The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biar ngga gabut aja si sebenernya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 04:59:36

coccoons

biar ngga gabut aja si sebenernya

[Hallo] Kenalan dulu deh dikit. Gajadi deng. Wkwkwkwk


[1 : Langsung mulai tanpa basa basi]


Hari yang ketiganya tunggu (ngga juga sih) karena sebentar lagi, sahabat lama mereka akan kembali dan bersatu lagi bersama mereka setelah lama mengembara. Ceelah. Geng balap reunite. Apip, nama panggilan laki laki berwajah manis dan tampan bersamaan, dengan mata rubah yang bersinar, bertubuh sedikit mungil hingga ia sering dibully bahkan oleh sahabatnya sendiri itu, kembali ke kota kelahirannya. 4 tahun kiranya si Apip ini membuntuti orang tuanya melaksanakan tugas di kota seberang pulau, hingga membuatnya harus berpisah dengan sahabat kecilnya. (Tragis) Dan kini, Apip kembali. Dengan kerja keras, laki laki kelahiran 23 Maret ini berusaha untuk mengambil tes dan masuk ke perguruan tinggi yang sama dengan sahabat sahabatnya. Dan kerja kerasnya langsung dibayar kontan oleh Tuhan. Ia mampu masuk ke Universitas yang ia tuju, dan karena hasil konversi nilai matkulnya yang memuaskan pada Universitas sebelumnya, Apip tidak perlu lagi mengulang dari semester pertama. Ia melanjutkan ke semester 3 bersama dengan sahabatnya. Keren kan Apip? "Pii, mau kemana? Udah jogrog aja di mobil?" Seorang wanita cantik paruh baya, keluar dari rumah gedongnya dan menanyai putra remajanya yang kelebihan energi. Baru saja sampai dari perjalanan jauh, sekarang udah mau pergi lagi. Dasar anak muda.


"Mau, ketemu anak anak dulu bun" "Hhh, yaudah hati hati ya pii" "Iya bun" Mendapat ijin dari ibunda ratu, Apip segera mengendarai mobil hitam pekat yang bahkan plastik joknya baru dibuka seminggu yang lalu itu, keluar dari pekarangan rumahnya. Semoga aja 4 tahun Apip minggat, ngga lupa sama jalanan menuju ke istana negara lah yaa.


Berbeda lagi dengan geng ini, jika geng sebelah tadi tokoh utamanya adalah mobil dan balap, geng ini tokoh utamanya adalah Mekdi. Mekdi sehari sekali adalah semboyan mereka.


Bahkan mungkin mbak mbak kasirnya ampe eneg kali liat muka mereka. Tapi, itulah yang merekatkan mereka. Membuat perbedaan mereka tidak jadi penghalang untuk selalu bersama. Ara, adalah pemersatu mereka. Tingkah Ayyara yang sangat friendly, membuat Zidan, seseorang yang bawel ga ketulungan, loud af, kalo cerita bisa seminggu sendiri itu betah dekat dekat dengannya. Karena Ara, akan selalu menjadi pendengar cerita Zidan yang baik, dan menanggapinya dengan eksaitit. Caca pun begitu, ia yang notabene seorang introvert, memiliki kepribadian yang lebih dewasa dan cenderung pendiam pun, anehnya merasa sangat nyaman disamping Ara. Ketika bersama Ara, Caca merasa seperti sedang bersama adiknya, karena Ara yang akan bersikap sedikit manja jika sedang bersamanya. Dan caca menyukai itu. Sedangkan Kala, partner berantem Ara 24/7 itu, yang tingkahnya buanyak banget itu, juga merasa Ara adalah orang yang tepat untuk menjadi tempat mengasah skill adu bacotnya. Kala merasa sangat beruntung bertemu dengan Ara yang tidak pernah tersakiti dengan kata katanya, dan Ara memahaminya begitu baik, mana kata katanya yang bercanda dan mana kata katanya yang serius. Itu membuat Kala, begitu bersyukur. "Lah, si Kala bawa Civic?" Tanya Ara heran kepada Zidan yang duduk disampingnya, karena Kala jarang sekali membawa mobil pribadinya itu


keluar. Biasanya Kala akan mengorbankan mobil kakaknya untuk dibawa berkeliling. Biar abangnya lagi yang beli bensin awkwkw. "Iya, tumben tu bocah" Kedua mobil berbeda tipe itu berjalan menuju ke tujuan yang sama. Seperti biasa mereka akan nongki di salah satu kafe favorit mereka, dimana pemiliknya adalah kakak dari Caca. Zidan memberhentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, dan ia menghentikannya tepat disamping kanan mobil civic hitam pekat seperti milik Kala. Dengan main main, Ara turunkan kaca mobil pajero yang ia tumpangi, dan mengacungkan jari tengahnya ke arah mobil yang ia duga milik Kala. Tak lama, ia menyembulkan kepalanya dan berteriak "Woy, mampir mekdih" sambil tersenyum bahagia membayangkan burger hangat dikepalanya. Tapi, senyumannya mendadak redup dan Ara terkejut bukan main, ketika kaca mobil civic itu diturunkan, dan tampak seseorang asing dengan kacamata hitam yang bertengger apik di hidung mancung sempurnanya. "Goblok, anjir" Tak tahan melihat kebodohan sahabatnya, Zidan toyor kepala Ara dengan keras, biar otaknya rada bener dikit ga sengklek mulu.


"Anjir, bukan Kala Cok" kata Ara panik sambil menutup kaca mobil itu dengan cepat dan bertepatan dengan lampu lalu lintas yang berubah menjadi hijau. "Cepetan jalan anjing" "Iya ish, lo sih tolol. Telfon Caca aja bilang mampir mekdi" "Arghh, malu anjir" "Dih, masih punya malu lo?" "Fak" "Semoga aja gue ngga ketemu orang yang tadi lagi. Seumur hidup gue" "Apa apaan dah cewe tadi? Aneh banget?" "Tadi, katanya ke mekdi kan?" Apip yang tadi berniat langsung menuju ke istana negara, mendadak merubah jalurnya. Ia ikuti mobil pajero hitam yang membelah jalanan dengan kecepatan cukup tinggi itu. Begitu Apip memarkirkan mobilnya berjarak beberapa menit dari pajero milik Zidan, Apip tertawa geli saat melihat ada mobil civic hitam lain identik dengan miliknya juga terparkir apik di sebelah pajero sebelumnya.


"Pantesan tuh cewek bisa ampe salah" "Anjir tolol lo, masa lo ga hapal mobil gue sih Ra?" Sayup sayup suara laki laki yang sedang duduk di salah satu meja disana menarik atensi Apip yang sedang mengantri untuk memesan beberapa makanan. "Sumpah La, mirip banget ama mobil lo. Gue ga ngeuh kalo lo ga kena lampu merah" Ara sih kalo inget masih malu banget ya wak. "Hadehh, padahal mobil gue ada stiker kingkong nya gede banget" "Arghhh udah deh, malu gue" "Idih, tumben lo bisa malu Ra" kata Caca dengan santainya. "Ih, Caaa, tadi cowo itu liat guee. Mau ditaroh dimana muka gue caa?" "Isinya cowo?" Tanya Kala "Iya anjir, seumuran kita kayanya, gatau deh gue langsung panik tadi" "Hahaha, rasain lo makin ga laku" ejek Kala. Hooh, cuma ejekan doang, karena faktanya, Ara itu yang paling banyak dideketin orang diantara mereka. Tapi, Ara juga yang paling sulit untuk diraih hatinya. "Nasib nasib"


"Wkwkkw cute" —---- "Wiihhhh, pak bos datengg" sambut Haje melihat langkah kaki Apip yang masuk ke basecamp mereka, yang mereka sebut sebagai istana negara, sambil menenteng barang bawaannya. "Giliran gue bawa totebag aja dipanggil pak bos, kalo kaga dipanggil bocil" protes Apip sambil meletakkan totebag dengan merk dagang terkenal itu di atas meja. "Ini, sajen kondangan mobil baru?" Tanya Jordan sambil membuka totebag berwarna cokelat itu. "Sajen matamu" baru jg dateng, ngomongnya udah kasar aja si Apip "Mobil lo belom jadi juga?" Tanya Haje mengingat beberapa waktu lalu Apip sempat bilang bahwa mobil utama miliknya sedang ada di bengkel, upgrade lagi katanya. "Belom masih agak lama. Makanya sementara pake itu" "Ngeri juga y si candra ini, mobil sementara aja sipic anjir" "Candra candra, bapak gue itu anjeng. Gaada sopan sopannya emang lo"


"Wkwkwk" "Tumben lo beli mekdi Pip?" Jelas Deon heran, sejak dulu Apip jarang sekali membeli makanan cepat saji, biasanya Apip lebih suka bento yang lengkap mulai dari nasi, lauk, sayur dan saos daripada junk food seperti ini. "Lagi pengen doang elah. Buru makan, masih anget itu" "Manteb bener dah Pi, tapi titipan gue mana?" Tanya Jordan serius "Lo kaga nitip apa apa ya bangsat" "Adaa" "Apaan?" "Kue lapis?" "Bhakk, tinggal bilang tenggo doang susahnya apasih Jorr. Pake segala kue lapis" Haje hampir aja keselek naget sebiji denger tingkah Jordan. "Beli sendiri sono sekebon" sewot Apip. "Alah lo mah, siapa tau dari sana ada yang rasa rendang" "Goblogg benerr, wafer rasa rendang. lo kira indomi?"


"Kan inovasi pip" "Ndasmuu" Lengkap sudah kini jajaran mereka, kalimat kalimat toksik yang beberapa tahun ini hilang, kini kembali lagi. Diantara mereka memang Apiplah yang paling toksik, kesabarannya setipis tisu dibelah dua (belas), marah marah mulu dan mode senggol bacok 24/7. Apalagi ketika dihadapkan dengan Jordan yang tingkahnya ada ada saja, dan kekonyolannya yang luarbiasa, Apip rasanya pengen remet aja tuh muka Jordan. Masih juga ada Haje yang cerewet minta ampun, kompor banget kalo ngomong, julid to the bone. kalo di duetin sama Apip, kelarr tuh hidup orang yang dijulidin sama mereka berdua. Untung aja diantara mereka ada Gideon. Yang membuat geng itu 'sedikit' berkarisma. Pembawaannya emang tenang, cool. yah, setidaknya Deon jadi yang paling normal lah diantara mereka. Walaupun, kadang ikut sengklek juga. "Eh, gue mau nanya deh" Apip berhasil menarik perhatian ketiga sahabatnya yang sibuk makan burger, dengan nada suaranya yang serius.


"Perasaan gue tinggal bentar doang, kenapa disini jadi banyak orang aneh dah?" sambung Apip "Hilih, ga ngaca. Orang sendirinya juga aneh" serobot Haje. "Beneran anjir, tadi gue dapet 'fak' di lampu merah dari stranger" "Hah?" "Beneran wkwk mana lucu lagi" "Kok jadi lucu?" Tanya Jordan bingung, sejak kapan Fak itu lucu? "Ya lucu, wkwkwk" "Pasti cewe" kata Deon singkat. Ya jelas lah Deon langsung tau, Deon pandai mengamati, ia bisa langsung menangkap sorot mata Apip yang sedikit berubah, saat Apip mungkin sedang memutar kembali kejadian itu dikepalanya. "Hooh" jawab Apip singkat tanpa pengelakan. "Duhh, kumatt. Gue kira lo bertapa jauh jauh, biar playboynya sembuh Piip, ternyata masih sama aja" Ya Haje sih masih ingat ya, dimana Apip, tidak pernah bisa bertahan dengan satu wanita lebih dari 3 bulan. Apip dari dulu memang mudah bosan, karena itu apip terkenal sebagai pemain dulu saat masih smp. "Kaga elah. Udah sembuh gue"


"Ah masa??" Jordan punya trust issue kalo soal Apip mah. "Buktinya nih, 3 taun gue jomblo tuh. Gue juga males pacaran dulu kayaknya" "Tumben pip" "Maless gue yon. Mending gue ikut kalian aja ngejomblo" "Nah gitu dong setia kawan" "Hilih awas aja ya Je, kalo lo sampe dapet pacar duluan" "Ya gue sih sebenernya tinggal pilih, tapi gue males juga" "Songong amat lo babik" "Lo juga Jor, awas aja diem diem punya cewe lo" "Ya gapapa dong, daripada diem diem gue punya cowo?" "Bbaangsatt, iya juga ya" "Kalo lo sih serah Yon, fans lo banyak bener. Kek mau menghentikan aja sulid" lanjut Apip


"Males juga gue" "Sipp, kita ganti aja grupnya jadi 'P'Jomblo" Ide Apip sangat prik. Tiga temennya cuma bisa geleng bodoamat aja. —-----


[2 : Gold Civic] Yah memang sudah bukan rahasia lagi kalau geng balap ini emang populer. Bukan hanya di kalangan seangkatan ataupun adek tingkat, tapi bahkan kakak tingkat pun banyak yang menyukai mereka. Loh, bukannya teknik itu senioritasnya kenceng ya? Memang. Tapi dulu, Deon sempat tersulut emosi saat ada kakak tingkat yang semena mena padanya juga dua sahabatnya. Hingga akhirnya, Deon tantang


kakak tingkat itu untuk beradu balap. Dimana taruhannya adalah kakak tingkat tidak akan ikut campur ataupun peduli dengan tingkah geng balap. Dan yah. Siapa yang akan bisa menandingi Deon? Mungkin hanya 3 sahabatnya saja yang mampu. Sedangkan yang lain? Sampe ngompol ngompol juga susah mau menang dari Deon. Dan itu, sempat jadi topik hangat kampus mereka. Jadilah nama Deon, Jordan dan Haje sering sekali wara wiri di base kampus mereka.


Sudah lama sebenarnya Apip tidak turun ke arena balap yang sering ia kunjungi diam diam saat masih sekolah menengah dulu.


Entah apa Apip masih ingat setiap cm nya atau tidak, semoga aja tidak banyak yang berubah dari arena yang membentuk nyali nya itu. "Setidaknya gue kesana dulu lah ntar, liat kondisi arena" "Udah lama banget ga kesana" —---


Setelah menjemput Tichalla (nama mobil balap hitam miliknya), Rafif segera membawanya ke arena, dimana si Tichalla dulu sering melintasinya, dan bahkan terguling di atasnya. Untung aja nyawanya Apip ada serepnya. Apip memasuki arena melalui pintu samping seperti dulu, dan langsung ia memarkirkan tichalla di sana. Niat hati, Apip ingin menikmati angin di arena yang saat ini sedang sepi karena memang biasanya arena ramai saat sabtu malam, atau saat ada pertandingan saja. Berhubung ini masih hari jumat, arena masih begitu leluasa dan Apip rasa tidak ada orang lain selain dirinya disini. "Arenanya masih sama kaya dulu, bahkan anginnya aja rasanya masih sama" Tapi, kedamaian dalam kesendirian Apip yang sedang bernostalgia itu mendadak terganggu, ketika Apip mendengar deru mesin yang sedang memacu kecepatan muncul dari arena luar memasuki arena dalam.


"Huh? Siapa?" Mobil yang merupakan saudara dari tichalla, yang hanya berbeda warna itu benar benar menarik perhatian Apip. "Lumayan juga" Jelas Apip tau, siapapun dibalik kaca gelap itu merupakan seseorang yang terlatih. Jika tidak, tidak mungkin ia mampu menaklukan arena ini dengan lihai.


Setelah dua putaran, Civic berwarna gold itu berhenti di sisi arena. Dan Apip, sama sekali tidak melepaskan pandangannya sejak tadi. Ia terus saja mengikuti setiap gerakan mobil itu dengan seksama. "Damn, cewek?" Kaget Apip, saat seseorang turun dari kendaraan roda empat itu, dan melepas helmnya membuat rambut panjangnya jatuh terurai. Ara udah kesel banget soalnya hp nya dari tadi tulang tuling, ngganggu konsentrasi dia lagi kebut kebutan sendirian. Bergulat dengan perasaan yang hanya muncul ketika ia berada di arena berhadapan dengan setirnya.


Tapi, ketika Ara membaca pesan ketiga sahabatnya, ia spontan ingat bahwa ia punya janji dengan mereka tadi. Matilah Ara kalo sampe mereka tau Ara lupa janjinya tadi siang. "Bangsat, gue lupaaa" Dengan tergesa, Ara menyambar tasnya di samping Arena, dan langsung kembali tancap gas meninggalkan arena.


Ia tidak bisa menyiakan waktu semenit pun karena ia juga harus pulang mengganti mobilnya. "Loh, anjir udah pergi aja" Apip yang berlari dan berniat mendekati wanita tadi, justru tidak menemukan di tempat ia berhenti tadi. Apip terlambat. "Hahhh, kapan kapan gue cari" Mengenyampingkan rasa penasaran yang menguasai dirinya, Apip kembali ke tujuan utamanya ia berada di arena ini. Laki laki Aries itu segera menuju ke mobilnya yang masih berada di parkiran, dan kini gantian dirinya yang menguasai arena. —---- "Lo dari mana sih Raa?" Serang Kala ketika Ara telah sampai di rumah Zidan. Tempat mereka berkumpul malam ini. Setelah 30 menit mereka menunggu Ara. "Nganter mama dulu ege tadi" alibinya.


"Tumben nyokap lo ngajakin keluar. Kemana emang?" Tanya Zidan, karena biasanya jarang sekali Ara terlihat bersama dengan sang mama. "Mm, nyari nasi goreng. Lagi pengen katanya" "Wkwkw mama lo ada ada aja anjir" "Yaudah ayoo kita mulay tradisi kitaaa" teriak Ara dan membuat ketiga sahabatnya itu mengikuti langkahnya.


Dengan tanpa rasa berdosanya Ara bercanda dan menjadikan teman temannya sebagai badut. Sudah biasa memang mereka berkumpul untuk bermain seperti


ini, dan itu selalu berakhir dengan wajah Kala yang menjadi sasaran Ara dan Caca. Disaat, ada satu orang lain yang dibuat penasaran setengah mati, karena eksistensi Ara di arena beberapa jam yang lalu. Yang sayangnya, Apip tidak sempat lihat wajahnya.


—----


[3 : Jagain] Memang, sudah lama tidak ada yang berani menantang geng balap, apalagi setelah mereka berhasil membungkam pentolan geng Hukum semester lalu. Dan sudah biasa pula bahwa pertandingan balap dari mereka bertiga disiarkan seperti ini. Karena antusiasme mahasiswa lain untuk menyaksikan pertandingan yang seru itu sungguh luar biasa. Arena akan selalu ramai saat pertandingan ketiganya dilaksanakan disana. Berasa F1 banget pokoknya mah.


"Aduh, alesan apa ya?" Jujur, Ara pengen banget nonton pertandingan balap itu. Sekaliii saja. Tapi, jika Ara menolak ajakan teman temannya, mereka pasti akan menginterogasi Ara. Dan, Ara pasti kalah, ia tidak akan bisa pergi. Kenapa tidak pergi sendiri dan diam saja? Jangan kira teman teman Ara itu bodoh. Walaupun sebenarnya iya. Teman temannya itu punya banyak sekali mata mata, saat Ara berusaha untuk menyelinap ke arena saat ada pertandingan balap, Ara akan selalu tertangkap basah dan berujung Kala yang memarahinya habis habisan.


Sebenarnya sikap ketiga sahabatnya itu bukan tanpa alasan. Ara sangat menyukai balapan, yaa mereka tau itu. Tapi Ara juga punya trauma yang bisa kambuh kapan saja saat ia menonton pertandingan balap. Seperti dulu, saat pertama kali mereka berempat menonton pertandingan balap. Ketiganya belum tahu soal trauma milik Ara sama sekali, sehingga mereka dengan pedenya hadir di pertandingan balap itu. —---- Pertandingan balap pertama saat Ara dan teman temannya masih menjadi maba itu, dilakukan dengan jumlah 5 peserta. Mobil mereka telah berjajar di Arena. "Tenang Ara, ngga akan ada apa apa. Ada temen temen lo disini" Ara menguatkan dirinya, ini kesempatannya untuk kembali terbiasa dengan balapan. *dor Suara pistol yang menjadi aba aba mulai itu, telah terdengar. Bersamaan dengan itu, 5 pengemudi melesat membawa kendaraannya melintasi arena. Ara berteriak bergembira. Rasanya sungguh rindu saat ia bisa bersorak seperti ini. *brakkk


Tiba tiba salah satu mobil balap itu menabrak pembatas arena cukup keras. Dan membuatnya terpental dan terbalik diatas arena. "Ara. Araa lo kenapa?" Panik Kala yang mendapati Ara tiba tiba memegang tangannya erat dan bergetar hebat. "Ra, lo kenapa Ra?" Panik Zidan juga sambil menahan tubuh Ara yang hampir jatuh. Dan tak lama kemudian Ara pingsan di dekapannya. —-- "Maaf ya nak, Ara jadi ngerepotin kalian" "Tante, maaf. Kita bawa Ara ke arena, sampai Ara jadi begini" kata Caca menyesal sambil memegang tangan ibunda Ara yang terlihat begitu sedih menatap putrinya. "Tidak papa nak, emang Ara ini ngeyel orangnya" "Tante, kalo Kala boleh nanya, sebenernya Ara kenapa?" Sebenarnya ada sedikit keraguan di hati mama Ara untuk mengungkap trauma yang dialami putri semata wayangnya itu. Tapi, setelah dipikir kembali, mungkin dengan mama Ara menjelaskan kondisi putrinya, teman teman Ara ini bisa membantunya menjaga putrinya. "Apa tadi ada kecelakaan disana?"


"Iya tante, Ara langsung gemetar dan pingsan saat salah satu peserta nabrak pembatas" "Ahh, Ara punya trauma soal kecelakaan mobil. Dan mungkin itu yang mentrigger dia tadi" "Astagaa, kenapa Ara ngga pernah bilang?" "Ara ngga bilang?" "Ngga tante" "Dia memang selalu begitu. Dia selalu ingin nonton balapan, karena Ara memang suka sekali dengan balapan" "Mungkin Ara ngga bilang soalnya dia ngga mau dilarang" "Tante, Zidan janji. Mulai sekarang bakal jaga Ara" "Iya tante, Kala janji. Kala juga bakal jagain Ara" "Caca juga tante" "Makasih ya nak, tante titip Ara ya?" "Baik tante" —----- Sepertinya Ara bakal habis ditangan Kala kalo Ara ngeyel lagi.


Dan Ara juga tau bahwa teman temannya melakukan ini untuk mrenghentikannya menonton balapan. Jadi, Ara mending menyerah dan mengurungkan niatnya. "Gausah nonton balap lah, daripada nanti gue digoreng ama Kala"


Sedangkan yang disini, Apip harap harap cemas. Semoga orang yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman itu akan muncul kembali di arena yang kini ia tapaki itu. Atau bahkan muncul sebagai rivalnya. Apip berharap begitu.


"Udah pip gausah dipikirin. Fokus aja lo" tergur Haje sambil merangkul Apip yang terlihat melihat kesana kemari sejak tadi. "Liatin ya Je. Siapa tau dia muncul" "Elaahhh iyee. Dah lo siap siap sono" Apip melangkahkan kakinya mendekat ke arena, dimana sudah terparkir tichalla disana. Dan ketika Apip melihat rivalnya adalah laki laki, yaa Apip sedikit kecewa. Tapi tidak papa, setidaknya ini bisa melepas dahaga Apip yang lama tidak mengasah skill balapnya. "Let's do this bro" kata Apip berbisik ke tichalla. Sorakan dari ratusan orang yang berkumpul di arena menjadi air segar yang mengalir di tubuh Apip. Sungguh rindu rasanya, berpacu dengan mesin kesayangannya di arena favoritnya. *dor Tembakan sebagai tanda. Dan Apip melesat bersama tichalla. Banyak orang disana dibuat terpana. Apip dan tichallanya, benar benar kombinasi yang sempurna. Keduanya seolah memiliki satu jiwa, yang dengan mudah menundukkan lawannya.


"Gak muncul ya Je?" Tanya Apip yang telah menyelesaikan balapannya dan menyusul ketiga temannya yang menunggu di lantai dua, memantau dirinya. "Gaada gue liat" "Bukan anak sini kali Pip" Kata Jordan "Tapi dia kaya kenal banget sama arena ini. I mean, she's good" "Tapi, beneran gaada pip yang pake Civic Gold selama ini" Kata Haje meyakinkan. "Udah gapapa, kapan kapan cari lagi. Sekarang nikmatin dulu kemenangan lo" "Gue akuin, skill lo ga tumpul walaupun gak balapan lama" Deon menepuk bahu Apip bangga.


"Hhhahhhh.. yaudah. Siapa laperr??" Teriak Apip dengan nadanya yang eksaitit "Guee guee. Ayo makan naspad" Teriak Jordan heboh "Goblokk, mana ada naspad tengah malem anjeng" jelas lah Apip emosi "Yahhh, yaudah nasi goreng" "Oke gasss" yaa yang abis menang duit taruhan mah beliin nasgor 10 bungkus juga kecill. —----- "Hahaha goblog banget yak. Udah dibilang kuliahnya di gedung B. Lah ini si babi malah ke gedung D. Bodoamat dia lari lari dari ujung ke ujung" Baru saja Apip sampai di warung nasi goreng yang rasanya juara bet, Apip udah disambut suara yang menurutnya familiar. Suara itu lagi, suara yang terdengar begitu tipis, tapi sangat jelas khusus di telinga Apip. Apip edarkan pandangannya mengamati pengunjung satu persatu. Dan gotcha. Rasanya dejavu. Lagi lagi Apip temukan perempuan yang sedang bercerita dengan semangatnya dengan tiga temannya yang lain.


"Duduk dimana pip?" Tanya Haje dan membuyarkan fokus apip pada eksistensi seseorang di seberang sana. "Bebas, sini aja boleh" alasan aja si apip, niatnya mah biar bisa liatin cewe tadi. Soalnya meja deket dia udah penuh semua. Begitu keempatnya duduk, dan sudah mereka dapatkan nasi goreng pesanan mereka, Ketiganya fokus makan. Kok cuma tiga? Hooh, soalnya yang satunya fokus liatin cewee aja dari tadi. Ya playboy kelas kakap mau gmn lagi. "Coy" kata Apip meminta atensi ketiga temannya. "Cewe disana, yang pake hoodie abu. Siapa?" *plakk "Bajingan. Apaan sih lo tiba tiba geplak gue" marah Apip, soalnya orang dia nanya beneran malah tiba tiba palanya di geplak sama si Haje. Mana kenceng lagi. "Bisa bisanya ya lo, cewek lagi, cewek lagi. Bisa ngga sih diem gitu semenit, gausah cewek mulu?" Ngegas lah si Haje. Capek dia liat kelakuan Apip. "Elahh, timbang nanya doang inii" "Yang mana?" Tanya Jordan menanggapi


"Itu, belakanglo. Yang pake hoodie abu pokoknya" Deon dan Jordan yang duduk berseberangan dengan Apip memutar badan mereka kompak, dan mencoba mencari mana cewek yang Apip maksud. "Ohh, itu anak teknik juga" kata Jordan. "Sumpah?" "Hooh, tapi siapa ya namanya. Aduh, lupa guee. Pernah tau, tapi lupa" "Ara" kata Deon singkat "Hah? Namanya Ara?" "Iya" "Ara ya?" "Nama lengkapnya tau ga yon?" "Lo serem amat sih Pip, mau lo apain coba tanya nama lengkap?" Kata Haje. "Mau gue pelet" "Inget dosa pip" yak, (yang katanya) si paling alim mulai berceramah. "Hilih, ngaca dulu lo Jor"


"Emang kenapa pip?" Tanya Deon "Cute" balas Apip jujur dan tanpa basa basi. Ya mau gimana lagi, udah kedua kalinya Apip melihat Ara bersama teman temannya, dan untuk kedua kalinya pula Apip melihat cara bicaranya yang begitu antusias dan menyenangkan. Apa, untuk kedua kalinya juga si Apip jatuh dalam pesona Ara? Hmmm, gatau. Tanya aja sama Apip. —----


[4 : Chance] Bulan desember, bulan yang penuh dengan hingar bingar, pesta, konser, festival, perayaan, Desember adalah rajanya. Banyak khalayak yang memanfaatkan kesempatan bulan desember sebagai acara "mari kita habiskan tabungan tahun ini" tak terkecuali kalangan mahasiswa yang hidup ditengah rantau yang sangat menunggu acara-acara bulan desember.


Di circle pertemanan mereka, memang cuma Deon yang bisa diharapkan. Si paling solutip. Ga kaya dua curut yang laen tuh. Apip memang suka dengan konser-konser musik atau festival seperti itu. Karena, ia bisa bebas berteriak menyanyikan lagu favoritnya tanpa ada siapapun yang akan terganggu. Jadi ya Apip sering ke konser buat curhat tersirat. Setelah menghubungi sepupunya, dan beruntung sepupunya itu mau menemani dirinya, Apip sudah sedikit lega sekarang. Setidaknya kalo Apip gila, dia tidak sendirian. Jadi kalo malu ya ada yang nemenin.


Daannnn, begitu pula dengan Ara. Bukan cuma tingkahnya saja yang random, tapi selera musik Ara juga beneran random. Tergantung mood katanya. Mulai dari pop, RnB, alternatif rock, indie sampe dangdut juga Ara dengerin. Bahkan ya, kalo Ara beneran lagi bosen ama lagu yang biasa dia dengerin. Dia bisa aja sampe dengerin lagu thailand, yang bahkan Ara ga paham itu ngomong apaan. Jadi ya festivalan kaya gini, bakalan masuk di telinga Ara. Apalagi, guestar malem ini band indie yang sering Ara dengerin lagunya. Ya jelas Ara berangkat lahh. Tepat pukul 5, Ara mulai meninggalkan pekarangan rumahnya, mengendarai mobil daily nya untuk menuju ke kediaman sahabatnya. Cukup dekat, hanya 10 menit mungkin. Dan perjalanan mereka menuju ke lokasi festival pun tidak jauh, hanya 15 menit dari rumah Caca. "Caa, eskrimmm" rengek Ara pada sahabatnya yang saat ini sedang sibuk makan cimol sambil duduk di salah satu tempat duduk foodcourt di lokasi festival. "Abisin du..luu.. cimol.. nya" kalimatnya spontan memelan saat ia menoleh menatap sahabatnya.


"Anjir dah abis?" Kagetnya, padahal kan belom ada 5 menit itu cimol dipegang sama Ara. Tapi udah ludes "cimol doang iniii, semenit jg kelarr" "Yaudah yok mau apa?" "Glico wings!!" "Glico wings??" Kata mereka serentak. Tanpa menunggu waktu lama mereka beranjak dari tempat tersebut dan berjalan mencari eskrim favorit mereka di salah satu stand makanan disana. *a few minutes later "lah lo, kok duduk disini? Tadi kita duluan duduk disini loh" *Deg. Itu yang dirasakan seorang laki laki yang sedang duduk bersama sepupunya, ketika ia menoleh dan mendapati seorang gadis yang akhir akhir ini bertengger di pikirannya. "A-Ara?" "Lah matanya cakep, kayak rubahh" Ara yang ditatap juga ikut terpaku, karena apa yang ditatapnya sungguh indah.


Click to View FlipBook Version