Rania kelu mengulum bisu. Ia merasa waktunya
banyak tersita hanya untuk mengurus masalah
yang tidak kunjung selesai. Ia jadi ingat ajakan
Septia untuk konsultasi ke Pengadilan agama
terkait masalahnya. Urusan ini harus segera
selesai agar tidak menyakiti siapapun. Sebenci
apapun dirinya pada Laela, Rania masih
memikirkan batin wanita itu Laela pasti sangat
sakit hati. Yang membuat sakit saat mengetahui
suami menikah lagi bukan pada pernikahannya
tapi pada sebuah kenyataan bahwa kita adalah
yang terkalahkan. Itu sangat menyakitkan.
Perihnya demikian terasa, dan bila boleh berteriak
mereka akan berteriak.
Rania mengingat kejadian tadi di rumah
sakit saat Laela meludahi dan mencengkram
tangannya begitu kuat. Ia merasakan kebencian
wanita itu. Tidak ada lagi kebaikan dan kalimat
manis seperti saat mereka saling mengenal untuk
pertama kalinya dulu. Sudah tidak ada lagi
kebaikan yang bisa dilihat, mereka tenggelam
dalam permusuhan yang sangat dalam dan
251
penyebabnya adalah Leo, mereka sempat berebut
perhatian seorang Leo. Suami mereka berdua. Itu
sebabnya pertentangan tidak dapat terelakkan.
Meski pada akhirnya Rania memilih pergi
dari kehidupan Leo tetap saja Leo mencintainya.
Cinta itu bukan tentang nampak atau tidak
nampak, cinta itu tentang suara hati. Hati yang
memilih pada siapa cinta harus ditambatkan.
Tidak bisa direkayasa meskipun ada sebagian
orang yang bisa menggantikan cintanya dengan
orang lain seiring berjalannya waktu namun hal
itu tidak akan bertahan lama. Ketika Tuhan
mengijinkan mereka berjumpa lagi otomatis
getaran itu akan muncul lagi, gejolak itu akan
datang lagi dan itu tidak akan dapat terelakkan.
Cinta mereka akan tumbuh kembali bahkan
mungkin lebih menjadi-jadi.
Rania mengenakan pakaian seksi
berwarna merah hati. Kontras sekali dengan
tubuhnya yang putih. Atasan tanpa lengan dan
celana pendek diatas lutut. Paha putihnya nampak
terbuka. Ada renda di ujung celananya. Rania
252
nampak cantik luar biasa. Rambut pirangnya ia
lipat hingga menampakkan leher jenjang
berwarna putih halus juga mulus. Rania
menyambut tamunya dengan senyum di kulum.
Ada lipstik merah dengan goresan lipgloss
membuat bibirnya nampak menggairahkan. Mata
lentiknya berhias maskara, demikian mempesona.
Rania melingkarkan lengannya pada leher
Pak Leo, suaminya. Bibir mereka saling beradu
mencari liang kenikmatan itu.
Rania menikmati sensasinya.
"Ayah sangat kangen"
"Bunda juga yah."
Pak Leo duduk di kursi empuk lalu tubuh
mungil Rania duduk diatasnya sambil
menggelayut manja. Senyum mereka
mengembang senantiasa. Rania demikian manja,
menggelitik kelelakiannya yang lama tak terusik.
Mereka menikmati edisi pergumukan itu.
Berkali-kali tanpa letih. Luapan gairah itu seakan
tak dapat dibendung. Kerinduannya tumpah.
253
bertahun-tahun Leo menunggu saat indah seperti
ini.
Ah, Lei merasakan kepuasan yang
berulang. Ia memejamkan matanya merasa tenang
namun jemari lentik Rania mampir lagi di dadanya
yang terbuka. Leo membuka matanya lagi.
"Aku masih ingin." Suara Rania berbisik.
Ada gambar mawar mekar di gumpalan kenyal
dada Rania. Leo menatapnya tanpa berkedip.
Mereka sama-sama terlena dalam buaian nafsu
juga birahi.
Hingga nafas mereka terengah-engah dan
keringatpun mengucur deras. Mereka letih namun
merasa sangat puas.
Rania menggerakkan kepalanya ke kiri
dan ke kanan, hingga "Bruak!!!"
Kepala Rania terasa sakit.
Astaghfirullah, Rania ternyata sedang
bermimpi. Mimpi yang sangat buruk. Mimpi yang
tidak pernah ia alami sepanjang hidupnya.
Riana merasa mual, membayangkan
adegan tadi.
254
"Kok bisa ada mimpi sekotor ini?" Bisiknya
lirih.
Ia menuju kamar mandi, menyalakan air
hangat di bath up nya. Melumuri airnya dengan
sabun cair beraroma mawar. Ia biarkan airnya
berbusa kemudian Rania berendam di dalamnya.
Ia sangat jijik membayangkan mimpinya tadi
hingfa ia terpaksa harus mandi tengah malam
demi membersihkan tubuhnya yang tadi di jamah.
Nafas Rania masih juga tak beraturan
tubuhnya terasa menggigil, ia ngeri sekali.
Mengapa bisa ia memimpikan
persetubuhan itu sedang hatinya benar-benar
tidak menginginkan Leo lagi. Rania merasa
teramat gila.
Hingga mandinya usai dan kimono handuk
melilit badanya. Rania masoh juga mengatur
nafasnya yang demikian berat.
255
MENUJU PENGADILAN AGAMA
"Hy Kak, hari ini kita jadi pergi kan ?"
Septia menghubungi Rania, Rania
mengingat sesuatu tentang janjinya beberapa
waktu yang lalu.
Menuju pengadilan agama dan
berkonsultasi tentang masalahnya.
"Oh iya, jadi." Rania menjawab dengan
cepat.
Bersiap ia demi menuntaskan janjinya,
sudah pukul tujuh waktu Indonesia tengah. Kalau
berangkat terlalu siang nanti antriannya panjang
dan Rania malas dengan antrian yang panjang itu.
Rania tidak suka menunggu, itu sebabnya ia malas
sekali berhubungan dengan urusan birokrasi.
Sering berbelit-belit dan banyak persyaratan.
Rania memilih baju yang pantas untuk ia
kenakan. Celana panjang hitam dengan atasan
panjang selutut, berwarna hijau lumut model baju
anak jaman sekarang di padu dengan jilbab warna
senada namun bermotif bunga. Rania mematut
256
dirinya di cermin. Mengoleskan bedak dan lipstik
tipis di wajahnya. Rania nampak yakin bahwa
penampilannya sudah sedikit mendekati
sempurna.
Ia keluar kamar,
"Nggak makan dulu, Mbak ?"
"Nggak usah deh, aku buru-buru." Jawab
Rania sambil mengunci pintu kamarnya.
Pembantunya buru-buru mengambil
kotak bekal kemudian meletakkan nasi, bali telor
tahu dan tempe serta tumis kangkung sekalian
buah jeruk yang telah di kupas dan di masukkan
ke dalam kantong plastik bening, semua di jadikan
satu dalam kotak bekal.
"Mbak, ini bekalnya." Teriak pembantunya
dari belakang.
Rania merasa bersyukur memiliki
pembantu yang baik dan menyayanginya,
menjaganya juga menganggapnya bukan hanya
majikan tapi juga saudara. Saat hidup sendirian
dan berada di perantauan seperti sekarang,
mempunyai orang yang memperhatikan dan
257
sayang pada dirinya adalah sebuah anugerah luar
biasa.
"Terimakasih ya, mbak." Ucap Rania saat
menerima bekal tersebut.
Rania menuju mobil dan mulai
mengemudikannya.
Septia menunggu Rania di depan
rumahnya, gadis ceria yang menyukai warna
hitam dan putih ini begitu cantik dan menarik.
Saat ia melihat mobil Rania datang maka serta
merta ia berlari mendekat. Kemudian melompat di
mobik itu dan duduk tepat di samping Rania.
Rania menyapanya.
"Sudah mandi, Tia ?"
"Menghina, ya sudah dong."
"Kita langsung ke Pengadilan Agama ya ?"
"Iya deh."
"Ntar kita ngomongnya mau konsultasi
saja ya, Tia."
Tia mengangguk-anggukkan kepala setuju.
Memasuki gedung dengan pilar megah
berwarna coklat muda. Mobil Rania ia parkir tepat
258
di ujung. Kemudian mereka berdua turun. Mencari
tempat untuk konsultasi. Deretan orang sudah
berjajar di ruang tunggu dengan niat dan
kepentingannya masing-masing.
Rania mendekat, mencoba meringsek
orang yang banyak tadi, mendekati seorang
petugas.
"Mohon maaf Pak, kalau mau konsultasi
dimana ya tempatnya." Rania bertanya pada
seorang lelaki yang nampak perlente, wajahnya ke
bapak an, kumis tipis menghias wajahnya,
rambutnya ikal, tubuhnya berisi, nampak
kharismatik diantaranya senyumnya yang tipis.
'Wahyu' namanya tertulis di dada beliau.
Pak Wahyu menatap Rania sekilas
kemudian sambil beralih pandang beliau
bertanya.
"Konsultasi tentang apa ?"
"Perceraian, Pak."
Dengan sopan beliau mengajak Rania dan
Septia menuju ruangannya.
259
Rania duduk di ruangan tersebut. Sekilas
Rania memandang sekeliling, beliau ternyata
Kepala Dinas Pengadilan Agama.
'Berarti aku salah orang tadi nanya nya,
'Rania mendesah.
"Bisa mulai diceritakan perceraian yang
bagaimana yang kamu maksudkan ?"
"Begini Pak, lima tahun yang lalu, atau
hampir enam tahun bila di hitung sampai hari ini,
saya pernah menikah 'sirri' dengan seorang lelaki,
lelaki tersebut datang ke rumah untuk meminang
saya bersama seorang wanita yang ternyata
adalah istrinya. Awalnya semua baik-baik saja
hingga kemudian pertengkaran sering terjadi
antara saya dengan istrinya. Saya pergi karena
tidak tahan. Saya sering sekali sakit, Pak. Saya
tinggalkan suami saya ke Jawa. Kami benar-benar
tidak pernah bertemu dan saya tidak menerima
nafkah lahir batin. Hanya yang menjengkelkan
adalah, setiap saya hendak menikah lagi dengan
lelaki lain bila suami saya tahu dia pasti akan
bilang saya adalah istrinya. Tahun berganti
260
ternyata dia masih menganggap saya istri. Apa
yang harus saya lakukan, Pak ?"
"Minta di ceraikan secara agama juga."
"Sudah ratusan kali, Pak."
"Apa jawabannya ?"
"Dia tidak mau menceraikan."
"Mungkin suami mbak masih cinta," ujar
Pak Wahyu bicara panjang lebar.
"Terserah dia cinta atau tidak yang pasti
saya tidak." Rania berkata tegas dan jelas.
Kemudian menunduk, membaca luka di hatinya
yang nyaris berdarah lagi.
Pak Wahyu memandang Rania dengan
pandangan iba.
'Lelaki mana yang mau bercerai dengan
mu ?' batin Pak Wahyu menggumam.
Lelaki di dunia manapun menyukai
perpaduan wanita manja dan mandiri. Mandiri
artinya wanita yang bisa mencari uang sendiri
pasti sangat menarik, memiliki cerita tentang
kesibukannya yang bisa dibicarakan di sore hari
saat minum teh bersama. Yang bisa membantu
261
saat keuangan keluarga bermasalah. Memiliki
wanita seperti ini pasti membanggakan dan
menambah gairah.
Namun lelaki juga butuh wanita manja,
wanita yang dalam kemandiriannya ia
mempunyai ruang agar lelaki bisa menolong
mengerjakan hal-hal yang tidak bisa ia kerjakan.
Diantara kemandiriannya lelaki mempunyai
tempat untuk menyelesaikan masalah yang tidak
bisa ia selesaikan sehingga lelaki menjadi
berharga. Wanita mandiri namun manja atau
wanita manja yang memiliki kemandirian adalah
idaman semua lelaki dan Rania sepertinya
memiliki hal itu saat ini.
Pak Wahyu diam, Rania dan Septia juga
diam. Hening di dalam ruangan.
Kemudian Rania mengeluarkan kalimat.
"Bagaimana dengan 'Fasakh' , pak ?"
"Fasakh itu sebuah perceraian yang terjadi
karena salah satu pasangan memiliki penyakit
atau cacat yang tidak di sukai pasangannya. Ini
harus Pengadilan Agama yang
262
menyelesaikan.Dengan mengembalikan mahar."
Pak Wahyu menjelaskan.
Rania diam,
"Kalau nikahnya sirri apa bisa fasakhnya
sirri juga ?"
"Itu lah masalahnya. " Pak Wahyu
menggumam.
"Tidak ada aturan yang mengatur tentang
pernikahan di bawah tangan secara hukum
negara. Kalau secara hukum agama jelas, bila salah
satu pasangan tidak berkenan maka bisa bercerai
dan caranya lelaki harus mengucapkan talak.
Masalahnya bila si lelaki tidak mau mengucapkan
talak ini yang susah." Pak Wahyu mencoba berfikir
keras.
"Bekerja dimana suami mu?" tanya Pak
Wahyu pada Rania.
Kemudian Rania menyebut salah satu
nama universitas.
"ASN berarti ?"
"Iya, pak."
263
"Wah, kalau ASN gampang. Kita tinggal
minta pimpinannya memberikan tekanan agar ia
mau menceraikan. Gampang saja itu. Saya akan
bantu kamu." Pak Wahyu memberikan harapan
besar pada Rania.
Rania terlihat bersemangat sekali.
"Ini nomer whatsapp saya, kalau saya siap
menemui suami mu saya kabar i, ya."
Rania mengangguk, ia mengucapkan
terimakasih atas bantuan Pak Wahyu.
."Saya belum membantu, andaipun saya
membantu itu bagian dari kewajiban saya." Pak
Wahyu menjawab bijak.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Rania
berpamitan pada Pak Wahyu. Septia tahu Pak
Wahyu masih ingin berbincang namun Rania yang
tidak peka tidak akan tahu itu.
Mereka pun menuju mobil. Sepanjang
perjalanan ada ceria yang menggantung di wajah
Rania, ia seperti mendapatkan nafas baru.
Harapannya yang hampir kandas kini menyala
lagi. Entah mengapa sejak awal Rania memang
264
suka terhadap orang-orang dengan usia yang jauh
di atas nya. Apakah hal itu terjadi karena Rania
kehilangan sosok Abah nya sejak kecil sehingga
dia merindukannya dan mencari sosok itu hingga
dewasa. Berada di samping lelaki yang usianya
terpaut jauh membuat Rania merasa tenang dan
nyaman, bahkan hal tersebut bisa membangkitkan
rasa percaya diri di hatinya.
Seperti hari ini. Rasa percaya diri itu
muncul lagi, merasa sebagian dari hidupnya ada
yang menjaga, merasa hidupnya akan baik-baik
saja. Saat seorang wanita memiliki uang dan
kekayaan saat itu wanita tersebut butuh cinta dan
kasih sayang namun bukan berarti mereka akan
memelihara seorang pengangguran dalam
kehidupannya. Tidak demikian.
Septia terdiam. Menatap Rania dengan
senyumnya yang tersungging. Ia tahu sahabatnya
sedang bahagia. Pun, ketika mobilnya berbelok ke
sebuah rumah makan Wong Solo. Septia masih
melihat senyum itu.
265
Mereka turun hendak makan, saat mereka
telah memesan dan hampir saja menyendok kan
nasi di mulutnya, Rania dan Septia melihat Pak
Leo, Laela dan anak-anaknya juga orang tua
mereka sedang menuju tempat yang sama.
'Ya Allah kenapa harus bertemu mereka ? '
Rania berkata lirih sambil meraba hatinya.
Perih sekali rasanya.
"Berarti Pak Leo sudah pulang dari rumah
sakit ?" Tanya Septia.
Rania hanya diam melihat ayam bakar
yang tetap tenang di atas piringnya. Hanya ayam
bakar ini yang tidak terusik akan kehadiran Pak
Leo di rumah makan ini.
Rania diam, ia ingin pergi namun tidak
mungkin. Ia tidak ingin perseteruan itu terjadi
lagi. Ia sangat letih.
"Berarti Pak Leo masih tetap dengan
istrinya, buktinya mereka baik-baik saja. Dasar
pembohong" ucap Septia kesal.
"Begitulah lelaki." Rania menjawab
dengan mata menerawang
266
"Begitulah lelaki." Jawab Rania
menerawang.
PILU YANG BERULANG
"Assalamualaikum, apa kabar ? sudah
sampai di mana ?"
Rania tampak tersenyum melihat pesan
masuk di ponselnya.
Meski hanya sekilas senyum itu nampak
seperti senyum bahagia.
Rania meraih ponselnya kemudian
membalas pesan tersebut dengan cepat.
"Di rumah makan Wong Solo, di sini ada
Pak Leo bersama keluarganya."
Begitu penjelasan Rania melalui pesan
singkat kepada seseorang yang mengirim pesan
lewat ponsel nya. Orang tersebut ternyata Pak
Wahyu yang tadi di temui oleh Rania dan Septia di
Kantor Pengadilan Agama.
"Bagus dong."
"Kok bagus ?"
267
"Ya, kan bisa berbincang,"
"Berbincang apaan ?"
"Kamu baik-baik saja kan ?"
"Aku ingin marah tapi berusaha menahan."
"Perlu aku ke sana?"
"Kalau tidak merepotkan, silahkan."
"Share lokasi ya,"
"Oke."
Rania pun sigap mengirimkan permintaan
Pak Wahyu. Hanya selang beberapa menit dari
perbincangan itu Pak Wahyu telah berada di
rumah makan tersebut.
Pak Wahyu menghubungi Rania,
"Kamu dimana?"
"Meja 31"
Pak Wahyu mendekati meja tersebut,
mengulum senyumnya, ia duduk di samping Rania
berhadapan dengan Septia.
Mereka berbincang ringan. Sepertinya Pak
Wahyu orang yang baik, hal itu nampak dari
betapa berwibawa nya beliau saat berbincang.
268
Tidak ada kesan nakal dari caranya memandang.
Ah, seperti sosok lelaki idaman.
Sebuah pandangan sampai pada tempat
mereka berbincang, pandangan itu mengajak bibir
berteriak
"Pa, itu teman papa yang waktu itu jumpa
di mall, ya ?"
Pak Leo mengalihkan pandang ke arah
yang di tunjuk, begitu juga dengan Laela. Mereka
serempak memandang pada satu tempat yang
sama.
Nampak oleh mereka sosok Rania, Septia
juga seorang lelaki.
"Lelaki baru kayaknya, pasti suami orang
lagi." Laela membuka suara.
"Jangan mulai, " Pak Leo mengingatkan.
"Mulai apa ? Memang faktanya lelaki baru
kan ?"
"Kita sedang bersama mamah, Abah dan
anak-anak, tidak usah memancing keributan."
Sekali lagi Pak Leo memberikan peringatan.
269
Namun dasar Laela yang tidak pernah
berubah, dia tetap saja memancing keributan.
Mungkin itu adalah cara bagi dirinya membiaskan
luka.
Ketika Rania, Septia juga Pak Wahyu
melangkah hendak menuju kasir tiba-tiba sebuah
suara mampir di telinga mereka. Suara yang
kalimatnya sangat tidak sopan. Suara yang
membuat mereka sontak berhenti dari langkah
nya.
Rania berhenti kemudian mengarahkan
pandangannya pada wanita berwajah tidak cantik
itu. Ia benar-benar geram.
"Kamu ngomong dengan siapa ?"
"Dengan kamu !"
"Maksud kamu apa ?"
"Pertanyaan ku sudah jelas, mangsa baru
ya ?"
"Kamu bisa nggak sih berhenti mengurusi
kehidupan ku."
"Aku hanya nanya, salah ?"
270
"Nggak salah cuma omongan mu itu yang
tidak benar. Belum tahu rasanya mulut mu di
sobek ya ?"
"Duh, duh, duh." Suara Laela menyebalkan.
"Ayo Ran, kita pergi saja dari tempat ini.
Nggak usah dihiraukan. Menghiraukan orang gila
nanti kita bisa ikut gila."
Pak Wahyu melingkarkan lengannya di
bahu Rania hendak membawa Rania keluar dari
tempat itu. Septia masih terpana dengan apa yang
baru saja dilihat.
Mereka menjauh dari meja tempat Pak Leo
dan keluarganya duduk. Pak Leo berusaha
membuat istrinya berhenti bicara namun gagal.
Saat Rania dan Pak Wahyu hendak
melanjutkan langkah mereka menuju kasir, tiba-
tiba.
Sesuatu terlempar ke baju bagian belakang
Rania. Septia panik. Rania mendekati Laela.
"Mau mu apa ?" Tanya Rania sambil
mendorong tubuh kurus Laela, Laela berdiri.
271
"Aku mau kamu pergi yang jauh dari
Banjarmasin ini. Kamu disini hanya merusak
pemandangan dan membuat keluarga ku hancur."
"Emang ini kota punya mama mu ?" Rania
bicara lantang, Pak Leo, Pak Wahyu juga orang tua
Laela berusaha melerai.
"Kamu disini hanya untuk membuat suami
ku terpikat lagi kan ?" Laela menangis, drama
Koreanya muncul lagi.
"Huekkk!! " Ucap Rania.
"Aku disini justru ingin suami ku
menceraikan aku. Kamu memang wanita bodoh,
ya." Rania menambahkan. Beberapa pasang mata
nampak melihat. Pelayan resto memperingatkan
agar mereka tidak membuat keributan di dalam
rumah makan. Pak Wahyu menarik lengan Rania
keluar, Septia di minta membayar makanan yang
tadi mereka makan.
Nasib buruk ternyata Laela mengikuti
langkah Rania dan Pak Wahyu. Sebagai istri
pertama Laela memang sakit hati namun caranya
memaki di depan umum sangat tidak elegan, tidak
272
mencerminkan seorang akademisi. Murahan.
Tidak cantik dan terkesan arogan.
Laela memukul punggung Rania, Rania
marah. Pak Leo memegang tangan Laela dengan
kuat.
"Wanita murahan bisanya merebut suami
orang!" Hardik Laela.
"Kamu lupa diri ya, kamu dulu yang datang
minta aku menikah dengan Pak Leo." Rania bicara
tidak kalah keras.
"Sudah, cukup !" Pak Wahyu melerai
mereka.
"Sebentar mas," Rania bicara saat ada jeda.
"Sekarang ayah buktikan, ayah lebih
memilih aku atau wanita ini !" Rania bicara pada
Pak Leo.
"Kalau ayah memilih aku hari ini juga kita
kembali sebagai suami istri dan ayah bisa tinggal
di rumah ku." Semua terhenyak, mata anak-anak
Pak Leo memandang satu pada papanya, mata
orang tua Laela berharap terjadi keajaiban.
273
"Ayo ayah, kalau ayah memilih aku
tinggalkan wanita ini."
Rania memberikan penawaran sekali lagi.
Wajah Leo masih pucat pasi, beberapa
detik kemudian,
"Ya pasti memilih aku lah, aku punya anak
kok."
Laela bicara tanpa diminta dan di luar
dugaan tangan Leo melayang ke arah ke dua pipi
Laela dengan keras. Laela menjerit semua yang
melihat terkejut bukan kepalang.
Rania menggandeng lengan Pak Wahyu
menuju mobil. Rania sengaja mengajak Pak
Wahyu menaiki mobilnya dan Pak Wahyu pun
mengikuti saja keinginan Rania, namun sebelum
pergi Pak Wahyu sempat berkata,
"Pak sebaiknya urusan ini diselesaikan
sebelum saya ikut campur dan menjadi panjang."
Mereka pergi dari rumah makan, Rania
menangis dibalik kemudinya. Hatinya luar biasa
sakit.
274
Hingga ia menepikan mobilnya. Ia luapkan
perasaannya, ia tumpahkan tangisannya. Ia sudah
tidak punya cara lagi untuk bernafas bila
keadaannya seperti ini.
Ia hanya ingin masalah ini cepat selesai,
statusnya terbebas menjadi seorang yang
berstatus tanpa suami.
Menyakitkan, berhadapan dengan lelaki
tanpa ketegasan pasti banyak menghadirkan
kepiluan bagi wanitanya.
Pak Wahyu bicara pelan.
"Kita ke Mall, yuk."
"Baju mu kotor. Sekali-kali kamu perlu
menghibur diri."
Rania menghapus air matanya.
"Kami pulang saja, saya lelah."
"Ran, tenang saja, masalah yang diberikan
Tuhan pasti akan selesai bila tiba masanya. Paling
tidak Tuhan telah menentukan waktu kapan ia
akan selesai. Kita hanya diminta Allah untuk sabar
dan sholat." Pak Wahyu bicara bijak.
275
"Ayolah, Kak, kita bersenang-senang dulu,
selagi ada yang mau nraktir." Septia berujar.
"Hah, mentraktir ?"
Pak Wahyu spontan tertawa. Alhasil Rania
pun tertawa diantara air matanya yang masih
basah.
Mereka pun meluncur menuju mall
terbesar di Banjarmasin, tempat Rania dan Pak
Leo pertama kali bertemu kembali setelah sekian
lama berpisah.
Mereka berbelanja, membeli baju baru,
juga sepatu.
Hari itu semua GRATIS karena Pak Wahyu
yang mentraktir semuanya.
Sebelum berpisah Rania berujar
"Terimakasih, bapak sudah baik pada saya,
saya berhutang Budi."
"Tidak usah dipikirkan, yang penting
kamu sehat, bahagia dan masalah mu selesai."
Kalimat itu sangat indah terdengar, Rania
berjanji akan menyimpannya sebagai kenangan
yang tak terlupakan.
276
Langit masih cerah saat mereka
menyudahi acara belanjanya. Pak Wahyu diantar
kembali oleh Rania menuju rumah makan tempat
tragedi tadi terjadi. Pak Wahyu turun sambil
berkata, "jaga dirimu, secepatnya masalah ini akan
kita selesaikan."
"Terimakasih" hanya itu yang bisa Rania
ucapkan. Sebuah lambaian tangan ia berikan,
senyum yang terbalas membuat bunga di hati
tumbuh, merekah dan berkembang. Seperti udara
segar yang senantiasa mengalirkan aroma
kesehatan bagi setiap insan. Rania mengarahkan
mobilnya menuju rumah Septia dan berusaha
melupakan kejadian hari ini. Fakta di depan mata,
Pak Leo tidak akan pernah berani meninggalkan
keluarganya demi memilih Rania, dan apa yang
disampaikannya hanya bualan semata.
277
GADIS PEMIMPI
Sejak kejadian hari itu di Rumah Makan
Wong Solo, Pak Wahyu memberanikan dirinya
untuk datang ke rumah Rania.
Rania keluar kamar dengan bahagia,
menjumpai Pak Wahyu yang sedang menunggu di
kursi santai di beranda, dua gelas air jahe hangat
telah terhidang di sampingnya ada kue bolu yang
siap untuk disantap. Rania duduk di samping Pak
Wahyu dengan baju santai warna abu-abu. Pak
wahyu tersenyum melihat Rania.
“Darimana ?”
“Dari rumah.”
“Mau ke mana ?”
“Mau kesini.”
Kemudian Pak Wahyu menyerahkan paper
bag cantik pada Rania, Rania heran, menerimanya
dengan tanda tanya.
“Ini apa ?”
“Di buka saja.”
278
Rania membuka paper bag tersebut,
dengan takjub ia melihat sebuah jam tangan cantik
lengkap dengan sertifikatnya. Hadiah kah ini ?
Tanya Rania hanya sebatas dalam batinnya.
HADIAH ???
Sudah lama sekali ia tidak menerima ini
setelah ia meninggalkan dunia hingar bingar dan
fokus pada anak-anak. Sejak ia berhenti menjadi
model dan aktivis politik. Dulu, hari-harinya
berlimpah hadiah dari setiap lelaki yang
mengaguminya kemudian menyatakan
kekagumannya padanya. Hadiah beragam siap di
tangan, terlebih bila para lelaki itu ‘beruang’ maka
yang datang juga benda-benda yang bermacam-
macam dan pasti bermerk. Rania masih ingat saat
itu sebuah motor Mio Sporty bertengger cantik di
depan rumah lengkap dengan STNK nya. Motor
yang baru satu bulan di beli. Seorang OB kantor
mengantarnya ke rumah, namun sayang Rania
mengembalikan motor tesebut karena dirinya
tidak berkenan memenuhi permintaan pemberi
hadiah.
279
Sejak Rania meninggalkan Pak Leo, sejak
itu Rania bertekat untuk berubah namun sempat
tekat itu luntur oleh kepentingan dan kebutuhan.
Meski ia tidak sampai terjerembab pada Zina dan
Dosa namun ia tetap merasa dirinya kotor saat itu.
Beruntung Tuhan menggariskan lain. Kejadian
demi kejadian terjadi hingga membuat Rania
memutuskan untuk benar-benar berubah.
Menuntut bersihnya status pernikahan
dari dirinya agar ia bersih dari dosa, memutuskan
untuk fokus memperhatikan anak-anak, dan
bekerja dari rumah. Alhamdulillah Tuhan
memudahkan semuanya. Meski awal perjalanan
godaan itu datang, mulai dari rayuan yang tidak
kunjung berhenti sampai laptop yang rusak
berbulan-bulan hingga harus menulis sepuluh
ribu kata setiap hari dari ponsel kecinya, Rania
tidak pernah putus asa. Termasuk ketika anak-
anak bergantian harus sakit, Rania tetap tidak
berputus asa. Bukankah setiap cinta mendapatkan
ujian ? dan kecintaannya pada Yang Maha
memiliki Cinta harus di uji saat itu. Rania
280
tertantang untuk tetap lolos dalam ujian itu. Ia
tidak boleh gagal. Waktu membuktikan Rania
lulus melewati semuanya. Hingga sampai di titik
ini.
Hari ini Pak Wahyu datang membawa
hadiah, mengingatkan Rania pada episode kelam
hidupnya. Rania menggigit bibirnya, matanya
berkaca-kaca. Hampir saja genangan air itu
mengalir turun membasahi pipinya namun cepat-
cepat ia menghapusnya. Sayangnya Pak Wahyu
terlanjur melihat wajah mendung dan genangan
air yang hampir tumpah itu.
“Kamu menangis ?” Tanya Pak Wahyu
penuh selidik.
“Ah, tidak.” Rania mencoba berbohong
saat Pak Wahyu menatapnya begitu rupa.
“Ada apa ? Apakah hadiah ku
mengingatkan mu pada sesuatu ?”
“Tidak.” Jawab Rania cepat. Rania
menyesal telah berlaku bodoh. Harusnya ia tidak
perlu bersikap demikian, harusnya ia bahagia dan
mengucapkan terimakasih meski hatinya sedang
281
mengingat sesuatu dan hatinya remuk redam.
Harusnya Rania pintar berpura-pura seperti
aktris di sinetron-sinetron. Mengucapkan
terimakasih kemudian mencium tipis pipi lelaki
yang memberi hadiah mahal. Sayang, Rania tidak
mampu berbuat demikian. Rania tidak bisa
berpura-pura. Ia terbiasa berkata dan tampil apa
adanya meski ia mampu menghadirkan banyak
karakter di setiap lakon novelnya yang beragam.
“Kalau kamu sedih, aku tidak akan
membawa hadiah lagi, aku janji.” Nampak sekali
Pak Wahyu menyesal.
“Eits, Rania nggak papa, nggak sedih kok.
Besok-besok kalau kemari lagi jangan bawa
hadiah jam tangan, mungkin cincin emas, kalung
bermata berlian atau sertifikat rumah.” Rania
berbicara sambil mengerling menggoda. Tapi Pak
Wahyu rupanya menanggapinya dengan serius.
“Asal aku ada rizqy dan asal itu bisa
membuat kamu tersenyum, kenapa tidak.” Datar
dan biasa sekali kalimat itu terdengar. Nyaris
282
tanpa ekspresi namun sepertinya serius dan tulus.
Rania merasa bersalah.
‘Terimakasih hadiah nya ya,” Rania bicara
dengan tampang lucunya. Pak Wahyu tersenyum
tipis sambil mengangguk.
“Kita bicara yang lain yuk.” Ajak Rania.
“Bicara apa ?”
“Apa saja.”
Perbincangan mereka pun mengalir deras.
Membuat bahagia yang muncul itu mewarnai
wajah Rania. Ada binar bahagia di matanya. Binar
yang sudah lama hilang.
Hari ini diantara rintik hujan yang turun,
Rania merasakan dirinya sedang bertamasya,
melintasi banyak kota dan menikmati setiap
kulinernya. Ia seperti berjalan melompat-lompat
dengan sangat bahagia. Ia seperti
menyenandungkan lagu cinta dan kasih sayang. Ia
tidak takut apapun hari ini. Tamasya yang indah
dan menyenangkan, ia terus menikmatinya
karena di sampingnya ada seorang lelaki tangguh
283
yang sedang berjaga untuk keselamatan hati dan
jiwanya.
Pak Wahyu,
Masih duduk tenang dan menanggapi
setiap kisah yang melompat-lompat dari bibir
Rania. Pak Wahyu merasakan bahwa Rania butuh
seorang teman. Ya, teman yang baik yang selalu
hadir tanpa kemunafikan. Hari ini Pak Wahyu
berusaha melakukan itu untuk Rania.
Hati lelaki mana yang tidak terrenyuh
mendengar perjalanan hidupnya, hati lelaki mana
yang tidak sedih dan ingin meringankan
bebannya. Hanya saja tidak semua lelaki
menggunakan hati mereka dalam menyikapi
cerita semacam ini.
Hari menjelang sore,
Mereka telah sarapan dan makan siang
bersama. Tiba waktunya bagi Pak Wahu untuk
pulang dan kembali pada kehidupan yang
sesungguhnya. Begitu juga dengan Rania, tiba
waktunya dirinya kembali pada Rania yang
284
sesungguhnya, bukan Rania yang menjadi gadis
pemimpi selama beberapa jam yang lalu.
“Aku pulang.”
“Kalau ada waktu dan Rania mengijinkan
besok aku akan datang, InsyaAllah.”
Rania mengangguk, mengantarkan Pak
Wahyu menuju mobilnya yang di parkir di depan
pagar rumah Rania. Ada senyum yang mereka
lempar dengan bahagia berharap esok senyum itu
akan berulang.
Diantara gerimis yang masih turun Rania
masih duduk di kursi santai beranda rumah, Pak
Wahyu telah pulang ke rumahnya. Rania
menimang jam tangan pemberian Pak Wahyu, ia
membolak-balik rantai emasnya yang cantik.
Rania merasa bangga pernah mengenal beliau,
Rania juga bahagia telah menemukan teman
sebaik beliau, sebaik Pak Budiman juga Septia dan
Arifin. Rania mensyukuri keberadaan mereka saat
ini. Mereka adalah kekuatan bagi hidup Rania.
Rania meletakkan jam tangan tersebut
kembali ke tempatnya. Didalam kotak cantik
285
berwarna ungu. Rania beharap pertemanannya
dengan Pak Wahyu akan terjalin baik selamanya.
Tiba-tiba ada yang berbisik di telinganya.
‘Hanya sebatas teman kah harapan mu ?’
Rania terhenyak kemudian tersenyum
tipis tanpa menjawab.
286
PERTANYAAN SEPTIA
Septia sudah sejak siang tadi berada di
rumah Rania, meskipun Rania tidak ada di
rumahnya. Gadis itu rebahan di kamar tamu
rumah Rania. Rania telah menganggap Septia
sebagai adik sendiri. Mereka demikian dekat
seperti saudara meskipun baru beberapa bulan
saling mengenal.
Tadi Septia memberikan kabar pada Rania
bahwa dirinya berada di rumah Rania dan Rania
pun berkata, tunggu saja sebentar lagi aku pulang.
Itu pesan singkat yang dikirim melalui
ponsel dan diterima oleh Septia. Alhasil Septia pun
bersedia menunggu.
Sudah dua jam berlalu, yang ditunggu tak
kunjung tiba. Septia sepertinya mulai lelah, ia
beranjak menuju kaca rias, membersihkan
wajahnya dan membenahi letak rambutnya.
Septia ingin pulang.
Belum sampai ia membuka kamar, sebuah
mobil nampak berhenti di depan rumah, sorot
287
lampunya sedikit masuk menembus jendela ruang
tamu rumah dengan desain minimalis milik Rania.
"Pasti itu Rania," pekiknya.
Septia pun melangkah menuju pintu
depan, ia membuka pintunya. Nampak dari
pandangannya Rania turun dari sebuah mobil
mewah tapi bukan mobilnya. Septia
menggerakkan bola matanya untuk mengetahui
siapa yang mengantar Rania hari ini.
Semakin ia memincingkan mata ia
semakin yakin lelaki itu, sepertinya ia pernah
kenal tapi siapa ya ?
Septia memukul-mukul lembut kepalanya
pertanda ia sedang berfikir.
"Oh, itu bapak yang kemarin berjumpa di
pengadilan agama." Septia mulai sedikit ingat.
"Tidak lain dan tidak bukan itu bapak yang
bertemu di Pengadilan Agama hari itu."Septia
mengingat sesuatu.
Ia merasa bahwa ingatannya benar, ia
tidak salah lagi.
288
Rania masuk ke rumahnya sendiri, tanpa
Bapak itu. Bapak tersebut langsung pulang setelah
Rania turun di rumahnya, mobil Rania pun tidak
nampak di rumahnya.
"Hmmmm lagi jalan-jalan pantesan lama
gak datang." Septia berwajah sewot di depan
sahabatnya.
Rania hanya tersenyum tipis, ia masuk
kamar pribadinya, membasuh kakinya, kemudian
mengganti pakaiannya sebelum ia berbincang
dengan Septia. Selalu begitu, itu kebiasaan Rania
sejak kecil. Berganti baju dan mencuci kaki setelah
keluar dari rumah.
"Maaf ya kalau lama nunggunya."Rania
mencolek bahu Septia.
Septia manyun dengan bibir di
monyongkan membuat Rania merasa geli.
"Kalau begitu gayanya, asli mirip Laela."
Septia langsung merubah gayanya saat
mendengar nama Laela.
"Amit-amit.. amit-amit.."
289
Rania pun terkekeh melihat tingkah
sahabatnya.
"Emang darimana saja sih, kok bisa dengan
bapak itu."
"Pak Wahyu maksudnya ?"
Septia mengangguk.
"Tadi mobil ku bannya bocor sayang, itu
sebabnya aku telphon beliau dan minta tolong."
"Kok nggak minta tolong Pak Budiman ?
Kak Rania kan pacar nya ?"
UPS, hampir saja Rania lupa dengan
perjanjian pacaran bohong-bohongan dengan Pak
Budiman.
Andai Septia tahu, hubungannya dengan
Pak Budiman hanya sebatas teman, Pak Budiman
tidak akan mencintai Rania, tidak akan pernah.
Rania bukan tipe wanita yang diidamkan oleh Pak
Budiman. Bila hari ini mereka saling mengasihi
tidak lebih karena Pak Budiman merasa iba pada
apa yang menimpa Rania, tidak lebih.
"Hallo, kok diam ?"
290
"Kenapa nggak menghubungi Pak
Budiman?" Septia memburu Rania dengan
pertanyaan yang sama
"Sudah sayang, tapi Pak Budiman sedang
sibuk." Hanya itu yang mampu Rania ucapkan
tidak ada kalimat yang lain, menambah kalimat
pada jawaban atas pertanyaan Septia justru akan
mengacaukan segalanya.
Rania menarik nafas panjang, ia lupa
bahwa ia masih berlabel istri orang dan sekarang
pacar orang meski hanya bohong-bohongan.
Pertanyaan dari Septia mengingatkan Rania akan
hal itu.
Rania pun memandang jalanan dengan
pandangan meremang.
JANGAN ADA PERASAAN LAIN
Rania baru saja usai melanjutkan
tulisannya ketika ia membaca pesan di
whatsappnya.
“Ran,”
“Iya,”
291
“Sedang apa ?”
“Menulis.”
“Boleh aku ke sana sekarang ?” Rania
mendongakkan kepalanya, ia tersenyum kecil
sepertinya Tuhan sedang menguji ku, bisiknya
perlahan.
“Boleh.”
Pak Wahyu pun mengakhiri perbincangan
mereka. Beberapa jam kemudian mobil Pak
Wahyu telah berada di rumahnya. Rania yang dari
tadi telah menanti akhirnya keluar juga menuju
beranda. Mereka saling melempar senyum,
senyum yang sangat manis. Pak Wahyu tidak
langsung duduk tetapi ia memilih berdiri di tangga
kecil di beranda rumah.
“Kita keluar, yuk.”
“Kemana ? tumben”
“Kemana saja.” Rania pun berbalik badan
hendak mengganti pakaian.
“Mau kemana ?”
“Ganti baju.”
292
“Nggak usah ganti baju, begitu saja sudah
cantik.” Rania pun mengulum senyum. Mereka
berangkat tanpa tujuan yang jelas. Dari dalam
rumah nampak pembantu Rania melihat
kebahagiaan nona muda majikannya. Sejak
mengenal Pak Wahyu sepertinya hidup Rania
berubah. Ia menjadi jarang menangis, selalu ada
perbincangan kecil sebelum tidur yang membuat
Rania tertawa dan mengakhiri harinya dengan
tidur malam yang indah. Sebenarnya bukan
panjang atau tidaknya sebuah perbincangan yang
terpenting adalah kontinyuitas dan nilai dari
perbincangan itu. Itu saja.
Rania tidak pernah berharap lebih dari
hubungan mereka, Rania hanya mengikuti saja
seperti air mengalir. Seperti juga hari ini ketika di
sepanjang perjalanan mereka tertawa dan saling
bercanda ria, seolah tanpa beban. Hidup kita
sudah penuh beban lalu mengapa harus
menambahnya lagi.
Sampai di alun-alun Martapura, mereka
berdua turun. Mendekati penjual es pinggir jalan
293
dan sosis bakar. Suasana mendung begini asik
sekali menikmati es dan sosis bakar dengan
sambal pedas manisnya. Ho ho...
Rania memilih duduk di bawah tulisan
Martapura, ada Pak Wahyu disampingnya.
“Ran,”
“iya”
“Apa yang kamu pikirkan tentang aku ?”
Tanya Pak Wahyu tiba-tiba.
“Baik,”
“hanya itu ?’
“Tidak sih,”
“Lalu ?”
“Pertama kali kita jumpa aku terkejut
mendengar suara itu, seperti familiar di telinga
ku.”
“Seperti suara siapa ?”
“Entah.”
“Lalu apa lagi, Ran ?”
“Banyak, hanya saja aku nggak tahu sejak
kapan yang pasti setiap kita selesai berbincang
aku seperti mempunyai energi tersendiri untuk
294
menulis dan menghasilkan banyak episode di
cerita-cerita ku.” Rania dengan polos berkata.
“Berarti pertemuan kita adalah anugrah,”
“Mungkin.” Jawab Rania pendek.
“Anugrah yang membawa kekuatan bagi
mu untuk menghasilkan karya.” Pak wahyu
mencoba mendefinisikan sendiri perasaan yang
saat ini di rasakan Rania. Rania diam.
“kita jaga perasaan itu dan jangan di
biakan muncul perasaan yang lain.” Rania
terhenyak.
“Maksudnya apa ?” “Mas sedang ingin
bilang kalau aku tidak boleh jatuh cinta begitu ?
Jatuh cinta kok dilarang, ini hati ku, ini hak ku, ini
perasaan ku. Tidak ada seorang pun yang bisa
melarangnya.”
“Ran, aku hanya takut ketika keinginan itu
di kabulkan, apakah kita telah siap menjalankan
semuanya. Apakah aku siap meninggalkan
hubungan yang sudah ada ?”
Robbana, batin Rania menggumam baru
beberapa menit yang lalu ia bisa mengambil
295
kesimpulan bahwa hidupnya bahagia tapi
sekarang Pak Wahyu menuturkan sesuatu yang
sebenarnya tidak perlu di sampaikan. Hanya akan
membuat luka. Tidak bisa kah sebuah hubungan
berjalan seperti apa adanya tanpa ada aturan-
aturan yang mengikat atau membenamkan diri
pada sebuah keniscayaan yang menyakitkan.
Rania baru saja menulis nama Pak Wahyu sebagai
seseorang yang baik dengan tinta emas dalam
hatinya tapi Pak Wahyu menghadirkan sebuah
kalimat yang membuat ia sadar bahwa hubungan
mereka tak bisa lebih dari ini.
“Mas, rasa itu sebuah keniscayaan. Ikuti
saja arusnya tanpa perlu melawan karena
melawan arus hanya akan membuat rasa sakit
yang berlipat-lipat. Jadi untuk apa dilakukan.
Bukankah kita sedang ingin sehat serta tidak ingin
melanjutkan rasa sakit ? Yang penting kita berdua
saling menjaga.”
“Jangan pernah berfikir tentang
meninggalkan dan di tinggalkan, kita sama-sama
menjaga hingga Tuhan menentukan jalanNya dan
296
memperjelas tulisanNya dan kita bisa
membacanya. Jadi untuk apa kita perbincangkan
ini.”
“Kamu benar, Ran. Aku hanya risau.”
“Aku juga punya kerisauan yang sama
namun aku pasrahkan semua pada Allah,
bukankah Dia sebaik-baik tempat bergantung?”
Rania menarik nafas panjang ketika Pak
wahyu memandangnya, jemari lelakinya
membetulkan sebilah rambut yang keluar dari
ujung jilbabnya. Pak wahyu mengajak Rania
tersenyum namun Rania membuang muka. Ia
seolah lelah dengan apa yang baru saja ia dengar.
“ran, aku minta maaf.” Ucapan Pak Wahyu
menyesal.
“Tidak ada yang perlu di maafkan, apa
yang mas sampaikan memang benar, aku yang
salah.”
“Ini bukan tentang benar dan salah Ran, ini
tentang perasaan.”
“Aku hanya tidak ingin kamu terluka, itu
saja.”
297
Tiba-tiba gerimis menjadi rintik hujan.
Rania dan Pak Wahyu bangkit dari tempat mereka
duduk, menuju ke mobil demi menghindari hujan.
Diantara rintik hujan yang turun ada air mata
Rania yang mengalir deras. Membuat sekat-sekat
luka baru dalam perjalanannya. Namun sayang,
Pak Wahyu tidak tahu itu.
[8/12 11:40] Rarashasha: RANIA DALAM
LUKA
Malam gelap tanpa bintang, ada gamang
yang mulai mengembang. Rania merasa rindunya
mulai terusik sejak kedatangan Pak Wahyu dalam
kehidupan nya. Pak Wahyu, sosok kebapakan yang
berkali-kali menenangkan pikirannya, melukiskan
harapan baru dalam kehidupannya. Pak Wahyu
yang selalu mengajarkan Rania tentang
pentingnya mendekap erat rasa syukur agar
Tuhan menambah nikmatNya. Pak Wahyu yang
selalu bilang bahwa dendam tidak akan
menyelesaikan masalah.
Rindunya berkejaran di antara belukar
dan hutan rimba. Ada banyak sekali dedaunan
298
kering juga hewan liar yang terkadang
menakutinya dan memaksa Rania untuk
menghentikan rindu. Andai saat ini dirinya sedang
tertidur maka ia akan memilih untuk tetap tidur
demi menuntaskan rindunya.
Andai boleh, Rania ingin sekali memohon
ijin pada Tuhan untuk melihat catatanNya di
Lauhul Mahfudz, Rania ingin melihat seperti apa
akhir dari rindunya.
Ach, rindunya hari ini demikian indah
namun sayang ada batasan-batasan yang tak
mungkin ia langgar. Tidak mungkin ia terjang,
hingga membuat hati nya meradang. Itulah
mengapa ia memilih diam, menelan rindunya
dalam-dalam, melumatnya hingga tak muncul di
permukaan, ia harus bisa lakukan meskipun itu
sangat menyakitkan.
Begini saja sudah cukup, saling menjaga
dan saling menguatkan meski tak mungkin bisa
mengumbar aroma kemesraan.
Begini saja, asalkan tidak ada yang saling
meninggalkan.
299
Rania berterimakasih pada Tuhan telah
mempertemukan dirinya dengan lelaki baik itu.
Pak Wahyu, beliau sebaik Pak Budiman, hanya
bedanya Rania punya rindu pada beliau.
Ponsel Rania menyala, Rania bangkit dan
memungut nya. Enam pesan masuk.
Pak Leo,
Lelaki ini muncul lagi setelah berhari-hari
menghilang.
Pak Leo mengirimkan foto-foto
pernikahan dirinya dengan Rania.
Rania menutup matanya.
Ia merasakan lukanya tertaburi garam,
pedihnya berlipat-lipat.
Beberapa menit kemudian Pak Leo
mengirimkan foto Rania saat sedang hamil.
Foto yang dikirimkan Rania saat ia
memohon minta dikirim uang untuk biaya
persalinan yang sudah hampir tiba namun uang
itu tak kunjung datang.
Rania berteriak.
300