Itulah mengapa saat bersama Leo ia pun
tak bisa melancarkan serangan begitu rupa untuk
mendapatkan harta.
Ia pun tidak ingin merampas hak istri Leo.
Jatah hari yang sudah ditentukan ia lewati dengan
apa adanya.
Hingga beberapa kali saat giliran Leo
berada di rumahnya, istri Leo kerap kali memberi
tugas yang menjengkelkan.
Awalnya Rania biasa saja namun makin
lama makin menjengkelkan saja.
"Pa, papa nanti tolong jemput Bunga ya
karena mama nggak bisa langsung pulang setelah
dari kantor." Bunga anak ke tiga Leo yang saat itu
masih berusia empat tahun. Saat Leo meminta ijin
ia tak mungkin tidak mengijinkan, padahal jarak
antara rumah Rania ke sekolah bunga sekitar 60
menit tanpa macet, masih harus mengantar Bunga
pulang kemudian Leo kembali lagi ke rumah
Rania. Bila hari telah masuk petang Rania akan
bilang.
51
"Sudah mas, harinya sudah petang mas
nggak usah balik kerumah Rania ga pa pa kok."
Pernah suatu hari juga, "Papa dimana ?"
"Di rumah Rania ma, kenapa ?"
"Pulang dulu pa, mama lupa belum buang
sampah, hari ini waktunya paman sampah
membuang sampah pa, papa jangan nggak pulang
lho nanti baunya kemana-mana."
Pernah juga suatu ketika,
"Papa, hari ini waktunya ambil raport
Bintang,"
"Lho, papa kan sudah bilang hari ini harus
datang ke acara saudara Rania, ma."
"Kok papa jadi mementingkan acara
keluarga Rania daripada acara penerimaan raport
Bintang, Pa."
"Bukan begitu ma, kita kan sudah berbagi
tugas."
Selalu begitu hingga mereka terlibat
perdebatan.
Bila mereka sudah berdebat maka tugas
Rania menenangkan Leo, agar Leo tak gusar. Agar
52
Leo tidak sedih. Agar Leo tersenyum lagi. Caranya
bisa dengan bercinta atau mengalah.
Sesuatu yang terjadi berulang-ulang.
hingga membuat Rania merasa letih.
Rania merasa harus jadi pengemis untuk
memenangkan hati Leo. Rania harus memohon
agar Leo tetap tinggal.
SEBENARNYA RANIA BISA JADI
PEMENANG.
Andai Rania menggunakan jurus pelakor.
Merayu Leo, memikat Leo dengan pelayanan,
membuat Leo tergila-gila dengan adegan bercinta
yang selalu berubah baik gaya dan suasana. Rania
sangat bisa.
Secara fisik Rania jauhhhhh lebih cantik
dari istri Leo. Rania bisa saja jadi pemenang, saat
itu sedikit saja Leo pasti terpikat padanya dan
berada dalam pelukannya setiap saat.
Tapi sungguh, Rania jijik melakukan itu.
Rania jijik melakukan tipu muslihat demi
cinta dan kasih sayang.
53
Malam panjang itu Rania biarkan berlalu
begitu saja.
Rania sudah menunggu, menunggu Leo
berlaku bijak, memilih keduanya, menenangkan
keduanya, mendamaikan keduanya. Tapi sayang,
Leo terlampau lamban. Leo tidak bisa memegang
kemudi keadilan itu, hingga Rania memilih pergi.
Pergi meninggalkan Leo, pergi meninggalkan
Banjarmasin. Membawa sebuah tanda tanya dan
masalah yang belum selesai.
Sinetron tanpa tulisan bersambung atau
tamat hanya akan membuat penasaran
pemirsanya saja. Menunggu namun tak muncul,
meninggalkan khawatir ada episode yang
terlewat.
Hari ini kotak kisah itu kembali terbuka,
terlalu dini memang. Tak sesuai keinginan Rania,
namun apa boleh buat. Tuhan maha berkehendak.
Rania dan Leo saling mencuri pandang
dengan bulu kuduk yang meremang.
54
SEBUAH RENCANA BESAR
Usai pertemuan Rania dan Leo di salah
satu mall terbesar di Banjarmasin, Rania pulang.
Sepanjang perjalanan ia hanya diam. Beruntung
Septia tidak berada di sampingnya seperti tadi.
Kalau ada Septia dia pasti tersinggung karena di
diamkan.
Septia memilih pulang bersama Arif, ya...
namanya juga baru jatuh cinta, pasti semua
inginnya di lakukan berdua.
Rania memilih berpisah dengan mereka di
parkiran.
Leo,
lelaki itu sekarang sedikit kurus, rambut
ikalnya baru saja dipotong habis, hanya bersisa
1cm saja sepertinya. Bajunya mungkin dibeli dari
tempat yang mahal tetapi sayang cara
berpakaiannya nggak senada dengan sepatu dan
celana panjangnya. Leo selalu begitu.
55
Rania meninggalkan Septia, Leo juga Arif
di parkiran Mall. Rania khawatir tak bisa
mengendalikan diri bila ia berada disana. Jujur
Rania masih menyimpan bongkahan cinta untuk
Leo. Istri mana yang tidak cinta pada suaminya ?
tidak ada. Semua istri mencintai suaminya, sesakit
dan seperih apapun cerita mereka. Mereka tetap
punya cinta yang luar biasa.
Andai sepasang suami istri benar-benar
terpisah seringkali dikarenakan ada orang lain
yang telah membuka hati untuk mereka.
Begitu hebatnya Tuhan membuat cinta.
Demikian juga dengan Rania. Rania
sungguh sangat mencintai Leo. Meski cerita
mereka tidak seindah pasangan yang lain mereka
tetap terikat cinta. Andai Leo mau memohon maaf
dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya
mungkin Rania akan kembali jatuh cinta. Itulah
mengapa Rania memilih lebih dahulu pergi. Rania
menjaga hatinya agar tidak kembali jatuh.
Ditempat yang lain,
56
"Septia, bapak boleh minta nomer bu
Rania ?" Leo mengajukan permohonan pada
Septia.
"Apa Septia harus tanya dulu pada bu Rani
ya pak ?"
"Nggak usah, nanti kalau bu Rani marah
bapak yang akan menjelaskan." Leo berusaha
meyakinkan Septia.
Septia memandang Arif pacar barunya.
Arif mengijinkan Septia memberikan nomer
telphon Bu Rani pada pak Leo.
Leo mencatat dengan seksama nomer
tersebut. Berharap tidak terjadi kesalahan.
"Saya duluan ya,"
"oh, inggih Pak." Suara Septia dan Arif
bersamaan.
Leo merasa puas telah mengantongi
nomer Rania, hari ini juga Leo berjanji akan
menghubungi nomer tersebut. Ia akan memeluk
cintanya kembali. Cinta yang sempat memberikan
rasa manis, cinta yang sempat menumbuhkan rasa
percaya dirinya.
57
Ia berjanji akan membawa Rania
berkeliling dunia, ia akan menunjukkan pada
Rania betapa indahnya Paris, betapa dinginnya
Mesir di musim dingin, betapa indahnya salju.
Ia berjanji akan memegang erat tangan
Rania memutari Ka'bah, mengelilingi Nabawi.
Romantisme itu harus ia kembalikan. Rania harus
jadi miliknya.
Leo berhenti sejenak di bawah pohon di
Menara Pandang Siring Laut.
"Assalamualaikum," pesan itu ia tulis
untuk Rania.
Lama tak ada jawaban, hingga dua puluh
menit kemudian.
"Waalaikumsalam, siapa ?"
"Bunda, "
'deg' hati Rania berdebar kencang, sangat
kencang. Panggilan itu ?
Hanya satu orang yang berani
memanggilnya begitu.
"Bunda,"
58
Rania menatap nanar tulisan di WhatsApp
ponselnya.
"Iya."
"Bunda dimana ?"
"Di rumah,"
"Rumah bunda dimana? ayah boleh
kesana? ayah sangat kangen"
Tuhannnn, manis sekali kalimat itu
terucapkan. Kemana dirinya selama lima tahun
kebelakang ? kenapa baru hari ini dia ungkapkan
perasaan sayang.
"Rumah bunda dekat kok, di jalan A.Yani.
Kalau mau kesini besok saja, sekarang bunda ingin
istirahat."
Begitu pesan singkat itu ia buat.
"Nanti sore ayah kesana ya,"
"Bunda ingin di bawakan apa ?"
"Ayah bawakan kue kesukaan bunda ya
sayang."
"Ayah ingin sekali minta maaf."
"Ayah telp sebentar ya?"
59
'klik' sambungan telp pun terputus. Rania
sengaja mematikan telponnya. Agar rayuan setan
itu tidak lagi mengganggunya.
Misinya adalah melakukan pembalasan
bukan kembali merajut cinta lama. Bukan kembali
mengulang sesuatu yang terjadi di masa lalu.
Bukan itu.
Rania sengaja mematikan telp agar Leo
merasakan betapa tidak enaknya saat rindu
membuncah namun orang yang kita rindukan
mematikan telpon.
Hal itu sering dilakukan Leo pada Rania
dulu. Hari ini Rania ingin Leo merasakan sesuatu
yang sama seperti yang pernah ia rasakan. Ia tidak
perduli lagi. Ia hanya ingin kulit rasa yang dimiliki
Leo mengelupas perlahan - lahan.
Rania memasuki kamar tidurnya.
Menyalakan Ac, mengganti bajunya. Rania ingin
meletakkan kepalanya yang penat hari itu.
*******
Pagi buta, saat semua masih terlelap
kecuali mereka yang terjerembab dalam
60
mimpinya. Pagi itu pak Leo telah mengirimkan
pesan di ponsel Rania.
"Bunda, besok ke kampus ?"
"Bunda, ayah ingin bicara."
"Bunda, ayah bahagia sekali bisa bertemu
lagi. Ayah seperti punya tenaga baru."
"Bunda, mau kan memaafkan ayah."
Ya Allah kalimat itu berjajar memenuhi
pesan masuk ponsel Rania. Rania duduk di sofa
besar menghadap ke jalanan beraspal di luar sana.
Rania masih sangat ingat betapa semua pesannya
tidak di hiraukan oleh Leo selama bertahun-tahun.
Hari ini harus kah Rania melakukan hal
yang sama, atau mungkin memaafkan Leo.
Ach, mereka yang berbuat kesalahan
begitu mudah menganggap semua baik-baik saja,
setelah tahun berjalan semua bisa dengan mudah
di maafkan. Ternyata mereka salah. Hati itu hidup.
Ia ada dan bertengger, menguasai jiwa, menguasai
raga. Kesalahan dan luka itu bisa saja terhapus
61
namun jangan pernah lupa bekas nya masih akan
tetap ada meski nyerinya bisa saja berkurang.
Karenanya hati-hatilah dalam berbuat.
Setiap tindakan pasti menemukan masa di
mana ia harus di hentikan karena masa
pembalasan telah datang.
Rania menghabiskan lima tahun
perjalanan hidupnya sendiri. Tanpa nafkah tanpa
perceraian. Rania melewati semuanya. Dan hari
ini ketika ia telah tampil cantik, ketika ia telah
mampu mengemudikan mobil sendiri tiba-tiba
Leo mengucapkan kalimat sakti. RANIA MAAF.
Rania terbahak-bahak. Mengenang
persetubuhan mereka yang pernah dilakukan tiga
belas kali dalam semalam, sampai mereka berdua
tertawa seharian.
Rania masih mengingat semuanya. Dalam
memorinya.
Hari ini.
Rania memutuskan mengundang Leo dan
beberapa dosen yang Rania kenal dengan baik. Ia
harus mulai berbuat.
62
"Nanti kalau tidak sibuk silahkan datang
ke rumah Rani. Rani ada tasyakuran."
Cepat sekali, pesan itu terbaca.
"Rumah bunda di mana ?"
"Nanti di kirim alamatnya."
Rania pun menulis sebuah undangan yang
akan ia kirimkan pada beberapa orang yang ia
kenal. Rania sendiri bingung undangan kali ini
dalam rangka apa, bukankah di masa pandemi ini
belum boleh berkumpul, tapi sudah lah, perduli
apa yang penting Rania menulis undangan.
Ia perintahkan beberapa pembantu nya
berkemas. Acara akan di gelar pukul 12.00 di
sesuaikan dengan jam makan siang.
Rania memesan paket makan siang terbaik
di Banjarmasin. Ruang keluarga ia rubah menjadi
ruang jamuan hidangan. Ada meja oval yang di isi
aneka masakan. Ada nasi goreng hongkong, ayam
goreng Belanda, cap jay spesial, ikan patin bakar,
sayur santan. Ada juga aneka kue tradisional
63
berjajar rapi. Es buah dan es degan menemani
aneka buah-buahan yang telah di pesan.
Apa sulitnya menyiapkan pesta untuk tiga
puluh orang bila punya uang, semua bisa di pesan
dan di siapkan.
Pukul 11.00 WITA,
semua sudah tersedia, termasuk juga
cindera mata sebuah emas antam EOA Gold
berukuran 0.1 gram sebagai hadiah bagi yang
hadir.
Rania mulai menampakkan
kesombongannya sedikit, hanya sedikit. ini baru
pembukaan belum apa-apa.
Beberapa mobil mulai datang. Pak Yuda,
Pak Brahim, Pak Reyza, Ibu Asmi semua hadir.
mobil mereka berjajar rapi di halaman depan.
teman-teman se angkatan juga di undang. Tak
lupa Septia dan Arif.
Kemudian Leo datang dengan baju kotak-
kotak biru, kaca mata minus masih bertengger di
wajahnya.
64
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Hampir serempak para undangan
menjawab salam dari pak Leo. Doktor Leo.
Pak Yuda menatap Rania sekilas, dosen
bijak itu mengulum senyum seolah tahu untuk apa
pesta ini di gelar. Mereka bernyanyi sambil
menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Tiba-tiba tanpa di komando pak Leo
berdiri, berbicara di dekat mikrophon yang tadi di
gunakan menyanyi.
"Assalamualaikum, kita semua sudah
hadir di sini dalam acara tasyakuran ibu Rania
atas rumah baru nya, rasanya tidak lengkap jika
ibu Rania tidak berbicara bersama di depan kita."
Tepuk tangan riuh terdengar di seluruh
ruangan. Semua mata mencari Rania yang tadi ada
diantara mereka.
"Bu Rania mana ?" Tanya beberapa
undangan. Leo menebar pandangan.
Rania yang sedari tadi di dalam kamar
mendengar apa yang di sampaikan pak Yudha, ia
65
berdiri perlahan. Sambil menatap foto
pernikahannya yang masih tersimpan di
ponselnya. Foto pernikahannya bersama Doktor
Leo.
Foto itu yang terus menyemangatinya
untuk bangkit. Untuk tidak mudah menyerah.
Untuk menikmati setiap rasa sakit yang pernah ia
rasakan.
Rania membuka pintu kamar pelan,
menapak i tangga yang tidak terlalu tinggi untuk
menuju ruang keluarga. Rambut ikalnya sudah
diikat ke belakang, beberapa penjepit berwarna
hitam menghias belakang rambutnya. Leher
putihnya nampak sangat menggoda. Ada kalung
bermata berlian di dada halusnya. Dua helai
rambut di biarkan menjuntai di kanan dan kiri
wajah ayunya.
Gaun biru gelap berbahan kain satin
melekat di tubuhnya, gaun yang pas dengan
ukuran badannya. Dadanya di biarkan sedikit
terbuka. Kulit Rania yang putih benar-benar di
66
tampakkan. Sepatu berkelas menghias jenjang
kakinya.
mata-mata itu menatap takjub melihat
Rania turun, rambut yang selalu tertutup itu hari
ini di biarkan terbuka. Pak yuda tersenyum. Apa
yang di buat Rania hari ini benar-benar sempurna,
ada masanya memang seseorang yang tertindas
untuk bangkit dan membalas meskipun
memaafkan pasti jauh lebih baik tetapi sepertinya
Rania justru memilih jalan pembalasan.
Rania mendekati pak Yuda, menjabat
tangan pak Yuda dan mencium lengan itu. rania
hampir saja menangis namun ia berusaha
menahan seluruh perasaanya.
"Terimakasih sudah hadir di undangan
yang Rani gelar, acara ini sebenarnya hanya untuk
tasyakuran karena akhirnya Rani bisa kembali ke
tanah kelahiran abah dan bisa berkuliah di
kampus ternama seperti kampus kita. Tidak ada
yang lain hanya itu saja. Rani juga mohon maaf bila
apa yang Rani hidangkan tidak sesuai dengan
keinginan. "
67
"Oh iya, nanti ada cindera mata emas
antam dari Rani buat para undangan yang datang,
hanya sebagai ucapan terimakasih saja."
Semua yang hadir kembali bertepuk
tangan. Leo memandangi Rania dari tempatnya.
Meratapi setiap kesempatan yang pernah hilang
bersama wanita cantik yang kini jadi perhatian
banyak orang. Leo menelan ludah berkali-kali.
Hari ini ia punya banyak saingan untuk kembali
mendapatkan Rania. Kemarin Leo membiarkan
Rania begitu saja hilang. Sungguh, hal ini jauh
diluar dugaan.
Undangan hari ini sungguh membuat Leo
merasa menyesal dan sadar.
Satu sisi hati Leo berisi penyesalan
sedangkan sisi yang lain dipenuhi kecemburuan
pada sosok pak Yuda yang demikian dekat dengan
Rania. Sampai hari ini harusnya Rania masih
istrinya tetapi Rania sama sekali tidak menjabat
erat lengannya namun mencium lembut lengan
pak Yuda. Leo meradang dalam kecemburuan
yang tergelorakan.
68
Leo yang malang.
Kasihan
******
Semua undangan pulang menuju rumah
masing-masing, tapi tidak dengan Leo. Leo tetap di
tempatnya. Duduk menunggu semua pulang dan
suasana sepi.
Leo bersikap seolah-olah rumah itu
miliknya, ia mencoba ikut memberi sedikit arahan
pada pembantu yang membersihkan ruangan.
Rania hanya diam memandang.
"Rani ganti baju dulu, ya.' Leo
mengangguk.
Rania memasuki kamar mengganti
bajunya dengan baju tidur atasan dan celana
panjang bermotif boneka.
Kembali menuju ruang tengah,
menghempaskan tubuhnya di kursi berwarna
putih. Leo ada disana.
"Berapa sewa rumah ini Bunda?"
"Kenapa ?"
"Rumah ini bagus, pasti mahal."
69
"Murah kok."
"Berapa ?"
"Hanya dua puluh juta."
Leo membelalakkan matanya.
"Dua puluh juta sayang bunda, baik untuk
beli rumah."
"Dimana ada rumah dua puluh juta?" Rania
menjawab asal-asalan pada apa yang di ucapkan
Leo.
"Buat DP nya, bunda."
"Dp dua puluh juta itu rummah tipe 36 ."
"Iya, "
"Haduh, kalau tinggal di rumah tipe 36 kan
berarti Rani harus renovasi lagi, harus
memperbaiki banyak hal lagi. Nggak sanggup ."
Sombong Rani berucap.
Leo mendekat.
"Kalau bunda mau ayah bisa berikan
bunda uang buat tambahan beli rumah."
Leo mulai melancarkan rayuan. 'uang
tambahan' selalu begitu.
70
Dulu juga begitu setiap membeli sesuatu
Leo selalu memberikan rayuan tentang uang
tambahan. Rania saat itu mengiyakan saja, tapi
hari ini maaf Rania tidak akan berkata iya pada
rayuannya.
Bukankah Rania dan istrinya yang ia
simpan di rumah berstatus sama. Sama-sama istri
bedanya hanya pada surat nikah sah atau surat
nikah sirri itu saja.
Tetapi mengapa istrinya yang disana
mendapatkan semua yang dia inginkan, rumah,
kendaraan, status sosial juga jalan-jalan ke luar
negeri tetapi Rania sama sekali tidak
mendapatkan itu kecuali satu 'uang
tambahan'.mungkin dulu masih bisa tetapi hari ini
tidak lagi.
rania punya uang, Rania bisa beli
semuanya sendiri.
Penghasilannya menulis bisa sampai
delapan belas juta setiap minggunya. Jadi Rania
tidak akan mengemis lagi. Tidak akan pernah.
71
Hari sudah semakin larut, rembulan
hampir datang namun belum ada tanda-tanda Leo
akan meninggalkan rumah Rania. Hingga Rania
berkata.
"Ayah," Leo terkejut Rania memanggilnya
ayah.
"Iya, ada apa bunda."
"Bunda ngantuk ayah pulang ya." Hanya
itu yang Rania ucapkan dan Leo hanya bisa
mengangguk.
Leo beranjak pergi namun sebelum pergi
ia mengulurkan lengannya pada Rania, mungkin ia
berharap Rania akan menjabat lengannya seperti
dulu.
Sayangnya Rania tak menghiraukan
uluran tangan Leo.
Ia hanya tersenyum
Leo pun pergi dari rumah Rania, mobil
avanza silver miliknya perlahan-lahan
menghilang dari pandangan.
72
Rania menengadah ke atas, memandangi
langit-langit ruang tengahnya dengan tatapan
kosong. Ia bingung, ia tak lagi bisa mendefinisikan
isi hatinya saat ini.
Rindu, dendam, cinta, rasa sakit. Semua
menari-nari di pelupuk matanya.
Mestinya ini adalah saat yang tepat untuk
mengambil Leo kembali dalam pelukannya.
Meminta Leo menceraikan istrinya.
Saat ini sangat mungkin baginya
melakukan itu. Tetapi ia tidak kunjung
melakukannya. Ia mencintai Leo tapi untuk
membersamai hari-harinya ia tidak ingin lagi.
Hatinya terlalu lama menunggu tanpa kepastian,
cintanya di gantung begitu rupa.
Lihatlah, bahkan musim pun menemukan
muaranya, bahkan hujan pun akan datang bila tiba
masanya tetapi tidak dengan nasib cintanya yang
seakan tanpa kejelasan.
Rania merajut asanya setiap saat,
menikmati tidur hanya tiga jam dalam semalam
demi menuntaskan dendamnya pada Leo. Lalu
73
saat ini, saat dimana ia hampir sampai pada garis
finish haruskah ia menyerah dan pasrah ?
Ia ingin menjadi bagian dari penulis taqdir
untuk Leo, Rania ingin Leo merasakan kepedihan
seperti dirinya. Agar ia tahu menunggu itu
menghadirkan jemu. Digantung itu sakit. Menanti
itu lelah.
Leo harus tahu rasa dari tiap keadaan itu
agar ia tidak seenaknya menyakiti orang lain
terlebih lagi wanita.
Agar Leo tahu bahwa semua wanita punya
perasaan, punya rasa sakit dan semua harus dijaga
bukan hanya istri sahnya saja.
Rembulan malam telah duduk
disinggasana, Rania menatap nya dari tempat ia
merebahkan dirinya saat ini. Dendam dan sakit
hatinya akan ia suarakan lewat rembulan agar
seluruh dunia mampu mendengar.
74
CINTA YANG TERPASUNG
Hari ini Rania ingin sekali jalan-jalan ke
kampus, bosan sekali di masa Pandemi ini harus
menghabiskan waktu di rumah saja. Sebagai
penulis rasanya sangat sulit untuk
mengembangkan imajinasi bila harus terkurung
begini.
Rania melangkahkan ringan kakinya
menuju mobil yang terparkir di depan rumah,
menginjak gasnya perlahan.
Mantap kakinya menuju kampus. Ia ingin
sekali duduk di gazebo sambil menikmati semilir
angin dan berkisah tentang hidupnya. Menari di
antara huruf-huruf di laptop.
Sekali lagi Leo hadir dengan rayuannya, ia
mengganggu saja, membuat inspirasi menulis jadi
hilang.
Rania berjanji akan mau di temui di
rumahnya malam nanti.
Malam yang di tentukan tiba.
75
Rania masih asik di depan televisi ketika ia
melihat agya hitam itu datang. Itu mobil milik Leo.
Leo lelaki kaya raya dengan empat mobil
berjajar di rumahnya, dua motor dan satu motor
gede. Gila, sebanyak apa pekerjaannya hingga
mobilnya berjajar begitu rupa. Dulu Rania perduli
pada harta yang di miliki Leo. Tetapi hari ini tidak
lagi. Rania sudah tidak berminat. Sama sekali tidak
ingin melihat harta yang di miliki Leo. Cukup apa
yang ia punya saat ini dari hasil kerja keras dan
perjuangannya sendiri bukan dari hasil meminta
pada Leo yang notabene masih suaminya.
Leo turun dari mobil, memencet bel
beberapa kali. Rania duduk di tempatnya
membiarkan lelaki itu memencet bel rumahnya.
Pembantunya datang.
"Bu, ada tamu.'
"Siapa ?"
"Sepertinya pak dosen yang kemarin
kemarin itu bu."
"Biarkan saja bi,"
"Kok biarkan bu."
76
Rania melihat ponselnya berdering. Ia
melihat namun hanya melihat saja. Rania tetap di
tempatnya tanpa ingin melakukan apapun. Ia
lelah.
Bibirnya tersenyum menang. Ia sam sekali
tidak mengangkat telpon itu. Ia bosan pada lelaki
yang pernah menyakitinya.
Dulu lima tahun yang lalu Rania pernah
mencoba menghubunginya.
"Ayah, bunda minta uang ya yah."
"Berapa bunda ?"
"Tujuh ratus saja ya, "
"Untuk apa ?"
"Bayar mobil ayah."
"Ayah masih di rumah, belum bisa
kemana-mana."
"Bunda ke sana ya ayah. Ayah nggak usah
ngomong apa-apa dengan mbak."
Hanya itu yang Rania bisa katakan.
Rania tiba di rumah Leo hampir senja.
Sama seperti hari ini berkali-kali Rania mengetuk
pintu rumah namun sama sekali tidak terbuka
77
padahal Rania jelas melihat ada sorot TV dari
dalam.
Hari ini Rania melakukan hal yang sama
terhadap Leo. Sama seperti yang Leo lakukan
beberapa tahun yang lalu.
Bedanya saat itu Rania sempat pingsan
karena berfikir keras berharap dapat uang tujuh
ratus ribu untuk membayar kekurangan angsuran
mobil, hari itu Rania ketakutan di kejar-kejar oleh
deptcolector, Rania datang ke rumah Leo karena
Rania berfikir Leo adalah suaminya dan saat itu
Rania tahu Leo baru saja dapat uang dua ratus
tujuh juta rupiah. Rania dapat info itu dari sumber
yang valid. Dari seorang kawan Leo yang hari ini
telah almarhum.
Ketika lebih dari satu jam Rania mengetuk
pintu pagar, pintu itu tak kunjung terbuka. Rania
puluhan kali menelpon juga tidak ada jawaban
hingga kemudian hp di matikan.
Saat itu kaki Rania gemetar.
Kepalanya berdenyut-denyut.
Rania pingsan di depan pintu pagar.
78
Entah bagaimana kisah selanjutnya yang
Rania tahu ia telah berada di ruang tamu tetangga
depan rumah Leo.
"Mbak ini siapanya pak Leo ?"
"Saya istri ke duanya"
"Ya Allah, kasihannya mbak."
"Setahu saya pak Leo ada di rumah, tapi
kok nggak di buka ya pintunya?" Dua wanita
sesama tetangga Leo berbicara.
"Sudah biar saja mbak, mbak pulang saja,
percayalah orang seperti pak Leo pasti akan dapat
balasan."
Dengan rasa malu Rania mencoba berdiri
menuju mobil yang terparkir. Satu hal yang Rania
sesalkan hari itu adalah. Mengapa Leo
mengiyakan pesan di whasApp nya, pesan yang
berisi pemberitahuan bahwa Rania akan datang.
Mestinya Leo berkata 'jangan' andai ia
tidak berkenan di temui. Tapi Leo menuliskan kata
IYA, apa ini bagian dari rencananya ?
Begitu fikir Rania saat itu.
79
Hingga Rania hendak beranjak pergi
dengan mobil merah yang masih kredit, Rania
masih mendengar ibu-ibu bersuara berisik. Dia
yakin, ibu-ibu itu sedang bergunjing.
"Ach, andai Leo sedikit bersikap ksatria,
pasti masalahnya tidak akan seperti ini."
Kejadian itu, kejadian lima tahun yang lalu.
Hari ini Leo masih berdiri tegak.
Rania tersenyum.
Cintanya memang telah terpasung namun
ia bahagia karena merasa menang.
"Bu, itu pak dosennya nggak di buka kan
pintu ?'
"Nggak usah bi, biar saja."
'Dosen itu suami ku, bi.' jawab Rania dari
dalam hatinya. Ia ingin sekali mengakui status itu
tapi hatinya terlalu perih. Ia merasakan
ketidaknyamanan.
Rania rebah dalam gelisah dan
keputusasaan yang melimpah. Ia masih ingat
pesan guru ngajinya.
80
"Secara hukum dia suami mu meskipun
kalian pisah selama bertahun-tahun dan tidak ada
nafkah lahir batin.
Kalian masih suami istri. Karena yang
berhak mengucapkan talak itu suami. Tidak ada
hukum agama yang menerangkan begitu
pernikahan dibuat, ada permasalah kemudian lari
lalu tidak bertemu kemudian tidak ada nafkah
lahir batin lantas boleh jatuh talak begitu ?
Nggak ada ajaran yang mengajarkan
demikian.
Secara hukum agama kalian masih suami
istri. Urusan kamu yang lari itu dosa mu dengan
Tuhan. Urusan dia tidak menafkahi itu juga urusan
ke dholiman nya terhadap Tuhan. Nanti Tuhan
yang akan menghukum. Tidak lantas jatuh talak
begitu saja. Jangan mempermainkan hukum
Tuhan terutama tentang perkawinan. Dosa."
"Jangan membuat hukum tanpa dasar
yang jelas, nanti malah runyam. Urusan kalian
harus dituntaskan. Harus."
81
Kalimat itu menggema di setiap sudut
rumah rania. Rania merasa sangat bodoh.
Ia tahu ia sedang berurusan dengan dosa
terhadap penciptanya. Tetapi ia tidak punya cara
lagi. Setan dalam hatinya terus saja berupaya agar
mereka terpisah, agar api dendam itu dapat terus
hidup, agar Rania bisa membalas.
Rania membuka korden jendela kaca
kamarnya. Tubuh Leo jelas mematung disana.
Lampu mobilnya menyala.
Rania mengarahkan pandang matanya
pada jam tangan rolex original yang melingkar di
pergelangannya.
"Belum satu jam Leo, bersabarlah."
"Kamu juga belum pingsan, tenang saja.
Rasa sakitnya belum sepadan." Rania berbicara
lirih. Nyaris tanpa suara. Sambil matanya masih
terus memperhatikan gerak gerik Leo dari dalam
kamarnya.
Sebenarnya muncul iba dalam hatinya,
tapi Demi Tuhan, rasa sakitnya tidak mengijinkan
dirinya berbaik-baik pada Leo. Ia terlalu
82
menempatkan Leo pada target operasi
pembalasan dendamnya. meski sebenarnya Leo
adalah suaminya. Suami yang harusnya di
hormati, di bikinkan teh dengan senyum manis,
bukan dibiarkan mematung di depan pintu pagar.
Rania menghela nafas panjang.
Dini hari, Rania terbangun dari tidurnya, ia
menyambar ponsel yang tergeletak di atas
pembaringan dekat dengan bantal tempat ia tidur.
Banyak pesan bergelantungan di sana, ia
membuka dan membacanya satu persatu. Pesan
terbanyak adalah pesan yang di tulis oleh Leo.
Rania membetulkan letak duduknya,
sesaat sebelum ia melihat tulisan "online" di
whatsApp Leo.
Rania mengusap mata dengan jemarinya.
Sedikit menggerakkan tubuhnya,
kemudian menggerakkan kepalanya.
"Maaf, pas maghrib tadi aku ketiduran, aku
sakit habis minum obat langsung tidur."
"Maaf ya," Rania menulis pesan singkat itu
dan mengirimkannya pada Leo. Sedetik kemudian
83
Leo telah selesai membaca, nampak ia sedang
'mengetik'.
"Keadaan bunda sekarang bagaimana ?"
tanya Leo.
"Masih lemes, tapi ga pa pa kok." Rania
mencoba berpura-pura.
"Serius bunda ga pa pa."
"Iya"
"Kalau bunda kenapa-kenapa, bilang ya.
Nanti ayah bawa bunda ke rumah sakit."
"Iya"
Leo sama sekali tidak menyentil tentang
lelah yang ia lalui saat menunggu tadi. Leo sama
sekali tidak protes di perlakukan begitu rupa.
Apa mungkin Leo sudah berubah? begitu
tanya hati Rania.
Rania hampir saja terperdaya dengan
kebaikan Leo beberapa minggu ini, jika bukan
karena kekuatan ingin memberikan Leo pelajaran
maka PASTI saat itu juga Rania akan menerima
Leo.
84
Mungkin memang Leo menyesal dan ingin
memperbaiki hubungannya dengan Rania, hanya
sayangnya penyesalan Leo terlambat.
Cinta yang ditunjukkan saat seseorang
hadir dengan keberhasilan nampak begitu konyol
dan memuakkan, setidaknya itu yang ada dalam
fikiran Rania.
Bagi Rania, cinta Leo saat ini seperti kain
kafan. Putih namun mematikan.
Rania memandang Leo yang masih online.
Jika memang benar saat ini Leo mencintai
Rania, ia pasti akan serta merta menelfon untuk
memastikan Rania baik-baik saja. Bukan hanya
menanyainya lewat pesan singkat.
Atau... karena Leo sedang berada di rumah
hingga ia jadi tidak bisa menghubungi Rania.
Artinya, Leo masih takut pada istrinya
yang berbibir lebar.
Ach, Rania mendadak geli.
Tapi, apapun kondisinya wanita itu
beruntung, mendapatkan gelar istri sah,
kehidupan yang layak, derajat yang tinggi, juga
85
nama yang terlindungi ditambah juga menjadi
wanita yang di takuti, setidaknya bagi Leo.
Saat ini banyak wanita ikhlas menjadi jin
penjaga rumah yang ditakuti oleh suami meski tak
menggunakan cinta. Cukup ditakuti saja, akan
membuat rumah tangga langgeng dan baik-baik
saja.
Rania sudah tidak perduli, seberapa
banyak Leo akan menulis. Ia ingin tidur dan esok
hari kembali menulis. Menulis sudah menjadi
nafas baginya.
Semakin larut,
Ia melihat Leo datang, dengan kaos merah
bertuliskan disney land. Leo yang telah banyak
menjelajah dunia.
Leo datang dengan membawa sebiji
mangga kesukaan Rania.
Leo mengupas perlahan-lahan mangga itu,
kemudian memotongnya kerat demi kerat,
menyuapkan potongannya pada Rania.
Rania tersenyum, menikmati tiap irisan
dengan sepenuh hati.
86
"Damai sekali rasanya memiliki suami."
Kemudian Leo, menyelimutinya, membelai
rambut Rania sebelum tidur. Ada dingin di ujung
kening.
Rania terbangun, ia sangat terkejut. Mimpi
itu utuh. Lengkap dan seperti nyata.
Apakah ini terjadi karena Rania kangen
Leo?
Rania bangkit, mengemasi ranjangnya
kemudian segera melaksanakan sholat subuh.
Dalam sholat, air matanya berlinang-
linang. Ia merasakan sakit yang tidak pernah
hilang.
Saat ia menganggukkan kepala dan
berkata IYA ketika dipinang, ia berharap hidupnya
jauh lebih baik.
Sebagai istri ke dua, mereka berfikir
bahwa kenyamanan akan ia dapatkan. Faktanya
mereka salah. Lahir dan batin istri ke dua
merasakan sakit.
87
"Tuhan. aku tidak pernah berdoa apapun
untuk membuat mereka hancur karena aku tahu,
doa yang buruk akan kembali pada yang berdoa.
Aku hanya minta, tolong Tuhan, perbaiki
aku, perbaiki dunia dan akhirat ku, perbaiki masa
depanku. Hanya itu Tuhan. Tidak untuk yang lain."
Rania menyudahi sholatnya kemudian
melipat mukena dan sajadahnya.
Rania kembali menulis.
Sebelum sarapan Rania melihat sebuah
Avanza Veloz bersandar di halaman.
Rania tahu itu salah satu mobil Leo.
Ada apa dia datang pagi begini?
Rania membuka pintu rumah, melihat Leo
mendekat. Diujung sana pembantu rumah
tangganya sedang membasahi halaman dengan air
kran.
"Ada apa pagi sekali ?"
"Aku hanya ingin tahu keadaan bunda."
"Keadaan apa?" Rania benar-benar tidak
faham.
88
"Semalam bunda bilang, bunda sakit. Itu
sebabnya ayah datang."
Mereka masih berbincang sambil berdiri
di ujung pintu.
"Sakitnya tadi malam, datangnya
sekarang."
"Iya bunda, bolehkan ayah bilang 'maaf' ?"
Wajah pak Leo nampak serius memohon
maaf.
"Iya sudah di maafkan."
Hanya itu jawaban Rania,
"Bunda sudah sarapan ?"
"Baru saja mau sarapan."
"Bunda nggak ingin ngajak ayah sarapan ?"
Rania menelan ludah, dulu, lima tahun
yang lalu. Mereka berdua adalah pasangan yang
paling hobby sarapan bareng. Tempat
nongkrongnya di warung soto depan R.S Ratu
Zalecha. Atau di pertigaan arah alun-alun
Martapura.
89
Luka dalam hati Rania terasa perih
tersiram air garam. Kalimat Leo barusan ternyata
sangat menyakitinya.
"Bunda," Leo menyadarkan Rania dari
lamunan.
"Ayah boleh menemani bunda sarapan ?"
Leo berbicara lagi.
"Maaf ayah, tapi bunda sedang tidak ingin
di temani makan. Bolehkan aku bilang 'maaf' ?"
Rania menirukan gaya Leo saat memohon maaf.
"Sekarang sebaiknya ayah pulang." Rania
membuang pandang pada daun-daun yang telah
basah.
Leo menunduk, kemudian melangkahkan
kakinya, menjauh dari rumah Rania.
Rania menutup pintu rumahnya dengan
cepat. Kemudian bersandar di dinding pintu itu
sambil kembali menangis.
"Ayah, bolehkan bunda bilang 'maaf'?"
Rania tergugu sambil menggigit bibirnya. Ia
merasa hari ini sangat buruk.
90
Ia menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangannya.
Laparnya mendadak hilang.
Rania merasakan sakit yang teramat
dalam.
Di luar udara demikian sejuk. Banjarmasin
yang sedang musim penghujan menciptakan
kesegaran tersendiri bagi penghuninya. Beberapa
keluarga asik berlari-lari kecil menikmati
sejuknya udara. Sedangkan Rania, masih duduk,
diam dan menangis.
Rania benci keadaan ini. Sangat benci.
91
MELAWAN RASA ENGGAN
Rania tenggelam dalam lipatan kalimat
dalam novelnya, ia membiarkan hatinya yang
terjerembab berkelana menuju ruangan yang tak
ia kenal. Rania merasa dirinya saat ii seperti
layang-layang, terbang menukik, menari-nari saat
di pandang hingga ia tak tahu dimana ia akan jatuh
nanti.
Jatuh untuk mengakhiri petualangannya,
jatuh untuk diam bersama keluarga dan orang-
orang yang mencintainya.
Rania ingin itu meski mungkin jalan
menuju itu masih terasa amat jauh.
Hari ini Rania masih enggan berangkat
kemana pun sejak peristiwa pagi tadi
menerpanya. Rania masih duduk di meja kerjanya
dan terus menulis. Ada tugas untuk menuntaskan
ceritanya. Rania adalah sutradara bagi setiap
novel yang ia tulis namun ia tak akan mampu
menjadi sutradara dalam novel dan cerita
hidupnya.
92
"Rani, sedang dimana ?"
Pesan masuk di Line nya. Ia melihat pak
Yudha sedang menulis kalimat untuknya. Rania
berhenti sejenak untuk membalas tulisan pak
Yudha.
"Sedang di rumah, pak."
"Aku di kampus, Ran."
:Iya, pak."
"Kemarilah kita berbincang-bincang."
Pak Yudha lelaki baik hati dengan
perawakan yang menggoda, pak Yudha dengan
tatapan teduhnya, pak Yudha yang gagah. Pak
Yudha yang selalu bisa menjadi 'abah', menjadi
'kakak', menjadi 'kekasih' bahkan.
Pak Yudha yang selalu mengatasi masalah
yang Rania kisahkan dengan arif dan bijaksana.
Pak Yudha yang tidak bisa ia lukiskan
kebaikannya. Begitu panjang Rania berhasil
mendiskripsikan tentang pak Yudha sepanjang
perasaannya yang pernah terpasung dengan
kalimat perjanjian mereka 'dilarang jatuh cinta'
dulu, lima tahun yang lalu. Hingga Rani menutup
93
pintu hatinya untuk tidak lancang mencintai pak
Yudha.
"Rani, " ups, hampir lupa pak TYudha
menunggu jawaban atas permintaan yang baru
saja beliau tuliskan.
"Bagaimana, bisa ke kampus ?" Rania
sebenarnya enggan berangkat ke kampus namun
demi pak Yudha ia memberanikan diri bertarung
melawan enggan.
Rania bangkit sambil menuliskan kalimat.
"Otewe pak."
'Kemudian pak Yudha mengirimkan
emoticon menari-nari. Rani tersenyum melihat
itu.
Rania bersiap menuju kampus, gamis
coklat muda di padu dengan jilbab pasmina lebar
berwarna senada sekaligus tas Celvin Klein
dengan warna coklat yang sama plus sepatu hak
tinggi masih dengan warna yang sama juga. Rania
nampak berbeda dari biasanya.
Ia melenggang menuju 'brio' hitam
metaliknya. Membelah jalanan Banjarmasin Rania
94
yang mendung. Rnia hampir sampai di kampus.
Memarkirkan mobilnya di halaman depan. Menuju
ruangan pak Yudha. Melihat Rania muncul pak
Yudha tersenyum manis, terlebih melihat
penampilannya. Mereka terbahak-bahak bersama.
Rania tahu pak Yudha pasti akan menggodanya
saat melihat penampilannya.
"duduk, Ran." Rania langsung duduk,
menghempaskan ekor punggungnya dengan
kasar.
"Bagaimana perkembangan di
Banjarmasin " Pak Yudha tersenyum lagi.
"Perkembangan yang mana yang di
tanyakan ? perkembangan kuliah, perkembangan
karier atau perkembangan isi hati ?" Rania
menjawab lugas sekali lagi pak Yudha tersenyum.
Rania yang selalu menggemaskan.
"Semuanya,"
"Kalau semuanya bagaimana Rania harus
mulai bercerita ?"
"Kamu sekarang punya usaha apa hingga
bisa sesukses ini ?
95
"Hanya menulis. "
"Oh iya ?"
"Iya,"
"Berapa buku sudah yang di tulis?"
"Yang sudah lahir dan cetak ada 15 buku,
yang online ada tujuh judul."
"Semuanya novel ?"
"Iya, pak."
Pak Yudha menganggukkan kepalanya
mantap.
Ikut online di media mana saja, Ran ?"
"Di banyak tempat sih pak, tapi yang
kayaknya menghasilkan baru 'dreame' sih."
"Hmmmm "
"Lalu dengan yang itu bagaimana ?"
Rania memilin-milin ujung jilbabnya,
"Entah pak."
"Kok entah ? sekarang kan sudah berada di
satu kota mestinya bisa di rajut lagi lah
asmaranya."
"Bapak serius atau hanya menggoda ?"
96
Pak Yudha tertawa lagi sambil merapikan
letak kacamatanya.
"Lho, kalau Rani mau melanjutkan ya ga pa
pa, kalau Rani mau sih." Pak Yudha selalu mampu
mengaduk-aduk perasaan yang di miliki Rania.
"Sepertinya tidak." Rania menjawab lugas.
"Sepertinya tidak serius melupakan,
begitukah ?"
"Entahhhhh " Rania berteriak setengah
keras hingga beberapa dosen yang ada di sana
melirik ke arah Rania dan pak Yudha.
"Hush " Suara pak Yudha lirih sambil
menutupkan telunjuk nya ke bibirnya sendiri,
memberi isyarat agar Rania tidak terlalu keras
berbicara.
Rania manyun sekali lagi.
"Ran, sudah makan ?"
"Belum,"
"Kita makan nasi goreng di depan
Gramedia yang dulu itu yuk."
"yang waktu kita ketemu itu ?"
"Iya, "
97
"Males,"
"Kenapa ?"
"Kurang mewah, nanti baju ku kotor." Pak
Yudha memandang Rania heran namun saat
beliau melihat wajah itu pak yudha tahu Rania
hanya menggodanya. Mereka tersenyum bersama
lagi.
Rania berdiri keluar ruangan, pak yudha
mengunci pintu ruangan yang tadi mereka
gunakan untuk berbincang. Lengan kekar pak
Yudha menggantung di leher Rania seolah tidak
perduli pada tatap mata yang melihat mereka.
Pak Yudha dan Rania menuruni tiap anak
tangga dengan canda tawa hingga menuju mobil
pak Yudha yang terparkir di samping gedung
pasca sarjana.
Rania memasuki mobil dan duduk tepat di
samping pak yudha, mereka seolah tidak perduli
pada orang yang memandang sambil berisik
membicarakan mereka.
Rania tetap saja duduk di depan.
98
Hingga ketika ekor matanya menangkap
sebuah tatapan yang nampak di balik tirai,
seorang berkacamata sedang melihat kemesraan
mereka, sedang mengintai apa yang sudah mereka
lakukan dari tempatnya.
Seseorang itu menahan perih di hatinya
melihat Rania dan pak Yudha sedang akrab begitu
rupa, seolah ia ingin menghalangi kedekatan
mereka namun tidak berdaya. Ia ingin turun dan
menarik lengan Rania agar duduk di mobilnya saja
dan tidak duduk di mobil pak Yudha. namun ia tak
mungkin melakukan itu, kesalahan telah
membelenggunya hingga ia tidak punya
keberanian bertindak meski berhak. Hingga ia
hanya bisa menatap dari tempatnya.
Lelaki itu pak Leo.
dosen yang juga suami Rania.
99
KU PILIH MELANJUTKAN PERJALANAN
Hari ke tiga puluh tujuh setelah
pertemuannya dengan Leo untuk pertama kalinya,
Leo masih belum memberikan signal hendak
berbicara serius dengan Rania dan Rania sendiri
pun seolah enggan membuka waktu untuk Leo
berbincang. Dua kutub yang sama-sama tidak bisa
di pertemukan.
Rania duduk di gazebo kegemarannya.
Acara tatap muka di kampus memang belum
dilangsungkan namun kesediaan Rania untuk
menjadi driver online gadungan untuk Septia
membuat dirinya sering berada di kampus ini
sambil membawa laptop dan tumpukan kertas.
Menikmati semilir angin kemudian menulis.
Betapa suasana sunyi mampu mengalirkan energi
baginya, energi hebat yang mampu memberikan
lembar demi lembar kisah indah.
Septia menemui Arif kekasihnya dan rania
mengumpulkan episode untuk novelnya, sebuah
simbiosis yang saling menguntungkan memang.
100