The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-19 17:17:38

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu suamiku

"Lelaki T*L*L" tangan Rania mengepal.
Amarahnya sampai ke ubun-ubun. Begitu
bodohnya makhluk Tuhan yang bernama Leo ini.

Rania menekan tombol bergambar
telphon berwarna hijau.

Terdengar nada sambung.
"Assalamualaikum bunda, ada apa? Bunda
belum tidur?"
"Waalaikumsalam maaf ya yah aku mau
ngomong, seumur hidup ku hanya satu kali
menemukan laki-laki paling bodoh di dunia ini
yaitu ayah!" Rania menahan amarahnya yang
meletup-letup. Ia seolah tidak bisa lagi bernafas.
Dadanya penuh sesak dengan bayangan bayi
mungil yang harus mati saat itu. Bayangannya di
penuhi dengan rasa sakit di perutnya hingga
menusuk ulu hatinya.
Rania terengah-engah seperti melewati
ribuan kilometer jalanan penuh tanjakan. Ia tidak
bisa lagi menahan nafasnya yang penuh sesak
antara amarah dan sedih yang membuncah.

301

"Maksud bunda apa? Kenapa bunda begitu
benci pada ayah. Tidak bisakah kita saling baik.
Ayah sudah puluhan kali minta maaf lho bunda."

"Tidak bisa! Kita tidak bisa saling baik. Aku
sudah maafkan semuanya. Tapi tidak untuk saling
baik."

"Tapi kenapa bunda ?"
"Karena bagi ku saat ini kamu tak lebih
dari seorang PEMBUNUH!" Rania menutup
telponnya. Ia berhenti memaki.
"Astaghfirullah" Rania menggumam
berkali-kali. Ada kepasrahan tingkat tinggi dalam
batinnya.
Ia sudah berjanji tak akan pernah memaki
lagi,malam ini perrih telah membuat ia lupa pada
janji.
Ia hanya mengingat darah yang mengucur
deras di kaki putihnya saat itu. Saat ia berjalan
mencari becak sendirian menuju rumah bidan.
Saat ia harus mendekap bayinya seorang diri dan
mencari pinjaman kesana kemari untuk
membayar biaya persalinan.

302

Haruskah Rania berbaik hati dan kembali
?

Andai ada pengadilan cinta maka Rania
adalah orang pertama yang akan menuntut
kekejaman yang Leo lakukan padanya. Rania akan
meminta agar hakim menindak Leo dengan
hukuman seadil-adilnya.

Rania terisak lagi.
Ia buka lagi ponselnya, mencari nama Pak
Wahyu disana, Pak Wahyu tidak online. Rania pun
tidak ingin mengganggu meski ia sangat ingin
mengadu. Ia tahu batasannya.
Sedangkan Pak Budiman, ach...sebagai
sahabat ia terlalu baik untuk menerima curahan
hati di tengah malam seperti ini.
Rania membenamkan dirinya pada bantal
empuk dan harum di ranjang putihnya. Ia luahkan
seluruh perasaannya di sana.
Dan, ketika tangan Tuhan membelainya ia
pun terlelap dalam letih yang menggumpal.
Pak Leo pasti akan mendapat balasan
setimpal karena janji Allah Pasti benar.

303

[8/12 11:41] Rarashasha: KABAR
BAHAGIA

“Assalamualaikum, Bu Rani.” Suara dari
sebrang terdengar, suara lembut dari pemilik
suara, seorang yang baik hati namun tegas dalam
prinsip. Dan Rania pun menjawab dengan suara
tak kalah lembutnya.

“Waalaikumsalam, apa kabar, Pak ?. Lama
tak jumpa.”

“Iya, banyak tugas kampus yang harus di
kerjakan terutama penyampaian materi via zoom
video benar-benar sangat menyita perhatian,
menyita waktu dan butuh kesabaran. Belum lagi
persiapan webminar.”

“Saya juga mengalami nasib yang sama,
Pak.”

“Sedang dimana ?” masih tanya suara itu
lagi.

“Sedang di rumah, Pak.”
“Bisa ketemu sebentar ?”
“Lama juga gpp, Pak.”

304

Pak Budiman terkekeh keras, sumpah
baru kali ini Rania mendengar Pak Budiman
tertawa terbahak-bahak. Begitu bahagia
nampaknya beliau entah karena apa.

“Kapan Pak Budiman ke rumah ?”
“Mungkin sebentar lagi, ga pa pa ya?”
“Asiapppp.”
Telphon pun di tutup, mereka nampak
bahagia sekali. Ada gemericik rasa yang meletup-
letup diantara gemintang hatinya. Rania tidak
tahu untuk apa Pak Budiman bermaksud datang
ke rumahnya yang ingin dia terima pastinya
sebuah kabar baik. Namun bila melihat cara beliau
bicara pastinya ini kabar baik yang akan Rania
dengar. Semoga.
Langit masih bercahaya, guratan awan
masih melintas di atas hatinya ketika Pak
Budiman yang tinggi, gagah dan tegap itu datang.
Melempar senyum manisnya Pada Rania. Rania
membalas senyum itu dengan ramah.
“Ada apa, Pak?”
“Ada apa, ya ?”

305

“Cuma mau dengar cerita tambatan hati
yang baru.” Pak Budiman bicara sambil
membuang muka.

“Saya datang kemari karena cemburu.”
Pak Budiman masih membuang muka, tapi Rania
tahu Pak Budiman bercanda. Tidak ada
kecemburuan diantara mereka. Kecemburuan itu
telah selesai, mereka terlanjur bertekad bahwa
hubungan mereka hanya sebatas teman tidak
boleh lebih dari itu. Dalam kamus Pak Budiman
wanita idaman bukan Rania. Jelas berbeda, wanita
pujaan beliau cantik, berkulit putih, bermata
indah dan bertubuh tinggi. Rania menghela nafas
lalu berkata ?

“Tambatan hati yang mana ?” rania
bertanya dengan gaya nya, seolah-olah ini adalah
cerita nyata bukan fiksi saja.

“Tambatan hati yang di kenal di
Pengadilan Agama?” Rania melotot, mulutnya
menganga. Rabbana... yang di bahas ini Pak Wahyu
? Pasti Septia yang membawa gosip tidak
beranggung jawab ini.

306

“Septia ya ?”
“Ho oh.” Pak Budiman mngangguk-
anggukkan kepala dengan lucunya.
Akhirnya Rania bercerita dengan lancar
tentang Pak Wahyu, dari awal hingga akhir dengan
lengkap. Pak Budiman hanya diam tidak
berkomentar. Bagi pak Budiman mengurusi
urusan pribadi sangatlah riskan untuk sebuah
hubungan pertemanan. Itu sebabnya ia tidak ingin
ikut campur, baginya saat ini ada yang lebih
penting dari itu semua yaitu urusan Rania dengan
Pak Leo. Urusan itu harus diselesaikan hingga
selesai. Agar Rania bisa melenggang berjalan
ringan.
“Sebenarnya dengan siapapun nggak pa pa
asal Bu Rani merasa nyaman, yang penting
berhati-hati agar kesalahan yang sama tidak
terulang. “ Hanya itu pesan Pak Budiman.
Bagaimana pun juga hubungan dengan seseorang
yang telah beristri pasti akan menuai masalah
baru, meskipun Tuhan membolehkan namun

307

tetap ada pihak-pihak yang berusaha untuk
membuat pembolehan itu menjadi samar.

“Jujur, kalau saya pribadi malah salut pada
orang yang menikah lebih dari satu dan bisa
mendamaikan semuanya, karena saya sendiri
belum sanggup melakukan itu.” Pak Budiman
menjelaskan dan Rania pun tidak menyanggah,
karena apa yang disampaikan Pak Budiman itu
sangat benar.

“Oh iya ngomong-ngomong saya datang
kemari sebenarnya bukan untuk menanyakan itu.”

“Terus ?”
“Saya mendapat pesan penting dari
kampus tentang masalah yang sedang viral di
kampus saat ini.”
“Terus ?” Tanya Rania lagi.
“Ya, kampus ingin sekali membuat
masalah ini selesai. Kami ingin menyelesaikan ini
secara kedinasan.”
Rania diam, mencoba berpikir.
“Apakah tidak akan membuat Pak Leo
dirugikan nantinya ?” Oh Tuhan Rania, sudah di

308

buat susah bertahun-tahun masih juga
memikirkan nasib orang lain. Sebegitu mulia kah
hatinya ? Pak Budiman geleng-geleng kepala.

“Masalah atau pun tidak masalah apa
masalahnya dengan Bu Rani ?” Pak Budiman
mencoba bertanya lagi.

“Bukan begitu Pak, sungguh ini
sebenarnya kabar paling gembira buat saya tapi
sungguh bila ini akan membuat Pak Leo di pecat
atau hal buruk lainnya saya kasihan pada anak-
anaknya. Pak Leo memang telah menyengsarakan
saya bertahun-tahun, Pak tapi membalas beliau
dengan kesengsaraan yang sama tidak akan
membuat saya menjadi menang. Saya inginnya
Tuhan yang membalas Pak Leo. Bukan saya.”

Sampai disitu Rania terdiam dan bungkam,
betapa hatinya memang remuk redam menerima
perlakuan Pak Leo selama ini, namun melihat
anak-anak Pak Leo harus hidup dalam kemiskinan
karena ulah tangannya tidak akan membuat Rania
merasa puas. Balasan Tuhan akan mengenai Pak

309

Leo dan itu pasti akan jauh lebih sakit serta lebih
sulit. Rania sangat percaya itu.

“Lalu bagaimana ?”
“Saya akan datang, Pak.”
“Syukurlah, agar cepat selesai, Bu.”
“Iya, insyaAllah.”
“saya akan merasa lega bila urusan ini
selesai.” Begitu penjelasan Pak Budiman dan
Rania sangat mengerti kegundahan teman-teman
yang mengetahui tentang ini. Masalah ini
membuat jengkel banyak orang, menguras hati
dan menyakiti perasaan terlebih bila melihat Pak
Leo masih berdiri tegak seolah tidak ada rasa
bersalah, banyak orang yang meradang dan
menunggu ending dari cerita ini.
“Kalau Bu Rani sudah bersedia, saya pamit
pulang ya.”
“Kok buru-buru.” Rania protes.
“Iya, saya takut jatuh cinta kalau lama-
lama di sini.” Mendengar itu refleks Pak Budiman
terkena lemparan vas bunga Plastik yang ada di
meja. Pak Budiman memekik kecil. Rania tertawa.

310

Pak Budiman pun pulang ke rumahnya
“Sampai jumpa besok.” Pak Budiman pun
melambaikan tangannya pelan. Seraya
mengucapkan selamat berpisah dan sampai
jumpa lagi. Kabar ini adalah kabar bahagia,
semoga akan menjadi akhir yang bahagia pula.
Rania banyak berharap pertemuan esok hari di
kampus akan menjadi jalan keluar bagi dirinya.

311

PANGGILAN DARI KAMPUS

Pagi yang indah ketika dunia
menampakkan senyum indahnya. Rania sudah
bangun sejak subuh tadi dan melanjutkan
tulisannya di beberapa platform penulisan.
Sesekali matanya menyipit lalu kadang melebar,
seperti pusaran cinta yang kadang naik dan
kadang turun. Rania mengikuti alur cerita yang ia
buat dengan ekspresi wajahnya.

Ia terkejut melihat handphonenya
menyala, sebaris nama muncul disana. Nama yang
selalu membuatnya tersenyum, menghadirkan
inspirasi dalam tiap episode-episode novelnya.
Nama itu yang menghadirkan letupan dalam
hatinya. Nama itu juga yang membuatnya berpikir
hal lain tentang sebuah dendam. Bahwa dirinya
harus berhasil terlebih dahulu maka hal itu adalah
pembalasan terbaik bagi seseorang yang ingin
membalas dendam. Bahwa dendam itu bukan
tentang melakukan hal buruk pada seseorang
yang telah berbuat buruk pada kita tetapi

312

membalas dendam itu adalah dengan
menunjukkan kita sukses, kita berhasil dan kita
layak dihargai.

Nama itu yang membuat Rania menjadi
lebih tegar selain teman-temannya yang lain.
Teman-teman yang selalu mendukungnya.

“Assalamualaikum,” tulis Rania setelah
panggilan itu berhenti.

“Waalaikumsalam, kenapa tidak diangkat
?”

“Khawatir sedang dalam ‘zona bahaya’”
Jawab Rania singkat. Pak Wahyu membaca
jawaban itu sambil tersenyum simpul. Wanita ini
selalu mampu membuat dirinya merasa
melambung. Dalam usia yang memang tidak muda
lagi seorang Wahyu bukan tidak pernah
berhubungan dengan wanita, ia terlampau sering
berputar-putar di dunia wanita, namun Rania,
diantara masalah yang sedang melilitnya ia
mampu memberikan pernik-pernik khusus
dengan aneka warna pada hari-harinya dan itu

313

yang membuat Pak Wahyu merasa nyaman
berkawan dengannya.

“Aku sedang di luar rumah, itu sebabnya
aku menghubungi kamu.”

Lelaki, selalu cerdik dalam bersikap. Dan
Rania suka itu. Diantara kebutuhan mereka
tentang cinta baru yang menggelitik dirinya ia
tetap memperhatikan perasaan istri di rumah.
Lelaki model seperti ini istimewa. Ia berusaha
memenuhi kebutuhan semuanya, istrinya,
anaknya, kebutuhan pshykologisnya juga
kebutuhan wanita barunya. Ia berusaha dengan
kuat menyeimbangkan semuanya. Tidak boleh
ada yang timpang. Mungkin ini lelaki yang di
damba sorga. Tidak boleh ada keburukan dan ia
berupaya sekuat tenaganya. Meski kadang
ketakutan menghantuinya ia tetap berupaya.
Bahkan ketika lelaki seperti ini berani jujur
tentang posisinya, sungguh itu istimewa. Tidak
perlu ada kebohongan karena kebohongan hanya
akan timbulkan luka yang lebih dalam.Pelan-pelan
semua beruaha mereka sampaikan andai

314

medannya tidak memungkinkan maka mereka
akan tetap berjuang.

“Jadi telpon kah ?” tanya Rania.
“Nggak usah sudah, nanti saja aku kesana.’
Jawab Pak Wahyu via chatingannya.
“Oh, maaf hari ini saya mau ke kampus.”
“Oh, ya ?”
“Iya, tapi bukan kuliah kok.”
“Janjian dengan Pak dosen ?” Tanya Pak
Wahyu langsung ke pusat rasa sakit.
“Bukannnnn.”
“Lalu ?’
“Ada panggilan dari kampus, kampus ingin
mempertemukan saya dengan Pak Leo.”
“Oh, cara yang bagus itu.”
“Iya, mohon doa ya.”
“Iya, pasti.”
Mereka pun mengkhiri perbincangan. Rnia
tersenyum sambil memanjakan dirinya diatas
ranjang, bergulung-gulung dengan rasa bahagia.
Entah kenapa ia merasa senang sekali bila
memulai perjalanan harinya dengan tahajud,

315

sholat subuh, mengaji dan berbincang dengan Pak
Wahyu. Seperti hari ini.

Rania menuju almari, membukanya dan
memilih pakaian yang pantas ia kenakan untuk ke
kampus. Memenuhi panggilan dari kampus
tentang hubungannya dengan Pak Leo. Ia
menerka-nerka apa mungkin Pak Leo akan datang
menghadiri panggilan itu atau tidak. Semoga ada
jalan keluar terbaik hanya itu saja doanya. Ia
merasa sangat lelah melewati ini semua. Ia
berharap semua masalah ini segera selesai. Dan ia
bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik.

Gamis panjang berwarna hijau daun
dipadu dengan blazer hitam, tas hitam dan sepatu
berhak tinggi warna hitam menambah anggun
penampilannya, Rania menyapukan bedak dan
lipstik berwarna oranye. Ia ingin tampil
berwibawa hari ini.

Rania bersyukur teman-teman baiknya
bersedia membantu menjadi jembatan antara
dirinya dengan Pak Leo. Pak Leo dosen di tempat

316

dirinya saat ini kuliah. Itu sebabnya pihak kampus
ingin memediasi dirinya.

Rania banyak berharap ini semua kan
berhasil agar pekerjaan mereka tidak sia-sia.

Namun memang, bila ancamannya adalah
kedinasan mungkin Pak Leo tidak bisa lagi
menyangkal.

Semoga saja.

317

UPAYA DAMAI

"Sudah di kampus ?" Ach, lelaki ini lagi.
Lelaki dengan senyum manis yang selalu
menghadiahkan energinya untuk Rania.

"Iya, sudah."
"Alhamdulillah, tetap tenang dan baca
sholawat ya."
"Iya, terimakasih dukungannya"
Hanya itu WhatsApp terakhir antara Rania
dan Pak Wahyu pagi ini. Hingga Rania
memutuskan untuk menuju ruang dekan.
Rania melangkah tertatih, bukan karena
tubuhnya sedang sakit atau karena lapar tetapi
karena beberapa mata memandang dirinya,
seolah dirinya adalah pemilik puncak kesalahan.
Rania ingin menjelaskan pada mereka kronologi
kejadian yang sesungguhnya tapi mustahil juga
percuma mereka tidak akan percaya.
Rania meneruskan langkahnya, ruangan
lebar dengan dua macam sofa tertata rapi. Ada
meja kerja dan satu kursi besar.

318

Semua sudah menunggu rupanya.
Ada Wakil Dekan, ada pak Yudha, ada pak
Budiman juga ada pak Leo. Semua lelaki. Hanya
Rania yang berjenis kelamin perempuan.
"Assalamualaikum"
Semua mata tertuju pada Rania yang
mematung di pintu sambil menggenggam tas di
jemarinya. Nampak pak Leo terkejut. Undangan
dari Wakil Dekan sama sekali tidak menuliskan
maksud pertemuan kali ini.
Pak Leo merasa tidak nyaman, itu terbukti
dari tingkahnya yang tidak tenang saat ia duduk.
"Masuklah Rania." Perintah pak Sofyan
Wakil Dekan.
Rania duduk perlahan, ia duduk tepat di
samping Pak Yudha.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja
diskusinya."
"Pak Leo, hubungan bapak dengan Rania
sudah demikian viral di kampus ini jika merujuk
pada peraturan maka pak Leo harus memilih,
bercerai atau terkena sanksi karena menikah lagi."

319

Wakil Dekan menjelaskan sebuah peraturan yang
sebenarnya pak Leo sudah tahu tentang itu.

Semua diam, sunyi yang menelisik masuk
ke sekat hati.

Pak Leo menunduk, hingga Pak Sofyan
mengeluarkan suara batuk kecil, berharap pak Leo
segera menjawab.

Pak Leo mulai berani mendongakkan
kepalanya.

"Bagaimana pak Leo?"
"Rania tidak meminta apapun dia hanya
meminta ikrar talak dari bapak, betul begitu kan
Rania ?" Tanya Pak Sofyan lagi.
"Iya" suara Rania parau.
Pak Leo memandang wanita ayu yang ada
di depannya. Ia menyesal pernah menyia-nyiakan
dirinya.
"Saya tidak akan menceraikan Rania, "
jawaban Pak Leo tegas.
Semua yang hadir menarik nafas panjang.
"Saya akan lakukan apapun kecuali
mengabulkan permohonan talak."

320

"Bapak siap terkena sangsi kedinasan ?"
"Siap."
"Tapi kenapa ?" Air mata Rania hampir
saja keluar dari mata indahnya, Rania kembali
terisak. Bila sudah begini Pak Budiman pasti
geram dan ingin menghantam lelaki ringkih di
hadapannya.
"Karena ayah mencintai bunda" Jawab Pak
Leo.
Ups, Rania sontak menutup mulutnya,
beberapa yang mendengar ingin tersenyum
namun di tahan. Khawatir melukai suasana.
Meski sebenarnya mereka ingin sekali
tertawa nyaring. Tepatnya dengan terbahak-
bahak.
"Saya siap terkena sanksi kedinasan, Pak."
Jawab Pak Leo tegas. Kemudian berdiri hendak
melangkah pergi. Beruntung Pak Sofyan
melarangnya pergi.
"Masalah ini belum selesai, mohon tidak
ada yang meninggalkan ruangan." Sergah Pak
Sofyan. Sepertinya ultimatum sanksi kedinasan

321

tidak membuat Pak Leo menjadi takut. Mereka
semua nampak berfikir keras.

"Jadi Pak Leo siap di copot semua jabatan
yang melekat ?"

"Siap, Pak. Termasuk konsekuensi untuk
dipecat sekalipun." Pak Leo menambahkan. Belum
berhenti semua tercengang tiba-tiba seorang
wanita muncul.

"Papah ini apa-apaan, kalau di pecat kita
mau makan apa?"

Laela sangat marah, ia berkacak pinggang
di hadapan semua orang sambil matanya
terbelalak dan membesar.

"Untuk apa mamah kemari ?" Tanya Leo
tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Mamah ingin memastikan papah waras
atau tidak dan kenyataannya papah benar-benar
tidak waras."

"Terus ?"
"Iya, kamu edan, gila, bodoh, tidak punya
otak." Laela menceracau di depan banyak orang
sambil air matanya mengalir. Pak Leo berdiri,

322

sepasang suami istri itu berhadapan, nampak
pandangan nanar dari mata Pak Leo.

"Terus kamu mau apa?"tanya Pak Leo
tegas.

"Kenapa papa bodoh sekali, otak papa di
letakkan dimana ?"

"Plak...,sebuah tamparan keras mendarat
di pipi Laela. Laela terperangah, ia menangis luar
biasa. Semua yang melihat kejadian ini pun
terdiam hingga Pak Leo terdengar mengucapkan
sebuah kalimat talak tapi bukan untuk Rania
melainkan untuk Laela.

Semua terperangah, tidak satu orang pun
percaya dengan apa yang baru saja mereka
dengar.

"Papa kejam!"
Suara Laela marah bukan kepalang.
Pak Leo terduduk di kursinya kembali.
"Saya permisi dulu, Pak." Suara Pak Yudha
datar. Disusul Pak Budiman. Mereka keluar
ruangan, meninggalkan Rania dan Pak Leo. Sudah
jadi janji Rania bila Pak Leo berani menceraikan

323

Laela maka ia akan bersedia kembali dengan Pak
Leo, dan hari ini hal itu telah di buktikan oleh Pak
Leo, jadi tidak ada alasan mereka tetap disini. Dua
lelaki itu pergi meninggalkan Rania dengan
kegundahan hatinya.

Setelah Pak Yudha dan Pak Budiman pergi,
beberapa menit kemudian Rania berpamitan pada
Wakil Dekan untuk permisi pulang juga.

"Saya permisi pulang dulu, ya Pak." Suara
Rania kembali parau.

"Tidak ingin berbicara dengan Pak Leo
dulu ?"

"Saya ingin sendiri sekarang."
"Biarkan saja Rania pulang, biar dia
menenangkan dirinya dulu. Asal dia tahu bahwa
saya bukan pecundang seperti yang dia
bayangkan." Ucap Pak Leo seperti bicara pada
dirinya sendiri.
Setelah Wakil Dekan mengijinkan Rania
pun meninggalkan ruangan dan Pak Leo sama
sekali tidak mencegahnya, sama sekali tidak

324

melakukan apapun, bahkan melihat kepergian
Rania pun, tidak.

Rania menuju mobilnya, ia tak melihat
sesiapapun disana.

"Tumben Pak Budiman tidak menunggu ku
?" Rania mencoba melihat kesana kemari
barangkali Pak Budiman ada disana. Lelaki itu
adalah sahabat terbaik baginya, hampir tiga
perempat dari duka nya telah Rania bagi pada
beliau.

Lalu bila sekarang Pak Budiman pergi
begitu saja, pasti ada hal yang salah. Pasti itu. Pasti.

Rania bingung, ia mulai mengemudikan
mobilnya berharap bisa mencari tempat untuknya
beristirahat setelah ia terlibat pada situasi yang
membuat dirinya merasa penat. Betapa luka telah
mengkolaborasi dirinya.

325

BERHARAP CINTA MENDAPATKAN
LUKA

Rania menepikan mobilnya di dekat
menara pandang. Suasana sedang riuh dengan
banyak orang, terdapat penjual makanan di tepian
sungai.

Angin semilir menyapu wajah
menghadirkan sensasi dingin dan indah. Rania
merasakan sesuatu yang berbeda. Ia membuka
pintu mobilnya.

Ia melangkah menyusuri tepian sungai
berharap menemukan tempat untuk duduk
sejenak melepaskan kegundahan hatinya, hingga
ia melihat sepasang kekasih meninggalkan bangku
yang terbuat dari besi yang tadi mereka duduki.

Rania duduk di tempat itu, sebotol air
mineral berada dalam genggaman tangan nya di
tambah dengan jagung rebus di plastik putih ia
letakkan di sampingnya. Rania meminum airnya
seteguk.

326

Kesendirian memang sering kali
menimbulkan ngilu, sudah fitrahnya seseorang
membutuhkan pendamping, untuk teman
berbicara, bercerita, meminta saran bahkan untuk
memenuhi kebutuhan sex dalam dirinya.

Ya, lelaki atau pun perempuan
membutuhkan itu semua.

Ada saat dimana ia membutuhkan
pelukan, ia membutuhkan ciuman hangat bahkan
kecupan dan pujian. Kesendirian memang
terkadang menyedihkan.

Rania sering berlaku congkak pada dirinya
sendiri, seolah ia mampu menaklukkan
kesendirian nya. Benar, Rania memang mampu
melakukan itu tetapi seringkali pula kesendirian
menguliti perasaannya. Terutama ketika segudan
masalah datang dan malam yang dingin menerpa.
Rania pasti menangis. Betapa ia merindu seorang
kawan, kawan yang menggodanya di atas ranjang,
kawan yang akan memberikan dirinya rasa
tenang.

327

Kawan yang dengannya ia bisa menjadi
halal. Namun bila pilihannya adalah kembali pada
Pak Leo, itu tidak mungkin. Hatinya meronta
berusaha mencari oksigen untuk menuntaskan
nafasnya yang tersengal-sengal. Rania mulai
menitikkan air mata, kemudian ia buru-buru
menyekanya.

Ia juga tidak menyangka Pak Leo akan
mengejutkan banyak orang dengan menceraikan
Laela. Saat seperti ini Rania begitu rindu pada Pak
Wahyu nya, lelaki itu dimana ?

Lelaki yang selalu memberikan energi
positif tentang banyak hal. Lelaki yang selalu bisa
membuat hatinya yang membuncah menjadi
tenang.

Pandangan Rania lepas bebas, menatap
perahu kayu diantara semilir angin dan batang
pohon yang berderit-derit.

Andai boleh memilih Rania pasti akan
memilih Pak Wahyu. Rania akan siap berjibaku
dengan perasaannya. Rania akan siap memintas
rindunya, Rania tidak akan bersaing dengan istri

328

lelaki itu, Rania siap berada di tempatnya dan
menutup statusnya asalkan bisa mencintai Pak
Wahyu nya. Rania memekik. Rindunya
menggantung, ingin ia ucapkan tetapi malu, bila
dipendam akan membuat dadanya terasa sangat
sakit.

Rania tidak tahu kapan pertama kali ia
memiliki rasa yang demikian kuat pada Pak
Wahyu, pertemuan mereka baru berbilang bulan
dan tanpa sebab Rania justru memiliki bongkahan
harap pada lelaki dengan tatap mata teduh itu.

Rania merasa heran.
Hingga kemudian, pandangannya beralih
pada sepasang anak muda yang menggelayut
manja di tangan ke dua orang tuanya.
Mereka nampak sangat bahagia,
pemandangan yang lama tidak pernah Rania
jumpai di masa ini. Rania khusyuk
memperhatikan mereka, siapa tahu bisa ia
gunakan untuk bahan tulisannya nanti.

329

Mereka demikian bahagia, dengan baju
couple yang mereka pakai nampak sekali bila
mereka memang keluarga bahagia.

Namun, Rania mencoba menajamkan
pandangannya.

Lelaki itu, sepertinya Rania sangat kenal.
Ya.. lelaki itu, Pak Wahyu dengan istri dan anak-
anaknya. Uh, ada sembilu yang mengiris ulu
hatinya.

Rania berdiri, meninggalkan bangku itu
dalam keadaan kosong, setengah berlari ia menuju
mobil. Lalu menumpahkan seluruh sembilu di
hatinya.

Betapa mereka sangat bahagia, kehadiran
dirinya diantara keluarga itu hanya akan
timbulkan luka yang luar biasa dahsyat.

Istrinya akan cemburu berkepanjangan
dan anak-anaknya pasti berada dalam
penderitaan.

Rania terus menangis.
Seketika impiannya memperoleh cinta
menjadi hancur lebur.

330

Rania mengemudikan mobilnya dengan
lengan dan kaki gemetar.

Tanpa Rania ketahui, di sana, di tempat ia
duduk tadi. Pak Wahyu menatapnya dengan
pandangan haru.

Siapa yang tak ingin punya cinta lagi ?
Semua lelaki menginginkannya, namun saat kita
tahu cinta itu tak mungkin tergenggam maka cara
terbaik adalah mengalihkan nya pada
persahabatan dan persaudaraan. Karena hal itu
jauh lebih abadi dari pada sekedar cinta.

Dalam persaudaraan ada rasa sayang,
ingin membantu, tak menciptakan luka. Hal itulah
yang kini sedang di perbuat oleh Pak Wahyu
namun Rania tidak pernah tahu.

Pak Wahyu tahu Rania akan merasa sakit
seperti dirinya yang juga sakit. Tapi ini adalah
satu-satunya jalan untuk saling membaikkan
sambil menunggu suara Tuhan.

331

LUKA YANG BERTUMPUK-TUMPUK

Rania menangis terisak ketika ia telah tiba
di rumahnya, menghancurkan kebahagiaan
rumah tangga wanita lain sama dengan mencabut
nyawanya sendiri dan Rania tidak bisa melakukan
itu. Rania tidak mungkin melakukanya, ia pasti
akan terluka. Dirinya bukan penghancur rumah
tangga orang lain.

Tetapi, menerima kenyataan harus
kehilangan seseorang yang selama ini
memberikan semangat juga bukan hal yang
mudah. Ia seperti kehilangan separoh dari nafas,
dan itu sama saja rasa sakitnya.

Memilih bahagia diatas penderitaan orang
lain atau memilih mencari kebahagiaan lain ? Ini
juga bukan hal yang mudah.

Rania baru saja bahagia, namun ia kembali
merasakan sakit. Ia bahkan telah rela menerima
takdir menjadi ‘yang disembunyikan’ demi cinta
dan rasa sayangnya pada Pak wahyu, ia telah siap

332

berjuang untuk itu, asalkan ia mendapatkan lelaki
yang baik dan mau menerimanya apa adanya.

Tapi hari ini Tuhan menunjukkan sebuah
pemandangan bahwa Pak Wahyu bahagia. Pak
Wahyu sangat bahagia dengan kehidupannya, lalu
tempat Rania dimana ? Rania merasa seperti
seorang anak kecil dengan es krim di tangan saat
melihat pemandangan tadi. Pemandangan Pak
Wahyu beserta keluarga, sepertinya Tuhan
sengaja menunjukkan itu agar Rania introspeksi
diri, bahwa tempatnya bukan di samping Pak
Wahyu. Pak Wahyu lelaki baik dengan jabatan dan
kecukupan materi ia hanya seseorang yang
menumpang luasnya payung yang dimiliki Pak
Wahyu agar dirinya tak terkena tetesan hujan.
Hanya sedikit tempat untuk Rania disana. Rania
hanya numpang berteduh. Tidak lebih !.

Rania melemparkan bantal-bantal kecil di
ranjangnya dengan gusar, ia merasa dirinya
sedang tidak beruntung saat ini. Baru tadi ia
berharap berjumpa dengan Pak Wahyu untuk
menceritakan apa yang dialaminya di kampus,

333

mereka terbiasa bercerita dengan bebas dan lepas
hingga tak ada sekat. Saat ini kemana Rania akan
bercerita ? Sudah tak ada tempat.

Sedang Pak Budiman mulai jarang
berbincang dengannya.

Rania terus meraba hatinya.
Rupanya Tuhan benar-benar ingin dirinya
introspeksi hingga menurunkan masalah sepelik
ini.
Rania merasa kekesalan sedang berpihak
padanya, ia memutuskan untuk keluar dan jalan-
jalan saja. Rania mengajak Sri pembantu rumah
tangganya untuk pergi menyusuri Duta Mall. Sri
pasti belum pernah ke sana.
“Sri, ikut yuk.”
“Kemana mbak ?”
“Ke Duta Mall.”
“Duta Mall itu dimana ?”
“Hmmmm, ayo cepetan ikut, ganti baju
dandan yang cantik.”
“Sri sholat maghrib dulu ya mbak.”
“Oke, “

334

Sri pun keluar dari kamarnya. Ia
mengenakan kaos longgar bermotif kelinci
berwarna putih dengan celana jins. Ia ayu sekali,
bila berdandan seperti ini Sri tidak nampak
seperti pembantu. Sri nampak cantik sekali,
seperti ibu peri.

“Sri, mestinya setiap hari kamu dandan
cantik begini.”

“waduh mbak, ya gak jadi masak saya
nanti.”

“Yo ga pa pa kan Sri, masak sambil dandan
cantik, salahnya dimana ?”

“Oalah, mbak saya kan pembantu, ya
tampil seperti pembantu saja. Saya tahu diri kok
mbak.” Akhirnya akupun tertawa dengan apa yang
Sri sampaikan.

Duta Mal yang tinggi menjulang. Bangunan
megah indah menawan. Banyak orang masuk dari
pintu kiri dan kanan, mereka semua sibuk dengan
barang belanjaan. Meskipun negeri sedang
pandemi sepertinya tidak menyurutkan langkah
mereka untuk tetap berbelanja.

335

Rania turun dari mobilnya kemudian
menggandeng lengan Sri seperti seorang sahabat.
Ponselnya berbunyi,

“dari siapa sih ?” Rania mengaduk isi tas
nya dan mencari ponsel itu di dalamnya. Oh,
Septia.

“Iya hallo, assalamualaikum.”
“Lagi dimana kak ?’
“Duta Mall, kamu kesini ya, aku traktir
deh.”
“Wah udah gajian ya, ?”
“untuk mentraktir kamu kayaknya nggak
perlu nunggu gajian deh. “
“Duhhh sombongnya kakak ku ini.” Suara
Septia membetulkan letak kalimatnya.
“Oke kak, tunggu di cafe Chinese Food yang
di tengah ya, kak.”
“Asiappp”
Ponsel pun di tutup. Tak ada suara lagi
terdengar. Rania menuju tempat yang di tunjuk
oleh Septia. Ia meluncur saja dengan Sri tetap
dalam gandengannya. Tangan Sri sama sekali

336

tidak ia lepaskan. Rania takut Sri hilang karena Sri
sama sekali tidak tahu jalan.

Cafe ini adalah cafe dengan privasi yang
baik dibanding yang lain, ada sekat kaca yang
memisahkan antara ruang yang satu dengan ruang
yang lain, di tambah lagi dengan pemilhan warna
yang cantik membuat pelanggan menjadi betah,
Rania sekali lagi memilih ruangan paling ujung
agar ia dapat melihat orang yang datang dengan
aneka mimik rupa yang berbeda. Rania menyukai
itu. Rania mengagumi ciptaan Tuhan diantara
model yang beraneka rupa itu.

Beberapa saat kemudian, Septia datang,
sayangnya ia tidak sendiri. Ada Pak Budiman
bersamanya, Rania bingung. Tumben ia bersama
Pak Budiman, bukannya biasanya ia datang
dengan Arifin ? Rania makin bingung.

“Hai, kok bengong, Kak ?”
“Kamu, tumben dengan ?” Rania
menggantung kalimatnya sendiri,
“Iya kak, tadi kebetulan Pak Budiman
telphon aku jadi sekalian ku ajak kemari.”

337

Mereka pun memesan makanan sambil
berbincang tentang keputusan Pak Leo tadi.

“Berarti beliau memang sudah berubah.”
“Berubah bagaimana ?”
“Itu buktinya beliau telah berani
menceraikan istrinya.”
“Apa ?” Rania terkejut. Jadi tadi Pak Leo
menceraikan istrinya ?” Kami pun mengangguk.
“Saya masih belum bisa melupakan semua
yang dia lakukan, Pak.” Rania merintih seperti ada
beban berat yang ingin ia transformasikan.
Pak Budiman terdiam seperti yang lain,
mereka hanya mengaduk-aduk pesanan yang
telah terhidang di meja.
“Aku hanya ingin semua orang percaya
kalau aku mencintai Rania, ma.”
“Iya, tapi kalau nanti papa lupa diri lagi
bagaiman ?”
Rania, Pak Budiman, Septia juga Sri
mendengar percakapan itu. Sepertinya suara itu
muncul dari samping. Mereka melekatkan indra
pendengarannya, memperjelas kalimat yang

338

datang dari sebelah dari vibra yang sama dengan
seseorang yang kemarin menceraikan istrinya di
depan Wakil Dekan. Ya, itu suara Pak Leo dan
Laela istrinya.

“Sepertinya semua percaya dengan
sandiwara kita kemarin ma.”

“Awas aja kalau papa sampai lupa diri
lagi.”

“Tidak mungkin, ma. Aku hanya ingin
Rania tahu bagaimana rasa sakitnya mengejar tapi
tidak di perdulikan.”

Dari tempatnya Rania kian geram, mata
teduh Pak Budiman memandang Rania dengan
ketakutan. Pak Budiman begitu khawatir hati
Rania yang sudah luka akan memunculkan pijar
panas seperti letusan gunung berapi. Pak
Budiman sangat khawatir.

Dan benar, Rania berdiri, beberapa tangan
berusaha mencegah dirinya namun gagal. Rania
tidak menghiraukan siapapun, ia hanya ingin
mendekati lelaki paling ba**gs*t di dunia ini,
hampir saja Rania merasa tersanjung menjadi

339

wanita yang terpilih namun sayang ternyata hal
itu hanya buaian.

Rania mendekat, wajahnya merah padam.
Pak Budiman berdiri, ia khawatir hal buruk
terjadi.

Rania menepukkan ke dua lengannya,
“Prok, prok, prok.” Pak Leo terkejut
demikian juga Laela.
“Jadi begini caranya, jadi yang tadi pagi itu
hanya sandiwara ?” Rania mendekat. Menarik
krah baju Pak Leo. Kemudian menarik bajunya
hingga dua kancingnya lepas.
“Dasar bajingan, belum cukup kamu
menghancurkan hidup ku ?
Pak Leo tidak dapat melawan karena ia
sedang bergelut dengan rasa kagetnya. Laela
berusaha menarik baju bagian belakang yang
dikenakan oleh Rania. Namun Rania jauh lebih
kuat, kemarahan telah membuatnya kalap.
“Ceraikan aku sekarang, cepat !”
“Buka mulut mu, baj***an !”

340

Pak Leo ternganga melihat Rania yang
lembut itu bicara kasar. Banyak mata menatap
mereka. Sepertinya Pak Leo merasa malu. Ia
memilih pergi dan menghindar dari kerumunan.

“Cepat katakan !”
“Ceraikan aku wahai pendosa ! “ Pak Leo
menghalau lengan Rania, Rania hampir terjungkal
untung saja Pak Budiman menghalanginya. Rania
kian berani. Ia menarik paksa kaca mata bermerk
yang sedang di kenakan Pak Leo. Ia menginjaknya
hingga pecah.
Pak Leo dan Laela menyingkir dari
ruangan tersebut. Mereka berdua memilih pergi
dari pada menambah malu dengan tetap berada
disana. Rania terdiam, ia menghempaskan
tubuhnya di kursi , ia merasakan penderitaan yang
berkepanjangan dalam sehari ini. Luka yang
tumpang tidih, Rania menggigit bibirnya sendiri.
Ia rindu, rindu Pak Wahyunya tempat ia biasa
bercerita bebas tanpa perlu malu. Tapi, Pak
Wahyu bahkan tidak menghubunginya sama
sekali seharian ini. Rania ingin memulai mengajak

341

beliau berbincang namun rasa malu
mencengkeram hatinya.

Bayangan kebahagiaan yang Rania lihat
tadi menghalangi inginnya.

Rania memilih pulang bersama dengan
yang lain. Ia berjalan gontai. Tak bisakah sebuah
persahabatan tetap berjalan bahkan ketika
diketahui sahabatnya memiliki perasaan yang lain
?

Tak bisakah seorang sahabat membimbing
sahabatnya untuk melupakan cinta hingga semua
bisa berjalan beriringan tanpa luka.

Datanglah seperti putri kecil yang cantik
jelita.

Jangan menangis.
Jangan mengeluarkan air mata.
Setiap langit memiliki bintang dan ia akan
memilih satu dari bintang itu untuk dicintai.
Meski mereka tidak saling memiliki.
Cinta adalah HAK, menjaganya untuk tetap
bijak adalah KEWAJIBAN.

342

Jadi, bila cinta datang, tersenyumlah,
karena ia bukan kesalahan.

Andai ia berada di tempat yang kurang
benar artinya cinta hanya butuh waktu untuk
berproses.

Selamat untuk semua hati yang sedang
jatuh cinta.

Rania meraba hatinya. Ada luka disana.
Luka yang harus disembuhkan dengan segera.

UCAPAN TERIMAKASIH

Rania belum selesai merapikan
mukenahnya ketika ia mendapatkan kabar bahwa
Pak Budiman dan Septia akan datang ke
rumahnya. Rania makin heran mengapa Septia
datang dengan Pak Budiman lagi ?

Apakah mereka memang sudah saling
menambatkan hati bersama ?

Apakah Septia sudah tidak bersama Arifin
lagi ?

343

Apakah Pak Budiman sudah bercerita
bahwa hubungannya dengan Rania hanya
hubungan yang sengaja diciptakan ?

Ach, Rania jadi pusing sendiri.
Tapi biarlah apapun yang terjadi dengan
mereka semoga saja hubungan mereka adalah
hubungan yang baik dan tidak merugikan
siapapun.
“Jam berapa ke rumah ?” Tanya Rania.
“Sebentar lagi kak, aku dengan Pak
Budiman.” Begitu tulis Septia di pesan
whatsappnya. Rania melirik jam kecil yang ada di
meja riasnya, masih pukul enam waktu Indonesia
Tengah.
“Sepagi ini ?”
“Iya, Kak.”
“Ada apa ?’
“Pak Budiman yang ngajak, ada berita
penting katanya.”
“Yo wes lah. Silahkan saja.”
“Kakak ga pa pa, kan ?”
“Iya, ga pa pa.”

344

Rania merapikan mukenanya kemudian
menyapu wajahnya dengan bedak tipis serta
merapikan jilbab yang menggantung di
kepalanya.Ia telah siap menerima kedatangan
Septia dan Pak Budiman. Mereka berdua adalah
sahabat terbaik nya saat ini.

Sebuah mobil nampak mendekat beberapa
menit kemudian, rumah mereka memang tidak
terlalu jauh itu sebabnya mereka segera sampai di
rumah Rania.Rania menyambut mereka di
beranda rumahnya.

Halaman yang tertata rapi dengan bunga
krisan dan rumput hias juga aneka warna mawar
membuat Rania merasa hatinya sedikit terhibur
setiap kali memandang.

Pak Budiman turun dari mobil, ada Septia
disampingnya. Septia nampak menggunakan
blazer tidak resmi berwarna coklat dengan celana
jins hitam. Kulit putihnya seolah menampilkan
keindahan dibalik gaun yang ia kenakan. Septia
yang rupawan, baik hati dan pemilik senyum

345

tulus. Septia yang tidak pernah punya dendam
terhadap siapapun.

“Assalamualaikum, Kak.” Septia menyapa
masih dengan senyum indahnya.

“Waalaikumsalam.” Jawab Rania cepat.
Mereka mengikuti langkah Rania menuju
ruang tamu. Namun tiba-tiba sebuah mobil datang
lagi. Rania bingung.
“Siapa ?” Tanya Rania pada Septia dan Pak
Budiman.
“Pak Yuda.”
“Lho, kok gak bilang kalau ada Pak Yuda,
aku kan nggak siap apa-apa.” Protes Rania.
“Jadi kalau Pak Yuda yang datang
disambut spesial nih, kalau kami yang datang
dibiarkan saja.”
“Bukan begitu.”
Perbincangan mereka pun terhenti, saat
Pak Yudha mendekat.
“Assalamualaikum, Rani”
“Waalaikumsalam, Pak “ Rania
menyambut beliau dengan senyum termanis yang

346

pernah ia miliki. Bagaimanapun, pernah ada
catatan sejarah antara dirinya dengan Pak Yudha,
sebuah cerita yang tidak bisa ia lupakan begitu
saja. Sebuah cerita yang telah tercatat di buku
catatan para malaikat dan telah dilaporkan
kepada pemilik kehidupan yaitu Allah.

“Boleh saya duduk ?” Tanya Pak Yudha
sopan.

“Silahkan, Pak. Berbaring juga boleh, bu
Rania ini baik hati kok, Pak.” Pak Budiman
berkelakar.

Merekapun saling melempar tawa.
“Wah, saya bahagia sekali bapak mau
datang ke rumah ini.”
“Sebenarnya mau, Ran hanya saya bingung
kalau kemari saya harus membuat alasan apa ?”
“Ach, Pak Yudha bisa saja.”
Sri datang, membawa nampan berisi
minuman hangat. Ia meletakkannya di atas meja
kemudian mempersilahkan tamu majikannya
untuk menikmati hidangan.

347

“Kalau boleh tahu sebenarnya ada apa ya,
Pak ?”

Mereka bertiga saling pandang kemudian
tersenyum.

“Rani mikirnya ada apa ?” Tanya Pak
Yudha mengajak bermain teka-teki. Rania hanya
ternganga tidak tahu maksud kedatangan mereka.

“Nggak tahu, Pak. Sumpah Rani nggak tahu
ada apa ?”

Pak Yuda kemudian mengeluarkan
selembar surat dalam sebuah map dan
menyerahkannnya pada Rania. Rania menerima
surat tersebut masih dengan perasaan heran.

Ia membuka surat itu perlahan-lahan,
kemudian membacanya sambil tersenyum,
matanya bergantian memandang, sesekali
memandang tulisan yang ada di depannya namun
sesekali memandang ketiga tamunya.

Ada rasa tidak percaya di benaknya.
“Kok bisa ?” Rania merasa takjub.

348

“Dilanjut dulu bacanya sampai selesai,
baru kita berbincang.” Suara Pak Yudha
menyejukkan.

Surat yang Rania pegang adalah surat
pernyataan ikrar talak tertulis dari Pak Leo pada
Rania. Rania merasa hidupnya sedang berlimpah
bahagia, ia tidak menyangka bahwa hari ini ikatan
yang membelenggunya akhirnya terlepas.
Kebebasan itu kini ada dalam genggaman, bulu
kuduknya meremang membayangkan betapa
indahnya hari-hari di depan. Hari dimana dirinya
punya hak mutlak menentukan jalan hidupnya
sendiri tanpa terikat pada Pak Leo lagi.

“Bagaimana caranya bisa dapat ini ?”
Tanya Rania lagi.

“Pak Yudha yang tahu ceritanya.” Jawab
Pak Budiman santai.

“Pak, Rani mohon, ceritakanlah.”
“Ran, dari dulu saya selalu bilang pada mu,
bahwa Rani hanya boleh menikmati hasilnya saja
tanpa perlu mengikuti prosesnya. Prosesnya biar
saya saja yang mengupayakan, sesulit apapun itu.

349

Dan secara kebetulan Allah telah menggariskan
kemarin akhirnya Pak Leo bersedia menulis itu.”

“Saya juga telah mengcopy menjadi
beberapa, untuk dijadikan bukti bahwa kalian
bukan suami istri.”

“Cie, cie.” Suara Septia menggoda.
“Rani cukup menikmati hasilnya, urusan
proses itu bagian saya. Romantis sekali....” tutur
Septia dengan tawa tersungging di bibirnya.
Rania dan Pak Yudha saling memandang
tanpa bisa berkata apapun lagi. Akhirnya
episodenya bersama Pak Leo dapat terselesaikan
juga. Episode yang banyak menguras eergi dan air
mata, episode yang banyak menyita waktu dan
tenaga.
Ada bening yang tiba-tiba menetes di pipi
halus milik Rania, ia merasa terharu dengan
kejadian hari ini, betapa perjuangannya
menunggu selama lima tahun berjalan akhirnya
mendapat jawaban.
“Pak Yudha, Pak Budiman juga Septia,
terimakasih ya.” Rania bicara sambil menunduk. Ia

350


Click to View FlipBook Version