan suami untuk Rahayu. Akan tetapi ketika akan
menikah, didalam novel ini diceritakan bahwa Rahayu gagal menikah karena Sutomo, calon
suaminya takut karena tanda di KTP Rahayu yang menunjukkan ia adalah seorang PKI.
Didalam novel ini, penulis banyak sekali menuliskan kata-kata yang berasal dari
bahasa daerah, dan tak jarang kata-kata itu mengandung kata kotor ataupun kasar.
Dalam novel ini terkandung banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Sikap
Sumarni yang tidak mudah menyerah dan semangat untuk merubah kehidupannya yang jauh
lebih. Selain itu, didalam novel ini dikisahkan, ada seoramg anak perempuan yang masih
belia yang dilecehkan oleh pamannya sendiri, disini tokoh Rahayu berjuang untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran. Ia berjuang membela emansipasi perempuan agar
dilindungi bukan malah dilecehkan atau direndahkan. Hal ini juga dilakukan oleh Sumani,
Sumarni yang notabene adalah seorang perempuan yang dianggap makhluk lemah, mencoba
mengubah pandangan orang bahwa perempuan itu setara denga laki-laki. Kedua perempuan
ini sama-sama melawan ketidakadilan yang dialami kaum perempuan.
Kesan yang saya dapat setelah membaca novel ini yaitu munculnya perasaan bangga
dan kagum sebagai seorang perempuan. Perempuan yang dicap sebagai manusia lemah tetapi
didalam novel ini perempuan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sama dilakukan oleh
kaum laki-laki. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa perempuan setara dengan laki-laki.
5. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori
Judul buku : Laut Bercerita
Pengarang : Leila S. Chudori
Penerbit : Gramedia
Jumlah halaman : 379
Tahun terbit : 2017
Tema : Perjuangan diera Orde Baru
Latar tempat : Solo, Yogyakarta, Jatim, Jakarta dan New York
Latar waktu : berkisar tahun 1991-2008
Tokoh :
a. Laut Biru : realistis, optimis dan tangguh
b. Ibu : perhatian dan penyayang
c. Bapak : penyayang dan lembut
d. Asmara : cerdas, cerewet, tegar
e. Alex : teguh pendirian, perhatian dan humoris
f. Anjani : gemar melukis, cantik dan baik
g. Kinan : tegas, optimis,
h. Naratama : misterius
i. Gusti : dingin dan dermawan
j. Sunu : bijaksana dan suka membantu
k. Daniel : manja dan cerewet
l. Gala : bijaksana
m. Penjahat : kejam dan licik
Novel ini ditulis oleh penulis berkebangsaan Indonesia yang bernama Leila Salikha
Chudori. Ia juga merupakan seorang wartawan majalah Tempo. Novel ini diterbitkan
pada tahun 2017 dan diterbitkan oleh Kepustakaan Gramedia Jakarta. Novel ini
mengangkat cerita mengenai perjuangan para aktivis mahasiswa pada masa orde baru.
Didalam novel ini dikisahkan bahwa terdapat perkumpulan aktivis mahasiswa yang
berjuang menentang ketidakbenaran yang terjadi dimasa orde baru. Dimana saat itu,
orang-orang tidak memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat secara bebas dan lantang.
Orang-orang yang berani melakukan hal tersebut akan ditangkap dan tidak jarang mereka
berakhir tinggal nama saja.
Perjalanan para tokoh dimulai ketika Laut bergabung dalam kelompok perlawanan
Wirasena dan Winatra. Didalam kelompok itu mereka berjuang bersama-sama melawan
tata Kelola negara yang bersebrangan dengan pandangan hidup mereka yang ideal.
Kelompok ini memihak pada kaum kecil, buruh dan petani. Kegiatan yang mereka
lakukan dianggap berbahaya karena melawan pemerintah. Maka tak heran jika Laut dan
kawan-kawan secara terang-terang dimasukkan kedalam daftar buronan oleh pemerintah.
Hingga suatu hari, Laut dan beberapa kawannya ditangkap. Mereka disiksa
habis-habisan dan disuruh mengaku siapa yang telah membantu mereka untuk melakukan
perlawanan. Ternyata dibalik penculikan tersebut terdapat seorang pengkhianat yang
menyamar menjadi kawan. Ia adalah Gusti. Sebelumnya orang yang dituduh menjadi
penyebab dari bocornya rencana-rencana yang mereka buat adalah Naratama. Hingga
pada akhirnya, beberapa kawan Laut yang ditangkap dan disiksa dikembalikan pulang ke
asal mereka masing-masing. Tetapi tidak dengan Laut dan beberapa kawannya. Laut
sendiri dibuang oleh orang yang telah menculik, menyekap dan menyiksa dirinya ke laut.
Ia ditenggelamkan.
Sementara teman-teman yang telah kembali, mereka menceritakan kejadian yang
telah dialami Laut dan kawan-kawan. Alex dan Daniel adalah termasuk aktivis yang
dibiarkan untuk kembali pulang. Kemudian mereka yang tersisa bersama anggota
keluarga lain yang keluarganya tak kembali berusaha mencari tahu tentang keberadaan
keluarga yang tak kunjung datang itu. Keluarga yang selalu menunggu kepulangan 13
aktivis yang hilang entah kemana.
Hal yang menarik alam novel ini adalah bumbu-bumbu romansa oleh tokoh Laut dan
Anjani serta Alex dan Asmara. Kisah cinta mereka dikemas secara apik ditengah-tengah
konflik yang ada, hingga membuat para pembaca tak bosan dengan konflik utama yang
sebenarya. Selain itu, kehidupan keluarga Laut yang sangat hangat dan harmonis, dimana
mereka memilki kebiasaan, pada hari Minggu sore mereka akan memasak makanan
kesukaan Laut.
Hal yang dapat saya ambil setelah membaca novel ini adalah semangat perjuangan
untuk melawan ketidakadilan yang terjadi. Melawan segala penindasan-penindasan
terhadap kaum kecil, memperjuangkan hak untuk bebas berekspresi serta sudah
seharusnya berhati-hati jangan mudah untuk menaruh kepercayaan, dan selalu waspada.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
Daftar Naskah Drama :
1. Kereta Kencana karya W.S Rendra
2. Laut Bernyanyi karya Putu Wijaya
3. Sudah Gila karya Chairil Anwar
4. Kapai- Kapai karya Arifin C. Noer
1. Kereta Kencana karya W.S Rendra
Tokoh :
a) Kakek : pintar merayu, setia, dan putus asa
b) Nenek : perhatian, setia, suka menghibur, dan bijaksana
Drama ini mengisahkan sepasang suami istri yang telah berusia dua abad yang
menunggu kereta kencana datang menemui mereka. Sementara suara-suara yang mengatakan
bahwa mereka akan segera dijemput oleh kereta kencana terus bermunculan. Sepasang suami
istri ini tidak memiliki keturunan, kehidupan tua sepasang suami istri ini mereka lalui dengan
bosan. Dua orang yang masa lalunya memiliki masa kejayaan namun di hari tua mereka
sangat kesepian dan hanya bisa berkhayal agar kematian segera menjemput mereka berdua.
Dalam keseharian , mereka menghabiskan waktu dengan duduk disebuah kursi
goyang dan bercanda tawa, bersenda gurau tapi tidak jarang mereka mengalami
pertengakaran. Sungguh hal tersebut mereka lalui dengan penuh kebosanan. Selalu kejadian
tersebut diulang-ulang sampai akhirnya kereta yang mereka tunggu adalah sebuah ilusi atau
khayalan orang tua yang sedang menunggu ajalnya yang belum pastikapan datang.
Dari cerpen tersebut saya belajar bahwa kesetiaan itu ternyata benar adanya, hal
tersebut terlihat dari umur para tokoh yang sangat tua tetapi mereka tetap hidup bersama dan
saling mengasihi walaupun mereka tidak diberikan keturunan.
6. Laut Bernyanyi karya Putu Wijaya
Tokoh :
a. Kapten Leo : baik suka menolong tegas
b. Comol : setia kawan, mudah percaya
c. Panieka : kurang disiplin, tidak setia kawan
d. Rubi : pemalu mudah marah
e. Adenan : peduli
f. Dukun : baik, rendah hati
Drama ini mengisahkan tentang tragedi yang dialami tokoh Kapten Leo dan awak
kapal harimau laut yang terdampar disebuah pantai di Bali. Kapten Leo menunggu
kapal tarik yang tidak kunjung datang. Keyakinan yang ia pegang selama ini mulai
goyah ketika ia mulai mendengar suara yang tidak diketahui darimana asalnya serta
cerita menakutkan dari pantai yang diceritakan oleh anak buahnya. Tetapi Kapten
Leo mencoba berpikir realistis supaya mampu melawan ketakutannya tersebut.
Kapten Leo tidak percaya bahwa penyebab dari karamnya kapal harimau laut adalah
akibat dari kutukan dewata. Ia menganggap hal ini lumrah dialami bagi setiap pelaut.
Akan tetapi Comol (anak buah) percaya dan mulai terbawa suasana dari cerita-cerita
yang menakutkan dari nelayan-nelayan pesisir pantai. Tak hanya itu saja, Kapten Leo
juga dihadapkan dengan masalah lain, karena Panieka membawa kabur seorang gadis
Bali untuk disembunyikan dikapal tersebut. Dan malangnya gadis tersebut mengidap
penyakit cacar serta ia juga merupakan keturunan Leak.
Dari drama tersebut saya belajar bahwa sudah sepatutnya kita setia kawan apapun
kondisinya, karena teman yang baik tidak akan meninggalkan teman yang mengalami
kesulitan.
Dan di drama tersebut, Putu Wijaya juga melemparkan kritik terhadap Bali yang
terang-terangan mempertontonkan upacara-upacara ritual pada turis asing yang hanya
sekedar untuk mendapatkan pujian maupun uang.
7. Sudah Gila karya Chairil Anwar
Tokoh :
a. Pak Amir : sabar
b. Adik Pak Amir : sabar
c. Pak RT: suka membicarakan orang lain (suka menggunjing)
d. Bu RT : bijaksana
Drama ini mengisahkan tokoh yang bernama Pak Amir. Pak Amir yang baru saja
kehilangan istrinya karena meninggal dunia. Beliau tampak murung dan sedih, tidak
jarang ia memeluk foto mendiang istrinya. Kesedihannya tersebut berlarut-larut,
hingga ia lupaakan kesehatannya sendiri. Beliau sering berperilaku seperti orang yang
linglung serta bertingkah aneh.
Hingga suatu hari, Pak RT dan para warga mengadakan pertemuan untuk
membahas mengenai kondisi Pak Amir yang mulai meresahkan warga. Akhirnya
warga sepakat untuk membawa Pak Amir ke Rumah Sakit Jiwa. Setelah dirawat di
Rumah Sakit Jiwa, Pak Amir diperbolehkan pulang. Warga yang mengetahui hal
tersebut lantas kaget kemudian ia bertanya kepada Pak Amir, bagaimana ia pulang,
apakah ia sudah sembuh. Kemudian warga yang bertanya lanas kaget karena jawaban
yang dilontarkan Pak Amir, ia menjawab ia bisa seperti ini karena ia sudah gila.
Dari drama tersebut dapat ditarik sebuah pesan moral yaitu tidak seharusnya kita
saling menggunjing antar sesama serta membicarakan keburukan orang lain. Selain
itu, kita sebaiknya belajar ikhlas untuk menerima segala takdir yang telah ditetapkan
dengan lapang dada.
8. Kapai- Kapai karya Arifin C. Noer
Tokoh :
a. Abu : pemalas
b. Emak : suka membual
c. Iyem : cerewet
d. Kakek : bijaksana
e. Majikan : galak dan cerewet
Drama ini mengisahkan seorang tokoh utama bernama Abu. Abu memilki
seorang istri bernama Iyem yang galak dan cerewet. Dia juga memilki
majikan-majikan yang galak serta selalu menindas Abu. Tokoh Abu disini
digambarkan sebagai tokoh yang memilki sifat malas dan suka berandai-andai.
Dituliskan didrama ini bahwa Emak sering memberikan dongeng untuk Abu.
Emak bercerita tentang Pangeran dan cermin tipu daya. Hal tersebut membuat Abu
terbang melayang bebas didunia khayalannya yang sebenarnya jauh dari sebuah
realita atau kenyataan. Cermin tipu daya tersebut dikisahkan Emak kepada Abu
banwa cermin tipu daya dapat membuat kehidupan bahagia. Cermin tipu daya adalah
sebuah kepuasan duniawi yang idam-idamkan Abu.
Hingga akhirnya Abu memegang keyakinan bahwa cermin itu bisa mengubah
kehidupannya menjadi lebih baik, ia bertekad untuk memiliki nya. Sedangkan tokoh
kakek berusaha menyakinkan Abu bahwa kebahagian adalah pada kehidupan setelah
kematian. Ia menjelaskan kepada Abu bahwa setelah kematian ia akan menemukan
surga dan neraka.
Cerita ini diakhiri dengan Abu yang akhirnya mendapatkan cermin tipu daya,
akan tetapi saat bersamaan ia juga harus menjemput ajal.
Melalui drama ini penulis ingin memberikan sindiran kepada para penguasa
dan masyarakat di Indonesia, tentang kondisi yang hanya mampu untuk berandai saja.
Karena masyarakat Indonesia cenderung memilki angan-angan yang tinggi akan tetapi
kerja keras atau usaha yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah keinginan sangatlah
minim.
Dalam drama ini hal yang menarik adalah tokoh Abu yang sangat
mengidam-idamkan sebuah kebahagian duniawi, tetapi disisi lain ia hanya terus
berkhayal dan malas-malasan. Hal tersebut tidak patut untuk ditiru. Karena untuk
mencapai sebuah keinginan atau kebahagian sudah sepatutnya kita berjuang dengan
keras, bukan hanya mengkhayal belaka.
9. Jalan Asmarandana karya Kuntowijoyo
Tokoh :
a. Pak Kusnadi : realistis dan cerdas
b. Bu Kusnadi : galak :
c. Pak Ahmad : sombong
d. Pak Rusman : sombong dan pamrih
e. Said : keras
f. Dwiyatmo : misterius
Didalam drama ini, penulis mengangkat tema sosial.
Permasalahan-permasalan yang biasanya terjadi ditengah-tengah masyarakat umum.
Mengenai ketentraman dan kenyaman disebuah komplek atau perumahan. Drama ini
mengisahkan tokoh yang bernama Pak Kusnadi, beliau adalah lulusan luar negeri
yang sibuk karena pekerjaanya itu.
Tiba-tiba pas kusnadi diajukan sebagai calon ketua bersama kandidat lain
yaitu pak ahmad dan pak rusman. Pak kusnadi yang sebenarnya tidak berkeinginan
untuk mencalonkan diri menjadi ketua RT, akan tetapi ia mendapat dorongan untuk
mencalonkan sebagai ketua RT oleh teman-temannya. Berbeda dengan Pak Ahmad
dan Pak Rusman yang notabene mereka memang berkeinginan untuk menjadi ketua
RT. Ketika pemilihan RT dilaksanakan, tidak disangka, pak kusnadi mendapat suara
terbanyak dan akhirnya ia terpilih untuk menjadi ketua RT menggantikan Ketua RT
sebelumnya yang pindah. Walaupun terpilih, Pak Kusnadi sebenarnya enggan untuk
menjadi ketua RT karena kesibukan pekerjaannya tersebut, akan tetapi ia mencoba
menerima dengan setengah hati. Hingga pada suatu hari, suatu masalah muncul antara
Said dan Pak Dwiyatmo. Said yang merasa terganggu karena Pak Dwiyatmo sering
menimbulkan kebisingan ditengah malam. Kemudia ia melapor kepada pak kusnadi
selaku ketua RT untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Akhirnya Said
memutuskan untuk membawa ke pengadilan mengenai masalah tersebut. Pak Kusnadi
sedih karena ia merasa gagal sebagai Ketua RT.
Hal yang menarik dari drama ini adalah kehidupan sosial yang biasa terjadi
ditengah-tengah masyarakat. Kondisi dimana mayarakat yang sudah seharusnya
saling menghargai dan menghormati antar sesame sebagai wujud usaha untuk
menciptakan sebuah kenyamanan. Ditunjukkan didalam drama tersebut, bahwa Pak
Kusnadi sering membuat kebisingan ditengah malam, hak tersebut membuat Said dan
warga lainnya terganggu.
Euis Rosalia
22201241067
1
ANALISIS PUISI
1. Aku Ingin - Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Analisis:
Tema dalam puisi ini adalah tema cinta. Sedangkan diksi pada puisi ini
adalah: “mencintaimu”, “api”, “abu”, “hujan”, “awan”, “sederhana”, dan
“tiada”. Sajak yang digunakan adalah sajak bebas atau tidak berpola. Majas
yang terdapat di puisi ini antara lain; majas repetisi yang terdapat pada larik
awal, bait pertama dan kedua, pada kalimat “Aku Ingin Mencintaimu Dengan
Sederhana”, dan majas metafora terdapat pada bait pertama, pada kalimat
“dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang
menjadikannya abu”. Dan bait kedua: “ dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan, awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”.
Citraan atau Imaji pada puisi ini antara lain imaji pendengaran yang
terdapat dalam kalimat “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada
api yang menjadikannya abu” dan imaji penglihatan yang terdapat pada
kalimat “Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan". Tipografi Puisi “Aku
Ingin” terdiri dari dua bait. Pada bait pertama dan kedua masing-masing berisi
tiga baris atau larik puisi. Bait 1: larik 1 (15a); larik (12b); larik 3 (15c). Bait
2: larik 1 (15a); larik 2 (13b); larik 3 (16c).
Menurut saya, puisi ini sangat romantis dan sederhana, cocok untuk
menyatakan perasaan kita kepada orang yang dicintai. Pesan yang dapat kita
ambil dari puisi tersebut adalah ketika kita mencintai orang lain hendaklah kita
mencintai mereka dengan rasa yang tulus dan tidak mengharapkan imbalan
apapun.
2. Aku - Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Analisis:
Tema dalam puisi ini adalah perjuangan dari penjajahan. Diksi dari puisi
tersebut menggunakan pilihan kata yang lugas, tegas dan padat. Sajak rata dan sajak
paruh atau sajak tidak sempurna. Majas yang ada puisi “Aku” antara lain majas
hiperbola yang terdapat pada “Aku tetap meradang menerjang” dan majas metafora
yang terdapat pada “Aku ini binatang jalang”.
Pencitraan atau imaji pada puisi ini antara lain imaji perasaan yang terdapat
pada “Hingga hilang pedih perih”,“Biar peluru menembus kulitku” dan imaji
pendengaran yang terdapat pada “Ku mau tak seorang kan merayu” dan “Tak perlu
sedu sedan itu”. Tipografi puisi ini adalah konvensional dan menggunakan huruf
besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca yang terdiri dari tujuh bait yang
singkat dan padat. Pada bait kedua, keenam, dan ketujuh hanya berisi satu baris
dengan satu kalimat. Ada baris yang hanya berisi satu kata.
Menurut saya puisi ini sangatlah inspiratif karena mengingatkan pembaca
untuk selalu tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi segala bentuk
permasalahan. Adapun amanat dari puisi ini adalah kita sebagai manusia hendaknya
selalu kuat, mempunyai tekad yang kuat, dan pantang menyerah dalam menghadapi
berbagai masalah.
3. Kangen - WS Rendra
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
aku tungku tanpa api.
Komentar:
Puisi “Kangen” karya WS Rendra bertema kerinduan. Puisi ini mengisahkan
tentang seseorang yang sedang dirundung kerinduan kepada kekasihnya. Diksi puisi
ini adalah konotatif. Sajak puisi ini bebas karena tidak mempunyai bentuk ataupun
bunyi yang sama. Sedangkan majas atau gaya bahasa dalam puisi ini ada majas
metafora terdapat pada “aku tungku tanpa api”.
Imaji dalam puisi ini adalah imaji perasaan terdapat pada “Membayangkan
wajahmu adalah siksa” dan “Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan”.
Tipografi dalam puisi ini adalah tipografi konvensional yakni berbentuk baris dan bait
seperti pada umumnya,
Menurut saya, puisi ini sangat bagus dan cocok untuk menyatakan kerinduan
kepada kekasih, amanat yang bisa diambil dari puisi ini adalah jangan mencintai
seseorang dengan berlebihan, cintailah sewajarnya saja karena jika kita terlalu
berlebihan dalam mencintai seseorang maka kita akan sakit hati selain itu kita juga
harus siap untuk merelakan seseorang yang kita cintai jika terdapat perbedaan ataupun
hal yang membuat tidak dapat Bersatu.
4. Bunga dan Tembok - Widji Thukul
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
Komentar:
Puisi ini bertema tentang penderitaan rakyat akibat dari penggusuran rumah dan
perampasan tanah oleh kesewenang-wenangan pemerintah. Dalam puisi ini Widji
Thukul menceritakan mengenai kehidupan rakyat pada masa era Orde Baru yang
hidup menderita karena penguasa pada zamannya.
Diksi yang ada pada puisi ini adalah kata bunga yang berarti rakyat. Sajak yang
digunakan bebas. Majas yang digunakan antara lain majas repetisi yakni “Seumpama
bunga” yang diulang pada awal bait pertama hingga ketiga., adapun majas metafora
yang terdapat pada “Suatu saat kami akan tumbuh bersama”.
Tipografi pada puisi ini adalah rata kiri dengan baris yang bervariasi pada setiap
baitnya. Menurut saya puisi ini mampu membuat para pembacanya mengerti
bagaimana nasib orang kecil yang hidup pada zaman dulu, betapa sengsaranya
mereka.
Sedangkan amanat yang ada pada puisi ini adalah jangan takut untuk
memperjuangkan hak yang telah dirampas oleh penguasa, jangan takut untuk
melawan apalagi jika hal yang sangat penting seperti rumah dan tanah.
5. Sebuah Jaket Berlumur Darah - Taufiq Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.
Komentar:
Puisi ini bertema tentang patriotisme dan nasionalisme. Diksi yang ada pada
puisi ini sangat banyak, mulai dari judulnya sendiri yang bermakna sebuah
penderitaan dan pengorbanan, “sebuah sungai membatasi kita” menggambarkan
perjuangan yang mempunyai banyak hambatan. Tipografi pada puisi ini adalah rata
kiri dengan baris yang berbeda pada setiap bait.
Gaya bahasa atau majas yang terdapat pada puisi tersebut antara lain majas
personifikasi terdapat pada “Menunduk bendera setengah tiang”, majas repetisi pada
“spanduk kumal itu/ya spanduk itu”, majas simile terdapat pada “Antara kebebasan
dan penindasan”. Citraan dalam puisi tersebut antara lain; citraan penglihatan terdapat
pada “Kami semua telah menatapmu”, imaji pendengaran pada “Teriakan-teriakan di
atas bis kota/mereka berkata”.
Menurut saya puisi ini sangat menginspirasi karena penulis mampu menggambarkan
betapa besarnya perjuangan para pahlawan pada masa lalu. Amanat yang terdapat
pada puisi ini adalah gigih dalam memperjuangkan kemerdekaaan dan hak bangsa dan
senantiasa berpihak kepada negara jangan sampai berpaling kepada negara lain.
6. Asmaradana - Goenawan Muhammad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada
kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali
menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang
berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput
halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Komentar:
Puisi ini mengisahkan tentang perpisahan antara Darma Wulan dengan
Anjasmara. Tema dari puisi ini adalah perpisahan. Suasana yang terdapat dalam puisi
tersebut adalah sedih terdapat pada diksi yang digunakan penulis yang
menggambarkan nada sedih. Diksi yang ada di puisi ini sangat indah, contohnya pada
“angin pada kemuning”, “resah kuda…” dan masih banyak lagi.
Tipografi pada puisi ini rata kiri dan cenderng membentuk suatu paragraf yang
bebas. Citraan atau imaji yang terdapat dalam pisi tersebut antara lain imaji
pendengaran terdapat pada “Ia dengar resah kuda serta langkah pedati”, dan imaji
penglihatan “ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti”.
Menurut saya puisi ini sangat menyentuh karena penyair mampu mengolah
kata dan menggambarkan suasana ketika perpisahan yang sangat menyayat hati.
Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah kita harus siap dan ikhlas dalam
menerima segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi karena takdir telah diatur
dan takdir yang mengatur jalan hidup manusia.
7. Tatahan Pesan Bunda - Sitor Situmorang
Bila nanti ajalku tiba
Kubur abuku di tanah Toba
Di tanah danau perkasa
Terbujur di samping Bunda
Bila ajalku nanti tiba
Bongkah batu alam letakkan
Pengganti nisan di pusara
Tanpa ukiran tanpa hiasan
Kecuali pesan mahasuci
Restu Ibunda ditatah di batu
Si Anak Hilang telah kembali!
Kujemput di pangkuanku!
Komentar:
Puisi ini mengisahkan tentang keinginan penulis yakni Sitor Situmorang
sendiri untuk dimakamkan di Tanah Toba. Tema puisi ini adalah rasa sayang kepada
tanah kelahiran. Diksi yang digunakan dalam puisi ini menunjukkan bahwa penyair
sedang dalam keadaan murung contohnya pada bait pertama dan kedua. Tipografi
puisi ini adalah rata kiri dan terdiri dari tiga bait dan setiap bait terdapat tiga baris.
Sajak yang digunakan adalah sajak merata dan sajak berselang, pada bait pertama
bersajak merata yakni (a,a,a,a), sedangkan pada bait kedua dan ketiga menggunakan
sajak berselang yakni (a,n,a,n) dan (i,u,i,u).
Gaya bahasa atau majas dalam puisi ini adalah tautologi yang terdapat pada
bait kedua baris keempat yang berbunyi “Tanpa ukiran tanpa hiasan”. Puisi ini
menggunakan majas hiperbola, contohnya pada baris yang berbunyi “Di tanah danau
perkasa”. Sedangkan pencitraan yang ada dalam puisi tersebut antara lain citraan
pendengaran yang terdapat pada “kecuali pesan mahasuci”.
Menurut saya puisi ini sangat menyentuh karena pesan-pesan yang terkandung
di dalamnya menggambarkan kerinduan penulis akan kampung halamannya. Amanat
atau pesan yang dapat diambil dari puisi tersebut adalahh hendaknya tidak melupakan
kampung halaman dimanapun kita berada, dan ingatlah selalu kepada keluarga yang
ada di rumah.
8. Berdiri Aku - Amir Hamzah
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datar ubur terkembang.
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
Komentar:
Puisi ini menggambarkan tentang kesedihan seorang penulis yang berpisah dengan
kekasihnya dan hanya bisa melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiaan dan
harapannya telah hilang. Tema dari puisi ini adalah sedih karena kehilangan. Diksi
yang terdapat pada puisi ini antara lain kata-kata seperti senyap, mengurai,
mengempas, berayun-ayun dan sayap tergulung identik dengan kesunyian.
Citraan atau imaji yang terdapat pada puisi ini antara lain; imaji penglihatan terdapat
pada “Dalam rupa maha sempurna”, “Camar melayang menepis buih”,”Berjulang
datar ubur terkembang”, dan lain sebaginya. Tipografi pada puisi ini adalah rata kiri
dan terdiri dari empat bait dan setiap bait terdiri dari empat baris. Puisi ini didominasi
oleh majas personifikasi contohnya pada “Melayah bakau mengurai puncak”, “Angin
pulang menyejuk bumi”. “Menepuk teluk mengempas emas”, “Lari ke gunung
memuncak sunyi”. Amanat yang terdapat pada puisi ini adalah senantiasa ikhlas
merelakan meskipun itu adalah orang yang tercinta.
9. Kepada Uang - Djoko Pinurbo
Uang, berilah aku rumah yang murah saja,
Yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku,
Yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.
Sabar ya, aku harus menabung dulu.
Menabung laparmu, menabung mimpimu.
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu.
Uang, berilah aku ranjang yang lugu saja,
Yang cukup hangat buat merawat encok-encokku,
Yang kakinya lentur dan liat seperti kaki masa kecilku.
Komentar:
Puisi ini bertema tantang pengharapan. Diksi yang ada pada puisi tersebut
sudah umum dimana pengarang menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Pengarang menggunakan majas personifikasi, terdapat pada baris ketiga yakni “Yang
jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku”.
Pencitraan atau imaji pada puisi ini antara lain imaji penglihatan terdapat pada
“Yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku” dan imaji perasaan
terdapat pada baris kedua, kelima pada “Menabung laparmu” dan pada baris keenam.
Tipografi puisi ini adalah konvensional dan menggunakan huruf besar pada setiap
awal kalimat, terdiri dari sembilan baris.
Menurut saya puisi ini mengajarkan kepada kita agar selalu mandiri dan
jangan selalu bergantung kepada uang. Kita harus bekerja keras untuk dapat
memenuhi apa yang kita inginkan karena jika hanya berharap saja kita tidak akan
mendapatkan apa yang kita inginkan.
10. Surat Dari Ibu - Asrul Sani
Pergi ke dunia anak-anaku sayang
pergi ke hidup bebas!
Sesama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
Komentar:
Puisi ini menggambarkan tentang sosok ibu yang rindu pada anaknya kemudian ia
memberikaan sebuah surat yang berisi nasihat kepada anaknya agar mengembara di
seluruh belahan dunia manapun untuk menuntut ilmu dan mencari wawasan
sebanyak-banyaknya namun ketika sudah selesai jangan lupa untuk tetap kembali
pada ibunya. Tema dari puisi ini adalah pendidikan yaitu nasihat seorang ibu kepada
anaknya agar mencari ilmu sebanyak mungkin. Tipografi dalam puisi ini adalah
tipografi teratur dengan jumlah baris dan bait yang tidak sama. Diksi yang digunakan
cenderung sulit dipahami karena banyak menggunakan majas dan gaya bahasa yang
merujuk pada alam. Pencitraan atau imaji dalam puisi ini antara lain ada pada baris ke
3-5 mengandung citraan/imaji visual. Menurut saya puisi ini sangat menyentuh hati,
karena dari puisi tersebut kita menjadi tahu bagaimana harapan seorang ibu terhadap
anaknya agar menjadi seorang yang sukses namun tidak lupa kepadanya ketika
sukses, karena sejatinya yang diinginkan seorang ibu sebenarnya adalah kebersamaan
dengan buah hatinya.
2
ANALISIS NOVEL
1. Di Kaki Bukit Cibalak Karya Ahmad Tohari
Novel ini menceritakan mengenai kecurangan politik yang terjadi Desa
Tanggir pada tahun 1970 an. Berawal dari penggambaran Desa Tanggir yang sangat
tradisional dengan masyarakatnya yang nrimo ing pandum, kini mulai menjadi desa
yang melek akan transportasi dengan adanya sepeda motor dan mesin pembajak
sawah. Kerisuhan bermula ketika seorang penjudi yang suka berganti istri yang
bernama Pak Dirga terpilih sebagai lurah baru Desa Tanggir.
Pambudi, seorang pemuda berumur 24 tahun yang merupakan pengurus
koperasi lumbung desa itu sangat terpukul mendengar kabar terpilihnya Pak Dirga
sebagai lurah karena sudah dipastikan jika lurah itu akan menyelewengkan dana
koperasi tersebut. Suatu ketika, Pambudi kedatangan Mbok Ralem yang ingin
meminjam padi untuk dijual sebagai biaya pengobatan lehernya yang membengkak,
namun Pak Dirga tidak mengizinkannya dengan alasan Mbok Ralem masih
mempunyai hutang yang belum dibayar. Akhirnya Pambudi mengundurkan diri dari
kepengurusan lumbung koperasi desa karena sempat mempunyai konflik dengan Pak
Dirga.
Pambudi akhirnya membawa Mbok Ralem berobat ke Yogya dengan uang
pribadinya, namun karena ia kekurangan dana akhirnya ia membuat iklan “Dompet
Mbok Ralem” di harian Kalawarta dengan bantuan kepala redaksinya, Pak Barkah.
Dari sanalah terkumpul uang yang cukup untuk biaya operasi kanker Mbok Ralem.
Mendengar berita tersebut, Pak Dirga menjadi kesal lantaran ia dianggap teledor oleh
Gubernur karena urusan sekecil Mbok Ralem tidak bisa ia tangani. Akhirnya Pak
Dirga, menyuruh seorang dukun yang bernama Eyang Wira untuk mengusir Pambudi
dari desanya.
Semenjak menjadi pengangguran Pambudi sering melamunkan Sanis, anak
Pak Modin yang masih berumur 14 tahun yang disukainya. Hingga suatu malam ia
menangkap orang suruhan Pak Dirga yang hendak melaksanakan niat buruk di
rumahnya dengan tujuan agar Pambudi bisa keluar dari desa itu. Akhirnya, dengan
perintah orang tuanya, Pambudi pergi ke Kota Yogya dan menemui temannya Topo
untuk meminta solusi. Topo menyarankan Pambudi untuk kuliah, seraya menunggu
waktu ujian, Pambudi bekerja di sebuah toko jam dan disana ia bertemu Mulyani,
anak pemilik toko tersebut. Mereka menjadi akrab karena sering mengisi TTS
bersama.
Suatu ketika Pambudi pulang ke Desa Tanggir untuk mengatakan kepada
orang tuanya bahwa ia akan kuliah, dan ia berpesan kepada ayahnya untuk mengelola
peternakan ayamnya sebagai dana kuliah. Di sanalah Pambudi mendengar rumor yang
beredar di desanya bahwa ia telah melarikan uang sebanyak 125.000 milik lumbung
desa. Ia kemudian menemui Sanis, namun Sanis yang lebih menyukai anak Pak
Camat yang bernama Bambang Sumbodo menjadi malas bertemu Pambudi. Namun
ternyata, Pak Dirga melamar Sanis.
Singkat cerita, Pambudi pindah kerja ke Harian Kalawarta. Di sana ia menulis
artikel tentang desanya yang bermasalah. Terbacalah artikel itu oleh Gubernur,
kemudia ia menyelidiki Pak Dirga dengan cara menjebak Pak Dirga ke tempat
perjudian. Pak Dirga kemudian ditangkap dan jabatannya dicabut. Sanis pun menjadi
janda. Setelah lulus kuliah, Pambudi mendengar kabar bahwa ayahnya telah
meninggal karena jatuh di dekat sumur, ia pun kembali ke desanya untuk
memakamkan ayahnya. Beberapa hari kemudian, ia bertemu Mulyani yang melayat
ke rumahnya. Mereka berdua akhirnya bersama, dan kaki bukit cibalak menjadi
saksinya.
A. Tema
Tema utama novel ini adalah kehidupan sosial, dimana novel tersebut
menceritakan kehidupan sosial di Desa Tanggir dan beberapa konflik sosial yang
dialami oleh para tokoh. Selain tema sosial ada juga tema percintaan, dimana penulis
mengisahkan perjalanan kisah cinta tokoh yang ada di novel, yakni Pambudi, Sanis,
Mulyani, Pak Dirga, Bambang Sumbodo, dll.
B. Latar Tempat
1) Bukit Cibalak, dijelaskan pada bagian pertama “Meskipun kerbau-kerbau itu
telah jauh memasuki hutan jati Bukit Cibalak, suara korakan mereka masih
tetap terdengar”.
2) Desa Tanggir, terdapat pada“Di Desa Tanggir kicau burung telah diganti
dengan suara motor dan mobil, radio dan kaset, atau disel penggerak gilingan
padi”
3) Halaman Balai Desa, ketika ada pemilihan lurah. Terdapat pada kalimat “Di
halaman balai Desa telah berkumpul banyak sekali warga Desa Tanggir”
4) Yogya, ketika Pambudi dan Mbok Ralem hendak berobat. Terdapat pada
kalimat“Sebuah bus bermesin disel membawa kedua orang itu ke Yogya”.
5) Kantor harian Kalawarta, ketika Pambudi hendak membuat iklan untuk
membantu Mbok Ralem seperti pada kalimat “Pambudi segera mengetahui
alamat harian yang bernama Kalawarta itu”.
6) Rumah Eyang Wira, ketika Pak Dirga hendak mengusir Pambudi melalui
perantara Eyang Wira. Terdapat pada “Di rumah Eyang Wira yang terletak di
sebuah pedukuhan kecil, seseorang sedang bertamu”.
C. Tokoh dan Perwatakan
1) Pambudi, ialah tokoh utama dalam novel tersebut. Dikatakan protagonis
karena dalam cerita, penulis menggambarkan bahwa Pambudi mempunyai
sifat belas kasih, suka menolong, rela berkorban, jujur dan berlapang dada
ketika kehilangan seseorang yang dicintainya yakni Sanis dan ayahnya.
2) Lurah Dirga, bersifat antagonis karena berwatak licik, tidak tanggung jawab
menjadi lurah, penjudi, sering berganti istri, memfitnah Pambudi,
menggelapkan uang koperasi
3) Mulyani, berwatak pendiam dan acuh “Mulyani lebih suka duduk diam” dan
egois agresif “Aku benci, benci pada orang …”
4) Sanis, bersifat pemalu, anggun.
5) Bambang Sumbodo, berwatak bijaksana dibuktikan ketika ia ingin menemui
Pambudi ke Yogya untuk memberi semangat kepada Pambudi yang telah
difitah.
Tokoh Pembantu