The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biar ngga gabut aja si sebenernya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 04:59:36

coccoons

biar ngga gabut aja si sebenernya

"Udalah yukk, cari tempat lain ajaa" perkataan tiba-tiba Caca disampingnya, berhasil memutus lamunan Ara. "Gamau Caa, disini enakk, deket panggung nanti kalo mulai larinya deket" "Hhh cute. Ini kesempatan gue" "Sori dah ya, tapi tadi pas gue kesini bangkunya kosong yaudah dong berarti bukan salah gue. Kenapa ditinggal tempat duduknya" akhirnya jawab lelaki itu sewot setelah sadar dari acara speechless nya. "Tapi kann tadi.." "Udah yuk cari lagii ajaa" Kata Caca memutus kalimat Ara karena, yaah masa mau adu bacot sama orang asing? Gaenak lah. "Kita yang cari lagi aja yuk bang?" Kata lelaki lain yang duduk bersebrangan dengan lelaki bermata indah itu. "Males ah maa.." "Tuhh fox dengerin temen lo, cari tempat duduk lain sana!" "fox?" Tanya laki laki itu heran "Anjir keceplosan" ya gimana lagi, Ara udah dalem ati kasih dia sebutan soalnya matanya bener bener menarik perhatian Ara.


"Eh.. emm yaudah gue aja yang pergi. Yok Caa" kata Ara gugup sambil menarik lengan Caca. Namun, "Oke, lo aja yang disini gue yang pergi. Galak banget kaya anjing." Katanya dengan nada sewot sambil meraih lengan Ara untuk ditarik dan didudukkan di kursi yang sebelumnya memang telah ia duduki. "lo bilang gue kayak anjing?" Teriak Ara kesal sambil menatap punggung lelaki rubah yang melangkah pergi itu dengan sebal. "hmm, cute" Katanya pelan namun bisa didengar sepupu yang berjalan disampingnya, dan hanya direspon dengan gelengan tidak heran. "Gausa ribut knp sii Raa?" "Ya dia sewot gituuu" "Ya tapii dia bener, kita harusnya ga ninggalin tempat duduk di keadaan rame begini. Orang mejanya jg gaada tulisan dilarang duduk disini." "Ko lo jadi belain diaa si?, kalo kita ga duduk disini kan jauhh Caa yang kosong " "Serah lu dah" Pasrah Caca pada akhirnya. Karena jelas ia tidak akan mampu beradu argumen jika dengan Ara. Acaraa festival telah mulaii, lagu-lagu band indie lokal telah dinyanyikann, 2 sohibi tersebut mulai berlari, namun mereka kalah cepat karena banyak yang mengincar front seat. siapa tau dapet pick dilemparr hahaha.


Kecewa ga dapet paling depan, pastiii. Tapii Ara sama Caca memilih pasrah dan jamming bersama. Yaahh walaupun si Ara yang lebih excited cenderung ribut saat lagu favoritnya dinyanyikan. Tiba di hampir penghujung acaraa, guest star yang ia tunggu tunggu telah naik panggung. Bersamaan dengan itu orang orang mulai merapat kearah depan dan membuat tubuh kecil Ara dan Caca itu hampir terhimpit. "Duh Caa, ga keliatan, sesek bgt lagi" "Tadi siapa minta depan?" "Biar keliatan Caa, lo tau mata gue kondisinya macem apaa" "Pake kacamataa egoo" "Tar gue kalo cuantik macem bella poarch gmn?" "Dih yang ada mirip bu megawati" "Wihhh dipasang di baliho muka gue" "hhhhh.. lucu" Begitu sang vokalis dengan gaya bernyanyinya yang ikonik mulai menaiki panggung, disitu pula Ara mulai heboh dan bernyanyi menyaingi guestar malam ini 4.20. Dia berteriak bernyanyi dari ternggorokannya menyuarakan seluruh isi hatinya Hinggaa.. Diam diam kubawa satu. Lagu favorit Ara dari band ini, mulai dimainkan. ia melompat lompat kecil kegirangan karena sungguh lagu ini sangat mengajak berdansa.


Tapi, euforianya dipaksa berhenti sejenak karena kesal saat tiba tiba ada laki laki berbadan tinggi besar bergeser kedepannya dan menutup pandangannya yang memang telah sangat minim. "Yahh bangsattt ga keliataann guee." Tanpa ada jawaban dari lelaki yang dia sindir, Ara berniat untuk menepuk pundak lelaki didepannya dan meminta untuk menyingkir. Sebelum telapak tangannya menyentuh pundak lelaki didepannya, pergelangan tangan Ara sudah dicekal oleh tangan bertanda lahir yang lebih besar dan ditarik dari kerumunan. "Ehh..ehh.. anjing bangsat. Gue diculikk, Caa Cacaa" Katanya sambil memberontak "Loh?" namun berontakan Ara terhenti saat laki laki pemilik tangan lebih besar itu menengok dan berteriak. "Chello jagain temennya dulu!" Teriaknya pada sepupunya dan hanya dijawab dengan acungan jempoll. "Mm Maaf, ituu temen gue mau dibawa kemana ya?" Tanya Caca tenang, karena sahabatnya itu membawa ponsel, dan dompetnya sendiri sehingga dia berfikir temannya tidak akan kelaparan. "Tenang aja, sepupu gue ga macem macem" Jawab laki laki yang diteriaki namanya sebagai Chello itu.


"Tau kok, dia suka ya sama temen gue tadi?" "Loh kok? Wkwk keliatan bgt ya?" "Speechless gitu liat temen gue ngamok" "First time gue liat dia begini, ngikutin cewek di konser ampe begininya" "Lah dari tadi ngikutin?" "Kita dari tadi dibelakang kalian, dengerin semua ocehan kalian. Dan sepupu gue ga berenti senyum sambil bilang cute" "Wkwk maaf yah kita berisik." "Hmm, gapapa hiburan juga buat gue" ucapnya sambil tersenyum manis. Dilain sisi dengan adegan tarik menarik. "Woiii fox, mau dibawa kemana sih gueee anjiirr, serem banget sih loo" Benar, yang sejak tadi menyeret Ara pergi dari kerumunan adalah laki laki yang sama yang Ara marahi beberapa saat yang lalu. "ssst, diem" ucapnya sambil berhenti dan balik badan saat mereka sudah sedikit jauh dari kerumunan, ke tempat yang sedikit lebih tinggi. (Ga sedikit siih, mereka naik pager setinggi badan Ara soalnya). "Naik!" "Jauhhh amattt mata gue miness begoo" Katanya menggebu gebu sambil berusaha duduk diatas pagar. Tentu saja dibantu sama Apip. Ya. Apip. Si fox itu, adalah Apip.


Begitu keduanya telah berhasil duduk diatas pagar, dan hening beberapa saat, tiba tiba atensi Ara direbut oleh suara yang masuk ketelinganya. "Diam diam kubawa kamuu, yang penting ku punyaa, satuuu~" itu yang Ara dengar, bukan suara mas Ari yang jadii fokusnya tapi suara lelaki yang duduk disampingnya. Lembut, tenang, dan indah. Itu yang dia dengar. Sangat kontras dengan suara mas Ari yang nyentrik dan unik. Ara terdiam. "Ngapain loo natep gue gitu?, gue tau suara gue enak. Gue juga ganteng. Gaperlu melongo gitu" "Dih, apaan lo, gak, gaada" katanya sambil kembali melihat kedepan menikmati sisa lagu favoritnya. (Dalam hatinya ada 1 bunga mekar, iya hanya 1) "Katanya duduk disana biar bisa lari ke barisan paling depan? Apa tuhh tetep aja dibelakang, ketutupan lagi, kecil sih." "Lo bisa ga si gausah berisik? gue lagi menikmati lagu bagus tau gaa, suara lo ganggu bangett." "Lo juga tadi disana berisik, ngoceh mulu"


"Lo ngikutin gue yaa? Serem bgt si loo, shu shuuu jauh jauh pedopil lu ya?" Ucap Ara random sambil menggeser bokongnya menjauh dari Apip. "Gila, kaga ya anjir. Yakali gue pedopil." "Ni cewe random banget otaknya" "btw nama lo siapa?" Tanya Apip basa basi, saat keheningan melanda mereka dan hanya ada gumaman gumaman lagu yang masih 4.20 bawakan. "Gamauuu njir lo serem" "Apaansi lo? nama doang ini." Ucapnya dengan nada protess "Dari nama, lo bisa tau sosmed gue, kampus gue, rumah gue. Gila kali ya kasih nama ke sikopat kek lo" "Kalo gue sikopat, sekarang lo udah gue jorokin dari ni pager ye, sianjing." "Tuhkaannn, serem banget looo, jangan bunuh gue dong gue masi pengen idup, kuliah. Belom pacaran belom nikah, kaga mau guee." "Yaudah pacaran yok?" LANCARRRR.. NGALUSSSSS.. jago emang Apip kalo masalah ginian tuh. Skill playboy Apip emang gaperlu diragukan lagi. "Hahhh??? Gamau lo ngajak gue pacaran trus abis tu mau lo bunuh kan? Gaaa gue gamau"


Dan, apa yang lo harepin dari Ara? Manusya random macam Ara, apa yang lo harepin? Romantis? Helehhh. "Yah anjir, ketauan" jawab Apip main main. "Iiii serem banget" katanya sambil menggeser bokongnya ribut diatas pager hingga "Aakk.." Hampir saja Ara terjatuh dari pagar setinggi badannya itu jika lengan kekar lelaki sebelahnya itu tidak menahan pinggangnya. "Hahhh.. hahh.. hampir aja gue jatoh beneran" "Lo si usek muluu, kalo lo jatoh beneran, mati, gue suspectnya njing" "Sorii heheh" "Turun aja yuk? Jamming dibawah" Saran Ara yang mulai terbiasa dengan eksistensi Apip dan memilih 'asikin aja' sesuai semboyannya. "Hmm, bentar gue duluan yang turun" Setelah Apip berhasil mendarat dengan kakinya, tiba tiba Ara melompat dan menubruk badan laki laki aries dibawahnya yang tidak siap. "Anjir pelan pelan, gue belom kasi aba aba lompat" "Siapa yang minta bantuan buat nangkepin sih? Orang gue bisa turun sendiri"


"Serah lo dah njing" "yah gagal romantis" kasihan Apip. Sisa menit festival, mereka habiskan untuk berjoget dan bernyanyi bersama lagu penutup 4.20 yakni zona nyaman. (lagu sejuta umat) Sampai akhirnya Ara mulai melihat Caca, dan gadis itu berlari kearah sahabatnya yang berjalan mendekatinya. "Mmm.. asik bgt yaaa kalian" Kata Caca yang sebelumnya melihat dua manusia beda gender itu sedang asik bersama. "Hihi.. lo ga diapa apain kan sama temennya si sikopat ini?" "Haha ngga lah, dia kalem kok" "Iya udah, tenang aja. Aman temen lo" kata Cello meyakinkan Ara. "Dah yok pulang" "Okiiii.. yok." Kata Ara sambil berlari dan meninggalkan 2 laki laki tersebut tanpa "selamat tinggal" atau sekedar "bye" Dan Apip, hanya bisa tersenyum sambil melihat punggung itu menjauh hingga hilang dari pandangannya. "Mungkin sekarang aku cuma diam diam bawa kamu, tapi yang penting kamu bakal jadi satu satunya punyaku." Monolognya.


"belom belom udah bucin aja lo bang, siapa namanya?" Kata Cello yang udah ga heran liat sepupunya yang jiwa playboynya kayaknya mulai kumat. "Dia gamau jawab, walaupun gue sebenernya udah tau nama dia" "Dan ga cuma namanya, tapi gue bakal dapetin dia" wizzz Apip udah yakin 1000% tuh. Dah pede selangit. "Kumat lagi ni orang" "hehe balik yok" —--- "Betah bgt lo tadi, gue liat" "Kaga juga sii, dia flirty bgt. Tapi dia nyelametin gue tadi pas hampir jatoh dari pager" "Gila lo, ngapain siii ampe mo jatoh" "Ya orang dia seremm" "Untung masi idup lo Raa" "hihihiii" "Eh, namanya siapa Ra?" "Gatau, ga kenalan tadi"


"Lahh??? Kok bisa lo joget bareng ga kenalan?" "Abis dia seremm anjir" Lagi lagi Caca cuma bisa geleng kepala aja. Bisa ngga si, sahabatnya ini normal sehariiii aja? —--------


[5 : A Move]


"Oh, Rafif?" Ara yang sudah membuka matanya sempurna, dan mengumpulkan nyawanya untuk membaca chat dari sahabat sahabatnya itu, menyadari, bahwa laki laki yang bersamanya semalam adalah Rafif. Menurutnya, Rafif itu menarik. Tapi melihat beberapa kalimat Kala, Ara sedikit bertanya, emang seburuk itu ya track record anak balap soal hubungan? Belum selesai Ara berperang dengan pikirannya, notifikasi yang masuk ke handphonenya menarik atensi Ara.


Senyum tipis mengembang di bibir Ara. Ahh, jadi apa yang terjadi semalam itu belum berakhir? Atau justru yang semalam itu sebuah awal? Tapi Ara memilih untuk menahannya. Jangan langsung di folbek katanya sih. Biarin aja dulu.


—----


Beruntung sekali Apip mengambil langkah yang benar waktu itu. Sekarang, Apip tau next step apa yang harus Apip ambil untuk melancarkan aksinya.


"Hhhh, okayy mungkin gue emang harus usaha lebih lagi" Mendapat penolakan, tidak membuat Apip menyerah begitu saja. Itu justru memantik semangat juangnya lebih lagi. Tapi, ada apa dengan Apip? Biasanya dia tidak seberjuang ini untuk perempuan? Justru biasanya malah perempuan yang berjuang untuknya. Apa sekarang, karma datang pada Apip? Sehingga Apip harus merasakan yang namanya berjuang juga? "Ara, dia cuma seuprit playboy. Jangan terlalu overreact gitu jantungnya"


Bar yang terkenal dengan dj nya yang sangat seru itu, kini telah penuh sesak karena banyaknya mahasiswa Neo yang memenuhinya. Dentuman musik yang benar benar mengajak berjoget sejak tadi, membuat suasana disana menjadi begitu ramai. "Kaga joget lo?" Tanya Haje pada Jordan yang biasanya heboh sendiri menggoyangkan badannya brutal mengikuti aliran musik.


"Gakk, lagi encok gue" Remaja jompo problem emang ga jauh jauh dari encok :). "Wkwkwk, kek abis ngapain aja lo" "Ini kenapa kebanyakan isinya anak teknik dah?" Tanya Apip bingung, karena memang anak teknik mendominasi party ini, bahkan mungkin lebih dari setengah. "Memang, tahun lalu juga gitu" jawab Deon singkat. "Ohhh" "Kayanya si bahkan dari jaman kating juga gitu, emang anak teknik aja yang kebanyakan bangsat" tambah Haje. "Wuuuhuuu" "Piuwiitt" *prokprokprokk Kehebohan yang terjadi di lantai dansa menarik perhatian keempat laki laki yang duduk tenang dengan minuman di meja mereka itu. "Yang kalah, harus minum one shot! Ayoo!!" Sudah kubilang kan, kalau Kala, Zidan, Ara dan Caca adalah penguasa Party? Itu memang benar. Bahkan anak anak teknik tau itu.


Kehebohan yang mereka buat tahun lalu, memang banyak membekas di ingatan para peserta party itu. Dan kini, mereka berulah lagi. Zidan sudah bersiap adu panco dengan seorang laki laki dari jurusan arsi. Keduanya sudah saling menggenggam tangan dan dikerubungi oleh orang orang disana. "Satuu, duaa, tigaaa, startt" aba aba Kala yang memegang mic dan berteriak heboh. *brakkkk "Aanjayy Zidaaann" *prokprokprok "Itu, pada ngapain sih?" Memang yak, anak baru tuh kepo. Apa aja ditanyain. "Kala sama temen temennya bikin ulah lagi kali" jawab Haje. Haje pun masih ingat saat tahun lalu ia harus meminum banyak alkohol karena ulah Kala n friends. "Kesana yok. Lumayan tontonan" Apip berdiri dari duduknya, dan langkahnya menuju kerumunan diikuti oleh ketiga temannya. Apip temukan disana, Ara yang sedang berdiri disamping meja panco itu bersama teman yang menemaninya di konser kemarin.


Ia tertawa, begitu lepasnya. Bersama dengan orang orang disana. "Kenapa lo selalu cantik Ra?" "Oke, next lo milih siapa?" Tanya Kala sambil menyodorkan mic ke anak arsi, lawan yang Zidan kalahkan sebelumnya. "Gue mau cewe gue yang main" katanya pede. "Wooww, kiwww" "Oke oke, mana cewe lo? Lawannya?" "Lawannya, Ara" Ara yang namanya disebut pun terkejut dan menunjuk dirinya sendiri, seolah mengatakan 'gue? beneran gue?' Tapi, belum selesai Ara dibuat terkejut, lawan Ara yang telah disebutkan sebelumnya sudah siap diposisinya. Dan Zidan, sedikit mendorong tubuh Ara untuk segera bersiap di posisinya juga. Jelas lah Zidan balas dendam. Biasanya, dia yang jadi korban kejahilan Ara, biarkan sekarang dirinya gantian menjahili Ara. Ara yang mabuk, itu akan sangat lucu. *brakkk.


"Oke, Ara one shot" kata Kala yang tidak menyangka Ara akan kalah sebenarnya. Biasanya Ara hebat dalam hal ini, tapi tumben Ara lembek begini. Mmm, mungkin karena Ara sudah minum beberapa gelas tadi. Jadi, ia tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan benar. Ara menerima gelas dari Pacar lawannya dengan ragu. Bisa saja, ketika dia menandaskan segelas bir di tangannya ini. Kesadaran Ara akan benar benar hilang. *grp. Belum sempat bibir Ara menyentuh gelas besar itu, lagi lagi tangannya dihentikan oleh tangan bertanda lahir yang sama, yang pernah menggenggam pergelangan tangannya menghentikan pergerakannya. "Kala" kata laki laki itu datar, sambil menatap mata Ara dalam. "Boleh gue yang gantiin Ara minum?" Semuanya terdiam. Tidak ada dari mereka yang tidak terkejut. Tidak menunggu jawaban dari nama yang ia sebut, Apip merebut minuman di tangan Ara dengan satu tangannya yang lain, dan meminumnya sekaligus, tanpa melepas genggamannya pada pergelangan tangan Ara yang mematung. "Rafif! Rafif! Rafif!"


Sorakan mengudarakan namanya mulai terdengar riuh, mengiringi setiap tegukan Apip pada bir yang berjumlah tidak sedikit itu. "YYYAAAYYYY RAFIIFF" Heboh audience ketika Apip menyelesaikan tegukan terakhirnya dan mengangkat gelas besar kosong itu tinggi tinggi. "Udah kan? Sekarang lanjut" kata Apip, menyadarkan Ara dari sikap batunya. Dan lagi lagi, Apip tarik tangan Ara keluar dari kerumunan untuk yang kedua kalinya. "Araa!" Teriak Zidan dan hampir mengejar Ara, namun Caca menghentikan langkahnya dengan menarik lengannya. "Udah biarin dulu Dan" itu kata Caca. "Hhhahhhh… pipp apip" geleng kepala dah si Haje liat tingkah temen bocilnya itu. Dan memandangi punggung Apip yang berlari diikuti wanita cantik dibelakangnya. Begitu juga dengan Deon. "Hhhaahh.." —-----


"Duh, pip pelan pelan ege" kata Ara mengaduh karena Apip benar benar menariknya sambil berlari keluar bar, sama sekali ga mikirin kalo kaki Ara tuh lebih pendek dari punya dia. Ya gimana mau ngikutin coba? Akhirnya Apip mengehentikan langkahnya, saat mereka sudah sampai di taman kecil, yang berada tepat didepan bar. "Ngapain keluar sih?" Tanya Ara lagi, saat Apip sudah memutar tubuhnya, menghadap dirinya. "Didalem berisik" jawab Apip sambil menarik lembut tangan yang ia genggam dan ia bawa duduk di lingkaran kolam, dengan air mancur di tengahnya. "Ih, namanya juga bar pip. Kalo mau sepi ke kuburan sana" ya Ara mah nurut aja. Dan lagi lagi, Ara duduk disamping Apip dibawah luasnya langit yang bertabur bintang. "Hhh, tau darimana panggilan gue Apip?" "Username twitter lo Apip tolol" "Oh, iya juga" "Btw, lo kenapa nurut aja sih suruh main gituan?" Kata Apip memecah keheningan beberapa saat mereka. "Ya asik aja sih. Lagipula kapan bisa seneng seneng ampe gila kalo ngga di party?"


"Hmm, sering lo ke party gini?" "Iya, kalo ada yang ngajakin + nemenin sih gue ngga nolak" "Kenapa?" "Emang ada ya orang yang ga suka party?" "Ya, maksud gue. Kenapa lo suka party gitu? Biasanya kan orang gampang cape kalo ketemu banyak orang?" "Waktu gue ketemu sama orang, cuma kalo gue keluar rumah. Kalo dirumah gue sendirian. Dan gue gasuka sepi" "Hmm? Sendirian?" "Masuk yok, siapa tau didalem ngeputer lagu bagus?" Sambar Ara saat ia tidak mendapat balasan dari Apip. "Lo mau dengerin lagu?" "Hmm?" Ara menoleh saat ia merasakan gerakan tiba tiba disampingnya. Apip keluarkan earphone dari saku jaketnya, juga handphone ber case hitam miliknya. "Nih, play dari playlist lo aja"


Apip sodorkan handphonenya dengan aplikasi spotify yang sudah muncul di layarnya. "Apa aja nih? Gue punya banyak playlist random" "Serah lo, gue dengerin" Kini, ponsel pintar kepunyaan Apip, telah berpindah ke tangan lembut nan cantik milik Ara. Ara menelusuri beberapa playlistnya dan pilihannya jatuh pada playlist yang ia beri judul 'dance with yourself' dan tak lama, alunan musik tenang khas RnB terdengar di telinga keduanya. Easily - Bruno Major Seiring lagu itu mengalir di pendengaran Apip, sesuatu yang hangat juga ikut mengalir di hati Apip. Bulan yang sipit itu, tidak perlu bekerja keras menyinari wajah yang Apip pandangi saat ini. Karena wajah itu, telah bersinar dengan sendirinya. Membuat pahatannya begitu indah, dan mempesona. "Ra?" Panggil Apip pada pemilik wajah indah yang memenuhi pandangannya. "Hm?" Balas Ara sambil menoleh dan menemukan mata indah yang memantulkan cahaya bintang.


Mmm, atau justru memang mata itulah yang berbinar seperti bintang. "Wanna dance?" Ara balas pinangan itu dengan senyumannya. "Kalo mau dance lagunya bukan ini pip" "Hm?" Tatapan keduanya terputus, karena Ara kembali fokus pada handphone di tangannya. Dan detik kemudian, lagu dengan beat yang begitu kontras mengalun di pendengaran mereka. Shut up and dance - WALK TO THE MOON Lagi lagi, Apip singgungkan senyum terlebarnya. Memamerkan deretan giginya yang rapih. "Ayoo" Ara raih tangan Apip kasar dan ia tarik untuk berdiri dan melompat kegirangan. Keduanya bernyanyi dan melompat mengikuti alunan lagu yang hanya keduanya yang mendengarnya.


Jangan tanya kalo ada orang lewat ekspersi mereka gimana. Yang pasti menatap dengan tatapan aneh. Tapi mereka tidak peduli. Mereka berada di dunia mereka sendiri. Tawa tawa mengudara diantara mereka. Dan lagu itu ditutup dengan sempurna. Dengan kembang api yang meledak ledak riuh di hati mereka. Ets, Di langit maksudnya. "Happy new year Ara" "You too Apip" —------


[6 : Diam-diam kubawa kamu] "Eh, Ara dibawa kabur kemana sih belom balik juga. Udah lewat tengah malem ini ege" jujur Zidan mulai khawatir. Sejak kejadian tadi, Ara belum juga kembali. Dan bagaimana mereka akan menghubungi saat handphone dan tas Ara saja ada bersama mereka. "Aduh, iya juga ya? Tadi gue cek keluar ngga ada Aranya" kata Caca yang ikut khawatir. "Coba deh gue tanya ke temennya si onoh" Setelah menyelesaikan kalimatnya, Kala bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja yang diduduki 3 laki laki berwajah garang itu. "Woy. Temenlo bawa Ara kabur kemana?" Serang Kala tanpa basa basi ketika ia telah berhadapan dengan geng balap. "Wah iya anjir, temen gue bawa temen lo kabur setahun" jawab Jordan random banget. Yang justru membuat Kala semakin emosi. "Serius tolol" "Ya mana kita tau dah, orang dari tadi kita disini gaada yang buntutin mereka pergi kemana" Jawab Haje akhirnya. "Coba telfon Ara aja La" yakan? Emang Deon tuh solutipp "Hhahhh, hp Ara ada di gue. Kan tadi temenlo tiba tiba aja narik dia"


"Oiya?, yaudah gue telfon si Apipnya" "Bagus. Suruh dia balikin temen gue!" Ketus Kala. "Iyee elah, galak bener. Kek cewe pms" serobot Jordan. —---- "Ra, gue ngga tau kenapa gue bisa segininya sama lo." "Gue ngga pernah sejatuh ini sama orang Ra" "Tapi senyum lo Ra. Ketawa lo. Berhasil buat gue jatuh sedalam dalamnya" *triiinggg "Bangsattt, siapa yang ganggu gue anjing" "Gatau apa, gue lagi sibuk" Apip langsung ngereog karena dia yang lagi memandangi wajah Ara yang tertidur damai, diganggu dering handphone di kantongnya. Dan ketika Apip membukanya, tertera nama Deon disana. "Apasih ah" "Halo, apaa?" Kata Apip tersirat kekesalan disana "Lo dimana? Ara dimana?"


"Tidur dia" "Hah? Dimana?" "Disamping gue" "Bangsat, lo dimana?" "Wiss, sabar boss wkwkw. Ini gue diparkiran. Ara ketiduran di mobil gue" "Ohh, Ara dicariin temennya" "Iya anjir, gue mau anter dia pulang bingung kaga tau rumahnya, mana dia molor" "Yaudah, tunggu disana kita susul" "Iya" Tak berselang lama, terdapat ketukan brutall di kaca mobil Apip, dan ya tentusaja pelakunya adalah Kala. Siapa lagi. "Bangsat lo apain temen gue" teriak Kala begitu Apip turun dari mobilnya, dan langsung ditarik kerah bajunya tanpa ampun. "Sabar dong ah, ga gue apa apain sumpah. Tuh masih utuh dia" balas Apip santai, karena memang benar Apip tidak melakukan apapun. "Trus kenapa lo ga buru buru balikin Ara ke dalem? Kalian kemana aja hah?"


"Gue cuma ajak dia muter muter bentar" "Gue mau anter dia pulang, tapi dia malah molor. Kaga bawa hp pula, trus gue tau rumahnya darimana?" "Makanya gue balik kesini" "Sumpah lo ga ngapa ngapain Ara?" Cerca Zidan dengan nada seriusnya. "Sumpah demi tuhan" "Oke. Gue maapin lo kali ini, tapi lain kali gue gabakalan biarin lo" ancam Kala serius. Melihat kondisi yang tegang, Caca memilih untuk membuka sisi lain pintu mobil Apip, dan membangunkan Ara yang tertiudur pulas. "Raa, bangun" kata Caca lembut sambil menepuk pelan pundak Ara. "Mmmhhh" "Raa, ayo pulang" Kali ini berhasil. Ara membuka matanya perlahan. "Kenapa Ca?" "Ayo pulang" Ara mengedarkan pandangannya. Dan baru dah tu Ara inget kalo dia tadi muter muter sama Apip.


"Iya ayok" Ketika Ara turun dari mobil berwarna hitam pekat itu, ia disambut dengan tatapan jajaran laki laki yang memandangnya dengan tatapan yang berbeda beda. "Apanih? Gue kaya maling aja diliatin begitu" kata Ara bingung. *plakk "Aww apaan si Laa" aduh Ara saat tiba tiba Kala menabok lengan Ara yang nakal. "Nakal banget lo, pergi ga bilang bilang. Lo pikir kita ga khawatir hah?" "Kok gue yang dimarahin sih? Marahin Apip nohh, orang dia yang nyulik gue" "Udah. Udah dimarahin gue tadi" yahhh ngadu gak tuh si Apip. "Hihihi" malah diejek gak tuh sama si Ara. "Udah ayok pulang" Sekarang gantian Zidan yang narik tangan Ara kaya mak mak nyeret anaknya pulang. Lagi lagi Ara sampe ga sempet sekedar bilang 'bye' ke Apip. "Sabar ya bro. Kayaknya bakal susah lo dapetin Ara" Kata Jordan sambil mengusap punggung Apip dramatis.


"Iya bro. Temen temennya maung semua" dukung Haje. "Mereka bener Pip. Lo jangan macem macem sama Ara" Deon ikut ikutan tegas memberikan penekanan pada Apip. "Iyaaaa elahhh. Tenang aja lo pada" "Hhhahhh… kayaknya obstacle gue bukan cuma cinta lo Ra, tapi restu temen temen lo juga" —-----


Hahhh, namanya juga anak muda. Mau dihalangi oleh seribu alasan, mau dilarang oleh seribu orang, mau ditentang oleh seluruh dunia pun, tetep aja di trabass. And so Apip. Ancaman ancaman yang mengarah padanya tadi, sama sekali tidak membuat nyalinya ciut. Justru Apip akan semakin gencar menunjukkan bahwa Apip menginginkan Ara. Untuk dirinya. Apip, akan buktikan, jika dunia tidak berpihak padanya maka Apip akan membuat dunia menyerah atas kegigihannya.


—----


Diam diam, keduanya kembali bertemu. Tanpa sepengetahuan siapapun dari circle mereka masing masing. Masih trauma dua duanya dimarahin + diceramahin kemaren itu. Jadi mereka memilih untuk keep in lowkey aja, biar santai gaada yang ganggu. "Pipapippp kemana kita?" Kata Ara begitu manisnya. Aduhhh ini kalo begini mulu yang ada Apip diabetes anjir. "Mmm kemana yah?" "Loh, kirain lo udah ada rencana anjir" "Ada sih, tapi rada jauh, gapapa?"


"Seberapa jauh?" "40 minutes?" "Kay" "Lah beneran gapapa? Lo ga ada jam malem?" "Siapa yang bakal ngatur gue? Gaada." "Nyokap?" "Hh, mama jarang pulang. Sekarang aja dia lagi di luar kota. Mana tau dia gue kelayapan sama lo" "Ara beneran sendirian?" "Okeee. Gue temenin lo semaleman hahahah" "Wkwkwk, gass" Apip memacu mobil sipic hitamnya. Bukan tichalla ya, tichalla lagi istirahat tuh di garasi. Kemaren abis lari larian lagi soalnya sama anak anak di arena. Mereka menelusuri jalanan kota. Diiringi dengan convo convo yang benar benar takada habisnya. Ara ini jago sekali bicara. Apalagi lawannya Apip, yang juga pandai membangun suasana. Akhirnya keduanya membahas apapun yang ada di dunia.


Tidak ketinggalan juga, playlist Ara yang kali ini berjudul 'Ridin w you' terputar acak di audio mobil Apip. Jangan tanya darimana Ara punya playlist playlist ini. Ara sejak dulu memang begitu, selalu menyesuaikan lagu dengan suasana. Karena itu, Ara punya playlist untuk setiap kegiatannya. Playlist bersih bersih kamar aja lho, Ara punya. Apip pun tidak masalah, selera musiknya mirip mirip lah sama Ara, kecuali bagian lagu thailand nya aja. Apip yang random aja kaget liat randomnya Ara. And Apip be like 'sumpah masih ada yang lebih random dari gue?' Tak terasa, perjalanan 40 menit mereka telah menemui garis finish. Yang ada di pandangan Ara saat ini adalah, sebuah jembatan yang terbentang melintang diatas sungai yang besar. Jembatan itu sangat indah, dengan lampu lampu remang yang berada di tepinya. Namun, tak ada satupun kendaraan yang melintasi jembatan itu. Sehingga, banyak orang orang yang kini duduk di tepi jembatan dengan nyaman. "Lah pip? Ini dimana sih?" Tanya Ara saat keduanya kini telah turun dari kendaraan mereka dan mulai berjalan menyusuri jembatan "Lo ngga tau?" "Kaga, kok lo anak pindahan malah tau tempat ini?"


"Hahaha, gue lahir disini Ra" "Gila, di jembatan ini?" "Bangsatt. Kagaaa, maksud gue di kota ini" "Ohhh, lah selama ini lo kemana?" "Gue ngikut bonyok ke antah berantah, selama 4 tahun. Baru balik sekarang" "Awkwkwk, ngapain lo? Mencari kitab suci?" "Kera sakktiiiiii" lah malah nyanyi apipnya. "Awkwkwk, trus dulu lo sering kesini?" "Hooh, dulu ini masih boleh dilewatin kendaraan pas gue kecil. Tapi setelah jembatan barunya jadi, kendaraan dialihin kesana. Disini dipake buat pejalan kaki sama sepeda" "Ohh, jembatan ini kemana emang?" "Lurus kesana, nanti bakalan ada kota kecil. Nenek gue tinggal disana" "Wahhhh, kapan kapan kesana sabi kali?" "Boleh aja sih" "Naisss"


"Duduk disini yok" "Ok" Langit begitu bersahabat malam ini, buktinya, dia membiarkan bintang bintang bertabur dengan indahnya disana. Membuat keduanya lagi lagi dejavu. Saat keduanya duduk berdampingan, kenapa bintang selalu bersinar lebih terang? Apa bintang bintang itu mencoba untuk menerangkan perasaan mereka pada dunia? "Ra, playlist apa yang cocok buat sekarang?" Tanya Apip memecah keheningan sesaat mereka karena mereka sedang sibuk memandangi langit yang cantiknya ga ketulungan malem ini, ditambah dengan angin semribit yang menerpa wajah merrka saat mereka duduk ditepi jembatan menggantungkan kaki mereka. "Mmmmm, apa ya?" "Bentar gue liat dulu" "Kayaknya ini deh" Ara menyerahkan satu earphone kepada Apip, dan begitu Apip memasangnya, lagu yang lembut dengan instrumen piano menguasai pendengarannya. Why don't you stay - Jeff Satur


Keduanya terdiam. Menikmati lantunan nada yang dengan telinga mereka, menikmati indahnya langit dengan mata mereka, menikmati debaran hebat dengan jantung mereka, dan menikmati hangatnya afeksi melalui genggaman tangan mereka. Rasanya, begitu sempurna. "Ra, ini playlist lo yang mana?" "Mencintaimu dengan Hebat" Senyum Apip terbit, bersamaan dengan perasaannya yang membuncah. Apip tau, ini memang bukan untuk dirinya, tapi kenapa? Kenapa rasanya begitu membuatnya bahagia? Apip menikmati sisa lagu indah itu, dengan memandangi Ara yang kini memejamkan matanya. Bagi Apip, langit malam ini bahkan kalah dengan indahnya wajah Ara yang terlihat lebih sempurna saat rambutnya bergerak lembut diterpa angin malam. "Dah, yok cari makan" Hahh, perut Ara ini bisa ngga sih kalo mau laper jangan di moment krusiall? Apip aja sampe kaget, dia lagi melongo malah si Aranya tiba tiba nengok. "Laper lo?" "Banget parahhhh"


"Wkwkwk, ayo dah" "Oiya Ra" "Apaan?" "Jadi buktiin tenaga gue ga?" "Ah yang bener lo?" "Beneran, sini gue gendong" "Sampe mobil ya?" "Iyaaa, sampe rumah juga berani gue. Paling paling modar doang" "Hahaha" "Yok" Apip berjongkok, dan Ara pun dengan eksaititnya memeluk leher Apip, dan membebankan seluruh berat badannya di punggung Apip. "Jjjaaa, berangkat" kata Apip sambil berdiri dan mulai berjalan perlahan, menapaki jembatan sepanjang 200 meter itu. "Pip" "Hm?" "Body mist lo apa?"


"Apa ya? Natural pokoknya, bunda yang beli" "Enak" "Hahha, tar gue kasih dah kalo lo suka" "Gue suka lo aja yang pake" *deg Bukannya Apip kepedean, tapi Apip merasakan deparan yang cukup kencang dari dua sisi. Debaran di dadanya, dan debaran yang terasa di punggungnya. "Hhh, iya gue ga bakal ganti" "Good" kata Ara semakin mengeratkan pelukannya ke leher Apip, dan menyandarkan wajahnya ke ceruk leher tempat dimana aroma yang menenangkan itu menguar dan dengan sopannya masuk ke penciuman Ara merambat hingga hatinya. "Ra, jangan buat gue pengen koprol disini elahh" —-----


[7 : Lowkey] Semboyannya NEO tuh. Event apaaa aja dibikin party, emang gaada alim alimnya sama sekali anak NEO. Tapi memang sudah tradisi dari para nenek moyang mereka, bahwa party adalah salah satu cara mereka bersosialisasi.


Hebatnya, anak NEO selalu bertanggung jawab. Tidak pernah menyeret nama NEO jika terjadi sesuatu pada acara yang mereka inisiasi. Dan itu, belum pernah terjadi. Okeh, Sekarang kita lihat, bagaimana karakter utama kita merespon fenomena ini. Cekidot.


Event kali ini, memang kala dan teman temannya, diminta untuk menjadi moderator party. Mereka yang memegang kendali. Seminggu yang lalu, ada panitia yang melobby si Kala, dia bilang 'tolong pegang partynya ya' dan setelah menjelaskan semua konsepnya, akhirnya Kala setuju untuk menjadi mc di acara mereka nanti.


Click to View FlipBook Version