Pak Yudha mendekap tubuh mungil Rania
hingga Rania benar-benar tenggelam di dalam
pelukannya.
Tangan kekar itu membelai rambut istri
tercintanya. Rania pun kian memanjakan diri
dalam pelukan lelaki halalnya.
Hari ini, mereka berdua telah menjadi dua
orang yang halal di mata Tuhan. Jadi tidak ada
yang perlu ditakutkan lagi.
Sebenarnya dulu mereka berdua telah
memiliki rasa yang sama, rasa yang demikian
kuat, namun rasa itu mereka penjarakan demi
menjaga hati banyak orang.
Hingga kemudian Rania terjebak pada
cinta seorang Leo, Pak Yudha terus mengiringi
Rania meski hanya melalui perhatian-perhatian
kecilnya, dan itulah yang membuat Pak Yudha dan
Rania menjadi terikat secara emosional.
Bagi Pak Yudha sendiri, menikah dengan
Rania adalah hal terindah.
401
Seperti Muhammad dan Aisyah begitu ia
menganalogikan cintanya.
Usia yang terpaut delapan belas tahun
membuat Rania bebas bermanja pada Pak Yudha
dan Pak Yudha pun seperti sedang bercengkrama
dengan cinderella, pernikahan yang luar biasa
indah.
Episode bercinta pun terlewati sudah,
mereka terlelap masih dalam posisi saling
mendekap.
Tengah malam saat Pak Yudha terbangun
beliau mencium kening istrinya dengan lembut.
Memandangi wajah cantik yang terlalu
sering menderita.
"Aku akan menjaga mu, isteri ku. "
Pak Yudha membiarkan lengan kirinya
tetap berada di bawah leher istrinya, ia tidak ingin
bergerak karena khawatir isteri tercintanya
terbangun.
402
Menikahi Rania adalah hadiah bagi Pak
Yudha. Hadiah dari kehidupan padanya,
bagaimana tidak? Rania bisa menjadi adik,
menjadi kekasih juga menjadi pengobat hati
baginya.
Mereka pun kembali terlelap, terbius rasa
bahagia yang membuat mereka melambung.
Hingga saat alarm tahajud di ponsel Rania
menyentil kesadaran mereka berdua.
Rania terbangun, hendak berdiri menuju
kamar mandi.
"Mau kemana? " tanya Pak Yudha
mengagetkan Rania.
"Ke kamar mandi, mau mandi terus
tahajud. "
Pak Yudha nampak membetulkan
posisinya, beliau duduk di samping Rania,
"kita tahajud bareng, yuk. "
"Boleh. "
403
Sajadah panjang itu telah digelar, Pak
Yudha menjadi imam sholat malam Rania kali ini.
Episode percintaan dengan Sang Pencipta
yang dulu Rania lewati sendiri kini sudah ada yang
menemani.
Rakaat demi rakaat terlewati. Rania
hanyut dalam doa yang dilantunkan suaminya.
Air matanya mengalir, tapi kali ini bukan
air mata duka, melainkan air mata haru dan
bahagia, betapa Tuhan telah memberikan hadiah
yang luar biasa dalam hidupnya yang sempat carut
marut karena ilmu yang tidak dimiliki.
Rania mejabat lengan suaminya kemudian
mencium lengan itu lembut.
Mereka saling melempar senyum.
Rania merobohkan badannya di pangkuan
suami baru nya.
404
"Sayang, aku masih punya hutang janji
padamu. "
"Hutang janji apa? "
"Aku janji bercerita tentang sebab
musabab kenapa Pak Leo tiba-tiba mau
menandatangani surat talak itu. "
"Oh, " sahut Rania pendek.
"Kok nggak semangat begitu. "
Rania memejamkan mata nya, masih di
pangkuan suami tercintanya.
"Kenapa, Ran? "
"Tidak usah diceritakan lagi, Rani sudah
nggak ingin dengar. "
"Kenapa begitu? "
"Sudah telat. "
"Lho, Ran. " Pak Yudha nampak menyesal.
405
Rania duduk, menatap mata sayu
suaminya.
"Saat ini aku isteri mu mas, aku hanya
ingin cerita tentang kita, tidak perlu lagi cerita
tentang orang lain di rumah ini. Hanya tentang
kita dan keluarga kita saja. "
Ke dua lengan Rania menggenggam ke dua
lengan suaminya.
"Aku hanya inginkan kita. Kita saja. "
Pak Yudha menunduk terharu, Rania
berdiri, ia melipat mukena yang tadi digunakan
untuk sholat.
Kemudian bertutur.
"Mas, " panggilnya lembut.
Pak Yudha masih menunduk.
"Mas, " panggil Rania lagi.
406
Kali ini Pak Yudha menatap Rania. Begitu
ia sadar suaminya menatapnya serta merta Rania
bicara.
"Bercinta, yuk. "
Pak Yudha terbahak-bahak di goda begitu
rupa.
Mereka berdua kembali berpelukan,
mesra.
407
DOSEN ITU SUAMIKU
Pagi hari, masih dengan keceriaan yang
sama seperti hari kemarin. Rania dan Pak Yuda
tidak lagi tinggal di hotel mewah hadiah dari Pak
Wahyu, mereka telah bermukim di rumah Rania.
Untuk sementara waktu Rania minta tetap
tinggal di rumahnya dan tidak tinggal di rumah
Pak Yudha karena Rania ingin membangun rumah
tangganya berdua.
"Jadi ke kampus, Mas? " tanya Rania.
"Jadi dong, "
Hari ini memang adalah hari pertama
mahasiswa diijinkan masuk dan beraktifitas di
kampus setelah hampir satu tahun beraktifitas di
rumah karena Pandemi.
Euforia yang disambut gegap gempita
membuat semua orang antusias untuk hadir dan
saling mengenal. Seperti juga Rania dan Pak
Yudha.
408
Hari ini ada perhelatan besar di kampus,
dimana Pak Yudha sebagai wakil dekan 3 diminta
untuk berdiri di atas panggung memberikan
sambuatan pada seluruh mahasiswa dan ucapan
rasa syukur karena bisa beraktifitas kembali.
Mereka berdua memakai baju dengan
warna yang sama. Merah hati. Itu warna favorit
Rania.
Pak Yudha dengan kemeja lengan panjang
berwarna merah hati, jas serta celana hitam
sedang Rania mengenakan gamis lebar berwarna
merah hati, jilbab merah hati dengan motif kupu-
kupu hitam. Mereka nampak serasi.
Saat mereka berdua turun dari mobil dan
bergandengan tangan, banyak mata menatap
mereka.
Hingga saat Pak Yudha harus tampil di
panggung dan dipandang oleh ratusan pasang
mata.
Pak Yudha berdiri di atas panggung sambil
melempar senyumnya ke segala penjuru,
409
kemudian beliau menatap Rania, menganggukkan
kepalanya pelan pada Rania sebagai isyarat bahwa
beliau mohon ijin untuk berbicara.
Rania membalas dengan kerlingan mata.
"Di sana, ada sepasang mata jernih yang
sedang menatap saya dengan tatapan syahdu.
Tatapan itu milik istri tercinta saya. Itu orangnya
sedang duduk di depan nomer delapan dari ujung.
"Pak Yudha menunjuk Rania dengan jarinya
bermaksud memperkenalkan Rania keada banyak
orang disana. Alhasil mata para mahasiswi pun
menatap iri pada Rania.
"Beliau istri saya, jadi kalau diantara
kalian ada yang naksir saya itu artinya sudah
terlambat" Riuh suara sorak sorai menanggapi
kalimat Pak Yudha.
Rania tersenyum kecil.
Sambil tetap memandang takjub pada
suaminya.
Kemudian bibir tipisnya berkata.
"Dosen Itu Suamiku. "
410
Ya, beliau kini jadi suami Rania. Perjalanan
cinta Rania kini bermuara pada Pak Yudha, tidak
perlu ada lelaki lain menggodanya, Rania hanya
menapak i garis takdir seraya berdoa semoga
kebahagiaan datang dan bertahan lama hingga
mereka menua.
Pak Yudha turun dari panggung dengan
sorak sorai yang membahana, betapa
sambutannya telah mampu menembus relung hati
semua warga kampus. Beliau berjalan tegap
sambil sesekali membenahi letak kacamata
minusnya, langkah beliau ringan menuju pada
satu titik, tempat Rania sedang berdiri
menunggunya sambil menyunggingkan senyum,
setibanya di samping Rania Pak Yudha membalas
senyum manis itu sembari berbisik di telinga
Rania.
"Tetaplah jadi istriku dan menua
bersamaku. " Sambil jemari tangan Pak Yudha
mencubit mesra pipi istrinya.
411
Rania tertawa renyah menyaksikan
romantisme yang sengaja diciptakan oleh suami
barunya, Yudha Mohammad.
Disana, di antara jajaran kursi para dosen,
di atas kursi roda itu, sepasang mata sedang
menyaksikan kemesraan mereka berdua, ada
sesal menggelayut di sisi hatinya karena bukan dia
yang merasakan kemesraan itu, dirinya adalah
orang pertama yang membawa Rania mengenal
kampus ini namun sayang bukan dia yang
mengakhiri cerita indah bersama wanita itu disini.
Begitulah hidup, terkadang yang pertama
memang tidak selalu jadi yang terakhir.
Takdir telah berbicara dan sebagai
manusia kita hanya bisa menikmatinya.
Pak Leo Syahrani, lelaki itu menyeka
keringat yang mengucur deras meski hari ini
bukan musim kemarau.
412
BAHAGIA DALAM CANDA
usai pernikahan mewah itu digelar, Rania
kini telah resmi menjadi istri pak Yudha.
Dalam kamarnya yang indah, Rania benar-
benar dimanjakan.
Saat ini ia memang belum menyerahkan
hatinya sepenuhnya pada Pak Yudha suaminya,
namun Rania yakin, dengan berjalannya waktu ia
akan mencintai suaminya.
Pak Yudha mendekati Rania, beliau
tersenyum sangat ramah, tatapan matanya sejuk,
teduh, menenangkan. Dari dulu hingga sekarang
senyum itu tidak berubah meskipun wajahnya
tertawan usia.
Rania mencoba menyandarkan kepalanya
di dada bidang lelaki yang usianya hampir lima
puluh lima tahun ini. Rania mencoba mengusir
rasa canggung di hati suaminya
Pak Yudha mendekap tubuh mungil Rania
hingga Rania benar-benar tenggelam di dalam
pelukannya.
413
Tangan kekar itu membelai rambut istri
tercintanya. Rania pun kian memanjakan diri
dalam pelukan lelaki halalnya.
Hari ini, mereka berdua telah menjadi dua
orang yang halal di mata Tuhan. Jadi tidak ada
yang perlu ditakutkan lagi.
Sebenarnya dulu mereka berdua telah
memiliki rasa yang sama, rasa yang demikian
kuat, namun rasa itu mereka penjarakan demi
menjaga hati banyak orang.
Hingga kemudian Rania terjebak pada
cinta seorang Leo, Pak Yudha terus mengiringi
Rania meski hanya melalui perhatian-perhatian
kecilnya, dan itulah yang membuat Pak Yudha dan
Rania menjadi terikat secara emosional.
Bagi Pak Yudha sendiri, menikah dengan
Rania adalah hal terindah.
Seperti Muhammad dan Aisyah begitu ia
menganalogikan cintanya.
Usia yang terpaut delapan belas tahun
membuat Rania bebas bermanja pada Pak Yudha
dan Pak Yudha pun seperti sedang bercengkrama
414
dengan cinderella, pernikahan yang luar biasa
indah.
Episode bercinta pun terlewati sudah,
mereka terlelap masih dalam posisi saling
mendekap.
Tengah malam saat Pak Yudha terbangun
beliau mencium kening istrinya dengan lembut.
Memandangi wajah cantik yang terlalu
sering menderita.
"Aku akan menjaga mu, isteri ku. "
Pak Yudha membiarkan lengan kirinya
tetap berada di bawah leher istrinya, ia tidak ingin
bergerak karena khawatir isteri tercintanya
terbangun.
Menikahi Rania adalah hadiah bagi Pak
Yudha. Hadiah dari kehidupan padanya,
bagaimana tidak? Rania bisa menjadi adik,
menjadi kekasih juga menjadi pengobat hati
baginya.
415
Mereka pun kembali terlelap, terbius rasa
bahagia yang membuat mereka melambung.
Hingga saat alarm tahajud di ponsel Rania
menyentil kesadaran mereka berdua.
Rania terbangun, hendak berdiri menuju
kamar mandi.
"Mau kemana? " tanya Pak Yudha
mengagetkan Rania.
"Ke kamar mandi, mau mandi terus
tahajud. "
Pak Yudha nampak membetulkan
posisinya, beliau duduk di samping Rania,
"kita tahajud bareng, yuk. "
"Boleh. "
Sajadah panjang itu telah digelar, Pak
Yudha menjadi imam sholat malam Rania kali ini.
Episode percintaan dengan Sang Pencipta
yang dulu Rania lewati sendiri kini sudah ada yang
menemani.
416
Rakaat demi rakaat terlewati. Rania
hanyut dalam doa yang dilantunkan suaminya.
Air matanya mengalir, tapi kali ini bukan
air mata duka, melainkan air mata haru dan
bahagia, betapa Tuhan telah memberikan hadiah
yang luar biasa dalam hidupnya yang sempat carut
marut karena ilmu yang tidak dimiliki.
Rania mejabat lengan suaminya kemudian
mencium lengan itu lembut.
Mereka saling melempar senyum.
Rania merobohkan badannya di pangkuan
suami baru nya.
"Sayang, aku masih punya hutang janji
padamu. "
"Hutang janji apa? "
"Aku janji bercerita tentang sebab
musabab kenapa Pak Leo tiba-tiba mau
menandatangani surat talak itu. "
"Oh, " sahut Rania pendek.
"Kok nggak semangat begitu. "
Rania memejamkan mata nya, masih di
pangkuan suami tercintanya.
417
"Kenapa, Ran? "
"Tidak usah diceritakan lagi, Rani sudah
nggak ingin dengar. "
"Kenapa begitu? "
"Sudah telat. "
"Lho, Ran. " Pak Yudha nampak menyesal.
Rania duduk, menatap mata sayu
suaminya.
"Saat ini aku isteri mu mas, aku hanya
ingin cerita tentang kita, tidak perlu lagi cerita
tentang orang lain di rumah ini. Hanya tentang
kita dan keluarga kita saja. "
Ke dua lengan Rania menggenggam ke dua
lengan suaminya.
"Aku hanya inginkan kita. Kita saja. "
Pak Yudha menunduk terharu, Rania
berdiri, ia melipat mukena yang tadi digunakan
untuk sholat.
Kemudian bertutur.
"Mas, " panggilnya lembut.
418
Pak Yudha masih menunduk.
"Mas, " panggil Rania lagi.
Kali ini Pak Yudha menatap Rania. Begitu
ia sadar suaminya menatapnya serta merta Rania
bicara.
"Bercinta, yuk. "
Pak Yudha terbahak-bahak di goda begitu
rupa.
Mereka berdua kembali berpelukan,
mesra.
419
SELAMAT TINGGAL DUKA
Duduklah di sampingku, akan
kuceritakan segalanya, kecuali perpisahan;
Mendekatlah di sisi ku, akan kubagi
semua yang kumiliki, kecuali kesedihan;
Baringkanku di pundakmu, akan
kuberikan setiaku, bukan pengkhianatan
Berjalanlah bersamaku, akan kuajak kau
melihat keindahan, bukan penderitaan;
Terbanglah bersamaku, pegang erat
sayapku, agar kita berdua bisa merasakan
kebahagiaan;
Aku ditakdirkan untuk bersamamu,
biarkan lah itu menjadi mimpi indahku dalam
kesendirian.
Des 2020
420
Rania tersenyum membaca postingan
seorang kawan, benar-benar menggambarkan isi
hatinya saat ini. Bahagia.
Pada akhirnya semua cerita pasti berakhir,
seperti bus yang mesti berhenti di terminal,
pesawat yang harus mendarat di bandara.
Demikian juga hidup, ia juga memiliki akhir . Ada
masanya hidup ada juga saatnya mati.
Kisah sedih Rania akhirnya berakhir,
Tuhan telah membingkis seseorang yang baik
untuk menemani hidupnya, menjauhkannya dari
penderitaan dan membingkisnya tawa bahagia.
Bunga layu itu mungkin telah gugur ke tanah
namun ia kembali tumbuh dengan batang yang
baru dan kuncup yang hampir mekar.
Rania adalah kisah, kisah yang akan
terkenang sepanjang masa.
421
“SELAMAT TINGGAL DUKA SELAMAT
DATANG BAHAGIA” lirih Rania menggumam, di
belakangnya ada Pak Yudha suami barunya yang
sedang mendekap pinggang mungilnya dari
belakang.
422
NOVEL
DOSEN ITU SUAMIKU
OLEH
RARASHASHA
Desember 2020
*UCAPAN TERIMAKASIH KEPADA SEMUA
PIHAK YANG TERKAIT HINGGA NOVEL
INI BERHASIL SELESAI DAN DAPAT
DINIKMATI OLEH BANYAK ORANG*
423
424