Analisis Puisi Hatiku Selembar Daun
Karya Sapardi Djoko Damono
Karya puisi yang dihasilkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono ini mampu
menjadikan para penikmat sastra dalam menginterpretasikan karyanya tersebut yang
berjudul “Hatiku Selembar Daun” bahkan beberapa kalangan akan berupaya dalam
komentar ataupun kritik sastra.
Puisi Sapardi Djoko Damono ini memiliki beberapa diksi antonim, seperti pada kata
melayang yang bisa dikatakan berlawanan dengan kata jatuh. Terdapat juga diksi sinonim,
seperti kata sejenak dan sesaat. Sapardi Djoko Damono pada puisi ini menyajikan sajak
bebas yang tidak terikat dengan aturan. Lalu ditinjau dari tipografi, puisi ini tidak
menggunakan kaidah huruf kapital pada setiap awal kalimat dan pada tiap akhir kalimat
diberi “;”.
Pada kalimat “hatiku selembar daun” menggunakan majas personifikasi. Kemudian
pada kalimat “ada yang masih ingin kupandang” memiliki citraan penglihatan. Puisi ini
membahas tentang perjalanan hidup seseorang yang diibaratkan sebagai ‘selembar daun’ ini
lalu dijadikan sebagai penanda dari manusia akan menemui ajalnya. Pesan pengarang yang
terkandung di dalam puisi untuk pembaca. Pengarang mengingatkan kepada pembaca akan
kecilnya manusia dimata Allah.Oleh karena itu, pengarang berpesan kepada pembaca untuk
menggunakan waktu sebaik mungkin di dunia ini, bersyukur apabila mendapatkan rahmat
dari Allah dan selalu beribadah dan berbuat baik sebelum ajal menjemput.
Analisis Puisi Bertelur
Karya Joko Pinurbo
Perlu saya akui, puisi “Bertelur” karya Joko Pinurbo sangatlah fantastis. Sebelumnya,
saya akan menganalisis beberapa hal berkaitan puisi ini. Dimulai dari tema, saya pikir puisi
ini mengangkat tema cinta (bait ke-2). Perumpamaan telur sebagai cinta, lalu kata sebagai
kehidupan bahagia. Di dalam puisi ini menggambarkan seseorang yang menemukan cinta,
kemudian berusaha merawat cinta, dan akhirnya patah hati.
Tipografinya rata tepi kiri dan memerhatikan EYD yang berlaku. Sajak yang
digunakannya bebas, tidak terikat pada rima. Majas yang digunakan antara lain, majas
personifikasi (kau menggelembung, memecah, memuncratkan darah). Citraan yang bisa
ditemukan, yakni citraan perasaan (banyak orang yang merasa kehilangan telur).
Amanatnya yaitu siklus cinta tidak sebahagia yang dibayangkan, melainkan dihantui
oleh bayang-bayang patah hati.
Analisis Puisi Kota
Karya Kuntowijoyo
Pendapat saya, puisi “Kota” karangan Kuntowijoyo ini merupakan puisi singkat, tapi
bermakna. Puisi ini bertemakan hati manusia, hal ini saya menafsirinya dari bait-bait atau
dengan kata lain kota diibaratkan sebagai hati manusia. Saya juga menemukan beberapa
citraan, citraan penglihatan, “nyalakanlah neon-neon itu”, citraan perabaan “angin
menerpa”, dan citraan perasaan, “menyerah pada malam”.
Adapun diksi yang digunakan begitu lugas, tetapi bermakna konotasi. Selain itu,
sajaknya bebas, tidak terikat aturan. Tipografinya rata tepi kiri, setiap baitnya berspasi, dan
setiap awal bait berupa huruf kapital di awal kalimat. Majas yang digunakan adalah majas
personifikasi, “kotaku yang jauh menyerah pada malam”.
Saya mendapatkan amanat berupa “Selalu meminta petunjuk kepada Tuhan YME,
janganlah kita jauh dari-Nya, agar kita tidak mengalami kesulitan hidup”.
Analisis Puisi Nyanyian Akar Rumput
Karya Wiji Thukul
Menurut saya, Wiji Thukul kali ini mengangkat tema keadilan. Hal ini dapat diketahui
pada penafsiran dari puisi itu sendiri. Seperti biasa, Wiji Thukul mengungkapkan keadaan
masyarakat Indonesia atau dengan kata lain kritik pemerintah pada masanya tersebut.
Penggunaan tipografi oleh Wiji Thukul pada puisi yakni rata tengah, per lariknya
singkat, dan tanpa memedulikan penggunaan huruf kapital. Sajaknya pun bebas, tidak
terikat oleh aturan rima serta diksinya ringan tapi sangat bermakna, saling berkaitan
(digusur, kami rumput butuh tanah).
Adapun majas yang ada pada puisi tersebut adalah majas sarkasme (sindiran kasar),
“Ayo gabung kami Biar jadi mimpi buruk presiden!” dan majas eufimisme (ungkapan lebih
halus), “kami rumput”.
Citraan yang mampu dirasakan antara lain, citraan perasaan, “kami terusir”. Amanat
yang disampaikan yakni hendaknya atasan/ pemerintahan mengetahui kondisi bawahan/
rakyat serta melakukan perbuatan yang adil ke semuanya.
Analisis Puisi Doa
Karya Taufik Ismail
Menurut saya, Puisi “Doa” karya Taufik Ismail ini mengangkat tema ketuhanan. Hal
ini berdasarkan doa dari hamba untuk pengampunan kepada Tuhan YME. Tipografi yang
digunakan rata tepi kiri dan memerhatikan EYD. Sajaknya pada bait pertama bersajak a-b-a-b
dan bait ketiga bersajak a-a-b-a-a, bait selainnya bersajak bebas.
Citraan yang bisa didapatkan dari puisi antara lain, citraan perasaan (Semoga Kau rela
menerima kembali) Gaya bahasa yang digunakan sederhana, mudah dipahami, dan
bermakna. Amanat yang disampaikan sebagai hamba harus menyadari dan selalu memohon
ampun kepada Tuhan YME.
2
ANALISIS CERPEN
Analisis Cerpen Senyum Karyamin
Karya Ahmad Tohari
Cerpen yang berjudul “Senyum Karyamin” merupakan salah satu cerpen karangan
Ahmad Tohari yang sangat dianjurkan untuk dibaca bahkan untuk dianalisisis. Cerpen ini
menceritakan seorang pemuda bernama Karyamin yang berprofesi sebagai pengumpul batu
di sungai.
Pada suatu hari Karyamin sedang kelaparan karena tak memiliki uang untuk membeli
makanan, ia pun tetap memaksakan diri untuk bekerja. Dengan keadaan lesu, tak lama
Karyamin sudah mulai sempoyongan. Matanya pun berkunang-kunang dan telinganya terus
mendengung.
Teman-teman Karyamin tidak tega melihat keadaan Karyamin seperti itu. Mereka
menyarankan Karyamin beristirahat dan segera pulang. Di tengah perjalanan, ia ditawari Bu
Saidah untuk makan. Namun, Karyamin menolaknya karena teringat dengan utang-utangnya
pada Bu Saidah.
Sesampainya di dekat rumah, Karyamin melihat dua sepeda jengki milik penagih
bank harian itu sedang berparkir di depan rumahnya untuk menagih utang. Karyamin
akhirnya mengurungkan niatnya untuk pulang, tetapi belum lama ia berbalik badan untuk
kembali ke sungai, ia sudah dihadang oleh Pak Pamong, seorang yang mengumpulkan dana
sumbangan ke Afrika. Akhirnya, Karyamin jatuh pingsan.
Cerpen ini mengandung unsur instrinsik yang lengkap. Berikut perincian unsur
intrinsik yang ada pada cerpen “Senyum Karyamin”:
1. Tema
Cerpen ini mengangkat tema perjuangan. Hal ini bisa ditinjau pada kutipan di
bawah ini.
“karyamin hanya tersenyum, lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan
berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian karyamin berjalan menanjaki
tanjakan”
Pada kutipan tersebut, Karyamin berjuang melawan sakitnya untuk terus
bekerja demi mendapatkan nafkah pada hari itu.
2. Alur
Cerpen ini menggunakan alur maju. Menceritakan awal kejadian Karyamin
sakit hingga Karyamin hendak pulang dan istirahat yang akhirnya malah jatuh
pingsan.
3. Penokohan
Tokoh (1) tokoh Karyamin merupakan sosok yang pantang menyerah dan
penyabar seperti dalam kutipan berikut
“Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh
lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari
keranjangnya”
Kutipan di atas sudah terlihat jika Karyamin merupakan tokoh orang yang
pantang menyerah meski sudah tergelincir dua kali tapi karyamin tetap berdiri dan
terus melanjutkan pekerjaannya.
Tokoh (2) tokoh Saidah. Saidah adalah pedagang nasi pecel yang memiliki sifat
baik dan peduli kepada Karyamin seperti dalam kutipan berikut.
“Makan, ya Min? aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar
menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”
Kutipan di atas sudah terlihat bahwa Saidah merupakan orang yang baik dan
peduli pada Karyamin, meskipun Karyamin tidak punya uang untuk untuk makan dan
masih memiliki utang pada saidah tapi saidah tetap menawarkannya makan, dan
tidak tega melihat karyamin kelaparan.
Tokoh (3) Pak Pamong tokoh Pak Pamong adalah seorang laki-laki yang
memiliki sifat tegas, kurang baik dan tidak mau tau keadaan seseorang seperti dalam
kutipan berikut.
“Ya, kamu memang mbeling, Min. Di gerumbul ini hanya kamu yang belum
berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk
menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak
mau lebih lama kaupersulit”
Pada kutipan tersebut, nampak jika Pak Pamong orang yang kurang baik
dalam perkataannya dan tidak mengetahui kondisi Karyamin dalam keadaan
kelelahan, Pak Pamong langsung menagih dana sumbangan padahal Karyamin itu
orang yang kurang berkecukupan.
4. Latar
Latar pada cerita ini memiliki tiga latar, yakni
1. Latar tempat dalam cerita “Senyum Karyamin: menujukan dua latar tempat
yaitu sungai dan jalanan tanjak.
“Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang,”
“Karyamin berjalan naik tanjakan”
2. Latar suasana: Senang dan sedih/ terharu, seperti beberapa kutipan yang
berulang kali disampaikan, “menertawakan diri sendiri”
Kemudian suasana sedih/ terharu ketika Karyamin senantiasa menampakkan
senyum di kala letihnya dan saat ditagih utang.
3. Latar waktu dalam cerita Senyum Karyamin menunjukkan pagi hari, seperti
kutipan cerita di bawah ini.
‟Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir‟
5. Sudut pandang
Ahmad Tohari menggunakan sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat.
Karena penulis hanya menceritakan tokoh-tokoh tersebut tanpa ada keterlibatan di
dalamnya, serta menceritakannya sebatas zohirnya saja.
6. Majas
Majas yang digunakan kebanyakan majas hiperbola dan personifikasi.
Contoh majas hiperbola:
“Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil
mencengkeram rerumputan”
Contoh majas personifikasi:
“Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak
menentan arus karena tertiup angin.”
7. Amanat
Amanat yang terkadung dalam cerpen ini antara lain:
1. Jangan patah semangat!
2. Selalu bersikap sabar dan tersenyum meskipun banyak tantangan
rintangan.
Analisis Cerpen Sungai
Karya Nugroho Notosusanto
Cerpen yang berjudul “Sungai” merupakan salah satu cerpen karangan Nugroho Noto
Susanto yang sangat dianjurkan untuk dibaca bahkan untuk dianalisisis karena pesan
moralnya. Cerpen ini mengisahkan peristiwa yang terjadi pada saat Indonesia dalam
penjajahan Belanda, pada tahun 1948. Tentara Belanda telah menduduki Yogya.
Sersan Kasim, Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke
daerah operasinya di Jawa Barat. Bersama para tentara lainnya, mereka berjalan dalam jarak
Yogya-Priyangan. Mereka berjalan kaki, menempuh jarak lebih dari 300 kilometer, turun
lembah, naik gunung, menyeberangi sungai kecil dan besar. Akhirnya mereka tiba kembali di
tepian Sungai Serayu. Dengan cermat Sersan Kasim kembali memperbaiki letak selimut
berlapis dua yang menyelimuti Acep, seorang bayi mungil, anaknya. Ibunya meninggal sehari
setelah melahirkannya dalam pengungsian di Yogya. Ya, dalam perjalanan sejauh itu Sersan
Kasim membawa serta anaknya, karena ia tak mau menitipkan pada penduduk yang asing
baginya.
Para kepala regu kumpul. Mereka menerima instruksi tentang penyeberangan.
Terdengar kabar bahwa musuh menjaga tepian sana dengan kekuatan satu kompi. Karena
pengawasan ketat, mereka memutuskan untuk menyeberangi sungai lebih ke hilir, walaupun
kemungkinan ketinggian air sungai mencapai dada.
Setelah para ketua regu menuju ke anak buahnya masing-masing, Sersan Kasim
merasa pandangan komandan mengisyaratkan jika bayinya dapat membahayakan lebih dari
seratus prajurit, sebagaimana telah terjadi sebelumnya. Namun, bagi Sersan Kasim tak ada
pilihan lain kecuali tetap membawa bayinya.
Mereka mulai menyeberangi sungai. Semakin ke tengah semakin dalam. Tangis Acep
pun akhirnya memecah kesunyian. Para prajurit berdegup jantungnya, menahan nafas,
saling memandang dan terpaku di tempatnya. Di hulu sungai sebuah peluru kembang api
ditembakkan ke udara. Langit jadi terang benderang. Seluruh kompi memandangnya;
bergantung kepadanya. Nasib seluruh kompi tertimpa pada bahunya. Acep menangis, dan
setiap saat musuh dapat menumpasnya dengan menembakkan peluru dan mortar. Sejurus
kemudian suara Acep meredup. Sesaat lagi lenyap sama sekali. Tembakan berhenti dan
pasukan dapat tiba di seberang dengan selamat.
Keesokan harinya, saat fajar merekah para prajurit menunda perjalanannya untuk
berbela sungkawa dalam upacara singkat pemakaman Acep. Komandan Kompi menghampiri
Kasim, menggenggam tangannya. Dalam angannya terbayang pengorbanan Nabi Ibrahim
yang siap mengorbankan putranya, Ismail.
Cerpen ini mengandung unsur instrinsik yang lengkap. Berikut perincian unsur
intrinsik yang ada pada cerpen “Sungai”:
1. Tema
Tema yang diangkat pada cerpen “Sungai” ini adalah kasih sayang dan
pengorbanan. Hal ini bisa ditinjau saat Sersan Kasim yang akhirnya mengijinkan
istrinya ikut menyertai hijrahnya ke Yogya, walau dalam kondisi yang seba sulit, dan
istrinya bersikeras untuk ikut. Meskipun pada akhirnya Sersan Kasim mengalami
konflik batin.
2. Alur
Alur yang digunakan adalah alur campuran. Terkadang menceritakan secara
runtut ke depannya, kemudian diselingi kejadian yang telah lewat.
3. Penokohan
Tokoh (1) Sersan Kasim. Sosok yang sensitif, sabar, bertanggung jawab, rela
berkorban, suka mengalah. Hal demikian bisa dilihat sebagian besar pada bagaimana
Sersan Kasim menggendong bayinya menyusuri sungai.
Tokoh (2) Aminah. Sosok keras kepala dan setia pada suami.
“Tapi tidak sempat, lagipula Aminah tidak mau ditinggalkan. Ia bersitegang hendak
ikut”
Tokoh (3) Komandan peleton. Sosok yang bijaksana dan simpatik. Hal ini
seperti yang tercermin pada dialog dan sikap Komandan peleton terhadap Sersan
Kasim mengenai Acep.
Tokoh (4) Acep. Anak bayi pada umunya, cengeng dan manja.
Tokoh (5) Pak Lurah dan warga desa. Memiliki watak simpatik dan ramah. Hal
ini pada cerpen mereka mengikuti acara pemakaman Acep.
4. Latar
1. Latar tempat:
● Sungai Serayu, tempat penyebarangan para tentara.
● Jawa Barat, daerah operasi Sersan Kasim bertugas.
● Yogya, daerah tujuan hijra para tentara.
● Di pinggir desa, tempat Acep dimakamkan.
2. Latar waktu:
● Dini hari: “Jam satu malam cuaca gelap gulita dan murung,…..”
● Sepuluh bulan yang lalu: “Sepuluh bulan yang lalu, pada bulan Februari
1948, ….”
● Fajar: “Keesokan harinya, pada waktu fajar merekah, kompi ….”
● Siang hari: “Matahari telah naik, menghalau kabut ….”
3. Latar suasana:
● Menegangkan: “Di hulu sungai, sebuah peluru kembang api ditembakkan ke
udara. ….”
● Menyedihakn dan nengharukan: “Ia menghampiri Kasim. Ia menggenggam
tangan kanan….”
5. Sudut pandang
Nugroho Notosusanto dalam cerpen ini menggunakan sudut pandang orang
ketiga sebagai pengamat
6. Majas
Terdapat banyak majas yang bisa ditemukan dalam cerpen “Sungai” ini antara
lain.
● Majas retorika: “Dan siapa yang dapat bertahan terhadap sifat keras
kepala wanita yang mengandug?”
● Majas hiperbola: “Merobek-robek kesunyian malam dari tebing ke
tebing. …”
● Majas simile: :” …. jantungnya berdegup seperti bedug ditabuh
bertalu-talu.”
7. Amanat
Amanat yang bisa diambil dalam cerpen “Sungai” adalah
● Rela berkorban demi kepentingan bersama.
● Tidak mudah menyerah.
● Bersikap bijaksana dan tanggung jawab.
Analisis Cerpen Guru
Karya Putu Wijaya
Cerpen yang berjudul “Guru” merupakan salah satu cerpen karangan Putu Wijaya
yang sangat dianjurkan untuk dibaca bahkan untuk dianalisisis. Cerpen ini menceritakan
seorang anak yang berkeinginan menjadi guru dan menghadapi banyak rintangan dan
hambatan. Anak tersebut bernama Taksu.
Taksu merupakan anak tunggal yang harus mengikuti semua keinginan orang tuanya.
Namun, Taksu tetap berpegang teguh pada keinginannya menjadi guru. Rintangan demi
rintangan ia hadapi. Akhirnya sepuluh tahun mendatang, Taksu berhasil menjadi guru. Guru
bagi anak muda, bangsa, dan negara yang telah menularkan etos kerja.
1. Tema
Tema yang diangkat pada cerpen “Guru” karya Putu Wijaya adalah keinginan
atau tekad. Di sini tokoh Taksu bertekad tinggi untuk menjadi seorang guru.
2. Alur
Alur yang digunakan adalah alur campuran. Karena cerpen ini menceritakan
kejadian secara urut, yang kemudian menceritakan pada masa yang lampau dan
kembali pada saat ini.
3. Penokohan
Tokoh (1) Taksu. Sosok yang memiliki tekad yang tinggi. “Dikasih waktu satu
tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru.”
Tokoh (2) Ayah. Sosok yang keras dalam mendidik anak. “Taksu dengarkan
baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah ….”
Tokoh (3) Ibu (Istri). Sosok yang pemarah dan tidak konsisten. “Kau yang
terlalu memanjakan dia, makanya dia seenaknya ….”
4. Latar
1) Latar tempat
● Rumah kos. “Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami
berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya.”
● Rumah. “Pulang sekarang dan minta maaf kepada Ibu kamu, …”
● Kamar. “Pintu kamar tiba-tiba terbuka.”
2) Latar waktu
● Dua bulan kemudian, “Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan
kemudian, …”
● Tiga bulan berikutnya. “Tiga bulan lagi Bapak akan datang.”
3) Latar suasana
● Menegangkan. “Pikirkan sekali lagi! Bapak kasih waktu satu bulan!”
● Menyenangkan. “"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang
pegawainya….”
5. Sudut pandang
Putu Wijaya menggunak sudut pandang orang pertama pelaku utama atau
orang pertama serba tahu karena mengetahui secara rinci setiap peristiwa yang terjadi
dalam cerita dan menggunakan kata Saya.
“Anak saya bercita-cita menjadi guru. Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke
atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka
saya.
6. Majas
● Majas hiperbola: “Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya
telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu
lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik
itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.
● Majas asosiasi: “Guru itu hanya sepeda tua.”
7. Amanat
1. Yang menetukan kesuksesan seseorang adalah tekad dan kemauan besar dalam
dirinya.
2. Kehidupan bisa berubah kapan pun.
3. Kita harus percaya akan keputusan sendiri.
Analisis Cerpen Filosofi Kopi
Karya Dee Lestari
Cerpen yang berjudul “Filosofi Kopi” merupakan salah satu cerpen karangan Dee
Lestari yang sangat dianjurkan untuk dibaca bahkan untuk dianalisisis. Cerpen ini
menceritakan tentang dua orang lelaki yaitu Ben dan Jody yang membangun sebuah usaha
kedai kopi mulai dari nol. Ben merupakan barista yang begitu antusias dengan kopi juga
andal dalam meramu sebuah kopi. Dengan kegigihannya dalam membangun kedai kopi itu,
Ben pergi berkeliling dunia mencari dan menemui koresponden. Dia berkonsultasi dengan
dengan pakar-pakar peramu kopi dari Roma, Paris, Amsterdam, London, New York, dan
Moskow untuk menemukan resep berbagai kopi paling tepat.
Keunikan dari kedai yang dimiliki karena filosofi setiap kopi yang disajikan sesuai
pendapat Ben sehingga ramai pengunjung. Sampai pada suatu saat kedai mereka
kedatangan seorang pria perlente berusia 30 tahun-an yang menantang Ben agar membuat
kopi sesempurna mungkin dengan imbalan jutaan rupiah.
Ben yang menerima tantangan tersebut. Kerja kerasnya selama beberapa minggu
membuahkan hasil. Kemudian Ben menamai kopi tersebut “Ben’s Perfecto” dan sebagai kopi
langganan di kedainya. Hingga seorang pria setengah baya datang dan mengatakan bahwa
rasa kopi tersebut hanya “lumayan enak” dibandingkan kopi yang pernah dicicipinya di suatu
lokasi di Jawa Tengah.
Ben yang penasaran langsung mengajak Jody untuk mencari kopi yang telah
disebutkan oleh pria paruh baya. Tepat di penghujung jalan, sebuah warung reot dari gubuk
berdiri di atas bukit kecil, ternaungi pepohonan besar. Ben dan Jody meminum kopi tersebut
tanpa berbicara sedikitpun. Kopi tersebut memiliki rasa yang sempurna dan ada cerita serta
filosofi yang menarik dari kopi tersebut. Ben kini melanjutkan perjuangannya di kedai Filosofi
Kopi.
1. Tema
Tema yang diangkat pada cerpen “Filosofi Kopi” karya Dee Lestari adalah
kehidupan dan bisnis. Di sini tokoh Ben dan Jody bekerja sama membangun sebuah
bisnis kedai kopi dan melalui kopi mereka memaknai filosofi kehidupan.
2. Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju. Karena cerpen ini menceritakan
kejadian secara urut dari awal hingga akhir peristiwa.
3. Penokohan
Tokoh (1) Ben. Sosok yang ambisius dan idealis. “Ben pergi berkeliling dunia,
mencari koresponden di mana-mana demi mendapatkan kopi-kopi terbaik dari seluruh
negeri.”
Tokoh (2) Jody. Sosok yang perhitungan. Ditinjau dari dialog antara Ben dan
Jody: Ben bangkit berdiri. “Memang Cuma duit yang kamu pikir!…”
Tokoh (3) Aku. Dalam cerpen “Filosofi Kopi” digambarkan lewat cara
berpikir serta penuturan-penurutannya dalam bercerita. Dari beberapa narasi,
tokoh ‘aku’ digambarkan sebagai sosok yang pemberani, dibuktikan dengan
keberaniannya menanam saham pada Filosofi Kopi. Tokoh ‘aku’ juga menjadi
‘penengah atas kekeruhan konflik yang terjadi antara Ben dan Jody.
4. Latar
● Latar tempat: kedai Filosofi Kopi, gubuk Pak Seno (Jawa Tengah), kebun kecil
tempat kopi Tiwus (Jawa Tengah).
● Latar waktu: Malam, “Sesudah pembicaraan malam itu,…”, Pagi, “Pagi-pagi
sekali Ben,…”
● Latar suasana: Bahagia (ketika Ben berhasil membuat Ben’s Perfecto dan
mendapatkan uang 50 juta), sedih (ketika Ben menyadari bahwa Ben’s
Perfecto bukan resep kopi terbaik), tegang (ketika Ben dan Jody terlibat
pertengkaran), menyenangkan (saat Filosofi Kopi mendapat banyak
pengunjung).
5. Sudut pandang
Putu Wijaya menggunak sudut pandang orang pertama pelaku utama atau
orang pertama serba tahu karena mengetahui secara rinci setiap peristiwa yang terjadi
dalam cerita dan menggunakan kata Aku.
“Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi serbuk hitam itu.”
6. Majas
● Majas hiperbola: “Mata Ben sudah mau copot”.
● Majas Personifikasi: “Sedikit demi sedikit kehidupan Filosofi Kopi mengembus
lewat tulisan mereka”.
● Majas asosiasi: “Membayang wajah Ben yang seperti gelandangan.”
8. Amanat
● Hidup bukan mencari kesempurnaan, karena tiada yang sempurna selain
Tuhan.
Analisis Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Karya Umar Kayam
Cerpen yang berjudul “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” merupakan salah satu
cerpen karangan Umar Kayam yang sangat dianjurkan untuk dibaca bahkan untuk
dianalisisis. Cerpen ini menceritakan tentang sepasang dua orang selingkuh, Jane dan
Marno.
Jane merupakan wanita Amerika, sedangkan Marno merupakan pria Jawa. Mereka
memiliki latar belakang dan budaya yang sangat berbeda bahkan bertolak belakang. Mereka
melakukan perselingkungan di kota Manhattan. Di mana Jane selalu teringat oleh bekas
suaminya, Tommy. Begitu juga dengan Marno yang teringat akan istrinya di Indonesia.
Mereka sama-sama mengalami konflik batin dan sosial-budaya. Mereka saling berpegang
pada kebudayaan masing-masing.
1. Tema
Tema yang diangkat pada cerpen “Filosofi Kopi” karya Dee Lestari adalah
kehidupan dan bisnis. Di sini tokoh Ben dan Jody bekerja sama membangun sebuah
bisnis kedai kopi dan melalui kopi mereka memaknai filosofi kehidupan.
2. Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju. Karena cerpen ini menceritakan
kejadian secara urut dari awal hingga akhir peristiwa.
3. Penokohan
Tokoh (1) Ben. Sosok yang ambisius dan idealis. “Ben pergi berkeliling dunia,
mencari koresponden di mana-mana demi mendapatkan kopi-kopi terbaik dari seluruh
negeri.”
Tokoh (2) Jody. Sosok yang perhitungan. Ditinjau dari dialog antara Ben dan
Jody: Ben bangkit berdiri. “Memang Cuma duit yang kamu pikir!…”
Tokoh (3) Aku. Dalam cerpen “Filosofi Kopi” digambarkan lewat cara
berpikir serta penuturan-penurutannya dalam bercerita. Dari beberapa narasi,
tokoh ‘aku’ digambarkan sebagai sosok yang pemberani, dibuktikan dengan
keberaniannya menanam saham pada Filosofi Kopi. Tokoh ‘aku’ juga menjadi
‘penengah atas kekeruhan konflik yang terjadi antara Ben dan Jody.
4. Latar
● Latar tempat: kedai Filosofi Kopi, gubuk Pak Seno (Jawa Tengah), kebun kecil
tempat kopi Tiwus (Jawa Tengah).
● Latar waktu: Malam, “Sesudah pembicaraan malam itu,…”, Pagi, “Pagi-pagi
sekali Ben,…”
● Latar suasana: Bahagia (ketika Ben berhasil membuat Ben’s Perfecto dan
mendapatkan uang 50 juta), sedih (ketika Ben menyadari bahwa Ben’s
Perfecto bukan resep kopi terbaik), tegang (ketika Ben dan Jody terlibat
pertengkaran), menyenangkan (saat Filosofi Kopi mendapat banyak
pengunjung).
5. Sudut pandang
Putu Wijaya menggunak sudut pandang orang pertama pelaku utama atau
orang pertama serba tahu karena mengetahui secara rinci setiap peristiwa yang terjadi
dalam cerita dan menggunakan kata Aku.
“Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi serbuk hitam itu.”
6. Majas
● Majas hiperbola: “Mata Ben sudah mau copot”.
● Majas Personifikasi: “Sedikit demi sedikit kehidupan Filosofi Kopi mengembus
lewat tulisan mereka”.
● Majas asosiasi: “Membayang wajah Ben yang seperti gelandangan.”
9. Amanat
● Hidup bukan mencari kesempurnaan, karena tiada yang sempurna selain
Tuhan.
ANALISIS STRUKTURAL 5 NOVEL
Link Dokumen 5 Novel:
https://drive.google.com/drive/folders/1vRrz8p-JJxRjwZS1T9svMdJLUnvInU06
Analisis Novel Kubah
Karya Ahmad Tohari
Novel “Kubah” merupakan salah satu karya dari sastrawan terkenal Indonesia,
Ahmad Tohari ini sangat dianjurkan dibaca dan dianalisis. Dalam novel “Kubah” karya Ahmad
Tohari ini bercerita tentang kehidupan seorang tokoh bekas tahanan politik peristiwa G30S
1965, yaitu Karman. Setelah dua belas tahun diasingkan di Pulau Buru akhirnya dia kembali
ke kampong halamannya di Pegaten, Jawa Tengah. Rasa keterasingan menyelimuti diri
Karman. Dalam pandangannya, Pegaten telah banyak mengalami perubahan. Karman
mengalami pergolakan batin, dia terus berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri apakah
warga di kampung halamannya masih bisa menerimanya atau tidak setelah dirinya menjadi
tahanan politik akibat pernah terlibat dalam partai komunis.
Karman justru bersikap rendah diri dan terasing dari masyarakat karena kebanyakan
yang terlibat pada partai komunis akan terasingkan. Memang, karena pengaruh
pemerintahan Orde Baru yang memutuskan bahwa komunisme dilarang di Indonesia
membuat pandangan kebanyakan orang menjadi sinis terhadap hal-hal yang berbau
komunis. Hal itu terkait tuduhan bahwa dalang dari peristiwa makar tersebut adalah partai
komunis.
Oleh karena itu, pemerintah Republik Indonesia segera melakukan pembersihan
terhadap paham komunis dan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Namun, di luar
pandangan negatif kebanyakan orang terhadap komunisme, sikap ramah tamah warga di
kampung halaman ternyata Karman masih terasa hangat dan ramah meskipun Karman yang
merupaakn bekas anggota partai komunis.
Kisah Karman terlibat dalam partai komunis berawal ketika Karman mengenal Margo,
seorang aktivis partai komunis yang pernah melakukan makar pada tahun 1948 di Madiun.
Dalam novel ini, Margo yang memiliki atasan bernama “Si Pria Bergigi Baja” dan memiliki
rekan bernama Triman mempengaruhi pemikiran serta kehidupan Karman. Margo dan
rekan-rekannya menanamkan paham komunis kepada Karman melalui buku-buku
bertemakan pertentangan antar kelas, penindasan kaum penguasa terhadap kaum yang
kelasnya lebih rendah, serta mengajak Karman berdialog mengenai agama yang menurut
paham komunis bahwa agama merupakan candu yang meninabobokan kaum tertindas agar
lupa jika mereka telah ditindas.Selain itu, Margo menanamkan kebencian Karman terhadap
Haji Bakir sebagai pemuka agama di Pegaten, di mana memusuhi Haji Bakir sebagai simbol
menentang agama. Margo mendoktrin Karman bahwa Haji Bakir telah membuat hidup
Karman miskin karena tanah milik ayah Karman telah menjadi milik Haji Bakir dan
mempekerjakan Karman ketika masih remaja karena Karman tak mampu melanjutkan
pendidikan sekolahnya. Berbagai upaya pendoktrinan pengaruh dari Margo dan
kawan-kawan tersebut berhasil mengubah paham Karman.
Kini Karman cenderung pendiam dan mudah takut, apalagi ketika Margo dan
kawan-kawan sudah dihukum mati oleh pemerintah karena mereka terlibat denganpartai
komunis. Dia pun melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari aparat yang akan
menangkapnya.
Walaupun demikian, Karman pun berhasil ditangkap aparat dan dijebloskan ke
penjara. Di dalam penjara, ia juga mengalami konflik batin teringat Parta dan istrinya.
Karman benar-benar menyadari selama ini dia telah masuk ke dalam paham yang salah.
Selepas bebas dari penjara, Karman bertemu keluarganya dan beberapa waktu sesudahnya
dia melihat masjid milik Haji Bakir telah usang dan terlihat sangat tua. Dia ingin sekali
menjadi orang yang berguna bagi lingkungannya. Lalu dia menawarkan diri pada Haji Bakir
untuk membangun kubah asalkan materialnya disediakan, dan Haji Bakir menyetujuinya.
Dengan bekal keterampilan bertukang saat berada di penjara serta gotong royong dengan
warga sekitar, akhirnya pembuatan kubah dan perbaikan masjid selesai. Karman merasa
bahagia dan dia sungguh-sungguh ingin bertaubat atas segala kesalahannya.
Tema yang diangkat pada novel “Kubah” yakni ideologi. Di sini Karman pernah
terlibat dalam ideologi/ paham komunis. Ahmad Tohari dengan ahli menyampaikan cerita
yang berbalut sejarah itu dengan religiuitas yang apik sehingga mampu menyatu antara
keduanya.
Penampilan tokoh pada novel tersebut juga secara mudah dipahami serta
penggunaan latar yang mudah dimengerti dan ditebak. Ahmad Tohari ini memaparkan cerita
novelnya dengan alur campuran. Dilihat dari beberapa peristiwa yang runtut dari awal
hingga akhir, kemudia beberapa peristiwa yang lain mengalami flaschback.
Seperti yang kita ketahui, penggunaan majas dari Ahmad Tohari begitu beragam.
Seperti contoh pada novel ini merasa terasing seperti benda langit yang baru sederik jatuh
ke bumi termasuk majas asosiasi.
Beliau juga mengemas amanat dalam novel itu secara rapi dan ideal. Pada novel
“Kubah” ini bisa diambil beberapa amanat:
1. Jangan mudah terpengaruh.
2. Bertobat atas kesalahan.
Analisis Novel Negeri 5 Menara
Karya Ahmad Fuadi
Novel yang berbau Islami dan pesantren ini mampu bersaing dengan novel-novel
terkenal lainnya. Bahkan novel “Negeri 5 Menara” ini sukses difilmkan dan ditonton orang
banyak Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang anak bernama Alif Fikhri, anak desa
yang ditinggal di Bayur, kampung kecil di dekat Danau Maninjau Padang, Sumatera Barat. Alif
dari kecil sudah bercita-cita ingin menjadi B.J Habibie, maka dari itu selepas tamat SMP Alif
sudah berencana melanjutkan sekolah Ke SMA di Bukittinggi yang akan memudahkan
langkahnya untuk ke Perguruan Tinggi. Namun amaknya yang berarti (ibunya dalam bahasa
Minang tidak setuju dengan keinginan Alif untuk masuk SMA, ibunya ingin Alif sekolah yang
masih berkaitan dengan agama seperti MAN ataupun pesantren. Karena Alif tidak ingin
mengecewakan harapan orang tua khususnya ibu, Alif pun menjalankan keinginan ibunya
dan masuk pondok pesantren Di Jawa Timur, bernama Pondok Pesantren Madani. Atas saran
dari Mak Etek Gindo (pamannya) di Kairo.Walaupun awalnya amak berat dengan keputusan
Alif yang memilih pondok Pesanten di Jawa bukan yang ada di dekat rumah mereka dengan
pertimbangan amak takut tidak terbiasa dengan kehidupan di sana, karena amak tahu tidak
pernah pergi jauh dari rumah, namun akhirnya ibunya merestui keinginan Alif. Awalnya Alif
setengah hati menjalani pendidikan di pondok Pesantren Madani, karena dia harus
merelakan cita-citanya yang ingin kuliah di ITB harus pupus dan hanya bisa menjadi ustad di
kampungnya. Namun kalimat Bahasa Arab yang didengar Alif di hari pertama di PM
(Pesantren Madani ) mampu mengubah pandangan alif tentang melanjutkan pendidikan di
Pesantren sama baiknya dengan sekolah umum. "Mantera" sakti yang diberikan kiai Rais
(pimpinan pondok ) Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Dan
Alif pun mulai menjalani hari-hari dipondok dengan Ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Di PM, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari
Madura, Atang dari Bandung dan si jenius Baso dari Gowa, Sulawesi. Ternyata kehidupan di
PM tidak semudah dan sesantai menjalani sekolah biasa. Hari-hari Alif dipenuhi kegiatan
hapalan Al-Qur'an, belajar siang malam, harus belajar berbicara bahasa Arab dan Inggris di 6
Bulan pertama. Karena PM melarang keras murid-muridnya berbahasa Indonesia, PM
mewajibkan semua murid berbahasa Arab dan Inggris. Belum lagi peraturan ketat yang
diterapkan PM pada murid yang apabila melakukan sedikit saja kesalahan dan tidak taat
peraturan yang berakhir pada hukuman yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.
Tahun-tahun pertama Alif dan teman- temannya begitu berat karena harus menyesuaikan
diri dengan peraturan di PM. Hal yang paling berat dijalani di PM adalah pada saat ujian,
semua murid belajar 24 jam nonstop dan hanya beberapa menit tidur. Mereka benar-benar
harus mempersiapkan mental dan fisik yang prima demi menjalani ujian lisan dan tulisan
yang biasanya berjalan selama 15 hari. Namun, di sela rutinitas di PM yang padat dan ketat.
Alif dan teman-temannya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di bawah menara
mesjid, sambil menatap awan dan memikirkan cita-cita mereka kedepan. Di tahun kedua
dan seterusnya kehidupan Alif dan rekan-rekannya lebih berwarna dan penuh pengalaman
menarik. Di PM semua teman, guru, satpam, bahkan kakak kelas adalah keluarga yang harus
saling tolong menolong dan membantu. Semua terasa begitu kompak dan bersahabat,
sampai pada suatu hari yang tak terduga, Baso, teman Alif yang paling pintar dan paling rajin
memutuskan keluar dari PM karena permasalahan ekonomi dan keluarga. Kepergian Baso,
membangkitkan semangat Alif, Atang, Dulmajid, Raja dan Said untuk menamatkan PM dan
menjadi orang sukses yang mampu mewujudkan cita-cita mereka menginjakkan kaki di
benua Eropa dan Amerika.
Novel ini mengangkat tema perjuangan dan impian. Tema yang diangkat ini begitu
menginspirasi dan memotivasi. Hal ini bisa diketahui bagaimana perjuangan santri di pondok
pesantren yang notabenenya serba peraturan dan larangan. Hal ini tidak menyurutkan
semangat para tokoh yang ada pada novel ini.
Ahmad Fuadi menggunakan alur campuran. Di mana ceritanya adalah kilas balik
ingatan tokoh utama akan masa silam ketika menimbah ilmu di Pondok Madani hingga
membuahkan hasil yang menyenangkan di masa kini.
Penggunaan latar pada novel ini bisa ditinjau. Kemudian terkait penampilan tokoh
serta penokohannya, Ahmad Fuadi menjelaskannya secara baik. Ternyata Ahmad Fuadi ini
menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini karena tokoh utama menggunakan
“Aku”.
Perlu diketahui juga, novel ini menggunakan gaya bahasa yang beragam. Berikut
adalah contoh majas dan buktinya:
● Personifikasi
Bukti :
- Walau angin mencucuk tulang
- Jariku menari ligat di keyboard”
- Wajah beliau meradang|
● Simile (perumpamaan)
Bukti :
- Jantungku seperti di tabuh cepat”
- Kami tersengat menikmatinya seperti sumbu kecil terpercik api, mulai
terbakar, membesar dan terang”
● Metafora
Bukti :
- Awan putih ini semakin berarak-arak ke ufuk yang lembayung”
- Matahari telah tergelincir di ufuk dan gerimis merebak ketika kami
menggotong lemari masing-masing melintasi lapangan besar menuju
asrama kami.
● Hiperbola
Bukti : Matanya berbinar-binar dan tersenyum kepada lautan murid -murid.
Dalam novel ini menyimpan banyak amanat yang benar-benar mampu menginspirasi
banyak orang antara lain.
1. Senantiasa berjuang demi masa depan.
2. Jangan mudah putus asa.
3. Jangan meremehkan impian.
4. Senantiasa berdoa.
Analisis Novel Laut Bercerita
Karya Leila S. Chudori
Novel “Laut Bercerita” adalah novel sejarah karangan Leila S. Chudori. Novel ini
begitu dianjurkan untuk dibaca dan dianalisis. Novel ini terbagi menjadi dua bagian dalam
meneritakan berbagai sudut pandang atau permasalahan.
Bagian pertama mengambil sudut pandang seorang mahasiswa aktivis bernama Laut,
menceritakan bagaimana Laut dan kawan-kawannya menyusun rencana, berpindah-pindah
dalam pelarian, hingga tertangkap oleh pasukan rahasia.
Sedangkan bagian kedua dikisahkan oleh Asmara, adik Laut. Bagian kedua mewakili
perasaan keluarga korban penghilangan paksa, bagaimana pencarian mereka terhadap
kerabat mereka yang tak pernah kembali. Berusaha mencari secercah harapan tentang
saudara.
Secara garis besar dari dua bagian tersebut, novel ini menceritakan aktivis mahasiswa
di masa orde baru bernama Laut. Yang memiliki sebuah organisasi Wirasena yang bermarkas
di Seyegan.
Namun, tahun 1998 merupakan tahun yang kelam dan gelap dimana orang-orang
telah hilang disiksa dan dibantai. Dan Laut adalah merupakan sekjen Wirasena yang berhasil
di tangkap oleh pemerintahan orde baru dan dijebloskan ke sebuah tempat yang sangat keji.
Mereka disiksa dengan semut rangrang, di setrum berkali-kali, serta di tendang agar
mau memberikan kesaksian. Setelah berhari-hari disiksa lalu mereka di tenggelamkan
bersama dengan cerita yang belum sempat ia sampaikan kepada Indonesia.
Tema yang diangkat pada novel ini adalah kekejaman pada masa orde baru. Hal ini
bisa ditinjau langsung pada garis besar ceritanya. Penokohan yang terjadi dalam novel ini
melibatkan sosok remaja yang merupakan aktivis yang gemar membaca. Selain itu,
menuturkan penokohan orang tua yang cemas terhadap anaknya.
Novel “Laut Bercerita” ini menggunakan alur campuran. Alur mundur ketika
ceritanya merupakan kilas balik dari kisah Laut itu sendiri. Alur maju ketika menceritakan
Asmara Jati. Untuk latar, sudah jelas latar ini pada masa orde baru, sedangkan latar suasana
tempat dan suasana bisa ditinjau secara langsung dengan mudah.
Leila menggunakan sudut pandang dengan sudut pandang orang pertama dari dua
orang berbeda yaitu dari Laut Wibisono dan juga Asmara Jati. Kemudian gaya bahasa yang
digunakan oleh Leila ini sangat mudah dipahami baik dewas atau anak-anak.
Amanat yang bisa diambil pada novel ini adalah rela berkorban dan berjuang.
Analisis Novel Laskar Pelangi
Karya Andrea Hirata
Novel tetralogi Andrea Hirata mampu menggubrak dunia sastra di Indonesia bahkan
Internasional. Novel yang paling terkenal dari tetralogi tersebut adalah novel “Laskar
Pelangi”. Novel Laskar Pelangi menceritakan kisah kehdiuoan 10 anak hebat yang memiliki
semangat juang untuk tetap bersekolah di kampung Gantung, Kepulauan Bangka Belitung.
Kesepuluh anak itu dinamai Laskar Pelangi, dan diantarnya bernama Ikal, Lintang,
Sahara Aulia Fadillah, Mahar Ahlan, Syahdan Noor Aziz, Muhammad Jundullah Gufron Nur
Zaman atau A kiong, Samson atau Borek, Mukharam Kudai Khairani, Trapani Ihsan Jamari,
dan Harun Ardhili Ramadhan. Mereka semua bersekolah di SD Muhammadiyah Gantung dan
dibimbing oleh Bu Muslimah dan Pak Harfan. Selama mereka bersekolah, mereka juga
mendapatkan teman baru, seorang pindahan dari SD PN Timah bernama Flo.
Singkat cerita, datang seorang bernama Harun Ardhli Ramadhan, seorang anak yang
memiliki keterbelakangan mental namun memilki semangat yang tinggi untuk bersekolah.
Kebersamaan mereka pun dimulai sejak saat itu. Selama menempuh pendidikan, Bu
Muslimah dan Pak Harfan mengajar dan membimbing mereka dengan penuh semangat dan
dedikasi. Para murid pun juga belajar dengan penuh semangat. Karena kekompakan dan
semangat mereka, Bu Muslimah pun menjuluki mereka “Laskar Pelangi”.
Tema yang diangkat pada novel pertama tertarlogi Andrea Hirata adalah pendidikan.
Jika lebih rinci, novel ini memiliki sub-tema kemiskinan dan percintaan. Penokohan dalam
novel ini secara garis besar dapat dibagi menjadi tokoh utama, yaitu tokoh yang terus
menerus muncul serta tokoh tambahan, yaitu tokoh yang hanya sesekali muncul. Biasanya
tokoh utama itu memiliki penggambaran karakter secara detail sedangkan tokoh tambahan
penggambaran karakternya dilakukan sepotong, tidak utuh.
Dalam novel ini, sosok Lintang begitu sering diceritakan. Sebegitu seringnya bahkan
muncul sebuah asumsi bahwa novel ini merupakan novel yang diciptakan untuk
didedikasikan kepada tokoh Lintang. Penggambaran tokoh ini begitu rinci, menyeluruh dan
membutuhkan sebuah bab khusus untuk membahasnya. Sebagai tokoh utama, tokoh ini
memiliki pengaruh yang kuat dalam perjalanan cerita pada novel Laskar Pelangi.
Novel ini membagi latar menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu dan latar sosial.
Novel ini sebagian besar berlatar tempat di Belitong. Latar tempat selain di Belitong
mendapatkan tempat/ bagian yang sangat kecil. Meskipun begitu, latar tempat Belitong juga
diklasifikasin lebih khusus, seperti SD MUhammadiyah. Kemudian latar waktu Latar waktu
menggunakan senja, malam, siang, menjelang maghrib, subuh pagi, fajar, sore dan
menunjuk jam. Untuk latar sosial, Latar sosial dalam novel Laskar Pelangi ini adalah
masyarakat yang tinggal di Belitong, komunitas etnis Melayu dan sebagian kecil Tionghoa
yang mayoritas beragama muslim.
Andrea Hirata menggunakan sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang
pertama dengan bukti penggunaan “Aku” dalam cerita. Penggunaan gaya bahasa atau majas
mudah dimengerti meskipun terkadang ada yang sulit dimengerti. Kemudian ternyata alam
novel ini menyimpan amanat yang cukup sederhana yakni senantiasa bersyukur dan
berpegang tubuh pada agama.
Analisis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Karya Buya Hamka
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan novel sejarah yang dikemas
sekaligus dengan percintaan yang dikarang oleh buya Hamka. Novel ini menceritakan
pendekar Sutan yang berasal dari Batipuh, Minangkabau. Pendekar Sutan melakukan
perantau jauh setelah terjadi perselisihan keluarga yang membuatnya membunuh
Mamaknya (Paman, saudara dari ibu kandung). Akibat perbuatannya, Pendekar Sutan
dipenjara selama 12 tahun di Cilacap. Setelah kebebasannya, Ia pergi merantau Pulau
Sulawesi dan menetap di Makassar, serta menikahi seorang wanita Makassar yang bernama
Daeng Habibah.
Pendekar Sutan dan Daeng Habibah memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama
Zainuddin. Namun tak lama setelah melahirkan Zainuddin, ibunya meninggal akibat penyakit
yang dideritanya. Karena kejadian tersebut, Pendekar Sutan merasa sangat terpukul. Ia
akhirnya juga mengalami sakit parah hingga meninggal, sehingga membuat Zainuddin
menjadi anak yatim Piatu. Zainuddin akhirnya dibesarkan oleh Mak Base.
Setelah Zainuddin telah tumbuh dewasa, Ia memiliki keinginan untuk berkunjung ke
Minangkabau untuk menemui para kerabat dan keluarga ayahnya disana.
Singkat cerita Zaindudin menikah dengan Hayati karena perjodohan yang dipaksakan.
Adanya konflik sehingga Zainuddin menolak untuk menerima kembali Hayati, karena Ia
merasa sangat sakit hati dengan penghianatan Hayati yang meninggalkannya. Zainuddin
akhirnya membelikan Hayati sebuah tiket Kapal dengan rute Pulau Jawa ke Sumatra. Kapal
tersebut dikenal dengan nama Van Der Wijk. Hayati yang merasa sedih karena ditinggal
suaminya meninggal dan ditolak oleh Zainuddin, akhirnya memilih untuk menumpangi kapal
tersebut dan pulang ke Minangkabau. Namun naas, Kapal Van Der Wijk tenggelam di
perairan Tuban. Zainuddin menyesali perbuatannya dan sangat sedih karena mengetahui
Hayati masih mencintainya hingga ajalnya.
Tema yang diangkat pada novel ini adalah percintaan dan kebudayaan. Cerita di
dalam novel ini dikemas secara apik dengan unsur sejarah yang ada. Penggambaran
penokohan yang berlaku pada novel ini bisa ditinjau secara mudah. Seperti tokoh Zainuddin
merupakan tokoh protagonis, “Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli
seni, ahli sya’ir, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain.”
Alur yang digunakan adalah alur maju. Cerita dalam novel ini secara runtut dari awal
sampai akhir. Kemudian penggunaan latar dari novel ini beberapa di daerah Minangkabau,
Lamongan, Surabaya, dan sebagainya. Latar waktunya menggunakan kalimat yang
menunjukkan jelas pada waktu tersebut, seperti penyebutan kata malam penanda latar
waktu adalah malam.
Pada novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya Hamka menggunakan sudut
pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan menceritakan secara
langsungkarakter pelakunya secara gamblang. Kemudian gaya bahasa begitu beragam.
Misalnya majas hiperbola, repetisi, dan retorika.
Amanat yang disampaikan adalah jangan mudah berputus asa jika mengalami
kesulitan dalam hidup. Tokoh Zainuddin yang awalnya hampir gila karena ditinggal Hayati
kemudian ia bangkit dari keterpurukannya.
3
ANALISIS NASKAH DRAMA
Analisis Naskah Drama Orang-Orang di Tikungan Jalan
Karya W.S Rendra
Naskah drama yang berjudul “Orang-Orang di Tikungan Jalan” merupakan salah satu
karya dari banyaknya karya yang dihasilkan oleh sastrawan Indonesia, yakni W.S Rendra.
Naskah drama ini menceritakan beragamnya permasalahan yang dimiliki setiap tokohnya
yang bertemu tepat di tikungan jalan. Namun, semua permasalahan selesai pada malam
pertemuan itu juga. Di dalam drama ini, Sri adalah seorang wanita jalang, Sri mengajarkan
pembaca bahwa seburuk-buruknya moral seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) tetap
memiliki perasaan dan rasa sayang pada seseorang layaknya manusia biasa.
Joko yang sedang memiliki masalah dan merasa gundah dengan masa lalunya,
mengajak Sri untuk bercinta dan meringankan bebannya, awalnya Sri mau melayani Joko,
kemudian Sri berubah pikiran karena ada seorang lelaki tua yang mau menikahinya dan mau
menerima Sri apa adanya dan Sri cukup merasa terharu dengan apa yang telah dilakukan
lelaki tua itu, akhirnya Sri memutuskan meninggalkan pekerjaannya karena Sri merasa
setelah menikah dengan lelaki tua itu, segala kebutuhan hidupnya akan ditanggung dan
dijamin.
Joko cukup kecewa karena sebenarnya Joko menyukai Sri. Akhirnya, Joko semakin
depresi, hingga akhirnya mantan kekasih Joko kembali dan meminta Joko menikahinya,
tetapi Joko menolak hingga akhirnya Joko lebih memilih untuk sendiri.
1. Tema
Tema yang diangkat dalam naskah drama ini adalah permasalahan yang
terjadi di kehidupan termasuk yang dilatarbelakangi oleh cinta.
2. Latar
● Latar tempat: di sebuah tikungan jalan. Hal ini sudah nampak dari judul
naskah drama.
● Latar waktu: Joko: “Aku tak keberatan menghabiskan mala mini bersamamu”
● Latar suasana: Mengharukan, Joko: “Aku terharu, Sri.”
3. Dialog.
Dialog yang dibangun dalam naskah drama “Orang-orang di Tikungan Jalan
karya W.S Rendra ini merupakan dialog yang selalu bergantian atau dialog yang
teratur antara tiga tokoh utamanya.
4. Alur
Alur sorot balik atau flashback. Hal tercermin pada dialog naskah drama
tersebut.
Djoko : “dizaman revolusi aku mempunyai seorang gadis, ia terpaksa
kutinggalkan karena aku masuk laskar rakyat...”
Botak : “aku termasuk orang hancur dulunya. Seperti peristiwa kuno: aku
mempunyai seorang istri yang cantik...”
5. Tokoh & Penokohan
● Tokoh utama:
● Sri: Seorang pelacur yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap teman
dan keluarganya, serta mempunyai cinta yang tulus. Seperti cerita dan
akhir/ ending yang terjadi pada naskah drama tersebut, Sri melacur demi
keluarga, dan akhirnya ia menikah denga Tarjo yang usianya jauh lebih tua
darinya.
● Djoko: Seorang laki-laki yang mengharapkan dan setia pada kekasihnya
dan memiliki daya Tarik pada nama orang yang dijumpai. Sri:“Djoko selalu
tertarik kepada soal nama. Tadi waktu kami mula-mula berjumpa, ia juga
sangat ingin tau namaku”.
● Botak: Seorang laki-laki yang tegar dan selalu menjadi penengah. Botak:
“Pernah juga aku seperti halmu, tetapi aku sudah dapat mengatasinya.
Aku tak mau mabuk lagi sekarang.”
● Tokoh tambahan: Surati, Surya, Narko, Tarjo, Tukang Wedang.
● Surya: Seorang pemabuk yang mudah putus asa, terlihat pada naskah
drama tersebut bahwa ia meninggal karena bunuh diri.
6. Majas
Majas yang digunakan mudah dipahami, karena ini menyesuaikan bahasa
yang digunakan orang-orang di tikungan di kehidupan nyata.
7. Amanat
Amanat yang bisa diadapatkan pada naskah drama “Orang-Orang di Tikungan
Jalan” antara lain.
● Setiap permasalahan pasti ada solusi
● Kehidupan di tikungan jalan (lingkungan bebas) tak selamanya buruk.
Analisis Naskah Drama Lautan Bernyanyi
Karya Putu Wijaya
Naskah drama yang berjudul “Lautan Beryanyi” merupakan salah satu karya dari
banyaknya karya yang dihasilkan oleh sastrawan Indonesia, yakni Putu Wijaya. Naskah drama
menceritakan kandasnya kapal “Harimau Laut” akibat kutukan Dewata. Kapten Leo yang
kontroversil dan pemberang tidak memercayainya dan menganggapnya hal itu sudah biasa.
Namun, Comol, juru masak kapal “Harimau Laut” yang naif dan percaya takhayul ia
memercayai kandasnya kapal tersebut karena kutukan Dewata karena pelaut yang tidak
disiplin dan suka mabok-mabok.
Masalah yang dihadapi oleh kapten tersebut ini bukan saja semata-mata pada kapal
saja, tapi juga anak buahnya yang mulai bubar dan hidup bersama masyarakat Bali. Apalagi
Panieka, yaitu salah seorang anak buahnya itu membawa kabur seorang gadis Bali yang
kemudian dititipkan di kapal itu. Tragisnya Dayu Badung, gadis yang dibawa lari ke kapal
tersebut diserang penyakit cacar dan ia juga seorang gadis keturunan Leak.
1. Tema
Tema yang diangkat adalah tema keyakinan. Hal ini dilihat dari keyakinan dari
kapten Leo yang menganggap kandasnya kapal “Harimau Laut” itu sudah biasa.
2. Latar
● Latar tempat: di atas geladak kapal “Harimau Laut”, di tepi Pantai Sanur, Bali.
“SEMUA KEJADIAN DALAM NASKAH INI TERJADI DI ATAS GELADAK HARIMAU
LAUT YANG KANDAS DI TEPI PANTAI SANUR DI SEBELAH TIMUR DENPASAR.
SEBUAH PANTAI DI PULAU BALI YANG DIKENAL SEBAGAI BLACK MAGIC”
● Latar waktu: tanggal 2 Desember 1980, menjelang pagi, sore menjelang
malam dan pagi hari
“PADA SEBUAH MALAM YANG SURAM, TERDENGAR SUARA OMBAK SERTA
DESAU ANGIN YANG MISTERIUS.”
“PAGI TELAH DATANG, SETELAH MALAM YANG HUJAN LEBAT,…. “
“SORE MENJELANG MALAM, DALAM KEADAAN YANG SURAM….”
● Latar suasana:
● Gelisah, panik, dan tegang: Kapten: “Dia mengancam kita, dia hendak
membunuh kita. Tidak!”
KAPTEN LEO MEMBIDIKAN SENAPANNYA KE ARAH LAUT
● Senang dan lega: ADENAN BERSORAK KEGIRANGAN. KAPTEN LEO
MEMEGANG LENGANNYA YANG LUKA. IA MENGANGKAT BADAN COMOL
DAN MENDONGAKKAN KEPALA YANG KAKU ITU KE TENGAH LAUT
3. Dialog
Dialog yang digunakan dalam naskah drama ini mayoritas untuk merperkuat
karakter tokoh. Seperti penggunaan dialog-dialog pendek atau komunikatif lebih
bebas.
4. Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju dan dimulai dari orientasi hingga
penyelesaian masalah.
5. Tokoh & Penokohan
● Kapten Leo: sosok yang tegas, teguh dalam pendirian, dan mudah terbawa
suasana hati. Kapten: “Tidak. Aku tidak lebih percaya pada sesuatu yang ada
tapi tidak punya hakekat yang utama. Aku akan mengajarkan pada mereka
bagaimana seharusnya berpikir memakai otak!”
● Comol: sosok yang cerewet, percaya takhayul, dan sering dianggap tolol.
Comol : “Wah, Kapten dengar? Dayu Badung anak Dayu Sanur, anak Leak itu.
berbahya sekali Kapten. Jangan kita pelihara orang itu di sini. Ibunya tukang
Leak yang ditakuti di kampong nelayan di seluruh pantai Sanur ini. Ajaib,
Kapten. Jangan biarkan ia naik kapal, Kapten. Kapten, Dayu Sanur akan
membunuh kita”
● Adenan: sosok yang peduli. Adenan: “Jangan menambah korban lagi Rubi!
● Panieka: sosok yang tidak disiplin dan tidak menghargai. Panieka: “Aku
memerlukan tempat persembunyian untuk menunggu marah mereka selesai.
Di sini melarikan anak perempuan itu bisa, Mol”
● Rubi: sosok yang pemalu dan marah. Rubi: “Ah, Kapten tahu sendiri Rubi
sangat pemalu” “Aku benci! Aku benci kali pada kau!”
● Dayu Sanur: Dewa Laut yang buas. “Oo Kapten. Dayu Sanur sangat sakti. Kita
tak akan bisa melawannya. Dia tidak bisa dibohongi. Dia pasti tahu anaknya
di sini. Berbahaya sekali Kapten, jangan biarkan dia di sini Kapten, dengarlah
saya Kapten”
● Duku: sosok yang baik dan rendah hati. Sosok penentu akhir cerita drama.
6. Majas
● Majas simile: Langit cerah dan laut sangat tenang seperti bayi sedang tidur.
● Majas retorika: “… Tapi perlukah diucapkan?”
7. Amanat
Amanat yang bisa diambil dalam naskah drama “Lautan Beryanyi” antara lain
● Seseorang harus memiliki pendirian yang teguh.
● Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Analisis Naskah Drama Pada Suatu Hari
Karya Arifin C Noer
Naskah drama yang berjudul “Pada Suatu Hari” merupakan salah satu karya dari
banyaknya karya yang dihasilkan oleh sastrawan Indonesia, yakni Arifin C Noer. Naskah
drama ini menceritakan sepasang suami istri yang sudah memasuki masa tua dan baru saja
menggelar acara ulang tahun pernikahan mereka. Sejak muda mereka selalu bahagia dan
selalu menjadi pasangan yang romantis hingga pada masa tua. Sampai di suatu hari setelah
tergelarnya acara ulang tahun mereka. Si kakek ingin mendengarkan si nenek menyanyi,
karena dahulunya si nenek jago menyanyi, kakek ingin mendengarkan suara si nenek. Tak
lama kemudian datang seorang janda seksi bernama Nyonya Wenas berkunjung ke
kediaman pasangan tua itu, nyonya Wenas datang berkunjung bermaksud untuk meminta
maaf kepada kakek dan nenek karena tidak bisa hadir diacara yang mereka gelar itu. Nyonya
Wenas yang ternyata adalah mantan kekasih kakek menjadi penyebab utama kemarahan
nenek kepada kakek. Tanpa pikir panjang, nenek saat itu juga meminta bercerai kepada
kakek. Dengan segala cara kakek memohon agar dimaafkan dan agar nenek menarik kembali
perkataannya.
Nenek dan kakek bertengkar, tiba-tiba datang Nita, anak tertua nenek dan kakek
berkunjung menemui kedua orang tuanya. Nita hanya terdiam mendengan dan melihat
pertengkaran nenek dan kakek. Dan Novia, adik Nita datang dengan membawa
pakaian-pakaiannya. Novia yang ternyata juga sudah meminta cerai kepada suaminya karena
cemburu berlebih kepada pasien suaminya itu. Seolah tidak ada masalah apapun nenek
menasehati Novia agar tidak bercerai dengan kakek. Akhirnya masalah di antara nenek dan
kakek terhapus begitu saja karena anaknya, Novia.
1. Tema
Tema yang diangkat adalah tema problematika rumah tangga. Nenek: “Saya
ingin kita cerai”
2. Latar
● Latar tempat:
- Kamar baca, Kakek: “…dari sini tadi saya langsung ke kamar baca …”
- Ruangan, Sambil mengamati ruangan tengah.
● Latar waktu: Tidak ditemukannya latar waktu.
● Latar suasana:
- Keceriaan dan kebahagiaan, ketika nenek dan kakek sedang bercengkrama
di ruang tamu rumahnya pada awal cerita.
- Kemarahan dan kacau, ketika kehadiran Nyonya Wenas sehingga
membuat nenek ingin bercerai dari kakek.
3. Dialog
Dialog yang digunakan cerminan dialog keharmonisan maupun perpecahan
dalam kekeluargaan pada kehidupan nyata.
4. Alur
Alur pada naskah drama ini menggunakan alur maju, tetapi sedikit
menggunakan flashback. Hal ini bisa ditinjau dari kehadiran Nyonya Wenas
5. Tokoh & Penokohan
● Kakek: sosok yang bijak, penyayang dan sulit ditebak. Terlihat ketika Nyonya
Wenas datang berkunjung dan terdapat beberapa rahasia yang masih
disimpan oleh kakek.
● Nenek: sosok yang pencemburu, bijak, juga penyayang terhadap
anak-anaknya. Hal ini dibuktikan dengan nasihat yang Ia berikan pada adiknya
Nita.
● Nyonya Wenas: sosok yang sedikit centil mungkin dikarenakan nyonya Wenas
adalah janda dan mantan kekasih kakek juga.
● Novia: Anak kedua nenek dan kakek ini sifatnya tidak jauh dengan nenek
(ibunya), Novia terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan apa
yang akan terjadi setelahnya. Tetapi Novia juga memiliki sifat yang penyayang.
● Nita: Sosok yang bijak. Karena Nita hanya pemeran pembantu, karakter Nita
hanya sedikit yang ditunjukkan.
● Pesuruh: sosok yang amanat, jujur dan lalai.
● Arba, Sopir: sosok yang amanat dan jujur.
6. Majas
Mungkin dari banyak naskah drama, naskah drama ini lebih banyak
menyajikan majas yang beragam dibandingkan dengan naskah drama yang lainnya.
● Majas asosiasi: Janda: “Tapi kita punya matahari”
● Majas hiperbola: Perang bisu meletus antara kakek dan nenek.
7. Amanat
● Jangan gegabah dalam memutuskan suatu hal saat marah.
● Senantiasa berlaku jujur dan setia pada pasangan.
Analisis Naskah Drama Terjemahan Kereta Kencana
Karya W S Rendra dari Karya Asli Eugene Ionesco
Drama “Kereta Kencana” menceritakan tentang dua orang tua telah berusia dua abad
menunggu sebuah kereta kencana. Kereta kencana dengan sepuluh ekor kuda, satu warna.
Lama ditunggu, kereta itu tal juga tiba. Sementara suara- suara yang mengatakan mereka
akan segera dijemput terus saja berkumandang. Membuat mereka merasa semakin dekat
dengan kematian. Dua orang yang kesepian ini tidak mempunyai anak, dua orang yang
memiliki kejayaan masa lalu namun dimasa tuanya hanya bisa berkhayal agar kematian yang
segera menjemput mereka berdua dapat menjadi suatu yang bermakna.
Puncak dari drama ini, saat mereka benar – benar jenuh. Lalu saling mencerca satu
sama lain. Pertengkaran semakin menjadi. Ditengah suasana malam yang mencekam.
Mereka saling menyalahkan dan beradu argument, selalu terkekang dalam ruangan dan
jendela merepat mempercepat ataukah memperlambat waktu kematian mereka. Sungguh
kesepian dan kebosannan yang selalu mengiasi drama ini. Pertengkaran berakhir ketika
Kakek mendapat serang jantung, lalu sekejap tergelatak di kursi goyangnya yang telah tua
seperti umurnya. Sontak Nenek sangat terpukul, lalu melakukan berbagai cara agar Kakek
dapat tersadar kembali. Nenek pun berdiaolog snediri, meminang dan bernostalgia kisah
cintanya dengan Kakek. Sesekali Nenek melihat jendela, kereta kencana belum juga tiba.
Tema yang diangkat ini adalah kesetiaan dan kehidupan kakek-nenek. Hal ini bisa
dilihat dari tokoh dan cerita yang mengisahkan kesetiaan dan kehidupan. Alur yang
digunakan runtut dari awal sampai akhir. Dialog yang digunakan pada naskah drama ini
adalah dialog yang mudah dipahami yang sesuai dengan gaya bahasa yang digunakan yakni
mudah dipahami. Mungkin naskah ini merupakan naskah terjemahan.
Latar yang digunakan adalah rumah kakek-nenek itu sendiri dan waktunya pada
malam sembari menungguru kereta kencana. Mengenai tokoh dan penokohannya bisa
ditinjau dengan mudah. Hal ini menjadikan naskah ini sukses dipentaskan.
Amanat yang terkandung dalam naskah ini adalah Kita harus berusaha dan terus
tegar dalam menjalani kehidupan. Tidak boleh putus asa.
Analisis Naskah Drama Petang di Taman
Karya Iwan Simatupang
Naskah drama ini menceritakan pertemuan seorang lelaki dengan seorang paruh
baya yang berselisih terkait cuaca ketika mereka berada di Taman saat sore hari. Ditambah
dengan kedatangan penjual balon yang mengalami nasib naas ketika semua balon yang ada
ditangannya ludes terbang ke udara.
Singkat cerita datang seorang perempuan yang curiga terhadap penjual balon yang
memiliki wajah mirip “lelaki” yang telah merugikannya. Sehingga membuat perselisihan
semakin rumit dan tak terhindarkan.
Pertemuan para orang asing di atas menggambarkan realita kehidupan masyarakat
modern saat ini. Di tengah majunya teknologi serta kemudahan yang ada, tidak membuat
manusia lepas dari perasaan sepi yang kian hari semakin membelenggunya. Hal tersebut
coba digambarkan oleh Iwan Simatupang lewat pertemuan mereka di taman, yang notabene
merupakan tempat umum yang bertujuan agar orang-orang dapat melepaskan perasaan
penat, jenuh, serta letih mereka dengan mendatangi tempat yang asri.
Tema yang diangkat pada naskah drama ini adalah keresahan. Di mana Iwan meracik
sebuah naskah agar setiap penonton/ pembaca seakan ingin mengutarakan segala
keresahannya. Penggunaan alur pada naskah drama ini menggunakan alur maju, karena
diceritakan secara runtut dari awal hingga akhir.
Sesuai dengan judulnya, latar tempat naskah darama ini adalah taman. Kemudian
latar waktu petang menuju malam. Penokohan yang dipaparkan oleh Iwan tanpa
menggunakan nama. Iwan juga mayoritas menggunakan majas hiperbola. “Ya, kau
pengarang dan mahir benar kau membenam-kan deritamu dibalik kata-kata yang
sewaktu-waktu dapat kau hamburkan. Tapi bagaimana nak dengan kesunyianmu ? Ikutlah
saya kerumah saya yang apak itu. Agar adan teman saya. Dan agar ada teman anak.”
Amanat yang bisa diambil pada naskah ini adalah Setiap orang berhak mengutarakan
isi hatinya, berbagi ilmu, kisah atau masa lalunya dengan bebas karena manusia itu makhluk
sosial. tentu tidak bisa terlepas dari makhluk hidup yang lain. Karena kita membutuhkan satu
sama lain. Kita harus bersikap sama antara makhluk yang satu dengan yang lain.
LINK DOKUMEN LENGKAP SASTRA YANG DIANALISIS:
https://drive.google.com/drive/folders/1lTCL34EqRQIuvoewE1mowEV4biR1fpNs
Bionarasi Penulis
Abdullah Mahbub Ahmad, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Negeri Yogyakarta ini mencurahkan kehidupannya pada kehidupan akademik
maupun religi. Ia kuliah di UNY dan mondok di PP Al-Luqmaniyah, Umbulharjo, Yogyakarta.
Beberapa kali, ia merasakan culture shock selama di Jogja. Namun, ia sukses mengatasinya.
Ia memiliki motivasi hidup: HIDUP MULYA ATAU MATI SYAHID. TERIMA KASIH☺