The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sifa.chaerani1606, 2021-08-01 04:36:35

PR Crisis

ISI_PR CRISIS

BAB 1 Kekuatan Publik Chapter 1

• Tier 3 – Orang-orang ini tidak terpengaruh

oleh krisis tersebut namun membutuhkan
informasi yang berkaitan dengan peristiwa
yang terjadi sebagai bahan pertimbangan
mereka ke depan. 

Dengan mengidentifikasi audiens, akan
membantu Anda memilih metode komunikasi
terbaik, yang sesuai dengan khalayak tertentu.

Berikut adalah kemungkinan audiens yang
terlibat dalam suatu krisis:

1. Publik yang berkepentingan terhadap pesan
(yang paling terkena dampak peristiwa)

2. Publik yang tidak terlalu berkepentingan
terhadap pesan (yang tidak langsung dipe­
ngaruhi oleh kejadian tapi yang masih
memerlukan informasi)

3. Mereka yang terlibat dalam upaya pemulihan
krisis. Dokter atau tenaga medis yang terlibat
dalam pemulihan krisis

4. Anggota keluarga korban

5. Stakeholder dan mitra kerja khusus untuk si-
tuasi darurat seperti, polisi, pemadam keba-
karan, dan pihak terkait lainnya

6. Tokoh masyarakat, ketua adat, pemimpin
l­okal, negara, dan nasional

7. Media

8. Populasi khusus termasuk orang-orang yang
mungkin memiliki keterbatasan pendengar­
an, penglihatan, bicara, kognitif, atau intelek-
tual. Agar pesan-pesan Anda dengan mudah
diakses kelompok-kelompok ini, Anda harus
men­ gidentifikasi mereka pada awal proses
perencanaan. Ketika Anda mengembangkan

15

Chapter 1 BAB 1 Kekuatan Publik

rencana Anda, Anda akan perlu mendapatkan
masukan dari orang-orang yang bekerja dekat
dengan kelompok-kelompok ini.

To Keep the Public
Under Your Radar

Di penghujung Mei 2012, setelah memancing kontroversi dan per-
debatan yang memenuhi ruang publik, akhirnya konser Lady Gaga
batal diselenggarakan di Indonesia. Menarik mencermati berbagai
kelompok masyarakat yang menentang kedatangan Lady Gaga. Meski-
pun tujuan mereka sama namun motivasinya beragam.

Kepolisian Daerah Khusus Ibukota Jakarta
tidak merekomendasikan konser Lady Gaga
karena alasan keamanan. Kelompok keagamaan
menolak karena si Mother Monster dianggap
melanggar prinsip-prinsip Ketuhanan.

Para pendidik khawatir, siswa mereka akan
rusak moralnya. Para orang tua miris melihat
anak-anak mereka mengidolakan artis yang me­
ngusung kebebasan sex dan mendukung kaum
gay dan lesbian. Anggota DPR menolak karena
alasan ketidaksesuaian dengan budaya timur dan
mengatasnamakan konstituen.

Peristiwa di atas menunjukkan bahwa se­tiap
persoalan akan berhadapan dengan beragam
publik, baik publik yang mendukung, netral mau-
pun yang menentang.

Troy Carter, manager Lady Gaga pasti tidak
mengenal Kapolda DKI Jakarta dan juga Ahmad

16

BAB 1 Kekuatan Publik Chapter 1

Gambar 1.4
Tiket Konser Lady Gaga

Sumber: https://republika.
co.id/berita/senggang/
musik/12/05/28/m4ozzt-

gagal-konser-di-jakarta-
lady-gaga-minta-maaf

Yani, politisi PPP (Partai Persatuan Pembangun­
an) yang sangat menentang konser artisnya.
Mung­kin dalam benak Carter, publik yang harus
dihadapi di Indonesia hanyalah promotor Big
D­ addy, untuk menggelar konser dan fans Lady
Gaga. Namun dalam setiap permasalahan, ­publik
tidak pernah tunggal. Hal inilah yang harus di­
antisipasi para praktisi public relations. Meng­
ingat banyak orang dan perusahaan yang gagap
ketika ber­hadapan dengan reaksi publik, jelas
sekali bahwa kemampuan mengantisipasi me-
merlukan daya pikir tertentu.

Apakah PR hanya perlu mengantisipasi reak-
si negatif publik? Tidak. Bahkan reaksi positif
pun perlu diantisipasi agar tidak menjadi kontra­
produktif.

Ingat kasus antrian blackberry di Pacific Place
yang menelan korban? Dalam kasus seperti itu,
untuk mengantisipasi reaksi publik, stakeh­ older
mapping harus dibentuk, baik bagi proponent
public maupun bagi opponent public. Mapping
proponent public untuk memahami keingin­
an publik dan mapping opponent public untuk
mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk
yang mungkin terjadi.

17

Chapter 1 BAB 1 Kekuatan Publik

Bolehlah kita sedikit merenungi kalimat Isaac
Newton (1643-1727), “And to every action there is
always an equal and opposite or contrary, reac-
tion...”. Maka tugas PR pertama adalah memaha-
mi publik. Sun Tzu menegaskan, “Knowing your
enemy is a half way to win the battle.”

PR Story

“Finding Godfather”

“Remember that everyone you meet is afraid of
something loves something and has lost something.”

Agustus 2017, Nexus memberangkatkan tim
ke Timur Jauh Indonesia. Terdiri dari 2 orang
investigator senior dan 1 orang staf crisis
mana­gement. Perjalanan menggunakan pe-
sawat ke ibukota provinsi, lanjut pesawat kecil ke
Kabupaten, sambung mobil ke kota kecamatan
dan terakhir menggunakan ojek ke desa tujuan.

Tarif ojek pulang pergi Rp.3 juta untuk jarak
tak lebih dari 100 km namun memakan waktu 3
hari 2 malam. Jalanan terlalu rusak untuk ditem-
puh. Tanah berlumpur dan basah membuat se­
tiap meter tanah dilalui penuh perjuangan. Tim
tak tega dan memberikan tips Rp 500 ribu lagi
per ojek. Kami menggunakan 2 ojek, total Rp 7
juta untuk satu kali perjalanan pulang pergi. Sisi
lain Indonesia terungkap.

Klien kami bermaksud membangun jalan.
Agar hidup menjadi lebih mudah. Jarak tempuh

18

BAB 1 Kekuatan Publik Chapter 1

menjadi pendek. Distribusi obat hingga makanan
menjadi lancar dan harga bisa lebih murah.

Namun Masyarakat tak terima. Mereka me-
nolak dibuatkan jalan. Perusahaan ingin kami
melakukan investigasi untuk mengetahui under-
lying reason of action dibalik penolakan. Selalu
ada aktor intelektual dibalik konflik. Orang itulah
yang kami cari. Tim Masuk ke area konflik untuk
mendapat informasi siapa tokoh utama dibalik
penolakan.

Misi kami selain menemukan aktor intelek-
tual adalah juga “engagement”. Stakeholder
e­ ngagement adalah salah satu aktivitas PR yang
paling sulit. Bagaimana mendekati seseorang
atau kelompok yang jelas-jelas berseberang
jalan. Itulah pekerjaan yang sering kami lakukan.
Menemukan episentrum konflik dan kemudian
mendekatinya untuk lebih bersahabat.

Akhirnya, kami menemukannya. Ia terpelajar,
aktivis LSM, memiliki network baik dalam skala
lokal mau pun nasional. Ia juga pernah menca-
lonkan diri menjadi anggota legislatif. Hampir
semua jaringan LSM yang kami temui memiliki
hubungan dengannya.

Ia adalah orang yang membangun persepsi
negatif tentang perusahaan. Banyak diantara in-
formasi ini tidak benar. Namun tidak ada perim-
bangan informasi dari perusahaan.

Ia menjaga diri dari orang luar, karenanya tak
bisa didekati. Apalagi dibujuk materi. Kami akhir­
nya menggunakan kartu truf terakhir. Mencari
orang yang diseganinya. Sudah fitrahnya sese­
orang memiliki orang lain yang ia hormati. Yang
perkataannya akan sangat didengar dan dipatuhi.
Fitrah juga orang mudah luluh pada permintaan
orang yang mereka hormati.

19

Chapter 1 BAB 1 Kekuatan Publik

Hormat, cinta, segan, sungkan dan takut
adalah batu kripton yang meluluhkan kekerasan
hati. Kami mencari orang itu. Antara yang ia
segani, takuti atau yang ia cintai. Remember that
everyone you meet is afraid of something, loves
something and has lost something.

Orang itu bisa ibu atau bapaknya, istri,
suami, mantan atasan, mertua, tokoh masyarakat
atau bisa siapa saja. Yang pasti mereka punya
efek melumpuhkan. Hello effect masih sakti di
Indonesia.

20

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

bab 2
memahami public
relations

“Advertising is when you say how great
you’re. PR is when other people say how
great you’re. PR is b­ etter.” | Guy Kawasaki

21

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

Memenangkan
Hati Publik

“Know your enemy and know yourself and you can
fight a hundred battles without disaster.” | Sun Tzu

Jika perang pemasaran adalah bagaimana
merebut pangsa pasar (market share), maka
perang public relations adalah pertarungan
merebut hati publik, empati publik, dan simpati
publik. Mereka yang dapat meraih hati publik
akan memenangkan pertempuran.

Joko Widodo mejadi presiden bukan karena
ia paling hebat di antara calon presiden lain­nya.
Tapi karena ia mendapat simpati publik yang
menganggap bahwa Jokowi lebih dekat dengan
rakyat kecil.

Beberapa tindakan kecil yang mendorong
Jokowi menjadi lebih dominan dalam pemilihan
presiden 2014 silam terutama ketika menjabat
sebagai gubernur DKI Jakarta, mulai dari kun-
jungan menggunakan bajaj hingga menghadiri
konser Metallica. Hal-hal yang sederhana namun
tidak dilakukan oleh lawan politiknya membuat
Jokowi mendapatkan banyak simpati publik dan
memenangkan pemilihan presiden tahun 2014
silam.

Begitu pula dengan Fidelis Ari, pria yang dib­ ui
karena menanam ganja di rumahnya. Hal yang
membuatnya meraih simpati publik adalah alas­
annya menanam ganja untuk pengobatan sang

22

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

istri yang menderita penyakit langka yang ha­
nya bisa membaik dengan diberikannya ekstrak
tanam­an tersebut. Kejadian ini semakin menyita
perhatian publik ketika istri Fidelis meninggal
32 hari setelah ia ditahan. Peristiwa ini meman­
cing berbagai reaksi dari masyarakat. Bermaksud
menjalankan tugasnya, badan penegak hukum
justru mendapat pro dan kontra dari masyarakat
terkait kasus kepemilikan ganja Fidelis.

Persepsi publik ditentukan bagaimana pub­ lik
menilai sebuah fakta yang terjadi berdasarkan
tafsir individunya. Kadang publik menilai sesuatu
dengan pertimbangan rasionalitas dan kadang
hanya atas dasar belas kasih yang kemudian ber-
metamorfosis menjadi simpati dan dukungan
yang luar biasa. Kualitas menjadi nomor dua.
Itul­ah publik dengan segala logikanya yang ber­
ubah-ubah. Mengutip kembali Abraham Lincoln,
”Public sentiment is everything, with public sen-
timent nothing can fail, without it nothing can
succeed.” Dengan sentimen publik, kita dapat
melakukan apapun, dan tanpanya semua akan
sia-sia.

How to Train the Dragon

Sebuah film animasi yang berjudul “How to Train Your Dragon” dapat
menjadi contoh bagaimana memenangkan hati “publik”. How to
Train Your Dragon adalah film animasi yang dibuat oleh DreamWorks
Animation, berdasarkan sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2003
dengan judul yang sama.

Film yang dirilis pada bulan Maret 2010 ini
memakai latar mitologi Viking ini bercerita tentang
seorang anak laki-laki berbangsa Viking bernama

23

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

Hiccup. Menjadi seorang Viking, doktrinnya hanya
satu, “Kill all the dragon”. Artinya setiap Viking
harus mampu memburu dan membunuh naga
yang sejak turun temurun menjadi musuh para
Viking. Itulah adat yang berlaku di desa Hiccup.
Sayangnya, Hiccup jauh dari tipe laki-laki ksatria
pembunuh naga seperti kebanyakan anak-anak
Viking.

Gambar 2.1
How to Train Your Dragon
Sumber: https://hot.detik.
com/movie/d-4700626/7-
fakta-how-to-train-your-
dragon-film-animasi-yang-
lahirkan-toothless

Memiliki anak laki-laki seperti Hiccup bukan-
lah impian bagi para orang tua Viking. Apalagi
bagi Stoick, kepala suku yang juga adalah Ayah
Hiccup. Stoick berharap Hiccup bisa menjadi se­
orang pejuang Viking yang tangguh dan suatu
hari nanti menggantikannya menjadi kepala
suku yang disegani. Namun kebanggaan seorang

24

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

Viking hanya satu, membunuh naga yang selalu
menyerang perkampungan mereka.

Stoick tak punya pilihan selain mengikutkan
Hiccup ke dalam pelatihan membunuh naga.
Alih-alih belajar membunuh naga, Hiccup justru
belajar memahami sifat dan karakter para naga
termasuk naga yang paling ditakuti “Night Fury”.
Knowledge is powerful than weapon.

Hiccup membuktikan pepatah di atas. De­
ngan pengetahuannya, Hiccup berusaha un-
tuk membangun hubungan dengan sang naga.
Menawarkan kepercayaan, memahami keingin­
an sang naga, termasuk makanan favoritnya.
Apa yang mereka takuti, bagaimana membuat
mereka takluk, jinak, tertidur, dan bekerja sama.
Hiccup memilih berteman dengan sang naga
dan meyakinkan seluruh suku bahwa mereka tak
perlu menjadi bangsa pembantai naga. Dan naga
sekalipun, bisa menjadi teman baik jika manusia
menawarkan persahabatan.

Moral dari cerita ini adalah kenali publik
Anda. Setelah itu, baru siapkan strategi PR sesuai
dengan keinginan, kebutuhan, dan kepentingan
publik Anda. Kemudian lihat apa yang akan ter-
jadi.

The Power of Public
­Relations

Kebutuhan praktisi PR tumbuh dengan cepat dengan berbagai
ragam klien seperti pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan,
organisasi nirlaba, industri manufaktur, tim sepakbola, selebritas,

25

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

bahkan Negara. PR memiliki deskripsi luas dengan beragam fungsi profesi
seperti humas, spesialis media, analis media, dan praktisi komunikasi.

Praktek PR telah menyebar luas. Pada ting-
kat profesional, ada organisasi bernama Public
Relations Society of America (PRSA). PRSA adalah
organisasi terbesar di dunia hubungan public re-
lations. Sebuah komunitas yang beranggotakan
lebih dari 21.000 profesional yang bekerja untuk
memajukan dunia PR dan juga praktisi yang ber­
ada di dalamnya.

Selain itu, ada organisasi PR internasional yang
disebut IPRA (International Public Relations Asso-
ciation) juga organisasi PR nasional, P­ ERHUMAS.
Kedua organisasi ini harus benar-b­ enar diper-
timbangkan oleh siapa pun yang i­ngin memiliki
karir dalam public relations. Den­ gan menjadi ba-
gian dari PRSA, IPRA, dan P­ ERHUMAS, praktisi PR
akan memiliki kesempatan untuk menghadiri lo-
kakarya, konferensi, dan menambah networking.
Public Relations sebagai suatu bidang pekerjaan
berkembang tanpa batasan dan dihargai selama
lebih dari tiga dekade.

Kekuatan public relations ini berasal dari
demokrasi, yaitu kebebasan masyarakat untuk
berpendapat, membuat keputusannya sendiri,
tinggal, bekerja, dan memilih apa yang mereka
inginkan. Kelangsungan hidup organisasi swasta
atau pemerintah tergantung pada hubungan baik
dengan kelompok atau individu yang pendapat,
keputusan, dan kegiatan mereka memengaruhi
vitalitas dan kelangsungan bisnis.

Sekuat tenaga, Amerika memengaruhi
persepsi masyarakat dunia lewat berbagai media,
baik melalui pidato Presiden Bush, lobi politik,
diplomasi, tulisan bahkan propaganda untuk

26

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

membuat dunia yakin bahwa Irak mempunyai
senjata pemusnah masal. Fakta yang kemudian
terbukti tidak benar, setelah Irak hancur lebur.

Bagi Amerika, yang penting bukan pada ada
atau tidaknya senjata pemusnah masal, tetapi
publik percaya bahwa Irak memilikinya. Dalam
public relations (PR), persepsi lebih penting dari
realitas. Oleh sebab itu, perang Irak-Amerika se-
sungguhnya diawali dari perang public relations.
Perang persepsi.

Kita hidup pada era dimana persepsi lebih
penting daripada realitas, seperti yang dikemukan
Abraham Lincoln. Ada dua kekuatan besar dalam
masyarakat, yaitu organized power dan unorga-
nized power. Organized power adalah kekuatan
yang terstruktur, terorganisasi, dan bersifat formal,
seperti negara, corporate, dan NGO. Sementara
itu terdapat kekuatan yang lebih besar lagi, yang
bersifat unorganized power, yaitu kekuatan ma­
syarakat. Lihatlah ketika unorganized power itu
bersatu, tumbanglah Presiden Filipina Ferdinand
Marcos, runtuhlah kekuasaan 32 tahun Presiden
Indonesia Soeharto, dan hancurnya kekuasaan
Presiden Thailand Thaksin ­Sinawatra.

Tidak dapat dipungkiri, peran public rela­
tions sangat berpengaruh di masyarakat, bahkan
dapat diandalkan untuk memengaruhi dan me­
ngendalikan pemikiran dan persepsi publik.
D­ alam industri saat ini, sangat penting bagi para
profesional PR untuk belajar dan mengetahui
pentingnya media baru. Media baru termasuk
blog, situs jaringan sosial, serta radio internet.
PR profesional harus tahu bahwa menggunakan
media baru ini adalah cara langsung mengirim
pesan ke publik utama mereka.

27

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

Publik dan Public
Relations

Siapa pun yang meragukan kekuatan publik, lihatlah kembali sejarah.
Revolusi Edsa di Filipina, reformasi di Indonesia yang berujung pada
bangkrutnya Orde Baru, jatuhnya tembok Berlin di Jerman, pecahnya
Uni Soviet, dan padamnya paham komunisme di dunia adalah bukti
sejarah betapa publik memiliki kekuatan yang luar biasa.

JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, begitu kata
Bung Karno. Sejarah hadir dalam berbagai rupa. Sejarah merupakan aku-
mulasi peristiwa baik dan juga buruk. Peristiwa kelam masa lalu menjadi
bernilai jika kita mengambil pelajaran dan tidak mengulanginya kembali.

Gambar 2.2 Bung Karno
Sumber: https://www.kompasiana.com/shantymelinda/5bf9e750c112fe2468439356/

jas-merah-soekarno-sudah-saatnya-kini-di-tampilkan-kembali?page=all

Publik adalah kekuatan data bagi praktisi
public relations untuk bersinergi dengan lingku­
ngan di luar perusahaan. Dengan mendengarkan,
mengamati, dan memahami publik, tindakan
yang diambil oleh seorang praktisi public relations

28

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

dapat selaras antara kepentingan peru­sahaan
dengan harapan publik.

Kata relations (hubungan) berarti: A logical or
natural association between two or more things;
relevance of one to another; connection. Dengan
kata lain relations adalah suatu hubungan alami
dan logis antara dua pihak atau lebih; yang ter-
dapat relevansi satu sama lain. Melihat esensi dari
dua kata public dan relations, maka praktik pu­blic
relations harus ditujukan kepada kepentingan
publik.

Pengenalan khalayak untuk memahami
struktur publik sangat relevan dengan konteks
public relations. Public relations sebagai fungsi
manajemen yang membangun dan memper­
tahankan hubungan baik dan bermanfaat antara
organisasi dengan publik, berkewajiban untuk:

1. Membuat organisasi bersikap responsif ter-
hadap kepentingan publik.

2. Membantu mempertahankan hubungan an-
tara publik dengan manajemen perusahaan
dengan memerhatikan tanggung jawab sosial
dan kepemimpinan yang bermoral.

3. Membantu organisasi untuk mengantisipasi
dan merespons persepsi dan opini publik.
Merespons perubahan nilai, gaya hidup, dan
sikap publik. Merespons pergeseran dukungan
publik terhadap lembaga legislatif ataupun
eks­ ekutif. Merespon perubahan-perubahan
lain yang berpotensi memengaruhi jalannya
bisnis perusahaan.

4. Menyediakan informasi melalui sistem infor-
masi publik. Meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman publik terhadap aktifitas organ­i­
sasi.

29

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

5. Melayani kepentingan publik dengan mem-
perhatikan berbagai perspektif yang berada
di ruang publik. Termasuk suara dari orang-­
orang yang diabaikan oleh media.

6. Membantu masyarakat dengan menjadi pe-
rantara konflik dan membangun konsensus
yang dibutuhkan untuk mendukung tercipta-
nya ketertiban sosial.
Di pihak lain pengenalan publik erat hubu-

ngannya dengan proses perencanaan PR suatu
organisasi yang meliputi 6 P: people, process,
practise, product, plant, dan publication.
Kemudian di kemas dalam strategi PR. Berikut
adalah strategic PR overview:

Gambar 2.3 Strategies PR Overview

Gambardiatasmenjelaskanbahwaadaduahal
penting yang harus dipahami sebelum membuat
program kerja PR dan menyusun strategi PR.
Dua hal itu adalah memahami situasi (situational
analysis) dan mengidentifikasi stakeholder yang
terlibat (identifying stakeholders). Karena strategi
harus dibuat berdasarkan situasi, dan strategi
komunikasi harus disusun sesuai dengan karakter
target audiens yang akan dituju.

30

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

Memutarbalikkan
Fakta

“He, who permits himself to tell a lie once, finds it
much easier to do it a second and third time, till at
length it becomes habitual.” | Thomas Jefferson

Kecenderungan belakangan ini adalah ba­
nyaknya tokoh masyarakat, politisi, pejabat,
dan selebritas yang membohongi publik,
memutarbalikkan, dan menutupi fakta. Praktek
tidak terpuji tersebut telah memberikan dugaan
bahwa “memutarbalikkan” fakta dengan dalih
untuk menjaga reputasi sama dengan praktek
pub­ lic relations. Padahal tidak. Memutarbalik-
kan kebohongan untuk menutupi apa yang
sebenarnya terjadi sangat tidak etis dan tidak
benar dilakukan dalam praktek public relations.
Di dalam public relations, sekali Anda berbohong
kepada publik, Anda tidak akan dipercaya lagi.

Namun, memutarbalikkan fakta di dalam
public relations berarti memutarbalikkan pesan
untuk menciptakan persepsi yang diinginkan.
Untuk itu, distorsi menciptakan kebingungan di
masyarakat bahkan berbohong adalah sebuah
trik yang diperlukan. Media mencatat beber­apa
kasus yang dianggap memutarbalikkan fakta
atau menutupi fakta-fakta yang ada.

31

Chapter 12 MBEAMBA2HMAEMMI PAUHBALMICI PRUEBLALITCIORNESLATIONS

“Dusta Dwi H­ artanto:
Riset Jet Tempur
­Sampai Tawaran Paspor
­Belanda”

09 Oktober 2017 | 07:58 WIB

Sumber: news.detik.com

Jakarta - Dwi Hartanto menyampaikan permintaan maaf sekaligus
mengu­ ngkapkan kebohongan yang telah dilakukannya. Mahasiswa
doktoral yang tengah berkuliah di Belanda ini membuka tabir atas
klaim-klaim yang pernah dibuatnya. Selama ini, profil diri Dwi lekat de­
ngan cerita manis dalam hal prestasi akademiknya. Namun, hal ini mulai
terbongkar setelah adanya ‘investigasi mandiri’ mengenai klaim prestasi
dirinya itu.

Dokumen investigasi itu menepis men-
tah-mentah klaim Dwi Hartanto mulai dari per-
temuan dengan BJ Habibie, latar belakang S1
sampai prestasi di bidang antariksa. Dwi pun
akhirn­ ya meminta maaf dan mengakui menge-
nai kebohongan klaim prestasinya tersebut.

“Sebagaimana kita ketahui, di beberapa wak-
tu terakhir ini telah beredar informasi berkait­an
dengan diri saya yang tidak benar, baik melalui
media massa maupun media sosial. Khususnya
perihal kompetensi dan latar belakang saya yang
terkait dengan bidang teknologi kedirgantaraan
(Aerospace Engineering) seperti teknologi roket,
satelit, dan pesawat tempur,” kata Dwi seperti di-
kutip dari situs resmi PPI Delft, Minggu (8/10/2017).

32

BAB 2 MMEEMMAAHHAAMMIIPPUUBBLLICICRREELLAATTIOIONNSS Chapter 12https://www.pinterpolitik.com/tipu-tipu-dwi-hartanto-si-habibie-baru/

Dwi memberi klarifikasi jika kesalahan
yang dilakukannya sebagai sebuah kekhilafan
karena memberikan informasi yang tidak benar.
Dia mengakui informasi yang disebarkannya itu
menimbulkan kegelisahan di masyarakat Indone-
sia, khususnya almamater Technische Universiteit
(TU) Delft, tempatnya kini menempuh studi. Mes-
ki demikian, dia mengatakan tak bermaksud se-
cara sengaja merugikan dan menyerang individu
atau lembaga-lembaga terkait.

Selama ini kabar mengenai Dwi lekat dengan
cerita manis, mulai mengenai prestasinya dalam
membuat Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana
Peluncur Satelit) sampai menang di Kompetisi
Antar-Space Agency Luar Angkasa. Muncul juga
klaim bahwa dia mengantongi pa­ten di bidang di
bidang spacecraft technology.

33

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

Kemudian, dia mengakui secara terang-­
terangan bahwa dirinya bukan kandidat doktor
di bidang space technology dan rocket develop-
ment. Dia sebenarnya adalah kandidat doktor
di bidang Interactive Inteligence (Departement
Intelligent Systems). Dwi mengakui dia tidak
pernah merancang Satellite Launch Vehicle (SLV)
sebagaimana yang selama ini digaungkan.

Dwi juga mengakui satu kebohongannya,
yakni ketika manipulasi bukti kemenangan
lomba. Kabar mengenai kemenangan Dwi di
kompetisi Antar-Space Agency Luar Angkasa DLR
itu mengemuka pada Juni 2017. Dalam sebuah
waw­ ancara dengan media daring di tanah air, Dwi
menjelaskan panjang lebar mengenai kemenang­
annya di kompetisi tersebut. Dwi mengklaim dia
mendesain pesawat tempur modern generasi
keenam.

“Saya mengakui bahwa ini adalah kebohong­
an semata. Saya tidak pernah memenangkan
lomba riset teknologi mtv-space agency dun­ ia di
Jerman pada tahun 2017,” kata Dwi dalam surat
klarifikasinya yang ditandatangani di atas materai
itu.

Dwi juga sempat menampilkan diri meme-
gang bukti penghargaan dan hadiah senilai 15
ribu euro. Terkait hal ini, Dwi mengaku sengaja
memanipulasi cek template pemberian hadiah
tersebut. “Saya memanipulasi template cek ha­
diah yang kemudian saya isi dengan nama saya
disertai nilai nominal EUR 15000, kemudian ber-
foto dengan cek tersebut. Foto tersebut saya pu­
blikasikan melalui akun media sosial saya dengan
cerita klaim kemenangan saya,” ujar Dwi.

Sebelumnya, Dwi sempat membuat cerita
pertemuannya dengan Presiden ke-3 RI BJ
Habibie. Dwi sempat mengatakan, peristiwa ini
bera­wal dari prestasinya di bidang antariksa.

34

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

Dalam sebuah wawancara, Dwi sempat menjelas-
kan inisiatif pertemuan tersebut karena Habibie
tertarik untuk bertemu Dwi pada Desember 2016.
Ce­rita tersebut dikuatkan dengan foto pertemuan
keduanya.

Dalam wawancara itu, Dwi mengatakan
kepada Habibie ditawari kewarganegaraan oleh
Belanda. Tawaran itu datang berkaitan dengan
riset soal jet tempur eurofighter. Dwi mengaku
mendapatkan paten serta mendapatkan bea-
siswa yang berasal dari pemerintah Belanda.

Dalam surat klarifikasinya dan permintaan
maaf atas kebohongannya, Dwi turut menjelaskan
mengenai pertemuan itu. Dwi mengakui, dialah
yang ingin bertemu BJ Habibie. “Tidak benar
bahwa Bapak B.J. Habibie yang meminta untuk
bertemu. Sebelumnya saya telah meminta pihak
KBRI Den Haag untuk dipertemukan dengan
Bapak B.J. Habibie,” kata Dwi.

Dwi juga mengakui pernyataannya me-
ngenai riset yang sedang dia garap berkaitan
dengan jet tempur tidak benar. Begitu juga
dengan tawaran untuk ganti kewarganegara-
an. Dwi Hartanto harus menanggung imbas
dari kebohongannya mengenai aneka prestasi
mentereng di bidang antariksa. Dia menjalani
serangkaian sidang etik yang diselenggarakan di
kampus Delft, Belanda.

“Saat ini, dimulai pada tanggal 25 Septem-
ber 2017, pihak TU Deflt melakukan serangkaian
sidang kode etik terhadap saya, berkaitan dengan
informasi-informasi yang telah sampai ke mere-
ka,” kata Dwi.

Selain itu, KBRI Deen Haag mencabut peng-
hargaan yang diberikan kepadanya. Pencabutan
penghargaan itu berdasarkan Keputusan Kepa-
la Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda Nomor

35

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

SK/029/KEPPRI/IX/2017 tentang Pencabutan
Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan
Belanda SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang peng-
hargaan kepada DR. IR. Dwi Hartanto. Surat itu
diteken Duta Besar I Gusti Agung Wesaka dan
ditetapkan pada 15 September 2017. Keputusan
ini dipublish di laman resmi KBRI Den Haag pada
5 Oktober 2017 lalu.

Semua peristiwa di atas memiliki impli-
kasi terhadap praktek public relations, dimana
media massa mempunyai peran penting dalam
membentuk opini publik. Seseorang maupun
perusahaan tidak hanya harus peka, tetapi juga
mempertimbangkan dengan baik perbuatan dan
perkataannya yang mungkin akan berpengaruh
di mata publik.

Yang diingat dari manusia adalah kata-­
katanya. Your word is your bond. Katakanlah yang
benar walaupun itu pahit. Berbohong kepada
publik tidak akan menyelesaikan masalah, justru
akan melipatgandakan masalah. Sekali lancung
ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya.
Kejatuhan Presiden AS Richard Nixon, disebabkan
ia berbohong kepada publik dan berusaha menu-
tupi skandal Watergate. Ini merupakan kesulitan
public relations yang paling tinggi.

Ada dilema yang terjadi dalam diri seorang
public relations ketika kebenaran justru tidak
menguntungkan diri dan perusahaannya. Yang
perlu diingat adalah tidak setiap hal yang benar
harus dikatakan, tetapi setiap yang kita katakan
haruslah hal yang benar.

Berbohong kepada publik, seperti juga dosa
lainnya, selalu sulit dilakukan pada saat pertama.
Ada rasa bersalah, ada gesekan nurani, tapi
sekali Anda melakukannya, yang kedua selalu

36

BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS Chapter 1

lebih mudah, yang ketiga menjadi kebiasaan,
dan selanjutnya Anda akan profesional dalam
berbohong. Thats the end of PR.

PR Story

“Dosa PR”

“A good talker, makes a great liar.”

Setiap profesi memiliki dosanya sendiri-sendiri. Dokter dengan mal-
praktik, hakim berpihak ke yang salah, akuntan merekayasa financial
report, pilot affair dengan pramugari dan dosanya PR yang tak lain
adalah berbohong.

Dorongan berbohong timbul karena kha-
watir hal-hal buruk terjadi. Takut reputasi dan
citra hancur berantakan, berdampak pada sales
dan profitabilitas. Padahal imajinasi buruk terse-
but belum tentu terjadi. Lady Diana jujur menga-
takan ia berselingkuh dan ia mendapat simpati.
Masyarakat menghargai kejujuran.

Mudahkah jujur? Jawabannya tidak. Di du­nia
dewasa jujur lebih mudah diucapkan daripada
dilakukan. Dalam PR ada yang disebut barrier
of honesty. Halangan kejujuran. Ia berlapis-lapis.
Diawali dengan sang klien dan lapisan-lapisannya.
Maka halangan kejujuran bisa saja datang dari
sang PR itu sendiri, klien, keluarga klien, partai
klien, direksi, mitra bisnis dan lain-lain. Artinya,
untuk bicara jujur, PR harus meminta persetujuan
dari banyak pihak. Di titik ini seringkali praktisi
PR berada pada posisi yang sulit. Mengikuti hati

37

Chapter 1 BAB 2 MEMAHAMI PUBLIC RELATIONS

nurani, atau menuruti atasan. Anyway, the truth
always comes out. One way or another way.

Berbohong, seperti juga setiap dosa lainnya,
selalu sulit dilakukan saat pertama kali. Saat
pertama selalu ada gesekan nurani. Hati merasa
tak nyaman melanggar batas. Setelah itu, semua
jauh lebih mudah dilakukan. Seperti selingkuh,
awaln­ ya ada getaran dosa, selanjutnya biasa.
Adren­ alin yang awalnya memompa rasa bersalah,
berubah menjadi memompa gejolak sensasi. A
good talker, makes a great liar.

Setiap kali berbohong akan meninggalkan
titik hitam di hati. Semakin sering berbohong, titik
hitam semakin banyak. Ia berpotensi menutup
hati. Ketika terjadi, bohong tak lagi terasa salah.
Biasa saja seperti minum air putih. Saat itu terjadi
rasanya sulit walau hanya sekedar mencium bau
surga.

38

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

bab 3
the Soul of pr

“The best p­ ublic relations done by satisfied
p­ ublic.” | Fraser P. Seitle

39

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

Penjaga Reputasi

Apa sesungguhnya fungsi PR? Berbagai literatur sudah banyak men-
jelaskan. Namun, sesungguhnya aktifitas PR didisain untuk mem-
promosikan dan melindungi produk, dan terutama citra perusahaan.
Penekanannya bukan pada kata “promosi”, tapi justru pada kata “melin­
dungi”.

Sebagai contoh, misal sebuah pesawat milik
penerbangan nasional jatuh atau mengalami
kecelakaan, atau sebuah produk susu diisukan
mengadung bahan yang diharamkan, lalu aktifi­
tas apa yang harus dilakukan?

Mampukah iklan melindungi citra perusa-
haan? Hari ini pesawat jatuh, besok Anda iklan
bahwa maskapai Anda sekarang sudah aman. Ya-
kinkah publik akan percaya? Jika iklan tidak sang-
gup, mungkinkah sales promotion. Tersebar isu
haram pada produk susu, kemudian Anda mem-
berikan potongan harga. Hati-hati dengan strate-
gi ini karena justru bisa semakin memperkuat
ketidakpercayaan publik.

Dalam situasi krisis dari lima bauran promo-
si, hanya PR yang diberikan beban untuk me-
lindungi citra perusahaan. Sebuah maskapai pe-
nerbangan nasional yang baru saja mengalami
kecelakaan menggratiskan pesawatnya untuk
dipakai relawan ketika terjadi tsunami di Aceh.
Strategi tersebut mengembalikan citra maskapai
tersebut, sehingga mendapatkan kembali keper-
cayaan publik.

Sebuah perusahaan biskuit mengajak para
konsumen untuk “tour of plant”, mengunjungi
pabriknya dan memperlihatkan proses produksi

40

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

mereka secara transparan. Kepercayaan publik
kembali lagi. Itulah kekuatan public relations da-
lam krisis, melindungi citra perusahaan.

Richard Branson pernah berkata, “I suspect
in most companies, the public relations person
is down at No. 20 in the pecking order. But here,
he is fighting incredibly important battles. If a
negative story starts running away with itself in
the press and is not dealt with fast, it can badly
da­mage the brand, and so we put enormous
weight on our PR people.”

Bagi Anda praktisi PR, bersiaplah menjadi
pelindung citra organisasi Anda.

Ruh PR

Strategi PR dimulai dari memahami siapa publik yang dituju. Tidak ada
strategi for everybody. Setiap orang, setiap lembaga bersifat khusus.
Tidak sama satu dengan yang lainnya. Maka strateginya adalah ten-
tukan siapa publik Anda, pahami, baru kemudian siapkan strategi yang
sesuai dengan karakteristik mereka. Maka PR pun harus menyiapkan
strategi yang berbeda untuk publik yang berbeda. Media dan pesan yang
berbeda untuk publik yang berbeda.

Banyak strategi PR disiapkan tanpa tahu siapa
publik yang dituju, maka kegagalan adalah harga
yang harus dibayar. Masalahnya, inilah penyebab
dominan kegagalan program public relations.
Gagal memahami publik yang dituju, dapat
dipastikan strategi yang dilakukan tidak akan
berhasil. Untuk memahami publik, hal pertama
yang harus dilakukan adalah dengan melakukan
segmentasi. Oleh karenanya, segmentasi publik
mer­ upakan ruh dari strategi PR.

41

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

Konsep PR

Public relations atau PR adalah bidang yang berkaitan dengan me­
ngelola citra dan reputasi seseorang ataupun sebuah lembaga di
mata publik. Profesi PR bekerja di wilayah publik untuk melakukan
fungsi komunikasi, hubungan masyarakat (public relations), manajemen
krisis (crisis management), hubungan pelanggan (customer relations),
hubungan karyawan (employee relations), hubungan pemerintahan
(government relations), hubungan industri (industry relations), hubung­
an investor (investor relations), hubungan dengan media (media rela-
tions), mediasi, publisitas, menulis pidato, dan guest/visitor relations.

PR dapat digunakan untuk membangun
hubungan dengan karyawan, pelanggan, inves-
tor, pemilih, atau masyarakat umum. Hampir
semua organisasi memiliki kepentingan terhadap
publiknya.

PR profesional berfokus pada membangun
hubungan yang baik dengan publiknya. PR
profesional harus tahu cara menulis, berbicara,
dan berpikir analitis. Keterampilan ini diperlukan
karena komunikasi konstan antara PR dan
masyarakat merupakan ruh dari public relations.
PR juga harus berpikir kritis sehingga bisa
memberikan solusi untuk masalah-masalah yang
dihadapi perusahaan.

Ada berbagai bidang public relations, tetapi
yang paling dikenal adalah financial public rela-
tions, product public relations, crisis public rela-
tions.

1. Financial public relations memberikan infor-
masi mengenai financial performance pe-

42

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

rusahaan, kebijakan deviden, fluktuasi harga
saham dan berbagai instrument keuangan
l­ainnya terutama untuk wartawan bisnis.

2. Product public relations - produk PR - menda-
patkan publisitas untuk produk atau jasa ter-
tentu tanpa menggunakan iklan.

3. Crisis public relations - merespon isu negatif,
berita miring atau informasi yang tidak ber­
imbang.

Public Relations yang baik tidak dapat dibeli,
tetapi harus diciptakan. Kredibilitas kegiatan
Pu­blic Relations dapat melebihi periklanan.
Berikut adalah perbedaan antara public relations,
advertising, marketing, dan branding.

“If a young man tells his date how handsome,
smart and successful he is – that’s advertising.
If the young man tells his date she’s intelligent,
looks lovely, and is a great conversationalist, he’s
saying the right things to the right person and
that’s marketing. If someone else tells the young
woman how handsome, smart and successful
her date is – that’s PR.” | S. H. Simmons

Gambar di atas menjelaskan jika mar-
keting dan advertising adalah penyampai
pesan yang berasal dari perusahaan. Adapun PR
mensyaratkan adanya orang ketiga (unofficial
spokesperson) yang dengan senang hati, tanpa
dibayar mengomunikasikan berita positif
perusahaan kita. Para ahli bersepakat bahwa
praktik PR terbaik dilakukan oleh publik yang
puas (satisfied public), bukan oleh perusahaan.
Hal ini meng­ingatkan kita pada tulisan Fraser P.
Seitle, “The best public relations done by satisfied
public.”

43

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

Tujuan Public
­Relations

Tujuan public relations adalah untuk membina hubungan baik dengan
publiknya. Istilah publik dalam Public Relations merupakan khalayak
sasaran dari kegiatan Public Relations. Publik itu disebut juga stake-
holders, yakni kumpulan dari orang atau pihak-pihak yang berkepen­
tingan terhadap perusahaan. Stakeholders adalah kelompok-kelompok
yang bera­da di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai
peran­an dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Unsur itu dibeda-
kan menjadi dua, yaitu internal stakeholders dan external stakeholders.

Keberhasilan perusahaan untuk memper-
oleh kepuasan stakeholders dapat dijadikan in­
dikator keberhasilan perusahaan. Perusahaan
yang gagal umumnya mengalami kehilangan
kepercayaan dari konsumen, pemerintah, ko-
munitas, karyawan, dan dari unsur stakeholders
lainnya. Oleh karena itu, tugas PR di sini adalah
merawat dan mengembangkan kepercayaan un-
sur-unsur tersebut.

Pada hakikatnya, PR adalah aktivitas, maka
sebenarnya tujuan PR dapat dianalogikan den­ gan
tujuan komunikasi, yakni adanya perubahan kog-
nisi, afeksi, dan perilaku publik. Namun, kata “re-
lations” menunjukkan kata kerja aktif maka harus
dilihat dari dua kepentingan, yaitu organisasi dan
publik, sehingga tujuan PR adalah terpelihara dan
terbentuknya saling pengertian (aspek kognisi),
menjaga dan membentuk saling percaya (aspek
afeksi) dan memelihara serta menciptakan kerja
sama (aspek psikomotoris).

44

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

Jika perusahaan melakukan hal-hal yang
tidak sesuai dengan norma yang berlaku, ber-
tentangan dengan kepentingan publik dan me­
rugikan masyarakat maka aktivitas PR tercanggih
pun tidak akan mampu untuk menyelamatkan-
nya. Perusahaan tidak bisa membendung komu-
nikasi word of mouth yang dilakukan oleh ma­
syarakat. Individual knowledge about anything is
now everyone’s knowledge about everything. Apa
dampaknya pada public relations? Intentions can
no longer be hidden behind a mask.

PR Jobs

Ruang lingkup tugas Public Relations (PR) dalam sebuah organisasi
antara lain meliputi aktivitas sebagai berikut:

1. Membina hubungan ke dalam (publik internal)
Publik internal adalah publik yang menjadi ba-
gian dari unit/badan/perusahaan atau organisasi
itu sendiri. Seorang PR harus mampu mengiden-
tifikasi atau mengenali hal-hal yang menimbul-
kan gambaran negatif di dalam masyarakat, se-
belum kebijakan itu dijalankan oleh organisasi.

2. Membina hubungan ke luar (eksternal)
Publik eksternal adalah publik umum (ma­
syarakat), yakni mengusahakan tumbuhnya
sikap dan gambaran publik yang positif terhadap
lembaga yang diwakilinya. Dengan demikian,
seperti yang dijelaskan di atas, peran Public
Relations (PR) tersebut bersifat dua arah, yaitu
berorientasi ke dalam (inward looking) dan ke
luar (outward looking).

45

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

Public Relations (PR) memiliki posisi yang
sangat penting dalam sebuah organisasi, ter­
utama bila organisasi tersebut sering berinter-
aksi dengan masyarakat luas. Aktivitas public
relations sehari-hari adalah menyelenggarakan
komunikasi dua arah (two ways trafic commu-
nications) antara lembaga dengan publik yang
bertujuan untuk menciptakan saling pengertian
dan dukungan bagi tercapainya tujuan tertentu
perusahaan.

Kegiatan public relations tersebut sangat erat
kaitannya dengan pembentukan opini publik dan
perubahan sikap dari masyarakat. Cutlip Center,
dan Broom (2005:31-32) mengikhtisarkan sepuluh
pekerjaan PR, yaitu:

1. Menulis dan mengedit; menyusun rilis berita
dalam bentuk cetak atau siaran, cerita feature,
newsletter untuk karyawan dan stakeholde
eksternal, korespondensi, pesan website dan
pesan media online lainnya, laporan tahunan
dan shareholder, pidato, brosur, film dan scipt
slide-show, artikel publikasi perdagangan,
iklan konstitusional, dan materi-materi pen-
dukung teknis lainnya.

2. Hubungan media dan penempatan media;
mengontak media koran, majalah, suplemen
mingguan, penulis freelance, dan publikasi
perdagangan agar mereka mempublikasikan
atau menyiarkan berita atau feature tentang
organisasi yang ditulis oleh organisasi itu sen-
diri atau oleh orang lain. Merespons perminta-
an informasi oleh media, memverifikasi berita,
dan membuka akses ke sumber otoritatif.

3. Riset; mengumpulkan informasi tentang opi-
ni publik, tren, isu yang sedang muncul, iklim
politik dan peraturan perundangan, liputan
media, opini kelompok kepentingan dan pan-

46

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

dangan-pandangan lain berkenaan dengan
stakeholder organisasi. Mencari data base di
internet, jasa online, dan data elektronik. Men-
desain riset program, melakukan survei, dan
menyewa perusahaan riset.

4. Manajemen dan administrasi; pemrograman
dan perencanaan dengan bekerja sama de­
ngan manajer lain; menentukan kebutuhan,
menentukan prioritas, mendefinisikan publik,
setting, dan tujuan, serta mengembangkan
strategi dan taktik. Menata personil, anggaran,
dan jadwal program.

5. Konseling; memberi saran kepada manaje-
men dalam masalah sosial, politik, dan per­
aturan, berkonsultasi dengan tim manajemen
mengenai cara menghindari atau merespons
krisis; dan bekerja sama membuat keputusan
kunci untuk menyusun strategi dalam me­
ngelola atau merespons isu-isu yang sensitif
dan kritis.

6. Acara spesial; mengatur dan mengelola kon-
ferensi pers, lomba lari 10 K, konvensi, open
house, pemotongan pita dan grand opening,
perayaan ulang tahun, acara pengumpulan
dana, mengunjungi tokoh terkemuka, me­
ngadakan kontes, program penghargaan, dan
kegiatan khusus lainnya.

7. Pidato; tampil di depan publik, melatih orang
memberikan kata sambutan dan mengelola
biro juru bicara untuk menjelaskan platform
organisasi di depan audien paling penting.

8. Produksi; membuat saluran komunikasi de­
ngan menggunakan keahlian dan pengeta-
huan multimedia, termasuk seni, tipografi,
fotografi, tata letak, dan komputer desktop
publishing; perekam audio dan video serta

47

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

editing; dan menyiapkan presentasi audiovi-
sual.

9. Training; mempersiapkan eksekutif dan juru
bicara lain untuk menghadapi media dan
tampil di hadapan publik. Memberi petunjuk
kepada orang lain di dalam organisasi
untuk meningkatkan keahlian menulis dan
berkomunikasi. Membantu memperkenalkan
perubahan dalam kultur, kebijakan, struktur,
dan proses organisasional.

10. Kontak; bertugas sebagai penghubung (lia-
son) dengan media, komunitas, dan kelompok
internal dan eksternal lainnya. Sebagai media-
tor antara organisasi dan stakeholder penting
dengan bertugas untuk mendengarkan pan-
dangan, menegosiasikan, mengelola konflik,
menjalin kesepakatan. Sebagai tuan rumah
dengan melakukan pertemuan dan jamuan
untuk tamu dan pengunjung. Point terpen-
ting dalam tugas dan tanggung jawab public
relations atau humas, yakni tugas “menjalin
hubungan baik dengan masyarakat dan me-
dia massa,” dengan tujuan untuk memperoleh
citra positif di mata publik atau khalayak.

Proses Public
­Relations

Proses PR selalu dimulai dan diakhiri dengan penelitian. Berikut ini
adalah empat langkah yang biasa dilakukan dalam proses PR:

48

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

1. Definisikan Permasalahan

Seorang praktisi PR harus dapat men­ genal
simtom dan penyebabnya. Maka dalam tahap
ini, praktisi PR perlu melibatkan diri dalam
penelitian dan pengumpulan fakta. Selain itu,
praktisi PR perlu memantau dan memb­ aca
terus pengertian, opini, sikap dan perilaku
mereka yang berkepentingan dan terpe-
ngaruh oleh sikap dan tindakan perusahaan.
Singkat kata, tahap ini merupakan penerapan
atau fungsi intelijen perusahaan. Langkah ini
dilakukan oleh seorang praktisi PR setiap saat
secara kontinu, bukan hanya pada saat krisis
terjadi.

2. Perencanaan dan Program

Pada tahap ini, se-

orang praktisi PR sudah

menemukan penyebab

timbulnya permasa-

lahan dan sudah siap

dengan langkah-langkah

pemecah­an atau pen-

cegahan. Langkah-

langkah itu dirumuskan

dalam bentuk rencana

dan program, termasuk

anggarannya. Penting

bagi praktisi PR untuk

mendapatkan dukungan

penuh dari pimpinan pun-

cak perusahaan karena

besar kemungkinan lang-

kah yang diambil akan

sangat strategis dan meli-

batkan keikutsertaan ba­

Gambar 3.1 Public Relations Process

nyak bagian.

Sumber: https://www.pinterest.com/pin/194640015121199747/

49

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

3. Aksi dan Komunikasi

Banyak praktisi PR yang sering melupakan
kedua proses di atas dan langsung masuk ke
tahap 3, yaitu langsung melakukan aksi dan
komunikasi berdasarkan asumsi pribadi. Mes-
ki tidak jarang tindakan itu membawa hasil
yang tidak buruk, langkah ini sama sekali tidak
disarankan karena terlalu tinggi risikonya bagi
citra perusahaan. Manajer PR yang melakukan
hal ini biasanya kurang paham ke mana citra
perusahaan hendak diarahkan dan di mana ia
berada kini.

4. Evaluasi Program

Proses PR selalu dimulai dari mengumpul-
kan fakta dan diakhiri pula dengan pengum­
pulan data. Untuk mengetahui apakah pro­
sesnya sudah selesai atau belum, seorang
praktisi PR perlu melakukan evaluasi atas
langkah-langkah yang telah diambil.

Perkembangan
Public Relations

Public Relations memengaruhi hampir setiap orang yang mempunyai
hubungan dengan orang lain. Kita semua memraktekkan public
relation dengan berbagai cara dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
sebuah organisasi, setiap telepon, surat, dan pertemuan merupakan
kegiatan pub­ lic relations. Praktisi public relations belum menjadi profesi
seperti praktisi hukum, akunting atau dokter, karena profesi-profesi

50

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

tersebut telah dilatih, disertifikasi, dan diawasi. Namun, tidak ada yang
dapat menghalangi seseorang untuk membuka praktek sebagai spesialis
public relations, meskipun yang bersangkutan tidak memiliki pendidik­an
formal dalam bidang PR.

Seiring berkembangnya bidang public rela-
tions, berkembang pula profesi ini. The Interna-
tional Association of Business Communicators,
organisasi besar yang menitikberatkan pada ko-
munikasi internal, memiliki 12.500 anggota. The
Public Relations Society of Amerika atau Perhim-
punan Public Relations Amerika (PRSA), berang-
gotakan 18.500 dengan 109 cabang, telah meng­
akreditasi sekitar 1/3 anggotanya melalui ujian
standarisasi. PRSA juga telah memiliki lisensi sah
untuk praktisi public relations, sama seperti akun-
tan dan pengacara. Tujuan utama PRSA adalah
meningkatkan profesionalisme di bidang public
relations. Profesi public relation mempunyai kode
etik, yang sangat menekankan pada tanggung ja-
wab etis.

Marketing dan penjualan mempunyai tujuan
utama menjual produk dari organisasi, periklanan
bertujuan menjual produk melalui iklan yang
ditayangkan, sedangkan public relations menjual
organisasi itu sendiri, dengan mengutamakan
kepentingan publik. Public Relations yang
baik tidak dapat dibeli, tetapi harus diciptakan.
Kredibilitas yang diperoleh dari kegiatan public
relations dapat melebihi yang diperoleh dari
periklanan.

Public Relations yang baik tidak dapat dibeli,
tetapi harus diciptakan. Kredibilitas kegiatan
Pu­blic Relations dapat melebihi periklanan.
Berikut adalah perbedaan antara public relations,
advertising, marketing, dan branding.

51

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

Gambar 3.2 Perbedaan Public Relations, Marketing, Advertising, dan Branding
Sumber: https://www.sketchbubble.com/

Gambar di atas menjelaskan jika marketing
dan advertising adalah penyampaian pesan yang
berasal dari perusahaan. Maka PR mensyaratkan
adanya orang ketiga (unofficial spokesperson)
yang dengan senang hati, tanpa dibayar
mengkomunikasikan berita positif perusahaan
kita. Para ahli bersepakat bahwa praktek PR
terbaik dilakukan oleh publik yang puas (satisfied
public), bukan oleh perusahaan. Mengingatkan
kita pada tulisan Frank Seittle, “The best public
relations done by satisfied public.”

Dahulu, pengajar mata kuliah public relations
mendorong mahasiswa untuk mempelajari cara
baru menggunakan pengetahuan yang mereka
miliki, yaitu melihat dari sisi yang berbeda agar
dapat melihat bagaimana cara pandang orang
lain. Menempatkan diri kita ke dalam pikiran

52

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

orang-orang yang coba kita sentuh dan melihat
sesuai cara pandang mereka. The way of seeing, is
the way of not seeing. Melihat dengan cara tidak
melihat dari cara pandang diri sendiri, namun
melalui cara pandang orang lain.

Tiga dekade kemudian, hal tersebut berkem-
bang. Latar belakang pengetahuan yang luas
adalah esensi untuk mengelola masalah publik
secara efektif. Walaupun definisi khusus public re-
lations mungkin beragam, sebagian besar prakti-
si public relations setuju bahwa public relations
yang baik membutuhkan dasar pengetahuan
teoritis, intuisi kuat terhadap penilaian yang etis,
kemampuan komunikasi yang bagus termasuk
pengetahuan internet, dan yang paling penting
menjunjung tinggi profesionalisme.

Dasar Public
R­ elations

Public relations atau PR adalah bidang yang berkaitan dengan me­
ngelola citra dan reputasi seseorang ataupun sebuah lembaga di
mata publik. Profesi PR bekerja di wilayah publik untuk melakukan
fungsi komunikasi, hubungan masyarakat (public relations), manajemen
krisis (crisis management), hubungan pelanggan (customer relations),
hubungan karyawan (employee relations), hubungan pemerintahan
(government relations), hubungan industri (industry relations), hubung­
an investor (investor relations), hubungan dengan media (media rela-
tions), mediasi, publisitas, menulis pidato, dan guest/visitor relations.

Pada sidang pertama Majelis Umum Asosiasi
public relations, yang diselenggarakan di Mexico
City pada Agustus 1978, praktik PR ditetapkan

53

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

sebagai “seni dan ilmu sosial yang berfungsi
menganalisis tren, memprediksi dampak yang
mungkin terjadi, memberikan nasihat kepada
pimpinan, dan melaksanakan program yang
direncanakan, dalam rangka melayani organisasi
dan kepenting­an publik.”

PR dapat digunakan untuk membangun
hubungan dengan karyawan, pelanggan, inves-
tor, pemilih, atau masyarakat umum. Hampir
semua organisasi memiliki kepentingan terhadap
publiknya. PR profesional berfokus pada memba-
ngun hubungan yang baik dengan publiknya. PR
profesional harus tahu cara menulis, berbicara,
dan berpikir analitis. Keterampilan ini diperlukan
karena komunikasi konstan antara PR dan ma­
syarakat merupakan ruh dari public relations. PR
juga harus berpikir kritis sehingga bisa memberi-
kan solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi
perusahaan.

Ada berbagai bidang public relations, tetapi
yang paling dikenal adalah financial public rela-
tions, product public relations, crisis public rela-
tions.

1. Financial public relations – memberikan in-
formasi mengenai financial performance pe-
rusahaan, kebijakan deviden, fluktuasi harga
saham dan berbagai instrument keuangan
lain­nya terutama untuk wartawan bisnis.

2. Product public relations – produk PR – menda-
patkan publisitas untuk produk atau jasa ter-
tentu tanpa menggunakan iklan.

3. Crisis public relations – merespon isu negatif,
berita miring atau informasi yang tidak berim-
bang.

54

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

Definisi Public
R­ elations

Sejarahwan Amerika, Robert Heilbroner, menggambarkan public
relations sebagai perkumpulan 100,000 orang, yang terkait dengan
profesinya dan kesulitannya adalah tidak satu pun di antara mereka
mempunyai definisi yang sama terhadap profesinya. Dengan kata lain,

lingkup kegiatan profesi public relations sangat tidak terbatas. Tugas dari

praktisi public relations di satu organisasi dapat jauh berbeda dengan

praktisi di organisasi lain. Namun, keduanya terkait dengan praktek

public relations.

Pada tahun 1923, mendiang Edward Bernays

(salah satu kosultan PR dari Amerika) menjelaskan

fungsi konsultan public relations adalah untuk

membangun persepsi positif terhadap suatu

produk, organisasi atau individu. Salah satu

penentuan untuk definisi public relations secara

umum dibebankan ke Foundation for Public

Relations Research and Education, tahun 1975.

Sebanyak 65 ahli public relations berpartisipasi

dalam studi tersebut, menganalisa 472 definisi

yang berbeda, dan menyimpulkan definisi public

relations den­ gan dengan 88 kata-kata berikut.

“Public Relations is a distinctive management
function which helps establish and maintain mutual
lines of communications, understanding, acceptance,
and cooperation between an organization and its

publics; involve the management of problems or
issues; helps management to keep informed on

55

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

and responsive to public opinion; defines and
emphasizes the responsibility of management to
serve the public interest; helps management ke
abreast of and effectively utilize change, serving

as an early warning system to help anticipate
trends; and uses research and sound and ethical
communication techniques as its principal tools.”

Berdasarkan definisi tersebut dapat disim-
pulkan bahwa hubungan masyarakat merupakan
salah satu fungsi manajemen yang menjadi jem-
batan antara perusahaan atau organisasi dengan
publiknya. Dengan demikian, diharapkan publik
dapat memahami, menerima, dan bekerjasama
apabila terdapat sebuah masalah yang berkaitan
dengan kepentingan publik. Dalam hal ini, pu­
blik dapat membantu manajemen dengan mem-
berikan sistem peringatan dini agar perusahaan
dapat mengantisipasi kemungkinan adanya krisis
dimasa yang akan datang

Dari definisi di atas, jelas bahwa fungsi pu­blic
relations adalah membantu organisasi dan pu­
bliknya saling menyesuaikan diri. Public relations
membantu sebuah organisasi agar beb­ erapa
kelompok orang dapat bekerjasama dengan
baik. Profesor dalam bidang komunikasi, John
M­ arston, mengemukakan definisi public relations
berdasarkan 4 fungsi khusus, yaitu (1) Research
(penelitian), (2) Action (kegiatan), (3) Communi-
cation (komunikasi), dan (4) Evaluation (evaluasi),
yang biasa disebut R-A-C-E. Menerapkan pende-
katan R-A-C-E dimulai dengan kegiatan peneliti-
an pada masalah-masalah tertentu, menentukan
program organisasi yang dapat mengatasi masa-
lah, mengomunikasikan program-program peru-

56

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

sahaan agar dapat dipahami dan diterima, ser-
ta mengevaluasi dampak komunikasi terhadap
publik.

Sheila Clough Crifasi, Profesor Public Re-
lations melengkapi formula R-A-C-E dengan
menambahkan pendekatan tujuan (objective),
strategi (strategy), dan implementasi (implemen-
tation) di antara penelitian dan evaluasi (research
and evaluation). Artinya, dengan tujuan yang
jelas, bekerja berdasarkan strategi, dan menerap-
kan rencana yang telah ditentukan merupakan
kunci dari praktek public relations.

Definisi yang dikemukakan oleh John
­Marston dan Sheila Clough Crifasi didasarkan
pada definisi public relations yang dikemukakan
oleh Denny Griswold, (maniarki public relations
yang mendirikan Public Relations News, pioner
newsletter untuk para praktisi), berikut. “Hubung-
an masyarakat adalah fungsi manajemen yang
mengevaluasi sikap publik, mempelajari kebijakan
dan prosedur individual atau organisasi sesuai
dengan kepentingan publik, dan menjalankan
program untuk mendapatkan pemahaman dan
penerimaan publik.”

Kata kunci dalam definisi tersebut adalah
manajemen dan tindakan. Public relations
bertugas menjadi penghubung yang jujur
ke manajemen. Selain itu, public relations
juga bertugas untuk memberi saran kepada
menajemen secara lugas, lengkap, akurat, dan
tidak ada yang ditutup-tutupi. Namun hal ini
dapat dilaksanakan apabila PR memiliki akses
langsung ke pimpinan perusahaan.

Public relations tidak dapat dijalankan tanpa
aktifitas yang sesuai. Tidak ada upaya komunikasi
tanpa memedulikan isi yang persuasif, yang
dapat menyelamatkan organisasi yang performa

57

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

kerjanya tidak sesuai dengan standar. Performa
harus mendahului publisitas. Oleh karena itu, pada
tahun 1993, ketika PepsiCo dituduh atas kelalaian
adanya jarum di dalam kaleng, perusahaan
memastikan integritas proses pembuatannya
yang dicap “tidak higienis” dan memastikan
kebenarannya. Apabila Pepsi tidak dengan cepat
menanggapi maka publik akan mempertanyakan
performa kerjanya dalam menangani krisis. Kasus
yang sama terjadi pada Maskapai penerbangan
Garuda saat terjadi kecelakaan di Bandara Adi
Sutjipto, Yogyakarta.

Melvin Sharpe, Profesor dan kordinator Pu­
blic Relations di Ball State University mengemu-
kakan, Public Relations, “mengharmonisasikan”
hubung­an jangka panjang di antara individu dan
organisasi di masyarakat. Sharpe menerapkan
lima prinsip berikut untuk proses ini:

1. Komunikasi yang jujur untuk kredibilitas.

2. Keterbukaan dan konsistensi kegiatan untuk
memperoleh kepercayaan.

3. Aktivitas yang jujur dengan niat baik.

4. Komunikasi dua arah yang berkelanjutan un-
tuk mencegah keterasingan dan membangun
hubungan.

5. Penelitian dan evaluasi lingkungan bisnis un-
tuk menentukan kegiatan atau penyesuaian
yang dibutuhkan untuk keharmonisan sosial.

Profesi PR juga digambarkan oleh Profesor
Public Relations Janice Sherline sebagai “Mana-
jemen komunikasi antara organisasi dan seluruh
entitas yang berhubungan langsung atau tidak
langsung dengan organisasi dan publiknya.”

Tujuan dari public relations yang efektif ada-
lah menyelaraskan hubungan internal dan eks­

58

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

ternal agar organisasi dapat menikmati tidak hanya
keuntungan dari publiknya, tetapi juga stabilitas dan
keberlangsungan usahanya.

Definisi public relations sangat banyak dan ber­
aneka ragam. Berikut adalah definisi menurut bebe-
rapa ahli dalam bidang ini:

1. Dr. Rex F. Harlow

“Public Relations adalah fungsi manajemen yang
khas yang membantu pembentukan dan pemeli-
haraan garis komunikasi dua arah, saling penger-
tian, penerimaan, dan kerja sama antara organi­
sasi dan masyarakatnya yang melibatkan dalam
manajemen problem atau masalah, membantu
manajemen untuk selalu mendapatkan informasi
dan merespon pendapat umum, mendefinisikan
dan menekankan tanggung jawab manajemen
dalam melayani kepentingan masyarakat, mem-
bantu manajemen mengikuti dan memanfaat-
kan perubahan dengan efektif, berfungsi sebagai
sistem peringatan awal untuk membantu antisi-
pasi kecenderungan, dan menggunakan riset ser-
ta komunikasi yang masuk akal dan etis sebagai
sarana utamanya.

2. Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom

“Public Relations merupakan fungsi manajemen
yang membentuk dan memelihara hubungan
yang saling menguntungkan antara organisasi
dan masyarakat, yang menjadi sandaran keber-
hasilan atau kegagalannya.”

3. The Institute of Public Relations

“Public Relations adalah keseluruhan upaya yang
dilangsungkan secara terencana dan berkesinam-
bungan dalam rangka menciptakan dan memeli-
hara niat baik dan saling pengertian antara suatu
organisasi dengan segenap khalayaknya.”

59

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

Cutlip, Center & Broom menyatakan bahwa
ada beberapa kesamaan dari semua definisi PR
yang ada, yaitu adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan program terencana dan
berkelanjutan sebagai bagian dari mana-
jemen.

2. Menangani hubungan antarorganisasi dan
masyarakatnya.

3. Memantau kesadaran, pendapat, sikap,
dan perilaku di dalam dan di luar o­ rganisasi.

4. Menganalisis dampak kebijaksanaan, pro-
sedur, dan tindakan terhadap masyarakat.

5. Menyesuaikan kebijaksanaan, prosedur,
dan tindakan yang diketahui bertentang-
an dengan kepentingan masyarakat dan
kelangsungan hidup organisasi.

6. Memberi anjuran kepada manajemen
perihal pembentukan kebijaksanaan,
prosedur, dan tindakan baru yang saling
menguntungkan organisasi dan masyara-
katnya.

7. Membentuk dan mengelola komunikasi
dua arah antara organisasi dan masyara-
katnya.

8. Menghasilkan perubahan khusus dalam
hal kesadaran, pendapat, sikap, dan perila-
ku di dalam dan di luar organisasi.

9. Menghasilkan hubungan yang baru dan/
atau terpelihara antara organisasi dan
masyarakatnya.

Dalam bukunya, A Working Definition Robert
F. Harlow membagi fungsi PR menjadi dua, untuk
menjelaskan apa itu PR, mengapa diadakan, dan
bagaimana melakukannya, yaitu sebagai met­ hod

60

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

of communication dan state of being. Sebagai
method of communication, PR merupakan
rangkaian/sistem kegiatan komunikasi yang
dilakukan oleh perusahaan, baik pimpinan,
karyawan atau staf. Sebagai state of being, PR
adalah perwujuda­ n kegiatan komunikasi yang
“dilembagakan” ke dalam bentuk biro, bagian
divisi atau seksi dalam sistem manajemen public
relations yang mempunyai pemimpin.

Terlepas dari semuanya, inti public relations
senantiasa berkenaan dengan kegiatan pencip-
taan pemahaman melalui pengetahuan. Melalui
kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan
muncul perubahan yang berdampak positif.
Dengan demikian, public relations adalah suatu
bentuk komunikasi yang berlaku untuk semua
jenis organisasi, baik bersifat komersial maupun
non-komersial di sektor publik (pemerintah) mau-
pun privat (pihak swasta).

Dari berbagai literatur public relations yang
ada, biro konsultan public relations pertama
dibentuk oleh Ivy Ledbetter Lee. Ia merintis peru-
musan prinsip-prinsip dasar untuk menciptakan
suatu hubungan yang baik dengan lembaga pers.
Kumpulan prinsip pokok itu dimuat dalam per-
nyataannya yang termasyhur pada tahun 1906.
Saat itu ia berjanji akan “menyediakan berbagai
macam informasi yang cepat serta akurat, khusus-
nya mengenai segala sesuatu yang bernilai tinggi
dan menyangkut kepentingan umum sehingga
memang perlu diketahui oleh segenap lapisan
masyarakat”. Pernyataan inilah yang kemudian
menjadi salah satu pedoman utama mengenai
fungsi public relations dan menobatkannya men-
jadi bapak public relations modern.

Sebagai fungsi manajemen, PR bertang­
gung jawab mengelola dan mengembangkan

61

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

reputasi perusahaan. Sebagai fungsi komunikasi,
PR mengembangkan komunikasi antara perusa-
haan dan publik yang dianggap penting untuk
menciptakan dan mempertahankan goodwill
dan mutual understanding publik terhadap tu-
juan, kebijakan, dan kegiatan perusahaan.

Idealnya PR adalah perpaduan dari kedua
fungsi tersebut. PR yang efektif merupakan ba-
gian mendasar bagi suatu perusahaan, bukan
sekedar alat manajemen yang dapat ditiadakan
atau dipindahkan. Fungsi PR melekat menjadi
satu dengan manajemen. Di mana ada mana-
jemen, di situ ada hubungan masyarakat. Daya
yang menggerakkan dan menjalankan hubung­
an masyarakat ini adalah komunikasi.

Fungsi dan
Tugas P­ ublic
Relations

Fungsi utama PR adalah menumbuhkan dan mengembangkan
hubung­an baik antarlembaga (organisasi) dengan publiknya, internal
maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menum-
buhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan iklim
pendapat (opini publik) yang menguntungkan lembaga organisasi.

Aktivitas public relations adalah menye-
lenggarakan komunikasi timbal balik (two ways
traffic communications) antara lembaga dengan

62

BAB 3 THE SOUL OF PR Chapter 1

publik yang bertujuan untuk menciptakan saling
pen­ gertian dan dukungan bagi tercapainya suatu
tujuan tertentu, kebijakan, kegiatan produksi,
demi kemajuan lembaga atau citra positif lembaga
bersangkutan. Kegiatan public relations sangat
erat kaitannya dengan pembentukan opini publik
dan perubahan sikap dari masyarakat.

Dalam hal ini, tugas seorang public pelations
berkaitan dengan kode etik Asosiasi Public
Relations Internasional (International Public
Relations Association Code of Conduct) yang
menegaskan, bahwa setiap public relations tidak
dibenarkan untuk mengangkat suatu konflik yang
terjadi atau hal yang sengaja dipaparkan kepada
publik tanpa seijin dari yang bersangkutan atau
yang berkepentingan. Sebaliknya, pihak public
relations tidak dibenarkan dengan sengaja
menutupi masalah atau krisis yang sedang terjadi
di lembaga yang bersangkutan dengan cara
mengelabui publik.

Jika menghadapi situasi yang genting (crucial)
seperti timbul masalah, konflik, pertikaian hingga
terjadi suatu krisis maka seorang public relations
wajib untuk menjelaskan secara jujur dan terbuka
(open communication). Hal tersebut dikarenakan
di satu pihak public relations bertindak sebagai
perantara (mediator) dan di lain pihak seorang
public relations juga mempunyai tanggung jawab
sosial (social responsibility). Dalam menjalankan
perannya, harus berdasarkan kejujuran dan etika
yang dipegang teguh.

Untuk menunjang keberhasilan mencapai
tujuan utama manajemen perusahaan/organisasi
dalam bekerja sama dengan beberapa pihak ter-
kait, seorang Public Relations diharapkan mem-
punyai keahlian berikut:

63

Chapter 1 BAB 3 THE SOUL OF PR

a. Sebagai Creator
Yaitu memiliki kreativitas dalam penciptaan
suatu gagasan, ide-ide atau buah pemikiran
yang cemerlang.

b. Sebagai Conceptor
Yaitu mempunyai kemampuan (skill) sebagai
konseptor dalam penyusunan program kerja
kehumasan, dan rencana program lainnya.

c. Sebagai Mediator
Yaitu kemampuan menguasai teknik komuni-
kasi baik melalui media secara lisan maupun
tertulis dalam penyampaian pesan atau me­
nyalurkan informasi dari lembaga organisasi
yang diwakilinya kepada publik.

d. Sebagai Problem Solver
Mampu mengatasi setiap permasalahan

yang dihadapinya, baik secara proaktif, antisipatif,
inovatif, dinamis dan solutif.1

Sasaran Kegiatan
Public Relations

Tujuan utama kegiatan public relations adalah membangun kredi-
bilitas dan membangkitkan motivasi bagi stakeholders perusahaan
guna meminimalkan biaya pengeluaran proses transfer komunikasi.

1] Ibid 14

64


Click to View FlipBook Version