ke kampung karena di kota tak ada seorang pun yang mau mempekerjakannya. Di
kampung yang miskin, sama sekali tidak ada lowongan pekerjaan untuk gadis kecil
sepertinya. Pada akhirnya di tengah cibiran dan gunjingan masyarakat ia pun menjadi
seorang pendulang timah, pekerjaan yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki.
Awalnya ia dicemooh karena setelah berhari-hari tak juga berhasil mendapatkan
timah. Setelah berkali-kali gagal dan berpindah-pindah tempat, akhirnya ia berhasil
mendapat timah. Ia mendulang timah untuk menghidupi ibu dan ketiga adiknya.
Kesulitan hidup tidak pernah melunturkan semangat Enong untuk meraih cita-citanya,
menjadi guru bahasa Inggris. Saat ia merasa lelah bekerja dan tidak bersemangat, ia
membuka kamus peninggalan ayahnya dan semangatnya kembali meletup.
Penyemangatnya adalah tiga kata yang mewakili jerit hatinya: sacrifice, honesty, dan
freedom. Ketiga kata yang bermakna pengorbanan, kejujuran, dan kemerdekaan.
Setelah ia dewasa keinginan untuk mempelajari bahasa Inggris masih tetap tinggi.
Hingga akhirnya ia bertemu Ikal di kantor pos. Enong pun bersahabat dengan Ikal
yang menurutnya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik.
Ikal adalah pemuda yang pernah kabur dari rumah karena hubungan percintaannya
tidak direstui oleh sang ayah. Ikal kini tengah patah hati karena mengira jika A Ling
kekasihnya hendak menikah dengan lelaki lain yang bernama Zinar. Informasi ini
diperoleh Ikal dari sahabatnya, Detektif M. Nur. Enong dan Detektif M. Nur adalah
sahabat yang menguatkan Ikal agar tabah dalam menjalani hidup.
Enong diterima kursus bahasa Inggris di Tanjong Pandan. Keinginan Enong untuk
belajar bahasa Inggris akhirnya tercapai saat usianya telah setengah baya. Enong
menunjukkan bahwa belajar adalah sepanjang hayat. Detektif M. Nur meminta maaf
kepada Ikal karena telah memberikan informasi yang keliru. Zinar ternyata bukanlah
calon suami A Ling, melainkan teman pamannya. Hubungan Ikal dengan A Ling
membaik, demikian juga hubungan Ikal dengan ayahnya.
Kesan dan pesan: Tokoh Enong membuat saya untuk lebih giat dalam belajar,
pantang menyerah dalam meraih cita-cita, dan selalu bersyukur kepada Tuhan, serta
menyayangi keluarga kita.
Arok Dede Karya Pramoedya Ananta Toer
Ringkasan novel: Arok Dedes menceritakan kehidupan politik di internal kerajaan,
tepatnya mengenai kejatuhan Negeri Tumapel yang merupakan bagian dari kerajaan
Kediri. Bercerita tentang kudeta pertama di Nusantara, kudeta ala Jawa. Sejarah
mengenai awal mula berdirinya kerajaan Singasari ini diuraikan dalam Serat
Pararaton. Novel Arok Dedes terinspirasi dari Serat Pararaton selain karena mayoritas
isi kitabnya membahas mengenai bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya,
sampai ia menjadi raja pada tahun 1222. Dalam novel ini juga menceritakan kisah
cinta antara Ken Arok dan Ken Dedes.
Kesan dan pesan: Dari novel ini pelajaran yang bisa diambil adalah ketika kita ingin
mencapai suatu tujuan berusahalah hingga tujuan itu tercapai dan jadilah orang yang
setia dengan pasanganmu.
Lalita Karya Ayu Utami
Ringkasan novel: Novel ini mengisahkan perselingkuhan Sandi Yuda dan Lalita,
mereka berdua terikat dalam axis mundi. Berawal ketika pada pembukaan
pamerannya terjadi insiden, pengemar Oscar melempar gelas anggur dengan sasaran
Lalita karena posisinya sandi yuda berdiri persis ditenggah-tengah, dengan cekatan
menangkis minuman itu dan tanpa sadar menyelamatkan Lalita. Atas terjadinya
insiden penyelamatan itu Yuda di berikan hadiah istimewa di rumahnya sebuah axis
mudi Lalita menamainya. Rumah Lalita yang berbenteng memisahkan antara rumah
disekitarnya begitu misteri bagi Yuda. Sandi Yuda menemukan sebuah buku indigo
Lalita yang didalamnya tertulis bahwa dia adalah keturunan drakula. Tiba-tiba ada
sebuah telepon berdering, suara seorang pria yang mengajak untuk bertemu. Sandi
yuda menyetujui untuk bertemu dan ternyata janaka saudara laki-laki dari Lalita.
Jataka menceritakan semua tentang Lalita yang sebenarnya bagaimana sehingga
membuat binggung Yuda. Tidak hanya Yuda saja laki-laki yang pernah berhubungan
dengan Lalita masih ada lagi yang lain ada tiga nama yang ditulis Jataka pada
selembar kartu nama. Sandi Yuda mencari nama-nama itu diberbagai situs yang
berhubungan. Ternyata semua nama itu telah meninggal. Perasaan Yuda sangat
binggung apa yang terjadi kembali dia di momen autis.
Di dalam buku terungkap rahasia seorang Lalita dan rahasia jilid tua dari kakek
Lalita. Jilid tua kakek Lalita membawa Yuda, Parang Jati dan Marja menelusuri seluk
beluk Candi Borobudur dan banyak lagi rahasia tentang Lalita yang terungkap.
Didalam novel ini juga diceritakan bagaimana kakek Lalita yang orang Eropa bisa
sampai di Indonesia dan membuat jilid tetang bagan - bagan Mandala. Dan kakek
Lalita yang ingin terkenal.
Kesan dan pesan: Novel ini memberikan pembaca pesan jika sepintar-pintarnya
manusia harus tetap memiliki sebuah pedoman hidup yang berupa agama, jangan
pernah mengkhianati orang lain, jangan menutupi kesalahan dengan penampilan baik
di luarnya, berpikirlah yang jernih sebelum memutuskan suatu keputusan, dan
hargailah dan lestarikanlah peninggalan sejarah dari nenek moyang.
Aruna & Lidahnya Karya Laksmi Pamuntjak
Ringkasan novel: Aruna Rai, wanita 35 tahun ini penggemar kuliner dan
salah satu pekerja dari Konsultan yang bergerak dalam penelitian yang
berhubungan dengan unggas bernama One World. Ia ditugasi meneliti
berbagai kronologis terjadinya penularan flu unggas kepada sebagian
penduduk Indonesia. Perjalanan berkeliling Nusantara dari Aceh hingga
Lombok ini menjadi semacam wisata kuliner bagi Aruna dan kedua
sahabatnya serta rekan kerjanya, Bono dan Nadezdha, serta Farish. Bono,
seorang chef profesional yang telah menempuh pengalaman sampai New
York dan mampu mengolah bakmi dengan foie gras, serta Nadezdha Azhari,
wanita cantik 33 tahun blasteran Sunda-Aceh-Perancis dan Persia; seorang
konsultan gaya hidup yang sangat memesona sehingga menurut Aruna bila
dibandingkan dengan dirinya bagaikan sampanye dan popcorn. Terakhir,
Farish, rekan sejawatnya dari kantor yang ditugaskan bepergian dalam
menyelidiki wabah flu burung yang diketahui pada akhirnya memiliki kisah
tersendiri dengan Aruna. Aruna, Nadezdha, dan Bono, ketiganya memiliki
kesamaan yakni terobsesi pada makanan. Berawal dari kesamaan itulah,
kisah perjalanan kuliner berkeliling hampir ke sebagian Indonesia bermulai.
Berbagai daerah yakni delapan kota, Bangkalan, Pamekasan, Palembang,
Medan, Banda Aceh, Pontianak, Singkawang, Lombok, dan Mataram
didatangi guna menyelediki kasus flu unggas yang merebak. Banyak
kejanggalan yang ditemukan yang tidak lain ialah “permainan” oknum
pejabat dalam rangka korupsi. Tidak hanya berkutat pada masalah flu
unggas yang sedikit menyita pikiran Aruna dan rekan-rekannya, mereka
menjadikan perjalanan ini sebagai ajang mencicipi berbagai kuliner yang
terdapat di daerah itu.
Sebagai contoh, selama di Surabaya, Aruna, Bono dan Farish menikmati
aneka rujak, seperti rujak cingur, rujak tolet yang memakai bumbu gula
merah, kecap dan bawang putih, serta rujak deham yang berbumbu asin
dengan komposisi irisan buah dan taoge. Ada juga rujak cemplung, rujak
buah yang disajikan dengan kuah air kelapa. Tak lupa Rujak soto dan Botok
Pakis yang menjadi pusat perhatian mereka karena komposisinya yang tak
biasa. Sedangkan ketika di Kalimantan, mereka mencoba makanan khas
daerah itu, seperti Kwetiaw, Rujak buah yang khas dan Sotong Pangkong.
Di sana, cinta Aruna dan Farish mulai bersemi. Sedangkan Bono harus
menanggung kekecewaan karena ditolak Nadezhda.
Ketika mendengar kabar bahwa adanya konspirasi terkait kepentingan
segelintir orang dengan politik di One World, mereka semakin tidak
bersemangat menjalankan tugasnya, namun pekerjaan menuntut
diselesaikan. Dengan segera setelah menyelesaikan urusan, mereka kembali
ke Jakarta. Ternyata di Jakarta, Aruna merindukan Lombok untuk berlibur,
ketiga temannya tidak luput untuk turut serta. Misi mencicipi segala jenis
kuliner tetap dijalankan. Dari sinilah kisah percintaan Aruna dan Farish
berlanjut, hingga pada akhirnya Aruna memutuskan untuk hidup bersama
dengan Farish.
Kesan dan pesan: Dari novel ini kita diajak untuk berkeliling dan melihat
berbagai hidangan dari berbagai daerah. Aruna dan Lidahnya pun juga
memberi tahu pembaca jika seseorang yang memiliki obsesi pasti ada yang
melatarbelakangi mengapa obsesi itu dapat muncul.
3
ANALISIS CERPEN
1. Orez Karya Budi Dharma
Cerpen Orez menceritakankan tentang kehidupan “saya” yang mempunyai seorang
anak, bernama Orez. Orez adalah seorang bocah yang cacat dan memiliki kebiasaan
aneh sehingga segala tingkah lakunya membuat resah banyak orang. Memang “saya”
sadar bahwa sebelum mengawini Hester, ibu Orez, akan memperoleh musibah seperti
yang telah diisyaratkan oleh orang tua Hester. Akan tetapi, kendati sudah
mendapatkan isyarat demikian, “saya” tetap percaya bahwa nasib manusia seluruhnya
berada di tangan Yang Maha Kuasa. Nasib manusia tentulah berbeda antara orang
yang satu dengan yang lainnya. Hal itu pula yang membuat “saya” merasa kelak tidak
akan bernasib sama dengan keadaan rumah tangga mertuanya. Oleh karena itu, “saya”
berani mengawini Hester walaupun kondisi keluarganya tidak menyenangkan. Tidak
diduga, ternyata “saya” mengalami nasib sama dengan keluarga mertua. Anak “saya”
yang bernama Orez ternyata cacat dan sering berbuat aneh dan meresahkan
masyarakat. Hal itulah yang semakin hari semakin membuat “saya” gelisah dan resah,
sehingga muncul pikiran jahat untuk membunuh Orez. “Saya” memang sudah
berusaha sabar dan tawakal, tetapi “saya” juga sadar bahwa kesabaran seseorang ada
batasnya. Karena itu, wajar saja jika muncul niat jahat pada diri “saya”. Akan tetapi,
untunglah “saya” menyadari betul bahwa Orez, darah daging “saya” sendiri, agaknya
memang sudah ditakdirkan demikian. Oleh karena itu, bagaimanapun keadaan Orez
harus “saya” terima dengan lapang dada, karena “saya” sadar bahwa manusia tidak
mungkin mampu melawan takdir. Dari cerpen tersebut kita bisa tahu jika anak adalah
karunia Tuhan yang harus kita jaga dan sayangi.
2. Menunggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Cerpen Menunggu karya Seno Gumira Ajidarma menceritakan tentang pria tua yang
sedang menunggu ajalnya. Istrinya sudah lebih dulu meninggalkannya. Dia hidup
sendirian dan sering dibicarakan oleh orang-orang. Banyak anak muda yang berpikir
mengapa dia tidak segera mati sebab pria tua itu sering menasihati pemuda tersebut.
Cerpen ini juga menunjukan bagaimana orang-orang bersikap tidak sopan kepada pria
tua tersebut. Ketika pria tua ini berdiri di tengah jalan ada supir bus yang menegurnya
dengan kata-kata kasar. Lalu ia ditolong oleh seorang perempuan yang kemudian
menghilang. Tidak hanya itu, para penumpang di bus pun membicarakan tentang pria
tua itu saat sedang memandang seorang perempuan yang mirip mendiang istrinya.. Ia
sedih, ia merasa sekarang orang-orang tidak peduli lagi dengan apa yang ada disekitar
mereka. Pria tua itu menganggap kota yang ditinggalinya telah rusak. Ketika sampai
di rumah, pria itu terkejut. Dia disambut oleh istrinya. Istrinya datang untuk
menjemput pria tua itu dan ia pun menuruti ajakan sang istri. Kini pria itu tidak perlu
lagi menunggu. Malamnya Pak RT menuliskan nama pria tua itu di sebuah papan.
Cerpen ini memberi kita pesan jika saat ini kota yang kita tinggali telah rusak dan
orang-orang kini tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Orang-orang
Selain itu, cerpen ini juga mengajarkan kita untuk tetap sabar ketika menghadapi
orang-orang yang tidak sopan dengan kita serta sabar dalam menunggu suatu hal.
3. Robohnya Surau Kami Karya A. A. Navis
Cerpen Robohnya Surau Kami menceritakan seorang garin, yaitu penjaga surau tua
yang biasa dipanggil Kakek di kampung kelahiran tokoh utama cerpen itu. Kematian
Kakek sangat tragis, ia menggorok lehernya sendiri setelah mendapati cerita tentang
kisah Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang semasa hidupnya dijalani
dengan beribadat dan beribadat, namun pada hari keputusan ia malah dimasukkan ke
dalam neraka. Haji Saleh merasa tidak adil, ia khawatir Tuhan khilaf. Ia memprotes
dan Tuhan memberikan alasan “Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas.
Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak
membanting tulang." Cerita tersebut persis dengan kehidupan Kakek. Kakek merasa
sangat tertekan karena secara tidak langsung cerita tersebut menyindirnya. Akhirnya
Kakek bunuh diri dengan pisau cukur. Cerita mengenai Haji Saleh adalah cerita dari
Ajo Sidi, si pembual. Mengetahui kematian Kakek, Ajo Sidi hanya berpesan kepada
istrinya untuk dibelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek. Setelah berpesan, Ajo
Sidi pergi bekerja. Cerpen ini mengajarkan kepada kita bahwa menyembah Tuhan itu
baik dan sangat dianjurkan, tapi kita juga harus memperhatikan orang-orang yang ada
disekita kita termasuk diri sendiri.
4. Mbok Jah Karya Umar Kayam
Cerpen berjudul Mbok Jah karya Umar Kayam menceritakan hubungan antara
majikan dengan pembantu. Tokoh Mbok Jah lahir di Jawa tepatnya di Tepus,
Gunungkidul. Mbok Jah adalah seorang janda tua yang bekerja sebagai pembantu
rumah tangga pada sebuah keluarga Mulyono diJakarta. Keluarga Mulyono adalah
keluarga yang sederhana. Mbok Jah sudah dua puluh tahun bekerja pada keluarga
Mulyono di Jakarta. Namun, akhirnya Mbok Jah ingin berhenti bekerja untuk
seterusnya dan kembali ke desa Tepus, Gunungkidul. Mbok Jah ingin berhenti karena
ia merasa semakin renta. Tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi
beban keluarga itu.
Permintaan Mbok Jah dikabulkan oleh keluarga Mulyono, tetapi dengan syarat.
Syaratnya adalah Mbok Jah datang dua kali dalam setahun, yaitu pada waktu Sekaten
dan waktu Idul Fitri. Namun sudah dua kali Lebaran, Mbok Jah tidak datang ke
Jakarta. Itulah sebabnya, keluarga Mulyono mengunjungi Mbok Jah di desa Tepus,
Gunuingkidul.
Setelah Lebaran, keluarga Mulyono mencari rumah Mbok Jah di Tepus, Gunungkidul.
Menjelang sore, mereka akhirnya menemukan rumah Mbok Jah yang kecil, miring,
dan terbuat dari gedek dan kayu murahan. Mbok Jah semakin terlihat sangat tua. Hal
inilah membuat keluarga Mulyono ingin mengajak Mbok Jah kembali ke rumah
mereka di Jakarta. Namun, Mbok Jah menolak ajakan keluarga Mulyono karena ingin
tinggal di rumahnya saja, tapi Mbok Jah berjanji untuk datang dalam acara Sekaten
dan Lebaran. Semua keluarga Mulyono menghormati keputusan Mbok Jah yang tetap
ingin di desa Tepus, Gunungkidul untuk hari tuanya. Keputusan Mbok Jah memang
tidak bisa ditawar lagi. Keluarga Mulyono pun pamit untuk pulang. Cerpen Mbok Jah
memberikan kita pelajaran jika sejauh manapun kita pergi, suatu saat nanti kita akan
kembali ke rumah kita. Cerpen ini juga membuat kita sadar jika kita berbuat baik
maka kebaikan dari orang lain akan senantiasa kita dapatkan.
5. Suap Karya Putu Wijaya
Suap adalah salah satu cerpen karya Putu Wijaya. Cerpen ini menceritakan tentang
kasus penyuapan. Berawal dari tokoh "saya" yang menjadi juri perlombaan melukis.
Tokoh “saya” didatangi oleh orang yang mengaku sebagai utusan dari salah satu
peserta lomba. Tokoh “saya” disuap uang agar peserta itu memenangkan lomba lukis
internasional. Tokoh "saya" ragu-ragu dalam menerima uang. Sebenarnya dia
menginginkan uang itu untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi istri dan
anaknya. Tetapi disamping itu tokoh "saya" takut masuk penjara. Keadaan dipersulit
dengan dibuangnya amplop yang berisi uang suapan oleh Ade, anak dari tokoh
"saya". Setelah 3 bulan 10 hari berlalu, si pesuap tidak kunjung datang dan penentuan
pemenang lomba sudah terlampau lama. Akhirnya tokoh "saya" bertekad untuk
membuka amplop. Disitulah terdapat plot twist yang mengakibatkan tokoh "saya"
dihajar habis-habisan oleh para tetangga. Cerpen ini memberi pesan bahwa suap itu
perbuatan yang tidak baik. Jangan pernah sekali-kali menerima suap dari orang lain
entah tiu berupa uang atau barang lainnya, karena kita tidak tahu hal buruk apa yang
akan menimpa kita apabila menerima suap dari orang lain.
4
ANALISIS DRAMA
1. Panembahan Reso W. S Rendra
Panembahan Reso menceritakan tentang bagaimana suatu pemerintahan, perebutan
kekuasaan yang diraih dengan cara-cara licik dan penuh darah. Demi kekuasaan,
anak-istri, saudara, dan sahabat pun dikorbankan. Amanat yang bisa diambil dari
drama ini adalah jika kita diberikan kepercayaan, laksanakanlah kepercayan itu
dengan penuh tanggung jawab. Selain itu drama ini juga mengajarkan kita untuk
bekerja keras dan menghargai apa yang telah dicapai oleh orang lain.
2. Sumur Tanpa Dasar Karya Arifin C. Noer
Sumur Tanpa Dasar menceritakan tokoh utama bernama Jumena Martawangsa,
seorang pengusaha pabrik yang berhasil menimbun kekayaan dan uang menjadi
hiburan satu-satu diakhir kehidupannya. Di samping berhasil menimbun harta, ia pun
berhasil mempersunting gadis muda yang cantik, Euis, yang bila dilihat dari kacamata
materialisme pastilah hidupnya bahagia. Namun, kenyataan menunjukkan lain. Ia
mengalami kekosongan dan menyadari bahwa semua hanya untaian kesia-siaan.
Tragedi kehidupan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya justru muncul ketika
sukses mendekati dirinya. Kekayaannya membuatnya mengalami bentrokan dengan
lingkungan dan orang-orang sekitarnya, yang mengincar kekayaannya. Bahkan istri
mudanya sendiri mulai menyeleweng ketika ia ingin benar-benar mencintai dan
mengharapkan cintanya. Kebahagiaan makin jauh dari anganangannya tatkala
menyadari bahwa kematian akan datang, dan ia tidak berhasil memiliki seorang anak
untuk melanjutkan usaha dan mewarisi kekayaannya. Drama Sumur Tanpa Dasar
memberi kita pelajaran untuk selalu bekerja keras dan berusaha, saling tolong
menolong, melakukan perbuatan yang baik dan amal saleh, sabar, dan selalu ingat
tentang kematian bisa sewaktu-waktu menghampiri kita..
3. Sindhen Karya Heru Kesawa Murti
Sindhen adalah drama karya Heru Kesawa Murti. Drama ini menceritakan tentang
Sindhen yang bernama Semi. Semi adalah sindhen termasyhur dari desa Watugundul,
drama ini bermula dari kehidupan-kehidupan para dewa yang sedang sibuk dengan
kegiatannya masing-masing, tetapi kinerja sang dewa semakin lama semakin
menurun. Melihat keadaan yang demikian Sang Hyang Guru mempunyai gagasan
untuk memboyong seorang sinden dari Marcapada ke Khayangan,untuk dijadikan
cermin bagi para dewa. Sebagai seorang sinden yang berprestasi kehidupan rumah
tangga Semi tidak berjalan dengan lancar, sering terjadi adu mulut dan perdebatan
dengan Panjang sang suami. Hal ini tidak hanya dialami oleh Semi yang selalu
bertengkar dengan Panjang, hal serupa juga dialami oleh Raden Lurah Tanpasembada
dan Bu Lurah atas kecemburuannya terhadap Semi. Panjang akhirnya murka dan
mengancam untuk mengakhiri hidupnya setelah mengetahui kesewenang-wenangan
maha dewa yang ingin memboyong semi ke kayangan.Yamadhipati mengurungkan
perintah dari adi guru, ketika ia melihat apa yang ingin panjang lakukan dan ia
menyadari bahwa tidak bisa memasakan kehendak mereka para dewa serta memilih
untuk tidak kembali lagi ke kayangan. Drama ini memberitahu kita bahwa perempuan
sulit menyuarakan suara hatinya dan merasa bahwa perempuan mempunyai martabat
atau hak lebih rendah dari laki laki.
4. Aduh Karya Putu Wijaya
Drama Aduh bercerita tentang situasi kritis dan gawat. Mereka berkejaran dengan
waktu untuk mengubur satu mayat. Semua orang panik dan tak bisa berpikir jernih.
Semuanya kebingungan. Saat inilah harus ada satu orang yang muncul dan
memegang kendali dengan keras supaya kelompok tidak kacau. Di saat seperti ini,
gaya visioner patut dibuang ke tempat sampah. Gaya otoriter lah jawaban dari situasi
kondisi mencemaskan itu. Dengan memerintah “pelopor” untuk membuka jalan,
meminta “salah seorang” untuk mengangkat mayat, walaupun sempat ribut sana-sini,
berkelahi, dan sempat putus asa, satu masalah pun akhirnya bisa terselesaikan, yakni
mayat itu akhirnya bisa dikubur. Drama Aduh mengajarkan kita untuk bisa
menghadapi segala situasi dengan tenang dan peduli kepada orang lain.
5. RT Nol /RW Nol Karya Iwan Simatupang
Disebuah kota besar hiruk – pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan yang
tidak begitu besar, hidup beberapa orang di bawahnya. Seorang kakek tinggal di
bawah kolong jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si pincang dengan
kondisi fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana-mana dan tidak pernah
mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan di temani Ani dan Ina kakak-beradik
yang bekerja sebagai PSK mereka meratapi kejamnya kota besar.
Yang kemudian membawa sebuah permasalahan pelik diantara mereka, Pincang telah
putus asa dengan kehidupan yang Ia alami, karena tidak pernah satu pun ia berhasil
mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya.
Datanglah seorang laki-laki bernama Bopeng, Ia adalah mantan penghuni kolong
jembatan tempat tinggal kakek, pincang, Ani dan Ina. Ia telah bekerja di sebuah kapal
sebagai Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita bersamanya yang bernama Ati.
Ati adalah sosok wanita yang mencari Suaminya yang entah kemana telah
menghilang dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk pulang ke
kampungnya.
Karena iri hati Pincang pun selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal bertemu
dengan Ati, Bopeng berjanji untuk mengantarkannya pulang ke kampung tetapi
karena adanya panggilan kerja sebagai klasi kapal Bopeng mengurungkan niat
tersebut.
Setelah pertengkaran argumen antara Si Pincang dan Bopeng, akhirnya kakek pun
menengahi pertengkaran mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang
setelah bekerja dengan membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang
menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang
menjadi tempat mereka tinggal. Disusul oleh bopeng dan Si pincang yang akan
berjuang mengantarkan Ati kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari
pekerjaan kembali dan menikahi Ati. Akhir cerita Tinggal lah Kakek sendiri di bawah
jembatan itu yang mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT Nol/RW
Nol. Drama ini mengajarkan kita untuk selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani
hidup tanpa ada keputusasaan dalam hidup.
Nurul Ancas
22201241064
1
ANALISIS PUISI
(1).
Senja di Pelabuhan Kecil
Oleh Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Analisis :
Saat pertama kali saya membaca puisi ini, saya tiba-tiba merasakan sebuah perasaan
hampa yang dibalut kesunyian. Dalam setiap baitnya seolah-olah terdengar sebuah ringikan
kesendirian dan ratapan keputusasaan cinta yang juga menjadikan tema dari puisi karya Chairil
Anwar ini. Puisi ini terdiri dari tiga bait dengan tipografi konvensional dengan dilengkapi
enjambement berupa titik ditengah baris yang menunjukkan bahwa gagasan pada suatu baris
dalam puisi masih berlanjut pada baris berikutnya. Rima dalam setiap baitnya berbeda-beda,
pada bait pertama bersajak a-a-b-b, bait kedua juga bersajak a-a-b-b, dan bait ketiga bersajak
a-b-a-b.
Pada bait pertama, terdapat pengimajian penglihatan dan perasaan dalam kalimat
‘’Diantara, rumah tua pada cerita Tiang serta temali, Kapal perahu tidak berlaut’’. Kalimat
ini menginterpretasikan kesunyian hati sang penyair. Puisi ini juga banyak menggunakan diksi
konotatif atau makna kias, contohnya pada kalimat ‘’Desir Hari Berenang menuju bujuk
pangkal akanan’’ yang memiliki arti hari hari telah berlalu dan berganti dengan masa
mendatang. Lalu pada kalimat ‘’Mempercaya mau berpaut’’ yang berarti tiada lagi harapan
dan kalimat ‘’Di antara gudang, rumah tua’’ yang menggambarkan sesuatu yang tidak berguna,
dalam hal ini sepertinya penulis menganggap dirinya tidak berguna lagi.
Hebatnya dalam puisi ini terdapat tiga majas sekalipun, yaitu majas metafora
(Perbandingan), personifikasi (Sifat manusia pada benda mati), dan hiperbola (Melebih-
lebihkan). Majas metafora terdapat pada kalimat ‘’Diantara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut’’. Majas personifikasi terdapat pada kalimat
‘’Diantara gudang, rumah tua, pada cerita’’ dan pada kalimat ‘’Ada juga kelepak elang
menyinggung muram’’. Serta majas hiperbola yang ada pada kalimat ‘’Kini tanah dan air tidur
hilang ombak’’, kalimat ini melebih-lebihkan dalamnya kebekuan hati seseorang yang
digambarkan.
Puisi ini adalah salah satu puisi indah milik Chairil Anwar, seorang penyair angakatan
45 yang namanya begitu kondang. Semasa hidupnya ia sudah membuat 75 puisi, 7 prosa, dan
3 koleksi puisi. Puisi Senja di Pelabuhan Kecil ini adalah salah satu dari 75 puisi yang
dibuatnya dan dengan puisi ini ia memberikan amanat untuk bisa bangkit dari keterpurukan
yang disebabkan oleh cinta dan menerimanya dengan ikhlas.
(2)
Berdiri Aku
Oleh Amir Hamzah
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datar ubur terkembang.
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
Analisis Puisi :
Puisi karya Amir Hamzah bertema kesedihan ini konon katanya dibuat karena
perpisahannya dengan kekasihnya dan dia harus pulang ke Medan untuk menikah dengan putri
pamannya. Entah benar ataupun tidak, tetapi jika kita baca dalam setiap sajaknya memang
terasa sebuah perasaan sedih yang begitu mendalam. Ekspresi kesedihan itu ditampilkan
penyair dengan suasana sunyi pada sore hari yang digambarkan pada bait pertama.
Puisi yang akan memberikan kesedihan pada para pembacanya ini menimbulkan imaji
penglihatan seolah-olah kita melihat dengan nyata suasana yang digambarkan penulis dan imaji
perasaan yang membuat pembaca ikut merasakan sedih dan rindu yang diungkapkan pada bait
terakhir. Diksi yang digunakan adalah konotatif, bukan makna sebenarnya melainkan sebuah
kata kiasan seperti senyap, mengurai, mengempas, berayun-ayun dan sayap tergulung yang
identik dengan kesunyian. Kata “maha sempurna” dalam akhir bait juga merupakan arti
konotasi dari tuhan yang maha sempurna serta kata “mengecap” yang memiliki arti ingin
dirasakan.
Tipografi dalam sajak ini memanfaatkan margin halaman kertas dan dalam penulisan
sajak ini, disini begitu terlihat jika penyair begitu memperhatikan EYD. Unsur verifikasi atau
rima dalam puisi yang terdapat pada bait pertama adalah berselang, sedangkan pada bait-bait
selanjutnya adalah a-b-a-b. Dalam puisi ini terdapat gaya bahasa yang paling menonjol, yaitu
majas personifikas yang terdapat pada bait kedua. Pada bait tersebut penyair seakan-akan
menghidupkan ombak dan angin yang bertujuan ingin menambah kesunyian dan kesendirian
penyair. Seperti halnya dengan mengagumi ombak yang menerpa pohon-pohon bakau serta
desir angin yang mengempakkan semuanya terlihat kalau penyair benar-benar merasa sepi dan
hanya mampu melihat pemandangan sekitarnya saja. Selain personifikasi yang dominan ada
juga gaya metafora yang terlihat dari kalimat ‘’Benang raja mencelup ujung’’ dan dalam
‘’Rupa maha sempurna’’. Penyair membandingkan apa yang dilihat dan dialami dengan
kata ”benang raja” dan “maha sempurna”. Hiperbola juga nampak dalam kalimat ”Rindu-
sedu mengharu kalbu’’ yang menggambarkan kesedihan dan rindu yang benar-benar
mendalam. Unsur-unsur puisi yang digunakan Amir Hamzah membuat makna puisi Berdiri
Aku lebih mendalam dan lebih padat sehingga memberikan kesan yang luar biasa setelah
membacanya.
(3)
Pada Suatu Hari Nanti
Karya Sapardi Djoko Damono
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Analisis Puisi :
Pertama kali saya mengetahui puisi ini saat saya mendengar musikalisasi puisi yang
dibawakan Ari Reda, begitu indah dengan sajak-sajak yang saya pikir sangat cocok untuk
menggambarkan kehidupan bahwa suatu hari nanti kita akan pergi, tiada satupun yang akan
mengenal kita kecuali pada karya-karya yang akan membuat kita dikenang abadi. Puisi bertema
kematian, kesetiaan, dan keabadian hidup ini memiliki tipografi ratakiri dan lurus bawah
dengan rima a-a-a-a.
Diksi yang digunakan pada puisi ini menggunakan bahasa yang lugas dengan majas
metafora yang terdapat pada bait kesatu ‘’Tapi dalam bait-bait sajak ini Kau takkan kurelakan
sendiri’’, bait kedua ‘’Tapi di antara larik-larik sajak ini Kau akan tetap kusiasati’’, dan bait
ketiga ‘’Namun di sela-sela huruf sajak ini Kau takkan letih-letihnya kucari’’. Pengimajian
pada puisi ini ada tiga, yaitu imaji penglihatan, pendengaran, dan perasaan sehingga pembaca
bisa lebih mendalami dan memaknai puisi ini. Terdapat gaya bahasa repetisi pada kalimat
“Pada suatu hari nanti” yang selalu diulang-ulang.
Lewat puisi Pada Suatu Hari Nanti, Sapardi ingin menyampaikan kesetiaannya kepada
pembaca, walaupun ia sudah tidak ada, ia tetap setia dan tetap bisa menemani pembaca dengan
karya-karyanya dan hal itu terbukti adanya. Meskipun kini ia sudah tiada, tetapi karya-
karyanya akan selalu dinikmati dan dikenang oleh orang-orang.
(4) Dengan Puisi, Aku
Karya Taufik Ismail
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercerita
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengetuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Analisis Puisi :
Puisi karya Taufik Ismail ini bertema kemanusiaan. Melalui peristiwaa tragedi yang
digambarkan penyair dalam puisi ini, ia berusaha meyakinkan ketinggian martabat manusia,
oleh kerena itu manusia harus dihargai. Penyair berusaha memberi tahu bahwa puisi bukan
sekedar karya seni tetap ia adalah curahan hati seorang penulis. Saat bahagia, sedih, berbunga-
bunga dan sampai mengutuk. Puisi adalah cara yang elegan untuk menyampaikan kata hati.
Diksi yang digunakan dalam puisi ini cukup lugas tetapi pada bait kedua, dua baris
terakhir terdapat sebuah makna kias, yaitu pada kalimat “Jarum waktu bila kejam mengiris”,
kata mengiris disini bisa diartikan sebagai menangis. Gaya Bahasa dalam puisi adalah majas
asosiasi atau yang biasa di kenal sebagai majas perumpamaan, majas tersebut terlihat pada larik
pertama ‘’Dengan puisi aku bernyanyi’’, larik ketiga ‘’Dengan puisi aku bercinta’’, larik
kelima ‘’Dengan puisi aku mengenang’’, larik ketujuh ‘’Dengan puisi aku menangis’’, larik
kesembilan ‘’Dengan puisi aku mengutuk’’, dan larik kesebelas ‘’Dengan puisi aku berdoa’’,
hal tersebut juga menandakan adanya majas repetisi. Dalam puisi ini terdapat pengimajian
visual dengan rima yang selaras dan tipografi konvensional.
(5)
Bunga dan Tembok
Oleh Wiji Thukul
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Analisi Puisi :
Ketika membaca puisi ini, satu-satunya yang terpikirkan oleh saya adalah bagaimana
puisi ini dijadikan senjata untuk melawan pemerintah yang semena-mena. Puisi ini berisi kritik
dengan diksi konotatif yang dibalut dengan gaya bahasa yang indah. Tema dalam puisi ini
adalah keberpihakan penguasa pada kapitalis yang membuat rakyat (kaum buruh) melakukan
perlawanan. Tipografi yang digunakan didominasi penggunaan enjambment, namun terdapat
pula penggunaan tanda baca tanda titik dua (:) dan tanda seru (!).
Puisi ini banyak menggunakan majas metafora dan sinekdoke. Penyimpangan arti
dalam puisi 'Bunga dan Tembok' dominan menggunakan ambiguitas dan ironi. Namun ada pula
penggunaan majas sinisme dan sarkasme pada puisi tersebut. Dari puisi kritik milik penyair
yang begitu lantang menyuarakan keadilan ini kita mendapatkan amanat untuk terus
memperjuangkan hak-hak, apalagi jika jiwa, rumah, dan tanah telah dirampas.
(6)
Hai, Ma!
Oleh W.S Rendra
Ma,
bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya
Ada malam-malam aku menjalani
lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk ke badanku yang hampa
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan,
tidak ada suatu apa…..
Hidup memang fana Ma,
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara,
dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa
Hidup memang fana Ma,
itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savanna
membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa
ditarik-tarik orang kesana-kemari,
mulut berbusa sekedar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa-basi dan
orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan, atau percintaan tanpa asmara,
dan senggama yang tidak selesai
Hidup memang fana, tentu saja Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
lalu mendorong aku menjerit-jerit sambil tak tahu kenapa
Rasanya setelah mati berulang kali
tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini
Tetapi Ma,
setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja, sukmaku menyanyi,
dunia hadir, cicak di tembok berbunyi,
tukang kebun kedengaran berbicara kepada putranya
Hidup menjadi nyata, fitrahku kembali
Mengingat kamu Ma
adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma
Masing-masing pihak punya cita-cita,
masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata
Hai Ma,
apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu
Ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu
Masya Allah, aku selalu kesengsam dengan bau kulitmu
Ingatkah waktu itu aku berkata :
Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Wuah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini
Dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa
Kemaren dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa
Sudah ya Ma…
Analisis Puisi :
Lewat salah satu puisinya yang begitu indah ini, Rendra mencurahkan isi hatinya.
Dengan diksi yang dibalut kata kias, Rendra mencoba menceritakan kesendiriannya lewat
beberapa kata seperti terbuang, terlantar, dijauhi, dan ditolak. Penggambaran ini
menginterpretasikan kesunyiannya akibat diabaikan, ia kehilangan gairah dan semangat dalam
menjalani hidup diantara orang-orang yang tidak sepaham dan sepimikiran dengannya.
Repetisi kata ‘’Ma’’ dan ‘’Hidup Memang Fana’’ memberikan gambaran bagaimana
ia mengeluh pada orang terkasihnya lewat kata dan kita ikut merasakan pengimajian
penglihatan, perasaan, dan pendengaran dari sajak-sajaknya. Ia memberikan majas
personifikasi pada kalimat ‘’Kelenjar-kelenjarku bekerja’’dan pada kalimat ‘’Sukmaku
menyanyi’’ untuk menginterpretasikan bagaimana perasaanya saat itu. Puisi ini memakai
tipografi konvensional dengan pemakaian tanda seru pada judul.
(7)
Dari Bentangan Langit
Oleh Emha Ainun Najib
Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.
Analisis Puisi :
Meskipun puisi ini tergolong singkat, tetapi puisi ini memiliki makna yang sangat luas,
tentang dimana kita melihat hal-hal yang biasa terjadi akan tetapi merupakan suatu proses yang
menunjukan salah satu kebesaran-kebesaran Allah SWT dalam memberikan segala
kenikmatan-Nya kepada kita dengan gratis. Akan tetapi saat ini banyak manusia yang masih
menutup mata dan hatinya untuk hanya sekedar mengucap Syukur.
Puisi yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur pada yang kuasa ini menggunakan
gaya bahasa majas metafora, personifikasi, dan hiperbola dengan tipografi konvensional.
Pengunaan majas metafora terlihat pada kalimat “Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa”,
pengunaan majas personifikasi pada kalimat “Ia, kemarau itu, datang kepadamu’’ dan
‘’Menyapu lautan. Menyapu hutan!”, serta majas hiperbola pada kalimat “Menyapu lautan.
Mengekal tanah berbongkahan, menyapu hutan!” yang terkesan berlebihan dan tidak wajar.
Pengunaan majas dipadukan dengan pengimajian penglihatan dan perabaan yang membuat
sajak ini lebih indah.
(8)
Surat Dari Ibu
Karya Asrul Sani
Pergi ke dunia anak-anaku sayang
pergi ke hidup bebas!
Sesama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
Analisis Puisi :
Tema yang terkandung dalam puisi ini adalah pendidikan, yaitu nasihat seorang ibu
kepada anaknya agar mengembara untuk mencari pengetahuan dan pengalaman sebanyak
mungkin agar hidupnya dapat kokoh. Setelah pemuda memiliki pengetahuan dan pengalaman
yang cukup, dinyatakan dengan "Jika bayang telah pudar/dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!".
Sajak puisi ini banyak memakai diksi konotatif atau makna kias seperti kata laut lepas
yang menggambarkan dunia dengan ilmu pengetahuan yang luas. Selain memakai diksi
konotatif, puisi ini juga menggunakan gaya bahasa majas asosiasi atau perumpamaan. Jika
ditelisik lebih dalam ada beberapa kata yang digunakan sebagai perumpamaan atau bukan
makna sebenarnya seperti kata umur yang di umpamakan dengan kalimat selama hari belum
petang.
Lewat puisinya ini, Asrul Sani memberikan pesan tersirat kepada para pembaca untuk
terus mengejar kesuksesannya dan apabila ia berhasil meraih kesuksesan, jangan lupakan ibu
sebagai orang yang menemani, mendukung, dan menjadikan kita sukses.
(9)
Tuhan Datang Malam Ini
Oleh Joko Pinurbo
Tuhan datang malam ini
di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus
dan celoteh sepi.
Ia datang dengan sebuah headline yang megah:
"Telah kubredel ketakutan dan kegemetaranmu.
Kini bisa kaurayakan kesepian dan kesendirianmu
dengan lebih meriah."
Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai
di atas halaman-halaman yang hilang
dan rubrik-rubrik terbengkelai.
Malam menebar debar.
Di sebuah kolom yang rindang, kolom yang teduh
ia kumpulkan huruf-huruf yang cerai-berai
dan merangkainya menjadi sebuah komposisi kedamaian.
Namun masih juga ia cabar:
"Kenapa ya aku masih kesepian.
Seakan tak bisa damai tanpa suara-suara riuh
dan kata-kata gaduh."
"Mungkin karena kau terlampau terikat
pada makna yang berkelebat sesaat,"
demikian seperti telah ia temukan jawaban.
Begitulah, ia nikmati malam yang cerau
dan mencoba menghalau galau dan risau.
Dibetulkannya rambut ranggas yang menjuntai
di atas dahi nan pasai.
Dibelainya kumis kusut dan cambang capai
yang menjalar di selingkar sangsai.
Sementara di luar hujan dan angin berkejaran
menggelar konvoi kemurungan.
Analisis Puisi :
Tema puisi ini adalah orang-orang yang kesepian dan mencari sebuah kedamaian. Dari
puisi ini dapat dilihat sebuah kegelisahan dan ketidaktentraman pada teknik dan gaya penulisan
sang penulis. Joko Pinurbo menggunakan majas metafora untuk menginterpretasikan penguasa
orde baru sebagai Tuhan. Tuhan yang dimetaforakan oleh Joko Pinurbo sebagai penguasa Orde
Baru adalah orang-orang yang kesepian dan orang-orang yang mengumpulkan senjata dan
menyusunnya jadi komposisi kebimbangan. Gambaran represif penguasa Orde Baru terlihat
pada metafora. Ironi dimunculkan pada bait terakhir pada bagian yang coba ditekankan oleh
Joko Pinurbo bahwa orang-orang yang ditekan oleh sikap represif penguasa Orde Baru ternyata
masih memohonkan “doa” kepada Tuhan (yang sebenarnya) untuk penguasa Orde Baru agar
mereka “sadar”.
Diksi yang digunakan dalam puisi ini sangat sederhana dan dingin, sehingga pembaca
seolah-olah mengalami keresahan dan kebimbangan yang dialami oleh pengarang dan dengan
imaji penglihatan yang digambarkan penulis pembaca seolah-olah melihat sesuatu yang ada
dalam puisi tersebut. Dari semua makna tersebut, kita tahu bahwa sebenarnya puisi ini adalah
puisi kritik untuk penguasa pada masa orde baru. Namun karena penyair penggunakan kata
Tuhan untuk mengandaikan para penguasa, kesan kritik menjadi samar dan inilah kehebatan
puisi ciptaan Joko Pinurbo ini.
(10)
Pilihan
Oleh Mustofa Bisri
Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya.
Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian.
Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian.
Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban.
Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini.
Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat.
Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?
Analisis Puisi :
Sesuai dengan judulnya, tema puisi ini adalah pilihan hidup. Menggunakan gaya bahasa
repetisi, penyair memberikan pengulangan pada poin penting yaitu pada kata ‘’Antara”, kata
yang membangun puisi ini lewat perbandingan pilihan. Meski diksi yang digunakan cukup
lugas, namun puisi ini memiliki arti lebih dalam. Puisi ini memakai tipografi konvensional,
tujuh bait dan setiap baitnya terdiri dari dua larik.
Jika ditelisik lebih jauh, penyair seperti menggunakan gaya bahasa ironi atau sindiran
untuk mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dari
rangkaian kata-katanya. Namun terlepas dari semua itu, puisi ciptaan Mustofa Bisri ini adalah
puisi yang indah dengan makna yang dalam. Lewat puisi ini pembaca diberi amanat untuk
memilih pilihan hidup dengan cermat, jangan sampai kita tersesat karena pilihan yang salah
dan membawa kita pada suatu keburukan.
2
ANALISIS NOVEL
1. Para Priyayi
Judul : Para Priyayi
Pengarang : Umar Kayam
Penerbit : Pustaka Utama Grafiti
Tahun : 1992
Genre : Novel Sastra
Tebal : 308 Halaman
Novel Para Priyayi ditulis oleh Umar Kayam dan diterbitkan oleh oleh PT Pustaka Utama
Grafiti pada tahun 1992. Novel ini menggambarkan warna-warni kehidupan tokoh-tokohnya
yang berlatar kehidupan Jawa dan menceritakan realita kehidupan tokoh-tokohnya mengenai
kehidupan keluarga besar priyayi Jawa serta masalah-masalah yang ada didalamnya.
Sinopsis :
Kisah para priyayi ini dimulai dari sebuah kota kabupaten yang bernama Wanagalih.
Kota kecil yang sangat gersang dan panas ini dikatakan telah hadir sejak abad 19 dan di kota
itulah keluarga priyayi yang bernama Sastrodarsono tinggal. Soedarsono atau Sastrodarsono
adalah seorang anak petani Kedungsimo yang berhasil menjadi seorang guru bantu di Ploso
berkat bantuan dan dorongan untuk sekolah dari Asisten Wedana Ndoro Seten. Dialah orang
pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi calon priyayi, karena jika dia rajin dan setia
kepada gupermen, maka dia akan diangkat menjadi guru penuh sekolah desa. Hal ini sangat
membahagiakan orang tuanya. Orang tuanya pun segera memilihkan calon jodoh yang tepat
untuk anaknya yang sudah menjadi priyayi kecil itu. Siti Aisah atau biasa dipanggil Dik
Ngaisah nama perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya itu. Setelah beranjak tua nama
Soedarsono diubah menjadi Sastrodarsono. Mereka memiliki tiga orang anak, yang pertama
bernama Noegroho, yang kedua Hadjojo dan yang bungsu Soemini. Anak-anak mereka
disekolahkan di HIS Wanagalih dan yang laki-laki melanjutkan di Kweekschool, sekolah guru
di Yogya. Sedangkan Soemini setelah tamat HIS akan dinikahkan dengan seorang mantri polisi
di Kawedanan Karangelo yang akan naik pangkat menjadi Asisten Wedana muda bernama
Raden Harjono, saudara jauh dari pihak Dik Ngaisah. Tetapi, sebelum menikah Soemini
mempunyai keinginan untuk sekolah lagi di Van Devente, di Solo. Setelah tamat di sekolah
Van Deventer itu, barulah Soemini menikah dengan Harjono.
Oleh karena hidup berkecukupan, Sastrodarsono merasa wajib membantu sanak
saudaranya yang tidak mampu, lalu dibawalah tiga keponakannya yang bernama Sri,
Soedarmin, dan Soenandar untuk ikut tinggal dan disekolahkan di Wanagalih. Salah satu
keponakannya, yaitu Soenandar memiliki perangai yang berbeda dari yang lain. Soenandar
sangat jail, nakal, dan selalu gagal dalam belajar.
Suatu ketika Sastrodarsono mengutus Soenandar untuk mengurus sekolah yang didirikannya
di Wanalawas dengan harapan agar Soenandar lebih mandiri dan dapat bertanggung jawab.
Akan tetapi Soenandar justru menghamili anak penjual tempe dan kabur. Oleh karena itu
lahirlah Wage, anak dari Soenandar dan penjual tempe tersebut yang kemudian diboyong ke
Wanagalih. Wage dirawat, dan disekolahkan, kemudian diganti namanya menjadi Lantip.
Nama Lantip adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip tinggal
di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama
Emboknya Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih. Hubungan
Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya
tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono hingga jadi langganan
keluarga tersebut.
Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak
mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan
rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi bahwa
Soenandar bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang
markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada
Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar. Semenjak Lantip mengetahui
perihal ayahnya, ia menjadi malu dan kecewa karena ternyata ia hanyalah anak jadah dan haram.
Selain itu, Lantip juga menjadi mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat
memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem emboknya. Hal ini tak lain karena ternyata
Soenandar ayahnya masih tergolong dari keluarga Sastrodarsono
Pada saat Jepang mulai masuk ke Indonesia, Lantip dikagetkan dengan sebuah teriakan
dari Pak Dukuh yang membawa kabar bahwa emaknya Ngadiyem meninggal dunia akibat
keracunan jamur, ia pun merasa sedih dan terpukul mendengar kabar itu. Sesudah selamatan
hari ketiga, Lantip dijemput kang Trimo untuk kembali ke Wanagalih. Selang beberapa hari,
Jepang sudah mulai berkuasa, peraturannya semakin ketat dan keras, semua masyarakat harus
bisa bahasa Jepang, sebelum proses pembelajaran dimulai semua guru dan siswa diwajibkan
untuk ikut menyembah Tuhan mereka, yaitu matahari. Namun, karena merasa sudah pensiun
dan tua, Sastrodarsono tidak mengikuti perintah itu, punggungnya sudah tidak bisa lagi
digerakkan menunduk. Kabar bahwa Sastrodarsono tak mau menunduk dan juga kabar bahwa
ia mendirikan sekolah liar akhirnya sampai ke telinga Tuan Sato, ia mendatangi rumah
Sastrodarsono dan memaki-makinya, alhasil Sastrodarsono pun mendapatkan hadiah
tempeleng dari si tuan Nippon. Kejadian itu membuatnya murung beberapa hari, sampai
akhirnya anak dan cucu hadir ke rumah untuk menghibur Sastrodarsono. Hardjojo anak kedua
Sastrodarsono pada saat itu melihat Lantip dan Gus Hari anaknya makin lama makin akrab,
apalagi ketika mereka berkunjung ke Wanagalih, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat
Lantip sebagai anak asuh.
Setelah pulang dari menghibur bapaknya, Noegroho sebagai anak pertama kembali
menjalani aktivitasnya menjadi seorang guru. Namun pada suatu hari tiba-tiba datang surat
panggilan untuk menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air). Akhirnya ia pun menyanggupi
panggilan itu dan harus berlatih di Bogor. Sesudah ia selesai menjalani latihan di Bogor, ia
akhirnya pulang dan mengajak anak, istri, serta adik-adiknya untuk berkumpul di Wanagalih
menjenguk orang tuanya. Mereka ingin sekali mendengar cerita dari Noegroho bagaimana
proses pelatihan menjadi tentara PETA. Pada waktu itu, Indonesia bisa dikatakan sedang
genting keadaan dan situasinya, muncullah pergerakan PKI yang bertindak dengan tak
berperikemanusiaan.
Ketika Lantip masih berada di Jakarta bersama keluarga Noegroho, ia mendapat kabar
bahwa eyang putri (Ngaisah, istri Sastrodarsono) meninggal dunia, mereka pun langsung
bergegas menuju Wanagalih. Ngaisah meninggal karena penyakit liver, ia tampak lebih muda
dan meninggal dengan sebuah senyum di bibir manisnya. Sastrodarsono merasa sangat sedih,
ia harus kehilangan seorang wanita yang sangat dicintainya, seorang wanita yang sudah
menemaninya selama kurang lebih lima puluhan tahun, seorang wanita yang selalu menjadi
sayap untuknya. Ngaisah meninggal pada saat berusia kurang lebih tujuh puluh tahun.
Sepeninggalannya eyang putri, kesehatan eyang kakung semakin memburuk. Suatu hari, pohon
nangka kesukaan Sastrodarsono akhirnya tumbang, ia memerintahkan keluarganya untuk
membagi-bagikan apa yang ada pada pohon itu, baik daun maupun buah dan batangnya. Pohon
nangka itu merupakan bukti sejarah hidupnya, dimana semua lika-liku perjalanan hidup ketika
di Wanagalih terekam oleh si pohon nangka. Peristiwa tumbangnya pohon nangka itu
dilanjutkan meninggalnya Sastrodarsono. Semua keluarga sangat sedih dan terpukul.
Ketika pemakaman, diharuskan pihak keluarga menyampaikan pidatonya, Noegroho
yang ditunjuk mewakili keluarga agar berpidato menyampaikan pesan dan kesan terhadap
bapaknya itu pun menolak, ia ingin agar generasi mudalah yang menyampaikan pidato itu, dan
ia menunjuk Harimurti, Harimurti yang merasa tidak pantas menyampaikan pidato akhirnya
menolak dengan halus dan mengusulkan agar Lantip yang menyampaikan pidato itu. Ia
menganggap bahwa Lantip adalah orang yang pantas berpidato, selama ini dialah orang yang
selalu membantu keluarga besar Sastrodarsono hingga Sastrodarsono meninggal. Pada
akhirnya Lantip yang mewakili keluarga Sastrodarsono untuk menyampaikan pidato selamat
jalan kepada Embah Kakung di makam itu.
Analisis Unsur Intrinsik
1. Tema
Tema novel Priyayi ini lebih kepada perjuangan priyayi sejati demi mengayomi
keluarga dan rakyat miskin.
2. Alur
Novel ini memiliki alur cerita maju mundur (Kilas balik) dengan sudut pandang orang
pertama. Namun uniknya tokoh yang ada di dalamnya seolah-olah bergantian bercerita.
3. Latar / Setting
Cerita ini memiliki latar tempat di desa kecil di tepi sungai Bengawan Solo yang
bernama Wanagalih. Diceritakan pula sebuah sketsa yang berlatar di Solo dan Yogya,
meskipun hanya sepintas. Suasana yang digambarkan sangat jelas, dengan menjelaskan
lekuk-lekuk tempat, titik-titik peristiwa, bahkan penggambaran itu sama persis dengan
aslinya(kenyataan) karena memang novel in diambil dari kehidupan nyata. Bahkan
dikisahkan pula peristiwa pemberontakan G 30 S PKI dengan latar alun-alun kota pada
masa itu, dengan suasana mencekam.
4. Penokohan
- Lantip, digambarkan sebagai laki-laki dengan watak tegas, bijaksana dan cerdas.
- Sastrodarsono, Eyang pembangun keluarga priyayi ini digambarkan dengan sosok
penuh wibawa, pejuang sejati, kebapakan, dan teguh pendirian.
- Ngaisah/Eyang putri digambarkan sangat sabar, keibuan, dan penuh kasih sayang.
- Noegroho, anak sulung dan seorang tentara Peta Yogya, digambarkan berwatak
keras. tegas dan berwibawa.
- Hardojo, anak kedua yang menjadi abdi dalem Mangkunegaran di Solo, ia
digambarkan sangat penyabar dan cinta tanah air.
- Soemini, anak bungsu yang memiliki prinsip hidup yang kokoh, digambarkan
sebagai wanita yang cerdas dan sangat mengutamakan pendidikan
- Harimurti, sosok yang mudah terhasud dan seniman yang memiliki citra rasa yang
tinggi.
Analisis Unsur Ekstrinsik
Novel ini menggambarkan kebudayaan lokal dengan penciptaan suasana, tempat,
budaya, gaya bahasa, alur dan banyak hal lainnya dengan sangat mendetail. Budaya Jawa
menjadi salah satu tolok ukur dan juga masalah yang diangkat dalam novel ini. Permasalahan
kelas dan kesenjangan sosial juga menjadi salah satu yang ditonjolkan dalam konflik-konflik
yang tercipta dari novel ini.
Rasa kekeluargaan yang tercipta membawa pembaca pada kehangatan hubungan
antartokoh. Biarpun sebenarnya cerita yang diusung Umar Kayam ini cukup monton, tetapi
karena penggambaran dan pembawaan ceritanya sangat menarik, novel ini berhasil membawa
pembaca pada rasa penasaran akan jalan ceritanya.
Melalui novel ini saya mendapatkan ilmu yang luar biasa bahwa priyayi itu bukan
dilihat dari darah birunya, bukan dari posisi dan jabatannya, melainkan dari sikap
kesungguhannya untuk melayani dan mengayomi rakyat. Ini menjadi pembelajaran dan contoh
bagi saya dalam bersikap dan mungkin sebaiknya para priyayi-priyayi diluar sana bisa
mencontoh hal ini dalam kehidupan nyata mereka.
2. Layar Terkembang
Judul buku : Layar Terkembang
Penulis : Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1936
Genre : Prosa fiksi
Tebal : 201 Halaman
Novel ini banyak membahas perjuangan dan segala permasalahan yang dihadapi oleh wanita
pada masa itu untuk mencapai cita-citanya. Oleh karena itu, novel ini menarik untuk dibahas
sebagai bentuk pengahragaan terhadap karya sastra yang menyuarakan hak-hak wanita.
Sinopsis :
Novel ini menceritakan tentang dua orang kakak beradik anak dari Raden Wiriatmadja
yang memiliki karakter sangat bertolakbelakang. Tuti, sang kakak, adalah seorang wanita yang
sangat idealis, serius, dan tegas. Ia juga anggota organisasi pergerakan wanita bernama Putri
Sedar. Tuti sering berorasi meneriakkan hak-hak wanita yang pada saat itu masih jauh dari
unsur emansipasi. Apapun yang dilakukan olehnya harus berdasarkan pemikiran yang matang
dan lugas. Sementara Maria, sang adik, ialah seorang wanita yang manis dan periang. Maria
lebih perasa dan lebih menyukai hal-hal feminim, seperti bunga dan novel-novel bertemakan
cinta.
Pada suatu hari, Tuti dan Maria pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat
akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan
perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di
Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura, Sumatra Selatan.
Dari pertemuan itu, mereka menjadi semakin lebih akrab terlebih pada Maria dan Yusuf.
Sepasang manusia itu sering berjalan-jalan dan bercakap-cakap bersama, hal itu membuat Tuti
dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan
persahabatan biasa. Hubungan Yusuf dan Maria pun mendapat lampu hijau dari R. Wiriaatmaja,
ayah Maria hingga mereka memutuskan untuk bertunangan. Sementara Tuti sendiri terus
disibuki oleh berbagai kegiatannya. Saat kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia s
berpidato mengenai emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti
untuk memajukan kaumnya.
Suatu hari, Maria tiba-tiba terserang Malaria. Suhu tubuhnya menjadi tak stabil dan
sering memuntahkan darah. Keadaannya membuat Ayah dan Kakaknya risau, selain khawatir
akan keadaannya, mereka juga khawatir jika Maria akan bernasib sama dengan Ibunya yang
meninggal karena penyakit yang sama Ditengah keadaan adiknya yang sedang memburuk itu,
Tuti dilamar oleh Supomo. Namun walaupun Tuti kagum kepadanya, ia tidak yakin untuk
menerima permintaan Supomo. Selain pada tidak ingin mengingkari prinsipnya sendiri, ia juga
tak ingin mengecewakan Supomo karena jika ia menerimanya, ia hanya menikah karena malu
akan usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun tetapi belum bersuami, bukan karena ia juga
mencintai Supomo.
Di samping itu, keadaan Maria semakin memburuk yang mengharuskannya untuk
menjalani rawat inap di Central Burgerlijk Ziekenhius di Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat. Ayah,
kakak, dan kekasihnya, bergantian untuk menjenguknya karena mereka semua masih sibuk dan
tak mungkin meninggalkan aktifitasnya di Jakarta untuk menemaninya disana dalam waktu
yang tidak bisa ditentukan. Namun keadaan Maria semakin lama semakin memburuk,
diperparah oleh TBC yang juga dideritanya. Hingga akhirnya, ia berpesan kepada Tuti dan
Yusuf untuk hidup bersama dan saling mencintai. "Alangkah berbahagia saya rasanya di
akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan
seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini..." begitulah pesan terakhir dari Maria
untuk kakak dan kekasihnya. Firasat Maria benar-benar terjadi, ia meninggal dunia. Untuk
menghormati Maria, Tuti dan Yusuf pun akhirnya memutuskan untuk menikah.
Analisis Unsur Intrinsik
1. Tema
Novel ini mengusung tema perjuangan para wanita Indonesia dengan disertai sedikit
bumbu-bumbu romansa.
2. Latar/Setting
Ada 6 setting cerita pada novel ini, yaitu :
Gedung akuarium pasar ikan
Rumah Wiriatmaja
Mertapura, Kalimantan Selatan
Rumah sakit di Pacet
Rumah Partadiharja
Gedung permufakatan
3. Alur = Maju.
4. Sudut pandang = Orang ketiga serba tahu.
5. Penokohan
Maria : seseorang yang mudah kagum,mudah memuji dan memuja,lincah dan
periang.
Tuti : Wanita yang selalu serius, jarang memuji, pandai dan cakap dalam
mengerjakan sesuatu.
Yusuf : Seorang mahasiswa kedokteran yang pandai dan baik hati.
Wiriaatmaja : Seorang ayah yang memegang teguh agama, baik hati, dan
penyayang.
Partadiharja : Adik Ipar Wiriaatmaja, seseorang yang baik hati, teguh pendirian,
dan peduli antar sesama.
Saleh : Adik Partadiharja, seorang lulusan sarjana yang sangat peduli akan alam
sehingga ia mengabdikan diri sebagai seorang petani.
Rukamah : Sepupu Tuti dan Maria, seseorang yang baik hati dan suka bercanda.
Juru rawat : Seorang yang baik hati.
Analisis Unsur Ekstrinsik
Novel Layar Terkembang menceritakan perjuangan para wanita Indonesia dalam
memperjuangkan emansipasi wanita lewat tokoh Tuti. Penceritaan itu dibarengi dengan kisah
romansa antara Yusuf dan Maria yang pada akhirnya menjadi Yusuf dan Tuti atas permintaan
Maria sendiri.
Sebagai novel yang terbit pada tahun 1936, Sutan Takdir Alisjahbana melalui Layar
Terkembang mencoba menyuarakan dan mewakilkan hak-hak wanita Indonesia akan
persamaan derajat dan keadilan. Oleh karena itu, bisa saya katakana novel ini memiliki nilai
berharga yang sepatutnya diapresiasi dan diilhami. Novel ini memberikan banyak inspirasi dan
membuka mata kita tentang kegigihan dalam berjuang yang dapat diaplikasikan dalam
kehidupan.
3. Salah Asuhan
Judul : Salah Asuhan
Penulis : Abdul Moeis
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1928
Genre : Roman
Tebal : 262 Halaman
Novel karya Abdul Moeis yang digadang-gadang sebagai pembaharu dalam kesusastraan
Indonesia ini menceritakan tentang seorang pemuda yang berasal dari Minangkabau yang
berperilaku kebarat-baratan hingga lupa akan adatnya sendiri. Novel ini diterbitkan pada tahun
1928 dan Abdoel Moeis pun ditempatkan orang pada pelopor Angkatan Balai Pustaka.
Sinopsis
Hanafi adalah pemuda asli Minangkabau, ia berpendidikan tinggi dan berpandangan
kebarat – baratan, karena sejak kecilnya diasuh dengan cara barat. Hanafi menjadi benci dengan
adatnya bahkan merendahkan bangsanya sendiri. Ia memiliki sahabat perempuan bernama
Corrie Du Busse yang merupakan seorang gadis cantik asal Belanda. Oleh karena sering
bersama, mereka menjadi saling mencintai, tetapi mereka tidak dapat bersatu karena adanya
perbedaan bangsa dan juga adat.
Corrie pun akhirnya pergi ke Betawi untuk menghindari Hanafi sekaligus meneruskan
sekolahnya. Kemudian ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yang merupakan
sepupu Hanafi. Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah untuk membalas budi pada
ayah Rapiah yang telah membantu membiayai sekolah Hanafi. Awalnya Hanafi tidak mau
karenaa ia hanya mencintai Corrie, namun pada akhirnya ia menuruti ibunya dan menikah
dengan Rapiah. Karena Hanafi tidak mencintai Rapiah sama sekali,ia hanya memperlakukan
Rapiah selayaknya babu bahkan anaknya yang bernama Syafei pun tidak dihiraukan dan
dianggap olehnya.
Oleh karena hidupnya yang tidak nyaman Hanafi sering berdebat dengan ibunya, suatu
hari saat ia sedang berdebat dengan ibunya tiba-tiba ia digigit oleh seekor anjing gila dan
mengharuskannya ke Betawi untuk berobat. Di Betawi Hanafi bertemu kembali dengan Corrie.
Hanafi pun menceraikan Rapiah melalui surat dan memutuskan untuk tidak kembali ke Solok.
Kemudian ia menikah dengan Corrie.Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak berjalan
baik, kehidupan mereka tidak bahagia. Suatu hari Hanafi menuduh Corrie berzina dengan
orang lain, karena sakit hati mendengar tuduhan suaminya, Corrie pun bercerai kemudian pergi
ke Semarang dan menjadi pegawai Panti Asuhan. Hanafi merasa bersalah kepada Corrie hingga
ia pergi ke Semarang untuk menemui Corrie di rumah tumpangan Corrie. Namun, Corrie
tengah dirawat di rumah sakit karena penyakit kolera yang di deritanya. Tak berselang lama
akhirnya Corrie meninggal dunia selang beberapa waktu Corrie meninggal dunia. Hanafi pun
mengetahuinya, ia sangat sedih, merasa bersalah, dan depresi. Kemudian ia memutuskan untuk
pulang ke Solok untuk menemui ibunya, hingga pada suatu hari ia meminum sublimat untuk
mengakhiri hidupnya.
Analisi Unsur Intrinsik
1. Tema
Tema yang disusung pada novel ini ialah pertentangan kultur antara budaya barat &
timur.
2. Alur : Maju
3. Sudut pandang : Orang ketiga
4. Latar/Setting
Solok, Sumatera Barat
Kota Anau / Rumah Gadang
Kota Padang
Kota Semarang
Bandung
5. Penokohan
Hanafi : Pemuda terpelajar berwatak keras, emosional, dan sombong.
Corrie Du Busse : Gadis Belanda cantic berperangai keras, manja, sopan, dan
ramah.
Rapiah : Seorang gadis asal Solok, sepupu Hanafi yang juga menjadi isterinya.
Berwatak sabar & setia.
Mariam : Ibu Hanafi yang berwatak pekerja keras, sabar, dan pemaaf.
Tuan Du Busse : Ayah Corrie. Berkepribadian sopan, ramah, dan sangat
menghormati budaya timur meskipun ia sendiri berkebangsaan Belanda.
Syafei : Anak Hanafi dan Rapiah, berperangai lugu & lucu layaknya anak-anak.
Nyonya Van Dammen : Seorang wanita yang baik hati kepada Corie, ketika Corie
berusaha menghindar dari Hanafi.
Tante Lien : Seorang wanita betawi yang merupakan tetangga corrie pada saat ia
menikah dengan hanafi. Berkepribadian baik dan penyayang.
Tuan Direktur : Seorang laki-laki yang merupakan direktur di tempat Corrie
bekerja. Berperangai baik dan ramah.
Analisis Unsur Ekstrinsik
Setelah membaca roman ini, ada banyak amanat yang bisa saya dapatkan, baik secara
tersirat maupun secara tesurat. Abdul Moeis ingin mengingatkan pembaca untuk tetap memiliki
akar yang kuat terhadap kebudayaan bangsa sendiri dan tidak menjadi anak durhaka dengan
melawan orang tua. Roman pertama Abdul Moeis ini jelas hendak mempetanyakan kawin
campur antar bangsa. Dalam roman ini, tampak jelas mempersoalkan kawin antar bangsa yang
tidak menghasilkan kebahagiaan. Jadi selain merupakan bacaan umum, roman “ Salah Asuhan
“ juga merupakan bacaan wajib para pelajar.
4. Ladang Perminus
Judul : Ladang Perminus
Penulis : Ramadhan KH
Penerbit : PT Pustaka Utama Grafiti Jakarta
Tahun : 1990
Genre : Novel Konstektual
Tebal : 328 Halaman
Ladang Perminus merupakan sebuah novel konstektual yang menceritakan satu sisi suram
kehidupan masyarakat Indonesia pada zamannya. Ladang Perminus merupakan refleksi dari
kasus korupsi di Pertamina sekitar tahun 1976 yang menghabiskan sebesar satu setengah triliun
dolar Amerika. Sepanjang kisahnya, novel tersebut mengajak pembaca menelusuri kesaksian
seorang sastrawan yang prihatin terhadap kenyataan busuk negerinya.
Sinopsis
Novel Ladang Perminus menceritakan nasib seorang tokoh bernama Hidayat, orang
yang melawan arus dan tidak dapat menutup mata dari tindakan korupsi yang dilakukan oleh
atasannya. Hidayat, sebagai staf teladan di Perminus (Perusahaan Minyak Nusantara),
mencoba melawan korupsi yang terjadi di perusahaan. Ia bersikeras menuruti perintah hati
nuraninya sekalipun ia harus berjudi dengan kariernya sebagai calon Gubernur Jawa Barat.
Ketika ia mengetahui bahwa atasannya, Kahar, mendapat suap puluhan juta dari salah satu
perusahaan Eropa, Hidayat memberontak. Sebagai konsekuensi pemberontakan tersebut,
Hidayat terpaksa berhenti bekerja di Perminus dan dukungan pencalonannya sebagai Gubernur
Jawa Barat dicabut oleh seorang Panglima Jawa Barat setelah berunding dengan orang-orang
penting di Jakarta. Tidak lama kemudian, Kahar meninggal dunia akibat serangan jantung.
Hasil korupsi yang disimpannya di salah satu bank menjadi sengketa antara janda Kahar dan
Perminus. Pengganti Direktur Utama Perminus adalah Subarkah, pegawai Perminus yang
selalu menyesuaiakan diri kepada keadaan. Yang tertinggal pada diri Hidayat hanyalah harapan
bahwa generasi yang akan datang akan hidup dalam suatu keadilan, jujur, dan tanpa korupsi.
Analisis Unsur Intrinsik
1. Tema : Konstektual yang menceritakan realitas akan maraknya sebuah korupsi.
2. Alur : Maju
3. Sudut pandang :
4. Lattar/Setting
Perusahaan Minyak Nusantara
Daerah Jawa Barat
Singapura
5. Penokohan
Hidayat digambarkan sebagai seorang lelaki yang berwatak jujur, idealis, dan
pekerja keras.
Ikhlasari, istri Hidayat yang penyabar, tegar, dan tabah.
Kahar, seorang direktur utama yang mempunyai sifat tamak, licik, dan jahat.
Analisis Unsur Ekstrinsik
Selayaknya novel konstektual, novel Ladang Perminus membahas masalah moral dan
integritas yang ingin memberikan pesan kepada pembaca agar pembaca dapat meresapi
kesadaran umum. Novel ini mengandung banyak sejarah kemasyarakatan, sosial-politik,
sosial-ekonomi, dan sosial-budaya yang mengingatkan pembaca pada tahun 1970-an. Apabila
ditelisik lebih dalam kita akan tahu bahwa karya sastra ini ditulis dengan penuh keberanian,
sering sangat polos dan jujur, ada tanggung jawab yang penuh, serta tidak mengada-ada atau
pura-pura.
Fenomena korupsi dan manipulasi terpapar gamblang dengan deskripsi yang tidak
berliku-liku. Novel tersebut menampilkan tampang para atasan yang kaku, gugup, dan mudah
naik darah serta Hidayat sebagai tokoh utama yang selalu menolak tanda terima kasih para
kliennya dengan gaya seorang asketik abad pertengahan.
Tema atau soal yang dibicarakan dalam Ladang Perminus tetap aktual di Indonesia hingga saat
ini. Hal tersebut membuat Ladang Perminus penting untuk dibaca dan dijadikan bahan untuk
diskusi. Novel yang membicarakan tema cerita aktual belum pasti menjadi novel besar apabila
tidak ditulis dengan gaya sastra yang matang, tetapi Ladang Perminus memenuhi syarat-syarat
tersebut.
5. Bumi Manusia
Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta Timur
Tahun : 1980
Tebal : 525 Halaman
Bumi Manusia merupakan novel pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer
yang terbit pertama kali pada pertengahan tahun 1980. Bumi Manusia lahir semasa
pengasingan Pramoedya di Pulau Buru. Novel Bumi Manusia adalah salah satu karya besar
dalam ranah sastra Indonesia, diciptakan oleh seorang sastrawan tanah air yang memang
mengabdikan diri dan hidupnya untuk membuat sebuah rencana keabadian lewat tulisan. Buku
dengan tebal 535 halaman ini menjadi sebuah mahakarya yang menjadi warisan histori terbaik
bagi tanah air Indonesia, menceritakan kehidupan bangsa Indonesia pada periode 1898 sampai
1918 yang mana pada masa itu adalah masa-masa berkembangnya pemikiran Politik Etis dan
awal Kebangkitan Nasional.
Sinopsis
Bumi Manusia menceritakan seorang kisah pemuda pribumi bernama Minke. Minke yang
bernama asli Tirto Adhi Soerjo bersekolah di H.B.S yaitu sekolah setingkat dengan Sekolah
Menengah Akhir (SMA) dan hanya diperuntukan bagi orang Eropa, Belanda, dan Elite Pribumi.
Kisah ini berawal saat suatu hari Minke mendapat tantangan dari temannya bernama Robert
Surhoof untuk ke Wonokromo mendatangi seorang gadis cantik Indo-Eropa, yaitu Annelies
Mellema. Namun setelahnya Minke dan Robert Surhoof menjadi seorang rival karena sama-
sama menyukai gadis tersebut. Akan tetapi ternyata Annelies juga menyukai Minke dan
akhirnya mereka menjadi semakin dekat.
Kedekatan antara Minke dan Annelies membuat Minke diterima dan menjadi dekat dengan
keluarga Mellema. Nyai Ontosoroh, ibu Annelies juga menyambut hangat keberadaan Minke.
Mereka semua menjadi semakin dekat, kecuali Robert Mellema yang masih tak sudi berteman
dengan seorang pribumi seperti Minke.
Di tengah banyaknya hambatan dan tantangan yang cukup banyak, Minke tetap bersikeras
mendapatkan Annelies. Hal itu sebanding dengan banyaknya tantangan di luar sana sebab
Annelies adalah seorang wanita nan cantik jelita, mempunyai pribadi yang lembut dan baik.
Hal ini terbukti melalui sikapnya yang mampu mengelola perusahaan dengan Nyai Ontosoroh,
selaku ibunya. Setelah melewati berbagai hambatan dan rintangan yang amat panjang serta
rumit, akhirnya Minke dan Annelies menikah, mereka hidup bahagia, karier yang Minke jalani
pun meningkat dengan sangat baik. Minke juga sudah lulus dari sekolahnya, yaitu H.B.S
dengan peringkat yang memuaskan. Padahal, sebelumnya Minke sempat diberhentikan oleh
sekolah sebab berbagai macam tuduhan atas dirinya yang telah melakukan hal tidak pantas
dengan seorang Nyai. Akan tetapi, semua itu berhasil ia lalui dan hadapi. Namun masalah tidak
berhenti disana, masalah-masalah baru mulai muncul mulai dari perseteruan warisan keluarga
Mellema yang ada di Belanda hingga Annelies yang akan dibawa ke Belanda.
Analisis Unsur Intrinsik
1. Tema novel Bumi Manusia adalah roman percintaan seorang pemuda keturunan
pribumi Jawa dengan seorang gadis keturunan Belanda serta perjuangannya di tengah
pergerakan Indonesia awal abad ke 20.
2. Alur cerita novel ini ialah maju.
3. Sudut pandang pada novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama “Aku”.
4. Latar / Setting
Latar pada novel ini bertempat di Wonokromo dekat Surabaya, Jawa Timur. Sementara
seting cerita dalam latar tahun 1918.
5. Penokohan
Minke atau yang juga sering dipanggil Sinyo adalah seorang murid di H.B.S.
Minke digambarkan sebagai seorang pemuda yang pandai, pintar berargumen
secara logis, dan penuh kehormatan. Minke adalah seorang penulis.
Annelies Mellema, merupakan gadis cantik Eropa-Pribumi yang pemalu dan
lugu namun cerdas. Ia ia adalah gadis berdarah campuran, tetapi gaya
berpakaiannya kerap bergaya busana Jawa sebab dirinya senang memakai batik.
Nyai Ontosoroh adalah seorang Nyai atau gundik Eropa. Ia adalah seorang istri
dari Tuan Mellema. Akan tetapi, mereka tidak terikat dengan pernikahan yang
sah, baik secara agama maupun hukum. Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai
wanita yang cerdas, bijaksana, mempunyai adab baik, mahir berbahasa Belanda,
memiliki sikap terbuka, dan seorang pekerja keras.
Robert Surhoof adalah seseorang yang gemar merendahkan orang, menghina,
dan bisa dikatakan suka jahat terhadap orang lain. Namun, ia adalah salah satu
sahabat dekat dari Minke.
Robert Mellema digambarkan sebagai seorang laki-laki berparas tampan
dengan tubuh tinggi yang selalu bergelimang dengan kemewahan, selalu
berpenampilan wangi,dan rapi. Ia senang berlaku sewenang-wenang dan
terkadang berlaku jahat.
Darsam, adalah seorang pelayan dari Raden Mas Sinyo Minke yang
diperintahkan oleh Nyai Ontosoroh untuk menjemput dan mengantar Minke
ketika hendak pergi atau selepas dari pekerjaannya.
Juffrow Magda Peters adalah guru sastra yang selalu menguatkan Minke di
sekolah. Magda Peters adalah perempuan yang Minke kagumi.
Jean Marais, adalah pelukis sekaligus sahabat Minke yang berasal dari Prancis.
Dia adalah orang yang selalu didatangi Minke untuk hal apa pun.
Miriam De La Croix, adalah orang asing yang jadi sahabat pena Minke. Setelah
obrolannya di rumah bersama Sarah dan Miriam, Minke selalu mengagumi
pemikirannya.
Analisis Unsur Ekstrinsik
Novel Bumi Manusia adalah sebuah mahakarya besar dalam dunia sastra. Novel ini
banyak menceritakan perjuangan-perjuangan kemerdekaan yang dibumbui dengan sebuah
kisah percintaan antara seorang pribumi dan Belanda. Kisah percintaan ini sekaligus
mencerminkan bagaimana diskriminasi yang terjadi terhadap para pribumi Jawa. Melalui novel
ini pula kita bisa belajar sejarah dengan lebih murni sebab novel ini menceritakan bagaimana
kondisi yang sebenarnya terjadi pada masa itu, karena hal itulah mengapa novel ini dianggap
sebagai karya sastra yang nekat dan penuh keberanian. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran
Pram sebagai penulisnya.
Selain menambah wawasan sejarah bagi para pembaca, novel Bumi Manusia juga
memberikan amanat secara tersirat untuk terus peduli terhadap kemanusiaan dan melakukan
perjuangan-perjuangan melalui tulisan sebab melalui tulisan kita akan terus hidup hingga jauh
di kemudian hari.
3
ANALISIS CERPEN
1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Pengarang : Umar Kayam
Tema : Romansa dan perselingkuhan
Alur : Maju
Tokoh : Marno, Jane, Tomy.
Latar
1. Tempat : Manhattan, Apartemen Jane
2. Waktu : Pada malam hari
3. Suasana : Menegangkan dan membosankan.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Pembauran Dua Budaya dalam Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya
Umar Kayam
Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dikarang oleh salah satu sastrawan
pelopor di Indonesia, yaitu Umar Kayam. Diterbitkan oleh PT. Pustaka Utama Grafiti pada
tahun 2003 dan masih banyak dikenal hingga sekarang.
Secara garis besar, cerpen ini menceritakan akan kisah hubungan asmara gelap antar
Marno dan Jane. Marno sebenarnya memiliki seorang istri di negaranya, Indonesia dan Jane
sendiri adalah seorang perempuan bebas tanpa ikatan perkawinan sebab ia telah berpisah
dengan mantan suaminya. Marno dan Jane memiliki sifat yang saling berlainan. Hal ini
dikarenakan latar belakang budaya yang berbeda antara Marno dan Jane. Latar belakang
budaya yang berbeda dari kedua tokoh penting inilah yang menarik untuk dibahas.
Melalui tokoh Marno, Umar Kayam menggambarkan seorang laki-laki yang berwatak
ketimuran. Hal ini berbanding terbalik dengan tokoh Jane yang berwatak kebaratan. Uniknya
dua tokoh yang berlatarbelakang berbeda ini dijadikan sebagai pasangan, lewat hal tersebut
Umar Kayam berhasil memunculkan sebuah konflik-konflik dalam cerpennya. Seperti saat
Marno teringat pada kunang-kunang yang ada pada sawah embahnya dan Jane mengejeknya,
lalu pada saat Jane mengajak Marno menginap dirumahnya tetapi Marno menolaknya untuk
menghindarkan diri dari perbuatan Zina. Konflik-konflik seperti itu pada mulanya diakibatkan
oleh perbedaan nilai-nilai yang dikandung oleh Marno dan Jane. Marno yang berasal dari
Indonesia tentu sangat terikat norma dan memegang teguh budaya Timur, hal ini sering
bertentangan dengan watak Jane yang bebas dan tidak terikat norma layaknya budaya Barat.
Dua budaya yang ditampilkan pada cerpen ini pada akhirnya menimbulkan pembauran
budaya antara Timur dan Barat. Pembauran dua budaya tersebut akan menjadikan interaksi
sosial budaya keduanya yang akan menyimpulkan pandangan Umar Kayam sebagai pengarang
cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Perbedaan dua budaya yang ditampilkan dalam
cerpen ini memberikan pandangan yang lebih luas akan nilai-nilai budaya yang diberikan
secara tersirat pada novel ini. Terlebih, kisah romansa yang dibumbui nilai-nilai budaya
membuat cerpen ini menjadi semakin menarik.
2. Robohnya Surau Kami
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Robohnya Surau Kami
Pengarang : Ali Akbar Navis
Tema : Keagamaan dan spiritualisme
Alur : Mundur
Tokoh : Aku, Kakek, Ajo Sidi, Haji Saleh
Latar
1. Tempat : Di Surau, di kota, di dekat pasar, di neraka.
2. Waktu : Saat tokoh Aku berbincang dengan Kakek, saat Ajo Sidi menceritakan Haji
Saleh di neraka.
3. Suasana : Menegangkan.
Sudut pandang : Orang pertama
Gaya bahasa : Menggunakan majas sinisme, parabola, dan beberapa kata Islami.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Satire dalam Cerpen Keagamaan Robohnya Surau Kami
Cerpen Robohnya Surau Kami ditulis oleh A.A Navis dan pertama kali terbit pada
tahun 1956 bersamaan dengan antalogi-antalogi cerpennya yang lain. Cerpen ini menceritakan
dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya
beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam
dunia sastra Indonesia.
Cerpen ini memiliki nilai-nilai keagamaan yang diberikan secara tersirat dan penuh
sindiran. Penulis menginterpretasikan seseorang yang gila ibadah dan mengesampingkan dunia
nyata serta hanya mementingkan dirinya sendiri dibalik kata agama hingga nilai-nilai
kemanusiaan diabaikan melalui peran Haji Saleh yang biasa dipanggil kakek. Ajo Sidi, seorang
pembual yang melalui cerita bualannya akhirnya memengaruhi Kakek hingga melakukan
bunuh diri memegang peran penting dalam cerpen ini. Melalui cerita bualan Ajo Sidi inilah
sindiran halus kepada pemuka agama yang hanya mementingkan dirinya sendiri dibalik kata
agama bisa tersampaikan. Ajo Sidi bercerita mengenai sebuah kisah seorang haji yang tidak
diterima disurga, ia seorang haji yang rajin beribadat, segalanya ia lakukan untuk Tuhannya.
Namun ia diberikan tempat di neraka. Hal itu karena ia hanya mementingkan dirinya sendiri,
ia tak pernah berbuat hal lain selama di dunia. Orang-orang semacam itu selalu beribadah,
tetapi mengabaikan kemanusiaan pada orang lain. Itulah mengapa mereka dianggap sebagai
orang egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Di sinilah letak satire itu berada yaitu
berupa kritik dan sindiran halus mengenai realitas keagamaan yang terjadi saat ini.
Walaupun cerpen ini berisi satire mengenai realitas keagamaan yang terjadi saat ini,
tetapi para pembaca secara praktis akan mendapatkan amanat tersirat untuk saling mengasihi
sesama. Jangan hanya mementingkan diri sendiri dibalik kata agama, tetapi rangkul lah semua
orang dengan agama.
3. Sesaat Sebelum Pulang
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Sesaat Sebelum Pulang
Pengarang : Puthut Eko Arianto
Tema : Masalah keluarga.
Alur : Campuran.
Tokoh : Aku, Jendra, Risa, Mita.
Latar :
1. Tempat : Di kamar dan restaurant.
2. Waktu : Pagi hari.
3. Suasana : Sedih, marah, dan penuh penyesalan.
Sudut pandang : Orang pertama.
Gaya bahasa : Lugas namun beberapa menggunakan bahasa kiasan.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Realitas dan Kritik Sosial pada Cerpen Sesaat Sebelum Berangkat
Cerpen Sesaat Sebelum Berangkat adalah salah satu cerpen yang ditulis seorang penulis
dan penyair terkenal bernama Puthut EA. Cerpen ini menggambarkan realitas sosial yang
terjadi pada masa sekarang. Tentang orang tua yang selalu memaksakan kehendek dan
menuntut segala hal pada anaknya, padahal setiap anak itu berhak memilih apa yang
diinginkannya bukan semata-mata keterpaksaan dari para orang tua yang selalu bersembunyi
dibalik kata bahwa ini semua demi kebaikannya.
Cerpen ini kurang lebih menceritakan kakak beradik yang bertemu untuk membahas persoalan
yang cukup menegangkan. Ini tentang Jendra, anak dari kakak perempuan dari tokoh Aku. Risa,
kakak perempuannya marah dan bertanya kepada si tokoh Aku alasan mengapa Jendra kabur
kerumahnya. Di sini, tokoh Aku ingin menyampaikan hal penting mengenai isi hati Jendra.
Namun Risa tetap keras kepala dan tidak peduli sedikit pun. Ia tak mendengarkan apa yang
dikatakan adiknya, bahkan menghinanya. Tokoh Aku yang tak bisa menahan emosinya
memilih untuk tidak menyampaikan hal penting yang ingin disampaikannya mengenai Jendra,
ia khawatir kakaknya akan lebih semakin marah dan akan menghinanya dengan parah. Maka
ia menyimpannya sendiri. Akan tetapi hal itu menjadikannya diselimuti perasaan terpukul dan
bersalah sebab ternyata Jendra memilih menyerah. Ia meninggalkan harapannya beserta
dunianya.
Cerpen ini memang menggambarkan realitas yang ada pada saat ini. Oleh sebab itu,
cerpen Sesaat Sebelum Pulang dapat menjadi pembelajaran untuk para orang tua yang
membacanya agar tidak memaksakan kehendak pada anak. Biarkan anak memilih pilihannya
karena ia punya dunianya sendiri dan kelak ia akan bertanggung jawab pada hidupnya atas
pilihannya. Orang tua hanya berkewajiban mengantarkan dan mendampingi anak, selebihnya
si anak sendiri yang memegang kemudi atas hidupnya. Terlepas dari semua itu, cerpen karya
Puthut EA ini merupakan cerpen yang begitu luar biasa. Kritik sosial mengenai orang tua yang
sering memaksakan kehendaknya pada anak bisa tersampaikan dengan melalui cerita yang
menarik.
4. Sungai
Judul : Sungai.
Pengarang : Nugroho Notosusanto.
Tema : Perjuangan dan keikhlasan dalam merelakan.
Alur : Maju.
Tokoh : Sersan Kasim, Acep, Komandan, dan para prajurit.
Latar
1. Tempat : Di sungai dan di sebuah desa.
2. Waktu : Malam hari dan pagi hari.
3. Suasana : Haru dan menegangkan.
Sudut pandang : Orang ketiga serba tahu.
Gaya bahasa : Lugas dan penuh makna.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Kisah Inspiratif yang Mengobarkan Semangat Perjuangan
Cerpen Sungai ditulis oleh Nugroho Notosusanto dan diterbitkan oleh Kumpulan
Cerpen Rasa Sayange pada tahun 1998. Judul Sungai berasal dari latar cerita yang berada di
Sungai Serayu, sungai terbesar di Jawa Tengah.
Mengambil latar pada saat Agresi Militer terjadi, cerpen ini menceritakan tentang
seorang prajurit bernama Sersan Kasim yang begitu menginspiratif. Sersan Kasim adalah
Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di
Jawa barat. Ditengah tanggung jawabnya sebagai ketua regu, ia juga memiliki tanggung jawab
yang tak kalah penting bagi dirinya sendiri. Di tubuhnya bagian kiri ia menggendong Acep,
anak laki-lakinya yang ditinggalkan oleh ibunya sehari setelah kelahirannya karena semua
tenaganya sudah habis ia pertaruhkan demi kehidupan anaknya. Kini Acep adalah bayi tanpa
ibu yang terpaksa ikut ayahnya menjalankan misi. Sersan Kasim tak ingin menitipkan anaknya
karena Acep adalah satu-satu harta berharga miliknya. Peninggalan isterinya yang akan ia
tunjukkan pada orang tua dan mertuanya. Oleh karena itulah Kasim ingin menjaga Acep
dengan sebaik-baiknya. Keyakinannya itu ia tunjukkan pada Komandan Peleton, ia
meyakinkan bahwa Acep tidak akan menangis dan dengan itu Komandan Peleton mengizinkan
Sersan Kasim untuk membawanya.
Pada mulanya semua berjalan baik, hingga pasukan menuruni sungai. Air naik hingga
ke dada, hal ini membuat Sersan Kasim harus bersusah payah meninggikan Acep dan juga
senjata yang dipikulnya. Namun meski sudah bersusah payah, Sersan Kasim tetap tersperosok
ke dalam lubang pada alas sungai dan mengakibatnya terhuyung-huyung. Pada saat itu tiba-
tiba Acep menangis. Tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya, tetapi tangis Acep telah
berhenti dan pasukan kembali melanjutkan penyeberangannya. Namun ternyata, tangis Acep
terhenti untuk selamanya.
Ada banyak nilai yang dapat diambil pembaca dari cerita ini, salah satunya adalah semangat
perjuangan dan rasa cinta tanah air. Sersan Kasim rela mengorbankan anak satu-satunya demi
keselamatan para prajuritnya, semangat perjuangannya begitu menggebu untuk negara
kesatuan republic Indonesia. Sersan Kasim juga memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi
hingga pada saat ia kehilangan Acep, anaknya, ia tetap mampu melanjutkan perjalanan demi
sebuah kewajiban tugas negara. Nilai-nilai dari cerita inspiratif inilah yang patut kita tiru dalam
kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia.
5. Joshua Karabish
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Joshua Karabish.
Pengarang : Budi Darma.
Tema : Perjuangan hidup.
Alur : Campuran.
Latar
1. Tempat : Kamar loteng.
2. Waktu : -
3. Suasana : Takut, kesal, iba.
Sudut pandang : Orang pertama serba tahu.
Gaya bahasa : Lugas.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Hidup Abadi Lewat Puisi seperti Tokoh Joshua Karabish
Cerpen berjudul Joshua Karabish adalah salah satu cerpen yang ada pada buku antalogi
cerpen karya Budi Darma. Cerpen ini diterbitkan perdana pada tahun 1980, bersamaan dengan
cerpen-cerpen lain oleh Noura Books pada buku Orang-Orang Bloomington.
Diceritakan Joshua Karabish adalah seorang teman dari tokoh Aku yang penyakitan
dan menumpang tinggal bersama tokoh Aku. Ia sangat gemar menulis puisi, tetapi meski begitu
ia tak pernah mau membacakan puisi-puisinya, hanya si tokoh Aku inilah yang mengetahuinya.
Suatu hari, Joshua pergi mengunjungi ibunya dan tak lama setelah itu datang sebuah surat yang
mengatakan bahwa Joshua telah meninggal karena penyakitnya. Surat itu berasal dari ibu
Joshua yang didalamnya juga menaruh harapan pada tokoh Aku untuk berkenan mengirimkan
barang-barang Joshua dan apabila tokoh Aku tidak memiliki cukup uang untuk mengirimkan
barang tersebut, ibu Joshua menyarankan untuk menyumbangkan atau membuangnya saja.
Akan tetapi, tokoh aku menyanggupi untuk mengirimkan barang-barang Joshua. Pada saat
itulah tokoh Aku menemukan buku milik Joshua yang berisi puisi-puisinya, buku itu sengaja
ditinggalkan oleh Joshua, sementara buku yang lain dibawanya pulang. Bersamaan dengan itu,
tokoh Aku mulai mengalami gejala-gejala penyakit yang sama dengan Joshua. Ia merasa takut
dan was-was, tetapi ia masih menyempatkan untuk menulis ulang puisi-puisi Joshua sebelum
dikirimkannya pada sebuah perlombaan. Ternyata puisi Joshua menjadi salah satu puisi yang
dipilih oleh juri dan tokoh Aku sebagai pengirim yang menulis puisi-puisi itu atas namanya
pun diundang pada sebuah acara yang akan mengumumkan pemenang-pemenangnya. Namun
sayangnya, ia tak bisa dating karena merasa bersalah telah mengakui puisi orang lain sebagai
miliknya. Selain itu ia juga merasa bahwa penyakit yang mungkin ditularkan oleh Joshua
Karabish ini semakin parah pada dirinya.
Salah satu novel Budi Darma pada buku antalogi cerpen berjudul Orang-Orang Bloomington
ini secara khusus menggambarkan ironinya kehidupan seseorang yang ditokohkan sebagai
Joshua Karabish. Penulis berhasil membuat pembaca merasa jijik dan kasihan secara
bersamaan pada tokoh Joshua yang diggambarkan sebagai seorang penyakitan yang
menumpang hidup pada orang lain. Pada mulanya Joshua tinggal di apartemen, tetapi ia diusir
oleh teman-temannya yang merasa jijik dengan penyakitnya. Di sinilah tampak kecenderungan
bahwa orang yang mengidap penyakit adalah orang yang nista dan harus dijauhi, padahal
seharusnya tidak demikian. Selain itu, hal menarik untuk disoroti pada novel ini adalah
bagaimana kecintaan Joshua pada dunia sastra, ia menulis puisi dan ia hidup lewat puisi.
Cerpen ini memberikan amanat untuk terus berjuang apapun yang terjadi, secara tersirat cerpen
ini memberikan pesan bagi para pembaca untuk terus berkarya karena dengan karya kita bisa
hidup abadi di dalamnya.
4
ANALISIS NASKAH DRAMA
1. Naskah Drama RT Nol Rw Nol
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : RT Nol RW Nol.
Pengarang : Iwan Simatupang.
Tema : Perjuangan hidup.
Tokoh : Kakek, Pincang, Ana & Ina, Bopeng, Ati, Tukang Becak, Babah Gemuk.
Alur : Maju.
Latar
1. Tempat : Kolong jembatan
2. Suasana : Menyedihkan, mengenaskan, prihatin, dan penuh sindiran.
3. Waktu : Malam hari dikala hujan.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Realitas Sosial yang Menyedihkan dalam Naskah Drama RT Nol RW Nol
Naskah drama yang berjudul RT Nol RW Nol dikarang oleh sastrawan pelopor angkatan
45, Iwan Simatupang. Naskah tersebut memiliki tema perjuangan sekelompok orang untuk
mendapatkan kehidupan yang layak, hal ini terlihat dari dialog-dialognya yang idealis dan
menonjolkan sikap pantang menyerah. RT Nol RW Nol menggambarkan sebuah kehidupan
menyedihkan dari para gelandangan yang hidup dibawah kolong jembatan, tanpa kehidupan
yang jelas, dan tanpa alamat yang pasti. Hal ini dilukiskan Iwan Simatupang melalui naskah
yang ia beri judul RT Nol RW Nol yang berarti tidak memiliki alamat jelas, tidak memiliki kartu
penduduk, dan tidak tercatat di sistem kependudukan. RT Nol RW Nol ialah sebuah simbol dari
para gelandangan yang terabaikan negara dan masyarakat.
Penokohan dalam cerpen ini merepresentasikan sebuah kritik sosial, semua peran
dalam naskah drama ini membawa sebuah realitas sosial yang ditafsirkan pada kritik sosial.
Seperti contohnya pada peran Kakek yang digambarkan sebagai seorang tunawisma yang pada
masa tuanya tidak mendapatkan kesejahteraan, lalu pada peran Pincang dan Bopeng yang
didiskriminasi pada pekerjaan dikarenakan kondisi fisiknya yang cacat, dan peran Ana-Ani
yang harus menjual dirinya untuk tetap hidup. Semua peran yang ada dalam cerpen ini adalah
gambaran realitas sosial yang menyedihkan sekaligus kritik akan kesejahteraan sosial di
Indonesia yang tidak didapatkan oleh semua orang. Semua peran dalam naskah drama ini
berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak agar tidak terus-terusan menggelandang di
bawah kolong jembatan yang apabila hujan akan kedinginan dan apabila panas akan kepanasan.
Mereka berjuang untuk mendapatkan KTP sebagai sebuah tanda pengakuan warga negara.
Mereka ingin diakui sebagai warga negara yang terlihat keberadaanya dengan alamat menetap
yang dapat dituju.
Naskah drama ini merupakan sebuah penggambaran jelas akan realitas sosial yang ada
pada masyarakat Indonesia, bahwa tidak semua masyarakat sejahtera dan tidak semua orang
mendapatkan pengakuan akan keberadaanya. Terlepas dari semua realitas-reealitas tersebut,
naskah drama ini memberikan pesan kepada para pembaca untuk terus berjuang demi
mendapatkan kehidupan yang layak, jangan pernah menyerah pada kehidupan yang buruk dan
selalu hadapi semua yang terjadi.
2. Naskah Drama Bila Bertambah Malam
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Bila Malam Bertambah Malam.
Pengarang : I Gusti Ngurah Putu Wijaya (Putu Wijaya).
Tema : Kelas sosial.
Tokoh : Gusti Biang, Nyoman, Wayan, Ratu Ngurah.
Alur : Maju.
Latar
1. Tempat : Rumah kediaman Gusti Biang.
2. Suasana : Menegangkan dan penuh amarah.
3. Waktu : Malam hari.
b. Analisis Unsur Ekstrinsik
Penggambaran Kasta dalam Naskah Drama Bila Malam Bertambah Malam
Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam ditulis oleh seorang sastrawan terkenal
yang berasal dari Bali bernama I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang biasa dikenal Putu
Wijaya . Dalam naskah drama ini Putu Wijaya membaurkan sebuah budaya kasta dengan
sedikit memasukkan bumbu cerita perjuangan pada masa perang puputan. Tema naskah drama
ini menggambarkan sebuah persoalan status sosial.
Naskah drama ini menceritakan tentang seorang janda bangsawan bernama Gusti Biang.
Gusti Biang digambarkan sebagai wanita yang angkuh dan sombong, ia masih sangat
mengagung-agungkan kasta dan menganggap yang lainnya lebih rendah darinya. Ia memiliki
pembantu keluarga yang telah mengabdi cukup lama, pembantu itu ialah Wayan dan Nyoman.
Namun Gusti Biang selalu membuat masalah dengan kedua pembantu tersebut, suatu ketika ia
mengusir Nyoman yang telah merasa terhina karena selalu direndahkan olehnya. Ia bahkan
membuat sebuah hutang atas semua keperluan dan biaya yang dikeluarkan sejak ia memungut
Nyoman dari jalanan. Gusti Biang tambah dibuat marah saat mengetahui anaknya, Ratu Ngurah
ternyata selama ini menjalin hubungan dengan Nyoman. Ia kemudian menuduh Wayan karena
dianggap telah menghasut anaknya, Wayan yang merasa terfitnah dan terhina akhirnya juga
memutuskan untuk pergi. Akan tetapi Ratu Ngurah menahannya saat hendak pergi, pada saat
itulah semua kebenaran yang selama ini ditutup-tutupi akhirnya terungkap. Wayan
menceritakan semua kebenaran akan kebohongan Gusti Biang, termasuk kebenaran akan Ratu
Ngurah yang ternyata adalah anaknya karena dahulu ia menjalin hubungan dengan Gusti Biang
dan hal itu juga yang menjadi alasan Wayan mengabdi di keluarga bangsawan tersebut.
Pengungkapan kebenaran jika Ratu Ngurah adalah anak dari Wayan dengan Gusti
Biang adalah plot twist dari interpretasi perbedaan kasta ini. Sebelumnya cerita ini hanya
berfokus pada kisah cinta Ratu Ngurah dan Nyoman yang terhalang oleh sebuah perbedaan
kasta. Gusti Biang adalah karakter yang digambarkan sangat mengagung-agungkan kasta, ia
melarang anaknya untuk menikahi Nyoman hanya karena kasta yang berbeda. Akan tetapi, di
akhir cerita, pembaca diperlihatkan akan Gusti Biang yang ternyata juga menyalahi aturan
kasta karena menjalin hubungan dengan Wayan. Bagian itulah yang menarik dari cerita ini.
Putu Wijaya menggambarkan budaya kasta dengan cara yang unik dan berbeda.
Keberhasilannya itu membawa pembaca pada pengalaman membaca yang sangat berbeda dari
naskah-naskah drama bertema kelas sosial lainnya.
Keunikan lain dari naskah drama ini adalah penggunaan gaya bahasa sehari-hari yang
cukup kasar. Namun dibalik itu, naskah drama ini mengajarkan nilai dan norma budaya Bali
yang tidak banyak diketahui orang, termasuk akan masalah kasta. Ada banyak nilai yang dapat
dipetik dari naskah drama ini, salah satunya adalah pesan untuk saling menghargai dan tidak
merendahkan orang lain.
3. Naskah Drama Pada Suatu Hari
a. Analisis Unsur Intrinsik
Judul : Pada Suatu Hari
Pengarang : Arifin C Noer
Tema : Romantika keluarga.
Tokoh : Kakek, Nenek, Nyonya Wenas, Nita, Novia, Vita, Joni & Pesuruh lain, Feri &
Meli.
Alur : Maju
Latar