The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biar ngga gabut aja si sebenernya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 04:59:36

coccoons

biar ngga gabut aja si sebenernya

Begitu Apip sampai, seperti biasa rumah Ara sepi, bahkan bibi pun tidak ada. Apa bibi pulang lebih awal hari ini? Apip langkahkan kakinya masuk, setelah memasukkan beberapa kode sandi yang sudah Apip ketahui sejak lama. Dan ia langsung menuju ke kamar Ara, karena saat melewati ruang tamu dan ruang tengah, kekasihnya itu tidak terlihat eksistensinya. "Raaa?? Araa??" Teriak Apip sambil mengetuk pintu kamar Ara. Tapi tak ada jawaban. Kemanasih si Ara ini? Apip buka pintu kamar Ara, dan itu tidak terkunci. Dan tidak ada siapapun disana. Tapi, Apip mendengar sayup sayup suara Air yang beradu dengan musik dari kamar mandi. Ahh, sudah jelas kekasihnya itu sedang membasuh diri. Oke kalau begitu, Apip memilih untuk menunggu dibawah saja. Saat Apip bergerak memutar dan menuju keluar, tak sengaja Apip jatuhkan satu buku tebal, membuat beberapa isinya terjatuh di lantai. "Anjir kaget"


Apip menunduk untuk memunguti beberapa lembar kertas yang terjatuh disana. ternyata itu polaroid, Ara terlihat sangat manis disana. Apip kumpulkan polaroid itu, hingga pada polaroid terakhir, apip lihat sejenak foto itu, dan Apip terkejut. Ara, dengan mobil civic gold? Dengan otomatis, kepala Apip mulai memutar kembali memori soal civic berwarna emas yang menguasai arena beberapa bulan lalu itu. Dan ya. Itu sama. "Jadi itu Ara??" "Ara, seorang pembalap?" "Apa apaan?" *ceklek "Kabjagiaa" "Apipppp, ngapain lo disitu ih. Kaget gue" Kaget Ara, saat ia keluar kamarmandi dengan pakaian lengkapnya, tiba tiba ada Apip yang mematung disana. "Ra" "Ini lo?" Apip tunjukkan foto yang ia temukan kepada Ara.


"Lah dapet darimana?" "Maaf, tadi gue jatohin bukunya. Trus foto ini jatuh" "Ohh, iya itu gue. Orang jelas gitu mukanya masa gakenal?" "Mobil ini?" "Punya gue" "Reall punya lo?" "Iyaaa, gue juga anak civic asal lo tau" "Lo, balapan juga-" "-kan?" *deg Ara kira, Apip tak akan bertanya kesana. Karena Ara tidak pernah menunjukkan apapun soal kegemarannya itu kepada siapapun. Bahkan sahabat sahabatnya. Tapi, kenapa Apip bertanya begitu? "Gue? Balapan? Gausah ngaco deh" "Ra. jujur sama gue" asli. Nada Apip begitu serius sekarang, dan juga begitu tegas. Ara saja sampai dibuat merinding.


"Pipp-" "Gue pernah liat lo, di arena. Waktu itu hari jum'at tepat sebelum pertandingan gue lawan mipa" "Gue liat mobil civic emas ini. Merajalela di arena" "Dan lo turun dari mobil, cuma buka hp" "Gue lari. Niat mau liat siapa cewek yang kebut kebutan sendirian di arena" "Tapi lo udah pergi pas gue sampe bawah" "Ra. It's you. Right?" Astaga, ternyata ada saksi mata saat Ara sedang berada di arena? Sungguh, ini pertama kalinya. Karena Ara, hafal sekali kapan arena akan sepi dan sama sekali tidak ada orang disana. Ara sudah riset berkali kali. Dan ia temukan waktu itu adalah yang terbaik. Tapi apa? Apip justru menangkap basah dirinya. "Iya, itu gue pip" "I'm so sorry i haven't told you before" "Sayang, kalo lo bilang sama gue lo suka balap gini gue seneng banget asli" "Ya walaupun engga juga gue seneng. Tapi imagine sayang, kita punya kegemaran sama, dan lo hebat dalam hal itu. Sumpah gue bangga banget sama lo" Karena terlalu eksaitit, Apip peluk Ara dengan sekuat tenaganya.


Apip terlihat begitu bahagia. Sangat. Rasanya, Ara tidak tega merusak kebahagiaan Apip ini. Yaa, mungkin nanti saja Ara katakan soal traumanya. "Thankyou hehe" "Kapan kapan ridin bareng, gimana?" "Mmmm not sure" "Kenapa?" "Lo kan pro bangett, yang ada gue kalah lah" "Hahahah sayangg, ngga balapan, cuma have fun aja" "Beneran loh?" "Iyaaa, lagipula gue udah pernah liat skill lo, dan lo cukup keren" "Dih, cukup doang" "Wkwkwk, yakan bisa belajar lagi" "Hhh, iyadah sipaling proo" —----- "Gimana sayang siap?"


Tanya Apip, sambil menunduk menatap Ara yang telah standby didalam mobilnya. "Yakin kan pip, gaakan ada yang kesini? Gue gamau ada saksi mata lagi" "Ngga ada sayang. Udah percaya sama Aa' Apip oke?" "Wkwkwk, oke dah" "Letss gooo" Begitu Apip masuk ke tichallanya, dan menyalakan mesinnya, yang bisa Ara lakukan hanyalah berdoa. Semoga saja dirinya akan baik baik saja. Tidak akan ada bayangan apapun yang mengganggunya. Ini pertama kali setelah sekian lama, dirinya berjalan diatas arena dengan ada kendaraan lain bersamanya. Setelah menguatkan dirinya, Ara yang memenangkan suit atas kekasihnya itu melesat maju terlebih dahulu, baru kemudian Apip mengikutinya. Ara memfokuskan pikirannya kepada jalanan juga kecepatan yang ia atur sedemikian rupa seperti biasa. Mencoba tidak menghiraukan eksistensi tichalla yang mengikuti tepat dibelakangnya. Tapi, namanya juga Apip, dengan sengaja Apip iringi kekasihnya itu, dan berteriak. "Enjoy sayangg"


Dan setelah itu, Apip mendahului mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Enjoy ya?" Senyum kecil terbit di bibir Ara, dan yaa, Ara mulai melepas ketegangannya. Ara lajukan mobilnya dengan begitu antusias dan mengejar Apip yang telah jauh didepan. Sungguh, Ara sangat menikmati ini. Perasaan ini, ia pendam begitu lama. Ara sangat merindukannya. Sangat. —--- "Pippp, sumpah itu asik bangett" kata Ara begitu bahagia sambil memeluk leher Apip. "Yakan? Gue udah bilang, ini bakalan asik" "Lebih asik daripada sendirian kan?" Anggukan semangat kembali menjadi jawaban pertanyaan Apip. Ara sangat beruntung, tidak ada sesuatu yang mengganggunya. Dan Apip, benar benar mengalihkan pikirannya. Hingga ia sangat menikmati acara kebut kebutannya dengan kekasihnya itu. Rasanya, Ara pengen melakukannya lagi dan lagi.


(Aalasann) Apip memang sangat ingin membuktikan pada teman temannya, terutama Deon, bahwa dirinya memang tidak main main dengan Ara. Jadilah ia menjelaskan semuanya dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada lagi wanita lain dimatanya selain Ara. Tapi memang, Apip menutupi fakta dimana Ara suka dengan balapan seperti ini. Entahlah, Ara yang minta demikian. Jelas, Apip menurut untuk itu.


"Pa, Ara tadi balik ke Arena. Dan Ara ngga sendiri" "Ara bisa wujudin keinginan Papa kan?"


[15 : Mistake] Liburan semester di NEO benar benar penuh dengan hingar bingar. Mereka telah menyelesaikan semester 4 mereka dengan lancar. Turnamen balap antar universitas digelar dengan meriah. Tentu saja itu berizin resmi, dan drivernya semua bersertifikat. Tak ketinggalan juga geng balap. Mana mungkin geng ini akan meninggalkan turnamen besar ini, saat mereka saja adalah bintangnya. Tidak hanya di NEO, tapi kelihaian mereka telah terdengar hingga universitas tetangga. Jadilah kini kemampuan mereka diuji diluar kandang mereka. Turnamen diadakan dikota sebelah. Dengan arena yang berbeda. Tapi itu tidak masalah, bagi Deon dan kawan kawan arena bukanlah penghalang.


Hhhahh, aduhh Ara harus memberi alasan apa sekarang? Sejak awal turnamen dimulai, Apip selalu mengajaknya untuk menyaksikan pertandingan itu, tapi Ara tidak yakin dengan dirinya jadilah Ara selalu mencari alasan untuk menghindari ajakan Apip. Begitu pula yang dilakukan geng pengabdi mekdi. Mereka berusaha menjauhkan Ara, dari Apip pada masa turnamen ini. Mereka takut, Jika Apip akan melibatkan Ara. Kenapa tidak ada yang memperingatkan Apip?


Ara tidak mau. Ara tidak mau jika Apip mengetahui soal traumanya, Apip akan menghentikannya bermain mobil di arena. Jelas Ara tidak rela. Sedangkan kepada sahabatnya, Ara peringatkan dengan alasan, 'jangan menambahi beban pikiran Apip' begitu katanya. Ya tentu saja mereka bertiga menurut, karena mereka pikir Ara benar. Jika mereka mengatakannya pada Apip, bisa saja konsentrasi Apip saat balapan terganggu nanti. Dan itu jelas hal yang tidak baik. Tapi, jauhh dalam dirinya, Ara sangat rindu, dengan suasana turnamen balap yang luar biasa seru. Ara pikir, sekali saja tidak akan apa apa- -kan?


"Tenang aja Ara, ada Apip sama lo" "Selama ini lo udah biasain ke arena sama Apip" "Dan lo baik baik aja" "Sekarang lo juga bakal baik baik aja Ara" Apip benar benar menepati kata katanya, Apip genggam tangan Ara sejak tadi. Dan tidak ia lepas sama sekali. Bahkan usapan konstan selalu Apip berikan di punggung tangan Ara. Tenang sekali rasanya. Biarkan saja banyak yang menatap iri kearah mereka. Dan banyak bisik bisik soal mereka. ternyata, satu bintang mereka sudah ada yang punyaa. Yahhh, pupus sudah. "Ra, gimana menurut lo?" Tanya Apip tanpa melepaskan pandangannya dari layar besar yang menayangkan beberapa kamera dashboard dari para pemain. Ya, keduanya di ruang pantau sekarang. Apip jelas bisa masuk, karena dia juga terdaftar sebagai driver + panitia. "Itu yang nomor 16 rada ada problem perasaan" jawab Ara yang sejak tadi juga mengamati. Walaupun sebenarnya Ara lebih sering mengamati wajah tampan Apip yang sedang serius dari samping. "Iya bener, kayaknya perseneleng dia rada seleng"


Belum lama Apip menyelesaikan kalimatnya, benar saja mobil balap dengan nomor yang Ara sebutkan sebelumnya hilang kendali dan menabrak dengan kencang. Ara spontan menutup matanya, saat ia menyaksikan dengan jelas kecelakaan itu dari berbagai sudut pandang kamera. *nggiiiiiiiingggggg Suara melengking yang sangat tinggi membuat Ara hilang kendali atas tubuhnya. Dan pandangan ara pun semakin gelap. Hingga akhirnya Ara hilang kesadaran. —------ "Ra, Ara bangun Ra, lo kenapa Raa" "Mas maaf, sebaiknya mas keluar dulu, biar kami periksa keadaan pasien" kata perawat sambil mendorong tubuh Apip keluar dari ruang ugd. Apip yang sejak tadi dibuat panik, kini semakin tidak tenang. Kejadian beberapa saat lalu, saat Ara dengan tiba tiba menggenggam tangannya erat dan menutup mata, dan tak lama Ara jatuh di pelukannya itu terputar kembali di memorinya. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada kekasihnya? Karena perasaan tidak tenangnya, Apip tidak bisa diam barang semenit saja. Ia terus mondar mandir didepan ugd dimana Ara terbaring didalamnya.


"Dokter, bagaimana keadaannya dok?" "Apa anda keluarganya?" "Ahh, saya pacarnya dok" "Pasien mengalami shok yang cukup berat. Bisa kita bicara di ruangan saya saja?" "Baik dok" —---- "Trauma? Ara, punya trauma dok?" "Mendengar penjelasan anda tadi, memang sepertinya ada trauma berat yang dialami oleh pasien berhubungan dengan kecelakaan. Karena itu, pasien mengalami shok berat saat pasien tertrigger sesuatu yang membuat traumanya kambuh" "Oh, God" —---- Ara telah dipindahkan di ruang rawat rumah sakit itu. Dan Apip sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya dari Ara. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Seharusnya dia tidak memaksa Ara


Seharusnya dia tidak membawa Ara Seharusnya dia mengenal lebih jauh tentang Ara "Sayang, i'm so sorry" kata Apip begitu menyesal. Bahkan Apip sudah tidak bisa menahan air matanya sejak tadi. *brakkk "BAJINGAN LO!" *bughh "KENAPA LO NEKAT BAWA ARA KE ARENA HAH?" *bughh "KALO SAMPE ADA SESUATU SAMA ARA. LO MATI DITANGAN GUE PIP" Belum sempat Apip bahkan menghapus air matanya, pukulan bertubi tubi telak menghantam wajahnya. "Deon udah cukup. Ini rumah sakit bego" peringat Jordan yang sejak tadi bersama Deon. Keduanya sedang bertemu dengan kating mereka di lokasi yang tidak terlalu jauh dari arena. Dan ketika ada seseorang yang menelfon Deon yang mengatakan bahwa Apip pergi membawa seorang wanita cantik yang pingsan didekapannya, Deon langsung terlihat begitu khawatir. Dan tanpa basa basi, Deon melajukan


mobilnya brutal ke rumah sakit terdekat, dan menemukan bahwa pasien bernama Ayyra dirawat karena mengalami shok. Begitulah Deon yang tiba tiba datang dengan kemarahan membuncah didadanya dan langsung menghajar Apip, hingga darah keluar dari sudut bibirnya. "Heh" seringai Apip. "Lo itu bukan siapa siapannya Ara yon. Lo gaada Hak" kata Apip "BANGSAT! BUKAN BERARTI KARENA LO PACARNYA LO BISA BAHAYAIN ARA! PAKE OTAK LO!" "KENAPA HAH? DARI AWAL GUE UDAH CURIGA SAMA SIKAP LO!" "GUE UDAH CURIGA SAMA CARA LO NATAP ARA" "LO SUKA SAMA ARA?" "ARA PUNYA GUE. ARA MILIK GUE!" "CAMKAN ITU" "BACOT LO!" *bughh "Woy. Anjeng. Lo berdua punya otak ngga sih? Ini ara lagi sakit. Lo berdua malah berantem gajelas gini" "Temen lo tuh, dateng dateng ngamuk. Bawa pergi aja sono. Eneg gue liat mukanya" kata Apip sadis. "Pip-"


"STOP! GUE UDAH GAMAU LAGI DENGER APAPUN DARI LO" "OKE. GUE AKUIN GUE SALAH. GUE SALAH KARENA GUE NGGA TAU SOAL TRAUMANYA ARA. GUE BURUK. GUE TAU" "TAPI, LO!" "LO GAADA HAK APAPUN DEON" "ARA ADEK GUE BAJINGAN!" Teriak Deon akhirnya. "Hah?" "Hah?" Belum selesai keduanya terkejut dengan penuturan Deon. Pintu kamar rumah sakit terbuka dengan tergesa dan banyak langkah kaki menyusul memasuki ruangan itu. Seorang wanita paruh baya, sangat cantik. Khawatir yang besar terpancar dimatanya. Dan ia melewati ketiga laki laki itu seolah tidak menghiraukan eksistensi mereka. "Hhhh, tante farah ada disini" Deon perlahan lahan berjalan mundur, dan ia meninggalkan kamar rawat Ara yang kini dipenuhi dengan sahabat Ara itu. —----


Dan jangan kira Apip baik baik saja. Belum selesai Apip memproses kalimat Deon tadi, Kala dan Zidan menarik kasar lengan Apip dan membawanya pergi dari sana. Apip siap, menerima hukumannya sekali lagi. *bughh *bughhh "GAK BECUS LO JAGA TEMEN GUE" "BAJINGAN! NYESEL GUE RESTUIN LO SAMA ARA" "sorry" kata Apip pasrah "Setengah mati gue jauhin Ara dari balapan" "Dan lo seenak jidat bawa Ara ke turnamen" "Lo gilaa?" Marah keduanya "Maaf, gue bener bener ngga tau Ara punya trauma" "Hhahhhh…" "Gue ngga bisa biarin terjadi sesuatu sama Ara lagi." "Lo putusin Ara!" Final Kala. "Ngga!" "Gue ngga bisa." "Gue sayang sama Ara" "Gue ngga bakal pernah pergi dari dia"


"Tapi lo ngga bisa jaga dia Pip!" "Ini jadi pelajaran buat gue. Gue bakal lebih hati hati" "Tapi gue mohon. Jangan minta gue jauh dari Ara" "Tonjok gue La, tonjok gue sebanyak lo mau" "Tapi, jangan minta gue jauhin Ara. Gue ngga sanggup" "Gue ngga percaya sama lo" Rasanya langit Apip runtuh begitu saja. Apa apaan? Meninggalkan Ara? Itu tidak mungkin. "Gue mohon" "Hhhhahhh…" —---- —-----


[16 : Deon] "Untuk apa kau bawa dia kesini?" "Kau pikir aku akan kasihan padanya?" "Bawa anak haram mu pergi Johan" "Tanda tangani surat perceraian di meja. Aku bawa pergi Ara" "Farah, tolong dengarkan aku dulu" —------ "Hhhahhh…" "Ma, Deon udah ketemu sama adik. Adik yang Deon lihat dulu, yang cantik, yang digandeng sama tante Farah, yang nangis pas ditarik sama tante Farah keluar dari rumahnya" "Semua itu gara gara Deon kan ma? Gara gara Deon lahir kan ma?" Disamping makam ibunya, Deon duduk dan bercerita seperti biasa. Tapi, kali ini, Deon membawa semua perasaannya kembali. Perasaan yang sejak dulu ia tepis. "Papa juga, papa meninggal gara gara tante farah ninggalin papa kan ma?" "Semua itu juga karena Deon lahir kan ma?" "Maaf. Maafin gue Ra.." —----- "Tante, Rafi minta maaf sama tante. Ini semua karena Rafi. Rafi gagal jaga Ara tante."


"Tante bisa hukum Rafi apapun" "Tapi, tolong jangan pisahin Rafi sama Ara tante" "Jadi kamu yang namanya Apip?" "I-iya tante saya Apip. Saya bener bener minta maaf sama tante" "Hhh, nak. Makasih ya sudah temani Ara, waktu tante ngga bisa disamping Ara" Apip angkat kepalanya, saat ia merasakan usapan di kepalanya. Tentu saja Apip kaget. Bagaimana mama Ara tau soal dirinya, saat Apip saja belum pernah bertemu sama sekali dengannya. "Bibi bilang, ada anak laki laki yang Ara panggil Apip. Selalu menemani Ara dirumah, bermain lah apalah, Ara selalu senyum saat ada kamu, atau ada teman temannya. Makasih ya sayang" "Apip seneng kok tante, Apip sayang sama Ara tante." "Makasih ya, mungkin Ara memang sangat membutuhkan itu dari kalian, saat Ara menolak itu dari tante" "Ara sayang sama tante" Senyum tipis berkembang di bibir wanita cantik itu. "Memang, tapi rasa kecewanya lebih besar" —---


"Mama, kita mau kemana mama?" Tanya Ara kecil yang dipaksa oleh sang mama untuk duduk didalam mobilnya. "Kerumah kakek" "Kenapa dirumah kakek ma? Papa gimana ma? Kenapa papa ngga ikut?" "Ngga" "Ma, Ara mau sama papa juga" "Diam Ara! Biarkan saja papamu. Kamu tinggal sama Mama mulai sekarang" Ara menunduk dan terdiam ketika mendengar nada mamanya yang benar benar tinggi. Mamanya, tidak pernah semarah ini. —--- "Kakek, Ara mau sama papa kek" "Besok papa ada pertandingan, Ara mau lihat papa balapan" "Hhh, Ara sayaang, nanti kalau mama marah gimana?" "Sekalii aja kek, kita diam diam yaa?" "Ara janji, ini terakhir kali Ara lihat papa balapan. Habis ini ngga lagi. Ara nurut sama mama" "Janji ya? Terakhir kali?"


"Janji" —--- Kakek Ara, bawa anak kecil 7 tahun itu ke Arena, ia pastikan Ara mendapat seat terbaik untuk melihat sang papa yang begitu ia banggakan. Pertandingan itu berlangsung sengit. Papa Ara berada di urutan pertama, hanya 1 laps lagi. Papanya akan menjadi juara. Namun, satu mobil menghimpitnya, dan benar saja. Keduanya kehilangan kendali dan saling mendabrak lalu terguling. "PAPAAAAA" Teriak Ara histeris ketika melihat mobil balap papanya terbalik. Dan ia semakin histeris ketika peserta lain tidak bisa mengendalikan kecepatannya dan berujung menabrak mobil yang terbalik itu dengan kencang. Sesuai janjinya, itu benar benar menjadi kali terakhir Ara melihat pertandingan Papanya. —---- "Tidak!" "Tidak Ayah! Aku tidak mau merawat anak haram Johan. Aku tidak mau!" "Farah, pikirkan dia. Dia masih kecil. Dia kehilangan orang tuanya, Farah"


"Dan dia juga membuatku kehilangan suamiku yah!" "Aku tidak mau!" Teriak Farah tepat dibelakang Deon yang duduk di lantai, di persemayaman terakhir papanya. Ara yang sejak tadi takut dengan teriakan mamanya, dan terus menunjuk anak laki laki yang duduk di lantai itu, memilih untuk mendekat kearahnya. "K-kamu, anaknya papa juga?" Ara yang jongkok disamping anak laki laki sambil sesenggukan dengan jejak air mata dipipinya itu, terkejut ketika anak itu menoleh dan mata indah yang persis seperti milik papanya itu, dipenuhi dengan air mata. Dan ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ara. "Kamu, kakaknya Ara?" Lagi lagi anak itu mengangguk. "ARA! MENJAUH DARINYA!" Teriak Farah. "Mama, tapi dia kakaknya Ara" "TIDAK! DIA BUKAN KAKAKMU" "Tapi ma-" "Diam Ara!" Dengan kemarahannya, Farah tarik tangan anaknya itu menjauh. Dan pergi dari persemayaman suaminya.


Bahkan, saat papanya dikuburkan pun, Ara tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Begitu juga pada laki laki, yang mengaku sebagai kakaknya. "Mama jahat" "Mama jahat" —----- "Papa Ara mengalami kecelakaan besar di pertandingan balapnya saat ia masih kecil. Dan Ara menyaksikannya sendiri" "Astaga" "Dan seiring Ara dewasa, Ara mengerti, bahwa kecelakaan itu terjadi setelah tante meninggalkan papanya" "Dan dia juga mengerti, jika mungkin saat itu papanya terpukul karena tante, bawa Ara pergi meninggalkannya" "Dan di arena, dia tidak bisa berkonsentrasi. Hingga kecelakaan besar itu terjadi" "Mungkin karena itu, Ara kecewa sama tante" Farah, usap lembut kepala sang putri, yang masih setia menutup mata sejak tadi. "Tante, Apip yakin, Ara sayang sama tante. Setau Apip, Ara anaknya baik." "Biasanya kalo Apip bikin salah, Apip minta maaf trus ngga ngulangin lagi, habis tu, Ara maafin Apip" "Jadi, Apip yakin pasti nanti Ara bakal maafin tante"


"Iya nak, Tante tau. Tapi sepertinya memang tante harus memperbaiki kesalahan tante dulu" "Baru, mungkin Ara akan memaafkan tante" "Tante semangat" "Apip yakin kok, kalau tante sudah selesaikan semuanya, Ara pasti akan kembali ke tante" "Terimakasih ya sayang" —---- "Mmmhh P-pip?" Lenguhan kecil yang sejak kemarin Apip tunggu, membangunkan Apip dari tidurnya. Dan ketika Apip membuka mata, ia melihat Ara yang telah terbangun dari rehatnya. Bersamaan dengan matahari yang mulai menyambut pagi. "Ra, you okay? Butuh apa? minum?" "Hhh, i'm okay" "Ini, muka lo kenapa?" Tanya Ara lemah sambil mengusap bibir juga pipi Apip yang lebam karena Deon juga Kala. "Ngga papa kok"


"Hhh, pasti Kala marahin lo ya?" "Ini ngga seberapa, daripada kesalahan gue yang buruk banget sampe ngga tau lo punya trauma" "I'm so sorry sayang" "Hey, it's not your fault. Ini salah gue yang ngga nolak juga kan?" "But still, harusnya gue cari tau soal lo lebih dalem kan?" "Udah udah. Mending ambilin gue minum" "Hhh, iya okay" Begitu Apip bergeser dari pandangan Ara, Ara melihat seseorang yang tertidur di sofa dengan selimut yang menutup setengah badannya. "Mama?" "Hhh, iya. Mama dari semalem disini, nungguin lo" "Mama khawatir banget sama lo, Ra" kata Apip sambil menyerahkan segelas air putih kepada Ara. "Ohh" "Ra, boleh gue bilang sesuatu?" "Hmm?"


"Maafin Mama ya?" "Lo ngomong apasih?" "Mama cerita soal papa lo semalem" "Cerita Apa?" "Yaa, soal mama yang ninggalin papa lo, sampe akhirnya papa lo kecelakaan" "Ra, Mama ngelakuin itu pasti ada alesannya kan Ra?" "Ada" lagi lagi, nada Ara berubah. Dan juga Apip jelas tau, nada itu mengisyaratkan Apip untuk berhenti. "Okay. Take your time sayang" "Maaf Pip" "No need to. Gue yang harusnya minta maaf" —----


Tak lama setelah Apip sampai di rumah Ara, dan sedikit ngobrol dengan teman teman Ara juga, notifikasi sampai di handphone nya.


"Guys gue pergi dulu" kata Apip "Lah, kemana pip?" Tanya Ara bingung, karena Apip terlihat terburu buru "Gue pulang bentar ya Sayang, ntar gue balik lagi kesini" "Hmmm oke. Tiati Pip" "Oke"


"Merinding gue denger Apip manggil lo sayang gitu Ra" ya soalnya jarang banget Kala denger gituan. "Sama gue juga" balas Ara —----- "Deon" kata Apip tegas "Jelasin maksud lo kemaren" "Iya, maksud lo apaan? Lo kakaknya Ara? Lo serius?" Sambung Jordan "Hah?? Deon kakaknya Ara??" Kaget Haje. "Tiri" jawab Deon singkat. "Cerita yang jelass bego" kesal Apip. "Papanya Ara, selingkuh sama Mama gue. Sampe akhirnya gue lahir" Baru segitu Deon cerita. Ketiga temennya udah melongo kek orang bego. "Mama meninggal, sebulan sebelum pertandingan besar papa. Papa, memutuskan buat bawa gue ke tante Farah, mamanya Ara. Berharap tante Farah mau nerima gue" "Tapi, ngga. Tante Farah milih pergi bawa Ara, dan cerein papa" "Semaleman papa ngga tidur. Padahal besok papa ada pertandingan balap gede" "Papa nangis. Seumur hidup gue, baru pertamakali gue liat paapa nangis"


"Disitu gue ngerasa bersalah" "Papa mertahanin mama, gara gara ada gue. Papa nikah sirih sama mama, gara gara bertanggung jawab atas gue" "Tapi, tante Farah ngga bisa terima" "Sampai akhirnya, papa kecelakaan dalam pertandingannya" "Papa meninggal saat itu juga" "Kakeknya Ara, sempet minta tante Farah buat ngerawat gue" "Tapi lagi lagi tante Farah nolak" "Dan tante seret Ara pergi dari persemayaman papa, gara-gara Ara bela gue. Ara bilang 'tapi dia kakaknya Ara'" Senyum getir terbit di bibir Deon. Sungguh perih rasanya mengingat saat itu. Saat dirinya yang tidak memiliki siapapun lagi, ditolak mentah mentah, dan dipisahkan dari adiknya. "Setelah dari pemakaman papa, gue dianter ke rumah besar. Rumah kakek gue, dari mama" "Mereka ngga percaya, tapi ketika di tes dna, dan akhirnya cocok, gue diterima dengan penuh kasih sayang sama mereka" "Karena itu, selama ini gue pake nama keluarga mama" "Trus jadi selama ini lo tau kalo Ara itu adek lo?" Tanya Haje. "Gue sempet lupa, soal nama juga wajahnya Ara. Karena gue, lamaa banget ngga ketemu dia"


"Tapi, waktu pertamakali masuk kesini. Gue ketemu sama Ara di gerbang. Gue ngga sadar itu Ara, sampai tante farah turun dari mobil cium kening Ara" "Gue amatin Ara selama berhari hari. Banyak yang berubah dari dia. Cuma satu yang ga berubah, tatapan matanya" "Gue cuma bisa ngamatin dia dari jauh. Gue sama sekali ngga berani buat muncul didepan dia, sebagai putra dari selingkuhan papanya" "Gue udah ngehancurin hidup Ara yang sempurna" "Seperti yang dulu mama Ara bilang, gue rebut suaminya dari dia" "Itu juga berarti, gue rebut papa dari Ara" Deon menunduk, sungguh, rasanya tercabik cabik hatinya saat ia mengingat kembali betapa menyesalnya dia dilahirkan kedunia ini. Karena dia, alasan dibalik hidup Ara yang sulit. "Lo nyesel? Lo nyesel dilahirkan ke dunia gitu?" Tanya Apip mengagetkan Deon. Bagaimana Apip bisa membaca pikirannya? "Seumur hidup, Ara nungguin lo. Seumur hidup Ara pengen kehadiran lo disamping dia" "Lo tau seberapa besar Ara pengen punya sodara?" "Lo tau seberapa kesepiannya Ara, sampai dia harus menepisnya dengan pesta?" "Ara selalu pengen punya kakak yon" "Tiap hari ada kali Ara ngomong gitu"


"Dia pengen punya seseorang yang bisa ngertiin perasaan dia" "Punya kemiripan sama dia" "Punya darah yang sama juga kaya dia" "Dia selalu mendambakan itu Yon" "Selama ini, gue selalu berusaha buat nutup lubang itu." "Tapi, gue juga tau gue ngga mampu yon" "Gaada yang bisa menandingi kasih sayang saudara. Kasih sayang keluarga" "Hahhaah, gue ngga bisa makan keju bejibun kaya dia" "Kaya lo juga" "Cuma lo yang bisa" "Dan apa apaan? Lo malah sembunyi? Lo malah nyesel dilahirin ke dunia gitu?" "Harusnya lo yang selalu nemenin dia dirumah yon, harusnya lo yang selalu ada saat dia kesepian, harusnya lo yang nemenin dia main ps, harusnya lo yang nenangin dia saat dia kangen papanya" "Papa kalian" "Bukan gue yon" "Kalo lo gabisa muncul sebagai anak dari selingkuhan papanya Ara" "Lo bisa muncul sebagai anak papanya Ara. Sebagai kakaknya Ara"


*deg Ya Tuhan, rasanya hati Deon jatuh begitu saja. Saat itu, saat Ara bilang padanya bahwa ia menginginkan seorang saudara padanya, Deon masih saja tidak mampu. Deon masih saja menyalahkan dirinya. Tapi, mendengar semua ini. Mendengar betapa kesepiannya Ara, maka Deon tidak akan pernah memaafkan dirinya jika Ia tidak segera datang dan merengkuh adiknya. "Bantu gue Pip" "Bantu gue nebus kesalahan gue ke Ara" "Pasti" "Pasti bakal gue bantu" *hiks "gue juga dehh" kata Jordan drama *hiks "hooh gue juga ikut" Emang dua anak ini kalo disuruh serius susahhh bner. —------


[17 : Darah yang Sama] Dalam hati Apip sih, harusnya Deon nih yang masakin Ara gini. Bisa bisanya, Ara manggil Apip kerumah cuma nyuruh masakin ramen pake keju bejibun doang. Apip aja udah eneg banget liat nih ramen astagaa. Miripp banget kaya si Deon kalo bikin ramen. Setelah selesai dengan semua perdramaan Ramen, Apip memulai aksinya.


Kini, Ara sedang tiduran di pahanya. Lagi nonton kartun kesukaan dia. Apalagi kalo bukan boboiboy. Sumpahh Apip aja ampe kebawa mimpi muka kotaknya adudu, gara gara si Ara ini nontonnya itu mulu. "Ra" "Hm?" "Lo kan tiap hari tuh, ngomong pengen punya kakak" "Emang kalo punya lo mau ngapain?" "Mmm" "Pertama, kalo gue punya kakak kalo cewe dia pasti cantik banget, kalo dia cowo pasti ganteng banget, secara modelan gue aja cakep paripurna gini" "Berakk" "Ih Aapipp" "Heheh iya iya Ara ku sayang yang paling cakep seduniaa" "Trus?" "Gue kalo punya kakak, pengen banget gangguin dia tidur. Kayak, gue tusuk tusuk lubang idungnya, gue cabutin bulu kakinya, keknya seru" "Ra, itu percobaan pembunuhan anjir. Sakit begoo" "Wkwkkwk"


"Truss, gue pen ditemenin, pengen ps bareng, pengen night ride pokoknya gue gabakal bikin dia hidup tenang" "Pantesan lo gadikasih saudara. Lo kejem" "Apip jahatt ih" "Ngga pengen ditemenin balapan?" "Eh. Iya juga ya, kalo gue punya abang, dia pasti jago banget balapan ga si kaya papa?" "Trus dia juga bisa bantuin gue buat memenuhin keinginan papa" "Emang, apa keinginan papa lo?" "Papa dulu pernah bilang, kalo suatu saat nanti anaknya bakal jadi pembalap hebat kaya dia" "Tapi kan, anak papa cuma gue. Berarti yang dimaksud papa gue dong?" "Coba aja gue punya kakak, pasti dia bakal ngorbanin diri memenuhi keinginan papa, instead gue kan?" "Udah Ra. Keinginan papa lo udah terwujud. Sekarang anaknya jadi pembalap hebat." "Bahkan dia salah satu pembalap terhebat yang pernah gue temui" "Eh, Ra" "Kalo misal sekarang lo punya kakak lo bakal gimana?" "Hahahha, ngga mungkin ga sih? Masa iya tiba tiba gue punya kakak?" "Mustahil"


"Ettt, ngga ada yang mustahil bagi Aa' Apip" "Wkwkkw Lo pasti mau drama, pura pura jadi kakak gue. Yakann?" "Kagaa ih, gue kan pacar lo bukan kakak lo" "Ih, ya trus?" "Tunggu dulu disini. 5 menit" "Hhhh iyaadah serah lo" —--- "AARAA SAY HI KE KAKAK LOO" teriak Apip eksaitit sambil menarik tangan Deon memasuki rumah Ara diikuti Jordan juga Haje "Deon?" "Wkwkwk kalian ngapain sii?" "Kakak lo inii" kata Apip sekali lagi "Hahahha, Yon. Lo mau nyuruh gue manggil lo Abang lagi?" "Iya, tapi kali ini in serious way" "Wewkwk serius gimana sih" "Gue kakak lo Ra" kata Deon serius.


"Hahaha udah deh, kalian jangan drama mulu. Mau mauan aja disuruh suruh Apip" "Ra" Deon berjalan mendekat kearah Ara yang duduk di sofa dan menengok kearah mereka. "Hhhh apa?" Tanya Ara kepada Deon yang kini duduk disampingnya. "Sorry" "Hah? Kenapa tiba tiba?" "Sorry gue ninggalin lo selama ini, gue biarin lo sendirian, gue biarin lo kesepian, maafin gue ya?" "Hah? Lo ngomong apa sih yon?" "Ra, gue Gideon" "Hahahah, iyaa gue tau lo gideon" "Gideon Bhagaskara" Kini senyuman Ara luntur dari bibirnya. Karena Ara menangkap sorot serius dari mata Deon. "Yon lo serius?" "Engga kan?"


"Lo pake nama papa, gara gara lo drama jadi kakak gue kan yon?" Kata Ara menahan tangisnya, karena sungguh, hatinya tidak bisa bohong, nama papanya sangat cocok bersanding dengan nama Gideon. "Gue lahir dengan nama Bhagaskara, Ra" Deon melepas genggaman tangan Ara, dan ia ambil sesuatu dari kantong jaketnya. "Ini gue, sama papa" Deon berikan foto kecil dirinya yang sedang digendong oleh Johan Bhagaskara. Papa dari Ara. "Deon" "Lo?" Ara angkat wajahnya, Air mata sudah mengalir di pipinya. Ara mendadak ingat kembali, wajah anak kecil yang sempat hilang dari ingatannya. Anak kecil yang menangis di depan mayat papanya, di persemayaman terakhirnya. "Lo anak yang di persemayaman papa?" "Iya, yang lo bela 'tapi dia kakaknya Ara'" kata Deon sambil mengusap Air mata Ara dengan ibu jarinya.


"Huaaaaa lo kemana aja sih, kenapa lo ninggalin gue, kenapa lo sembunyi dari gue, kenapa lo biarin gue sendirian, kenapa lo biarin gue kesepiaan, lo jahat banget, lo jahat" Ara sudah tidak bisa menahannya lagi, pecah sudah tangis Ara. Ia tubruk dan peluk torso kekar itu erat, Ara pukul punggung itu menyalurkan perasaannya. ia tumpahkan semua keluhnya disana. "Harusnya lo disini, nemenin gue, harusnya lo disamping gue, gue kesepian gara gara lo pergi. Harusnya lo dateng ke gue dari dulu, harusnya lo-" "Harusnya-" Hanya untuk melanjutkan kalimat saja, itu begitu sulit bagi Ara. "Sorry" hanya itu kata Deon sambil memeluk Ara lebih erat dan Deon tenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ara. Dan itu, membuat tangis Ara semakin kencang. "Huuaaa, gue benci sama loo, gue bencii" Ara emang ngomongnya gitu. Tapi, Ara malah semakin memeluk Deon kuat. "Now i'm here. I promise i will never leave you again. I promise you sis" "Ngga mau, ngga mau dipanggil sis" kata Ara lucu yang masih sesegukan sambil melepaskan pelukan mautnya dari Deon. "Hhh, trus apa dong?" Lagi lagi, Deon dengan sejuta sikap manisnya, ia usap air mata yang membasahi mata juga pipi Ara dengan lembut.


"Panggil aku tuan putri" yeuuu ni anak, padahal suasananya lagi haru. Malah bertingkaahhh. Mana sambil sentrup sentrup lagi ngomongnya. "Hhh iya, nanti aku panggil tuan putri" "Woyy Raa, gaadil lo. Sama pacar aja lo Kasar pake lo gue. Giliran sama Deon aja aku akuan lo, Aaarggh gue terim-mpptt" "Udah Ra udah gue amanin ni reog. Lanjut aja" kata Jordan santai sambil membekap mulut Apip yang sangat tidak bisa dikondisikan. "Hhh, Janji kamu ga kemana mana lagi?-" "-kak?" Kata Ara sedikit ragu, lidahnya seolah kelu, apa yang begitu didambakannya, kini benar benar ada didepan matanya. "Hhh, janjii tuan putri. Janjii" Senyum Ara merekah ketika Deon mengatakannya sambil mencubit jahil hidung mancungnya. "Huaaaa" nangisss lagi deh tuh Araa "Udah dong ah, nangis mulu kamu" "Ngga mauuu, belom puas nangisnyaaaa"


Click to View FlipBook Version