The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-19 17:17:38

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu suamiku

Atas dasar itu Pak Leo menekan saya, beliau
berkata akan menuntut saya. Itu sebabnya saya
mau menandatangani surat pernyataan bahwa
saya adalah istrinya."

"Ba***ng*n !" tandas Pak Budiman gemas.
Ia demikian marah pada Pak Leo.

"Tidak ada hukum hutang piutang atau
tipu menipu selama ikatannya masih suami istri.
Itu hukum yang benar. Kamu di tipu, Ran." Pak
Yuda menjelaskan.

"Saya ganti saja uang empat puluh juta
yang di keluarkan Pak Leo."Pak Budiman bicara.

"Tidak perlu. Pak Budiman sudah banyak
membantu saya, dulu saya memang miskin tapi
sekarang saya punya pak, uang empat puluh juta."
Semua diam tidak ada jawaban.

"Tapi bagaimana cara mengembalikannya
?"

Semua diam.
"Bagaimana kalau tiba saatnya nanti uang
di kembalikan tapi Rania tidak juga menerima
kalimat talak?"

201

"Ajak saja jumpa baik-baik. Ngobrol baik-
baik. Dirumahnya, bersama istrinya. Dia pasti
tidak bisa mengelak."

Semua diam dan berfikir. Sepertinya saran
itu benar.

"Bila itu tidak berhasil, maka ancam saja
secara kedinasan."

Rania menerawang, mengapa harus
sepanjang ini urusannya bila hanya untuk sebuah
kalimat talak. Rania menyesal.

Cinta yang pernah ia titipkan pada Pak Leo
dengan cara yang baik mengapa harus berakhir
buruk ?

Rania sangat sedih.
"Bagaimana ?"
"Setuju, Pak." Jawab Pak Budiman cepat.
Pak Budiman mengajak Rania pulang.
Mereka berdua berpamitan pada pak Yuda.
Sesaat kemudian ponsel Rania bergetar.
Pak Leo menghubunginya lagi, ada apa ?
"Angkat saja, Ran" ucap Pak Yuda.

202

Rania mengangkat telpon tersebut sambil
menekan tombol loudspeakernya.

"Bunda dimana ?"
"Di kampus."
"Bunda nanti malam ayah jemput ya."
"Untuk apa ?" Rania nampak makin pucat
keringat dingin bercucuran.
"Mbak ingin bicara, kita bicara baik-baik
sayang."
"Malam ini aku nggak bisa. Besok saja."
"Oke besok ayah jemput ya."
Usai berbincang Rania kemudian
mematikan telponnya.
Pak Yuda menyembunyikan senyum
sambil menatap langit-langit ruangan. Pak
Budiman pun melakukan hal yang sama.
Cinta, selalu punya cara mencari jalan
keluar atas harapan yang tidak tercapai. Cinta
selalu memberi kemudahan bukan kesulitan.
Cinta selalu indah.
Bila tidak ada hal tersebut maka pasti itu
bukan cinta.

203

Rania meninggalkan kampus bersama Pak
Budiman. Lelaki baik yang rela bersusah payah
mengurus hidup orang lain hanya demi mendapat
ridho Allah. Lelaki yang sangat istimewa dan
sudah langka di dunia.

204

CERAIKAN AKU
Minggu pagi yang sepi,
Rania masih berada di dalam bed
covernya. Enggan rasanya beranjak pergi dalam
suasana mendung begini. Laptopnya masih
menyala, ia ingin menuntaskan novel yang sudah
ia tulis dan telah terikat dengan 'Goodnovel,
Innovel juga KBM'. Harusnya ia segera
menyelesaikan tapi berhari-hari ini kepalanya
terasa pening. Ia seolah tidak punya inspirasi
untuk melanjutkan ceritanya. Pusing sekali
rasanya.
Rania tidak menemukan cara untuk
membuka kalimat dalam novel-novelnya.
Hari ini Rania akan berkunjung ke rumah
Pak Leo bersama Pak Budiman. Ia sengaja bilang
besok saat Pak Leo menelphon agar Pak Leo tidak
perlu menjemputnya.
Ponselnya bergetar,
Pak Budiman menghubunginya.
"Sudah mandi, Ran ?"

205

"Assalamualaikummm" Rania menggoda
dengan mengucapkan salam. Mungkin Pak
Budiman lupa dengan salam itu.

"Oh iya, waalaikumsalam"
Pak Budiman tertawa renyah.
"Sudah siap ?"
"Lho, jam berapa sekarang ?"
"Sudah jam delapan, Ran"
"Astaghfirullah, ku fikir hari masih pagi."
Rania mendongakkan kepalanya sambil satu
tangannya membuka korden yang menjuntai di
kaca jendela kamar.
"Ya Allah, Pak. Saya mandi dulu ya. Maaf
saya baru bangun. "Ucap Rania gugup.
"Iya cepetan mandi, dandan yang cantik
supaya Pak Leo terpesona nanti." Pak Budiman
menggoda Rania. Yang di goda manyun, sedikit
marah.
"Rani tutup dulu telp nya ya, "
"Boleh, tapi bisa nggak ya pintu pagarnya
di buka, haus nih."
"Pak Budiman, dimana ?" Tanya Rania.

206

"Sudah di depan rumah bu Rani."
Rania bergegas menutup sambungan
telpnya. Berlari keluar kamar dan meminta Sri
membuka pintu pagar.
Rania bergegas menuju kamar mandi.
Membasuh tubuhnya dengan air shower yang
mengucur deras.
Ia mengingat semua kejadian saat bersama
Pak Leo. Hal yang paling mereka sukai adalah,
mandi bersama di bawah air yang mengalir deras.
Mencumbui rambutnya yang basah seraya bibir
mereka saling berpagutan, meraka saling memuji,
kekaguman yang tumpah ruah meluncur dari
lidah mereka.
Semua itu segera akan jadi kenangan.
Sesaat lagi Pak Leo akan menceraikannya, dan
semua kenangan tentang Pak Leo akan ia kubur
dalam-dalam.
Gaun warna hitam panjang dengan
tempelan diamond di sekitar tepian kain membuat
gaun itu nampak mahal dan elegan. Jilbab kuning
menyala dengan aksen diamond serupa,

207

menggantung menutupi rambutnya. Rania
mengoleskan bedak dan lipstik tipis. Ia mulai
nampak cantik, terlebih ketika maskara
menempel di bulu mata lentiknya.

Rania mengerjapkan bola mata indahnya.
Ia keluar menemui Pak Budiman.
"Saya sudah siap."
Pak Budiman menatap Rania takjub.
"Kalau menemui Pak Leo cantik begini
bagaimana Pak Leo bisa ikhlas menceraikan ?"
"Penampilan saya salah ya, Pak ?" Tanya
Rania bingung.
"Nggak salah kok, santai saja."
Mereka menuju rumah Pak Leo, celoteh
dan candaan ringan mengalir dari bibir Pak
Budiman. Ia sengaja menciptakannya agar
suasana tidak tegang. Pak Budiman tahu Rania
sedang tegang luar biasa.
Rumah Pak Leo nampak sepi, tapi empat
mobilnya tertata rapi.
Ada Ayla merah milik Rania.

208

Ayla merah yang akhirnya jadi sengketa.
Ayla merah yang di dalamnya ada uang Rania yang
dia peroleh dari keringat halalnya saat dulu masih
bekerja. Ayla merah itu bertengger di halaman
rumah sejajar dengan mobil yang lain.

Rania membatin. Dasar tidak tahu malu,
kalau aku jadi istri Pak Leo aku tidak sudi melihat
Ayla itu di depan mataku apalagi setiap hari
berada di rumahku.

Sulit memang, standart harga diri
seseorang tidak bisa ditentukan dari seberapa
tinggi pendidikan tapi dari seberapa tajam ia
punya hati nurani. Dan hal itu yang sedang terjadi
hari ini.

Rania dan Pak Budiman turun dari mobil
saat nampak istri Pak Budiman sedang berada di
luar.

"Assalamualaikum" Istri Pak Leo terkesiap
ketika melihat wajah tamunya pagi ini.

"Ada apa ?" tanya wanita itu sangat tidak
sopan.

209

"Saya ingin bertemu Pak Leo, Bu." Begitu
pesan Pak Budiman.

Mendengar itu istri Pak Leo yang bernama
Laela membuka pintu pagar.

Mereka berdua masuk tanpa di
persilahkan.

Pak Leo keluar,
"Lho ada apa ?"
"Bunda ingin kita bicara baik-baik, Ayah."
Laela keluar dari dalam rumah. Ikutan
nimrung di ruang tamu.
"Ada apa pagi-pagi kemari ? sudah janjian
?" Tanya Laela.
Rania menggeleng.
"Ini inisiatif saya dengan Pak Budiman
untuk datang dan bicara baik-baik "
"Iya yang ingin dibicarakan apa ?" Tanya
Laela.
"Ayah, bunda ingin kita membicarakan
hubungan kita. " Rania bicara pada Pak Leo tanpa
menoleh pada Laela.
"Hubungan tentang apa, bunda."

210

"Kita sudah lima tahun tidak bersama tapi
ayah tidak mau menceraikan bunda. Tolong
kasihani bunda, Yah."

"Ayah tidak bisa bunda."
Laela istri Pak Leo marah melihat roman
picisan di depan matanya, di dalam rumahnya.
Dan ia pun menyela.
"Cukup, ini sebenarnya ngomong
apa.Diam dong, ini rumah ku kenapa kalian malah
bikin roman disini." Laela bicara dengan bibir
ditarik ke depan, mata melotot dan suara keras.
"Kamu yang diam, ma. Kami masih bicara."
Pak Leo marah.
"Papah kenapa jadi marah ke mama, kalian
selesaikan masalah kalian di luar!" usir Laela.
"Kamu itu yang cari masalah, "
"Kok bisa aku ?"
"Iya kamu.!"
"Wanita ini yang cari masalah !" Laela
mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Rania.
Rania menepis telunjuk itu dengan kasar. Laela
makin tidak terkendali.

211

"Kamu itu tidak tahu malu, Leo ini suami
ku."

"Suami ku juga !" Laela tidak mai
mengalah. Ia muak sudah cukup lama menahan
amarahnya.

"Mah, kamu bisa nggak diam sebentar.
Selama ini papah sudah mengikuti kemauan mu,
kamu yang setuju papah menikah dengan Rania,
lalu kamu juga yang mengancam untuk bunuh diri
dan membunuh anak-anak kalau papah
meneruskan hubungan papah dengan Rania!" Pak
Leo membuang nafasnya. Ada perih menggantung
di matanya.

"Andai bukan karena permohonan mu hari
itu, aku tidak akan menikahi suami mu. Dan andai
bukan karena aku iba melihat wajah mu yang
minimalis itu. HARI INI JUGA AKU AKAN
MEMBAWA SUAMI KU KE RUMAH KU.!"

Rania mulai marah. Nampak sekali dari
nafasnya yang tidak beraturan.

"Tapi faktanya papah suami ku ayah dari
anak-anak ku.!" Laela terisak.

212

"Kamu tidak usah menangis, percuma. Aku
tidak akan iba pada wanita licik seperti mu."

"Justru hari ini aku datang kemari untuk
minta suami ku mengucapkan kalimat talak
padaku. Agar aku bisa bebas menikah dengan
lelaki yang lebih baik dan agar hubungan ku
terputus dengan mu juga keluarga mu.!"

"Paksa suami mu, ayo."
Rania membelalakkan matanya pada
Laela.
Laela bungkam.
"Pa, tolong ceraikan Rania."
Laela memohon, Pak Leo menggeleng kuat.
Wajahnya menunduk ada bening di pelupuk
matanya. Lelaki seperti Pak Leo menangis ?
Sedemikian dalam kah lukanya.
"Pa, tolong demi mama dan anak-anak
ceraikan Rania." Pak Leo menggeleng lagi. Laela
mulai gemas. Ia masuk ke dalam rumah
mengambil pisau dapur, Pak Budiman panik.
Rania menyentuh lengan Pak Budiman.

213

"Kalau papah tidak mau menceraikan
Rania, mamah bunuh diri. Mamah capek Pa.!"
Laela mulai memainkan drama Korea.

Dan bukannya mencegah Pak Leo malah
bangkit dari duduknya, melangkah keluar
kemudian pergi dari rumah entah kemana.

Rania mencoba mengejar namun tak bisa.
Pak Budiman dan Rania masuk mobil.
Mengemudikan mobilnya keluar kompleks.
Berharap bisa menemukan Pak Leo. Namun
sayang Pak Leo tetap tak nampak.
Usaha Rania untuk mendapatkan cerai
dari suami Sirri nya hari ini gagal lagi.
Satu jam kemudian, saat Rania telah duduk
di dalam rumah Rania mendapat telp dari pihak
rumah sakit.
"Ini bu Leo ?"
"Maksudnya?"
"Kami menemukan handphone ini dan di
kontak beliau ada nama Istriku 1 dan istriku 2.
Saya coba menghubungi istri ku 1 apa benar ibu ?"
"Saya masih tidak mengerti ?"

214

"Ini dari rumah sakit ibu, suami ibu bapak
Leo kecelakaan. Sebuah mobil menabrak beliau
dari belakang."

"Apa ?" Rania terkejut bukan kepalang.
Hatinya kembali berdarah. Wajahnya pucat luar
biasa.

215

MENYELAM TANPA PELAMPUNG

"Apa kita perlu melihat kondisi, Pak Leo ?"
Tanya Rania pada Pak Budiman.

"Menurut bu Rani bagaimana ?"
"Terserah saja,"
"Kalau bu Rani ingin melihat saya antar, "
sambung Pak Budiman cepat.
"Sepertinya tidak, Pak." Jawab Rania cepat.
Matanya menatap jauh ke depan, sangat
jauh.
Sudah jelas terbukti bahwa Pak Leo
meninggalkan dirinya karena takut pada ancaman
Laela, ia takut Laela bunuh diri dan membunuh
anak-anaknya bila ia kembali pada Rania.
Ketakutan yang bodoh, seorang akademisi
dan praktisi hukum sekelas Pak Leo bisa percaya
dan tunduk pada ancaman bodoh seperti itu.
Rania menghela nafas panjang. Tidak ada
seorang pun yang mau bunuh diri dan membunuh
anak-anaknya sendiri hanya demi orang lain.
Bodoh sekali. Seperti atraksi Laela pagi tadi,

216

tentang pisau dapur yang menempel pada urat
nadi. Bohong, itu dusta yang luar biasa. Faktanya
sampai hari ini Laela tidak memotong urat
nadinya.

Itu hanya sebuah upaya untuk membawa
seseorang agar berada dalam tekanannya.

Pun, ketika ia melihat Pak Leo menggeleng
saat dirinya meminta Pak Leo menceraikan Rania,
Laela hanya meletakkan pisau dapur di atas
tangannya, Laela tidak benar-benar memotong
lengannya. Ini hal konyol, dan hanya orang konyol
yang percaya hal konyol.

Kebodohan itu yang akhirnya membuat
Rania menderita bertahun-tahun. Rania tidak bisa
mentolerir kebodohan Pak Leo.

Apa yang diperbuat Pak Leo pada dirinya
sungguh keterlaluan.

Jadi keputusannya sudah bulat, ia tidak
akan datang ke rumah sakit hanya untuk melihat
keadaan Pak Leo. Suaminya.

Sama, seperti saat Rania rawat inap di
sebuah klinik swasta di Martapura beberapa

217

tahun yang lalu, Pak Leo tidak datang melihatnya.
Tidak sama sekali.

Membalas dendam itu memang tidak baik
tapi memberi pelajaran pada seseorang yang tidak
mengerti itu kewajiban. Anggap saja ini sebuah
pembelajaran bagi Pak Leo agar beliau bisa lebih
faham bagaimana caranya bersikap.

"Tapi kalau kita tidak datang, siapa yang
akan menghubungi keluarga Pak Leo ?" tanya Pak
Budiman pada Rania, sepertinya beliau mulai
bimbang. Rasa tidak teganya mulai muncul.

"Atau kita kunjungi saja sebentar, setelah
itu kita tinggalkan saat bu Laela sudah datang."

"Tidak perlu, Pak."
"Nanti kalau Pak Leo sudah baikan, beliau
pasti bisa menghubungi keluarganya." Tandas
Rania. Kali ini Rania seperti raja tega. Ia bahkan
tidak kasihan sama sekali pada Pak Leo.
Pak Leo sedang menikmati
kemalangannya.
Ia sedang bersenandung lagu sedih akibat
kebohongannya. Akibat perlakuannya.

218

Disatu sisi mungkin ia mencintai Rania,
tapi disisi lain ia takut terhadap istri lainnya.

Lelaki itu harusnya punya sikap, bukan
lemah seperti itu.

Lelaki itu pemimpin, yang di dalamnya
harus ada kekuatan untuk mensejahtera kan
orang-orang yang di pimpin, bukan mencari jalan
selamat atas nama harga diri dan kehormatannya
sendiri.

Langit merona merah, teriknya mulai
terasa, pukul satu siang, dan Pak Budiman masih
ada di ruang keluarga rumah Rania. Ia diam,
bingung memikirkan. Mencari jalan keluar atas
permasalahan yang sedang terjadi.

Naluri lelakinya sedih dengan masa depan
Rania, namun perasaannya juga sebenarnya iba
pada nasib Pak Leo.

Ia pernah tahu rasanya bagaimana
mencintai dengan dalam. Bagaimana perasaan
cinta berlebih yang datang. Ia tahu rasanya, rasa
itu kuat dan tidak tergantikan.

219

Ia tahu bagaimana rasanya jadi lelaki saat
harus mencintai namun tak sampai.

Ia tahu bagaimana rumitnya menjalani
semua yang di jalani Pak Leo saat ini.

Sebagai lelaki ia sangat tahu.
Beradaptasi dengan rasa sakit memang
tidak mudah. Mungkin Pak Budiman pun tidak
akan mampu melakukannya bila ia harus berada
di posisi Pak Leo.
Melihat seseorang yang sebenarnya sangat
dicintai tiba-tiba muncul dengan kecantikan dan
kehebatan. Saat itu iman lelaki di uji.
Mungkin sekarang Pak Leo sedang
berusaha mencari jalan keluar untuk mewujudkan
keinginannya kembali. Dengan iming-iming uang
dan kekayaan, sayangnya Pak Leo lupa bahwa
wanita yang ia tawarkan iming-iming uang dan
kemewahan hari ini telah memiliki hal yang sama.
Andai saat ini Pak Budiman jadi Pak Leo, ia
akan minta maaf pada Tania dengan sungguh-
sungguh lalu menceraikan Rania sesuai
keinginannya. Karena ucapan talak adalah hak

220

yang harus diterima seorang istri. Pak Leo harus
melakukan ini dengan cara yang benar, karena
lawannya adalah Tuhan.

Rania muncul dengan roti bakar di atas
piring kristal. Ia menyuguhkannya pada Pak
Budiman.

Pak Budiman tersenyum ramah, pada
Rania. Mereka menikmati roti bakar dan es buah
nenas. Lezat, diminum saat hawa panas.

"Bu Rani, beneran tidak ingin memaafkan
Pak Leo ?"

"Saya sudah maafkan, Pak."
Jawab Rania sambil menikmati roti bakar.
"Sejak lama sudah saya maafkan, sejak
anak kami harus lahir dan mati, saya sudah
maafkan semua kesalahannya. Saya selalu minta
pada Tuhan, bila ia harus dihukum mohon jangan
dihukum dengan kesedihan, biarkan dia
berlimpah harta dan kemewahan. Mudahkan
jalannya memperoleh harta sampai saatnya nanti
kami dipertemukan di hari pembalasan." Rania
menjawab panjang.

221

"Jadi bu Rani dan Pak Leo pernah punya
anak?"

Rania mengangguk.
"Pak Leo tahu ?"
"Tahu lah, Pak. Saat itu saya beli test pack
di Malang, saat Pak Leo datang mengunjungi saya.
Saat itu dia tahu bahwa hasil tes positif."
"Astaghfirullah," suara Pak Budiman.
"Terlalu banyak korban dari hubungan ini,
mestinya Pak Leo menyudahi ini semua."
Rania mengangguk lagi.
"Bukan hanya saya mungkin, Pak. Mungkin
ada wanita-wanita yang lain hanya saja mereka
tidak punya cara untuk bicara.
Saya pun sebenarnya tidak menuntut apa-
apa, saya hanya ingin di talak. Sudah itu saja."
"Apa susahnya, Pak. Memenuhi keinginan
saya, agar saya bisa melanjutkan hidup saya."
Rania bicara menerawang.
"Mungkin saat ini saya telah berjaya dan
punya uang. Tapi saya juga butuh perhatian dan
kasih sayang."

222

"Untuk tetap menjadi istri Pak Leo sudah
tidak mungkin, Pak. Laela tidak akan terima,
kecuali kalau Pak Leo menceraikan Laela, itu pun
Pak Leo tidak akan pernah berani."

"Laela itu bukan saya, Pak. Saya hanya
diam tidak menuntut atas semua perlakuan Pak
Leo. Sedangkan Laela, saat nanti Pak Leo
meninggalkannya dia pasti akan menggugat
kedinasan suaminya, Laela pasti punya kartu
untuk mematahkan kedinasan suaminya. Kecuali,"
Rania menggantung kalimatnya.

"Kecuali apa ?"
"Kecuali Pak Leo sudah siap miskin."
Jawab Rania mencibir.
Pak Budiman membenarkan kalimat
panjang yang disampaikan Rania.
Hingga terdengar bunyi bel berdentang.
Rania melihat dari balik tirai jendela.
"Siapa, Bu ?" Tanya Pak Budiman.
"Sepertinya Laela,"
"Untuk apa ia kemari ?"
"Entah."

223

Usai adzan isya Rania membenamkan
tubuhnya di ranjang empuk dan harum miliknya.
Aroma lavender yang menyeruak membuat ia
merasa harus terus terbenam di sana. Tubuhnya
letih. Tadinya ia ingin langsung tidur namun
sayang ia justru enggan terpejam.

Otaknya berjibaku dengan rasa enggan
yang kian dalam. Ada yang sedang ia pikirkan.

Pak Leo,
ia sedang berpikir kuat tentang Pak Leo.
Sudahkah Laela menemui Pak Leo di Rumah sakit
?
Untuk apa Laela datang ke rumah Rania
siang tadi ?
Dari siapa Laela tahu rumah Rania ?
Rania bermonolog.
Ia mengguling-gulingkan tubuhnya di
sprei lembut miliknya. Ia merasa gusar.
Bagaimana jika Pak Leo belum dikunjungi
keluarganya ?
Bagaimana bila kedatangan Laela tadi
untuk menanyakan keberadaan suaminya ?

224

Bagaimana bila itu terjadi ?
Rania bangkit,
membuka pintu almari berwarna putih.
Menarik lacinya pelan, ia membuka kotak ramping
yang terletak di laci tersebut.
Beberapa lembar foto tergeletak di sana.
Foto pernikahan dirinya dengan Pak Leo lima
tahun yang lalu. Rania sengaja mencetak foto
tersebut untuk ia gunakan sebagai bukti bila suatu
hari dibutuhkan.
Malam ini Rania memandangi satu persatu
foto itu sambil berbaring.
Rania benci dengan lelaki ini namun Rania
iba terhadapnya, iba yang timbulkan cinta, ah,
Rania mendadak resah.
Ia berdiri, mengambil jilbab lebarnya, ia
kenakan di kepala. Ia biarkan foto-foto itu
tergeletak berserakan di atas tempat tidurnya.
Rania bangkit hanya dengan mengenakan
baju tidur, celana panjang dan atasan lengan
panjang dengan motif bunga. setengah berlari

225

Rania keluar dari kamarnya, membawa ponsel
dan dompet kecil.

Lalu menyambar kunci mobil yang berada
di meja riasnya.

Ia keluarkan mobilnya tanpa bicara pada
siapapun. Rania ikuti isi hatinya. Menyusuri jalan
A Yani, lurus terus. Jalanan nampak lengang,
kurang lebih setengah jam mobil itu beradu
dengan aspal jalanan. Ia memutar mobilnya
menuju sebuah tikungan ke kanan. Sebuah
bangunan megah berdiri, nampak sunyi tak ada
orang yang lalu lalang.

Hanya beberapa mobil terparkir. Juga
puluhan motor berjajar.

Rania turun dari mobilnya, menemui
petugas jaga dan menyebutkan sebuah nama.
Petugas jaga itu menunjukkan sebuah lorong.

Intensive Care Unit.
Ruangan bersih dikelilingi kaca lebar. Bau
alkohol menyebar di mana-mana. Rania menatap
barisan tempat tidur yang berjajar. Lima jarinya
menempel di kaca lebar itu.

226

Pandangan matanya menatap pada wajah
yang matanya sedang terpejam.

Wajah damai itu, Rania memutar
tubuhnya, membiarkan punggungnya tersandar di
kaca.

Rania menyayangi wajah itu. Sungguh,
diantara rasa geramnya telah di perlakukan tidak
adil.

Wajah itu kini terbaring lemah tanpa
penjaga. Rania masih yakin laki-laki itu bisa
menjadi baik bila ia berada di tangan wanita yang
baik.

Air mata Rania turun, turun tanpa di
minta. Ia ingat malam pertama mereka, ia masih
ingat kecupan pertama di kening nya saat mereka
melalui sholat malam berdua. Ia ingat saat lelaki
itu memuji masakannya yang terlalu asin. Ia ingat
semuanya.

Air matanya kian deras kini.
Ia ingat bahwa lelaki itu telah banyak
berputar dari satu wanita ke wanita yang lain, ia
masih sangat ingat.

227

Tubuh Rania bergetar, beberapa perawat
mendekati lelaki itu, mengalungkan oksigen dan
meletakkan di hidung nya. Lelaki itu susah
bernafas lagi. Rania menatap nanar kejadian itu. Ia
ingin mendekat namun langkah kakinya berat.
Ada banyak alat menempel di tubuhnya.
Sebenarnya ia kenapa ? tanya Rania. Ia merasa
bodoh luar biasa.

Pak Leo.
Bohong bila seorang istri tidak
menghawatirkan suaminya.
Bohong bila seorang istri tidak berdoa
untuk kebaikan suaminya.
Bohong bila seorang istri tidak ingin
menjaga keutuhan rumah tangganya. Bohong
besar.
Istri adalah makhluk dengan telaga luas
membentang, kebaikannya melebihi kebaikan
dunia. Kehebatannya dalam menjaga rasa
melebihi apapun. Istri, dimanapun berada terus
berdoa untuk kebaikan suaminya. Seperti juga
saat ini yang dialami Rania.

228

Rania mendekati seorang perawat.
"Maaf mohon ijin bertanya, apakah pasien
yang bernama Pak Leo sudah ada keluarganya
yang datang ?"
"Pak Leo ?" perawat itu mengernyitkan
dahi lalu melihat deretan pasien.
"Pak Leo yang itu ?"
"Iya,"
"Belum, belum ada satu pun keluarga yang
datang. Apakah anda istrinya."
Rania mengangguk pelan dan samar, ia
malu berkata bahwa dirinya istri namun ia takut
mengingkari statusnya bila ia berkata bukan istri..
"Ibu ingin berjumpa pasien ?" tanya
perawat tersebut.
"Tidak, " suara Rania parau.
"Pasien tadi sempat sadar bu, saat di tanya
apa ada keluarga yang ingin di hububgi pasien
hanya menggeleng. Apakah ibu dan beliau sedang
bertengkar ?" perawat itu bicara panjang lebar
kemudian menambahkan kalimatnya lagi.

229

"Pertengkaran antara suami istri bisa
terjadi kapanpun dan berkali-kali, namun setiap
pasangan suami istri selalu tahu kapan waktunya
menyudahi. Maafkan saya bu bila saya lancang.

Saya pernah marah pada suami saya
hingga berhari-hari, namun sepulang kerja saya
melihat rumah saya telah penuh dengan orang
yang berdesakan. Saya melihat tubuh suami saya
terbujur kaku bu, dia jatuh di kamar mandi.
Kepalanya membentur lantai hingga terjadi
pendarahan di otak. Dia meninggal sebelum saya
minta maaf." Perawat itu menunduk, ia menangis.

"Kita tidak pernah tahu siapa yang akan
pergi lebih dahulu yang kita tahu kita bisa berbuat
baik sebelum Tuhan meminta kita untuk pulang.
Tidak ada salahnya untuk saling memaafkan
Sebelum menyesal."

Kemudian perawat itu pergi.
Meninggalkan Rania yang terdiam sendiri. Rania
melihat wajah yang telah menggantung statusnya
bertahun-tahun tanpa alasan yanh jelas. Rania
merasa sangat sakit.

230

Ia berlari pergi, meninggalkan ruangan itu,
semakin menjauh kemudian hilang di terpa angan
dan bayangan.

Rania terus menangis sepanjang jalan.
Haruskah ia beradaptasi dengan rasa sakit
dan berkolaborasi lagi dengan lelaki yang pernah
membuatnya sakit ?
Rania lelah, dada kirinya terasa nyeri.
Nyeri sekali.
Ia merasa sedang menyelam namun tanpa
pelampung. Nafasnya tersengal-sengal, Rania
berada dalam situasi yang tidak nyaman.

PERBINCANGAN SAAT SENJA

Rania menghembuskan nafasnya dalam-
dalam. Tubuhnya letih dan pikirannya kacau. Ia
seperti tidak memiliki kekuatan juga keberanian.
Masalah yang dialaminya cukup pelik, menguras
energi dan kesadaran.

Bagaimana formula yang tepat untuk
membuat Pak Leo bersedia mengucapkan talak

231

untuk nya. Atau kah ada keringanan bagi dirinya
selaku istri agar bisa mendapatkan kebebasan
dengan melakukan hal-hal sesuai tuntunan ?

Rania makin gamang.
Dari pagi hingga sore hari Rania terus
berfikir tentang itu, sering dalam
keputusasaannya ia ingin menggunakan jalan
pintas. Dengan memaksa Pak Leo memilih antara
dirinya atau Laela ?
Mungkin itu adalah keputusan konyol
namun sementara waktu mungkin bisa mengatasi
dilema ini.
Rania menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
"Assalamualaikummm" Suara seorang
gadis menyapu gendang telinganya.
'Pasti Septia'
Rania berdiri, membuka pintu kamar lalu
mendapati wajah putih bersih dengan lesung pipit
itu tersenyum manis.
"Hy, tumben ga ngasih kabar kalau mau
datang?" Septia hanya tersenyim tipis.

232

Rania keluar kamar dan mengajak Septia
duduk di ruang tengah rumahnya.

"Aku membawa misi khusus kak." Seloroh
Septia pendek.

"Aku merasa juga begitu."
"Keputusan kakak apa ?"
"Tentang apa ?"
"Pak dosen ,"
"Oh, dosen itu suami ku ?" tanya Rania
pendek.
"Iya kak."
"Keputusan ku jelas aku minta talak, aku
minta cerai aku minta pisah. Sudah hanya itu."
"Kalau sampai hari ini beliau tidak mau
menceraikan bagaimana ?"
"Ya, aku menunggu. Dia telah berbuat
dholim atas dirinya terhadap Tuhannya."
"Kakak nikah saja,"
"Dengan siapa ?" tanya Rania dengan bola
mata membulat sambil menatap wajah Septia
lekat.

233

"Pak Budiman." Rania sudah menduga.
"Lalu status pernikahan ku bagaimana?
Hukumnya di mata Allah apa?" Tanya Rania pada
Septia.
"Iya juga ya, atau sebaiknya kita ke
pengadilan agama lagi kak. Berkonsultasi tentang
ini."Rania memutar otak, saran Septia ada
benarnya, kenapa dia tidak ke Pengadilan Agama
saja agar seluruh masalahnya dapat jalan keluar,
siapa tahu petugas disana bisa memberi jalan
keluar. Ah, terkadang Septia ini cerdas juga.
"Boleh, besok tolong anterin aku ke
Pengadilan Agama ya." Ucap Rania yang dijawab
dengan anggukan kepala oleh Septia.
"Tentang Pak Budiman bagaimana?"
Tanya Septia lagi. Sepiring kue bolu
terhidang. Septia menikmatinya perlahan-lahan.
Septia, kawan kampus juga para dosen
selalu menanyakan tentang hubungannya dengan
Pak Budiman. Mereka tidak tahu bahwa hubungan
kami hanya hubungan seorang kawan tidak lebih.
Kami hanya berpura-pura menjadi sepasang

234

kekasih. Seperti yang kami ucapkan di pantai
Batakan tempo hari.

Pak Budiman tidak mencintai Rania, beliau
hanya iba terhadap nasib Rania itu saja. Meminta
Rania menikah dengan Pak Budiman adalah
sebuah permintaan konyol. Jelas tidak akan terjadi
kecuali pernikahan bohong-bohongan lagi. Rania
terkekeh membayangkan tentang pernikahan
bohong-bohongan.

Septia masih asik menikmati kue bolunya,
Rania memperhatikan gadis di depannya dengan
seksama. Ada doa tulus mengalir, 'semoga jodoh
mu adalah laki-laki yang baik' desis Rania.

"Kamu tadi bilang membawa misi khusus.
Tentang apa?" Tanya Rania.

Rania menepuk kepalanya sepertinya ia
lupa tentang misinya malah asik ngobrol bab yang
lain.

"Tadi di kampus ada istri Pak Leo." Beliau
mendekati kami saat kami sedang duduk di
gazebo.

"Terus ?" Rania mulai penasaran.

235

"Beliau bertanya tentang Pak Leo, katanya
Pak Leo hilang. Terakhir Pak Leo sedang bersama
seorang wanita bernama Rania mahasiswa baru
Fakultas Hukum."

"Terus?" Rania bertanya lagi.
"Bu Leo menuju ruang dekan untuk
menyampaikan hal tersebut."
"Pak Budiman ada ?"
"Tadi tidak ada tapi kemudian di hubungi
oleh kak Arifin dan akhirnya Pak Budiman datang,
belim ada kabar terbaru mengenai perkembangan
kasusnya." Septia menjelaskan panjang lebar.
'Ya Allah gosip apa lagi ini, pasti kampus
akan heboh dan para dosen akan
membicarakannya.' Rania bersandar di sofa
putihnya. Kelelahannya kian bertambah.
"Itu sebabnya Septia kemari ingin tahu
kebenaran cerita itu dengan tanya langsung pada
sumbernya.,"
"Itu tidak benar, Septia." Rania bicara
sambil rahangnya menegang.

236

"Aku tahu itu tidak benar kak, aku orang

pertama yang percaya ketidakbenaran berita itu.

Tapi kita mahasiswi fakultas hukum kak. Antara

benar dan tidak benar kita harus punya bukti dan

saksi agar argumentasi kita di percaya."

Rania menganggukkan kepala.

Membenarkan kalimat yang baru saja di ucapkan

Septia. Hari ini Rania mengagumi teman baru nya

ini. Diantara sikap lemah lembut dan manjanya

ternyata Septia pintar juga.

"Hari ini belum ada kabar ?" Tanya Rania.

"Belum"

"Coba kamu kontak Arifin" pinta Rania.

"Kak Rani telp Pak Budiman, Ya."

"Oke."

Rania pun menghubungi Pak Budiman

namun panggilannya di tolak.

Rania gamang, mungkinkah sedang terjadi

sesuatu di kampus. Kenapa Pak Budiman tidak

memberi Rania kabar ?

Tapi, Rania faham betul sikap Pak

Budiman, beliau tidak mungkin memberi tahu

237

Rania sampai masalahnya jelas. Beliau tidak ingin
memberi Rania beban yang lebih banyak lagi.

"Bagaimana, Bu ?
"Ditolak."
"Pasti urusannya belum selesai."
"Mungkin, Arifin bagaimana?" Tanya
Rania.
"Dia bilang Pak Budiman masih di ruang
dekan. Istri Pak Leo juga belum pulang."
Rania membuang pandang pada sinetron
televisi, sambil pikirannya melayang. Sebegitu
gentingkah urusannya hingga menghabiskan
waktu berjam-jam. Sejujurnya Rania panik namun
ia berusaha untuk tenang. Perbincangan dengan
Septia di senja ini belum usai. Septia masih duduk
dengan santainya menemani Rania. Tidak banyak
bicara. Mereka semua menunggu.
Rania bingung, apakah ini berarti Laela
tidak tahu suaminya kecelakaan dan di rawat di
rumah sakit ?
Apakah ini berarti Pak Leo belum
menghubungi Laela ?

238

Apakah ini berarti pihak rumah sakit juga
tidak menghubungi Laela ?

Rania bingung.
Andai Laela tahu keberadaan Pak Leo di
rumah sakit ia tidak akan mencari di kampus.
Atau Larla sengaja mencari simpati
banyak orang.
Kepala Rania makin berdenyut, dadanya
bergemuruh, ingin sekali rasanya ia menguliti
tubuh Laela. Aktris akhir jaman.
Kenapa dia kemarin tidak memotong urat
nadinya, padahal ia tahu bahwa suaminya tidak
mau menceraikan Rania?"
Duh,
Rania bingung.
Berkolaborasi dengan aktris memang
tidak mudah, butuh latihan berulang agar kita
memahami karakternya.
"Dimana ?" bunyi pesan whatsapp di
ponsel Rania.
"Rumah."
"Bisa ke kampus sebentar ?"

239

"Kapan ?"
"Sekarang."
"Oke, bisa."
"Hati-hati di jalan, ya."
Rania, berangkat bersama Septia. Tanpa
ganti baju ia melangkah, menuju kampus dengan
baju dan dandanan seadanya. Jujur, Rania
penasaran tentang apa yang disampaikan aktris
papan atas Laela.
Rania memacu mobilnya dengan
kecepatan diatas rata-rata. Berharap segera tiba di
kampusnya.

MENGUNJUNGI BEKAS CINTA

Rania melangkah dengan langkah kaki
yang sangat berat, menemui Pak Leo adalah
sesuatu yang sangat ingin dia lakukan namun juga
sangat ia takutkan. Bagaimana tidak ?

Diantara mereka pernah saling mencintai,
diantara mereka pernah ada rasa sayang meski
kemudian benih benci itu muncul dan kini benih

240

itu telah menjadi besar juga berbuah lebat. Benih
yang terus di pupuk hingga berbuah lebat. Rania
merasakan rasa sakitnya bukan rasa sakit biasa.

Langkah kakinya semakin dekat menuju
ruangan Intensive Care Unit. Rania mengendap,
berharap Pak Leo tidak melihatnya. Karena
kedatangannya hanya ingin memastikan bahwa
Pak Leo telah bertemu Laela.

Mengapa Rania demikian peduli ?
Cintakah yang melandasinya ? Bukan, ini bukan
cinta, ada sebuah perasaan yang tidak bisa di
ceritakan ketika suami dan istri berpisah, ada
semacam kekuatan yang membuat mereka
terpanggil untuk mengetahui keadaan dari
masing-masing pasangan, semacam magnet dari
langit mungkin. Itu yang saat ini dirasakan Rania.

Bila boleh memilih, tidak ada seorangpun
yang ingin mengalami perceraian dalam
hidupnya. Tidak ada seorang istripun yang ingin
bercerai dengan suaminya, tidak ada seorang pun.
Begitu juga sebaliknya. Semua suami ingin
mendapatkan istri yang baik juga cantik sekaligus

241

penurut, pintar imajinatif dan hebat di ranjang.
Semua istri ingin memiliki suami yang baik,
penyayang, bertanggung jawab terhadap keluarga
juga pekerja keras..Namun terkadang garis takdir
tidak mempertemukan kita dengan seseorang
sesuai yang kita impikan.

Sesampainya di ruang Intensive Care Unit,
Pak Leo tidak berada disana. Rania kaget bukan
kepalang.

Sudah sembuhkah?
Rania mempercepat langkahnya menuju
pintu ruangan tersebut.
"Selamat siang, suster apakah pasien yang
bernama Pak Leo sudah pulang?"
Rania bertanya pada seorang perawat
yang ada di sana.
"Pak Leo ?" perawat itu mencoba
mengingat kemudian membuka buku besar
sambil matanya seolah mencari sesuatu.
Kemudian perawat tersebut mendekati
Rania.

242

"Beliau sudah di pindahkan ke Paviliyun
cemara no 24."

Perawat itu memberi keterangan sambil
menunjukkan arah paviliyun cemara.

Rania mencoba mengikuti petunjuk
perawat tersebut. Sesampainya di ruangan yang di
tunjukkan. Rania melihat Pak Leo terbaring di
sana. Satu tangannya terpasang infus sedang
tangan kirinya berusaha meraih letak gelas yang
berada di meja sebelah kiri. Pak Leo nampak
berusaha keras mengambil gelas tersebut. Namun
gagal, Rania melihatnya dengan pandangan iba.

Nampak Pak Leo mencobanya lagi. Saat
gelas itu hampir terjatuh pada saat yang sama
Rania membuka pintu kamar. Pak Leo terkejut
bukan kepalang, melihat ada seseorang membuka
pintu kamar terlebih saat mendapati Rania telah
berada di sana.

Rania berdiri mematung di ujung daun
pintu yang masih terbuka. Kemudian menutupnya
pelan.

243

"Kemarilah, " suara Pak Leo parau.
Nampak kepala lelaki tersebut di perban, ada luka
di tangannya. Rania mendekat tanpa bicara, ia
mengambil gelas berisi minuman tadi kemudian
menyodorkannya pada Pak Leo. Pak Leo
meminumnya perlahan-lahan.

Hati Pak Leo meradang, memandang
wajah Rania dari dekat. Ia ingin sekali memeluk
wanita ini, wanita yang terus menerus menjadi
obsesinya siang dan malam. Namun sayang, dalam
jarak sedekat ini Pak Leo tidak berani melakukan
apa pun. Semua sudah berlalu, Rania tidak akan
menerima pelukannya.

"Terimakasih." Rania mengangguk, Rania
melihat nasi yang belum di sentuh. Ia mencoba
menyuapi lelaki di hadapannya. Lelaki yang telah
menyengsarakan hidupnya, lelaki yang terus
menerus membuat luka di hatinya. Hari ini lelaki
itu lah yang sedang ia tolong, ia suapi, ia
perhatikan. Ribuan kali Rania mengutuk
kebodohannya.

244

"Bunda, apa yang bisa ayah lakukan agar
bunda memaafkan ayah ?" Rania diam kemudian
membuka mulutnya.

"Aku sudah memaafkan semuanya." Jawab
Rania tegas.

"Apa yang harus ayah lakukan agar bunda
mau kembali bersama ayah?"

Rania diam, ia tak mampu berbicara lagi.
"Kalau bunda mau kembali bersama ayah,
ayah janji akan jadi suami yang baik, ayah akan
ajak bunda jalan-jalan. Ke Turki. Ke Mesir.
Kemanapun bunda mau, ayah ingin
membahagiakan bunda, ayah ingin menebus
kesalahan yang sudah ayah lakukan."
Rania diam, matanya menatap lurus pada
dinding kamar berwarna putih. Bila kalimat ini di
dengarnya dahulu, mungkin Rania akan terkecoh
pada janji manis itu, sayangnya kalimat itu datang
sekarang, saat Rania telah mampu mengunjungi
negara-negara yang tadi disebutkan namanya bila
Rania mau.

245

"Aku sudah memaafkan semuanya, bila
yang di tanyakan adalah sebuah hubungan maka
aku tetap ingin kita bercerai."

"Bunda," belum usai Pak Leo bicara Rania
memotong kalimatnya.

"Ayah telah memiliki Laela, dia sangat
mencintai ayah. Ayah akan bahagia hidup bareng
Laela. Bukti cintanya pada ayah telah ia tunjukkan,
kemarin dia datang ke kampus menemui dekan,
mencari ayah. Dia menuduh aku yang membawa
ayah lari. Semua dipanggil, aku, Pak Budiman, Pak
Yuda, Septia dan Arifin juga. Yang lebih gila lagi dia
menuduh aku membawa lari ayah. Beruntung
dekan tidak percaya."

Pak Leo nampak bengong, ia seolah tidak
percaya Laela melakukan hal itu. Itu akan
membuat kedinasannya hancur.

"Dasar bodoh !" Pak Leo memaki. Sejak
dulu Laela bodoh namun yang lebih bodoh adalah
orang yang mau hidup bersama orang bodoh
bertahun-tahun. Bahkan bertahan bersamanya
hingga sekarang. Pekik batin Rania.

246

"Beruntung juga aku berhasil
menunjukkan kalau ayah ada di rumah sakit ini.
Oh iya kemarin aku kemari tanpa sepengetahuan
ayah."

Sedang asik berbincang, seorang wanita
muncul. Wanita dengan celana hitam atasan batik
merah dan jilbab bunga-bunga berwarna merah
muda. Rania terkejut melihat wanita itu datang
tiba-tiba. Lebih terkejut lagi melihat
penampilannya. Ingin sekali Rania tertawa.
Namun ia tahan tawanya.

"Hei pelacur ada apa kamu di sini ?"
"Mengunjungi suami ku." Jawab Rania
cepat.
"Dasar wanita murahan, kemarin di depan
dekan kamu bilang minta cerai sekarang
kenyataannya kamu berada disini."
"Kamu kemarin ke tempat Dekan ?" Tanya
Pak Leo pada Laela.
"Ia pah, kemarin mama panik karena ayah
nggak pulang, ponsel ayah juga mati." Laela mulai
terisak, akting drakornya mulai ia peran kan.

247

Rania merasa muak dan berfikir ingin segera pergi
dari kamar Pak Leo.

"Eh, maaf. Mohon jangan berdebat di
depan ku, aku terharu."Rania bicara sambil
mengejek.

"Karena istri sah sudah datang giliran istri
simpanan yang pulang." Beberapa detik kemudian
Rania melihat Pak Leo, Rania mengarahkan
bibirnya ke bibir Pak Leo, kejadiannya terjadi
begitu cepat. Pak Leo takjub, Laela meradang. Ia
marah bukan kepalang.

Rania akan melangkah keluar namun
lengan Laela mencengkram lengan Rania dengan
kuat. Mereka berdebat, suaranya ribut sekali. Pak
Leo meminta mereka berhenti namun tidak di
perdulikan.

Laela meludahi Rania, ludahnya mengenai
jilbab Rania, aroma busuk dan menyengat
menyeruak di sana. Rania tidak mau kalah ia ikut
juga meludahi Laela. Ludah Rania tepat berada di
wajah Laela mampir tipis di hidungnya. Laela
makin beringas.

248

Menyadari perkelahian mereka mskin
memanas, Pak Leo melemparkan gelas ke lantai.

"Prank...," suaranya terdengar begitu
keras. Laela terkejut. Sontak ia melepaskan
cengkraman di lengan Rania.

Pada saat yang sama Rania memilih keluar
dari kamar,

"Selamat membersihkan pecahan kaca ya,
jaga hati mu agar tidak ikut pecah." Suara Rania
sambil pergi menuju parkiran mobil.

Setengah berlari ia menuju kesana.
Berharap cepat sampai dan membuka jilbabnya
karena ia sudah tidak tahan dengan bau busuk
yang luar biasa. Tugasnya sudah selesai. Pak Leo
hanya bekad cinta yang pernah mewarnai masa
lalunya, bukan masa depannya.

Sesampainya di mobil Rania buru-buru
melepaskan jilbabnya kemudian membuangnya di
tepi jalan dan ia mengemudikan mobilnya
kencang menuju pulang.

249

MIMPI BURUK

Rania letih, ia mempermainkan rambut
ikal panjang yang biasa ia biarkan tergerai. Ingin
rasanya merubah penampilan tapi takut semakin
banyak yang jatuh cinta nantinya. Wkwkwk.

Betapa tidak, saat ini saja sudah banyak
antrian panjang berderet menunggu
keputusannya, namun Rania belum berani
memutuskan. Meski Rania menyadari bahwa usia
kian bertambah dan wajahnya semakin menjadi
tua. Mulai muncul gurat penanda akan datang
keriput yang di takutkan oleh seluruh wanita
dimana saja. Rania bergulung di atas ranjang,
membuat bed covernya tidak lagi licin. Mestinya
memang Rania mulai menjatuhkan pilihan. Pada
Agung sang direktur, pada Romi pemilik
perusahaan besar, pada Haris seorang kepala
dinas atau pada Yoga teman kecilnya yang
sekarang menjadi pengusaha. Bila sudah begini
maka ingatan Rania akan terjerembab pada Leo,
lelaki yang masih mengakui dirinya sebagai istri.

250


Click to View FlipBook Version