The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SD NO. 1 KEROBOKAN, 2023-08-12 02:01:42

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

pustaka-indo.blogspot.com


DI B ARAT, L EGEN D A K E K AYAAN D A N K E K E J AMAN Eropa mengenal Kubilai berkat Marco Polo. Kubilai membantunya pulang ke Eropa dengan memberinya semacam paspor (atas), atau paiza (inset). Paiza nyaris sama dengan jaminan kehidupan, tapi Kubilai dan pejabatnya digambarkan dalam pakaian barat: Kubilai memakai topi bergaya seorang kaisar Byzantium. Tetapi, reputasinya dari segi kekayaan dan kemegahan berlawanan dengan reputasi bangsa Mongol itu sendiri, yang invasi mereka ke Eropa pada 1236-1241 membuat mereka jadi bangsa barbar yang kejam di mata barat (bawah). Besar kemungkinan, beberapa bentuk huruf ciptaan Phags-pa secara tidak langsung memengaruhi motif yang dibuat Giotto pada keliman pakaian Romawi (kanan atas). pustaka-indo.blogspot.com


Enam ratus tahun kemudian, legenda Xanadu, yang telah lama terlupakan, menginspirasi mimpi Coleridge tentang sebuah istana yang terdapat di tengah pemandangan alami yang romantik, sebagaimana terlihat dalam sebuah ilustrasi abad ke20 (kanan). pustaka-indo.blogspot.com


MA K A M MI S TERIU S D I GUNUNG K ERAMAT Kubilai dimakamkan di dekat makam kakeknya, Jenghis, di suatu tempat di lereng Burkhan Khaldun (Khan Khenti), dataran tinggi di pegunungan Khenti, kira-kira 200 km ke arah timur ibukota Mongolia, Ulan Bator. Walaupun satu-satunya jalan menuju tempat terpencil ini adalah jalan setapak menyusuri sungai Kherlen dan Bogd, gunung keramat ini tetap menarik perhatian para peziarah yang mendirikan altar-altar pemujaan (ovoos) dari pohon cemara atau batu, potongan kain sutra (khatags), bendera doa yang tergantung serta daun-daun sebagai sesaji. Satu tempat pemujaan yang terdapat di jalan sebelum puncak gunung adalah kawasan datar di mana cucu Kubilai, Kamala, pernah mendirikan kuil, yang saat ini sudah lenyap (kiri bawah). Tempat pemujaan lain, di tempat yang lebih tinggi dari yang pertama, adalah dataran berbatu (kanan bawah) dengan pemandangan indah sungai Bogd. pustaka-indo.blogspot.com


kemaharajaan Kubilai. Pada 1279, utusan lain kembali datang ke Jepang, dengan permintaan yang jauh lebih sopan agar terhindar dari nasib malang seperti yang menimpa para utusan terdahulu. Sayangnya, mereka datang tepat saat beredar rumor yang menebar kehebohan di seluruh daratan Jepang. Seorang gadis cantik warga lokal secara misterius lenyap begitu saja, kemungkinan diculik gerombolan matamata Mongol yang membuat sebuah kubu di pulau karang tak berpenghuni. Menurut desas-desus yang beredar, pimpinan matamata ini jatuh cinta pada gadis tersebut. Satu pasukan Jepang pun datang menyerang guna menyelamatkan si gadis. Pimpinan mata-mata Mongol membawa gadis ini ke puncak karang, dan mengancam akan membunuhnya. Namun si gadis berhasil kabur dengan menceburkan diri ke laut dan kemudian berenang ke pantai, sementara seluruh pasukan Jepang tewas dibunuh mata-mata Mongol. Hanya si gadis yang selamat, dan dia lalu menceritakan kisah dramatis ini. Begitulah cerita yang beredar kala itu. Bisa jadi benar, bisa jadi pula tidak; tapi bagaimanapun juga, pemerintah di Kamakura percaya bahwa tiga orang utusan Kubilai adalah bagian dari rencana yang sama. Meskipun Kubilai sudah mengirim hadiah bersama utusan itu berupa patung ayam jantan dari emas bertuliskan kalimat yang melecehkan: “Kepada Hojo Tokimune: Aku mengangkatmu sebagai Raja Jepang,” dengan arti tersirat bahwa dia dengan senang hati akan merebut takhta Kekaisaran Jepang, namun hadiah itu sama sekali tak mampu memperbaiki keadaan dan menjamin keselamatan para utusan. Mereka bertiga dipenggal, dan pertahanan Jepang makin ditingkatkan. Pasukan infanteri dan kavaleri berdatangan ke wilayah Kyushu. Tembok penghadang yang mengelilingi pantai Hakata makin panjang dan tinggi, sedangkan pertahanan ditingkatkan di berbagai tempat yang mungkin dijadikan tempat pendaratan—Nagato di ujung selatan pulau utama; Harima dan Tsuruga, 400 km ke ujung pantai. Jepang memperkuat pertahanan guna menghadapi penyerangan yang sepertinya tak terhindarkan lagi. Kubilai memerintahkan armada pasukannya agar siap menginvasi dalam jangka waktu setahun. Jika angka-angka yang tercatat dapat dipercaya, maka inilah armada terbesar yang pernah berlayar dan akan tetap menjadi rekor terbesar selama 700 tahun berikutnya, hingga KAMIKAZE 269 pustaka-indo.blogspot.com


terkalahkan oleh invasi tentara Sekutu ke Normandia pada 6 Juni (DDay) 1944. Armada ini terdiri dari gabungan dua pasukan, satu dari Korea dengan seorang laksamana Korea dan satu lagi berasal dari China selatan di bawah komando laksamana Song yang membelot, Fan Wen-hua—salah satu laksamana yang menyerah kepada pasukan Mongol saat mereka menyusuri sungai Yangtze pada 1275—dengan wakil laksamana berkebangsaan Mongol asli, Xin-Du. Mereka memimpin 140.000 pasukan. Menurut Yuan History, orang Korea menyumbang 900 kapal, sedangkan 3.500 kapal lainnya didatangkan dari selatan. Tekanan paling kuat dirasakan oleh satu daerah, Fukien (kini bernama Fujian), yang kepala dinas perdagangannya diperintahkan untuk membangun 200 kapal: permintaan ini, katanya, mustahil, dan dia hanya mampu membuat 50 kapal. Rencana ini diperuntukkan bagi prajurit yang akan dibawa dalam dua armada, 40.000 orang dalam 900 kapal dari Korea, dan 100.000 orang dalam 3.500 kapal dari Quanzhou di Fukian. Kedua armada ini akan bertemu di pulau Iki, 30 km lepas pantai Jepang, dan setelah itu pasukan gabungan ini akan menyerang daratan Jepang. Begitulah rencananya. Namun, ada yang perlu diperhatikan di balik angka-angkat tadi, sesuatu yang akan memperlihatkan betapa terlalu bersemangatnya rencana ini. Perhatikanlah angka ini: 4.400 kapal adalah jumlah yang luar biasa besar, terutama jika dimaksudkan sebagai armada perang, sebagaimana disebut dalam berbagai keterangan. Jika kita sedikit membagi jumlah ini, terlihatlah bahwa invasi ini tak sama dengan Armada Spanyol pada 1588, yang terdiri dari 130 kapal besar, membawa 27.000 pasukan, rata-rata 200 orang per kapal. Armada Kubilai lebih mirip pasukan Sekutu yang menyerang Normandia pada 1944; sekitar 156.000 pasukan yang diangkut sekitar 5.000 perahu (sebagian besar berupa perahu pendarat), sekitar 31 orang per perahu… Di sini, kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: benarkah angkaangka tentang jumlah armada Kubilai ini? Tak ada yang tahu pasti, karena tak ada statistik di luar catatan-catatan resmi. Seluruh perkiraan tentang angka-angka ini harus diterima dengan kritis dan hati-hati. Namun begitu, kali ini perkiraan jumlah itu bukannya terlalu berlebihan. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 270 pustaka-indo.blogspot.com


Kubilai memang punya kapal dalam jumlah amat besar yang dia pakai untuk menyusuri sungai Yangtze tatkala menaklukkan Song. Beberapa tahun sebelumnya, satu catatan resmi kerajaan menyebut-nyebut satu armada berkekuatan 3.000 kapal, dan itu baru di Yangtze. Sejak saat itu, seluruh wilayah Song dan sisa-sisa kapalnya jatuh ke tangan orang Mongol. Dilihat dari sudut lain: pada 1588, Spanyol harus memilih 27.000 prajurit dari populasi yang hanya berjumlah tujuh juta jiwa, atau satu prajurit dari 260 penduduk sipil. Sementara populasi China di abad ke-13 berjumlah sekitar 50 juta jiwa. Dilihat dari perbandingan ini, China bahkan dapat membangun armada laut berkekuatan 189.000 pasukan. Artinya, perbandingan ini lebih dari cukup untuk membenarkan angka-angka yang dalam catatan-catatan resmi tadi. Jika kita sepakat bahwa kekuatan pasukan dari selatan memang sekitar 140.000, maka implikasinya jelas. Kecuali beberapa kapal besar, terutama yang berasal dari Korea, di sini yang kita bahas adalah armada perahu pendarat yang relatif kecil. Ada pun Portsmouth ke Normandia hanya sejauh 170 km, sekitar enam jam pelayaran dengan kapal bertenaga mesin. Ketika badai terjadi pada 2 Juni, Eisenhower harus menunda penyerangan untuk hari berikutnya, dan setelah itu dia baru bisa mengeluarkan perintah “Serang!” setelah mengalami jeda selama 24 jam. Ada pun Kubilai bergantung pada kekuatan angin dan dayung untuk melajukan 900 kapal Koreanya melintasi laut sejauh 200 km dan 3.500 kapal kecil dari selatan mengarungi jarak sekitar 1.400 km. Meskipun angin berembus sesuai dengan harapan dan dengan arah yang tepat pula, mereka tetap membutuhkan waktu enam hari sebelum mencapai tempat berlabuh. Kubilai dan para jenderalnya tentu ingin menuntaskan penaklukan ini. Dia juga ingin pasukannya tiba di daratan dengan selamat sebelum musim badai mulai di bulan Agustus. Namun, setiap pelaut berpengalaman pastilah tahu benar bahwa yang terjadi dalam kenyataan tak akan pernah sesuai seratus persen dengan rencana. Kubilai, sebagai panglima tertinggi, memang berpengalaman dalam berbagai peperangan di daratan terbuka dan luas. Dia terbiasa pula menyeberangi Laut Dalam (Inland Sea), sebagaimana orang China akrab dengan kerikil pasir dan rerumputan Asia Dalam. Tetapi, dia nyaris tak pernah melihat laut KAMIKAZE 271 pustaka-indo.blogspot.com


yang sebenarnya, apalagi berlayar mengarunginya atau melihat badai topan yang sesungguhnya. Buta oleh kenekatan dan dikucilkan oleh puncak kekuasaannya, dia mengambil risiko mengerikan, dan tak seorang pun dapat memberitahukan kebenaran padanya. Beberapa pihak sudah mencium kesulitan yang akan menghadang. Ketika para pejabat Yuan mengetahui kaisar Jepang berdoa agar negerinya selamat dengan mempersembahkan hidupnya sendiri, mereka melaporkan ramalan: pasukan Mongol yang bersiap-siap menyeberang “melihat naga di permukaan laut, dan air laut menebarkan bau belerang”. Namun, di hadapan Kubilai, mulut-mulut peramal terkunci rapat. * * * Segala sesuatunya sudah keliru sejak awal. Sesuai rencana, armada Korea mencapai Iki pada akhir Mei, dan menunggu… dan menunggu. Armada dari kawasan selatan yang berkumpul di Quanzhou tak bisa berangkat tepat waktu. Seorang laksamana jatuh sakit, dan harus diganti. Cadangan makanan membusuk di tengah cuaca yang panas. Penyakit mewabah. Bahkan ketika armada ini mengangkat sauh dan mulai berlayar, arah angin yang berlawanan malah memaksa kapalkapal berbalik ke pelabuhan di sepanjang pantai. Akhirnya, pada 10 Juni, laksamana armada Korea berhasil menduduki Iki; lalu, setelah menunggu dua minggu, dia beserta pasukannya melintasi teluk kecil dan mendarat tak jauh dari bagian utara tembok pertahanan Jepang di Munakata. Dengan begitu, dia punya kesempatan besar untuk mengintai pantai Hakata, dan menerima laporan dari sumber-sumber lain tentang tembok pertahanan Jepang; selain itu, dia juga pernah berada di sana lima tahun sebelumnya. Dia telah melihat kendala yang akan dia hadapi manakala bertempur di pantai. Dia pun akhirnya menemukan jalan keluar. Tembok itu mengitari pantai, dan ditambah lagi gunung-gunung di kedua ujungnya. Jenghis melintasi pegunungan ketika dia berhasil masuk ke jalan utama menuju Beijing pada 1213. Gunung-gunung ini tak sebanding dengan gunung-gunung BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 272 pustaka-indo.blogspot.com


yang Jenghis lewati. Pasukan Mongol hanya perlu mengitari tembok ini dan merebutnya dari belakang—satu-satunya kendala, bahwa dengan cara ini mereka akan kelihatan jelas sekali dan tentu akan dilawan matimatian. Mereka memerlukan pasukan tambahan. Armada Korea tak mampu menyerang sendirian. Sementara armada selatan, yang saat itu sudah telat sebulan, langsung berlayar menuju daratan utama, melewati Iki dan titik perhentian di laut, dan berlabuh di pulau kecil berbukit bernama Takashima di pantai Imari yang berjarak 100 km ke timur Hakata, di sisi lain tanjung. Di sini mereka bermaksud menata ulang pasukan, memperbaiki persediaan, dan mematangkan persiapan serangan. Daerah Takashima berperan penting dalam kisah ini, jadi izinkan saya memperkenalkannya. Takashima—Pulau Layang-layang—adalah tempat yang indah, hangat, subur, dan terkenal dengan ikan sirip: fugu, makanan lezat yang harus dimasak dengan hati-hati karena mengandung racun mematikan. Meskipun pantainya sangat curam dan dasarnya penuh karang, pulau ini punya pelabuhan kecil dengan dasar laut yang berlumpur dan landai—dasar yang cocok untuk menambatkan jangkar kapal-kapal Mongol yang terbuat dari kayu-dan-batu, dengan ujung sauh yang terbuat dari persilangan batu granit dan kayu. Takashima dihuni ratusan penduduk, petani yang hidup tenang dan nelayan yang tentu saja tak akan kuasa menghadang pasukan Mongol. Dalam beberapa hari, seluruh penduduknya dibantai, hingga ke keturunan terakhir (begitulah menurut cerita yang beredar), yang tempat persembunyiannya diketahui karena kokok ayam jantan. Satu-satunya yang selamat yaitu seorang wanita tua, yang kemudian mengisahkan kejadian ini. Bahkan hari ini, saya yakin, penduduk Takashima tetap berpikir dua kali untuk memelihara ayam jantan. Ini bukanlah rencana yang bagus. Takashima hanya satu kilometer dari garis pantai, tapi di sini pantainya curam dan di belakang terdapat perbukitan yang tertutupi hutan rimbun, sangat cocok untuk perang gerilya. Selain di pantai Hakata, tidak banyak tempat pendaratan, dan di setiap tempat yang tak memiliki pertahanan, kavaleri Jepang langsung datang untuk mengisolasi pasukan Mongol dan memaksa mereka kembali ke laut; yang dapat mereka lakukan hanyalah mendirikan KAMIKAZE 273 pustaka-indo.blogspot.com


beberapa kubu di pulau-pulau terpencil di tengah laut, yang sebenarnya tak ada gunanya. Pasukan Jepang juga memaksa pertempuran tak terjadi di pantai: mereka mendayung sampan-sampan kecil di tengah malam untuk memutus tali penambat kapal, melakukan serangan mendadak, menggorok leher prajurit, dan kemudian membakar kapal. Dari kapal-kapal yang lebih besar, pasukan pemanah berfungsi bagaikan pasukan artileri, menembakkan panah yang bisa menghancurkan perahuperahu kecil pasukan Jepang. Namun, trebuchet tarik, yang sangat efektif di pertempuran pantai melawan pasukan darat, sama sekali tak berguna saat harus membidik dari atas geladak kapal sasaran yang bergerak lincah di atas laut. Para jenderal Kubilai pun mulai berdebat dalam tiga bahasa, dan sebagian besar pasukan mereka—orang China dan Korea—sebenarnya tidak senang bertempur atas nama orang Mongol, penguasa baru mereka. Sementara orang Jepang, dengan komando terpusat dan persiapan selama bertahun-tahun di kampung halaman sendiri, berada di posisi yang sangat baik untuk menghentikan penyerangan dan melancarkan serangan balik. Dari sudut pandang orang Mongol, orang Jepang ada di manamana, berjumlah sangat besar, mampu mengendalikan tembok sepanjang lebih dari 20 km, dan dapat berkuda bolak-balik untuk berkumpul manakala terjadi pendaratan pasukan Mongol. Salah satu sumber Yuan menyatakan, pasukan Jepang setidaknya berjumlah 102.000 orang. Namun, pejabat Mongol dan China mencatat kekalahan mengerikan ini, dan punya alasan untuk memperbesar jumlah kekuatan musuh guna memaklumi kekalahan ini. Selain itu, jumlah pasukan selalu dibesar-besarkan, kadang-kadang hingga kelipatan sepuluh. Seorang anggota istana abad ke-12 menyuruh pelayannya menghitung jumlah pasukan, dan mengatakan jumlah mereka sebanyak 10.000 orang, padahal kenyataannya hanya 1.080 orang.1 Dalam kasus ini, sejarawan membuat perkiraan berdasarkan catatan tugas dan dokumen lain, yang berhasil selamat dalam jumlah yang lumayan banyak. Hasil perkiraan ini tumpang-tindih: yang terendah mengatakan 2.300 dan 3.600 BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 274 1 William Wayne Farris, Heavenly Warriors: The Evolution of Japan’s Military, 500- 1300, dikutip dalam Thomas D. Conlan (terjemahan dan esai interpretatif), In Little Need of Divine Intervention: Scrolls of the Mongol Invasions of Japan. pustaka-indo.blogspot.com


orang, dan yang tertinggi mengatakan 5.700 dan 6.000 orang. Angka ini berdasar pada sumber-sumber tertulis yang bertahan sampai kini; sebagian sumber lain telah hilang, dan perkiraan ini nampaknya terlalu rendah. Dari total populasi sekitar 5 juta jiwa, para panglima perang Jepang mestinya mampu mengumpulkan pasukan dalam jumlah yang kira-kira setara dengan pasukan Spanyol pada 1588 atau dengan pasukan Mongol dan China yang jadi musuh mereka saat itu, yang berjumlah sekitar 20.000 orang—atau seorang prajurit untuk setiap satu meter tembok. Jumlah itu lebih dari cukup untuk memukul mundur pasukan Mongol, China dan Korea, yang keunggulannya dari segi jumlah di - lemahkan oleh kendala dalam melakukan serangan gabungan darat dan laut, jauh dari kampung halaman sendiri, dan oleh kenyataan bahwa mereka telah tercerai-berai. Nyaris dua bulan, dari tanggal 23 Juni hingga 14 Agustus, kedua pihak saling serang dalam berbagai pertempuran kecil, namun tak ada yang menang. Tembok pelindung pun tak pernah diuji keampuhannya dalam pertempuran. Hanya dengan melihatnya pun sudah cukup untuk menghentikan gerak maju pasukan Korea, sementara pasukan tambahan sama sekali tak punya kesempatan mendekat. * * * Di antara pasukan Jepang yang tak sabar untuk bertempur adalah Takezaki Suenaga, yang kisahnya berlanjut dalam Gulungan Invasi. Suenaga, tiba dengan kudanya lengkap dengan tanda-tanda kebesaran sebagai seorang ksatria, mengambil posisi di balik tembok (yang muncul dalam salah satu ilustrasi, yang terlihat jelas karena Gulungan ini sudah mengalami restorasi). Musuh berada di tengah laut. Dia tak sabar ingin menghadapi mereka. “Aku tak bisa melawan mereka tanpa kapal!” Gota Goro, komandannya, menjawab: “Jika kamu tak punya kapal, tak ada yang dapat dilakukan.” Namun, gokenin lain dari Hizen—saya tak tahu namanya—berkata: KAMIKAZE 275 pustaka-indo.blogspot.com


“Mari kita cari kapal yang masih layak di antara kapal-kapal yang telah hancur di pantai, dan setelah itu kita usir bajak-bajak laut itu!” “Benar,” jawab Suenaga. “Pasukan musuh sebenarnya pasukan infanteri, dan perahu-perahu mereka pasti masih bisa dipakai. Aku ingin membunuh musuh, paling tidak seorang.” Suenaga dan dua temannya pun mencari kapal. Dan, gagal. Ketika mereka hendak menghentikan pencarian, sebuah kapal perang Jepang datang mendekat. Kapal-kapal ini sama sekali tidak hebat: dengan panjang sekitar 8 m, melaju lamban di permukaan laut, dan hanya mam pu membawa tak lebih dari 10 atau 11 orang, setengahnya adalah pendayung. Kapal seperti ini cukup baik dipakai di daerah pantai, namun tak ada apa-apanya jika berada di laut terbuka. Gota Goro segera mengenal kapal ini, milik Adachi Yasumori, seorang pejabat senior. Dia lalu mengirim Suenaga dan teman-temannya sebagai utusan. Mereka menaiki perahu utusan dan mendayung menuju kapal yang lebih besar. Berdiri gugup di atas geladaknya, Suenaga berteriak dan memberitahukan bahwa dia mendapat perintah untuk memakai kapal ini guna bertempur. Setelah itu, tanpa izin, dia langsung meloncat masuk kapal. Kapten kapal, Kotabe, tersinggung. “Kapal ini milik Adachi! Hanya pasukannya yang boleh memakainya! Turun dari kapal ini!” Suenaga mendebat. “Dalam urusan genting seperti ini, aku ingin melayani tuanku. Karena sudah berada di atas kapal, aku tak akan turun dan menunggu kapal lain yang bisa jadi tak akan pernah datang.” Dia tak mengacuhkan perintah kapten. “Kau melakukan penghinaan karena tak mau turun dari kapal saat kau kuperintahkan turun.” Suenaga pun dengan muka masam menuruni kapal, kembali ke perahunya. Dia dan teman-temannya kemudian mendayung menjauh. Lalu datanglah kapal perang lain, kali ini milik seorang pejabat bernama Takamasa. Suenaga membawa perahunya mendekati kapal ini, usaha yang memaksanya melepas helmnya yang kemudian hilang. Kali ini, Suenaga tak ingin gagal. Tanpa rasa malu sedikit pun, dia datang dan berbohong. “Aku datang dengan perintah rahasia. Izinkan aku naik ke perahu.” BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 276 pustaka-indo.blogspot.com


Terdengar suara berteriak dari perahu Takamasa: “Kau tak punya perintah apa pun! Pergi dari sini. Di sini tak ada tempat buat kalian.” Suenaga benar-benar tak punya malu lagi. Lalu dia mencoba tipuan lain. “Aku seorang ksatria kelas atas,” bualnya, “jadi kalian harus izinkan aku naik perahu.” Tipuan ini ternyata ampuh. “Kami sedang menuju medan tempur,” datang jawaban dengan nada jengkel. “Mengapa kau merepotkan Takamasa begini? Ayo cepat naik!” Lalu dia naik, merebut pelindung tulang kering milik rekannya se - bagai pengganti helmnya. Terdengar suara protes temannya dari perahu kecil di bawah. Tetapi Suenaga mengabaikannya. “Jalan busur dan panah adalah melakukan apa pun ganjaran yang bernilai tinggi,” kata - nya menanggapi. “Aku akan menyerang musuh sendirian, tanpa dukungan lain.” Dia bahkan menasihati Takamasa. “Musuh tak akan menyerah sampai kita mengalahkan mereka. Kita harus menggunakan jangkar kecil. Ketika kita berhasil mengait kapal mereka, kita langsung tikam dengan menusuk bagian persambungan pakaian tempur mereka.” Sayangnya, anak buah Takamasa tak bersenjata lengkap. Suenaga pun sadar bahwa dia juga begitu. Dia kemudian melihat seorang prajurit rendahan baru saja mencopot helmnya, helm yang bagus, dijalin dengan kawat warna kuning dan putih serta dihiasi bunga ceri kecil. “Serahkan helm-mu!” kata Suenaga, agak kasar. “Maaf, Tuan. Saya punya istri dan anak. Apa jadinya mereka jika saya terbunuh gara-gara Anda?” “Serahkan helm itu padaku!” “Maaf. Tak bisa, Tuan. Hanya saya atau tuan saya yang memakai helm ini.” Suenaga pun mengalah dengan enggan, dan siap beraksi, mencukupkan saja helm pelindung tulang kering dan membuang sebagian anak panahnya untuk mengurangi beban. Lalu, gambar pun menukar ceritanya. Entah bagaimana, Suenaga dan lima kawannya menemukan perahu agak lebar, dan menyerang kapal Mongol, sebuah kapal yang relatif kecil, panjangnya hanya 10 m KAMIKAZE 277 pustaka-indo.blogspot.com


dengan tujuh orang kru dan sepasang pegawai China—sulit dibayangkan kapal ini mampu menyeberangi laut sejauh ratusan kilometer. Suenagalah yang pertama naik ke kapal itu, dan busurnya sudah siap siaga. Salah seorang pegawai tadi langsung tewas, Suenaga menggorok leher nya, dan pahlawan kita ini sibuk menebas yang lain sambil menggenggam kuncir korbannya. Tak lama kemudian, kapal itu jadi milik mereka, karena ilustrasi terakhir dalam gulungan memperlihatkan Suenaga sedang menenteng dua kepala. Itulah aksi yang ingin dia catat. Entah bagaimana, dia kembali ke pantai dengan trofi berupa kepala musuh. Dia melaporkan tindakannya pada atasannya, Gota Goro, yang keraguannya ihwal kesungguhan Suenaga berubah menjadi kekaguman. “Tanpa punya perahu sendiri, kau berulang kali berbohong agar bisa bertempur. Kau benar-benar pria yang paling susah diatur!” Pada 15 Agustus, alam pun turun tangan. Kali ini bukan sekadar angin yang berbalik arah seperti kejadian di tahun 1274. Badai topan pertama musim itu datang lebih cepat dari biasanya. Di masa sekarang, ketika badai-badai besar—angin kencang di Samudra Atlantik, badai topan di Samudra Pasifik—punya nama masing-masing dan dapat dilacak, daya rusaknya menjadi berita utama di setiap tayangan berita. Tetapi, menonton siaran berita tentu tak sama dengan merasakan langsung kekuatan alam yang dahsyat ini. Tak ada kisah yang menerangkan apakah kekuatan badai topan pada 15 Agustus ini menempati peringkat No.1 berdasarkan Skala Saffir-Simpson (“74-95 mil per jam/119-153 km per jam, di mana kerusakan hanya terbatas pada pepohonan, rambu-rambu dan baliho-baliho di jalanan, perahu-perahu yang tak ditambatkan, serta rumah-rumah bergerak”) ataukah badai topan super No. 5 (“angin berkecepatan 150 mil per jam/249 km per jam, yang mampu membongkar atap… badai dahsyat yang menghancurkan semuanya”). Jika kita berlayar dengan perahu kecil di tengah badai seperti ini, kerusakan yang kita alami juga tak akan jauh beda. Joseph Conrad, yang ketika muda jadi kelasi sebuah kapal China, pernah melalui badai topan seperti ini. Dan, tak ada lukisan yang lebih BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 278 pustaka-indo.blogspot.com


baik tentang badai ini selain karyanya yang berjudul Typhoon. Dalam karya ini, badai menghantam kapal Nan-Shan, yang dinakhodai si pendiam MacWhirr, dan pemuda Jukes sebagai wakilnya: Petir dan kilat membahana di sekeliling, seolah cahayanya menyusup ke sebuah gua—ke dalam kamar rahasia lautan yang amat gelap dan berlantai gundukan-gundukan berbuih. Badai ini terlihat jelas bagi juru pantau, gumpalan awan yang menggantung rendah, gerak kapal yang terombang-ambing, sosok gelap para awak yang terjebak di anjungan, kepala menunduk, se - olah sedang siap-siap melakukan adu tanduk. Kegelapan menyertai semua ini, dan kemudian muncullah yang sesungguhnya. Badai ini luar biasa dan cepat, bagaikan bantingan botol karena marah. Dia seakan hendak meledakkan kapal dengan getaran luar biasa dan hantaman air, seakan-akan bendungan yang jebol. Tibatiba, para awak kapal tak lagi saling berpegangan. Ini benar-benar angin yang mencerai-beraikan segalanya: dia memisahkan satu orang dengan lainnya. Gempa, longsor, longsoran es, merenggut nyawa manusia begitu saja tanpa perasaan. Angin kencang menyerangnya bagaikan musuh bebuyutan, yang mencoba mencengkeram tubuhnya, melumpuhkan pikirannya, mencoba mencabut jiwanya. Jukes terpisah dari atasannya… Hujan membuatnya basah kuyup, terombang-ambing di sehelai papan. Dia bernapas terceguk-ceguk; air yang tertelan oleh mulutnya terasa kadang tawar kadang asin. Dia nyaris selalu menutup matanya rapat-rapat, khawatir penglihatannya rusak akibat benturan benda keras…. Setelah merasakan hantaman di pungguhnya, dia tiba-tiba terangkat ke atas dan mengapung. Pikiran langsung muncul di kepalanya: Laut China sedang naik ke anjungan. Lalu, ketika dia makin sadar, dia tahu dirinya sudah ter - lempar ke luar kapal. Dia terapung-apung, terempas ke sana-sini, dan bergulung-gulung di tengah laut. Dalam hati, dia terus menyebut kata-kata: “Ya, Tuhan! Ya, Tuhan! Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!” Gerak kapal sangat luar biasa. Goyangannya kala terombangambing memperlihatkan betapa tak berdayanya dia: dia terlempar seperti menuju kekosongan, seolah setiap saat menemukan dinding untuk dibenturi. Ketika bergoyang ke samping, sisi lambungnya KAMIKAZE 279 pustaka-indo.blogspot.com


terempas, dan kemudian dia bergoyang ke arah sebaliknya dengan entakan keras yang Jukes rasakan bagai pentungan petugas keamanan sebelum dia terlempar. Angin menderu tak keruan di tengah ke - gelapan, seolah seluruh dunia hanyalah gua kecil yang gelap. Sesekali, angin bertiup ke arah kapal, seperti keluar dari terowongan dengan kekuatan terpusat yang seolah mampu menyapunya dari air dan membuatnya bergoyang naik-turun dari ujung ke ujung. Lalu, kapal ini kembali terguling seakan jatuh ke dalam panci air mendidih… Permukaan laut, yang tersapu angin badai, naik dan menghantam kedua ujung Nan-Shan dengan buih-buih seperti salju, melewati jeruji di kedua ujungnya sepanjang malam. Dengan papan yang terombang-ambing inilah Kapten MacWhirr sempat menangkap beberapa benda kecil warna hitam seperti eboni, ujung palka, penutup palka, kepala roda pemutar, pangkal tiang kapal. Inilah wujud akhir kapalnya yang dia lihat. Bagian tengahnya, yang tertutupi anjungan tempat dia berada, ruang kemudi tempat seorang pria memutar kemudi tanpa bicara karena takut terlempar ke luar kapal bersama benda lainnya saat terjadi benturan keras—bagian tengahnya mirip gunung karang yang menyembul di tengah laut. Ini seperti karang di tengah laut yang dipanjat awak kapal yang karam—hanya saja bagian tengah kapal ini naik, turun, bergoyang terus-menerus, tanpa henti, seperti karang yang terlepas dari pantai dan dibiarkan terombang ambing di tengah laut. Nan-Shan dihancurkan badai tanpa ampun: layar terkoyak-koyak karena amarah badai, tenda bertali ganda terbongkar, anjungan tersapu rata, pakaian kulit koyak-moyak, jeruji bersilang-silangan, lentera-lentera pecah—dan dua perahu pun lenyap. Keduanya lenyap tak terdengar dan tak terlihat, hancur berkeping-keping di tengah empasan dan cekikan gelombang. Sekarang, bayangkanlah kapal-kapal kayu yang berlayar dalam penyerangan ini: bukan hanya kapal-kapal perang yang dibuat untuk tahan badai, tapi juga 3,000 lebih kapal-kapal kecil yang mengangkut 20-30 pasukan yang datang dari selatan. Pelaut Korea tahu benar apa yang akan terjadi. Laksamana mereka memerintahkan armadanya keluar dari laut agar tidak remuk karena menghantam karang. Ada pula yang BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 280 pustaka-indo.blogspot.com


segera melaut agar tak terdampar di pantai. Di antara mereka banyak yang masih berusaha naik kapal atau berusaha bertahan melawan gelombang tatkala badai datang. Kira-kira 15.000 pasukan utara dan 50.000 pasukan selatan tewas di laut, sementara ratusan lainnya jatuh ke tangan pasukan Jepang atau terombang-ambing sampai tewas di atas perahu-perahu kecil yang tetap tersisa di dekat pantai karang. Untuk ukuran satu hari, bencana itu tak sebanding dengan bencana yang pernah terjadi sebelum atau sesudahnya. Bencana sedahsyat itu juga tak pernah terjadi di daratan hingga bom atom menghancurkan Hiroshima yang menewaskan 75.000 orang dalam sekali ledakan pada 1945. Jadi, tak heran jika rakyat Jepang menganggap peristiwa ini sebagai perbuatan para dewa, dan sejak saat itu mereka yakin benar tentang perlindungan Ilahi atas mereka. Para pejabat istana maupun militer berdoa khusyuk agar musuh asing ini tetap tertahan di tengah laut. Kuil dan tempat pemujaan lain pun bermunculan. Bahkan Suenaga sendiri, yang keberaniannya sudah terbukti, tetap menganggap keberhasilannya “sebagai pria dengan panah dan busur” adalah berkat para dewa. Pertahanan mereka bukan cuma doa-doa, karena tembok yang ada tetap bertahan dan berfungsi baik selama 30 tahun berikutnya. Dan karena itu pula beberapa bagian tembok ini tetap lestari sampai kini. Sementara itu, keyakinan perihal campur tangan Ilahi menjadi sangat mengakar dalam kebudayaan Jepang. Sangat sedikit yang mempersoalkan kesimpulan kejadian ini: bahwa Jepang selamat berkat badai topan utusan tuhan. Namun dalam perjalanan waktu, makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa sebenarnya tidaklah begitu; dalam kenyataan, Jepang selamat berkat orang Jepang sendiri. Bukti itu terdapat dalam kisah Suenaga. Lihatlah semangat juangnya. Dia sangat berani, nekat menghadang risiko, tapi mampu mengendalikan diri dengan baik. Walaupun dia jadi simbol kestaria Jepang, namun dia hanyalah satu dari sekian banyak ksatria yang seperti dia. Di antara mereka ada kesamaan tujuan. Dan ini bekerja dengan baik. Dia berada di pihak pemenang. Dalam KAMIKAZE 281 pustaka-indo.blogspot.com


peperangan ini ada kekacauan, tak ada strategi bersama, namun aksiaksi individu yang tak terkoordinasi baik ini mampu memukul mundur musuh dan melumpuhkannya di tengah laut. Dan bukti paling penting, kisah Suenaga sama sekali tak menyebut-nyebut badai topan. Di dalam Gulungan Invasi, keberhasilan Jepang adalah berkat para pejuangnya. Suenaga memang memperlihatkan rasa hormat kepada dewa-dewa dengan berdoa, tapi tak ada petunjuk lewat tulisan maupun gambar di Gulungan yang mengisyaratkan adanya campur tangan Langit selama dan setelah kejadian ini. Teks dan gambar yang ada menunjukkan, seperti dikemukakan Conlan, “keyakinan tentang ‘angin dewa’ mewakili cara pikir khas abad pertengahan, yang amat menekankan peran kekuatan gaib ketimbang memberikan komentar pedas tentang ketidakcakapan pasukan bertahan Jepang, sebagaimana anggapan umum selama ini.” Dia menyimpulkan, “Para ksatria Jepang mampu memaksa orang Mongol berhenti.” Suenaga dan para pejuang lain—meminjam judul buku Conlan—tak terlalu memerlukan campur tangan Ilahi (In Little Need of Divine Intervention). Bukti selanjutnya datang dari para arkeolog kelautan ketika mereka mencoba menjawab pertanyaan: apa yang terjadi dengan armada Mongol yang bertempur? Tentu kita maklum bahwa masalah ini adalah hal yang tak ingin banyak dibahas oleh catatan-catatan sejarah China. Kapal utama, yang membawa sang laksamana, Fan Wen-hu, dan seorang jenderal, Chang Xi, karam di Takashima. Dua kelompok pasukan Mongol lain yang berhasil selamat, berjumlah ribuan orang, merampas rumah dan lahan pertanian penduduk yang sebelumnya mereka bantai guna memperoleh makanan dan memperbaiki salah satu kapal yang rusak, yang akan dipakai sang laksamana kembali pulang. Sementara sisanya disapu bersih oleh pasukan Jepang, sekitar 1.500 orang dijadikan budak. Tiga orang dari mereka diizinkan pulang agar memberitahu Kubilai tentang nasib armada besarnya beserta seluruh pasukan penakluknya. Sedangkan kapal-kapal lain, nampaknya telah lenyap dari sejarah dan terkubur selamanya di dasar lautan. Tidak juga. Kisah kemenangan Jepang atas Mongol jadi bagian dari BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 282 pustaka-indo.blogspot.com


kebangkitan kaum nasionalis Jepang pada 1930-an: yaitu ketika usaha restorasi pertama kali dimulai terhadap tembok teluk Hakata. Setelah perang, seorang arkeolog dari Universitas Tokyo, Torao Mozai, mulai bertanya-tanya tentang nasib armada Kubilai. Di perairan teluk, para nelayan sering menemukan sisa-sisa jangkar—batu besar bersilangan sebagai pemberat jangkar dan penambat kapal di posisi yang tepat. Masalahnya, bisa jadi jangkar ini berasal dari kapal tak dikenal yang terkubur di lautan selama berabad-abad. Pada 1980, dia memutuskan untuk memusatkan penelitian di Takashima, yang jadi markas armada selatan pasukan Mongol, dan tempat di mana mereka berusaha menjangkarkan kapal saat dihantam badai topan. Nelayan setempat menunjukkan kepada Mozai beberapa pecahan barang tembikar yang mereka temukan selama bertahun-tahun. Secara kebetulan, bukti kuat pun ditemukan. Pada 1974, seorang nelayan, yang juga tertarik dengan minat Mozai, menunjukkan sesuatu yang kebetulan terbawa jalanya saat melaut di sebelah selatan pelabuhan Kazaki: benda persegi empat terbuat dari perunggu dengan gagang pegangan di belakangnya; di bagian depan terdapat tulisan dengan huruf ciptaan guru Kubilai berkebangsaan Tibet, Phags-pa. Tulisan itu berbahasa China, dan dibaca: “Segel Panglima Seribu.” Huruf China di bagian atas benda ini menunjukkan bahwa dia dibuat pada 1277. Tak ragu lagi: benda ini milik bekas pejabat tinggi Kubilai yang terkubur di dangkal lautan—dan besar kemungkinan, kapalnya juga terkubur di sana. (Sejak saat itu, benda ini jadi simbol ikonik peristiwa sejarah dan penelitian arkeologis, yang direproduksi di dalam berbagai brosur dan replika. Sedangkan yang asli disimpan di Museum Nasional Kyushu, Fukuoka, yang dibuka pada Oktober 2005). Begitu terinspirasi, Mozai mengadakan riset lebih lanjut, mengamati dasar laut dengan sonar dan mengirim para penyelam. Di permukaan lumpur dasar laut, mereka menemukan pedang, mata tombak, batu penggiling padi, jangkar dalam jumlah sangat banyak, dan batu bundar yang jadi peluru ketapel tempur: bukti nyata bahwa orang Mongol memang membawa ketapel tempur di atas kapal. Tetapi, Mozai bekerja dengan pendanaan yang sangat terbatas. KAMIKAZE 283 pustaka-indo.blogspot.com


Temuan-temuannya memang sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian dan dukungan dari majalah National Geographic (lihat Daftar Pustaka). Namun, penelitian ini tetap harus ditempatkan pada dasar yang lebih kuat, jangka panjang dan profesional. Maka, Kenzo Hayashida pun terlibat, seorang sarjana yang baru saja meraih gelar MA dalam bidang arkeologi—Yunani zaman perunggu dan tema-tema terkait— dari Universitas Pennsylvania. Kala itu memang tak ada lowongan bagi spesialis arkeologi Yunani di Jepang selatan; tapi di sana, persis di ambang pintu Kenzo, terdapat peluang untuk memecahkan berbagai misteri besar tentang sejarah Jepang dan China. Dia pun bergabung dengan Mozai pada 1981, menggantikan perannya dan bersungguhsungguh terlibat dengan perairan Takashima yang penuh benda karam, serta memperkuat risetnya lewat kerjasama dengan dewan pendidikan setempat dan universitas di Fukuoka. Pada 1986, dia mendirikan perkumpulan Masyarakat Arkeologi Bawah Laut Kyushu dan Okinawa. Lembaga ini setiap tahun memublikasikan laporan tentang temuan yang diperoleh Kenzo dan timnya yang terdiri dari beberapa relawan penyelam. Dengan suara agak lembut dan berpembawaan tenang, Hayashida memiliki aura kearifan. Dari kelopak matanya yang setengah tertutup dan berkedip cepat, semula saya mengira dia tengah mengantuk. Ternyata tidak. Kesan pertama ini membawa saya pada kecerdasan dan dedikasinya yang luar biasa. Bertutur dalam bahasa Inggris, dengan hati-hati bagaikan sedang menelusuri jalan setapak yang telah bersemak sesudah dia tinggalkan selama 25 tahun sebelum kembali lagi ke Jepang, dia memandu saya menyusuri pekerjaannya, laboratoriumnya di Takashima dan pulaunya sendiri. Semua yang terkait dengan risetnya mengandung persoalan. Pertama—dan ini sebenarnya tak bisa diterima bagi bangsa yang hidup di kepulauan—Jepang tak punya tradisi arkeologi kelautan, bahkan untuk satu jurusan universitas pun. Dana sangat kecil. Proyek riset sepenting ini, yang kini punya museum sendiri, harus menggantungkan pendapatannya dari wisawatan. Tetapi—dan inilah persoalan kedua— Takashima sangat jauh, kita harus naik ferry yang bagus untuk sampai ke pulau ini. Meskipun tak lama lagi masalah ini akan diatasi dengan BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 284 pustaka-indo.blogspot.com


jembatan, sekarang sudah selesai setengah, tapi pulau ini pada dasarnya sangat jauh, berada di luar rute perjalanan wisata biasa. Ketiga, kondisi dasar laut di teluk Imari sangatlah sulit. Baru pada kedalaman beberapa meter, lumpurnya akan menyebar ketika tersentuh sedikit saja, menutupi jarak pandang nyaris sampai ke jarak nol, dan memaksa penyelam mundur sampai air jernih kembali. Pendek kata, pekerjaan ini sangat berat dan mahal. Sebagian besar milik Hayashida di Takashima—laboratorium dan museum—berhasil dia peroleh berkat temuan dramatis yang terjadi pada 1994, kira-kira 50 m dari garis pantai; pertama, dua jangkar raksasa dari batu granit, masing-masing sepanjang 1,5 m dan berbobot 300 kg; lalu jangkar kayu, berupa benda sepanjang 7 m dengan batu sebagai pemberat. Yang paling penting adalah tali-temalinya: tali ini terbuat dari bambu, masih utuh, dan memanjang ke arah utara dasar laut. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa batu granit itu berasal dari China selatan; dan penghitungan usia berdasarkan metode carbon14 menunjukkan bahwa pohon ek yang jadi bahan dasar jangkar ditebang kira-kira sebelum invasi tahun 1281. Tak terlalu susah menyimpulkan bahwa jangkar ini berasal dari salah satu kapal besar Mongol, kira-kira 300-400 ton, yang terdesak ke utara oleh badai topan lalu tenggelam (barangkali) bersama komandannya dan segel perunggu jabatannya. Tetapi, di manakah kapal itu sendiri? Lebih dari itu, di mana kapal-kapal yang lain? Berbagai temuan penting lain pun bermunculan dari lumpur lautan, termasuk bongkahan besar sekat kapal yang sudah lapuk, semacam susunan papan yang membagi-bagi kapal besar menjadi ruang-ruang kedap air. Salah satunya mencapai panjang sekitar 7 m, dan itu berarti lebar kapal utama setidaknya sepanjang ini—“setidaknya”, karena dari bagian mana sekat ini berasal, atas atau tengah kapal, belum bisa dipastikan. Bagaimanapun, kapal yang jadi asal sekat ini pastilah sangat besar, setidaknya sepanjang 70 m, membuat kapal-kapal lain di seluruh dunia jadi terkesan kecil sekali kala itu. Kapal layar Eropa tak pernah mencapai ukuran ini sampai abad ke-19. Kapal Raja Henry V, Grace Dieu, kapal terbesar di awal abad ke-15 di Eropa, jauh lebih kecil daripada kapal tadi: 38 m dari ujung ke ujung. Kapal utama Nelson, KAMIKAZE 285 pustaka-indo.blogspot.com


Victory, hanya sepanjang 57 m, sedikit lebih pendek daripada kapal Spanyol dan Prancis. Ketika zaman mesin uap tiba, barulah kapal layar Eropa melampaui besarnya kapal perang China dan Korea tadi. Tetapi, ukuran besar tak bisa dijadikan pertahanan melawan badai topan. Bisa jadi, panglima malang ini melepas jangkar persis di sini, di bagian selatan pantai yang agak terlindung, dengan harapan arah badai topan berbalik melawan arah jarum jam, mengarah terus ke daratan dari utara. Saat kejadian itu, seperti ditunjukkan oleh tali penambat, badai topan itu malah mengarah ke laut, dan arah angin justru datang dari selatan, lurus melintasi teluk Imari. Temuan lain pun segera menyusul, dalam jumlah ratusan, dan semuanya dibawa ke laboratorium Hayashida untuk dibersihkan. Di antara temuan yang tak kalah penting yakni enam butir bom petir— tetsahu, “bom besi”, begitulah orang Jepang menyebutnya meski dia terbuat dari keramik, bukan besi. Beberapa di antaranya lebih berbahaya dari yang sekilas terlihat: yang pertama, saat dilihat dengan sinar-X, ternyata berisi pecahan logam yang membuatnya jadi lebih mematikan— bukti kuat bahwa Suenaga dan kawan-kawan memang dibombardir dengan bom petir pada 1274. Hari itu hanya saya satu-satunya tamu pengunjung di museum Hayashida. Seorang petugas membuka sebuah kotak dan menyerahkan kepada saya dua buah tetsahu. Benda ini membuat saya gugup. Saya teringat nasib Suenaga dan bagaimana dia lolos dari jebakan maut selama berbulan-bulan, dan sekarang saya memegang benda mirip kerang seukuran buah melon yang bisa meledak ini. Benda ini jadi bukti kuat bahwa kejadian tersebut memang benar. Apa yang terjadi seandainya saya tak sengaja menjatuhkannya? Saya senang berkesempatan memegangnya, dan lebih senang saat mengembalikannya. Di ruang sebelah, di laboratorium, terdapat staf Hayashida yang mengurusi sekitar 4.000 item, sebagian besar tersimpan dalam tabungtabung berisi air tawar selama beberapa bulan, bahkan ada yang beberapa tahun, sampai benar-benar bersih dari air laut. Semua ini berkat gagang sekat kapal, gerabah-gerabah, pecahan logam, serpihan kayu, cawan-cawan, bahkan tulang. Di salah satu sisi ruangan terdapat BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 286 pustaka-indo.blogspot.com


jangkar-jangkar, beberapa di antaranya sangat kecil, kira-kira hanya cukup untuk menambatkan perahu-perahu kecil. Yang paling besar, jangkar raksasa seberat satu ton, tersimpan dalam wadah yang berfungsi untuk memasukkan semacam pengawet, polythylene glycol (PEG), ke dalamnya. Proses ini sangat lama, sekitar satu atau dua tahun lebih. Kurator museum, Akiko Matsu, wanita bermuka bundar, cekatan, dan bersemangat, menunjukkan beberapa benda kesukaannya: cawan keramik, helm, pedang, seikat batang panah, potongan busur dan busur bersilang. Dia lalu mengambil sesuatu yang terbungkus kain katun: tengkorak manusia. “Ini tengkorak seorang pemuda,” kata Hayashida. “Anda bisa lihat betapa air laut telah merusak kalsiumnya. Tetapi kita tahu bahwa dia kira-kira berusia 20 tahun. Sementara yang satu ini adalah tengkorak pria yang lebih tua. Perhatikan giginya. Ini gigi geraham. Pria ini cukup sehat, tak ada lubang di gerahamnya.” Terlalu pagi untuk dapat memahami temuan-temuan ini. Ini semua baru sebagian kecil dari teka-teki besar ciptaan badai topan kala itu, dan badai-badai topan berikutnya. Apa yang terjadi sejak saat itu bagaikan memasukkan 4.000 butir telur ke dalam blender raksasa, lalu menebarkannya ke lumpur, kemudian menyiramkan lumpur lain ke atasnya, dan setelah itu mencoba memahami artinya. Empat ribu kapal! Ada jutaan serpihan, potongan, sebagian besar tercerai-berai— mungkin—di seluruh dasar teluk Imari. Dan baru sekitar 100 yang siap diperlihatkan. Hayashida masih berada di tahap permulaan, berharap menemukan banyak hal lain yang menginspirasi peneliti lain untuk menyamai temuannya, dan memungkinkan bagi penelitian lebih lanjut. Namun, bukan berarti kita tak bisa mengeluarkan kesimpulan sementara. Di antara kendi-kendi temuan, hampir semuanya berasal dari China, bukan Korea, sebagian besar berasal dari pembakaran yang sejak lama ada di Yixing di Jiangsu. Dari seluruh temuan, hanya sekitar 20 buah yang berasal dari Korea, dan ini jadi bukti kuat bahwa armada China mengalami bencana sangat parah. Bagaimana mungkin? KAMIKAZE 287 pustaka-indo.blogspot.com


Konstruksi kapal adalah hal terpenting bagi kapal yang akan mengarungi samudra. Dalam hal ini, nampaknya itu terkait dengan masalah sudut pembelah ombak. Seorang rekan Hayashida, Randall Sasaki, dari Universitas A&M Texas, College Station, yang mengkaji 500 lebih potongan balok kayu, merasa heran saat menemukan lubanglubang paku yang nampaknya telah ditambal. Jadi, besar kemungkinan para pembuat kapal ini memanfaatkan kayu bekas. Tak hanya itu, ada lagi yang diperlihatkan Hayashida. Dia menunjukkan potongan kayu berbentuk persegi. Di potongan ini terdapat dua lubang. “Kayu ini adalah sendi tiang kapal, tempat tiang itu ditegakkan, disokong dua penopang yang dimasukkan ke lubang ini. Tapi coba perhatikan: kedua lubang ini tidak tepat di tengah. Artinya, sendi ini dibuat oleh orang yang tak tahu apa yang dia buat.” Akhirnya, dia menambahkan: “Tahukah Anda apa yang paling janggal? Sampai sekarang, kita tak menemukan bukti adanya lunas kapal berbentuk V.” Bukti-bukti ini, plus hilangnya paling tidak sebuah kapal besar yang mestinya mampu mengatasi badai topan, membawa kita pada kesimpulan mengejutkan namun logis: menanggapi perintah Kubilai yang nyaris tak masuk akal untuk membangun begitu banyak kapal dalam waktu amat singkat, tukang-tukang di galangan kapal pun mencari akal. Mereka mengambil jenis apa pun, tak peduli layakkah dibawa ke laut luas atau tidak. Kalau kapal itu bagus, langsung dioperasikan; jika jelek, mereka akan memperbaikinya dengan bahan yang sama. Kecuali beberapa kapal baru buatan orang Korea—yang hingga kini belum ada yang ditemukan bangkainya—sebagian besar kapal armada Kubilai adalah perahu-perahu tanpa lunas yang cocok di perairan sungai, dan sama sekali tak layak dibawa ke laut luas. Hayashida juga bertanya-tanya ihwal kemungkinan lain yang diisyaratkan oleh penggunaan kayu bermutu rendah dan konstruksi yang jelek: apakah rencana perlawanan terhadap Kubilai begitu besar sehingga para tukang terdorong melakukan sabotase? Bagaimanapun, ambisi Kubilai akhirnya berujung pada kegagalan melakukan kendali mutu. Saya bisa membayangkan laporanlaporan bagus para pengawas, semuanya dengan bangga melaporkan bahwa perintah kaisar sudah dilaksanakan dengan baik, bahwa kapalkapal sudah siap. Tak ada yang memberi tahu kaisar bahwa jika BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 288 pustaka-indo.blogspot.com


keadaan memburuk, perahu-perahu ini akan masuk jebakan maut. Baru sekitar 0,5 persen dari 1,5 km2 luas teluk Takashima yang telah ditelusuri, belum lagi keseluruhan wilayah teluk Imari. Tentu masih banyak yang harus ditemukan, dan saya berani bertaruh bahwa temuan-temuan itu akan kian membuktikan kelemahan pasukan MongolChina, sekaligus mendukung pendapat Conlan bahwa orang Jepang memang tak terlalu memerlukan campur tangan para dewa. Memang, badai topanlah yang memberikan pukulan terakhir pada armada Mongol. Memang, kapal mereka dibangun asal-asalan, strategi mereka pun lemah. Namun, perlawanan pasukan Jepang-lah yang menghadang pasukan Mongol agar tidak sempat mendirikan kubu pertama di pantai. Yang Kubilai perlukan adalah pendaratan gaya DDay: 100.000 pasukan berangkat lebih dulu ke pantai, lalu peralatan— kuda, ketapel, busur pengepung, dan kemudian kuda tambahan—dan setelah itu baru merangsek masuk ke daratan. Tetapi semangat perlawanan pasukan Jepang justru menunda pendaratan, bahkan di antara mereka, seperti Suenaga, ada yang berani maju menyerang musuh ke tengah teluk, mengunci pasukan Mongol sampai tak berkutik lagi. Apakah dalam operasi militer kali ini Kubilai punya peluang menang? Jujur saja, saya ragu. Kalaupun kedua armadanya bergabung, palingpaling hasilnya hanya “nyaris”. Ketika armada selatan datang terlambat, pasukan Mongol sebenarnya sudah mulai berada di pihak yang kalah, korban dari kerumitan dan besarnya operasi, perlawanan internal, ketidakbecusan dan ketidakpastian perang. Mereka berada jauh dari kubu pertahanan mana pun, tak memiliki pasukan pendukung. Manakala hari-hari berganti menjadi minggu-minggu, mereka pun kekurangan bahan makanan, air, dan amunisi. Mati atau mundur tak terhormat adalah pilihan mereka. Ada atau tidak badai topan tak akan memengaruhi hasil akhir peperangan ini; badai ini hanya menggantikan kekalahan pelan-pelan dengan kekalahan cepat. Dengan ambisi setengah gila, Kubilai sebenarnya telah menenggelamkan kapal-kapalnya sebelum mereka mengangkat sauh. KAMIKAZE 289 pustaka-indo.blogspot.com


14 UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN TAK ADA YANG LEBIH MEMPERLIHATKAN EMOSI TERPENDAM SELAIN PEMBUNUHAN (murder); dan tak ada yang lebih memperlihatkan kegagalan pemerintahan selain pembunuhan (assassination). Kisah ini menggambarkan jantung pemerintahan Kubilai. Dia menciptakan monster kelaparan yang selalu ingin melahap manusia, harta benda dan uang, dan harus selalu dikasih makan. Seorang pria harus punya rahasia, dan itu alasan yang lebih dari cukup bagi Kubilai untuk tidak mengacuhkan dendam kesumat yang merebak bagai wabah penyakit di sekitar bawahannya yang jahat dan penuh nafsu kekuasaan. Selama 20 tahun, dia membiarkan benih bencana tumbuh subur, hingga akhirnya lahir menjadi kisah melodramatis yang lebih mencekam daripada thriller fiksi, sebuah kisah yang melibatkan orang-orang fanatik yang rela mati, biksu-biksu gila, rencana-rencana rahasia yang tak masuk akal, dan pembunuhan orang yang berada di pusat keadaan yang sedang mendidih. Tak heran jika Marco Polo senang dengan kisah ini. Sayangnya, dia bahkan tak tahu setengah dari cerita yang sebenarnya. Biang keladi semua ini adalah Ahmad, pria Uzbek (begitulah kita menyebutnya sekarang) dari daerah Banakat, beberapa kilometer barat BAGIAN I: MUSIM SEMI 290 pustaka-indo.blogspot.com


daya Tashkent di Syrdar’ya. Jenghis menaklukkan kota ini di awal invasinya ke dunia Muslim pada 1220. Kala itu pasukan Mongol membantai garnisun kota dan membawa “tukang-tukang dan anakanak untuk pengepungan”.1 Ahmad kira-kira lahir di masa-masa ini. Mungkin saja ibunya ditawan bersama para pemuda. Sebab saat masih bocah, Ahmad sudah berada dalam rombongan Chabi; setelah dia menikah dengan Kubilai pada 1239, kala itu Ahmad sudah berusia 24 tahun, dia dimasukkan ke dalam pengurus rumah tangga Kubilai, membantu pengelolaan keuangan dan pengeluaran militer. Dalam lingkungan inilah, seperti kata penulis biografinya, Herbert Franke, “dia berusaha mati-matian memperoleh kendali total atas urusan keuangan negara”. Tatkala Kubilai naik takhta pada 1260, Ahmad bertanggung jawab mengurusi usulan-usulan seluruh kebutuhan istana. Berkat dorongan ambisinya, kariernya melejit cepat. Tahun berikutnya, dia menduduki dua jabatan penting, posisi senior di Sekretariat dan komisioner transportasi. Dia sangat membenci pengawasan—yang merupakan pertanda buruk dalam diri seorang pejabat—dan memohon agar dia dapat bertanggung jawab langsung kepada Kubilai. Atasannya, seorang ilmuwan berkebangsaan China yang bergabung dengan Kubilai ketika wilayah Jin menyerah pada 1234, bersikukuh agar segala urusan dilakukan lewat saluran dan aturan yang sesuai. Ahmad keberatan, tapi Kubilai setuju dan kemudian memberikan mandat kepada putra dan pewaris takhtanya, Zhenjin (Jingim dalam ejaan lain), untuk mengurusi Sekretariat. Inilah usaha pertama Ahmad dalam memperoleh kekuasaan yang lebih besar, yang pertama dari sekian banyak konfrontasi dia dengan rekan-rekannya, dan awal permusuhannya dengan Zhenjin. Di Sekretariat, Ahmad bertugas meningkatkan pendapatan pemerintah, dan dia memang banyak akal untuk tugas ini. Bagaimana jika jumlah produksi perkakas besi dari peleburan milik pemerintah bisa meningkat, perkakas itu bisa diberikan kepada para petani sebagai penukar gabah? Ini tentu akan meningkatkan persediaan pangan. Bagaimana pula UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN 291 1 W. Barthold, Turkestan Down to the Mongol Invasion. Bagian selanjutnya dari bab ini didasarkan pada biografi Franke dalam Igor de Rachewiltz dkk., In the Service of the Khan: Eminent Personalities of the Early Mongol—Yüan Era (1200-1300). pustaka-indo.blogspot.com


dengan pajak transaksi penjualan yang dilakukan dengan mata uang perak? Para saudagar yang masuk ibukota akan menghasilkan pemasukan dari pajak. Bagaimana jika peraturan yang membebaskan biksu dari pajak dibatalkan? Bagaimana jika produsen garam di Shanxi dihukum, karena garam mereka yang berharga murah dan berkualitas rendah telah mengalahkan garam pemerintah? Kubilai senang dengan hasil yang diperoleh, dan Ahmad makin banyak memperoleh jabatan. Kekuasaannya yang bertambah besar diimbangi pula dengan kesombongannya, dan kesombongannya diimbangi dengan ketidakpopulerannya. Ketika pengawalnya memulai percekcokan, seorang penasihat Kubilai berkebangsaan Uighur, Lien Xixian, menghukumnya dengan hukuman cambuk. Peristiwa ini tidak sering terjadi. Tetapi dalam sebuah dunia di mana yang berlaku adalah keadilan yang kasar, peristiwa ini cepat terlupakan dan tak mampu membuat jera Ahmad. Apa jadinya jika dia tak lagi populer? Sebagian besar pejabat berkebangsaan asing dicatat, seperti kata Marco Polo: “Anda harus tahu bahwa seluruh orang Cathay (China utara) membenci kekuasaan Khan Agung karena dia menempatkan di atas mereka para gubernur berkebangsaan Tartar, Saracen, atau orang Kristen yang amat dekat dengan rumah tangganya dan sangat setia melayaninya, dan merupakan orang asing bagi penduduk Cathay.” Pada 1266, Ahmad kejatuhan durian runtuh. Dia diangkat menjadi kepala sebuah jawatan baru, Jawatan untuk Pengelolaan Belanja Negara. Untuk memeras tetes terakhir dari setiap sumber pendapatan yang ada, dia mencela kualitas kain linen di daerah sini, atau kualitas emas batangan di daerah sana. Dia memeriksa rancangan pembuatan pakaian tahan api dari asbes dan rancangan penggalian tambang perak baru dengan cara melebur timah dari bijinya. Dia berpikir cara meningkatkan pasokan pangan untuk pasukan yang tengah berperang melawan Ariq. Dia memastikan bahwa pendapatan pajak kerajaan selalu meningkat: pada 1261, China utara memiliki rumah tangga wajib pajak sebanyak 1,4 juta; dan pada 1274, jumlah itu meningkat menjadi dua juta. Perselisihan di sekitar dirinya terus berlanjut: menyangkut usahanya mendirikan jawatan pemerintahan baru untuk mengepung Sekretariat, BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 292 pustaka-indo.blogspot.com


dan terkait keberatannya terhadap kantor audit baru, Badan Sensor. “Mengapa kita mesti memiliki Badan Sensor?” protesnya. “Tak ada alasan untuk mendirikan badan ini selama aliran uang dan pangan terus masuk!” Tetapi dia kalah dalam kedua upaya ini, dan menganggapnya sebagai taktik mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah. Pada 1270, dia mendapat jawatannya sendiri—Jawatan Urusan Negara, pilar utama pemerintahan yang keempat, selain Sekretariat, Biro Urusan Militer, dan Badan Sensor. Dia juga ditunjuk sebagai pimpinan urusan politik dalam Sekretariat: meski kedua jabatan ini berlawanan dengan nasihat para pejabat senior Kubilai, tapi di mata sang kaisar Ahmad punya tangan ajaib dan tak akan pernah berbuat kesalahan. Lalu datanglah pertengkaran berikutnya. Ahmad ingin diberi hak untuk menunjuk dan mengangkat orang-orangnya sendiri, membatalkan peran Kementerian Kepegawaian yang saat itu dikontrol langsung oleh Sekretariat. Dia mengajukan permohonan kepada Kubilai, dan Kubilai lalu mengubah aturan itu untuknya. Itu pun belum membuat dia puas. Selanjutnya, dia ingin mengusulkan agar Sekretariat dibubarkan saja. Tatkala dua orang bawahannya menyatakan ketidaksetujuan mereka, dia menurunkan pangkat yang satu dan memecat yang satu lagi. Pada 1272, Ahmad berhasil menggabungkan dua dewan, dan bertindak sebagai pimpinan. Dia pun menjadi pejabat tertinggi Kubilai. Dia menunjuk putra sulungnya, Husain, menjadi walikota Beijing. Semua pejabat yang keberatan—beberapa orang bahkan berusaha memakzulkannya—segera disingkirkan Kubilai, karena tak ada yang diperbolehkan menghalangi proses mobilisasi segala sumber daya demi kepentingan penyerangan ke Kekaisaran Song. Ketika kemenangan atas Song sudah dapat dipastikan, Ahmad tergabung dalam tim yang ditunjuk untuk memberi masukan bagaimana sebaiknya memanfaatkan taklukan baru ini. Satu persoalan yang muncul yakni: apakah mata uang Song harus diganti dengan mata uang Yuan. Bayan, panglima utama pasukan selatan, menjanjikan tak akan terjadi pengantian. Setengah pejabat teras Kubilai sepakat dengan dia. Mereka berpendapat, penggantian mata uang akan meruntuhkan kredibilitas rezim baru di kalangan rakyat taklukan. Sebagian lainnya tidak sepakat, barangkali mereka terpengaruh oleh Ahmad, yang melihat keuntungan UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN 293 pustaka-indo.blogspot.com


berlipat dalam penggantian mata uang. Kubilai pun melakukan pemungutan suara, dan kubu Ahmad menang. Rakyat selatan yang malang disodori angka pertukaran yang sangat buruk: satu Yuan di - hargai 50 uang Song. Setelah itu, Ahmad nyaris paling berkuasa, berhasil mengangkat dirinya melampaui sistem pemerintahan China yang diseimbangkan dengan hati-hati dan penuh masalah serta mengangkat dirinya sebagai wazir Timur Tengah. Ahmad juga bernasib baik. Di masa-masa ini, beberapa penasihat utama Kubilai sejak sebelum dia naik takhta wafat, misalnya Liu Bingzhong dan Yao Shu. Dia pun mengumumkan hak mono poli negara atas garam, bahan obat-obatan, barang-barang tembaga dan perdagangan besi. Pengumuman ini memungkinkan dia memanipulasi harga dan menumpuk kekayaan untuk diri sendiri. Seorang putranya yang lain menjadi gubernur di ibukota selatan, Hangzhou. Dia mendirikan biro transportasi di kesebelas provinsi, dan menunjuk pejabat Muslim sebagai pimpinan di lima provinsi—tamparan telak bagi rekan-rekannya yang berkebangsaan China. Dia punya saingan utama, Kanselir Utama Hantum, yang dikirim Kubilai bersama putranya, Nomukhan, untuk membantu menumpas pemberontakan Kaidu di Asia Tengah, sejak itu keduanya lenyap selama 10 tahun karena ditawan di Golden Horde. Sementara para pengkritik lain diturunkan pangkatnya atau dipenjara, sebagian mereka meninggal atau dihukum mati; ada pula yang lenyap begitu saja, dibunuh secara sadis, terbukti dengan penemuan atas potongan-potongan tubuh yang nyaris tak bisa dikenali lagi. Langkah Ahmad makin tak terkendali dan tak terbendung, bahkan makin brutal. Korupsi jadi masalah lain. Dia sangat tamak; lewat rekanrekannya, tawaran bangunan di sini, permata di sana, atau kuda bagus, urusan pasti lancar dan izin untuk ini-itu pasti segera keluar. Dia juga sangat haus wanita. Seperti kata Marco Polo, “Di mana pun dia tahu ada keluarga yang punya anak gadis cantik, dia akan mengirim begundalbegundalnya mendatangi ayah si gadis, dan berkata, ‘Jangan mengelak. Kamu punya anak gadis cantik bukan?; kawinkan dia dengan Ahmad, dan dia akan mengatur jabatan di pemerintahan atau di kantor tertentu untukmu.’” Konon, menurut sejarawan Persia, Rasyiduddin, dia punya BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 294 pustaka-indo.blogspot.com


40 istri dan 400 selir. Setelah kematiannya, ketika harta kekayaannya didaftar, ternyata dia memiliki 3.758 kuda, onta, lembu, domba, dan keledai. Ahmad bahkan berani menentang Bayan, Si Mata Seratus yang telah uzur, penakluk daerah selatan. Ketika Bayan tiba di Beijing untuk merayakan kemenangannya, Ahmad memastikan dirinya jadi orang pertama yang memberi ucapan selamat. Bayan memberinya hadiah pribadi berupa sabuk bertatahkan permata: permata adalah batu Surgawi, lambang kebangsawanan dan kemuliaan, keindahan dan kemurnian. Bayan menyatakan, hanya itulah hadiah yang bisa dia berikan, karena dia tak boleh mengambil harta Kekaisaran Song lebih banyak lagi. Ahmad menganggap ini kritik halus atas perilakunya yang terang-terangan. Dia mengadukan Bayan kepada Kubilai, pertama atas tuduhan mencuri cawan permata, dan kedua atas pembantaian beberapa serdadu yang telah menyerah. Setelah dilakukan penyelidikan—yang jelas sangat mencoreng nama baik seorang panglima besar—kedua tuduhan ini sama sekali tak terbukti. Namun Kubilai tetap terikat dengan keahlian, semangat, kepercayaan diri dan kerealistisan Ahmad dalam soal keuangan. Sebenarnya, perilaku Kubilai memang biasa kita temukan dalam diri pimpinan politik. Perdana menteri atau presiden mana pun di zaman sekarang, ketika dihadapkan pada skandal yang merebak di sekitar salah seorang pejabat terasnya, pasti akan menyatakan bahwa dia sepenuhnya memercayai pejabat tersebut. Dia tak boleh memperlihatkan di depan publik kelemahan penilaiannya. Setelah keadaan tak bisa dikendalikan lagi, barulah sang pimpinan menerima kenyataan yang sesungguhnya. Kubilai sangat yakin dia masih memegang kunci semua persoalan, dia masih bisa mengabaikan sisi buruk Ahmad sembari menarik keuntungan dari kemahiran finansialnya yang sangat diperlukan untuk membiayai invasi ke Jepang dan penaklukan lainnya. Namun, peristiwa-peristiwa yang terjadi sudah hampir tak bisa lagi dikendalikan siapa pun. Perlawanan di tingkat bawah memperoleh momentumnya. Seorang mantan pejabat militer bernama Zui Pin, veteran perang Song dan saat itu diberi jabatan sebagai pejabat senior UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN 295 pustaka-indo.blogspot.com


di salah satu provinsi, menulis memo. Dia memberitahukan bahwa Ahmad sedang membangun semacam kekaisaran sendiri dengan mendirikan 200 kantor pemerintahan yang sebenarnya tak perlu, dan mengangkat sahabat dan keluarganya sebagai pejabat—yang kemudian terbukti berjumlah kira-kira 700 orang. Memo ini dikirim ke seluruh kekaisaran. Dengan berat hati, Kubilai bertindak, dan karib-kerabat Ahmad pun disingkirkan; namun keampuhan tindakan ini hanya sebentar, karena di antara karib-kerabat itu terdapat Husain, putra Ahmad. Ahmad pun balas dendam, menuduh Zui Pin dan dua koleganya mencuri bahan pangan dan memalsukan segel-segel perunggu. Ketiga orang ini akhirnya dihukum mati pada 1280. Tetapi, Ahmad punya seorang musuh yang tak bisa dia singkirkan dengan gampang. Putra dan pewaris takhta Kubilai, Zhenjin, sangat membenci dia. Antipatinya terhadap Ahmad kian diperparah oleh nasib malang Zui Pin: dia memang mengirim utusan untuk menyelamatkan Zui Pin dari hukuman mati, tapi sayangnya utusan ini datang terlambat. Ketika Ahmad hadir, Zhenjin nyaris tak bisa menahan amarahnya. Suatu kali, dia langsung memukul muka Ahmad hingga dia tak mampu membuka mulutnya. Ketika Kubilai menanyai dia tentang kejadian ini, Ahmad bergumam lewat giginya bahwa dia terjatuh dari kuda. Di lain waktu, Zhenjin mencambuk Ahmad di depan kaisar, dan Kubilai mengabaikan saja peristiwa ini. Ahmad mencoba lagi mengambil alih kendali dengan mengusulkan dia akan membentuk pengadilan tinggi yang berwenang mengadili seluruh pangeran. Usulan ini melampaui batas, bahkan untuk Kubilai sendiri. Kubilai pun mengomel dan marah sembari berkata bahwa seumur hidup dia belum pernah mendengar ada yang mencoba menyensor keluarga kekaisaran. Pada 1281, makin banyak skandal yang membuat segalanya mendekati puncak. Di sebuah distrik di Provinsi Shaanxi, dua bawahan Ahmad menarik pajak nyaris tiga kali lipat dari yang seharusnya, yakni dari 950.000 menjadi 2.700.000 untaian uang logam. Seorang anggota lama tentara Pengawal Kekaisaran menulis surat lain, melaporkan korupsi dan penipuan yang Ahmad lakukan. Tindakan ini dia lakukan karena Ahmad menugaskannya untuk mengepalai tempat peleburan besi di sebuah provinsi. Dituduh tak mampu memenuhi kuota, Ahmad BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 296 pustaka-indo.blogspot.com


lalu menurunkan pangkatnya menjadi pegawai suruhan; akhirnya, seluruh hartanya disita dan dia dijebloskan ke penjara. Namun demikian, Kubilai masih saja memercayai Ahmad. Bahkan, musim semi berikutnya, sang kaisar mempromosikannya menjadi Kanselir Kiri, jabatan yang hanya setingkat di bawah Kanselir Kanan di dalam hierarki pejabat pemerintah. Kemungkinan paling buruk yang akan terjadi jika dia tak dihentikan yaitu: dia dan Kubilai akan mengatur kekaisaran bersama-sama. Akhirnya, lahirlah sebuah konspirasi. Komplotan ini dikepalai dua konspirator yang sama-sama memiliki kepribadian angin-anginan. Yang paling ngotot yakni Wang Zhu, seorang tentara yang keras, komandan satu resimen yang begitu terobsesi oleh kebencian terhadap Ahmad, sampai-sampai dia sejak lama sudah menyiapkan pentungan dari kuningan untuk membunuhnya. Dia ditemani seorang biksu Buddha yang licik, bernama Gao, yang juga mengaku dukun. Dua orang ini ber kenalan dalam sebuah operasi militer, saat Gao membacakan mantera yang tak berpengaruh sama sekali serta membunuh seorang pria dan menggunakan mayatnya sebagai bukti palsu bahwa dia telah bunuh diri. Maka saat itu, dia sedang menyamar. Di musim semi 1282, Kubilai memerintah di Xanadu, sebagaimana biasa di setiap musim semi. Urusan di Beijing diserahkan kepada Ahmad yang, meminjam ungkapan sejarah resmi, “menghabiskan seluruh tenaganya demi ketamakan dan pemborosan dengan cara-cara yang dibenci dan dimurkai rakyat.” Komplotan tadi menangkap peluang mereka, begitu lanjutan kisah dalam sejarah resmi—dalam empat versi berbeda dan saling bertentangan, dan berlawanan lagi dengan keterangan Rasyiduddin dan Marco Polo. Uraian berikut adalah hasil usaha saya sendiri untuk memahami kisah ini. Kedua konspirator tadi merencanakan aksi yang nyaris tak masuk akal: melibatkan ratusan orang yang berjalan menuju gerbang kota berpura-pura sebagai rombongan pengantar Zhenjin, putra mahkota, dan tiba-tiba memutuskan kembali ke Beijing untuk mengadakan upa - cara keagamaan. Saat itu tengah malam, terlalu gelap untuk lang sung tahu siapa sebenarnya orang-orang ini. Aksi ini bertujuan agar Ahmad, UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN 297 pustaka-indo.blogspot.com


yang terkejut dan gugup karena tiba-tiba didatangi orang yang lebih dia takuti ketimbang kaisar sendiri, akan berjalan menyambut Zhenjin palsu. Dan ketika dia sudah dekat, tibalah saatnya untuk menghabisinya. Pada 26 April, Wang Zhu dan Gao berhasil menjalankan dengan baik tahap pertama dari rencana mereka yang rumit. Mereka mengirim dua biksu Tibet ke dewan kota untuk memberitahukan “berita tadi” dan berpesan pada kanselir untuk membeli perlengkapan upacara. Anggota dewan kota kebingungan. Mereka mengecek berita ini kepada pasukan penjaga gerbang: tak ada perintah yang mereka terima. Lalu, kedua biksu ditanya tentang keberadaan putra mahkota. Mereka gugup dan tak bisa menjawab. Merasa dipermainkan, komandan pasukan penjaga pun menahan keduanya. Setelah itu, Wang Zhu melaksanakan rencana tambahan, mengirim surat palsu yang seolah-olah berasal dari putra mahkota dan ditujukan kepada wakil komisioner Biro Urusan Militer. Surat itu meminta wakil komisioner, atas nama putra mahkota, datang “ke kediamanku untuk mendapat perintah selanjutnya.” Tipuan ini berhasil. Ketika pasukan utama tak lagi berada di sekitar kediaman Zhenjin, Wang Zhu langsung menemui Ahmad, meminta dia membawa seluruh koleganya di Sekretariat untuk menyambut kedatangan “pangeran”. Langkah ini pun berhasil, tapi cuma setengah. Ahmad mengirim beberapa penjaga untuk menemui pangeran mahkota palsu dan pasukan berkuda sewaan Wang di sebuah tempat sekitar 5 km dari batas kota. Pasukan itu tentu langsung mengetahui bahwa semua ini hanyalah tipuan. Para pemberontak ini tak punya pilihan lain: mereka menghabisi penjaga itu dan melanjutkan perjalanan menuju kota. Sekitar jam sepuluh malam, mereka mendapat izin memasuki salah satu gerbang kota di sebelah utara, dan langsung menuju pintu barat istana putra mahkota. Di sini, mereka mendapat masalah. Pasukan penjaga bersiap siaga dan kelihatan sangat curiga. Di mana pengendara garis depan yang biasa terdapat dalam rombongan pangeran? “Kami ingin melihat dua pengendara tersebut sebelum membuka pintu gerbang.” Hening sejenak. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 298 pustaka-indo.blogspot.com


Para pemberontak mundur, berjalan di tengah gelap malam mengitari istana dan mencoba lagi, kali ini dari pintu selatan. Tak cukup waktu un - tuk menyampaikan pesan melintasi kota guna memperingatkan para pen - jaga. Gerbang ini dibuka, dan para penjaganya, tertipu oleh surat palsu lain dari “pangeran,” buru-buru bergabung ke dalam rombongan pengiring. Ahmad dan rombongannya keluar. Orang-orang asing ini pun turun dari kuda, meninggalkan sosok yang terlihat samar-samar dalam gelap di atas kuda sebagai pangeran palsu. Sosok ini memanggil Ahmad. Ahmad melangkah maju. Wang dan beberapa pengikutnya segera berada tepat di belakangnya. Mereka membiarkannya maju sedikit lagi, lalu bergerak menuju sosok “pangeran” yang tak terlihat jelas. Wang kemudian menarik pentungan kuningan dari lengan bajunya, kemudian menghajar Ahmad dengan sekali pukulan mematikan. Setelah itu, giliran bawahan kepercayaan Ahmad yang dipanggil, dan dia pun menemui nasib serupa. Lalu, sisa rombongan Ahmad mulai mencium ketidakberesan, dan mereka langsung meminta bantuan. Setelah itu, suasana menjadi kacau balau, penjaga dan pemberontak bercampur baur dalam gelap. Gao yang jadi pangeran palsu berkuda menembus kegelapan, panah beterbangan, dan kerumunan orang tercerai-berai, meninggalkan Wang yang memohon agar ditahan: dia yakin kemuliaan tindakannya pasti akan diakui dan dia akan mendapat pengampunan. Tetapi, dia tak seberuntung itu. Biksu Gao ditemukan dua hari kemudian. Pada 1 Mei, keduanya dijatuhi hukuman mati, bersama komandan pasukan penjaga kota. Sebelum kapak algojo menunaikan tugasnya, Wang berteriak: “Aku, Wang Zhu, mati demi mengenyahkan seekor hama dari dunia! Suatu saat, pasti ada yang bersedia menulis kisahku!” Ketiganya kemudian dipancung, dan tubuh mereka dipotong menjadi empat, sebuah akhir berdarah yang memancing keraguan akan kemampuan Kubilai dalam menilai karakter bawahannya dan mengendalikan keadaan. Komandan pasukan penjaga Beijing-lah yang membawa kabar ini secara pribadi kepada Kubilai, menempuh jarak 500 km dengan UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN 299 pustaka-indo.blogspot.com


berkuda tanpa henti, menukar kuda di sepanjang pos perhentian. Dia hanya perlu waktu dua hari untuk sampai di perkemahan sementara kaisar di Tsagaan Nur (Danau Putih), kira-kira 170 km utara Xanadu— tempat sang kaisar, seperti kata Marco Polo, menikmati musim semi di padang rumput, “berburu kelinci, ayam hutan, burung bangau dengan elang-elang pemburunya.” Kubilai langsung memerintahkan rombongan agar kembali ke Xanadu. Dari sana, dia memerintahkan Bolad, Wakil Komisioner Biro Urusan Militer, untuk menyelidiki kejadian ini dan memastikan Ahmad dimakamkan secara kenegaraan. Sepuluh hari kemudian, Bolad kembali, membawa cerita sebenarnya tentang Ahmad. Kubilai naik pitam dan membalik keadaan: “Wang Zhu berhak membunuhnya!” Dia memerintahkan untuk menangkap seluruh anggota klan dan teman Ahmad di seluruh kekaisaran. Semua yang Ahmad tetapkan dibatalkan; segala yang dia miliki disita. Dalam salah satu lemari yang jadi barang bukti, terdapat benda sangat aneh: dua lembar kulit kepala manusia yang telah disamak “yang masih ada telinganya.” Benda ini seakan-akan menunjukkan bahwa Ahmad telah melakukan sesuatu yang benar-benar mengerikan kepada korbannya, lalu diikuti pula dengan perilaku aneh. Ketika para penyidik menanyai kasim yang bertugas mengurusi kunci lemari ini, dia mengaku tak tahu untuk apa benda itu; tapi dia menambahkan dengan berbisik, “Jika mereka meletakkan mahkota-roh ke atas benda ini saat membaca mantera, maka jawabannya sangat jelas.” Apa pun tujuan Ahmad dengan benda ini, hal itu jelas tak berkaitan dengan Islam. Para penyidik mencurigai adanya praktik pemujaan, dan kecurigaan ini diperkuat ketika mereka menemukan dua gulungan sutra bergambar orang-orang berkuda yang mengitari sebuah tenda sambil mengacungkan pedang dan membidikkan busur seolah-olah sedang menyerang orang yang ada di dalam. Apa arti semua ini? Tak ada yang tahu. Tetapi seniman pembuat lukisan tadi berhasil ditemukan dan dihukum mati. Rincian kejadian ini memicu obrolan hangat di kalangan dukun, menjelaskan ungkapan Marco Polo bahwa Ahmad “ingin menggulingkan Kaan dengan sihirnya karena dia begitu percaya dan bergantung pada apa pun yang dia katakan.” BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 300 pustaka-indo.blogspot.com


Semua istri dan putri Ahmad dipulangkan dari harem miliknya, barang curian dikembalikan, budaknya dimerdekakan, ternaknya dibagibagi, pejabat yang dia angkat—sekitar 581 orang—dipecat. Di musim gugur itu, keempat putranya dihukum mati. Mayat Husain, bos Beijing, diawetkan sebagai tambahan hukuman, sementara mayat seorang adiknya dikuliti. Kejahatan Ahmad diumumkan ke publik. Hukuman mati lainnya pun segera menyusul, termasuk seorang pembantunya di Sekretariat, bawahan Muslim yang menyerahkan putrinya ke harem Ahmad sebagai penukar jabatan yang dia terima. Setelah terbunuh, Ahmad dimakamkan secara kenegaraan. Lima minggu setelah pemakaman, Kubilai memerintahkan agar kuburannya digali, mayatnya dipancung di depan umum, dan tubuhnya dibuang ke luar tembok kota Beijing bagian utara agar dimakan anjing. “Para pejabat dan masyarakat berbondong-bondong menyaksikan peristiwa ini. Mereka memperlihatkan raut muka setuju,” begitulah penjelasan singkat Yuan History. UANG, KEGILAAN, DAN PEMBUNUHAN 301 pustaka-indo.blogspot.com


15 BATAS PERTUMBUHAN SAYA BERTANYA-TANYA APAKAH YANG TELAH MENDORONG MEREKA BERDUA, Jenghis dan cucunya, Kubilai. Saya pikir, seorang psikoanalis akan berkata bahwa mereka didorong oleh perasaan tak aman yang sangat dalam. Jenghis terlunta-lunta sejak kecil, karena itu seumur hidup dia berusaha menciptakan keamanan dengan skala yang luar biasa besar. Kubilai mewarisi yang telah diperoleh kakeknya. Tetapi, dia tak pernah sepenuhnya diterima oleh kaum tradisionalis Mongol, rakyat kakeknya. Jadi, jauh di dalam dirinya, dia tak pernah merasa tenang. Namun rakyat keduanya sungguh beruntung, karena keduanya memiliki bakat kepemimpinan luar biasa, bakat yang mereka pakai untuk mendorong batas-batas kekaisaran sejauh mungkin. Jenghis tidak hidup cukup lama untuk merasakan batas-batas ini. Kubilai-lah yang sempat mengenyamnya, dan tatkala dia mengalami batas-batas itu, dia pun terkejut. Di balik semua hiasan kebesarannya, saya pikir dia tetap jadi “balita manja” sampai dewasa yang mengentak-entakkan kaki dan merengek saat mendapati keinginannya tak terpenuhi. Tentu saja, semua itu dibalut dengan ideologi. Membawa jutaan penduduk China ke dalam sebuah kekaisaran adalah prestasi sangat besar, tapi selalu saja ada langkah lanjutan yang harus dia tempuh demi mewujudkan ambisi utamanya: membuat dunia mengakui kemahakuasaan yang Ilahi berikan kepadanya. Dorongan inilah yang BAGIAN I: MUSIM SEMI 302 pustaka-indo.blogspot.com


berada di balik ketekunan Kubilai dalam memperluas kekaisarannya. Tak ada ancaman yang harus dihadang, tak ada alasan strategis meng - apa harus menaklukkan dan menduduki. Semua itu dia lakukan karena memang harus dilakukan. Titik. Maka, Jepang pun diserang; dan setelah itu empat petualangan lain—Burma, Vietnam, Burma lagi, dan Jawa. Semua ini memperlihatkan betapa hampa dan sia-sia ambisi ini. Kubilai barangkali juga berencana menyerbu bulan. Setiap petualangan yang dia lalui seharusnya mampu menyadarkannya bahwa dia telah membentur batas; namun dia tak mau belajar. Setiap langkah mundur membuat dia makin ngotot memperbaiki mantel ketakterkalahannya yang telah sobek, sementara setiap usaha itu malah makin mengoyaknya. Dia keras kepala sampai ke liang kubur. Nyaris tak bisa dipercaya, dia bahkan berkeras menyerang Jepang sekali lagi. Pada 1283, dia memerintahkan saudagar-saudagar di selatan membangun 500 kapal perang baru, dan dua tahun kemudian dia memesan 200 kapal lain dari orang Jürchen di Manchuria. Orang Korea dia tuntut untuk menyediakan pasokan beras sebagai bahan makanan pasukan yang ingin dia kirim. Baru pada 1286, para penasihat - nya mencoba membujuknya untuk mengurungkan niat ini, karena saat itu dia juga punya masalah besar di tempat lain. Ketika serangan kedua atas Jepang gagal, saat itu sudah ada hubungan yang mapan di antara rakyatnya di berbagai wilayah. Kapalkapal dagang datang dan pergi. Seorang utusan pernah datang dari Annam (Vietnam Utara hari ini) pada 1265. Namun hubungan dagang dan duta-duta saja tidaklah cukup. Yang Kubilai inginkan adalah pengakuan atas kekuasaannya, bukti yang dia tuntut adalah upeti. Karena itu, mau tak mau dia pun menginginkan pengakuan itu juga datang dari Burma, karena kerajaan ini berbatasan dengan Yunnan, yang secara teknis sudah termasuk wilayah China sejak invasi Mongol— kita tentu ingat, Kubilai sendirilah yang memimpin invasi—pada 1253. Yunnan dibiarkan diurus oleh perangkat pemerintahannya sendiri serta satu garnisun kecil selama 20 tahun. Akhirnya pada 1273, wilayah ini memperoleh pejabat tingginya sendiri yang ditunjuk oleh pusat, yakni Sayid Ajall, pria berkebangsaan Turki dari Bukhara yang kakeknya menyerah kepada Jenghis pada 1220. Tatkala Yunnan telah masuk BATAS PERTUMBUHAN 303 pustaka-indo.blogspot.com


sepenuhnya ke dalam naungan kekaisarannya, Kubilai pun memutuskan mengirim tiga utusan yang meminta Burma menyerah. Burma sedikit pun tak bersedia menuruti permintaan ini. Sang raja, Narathihipate, adalah penguasa sebuah kerajaan yang berdiri dua abad sebelumnya oleh orang-orang Burma, yang bermigrasi ke dataran rendah tropis Irrawaddy dari dataran tinggi Yunnan—mereka menyerap budaya yang begitu kaya dari penduduk asli, bangsa Mon. Dari bangsa baru ini, yang disebut Mranma (karena itu, kini wilayah ini dinamai Myanmar), orang Burma menyebar sampai ke Sri Lanka, India, Kamboja, Indonesia, dan China. Dengan Pagan sebagai ibukotanya, kerajaan ini sangat makmur, stabil, dan memiliki banyak sekali kuil—5.000 kuil untuk kota Pagan saja—yang memuliakan kepercayaan Buddha. Perintah memberikan upeti kepada China sama saja dengan pelecehan yang tak bisa ditolerir, apalagi pesan itu datang dari wilayah yang orang Burma yakini pernah jadi milik mereka. Selain kebanggaan ini, terdapat pula rasa tak aman. Burma menderita akibat pemberontakan dan konflik religius yang terjadi seabad sebelumnya, dan zaman keemasan pembangunan kuil telah lama berlalu. Narathihipate bukanlah raja yang mampu mengurusi kerajaannya dengan baik. Dia bukan pewaris sah takhta kerajaan, karena dia merebutnya dengan kekerasan. Rakyat membencinya, menyebutnya sebagai “Raja Kotoran Anjing.” Sewenang-wenang dan kejam, dia mengawasi 3.000 selirnya. Ketika menemukan selir kesukaannya berencana membunuhnya dengan racun, dia memerintahkan agar selir ini dimasukkan ke dalam kurungan dan dibakar hidup-hidup. Dia memboroskan kekayaan negara untuk membangun pagoda raksasa, Mingalazedi, salah satu kuil besar terakhir di Pagan—karena selalu khawatir nyawanya terancam, dia membangun terowongan dari istananya menuju pagoda ini. Bata-bata merah muda dan halus pagoda ini, yang begitu memesona saat diterpa cahaya senja, berbentuk piramida yang bagian bawahnya bersegi empat. Di pagoda ini, terdapat inskripsi yang menyatakan kesombongan raja bahwa dialah “panglima tertinggi sebuah pasukan besar, seorang pria yang mampu menyantap 300 kari dalam satu hari”—meski yang dia maksud bukan dirinya seorang; dia memerintahkan seluruh putra dan anggota keluarganya yang lain tetap BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 304 pustaka-indo.blogspot.com


di istana untuk mengantasipasi andai mereka berbalik menentangnya. Salah satu pepatah Burma menyimpulkan prestasinya ini dengan baik: “Pagoda selesai, negeri pun hancur.” Tatkala utusan Kubilai tiba, sang raja mungkin bisa berdamai dan berunding; tapi dia justru melemparkan pesan Kubilai ke muka utusan, membunuhnya, dan mengirim pasukan ke negeri Kaungai, sebuah wilayah netral. Tak pelak lagi, tindakannya ini memastikan datangnya invasi. Empat tahun berikutnya, Kubilai sibuk dengan urusan lain, penaklukan Song. Pada 1277, tibalah saatnya beraksi. Kubilai menunjuk putra Sayid Ajall, Nasiruddin, yang pernah membantu ayahnya mendirikan pemerintahan Yunnan, sebagai pemimpin operasi ini. Marco Polo melukiskan apa yang terjadi selanjutnya (tentu saja dia menerima rincian kisah ini belakangan) dengan gayanya yang biasa, mencampurkan fakta dan hiperbola. Orang Burma, dengan 200 gajah tempur, bergerak maju menghadang pasukan penyerang di sekitar perbatasan di wilayah lembah-lembah yang dalam, dengan stepa-stepa dan sisi-sisinya yang dipenuhi belantara, yang mengarah ke kota yang kini bernama Baoshan. Pasukan yang mereka hadang adalah tentara Nasiruddin yang berjumlah 12.000 orang, yang kemudian mundur ke arah lereng hutan. Beberapa orang Mongol memang pernah melihat gajah, tapi kuda-kuda mereka belum pernah melihatnya. Ketika dilecut untuk maju, kuda-kuda ini menolak. Nasiruddin pun memerintahkan pasukannya turun dari kuda, maju dengan berjalan kaki dan menggunakan busur dan panah mereka. Sebatang anak panah tak akan berakibat banyak bagi seekor gajah, lain halnya jika jumlahnya ratusan. Berikut tuturan Marco Polo tentang hal ini: Ketika gajah-gajah orang Burma merasakan akibat kecerdasan panahpanah yang menyerang bagaikan siraman hujan, mereka pun berbalik arah dan lari, dan tidak ada di muka bumi ini bisa memerintahkan mereka berbalik dan terus menghadapi orang Tartar. Mereka pun lari dengan suara gaduh dan sangat berisik, sehingga Anda akan merasa dunia kiamat. Lalu mereka memasuki daerah hutan dan BATAS PERTUMBUHAN 305 pustaka-indo.blogspot.com


terus menerobos, melarikan pelana tempur di punggung mereka ke arah pepohonan, memutuskan tali-temali yang mengikat di tubuh mereka, menghajar dan menghancurkan apa pun yang menghadang jalan mereka. Mereka menghancurkan apa pun yang menghadang di jalan yang mereka lalui, termasuk pasukan infanteri Burma. Lalu pasukan kavaleri pun turun tangan, seperti cerita Marco Polo dengan gaya bertutur epik abad pertengahan, melukiskan bagaimana serangan dihadapi dengan pedang dan gada, lengan dan kaki yang kena tebas, dan pasukan yang terluka bersembunyi di antara gelimpangan mayat. Orang Burma mundur, orang Mongol mengejar, menyuruh pawang gajah Burma yang mereka tawan untuk menangkap kembali gajah-gajah yang kabur. “Gajah adalah binatang yang punya banyak akal daripada binatang lain; tapi kali ini mereka tetap tertangkap, lebih dari 200 ekor. Dan sejak peristiwa inilah Kaan Agung mulai senang memelihara gajah.” Namun, jumlah gajah mungkin tidak 200 ekor, karena Nasiruddin, yang yakin dengan kemenangannya, kembali ke Xanadu pada Juli 1279 hanya dengan 12 ekor gajah, setelah membawanya berjalan sejauh 2.000 km melintasi berbagai negeri. Nasiruddin menang karena raja Burma melarikan diri ke Irrawaddy, tindakan yang membuatnya mendapat gelar ejekan lain: Manusia Tarokpliy, “Raja yang Lari Ketakutan dari Orang China.” Tetapi cuaca kala itu sangat buruk, penyakit mewabah dan tentara Nasiruddin jauh dari rumah. Yang dapat dia lakukan setelah bertempur adalah mendirikan perkampungan baru bagi tentaranya (sekitar 110.200 di antaranya) dan beberapa stasiun perhentian pos. Penaklukan Burma tidak berhasil, namun urusan ini belum selesai. Kemudian, muncullah masalah Vietnam—lebih tepatnya, masalahmasalah, dalam bentuk jamak, karena di abad ke-13 Vietnam terdiri dari dua kerajaan, yakni Annam (di utara) dan Champa. Menganggap kedua kerajaan ini juga belum mengakui kemaharajaannya, Kubilai pun memberi kesempatan keduanya untuk memberi pengakuan: secara pribadi, atau dengan menyerahkan catatan penduduk yang terbukti BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 306 pustaka-indo.blogspot.com


sangat berguna untuk meningkatkan jumlah pajak atau tenaga kerja, atau dengan mengirimkan anggota keluarga yang masih muda sebagai bukti niat baik—yang sebenarnya adalah sandera. Annam mengirimkan hadiah-hadiah, tak lebih. Pada 1279, Champa mengirimkan seekor gajah, seekor badak, dan beberapa permata. Lain kali, kata Kubilai, raja Champa sendiri yang harus datang. Pada 1280, beberapa macam hadiah kembali datang, tapi bukan raja. Maka, tibalah saat untuk mem - berikan tekanan. Untuk tugas ini, Kubilai menunjuk seseorang bernama Sodu, gubernur di daerah Guangzhou—orang Eropa menyebutnya Canton— pelabuhan besar yang paling dekat dengan Champa. Pasukannya yang berjumlah 5.000 orang dan 100 kapal merapat di sebuah tanjung di Vietnam selatan, di sebuah danau pinggir laut yang mengarah ke ibukota, Wijaya, yang saat ini bernama Qui Nhon. Ketika berhasil merebut kota, mereka mendapati sang raja saat itu, Indrawarman V, bergerak ke perbukitan di daerah dalam. Bodohnya, Sodu mengikuti mereka, yakin bisa menang dalam pertempuran terbuka. Namun orang Vietnam justru melancarkan perang gerilya, menebar kematian versi mereka sendiri, kematian dengan seribu tebasan. Sodu meminta pasukan tambahan, dan 15.000 prajurit tambahan pun segera datang di bawah pimpinan Ataqai, veteran operasi militer ke Song (dia tangan kanan Bayan dalam serangan terakhir menuju ibukota Song, Hangzhou). Dia, maupun pasukan tambahan lain pimpinan Ariq-khaya, sama sekali tak mampu membuat perbedaan. Raja Champa tetap tak berhasil ditangkap, pasukannya tak bisa dilumpuhkan, taktik gerilyanya sangat efektif memaksa orang Mongol tetap berada di posisi terpojok di hutan-hutan di pedalaman Champa. Lalu, beberapa strategi baru pun dicoba. Nampaknya ini ide Sodu, yang dia usulkan saat dalam perjalanan menuju Xanadu: Bagaimana jika pasukan tambahan dikirim lewat darat, lewat Annam? Karena mengira Annam sudah jadi negara bawahan China, Kubilai tentu saja dapat mengirim pasukannya melintasi kerajaan ini tanpa halangan. Kubilai menyetujui rencana ini. Dia pun menunjuk putranya, Toghan, sebagai komandan pasukan, dan Sodu sebagai wakilnya. BATAS PERTUMBUHAN 307 pustaka-indo.blogspot.com


308 Kekaisaran Mongol, 1294 Operasi Militer Mongol Berdasarkan Tahun Perbatasan Kekaisaran Mongol Perbatasan negara lain Daerah-daerah yang membayar upeti kepada Kekaisaran Mongol Daerah kekuasaan Kaidu pustaka-indo.blogspot.com


309 pustaka-indo.blogspot.com


Tetapi, Annam kini dipimpin penguasa baru, generasi ketiga dari Dinasti Tran yang sedang berkuasa, bernama Tran Nhan Tong; dia memandang tawaran ini sebagai muslihat untuk melakukan invasi. Dia menolaknya dan menyeru seluruh negeri untuk mempertahankan diri di bawah pimpinannya sendiri. Usaha ini terbukti berhasil dengan baik. Di bawah arahan para pejabat elite, seluruh pria, kecuali pelayan, harus ikut wajib militer, sehingga pasukan terlatih dapat dipanggil kapan saja. Sumber-sumber yang ada tak banyak menjelaskan kejadian ini, tapi setidaknya tetap ada unsur kebenaran dari apa yang dilaporkan sumbersumber ini. Pertama-tama, raja ragu-ragu. Peperangan yang berlangsung lama akan membawa kehancuran besar, katanya kepada panglima pe - rang, Tran Hung Dao. Tidakkah lebih baik menghentikan perang untuk mempertahankan jumlah penduduk kita? “Apa yang akan terjadi dengan tanah nenek moyang kita, kuil-kuil yang didirikan pendahulu kita?” jawab panglima dengan sopan. “Jika Yang Mulia ingin menyerah, penggal - lah leher hamba lebih dulu.” Pada awal 1285, di sebuah pertemuan besar para tetua desa, Tran Hung Dao, saat itu sudah jadi lambang perlawanan nasional, mengajukan masalah ini ke forum: “Musuh sangat kuat; apakah kita menyerah atau melawan?” Terdengar teriakan orangorang dari belakang: “Perang!” Namun, para pemimpin mereka tidak memberikan contoh yang baik. Sang jenderal menuding mereka lewat pernyataan yang sering dikutip dalam berbagai literatur klasik Vietnam, pernyataan mirip pidato Churchil ketika merekrut pasukan: Aku tak dapat makan dan tidur, hatiku merana, air mataku jatuh berlinang. Aku marah dan kecewa karena tak mampu menghancurkan musuh berkeping-keping, mengambil jantungnya dan menghisap darahnya. Kalian para pejabat dan jenderal pasukan kerajaan kita… kalian menghabiskan waktu menonton sabung ayam, berjudi, merawat taman, menjaga istri dan anak kalian. Kalian sibuk mencari uang dan mengabaikan apa yang terjadi. Tetapi jika negeri kita diserang orang Mongol, taji-taji ayam sabungan kalian tak akan bisa menghancurkan musuh, tipuan kalian ketika berjudi tak akan mampu mengganti strategi militer mereka. Kalian boleh punya taman dan sawah ladang seharga seribu tael emas, tapi itu semua tak akan bisa menebus hidup kalian. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 310 pustaka-indo.blogspot.com


Orang-orang pun menanggapi. Para petani di ladang meminta agar lengan mereka ditato dengan kata-kata “Orang Mongol harus mampus!”, dan panji-panji mereka bertuliskan “Hancurkan kekuatan musuh dan kembalikan kemuliaan raja!” Toghan, yang tengah mengumpulkan pasukannya di sebuah provinsi di wilayah China selatan, sama sekali tak tahu perlawanan ini, apalagi semangat dan taktik mereka. Dia yakin bisa melakukan rencananya, karena Uriyang-kadai pernah mengambil rute yang sama dalam invasi singkatnya pada 1257, sebelum akhirnya terpaksa mundur ketika ber - hadapan dengan sengitnya perlawanan orang Vietnam dan wabah malaria. Semua mulanya berjalan lancar. Toghan, bergerak bersama pasukan yang konon berjumlah 300.000 orang (bahkan ada yang bilang 500.000 orang), jumlah yang nyaris lebih dari dua kali lipat, memukul mundur pasukan Annam yang terang-terangan menghina lewat tato dan panji-panji mereka. Pada Juni 1285, pasukan Mongol tiba di Hanoi—saat itu bernama Thang Long—dan mendapati taktik pasukan Annam sama persis dengan taktik orang Champa. Mereka sengaja mundur. Tak ada aksi yang perlu dilakukan. Rumah-rumah kosong, ladang-ladang dikosongkan dari bahan pangan; keluarga kerajaan dan rakyat melarikan diri. Pasukan Mongol, saat itu diperkuat kapal-kapal yang berlabuh di Sungai Merah, menguasai pantai, delta Sungai Merah—tapi tidak di daerah pedalaman, hutan dan gunung, atau basis pertahanan raja di Thanh Hoa, 170 km ke selatan. Seranganserangan gerilyawan, penyakit, kekurangan bahan makanan, dan cuaca musim panas yang mengerikan mulai melumpuhkan pasukan Toghan. Sebulan kemudian, Tran Hung Dao memutuskan saat yang tepat untuk melancarkan serangan balik. Peperangan di Chuong Duong, 20 km ke arah hulu sungai dari Hanoi, berhasil membawa pasukan Vietnam kembali ke ibukota, memaksa pasukan Mongol mundur menyeberangi Sungai Merah. Pertempuran lain di sungai kecil Tay Ket, yang bergabung dengan bendungan kuno Sungai Merah beberapa kilometer ke tenggara Hanoi, menyempurnakan kekalahan pasukan Mongol—50.000 orang tertangkap, Sodu sendiri tertangkap dan dipancung, sementara sisanya melarikan diri ke daerah perbatasan. BATAS PERTUMBUHAN 311 pustaka-indo.blogspot.com


Kubilai memerlukan waktu dua tahun untuk memperbaiki pasukan yang kocar-kacir ini sebelum mencoba lagi. Toghan jelas memerlukan bantuan, dan Kubilai memberi bantuan dengan mengirim para veteran, Ariq-khaya, Nasiruddin, dan seorang cucu Kubilai, Esen Temür. Kali ini, strateginya agak berbeda: sebuah markas besar didirikan di daerah pedalaman tak jauh dari Hai Phong, dan serangan rencananya dilakukan lewat laut maupun darat. Balasan Tran Hung Dao, di awal 1288, tak kalah cerdas. Di darat, strateginya masih sama—mengosongkan wilayah berpenduduk sehingga pasukan Mongol tidak memperoleh apa-apa untuk dirampas. Untuk mengantisipasi hal ini, Toghan menyiapkan operasi besar sebanyak 500 kapal yang akan memberikan pasukan tambahan dan suplai bahan makanan di sungai Bach Dang dari Hai Phong. Tran Hung Dao memusatkan perhatiannya pada armada kapal Mongol, menyiapkan taktik yang pertama kali digunakan 300 tahun sebelumnya untuk memukul mundur armada China dan memastikan kemerdekaan orang Vietnam. Langkah pertamanya yaitu memerintahkan pasukan memotong dan meruncingkan ratusan pancang dari kayu-besi. Pancang-pancang ini lalu diangkut 5 km ke teluk Halong, ke salah satu pulau dari ribuan pulau kecil yang ada di sana, pulau-pulau yang membuat teluk ini sangat indah (konon, menurut legenda, pulau-pulau ini tercipta ketika seekor naga menyelam ke laut, mengukir ceruk daratan dan lembahlembah dengan ekornya, dan membuat gua di bukit-bukit kapur yang curam). Di tengah pulau, di ketinggian sekitar 200 m, terdapat sebuah gua yang lebih besar, yang mampu menampung 1.000 prajurit. Di sini mereka bersiap-siap dengan pancang-pancang mereka, menunggu kapal-kapal Toghan lewat menuju daerah hulu sungai. Ketika kapal-kapal itu lenyap dari pandangan, perahu-perahu Vietnam bergerak dari daratan lalu menjemput pasukan ini dan pancangpancang runcing mereka. Beberapa kilometer ke arah hulu, di daerah di mana sungai agak melebar menjadi hamparan daerah berlumpur kala terjadi pasang surut, mereka menunggu sampai air mencapai ketinggian yang paling rendah. Lalu, mereka menancapkan pancangpancang tadi: satu pancang untuk satu meter per segi—ada yang ditancapkan lurus, ada yang ditancapkan miring mengarah ke hulu— BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 312 pustaka-indo.blogspot.com


dengan pola zig-zag di seluruh bagian aliran, dipasang sedemikian rupa di bawah batas permukaan air sehingga perahu kecil tetap dapat melintas di atasnya. Menurut cerita, Tran Hung Dao sendiri yang memeriksa pekerjaan ini, menancapkan pedangnya ke tanah dan menyanggul rambutnya agar tidak menghalangi penglihatannya. Lalu, terjadilah penyerangan. Sayangnya, kita tidak memperoleh rincian kisahnya. Hasilnya, pada 22 Maret (atau setelah itu, karena keterangan lain menyebut tanggal 3 April atau 8 April), armada Mongol, yang bergerak dari pinggir sungai dan pantai, terpaksa mundur ke muara. Perahu-perahu kecil Vietnam bertindak sebagai umpan yang hilir-mudik di atas pancang-pancang tadi, dan satu serangan terakhir memperlambat laju pasukan Mongol. Akhirnya, mereka terperangkap di atas pancang-pancang: beberapa kapal tertusuk pancang dan terbelah, terperangkap di satu titik sementara kapal-kapal lain bergerak menghantamnya. Kapal-kapal Mongol ini tak punya harapan sama sekali ketika perahu-perahu pembakar milik pasukan Vietnam melaju dari daerah hulu. Kocar-kacir karena terjebak di tengah lumpur dan air, orang Mongol menjadi mangsa empuk bagi pasukan Vietnam yang bergerak dari pinggir sungai. Toghan beruntung bisa lolos—hanya untuk mendapati kemarahan Kubilai: kaisar mengucilkan cucunya ini ke Yangzhou sebagai hukuman, 150 km dari muara sungai Yangtze, dan sangat jauh dari istana. Selama bertahun-tahun, sungai di sekitar Bach Dang tertimbun lumpur, dan pancang-pancang tadi terbenam di dasar sungai. Lalu bagaimana kita bisa memastikan kejadian tadi benar adanya? Sebagian karena titik tempat Tran Hung Dong menancapkan pedangnya ke tanah untuk membereskan rambutnya ditandai oleh sebuah kuil yang dipersembahkan untuknya; namun alasan utamanya, bahwa pada 1953 orang Vietnam Utara mengeruk sungai untuk memperlancar laju kapal yang lewat, dan dalam pekerjaan ini mereka menemukan pancangpancang tadi. Pada 22 Maret 1988, pada peringatan 700 tahun kemenangan ini, Taman Pancang Bach Dang ini diresmikan sebagai tempat bersejarah guna mengenang peristiwa menyerahnya “kaum feodal utara.” Saat ini, pulau tempat pancang-pancang ini disembunyikan dan gua raksasanya—Gua Pancang Rahasia—dijadikan tempat wisata; BATAS PERTUMBUHAN 313 pustaka-indo.blogspot.com


dan Tran Hung Dao masih dikenang sebagai pahlawan nasional yang berhasil mempertahankan kemerdekaan Annam. Campur tangan Kubilai di Vietnam sangat mirip dengan peristiwaperistiwa mutakhir. Penguasa adidaya menganggap perlu menjaga kepentingan nasional dengan mengirim pasukan untuk menyerang rezim yang sangat otoriter di utara. Pasukan asing gagal mencapai tujuan mereka. Lalu, kekuatan pun ditambah. Kehormatan turut campur. Pandangan hidup dan harga diri harus dipertahankan, dan sungguh tak masuk akal mengapa kekuatan yang begitu kecil mampu menahan serangan kekuatan paling berkuasa di muka bumi. Selama sepuluh tahun, kekuatan adidaya ini mencoba mencapai tujuannya, bertempur di rawa-rawa dan mencoba melihat secercah cahaya di ujung terowongan hanya untuk dipaksa mundur secara memalukan. Ya, memang ada kemiripan menarik dengan Amerika dan perangnya di Vietnam. Tetapi, ada kemiripan dan ada pula perbedaan. Amerika pada 1960-an berada di tengah kecamuk Perang Dingin, berhadapan dengan musuh bebuyutannya, USSR (Uni Soviet). Inilah alasan di balik serangan pertamanya ke Vietnam. Sebaliknya, Kubilai terbiasa memusuhi dan memerangi mereka yang sama sekali tidak mengancam. Jadi, sama sekali tak berhubungan dengan ideologi. Namun dari ini semua, ada pelajaran yang bisa dipetik dari semangat Kubilai dan orang Amerika: jangan pernah, sekali lagi jangan, mainmain dengan orang Vietnam Utara. Setelah itu, tak ada lagi pikiran untuk menginvasi Champa. Tetapi masih ada urusan yang mesti diselesaikan di Burma. Pada 1283, pasukan berkekuatan 10.000 orang dari Sichuan mencoba memengaruhi raja agar menyerah, tapi dia pun lari ke perbukitan. Tak ingin menuai kesulitan lebih lanjut, dia lalu mengirim dua biksu untuk memohon perdamaian. Mereka sadar tengah berada di pihak yang lemah: “Tuan, bukankah Anda Boddisatwa (Buddha di masa depan)? Wilayah kekuasaan Tuan begitu luas. Pagan hanyalah negeri kecil, tapi di sini ajaran Buddha tumbuh subur. Janganlah Tuan kirim pasukan ke sini. Datanglah setelah masa panen tiba.” Kubilai berjanji, dan menepatinya. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 314 pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version