"Nek, boleh peluk Ara sebentar lagi? Ara kangen dipeluk, disayang kaya gini" Mendengar penuturan Ara yang pelan karena teredam pundak nenek itu, Nenek peluk Ara lebih erat. Nenek berikan usapan begitu lembut dan penuh kasih sayang itu untuk Ara. "Anak ini, sepertinya melewati banyak hal" —----- "Haloo, para miss universe" teriak Apip sambil melangkah masuk membawa barang belanjaannya yang bejibun di kedua tangannya. "Lah, banyak amaat Pip?" "Kan, lihat aja pasti Rafi juga beli aneh aneh" Apip nyengir aja ketahuan implusive buying sama neneknya. "Nak Ara suka sayur kan?" "Suka kok nek" "Nek, Ara tuh omnivora. Jadi ya apa aja mau dia" sambar Apip. "Rafiii jangan digodain terus pacarnya ih" "Iya tuh nek, marahin aja Apipnya" kata Ara manja.
Apip jelas kaget, apa yang terjadi pas dia pergi, kok tiba tiba dua wanita cantik ini sudah terlihat begitu dekat. —--- "Nek, Rafi pamit dulu yaaa. Nenek jaga kesehatan loh jangan cape cape" Apip sebenernya masih ga rela buat pergi dari rumah neneknya setelah menginap semalaman disana. Masih banyak cerita juga foto Apip kecil yang belum nenek tunjukkan pada Ara. Rasanya masih kangen masa kecilnya yang banyak Apip habiskan disana. "Iyaa iyaa bawel kamu, kaya ayah kamu" "Hehhe" "Nek, Ara boleh peluk ngga?" Kata Ara dengan mata berharapnya. "Boleh lah, sini" Ara peluk tubuh renta itu kuat, rasanya Ara juga ngga rela. Nenek Apip benar benar menghujaninya dengan kasih sayang. Baru kemarin Ara mengenalnya, tapi rasanya seperti seumur hidup Ara merasakan kasihnya. "Nak, rumah nenek selalu terbuka buat kamu. Kalo kamu kangen nenek, main kesini ya" "Eung, makasih nek." "Peluknya dikit lagi ya nek?"
Nenek balas permintaan Ara dengan kecupan hangat di pucuk kepalanya. Apip yang menjadi saksi hangatnya afeksi keduanya tidak bisa diam begitu saja. Apip usap lembut kepala Ara yang bersandar diatas dada neneknya. Rasanya, Apip tidak tega memisahkan keduanya. "Nek, Rafi sama Ara pamit ya?" "Iyaa, hati hati. Dijaga Aranya" "Iyaa nek. Pasti" Lambaian tangan dari keduanya menjadi ucapan selamat tinggal sebelum mobil Apip membawa mereka jauh dari kediaman indah itu. "Bahagia terus ya, kalian" —--- "Jjaaaaa, jadi ke pantai?" Kata Apip, merujuk rencana mereka tadi malam dimana mereka akan ke pantai dulu hari ini, melengkapi acara kabur mereka. "Hmm" hanya itu kata Ara. Baiklahh, Apip paham. Sangat paham, Ara pasti masih terbawa suasana tadi. Jadi Apip beri Ara ruang. Dan ia fokus menyetir menuju ke pantai yang berjarak sekitar 1 jam dari sana. —------
[11 : Kabur] "Sampaii" kata Apip membuyarkan lamunan Ara sejak tadi. "Loh, kok cepet katanya satu jam?" Balas Ara masih belum kembali ke sedia kala. "Ya lo ngelamun mulu, gue bawa ngebut aja sampe gasadar" "Maap pip" katanya lemah "Sayangg, kapan kapan kita ke nenek lagi kalo emang lo suka disana" "Hmmm, thankyou ya pip" "Iyaa, sekarang senyum dulu. Nanti indah pantainya redup kalo lo cemberut gini" "Gombal banget, wkwk" "Nahh gitu kan enak mata gue liatnya" "Iyadahh, ayo turun" Pantai yang mereka kunjungi sangat sepi, dan pantainya tidak sebesar pantai lainnya. Itu kecil, berada diantara dua karang besarr seperti tebing yang mengapitnya. Dan saat ini, hanya ada mereka berdua dan satu keluarga kecil disana. Tidak ada yang lain lagi.
"Pip, kok lo nemu pantai ginian sih?" "Dulu ga sengaja gue kesini sama ayah" "Tuh karang yang sebelah kiri itu, ada jalan naik kan? Nah kalo kita kesana trus turun lewat tangga, kita sampe ke pantai besar, yang rame, yang tadi kita lewatin" "Nah ini tuh kaya, potongan gitu lho, ketutup sama dua karang besarr" "Enak disini, tenang" Keduanya pun memilih duduk diatas pasir putih yang bersih menikmati deburan ombak yang sebenarnya cukup brutal itu. "Pip" "Iya sayang?" Niat hati pengen ngereogg, tapi gimana ya? Ara lagi pengen mode serius sekarang. Setengah matii Ara nahan diri. "Makasih ya?" "Ngga perlu" "Kok ngga perlu sih?" "Yaa gue kan melakukan apapun yang lo makasihin itu karena gue sendiri, jadi ya lo ngga perlu makasih untuk hal yang ga lo minta"
"Tapi lo beri ke gue cuma cuma pip. Dan itu, patut diapresiasi walaupun sekedar makasih" "Hmmm oke sayang, makasih juga karena lo apresiasi hal yang gue kasih cuma cuma ke lo, walaupun sebenernya apa yang gue lakuin bukan hal besar" "Besar pip. Besar banget" Apip tahan kalimatnya, ia berharap pancingannya ini akan berhasil. Berhasil membuat pacar cantiknya ini mengungkapkan isi hatinya. "Keluarga lo, bener bener memperlakukan gue dengan luar biasa pip" "Ayah, Bunda, Nenek, Hana, Hani, Om juga, mereka semua nganggep gue kaya anak sendiri" "Guenya dipeluk, dicium, diusap usap, dikasih nasehat, diajak ngobrol-" "-gue suka pip" Ara menundukkan kepalanya, menatap pasir yang menempel pada kakinya. Berusaha sekuat tenaga agar air mata tidak jatuh sebelum saatnya. Perlahan, tangan itu menggenggam tangan Ara yang lebih kecil. Iya, tangan itu lagi, tangan yang bertanda lahir yang selalu terasa hangat di hati Ara. "Gue, jadi keliatan ngga pantes buat lo pip" Jelas Apip terkejut. Apa apaan Ara ini? Ngga pantes darimananya? Seluruh keluarganya bahkan menyayangi Ara begitu besarnya. "Kata siapa?"
"Ayah? Atau Bunda?" "Emang nenek bilang gitu? Atau Om yang bilang?" "Ngga ada kan?" "Pip, gue lahir dari keluarga yang ngga sempurna" "Ssst. Sayang, ngga ada keluarga yang ngga sempurna di dunia ini." "Pip, papa gue udah ngga ada. Sejak umur gue 7 tahun" "Sejak saat itu juga, gue kehilangan kasih sayang" "Mama selalu pergi kesana kemari, pulang aja ngga tentu sebulan sekali, gue selalu ditinggal sendiri" "Kita berdua jadi jauh, bahkan gue ngga inget kapan terakhir Mama peluk gue dengan hangat kaya b-bunda peluk g-gue pip" Susah payah Ara selesaikan kalimatnya, nafasnya benar benar tidak bisa diajak kerjasama. "Mungkin Mama memang ada saat gue sakit, atau terjadi sesuatu sama gue. Tapi, gue ngga ngerasain hangatnya Mama yang dulu." "Sekarang, justru gue dapetin di keluarga lo pip" "Yang notabene orang asing" "Tapi gue bisa rasakan semuanya, kasih sayang kalian, ketulusan kalian, gue rasain semuanya pip" Pecah sudah tangis Ara sekarang. Sungguh tenggorokannya sangat sakit menahan tangis sejak tadi. Apip tarik Ara kedalam pelukannya. Ia peluk wanitanya erat, berusaha menyalurkan kekuatannya kepada kekasihnya.
Sungguh, hati Apip terasa seperti diiris iris mendengar setiap kata yang Ara ucap dari bibirnya, melihat mata yang hilang keceriaannya, melihat wajah yang absen senyumannya. "Sayang, my family is yours too" "Jangan berfikir kami orang asing sayang, tidak ada orang asing yang akan membiarkan orang asing lain memeluk dan mencium mereka kan?" "Mereka menganggapmu seperti anak sendiri, itu berarti bukan orang asing lagi. Am i right?" "Dan soal Mama, mungkin Mama masih butuh waktu sedikit lagi untuk kembali kaya dulu. Atau mungkin mama sedang nunggu kamu." "Sayangkuu, kamu itu hebat. Masa, kemarin bunda sama nenek minta aku buat jaga kamu" "Mereka bilang, 'Rafi jaga Ara yaa' padahalkan kamu sejak dulu sudah kuat dan pandai jaga diri kamu sendiri. Itu berarti kamu hebat" "Hadirnya aku disini. Disamping kamu, itu cuma bonus. hadiah. Soalnya kamu hebat" Dah tu, bayangin gimana Ara sekarang. Rasanya Ara mau ngutuk dunia apa lagi udah ga sanggup. Dia diakasih anugrah semacam Apip, yang membawa berjuta juta kebaikan kedalam hidupnya. Suara Apip yang lembut, rengkuhannya yang hangat, kata katanya yang sangat menyejukkan hati, sumpah, Apip bakat jadi kyai. Sudah ngga tahan lagi, Ara dekap tubuh Apip lebih erat, ia tenggelamkan wajahnya di pundak Apip dan menangis sekencang kencangnya disana.
Ara luapkan semua perasaannya lewat tangisnya. Perasaan sedih, haru, bahagia, syukur, semuanya. Ara tuangkan disana. "Thankyou Apip. Thankyou" "I'm so grateful that i have you" "Promise me you will always here with me, cause i will lost a half of my soul if you didn't" "Love you Apip" Bahasa inggris Ara sebenernya berantakan banget, soalnya sambil nangis ngomongnya. Mana keredam pundak Apip juga. Tapi ya, hati Apip bisa mendengarnya, semuanya, setiap kata, karena Apip tau, Ara berbicara tulus juga dari hatinya. "Udah dong ahh, baju gue basah lohh" "Udahan ya cantik nangisnyaa" "Kita kabur kan mau seneng seneng" Ara tegakkan tubuhnya, ia tatap laki laki itu tepat dimata indahnya. "Pip, thankyou" "Hhhh, iya iyaa. Mau berapa kali lo bilang itu. Udah ah" "Idung lo merah bangettt, gue tuh gemess kalo liat idung lo merah gitu. Pengen gue gigitt" "Jangan lah, abis ntar lo gigit" "Makanya udahan nangisnya yah?"
"Mau nyebur ga?" "Ngga" Dengan tiba tiba Apip raih tubuh Ara, dan dengan main main Apip bawa digendongannya dan berpura pura melemparnya ke air. "Aaaa apip, sumpah ombaknya gede banget anying bisa hanyut gue jangaaaann" "Janji ngga nangis lagi?" "Janji, aaaa. Iyaa janjii" "Hhhh, okee diampunin" katanya sambil menurunkan Ara dari gendongannya. Membuat kaki ara menapak di air, dengan sisa ombak yang kembali ke lautan. *splaashhh "AAAPIIIPPPP" teriak Ara saat air yang tidak sedikit, membasahi pakaiannya. Tentusaja oknumnya adalah Apip yang sengaja menyiramkan air pada Ara. "Hahahahaha" —------ "Sayang udah malem banget. Nginep aja ya?"
"Lo sengaja ya pip?" "Dikit si" "Yaudah, cari hotel deh yang deket" "Sekamar ya?" "Gila lo" "Gass" "Yeee, sama aja lo" "Wkwkwk" Begitu mereka mendapatkan referensi hotel yang bagus, juga sudah reservasi keduanya memilih beranjak dari tempat mereka makan saat ini. "Mampir minimarket dulu pip" "Beli apa?" "Popcorn, and ice cream sounds good for movie night" kata Ara dengan senyum paling indahnya. "Yoksiiii, pinter pacar gue nii" "Okee, mampir dulu kita"
Pokoknya mah jangan percaya sama kata kata popcorn sama ice cream doang. Mana mungkiinnn, buktinya sekarang tangan Ara dua duanya udah penuh sama snack. Apip juga gitu, banyak bener bawaannya. Ketika sampai dikasir, Apip berdiri di depan Ara, meletakkan semua belanjaannya. "Ra" goda Apip dengan meletakkan 1 bungkus 'k'word di meja kasir dengan tatapannya yang sungguh menjengkelkan. Dengan susah payah Ara mengacungkan jari tengahnya kepada Apip dengan tatapan mengancamnya. Melihat maungnya kumat, Apip tertawa renyah dan ia kembalikan lagi barang itu ketempat asalnya. Membuat mbak mbak kasir yang melihat kejadian itu ikut tertawa kecil. —------ "Beneran gamau Ra?" Apip tuhh bisa ngga sih sekaliii aja ngga jahil godain Ara? Udah sekarang lagi di hotel berdua, dua duanya udah mandi, mana dapetnya doublebed, suasana mendukung. Ehhhh Apipnya sengaja godain. Pengen rasanya Ara bejek bejek tuh si Apip, menghentikan pikiran kepalanya dari kemaksiatan.
"Fyi pip, gue nyembunyiin cutter loh. Kalo sampe itu terjadi, besok pagi cuma ada 2 kemungkinan kondisi" "Apaan?" "Lo yang mati, atau gue yang bunuh diri" "Anjir anjir, serem. Gak sayaangg becanda doang guee, Gabakal gue ngapa ngapain lo" "Paling dikit doang" "Awas aja" "Lo gatau kan gue nyembunyiin cutter dimana?" "Sayangg, ngancemnya jangan gitu" "Ya abisan lo gitu juga" "Hehehe nggaaa, suerrr" "Awas lo pip" —--- Dah, abis berantem gjls sekarang mereka asik nonton film dengan snack yang mereka beli tadi bertebaran diatas kasur mereka. Asli dah, itu jajanan kalo ditata bisa kali buka toko.
"Sayang, ini kalo kita ngaku lagi kabur berdua, apa yang bakal terjadi?" Tanya Apip. "Kalo gue sih yaa" "Satu zidan ngamuk, dua kala ngamuk, tiga kala marah, empat kala ngereog, lima gue bakal digoreng kali sama Kala" "Wkwkwk sebenci itu kala sama gue ya?" "Kala tuh gasuka lo gara gara lo dulu playboy pip. Dan gue juga heran. Kala tau itu darimana coba?" "Kala satu smp sama gue Ra" "Etdahhh, bangsat. Yang bener?" "Iyaa" "Pantesan" "Mana masa smp gue tuh masa paling bejatnya gue. Bisa kali gue sebulan ganti cewe 3" "Astaghfirullah Akhi" "Wkwkwkw lancar bener tuh mulut" "Wkwkkw, trus kalo lo gimana?" "Ya ga gimana gimana sih, mereka bertiga paling cemburu doang."
"Si Haje tuh, pernah crush ama lo" "Masa sih?" "Iya, kata dia lo bikin dia mabok pas year end party" "Wkwkkw Kala yaaa bukan gue" "Samaa.. deon sih.." "Kenapa deon?" "Gatau, dia tuh sensitif kalo soal lo. Dulu aja gue diancem sama dia kalo sampe gue mainin lo" "Kaya, emang dia siapa anjir." "Ya tapi gue paham sih maksud dia. Dia khawatir kalo gue bikin lo sakit." "Tapi kaya, tumben gitu loh, dia sepeduli itu sama cewe yang gue kejar" "Biasanya dia jg bodo amat gue mau bertingkah kaya gimana" "Itu tuh namanya deon nyuruh lo tobatt. Ya bagus lah" "Ya iyaa sih bener" "Coba dah gue cek dulu grup gue pada ngapain" "Iya coba"
Ara juga Apip tak habis habis tertawa membaca isi obrolan grup chat pengabdi mekdi itu bersama. Ya gimana ga bareng bacanya, orang Ara aja duduk diantara kakinya Apip, sandaran di dadanya lagi.
"Tolol banget si kala anjir. Namainnya kuli jawa" "Wkwkw, punya lo apaan pip namanya?" "James" kata apip tanpa berfikir "Wihh, apaan tuh?" "Jantan anti lemes" sumpah tolol banget anjim "Wkwkwkkw bangsat ngakak banget"
"Yaampun pip, cape gue ketawaa" "Lagian temen lo ada ada ajaa" "Mana temenlo? Ngomongin apa mereka?"
"Kok linknya mencurigakan ya?" Kata Ara melihat respon dari temen temen Apip yang sangat jelas sebenernya.
"Dah jelas bokep pasti" "Awkwkw, sering kelen share begitu?" "Ya bandarnya si Haje. Kalo dia ga ngirim mah, kaga nonton juga gue" "Wkwkwk" "Lo gamau respon?" "Ya barti gue harus nonton dong?" "Tonton lah" "Anjir" —-------
[12 : Terciduk]
Pesan beruntun yang masuk ke ponsel Apip, membuat sang pemilik menghentikan kegiatannya yang sedang bermain bersama Hana dan Hani, ditemani oleh Ara. Apip membelalakkan matanya kaget saat membaca pesan juga melihat bukti otentik foto yang Haje kirimkan. Lah sejak kapan Haje dibawah? Kok bisa dapet fotonya? Pikir Apip.
"Ra" panggil Apip serius membuat Ara memusatkan perhatiaannya penuh kepada Apip. "Kayaknya kita keciduk deh" "Hahh?? Keciduk apa?" Apip serahkan handphone yang menampilkan group chat balap itu kepada Ara. Dan Ara membacanya dengan seksama. "Lah anjir" "Gimana?" Tanya Apip harap cemas "Yaudah ngaku aja. Mau gmn lagi" "Ngga papa?" "Ya at least, we can face this together" "Hhh, yaudah. It's time to reveal?" "It's time"
—---- *ceklek "Nah in..ii ….." niat hati Haje ingin memarahi Apip begitu ia datang, tapi Haje justru dikejutkan dengan eksistensi Ara dibelakang tubuh Apip, mengikuti langkahnya. "Lah, Ara?" Sekarang ga cuma Haje yang kaget. Deon juga Jordan juga ikutan kaget. "Sejak kapan kalian deket?" "Sejauh apa hubungan kalian?" "Kok lo ngajakin Ara kerumah?"
Keduanya udah kek tersangka aja di bombardir pertanyaan. Mau jawab aja ampe bingung. "Satu satu monyed, Jawabnya gimana anjir" Apip pusing lah ya. "Gue sama Ara officially dating" kata Apip yakin dan mantab. "Sejak kapan?" Tanya deon mengintimidasi. "Ada kali 5 bulan" "Hah??" "Fak. Udah selama itu lo nyembunyiin dari kita?" Kesal Haje "Sori guys, gue kok yang minta ke Apip buat backstreet. Apip gaada niatan buat nyembunyiin dari kalian" kata Ara sambil cengar cengir. Ngga takut sih. "Kenapa harus backstreet Ra?" Tanya Jordan "Ya abis, temen temen gue bakal ribut nanti. Gue ngga siap digoreng sama Kala" "Hhhahhh.. Ra, Apip bersikap baik kan sama lo?" Tanya Deon yang justru membuat mereka semua terkejut. "Yaiyalah. Lo pikir gue bakal jahatin Ara?" Apip udah mulai aga maung nih. "Iya kok, Apip ga macem macem" dukung Ara.
"It's good then" dah, gitu doang si deon. Dia daritadi mukanya dataar banget, nada ngomongnya juga lempeeenggg banget. Gatau dah tuh kenapa kaya ga mood gitu. "Udah ya berarti ini? Jelas kan? Clear kan?" Tanya Apip. "Clear" "Yaudah" "Ra, kenalin mereka babu gue. Haje, Jordan sama Deon" "Babu mata lo" marah Haje "Iya tau kok dikit" "Semoga aja lo mau temenan sama mereka, soalnya ya gitu, lo tau gimana mereka buat gue." "Iyaa iyaa, paham kok" "Masa cuma temanan doang sih Pip? Selingkuhan sabi lahh" emang gaada takut takutnya si Haje ni. "Bangsat! Ngga!" "Sekarang tau deh lo muka muka dibalik grup chat kita yang isinya durjana" kata Apip sambil tertawa kcil "Lo bacain grup kita Ra?" Tanya Jordan heran
"Ga sengaja sih. Tapi sengaja juga gmn ya? Grup klen kan brisik ya trnyata obrolannya asik. Ya gue ikutan baca. Orang Apip balesinnya sambil peluk gue" "Yeuu. Yang terakhir gausah dibilang juga kalik. Bikin iri aja" protes Haje "Sekarang gue tau kalo Jordan suka kirim meme, deon yang responnya singkat padat jelas banget irit lagi, sama Haje yang suka kirim link bokep" "Shittt. Lo tau gue ngirim link?" "Orang dia yang buka" sambar Apip "Lo nonton Ra?" Kaget lah tiga orang lain disana. "Dikit" "Dikit apaaan, lo selesein ya Ra ampe akhir" "Lo juga nonton ya gausa brisik." "Kalian berdua. Nonton bkp? Barengg??" Kalian pasti bisa bayangin muka Jordan yang kaget bertanya tanya. "Iya" jawab keduanya kompak "ANJEENG TEMEN GUEE " dahlah, gatertolong emang couple ini. "Klen ga langsung pratek kan?" Yakali Jorr
"Kaga la anjir" "Bisa bisanya lo Pip ngajakin pacar lo nobar bgituann" "Lo hobi banget emang Pip ngerusak anak orang" itu kalo si Haje bisa ngerukiah tuh pasti dah di rukiah si Apip "Yang ada gue kali yang dirusak sama ni anak" kata Apip mengadu "Jangan ngaco lo" ya jelas lah Ara ga terima "Untung aja gue orang yang mentalnya kuat sekuat baja, imannya setebal buku fisika. Kalo kalian kan lembek, baperan lagi ade kcilnya" "Wahhhh lo jangan ade kcil shamming lo" protes Haje. "Iya anjir. Jangan lo bully ipul" Jordan udah pasang muka ngancemnya dia tuh. "Ipul?" Kata Ara bertanya. Sebenernya Ara udah nahan ketawa aja, tau arah pembicaraaannya. "Jor!" Tegur deon singkat. "Wkwkwkw si ipul siapanya james pip?" Sekarang udah ga bisa lagi Ara nahan ketawa. Sumpahh dah dikira kuli jawa udah yang paling aneh, ini masih ada ipul lagi. "Ipul itu, imut powerfull kata Jordan" jelas Apip yang membuat Ara semakin kencang tertawa.
"Lah anjir, kok ara kenal james sih?" "Wahhh emang ga bener lo Pip" "Kaga elah jee. Kita ngomongin itu juga gara gara grup dia. Si kala ama si zidan itu lagi ngomongin nama ade kcil mereka. Ya udah ikutan gue" "Ohh kirain" "Kenalin sekalian Ra, kalo ade kcilnya haje namanya Setiawan" Kata Jordan memperkenalkan dengan bangga "Apatuh?" Tanya Ara "Setrong tiada lawan " sumpah yaaa, ni kalo Ara bisa ketawa guling guling juga, Ara bakal guling guling sampe Arab, lucu bat bangsat. "Kalo deon" sambung Jordan belum kelar "Ngapain gue juga?" "Sst. Kalo ade kcilnya deon namanya Gani" "Apaan lagi tuh?" "Gagah dan berani" "Sialan, gue cape ketawaaa anjirr"
Apip yang liat Ara begitu akur dengan teman temannya tersenyum begitu lega. Dan Ara terlihat nyaman, tidak terganggu sama sekali dengan tingkah mereka. Itu membuat Apip tidak menyesali tindakannya. Sama sekali. Begitu juga dengan Deon, sejak tadi Deon sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ara yang tertawa. "I hope you always happy" —-----
[13 : Care] Sabtu malam, para karakter cerita kita ini sedang pada sibuk sendiri. Geng balap dengan balapannya, sedangkan Kala dengan liburannya di rumah keluarganya, Caca yang sedang membantu di kafe kakaknya, Zidan yang sibuk dengan tugas kelompoknya dan terakhir Ara yang sedang di gramedia. Ara menyetir sendiri dengan mobil dailynya. Mobil itu memang baik baik saja saat berangkat. Ara pun sudah mengeceknya. Tapi, entah kenapa, kini mobilnya mogok diparkiran. Ia tidak dapat menstarter mobilnya itu. Montir langganan memang telah coba Ara hubungi, tapi naas tak ada jawaban. Niat hati, Ara ingin berlari mencari bengkel terdekat. Tapi, justru hujan lebih dulu turun dan membuatnya terjebak didalam mobilnya. "Ah sial, payungnya ngga ada" "Temen temen lagi pada sibuk" "Apip udah selese belum ya?"
Duh, sepertinya Apip belum selesai. *tingg Notifikasi yang masuk di handphone Ara pun menarik atensinya. Dan cepat cepat Ara hidupkan layar handphonenya. Dan yah, ada nama Deon disana.
Ara pun bisa bernafas lega. Setidaknya ia tidak akan duduk di teras gramed sendirian semalaman. "Jor, kalo ntar Apip selesai, lo bilang ke dia gue jemput Ara" "Lah, bukannya Ara bawa mobil tadi kata Apip?" "Tadi gue liat di notif Apip, trus gue dm katanya mobil dia mogok, di sana ujan sekarang"
"Oalah, yaudah cepet sono lo. Kasian kalo nunggu sendirian" "Yaudah. Gue pergi dulu" Deonpun memacu mobil putihnya yang ia bawa ke arena malam ini, dan menempuh jarak sekitar 15 km itu untuk menjemput Ara. "Ini, kesempatan buat gue kan?" Ternyata benar, disini hujan deras. Dan gelap. Begitu Deon sampai di parkiran gramedia yang Ara sebutkan, ia melihat seorang wanita yang duduk di terasnya dan memeluk dua lututnya, ia telungkupkan wajahnya disana. "Raa" tak ada jawban sama sekali. Masa, di kondisi begini Ara bisa bisanya tidur? Deon meletakkan payung ditangannya, dan menepuk pundak Ara perlahan. "Raa" Berhasil. Ara pun mengangkat wajahnya. "Eh, udah sampe?" "Dengerin apasih asik banget ampe suara mobil gue aja ga kedengeran" "Suara hujannya serem, jadi gue muter lagu kenceng"
"Hahaha" "Gue udah call montir langganan gue. Dia bakal kesini bentar lagi kalo ujannya udah mendingan" "Gue anter lo pulang aja ya? Nanti mobil lo bakal dianter kerumah" "Di arena ngga ujan kan Yon?" "Hhh" "Engga, lo tenang aja." "Kalaupun hujan, pertandingan bakal diberentiin demi keselamatan kok" "Jangan khawatir" Sebenarnya, Ara sedikit terkejut ketika Deon mengulurkan tangannya untuk mengusap kepalanya lembut. Tapi, Ara merasakan sesuatu yang berbeda. Ketika Ara lihat mata tersenyum Deon, Kenapa rasanya hangat? Ditengah badai begini? Kenapa hatinya menghangat? "Oke dehh" "Yaudah ayok pulang" "Eung" —--- "Mmm Yon. Boleh nanya ngga?" Kata Ara ragu saat keduanya dalam perjalanan menuju ke kediaman Ara, setelah memberikan kontak mobil ke bengkel langganan Deon. "Tanya aja"
"Kenapa kalo lo senyum mata lo ilang?" Sumpahh yaa, Deon kira pertanyaan Ara bakal serius soalnya nadanya udah seserius itu. Tapi apa apaan? Yang keluar malah pertanyaan random begitu. "Hahaha gatau gue. Gara gara bokap kali" "Ohh, ayah lo gitu juga kalo senyum?" "Iya, jadi sipit tapi ga sampe ilang" "Hahhahaha, kalian mirip banget apa?" "Kata orang orang sih mirip. Padahal gue liat liat beda kok. Gantengan gue" "Ewhhh, pede mampus lo" "Lo udah makan Ra?" "Udah sih, tp tadi sore sebelum ke gramed" "Sekarang laper lagi?" "Iyaa hehhe" "Mekdi mau ngga?" "Sayangnya, gue ngga bisa nolak mekdi. Jadi ayo" "Hhhh"
Mobil civic typeR putih milik Deon telah terparkir dengan apik di salah satu gerai Mcdonals yang searah dengan kediaman Ara. Keduanya menerjang gerimis kecil dengan satu payung yang Deon gunakan sebelumnya. "Lo mau apa Ra?" "Double chesse aja" "Oke" "Kak, tolong double chesse nya dua, sama colanya 2 yang large" "Extra chesse ya kak" "Extra chesse kak" Keduanya bersitatap saat kompak mengatakan kegemaran keduanya. Ekstra chesse. "Gue aja" Deon tolak kartu yang Ara ulurkan kepada kasir untuk membayar pesanan mereka. Dan Deon gantikan dengan kartu miliknya. "Okee? Thankyou?" "Hhh" —--
"Harusnya gue aja tadi yang bayar. Kan gue udah repotin lo nih" kata Ara sambil mengunyah burgernya yang hampir sebesar wajahnya. "Hhh ngga papa, sekali kali" "Itu bibir dilap dulu. Belepotan banget makan" Ara raih tissue yang Deon ulurkan padanya, dan mengelap bibinya. Menurut seperti anak kecil. "Btw kok kita mirip sih, sama sama suka keju?" Kata Ara eksaitit "Siapa sih yang gasuka keju" "Apip" jawab Ara singkat. "Apip doyan kok" "Iyaa tapi bukan yang sukaaa banget, dia biasanya pesen yang reguler. Kalo ngga kejunya dia dikasih gue wkwkwk" "Enak dong lo dapet dobel" "Hooh hehhe" "Oiya Ra, gue mau nanya rada serius. Tapi jangan mikir aneh aneh, gue nanya pure sebagai temen aja" "Apaan?"
"Lo bahagia kan Ra, sama Apip?" Ara singgungkan senyum manisnya. Astaga, dibalik sikap dingin Deon, ternyata Deon sepeduli itu ya? "Ngga cuma sekedar bahagia, tapi gue bahagia banget. Keluarga Apip nerima gue dengan luar biasa baik. Mereka kaya nganggep gue anak sendiri, apalagi ayahnya Apip, hahhaha bisa kali gue main badminton sama ayahnya Apip seharian" "Keluarganya ya?" "Ooh, berarti udah sering ketemu sama keluarganya Apip?" "Sering, sama Ayah, Bunda, Hana Hani, sama om juga" "Mereka bener bener asik" "Iya sih, gue juga ngerasa mereka hangat banget" "Yakannn?" "Dari dulu, gue pengeeennn banget punya sodara. Rame gitu rumahnya" "Apalagi kakak, gue pengen banget punya abang" "Oiya?" "Hhh, iyaa. Gue pengen banget recokin dia pas tidur" "Nonton bola bareng" "Nemenin gue ps dirumah" "Night ride-"
Deon yang sejak tadi tidak mengalihkan tatapan matanya dari Ara, jelas mampu menangkap sorot lain dimatanya. Nada bicara yang awalnya eksaitit, sekarang menurun. "Tapi, kayaknya itu mustahil.." itu katanya sambil menunduk. "Oh, God" "Tapi ngga papa. Sekarang itu Apip yang ambil alih hahaha" "Ada kala, zidan juga" lanjutnya menepis perasaannya. "Hhh bener" "Ada gue, Jordan sama Haje juga kok Ra" "Lo boleh panggil gue abang kalo lo mau" "Hahahha, aneh lah. Ntar anak anak jadi kaget lagi" "Tiba tiba aja gitu gue *triingg punya abang" "Wkwkwk iya juga" "Tapi thankyou loh. Gue ngga nyangka lo orangnya care gini. Padahal lo luarannya keliatan dingin gitu" "Hh iyakah?" "Hooh, gue juga nyaman ngobrol sama lo" "Lo bisa ngobrol sama gue kapan pun lo butuh"
"At least, that's the only thing i can do for you Ra" "Hhhh thankyou" "Oiya, Apip selese jam berapa?" "Kalo on time, harusnya 15 menit lagi selesai" "Dia ambil 2 match malem ini" "Ah elaaahhh, tuanak emang kalo udah pegang setir ga bisa berenti" "Exactly" "Yaudah, pulang yuk. Lo cepetan balik kesana. Nanti Apip nyariin" "Iya" —---- "Lama amat lo jemput Ara?" Serang Apip yang sudah selesai dengan 2 matchnya saat Deon sampai di arena. "Mampir mekdi dulu tadi" "Bagus deh" "Thankyou juga udah bantuin dia" "Hmm" —----
[14 : It's You?] Hadeh hadehh, ni couple kita emang ya kerjaannya kalo ga kuliah, ya parti, ya main, ya santuy. Enak banget perasaan hidupnya, g kaya hidup writer (*hiks) Nah, setelah mendengar titah sang tuan putri, Apip segera menuju kerumah Ara tanpa basa basi.