The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-19 17:17:38

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu suamiku

1

Dilarang menyebarluaskan
dan atau memperbanyak cerita

PDF
“DOSEN ITU SUAMIKU”
Tanpa seizin penulis dan

atau penerbit.
Mohon dengan sangat
hargai jerih kami dalam
menghasilkan sebuah karya.

Terimakasih.

*Rarashasha Desember
2020*

2

SEBUAH PERJALANAN

Lembayung senja menghias jagat raya,
membangkitkan seluruh manusia dari segala
keluh kesah yang membahana.

Menggelar sajadah dan bersujud tunduk,
patuh, taat juga tawadhu pada ketentuan
TuhanNya.

Rania menginjakkan kaki di bandara
Samsoedin Noor dengan bahagia. Kerinduannya
pada kota kelahiran abah demikian menyelusup
pori-pori hatinya dan membuatnya tak berdaya.

Rania di terima menjadi salah satu
mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di
kota itu.

Banjarmasin, kota seribu sungai dengan
ribuan mimpi, harapan, cita-cita juga kenangan.
Banjarmasin yang masyarakatnya agamis namun
tak ekstrim terhadap agama lain.

Banjarmasin adalah kota paling familiar
menurut Rania.

3

Ia bangga, mimpinya menjadi salah satu
mahasiswi universitas itu tercapai kini.

Menjadi mahasiswi fakultas hukum strata
1, lucu memang, sedang ia sendiri sudah
menempuh S2 ekonomi di kotanya.

Tapi apapun alasannya mimpi adalah cita-
cita yang didekap hingga menembus alam bawah
sadar.

Bukan hanya untuk sekedar memahami
ilmu hukum agar dirinya tak buta hukum. Namun
lebih dari itu. Ada 'hope' yang sedang ia gambar
dalam perjalanannya.

Harapan tentang kesuksesan, harapan
tentang pembuktian, harapan tentang
mewujudkan kerinduan dan harapan tentang
terwujudnya pembalasan.

Rania dengan tegap mendorong trolli
menuju taxi yang telah ia pesan. Ringan
langkahnya menuju sebuah rumah yang di
kontraknya melalui media online.

4

Sebuah rumah mewah dengan perabotan
mewah.

Rania sengaja memilih rumah itu bukan
hanya sekedar untuk sebuah kenyamanan namun
lebih dari itu.

Rania ingin merasa nyaman di rumah yang
ia sewa. Merasa nyaman saat menulis dan nyaman
saat menjamu kawan.

Rania ingin benar-benar berhasil dengan
cita-citanya.

Memasuki perumahan elite di jalan A. Yani
membuat Rania merasa perlu membawa
pandangannya mengawasi sekeliling. Rumah-
rumah bertingkat nan megah.

Dinding putih dan gerbang berpagar
tinggi, ornamen minimalis ditambah dengan
hiasan sebuah mobil mewah yang sedang
dibersihkan oleh sopir pribadi.

Gambaran sorga dunia yang disulam
demikian indah.

Rania turun tepat disebuah rumah
bertuliskan A. 36.

5

Seorang wanita bergaun indah disamping
sebuah toyota nampak anggun tersenyum ke
arahnya.

Rania membalas senyum renyah wanita
itu.

"Saya ibu Rumi pemilik rumah ini."
"Oh, saya Rania bu, " suara Rania renyah.
Wanita tersebut membimbing Rania
masuk rumah berornamen bunga matahari
tersebut. Ruang tamunya sedikit nampak naik
dibanding ruangan yang lain. Di ruang keluarga
sebuah sofa tanpa sandaran di hamparkan begitu
saja di tengah ruangan. Ada karpet berbulu tebal
berwarna hijau muda, menutupi sedikit saja kaca
lebar yang terhampar dilantai. Ada hiasan tiga
dimensi bernuansa kolam ikan di bawahnya.
Rania bangga dengan rumahnya. Setara
dengan uang dua puluh juta yang ia berikan satu
hari yang lalu untuk sewa rumah ini selama satu
tahun.

6

Rania tidak lagi perduli dengan harga.
Honor menulisnya terlalu besar bila hanya untuk
bilangan dua puluh juta saja.

Dalam sebulan ia bisa tuntas menulis 10
judul novel. Bila satu novel berharga 200 USD
belum termasuk bonus harian, royalti dan koin
dari pembaca maka dalam sebulan ia bisa
dapatkan lebih dari empat puluh juta hanya
dengan menulis novel.

Rania tak perduli dengan letih yang
kadang mengoyak-ngoyak dirinya, yang ia tahu ia
harus kuat berjuang demi nama baik dan
kesetaraan kehormatan di mata masyarakat.

Ia habiskan kesehariannya untuk menulis
dan memintal doa pada Tuhan, ia yakin suatu hari
apa yang ia pintal akan berbentuk. Dan inilah
saatnya.

Inilah saat dimana dirinya merasa punya
waktu membuktikan bahwa ia berharga dan layak
dihormati.

Ia layak diperebutkan dan diperjuangkan.
Ia layak dibanggakan dan dihargai.

7

Bila hari kemarin ia meminta karena
memang ia sedang tak memiliki apapun untuk
digunakan. Rania lelah berkejaran dengan hutang
dan riba, maka meminta adalah jalan yang ia
tempuh. Demi hidupnya, demi anak yang
diasuhnya.

Tak malukah dirinya? Malu... pasti. Namun
akan lebih malu lagi bila dunia mencatat namanya
sebagai wanita tuna susila yang menggadaikan
harga diri demi rupiah.

Hari ini, ketika ia berada di bulan ke
tiganya melalui kontrak eksclusive bersama
sebuah media online. Hari ini adalah hari
kemenangan dimana dirinya benar-benar berjaya.

Ia telah memiliki sebuah mobil mewah,
memiliki tas bermerk, kosmetik para artis dan
perawatan tubuh yang intensive.

Hidup telah ia menangkan.
Hidup telah ia genggam.
"Kalau begitu saya pulang dulu ya mbak.."
"Rania, "

8

"Oh iya mbak Rania. Ini surat
perjanjiannya, semoga saja betah."

"InsyaAllah betah, bu." jawab Rania lugas.
Ia mengantar ibu Rumi keluar dari rumah
yang ia sewa. Kemudian Rania berkemas
membereskan pakaian yang di bawanya. Sambil
sesekali ia benamkan wajahnya diantara ranjang
empuk kamar barunya.
Dua kakinya terjuntai di ujung ranjang, ia
menghubungi satu nomor di ponselnya.
"Hallo, saya Rania, yang kemarin sempat
buat janji."
"Saya butuh dua orang asisten rumah
tangga,"
"Iya jadi..."
"Bisa kan ?"
"Oke, terimakasih."
Rania menghela nafas panjang kemudian
mendekap bantal harum, merapatkannya di
dadanya. Menekan tombol on pada remote AC
yang tergeletak di ujung ranjang.

9

Sebelum tidur ia berujar, tak ada yang
tidak mungkin bila Allah mengijinkan.

Keyakinan pada kekuatan Tuhan harus
melekat kuat, hingga dalam kondisi apapun
seorang hamba tidak akan kehilangan pegangan.

Lamat-lamat, dingin AC dan harum
pewangi ruangan menyeruak seluruh sisi kamar.
Mata indah Rania terpejam, bulu mata lentiknya
pun mengatup, rapat.

Bayangan tentang hari esok berkejaran di
mimpinya, bayangan tentang kemenangan dan
tantangan baru, Rania sadar, ia harus
mempersiapkan diri dengan matang. Ia tidak
boleh rebah apa lagi tergelincir.

Titian itu harus ia lewati dengan hati-hati,
bersahaja dan meninggalkan kesan sombong.
Berguna namun tidak mudah di guna-guna,
bermanfaat namun tidak mudah di manfaatkan.

Sepiring soto banjar dengan sesendok
penuh sambal terhidang di piring tebalnya.

10

Dalam tidurnya ia telah berkelana,
menghirup aroma segar soto banjar yang nikmat
nian.

Rania tersenyum, mengenang orang
pertama yang memperkenalkan dirinya pada soto
banjar di anjungan pasar.

********
"Hey, tumben jalanan di Banjarmasin ini
menjadi macet, mungkin karena sekarang
warganya menjadi makmur dan berkecukupan.
Hingga jumlah mobil semakin bertambah. Jumlah
motor makin banyak dan jalanan menjadi sesak."
Dulu Banjarmasin tidak macet seperti ini.
Macet memang seringkali menjengkelkan namun
macet juga bisa dikaitkan dengan kehidupan
masyarakat yang mulai mapan atau juga tata kota
yang kurang baik berjalan.Entahlah.
Macet yang menggoda membuat beberapa
caci maki muncul, untung saja hari hujan hingga
terik matahari tak menimbulkan keresahan.
Diantara macet Rania menyempatkan diri

11

menghafal beberapa surah yang belum ia
tuntaskan.

Rania menuju kampus tempat ia diterima
bersekolah kembali. Kuliah di fakultas hukum.
Universitas swasta ternama di kota ini.
Universitas yang menjadi mimpi jutaan anak di
luar sana. Universitas berkelas, begitu Rania selalu
menyebutnya dengan bangga.

Wuih... mimpi-mimpi dirancang indah
olehnya. Mimpi yang sudah dirajut ribuan menit
yang lampau baru kini diijinkan terjadi.

Rencana manusia tidak akan pernah lebih
baik dari rencana taqdir Tuhan. Memang
demikianlah kenyataannya.

Dan beberapa bulan terakhir ini Rania
memang disibukkan untuk menjelajah rencana
Tuhan yang sudah dipahami, selalu tidak terduga.

Termasuk dengan jadwal kuliahnya tahun
ini, ia adalah bagian dari tidak terduga nya
rencana Tuhan.

Rencana untuk kuliah di fakultas hukum
sudah Rania gagas lima tahun yang lalu,dengan

12

segala tatanan kesempurnaan namun tidak
berhasil, Tuhan berkata lain.. saat itu ia tidak
ditaqdirkan untuk kuliah di fakultas hukum
seperti inginnya,ia tidak ditaqdirkan membalas
siapapun meski ia sangat ingin, ia hanya diijinkan
menatap perjalanan itu dari jauh meski ia sangat
sakit.

Hari itu dalam ketidak mengertian nya
tentang taqdir dan keniscayaan Tuhan ia sempat
protes pada cita-cita yang tidak diijinkan terjadi.
Dan hari ini ia didatangkan kembali dalam
keadaan yang telah benar-benar siap. Dalam
keadaan dimana seluruh komponen kekuatan itu
telah bersatu, lahir dan batin. Secara materi Rania
telah mampu mencukupi dirinya dan secara batin
pun Rania telah benar-benar kuat. Tuhan memang
luar biasa.

Rania tidak pernah menyangka bahwa
dirinya akan dikirim Tuhan hari ini, taqdir nya kali
ini memaksa dirinya untuk mengesampingkan
segala aktivitasnya dan hanya memusatkan pada
tujuannya untuk datang kemari.

13

Memenuhi keniscayaan Tuhan, Tuhan
memang serba artistik, banyak hal tidak terduga
yang sangat erat dengan sebuah keniscayaan.
Sebagai seorang hamba sekali lagi, tugas kita
hanya tunduk, taat dan patuh saja. Andai hari itu
Rania membalas, mungkin ia tidak akan berada di
kata 'menang' karena saat itu ia tidak punya
amunisi apapun selain hanya modal nekat dan
rasa sakit. Berperang tanpa amunisi sama halnya
dengan bunuh diri.

Namun hari ini Tuhan membuktikan
bahwa Ia begitu Maha Pengasih.

Kita tidak bisa memaksa bunga untuk
mekar sesuai hitungan dan ilmu kita namun kita
bisa saja menemuinya tumbuh mekar di luar
dugaan. Saat itulah keniscayaan Tuhan sedang
berjalan.

Rania, tersenyum mantap dari belakang
kemudinya.

Kampus megah yang sering didatanginya
beberapa tahun yang lalu itu berdiri menjulang.

14

Ia menatap atapnya dengan sebuah
harapan, ia akan berhasil, berhasil mengambil
ilmunya dan berhasil memangsa sasarannya.

Singa yang kemarin tidur itu hari ini telah
terbangun serta siap memangsa siapapun yang
main-main dengan hidupnya.

Rania turun dari mobil mewahnya, ia
tegap menggamit tas branded dan sepatu Natasya,
langkahnya ringan, tubuh rampingnya bergoyang.

Sesekali ia tundukkan wajahnya ketika
melewati gerombolan mahasiswa yang
melihatnya.

Usianya kini sudah tidak muda lagi namun
jangan disangka, kemapanan wanita cantik yang
mungkin berusia tidak muda, sangat menggoda
dibandingkan wanita cantik yang baru bisa
bernafas dan menatap dunia. Rania menjanjikan
kemapanan itu untuk semua yang mendekatinya.

"Ruang mahasiswa baru dimana ya mbak
?"

15

"Oh, disana kak." ucap gadis kecil itu
menunjuk satu ruangan yang berjajar dengan
ruang lainnya.

"Terimakasih, " kemudian Rania
melangkah pergi.

Teduh yang tercipta karena hujan yang
hanya turun sesaat kemudian reda telah
menciptakan sebuah dialektika indah.

Di kampus ini dulu ia menunggu cintanya
berbalas, di kampus ini dulu ia meratapi nasibnya,
dikampus ini juga ia memilah antara kata setius
dan berpura-pura serius.

Kali ini ia kembali datang dengan
keteguhan hati dan kemantapan diri.

Perjalanannya menuju kampus baru
tempat ia menimba ilmu telah sampai di
tempatnya. Hari pertama dimana ia akan minta
penjelasan pada panitia penerima mahasiswa
baru.

Rania menarik nafas panjang, menahan
kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.

Berat memang namun harus ia jalani.

16

Gadis itu telah melewati ribuan perjalanan
ia mengayunkan langkahnya bukan hanya
dengan kakinya, ia melangkah dengan tangannya,
dengan perasaannya juga dengan fikirannya.
Ia menembus semua batas yang tak
pernah bisa ditembus oleh hati-hati yang kosong
dan terapung-apung
Ribuan belantara telah ia lewati
Ribuan derita telah ia lalui
Dan ia telah berhasil
Menjadi peri tanpa tongkat bintang
Menjadi peri tanpa mahkota.
Gadis itu, Rania namanya. Kemunculannya
mungkin akan menakutkan mereka yang pernah
menggunakan hidupnya sebagai permainan.
akan menyeramkan bagi mereka yang pernah
bermain-main dengan dosa.
Meskipun Rania datang hanya untuk
menuntaskan rindu nya.
Rindu pada dosen baik bermata teduh
yang dulu sering menolongnya.

17

Kedatangannya hanya untuk

menuntaskan dendamnya, dendam pada dosen

yang pernah melingkarkan cincin kecil di jari

manisnya lalu kemudian memangkas bukan hanya

jemarinya tapi sekaligus dengan pergelangan

tangannya.

Rasa sakit yang hanya bisa Rania ceritakan

pada Tuhan.

Rania hari ini datang menuju kampus

dengan pilihan menjadi baik atau menjadi busuk.

Bersahabat saja dengannya bila kalian

merasa bukan musuhnya.

Desis suara angin ..... di telinga-telinga

yang dingin.

#cerita ini hanya fiksi belaka bila ada

kesamaan nama dan tempat semua diluar

kesengajaan penulis.((1)

Apresiasi terindah adalah saat pembaca berdoa
agar kami sehat dan baik-baik saja

18

ORIENTASI MAHASISWA BARU

Masa orientasi mahasiswa baru hari ini
telah memasuki hari ketiga, lucu juga ia harus
mengulangi kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat
Rania masih muda dengan jilbab di kuncir.

Saat ini di masa pandemi ini, mahasiswa
tidak harus hadir di kampus, pengenalan kampus,
pengenalan fasilitas, pengenalan mata kuliah
semua dilakukan dengan zoom video.

Hari pertama dan hari kedua berjalan
biasa-biasa saja.

Menginjak hari ketiga, mahasiswa baru
boleh hadir dengan memperhatikan protokol
kesehatan, bermasker dan duduk berjarak.

Mungkin Rania datang terlalu pagi hingga
ia harus menunggu di tepian kolam kecil,
bersandar di ujung gazebo yang berdiri tunggal.

19

Hingga kemudian ia melihat segerombolan
mahasiswi dengan baju atasan hitam dan
bawahan putih.

Rania melangkah menuju ruangan yang
telah disiapkan. Ia ikuti langkah gerombolan
mahasiswi tadi. Deretan bangku berjajar dengan
jarak kurang lebih setengah meter.

Ada meja panjang menghadap tepat di
barisan bangku untuk para mahasiswa baru.

Meja itu diberi alas berwarna merah hati.
Ada ornamen vas bunga kristal juga bunga mawar
putih mekar. Dua yang mekar berada di kanan kiri,
ditengahnya yang masih kuncup. Ornamen
tersebut menambah indah suasana.

Hingga mata bulat Rania tertuju pada
sebuah sosok yang sangat dikenalnya.

Rania menuju sosok tersebut dengan tatap
mantap.

20

"Selamat pagi Bapak, " Suara Rania ketika
matanya bertabrakan dengan mata dosen tampan
yang sudah ia kenal sejak lima tahun yang lalu.
Dosen ini yang dulu menyuruh Rania untuk kuliah
tanpa biaya. Dosen ini yang dulu iba dengan
nasibnya, meski ia juga berniat untuk mencicipi
manisnya asmara yang menggeliat di tenda
lelakinya.

Dosen ganteng yang usianya hampir purna
itu terkejut.

"Kamu, ?"
"Inggih,"
"Rani kan ?"
"Betul, "

Rania tersenyum, manis semanis gula
Jawa.

"Iya, ini Rania, pak. Rania yang dulu kumal
dan dekil."

"Sekarang lebih matang, cantik dan
dewasa.'

21

Suara dosen tersebut memuji. Mungkin ia
tidak menyangka akan bertemu Rania disini, di
tempat ini.

Mungkin juga ia merasa ada memori yang
datang dan pergi menyapa ingatannya,
membuatnya tersenyum sendiri sambil sesekali
menatap mahasiswa baru yang lalu lalang
memenuhi ruangan. Juga beberapa panitia yang
sedang sibuk mempersiapkan tempat
berlangsungnya masa orientasi mahasiswa baru.

Nampak beliau mendekati tempat duduk
Rania. "Nanti temui aku ya, " suaranya
memastikan.

"InsyaAllah, "
"Ini nomer Wa ku,"
"Rania sudah punya, pak."
"Oh ya ?"
"Iya pak,"
"Okelah "

22

Dosen itu berlalu. Meninggalkan ruang
orientasi mahasiswa baru sambil bersenandung
tembang kenangan. Langkah ringannya
menyusuri tangga biru menuju ruangan para
dosen terlihat sangat tegap, sambil ia sesekali
membenahi letak jasnya yang tidak rata.

"Tenang saja pak, bapak masih tampan
dan berwibawa meski berpakaian seadanya. "
suara itu pernah membuat jiwa lelakinya terusik.

Lima tahun yang lalu. Dan kini pemilik
suara yang sempat mengusik itu berada di
dekatnya.

Ia sangat terpesona, tidak menyangka
taqdir akan bermain-main dengan dirinya.

Dosen itu, pak Yuda, ia tahu misi Rania
datang kemari.

Bukan dirinya target yang dimaksud
Rania. Ada yang lain, ada yang sedang diincar oleh

23

Rania, dan boleh jadi ini adalah bagian dari
pembalasan dendam.

Ia yakin, insting hukum yang ia asah setiap
hari bermain-main lincah di telinganya.

Ia tahu kemana arah Rania menuju dan ia
hanya akan jadi pemirsa dalam permainan ini,
boleh jadi dirinya akan jadi figuran atau bahkan
jadi pemeran protagonis yang bersahabat dengan
pemeran utama. Entahlah.

Acara penutupan masa orientasi pun
berlangsung. Rangkaian acara yang sudah ditata
rapi terlewati.

Panitia begitu pandai mengemas acara
hingga membuat para mahasiswa baru terkesan.

Rania duduk dibarisan paling depan
namun memilih tempat di ujung agar dirinya bisa
memantau keadaan dan mengikuti jalannya
kegiatan hingga tuntas tanpa perlu takut
berjumpa wajah-wajah yang mengenalnya.

24

Rania, menatap satu persatu wajah panitia
dan beberapa dosen muda yang duduk di
hadapannya.

Rupanya memang sudah dipersiapkan
bahwa acara penampilan dosen ini di lalui dengan
menampilkan dosen ganteng dan cantik untuk
memunculkan minat dan semangat mahasiswa
baru.

Ini bagian dari trik sebuah pelayanan dan
diakui oleh Rania trik mereka berhasil.

Rania yang menikmati sajian mereka
kadang tertawa lepas, kadang tersenyum kadang
juga terbelalak. Mereka demikian atraktif. Seperti
sudah terlatih.

"Oke, kita tutup acara orientasi mahasiswa
baru ini dengan doa."

Rania terkejut, ia melihat jam tangan merk
rolex yang melingkar di pergelangan tangan
mungilnya.

25

Pukul 14.00 WITA
Ia ingat akan janjinya pada pak Yuda.
Dosen tampan yang tadi mendekatinya.
Usai acara ditutup, Rania pun menuju
ruangan pak Yuda.
Masih yang dulu kah ? atau sudah berubah.
Rania melangkah saja. Toh. nanti bisa tanya bila
telah sampai disana.
Rania tersenyum manis, sangat manis
sambil menunggu episode selanjutnya.
******

Pagi itu di kampus nya,
Usai acara panjang dan pertunjukan
beberapa dosen tampan juga cantik yang
ditampilkan acara ditutup. Rapi dan bagus sekali
panitia mengemas acara tersebut.
Rania menuju ruangan yang dulu pernah ia
lewati, ia melewati jalan panjang beraspal,
memasuki pintu lebar dan ruangan besar. Ada
ruangan penerima tamu disana, semacam
customer care atau customer servis, Rania tiba-

26

tiba seperti mengingat sesuatu. Ia seperti terbang
pada peristiwa menyakitkan lima tahun yang lalu.

Di ruangan ini ia pernah meminta belas
kasih dari seseorang yang pernah ia anggap suami.
Di ruangan ini ia pernah mengemis demi
kesamaan hak yang ia sandang dan di ruangan itu
ia pernah menjadi pembohong demi rasa iri dan
dengki nya.

Ia pernah harus melewati tangga biru yang
masih saja bercat biru ini dengan hati yang sangat
hancur.

Ketika kedatangannya malah menemui
jalan buntu.

Padahal saat itu ia dalam keadaan haus
dan lapar. Ia ditinggal sembunyi entah dengan
maksud apa.

Saat itu Rania menikah dengan salah satu
dosen di kampus ini. Menikah dan disembunyikan.

27

Rania mau saja karena ia berharap hidupnya akan
tertolong.

Tapi ternyata tidak. Lelaki itu
menikahinya bukan untuk membangun keluarga
sakinah melewati jalan Tuhan dengan kebenaran
namun hanya karena ingin dianggap jantan dan
berhasil, itu saja.

Hal itu terbukti dari perilaku buruk sang
dosen. Rania tahu, tidak semua dosen di kampus
ini berbuat tidak baik seperti lelaki yang pernah
jadi suaminya. Seandainya pun ada itu tak lebih
dari oknum saja.

Hari itu Rania menangis di ruangan pak
Yuda. Tubuhnya bergetar dan ia pun terisak-isak.

"Sudahlah Ran, jangan menangis. Biar
Tuhan yang membalas semua tingkah laku
buruknya."

Rania masih terisak ketika ia menerima
genggaman pak Yuda. Uang kertas berwarna
merah terlipat diantara jemarinya.

"Ini untuk apa?" suara Rania parau.

28

"Kamu membutuhkannya,"
"Bukan hanya ini," Rania terisak lagi.
"Aku tahu, tapi lawan mu itu orang kuat.
Kamu harus jadi kuat dulu baru melawan."
Rania mulai faham.
"Rani butuh sikap tegas dan tanggung
jawab mas,"
"Aku tahu, tapi saat ini keinginanmu hanya
akan jadi sampah Rania."
"Apapun alasannya kamu telah sepakat
nikah di bawah tangan, iya kan ?"
Rania mengangguk-angguk.
"Kesepakatan itu adalah dasar dari
terbentuknya sebuah kejadian dengan asas suka
sama suka. Kamu tidak bisa menuntut lebih
karena dari awal kamu telah sepakat. Pulanglah,
tenangkan dirimu, fikirkan langkah selanjutnya.
Semoga uang di tangan mu cukup."
Kenangan itu kembali tergores dari tinta
kecil ingatan Rania dalam kanvas kehidupannya.
Ia tepiskan kenangan buruk itu, ia usap
seluruh peluh yang menggantung di hatinya. ia

29

bereskan duka yang bersemayam dilantai-lantai
fikirannya. Ia harus hadir sebagai wanita bersih.

Masa lalu itu tidak boleh terungkap hari
ini, masih terlalu dini, episodenya belum tuntas,
belum selesai.

Ia ingin menikmati rasa sakitnya sedikit
demi sedikit. Ia ingin merasakan perihnya luka itu
sedikit demi sedikit.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar
dan ia ingin berbagi kepedihan itu. Ia ingin
membaginya, ia ingin menghabiskannya selama
masa kuliah nya berlangsung. Ia ingin lelaki yang
pernah menikahinya kemudian mencampakkan
nya merasakan deritanya, derita yang sama yang
dirasakan Rania.

Bukan hari ini terlalu dini.
Highills nya menapaki tangga biru itu,
melangkah ia, sesekali matanya bersirobok
pandang dengan beberapa dosen yang lalu lalang.
Ia hanya mengulum senyum.

30

Rania Maya sari.
Begitu nama nya pernah terkenal di sini.
Di tikungan tangga pertama, wajah itu,
kacamata minus dan rambut ikal itu. Ia pernah
mengenalinya. Mereka berpandangan sesaat.
Kemudian Rania meninggalkan wajah itu
terbengong, entah karena ingat atau karena
terpana pada wajah cantik Rania.
"Rani kah ?" tanya suara itu, namun Rania
melenggang begitu saja. Ia tinggalkan lelaki itu
dengan berbagai pertanyaan dan kenangan.
'Mungkinkah itu Rania, wanita yang dulu
pernah jadi istrinya. Wajahnya memang lebih
halus namun guratnya terasa sama. Cara
menatapnya, cara berjalannya semua sama.
Meskipun kulit wajahnya jauh lebih halus dari
kulit wajah yang ia kenal dulu. Rania mantan
istrinya, wajahnya sama persis dengan wajah yang
tadi melintas.
Dulu kah ? mantan istri kah ? bukankah ia
sama sekali tidak pernah mengucapkan kalimat

31

talak pada wanita itu. Wanita ke dua yang sungguh
pernah mengoyak lazuardi lelakinya.

Bila benar itu Rania yang dulu pernah
menjadi istrinya maka ia masih punya hak penuh
atas diri wanita itu, suara batin pak dosen
menggumam. Menggelitik boneka kayu hingga
menimbulkan keajaiban tercipta, boneka kayu itu
bisa tertawa. Saking lucunya kalimat yang baru
saja ia dengar.

Dan sebagai lelaki mapan ia punya ambisi
untuk menjadi menang apapun cara dan hasilnya,
ia tidak akan mau kalah.

'Tapi mungkinkah itu Rania ?'
'Mungkin ia hanya bermimpi' bukankah
Rania jauh sekali, Rania tidak disini dan tidak
mungkin itu Rania, wanitanya dulu. Wanita itu
terlalu sempurna, tak sebanding dengan Rania
nya.
'Mungkin hanya sedikit sama' lelaki itu
menepis rasa ingin tahunya.
Ia pun pergi meninggalkan tangga biru itu
dengan kenangan. Tangga biru ini pernah jadi

32

saksi jutaan cinta yang menempel di sana. Tangga
biru yang hari ini masih biru.

Sebiru rindu yang sebenarnya demikian
besar pada Ranianya, hanya saja rindu itu menjadi
bersekat-sekat karena kebodohannya. Pak dosen
kembali menggerutu. Pertemuan yang baru saja
terjadi demikian meresahkan hatinya.

LAGU UNTUK SEBUAH NAMA
Ebiet G Ade
Mengapa jiwaku mesti bergetar
Sedang musikpun manis kudengar
Mungkin karena kulihat lagi
Lentik bulu matamu, bibirmu
Dan rambutmu yang kau biarkan
Jatuh bergerai di keningmu
Makin mengajakku terpana
Kau goreskan gita cinta
Mengapa aku mesti duduk di sini
Sedang kau tepat di depanku
Mestinya aku berdiri berjalan ke depanmu

33

Kusapa, dan kunikmati wajahmu
Atau kuisyaratkan cinta
Tapi semua tak kulakukan
Kata orang cinta mesti berkorban
Mengapa dadaku mesti bergoncang
Bila kusebutkan namamu
Sedang kau diciptakan bukanlah untukku
Itu pasti tapi aku tak mau perduli
Sebab cinta bukan mesti bersatu
Biar kucumbui bayanganmu
Dan kusandarkan harapanku
Jatuh berderai dikeningmu
(2)

34

MATA KULIAH PERTAMA

Angin masih saja semilir ketika Rania
menjejakkan kakinya di kampus pilihannya. Rania
memarkir cantik mobilnya di bawah pohon
rindang. Pohon besar ini letaknya hampir
berhadapan dengan ruangan para dosen yang
berdiri dua lantai.

Rania terdiam sejenak.
Ingatannya berputar pada kisah yang lalu
saat dia bersembunyi di balik mobil yang
kebetulan di parkir di tempat yang sama
dengannya saat ini.
Hari itu ia begitu rindu pada Leo suaminya,
tujuh hari tidak berjumpa sejak mereka berdebat
keras di rumah kontrakan Rani
Rania datang karena rindunya berlipat-
lipat, Rania datang hari itu bukan untuk minta
uang pada suaminya. Ia hanya rindu.
Sekali lagi suaminya menghindar. Begitu
rupa ia ditinggalkan bersembunyi. Padahal hari itu
panas demikian menyengat.

35

Saat Rania menunggu di ruang tunggu
dalam ruangan itu, ia melihat suaminya Leo
sedang berjalan di tangga itu bersama istrinya
yang lain. Di pesan whatsAppnya tadi ia bilang ia
sedang berada di rumah.

Melihat itu Rania bersembunyi dibalik
mobil tempat ia parkir saat ini. Bukan karena
takut pada mereka berdua namun karena Rania
ingin mengambil gambar mereka dari jauh dan
menggunakannya sebagai bukti bahwa ia telah
dibohongi.

Hari itu Rania demikian sedih, namun hari
ini di tempat yang sama dalam kondisi yang
berbeda.

Hari ini Rania datang bukan lagi sebagai
pengemis uang dan cinta namun hari ini Rania
datang sebagai mahasiswa baru yang berkuliah
dengan membayar sendiri uang kuliahnya, tanpa
bantuan siapapun.

36

Rania datang dengan wajah baru dan
semua ornamen mahal yang bertengger di
tubuhnya.

Semua yang berpapasan pasti melihat.
Betapa penampilan Rania saat ini demikian
istimewa.

Rania berjalan ringan, menyusuri jalanan
beraspal menuju satu gedung tempat para
mahasiswa baru berkumpul. Ia berjalan sendirian
karena memang ia belum berkenalan dengan
siapapun. Tak jadi masalah baginya, yang penting
ia berhasil kuliah di fakultas hukum.

Seorang dosen tampan memasuki
ruangan, masih muda belia nampaknya, beliau
berkelakar sebagai pembuka suasana. Kelakarnya
sebenarnya tak lucu tapi penampilannya cukup
menggoda hingga puluhan mahasiswi yang ada di
ruangan itu terpana.

Beliau memberikan kuliah tentang
Pengantar Ilmu Hukum.

37

Dalam keterangannya beliau menulis,
Pengantar ilmu hukum (PIH) yaitu mata
kuliah dasar yang merupakan pengantar atau
introduction atau inleiding dalam mempelajari
ilmu hukum, sering dikatakan pula bahwa PIH
merupakan dasar untuk pelajaran lebih lanjut
dalam studi hukum yang mempelajari pengertian-
pengertian dasar, gambaran dan penjelasan
tentang ilmu hukum.
Beliau memaparkan banyak contoh-
contoh, hingga menutup lima belas menit
terakhirnya dengan tanya jawab.

Banyak sekali yang ingin bertanya namun
hanya dibatasi beberapa orang saja sebab waktu
hanya tersisa lima belas menit.

Semangat para mahasiswa baru berhasil
dibakar oleh pak dosen ganteng tadi.

Memang benar, memiliki wajah ganteng
adalah sebuah anugerah dari Tuhan sebagai pintu
pembuka keberhasilan bila kita
memanfaatkannya dengan baik. Karena

38

bagaimanapun juga wajah ganteng dan cantik
akan menarik minat setiap orang yang melihat
untuk banyak berbincang sehingga
komunikasipun menjadi panjang.

Disanalah awal mula keberhasilan di raih.
Seharusnya mereka yang memiliki wajah tampan
berbangga diri dan mensyukuri kelebihan itu lalu
menempatkannya di tempat yang benar.

Sayangnya sebagian dari mereka yang
merasa cantik atau tampan terkadang justru
terjebak pada keinginan untuk di puji dan
dibanggakan. Terkadang juga kecantikan dan
ketampanan digunakan sebagai alat untuk
memuaskan nafsu pribadinya saja.

Acara tanya jawab berakhir, mata kuliah
pertama bagi mahasiswa baru pun selesai.

"Namanya siapa kak ?" ujar gadis cantik
yang duduk berjarak dengan Rania.

"Oh aku Rani," Rania menjawab tanya
tersebut.

"Asli mana kak ?"

39

"Aku asli Banjar juga *ding"
"Ulun Septia* ,kak."
Mereka pun asik berbincang sambil
berjalan bersisihan. Sesekali beberapa orang
menyapa mereka dengan senyum tersungging.
Septia gadis Bandung yang ikut belajar
disini karena ada rumah kakaknya di Banjarmasin
ini. Kakaknya baru saja diangkat menjadi pegawai
tetap di sebuah instansi swasta di kota ini.
Rania dan Septia berjalan sejajar, Septia
dengan jins dan atasan lengan panjang longgar
berwarna navy dan jilbab senada nampak anggun
saat wajahnya diterpa mentari siang.

Begitupun Rania, dengan gamis merah hati
dan jilbab pink yang berkibar, pipi putihnya ikut
berwarna pink saat garangnya mentari menyapa.

Mereka berdua seperti dua orang kakak
beradik.

Tampak anggun dan mempesona.
Rania mengajak serta Septia naik di
mobilnya, ia berjanji akan mengantar sampai di

40

rumah. Saat ini Rania butuh banyak kawan untuk
memperluas jaringan. Itu juga yang menjadi sebab
Rania membangun komunikasi seluas-luasnya.

Ac mobil mulai mengeluarkan hawa
dingin, memberi kesejukan bagi mereka berdua.
Rania mengendarai mobilnya dengan berhati-hati
menuju rumah Septia di Handil Bakti.

41

KOTAK KISAH YANG TERBUkA

Hari ini hari kesepuluh Rania menjadi
mahasiswi fakultas hukum. Tidak ada tanda-tanda
ia bertemu dengan Leo. Rania pun enggan mencari
keberadaannya. Waktunya masih cukup panjang
untuk dirinya bisa bertemu Leo. Masih ada tiga
tahun ke depan. Masih ada hari-hari yang akan
terlewati. Itu sebabnya Rania merasa tenang-
tenang saja.

Di masa pandemi seperti sekarang ini
sebenarnya mahasiswa diminta untuk tetap
berada di rumah dan melakukan aktivitas
perkuliahan secara online. Hanya memang pada
mata kuliah tertentu diijinkan untuk datang ke
kampus. Mengingat kasus penderita corona di
Banjarmasin yang masih belum menunjukkan
grafik turun.

42

Beberapa mahasiswa yang nekat datang,
pasti karena ada kepentingan urgent atau sekedar
janjian dengan pacar mereka.

Rania hari ini berada di kampus, dibawah
pohon rindang, di gazebo paling ujung ia duduk.

Ia menunggu Septia yang tadi mengirim
pesan mengajaknya jalan-jalan berbelanja ke mall.
Santai sekali Rania duduk, sambil meneruskan
episode lanjutan novelnya di aplikasi platform
penulisan online nya.

"Hai kak, sudah tadi ?" tanya Septia.
"Lumayan, sudah selesai acara mu ?"
"Sudah kok kak, "
"emangnya ada acara apa sih Tia ?"
Rania penasaran melihat wajah Septia
berbinar-binar. Pasti sedang terjadi sesuatu.
"Tia mau cerita tapi kakak janji menjaga
rahasia ini ya," Rania pun mengangguk.
"Septia dapat pernyataan cinta kak,"
"Dari siapa ?"
"Dari Arifin, kakak tingkat kita."

43

"Kenal dari kapan Tia ?"
"Baru sih kak, tapi berasa lama."
"Kok bisa, ada kalimat baru berasa lama,
maksudnya bagaimana ?"
"Kami tuh baru kenal kak, tapi tiap malem
chat, ngobrol, video call, jadi kayak udah kenal
lama banget" Septia bercerita sambil kakinya di
ayun-ayunkan di ujung gazebo. Manja dan centil
sekali Septia kala itu. Pantes banyak lelaki tergila-
gila. Seperti juga dirinya dulu, saat hatinya belum
terluka, ia juga centil dan menggoda. Namun
seiring dengan berkembangnya luka dirinya kini
menjadi kuat, tegar dan tidak mengenal kata
manja.

Bagi Rania saat ini, lelaki adalah makhluk
yang hanya bisa menyakiti wanita. Seperti
abahnya juga Leo suaminya. Dibutuhkan
pengamatan khusus dan pengenalan yang lama
untuk mencari lelaki yang benar-benar baik.

44

Rania dan Septia pun akhirnya menuju
mall sesuai janji mereka.

Sebelum mobil mendekati area mall tiba-
tiba Septia berkata.

"Mobilnya di parkir di utara saja kak,"
Rania terkejut sambil bertanya.

"Kenapa harus di utara Tia ?"
"Biar deket kak, Arif nunggu Tia di cafe
Boba di daerah cineplex atas kak."
Rania sedikit terkejut,
"Jadi kamu janjian dengan Arif ?"
"Iya kak, kak Rani jangan marah ya,"
Tia mengatupkan kedua lengannya di
depan hidungnya, ia benar-benar memohon.
"Tia ingin ngenalin kak Arif ke kak Rani,
Tia ingin minta pendapat apakah kak Arif orang
baik atau bukan, begitu kak"
"Tia mohon jangan marah ya kak."
Rania hanya bisa mengangguk pasrah,
ingin marah tapi nggak tega, kalau nggak marah
rasanya mau marah.

45

Mestinya Tia jujur dari awal jadi Rani bisa
siap-siap. Atau mungkin kalau jujur Tia khawatir
Rani nya nggak mau diajak ketemu dan nganter
Tia ke mall itu.

"Tadi di kampus kan udah ketemu Tia, kok
sekarang ketemu disini lagi ?"

"Di sini kak Arif lagi jumpa dosennya kak,"
"Oh...."
"Tadi maksudnya Tia langsung pulang,
tapi begitu kak Rania mau diajak ke Mall Tia
akhirnya mengiyakan ajakan kak Arif ke mall juga"
Begitu penjelasan Tia panjang lebar.
Mereka berjalan beriringan melewati
beberapa stand yang nampak tutup. Menaiki
ekskalator hingga sampai di tempat yang di tuju.

Dua lelaki nampak berbincang dengan
hidangan dua cup boba di hadapannya.

Tia bersemangat sekali menuju tempat
mereka, saat Arif lelaki yang tadi di sebut Tia pacar
barunya melihat mereka, ia melambaikan tangan
pada Tia.

46

Tia mendekat, Rania berada di
belakangnya.

"Tia kenalkan ini pak Leo"
Tia dan dosen tadi berjabatan tangan.
Hingga Tia pun menoleh ke arah Rania.
"Oh iya kenalkan juga ini kak Rania,
mahasiswa baru yang sering antar Tia pulang. Kak
Rania ini juga penulis lho." Suara Tia bersemangat
memperkenalkan Rania pada Arif dan pak Leo.
Rania mendekat, menjabat lengan Arif lalu
menjabat lengan Leo.

Betapa terkejutnya mereka berdua.
Mereka adalah dua orang yang pernah
dipersatukan Tuhan dalam ikatan pernikahan.
Pernikahan yang berakhir tragis.

Pernikahan tanpa kata putus tanpa
kalimat cerai namun berada dalam tempat yang
berbeda tanpa kabar tanpa nafkah

Rania menatap Leo lekat. Dosen yang tadi
dipanggil Leo ternyata adalah Leo yang

47

dikenalnya. Laki-laki yang menjadikan Rania
datang dan menimba ilmu disini.

Tajam tatapan mata Rania padanya, seolah
hendak menerkam dan menyerang, namun demi
menuntaskan dendam Rania pun menahan.

Sedangkan Leo menatap Rania dengan
pandangan penuh haru, seolah ada sesuatu yang
ingin dikatakan namun bibirnya kelu. Seolah ada
yang ingin diucapkan namun lidahnya tak mampu.
Hingga Leo pun hanya mampu terdiam dengan
bibir yang kelu.

Leo menatap Rania tanpa berkedip, ada
pendar-pendar rindu dimatanya. Seandainya
mungkin ingin sekali ia memeluk Rania, mengecup
bibirnya dan melumat seluruh erotisme yang ia
miliki.

Sayangnya, Leo tak punya keberanian itu.
Bukan hanya karena Leo baru saja bertemu wanita
ini namun lebih dari itu karena sebenarnya Leo
merasa sangat bersalah.

48

Rania, wanita yang ia nikahi beberapa
tahun silam, yang tiba-tiba pergi tanpa alasan,
yang meninggalkan duka berkepanjangan dalam
kehidupannya.Duka yang hanya bisa ia simpan
sendiri tanpa pernah ada kesempatan berbagi
dengan orang lain.

Beberapa kali Leo sempat berangkat ke
Malang, ke rumah yang dulu sempat Rania tinggali
tetapi rumah itu kosong.

Leo juga sempat membuat janji dengan
Rania untuk bertemu di Bandung, saat itu Leo ada
tugas di Jakarta namun demi Rania Leo berangkat
dulu ke Bandung tapi sayang Rania tidak pernah
muncul, hingga Leo menganggap Rania
pembohong dan sedang mempermainkannya.
Mereka pun kembali terpisah. Rania yang malang,
Leo yang menyedihkan.

Kisah itu akhirnya terpenggal begitu saja
tanpa ada penyelesaian. Rania yang akhirnya
memilih pergi daripada bertahan meninggalkan
luka teramat dalam.

49

Hidup yang terombang-ambing, tidak ada
ketentraman. Belum lagi sakit yang ia derita
selama menikah, membuat siksaan baru dalam
episode hidupnya. Sakit yang tidak tampak namun
memberi rasa.

Andai bukan karena istri Leo dan
bundanya yang memohon padanya untuk
menikah mungkin dirinya tidak akan pernah
menikah dengan Leo selamanya.

Istri ke dua terkadang selalu identik
dengan perempuan cantik, manja, menggoda,
membangkitkan gairah. Sedang Rania bukan
model wanita seperti itu. Dia wanita mandiri,
tegar, tegas, tidak bertele-tele. Andai ia bisa manja
mungkin ia akan jadi istri pejabat kelas atas sejak
lama. Tapi ia tak bisa. Ia tak biasa bergandengan
tangan dengan manja lalu meminta ini dan itu.
Merayu begitu rupa kemudian menjual tawa
dengan baju dan sepatu mahal. Rania tidak bisa
melakukannya. Tidak bisa dan tidak pernah
mencoba untuk bisa. Rania terlalu bodoh untuk
berbuat seperti itu.

50


Click to View FlipBook Version