The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Akbid Harapan Bunda Bima, 2022-10-31 07:17:33

Prosiding book webinar nasional & Publikasih ilmiah bidan tangguh bidan maju prodi d3 kebidanan fakultas ilmu kesehatan universitas muhammadiyah tasikmalaya

Prosiding

Keywords: e-book prosiding

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

adalah penelitian dari Kuwanti (2009) yang dan aromaterapi Citronella Oil adalah 3

menunjukan bahwa pijat bayi berpengaruh sehingga kelima responden tersebut dapat
terhadap kualitas tidur bayi umur 0-7 hari ( dikatakan mengalami peningkatan kualitas
pada X (pijat bayi, B = 2.398; sig= 0.006). tidur gangguan kualitas tidur Dan yang

Ini artinya bayi yang mendapat pemijatan ketiga, Pijat Tui Na dan Aromaterapi
kualitas tidurnya akan mengalami Citronella Oil efektif untuk meningkatkan

peningkatan. kualitas tidur pada bayi usia 3-12 bulan

Hasil Penelitian yang dilakukan di dengan nilai signifasi 0.001<0.05
Touch Research Institute Amerika yang
menunjukkan bahwa anak-anak yang dipijat SARAN
selama 2x15 menit setiap minggunya dalam
jangka waktu 4 minggu, juga memberikan Bagi masyarakat, Menambah
hasil bahwa tidurnya menjadi lebih nyenyak pengetahuan ibu tentang upaya
sehingga pada waktu bangun meningkatkan kualitas tidur pada bayi
konsentrasinya lebih baik daripada sebelum dengan melakukan pijat Tui Na dan
aromaterapi Citronella Oil.

diberi pemijatan. Penelitian lain dilakukan Bagi institusi, Dijadikan sebagai
oleh Roth (2010) tentang the relationship referensi tambahan tentang upaya
massage infant with pattern and sleep in meningkatkan kualitas tidur pada bayi
infants. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan melakukan pijat Tui Na dan
sentuhan-sentuhan yang diberikan pada saat aromaterapi Citronella Oil.
pijat bayi memiliki hubungan dengan
peningkatan kualitas tidur bayi yang DAFTAR PUSTAKA
ditunjukkan dengan peningkatan jumlah
durasi tidur bayi serta berkurangnya Afriyanti, D. (2018). Effects of Baby
gangguan tidur bayi.
Massage Using Lavender
KESIMPULAN
Aromatherapy in Fulfillment of
Dengan ini dapat disimpukan :
pertama, Penerapan Skore rerata PSQI pada Sleep Need Among Baby Age 6-12
kelima responden sebelum dilakukan
intervensi Pijat Tui Na dan aromaterapi Months in the Working Area Nilam
Citronella Oil adalah 6 sehingga kelima
responden tersebut dapat dikatakan Sari Health Center Bukittinggi in
mengalami gangguan kualitas tidur. Kedua,
skore rerata PSQI pada kelima responden 2017. Journal of Midwifery, 3(1),
setelah dilakukan intervensi Pijat Tui Na
13.

https://doi.org/10.25077/jom.1.1.13

-24.2018

Aini. (2017). Pengaruh Pijat Bayi

Terhadap Pola Tidur Bayi Usia 3-6

Bulan di RS Roemani Semarang.

Universitas Muhammadiyah

Semarang.

Ayuningtyas, I., & Ropitasari, R. (2018).

Hubungan Antara Dukungan Suami

Dengan Sikap Istri Pada Deteksi

Dini Kanker Leher Rahim

Menggunakan Tes Iva Di

Puskesmas Jaten Ii Kabupaten

585

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Karanganyar. PLACENTUM: for a pilot randomized controlled

Jurnal Ilmiah Kesehatan Dan trial. Pilot and Feasibility Studies,

Aplikasinya, 6(2), 33. 6(1), 169.

https://doi.org/10.20961/placentum. https://doi.org/10.1186/s40814-

v6i2.22854 020-00704-z

Ayuningtyas Kusumastuti, N. (2019). Crivello, A., Barsocchi, P., Girolami, M., &

Increase Sleep Quality with Palumbo, F. (2019). The Meaning

Massage’s Therapy on Infant Aged of Sleep Quality: A Survey of

3-6 Months. Acta Scientific Available Technologies. IEEE

Paediatrics, 2(10), 112–116. Access, 7, 167374–167390.

https://doi.org/10.31080/aspe.2019. https://doi.org/10.1109/ACCESS.2

02.0154 019.2953835

Baker, R. D., & Baker, S. S. (2021). 85 - De Onis, M. (2017). Child growth and

Infant and Toddler Nutrition. In R. development. Nutrition and Health

Wyllie, J. S. Hyams, & M. B. T.-P. in a Developing World, 119–141.

G. and L. D. (Sixth E. Kay (Eds.), Dewi Astriana Putri, & Ningsih, S. (2016).

Pediatric Gastrointestinal and Hubungan Pijat Bayi Dengan

Liver Disease (Sixth Edition) (pp. Kualitas Tidur Bayi. Jurnal

949-961.e3). Elsevier. Penelitian Kesehatan, 1(1), 67–69.

https://doi.org/https://doi.org/10.10 Fadzil, A. (2021). Factors Affecting the

16/B978-0-323-67293-1.00085-2 Quality of Sleep in Children.

Candraini, E. T., & Fitriana, L. B. (2019). Children, 8(2), 122.

Perbedaan Kualitas Tidur Bayi Usia https://doi.org/10.3390/children802

3-12 Bulan yang Dilakukan Baby 0122

Spa dan Tidak Dilakukan Baby HR, H. S. C. (2018). Metodologi Penelitian

Spa. Jurnal Ilmu Keperawatan Kesehatan dan Pendidikan.

Anak, 2(2), 59. Penebar Media Pustaka.

https://doi.org/10.32584/jika.v0i0.3 Humphreys, K., Zeanah, C., & Scheeringa,

47 M. (2015). Infant Development:

Cerqueira, A. C. D. R., Cardoso, M. V. L. The First 3 Years of Life. In

M. L., Viana, T. R. F., & Lopes, M. Psychiatry (pp. 134–158).

M. C. O. (2018). Integrative https://doi.org/10.1002/978111875

literature review: sleep patterns in 3378.ch9

infants attending nurseries. Revista Ifalahma, D. (2019). Effect of Baby

Brasileira de Enfermagem, 71(2), Massage on Baby’s Sleep Quality

424–430. (Based on Baby Massage Duration

https://doi.org/10.1590/0034-7167- and Frequency). International

2016-0480 Conference of Health, Science &

Champagne, F. A., & Curley, J. P. (2012). Technology, 7(6), 1–25.

Chapter 28 - Parental Behavior and Lin, P. C., Lee, P. H., Tseng, S. J., Lin, Y.

the Perinatal Programming of M., Chen, S. R., & Hou, W. H.

Infant Development. In G. Fink, D. (2019). Effects of aromatherapy on

W. Pfaff, & J. E. B. T.-H. of N. sleep quality: A systematic review

Levine (Eds.), Handbook of and meta-analysis. Complementary

Neuroendocrinology (pp. 619– Therapies in Medicine, 45(March),

638). Academic Press. 156–166.

https://doi.org/https://doi.org/10.10 https://doi.org/10.1016/j.ctim.2019.

16/B978-0-12-375097-6.10028-9 06.006

Chen, S.-C., Yu, J., Suen, L. K.-P., Sun, Y., Liu, M., Li, Y., Xian, J., Yang, W., Gao,

Pang, Y.-Z., Wang, D.-D., Zhao, Q., & Yu, J. (2020). Pediatric Tuina

W.-X., & Yeung, W.-F. (2020). (massage) for primary

Pediatric tuina for the treatment of monosymptomatic nocturnal

attention deficit hyperactivity enuresis: A protocol for systematic

disorder (ADHD) symptoms in review and meta-analysis.

preschool children: study protocol Medicine, 99(51).

586

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Mangkuji, B. (2012). dkk. Asuhan Samiasih, A. (2020). MODUL PIJAT TUI
Kebidanan 7 Langkah Soap. EGC. NA PADA ANAK.

McNelis, M. A. (2018). Does Lavender Sharma, R., Rao, R., Kumar, S., Mahant, S.,
Aromatherapy or Tea Improve & Khatkar, S. (2018). Therapeutic
Quality of Sleep in Women? Potential of Citronella Essential
Oil: A Review. Current Drug
Michalak, M. (2018). Aromatherapy and Discovery Technologies, 15.
methods of applying essential oils. https://doi.org/10.2174/157016381
Archives of Physiotherapy and 5666180718095041
Global Researches, 22, 25–31.
Sharma, R., Rao, R., Kumar, S., Mahant, S.,
Nudesti, N., & Sulastri, D. (2020). & Khatkar, S. (2019). Therapeutic
HUBUNGAN BABY MASSAGE potential of citronella essential oil:
DENGAN KUALITAS TIDUR a review. Current Drug Discovery
BAYI USIA 3-6 BULAN DI RIU Technologies, 16(4), 330–339.
MOM KIDS AND BABY SPA DI
SUKOHARJO PATI. Jurnal Ilmu Sheldon, S. H. (2014). Chapter 3 -
Dan Teknologi Kesehatan, 11(2), Development of Sleep in Infants
58–65. and Children. In S. H. Sheldon, R.
Ferber, M. H. Kryger, & D. B. T.-
Ohayon, M., Wickwire, E. M., Hirshkowitz, P. and P. of P. S. M. (Second E.
M., Albert, S. M., Avidan, A., Gozal (Eds.), Principles and
Daly, F. J., Dauvilliers, Y., Ferri, Practice of Pediatric Sleep
R., Fung, C., & Gozal, D. (2017). Medicine (pp. 17–23). W.B.
National Sleep Foundation’s sleep Saunders.
quality recommendations: first https://doi.org/https://doi.org/10.10
report. Sleep Health, 3(1), 6–19. 16/B978-1-4557-0318-0.00003-6

Paavonen, E. J., Saarenpää-Heikkilä, O., Sugiyono. (2017). Pendekatan Kuantitatif,
Morales-Munoz, I., Virta, M., Kualitatif, Kombinasi, R&D dan
Häkälä, N., Pölkki, P., Kylliäinen, Penelitian Evaluasi. In Metodelogi
A., Karlsson, H., Paunio, T., & Penelitian.
Karlsson, L. (2020). Normal sleep
development in infants: findings Surtinah, N., & Suharto, A. (2018).
from two large birth cohorts. Sleep Benefits of Massage for Infants
Medicine, 69, 145–154. Aged 3 to 5 Months. Health
https://doi.org/10.1016/j.sleep.2020 Notions, 2(2), 291–296.
.01.009
Tang. (2018). Pengaruh Pijat Bayi
Putri, M. F. E. P., Murtaqib, & Hakam, M. Terhadap Kualitas Tidur Bayi Usia
(2018). Pengaruh relaksasi 1–4 Bulan. Global Health Science,
aromaterapi jasmine terhadap 3(1), 12–16.
kualitas tidur pada lansia di Karang
Werdha (The effect of jasmine Tham, E. K., Schneider, N., & Broekman,
aromatherapy relaxation towards B. F. (2017). Infant sleep and its
sleeping quality for elderly at relation with cognition and growth:
elderly association). E-Jurnal a narrative review. Nature and
Pustaka Kesehatan, 6(3), 461–468. Science of Sleep, 9, 135–149.
https://doi.org/10.2147/NSS.S1259
Rohmawati, F. (2018). Pengaruh Baby 92
Massage Terhadap Kualitas Tidur
Bayi Usia 3-12 Bulan. Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Insan
Cendekia Medika.

587

Prosiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PENERAPAN SKRINING EPDS UNTUK MENGETAHUI KONDISI
PSIKOLOGIS IBU POSTPARTUM

Ngainun Ngulumiah, Kusumastuti, Hastin Ika Indriyastuti
Universitas Muhammadiyah Gombong

[email protected], 0856-4759-7433

ABSTRAK
Latar belakang: Masa nifas merupakan masa kritis bagi ibu postpartum, setelah
proses persalinan mereka akan mengalami perubahan fisik dan psikis, meskipun
perubahan tersebut dianggap sebagai pengalaman yang positif, namun mereka
memerlukan adaptasi fisik, psikologis dan sosial yang tidak mudah. Periode postpartum
diakui sebagai periode berisiko tinggi untuk perkembangan berbagai gangguan mood
yang meliputi, postpartum blues, depresi mayor, dan psikosis postpartum, untuk
mengetahui gangguan psikologis yang dialami ibu postpartum dapat dilakukan skrining
EPDS. Tujuan: Untuk mengetahui penerapan skrining EPDS pada kondisi psikologis
ibu postpartum. Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif dengan
pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari wawancara, kuesioner dan studi
kepustakaan. Partisipannya adalah 6 ibu postpartum yang memenuhi kriteria inklusi.
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, dan alat tulis. Hasil: Setelah dilakukan
penerapan skrining EPDS, di minggu pertama 4 partisipan mengalami postpartum blues,
2 partisipan dalam keadaan normal dan di minggu kedua semua partisipan dalam
keadaan normal. Kesimpulan: Penerapan skrining EPDS dapat digunakan untuk
mengetahui gangguan psikologis ibu postpartumb.

Kata kunci: Skrining EPDS, ibu postpartum, psikologis postpartum

ABSTRACT
Background: Postpartum period is a critical period for postpartum mothers, after
the labor process, they will have physical and psychological changes, although these
changes are usually considered as a positive experience, they need physical,
psychological and social adaptation which are not easy. The postpartum period is
recognized as a period of high risk for the development of various mood disorders,
including postpartum blues, major depression, and postpartum psychosis, to find out
psychological disorders experienced by postpartum mothers is by conducting EPDS
screening. Objective: To know the application of EPDS screening upon the
psychological condition of postpartum mothers. Method: This paper is a qualitative
descriptive with a case study approach. Data was obtained from interviews,
questionnaires and literary study. The participants were 6 postpartum mothers who met
the inclusion criteria. The instruments used were questionnaires, and stationery. Result:
After having the application of EPDS screening, 4 participants experienced postpartum
blues in the first week and 2 participants were in normal condition. In the second week
all participants were in normal condition. Conclusion: The application of EPDS
screening can be used to know for psychological disorders of postpartum mothers.

Keywords: EPDS Screening, postpartum mothers, psychological disorder

588

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PENDAHULUAN yang mengalami depresi postpartum adalah
Masa nifas merupakan masa kritis, di 6,6% (Kusumastuti et al., 2019). Hal ini
menandakan bahwa kejadian depresi
mana ibu bisa merasa sangat lelah dan postpartum perlu mendapatkan perhatian
cemas. Prevalensi kecemasan pasca mengingat masih banyaknya insiden yang
persalinan juga dilaporkan sebesar 18% terjadi di berbagai daerah.
dalam penelitian di Maryland di AS dan
12,7% dalam penelitian di Australia Selatan Depresi postpartum memiliki dampak
(Sarli & N Sari, 2018). Terdapat tiga bentuk langsung pada ibu dan berisiko jangka
perubahan psikologis pada masa panjang terhadap kesehatan mental ibu.
postpartum yaitu postpartum blues, depresi Selain itu juga memiliki dampak negatif
postpartum, dan psikosa postpartum terhadap perkembangan fisik, sosial, dan
(Ristanti & Masita, 2020). Depresi kognitif anak (Putriarsih et al., 2017).
pascapartum adalah salah satu jenis Program Pemerintah yaitu melakukan
gangguan depresi yang terjadi selama kunjungan ulang pada masa nifas yang
kehamilan atau dalam 4 minggu setelah dilakukan minimal 3 kali meliputi deteksi
melahirkan (Tolossa et al., 2020). dini, pencegahan dan menangani
komplikasi (Murwati & Suroso, 2017).
Menurut WHO angka kejadian untuk mengetahui gangguan psikologis
postpartum blues cukup tinggi yakni 26%- yang dialami ibu postpartum dapat
85%. Beberapa penelitian menjelaskan dilakukan skrining EPDS. EPDS adalah
sebanyak 50% ibu postpartum mengalami salah satu upaya untuk mendiagnosis
postpartum blues setelah melahirkan. 3 Di gangguan psikologis postpartum.
Indonesia yaitu 50-70%, hal ini dapat (Kumalasari & Hendawati, 2019).
berlanjut menjadi depresi postpartum
dengan jumlah bervariasi dari 5%-25% ibu Berdasarkan latar belakang tersebut
postpartum. (Sari, 2020). Penelitian di penulis tertarik untuk melakukan penerapan
beberapa rumah sakit di Indonesia seperti di skrining EPDS untuk mengetahui kondisi
RSUP Haji Adam Malik, Medan tahun psikologis ibu postpartum.
2009 bahwa dari 50 ibu postpartum spontan
dirawat inap sebanyak 16% mengalami METODE STUDI KASUS
depresi postpartum (Sari, 2020). Pada tahun Metode yang digunakan adalah
2017 di RS KIA Sadewa Yogyakarta,
kejadian depresi postpartum adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan
sebanyak 7,7% (Diniyah, 2017). Kejadian studi kasus pada 6 partisipan ibu
depresi postpartum di RSUD Kebumen postpartum Di PMB Brida Kity Dinarum
tahun 2013 adalah kemungkinan depresi S.ST, Kecamatan Sempor Kabupaten
rendah 75,8%, baby blues 15,4%, Kebumen. Pengumpulan data dikumpulkan
kemungkinan depresi postpartum 2,2%, dan dengan wawancara, observasi, studi
kepustakaan.

589

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Penerapan Skrining EPDS postpartum 3 hari fisiologis
diberikan pada ibu nifas pada hari ke 3, ke Partisipan IV
7 dan ke 14. Subjektif : Hasil pengkajian pada tanggal
29 Juni 2021 didapat partisipan atas nama
HASIL STUDI KASUS Ny. F berusia 24 tahun, Pendidikan terakhir
1. Penerapan Kuesioner EPDS SMA beragama Islam, bekerja sebagai IRT,
Ny. F tinggal di Desa Sikayu Rt 02/rw 03
Partisipan I Objektif : Hasil pemeriksaan dalam batas
Subjektif : Hasil pengkajian pada tanggal normal
30 Juni 2021 didapat partisipan atas nama Analisa : Ny. F umur 24 tahun P1A0Ah1
Ny. R berusia 30 tahun, Pendidikan terakhir postpartum 3 hari fisiologis
SMP, beragama Islam, bekerja sebagai IRT. Partisipan V
Ny. R tinggal di Desa Selokerto rt 05/rw 03 Subjektif : Hasil pengkajian pada tanggal
Objektif : Hasil pemeriksaan dalam batas 29 Juni 2021 didapat partisipan atas nama
normal Ny. T berusia 27 tahun, Pendidikan terakhir
Analisa : Ny. R umur 30 tahun P2A0Ah2 SMK beragama Islam, bekerja sebagai IRT.
postpartum 3 hari fisiologis Ny. T tinggal di Desa Gunungmujil rt 01/rw
Partisipan II 06
Subjektif : Hasil pengkajian pada tanggal 4 Objektif : Hasil pemeriksaan dalam batas
Juli 2021 didapat partisipan atas nama Ny. normal
M berusia 31 tahun, Pendidikan terakhir Analisa : Ny. T umur 27 tahun P1A0Ah1
SMP, beragama Islam, bekerja sebagai IRT, postpartum 3 hari fisiologis
Ny. M tinggal di Desa Banyumudal rt Partisipan VI
04/rw 03 Subjektif : Hasil pengkajian pada tanggal
Objektif : Hasil pemeriksaan dalam batas 09 Juli 2021 didapat partisipan atas nama
normal Ny. W berusia 24 tahun, Pendidikan
Analisa : Ny. M umur 31 tahun P2A0Ah2 terakhir SMA beragama Islam, bekerja
postpartum 3 hari fisiologis sebagai IRT, Ny. W tinggal di Desa
Partisipan III Kamulyan rt 03/rw 01
Subjektif : Hasil pengkajian pada tanggal 4 Objektif : Hasil pemeriksaan dalam batas
Juli 2021 didapat partisipan atas nama Ny. normal
R berusia 28 tahun, Pendidikan terakhir Analisa : Ny. W umur 24 tahun P1A0Ah1
SMA, beragama Islam, bekerja sebagai postpartum 3 hari fisiologis
IRT, Ny. R tinggal di rumah dengan suami Penatalaksanaan :
dan anaknya di Desa Selokerto rt 05/rw 03. Memberikan kuesioner EPDS kepada setiap
Objektif : Hasil pemeriksaan dalam batas partisipan pada hari ke 3, 7, 14
normal 2. Karakteristik Partisipan
Analisa : Ny. R umur 28 tahun P2A0Ah2

590

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Postpartum 1 33,33%

Menurut Usia, Pendidikan, Paritas, dan blues

Pekerjaan, Depresi 0 0

Karakteristik Frekuensi Presentase postpartum 3 100%

Usia Total

<20 thn 0 0 Hari Ke-14

20-35 thn 6 100 Normal 3 100%

>35 thn 0 0 Postpartum 0 0

Total 6 100% blues

Paritas Depresi 0 0

Multipara 3 50 postpartum 3 100%

Primipara 3 50 Total

Total 6 100% Sumber : Data Primer, 2021.

pendidikan Dari tabel 2. Dapat diperoleh hasil

SD 0 0 yaitu pada hari ke-3 100% partisipan

SMP 4 33,33

SMA 2 66,67 mengalami postpartum blues, di hari ke-7

PT 0 0 33,33% mengalami postpartum blues,

Total 6 100%

Pekerjaan 66,67% dalam keadaan normal, hari ke-14

IRT 6 100 100% partisipan dalam keadaan normal.

Swasta 0 0

PNS 0 0 4. Kondisi Psikologis Ibu Postpartum

Total 6 100% Multipara

Sumber : Data primer, 2021.

Berdasarkan data 1. Dapat diperoleh Table 3. Distribusi frekuensi skor EPDS

hasil yaitu 100% (6 partisipan) dalam masa postpartum primipara

Variabel Frekuensi presentase

produktif. Proporsi paritas multipara yaitu Hari Ke-3

50% dan primipara 50%. Partisipan dengan Normal 2 66,67%

Postpartum 1 33,33%

Pendidikan terakhir SMP sebanyak 33,33%, blues

SMA/SMK sebanyak 66,67%, seluruh Depresi 0 0

postpartum 3 100%

partisipan bekerja sebagai IRT yang artinya Total

tidak memiliki penghasilan tetap. Hari Ke-7

Normal 3 100%

Postpartum 0 0

blues

Depresi 0 0

3. Kondisi Psikologis Ibu Postpartum postpartum 3 100%

Primipara Total

Hari Ke-14

Table 2. Distribusi frekuensi skor EPDS Normal 3 100%

postpartum primipara Postpartum 0 0

Variabel Frekuensi presentase blues

Hari Ke-3 Depresi 0 0

Normal 0 0 postpartum 3 100%

Postpartum 3 100% Total

blues Sumber : Data Primer, 2021.

Depresi 0 0 Dari tabel 3. Dapat diperoleh hasil

postpartum 3 100% yaitu ibu postpartum multipara di hari ke-3

Total

Hari Ke-7 66,67% dalam keadaan normal, dan 33,33%

Normal 2 66,67%

591

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

mengalami postpartum blues, di hari ke-7 82,2%, p value 0,0001 (Zhong et al.,
dan ke-14 semua partisipan dalam keadaan
normal. 2015).

PEMBAHASAN 2. Karakteristik Partisipan (umur,
1. Penerapan Skrining EPDS
paritas, pendidikan, pekerjaan)
Setiap partisipan diberikan
Kuesioner EPDS dan dijawab dengan a. Umur
sejujur-jujurnya sesuai dengan kondisi
atau keadaan yang sedang dialami. Hasil study kasus dalam
Kuesioner EPDS berisi 10 pertanyaan
tentang bagaimana perasaan partisipan penerapan yang penulis lakukan
dalam 1 minggu terakhir. Kuesioner
EPDS diberikan pada hari ke-3, hari ke- selama 2 minggu yang melibatkan 6
7, dan hari ke-14 postpartum pada setiap
partisipan. partisipan dengan rentan umur 20-35

EPDS adalah kuesioner untuk tahun yang artinya semua partisipan
menskrining kondisi psikologis ibu,
masing masing pertanyaan memiliki dalam masa produktif. Penerapan
nilai 0-3 dengan jumlah total skore
maksimal 30 point, jika seorang yang penulis lakukan terdapat 4
perempuan mendapatkan nilai 0-9
artinya dalam keadaan normal, jika partisipan (66,67%) dengan umur 24
jumlah skore 10-14 artinya Postpartum
Blues, jika jumlah skore ≥15 maka tahun, 27 tahun, 24 tahun, dan 28
artinya depresi postpartum.
tahun, yang mengalami postpartum
Hasil Analisa pada partisipan ini
yaitu bahwa di minggu pertama tiga blues dan dua partisipan lainnya
partisipan mengalami postpartum blues.
Artinya penerapan Edinburgh Posnatal (33,33%) dengan umur 30 tahun dan
Depression Scale (EPDS) dapat
mengetahui kondisi psikologis ibu 31 tahun, dalam keadaan normal.
postpartum. Hal ini sesuai dengan
penelitian Zhong et al., (2015) yang Partisipan yang mengalami potpatum
memiliki hasil terhadap skrining baby
blues menggunakan EPDS dengan hasil blues ≤30 tahun sedangkan partisipan
sensitifitas 83,5% dan spesifisitas
dalam keadaan normal ≥30 tahun,

Meningkatnya usia ibu akan

meningkatkan kematangan

emosional, sehingga meningkatkan

pula keterlibatan dan kepuasan dalam

peran sebagai orang tua dan

membentuk pola tingkah laku

maternal yang optimal pula

(Ernawati et al., 2020). Hasil study

kasus yang dilakukan terdapat

kesenjangan dengan teori Susanti

(2018) bahwa usia merupakan salah

satu faktor resiko postpartum blues.

Usia yang berisiko mengalami

postpartum blues ≤ 20 tahun dan ≥

35 tahun. Faktor pencetus terjadinya

postpartum blues adalah pada usia

592

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

kurang dari 20 tahun. pada tingkat pendidikan SMP

b. Paritas (33,33%) dalam keadaan normal dan

Hasil study kasus dalam pada tingkat pendidikan SMA

penerapan ini dengan proporsi (66,67%) mengalami postpartum

primipara dan multipara yang sama blues. Hasil study kasus yang

mendapatkan hasil semua primipara dilakukan penulis terdapat

(50%) mengalami postpartum blues kesenjangan dengan penelitian yang

sedangakan multipara satu partisipan mengatakan bahwa pendidikan

(16,67%) mengalami postpartum seseorang akan mempengaruhi cara

blues dan dua partisipan (33,33%) berpikir dan acara pandang terhadap

dalam keadaan normal. Ibu diri dan lingkungannya, karena itu

postpartum dengan anak pertama akan berbeda sikap partisipan yang

akan mengalami tanda gejala mempunyai pendidikan tinggi

postpartum blues, sesuai dengan dibandingkan dengan partisipan

hasil analisis literature review berpendidikan rendah dalam

Yunitasari (2020) bahwa primipara menyikapi proses selama persalinan

lebih beresiko mengalami sehingga pada pendidikan rendah

postpartum blues atau depresi sering terjadi postpartum

postpartum dari pada ibu multipara. blues.(Ernawati et al., 2020).

Hal ini dipicu karena ibu dengan d. Pekerjaan

anak pertama belum mempunyai Hasil study kasus ini menunjukan

pengalaman dalam merawat bayi, hal bahwa pekerjaan ibu tidak menekan

ini sesuai dengan penelitian yang kejadian depresi postpartum. Hal ini

dilakukan oleh Macmudah (2015) sesuai dengan beberapa penelitian

bahwa ibu dengan postpartum blues yang menyatakan tidak ada

atau depresi postpartum akan perbedaan antara ibu yang bekerja

kesulitan merawat bayi dan menyusui dan tidak bekerja dengan postpartum

kurang optimal. Sehingga diperlukan blues atau depresi postpartum. (Eka

dukungan orang bterdekat untuk & Kusumastuti, 2017). Hasil

perawatan bayi. pengkajian pada keenam partisipan

c. Pendidikan 100% partisipan tidak memiliki

Dari segi latar belakang pendidikan, penghasilan tetap atau bekerja

peneliti mengkategorikan tingkat sebagai ibu rumah tangga. Ibu yang

pendidikan menjadi empat kategori, bekerja sebagi ibu rumah tangga

yaitu tingkat pendidikan SD, SMP, tidak mempengaruhi untuk terjadinya

SMA dan Perguruan tinggi. Hasil postpartum blues atau depresi

study kasus yang dilakukan adalah postpartum. Hal ini bisa disebabkan

593

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

karena ekonomi keluarga sudah atau tiga hari setelah persalinan dan
tercukupi oleh suami yang bekerja biasanya hilang dalam satu atau dua
ataupun juga kesiapan mental dari minggu (Ernawati et al., 2020).
partisipan dalam menerima kelahiran 4. Kondisi Psikologis Ibu Postpartum
bayinya. Beberapa hasil penelitian Multipara
mengatakan tidak ada perbedaan
antara ibu yng bekerja dan tidak Hasil study kasus pada penerapan
bekerja dengan postpartum blues ini di hari ke-3 1 partisipan (33,33%)
atau depresi postpartum (Eka & mengalami postpartum blues, 2
Kusumastuti, 2017). partisipan (66,67%) dalam keadaan
3. Kondisi Psikologis Ibu Postpartum normal, hal ini dapat disebabkan
Primipara karena jarak kelahiran anak pertama
dengan anak yang kedua terlalu dekat
Primipara memiliki faktor resiko sehingga ibu merasa sudah cukup
kecemasan, stress yang berpotensi melelahkan dalam merawat anak
mengalami komplikasi berupa sebelumnya dan ditambah dengan
depresi pascapersalinan melalui anak yang baru dilahirkan. Salah
peran baru sebagai seorang ibu untuk satu faktor yang memicu
pertama kalinya (Gurnita, Winda et terjadinya post partum blues pada
al., 2020). Hasil study kasus dalam ibu multipara adalah faktor fisik.
penerapan ini di hari ke 3 semua Kelelahan fisik seringkali terjadi
partisipan (100%) mengalami pada ibu akibat dari mengasuh anak
postpartum blues. Hari ke-7 1 hampir sepanjang waktu mulai dari
partisipan (33,33%) mengalami memandikan bayi, mengganti popok,
postpartum blues dan 2 partisipan menyusui, stres pada saat anak
(66,67%) dalam keadaan normal, hal rewel dan mengalami sakit,
ini dapat dikarenakan partisipan menidurkan anak dan berbagai
dengan keadaan postpartum blues aktivitas lainnya sangatlah menguras
memiliki keluhan di hari ke-7 yaitu tenaga. Dengan kelahiran anak yang
ibu merasa cemas khawatir jika bayi kedua atau yang ketiga, maka
sakit, khawatir apa yang bayi mau beban itu tentunya akan makin
ibu tidak paham sehingga bayi bertambah dan hal ini akan
rewel. hari ke 14 semua partisipan menimbulkan stres yang tinggi
(100%) dalam keadaan normal. Hal pada ibu. Hasil penelitian Fitriana
ini sesuai dengan teori bahwa & Nurbaeti (2015) menunjukkan
Postpartum blues adalah perasaan bahwa kejadian post partum blues
sedih dan depresi segera setelah lebih banyak terjadi pada multipara
persalinan dengan gejala dimulai dua dibandingkan dengan primipara

594

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

dengan rasio perbandingan 1,67 : mengalami postpartum blues, 66,67%

1. dalam keadaan normal, ke-7 dan ke-14
Hari ke-7 dan ke-14 semua dalam keadaan normal
Saran
partisipan dalam keadaan normal.

Hal ini sesuai dengan teori bahwa 1. Bagi Partidipan
Postpartum blues adalah perasaan Diharapkan bagi ibu postpartum

sedih dan depresi segera setelah untuk dapat mencegah depresi

persalinan dengan gejala dimulai dua postpartum dengan cara meningkatan
atau tiga hari setelah persalinan dan kepribadiannya lebih positif dengan cara

biasanya hilang dalam satu atau dua mengutarakan keluhannya pada suami
minggu (Ernawati et al., 2020).
KESIMPULAN DAN SARAN dan orang lain dan lebih terbuka
Kesimpulan
1. Skrining EPDS sudah diberikan pada terhadap orang lain sehingga ibu lebih
semua ibu postpartum hari ke-3, hari ke-
7 dan hari ke-14 dengan baik dan lancar. siap untuk menghadapi kondisi yang
2. Karakteristik partisipan berdasarkan
umur 6 partisipan 100% dalam rentan akan datang setelah melahirkan.
usia 20-35 tahun yang berarti semua
partisipan dalam masa produktif dan 2. Bagi Pelayanan Kesehatan
bukan resiko tinggi, 50% partisipan
dengan paritas primipara dan 50% Sebagi tenaga Kesehatan, bidan
dengan paritas multipara, partisipan
dengan pendidikan terakhir SMP diharapkan dapat membantu
sebanyak 33,33%, sedangkan
SMK/SMA sebanyak 66,67%, semua mengembangkan Skrining tersebut
partisipan bekerja sebagai IRT yang
artinya tidak memiliki penghasilan tetap. dengan cara ikut serta mendukung
3. Kondisi psikologis ibu postpartum
primipara pada hari ke-3 semua penerapan Skrining EPDS untuk

mengetahui kondisi psikologis ibu

postpartum sehingga gangguan

psikologis ibu postpartum dapat dicegah

dan ditangani dengan baik dan benar.

3. Peneliti Lebih Lanjut

Perlu dilakukan penelitian lanjut

tentang inovasi yang dapat mengetahui

kondisi psikologis ibu postpartum dan

dapat melanjutkan penelitian ini dengan

analisis yang lebih mendalam

mengalami postpartum blues, hari ke-7

terdapat 33,33 % mengalami postpartum DAFTAR PUSTAKA
blues, 66,67% dalam keadaan normal,
hari ke-14 semua partisipan dalam Eka, A., & Kusumastuti. (2017). Penerapan
keadaan normal Massage Terapi dengan Tehknik
4. Kondisi psikologis ibu postpartum Effleruage sebagai encegahan
multipara pada hari ke-3 33,33% depresi postpartum pada ibu nifas
di BPM Tugirah.

Ernawati, D., Merlin, W. O., & Ismarwati,
I. (2020). Kejadian Postpartum

595

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Blues pada Ibu Postpartum di RS Putriarsih, R., Budihastuti, U. R., & Murti,
PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Jurnal Ners Dan Kebidanan B. (2017). Prevalence and
(Journal of Ners and Midwifery),
7(2), 203–212. Determinants of Postpartum
https://doi.org/10.26699/jnk.v7i2.ar
t.p203-212 Depression in Sukoharjo District,
Gurnita, Winda, F., Suwondo, A., & Astuti,
Puji, Endang, Sri, R. (2020). Faktor Central Java. Journal of Maternal
Yang Mempengaruhi Tingkat
Kecemasan Postpartum Primipara. and Child Health, 03(01), 395–408.
4(2), 42–46.
Kumalasari, I., & Hendawati, H. (2019). https://doi.org/10.26911/thejmch.20
Faktor Risiko Kejadian Postpartum
Blues Di Kota Palembang. JPP 17.03.01.02
(Jurnal Kesehatan Poltekkes
Palembang), 14(2), 91–95. Ristanti, A. D., & Masita, E. D. (2020).
https://doi.org/10.36086/jpp.v14i2.
408 Analisis Health Seeking Behavior
Kusumastuti, Astuti, D., & Dewi, A.
(2019). Efektivitas Massage Terapi Pada Ibu Postpartum Blues Suku
Effleurage Guna Mencegah
Kejadian Depresi Postpartum Pada Madura. 14(2), 94–99.
Ibu Nifas. Jurnal Ilmiah
Kesehatan, XII(I), 451–457. Sari, R. A. (2020). Literature Review:
Murwati, M., & Suroso, S. (2017).
Penerapan Cognitif Behavior Depresi Postpartum. Jurnal
Therapi (CBT) Pada Ibu Nifas
Sebagai Upaya Pencegahan Depresi Kesehatan, 11(1), 167–174.
Post Partum Di Kabupaten Klaten.
Jurnal Kebidanan Dan Kesehatan https://doi.org/10.26630/jk.v11i1.1
Tradisional, 2(2), 91–96.
https://doi.org/10.37341/jkkt.v2i2.9 586
1
Sarli, D., & N Sari, F. (2018). the Effect of

Massage Therapy With Effleurage

Techniques As a Prevention of

Baby Blues Prevention on Mother

Postpartum. International Journal

of Advancement in Life Sciences

Research, 1(3), 15–21.

https://doi.org/10.31632/ijalsr.2018

v01i03.003

Tolossa, T., Fetensa, G., Abadiga, M.,

Yilma, M., Wakuma, B., & Besho,

M. (2020). Postpartum depression

and associated factors among

postpartum women in Ethiopia: a

systematic review and

metaanalysis, 2020. Public Health

Reviews, 1–21.

596

Prosiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PENERAPAN SARI BUAH BIT UNTUK MENINGKATKAN HEMOGLOBIN
IBU HAMIL TM III DENGAN ANEMIA

Ade Tusiyatun, Eti Sulastri, Juni Sofiana
Universitas Muhammadiyah Gombong
[email protected]/085640954011

ABSTRAK
Latar belakang: Kekurangan zat besi dan asam folat dalam makanan merupakan
penyebab umum terjadinya anemia pada ibu hamil. Kebutuhan zat besi dan asam folat
meningkat selama kehamilan, terutama pada trimester terakhir. Sari buah bit (beta
vulgaris) merupakan salah satu sumber makanan alternatif nonfarmakologis yang
mengandung zat besi dan asam folat yang berfungsi meningkatkan produksi sel darah
merah yang dapat mencegah anemia pada ibu hamil. Objektif: Untuk mengetahui
efektivitas jus bit dalam peningkatan Hemoglobin (Hb) ibu hamil dengan anemia pada
kehamilan trimester ketiga. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan adalah 3 ibu hamil trimester III
yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi.
Data diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil: Setelah minum jus
bit, terjadi peningkatan Hemoglobin (Hb) semua peserta – dari 8.0gr% menjadi 12.5gr%
(peserta 1), dari 8.2gr% menjadi 13.0gr% (peserta 2), dan dari 7.3gr% menjadi 11.5gr%
(peserta 3). Kesimpulan: Pemberian jus buah bit efektif untuk meningkatkan
Hemoglobin (Hb) ibu hamil dengan anemia pada kehamilan trimester III.

Kata kunci: Jus bit, hemoglobin (Hb), anemia

ABSTRACT
Background: Lack of iron and folic acid in the diet can commonly cause anemia
of pregnant mothers. The need for iron and folic acid increases during pregnancy,
especially in the last trimester. Beet juice (beta vulgaris) is a kind of non-
pharmacological alternative food source containing iron and folic acid which can
increase blood cell production to prevent anemia of pregnant mothers. Objective: To
find out the effectiveness of beet juice in increasing Hemoglobin (Hb) of pregnant
mothers with anemia in their third trimester pregnancy. Method: This study is a
qualitative descriptive with a case study approach. The participants were 3 pregnant
mothers in trimester III who met the inclusion criteria. The instrument used was
observation sheet. Data were obtained from interview, observation, and documentation.
Result: After having beet juice, there was an increase in the Hemoglobin (Hb) of all
participants – from 8.0gr/dl% became 12.5gr/dl% (participant 1), from 8.2gr/dl%
became 13.0gr/dl% (participant 2), and from 7.3gr/dl% became 11.5gr/dl%
(participant 3). Conclusion: The application of beet juice is effective to increase the
Hemoglobin (Hb) of pregnant mothers with anemia in their third trimester pregnancy.

Keywords: Beet juice, hemoglobin (Hb), anemia

PENDAHULUAN konsentrasi hemoglobin dibawah batas
Anemia mengacu pada jumlah dan normal. Dan oleh karena itu mengganggu
kemampuan darah untuk membawa oksigen
ukuran sel darah merah (eritrosit) atau

597

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

keseluruh tubuh seorang wanita hamil tahun sebesar 33,6 %, dan mereka yang
dikatakan anemia yaitu Hemoglobin
dibawah 11 gr/dl (Anjelina Puspita Sari1, berusia antara 45-54 tahun sebesar 24 %
2019). Menurut WHO ada 3 derajat
keparahan anemia yaitu ada anemia ringan (Dhini Anggraini Dhilon, Pena Sundari,
(10,0 – 10,9 gr/dl), sedang (7,0 – 9,9 gr/dl),
dan berat (< 7,0 gr/dl) (Sylvana et al., 2020). Berdasarkan data Dinas Kesehatan
2018).
Provinsi Jawa Tengah sebesar 12,36 lebih
Angka prelevasi penderita anemia
tetap tinggi. Hal ini dibuktikan dengan data rendah dari pada angka nasional tahun
World Health Organization (WHO) tahun
2018, membuktikan bahwa prelevasi (2015) sebesar 50,9%. Jumlah ibu hamil
global anemia pada kehamilan diperkirakan
sekitar 41,8% dan prevalensi di Afrika 35% terbesar yang mengonsumsi tablet zat besi
hingga 60%, Asia dan Amerika Latin
dilaporkan < 20% negara industri. terdapat di Kebumen dengan angka 98,8%
Perkiraan prelevasi terendah adalah 5,7% di
AS dan tertinggi di Gambia 75%, dan India (Anindita & Novyriana, 2019).
65-75% (Anindita & Novyriana, 2019).
Penyebab utama anemia yaitu
Menurut data Association of
Developing Countries (ASEAN) misalnya kekurangan zat besi dan kekurangan asam
di Vietnam terdapat 18 dari 100.000
kelahiran hidup, di Malaysia terdapat 5,5 folat. WHO memperkirakan angka kejadian
dari 100.000 kelahiran hidup, Filiphina
terdapat 26 dari 100.000 kelahiran hidup anemia pada keluarga dengan setatus
dan di Singapura ada 3 dari 100.000
kelahiran hidup. Sementara itu, angka ekonomi sedang dan ekonomi rendah
kematian di Indonesia mencapai
248/100.000 kelahiran hidup(Anindita & mencapai 42% (Dhini Anggraini Dhilon,
Novyriana, 2019)
Pena Sundari, 2020). Jika tidak ditangani
Dalam 5 tahun terakhir, jumlah ibu
hamil dengan anemia di Indonesia anemia dapat menghambat pertumbuhan
mengalami peningkatan sebesar 11,8%,
artinya Indonesia memiliki rata-rata anemia sel-sel di tubuh dan otak, sehingga
tertinggi pada tahun 2018, yaitu 84,6 %
pada kelompok usia 15-24 tahun, 33,7% mengakibatkan hipoksia (kekurangan
dari kelompok usia 25-34 tahun, usia 35-44
oksigen) baik yang ke tubuh maupun ke

otak. Bagi ibu hamil, anemia dapat

mengakibatkan terjadinya perdarahan

postpartum karena atonia uteri (kontraksi

uterus kurang baik) (Dhini Anggraini

Dhilon, Pena Sundari, 2020).

Adapun bagi janin anemia bisa

menyebabkan keguguran, persalinan

prematur, BBLR, bayi mati dalam

kandungan, asfiksia, intrauterine growth

restriction (IUGR) atau pertumbuhan janin

tidak normal selama kehamilan (Dhini

Anggraini Dhilon, Pena Sundari, 2020).

Usaha pemerintah dalam

menanggulangi anemia baik ibu hamil

maupun wanita usia subur antara lain

melelui kebijakan Indonesia sehat dan

598

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

pembangunan jangka panjang dengan orang, sedangkan untuk Trimester III 5
orang. Dari hasil wawancara kususnya ibu
pemberian tablet zat besi secara bertahap hamil Trimester III 3 diantaranya sering
mengeluhkan cepat mudah lelah, mudah
(Anindita & Novyriana, 2019). mengantuk dan pucat.

Penanganan anemia bisa dilakukan Dari latar belakang diatas sehingga
penulis tertarik untuk melakukan
dengan dua cara yaitu, dengan farmakologis “Penerapan Sari Buah Bit untuk
Meningkatkan Hemoglobin Pada Ibu Hamil
dan nonfarmakologis. Cara farmakologis Trimester III dengan Anemia di PMB
Sugiyastuti Amd,Keb Sruweng, Kebumen”.
adalah dengan memberikan tablet zat besi Tujuan dari penerapan ini adalah untuk
mengetahui keefektifan sari buah bit dalam
dan asam folat. Sedangkan meningkatkan Hemoglobin pada ibu hamil
dengan anemia.
nonfarmakologis penanganan anemia yaitu
METODE STUDI KASUS
salah satunya dengan cara mengonsumsi Penelitian ini merupakan jenis

sari buah bit. Kelebihan dari cara penelitian studi kasus. Studi kasus (case
study) adalah penelitian yang dilakukan
nonfarmakologi adalah meningkatkan terhadap suatu objek yang disebut sebagai
kasus yang dilakukan secara menyeluruh
pemahaman pasien tentang penyakit, dan mendalam dengan menggunakan
berbagai macam sumber data. Cara meneliti
meningkatkan kemandirian dan suatu permasalahan melalui suatu kasus
yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal
keterampilan klien dalam menangani disini dapat berarti satu orang, kelompok
orang atau sekelompok penduduk. Unit
penyakit itu sendiri, serta menghindari yang menjadi kasus tersebut secara
mendalam dianalisis baik segi yang
penggunaan obat-obatan berlebih yang bisa berhubungan dengan keadaan kasus itu
sendiri, faktor yang mempengaruhi,
berakibat pada ginjal (Sitti Zahyrah, Siana kejadian-kejadian khusus yang muncul
sehubungan dengan kasus tidak ada reaksi
Dondi, 2020). terhadap suatu perlakuan atau pemaparan
(Notoatmojo, 2014).
Suryandari (2015) melakukan

penelitian serupa di Puskesmas Purwokerto

Selatan, Indonesia, ditemukan adanya

pemberian 400 ml jus bit selama tujuh hari

setiap pagi dan sore pada ibu hamil, setelah

di uji menggunakan uji t-test didapatkan

hasil 0,000 (< 0,05) hal ini terbukti

signifikan meningkatkan kadar hemoglobin

lebih tinggi dibandingkan dengan yang

hanya diberikan tablet besi saja (Catur et

al., 2020).

Hasil studi pendahuluan yang

dilakukan di PMB Sugiyastuti Amd,Keb

Sruweng, Kebumen jumlah ibu hamil yang

melakukan pemeriksaan Antenatal Care

(ANC) rutin di bulan Maret-Mei 2021

sebanyak 16 orang, terdiri dari ibu hamil

trimester I 6 orang , Trimester II ada 5

599

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

HASIL STUDI KASUS Ny.I cara mengatasi anemia, 5)

1. Penerapan sari buah bit untuk Memberitahu ibu manfaat buah bit,

meningkatkan haemoglobin ibu hamil 6) Melakukan penerapan selama 1

trimester III dengan anemia minggu dimulai tanggal 6 Juli 2021

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 6 sampai dengan tanggal 13 Juli 2021.

Juli 2021-13 Juli 2021 terhitung selama Penerapan yang dilakukan penulis

7 hari. dengan mengantar sari buah bit

a. Partisipan pertama kerumah partisipan.

Subjektif: Pengkajian pada Ny.I b. Partisipan kedua

pada Selasa, 6 Juli 2021 pukul 08.00 Subjektif: Pengkajian pada Ny.E

WIB. Hasil yang diperoleh Ny.I pada Selasa, 6 Juli 2021 pukul 10.00

berumur 19 tahun, pendidikan SMA, WIB. Hasil yang diperoleh Ny.E

pekerjaan ibu rumah tangga, belum berumur 27 tahun, pendidikan SMA,

perah keguguran dan melahirkan dan pekerjaan ibu rumah tangga, belum

mengeluh lemas dan sering perah keguguran, sudah pernah

mengantuk. Ny.I terlihat lemas dan melahirkan dan terlihat pucat.

pucat. Objektif: Keadaan umum ibu

Objektif: Keadaan umum ibu tampak lelah, kesadaran

tampak lelah, kesadaran composmentis. Tekanan darah 90/80

composmentis. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu

mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36.5°C, pernafasan 20 x/menit.

36.5°C, pernafasan 20 x/menit. Pemeriksaan fisik muka tampak

Pemeriksaan fisik muka tampak pucat, konjungtiva pucat (anemis),

pucat, konjungtiva pucat (anemis), sklera tidak ikterik. Hasil

sklera tidak ikterik. Hasil pemeriksaan Hb adalah 8,2 gr/dl.

pemeriksaan Hb adalah 8,0 gr/dl. Analisa: Ny. E umur 27 tahun

Analisa: Ny.I umur 19 tahun G2P1A0 usia kehamilan 28 minggu

G1P0A0 usia kehamilan 33 minggu janin tunggal, hidup intrauteri, letak

janin tunggal, hidup intrauteri, letak memanjang, punggung kiri,

memanjang, punggung kiri, presentasi kepala dengan anemia

presentasi kepala dengan anemia sedang.

sedang. Penatalaksanaan: 1) memberitahu

Perencanaan: 1) memberitahu hasil hasil pemeriksaan, 2) Melakukan

pemeriksaan, 2) Melakukan inform inform consent sebagai partisipan

consent sebagai partisipan penerapan, penerapan, 3) Memberitahu Ny.E apa

3) Memberitahu Ny.I apa itu anemia itu anemia pada kehamilan, 4)

pada kehamilan, 4) Memberitahu Memberitahu Ny.E cara mengatasi

600

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

anemia, 5) Memberitahu ibu manfaat anemia, 5) Memberitahu ibu manfaat

buah bit, 6) Melakukan penerapan buah bit, 6) Melakukan penerapan

selama 1 minggu dimulai tanggal 6 selama 1 minggu dimulai tanggal 6

Juli 2021 sampai dengan tanggal 13 Juli 2021 sampai dengan tanggal 13

Juli 2021. Penerapan yang dilakukan Juli 2021. Penerapan yang dilakukan

penulis dengan mengantar sari buah penulis dengan mengantar sari buah

bit kerumah partisipan. bit kerumah partisipan.

c. Partisipan ketiga 2. Pengaruh penerapan sari buah bit

Subjektif: Pengkajian pada Ny.Y untuk meningkatkan haemoglobin ibu

pada Selasa, 6 Juli 2021 pukul 11.00 hamil trimester III dengan anemia

WIB. Hasil yang diperoleh Ny.Y a. Usia ibu

berumur 32 tahun, pendidikan SMA, Tabel 1. Karakteristik Usia Responden

pekerjaan ibu rumah tangga, belum Partisipan Usia Kategori

Ny. I 19 Reproduksi

perah keguguran, sudah pernah tahun Tidak Sehat (

melahirkan dan mengatakan mudah <20 tahun dan

>35 tahun)

lelah dan terlihat pucat. Ny. E 27 Reproduksi

Objektif: Keadaan umum ibu tahun Sehat (20-35

tahun)

tampak lelah, kesadaran Ny. Y 32 Reproduksi

composmentis. Tekanan darah 90/70 tahun Sehat (20-35

tahun)

mmHg, nadi 80 x/menit, suhu Sumber: Data Primer, 2021

36.5°C, pernafasan 20 x/menit. Berdasarkan tabel diatas dapat

Pemeriksaan fisik muka tampak dilihat bahwa karakteristik usia ibu

pucat, konjungtiva pucat (anemis), dari ketiga partisipan yaitu ibu hamil

sklera tidak ikterik. Hasil dengan usia 20-35 tahun pada

pemeriksaan Hb adalah 7,3 gr/dl. responden Ny. E dan Ny. Y,

Analisa: Ny. Y umur 32 tahun sedangkan usia kurang dari 20 tahun

G2P1A0 usia kehamilan 30 minggu pada partisipan Ny. I.

janin tunggal, hidup intrauteri, letak b. Paritas

memanjang, punggung kiri, Tabel 2. Karakteristik Paritas Responden

presentasi kepala dengan anemia Partisipan Paritas Kategori

Ny. I G1P0A0 Primipara

sedang. Ny. E G2P1A0 Multipara

Penatalaksanaan: 1) memberitahu Ny. Y G2P1A0 Multipara

Sumber: Data Primer, 2021

hasil pemeriksaan, 2) Melakukan Berdasarkan tabel diatas dapat

inform consent sebagai partisipan dilihat bahwa karakteristik paritas

penerapan, 3) Memberitahu Ny.Y dari ketiga responden yaitu dengan

apa itu anemia pada kehamilan, 4) kategori primipara pada Ny.I dan

Memberitahu Ny.Y cara mengatasi multipara pada Ny.E dan Ny.Y.

601

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

c. Jarak kehamilan Sumber: Data Primer, 2021

Tabel 3. Karakteristik Jarak Kehamilan Berdasarkan tabel diatas dapat

Responden kita lihat sebelum dilakukan

Partisipan Jarak Kategori penerapan ketiga respnden (100%)

Kehamilan mengalami anemia sedang karena

Ny. I 0 Baik (>2 kadar hemoglobin (7,0 – 9,9 gr/dl).

tahun) Tabel 6. Kadar Haemoglobin setelah
dilakukan penerapan 7 hari
Ny. E 6 tahun Baik (>2
Variabe Kadar Keterangan
(hidup) tahun) l Haemogl

Ny. Y 3 tahun Baik (>2 obin
Ny. I 12,5 gr% Tidak anemia
(hidup) tahun) Ny. E 13,0 gr% Tidak anemia
Ny. Y 11,5 gr% Tidak anemia
Sumber: Data Primer, 2021 Sumber: Data Primer, 2021

Berdasarkan tabel diatas dapat Berdasarkan tabel diatas

dilihat bahwa karakteristik jarak diketahui kadar haemoglobin setelah

kehamilan dari ketiga responden dilakukan penerapan selama 1

kategori baik. minggu didapatkan hasil sebanyak 3

d. Pendidikan ibu (100%) tidak menglami anemia.

Tabel 4. Karakteristik Pendidikan Pada responden pertama

Responden sebelum dilakukanya penerapan

Partisipan Pendidikan Kategori kadar hemoglobin yaitu 8,0gr/dl,

Ny. I SMA Pendidikan setelah dilakukan evaluasi pada hari

Menengah kedelapan kadar hemoglobin yaitu

Ny. E SMA Pendidikan 12,5gr/dl ibu mengatakan

Menengah mengonsumsi sari buah bit setiap hari

Ny. Y SMA Pendidikan dan sesuai jam.

Menengah Pada responden kedua sebelum

Sumber: Data Primer, 2021 dilakukanya penerapan kadar

Berdasarkan tabel diatas dapat hemoglobin yaitu 8,2gr/dl, setelah

dilihat bahwa karakteristik

pendidikan responden yaitu

pendidikan menengah.

e. Kadar haemoglobin seblum diberikan

penerapan sari buah bit

Berdasarkan penerapan yang

dilakukan mulai tanggal 6 Juli 2021

sampai tanggal 13 Juli 2021 yaitu

tentang penerapan sari buah bit untuk Variabel Kadar Keteran

meningkatkan hemoglobinb ibu Haemoglobin gan

Ny. I 8,0 gr/dl Anemia

hamil trimester III dengan Anemia. sedang

Didapatkan kadar hemoglobin Ny. E 8,2 gr/dl Anemia

sedang

sebagai berikut: Ny. Y 7,3 gr/dl Anemia

Tabel 5. Kadar Haemoglobin sedang

dilakukan evaluasi pada hari

sebelum dilakukan penerapan kedelapan kadar hemoglobin yaitu

602

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

13,0gr/dl ibu mengatakan jumlah atau banyaknya persalinan yang
mengonsumsi sari buah bit setiap hari
dan sesuai jam. pernah dialami ibu baik lahir hidup

Pada responden ketiga sebelum maupun mati. Paritas 2 sampai 3
dilakukanya penerapan kadar
hemoglobin yaitu 7,3gr/dl, setelah merupakan paritas paling aman ditinjau
dilakukan evaluasi pada hari
kedelapan kadar hemoglobin yaitu dari sudut kematian maternal. Ibu
11,5gr/dl ibu mengatakan
mengonsumsi sari buah bit setiap hari dengan paritas tinggi lebih dari 3
dan sesuai jam tetapi tidak habis 400
ml, hal ini dilakukan secara berulang memiliki angka maternal yang tinggi
karena ibu bosen.
karena dapat terjadi gangguan
PEMBAHASAN
Penerapan ini dilakukan pada 3 endometrium. Penyebab gangguan

responden yaitu ibu hamil trimester III endometrium tersebut dikarenakan
dengan anemia. Peneliti melakukan
penerapan pada ibu hamil anemia dengan kehamilan berulang. Sedangkan pada
memberikan 400 ml sari buah bit untuk
diminum tiap pagi dan sore secara teratur paritas pertama berisiko karena rahim
dan dilakukan evaluasi pada hari kedelapan.
a. Usia baru pertama kali menerima hasil

Ketiga responden memiliki konsepsi dan keluwesan otot rahim
karakteristik yang berbeda yaitu 1
dengan karakteristik reproduksi tidak masih terbatas untuk pertumbuhan
sehat dan tidak aman dan 2 resproduksi
sehat dan aman. Usia sehat dan aman janin(Medika et al., 2019).
yaitu 20-35 tahun, karena semua alat
reproduksi pada usia ini telah siap untuk c. Jarak Kehamilan
hamil dan melahirkan (Sikoway et al.,
2020). Ketiga responden memiliki
b. Paritas
karakteristik dengan kategori baik. Jarak
Ketiga responden memiliki
karakteristik paritas yang berbeda, yaitu kehamilan yang terlalu singkat
1 diantaranya primipara dan 2
diantaranya multipara. Paritas adalah berbahaya bagi ibu karena kondisi organ

reproduksi ibu belu pulih, sehingga

menjadi faktor penyebab terjadinya

perdarahan, kelahiran premature, BBLR,

serta kematian ibu dan bayi (Dhini

Anggraini Dhilon, Pena Sundari, 2019).

Dan kehamilan yang terlalu dekat

atau kurang dari 2 tahun juga

menimbulkan resiko anemia. Upaya

pemerintah untuk mengurangi resiko

kehamilan adalah melalui keluarga

berencana (BKKBN).

d. Pendidiakan

Ketiga responden memiliki

karakteristik tingkat pendidikan

menengah terdapat. Tingkat pendidikan

sangat berpengaruh terhadap

603

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

kemampuuan berfikir dan mampu setiap partisipan yaitu Ny.I 12.5gr/dl, Ny.E
mangambil keputusan melalui langkah- 13,0gr/dl, dan Ny.Y 11.5gr/dl. Hal tersebut
langkah yang wajar. Rendahnya terbukti sari buah bit mampu meningkatkan
pendidikan seseorang mempengaruhi hemoglobin pada ibu hamil trimester III
informasi yang diperoleh terkait tentang dengan anemia. Penerapan sari buah bit
anemia, cara mencegah dan juga cara untuk meningkatkan hemoglobin pada ibu
menangani anmia pada ibu hamil itu hamil trimester III dengan anemia sangat
sendiri (Sci et al., 2018). efektiv dan mampu menjadi
Sebelum konsumsi sari buah bit untuk penatalaksanaan untuk anemia pada ibu
meningkatkan hemoglobin pada ibu hamil
hamil trimester III dengan anemia
Hal tersebut sejalan dengan
Berdasarkan data diatas didapatkan penelitian Sundari & Happinasari (2014)
sejumlah 3 ibu hamil (100%) mengalami tentang perbandingan kenaikan kadar
anemia sedang dengan kadar hemoglobin hemoglobin pada ibu hamil yang diberi Fe
partisipan pertama 8,0 gr/dl, partisipan dan buah bit di wilayah Puskesmas
kedua 8.2 gr/dl, dan partisipan ketiga 7,3 Purwokerto Selatan, setelah penelitian
gr/dl. Anemia adalah suatu keadaan dimana dilakukan mengonsumsi sari buah bit dan
tubuh memiliki jumlah sel darah merah tablet Fe dipagi dan disore hari selama
(eritrosit) yang terlalu sedikit, yang mana tujuh hari berturut-turut terbukti mampu
sel darah merah itu mengandung meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu
hemoglobin yang berfungsi untuk hamil dengan hasil berdasarkan analisis uji
membawa oksigen ke seluruh jaringan t-test berpasangan pada kelompok
tubuh (Proverawati, 2013). Anemia dalam eksperimen menunjukan bahwa p velue
kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar adalah 0,002 hal ini berarti p < 0,05, Hal ini
hemoglobin dibawah 11 gr/dl pada dikatakan terdapat perbedaan yang
trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 gr/dl signifikan kadar hemoglobin ibu hamil
pada trimester 2, nilai batas tersebut dan dengan anemia sebelum dan sesudah
perbedaannya dengan kondisi wanita tidak pemberian tablet Fe dan sari buah bit (Sitti
hamil, terjadi karena hemodilusi, terutama Zahyrah, Siana Dondi, 2020).
pada trimester 2 (Novyriana & Caesarani,
2019). Wenda (2017) melakukan penelitian
Sesudah Konsumsi sari buah bit untuk yang berjudul “Efektivitas Pemberian Jus
meningkatkan haemoglobin ibu hamil Buah Bit Terhadap Kadar Hemoglobin Ibu
trimester III dengan anemia. Hamil Dengan Anemia di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekan Baru Kota’’, didapatkan
Setelah mengkonsumsi sari buah bit hasil statistic dengan menggunakan uji t
selama 1 minggu pada ketiga partisipan independent diperoleh p (0,000) < α (0,05).
terjadi peningkatan haemoglobin pada Hal ini dikatakan terdapat perbedaan

604

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

signifikan antara rata-rata kadar Saran
hemoglobin ibu hamil dengan anemia pada
kelompok dan penderita anemia sesudah Diharapkan penelitian ini mampu
diberikan buah bit, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pemberian buah bit menambah pengetahuan bagi ibu hamil dan
efektif meningkatkan kadar hemoglobin ibu
hamil yang mengalami anemia (Dina Dewi tenaga kesehatan sebagai upaya alami untuk
Anggraini, 2020).
meningkatkan hemoglobin pada ibu hamil
Konsumsi sari buah bit berpengaruh
terhadap peningkatan Hb pada ibu hamil dengan anemia. Dan untuk mendukung
yaitu karena kandungan zat besi dan asam
folat yang tinggi. Zat besi ini bisa penerapan selanjutnya agar memperoleh
didapatkan dari sari buah bit dan untuk
meningkatkan sel darah merah dalam hasil yang lebih efektif bisa dengan
tubuh sehingga kadar hemoglobin pada ibu
hamil meningkat. menambahkan sari kurma, madu atau bisa

Zat besi sangat dibutuhkan selama juga dengan lemon supaya responden tidak
kehamilan, kurangnya zat besi dapat
berpengaruh pada kehamilan seperti merasa bosan saat penerapan dilakukan.
terjadinya abortus, persalinan prematuritas,
hambatan tumbuh kembang janin dalam DAFTAR PUSTAKA
rahim, mudah terjadi infeksi dan ketuban
pecah dini serta dapat juga terjadi bahaya Analitik, S., Kota, P., Provinsi, M., &
saat persalinan seperti gangguan his, Selatan, S. (2019). Kejadian
kekuatan mengejan dan kala I dan II akan Anemia Pada Ibu Hamil. 1(1), 8–
berlangsung lama (Analitik et al., 2019). 17.

KESIMPULAN DAN SARAN Anggreni, D. (2020). Hubungan Paritas
Kesimpulan Dengan Kejadan Anemia Pada Ibu
Hamil Trimester 1 Dan 3 Di
Berdasarkan penerapan yang telah Puskesmas Gayaman Kabupaten
dilakukan kepada ketiga responden dapat Mojokerto Tahun 2018. Hospital
disimpulkan mengkonsumsi sari buah bit Majapahit (JURNAL ILMIAH …,
sebanyak 400 ml selama tujuh hari setiap 12(1), 1–8.
pagi dan sore efektif meningkatkan kadar
haemoglobin pada ibu hamil trimester III Anindita, A. R., & Novyriana, E. (2019).
dengan anemia Penerapan Pemberian Tablet Zat
Besi Ditambah Papaya ( Carica
Papaya Linn ) Terhadap
Peningkatan Kadar. 288–294.

Anjelina Puspita Sari1, R. (2019). FAKTOR
YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN ANEMIA PADA IBU
HAMIL TRIMESTER III. 1, 334–
343.

Antono, S. D. (2017). Hubungan Frekuensi
Antenatal Care Dengan Kejadian
Anemia Pada Ibu Hamil Trimester
III Di Rsud Nganjuk Tahun 2017.
Jurnal Ilmu Kesehatan, 6(1), 32.
https://doi.org/10.32831/jik.v6i1.15
2

Catur, R., Wulandari, L., & Susiloningtyas,
I. (2020). ORIGINAL ARTICLE :
Betroot ( Beta vulgaris )
administration to anemic pregnant
women for increasing hemoglobin
level. 28(3), 109–112.

605

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Dhini Anggraini Dhilon, Pena Sundari, R. BUAH BIT (BETA VULGARIS L.)
(2020). JUS BIT MERAH ( Beta
vulgaris L . ) BERMANFAAT SEBAGAI ANTIANEMIA.
MENINGKATKAN KADAR. 6(4),
462–469. Sci, M., Press, I., Press, I., Lotfi, M., &

Dhini Anggraini Dhilon1, Pena Sundari2, Azizi, M. (2018). The Effects of
R. U. (2019). Hubungan Status
Ekonomi Dan Status Gizi Dengan Consuming 6 Weeks of Beetroot
Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
Di Wilayah Kerja Puskesmas Siak Juice ( Beta vulgaris L .) on
Hulu Iii Tahun 2019. 3(2), 1–8.
Hematological Parameters in
Dina Dewi Anggraini, N. S. (2020). (The
Effect of Giving Bit Fruit Juice on Female Soccer Players. 9.
Increasing Levels of Hb in Third-
trimester Pregnant Women). 8(1), https://doi.org/10.5812/jkums.8230
7–14.
0.Research
Ii, B. A. B. (2014). No Title.
Ii, B. A. B., & Medis, A. T. T. (n.d.). Sikoway, S., Mewo, Y., & Assa, Y. (2020).

Asuhan Kebidanan pada..., Ajeng Gambaran Kadar Hemoglobin
Prihandini, Fakultas Ilmu
Kesehatan UMP, 2012. 12. pada Ibu Hamil Trimester III di
Medika, E., No, V. O. L., Wirahartari, L.
M., Herawati, S., & Wande, I. N. Rumah Sakit Robert Wolter
(2019). GAMBARAN INDEKS
ERITROSIT ANEMIA PADA IBU Mongisidi Manado. 1(2), 82–85.
HAMIL DI RSUP SANGLAH
DENPASAR TAHUN 2016 Sitti Zahyrah, Siana Dondi, I. W. (2020).
Program Studi Pendidikan Dokter ,
Fakultas Kedokteran Universitas Journal of Midwifery Science :
Udayana Bagian / SMF Patologi
Klinik RSUP Sanglah Fakultas Basic and Applied Research. 2, 48–
Kedokteran Universitas Udayana
Email : marinaw. 8(5), 7–10. 53.
Novyriana, E., & Caesarani, M. R. (2019).
Pemberian Jus Tomat terhadap Suci Setyiyaningsih, Widayati, W. K.
Peningkatan Kadar Hemoglobin
Pada Ibu Hamil Trimester III Di (2020). KEEFEKTIFAN JUS
Puskesmas Bonorowo Kebumen. 3,
928–933. BUAH BIT DAN LEMON DALAM
Putri, M. C., Tjiptaningrum, A.,
Kedokteran, F., Lampung, U., KENAIKAN KADAR HB. 6(1), 71–
Klinik, B. P., Kedokteran, F., &
Lampung, U. (2013). Efek 76.
Antianemia Buah Bit ( Beta
vulgaris L . ) Antianemic Effect Of Suryandari, A. E., & Happinasari, O.
Beetroot ( Beta vulgaris L . ).
Saula, L. S., Hermawan, K. A., Hasna, L., (2015). Jurnal Kebidanan DIBERI
Lubis, C. F., & Putri, G. K. (2018).
Fe DENGAN Fe DAN BUAH BIT

DI WILAYAH KERJA

Amaranthaceae dan memiliki nama

latin zat besi sekitar hampir 7 %

serta asam folat. VII(01), 36–47.

Sylvana, F., Harahap, D., & Liesmayani, E.

E. (2018). ANALISIS PENGARUH

KONSUMSI BUAH BIT

TERHADAP PENINGKATAN

KADAR HEMOGLOBIN PADA

IBU HAMIL TRIMESTER III. 1–7.

Triana, H., Hadisaputro, S., & Djamil, M.

(2020). Effect of Beet Powder (

Beta Vulgaris L ) with Fe

Supplementation on Increasing

Hemoglobin , Hematocrit , and

Erythrocyte Levels in Pregnant

Women with Anemia. 9(2), 893–

899.

https://doi.org/10.30994/sjik.v9i2.3

54

606

Prosiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DARI UMBI JALAR UNGU UNTUK
MEMENUHI KEBUTUHAN NUTRISI BALITA

Nia Aria Ningsih, Hastin Ika Indriyastuti, Adinda Putri Sari Dewi
Universitas Muhammadiyah Gombong

[email protected]/ 0857-1103-4449

ABSTRAK
Pendahuluan: Jika balita kekurangan gizi, proses pertumbuhan akan terganggu,
salah satu metode yang dapat dilaksanakan guna mencukupi kebutuhan gizi balita ialah
dengan pemberian makanan tambahan, seperti olahan umbi jalar ungu. Upaya tersebut
untuk memberikan nutrisi, energy, dan untuk meningkatkan pertumbuhan balita.
Tujuan: Untuk mengetahui penerapan pemberian makanan tambahan (PMT) dari umbi
jalar ungu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada balita yang ada di PMB Diana
Yulita. A, S.Tr. Keb. Metode: Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif
dengan penedekatan studi kasus. Data diperoleh dari observasi. Partisipannya adalah 3
balita yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan adalah
timbahan berat badan dan lembar observasi. Hasil: Setelah dilakukan pemberian
makanan tambahan (PMT) selama 3 minggu, 3 partisipan mengalami kenaikan berat
badan : dari 10,50 kg menjadi 11 kg (partisipan 1), 11,30 kg menjadi
11,90 kg (partisipan 2), dan 12,40 kg menjadi 12,75 kg (partisipan 3).
Kesimpulan: Penerapan pemberian makanan tambahan (PMT) dari umbi jalar ungu
dapat membantu pemenuhan nutrisi pada balita.

Kata Kunci : Gizi Kurang, Umbi Jalar Ungu, PMT

ABSTRACT
Introduction: If toddlers lack of nutrition (undernourished), it can interfere their
growth process. One of the methods to meet nutritional needs is the provision of
additional food, such as purple sweet potatoes. This additional food can increase
nutrition, energy, and the growth of toddlers. Objective: To find out the application of
giving additional food made of purple sweet potatoes to meet the nutrional need of
toddlers. Method: This scientific paper is a qualitative descriptive with a case study
approach. Data was obtained from observation. The participants were 3 toddlers who
met the inclusion criteria. The instruments used were a scale, and observation sheet.
Result: After having additional food for 3 weeks, there was an increase in the weight of
all participants: from 10,50 kg became 11 kg (participant 1), from 11,30 kg became
11.90 kg (participant 2), and from 12.40 kg became 12.75 kg (participant 3).
Conclusion: The application of giving additional food made of purple sweet potatoes
can help fulfill the nutrition need of toddlers.

Keywords : Undernourished, additional food, purple sweet potatoes.

PENDAHULUAN tengah terjadi proses pertumbuhan yang
Balita merupakan sekelompok anak sangat pesat. Akibatnya jika kekurangan
gizi tersebut terjadi pada balita maka dapat
dengan usia yang rentan terhadap status

gizi kurang, dan masa balita sekarang

607

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

mengganggu proses pertumbuhan balita tersebut membawa manfaat guna membantu
(Nur, dkk, 2017).
memperbaiki, memelihara dan
Hasil Riskesdas dari tahun 2007
sampai tahun 2013 memperlihatkan fakta pertumbuhan jaringan tubuh balita
gizi kurang terjadi peningkatan dari 18,4%
menjadi 19,6%, stunting pun mengalami (Rohmawati dkk, 2019).
peningkatan menjadi 37,2% dari yang
awalnya dari 36,8%, sedangkan wasting Berdasarkan beberapa hal yang ada
(tipis) terjadi penurunan menjadi 12,1%
dari 13,6% (Riskesdas, 2013). penulis terdorong guna melaksanakan

Beberapa faktor yang mempengaruhi penelitian Penerapan pemberian makanan
perkembanga anak di negara berkembang
seperti kemiskinan, gizi buruk, sanitasi tambahan dari Umbi Jalar Ungu untuk
yang buruk dan kurangnya stimulasi dari
lingkungan. Anak – anak yang kekurangan Memenuhi Kebutuhan nutrisi Pada Balita
gizi akan terhambat berdasarkan usia
mereka, bukan pertumbuhan yang optimal terutama pada balita yang memiliki berat
(Runtu dkk, 2021).
badan kurang,dan umbi jalar ungu memiliki
Dari hasil Pemantauan Status Gizi
Kementrian Kesehatan RI yang ada di kandungan gizi yang cocok dalam
indonesia pada tahun 2020 ada 17,7 %
balita. Sedangkan di provinsi Jawa Tengah pembuatan PMT yaitu 20,1 mg vitamin C,
menurut Kemenkes RI (2019) ada 5, % data
balita yang mengalami gizi kurang. Dan 0,70 mg zat besi, 0,6% protein, 0,4% gula
pada tahun 2019 Kabupaten Kebumen
diinformasikan bahwa Jumlah balita gizi reduksi, 18,2%,pati, 1,1 serat, dan 150,7 mg
kurang sebanyak 9 balita.
antosianin.
Salah satu metode yang dapat
dilaksanakan guna mencukupi kebutuhan METODE STUDI KASUS
gizi buruk ialah pemberian makanan Metode yang digunakan adalah
tambahan pada balita. Upaya Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) diperuntukan deskriptif kualitatif,dengan pendekatan
untuk memberikan nutrisi dan energi bagi studi kasus pada 3 partisipan balita yang
balita yang sudah tercatat gizi kurang. tidak mengalami kenaikan berat badan 2
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, bulan berturut – turut yang ada di sekitar
balita membutuhkan makanan yang banyak PMB Diana Yulita. A, A. Tr. Keb
mengandung protein dan kalsium. Zat Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen.
Pengumpulan data dikumpulkan dengan
cara observasi.

Penerapan pemberian makanan
tambahan pada balita diberikan selama 3
minggu dengan jenis makanan yang
berbeda setiap harinya. Jenis makanan yang
diberikan ada 4 jenis yaitu, bubur sum –
sum, puding, bubur candil dan bolu kukus
yang terbuat dari umbi jalar ungu.

HASIL STUDI KASUS

608

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

1. Melakukan penerapan pemberian 03,Kecamatan Alian, Kabupaten

PMT yang terbuat dari “Umbi Jalar Kebumen, Ny. A mengatakan ingin

Ungu” melakukan penimbangan berat

Penerapan pemberian PMT Umbi badan. Ny. A megatakan anaknya

Jalar Ungu dilakukan oleh 3 partisipan, tidak pernah mengalami riwayar

untuk waktu pemberian PMT dimulai penyakit pencernaan.

dari tanggal 14 Juni – 4 Juli 2021 Objektif:Penelitian melakukan

dengan frekuensi pemberian sebanyak pemeriksaan dengan keadaan An.

18 kali. Ny. A, keadaan umum baik,

a. Partisipan I kesadaran composmentis, status

Subjektif: Hasil pengkajian emosional : stabil, tanda – tanda vital

pada tanggal 13 Juni 2021 di tempat dalam batas normal. Suhu 36, 5 0C,

partisipan An. Ny. U, usia 3 tahun, berat badan 11, 30 kg.

jenis kelamin laki - laki. Alamat Analisa: Berdasarkan hasil

Desa Sawangan Rt 03/ Rw pemeriksaan diperoleh An. Ny. A

02,Kecamatan Alian, Kabupaten usia 4 tahun dengan gizi kurang.

Kebumen, Ny. S mengatakan ingin c. Partisipan III

melakukan penimbangan berat Subjektif: Hasil pengkajian pada

badan. Ny. S megatakan anaknya tanggal 13 Juni 2021 di tempat

tidak pernah mengalami riwayar partisipan An. Ny. N, usia 4 tahun,

penyakit pencernaan. jenis kelamin perempuan. Alamat

Objektif: Penelitian Desa Sawangan Rt 01/ Rw

melakukan pemeriksaan dengan 03,Kecamatan Alian, Kabupaten

keadaan An. Ny. U, keadaan umum Kebumen, Ny. N mengatakan ingin

baik, kesadaran composmentis, status melakukan penimbangan berat

emosional : stabil, tanda – tanda vital badan. Ny. N megatakan anaknya

dalam batas normal. Suhu 36, 6 0C, tidak pernah mengalami riwayar

berat badan 10, 50 kg. penyakit pencernaan.

Analisa: Berdasarkan hasil Objektif:Penelitian melakukan

pemeriksaan diperoleh An. Ny. U pemeriksaan dengan keadaan An.

usia 3 tahun dengan gizi kurang. Ny. N, keadaan umum baik,

b. Partisipan II kesadaran composmentis, status

Subjektif: Hasil pengkajian pada emosional : stabil, tanda – tanda vital

tanggal 13 Juni 2021 di tempat dalam batas normal. Suhu 36, 7 0C,

partisipan An. Ny. A, usia 4 tahun, berat badan 12, 40 kg.

jenis kelamin perempuan. Alamat

Desa Sawangan Rt 01/ Rw

609

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Analisa: Berdasarkan hasil Partisi 11, 30 11, 11,
pan II kg 55 kg 70 kg 11,
pemeriksaan diperoleh An. Ny. N
90 kg
usia 4 tahun dengan gizi kurang. Partisi 12, 40 12, 12,
pan III kg 50 kg 65 kg 12,
Dari 3 (Tiga) partisipan yang ada
75 kg
perencanaan yang dilakukan peneliti Sumber: Data Primer, 2021

adalah sebagai berikut : Hasil pemeriksaan pada minggu ke
- 1 sampai ke – 3, menunjukan bahwa ada
Perencanaan: Asuhan yang diberikan peningkatan terhadap berat badan balita.

adalah sebagai berikut : 1) Membina PEMBAHASAN
1. Penerapan pemebrian PMT yang
hubungan saling percaya. 2) Melakukan
terbuat dari “Umbi Jalar Ungu”
pemeriksaan dan penimbangan berat badan Hasil studi kasus menunjukan

pada anak. 3) Memberitahu hasil bahwa berat badan balita sebelum
diberikan PMT umbi jalar ungu tidak
pemeriksaan pada anak. 4) Menjelaskan mengalami kenaikan selama 2 bulan ini.
Karena oleh itu peneliti bertujuan untuk
kepada tindakan yang akan dilakukan menaikan berat badan balita dengan cara
memberikan PMT yang bahan utamanya
peneliti untuk meningkatkan berat badan berasal dari umbi jalar ungu.

balita. 5) Menganjurkan ibu untuk Menurut Indriastuti, dkk (2007)
mengatakan bahwa ada beberapa faktor
memberikan makanan tambahan yang yang mempengaruhi kenaikan berat
badan pada balita yaitu makanan sehari
dibuat peneliti kepada anaknya. 6) – hari, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan
lingkungan.
Menanyakan kepada ibu balita apakah
Menurut Rohmawati, dkk (2019)
balita menyukai dan mau memakan mengatakan bawa pemberian PMT ini
sangat baik untuk meningkatkan berat
makanan yang diberikan setiap harinya. 7) badan pada balita dan dalam pembuatan
PMT maka dibutuhkan jenis olahan
Melakukan observasi setiap satu minggu makanan yang memenuhi syarat
pembuatan PMT dengan nutrisi yang
sekali dengan cara menimbang berat badan tinggi seperti makanan yang
mengandung kalsium, karbohidrat,
balita. protein dan lain - lain.
Tabel 2. Menu makanan tambahan (PMT)
2. Kenaikan berat badan balita setelah

penerapan pemberian PMT Umbi

Jalar Ungu

Tabel 1. Berat badan balita sebelum dan
setelah penerapan pemberian PMT umbi
jalar ungu di PMB Diana Yulita. A, S.
Tr. Keb, Desa Sawangan Kecamatan
Alian, Kabupaten Kebumen.
Partisi BB BB BB BB
pan Sebelu Ming Ming Ming

m gu gu gu
Pember ke – ke – ke -

ian 1 2 3
PMT
Umbi
Jalar
Ungu
Partisi 10, 50 10, 10, 11
pan I kg 65 kg 85 kg kg

610

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

olahan umbi jalar ungu menurut penelitian lain menjelasakan

Hari Waktu Menu mememang ada sebuah peningkatan

Ke – 1 Siang Bubur sum – sum

Sore berat badan terhadap balita yang

Ke – 2 Siang Puding diberikannya PMT, dan PMT yang

Sore

Ke – 3 Siang Bolu kukus diberikan pada penelitian lain tersebut

Sore menggunakan jenis olahan umbi jalar

Ke – 4 Siang Bubur candil

Sore ungu (Nur & Muslimah, 2017).

Ke – 5 Siang Puding Tabel 15. Jenis makanan yang disukai dan

Sore tidak disukai partisipan

Ke – 6 Siang Bubur sum – sum Jenis Makanan

Sore Bubu
r
Sumber : Data Primer, 2021 Partisipan Bubur Pudin Bolu
Sum – g Candi kuku
l
2. Kenaikan berat badan balita setelah Sum s
penerapan pemberian PMT Umbi
Jalr Ungu Partisipan 1 3 2 23
Hasil studi kasus menunjukkan
bahwa pemeberian PMT umbi jalar Partisipan 2
ungu ini mengalami kenaikan berat
badan pada balita. Menurut penelitian 3 3 23
menjelaskan bahwa Umbi jalar
merupakan tumbuhan umbi dan Partisipan 3
tergolong tumbuhan tahunan. Tanaman
ini tumbuh merambat di permukaan 3 3 22
tanah, dengan panjang tanaman
mencapai 3 meter (Ubi & Ungu, 2012). Sumber : Data Primer, 2021
Umbi jalar ungu salah satu umbi jalar
yang memiliki kandungan gizi yang Keterangan :
cocok dalam pembuatan PMT yaitu
20,1 mg vitamin C, 0,70 mg zat besi, Point 1 : anak tidak suka
0,6% protein, 0,4% gula reduksi,
18,2%,pati, 1,1 serat, dan 150,7 mg Point 2 : anak suka tapi tidak habis
antosianin.
Menurut penelitian Retnowati, dkk Point 3 : anak suka dan habis
(2015) menjelaskan tentang pemberian
PMT yang berkualtitas dan mencukupi Dari data diatas dapat
kebutuhan gizi, jika diberikan terus
menerus dapat berpengaruh terhadap disimpulkan bahwa dari 3 partisipan
kenaikan berat badan balita . Sedangkan
lebih menyukai jenis makanan bubur

sum – sum dan jenis makanan yang

kurang disukai yaitu bubur candil.

KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan

Balita (3 partisipan) yang tidak
mengalami kenaikan berat badan 2
bulan berturut – turut setelah diberikan
makanan tambahan (PMT) dari umbi
jalar ungu mengalami kenaikan berat
badan.
2. Saran

1. Bagi Bidan

611

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Bidan diharapkan dapat Nur, M. (2017). Pengaruh Pemberian

menerapkan study kasus tentang Biskuit Ubi Jalar Ungu (Ipomea

Batatas L.Poiret) Terhadap Status

olahan umbi jalar ungu sebagai Gizi Kurang Pada Anak Balita Usia

makanan tambahan (PMT) untuk 12-36 Bulan Di Wilayah Kerja

Puskesmas Somba Opu. Aba

menambah berat badan. Journal, 102(4), 24–25.

2. Bagi pasien dan Orang http://www.tandfonline.com/doi/ab

s/10.1080/14639947.2011.564813

Diharapkan dengan adanya study %0Ahttp://dx.doi.org/10.1080/1542

kasus tentang olahan umbi jalar 6432.2015.1080605%0Ahttps://doi.

org/10.1080/15426432.2015.10806

ungu sebagai makanan tambahan 05%0Ahttp://heinonline.org/HOL/P

dapat menambah berat badan age?handle=hein.journals/abaj102

&div=144&start_page=26&collecti

anaknya. Dan diharapkan untuk ibu o

atau orang tua pasien bisa Retnowati, D. H., Syamsianah, A., &

Handarsari, E. (2015). Pengaruh

memberikan makanan yang bergizi Pemberian Makanan Tambahan

untuk anaknya, sehingga gizi anak Pemulihan Terhadap Perubahan

Berat Badan Balita Bawah Garis

dapat terpenuhi. Merah Kecacingan Di Wilayah

3. Bagi Penulis Puskesmas Klambu Kabupaten

Grobogan. Jurnal Gizi, 4(1), 30–

Diharapkan dengan adanya study 36.

kasus ini penulis dapat Rohmawati, N., Anggraini, M., & Antika,

R. B. (2019). Analisis Protein,

mengembangkan inovasi lebih Kalsium dan Daya Terima Biskuit

lanjut dan mengembangkan ide – Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas

L.) dengan Penambahan Daun

ide yang lebih kreatif dalam Kelor (Moringa oleifera). Jurnal

menciptakan inovasi baru yang Nutrisia, 21(2), 91–97.

https://doi.org/10.29238/jnutri.v21i

dapat menunjang kemudahan dalam 2.129

memberikan asuhan kebidanan Ubi, M., & Ungu, J. (2012). Menurut

sejarahnya, tanaman ubi jalar

selanjutnya. berasal dari Amerika Tengah.

Tanaman ubi jalar masuk ke

Indonesia diduga dibawa oleh para

DAFTAR PUSTAKA saudagar rempah- rempah (Iriani

Indriastuti, P., & Bambang, E. S. (2007). dan Meinarti 1996). Sistematika
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kenaikan Berat Badan Bayi. (taksonami) ubi jalar yang dikutip
Mutiara Medika Edisi Khusus,
7(2), 95–104. 4. 4–16.
http://journal.umy.ac.id/index.php/
mm/article/viewFile/1662/1706

612

Prosiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

LITERATUR REVIEW

GAMBARAN PERAN SUAMI DALAM PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI DI
PMB E KABUPATEN TASIKMALAYA

Siti Rohmah, Nurjannah Adawiyah
Universita Galuh

[email protected]/082324229246

ABSTRAK
Praktek Mandiri Bidan sangat berperan dalam pelayanan kontrasepsi, PUS lebih
banyak konsultasi KB di PMB dibandingkan ke fasilitas kesehatan lainnya. Keterlibatan
suami sangat penting dalam mendukung program KB, namun kenyataannya banyak
suami yang tidak mendampingi istri saat memilih kontrasepsi. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui gambaran peran suami dalam pemilihan alat kontrasepsi. Jenis
penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan populasi pasangan usia subur yang
sudah menjadi akseptor KB hormonal dan non hormonal di PMB.E Kabupaten
Tasikmalaya pada 3 bulan terakhir mencapai 107 orang, teknik sampling secara random
yaitu 52 Responden. Hasil penelitian menunjukkan peran suami dalam pemilihan alat
kontrasepsi di PMB. E Kabupaten Tasikmalaya dapat disimpulkan bahwa dalam
pemilihan alat kontrasepsi lebih dari setengahnya suami memiliki peran yang cukup
yaitu 29 orang (55,8%). Agar suami terlibat atau berperan dalam pengambilan
keputusan maka salah satu caranya adalah dengan memberikan penyuluhan seperti
konseling tentang pentingnya KB, macam macam KB, dampak serta efek kedepannya
yang merupakan solusi yang tepat untuk meningkatkan peran serta dukungan suami
terhadap pengambilan keputusan istri dalam ber-KB. Peneliti selanjutnya diharapkan
menganalisis faktor yang berhubungan dengan peran suami dalam pendampingan istri

Kata Kunci: Peran, Suami, Keluarga Berencana

ABSTRACT
The practice of Mandiri Midwife plays a role in contraceptive services, PUS has
more kb consultations in PMB than to other health facilities. Husband's involvement is
very important in supporting kb program. The purpose of this study is to find out the
picture of the role of husbands in the selection of contraceptives. This type of research
includes descriptive research with a population of couples of childbearing age who
have become hormonal and non-hormonal kb acceptors in PMB.E Tasikmalaya district
in the last 3 months reached 107 people, random sampling techniques that are 52
Respondents. The results showed the role of husbands in the selection of contraceptives
district can be concluded that in the selection of contraceptives in PMB.E Tasikmalaya
more than half of husbands have a sufficient role that is 29 people (55.8%). In order for
the husband to be involved or play a role in decision making, one way is to provide
counseling such as counseling about the importance of birth control, various kinds of
birth control, the impact and effect of the future which is the right solution to increase
the role and support of the husband to the wife's decision making in kb.

Keywords: Role, Husband, Family Planning

613

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PENDAHULUAN PUS dalam memilih alat kontrasepsi.
Pada tahun 2010, penduduk Hasil wawancara dengan 10 ibu

Indonesia masih 237,63 juta jiwa. akseptor Keluarga Berencana tentang
Artinya antara tahun 2010 dan 2020, peran suami terhadap pemilihan alat
laju pertumbuhan penduduk Indonesia kontrasepsi diperoleh data awal bahwa
akan mencapai 1,25%. Menurut hasil 7 ibu mengatakan suaminya tidak
sensus penduduk Indonesia tahun 2020, pernah mengajak istrinya melakukan
jumlah penduduk laki-laki adalah KB atau memberikan konsultasi untuk
136,66 juta jiwa atau sekitar 50,58% memilih KB yang tepat karena suami
dari total penduduk, dan penduduk berasumsi bahwa penggunaan alat
perempuan adalah 49,42%, berjumlah kontraspsi itu tanggung jawab wanita, 3
133,54 juta, (BPS, 2019). ibu mengatakan keputusan pemilihan
alat kontrasepsi sudah dibicarakan di
Penggunaan kontrasepsi adalah rumah, suami mendukung tetapi suami
tanggung jawab antara seorang pria dan sibuk untuk bekerja. Suami acuh tak
seorang wanita sebagai pasangan, acuh dalam memilih KB dan
sehingga metode kontrasepsi yang menyerahkan keputusan kepada
paling efektif akan dipilih sesuai istrinya. Peran suami dalam keluarga
dengan kebutuhan dan keinginan sangat penting, terutama dalam
bersama. Peran suami sebagai Kepala mendukung dan mengambil keputusan
keluarga sangat penting dalam dalam program keluarga berencana.
penggunaan alat kontrasepsi. Suami Berdasarkan hal tersebut penulis
dapat memutuskan penggunaan tertarik untuk melakukan penelitian
kontrasepsi bagi istrinya (Saefudin, tentang Gambaran peran suami dalam
2012). pemilihan alat kontrasepsi di PMB. E
Kabupaten Tasikmalaya.
Praktek Mandiri Bidan sangat
berperan dalam pelayanan kontrasepsi, METODE PENELITIAN
PUS lebih banyak konsultasi KB di 1. Tempat Dan Waktu Penelitian
PMB dibandingkan ke fasilitas
kesehatan lainnya. Salah satu PMB Tempat Penelitian ini dilaksanakan
yang ada di Kecamatan Sukarame di PMB E. Kabupaten Tasikmalaya dan
adalah PMB E Tasikmlaya. Waktu penelitian dilaksanakan pada
Berdasarkan data menunjukkan terjadi bulan Mei 2021.
penurunan dalam penggunaan 2. Jenis penelitian
kontrasepsi yaitu pada tahun 2020
sebanyak 306 orang dengan jenis alat Rancangan penelitian merupakan
kontrasepsi Suntik KB sebanyak 297 rencana penelitian yang disusun
orang dapat disebabkan oleh keputusan sedemikian rupa sehingga peneliti dapat

614

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

memperoleh jawaban terhadap rumusan Variabel Definisi Alat Ukur Hasil ukur Skala
masalah Penelitian ini termasuk jenis Operasional Ordinal
penelitian kuantitatif dengan metode Peran Kuesioner Baik = 76 -
deskriptif yaitu suatu penelitian yang suami Suatu tindakan Skala Likert 85
dilakukan untuk mendeskripsikan atau dalam suami dalam Selalu = 5
menggambarkan peran suami dalam pemilihan memberikan Sering = 4 Cukup = 56 -
pemilihan alat kontrasepsi di PMB E. alat perannya sebagai Pernah = 3 75
Kabupaten Tasikmalaya. kontrasep educator, motivator Kadang -
3. Variabel Penelitian si dan fasilitator Kadang = 2 Kurang = 17-
kepada istri dalam Tidak Pernah 55
Variabel penelitian adalah segala pemilihan alat =1
sesuatu yang berbentuk apa saja yang kontrasepsi
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tentang 4. Teknik Pengambilan Sampel
hal tersebut, kemudian ditarik Teknik penentuan Sampel
kesimpulan. Variabel pada penelitian
ini adalah peran suami dalam pemilihan dalam penelitian ini menggunakan
alat kontrasepsi. teknik accidental sampling. Accidental
Sampling adalah pengambilan sampel
Definisi operasional adalah definisi secara kebetulan dengan mengambil
variabel yang dirumuskan berdasarkan responden yang kebetulan berada di
karakteristik variabel-variabel tersebut tempat penelitian (Notoatmodjo, 2010).
yang dapat diamati dan benar-benar Sehingga pada teknik accidental
dilakukan oleh peneliti sesuai dengan sampling ini peneliti akan mengambil
variabel-variabel yang terlibat dalam responden pada saat itu juga di PMB E.
penelitian 5. Tehnik Pengumpulan Data

Tabel 1 Definisi Operasional Data yang digunakan penulis
dalam penelitian dapat diperoleh dari
sumber data primer dan sekunder.
Badriah (2012) menyarankan sumber
data data primer atau tangan pertama
adalah data yang diperoleh langsung
dari subjek penelitian menggunakan
alat ukur atau alat pengumpulan data
langsung pada subjek sebagai sumber
informasi yang dicari. Sedangkan data
sekunder atau data bekas adalah data
yang diperoleh melalui pihak lain, hal
itu tidak diperoleh secara langsung oleh
peneliti dari subjek penelitian.
a. Data Primer dalam penelitian ini

adalah data yang diperoleh dengan

615

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

menyebarkan kuesioner yang PEMBAHASAN
disusun sesuai dengan indikator
variabel penelitian dan jawabannya Berdasarkan hasil penelitian di PMB E
telah disediakan sehingga
responden tinggal memilih. Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar

b. Data Sekunder dalam penelitian ini suami memiliki peran yang cukup yaitu 29
data sekunder diperoleh melalui
studi kepustakaan dengan orang (55,8%). Peran suami dalam
melakukan pencarian data dalam
literatur dan dokumen. pemilihan alat kontrasepsi yang baru

mencapai kategori cukup dapat disebabkan

oleh beberapa faktor diantaranya

pendidikan, pengalaman, jumlah anak,

pekerjaan, budaya, status perkawinan, dan

status sosial ekonomi. Peran suami dalam

pemilihan alat kontrasespsi KB

HASIL DAN PEMBAHASAN menunjukkan bahwa suami cukup berperan
Berdasarkan hasil penelitian dapat
sebagai motivator, dan fasilitator.
diketahui bahwa Gambaran Pengetahuan
gambaran peran suami dalam pemilihan alat Peneliti berpendapat bahwa peran suami
kontrasepsi di PMB E. Kabupaten
Tasikmalaya. dipengaruhi adanya beberapa faktor seperti
Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan
gambaran peran suami dalam pemilihan alat tingkat pendidikan, dan status sosial
kontrasepsi di PMB E. Kabupaten
Tasikmalaya ekonomi. Hal ini berdasarkan data profil

kependudukan bahwa wilayah PMB E

Kabupaten Tasikmalaya secara garis besar

merupakan wilayah perdesaan, sehingga

penduduknya memiliki keterbatasan dalam

Peran Suami F % mengakses informasi, pengetahuan dan

Baik 10 19.2

Cukup 29 55.8 pendidikan yang layak, selain itu dari faktor

Kurang 13 25.0 sosial ekonomi menunjukkan bahwa lebih

Total 52 100

Sumber: Data Primer Hasil Penelitian 2021 dari setengah dari total keluarga memiliki

Data pada tabel 1.1 menunjukkan penghasilan ≥ UMK, sehingga dapat

bahwa dalam pemilihan alat kontrasepsi di menyisihkan penghasilan guna

menggunakan maupun kontrol alat

PMB E. Kabupaten Tasikmalaya sebagian kontrasepsi, Pendapatan memiliki

besar suami memiliki peran yang cukup hubungan yang erat dengan pemilihan alat

yaitu 29 orang (55,8%), dan sebagian kecil kontrasepsi, responden yang status

suami memiliki peran yang kurang yaitu 13 ekonominya cukup banyak memilih metode

kontrasepsi jangka panjang, karena metode

orang (25,0%) dan yang baik yaitu 10 orang tersebut tergolong kontrasepsi yang mahal.

(19,2%). Tinggi rendahnya status sosial ekonomi

masyarakat mempengaruhi pilihan spesies

616

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

kontrasepsi karena tingkat ekonomi Diharapkan suami lebih
masyarakat erat kaitannya dengan berperan aktif dalam perencanaan
kemampuan membeli alat kontrasepsi yang penggunaan alat kontrasepsi
akan digunakan, misalnya keluarga yang 3. Bagi Peneliti Selanjutnya
dengan pendapatan yang cukup akan lebih
mampu mengikuti program KB Peneliti selanjutnya yang ingin
dibandingkan keluarga yang tidak mampu, meneliti dengan tema yang sama
karena bagi keluarga miskin KB bukanlah diharapkan mengkaji lebih
suatu kebutuhan dasar (Handayani, 2012). mendalam peran suami dalam
pemilihan alat kontrasepsi, serta
KESIMPULAN DAN SARAN menganalisis faktor – faktor yang
berhubungan dengan peran suami
A. Kesimpulan terhadap pemilihan alat kontrasepsi.

Berdasarkan hasil analisa data pada DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz. 2012. Metode Penelitian
penelitian tentang gambaran peran
Kebidanan & Tehnik Analisis Data.
suami dalam pemilihan alat kontrasepsi Jakarta: Salemba Medika
Aman Syamsiah (2014). Peranan Dukungan
di PMB E. Kabupaten Tasikmalaya Suami dalam Pemilihan Alat
Kontraepsi Pada Peserta KB di
menunjukkan Peran suami dalam Kelurahan Serasan Jaya, Soak Baru
dan Balai Agung Kecamatan
keluarga sangat penting, terutama dalam Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin

mendukung dan mengambil keputusan

dalam program keluarga berencana.

Dalam penelitian ini menunjukkan hasil

sebagian besar suami memiliki peran

yang cukup yaitu 29 orang (55,8%)

B. Saran

Berdasarkan Hasil penelitian maka

saran yang penulis dapat sampaikan

adalah sebagai berikut:

1. Bagi PBM

Diharapkan dapat lebih

meningkatkan peran dengan

pemberian informasi, pengertian dan

pendamping kepada pasangan usia

subur untuk menjadi akseptor KB.

2. Bagi Suami

617

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Sumatera Selatan Tahun 2011. Faridah, Umi (2014). Hubungan Antara
Jurnal Keperawatan, Vol.1, No.1, Dukungan Suami dengan Pemilihan
Agustus 2011:Jakarta Metode Kontrasepsi Pasca
Anggraini dan Martini ( 2012). Pelayanan Persalinan. Jurnal Kebidanan Dan
Keluarga Berencana. Yogyakarta: Keperawtan, Vol 5, No 1 Juni
Rohima press. 2014: 49-58: Yogyakarta
Arliana D, Sarake M, Seweng A. 2013
Kontrasepsi Hormonal pada Friedman. 2017. Buku Ajar Keperawatan
Akseptor KB Di Kelurahan Keluarga. Jakarta: EGC
Pasarwajo Kecamatan Pasarwajo
Kabupaten Buton Sulawesi Halawa, Abdullah (2018). Potret Suami
Tenggara. Jurnal Fakultas Ideal dalam Rumah Tangga.
Kesehatan Masyarakat Unhas. Kendari: Muslim.Or.IdPusat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Unhas. 1M;(1–2). Hanafi, 2016, Keluarga Berencana dan
Bernadus J D, Agnes M, Gresty M. (2013). Kontrasepsi. Jakarta:Pustaka.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan
dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Handayani, S. 2012. Buku Ajar Pelayanan
Dalam Rahim (AKDR) Bagi Keluarga Berencana. Yogyakarta:
Akseptor KB Di Puskesmas Pustaka Rihama
Jailalolo. Jurnal Keperawatan,
Vol.1, No.1, Agustus 2013: Manado Hartanto H, 2013. Keluarga Berencana dan
BKKBN (2017). Kebijakan Teknis KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar
Kesehatan Reproduksi. Jakarta Harapan
BPS, BKKBN, Kemenkes, dan ICF
International. 2019. Survei Saifuddin, A. 2012. Buku Panduan Praktis
Demografi Kesehatan Indonesia Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:
20202. Jakarta: BPS, BKKBN, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Kemenkes, dan ICF International Prawirohardjo
Dinkes Jabar, 2020, Laporan Hasil
Pelaksanaan Program Keluarga Sarwono, 2015, Buku Panduan Praktis
Berencana Nasional Provinsi Jawa Pelayanan Kontrasepsi. Edisi 2.
Barat: Bidang Pengendalian Yayasan. Bina Pustaka
Penduduk dan Keluarga Berencana;
2020. Sulastri, S (2013). Hubungan Dukungan
Effendy, 2017 Dasar-dasar kesehatan Suami dengan Minat Ibu dalam
masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Pemakaian Kontrasepsi IUD Di
Kedokteran EGC. Bergas. e-Jurnal Gizi Dan
Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran,
Vol 2, No 1 Juni 2013: 64-72:
Semarang

Suparlan, 2015 Pelayanan Keluarga
Berencana. Bandung: Alfabeta

Suparyanto (2011). Konsep Suami dalam
Keluarga Berencana. Jakarta:
Salemba Medika

618

Prosiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI
SDN SIRNARAJA

Sindi Sriutami, Yudita Ingga Hindiarti
Universitas Galuh

ABSTRAK
Rentang usia menarche normal antara 9-17,7 tahun dengan rata-rata 12,8 tahun. Usia
menarche bervariasi lebar yaitu antara umur 10-16 tahun dengan rata-rata 12,5 tahun.
Sejak berabad-abad lalu, umur menarche tidak begitu berbeda dengan sekarang, yaitu
antara 11-15 tahun. mengatakan peristiwa terpenting yang terjadi pada gadis remaja
adalah datangnya haid pertama kali, biasanya sekitar 10-16 tahun. Tujuan dari penelitian
ini adalah mengetahui hasil pengetahuan remaja putri tentang menarche di SDN Sirnaraja
pada tahun 2021.Dengan cara membagikan kuisioner kepada responden. Dalam
penelitian ini bersifat deskriptif. Meliputi pembagian kuisioner kepada responden,
pengelolaan data, dan jawaban dari responden. Hasil penelitian menjelaskan bahwa
pengetahuan remaja putri di SDN Sirnaraja adalah : Kurang sebanyak 2 orang, Cukup
sebanyak 20 orang, dan Baik sebanyak 48 orang. Maka dapat disimpulkan gambaran
pengetahuan remaja putri tentang menarche di SDN Sirnaraja dalan kategori baik, hal ini
karena dipengaruhi oleh umur responden.

Kata kunci: SDN Sirnaraja, Menarche, Kuisioner, SPSS

ABSTRACT
Normal menarche age range between 9-17.7 years with a mean of 12.8 years. The
age of menarche varies widely between the ages of 10-16 years with an average of 12.5
years. Since centuries ago, the age of menarche is not so different from now, which is
between 11-15 years. said the most important event that occurs in teenage girls is the
arrival of the first menstruation, usually around 10-16 years. The purpose of this study
was to determine the results of young women's knowledge about menarche at SDN
Sirnaraja in 2021. By distributing questionnaires to respondents. In this research is
descriptive. Includes the distribution of questionnaires to respondents, data management,
and answers from respondents. The results of the study explained that the knowledge of
young women at SDN Sirnaraja were: 2 people less, 20 people enough, and 48 people
good. So it can be concluded that the description of the knowledge of young women about
menarche at SDN Sirnaraja is in the good category, this is because it is influenced by the
age of the respondent.

Keywords: SDN Sirnaraja, Menarche, Questionnaire, SPSS

619

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PENDAHULUAN mengidentifikasi pengetahuan remaja putri
Masa remaja merupakan masa dimana tentang menarche di SDN Sirnaraja,
Kecamatan Cigalontang, Kabupaten
seseorang sedang mencari jati diri dan Tasikmalaya.
proses menuju kedewasaan. Menurut
Kemenkes RI tahun 2015 sifat khas remaja SDN Sirnaraja merupakan salah satu
yaitu mempunyai rasa keingintahuan yang SD di Kabupaten Tasikmalaya yang berada
besar, menyukai petualangan dan tantangan pada wilayah kerja Puskesmas Cigalontang
serta cenderung berani menanggung resiko dengan jumlah siwa dan siswi paling banyak
dari perbuatannya tanpa didahului oleh ke 8 dari 48 diantara SD Negeri yang ada di
pertimbangan yang matang. Menurut Kecamatan Cigalontang. Setelah melakukan
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 Studi pendahuluan pada tanggal 20 Januari
tahun 2014 remaja adalah seseorang yang 2021 Peneliti menemukan sebanyak 70 siswi
berusia 10-18 tahun dan menurut Badan di SDN Sirnaraja mengatakan tidak tau dan
Kependudukan dan Keluarga Berencana tidak ingin menghadapi menarche karena
(BKKBN) rentang usia pada remaja yaitu menganggapnya sebagai kondisi tidak
10-24 tahun dan belum menikah, sedangkan normal. Kejadiaan ini dikarenakan
menurut World Health Organitation (WHO) kurangnya informasi/pengetahuan mengenai
dalam Sarwono (2011) menetapkan batasan menarche. Oleh karena itu, peneliti tertarik
usia remaja awal yaitu 10-14 tahun dan untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana
batasan usia remaja akhir antara 15-20 gambaran tingkat pengetahuan remaja putri
tahun. tentang menarche di SDN Sirnaraja.
METODE PENELITIAN
Menarche merupakan puncak proses
perubahan fisiologis reproduksi yang harus Metode yang digunakan dalam
dilalui perempuan pada masa pubertas penelitian ini adalah jenis metode penelitian
sebelum perempuan tersebut memperoleh survei deskriptif. Dalam penelitian survei
siklus menstruasi yang teratur. Hasil survey deskriptif penelitian ini diarahkan untuk
pendahuluan ditemukan bahwa 70 remaja mendeskripsikan atau menguraikan suatu
putri mempersepsikan sebagai suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau
keadaan sakit atau kelainan, sehingga masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan
mereka tidak tau apa yang harus dilakukan memberikan gambaran tentang pengetahuan
dan menganggapnya bahwa menarche remaja putri tentang menarche SDN
merupakan kondisi yang tidak normal. Sirnaraja Kecamatan Cigalontang
Kondisi ini akan menunjukkan pada prilaku Kabupaten Tasikmalaya. Populasi penelitian
depresi dimana gadis remaja akan ini adalah remaja putri yang belum
mengurung diri, menarik diri dari pergaulan mengalami menarche di SDN
yang membuat bingung orang tua. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk

620

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

REMAJA PUTRI YANG bahwa gambaran pengtahuan remaja putri
tentang menarche di SDN Sirnaraja sebagian
KELAS BELUM MENGALAMI besar baik.

MENARCHE HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini hanya menggunakan satu
IV 30
variabel yaitu pengetahuan remaja putri
V 30 terhadap menarche. Jenis data yang di
gunakan peneliti merupakan data primer
VI 10 yaitu data yang diperoleh peneliti secara
langsung melalui lembar kuesioner yang di
JUMLAH 70 isi langsung oleh sampling. Analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Sirnaraja yang terdiri dari siswi kelas analisis unvariat yaitu analisis untuk
menghasilkan distribusi frekuensi kemudian
IV 30 0rang kelas V 30 orang dan Kelas VI dianalisis secara narasi (Notoatmodjo,
2010).
10 orang. Dengan jumlah keseluruhan 70
Semakin bertambahnya usia seseorang
orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini akan mempengaruhi proses pengetahuan dan
pengalaman tentang menarche. Remaja akan
menggunakan sampling penuh yaitu seluruh semakin siap menghadapi menstruasi jika
remaja memiliki tingkat pengetahuan yang
responden dalam populasi dijadikan sampel baik tentang menarche. Umur berpengaruhi
dalam tingkat pengetahuan karena
penelitian. Sampling penuh yang digunakan kemampuan mental yang diperlukan untuk
mempelajari dan menyusun pada situasi-
oleh penulis supaya data yang diambil akan situasi baru seperti mengingat hal-hal yang
pernah dipelajari, penalaran analogi, dan
lebih akurat. Teknik pengambilan sampel berfikir kreatif. Umur yang lebih tua
mempengaruhi proses pertumbuhan,
dalam penelitian ini menggunakan rumus perkembangan atau perubahan ke arah yang
lebih dewasa serta telah banyak
Total Sampling untuk jumlah sampel 70 mendapatkan informasi dan pengalaman
tentang menarche secara langsung.
Orang. Pengambilan sample berdasarkan
Selain umur yang dapat mempengaruhi
daerah popolasi yang telah di tetapkan. pengetahuan remaja putri tentang menarche
ada juga faktor lain yaitu sering adanya
Distribusi Sampel Gambaran Pengetahuan

Remaja Putri Tentang Menarche di SDN

Sirnaraja

Kategori Frekuensi Prosentase
(%)
Kurang 2 2,8 %
Cukup 20
Baik 48 28.7 %
Jumlah 70 68,5 %
100 %

Tabel di atas menjelaskan bahwa
tingkat pengetahuan remaja putri tentang
menarche sebagian kecil memiliki
pengetahuan yang kurang yaitu 2 orang
(2,8%), hampir setengah dari jumlah
responden memiliki pengetahuan yang
cukup yaitu 20 orang (28,7%) dan sebagian
besar dari jumlah responden memiliki
pengetahuan yang baik sebanyak 48 orang
(68,5%). Maka dapat di ambil kesimpulan

621

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
menstruasi dari Puskesmas Cigalontang
setiap 3 bulan sekali. Semua pengalaman sumber informasi secara
pribadi merupakan sumber pengetahuan
berkaitan dengan umur dan pendidikan yang berkesinambungan tentang menarche dan
dimaksud adalah pendidikan yang tinggi
maka pengalaman akan luas, sedang untuk lebih meningkatkan pengetahuan
semakin tua umur seseorang maka
pengalaman akan semakin banyak. Umur tentang menarche.
merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
tingkat pengetahuan seseorang terhadap 2. Bagi orang tua
obyek yang diketahui. Tingkat pengetahuan
yang dimaksud adalah pengetahuan tentang Orang tua diharapakan sebagai orang
menarche.
yang terdekat dengan anak mampu
Pengetahuan yang cukup akan
membantu anak dalam mempersiapkan menjadi sumber informasi yang dapat
dirinya menghadapi menarche dengan baik.
Remaja yang sudah mempersiapkan diri dan memenuhi kebutuhan responden dalam
mendapatkan informasi tentang menarche
diharapkan siap untuk menghadapi mempersiapkan diri menghadapi
menarche. Remaja yang kurang
memperoleh informasi kemungkinan tidak menarche sedini mungkin.
siap untuk menghadapi menarche.
3. Bagi SDN Sirnaraja
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menjelaskan bahwa Penelitian ini diharakan sebagai sumber

tingkat pengetahuan remaja putri tentang informasi dan dapat membantu program
menarche sebagian kecil memiliki
pengetahuan yang kurang yaitu 2 orang berkelanjutan seperti diadakan
(2,8%), hampir setengah dari jumlah
responden memiliki pengetahuan yang ekstrakulikuler yang membahas tentang
cukup yaitu 20 orang (28,7%) dan sebagian
besar dari jumlah responden memiliki kesehatan reproduksi khususnya tentang
pengetahuan yang baik sebanyak 48 orang
(68,5%). menarche pada remaja putri di SDN
Saran :
1. Bagi Mahasiswi Kebidanan Sirnaraja.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti selanjutnya disarankan untuk

menentukan waktu penelitian jauh- jauh

hari sehingga kendala hari libur dapat

teratasi dan disarankan juga untuk

menggali data secara lebih komprehensif

dengan metode lain, misalnya melalui

wawancara langsung dengan responden

atau dengan metode diskusi terarah.

5. Bagi Responden
Responden diharapkan berupaya untuk
meningkatkan pengetahuan tentang
menarche yang bisa didapat melalui
berbagai sumber yang terpercaya seperti
guru atau orang tua. Setelah remaja

622

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

mengetahui tentang menarche Narendra, M.S, dkk. 2002. Buku Ajar I

diharapkan remaja dapat lebih siap. Tumbuh Kembang Anak dan

DAFTAR PUSTAKA Remaja Edisi Pertama IDAI.

Ali, Mubarak. 2010. Psikologi Remaja Jakarta : Sagung Seto
Perkemmbangan Peserta Didik.
Jakarta: Bumi Aksara Notoatmodjo Soekidjo, (2003).Pendidikan

Arikumto, S. 2010 Prosedur Penelitian dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Suatu Pendekatan Praktik (Edisi
Revisian 14). Jakarta: Rineka Cipta Rineka Cipta.

Duru CO, Ikeanyi EM, Merenu I. Notoatmodjo Soekidjo, (2005). Metodologi
Knowledge and practice of
menstrual hygiene among Penelitian Kesehatan. Jakarta:
adolescent school girls in Umunna,
Imo State, Southeast Nigeria: Rineka Cipta.
implications for parents, healthcare
providers and policy makers. Int J Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi
Reprod Contraception, Obstet
Gynecol. 2021;10(2). Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

Hacker NF, Moore JG. Esensial Obstetri Jakarta: Rineka Cipta.
dan Ginekologi: Pubertas dan
Pubertas Prekoks. Edisi 2 ;1992 p. Pulungan F. Pengaruh fungsi keluarga
555-561.
terhadap pemahaman remaja putri
Hacker NF, Gambone JC, Hobel CJ.
Essentials of Obstetrics and usia sekolah dasar tentang
Gynecology: Puberty and
Disorders of Pubertal menarche (studi kasus di SD Negeri
Development, 5th Edition; 2010 p.
345-351. no 066667 dan SD Negeri no

Hastuti TP, Widatiningsih S, Afifah A. 066433 Kota Medan);2012.
Hubungan Tingkat Pengetahuan
Tentang Menstruasi Dengan Santrock, John W. Adolescence. 2003.
Kesiapan Menghadapi Menarche
Pada Siswi Kelas V Dan Vi Di Sd Perkembangan Remaja. Edisi
Negeri Dangkel Parakan
Temanggung Tahun 2014. J Keenam. Jakarta: Erlangga
Kebidanan. 2014;3(7):16–23.
Saryono. 2010. Metodelogi Penelitian
IBG, Manuaba, (1998). Memahami
Kesehatan Reproduksi Wanita . Kesehatan. Yogyakarta: Mitra
Arcan. Jakarta.
Cendikia Press.
J. haffner, Dinda. 2006. The Reprodoctive
System at A Glance. Surabaya: Slameto. 2010. Belajar dan Faktor- Faktor
Airlangga.
Yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Kartono, K. 2005. Psikologi Wanita
Mengenal Gadis Remaja dan PT Rineka Cipta.
Wanita dewasa Jilid I.
Soetjiningsih. (2007). Tumbuh
Kartono, K. 2007. Psikologi Anak Psikologi
Perkembangan. Ban- dung: Mandar Permasalahannya. Jakarta: CV
Maju.
Sagung Seto.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2015. Pengantar
Kuliah Obtetri. EGC. Jakarta Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang

Remaja dan Permasalahannya.

Jakarta: Sagung Seto.

Sugiyono. 2010. Statistik Untuk Penelitian.

Bandung : Alfabeta.

Suryani, Eko dan Hesty Widyasih. 2010.

PsikologiIbu Dan Anak.

Yogyakarta: CFitramaya.

Susila I. GAMBARAN PENGETAHUAN

REMAJA PUTRI TENTANG

MENARCHE (Studi di SD Negeri

Wanar Kecamatan Pucuk

Kabupaten Lamongan Tahun 2015).

J Kebidanan. 2016;8(1):10.

Winkjosastro, Hanifa. 2010. Ilmu Kan-

dungan. Jakarta: Yayasan Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

World Health Organization, 2014.

Adolescents: health risks and

solutions.

Yanti. (2011). Buku Ajar Kesehatan

Reproduksi Untuk Mahasiswa

Kebidanan. Yogyakarta: Pustaka

Rihama.

623

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

624

Prosiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

GAMBARAN LUARAN BAYI PADA IBU DENGAN RIWAYAT
KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK)

Rini Ayu Rismawati, Sri Heryani
Universitas Galuh

[email protected]

ABSTRAK
Latar belakang : Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang utama Salah satu masalah kekurangan gizi di Indonesia yaitu
Kekurangan Energi Kronis (KEK). KEK adalah keadaan seseorang yang menderita
kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang ditandai dengan lingkar
lengan atas (LILA) < 23,5 cm sehingga mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan.
Tujuan : Penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Luaran Bayi Pada Ibu
Dengan Riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sadananya, Tahun 2019. Metode : Menggunakan penelitian deskriptif dengan uji SPSS.
Hasil : Ibu hamil yang mengalami KEK di dapatkan yang mengalami abortus, sebanyak
5 orang (33,3 %), ibu hamil yang mengalami KEK di dapatkan yang mengalami bayi
lahir mati tidak ada, yang mengalami kematian neonatal tidak ada, yang mengalami
asfiksia, sebanyak 1 orang (6,7 %), yang mengalami KEK di dapatkan bayi yang
mengalami BBLR, sebanyak 9 orang (60,0 %), ibu hamil yang mengalami KEK di
dapatkan bayi yang mengalami kelainan kongenital, sebanyak 1 orang (6,7 %)
Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa luaran bayi pada
ibu hamil yang mengalami KEK sebagian besar tidak beresiko hanya beberapa kejadian
saja yang memang terdapat resiko yaitu abortus dan BBLR.

Kata kunci : KEK, Ibu hamil, abortus, bayi lahir, asfiksia.

ABSTRACT
Background: Nutritional problems in Indonesia are still a major public health
problem. One of the problems of malnutrition in Indonesia is Chronic Energy
Deficiency (KEK). SEZ is the condition of a person suffering from chronic (chronic)
food shortages, which is characterized by an upper arm circumference (LILA) < 23.5
cm, resulting in health problems. Objective: This study was to determine the Outcome of
Infants in Mothers with a History of Chronic Energy Deficiency (KEK) in the Working
Area of the Sadananya Health Center, 2019. Methods: Using descriptive research with
the SPSS test. Results: Pregnant women who experienced KEK were found to have
experienced abortion, as many as 5 people (33.3% %), pregnant women who
experienced SEZ were found who experienced no stillbirth, none experienced neonatal
death, who experienced asphyxia, as many as 1 person (6.7 %), who experienced CED
got a baby with LBW, as many as 9 people (60.0 %), pregnant women who experienced
KEK got a baby with congenital abnormalities, as many as 1 person (6.7 % )
Conclusion : Based on the results of the study, it is certain that the baby's outcomes in
pregnant women who experience SEZ are mostly not at risk, only a few events that
contain risks, namely abortion and LBW.

Keywords: SEZ, pregnant women, abortion, newborn, asphyxia.

625

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

PENDAHULUAN mati, kematian neonatal, cacat bawaan,
Masalah gizi di Indonesia masih anemia pada bayi, asfiksia intra partum,
lahir dengan bayi berat lahir rendah
merupakan masalah kesehatan masyarakat (BBLR) (Proverawati, dkk.2010).
yang utama Salah satu masalah kekurangan
gizi di Indonesia yaitu Kekurangan Energi Berdasarkan hasil penelitian Betris,
Kronis (KEK). KEK adalah keadaan Melda (2020) tentang Analisis Faktor
seseorang yang menderita kekurangan Resiko Kejadian Abortus Pada Ibu Hamil
makanan yang berlangsung menahun menyebutkan hasil sebanyak 2 dari 59 ibu
(kronis) yang ditandai dengan lingkar hamil mengalami abortus dengan kondisi
lengan atas (LILA) < 23,5 cm sehingga LILA <23,5 cm. Melihat angka kejadian
mengakibatkan timbulnya gangguan ini tidaklah terlalu besar namun tetap saja
kesehatan. Kurang Energi Kronis (KEK) kondisi KEK dapat berisiko terjadinya
dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) abortus pada ibu hamil. Peningkatan energi
dan ibu hamil (Irianto, 2014). dan zat gizi tersebut diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin,
Berdasarkan hasil penelitian yang pertambahan besarnya organ kandungan,
dilakukan di Asia Selatan di dapatkan serta perubahan komposisi dan
prevalensi ibu hamil dengan KEK yaitu metabolisme tubuh ibu.
rata-rata dari 10% sampai 40% (Abraham,
Miruts and Shumye, 2015). Di Indonesia Luaran neonatal pada ibu bersalin
berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar dengan riwayat kekurangan energi kronik
(Riskesdas) Tahun 2018 menunjukan yang mengalami bayi lahir mati sebesar
bahwa prevalensi ibu hamil KEK di 3,57 %. Berdasarkan hasil penelitian dari
Indonesia berdasarkan usia yaitu: Usia 15- Mariyatul tahun 2014 bahwa terdapat
19 tahun (33,5%), usia 20-24 (23,3%), usia hubungan antara ibu hamil yang mengalami
25-29 tahun (16,7%), usia 30-34 tahun KEK dengan terjadinya bayi lahir mati
(12,3%), usia 35-39 tahun (8,5%), usia 40- yaitu ibu yang mengalami kekurangan
44 tahun (6,5%), dan usia 45-49 tahun energi kronis dapat menjadi penyebab bayi
(11,1%). Prevalensi resiko KEK pada WUS lahir mati. Kekurangan zat besi pada ibu
di indonesia pada tahun 2018 sebesar 19,1 dapat menimbulkan kadar hemoglobin
%. Salah satu provinsi yang memiliki dalam darah menurun sehingga
prevalensi KEK sedang adalah provinsi pengangkutan oksigen ke otak menjadi
jawa barat yaitu sebesar 21,9% (Riskesdas, menurun. Hal tersebut dapat menyebabkan
2018). produksi ATP otot rahim menurun dan
berakibat pada lamanya persalinan sehingga
KEK selama hamil akan menimbulkan meningkatkan infeksi pada bayi maka bayi
masalah, salah satunya dapat dapat meninggal (Mariyatul, 2014).
mempengaruhi proses pertumbuhan janin
yang dapat menimbulkan abortus, bayi lahir

626

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Dalam hasil penelitian selanjutnya kematian neonatal, asfiksia, bayi berat lahir
mengenai luaran neonatal pada ibu bersalin
dengan riwayat kekurangan energi kronis rendah (BBLR), kelainan kongenital.
yang mengalami asfiksia sebesar 4,76%.
Menurut penelitian dari Mariyatul tahun Varia Definisi Alat Kateg Skal
2014 yaitu adanya KEK di riwayat bel Operasion Ukur ori a
kehamilan ibu dapat mengakibatkan ukuran Lemb
plasenta kecil dan kurangnya suplai zat-zat penelit al Ya, Nomi
makanan ke janin. Hal tersebut memberikan ian ar jika nal
kontribusi pada penurunan konsentrasi Adalah kej check ibu
oksigen dan nutrisi dalam darah yang Abortu adian hamil Nomi
menuju plasenta sehingga konsumsi s pengeluara list mengal nal
oksigen pada janin berkurang dan n buah ami
menyebabkan aliran oksigen serta nutrisi Bayi kehamilan Lemb abortus Nomi
pada jaringan tubuh bayi menjadi terhambat lahir sebelum ar Tidak, nal
sehingga dapat menimbulkan asfiksia pada mati usia 22 jika
saat lahir (Mariyatul, 2014). minggu check kehami
Kemati yang terjadi list lan
METODE PENELITIAN an pada ibu berlang
Jenis penelitian ini menggunakan neonat dengan Lemb sung
al riwayat ar samapa
penelitian deskriptif yaitu peneliti hanya KEK yang i
memberikan gambaran keadaan objek, tidak dapat check dengan
menggeneralisasi hasilnya. Penelitian ini dilihat dari list aterm
dilakukan dengan memberikan gambaran kohort ibu Ya,
tentang luaran bayi baru lahir pada ibu dan bayi jika
dengan riwayat KEK pada kehamilan Lahir bayi
(Sulistyoningsih, 2011). Populasi penelitian Mati adalah lahir
ini adalah bayi yang lahir dari ibu dengan kematian mati
riwayat KEK pada kehamilan sebanyak 70 sewaktu ba Tidak,
bayi. Sampel penelitian ini adalah total yi masih di jika
sampling, yaitu seluruh bayi yang lahir dari dalam bayi
ibu dengan riwayat KEK pada kehamilan rahim. lahir
sejumlah 70 bayi pada tahun 2019. dalam usia hidup
Penelitian ini menggunakan satu variabel kehamilan
yaitu luaran bayi dan terdapat enam sub 20 minggu Ya,
variabel yaitu abortus, bayi lahir mati, atau lebih jika
yang terjadi bayi
pada ibu mening
dengan gal
KEK yang dibawa
dapat h 28
dilihat dari hari
kohort ibu Tidak,
dan bayi jika
Adalah bayi
Kematian dalam
bayi di
bawah usia
28 hari
yang terjadi
pada bayi
dengan
riwayat
KEK pada
ibu yang
dapat

627

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

dilihat dari kondisi lahir dari ibu dengan riwayat KEK pada
kehamilan untuk mencari data tentang
kohort ibu hidup abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal,
asfiksia , bayi berat lahir rendah (BBLR),
dan bayi kelainan kongenital. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
Asfiksi adalah Lemb Ya, Nomi lembar checklist/ lembar isian yang diisi
langsung oleh peneliti .
a kondisi ar jika nal
Pengambilan data luaran bayi pada ibu
bayi yang check bayi dengan riwayat KEK pada kehamilan dalam
penelitian ini dilakukan di satu tempat yaitu
mengalami list mengal Puskesmas Sadananya, dimana sebelumnya
peneliti melakukan koordinasi dan kerja
gagal nafas ami sama dengan pihak Puskesmas untuk
mengkolektif data yang ada pada kohort ibu
pada saat asfiksi dan bayi. Dalam hal pengambilan data
tersebut peneliti dibantu oleh enumerator
lahir a sebanyak 1 orang untuk membantu dalam
mencari data-kondisi bayi pada ibu dengan
dengan ibu Tidak, KEK. Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder, yaitu
riwayat jika data yang diperoleh dari kohort ibu dan
bayi di Puskesmas Sadananya. Faktor yang
KEK yang bayi diteliti yaitu tentang abortus, bayi lahir
mati, kematian neonatal, asfiksia , bayi
dapat lahir berat lahir rendah (BBLR), kelainan
kongenital. Analisis univariat adalah
dilihat dari berbafa analisis yang dilakukan terhadap masing-
masing variabel dan hasil penelitian
kohort ibu s kemudian dianalisis untuk mengetahui
distribusi dan persentase dari tiap variabel.
dan bayi normal Analisis univariat dilakukan menggunakan
rumus berikut (Notoatmodjo, 2010) :
Bayi Kondisi Lemb Ya, Nomi P = n x100%

berat bayi yang ar jika nal N
Dimana :
lahir lahir check bayi n = Jumlah responden berdasarkan

rendah dengan list lahir

(BBLR berat < dengan

) 2500 gram berat <

pada ibu 2500

dengan gram.

riwayat Tidak,

KEK yang jika

dapat bayi

dilihat dari lahir >

kohort ibu 2500

dan bayi gram

Kelain Kelainan Lemb Ya, Nomi

an yang sudah ar jika nal

kongen ada sejak check bayi

ital lahir yang list lahir

dapat dengan

disebabkan kelaina

oleh faktor n

genetik Tidak,

maupun jika

non genetic bayi

dengan ibu lahir

riwayat normal

KEK yang tanpa

dapat kelaina

dilihat dari n

kohort ibu

dan bayi

Instrumen yang digunakan dalam

melakukan penelitian ini berupa format

isian untuk merekap data-data yang sudah

tersedia kohort ibu dan bayi yang ada di

puskesmas Sadananya terkait kondisi yang

628

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

ketegori dapat dilihat bahwa, dari 70

N = Jumlah seluruh sampel ibu hamil yang mengalami

100% = Bilangan tetap KEK di dapatkan yang

P = Persentase mengalami abortus sebanyak 6

Penelitian ini dilakukan di wilayah orang (8,6 %), dan yang tidak

kerja Puskesmas Sadananya. Penelitian ini mengalami abortus sebanyak

dilakukan pada tgl 21 Juli s/d 21 Agustus 64 orang (91,4%). Maka dari
2020. itu, dapat diartikan bahwa ibu

hamil yang mengalami KEK

HASIL PENELITIAN DAN tidak beresiko abortus.

PEMBAHASAN b. Kejadian Bayi Lahir Mati

A. Hasil Penelitian Di Wilayah Kerja Puskesmas Sadananya
Tahun 2019
Setelah dilakukan penelitian
Bayi Lahir Persentase
mengenai luaran bayi pada ibu dengan Mati Frekuensi (%)

riwayat kekurangan energi kronis YA 0 0
TIDAK 70 100.0
(KEK) di Wilayah Kerja Puskesmas

Sadananya pada Tahun 2019,

diperoleh jumlah ibu hamil yang Dari tabel 4.2 distribusi

menderita Kekurangan Energi Kronis frekuensi responden

adalah 70 ibu hamil. Berikut ini berdasarkan kejadian bayi lahir

dipaparkan data yang dikumpulkan mati dapat dilihat bahwa, dari

dalam bentuk tabel berdasarkan 70 ibu hamil yang mengalami

variabel yang diteliti. KEK tidak ada yang

1. Distribusi Karakteristik mengalami bayi lahir mati.

Responden Maka dari itu, dapat diartikan

a. Kejadian Abortus bahwa ibu hamil yang

Tabel 4.1 mengalami KEK tidak
Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kejadian Abortus Pada Ibu beresiko mengalami bayi lahir
KEK Di Wilayah Kerja Puskesmas
mati.
Sadananya Tahun 2019

Abortus frekuensi Persentase
(%)

YA 6 8.6 c. Kejadian Kematian Neonatal
TIDAK 64 91.4
Tabel 4.3
Total 70 100.0 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kejadian Kematian
Dari tabel 4.1 distribusi Neonatal Pada Ibu KEK Di Wilayah
Kerja Puskesmas Sadananya Tahun
frekuensi responden
2019
berdasarkan kejadian abortus

629

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Kematian Persentase e. Kejadian Bayi Berat Lahir
Neonatal (%)
Frekuensi Rendah
YA 0
TIDAK 0 100.0 Tabel 4.5
70 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kejadian BBLR Pada Ibu
Dari tabel 4.3 distribusi
KEK
frekuensi responden Di Wilayah Kerja Puskesmas Sadananya

Tahun 2019

berdasarkan kejadian kematian Bayi Berat Frekuensi Persentase
Lahir Rendah (%)

neonatal dapat dilihat bahwa, YA 9 12.9

dari 70 ibu hamil yang TIDAK 61 87.1

mengalami KEK bayi yang Total 70 100.0

mengalami kematian neonatal

tidak ada. Maka dari itu, dapat Dari tabel 4.5 distribusi

diartikan bahwa ibu hamil frekuensi responden

yang mengalami KEK tidak berdasarkan kejadian BBLR

beresiko mengalami kematian dapat dilihat bahwa, dari 70

neonatal. ibu hamil yang mengalami

d. Kejadian Asfiksia KEK di dapatkan bayi yang

Tabel 4.4 mengalami BBLR, sebanyak 9
Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kejadian Asfiksia Pada Ibu orang (12,9 %) Maka dari itu,
KEK Di Wilayah Kerja Puskesmas
dapat diartikan bahwa ibu
Sadananya Tahun 2019
hamil yang mengalami KEK

Asfiksia Frekuensi Persentase beresiko melahirkan bayi
(%)
YA 1 BBLR.
TIDAK 69 1.4
Total 70 98.6 f. Kejadian Kelainan
100.0
Kongenital

Dari tabel 4.4 distribusi Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden
frekuensi responden Berdasarkan Kejadian Kelainan
Kongenital Pada Ibu KEK Di Wilayah
berdasarkan kejadian asfiksia
Kerja Puskesmas Sadananya
dapat dilihat bahwa, dari 70 Tahun 2019

ibu hamil yang mengalami Kelainan Persentase
Kongenital (%)
KEK di dapatkan bayi yang Frekuensi

mengalami asfiksia, sebanyak YA 1 1.4

1 orang (1,4 %). Maka dari itu, TIDAK 69 98.6

dapat diartikan bahwa ibu Total 70 100.0

hamil yang mengalami KEK Dari tabel 4.6 distribusi

tidak beresiko melahirkan bayi frekuensi responden

asfiksia. berdasarkan kejadian kelainan

630

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

kongenital dapat dilihat bahwa, dari 70 ibu hamil yang
mengalami KEK di dapatkan yang
bahwa, dari 70 ibu hamil yang mengalami abortus sebanyak 6
orang (8,6 %), dan yang tidak
mengalami KEK di dapatkan mengalami abortus sebanyak 64
orang (91,4%). Maka dari itu,
bayi yang mengalami kelainan dapat diartikan bahwa ibu hamil
yang mengalami KEK tidak
kongenital, sebanyak 1 orang beresiko abortus.

(1,4 %) Maka dari itu, dapat Menurut Kemenkes RI (2015)
Ibu hamil dan janin yang sehat
diartikan bahwa ibu hamil perlu memperhatikan 2 hal yaitu
asupan makanan dan kenaikan berat
yang mengalami KEK tidak badan ibu. mencapai gizi optimal,
asupan makanan sebaiknya
beresiko melahirkan bayi yang memenuhi prinsip gizi seimbang
yaitu :
mengalami kelainan a. Meningkatkan asupan makanan

kongenital. yang mengandung sumber
energi atau tenaga contohnya
B. Pembahasan Penelitian nasi, jagung, kentang, ubi,
singkong, tepung terigu/beras
a. Distribusi Responden dan produk olahannya (roti,
biskuit,kue)
Berdasarkan Kejadian Abortus b. Sumber protein sebagai zat
pembangun yang bisa
KEK adalah kurangnya gizi didapatkan dari : Protein hewani
(ikan, ayam, daging, telur, susu)
yang terjadi dalam kurun waktu Protein nabati (kacang kedelai,
tempe, tahu, oncom, kacang
yang lama, KEK menyebabkan merah)
c. Sumber vitamin dan mineral
pertumbuhan organ-organ berupa buah-buahan dan sayur-
sayuran yang beragam.
kandungan tidak baik, salah d. Minum air paling sedikit 2 liter
setiap hari, yaitu sebanyak 8 –10
satunya pertumbuhan endometrium gelas sehari.

yang mengakibatkan hasil konsepsi

tidak dapat berimplantasi dengan

baik yang selanjutnya akan

berpengaruh selama

berlangsungnya pertumbuhan dan

perkembangan janin dalam rahim.

Upaya pencegahannya adalah

dengan datang sedini mungkin ke

nakes untuk memeriksakan status

gizi dan mendapatkan pelayanan

pengetahuan mengenai kebutuhan

gizi yang seimbang (Eni

Subiastutik, 2017).

Dari tabel 4.1 distribusi

frekuensi responden berdasarkan

kejadian abortus dapat dilihat

631

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

e. Menghindari mengkonsumsi Dari tabel 4.2 distribusi
frekuensi responden berdasarkan
minuman ringan, soda, alkohol, kejadian bayi lahir mati dapat
dilihat bahwa, dari 70 ibu hamil
kopi dan minuman kemasan yang mengalami KEK di dapatkan
yang mengalami bayi lahir mati
lainnya. tidak ada. Maka dari itu, dapat
diartikan bahwa ibu hamil yang
f. Menghindari makanan yang mengalami KEK tidak beresiko
mengalami bayi lahir mati.
banyak mengandung zat
Berdasarkan hasil penelitian
pewarna, pengawet dan Mariyatul, Triawanti, Meitria
Syahadatina Noor tahun 2012
penambah rasa atau makanan diketahui bahwa sebanyak 50% ibu
hamil yang mengalami kejadian
kemasan. bayi lahir mati memiliki LILA yang
berisiko (< 23,5 cm). Ukuran LILA
Dalam hasil penelitian ini dapat ditentukan dari keadaan gizi
ibu saat sebelum hamil, bahkan
sebenarnya ibu hamil yang pada saat masih remaja. Kebutuhan
gizi pada masa kehamilan berbeda
mengalami KEK tidak beresiko dengan sebelum hamil, peningkatan
kebutuhan gizi ibu hamil menurut
mengalami abortus tetapi dalam Huliana dalam Suharto dkk (19)
sebesar 15% untuk pertumbuhan
kenyataannya seringkali KEK rahim, payudara, volume darah,
plasenta, air ketuban, dan
merupakan penyebab ibu hamil pertumbuhan janin. Janin sangat
bergantung pada ibunya, baik untuk
mengalami abortus, karena pernafasan, pertumbuhan, maupun
untuk berlindung dari penyakit.
berkaitan langsung dengan Oleh karena itu, sebesar 40%
makanan yang dikonsumsi ibu
pemenuhan gizi ibu dan gizi hamil dipergunakan untuk
pertumbuhan janin, sedangkan 60%
merupakan komponen penting untuk memenuhi kebutuhan ibu.

untuk pertumbuhan dan

perkembangan janin didalam rahim.

Abortus juga bisa disebabkan faktor

lain yaitu ibu yang mempunyai

penyakit kronis, ibu dengan

kelainan rahim dan ibu yang

mengalami kelainan pada plasenta,

hanya saja sebagian kecil ibu yang

mengalami KEK terkadang

mengalami abortus disebabkan

asupan gizi yang kurang pada bayi

dan mengakibatkan organ-organ

bayi tidak berkembang dengan baik

dan akhirnya mengalami abortus.

b. Distribusi Responden

Berdasarkan Kejadian Bayi

Lahir Mati

632

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

Ibu yang mengalami disebabkan oleh ibu yang
kekurangan zat gizi tertentu yang
diperlukan saat hamil akan mengalami KEK.
menyebabkan janin tumbuh tidak
sempurna. Apabila ibu kurang c. Distribusi Responden
mengonsumsi kalori maka
menyebabkan terjadinya malnutrisi Berdasarkan Kejadian Kematian
atau biasa disebut KEK yang
ditandai dengan ukuran LILA < Neonatal
23,5 cm (Rahmaniar MBA, Taslim
NA, Bahar B, 2013). Dari tabel 4.3 distribusi

Kekurangan energi kronis frekuensi responden berdasarkan
dapat menyebabkan ibu hamil tidak
mempunyai cadangan zat gizi yang kejadian kematian neonatal dapat
adekuat untuk menyediakan
kebutuhan fisiologis kehamilan, dilihat bahwa, dari 70 ibu hamil
yakni perubahan hormon dan
meningkatnya volume darah untuk yang mengalami KEK di dapatkan
pertumbuhan janin sehingga suplai
zat gizi pada janin berkurang, bayi yang mengalami kematian
akibatnya pertumbuhan dan
perkembangan janin terhambat neonatal tidak ada. Maka dari itu,
(Choirunnisa dan Ma’rifah U, 2010
dan 2012). dapat diartikan bahwa ibu hamil

Bayi lahir mati bisa yang mengalami KEK tidak
disebabkan oleh faktor ibu dan
janin, faktor ibu biasanya ibu yang beresiko mengalami kematian
mengalami penyakit kronis
(hipertensi, diabetes) ,kelainan neonatal.
kromosom, kelainan plasenta dan
gaya hidup ibu yang kurang sehat Penelitian ini sejalan dengan
seperti ibu sering minum alkohol
ataupun merokok, sejauh ini bayi penelitian Erna Kusrini, 2012
lahir mati lebih banyak disebabkan
oleh beberapa faktor tersebut. bahwa tidak ada hubungan antara
Sedikit sekali bayi yang lahir mati
Lingkar Lengan Atas (LILA) pada
633
ibu hamil dengan kejadian

kematian bayi. Berdasarkan data

yang diperoleh menunjukkan

bahwa hanya sebagian kecil

responden yang memiliki lingkar

lengan atas di bawah standar.

Dalam hal ini hanya sebagian kecil

saja yang tergolong Kurang Energi

Kronis (KEK) baik yang

mengalami kematian bayi maupun

yang tidak. Persentase lingkar

lengan atas responden yang

tergolong normal sebesar 85,4%

untuk kelompok kasus, sedangkan

persentase untuk kelompok kontrol

lebih rendah yaitu sebesar 80,5%.

Dari hasil penelitian ini dapat

Posiding Kebidanan E-ISSN: 2622-6871
SEMINAR NASIONAL ¨BIDAN TANGGUH BIDAN MAJU¨

diketahui bahwa, variabel lingkar status gizi ibu dengan kejadian

lengan atas ibu hamil tidak asfiksia memiliki signifikasi

memberikan kontribusi terhadap sebesar 0,372. Maka dapat

kejadian kematian bayi. Menurut disimpulkan bahwa tidak ada

Agria (2012) ibu hamil yang hubungan antara status gizi ibu

mengalami KEK juga akan dengan kejadian asfiksia. Selama

meningkatkan risiko kesakitan dan kehamilan, asfiksia dapat

kematian bayi karena rentan menyebabkan gawat janin yang

terhadap infeksi dan gangguan merupakan kondisi fatal. Bahkan,

belajar. asfiksia neonatorum berat dapat

Kematian neonatal banyak memicu kelainan akibat cedera

disebabkan oleh faktor otak, atau hipoksia-iskemik

preeklampsia, partus lama dan ensefalopati. Kekurangan asupan

abortus tidak aman, sedangkan oksigen dan darah bisa

kejadian kematian neonatal sedikit mengakibatkan kelainan otak pada

hubungannya dengan ibu yang bayi selepas lahir.

mengalami KEK. Ibu dengan KEK tidak

d. Distribusi Responden beresiko melahirkan bayi asfiksia

Berdasarkan Kejadian Asfiksia karena faktor yang dapat terjadi

Dari tabel 4.4 distribusi karena asfiksia bukan karean ibu

frekuensi responden berdasarkan KEK tapi karena ibu mengalami

kejadian asfiksia dapat dilihat beberapa penyakit misalnya

bahwa, dari 70 ibu hamil yang hipertensi, anemia, dan juga infeksi.

mengalami KEK di dapatkan bayi e. Distribusi Responden

yang mengalami asfiksia, sebanyak Berdasarkan Kejadian Bayi

1 orang (1,4 %). Maka dari itu, Berat Lahir Rendah
Dari tabel 4.5 distribusi
dapat diartikan bahwa ibu hamil

yang mengalami KEK tidak frekuensi responden berdasarkan

beresiko melahirkan bayi asfiksia. kejadian BBLR dapat dilihat

Hasil penelitian dari Irma bahwa, dari 70 ibu hamil yang

Febri Mustika tahun 2013 dari mengalami KEK di dapatkan bayi

variabel status Gizi, jumlah data ibu yang mengalami BBLR, sebanyak

yang paling banyak adalah Tidak 9 orang (12,9 %). Maka dari itu,

KEK sebanyak 89 (92,7%) dan dapat diartikan bahwa ibu hamil

yang paling sedikit menderita KEK yang mengalami KEK beresiko

sebanyak 7 (7,3%). Hasil penelitian melahirkan bayi BBLR.

menunjukkan nilai dari hubungan

634


Click to View FlipBook Version