Menenangkan adiknya, Deon tarik lagi Ara kepelukannya. Sungguh, rasanya tidak pernah hatinya selega ini. Tidak pernah darahnya mengalir sederas ini. Kini keduanya temukan apa yang keduanya dambakan. Keluarga. "AAARAAA MAAEE…Nnn y..okk" Lagi lagii. Aaaaarghhh bisa ngga sih jangan pada ngganggu momen haru kakak beradik yang terpisah 12 tahun lamanya itu. Mereka lagi kangen kangenan ya anjirrr. "Lahhh, ada apaan nih pada nangis?" Tanya Kala bingung, soalnya beneran pada merah matanya. Ya siapa sih yang ga ikut kebawa suasana drama Deon sama Ara?? "Lah?? Deon?" Bingung Zidan "Ihh, kita ketinggalan apasih?" Gemas Caca soalnya gaada yang ngerti kondisinya sama sekali. "Brisik ah kelen. Nanti di ceritain" sambar Ara. "HARUS YAA!!" —----- "Kita ketemu mama ya kak?" Tanya Ara setelah selesai menceritakan semuanya kepada sahabat sahabatnya, dari sudut pandang keduanya. Tidak ada yang ditutup tutupi, sama sekali.
"Mmm apa tante Farah bakal mau nerima Ra?" "Pasti" sambar Apip "Pasti mau. Gue bakal bantu kalian" "Hooh, gue juga bantu dukung deh ke mamah lo Ra" "Iyaa, tante Farah baik kok. Pasti bakal mau" Ara usap tangan Deon lembut, menatapnya seolah mengisyaratkan semua akan baik baik saja. Tenang saja. "I'll try" final Deon "Yaayyyy" teriak Ara sambil mengangkat kedua tangannya eksaitit *krruuukkk Hahhhh, gue capeeeee. Karakter di cerita ini gaada yang bisa diajak seriusss anjirr. Bisa bisanya disaat seperti ini perut Ara bunyi sekenceng ituu. "Laper dek?" "Hehheeh" "Siapa mau mekdi?" Tawar Deon santai "AKUU"
"GUEEEE" teriak Ara dan ketiga teman Ara eksaitit "Hhhahhh, sekarang gue ngga heran kenapa si Deon suka banget sama mekdi" "Orang adeknya aja brand ambassadornya" "Akhirnyaa, setengah dari lubang di hatimu telah berhasil tertutup Ra" "Sedikit lagi, sedikit lagi lubang itu akan tertutup kembali. Dan hatimu akan utuh lagi" "Liat kamu senyum bahagia gini, Rasanya kaya aku ngga bakal pernah siap buat mati Ra" —-----
[18 : Sempurna]
Apip dan Ara yang kebetulan sedang bersama itu tak bisa menahan tawa mereka. Wkwkw banyak yang kegocek ternyata, hanya karena twitt Ara dan Deon yang serupa. "Wkwk, orang orang pada kenapasih pip?"
"Ahhaha, biarin aja tu pada ribut sendiri" "Eh, emang lo gamau pamer kalo Deon kakak lo?" "Ngapain?" "Biarin aja ntar juga tau sendiri" "Hmm iya sih" "Kaya kita dulu. Aku emang ngga teriak ke dunia kalo kamu punyaku. Tapi dunia jelas tau kalo kamu punyaku kan" "Aaaanjaayy" "Pacar gueee keren benerr woy" "Wlkwk" "Oiya btw Ra, kapan ketemu mama ngomong soal Deon?" "Gatau." "Lah, mama emang pulang kapan?" "Gatau" "Nanyak dong sayang" "Gamau"
"Hhhahhhh…." Apip ubah posisi duduknya dipinggir danau itu, untuk menghadap kekasihnya. Ia genggam kedua tangan Ara yang lebih kecil dari miliknya itu. Apip kunci pandangan mereka, dan senyum teduhnya kini terbit di bibirnya. "Sayangg, aku tau kamu kecewa sama mama" Apip dengan mode seriusnya, benar benar menyihir Ara. Membuatnya diam seribu kata. Seperti biasa. "Aku tau, mama dulu melakukan kesalahan karena memisahkanmu dari kakakmu. Juga tidak membiarkanmu mengucapkan selamat tinggal pada papa di liang lahatnya" "Aku tau sayang" katanya sambil menyelipkan rambut panjang Ara di salah satu sisi telinganya. "Tapi coba deh, sekarang kamu lihat sudut pandang mama. Mama juga kecewa sayang. Mama juga dikecewakan" "Oke gini deh, bayangin kalo aku sekarang selingkuh sampe punya anak. Kamu kecewa sama aku ngga?" Ara tatap tajam mata Apip jelas Ara sedang mengancam dengan matanya. "Tuh kan kamu marah" "Begitu juga mama. Saat itu, dia hanya sedang kecewa, sampai mama lupa dengan rasa simpatinya"
"Saat itu, mungkin mama berfikir jika Deon selalu ada disekitarnya, maka mama akan selalu ingat rasa kecewanya. Mama akan selalu ingat penghianatan suaminya. Karena itu mama belum bisa menerimanya" "Tapi lihat mama sekarang, mama sudah lebih baik kan? Dia selalu berusaha menemanimu ditengah semua kesibukannya menjadi ibu sekaligus ayah bagi kamu" "Mama sekarang juga lebih berusaha untuk mengisi peran kakak yang ia renggut darimu" "Walaupun kamu, masih belum merespon mama dengan baik" "Tapi, mama berusaha kan sekarang?" "Mama lebih sering dirumah kan?" "Jadi, sekarang apa alasan kamu untuk kecewa padanya?" "Deon?" "Kita bahkan belum mencobanya kan?" "Sayang, sekali kali dengarkan hatimu" "Disana dia merindukan mama. Dia rindu pelukan mama" "Aku tau." "Bagaimana?" "Karena aku tinggal disana" Ara yang terpaku sejak tadi dengan air mata yang mengalir deras tanpa isakan itu, kini benar benar merasa hatinya diremat begitu kuatnya.
Ya Tuhannn. Selama ini, kemana perginya Ara? Sampai dia sendiri saja sama sekali tidak tau keinginan hatinya. Atau, memang Ara tidak ingin tahu. "Sayang, maafkan mama ya?" "Mama, benar benar kangen Ara yang manja padanya" "Dan kamu, juga kangen mama dan semua afeksinya" "S-sayang" Kata Ara sambil sesegukan "Iyaa?" "Bantuin aku ya?" "Pasti sayang. Pasti" Apip bubuhkan ciuman yang begitu dalam di kening Ara. Sungguh, Ara begitu bersyukur memiliki Apip didalam hidupnya. Tuhan, bagaimana bisa ada laki laki sesempurna Apip di dunia ini? Dan apakah hanya ada satu? Jika iya, kasihan sekali orang orang diluar sana yang membutuhkan sosok Apip didalam hidupnya. Karena yang satu ini, sudah paten milik Ara.
—---
—--- Deon dan Ara yang sedang duduk di sofa ruang tengah, dengan segala kegugupan mereka, keresahan mereka, kini dibuat semakin grogi ketika keduanya mendengar mobil yang mulai memasuki garasi. Sungguh, jantung keduanya sekarang berdetak sama kencangnya, darah mereka mengalir sama derasnya.
Suara langkah kaki mulai terdengar semakin jelas dan keduanya pun berdiri. Menyambut Mama yang yang mematung disana. "Mama" kata Ara "A-Ara. Siapa dia?" Bukan tanpa alasan mama menjadi gagap gempita seperti ini. Begitu matanya bersitatap dengan Deon, mama jelas hafal, bahwa mata indah itu, adalah mata yang membuatnya jatuh cinta. Mata yang tersenyum itu, sempat menjadi cahaya di kehidupannya. Dan kini, mata itu, bisa ia tatap lagi setelah sekian lama pergi. Hatinya tidak bisa berbohong. Laki laki muda dihadapannya ini, benar benar berfigur seperti cintanya. "Tante" sapanya singkat. "Ini Deon mama. Gideon Bhagaskara. Kakaknya Ara" Dengan langkah ragunya, mama berjalan mendekat kearah keduanya. Yang sedang bergandengan tangan, saling menyalurkan kekuatan mereka. Mama ulurkan tangannya, ia raih rahang tegas berkharisma itu untuk dia tangkup dengan sebelah tangannya.
*plakk Tamparan keras mendarat di pipi Deon dengan tiba tiba. "MAMA!" "Kamu pergi kemana ha?" "Dasar anak nakal. Kenapa kamu hilang begitu saja?" "Saya cari kamu kemana mana" "Kamu benci sama saya? Karena saya nolak kamu?" "Kamu ngga mikirin Ara?" "Dia marah sama saya gara gara kamu" "Kenapa kamu ngga cari Ara?" "Kenapa kamu ngga cari saya?" "Kenapa kamu.. pergii… gitu.. ajaa" Pecah sudah tangis mama setelah puas memarahi Deon, menumpahkan kekesalannya. Mama tuangkan semua perasaannya dengan ia tenggelamkan wajahnya di dada anak dari suaminya. Ia menangis sekencang kencangnya. Dengan gerakan lembutnya, Deon mulai rengkuh tubuh yang cukup kurus itu dengan hangat. Deon salurkan seluruh cintanya, sebisa mungkin membuat seseorang dipelukannya merasa aman dan tenang. "Tante, maaf" Satu kata dari Deon berhasil membuat Mama mendongak, namun, ia menatap Deon nyalang. Dan melepas rengkuhannya kasar.
"Tante?" "Ngga sopan kamu!" "Kamu terima Ara sebagai adikmu kan?" "I-iya" "Lalu kenapa kamu ngga nerima saya sebagai mama kamu?" "Tante, ma-" "Tante lagi." "Yasudah kayaknya memang kamu ngga mau nerima saya" "Ma-mama?" "Sorry" Kini, senyum kecil terbit di bibir sang mama. Dan kembali lagi, ia tubruk tubuh yang lebih tinggi darinya itu dengan kuat. "Terimakasih. Terimakasih sudah kembali" "Terimakasih sudah terima mama" "Maafkan mama ya?" "Ma, Deon juga minta maaf" "Harusnya sejak dulu saya cari kamu, harusnya sejak dulu saya rawat kamu"
"Ma, i'm here now. Mama ngga perlu merasa bersalah. Deon bisa memahami perasaan mama" "Maaf ya sayang?" Itu kata mama sambil menangkup dan mengusap rahang Deon penuh kasih sayang. "Harusnya Deon yang minta maaf ke mama" balasnya dengan senyuman di bibir juga matanya, yang benar benar membuat siapapun akan jatuh cinta. "HUAAAA ARA GA DIAJAAKK" "ARA DILUPAAINNN" Teriak Ara sambil nangis soalnya dia terharu + kesel ngga dapet giliran pelukan daritadi. "Astagaaa anak mamaaa" "Sini" Ara tubruk pun peluk tubuh mamanya, rasanya hangat. Sama seperti dulu. "Maafkan mama ya sayang? Maaf mama pisahkan kamu dari kakak kamu" "Maafkan mama karena mama tidak berfikir jernih kala itu" "Maaf kamu kecewa karena mama" "Mamaa, maaf juga Ara ngga bisa memahami situasi mama" "Maaf Ara ngga buka hati buat mama" "Ara juga selalu ngehindarin mama, sampe kita jadi jauh" "Maaf ya ma"
Siapa bilang hati itu hanya bagian kecil dari tubuh kita? Siapa bilang jantung itu hanya seukuran genggaman tangan kita? Padahal faktanya, jika kita melihatnya lebih jauh, jika kita merasakannya lebih dalam, itu bisa saja seluas samudra. Apip benar, hatinya hanya perlu didengar. Selama ini, Ara berusaha menutup telinga, dan terus memberi makan egonya. Sampai hatinya terdiam karena merasa terbungkam. Sekali saja Ara mendengarnya, dan menuruti apa maunya, ia merasa seluruh dunianya berubah seketika. Rasanya, semua beban telah terangkat dari bahunya. "Ma, kakak boleh tinggal disini?" Tanya Ara setelah ia melepas pelukan mamanya. "Tentu. Tapi katakan pada mama nak, selama ini kamu kemana? Tinggal dimana?" "Deon sama kakek ma, kakek dari mamanya Deon" "Ah, begitu ya?" "Kalau begitu, biarkan mama bertemu dengan beliau untuk meminta izin dulu ya?" "Baik ma, nanti Deon bilang ke kakek" "Yaaaaayyyyy" teriak Ara lagi, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Sini dulu peluk mamanya" Keduanya masuk kepelukan yang sama. Pelukan sang mama. Lagi lagi, kini dua duanya temukan lagi, apa yang keduanya dambakan. Yang keduanya idam idamkan. Keluarga. "Sangat beruntung bagiku mendengarkan Rafi, dan pulang untuk menemui Ara" "Jika tidak, semua hal baik ini mungkin saja terlambat" "Terimakasih nak, berkatmu, kini keluargaku kembali sempurna" —-----
"Kamu berhasil sayang. Kamu berhasil menyembuhkan dirimu" "Sekarang, ngga ada lagi sorot kesedihan dari matamu" "Senyummu sekarang begitu leluasa" "Kebahagiaanmu sekarang sempurna" "Begitu juga lubang dihatimu, sekarang aku sudah tidak bisa melihatnya. Ia juga tertutup dengan sempurna" "Semoga kamu selalu bahagia" —----
[19 : Long Lost] Memang hanya sekata, tapi notifikasi dipagi pagi buta dari kekasihnya itu, membuat Apip spontan membuka matanya lebar, dan kantuknya pun hilang seketika.
"Gapapa deh ga direcokin Ara hari ini, kasih kesempatan dulu buat Deon." "Tapi jangan harap besok besok gue kasih lagi" Itu monolognya sebelum Apip memilih untuk kembali ke posisi rebahannya dan menarik kembali selimutnya. Rasanya Apip kaya kembali ke masa jomblonya. Ketika hari libur kerjaannya cuma molor doang. Paling ama pushrank, dah. Jadi timbang kita jogrog doang liatin Apip yang mlungker dibalik selimut, mending kita ikut si abang ade yang baru aja di satukan kembali itu.
—--- "Kak, kakek orangnya gimana?" Tanya Ara yang kini duduk disamping sang kakak. Didalam mobil SUV yang jarang sekali keluar kandang (basement) Ara itu, kecuali sang mama sedang dinas ke luar kota dan banyak barang yang harus dibawa. "Kakek penyayang banget, tapi dia juga tegas didiknya." "Kamu ngga usah tegang" "Hmm gitu ya?" Sejujurnya Ara juga sedikit ragu untuk ikut sang kakak dan membantunya membawa seluruh barangnya dari rumah sang kakek dan berpindah ke rumah mereka. Karena itu berarti Ara akan bertemu dengan kakek dari kakaknya untuk yang pertama kali. *tok tok *ceklek "Kek?" Teriak Deon ketika ia memasuki rumah yang ia tinggali selama lebih dari 12 tahun itu. "Dibelakang De" balas suara itu dengan teriakan juga.
"Kek, ngapain?" Tanya Deon saat melihat kakeknya tengah sibuk di teras belakang mereka dengan alat alat dan kayu yang berserakan. "Bikin kandang" "Buat apa memang?" "Kakek mau beli kelinci sama marmut" "Hah? Buat apa?" "Ya kamu mau pergi, kakek kesepian. Yaudah kakek beli kelinci aja sama marmut yang banyak" Katanya masih sambil sibuk dengan perkakasnya tanpa memandang kearah cucu yang sebenarnya datang dengan seseorang disana. "Hhhh" "Deon digantiin sama kelinci gitu?" "Daripada kakek gantiin sama kambing?" "Hahaha" "Mmmm k-kakek?" Suara lembut dan ragu milik Ara berhasil menarik atensi lelaki yang masih saja aktif di usianya yang hampir menyentuh kepala 7 itu. "Eh, siapa ini? Pacar kamu De?" Tanya nya spontan langsung berdiri dan melepas sarung tangannya.
"Hahah, engga kek. Ini Ara, adenya Deon" "Oooh, Araa. Iya iya, kemarin Farah sempet bilang" "Cuantik ya?" "Iyalah, Deon aja ganteng, adenya cantik lah" "Masuk deh yuk, pasti kamu mau ambil barang kakak kamu kan?" Jahil kakek tidak menghiraukan Deon sama sekali, dan langsung membawa Ara kedalam rumah. "Hhhh, masih aja nyebelin" kesian Deon. "Kek, maaf ya." Kata Ara singkat dengan ekspresinya yang redup sejak tadi. "Kenapa sayang? Kenapa tiba tiba minta maaf?" "Maaf tiba tiba Ara ambil kakak dari kakek. Maaf kakek jadi kesepian gara gara Ara ambil kak Deon nya. Ara minta maaf ya kakek" "Hahah, ngga kok. Tadi kakek cuma bercanda." "Yah, memang mungkin rumah ini bakalan tambah sepi kalo gaada Deon. Tapi, ada juga sama aja sepi juga. orang Deon kerjaannya cuma ngegame sama balapan doang gaada yang lain lagi" "Kakek, Ara minta maaf ya kek"
"Nak, kakek justru terimakasih. Kemarin juga kakek sudah bilang ke Farah. Terimakasih sudah menerima Deon dengan segenap hatinya" "Padahal, kakek kalo ada di posisi Farah mungkin kakek akan ngerasa berat" "Tapi, kalian terima cucu kakek ini dengan kasih sayang berlimpah. Ya jelas kakek berterimakasih, sangat besar" "Kakek seneng, Deon mendapatkan Apa yang selama ini dia cari. Deon mendapatkan semua yang dia dambakan selama ini" "Dan kakek juga seneng, kakek dapet cucu satu lagi yang cantikk dan manis seperti kamu" "Kek, Ara boleh peluk nda?" "Waduh, kakek keringetan ini" "Kan habis nukang tadi" "Nda papa kek" "Hhh, yaudah sini" Begitu kakek merentangkan tangannya, Ara pun berpindah duduk ke sampingnya dan memeluknya erat. Lagi lagi, Ara temukan seseorang yang begitu hangat. Lagi lagi, Ara temukan seseorang yang begitu murah memberikan kasih sayang berlimpah. Apip benar ya? Hhhaahhh Apip lagi.
Apip bilang, 'lihat dan rasakan sekitarmu. Kamu akan menemukan banyak hal dari setiap orang. Memang tidak selalu hal baik, tapi setidaknya kamu bisa belajar dan melihat dunia dengan sisi pandang yang berbeda" Sudah kubilang kan, Apip itu bakat jadi kyai? Kadang, kalo Apip lagi mode serius gitu, langsunggg buka seminar motivasi tiba tiba. Gapeduli dimanapun mereka sedang berada. "Makasih ya kek, izinin Ara bawa kak Deonnya" "Iya, sama sama nak. Kalo Deon nakal, kasih aja dia cicak. Pasti dia bakal minta ampun 100 kali" "Kekk!" Protes Deon karena ia merasa kelemahannya yang sangat awikwok itu diungkap "Hahaha, duh kek. Ara aja juga takut sama cicak" "Waduh, ini kok kompak banget" "Apalagi yang sama? Keju juga?" "Hahah, iya kek" "Trus, itu juga, apa namanya? Kartun yang palanya kotak ijo itu apa?" "Boboiboyy kekk. Kakak suka juga?" Kata Ara begitu eksaitit
"Dia dulu, kalo udah nonton itu mau ada gempa juga ttp ngga gerak dari depan tv" "Hahahaha sama juga kek, Ara juga suka" "Kompak bener emang deh" "Yaudah lah. Deon beres beres aja. Lanjutin aja itu ungkap semua aib Deon ngga papa kek" sarkasnya lalu berdiri dan menuju ke lantai 2, ke kamarnya. "Hahha" "Oiya, kamu juga suka balapan kaya kakakmu itu?" "Mmm, suka sih kek. Tapi bukan buat ikut kompetisi kaya si kakak" "Yaa buat fun fun aja" "Emang, darah ngga bisa bohong ya?" "Deon itu, masih SD aja udah minta mobil ke kakek. Katanya pengen kaya papanya" "Baru waktu SMA kakek kasih mobil" "Ngga nyangka, perkembangan dia pesat banget" "Langsung jago" "Kakek aja sampe curiga dia sering diem diem main mobil" "Tapi ya udah ngga papa. Kakek dukung semua keinginannya. Sebisa mungkin" "Kakak emang jago banget kek, sekampus ngga ada yang berani nantangin kakak"
"Apalagi di turnamen terakhir pas liburan kemarin, juga kakak menang juara 1" "Jadi makin gaada yang berani lawan" "Hhh, kakek emang baru sekali ketemu sama papa kalian. Itu pas papa kalian minta izin kakek buat nikah siri sama mamanya Deon." "Tapi, dari situ. Kakek bisa lihat, Deon bener bener copy paste dari dia" "Bener kek, kakak tuh mirip banget sama Papa. Terutama matanya. Miiiriippp banget." "Tapi, bodohnya Ara denial sama semua itu" "Sampe Ara harus terlambat jemput kakak begini" "Ngga ada kata terlambat sayang. Yang penting, sekarang kalian sudah bersama. Dan keluarga kalian sudah lengkap sekarang" "Iya kek, Ara seneeeng banget" "Hhh, lucunya kamu" "Yaudah, kamu bantuin kakak kamu sana. Kakek mau mandi, habis ini jemput nenek ke spa" "Wkwk oke kek" —---- "De, mau mampir ke papa dulu ngga?" "Mmm, tapi beli bunga dulu ya kak?"
"Hhh, iya siap" Menjalankan rencana mereka, kini, keduanya membelah jalanan siang hari yang cukup padat karena weekend itu, untuk menuju ke salah satu komplek pemakaman besar di kota tersebut. Keduanya berjalan dengan banyak tangkai bunga ditangan mereka, menuju ke salah satu makam dengan batu nisan yang indah, pun nama yang terukir diatasnya. "Hai papa, hehe" sapa Ara dengan meletakkan tangkai bunga yang ia pegang di vas cantik disana. "Hari ini spesial loh, Ara kesini ngga sendiri. Yaa, walaupun biasanya juga ngga sendiri soalnya ada Apip, atau temen temen yang temenin Ara. Tapi, hari ini, Ara kesini sama kakaknya Ara loh" "Kak Deon ada disini loh pa, sama Ara" "Makasih ya pa, papa kasih Ara hal mustahil kaya kakak yang baikk banget. Ganteng lagi kaya papa" "Sampai kapanpun, Ara ngga pernah lihat kak Deon sebagai sebuah kesalahan. Karena ngga ada yang salah dengan jadi anaknya papa kan? Ngga ada yang salah juga dengan jadi kakaknya Ara kan?" "Ara sayanggg banget sama kak Deon pa. Walaupun Ara telat jemput kakaknya, maaf ya pa?" "Ara janji, habis ini. Ara ngga akan biarin kak Deon pergi lagi" "Nanti papa marahin Ara aja kalo Ara lupa. Jewer aja pa, Aranya" "Pa, jagain Ara, Kakak sama Mama dari sana ya?"
"Nanti, ketemu disana oke?" "Dah. Sekarang gantian kakakk deh. Cape Ara ngomong terus" Ara berikan kecupan manis di nisan sang papa, dan berjalan mundur memberikan ruang kepada Deon untuk menggantikan posisinya sebelumnya. "Halo pa" "Ketemu lagi" "Ngga banyak yang mau Deon bilang ke papa, udah sering juga Deon cerewet disini, pasti papa bosen juga kan?" "Tapi tetep pa. Deon ngga bakal bosen bilang ini" "Deon bakal pegang janji Deon ke papa, untuk jaga adik Deon apapun kondisinya" "Dan sekarang, Deon bakal jaga Ara, juga mama dari dekat pa. Dengan berada disamping mereka" "Papa ngga perlu khawatir. Ada aku, semua beres. Kaya dulu, papa suka bilang gitu" "Makasih juga pa, karena papa, Deon punya adik yang lucu, imut gemesin kaya boneka polar bearnya Deon yang papa buang dulu" "Hhh, sekarang Deon ga bakal kangen lagi sama tu boneka kayaknya. Udah ada gantinya soalnya" "Udah ya pa, kapan kapan Deon kesini lagi" Melakukan hal yang sama, Deon juga berikan kecupan manis di nisan sang papa. Biasanya Deon lakukan itu, dengan air mata yang menumpuk di sudut matanya. Tapi hari ini-
-oh, mungkin mulai dari hari ini, ia akan melakukan itu dengan senyuman di bibirnya. "Makam mamanya kakak sebelah mana?" "Kamu mau kesana juga?" "Eung" "Yaudah ayo, jalan rada jauh tapi ya?" "Ngga papa" Keduanya berjalan beriringan di tempat yang begitu sepi namun tertata rapi dan indah itu. Tempat indah, yang membangkitkan sejuta luka atas kehilangan. Setelah berjalan 10 menit, langkah keduanya berhenti di salah satu makam, dimana itu merupakan area keluarga besar Wardhana. "Hai ma" sapa Deon seperti biasa. "Mama pasti nangis kalo liat Deon kesini sama siapa sekarang" "Ma, disini ada adik. Adiknya Deon yang cantik. Yang biasa Deon ceritain ke mama" "Bantu Deon ya ma, bantu Deon buat tebus semua kesalahan Deon ke Ara" "Dan Mama Farah terima Deon ma. Mama Farah baik banget ya ma?, Mama Farah kuat banget"
"Sejak dulu, mama selalu pengen minta maaf kan ma ke Mama Farah? Deon udah sampein kemarin. Dan Mama Farah bilang beliau sudah berdamai dengan semuanya" "Mama Farah maafin mama, maafin Deon juga. Sekarang mama tenang disana, biar Deon yang tebus semuanya" "Mama gina.." Suara lembut milik Ara, disusul dengan Ara yang juga ikut berjongkok di hadapan nisan itu, mengagetkan Deon hingga membuat Deon mengalihkan tatapannya dari nisan sang ibunda, ke adik disebelahnya. "Kenalin ini Ara" "Pertama kali kita ketemu ya ma?" "Kak Deon bener ma. Mama ngga perlu khawatir, Kak Deon bisa atasin semuanya. Karena ada Ara yang bakal selalu bantuin kak Deon" "Ada Ara yang selalu disamping kak Deon" Ara menyinggungkan senyum manisnya. Apa apaan ara ini? Bukankah saat ini ia sedang berhadapan dengan seseorang yang menjadi alasan kehancuran keluarganya? Tapi, kenapa sekarang Deon malah justru melihat senyuman juga tatapan tulus tak ada sarat membenci sama sekali dari mata Ara? "Mama Gina pasti cantik banget deh, soalnya kakaknya Ara aja ganteng begini" "Makasih ya ma, sudah melahirkan kakak di dunia ini. Untuk Ara"
"Ara bahaagiaaaaa banget" "Sekali lagi, makasih Mama Gina" Senyum tulus nan manis yang menutup kalimat Ara, membuat jantung Deon berdenyut kencang. Sehebat itu adiknya. Setegar itu adiknya. Jika Deon adalah Ara, mungkin sampai matipun, Deon tidak akan pernah mau menginjakkan kaki di makam wanita yang menghancurkan keluarganya, apalagi memanggilnya dengan sebutan 'mama'. Ara menoleh saat merasakan usapan di kepalanya, dan menatap mata kakaknya yang berkilau karena menahan air mata. Coba Deon berkedip dalam sekali saja, maka air matanya akan terbebas dari sana. "Sudah kak? Mau pulang?" Tanya Ara sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapih "Emang ade gamau jalan jalan?" "Mmm kemana?" "Ya kemana aja" "Ade mau kemana?" "Eskrim yuk kak?" "Hahahah, tumben ngga mekdi?"
"Mekdinya nanti, Ara pengen eskrim" "Okee gas" —--------
[20 : Long Lost 2.0] "De?" "Hm?" Deon memecah keheningan diantara keduanya, sungguh ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Kamu, ngga marah?" "Marah kenapa?" "Ya it's like, mama ku, juga aku udah ngerebut papa dari kamu juga mama Farah" "Kalo aku jadi kamu, aku ga bakal mau ke makamnya, apalagi manggil dia mama" "Tapi, kamu?-" "Kak" Sahut Ara. Ia tidak mau, kakaknya ini menyalahkan dirinya lagi. Seperti kemarin. Sudah cukup, Ara tidak mau itu. "Hal kaya gini, pasti memang membawa kecewa" "Itu pasti" "Tapi kak, disini bukan mama gina yang satu satunya salah. Papa juga" "kak, Ara sudah berdamai dengan itu. Memang takdir yang mengharuskan kita begini" "Dan coba bayangin kalo papa ngga ketemu mama gina? Aku ngga akan punya kakak yang hebat kaya kakak"
"Aku ngga akan punya seseorang yang selalu membawa sosok papa pada dirinya" "Karena Ara juga tahu, mama Farah tidak akan bisa punya anak lagi, bagaimanapun caranya" "Bahkan dulu, saat ingin mendapatkan Ara, mama sama papa berusaha begitu keras bahkan sampai mempertaruhkan nyawa" "Karena itu, Ara lahir setelah 3 tahun usia pernikahan mama dan papa" "Karena itu juga, kakak lahir sebelum Ara" "Papa hanya putus asa saat itu" "Papa menginginkan bayi, tapi mama tidak segera memberikannya." "Lalu papa bertemu mama gina, dan mendapatkan kakak" "Kakak tau kan pasti betapa bahagianya papa?" "Kakak jangan merasa bersalah ataupun menyalahkan diri sendiri lagi oke?" "Ara ngga suka" "Hhh, baik tuan putri" katanya sambil meraih dan mencium punggung tangan Ara. Senyuman terbit di bibir keduanya, sepanjang perjalanan mereka menuju ke kedai eskrim itu, terasa begitu luas. Hati mereka terasa begitu ringan. Itu yang terjadi saat hati berhasil mengkihlaskan.
Puas sekali dua orang ini menghabiskan waktu mereka seharian jalan jalan sambil menjahili orang orang di internet. Keduanya memang merencanakan ini, dan mengatakan pada yang lainnya untuk diam saja.
"Hahahah, asik banget" kata Ara yang memang sangat suka jahil seperti ini.
"Hhh, dek. Orang orang pada ribut" "Biarin aja kak. Seruu" Keduanya kini telah berada di sebuah tempat makan yang cantik, mereka mengurungkan niatnya untuk pergi ke mekdi, karena mereka sedang menginginkan suasana yang tenang. Karena itu, mereka sekarang berada di sebuah restoran mewah yang berkonsep outdoor, berada di rooftop sebuah hotel. Yah, mereka sedang dinner. "Kak tanya dong" "Hm?" Kini, obrolan mereka semakin menghangat. Ditambah dengan red wine yang berada di meja mereka sekarang, membuat suasana menjadi semakin hangat. "Pas dulu, kita pertama kali makan di mekdi berdua. trus kakak nyuruh Aku manggil abang, itu-" "-kakak udah tau?" "Sudah" jawabnya sambil meletakkan gelas wine setelah mengambil satu tegukan isinya. "Kenapa ngga bilang sejak itu?" "Aku, takut"
"Kenapa?" "Aku gak berani, muncul di hadapanmu sebagai anak dari selingkuhan papamu" Ara terdiam, sedalam itu Deon menyalahkan dirinya. Ternyata, tidak hanya Ara yang memiliki lubang di hatinya. "Lalu, pacarmu itu bilang padaku. Jika tidak berani muncul di hadapan mu sebagai anak selingkuhan papamu, maka aku bisa muncul di hadapanmu sebagai kakakmu" "Ah… Apip.." "Dan aku rasa, itu tidak buruk. Dan aku menurutinya untuk menemuimu dan mengakui semuanya hari itu" "Thankyou sayang" "Lalu, sejak kapan kakak tau?" "Sejak pertama kali kita masuk kuliah. Aku melihat mu bersama mama. Disitu aku tahu kau adalah Ara. Anak kecil cantik yang membela ku ketika ditolak" "Yaampun kaakkk. Itu udah lama bangettt" "Kesel bangett kakak baru bilang sekarang ih" "Maaf ya?" "Kalo ade, sadarnya kapan?"
"Sebenernya pas kakak jemput aku waktu itu di gramed, aku sedikittt kaget pas liat kamu senyum" "Tapi, akunya denial" "Maaf juga ya kak?" "It's okay ade. Udah deh gausah ngomongin beginian" "Oiya satu lagi kak" "Apa?" "Dulu, Apip pernah bilang kalo kakak tuh kaya berusaha ngalangin Apip deketin aku. Kenapa tuh?" "Hahah, soalnya aku tau kalo Apip itu playboy banget" "Aku ngga mau kalo kamu sampe dimainin atau disakitin sama Apip" "Tapi, pas liat kamu ke basecamp, dan ngaku dihadapan kita langsung. Lihat senyum kamu, lihat ketawa kamu. Aku luluh" "Aku pikir, Apip sudah lebih baik" "He is" "It's good then" "Kak, yang tadi-" "-Ayo kita tambahin satu lagi"
"Wkwkwk ayo"