The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biar ngga gabut aja si sebenernya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 04:59:36

coccoons

biar ngga gabut aja si sebenernya

memandangi dan mengagumi betapa indahnya makhluk yang telah ia pelihara selama ini. “Kamu sudah bekerja keras James, dan kamu pantas untuk jadi cantik dan indah seperti ini” katanya dengan begitu lembut diiringi dengan senyman yang begitu indah. “Bye James. Fly high until no one can ever let you down” Dengan perlahan-lahan, Ara mulai membuka tutup kandang itu dan dengan cepat James mengepakkan sayapnya dan terbang dengan bebas. "Pip, James terbang" Ara yang masih merasa tidak rela itu mengatakannya dengan lemah sambil kembali duduk disamping Apip, menyandarkan kepalanya memandangi James yang kini terbang kesana kemari hinggap di bunga bunga cantik yang jauh dari mereka. "Yea, and so are you" Ara bawa tubhnya tegak, memandang mata Apip yang begitu bercahaya. Dan perlahan, Ara rasakan usapan lembut tangan lelaki yang selalu saja mampu mrmbuatnya tenang, membuatnya terpaku, dan membuatnya kuat. "Terbanglah sayang, tidak akan ada lagi yang mampu menghentikanmu sekarang" "seperti yang kamu bilang ke james tadi-" "-fly high, until no one can ever let you down" "Lakukan apapun yang kau mau, kamu siap untuk menghadapi semua itu"


Tak ada lagi yang bisa Ara lakukan selain memeluk erat kekasih yang telah memberinya begitu banyak hal. mungkin, jika itu soal hutang budi, Ara akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk membalasnya. "Sayang-" "Besok aku akan daftar. Kamu janji bakalan disana nyemangatin aku kan?" "Pasti" "Aku bakalan disana, neriakin nama kamu paling kenceng" "Apip-" "Thankyou, sudah membantuku menyempurnakan sayapku" "you know?" "If there's something bigger than love, i'll give it to you" "You deserve this entire universe" "that's why i got you dear" "because you're my universe" "i know this is soo cringe" "hahahahah" "You did well James" —---- —---


Sebenarnya, tantangan Ara untuk terjun ke arena balap tak hanya berhenti sampai pada kemenangannya atas traumanya saja. Namun, obstacle lain kini menghadang tepat di hadapannya. Ara sedang ditatap tajam oleh sang ibunda, dengan dua tangan terlipat didepan dadanya. Tak dapat dipungkiri memang terdapat sinar khawatir yang memancar kuat dimatanya. “Kamu yakin sayang?” “Ini balapan beneran loh, bukan sama kakak atau Apip” “Kamu yakin?” “Mah..” Arapun beranjak dari posisi duduknya, dan berlutut menyandarkan kepalanya diatas pangkuan sang mama. Kali ini ia benar-benar memohon. Karena hatinya, sangat merindukan hal ini. sangat. “I’ve been through all of that very bad thing to come back as myself ma.” “Ma, ini yang Ara tunggu selama ini” “Percaya sama Ara ya ma?” “Papa pasti juga begitu. Papa pasti percaya dan bangga sama Ara ma” Mendengar penuturan putri satu satunya itu, tidak mungkin wanita cantik yang melahirkannya itu tidak luluh, sedangkan hatinya sendiri adalah hati yang begitu lembut.


Merasakan usapan halus di pundaknya, yang terasa begitu familiar karena itu datang dari sang putra, Farah Pun menoleh, dan mendapati senyuman yang menurutnya sangat indah itu berusaha meyakinkannya. “Apa ini? Apa ini saatnya aku juga membantumu mengepakkan sayapmu putriku?” “She will be fine ma, believe me” kata putranya yang begitu lembut masih dengan senyumannya yang setia menghiasi wajah tampannya. “Nak, kamu tau?” “Papa, pengen banget kamu jadi pembalap” “Huh?” kaget Ara hingga ia spontan mengangkat kepalanya, menatap sang mama, dengan matanya yang penuh tanya. “Bukan tanpa alasan, papa selalu membawamu ke pertandingannya” Kalimat itu, belum mampu membuat Ara mengerti, dan berhenti menatap sang ibunda dengan mata bulatnya. “Hahaha, bahkan dulu saat kamu masih diperut mama, papa kamu terus terusan bilang ‘dia akan menjadi pembalap wanita terhebat’” Lagi-lagi Ara terkejut, jadi memang dulu yang papanya maksud adalah dirinya? Bukan kakaknya? “Dan sekarang, kamu akan mewujudkannya sayang.”


Sekarang, mata terkejut itu dihiasi oleh air mata. Menatap dua orang yang begitu berarti baginya, yang kini menatap dirinya dengan begitu lembut dan penuh dengan kepercayaan. “Kamu bisa dek” “Thankyou.. Thankyou maa, kak, Thankyou” Katanya sambil merengkuh erat keduanya. —--- “Ayo Ara, This is what you waiting for a whole life” “Enjooy Araa” Begitu Ara menginjak pedal gas dari mobil Civic Gold kesayangannya, pada saat itu pula seluruh keresahan dan kegelisahan Ara runtuh pada saat itu juga. Siapapun yang mampu menatap mata Ara saat ini, maka orang itu akan menangkap kilatan tajam yang menggambarkan ambisi dan ketenangan disana. Ara melakukannya dengan sangat baik, bahkan kakaknya tersenyum puas di kursi tribun bersama dengan yang lainnya. “I know dek, mungkin darah papa mengalir di darahku. Tapi jiwa papa, tinggal dalam dirimu” “Come on sayang, you can win this game” “Gila, kalo Ara ga ketemu sama Apip dan kakaknya. Kita semua ngga bakal tau, kalo Ara sehebat ini dalam hal balapan”


“Gen papanya Ara bener bener ga bisa didebat, dua anaknya pembalap hebat semua. Bagaskara beneran ga bercanda soal namanya” —----


“Ayarra” “Ayarra” “Ayarra” “Pah, Ara berhasil” Ara yang masih berada di dalam mobilnya setelah melewati garis finish tanpa ada siapapun yang menghalangi pandangannya itupun menangis memeluk setirnya, meneriakkan segala beban hatinya yang selama ini mengendap di dalam jiwanya. Kini, semua hal berat itu telah sirna. Ara, melepaskan semuanya.


*tok tok Suara ketukan dari luar mobilnya itu pun membuat Ara segera melepas helm dan bergegas keluar dari mobilnya. “Selamat dek, selamattt kakak bangga banget sama kamu” Ara yang bahkan belum sempat menghapus air matanya itupun malah dibuat semakin menangis lebih kencang saat pelukan erat sang kakak juga kecupan bertubi tubi di pucuk kepalanya itu menyambutnya. “K-kakk, Ara berhasil kak” “Kamu berhasil dek. Selamat” “Papa pasti bangga banget sama kamu sayang” Kata mama menginterupsi pelukan kakak beradik itu, membuat Ara kini menarik diri untuk memeluk sang ibunda tak kalah erat. “Mah, I did it” “Yes, and i’m so proud of you sayang” “Thankyou mama” “Hhh, thankyou for being my daughter sayang. I love you” “Love you maa”


“Woe, woeee aku mau jugaaa woeee” Haduh satu lagi seseorang yang berisik duduk di kursi rodanya itu berteriak tidak sabar karena sejak tadi ia sudah menahan diri ingin segera memeluk Ara yang begitu luar biasa. “Hhh berdiri dulu” tantang Ara “bisaa , lu kira gabisa apa?” Apip yang ditantang dengan seringaian kecil itupun berusah aberdiri menggunakan satu kakinya sebagai tumpuan, dan Ara pun langsung memeluknya erat ketika Apip telah berhasil menegakkan tubuhnya. “Keren kan aku?” “Paling keren” “Pacarnya Apip gt loh” “Wkwkwk” “Thankyou ya sayang, tadi aku denger suara kamu teriak. Udah bakat kamu jadi tarzan” “Yelahhh, ngapa tarzan si?” “Ya abis kenceng banget suara kamu tuh, Tarzan yang lagi auwouwo aja kalah sama suara kamu tadi” “Wkwkwk ngadi ngadi”


“Udahh woy, pegell ini mau pelukan ampe kapan?” protes Ara “Oh, iya wkwkw maap” “Dek, bentar lagi mau closing tuh, dah sana ke podium” “Ok kak” —---- “ANJAAYYY TEMEN GUE WOOYY” “TEMEN GUE JUGA ANJINGG” Teriakan yang menggaungkan nama Ara kini terdengar semakin kencang saat Ara telah berdiri diatas podium tertinggi, dan menunduk untuk menerima medali emasnya- yang pertama. “Congratulation love” “Sayang, kamu mau aku terbang tinggi kan?” “I will, but never without you” Saat confetti confetti itu diledakkan dan mulai beterbangan terjatuh dengan perlahan, Ara melangkahkan kakinya turun dari podium penghargaannya dan ia menuju ke seseorang yang telah merubah seluruh kehidupannya.


Dari kehidupan yang dulu sempat ingin ia tinggalkan, kini menjadi kehidupan yang akan selalu ia pertahankan. Dari kehidupan yang dulu sempat ia benci, kini menjadi kehidupan yang akan selalu ia syukuri. “Hm? Kenapa?” Tanya sang pemberi kepada Ara yang kini hampir berlutut dihadapannya. “Thankyou” kata Ara singkat sambil memberikan medali emasnya ke genggaman tangan Apip” “Yea but, this is belong to you” “No, kalau aja kamu ngga ngenalin James ke aku, aku ngga akan pernah yakin untuk ikut balapan ini” “Sayang, you and my family are the best thing that happen in my life” “Uuuu, okayyy” “I will pay it back” katanya sambil mengusap kepala Ara dengan begitu lembut. “Hhh, i’ll be patiently waiting” “Woe, cukup bucinnya” “IT’S TIME TO PARTY” teriak Kala begitu semangat sampe sampe karakter di cerita kita ini pada senyum dan nyaut. “Let’s goooo”


Yaudah, party lah mereka di rumahnya Ara- lagi. Wkwkw. —---- Setelah menunggu recovery apip yang memakan waktu 5 bulan lamanya hingga ia sembuh total, kini Cocoons kembali menggelar final pertandingan mereka dengan begitu meriah.


Antusiasme penonton bahkan lebih luar biasa dibandingkan sebelumnya. Kondisi Arena kini telah penuh pun riuh teriakan teriakan yang melantunkan nama jagoan mereka. “Kalo sampe lu kenapa kenapa pipp, gue putusin sumpah” “Heh! Tu mulut yaaa” tegur Apip lebih galak dari peringatan Ara. “Hehehe, awas aja lu kalo ampe luka” “Siap ngga sayang!” “Wkwkw oke, siap siap sono” “Yaaa, jangan lupa semangatiin” Teriakan Apip hanya Ara balas dengan acungan jempol tanpa membalikkan badannya dan terus melangkah menyusul keluarga juga teman temannya yang telah siap di tribun, yang begitu penuh sesak bahkan lebih ramai dibandingkan final sebelumnya. Semua orang begitu excited menunggu dimulainya pertunjukkan skill juga taktik di balik kemudi itu dimulai. Saat keempat driver itu telah siap di masing-masing tempat mereka sorakan kembali memenuhi arena begitu riuhnya. “Bro, sorry for hurting you last match” “Let’s do this game right today. And let’s make your mama proud hehe”


Bisik Apip pada tichalla yang telah kembali sehat seperti dirinya. Yah, walaupun tabungannya harus dikuras karena biaya rumah sakit tichalla yang tidak sedikit, tapi Apip tak akan pernah melepaskan tichallanya. Karena tichallanya, adalah saksi dari segala hal yang telah menimpa dirinya, serta seluruh perjuangan dibaliknya. Jika kali ini, Apip akan memenangkan pertandingan, maka tidak mungkin tanpa tichallanya. “Let’s go bro” —-- “Kak, ade mau nanya dikit” tanya Ara dengan nada seriusnya saat pertandingan baru saja dimulai. Dan tichalla bersama Apipnya telah melesat pergi meninggalkan garis startnya. “Kenapa dek?” “Kenapa event ini kakak namain cocoons?” “Hhh-” “Karena pacar kamu” “Hah? Kenapa Apip?” “Dulu sebelum kakak dateng ke kamu, kakak sempet bicara banyak sama Apip. dan ada satu hal yang membuat kakak yakin. Itu soal analogi kepompongnya”


Analogi kepompongItu persis seperti yang Apip berikan kepadanya. “Dan, saat itu Apip ga sekedar ngomong teori, atau mengambil filosofi soal kakak dek” Ara yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan fokusnya kepada sang kakak, mampu menangkap sirat mata tulus dan teduh ketika sang kakak menoleh dan menatapnya. “Apip sudah melalui semuanya sendiri dek, fase kepompong yang dia bilang ke kakak. Dan ke kamu juga” Kini tatapan Ara berubah menjadi semakin lebar, fase kepompong Apip? Apa? Kapan? Selama ini, Apip selalu baik-baik saja bersamanya. Bahkan Apip lah yang selalu memberinya ketenangan, dan seluruh kedamaian di dalam dirinya. Lalu, Apa? “K-kak? A-ara, ngga tau” “Kak, cerita ke Ara tolong” “Ask him later” —----- “Widiiihhh bos kecill emas coyy”


“Hahah, mayan juga lu ga pake latihan latihan langsung menang gitu?” “Ngecheat dia mahh” Biarkan teman temannya itu mengoceh sepuasnya tentang dirinya, apip mah udah budeg soalnya fokusnya udah menuju ke Araa yang sejak tadi menatapnya tak biasa, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan. “Here, i’m keeping my promise right?” “Hhh, jadi kita tukeran medali?” “Wkwkwk iya juga yaa” “Btw, congrats ya sayang” "i'm so proud of you" "Yea but, tell me. You okay?" Tanya Apip ragu karena jelas ia mampu menangkap sorot mata berbeda itu. "I'm okayy, emang knp si?" kata Ara berusaha mengendalikan perasaannya. "wkwk, ngga papa hehe" "peluk dulu dongg, juara nihh" Ara yang dilempar candaan itu pun tersenyum lebar dan menubruk tubuh Apip untuk memeluknya erat. "Love you pip"


"Love you more" Keduanya benar benar tak menghiraukan tatapan semua orang yang tertuju pada mereka. Yah bucin emang gitu dunia serasa milik berdua. Nyonya Wijaya-" "Saya tau ini bukan saat yang tepat untuk berterima kasih. tapi, saya benar benar bersyukur atas hadirnya putra anda di kehidupan putri saya. banyak hal baik yang terjadi berkatnya. saya sungguh berterima kasih" "Nyonya Bagaskara, harusnya saya yang bilang begitu. saya sangat berterima kasih juga karena putri anda yang cantik dan menggemaskan itu mau menerima putra saya yang nakal sekali" "Dan Ara juga menjadi pelangi baru di keluarga kami, kami sangat sangat berterima kasih atas kehadirannya" "Jadi, kapan besanan?" dua wanita yang sedang mengobrol serius itu spontan menoleh dan terkekeh mendengar kalimat spontan dari Ayah Chandra yang berdiri tidak jauh dari keduanya. "Well, i guess enough for this sudden mellow atmosphere" kata Kala jengah "Setuju sih" sahut Jordan "Party ga kuuy?" teriak Haje gatau diri.


"Om sudah booking paradise" satu kalimat yang keluar dari bibir bapak bapak hot itu membuat semuanya terkejut. "wahhh emang om Chandra ni the beeesst" kata Jordan semangat "weh, kapan coba Ayah bookingnya?" "Tadi, pas kamu menang. Ayah langsung telpon ownernya" "Anjaayyy, om saya daftar jadi adeknya apip ajalah" canda Zidan mengundang gelak tawa. "dih ogaah gue punya adek modelan lo" "jahatnya calon abang" "wkwkkwkw" —------ Saat semuanya sedang menikmati waktu mereka di bar yang terkenal dengan racikan terbaiknya itu, Apip justru disibukkan dengan pikirannya sendiri yang bertanya tanya. Soal kenapa kekasihnya itu terlihat seperti menyimpan tanya. "Ra, ikut gue" kata Apip sambil menarik tangan Ara "Kemana?"


"Udah ayook" "Yon, gue keluar bentar sama Ara" pamitnya pada Deon yang duduk disebelah Ara "hm, jangan diapa apain" "kagaaa" "y" Ara pun mengikuti langkah kaki Apip yang membimbingnya menuju ke parkiran, dan terkejutlah Ara saat Apip melempar kunci mobil Ara padanya. "Ikutin gue ya?" "Kenapa bawa mobil sendiri sendiri?" "Kita balapan sampe Arena" "Hahhh??" "Kalo aku menang, kamu harus mau nikah sama aku" "Kalo kamu menang, kamu nikahin aku" "Tolol, sama aja itu pip" "Bodoamaatt"


Tanpa banyak basa basi, keduanya langsung memacu kendaraan mereka. Jalanan yang sepi karena ini telah lewat tengah malam membuat keduanya leluasa saling mendahului berebut aspal untuk sampai di arena terlebih dahulu. "Yessss. lo harus mau nikah sama gue fix" teriak bahagia Apip saat keduanya sampai di Arena dan memarkirkan mobil mereka di garis finish "Proposal skripsi lu tuhh benerin dulu, udah mikir nikah aja" "Wkwkwkwk" "Sini Ra" panggil Apip sambil merebahkan dirinya diatas rumput ditengah Arena. Ara pun menurut dan ikut merebahkan dirinya disamping Apipnya. memandang langit, yang lagi lagi begitu indah karena bulan dan bintang yang bersinar begitu terangnya. "Gue ngga nyangka kalau hidup gue bakal jadi seindah ini" kata Apip menepis keheningan sementara mereka "Me too. Dan semua itu berkat kamu" balas Ara. "Gue seneng banget ketemu lo Ra" "Gue juga" "mm, pip-" "-can i ask you something?" Nahh, inilah yang Apip tunggu.


"Ya, tentu" "Fase kepompong ku, telah terlewati dengan baik berkat kamu" "So… kamu mau ngga cerita soal fase kepompong kamu, yang kamu ceritain ke kakak?" "But, it just if you want to talk about that" "If you don't its okay" "Hhhh, jadi sejak tadi dia penasaran soal itu?" "Sayang, kita sepertinya memang meant together" "Hm?" "Fase kepompong kita, mirip" "Karena itu, aku jelas tahu apa dan bagaimana perasaanmu" "Huh?" "Aku pernah kecelakaan hebat sebelumnya, di arena ini. dan itu membuatku tidak bisa naik mobil, bahkan hanya untuk duduk menumpang selama 2 tahun lebih" "HAH" —----- Kejadian itu terjadi saat Apip masih berusia belasan. Ia telah menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya. Dan ia juga teman temannya merayakan kelulusan mereka dengan pergi ke Arena.


Selama ini, mereka diam diam pergi ke arena untuk bermain mobil. Tanpa lisensi apapun. Kala itu, Apip begitu menggebu mengendarai mobilnya hingga ia tidak memperhatikan lubang yang terdapat di sisi pinggir Arena. Dan itu membuat ticalla, yang saat itu adalah mobil Ayah Chandra, terguling dengan keras. "Jika saat itu teman teman ngga cepet cepet nyelametin gue, mungkin gue udah mati kejepit sekarang Ra" Apip harus menjalani begitu banyak operasi karena kecelakaannya, dan ia pun harus meninggalkan kota kelahirannya, juga teman temannya untuk mendapatkan penanganan terbaik dibidangnya. Setelah kembali dari rumah sakit, Apip masih tak mampu menerima semua hal yang terjadi padanya. Ia kecewa, pada dirinya. Seharusnya ia lebih hati hati, seharusnya ia menunggu sebentar lagi, dan seharusnya yang lain… Apip menghukum dirinya dengan berdiam diri selama 4 bulan lamanya tanpa keluar dari rumahnya sama sekali. Berbagai cara telah Ayah dan Bunda lakukan untuk membujuknya, namun apadaya. Apip tak kunjung memaafkan dirinya. Bunda dan Ayahpun tak kehabisan akal, mereka tahu bahwa anak mereka hanya perlu sedikit dorongan. Karena itu, keduanya memboyong sang anak


untuk pindah ke rumah yang terletak tak jauh dari sebuah sekolah menengah atas Swasta. Perlahan-lahan Apip mulai memperhatikan anak anak sepantarannya yang selalu beramai ramai melewati rumahnya untuk menuju ke halte bis sekolah yang akan mengantar mereka menuju ke rumah masing-masing. Tak dipungkiri bahwa ia ingin kembali ke sekolah lagi. "Karena aku ngga bisa naik mobil, setiap pagi bunda selalu dorong kursi rodaku ke sekolah" "10 menit perjalanan ke sekolah ku, selalu diwarnai cerita bunda soal apapun di dunia ini" Sampai suatu hari, saat itu Apip sedang duduk di taman kota. Yang ia tempuh selama 20 menit bersama salah satu teman kelasnya. Apip duduk disana memandang bunga bunga yang bermekaran indah, sedangkan temannya sibuk dengan ponselnya. Apip dikejutkan dengan seekor kupu kupu yang hinggap di kakinya. Sangat cantik. Apip terdiam, bahkan ia bernafas begitu lembut, tak ingin kupu kupu itu pergi dari pangkuannya. Saat Apip ingin menangkapnya, kupu kupu itupun terbang dengan cantiknya menghiasi angkasa. "Bun, tadi Apip ditaman liat kupu kupu cantik banget"


"Oiya?" "Iya bun, Apip jadi pengen pelihara tapi gimana ya? "Hmmm, coba bunda telfon teman bunda ya? Dia suka banget sama kupu kupu" Begitulah Apip mengenal bu rini. Saat Bu rini mengirimkan salah satu kupu kupu common rosenya kepada Apip dan membuatnya begitu bahagia karena ia bisa dengan puas memandangi keindahannya. "Ibu punya banyak banget common rose disini. Bahkan lebih indah loh nak" kata Bu rini dari seberang sana via telepon "Rafi mau liat bu" "Kalau begitu nak rafi harus kesini ya? Ibu tunggu" "Kupu kupunya, juga bakal nunggu nak rafi kesini" Saat itu, Apip benar benar berperang dengan dirinya sendiri. Satu sisi ia begitu ingin melihat kupu kupu indah itu tapi di satu sisi ia tidak memiliki keberanian untuk berkendara. "Ayo, Bunda sama Ayah anter ya? Semuanya bakal baik baik aja" "Oke?" "Percaya sama Ayah" Apip Pun mengumpulkan kekuatannya, dan ia berhasil sampai di tempat ibu Rini setelah 3 jam perjalanan berat. Selama 3 jam pula Apip sama sekali tidak


membuka matanya, juga tidak melepaskan genggaman tangannya dari kedua orang tuanya. Dan begitu ia sampai, Ibu Rini mengajak apip ke rumah Kupu kupunya, dan Apip pun dibuat terpesona. Sungguh indah. Bunga bermekaran warna warni, dan kupu kupu yang beterbangan kesana kemari. Sungguh luar biasa. "Mereka cantik banget ya bu" kata Apip tak mampu menahan perasaan bahagianya. "Tentu, mereka berusaha keras untuk menjadi cantik seperti itu" Bu Rini mendorong perlahan kursi roda Apip untuk menuju ke sebuah ruangan yang terlihat lebih gelap, dan tak ada bunga disana. "Coba lihat nak" "Mereka harus melalui itu untuk menjadi cantik" "Mereka harus kelaparan, kehausan, terkurung, sebelum mereka bisa menjadi sesuatu yang kamu kagumi" Apip tahu, soal apa itu metamorfosis. Tapi, yang Apip tidak tahu adalah betapa menyakitkan dan sulitnya fase itu. "Ada diantara mereka yang menyerah"


"Dan tidak mampu mengepakkan sayap seperti yang lainnya" "Tapi, hampir semua dari mereka memilih untuk berjuang sedikit lagi" "Untuk menjadi apa yang mereka tunggu selama ini" Apip termenung sejenak. Mengapa ia merasa bahwa saat ini, kepompong kepompong itu adalah dirinya. Ia merasakan kesulitan yang sama, ia mereasakan belenggu yang sama. "Bu Rini, kapan mereka jadi kupu kupunya?" "1 minggu lagi" "Rafi mau lihat bu" "Kalau begitu nak Rafi harus sering sering kesini" "Mmm, Rafi usahakan ya bu" —----- "Setiap satu minggu sekali, Aku selalu pergi kerumah kupu kupunya bu Rini" "Aku belajar banyak Ra" "Dan bersama mereka, aku mulai tumbuh" "Aku mulai terbiasa dengan mobil lagi" "Aku sudah bisa membuka mata, aku sudah bisa melepaskan genggaman tangan bunda" "Hingga akhirnya, aku bisa pergi kesana tanpa ayah dan bunda" "Pip-"


"Eh, kok nangis?" Kaget Apip saat ia menoleh dan menemukan Ara yang sudah berurai air mata. "Kamu, sendirian? Kamu melalui itu semua sendirian?" "Hhh engga dong, kan ada ayah bunda, bu rini. Sama tichalla juga yang selalu bawa aku kemana mana" *brukk Ara tubruk tubuh yang duduk itu untuk memeluknya erat. Sungguh kekasihnya ini luar biasa. "Pip kamu hebat banget" "Kamu juga hebat sayang, kamu hebat kamu berhasil menang" "We are" "We won sayang" "Sekarang fase kepompong itu sudah usai sayang" "Ayo kita terbang bebas" ucap Apip sambil dengan senyumanya, dan mengusap lembut kepala Ara yang kini bersandar di dadanya. "Let's fly sayang" "Together" balasnya kini menegakkan kepalanya menatap mata Apip dalam. "Forever"


Setiap kepompong memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kupu-kupu, tapi berhasil atau tidaknya mereka melewati fase itu ditentukan oleh kepompong itu sendiri. Seperti Ara yang memilih untuk melawan traumanya, Seperti Apip yang memilih untuk berdamai dengan dirinya, Seperti Deon yang memilih untuk memaafkan dirinya, Dan seperti kepompong kepompong lainnya yang kini telah berhasil mengepakkan sayap mereka. Dan seperti kata Ara, 'Fly high, until no one can ever let you down' Jangan biarkan perjuangan, pengorbanan, dan semua hal yang telah dilalui menjadi sia sia hanya karena adanya kata menyerah di dunia ini. Cocoons END. —--------


[OVA : …..]


Mereka tepati janji mereka untuk terbang bersama sama. Tak hanya Apip dan Ara, namun semuanya. Mereka telah mencapai apa yang mereka harapkan. Deon dengan titel 'the next bagaskaranya' Jordan dengan impiannya menjadi ahli design interior Haje dan Apip dengan kecintaannya terhadap mesin Kala dengan karirnya di dunia hiburan Caca dengan bakatnya di dunia bisnis bersama kakaknya


Zidan dengan rintisan perusahaan recyclingnya yang berhasil luar biasa Dan Ara yang kini berkecimpung di dunia balap bersama sang kakak. Mereka semua memilih untuk berusaha, mereka memilih untuk mencapai tujuan mereka, mengepakkan sayap mereka. Dan mereka akan terus berkelana, memamerkan keindahan sayap mereka pada dunia. Bagaikan sungai tak bermuara. Tapi, kalau soal cinta, Ya, sudah pasti menemukan muaranya. Dekorasi yang begitu indah bertabur bunga menghiasi ballroom yang kini bersuasana khidmad saat wanit cantik dengan dress putih bersihnya berjalan dengan anggun diikuti wanita yang pun begitu cantik dengan setia memegangi kain yang menjuntai indah. Sedangkan diseberang sana, ada sosok laki laki yang menunggu dengan debaran jantungnya yang tak biasa, ditemani oleh pria yang membeku terpaku. "Selamat yaa Cacaaa!!" "Gue masih ga rela sebenernya lo ngelangkahin gue Chel. Harusnya gue dulu sama Ara, eh malah duluan lo sama Caca" protes Apip pada sepupunya yang telah mendahuluinya untuk bersanding dengan wanita mereka.


"Abisan lo lama bang, gue udah gemes mau nikahin caca" "Wkwkw ga nyangka gue cuma gara gara ketemu di konser, kalian sampe nikah gini" "Gue makasih sih bang sama lo, gara gara lo nguber Ara, gue jadi dapet jodoh" "Wkwk yaaa, abis ini gue nyusul deh sama si Ara" "Cepetann!" "Wkwk iyeee" "hue hue Cacaaa selamatt yaa bestii gue . udah ga cape backstreet lagii" Seperti biasa, Ara dengan alaynya memeluk Caca sambil menangis haru. —- "Okee, siap yaa? Kedua mempelai akan melempar bunga mereka" "Satu.. duaa.." "Stop" sambar Chello "Kak boleh pinjem mic nya?"


"Oke… so, bunga ini bakal kita kasih ke seseorang yang mempertemukan ku dengan istriku sekarang" "Dengan penuh rasa hormat dan terimakasih, Bang Apip, bunga ini buat lo" Barisan para lajang yang sebelumnya berkumpul dibelakang dua mempelai siap untuk menerima lemparan bunga, kini riuh bertepuk tangan mengiringi Apip yang berjalan menuju ke sepupu dan juga sahabatnya untuk menerima bunga sakral pernikahan mereka. "Oke, pertama gue mau maksih dulu ke lo Chel. Ini kehormatan bagi gue buat nerima bunga pernikahan lo" "And-" Apip mmembawa kakinya untuk melangkah, mendekati seseorang yang kini menatapnya bingung. "For you my love. Please, fly with me for the rest of our life" "So…Will you-" "Be my wings, and our children's Ayarra Bagaskara?" Apip mengatakannya dengan penuh kelembutan, berdiri tegap di hadapan sang pujaan hati, mengulurkan karangan bunganya dengan kedua tangannya. Matanya yang indah menjelaskan semuanya, betapa serius pintanya, dan betapa tulus cintanya. Ah, Ara jadi ingat saat pertamakali menatap mata Apip yang penuh binar ditengah gemerlapnya lampu festival.


Dan saat itu, adalah saat dimana Ara jatuh hati. "I will" "YYUUUHUUU SHE SAID YESS EVERYONEE" Heboh Kala yang berdiri tidak jauh dari keduanya, memasang kuda kuda untuk menguping setiap kalimatnya. hahahah Belum sempat Apip bergerak cepat ingin memeluk Ara, dirinya justru lebih dulu ditarik dan digendong lalu dilempar ke udara beberapa kali oleh Jordan, Haje juga Zidan. Membuat para tamu juga kedua mempelai tertawa karena Apip yang memasang ekspresi paniknya. "Hhh, so kamu mau langkahin kakak?" Tanya Deon lembut pada Ara yang tak berhenti tersenyum sejak tadi. "Ya kakak lohh susah banget disuruh cari pacar" "Ya abis, yang kakak mau tuh kayak kamu" "Mana kamu cuma satu lagi, kan susah" "Ewh, jangan ngadi ngadi" "Wkwkw candaa" "Gapapa, kalo kamu mau duluan. kakak restuin" "Hihihi thankyou kakak sayang"


"Anything adek sayang" —------- "Saaayaaaanggg" "Aaaraaaaa" "Apasih pip, ribut ribut?" "Dede ambil kertas designkuu, terus diemutt" "Padahal akunya udah bilang itu kotorr" Adu Apip dengan nada manjanya membuat Ara hanya bisa menghela nafas. Baru beberapa menit Ara meninggalkan Apip dengan bayi 9 bulan itu, tapi sudah ada saja kelakuan mereka yang membuat Ara harus menimba kesabaran. "Ya kamu pikirr, ade ngerti apa? dede baru 9 bulannn sayaangg omg" "Terus gimana minta ke ddedenya? takut ketelen itu kertas designnyaa" "haduhhh, Bayi punya bayi gini nih" "Saayang, ini bukan makanan yah, no no no mam ini ya? mom punya roti buat dede" "Can i have dad's paper please?" kata Ara sambil menyodorkan mpasi juga mengadahkan tangannya untuk meminta kertas design Apip yang berada di tangan putra kecilnya.


Dengan perlahan perhatian bayi tampan itu mulai beralih ke mpasi yang Ara pegang, dan ia mulai meninggalkan kertas yang telah basah itu di lantai. "mamammaamm" "Iya sayang ini boleh di mam" "Ohh jadi gitu" "Oh jadi gitu jadi gitu, kamu tuh ihhhh" "Makanya belajar ngadepin dede, jangan kelayapan mulu" "Kan aku ngikut kakak ipar balapan sayangg, nanti yang checking mobil dia siapa?" "Idih alesannn" "Halooo, uncle comming" "My little pumpkin puing puingg" "Omg" Dah setres si Ara kalo temen temnnya mulai datang. Jadi daripada ikut setres kita sudahi aja OVA nya. babai~


—------


Click to View FlipBook Version