KUBILAI KHAN pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
KUBILAI KHAN Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah John Man pustaka-indo.blogspot.com
Diterjemahkan dari KUBLAI KHAN The Mongol King Who Remade China Hak cipta©John Man, 2006 Edisi terjemahan ini terbit atas kerjasama dengan Transworld Publishers, divisi penerbit The Random House Group Ltd. Hak terjemahan Indonesia pada penerbit All rights reserved Penerjemah: Ridwan Muzir Editor: Zulkifli AH Cetakan 1, Juni 2010 Diterbitkan oleh Pustaka Alvabet Anggota IKAPI Ciputat Mas Plaza, Blok B/AD, Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat - Tangerang 15412 Telp. (021) 74704875, 7494032 Faks. (021) 74704875 e-mail: [email protected] www.alvabet.co.id Tata letak sampul: Dadang Kusmana Tata letak: Priyanto Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog dalam Terbitan (KDT) Man, John KUBILAI KHAN: Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah/ John Man Penerjemah: Ridwan Muzir; Editor: Zulkifli AH Cet. 1 — Jakarta: Pustaka Alvabet, Juni 2010 424 hlm. 13 x 20 cm ISBN 978-979-3064-82-6 1. Sejarah/Biografi I. Judul. pustaka-indo.blogspot.com
DAFTAR ISI Kubilai dalam Konteks vi Daftar Peta vii Daftar Ilustrasi viii Ucapan Terima Kasih xi Prolog: Untuk Jenghis, Seorang Cucu 1 BAGIAN I: MUSIM SEMI 1. Singa Betina dan Anaknya 11 2. Perang Pertama Melawan Teror 42 3. Penaklukan Yunnan 69 4. Di Xanadu 83 5. Sang Penuntut 98 BAGIAN II: MUSIM PANAS 6. Ibukota Baru 121 7. Merangkul Buddha dan Tibet 143 8. Kunci Penaklukan 159 9. Juggernaut 193 BAGIAN III: MUSIM GUGUR 10. Terbakar Matahari Terbit 213 11. Tantangan dari Kampung Halaman 225 12. China Baru Sang Khan 237 BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 13. Kamikaze 267 14. Uang, Kegilaan, dan Pembunuhan 290 15. Batas Pertumbuhan 302 16. Bagaimana Timur Sampai ke Barat 319 17. Gunung Keramat, Makam Rahasia 352 Epilog: Warisan Sang Khan Agung 365 Daftar Pustaka 373 Indeks 381 v pustaka-indo.blogspot.com
JOHN MAN VI KUBILAI DALAM KONTEKS Diagram ini dengan ringkas memetakan tokoh-tokoh utama yang disebut dalam buku ini, hubungan antar-mereka, wilayah kekuasaan dan urut-urutan mereka secara garis besar (KHAN-KHAN AGUNG ditulis dengan huruf besar). Saudara atau anak angkat pustaka-indo.blogspot.com
DAFTAR PETA Wilayah kekaisaran saat Jenghis Khan mangkat, 1227 16 Kekaisaran Yuan, 1270 168 Kekaisaran Yuan, ± 1279 230 Kekaisaran Mongol, 1294 308 KUBILAI KHAN vii pustaka-indo.blogspot.com
DAFTAR ILUSTRASI Hak cipta seluruh halaman tanpa gambar dipegang oleh John Man. BAGIAN I Halaman 2 dan 3 Tolui dan keluarga, dari Jamî’ al-Tawârikh karya Rasyiduddin, abad ke14, Ms sup. pers. 1113 f. 164v, Bibliothèque Nationale, Paris; Kara - korum, ©Dean Conger/Corbis. Halaman 4 dan 5 Alamut: Gambar Planet dari Simon; Hassan Sabbah menuju upacara penobatan di Alamut, keterangan manuskrip oleh Boucicaut Master (beredar sekitar 1390–1430): Bibliothèque Nationale, Paris/Bridgeman Art Library; pasukan Mongol menyerbu dan menaklukkan Baghdad tahun 1288, dari Jamî’ al-Tawârikh karya Rasyiduddin, abad ke-14, Ms sup. pers. 1113 f. 180v-181, Bibliothèque Nationale, Paris/Bridgeman Art Library; Mönkhe Khan mengadakan perjamuan di Karakorum: ilustrasi abad ke-16 mengenai sejarah Persia abad ke-14 tentang bangsa Mongol, Werner Forman Archive/Gulistan Library, Teheran. BAGIAN II Halaman 2 dan 3 Pasukan Kubilai Khan bersiap mengepung benteng pasukan China di O-Chou yang menyberangi Sungai Yangtze dengan jembatan pontoon: JOHN MAN VIII pustaka-indo.blogspot.com
ilustrasi abad ke-16 mengenai sejarah Persia abad ke-14 tentang bangsa Mongol, Werner Forman Archive/Gulistan Library, Teheran; Pengepungan Mongol, rincian dari manuskrip Rasyiduddin, Or. MS20 f. 124v, Edinburgh University Library; trebuchet modern, Kastil Caerphilly, Wales: pemandangan umum dan rinci, ©John Man; rancang - an Hangzhou dari Henry Yule, The Book of Ser Marco Polo, volume II, 1903. Halaman 4 dan 5 Teater Jalanan, Guyuan, Provinsi Gansu, 2002, photo ©John Man; The Student Chang Bidding Farewell to his lover Ying Ying at the Rest Pavilion, rincian ilustrasi ‘The Romance of the Western Chamber’ karya Wen Zhengming (1470–1559) dan Qiu Ying (kira-kira tahun 1494–1552), koleksi pribadi/©Christie’s Images/Bridgeman Art Library; patung terakota Dinasti Yuan yang menggambarkan seorang aktor yang sedang meniup peluit, ditemukan di Jiaozuo, Henan: Lauros/Giraudon/Bridgeman Art Library; Sheep and Goat karya Zhao Mengfu (c.1254–1322), Smithsonian Institution, Freer Gallery of Art, Washington, DC/©Photo Scala, Florence; vas Qingbai Dinasti Yuan, dengan corak qingbai yang khas (warna biru kehijauan) dari daerah Jingdezhen di Provinsi Jiangxi, China selatan, ©Royal Ontario Museum/ CORBIS. Halaman 6 dan 7 Pagoda Putih, Beihai Park, Beijing, Panorama Media (Beijing) Ltd/Alamy; Kubilai Khan di aula istana dengan para pejabat dan juru tulisnya: ilustrasi abad ke-16 mengenai sejarah Persia abad ke-14 tentang bangsa Mongol, Werner Forman Archive/Gulistan Library, Teheran; ilustrasi manuskrip oleh Boucicaut Master (beredar sekitar 1390– 1430): bagaimana Khan Agung memanfaatkan kulit kayu sebagai mata uang, Bibliothèque Nationale, Paris/Archives Charmet/Bridgeman Art Library; catatan tepi dari Henry Yule, The Book of Ser Marco Polo, volume II, 1903. D AFTAR I LUSTRASI ix pustaka-indo.blogspot.com
Halaman 8 Penunggang Mongol dengan pengiringnya, Dinasti Yuan, Dewan Penyantun Seni dan Sejarah, atas izin Galeri Arthur M. Sackler, Smith - sonian Institution, Washington, D.C. LTS 1995.2.7. BAGIAN III Halaman 1 Inset, kerang peledak, ©John Man; Gulungan Invasi Jepang: atas izin Arsip Seni. Halaman 2 dan 3 Gulungan Invasi Jepang: atas izin Arsip Seni; foto-foto lain ©John Man. Halaman 4 dan 5 Kegiatan berburu Kubilai Khan dan potret Chabi, National Palace Museum, Taipei; potret Kubilai Khan: atas izin Arsip Seni. Halaman 6 dan 7 Kubilai Khan dan Polo bersaudara dari manuskrip bergambar tahun 1375, Bibliothèque Nationale, Paris (MS 2810)/akg-images; paspor (paiza), ©John Man; keterangan dari Chronica Major karya Matthew Paris, Corpus Christi College, Cambridge, MS 16 f. 166v; rincian dari lukisan Resurrection karya Giotto, kira-kira tahun 1305, Kapel Chapel, Padua, ©Photo Scala, Florence; manuskrip tulisan tangan Samuel Taylor Coleridge, Kubla Khan, 1798, ©The British Library Add. Mss. 50847/Heritage Image Partnership; ilustrasi Kubla Khan dalam A.C. Michael, A Day With Samuel Taylor Coleridge, 1912, Mary Evans Picture Library; foto-foto lain ©John Man. D AFTAR I LUSTRASI pustaka-indo.blogspot.com
UCAPAN TERIMA KASIH Rasa terima kasih saya kepada: Charles Bawden, yang memulai semua ini; Anne Cullen, yang memperkenalkan saya dengan Zhao Mengfu; Chuluun Dalai, Akademi Ilmu Pengetahuan Mongolia; Paul Denney dan Julie Douglass, yang membuka dunia trebuchet (ketapel tempur); Yuefan Deng, Universitas Stonybrook, NY; Luc Kwanten dan Lilly Chen, Big Apple-Tuttle Mori, Shanghai; Shizuya Nishimura, Profesor Emeritus, Hosei University, Tokyo; Benjamin Ren, seorang tuan rumah yang begitu ramah di Shang-du (Xanadu); Profesor Yao Dali, Departemen Sejarah, Universitas Fudan, Shanghai; Yuan-chu Ruby Lam, Departemen Bahasa China, Wellesley College, MA; Igor de Rachewiltz, School of Pacific and Asian Studies, Australian National University, atas bimbingannya di tengah kabut ketidaktahuan; Randall Sasaki, Texas A&M University, karena memperkenalkan saya dengan angkatan laut Kubilai yang hilang, dan Kenzo Hayashida, yang dengan senang hati menunjukkan kepada saya reruntuhan tembok Jepang di Fukuoka dan penemuan yang dia lakukan bersama kawan-kawannya di daerah Takashima; ‘William’ Shou (Wei Zhong) dan Shijun Cheng, yang menemani saya selama perjalanan di Xanadu; Helen Tang, guru bahasa China yang amat cerdas; Jack Weatherford, Macalester College, Minnesota; Doug Young, Simon Thorogood dan semua rekan di Transworld; Gillian Somerscales, yang menyunting naskah saya; dan tak ketinggalan, Felicity Bryan, Michelle Topham dan kawan-kawan. KUBILAI KHAN xi pustaka-indo.blogspot.com
JOHN MAN pustaka-indo.blogspot.com
PROLOG: UNTUK JENGHIS, SEORANG CUCU DI TAHUN 1215, DUNIA BELUM MENJADI TEMPAT YANG SALING TERHUBUNG. Orang dan binatang sama-sama berkelana dengan amat lambat. Butuh berhari-hari untuk sampai ke kota tetangga, berminggu-minggu untuk menyeberangi sebuah negeri. Benua yang begitu luas menjadi hamparan semesta, benua yang satu tak mengenal benua lainnya. Tak seorang pun pernah bepergian dari Asia ke Australia, kecuali penduduk Sulawesi, yang melintasi Laut Timor untuk mengumpulkan teripang yang sekarang menjadi sajian kegemaran banyak orang di China. Tak seorang pun dari Eurasia yang mengunjungi Amerika, kecuali beberapa orang suku Inuit yang bolak-balik di Selat Bering. Di Greenland, komunitas orang Norwegia agak lama menjalani musim hangat yang membuat laut mereka tidak membeku selama beberapa bulan, tapi para petualang pemberani tak pernah mencoba mengulangi kesuksesan nenek moyang mereka mengoloni pedalaman Amerika dua abad sebelumnya. Kapal-kapal berlabuh di tepi pantai; kecuali perahuperahu kano orang Polinesia yang menyinggahi pulau-pulau di Samudra Pasifik, tak banyak yang mau menantang samudra luas. Namun, kala itu sudah ada tanda-tanda, jika bukan tanda-tanda globalisasi, setidaknya tanda-tanda regionalisasi. Eropa dan Asia KUBILAI KHAN 1 pustaka-indo.blogspot.com
mengawali start, karena keduanya sebenarnya satu benua. Pertalian keduanya pernah diupayakan berbagai kekaisaran dan kebudayaan besar: Romawi, Persia, China. Kini, keduanya terhubung oleh agama. Di Eropa, para sarjana Kristen dari Irlandia (bahkan dari Islandia) berbicara dalam bahasa Latin kepada rekan-rekan mereka di Roma, dan para arsitek dari Assisi sampai York merasa bangga sekali dengan teknik pembuatan tembok dan jendela mereka; di Reims, mereka menghabiskan waktu lima tahun untuk membangun salah satu katedral Prancis terbesar bergaya gotik. Gereja menemukan otot baru, setelah luluh-lantak di Prancis selatan akibat perang suci membasmi kaum Albigensia yang bidah. Di tahun itu, paus menghukum mereka dalam Konsili Lateran Keempat (yang juga sekaligus mengekskomunikasi para baron Inggris yang baru saja memaksa Raja John untuk menampik hak ilahiahnya dengan menandatangani Magna Carta). Eropa juga tengah melebarkan diri ke daerah luar: seseorang ber - nama Albert, dari Buxtehude di German utara, yang memperkenalkan Kristianitas sampai ke daerah-daerah Baltik, baru saja mendirikan Riga, tempat dia menciptakan drama Alkitab dengan tujuan mengonversi kepercayaan penduduk lokal. Itulah drama pertama yang orang Latvia tonton. Ketika Gideon menyerang orang Filistin di atas panggung, mereka mengira adegan itu sungguh-sungguh dan akhirnya lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Konsili gereja serupa yang mengutuk kaum Albigensia juga menjangkau daerah tenggara melampaui batas-batas Kekristenan Eropa, di mana di sana terdapat ancaman abadi bagi ketenangan orang Kristen: kekuasaan Islam atas apa yang disebut orang Kristen Tanah Suci. Beberapa waktu kemudian, terjadilah perang suci lain di sana. Perang Salib mendorong terjadinya kontak, alih-alih menahannya, antara Eropa Kristen dan Timur Tengah Islam selama lebih kurang satu abad, menciptakan satu daerah otonom di tempat yang sekarang di - kenal dengan Syria, Libanon, dan Israel. Peperangan itu juga tak selama nya ditujukan untuk melawan “orang kafir”. Sembilan tahun sebelumnya, pasukan Perang Salib IV, besar kemungkinan dalam perjalanan mereka ke Mesir, menampilkan diri secara sinis dengan PROLOG 2 pustaka-indo.blogspot.com
merebut Konstantinopel dari para penguasa Ortodoks. Pada 1215, mereka masih menguasai kota ini, dan itu berarti makin menjauhkan mereka dari harapan terwujudnya persatuan negeri-negeri Kristen. Islam saat itu lebih dari sekadar lawan bagi agama Kristen. Para sarjana dan saudagar mereka dapat melakukan perjalanan dari Spanyol, lewat Afrika dan Timur Tengah sampai ke Asia Tengah. Orang Islam memiliki kesamaan satu sama lain dalam komunitas keagamaan yang sudah berusia 500 tahun saat itu, kesamaan dalam “bahasa Tuhan” (bahasa Arab), dalam al-Quran dan perdagangan—misalnya perdagangan budak dan emas, yang mengalir dari wilayah sub-Sahara Afrika. Seorang saudagar Muslim dapat melakukan perjalanan dari Timbuktu sampai ke Delhi, dan mereka yakin sekali pasti menemukan orang yang “berjiwa dagang di sana”; dan jika dia berangkat lewat Baghdad, dan memang begitulah seharusnya karena kota ini adalah jantung Islam, dia akan bergaul dengan orang Yahudi, Zoroaster, Manichean dan orang Kristen dari berbagai sekte—Nestorian, Monofisit, Gnostik dan Ortodoks Yunani. Nakhoda kapal Arab menghabiskan waktu satu atau dua tahun untuk menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di China selatan guna memuat lambung kapal mereka dengan sutra dan keramik. Terkait rute darat yang menghubungkan barat dan timur, mereka pernah terkenal sangat digdaya, berkat rute perdagangan yang disebut Jalur Sutra. Namun di tahun ini, makin sedikit iring-iringan unta yang me lakukan perjalanan enam bulan antara dunia Islam dan China. Orang-orang Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan baru saja mencaplok negara Buddhis Xi Xia, di utara Tibet, wilayah yang kini bernama Xinjiang, dan sedikit sekali yang punya keyakinan karavankaravan unta itu bisa melintasinya dengan selamat. Semua hubungan itu sangat rentan. Namun berkat dua peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut, tempat-tempat dan kebudayaankebudayaan ini, yang begitu saling berjauhan dari segi ruang dan waktu, tak lama lagi akan tergabung menjadi satu. Peristiwa pertama adalah penyerangan besar-besaran atas kota di China utara, yang sekarang kita kenal dengan nama Beijing. Para UNTUK JENGHIS, SEORANG CUCU 3 pustaka-indo.blogspot.com
penyerang adalah orang Mongol, dipimpin Jenghis Khan. Jenghis muncul dari tempat entah-berantah—seorang pelarian yang terluntalunta—dan kemudian mendirikan sebuah bangsa, dan saat itu berusaha memenuhi takdirnya. Setelah beberapa kali lolos dari maut di masa mudanya, dia menyadari, setengah terkejut, bahwa dia telah dipilih Langit untuk berkuasa. Berkuasa atas apa dan siapa? Sudah pasti atas orang Mongol, bangsanya sendiri. Namun, setelah penaklukan demi penaklukan, dia menyadari bahwa wilayah pemberian Tuhan kepadanya sebenarnya lebih luas. Seberapa luas? Seluruh China utara? Barangkali. Apakah seluruh China, meski belum ada kekuasaan nomad yang pernah berhasil menggapainya? Bisa jadi. China utara, sumber kekayaan dan kekuasaan, selalu menyilaukan para ksatria nomad dari seberang gurun Gobi. Daerah ini pun selalu berhasil mempertahankan diri dengan baik—dengan dinding, tentara, upeti, diplomasi dan perkawinan. China utara adalah musuh tradisional, kunci untuk kekuasaan yang lebih luas, dan Beijing, pusat wilayah penguasa Jin, adalah kunci daerah China utara. Semestinya kota ini sudah jatuh di tahun sebelumnya, setelah serangkaian serangan selama Jenghis menaklukkan kerajaan Tangut Xi Xia, menghancurkan sebagian besar negeri di utara Sungai Kuning dan mengepung Beijing sampai kaisar Jin menyerah. Di tahun 1214, Jenghis tiba-tiba meninggalkan Beijing yang belum takluk seratus persen, mengira dia sudah punya negeri taklukan baru—namun saat itu diketahui, ketika tentara Mongol mundur ke padang rumput, bahwa kaisar Jin melarikan diri dengan 3.000 unta dan 30.000 kereta penuh barang berharga menuju ibukota China kuno di Kaifeng, di selatan Sungai Kuning. Jenghis marah luar biasa. “Kaisar Jin mengkhianati kata-kataku,” amarahnya mengguntur. “Dia menggunakan perdamaian untuk menipuku.” Lalu tentara Mongol kembali, dan kali ini mereka berniat tak akan berhenti sampai Beijing runtuh, dan seluruh Kekaisaran Jin menjadi milik Mongol. Selama musim dingin 1214-15, tentara Mongol mem - blokade kota. Mereka tak mungkin melakukan penyerangan langsung, karena Beijing adalah kota yang terlindungi dengan kokoh, dengan tembok sepanjang 15 km, 900 menara-penjaga, ketapel tempur yang PROLOG 4 pustaka-indo.blogspot.com
bisa melontarkan batu besar dan bom-api, serta pasukan pemanah yang mampu melesatkan panah-panah sebesar tiang telegram. Tidak: Beijing harus dibuat kelaparan sampai akhir nya menyerah. Dan memang itulah yang terjadi. Pada tanggal 31 Mei, Beijing membuka gerbangnya. Kemudian, terjadilah pem bantaian, ribuan orang tewas; api berkobar selama sebulan. Setelah setahun berselang, masih ada mayat bergelimpangan, dan penyakit pun mewabah dengan cepat. Seorang duta Muslim melaporkan bahwa tanah saat itu masih berminyak akibat daging manusia yang membusuk. Kejatuhan Beijing pada 1215 membuka serangkaian peristiwa yang mengubah jalan sejarah Eurasia. Peristiwa kejatuhan ini bukanlah akhir bagi China utara, karena Jenghis dengan segera mengalihkan perhatiannya dari penaklukan Beijing ke berbagai peristiwa yang jauh terjadi di barat. Empat tahun kemudian, utusan dagang ke negara Islam baru bernama Khwarezm dibantai tanpa sisa. Dengan takluknya China utara, Jenghis merasa leluasa kembali ke barat “mengunjungi” tetanggatetangga nya dengan amarah berkobar, pengrusakan tiada ampun dan membabat habis kota-kota di sepanjang Jalur Sutra seperti Bukhara, Samarkand, Merv, dan Urgench. Lalu dia meminta pengakuan khusus di Georgia dan Ukraina, fase awal dari 200 tahun masa kekuasaan Mongol di Rusia selatan. Setelah balatentaranya kembali dari petualangan besar ini, Jenghis pun kembali ke wilayah-wilayah di seberang Gobi. Pada musim panas 1227, dalam usaha melebarkan kekuasaan ke pe - gunung an di selatan Sungai Kuning, dia mangkat. Tugas utamanya belum sempat terselesaikan. Sebagian besar dunia Islam, termasuk Baghdad, masih belum takluk, begitu pula daerahdaerah stepa Rusia serta beberapa kantung kecil di China utara dan seluruh China selatan—sebuah negara terpisah yang diperintah Dinasti Song. Daerah-daerah di seberangnya juga belum tertundukkan: negerinegeri lebih jauh yang harus mengakui kemaharajaan Jenghis, yakni negeri- negeri di sebelah timur lingkar terluar Kekaisaran Mongol (Korea dan Jepang) dan negeri-negeri di selatan (sekarang Kamboja, Vietnam, dan Burma) serta negeri-negeri yang lebih jauh lagi, yaitu kepulauan kaya raya bernama Indonesia. Sementara ke barat, padang rumput UNTUK JENGHIS, SEORANG CUCU 5 pustaka-indo.blogspot.com
Hungaria pastilah menjadi jalan bebas hambatan menuju Eropa Kristen. Inilah takdir surgawi yang dititahkan bagi bangsa Mongol. Mengapa harus begitu? Jenghis tak pernah mempersoalkannya, begitu pula keturunannya. Mereka hanya menerima suratan takdir itu apa adanya. Begitulah. Ketika Jenghis mangkat, masih banyak urusan yang belum selesai; namun saat kematiannya, dia sudah mengubah dunia. Tak pernah terjadi sebelumnya Barat dan Timur begitu terkait erat. Para jenderal Mongol tahu benar bagaimana permusuhan yang terjadi antar-pangeran Rusia, dan bagaimana memecah belah mereka saat tiba waktunya. Kurir-kurir yang mampu berkuda sepanjang 150 km dalam satu hari, naik-turun melintasi pegunungan, dapat mengirimkan pesan sepanjang 4.000 km dari Beijing ke Afghanistan dalam enam minggu, suatu operasi yang hanya mungkin terlaksana dengan kontrol bangsa Mongol di atas seluruh wilayah yang berada di antara kedua tempat ini. Lalu, apa yang tak bisa dicapai dengan perluasan kekaisaran seperti ini? Para saudagar dapat membawa kekayaan Barat dan Timur, para seniman akan berlutut melayani sang Penakluk-Dunia, para agamawan dari setiap agama dapat mengemukakan wangsit dan ramalan mereka, para sarjana akan mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku dari berbagai perpustakaan raksasa, para duta besar akan datang dari penguasa-penguasa di Barat dan Timur untuk meng haturkan ketaatan dan sumpah setia mereka. Dunia bisa menjadi satu di bawah Langit, dan dalam kedamaian. Inilah impian yang memenuhi kepala para pewaris Jenghis. Hal ini tentu saja mimpi kosong, seperti terbukti dalam sejarah selanjutnya. Seperti kekaisaran lainnya, Kekaisaran Mongol juga akan sampai di titik batas, terpecah-belah se hingga hancur dari dalam dan akhirnya lenyap. Namun pada 23 September 1215, kira-kira empat bulan setelah kejatuhan Beijing, jauh di pedalaman Mongolia, lahirlah seorang bayi— kelak menjadi Khan Agung, khan segala khan—yang akan menerima tantangan Jenghis Khan untuk mewujudkan mimpi mustahil dan PROLOG 6 pustaka-indo.blogspot.com
melakukan apa yang tak kuasa diwujudkan para pemimpin lain. Dengan otoritas yang dicapainya, meski goyah, dari Pasifik ke Rusia selatan, dia akan menjadi orang paling berkuasa yang pernah hidup di muka bumi—orang paling berkuasa setidaknya sampai muncul negara-negara adidaya modern. Dia menguasai seperlima wilayah bumi yang berpenghuni, barangkali setengah dari umat manusia kala itu. Namanya akan menyebar menembus batas daerah yang dia taklukkan, ke Eropa, Jepang, Vietnam, Indonesia: para pengumpul teripang, yang memanen hingga ke Australia utara, barangkali mendengar usahanya menaklukkan Jawa pada 1292. Legenda kekayaannya-lah yang, dua abad setelah kematiannya, menginspirasi Columbus melakukan pelayaran ke barat, yang berakhir bukan pada rute ke tanah kuno tapi pada kesempatan menemukan kembali tanah yang sudah lama terlupakan. Andai dia tak ada, jika tak ada Kekaisaran Mongol di China, saya jadi bertanya-tanya siapakah yang menemukan kembali Amerika? Warisan Khan Agung ini adalah China yang bersatu dan tambah luas, yang tapal batasnya adalah tapal batas negara China saat ini, dengan pengurangan di sebagian kecil wilayah dan penambahan di beberapa wilayah lain. Ironisnya, yang justru tidak termasuk ke dalam tapal batas negara China sekarang adalah negara Mongolia itu sendiri, negeri kelahiran sang Khan Agung. Kebenaran yang cuma diakui dengan bergumam di China yaitu citra diri sebagai entitas geografis— berdebu di utara, subur di selatan, gurun ganas di barat, tinggi men - julang di Tibet—dari salah satu negara adidaya masa sekarang tercipta berkat lahirnya seorang bayi Mongol di tahun kehancuran kota Beijing. Bayi laki-laki itu adalah cucu Jenghis, Kubilai. UNTUK JENGHIS, SEORANG CUCU 7 pustaka-indo.blogspot.com
BAGIAN I: MUSIM SEMI pustaka-indo.blogspot.com
Bagian I MUSIM SEMI pustaka-indo.blogspot.com
BAGIAN I: MUSIM SEMI pustaka-indo.blogspot.com
1 SINGA BETINA DAN ANAKNYA DI MONGOLIA, SATU HAL PERLU ANDA CATAT: KAUM WANITANYA SELALU menyolok perhatian. Di daerah pedalaman, wanita-wanita tua berwajah kenari menatap tajam dengan mata penuh percaya diri; gadis-gadis tangguh berpipi merah menunggang kuda layaknya seorang ksatria. Di Ulan Bator, ibukota Mongolia, Anda tak mungkin berjalan dari alunalun utama ke pasar (yang cuma ada satu) tanpa melewati wanita cantik yang memancarkan keanggunan dan terlihat bangga dengan itu. Mereka kelihatan tegas, percaya diri, yang lebih “New York” ketimbang “Beijing.” Namun tidak semuanya seperti ini, sebab di Mongolia orang harus berbagi kepemilikan pribadi. Namun, tradisi penggembala nomaden Mongol yang berusia berabad-abad memastikan bahwa kaum wanitanya memiliki kemandirian yang sama dengan kaum prianya. Bahkan hari ini, wanita desa tak hanya memasak dan menambal pakaian serta mengasuh anak—mereka juga berburu dan menggembala jika mereka merasa perlu melakukannya. Salah satu ajaran Jenghis Khan mencerminkan satu di antara sekian banyak kenyataan sehari-hari mereka: “Wanita menyertai para prajurit dalam menjalankan pekerjaan dan tugas pria ketika mereka berangkat perang.” Mereka juga ikut bertempur. Di tahun 1220, saudari Jenghis memimpin penaklukan terakhir atas kota Persia bernama Nishapur, membantai “seluruh KUBILAI KHAN 11 pustaka-indo.blogspot.com
penduduk dan hanya menyisakan 400 orang terpilih untuk dijadikan tenaga tukang.”1 Dalam kehidupan keluarga maupun politik, kaum wanita selalu menjadi kekuatan. Sistem harta pusaka memang ditarik sesuai garis keturunan laki-laki, namun para janda—terutama janda dari kelas atas—dapat mengambil alih harta warisan mendiang suami mereka, memungkinkan mereka menjadi kaya raya, berkuasa, dan tentu saja mandiri. Adalah fakta yang agak janggal bahwa eksistensi dan perkembangan sebuah kekaisaran terbesar dalam sejarah, yang memiliki citra dominasi maskulin, berutang banyak pada kaum wanitanya yang luar biasa. Semasa kecil, Jenghis muda hidup menggelandang dan hanya dijaga ibunya, Hoelun, seorang janda yang ditolak dan diusir sukunya yang berusaha bertahan hidup di pe gunung an dengan mencari buahbuahan beri. Hoelun-lah yang mengajarinya bagaimana bertahan hidup; bagaimana membangun kembali ikatan kekeluargaan, menggiatkan kembali persahabatan tradisional, menciptakan pertemanan baru, menawarkan persekutuan dan memberi imbalan kepada pengikut setia, tak pernah mencari keuntungan pribadi, selalu mencari orang-orang biasa dan keluarga mereka. Jika dia bertindak salah, ibunya akan memarahinya sampai dia mengenali apa kesalahan yang diperbuatnya. Ketika di usia remaja dia membunuh saudara tirinya untuk mengamankan posisi sebagai kepala keluarga, ibunya menghukum dia dengan siksaan bagai neraka. Dokumen dasar bangsa Mongol, The Secret History of the Mongols, menjelaskan kata-kata ibu Jenghis dalam sebuah syair. “Kau telah merusak kehidupan!” teriaknya, lalu membandingkan dia dengan berbagai macam binatang atas kebiadaban dan kebodohannya. Bagaimana dia bisa melakukan tindakan bodoh itu saat mereka tak punya apa-apa selain keutuhan mereka sebagai keluarga, pada saat di mana— Kita tak punya seorang teman pun selain bayangan kita sendiri, Kita tak punya satu cambuk pun, kecuali ekor kuda kita? BAGIAN I: MUSIM SEMI 12 1 Ata-Malik Juvaini, Jenghis Khan: The History of the World Conqueror, diterjemah dan disunting oleh J.A. Boyle. pustaka-indo.blogspot.com
Jenghis pun belajar dari kesalahannya, dan mengharuskan orang lain agar juga mempelajarinya—setelah dewasa, dialah yang menyuruh para penyair istananya untuk menggubah kisah ini menjadi nyanyian. Sebagai seorang kaisar, Jenghis memuja kehidupan ibunya. Wanita yang dinikahkan Jenghis dengan putranya, Tolui, adalah tipe wanita yang sama. Wanita itu bernama Sorkaktani, dan dia adalah fokus utama pembicaraan bab ini. Di tahun 1215, walaupun dia tak tahu-menahu dengan yang tengah terjadi, namun di tangannya terletak masa depan—dan ini bukan karena dia melahirkan Kubilai. Dari lima anaknya, dua orang menjadi kaisar dan yang ketiga menguasai Persia. Jika bukan karena ambisi, cita-cita, serta kepekaan dan intervensinya di saat-saat genting, kekaisaran Jenghis pastilah runtuh di tengah pertengkaran keluarga setelah lebih-kurang 20 tahun berdiri, dan Kubilai tak akan pernah merasakan warisan yang jadi haknya. Sorkaktani bukanlah wanita berdarah Mongol. Dia berasal dari Kerajaan Kerait; lingkungan suku berbahasa Turki tempat dia lahir ini, yang menguasai Mongolia tengah ketika Jenghis lahir, memberi dia latihan yang cukup baik dalam politik Asia Tengah. Raja Kerait, Toghrul— berarti “rajawali” dalam bahasa Turki—adalah paman Sorkaktani. Dialah penguasa utama di antara sekian pemimpin suku yang bertebaran di padang rumput di sebelah luar Tembok Besar, dan dia pun memiliki hubungan baik dengan daerah barat dan selatan. Rakyat Toghrul telah dikonversi ke dalam salah satu sekte Kristen oleh para misionaris Nestorian, yakni para pengikut Nestorius sang bidah yang mengatakan bahwa Kristus adalah Tuhan sekaligus manusia, dua pribadi dalam satu tubuh, bukan pribadi tunggal yang tak bisa dipecah menjadi Firmanyang-Menjadi-Daging sebagaimana diyakini mayoritas orang Kristen. Toghrul juga menjalin hubungan dengan China utara, bahkan menjelang akhir hayatnya dia dianugerahi gelar pangeran (wang), yang kemudian disebut para sejarawan sebagai Wang Khan, “Raja Pangeran”. Dia menjadi sosok penting bagi nasib ayah Jenghis, yang membantu Toghrul dalam beberapa kesempatan dan menjadi “saudara-sumpah - nya”. Di bawah Jenghis, hubungan itu berjalan baik, namun lama-lama SINGA BETINA DAN ANAKNYA 13 pustaka-indo.blogspot.com
menjadi memanas, dan kemudian keduanya terlibat peperangan sengit yang dimenangkan Jenghis. Toghrul memiliki adik laki-laki, Jakha, yang kisah hidupnya mencerminkan betapa rumit dan berbahaya persekutuan di kalangan suku-suku di stepa-stepa di Asia Tengah. Jakha tumbuh besar di tengah orang-orang Tangut dari Xi Xia, sebuah kerajaan Buddhis yang terletak di daerah Xinjiang saat ini, dan berhasil menapaki karier sebagai komandan tertinggi—gambu dalam bahasa Tangut, yang kemudian men jadi bagian namanya: Jakha Gambu. Sebagai panglima yang mengepalai pasukan kecil, dia kembali ke Mongolia, bergabung dengan Jenghis saat orang Mongol dan Kerait masih bersahabat— tidak seperti Toghrul, dia menyadari ada yang tak beres dalam hubungan orang Mongol dan Kerait. Dalam perang antar-suku yang berlangsung puluhan tahun demi mem persatukan semuanya ke dalam sebuah bangsa, Kerait bertempur untuk kedua belah pihak. Ketika daerah utama Kerait diserang sekitar tahun 1200, Jenghis menyatukan sukusuku lewat perkawinan. Jakha memiliki dua putri. Yang tua, Ibaqa, diambil Jenghis sebagai salah satu istrinya—sebagai penghormatan bagi kebaikan dan kesetiaan ayahnya—walaupun Jenghis akhirnya menyerahkan dia kepada salah seorang jenderalnya. Putri Jakha yang lebih muda, Sorkaktani, dia berikan kepada putra bungsunya, Tolui, yang saat itu masih remaja, tepat saat dia mulai menapaki karier militer nya. Dalam tahun-tahun pernikahan mereka yang diselingi kepergian sang suami dalam jangka waktu lama untuk melakukan eks - pedisi ke China dan ke tanah-tanah orang Muslim, Sorkaktani melahirkan empat putra, sehingga memiliki motif dan alat untuk mendapatkan sahabat dan memengaruhi rakyat. Di antara pengaruh itu yakni: keempat putranya menguasai sebagian besar Asia selama 50 tahun, dan mereka menentukan jalan sejarah wilayah ini. Namun dia harus menunggu lama sebelum keberuntungan berpihak padanya. Nasib baik Sorkaktani pertama kali muncul, katakanlah begitu, ketika Jenghis mangkat pada 1227. Jenghis menetapkan bahwa putra ketiganya, Ogedei, akan menjadi pewaris takhtanya sebagai kaisar, BAGIAN I: MUSIM SEMI 14 pustaka-indo.blogspot.com
sementara keempat putranya sama-sama akan berkuasa secara pribadi di wilayah masing-masing. Jochi, putra sulung, menerima wilayah yang sekarang menjadi Rusia, dari separuh wilayah Siberia sampai ke Laut Hitam; namun dia meninggal sebelum Jenghis, dan wilayah itu di warisi putra-putranya, Orda dan Batu. Asia Tengah dari Laut Aral sampai ke Tibet diwarisi Chaghadai. Warisan pribadi Ogedei adalah daerah Xi Xia (tepatnya, sebagian besar wilayah China barat) dan China utara. Tolui, si bungsu, se bagai mana tradisi yang berlaku saat itu, mewarisi wilayah “jantung” ayahnya, dalam hal ini berarti seluruh wilayah Mongolia. Inilah yang memberikan basis kekuatan bagi Sorkaktani. Pembagian ini lebih banyak berdasarkan kira-kira, karena batas wilayah yang dibagi-bagi itu masih kabur dan masih diperebutkan para penduduk setempat. China utara baru setengah yang berhasil ditaklukkan; Khwarezm masih harus dikalahkan; pangeran-pangeran Rusia, walaupun pernah diserang, belum berhasil dilumpuhkan. Posisi Tolui merupakan yang paling kuat, karena dia menguasai wilayah utama yang me miliki pegawai siap pakai. Selain itu, karena para peng gembala juga merangkap sebagai tentara, secara teoretis dia juga memiliki kendali dalam tubuh angkatan bersenjata. Namun, posisi ini tidak dia manfaatkan, bukan hanya lantaran dia patuh kepada Ogedei tapi juga karena atas kehendaknya sendiri: kedua saudara ini saling menghormati. Tak ada tantangan dari pihak Tolui, dan itu berarti Sorkaktani belum punya alasan untuk memimpikan kejayaan bagi putra-putranya. Ogedei memulai kepemimpinannya dengan aktivitas militer yang sangat padat untuk mewujudkan impian ayahnya, dalam empat operasi militer besar dan saling terpisah. Salah satunya mendirikan kembali kekuasaan Mongol di Iran, merampasnya dari kekuasaan Saljuk. Invasi ke Korea memulai penaklukan yang baru berakhir tahun 1260. Pada 1231, dia kembali ke China utara, target utama Jenghis ketika dia mangkat. Kekuatan pasukan Mongol terdiri dari tiga sayap, masingmasing dipimpin jenderal-jenderal Jenghis terbesar: Subedei si mata satu; Ogedei sendiri; dan Tolui, yang menaklukkan beberapa kota pada invasi pertama 20 tahun sebelumnya. Nasib baik Sorkaktani yang kedua, bahwa di awal operasi militer ke SINGA BETINA DAN ANAKNYA 15 pustaka-indo.blogspot.com
16 Wilayah kekaisaran saat Jenghis Khan mangkat, 1227 Serangan besar, 1221-1223 Perbatasan Kekaisaran Mongol Perbatasan negara lain pustaka-indo.blogspot.com
17 pustaka-indo.blogspot.com
China utara, Tolui, suaminya, meninggal dunia. The Secret History mengisahkan kematiannya dengan panjang lebar untuk mendramatisasi kesetiaan adik laki-laki kepada kakaknya, kesetiaan seorang jenderal kepada kaisar. Tak lama setelah operasi militer tahun 1231 dimulai, Ogedei jatuh sakit. Roh tanah dan air marah di dalam dirinya—igauanigauan yang mungkin diakibatkan kecanduannya akan tuak selama hidup. Para dukun mendatangi penjenguk untuk meramalkan penyebab penyakitnya. Setelah menelaah jeroan binatang yang dikurbankan, para dukun menyatakan perlunya upacara kurban. Namun tak lama setelah para dukun berhasil mengumpulkan para budak, emas, perak, domba, dan makanan untuk persembahan kurban, keadaan Ogedei makin parah. Lalu apa tindakan selanjutnya? Ketika itu muncul usulan: bisakah seorang anggota keluarga khan dijadikan pengganti kurban? Tolui bersedia dan dengan sukarela mengambil alih sakit Ogedei. Namun bagaimana caranya? Sekumpulan dukun lain memberikan nasihat tambahan. Tolui harus minum tuak beracun jenis tertentu yang akan menarik penyakit Ogedei ke tubuhnya. Tolui setuju: “Wahai para dukun, bacakanlah mantera dan jampi-jampi kalian!” Namun yang tak dia ketahui, bahwa Ogedei saat itu tak hanya menderita sakit tapi juga sedang menanti ajal. Itulah beban yang sedang ditanggungnya. Tolui pun meminum tuak itu. Racunnya bekerja cepat. Dia hanya punya sedikit waktu untuk meng amanatkan hidup dan nasib keluarganya kepada Ogedei sebelum mantera itu menewaskannya. “Aku telah mengatakan apa yang harus kukatakan,” gumamnya. “Aku mabuk.” Setelah itu, dia ambruk dan tak pernah sadar kembali. Dalam kata-kata The Secret History, hal ini dilukiskan sedemikian rupa, “Itulah caranya menjemput ajal.” Mungkin begitu, atau mung kin juga dia meninggal karena minum terlalu banyak. Karena sedih ditinggal mati saudaranya, Ogedei tak pernah pulih kesehatannya. Kesedihan menjadi dalih bagi dia untuk makin banyak minum, menyebabkan dia hanya bisa bertahan hidup sepuluh tahun kemudian. Kematian Tolui membuka babak baru bagi kehidupan Sorkaktani, sebagai janda Tolui di pusat kekaisaran yang sedang menanjak. Menurut adat masyarakat Mongol, janda seorang pria terhormat dan kaya raya wajib mengatur harta warisan suaminya sampai putra sulung mereka BAGIAN I: MUSIM SEMI 18 pustaka-indo.blogspot.com
dewasa dan mampu menggantikannya. Meski putra sulungnya sudah berusia 21 tahun, Ogedei tetap menyerahi Sorkaktani wewenang yang amat luas untuk mengendalikan harta warisan Tolui: keluarga, pasukan, kantor serta penduduk lokal, “semuanya berada di bawah perintah dan larangan Sorkaktani, keringanan serta hukuman sesuai perintahnya, dan semuanya tak boleh memalingkan muka dari perintahnya.” Sebenarnya, Sorkaktani menjadi ratu Mongol, walaupun dia tetap tunduk pada kaisarnya. Nasib telah membuatnya mandiri, dan di usia kepala empat Sorkaktani terlalu aktif dan ambisius untuk tetap menjadi dia seperti sebelumnya. Ketika Ogedei mengusulkan agar dia menikahi putranya (sekaligus keponakannya) Güyük—suatu persekutuan yang akan mempersatukan dua garis keturunan—dia menolak dengan sopan dan menyatakan bahwa tanggung jawabnya yang utama adalah putraputranya. Dia tak pernah menikah lagi. Dia berkuasa dengan baik selama 15 tahun berikutnya, membuat dirinya memiliki reputasi tak tertandingi dalam hal kearifan dan keteguhan hati. Berbagai laporan dari orang asing pun membenarkan hal ini. “Di antara orang Tartar, wanita inilah yang paling dihormati setelah ibu sang kaisar,” tulis seorang utusan paus, John dari Plano Carpini.2 “Benar-benar cerdas dan punya ke mauan,” kata Rasyiduddin, yang memberi penghormatan atas “kemampuannya yang luar biasa, kearifannya yang sempurna dan keteguhan serta kejeliannya dalam memper timbangkan hasil akhir dari segala hal.” “Seluruh pangeran begitu terkesan dengan kekuasaan pemerintahannya,” kata seorang fisikawan Yahudi, Bar Hebraeus, dan menambahi de ngan beberapa bait: “Jika saya dapat menemukan ras pe - rem puan lain seperti wanita perkasa ini, saya akan ber ke sim pulan bahwa ras perempuan jauh lebih berkuasa daripada laki-laki.” Kecerdasannya nampak dari cara dia membesarkan keempat putranya. Dia memastikan mereka mendapat pendidikan yang baik sesuai adatistiadat Mongol dan mengetahui secara mendalam aturan dan hukum yang ditetapkan Jenghis. Namun wilayah kekaisaran begitu luas, serta terdiri dari berbagai kepercayaan dan agama. Dia mengetahui hal ini SINGA BETINA DAN ANAKNYA 19 2 Yang dia maksud adalah ibu Güyük, Töregene. pustaka-indo.blogspot.com
dari pengalamannya sendiri—sebagai wanita berdarah Kerait dan beragama Kristen yang menikah dengan pria Mongol yang Shamanis— betapa penting tak mengabaikan sekutu dan taklukan. Maka, putranya pun diajari soal Buddhisme, Nestorianisme dan Konfusianisme oleh para guru. Kemudian, istri-istri mereka dipilih berdasarkan citra Sorkaktani: tegas, dinamis, cerdas, tidak dogmatis dan sangat mandiri, sehingga melahirkan sikap toleran, salah satu sifat Jenghis yang paling luar biasa. Mönkhe, putra sulungnya, memilih tetap menganut kepercayaan Shamanisme, namun ia dinikahkan dengan gadis Nestorian; Hulagu, yang kemudian jadi penguasa Persia Islam, juga menikahi wanita Nestorian. Meski Kubilai menikah beberapa kali, namun pen - damping setianya seumur hidup adalah istri keduanya, Chabi, wanita Buddhis yang memiliki kecantikan dan pesona luar biasa. Sementara itu, kekaisaran terus berkembang, dan kesejah teraan mengalir masuk. Kaifeng, ibukota Jin, jatuh pada bulan Mei 1233, dan memaksa kaisar Jin melarikan diri (dia menyerah di dekat perbatasan Song dan bunuh diri). Dua puluh tahun setelah invasi pertama Jenghis, seluruh China utara berada di bawah kekuasaan Mongol. Antara tahun 1236 hingga 1242, operasi militer ke wilayah barat memperluas kendali bangsa Mongol mulai dari stepa-stepa Rusia sampai Polandia dan Hungaria. Di ibukota, Ogedei meneruskan proses pembangunan dasar pemerintahan kekaisaran yang telah dimulai Jenghis dengan menuliskan hukum dan melaksanakan sensus serta memungut pajak. Ogedei saat itu melihat apa yang pernah dilihat Jenghis: bahwa kekaisaran dengan kemajemukan seperti ini tak bisa diperintah tanpa suatu pusat. Dia memerlukan sebuah ibukota, pengganti basis Mongolia kuno di Avraga di dekat sungai Kherlen. Tempat ini, yang masih harus dikaji secara arkeologis, terletak di perbatasan selatan daerah utama Mongolia asli, di mana pegunungan Khenti jadi gerbang menuju padang rumput. Di sebelah utara menjulang pegunungan, hutan, dan benteng-benteng; ke selatan, padang rumput dan Gobi serta China, sumber perdagangan dan rampasan perang. Bagi sebuah suku, ini semua adalah ibukota sempurna, namun tidak bagi sebuah kekaisaran. Jenghis mengenali tempat terbaik sebagai pusat pemerintahan dari bangsa yang baru dia dirikan. Tempat itu terletak jauh di barat, sebuah BAGIAN I: MUSIM SEMI 20 pustaka-indo.blogspot.com
lembah di pinggir sungai Orkhon, di mana sebelumnya Kekaisaran Turki memerintah. Orang Turki menyebut tempat ini dengan Karakorum, “Batu Hitam”. Jenghis memilih tempat ini se bagai ibukotanya yang baru di tahun 1220, namun tak dapat berbuat banyak untuk mewujud - kannya. Ogedei memproklamir kan pemerintahannya pada 1228 dengan sebuah pertemuan besar di Avraga—saat itulah mungkin dia mengawasi pengumpulan kisah dan informasi yang masuk ke dalam The Secret History of the Mongols, namun saat itu dia sudah punya rencana matang. Sekali lagi, dialah yang mewujudkan mimpi ayahnya dengan mulai mengubah Karakorum menjadi per mukiman tetap pada 1235, tak lama setelah penaklukan China utara dan sebelum penaklukan selanjutnya ke arah barat. Tembok-tembok kokoh dengan empat gerbang mengelilingi sebuah kota kecil, termasuk istana, dengan lantai kayu, tiang-tiang kayu, dan genteng, dekat sebuah gudang bawah tanah tempat menyimpan barang berharga—penggalian yang di lakukan baru-baru ini menemukan patungpatung dan beberapa terakota kepala Buddha. Di sekeliling istana berdiri berbagai kediaman pribadi, sementara di depan berdiri patung kura-kura raksasa sedang menyangga tiang berukir, seperti patung penjaga kuil China—kura-kura yang bertugas mengawasi pertapaan Erdene Zuu, meski penguasa Karakorum telah berganti. Di bagian dalam, sebuah jalan kecil mengarah ke stepa, di mana terletak singgasana Ogedei. Tentu saja, orang Mongol tak membangun kota-kota—sampai sekarang pun tidak: seperti cerita setiap pengunjung Ulan Bator, keramaian suatu tempat berasal dari penduduknya, bukan dari bangunanbangunannya. Jadi begitu pula yang terjadi di Karakorum. Tak lama setelah itu, sepertiga wilayah kota di pakai kantor-kantor pemerintah yang mengatur kurban, shaman, per dagangan dan sistem pengiriman pos, barang-barang berharga dan gudang senjata. Bahkan saat para pe dagang Muslim dan perajin China mulai memadati isi tembok, tempat itu belum juga berubah menjadi kota. Rahib William dari Rubrouck melihatnya di tahun 1253-4, dan tak terkesan dengan kota ini: “Anda harus tahu betapa jelek istana Khan. Istana ini tak seindah kota St. Denis, dan pertapaan St. Denis berharga sepuluh kali lipat dibanding istana ini.” SINGA BETINA DAN ANAKNYA 21 pustaka-indo.blogspot.com
Tidak mengapa: tempat ini adalah pusat, di mana sebelum nya sama sekali tak ada pusat; dan di sini berkumpul ratusan tenda (orang Mongol menyebutnya ger), ribuan kereta kuda dan puluhan ribu binatang ternak. Orang kaya Mongol, saat itu berjumlah ratusan, bisa memiliki 200 kereta yang ditarik sapi, yang tergabung ke dalam rombongan besar terdiri dari 20-30 tim dan kereta, semuanya berjejer dan merangkak pelan melintasi stepa terbuka dipimpin seorang wanita di kereta paling depan. Bisa jadi, pengunjung akan melihat kereta raksasa, sepanjang 10 m, dengan sumbu roda sebesar tiang kapal, ditarik 22 ekor sapi, dan di atasnya terdapat tenda kaisar. Ada yang meragukan apakah kendaraan seperti itu memang pernah ada, namun saat ini setidaknya ada tiga replika di Ulan Bator, salah satunya diarak mengelilingi stadion setiap bulan Juli dalam perayaan Hari Nasional. Tak ada yang tahu bagaimana atau di mana kendaraan raksasa ini digunakan, namun di tahun 1230-an kendaraan ini bolak-balik antara Avraga lama dan Karakorum baru. Itulah gambaran ibukota Ogedei, tempat ia mengendalikan pemerintahan baru.3 Dalam proses ini, pemandu utama Ogedei adalah penasihat Jenghis keturunan China, seorang Khitan yang sangat jangkung (setinggi 6 kaki 8 inchi), berasal dari keluarga aristokratik Yeh-lü bernama Chu-tsai (Chuzai dalam ejaan pinyin). Para Khitan pernah memerintah China utara, sampai ditaklukkan Jin pada 1125. Ayah Chu-tsai memilih untuk melayani rezim baru, begitu pula Chu-tsai, dan akhirnya menjadi wakil pejabat tertinggi di Beijing. Walau pun masih berusia dua puluhan tahun, dia tokoh terkenal, akibat kecerdasan, kejangkungan, dan suaranya yang bergema serta jenggot panjangnya. Dia ikut memanggul karung pasir untuk benteng kota di tahun 1215, berkhalwat ke pertapaan selama tiga tahun untuk memperoleh ketenangan pikiran, lalu—begitulah reputasinya—dipanggil ke Mongolia untuk bertemu Jenghis. Jenghis menyerahinya tugas sebagai kepala kearsipan BAGIAN I: MUSIM SEMI 22 3 Dan mungkin inilah alasan mengapa tempat ini dibangkitkan kembali sebagai ibu - kota pemerintahan Mongolia. Di tahun 2005, para pejabat tinggi negara ini mem - bahas usulan yang mengejutkan, didukung Perdana Menteri, untuk membangun ibukota yang sepenuhnya baru di Karakorum. Keputusan tentang usulan ini diharapkan dapat lahir tahun 2006, pada ulang tahun ke-800 pendirian bangsa ini oleh Jenghis Khan. pustaka-indo.blogspot.com
yang baru didirikan, bertanggung jawab atas berbagai lembaran berisi catatan hukum dan catatan pajak. Tugas ini adalah tawaran yang tak bisa ditolak Chu-tsai, karena, seperti kata Jenghis, orang Khitan dan orang Jin telah lama jadi musuh bebuyutan, dan “Aku harus meng - hukummu.” Chu-tsai punya sesuatu yang harus dia perhatikan, yakni dia dan ayahnya adalah pelayan setia Jin. Apakah Jenghis benar-benar ingin mendorong dia untuk menganggap ayahnya dan seluruh bekas bawahannya sebagai musuh? Jenghis memahami hal ini. Dia tetap memberinya jabatan, dan sejak saat itu selalu menghormati “Si Jenggot Panjang” ini, begitulah dia menjulukinya. Chu-tsai menyertai Jenghis dalam operasi ke wilayah kaum Muslim tahun 1219 dan dalam operasi militer terakhir di masa tuanya ke China tahun 1226-27. Pada 1229, Ogedei melantiknya sebagai pejabat sementara kepala pusat pemerintahan baru—secara tak langsung, sebagai gubernur—untuk wilayah China utara yang telah takluk, pejabat sipil pertama yang memegang tanggung jawab luas. Di tahun yang sama, Ogedei juga me lantik satu orang asing lagi untuk menduduki jabatan yang tak kalah tinggi, yakni gubernur untuk tanah Muslim yang telah tunduk. Nama pejabat ini yaitu Mahmud, dikenal sebagai Yalavach (kata dalam bahasa Turki yang berarti “sang duta”, karena jabatan ini adalah tugas pertamanya di bawah Jenghis). Chu-tsailah yang melakukan segalanya untuk memandu Ogedei menjauhi hidup mabuk-mabukan dan berburu menuju sikap hemat dalam mengelola keuangan. Ini adalah perjuangan politik sekaligus pribadi, karena kaum tradisional di istana menganggap kuda dan sapi sebagai satu-satunya bentuk kekayaan, mengabaikan tanah—membabat habis orang China dan benar-benar mengira bahwa cara menangani daerah China utara adalah dengan menghabisi seluruh pertanian dan penduduknya kemudian mengubahnya menjadi padang rumput. Siapa peduli dengan nasib jutaan petani? Mereka memang tak berharga sama sekali. Chu-tsai menjelaskan bahwa sikap keras kepala seperti itu hanya akan menghancurkan diri sendiri. Lebih baik membiarkan para petani hidup dan memungut pajak dari mereka lewat pejabat resmi yang akan mengumpulkan sutra, gabah, dan perak. Di tahun 1230, Chu-tsai membuktikan bahwa cara seperti itu memang ampuh: dia mengirim SINGA BETINA DAN ANAKNYA 23 pustaka-indo.blogspot.com
10.000 perak batangan. Tahun berikut nya, dia dikukuhkan sebagai pejabat tetap. Sewajarnya bila rekan-rekannya yang berbangsa Mongol tetap curiga. Mereka memandang usulan Chu-tsai sebagai plot untuk menggerogoti imbalan yang baru mereka peroleh, dan mengalirkan uang tunai dari kantong mereka ke gudang harta kaisar. Ogedei tak bisa diharapkan, karena reaksinya terhadap aliran uang tunai secara tiba-tiba ini terlihat kian tamak, menuntut lebih banyak uang untuk operasi militernya dan untuk menanam investasi bersama pengusaha Muslim yang menjanjikan untung lebih besar. Reformasi Chu-tsai sampai pada titik buntu tatkala Ogedei mengalihkan tugas memungut pajak kepada “petani pajak” Muslim bernama Abdurrahman. Kronikroninya dapat membeli hak untuk memungut pajak, dengan kebebasan menetapkan keuntungan yang mereka inginkan secara sepihak—sampai 100 persen per tahun (Ogedei pun dengan pertimbangan penuh membatalkan aturan bunga tinggi). Mereka lalu menjadi lintah darat raksasa, menjalankan lingkaran setan penipuan. Pengusaha Muslim akan meminjamkan uang Ogedei dengan bunga mencekik kepada para petani malang, yang memerlukan pinjaman untuk memperbaiki apa yang telah hilang akibat pajak sebelumnya. Hasilnya dengan mudah dapat ditebak: orang-orang lari dari rumah guna menghindari pemungut pajak dan gerombolannya yang bertangan besi. Menurut salah satu perkiraan, 50 persen dari populasi akhirnya men jadi pelarian atau dijadikan budak oleh para pejabat Mongol. Chu-tsai akhirnya disingkirkan, dan dia meninggal tiga tahun setelah Ogedei. Seorang pria baik hati yang malang. Sorkaktani, menjadi kekuatan besar di wilayah utama Mongolia, men - dapat keuntungan dari bencana-bencana ini, dan mengambil hikmah dari semua itu. Pada 1236, dua tahun setelah Ogedei menuntaskan penaklukannya atas China utara, dia meminta sebagian wilayah Provinsi Hebei sebagai tanah perdikan, sebagai tanah miliknya. Ogedei menolak per mintaan ini, namun tak terlalu lama. Seperti kata Rasyiduddin, Ogedei “mau tak mau harus berkonsultasi dengan nya tentang urusan BAGIAN I: MUSIM SEMI 24 pustaka-indo.blogspot.com
negara dan tak akan pernah mengabaikan sarannya.” Sorkaktani dengan cepat akan mem permalukannya dengan mengatakan bahwa tempat mereka diam sebenarnya haknya, karena suaminyalah yang menakluk - kan wilayah itu. Dalam perjalanan menuju Provinsi Hebei, dia dan keluarga nya— termasuk Kubilai yang saat itu berusia 21 tahun—menyaksikan ke - hancuran akibat mesin perang bangsa Mongol: tanah pertanian yang terbengkalai, ladang-ladang yang tak dipanen, desa-desa yang kosong, para pengungsi. Dalam tiga abad terakhir memang terjadi dua kali serangan barbar yang mengerikan, namun tak seperti ini. Di tahun 1234, jumlah penduduk di utara, barangkali 40 juta orang di awal abad ke-13, menurun sampai tiga perempat dari 7,6 juta kepala rumah tangga menjadi 1,7 juta. Angka ini begitu luar biasa, sehingga sebagian ilmuwan tak memercayainya. Pasti ada yang salah dengan cara pengumpulan data statistik saat itu, namun tak ada yang tahu letak kesalahannya. Bisa jadi banyak rumah tangga telah hancur. Barangkali jutaan orang melarikan diri ke selatan. Bahkan, jika penurunan ini “cuma” setengah sampai dua pertiga, dampak sosialnya tetap saja mengerikan. Daerah Zhengding (Chen-ting), kira-kira 200 km ke barat daya Beijing saat ini, dapat dikatakan lebih beruntung dibanding daerah lain karena dia diserahkan kepada panglima perang setempat yang menyerah pada Jenghis. Dia menyusun kekuatan petani yang bisa mempertahankan diri mereka sendiri, yang mempertahankan wilayah itu sebagai daerah kantong (enclave) yang damai dan stabil. Ini semua berkat pemerintahan putranya, Shi Tianze, yang memiliki pengalaman administratif yang baik. Meski demikian, tempat ini bukanlah wilayah yang tak akan diluluhlantakkan bangsa Mongol. Wilayah ini terkenal dengan patung, pagoda, dan kuil Buddhisnya; di sini terdapat patung perunggu dewa Avalokiteshvara Buddhis yang bermata dan berlengan banyak, yang merentangkan 42 tangannya kepada para turis di kompleks kuil utama. Beberapa di antara benda ini juga diketahui Sorkaktani. Wilayah ini berada di batas barat dataran China utara yang sangat luas, di mana lahan pertanian yang amat kaya diselingi perbukitan rendah berkelokkelok di antara lembah-lembah sungai. Penduduknya yang terdiri dari SINGA BETINA DAN ANAKNYA 25 pustaka-indo.blogspot.com
80.000 kepala keluarga, mungkin dengan setengah juta jiwa warga, sama sekali tak menarik minat orang Mongol tradisional, yang menganggap petani tak bernilai dan melihat pertanian sebagai sekadar padang rumput. Namun lain halnya dengan Sorkaktani. Berkat perkiraan Jenghis dan contoh Chu-tsai, dia mengambil kesempatan untuk membangun kekayaannya sendiri jauh dari wilayah perkotaan yang luluhlantak oleh pasukan Mongol. Dia berusaha mengembangkan tanah pertanian dan para petaninya, mendidik penduduk lokal dengan menugaskan para guru berbangsa China untuk mengajari anak-anak mereka, dan meraih simpati mereka dengan menjadi patron Buddhisme dan Taoisme (bahkan di kalangan penduduk lokal beredar desas-desus yang mengatakan dia telah keluar dari Kristen Nestoriannya)—sementara kekayaan mengalir kepadanya dan keluarganya dalam bentuk pajak. Di tahun yang sama, Sorkaktani membentangkan jaringan lain dalam skema serupa. Kubilai menerima tanahnya sendiri 100 km ke arah selatan tanah ibunya, sebuah wilayah berisi 10.000 kepala keluarga. Dia terlalu muda untuk menaruh minat pada bagaimana mengelola pemerintahan yang baik, sehingga mula-mula dia membiarkan pejabat lokal berkuasa secara bebas, dan akibatnya jelas bisa diterka: pemungutan pajak secara paksa, korupsi, perlawanan diam-diam, pelarian diri penduduk yang sudah merasa siap dan kuat membangun rumah di tempat lain, dan kejatuhan dramatis jumlah pajak kepala dan pajak penghasilan. Terkejut oleh beragam peristiwa mendadak ini— atau mungkin juga oleh reaksi sang ibu atas kegagalannya—Kubilai pun melaksanakan perubahan. Pejabat baru didaftar (di antaranya Shi Tianze yang sebelumnya jadi petugas pajak ibunya); hukum pajak pun dirombak. Sepuluh tahun kemudian, penduduk yang melarikan diri kembali ke rumah masing-masing. Kubilai pun mempelajari satu pelajaran penting tentang manajemen bisnis. Dari pertengahan 1230-an, Ogedei makin mendekati kematiannya. Anggur adalah minuman kegemarannya, bukan arak Mongol tradisional yang terbuat dari susu kuda—airag. Bahkan, dalam usaha mengendalikan kebiasaannya minum, seorang pegawai khusus ditugaskan pengawalnya untuk mencatat berapa kendi yang dia habiskan. Jumlahnya memang kelihatan menurun, namun itu karena kendi yang dia pakai makin lama BAGIAN I: MUSIM SEMI 26 pustaka-indo.blogspot.com
makin berukuran besar. Dipimpin seorang pemabuk, para pangeran mulai kasak-kusuk berdebat. Di satu deretan para pangeran itu terdapat putra sulung Ogedei, Güyük, dan sepupunya Batu, khan Golden Horde, wilayah stepa yang sekarang menjadi Rusia dari Kaukasus sampai pegunungan Ural. Selama invasi Rusia, Polandia, dan Hungaria pada 1236-41, pernah terjadi sebuah jamuan makan di mana kedua pria ini samasama hadir. The Secret History menjelaskan versi Batu tentang apa yang terjadi, yang dia kirim ke sepanjang Asia dengan seekor kuda. Karena lebih tua, sesuai kebiasaan Batu dipersilakan minum duluan. Güyük dan dua pangeran lain menyerangnya lalu melarikan diri dengan kuda, membabatkan senjata. Mereka seharusnya setara dalam hal kedudukan. Batu tak bisa menganggap dirinya lebih senior. Dia hanyalah wanita tua berjenggot… dadanya pantas disundut kayu menyala… dia harus diberi ekor kayu. Sekembalinya ke rumah, Ogedei membela Batu dan menyalahkan putranya: “Semoga dia membusuk seperti telur! Dia telah melawan dada orang yang lebih senior darinya!” Yang ada dalam pikiran Güyük yaitu bertindak begitu sombong dan meninggi seakan dia telah menaklukkan kaum Muslim sendirian? Dalam kemarahannya, Ogedei membatalkan Güyük sebagai pewarisnya dan menunjuk cucunya, Shiremun, menggantikan kedudukannya. Pada Desember 1241, kaisar ambil bagian dalam perburuan musim dingin tahunan, sebuah acara besar karena dia harus mengumpulkan pasukan sepanjang dua hari perjalanan guna mengumpulkan binatang liar, terutama rusa berekor putih dan serigala. Di awal suatu malam, dia mulai minum, ditemani petani pajak kesayangannya, Abdurrahman. Dia lalu tewas saat fajar, pada 11 Desember, di usia 55 tahun. Pengarang The Secret History menyimpulkan masa kepemimpinan Ogedei dengan meminjam ucapannya untuk menyesali diri: “Aku bersalah karena membiarkan diriku takluk oleh anggur. Inilah satusatunya kesalahanku.” Akhir yang memalukan, dan mungkin inilah sebabnya dia tak dimakamkan di samping ayahnya di bukit suci orang Mongol, Burkhan Khaldun di Mongolia utara, melainkan di tanah pribadinya di Jungaria, di sebelah barat Mongolia. SINGA BETINA DAN ANAKNYA 27 pustaka-indo.blogspot.com
Jandanya, Töregene, mengambil alih kekaisaran, meng abaikan wasiat suaminya dan bersiap-siap menyerahkan takhta kepada putra sulungnya, Güyük, yang saat itu berusia 35 tahun. Güyük tak mampu memimpin sendiri. Dia sosok yang lemah, karena dia pemabuk seperti ayahnya. Töregene adalah wanita perkasa, satu-satunya wanita yang dapat menandingi Sorkaktani, menurut John dari Plano Carpini. “Dia memang tak terlalu cantik”, kata Rasyiduddin, “tapi memiliki sifat dasar yang luar biasa,” dan beberapa catatan merendahkan lain (walaupun ini ditulis setelah dia dibuang ke tong sampah sejarah, jadi dia mungkin tak seburuk yang terlukiskan). Dia berhasil mendapat persetujuan sebagian besar keluarga dengan argumen dan hadiah, tapi Batu adalah satu-satunya yang tak bisa dia bujuk. Dia menolak menjadi kuriltai, ketua dewan pangeran yang akan memilih khan selanjutnya. Alasannya, dia menderita encok. Pemilihan khan tertunda selama lima tahun, dan selama itu pula Töregene mati-matian berjuang menarik dukungan untuk putranya lewat berbagai intrik dan sogokan. Menyadari Töregene berada di posisi tak terkalahkan, Sorkaktani lebih memilih menunggu, tetap setia mendukung keluarga Ogedei selama empat tahun masa peralihan kekuasaan. Pertentangan nyaris memecah-belah kerajaan, di mana setiap pangeran membuat hukum sendiri demi keuntungan masing-masing, mengubah apa yang telah ditulis berdasarkan titah Jenghis. Saudara laki-laki Jenghis Khan yang paling kecil, Temüge—saat itu sudah berusia tujuh puluh tahun dan dia merupakan negarawan tua—bahkan berani mengajukan diri menjadi khan tanpa merasa harus mendapat persetujuan dewan, sebuah keinginan yang harus dia bayar mahal di kemudian hari. Kehancuran membayangi, sampai Sorkaktani—yang sengaja menahan diri untuk melontarkan isu-isu demi kepentingannya—tiba-tiba mendukung Güyük, memberi dukungan kecil pada Töregene namun meraih simpati sebagian besar pangeran. Töregene akhirnya membentuk dewan yang mengadakan rapat pada musim semi 1246. Kuriltai ini menjadi urusan kenegaraan paling penting saat itu, dilukiskan Juvaini dengan gayanya yang berbunga-bunga. Ketika salju pergi, padang rumput hijau kembali, merpati-cincin bermain-main dengan merpati-kura-kura, dan kunang-kunang bernyanyi, Karakorum BAGIAN I: MUSIM SEMI 28 pustaka-indo.blogspot.com
menjadi pentas yang memampangkan kekuasaan dan kesejahteraan baru. Ratusan bangsawan berkumpul di setiap pelosok kekaisaran: seluruh keturunan Jenghis yang ada di mana pun, anak dan cucu, sepupu dan keponakan, bergabung bersama selama beberapa minggu dengan para pemimpin dari China utara, Korea, Rusia, Hungaria, Turkistan, Azerbaijan, Turkey, Goergia, Syria, bahkan Baghdad—walau belum takluk, tapi mereka tetap datang. Mereka menciptakan kota satelit yang terdiri dari 2.000 tenda. Pemandangan ini “belum pernah dilihat seorang manusia pun, serta belum pernah dalam catatan sejarah tahunan mana pun”. Kata-kata Juvaini ini dibenarkan rahib Italia, John dari Plano Carpini, yang kala itu baru saja datang dan sibuk mengumpulkan informasi internal dari orang Rusia dan Hungaria, para pendatang yang bisa berbahasa Latin dan Prancis. Jamuan dan acara minum-minum berlangsung selama seminggu, sembari para pangeran yang mendongkol dalam hati menyerahkan takhta kepada Güyük, yang akhirnya menerimanya setelah tiga kali penolakan berturut-turut. Penobatannya berlangsung pada bulan Agustus di perkemahan di sebuah lembah sungai beberapa kilometer dari Karakorum. Ke tempat inilah persembahan dibawa, 500 kereta berisi sutra, beludru, brokat, emas, perak, pakaian dari kulit, yang dipamerkan di dalam dan di sekitar tempat ordo penobatan Güyük, sebuah istana-tenda warna kuning yang disangga tiang kayu bersepuh emas. Upacara penobatan—yang tertunda beberapa hari karena hujan badai—memahkotai Güyük dengan mahkota gading bertatahkan emas buatan seorang pandai besi Rusia. Sorkaktanilah yang mengatur imbal an dan hadiah bagi setiap undangan, mulai dari teman dekat Jenghis sampai para komandan batalion yang membawahi 10.000 pasukan hingga komandan pleton yang mengepalai sepuluh prajurit, dari para sultan sampai pejabat rendahan beserta para pengiring mereka. Bersama-sama, Güyük dan Töregene meminta dewan pangeran menghasilkan kesepakatan bahwa takhta hendaknya tetap berada di tangan keluarga langsung Ogedei. Ini berlawanan dengan wasiat Jenghis sendiri, yang memberi ketentuan pasti tentang apa yang harus dilakukan manakala keturunan langsung Ogedei tak mampu atau tak layak berkuasa. The Secret History menggarisbawahi masalah ini dalam SINGA BETINA DAN ANAKNYA 29 pustaka-indo.blogspot.com
puisinya: bait-bait ini seakan menunjukkan betapa tak bernilai keturunan Ogedei yang, Bahkan jika orang membungkus mereka dengan rerumputan segar, Mereka tak akan dimakan seekor lembu pun. Bahkan jika orang membungkusnya dengan lemak daging, Mereka tak akan dimakan seekor anjing pun. —apakah mungkin di antara keturunanku yang lain tak seorang pun terlahir bagus? Itulah sebabnya mengapa para pangeran lebih menerima jika khan baru dipilih dari cabang garis keturunan lain—dari garis Tolui, misalnya. Tidakkah Sorkaktani bisa mengajukan Mönkhe? Dia sudah berusia 36 tahun. Namun Sorkaktani belum siap terjun ke kancah persaingan. Hal itu hanya akan lebih mengancam keutuhan kekaisaran, dan bisa jadi akan membahayakan posisinya sendiri. Dia pun memilih tetap tenang, dan bersama para pangeran yang merupakan prajurit gagah berani menyepakati bahwa pergantian kekuasaan akan tetap berada di garis keturunan Ogedei, bersumpah pada Güyük bahwa dia akan memegang kesepakatan ini “selama di dalam ras mereka masih ada segumpal daging yang tak akan dimakan anjing atau lembu meski dibungkus rumput atau lemak. Inilah janji yang secara sengaja mengingkari katakata sang tuan dan pemimpin mereka, Jenghis—sumpah yang bagaimana pun memiliki dampak besar dan mengagetkan: saudara Jenghis yang sudah lanjut usia, Temüge, yang merasa berhak atas takhta, dihukum mati. Saudara Jenghis dihukum mati! Peristiwa ini menyebabkan kesedihan luar biasa di kalangan sebagian pangeran. Yang paling bersedih di antara mereka tentulah Batu. Dia secara enggan telah ditunjuk jadi anggota dewan, namun itu terlambat: Töregene bergegas melaksanakan pergantian kekuasaan sebelum dia datang, ketika dia dan tentaranya masih berjarak 1.000 km dari tempat acara. Tetapi, gerundelan pihak yang tak puas tetap tak mereda. Güyük sama sekali bukanlah pilihan terbaik. Dia sakit-sakitan, plus punya BAGIAN I: MUSIM SEMI 30 pustaka-indo.blogspot.com
kebiasaan minum. Dia angin-anginan, pencuriga, jarang senyum. Ibunya menyembunyikan darinya kerabat dan pihak lain yang tak puas, dan hadiah yang dia bagi-bagikan untuk meraih persetujuan mereka tak mampu mempertahankan kesetiaan mereka; sementara Töregene sendiri terus mengasingkan keluarga dan para pegawai, ter utama karena seorang wanita kepercayaannya. Hal ini menghasilkan kisah sedih, yang berawal beberapa waktu sebelum upacara penobatan. Töregene mempekerjakan wanita Muslim bernama Fatimah, yang dibawa ke Karakorum sebagai tawanan, di mana dia kemudian mendirikan dan me ngelola rumah pelacuran. Entah bagaimana, dia berhasil memperoleh akses ke dalam rumah tangga Töregene dan men jadi teman dekat sekaligus penasihat ratu—semacam Rasputin wanita. Pengetahuan Fatimah tentang rahasia-rahasia ratu serta intrik-intrik yang terjadi di istana membuat pengaruhnya makin kuat. Tak ada pejabat yang bisa me laksana kan tugas kecuali atas nasihat dan perintahnya. Dia bahkan mulai mengeluarkan perintah sendiri. Para pejabat tinggi harus merendahkan diri dan menyembahnyembah demi mengambil hatinya. Namun akhirnya, mereka jengah juga terhadap Fatimah, dan berharap dia celaka. Harapan ini terwujud tak lama setelah Güyük dinobatkan, ketika saudara laki-lakinya jatuh sakit. Beberapa pihak mengatakan bahwa dia sakit akibat diguna-gunai Fatimah. Dengan wewenangnya, Güyük berusaha membalik keadaan. Dia memenjarakan Fatimah di luar pengawasan ibunya, menghukum dan menyiksa nya sampai mengaku, dan setelah itu menjatuhinya hukum mati yang mengerikan, yang memberinya kehormatan untuk menjalani kematian terhormat tanpa mengalirkan darah layaknya kelas atas. “Seluruh pegawainya dipecat, dan dia di bungkus bulu kempa, kemudian dilemparkan ke sungai.” Banyak yang merasa lega setelah kejadian itu, namun konflik antara ibu dan anak ini tak bisa jadi alasan yang baik untuk memerintah. Bagaimana dengan Batu? Dia masih tetap lamban. Güyük mencurigai adanya pemberontakan. Dia menggerakkan pasukan nya ke arah barat dengan dalih untuk memeriksa tanah kekuasaannya di Kazakh— perbatasan Mongolia. Sesampai nya di sana, dia mempersiapkan invasi tandingan. Proses ini memakan waktu berbulan-bulan dan membuka SINGA BETINA DAN ANAKNYA 31 pustaka-indo.blogspot.com
kesempatan bagi Sorkaktani untuk melancarkan intervensinya yang paling menentukan. Ini keputusan sulit, penuh bahaya. Jika rencananya terbongkar, segalanya akan hancur berantakan—penantiannya selama bertahun-tahun, semua jaringan yang dia bangun dengan hati-hati, harapan yang dia impikan untuk putra-putranya. Dia akan dianggap pengkhianat, dan akan dihukum mati bersama seluruh keluarganya. Agar semua itu tak terjadi, dia melakukan hal berikut: teringat ikatan persaudaraan antara mendiang suaminya dengan ayah Batu, dia pun mengirim pesan rahasia berisi peringatan kepada Batu, dalam bahasa Rasyiduddin, bahwa pemerintahan yang dijalankan Güyük “bukan tanpa pengkhianatan”. Menindaklanjuti peringatan ini, Batu pun bersiapsiap untuk bertindak—yang sebenarnya tak perlu, sebagaimana terbukti kemudian, karena bulan April 1248, saat dua pasukan sudah berhadaphadapan di sepanjang pinggir danau Balkhas, Güyük, yang sebelumnya memang sakit-sakitan dan ditambah perjalanan jauh, akhirnya meninggal: barangkali diracun, bisa jadi tewas dalam pertempuran, tapi besar kemungkinan akibat sakit. Batu, yang sudah merasa puas dengan kekaisarannya sendiri di Rusia selatan, sama sekali tak berminat mengajukan diri menjadi khan baru. Dan ia punya utang budi kepada Sorkaktani. Maka ia pun lang - sung mengubah pasukan nya menjadi dewan pangeran, dan mengusulkan putra sulung Sorkaktani, Mönkhe, sebagai pengganti khan. Sementara di ibukota, putra-putra Güyük, di bawah pengaruh ibu mereka, merasa keberatan dan menyusun rencana sendiri, terutama cucu Ogedei, Shiremun. Sekali lagi, kekaisaran berada di ujung tanduk. Para penguasa lokal meng amati keadaan demi kepentingan masingmasing, mem perhatikan apa yang bisa mereka manfaatkan dari situasi ini. Para pangeran menggunakan sistem kurir, demi mempercepat komunikasi dalam kekaisaran, untuk tujuan mereka sendiri, mirip para pegawai negara diktator yang telah runtuh me manfaat kan mobil limo pemerintah untuk urusan mereka sendiri. Tak seorang pun tahu siapa yang akan memerintah; semua orang bersaing mendapatkan pengaruh; banyak pula yang mengirimkan pesan pernyataan bahwa mereka tak akan menghadiri pertemuan pemilihan khan baru. BAGIAN I: MUSIM SEMI 32 pustaka-indo.blogspot.com
Janda Güyük, Oghul Kaimish, sesuai tradisi dapat me merintah sebagai pejabat sementara, sampai putra tertuanya sanggup memerintah. Namun putra-putranya—cucu-cucu Ogedei—masih terlalu muda. Selain itu, dia begitu tertekan dengan segala peristiwa yang terjadi, menyibukkan diri dengan shaman, mencoba mencapai tujuannya dengan sihir. Orang-orang mengenang kata-kata Jenghis: seandainya keturunan Ogedei tak pantas, maka khan baru harus dipilih dari garis keturunan lain, yakni garis keturunan Jenghis dari tiga putranya yang lain. Dua di antaranya (Jochi dan Chaghadai) berkuasa di wilayah yang sangat jauh sehingga keturunan mereka tak bisa jadi pertimbangan. Satu-satunya yang tersisa yaitu anak Sorkaktani, keturunan Jenghis dari putra bungsunya, Tolui, pewaris wilayah pedalaman Mongolia. Di titik ini, barulah Sorkaktani terjun ke gelanggang atas perhitungannya sendiri. Saat itu dia berusia 60 tahun, dan menurutnya itulah peluang terakhirnya. Dia telah mendapatkan banyak hal: basis kekuasaan sendiri, uang, penghormatan, dan pengaruh. Istana terpecah-pecah akibat ulah Fatimah. Dan posisinya lebih menguntungkan karena keturunan Güyük merupakan cicit Jenghis sementara anak-anaknya adalah cucu, generasi yang lebih dekat kepada pria agung ini. Mönkhe, saat itu hampir berusia 40 tahun, adalah pilihan terbaik dan memenuhi persyaratan. Dia juga pernah memimpin tentara Mongol dalam operasi militer ke barat menembus Eropa pada 1238-1241, membumihanguskan Kiev dan menghancurkan Hungaria di pertempuran Mohi. Selain itu, dia memiliki dua adik laki-laki yang juga berpengalaman sebagai jenderal perang, tentu ini amat penting saat kekaisaran harus melanjutkan tugas yang diembankan Langit kepadanya untuk menjadikan bangsa Mongol sebagai penguasa dunia. Perseteruan ini nyaris berakhir di tahun 1250, ketika pihak yang bertikai datang ke perkemahan Batu dan mendengar Batu meminta sekali lagi agar Mönkhelah yang harus dipilih. Namun dewan ini tidak berkumpul di tanah Mongolia dan hanya dalam jumlah yang agak sedikit. Tahun berikutnya, dewan kedua, kali ini berkumpul di daerah tradisional di dekat Avraga, menerima pilihan tersebut. Seolah menjadi puncak pemilihan presiden, Mönkhe dengan penuh keramahan merangkul dan menjalin persahabatan dengan para mantan musuhnya beserta SINGA BETINA DAN ANAKNYA 33 pustaka-indo.blogspot.com
keluarga mereka. Cara ini hampir berhasil, tapi Shiremun punya gagasan lain. Juvaini mengisahkan. Peristiwa ini terjadi dalam pertemuan dewan pangeran di Avraga. Bayangkanlah beberapa bangunan batu dan lautan tenda, kereta dan binatang ternak. Semua orang bergembira karena suksesi kepemimpinan sudah mendapat keputusan. Seorang pawang elang bernama Keshik (keshig berarti “penjaga”, namun kita ikuti saja Juvaini) kehilangan unta betina kesayangannya. Dia pergi mencarinya, berkuda selama dua tiga hari ke berbagai tempat. Dia berpapasan dengan sepasukan tentara. Siapakah mereka? Mereka menjawab, “Kami datang untuk memberi ucapan selamat dan janji setia kepada Mönkhe. Setelah yakin dengan jawaban ini, Keshik pun meneruskan pencariannya. Tiba-tiba dia melihat kereta rusak dan seorang pemuda yang tengah memperbaikinya. Dia berhenti dan menolongnya. Lalu dia tahu bahwa kereta itu penuh senjata. “Senjata-senjata apa ini?” tanyanya. “Sama seperti senjata-senjata lain,” jawab si pemuda. Si Keshik mulai curiga. Lalu dia mengalihkan pembicaraan. Sedikit demi sedikit, dia mengumpulkan informasi. Mereka adalah orangorang yang sedang “merencanakan pemberontak an, penyamaran, pengkhianatan dan pembelotan” serta mem persiapkan serangan kepada Mönkhe saat semua orang sedang berpesta. Setelah menemukan untanya, dia menyelesai kan perjalanan—yang biasanya harus ditempuh selama tiga hari—hanya dalam waktu sehari saja, kemudian langsung melapor kepada kaisar baru dan menceritakan apa yang dia ketahui. Para hadirin pun heboh. Mereka tak memercayainya. Dia mengisahkan perjalanannya berulang-ulang. Namun Mönkhe tetap belum menanggapi ancaman tersebut. Para pengawalnya berdebat. Akhirnya, mereka sepakat akan meng utus Mengeser, hakim ketua dan kepala pasukan pengawal kaisar, untuk membawa 3000 pasukan dan menyelidiki ke - benaran berita itu. Mereka pun sampai ke tempat tentara tadi, dan tahu bahwa itu pasukan Shiremun, kemudian lang sung mengalahkan mereka. Shiremun dan para pejabatnya terkejut: “Lidah-lidah yang BAGIAN I: MUSIM SEMI 34 pustaka-indo.blogspot.com
awalnya membantah pun membisu, lutut-lutut yang semula kokoh kini lunglai, mereka tak punya harapan yang menunggu di depan sementara kemungkinan baik pun tak tersedia di belakang.” Dengan penjagaan ketat, para pemimpin tentara itu dibawa ke depan Mönkhe dalam sembilan rombongan. Setelah tiga hari penyelidikan, Mönkhe sampai pada kesimpulan. Kesimpulan luar biasa, tak bisa di mengerti, tak dapat didengar oleh telinga cendekiawan, serta tak dapat diterima oleh jiwa orang arif bijaksana, namun begitulah kenyataannya: mereka pengkhianat. Berikutnya terjadilah penahanan dan pengakuan, dan pelaksanaan hukuman. Saat itu Mönkhe mengalahkan sifat baik hati dan pemaafnya. Para tahanan dipancung, dirajam sampai mati, dan ada pula yang memilih bunuh diri dengan menancapkan pedang ke perutnya sendiri. Berikutnya, pembasmian tanpa ampun, sampai ke tempat jauh seperti Afghanistan dan Irak. Di antara korbannya adalah janda Güyük, Oghul Kaimish, yang dipandang Mönkhe lebih hina daripada seekor anjing, penyihir paling jahat; ibu Shiremun, dan tentu saja otak dari semua ini, Shiremun. Pembasmian ini merupakan peristiwa paling berdarah. Mengeser sendiri mengaku mengadili dan menghukum mati 77 pemimpin pasukan pemberontak ini. Sementara ratusan lainnya juga harus mati. Masa-masa suram ini menandai awal sebuah rezim yang sangat keras dalam mewujudkan impian Jenghis, paham baru yang didukung pemujaan resmi terhadap Jenghis Khan (kelahiran sebuah sekte pemujaan yang masih ada sampai sekarang). Begitulah proses bagaimana Mönkhe menggenggam kekuasaan absolut, serta bagaimana garis keturunan Tolui, berkat Sorkaktani dan nasib baik, mengambil alih kekuasaan dari keturunan Ogedei. Ini semua berarti, jika suatu hal ter jadi pada diri Mönkhe, tampuk kepemimpinan pun berpeluang besar beralih kepada Kubilai. Mönkhe memberi tenaga baru bagi keyakinan suci yang dibangun Jenghis, dominasi universal. Dia memulainya dengan reformasi besarbesaran dan rencana-rencana ekspansi. Kedua hal ini berjalan beriringan: berbagai penaklukan baru akan mempersatukan rakyatnya yang terpecahbelah, namun itu hanya bisa terjadi jika mereka berhenti bekerja sendiri SINGA BETINA DAN ANAKNYA 35 pustaka-indo.blogspot.com
dan mau bekerjasama. Hal ini mensyaratkan penerapan kekuasaan secara ketat, berdasarkan perhitungan cermat tentang sumber daya yang ada. Maka, perlu ada sensus (sebenarnya beberapa kali sensus) yang mencakup seluruh kekaisaran. Proyek besar ini dilakukan selama tahun 1250-an, menghasilkan semacam Kitab Hari Kiamat Mongol, jumlah penduduk, kota, hewan ternak, lahan pertanian, dan bahan baku, mulai dari daerah pantai Pasifik sampai ke pantai Baltik. Tak ada lagi penduduk yang mementingkan diri sendiri, tiada lagi yang memanfaatkan para kurir demi kepentingan pejabat tinggi. Ditetapkanlah pajak kepala (berdasarkan individu di wilayah Islam dan berdasarkan rumah tangga di China) yang harus dibayar tunai, pajak pertanian yang dibayar sesuai tanaman yang dibudidayakan, dan pajak perdagangan dalam setiap usaha dagang. Sensus ini juga memberitahu istana Mönkhe potensi jumlah pasukan yang bisa dia bangun, dan mengidentifikasi rumah tangga di setiap daerah yang memiliki pemuda siap wajib militer. Berdasarkan hal ini, tak pernah terjadi sebelumnya perluasan kekaisaran seperti ini. Mönkhe menempatkan adik-adiknya serta kerabatnya yang lain sebagai pemimpin operasi militer. Hulagu bergerak ke barat, masuk lebih jauh ke dunia Islam. Mönkhe dan Kubilai melaksanakan penaklukan terakhir ke China selatan, Kerajaan Song. Sasaran ketiga, lebih kecil dibanding dua yang pertama, yakni Korea, di bawah pimpinan keponakan Jenghis, Jochi Khasar. Di jantung ekspansi ini, terdapat tiga saudara—Mönkhe, Hulagu, dan Kubilai—dengan Mönkhe sebagai pemimpin dan dua adiknya sebagai sayap kiri dan kanan, barat dan timur, yang diserahi tugas-tugas yang saling mencerminkan satu sama lain: memperluas kekuasaan kekaisaran dan keluarga mereka, satu di dunia Islam dan satu lagi di China. Sementara itu, Kubilai, yang telah belajar dari ibunya bagai mana mengelola tanah kekuasaannya di China, mempekerjakan setengah lusin penasihat pintar keturunan China yang tepercaya, sebagian besar mereka sama-sama memiliki minat dalam hal agama dan intelektual. Para penaishat itu diper siap kan guna melayani tuan barunya, memberikan BAGIAN I: MUSIM SEMI 36 pustaka-indo.blogspot.com
panduan dalam menemukan jalannya di antara tiga tradisi agama besar China—Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme—dan berharap dapat menjadikan pemimpin Mongol sebagai penguasa China yang baik. Ini merupakan langkah besar yang dilakukan Kubilai, karena seluruh rencana ini harus dijalankan melintasi jurang perbedaan bahasa dan budaya. Kubilai tak bisa berbahasa China, dan sangat sedikit orang China yang bisa berbahasa Mongol. Seluruh komunikasi dilakukan lewat penerjemah. Di antara para penasihatnya, terdapat tiga orang yang menduduki posisi paling penting. Pertama, seorang biksu Buddhis yang amat cerdas, Haiyun, yang sudah mampu memahami Konfusianisme selagi masih kanak-kanak. Perihal kebahagiaan dan penderitaan, di usia tujuh tahun, dia sudah berusaha mencari jawaban dengan membaca Konfusius dan menyimpulkan bahwa ajaran ini tak dapat membantu memberinya jawaban. Dia lalu beralih pada Buddhisme, dan dia ditahbiskan sebagai biksu pada usia sembilan tahun. Ketika tahun 1219 bangsa Mongol menaklukkan Liangzhou, kota Wuwei saat ini di Provinsi Gansu, Haiyun, saat itu berusia enam belas tahun, ditemukan bersama gurunya di tengah puing-puing perang dalam keadaan setengah tak mengerti tentang apa yang terjadi. Seorang jenderal bertanya apakah dia tak takut dibunuh para tentara. Haiyun malah menjawab dengan tenang bahwa mereka berdua memasrahkan diri pada perlindungan mereka. Terkesan dengan peristiwa ini, komandan pasukan yang bertugas di China utara, Muqali, membawa pasangan guru dan murid itu ke hadapan Jenghis, yang memerintahkan agar mereka diberi pakaian layak, diberi makan dan dibebaskan dari pajak. Tak lama setelah itu, sang guru meninggal, dan sang murid kemudian meneruskan pencarian religiusnya. Dalam pencarian inilah dia memperoleh pencerahan, mengungkapkan wahyu yang dia peroleh dalam pernyataan penuh teka-teki yang dalam Buddhisme dipandang sebagai bukti kebijaksanaan: “Hari ini untuk pertama kalinya aku sadari bahwa sepasang alis melintang horizontal sementara hidung tegak vertikal.” Dia akhirnya berhasil menjadi pemimpin beberapa kuil, dan kemudian dipromosikan Yeh-lü Chu-tsai, dan berhasil baik dalam menanggulangi bencana akibat serbuan orang Mongol ke China utara. Suatu kali seorang SINGA BETINA DAN ANAKNYA 37 pustaka-indo.blogspot.com
pejabat tinggi meminta nasihat kepadanya tentang masalah berburu. Haiyun menjawab dengan ringkas bahwa tugas pejabat adalah melestarikan kehidupan, bukan bermain-main. Dalam kesempatan lain, ketika orang Mongol berdebat apakah mereka akan menandai setiap orang China di lengannya sehingga dengan tanda itu mereka bisa diketahui jika melarikan diri, Haiyun kembali membantah penguasanya: manusia bukan lembu, katanya; selain itu, ke mana mereka akan lari, karena orang Mongol menguasai seluruh dunia? Gagasan ini batal terlaksana. Ketika Kubilai bertemu Haiyun di Karakorum pada 1242, dia bertanya pada biksu ini apakah Buddhisme mampu me nawar kan jalan bagi perdamaian dunia. Haiyun menjawab memang begitulah, namun untuk memahaminya memerlukan syarat: Kubilai harus berada di tengah para ilmuwan. Tetapi sang pangeran tidak sabar dan ingin jalan pintas. Manakah di antara Tiga Ajaran—Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme— yang paling baik dan tinggi? Haiyun menjawab, dalam hal kebijaksanaan dan kejujuran, Buddhisme lebih baik, karena mampu memberi tuntunan terbaik bagi seorang pangeran yang ingin menebar kebaikan, melenyapkan penderitaan, melawan kebohongan, menerima nasihat baik, menghindari kemewahan yang berlebihan, dan membedakan yang benar dari yang salah. Kubilai terkesan dengan jawaban ini. Ketika putra kedua Kubilai lahir pada 1243, Haiyun mendapat kehormatan memberinya nama: Zhenjin, “Emas Sejati”—atau Jingim, demikian orang Mongol menyebutnya. Haiyun pula yang memperkenalkan Kubilai pada biksu lain: Liu Bingzhong, seorang pelukis, ahli kaligrafi, penyair dan matematikawan— keluaran multi bakat sebuah sekte Tao terkenal, Kesempurnaan Paling Sempurna (the Complete Perfection), yang pendapatnya selalu dimintai Jenghis selama perjalanannya ke Afghanistan. Dia kemudian beralih ke Buddhisme, tanpa meninggalkan minatnya pada Taoisme dan Konfusianisme. Jika Haiyun akhirnya kembali mengelola kuilnya di Beijing, Liu tetap jadi staf Kubilai, mengabdikan hidupnya (dalam katakata penulis biografinya, Hok-Lam Chan) “demi cita-cita mengubah institusi Mongol agar sesuai dengan prinsip Konfusian.” Penasihat ketiga, You Shu, yang pernah jadi staf Ogedei pada 1235, dikirim untuk memimpin pasukan di sepanjang perbatasan BAGIAN I: MUSIM SEMI 38 pustaka-indo.blogspot.com