BAB 14 MENGELOLA KONFLIK Chapter 6
Manajemen
Strategi Konflik
Proses manajemen konflik terdiri dari tujuh fase. Pertama adalah
mengidentifikasi konflik. Kedua, analisis konflik dan yang ketiga ada
lah mengidentifikasi alternatif solusi. Tahap ketiga ini penting karena
solusi tidak boleh tunggal. Perusahaan harus memiliki beberapa alternatif
solusi. Tahap ke empat menganalisis kesesuaian alternatif solusi den gan
konflik yang terjadi. Kemudian, kelima, memilih solusi terbaik. Tahap ke
enam adalah mengimplementasikan solusi konflik dan yang terakhir, ke
tujuh, adalah evaluasi.
Gambar 14.11 Conflict Management Process
Sumber: https://www.researchgate.net/figure/Conflict-Manage
ment-Process_fig3_288592040
Evaluasi ini menjadi indikator kinerja apa
kah konflik bisa diselesaikan atau tidak. Evaluasi
ini berguna untuk mengetahui mengapa solusi
ini berhasil dan mengapa ia gagal. Jika ia berha
sil ia dapat digunakan lagi jika terjadi konflik yang
365
Chapter 6 BAB 14 MENGELOLA KONFLIK
sama. Jika ia gagal, kita tahu untuk tidak meng
gunakan lagi solusi tersebut pada konflik tersebut.
Orang yang merugi adalah mereka yang meng
ulangi perbuatan yang sama dan berharap hasil
yang berbeda.
Kata yang harus dicamkan bukan karena yang
mengatakannya adalah pemenang hadiah Nobel
dan ilmuwan legendaris Albert Einstein, tapi kare
na sebagian kita seringkali melakukan kesalahan
itu. Berdasarkan definisi itu sebagian kita adalah
orang yang dalam definisi Einstein disebut “insan
ity”.
Gambar 14.12
Quote oleh Albert Einstein
Sumber: https://www.pinterest.com/pin/569142471635273562/
366
BAB 14 MENGELOLA KONFLIK Chapter 6
Expert talks
Mochamad Husni
External Communications Manager
PT. Astra Agro Lestari, Tbk
Q: Apa fungsi PR?
Public Relations harus membangun dan men
jaga reputasi. Kita punya kewajiban untuk
menjamin agar publik mempunyai persep
si yang baik, yang positif, mengenai institusi
tempat kita bekerja. Caranya, ya melalui kegia
tan-kegiatan ke-PR-an.
Q: Bagaimana membangun atau menjaga repu-
tasi Astra Agro?
Yang pertama itu, kami bekerja sama dengan
media massa, teman-teman jurnalis, supaya
banyak informasi atau pemberitaan di media
massa yang terpublikasi berisi content yang
baik, sehingga reputasi pun semakin baik dan
terjaga. Mengapa? Karena di tangan mereka
lah ada media yang dapat membantu kita
menyampaikan pesan-pesan kepada publik.
Yang kedua, kami juga bekerja sama dengan
pihak ketiga, sebagai “endorser”. Itu yang sela
ma ini kami terapkan. Mulai dari media, tokoh
masyarakat hingga akademisi kami enggage.
Mereka semua perlu digandeng agar menyam
paikan pesan positif yang mereka dapatkan
kepada publik maupun media-media yang ter
367
Chapter 6 BAB 14 MENGELOLA KONFLIK
sedia. Dengan demikian, opini atau kesaksian
positif mereka mengenai Astra Agro diketahui
oleh masyarakat luas.
Q: Apa yang harus dilakukan PR ketika krisis?
Pertama kali, sebagai PR kita harus tahu dulu
akar persoalannya. Itu sebabnya, mapping
atau pemetaan menjadi penting. Dari sini kita
akan mengetahui penyebab, faktor-faktor ber
pengaruh, taktik, strategi, dan solusi terbaik
yang dapat kita tempuh untuk mengatasi kri
sis tersebut.
Biasanya, kami dari PR dan tim komunikasi
memberikan analisis dan solusi beserta alter
natif untuk mengatasi krisis yang terjadi. Tentu
kami harus diskusikan persoalan dan alternatif
solusi ini dengan manajemen. Hasil diskusi itu
menjadi dasar dalam pengambilan keputusan
apa yang harus dilakukan untuk menangani
krisis. Dan proses ini harus cepat dan akurat.
Q: Pengalaman menghadapi krisis di Astra
Agro?
Suatu ketika, ada satu pemberitaan negatif di
media online nasional mengenai kondisi salah
satu aset perusahaan yang terkait dengan
urusan transportasi, lokasinya di salah satu ka
bupaten. Dikabarkan oleh media tersebut bah
wa perusahaan mengoperasikan praktek ilegal
sehingga aset tersebut tidak boleh beroperasi.
Melalui media monitoring, informasi ini ter-cap
ture oleh tim PR kami di Jakarta. Segera kami
cek ke lapangan, melalui jaringan dan tim in
ternal kami yang ada di sana, untuk mengeta
hui fakta sesungguhnya seperti apa. Ternyata,
kejadiannya jauh sekali dari isi pemberitaan di
368
BAB 14 MENGELOLA KONFLIK Chapter 6
media itu. Tidak ada pelanggaran seperti yang
disangkakan. Aset tersebut pun beroperasi
normal. Karena berita ini dimuat oleh media
online nasional, dan menyebut nama perusa
haan, potensi kesalahpahaman makin meluas
mungkin saja terjadi. Setelah clear kejadian se
sungguhnya seperti apa, untuk mencegahefek
buruk yang tidak diharapkan, kami langsung
menghubungi pimpinan media nasional terse
but. Kebetulan kami kenal dekat. Kami jelaskan
kejadian yang sesungguhnya.
Setelah kami pelajari, ada beberapa sebab
mengapa media tersebut memberitakan hal
seperti itu. Ternyata, media besar ini tidak
turun langsung ke lapangan. Kontributor me
dia ini membeli berita tersebut dari jurnalis
freelance-nya. Dia percaya seratus persen tan
pa cross check. Jadi, ada problem profesional
isme juga yang kurang mereka tegakkan. Beri
ta tersebut mereka simpulkan sendiri setelah
mengutip pernyataan narasumber yang se
benarnya juga tidak berwenang dalam urus
an tersebut. Inilah enaknya PR yang berlatar
belakang jurnalis. Kami bisa bicara santai dan
cepat meluruskan kesalahpahaman dengan
pihak media tanpa perlu berlarut-larut.
Q: Bagaimana menangani media dalam kasus
ini?
Setelah clear akar masalahnya, kami meng
hubungi pimpinan media tersebut di kantor
pusatnya di Jakarta. Kami temui pemimpin
redaksinya langsung dan jelaskan situasinya
bahwa wartawan ini tidak ke lapangan. Kedua,
fakta sesungguhnya tidak seperti yang diberi
takan. Wartawan yang meliput salah memaha
mi apa yang dilihat dan didengar di lapangan.
369
Chapter 6 BAB 14 MENGELOLA KONFLIK
Terus terang, secara pribadi peristiwa itu juga
menjadi koreksi bagi kami, terutama saya yang
waktu kejadian menjadi penanggung jawab
area tersebut. Kenapa? Karena, pimpinan me
dia di pusat memang kami sudah akrab, na
mun saya ternyata belum berkenalan atau
menjalin komunikasi dengan kontributor me
dia tersebut di daerah.
Beberapa media lain yang wilayah liputannya
sama dan sudah saling kenal dengan tim saya
biasanya akan menghubungi tim saya bila ada
sesuatu yang janggal di lapangan. Kesempat
an ini saya jadikan momen untuk berkenalan.
Saya temui wartawan yang meliput. Selanjut
nya kami jauh lebih akrab. Saling komunikasi.
Q: Dalam krisis hal apa yang paling penting
untuk diperhatikan?
Astra Agro punya yang namanya Tiga P: peo
ple, profit, planet. Sebagai organisasi bisnis,
tentu perusahaan berorientasi profit, tapi
masyarakat dan lingkungan juga wajib dijaga.
Kita perhatikan kelestarian alam. Semua harus
sustain, profit, masyarakat dan lingkungannya
terjaga. Dalam banyak hal, ini memudahkan
dalam menjalankan tugas-tugas PR. Terma
suk crisis handling. Krisis atau konflik kan se
bagian besar karena dipicu oleh perbedaan
atau kesalahan pemahaman antara dua pihak
atau lebih. Kegiatan-kegiatan kemasyarakat
an, seperti program CSR itu menjadi sangat
berguna dalam membangun kepemahaman
masing-masing pihak, termasuk berguna un
tuk mencegah krisis.
Masyarakat dijaga dengan CSR. Astra Agro juga
berkomitmen agar masyarakat turut sejahtera
karena kehadiran Astra Agro. Secara tidak
370
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
langsung mereka juga akan menjadi juru bi
cara kita. Kalau di Astra Agro itu sudah sangat
jelas bahwa sustainability bukan tuntutan, tapi
demi keberlanjutan usaha.
Q: Bagaimana impact CSR terhadap
p erusahaan?
Sangat berdampak. Saya pernah meng-han
dle isu yang dipicu demonstrasi dengan alasa n
‘klaim lahan’.
Ada sekelompok orang yang mengaku memi
liki lahan di wilayah perusahaan. Yang menarik,
kami dan teman-teman perusahaan biasa saja,
karena yakin dengan sejarah maupun dasar
hukum yang perusahaan punya. Yang kebe
ratan dengan protes tersebut bukan kami, tapi
masyarakat yang memang benar-benar warga
desa setempat.
Mereka bilang, “Ini, orang-orang yang demo
itu bukan masyarakat sekitar sini, Pak”. Jadi,
masyarakat sekitar perusahaan bergerak
sendiri karena tahu bahwa yang demo bukan
warga mereka. Inilah salah satu impact CSR.
Masyarakat sekitar merasa perusahaan ber
manfaat, dan mereka justru resah ketika ada
kelompok-kelompok yang bisa mengganggu
perusahaan.
Dengan CSR, masyarakat merasakan perubah
an kualitas hidup. Kegiatan-kegiatan terhadap
masyarakat seperti ini menjadi tugas bagian
yang kami sebut Community Development.
Selain melakukan pemberdayaan terhadap
masyarakat, membina, melatih, membantu
masyarakat, dsb, mereka menjalankan tugas
dan fungsi ke-PR-an.
371
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
Q: Dalam krisis apa hal yang penting untuk
diperhatikan?
Krisis itu harus diketahui akar penyebab mau
pun variabel-variabel yang memengaruhinya.
Karena itu, PR harus punya database yang
baik. Isinya seputar potensi problem, media,
hingga tokoh-tokoh kunci yang mungkin
terkait dengan krisis. Dengan demikian, keti
ka krisis atau ada isu negatif, tim bisa segera
merespon dengan cara terbaik.
Database ini harus selalu dimonitor perkem
bangannya. Gunanya, sebelum potensi terse
but meletus, PR seharusnya sudah tahu dan
berusaha melakukan upaya-upaya pencegah
an. Kalaupun sampai terjadi krisis, penanga
nannya bisa cepat.
Kedua, sebagai perusahaan perkebunan yang
beroperasi di daerah-daerah, bentuk krisis
dan pola penanganannya bisa berbeda-beda.
Tergantung budaya, kedekatan, dan kondisi
sosial masyarakat. Karena itu, penting sekali
adanya pemahaman terhadap latar belakang
budaya masyarakat bahkan situasi sosial
politik. Pemahaman ini sangat membantu,
baik dalam tahap analisa penyebab maupun
pemilihan solusi dan langkah-langkah untuk
menangani krisis.
372
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
BAB 15
S TAKEHOLDERS
MAPPING &
ENGAGEMENT
“He will win who knows how to
handle both superior and inferior
forces.” | Sun Tzu
373
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
Berawal dari akhir
Sebuah judul berita berbunyi “Masyarakat Adat Seko Terancam Tam
bang dan Pembangunan Infrastruktur”. Dari judul tersebut, setidak
nya ada dua pesan yang hendak disampaikan. Pesan pertama ada
lah Masyarakat Adat Seko, sedang terancam. Komunitas adat ini berada
di wilayah Sulawesi Selatan. Pesan kedua, adanya upaya pembingkaian
(framming) berita untuk menentang pembangunan tambang yang ber
ada di kawasan Masyarakat Adat Seko.
Gambar 15.1 Judul di atas merupakan gambaran dari per
Beritas Terancam soalan tentang adanya rencana pembangunan
nya Masyarakat Adat PLTA. Peristiwa ini sempat menghangat pada
Seko Akibat Tambang 2016 yang berujung pada penolakan sebagian
dan Pembangunan warga. Kasus ini hanya bersifat lokal saja namun
pengaruhnya cukup signifikan terhadap rencana
Insf rastuktur pembangunan PLTA pada tahap selanjutnya.
Ada pro dan kontra dalam pembangunan PLTA.
Sumber: https:// Keduanya memiliki sisi berbeda dalam melihat
www.mongabay. persoalan.
co.id/2016/03/13/ Jika Anda PR dari PLTA, penting untuk me
masyarakat-adat-se metakan sikap para pihak di desa itu. Siapa yang
mendukung, siapa yang netral dan siapa yang ke
ko-terancam-tam beratan. Kemampuan untuk menganalisis keterli
bang-dan-pembangu batan para pihak (stakeholders) menjadi hal yang
diperlukan. Dalam PR ini disebut dengan istilah
nan-inf rastruktur/ stakeholders mapping. Strategi ini menjadi sema
kin penting dengan munculnya pemahaman teo
374
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
ri sosio-ekonomi yang menjadi dasar perbedaan
persepsi antar kelompok dalam masyarakat.
Hal penting lagi, pemahaman atas posisi
stakeholders tersebut akan sangat membantu
untuk memetakan permasalahan secara kompre
hensif. Pemahaman atas stakeholders ini dapat
memberikan gambaran untuk merancang strate
gi komunikasi yang efektif dan berkelanjutan. Arti
nya pahami dulu stakeholder Anda, baru kemun
dian siapkan strategi komunikasinya. Start from
the end.
Menggali Kebutuhan
Stakeholders
Sebuah persoalan besar membelit rencana pembangunan sebuah
PLTA di Sumatera pada medio 2019. Persoalan itu menjadi pelik ke
tika isu penolakan tidak hanya menjadi konsumsi domestik saja,
melainkan juga sudah menarik perhatian dunia internasional. Apakah
isu-isu yang digunakan untuk ‘menyerang’ pihak perusahaan itu sudah
benar-benar valid? Atau sebaliknya, pihak perusahaan memang abai da
lam menyikapi isu yang dihembuskan oleh kelompok penolak?
Di sini diperlukan kemampuan untuk meng
gali kebutuhan-kebutuhan apa saja yang se
sungguhnya diinginkan para stakeholders yang
terlibat. Kemampuan menggali motif dukungan
maupun penolakan menjadi hal utama. Untuk
melakukannya, pendekatan tidak hanya dilaku
kan kepada stakeholders yang mendukung
(proponent), seperti halnya pemerintah. Namun
diperlukan kemampuan secara lebih dalam untuk
menggali kebutuhan dari kelompok stakehold
375
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
ers yang menolak (opponent) maupun kelompok
yang memilih berdiam diri (uncommitted).
Dalam menggali informasi, pendekatan
formal tidak selamanya dapat berjalan lancar.
Terk adang, pendekatan-pendekatan informal
denga n cara berbaur dengan masyarakat untuk
mendapatkan empati menjadi cara paling efek
tif. Untuk bisa melakukan hal tersebut, PR harus
dibekali dengan kemampuan komunikasi dan in
vestigasi, network yang luas dan kemampuan ber
adaptasi yang tinggi.
Bentuk dasar dari analisis identifikasi kebu
tuhan stakeholders, setidaknya harus bisa men
jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Siapa saja stakeholders yang terlibat?
2. Bagaimana relasi dan afiliasi stakeholders se
cara lokal, nasional maupun internasional de
ngan kelompok sejenis?
3. Bagaimana pengaruh dan posisi stakeholders
tersebut bagi kelangsungan organisasi atau
perusahaan?
4. Bagaimana posisi, keberpihakan, dan kontri
busi stakeholders jika perusahaan dalam ma
salah?
5. Apa peluang dan tantangan yang mungkin
timbul?
6. Apa tanggung jawab perusahaan terhadap
masing-masing stakeholders?
7. Bagaimana perusahaan berkomunikasi de
ngan para stakeholders?
8. Apa yang diharapkan stakeholders kepada or
ganisasi atau perusahaan?
376
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
Identifikasi
Stakeholders
Kekuatan stakeholders bisa diidentifikasi dengan menggunakan
Stakeholder Saliance Model yang dikembangkan oleh Ronald K.
Mitchell, Bradley R. Agle, and Donna J. Wood melalui paper mereka
yang berjudul “Toward a Theory of Stakeholder Identification and Sa
lience: Defining the Principle of Who and What Really Counts”7. Di dalam
model ini, terdapat tiga atribusi yang dinilai sebagai dasar mengelom
pokkan stakeholders, yakni:
1. Power atau Kekuasaan
Bentuknya berupa otoritas dan pengaruhnya
terhadap organisasi atau perusahaan maupun
outcomes dari pekerjaan atau proyek yang se
dang maupun sudah dijalankan.
2. Legitimasi
Bagaimana keterlibatan mereka baik secara
moral, hukum, dan lain sebagainya. Legitima
si mereka harus benar-benar layak dan dapat
diperhitungkan bagi kelangsungan organisasi
atau perusahaan.
3. Urgensi atau Kepentingan
Hal lain yang harus dilihat adalah tingkat
kepentingan. Selain itu adalah tingkat urgen
sinya. Apakah mendesak atau tidak. Urgensi
ini didasarkan pada dua atribusi berdasarkan
sensitifitas waktunya (time sensitivity) serta ke
butuhan mendesak atau kritis (criticality) bagi
para stakeholders.
7] https://www.deepfriedbrainproject.com/2017/09/salience-model-for-stakeholder-classifica
tion.html
377
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
Dalam banyak kasus, kekuasaan sering kali
berpengaruh penting terhadap posisi stakehold
ers. Namun demikian, pada kasus lain, banyak
juga stakeholders yang tidak memiliki kekuatan
tapi memiliki peran besar bagi kelangsungan or
ganisasi atau perusahaan. Jika kekuasaan dan
legitimasi itu bersatu maka ia akan menciptakan
otoritas. Otoritas menjadi sebuah wewenang. Se
dangkan, jika menambahkan ‘urgensi’ ke dalam
campuran hubungan stakeholders tersebut maka
akan membuat hubungannya bergerak dari statis
menjadi dinamis.
Gambar 15.2 The Salience Model Diagram
Sumber: www.deepfriedbrainproject.com
Dari ketiga atribut tadi, stakeholders dapat
dikategorisasikan sebagai berikut, yakni8:
1. Dormant Stakeholder, yaitu stakeholder yang
memiliki power namun tidak memiliki legiti
masi dan urgensi.
2. Discretionary Stakeholder, yaitu stakeholder
yang memiliki legitimasi namun power dan ur
gensi tidak ada padanya.
8] Ujang Rusdianto. 2013. CSR Communications: A Framework for
PR Practitioners. Yogyakarta: Graha Ilmu
378
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
3. Demanding Stakeholder, yaitu stakeholder
yang memiliki urgensi namun tidak memiliki
power dan legitimasi.
4. Dominant Stakeholder, yaitu stakeholder
yang memiliki power dan legitimasi namun ti
dak memiliki urgensi.
5. Dangerous Stakeholder, yaitu stakeholder
yang memiliki power dan urgensi namun tidak
memiliki legitimasi.
6. Dependant Stakeholder, yaitu stakeholder
yang memiliki legitimasi dan urgensi namun
tidak memiliki power.
7. Definitive Stakeholder, yaitu stakeholder
yang memiliki legitimasi, urgensi, dan power.
Matriks Stakeholder
Setelah mampu melakukan iden
tifikasi, langkah penting lainnya
adalah menempatkan para stake
holders tersebut ke dalam empat area
matrik. Pemahaman ini sangat pent
ing karena akan menentukan per
lakuan, metode atau cara apa yang
akan dilakukan untuk berkomunikasi
dengan para stakeholder. Keempat
area tersebut adalah9:
Gambar 15.3 Diagram Strategi Komunikasi pada Stakeholders Engagement
Sumber: https://sockmonkeyconsulting.com/2018/03/27/engaging-with-stakeholders/
9] http://quickstart-indonesia.com/stakeholder-analysis/
379
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
1. Kekuatan Rendah-Ketertarikan Rendah
Stakeholder ini tidak memiliki kekuatan yang
tinggi dan ketertarikan mereka terhadap isu
atau keberadaan perusahaan juga rendah. Na
mun, PR harus tahu siapa mereka. Mengawasi
dan memonitor mereka dengan tujuan meli
hat kemungkinan mereka untuk berpindah ke
kategori stakeholder lainnya.
2. Kekuatan Tinggi-Ketertarikan Rendah
Stakeholder jenis ini memiliki kekuatan na
mun tingkat ketertarikan mereka terhadap isu
dan keberadaan perusahaan rendah. Mere
ka biasanya tidak memiliki kepentingan dan
kesediaan untuk terlibat secara aktif. Biasanya
sulit untuk menjangkau dan berkomunikasi
dengan kelompok ini secara konsisten. Dalam
mengelola kelompok ini, dibutuhkan strategi
proaktif dari PR perusahaan untuk membuat
mereka puas (keep them satisfied).
3. Ketertarikan Tinggi-Kekuatan Rendah: Terus
Terinformasi
Stakeholder di kuadran ini memiliki tingkat
ketertarikan tinggi namun tidak punya cuk
up power. Kelompok ini seringkali meminta
perhatian perusahaan lebih dari seharusnya.
Jika tidak dikelola dengan baik, seringkali ber
ujung konflik yang mengganggu perusahaan.
Karena itu, penting untuk menemukan cara
yang efisien untuk membuat mereka tetap
mendapatkan informasi (keep them informed)
agar tidak salah dalam menilai perusahaan.
4. Ketertarikan Tinggi-Kekuatan Tinggi:
Biasanya kelompok ini adalah pemerintah,
pemilik bisnis atau mereka yang berwenang
dalam mengambil keputusan. Mereka bia
380
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
sanya mudah diidentifikasi. Kelompok ini
sangat penting karena dapat mengganggu
atau membantu perusahaan meraih tujuan
nya. Penting untuk melakukan komunikasi
yang intensif, transparan, dan konsisten kepa
da kelompok ini. Kedekatan emosional akan
sangat membantu dalam mendekati kelom
pok ini. Untuk melakukan pendekatan kepa
da kelompok ini, terkadang harus melibatkan
banyak pihak yang terafiliasi dengan mereka.
Membangun
Komunikasi
Membangun hubungan dengan stakeholders menjadi bagian pen
ting dalam merespon krisis. Cornelissen (2008) membagi komuni
kasi antara organisasi atau perusahaan dengan stakeholders-nya
dalam tiga model berikut ini.
1. Strategi informasi: model komunikasi sime-
tris satu arah
Dalam strategi informasi, PR perusahaan ha
nya melakukan komunikasi satu arah kepada
stakeholders yang dituju. Model komunikasi
semacam ini dilakukan dengan cara memberi
kan informasi yang baik kepada stakeholder
atau pemberitaan positif terutama ketika ber
hadapan dengan media massa.
2. Strategi persuasif: model komunikasi dua
arah asimetris
Model komunikasi dua arah memungkinkan
adanya umpan balik (feedback) dari stakehold
ers kepada perusahaan atau organisasi. Pada
381
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
tahap ini, tim komunikasi perusahaan bisa
menyampaikan pesannya. Tujuan utamanya
untuk membujuk para stakeholders agar mau
kerja sama, bersikap dan berpikir sesuai de
ngan harapan organisasi.
3. Strategi dialog: model komunikasi simetris
dua arah
Pada tahap ini, pihak organisasi atau perusa
haan dan stakeholders sudah membuka ko
munikasinya secara terbuka dan saling me
respon. Tim komunikasi perusahaan bersedia
berdialog untuk mengelola konflik serta mem
perbaiki pemahaman para stakeholders.
Pilihan dari tiga strategi di atas tergantung
dari pemetaan stakeholders sudah dilakukan atau
belum. Artinya, petakan dahulu stakeholdernya
baru kemudian menentukan strategi komuni
kasinya. Maka riset PR menjadi penting dalam pe
metaan ini.
Stakeholders
e ngagement
Jika Anda berkonflik dan pilihannya adalah harus berdamai atau ha
rus duduk bersama mencari solusi, maka mau tak mau Anda harus
melakukan pendekatan. Pendekatan ini jika ditujukan ke pihak atau
kelompok yang berseberangan dengan Anda yang disebut dengan “op
ponent stakeholder engagement’.
382
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
Gambar 15.4 Stakeholder Engagement
Sumber: https://www.cucasia.com/about/stakeholder-engagement/
Terdapat beberapa cara atau metode da
lam stakeholder engagement. Pada sub bab ini
disajikan tiga model strategi, agar pembaca dapat
memilih mana yang paling cocok untuk digu
nakan. Namun demikian ada beberapa kesamaan
pada masing-masing konsep yang berbeda ini.
1. Tahap pertama adalah mengidentifikasi dan
memetakan stakeholder. Hal yang diidentifi
kasi adalah para pihak yang memiliki penga
ruh (power) dan memiliki ketertarikan (interest)
terhadap isu, project, bisnis atau keberadaan
perusahaan.
2. Kemudian dilakukan, analisis terhadap tuntut
an, keinginan, dan harapan stakeholder ter
sebut.
383
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
3. Setelah dipetakan, tahap selanjutnya adalah
menyiapkan strategi komunikasi sesuai de
ngan posisi kuadran stakeholder (lihat Dia-
gram strategi Komunikasi pada Stakeholders
Engagement).
4. Tahap keempat, perhatikan reaksi stakehol
der. Jika strategi komunikais berhasil maka
tensi konflik cenderung menurun atau konflik
berhasil diselesaikan dan situasi kembali nor
mal. Jika konflik tidak bisa diselesaikan arti
nya strategi komunikasi yang dijalankan tidak
berhasil. Penting untuk dievaluasi apakah ka
rena pesannya tidak tepat, komunikator yang
tidak menguasai masalah, waktunya tidak te
pat atau hal lainnya.
5. Apapun yang terjadi pada tahap keempat, kon
solidasi harus dilakukan atas feedback stake
holder. Jika berhasil, konsolidasikan langkah
yang harus disiapkan ke depan, jika tidak, kon
solidasikan dan evaluasi untuk kembali men
cari cara yang tepat dalam menyelesaikan kon
flik.
Gambar 15.5
Level and
Approaches to
Stakeholder
Engagement
Sumber: https://
twitter.com/
aainsights/sta
tus/67239892
2564960256
384
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
Gambar di atas ini juga memberikan arahan
tentang pendekatan yang bisa diambil oleh PR da
lam melakukan stakeholders engagement. Selalu
ada jalan dalam menyelesaikan masalah. Tugas
kita adalah mencari solusi. Amartya Sen, peraih
hadiah Nobel Ekonomi mengatakan, “Orang yang
paling miskin di dunia adalah orang yang ketika
menghadapi masalah tidak punya banyak solusi”.
Maka orang yang kaya versi Amartya Sen adalah
mereka yang punya banyak alternatif solusi.
PR Story
NGO vs Corporate
Saat kolom ini ditulis, di tempat yang berbeda terjadi perlawanan LSM
terhadap divestasi PT. Freeport. Gelombang penolakan divestasi tam
bang PT. Freeport Indonesia di Papua makin memuncak. Sebuah
gerakan yang menamakan dirinya ‘Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan SDA
Minerba’ memprotes kesepakatan divestasi saham tersebut.
Koalisi itu digawangi empat orang dari bebe
rapa LSM, tepatnya Marwan Batubara dari IRESS,
Yusri Usman dari CERI, Ahmad Redi dari KJI, dan
Bisman Bakhtiar dari PUSHEP menuntut peme
rintah membatalkan kesepakatan Divestasi Free
port.
Mereka meyakini Divestasi Freeport memi
liki banyak kecurangan di dalam kesepakatan
nya. Selain itu, mereka menilai banyak dampak
lingkungan yang terjadi namun diabaikan oleh PT.
Freeport. Mereka juga mengirimkan surat terbuka
yang mereka tujukan langsung kepada Presiden
Joko Widodo.
385
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
Akan sukseskah upaya mereka? Kita akan me
lihatnya beberapa waktu kemudian.
Jangan Remehkan
NGO (Non-Government Organization) atau
LSM, Lembaga Swadaya Masyarakat adalah se
buah kekuatan yang seringkali memiliki dampak
terhadap kesuksesan bisnis. Sebagai salah satu
external stakeholders, tentu penting bagi perusa
haan untuk membangun relasi yang baik dengan
NGO.
Kekuatan mereka seringkali diabaikan. Na
mun, Maret 18 tahun yang lalu adalah satu tang
gal penting yang menegaskan kekuatan mereka.
Hari kamis, 18 tahun lalu, Greenpeace Asia Teng
gara mengumumkan bahwa mereka telah ber
hasil memutus kontrak jual beli minyak sawit dari
Sinar Mas Group ke Nestle. Sebuah kemenangan
luar biasa setelah upaya tak kenal lelah membom
bardir Nestle dan Sinar Mas. Berdemo di kantor
pusat Nestle di Inggris hingga menggugat Sinar
Mas di Indonesia. Kejadian ini memengaruhi pub
lik hingga pemerintah. Mereka menggunakan
berbagai sumber daya hingga mengumumkan
kemenangannya atas Nestle.
Banyak kasus dimana LSM menang mela
wan perusahaan. Berdampak pada hengkang
nya perusahaan, putusnya kontrak atau turunnya
pendapatan. Diluar rusaknya citra dan reputasi
perusahaan.
Harus diakui, perang melawan mereka sa
ngatlah menguras energi. Mereka menguasai
publik, media, dan memiliki lawyer. Perusahaan
seringkali gagap meladeninya.
Namun demikian, kini saatnya perusahaan
dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bekerja
sama untuk kesejahteraan masyarakat.
386
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
Harus diakui, saat ini, perilaku perusahaan
telah berubah. Mereka lebih bertanggung jawab
karena adanya tekanan eksternal maupun mun
culnya kesadaran dari dalam perusahaan sendiri.
Tekanan eksternal datang dari LSM, pemerin
tah, lembaga internasional ataupun mitra bisnis
yang “menekan” agar perusahaan lebih bertang
gung jawab sosial. Sedangkan kesadaran dari
dalam perusahaan sendiri muncul karena peru
sahaan mulai memahami perlunya bertanggung
jawab sosial agar bisnis dapat berkelanjutan.
Di sisi lain, cara pandang LSM juga harus ber
ubah. Tak lagi hanya memandang perusahaan
sebagai musuh yang hanya peduli keuntungan fi
nansial. Lebih dari itu, mulai membuka diri untuk
bekerja sama dengan perusahaan demi menye
jahterakan masyarakat.
LSM di Indonesia
Saat ini, di Indonesia setidaknya terdapat ku
rang lebih 10.000 lembaga swadaya masyarakat
yang ikut berperan aktif dalam mengawasi jalan
nya pemerintahan terutama pada ranah politik.
Perkembangan jumlah lembaga swadaya masya
karakat ini disinyalir akan terus merangkak de
ngan cepat, bukan hanya pada tingkat provinsi,
namun juga pada tingkat kabupaten dan kota.
Beberapa faktor yang mendukung perkembang
an jumlah lembaga swadaya masyarakat ini an
tara lain adalah karena perkembangan teknologi
dan meningkatnya pendidikan masyarakat kita.
Data Lembaga Penelitian SMERU mencatat
ada 2.848 LSM dari seluruh Indonesia per 13 Ma
ret 2017. Berangkat dari data SMERU, LSM dengan
kerja isu lingkungan hidup merupakan organisasi
masyarakat sipil yang paling dominan di Indonesia
secara kuantitas, yakni mencakup 675 organisasi.
387
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
Hal ini memberi semacam sinyal bahwa mungkin
memang benar soal lingkungan hidup di Indone
sia menempati suatu situasi yang darurat. Atau,
bisa juga, ada ketergantungan yang besar LSM di
Indonesia dengan pembiayaan pendonor asing
yang memang suka dan sangat peduli terhadap
kasus lingkungan hidup.
Stakeholders Engagement
Di Nexus kerap kali kami diminta untuk bi
cara dengan pihak yang berseberangan dengan
klien, termasuk LSM. Kami menggunakan istilah
“Opponent Engagement”, sebuah upaya untuk
membangun komunikasi dengan pihak yang te
ngah berseteru dengan klien. Upaya yang didasa
ri keyakinan bahwa “bicara baik-baik” masih lah
menjadi alternatif solusi yang layak. Bahwa setiap
orang bahkan yang menentang sekalipun perlu
diden garkan pendapatnya.
Opponent engagement terdiri dari 5 tahap.
Di awali dengan identification and mapping of
stakeholders, analysis of stakeholders request,
stakeholder’s consultation, gathering of feedback,
dan terakhir adalah consolidation of stakeholder’s
feedback.
Kuncinya adalah pada memahami stakehold
er. Know your enemy and know your self and you
can fight a hundred battles without disaster. De
mikian kata Sun Tzu. Tentu ini adalah tantangan
tersendiri ketika perusahaan harus mendekati la
wan. Resistensi dan curiga selalu ada. Jangankan
untuk bicara, untuk sekedar bertatap muka pun
rasanya jauh dari kata mudah.
Go or Not to Go?
Perlukah membangun hubungan dengan
NGO? Apalagi di saat sedang berkonflik? Jawab
nya tentu saja perlu. Namun demikian, sebelum
388
BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT Chapter 6
membangun komunikasi dengan NGO, paling ti
dak ada 6 pertanyaan yang haris dijawab. Apalagi
jelas-jelas yang didekati adalah NGO yang memili
ki posisi berlawanan dengan perusahaan.
■■ What do we gain by participating? Peru
sahaan harus menentukan tujuan engage
ment. Jadikan ini sebagai key indicator per
formance.
■■ What are the risk? Analisis perlu dilakukan
terhadap potensi risiko agar antisipasi bisa
segera disiapkan.
■■ Can we get our messages across? Perta
nyaan selanjutnya adalah apakah pesan pe
rusahaan kepada mereka dapat diterima?
■■ Is this audience worth it? Hal keempat ada
lah perlu dilihat apakah yang kita tawarkan
bernilai bagi mereka.
■■ How will management react? Berkoordi
nasi dengan top management sebelum
bertemu opponent menjadi penting. Agar
suara yang keluar sama untuk mencegah
blunder komunikasi.
■■ Is there a better way? Terakhir perlu dipikir
kan apakah ada jalan lain.
Keberadaan perusahaan dan NGO adalah padi
dan rumput. Perlu kecerdasan dan kedewasaan
perusahaan dalam menghadapinya. Salah-salah
akan berdampak buruk bagi kelangsungan bisnis
perusahaan. Ada perusahaan yang bersahabat
baik dengan NGO ada yang justru berseteru tak
kunjung usai dengan NGO. Tak peduli musuh atau
teman. Sedikit nasihat Don Vito Carleone mung
kin bisa menginspirasi, “I keep my friends close
and my enemy closer.”
389
Chapter 6 BAB 15 STAKEHOLDERS MAPPING & E NGAGEMENT
390
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
BAB 16
PERSEPSI, CITRA &
REPUTASI
“It takes 20 years to build a reputation and
five minutes to ruin it. If you think about
that, you’ll do things d ifferently.” | Warren
Buffett
391
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
Mereka yang Jatuh
Pada akhir tahun 2009, Pegolf Tiger Woods memberikan pelajaran
berharga, bahwa reputasi puluhan tahun yang terbangun lewat ber
bagai perjuangan dan prestasi dapat hancur dalam hitungan detik.
Terungkapnya skandal perselingkuhannya dengan 13 wanita berdampak
buruk bagi diri, keluarga dan juga perusahaan yang selama ini menjadi
sponsor baginya. Kerugian bagi perusahaan yang disponsori oleh pegolf
papan atas dunia itu mencapai USD 12 miliar.
Gambar 16.1 Perkiraan itu di luar kerugian finansial Tiger
Tiger Wood Tersandung Woods sendiri akibat ulahnya. Paling tidak, ter
dapat sembilan perusahaan yang merugi akibat
Skandal Sex skandal tersebut, yaitu: Accenture; American Ex
press; AT&T; Tiger Woods PGA Tour Golf (Electronic
Sumber: https:// Arts); Gillette (Procter and Gamble); Nike; Gatorade
www.pgatour.com/ (PepsiCo); TLC Laser Eye Centers; dan Golf Digest
news/2019/11/12/tourna (News Corp.).
ment-host-tiger-woods-
to-play- the-genesis-invi Secara keseluruhan skandal tersebut me
ngurangi nilai saham perusahaan-perusahaan
tational.html itu sebesar 2.3 %, ekuivalen dengan USD 12 miliar.
Kerugian terbesar dialami oleh Nike, Gatorade,
dan Tiger Woods PGA Tour Golf yang mengalami
penurunan nilai saham sebesar 4.3 % ekuivalen
dengan USD 6 miliar.
392
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
Bernard Madoff, Mantan Kepala Bursa Saham
Nasdaq New York, dijatuhi hukuman 150 tahun
penjara. Penipu investasi terbesar itu mendapat
kan hukuman maksimal atas kejahatan luar bias a
di Wall Street.
Para investor yang termakan tipuan Mad
off bersorak gembira dan bertepuk tangan ke
tika hakim membacakan putusannya. Sebalik
nya, Madoff (71), berdiri pasrah dengan tangan
mendekap di pinggangnya. Dia tak bereaksi men
dengar putusan yang mengantarnya mengha
biskan hidup di balik jeruji besi.
Madoff dituntut bersalah atas 11 kejahatan,
termasuk penipuan saham, pencucian uang, dan
bersumpah palsu pada Maret 2009. Lewat perusa
haannya, Bernard L Madoff Investment Securities
LLC, ia menjalankan bisnisnya dengan menggu
nakan skema Ponzi selama beberapa dasawarsa,
dan menipu para penanam modal untuk ber
investasi miliaran dolar AS yang digunakannya
untuk membayar pengembalian fiktif. Nilai pe
nipuannya diperkirakan mencapai USD 61 miliar.
Mario Teguh, seorang motivator terkenal di In
donesia hancur lebur namanya saat pada Septem
ber 2016, tiba-tiba muncul seorang anak bernama
Ario dan mengaku sebagai anaknya. Penyataan
Ario Kiswinar membuat geger publik. Hujatan da
tang bertubi-tubi memenuhi media sosial me
maksanya berhenti dan turun panggung dari talk
show yang membesarkan namanya.
Kejadian di atas bisa terjadi pada siapa saja.
Hal ini bukan pertanda baik bagi seorang public
relations, yang tidak hanya bertugas memperta
hankan reputasi perusahaannya, tapi juga meng
ukur dampak dari isu atau krisis yang terjadi. Be
lakangan ini makin banyak perusahaan bergiat
mengelola reputasinya.
393
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari han
curnya reputasi Enron, Arthur Andersen, Lehman
Brothers, Toyota Corporation, JAL dan lain-lain.
Kehancuran mereka seolah menjadi tonggak
bagi kesadaran baru tentang pentingnya me
ngelola reputasi. Citra dan reputasi perusahaan
dibangun melalui kegiatan public relations. PR
sebagai Front man dalam membangun reputasi
bertanggungjawab untuk melakukannya.
Public relations atau PR adalah bidang yang
berkaitan dengan mengelola citra dan reputa
si seseorang maupun sebuah lembaga di mata
publik. Profesi PR bekerja di wilayah publik un
tuk membentuk fungsi komunikasi, hubungan
masyarakat (public relations), manajemen krisis
(crisis management), hubungan pelanggan (cus
tomer relations), hubungan karyawan (employ ee
relations), urusan pemerintahan (government re
lations), hubungan industri (industry relations),
hubungan investor (investor relations), hubungan
dengan media (media relations), mediasi, publisi
tas, pidato-menulis, dan pengunjung hubungan.
“You can’t manage what you can’t measure”.
Selain mengelola reputasi, PR juga dituntut untuk
dapat melakukan evaluasi atas upaya yang dilaku
kan dalam membangun reputasi perusahaan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan pe
ngukuran tentang bagaimana reputasi perusa
haan di mata stakeholder. Hasil pengukuran ini
dapat berguna dalam merumuskan strategi peru
sahaan dan memberikan skala prioritas yang ha
rus dibenahi.
394
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
Manfaat Citra
Citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu
yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya.
Menurut David A. Aaker, citra adalah seperangkat anggapan, impresi
atau gambaran seseorang atau sekelompok orang mengenai suatu ob
jek tertentu10. Citra dipengaruhi oleh banyak faktor diluar kontrol perusa
haan”.
Citra perusahaan adalah persepsi yang
berkembang dalam benak publik mengenai reali
tas (yang terlihat) dari suatu perusahaan. Satu hal
yang perlu dipahami sehubungan dengan terben
tuknya sebuah citra adalah adanya persepsi (yang
berkembang di benak publik) terhadap realitas
(yang muncul di media).
Persepsi didefinisikan sebagai berikut, “Per
ception is the process by which individual selects,
organizes, and interprets information inputs to
create a meaningful picture of the world.” Persep
si merupakan suatu proses, dengan mana sese
orang menyeleksi, mengorganisasi dan mengin
terpretasi stimuli ke dalam suatu gambaran dunia
yang menyeluruh. Stimuli adalah setiap input
yang dapat ditangkap oleh indera, seperti produk,
kemasan, merek iklan, harga, dan lain-lain. Stimuli
tersebut diterima oleh panca indera seperti mata,
telinga, mulut, hidung, dan kulit.
Menurut Kotler, persepsi adalah sebuah pro
ses di mana seseorang melakukan seleksi, meng
organisasi dan mengintepretasi informasi-infor
masi yang masuk ke dalam pikirannya menjadi
10] David A. Arker, John G. Mayer, Advertising Management, Prentice Hall of India, New Delhi,
Prentice Ltd, 1983, Hal. 134
395
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
sebuah gambar besar yang memiliki arti11. Kemam
puan berpersepsi itulah yang menjadi awal pro
ses pembentukan citra. Persepsi atau pandan gan
individu akan positif apabila informasi yang diberi
rangsangan yang positif. Lebih spesifik, Frank Jeff
kins12 menyebutkan bahwa terdapat beberapa je
nis citra yaitu:
1. Citra Bayangan (The Mirror Image)
Citra bayangan adalah citra atau pandangan
orang dalam perusahaan mengenai panda
ngan masyarakat terhadap organisasinya. Citra
ini seringkali tidaklah tepat bahkan hanya se
kedar ilusi sebagai akibat dari tidak memadai
nya informasi, pengetahuan atau pemahama n
yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi
ini mengenai pendapat atau pandangan dari
pihak luar.
2. Citra yang Berlaku (The Current Image)
Kebalikan dari citra bayangan, citra yang ber
laku adalah citra atau pandangan orang luar
mengenai suatu organisasi. Namun, sama hal
nya dengan citra bayangan, citra yang terben
tuk belum tentu sesuai dengan kenyataan. Bia
sanya citra ini cenderung negatif.
3. Citra yang Diharapkan (The Wish Image)
Citra harapan adalah citra yang diinginkan
oleh perusahaan. Citra ini juga tidak sama de
ngan citra yang sebenarnya. Biasanya citra
yang diharapkan lebih baik daripada citra yang
sesungguhnya.
4. Citra Perusahaan (Corporate Image)
Citra perusahaan adalah citra dari suatu or
ganisasi secara keseluruhan. Bukan hanya citra
11] Philip Kotler, Marketing Management, 1999, Hal. 348
12] Frank Jeffkins, Op.Cit, Hal. 115
396
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
atas produk dan layanannya. Citra perusahaan
terbentuk dari banyak hal, seperti sejarah atau
kinerja perusahaan, stabilitas keuangan, kuali
tas produk, dan lain-lain.
5. Citra Majemuk (The Multiple Image)
Setiap orang berpotensi untuk memiliki
persepsi yang berbeda-beda. Artinya, jumlah
citra yang dimiliki suatu perusahaan adalah
sebanyak citra yang dipersepsikan oleh seti
ap stakeholdernya. Artinya, citra yang melekat
bisa lebih dari satu. Meskipun mungkin ada
yang paling dominan.
6. Citra yang Baik dan Bburuk (Good and Bad
Image)
Seorang public figure dapat memperoleh re
putasi baik atau buruk. Keduanya bersumber
dari adanya citra-citra yang berlaku (current
image) yang bersifat negatif atau positif. Citra
PR yang ideal adalah kesan yang sepenuhnya
berdasarkan pengalaman, pengetahuan, ser
ta pemahaman atas kenyataan yang sesung
guhnya. Suatu citra yang lebih baik sebenarnya
dapat dimunculkan kapan saja, termasuk di
tengah terjadinya musibah atau sesuatu yang
buruk.
Setiap perusahaan harus mempunyai citra
positif di mata masyarakat. Citra buruk melahirkan
dampak negatif bagi bisnis perusahaan dan juga
dapat melemahkan kemampuan bersaing perusa
haan. Sebaliknya, citra yang baik akan membawa
banyak manfaat. Manfaat itu sendiri dapat dinik
mati, baik pada saat perusahaannya mengalami
masa jaya maupun pada saat menghadapi krisis.
Menurut Sutojo (2004: 3) berikut adalah manfaat
citra yang baik:
397
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
1. Daya saing jangka menengah dan jangka
panjang yang berkelanjutan (Mid and Long
Term Sustainable Competitive Position).
2. Menjadi perisai selama masa krisis (An Insurance
for Adverse Times).
3. Menjadi daya tarik bagi para eksekutif (Attrac
tion the Best Executives Available).
4. Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran
(Increasing Effectiveness of Marketing Instru
ments).
5. Penghematan biaya operasional (Cost Saving).
Namun demikian, citra perusahaan merupa
kan akumulasi dari citra unsur-unsurnya, yaitu citra
produk, citra Sumber Daya Manusia (SDM) dan bu
daya, citra sistem dan aturan yang ada dalam pe
rusahaan serta citra kinerja bisnisnya. Faktor-faktor
ini sangat terkait dan terkadang merupakan rang
kaian sebab akibat dari citra keseluruhan yang ter
bentuk.
Proses pembentukan citra dalam struktur
kognitif yang sesuai dengan pengertian sistem
k omunikasi dijelaskan oleh John S. Nimpoeno da
lam laporan penelitian tentang tingkah laku kon
sumen, seperti yang dukutip Danasaputra sebagai
berikut13 :
Gambar 16.2
M odel Pembentukan
C itra Pengalaman
M engenai Stimulus
13] Drs. Soleh Soemirat dan Drs. Elvinaro Ardianto, M.Si, Dasar –
Dasar Public Relations, Bandung, PT Ramajaya Rosdakarya, 2005,
Hal. 115
398
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
PR digambarkan sebagai input-output. Input
adalah stimuli yang diberikan dan output adalah
tanggapan atau perilaku tertentu. Citra itu sendi
ri digambarkan melalui persepsi-kognisi-moti
vasi-sikap. Model ini menunjukkan bagaimana
stimuli yang berasal dari luar diorganisasikan dan
memengaruhi respons. Respon publik bisa positif
ataupun negatif.
Reputasi dan kinerja PR
Bagi sebuah perusahaan reputasi adalah faktor yang sangat penting
untuk menjaga kelangsungan bisnis dan loyalitas konsumen. Tidak
ada satu perusahaan pun yang menginginkan reputasi mereka han
cur di mata para konsumennya. Karena tidaklah mudah untuk melaku
kan recovery ketika perusahaan tersebut mengalami krisis.
Reputasi yang baik perlu dibangun dengan
usaha keras yang tentunya memerlukan waktu,
tenaga, pikiran, dan biaya. Perusahaan harus men
jalankan strategi komunikasi yang bertujuan un
tuk membangun citra atau reputasi perusahaan.
Hal ini merupakan peran dan fungsi PR dalam pe
rusahaan.
Dalam lingkungan bisnis yang terus berubah
dan berkembang sesuai dengan perkembangan
zaman, kehancuran reputasi perusahaan dapat
terjadi karena beberapa sebab. Seperti konflik
internal, perselisihan, ketidakmampuan manaje
men, performa yang tidak baik, dan masih banyak
lagi.
Pengelolaan reputasi sebenarnya bukan
lah sepenuhnya tanggung jawab seorang PR se
orang. Ini merupakan teamwork, bukan one man
show. Namun, karena PR adalah “vokalis” dari se
399
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
buah orkestrasi korporasi maka ia berkewajiban
menjaga komunikasi dengan seluruh stakeholder
perusahaan.
Di sini jelas, peran public relations sangatlah
penting dan menentukan dalam menciptakan
reputasi perusahaan. Aktivitas Public Relations
dapat memberikan kontribusi di dalam semua
lini aktivitas suatu perusahaan secara internal dan
eksternal serta sangat berperan dalam mencip
takan reputasi perusahaan.
Gambar 16.3 Kekuatan Merek
Sumber: https://medium.com/@info_14790/how-to-build-
your-corporate-brand-in-5-steps-f41d7eff9b6
Gambar 16.4 Perbedaan Merek dan Reputasi
Sumber: https://fhflondon.co.uk/2017/07/authentici
ty-gap-report-2017/brandvsreputation/
400
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
Reputasi dibangun atas dasar persepsi stake
holder. Persepsi tersebut dibangun setelah mere
ka membandingkan kinerja perusahaan dengan
harapan-harapannya. Maka dalam mengelola
risiko, reputasi sangatlah vital mengetahui harap
an stakeholder utama perusahaan. Menjaga re
putasi adalah kewajiban seluruh karyawan yang
berada dalam perusahaan.
Dengan semakin majunya teknologi, se
buah berita buruk dapat menghancurkan
reputasi p erusahaan dalam sekejap. Kepercayaan
dan keyakinan publik yang hilang, sulit untuk
dikembalikan.
Nilai reputasi
Reputasi adalah akumulasi dari persepsi dan pendapat tentang peru
sahaan yang berada dalam pikiran stakeholder. Sebagai asset tidak
berwujud, reputasi memiliki nilai intrinsic, ia tidak akan muncul se
bagai item di neraca keuangan perusahaan. Namun, meskipun intangi
ble asset, reputasi biasanya mewakili lebih dari 70% dari nilai pasar (mar
ket value). Maka dapat dikatakan bahwa reputasi adalah sebuah asset
bisnis terbesar.
Identitas, citra juga reputasi perusahaan
terbentuk oleh keseluruhan persepsi dari stake
holders yang sudah ada maupun yang potential
seperti pelanggan, pemasok, karyawan, masya
rakat umum, dan pemerintahan.
Gambar 16.5
C orporate
Reputation
Sumber: http://www.
trendsspotting.com/
blog/?p=398
401
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
Terdapat paling tidak enam hal yang dapat
menjadi faktor baik buruknya reputasi. Enam
hal ini adalah social responsibility, emotional
appeal, financial performance, Product and
services, vision and leadership dan workplace
environment. Indikator dari masing-masing
variabel dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 16.6 Sebagai PR, Anda bisa saja berhasil dalam
Indikator Kinerja membangun reputasi perusahaan atau organisasi
Anda. Namun, hal penting yang harus diingat ada
Reputasi lah reputasi baik tak menjamin keberlangsungan
perusahaan. Nokia, Siemen, Ericson, Seven Eleven
Sumber: https:// di Indonesia dan masih banyak lagi adalah peru
thereputa sahaan bereputasi baik yang akhirnya menemui
nasib tragis. Nasihat Patrick Dixon mungkin bisa
tionalgorithm. menjadi pengingat, “Your company may have a
com/2017/10/14/ reputation for brilliant leadership, outstanding in
novation, clever branding, and effective change
corporate- management, but the business could fail if the
reputation-factors/ world changes and you are unprepared”.
402
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
Gambar 16.7
Quote oleh Patsrick Dixon
Sumber: https://geniusquotes.org/quotes/your-compa
ny-may-Sumbhave-a-reputation-patrick-dixon-quote/
403
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
Expert Talks
Boy Kelana
Soebroto
Head of Corporate Communications ASTRA
Wakil Ketua Umum III BPP PERHUMAS
Q : Apa fungsi PR menurut Anda?
Fungsi Public Relations (PR) adalah meme
gang peranan yang vital bagi sebuah perusa
haan atau institusi. PR berfungsi utama untuk
menjaga dan membangun reputasi dan citra
positif melalui pengelolaan dan pemantauan
informasi serta komunikasi terstruktur dengan
penyebarluasan informasi penting mengenai
bisnis, produk, pengembangan SDM, kontribu
si sosial berkelanjutan dan perkembangan ter
kini perusahaan kepada stakeholders terkait.
Dalam hal ini, PR berperan menjaga distribusi
informasi dan komunikasi yang menyeluruh,
sehingga proses bisnis dan keberlangsungan
perusahaan atau organisasi dapat berjalan
secara lebih efektif. Oleh karenanya, sebuah
institusi atau perusahaan yang memperhati
kan kelangsungan bisnisnya selayaknya juga
memberi perhatian lebih pada pengelolaan
PR, terlebih lagi bagi perusahaan-perusahaan
berskala besar atau yang memiliki kompleksi
tas organisasi yang cukup rumit.
404
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
Mengacu pada Astra Communications Mana
gement System (ACMS), kompetensi seorang
PR mencakup 8 hal, yaitu sebagai berikut:
1. Internal Landscape, yaitu memahami pe
ngetahuan dasar tentang Astra.
2. Business Landscape, yaitu memahami fak
tor-faktor yang dapat memengaruhi Astra
(fokus dalam ekonomi, keuangan, hukum
dan kebijakan publik).
3. Corporate Communications Skills, yaitu
memahami ilmu dan keterampilan komu
nikasi korporasi (hard and soft skill).
4. Corporate Communications Strategic, yaitu
memahami strategi dan kerangka kerja
sebagai alur proses, konsep, serta penggu
naan data untuk tujuan organisasi jangka
panjang.
5. Internal Communications, yaitu memaha
mi ruang lingkup pekerjaan komunikasi in
ternal sebagai fungsi organisasi (komunika
si karyawan dan Grup Astra).
6. External Communications, yaitu memaha
mi ruang lingkup kerja komunikasi ekster
nal yang mengacu pada informasi antara
organisasi dan stakeholders eksternal.
7. Media Engineering, yaitu memahami cara
membangun hubungan dengan wartawan
dan media untuk menginformasikan infor
masi perusahaan secara positif, konsisten,
dan kredibel.
8. Digital Communications, yaitu memaha
mi bagaimana memanfaatkan teknologi
komunikasi dan menciptakan komunikasi
persuasif dalam media digital.
405
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
Q: Apa yg bisa dilakukan PR pada saat krisis?
Bila terjadi krisis, seorang PR harus melakukan
langkah-langkah berikut:
1. Himpun data dan fakta sebanyak mungkin
dan inventarisasi semua kejadian secara
kronologis. Informasi yang jelas dan akurat
terkait krisis.
2. Identifikasi penyebab krisis untuk menge
tahui tipe, jenis, tahapan-tahapan yang se
dang terjadi karena identifikasi yang benar
menentukan strategi yang tepat.
3. Membentuk tim manajemen krisis dan me
nunjuk juru bicara perusahaan.
4. Berkoordinasi dengan pihak terkait. Jika kri
sis terjadi di daerah/lokal, selesaikan di ting
kat lokal. Lokalisir krisis agar penanganan
efektif.
5. Membuat standar informasi.
6. Aktif mengadakan komunikasi untuk me
mantau perkembangan krisis.
7. Berkoordinasi dengan induk perusahaan
untuk melakukan strategi komunikasi.
8. Pertimbangkan skenario terburuk yang
mungkin terjadi.
9. Memberikan pernyataan secepatnya kepa
da publik dan menyebarkan siaran pers.
10. Memberikan informasi dengan jelas, sing
kat, dan terbuka.
11. Memberikan alasan (argumentasi) yang te
pat dan dapat diterima.
406
BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI Chapter 6
12. Bersikap penuh perhatian, jujur, terbuka
serta tidak berspekulatif. Bicaralah dalam
satu bahasa yang konsisten dan kredibel.
13. Gunakan kepala dingin dan hindari debat
kusir di media
Q: Bagaimana pengalaman Anda saat mengha-
dapi krisis?
Dapat saya sampaikan bahwa dalam meng
hadapi krisis, yang terpenting adalah kita mesti
tenang dan bergerak cepat, seperti mengum
pulkan data dan fakta, menunjuk juru bicara,
menyiapkan draft press release yang berupa
klarifikasi, apabila diperlukan, maka perlu juga
menyiapkan press conference.
Q: Apa penyebab krisisnya menurut Anda?
Setiap hari banyak potensi krisis, baik yang ber
asal dari eksternal maupun internal perusa
haan. Potensi krisis ini harus ditangani dengan
cepat dan tepat sehingga tidak terjadi krisis.
Untuk itu, sebagai PR atau Person In Charge
(PIC) komunikasi, kita harus memiliki standar
strategi untuk menghadapi krisis. Idealnya, kita
dapat mengetahui situasi dan kondisi sebelum
terjadi krisis sehingga dapat diantisipasi.
Q : Bagaimana dampak krisis terhadap perusa-
haan?
Selalu ada impact yang dirasakan oleh peru
sahaan setelah terjadinya krisis. Namun, yang
terpenting sebagai PR, kita jangan terlalu larut
dengan impactnya. Justru kita harus segera
mengevaluasi pascakrisis terjadi.
Q: Apa yang harus dilakukan pasca krisis?
Setelah krisis terjadi, seorang PR harus melaku
kan beberapa langkah berikut, seperti Evaluasi
407
Chapter 6 BAB 16 PERSEPSI, CITRA & REPUTASI
dan dokumentasikan setiap langkah penang
gulangan krisis, menyusun program komuni
kasi efektif (persuasif) dan membangun opini
publik atas dasar fakta yang disajikan. Penting
juga untuk terus membangun persepsi positif.
Terakhir, jangan lupa pelajari kasus yang per
nah terjadi sebagai referensi dalam mengha
dapi krisis.
Q: Dalam krisis yang pernah ditangani, hal apa
yang paling penting untuk diperhatikan?
Penting untuk melakukan tindakan preventif
jika PR peka terhadap gejala-gejala yang akan
menimbulkan krisis (potensi krisis). Yang per
lu diperhatikan adalah sebagai PR, kita ditun
tut untuk berpikir kritis dan strategis dalam
menganalisa, sehingga krisis dapat dicegah se
jak dini dan jika krisis terjadi dapat diselesaikan
dengan baik.
Dalam menganalisis potensi krisis, yang harus
diperhatikan adalah, pertama mengidentifika
si hal-hal yang dapat menimbulkan krisis. Laku
kan penilaian terhadap kelemahan-kelema
han yang dimiliki perusahaan atau organisasi
secara menyeluruh. Kedua, mengidentifikasi
level krisis agar penanganan berjalan secara
efektif.
Ketiga, menentukan prioritas penanganan
berdasarkan kelemahan yang dirasa paling
mendesak untuk segera ditangani. Keempat,
merancang pertanyaan, jawaban, dan solusi
setiap masalah yang memiliki potensi untuk
menjadi krisis. Kelima, fokus pada apa yang
harus dilakukan dan apa yang harus dikatakan
saat krisis pada jam-jam pertama krisis mun
cul. Keenam, mengembangkan strategi untuk
menahan diri dengan sikap netral, tidak reaktif,
dan tidak memberikan respon berlebihan.
408
DAFTAR PUSTAKA PR Crisis
Daftar Pustaka
Buku
Abidin, Wikrama Iryans. 2009. Buku Panduan Tentang
Hubungan Media dan Ketrampilan Berkomunikasi.
Jakarta: Sekretariat Jenderal DPR RI.
Aaker, David A., & John G. Mayer. 1983. Advertising Management.
New Delhi: Prentice Hall of India - Prentice Ltd.
Bartos, Otomar John., & Paul Wehr. 2002. Using Conflict Theory.
UK: Cambridge University Press
Bernays, Edward L. 1952. Public Relations. USA: University of
Oklahoma Press
Cornelissen, Joep. 2008. Corporate Communication: A Guide
to Theory and Practice Second Edition. London: SAGE
Publications Ltd.
Cutlip, S. M., H. Allen Center, dan G. M. Broom. 2005. Effective
Public Relations. Jakarta. PT Indeks Kelompok Gramedia.
Fink, Steven. 1986. Crisis Management: Planning for the
Inevitable. New York: American Management Association.
Gronbeck, Bruce E., Douglas Ehninger, & Alan H. Monroe.
1988. Principles of Speech Communication. Illinois: Scott,
Foresman.
Grunig, James E., dan Fred C. Repper. 1992. Excellent in Public
Relations and Communication Management. New Jersey:
L. Erlbaum Associates.
Jefkins, Frank. 2004. Public Relations. Jakarta: Erlangga.
Klann, Gene. 2003. Crisis Leadership-Using Military Lessons,
Organizational Experiences, and the Power of Influence to
Lessen the Impact of Chaos on the People You Lead. Center
For Creative Leadership Press.
Kotler, Philip. 1999. Marketing Management. New Jersey:
Prentice Hall College Div.
413
PR Crisis DAFTAR PUSTAKA
Kuhn. T. 1996. The Structure of Scientific Revolutions 3rd Ed.
Chicago: University of Chicago Press.
McQuail, Denis. 2005. Mass Communication Theory Fifth
Edition. London: Sage Publications.
Moore, H., Frazier. 2005. Humas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nimmo, Dan. 2001. Komunikasi Khalayak dan Efek. Jakarta:
Rajawali Pers.
Nova, Firsan. 2011. Crisis Public Relations. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Powell, John P. 2005. Crisis – A Leadership Opportunity. USA:
Harvard University.
Regester, Michael., dan Judy Larkin. 2005. Risk Issue and Crisis
Management: A Casebook of Best Practice Third Edition.
London: Kogan Page Publishers.
Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media
Komunikasi: Konsep dan Aplikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Rusdianto, Ujang. 2013. CSR Communications: A Framework
for PR Practitioners. Yogyakarta: Graha Ilmu..
Sastropoetro, Santoso. 1990. Pendapat Publik, Pendapat
Umum, dan Pendapat Khalayak dalam Komunikasi
Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Schoenberg, Allan L. What it Means to Lead During a Crisis:
An Exploratory Examination of Crisis Leadership. New
York, 2004.
Schoenberg, Allan L. Do Crisis Plans Matter? a New Perspective
on Leading During a Crisis. : PRSA Newsletter, 2005.
Snook, Scott A., Nitin N. Nohria, & Rakesh Khurana. 2012. The
Handbook for teaching Leadership: Knowing, Doing, and
Being First Edition. USA: Sage Publishing Inc.
414
DAFTAR PUSTAKA PR Crisis
Solemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianto. 2005. Dasar-Dasar
Public Relations. Bandung: PT Ramajaya Rosdakarya.
Sutojo, Siswanto. 2004. Membangun Citra Perusahaan.
Jakarta: PT Damar.
Wehr, P. 1979. Conflict Regulation. Boulder: Westview Press.
Wirawan. 2013. Konflik dan Manajemen Konflik: Teori, Aplikasi,
dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika.
Jurnal
Axford, C. B. 1948. Reviewed Work: Your Public Relations, the
Standard Public Relations Handbook by Glenn Griswold,
Denny Griswold. The Public Opinion Quarterly. 12(4). 744-
748
Blumer, Herbert. 1948. Public Opinion and Public Opinion
Polling. American Sociological Review 13. 542-549.
Bogardus, Emory S. 1925. Social Distance and Its Origins.
Journal of Applied Sociology. 9. 216-226.
Chase, W. Howard. 1982. Corporate Public Issues and Their
Management. Issue Management Conference-A Special
Report. Vol. 7 No.1-2.
Hainsworth, B., & Meng, M. 1988. How corporations define
issue management. Public Relations Review. 14(4), 18–30.
Harlow, R. F. 1976. Building a Public Relations Definition.
Public Relations Review. 2(4). 34–42
Heilbroner, Robert. 1957. Public Relations - The Invisible Sell.
Harper’s Magazine. 31-34.
Mitchell, Ronald K., Bradley R. Agle, & Donna J. Wood. 1997.
Toward a Theory of Stakeholder Identification and
Salience: Defining the Principle of Who and What Really
Counts. 22(4). 853-886.
415
PR Crisis DAFTAR PUSTAKA
Sharpe, M. L. (2000). Developing a Behavioral Paradigm for
the Performance of Public Relations. Public Relations
Review. 26(3). 345–361.
Taylor, M., Vasquez, G. M., & Doorley, J. 2003. Merck and AIDS
activists: engagement as a framework for extending
issues management. Public Relations Review. 29(3). 2 57–
270.
Websites
https://www.mic.com/articles/140261/william-hung-returned-
for-the-american-idol-finale-and-twitter-wasn-t-exactly-
thrilled
https: //republika.co.id/berita/senggang/musik/12/05/28/
m4ozzt-gagal-konser-di-jakarta-lady-gaga-minta-maaf
https://hot.detik.com/movie/d-4700626/7-fakta-how-to-train-
your-dragon-film-animasi-yang-lahirkan-toothless
https: //www.kompasiana.com/
shantymelinda/5bf9e750c112fe2468439356/jas-
merah-soekarno-sudah-saatnya-kini-di-tampilkan-
kembali?page=all
https://www.pinterest.com/pin/194640015121199747/
https://www.sketchbubble.com/
https://www.insider.com/starbucks-boycott-grows-2018-4
https: //www.liputan6.com/bola/read/4270362/floyd-
mayweather-biayai-upacara-pemakaman-george-floyd-
sebesar-rp-12-miliar
https: //www.beritasatu.com/yudo-dahono/
digital/645413/137829-hoax-covid19-teridentifikasi-gugus-
tugas
https://index.okezone.com/index.php/
http://alexanderps.com/Index
http://izquotes.com/quotes-pictures/quote
416
DAFTAR PUSTAKA PR Crisis
https: //thehumblei.com/2013/08/31/the-rabble-the-
ruwaybidah-we-the-people-pt-1/how-the-media-can-
manipulate-our-viewpoint-debate-28612530-743-542/
https://www.pinterest.se/pin/709035535073371633/
https://spiceenquirer.com/the-johnson-johnson-tylenol-case-
the-suspicious-deaths-pr-crisis-story/
https://www.pinterest.de/pin/498421883740754165/
https: //tokoinoac.com/tips/tips-tidur-efektif-ala-oprah-
winf rey/
http://www.tentangkarir.com/2017/11/four-finger-pianist.html
https: //tirto.id/jelang-satu-abad-njonja-meneer-yang-
berakhir-pailit-ctX1
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3690864/sevel-tutup-
gara-gara-pelanggan-beli-1-minuman-tapi-nongkrong-3-
jam
https://tirto.id/recall-yang-menyakitkan-perusahaan-bKTx
www.alagse.com/leadership/11.php
http:www.alagse.com/leadership
https: //katadata.co.id/ekarina/berita/5e9a4e56ba7da/
chevrolet-hengkang-dari-indonesia-bkpm-perbaiki-iklim-
investasi
https: //kidf romthe6ix.com/2014/12/24/5-events-you-probably-
forgot-about-in-2014/
https://variety.com/2019/f ilm/news/michael-jackson-music-
blasts-at-sundance-parties-despite-sexual-abuse-
documentary-1203119676/
https: //databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02 /26 / 10-
media-sosial-yang-paling-sering-digunakan-di-
indonesia#:~:text=10%20Media%20Sosial%20yang%20
Sering%20Digunakan%202020&text=Persentase%20
pengguna%20yang%20mengakses%20
Youtube,%25%2C%20dan%20Instagram%2079%25.
417
PR Crisis DAFTAR PUSTAKA
https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5e9a55212afab/
youtube-medsos-no-1-di-indonesia
https://humbanghasundutankab.go.id/main/index.php/read/
news/497
https: //www.cnbcindonesia.com/news/20200909104730 - 4 -
185466/pak-jokowi-tolong-200000-warga-kena-covid-19-
gimana-ini
https: //m.cnnindonesia.com/
nasional/20200909081049-20-544296/tembus-200-ribu-
kasus-corona-jokowi-mulai-siuman
https: //www.who.int/docs/default-source/searo/ indonesia/
covid19/who-situation-report-24.pdf?sfvrsn=90e5e0d9_2
https://en.tempo.co/read/1383834/59-countries-restrict-entry-
of-indonesian-citizens-over-covid-19
https://www.theasianaffairs.com/indonesia/2020/09/08/high-
number-of-covid-19-cases-59-countries-ban-indonesian-
citizens-to-enter-their-countries/
h tt p s : //www.c n b c i n d o n e s i a .co m /n ews / 20 20 0 9 0 8 1 8 1 1 1 1 - 4 -
185320/as-sebut-corona-ri-warning-level-3-hindari-travel-
tak-perlu
https://says.com/my/news/tony-fernandes-is-refusing-to-let-
his-worst-nightmare-bring-him-and-his-team-down
https: //medium.com/@williambarter.br/para-bellum-
3787ede11a47
https: //twitter.com/armstrongstrat/
status/647065731033640960
https://www.moviepostershop.com/the-33-of-san-jose-movie-
poster-2011
https: //www. jurnal.id/ id/blog/william-soer yadjaya- dibalik-
kesuksesan-pt-astra-international/
https://www.pinterest.com/pin/178384835226656270/
418