Dan tentu saja Kala tidak akan berdiri sendiri, ia ikut melibatkan 3 sahabatnya untuk dikorbankan lah. Enak saja mereka bersantai sedangkan Kala tidak. Jadilah Kala menarik Caca untuk menjadi parternya, dan mengorbankan Ara juga Zidan untuk menyanyi nanti. Panitia menawarkan uang yang jumlahnya cukup untuk meyakinkan Kala, tapii Kala mah ga butuh duit, duit dia udah banyak. Akhirnya kala bilang pada panitia 'Duitnya beliin aja amer ama bir yang banyak. Kasih ke anak anak'. Beuhhh, Panitia pun menepatinya, begitu mereka sampai, uang yang seharusnya diberikan kepada mereka berempat telah berubah menjadi sekardus besar Amer dan Bir yang menggugah selera. Lantai dansa kini sudah dipenuhi manusia manusia yang kelebihan duit juga waktu. Ya namanya masih muda ya wak, waktu luang masih banyak poll. Mereka menemani dj pembuka mereka untuk malam ini, semuanya begitu antusias. Apalagi setelah diumumkan bahwa Kala dan teman temannya akan menjadi pemandu mereka malam ini. Bayangan bayangan keseruan sudah memenuhi ekspektasi mereka. "Halo halo, gue tau gaes dalem hati kalian pasti bilang 'lo lagi lo lagi' gitu kan? Kalian pasti bosen. Makanya gue hari ini bawa sohibi gue yang cakep tiada tara kecuali Ara dan emak gue disini" "Wuhhhuuuu, Kalaaa"
"Hai gue caca" "Busett, cakep" "Oke, stop dulu itu disana yang lagi mesra mesraan, kasih jomblo sedikit ruang, kesian nih pada pengen mengikuti jejak kalian" julid Kala. "Seperti biasa, kita udah sediain kertas disana. Warna merah buat cowo, warna pink buat cewe. Nahhh yang mau nulis surat anonymous, apa confess silahkan tulis yaa, nanti kita berdua bacain + kalo ada request kita bawain" "Uhhh, pinternya cacaaa. Oke thats the guide gaes, but don't forget. U must follow the rules, kalo ada yang macem macem isi suratnya, kaga bakal kita bacain. Biarin aja kebawa ampe mampus tuh isi surat, oke??" "Ndeeee" "Okeee lanjot" Setelah beberapa lagu dimainkan oleh dj, Kala kembali ke atas panggung dengan begitu banyak kertas ditangannya. Kenapasih orang orang ini? Banyak banget yang mau konfess, kan kerjaan Kala jadi banyak. "Oke, sumpah ya, ini banyak bener. kalian pada gatau cara konfess kah? Sampe ini banyak bener yang lewat guee? Ecek bener" "Wkwkkwwk"
"Pertama, 'dari anak hukum yang sekarang pake baju kuning'. Tolol, kosplay spongbob lu? 'Buat kamu, yang sekarang pake baju merah' ini lebih tolol lagi. Gue juga merah ege. Lu belok apa gimana?" "Oke gapapa keep going" Kala terus saja membacakan isi surat surat itu dan membuat seisi bar heboh karena menemukan siapa konfess ke siapa, dan responnya lucu lucu, ada yang ditolak, ada yang diterima, ada yang digantung, macem macem pokonya mah. "Next ya gaes, sekarang masuk ke yang sesi request" "Ini banyak juga ya, kasihan dong nanti Ara kalo nyanyi banyak banyak" Kata Caca melihat kertas yang berisi request lagu berisi ungkapan hati itu juga cukup banyak. "Pertama yaa, ini juga aneh deh La, masa gaada namanya sama sekali? Trus ini buat siapa dari siapa dong?" "Gimana tuh ca isinya?" "Tolong Ra nyanyiin, what makes you beautifull soalnya itu menggambarkan bagaimana gue saat liat lo dateng tadi" "Gitu doang La" "Hadaahh, ini orang bego kelairan mana lagi coba?" "Eh tunggu Ca, kalo dibaca lagi kan di depannya manggil Ara, dibelakangnya 'Lo' barti lagunya buat Ara dongg" "Gue jadi males nyanyi" teriak ara dari samping panggung.
"Heh! Gaada ya Ra, ini jobdesk lo! Gabisa lo lari dari tanggung jawab! Sini gak lo!" "Ara! Ara! Ara! Ara!" Terus saja nama Ara menggema di sana, yahhh mau tak mau Ara melangkahkan kakinya naik ke atas panggung. "Siapapun yang request. Lo ngeselin banget asli" itu kata Ara tepat sebelum full band memulai musiknya. What makes you beautiful - One Direction Dan ketika Ara mulai menyanyi, entah kemana perginya kekesalan Ara tadi. Karena sekarang, Ara benar benar bernyanyi membuat suasana berubah tepat seperti lagu yang ia bawakan. Siapapun yang galau, kalo denger Ara lagi nyanyi dibarengin sama suara crowd yang ikut bernyanyi heboh juga, bakalan ilang galaunya, dijaminnn. Apalagi bagian Reff. Beuh bisa runtuh tuh bar lama lama. "Hhhh, sumpah Ra. Lo tuh, aaaarrghhhh. Bisa gak sih lo langsung gue nikahin aja?" *prokprokprok "Piiuuwiittt Araaaa" "Wizzz keren kan suara temen gue, lo pada harus tau emang."
"Oke next. Kali ini ada yang jentelman gaes. Dia bilang 'gue mau nyanyi' oke, dari kertasnya ini berarti cowo yang nulis. Sini lo! Tunjukinn kejantanan lo!" Teriak Kala heboh, dan direspon tepukan tangan menyambut siapapun yang menulis surat singkat itu. Dan Ara, yang kembali ke sisi panggung dibuat terkejut. Karena seseorang yang melangkah ke atas panggung adalah Apip. Dan dengan jahilnya, tak lupa Apip mengedipkan matanya saat bersitatap dengan Ara yang memasang wajah bertanya tanya. "Lo lagi lo lagi. Anak baru ini nyalinya gede juga ya? Ga abis abis tingkah lo" Julid Kala. "Mau nyanyi apa lo? Buat siapa?" "Hmmm, lagu ini nggambarin gue banget sekarang. lagu ini buat kalian semua, tapi, spesialnya buat seseorang yang akhir akhir ini bikin gue betah dan ga nyesel balik lagi ke kota ini" "Siapa?" "Hak gue buat keep in private kan?" "Serah loo anjeng. Yaudahh sokkk nyanyi" Band memulai petikan gitarnya ketika Apip menyebutkan judul lagu pada mereka. Perfect - One Direction
Jiwa Ara, sekarang seperti disiram dengan air. Rasanya kek segeerrr banget. Suara halus, tenang dan indah yang sudah ia dengar sebelumnya mengalun kembali di pendengarannya. Disana, Apip benar benar bernyanyi dengan seluruh perasaannya. Dan itu, sampai ke Ara. Sekarang, pipi Ara ngga cuma memerah. tunggu aja bentar lagi, Pasti meledak tuh. Dan lagu itu ditutup dengan sempurna juga. Membuat audience semakin heboh, karena sungguh Apip malem ini ganteng banget woy. Apalagi nyanyinya keren pake banget. Mleyot lah itu seantero nusantara. "Liatin temen lo tuh Yon, ada aja cara dia buat narik cewek" julid Haje yang setia duduk di meja mereka ikut menikmati acara yang begitu meriah itu. "Tapi emang beneran ya, cuma Ara doang yang di crush in sama si Apip? Ara kan Cewek hoodie abu abu, cewek di jalan?, cewek civic gold? Sama cewek di konser kata Chello? Gimana tuh?" Jordan menghitung kembali cewek yang pernah Apip mention selama ia berkuliah hampir satu semester disini. Deon hanya terdiam. Capek dia sebenernya sama si Apip. "Gaakan gue ampunin lo, kalo sampe lo nyakitin Ara, pip!" —---
absjfkflmnglfjfhdgf&&kjl jdughiygnf"Gimana gue tadi? Keren kan?" Tanya Apip pada Ara yang kini beradakursi penumpang mobilnya. Lah, itu gimana berdua bisa barengan? Ya bisa lah, dua duanya bikin alesan yang meyakinkan sampe akhirnya dilepas sama temen temen mereka. Dan mereka bertemu diam diam. Lagi. "Mayan" "Hahhaha, tapi gue kesel ah sama lo" "Dih, salah gue apa?" "Kenapa lo harus cantik banget malem ini? Sampe banyak tuh tadi yang konfess ke lo" "Jiakhh, kan gue emang cantik terus" "I-iya sih. Yaudah deh gapapa lo cantik terus gue jago berantem kok" "Lah?" "Ya kalo ada yang macem macemin lo, gue jamin abis di tangan gue" Hati Ara menghangat, selama ini ia begitu mendambakan hal hal semacam ini, yaaa walaupun Ara selalu mendapatkannya dari sahabat sahabatnya, tapi, entahlah, Ara rasanya seperti mendambakan sesuatu. "Lo, punya adek gak pip?" Tanya Ara lembut.
"Ngga ada, kalo sepupu yang lebih kcil ada" "Kenapa?" "Asik ya punya sodara gitu?" "Hmm, ngeselin sih. Mereka tingkahnya banyak bener" "lo bakal lindungin mereka gitu juga?" "Iyalah, mau mereka betingkah ampe mereka gede juga bakal tetep gue jagain" "Hhh" Apip merasakan mood yang berbeda menguar dari Ara, lagi lagi, Apip rasakan sirat kesepian disana. Ara yang penuh hingar bingar dan tawa, menyimpan apa di dalam hatinya? "Ra, kerumah gue yuk?" "Hah? Pip ini udah malem, hampir pagi malah" "Udah gapapa, mama lo gaada juga kan? Lo kalo pulang pasti dirumah gaada orang kan?" "Iya- sih," "Yaudah ke rumah gue aja"
"Emang, gapapa? I mean, kan ada bonyok lo" "Gapapa, trabass" "Pippp ih" "Iyaa beneran gapapa, percaya sama gue" "Yaudah deh" Mendengar keputusan Ara, Apip bawa laju mobilnya ke arah yang berbeda. Dimana seharusnya mengarah ke kediaman Ara, kini ia arahkan pada kediaman orang tuanya. —--------
[8 : Lowkey 2.0] "Pip, yakin gapapa? "Udah ayo" Keduanya turun dari kendaraan hitam pekat milik Apip, dan dengan santai Apip bawa perempuan kelahiran Agustus itu kedalam rumahnya. Arapun spontan terkejut, ketika keduanya disambut wanita paruh baya yang cantik. Memiliki garis wajah mirip dengan Apip. "Loh, tumben Pip udah pulang jam segini?" "Ehh, siapa inii?" Tanyanya dengan nada ramah saat menyadari putranya pulang berbadan dua (wkwkwkkww ngabrutt) "Calon bun" jawab Apip pede setengah modar. Ara cuma nabok lengan Apip kecil aja, soalnya kalo mau hajar sekarang, masaa didepan bundanya kan gak lucu. "Saya Ara tante" kata Ara ramah sambil mengulurkan tangan dengan sopan. "Gausah tegang gitu nakk, santai aja gapapa kok" Bundanya apip tak kalah ramah menyambut uluran tangan Ara. "Maaf tante, Ara ngga sopan kesini malem malem" "Ngga papaa, kita emang manusya manusya malem macem apip semua kok"
Baru saja dengan santai Bunda menyelesaikan kalimatnya, Ada dua anak perempuan berusia sekitar 8 tahun berlari menuruni tangga dengan heboh, dan langsung menubruk tubuh Apip. Membuat Ara yang sebelumnya berdiri disamping Apip bergeser memberikan keduanya ruang. "Baaangg, ih, lama banget keluarnya. Kan kita juga mau valentinan sama abang" "Iya bang Apip lamaa" "Hhhh, maaf twins." "Nih, sebagai permintaan maaf, abang bawa cokelatt guedee buat kaliann" "Waahhhhhh, banggg ini kan favorite Hana" "Huum, Hani juga. Abang masih inget?" "Masih donggg" "Makasih ya Abaangg. Abang tunggu sini dulu kalo gitu" kata salah satu anak kembar itu dan berlari lagi kembali ke asalnya. "Kakak juga ya, tunggu sini dulu" Ara kira, dua anak yang sangat menggemaskan itu tidak menyadari ada dirinya disana, tapi ternyata ia tertangkap basah sedang senyum senyum melihat interaksi mereka dengan abang mereka itu. "Hhhh, lucu bgtt sihh, kok mereka belum tidur bun?" kata Apip gemass "Nungguin kamu katanya" "Dah, diajakin duduk dulu Aranya"
"Iya Bun" "Makasih tante" Tak lama setelah keduanya duduk di sofa ruang tengah yang hangat itu, terdengar lagi suara langkah kaki eksaitit mendekat kearah keduanya, dan muncullah lagi sikembar yang entah menyembunyikan apa dibelakang tubuh mereka. "Happii Valentine abaaangg" teriak anak yang menyebut dirinya sebagai Hana itu, dan menyodorkan bunga Lily yang sangat cantik dihadapan Abangnya. "Happi Valentine kakak, mmm tapi maaf Hani ngga tau kalau kakak mau dateng, trus kakak sukanya bunga apaa, Hani cuma punya bunga tulip aja" Tolong dong tahan Ara, rasanya Ara udah mau nangis guling guling aja tuh, denger penuturan tulus anak manis dihadapannya ini. Apip yang sudah menerima bunga pemberian dari sepupunya itu menatap Ara yang matanya berkaca kaca. Apip angkat tangannya, dan ia usap kepala Ara lembut. Membuat Ara menoleh dan tersenyum haru, begitu matanya berkedip, air mata jatuh mengalir di pipi cantiknya. "Kakak jangan nangis, kakak suka bunga apa? Nanti Hani kasih lagi kalo kakak kesini ya?"
"Makasih sayang, kakak suka kok. Kakak suka banget. Makasih yaa" kata Ara akhirnya dan memeluk Hani erat. Hani pun membalas pelukan Ara tak kalah erat, membuat air mata Ara jatuh lebih deras. "Kaak? Nama kakak cantik siapa?" Tanya Hana yang duduk di pangkuan Apip membuat mereka melepaskan pelukan mereka dan memberikan atensinya kepada Hana. "Ayyara, atau boleh panggil Ara" katanya sambil mengusap jejak air mata di pipi juga matanya. Hidungnya merah banget kek tomat sampe Apip yang liatin Ara rasanya pen gigit. Gemes banget. "Mmm kak Ara pacarnya abang ya?" "Ngga" "Iya" Ga kompak banget bedua ih. "Loh?" "Hhehe belom sih Na, tapi dikit lagi" kata apip sambil membuat gestur mengatupkan kedua jari telunjuk dan jempolnya. "Kenapa kak? Kakak ngga suka abang? Abang baik loh kak. Abang ganteng juga, ya walaupun abang kadang ngeselin, tapi abang baik kok" kata Hani yang duduk diantara Ara dan Apip. Ara jelas diam seribu kata, gatau harus respon Apa.
"Yaudah gini deh, Hana sama Hani tinggal dulu, nanti kalo kita kembali kesini, kakak sama abang harus udah pacaran ya?" Hana ngadi ngadi emang kalo ngomong. "Yuk dek kita kekamar" "Ayuuk, makan coklatnya ya kak Ana" "Jangan langsung dimakan semuanyaa, jangan lupa langsung sikat gigi jugaa" teriak Apip pada keduanya yang sudah bergandengan tangan dan berlari ke kamar mereka. "Ada ada aja bocil" "Udah, kok lo nangis mulu sih? Merah tu idung pen gue gigit jadinya" "Apaan sih pip" "Hhh, gimana? Mau kan?" "Konteks apipp. Kebiasaan lo" "Pacarannya" "Keburu mereka balik nih, kalo ngga mereka ngamukin gue nanti" "Lo ngajakin gue pacarannya karena mereka berarti?" "Hhhhhaahhhh…." Apip ubah posisi duduknya, menjadi berhadapan dengan wanita idamannya. Dan Apip tatap dalam mata Ara, mengisyaratkan 'aku sedang serius Ara'
"Sejak Lo mucul dibalik kaca mobil pajero hitam dengan tawa kecil lo yang ngeselin, dan tingkah lo yang random itu, gue udah jatuh Ra." "Ditambah lagi, gue ikutin lo ke mekdi, dan denger lo cerita dengan asiknya sama temen temen lo, senyum lo yang manis, bikin gue lebih jatuh lagi" "Waittt" potong Ara "Itu yang di civic, pake kacamata item itu Lo?" Kata Ara kaget "Lah kirain lo udah sadarr" "Kagaa anjirrr, bangkee malu gue pipp. Gue sempet berdoa supaya gue ga ketemu lo lagi selamanya, gara gara itu" "Tapi sayangnya doa lo ga terkabul Ra, justru lo bakal ketemu gue selamanya" "Arrghhh maluuu" "Aaabaaangg udah belomm?" Teriak hana dari Lantai dua. "Belommm dikit lagii" balas Apip dengan teriakan juga. "Dan setiap saat gue ketemu lo, saat kita bareng, dengan semua playlist lo yang random mampus itu, gue jatuh semakin dalem ke Lo Ra" "Mungkin diluar sana lo denger gue playboy. Tapi gue tobat Ra. Yakin deh suwer. Gue tobat Ra"
"Dan lo inget? kita dulu pernah duduk dipager sambil nyanyi apa?" "Diam diam kubawa kamu, yang penting ku punya satu, yakan?" "Gue janji Ra, gue cuma bakal punya satu" "Kamu" Duhhh, ini gimanaa coba Ara harus bertindak sekarang? Gimana coba Ara harus jawab sekarang? Nyawa Ara aja udah gatau tuh melayang kemana. Sampe dia cuma bisa terpaku natap mata Apip yang berbinar itu. "Ra, please. Jadi pacar gue ya?" Tanya Apip serius. Apip ungkap semuanyaa. Apip curahkan semua perasaannya. "Janji lo tobat?" "Udahh. Gue udah tobattt Raa" "Hmm, tapi, gue boleh minta satu hal ngga pip?" "Minta aja" "Kita lowkey dulu ya?" "Hm?" "Gue ngga mau ribet. Lo tau gimana temen temen gue, mereka skeptis sama lo gara gara lo anak balap." "Dan waktu kita jalanin semuanya diem diem, gue menikmati kok. Gaperlu kita ungkap dulu ke dunia. Biar bintang aja jadi penonton kita"
"Duhhhhhh, Raaaaaaa" ngereog gak tuhhh si Apipnya, sampe dia udah guling guling diatas sofa besarnya. "Ngapain sih?" "Gue salting Araaaa. S A L T I N G" kata Apip penuh penekanan "Jelek banget salting lo anjir" "Tapi oke ya? Jadian kita nih?" Anggukan Ara jadi jawaban pertanyaan final Apip. "Aaarrghhhh gue seneng banget woy. Thankyou cantik" Saking eksaititnya Apip peluk erat tubuh Ara dari samping sekejab. Dan dia berlari kearah tangga meneriaki sikembar yang 'sebenarnya' mereka sedang menunggu dibalik pintu. "Twinnsss udahhh, woii udahhh woii" heboh Apip Keduanya pun membuka pintu kamar mereka brutal, dan berlari lebih brutal menuju ke Apip juga Ara, dan masing masing mereka memeluk keduanya. "Yaaayyyyy" "Aabang berhasill" kata Hani yang kini berada di gendongan Apip, dan diputar putar karena saking bahagianya Apip. "Makasii ya kakakk" giliran Hana yang memeluk leher Ara erat juga. Hana sudah lama tidak melihat senyum abangnya yang selebar dan secerah ini
"Hhh, makasih juga sayang" Kata Ara lalu mencium pipi gembil anak manis itu. "Udah udahh, yaampun heboh bangett" kata bunda tiba tiba muncul entah darimana menghentikan kehebohan mereka. "Hihihi, maaf bunda" kata ketiganya kompak. "Nak Ara nginep kan?" "Ah, tapi tante-" "Iya bun Ara nginep" sambar Apip "Tapi pip-" "Nginep aja ya sayang, udah jam segini lho masa mau pulang? Mau bunda ijinin ibu kamu atau bagaimana?" "Ahh, tidak perlu tante" "Iyaa Raa, udah nginep aja. Kamar tamu kosong kok" "Yakan bun?" "Iya nak, kamarnya siap kok. Kamu menginap saja ya?" "Bun, Hani mau tidur sama kakak boleh?"
"Eh?" Kaget bunda. Soalnya Hani tu susah deket ama orang baru. Lah ini baru ketemu semenit dah mau bobo bareng aja. + bunda takut kalo Ara ngga nyaman. "Hani mau?" Tanya Ara lembut "Mau dong kakkk" "Hhh okee" "Yaayyyy" "Goodnight pacar baruuu" teriak Apip membuat Ara rasanya pen kayang aja tuh. Sedangkan bunda, ya geleng doang liat tingkah anaknya. —-----
[9 : A Hole] *tok tok "Yaaa?" Teriak Apip dari dalam kamarnya ketika ada seseorang yang mengetuk pintunya. *ceklek "Eh, bunda" "Kenapa bun?" "Rafi," panggilan bunda ketika sedang serius. Itu jelas menarik atensi Apip sepenuhnya. "Bunda mau tanya sesuatu" "Ara, se sensitif itu ya? Sampai nangis karena Hani kasih bunga?" kata bunda membuka obrolan setelah duduk di sisi ranjang Apip, sedangkan Apip sedang duduk di meja belajarnya. Skinkeran bentar "Hhh, Ara itu anaknya ceria bun, tapi emang ada satu lubang yang Apip sedang coba tutup. Ara sering bilang kalau dia sendirian, bahkan mamanya Ara jarang banget pulang" "Tadi, Ara tanya apa Apip punya adik. Kayaknya Ara anak tunggal bun. Dan Ara kesepian" "Mungkin karena itu Ara tadi nangis karena Hani" "Mmmmm" "Sekarang, bunda tanya sekali lagi sama Rafi. Rafi deketin Ara karena diri Rafi sendiri kan? Bukan karena kasihan atau alasan lain?"
"Bundaaa" "Bunda liat Rafi. Pernah ngga Rafi bawa cewe ke hadapan bunda?" "Pernah ngga Rafi tiap malem guling guling heboh cuma gara gara chatnya dibales cewek?" "Sama satu lagi, apa pernah Rafi sampe nangis cuma karena diterima cintanya sama cewek bun?" Bunda jawab rentetan pertanyaan putra semata wayangnya itu dengan gelengan. "Bun, Rafi serius kali ini. 4 taun ikut bunda sama ayah, bener bener ngajarin Rafi banyak hal." "Makasih bunda, udah kasih kesempatan Rafi buat belajar dari ayah sama bunda" Sumpah, Apip mode Rafi, sweet banget anjeenggg. Kemana perginya Apip yang suka ngomong toksik? Kenapa tiba tiba jadi anak berbakti begini? Apip cium punggung tangan lembut milik bundanya, dan ia masuk ke pelukan hangat sang ibunda. "Jaga Ara ya nak" "Pasti bun" —-----
"Abaanggg bangunnnn" Pagi yang damai. Dimulai dengan Hana yang melompat lompat diatas kasur Apip, membuat tidur pulasnya terganggu. "Hana, hanaa, hati-hati nanti jatoh gimana?" Apip dengan suara seraknya memperingatkan sepupunya yang sangat aktif pagi pagi. "Makanya Abang bangunnn, ditunggu semuanya sarapan dibawah" "Hmm, iyaa 5 menit ya? Abang sikat gigi dulu" "Okikk" —----- "Aduh, anak bujang bunda ini udah ditungguin juga lelet bener" sambut bunda, saat melihat Apip yang mulai berjalan menuruni tangga menuju ke meja makan yang telah penuh itu. Apip berjalan mendekat, dan mengusap kepala Ara lembut sebelum mengambil duduknya. *cup "Morning bun" katanya sambil mencuri ciuman singkat di pipi bundanya. "Wkwk gausah kaget nak Ara, Apip emang gitu kalo sama bundanya" kata seseorang paruh baya yang ikut duduk bersama mereka sekarang.
"Eh, om pagi pagi udah nyampe sini aja. Mau ada acara apa?" Tanya Apip saat menangkap eksistensi adik dari ayahnya itu. "Jemput hana hani, kan sekolah" "Oiya" "Emang Chello kemana om?" "Nganter mamanya dia" "Oohh" "Makan yang banyak Ra. Gausah jaim" kata Apip menatap jahil ke Ara yang duduk di sampingnya. Bersikap 'tumben' kalem. "Iyaa, thanks" duhh, bukan Ara banget sih inii. "Pantesan ya, tadi malem Ayah denger ribut ributt. Ayah kira ada apaan, ternyata ada yang cantik gini" Ayah memang bukan seseorang yang kaku, jadi ya biasa lah ayah godain anaknya gini. "Pacar Apip yahh! Ayah jangan betingkah" "Heleh, sombong amat" "Nak, Ara. Kamu tinggal disini juga? Atau kuliah aja?" Tanya Ayah merujuk ke Ara yang sejak tadi tertawa kecil melihat interaksi Ayah anak yang mengalir itu. "Tinggal disini om"
"Oiya?, dimana?" "Di Athens om" "Ohhh, baiklah. Kenapa kamu cantik cantik gitu mau sama Apip? Apip aja jarang mandi loh, trus malesan lagi" "Gapapa yahh, jelekin aja gapapaa" kata Apip mengancam sambil menyuapkan sarapannya. "Hhh masa om?" Ara malah kepancing tuh, trus ikut ikutan godain Apip "Iyaa, tu anak kalo lagi libur beuhhhh ga bakal gerak dari kasur. Kecuali kalo temen temennya ngajakin main mobil" "Wkwkwk, keliatan sih om" "Sayang, panggilnya Ayah aja ya? Panggil bundanya Apip bunda juga" pinta Ayah Apip tulus. "Itu mah akal akalan lo aja bang. Lo kan emang pengen anak cewek dari dulu" Saksi Ayah apip angkat bicara. "Hehhe" "Hhh, iya om nanti Ara biasain" "Sering main kesini juga ya Sayang" Bunda ikut ikutan. "Iyaa kak Araaa, nanti main sama Hani lagi"
"Sama Hana jugaa" Tak ada cara lain menanggapi semua itu selain tersenyum. Sungguh, hati Ara begituuuu hangat. Keluarga Apip benar benar menerimanya dengan baik. Bahkan memperlakukannya sebaik ini. Aneh ga sih, kalo Ara nangis sekarang? Apip yang menyadari mood Ara, memilih menggenggam satu tangan Ara dibawah meja dan mengusapnya perlahan. Apip pikir itu akan menenangkan Ara dari perasaannya, tapi yang ada malah makin parah woyyy, Aranya makin terharu. Makin pengen nangiissss. —----
"Pip, tolong anter gue pulang dong. Anak anak pada nanyain gue." "Mereka dirumah lo?" "Takutnya gitu, jam segini bibi ada dirumah bersih bersih. Jadi mereka bisa aja udah pada mendep di rumah gue" "Oke deh"
"Ntar turunin di mini market sebelum komplek aja" "Ngga sampe rumah?" "Jaga jaga, kalo ada anak anak" "Hadeehh susahnya backstreet" "Wkwkwk. Ayok" —---- "Tuhkan bener, udah ada bocah bocah disini" "Untung aja Apip mau nurunin gue di depan komplek" Ara melangkahkan kakinya masuk. Dan benar saja, mereka sudah berada di ruang tengah dengan buah potong yang bibi berikan. "Enak yaa lo padaaa" kata Ara sambil berkacak pinggang di ambang pintu. "Eh, yang mulia ratuu udah balikk" Sambut Kala heboh "Kok ngga ada suara mobil Ra? Dianter siapa?" Tanya Caca "Turun di mini market depan gue, sekalian beli ramennn" "Cakeppp, mau dong Raaa" Zidan mah kalo makanan cepet emang. —----
"Ra, kok tumben sih lo kemaren malem malem ke rumah tante lo? Urgent banget ya?" Tanya Caca memastikan. "Hooh, gatau juga urusannya sama mama. Gue cuma bantu doang" "Ohhh, yaudah" Mau tidak mau Caca dipaksa percaya, karena semalam Caca menghubungi tante Ara dan tante Ara mengatakan hal yang sama. Tapi, kenapa Caca sempat melihat Apip yang menunggu Ara? —--- *Ting
Tau ga si? Cuman gara gara notip sekata doang, berhasil bikin Ara koprol koprol sampe mesir. Deg deg ser rasanya. Oh, ini ya namanya jatuh cinta? Hal sepele kaya gini aja, rasanya kaya jadi penguasa dunia.
Udah capek koprolnya, Ara menarik nafas panjang dan berusaha sekuat tenaga membalas pesan 'pacar' nya itu.
Ara sempat mengerenyitkan dahinya, kemana Apip? Kenapa pesannya ditinggal terbaca? Baru saja Ara meletakkan handphonenya di nakas, dan ingin beranjak pergi, kini terdengar nada dering yang begitu keras dan menghentikan gerakan Ara. "Ahelahhh pippp" "Raa, mau kemana?" Bingung Apip karena begitu Ara mengangkat telfonnya, Ara malah mengambil posisi berlari. "Bentar pipp, kebelet pipiis"
"Astagaaa wkwkkwkw" Hanya butuh 5 menit memang, Ara meninggalkan kekasih manisnya itu. Begitu Ara kembali, keduanya benar benar menghabiskan sisa malam dengan berbicara tak tentu arah. Apip benar benar menepati kata katanya. Rumah Ara yang biasa sepi, kini tak terasa demikian karena Apip membuat rumahnya seperti dikerumuni orang sekecamatan. "Cuma ini ra, yang bisa gue lakuin buat lo" "Selamat tidur cantik" —----
[10 : Pacaran yang Selow] Apip sudah bergerak, mengganti pakaiannya dan memakai jaketnya. Baru saja Apip akan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, pesan beruntun masuk ke ponselnya.
"Huh? Kenapa lagi ni anak"
Sampe tipo ga tuh si Apip saking keselnya. Mereka ga kira kira kalo dibayarin jadi ya gitu pada trauma. —----- "Ra, besok kayaknya gue ngga bisa nemenin lo nyari kado deh" kata Apip sedikit ragu sebenarnya karena ia sudah membuat janji dengan Ara sebelumnya. "Lah? Kok menadak, kenapa?"
"Ada yang nantangin balap lagi. Dan harinya sama" "Ohhh, ya gapapa lo balap ajaa" "Lah, gapapa?" "Gapapa kalii, gue tau lo suka banget, even bukan lo yang turun tapi lo suka banget andil disana" "Tapi, lo ntar ama siapa?" "Ah gampang, ada Kala, Caca, Zidan, mereka ada kok" "But, you okay?" "Piiippp" kata Ara sambil menghela nafas panjang "Bukan berarti dengan kita pacaran gue berhak ngatur ngatur lo, ngelarang ngelarang lo, apalagi kalo itu hal yang sangat lo suka. Ngga pip, gue ngga mau kaya gitu" "Soalnya gue juga ngga mau digituin pip, dilarang larang soal hal yang sangat lo suka, itu rasanya bener bener gaenak." "Gue gamau lo ngerasain itu" "Iya sih, selama ini lo emang gapernah ngatur ato ngelarang gue" "Dan soal perasaan gue Pip dalam kejadian kaya gini, i'm totally fine. Asal lo kasih kejelasan sama gue, jadi atau ngga. Bisa, atau ngga. itu cukup pip" "Dan lo jujur" "Dah, itu pip"
"Sorry kalo gue masih jauh dari harapan lo" "Noo. Don't say that." "You're enough pip." "Ra, kalo lo gue nikahin sekarang gimana?" "Yeuuu, kerjaan lo tuh masih kelayapan muluu" "Loh emang kalo orang nikah gaboleh kelayapan?" "Bolehh, tapi kalo tiap hari kek lo ya yang ada gausah pulang aja sekalian" "Ulululuhhh gemecnyaaa" saking gemesnya apip tarik pipi Ara yang rada tembem itu. "Sakit ege pipp" "Wkwkw, dah lanjut tuh nonton. Kasian filmnya dianggurin" kata Apip merujuk pada tv besar di ruang tengah Ara yang menayangkan film action. Kesian dikacangin. —------
Dalam kondisi begini, hanya ada beberapa kemungkinan sebenarnya. Satu, apip sedang balapan. Dua, apip sedang bersama geng balap. Tiga, apip lagi mabar. Empat, apip lagi mandi. Soalnya kalo lagi bokerr juga ttp dibawa tuh hengpong. Dan yah, gaada curiga ataupun kesal menjalar di perasaan Ara sedikitpun. Ara pikir, 'cowonya' ini juga berhak punya kehidupannya sendiri Ara hanya pendatang, haknya pada Apip belum sebesar itu. Apip pun begitu, kehidupan hingar bingar pacarnya itu, memang telah lama bersamanya. Dan sahabat sahabatnya, begitu berharga baginya. Jadi, apip tidak akan merubah apapun dari itu. Apip menerima Ara dan seluruh kehidupannya. Bahkan setelah menemukan fakta bahwa ayah dari Ara telah tiada, hingga membuat ibundanya bekerja banting tulang mengurus perusahaannya.
Apip, justru malah semakin menyayangi Ara. Selama ini, Ara benar benar sepeti hidup sendiri. Sejak papanya pergi saat usianya masih 7 tahun, Ara kehilangan kasih sayang orang tuanya. Begitu Ara bertemu dengan Zidan, Caca juga Kala, hidup Ara berubah 180°. Ara terlalu dibutakan oleh hingar bingar dihadapannya, hingga kini Ara selalu berusaha menepis kesepiannya dengan semua pesta yang dia hadirkan dirinya disana. Dan kini hadir pula Apip di hidupnya. Rasanya, tak ada lagi waktu bagi Ara untuk merasa sepi. Walaupun Ara sendiri tidak mengerti, yang ia rasakan ini sungguh nyata, atau hanya ilusi.
Alasan apa ya yang kira kira bisa Ara gunakan untuk pergi seharian penuh tanpa dicari oleh teman temannya? Atau, Ara pikir lebih baik Ara langsung pergi saja? Tanpa mengatakan apapun?
Beuuuhhh, jangan tanya tuh sekarang Apip gimana polahannya baca notif yang sangat membagongkan itu. Nafas tersengal, jantung berantakan, darah mengalir deras. Aaaarrghhh pokoknya mah Apip salting level MAX Sampai saat hari jum'at tiba, baik dari geng balap maupun geng Ara, tak ada satupun yang menginisiasi pertemuan apapun. Keduanya benar benar bernafas lega. Seolah diam diam mereka merestui keduanya. "Ma, Ara keluar dulu" kata Ara dengan tatapan datarnya.
"Kok bawa backpack? Ara mau kemana?" "Jalan-jalan" jawabnya singkat. Mendengar jawaban putrinya, mama Ara hanya bisa membalas dengan senyuman. Sudah hafal tentu saja. Didengar dari nada bicaranya, Putrinya itu tidak ingin ditanyai lebih lagi. "Gausah nunggu Ara pulang" sambung Ara sambil berlalu melewati sang Mama yang duduk di sofa. "Hati hati sayang" —--- "Yok" katanya singkat, setelah meletakkan tas bawaannya di jok belakang mobil Apip, dan duduk disamping kekasihnya yang menatapnya bingung itu. "Ada apa?" "Ngga papa kok, emang kenapa?" Tanya Ara menoleh berusaha menutup perasaannya. Walaupun sebenarnya, matanya sama sekali tidak bisa berbohong. "Hehehe ngga papa, yoook berangkatt" kata Apip eksaitit, menahan seribu tanya di benaknya. Perjalanan mereka cukup jauh, untuk ke rumah nenek Apip, mereka harus menempuh sekitar 90 menit perjalanan dari kota mereka.
Tapi, yah namanya juga Ara sama Apip, 90 menit itu kan kalo orang normal yang nyetir. Kalo Apip mah, sejem juga jadi. Menyelesaikan perjalanan mereka, kini dipandangan Ara adalah rumah yang cantik, dengan banyak bunga di terasnya. "Masuk yuk" Anggukan lembut menjadi jawaban, Apip tautkan jari jarinya di sela jari Ara, dan menuntunnya untuk mendekat ke pintu dengan gantungan karangan bunga di depannya itu. Sangat cantik. *tok tok "Nekk, Nenekkk" teriak Apip setelah mengetuk pintu itu lembut. *Ceklek "Rafii?? Apa kabaar anak ganteng" sambut seorang yang telah berumur dan merentangkan tangan keriputya untuk mengelus rahang serta pipi Apip menyalurkan kasih sayangnya. "Baik nek" "Aduh, cantiknyaa. Nama kamu siapa nak?" "Ara, nek"
Ara termagu melihat nenek apip yang masih begitu cantik dan sangat aktif di usia senjanya. Bahkan wajahnya saja masih bersinar dan senyumnya begitu cerah. Kini Ara bisa lihat darimana mata indah Apip itu berasal. "Manisnyaa, ayo ayo masuk" Nenek ambil alih tangan Ara yang Apip genggam dan membimbingnya memasuki rumah. Hangat dan nyaman. Itu yang Ara tangkap pertamakali setelah melangkah memasuki rumah milik nenek Apip. "Nenek masak apa?" Apip emang gaada basa basinya. Baru juga dateng, duduk aja belom udah nanya makan aja. "Loh, Rafi belom makan?" "Itu loh nek, pacarnya Rafi tu laperan orangnya. Rafi juga sih. Trus masakan nenek kan enak pol gaada duanya, pasti Ara nanti suka" Apip emang ya, gaada gitu acara 'menjaga image pacar' gitu. Lossss banget ngomongnya. "Hhh, nenek belum masak sayang, ini aja nenek baru mau panen ke kebun belakang" "Nek, Ara boleh ikut?"
"Tentu boleh dong sayang, tapi dibelakang panas loh, ngga papa nak Ara panas panas?" "Ngga papa nek" "Yaudah, ayo kalau gitu ikut nenek" "Okeee Apip tunggu disini dehh" kata Apip sambil otw merebahkan diri di sofa panjang bercorak bunga itu. "Enak aja, sana kamu beliin daging" kata nenek sambil menarik lengan Apip. "Emang abis nek?" "Nih, sekalian belanjain nenek. Semuanya ada di list ini" nenek berikan secarik kertas dan beberapa lembar uang kepada Apip dan tak lupa, totebag untuk wadah belanjaan. "Banyaa benerrr, nenek mau buka toko apa gimana?" "Udahh cepet Rafi berangkatt. Belanja yang bener" "Iyaa iyaa nenekk, titip pacarnya Rafi ya nek" teriak Apip sambil jalan keluar rumah. Geleng doang si nenek liat randomnya Apip. —----
"Nek, emang Apip bisa gitu disuruh belanja?" Tanya Ara yang sudah mulai santai karena nenek yang sejak tadi meminta Ara untuk tidak terlalu kaku. Sambil memetik beberapa sayuran yang telah matang dan dimasukkan ke keranjang mereka. "Hhh, justru Rafi suka banget disuruh belanja. Dari dulu dia kecil juga sering ikut nenek belanja. Apalagi ke pasar, Rafi ambilin semua itu sayur satu satu. Katanya warna warni" "Hahha, Apip lucu banget sih nek" "Anak itu, memang selalu membawa bahagia kemanapun dia pergi" "Ara tau nek, dan Ara berterimakasih untuk itu" "Beruntung sekali Rafi diterima anak semanis dirimu nak" "Nek, Ara yang beruntung diterima Apip dengan semua kekurangan Ara" "Nak Ara, saat Rafi menerimamu dan merasa cukup atas dirimu, maka tidak ada yang namanya kekurangan didalam dirimu Nak" Nenek mengusap lembut kepala Ara penuh kasih sayang. Rasanya, sudah lama sekali Ara tidak merasakan kasih sayang sebesar ini, dan usapan selembut ini. Ara sangat rindu. "Loh, loh kok nangis? Maafin nenek ya?" Merasa bersalah, nenek tarik Ara kedalam pelukannya. "Ngga nek, makasih. Makasih nenek" kata Ara sesegukan sambil memeluk nenek Apip erat.