The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biar ngga gabut aja si sebenernya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 04:59:36

coccoons

biar ngga gabut aja si sebenernya

Gagal deh apip dapet pap mantab mantab hahaha Tapi tenang, semua persiapan Apip untuk laga pembuka terpenuhi dengan baik. Walaupun harus telat dikit ke arena soalnya Apip keasikan nge-hap si Ara, tapi ciuman singkat itu cukup memberinya energi untuk hari ini. —-- "Gimana yon?"


Apip telah selesai dengan balapannya, dan ia pun langsung menyusul teman temannya yang memantau dirinya dan menjadi saksi kemenangannya yang mampu ia dapatkan tanpa berusaha keras. "Good, pertahanin aja" "Lo menang dengan mudah kalo performa lo begini" "Anjaayyy, oke" "Cuman-" "-hati hati sama tikungan 5. Disitu lo perlu perhitungan lebih, dan jangan ragu ambil keputusan" "Ahh, iya. Gue juga sadar tadi rada miss disitu" "Biasain aja ntar diitung lagi" "Okee, Kaiipp" (kaka ipar) wkwkwkw Ara yang sejak tadi mengamati keduanya merasa begitu bangga. Dua orang terkasihnya ini sangat mengagumkan. Papa pasti juga bangga. "Sayang, you're doing good" sambut Ara pada sang kekasih yang kini duduk di samping dirinya.


"You too. You're doing good sayang" balas Apip sambil mengusap punggung tangan Ara yang terlihat tenang. Tidak ada rasa khawatir yang tergambar di wajahnya. Aranya, berhasil kaliini. "Hhh, thanks for keeping your promise" "Always. I will always keeping my promise" "Udaahhh udaahhhh.. bucin banget anjerr. Ini kapan mau makan ini?? laperrr" Emang sipaling ributtt, merusak suasana banget lagi mesra mesraan malah ngurusin peruuttt. "Iya deh, mending kita rayakan kemenangan pembuka si apip dengan mabokk?" Semangat Jordan menindak lanjuti celetukan Kala. "Gaada mabok" sambar Deon "Yahhhh.. masa gaboleh?" "Gaada jor. Mabok ntar kalo turnamen kelar" "Halaahh, yaudahhh" "Kalo gitu pece lele boleh gak?" "NAAHHH ITUUUU" Teriak Zidan tiba tiba.


"Kumat deh Jidan, kalo pecel lele semangat bangett" kata Caca cape soalnya Jidan tuh ga pecel lele ga life. "Yaudah gass??" "GAS" —----


"Sayaaang"


Panggil Ara begitu semangatnya pada Apip yang kini sedang mengamati tichallanya yang direparasi untuk pertandingan final besok. "Haai, loh kok nyampe sini sama siapa?" "Sendirian sih" "Kakak lo mana? Kata dia mau kesini juga?" "Lama banget dia ngobrol sama pihak arenanyaa bosen akuu" "Hahahah oke" "Gimana tichalla?" "Amaan, everything's fine. Lagi bagus bagusnya dia nih" "Manteb bangett emang" "Yaudah duduk sana dulu, apa mau di cafe depan?" "Sini aja deh" Mendengar keputusannya, Apip bawa sang kekasih untuk duduk di sofa yang nyaman sembari menunggu tichalla menyelesaikan perawatannya dari tangan professional. "Besok udah final aja ya?" "Hhh iya, cepet banget"


"Dan aku bangga sama kamu sayang, you're doing greattt. I'm so so proud of you" "Ini juga karena dukungan kalian semua, trutama kamu sama kakak kamu yang selalu kasih saran" "Kalo papa masih ada, pasti papa bangga banget ngga sih pip?" "Bangga lah" "Soalnya putrinya sekarang sudah tumbuh dengan sangat baik. Hebat ngelawan traumanya" "Maksudku itu ke kamu, ke kakak" "Bangga dong" "Masa punya calon menantu modelan Apip ga bangga" "Ihhh! Ngeselin jawabannya" "Hahaha, iyaa sayangkuu, Pasti bangga kok. Liat Deon yang jago banget gini pasti papa bangga" "Hhhahhh.. Pip, besok kan terakhir ya. Kalau traumaku ngga kumat sampe besok, berarti aku udah sembuh kan ya pip?" "Dan aku, boleh ikut balapan kecil kecilan ngga?" "Loh, kamu mauu?" "Mau, cuman masih takut"


"No. Kamu jangan khawatir sayang. Everything will be fine okay?" "Kamu jangan takut mikirin soal bakal ada kecelakaan atau ngga besok, jangan" "Kamu jangan takut sama trauma kamu, ya?" "I wish" "Bisaa, yokkk Ara ku bisaaa" katanya sambil memeluk Ara erat, berusaha menyalurkan seluruh energi kekuatannya kepada sang kekasih. Apip hanya ingin, kekasihnya ini tidak merasa takut terhadap apapun. Termasuk traumanya sendiri. "Thankyou sayang" —---- Hari penentuan itu pun tiba, kondisi arena saat ini tidak main main ramainya. Tidak hanya para mahasiswa yang mendukung jagoan mereka, tapi para masyarakat penikmat balapanpun tak ingin ketinggalan event yang begitu seru itu. "Ma, kita di tribun aja mau?" Tawar Ara pada sang mama yang ikut andil ingin menyaksikan balapan. "Hmm, iya sayang ngga papa" "Bunda sama keluarganya Apip udah pada disana katanya" "Iya okay"


"Dek!!" Teriak Deon pada sang adik yang hampir melangkahkan kakinya pergi dari ruang panitia setelah memberikan bucket untuk keberhasilan sang kakak. "Iya kak?" "Apip lagi siap siap di belakang" "Ohhhh.. hahahah oke" "Ma, tunggu bentar ya? Ara temuin apip bentar" "Oke sayang, mama tunggu disini" Ara pun berjalan menuju ke tempat dimana para driver sedang mempersiapkan kebutuhan mereka. Dan ya, ia melihat Apip yang sedang berada disamping mobil ayah, membawa beberapa barang kebutuhannya. "Gantengnyaaaaa, emang boleh ya udah punya pacar tp ganteng gitu?" "Oyy, kiw" sapa Ara jahil "Hahahah, heiii sayangg baru dateng?" "Iya, sama mama" "Wih, mama dateng?" "Iya" "Susulin aja ayah sama bunda, mereka ada di tribun"


"Huum, nanti aku gabung" "Sayang" apip yang mendengar nada serius itu memusatkan atensinya pada Ara penuh. "Iya sayang?" "Be safe ya?" Katanya lembut sambil menggenggam kedua tangan Apip erat, dapat Apip rasakan kekasihnya sedang khawatir sekarang. "Hei, remember our promise?" "I'll be safe, and you'll be brave. Remember?" Anggukan kecil menjadi jawaban dari pertanyaan Apip. Memang itu janji mereka, janji yang mereka ucap bersama dan mereka sepakati dengan ciuman hangat mereka. "I'll keep it sayang. Don't worry, okay?" "Okay" "Good. Now give me your energy just a little bit" "Ih, rame tau pip" "Hahah, apa harus aku seret kamu ke toilet lagi?" "Hell no. Nanti aku dimarahin panitia lagi gara gara kamu telat ke arena"


"Wkwkw kesian bener" *cup "Dah, nyicil dulu. Nanti kalo aku menang kamu kasih full versionnya" "Babay cantikkk" Apip langsung lari begitu saja setelah mencuri satu kecupan singkat di bibir Ara. Ara sih kaget ya. Dikit Udah mulai kebiasa soalnya wkwkk. "Hhhh, nyicil katanya" "Be safe love"


—-- "Loh kak? Kok ikut kesini?" Kaget Ara saat Deon ikut duduk disamping dirinya dan ikut bergabung menyaksikan balapan bersama dengan keluarganya dan juga sahabat Ara yang tidak jauh dari mereka. "Tugas kakak udah selesai" "Eyyy, ketua macem apa yang malah duduk di tribun begini. Keatas sana loh mantau"


"Sekali kali dek, pengen liat dari sini juga ngga dari kamera" "Hhh, iya deh terserah kakak" "Tapi, menurut kakak nih ya. Berapa persen pacar ade bisa menang?" "100 lah" "Wkwkwk emang iya?" "Iya" "Kalo lawannya kakak?" "Angka 1 nya ilang" "Hahahahahhaha, ngakak banget" "Syukurlah Ara keliatan tenang, i hope there is no car crash or anything that can ruin her day" Balapan dengan 5 peserta itu telah dimulai. Dan semua orang bersorak sorai menyemangati dan mendukung jagoan mereka. Tak terkecuali Ara, ia tak henti hentinya tersenyum dan ikut meneriakkan nama kekasihnya saat mendapati sang kekasih konsisten memimpin jalannya pertandingan. "Wowww, he's goood"


Semua orang mulai meneriaki nama Apip yang 2 laps lagi akan menjadi sang juara. Benar benar sedikit lagi, Apip akan membuat sang kekasih bangga, pun juga keluarganya. Papanya Ara, pasti akan bahagia juga kan? Tichalla melesat begitu brutalnya, sama sekali tidak memberi ampun lawan lawan yang mengikuti dibelakangnya. Bahkan, sejak tadi mobil berwarna merah dengan nomor 65 itu, sama sekali tidak bisa menyentuh bempernya sedikitpun. "Come on sayang, you can win this game" "I want to win this game" *brakkk. "ARA!" Deon yang berada di samping Ara pun spontan memeluk tubuh sang adik kuat. Berusaha menutup pandangannya dari apapun yang terjadi dibelakang punggungnya.


Tolong Tuhan. Jangan lagi. Deon tidak ingin adiknya ini kehilangan siapapun lagi. Termasuk kekasihnya. "RAFIF!!!" Nama itu, diteriakkan oleh bunda. Dengan suara lantangnya dan raut khawatirnya. "K-kak.. A-api-p?" "Everything will be okay dek, don't worry" "Please stay with me.. please" Ara lepas pelukan sang kakak paksa, dan… "APIPPP!" teriaknya panik ketika ia melihat mobil hitam kekasihnya itu terguling bersama mobil merah yang terus saja menempel pada tichalla. "KAKK! APIP KAK!" "TOLONGIN APIP KAKK!" "Iya, ade tenang ya? Udah ada ambulan disana, kita turun ya?"


"AYO KAK AYO" Disepanjang perjalanan keduanya mengikuti ambulan bersama keluarga mereka, tak hentinya Ara menyebut nama kekasihnya dan nama Tuhannya. Sungguh, tidak ada kata lain selain khawatir di benaknya. "APIP!!" Teriaknya pada Apip yang dibawa dengan cepat oleh tenaga medis ke ruang gawat darurat dengan cepat "A-ar-a?" "She made it? Hhh.. she's here" "You did it love" "Sayang sudah ya? Apip sudah ditangani sama dokter didalam. Ara jangan khawatir ya sayang?" "Tapi bunda, Apip-" "Hhh, sayangg.. Apip itu kuatt" "Anak bunda satu itu sangat kuat" "Bundaa, Ara khawatir" "Sayang, bunda mu benar kok. Apip itu anak kuat. Kalo ngga, Ayah ngga mungkin ijinin Apip ikut balapan" "Kamu jangan khawatir ya?" "Iya Ara, percaya dong sama Apip" sahut mama yang sejak tadi tidak berhenti mengusap punggung tangannya memberikn kenyamanan.


"Ma, Apip udah janji sama Ara kalau bakal baik baik aja" "Dia janji He will be safe and i'll be brave" "And he will keep it" sahut bunda dengan senyum hangatnya. Itu benar benar memberikan kekuatan, sungguh. —---- "Terdapat sedikit retakan di tulang kakinya, jadi pasien Rafif harus melakukan operasi kecil pemasangan pen" "Ada sedikit luka benturan di kepalanya, tapi itu bukan masalah sama sekali, tidak ada luka dalam yang serius" "Pasien tidak bisa balapan dulu untuk sementara sampai sembuh total" "Baik dok, terimakasih" Mendengar penjelasan dokter, memang tidak mampu membuat rasa khawatir Ara hilang begitu saja. Kekasihnya itu masih saja tertidur dengan damai diatas bankarnya. "Kamu, kenapa langgar janji?" —--- "Ara gimana?" Tanya sahabat sahabat Ara yang kini menyusul di rumah sakit dan menemukan Deon yang duduk di kursi lobby, menunggu disana karena lorong UGD yang tidak boleh terlalu ramai.


"She's okay" "Syukurlah" "Jujur gue lega banget denger Ara gapapa" "Iya Ca, Gue udah panik banget Ara bakal drop lagi. Tapi, gue kaget liat dia mau lari dari tribun tadi" "Sebenernya gue juga. Disisi lain gue panik karena Apip, tapi disisi lain gue juga bersyukur trauma Ara ngga kumat" "Rasa khawatirnya lebih besar dari traumanya" kata Deon singkat. "Dan dia melawannya" —---- "Nak?" Sapa Bunda ketika Apip berusaha membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke pengelihatannya. "B-bunda" jawabnya lemah "Hhh, how do you feel?" "Sakit lah" "Ga kapok emang kamu ya"


"Heheh, Ara?-" "Gimana bun?" "Dia lagi diluar, ada temen temennya tadi" "Dia khawatir banget sama kamu. Tapi dia baik baik saja" "Traumanya, tidak berani menampakkan diri" "Hhhh, i know. She's really made it" "Syukurlah" "Tapi tetep ya kamu tuhh. Hihhh! Kesel bunda" "Bisa ngga sih stop bikin bunda jantungan?" "Heheh, maaf bun" "Tapi kan ini bukan salah Apip" "Tetep ajaaa" "Kamu ngga bisa balapan buat berbulan bulan kedepan sampe kamu full recovery" "Yaaaahhhhh" "Sukurin" "Apip?" Suara yang apip sangat kenali itu menginterupsi obrolan ibu anak itu tiba tiba.


Dan saat itu juga, sang pemilik suara itu berlari mendekat ke arahnya diikuti oleh sang mama dengan muka paniknya yang justru terlihat lucu saat ini di mata apip. "You- okay?" "I'm okay sayang, hhhh don't worry" "Congratulation ya sayang." "Hah?" "You did it" "Kamu berhasil" "Huh?" "Janji kamu" "Kamu berani, melawan traumamu. Aku kemarin denger kamu teriak" "Itu berarti, kamu brrhasil kan?" "Kamu pikirr-" "Aku ngga hampir mati apa liat kamu begitu?" "Aku panik setengah matii ya pip" "Tapi kamu malah ingkar janji kamu, sekarang apa? kamu malah teluka begini" "Hhh it's okay sayang. i'm okay" "Jalan sama kamu juga masih bisa ini" "Brisik lu ah"


"Aku bangga sama kamu sayang" "Udah kamu diem dulu deh, biar cepet sembuh" "Aku ga bakal berenti bilang bangga sama kamu" "Mungkin, aku ngga berhasil memenangkan turnamen ini" "Tapi kamu-" "You did it, You really made it" "Dan sekarang trauma kamu-" "Telah kalah" Apip usap pipi yang sedikit gembil itu dengan tangannya. Apa yang apip katakan itu jujur, ia benar benar merasa bersyukur kekasihnya baik baik saja. Bahkan tak ada rasa kecewa atas kekalahannya, tak ada rasa menyesal atas ketidak berhasilannya. Karena nyatanya, kekasihnyalah yang memenangkannya dan kekasihnya telah berhasil, melebihi apa yang diinginkannya. "i love you soooo much" kata Apip alay "No. i hate you" "whaayy?" "Lo ngeselin" "Hhh, lg sakit juga pacarnya, minimal dimanja lah"


"G dl makasi" "wkwkwk" "Nak, terimakasih sekali lagi. aku tidak tau apa yang kau lakukan sampai mampu membuat Ara berani melawan traumanya" "Rafi.." "Anak Bunda beneran udah gede ternyata" —---


[24 : Pembalap Lambat]


Yap, Apip memang telah diperbolehkan pulang hari ini. Dan tak hanya Ara, tapi ketiga sahabat dari kekasihnya itu juga ikut andil dalam mengurus Apip yang terpaksa menggunakan kursi roda untuk sementara. Apip belum propesonal pake alat bantu jalan soalnya. "Kalian pada pulang sono" usir Apip pada ketiga temannya begitu straightforward. Gaada mekasih mekasihnya emg gue liat si Apip ini. Udah dibantuin malah ngusir.


"Elahh bilang ae lu mau manja manjaan ke Ara kan?" Julid Haje yang jelas paham tabiat Apip yang dengan menjijikkannya manja kepada Ara. "Yaiyalah, pacar gue ini" "Adek gue itu, jangan lo babuin" tegas Deon "Bhakk, nahlo dimarahin abangnya" ejek Jordan. Membuat Apip kesal karena waktunya bermanja manjaan dengan sang kekasih akan terganggu gara gara 3 manusia tidak tahu diri itu. Namun itu tidak lama, karena setelah dua jam mereka bermain PS hingga membuat keributan, mereka mulai bosan dan pamit untuk pulang kerumah masing masing. "Yaudah, kakak pulang dulu ya dek?" "Hmm, iya kak hati hati" "Kamu yang hati hati, awas di hap buaya" "Buayanya lagi lambat kak, gabisa gerak cepet dia wkwk" "Hhh okay" kata Deon sambil mengusap lembut kepala Ara. "Awas aja lu macem macemin ade gue" Ancam harimau kepada buaya yang sedang duduk dengan kakinya yang tertumpu diatas sofa. "Kagaa elah"


"Bagus" tutupnya lalu segera berlari menyusul Jordan dan Haje yang telah keluar rumah terlebih dahulu. Kini hanya tersisa keduanya, yang masih setia duduk di sofa panjang ruang tengah rumah Apip, dan keduanya mengisi keheningan dengan menonton acara tv yang sebenarnya tidak terlalu menarik. "Sayang, kamu kecewa ngga?" tanya Ara memecah keheningan tanpa menoleh ke Arah Apip yang kini terkejut. "Hah? kecewa kenapa?" "Kan, kemarin kamu ngga sempet finish?" "Ohh, hhh. engga lah" "Kenapa?" "Emang kenapa aku harus kecewa? udah biasa juga aku menang balapan" "Ihh, songong bangett" "wkwkw. Lagipula sayang, justru aku malah bersyukur" "Aku memang ngga memenangkan pertandingan itu, tapi kamu. Kamu malah memenangkan pertempuran besarmu" "Kau mengalahkan ketakutan terbesarmu. Itu membuatku bahagia melebihi memenangkan kompetisi apapun di dunia ini" "Aku beneran bangga banget sama kamu sayang"


Apip jujur mengatakannya, dan ia usap pipi lembut Ara dengan ibu jarinya. menunjukkan betapa besar rasa bangganya kepada kekasihnya. "Thankyou ya sayang" "Aakh" rintih apip tiba tiba membuat Ara panik bertanya kenapa. "Jantungku gejedar gejeder" Jawabnya jahil. "APIP IIIHH AKU UDAH PANIK KIRAIN KENAPAA" "Hahaha so cute" "Ara" panggil Apip "hm?" Arapun menoleh, namun bukan mata indah Apip yang menyambut tatapanya, justru mata itu terutup dan begitu dekat dengan wajahnya. Sedangkan bibirnya terkunci, karena Apip yang menekankan miliknya pada ranumnya. Perlahan lahan, bibir itupun bergerak lembut, menyesap kecil bibir bawah lawannya. "Baguuusss.. ditinggal berdua bentar aja udah di hap beneran" "Gue laporin bang Deon ahh"


Keduanya spontan kaget saat ada suara lantang bernada tinggi yang menginterupsi mereka. "Woy, anjir maen masuk aja lu minimal ketuk dulu" kata Apip menegur sipaling tidak tau moment itu. "Ya ngapain? udah biasa juga gue nrobos masuk" "Chello, jangan laporin kakak pliss" Rayu Ara pada sepupu Apip yang sangat jahil itu. "Traktir mekdi dulu baru tutup mulut" "Yelahh chell, lu kan bisa beli sendiri" protes Apip "Kita juga baruu aja tadi pesen mekdi" sambung Ara. "Oiya? emang pada abis dari sini?" tanya Chello "Iyaa" "Temen temen bang Apip, apa temen temen lo Ra?" "Temen Apip" "Ohh" "Heh, knp lu semangat gitu ngomongin temennya Ara?" "Ngincer Caca lo?"


"Wah ngaco" "Oh, jangan jangan ngincer kala?" "Makin ngaco lo bang" "Tu kepala beneran sengklek kayaknya" "Hooh, jadi makin bego" sahut Ara. —----- "Ra, ke kamar yuk?" Ajak Apip tiba tiba tanpa aba aba membuat Ara terkaget karena kata kata ambigunya. "Hah?" "Maksud gue, bantuin kekamar. Mau tiduran aja, pegel" "Ooh, ya ya" "Tapi bisa emang lu naik tangga?" "Ya mekanya bantuin ege" Setelah memanggil Chello yang sebelumnya berada dikamar yang biasa digunakan sikembar, Chello dan Arapun menopang tubuh Apip, untuk membantunya menapaki tangga menuju ke kamarnya. "Bang, bilang bunda deh. Sementara kamar lo pindah bawah dulu ampe kaki lo sembuh" Usul Chello.


"Iya pip, biar lo enak juga gausah naik turun tangga" "Hmm, iya. Tar ngomong ke bunda" "Yaudah, gue balik kamar dulu" "Awas aja lo berdua kalo gue sampe denger suara suara laknat, gue dobrak nih pintu" "Gerak aja susah Chell, emang mau ngapain" kata Apip lemas "wkwkkw yaudah. Kalo butuh apa apa gue dikamar ya Ra" "Yoi" Sepeninggal Chello, Ara dan Apip merebahkan diri mereka nyaman dan apip menjadikan paha Ara sebagai bantalnya. manja bgt heran gue. "Pip" "hm?" "I have something to say" "Apa?" "Bulan depan ada event balap, kecil sih. But, driver cewek boleh ikut" "U know that, i've already got my licence" "......" "Pip, do you think i can be a part of it?"


Sejujurnya Apip sangat terkejut saat ini. Bahkan ia sudah terbangun dari tidurannya dengan susah payah untuk menatap mata sang kekasih. Apip tatap mata itu dalam, dan Apip temukan disana, sirat rindu bercampur dengan rasa excited yang menggebu. Senyum terbit di bibir Apip. "Sayang, bisa. Kamu pasti bisa" "Tapi Pip, aku ragu…" "Apa aku bener bener siap?" "Selama ini aku selalu sendiri kan pip? atau sama kalian" "Disitu memang aku nyaman, tapi balapan?-" "Apa aku bisa?" "Apa traumaku, tidak akan muncul lagi?" "Sst.. sayang" "Kamu tuh bisa, aku yakin" "I've talked abt this with kakak juga. Dia juga bilang begitu" "But idk. Aku masih ragu" "It's okay sayang. If you need more time, take it. and I will be here, for you. always" Usapan lembut di pipi, diiringi senyuman hangat Apip itu sangat membuat Ara merasa nyaman.


Entah mantra apa yang membuat Apip selalu berhasil menenangkan hati Ara bahkan hanya dengan kata katanya. Emang bakat jadi kyai. "Pip" "Apa sayang?" "Ada spidol ga?" "Buat apaan?" "Adadehh" Arapun berlari menuju ke meja belajar Apip, mengobrak abrik stationery Apip untuk mencari benda yang ia inginkan. Dan ketika telah berada di tangannya, Ara kembali keatas kasur dan membuat Apip bertanya tanya, Si Ara ini mau apa sebenarnya. "Kamu harus janji cepet sembuh, nanti kalau aku jadi ikut balapan kamu harus nonton" Rasanya Apip pengen cepet sembuh sekarang juga, melihat Ara yang kini mengambil posisi telungkup dan dengan semangat mencoret coret gips Apip dengan spidol ditangannya. Entah apa yang dilukis gadis dihadapannya itu, yang jelas kini kekasihnya itu terlihat begitu bersemangat.


"Iya sayang, nanti aku nonton. Paling depan" "Hihihi, udaaahh" Ingin rasanya Apip tertawa kencang melihat gambar hasil karya Ara di gipsnya itu, apa apaan? Dia cuma gambar manusia lidi doang aja lama banget, mana ga proper lagi. Dan tulisannya cuma 'cpt smbuh' doang astagaa. "Wkwkwk itu manusia lidinya kaya ga makan sebulan, letoy" "Susah loh pip, kan ga rata permukaannya" "Wkwk alesan ae lu, jele mah jele aja" "Ngejekinnn teross" "Wkwkkw iyaa maap, semangat sembuh nih abis ini" "Harus lahh wkwkkw" —---


Pagi hari, ketiganya telah sampai di kediaman Apip. Setelah selesai membantu Apip hingga duduk didalam mobil memasang sabuk pengamannya, kini keempatnya melesat membelah jalanan menuju kota yang harus mereka capai dengan perjalanan hampir 6 jam. "Penangkaran kupu kupu?" Tanya Haje heran saat keduanya sampai di screen house yang begitu besar dan indah.


"Hehe, iya. Ayok dah ke kantornya" Setelah memasuki bangunan yang berada tak jauh dari screen house itu, keempatnya disambut oleh seseorang paruh baya yang begitu ramah dengan seragamnya. "Maaf ibu, bisa bertemu dengan bu Rani?" "Ah, bu Rani sedang ada di screen house mas, ada yang bisa saya bantu?" "Oh, saya Rafif, kemarin sudah menghubungi bu Rani soal adopt cartepillar" "Oohh iya iya, kalau begitu bisa ikut saya menyusul beliau ke screen house mas" "Baik bu" Mengikuti langkah petugas tersebut, ketiganya dibuat terpesona dengan screenhouse yang penuh dengan berbagai jenis bunga warna warni dan kupu kupu yang beterbangan kesana kemari. "Bu Rani, maaf ada yang mencari" "Siapa?" "Oh, nak Rafif. Apa kabar?" Sapa bu Rani setelah menoleh dan menemukan Rafif juga teman temannya. "Baik bu"


"Aduh, kenapa ini kakinya?" "Hehe, kaya dulu bu" "Astagaa kamu ini" "Oiya bu, ini temen temen Rafif" Ketiganya yang merasa diperkenalkan pun mengulurkan tangan mereka sembari menyebutkan nama mereka. "Oh, ini temen temen balap kamu ya?" "Iya, yang Rafif pernah ceritain ke ibu dulu" "Hahhaha, pada ganteng genteng ini. Bikin boyband aja" "Wkwkwk ngaco ibu mah" "Oiya, yuk udah ibu siapin cartepillarnya" "Oke bu" "Bu Rani, ini beneran bisa di adopt ya uletnya?" Tanya Jordan penasaran. "Iya nak, bisa. Dan karena kami harus memantau cartepillar yang keluar dari penangkaran ini, jadi kami harus memakai sistem adopt seperti ini" "Oooh, ngga bisa sembarangan gitu ya bu?"


"Jenis favorit Rafif ini agak susah kalau tidak diperhatikan dengan benar nak" "Oooh" "Nah sudah. Dijaga dengan baik ya cartenya" "Dan, semangat ya anak baik" kata bu Rani begitu lembut dengan senyuman tulusnya. Beliau usap kepala Apip penuh kasih sayang dan Apip balas semua itu dengan genggaman tangannya yang erat pada telapak tangan wanita seumuran bundanya itu, dan ia kecup perlahan. "Makasih ya ibu, Rafif bakal bawa hasilnya kesini" "Hahaha iya. Ibu tunggu" —--- "Pip itu ulet buat apaansi?" Tanya Jordan penasaran "Mau gue kasih ke Ara buat kado, kan gue udah bilang" "Emang si Ara ga takut?" "Wkwk kaga, dia tu cuma takut ama kodok ama cicek doang" "Loh iya?" Tanya Deon "Iyaaa wkwkw, masa lo gatau?" "Kalo cicek si tau, kalo kodok gatau"


"Hahah, dia tuh paling anti ama kodok. Pernah gue ke agrowisata ama dia, kita diajarin nanem nanem berani banget dia pegang cacing. Tapi, pas dia denger suara kodok, dia langsung ngefrezz mukanya panik banget trus dia kabur ga berani ke lahan lagi wkwk" "Wkwkw lucu banget ade gue" "Pacar gue itu" "Pip, jujur sama gue lo punya hubungan apa sama bu Rani?" Tanya Haje berubah serius "Hah?" "Kenapa kayaknya lo deket banget sama beliau? Lo sering kesana?" "Wkwk iye" "Dulu" "Pas lo ikut bunda sama ayah lo?" Tanya Jordan "Iyee" "Gue mau nanya serius" tanya Haje lagi "Kenapa?" "Hhh-"


—-----


Ara yang diberi kejutan tiba tiba itu benar benar tak habis pikir. Kakaknya, kekasihnya, juga teman temannya membuat Ara tak berhenti tertawa karena tingkah mereka yang absurdnya luar biasa. Entah konsep apa yang mereka anut saat ini, namun mereka membuat istana negara seperti taman bermain sekarang. Ditambah dengan kehebohan mereka yang luar biasa. Merekapun menghabiskan malam dengan penuh keseruan, dengan perut mereka yang ikut penuh pula.


"Ra, gimana? Jadi daftar ngga? Bulan depan buka loh" kata Haje membuka obrolan dengan menyinggung Ara dan rencana balapannya. "Iya nih Ra, kesempatan. Gue yakin lo bisa menang" timpal Jordan. "Idk guys, i'm not sure" "Ngga papa dek pelan pelan" "Iya Ra, kalo belum yakin pending dulu aja. Tapi kalo udah yakin ayok gasss" semangat kala. "Thanks guys, gue pikirin dulu deh hehe" "Semangaat Aaruuy" kompak Jidan dan Caca membuat mereka tertawa. "Tenang saja sayang, aku tau kamu sebnarnya berani" —-- Semuanya telah tertidur, tersebar dimana mana hahahah. Kecuali caca yang kini tertidur damai diatas kasur yang biasa Jordan gunakan untuk hibernasi. Sedangkan yang lain, entahlah. Mereka tidur di lantai, di kursi, di sofa, dimanapun. Mereka sudah mabuk berat gak kuat. Sedangkan Apip dan Ara, kini dua duanya duduk teras istana negara. Dengan kandang yang cukup besar dan satu pot tanaman di dalamnya. "Ini ulet pip?"


"Hooh wkwkwk" "Lo dapet dari mana dah?" "Beli sihh, lucu kann?" "Luucuu, gue kasih nama James deh" "Hehh James tu punya gue ya? masa punya gue lu samain sama ulet?" "Lah, sapatau mirip?" "Engga lah, punyaku bentuknya ga gitu?" "Awowkwok, yaudah james kecil" "Anjir sama ajaa" "Tapi yaudah deh gapapa" "Hhhh" "Nah, itu kamu pelihara ya? Dijaga" "Lucuu bangett" "Thankyou sayang" "Happy Birthday sayang" “Hhhh”


"Semoga james kecil bisa melakukan tugasnya dengan baik. Sama seperti yang mereka lakukan padaku" —-----


[25 : Coccoons]


Selama hampir 3 lebih dari 3 minggu Ara memusatkan atensinya pada makhluk yang ia beri nama James kecil itu. Bahkan hingga saat ini, dimana James tidak bergerak sedikitpun saja, Ara masih saja setia mengamatinya. “James, emang kamu ngga laper? Ngga engap?” tanyanya tanpa jawab. Berhari hari Ara menunggu, menunggu James kecilnya berkembang. Dan terkejutlah Ara ketika ia menemukan kepompong James yang telah rontok dan tergeletak di tanah.


“Loh? James?” “James kenapa Ra?” tanya Apip yang langsung bergerak cepat menyusul Ara saat ia mendengar teriakan Ara. “Pip, James udah berubahhh” katanya haru, dengan mata yang berkilau karena air mata yang menumpuk di kelopak matanya. “Cantik bangettt” “Hhh, cantik kan?” “Iyaa, tapi kasian pip. James pasti laper banget ga si? Kan dia berhari hari ga makan gara gara jadi kepompong?” “Iyalah, yaudah kalo gitu ayo ikut gue” “Kemana?” “Ada deh, ntar juga bakal tau” Dengan usaha keras, Ara dan Apip kini menuju ke lokasi yang Apip arahkan. Yah, karena saat ini Ara yang menyetir sambil membawa kandang James di bagasi mereka. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Ara memarkirkan mobil pajero sang mama di sebuah taman yang berlokasi di lembah bukit. Dan taman itu anehnya sangat sepi, padahal begitu cantik dan luas. Sangat cocok untuk anak anak bermain layang-layang disini.


Setelah membantu Apip turun dari mobil dan membawa kandang James untuk turun pula, Ara menyusul Apip yang duduk di salah satu kursi disana memandangi bunga-bunga yang cantik dan bermekaran dengan begitu indahnya. “Gue mau nanya lagi” “Lo, tau tempat kaya gini dari mana coba pip” “Gampang, kan gue Apip the explorer” “Awkwkw, ngaco” “Trus, intinya ngapain kita disini?” “Buat James” “Huh?” “Kita lepasin James disini, ya? ” Begitu Apip mengatakannya, Apip mampu menangkap sirat tak rela dari mata Ara. tidak tega sebenarnya, tapi James tidak akan bertahan lama dalam bentuk kupu-kupunya jika ia terus terusan di dalam kandang itu. Sudah saatnya bagi James untuk memamerkan sayapnya pada dunia. "Pip, kenapa lo kasih gue ulet?" Tanya Ara tiba-tiba saat keheningan melanda keduanya. Ada satu pertanyaan di benak Ara, sebenarnya apa tujuan kekasihnya memberi ulat lucu itu jika akhirnya akan dilepaskan juga? Ara


kira, ia akan terus bisa memandangi keindahan dari James yang selama ini ia tunggu. Tapi, kenapa malah Apip ingin ia melepaskannya? "Soalnya lo anak teknik lingkungan, lo pasti bisa ngerawatnya" "Tolol, gue teknik lingkungan bukan peternakan ya babi" "tapi buktinya bisa tuh, dia udah jadi kupu kupu sekarang" "hmm, iya ya? cantik banget lagi" "Mirip sama kamu" "Lah? aku mirip kupu kupu?" "Hooh, selama ini kamu terkurung didalam kepompong kaya james. tapi sekarang, kamu sudah sempurna, sayapmu sudah terbentuk seluruhnya, kamu bisa terbang sekarang" Begitu Apip menyelesaikan kalimatnya dan menoleh kearah dirinya, Ara hanya mampu terpaku ketika menatap mata berbinar itu. Apa katanya? Sayapnya telah sempurna? "hm?" "coba buka tutupnya" Ara pun menuruti perintah Apip dan kini mendekat ke arah kandang yang selama ini menempati pojok kamarnya itu, dan ia berjongkok untuk sekedar


Click to View FlipBook Version