The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-19 17:17:38

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu suamiku

Melewati tangga biru lagi sebelum
akhirnya sampai di parkiran ketika beberapa
teman wanitanya sesama dosen menyentil

"Sedang berebut penulis cantik kah, Pak?"
Tanya mereka pada Pak Budiman sambil senyum-
senyum.

Dari mana mereka bisa tahu cerita ini ?
Pak Budiman berlalu dari kerumunan
teman wanitanya tadi. Datar tanpa ekspresi.
"Arifin, kamu di mana ?" tanya Pak
Budiman melalui telephon.
"Di gazebo, Pak dengan Septia."
"Oh kebetulan sekali, kamu ke tempat
parkir yang di dekat pohon pinus ya, dekat papan.
Kita ke rumah Rania."
"Siap, kapan Pak ?"
"Tahun depan."
Tak berapa lama Arifin dan Septia
mendekat. Pak Budiman mempersilahkan mereka
masuk mobil. Mobil meluncur ke arah rumah
Rania. Sepanjang perjalanan Pak Budiman
mengeja perasaan iba nya pada Rania. Baru satu

151

Rania dengan kasus seperti ini yang ia temui ada
banyak Rania di luar sana dengan nasib serupa
yang tidak ia kenali. Lalu siapa yang menolong
mereka menuntut hak nya?

Pak Budiman menghela nafas
menyaksikan secuil potret kehidupan yang
nampak di depan matanya. Tiba-tiba ia jadi
merasa bersalah dengan Tuhan.

Rumah Rania nampak sunyi, ketika mobil
Pak Budiman berhenti tepat di depan pagar rumah
cantik milik Rania.

"Septia bisa tolong telephon kan Rania ?"
"Oh iya, Pak."
Septia menghubungi Rania.
Bersama dengan itu seorang pembantu
membuka pintu pagar dan mempersilahkan
masuk.
Mereka bertiga duduk di sofa.
Ketika Rania muncul dengan kelopak mata
bengkak mereka bertiga menjadi bingung.
"Rani, kenapa ?" Tanya Pak Budiman.

152

"Bukan karena menulis novel kan, kak ?"
tanya Septia.

Rania menggeleng pelan.
Kemudian berkata.
"Kemarin malam Pak Leo datang." Hanya
itu lalu kembali diam.
Suasana kembali hening. Pak Budiman,
Arifin juga Septia heran melihat makhluk seperti
Pak Leo. Sebenarnya otak nya terbuat dari apa ?
Rania masih menunduk sambil
menceritakan kejadian semalam. Ada amarah
yang meletup-letup di dada Pak Budiman pada
Pak Leo. Seseorang yang mestinya menjadi teman
ternyata tak lebih dari seorang pecundang.
Pak Budiman menatap Rania sekilas,
hanya sekilas. Ia tidak berani menatap wanita ini
terlalu lama. Karena saat itu juga, sebelum
tatapannya usai akan nampak penderitaannya
dengan STATUS yang digantung, selama LIMA
TAHUN !
Oleh laki-laki yang berilmu pengetahuan.

153

Pak Budiman terdiam sambil
merencanakan lanjutan bunga rampai yang ia
buat hari ini untuk Pak Leo.

Musim hujan sedang melanda
Banjarmasin, hujan, selalu punya cerita tersendiri,
selalu menghasilkan rindu dan membuat guratan-
guratan pilu. Itu yang dirasakan Pak Leo saat ini di
ruang kerjanya. Rumah mewah, aneka perabot,
mobil berjajar juga motor dengan merk terbaru
ternyata belum juga memupuskan rindunya.

RANIA
ia mengeja nama itu berkali-kali dalam
sehari. Ia menyebutnya dalam permintaannya
pada Tuhan.
Rania, adalah sebuah obsesi terbesar
keberhasilan seorang lelaki dengan kesuksesan
seperti dirinya.
Rania yang dulu pernah ia jadikan
perdebatan dengan istri sah nya di rumah hingga
ia tidak lagi mampu berkutik.

154

Rania yang dulu di diskripsi kan sebagai
wanita 'benalu' tanpa pekerjaan tetap dan hanya
akan menghabiskan hartanya.

Hingga ia percaya semua diskripsi itu.
Saat itu ia begitu takut kehilangan semua
yang ia miliki.
Bertahun-tahun ia mengikuti semua
arahan istri pertamanya namun faktanya ia tidak
bisa menikmati perjalanannya.
Lelaki, kadang terlampau sulit berfikir
normal bila berhadapan dengan wanita yang
sering ia sebut istri.
Siapa sangka, saat dirinya merasa Rania
adalah sebuah kekaburan masa silam, tiba-tiba
Rania hadir lagi, Rania muncul lagi, Rania seolah
hidup lagi. Lalu ia merasa punya 'hak' atas
seseorang yang dulu sempat ia jauhi.
Pak Leo mengkremasi cinta yang ada
dalam hatinya.
Mungkinkah ia merelakan Rania terbang
bebas di hadapannya ?

155

Mungkinkah ia membiarkan Rania
berlarian dengan lelaki lain dan melintasi
wajahnya begitu saja ?

Mungkinkah ?
Sedangkan sampai hari ini dirinya adalah
'suami' dihadapan Tuhan bagi Rania.
Melanjutkan mimpinya untuk bahagia
bersama Rania atau menjatuhkan talak pada Rania
dan mengakhiri mimpinya ?
Pak Leo seperti orang linglung membaca
kisah hidupnya sendiri.
Hujan belum berhenti, seperti cintanya
yang ternyata tidak bisa berhenti pada Rania.
Lelaki mana yang tidak bangga bersisihan
dengan wanita cantik. Lelaki mana yang tidak
ingin punya istri memukau dan jadi perbincangan
banyak orang. Pekerjaan wanita adalah urusan
kesekian bagi lelaki seharusnya karena tugas
bekerja mestinya ada di pundak lelaki bukan
wanita. Namun dirinya begitu bodoh saat itu.
Pak Leo menutup laptopnya. Mengakhiri
seluruh kegundahan dalam hatinya. Ia bertekad

156

akan menemui Pak Budiman dan menceritakan
seluruh harapannya tentang Rania, bila mungkin
ia akan memohon agar Pak Budiman
membantunya menyampaikan niat tulusnya pada
Rania.

Ia akan bicara sebagai sesama lelaki.
Mungkin nanti ia akan malu namun ia sadar ini
adalah bagian dari konsekuensi yang harus ia
hadapi.

Pak Leo bergegas, membersihkan dirinya
dan memakai baju santai. Ia ingin menemui pak
Budiman di rumahnya.

"Hari libur mau kemana ?" tanya istrinya
saat ia melintas dengan pakaian rapi dan bau
wangi.

Pak Leo hanya diam, lalu menuju mobil.
Istrinya sekarang tidak terlalu mengawasi dirinya
karena istrinya berfikir bahwa Rania sudah pergi,
istrinya tidak tahu bahwa Rania telah kembali.

Melintasi jalanan panjang yang masih
sunyi, mungkin karena hujan yang turun sejak

157

pagi. Pak Leo menata kalimat yang tepat bila nanti
ia bertemu dengan Pak Budiman.

Rumah asri bercat hijau dengan pagar
tinggi itu masih terkunci. Nampak sunyi. Mungkin
Pak Budiman sedang tidur. Hawa sejuk yang hadir
pagi ini memang mendukung banyak orang
memanjakan diri di tempat tidur.

"Assalamualaikum." Suara Pak Leo
terdengar lantang.

Sunyi, tetap tidak ada jawaban.
Pak Leo memutuskan menghubungi pak
Budiman lewat ponselnya.
"Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikumsalam."
"Pak Budiman sedang istirahat ya ?" Suara
Pak Leo sok tahu.
"Maksudnya pak ?"
"Saya ada di depan rumah bapak."
Pak Budiman merasa terkejut mendengar
keterangan Pak Leo bahwa Pak Leo sudah ada di
depan rumahnya.

158

Pukul sembilan waktu Indonesia Tengah.
Pak Budiman, Arifin juga Septia sedang berada di
rumah Rania.

Mereka berjanji hari ini jalan-jalan untuk
menghibur Rania dari dukanya.

"Bapak dimana ?" Tanya Pak Leo lagi. Pak
Budiman memandang Rania meminta
persetujuan. Rania hanya memandangnya dengan
tatapan datar.

"Saya di rumah Rania, Pak."
Akhirnya jawaban Pak Budiman pun
muncul.
Pak Leo terkejut. Sepagi ini, saat hari hujan
begini ? Untuk apa Pak Budiman di rumah Rania.
Kecemburuan Pak Leo memuncak. Pak Leo
merasa bahwa Pak Budiman menyepelekan
dirinya. Pak Budiman tidak menghiraukan
penjelasannya bahwa Rania masih istrinya. Hal itu
terbukti dengan keberadaan Pak Budiman di
rumah Rania hari ini.
Pak Leo meluncur menuju rumah Rania, ia
memacu mobilnya lebih cepat.

159

"Pak Leo datang," suara Arifin. Semua yang
duduk di ruang tamu saling pandang.

"Arifin dan Septia masuk saja. Biar Pak Leo
saya yang mengatasi dengan Rania." Ucap Pak
Budiman tegas.

"Saya ?" tanya Rania dengan wajah
memelas.

"Iya, kamu takut ?"
Rania hanya diam. Nampak sekali ia
tertekan dan Pak Budiman memahami itu.
"Assalamualaikum " suara Pak Leo di
ujung pintu.
"Waalaikumsalam " jawab semua tang di
dalam rumah.
Pak Leo muncul, Arifin dan Septia berjaga-
jaga kalau nanti terjadi hal yang buruk.
Pembantu Rania pun melakukan hal yang
sama.
"Pada mau kemana ?" Pak Leo membuka
pembicaraan.
"Kami mau ke mall, Pak. Belanja. Biasa
tanggal muda." Pak Budiman menjawab santai.

160

"Pak Budiman saya ingin bicara." Pak Leo
bersuara lagi.

"Iya pak ada apa ?" Pak Budiman pura-
pura mengeluarkan wajah serius.

"Rania masuk saja." Perintah Pak Leo pada
Rania, ia nampak mengatur mungkin merasa
memiliki Rania.

"Apa ?" Rania mencoba bertanya pada Pak
Leo.

"Pak Leo kesini mau bicara dengan Pak
Budiman dan saya sebagai yang punya rumah di
suruh masuk ?" Rania menekan suaranya.

"Bukan begitu bunda, ini penjelasan lelaki.
Bunda di dalam saja."

"Kalau begitu ngomongnya di luar saja, di
warung kopi, di resto atau di cafe, jangan disini.
Saya yang punya rumah dan tidak ada seorang pun
yang boleh mengatur saya di rumah saya."

Rania nampak emosional sekali. Pak
Budiman memandang Rania ada kecemasan
dalam hatinya.

161

"Pak Leo mau bicara apa ?" Pak Budiman
berusaha santai.

"Dari kemarin saya sudah bilang agar Pak
Budiman menjauhi Rania karena Rania secara
hukum agama masih istri saya." Pak Leo akhirnya
bicara.

"Ya, betul itu. Dan saya berjanji akan
mentabayun kan urusan ini pada Rania, Rania
jelas berkata bahwa Rania dan Pak Leo sudah
tidak ada hubungan apapun sejak lima tahun yang
lalu."

"Tapi saya belum menjatuhkan talak
Rania,Pak." Pak Leo bicara lantang.

"Sebagai sesama lelaki harusnya Pak
Budiman malu naksir istri teman sendiri. Ini
menjatuhkan reputasi bapak."

Pak Budiman tertawa lantang, tawanya
seperti rentetan hinaan bagi Pak Leo.

"Pak Leo, saya jelaskan ya."
"Sebagai sesama lelaki saya tidak malu
naksir Rania karena Rania jelas berkata dia janda.
Andai memang Pak Leo belum menjatuhkan talak,

162

ini kesempatan. Jatuhkan saja sekarang mumpung
ada kami sebagai saksi."

"Satu hal lagi, saya tidak takut reputasi
saya di kampus hancur yang penting hati saya
tidak hancur karena kehilangan mimpi, harapan
dan cinta saya."

Pak Leo dan Pak Budiman beradu
pembicaraan. Sebagai sesama lelaki mereka saling
menyampaikan argumen yang benar menurut
pemahaman mereka.

Rumah Rania menjadi ramai dengan
keributan.

"Cukup.!!!!" teriak Rania.
Pak Budiman dan Pak Leo pun diam. Arifin
berdiri mengawasi keadaan.
"Jangan membuat keributan di rumah
saya.!"
"Sekarang biar saya menjawab. Status saya
sudah Pak Leo gantungkan bertahun-tahun hingga
saya harus berjuang memenuhi kebutuhan lahir
batin saya tanpa bantuan lelaki yang bisa
dipanggil suami. Sampai disitu mestinya otak Pak

163

Leo bisa dipakai berpikir. Lalu sekarang Pak Leo
datang lagi bicara tentang status. Jujur saya
muak!"

"Sekarang, saya putuskan. Oke, kita masih
akan tetap jadi suami istri asalkan Pak Leo
membawa istri Pak Leo ke rumah ini besok pagi.
Jika Pak Leo tidak melakukannya maka bapak
harus bersedia menceraikan saya."

"Sekarang semua sudah jelas, silahkan
pulang." Usir Rania.

Pak Leo terdiam. Pak Budiman juga.
Semua diam dalam pikirannya masing-
masing.
Hingga Pak Leo berdiri dan pergi tanpa
berpamitan.
Hidup terkadang begitu keras pada kita.
Mengajarkan bagaimana sakitnya kehilangan.

164

BAHAN PERGUNJINGAN

Langit masih mendung seperti hari
kemarin, suasana damai dan cuaca yang sejuk
mendayu membuat banyak orang lebih memilih
melanjutkan mimpi dari pada mewujudkan
mimpi.

Pagi sekali Pak Budiman sudah rapi, ia
memilih berangkat ke kampus sepagi mungkin
agar nanti bisa secepatnya menuju rumah Rania,
masih bersama Arifin dan Septia. Pak Budiman
akan menunggu Pak Leo datang bersama istrinya
hari ini sesuai permintaan Rania. Pasti seru bila
hal itu benar terjadi. Pak Budiman tersenyum
membayangkan wajah Pak Leo yang begitu serius.

Saat ini beliau terjebak oleh pikiran nya
sendiri. Keinginan dan ekspetasi yang tinggi
membuat ia jadi lupa segalanya. Beruntung hari
ini tidak ada kuliah online di mata kuliah Pak
Budiman hingga Pak Budiman tidak terlalu
terbebani dengan pikiran tentang tugas yang

165

mesti diemban. Ia akan murni jadi pemirsa dalam
pertunjukan nanti.

Sesampainya di kampus, beberapa teman
dosen sedang duduk di ruang tata usaha, bersama
beberapa pegawai ketika Pak Budiman duduk juga
bersama mereka.

Seorang ibu-ibu yang usianya setengah
baya mendekati Pak Budiman.

"Bagaimana Pak,?" Pak Budiman
mengernyitkan dahi.

"Bagaimana apanya, Bu ?" Tanya Pak
Budiman lagi.

"Itu kisah Pak Leo." Haduh... batin Pak
Budiman, ibu-ibu memang hobi bergunjing tidak
perduli apapun profesi yang disandangnya. Tak
perduli setinggi apapun gelar yang di milikinya
dan sampai disitu Pak Budiman merasa ingin
tertawa.

"Kisah Pak Leo kenapa ibu bertanya pada
saya ?" tanya Pak Budiman lagi.

166

"Bapak nih pura-pura tidak tahu, " ucap
ibu yang lain menimpali. Hingga Pak Budiman pun
berdiri kesal.

"Ibu yang bertanya nya tidak jelas. Coba
dijelaskan pertanyaannya." Sela Pak Budiman
sambil memandang wajah teman-temannya yang
berkerumun.

"Itu lho pak cerita tentang Rania yang
mahasiswa baru, yang penulis, yang katanya
mantan istri Pak Leo dan, " kalimat itu mendadak
terhenti.

"Dan sekarang pacaran dengan saya,
begitu kan ?" Pak Budiman melempar tanya
kembali. Ibu-ibu yang bergunjing tadi pun
tersenyum. Senyum simpul yang di kulum karena
malu.

"Iya,," akhirnya mereka serempak
menjawab.

"Ditunggu saja kisah selanjutnya, Bu."
Jawab Pak Budiman singkat juga cepat.

"Ditunggu saja siapa yang berhasil
mendapatkan Rania, saya atau Pak Leo."

167

Pak Budiman sengaja melempar bola
panas dan dia tidak perduli apinya akan mengenai
siapa.

"Apa mungkin Rania itu kuliah disini untuk
kembali dengan Pak Leo ?"

"Mestinya Rania tahu malu dong kan Pak
Leo sudah nikah."

"Saya juga curiga begitu, bu. Untuk apa
jauh-jauh kuliah di Banjar sedang dia tinggal di
Jawa."

"Jangan-jangan Pak Budiman hanya di
manfaatkan oleh Rania, kalau Pak Leo tidak
menerima masih untung dia dapat Pak Budiman.
Kan sama-sama jadi dosen."

Pak Budiman berdiri, meninggalkan
ruangan yang di dalamnya penuh dengan kicauan.
Selalu begitu memang, ketika ada wanita ke dua
hadir maka para ibu akan serta merta
menyalahkan wanita ke dua tanpa mau berfikir
tamu bisa masuk ke dalam rumah bila tuan rumah
membukakan pintunya.

168

Pak Budiman menyingkir dan
membiarkan mereka melanjutkan kicaunya. Biar
saja, nanti akan tiba masanya mereka akan tahu
yang sebenarnya.

"Mau kemana, Pak ?"
"Ke rumah Rania," begitu jawab Pak
Budiman sambil melenggang meninggalkan
mereka.
Septia dan Arifin dua sejoli yang sedang
jatuh cinta itu sudah menunggu di samping mobil
Pak Budiman. Mereka telah siap meluncur ke
rumah Rania.
"Kira-kira Pak Leo datang nggak ya ?"
tanya Septia.
"Nggak akan." Jawab Arifin.
"Kenapa bisa yakin begitu ?"
"Datang, tapi tanpa istrinya." Jawab Pak
Budiman. Mereka semua diam melanjutkan
perjalanan.
Rumah Rania telah nampak dari kejauhan
dan dari jauh juga mobil Pak Leo nampak dari
pandangan mereka.

169

"Pak Leo sudah datang."
"Pak Leo datang." Arifin heboh dari dalam
mobil.
Pak Leo melanggar perjanjian. Dia janji
datang di atas jam sepuluh dan sekarang masih
belum jam sembilan pasti ada yang tidak benar,
pasti Pak Leo sedang merencanakan sesuatu. Pasti
Pak Leo punya niat buruk. Tapi apa ?
Pikiran Pak Budiman berkelana menuju
belantara penuh tanya. Ia geram menyaksikan apa
yang terjadi saat ini. Sangat geram.
Mobil pun berhenti di depan rumah, tepat
di samping mobil Pak Leo. Pak Budiman turun
tanpa mengucapkan salam dan langsung masuk
begitu saja. Ada Rania yang sedang menunduk
dengan dalam. Juga Pak Leo.
Pak Budiman mendekati Rania, terduduk
di depannya.
"Ada apa Ran ?"
Rania diam. Hatinya bergejolak. Ia
menangis terisak. Lalu memeluk Pak Budiman.

170

Pak Budiman bingung, adegan peluk ini
jelas diluar rencana drama mereka. Tapi ada apa
ini. Rania pasti berada dalam tekanan tapi apa ?

"Pak Leo, ada apa ?"
"Tanya Rania saja." Jawab Pak Leo
diplomatis.
"Maksudnya apa ?"
"Bapak tanya Rania saja." Pak Leo tidak
memberikan satu keterangan pun.
"Istri bapak mana ?"
"Pak Budiman, saya ingatkan ya, Rania ini
jelas masih istri saya kami tidak pernah bercerai,
ini buktinya. " Pak Leo menunjukkan bukti surat
nikah dari seorang ustadz dan bukti surat
persetujuan yang baru saja di tanda tangani Rania
bahwa mereka adalah suami istri.
"Ayolah pak, mestinya bapak punya malu
mencintai istri orang." Suara Pak Leo penuh
kemenangan.
Kenapa Rania mau bertanda tangan pada
surat itu ? Untuk apa ? Itu akan makin
menyulitkannya.

171

Rania pasti dalam tekanan tapi kenapa ?
"Dan mulai hari ini Rania sudah berjanji
akan berhenti berhubungan dengan Pak Budiman.
Dia akan jadi istri yang baik"
Pak Leo terus bicara seperti perempuan,
hingga Pak Budiman menjadi tidak sabar juga
kesal. Satu kepalan tangan melayang ke pipi mulus
Pak Leo. Pak Budiman tahu bahwa apa yang dia
lakukan melanggar hukum namun ia sudah mulai
tidak perduli. Mungkin Pak Leo sudah tidak bisa
diajak bicara sebagaimana para akademisi, dia
hanya pantas diajak bicara secara laki-laki. Keras
dan berani.
Pak Leo meraba rahangnya yang terasa
sakit. Ia hendak mengambil kacamata minusnya
yang terjatuh namun sayang kaca mata itu
terlanjur terinjak oleh kaki Pak Budiman.
Rania tidak tahan dengan penderitaannya
pagi ini. Ia berlari menuju kamar pribadinya,
mengunci pintunya rapat lalu menangis

172

BUNGA ITU TELAH LAYU

Sehari setelah kejadian itu, Pak Leo
mengunjungi Rania lagi dengan membawa kue
kesukaan Rania, martabak telor spesial. Pak Leo
senantiasa berharap Rania akan kembali seperti
dulu dan mereka akan bersisihan menikmati cinta
mereka.

Pak Leo masih yakin bahwa Rania akan
bisa kembali mencintainya, menikmati indahnya
Siring Laut diantara terpaan angin, menikmati
indahnya makan soto Banjar di perahu apung,
menikmati Pantai Sarang Tiung ataupun
bergandengan tangan melintasi tiap senti lantai
Duta Mall.

Pak Leo sangat ingin kembali merajut
kasih bersama Rania, itu sebabnya dia akan
melakukan apapun agar cinta dan masa depannya
kembali.

Bagi Pak Leo, Rania adalah bagian dari
ambisi kelelakiannya. Ia telah menempuh banyak
jalur pendidikan namun belum ada satu wanita

173

pun yang berhasil meluluh lantakkan isi hatinya,
seperti Rania.

Perumahan megah dengan icon air mancur
mewah di gerbang selamat datang, di sanalah
Rania tinggal. Kini Pak Leo memasuki kembali
jalanan itu menuju rumah Rania berharap Rania
ada dan akan menerimanya.

Pak Leo mengarahkan jari telunjuk
kanannya pada benda dengan sensor yang
menempel di dinding pagar rumah Rania. Benda
itu berbunyi, sekali, dua kali, tiga kali tidak ada
jawaban.

"Bu Rani." Suara pembantu Rania yang
renyah seperti kerupuk itu menusuk gendang
telinganya.

Rania yang berada di kamar berdiri
menuju pintu, membuka nya perlahan.

"Ada apa ?"
"Itu pak dosennya datang lagi."
"Dosen yang sering membuat ibu
menangis."

174

"Biar saja mbak, pintunya nggak usah di
buka, biar saja." Begitu perintah Rania pada
pembantunya. Dan pembantunya pun
mengangguk setuju.

Rania membuka pintu kamarnya namun
memilih tetap berada di dalam sambil
menghidupkan televisi.

Beberapa hari ini ia sulit menulis karena
pikirannya terlalu kacau dengan keadaan.

Bel masih terus berdentang. Rania
mendadak menjadi wanita tuli yang tidak
mendengar bunyi sekeras itu.

Hingga bunyi itu pun hilang dengan
sendirinya. Mungkin Pak Leo lelah dan pulang
ataukah Pak Leo memilih tenang dan menunggu di
depan. Rania tidak perduli.

Pak Leo telah berbuat curang pada Rania
dan akibat itu semua Pak Leo merasa bisa
menggenggam Rania.

Di kamarnya Rania berkutat dengan
pikirannya.

175

Bukankah kedatangannya ke Banjarmasin
adalah karena keinginannya untuk melawan Pak
Leo.

Bukankah ia mengeluarkan uang banyak
semata karena ingin membalas rasa sakitnya
akibat di gantung bertahun-tahun oleh Pak Leo.

Bukankah ia punya Tuhan, punya uang dan
punya kawan, tiga elemen penting dalam hidup
telah ia genggam.

Lalu mengapa ia takut.
Jika hari ini Pak Leo punya kartu 'truft' atas
kesalahannya maka sebenarnya Rania pun punya
rudal yang sama lalu mengapa mesti takut.
Mengapa regulasinya justru berbalik pada
sebuah kenyataan dimana Rania yang terdesak. Ini
kesalahan besar.
Harusnya Rania mampu. Harusnya Rania
bangkit dan melawan. Mengapa justru rapuh dan
merasa malu.
Kemarin Pak Leo bilang bahwa, kesalahan
Rania telah menghabiskan uang Pak Leo di ATM
bisa diperkarakan oleh istri Pak Leo. Lalu, saat

176

Rania menggadaikan mobil atas nama Pak Leo
yang di gunakan untuk pulang kampung adalah
sesuatu yang melanggar hukum. Rania gerah
dengan ancaman itu hingga ia akhirnya mau
bertanda tangan pada surat pernyataan bahwa
dirinya mengakui Pak Leo sebagai suaminya.

Rania kemarin tertekan. Rania telah di
bodohi.

Rania menyandarkan kepalanya yang
berat ke sandaran tempat tidurnya

Mestinya Rania berfikir atau setidaknya
minta saran pada mereka yang faham hukum. Dan
bila harus mengganti berapa nominalnya.
Mengapa Rania begitu bodoh hingga lebih memilih
bertanda tangan.

Rania berdiri, membuang pandang pada
jendela. Begitulah, orang-orang yang tidak faham
hukum akan lebih mudah di bodohi. Terlebih
wanita. Ketika perasaannya dikulik, rasa
tertekannya bangit, ketakutan menghantui saat
itulah wanita terjebak.

177

Hal itulah yang kini sedang dilakukan Pak
Leo pada Rania dan fix Pak Leo adalah makhluk
busuk yang hanya bisa menyakiti Rania.

Mata Rania basah.
Ia baru sadar sore ini saat semua sudah
terjadi.
Lahir batinnya telah resmi disakiti oleh
Pak Leo.
Lima tahun statusnya digantung hingga ia
sulit menikah lagi.
Lima tahun tidak dinafkahi
Dan hari ini ia kembali diintimidasi oleh
sebuah perkara yang tidak ia ketahui dasar
hukumnya.
Rania merasa teramat bodoh.
Sore ini, ia menjadi rindu pada Pak
Budiman. Laki-laki baik itu sedang apa ya?
Ia pasti resah memikirkannya.
Pak Budiman bukan siapa-siapa bagi Rania
begitupun sebaliknya namun ia seperti seseorang
yang membawa peti emas dari negeri penuh harta

178

karun yang dikirim Allah untuk membantu dan
perduli pada Rania.

Pak Budiman begitu baik bahkan terlalu
baik.

Hari ini Rania baru faham bahwa Pak Leo
sedang berusaha menyiram bunga sayang bunga
itu telah lama layu.

Apa yang dilakukan Pak Leo sia-sia belaka.
Cinta itu bukan ilmu untung rugi, cinta
adalah bingkisan cantik dalam hati.
Untuk orang yang dipilih hati.
Rania makin mantap.
Esok hari ia akan keluar dari kamarnya,
berdandan cantik, mengambil uang di atm dan
bersiap membalas.
Selamat datang di dunia baru Pak Leo,
Rania menggumam dalam samar.
Pak Leo menghubungi Rania, ia kembali
mengintimidasi Rania atas tanda tangan dan
pernyataannya kemarin.
"Ayah ini beriktikad baik bunda, untuk
menyelesaikan semua sengketa diantara kita.

179

Urusan kita kita selesaikan dengan baik kemudian
kita hidup tenang layaknya rumah tangga yang
lain."

Rania diam, tidak menjawab apapun
bahkan tidak melawan meski hatinya seolah
tertohok kayu bergerigi.

Andai saat ini dirinya berani berkolaborasi
dengan ilmu hitam, ia pasti akan membuat Pak Leo
lumpuh total semasa hidupnya.

"Bunda, ayolah. Bunda jangan egois. Seisi
kampus semua tahu bahwa bunda istrinya ayah.
Kalau ayah mau saat ini juga ayah bisa saja
menikahi wanita lain yang lebih muda, tapi ayah
tidak lakukan itu bunda. Ayah ingin kita
melanjutkan rumah tangga kita. Banyak
mahasiswi ayah yang mau dengan ayah tapi ayah
tidak tertarik karena ayah masih sangat
menyayangi bunda. "Begitu pitutur Pak Leo dan
Rania masih memilih diam.

Rania merasa hilang akal menghadapi
lelaki yang saat ini bersenandung di telinganya. Ia
sebenarnya tahu bahwa keinginan Rania hanya

180

satu MENDAPATKAN PERNYATAAN TALAK ATAS
PERNIKAHAN SIRI MEREKA. Pak Leo tahu itu. Apa
susahnya meloloskan keinginan Rania toh selama
ini mereka sudah tidak bersama.

Dengan kalimat talak itu maka Rania
secara agama 'bersih' dari status nya sebagai istri
siri Pak Leo. Rania bisa melanjutkan
kehidupannya lagi. Menikah dengan orang lain,
mungkin.

Bagaimanapun juga Rania butuh
melanjutkan hidup dengan mimpi dan harapan
baru.

Rania butuh pendamping untuk berkisah
tentang rasa sakit dan perih hatinya. Hidup sendiri
itu tidak mudah meski beberapa wanita memilih
beradaptasi dengan kesendirian. Bukan karena
mereka tidak ingin menikah tapi lebih kepada
karena mereka sedang mencari sosok yang secara
lahir batin 'tepat' dengan seleranya.

Rania butuh menikah, butuh kehadiran
lelaki lain untuk mengisi kehidupannya lahir

181

batin. Untuk menggenapi ruang kosong dalam
dirinya dan jelas itu bukan Pak Leo.

Rania sudah tidak mau lagi dengan Pak Leo
bukan karena Rania tidak punya perasaan apapun
pada lelaki itu tapi karena Rania merasa tidak bisa
beradaptasi dengan sikap pengecutnya yang
sering bersembunyi di balik nama baik,
kehormatan dan harga diri.

Rania ingin hidup normal seperti wanita
yang lain.

Rania enggan bersaing dengan istri Pak
Leo, Rania enggan menjadi teraphys bagi dirinya
sendiri. Rania terlalu lelah.

Namun dengan sangat egois Pak Leo
memaksakan diri agar Rania kembali dalam
pelukannya. Entah apa motifnya hingga sampai
detik ini Pak Leo tidak juga membingkis kalimat
talak itu untuk Rania.

Bila cinta motifnya mengapa cinta itu baru
muncul sekarang ? Dimana Pak Leo lima tahun
yang lalu. Saat Rania harus melalui semua
penderitaan dan kepedihan seorang diri.

182

Terbayang wajah pucat dan kaku bayi-bayi
mungil yang meninggal karena Rania tidak punya
cukup uang untuk mengobati mereka. Terbayang
senyum tampan putra Rania yang akhirnya harus
pergi tanpa diketahui sebabnya. Rania meradang.

Akankah dengan sejarah kelam itu Rania
kembali pada Pak Leo ?

Ya... bukan Pak Leo yang membunuh
mereka, tapi Pak Leo telah memasung kehidupan
Rania. Pak Leo telah mengkremasi hak Rania.
Dicerai tidak diperlakukan baik sebagai istri juga
tidak.

"Ayah, kalau ayah ada rizqy bunda boleh
minta sedikit saja ayah. Zahrial sakit."

"Bunda punya rekening BNI ?"
"Gak punya ayah." Rania mencoba
menghiba pada lelaki yang masih menyatakan
dirinya sebagai suami. Sampai mentari di atas
kepala uang transferan itu tidak kunjung datang.
Rania hanya bisa menitikkan air mata.

183

"Bunda pulang saja kemari, nanti ayah
akan carikan pekerjaan dan kita bisa hidup lebih
baik." Selalu itu kalimat yang Pak Leo iklankan.

Gaji dan tunjangan puluhan juta tidak
membuat Pak Leo punya keinginan berbagi sama
sekali.

Hari berlalu waktu berjalan. Rania pun
tidak lagi menginginkan uang dari Pak Leo.
Beberapa lelaki baik datang meminang. Rania
tidak berani menerima mereka karena Rania
masih resah dengan statusnya. Andai saja Pak Leo
bersedia mentalak Rania saat itu maka PASTI
Rania akan menikah dengan orang lain serta
membangun hidup yang lebih baik dihadapan
Tuhan juga manusia. Tapi Pak Leo tidak kunjung
melakukannya hingga Rania harus melalui onak
duri kehidupannya sendiri.

Beruntung, melalui jejaring media sosial
Rania bertemu dengan teman-teman baik yang
memahami permasalahannya. Mereka membantu
Rania di setiap tikungan kepedihan hidupnya.
Mereka demikian perduli, support mereka lahir

184

batin. Ketulusan mereka tidak diragukan. Mereka
adalah orang-orang yang layak dibanggakan.

Mereka juga yang akhirnya
memperkenalkan Rania dengan sebuah platform
kepenulisan sebesar 'INNOVEL'.

Mereka memahami kemampuan Rania
dalam menulis. Sejak saat itulah hidup Rania
perlahan tapi pasti mulai merangkak naik. Meski
semua tidak semulus yang dibayangkan. Tetap ada
jalur dan. tikungan tajam yang harus Rania lewati.
Dan Pak Leo masih tetap pada kegigihan
konyolnya tidak mau mengucapkan kalimat talak
untuk Rania.

Beberapa kali sesuai inginnya Pak Leo
masih menghubungi Rania namun bila Pak Leo
tidak ingin maka Pak Leo akan memblokir
WhatsApp nya dan Rania Pun tidak bisa
menghubunginya. Pak Leo demikian licik.

"Ayah, bunda akan menikah dengan lelaki
lain, tolonglah ayah ceraikan bunda." Rengek
Rania lima tahun yang lalu.

185

"Ayah tidak akan mengeluarkan talak
untuk bunda, karena ayah masih sangat mencintai
bunda. Ayah masih berharap kita menikah bunda."

Begitu konyol pemikiran Pak Leo. Namun
lucunya, dalam kekonyolannya sekalipun Pak Leo
tidak pernah datang ke Jawa Timur untuk
menjumpai Rania paling tidak untuk melakukan
negosiasi tentang rumah tangganya bersama
Rania.

Uang Pak Leo banyak, rumah keluarga
Rania pun Pak Leo tahu tapi sayangnya tidak
sekalipun Pak Leo datang bila memang Pak Leo
serius melanjutkan hubungan mestinya ia datang.

Hari ini, saat Rania kembali dengan
tampilan yang berbeda, Pak Leo justru mendekat
serta memberi label di seluruh tubuh Rania bahwa
Rania adalah istrinya. Rania berada dalam
kekesalan yang berlipat-lipat.

Diseberang sana, Pak Leo masih juga
bicara. Namun Rania memilih diam tidak
bersuara.

186

Beberapa menit kemudian.
'Sunyi' sepertinya Pak Leo telah
memutuskan sambungan telp nya.
Rania mengusap peluh yang mendadak
muncul di kepalanya. Peluh yang muncul saat
udara dingin kamar masih menyentuh pori-pori
wajahnya. Peluh yang mestinya tidak perlu ada.
Rania geram.
Ia menunggu pagi tiba untuk
melaksanakan misi selanjutnya.

187

PERTEMUAN

Rania merasa lelah terus menerus berada
di dalam kamarnya. Hanya demi menghindari
kedatangan Pak Leo. Ia telah berjanji pada dirinya
sendiri bahwa mulai hari ini ia tidak perlu takut
terhadap apapun. Ia punya Tuhan, Punya banyak
teman yang mengerti hukum dan juga punya uang.
Rania akan melawan setiap intimidasi yang
diarahkan padanya.

Tadi malam ia telah berjanji pada dirinya
sendiri bahwa ia akan melakukan apapun untuk
kemenangannya.

Rania mematut dirinya di depan pintu
almari yang terbuka. Baju panjang dengan aksen
bagian bawah lebar dan kecil di pinggang adalah
mode yang paling di sukai Rania. Di Samping agar
tubuhnya yang kecil tidak terlalu nampak kecil
juga karena baju dengan model itu memang sering
kali membuat Rania merasa nyaman.

Ia memilih warna ungu tua untuk ia
kenakan hari ini. Tas ungu muda dan jilbab dengan

188

warna senada. Sepatu hak tinggi berwarna hitam
dengan belahan depan membuat jemari kakinya
yang putih bersih itu terpampang indah.

Bedak tipis juga lipstik warna muda ia
oleskan di wajahnya. Rania tampak menarik.

"Mau ke kampus bu ?" tanya Sri
pembantunya yang melihat Rania tampil cantik
dan sedang duduk di kursi samping meja makan.

"Iya mbak."
Rania melanjutkan makan pagi dengan
lauk telor dadar dan sambal kecap.
Sri juga melanjutkan aktivitasnya di luar
rumah.
Hingga Rania keluar dari pintu rumah
menuju mobilnya.
"Hati-hati di jalan ya bu." Suara Sri. Rania
tersenyum kemudian mengendarai mobilnya
pergi meninggalkan rumah. Ia berniat berjalan-
jalan ke Duta Mall, mall terbesar di Banjarmasin.
Langit yang bersih tanpa awan menambah ceria
suasana, Rania sengaja tidak menghubungi

189

siapapun dalam perjalanannya kali ini. Ia ingin
sendiri.

Menyusuri bangunan megah itu sambil
mata Rania menebar ke seluruh penjuru, mencari
tempat yang tepat untuk memilih barang apa yang
ingin ia beli. Tas, baju, jilbab, jam tangan ia sudah
punya banyak sekali. Lalu apa ?

Ia mengembangkan inginnya. Mulai
mencari sesuatu yang ia inginkan meski tidak
terlalu ia butuhkan. Pilihannya sampai pada toko
aksesories yang banyak di penuhi anak muda.
Rania memilih satu persatu yang unik
menurutnya.

Usai belanja ia pun akhirnya memilih
tempat beristirahat, duduk dan makan-makanan
ringan. Yang tidak mengenyangkan namun enak
untuk dimakan.

Ia memilih cafe makanan jepang. Memesan
siomay ayam dan takoyaki juga es thai tea rasa
original. Rania duduk di meja nomer tujuh puluh
dua. Dari tempatnya ia bisa melihat banyak orang

190

yang datang namun orang terhalang pandang
melihat dirinya.

Beberapa pasangan masuk ke cafe yang
sama. Rania masih sibuk dengan ponselnya. Sesaat
kemudian nampak sebuah keluarga, seorang ibu
dengan empat orang anak mereka duduk tepat di
depan Rania. Rania melotot melihat mereka.
Sepertinya Rania kenal dengan mereka.

Rania mencoba meneliti memorinya. Satu
persatu kenangan ia buka. Saat kenangannya
hampir genap lima puluh persen ia membuka
akun facebooknya lalu mengetik sebuah nama.

Rania makin yakin mereka yang duduk
tepat di sebrang mejanya adalah keluarga yang
sangat ia kenal terlebih ketika seorang lelaki
dengan kaca mata minus datang. Pak Leo lengkap
dengan anak dan istrinya, mereka makan
kemudian berbincang.

Rania mengarahkan kamera ponselnya
pada mereka. Mengambil beberapa gaya
kemudian mengirimkan foto tersebut pada chat

191

whatsapp pribadi milik Pak Leo dengan tulisan
'Mesra', 'keluarga bahagia'.

Pak Leo membuka chat tersebut lalu
menebar pandang ke sekeliling cafe. Saat
pandangan Pak Leo tertuju padanya saat itu Rania
tersenyum serta melambaikan tangan menggoda.
Pak Leo nampak gugup membalas senyum Rania.

Rania mengejek Pak Leo dalam hatinya.
Makanan yang Rania pesan belum habis
semua namun Rania memilih meninggalkan
makanan tersebut, selera makannya hilang
melihat orang-orang yang duduk di depannya.
Rania berjalan, melenggang santai
mendekati meja itu. Pak Leo makin gelisah. Sesaat
kemudian Tania telah sampai di dekat mereka.
"Assalamualaikum," suara Rania merdu.
Pak Leo berdiri saat melihat Rania mendekat.
"Waalaikumsalam," suara mereka
kompak.
"Hei, ini Meris ya ? duuh sudah besar dan
cantik." Rania mengajak anak-anak Pak Leo

192

berjabat tangan kemudian mencium kening anak-
anak perempuannya.

Istri Pak Leo menatap tajam pada Rania.
Rania tersenyum sambil mengerling nakal.

Pak Leo nampak bingung.
"Apa kabar mbak ?" tanya Rania ramah
pada istri suaminya.
"Baik" Jawab wanita yang masih saja tidak
cantik itu dengan ketus.
"Oke silahkan di lanjut acara makan-
makannya." Rania mempersilahkan serta
bermaksud ingin pergi. Namun istri Pak Leo
bertanya lagi.
"Dalam rangka apa kamu kesini ?" Rania
terkejut mendengar pertanyaan itu.
Namun dengan santai Rania menjawab
lagi.
"Kuliah, " suara Rania mantap.
"Maksudnya ?"
"Saya kuliah di Banjar mbak, di kampus
Pak Leo dan saya pun juga tinggal untuk waktu
yang lama di Banjar masin ini. Sebentar, jadi ayah

193

nggak cerita ke mbak kalau ayah sering ke
rumah?"

Pak Leo seperti tertohok batu besar
mendengar kalimat Rania barusan. Ia seperti
penjahat yang sedang tertangkap.

Mata istri Pak Leo tajam memandang ke
arah Pak Leo. Menuntut sebuah penjelasan atas
apa yang baru saja ia dengar dari mulut Rania.

"Sudah dulu ya saya pulang." Rania
memutar langkah menuju tempat duduk Pak Leo.

"Ayah, bunda pulang dulu ya." Rania
mengajak Pak Leo berjabat tangan, Pak Leo
menerima jabat tangan tersebut, beberapa detik
kemudian Rania mengarahkan bibir merahnya
untuk mencium tipis pipi Pak Leo.

Istri Pak Leo menatap nanar kejadian di
depan nya.

Rania melenggang dengan kemenangan.
Sedangkan di sana, di meja itu terdengar mereka
berdebat dengan suara kencang. Tiba-tiba, 'prang'
pecahan gelas sudah berserakan di mana-mana.

194

Istri pertama Pak Leo marah. Ia merasa
dibohongi dan ia merasa akan dikhianati lagi.

Rania tidak perduli pada riuh rendah suara
mereka. Bukan urusan Rania. Mereka mau
bertengkar dengan gaya apa pun, Rania tidak akan
perduli.

Rania bersenandung kecil menikmati
permainan hari ini. Mengusap bibir tipisnya
dengan tisu. Ciuman untuk Pak Leo yang ia
berikan tadi menimbulkan sensasi tersendiri
baginya.

Sensasi ingin muntah!
*******
Rania melanjutkan perjalanannya menuju
kampus. Ia menghubungi Septia dan benar saja
Septia berada di sana. Dengan cepat Rania
menginjak gas mobilnya agar bisa segera berlari
menjumpai Septia juga Pak Budiman.
Rania bertekad untuk menceritakan
semuanya perihal Pak Leo dan ancamannya.
Kampus sepi, sepertinya para mahasiswa
masih betah berada di rumah karena memang

195

belum ada instruksi untuk melaksanakan
perkuliahan dengan tatap muka langsung.

Rania memarkir mobilnya di bawah pohon
rindang. Ia meletakkan kepalanya pada sandaran
kursi mobil. Tubuhnya terlalu letih.

'Apa sebaiknya aku pulang ke Jawa dan
membiarkan semua berlalu begitu saja?' Rania
mulai putus asa.

Sepertinya jalan yang akan ia tempuh akan
demikian panjang dan melewati banyak episode.

'Tapi bila aku tidak datang dan menuntut
talak bagaimana aku bisa menikah dan
melanjutkan hidup ku ?' Rania menggumam dalam
kilatan hatinya. Andai saja makhluk yang bernama
Leo itu mau berbuat bijak, pasti masalahnya tidak
seperti ini. Rania gelisah.

Apa susahnya mengucapkan kalimat talak
?

Mengapa harus menunggu bertahun-
tahun ?

Bila masih cinta mengapa tidak segera
menyelesaikan ? Kenyataannya Pak Leo masih

196

sangat takut pada istri tua nya. Lalu kemauannya
apa ?

Rania membenturkan kepalanya pada
kemudi. Ia merasa telah menempuh banyak jalan
agar niat nya untuk bercerai tidak menemukan
jalan buntu.

Rania bosan diperlakukan demikian.
Beberapa menit kemudian Rania melihat
Pak Yuda masuk ke ruangan. Rania turun
bermaksud mengejar beliau.
"Pak Yuda," Panggil Rania pada dosen
ganteng, tinggi besar dan berkaca mata minus.
"Eh Rani, apa kabar ?" Mereka saling
menyapa, Pak Yuda mengajak Rania menuju
ruangannya, namun belum sempat Rania
mengikuti langkah Pak Yuda, seorang pegawai
berbicara,"Itu Rania"
"Iya, setelah gagal dengan Pak Leo, Pak
Budiman sekarang dengan Pak Yuda."
Rania ingin sekali marah dan
menempeleng wajah orang-orang yang
bergunjing di sana namun Pak Yuda melarangnya.

197

"Tidak usah di hiraukan."
"Kelakuan mu menunjukkan kualitas diri
mu." Tenang saja."
Rania menunduk. Ia mengikuti langkah
Pak Yuda. Dosen baik hati yang sangat
menyayanginya, sejak dahulu.
"Tidak usah berjalan dengan menunduk,
biasa saja. Kamu harus berani melihat dunia.
Jangan mau kalah hanya karena kamu memiliki
kesalahan sedikit saja."
Pak Yuda terus bicara sambil langkah
tegapnya menyusuri tangga biru bersama Rania.
"Bagaimana kabar mu? aku dengar
sekarang serius dengan Pak Budiman?" Rania
menatap Pak Yuda dengan tatapan gelisah.
"Ran,"
Rania masih diam.
"Kamu sepertinya begitu tertekan, ada apa
?"
"Rani baru saja bertemu Pak Leo." Rania
membuang pandangannya.
"Lalu ?"

198

Rania menceritakan semua kejadian yang
dialaminya tadi dengan berbagai rasa yang
membuncah.

Rania menangis. Hatinya sakit.
"Saya tidak ingin di perlakukan adil, saya
tidak ingin minta sedikitpun harta yang dia punya.
Saya hanya ingin DICERAIKAN sesuai tuntunan
agama." Rania terus menangis. Hatinya berdarah.
Rasanya perih sekali.
Ia tahu, kebodohan terbesarnya adalah
saat ia mau dinikah secara sirri beberapa tahun
yang lalu tanpa saksi dari orang-orang yang
berpengaruh. Saat itu hanya ada abah dan
beberapa karyawan. Saat ini abah sudah
meninggal.
Rania membiarkan tubuh lemahnya
tergeletak di atas sandaran kursi ruangan Pak
Yuda.
Pak Yuda menghubungi Pak Budiman.
Sepertinya Pak Yuda ingin bertukar pendapat.

199

Pak Budiman datang, ia demikian terkejut
melihat Rania dengan mata bengkak akibat
terlampau sering menangis.

"Silahkan duduk" Pak Yuda memberi
kesempatan pada Pak Budiman untuk duduk.

Pak Budiman duduk, mencoba mengikuti
apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Yuda.

"Sebaiknya segera di selesaikan." Pak Yuda
bicara tegas.

"Iya pak, kemarin hampir selesai sampai
kemudian Rania memilih untuk kembali pada Pak
Leo, saya juga tidak mengerti alasannya apa."

Pak Yuda mengernyitkan dahi.
"Benar, Ran"
Rania mengangguk.
"Hari itu saya pulang ke Jawa untuk
ongkos saya akhirnya menggadaikan mobil yang
di beli atas nama Pak Leo tapi kreditnya
menggunakan uang saya. Pak Leo bilang itu
sebuah kejahatan karena pada akhirnya Pak Leo
yang menebus mobil tersebut. Saat itu saya sudah
mencicil lima kali. Saya gadaikan tiga puluh juta.

200


Click to View FlipBook Version