The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-19 17:17:38

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu suamiku

Rania terus menulis hingga ia tidak
menyadari beberapa orang datang dan sudah
duduk di depannya. Septia dan kawan-kawan Arif.

"Hy, ada apa ?"
"Kak, kita jalan-jalan yuk."
"Kemana ?"
"Kemana saja."
"Iya kemana kalian ngonong."
"Ke pantai Pagatan."
"jauh,"
"Terus kemana ?"
"Ke Pulau Kembang."
"Males."
"Terus kemana dong?"
Rania menimbang,
"Ada berapa mobil sih ?"
"Ada dua mobil, mobil bu Rania dan pak
Budiman."
"Pak Budiman iku sopo ?" Tanya Rania
pada Septia.

101

"Pak Budiman itu dosen juga teman dekat
kakaknya kak Arif." Septia menjelaskan setengah
berbisik.

"Orangnya yang mana ?"
"Yang itu,"
Septia menunjuk seseorang yang berdiri di
ujung gazebo. Seseorang dengan tinggi sekitar 177
bertubuh atletis dan berambut ikal. Gayanya
santai dan nampak sederhana. Rania mencoba
mengingat-ingat wajah itu,. tapi siapa ya ?
"Kalau kita ke pulau kembang terus ke
Pantai Batakan bagaimana ?" Pak Budiman
bersuara.
Sejenak hening.
"Boleh,"
Rania menyahut, "kalau begitu yang
perempuan pulang dan ijin dulu kita jumpa lagi di
sini pukul tiga belas tepat ya.' Rania memberi
keterangan.
Mereka serempak mengangguk hingga pak
Leo dan pak Kris datang mendekat.

102

"Ada apa ini, dilarang berkerumun,
dilarang berkerumun." Sura pak Kris menggoda.
Betapa terkejutnya Rania ada pak Leo bersama
pak Kris disana.

"Ada acara apa ini ?" tanya pak Kris lagi.
"Kami mau jalan-jalan pak." Suara pak
Budiman.
"Kemana ?"
"Pokoknya berselancar pak, keliling
mumpung masih muda." Pak Budiman kembali
bicara.
"Kami ikut ya." Suara pak Leo.
"ikut ? tumben " Pak Budiman tidak bisa
menahan kagetnya saat pak Leo bilang ingin ikut.
Ini pasti karena ada Rania fikir pak Budiman.
"Boleh saja pak, "suara Septia.
"Tapi syaratnya bapak naik mobil kami
biar bisa barengan." Yang lain mengangguk-
angguk. rania nampak tidak bersemangat. acara
berselancarnya pasti akan kehilangan nuansa bila
Leo ikut karena pasti ia akan mencuri kesempatan
untuk berbicara dengan Rania.

103

"Oke deh, kalau gitu kita bubar nanti jam
satu siang kita jumpa lagi di sini.'

Pak Budiman mengarahkan ekor matanya
ke arah Rania yang nampak malas secara
mendadak. Pak Budiman ingin bicara namun
enggan. Gosip pernikahan yang digantung antara
bu Rania dengan pak Leo sudah viral di seantero
jagat kampus. Hingga ia berusaha menjaga agar
tidak terlalu hanyut.

Tiba-tiba tidak jauh dari gazebo, pak Leo
jatuh, Terpental jauh. rupanya kaki beliau
terperosok di lobang diantara lapangan.

"Kok bisa." Pak Budiman heran.
Mereka berlari ke arah Leo.
"Bu Rania bisa tolong pinjam mobilnya
untuk mengantar pak Leo ke klinik.' pak Budiman
bersuara sambil setengah menggoda, pak Kris
menatap bu Rania dan pak Budiman heran.
Mengapa tidak mobilnya saja atau mobil pak
Budiman kenapa harus mobil bu Rania fikir pak
kris. namun pak Kris akhirnya sadar saat tahu pak
Budiman memberi isyarat padanya.

104

Rania yang bingung hanya bisa berkata "
Bisa, pak."

Mereka menuju klinik. Di dalam mobil itu
ada Rania, pak Budiman, pak Kris juga pak Leo.
Yang lain ikut di mobil pak Budiman di belakang
mobil mereka.

Sesampainya di klinik mereka harus
menunggu beberapa saat.

Dan saat mereka melihat pak Budiman
telah terbaring di ranjang kamarnya. kaki kirinya
dibalut dengan perban juga perut sisi kanannya.
Rupanya saat jatuh tadi ada kayu lancip yang
mengenai sedikit lapisan kulit pak Leo.

Mereka berjajar di kamar mewah ruang
perawatan pak Leo.

"kalian tidak jadi berangkat kan ?" tanya
pak Leo.

Namun Rania menjawab. "Jadi dong."
"Kok ?" suara pak Leo menggumam penuh
tanda tanya, yang lain pun menatap bu Rania dan
pak Leo bergantian sambil bingung juga heran
tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

105

"kita tetap jadi berselancar, sebaiknya
segera di panggilkan keluarga pak Leo agar datang
kemari." Jawab Rania memberi keterangan. Pak
Leo menatap Rania heran. Rania mengangguk
tanpa berani menatap lagi, ia mundur perlahan
meninggalkan ruangan pak Leo dirawat.

"Bunda, tunggu." suara pak Leo. Rania
berhenti. Yang lain heran mendengar panggilan
bunda muncul dari bibir pak Leo memanggil bu
Rania.

Bunda ? sebenarnya kak Rania siapanya
pak Leo. Tanya hati Septia heran.

Rania berbalik.
"Kemarilah," Rania mendekat pelan. Yang
lainnya pun mundur agar percakapan mereka
tidak terdengar.
"Tetaplah di sini ayah mohon, .'
"Tidak."
"Bunda,'
"Tidak ayah, maaf ." rania bersuara sangat
lirih seolah ada perasan yang ia tekan. Ia ingat
tujuh hari setelah malam pertamanya dulu. Rania

106

juga terbaring di rumah sakit ini karena sakit yang
sangat parah. Namun Leo tetap pergi ke Bali
bersama istrinya hanya demi menjaga hati
istrinya. Leo hanya berkata "Bunda nggak papa
ayah pergi ?"

Dan sebagai wanita baru dalam
pernikahannya ia hanya bisa bilang iya nggak pa
pa. Leo pergi berselancar dengan istri sahnya,
melewati banyak cerita dan mengirimkan foto
mesra lewat profil whatsapp istrinya. saat itu
Rania merasa sangat sakit.

Ia yang dipinang dengan terhormat harus
melewati episode setragis itu.

Saat sakitnya terasa menyiksa Rania
melalui semua sendiri sedang leo masih
berselanjar di pulau dewata nan indah bersama
istrinya demi membasuh luka dan permohonan
maaf karena menikah lagi. Saat itu Rania ditinggal
i kartu atm berjumlah dua puluh juta untuk
membayar rumah sakit. Tapi uang mereka
berselancar menggunakan uang Rania. sebagai
hadiah agar mereka bahagia.

107

Yang lebih menyakitkan lagi uang dua
puluh juta dan atm nya di pertanyakan lagi oleh
Leo beberapa bulan kemudian hingga kecewa
yang bertumpuk-tumpuk membelenggu hati
Rania. Hati Rania luka. Lukanya masih ada sampai
saat ini.

Saat itu Rania tidak bisa melawan karena
ia hanya sampah namun saat ini ? Maaf Tuhan
telah berkata lain. Saat ini Rania telah muncul
sebagai sosok yang berbeda.

"Bunda jangan pergi."
"Maaf ayah, bunda tetap pergi. Bunda
butuh berselancar dan mencari hiburan"
"Nanti kalau ayah sembuh ayah antar
jalan-jalan." Pak Leo berusaha merayu namun
sayang Rania sibuk memapah hatinya yang sedang
berdarah.
Rania melangkah pergi ketika Leo berkata.
"Ayah disini dengan siapa ?"
"Dengan istrinya ayah." Jawab Rania tegas.
"Bunda kan istrinya ayah." rania pergi
meninggalkan ruangan Jahannam itu menuju

108

lantai bawah. Ia tetap berselancar tanpa
memperdulikan keadaan.

PANTAI BATAKAN PENUH CERITA

Pantai Batakan,
Kaki kaki mereka penuh pasir, berlarian
dalam bahagia, berfoto bersama, ada banyak pose
mereka cipta.
Seperti sebuah lagu dengan lirik-lirik yang
indah, seperti itu perjalanan mereka saat ini.
Aroma kepedihan itu seolah hilang,
mereka semua hanyut dalam oase keindahan.
"Ayo bawa ke tengah."
"Iya, kita bawa ke tengah."
"Ayo cepetan " Septia ditarik oleh kawan
kawan nya ketengah pantai yang sedang
bergelombang.
"Hati-hati dia tidak bisa berenang" Rania
berteriak-teriak agar yang lain membatalkan
membawa Septia ke tengah.

109

Namun apa yang diucapkan Rania diikuti
dengan gelak tawa oleh yang lain.

Mereka bergulung-gulung dengan ceria.
Di ujung sana Budiman mengabadikan
setiap momentum perjalanan mereka.
Diantara aktifitasnya Budiman sering
mengarahkan video nya pada Rania. Rania yang
mengusik kisi-kisi tanya dalam hatinya yang
menggelinding.
Bukan tentang dirinya sedang jatuh cinta
pada pemilik nama lima huruf itu tapi karena ada
tanya besar yang belum berhasil Budiman jawab.
Rania.
Wanita cantik dan berwawasan luas itu,
kenapa bisa terjebak pada pernikahan
yang menggantung bersama dengan Leo.
Leo kawan seprofesi yang ia kenal sering
menebar cinta pada banyak wanita.
Pertanyaan yang banyak dalam hati
Budiman, ingin sekali ia lontarkan pada Rania.
Namun Budiman sedang mencari saat yang tepat.
"Hoi, melamun apa pak "

110

"Nggak melamun kok"
"Bohong"
"Bapak berbohong, wajah bapak jelas
nampak melamun memikirkan sesuatu."
"Tidak Rif, sudah sana nanti Septia mu
diambil orang lho."
"Nggak ah, Septia sedang asyik dengan
kawan-kawannya." Usai berkata begitu Arif malah
mengambil posisi duduk di dekat Budiman.
Pak Budiman,
dosen yang satu ini memang unik.
Sikapnya yang menjadi kawan bagi semua
mahasiswa membuat ia menjadi di sayang banyak
orang.
Disamping itu pak Budiman sangat
amanah. Jadi semua orang merasa nyaman
bercerita padanya. Tidak akan mungkin cerita
yang kita amanah kan sampai bocor pada orang
lain.
"Bu Rania kayak Arumi istri wakil
gubernur Jatim ya pak" pak Budiman tertawa

111

terbahak bahak mendengar apa yang diucapkan
Arifin.

Sampai tubuh nya bergerak-gerak
sangking kerasnya tertawa.

"Cantik iya, tapi nggak usah disamakan
dengan artis Rif, kamu ada ada saja."

"Beneran mirip pak, wajahnya putih,
matanya lebar, bulu matanya lentik."

"Iya iya. Sudah nggak usah dibahas"
Rania dan kawan-kawan yang lain
mendekat saat Arifin justru akan bicara tentang
Rania, cepat-cepat Budiman menutup bibir Arifin
agar kalimatnya tidak terdengar.
Arifin terkejut saat melihat jemari pak
Budiman dibibir nya, terkejut lagi saat tahu bahwa
Rania dan kawan kawan yang lain sudah ada
diantara mereka.
"Baju kalian basah lho."
"Iya, ini mau ganti dulu"
"Bu Rania bawa baju ganti?" tanya Arifin
sok peduli, Budiman tersenyum di kulum.

112

"Pak Budiman bawa baju ganti dimobil
nya, bu. Kan bu Rania tadi belum sempat pulang
untuk mengambil baju."

"Iya, bu Rania tadi dari kampus langsung
rumah sakit mengantar pak Leo langsung
berkeliling mengantar kami."

"Gak usah lah, saya pakai ini saja" Bu Rani
menunjuk bajunya yang setengah basah.

"Nanti ibu sakit bu, pakai vbaju atasan pak
Budiman saja, bawahannya pinjam Septia."

Budiman tercengang mendengar apa yang
disampaikan Arifin. Ngawur sekali.

"Pak pinjam bajunya dong buat bu Rani."
Arifin makin gila.

Arifin memandang Septia, Septia yang
faham kelakuan kekasihnya ikut ikutan
menggoda.

"Iyalah pak pinjam bajunya buat bu Rani,
kasihan kan,pak."

Rania jadi makin bingung dengan kawan
kawannya kenapa semangat sekali menggoda
dirinya dan pak Budiman.

113

"Sudah sudah, nggak usah sibuk saya pakai

ini saja" Rania tiba tiba berkata sambil membuka

kotak kue yang ia beli berisi aneka kue basah

untuk kawan-kawannya."

Budiman turun dari tempat duduknya,

membuka mobil dan mengambil baju atasan

lengan panjang yang ada dimobil nya.

Teman-teman berbisik-bisik

membicarakan pak Budiman dengan sifat tidak

tega yang sering mengumpul dalam dirinya.

Pak Budiman memberikan kemeja warna

merah hati berlengan panjang pada Rania.

Rania menerima kemeja tersebut sambil

tercengang.

Teman yang lain tersenyum memandang

adegan romantis yang berjalan didepan mereka.

Saat Rania dan kawan-kawan wanitanya

pergi meninggalkan mereka, para lelaki pun

berghibah.

"Saya pernah baca diakun medsos pak,

wanita itu sederhana yang rumit itu moodnya juga

rindunya"

114

"Cie..kayak pujangga."
"Terus maksudnya apa?" tanya Budiman
pada Arifin dan yang lain.
"Maksudnya itu kalau sampai hari ini
bapak masih sendiri, berarti bapak yang kurang
bisa memahami"
Suara Arya sambil memukul mukul
ranting yang tadi ia pegang pada kakinya sendiri.
"Ach, apa yang kalian sampaikan itu tidak
mendasar!" sanggah pak Budiman pada
mahasiswanya.
"Terus yang mendasar bagaimana, pak?"
"Yang mendasar itu memakan donat ini
sambil membayangkan yang membelikan." Pak
Budiman berkelakar.
"Waaaaa" panjang sekali mereka
menanggapi apa yang baru saja dikatakan
Budiman.
"Jangan-jangan pak Budiman memang
naksir bu Rania nih"
"Aku naksir juga, sayangnya bu Rania yang
gak naksir aku."

115

"Ya secara beliau cantik, pinter,
berpendidikan, kaya pula. Hanya lelaki bodoh
yang menolak beliau"

Semua mengangguk anggukkan kepala
pertanda setuju.

"Jadi fix nih, bu Rania dengan siapa?"
"Pak Budiman...." kompak mereka bicara.
Pak Budiman hanya diam, tanpa senyum
dan tanpa kata.
Ia pandangi pasir pantai berserakan
sebagai bukti kuasa Tuhan, ombak yang sesekali
datang menerpa tepian pantai dan menarik
pasirnya hingga berpendar pendar, saling
terpencar.
Seperti juga juga hidup, adakalanya
ditaqdirkan untuk jalan bersama dan adakalanya
berpisah pada taqdir Nya masing-masing.
Mereka yang tadi berganti pakaian telah
datang, kini jumlahnya mereka lengkap 13 orang.
Tiga belas es degan terhidang. Mereka
duduk melingkar menunggu matahari terbenam
dan malam datang.

116

Yeah, pantai memang selalu indah untuk
dinikmati .

Rania menggumam diantara riuh suara
kawan-kawan.

Seperti juga indahnya melihat
pemandangan kala tiga puluh panggilan tak
terjawab dari Leo di ponselnya.

Leo harus tahu bahwa diabaikan itu sakit.
Ini hari ke dua mereka berada di sini, di
Pantai Batakan yang penuh cerita.
Untuk mencapai Pantai Batakan dari Kota
Banjarmasin relatif mudah karena kondisi
jalannya cukup baik ,berkelak-kelok dan turun-
naik serta menyajikan pemandangan alam yang
indah berupa barisan perbukitan yang menghijau,
hamparan persawahan yang menguning, serta
perkampungan nelayan yang berada di tepi
pantai. Sebelah timurnya terdapat perbukitan
pinus yang menjadi bagian dari Pegunungan
Meratus.
Tidak jauh sebelum gapura yang menandai
pintu masuk kedalam Pantai Batakan, terdapat

117

sebuah tugu yang terletak ditengah jalan. Tugu ini
membelah jalan menuju Pantai Batakan menjadi
dua. Sementara gapura itu sendiri nampak tidak
terawat dan dibiarkan kosong tanpa penjaga. Ada
pos lagi ketika sudah masuk melewati gapura. Pos
ini nampak lebih terawat dan juga dijadikan
sebagai tempat untuk membayar tiket masuk
Pantai Batakan.

Indahnya saat matahari terbenam, lebih
indah lagi saat menikmatinya dari tepi pantai.

Seperti hari ini.
Pak Budiman duduk melingkar bersama
para mahasiswa nya, bercerita tentang banyak hal.
Karena selain cerdas, mengayomi dan
berbudi, pak Budiman termasuk seseorang yang
berwawasan luas, sehingga beliau layak dikagumi.
Satu persatu pergi dari percakapan
mereka karena malam semakin larut.
Tinggal Rania dan pak Budiman berdua
saja. Angin pantai yang semilir. Suasana pantai
tengah malam, semakin membuat teduh suasana.

118

"Bu Rani ndak istirahat?" tanya pak
Budiman.

"Belum ingin, pak" suara bu Rania
menjawab.

"Disini dingin lho"
"Iya pak, kalau bapak hendak istirahat
silahkan saja."
"Ndak papa bu, belum ingin juga."
Mereka sepakat untuk tidak menyewa
cottage tapi tidur dimobil, bukan karena tidak
punya uang tapi semata karena ingin menikmati
kebersamaan.
Bu Rani asyik dengan hp nya dan pak
Budiman pun demikian. Hingga pak Budiman
membuka percakapan.
"Bu Rani saya boleh nanya,"
"Boleh pak, ingin nanya apa?"
"Apa benar sampai saat ini bu Rani masih
jadi istri pak Leo?" sangat hati hati Budiman
bertanya agar bu Rani tidak tersinggung. Diluar
dugaan bu Rani tersenyum.

119

"Kata orang sih begitu" Bu Rani bicara
sambil memonyongkan bibir tipisnya yang
berwarna merah muda pak Budiman sebenarnya
ingin tertawa namun ia berusaha menahannya.

"Kok kata orang bu?"
"Iya kata orang kami masih suami istri,
tapi kalau kata saya sih enggak."
"Bisa begitu ya bu?"
Bu Rani hanya mengangguk angguk kan
kepala.
"Masalahnya karena pihak suami tidak
mengeluarkan talak jadi saya belum bercerai lha
menurut saya sudah cerai karena selama ini saya
tidak di nafkahi lahir batin."
"Berapa lama pisahnya bu?"
"Lima tahun". Pak Budiman diam, ia
sendiri belum tahi kebenaran dari hukuman kasus
ini bagaimana, tapi kasus ini menarik untuk di kaji
dan dibahas.
Mereka berdua kembali diam hingga pak
Budiman angkat bicara lagi.

120

"Harusnya ibu dan pak Leo bertemu
kemudian ada pihak ke tiga yang mendamaikan
dan fihak ke tiga itu harus orang yang mengerti
tentang kasus ini"

Pak Budiman bicara seolah pada dirinya
sendiri.

"Yang mengalami kasus seperti saya
pastinya sudah banyak pak dan mereka tidak tahu
dititik mana kasus mereka harus dihukumi."

"Iya, bu" mereka menerawang, membuang
pandangan pada alam, pada gugusan ombak yang
bergulung, pada gemintang yang bertebaran.
Mereka seolah ingin sekali bicara bahwa ada
banyak masalah yang harus dipecahkan.

Ada banyak orang yang butuh
diperjuangkan. Mestinya orang-orang pintar
bertanggung jawab untuk ini. Tapi sayang,
pelakunya justru bagian dari orang orang itu
sendiri.

"Kalau bu Rani pacar saya, saya pasti
kawani menemui pak Leo."

121

"Kalau begitu kita pacaran saja." Jawab
Rania cepat.

Pak Budiman melotot terkejut, Rania
menyadari kesalahannya sembari memohon maaf.

"Maaf kan saya, pak" Rania memohon,
tampak sekali ia menyesal. Kemudian pak
Budiman berkata .

"Tapi saran bu Rani ada benarnya juga,
kita akan sebarkan cerita bahwa mulai malam ini
kita pacaran."

"Tujuannya pak?"
"Memancing pak Leo agar menegur saya,
bu."
"Kemudian?"
"Kalau beliau menegur saya tentang
hubungan kita baru akan saya minta talak beliau
untuk ibu Rani."
Rania mengangguk sepakat.
"Tapi sebentar, bu Rani serius minta cerai
pada pak Leo?"
"Maksudnya?"Tanya Rania tak mengerti.

122

"Maksudnya apa bu Rani serius tidak ingin
kembali pada pak Leo?"

"Serius lah pak, kalau tidak serius ngapain
juga saya capek capek mengulang kuliah lagi."

"Oh...begitu." Dan mereka pun tertawa.
Pantai Batakan menjadi saksi perjanjian
mereka hari ini. Begitulah seharusnya orang
dewasa berbuat. Orang dewasa akan tahu
meletakkan diri sesuai porsi, tidak berlebihan dan
tidak juga mengurangi. Kemudian menepati janji
tersebut.
Orang-orang yang hanya berani mengukir
janji tanpa menepati hanya akan mengotori nama
baik mereka saja dan itu memalukan.
Hari ini pak Budiman telah membuktikan
bahwa dirinya siap berkomitmen dengan bu Rani
serta menepati komitmen mereka dengan baik.
Apapun resiko yang akan terjadi di depan nanti
mereka telah siap menghadapi.
"Bu Rania," panggil pak Budiman lembut,
memecah hening yang mengunang diantara api
unggun dan percikan air ombak pantai.

123

"Iya pak, ada apa?"
"Kalau nanti Septia tanya jangan ceritakan
apapun tentang perjanjian kita ya."
"Siap pak."
"Hanya kita berdua yang tahu tentang
rencana ini bu, jangan sampai bocor pada yang
lain."
"InsyaAllah ya pa, terimakasih."
"Terimakasih untuk apa, bu ?"
"Terimakasih sudah mau perduli pada
saya, " Rania berkaca-kaca.
Rania berdiri, meninggalkan Budiman
seorang diri menuju mobilnya dan menyudahi
perjanjian mereka.
Budiman melempar pandang pada pantai.
Ia merasa iba pada Rania, andai saja dirinya
seorang milyader ia akan menghibahkan uangnya
untuk menolong wanita-wanita di luar sana agar
terbebas dari jerat lelaki tak bertanggung jawab.
Budiman meradang, semoga tak ada lagi
cerita seperti Rania bertahta di telinganya.
Ia sangat berharap.

124

MELANJUTKAN CERITA INDAH

"Hai..ada matahari terbit..." teriak Septia
dari dalam mobil sambil menunjuk lingkaran
besar dengan kemilau oranye yang menyembul
dari ujung pantai. Indah nian kuasa Tuhan
membuat takjub semua yang memandang.

Sebagai teman lelaki sudah menggelar alas
untuk sholat subuh berjamaah ditepi pantai.
Momen yang tidak akan terlupakan. Ketika
rangkaian ayat Allah dibacakan diantara debur
ombak pantai.

Keindahan yang demikian menggoda,
maka nikmat tuhan yang mana lagi yang engkau
dustakan?

Kami semua turun bersiap untuk
menikmati sarapan pagi sudah kami pesan
diwarung yang berada ditepian pantai. Ikan bakar
dan daun singkong, juga daun pepaya rebus
ditambah sambal, makannya ditepi pantai.

Uhuu, eksotik sekali. Saat semua duduk
melingkar, tiba tiba pak Budiman bangkit dan

125

memilih duduk disamping Rania. Rania sontak
terkejut.

"Mau duduk dekat pacar baru," ucapnya.
"Apa?" semua yang mendengar memekik
histeris
"Sejak kapan?" Tanya Arifin dengan mulut
penuh makanan.
"Tadi malam" jawab pak Budiman santai.
Semua yang mendengar saling
berpandangan. Ada takjub di mata mereka, hingga
Septia pun bertanya
"Beneran?"
"Iya" Rania menjawab sambil menunduk,
bila tidak begitu ia khawatir kebohongan
dimatanya akan nampak.
Dirinya dan Septia memang baru kenal
tapi persaudaraan diantara mereka sangat erat
tak terpisahkan hingga menjadi tidak mungkin
Rania membohongi Septia. Namun ia ingat pesan
pak Budiman semalam untuk tidak menyatakan
kebenaran meskupun dihadapan Septia.

126

Mereka sedang berpura pura menjadi
sepasang kekasih agar pak Budiman mempunyai
legalitas untuk duduk berjajar bersama pak Leo
demi membicarakan status Rania. Mereka berdua
sedang memasang perangkap agar mangsa
tertangkap dan untuk itu diperlukan ke hati-
hatian dalam bersikap agar tidak menimbulkan
kecurigaan.

Kali ini Rania tidak boleh gagal, ia harus
berhasil membawa pak Leo masuk dalam
perangkapnya. Harus.

"Kamu yang bawa mobil bu Rania" ucap
pak Budiman pada Arifin yang masih merasa tidak
percaya pak Budiman da Rania bisa jadian secepat
itu.

Tadi malam saat dirinya dan teman
temannya tidur pak Budiman dan bu Rania
membuat komitmen. Apa mungkin?

"Hallo, Rif" suara pak Budiman
mengagetkan Arifin. Arifin benar benar terpana.

"Oh, iya pak. Siap." jawab Arifin mendadak
gagap.

127

"Septia tetap di mobil bu Rani, biar bu Rani
duduk dekat saya." pak Budiman bicara sambil
menyentuh telinga Arifin sedikit berbisik.

Kontan Arifin terkesima, tumben pak
Budiman genit. Biasanya beliau orang yang cuek
dan biasa biasa saja, apakah ini efek jatuh cinta?
Arifin menggeleng-gelengkan kepala heran.
Mereka pun sepakat meninggalkan pantai
Batakan yang penuh cerita.

Rania duduk disamping pak Budiman
bersama teman-teman yang lain dibelakang.
Canda candaan lucu keluar dari mulut mereka.

"Serius ya pak Budiman dengan kak Rani?"
tanya Septia di mobil yang ia naiki.

"Sepertinya begitu." jawaban dari bangku
belakang pun muncul.

"Semoga saja kak Rania tidak dibuat sakit
hati lagi" Septia berbicara seolah pada dirinya
sendiri.

"Kalau ada dosen pernah bikin bu Rania
sakit hati , itu namanya oknum, say. Seperto juga
insinyur, polisi, guru, tukang bangunan dan para

128

lelaki yang lain yang baik banyak banget yang
buruk dan tidak berperasaan juga ada. Itu yang
dilanggil oknum."

"Nah betul kamu Ratih, jempol" jawab
Arifin sambil tetap mengemudikan mobilnya.

"Seperti juga lelaki disamping mu Septia,
kita tidak tahu dia baik atau buruk, hanya
perjalanan waktu yang akan menjawab.

"Dan bila hari ini bu Rania pernah di sakiti
oleh seorang dosen seperti pak Leo bukan berarti
dosen yang lain juga memiliki karakter yang
sama."

"Kok, jadi aku sih." Arifin berteriak
membuat semua terbahak bahak.

"Tapi itu fakta Septia, seseorang bisa
dikatakan baik atau tidak , jujur atau pembohong
justru setelah kita melewati banyak sekali
perjalanan. Setelah melewati susah dan senang."
Arifin berkata sambil menepuk-nepuk paha
Septia.

"Tapi sepanjang pengetahuanku pak
Budiman orang baik dan bertanggung jawab kok."

129

Arifin menambahkan yang di sambut dengan
kalimat.

"Huuu dasar seperguruan pasti membela."
"Uy pak sopir kalau ngomong gak usah
pakai nepuk-nepuk paha dong." suara dari
belakang tetiba muncul.
"Kesempatan bro," ucap Arifin sambil
matanya menengok kaca spion.
Perjalanan yang indah membuat aura
kebahagian keluar dari jiwa mereka. Tanpa
mereka sadari, nanti setibanya di kampus mereka
mempunyai tugas baru.
"Menjadi saksi antara hubungan pak
Budiman dan Rania"
Pertanyaan akan banyak datang di redaksi
mereka .
Pak Budiman, Rania juga teman-teman
yang lain pun bercanda ria di mobil mereka. Masih
seputar topik hubungan antara pak Budiman
dengan Rania. Melintasi jalanan berkelok dan
mendaki bersama dengan teman-teman
seperjuangan adalah hal terindah dalam hidup.

130

Bisa berbagi tawa juga canda, kejadian ini tidak
akan bisa terulang itulah mengapa mereka yang
faham akan sangat menghargai waktu dan
kesempatan. Karena sekali waktu berjalan ia akan
menjadi kenangan. Kita tak mungkin dapat
melaluinya lagi.

Di Pelabuhan Tanjung Serdang,
Mereka turun dari mobil untuk berpose,
aneka gaya dan gerakan. Diantara angin kencang
yang mengibarkan jilbab juga rambut mereka.
Mereka melempar senyum dan tawa, seolah hanya
mereka yang berada di dalam kapal fery ini.
Ada pose berdua ada juga pose bersama-
sama. Pak Budiman mendekati Rania.
"Ini saja yang dipake status WA ya"
Rania melihat sekilas kemudian
mengangguk setuju. Status whatsApp mereka
berdua sama.
Mereka sengaja melakukannya untuk
memancing tanya. Pak Budiman sangat yakin pak
Leo koleganya akan segera menanyainya tentang

131

hubungan antara dirinya dengan Rania. Pasti itu
karena begitulah tipikal beliau.

Benar ternyata, beberapa menit kemudian
pak Leo menghubungi Rania. Namun sayangnya
Rani tidak ingin menjawabnya.

"Bunda, dimana?"
"Sudah mau pulang kan, sayang?"
"Bunda, tolong balas pesan ayah."
Pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas,
seperti yang sering pak Leo lakukan padanya.
Dulu.
****
Rombongan Rania dan kawan-kawan telah
tiba di rumah masing-masing.
Rania pun telah rebah di kamar indahnya.
Ia juga sudah menghubungi tukang pijat lulur yang
biasa ia panggil. Tubuhnya letih sekali dan butuh
perawatan.
Sejak Rania mempunyai banyak uang ia
rajin sekali merawat tubuh dan wajah nya. Untuk
apa uang banyak bila tubuh kurus kering dan
wajah dekil.

132

"Bunda, sudah tiba di rumah?" Aduh, pak
Leo lagi.

Hobi sekali ia menghubungi Rania akhir-
akhir ini. Lalu kemarin ia dimana?

Kemarin ia kemana ?
Jangan kan untuk menghubungi berkali-
kali bertanya kabar setahun sekali pun tidak
pernah pak Leo lakukan.
Kenapa sekarang jadi rajin ?" Rania
mendadak bingung.
"Bunda, kenapa hanya di baca ?"
"Bunda tolong jawab satu kali saja bunda
dimana?"
Pak Leo masih mengetik pesan di
WhatsApp nya namun Rania sudah terlelap tidur.
Keesokan paginya.
Rania bangun dengan rasa malas yang
tumpang tindih. Seluruh persendiannya terasa
ngilu. Andai tak ingat bahwa sholat adalah
kebutuhannya pada Tuhan mungkin saat ini Rania
memilih tidur.

133

Namun bagaimana pun, sholat adalah
jawaban bahwa sebagai hamba ia butuh Tuhan
Nya itu sebabnya ia lebih memilih untuk
membuka mata dan bergegas bangkit. Rania
masih ingat pesan ibunda, bahwa sholat dua
rakaat sebelum subuh itu jauh lebih baik dari
dunia dan seisinya.

Tidak ada alasan bagi Rania bermalas-
malasan.

Usai subuh tiba, Rania kembali pada
ranjang empuk dan alas nya yang berbau harum.

Sambil menunggu ibu pijat yang janji akan
datang.

"Bunda sayang hari ini ayah sudah bisa
pulang dari rumah sakit."

"Besok ayah akan ke kampus atau ke
rumah mencari bunda, kita perlu bicara baik-baik
ya sayang."

Iya in sajalah. Begitu gumam Rania.
"Kak Rani hari ini nggak ke kampus?"
"Kayaknya enggak Septia."

134

"Oh ya sudah, kirain kangen dengan pak
Budiman jadi memilih ke Kampus."

Rania diam, memikirkan kalimat yang
baru saja diucapkan Septia.

"Kangen dengan pak Budiman" Oh Tuhan,
Rania sampai lupa bahwa dirinya terikat kontrak
cinta bohong-bohongan dengan pak Budiman.

Hampir saja ia tertangkap basah dengan
kebohongannya.

"Hallo kak, kenapa diam?"
"Oh iya Septia, aku nggak ke kampus. Kalau
nanti Septia ke kampus dan bertemu pak
Budiman, titip salam ya." Hanya itu kalimat yang
bisa Rania tulis diantara kalimat lain yang
mestinya lebih layak Rania tuliskan.
"Oke kak Rania, selamat berlibur dan
memanjakan diri ya."
"Trims, Septia."
Hingga kami pun saling mengirim
emoticon penutup perbincangan.
Sore itu,

135

ketika adzan ashar usai berkumandang.
Seseorang datang memencet bel pagar rumah
Rania.

Beruntung Rania telah selesai sholat ashar
dan mandi.

Setelah terapi pijat lulur tadi tubuhnya
terasa sedikit segar.

"Siapa ?" tanya Rania pada pembantu nya.
"Bapak yang tempo hari itu, ibu."
"Yang mana ?"
"Bapak dosen yang bila datang sering
membuat ibu menangis."
Rania mengernyitkan dahi, lalu membuka
tirai pembatas antara ruang tengah dengan ruang
tamu nya.
"Oh, pak Leo"
"Namanya pak Leo ya, Bu ?"
"Iya."
"Disuruh masuk ya, Bu ?"
"Iya, silahkan saja."
Pak Leo masuk, setengah berlari menuju
ruang tamu Rania.

136

Rania menjumpai pak Leo dengan baju
santai dan jilbab.

Mereka terdiam, hanya gemericik suara air
di aquarium yang menjadi nada pertemuan
mereka sore ini.

"Ada apa ?"
Tanya Rania pada pak Leo, yang di tanya
diam tidak menjawab.
"Ada apa ?" Ia bertanya lagi. Hening sesaat.
"Ayah tadi ke kampus, ayah pikir bunda
sudah di kampus." Pak Leo bicara.
"Ayah nggak melihat bunda tapi bertemu
Septia teman dekat bunda." Pak Leo memberi
penjelasan.
Oh rupanya Septia ke kamus, dasar wanita
satu ini tidak betah kayaknya untuk nggak ketemu
Arifin meski sedetik.
"Ayah kaget dengar kabar dari Septia itu
sebabnya ayah ke sini."
"Kabar apa ?" Tanya Rania sedikit
menyelidik. Rania masih bersikap biasa. Rasa

137

ingin tahu nya tak terlalu ia umbar toh nanti bisa
bertanya langsung pada Septia.

"Bunda,"
"Iya, ada apa ?"
"Bunda beneran pacaran dengan pak
Budiman ?"
Oh, God. Septia cepat sekali
menyampaikan kabar ini. Bukankah seharusnya
Septia bilang dulu padanya. Aduh Septia ....
Rania mengagumi kehebatan teman
dekatnya, Septia.
"Bunda,"
"Iya"
"Bunda jujur saja pada ayah."
Ya Tuhan, kalau aku belum menjawab
bukan berarti aku ingin berkilah dari mu, Pak Leo
yang manis. Suara batin Rania mentertawakan ini
semua.
"Iya, memang benar ayah." Akhirnya Rania
angkat bicara. Mengeluarkan sebuah pernyataan
sebagai jawaban atas pertanyaan pak Leo.

138

"Sejak kapan bunda ?" Pak Leo bertanya
lagi.

"Sejak kemarin di pantai Batakan." Rania
memberi penjelasan.

"Bunda seharusnya tidak melakukan ini. "
"Lho kenapa ?"
"Bunda masih terikat pernikahan dengan
ayah. Kita belum bercerai bunda."
Huft, andai tidak ingat tentang hukum
pasti hari ini juga meja kaca di depan Rania sudah
berpindah ke wajah laki-laki di depannya.
'Masih terikat pernikahan?' artinya masih
suami ? begitu kah ?
Lalu suami mana yang tidak memberi
nafkah pada istrinya selama lima tahun ?
Suami mana yang membiarkan istrinya
menanggung semua kepahitan seorang diri ?
Suami mana yang membiarkan istrinya
tanpa bimbingan agama?
Suami mana yang membiarkan istrinya
keluar masuk whatsApp kawan-kawannya bila

139

lapar melanda dan ia sudah tidak punya jalan
keluar ?

Suami mana yang tega membiarkan
istrinya membawa amplop berisi lamaran
pekerjaan dari satu kantor ke kantor yang lain ?

Suami mana yang tega membiarkan
istrinya meratapi sakit yang melanda anaknya
sedang dia sendiri tidak berdaya ?

Suami mana yang membiarkan istrinya
menangis tersedu-sedu tanpa tangan kekar yang
memberinya kekuatan saat putranya menghadap
yang Maha Kuasa?

Suami mana yang membiarkan istrinya
menahan perih di pemakaman putranya ?

Suami mana yang tega melakukan semua
itu sedang dirinya berada dalam gelimang harta ?

Suami mana yang tega melakukan semua
itu hanya karena takut pada istri yang lain ?

Yang bisa melakukan semua itu hanya
Lelaki 'Jadah' yang tidak pantas di beri gelar
terhormat dengan sebutan SUAMI.

140

Karena suami itu pembawa kunci sorga
dan pembawa kunci sorga bukanlah lelaki
jahanam

Karena tidak ada daftar nama Jahanam
dalam deretan nama indah sorga.

Hati Rania berdarah.
Luka yang mengering namun bernanah itu
kulitnya mengelupas membuat luka baru yang
teramat pedih.
"Pak Leo bisa pulang sekarang." Usir Rania
geram.
"Kita masih belum selesai bicara bunda"
Suara Pak Leo mulai meninggi.
"Jangan meninggikan suara disini, Pak."
"Bunda pasti sudah terpengaruh pak
Budiman, besok ayah akan datangi pak Budiman
untuk bicara."
"Aku sedang tidak terpengaruh siapapun,
ayah sayang. Aku sedang terpengaruh iblis. Jadi
sebelum aku semakin kalap aku minta ayah K E L
U A R.!!!"

141

Rania menahan gejolak hatinya yang
meletup-letup.

Pak Leo bangkit memandang Rania lekat.
Lalu melewati pintu rumah dan pergi.

Rania membanting pintu itu dengan
sangat keras hingga jendela kaca di samping pintu
itu bergetar.

Rania terdiam, ia duduk dilantai
dibelakang pintu ruang tamunya. Ia menangis,
menangis begitu dalam.

Andai ada hukum dunia yang memuat
tentang perlindungan pada wanita. Andai saat ini
ia adalah wanita kaya raya. Andai ia memiliki
kekuatan. Ia pasti akan menuntut keadilan pada
pakar-pakar hukum yang sering sekali
memperdebatkan tentang ilmu-ilmu hukum di
acara-acara seminar. Agar kasusnya di bahas.
Secara hukum agama dan negara, sudah jatuh kah
talak pada dirinya bila menelaah kasusnya. Agar
tidak ada wanita malang yang mengalami nasib
serupa seperti dirinya.

142

Namun sayang, hari ini Rania belum
menjadi siapa-siapa.

Rania hanya bisa menuntut keadilan di
Padang Mahsyar kelak.

Keadilan dari Tuhan Nya.
Tuhan yang selalu membisikkan damai
pada tiap Firman-nya.
"Selalu ada hadiah bagi orang-orang yang
sabar."
Percayalah.

143

PENJELASAN LELAKI

Kejadian kemarin demikian menyakiti hati
Rania, air mata yang sempat mengalir membuat
matanya bengkak. Rania masih ingat bagaimana
Leo bicara seperti malaikat semalam. Rania masih
ingat satu kalimat.

"Bunda masih istri ayah sampai hari ini."
Rania sulit membuka lebar matanya akibat
gumpalan yang menggantung di kelopak mata.
Dua pembantunya sudah berkomentar
agar Rania tidak perlu membuka pintu bila dosen
yang semalam datang lagi.
Rania hanya diam tanpa menjelaskan
apapun.
Rania masih enggan bercerita. Terlebih
cerita tentang Leo.
Di Kampus pagi ini.
"Bisa tolong temui saya di ruangan ?"
pesan masuk dari pak Leo di whatsApp pak
Budiman.

144

Pak Budiman membacanya sekilas namun
tak segera menjawab.

Ini baru permulaan pak Leo, bisik pak
Budiman cepat.

Akan ada episode-episode cantik setelah
ini. Ini baru bunga rampai belum masuk pada
pendahuluan apalagi isi dan kesimpulan. Gumam
pak Budiman dari dalam hatinya.

"Pak, bisa tolong temui saya di ruangan?"
Pak Leo mengirim pesan untuk kedua kalinya
dengan bahasa yang sama.

"Bisa."
"Terimakasih, Pak."
"Oke."
Pak Budiman hanya menjawab singkat.
Pak Budiman tahu kali ini pak Leo pasti ingin
membicarakan tentang Rania dan hubungannya
dengan dirinya. Pak Budiman tersenyum sinis.
Cepat sekali berita ini menyebar, siapa pahlawan
yang sudah membuat viral ? Andai aku tahu aku
akan mengucapkan terimakasih padanya.

145

Usai bersiap berangkat ke kampus pak
Budiman pun mengendarai mobilnya. Baju atasan
warna merah hati dengan celana kain berwarna
hitam menambah modis penampilannya.

Santai sekali pak Budiman mengendarai
mobilnya.

Ketika pak Budiman telah sampai di
kampus, ia parkir mobil di tempat yang tepat.

Menyusuri tangga biru pak Budiman
menemui pak Leo di ruangannya. Setibanya
disana, tanpa mengetuk pintu pak Budiman telah
masuk dan duduk tepat di depan pak Leo.

Pak Budiman menatap pak Leo sekilas
sambil berkata,

"Untuk apa memanggil saya,Pak?" tanya
pak Budiman masih datar.

"Saya ingin bertanya tentang Rania"
Pak Budiman masih menanggapinya datar.
"Oh Rania yang pacar saya?"
"Jadi benar bapak pacaran dengan Rania ?"
"Iya, benar pak."
"Sejak kapan ?"

146

"Sejak di pantai Batakan."
"Pak Budiman serius ?"
"Sangat serius."
"Saya ingin memberi tahu pak Budiman
sesuatu yang mungkin tidak pernah diceritakan
Rania."
"Apa itu, Pak?" Pak Budiman mulai
memasang tampang serius.
"Rania istri saya, pak. Kami belum
bercerai." Tandas pak Leo akhirnya.
Pak Budiman pura-pura tersedak saat
meminum air mineral gelas yang ada di atas meja
Pak Leo.
"Pak Budiman belum tahu kan ?"
Pak Budiman menggeleng.
Pak Leo tersenyum, kemudian bicara lagi.
Ia mulai merasa menang.
"Rania punya banyak kesalahan di masa
lalu terhadap saya, itu sebabnya dia pergi tanpa
pamit pada saya. Mungkin dia malu. Saya
mengetahui semua kebohongannya. Saya sengaja
tidak menghubunginya agar dia tahu kemarahan

147

saya. Padahal setelah kepergiannya saya selalu
berdoa agar dia kembali pada saya. Saya sudah
memaafkannya,Pak."

"Begitu ya ?"
"Iya pernah membohongi saya Pak, selama
menikah satu tahun dengan saya dia
menghabiskan uang dua puluh juta di ATM milik
saya Pak. Padahal kami baru menikah sekitar
hampir satu tahun, awalnya saya
mengamanahkan uang itu untuk pembayaran
rumah sakit. Rumah sakit hanya habis sekitar tiga
juta an sisanya digunakan Rania untuk beli
perabotan rumah dan belanja, begitu
pengakuannya."
"Padahal selama itu Pak Leo sudah
memberi nafkah ya Pak?"
"Tidak Pak, saya stop memberi nafkah
sejak kejadian itu."
"O"
Pak Budiman mengompres hatinya
dengan kain tanpa waslap. Ia muak dengan laki-
laki di depannya namun tetap berusaha tenang.

148

Seorang istri muda menghabiskan uang tujuh
belas juta untuk makan dan beli perabot dia
mengatakan istrinya pembohong. Dasar buaya
kelas teri. Mungkin dia tidak pernah tahu harga
seorang pelacur di luar sana hingga dia
mengatakan istri yang diamanahkan Tuhan
sebagai istri pembohong hanya karena
menghabiskan seujung kuku dari uangnya.

Pak Budiman masih mengangguk seperti
sepakat.

Beliau menahan geram yang ada di hatinya
demi memuluskan rencana beliau selanjutnya.

Yang penting musuh telah sampai pada
perangkap.

"Oke, saya sudah dengar semua cerita
bapak, saya permisi dulu."

"Jadi kapan bapak akan meninggalkan
Rania ?"

Pak Budiman menjabat lengan Pak Leo
kemudian menepuk-nepuk bahunya dan segera
pergi sambil meninggalkan senyum yang tadi
sempat ia kulum.

149

"Saya permisi dulu Pak"
"Pak Budiman mau mengajar ?"
"Tidak, Pak. Saya ada janji dengan Rania di
rumahnya."
"Tolong hargai saya sebagai suami Rania,
Pak." Pak Leo mulai mengeluarkan jurus mautnya.
Menggunakan kata "suami" sebagai pedang
beracun.
"Saya akan tanyakan semua cerita Pak Leo
pada Rania, saya wajib konfirmasi sekaligus
klarifikasi dong, Pak. Bahasa kerennya 'tabayun'.
He he he." Pak Budiman berkelakar.
Pak Budiman menjauh dari ruangan Pak
Leo, ia membuang nafas yang sedari tadi ia tahan
dan memenuhi rongga dadanya. Sebagai sesama
lelaki Pak Budiman gerah dengan Pak Leo. Ingin
sekali ia memberikan kepalan lima jarinya di
ujung dahi Pak Leo namun cara itu tidak elegan.
Sebagai seorang akademisi ia akan
menyadarkan Pak Leo dengan cara yang lebih
cantik, agar Pak Leo tahu apa itu rasa sakit.

150


Click to View FlipBook Version