The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SD NO. 1 KEROBOKAN, 2023-08-12 02:01:42

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

berukuran besar. Suku-suku di sekitar wilayah teluk Hakata dikumpulkan untuk membangun tembok pertahanan. Karena tak ada yang tahu kapan Kubilai akan menyerang lagi, mereka membangunnya dengan tergesa-gesa. Tetapi, karena tak punya tradisi kerjasama maupun tradisi pendirian bangunan besar yang akan jadi panduan, mereka membangun tembok ini sesuai pikiran masing-masing. Pantai teluk Hakata nyaris hanya berisi pasir, dilatarbelakangi bukit-bukit pasir penuh pepohonan cemara, sama sekali tak tersedia material bangunan yang layak. Padahal tembok pertahanan harus terbuat dari batu. Hasilnya, atau sebagian hasilnya, masih dapat dilihat hari ini, berupa reruntuhan yang menarik perhatian wisatawan: Genko Borui, Tembok Pertahanan Melawan Invasi Yuan. Fukuoka penuh teluk-teluk kecil di sana-sini. Tetapi ketika berdiri di pantai dan jauh dari pelabuhan, Anda dapat membayangkan diri berada di atas pelana Suenaga. Yang terlihat hanya hamparan pasir yang sama, gunung-gunung yang sama di kedua ujung daratan, bukit pasir dan cemara yang sama. Tentu saja, pasir sudah menutupi tembok ini selama berabad-abad dan batubatunya diambil untuk bangunan. Namun, dalam jarak 50 m, pasir itu telah digali, dan bagian lain dibangun ulang. Dari sini, Anda dapat melihat betapa mereka kala itu sungguh tak berpengalaman menghadapi tantangan. Setidaknya Anda dapat tahu jika Anda, seperti saya, melihatnya dengan sudut pandang arkeolog bernama Sumitaka Yanagida, sosok mirip Indiana Jones tapi bertubuh lebih kecil, dengan rambut putih yang dipermainkan angin dan rahang agak menonjol. Setelah meneliti tembok ini selama 40 tahun, dia menjadi saksi makin terkenalnya tembok ini sebagai simbol kemerdekaan dan keberanian orang Jepang. Sebagai simbol, tembok ini memang hebat; tapi yang jelas dia bukan Tembok Besar. Dibangun dengan tujuan hanya untuk memaksa kuda-kuda berbalik ke pantai, maka tingginya cukup sekitar 2 m. Lalu muncullah masalah teknik. Untuk membangun sebuah tembok batu, Anda memerlukan tukang batu, ahli batu kering dan ahli semen. Orang Jepang tak punya semua ahli ini. Selain itu, mereka tak pernah sampai pada kata sepakat tentang cetak biru yang akan dipakai dalam pembangunan. Banyak sekali batu: batu granit di ujung sini, batu pasir di ujung sana, di antaranya ada yang diangkut dari gunung, sedangkan TERBAKAR MATAHARI TERBIT 223 pustaka-indo.blogspot.com


yang lain dikumpulkan dari pantai yang tak lagi berpasir. Setiap suku menentukan sendiri panjang tembok yang mereka bangun, tergantung kemampuan dan kekayaan mereka—3 m di sini, 10 m di sana. Nampaknya, setiap suku mengumpulkan batu sendiri-sendiri, mengolahnya dan kemudian memasangnya. Puncak setiap bagian jadi kasar sekali, karena batu-batu itu cuma ditumpuk dan tak disusun selang-seling layaknya membangun tembok bata. Anda dapat membayangkan seorang kepala suku menghina dengan suara mendengus “Hati-hati, kalian tidak sedang membangun bagian mereka!” Tembok ini pasti akan roboh hanya dengan satu butir peluru ketapel Muslim. Di beberapa tempat, tembok ini menjadi tembok ganda, karena dalam usaha pertama fondasinya roboh: alih-alih membangun ulang, suku yang bertanggung jawab atas bagian tembok itu malah menumpuk batubatu lain di sebaliknya. Di satu bagian, tembok tersebut dilindungi dengan semacam panggung sebagai tempat pasukan bertahan; di bagian lain, dia punya ruang untuk lewat yang kemudian dihadang dengan tembok lain; di tempat ketiga, tembok ini tidak padat, tapi berlubang-lubang, seperti dua wajah yang ditutupi tanah. Bayangkanlah, perbedaan ini berulang kali muncul di sepanjang 20 km: bayangkan perdebatan yang terjadi seputar rancangan, teknik dan bahan yang akan dipakai—bayangkan juga rasa darurat seperti apa yang mendorong mereka mengabaikan seluruh perbedaan pendapat ini, dan dalam enam bulan mampu membangun sesuatu yang tak mungkin dilewati pasukan kavaleri dengan sekali serangan frontal. Pada akhir 1276, mereka akhirnya siap setelah menghabiskan waktu lima tahun. BAGIAN III: MUSIM GUGUR 224 pustaka-indo.blogspot.com


11 TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN SEPERTI YANG DAPAT ANDA LIHAT DARI PETA, WILAYAH NEGARA CHINA SAAT ini menutupi hampir setengah wilayah Asia. Batas bagian baratnya nyaris sama panjang dengan garis bujur batas barat India. Ini sungguh luar biasa. Batas ini jauh lebih luas dari wilayah utama China tradisional sebagaimana dipatok oleh batas utaranya, Tembok Besar pertama yang dibangun “Kaisar Pertama” di abad ke-3 SM. Ujung tembok ini terdapat di Asia Tengah; tapi batas negara China saat ini jauh lebih luas. Bagaimana negara China bisa demikian luas? Alasan mengapa China begitu luas—masalah yang jadi tema utama buku ini—adalah karena Jenghis dan Kubilai-lah yang membuatnya begitu. Hanya saja, hal ini bermuara pada masalah lain: kekaisaran Kubilai membentang melebihi batas negara China hari ini. Dari sini akan muncul pertanyaan susulan: mengapa China sekarang menjadi kecil? Mengapa wilayahnya tak menjangkau Asia Tengah? Jawabannya, Kubilai terbatasi oleh kekuatan yang dapat dia paksakan kepada saudara-saudaranya yang memiliki pikiran sendiri. Salah satu alasan mengapa hal ini terjadi yaitu: mereka sudah punya akses pada kuda-kuda, yang membuat mereka sangat susah dikuasai. Tak banyak yang dapat dilakukan menyangkut bagian-bagian terjauh dari ke - kaisarannya—Persia, Golden Horde di Rusia selatan—tapi Asia Tengah, TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN 225 pustaka-indo.blogspot.com


meski jauh dari wilayah utama China, merupakan gerbang menuju Mongolia. Dalam satu pengertian, seluruh wilayah Kazakhstan dan beberapa wilayah yang berakhiran “stan” lain sampai ke selatan adalah bagian dari warisan Jenghis, dan karena itu menjadi milik Kubilai, sehingga tetap berada di wilayah China. Tetapi di arah ini, Kubilai membentur batas. Dia sudah bergerak dari luar Tembok (Besar) ke dalam Tembok (Besar), dan sekarang tertahan oleh jarak dan oleh dirinya sendiri, atau lebih tepatnya oleh pasukannya, tak mampu menyadarkan lawan-lawannya yang berpikiran sempit. Ini semua membawa kita ke dalam babakan sejarah yang gelap— permusuhan Kubilai dengan saudara jauhnya; namun demikian, bagian ini sangat penting karena hasilnya akan menjelaskan mengapa bentuk China menjadi seperti sekarang ini. Perlawanan yang Kubilai hadapi di masa ini jadi penentu seberapa jauh dia bisa melangkah. Apa yang dia capai sudah sejauh ini, dan tak ada lagi yang mengeluarkan gagasan tentang batas China sebelah barat yang bertahan di sepanjang waktu mundur di bawah dinasti berikutnya, Dinasti Manchu, saat wilayahwilayah ini dikuasai kembali oleh orang Mongol. Gagasan ini pernah muncul lagi pada abad ke-18 dengan nama “Kerajaan Baru”—Xinjian (Sinkiang, begitulah seharusnya dilafalkan)—ketika orang Manchu kembali mengambil alih kendali dan berusaha memperluas garis batas melebihi yang dicapai Kubilai. Wilayah yang sangat luas dan beragam ini—mulai dari gurun di Uzbekistan dan padang rumput di Kazakhastan selatan sampai ke puncak pegunungan Tien Shan dan wilayah pelosok China bagian barat—tak memiliki kesatuan historis, malahan mengandung kekuatan aneh yang bisa memancarkan kesulitan. Hal ini sebagian terjadi karena wilayah ini makin lama makin menjadi “Islam,” bahkan di zaman Kubilai sekalipun; sedangkan sebagian lagi karena wilayah Islam maupun China tak mampu memperoleh kontrol penuh atasnya. Dengan alasan serupa, kesulitan ini muncul lagi hari ini, di mana penduduk Muslim ingin mendirikan negara baru yang akan menyedot seluruh warga Muslim di China barat. Kiranya kita harus melihat lebih dekat biang masalah ini dan mengapa Kubilai gagal mengatasinya. BAGIAN III: MUSIM GUGUR 226 pustaka-indo.blogspot.com


Ancaman nyata terhadap Kubilai sebenarnya terdapat di Asia Tengah—nyata karena dia datang dari keluarganya sendiri, dari keturunan pewaris takhta pilihan Jenghis, Ogedei, yang garis keturunannya disingkirkan janda Tolui yang sangat kuat, yakni ibu Kubilai, Sorkaktani, demi kepentingan putra-putranya; nyata karena dia datang dari kampung halaman Kubilai sendiri, dan karena perlawanan ini menghambat aliran barang ke barat, dari China ke India, ke dunia Islam dan Eropa. Jika per - lawanan ini dibiarkan semakin parah, Kubilai akan kehilangan sumber kekayaan yang jadi penopang kekuasaannya, dan akhirnya dia akan men - jadi lemah seperti setiap kaisar terdahulu dan kaum barbar yang tersebar di seantero Gobi. Barangkali kaisar Mongol akan jatuh kepada orang Mongol barbar, kepada sepupu jauh yang punya klaim sama baik nya— atau, yang lebih baik—dibanding klaim Kubilai sendiri atas takhta. Sepupu yang kita maksud yakni Kaidu, cucu Ogedei. Bab ini ber - tutur tentang dirinya. Kisah ini agak istimewa, karena memengaruhi sepanjang hidup Kaidu, dan sebagian besar hidup Kubilai. Selama kirakira 40 tahun, kedua rival yang tak berimbang ini terlibat dalam semacam pertandingan tinju jarak jauh—Kaidu yang peringkatnya cuma kelas ringan mengayunkan pukulan dari perbatasan utara dan barat, kadang-kadang berhasil menarik perhatian lawannya yang berada di kelas berat, yang selalu disibukkan oleh klaim-klaim lain. Kaidu memang tak pernah berharap bisa menang, namun kesuksesannya terletak dalam soal lain, soal yang juga dialami para penguasa besar lainnya: menaklukkan (jika berhasil dilakukan) sebenarnya hanyalah soal sederhana, betapa pun berat perjuangan yang harus dilalui; yang jauh lebih rumit adalah administrasi. Penaklukan menyatukan para taklukan ke dalam sebuah urusan dan pekerjaan besar; administrasi memberikan kesempatan permainan yang adil bagi setiap karakter, ambisi, pendek kata pada formasi kelompok-kelompok yang bersaing. Segalanya akan kacau balau, terutama di daerah pinggir, yang dalam kasus ini adalah sebuah wilayah berjarak 3.000 km dari pusat pemerintahan. Jarak yang ditempuh pejabat Kubilai untuk mencapai Kaidu sama dengan jarak yang ditempuh pejabat Inggris untuk mencapai Amerika pada 1780-an. Tetapi kala itu, dia tetap sampai ke sana, dan siapa yang tahu apa yang terjadi ketika itu? TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN 227 pustaka-indo.blogspot.com


* * * Lahir kira-kira di tahun 1235, Kaidu masih terlalu muda jadi sasaran pembersihan yang Mönkhe lancarkan terhadap pendukung Ogedei pada 1251. Meski begitu, dia sudah cukup besar untuk memperoleh tanah perdikannya sendiri ketika Mönkhe berdamai dengan para penyintas di tahun berikutnya. Di usia 16 tahun, Kaidu jadi tuan bagi wilayah seluas 2.000 km ke barat Karakorum, yang membentang dari Tien Shan sampai ke gurun, dan terbelah oleh lembah subur sungai Ili, salah satu rute terpenting yang menghubungkan China dengan wilayah barat. Wilayah ini, pusat geografis Asia yang terpencil dan tandus, adalah kampung halamannya, tempat dia tumbuh dewasa, jauh dari dunia Kubilai yang lebih “China”. Di sini, dia mulai membangun kekaisarannya sendiri, pendatang baru yang ingin memperoleh bagian. Mulai dari sini, cerita tentang Kaidu tak mengalir lancar, karena kita harus memahami peristiwa-peristiwa ganjil, mencari tahu dari rujukanrujukan yang tak lumrah di antara sumber-sumber yang saling berlawanan. Marco Polo menghadapi masalah serupa, dan seperti biasa dia memecahkannya dengan melaju tanpa menghiraukan sejarah dan terus mencomot kisah-kisah luar biasa. Dalam kasus ini, cara seperti itu tak jadi masalah, karena kabar burung yang dia pilih ternyata mampu menggambarkan hal penting tentang Kaidu dan alasan pemberontakannya. Marco Polo mengenang Kaidu lebih karena putrinya, Kutulun, satu lagi wanita luar biasa yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Mongol. Kutulun terkenal bukan karena kelicinannya dalam berpolitik, tetapi karena kemampuan tempur dan jiwanya yang merdeka. “Gadis ini sangat cantik,” kata Marco Polo mengawali, seolah-olah memang sedang memulai sebuah dongeng, “tapi juga sangat kuat dan pemberani, hingga di seluruh wilayah kekuasaan ayahnya, tak seorang pria pun menyamai kekuatannya… tinggi gempal berotot, sampai-sampai mirip seorang raksasa.” Kaidu sangat menyayangi anak gadisnya yang “liar” ini dan ingin menikahkannya, tapi sang anak selalu menolak dan menyatakan dia hanya bersedia dinikahi pria yang sanggup mengalahkannya dalam adu gulat. Dia mengajukan syarat: pria yang hendak menantangnya harus mempertaruhkan 100 kuda. Setelah 100 kali pertarungan gulat BAGIAN III: MUSIM GUGUR 228 pustaka-indo.blogspot.com


dan 100 kali pula dia menang, Kutulun pun mengantongi 10.000 kuda. Seperti dalam setiap dongeng, setelah itu datanglah seorang pangeran tampan, putra seorang raja kaya dan berkuasa—anehnya, ayah dan putranya ini tak diketahui namanya. Penuh percaya diri, sang pangeran mau bertaruh langsung 1.000 kuda. Kaidu, berharap memperoleh menantu kaya, memohon kepada putrinya agar mengalah saja dalam pertarungan gulat. Sang putri menolak dengan keras: andai pun dia mengalahkanku, itu harus lewat jalan yang adil dan imbang. Orang-orang pun berbondong-bondong menyaksikan pertandingan ini, dan semuanya akan berakhir antiklimaks. Mereka “saling menjepit dengan lengan masing-masing dan bergulat ke sana-sini,” tak kelihatan siapa yang dalam posisi di atas angin, sampai tiba-tiba Kutulun berhasil membanting lawannya. Merasa malu, sang pangeran langsung pulang, entah di mana istananya, dan meninggalkan 1.000 kuda taruhannya. Ayah Kutulun menelan jengkelnya karena kehilangan peluang mendapat menantu kaya, dan dia pun dengan bangga membawa putrinya dalam berbagai operasi militer. Kutulun bisa membuktikan diri sebagai prajurit gagah-berani, dan tak jarang dia menerobos ke barisan musuh, me - nangkap prajurit pria “bagaikan elang menangkap burung dan membawa prajurit itu ke depan ayahnya.” Apakah kita memercayai cerita ini? Ya, sebagian. Kutulun memang ada. Rasyiduddin pun menyebutnya; namun hanya sepintas, dan pen - jelasan tentang mengapa dia tak menikah pun sangat kabur. Menurut Rasyiduddin, keengganan Kutulun untuk menikah ini justru berasal dari ayahnya, “dan orang curiga ada semacam “hubungan” antara dia dan putrinya ini.” Sementara cerita Marco Polo justru mengingatkan kita pada dongeng lain—seperti suku Amazon atau Brünnhilde dalam Nibelungenlied—ketimbang membuat kita percaya. Yang perlu kita yakini, cerita ini memberi titik terang tentang Kaidu dan kebajikan yang dia anut: kebajikan pastoral-nomadik tradisional seperti kehormatan, keberanian, kekuatan, semangat tempur, kemerdekaan. Dia tak menyukai ilmuwan, seniman atau administrator. Seperti kata Morris Rossabi, pria seperti ini biasanya akan bertentangan dengan Kubilai. Lalu bagaimana semua ini berkaitan dengan kekaisaran pada awal 1260-an? TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN 229 pustaka-indo.blogspot.com


230 Kekaisaran Yuan, + 1279 Perbatasan Kekaisaran Yuan Operasi Militer Mongol Berdasarkan Tahun Daerah kekuasaan Kaidu pustaka-indo.blogspot.com


Sebenarnya yang ada saat itu bukan lagi sebuah kekaisaran yang bersatu, tapi sebuah medan tempur tempat anggota sebuah keluarga besar saling berperang memperebutkan warisan. Di Asia Tengah, tiga kekuatan Mongol saling berperang untuk memperbesar jatah masingmasing: Golden Horde di wilayah yang kini menjadi Rusia selatan, Ilkhan di Persia dan turunan Chaghadai di daerah antara Laut Aral dan China barat. (Sebenarnya, yang terlibat tiga setengah kekuatan: ada satu lagi, yakni White Horde, yang dikuasai oleh Golden Horde tapi ingin sekali memiliki tanah perdikan sendiri). Ke dalam kecamuk inilah Kaidu mencoba masuk, menemukan ruangnya sendiri di daerah perbatasan di mana tanah Chaghadai, Golden Horde, dan China-nya Kubilai bertemu. Seluruh kontestan ini, tentu saja, saling mengakui bahwa mereka masih satu keluarga, keluarga yang dibangun Jenghis. Tetapi, siapakah yang paling cocok memakai jubah kebesaran bapak pendiri yang agung itu? Semuanya berada dalam ketegangan antara kekuatan-kekuatan yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh setiap pihak yang mengklaim memiliki hak. Di bagian barat, Islam menarik penguasa-penguasa Mongol; sebagian menolak, sebagian menerima dan akhirnya memeluk Islam, dan para mualaf ini mulai melirik musuh lama orang Mongol, Mesir, untuk mencari dukungan. Di wilayah tengah terdapat mereka yang masih berpegang pada nilai-nilai nomadik tradisional, memandang rendah kota dan kebudayaan yang mereka perlukan sebagai sumber pendapatan. Sementara Kubilai yang berkuasa di timur, oleh sebagian kalangan dianggap sebagai pimpinan tertinggi mereka sedangkan sebagian lagi menganggapnya sebagai pengkhianat karena terlalu “China.” Kaidu—yang menurut Rasyiduddin cerdas, kompeten, dan licin— langsung bergerak memberontak. Dalam usia yang baru dua puluhan, dia mendukung Ariq melawan Kubilai, dan menolak undangan Kubilai dalam penobatannya menjadi kaisar pada 1260, dengan alasan yang sangat dicari-cari: tak cukup padang rumput untuk dilewati kudakuda nya dalam perjalanan. Tak lama kemudian, ketiga pemimpin Mongol di Asia Tengah ini wafat—Hulagu di Persia, Alghu di wilayah Chaghadai, dan Berke di Golden Horde. Kejadian ini membuat kekuasaan di seluruh wilayah Asia Tengah menjadi kosong. Kaidu TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN 231 pustaka-indo.blogspot.com


makin banyak merebut wilayah, merangsek ke barat ke arah Persia dan ke timur ke wilayah yang sekarang menjadi China. Dia mengandalkan penguasa baru Golden Horde sebagai sekutunya. Kubilai mencoba memberi perintah kepada keluarganya yang sedang bertengkar dengan mengirim seorang wakil, Baraq, yang mengatasnamakan tanah perdikan Chaghadai. Baraq dan Kaidu berperang di pinggiran Syrdar’ya. Kaidu menang telak dan kemudian menawarkan perdamaian atas nama Jenghis. Pada 1269, terjadi perundingan damai di Taraz, daerah perbatasan Kazakhstan dan Kyrgyzstan, yang dihadiri para penguasa baru di ketiga wilayah kekuasaan “bangsa” Mongol di Asia Dalam, plus wilayah keempat milik Kaidu. Tiga di antara keempat kelompok pemimpin ini—para pemimpin Golden Horde sama sekali tak berminat pada urusan-urusan lokal ini—membagi wilayah Transoxania untuk Baraq dan Kaidu, peserta perundingan paling dominan, dan bersepakat membagi perdagangan dari Samarkand dan Bukhara. Keduanya “menandatangani” perjanjian ini dengan sumpah suci yang mengukuhkan mereka sebagai anda—saudara sedarah—dan dengan “meminum emas,” seperti kata pepatah, yang berarti bertukar cangkir emas dan saling bersulang. Perhatikan apa yang terjadi. Baraq, sebenarnya adalah utusan Kubilai, dan Kaidu yang baru naik daun, sama-sama bertindak sebagai raja-raja merdeka. Tak satu pun yang melapor kembali kepada pimpinan tertingginya, Kubilai, kecuali (menurut kutipan yang meragukan dalam Yuan History) hanya mengirim pesan yang tak sopan: “Adat-istiadat lama dinasti kita tak sama dengan hukum bangsa Han. Kini, ketika Anda berada di wilayah Han, membangun pusat kekuasaan dan kotakota, mempelajari cara membaca dan menulis, dan memakai hukum bangsa Han, apakah yang akan terjadi dengan adat lama?” Dengan kata lain, keduanya menyatakan diri merdeka dari Kubilai, karena dia telah melenceng dari jalan Jenghis. Segera terbukti bahwa perdamaian antara keduanya hanya purapura. Keduanya tak saling memercayai. Keduanya sama-sama mem - persiapkan peperangan yang lebih besar. Penguasa Golden Horde, BAGIAN III: MUSIM GUGUR 232 pustaka-indo.blogspot.com


Mönkhe Temür, tetap berada di luar kecamuk ini, membiarkan tiga pihak lainnya saling berkelahi dalam lingkaran setan penyerangan, persekutuan, dan pengkhianatan yang dapat kita ringkas sebagai berikut. Abaqa, penerus Hulagu di Il-khan, berhasil mengalahkan Baraq; Kaidu mengirim pasukan guna “membantu” Baraq, padahal diam-diam dia ingin mengambil keuntungan dari kekalahan ini; Baraq tewas; panglimanya beserta 30.000 prajurit menyerah kepada Kaidu. Hasil dari perkembangan ini, pada akhir musim panas 1271, Kaidu naik takhta di Taraz, menjadi khan yang menguasai daerah sepanjang 2.500 km, mencakup wilayah yang hari ini menjadi Khazakhstan selatan, sebagian besar Uzbekistan dan hampir seluruh Kyrgyzstan. Sayangnya, saat itu wilayah ini tak punya nama: Marco Polo menyebutnya “Turki Besar”; ada pula yang menyebutnya Turkestan (terlepas dari unsur Mongolnya) atau bangsa Chaghadai, wilayah yang selalu berubah dan tak pernah persis dengan wilayah kekuasaan Kaidu. Secara garis besar, wilayah ini membentang dari Sungai Amudar’ya di barat sampai ke Xinjiang di Timur, dari Danau Balkhash di utara sampai ke Tien Shan di selatan—1,25 juta km2 , nyaris seukuran Prancis, Jerman, dan Italia yang digabung menjadi satu. Bagaimanapun, ini prestasi luar biasa. Kaidu membuktikan dirinya cukup cerdas untuk mengambil keuntungan dari kelemahan musuhnya dan pergerakan Kubilai ke wilayah utama China. Dia seorang panglima dalam tradisi Jenghis: tangguh, keras—dia tak menyentuh alkohol— toleran pada agama selain Shamanisme yang dia anut, dan juga hatihati dalam merawat basis pendapatan pajaknya, kota-kota di sepanjang Jalur Sutra semisal Samarkand dan Bukhara. Lewat seorang kanselir yang efisien, dia memperkenalkan mata uangnya sendiri (uang logam dari perak bermutu tinggi yang ditemukan di beberapa kota). Dia bahkan dianggap sebagai pendiri kota Andizhan, yang pada 1280-an menjadi titik pertemuan perdagangan di lembah Fergana yang kaya. Meskipun tradisionalis, tapi dia tetap berusaha melampaui Jenghis karena sadar akan kebutuhannya pada keterampilan administrasi. Dia membangun resimen kavaleri, menggunakan struktur komando desimal yang diperkenalkan Jenghis untuk mereformasi unit-unit pasukannya yang berasal dari prajurit-prajurit suku yang setia. Dengan cara ini, dia TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN 233 pustaka-indo.blogspot.com


mampu menggabungkan sebagian besar suku—tak jarang saling bermusuhan—Mongol dan Turki. Pasukan berkuda, selain bersenjata panah dan busur, juga menggunakan pedang dan tombak. Mereka diperkuat kesatuan infanteri dan “pelontar nafta”—tim yang ahli menggunakan trebuchet dan alat-alat pengepungan lainnya. Seberapa kuatkah pasukannya? Beberapa sumber mengatakan bahwa pasukannya mencapai 100.000 orang. Meski ini hanya sebatas perkiraan, namun jelas kekuatan ini lebih kecil dari kekuatan-kekuatan saingannya di Persia, Golden Horde, dan Kubilai di China. Namun kekurangan dalam jumlah ini mereka imbangi dengan kelebihan dari segi kualitas. Mereka sangat ampuh dalam aksi penyergapan: serbuan kilat, serangan telak, dan gerak mundur yang cekatan. Tetapi, kebangkitan ekonomi yang Kaidu alami tak berlangsung lama, dan mimpinya tentang kekaisaran yang lebih luas segera hancur berantakan. Di masa manakala Kaidu naik takhta, Kubilai melancarkan aksi yang menyeretnya bagai kerbau tercucuk hidung. Kubilai mengirim utusan yang terdiri dari enam pangeran dipimpin putra keempatnya, Nomukhan, ke Almaligh, wilayah yang sudah berada di bawah kekuasaan Kaidu, dengan tujuan membujuknya agar bersedia datang ke istana di Xanadu atau Beijing. Cara ini dianggap jitu untuk memaksa seorang sepupu kerajaan agar mau bekerjasama. Tetapi ternyata sebaliknya, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Kaidu tak mengacuhkan utusan ini, tetap menjaga pasukannya agar tak terjebak dan terus mengamankan perbatasan wilayah baratnya. Nomukhan tak punya pasukan kavaleri yang cukup untuk melakukan perlawanan—pimpinan pasukannya memberitahu dia bahwa mereka memerlukan 110.000 ekor kuda untuk memburu Kaidu. Perkembangan ini sudah sampai ke jantung masalah bagi Kubilai. China tak akan mampu menyediakan kuda sebanyak ini. Catatan Yuan menunjukkan, dari masa Ogedei hingga seterusnya, penguasa kekaisaran selalu mengumumkan peraturan tentang bagaimana kuda-kuda bisa diambil alih pemerintah.1 “Akan halnya terhadap kuda-kuda milik BAGIAN III: MUSIM GUGUR 234 1 Sechin Jagchid dan C.R. Bawden, “Some Notes on the Horse-Policy of the Yüan Dynasty”. pustaka-indo.blogspot.com


masyarakat, ditetapkanlah sistem persentase,” kata salah satu pengumuman itu. “Ketika jumlahnya mencapai 100 ekor, satu ekor akan diambil pe - merintah.” Pengumuman lain, berasal dari Kubilai pada 1293, mungkin juga dapat diterapkan untuk kesulitan Nomukhan di pertengahan tahun 1270-an: “Karena para pangeran pemberontak [yakni Kaidu dan kawan-kawan] belum lumpuh, tibalah saatnya untuk operasi militer. Kumpulkan 100.000 ekor kuda dari seluruh provinsi dan bayar dengan harga yang layak.” Maka, kuda-kuda pun mengalir dari China lewat Celah Gansu, namun China tak akan pernah mampu mengirim dalam jumlah yang cukup. Lagi pula, Nomukhan butuh waktu untuk melatih pasukannya mengendarai kuda-kuda tersebut. Sementara itu, dia juga mulai membangun sebuah istana dan mengubah dirinya menjadi satu lagi raja tambahan. Jeda ini berlangsung selama lima tahun yang sia-sia, waktu yang lebih dari cukup untuk makin mengobarkan permusuhan antar-sepupu ini. Di sini, titik pusatnya adalah Tokh-Temür, anak dari putra kesembilan Tolui, yang terkenal berkat keberanian dan keterampilannya sebagai pemanah ulung. Dia menunggang kuda abu-abu karena dia pernah mengatakan darah—hiasan dan dandanan seorang pria sejati—terwujud pada seekor kuda abu-abu. Dia juga seorang pemarah. Seperti ungkapan Rasyiduddin, “Karena keberaniannya yang luar biasa, maka isi otaknya cuma pemberontakan.” Tokh-Temür membujuk sepupu lain, putra Mönkhe, Shiregi. Menurut dia, Shiregi lebih berhak atas takhta ketimbang Kubilai. Pada suatu malam, mereka menangkap Nomukhan dan jenderal seniornya, mengirim pangeran ini sebagai tawanan ke wilayah Golden Horde sebagai upeti dan si jenderal kepada Kaidu, beserta pesan yang menyatakan, “Kita tak boleh saling curiga, melainkan harus bersatu untuk menaklukkan musuh.” Namun, sebagaimana sering terjadi dengan seorang pemarah, Tokh-Temür dan Shiregi justru menghancurkan persatuan yang mereka upayakan ini. Pasukan masing-masing berubah menjadi bandit perampok; kedua pria ini bertempur memperebutkan suksesi kekuasaan; mereka menderita banyak kekalahan; dan akhirnya terdampar ke wilayah timur ke Mongolia, di mana mereka berhasil menduduki Karakorum. Kubilai mengirim pasukan untuk menumpas mereka, dan pemberontakan ini akhirnya TANTANGAN DARI KAMPUNG HALAMAN 235 pustaka-indo.blogspot.com


bisa padam. Namun, memaksakan kehendak kepada anggota keluarganya yang tak patuh adalah tugas yang berada di luar jangkauan Kubilai. Dia sibuk mengurusi perang melawan Song, yang baru berakhir pada 1279, dan karena itu terpaksa membiarkan wilayah Kaidu tetap berada di luar kendalinya. (Lalu bagaimana nasib Nomukhan? Dia berhasil bertahan hidup dalam perjalanan panjang menuju Crimea sebagai tawanan hanya untuk mengetahui bahwa dirinya ternyata tetap berkumpul dengan para sepupunya sendiri. Mungkin karena para sepupu ini mengira dia dapat digunakan sebagai sandera, mereka menawannya selama sepuluh tahun. Ketika dia dikembalikan ke China pada 1284, dia diberi pekerjaan sebagai kepala bagian urusan daerah perbatasan utara, namun dia tak lagi menduduki posisi dalam urutan pewaris Kubilai. Dia meninggal pada tahun berikutnya.) Semua ini jadi kabar gembira bagi Kaidu. Setelah menduduki kembali Almaligh, dia leluasa melawan razia rutin di perbatasan dari Persia dan beberapa pemberontakan dari anggota keluarga Chaghadai yang tidak sepakat dengannya. Berkuasa penuh di sepanjang Jalur Sutra lama, dia sesungguhnya berkuasa di atas dasar yang goyah. Uang perak yang dia terbitkan mengguncang kestabilan ekonomi. Beberapa tahun berikutnya, strategi yang harus dia tempuh menjadi jelas. Dia harus membangun jaringan pendukung dari seluruh pinggiran kekaisaran, mencapai daerah selatan sampai ke Tibet dan pada saat yang sama ke timur sampai ke Manchuria. Dari Almaligh, dia membangun pasukan yang setia serta jalinan sekutu yang terdapat di wilayah kekaisaran China-nya Kubilai. Dengan putra Baraq, Duwa, sebagai tangan kanannya, dia berharap bisa mengajukan klaim yang lebih kokoh bahwa dialah pewaris paling sah dari kakeknya, Ogedei, pewaris yang ditunjuk langsung oleh Jenghis. Di kemudian hari, semua ini harus berakhir. Tetapi, akhir itu tak datang dalam waktu 20 tahun kemudian, tidak semasa hidup Kubilai. Namun selama sisa hidupnya, kekuasaan Kubilai di Asia Tengah hanya simbolis. BAGIAN III: MUSIM GUGUR 236 pustaka-indo.blogspot.com


12 CHINA BARU SANG KHAN KUBILAI MEWARISI KEMAMPUAN MANAJERIAL YANG LUAR BIASA. DIA BUKANLAH seorang jenius dari segi intelektual, tapi dia punya bakat yang menjadikannya salah seorang CEO terbaik sepanjang masa: dia sangat ahli dalam menilai karakter orang tanpa melibatkan prasangka pribadi; dia sangat lihai dalam mempekerjakan orang yang lebih cerdas dari dia. Seperti kakeknya, dia dengan senang hati mempekerjakan siapa pun yang berbakat. Tim penasihatnya adalah tim antar-bangsa. Pedagang Muslim dicari untuk menjadi pejabat keuangan. Dia mempekerjakan 66 orang keturunan Uighur Turki, sementara beberapa yang lain men - jadi guru pribadi para pangeran keluarga kaisar. Dan kembali seperti kakeknya, Jenghis, dia tahu benar kunci masalah-masalah keorganisasian— masalah yang muncul tiba-tiba akibat peristiwa baru yang tak terpikirkan sebelumnya—dan sekonyong-konyong mampu menemukan jalan keluar yang benar-benar ampuh. Jenghis menguasai suku-suku, meruntuhkan strukturnya dan menyatukannya kembali ke dalam sebuah bangsa, lalu mulai melakukan hal yang sama dengan kebudayaan yang beragam untuk membangun sebuah kekaisaran. Kubilai meneruskan proses ini. Misinya: menaklukkan, lalu membangun. Atas semua ini, rakyatnya belum siap sama sekali, setidaknya karena dua hal: pertama, mereka tak punya pemerintahan sebelum Jenghis; dan kedua, meski sebelumnya ada bangsa-bangsa non-China yang menaklukkan China utara, tapi tak CHINA BARU SANG KHAN 237 pustaka-indo.blogspot.com


ada yang memperoleh begitu banyak, utara dan selatan sekaligus. Dapatkah Anda sebutkan preseden historis yang menunjukkan ada bangsa dengan jumlah begitu kecil memperoleh begitu banyak dan begitu luas, dan mereka berhasil bertahan? Seperti akan kita lihat nanti, kelemahan utama Kubilai yaitu: dia tak pernah puas. Bagaimana dia bisa puas, bisa berhenti, kalau dia ingin memegang teguh misi kakeknya—memperluas batas kekaisaran lagi dan lagi, sampai dunia mengakui kemahakuasaan Mongol? Sebagai perbandingan, di kampung halamannya, dia bagaikan sebongkah batu. Dan ini pun konsekuensi dari misinya. Sadar bahwa China merupakan kunci bagi kekuasaan imperialnya, dia menginginkan China stabil dan makmur, karena negeri ini akan menjadi tumpuannya dalam menguasai dunia sebagaimana diamanatkan Langit. Demi menampilkan diri sebagai penguasa China ke depan rakyatnya, dia tak bisa membawa-bawa hak ilahiah Mongolnya. Menjadi seorang Buddhis pun belum cukup. Dia harus menjadi, atau setidaknya mengaku sebagai, seorang Konfusius. Penganut Konfusianisme selalu menghormati leluhur mereka. Inilah yang Kubilai lakukan pada 1277, kala dia memerintahkan pembangunan Kuil Leluhur Agung (Great Ancestral Temple) guna memperlihatkan kepada rakyatnya di utara maupun selatan gurun Gobi bahwa dia seorang Mongol yang baik sekaligus seorang China yang tak tercela. Menjulang tinggi di bagian tenggara kota Da-du yang baru dia bangun, delapan ruang kuil ini adalah versi lokal dari Delapan Tenda Putih (Eight White Tents) yang dibangun sebagai tempat “peristirahatan”-berjalan bagi Jenghis di Mongolia; bangunan yang berabad-abad kemudian mencapai perhentian terakhirnya, Edsen Khoroo, Halaman Yang Mulia, di selatan Dongsheng, Mongolia Dalam; pada 1950-an, tenda-tenda ini diganti dengan tempat persemayaman baru, kuil yang kini dikenal sebagai Mausoleum Jenghis Khan. Kuil Agung berkamar delapan-nya Kubilai adalah pemujaan terhadap leluhurnya; Jenghis, putra-putra Jenghis, dan para penguasa sebelum Kubilai. Jenghis pun mendapat gelar China, T’ai-tsu—yang juga diberikan secara anumerta kepada para pendiri dinasti lain: Song, Liao, Jin, dan Ming. Dengan demikian, Kubilai-lah yang mendaulat BAGIAN III: MUSIM GUGUR 238 pustaka-indo.blogspot.com


Jenghis dengan ke-China-an, dan kemudian terbangunlah kepercayaan yang saat ini beredar luas di China bahwa Jenghis “benar-benar” orang China—dan karena itu, seluruh orang Mongol dan negara Mongolia pun adalah China. Penguasaan dunia terjadi kemudian, dan China adalah batu loncatannya. Dari ambisi yang luar biasa besar ini muncul-lah hal yang tak kalah dahsyat: bukan kediktatoran yang maha kejam, tetapi kebangkitan apa-apa yang lama terkubur dalam masyarakat China selama huru-hara abad sebelumnya. Untuk masa yang singkat, sekitar dua dasawarsa, seluruh China mengalami semacam renaisans. Kubilai, sebagai orang asing, tak akan pernah diterima seratus persen; tapi bagai manapun juga dia adalah bos; dan masuk akal jika perubahan yang dia bawa memengaruhi sebagian besar orang China yang jadi rakyat nya. Bahkan, di antara mereka ada yang mengakui bahwa per - satuan di bawah kekuasaan Mongol jauh lebih baik daripada perpecahan akibat perang saudara. Barangkali di batu nisannya layak ditulis: Dia telah mencoba yang terbaik. Inilah penilaian yang bertentangan sekali dengan pendapat umum tentang kekuasaan Mongol, yang seringkali dilihat tak lain dari rangkaian penganiayaan, dan penganiayaan. Nyaris seluruh jabatan tertinggi dipegang orang Mongol. Mereka memiliki jabatan ini melampaui penduduk sebagai tuan tanah baru, elite baru, aristokrat baru. Sistem kelas baru membawa pelecehan dan penyingkiran baru: orang Mongol berada di puncak hierarki, lalu mereka yang berasal dari tanah Muslim—orang Persia, Arab, Uighur, Turki—yang cakap dalam urusan bisnis dan dagang; lalu 40 juta orang China utara; dan akhirnya, di bagian terbawa, mereka yang berasal dari negeri taklukan baru, yakni 70 juta orang China selatan, yang dengan sekali sentak berubah dari calon pewaris kebudayaan paling kaya dan maju di muka bumi menjadi orang taklukan dan pelayan. Banyak di antara mereka yang benar-benar jadi budak, dan perdagangan budak pun menjadi marak. Jika orang berdarah Mongol melakukan pembunuhan, dia dibuang; sedangkan jika orang China melakukan kejahatan yang sama, dia dihukum mati. Orang Mongol dapat memukul orang China CHINA BARU SANG KHAN 239 pustaka-indo.blogspot.com


tanpa alasan apa pun, sementara orang China tak boleh membalasnya. Orang China haram membawa senjata, berburu, ikut latihan militer, membiakkan kuda, beribadah secara berkelompok, mengadakan keramaian. Jam malam berlaku, penerangan dilarang. Sistem ujian dan tes, yang dipakai guna merekrut pegawai baru, ditiadakan. Orang Mongol mengelompokkan orang China ke dalam sepuluh tingkat, di mana sarjana Konfusius berada di tingkat sembilan, satu tingkat di bawah pelacur dan satu tingkat di atas rangking paling bawah, pengemis. Semua ini memang benar, namun ini tidak semuanya. Sarjana, aristokrat, dan pegawai hanya mewakili secuil dari keseluruhan masyarakat China. Sisanya adalah petani dan penduduk kota biasa yang meng - gantungkan hidup mereka dari pertanian, perdagangan kecil-kecilan, dan bermacam pekerjaan rendahan lain yang jadi bagian vital bagi masyarakat urban mana pun. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, dengan kota-kota yang padat, dengan segelintir elite Mongol berada di puncak kekuasaan, tak ada perubahan yang bisa mengalir dari pucuk ke akar. Bagi masyarakat awam, rutinitas kehidupan seharihari mereka nyaris tak pernah berubah… …atau, sebenarnya justru lebih baik. Stabilitas bergantung pada lebih dari jalannya kekuasaan secara kasar. Kubilai memang menjadi orang paling berkuasa di masa itu, bahkan salah seorang paling berkuasa di sepanjang waktu; namun, seperti yang nampak dari tindakan-tindakan yang dia ambil, dia tahu persis bahwa kekuasaanya hanya sebagian yang bergantung pada aliran otoritas dari atas ke bawah, dari mulutnya melalui istana, dan diteruskan kepada para pejabatnya, dan akhirnya sampai pada rakyat banyak. Kekuasaan juga bergantung pada dukungan yang mengalir dari bawah ke atas. Rakyat harus dibuat gembira dan aman. Jika tidak, kegelisahan akan merebak dan menyemburat dari bawah. China utara sedang sakit parah, baru bangkit dari perang setengah abad yang dikobarkan Jenghis pada 1211; China selatan baru saja mendidih akibat operasi militer yang dia lakukan; semua perlu penyembuhan. Dasar stabilitas ini adalah rakyat petani. Semua pihak menggantungkan kebutuhan pangan kepada mereka. Untuk merebut hati petani, Kubilai BAGIAN III: MUSIM GUGUR 240 pustaka-indo.blogspot.com


mendirikan kantor baru, Jawatan Peningkatan Pertanian, dengan delapan pejabat tinggi dan satu tim ahli pengatur bantuan, membangun 58 lumbung yang dapat menampung 9.000 ton gabah, mengatur pengurangan pajak dan melarang orang Mongol “merumputkan” hewan ternak mereka yang kelaparan ke lahan pertanian. Dewan-dewan lokal, yang mengepalai 50 rumah tangga, membantu produksi dan irigasi— bahkan mendirikan sekolah, gagasan yang terlalu revolusioner untuk diharapkan berhasil, namun sudah lebih dari cukup untuk memperlihatkan bahwa sang kaisar bukan seorang nomad barbar. Pajak tak lagi mengalir kepada pemilik lahan, tetapi kepada pemerintah, yang kemudian membagi pendapatan antara dia dan pemilik lahan. Petani memang masih membayar, tapi setidaknya Kubilai mencoba memperkecil kesewenang-wenangan. Dia juga memerintahkan agar kerja paksa, yang tetap perlu untuk proyek publik dengan skala besar seperti kanal atau sistem pos, tidak terlalu dipaksakan dibanding sebelumnya. Sekarang, mari kita lihat bagaimana Kubilai memerintah. Dia mengawali semuanya dengan baik, di bawah panduan penasihat Jenghis berkebangsaan Khitan, Yeh-lü Chu-tsai, yang berhasil membangun birokrasi yang layak, terlepas dari ketidaksetujuan sebagian pihak tradisionalis berbajuhangat-dari-bulu-domba. Masalahnya, Kubilai menghadapi persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana menggabungkan wilayah stepa dengan kota dan tanah pertanian, nomadisme dengan kebudayaan menetap, yang sedikit dengan yang banyak. Dia tak bisa begitu saja menampik yang satu (karena dari sinilah dia memperoleh nilai-nilai utama yang dianutnya) dan menerima yang lain. Selain itu, dia juga harus mempertimbangkan rakyatnya yang Muslim, unsur penting dalam kekaisarannya: saudaranya, Hulagu, memerintah wilayah Islam yang cukup luas, dan orang Muslim sangat penting sebagai gubernur, pemungut pajak, penasihat keuangan, dan mitra usaha. Menanggapi tantangan yang beragam ini, dia menyelesaikannya sambil jalan, kadang kala solusi yang dia perlukan sudah dipraktikkan dinasti-dinasti terdahulu, kadang-kadang solusi itu murni ciptaannya sendiri. Dalam rentang waktu 30 tahun, dia menciptakan bentuk pemerintahan yang benarbenar China, namun uniknya juga sangat kompleks dan kosmopolit. CHINA BARU SANG KHAN 241 pustaka-indo.blogspot.com


Dia punya satu keuntungan terbesar: dia tak terikat dengan pendahulu. Kaisar-kaisar sebelumnya memerintah lewat lembagalembaga eksekutif. Kubilai memandang cara ini sama saja dengan meminta resep kehancuran. Dia hanya punya satu lembaga eksekutif, Sekretariat Pusat, di sini dia menduduki posisi puncak, lalu di bawahnya terdapat kanselir utama (biasanya dua atau tiga orang, dan kadang sampai lima orang), kanselir rahasia, para asisten—sekitar 200 pegawai tinggi dan ratusan staf administrasi, dalam 18 level. Status mereka masing-masing ditentukan berdasarkan hak, gelar, gaji, dan tunjangan.1 Sekretariat Pusat mengendalikan enam kementerian: Personel, Pendapatan, Peribadatan, Perang, Hukuman, dan Pekerjaan Umum, masing-masing memiliki lusinan departemen. Kementerian Pekerjaan Umum, misalnya, memiliki 53 departemen, termasuk bagian yang mengurusi ikon-ikon Buddha, peleburan besi, pengecoran perunggu, pengolahan batu mulia dan permata, pertukangan batu dan kayu, pengecatan, penenunan, pencelupan benang, karpet, tenda, pembakaran tembikar dan pengolahan kulit. Yang bertugas memeriksa seluruh kementerian berikut departemennya adalah Badan Pemeriksa, semacam Badan Audit Nasional, dengan tiga kantor pusat tingkat nasional. Yang sama sekali terpisah dari administrasi sipil adalah Biro Urusan Militer, di mana Kementerian Perang adalah satu-satunya penghubung dengan pelayan publik. Biro ini didirikan Kubilai setelah pemberontakan Li Tan pada 1262 sebagai jaminan kekuasaannya. Biro ini adalah jantung kekuasaan Mongol, sangat rahasia, hanya terdiri dari para staf berkebangsaan Mongol, dan tak satu pun orang China terlibat—demi menutup akses mereka ke dalam informasi ihwal kekuatan, posisi, dan persenjataan angkatan perang. Biro ini mengendalikan seluruh angkatan perang, termasuk mengangkat pegawai, melatih satu-satuan berbangsa China dan Asia Tengah, mencatat dan melaksanakan sendiri prosedur audit internalnya. Mungkin inilah prestasi paling besar kejeniusan Kubilai dalam bidang pemerintahan. Jenghis mendirikan sistem nonkesukuan berkat kesetiaan bawahan terhadap pribadinya. Dan, Kubilai BAGIAN III: MUSIM GUGUR 242 1 Sebagian besar bagian ini bersumber dari buku F.W. Mote, Imperial China 900- 1800. pustaka-indo.blogspot.com


sangat sadar bahwa prestasi besar yang dia peroleh tak bergantung pada dirinya sendiri. Seluruh bawahannya—sebagian besar pasukan bersenjata pena, bukan para jenderal—harus dibuat setia kepada satu entitas yang berbeda: bukan kepada kaisar yang-sekarang-ada-tapibesok-mangkat, melainkan kepada negara. Lalu, posisi berikutnya ditempati istana. Pegawai khusus mengurusi ritual, protokoler, dapur, lumbung, gudang, pakaian, dan bahan pangan. Tim seniman memasok emas, perak, keramik, permata, dan tekstil. Ada pula departemen yang mengurusi perlengkapan berburu dan pembiakan kuda. Semua ini bagai kan sebuah dunia yang punya pelayan, manajer, ahli hiburan, sejarawan, penerjemah, penafsir, astronomer, tabib, pustakawan, penjaga kuil, musisi, dan arsiteknya sendiri. Lembaga-lembaga lain tidak berada di bawah kendali langsung badan-badan di atas. Tiga akademi dikhususkan untuk melakukan kajian ke-Mongol-an; Biro Astronomi Muslim menyediakan fasilitas penelitian khusus bagi warga Muslim; Komisi Urusan Tibet dan Buddha—yang jadi kerajaan pribadi Phags-pa—berfungsi semacam pemerintahan Tibet jarak jauh, yang mengawasi Biro Penaklukan di Tibet dan kepentingan pemeluk Buddha di seluruh China: kuil, biara, dan properti lainnya. Salah satu tugas Biro Urusan Militer adalah menangani peralihan dari proses penaklukan militer menjadi administrasi pemerintahan militer permanen. Gejolak peralihan terbukti akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Di bawah kekuasaan Jenghis, sistem Mongol merekrut seluruh anggota keluarga ke dalam mesin militernya. Keluarga tak hanya diberi imbalan berupa gaji (konsep seperti ini belum pernah berlaku di masa-masa awal kekaisaran). Imbalan pertama dan utama bagi keluarga adalah rampasan perang. Lalu, ketika suatu wilayah berhasil ditaklukkan, menyusul pula imbalan tanah. Barangkali, inilah cara komandan perang yang berjumlah “ratusan” atau bahkan “ribuan” menyemangati pasukan mereka. Selain itu berlaku pula sistem pemberian tanah perdikan kepada para pangeran dan komandan pasukan. Tetapi, berhubung yang akan diurus adalah sebuah kekaisaran, sistem tanah perdikan ini tak bekerja dengan baik. Hanya sedikit orang Mongol yang berambisi atau berbakat mengurusi tanah perdikan. Sebagian besar CHINA BARU SANG KHAN 243 pustaka-indo.blogspot.com


mereka jadi tuan tanah yang tak berada di tempat, menyerahkan pengurusan tanah perdikan kepada bawahan yang tak lebih dari para budak yang menunaikan tugas dengan setengah hati. Sistem ini keropos sejak awal, serta akhirnya membuat tanah-tanah perdikan terbengkalai dan rakyatnya jatuh melarat. Kubilai akhirnya menghentikan sistem imbalan tanah perdikan ini. Tuan-tuan tanah Mongol pun menjual lahan mereka, dan kemudian terkatung-katung saat berada di luar sistem ketentaraan—tak punya keterampilan, pendidikan, dan tempat kembali ke kampung halaman—tapi masih dianggap bagian dari kelompok elite. Dalam lingkaran kekaisaran, mereka tak ubahnya orang kulit putih miskin di wilayah Amerika bagian selatan. Di masa selanjutnya, keadaan ini menjadi bagian dari penyakit kronis yang menggerogoti kekuasaan para penerus Kubilai. Provinsi-provinsi adalah hasil kreasi Kubilai yang lain. Ketika gelombang penaklukan bangsa Mongol mengalir ke luar, wilayah taklukan baru diberi semacam Sekretariat Pusat sendiri, dan ini berfungsi sebagai cabang pemerintahan pusat di sebelas provinsi dan kemudian juga memperoleh cabang-cabang departemen seperti yang ada di pusat. Sistem ini bukanlah pemerintahan provinsial—Kubilai ingin seluruh pegawai pemerintahannya diatur dari pusat agar daerah tak membangun kekaisaran sendiri—tapi menjadi inti sistem administrasi provinsial yang dipakai secara bergantian oleh Dinasti Qing dan kemudian oleh Pemerintahan Komunis pada 1949. Provinsi Yunnan, Shaanxi, Sichuan, dan Gansu tercipta berkat Kubilai. Administrasi pemerintahan menyentuh hingga ke akar terbawah. Setiap provinsi dibagi menjadi beberapa prefek, beberapa sub-prefek, dan beberapa kabupaten. Setiap kabupaten dibagi menjadi dua kelas bergantung pada luasnya, masing-masing memiliki hierarki pegawainya sendiri, dari 3A untuk prefek terluas (sekitar 100.000 rumah tangga) sampai 7B untuk kabupaten terkecil (di bawah 10.000 rumah tangga). Sebagai seorang CEO, Kubilai terikat dengan semacam perusahaan bernama “PT Mongolia” yang bergerak di atas roda perdagangan. Perajin dan tukang dianakemaskan dengan jatah makanan, pakaian dan BAGIAN III: MUSIM GUGUR 244 pustaka-indo.blogspot.com


garam, serta bebas dari kerja paksa. Saudagar, sebelumnya dilihat sebagai benalu, sekarang malah didukung. Perdagangan, terutama dengan dunia Muslim, mengalami booming. Tekstil China, keramik dan pernis mengalir deras keluar lewat pelabuhan; obat-obatan, bahan pewangi, rempah-rempah dan karpet mengalir masuk. Dalam hal tertentu, Kubilai juga merupakan patron seni ideal. Dia tak pernah bersikap merasa paling tahu dan ahli, namun dia sangat tahu bahwa seni sangat penting. Dan demi mengambil hati rakyatnya, dia mendukung seniman tanpa membedakan ras maupun kredo mereka. Dengan sendirinya dia jadi kekuatan perubahan. Masih ingat arsitek berkebangsaan Nepal bernama Arniko, teman Phags-pa dan perancang Pagoda Putih? Dia membuktikan puncak perubahan itu ketika dia jadi pimpinan seniman di seluruh wilayah kekaisaran: dianugerahi tempat tinggal mewah dan dinikahkan dengan gadis kaya raya hasil carian istri Kubilai, Chabi. Alhasil, beberapa bangunan Dinasti Yuan memiliki arsitektur Tibet dan Nepal. Atau, ambillah keramik sebagai misal, barang yang membuat China amat terkenal, yang punya sepuluh tempat pembakaran keramik utama di daerah utara dan empat belas di selatan. Perang menghancurkan sebagian besar produksi keramik di utara, dan ketika merebut kekuasaan Kubilai sama sekali tak tertarik dengan barang pecah belah. Anda pasti mengira bahwa ketidakpedulian ini akan mengganggu perdagangan secara keseluruhan. Yang terjadi justru sebaliknya. Pembakaran di daerah selatan terus mengisi kereta-kereta barang yang bergerak ke pelabuhan besar di Quanzhou, tempat yang disebut Marco Polo dengan nama Arabnya, Zayton. Pelabuhan ini, kata Polo, … sering disinggahi kapal dari India (maksudnya Asia) yang mengirim rempah-rempah dan barang-barang lain yang bernilai tinggi. Dia juga merupakan pelabuhan yang sering dikunjungi para saudagar Manzi (China selatan), karena ke sinilah diimpor begitu banyak barang dan batu-batu mulia, dan dari sini para saudagar itu menyebarkannya ke seluruh wilayah Manzi. Dan saya dapat katakan kepada Anda, kalau Anda pernah melihat lada sebanyak satu kapal penuh yang berangkat ke Aleksandria atau tempat lain dan kemudian CHINA BARU SANG KHAN 245 pustaka-indo.blogspot.com


menuju wilayah Kristen, maka di pelabuhan ini lada yang ada seratus kali lebih banyak, bahkan lebih dari itu. Sebagai tukaran bagi barang-barang impor ini, keramik mengalir ke luar kepada pemilik kapal-kapal yang berasal dari Asia Tenggara, India dan dunia Islam—harap dicatat, separuh wilayah ini dikuasai bangsa Mongol, yang dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan rakyatnya yang berselera tinggi. Sebenarnya, Quanzhou/Zayton, pelabuhan ekspor paling besar, berada di bawah kendali para saudagar Persia. Dengan dukungan Kubilai, pembakaran keramik di selatan fokus pada produksi untuk ekspor dan eksperimen untuk memenuhi selera konsumen, yaitu kualitas tinggi. Hasilnya, seperti kata seorang ahli, Margaret Medley, “Dinasti Yuan menandai dimulainya peralihan perabotan dari batu, yaitu perabotan yang dipanggang dengan suhu tinggi dan bahan aslinya beraneka warna menjadi porselen putih yang halus, keras, mengkilat, dan bening; barang-barang yang sekarang langsung kita hubungkan dengan nama China.” Tak hanya itu, masih ada revolusi lain. Di Timur Tengah, kobalt, unsur logam yang sangat jarang, sejak lama dipakai sebagai bahan pewarna patung atau manikmanik. Kemudian ada yang membawa bahan ini kepada ahli pembuat keramik di China untuk mengetahui apa yang mampu mereka lakukan dengannya. Mereka berhasil mengolahnya: keramik biru kobalt menjadi sangat terkenal, ekspornya meledak, dan pajak—atas pembakaran, perajin dan produksi—mengalir ke pundi-pundi Kubilai. Agak ironis memang: ketidakacuhan Kubilai sendirilah yang justru membuat kreasi teknik dan produk—perabotan putih dari Fujian, keramik hijau keabuabuan dari Zhejiang, kaca biru—menjadi penopang ekonominya, dan para kolektor modern rela membayar ribuan dolar untuk salah satu sampelnya. Bekerjasama untuk memanfaatkan kekayaan mereka, para saudagar pun menjadi bankir, meminjamkan uang dengan bunga 36% setahun. Mereka menjalin kemitraan dengan pemerintahan Kubilai: hukum mewajibkan saudagar menukar uang logam mereka dengan mata uang kertas saat sampai di gerbang perbatasan, membuat pemerintah punya cadangan uang logam yang dapat digunakan lagi sebagai pinjaman BAGIAN III: MUSIM GUGUR 246 pustaka-indo.blogspot.com


dengan bunga 10% setahun kepada kelompok saudagar, yang akhirnya menjadi lintah darat yang dibenarkan pemerintah. Dari perdagangan, semua pihak mendapat keuntungan. Apakah petani juga? Ya! Mengapa tidak? Kubilai, dengan arahan penasihat keuangannya, berpendapat bahwa kekayaan saudagar diwujudkan menjadi kekayaan pemerintah untuk membiayai proyek-proyek umum, dan pendapatan pajak dapat diberikan kepada yang membutuhkan. Biasanya, jika petani terlilit utang kepada lintah darat, itu murni kesalahan mereka sendiri. Pemerintah tak bertanggung jawab atas bankir-saudagar yang mengirim juru sita dan penagih untuk memborgol petani lantaran tak mampu membayar cicilan bulanan mereka. Semua pihak akan diuntungkan. Dan ini merupakan sistem ekonomi trickle-down yang muncul sebelum waktunya. Prestasi terbesar Kubilai di bidang ekonomi adalah memperluas pemakaian uang kertas. Uang kertas merupakan kreasi besar untuk mengatasi masalah-masalah praktis. Kreasi ini diciptakan orang China kira-kira 300 tahun sebelumnya, kala Song menyatukan seluruh negeri dan merevolusinya dengan booming ekonomi. Sebagaimana kita lihat pada Bab 3, persatuan, kesejahteraan, dan stabilitas membuka jalan bagi mata uang tunggal berdasarkan koin perunggu. Cara ini tidak praktis karena harus disusun dalam untaian sebanyak 1.000 koin. Karena para saudagar kaya dengan bisnis sangat besar tak suka mem - bawa uang kontan yang berat seperti itu, pemerintah lokal mengeluarkan semacam sertifikat deposit—juga disebut “uang terbang”—yang dapat diuangkan di kota lain. Unsur ini sudah dipakai selama berabad-abad; surat berharga (secara tradisional tahun penemuannya adalah 105 M) terbuat dari kulit pohon murbei yang dipukul-pukul, dan dicetak dengan balok kayu yang dicukil (berasal dari abad ke-8, dari Jepang). Pada 1023, negara mencetak uang kertas pertama, tanpa mempersoalkan masalah ilmu ekonomi paling dasar. Satu kebenaran yang tak terelakkan sehubungan dengan uang kertas yaitu: harganya tak ditentukan oleh bahan kertas tempat nominalnya diterakan. Di sini yang berlaku adalah kepercayaan, berdasarkan apa yang menopang uang kertas itu— ekonomi secara keseluruhan, atau emas, atau dalam kasus ini, uang logam. Di awal abad ke-12, jumlah yang beredar sebanyak 70 juta CHINA BARU SANG KHAN 247 pustaka-indo.blogspot.com


“untaian” kertas. Jumlah ini jauh lebih besar daripada yang sanggup ditopang oleh koin yang ada. Keadaan ini akhirnya berujung pada inflasi pertama dalam sejarah. Persoalan lain adalah pemalsuan, namun dapat diatasi dengan membuat rancangan dan desain rumit yang hanya bisa dicetak oleh lembaga berwenang—dan tentu saja dengan menghukum mati pemalsu yang tertangkap. Berkat nasihat yang tepat, Kubilai berhasil mengatasi kedua masalah di bidang ekonomi ini dengan cara-cara yang pasti akan membuat seorang menteri keuangan di zaman modern terkagum-kagum. Empat pilar ekonomi—negara kesatuan, stabilitas dalam negeri, tingkat kepercayaan yang tinggi, dan pertumbuhan yang bagus—memungkinkan sistem uang kertas berjalan jauh lebih efektif dibandingkan dengan era Song. Dia menerapkan tiga sistem. Satu sistem ditopang dengan cadangan sutra, sedangkan dua sistem lagi dengan cadangan perak, dan yang terakhir inilah yang diterapkan secara universal sehingga membuat Marco Polo terkagum-kagum. Bagi Kubilai, apa yang terjadi masih aneh; orang menganggap bernilai lembaran yang berasal dari kulit pohon murbei yang dikeraskan. Karena itu, dia menyelidikinya lebih jauh. Dia menggambarkan proses pembuatan kertas, pembuatannya menjadi uang, dan pemakaian stempel merah terang, dan bagaimana barang ini beredar. “Setiap orang sudah mengenal barang ini, karena ke mana pun kita pergi di wilayah kekuasaan Khan yang Agung, kita bakal menemukan uang kertas ini dan dapat memakainya sebagai alat tukar dalam jual-beli seakan-akan kertas-kertas ini adalah koin dari emas murni.” Kubilai biasanya menggunakan uang versinya sendiri untuk membeli barang-barang dari pedagang luar negeri. “Dia membeli begitu banyak barang berharga setiap tahun sehingga harta kekayaannya tak terhitung, sementara uang yang dia habiskan setiap waktu sama sekali tak mengurangi kekayaannya… Mungkin Anda bisa katakan bahwa dia punya Rahasia Alkemi yang sangat sempurna.” Marco Polo tak mengerti bagaimana Kubilai menciptakan kekayaan dari kertas. Dalam satu pengertian, dengan menghindari apa saja yang tak berfungsi dan melakukan apa yang bisa berfungsi dengan baik, Kubilai nyaris secara tak sengaja menerapkan prinsip ekonomi John Maynard Keynes, yang menyatakan bahwa pemerintah dapat menstimulasi BAGIAN III: MUSIM GUGUR 248 pustaka-indo.blogspot.com


ekonomi dengan meminjam modal dari dirinya sendiri dan menginvestasikan modal sendiri itu untuk menciptakan surplus yang kemudian memungkinkan dia membayar utang kepada dirinya sendiri. Tak ada yang lebih canggih daripada sistem peminjaman yang memang diperlukan China di abad ke-13. Sudah cukuplah kaisar memastikan terjaganya stabilitas dalam negeri dan merawat kepercayaan terhadap mata uangnya sendiri. Ini dia lakukan dengan selalu mengizinkan perdagangan bebas sesuai dengan cadangan perak, dan bukan dengan melakukan kesalahan yang pernah diperbuat Song: mencetak terlalu banyak uang, sehingga menimbulkan inflasi. Ini trik yang sangat rapi, yang tak mampu disamai dinasti-dinasti berikutnya (dan sebagian besar pemerintahan modern). Tak lama setelah kejatuhan Dinasti Yuan pada 1268, uang kertas lenyap dari peredaran lebih-kurang 400 tahun. Dimensi lain revolusi Kubilai yakni sistem hukum baru.2 Karena dia berasal dari luar China, seluruh undang-undang sebelumnya, yang lahir dari tradisi hukum yang telah berusia 2.000 tahun, dibatalkan dan tak berlaku kecuali dinyatakan sebaliknya. Sistem hukum Jenghis, daftar peraturan yang dicatat saudara angkatnya, Shigi, ternyata tak memadai untuk mengatur masyarakat yang begitu besar dan luas seperti masyarakat China. Para penasihat pun segera melakukan perombakan, mereka menggabungkan kedua sistem yang ada. Tak ada keterangan pasti tentang bagaimana mereka melakukan hal ini, karena yang tersisa sampai kepada kita hanyalah penggalan-penggalan teks. Namun, seperti kata seorang ahli hukum dalam catatan hariannya di tahun 1266, setidaknya perlu waktu 30 tahun sebelum prosedur, ketetapan, dan preseden hukum bisa terlahir. Bahkan setelah itu, tak ada kesatuan perundang-undangan yang berlaku setara kepada orang Mongol, Muslim, dan China. Draf rancangan undang-undang datang dan pergi. Sementara itu, keadilan dalam kehidupan sehari-hari dilandaskan pada Lima Hukuman, sebagaimana berlaku selama 700 tahun sejarah China: hukum gantung/pancung; pengasingan dalam tiga macam jarak—1.000 km, 1.250 km, atau 1.500 km—sesuai CHINA BARU SANG KHAN 249 2 Bagian ini didasarkan pada buku Paul Heng-chao Chen, Chinese Legal Tradition Under the Mongols. pustaka-indo.blogspot.com


tingkat tindakan kejahatan; kerja paksa sampai tiga tahun; hukum pukul dengan pentungan keras, 60-100 pukulan; dan hukuman dengan tongkat kecil, 10-50 pukulan. Di bawah kepemimpinan Kubilai, terjadi beberapa penyesuaian. Para pejabat kekhanan meragukan hukum gantung, karena tak ada darah yang tepercik dan, menurut tradisi Mongol, hukum ini hanya ditujukan bagi pelaku kejahatan berdarah biru. Untuk kejahatan paling berat—pengkhianatan—Kubilai tetap mempertahankan preseden hukum sebelumnya: hukuman mati dengan sayatan kecil-kecil, yang jadi asal konsep sadistik “kematian dengan seribu sayatan.” Pada kenyataannya, sayatan itu tak sampai seribu, tapi dimulai dengan delapan sayatan—wajah, tangan (2), kaki (2), dada, perut, kepala—lalu diperbanyak dalam tahap selanjutnya—24, 36, 120— bergantung pada rasa sakit yang ingin diberikan. Pengasingan atau pengusiran tak dianggap sebagai sanksi yang layak. Seorang nomad memang tak punya tempat bermukim yang tetap, dan karena itu pengusiran ke tempat lain sama sekali bukanlah hukuman berat. Maka, hukum buang pun diganti dengan kerja paksa di pertambangan garam atau besi atau di kubu militer di daerah pelosok serta ditambah hukum pukul dengan tongkat, mulai dari hukuman satu tahun kerja paksa ditambah 67 pukulan hingga tiga tahun kerja paksa ditambah 107 pukulan. Hukum pukulan terbagi menjadi enam tingkat pukulan ringan (7, 17, 27, 37, 47, dan 57) dan lima tingkat pukulan berat (67-107). “Sebagian besar terpidana,” kata Marco Polo, “tewas dalam pukulan berat ini.” Hukuman-hukuman ini kedengaran sangat mengerikan, namun sebenarnya hukum Yuan jadi istimewa karena kelonggarannya. Hukum Song mencatat 293 pelanggaran yang dapat diancam hukuman mati, sedangkan hukum Yuan hanya 135. Keadaan ini berlawanan dengan pandangan umum bahwa orang Mongol pastilah selalu menerapkan segala bentuk kekejaman kepada pelaku kejahatan. Bahkan, dinasti penerus Yuan, Dinasti Ming, kembali memperbanyak daftar tadi, salah satu bentuk pernyataan resmi tentang kelemahan Kubilai. Selain itu, jumlah eksekusi hukuman mati sangat rendah. Antara tahun 1260 dan 1307, terdapat 2.743 pelaku kejahatan yang dihukum mati (minus sembilan tahun yang tak tercatat). Dengan kata lain, rata-rata 72 BAGIAN III: MUSIM GUGUR 250 pustaka-indo.blogspot.com


hukuman mati per tahun dari total populasi 100 juta orang. Ini sama dengan setengah dari hukuman mati yang dilaksanakan Amerika Serikat pada 1930 saat jumlah penduduknya sama. Sejak saat itu, barulah sikap Amerika Serikat mengalami perubahan. Jumlah terpidana mati di Amerika Serikat pada 2002-2004 sekitar 60 orang per tahun, dan ketika dilihat dari segi jumlah total populasi, angka ini setengah dari angka yang muncul di zaman pemerintahan Kubilai Khan. Jadi, memang ada hal-ihwal yang berubah karena waktu. Seorang pelaku kejahatan juga diperintahkan membayar semacam ganti rugi kepada korban. Praktik ini berasal dari tradisi Mongol yang mengharuskan Anda membayar dalam jumlah tertentu agar terbebas dari kesulitan. Dalam hukum Mongol, misalnya, salah satu undangundang menyatakan bahwa dalam kasus pembunuhan, pelaku dapat terhindar dari hukuman mati “dengan membayar denda sebagai berikut: jika korbannya orang Muslim—40 koin emas; orang China—seekor keledai.” Di masa Kubilai, ada pembunuhan yang hanya dituntut denda, dengan catatan korbannya pria berusia di atas 70 tahun atau anak-anak di bawah usia 15 tahun (kecuali pemerkosaan terhadap gadis berusia 10 tahun atau kurang). Namun dalam sebagian besar kasus, hukuman dan denda digabungkan. Jika seorang pria memukul saudari iparnya sampai mati, misalnya, dia dihukum 107 pukulan dengan pentungan besar dan harus membayar biaya pemakaman korbannya. Biasanya, menurut tradisi, pejabat kekaisaran kebal hukum. Tetapi kebiasaan ini tak berlaku di masa Kubilai. “Siapa pun pejabat kekaisaran yang mencoba memerkosa istri bawahannya akan dihukum dengan 107 pukulan dengan pentungan berat dan dipecat dari dinas kepegawaiannya.” Dari segi lain, Kubilai lebih mengutamakan kemurahhatian. Pelaku kejahatan juga mendapat pengawasan ketat. Untuk pertama kalinya, menyangkut kasus perampokan dengan penganiayaan, individu pelaku dihukum dan juga ditato di lengan kanannya dengan kata-kata “pernah merampok atau mencuri” serta diperintahkan melapor ke pejabat setempat setiap kali dia ingin bepergian atau bertugas sebagai pembantu CHINA BARU SANG KHAN 251 pustaka-indo.blogspot.com


polisi selama lima tahun: sebuah gabungan hukuman dan pelayanan komunitas, diskriminasi dan pengawasan, yang sesungguhnya dapat memperkuat ikatan sosial masyarakat. Bagaimana pria paling berkuasa di muka bumi ini, pucuk pimpinan rezim yang terkenal karena hukum tangan besinya, bisa menjalankan pemerintahan yang relatif lunak seperti ini? Karena rakyatnya mau melaksanakan yang dia katakan, dan Kubilai tahu benar bahwa keadilan adalah keadilan, dan hukum yang kejam hanyalah hal yang kontraproduktif. Pada 1287, sekitar 190 orang dijatuhi hukuman mati. Kubilai memerintahkan penangguhan hukuman. “Para tahanan ini bukan gerombolan domba. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba dieksekusi begitu saja? Lebih baik mereka dijadikan budak atau diperintahkan mengumpulkan emas dengan ayakan.” Itulah ucapan pria yang tahu benar cara memperoleh yang terbaik dari apa yang dia miliki. Begitulah Kubilai. Seorang penakluk yang berambisi memperluas kekaisarannya lagi dan lagi, yang bala tentaranya bertanggung jawab atas kematian jutaan orang China, ternyata masih bisa menjadi pria yang tak seluruh gagasan dan tindakannya jahat dan buruk. Bahkan, dilihat dari sudut pandang orang China sekalipun, dia tetap memiliki kebajikan tertentu. Bagi orang China yang punya kebebasan memilih, dan jumlahnya memang tak banyak, hal ini menjadi masalah, masalah klasik yang dihadapi setiap peduduk taklukan: apakah melawan penjajah sampai mati, seperti ratusan orang China yang bunuh diri yang diketahui atau tidak, ataukah melakukan ketidaksetiaan—cap yang membuat orang tertuduh jadi semacam kambing hitam—menerima, berlutut, bekerjasama, dibiarkan hidup dan akhirnya makmur? Tentu saja, masalah ini tak dapat diselesaikan dengan gampang. Dan perjalanan waktu ternyata sangat membantu. Keteguhan sikap hari ini akan terlihat sebagai sikap keras kepala yang bodoh di hari esok; ketidaksetiaan tahun ini akan menjadi pilihan cerdas di tahun berikutnya. Tetapi yang jelas, tak ada jalan keluar yang abadi. Meskipun Kubilai menyatakan telah mendirikan sebuah dinasti China, meskipun China telah menerima dan masih menerima kenyataan itu, namun BAGIAN III: MUSIM GUGUR 252 pustaka-indo.blogspot.com


penaklukan telah membawa virus kebencian yang pada akhirnya akan menjangkiti dan meruntuhkan para pewaris Kubilai yang tak cakap. Mari kita lihat bagaimana seorang pria yang berjuang melewati dilema moral ini. Pria ini bukanlah orang kebanyakan, melainkan seorang pelukis ulung, bahkan ada yang mengatakan dia pelukis jenius. Masalahnya, siapakah yang tak akan jadi orang kebanyakan saat memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan? Namanya Zhao Mengfu (Chao Meng-fu dalam transliterasi lama). Zhao, seorang kerabat jauh dari keluarga kerajaan Song, mengawali kariernya sebagai pejabat rendahan saat berusia 25 tahun, ketika dunianya luluh lantak akibat invasi Mongol. Seperti kebanyakan pegawai merangkap ilmuwan lainnya, dia dibuat ngeri oleh rezim baru dengan segala kekasarannya, dengan struktur kelas baru yang memposisikan orang selatan di tingkat paling bawah, dan oleh ketidakberdayaan mereka. Tanpa tes yang ditawarkan kepada orang terdidik untuk meraih peluang karier, mereka tak punya harapan. Dia menjadi salah seorang yi-min, “sisa-sisa”, kaum penolak, yang tak mau berkolaborasi. Dia pun mengungsi ke kota kelahirannya, lalu ke Wuxing, yang sekarang bernama Huzhou, yang sampai sekarang terkenal dengan keindahan alam perdesaannya—danau Taihu yang sangat luas di sebelah utara, hutan bambu di pegunungan Tianmu di barat. Selama menyendiri di tempat pengungsian ini, di Paviliun Camar Laut, dia menenggelamkan diri dengan kajian-kajian klasik, dan akhirnya menemukan bakat terpendamnya. Dan dia tidak sendiri. Danau Wuxing dan pegunungan yang hijau menginsiprasi sekumpulan master, yang dikenal dengan sebutan “Delapan Bakat dari Wuxing.” Selama tujuh tahun berikutnya, dia terkenal sebagai master dalam tiga bidang, seni lukis, kaligrafi, dan puisi (di kemudian hari, banyak yang menganggap dialah master ter - akhir yang menguasai ketiga bidang ini sekaligus). Pada 1286, seorang utusan kekaisaran tiba di Wuxing, mencari bakat-bakat terpendam atas nama Kubilai. Dia mendengar nama Delapan Bakat ini, mencari mereka, dan menawari mereka pekerjaan dalam melayani kekaisaran. Zhao menerima tawaran ini. Satu keterangan menyebutkan, dia menerima tawaran ini berkat bujukan ibunya, yang berambisi agar CHINA BARU SANG KHAN 253 pustaka-indo.blogspot.com


putranya memperoleh jabatan tinggi selagi masih muda. Orang-orang yang menolak tawaran ini lalu berbalik menentang dia—menilainya sebagai keturunan kaisar Song yang pertama kali melayani orang Mongol—dan sejak saat itu cap pengkhianat ditempelkan kepadanya. Penerimaan tawaran ini bukan keputusan yang mudah, dan tak ada jalan untuk menghindar. Zhao mendapat karier cemerlang di pemerintahan—sebagai pejabat di Kementerian Perang dan administrator provinsial—sebagai ilmuwan, sebagai seniman. Tetapi dia sangat kecewa karena kehilangan dunia danau dan pegunungannya, di mana dia bisa jadi tuan bagi dirinya sendiri. Kekecewaan ini menghantui dia sampai akhir hayatnya. Sebagaimana dia tulis dalam sebuah puisi: Malangnya, aku telah jatuh ke dunia berdebu. Gerak-gerikku dibatasi Sebelumnya, aku seperti seekor camar, Sekarang, aku bagai burung di dalam sangkar, Tak ada yang peduli dengan air mata sedihku, Bulu-buluku berguguran setiap hari Perasaan tertekannya ini juga tergambar dalam sebuah lukisan yang memperlihatkan seekor domba cantik dan seekor kambing yang tatapannya mengenaskan; lukisan sederhana dan biasa-biasa saja dalam pandangan pertama, tapi tidak demikian jika diperhatikan secara mendalam. Bergaya tradisional, lukisan ini juga memuat kaligrafi Zhao yang begitu indah, mengandung makna tersembunyi. “Sudah sering aku melukis kuda-kuda, hanya domba dan kambing yang belum pernah kulukis,” tulisnya, seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa lukisanlukisannya yang terdahulu hanya demi kesenangan tuannya yang menyayangi kuda, namun tak pernah peduli dengan rakyat yang mereka perintah. “Dengan senang hati, kubuat ini dari kehidupan. Meski tak menyamai master-master lama, lukisan ini tetap mampu menangkap semangat mereka.” Menurut seorang komentator, Li Chu-tsing, yang terdapat di sini bukan sekadar rujukan tentang tradisi artistik zaman dulu. Domba dan kambing adalah dua jenderal Dinasti Han (206 SM220 M) yang tertangkap oleh orang Xiongnu, kekaisaran barbar yang BAGIAN III: MUSIM GUGUR 254 pustaka-indo.blogspot.com


membangun bagian utara Tembok Besar. (Bangsa Xiongnu—Hunnu dalam bahasa Mongol—barangkali adalah nenek moyang bangsa Hun). Kedua jenderal itu punya kesempatan menjadi kolaborator. Jenderal pertama, Su Wu, menolak, dan dihukum menjadi penggembala selama 20 tahun. Maka, dia pun digambarkan sebagai domba yang berwibawa, dengan ekspresi nanar dan tatapan kosong, siap disembelih. Jenderal lainnya, Li Ling, mau bekerjasama dan kembali pulang—kambing kurus, sedih tapi setidaknya tetap hidup dan berkesempatan mengobarkan perang di lain hari. Terdapat paradoks terkait hubungan Kubilai dengan seni. Dia mendukung seniman. Tetapi, seperti patron mana pun, dia tak bisa jadi bagian dari arus tradisi artistik China yang sangat brilian. Di mata para seniman China, orang Mongol tetaplah orang barbar, dulu maupun sekarang. Tetapi mereka, para seniman besar ini, bagaimanapun juga adalah pelayan rezim baru. Konflik batin bisa menghancurkan mereka. Anehnya, konflik ini justru mendorong mereka. Apakah kolaborator atau penolak, mereka bisa mundur ke dalam tradisionalisme. Kenyataannya, mereka justru membawa tradisi melangkah maju. Salah satu alasan terkait hal ini yaitu, untuk pertama kalinya selama 150 tahun, terdapat hubungan bebas dan terbuka antara kawasan utara dan selatan. Seniman dari selatan, yang terilhami oleh barangbarang indah dan biasa yang disukai Song selatan, menemukan tradisi dan gaya yang lebih kokoh dan bebas yang mendominasi wilayah utara sebelum Kekaisaran Song lama dibelah dua oleh pendahulu Mongol yang tak kalah “barbarnya”, bangsa Liao, pada 1125. Dalam lukisannya yang sangat terkenal, Zhao menggabungkan semua ini. Dia menggabungkan dua tradisi artistik, memanfaatkan pengalaman dan perasaannya sendiri, menciptakan satu gestur yang sangat menyentuh terhadap seorang kawan lama, dan memperlihatkan semacam kepedihan yang diakibatkan oleh kecamuk situasi politik. Dia bertugas selama enam tahun sebagai Asisten Administrasi Sipil di Jinan, di Provinsi Shandong, ke utara sedikit dari perbatasan utaraselatan yang lama. Kembali ke kota kelahirannya pada 1295, dia ber - temu kembali dengan seorang kawan, Zhou Mi, yang nenek moyangnya— CHINA BARU SANG KHAN 255 pustaka-indo.blogspot.com


tiga atau empat generasi sebelumnya—melarikan diri dari wilayah Jinan ke wilayah Jin. Zhou Mi masih menganggap Jinan sebagai kampung halamannya, dan bermimpi dapat pulang kampung suatu hari. Ketika negeri sudah dipersatukan Mongol, mimpi itu segera bisa dia wujudkan—kecuali kenyataan bahwa dia seorang yi-min, penolak yang mengucilkan diri dari kehidupan publik sebagai tanda protes melawan kekuasaan Mongol. Untuk kawan lamanya ini, Zhao melukiskan tempat yang diimpikannya, seperti dia katakan dalam sebuah inskripsinya, “Kuceritakan kepadanya tentang pegunungan dan sungai-sungai Qi (dekat Jinan). Di antara semua itu, Gunung Hua-fu-zhu paling terkenal… bentuknya yang megah dan terjal, menjulang sendirian dengan cara yang tak biasa. Lalu kubuatlah lukisan untuknya, dengan latar Gunung Jiao di sebelah timur, yang kuberi judul Warna-warni Musim Gugur di Pegunungan Jiao dan Hua.” Lukisan ini berisi pemandangan sederhana: daerah rawa membentang di cakrawala, pepohonan, dua gunung yang kontras satu sama lain—satu berbentuk menyerupai dua segitiga dan satu lagi berbentuk gundukan batu Ayers Rock di kejauhan—dua rumah, seorang nelayan di kejauhan, semuanya disapu dengan warnawarna melankoli musim gugur. Pemandangan ini tak memperlihatkan keindahan dalam pengertian tradisional: tak ada puncak bukit yang menjulang dan hutan yang rimbun. Tak ada pula pemandangan yang senyatanya, karena kedua gunung tadi terpisah jauh. Lewat lukisan ini, yang memperlihatkan bentuk suram kampung halaman temannya yang tak terlihat, dia seolah berkata kepadanya: Jangan mengira hidup ini sederhana. Tidak. Hidup ini keras. Namun demikian, apakah pada akhir nya yang penting dari semua ini, orang Mongol, kengerian dan keterbelahan kita? Ini semua akan berlalu. Namun dalam lukisanku terdapat hal-hal yang akan terus ada: pegunungan yang menjulang, lekuk pepohonan, dan kerja keras. Warna-warni Musim Gugur adalah salah satu lukisan China yang paling dikagumi, satu dari segelintir karya yang menurut ungkapan seorang sarjana, James Cahill, “mampu memperlihatkan penemuan dan kreativitas luar biasa, yang menawarkan pentingnya inovasi gaya yang akan mengubah sejarah lukisan pemandangan China.” Tanpa Kubilai, lukisan-lukisan ini tak akan pernah lahir. Kita memang dapat BAGIAN III: MUSIM GUGUR 256 pustaka-indo.blogspot.com


mempersoalkan keadaan yang mendahuluinya, kekejaman penaklukan. Tetapi, jika bertumpu pada hal ini saja, akibat yang akan muncul justru lebih buruk. * * * Ada hal yang agak menggelikan. Orang Mongol sangat senang dengan teater. Mereka menyukainya karena ini hal baru bagi mereka. “Tak ada bukti yang menunjukkan adanya produksi drama yang pernah dipentaskan dalam masyarakat Mongolia sebelum atau selama masa awal kekaisaran,” kata dua ahli tentang Mongol, Sechin Jagchid dan Paul Hyer. “Tentulah sulit mendirikan kesenian drama dalam sebuah masyarakat nomaden,” ujar mereka lagi. Tak ada yang mencatat pementasan drama pertama kali yang dihadiri orang Mongol—beberapa pertunjukan jalanan, mungkin, di sebuah kota yang sudah berniat menyerah ketika Jenghis pertama kali menyerang China pada 1211. Saya membayangkan adegan ini seperti yang pernah saya saksikan di Guyuan, Gansu, salah satu wilayah termiskin di China pada 2002, ketika satu rombongan teater datang berkunjung: kerumunan sekitar dua atau tiga ratus orang duduk berjejal di tanah berdebu di sebuah alun-alun selama berjam-jam menunggu pertunjukan dimulai, tirai panggung diangkat, aktor selesai berdandan. Lalu kita mundur 800 tahun sebelumnya, dan melihat serombongan orang Mongol di latar, masih di atas kuda mereka. Mereka sudah melakukan operasi militer selama berbulan-bulan dan sangat rindu akan hiburan dan penyegaran. Pemimpin mereka yang masih berpakaian tempur dan berhelm kulit turun dari kuda dan maju ke depan, kelihatan bengis namun ingin tahu. Mereka bergerak ke barisan depan menyibak kerumunan warga kota yang akan menonton: di situ mereka menunggu penuh rasa heran, sampai malam turun. Dengan cara yang kasar, tirai panggung diangkat, lilin-lilin memperlihatkan sosok bertampang kasar. Mao, itulah nama tokoh ini, berbicara kepada penonton: CHINA BARU SANG KHAN 257 pustaka-indo.blogspot.com


Mao: Aku, Mao Yen-shou, berjalan-jalan ke seluruh penjuru negeri atas perintah kaisar untuk mencari gadis-gadis cantik yang akan dibawa ke istana. [Setelah beberapa menit ber - selang dalam keheningan, muncullah seorang gadis bernama Zhaoqun, dengan kecantikan luar biasa, tak tersentuh, ajaib, dalam busana sutra serta dandanan sempurna. Ter - dengar dengusan-dengusan napas dari barisan depan yang berpakaian tentara.] Zhaoqun: Aku, Wang Qian, yang juga dipanggil Zhaoqun, penduduk asli Zikui di Zhengdu. Ayahku, Wang Tua, mengolah tanah seumur hidupnya. Sejak aku belum lahir… [Dia menjelaskan keadaannya: keluarga miskin, dipilih jadi selir kekaisaran saat berusia 18 tahun, menolak, dan kemudian disembunyikan. Dia tak pernah melihat kaisar dan dia sangat sedih] … Sekarang, di malam yang sunyi ini, aku akan bernyanyi untuk membunuh waktu. [Kemudian terdengar suara kecapi. Dan Kaisar pun masuk panggung.]3 Pasukan Mongol tadi barangkali memang tak paham sama sekali cerita yang dipentaskan ini, tapi penerjemah mereka berusaha keras; mereka terpukau oleh kecantikan si gadis, mereka tersihir oleh nyanyiannya, mereka membenci penjahat, mereka tahu semua tentang kaisar, musuh mereka, dan mereka terpesona oleh kisah drama ini, yang sangat terkenal di China sebagaimana mereka ketahui kemudian. (Hari ini, hotel terbaik di Hohhot, ibukota Mongolia Dalam, dinamai dengan nama gadis ini.) Semua orang tahu si cantik Zhaoqun dikirim ke balik Tembok Besar untuk dijadikan istri khan Xiongnu di Mongolia jauh. Dia bersedih. Dia membayangkan dirinya jadi angsa emas yang bisa terbang pulang. Dia menangis: kisah ini begitu menyentuh. Kisah seperti ini tentu saja pernah terjadi dalam kenyataan. Pada 1214-1216, jenderal utama Jenghis, Muqali, menyapu daerah Manchuria, sementara Jenghis sendiri mengepung Beijing. Kedua kota ini memiliki BAGIAN III: MUSIM GUGUR 258 3 Catatan kecil pengarang. Kutipan ini sebenarnya berasal dari sebuah drama Yuan, yakni Autum in the Han Palace karya Ma Zhi-yuan, namun kisah ini sendiri jauh lebih tua. Tidak tertutup kemungkinan bahwa salah satu versi kisah ini sudah ada di masa Song. pustaka-indo.blogspot.com


keberanian tinggi dalam mempertahankan diri. Seperti biasa terjadi dalam situasi macam ini, Muqali pun berkata, “Jika bandit-bandit pemberontak ini kita biarkan hidup, tak akan ada peringatan keras bagi generasi mendatang.” Dan dia pun membantai mereka, kecuali para seniman, perajin—dan pemain drama. Tradisi yang ada sangat kaya untuk sekadar menggoda orang Mongol. Selama berabad-abad, orang China terbiasa menonton pertunjukan tari-tarian, musik, resitasi, dongeng, pawai, dan berbagai jenis pertunjukan lain. Beragam tradisi bermunculan di utara dan selatan, dan drama mengalami booming di era Song. Temuan arkeologis membuktikan, semua ini bukan sekadar pertunjukan jalanan. Ubinubin makam berusia sepuluh abad yang digali di Henan pada 1958 melukiskan aktor-aktor drama kala itu, dan penggalian di Shanxi pada 1970 memperlihatkan sisa-sisa bata dan ubin gedung pertunjukan provinsial. Bahkan di Manchuria yang jauh, pernah ada kelompok drama, pementasan, musik, dan biduan bintang panggung yang bertugas menghibur para penjajah. Ketika berkuasa, Kubilai sebagai patron seni harus memastikan rakyatnya memiliki teater, dan harus dalam jumlah banyak. Dia tak hanya menginginkan gaya dan cerita lama. Dia menginginkan naskah baru, yang dirancang guna menarik perhatian orang Mongol dan istana antar-bangsanya. Keinginan ini relatif gampang dituruti, karena Kubilai tak mampu berbahasa China dengan baik dan tak akrab dengan tradisi sastra Song yang sudah sangat maju. Keadaan ini menimbulkan semacam revolusi di kalangan seniman dan budayawan Song. Mereka punya sikap yang berlawanan terhadap teater, seperti penonton Restorasi di Inggris. Mereka menyukainya karena nilai hiburannya, tapi juga tak senang karena ceritanya ditulis dalam bahasa pasaran, sementara aktornya berasal dari kelas rendah dan aktrisnya berasal dari kalangan pelacur. Pendek kata, dari sudut pandang selain mereka sendiri, seniman dan budayawan Song amat sombong. Menciptakan drama baru berarti melacurkan kemampuan puitis mereka. Tak ada yang memandang drama sebagai bagian dari sastra; tak ada yang mencoba berpikir melestarikannya. Akibatnya, sangat sedikit naskah drama praYuan yang sampai ke tangan kita. CHINA BARU SANG KHAN 259 pustaka-indo.blogspot.com


Semua ini berubah saat Kubilai berkuasa. Di istana terdapat dua biro: yang pertama bertanggung jawab atas seni musik dan drama; dan yang kedua bertanggung jawab terhadap pementasan ritual dan sandiwara istana. Bentuk karya ditentukan sang pemesan. Dilihat dari segi tema, pemesan ternyata punya selera sederhana. Seorang penerjemah paling awal atas naskah-naskah drama Yuan, Henry Hart, pada 1936 mengatakan: “Karena tak tahu apa-apa tentang sastra dan tata krama kehidupan beradab, maka filsafat dan puisi, tari-tarian yang anggun dan musik yang lembut tak menarik perhatian mereka. Besar dalam embusan angin padang pasir, bergembira dalam peperangan dan perampokan… mereka lebih senang dengan drama yang ditulis dan dipentaskan dalam bahasa sehari-hari rakyat pada umumnya.” Permintaan inilah yang menyemarakkan kembali drama China. Bermula di Da-du—Beijing baru-nya Kubilai—dan sekitarnya, penulis naskah drama baru pun bermunculan. Sebagian besar dari mereka adalah ilmuwan yang putus asa karena dihapuskannya sistem ujian kepegawaian. Mereka ingin menambah pendapatan, memperoleh pengakuan, dan lebih dari itu ingin menyalurkan bakat sastra mereka. Mereka menciptakan (seperti kata seorang sejarawan drama China, Chung-wen Shih) “sekumpulan karya yang dari segi kualitas dan jumlah tidak setara dengan karya-karya yang pernah ada sebelum atau setelah era teater China, dan ini membuat drama era Yuan jadi genre paling brilian dalam sejarah sastra China.” Wilayah sangat kaya ini punya satu kelemahan bagi sejarawan. Para pengarang masih merasa malu jika nama asli mereka dicantumkan pada karya mereka. Alhasil, informasi perihal pengarang tak banyak diketahui. Untungnya, seorang penulis naskah drama, Zhong Su-cheng, mengumpulkan berbagai catatan kisah hidup para penulis Yuan dalam buku A Register of Ghosts—judul ini mengisyaratkan betapa tidak jelasnya sosok mereka yang sebenarnya. Dari 152 orang yang tercatat dalam buku ini, 111 orang di antaranya adalah dramawan. Ribuan drama telah ditulis, antara lain ada 700 drama yang dikenali judulnya dan 150 di antaranya bertahan hingga kini, barangkali karena inilah yang terbaik. Drama-drama ini termasuk ke dalam jenis yang disebut “variety plays” atau “mixed entertainment”—yang secara BAGIAN III: MUSIM GUGUR 260 pustaka-indo.blogspot.com


sederhana bisa kita sebut drama musikal, namun tidak persis demikian karena di sini terlibat pula para penulis andal. Drama ini menyoroti berbagai masalah saat itu: penindasan, ketidakadilan, korupsi, perlawanan terhadap kekuasaan. Ini semua dilakukan dengan cara tersendiri, bukan dengan cara dan teknik seperti yang ada di Barat. Berlatar sebuah dunia yang tertata rapi, drama tak mengisahkan pergolakan batin atau nafsu angkara yang biasa mengisi drama Barat sejak Shakespeare dan setelahnya. Bahkan, beberapa sandiwara malah melarikan diri dari dunia nyata ke dunia romansa nir-waktu, seperti The Romance of the Western Chamber, berasal dari kisah yang ditulis pertama kali sekitar tahun 800. Seorang pelajar menyelamatkan seorang gadis cantik dari penculikan; dia lalu meminangnya, dan ibunya yang jahat menolak; se - orang pelayan yang cerdik membantunya; sang ibu luluh; happy ending. Ditulis ulang berkali-kali, kisah ini berubah menjadi drama terkenal gubahan Wang Shifu, dan tetap bertahan sebagai drama terkenal sejak saat itu. Saya membeli versi novelnya di Beijing pada 2004. Seperti karya-karya Shakespeare, tema drama diketengahkan dalam bingkai sejarah masa lalu. Tema ini tak bisa diletakkan dalam konteks masa kini, karena khawatir dituduh sebagai perlawanan (walaupun kritik halus memang diperbolehkan, jika dipoles dan dikemas, seperti dalam penjelasan tentang pementasan yang dipesankan oleh istana: “Jika ada kritik… para aktor mengemasnya dalam kisah yang mengandung kritik tersembunyi; sehingga wajah kaisar tak akan memperlihatkan raut tidak senang”). Ini berarti, drama-drama itu tak terikat waktu. Mereka mencoba melakukan apa yang sebaiknya drama lakukan, yakni me - mindahkan masalah-masalah yang sedang hangat ke dalam tema-tema nir-waktu dan mengetengahkannya sebagai hiburan yang sejak saat itu diklaim sebagai karya sastra bermutu. Guan Hanqing (Kuan Han-ch’ing) berada di puncak semua ini. Dialah penulis drama Yuan paling produktif. Sayangnya, segala sesuatu tentang hidupnya masih kabur. Dia lahir sekitar tahun 1240, hidup sampai usia tua, dan meninggal kira-kira sebelum tahun 1330. Dia menulis sebanyak 63 atau 64 drama musikal (satu karyanya masih diperdebatkan), dan 14 atau 18 di antaranya (lagi-lagi masih di per - debat kan) tetap bertahan hingga kini. Sebagian besar karangannya CHINA BARU SANG KHAN 261 pustaka-indo.blogspot.com


bertutur tentang kisah cinta, beserta kegembiraan atau kesedihan yang menyertainya: kisah cinta antara pelacur dan ilmuwan, kaisar dan selir, atau sepasang kekasih beda status. Dia ahli dalam menggarap tokoh wanita. Sebanyak 11 dari 14 karyanya yang ada sampai hari ini ber - pusat pada sosok wanita kuat, pemberani, dan mandiri. Tak ada yang lebih hebat dari karya utamanya, The Injustive to Dou E. Dou E seorang gadis desa yang sederhana, janda muda berusia 18 tahun. Seorang pria yang gagal melamarnya menuduh dia melakukan pembunuhan. Dia dibawa ke pengadilan dan dipojokkan oleh hakim yang telah kena sogok. Dia tak mau mengaku, dan hakim mengancam akan mencambuk ibu mertuanya. Demi menyelamatkan ibu mertuanya, Dou E akhirnya membuat pengakuan palsu, sehingga dia dijatuhi hukuman mati. Menjelang pelaksanaan hukuman, dia mengutarakan tiga permohona atau sumpah, salah satunya bahwa daerah itu akan menderita kemarau selama tiga tahun. Seluruh sumpahnya menjadi kenyataan, membuktikan bahwa Langit mendengar permohonannya. Kemarau panjang itu menarik perhatian ayahnya, seorang pejabat tinggi, yang kemudian membuka kembali kasus itu. Dou E muncul lagi da lam sosok hantu yang datang menghukum mereka yang telah meng - hukumnya. Keadilan akhirnya berhasil ditegakkan, dan dunia kembali seimbang. Drama ini jadi klasik bukan lantaran alur kisahnya, melainkan bahasa nya yang puitis, membuatnya memiliki semacam kemegahan se - buah epos. Dou E bukanlah wanita biasa. Suci, saleh, dan rela ber - korban, dia seperti sosok Joan of Arc, simbol bangsa yang menderita. Tatkala dia dianiaya—seperti China dianiaya Mongol—hukum langit jadi terbalik-balik, korupsi dan kebodohan merajalela. “Orang baik menderita kemiskinan dan berumur pendek,” katanya dalam nyanyiannya. “Penjahat dan penipu menikmati kemewahan, kemuliaan, dan berumur panjang.” Tetapi, kebajikan tak tersingkir selamanya. Kematiannya me - maksa Langit turun tangan, mengembalikan keadilan ke dunia yang tak adil—tema utama yang membuat drama ini tetap bertahan dalam ber - bagai versi hingga sekarang, termasuk yang dipentaskan Opera Peking saat ini. BAGIAN III: MUSIM GUGUR 262 pustaka-indo.blogspot.com


Kubilai membawa ke China stabilitas dan keamanan yang tak lagi di - kenal selama berabad-abad. Pajak yang wajar, penegakan hukum, kebijakan positif atau setidaknya netral terhadap kesenian, pekerjaan umum untuk kepentingan publik—pendek kata, Anda dapat menganggap dia membawa kebahagiaan bagi rakyatnya. Kalangan elite, yang berjumlah sangat sedikit—petinggi Mongol, pejabat tinggi China, dan saudagar Muslim—pasti sepakat. Apakah 100 juta jiwa rakyat biasa juga akan setuju? Kita tak mungkin tahu, karena kebahagiaan sebagaimana kita pahami saat ini adalah konsep yang baru muncul di abad ke-18. Bahkan kini konsep ini jadi subjek kajian tersendiri; sekarang, berdasarkan survei, statistik, dan analisis, kita dapat melihat lagi ke belakang dan mengajukan pendapat tentang masalah tadi. Seperti kata Richard Layard dalam Happiness: Lessons from a New Science, salah satu definisi kebahagiaan adalah perasaan bahwa hari ini sedikit lebih baik dari hari kemarin. Sebagian besar rakyat China berangkat dari dasar yang sangat rendah. Mereka kala itu masih cemas dengan bencana kelaparan, penyakit dan banjir, penarik pajak, lintah darat, dan pejabat yang mencari para pria yang dapat dikirim kerja paksa; namun mereka juga tahu bahwa, dua generasi sebelumnya, jutaan orang tewas dan jutaan lagi terusir dari kampung halaman mereka, meskipun sejak 1276 sampai seterusnya mereka setidaknya berada dalam suasana damai. Mereka tentu akan bekerja keras dan lebih bersemangat lagi jika tahu semua itu tak sia-sia. Tak seorang pun di China pada abad pertengahan berpendapat bahwa tujuan pemerintahan adalah meningkatkan kebahagiaan manusia. Tetapi Kubilai dan bawahannya—yang bekerja menciptakan stabilitas, kesinambungan, dan kemakmuran negeri— berusaha mencapai kebahagiaan terbesar untuk penduduk terbesar, jika bukan demikian setidaknya mengurangi ketidakbahagiaan, untuk jangka masa 25 atau 30 tahun berikutnya. CHINA BARU SANG KHAN 263 pustaka-indo.blogspot.com


BAGIAN III: MUSIM GUGUR pustaka-indo.blogspot.com


Bagian IV MUSIM DINGIN pustaka-indo.blogspot.com


BAGIAN IV: MUSIM DINGIN pustaka-indo.blogspot.com


13 KAMIKAZE PADA 1280, SETELAH MENAKLUKKAN WILAYAH SELATAN, KUBILAI KEMBALI mengalihkan perhatiannya ke Jepang. Saat itu dia berusia 65 tahun, sementara roda waktu terus bergulir. Namun bukan semata faktor usia yang mendorongnya. Dia bertingkah seakan terobsesi oleh keinginan memenuhi ambisi kakeknya untuk menaklukkan dunia maupun keinginannya menghukum “negeri kecil” ini karena bersikeras menentangnya. Sebagai kaisar yang sangat “tegas” terkait dengan legitimasi kekuasaannya, dia tetap bersikeras membuktikan diri secepat yang dia bisa. Hingga kini, keterangan tentang operasi militer ini masih didominasi oleh sudut pandang Jepang, karena mereka keluar sebagai pemenang. Sejarah memang lebih sering jadi milik pemenang ketimbang pecundang. Kisahnya sudah sering diceritakan: bagaimana armada China yang begitu besar nyaris menghabisi para samurai Jepang yang kuno dan tanpa harapan ketika langit turun tangan membantu Jepang dengan melepaskan badai topan yang menyapu habis armada Kubilai. Tak lama setelah itu, orang Jepang menyebut badai topan ini dengan “Angin Ilahi”, kamikaze (kami juga bisa berarti “dewa”, “roh” dan “yang kuasa”), sebagai pengingat dialah bukti bahwa Jepang selalu dilindungi Langit. Keadaan ini sangat sesuai dengan kepentingan elite penguasa, karena kekuasaan mereka sebagian bergantung pada kemampuan dalam melaksanakan ritual-ritual agama yang tepat. Untuk menunjukkan KAMIKAZE 267 pustaka-indo.blogspot.com


gagasan semacam ini pulalah pilot-pilot berani mati Jepang pada Perang Dunia II disebut pasukan kamikaze: mereka Angin Ilahi baru yang bertugas melindungi Jepang dari invasi asing. Sampai Jepang menyerah kepada sekutu pada 1945, gagasan ini dapat diterima dan memang menenangkan. Namun sebuah penelitian yang dilakukan sejak 2001 menunjukkan bahwa gagasan tadi sebenarnya mitos belaka. Setelah lebih dari 800 tahun, ternyata orang Jepang jauh lebih perkasa daripada yang mereka sangka. Yang menyelamatkan mereka bukanlah Angin Ilahi tadi, melainkan kelemahan pasukan Mongol dan daya juang orang Jepang. Operasi militer ini sudah bermasalah sejak awal. Sayangnya, Kubilai tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seperti Hitler saat perang merebut Stalingrad, dia nampaknya percaya bahwa keputusan kapan mulai menyeranglah yang akan melahirkan kemenangan, seakan-akan hanya kehendak yang jadi kunci dalam soal militer. Dia menilai dirinya terlalu tinggi dan menakar lawan terlalu rendah, mengajukan permintaan yang mustahil dituruti, mengabaikan masalah logistik dan garis komando, dan sama sekali tak memperhatikan cuaca, terlepas dari apa yang dia alami enam tahun sebelumnya. Untuk memastikan kemenangannya, Kubilai memerlukan armada yang lebih besar dari sebelumnya untuk membawa pasukan darat yang lebih besar; dan untuk itu, dia membutuhkan kerjasama dari Korea, taklukannya yang setengah hati. Namun, Korea sedang celaka besar akibat bencana pada 1274. Hasil pertaniannya dirampas. Kaum mudanya diwajibkan jadi pekerja di galangan kapal atau jadi prajurit, sehingga hanya warga lanjut usia dan anak-anak yang dapat diharapkan menanami tanah pertanian. Tak ada panen, dan tak ada tenaga manusia. Selama lima tahun, Kubilai semestinya mengirimkan bantuan pangan agar Korea bisa bertahan. Kondisinya sama sekali tak memungkinkan bagi Korea untuk menyediakan kapal yang dia butuhkan. Sebagian besar harus didatangkan dari selatan, dari bekas Kekaisaran Song dan warganya yang tidak taat. Semuanya tak akan menjadi rumit seandainya Jepang mau mengakui BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 268 pustaka-indo.blogspot.com


K E K ALAHAN MELAWAN J EPANG , 1 Pasukan Mongol yang menginvasi Jepang pada 1274 mendarat di teluk Hakata, menyerang dengan bahan peledak seperti terlihat di bawah. Gambar ini memperlihatkan bom yang meledak di dekat Takezaki Suenaga dan kudanya yang terluka, suatu kejadian dalam Gulungan Invasi yang dipesan Suenaga untuk mengenang perannya dalam membela tanah airnya. Gulungan ini juga menggambarkan tindakan gagah berani Suenaga, sebelum badai topan mengakhiri usaha invasi Kubilai yang pertama. Kerang peledak dari keramik yang berasal dari abad ke-13. Suenaga menaiki sebuah kapal Mongol yang tengah mendarat. pustaka-indo.blogspot.com


K E K ALAHAN MELAWAN J EPANG , 2 Pada 1281, ketika Kubilai mengirim pasukannya yang kedua, orang Jepang telah membangun tembok pertahanan di sekeliling teluk Hakata, seperti diperlihatkan dalam Gulungan Invasi (atas), dan seperti yang dapat dilihat oleh mereka yang mengunjungi Fukuoka hari ini (kiri atas). Teluk Kozaki (bawah), Pulau Takashima, tempat penemuan jangkar dan stempel. pustaka-indo.blogspot.com


Tembok pertahanan itu tak pernah diuji coba. Tempat perhentian armada Kubilai berada di lepas pantai Pulau Takashima, di mana badai topan menyerang mereka. Kerja keras dalam mengangkat dan mengumpulkan puingpuing kapal Mongol dipimpin oleh Kenzo Hayashida (kiri). Dia tengah memegang stempel bertuliskan hurufhuruf ciptaan Phags-pa (inset), bukti penting pertama yang menunjukkan bahwa sisa-sisa armada Kubilai masih terkubur di dasar lautan Takashima. Stempel ini ditulis dalam bahasa China: “Segel Komandan Pasukan”. Di antara ribuan temuannya termasuk jangkar dari batu granit, yang ketika selesai diperbaiki mencapai berat satu ton (kiri sebelah). pustaka-indo.blogspot.com


ORANG PALING B E R K U A S A D I DUNIA MULAI UZUR D A N GE N D U T Dalam sebuah potret yang menggambarkan Kubilai sedang berburu, khan gendut berusia 65 tahun, berpakaian bulu musang, ini menatap jauh ke sesuatu yang ditunjukkan oleh pengawalnya. Istrinya, Chabi, berada di sampingnya. Pembuat lukisan ini, Liu Kuan-tao, adalah pelukis istana yang terkenal dengan lukisannya yang realistis dan intim—tidak seperti para seniman tak dikenal yang melukis wajah khan (bawah) beberapa tahun sebelumnya dengan gaya halus yang jadi kegemaran istana Song. Dia juga melukis Chabi (kanan), yang sedang mengenakan hiasan rambut terbuat dari kayu, bogt, yang biasa dipakai wanita bangsawan Mongol yang sudah menikah. pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version