The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biar ngga gabut aja si sebenernya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 04:59:36

coccoons

biar ngga gabut aja si sebenernya

—--- Sudah puas dengan semua prank itu, Ara memilih untuk membuka chat dari kekasih reognya setelah seharian ini tidak ia pedulikan sama sekali. Hahah, melihat Apip marah di kolom komentar membuat Ara tertawa tawa kecil. Pacarnya ini sangat lucu. Belum lagi ditambah Ara membuka chat yang ternyata sangat bejibun dari Apip. Semakin lebar lah senyuman Ara.


"Waduh. Kalo gue dicium benern gimana anjir?" "Bukan apa apa sih" "Cuman-" "Takut ketagihaan woyy "


Ara yang salting brutal bergulang guling diatas kasur besarnya karena imajiasinya sendiri. Membayangkan manisnya bibir Apip yang selama ini ia rasakan kelembutannya sebatas di keningnya. Hingga- *brakkkkk "Awwww" *tok tok "De? Kamu kenapa? Gapapa?" Teriak Deon dari balik pintu, yang langsung beranjak dari kamar tepat di sebelah kamar Ara setelah mendengar suara kencang yang ribut. "It's okay kakk. Nubruk meja doang" "Hhh, okay" "Apippp bangsaaatttt" —-----


[21 : Batas Suci] "De, kamu ngapain dari tadi nemplok di jendela kaya cicak?" Masih pagi, bahkan matahari belum naik sampai 60° tapi adik dari Deon ini sudah bertingkah aneh dengan terus menerus menatap ke luar jendela. "Apip tau aku kelas pagi hari ini" "Trus kenapa?" "Aku ngga mau dianter Apipp" katanya merengek "Hah? Kenapa emangnya?" "Ngga mau pokoknya mah" "Yaudah chat aja apipnya bilang gamau dianter" "Gabisaaaaa aaaaaa. Ini aja hp nya aku matiin." "Kenapa sih? Takut Apip marah gara gara kemaren? Kalo iya, tar biar dia berantem sama aku" "Hhhh, g gitu." "Bawa mobil sendiri aja" "Nanti kalo papasan di jalan pasti Apip ngejar kaakk-" "-eh, kak. Bantuin keluarin mobil papa yang didalem dong"


"Mobil papa? Yang mana?" "Yang sivic. Abu" "Ohh, yang biasa dipake?" "Huum" Keduanya berjalan beriringan menuju basement, begitu menghidupkan lampu, mereka disambut dengan jajaran mobil mobil yang tertata rapi berbagai warna dan model. Dah kek showroom. "Ini?-" "Koleksi mobil papa" sahut Ara. "Semuanya masih ada?" "Mama gak pernah menjual, atau membuang sesuatu yang berkaitan dengan papa-" "-kecuali mobil balapnya yang terakhir" "Semua kondisinya masih bagus" kata Deon setelah mengecek beberapa komponen, dan menghidupkan mesinnya. "Selalu di service tepat waktu. Padahal dipakenya jarang jarang" "Mama the best indeed"


"Hhh, aku pake itu aja deh ke kampus" "Oke, kakak siapin." —---- Disepanjang perjalanan, memori memori masa kecilnya, dimana ia sering diantar ke sekolah, berbelanja, atau hanya sekedar jalan jalan dengan sang papa di dalam mobil berinterior nyaman ini kembali mencuat ke ingatannya. Papa membagi waktunya diantara pekerjaan, hobi, dan keluarganya dengan baik. Bahkan 2 keluarganya. Wah, papa memang memiliki manajemen waktu yang hebat. Terdengar profesional. Very sarcastic Ara selamat dari kejaran kekasih reognya berkat mobil papa. Dan Ara pun bisa sampai di kelasnya dengan aman dan tenang. —-- "Kantin skuy" ajak Zidan yang duduk disamping Ara. Ara sebenarnya sedikit ragu untuk pergi ke kantin. Hhhahh, bagaimana nanti kalau Apip menemukan Ara disana? Wahhh, wahhhh jangan sampe.


"Coba lo telfon Kala dulu dah, biasanya dia udah jogrog disana kan?" "Kenapa emang?" "Udahhhh telfon aja dulu" Walaupun dengan muka curiganya, Zidan menelfon Kala dan tentu langsung mendapat jawaban. "Gue dikantin" "Ada Apip gak?" Sahut Ara ketika mendengar posisi Kala "Ga keliatan tuh. Kenapa emang?" "Gapapa" *tutt tutt Ara mematikan telfon itu cepat, dan sepihak. Lalu mengajak Zidan pergi ke kantin karena situasi telah dilaporkan aman . —--- Suasana kantin saat ini sedang ramai, dan untung saja begitu. Karena jika Apip tiba tiba datang pun, Ara bisa bersembunyi nanti. Tapi, Ara sih berharapnya semoga Apip ngga tiba tiba muncul. Tapi, harapan Ara memang sepertinya sedang tidak direstui semesta.


Ara yang sedang meminum es teh itu mendadak terbatuk karena tersedak. Apa apaan? Apip otw kesini? Oh, tidak. Nyawa Ara benar benar sedang dalam bahaya. "Guys, gue pergi dulu" "Lahh? Mau kemana Ra?" Tanya Kala bingung, belum selesai ketiganya kaget karena Ara yang tiba tiba saja tersedak, sekarang oknumnya udah buru buru mau lari.


"Kalo Apip kesini tanya ke kalian, jawab aja gue ketoilet. Bay" Ara benar pergi berlari menyelamatkan hidupnya sekarang. Bukan bermaksud berlebihan, tapi Ara tau, Apip tidak bercanda dengan kata katanya kemarin. "Hoy. Ara mana?" Tuh kan bener, Apip yang baru saja sampai di kantin dan melihat sahabat sahabat Ara disana, langsung to the point nanyain Ara. "Gatau tadi, ke toilet kayaknya" jawab Zidan datar Tanpa mengatakan apapun, Apip langsung membawa tungkainya untuk keluar dari kantin, meninggalkan teman temannya yang kini bergabung dengan sahabat Ara. "Kemana sih tu anak, mana chat gue ngga dibales dari tadi" Apip terus mencari ke toilet yang berada di gendung dekat kantin. Tapi nihil, Ara tidak ada. Tapi, namanya juga Apip. Jangan kira Apip menyerah begitu saja. Ia kembali melangkahkan kakinya, mencari ke tempat tempat dimana mungkin pacarnya itu berada. "Hhh, satu tempat lagi"


Setelah mencari ke kelas maupun ruangan club Ara dan mendapatinya kosong, Tempat terakhir yang berada di pikiran Apip sekarang adalah perpustakaan. Suasana dingin dan senyap menyapa Apip ketika ia melangkahkan kakinya di perpustakaan. Menengok kesana kemari mencari sosok gadis cantik berambut panjang, yang memiliki mata cantik dan pipi yang sedikit gembil. "Gotcha" Apip melihatnya, wanita cantik itu. Dia sedang berdiri di hadapan salah satu rak buku. Menyandarkan punggungnya, dan memusatkan atensinya pada buku di tanganya. *dug. *gasp Ara dikejutkan dengan tubuh seseorang yang tiba tiba saja menghalangi cahaya, dan membuatnya merasa terhimpit karena tubuh itu berdiri begitu dekat dengannya, dan kedua tangannya yang mengunci pergerakannya dari kedua sisi. Bahkan jika Ara mendongak sekarang, pucuk kepalanya akan membentur dagu orang itu nanti. Keduanya masih terdiam, dan detak jantung Ara mulai tidak karuan saat menyadari aroma ini. Aroma yang keluar dari tulang selangka sedikit terkespos karena kancing kemeja yang dibuka beberapa itu. "Sayang, kemana aja sih? Kok akunya dicuekin?" Sudahlah. Ambyar dah itu jantung Ara.


Apip dengan suaranya yang turun beberapa baritone itu, dan mengatakannya dengan lembut, membuat lutut Ara benar benar lemas. Tidak mendapat jawaban, Apip tarik tangan yang mengukung kedua sisi wanita cantiknya, dan ia bawa salah satunya untuk menarik dagu manisnya. Duhhh, tatapannya, mata berbinarnya, jernih sekali. Ara tidak mampu melakukan apapun lagi, apa yang dihadapannya saat ini, indah sekali. "Jawab dong sayang" "Kenapa akunya dicuekin, hm?" Sadar Araa! "Uh, mm. Engga" katanya gugup sambil menepis tangan Apip lembut, dari dagunya. "Kenapa chat aku ngga dibales?" "Uhh, gue seharian belum buka hp" "Ohh, bukan karena kabur dari aku?" Oh, Ayolahhh Apippp. Kalo udah tauu ngapain malah ngejar siee? Kan Aranya jadi panik sekarang. "Ng-ngga kok" "Oiya?"


*gasp Lagi lagi, Ara dibuat harus menahan napas. Bagaimana tidak? Dengan jahilnya, Apip mendekatkan wajahnya ke wajah Ara, sangaatttt dekat. Membuat Ara kaget dan spontan menutup matanya. Belum selesai Ara menetralkan detak jantungnya, malah justru kini dibuat lebih berantakan lagi karena Ara merasakan tangan lembut dan hangat menangkup rahangnya. Aduhh, tolong ini mah, Ara rasanya udah gamampu lagi, gatau harus berbuat apa. Memaksa untuk membuka sedikit matanya, pandangan Ara dipenuhi wajah Apip yang semakin mendekat. Mengikis jarak diantara keduanya. "Shit" *srekk Bibir Apip yang sebenarnya tinggal beberapa cm lagi mendarat di tujuannya, kini justru mendarat di permukaan dingin yang kasar. Apip buka matanya, dan menemukan buku tentang 'dampak peternakan bagi lingkungan' itu berhasil menutup wajah sang kekasih. "Hhh lucunya"


Belum menyerah, Apip turunkan buku itu perlahan, dan menemukan wajah ayu yang kini pipinya merah padam seperti akan meledak sebentar lagi. "Hhh, kenapa ditutup wajahnya?" "Batas suci" "Hahahah, jadi akunya harus lepas sendal dulu baru boleh?" "Ih, ngga gituu." "Ya trus?" "G-gaboleh Apipp, di kampuss" "Oooh, kalo dirumah boleh berarti?" "Apiiipp, ih" "Yaudah, kalo dirumah gaboleh di mobil" "Gaboleh" "Dii, danau?" "Ga bo leh" "Diii, Altar?" *deg


Aduhh, mleyot sudah si Ara. Bisa bisanya dengan tanpa dosa dan aba aba, Apip ngomong seenaknya. Di altar katanya, hahaha… Mau sih, sebenernya. "Udahh ih, jangan godain terus. Minggir abis ini gue ada kelass" "Hhh, merah banget neng pipinya" "Ya abiisss kamuu" *cup "Nyicil dulu, lunasinnya nanti" Seenak jidat Apip mencium pipi Ara yang sudah panasss, membuat pipinya yang sudah merah semakin memerahhh sekarang. "Semangat kelasnya cantik. Aku ke anak anak dulu, babay" Katanya sambil mengusak jahil rambut Ara, dan meninggalkan Ara yang mematung terkejoet, tersihir, terkamcagiya. Ara sentuh pipinya yang masih terasa ciuman dalam dari Apip. Duh, alamat gabakal fokus Ara di kelas selanjutnya. "Apipp bangsaattt"


Mahasiswa lain yang lagi mau balikin buku ke rak deket Ara, lebih milih buat mundur gajadi balikin buku, soalnya si Ara lagi ngereog mukul mukul kepalanya pake buku sambil nahan teriakan. Siapa yang gatakut coba? —---- "Hai sayang" Sambut Apip eksaitit yang sudah jogrog di depan kelas Ara, tepat ketika Ara dan teman temannya keluar dari kelas. Bukan Ara doang yang nengok, tapi temen temennya juga langsung spontan pada nengok, gamau kelewat keuwuan COTY kampus mereka. "Sst. Brisik" kata Ara sambil buru buru menutup mulut Apip dengan telapak tangannya dan menariknya dari depan ruang kelas Ara. Mereka gitu terus posisinya. Sampe parkiran. Engap, engap dah tuh. "Lu ngapain malah kekelas gue? Kelas lo udah selesai?" "Udaah sayang, yang satunya kelasnya batal" "Dih, yaudah sono balik"


"Ayo" dengan pedenya Apip tarik tangan Ara. Yaaa Apip kan, mau pulangnya kalo sama Ara. "Lah? Gue bawa mobil ege" "Siniin kuncinya" "Hah?" "Gue yang nyetir" "Mobil lo?" "Gampang, tar diambil sopir juga jadi" Yahh, tak ada pilihan lain bagi Ara selain menyerahkan kunci mobilnya kepada Apip. Pasrah udahhh. Apip kalo udah punya kemauan, susah dinego. "Lah, mobil siapa nih?" "Papa" "Ohhh, okaay. Pulang ke rumah gue aja yok" "Lahh? Kenapa?" "Ya abis, dirumah lo ada Deon. Gue masih dendam ama yang kemaren"


"Bisa bisanya dia cuddling sama lo" "Gue ga terima" Jika dipikir pikir memang pantas Apip cemburu. Deon bersikap begitu manis pada Ara, dan jika dilihat dengan mata saja, maka banyak orang tidak tahu yang akan tertipu dengan status mereka. Ditambah dengan Ara yang sebenarnya jarang sekali physical touch dengan orang lain. Bahkan dengan Apip saja, Ara sangat membatasi. Jika hanya sekedar pegangan tangan, peluk, atau kecup kupu kupu, itu masih tidak masalah. Tapi, jika soal cuddling atau lebih dekat dari itu, Ara sangat membatasinya. Entah apa yang ditakutkan anak itu. —-- "Kok sepi pip?" "Hooh, ayah sama bunda ke luar kota" "Ohhh" Waduh, Ara sudah merasa sedikit curiga sekarang. Jangan jangan ini jebakan Apip?, jangan jangan ini bagian dari rencana Apip untuk melancarkan aksinya? Wahh, Ara sedang dalam bahaya. Ara memilih duduk di sofa ruang tengah penuh kewaspadaan, berharap Apip tidak akan macam macam.


Apip mendudukkan dirinya tepat disamping Ara yang sedang sibuk dengan handphonenya. "Hhhahhhh" *brukk Niat hati, Apip ingin menjatuhkan kepalanya diatas paha Ara, tapi justru kepalanya membentur sofa. "Sayang, kok geser sih?" "Batas suci" Sumpah ya, Apip udah gemesss banget rasanya. Pacarnya ini, benar benar menguji dirinya. "Hhhahhh, kamu gitu sekarang. Sama Deon aja mau, giliran sama gue ngga mau" "Tch" "Gausah lebay" "Kok lebay sih? Kan gue pengen juga cuddling kaya yang lo upload kemaren" "Gausah iri, itu cuma buat foto doang. Ga cuddling beneran" "Masa?" "Iyaaa ih, ga percayaan banget"


"Tapi gue tetep iri tuh" "Wahai manusia, janganlah engkau suka menanam perasaan iri dengki" nasehat Ara dengan lucunya. "Wkwkkw" Ayo Apip, cari cara lain. Otak Apip terus dipaksa bekerja, mencari ide. Bagaimana ia bisa melancarkan aksinya. Katakan Apip ini lagi di mode cabul. Ya bodo amat, Abisan si Ara ini udah bikin Apip cemburu + iri setengah mati. Jadilah Apip harus balas dendam, seperti ini. "Ra, eskrim seger nih" goda Apip. "Ih, iya ya pip? Ada ngga stok?" "Adaa, gue abis beli kemarin. Ambil sana" Dengan langkah bahagianya, Ara menuju kedapur dan mengambil eskrim yang jelas Ara sudah hafal dimana tempatnya. "Banyak bangett ambil 3?" "Aku duwa" katanya lucu.


"Gue jamin gabakal sempet lo makan dua" Ara membuka bungkus eskrim cone rasa vannila itu dengan senyuman di wajahnya, jelas tidak ada yang tidak bahagia ketika bertemu dengan sesuatu yang menjadi favoritnya kan? "Ra" "Hm?" *deg. Ara yang menoleh karena panggilan dari Apipnya, spontan mematung. Ketika bibirnya yang dingin karena suhu dari eskrim, kini terasa hangat. Sangat hangat. Ara rasakan sesuatu yang kenyal dan lembut, menempel dan bergerak perlahan. Ya Tuhann, rasanya nyawa Ara sekarang berada di ujung tanduk. Melihat wajah Apip yang begitu dekat dengan wajahnya, bibir Apip yang mempermainkan bibirnya lembut, dan Apip yang mulai bergerak mendorong perlahan tubuhnya. Waahhhh, tolong pegangi jiwa Ara, supaya tidak terbang kemana mana. Semakin intens, Apip ambil eskrim dari genggaman Ara, dan melemparnya ke atas meja kaca.


(Untung aja bunda ga liat. Kalo liat udah abis apip dijewer ini) Dan menggantikannya dengan telapak tangannya. "Akh" Ara yang sebelumnya telah hanyut dengan permainan Apip, spontan membuka matanya ketika dengan nakalnya laki laki Aries itu menggigit bibir bawah milik Ara. Kesempatan emas bagi Apip, dan jelas laki laki itu tidak akan menyia nyiakannya. Apip perdalam ciuman mautnya dengan memasukkan lidahnya. Strawberry, Vannila. Ahh, rasa favorite dari keduanya telah bersatu sekarang. Dan rasanya entah kenapa menjadi berkali kali lipat lebih manis, berkali kali lipat lebih nikmat. Hingga tidak ada dari keduanya yang bosan mengecap rasa saliva yang terkontaminasi perasa sintetis itu. Perasaan membuncah benar benar menguasai keduanya, tidak habis habis Apip menyesap dan mempermainkan lidah Ara dengan hebatnya. Bibir Ara sangat candu baginya. Hingga Apip bahkan tidak berfikir untuk melepaskannya. Ara yang tersihir dengan permainan bibir Apip yang luar biasa, memilih pasrah. Dan membiarkan Apip melanggar batas sucinya untuk saat ini.


Setelah bergulat cukup lama, Apip merasakan dorongan dorongan lembut dari seseorang dibawah kukungannya. Aah,, jangan dulu Ara. Belum cukup, Apip belum cukup rasanya. Tidak mengindahkan peringatan pertamanya, Apip kembali raih dua tangan Ara. Dan menguncinya dikedua sisi kepalanya. Apip benar benar tidak memberi Ara ampunan sedikitpun. Ia hanya melepas ciumannya satu detik untuk menarik nafas, dan ia satukan lagi bibir keduanya. Gila, Apip memang gila. "Mmh" Peringatan kedua, Ara menggerak gerakkan kedua tangannya yang terkunci dan meremat telapak tangan Apip kuat. Oh, okay. Apip menyerah. Benang saliva panjang tercipta ketika Apip menarik kepalanya, melepaskan Ara dari hukuman manisnya. Apip pandangi sejenak kekacauan indahnya, Dan ia usap bibir juga dagu Ara yang basah hasil perbuatannya. "Hhh sorry sayang" kata Apip sama sekali tidak melepaskan kukungannya, malah dengan santainya bermain dengan curtain bangs Ara. "L-loh nggselin bangeth"


"Sumpah, gue susah napassh" kata Ara masih berusaha mengatur nafas, detak jantung, juga nyawanya yang berantakan. "Hhh sorry" kata Apip lagi. Apip jatuhkan tubuhnya, dan ia sandarkan kepalanya diatas dada Ara. Tepat seperti Deon melakukannya kemarin. Puas rasanya, puas Apip membalaskan dendamnnya. "Apip bangsaaattttt lo bikin gue ketagihan anjinggg" —----- "Aduhh, pipp bibir gue lukaa" Ya gimana ya kak ya? Itu pacarnya rakus banget kaya singa ga mungkin lah kalo bibirnya ga luka /sumimasen "Hehehe, maap sayang" "Hadeeh, ini tar kalo ditanyain ama kakak gue jawab apaa begoo?" "Bilang aja digigit semut" Arghhh, Ara rasanya pengen remet remet itu bibir Apip. Ga solutip bangett, orang pacarnya lg panik malah bercanda.


"Hooh, semutnya gede namanya Apip" katanya judes. "Hhehehe. Udah ayo gue anter pulang" "Gue nginep aja apa yak?" Tanya Ara ragu, karena jujur ia takut kakaknya nanti akan bertanya tanya soal bibir bengkaknya. Ngga masalah kalo Deon ga marah, kalo marah? Aduhh Ara gabisa bayangin. Takut diterkam. "LOH BAGUSS" "Ga ada orang juga. Bisa lanjut kita" kata Apip semangat "Hah? Lanjut?" "Jadi sayang, kamu suka yang gimana? Vanilla atau rough, hm?" Damn, dalem ati Ara udah istighfar aja tuh. Apip dibiarin malah semakin menggila, dengan nakal dan seduktifnya, dia malah peluk pinggang Ara dari belakang, dan ia sandarkan dagunya di ceruk leher Ara. "Apip bajingaaannnnn" "Dikira gue kuat apa ya?" Dengan paksa Ara lepaskan pelukan Apip, dan menatapnya mengancam. "Anterin gue pulang, apa gue ambil piso sekarang?" Ancamnya "Wkwkwk engga sayang, becandaa" "Yakin gajadi nginep?. Dirumah ada kakak kamu loh" Mmm, Ara sih bimbang ya sekarang.


Ia sama sekali tidak diberi pilihan bagus, jika pulang ia mungkin diterkam harimau, jika tidak pulang, ia mungkin akan dihabisi oleh buaya. Oke. Lebih baik Ara diterkam harimau saja. "Bodooo, tar gue bilang lo maksa gue. Nanti kakak marahin lo wlee" "Playing victim ini sih namanya" "" —----- Benar kan? Deon yang sedang ada didalam ruang keluarga sekarang menatap Ara tajam, setelah menyadari bibir Ara yang bengkak dan terluka. Ayolah, Deon juga sudah 20 tahun. Dia jelas tau apa yang terjadi. "Lo apain adek gue?" "Tuh kak apipnya, masa aku dipaksa" "Hhhh beneran playing victim ni anak" "Dih, ade lo tuh yon. Mau" "Heh! Ngg-" "Helehhh, gausah alibiii" sahut Apip


"Hadehhhh, kamu ga papa de?" "Ga papa udahh, cuman gue icip doang bibirnya dikit" kata Apip santai *plakk 2 toyoran keras mendarat di kepala Apip bersamaan. Aduhhh, telinga Apip rasanya langsung pengeng. "Goblok" kata Ara langsung meninggalkan 2 laki laki itu pergi. Biarin aja si buaya yang diterkam sama harimau. "Lo paksa Ara beneran?" Tanya Deon mengintimidasi. "Kaga elahh, emang gue yang menginisiasi tapi ade lo ga brontak kok. Eheheheh kesempatan kan buat gue?" "Hhhahhh.. lain kali pastiin dia mau apa ngga, jangan main nyosor aja lo" "Hahah, iya iyaaaa. Tenang aja sama gue" "Tenang gimana, gue tau isi otak lo ya bangsat" "Gaberani gue, adek lo selalu ngancem mau bunuh gue. Serem anjir" "Ya gue juga. Kalo sampe ade gue kenapa napa. Lo jg abis sama gue" "Aduh seremnya kakak ipar"


"Dah sono pulang lo" "Hhahh.. iya iya. Jagain pacar gue" Deon sih cuma bisa menghela nafas. Bagaimanapun, adiknya itu sudah besar. Dia sudah bisa mengambil keputusan, dan menimbang resikonya sendiri. Deon akan tetap melindunginya, tapi bukan dengan cara melarang larangnya. "Hhhh, gue ga dimarahin kakak ternyata" "Tapi tetep aja anjirrrrr, jantung gue ga bisa kalem dari tadi. AAAAAAA" "Sumpah, Apip jago juga ternyata" "Bangsatlaaahhhh" Dah lah, ni kalo si Ara bisa guling guling sampe hongkong juga keknya bakal dilakuin saking saltingnya. "Gila, gue kira bakal ditonjok sama Deon. Eh ternyata kaga" "Lain kali bisa langgar batas suci lagi kalo gini mah, wkwwk" —-----


[22 : Terbiasa] "Aaaraaaa" "Aruuuyyyy" Sore Ara yang damai, dimana dia lagi enak enak dikamar, muter playlist hebohnya dia, sambil main game soalnya dia gabut, tiba tiba mendengar teriakan yang -bisa bisanya- mengalahkan speaker di kamarnya. "Jangan teriak bisa? Ara di kamar tuh" sambut Deon kesal soalnya dia lagi santai di ruang tengah mengerjakan project miniaturnya sama Jordan, dengan tiba tiba rombongan heboh sahabat Ara itu datang dan langsung membuat ribut. "Oyy, ngapain lu pada kesini?" "Kak jangan ijinin masuk kalo ga bawa mekdi" teriak Ara dari lantai dua, yang muncul dengan muka tengilnya. "Ada doongg, kita selalu apal paswordnya" kata Jidan sambil mengangkat tentengannya, membuat Ara semangat dan berlari turun ke ruang tengahnya. "Buat gue, ada juga ngga?" Tanya Jordan polos banget awkwkw "Ih, siapa lo? Beda sirkel kita" sumpah Kala tengil banget anjir. Ya Deon cuma geleng aja liat adik dan temen temennya yang heboh duduk di atas karpet dan menyebar berbagai jenis menu mekdi diatasnya.


Deon ama Jordan aja ampe kegeser dari posisinya semula gara gara mereka heboh mampus. "Mau ngga kak?" Goda Ara jahil. "Makan aja de, sampe kenyang" jawabnya datar. Padahal pengen mah iya. "Woy pejuang IPeKa, gue bawa amunisi nihh" Hahhh.. rasanya rumah Ara sekarang akan runtuh seketika. Dulu rumah ini selalu sepi, sunyi, seperti tak berpenghuni. Tapi lihatlah sekarang. Rumah besar ini seperti penampungan hewan liar, karena berisi manusia manusia berisik yang selalu membuat heboh di setiap menitnya. Kini, giliran Haje dan Apip yang muncul menenteng beberapa box pizza juga minuman dingin di tangan mereka. "Wizzz rame banget ini kaya pengajian" "Pada ngapain?" Tanya Haje random sambil duduk bergabung dengan sirkel Ara "Lah Apip? Ngga bilang mau kesini" sambut Ara. "Lo ga bales chat gue ya Ra! Gue beliin mekdi buat lo, eh ternyata malah udah beli sekebon" "Heheh, bisa gue makan dua"


"Heleh, lo 5 juga muat" "Wkwk" "Dahhh nihh, gue tambahin. Masih anget pizzanya, makan gih" "Tumben lo bae Je?" Kata Kala sambil mencomot sepotong pizza besar dan memakannya. Yah, mencium bau bau surgawi itu, Jordan dan Deon pun meninggalkan projectnya dan bergabung berkumpul memakan makanan yang 'tidak sehat' itu bersama sama. Dua sirkel bergabung menjadi satu, bayangkan betapa ramainya. —---- "Guys, can I say something?" Kata Ara dengan nada yang sedikit serius setelah obrolan juga candaan mereka yang sedikit mereda dan menarik atensi 7 orang lain disana. "Tolongin gue dong" "Gue pengen balik ke arena" "I mean, ya nonton, ya balapan buat asik asikan" "Gue pengen, melakukan itu lagi tanpa was was" "De-" "Ra-"


"I know it's hard guys. Tapi gue bisa pelan pelan" "Apip udah pernah ngajakin gue kebut kebutan berdua di arena. Dan gue ngga papa. Gue seneng banget, akhirnya gue ngga sendiri ke arena" "Lo sering sendirian ke arena?" Sambar Kala khawatir "Hmm, gue suka perasaan gue waktu kebut kebutan di arena. Walaupun gue selalu was was dan keinget kejadian papa, tapi gue ngga bisa lepas, gue selalu pengen balik lagi" "Lo yakin Ra?" "Lo yakin bakal baik baik aja?" Tanya Zidan memastikan. "Karena itu gue minta bantuan kalian" "Ayo, bikin gue terbiasa lagi sama arena" "Bikin gue terbiasa lagi menikmati balapan dan keramaian arena" "Gue kangen" kalimat terakhir Ara benar benar menggambarkan perasaannya, tatapannya yang menerawang kosong ke gelas plastik berisi cola di tangannya, begitu mengisyaratkan betapa jujur perkataanya. *brukkk "Iyaa, kita bakal bantu kok. Kita bakal bantu, tapi lo janji. Pelan pelan aja, jangan maksa oke?" Tubuh Ara hampir saja terjengkang kebelakang saat Caca dengan tiba tiba memeluk tubuh Ara erat. "Thanks ca"


"Heh! Ayo bilang kalian mau bantuin ara kan?" Tegas caca membuat para cowo yang masih diam terbawa suasana itu sontak kaget dan sadar dari lamunannya. "Iya siap gue mau diajak balapan tiap hari juga berangkat" -Haje "Tenang aja Ra, ada gue. Lo tinggal chat 'p balap' gue langsung siap di mobil gue" -Jordan "Iya, de. Pelan pelan ya?" Kata Deon lembut "Nah ntar gue bagian bawa popcorn buat nonton aja" -Zidan "Gue nitipp. Kue lapis" heboh Jordan "TENGGOOO JORR TENGOOO. BUKAN KUE LAPIS" kesal Haje. "Hahahahahh" Si apip mah bagian senyum aja, pacarnya udah mulai berani, mengungkap keresahannya, dan jujur dengan perasaannya. Ayo sedikit lagi, Sedikit lagi kebahagiaanmu benar benar akan sempurna. "Saatnya kamu berdamai dengan trauma mu sayang" "Kamu hebat" —------


Yah memang begitu keadaanya, kini sudah tidak mengejutkan lagi saat Deon datang bersama Ara, atau Zidan yang menumpang di mobil Jordan, atau Caca yang diantar pulang Haje, mereka benar benar tidak terlihat seperti dua geng yang berbeda. Keduanya melebur begitu saja. Dan berkat permintaan Ara, kini jadwal mereka untuk bermain balap menjadi lebih padat. Jika biasanya 2 kali dalam seminggu, kini bisa 3 kali mungkin.


Dan mereka akui, darah Bhagaskara mengalir dalam tubuh Ara. Hingga Ara pun begitu hebat menaklukkan arena. "Bagus de, tapi lain kali jangan ragu buat akselerasi di pertengahan belokan 4, disana emang sedikit tricky tapi kamu bisa" komentar Deon panjang seperti pelatih balap handal. "Iyaaa kakak aku yang paling jagooo" ejeknya, dibalas senyuman yang begitu manis dari Deon. "Gimana Jor, kalah dari Ara?" Ejek Kala karena Jordan memang terlambat 2 detik menyusul dibelakang ara. "Wkwk, salah perhitungan gue" "Tolol sih lo" sambar Apip. "Wkwkwk" Berkat mereka, Ara kini telah terbiasa kebut kebutan di arena dengan 5 mobil yang membersamainya. Berebut aspal dan saling mendahului satu sama lain. Sudah jelas yang terakhir pasti Kala. Gaada basic balapan sih, tp pengen ikutt aja wkwkwk —---- "Yon ade lo gue culik dulu" teriak Apip sambil menarik tangan Ara pada Deon yang sedang duduk santai.


Tanpa menunggu balasan apapun, Apip benar benar membawa pergi Ara, menggunakan mobilnya dan meninggalkan arena. "Kalo gue jadi lo sih, bakal gue buntutin tu berdua. Gapercaya gue ama Apip" kata Kala yang kini juga menjadi salah satu makhluk yang duduk bersama Deon. "Biarin aja, udah pada gede juga" jawabnya santai. "Kalo ade lu diapa apain gimana?" "Tinggal gue apa apain balik si apip" "Wah maennya balas dendam. Serem" —---- Sedangkan dua makhluk yang sedang kabur meninggalkan teman temannya itu malah menikmati udara malam yang berhembus masuk melalui kaca mobil yang mereka biarkan terbuka. Moonlight - Dhruv Setiap detik mereka terasa begitu hangat, apalagi dengan alunan musik lembut yang dipadukan suara khas dari penyanyi kelahiran india, membuat keduanya bernyanyi kecil dengan senyuman di bibir mereka.


Tidak jauh memang perjalanan mereka, buktinya sekarang, Apip sudah memarkirkan mobilnya di sebuah kafe yang memiliki pemandangan city light yang apik. Kafe itu tidak begitu ramai sekarang, karena memang waktu sudah cukup larut. Tapi, Apip mah manusya malem kalo kata bunda. Jadi ya jam segini masih sore bagi dia. "Ngapain dah pip kesini malem malem gini?" Tanya Ara penasaran setelah keduanya mengambil duduk berdampingan menghadap tepat ke pagar, dengan sajian lampu lampu kota memenuhi pandangan mata mereka. "Ya gapapa, jam jam segini pemandangan disini lagi bagus bagusnya" "Citylight nya bagus, bintangnya pada terang, yakan?" Memang benar. Bintang dan citylight di hadapan mereka saat ini adalah kombinasi yang sempurna. Ditambah minuman hangat yang mereka pesan, membuat suasana semakin sempurna. "Lo sadar ga sih pip, kalo tiap kita lagi duduk berdua liatin langit gini, bintangnya pasti terang banget" katanya masih dengan menerawang ke angkasa. "Iya sadar. Kata lo mereka lagi jadi penonton kita" "Huum, kayak kita tuh direstui banget sama semesta" "Makanya, tiap kita lagi berdua semesta buat langit jadi seindah indahnya" "Sia sia sih semesta begitu"


"Kok??" "Soalnya yang indah tetep lo" "Ish, ga mempan gombalan lo" "Kampret lo emang" "Btw Ra, semester depan, bakal ada turnamen lagi, abis masa kkn selese" "Klen gila apa yak? Udah semester tua ege, proposal nohh kerjain, bukannya malah balap mulu" "Emanggg wkwkw" "Dan karena kakak lo udah menang taun lalu, dia gabisa ikut lagi" "Kayaknya, gue bakal turun buat makilin teknik" "Hahh? Kan lo taun kemarin juga kedaftar driver" "Iya, tapi gue kan ga turun, karena udah ada Deon" "Ngga papa kan yak?" "Ya ngga papa sih, asal lo nya ati ati." "Kalo gue kenapa napa, lo bakal gimana?" "Mulut lo yaa anjir, jelek banget ngomong" "Kan gue bilang kalo"


"Ya jangan sampe lah gila" Apip pandangi wajah kekasihnya itu dari samping. Rautnya benar benar khawatir. Setakut itu Ara, jika apip kenapa napa. Bukannya sembuh, malah yang ada makin parah itu traumanya Ara. "Gue bisa ngga ya pip?" Tanya Ara yang kini menatap nanar lampu lampu kota dihadapannya, mata itu, memang akan selalu jujur terhadap perasaannya. "Sini deh" tidak menjawab pertanyaan dari sang kekasih, Apip justru malah bergeser mendekatkan kursinya, dan menepuk bahunya. Mengisyaratkan Ara untuk bersandar padanya. "Sebenarnya, apa yang kamu rasain kalau nonton balapan?" "Was was" "Coba cerita yang bener" "Ya, aku selalu berdoa aja semoga ngga akan ada kecelakaan seperti papa" "Ketika aku masuk ke arena, trus denger sorakan orang orang, aku langsung inget, dibayanganku langsung suara orang orang yang teriakin nama papa, sesaat sebelum dia kecelakaan" "Jantungku selalu deg degan kenceng, kalo liat balapan dari tribun, karena waktu itu, aku liat dengan jelas gimana papa kecelakaan dari tribun"


"Hmmm" "Dan saat ada kecelakaan, kamu selalu ketrigger gara gara kejadian papa?" "Iya" Cukup sulit sepertinya memang, sebuah trauma tidak akan bisa hilang begitu saja. Prosesnya akan selalu sulit dan panjang. Setahun Ara mencoba untuk membiasakan diri dengan hadir di pertandingan pertandingan balap casual dari geng kekasihnya. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa perasaannya belum bisa leluasa. "Aku bakal baik baik aja" Satu kalimat itu meluncur dengan begitu halusnya dari bibir Apip, membuat hati Ara terasa seperti diremat kuat karena pernyataannya yang tiba tiba. "Percaya sama aku sayang" "Percaya kalau aku akan baik baik saja. Bisa?" Percaya ya? "Pip, dulu aku juga percaya sama papa. Tapi papa lukain kepercayaanku trus pergi ninggalin aku" Kalimat yang keluar dari bibir Ara itu sempat membuat Apip membeku. Sedalam itu rasa kehilangan kekasihnya, dan itu masih bertahan sampai sekarang atau mungkin selamanya.


"Kalo pacarmu ini bisa dipercaya kok" katanya percaya diri. "Hhh, iya kah?" "Bisa dong, calon mantunya seorang bagaskara, calon papa dari cucunya bagaskara ya jelas bisa dipercaya soal balapan mah" "Tapi, bagaskara sendiri malah meninggal di arena" Skak mat. Apip bahkan sampai terdiam. Bukan begini maksudnya, bukan itu yang Apip ingin dengar dari kekasihnya. "Kamu, sayang aku kan pip?" Tanya nya serius dan menatap lurus tepat di iris indah yang begitu mudahnya membuat seorang Ayyara jatuh hati. "Don't even ask" jawab yang ditatap singkat "Then, don't break your promise. Just like my father did" "Sayang, aku ngga akan janji ke kamu. Tapi aku bakal buktiin, ga semudah itu maut atau apapun itu misahin kita" "Apip serius ih" "Serius sayaang, nyawaku lho ada sembilan" "Yeuu, kucing lo?"


"Intinya kamu tenang aja, serahin semua ke pacarmu ini. Kalo aku menang nanti kamu harus kasih hadiah" "Loh kok jadi aku? Maksa lagi" "Iyaaa dongg, minimal kasih kiss lah. Masak punya pacar ganteng skill cipokannya bintang lima gini disia siain" "Ihhh apaasihhh" Ya jelas siapa yang ga malu kalo digituin yakan? Mana Ara langsung keinget lagi gimana hebatnya apip memainkan bibirnya. Jadi merah deh pipinya. "Hahahah, gausah sok imut malu malu gitu. Lo mau kan sebenernya" "Sst diem" "Awkwkkwk, oke ntar kalo gue menang kasih kiss ya? Fix pokoknya" "Ngga" "Loh kok?" "Kalo kamu baik baik aja, ngga ada luka sedikitpun. Baru aku kasih kiss" "Hhhh, Araa Araa. Boleh ngga si kalo gue hap aja lo sekarang? Lo tuh gemess banget" "Okeee deal"


"Gue beneran percaya sama lo pip. Kali ini tolong jangan lukain kepercayaan gue" "Gue beneran takut kalo sampai ada kecelakaan, baik itu orang lain ataupun lo" "Gue rasa gue ngga akan kuat" —-----


[23 : You Did it]


Drama per-kkn an para mahasiswa akhir ini telah usai. Kini saatnya mereka beraksi lagi. Geng balap sejak 2 minggu lalu sudah disibukkan dengan persiapan turnamen mereka yang akan segera digelar. Dengan Deon sebagai ketua turnamen besar itu karena ia lah pemenang sebelumnya, dan diputuskan dia yang menjadi ketua selanjutnya. Turnamen yang semakin besar karena semakin banyak universitas yang berpartisipasi itu, akan segera dimulai esok hari.


Dan yah, tak ketinggalan juga Rafif yang akan ikut pada babak penyisihan besok, mewakili fakultasnya dan siap mengemban tanggung jawabnya. Persiapannya telah matang. Tichalla dalam kondisi prima, dirinya dalam kondisi terbaiknya, hanya kurang satu saja sebenarnya.. Apip udah senyum senyum aja tuh, Apip jelas hafal jika Ara sedang mandi dan membalas pesannya, maka ia pasti sedang berendam di bathup. Aaarggh, bayangan Ara memfoto kaki jenjangnya yang berkilau karena basah dan juga aksen busa disana sudah tergambar jelas di kepala Apip.


Tapi, sudah 15 menit lebih kekasihnya itu tidak juga membalas pesan ataupun mengirim gambar sesuatu padanya.


Click to View FlipBook Version