The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BUKU Pembelajaran Pengajaran dan Asesmen Anderson

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by muklisipanu, 2021-10-13 23:44:03

buku Pembelajaran_Anderson

BUKU Pembelajaran Pengajaran dan Asesmen Anderson

untuk menilai hasil kerja siswa. Perintah pertama mengharuskan
siswa menafsirkan (Memahami) dan memproduksi (Mencipta), sedangkan
perintah kedua mengharuskan siswa membedakan (Menganalisis) dan
memproduksi (Mencipta). Meskipun kedua perintah ini mengharuskan
siswa Mencipta, tugas kelompok yang berbeda-beda menuntut kate-
gori-kategori proses kognitif tambahan yang berbeda pula sebelum
atau selama siswa Mencipta. Maka, dengan berbagai pilihan adegan
yang ada, sebagian siswa akan mengerjakan tugas-tugas yang me-
merlukan proses-proses kognitif yang lebih kompleks dan, karena-
nya, boleh jadi lebih sulit. Perintah-perintah tersebut, sejalan dengan
tujuan pertama, mengharuskan siswa membawa Macbeth dalam
konteks modern (yakni, seting modern, format koran).

Jika kita memerhatikan lima kriteria penilaiannya, akurasi (dan
mungkin juga ketelitian) mengharuskan siswa mengingat pengetahuan
faktual. Kreativitas tampaknya menuntut siswa untuk mencipta [ber-
dasarkan] pengetahuan faktual dan konseptual. Tiga kriteria lainnya
—ketelitian, kemenarikan, dan bentuk yang tepat— semuanya meng­
haruskan siswa memahami pengetahuan konseptual. Siswa harus tahu
apa yang menjadikan hasil kerjanya teliti, menarik, dan dalam bentuk
yang tepat. Maka dari itu, kriteria-kriteria selain akurasi tidak ber-
kaitan dengan isi dramanya, tetapi hanya berkaitan dengan tingkat
kualitas pekerjaan siswa yang diinginkan.

Saya juga mengadakan ujian akhir untuk unit pelajaran Macbeth.
Ujian ini berisi tiga bagian: (1) menjodohkan deskripsi dengan
tokoh tertentu; (2) jawaban singkat tentang "apa", "di mana",
"kapan", "siapa", "mengapa", dan "berapa"; dan (3) kutipan
(siswa menulis siapa yang mengucapkannya, kepada siapa
kutipan itu diucapkan, dan dalam kondisi apa kutipan tersebut
diucapkan). (Lihat Lampiran E pad a akhir bab ini.) Ujian ini
mengetes "pengetahuan faktual" —saya kira penting bagi siswa
untuk menghafal peristiwa-peristiwa tertentu dalam drama ini
dan juga tokoh-tokohnya yang terkait dengan peristiwa-peris­
tiwa itu.

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth 2 2 1

Komentar

Tulisan Ms. Jackson tentang ujian tersebut dan pengamatan
sekilas kami terhadap ujian itu menunjukkan bahwa ujian akhir ini
jelas masuk dalam kotak A1 pada Tabel Taksonomi: mengingat
pengetahuan faktual.

Akan tetapi, pada saat yang sama, saya lebih senang dengan
proyek kelompok dan dramatisasi oleh siswa-siswa, yang saya
kira akan menjadi pengalaman belajar yang tak mudah dilupa-
kan. Selama mengajarkan Macbeth, saya melihat mereka makin
terampil dalam membuat suatu produk, juga menyelesaikan
pekerjaan jangka panjang atau mementaskan drama di kelas
hanya dengan persiapan 15 menit.

Saya selalu menilai keberhasilan atau kegagalan usaha
siswa berdasarkan respons siswa, dengan kriteria-kriteria in­
formal seperti antusiasme siswa dalam berdiskusi danberparti-
sipasi. Dalam pembelajaran Macbeth, siswa lama-kelamaan
makin bersemangat dalam mengemukakan pendapat, membaca
dan menampilkan adegan-adegannya (yang saya pandang
sebagai tanda yang terang bahwa mereka tidak hanya belajar,
tetapi juga menikmati tantangan ini).

Agaknya, tugas yang menantang tidak terlalu sering di-
berikan di sekolah mereka. Seorang siswa mengatakan, "Se-
andainya saja sebelumnya kami pernah membaca karya sastra
yang sulit dipahami!" Saya menganggap perkataan tersebut
sebagai ukuran keberhasilan unit pelajaran ini.

Komentar

Ms. Jackson "lebih percaya" pada proyek kelompok ketimbang
pada tes. Maka, tujuan pertamanya merupakan tujuan "nyata" dari
unit pelajaran ini, sedangkan tujuan kedua merupakan tujuan utama
karena tujuan ini "diharapkan" oleh siswa dan/atau sekolah. Ms.
Jackson juga mengases efektivitas pembelajaran ini dalam pengertian
sikap (respons) siswa terhadapnya (yakni, makin senang, makin

222 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

antusias, menikmati tugas yang menantang). Analisis kami atas
asesmennya dalam Tabel Taksonomi disajikan pada Tabel 9.3.

BAGIAN 4: KOMENTAR PENUTUP
Pada bagian ini, kami akan menilik dan mengomentari sketsa

pembelajaran Macbeth dengan empat pertanyaan pokok: pertanyaan
tentang pembelajaran, pertanyaan tentang instruksi, pertanyaan
tentang asesmen, dan pertanyaan tentang kesesuaian di antara ketiga
komponen itu.

Pertanyaan tentang Pembelajaran
Fokus unit pelajaran ini jelas membantu siswa memahamt penge-

tahuan konseptual. Melalui konsep-konsep seperti pahlawan tragis,
sifat buruk, dan ironi, Ms. Jackson percaya bahwa siswa-siswanya
dapat "menangkap relevansi karya sastra ... dengan kehidupan
mereka sendiri". Namun, pada saat yang sama, Ms. Jackson agak
pragmatis. Ia percaya bahwa siswa-siswa perlu mengingat detail-
detail tertentu dalam Macbeth. Mereka perlu mengingat detail-detail
ini pada saat tes nanti; selain itu, dapat "berbicara" tentang Macbeth
mempunyai "makna sosial" tertentu.

Pertanyaan tentang Instruksi
Sebagian besar waktu dalam pengajaran unit ini digunakan

untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berkaitan secara langsung
atau tidak langsung dengan tujuan pertama. Dalam pengajaran se­
bagian besar babak drama ini, siswa terlibat dalam aktivitas-aktivitas
yang berkaitan dengan kategori-kategori proses kognitif yang lebih
kompleks: Menganalisis (Babak II, IV, dan V); Mengevaluasi (Babak III
dan IV); dan Mencipta (Babak II dan III). Stimulus untuk melibatkan
siswa dalam aktivitas-aktivitas tersebut adalah pertanyaan-pertanya-
an yang dikemukakan gurunya. Walaupun rumusan tujuan atau
asesmennya tidak memakai nama-nama kategori proses kognitif ini,
kami berpendapat bahwa Ms. Jackson tetap menggunakan proses-

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth 2 2 3

224 Tabel 9.3. Analisis Sketsa Pembelajaran Macbeth dalam Tabe

Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen Dimensi 1. 2. D
Pengetahuan Mengingat Memahami Menga

A. Tujuan 2 Proyek baris 1

Pengetahuan Ujian akhir,

Faktual Proyek C1

B. Tujuan 1 Aktivitas
Pengetahuan pendahuluan dan
Konseptual aktivitas-aktivitas
untuk Babak l-V, Ca-
C. tatan harian, Pem-
Pengetahuan bandingan pentas,/
Prosedural Proyek baris 1, Pro­
yek baris 1, Proyek
C2,4, dan b.

el Taksonomi Berdasarkan Asesmennya

Dimensi Proses Kognitif

3. 4. 5. 6.
aplikasikan M e n g an a lisis Mengevaluasi Mencipta

Aktivitas-aktivitas Aktivitas-aktivitas Aktivitas-aktivitas
untuk Babak II dan
untuk Babak II Proyek untuk Babak III III Proyek baris 1;
baris 2 Proyek baris 2

Aktivitas-aktivitas Aktivitas-aktivitas Aktivitas-aktivitas
untuk Babak II, IV untuk Babak III dan untuk Babak II dan
dan V Proyek ba­ IV III Proyek baris 1;
ris 2 Proyek baris 2;
Proyek C3

Dimensi 1. 2. D
Pengetahuan Mengingat Memahami Menga

D.
Pengetahuan
Metakognitif

Keterangan:

Tujuan 1 = Siswa belajar menangkap relevansi karya sastra

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth Tujuan2 = Siswa mengingat bagian-bagian penting dari dra

Proyek baris 1 = Perintah: Pilihlah sebuah adegan dalam drama i

Proyekbaris2 = Perintah: Buatlah koran Indonesia Pos yang mem

Proyek C1 = Kritera: akurasi

Proyek C2, 3,4,

dan 5 = Kriteria: ketelitian, kemenarikan, dan bentuk yan

Kotak-kotak yang berwarna hitam menunjukkan kesesuaian yang p
asesmen terdapat di dalam kotak yang sama. Kotak-kotak yang berw
sama.

Dimensi Proses Kognitif

3. 4. 5. 6.
aplikasikan M e n g an a lisis Mengevaluasi Mencipta

/

a seperti Macbeth dengan kehidupan mereka sendiri.
ama ini.
ini dan tulislah kembali adegan itu dalam seting dan bahasa modern.
mberitakan peristiwa-peristiwa penting dalam drama itu.

ng tepat.
paling tinggi di antara ketiga komponen—tujuan, aktivitas pembelajaran, dan
warna lebih terang menunjukkan dua komponennya terdapat dalam kotak yang

J

proses kognitif tersebut untuk meningkatkan pemahaman siswa
tentang drama Macbeth. Ini merupakan contoh yang bagus perihal
penggunaan proses-proses kognitif yang kompleks untuk membantu
siswa mencapai tujuan-tujuan yang kurang kompleks. Penggunaan
proses-proses kognitif yang kompleks ini dimaksudkan tidak untuk
menguasai proses-proses kognitif tersebut, yang memang tidak di-
cantumkan dalam tujuan-tujuan pembelajarannya, tetapi praktik pro­
ses-proses kognitif ini dimaksudkan untuk memperdalam proses-
proses pemahaman siswa.

Perlu dicatat bahwa tak satu aktivitas pembelajaran pun yang
berkaitan dengan tujuan kedua (yakni Siswa mengingat detail-de­
tail penting dari drama ini). Siswa tampaknya diharapkan untuk me­
nguasai pengetahuan ini ketika melihat pementasannya, membaca
dan menampilkan drama Macbeth, dan mengikuti berbagai aktivitas.

Pertanyaan tentang Asesmen

Dua asesmen formalnya adalah proyek kelompok dan ujian
akhir. Dua asesmen ini mempunyai tujuan-tujuan yang bertentangan
dengan kontinum proses kognitif; proyek kelompoknya menuntut
proses kognitif Mencipta dan ujiannya menutut proses kognitif Meng­
ingat. Hanya satu dari dua kriteria penildian siswa yang terfokus
pada isi drama: akurasi dan ketelitian. Dua kriteria lainnya menekan-
kan bentuk produk akhir: kemenarikan dan bentuk yang tepat.

Tabel 9.3 menunjukkan inkonsistensi antara perintah-perintah
yang diberikan kepada siswa untuk menyelesaikan proyek kelompok
(baris 1 dan baris 2) di satu sisi, yang berada dalam kotak-kotak A2,
B2, A4, B4, A6, dan B6, dan kriteria-kriteria yang digunakan untuk
menilai hasil proyek kelompok (C1-C5) di sisi lain, yang berada
dalam kotak-kotak A l, B2, dan B6. Anda mungkin mengklasifikasi-
kan perintah dan kriteria ini dalam kotak yang sama. Alih-alih,
keduanya sebenarnya berada dalam dua kotak yang berbeda: B2
(:memahmni pengetahuan konseptual) dan B6 (menciptakan [berdasarkan]
pengetahuan konseptual). Akan tetapi, perintah-perintah proyek ter­
sebut ditempatkan dalam empat kotak yang tidak mempunyai

226 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

kriteria: A2 (memahami pengetahuan faktual), A4 (menganalisis [ber-
dasarkan] pengetahuan faktual), B4 (menganalisis [berdasarkan] pe­
ngetahuan konseptual), dan A6 (mencipta [berdasarkan] pengetahuan
faktual). Satu kriteria lagi ditempatkan dalam satu kotak yang tidak
mempunyai perintah proyek: A1 (mengingat pengetahuan faktual).
Siswa akan menjadi salah langkah bila keinginan mereka untuk men-
dapatkan nilai yang bagus mendorong mereka berusaha membuang
aspek-aspek penting lainnya, seperti tidak mempelajari aspek-aspek
drama yang merupakan pengetahuan faktual.

Pertanyaan tentang Kesesuaiannya

Kita dapat secara jelas melihat kesesuaian antara tujuan,
aktivitas-aktivitas pembelajaran, dan asesmennya dalam Tabel 9.3.
Ujian akhirnya bersesuaian dengan tujuan kedua, yakni mengingat
fakta-fakta penting tentang drama itu. Namun, seperti telah di-
sebutkan sebelumnya, tak ada aktivitas pembelajaran yang berkaitan
secara langsung dengan tujuan atau ujian akhir tersebut.

Kesesuaian yang tinggi tampak antara aktivitas-aktivitas pem­
belajaran dan proyek kelompok. Seperti telah disebutkan terdahulu,
Ms. Jackson menjadwalkan lima hari pertemuan bagi siswa untuk
mengerjakan proyeknya. Selain itu, sebagian besar aktivitas pem-
belajarannya terfokus untuk membantu siswa mengembangkan
Pengetahuan Konseptual (baris B dalam Tabel Taksonomi).

Ketidaksesuaiannya terlihat lebih jelas ketika kita mencermati
kotak-kotak pada Tabel 9.3 ketimbang pada kolom dan barisnya.
Misalnya, meskipun kebanyakan aktivitas pembelajaran menekan-
kan Pengetahuan Konseptual, aktivitas-aktivitas pembelajaran tersebut
menuntut proses-proses kognitif siswa yang berbeda. Dalam banyak
kasus, proses-proses kognitif yang dituntut ini di luar Memahami,
yang merupakan sasaran tujuan kedua dalam unit pelajaran Macbeth.
Akan tetapi, sebagaimana telah diterakan sebelumnya, Ms. Jackson
sepertinya berusaha menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam
dan tahan lama dengan mendorong siswa mengolah apa yang di-
sebut tingkat-tingkat kognitif yang lebih tinggi. Sama halnya, walau-

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth 227

pun kolom Mencipta berisikan aktivitas-aktivitas pembelajaran dan
asesmen, kolom itu tidak berisi tujuan pembelajaran. Syahdan, cukup
beralasan bila Memahami (proses kognitif dalam tujuan pembelajaran
ini) menjadi salah satu kriteria yang dipakai untuk mengases proyek
kelompok.

BAGIAN 5: PERTANYAAN-PERTANYAAN PENUTUP

Dalam menganalisis semua sketsa pembelajaran, kami masih
memiliki beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Dua pertanyaan
paling penting yang belum terjawab dalam menganalisis sketsa
pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

1. Apa peran kategori-kategori proses kognitif yang lebih kom-
pleks dalam menumbuhkan Pengetahuan Konseptual? Ms. Jackson
ingin membantu siswa-siswanya melihat hubungan antara
drama Macbeth dan kehidupan mereka sendiri. la melakukannya
dengan menggunakan Pengetahuan Konseptual. Sebagian besar
siswanya mengetahui "pahlawan-pahlawan tragis"; mereka
mengalami "ironi". Konsep-konsep tersebut menggiring mereka
menghubungkan antara drama Macbeth dan kehidupan mereka
sendiri. Kendati Ms. Jackson terfokus pada memahami pengetahu­
an konseptual, ia mengajak siswa-siswanya berdiskusi pada
tingkat-tingkat proses kognitif yang tinggi (yakni, Menganalisis,
Mengevaluasi, dan Mencipta). Asumsinya, dan ini cukup bisa di-
terima, Pengetahuan Konseptual dapat dikembangkan melalui
aktivitas-aktivitas tersebut.

2. Apa kelebihan dan kekurangan dari kebebasan siswa untuk me-
milih aktivitas pembelajaran dan tugas asesmen? Ms. Jackson
beberapa kali memberi siswa-siswanya pilihan-pilihan dalam
unit pelajaran ini. Misalnya, ia menyilakan mereka untuk me-
milih video yang akan mereka tonton sampai selesai. Ini
merupakan pilihan yang diberitahukan (informed choice); pilihan
tersebut berdasarkan pembandingan adegan yang sama pada
tiga rekaman pentas Macbeth yang berbeda (lihat Lampiran A).
Siswa juga berkesempatan memilih proyek kelompok. Namun,

228 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

dalam pemilihan proyek kelompok ini, siswa tidak mengetahui
perbedaan-perbedaan proses kognitif yang dituntut pada pro-
yek-proyek tersebut, sebagaimana kami tunjukkan dalam
analisis kami (lihat Tabel 9.3). Kelompok-kelompok itu bisa
mendapat tugas yang kurang kompleks atau lebih kompleks
secara kebetulan. Lantaran pedoman penskoran yang digunakan
untuk menilai semua tugas sama saja, pilihan proyek kelompok
ini dapat mengakibatkan perbedaan nilai yang diperoleh siswa
hanya karena jenis tugasnya, bukan karena perbedaan kualitas
hasil kerjanya. Guru-guru kerap kali mencoba mengatasi masa-
lah ini, tetapi sulit melaksanakannya.
Dua contoh pemilihan yang dilakukan siswa di atas sangat ber-
beda. Pada contoh pertama, siswa memilih video berdasarkan infor-
masi dan kesepakatan kelompok. Pemilihan semacam ini sangat
dapat meningkatkan minat dan rasa-memiliki siswa. Pada contoh
kedua, pemilihan proyek kelompok bisa menjadi faktor pengganggu
dalam menentukan nilai siswa. Praktik pemilihan yang proporsional
dan kelengkapan informasi yang dibutuhkan siswa untuk membuat
pilihan yang "baik", serta implikasi dari beragam pilihan siswa pada
pencapaian pelbagai tujuan pembelajaran dan pada penentuan nilai,
merupakan masalah-masalah yang dipikirkan oleh para guru dan
peneliti. ■

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth 229

Lampiran A: Lembar Penilaian Terhadap Tiga Video Macbeth

Roman Polanski Orson Welles BBC

Seting

Suara

Pencahayaan
Efek Khusus

Tukang-tukangSihir \
Macbeth ______ — ---------------------------------------------
Lady Macbeth

230 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Lampiran B: Esai Tentang Perbandingan Antara Tiga Video Macbeth Karya William
Shakespeare

1. Bagian pendahuluan membicarakan pertanyaan-pertanyaan
tentang apa saja yang seharusnya ada dalam pementasan drama
Macbeth yang bagus.

2. Tesis merupakan bagian terpenting dari pendahuluan. Tesis
harus terfokus pada efek-efek sinematik (seting, suara, pencaha-
yaan, efek khusus) dan pemeranan (Macbeth, Lady Macbeth,
tukang-tukang sihir) dalam adegan-adegannya pada setiap
video. Kalimat-kalimatnya berisikan kelebihan-kelebihan setiap
video.

3. Batang tubuh esai ini berisikan gagasan-gagasan yang dikem-
bangkan dari tesisnya. Setiap video dapat dibahas secara ter-
pisah, atau setiap topik dari ketiga video dapat dikupas secara
terpisah (efek sinematik dari ketiga video dibicarakan terlebih
dahulu, baru kemudian pemeranannya).

4. Kesimpulannya mengemukakan kembali gagasan utamanya
dan menunjukkan video mana yang paling mengesankan dan
paling bagus dalam mementaskan naskah dramanya.
Tulislah bagian pendahuluannya di bawah ini:

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth 231

Lampiran C: Catatan Harian Video Macbeth

Dalam lima kali pertemuan, siswa-siswa menonton salah satu
video Macbeth yang mereka pilih sendiri, setelah mereka selesai mem-
baca dan mendiskusikan setiap babaknya. Setiap siswa diminta me-
nulis catatan tentang kesan, pendapat, dan pertanyaan-pertanyaan
menyangkut video tersebut. Setiap siswa harus menulis satu catatan
ulasan sebanyak 1-2 paragraf setiap hari.

Siswa bebas menulis isi catatan harian ini, tetapi sebaiknya
mengacupada kriteria-kriteria penilaiannya. Seperti dalam penulisan
esai tentang perbandingan ketiga video di atas, siswa harus mengo-
mentari sinematografinya (seting, pencahayaan, suara, dan efek
khusus) dan pemeranannya (teristimewa Macbeth, Lady Macbeth,
Banquo, MacDuff, dan tukang-tukang sihir). Hal lain yang perlu di-
tulis adalah bagaimana pementasan episode-episode tertentu —misal-
nya adegan penusukan dengan pisau belati, adegan pesta, adegan
berjalan saat tidur, dan pembunuhan Macbeth. Juga, jika ada adegan-
adegan dalam naskahnya yang tak dipentaskan atau banyak diubah,
ini perlu ditulis dalam catatan harian.

Hal terakhir yang mesti ditulis dalam catatan harian adalah
adegan apa yang paling mengesankan dan adegan apa yang paling
menyebalkan. Ingat: tak ada pendapat yang salah atau benar, tetapi
pendapatmu harus dilandasi dengan bukti.

232 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Lampiran D: Asesmen Proyek Kelompok

Riset
Akurasi (30%)
Ketelitian (30%)
Presentasi
Kreativitas (15%)
Kemenarikan (15%)
Bentuk yang tepat (10%)
Total

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbecb

Lampiran E: Ujian Akhir

I. Menjodohkan: Jodohkanlah pernyataan-pernyataan di bawah ini dengan nama-
nama d: sebelah kanannya. Sebagian nama dapat digunakan lebih dari sekali.
(setiap nomor bernilai 2)

1. Dieksekusi dan memberikan gelar- A. Hecate
nya pada Macbeth.
B. Duncan
2. Mencurigai Macbeth dan tidak
menghadiri Penobatannya. C. Malcolm

3. Terlihat mendekati istana Macbeth, D. Banquo
karena takut dan tidak percaya.
E. Lady
4. Menyebabkan Macbeth "senang" Macbeth
pada pesta itu.
F. Lady Mac
5. Dianggap lebih jahat daripada Duff
Macbeth.
G. Dunsinane
6. Adalah the Thane of Fife.
7. Menjuluki Malcolm, Pangeran H. Macbeth

Cumberland. I. MacDuff
8. Sering mengabarkan berita buruk J- Ross

kepada tokoh-tokoh lain. K. Young
9. Istana Macbeth. Siward
10. Dibunuh oleh Macbeth dalam per-
L. Fleance
tarungan terakhir Macbeth.
11. Akan "mendapatkan" raja-raja. M. Thane of
12. Melumurkan darah ke tubuh peng- Cawdor

awal-pengawal Raja Duncan. v N. Arwah
13. Memberi perintah untuk menjebak Banquo

Macbeth Dengan pengawal-peng- O. Birnam
awal palsu. Wood
14. Lari ke Irlandia untuk menghindari
tuduhan pembunuhan yang tidak P. Donalbain
benar.
15. Marah karena ditinggal sendirian
tanpa perlindungan.
16. Membunuh pengawal-pengawal
Duncan.
17. Dikatakan telah bunuh diri pada
akhir drama.
18. "Lahir prematur" dari rahim ibunya.
19. Nyaris dibunuh bersamaan dengan
pembunuhan ayahnya.
20. Bersama Macbeth ketika dia kali per-
tama bertemu tukang-tukang sihir.

234 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

II. Jawaban Singkat: Isilah titik-titik di bawah mi dengan kata atau frasa yang tepat.
(setiap nomor bernilai 3)

1. Di negara manakah seting utama Macbeth?
2. Apa sifat buruk Macbeth?
3. Apa yang dikatakan orang bertopi baja kepada Macbeth agar dia

waspada?
4. Mengapa Lady Macbeth tidak membunuh Duncan sendiri?
5. Berapa hantu yang ditunjukkan tukang-tukang sihir kepada Macbeth?
6. Apa satu-satunya adegan yang lucu dalam Macbeth?
7. Apa yang Macbeth kira dia lihat sesaat sebelum Duncan dibunuh?
8. Kapan lelaki tua itu mengatakan bahwa alam semesta terguncang

hebat.
9. Ke mana Malcolm pergi setelah ayahnya dibunuh?
10. Siapa yang melihat Lady Macbeth berjalan saat tidur?

Bab 9 : Sketsa Pembelajaran Macbeth 235

III. Kutipan. Tulislah dalam kalim at yang lengkap, (1) siapa yang mengatakannya, (2)
kepada siapa dikatakan, dan (3) bagaimana situasinya. (setiap nomor bernilai 5)

1. "Lakukanlah, MacDuff, dan biarkan dia berteriak, Tahan, cukup'!"
2. "Jujur itu ajur, dan ajur itu jujur."
3. "Jangan sampai pesta kita gagal."
4. "Apakah yang kulihat ini pisau, gagangnya di dekat tanganku?"
5. "Tampak bagai bunga yang indah, tapi ular di bawahnya."
6. "Pergi, bangsat! Pergi, kataku!"

236 Penibelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Bab 10

Sketsa Pembelajaran
Penjumlahan

Unit pelajaran tentang cara-cara untuk menghafal hasil-hasil pen­
jumlahan bilangan sampai jumlah 18 ini dibuat dan diajarkan oleh
Ms. Jeanna Hoffman.

Unit pelajaran ini merupakan bagian dari kurikulum inti kelas
dua SD di daerah ini, dan penjumlahan bilangan termasuk mated
yang diujikan dalam tes baku terbaru. Unit pelajaran ini diajarkan
pada awal tahun ajaran ini. Ada sangat banyak materi dalam kuri­
kulum inti yang harus diajarkan, sehingga kami mengajarkanbagai-
mana menghafal hasil-hasil penjumlahan ini pada awal tahun ajaran.
Lebih mudah bagi siswa untuk menghafal hasil-hasil penjumlahan
sederhana sebelum mereka mempelajari penjumlahan (dan pengu-
rangan) semua bilangan. Siswa sudah dikenalkan dengan konsep
penjumlahan (di kelas satu SD dan juga di awal kelas dua) melalui
manipulasi. Banyak siswa sulit menghafal hasil-hasil penjumlahan.
Biasanya, hanya sedikit siswa kelas dua yang sudah bisa men-
jumlahkan bilangan-bilangan sampai jumlah 18. Sebagian besar siswa
memahami dengan baik hasil-hasil penjumlahan sampai jumlah 10.
Namun, ketika saya mulai mengajarkan penjumlahan sampai jumlah
18, lebih dari lima puluh persen siswa menggunakan jari-jari mereka.
Sebagian siswa masih melakukannya sampai mereka naik kelas tiga.

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 237

Jamaknya, siswa kelas dua bei'jumlah 20-24 anak per kelas. Satu
kelas berisikan anak-anak dengan beragam kemampuan akademis,
dan sebagian besar dari mereka termotivasi untuk berprestasi. Unit
pelajaran ini diajarkan selama sekitar tiga minggu sesuai dengan
pengalaman siswa sebelumnya dalam belajar penjumlahan. Tujuan
pembelajaran ini dapat dicapai secara lebih optimal bila alokasi
waktunya ditambah. Namun, hal ini tidak dimungkinkan karena
kurikulumnya memuatbanyak sekali tujuan lain. Dalam pertemuan-
pertemuan, saya mengulas banyak strategi menghafal untuk menye-
garkan ingatan siswa dan mengetahui apakah strategi-strategi itu
masih mereka ingat dan gunakan.

BAGIAN 1: TUJUAN

Tujuan. utama dari unit pelajaran yang diajarkan selama tiga
pekan ini adalah siswa mengingat kembali penjumlahan bilangan-
bilangan (sampai jumlah 18) tanpa manipulasi. Tujuan-tujuanjangka
panjangnya adalah membantu siswa (1) mengerti bahwa menghafal
dapat dilakukan secara lebih efisien (dalam keadaan-keadaan
tertentu) dan (2) memperoleh pengetahuan praktis tentangberbagai
strategi menghafal. Dalam bahasa yang lebih konkret, siswa dapat
menghitung penjumlahan horizontal dan v^rtikal. Penjumlahannya
melibatkan satu dan dua bilangan satu digit (dengan jumlah tidak
lebih dari 18). Contohnya:

6+7= 5 +7+3 = 7 4
9 5
—+ 5

—+

Komentar

Dalam kerangka Tabel Taksonomi, tujuan utama dari unit
pelajaran ini terlihat jelas: mengingat pengetahuan faktual. Dua tujuan
"jangka panjangnya" adalah memahami pengetahuan nietakognitif
(khususnya pengetahuan tentang strategi-strategi umum dan penge-

238 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

tahuan tentang tugas-tugas kognitif) dan mengaplikasilam pengetahuan
prosedural (dengan asumsi bahwa "pengetahuan praktis" adalah pe­
ngetahuan yang dapat digunakan atau diterapkan). "Berbagai strategi
menghafal" merupakan Pengetahuan Prosedural. Kami mengklasi-
fikasikan tujuan ketiga ini sebagai Pengetahuan Prosedural, bukan
Pengetahuan Metakognitif, sebab "strategi" ini khusus untuk meng­
hafal "fakta-fakta matematika" (penjumlahan, pengurangan, per-
kalian, dan pembagian). Generalitas "strategi" ini terbatas. Kompo-
nen Pengetahuan Metakognitifberasa] dari siswa sendiri yang mengerti
strategi-strategi mana yang paling efektif dan mana yang paling tidak
efektif bagi mereka.

Penempatan tiga tujuan ini dalam Tabel Taksonomi ditunjukkan
pada Tabel 10.1.

BAGIAN 2: AKTIVITAS-AKTIVITAS PEMBELAJARAN

Aktivitas yang mehgawali pengajaran unit ini dan berlangsung
terus adalah "menghafal fakta dalam kantong". Setiap hari, ketika
siswa-siswa masuk ruang kelas, mereka mengambil "secarik fakta"
dari sebuah kantong. Setiap siswa diharapkan menghafal fakta ini.
Pada jam-jam tertentu, siswa diminta mengatakan fakta-fakta yang
mereka dapat tanpa membacanya. Orang tua, kepala sekolah, tukang
kebun, pelayan kafetaria, dan karyawan lainnya mengetahui fakta-
fakta ini dan dapat meminta siswa untuk mengatakannya tanpa
membacanya. Pada keesokan harinya, setiap siswa menuliskan fakta-
fakta mereka pada buku "fakta dalam kantong" dan kemudian meng­
ambil secarik fakta baru.

Komentar

"Menghafal fakta dalam kantong" menekankan pada mengingat
pengetahuan faktual. Aktivitas ini berlangsung setiap hari.

Aktivitas yang mengawali pekan kedua persekolahan dan
berlangsung terus saban hari selama setahun adalah "Menit
Matematika Majenun". Siswa diberi waktu satu menit untuk
mengerjakan 30 soal latihan penjumlahan. Pada pertengahan

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 239

Tabel 10.1. A nalisis Sketsa Pembelajaran Penjum lahan dengan Tabel Taksonomi
Berdasarkan Rumusan Tujuan Pembelajarannya

Dimensi Proses Kognitif

Dimensi 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Pengetahuan

Mengingat Memahami Mengapli Mengana- Mengeva- Mencipta

kasikan lisis luasi

A. Tujuan 1
P e n g e ta h u a n
Faktual

B.
P e n g e ta h u a n
Konseptual

C. Tujuan 3
P e n g e ta h u a n
Prosedural

D. Tujuan 2
P e n g e ta h u a n
Metakognitif

Keterangan:

Tujuan 1 = Mengingat hasil-hasil penjumlahan (sampai jumlah 18).
Tujuan 2 = Mengerti bahwa menghafal dapatdilakukan secara lebih efisien (dalam keadaan-

keadaan tertentu).
Tujuan 3 = Memperoleh pengetahuan praktis tentang berbagai strategi menghafal.

240 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

tahun kedua, jumlah soalnya ditambah jadi 35. Lembaran-
lembaran soal Menit Matematika Majenun disusun sedemikian
rupa sehingga dalam satu periode (delapan hari) siswa me-
ngerjakan soal latihan yang salah satu bilangannya adalah 2,
kemudian 3, lalu 4, dan seterusnya. Jika salah satu bilangannya
sudah sampai 9, soalnya dimulai lagi dengan bilangan 1. Jumlah
soal yang dikerjakan dengan benar oleh setiap siswa ditulis
setiap hari di kelas.

Komentar
Aktivitas yang berlangsung selama setahun ini juga terfokus

pada mengingat pengetahuanfaktual. Batas waktunya yang ketat untuk
mengerjakan soal (30-35 soal per menit) niscaya menuntut penghafal-
an.

Hari 1-4
Setelah aktivitas-aktivitas harian ini dilakukan, empat hari per-
tama pelajaran unit ini digunakan untuk menyelesaikan
Lembaran Tembok Besar Penjumlahan. Sebelumnya, saya
siapkan kertas berukuran 3 x 7 meter dan membuat kolom-
kolom dan baris-barisnya. Bilangan 0-9 ditulis di bagian kiri
atas kertas. Siswa-siswa menggunakan dua warna cat untuk
menulis operasi penjumlahan dengan turus-turus dan belajar
mengatakan hasil-hasil penjumlahan yang mereka buat. Lalu,
mereka menuliskan hasil-hasil penjumlahan dalam kotak-kotak
Lembaran Tembok Besar Penjumlahan itu. Pada hari kedua,
lembaran ini sudah penuh dengan tulisan. Saya katakan kepada
siswa-siswa bahwa ada 100 hasil penjumlahan yang akan
mereka pelajari pada akhir tahun kelas dua, dan selama bebe-
rapa hari mendatang, mereka akan belajar strategi-strategi untuk
membantu mereka menghafal hasil-hasil penjumlahan tersebut.

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 2 4 1

Komentar

Meskipun tujuan utamanya menyatakan "tanpa manipulasi",
. Ms. Hoffman awalnya menggunakan manipulasi dalam pengajaran

unit ini. Manipulasi memungkinkan siswa "melihat" contoh-contoh
hasil penjumlahan yang konkret. Penekanannya pada makna
bilangan 5, 3, 8, dan seterusnya. Alhasil, aktivitas pembelajaran ini
mengajarkan memahami pengetahuan konseptual.

Pada hari ketiga dan keempat, saya meminta anak-anak
mencari pola dan hubungan antara hasil-hasil penjumlahan
yang terdapat pada Lembaran Tembok Besar Penjumlahan.
Misalnya, saya menunjuk baris dan kolom 0, dan kemudian
siswa . Saya juga minta mereka menjelaskanbagaimana mereka
dapat mengetahui hasil-hasil penjumlahan ini tanpa meng-
hitung terlebih dahulu. Selanjutnya, saya menunjuk baris dan
kolom 1.

Saya pun mengajarkan sifat komutatif (misalnya, 5 + 8 = 13
dan 8 + 5 = 13). Saya mengatakan kepada siswa bahwa bila
mereka mengetahui salah satu dari dua bilangannya, mereka
dapat mengetahui bilangan lainnya. Saya mengakhiri pelajaran
dengan menunjukkan bagaimana banyak hasil penjumlahan
yang mereka ketahui dari baris dan kolom 0, baris dan kolom 1,
dan sifat komutatif. Mereka harus mengingat hasil-hasil pen­
jumlahan lainnya.

Komentar

Sebagian aktivitas ini bertujuan untuk memotivasi siswa. Ms.
Hoffman ingin menunjukkan kepada siswa betapa banyak yang telah
mereka ketahui dan, makanya, tinggal "sedikit" lagi yang perlu
mereka pelajari. Dalam kerangka Tabel Taksonomi, mencari pola
melibatkan proses kognitif membandingkan, dan sifat komutatif adalah
sebuah prinsip. Maka, penekanannya di sini ialah memahami penge­
tahuan konseptual. Perhatikan bahwa Ms. Hoffman tidak mengguna­
kan frasa "sifat komutatif" dalam berbicara kepada siswa-siswanya.
Ia lebih tertarik untuk mengajarkan bahwa "susunan bilangan tidak

242 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

penting ketika kamu melakukan operasi penjumlahan" ketimbang
untuk mengajarkan istilah "sifat komutatif".

Hari 5-6

Aktivitas pembelajaran yang berlangsung pada hari kelima
dan keenam adalah "Teman Bilangan". Dalam aktivitas ini,
siswa menggunakan "penjumlahan bilangan yang sama"
(mereka mengetahuinya) untuk menghafal hasil-hasil pen­
jumlahan bilangan-bilangan lainnya. Saya meminta siswa men-
cari pola pada Lembaran Tembok Besar Penjumlahan, di baris
dan kolomnya. Saya meminta seorang siswa untuk menunjuk-
kan penjumlahan bilangan-bilangan yang sama (misalnya, 3 +
3,4 + 4) dan melingkari bilangan-bilangan tersebut. Saya katakan
kepada mereka bahwa pada Lembaran itu terdapat "teman
bilangan". Saya menyebut penjumlahan bilangan yang sama 4
+ 4 = 8 sebagai cantohnya dan menuliskannya di papan tubs.
Di sisi papan tulis lainnya, saya menulis 3 + 4 = 7 dan 5 + 4 = 9.

Saya bertanya kepada siswa-siswa mengapa saya menyebut
penjumlahan-penjumlahan itu sebagai "tem an bilangan".
(Jawabannya adalah bahwa penjumlahan-penjumlahan tersebut
menggunakan bilangan yang sama, yaitu 4). Saya menunjuk
penjumlahan bilangan-bilangan yang sama lainnya. Saya ber­
tanya kepada mereka bagaimana penempatan teman-teman
bilangan ini di Lembaran Tembok Besar Penjumlahan. (Jawab­
annya adalah bahwa teman-teman bilangan ini berada di dua
sisi Lembaran, yakni sisi atas dan sisi bawan.)

Selanjutnya, saya bertanya apakah setelah mengetahui satu
"teman bilangan", mereka dapat mengetahui teman-teman
bilangan lainnya. Sewaktu siswa-siswa berdiskusi, sebagian
teman lainnya mulai mengerti. Saya ajak mereka memerhatikan
lagi Lembaran Tembok Besar Penjumlahan dan meminta siswa-
siswa lain untuk menunjuk teman-teman bilangan di sekitar
semua penjumlahan bilangan yang sama. Saya menandai semua
teman bilangan yang mereka tunjuk. Saya yakin aktivitas ini

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 2 4 3

mengenalkan ide bahwa matematika adalah suatu jaring-jaring
hubungan. Aktivitas ini memudahkan siswa menghafal dan
memahami hasil-hasil penjumlahan dan operasi-operasi mate­
matika.

Komentar

Sebagaimana aktivitas pembelajaran sebelumnya, aktivitas-
aktivitas ini mengajak siswa untuk mencari pola dan hubungan.
Dalam kerangka Tabel Taksonomi, penekanannya adalah memahami
pengetahuan konseptual (lebih tepatnya, membandingkanpengetahuan
tentang struktur).

Hari 7-8

Pada hari ketujuh dan kedelapan, saya mengenalkan
aktivitas "keluarga bilangan". Dalam aktivitas ini, saya meminta
siswa memerhatikan secara saksama tiga bilangan dalam sebuah
persamaan dan memindah-mindah letak ketiga bilangan untuk
mengetahui hubungan-hubungan di antara ketiganya. Saya
menulis sebuah persamaan di papan tulis (yakni 2 + 3 = 5). Saya
bertanya apakah siswa dapat mengubah susunan persamaan
ini (jadi 3 + 2 = 5). Saya bertanya Ihgi apakah mereka dapat
membuat operasi pengurangan dengan bilangan-bilangan
tersebut (misalnya, 5 - 2 = 3). (Mereka umumnya membutuhkan
bantuan guru untuk melakukannya. Petunjuk-petunjuk seperti
"mulailah dengan bilangan terbesar" membantu mereka.)

Lalu, saya membuat gambar rumah yang mewadahi dua
operasi penjumlahan dan dua operasi pengurangan dan menulis
bilangan-bilangan 2, 3, dan 5 di "lotengnya". Saya sampaikan
kepada siswa bahwa empat persamaan ini termasuk dalam
sebuah keluarga bilangan yang sama dan keempatnya boleh
tinggal di rumah itu. Kemudian, saya menggambar rumah lain
dan menempatkan bilangan-bilangan 4, 5, dan 9 di lotengnya.
Saya meminta siswa membentuk kelompok dua-dua untuk
mencari keluarga bilangan yang boleh tinggal di rumah itu. Saya

244 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

menyuruh sisvva, masih dalam kelompok tersebut, menggambar
rumah-rumah lain. ("Bilangan-bilangan yang sama" tinggal di
apartemen karena hanya ada dua bilangan, yaitu 8,16).

Saya mengingatkan mereka bahwa bila mengetahui salah
satu anggota keluarga bilangan, mereka dapat mengetahui
anggota-anggota lainnya. Oleh karena itu, keluarga bilangan
memudahkan mereka menghafal karena mereka hanya perlu
menghafal setengah anggotanya. Pada hari kedua pelaksanaan
aktivitas pembelajaran ini, saya mengadakan diskusi penutup
untuk membantu siswa mengetahui bahwa pengurangan
merupakan lawan dari penjumlahan.

Komentar

Sebagaimana pada awal pertemuan, siswa diminta mengeks-
plorasi hubungan-hubungan yang ada dalam persamaan (misalnya,
mengubah letak bilangan> mencari hubungan). Tanpa menggunakan
kata "komutasi", Ms. Hoffman mengenalkan konsep penting dalam
persamaan ini kepada siswa. Aktivitas ini diklasifikasikan dalam
memahami pengetahuan konseptual. Petunjuk yang diberikan Ms.
Hoffman —"mulailah dengan bilangan terbesar"— dapat dianggap
sebagai langkah pertama dalam prosedur pengubahan operasi pen-
jumlahan jadi operasi pengurangan, dan kemudian siswa dapat me-
lakukannya. Jika ia mengajarkan prosedur ini sampai tuntas, aktivitas
ini diklasifikasikan dalam mengaplikctsikan pengetahuan prosedural.

Diskusi penutupnya mengembalikan siswa ke tujuan utama
yang dirumuskan oleh Ms. Hoffman, yaitu mengingat kembali pen-
jumlahan bilangan-bilangan (sampai jumlah 18). Namun, aktivitas-
aktivitas pembelajaran pada delapan hari pertama menekankan pada
memahami pengetaliitan konseptual. Diskusi penutupnya pada Hari 8
menguatkan konsep "komutasi".

Hari 9-10

Pada hari kesembilan dan kesepuluh, saya mengajak siswa
melakukan apa yang saya sebut "membuat jumlah sepuluh".

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 245

Saya mulai dengan menuliskan beberapa soal penjumlahan
dengan 9 sebagai salah satu bilangan penjumlahnya. Setiap
siswa diberi "kerangka sepuluh" (selembar kertas dengan dua
baris dan lima kotak). Saya meminta mereka menggunakan dua
lembar kerangka sepuluh untuk menuliskan jawaban dari soal-
soal tadi (misalnya, 9 + 7 = ). [Jawabannya adalah 9 + 1 pada
satu lembar kerangka sepuluh, dan 10 + 6]. Saya melanjutkan
ke semua soal lainnya yang bilangan penjumlahnya adalah 9
dan 8.

Saya minta mereka mencatat soal-soal latihan ini dan jawab­
annya pada kertas lain. Kemudian, kami mendiskusikan bagai-
mana cara kerja "membuat jumlah sepuluh". Lantas, saya me-
nunjuk ke Lembaran Tembok Besar Penjumlahan dan bertanya
bagaimana prosedur "membuat jumlah sepuluh" membantu
mereka menghafal hasil-hasil penjumlahan mereka.

Komentar

Ini merupakan aktivitas yang "kaya kognitif". Siswa diminta
mengaplikasikan pengetahuan prosedural (yakni, mempraktikkan
prosedur "membuat jumlah sepuluh"), memahami pengetahuan
prosedural (yaitu, mendiskusikan cara kerja "membuat jumlah se­
puluh"), dan memahami pengetahuan metakognitif (yakni, mendes-
kripsikan bagaimana prosedur-prosedur semacam "membuat jumlah
sepuluh" membantu mereka menghafal pengetahuan seperti hasil-
hasil penjumlahan).

Hari 11-13

Pada hari 11 sampai ke-13, saya bersama siswa-siswa meng-
eksplorasi penggunaan berbagai cara untuk menghafal hasil-
hasil penjumlahan yang lebih dari 10. Saya mulai dengan me-
nulis soal latihan 5 + 8 di papan tulis dan kemudian bertanya
kepada siswa bagaimana cara mereka mencari jawabannya.
Jawaban-jawaban mereka adalah menghitung dengan meng-
urutkan bilangan; menggunakan jari, benda, kalkulator, atau

246 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

baris bilangan; menggunakan prosedur "membuat jumlah se-
puluh"; memakai keluarga bilangan; dan "menghafal fakta
dalam kantong'' atau Menit Matematika Majenun. Setiap siswa
diminta untuk memilih salah satu cara yang telah dipraktikkan
sebelumnya.

Setiap siswa kemudian menggunakan cara yang dipilihnya
untuk menyelesaikan soal itu (5 + 8) dan menceritakannya
kepada semua anggota kelas. Sewaktu siswa-siswa mengeks-
plorasi dan menggunakan berbagai cara, saya yakin mereka
akan mengingat cara tercepat untuk mendapatkan jawaban atas
soal tadi.

Komentar
Fokus pada tiga hari ini adalah cara-cara yang dapat dipakai

siswa.untuk belajar penjumlahan sampai 18. Pengetahuan Konseptual
(yakni, keluarga bilangan) dan Pengetahuan Prosedural (yaitu, mem-
. buat jumlah sepuluh) sudah tersedia dan dapat digunakan oleh
siswa. Apa pun jenis pengetahuannya, kami agak meragukan bahwa
proses kognitifnya adalah Mengaplikasikan: siswa mengaplikasikan
pengetahuan konseptual dan/atau prosedural. Pada Bab 5, Mengapli­
kasikan, didefinisikan dalam Pengetahuan Prosedural; Pengetahuan
Konseptual umumnya "dilucuti" seperti dalam serangkaian langkah
(yakni Pengetahuan Prosedural) sebelum diaplikasikan. Maka, kami
mengklasifikasikan aktivitas (atau aktivitas-aktivitas) ini sebagai
mengaplikasikan pengetahuan prosedural.

Akan tetapi, Ms. Hoffman pada akhirnya ingin siswa-siswanya
secara individual mengetahui cara yang paling baik bagi mereka dan
menyadari bahwa cara yang paling efisien untuk menyelesaikan soal-
soal latihan dalam waktu yang terbatas adalah menghafalnya.
Dengan keinginan ini, tujuannya menjadi memahamipengetahuan meta-
kognitif.

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 2 4 7

Hari 14-15

Aktivitas terakhir berlangsung selama dua hari terakhir.
Aktivitas ini mengajak siswa mempraktikkan hafalan mereka
dalam lomba lari estafet. Sebelumnya, saya siapkan potongan-
potongan kertas yang berisikan semua hasil penjumlahan dan
memasukkannya secara acak ke dalam empat wadah. Saya
membagi kelas jadi empat tim, dan setiap tim berbaris di depan
wadah mereka. Setiap siswa mengambil sepotong kertas dari
wadahnya, mempelajarinya, dan menyimpannya. Anak yang
berdiri paling depan di barisannya berjalan ke papan tubs, me-
nuliskan hasil penjumlahan di potongan kertas yang dia simpan,
kem bali ke barisannya, dan m enepuk pundak teman di
belakangnya. Temannya ini mengambil satu potongan kertas
dari wadah itu dan menghafalkan isinya. Setelah beberapa saat,
"waktuhya" habis dan permainan berakhir. Semua tim yang
menuliskan semua hasil penjumlahan dengan benar berarti
menang! Permainan ini diulang-ulang.

Komentar

Sebagian karena siswa telah diberitahu bahwa faktor kecepatan
menentukan kemenangan tim, aktivitas ini diklasifikasikan dalam
mengingat pengetahuanfaktual. Analisis kami atas semua aktivitas ini
disajikan pada Tabel 10.2. Rumusan-rumusan tujuan pada Tabel 10.1
kami cantumkan lagi pada Tabel 10.2 dengan cetak tebal. Aktivitas-
aktivitas pembelajarannya ditulis dengan cetak miring.

BAGIAN 3: ASESMEN

Untuk mengases perkembangan siswa, saya mengamati mereka,
mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencatat perubahan-perubah-
an hasil permainan harian Menit Matematika Majenun, dan menskor
hasil kuis mingguan. Saya mengamati siswa untuk mengetahui cara-
cara yang mereka gunakan untuk mengerjakan soal-soal. Saya men­
catat bahwa siswa-siswa yang menyelesaikan soal-soal dengan cepat
menghafal hasil-hasil penjumlahannya. Mereka yang lambat kerap

248 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Tabel 10.2. Analisis Sketsa Pembelajaran Penjumlahan dengan Tabel Taksonomi
Berdasarkan Aktivitas-aktivitas Pembelajarannya

Dimensi Dimensi Proses Kognitif
Pengetahuan
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Mengingat Memahami Mengapli- Mengana- Mengeva- Mencipta

kasikan lisis luasi

A. Tujuan 1
P e n g e ta h u a n A k tiv ita s -
Faktual a k tiv ita s
Hari 1-15

B. A k tiv ita s - -
Pengetahuan a k tiv ita s
Konseptual Hari 1-10

C. Aktivitas- Tujuan 3
Pengetahuan a k tiv ita s Aktivitas-
Prosedural Hari 9-10 aktivitas
Hari 9-13
D.
P e n g e ta h u a n Tujuan 2
Metakognitif A k tiv ita s -
a k tiv ita s
Hari 9-13

Keterangan:

Tujuan 1 = Mengingat hasil-hasil penjumlahan (sampai jumlah 18).
Tujuan 2 = Mengertibahwamenghafaldapatdilakukansecaralebihefisien(dalamkeadaan-

keadaan tertentu).
Tujuan 3 = Memperoleh pengetahuan praktis tentang berbagai strategi menghafal.

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 2 4 9

kali menggunakan jari-jari mereka untuk menghitung dan kemudian
"mengurutkan bilangan-bilangannya". Saya mendorong mereka
yang lambat ini untuk menggunakan teman bilangan dan keluarga
bilangan.

Selama pembelajaran berlangsung, saya sering bertanya bagai-
mana mereka memperoleh jawaban atas soal-soal yang saya berikan.
Lama-kelamaan, mereka makin sering melaporkan apa yang mereka
ketahui dengan cara keluarga bilangan atau teman bilangan dan apa
yang telah mereka hafalkan.

Skor-skor sebagian besar siswa dalam permainan Menit Mate-
matika Majenun perlahan-lahan meningkat. Ini menunjukkan bahwa
mereka sedang menghafal hasil-hasil penjumlahan. Skor-skor per­
mainan Menit Matematika Majenun dicatat setiap hari sehingga
siswa dapat melihat berapa banyak jawaban mereka yang benar pada
hari kemarin dan mengetahui perkembangan mereka. Seperti sudah
disebutkan sebelumnya, permainan Menit Matematika Majenun di-
laksanakan selama satu tahun ajaran.

Kuis mingguan memberikan informasi paling sedikit mengenai
cara-cara yang digunakan siswa untuk memperoleh jawaban.
Namun, kuis ini merupakan asesmen langsung untuk mengetahui
pencapaian tujuan pembelajaran unit ini dan dapat memberikan
informasi kepada orang tua siswa. Awalnya, saya menggunakan
rubrik sederhana ("mulai menghafal hasil-hasil penjumlahan" atau
"perlu menghafal hasil-hasil penjumlahan") untuk memberitahu
siswa dan orang tua mereka tentang perkembangan siswa.

Komentar

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Ms. Hoffman terfokus
pada mengaplikasikan pengetnhuan prosedural. Dengan asesmen-
asesmen ini, ia dapat mengetahui cara-cara yang digunakan siswa.
Perubahan-perubahan skor dalam permainan Menit Matematika
Majenun membuktikan peningkatan siswa dalam mengingat penge­
tnhuan faktual. Berbeda dengan Menit Matematika Majenun, yang
berpusat pada satu bilangan penjumlah, kuis-kuis mingguan diambil

250 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

secara acak dari banyak sekali basil penjumlahan. Juga, berbeda
dengan Menit Matematika Majenun, kuis ini memiliki alokasi waktu
yang lebih panjang dan, konsekuensinya, siswa mempunyai cukup
waktu untuk mencoba berbagai cara. Namun, penekanannya tetap
pada mengingat pengetahuanfaktual.

Hasil analisis kami dipaparkan pada Tabel 10.3. Sekali lagi,
analisis awal atas rumusan-rumusan tujuan ditulis dengan cetak tebal
sedangkan analisis atas aktivitas-aktivitas pembelajaran ditulis
dengan cetak miring.

BAGIAN 4 : KOMENTAR PENUTUP

Pada bagian ini, kami akan menilik dan mengomentari sketsa
pembelajaran Penjumlahan dengan empat pertanyaan pokok: per-
tanyaan tentang pembelajaran, pertanyaan tentang instruksi, per­
tanyaan tentang asesmen, dan pertanyaan tentang kesesuaian di
antara ketiga komponen ltu.

Pertanyaan tentang Pembelajaran

Di sini, kami membedakan antara apa yang kami sebut sebagai
"fokus" dan "penekanan". Fokusnya jelas mengingat pengetahuan
faktual, dan merupakan hasil akhir dari pembelajaran tiga pekan ini.
Fokus ini tampak dalam rumusan-rumusan tujuan dan asesmen-
asesmennya. Sebaliknya, penekanannya adalah memahami
pengetahuan konseptual. Dengan sedikit perkecualian dalam Menit
Matematika Majenun, semua aktivitas pembelajarannya selama dua
minggu pertama (hampir dua per tiga) menekankan pada memahami
pengetahuan konseptual. Perbedaan antara fokus dan penekanannya
ini seumpama perbedaan antara tujuan dan cara. Bagi Ms. Hoffman,
tujuannya (fokusnya) jelas: siswa dapat mengingat pengetahuanfaktual.
Pada dimensi pengetahuan, Pengetahuan Konseptual, Pengetahuan
Prosedural, dan sampai batas-batas tertentu Pengetahuan Metakognitif
merupakan cara untuk mencapai tujuan ini. Sama halnya pada
dimensi proses kognitif, Memahami dan Mengaplikasikan merupakan

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan

Tabel 10.3. A n alisis Sketsa Pembelajaran Penjumlahan dalam Tabel Taksonomi
Berdasarkan Asesmennya

Dimensi Proses Kognitif

Dimensi 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Pengetahuan

Mengingat Memahami Mengapli- Mengana- Mengeva- Mencipta

kasikan lisis luasi

A. Tujuan 1
P e n g e ta h u a n A ktivitas-
Faktual a ktivita s
Hari 1-15
Asesmen 3
Asesmen 4

B. A k tiv ita s -
P e n g e ta h u a n a k tiv ita s
Konseptual Hari 1-10

C. A ktivitas- Tujuan 3
P e n g e ta h u a n a k tiv ita s Aktivitas-
Prosedural Hari 9-10 a k tiv ita s

D. Hari 9-13
P e n g e ta h u a n Asesmen 1
Metakognitif Asesmen'S

Tujuan 2
A k tiv ita s -
a k tiv ita s
Hari 9-13

Keterangan:
Tujuan 1 = Mengingat hasil-hasil penjumlahan (sampai jumlah 18).
Tujuan2 = Mengerti bahwa menghafal dapat dilakukan secara lebih efisien (dalam keadaan-

keadaan tertentu).
Tujuan 3 = Memperoleh pengetahuan praktis tentang berbagai strategi menghafal.
Asesmen 1 = Pengamatan terhadap siswa.
Asesmen 2 = Pertanyaan-pertanyaan untuk siswa di kelas.
Asesmen 3 = Menit Matematika Majenun.
Asesmen 4 = Kuls mingguan.
Kotak-kotak yang berwarna hitam menunjukkan kesesuaian yang paling tinggi di antara ketiga
komponen —tujuan, aktivitas pembelajaran, dan asesmen terdapat di dalam kotak yang sama. Kotak-
kotak yang berwarna lebih terang menunjukkan dua komponennya terdapat dalam kotak yang sama.

252 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

cara. Maka, penekanan unit pelajaran ini merupakan cara untuk
mencapai tujuannya.

Pertanyaan tentang Instruksi

Utamanya karena aktivitas Menit Matematika Majenun, se-
bagian aktivitas pembelajaran yang berkaitan dengan tujuan utama­
nya (;mengingat pengetahuanfaktual) berlangsung setiap hari. Aktivitas-
aktivitas yang bertalian dengan dua tujuan jangka panjangnya di-
laksanakan pada pertemuan-pertemuan akhir (Hari 9-13). Seperti
ditunjukkan pada Tabel 10.2, berbagai aktivitas ditempatkan di kotak-
kotak Tabel Taksonomi yang tidak berisi rumusan tujuan. Dalam
deskripsi aktivitas-aktivitas ini, Ms. Hoffman mengatakan bahwa
aktivitas-aktivitas tersebut dimaksudkan untuk membantu siswa
mengembangkan pendekatan menghafal secara efisien. Aktivitas-
aktivitas pada dua minggu pertama, misalnya, sangat terfokus pada
memahami pengetahuan konseptual. Susunan Lembaran Tembok Besar
Penjumlahan, misalnya, berupa pola-pola dan hubungan-hubungan
yang memudahkan siswa menghafal.

Ms. Hoffman juga mengenalkan beragam cara untuk menghafal
kepada siswa-siswanya. Tujuannya adalah agar siswa: (1) memilih
satu atau lebih cara yang paling cocok untuk mereka, dan (2) menge-
tahui bahwa menghafal lebih efisien ketimbang cara-cara lain untuk
mendapatkan jawaban. Aktivitas-aktivitas ini mempunyai fokus
ganda, yakni mengaplikasikan pengetahuan prosedural dan memahami
pengetahuan metakognitif.

Yang menarik dalam sketsa pembelajaran ini adalah apa yang
tidak dilakukan oleh Ms. Hoffman. Ia tidak memberi siswa "dril dan
praktik" yang sama. Ia malah memanfaatkan lima kotak Tabel
Taksonomi (lihat Tabel 10.2) walaupun hasil belajar yang ia inginkan
sebenarnya berada dalam satu kotak saja.

Pertanyaan tentang Asesmen

Ms. Hoffman menggunakan asesmen informal dan formal. la
mengamati siswa-siswanya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 253

di kelas untuk mengumpulkan informasi tentang cara-cara yang
mereka pakai guna mengingat hasil-hasil penjumlahan. Ia memakai
permainan Menit Matematika Majenun dan kuis untuk mengetahui
tujuan pokoknya —apakah siswa sudah menghafal hasil-hasil pen­
jumlahan? Asesmen informalnya dipakai untuk mengumpulkan
informasi tentang prosesnya, dan asesmen formalnya untuk mem-
peroleh informasi perihal hasilnya.

Pertanyaan tentang Kesesuaiannya

Seperti kami tunjukkan pada Tabel 10.3, kesesuaian antara
asesmen dan aktivitas-aktivitas pembelajaran dengan rumusan-
rumusan tujuannya cukup kuat. Kotak A1 dan C3 memuat satu
tujuan, beberapa aktivitas pembelajaran, dan asesmen. Sebagaimana
telah kami paparkan sebelumnya, asesmen-asesmen dalam kotak
A1 (mengingat pengetahnan faktual) lebih formal, sementara asesmen-
asesmen dalam kotak C3 (mengaplikasikan pengetahuan prosed ural)
lebih informal.

Hanya ada sedikit ketidaksesuaian. Ms. Hoffman tidak meng-
gunakan asesmen formal untuk mengetahui bagaimana siswa me­
mahami pengetahuan metakognitif, tetapi ia secara informal mengases
bagaimana siswa mendapatkan jawaban dan menarik kesimpulan.
Tidak jelas, ia mengevaluasi atau mengajar apakah siswa-siswanya
mengetahui penggunaan analogi-analogi selain dalam operasi pen­
jumlahan. Beberapa aktivitas di kotak B2 (memahami pengetahuan
konseptual) dan C2 (memahami pengetahuan prosedural) tidak bersesuai-
an dengan tujuan atau asesmennya. Ketidaksesuaian ini menunjuk-
kan perbedaan antara penekanan dan fokus yang telah kita bicarakan
pada bagian Komentar tentang Pembelajaran.

BAGIAN 5: PERTANYAAN-PERTANYAAN PENUTUP

Masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab dalam
analisis sketsa pembelajaran ini. Tiga di antaranya adalah sebagai
berikut:

254 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

1. Apa hubungan antara memahami pengetahuan konseptual dan
mengingat pengetahuan fa k h ia l? Asumsi bahwa memahmni
pengetahuan konseptual yang fundamental membantu siswa
mengingat pengetahuan faktual mendasari pendekatan Ms.
Hoffman dalam merencanakan dan mengajarkan unit pelajaran
ini. Apakah penekanan yang terus-menerus pada cara-cara
menghafal (misalnya, cara menarik kembali) sama atau lebih
efektif untuk mencapai hasil yang diinginkan? Jawaban atas
pertanyaan ini akan membantu kita memahami hubungan
antara Pengetahuan Faktual dan Pengetahuan Konseptual, dan
peran Memahami dalam Mengingat.
Sejalan dengan penekanan kami pada pentingnya proses-
proses kognitif yang lebih kompleks, Ms. Hoffman mengenalkan
proses-proses kognitif ini kepada siswa sejak kelas awal. Selain
itu, ia membantu mereka sedari dini mempelajari bahwa bila
materi yang kompleks telah dikuasai secara konseptual, apli-
kasinya acap kali menjadi otomatis. (Dalam melakukannya,
secara kebetulan, ia menggunakan aktivitas-aktivitas yang me­
narik dan memotivasi sebagai pengganti dril dan praktik —akan
berguna untuk mata pelajaran hafalan yang berat semisal bahasa
asing.)
Ms. Hoffman mengenalkan konsep-konsep matematika
yang akan siswa jumpai pada kelas-kelas berikutnya, sebuah
aspek yang luput ketika kami memfokuskan Tabel Taksonomi
pada level unit. Akan tetapi, Tabel Taksonomi sebenarnya dapat
dipakai guna membuat rencana pembelajaran untuk satu atau
banyak tahap pembelajaran. Ihwal tujuan-tujuan yang pencapai-
annya membutuhkan waktu lama, Tabel Taksonomi menjadi alat
yang sangat membantu untuk menentukan kapan, di mana, dan
bagaimana upaya untuk merumuskan tujuan-tujuan tersebut.

2. Apakah asesmen langsung terhadap memahami pengetahuan
konseptual berguna untuk membedakan apa yang siswa pahami
dari apa yang siswa dapat lakukan? Sulit sekali untuk menentu­
kan apakah siswa benar-benar sedang mengembangkan penge-

Bab 10 : Sketsa Pembelajaran Penjumlahan 255

tahuan konseptual tentang hubungan-hubungan antarbilangan
dan prosedur-prosedur matematika. Mereka jelas sedang mem-
pelajari hasil-hasil penjumlahan, tetapi apakah mereka tengah
mempelajari konsep-konsep bilangan? Dengan perkataan lain,
dapatkah siswa yang tidak memahami "keluarga bilangan"
menggunakan "keluarga bilangan" untuk menghafal hasil-hasil
penjumlahan? Latihan-latihan yang hanya terfokus pada "ke­
luarga bilangan" memungkinkan gurunya membedakan antara
siswa yang memahami tetapi tidak menggunakan suatu cara
dan siswa yang tidak memahami dan, makanya, tidak dapat
menggunakannya. Informasi ini membantu kita mengerti peran
memahami pengetahuan konseptual dalam mengaplikasikan penge-
tahuan prosedural.
3. Informasi apa yang diperoleh dari asesmen langsung terhadap
memahami pengetahuan metakognitif? Informasi yang Ms. Hoffman
peroleh dari pengamatannya dan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukannya kepada siswa adalah kontinum perkembangan
belajar siswa yang awalnya "menghitung dengan jari", kemudian
"menghitung bilangan secara berurutan", lalu (dengan bantuan
Ms. Hoffman) mencermati struktur hasil-hasil penjumlahan, dan
akhirnya menghafal. Wawancara dengan siswa pada semua
tahap akan memberikan informasi yang berharga tentang per­
kembangan hafalan anak dan peran Pengetahuan Metakognitif
dalam perkembangan ini. ■

256 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Bab 11

Sketsa Pembelajaran
Undang-undang

Sketsa Pembelajaran yang dibuat dan diajarkan oleh Ms. Gwendolyn
dan K. Airasian ini merupakan unit pelajaran yang memadukan
sejarah kolonial sebelum Perang Revolusi dan tugas menulis tajuk
rencana persuasif.

Saya sudah mengajar selama 17 tahun, dan 10 tahun terakhir
saya mengajar kelas 5 SD di daerah pinggiran kota. Siswa-siswanya
terbagi dalam kelas-kelas, dan kelas yang saya pegang berisikan 26
siswa, 16 lelaki dan 10 perempuan. Lima di antaranya merupakan
anak berkebutuhan khusus, dan ketika mengikuti pelajaran saya,
mereka dibantu oleh para pendamping. Siswa-siswa lainnya
memiliki beragam kemampuan, minat, dan motivasi.

Tajuk rencana persuasi dan sejarah kolonial merupakan topik-
topik yang terdapat dalam kurikulum kelas 5 di daerah kami. Saya
mengajarkan penulisan tajuk rencana persuasif pada sembarang
waktu sejak pertengahan sampai akhir tahun ajaran. Saya meminta
siswa menilai tajuk rencana mereka sendiri dan tajuk rencana teman
mereka; ini merupakan bagian dari pengajaran saya. Sejarah kolonial
pada 1760-an dan 1770-an diajarkan dalam pelajaran ilmu penge-
tahuan sosial (IPS) pada April, setelah mereka mempelajari awal pen-
jelajahan "dunia bam ". Pengalaman saya sebelumnya dalam meng­
ajarkan unit ini, juga karakteristik khusus kelas saya (sudah punya

Bab 11 : Sketsa Pembelajaran Undang-Undang

pengalaman menulis, keterampilan untuk mencari literatur di per-
pustakaan, masa konsentrasi, dan kemampuan untuk bekerja
kelompok), membantu saya merumuskan tujuan-tujuan pembelajar-
an. Saya perkirakan unit pelajaran ini membutuhkan waktu 10-12
hari dengan jam pelajaran 45 menit sebanyak tiga kali dalam se-
minggu dan 90 menit sebanyak dua kali dalam seminggu. Jika siswa
dapat dengan cepat menangkap aspek yang paling konseptual dalam
unit ini, saya mungkin butuh waktu 10 hari. Namun, jika mereka
tidak dan/atau jika mereka mengalami kesulitan dalam menuliskan
pendapat mereka, pembelajaran ini akan berlangsung selama 12-14
hari.

BAGIAN I: TUJUAN

Tujuan umum unit pelajaran ini adalah siswa mengetahui sejarah
Penjajahan Amerika pada 1760-an dan 1770-an, khususnya perihal
pajak-pajak yang dipungut oleh Raja George dan reaksi-reaksi pen-
duduk Amerika yang terjajah terhadapnya. Tujuan-tujuan yang lebih
spesifik diperlukan untuk menjelaskan tujuan umum ini. Saya ingin
siswa-siswa saya:

1. Mengingat detail-detail dari Undang-Undang tertentu (misal-
nya, Undang-Undang (UU) Gula, y U Perangko, dan UU
Townshend);

2. Menjelaskan konsekuensi-konsekuensi dari UU tersebut bagi
berbagai kelompok masyarakat Amerika;

3. Memilih tokoh atau kelompok masyarakat Amerika dan menu! is
tajuk rencana persuasif yang menunjukkan pendapatnya
tentang UU itu (tajuk rencana harus berisikan minimal satu
alasan pendukung yang belum diajarkan atau disebut-sebut di
kelas); dan

4. Mengedit tajuk rencana sendiri dan tajuk rencana orang lain.

Komentar

Alih-alih memulai dengan empat tujuan yang spesifik, Ms.
Airasian mengawalinya dengan tujuan umum: mengetahui periode

258 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

tertentu dalam sejarah Amerika. Untuk memberikan fokus yang
memang diperlukan guna merencanakan pembelajaran dan asesmen-
nya, ia merumuskan empat tujuan yang lebih terfokus.

Dalam tujuan pertama, kata kerjanya "mengingat" dan frasa
bendanya "detail-detail dari UU tertentu". Maka, kami mengklasifi-
kasikan tujuan pertama ini sebagai memahami pengetahuan faktual.

Esensi dari tujuan keduanya adalah menjelaskan pengaruh UU
itu pada berbagai kelompok masyarakat Amerika. Pada Tabel 5.1,
menjelaskan berarti mengkonstruk model sebab-akibat dan merupakan
proses kognitif dalam kategori Memahami. Dalam dimensi penge­
tahuan, "konsekuensi-konsekuensi bagi berbagai kelompok masya­
rakat Amerika" sangat mirip dengan "teori, modal, dan struktur".
Maka, kami mengklasifikasikan tujuan kedua ini sebagai memahami
pengetahuan konseptual.

Tujuan ketiganya lebih menyerupai aktivitas pembelajaran atau
tugas asesmen ketimbang tujuan pembelajaran. Kata kerjanya "me-
nulis tajuk rencana persuasif"; kata bendanya "tokoh atau kelompok
masyarakat Amerika". Akan tetapi, jika asumsinya adalah bahwa
Ms. Airasian ingin siswanya belajar menulis tajuk rencana persuasif
tentangbermacam-macam topik selama setahun, kami dapat meng­
klasifikasikan tujuan ini. "Menulis tajuk rencana persuasif" adalah
Mencipta. "Bermacam-macam topik" merupakan kombinasi dari
Pengetahuan Faktual dan Pengetahuan Konseptual. Maka dari itu, kami
menempatkan tujuan ini dalam kotak A6 (mencipta [berdasarkan]
pengetahuan faktual) dan B6 (mencipta [berdasarkan] pengetahuan
konseptual) dalam Tabel Taksonomi.

Argumen serupa berlaku untuk tujuan keempatnya. Kata kerja­
nya adalah "mengedit tajuk rencana sendiri" dan "mengedit tajuk
rencana orang lain"; kata bendanya ialah "tajuk rencana". Kami dapat
menganalisisnya dengan dua cara (dengan asumsi Ms. Airasian ingin
siswanya belajar mengedit, bukan sekadar terlibat dalam kegiatan
mengedit). Kami memandang mengedit, khususnya mengedit tajuk
rencana sendiri dan mengedit tajuk rencana orang lain, merupakan
bentuk evaluasi. Dan, Mengevaluasi adalah kategori proses kognitif.
Evaluasinya berdasarkan sejumlah kriteria; maka, kami mengklasifi-

Bab II : Sketsa Pembelajaran Undang-Uiidang 259

kasikannya dalam mengevaluasi [berdasarkan] pengetahuan konseptual.
Atau, kami juga bisa memandang mengedit sebagai Mengaplikasikan,
yakni mengaplikasikan ketentuan-ketentuan tanda baca dan tata
bahasa. Ini masalah klasifikasi yang kerap muncul, ketika proses
kognitif yang kurang kompleks (Mengaplikasikan) terjadi dalam
proses kognitif yang lebih kompleks (Mengevaluasi). Kami mengatasi
masalah ini dengan mengklasifikasikan tujuan ini secara agak subjek-
tif dalam tingkat yang lebih kompleks —Mengevaluasi.

Mengedit dapat dipandang pula sebagai satu langkah dalam
proses menulis tajuk rencana. Kemudian, kami merujuk kembali ke
tujuan sebelumnya: mencipta [berdasarkan] pengetahuan faktual dan
pengetahuan konseptual. Untuk sementara waktu, kami mengikuti
insting pertama kami dan menempatkan tujuan ini dalam kotak B5
(mengevaluasi [berdasarkan] pengetahuan konseptual).

Penempatan tujuan-tujuan ini dalam Tabel Taksonomi ditunjuk-
kan pada Tabel 11.

BAGIAN 2: AKTIVITAS-AKTIVITAS PEMBELAJARAN

Hari 1

Saya menimbang sejumlah cara untuk mengajarkan tujuan
umum pembelajaran ini, termasuk meminta siswa menulis surat
kepada saudaranya di Inggris yang menggambarkan pengaruh
UU itu pada keluarganya, atau meminta siswa menuliskan ke-
beratan mereka terhadap pajak-pajak itu. Akhirnya, saya putus-
kan untuk meminta siswa menulis tajuk rencana koran dari
perspektif negara yang terjajah atau negara penjajah. Saya secara
acak membagi siswa jadi dua kelompok berdasarkan nama per­
tama dan nama terakhir mereka. Kelompok pertama bernomor
ganjil dan menulis tajuk rencana dari perspektif terjajah (ber-
gembira) sementara kelompok kedua bernomor genap dan me­
nulis tajuk rencana dari perspektif penjajah (menggerutu). Pem-
bagian kelompok secara acak memberi keseimbangan dan
dukungan bagi siswa-siswa yang membutuhkan. Selanjutnya,
saya menjelaskan isi unit pelajaran ini: kombinasi antara IPS

260 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Tabel 11.1. Analisis Sketsa Pembelajaran Undang-Undang dengan Tabel Taksonomi
Berdasarkan Rumusan Tujuan Pembelajarannya

Dimensi Dimensi Proses Kognitif
Pengetahuan
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Mengingat Memahami Mengapli- Mengana- Mengeva- Mencipta

kasikan lisis luasi

A. Tujuan 1 Tujuan 3
Pengetahuan
Faktual

B. Tujuan 2 Tujuan 4 Tujuan 3
P e n g e ta h u a n
Konseptual

C.
Pengetahuan
Prosedural

D.
Pengetahuan
Metakognitif

Keterangan:

Tujuan 1 Mengingat detail-detail dari UU tertentu.
Tujuan 2 Menjelaskan konsekuensi-konsekuensi dari UU bagi berbagai kelompok
masyarakat Amerika.
Tujuan 3 Memilih tokoh atau kelompok masyarakat Amerika dan menulis tajuk rencana
persuasif yang menunjukkan pendapatnya tentang UU itu.
Tujuan 4 Mengedit tajuk rencana sendiri dan tajuk rencana orang lain.

Bab II : Sketsa Pembelajaran Undang-Undang 261

dan karangan persuasif yang memerlukan sejumlah langkah
untuk membuatnya. Saya tambahkan bahwa unit ini akan ber-
langsung sekitar 10 hari. Setiap siswa saya beri lembar ceklis
yang akan saya gunakan ketika mengases tajuk-tajuk rencana
mereka (lihat Lampiran A pada akhir bab ini). Saya membaca
setiap kriteria evaluasi dengan keras dan meminta siswa-siwa
menjelaskan secara individual dengan kata-kata mereka sendiri
apa maksud setiap kriteria itu.

Komentar

Ms. Airasian tahu bahwa banyak aktivitas pembelajaran yang
bisa menjadi dasar untuk mengajarkan unit pelajaran ini; dan ia me-
milih satu aktivitas. Ia pun mengetahui perbedaan antara tujuan dan
aktivitas pembelajaran. Dengan perkataan lain, guru membutuhkan
fleksibilitas dan kreativitas dalam membuat rencana pembelajaran,
mengajar dan mengasesnya setelah merumuskan tujuan-tujuan yang
spesifik.

Frasa "kombinasi antara IPS dan karangan persuasif yang me­
merlukan sejumlah langkah untuk membuatnya" merupakan Penge-
tahuan Prosedural. Kami berpendapat bahwa siswa akan mengapli-
kasikan pengetahuan prosedural ketika menyelesaikan tugas pokok
mereka, yakni menulis tajuk rencana. Namun, sampai di sini, belum
ada aktivitas pembelajaran yang berkaitan dengan tujuan tersebut.
Secara keseluruhan, pada hari pertama, Ms. Airasian menjelaskan
garis besar unit pelajaran ini, termasuk hasil tugas akhir yang di-
harapkan dan kriteria-kriteria yang akan digunakan untuk meng-
evaluasinya. Lantaran kriteria-kriteria ini merupakan Pengetahuan
Konseptual, kami mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas pembelajaran
pada hari pertama sebagai memahami pengetahuan konseptual (pasalnya
siswa harus "menjelaskan secara individual dengan kata-kata mereka
sendiri apa maksud setiap kriteria itu").

262 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

Hari 2

Saya mengawali hari kedua ini dengan unit IPS. Saya putarkan
cakram video tentang periode penjajahan yang menggambarkan
UU pajak dan sikap penduduk Amerika terhadap penjajah
Inggris. Setelah pemutaran video itu, saya adakan diskusi kelas
tentang bermacam-macam pajak (ditulis di papan tubs) dan
sikap berbagai kelompok masyarakat Amerika terhadap pajak-
pajak tersebut. ("Menurut pendapat kalian, bagaimana sikap
penduduk Amerika yang dijajah terhadap pajak-pajak itu?
Apakah mereka mempunyai sikap yang sama? Mengapa?")
Saya beri mereka pekerjaan rumah untuk membaca bab tentang
UU pajak pada buku pelajaran.

Komentar

Dua tujuan pertama mulai diajarkan. Video itu memberikan
informasi tentang UU pajakJTujuan 1) dan sikap masyarakat Amerika
yang terjajah terhadap Inggris (Tujuan 2). Buku pelajararmya memberi
informasi tambahan tentang dua tujuan pertama tadi. Dalam dimensi
pengetahuan, penekanan pembelajaran ini terutama pada Pengetahu­
an Faktual. Ms. Airasian mengenalkan berbagai kelompok masyarakat
Amerika, dan kata kuncinya adalah mengenalkan. Syahdan, kami ber-
kesimpulan bahwa aktivitas-aktivitas ini berkaitan terutama dengan
tujuan pertama, mengingat pengetahuan faktual.

Hari 3
Kami menghabiskan hari ketiga untuk membicarakan pekerjaan
rumah mereka. Kami mendiskusikan bermacam-macam UU
pajak, tujuan-tujuan UU pajak, dan pengaruh UU tersebut pada
penduduk Amerika. Siswa diminta untuk bersiap diri mengikuti
kuis tentang berbagai UU pajak pada keesokan harinya. Mereka
harus membaca kembali buku pelajararmya dan catatan mereka.
Saya katakan kepada mereka bahwa kuisnya adalah menjodoh-
kan bagian dari UU pajak dengan nama pajaknya.

Bab 11 : Sketsa Pembelajaran Undang-Undang 263

K om en tar

Penekanannya jelas tetap pada Pengetahuan Faktual. Ms. Airasian
berpendapatbahwa Pengetahuan Faktual menjadi "perancah" untuk
mencapai tujuan-tujuan lairmya. Ia percaya bahwa tanpa Pengetahuan
Faktual tentang UU pajak, siswa akan menemui kesulitan untuk men-
jelaskan konsekuensi-konsekuensi dari UU tersebut dan untuk me-
nulis tajuk rencana dari perspektif masyarakat terjajah. Kuis "men-
jodohkan" sesuai dengan pengklasifikasian aktivitas-aktivitas pem-
belajaran ini dalam mengingat pengetahuan faktual.

Hari 4

Saya memulai hari keempat dengan kuis yang merupakan
seperlima bagian dari penilaian akhir. Setelah kuis, saya mem-
bahas karangan persuasif. Saya mengingatkan siswa bahwa
karangan persuasif bertujuan untuk membuat pembacanya
setuju dengan pendapat penulis, sehingga si penulis harus
menyertakan fakta-fakta dan contoh-contoh yang mendukung
pendapatnya. Penulis harus memengaruhi atau meyakinkan
pembaca. Saya mengajak siswa untuk melihat kembali portofolio
tulisan mereka dan mencari tulisan-tulisan persuasif mereka.
Saya menekankan perbedaan antara pendapat (yang diyakini
benar) dan fakta (yang dapat dijadikan bukti pendukung). Saya
katakan bahwa tajuk rencana termasuk jenis tulisan persuasif,
dan saya tunjukkan pula contoh-contoh tajuk rencana dari Scho­
lastic Magazine. Saya jelaskan ciri-ciri pokok tajuk rencana:
kalimat pembukanya yang kuat dan jelas serta menyatakan
suatu pendapat; mengandung minimal tiga alasan pendukung
pendapat tersebut yang berdasarkan fakta, bukan opini; dan
bagian penutup yang meyakinkan (Lampiran A). Saya mem-
punyai School District's Grade 5 Focus Correction Areas (FCAs)
(Lampiran B), tetapi ini tidak cukup jika tidak saya tambahkan
kriteria-kritera asesmen yang saya buat sendiri. Saya mengingat­
kan siswa bahwa salah satu alasan dalam tajuk rencana mereka
harus orisinal, alasan yang berasal dari ide mereka sendiri,
bukan hasil diskusi di kelas atau kutipan dari buku pelajaran.

264 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

K om entar

Kini, perhatian siswa diarahkan untuk mengupas tulisan per-
suasif. Jelasnya, menulis tajuk rencana membutuhkan Pengetahuan
Prosedural (yakni, bagaimana menulis esai persuasif) dan Pengetahuan
Konseptual (yaitu, kriteria-kriteria yang dipakai untuk mengevaluasi
tulisan persuasif). Pada Bab 4, kami telah menjelaskan bahwa kriteria
termasuk dalam Pengetahuan Prosedural, tetapi, kriteria-kriteria ter-
sebut bersifat khusus, yakni digunakan untuk menentukan ketika
Pengetahuan Prosedural telah digunakan. Kriteria-kriteria yang di­
gunakan dalam sketsa pembelajaran ini berbeda, dan cenderung
merupakan klasifikasi dan kategori (di sini misalnya, "alasan-alasan
pendukung" atau "alasan-alasan yang sesuai dengan tokohnya").
Oleh karena kriteria-kriterianya adalah klasifikasi dan kategori, kami
menganggapnya sebagai Pengetahuan Konseptual. Lantaran tulisan
persuasif sudah dikenalkan dan dipraktikkan di sekolah, Ms.
Airasian mengupas tulisan persuasif secara konseptual (yakni, apa
yang membuat tulisan persuasif jadi tulisan persuasif, contoh-contoh
tajuk rencana yang persuasif) dan secara prosedural (yakni tiga tahap
penulisan). Ia juga mengulas kriteria-kriteria untuk mengevaluasi
tulisan pada umumnya (juga Pengetahuan Konseptual). Aktivitas-
aktivitas pembelajaran pada hari keempat ini berkaitan terutama
dengan memahami pengetahuan konseptual dan sedikit dengan
mengaplikasikan pengetahuan prosedural.

Hari 5

Pada hari kelima, seluruh siswa di kelas mengidentifikasi pajak-
pajak tertentu dan mengemukakan pikiran-pikiran mereka
tentang reaksi masyarakat terjajah terhadap pajak-pajak tersebut.
Saya menuliskan pikiran-pikiran mereka di papan tulis, dan
mereka menulisnyS di buku catatan mereka. Sebelum siswa
menentukan tokoh yang pandangannya ditulis dalam tajuk
rencana, dua kelompok siswa yang menulis tajuk rencana dari
perspektif terjajah dan dari perspektif penjajah dibagi jadi sub-
sub-kelompok yang terdiri dari tiga sampai lima siswa untuk

Bab II : Sketsa Pembelajaran Undang-Undang 2 6 5

membahas bagaimana pajak-pajak itu dan reaksi-reaksi ter-
hadapnya memengaruhi berbagai kelompok di negara jajahan
(misalnya, pedagang, petani, bankir, ibu rumah tangga, dan se-
bagainya). Setelah diskusi selama 15 menit, mereka mempre-
sentasikan hasil diskusinya.

Komentar

Fokus pembelajarannya kembali ke UU pajak dan reaksi masya-
rakat terjajah terhadap UU tersebut. Selama membahas berbagai jenis
pajak dan reaksi masyarakat Amerika terhadap pajak-pajak tersebut
dan diskusi kelompok-kelompok kecil, siswa diminta untuk mem-
buat kesimpulan. Sesuai dengan Tabel 5.1, menyimpulkan adalah me-
narik kesimpulan logis dari data-data yang ada. Kesimpulan harus
dibuat berdasarkan Pengetahuan Konseptual siswa dari dua kelompok
besar (yakni keyakinan dan sikap dari masyarakat terjajah dan pen-
jajah) dan Pengetahuan Faktual mereka tentang UU pajak. Maka,
aktivitas-aktivitas pembelajaran ini berkaitan dengan memahami
pengetahuan konseptual dan mengingat pengetahuan faktual.

Hari 6 dan 7 x

Hari keenam dan ketujuh terfokus pada pemilihan tokoh pada
zaman kolonial yang akan "menulis" tajuk rencana mereka dan
pada identifikasi alasan-alasan yang mendukung pendapat
tokoh tersebut dalam tajuk rencana. Saya sediakan tulisan-
tulisan tentang IPS, buku-buku umum, ensiklopedia-ensiklo-
pedia kelas, dan buku-buku tentang biografi ringkas orang-orang
pada zaman penjajahan dan gambaran kehidupan pada masa
itu. Tulisan-tulisan dan buku-buku ini memiliki beragam tingkat
kedalaman dan isi yang bertalian dengan pengaruh-pengaruh
UU pajak pada berbagai tokoh pada zaman penjajahan. Saya
membuatkan garis-garis pedoman untuk membantu siswa ber-
pikir dan mengidentifikasi tokoh yang akan mereka tubs
(Lampiran C). Sebelum mereka mengidentifikasi tokoh, saya

266 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen

meminta mereka membaca minimal dua biografi ringkas yang
sesuai dengan perspektif mereka.

Komentar

Di sini, siswa-siswa memilih tokoh atau kelompok untuk "me-
nulis" tajuk rencana mereka. Aktivitas ini tentu berkaitan Tujuan 3.
Mereka diberi semacam panduan untuk memilih tokoh atau kelom­
pok, tetapi mereka harus mencari sendiri informasi lain tentang tokoh
atau kelompokpilihan mereka. Lampiran C berisikan kriteria-kriteria
untuk membantu siswa menentukan pilihan — maka merupakan
Pengetahuan Konseptual. Namun, pemilihan ini secara implisit berarti
menganalisis informasi-informasi sebelumnya dalam unit pelajaran
ini dan bacaan-bacaan mereka pada Hari 6 dan 7. Untuk menentukan
pilihan dan merespons Lampiran C, mereka harus membedakan
(antara informasi yang relevan dan tidak relevan, yang penting dan
tidak penting — lihat Tabel 5.1). Membedakan adalah proses kognitif
dalam kategori Menganalisis. Maka, aktivitas-aktivitas pembelajaran
ini termasuk memahami pengetahuan konseptual dan menganalisis [ber-
dasarkan] pengetahuan konseptual, secara berurutan.

Pada akhir hari ketujuh, siswa-siswa diminta mengumpulkan
tulisan deskriptif tentang tokoh pilihan mereka, mengapa
mereka memilih tokoh itu, apa pendapatnya yang akan ditulis
dalam tajuk rencana, dan satu alasan pendukung pendapat itu.
Saya membaca setiap tulisan mereka dan memberikan saran,
biasanya tentang ketepatan pilihan mereka atau bobot alasan
baru mereka. Saya menuliskan saran untuk beberapa siswa yang
mengalami kesulitan dalam memilih tokoh.

Komentar

Ms. Airasian sedang melakukan asesmen formatif atas proses
belajar siswa, barangkali untuk mengetahui perkembangan dan ke-
lengkapan informasi yang siswa peroleh sebelum Ms. Airasian meng-
izinkan mereka menulis tajuk rencana. Sebagian siswa sulit mencari

Bab II : Sketsa Pembelajaran Undang-Undang 2 6 7

alasan baru yang mendukung pendapat tokoh atau kelompok pilihan
mereka. Menemukan contoh baru tentang suatu elemen dalam suatu
kategori adalah mencontohkan, sebuah proses kognitif dalam kategori
Memahami (lihat Tabel 5.1). Maka dari itu, tugas siswa ini diklasi-
fikasikan dalam memahami pengetahuan konseptual (dua kelompok
besar siswa merupakan dua kategori).

1

Hari 8-10

Selama tiga hari berikutnya, siswa-siswa bekerja secara indi­
vidual untuk membuat kerangka tajuk rencana dan mengguna-
kan lembaran evaluasi (Lampiran A) sebagai panduannya.
Selama mereka menulis tajuk rencana, saya berkeliling ruangan
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa, membantu
mereka mengidentifikasi isu-isu yang akan ditulis di tajuk
rencana mereka, membantu beberapa siswa mulai menulis,
mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan siswa
pada informasi sejarah yang dibutuhkan, dan mendengarkan
pendapat-pendapat dan masalah-masalah siswa. Saya sering
mendorong siswa untuk mendekatkan diri mereka dengan
tokoh pilihan mereka. Misalnya, bila tokohnya pemilik percetak-
an, saya bertanya, "Pajak-pajak apa^yang paling penting bagi
tokoh ini dan bagaimana pengaruh pajak-pajak tersebut
padanya?" Saya juga menyarankan supaya mereka membaca
kembali garis pedomannya untuk mengidentifikasi tokoh
(Lampiran C). Sebagian siswa bisa mulai menulis tajuk rencana
secara cepat, sedangkan sebagian lainnya perlu berdiskusi lagi.

Komentar

Selama tiga hari ini, siswa-siswa diharapkan dapat mempro-
duksi tajuk rencana. Lantaran memproduksi merupakan proses
kognitif dalam kategori Mencipta, kami mengklasifikasikan aktivitas
ini sebagai mencipta [berdasarkan] pengetahuan faktuat (yakni, penge­
tahuan tentang perspektif terjajah vs. perspektif penjajah; penge­
tahuan tentang kriteria-kriteria evaluasi).

268 Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen


Click to View FlipBook Version