The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-19 17:17:38

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu suamiku

menggigit bibirnya dengan kuat. Seolah ada
sesuatu yang ingin ia tahan agar tidak
termuntahkan.

Air mata, ya, ia sedang menahan air
matanya agar tidak keluar dan menetes begitu
saja.

“Jangan menangis lagi, Ran.” Suara Pak
Yudha mendadak parau. Pak Yudha adalah saksi
hidup perjalanan dan kisah sedih Rania.

Pagi ini terasa begitu indah, dari langit
mendadak turun gerimis. Satu-satu titiknya
menorehkan kisah tentang kedamaian dan
kesyahduan. Cerita tentang masa lalu
menyedihkan milik Rania dan Pak Leo akan segera
selesai. Berharap kebahagiaan akan datang
menghampiri Rania dengan segera.

“Aku janji, bila saatnya tepat akan ku
ceritakan pada mu bagaimana akhirnya aku bisa
mendapatkan ikrar talak dari Leo untuk mu, Ran.”
Pak Yudha dengan sangat tangguh mengucapkan
kalimat itu dan Rania pun hanya mengangguk
tanpa protes. Langkah kakinya ringan kini, ia tak

351

lagi merasa terikat pada perjanjian suci yang
termentahkan oleh rasa sakit, pengkhianatan dan
pembodohan.

Terimakasih Pak Yudha, telah
mengusahakan semua ini. Pekik hati Rania tanpa
bisa terucapkan.

352

SEBUAH LAMARAN

Rania duduk di gazebo paling ujung dari
kampus megah ini, ia menikmati setiap lantunan
musik yang ia dengar dari bilik hatinya. Rania
mengikuti liriknya, lirik sedih berisi secarik rindu.

Akhirnya ia kini menjadi ‘janda’, tanpa
ucapan selamat tinggal, tanpa senyuman pahit,
tanpa mata penuh harap dan tanpa jabat tangan
pnuh keharuan.

Ya, Pak Leo akhirnyameloloskan keinginan
Rania untuk bercerai tanpa Rania ketahui apa
dasarnya. Mengapa ia yang kemarin kokoh
mendadak mau meuliskan ikrar talak untuk Rania.
Surat yang hanya dititipkan pada Pak Yudha
kemudian diantar oleh beliau ke rumahnya.

Rania menyandarkan kepalanya diantara
tiang-tiang gazebo yang terbuat dari kayu jati, ada
pohon pinus di hadapannya yang bergerak seiring
semilir angin. Ia pernah menjadi wanita yang di
manjakan di awal-awal pernikahannya bersama
Pak Leo. Ia pernah menjadi wanita yang

353

menikmati sentuhan lembut dan tatap mata
kagum dari suaminya itu. Dulu, dulu sekali,
sebelum tragedi perebutan rasa ini terjadi. Hingga
Rania harus memilih bersekutu dengan rasa sakit
dan kehilangan.

Ach, wajah bening putra lelakinya yang
harus merenggang nyawa dan di letakkan di atas
meja kayu ruang tamunya nampak di kejauhan.
Usianya sudah lima tahun sekarang, anak lelaki
tanpa dosa itu harus mati karena kebodohan
orang tua yang melahirkannya. Anak lelaki itu
melambaikan tangan pada Rania, seolah sebagai
ucapan selamat berpisah. Rania merasakan ngilu
di ujung-ujung permukaan hatinya. Hingga ia
harus menarik nafas dalam-dalam kemudian
menghembuskannya. Lambaian tangan putra
kecilnya belum hilang meski ia semakin menjauh
meninggalkan rania yang mulai terisak, ia iut
bersama anak lelaki kecil lainnya berlarian
dengan baju putih dan celana panjang putih. Anak
itu pergi membalikkan badannya sambil
meninggalkan senyuman. Seolah ia sepakat

354

dengan keputusan Rania bercerai dengan
ayahnya.

Andai Pak Leo mau menceraikannya
dengan cara yang baik, mungkin mereka masih
bisa bersahabat. Mereka bisa duduk bersama
sebagai kawan yang baik. Mereka bisa saling
memberi semangat melalui hidup yang berat.
Sayangnya Pak Leo tidak mau melakukannya.

Seseorang mendekat, ia duduk di samping
Rania, seseorang dengan wajah kukuh dan kaca
mata minus serta rambut berombak. Seseorang
yang kemarin mengabulkan keinginan
terbesarnya. Seseorang yang dulu menjadi
tongkat bagi Rania, seseorang yang dengannya
Rania pernah berkomitmen bahwa mereka
sepakat untuk tidak boleh jatuh cinta demi
kebaikan mereka berdua. Seseorang itu kini
duduk di samping Rania. Ia memandang Rania
dengan pandangan yang sama seperti beberapa
tahun yang lalu.

“Ran,” panggilnya.

355

Rania menoleh sekilas kemudian menatap
jauh ke depan.

“Kamu merindukan seseorang ?”
Rania menunduk, kali ini sangat dalam.
“Berpisah dengan seseorang yang pernah
mempunyai ikatan suci dengan kita memang tidak
mudah Ran, kita sering lebih mengutamakan ego
agar keinginan kita untuk berpisah terlaksana.
Sebelum perpisahan itu tiba kita seperti seseorang
yang demikian kuat tetapi faktanya ketika
perpisahan itu benar-benar datang, kita menjadi
rapuh juga lemah. Aku merasakannya, Ran.
Tepatnya aku pernah merasakannya.”
Pak Yudha menyeka ujung pelupuk
matanya dengan sapu tangan berwarna merah
hati yang dulu digunakan Rania untuk menghapus
air matanya. Rania terperangah.
“Sapu tangan itu ?” Tanya Rania.
“Aku menyimpannya, Ran.”
“Untuk apa ?”
“Untuk mengenang mu,”
“Saya ?” Tanya Rania lagi.

356

“Iya, Ran.”
“Sejujurnya aku mengagumi mu,
mengagumi betapa gigihnya kamu melewati
semua penderitaan yang di kirim Tuhan sebagai
ujian cinta mu pada Nya. Aku belum pernah
menemukan kegigihan yang sama di mata wanita
lain.”
“Aku masih ingat saat kamu terjungkal di
depan ruang pasca sarjana hanya demi mengejar
suami mu, aku menangis saat itu, Ran. Aku ingin
membela mu, tapi sayang, dedikasi ku terhadap
jabatan yang ku emban membuat aku menjadi
lelaki bodoh. Terlebih lagi aku mempunyai rumah
tangga yang harus ku jaga, hingga aku memilih
bersembunyi di balik dinding dan tak melihat mu.
Aku melihat gaun mu penuh lumpur karena saat
itu sedang musim penghujan. Aku hanya melihat
mu, melihat kamu pergi seperti peri di isah
telenovela. Kamu menaiki angkutan umum
dengan baju kotor mu. Aku ingin sekali mengantar
mu dengan mobil ku namun sekali lagi aku tidak
mampu melakukannya. Aku salah saat itu.”

357

Rania tersenyum kecut, ia menggoyang-
goyangkan kakinya sambil tetap duduk diatas
gazebo.

“Lupakan saja, Pak.” Hanya itu yang bisa
Rania ucapkan.

“Aku tahu kebengisan Leo
memperlakukan mu, Ran. Namun aku tahu itu
semua terjadi karena dia mencintaimu.”

Rania memandang wajah Pak Yudha.
“Mohon jangan katakan apapun tentang
Pak Leo,” pinta Rania sungguh-sungguh.
Mereka berdua terdiam, saling melepas
pandang pada hamparan tanah lapang. Seolah ada
yang ingin mereka sampaikan namun tertahan.
“Ran,” suara Pak Yudha lagi.
“Iya”
“Kamu tidak ingin melihat ku sebentar ?”
Raniamembalikkan badan hingga ia tepat
melihat lelaki di sampingnya.
“Ran, selama kita bareng kamu pernah
nggak kangen aku ?” Rania seperti tersengat
ribuan voltase arus listrik.

358

“Bukannya kita tidak boleh jatuh cinta, ya
?” Rania mengingat kan.

“Andai boleh ?”
“Entah.” Hanya itu yang sempat Rania
jawab.
“Aku tahu saat ini ada nama lain yang
kamu rindu kan kehadirannya, selain Leo. Aku
tahu itu.”
Rania menatap Pak Yudha tidak percaya.
“Aku siap menemuinya demi memintamu
mendampingi ku.”
“Maksudnya ?”
“Aku melamar mu, Rania.”
Rania terpana, ia tidak menyangka lelaki
yang beberapa purnama sering mengajaknya
berbincang ini melamarnya. Lelaki yang terlanjur
ia anggap sebagai bapak, kakak dan sahabat kini
meminangnya menjadi istrinya. Rania seperti
terhipnotis hingga ia tidak mampu bersuara.
“Ran,”
“Aku serius.”

359

Rania memandangnya lagi, tubuh Rania
bergetar, ia tidak menyangka akan menerima
lamaran dari Pak Yudha seseorang yang selama ini
hanya mampu ia kagumi.

“Menikahlah dengan ku,” suara Pak Yudha
sambil memberikan sebuah tas mungil bercover
bening.

Rania membuka tas tersebut dengan
kekaguman, sebuah mukenah putih dan Al-Qur’an
mungil. Rania tersenyum lagi kali ini sambil
menggigit bibirnya.

“Aku tidak ingin lelaki lain mendahului ku,
Ran.” Ucap Pak Yudha sambil mengenakan
mukenah itu di kepala Rania. Beberapa pasang
mata sepertinya sedang melihat romantisme
mereka berdua. Termasuk Pak Budiman dan
Septia.

“Kamu belum menjawab ku, Ran.”
“Ijinkan aku menyelesaikan urusan ku,
untuk menyempurnakan agama ku dulu. Aku
harus melewati masa Iddah ku.”

360

“Aku akan menunggu mu, Ran.” Jawab Pak
Yudha. Rania pun melempar tawa kecilnya.

“Tentang rindu mu yang lain, aku yang
akan memohon ijinnya, percayalah.”

PEMBICARAAN TENGAH MALAM

Saat ini Rania rindu pada Pak wahyu nya,
namun sayang Pak Wahyu sepertinya sengaja
menjauh. Biasanya beliau akan menghubungi
Rania di pagi hari, siang hari dan malam sebelum
Rania tidur. Begitu saja sudah cukup
membahagiakan Rania. Rania tidak memita
apapun, ia hanya minta sepucuk perhatian itu saja.
Sayangnya Pak Wahyu justru mejauh. Sedangkan
ada banyak cerita yang igin Rania sampaikan pada
Pak Wahyu. Cerita tentang ikrar talak yang telah di
berikan Pak Leo padanya, cerita tentang
bahagianya ia saat ini, juga cerita tentang Pak
Yudha yang tiba-tiba melamarnya dan sebongkah
cerita tentang kerinduan yang selama ini melanda
dirinya. Tapi Pak Wahyu seolah hilang, mungkin

361

penolakan yang pernah beliau sampaikan atas
sikap manja Rania coba beliau wujudkan dengan
cara ini. Dan Rania memilih diam. Ia tidak ingin
menambah lukanya dengan menghubungi Pak
Wahyu, Rania takut rindunya terpeti es kan.

Malam yang dingin ketika ada panggilan di
ponselnya.

“Septia, sudah malam ada apa ?”
“Video Call yuk, Kak.” Ajaknya.
“Ada apa kok tumben.” Kemudian Septia
mengganti panggilannya menuju panggilan video.
Betapa terkejutnya Rania saat melihat Septia
duduk di samping Pak Budiman.
“Septia dimana ?”
“Aku di kampus, kak.”
“Malam-malam begini ada apa ?”
“Nunggu Pak Budiman.”
“Lha itu Pak Budiman sudah di samping
mu.”
“Iya, sebentar lagi kami pulang.’
“Duhhh, yang lagi selesai di lamar,
bahagianya.”

362

Rania tersipu,
“oh jadi ngajak V-Call buat ini ?” tanya
Rania.
“Sebagiannya iya, sebagiannya nggak.”
“Gimana, Kak. Diterima nggak ?’
“Sepertinya nggak, Septia.”
“Lho kenapa ?”
“Aku tidak akan mengulang kisah ku
dengan Pak Leo dengan menikahi lelaki yang telah
berkeluarga.”
“Siapa berkeluarga ?” Tanya Pak Budiman
cepat.
“Pak Yudha,”
“Ach, istri beliau meninggal sejak dua
tahun yang lalu.”
Rania nampak sangat kaget.
“Itu sebabnya beliau melamar bu Rani,
beliau sanggup menunggu bu Rania sampai selesai
masa iddah.”
Rania makin terpana. Rania sama sekali
tidak mengerti bahwa istri Pak Yudha telah
berpulang sejak dua tahun yang lalu.

363

“Dan satu lagi, Bu Rania yang baik hati. Pak

Yudha sangat mengenal Pak Wahyu.”

“Apa ?”

“Saya membocorkan rahasia ini dengan

harapan Bu Rania tidak salah dalam mengambil

keputusan.”

Rania tercengang dengan apa yang sudah

di ceritakan Pak Budiman dan Septia pada dirinya,

terlalu banyak hal yang ia tidak tahu menahu,

hingga tentang hubungan persahabatan Pak

Yudha dan Pak Wahyu. Pantas saja tadi pagi Pak

Yudha menyindir tentang hal itu. Banyak hal yang

Rania tidak tahu ternyata hingga Rania merasa

begitu bodoh.

Rania merasa dunia demikian sempit

baginya saat ini.

“Hallo, Kak.” Suara Septia

mengagetkannya.

“Iya, ada apa ?” Jawab Rania.

“Jadi bagaimana ?”

“Aku sudah sampaikan akan bertemu lagi

dengan Pak Yudha setelah masa iddah ku selesai.”

364

“Begitu lama ?” Tanya Septia lagi.
“Iya, Septia.”
Malam semakin larut hingga Septia
meminta ijin pada Rania untuk menutup
perbincangan mereka.
Rania merasa terlalu banyak teka-teki
dalam kehidupannya saat ini, teka-teki yang
sebenarnya sangat ingin ia ketahui namun demi
kebaikan semuanya ia harus rela menunggu saat
yang tepat teka-teki itu terpecahkan.
Rania menjadi gamang.
Ia demikian kesepian, batinnya meronta
membutuhkan teman berkisah, teman yang
memberikan centang biru pada setiap chatnya
kemudian menjawab chatnya dengan jawaban
mesra. Teman yang kemarin menyemangatinya,
teman yang menolak rasa yag sempat ia
sampaikan. Teman terkejam yang ternyata lebih
memilih pergi daripada menemaninya disini.
Rania begitu sedih.
Demikian sulitkah berharap sedikit cinta
pada mereka yang telah berkeluarga. Rania tidak

365

ingin menghancurkan hidup mereka, Rania hanya
ingin mnta sedikit cinta saja. Agar dirinya
menemukan tempat berbagi kisah bahkan tanpa
menuntut sebuah pernikahan. Semua itu pernah
Rania sampaikan pada Pak Wahyu nya, sayangnya
Pak Wahyu memilih pergi meninggalkannya,
bahkan tanpa secarik pesan.

Rania tertidur.
Tengah malam, saat ia terbangun dan
hendak menjalankan sholat malam, Rania
menyambar handphonenya. Ia mecari gambar Pak
Wahyu namun tak di jumpainya. Rania mencoba
mengetikkan nama beliau. Tapi nihil, nama itu
sudah tanpa foto profil bahkan sudah tanpa
whatsapp lagi. Rania gemetar. Sedemikian
tinggikah tembok itu dibangun untuk dirinya yang
tidak terlalu tinggi. Bagaimana ia akanmelewati
tembok itu bila untuk menengok sajasudah tak
mungkin. Rania terisak, ia terisak-isak sendiri di
kamarnya yang sepi. Ia membungkus rindunya
dengan kafan putih berharap segera dapat
melupakannya dan menganggapnya mati.

366

SEBUAH KEPUTUSAN

Sudah hampir dua bulan Rania tidak
menjumpai Pak Yudha kecuali hanya mendengar
kisahnya dari video call antara dirinya dengan
Septia dan Pak Budiman. Dan dari rumahnya juga
Rania tahu bahwa Septia telah lama putus dengan
Arifin hanya karena Arifin ingin menciumnya saat
mereka kencan berdua. Saat ini Septia telah
menerima ucapan rasa cinta dari Pak Budiman.

Pak Budiman lelaki yang baik bagi Septia,
lelaki yang mencintai Septia apa adanya, lelaki
yang tidak pernah mengajak Septia untuk
melakukan sesuatu yang dilarang agama. Begitu
penuturan Septia saat mereka bicara di malam-
malam panjang. Rania mendapat informasi
tentang banyak hal dari Septia. Rania bersyukur
pernah mengenal gadis dengan dagu belah itu.

“Pak Budiman adalah sosok yang
mempesona bagiku, mungkin juga bagi semua
wanita.” Cerita Septia suatu malam.

367

Ach, Rania menikmati masa iddahnya,
mensucikan dirinya untuk dapat kembali bersih
saat berada di sisi Tuhannya.

Rania menikmati kesepiannya dengan
menulis, berkisah tentang kisah yang panjang,
membagi derita dan suka nya dalam bait-bait
kalimat yang di nikmati oleh banyak orang. Rania
berharap, tulisan-tulisannya dapat menginspirasi
banyak orang nantinya. Rania selalu berharap,
hidupnya akan menjadi berarti.

Rania menuangkan dukanya dalam kisah,
dan hal yang paling indah adalah ketika ia
mendapatkan komentar dari para pembacanya.

Malam ini adalah malam ke enam puluh
satu,

Sudah saatnya Rania memberikan
jawaban pada Pak Yudha. Rania menimang
ponselnya, memberi jawaban saat ini akan
berdampak bagi hidupnya beberapa waktu ke
depan. Rania tidak boleh salah melangkah.

“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.”

368

“Sedang dimana, Pak ?” Tanya Rania.
“Di rumah, kenapa Ran ?”
“Rani, ingin bicara.”
“Kapan ?”
“Kalau sekarang tidak merepotkan,
sekarang nggak masalah.”
“Oke, tunggu ya, insyaAllah satu jam lagi
aku sampai disana.”
Rania menutup bincangnya dengan
mengirimkan emoticon senyum.
Rania mematut dirinya di depan cermin,
melihat satu dua kerut di wajahnya yang mulai
timbul. Rania sadar, usia telah mengambil
sebagian dari kecantikannya hingga kerut-kerut
itu pun muncul.
“Aku sudah tidak mudah lagi, “ seru Rania
di depan cermin.
“Meski berbagai perawatan telah aku
lakukan tetap saja wajah ini menampilkan kerutan
yang tidak mau hilang.” Rania semakin menyadari
usia telah membuat dirinya pasrah pada keadaan.
Ia harus membuat sebuah keputusan yang tepat

369

untuk dirinya dan masa depannya. Berawal dari
itu juga lah Rania mengundang Pak Yudha datang
ke rumahnya hari ini.

Rania mematut dirinya di cermin, ia
mencoba mengenali wajahnya sendiri. Lama nian
ia tidak berkomunikasi dengan wajahnya hingga
ia lupa dirinya siapa. Sebuah gaun warna tosca
bermotif melati putih ia keluarkan dari lemari
pakaiannya. Tiba-tiba tangannya tidak sengaja
menyentuh kotak berwarna ungu dan
membuatnya terjatuh. Beruntung kotak itu
terjatuh di atas karpet bulu tebal yang berada di
kamar Rania hingga saat isinya keluar ia tidak
pecah. Jam tangan hadiah dari Pak Wahyu saat
pertama kali beliau datang ke rumah ini nampak
muncul menyembul dari kotaknya. Rania
mengambilnya dengan hati-hati.Sejak Pak Wahyu
menutup akses antara dirinya dengan Rania maka
sejak itu Rania tidak lagi mengenakan jam tangan
tersebut.

370

“Hanya akan menambah rindu ku.” Begitu
desisnya ketika untuk pertama kalinya ia
meletakkan jam tangan tersebut.

Kini Rania benar-benar tidak
mengenakannya lagi, ya, sejak hari itu.

Rania merapikan lagi jam tangan tersebut
dalam kotaknya dan meletakkannya kembali
dalam lemari. Suatu hari nanti bila rindunya tiba,
ia akan membukanya kembali.

“Assalamualaikum, Bu.” Suara Sri
terdengar dari luar.

“Waalaikum salam, ada apa mbak Sri ?”
Tanya Rania sambil membuka pintu kamarnya.

“Ada tamu , Bu. Tapi bukan pak Dosen yang
sering membuat ibu menangis.” Rania pun
tersenyum mendengar penjelasan dari Sri.

“Tolong disuruh tunggu, ya. Sambil tolong
buatkan jahe hangat untuk beliau.” Pinta Rania
pada Sri pembantunya. Sri mengangguk kemudian
pergi meninggalkan kamar Rania.

Rania pun berdandan, mengenakn baju
yang ia pilih kemudian menyapukan bedak tipis di

371

wajahnya dan lipstik berwarna pink menyala.
Rambut ikal berwarna pirang miliknya ia biarkan
tetap tersanggul, kemudian ia tutupi dengan
kerudung panjang berwarna senada. Rania
muncul menuju pandangan Pak Yudha, beliau
nampak terpana melihat Rania dalam tampilan
yang berbeda.

“Apa kabar, Ran ?” Tanya Pak Yudha
menyembunyikan kegugupannya.

“Kabar baik, Pak.”
“Ada apa ? sepertinya ada yang penting.”
“Rani hanya ingin menanyakan perihal
lamaran bapak yang tempo hari .”
Pak Yudha mengangkat satu alis matanya.
“Kamu ingin katakan kalau kamu menolak
saya, kan Ran ?” Tanya Pak Yudha nampak
pesimis.
Rania diam, ia menunduk. Hatinya
terhanyut pada semua kenangan bersama lelaki
ini, kenangan lima tahun yang silam, kenangan
pahit yang akan terus Rania jadikan pelajaran.

372

Rania mengangkat wajahnya, kemudian
berkata.

“Rani menerimanya, Pak.” Pak Yudha
menatap mata Rania tidak percaya, ada haru di
wajah mereka.

“Kamu serius mau menjadi istri ku, Ran ?’
“Rani yang seharusnya tanya apakah
bapak serius menikah dengan Rania ?” Mereka
saling memandang dalam kesyahduan.
Sri datang, membuyarkan senyum mereka.
Sri meletakkan segelas air jahe hangat di atas
meja.
“Silahkan, Pak.”
“Kok tahu kalau saya suka jahe ?” tanya
Pak Yudha.
“Bu Rani yang menyuruh saya artinya Bu
Rani tahu kesukaan Bapak.” Sri bicara banyak hari
ini dan itu tidak biasa ia lakukan.
Pak Yudha dan Rania tersenyum
mendengar penjelasan dari Sri. Mereka merasa
kecolongan hari ini.
“Selamat ya, Pak.” Kata Sri tiba-tiba.

373

“Selamat untuk apa ?” Tanya Pak Yudha
heran.

“Selamat akhirnya bapak berhasil
menaklukkan hati ibu.” Sri bicara sambil senyum-
senyum dan berpamitan untuk melanjutkan
tugasnya.

Pak Yudha memandang wajah Rania, ada
merah di pipinya, Rania hanya menunduk malu.
Hari ini bahkan cicak di rumah mereka pun iri
menatap mereka berdua. Betapa kisah cinta yang
panjang itu pun akhirnya berlabuh.

“Ran,”
“Iya.”
“Terimakasih ya.”
“Untuk apa ?”
“Karena kamu telah menerima ku.”
“Rani juga terimakasih.”
“Untuk apa ?” tanya Pak Yudha lagi.
“Telah memilih Rania.”
“Ach kamu,” senyum mereka berpendar-
pendar memenuhi ruangan, bahkan aneka bunga

374

di luar sana pun ikut menikmati bahagia yang
mereka rasakan.

“Hari ini aku harus cepat pulang, Ran. Aku
ingin kita menikah dalam minggu ini.”

“Kenapa secepat itu ?”
“Aku tidak ingin membiarkan hati mu
menunggu Rani.”
Oh Tuhan, wanita mana yang tidak
berbunga-bunga menikmati sajian itu.
Pak Yudha meminum air jahenya,
kemudian berdiri.
“Aku pulang, sayang.” Katanya cepat.
Rania hanya mengangguk.
“Bolehkan ku panggil sayang.”
“Ach,” sergah Rania sambil mendorong
mundur tubuh gagah calon suaminya.
“Aku janji akan jadi imam yang baik untuk
mu.”
“Semoga.”
“Assalamualaikum.”
Pak Yudha melangkah pergi dari rumah
Rania, dengan hati yang berbunga-bunga.

375

Sungguh ia merasa lega hari ini. Ia berjanji akan
menyiapkan semua sesempurna mungkin.

“Rania harus bahagia.” Pekiknya sambil
menghidupkan mobilnya dan melambaikan
tangan pada Rania yang mematut cantik di
beranda dengan senyum indahnya.

Ada tembang yang berdentang di rumah
yang tadinya sepi ini. Rania berjanji ia akan buat
keluarga kecil yang paling bahagia di dunia
apapun kekurangan suaminya kelak.

Semoga.

376

PERSIAPAN PERNIKAHAN

Lembayung senja masih bersinar ketika
Pak Budiman, Septia juga Pak Yudha telah hadir di
rumah Rania. Mereka datang untuk membahas
pesta pernikahan antara Rania dengan Pak Yudha.
Rania nampak sibuk menimang-nimang contoh
undangan yang ada di hadapannya. Musim
pandemi saat ini memang tidak di perbolehkan
mengadakan pesta dan membuat kerumunan,
masih sangat rawan, untuk itu Rania dan Pak
Yudha sepakat hanya mengundang beberapa
orang saja untuk datang ke pesta mereka di
gedung. Beberapa dari kawan dan kerabatnya di
persilahkan datang ke rumah Rania, maka
otomatis di rumah pun akan di tata sedemikian
rupa.

Mereka masing-masing sedang sibuk
dengan persiapan dan perhitungan rencana biaya
yang akan dikeluarkan, sedangkan waktunya
hanya tinggal satu bulan lagi.

377

Rania menatap heran dengan jumlah yang
tertera disana, seratus lima puluh tujuh juta hanya
untuk sebuah pesta pernikahan seorang Rania,
Rania menghempaskan tubuhnya di sandaran
kursi yang tertata apik di ruang tamunya, biaya
tersebut belum termasuk tiket pulang pergi
keluarga Rania.

Pak Yudha terkejut menatap ekspresi
wajah Rania,

“kamu kenapa ?”

Rania menggoyang-goyangkan catatan
yang ada di tangannya sambil kebingungan.

“Sebanyak ini ?”

“Ya, dan semua aku yang mempersiapkan.”
Ujar Pak Yudha meyakinkan.

“Aku tahu, tapi apa tidak terlalu banyak ?.”

“Itu setara dengan harga saat ini, Ran.”

“Hotel ini untuk apa ?”

378

“Untuk malam pertama kita.” Dengan
takut-takut mulut Pak Yudha berkata.

Rania menggelengkan kepala, terasa berat
baginya menyetujui anggaran biaya yang tertera
di kertas putih yang saat ini ada di genggamannya,
terbayang hidupnya yang sempit selama
bertahun-tahun dahulu. Uang sebanyak itu akan
sangat bermanfaat. Rania menatap wajah tiga
orang yang berada di hadapannya secara
bergantian, mereka pun menatap Rania.
Sepertinya masing-masing dari pemilik kepala ini
sama-sama bingung hendak memulai seperti apa.
Di satu sisi Pak Budiman memaklumi apa yang ada
di pikiran Rania dan di sisi lain Pak Budiman
memahami apa yang ada di pikiran Pak Yudha
dengan membuat pesta semeriah itu. Dalam hidup
Rania dahulu ia begitu sulit mencari uang,
jangankan nominal ratusan juta seperti yang
tertera. Untuk sekedar makan pagi saja ia harus
berjuang, meskipun pada akhirnya atas kebaikan
Tuhan Rania mendapatkan jalan keluar tetap saja

379

semua harus di upayakan. Akan sangat
membahagiakan bila saat membutuhkan tiba-tiba
seseorang mengirimkan uang tanpa di minta, saat
itu rasanya luar biasa. Hanya Rania yang bisa
merasakan. Detik-detik itu memang telah
terlewati namun bukan berarti Rania bisa
melupakan begitu saja. Hal tersebutlah yang
membuat Rania lebih hati-hati dalam melangkah
saat ini. Berangkat dari itu jugalah Rania tidak
ingin kehidupan di sekitarnya saat ini merasakan
apa yang dia rasakan dulu, itu juga alasan
mengapa saat ini Rania lebih gigih
menyelamatkan orang lain.

“Oke, kalau memang ini yang terbaik. Aku
ada sedikit tabungan sepertinya akan manfaat bila
di gunakan.” Rania menarik handphonenya
bermaksud hendak mentransfer sejumlah uang
kepada Pak Yudha.

“Kamu mau apa ?” tanya Pak Yudha.

“Transfer uang.”

380

“Untuk apa ?”

“Lho, untuk pesta pernikahan ku dong.”

“Ran, uangnya sudah ada. Kamu tenang
saja.” Pak Yudha meyakinkan sambil menyentuh
ujung jari Rania. Rania menunduk, ia terharu
diperlakukan begitu rupa. Betapa Tuhan Maha
Baik telah mengirim Rania menuju titik terbaik.

Septia dan Pak Budiman yang sedari tadi
mematung merasa serba salah juga melihat
adegan romantis yang ada di depan matanya.

“Ehem, ehem.”

Pak Yudha tertawa kecil saat mendegar
suara Pak Budiman.

“Sebentar, saya dan Septia juga ingin
menyumbang nih, untuk pesta pernikahan senior
dan saudara saya.”

Pak Yudha nampak bingung.

“Ini bukan kontes amal, kenapa
menyumbang.”

381

“Bukan nyumbang deh, hadiah.” Sahut Pak
Budiman lagi.

Kemudian Pak Budiman mengirimkan
screnshoot bukti transfer pada whatsapp Pak
Yudha dan Rania. Rania membuka pesan masuk
dan melihat bukti transfer tersebut. Rania
membelalakkan matanya takjub melihat
nominalnya, kemudian menunjukkan bukti
transfer itu pada Pak yudha.

“Sepuluh juta ?”

“Banyak sekali.” Pak Yudha mengarahkan
pandangannya pada Pak Budiman. Dan Pak
Budiman pun tersenyum.

“Persahabatan ini semoga menjadi
persahabatan yang kekal, sampai di surga.” Pak
Budiman bicara sambil menerawang.

“Satu lagi, kalau nanti saya dan Septia
menikah, jangan lupa untuk hadir, ya.”

382

Wajah Septia memerah mendengar
kalimat dari Pak Budiman. Rania tertawa
terbahak-bahak sampai Pak Yudha menegurnya.
Sepanjang ia kenal Rania belum pernah ia
mendengar Rania tertawa seperti ini. Sepertinya
Rania sangat bahagia.

“Oke, oke. InsyaAllah kalau itu.” Jawaban
Rania masih dalam tawa.

Mereka kembali sibuk pada aneka
persiapan, telphon kesana kemari. Rania melihat
tumpukan undangan yang sudah bertuliskan
nama, matanya tertumpu pada satu nama di atas
undangan itu.

“Dr. Leo ?”

“who’s this ?” tanya Rania pada dirinya
sendiri.

Pak Yudha melirik calon istrinya, ia tahu
apa yang di tanyakan Rania.

383

“Kamu keberatan ? kalau keberatan
singkirkan saja.” Rania bingung, apa juga
untungnya mengundang lelaki ini ? pikir Rania
bingung.

“Paling tidak agar Pak Leo tahu bahwa bu
Rania sudah menikah dan bukan dengan orang
sembarangan.” Tandas Pak Budiman.

Rania mencoba memahami pemikiran
mereka, ia meletakkan kembali undangan
tersebut di meja. Rania memandang mereka
semua. Ia kini bukan hanya fokus pada persiapan
pernikahan namun ia juga berfikir apa yang akan
terjadi andai Pak leo benar-benar datang.

Lukanya belum sembuh benar, akan kah ia
bisa menganggap hal tersebut sebagai hal biasa
atau malah membuat ia makin terluka. Rania
pasrah. Ia berjibaku dengan pikirannya sendiri.
Mencari solusi akan kebingungannya sambil
berserah diri kepada Tuhan.

384

HADIAH SEBUAH PESTA PERNIKAHAN
MEWAH

Golden Tulip 5 Januari 2020, kamar 25.

Rania berada di dalamnya dengan seorang
perias pengantin dan dua asistennya. Wajah Rania
di poles perlahan-lahan. Sampai usai. Kemudian
sebuah gaun panjang berwarna putih yang
melekat dibadannya dengan bahan duchesse satin
campuran sutra dan rayon yang di hiasi taburan
permata berwarna merah menyala senada dengan
kalung yang melingkar di lehernya. Bagian kepala
Rania tertutup jilbab kalungnya tergantung di atas
kain bajunya, ada semacam mahkota kecil dengan
liyer panjang. Baju itu nampak elegan, ditambah
dengan kerutan-kerutan tiga lapis yang membuat
Rania nampak seperti putri raja.

“Cantiknya mbak, Rania.” Seru perias
pengantin itu dengan tatapan takjub. Rania
tersenyum kecil. Tangannya yang terbalut heena
berwarna silver masih dengan hiasan pernik

385

cantik merah menyala. Sesuai dengan dresscode
hari ini, gaun putih dan merah menyala.

Rania turun, melintasi karpet merah lantai
hotel. Pak Budiman menjemputnya sambil
menggodanya.

“Bisa pingsan mempelai pria melihat ini.”

“Jangan bercanda,”

“ach, manjanya seperti gadis saja.” Suara
Pak Budiman makin riuh menggoda.

“Septia dimana ?” Tanya Rania.

“Dia disamping Pak Yudha.” Bisik Pak
Budiman dengan ekspresi lucu sekali.

Mereka sampai juga di lantai yang
menghubungkan antara lift dari kamarnya
menuju ruangan yang mereka sewa, beberapa
keluarga Rania telah menunggu, mereka
mengiringi Rania berjalan menyusuri lantai
berkarpet merah yang sudah dihias dengan
bunga-bunga indah. Baunya harum sekali.

386

Sepertinya saat ini Golden Tulip menjadi milik
mereka.

Disana, beberapa pasang mata menatap
Rania dengan tatapan takjub. Ada banyak orang
yang menyangsikan Rania bisa tampil dengan
balutan gaun semewah hari ini. Tapak kaki Rania
ringan namun pasti menuju kursi dan meja yang
telah disiapkan untuk acara sakral pernikahan.
Disampingnya ada panggung untuk acara resepsi
pernikahan mereka.

“Saya terima nikahnya Rania binti Hadi
dengan maskawin seperangkat alat sholat dan
uang tunai sebanyak 50.120.200 di bayar tunai.”

“Sah?’

“Sah.” Para undangan yang hadir
berteriak. Rania hampir pingsan mendengar
nominal mahar yang ia dapatkan, baginya jumlah
itu sangatlah besar, sebesar tanggung jawab yang
harus ia emban untuk jadi istri yang baik. Rania
menjabat lengan suaminya, mencium ujung

387

lengannya dengan khidmat dan Pak Yudha
membubuhkan ciuman mesra di kening Rania.
Undangan yang melihat adegan tersebut bersorak
sambil riuh bertepuk tangan. Betapa Rania telah
mendapat hadiah sebuah pernikahan yang indah
dan sangat mewah hari ini, justru dalam usianya
yang sudah tidak mudah lagi .

Pak Yudha memapah Rania duduk di
pelaminan, mereka berdua nampak serasi sekali,
kemesraan dan kasih sayang yang mereka
pertontonkan melebihi pasangan remaja yang
sedang menjadi pengantin baru. Saling
memandang penuh kekaguman, saling melempar
senyum dan tawa kecil. Para undangan pun
menikmati sajian makanan yang terhidang, usai
hikmah nikah disampaikan. Beberapa dari mereka
yang ingin segera pulang mendatangi pasangan
mempelai untuk berpamitan sedangkan sebagian
yang lain nampak masih betah berada di sana.

Tiba-tiba seseorang dengan batik mahal
mendekat, Rania ingat wajah dan senyum itu,

388

Rania ingat kumis tipis yang khas itu, wajah yang
sempat ia rindukan dan masih ia tunggu.

“Siapa yang mengundang beliau ?” tanya
Rania lirih karena Rania sama sekali tidak melihat
nama beliau dalam daftar undangan yang kemarin
di sodorkan oleh Septia padanya.

“Dia kawan dekat ku, Ran.” Bisik Pak
Yudha. Belum sempat Rania menanyakan lebih
banyak lagi lelaki itu telah sampai di pelaminan
dan berdiri tepat di depan Pak Yudha juga Rania.
Beliau memeluk Pak Yudha dengan pelukan
hangat.

“Bahagiakan Rania.” Ucapnya sambil
menepuk bahu Pak Yudha dengan gaya seorang
sahabat. Kemudian mata teduh itu menatap Rania
tepat di bola matanya. Rania bingung, dadanya
makin keras bergemuruh. Ia ingin sekali marah
karena merasa terjebak dalam situasi yang tidak
nyaman. Adegan ini seperti sudah di rencanakan.
Seperti adegan film di salah satu tv swasta saja.
Rania makin gugup saat wajah itu makin dekat.

389

“Selamat ya, Rania. Jaga suami mu baik-
baik. Satu lagi tidak usah gugup nanti sahabat ku
akan cemburu. Laki-laki seusia kami ini harusnya
lebih bijak namun kenyataannya kami justru lebih
pencemburu dari pada yang muda.” Beliau
berkelakar. Rania hanya diam terpana, bahkan
tersenyum pun ia tak bisa.

“Ran,” panggil Pak Yudha. Mereka bertiga
berdiri melingkar.

“Aku mau bilang sesuatu, sebenarnya
pesta pernikahan mewah ini adalah hadiah dari
sahabatku, Wahyu, untukku. Belakangan aku baru
tahu bahwa ia menghadiahkan semua ini ternyata
buat mu. Yang dari aku hanya maskawin yang
kamu terima tadi. “ Begitu penjelasan Pak Yudha,
jujur.

“Tidak usah di bahas. Yang pasti kami
melakukan ini karena rasa kasih kami yang luar
biasa. Aku mengagumi perjuangan mu, Ran.
Namun aku tidak kuasa berkhianat pada keluarga
ku. Dan aku tahu niat baik mu, namun akan makin

390

sedih nantinya bila di tengah perjalanan ternyata
kamu tersakiti oleh aku.” Pak Wahyu mencoba
menyentuh hati Rania dengan penjelasannya.
Namun sayang hal itu justru membuat Rania
tertolak dan itu sakit, sangat sakit. Pak Wahyu
sudah menolaknya berkali-kali bukan hanya hari
ini.

“Saat aku tahu ternyata sahabat ku ini
mencintai mu bertahun-tahun yang lalu, aku
langsung setuju. Aku yakin ia akan
membahagiakan mu. Lihat Ran, ia demikian
tampan.” Pak Wahyu menyentuh dagu Pak Yudha
seperti sahabat kecil yang bertemu lagi saat
mereka dewasa.

“Rani.” Panggil Pak Yudha saat tahu
istrinya semakin enunduk. Ada bening yang coba
Rania tahan agar tak jatuh, karena ia tidak ingin
pesta ini menjadi kacau karena air matanya.

Rania mengankat wajahnya, menatap Pak
Wahyu dengan tatapan sayu, kemudian
mengangguk entah apa maknanya. Pak Wahyu

391

mengambil posisi di samping Rania dan meminta
kameramen membidik mereka dengan beberapa
bidikan kemudian Pak Wahyu permisi turun dari
pelaminan.

“Jangan pulang dulu.” Suara Pak Yudha
sediit meninggi. Pak Wahyu hanya menangguk
sambil melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin
menoleh lagi. Baginya saat ini ada hati yang ingin
ia jaga agar tak makin bergolak. Hati itu hati Rania.

SAAT PENDOSA ITU MENEMUKAN
KARMA

Belum habis perasaan berdebar itu dari
hati Rania, tiba-tiba pandangannya tertuju pada
tamu yang baru saja masuk ke ruangan dengan
kursi roda. Samar-samar Rania menatap heran. Ia
mencoba menelisik pemandangan aneh itu dari
tempatnya, sesekali pandangannya bertabrakan
dengan banyaknya tamu yang berseliweran,
sesekali Rania melihat lelaki di kursi roda yang

392

sedang berjabat tangan dengan beberapa orang.
Sepertinya dia sangat di kenal oleh undangan yang
ada di ruangan ini.

Rania merasa tidak tenang di
pelaminannya, hatinya resah, pandangannya terus
memburu lelaki di atas kursi roda yang tidak
terlalu nampak wajahnya.

Hingga tiba saatnya lelaki itu mendekat, di
belakangnya ada seorang gadis muda berusia
sekitar dua puluh tahunan sedang mendorongnya.
Kursi roda itu naik ke pelaminan, saat Rania
sedang berjabat tangan dengan beberapa
undangan yang berpamitan pulang.

“Selamat.” Lelaki itu menjabat erat lengan
Pak Yudha, dan Pak Yudha setengah menunduk
sambil mengucapkan terimakasih.

Pandangan lelaki itu beralih pada Rania,
Rania merasa takjub, bulu kuduknya meremang.

‘Selamat bunda.” Suaranya. Rania
menatap, lelaki yang selama ini gagah dan

393

congkak hari ini bicara sambil melemah,
kecongkakannya seperti hilang, kesombongannya
memudar. Lelaki itu Pak Leo, lelaki yang selama
ini tidak mau menceraikannya. Lelaki ini lelaki
yang pernah menjadi suaminya dan lelaki yang
pernah menitipkan spermanya pada Rania.

“Terimakasih.” Jawab Rania dengan suara
parau.

“Bunda, ini ada sesuatu yang ayah bawa
untuk bunda.” Ia tetap memanggil bunda seolah ia
sama sekali tidak menganggap ada Pak Yudha di
samping Rania yang saat ini telah menjadi
suaminya.

“Apa ini ?” Tanya Rania ketika ia menerima
bungkusan itu dari tangan Pak Leo.

“Itu adalah hak bunda yang ayah simpan
selama 65 bulan.” Rania bingung, antara
menerima atau tidak, ia mengarahkan pandang
pada Pak Yudha yang berdiri di sampingnya. Pak
Yudha mengangguk pertanda setuju. Rania

394

merubah posisinya dari berdiri menjadi duduk.
Rania berusaha mensejajarkan dirinya agar
mudah berbicara dengan Pak Leo.

“Terimakasih untuk semuanya, tapi
mestinya ayah tidak perlu repot begini. Ini bisa
ayah simpan untuk ayah saja.” Rania berusaha
menetralisir suaranya dengan senyum tipisnya, di
hadapan mereka ada banyak mata yang
menunggu episode selanjutnya antara Rania dan
Pak Leo, sebuah cerita yang pernah viral di
jamannya.

“Itu hak bunda,itu uang belanja bunda
yang ayah sisihkan setiap bulan namun sengaja
tidak ayah berikan agar bunda kembali pada ayah,
ayah sangat mencintai bunda entah sampai kapan.
Selama ini ayah tidak percaya pada bunda karena
ayah sangat takut bunda menjadi milik orang lain
dan bukan milik ayah bila bunda jauh dari ayah.”
Pak Leo terisak, Rania merasa iba, Rania bingung
luar biasa. Pak Leo makin terisak. Pak Yudha
duduk di samping kursi roda Pak Leo.

395

“Saya mohon ijin untuk bicara dengan
Rania, saya janji ini yang terakhir.” Pak Leo
memohon saat ia menyadari kesalahannya.

“Saat ini ayah telah di hukum Tuhan, kaki
ayah lumpuh, tidak ada lagi yang bisa ayah
sombongkan. Ayah benar-benar minta maaf.
Tolong bunda kirimkan alamat makam anak kita,
ayah segera akan kesana. Ayah ingin minta maaf
pada kalian semua. Seorang pendosa seperti ayah
telah menemukan karmanya.” Rania mengangguk,
ia juga ikut hanyut dalam situasi yang terjadi saat
ini. Pak Yudha telah turun dari pelaminan
meninggalkan mereka untuk berbincang. Bagi Pak
Yudha tidak menjadi masalah mereka berbincang
saat ini untuk menuntaskan semua masalah yang
pernah terjadi di antara mereka.

“Bunda sudah memaafkan semua yang
ayah lakukan, bunda juga minta maaf tidak bisa
menjadi istri yang baik.” Ucapan Rania terbata-
bata. Berkali-kali Rania nampak berusaha
menyeka air matanya.

396

“Tugas ayah sudah selesai, ayah mohon ijin
untuk pamit, jaga diri bunda baik-baik. Sekali lagi
jangan lupa untuk mengirimkan alamat tempat
anak kita dimakamkan.” Rania mengangguk.

“Ayah sebentar,” Rania meraih ponsel
yang tergeletak begitu saja di kursi pelaminan nya.
Rania membuka galeri kemudian menunjukkan
sebuah foto pada Pak Leo.

“Ini foto pertama kali anak kita lahir,” Pak
Leo makin terisak. Ia merasa seperti lelaki bodoh
saat ini, ia tidak lagi bisa melakukan apapun
bahkan untuk menebus kesalahannya. Impiannya
mempunyai rumah tangga bersama Rania telah
hancur karena ulah dan cara berpikirnya sendiri.
Selama ini Pak Leo selalu berpikir bahwa dirinya
adalah yang paling benar, bahwa Rania adalah
wanita pembohong yang akan menghabiskan
hartanya faktanya ia telah salah. Selama ini Pak
Leo selalu berfikir bahwa Rania tidak serius
dengannya ternyata ia salah. Harapannya bisa
melihat Rania dan putranya duduk di beranda

397

sepulang ia kerja telah hancur kini. Mimpi itu tidak
akan pernah terwujud. Ia merasa sangat hancur.
Hatinya perih. Ia terisak-isak seperti anak kecil. Ia
baru sadar bahwa ternyata Rania adalah wanita
yang sangat ia cintai melebihi harta dan
jabatannya.

“Bunda... maafkan ayah.” Pak Leo pergi, ia
meminta putri cantiknya membawanya pergi dari
ruangan itu. Ia pergi tanpa melihat siapapun lagi.
Rania menatap kepergian mantan suaminya
dengan hati hampa.

Betapa cinta dan perkawinan telah Pak
Leo pertaruhkan demi harga diri dan nama baik.
Betapa pernikahan sirri yang sempat ia lakukan
tidak mampu ia pertanggung jawabkan.

Kehidupan telah mempermalukan
mereka, cinta telah menghancurkan mereka.
Hingga mereka berada dalam kenestapaan yang
sangat dalam.Cerita hidup tak akan bisa diulang,
rasa manis dari sebuah hubungan hanya bisa
dikenang demikian juga dengan kepahitan yang

398

pernah terciptakan. Kisah Pak Leo dan Rania telah
berakhir namun pelajaran tentang kisah mereka
akan mereka tularkan pada anak-anak mereka
tentang betapa pentingnya menjaga dan
memperjuangkan rasa, tentang betapa pentingnya
menjadi pemberani, tentang betapa buruknya
menjadi seorang pecundang.

Pak Yudha mendekati istrinya, memeluk
pundak dari tubuh kecil wanita yang dikaguminya
bertahun-tahun yang lalu. Ia berjanji akan
membahagiakan wanita ini sepanjang hidupnya.
Janji itu ia ucapkan dari kedalaman hatinya sambil
mendaratkan ciuman kecil di kening Rania.

Semua undangan nampak riuh bertepuk
tangan menyaksikan adegan romantis tersebut.

399

BAHAGIA DALAM CANDA

Usai pernikahan mewah itu digelar, Rania
kini telah resmi menjadi istri pak Yudha.

Dalam kamarnya yang indah, Rania benar-
benar dimanjakan.

Saat ini ia memang belum menyerahkan
hatinya sepenuhnya pada Pak Yudha suaminya,
namun Rania yakin, dengan berjalannya waktu ia
akan mencintai suaminya.

Pak Yudha mendekati Rania, beliau
tersenyum sangat ramah, tatapan matanya sejuk,
teduh, menenangkan. Dari dulu hingga sekarang
senyum itu tidak berubah meskipun wajahnya
tertawan usia.

Rania mencoba menyandarkan kepalanya
di dada bidang lelaki yang usianya hampir lima
puluh lima tahun ini. Rania mencoba mengusir
rasa canggung di hati suaminya

400


Click to View FlipBook Version