dengan Kerajaan Song, dan selama itu dia berhasil menghindari kebrutalan orang Mongol. Di kemudian hari, dia membantu mendirikan sebuah akademi Konfusianisme di Beijing. Tetapi setelah itu, dia mengasingkan diri ke pedalaman selama sepuluh tahun karena tak senang dengan pemerintahan, hingga akhirnya Kubilai memburu kepalanya dan mengundang dia datang ke Karakorum pada 1251. Di sana dia jadi guru Jingim kecil, saat itu berusia delapan tahun, putra kesayangan sekaligus pewaris Kubilai kelak. Kubilai juga mempekerjakan pejabat dari bangsa lain. Dia memang harus menyeimbangkan masa lalu dan masa depannya, kepentingan lokal dan kekaisaran, orang Mongol, China, dan Turki. Soal penasihat pemerintahan, dia memiliki tim berkebangsaan China; perihal urusan militer, dia memercaya kannya pada orang Mongol; dalam hal penerjemah dan sekretaris, dia mengangkat orang Turki. Pemerintahan ini sangat besar dan terdiri dari berbagai kelompok—sekitar dua lusin, sebuah kabinet bayangan yang dipilih secara hati-hati demi kestabilan politiknya, seakan-akan Kubilai mem persiapkan pemerintahan lebih dari sekadar demi keperluan urusan wilayah tanah perdikannya saja. Dengan semua itu, dia sangat siap tatkala dia meminta Mönkhe memberinya wewenang dan tanggung jawab lebih luas di China utara. Ada alasan strategis yang jadi dasar permintaan ini—untuk memastikan keamanan pasokan bahan makanan yang akan dibawa pasukan logistik. Dia telah mem pertimbangkan tanah pertanian yang begitu kaya di sepanjang Sungai Kuning dan daerah sekitarnya, di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Shaanxi dan Henan, kira-kira antara ibukota kuno Xian dan ibukota Keifeng yang baru saja takluk. Mönkhe ragu memberikan tanggung jawab yang begitu besar sekaligus, dan akhirnya memberi Kubilai pilihan. Penasihat Chinanya memberitahu dia bahwa daerah hilir sungai terkenal dengan banjir dan airnya yang asin, sehingga dia memilih daerah hulu sungai Wei, “secuil” tanah sekitar setengah wilayah Inggris yang membentang dari lembah Wei ke selatan sampai pegunungan di perbatasan Kerajaan Song. Mönkhe terkesan dengan alasan Kubilai—wilayah itu tak berpenduduk banyak, sebagian besar bukan China, licik terhadap pemerintah, namun dengan potensi luar biasa—sehingga dia pun juga memberikan sebagian wilayah SINGA BETINA DAN ANAKNYA 39 pustaka-indo.blogspot.com
Henan. Ketika membangun wilayah-wilayah ini, Kubilai mengikuti nasihat Yeh-lü Chu-tsai, praktik cerdas ibunya serta strategi kekaisaran Mönkhe. Dia membiarkan para petani menggarap lahannya, menetapkan pajak yang adil, dan membangun “pertanian militer”: daerah koloni yang didedikasikan untuk memasok pasukan. Semua berjalan lancar. Dia telah memiliki basis kekuasaan—kaum China, yang selalu dicurigai kaum tradisionalis di balik padang rumput sana, kaum yang me rupakan nenek moyangnya. Dia memang begitu, tapi sebagian. Dia tak bisa melangkah terlalu jauh. Ibunya menasihati agar dia tetap berhubungan dengan segala yang berbau Mongol dalam bentuk imperialnya yang terakhir. Tempat itu, misalnya, adalah sayap barat, yang di tahun 1251 merupakan wilayah yang kini menjadi Iran bagian timur dan Uzbekistan. Selama 30 tahun, wilayah ini, dengan kota-kota Jalur Sutranya yang besar, tetap berada dalam kehancuran. Sementara Islam di barat dan ibukotanya, Baghdad, tetap tak terjamah. Sorkaktani sendiri tetap menjalin kontak dengan wilayah ini, membiayai pembangunan masjid dan madrasah atau sekolah Islam—salah satunya di Bukhara dengan 1.000 murid—yang, sebagaimana tercatat dalam sejarah Muslim, merupakan hal luar biasa yang dilakukan seorang ratu Kristen. Di awal 1252, Sorkaktani yang saat itu berusia 70 tahun lebih, mangkat. Dia dimakamkan jauh ke daerah barat di Provinsi Gansu, di Shangye, kota markas militer kuno yang menjaga Jalur Sutra dan kemudian menjadi pusat misionaris Nestorian. Sorkaktani pasti memiliki keterikatan kuat dan langgeng dengan kota ini, karena tempat per - istirahatan terakhirnya konon merupakan sebuah Kuil Buddha Raksasa— terkenal kemudian dan saat ini bukan hanya karena ukuran dan usia patung nya, 34 m dan sebelas abad, tapi karena tempat itu masih ada hing ga kini. Ketika pada 2005 saya berkunjung ke sana, bangunan ini se dang mengalami pemugaran untuk membongkar lapisan lumpur ber - usia 1000 tahun. Seorang diri di dalam temaram, bingung apa yang harus dicari, saya berjalan ke arah kanan di sekitar rangkaian peng gan - tung an, berpikir ini tembok hiasan yang tersembunyi. Saya baru sadar saat mendongak ke atas dan melihat bayangan sebuah senyum raksasa nan cantik yang kemudian menghilang di kegelapan di atas saya. BAGIAN I: MUSIM SEMI 40 pustaka-indo.blogspot.com
Tiada petunjuk perihal bekas Kekristenan sedikit pun. Saya mulai bertanya-tanya apakah yang saya dengar sebelumnya hanyalah mitos. Saya kemudian menemui direktur pemugaran, Wu Zhen Ke, yang sibuk rapat perihal pemugaran ini. Dia seorang pria berusia 40 tahun—dinamis dan berambut cepak, dialah yang harus ditanya, karena dia menulis buku tentang kuil ini. Dia juga sangat bersemangat; informasi berkilat-kilat muncul di balik kacamatanya seperti segelas sampanye yang digoyang. “Di abad ke-13, tempat ini mungkin lima kali lebih besar dari yang sekarang kita lihat. Tempat ini berisi unsurunsur Kristen dan Buddha. Tak diragukan lagi bahwa Bie Ji (dia memakai “nama penghormatan” dalam bahasa China yang belum pernah saya dengar sebelumnya) memang dimakamkan di sini.” Bahkan, ada yang percaya kedekatannya dengan tempat ini lantaran fakta bahwa dia mulai mengandung Kubilai saat pertama kali sampai ke tempat ini, dan dia memang lahir di kuil ini. “Penduduk setempat, dari generasi ke generasi, selalu mengisahkan hal ini”. Namun Wu, sembari menandatangani bukunya, adalah ilmuwan yang tak begitu saja percaya pada cerita seperti itu. “Kita tak punya bukti. Barangkali, suatu saat kelak kita dapat menggali dan menemukan peninggalan sejarah yang dapat membuktikan apa yang mereka ceritakan”. Saat ini, tak ada ritual yang bisa mengaitkan kuil ini dengan Sorkaktani, namun di tempat lain dia jadi sosok yang dipuja dan salah satu sosok yang diingat dalam Mouseleum Jenghis Khan, Edsen Khoroo—Pagar Tuan—sebuah kuil di Mongolia Tengah di mana Jenghis dan keluarganya disembah. Sorkaktani menjemput hari-hari terakhir hidupnya dengan pengetahuan bahwa karya besarnya telah tuntas dan menuai hasil. Putra sulungnya telah menjadi khan, kekaisaran berhasil dipersatukan, mimpi Jenghis tentang penaklukan dunia sekali lagi menjadi kenyataan pada tahun itu. Sebelum kematiannya, dia mendengar laporan tentang operasi militer Mönkhe guna memperluas kekaisaran ke tanah Muslim, dan mengetahui pula bahwa Kubilai juga melakukan hal serupa lebih jauh ke China. Dia barangkali memperkirakan, berdasarkan pengalamannya tentang sifat dan tabiat anak-anaknya, bahwa ini semua hanya lah awal. Namun, dia mungkin tak memperkirakan saat itu bahwa Kubilai kelak berhasil memperoleh lebih banyak. SINGA BETINA DAN ANAKNYA 41 pustaka-indo.blogspot.com
2 PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR BERIKUT INI ADALAH SITUASI YANG AGAK JANGGAL. SEORANG PEMIMPIN dengan kekuasaan besar ingin mempersatukan rakyat nya setelah memenangi pemilihan umum yang menentu kan dan kemudian merencanakan perang. Tiba-tiba, entah mengapa, sebuah organisasi Muslim fanatik dengan rekam jejak kekerasan yang panjang melakukan serangan mendadak. Karena terkejut, sang pemimpin berusaha menumpas para teroris itu dengan kekuatan luar biasa. Ini terjadi pada 9 November 2001. Namun peristiwa seperti ini terjadi pertama kali pada 1250-an, ketika Mönkhe, kaisar Mongol yang baru naik takhta, mendengar satu pasukan pembunuh—sebagian sumber mengatakan jumlah mereka 40 orang, ada pula yang mengatakan 400 orang—telah dikirim dalam misi penyamaran untuk membunuh dia. Pasukan pembunuh ini sangat istimewa dan sangat setia. Seperti mereka yang terbang dan menabrakkan pesawat ke menara World Trade Center, mereka siap menjemput kematiannya sendiri. Merasa terancam, respons kedua pemimpin serta konsekuensinya sama-sama keras dan buruk, dan masih ada kesamaan lain yang perlu dicatat: wilayah yang jadi jantung konflik, bahaya yang ditebar pasukan bunuh diri Islam, kekaburan tentang ancaman yang sebenarnya terjadi, keinginan untuk memperluas kerajaan, pengerahan pasukan yang luar biasa besar, koalisi para sekutu, kekuatan militer yang dahsyat, invasi, kejatuhan Baghdad, kerusakan yang tidak kecil, BAGIAN I: MUSIM SEMI 42 pustaka-indo.blogspot.com
dan pendudukan. Namun, kita tak boleh menarik perbandingan ini terlalu jauh. Orang Amerika menyerang Irak setelah menghabisi Afghanistan, orang Mongol datang lewat Persia dan harus menduduki Irak untuk memenuhi suratan takdir yang mereka warisi dari Jenghis; penaklukan Mongol dicapai dengan kebrutalan luar biasa yang jauh melebihi tindakan Bush dan sekutunya; orang Mongol pun berniat menduduki Irak selamanya, sementara Amerika hanya menginginkan pergantian rezim di Irak dan setelah tercapai mereka akan pulang kampung. Tetapi gaung yang terdengar sangat jelas, terutama bagi orang Muslim, karena mereka melihat Amerika sebagai “Mongol-Mongol baru”. Namun ini adalah perbandingan yang gampangan, bahkan terlalu gampangan, yang akan terbukti jika kita melihat lebih dekat peristiwa-peristiwa yang menambahi luas wilayah kekaisaran yang akhirnya jatuh ke tangan adik laki-laki Mönkhe, Kubilai. Orang Mongol tahu persis apa yang mereka lakukan. Mereka pernah melakukan hal itu tiga puluh tahun sebelumnya di bawah pimpinan Jenghis. Bala tentara yang dipersiapkan untuk invasi di musim panas 1252 begitu besar dan sangat terorganisasi. Dipimpin adik kaisar, Hulagu, pasukan ini berisi senjata-senjata tempur terbaik yang bisa diberikan oleh wilayah China utara, termasuk 1.000 tim mangonel, ahli dalam ketapel tempur yang bisa melontarkan batu dan meledakkan bom api “petir” dalam jangkauan 100 m lebih.1 Para gubernur dan menteri ditunjuk untuk mengatur tanah taklukan baru. Pasukan garda depan dikirim guna mengamankan padang rumput, tempat terlarang bagi orang non-Mongol dan hewan ternak mereka sampai bala tentara mereka selesai melintas. Hewan ternak digiring di sepanjang barisan tentara untuk menyuplai bahan makanan tentara yang terbiasa minum susu fermentasi. Bala tentara ini akan menyusuri jalan serupa yang dilewati Jenghis, namun setelah 30 tahun berselang jalan-jalan ini perlu perhatian lebih. Ketika pasukan mulai berangkat setahun kemudian, beberapa tim dikirim lebih dahulu guna memperbaiki PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 43 1 Ini adalah ketapel yang mengandalkan tenaga manusia, bukan ketapel lontar yang baru kemudian dikenal orang Mongol dari para insinyur Muslim. Pemakaian teknik baru ini melahirkan akibat menarik yang akan dibicarakan dalam Bab 8. pustaka-indo.blogspot.com
jembatan dan membangun perahu penyebarangan—untuk para pemimpin dan keluarga mereka: sementara rakyat biasa harus membuat jalan sendiri menyusuri pinggir sungai, berenang atau menggunakan pelampung dari kulit binatang. Operasi besar ini jauh lebih besar dari yang pernah dilancarkan orang Mongol dalam pergerakan pertama mereka ke wilayah barat di bawah pimpinan Jenghis Khan. Banyak buku, ditulis para spesialis atau bukan, yang mengatakan bahwa setiap pergerakan orang Mongol bagaikan badai topan, seolah-olah pergerakan itu adalah kekuatan alam yang baru. Sebenarnya, serbuan ini adalah migrasi sekaligus invasi militer, pergerakan populasi yang terjadi sebanding dengan yang biasa terjadi di Asia Tengah selama satu milenium. Seluruh massa pengikut harus mandiri, suatu keharusan karena jalan ke wilayah barat melintasi daerah padang rumput luas yang menjadi kawasan liar bagi suku-suku nomad di antara dataran Manchuria dan Hungaria. Seperti kata John Masson Smith, “Besarnya operasi militer Mongol dan luasnya wilayah kekaisaran mereka sampai tingkat tertentu merupakan hasil dari pasokan logistik yang besar ini.”2 Pasukan ini, menurut Rasyiduddin, terdiri dari lima belas komandan, masing-masing membawahi satu batalion; satu batalion terdiri dari kira-kira 10.000 prajurit tangguh, dalam praktiknya biasanya kurang, yang menyamai 100.000-150.000 pria biasa. Ini baru awal. Sebagaimana kebiasaan kala itu, setiap orang setidaknya memiliki lima kuda, kadang lebih, untuk memasok barang dan makanan—120 kg daging kuda dapat memberi makan 100 prajurit yang kelaparan. Namun, yang membuat kegiatan ini jadi luar biasa, para pria ini membawa serta keluarga, dan masing-masing keluarga rata-rata memiliki 30 domba. Sebuah bangsa sedang bergerak, penakluk dan penjajah: barangkali 150.000 orang, dengan 300.000 ekor kuda dan 1,8 juta ekor domba. Mereka biasanya bergerak agak memencar agar tak menumpuk di satu tempat dan menghabiskan rumput di tempat itu. Kuda-kuda biasanya bergerak pagi hari, merumput di sore hari dan istirahat di malam hari. Satu-satunya jalan untuk berjalan cepat adalah menemukan pegunungan BAGIAN I: MUSIM SEMI 44 2 John Masson Smith, ‘Ain Jalut: Mamluk Success or Mongol Failure?” pustaka-indo.blogspot.com
dengan rerumputan segar. Inilah yang dilakukan ekspedisi kuda poni di tanah yang terduduki. Namun ini tak bisa dilakukan selama proses penaklukan dan pendudukan. Pasukan Hulagu hanya bisa bergerak ke arah barat sepanjang beberapa kilometer per hari selama setahun; pergerakan ini tak seperti badai topan, melainkan seperti riak ombak di pantai, yang akan mengalir ke tempat yang perlu ditaklukkan dan diduduki. Tentu saja, di garis depan adalah pasukan kavaleri. Kuda-kudalah yang jadi kunci kehebatan orang Mongol, bukan karena kekuatan atau ketahanannya tetapi kecepatannya dalam menyuplai keperluan. Pasukan berkuda ini dapat mengepung, menghindar, melarikan diri, mencongklang tiba-tiba sesaat setelah merunduk, menghindari serangan, atau mengejar musuh yang melarikan diri, seperti serigala memburu lembu, sampai musuh itu tewas. Syaratnya, kuda-kuda itu mestilah mendapat pasokan rumput dan air yang cukup; walaupun kebutuhan ini tersedia berlimpah karena padang rumput membentang ratusan kilometer, namun akan jadi masalah jika pasukan itu sudah sampai ke tepi padang rumput. Ratarata kuda orang Mongol memerlukan 14 kg rumput sehari, dan untuk mencukupi itu membutuhkan waktu merumput lebih kurang 10,5 jam, terlepas apakah kuda itu dikendarai atau tidak. Lalu kalikanlah dengan 300.000. Kawanan pengelana sebanyak 250.000 orang, dengan kuda dan dombanya, dapat menutupi wilayah padang rumput seluas 7.000 hektare sehari—itu berarti 70 km; dan setiap hari memerlukan 70 km2 . Panjang kawanan kuda, kereta dan domba ini, dapat mencapai 8 km. Lalu pikirkan pula berapa kebutuhan air; sekitar satu juta galon per hari. Kebutuhan ini bisa tercukupi oleh sungai yang meluap; tapi di luar daerah padang rumput, terutama di tengah cuaca panas Timur Tengah saat musim panas, padang rumput kering kerontang dan sungai-sungai mengering. Orang Mongol hampir mengetahui bahwa batas pencapaian mereka adalah batas ekologis. * * * PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 45 pustaka-indo.blogspot.com
Apakah rencana pembunuhan Mönkhe benar-benar ada atau tidak merupakan pertanyaan terbuka. Tak seorang pun mencatat penemuan pembunuh (assassins). Namun, ada alasan cukup kuat untuk menanggapi ancaman ini secara serius, karena ini bukanlah pembunuh (assassins) biasa—dengan p kecil—melainkan Pembunuh (Assassins)—dengan P besar: ancaman yang punya riwayat panjang dan terkenal buruk di dunia Islam, yang menjadikan nama mereka sebagai gagasan tindakan pembunuhan demi tujuan politik dan agama. Kisah ini berakar pada perpecahan paham dalam Islam. Islam, se - perti agama besar lainnya, terdiri dari berbagai sub-kelompok bagaikan gigi-gigi naga, masing-masing mengklaim sebagai satu-satunya pewaris sah Nabi. Semua tentu saja merujuk kepada al-Quran. Namun pertentangan doktrin, konflik politik, dan pembunuhan telah mewarnai sejarah Islam dua dekade setelah Nabi Muhammad wafat—salah satu korbannya yaitu menantu Nabi, Ali, suami putri Nabi, Fatimah. Dari awal abad ketujuh ini, lahirlah berbagai masalah rahasia yang pelik, di mana dinasti-dinasti, ras-ras, wilayah-wilayah, dan sekte-sekte bertentangan satu sama lain selama 500 tahun. Ke dalam sejarah sepanjang 500 tahun inilah kita harus melacak asal mula Assassins (Pembunuh). Di masa awal Islam, para pemimpin yang saling berlawanan berseteru perihal sumber doktrin yang kedua, Sunnah, yakni perbuatan dan perkataan Nabi dan para sahabatnya, termasuk yang bukan tergolong kerabat beliau. Pendukung paham ini, kaum Sunni, kemudian ditentang kaum Syiah, Syiah Ali (pihak Ali), yang mengklaim bahwa otoritas politik hanya bisa diperoleh dari Ali—darinya kemudian lahir keturunan yang ditunjuk sebagai imam (pemimpin spiritual) yang akan muncul sebagai Mahdi, “orang yang diberi petunjuk”. Karena tak ada Mahdi yang jelas, kaum Syiah mulai percaya bahwa dia disembunyikan Tuhan. Konsep “Imam yang Tersembunyi” menjadi ajaran penting dalam Syiah, yang justru memancing munculnya para imam palsu dan beberapa sub-sekte aneh. Dari kaum Syiah, misalnya, muncullah penganut Ismaili di awal abad ke-8, yang mengklaim bahwa Ismail— putra Imam Keenam yang tak mendapat warisan apa-apa—adalah pewaris sah Muhammad. Ismail meninggal di usia muda, dan setelah itu para pengikutnya menyatakan bahwa dia digantikan oleh “imam- BAGIAN I: MUSIM SEMI 46 pustaka-indo.blogspot.com
imam yang tersembunyi”. Kepercayaan ini lalu menjadi ajaran resmi sebuah dinasti yang mengklaim diri sebagai keturunan istri Ali, putri Nabi Muhammad, Fatimah. Dinasti Fatimiyah, yang berpaham Ismailisme, mendirikan kerajaan di Afrika utara, lalu menguasai Mesir, dan berencana menggunakannya sebagai basis kekuatan melawan kekhalifahan Islam yang saat itu berusaha menguasai seluruh negeri Islam. Rencana itu tak terlaksana. Dinasti Fatimiyah runtuh. Namun para pendukung Ismaili tetap aktif menyebarkan ajaran mistik mereka yang rahasia. Sekte ini sangat berpengaruh di kalangan orang miskin dan tertindas, sebuah kelompok yang kemudian terkenal berkat kekejamannya melawan kaum Muslim arus utama dan dinasti-dinasti yang berkuasa. Transformasi Ismaili selanjutnya dipicu oleh orang Turki, yang menyapu dunia Islam dari jantung Asia sekitar tahun 1000. Ketika orang Turki, dipimpin oleh Bani Saljuk, merangsek ke barat dari basis kekuasaan mereka di kawasan yang kini merupakan wilayah Uzbekistan dan Iran, mereka menerima paham Sunni ortodoks. Mereka lalu menekan kaum Syiah, termasuk penganut Ismaili, yang menanggapi kejadian ini dengan mendirikan jaringan sel bawah tanah. Di pertengahan kedua abad ke-11, di daerah Rayy (kini bernama Teheran) hiduplah pria bernama Hasan i-Sabbah. Hasan ini (nanti masih banyak nama Hasan lain yang muncul, namun bukan Hasan yang ini) memiliki sahabat di tempat-tempat terhormat, termasuk penyair Umar Khayam. Dia bertemu propagandis rahasia Ismaili, membelot, kemudian diusir pemerintah—yaitu wazir Teheran, Nizam al-Mulk— dan melarikan diri ke Mesir. Di Mesir dia menemukan bahwa penguasa Fatimiyah/Ismaili tak lain hanyalah bayang-bayang pendahulu mereka. Akhirnya, dia memutuskan mengobarkan perangnya sendiri demi Ismailisme dan imam Fatimiyahnya ke jantung wilayah Saljuk. Dia dan para pengikutnya mengincar markas yang sempurna: sebuah kastil terlarang, Alamut, di ketinggian 2.000 m di pegunungan Elburz di selatan Laut Kaspia. Sayang, tempat itu sudah ditaklukkan. Hasan merebut Alamut dengan menghasut pasukan penjaga agar membelot, lalu menerobos masuk dengan menyamar. Pembelotan terus berlanjut. Ketika dia ditemukan, semuanya sudah terlambat. PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 47 pustaka-indo.blogspot.com
Pasukan penjaga sudah berada di bawah kekuasaannya, dan begitu pula kastil itu. Pemilik kastil ditawari sesuatu yang tak bisa dia tolak— kebebasan dan cek senilai 3000 dinar (sekitar 75.000 poundsterling). Agar dia yakin, cek itu ditandatangani seorang bankir lokal yang mem - belot ke pihak Hasan. Inilah kemudian yang harus dikuasai orang Mongol. Alamut adalah benteng di tengah benteng alamiah, pusat sempurna bagi kerajaan Ismaili yang ingin didirikan Hasan. Menurut cerita setempat, nama tempat ini berasal dari bahasa setempat yang berarti “sarang elang”—nama yang bagus, karena dia memang terletak di puncak bukit setinggi ratusan kaki dan hanya punya satu jalan yang hanya bisa dijangkau melewati salah satu dari dua sisi lembah yang dialiri oleh sungai Alamut. Benteng itu, dalam kata-kata Juvaini, “mirip unta yang duduk dengan pangkal leher tetap di tanah.” Kastil ini menjulang seperti tempat barang di punggung unta. Dindingnya yang diplesteri dan kubu-kubunya yang berlapis timah melindungi ruang penyimpanan berdinding batu. Sebuah pipa menyalurkan air ke “kolam mirip laut” yang sampai sekarang masih bisa menampung air hujan. Panjang kastil itu kira-kira 140 m dan lebarnya 10-40 m, ditutupi lereng bukit, jalan-jalan setapak dan tangga-tangga dijaga sekadarnya, tanpa perlindungan sama sekali dari penyerangan. Pelancong sekaligus penulis Freya Stark pergi ke sana dengan keledai pada 1930-an. Berangkat dari Qazvin, dia dan pemandunya menuju bukit itu dengan melintasi 30 km gurun yang sangat panas, lalu sampai di lereng berbatu di punggung bukit. Di sana dia melihat lembah sungai Alamut yang berakhir di pegunungan Elburz. “Lebih tinggi dari yang lain, terangkat seperti altar dengan punggung gelap menjulang dari padang salju, Takht-i-Sulaiman, Takhta Sulaiman, yang terlihat seperti mahkota dibandingkan bukit-bukit sekitarnya. Lereng putihnya yang seperti dikanji dan dihaluskan terlihat bagaikan salju yang mencair dari kejauhan.” Di sebuah desa penuh rumah berdinding lumpur, tuan rumah dan putranya menjamu Stark dengan kisah tentang musim dingin penuh salju, “saat serigala menyerang anjing penduduk; beruang dan serigala buas serta perburuan; tentang jejeran gunung BAGIAN I: MUSIM SEMI 48 pustaka-indo.blogspot.com
yang seakan membesar di musim semi dan mengalahkan ladangladang kecil yang terjal”. Di bawah, sebuah jalan kecil membelah dinding-dinding batu, menuju dua oase dengan pepohonan berdaun hijau, anggur, jagung dan kenari. Di utara sampai ke sisi lembah, berdiri kokoh bukit batu, seperti kapal, menutupi seluruh sisi. Batu besar itu bagai tempat angker. Gunung Haudegan (kira-kira 15.000 kaki) menjulang di belakangnya dengan puncak yang kelam dengan batu-batu granit di atasnya… Di sebelah barat dan timur batu itu, jauh di bawah, mengalir dua arus sungai yang membentuk sungai Qasir Rud; dua arus sungai ini bagai mengalir seakan tanpa halangan di atas ranjang yang bersih dan telanjang. Di balik leher yang menghubungkan kastil berlatar kosong ini, tak ada rerumputan hijau sampai orang mendaki sisi timurnya dengan cara menyeret langkah, dan dari ujung selatan melihat ke bawah jurang batu sedalam seratusan kaki di mana terdapat ladang-ladang dan pepohonan Qasir Khan, punggung-punggung bukit yang bercahaya di bagian utara, dan di balik sungai Alamut, glasier-glasier Elburz. Terus ke atas, Alamut adalah celah ngarai yang sangat dalam, hanya bisa didekati lewat hutan Mazanderan, lewat Jalan Tundurkhan yang berketinggian sekitar 3.500 m. Tempat ini adalah lubang intip sempurna di sebuah dinding benteng. Dari sini, Hasan, penguasa pertama dari tujuh penguasa Alamut, mengendalikan Ismailisme versinya sendiri. Dia pemimpin hebat, percaya diri, terpelajar, asketis, keras, diktator, dan bengis—dia menghukum mati dua putranya, satu karena minum anggur dan satunya lagi dituduh berencana membunuh seorang penyebar Ismaili. Era ini adalah masa-masa yang menyedihkan, karena Islam terjangkiti bidah. Dan menurut Hasan, segala cara harus ditempuh untuk memerangi kemerosotan ini, yang tak lama kemudian sampai pada titik batas politiknya. Pada 1094, kembali ke Mesir, seorang prajurit pengkhianat menurunkan pewaris takhta Fatimiyah, Nizar, membunuhnya di penjara dan melantik bonekanya sendiri. Hasan percaya bahwa keturunan Nizar akan melahirkan Mahdi yang akan menyelamatkan Islam dari PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 49 pustaka-indo.blogspot.com
penyelewengan dan penjajah Turki. Fakta bahwa Nizar tak pernah menunjuk penerus hanyalah masalah sementara. Garis keturunannya “tersembunyi” dan pada akhirnya akan muncul. Sementara itu, Hasan mengangkat diri sebagai wakil dan pejuang Nizar. Pengikutnya secara formal disebut Nizaris, salah satu cabang Syiah-Ismaili, sub-sekte dari sebuah sekte dalam Islam. “Ajaran Baru” ini (demikian Hasan menyebut - nya) begitu memukau rakyat biasa yang, seperti para pelaku bom bunuh diri di zaman sekarang, menderita akibat perang, kemiskinan, dan ketidakpastian. Mereka mengabdikan diri pada kekuasaan dengan kepatuhan absolut dan tanpa berpikir. Dunia lalu mengenal anak-anak muda fanatik pengikut Hasan sebagai Assassins (Pembunuh). Istilah ini agak membingungkan. Kata ini dalam berbagai bahasa Eropa berasal dari kata Arab hasyisy, yang menjadi akar kata Inggris untuk rami India, cannabis sativa. Sebagian orang menyebut para Nizaris sebagai hasyisyiyya (atau padanannya dalam bahasa Persia)— yang berarti pengguna hasyisy—dan itulah istilah yang diambil para tentara Salib di abad ke-12 ketika mereka mendengarnya di Syria. Jadi semua orang menganggap itulah pengertian kata ini: pembunuh yang memakai hasyisy sebagai narkotika rahasia untuk menenangkan pikiran sebelum membunuh seorang pejabat atau ketika sedang menunggu kematiannya sendiri. Pendapat ini diperkuat lagi ketika di tahun 1818 untuk pertama kalinya dilakukan kajian serius mengenai Assassins, ditulis oleh seorang profesor bahasa Arab dari Paris’s School of Oriental Language dan kemudian oleh seorang profesor bahasa Persia di Collège de France, Baron Antoine Silvertre de Sacy. Sejak saat itu, pemakaian kata ini menjadi lumrah. Namun yang terjadi tak sesederhana itu. Hasyisy memang sudah dikenal luas, tapi bukan rahasia Nizari; dan tak satu pun sumber Nizari menyebut-nyebut hasyisy. Selain itu, istilah ini adalah pelecehan yang dipakai untuk melemahkan kelompok yang putus asa dan lemah ini, seperti para pembom bunuh diri yang disebut sebagai orang gila atau otak udang, semata-mata untuk melecehkan perilaku yang menyusahkan orang lain sebagai perbuatan menjijikkan dan tak rasional. Kastil-kastil lain yang juga berada di berbagai puncak bukit satu demi satu jatuh ke tangan Hasan—Girdkuh, yang menguasai jalan BAGIAN I: MUSIM SEMI 50 pustaka-indo.blogspot.com
utama dari Khurasan; Sadhiz, ke arah selatan sebelum Isfahan; Lamasar; Tabas, dekat perbatasan Iran-Afghanistan sekarang. Pusat-pusat kekuatan ini—bersama lusinan tempat lain—memberi dia basis kekuasaan yang tak tertandingi, tempat dia melancarkan dan mengendalikan kampanye berdarahnya. Dia sendiri tak pernah meninggalkan Alamut, tempat di mana selama 35 tahun dia memberi perintah, menginsipirasi dan meng organisasi pengikutnya yang tunduk sampai mati. Seperti mereka yang bergabung dengan al-Qaeda saat ini, mereka menyambut kematian sebagai martir, percaya bahwa kematian kelak akan diganjar dengan surga di akhirat. Di kemudian hari, teknik persuasi Hasan ini menjadi legenda, sebagaimana Marco Polo mendengar saat dia singgah setelah 20 tahun kaum Assassins dimusnahkan, dalam perjalanannya menuju China dan yang menjadi terkenal seperti disebutkan dalam sumbersumber tepercaya (meski keliru) tentang Kubilai dan istananya. Dalam versi Marco Polo, lembah Alamut yang sunyi saat itu menjadi taman paling indah, dipenuhi paviliun-paviliun dan istana-istana berukiran megah, di mana madu, anggur, susu, dan air mengalir di pipa krannya. Gadis-gadis jelita bermain dan bernyanyi. Inilah surga sebagaimana dilukiskan al-Quran. Di sini, imam mengumpulkan sekelompok remaja sehat dan kuat, yang dia rawat dan besarkan untuk dijadikan gerombolan Assassins. Dia memberi mereka narkotika, membawanya ke taman dan, ketika mereka sadar, mereka dimanjakan. “Para gadis dan dayangdayang bersantai ria dengan mereka sesuai dengan keinginan mereka, sehingga mereka dapat melakukan apa saja yang dapat dilakukan orang muda.” Pemuda yang telah sadar dari pengaruh obat tidur dan menemukan dirinya kembali di dunia nyata, linglung dan kehilangan, akan mau melakukan apa saja untuk memperoleh kembali kenikmatan surgawi tadi. “Pergilah dan bunuhlah si anu,” perintah imam kepada mereka, “dan setelah kaulaksanakan tugas ini, malaikat-malaikatku akan membawamu kembali ke surga. Dan seandainya engkau terbunuh, aku pun tetap akan mengirim malaikat-malaikatku untuk membawamu ke surga.” Sebenarnya tak ada taman dan tak ada pula narkotika. Lagi pula, Hasan memang tak memerlukannya. Korban pertamanya adalah wazir PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 51 pustaka-indo.blogspot.com
Nizam al-Mulk, yang dia hindari dengan cara melarikan diri beberapa tahun sebelumnya, lalu diikuti dua putranya. Lusinan pejabat tinggi lain juga bernasib sama: mufti Isfahan (dibantai di masjid), qadhi Nishapur, gubenur Irak, pemimpin sekte anti-Ismaili; selain itu, dia juga mendaftar 50 orang pejabat yang akan dijadikan korban tanda kehormatan para Assassins. Para komandan dan pejabat hanya berani keluar dengan pengawalan ketat serta menyelipkan senjata di balik baju mereka. Teror menuai anti-teror, hukuman mati ditetapkan secara resmi terhadap pendukung Ismaili dengan teknik-teknik modern—penangkapan acak, pengumpulan, pemenjaraan dan kematian selama di tahanan. Namun ini tak berpengaruh. “Kau bisa saja membunuhku,” kata salah seorang korban penangkapan ini kepada interogatornya, “Tapi bisakah kau mem bunuh mereka yang berada di kastil?” Tepat. Beberapa kastil memang berhasil direbut, tapi Alamut, meski sudah dikepung selama delapan tahun, tetap tak tersentuh. Hasil nya: kompromi dan kesepakatan mempertahankan hidup-danmem biarkan-hidup, yang tetap diselingi berbagai pembunuhan—peng - awas di sini, gubernur di sana, dan pada 1131 khalifah di Baghdad— dan beberapa kali pembalasan yang gagal. Begitulah seterusnya yang terjadi setelah kematian Hasan di tahun 1124, di mana kaum Assassins makin banyak mendapat ketimbang kehilangan. Adalah Hasan lain yang memasukkan unsur revolusioner yang membuat kaum Assassins makin jadi sosok yang gelap. Selama bulan Ramadhan 1164, dia mengumpulkan pengikutnya dan berceramah kepada mereka di atas mimbarnya bahwa mereka tak perlu ke Mekkah. “Telah datang masanya,” dia mengumumkan. Imam yang Tersembunyi telah berpesan padanya dan menunjuk dirinya, Hasan, sebagai wakilnya. Karena itu, satu-satunya hukum yang harus dipatuhi adalah hukum yang dia keluarkan. “Imam membebaskan kalian dari kewajiban menaati hukum syariah, dan dia telah menebus kalian.” Hukum tak lagi diperlukan, karena mereka dapat berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan lewat perantaraan Hasan, yang merupakan pengejawantahan sang Imam, satu-satunya keturunan sah Nizar. Perintah pertamanya adalah melanggar kewajiban puasa dengan bergabung dengannya dalam sebuah perjamuan, lengkap dengan musik dan anggur. Hasan BAGIAN I: MUSIM SEMI 52 pustaka-indo.blogspot.com
tak terlalu lama menikmati status barunya ini. Dua tahun kemudian, seorang iparnya yang lebih ortodoks menikamnya sampai tewas. Namun, doktrin Penebusan ini, dengan si Hasan sebagai pemimpin mesiahnya, tetap jadi tradisi kaum Assassins. Hal ini tak akan terungkap kepada dunia; dia tetap menjadi rahasia Ismaili, dilindungi oleh prinsip hukum bahwa apa pun—bahkan tidak adanya hukum sekali pun—dibolehkan selama hal itu berguna untuk mempertahankan keyakinan Ismaili. Karena itu, sepenuhnya diperbolehkan berpura-pura jadi orang lain, menganut kepercayaan arus besar, jika hal itu diperlukan untuk bertahan. Bermacam hukum lahir, bahkan hukum Ismaili itu sendiri, hanyalah “tampilan luar” yang menutupi kebenaran sesungguhnya. Hukum, bahkan seluruh ajaran moral yang dipahami oleh dunia luar, tak sebanding dengan kebenaran batin; di situlah terletak qiyamah, Kebangkitan. Barangkali, sikap bermuka dua inilah yang dapat menjelaskan mengapa di tahun 1210 terjadi perubahan sikap secara tiba-tiba dari Jalaluddin, sang imam kala itu. Membuat kaget seluruh pengikutnya dan dunia Islam, dia mengumumkan bahwa sudah tiba masanya melakukan perubahan keyakinan baru, kembali ke Islam cara lama. Dia mendekati para pemimpin Islam lain dengan penuh keyakinan bahwa mereka memercayainya, sampai kematiannya membuat kelompok Assassins dan para bandit bangkit kembali. Pembicaran seputar kelompok Assasssins tak cuma soal sifat ber - muka dua dan kekerasan. Mereka juga menyatakan bahwa kepercayaan mereka adalah kebenaran tentang kehendak Tuhan. Kebenaran dapat memberi bantuan yang tak disangka-sangka dalam bentuk akal dan ilmu pengetahuan; maka, dan inilah yang menarik, para imam Ismaili adalah orang yang mencintai pengetahuan objektif sekaligus pengetahuan esoteris. Mereka membangun perpustakaan terkenal. Para ilmuwan disambut baik, salah satunya astronomer dan ahli ilmu ketuhanan (ilmu kalam) Nasiruddin Tusi, yang tinggal di Alamut selama beberapa tahun. Mereka masih di sana, melakukan pembunuhan secara acak, tatkala tahun 1219 tentara Mongol menyerang wilayah tetangga mereka di timur, kesultanan Khwarezm, yang shah pertamanya meraih kekuasaan dengan menumbangkan orang Saljuk pada 1194. Dalam bencana PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 53 pustaka-indo.blogspot.com
tahun 1219-22 itu, sekitar satu juta penduduk tewas, kota-kota besar hancur, kerajaan terpecah belah. Keadaan kacau balau biasanya sangat disenangi kaum Assassins—karena banyak kastil dapat dirampas, banyak penganut baru bisa dipengaruhi dengan pandangan tentang kebangkitan Islam. Karena itu, tak mengherankan jika Mönkhe meng - khawatirkan nyawanya, dan kemudian menjadikan kaum Assassins sasar an utama ketika dia memutuskan memperluas kekaisarannya ke barat di bawah pimpinan Hulagu. Inilah tantangan besar bagi pemimpin yang bersemangat. Namun kaum Assassins bukanlah orang yang mampu melahirkan pemimpin seperti itu. Imam yang berkuasa pada saat itu, Alauddin, masih berusia tiga puluhan tahun, nyaris gila karena tinggal di tempat terpencil, mabuk-mabukan dan kepatuhan membabi buta pada para penasihatnya. Sudah jadi rahasia umum bahwa salah seorang selirnya adalah istri pria tampan yang juga bernama Hasan, yang pernah tertangkap pasukan Mongol dalam serbuan pertama mereka, lalu berhasil melarikan diri kemudian bergabung dengan kaum Assassins, dan menjadi semacam pelayan setia Alauddin yang angin-anginan: hari ini baik dan ramah, besok marah-marah. Berpakaian compang-camping mirip tuannya yang setengah sinting, gigi Hasan nyaris rontok semua akibat pukulan dan “alat kejantanannya” pun sudah dipotong. Dan tak ketinggalan, “ketika Alauddin bersetubuh dengan istri Hasan, dia sama sekali tak menghindari Hasan.” Gigi ompong karena dipukuli, penis tinggal setengah karena dipotong, disodomi dan istri selingkuh dengan majikan: semua ini menjadi alasan lebih dari cukup bagi Hasan untuk membalas dendam pada tuannya, dan begitu pula dengan banyak orang lain, termasuk putra remaja Alauddin sendiri, Ruknuddin. “Dalam kesintingan dan ketidakwarasanya,” tulis Juvaini, “Alauddin terus menyiksa dan menghukum putranya tanpa alasan yang jelas.” Dia harus tidur di kamar wanita tua persis di sebelah kamar tidur ayahnya, yang hanya bisa dia tinggalkan untuk melihat-lihat kastil ketika sang imam tak ada. Ngeri dengan kebiasaan minum ayahnya, dia jadi yakin bahwa satu-satunya harapan untuk bertahan hidup adalah memberontak, merebut warisan dan kemudian menyerah pada pasukan Mongol. Kastil itu mungkin bisa bertahan selama beberapa tahun kemudian, karena tentara Mongol BAGIAN I: MUSIM SEMI 54 pustaka-indo.blogspot.com
masih belum datang, bahkan bisa jadi memperoleh kemerdekaannya setelah penyerangan mereka; namun itu semua tak mungkin terjadi jika penyakit ini masih ada di puncak. Pada bulan November 1255, pemuda Ruknuddin sedang me - rencana kan serangannya ketika sang pemimpin Assassins pergi ke dekat lembah, mungkin untuk melihat kawanan domba. Di malam terakhir bulan itu, seorang penyusup menyerangnya dan dua pelayannya yang tertidur. Mayatnya ditemukan keesokan harinya, “kepalanya hancur akibat sekali pukulan kapak.” Seorang pelayannya dicincang sampai tak berbentuk; sementara pelayan yang lain berhasil dikenali namun tak bisa memberi petunjuk siapa pembunuhnya. Ada yang mengatakan, Ruknuddinlah pelaku pembunuhan itu, namun malam itu dia berada di kamarnya karena demam. Pasti bukan dia: kalau begitu Hasan-lah pelakunya. Memang, setelah dibujuk, istri Hasan memberikan keterangan tentang rencana rahasia pembunuhan itu. Tentu saja Ruknuddin terlibat di dalamnya; bahkan dialah yang jadi pelaku, karena Hasan, ketika keluar memeriksa dombanya, juga dilumpuhkan oleh orang-orang tak dikenal bersenjata kapak. Akhirnya, Hasan dan keluarganya dibunuh dan dibakar. Dan, Ruknuddin pun menjadi pemimpin baru yang sama payahnya. Ruknuddin pun bebas mencari akal untuk bertahan. Dia pindah ke kastil lain, Maimun-diz, dan mengirim utusan ke pejabat lokal penguasa Mongol di Hamadan yang memberitahukan bahwa dia siap menyerah. Lalu datanglah jawaban, namun Hulagu sendiri sudah dalam perjalanan: penyerahan diri ini harus dilakukan kepadanya sendiri. Ruknuddin mulai mencari-cari alasan. Lima bulan waktu berlalu. Pada Mei 1256, dia mengirim saudaranya kepada Hulagu, yang saat itu sudah berjarak lima hari perjalanan dari Damarvan. Baiklah, kata Hulagu, yang harus dilakukan Ruknuddin hanyalah menghancurkan kastil-kastilnya dan datang kepadaku. Ruknuddin kembali mencari alasan, memohon kelonggaran waktu, menghancurkan beberapa kastil namun tetap mempertahankan kastil utamanya. Sebagai jaminan niat baiknya, dia akan mengirim putranya yang berusia enam tahun sebagai tawanan. Ternyata, yang ditawarkan sebagai tawanan adalah anak haramnya dengan pelayan wanita berdarah Kurdi. Hulagu mengembalikan anak PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 55 pustaka-indo.blogspot.com
itu dan mengatakan tak perlu ada jaminan. Lalu, tibalah bulan November: Ruknuddin sudah menunda-nunda hampir selama setahun, dan orang Mongol sudah ada di depan nya. Tusi, sang astronom, mengatakan bahwa bintang-bintang tak me - nyarankan untuk melawan; lebih baik menyerah, dan itulah yang di - lakukan Ruknuddin. Hulagu melakukan tindakan yang tepat: menerimanya dengan baik sebagai seorang imam, dan menyerahkan seluruh hadiah Ruknuddin kepada tentara Mongol. Ruknuddin bersama Hulagu cukup lama sampai ia jatuh cinta pada seorang gadis Mongol, dan Hulagu mengizinkan gadis itu dibawa ke haremnya. Ruknuddin juga terobsesi dengan unta, petarung yang diladeni Hulagu dengan memberinya 100 ekor unta betina. Tampaknya, sudah merasa nyaman sebagai tamu Hulagu, Ruknuddin tidak menunjukkan apresiasinya atas hadiah Hulagu ini. Unta betina tak bisa bertarung. “Apa saya harus menunggunya beranak dulu?” keluh nya. Hulagu masih bermurah hati dan bersabar, sebab jika sang imam diperlakukan dengan baik, tentara Mongol tak akan men dapat kesulitan merebut kastil demi kastil. Cara ini memang ampuh: sebagian besar kastil akhirnya membukakan gerbangnya. Alamut, Lamasar, dan Girdkuh belum. Dua kastil terakhir tetap bertahan selama bertahun-tahun—ini membuktikan bahwa kastilkastil ini tak bisa dikuasai karena ia memang dibuat untuk melawan dan bertahan. Di Alamut, kedatangan tentara Mongol pada November 1256, ditambah pembelotan Ruknuddin, akhirnya membuat komandan pasukan di kastil itu mengubah pikirannya setelah berbulan-bulan. Penghuni kastil keluar berbaris; tentara Mongol masuk berbaris, lalu mereka membakar tempat itu. Seluruh isinya pasti akan musnah jika Juvaini, yang kala itu bekerja pada tentara Mongol, tak merasa harus memeriksa perpustakaan. Dari sini dia bisa menyelamatkan al-Quran, alat-alat penelitian astronomi, dan beberapa karya sejarah. Dia mencatat bahwa kastil itu sangat indah dan nyaris mampu bertahan apa pun yang terjadi. Hampir 12.000 pejabat elite Nizari terbunuh. Ruknuddin sendiri telah mencapai tujuannya, dan akhirnya juga putus asa karena kaum Assassins harus melawan atau pelan-pelan menyerahkan diri. Tetapi, BAGIAN I: MUSIM SEMI 56 pustaka-indo.blogspot.com
Hulagu sementara waktu masih bersabar terhadap Ruknuddin, sadar bahwa membunuh pemimpin yang menyerahkan diri sukarela bukanlah pesan yang bagus untuk dikirimkan kepada para pengikut potensial yang lain. Ruknuddin sendiri, demi menunjukkan bahwa hidupnya adalah jaminan, meminta agar diizinkan menemui Mönkhe di Karakorum. Hulagu senang dengan permintaan ini, karena itu berarti imam muda ini akan segera hilang dari hadapannya. Begitulah, Ruknuddin dipandu melewati Asia Tengah menuju istana Mönkhe. Di sana, setelah berbulanbulan kemudian, dia hanya menerima sambutan dingin. Pulanglah dan hancurkan kastil-kastilmu, seru Mönkhe. Tapi, dalam perjalanan pulang, di perbatasan pegunungan Khangai, tentara Mongolnya menculik Ruknuddin dan pengawal pribadinya, membunuh sahabat-sahabatnya dan—karena masih seorang pemimpin—menenggelamkannya ke dalam lumpur, memberinya kematian terhormat tanpa darah. * * * Itulah akhir kaum Assassins, meskipun sebuah cabang kecilnya di Syria masih bertahan hingga akhirnya ditumpas orang Mesir pada 1273. Ini adalah akhir kaum Assassins, bukan kaum Nizari, yang sejarahnya di masa-masa selanjutnya sama anehnya dengan asal-mulanya. Kelompok Persia maupun Syria terpecah-pecah, sesuai dengan pendapat yang memimpin. Garis keimaman aliran Syria berakhir sekitar tahun 1800. Sementara garis Persia tetap bertahan. Di pertengahan abad ke-19, imam Nizari kala itu ditunjuk sebagai gubernur Qom dengan gelar baru, Agha Khan, yang tetap dipakai turun-temurun sejak saat itu. Setelah diturunkan dari jabatan gubernur kedua di Kirman dan selalu direcoki pemberontakan, Agha Khan memindahkan pasukan dan keluarganya ke Afghanistan, dan bergabung dengan orang Inggris di India—yang sangat mendukungnya untuk mengacau kekuatan Persia, sebagai bagian dari Permainan Besar Intrik Anglo-Rusia—persis tatkala Inggris meninggalkan Kabul setelah mengalami kekalahan besar pada 1842. Akhirnya, dia menetap di Bombai pada 1848, di bawah perlindungan PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 57 pustaka-indo.blogspot.com
Inggris. Di sana, “Yang Mulia”, begitulah orang Inggris menyebutnya, menetap selama tiga puluh tahun berikutnya, membangun kekayaan dan mengembangkan peternakan kuda pacunya. Imam yang sekarang, HH Agha Khan IV, lulusan Harvard, mengurus jutaan pengikut Nizaris yang terpencar-pencar di seluruh dunia melalui Yayasan Agha Khan di Swiss dan di sebuah tempat dekat Paris. Yayasan ini membawahi Universitas Agha Khan di Pakistan, dan 300 sekolah serta perguruan tinggi lain, serta 200 jaringan dan program kesehatan, termasuk enam rumah sakit. Hubungannya dengan Inggris masih sangat kuat. Istri pertamanya adalah Lady James Crichton-Stuart, née Sarah Crocker-Poole, seorang model terkenal sebelum dia nikahi; dan penganut Nizari terbesar, sekitar 10.000 orang, terdapat di London. Di antara semua akibat penyerangan bangsa Mongol terhadap dunia Islam, kejadian ini adalah yang paling menarik. Di tahun 1254, Mönkhe, khawatir dengan pasukan Assassins yang mengincar nyawanya, mengadakan operasi penumpasan. Operasi ini sukses, kaum Assassins berhasil dilenyapkan. Namun mereka bukan musnah, melainkan berubah bentuk. Imam mereka akhirnya berhasil mengambil kebaikan dari kejahatan, menjadi ayah sesungguhnya dari anak-anak yang baru lahir. Bagi orang Mongol, baru setengah persoalan yang terselesaikan. Kini, mereka harus memusatkan perhatian pada sisa dunia Islam lainnya: kekhalifahan Abbasiyah dan pusatnya, Baghdad. Mereka masih punya urusan yang belum selesai dengan kota ini, meski sudah pernah dicoba tapi gagal direbut pada 1238. Dari satu segi, sasaran Hulagu sangat lemah. Kekhalifahan Abbasiyah sudah jadi macan ompong, terpecah-pecah menjadi sekte-sekte yang tak terhitung jumlahnya–Nusairi, Druzes, Qarmatiah, Takhtaji, Zaydi, Sufi. Orang Turki berlawanan dengan orang Persia, sementara keduanya berlawanan dengan orang Arab. Orang Syria masih mendendam karena ditaklukkan Abbasiyah 500 tahun sebelumnya, dan mereka merindukan ratu adil yang dapat membebaskan mereka. Ke timur, kota-kota Jalur Sutra di Khwarezm–Bukhara, Samarkand, Urgench, Merv–hancur akibat serangan Mongol pada 1219-22. Di pusat pemerintahan, BAGIAN I: MUSIM SEMI 58 pustaka-indo.blogspot.com
anggota kerajaan Abbasiyah melempem karena kemewahan. Alih-alih seperti Kekaisaran Romawi, sebagaimana kata Philip K. Hitti dalam History of the Arabs, “orang sakit itu sudah di ranjang kematiannya manakala para pencuri mendobrak pintu”. Bulan September 1257, Hulagu, berada pada jarak 400 km dari pegunungan Elburz, mengirim pesan ke Baghdad, meminta khalifah menyerah dan menghancurkan tembok kota bagian luar sebagai tanda niat keseriusan menyerah. Sang khalifah, al-Mustasim, yang sudah tahu nasib negeri yang diserang Jenghis Khan, menulis pesan balasan pada Hulagu. Demi Langit Abadi, alangkah malang jika harus menyusul dinastidinasti para syah Khwarezm, Saljuk, raja-raja Daylam [wilayah di mana kelompok Assassins didirikan]… Namun gerbang Baghdad tak pernah tertutup bagi ras-ras ini… Bagaimana mungkin kami akan menolak masuk mereka yang punya kekuatan dan kekuasaan seperti ini. Sang khalifah, yang berkarakter lemah dan para pendahulunya hanyalah boneka yang menari-nari lewat tangan tuan-tuan Saljuk mereka, hanya bisa berharap bencana ini segera lewat, seperti bencana yang melewati Saljuk. Bagaimanapun juga, dia pimpinan spiritual Islam; Tuhan pasti berada di pihaknya. “Wahai anak muda,” dia berteriak, “tidakkah kau tahu bahwa dari Timur sampai ke Maghreb, seluruh hamba Allah, raja atau pengemis, adalah budak-budakku?” Tak lama kemudian, nyatalah bahwa kata-kata ini tak ada artinya. Di antara para “budak” sang khalifah, tak seorang pengemis pun, apalagi raja, datang menolongnya. Di bulan November, tentara Mongol, yang meninggalkan keluarga dan kawanan mereka di belakang, memulai perjalanan selama dua bulan menuju Baghdad yang hanya berjarak beberapa kilometer lagi. Mereka datang dalam tiga barisan. Yang pertama di bawah pimpinan Baiju, seorang veteran penyerangan sebelumnya atas Baghdad di tahun 1238. Rombongan ini mendekati Baghdad lewat utara, melintasi sungai Tigris dekat Mosul, 235 km ke arah hulu. Barisan kedua dikomandani salah seorang jenderal terbaik, Kitbuqa, yang sebenarnya PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 59 pustaka-indo.blogspot.com
tidak berdarah Mongol melainkan keturunan suku Naiman, suku taklukan Jenghis 50 tahun sebelumnya. Pasukannya, dari arah paling selatan, bergerak ke barat melewati tempat yang sekarang bernama Lorestan di Iran. Sedangkan dari arah tengah datang pasukan di bawah pimpinan Hulagu sendiri. Turun dari dataran tinggi Iran menyusuri sungai Alwan, Hulagu memerintahkan pasukan ketapel tempurnya untuk mengumpulkan batu sebesar kereta sebagai amunisi, karena saat itu sudah diketahui bahwa di sekitar kota Baghdad tidak terdapat bebatuan. Di sana sudah tercium aroma perlawanan. Pasukan Muslim di daerah rendah dekat Ba’qubah, sekitar 60 km timur laut Baghdad, menemui kehancuran saat tentara Mongol menjebol bendungan irigasi, menenggelamkan mereka dalam banjir, lalu membantai mereka dengan pasukan infanteri—sekitar 12.000 pasukan Muslim tewas ketika hendak melarikan diri dari jebakan lumpur. Ketiga barisan pasukan tadi bertemu di Ctesiphon, 30 km ke selatan Baghdad di Tigris, dan membidik bagian timur kota yang baru dibangun: di sanalah terletak istana Abbasiyah, sekolah hukum dan tembok yang sudah berusia 150 tahun, lalu dua jembatan ponton yang melintasi sungai. Pada 22 Januari 1258, Baghdad terkepung. Sungai Tigris dijaga di daerah hulu dengan ponton-ponton, sementara di hilir dijaga oleh satu batalion pasukan berkuda. Dalam keadaan seperti ini, pelarian diri adalah hal yang mustahil; seorang pejabat kerajaan yang berusaha melarikan diri di hilir dengan iring-iringan kecil dipaksa kembali hanya dengan lemparan batu, minyak berapi dan panah yang menenggelamkan tiga perahu iring-iringan tersebut dan membunuh beberapa pengawal si pejabat. Penyerangan dimulai seminggu kemudian. Batu-batu dari ketapel tempur Mongol menghantam puncak-puncak tembok benteng, menghancurkan dasarnya menjadi berkeping-keping. Agar memperoleh titik bidik lebih baik, tentara Mongol mengumpulkan puing-puingnya guna membangun menara dan kemudian menaruh ketapel tempur di atasnya agar bisa menjangkau sasaran di dalam tembok. Di tengah hujan panah yang mengarah kepada para penghuni yang berlindung, batu-batu memecahkan atap bangunan sementara kendi-kendi berisi minyak berapi mulai membakar rumah-rumah. Pada 3 Februari, tentara Mongol berhasil merebut tembok timur. BAGIAN I: MUSIM SEMI 60 pustaka-indo.blogspot.com
Di dalam kota Baghdad, kepanikan membuat khalifah kurang waras. “Benar dan salah tak lagi bisa dia kenali,” ejek Juvaini. Dia mencoba mengirim utusan untuk gencatan senjata: pertama, wazirnya, bersama catholicos kota, yakni pemimpin warga Kristen, dengan harapan bisa mengambil hati istri Hulagu yang beragama Kristen Nestorian, putri Kerait bernama Doquz, sepupu ibunya, Sorkaktani, yang juga menganut Kristen Nestorian. Doquz terkenal bijaksana dan teguh dalam mempertahankan keyakinannya: salah satu tandanya, dia membawa gereja-tenda ke mana pun dia pergi. Hulagu, patuh kepada ibunya yang kuat dan yang menjodohkannya, sangat menghormati istrinya beserta keyakinannya. Maka, ketika istrinya meminta agar dia mengampuni warga kota yang beragama Kristen, dia mau menurutinya. Dalam pesan yang diikatkan pada anak panah, Hulagu berjanji akan mengampuni para qadi—pemimpin dan ahli agama—termasuk orang-orang Nestorian jika mereka berhenti melawan. Kemudian, datang lagi utusan kedua untuk gencatan senjata, dan disusul utusan ketiga; keduanya diabaikan Hulagu. Wazir sang khalifah melaporkan bahwa mereka tak punya harapan lagi, memberitahu tuannya bahwa “perlawanan rakyat jelata yang sudah kocar-kacir bagaikan kelejotan binatang sesaat setelah disembelih.” Dalam keadaan seperti ini, dia harus menyerah. “Adalah tindakan bijaksana jika merendahkan diri dan mempermalukan diri.” Menyerahlah, kata sang wazir. Serahkan harta kerajaan, karena itulah yang mereka cari; lalu aturlah perkawinan sehingga “kerajaan dan agama bisa bersatu, lalu kejayaan dan kemegahan, kekhalifahan dan kekuasaan pun jadi satu.” Sang khalifah jadi bimbang, dan semangat kota pun kian melorot. Ribuan orang berkumpul, mengharapkan belas kasih; namun karena sampai saat itu belum ada yang menyerah, semuanya dibunuh. Mereka yang tersisa gemetaran di sudut-sudut kota, dan saat itulah sang khalifah sadar bahwa dia tak punya peluang lagi. Pada 10 Februari, dia memimpin 300 pejabat kerajaan dan kerabatnya ke perkemahan Hulagu untuk menyerah. Hulagu menerima sang khalifah dengan sopan, memberitahu dia agar memerintahkan seluruh penduduk kota meletakkan senjata dan meninggalkan kota. Mereka memang melakukannya—namun setelah itu dikepung dan PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 61 pustaka-indo.blogspot.com
dibantai seperti kawanan domba karena masih saja melawan. Berbagai sumber mengatakan, dalam penyerbuan ini sekitar 800.000 jiwa tewas. Angka ini memang bisa diragukan, namun orang Mongol, yang terbiasa dengan pembantaian massal, sangatlah mampu membunuh orang sebanyak itu. Bahkan, jika angkanya hanya sepersepuluhnya, itu baru setara dengan korban pembunuhan Reich Ketiga. Tak heran bila orang Muslim kini mengenang peristiwa tersebut sebagai salah satu kejahatan terbesar terhadap umat dan agama Islam. Tiga hari kemudian, tentara Mongol membakar seluruh kota yang sudah kosong. Masjid-masjid, menara-menara, pemakaman-pemakaman, rumah-rumah—semuanya musnah dilalap api. Orang Nestorian memang diampuni, seperti janji Hulagu. Sementara Baghdad sedang dilalap api di sekitar mereka, mereka mendapat perlindungan dari patriark mereka di sebuah gereja Kristen. Setelah itu para pemimpin ini dihadiahi istana wakil perdana menteri, dan sudah barang tentu mereka bergabung dengan orang Kristen lain dalam merayakan keruntuhan Islam dan kebangkitan mereka. Untuk memahkotai kemenangannya, Hulagu memilih untuk melakukan penghinaan. Ketika merebut Istana Segidelapan sang khalifah, dia mengundang para tawanan dalam jamuan makan untuk pejabat dan keluarganya. “Anda adalah tuan rumah, dan kami tamu Anda,” katanya, mengejek. “Maka, bawalah apa pun yang Anda punya yang sesuai dengan selera kami.” Sang khalifah, gemetar ketakutan, tanpa diaba-aba bergerak untuk membuka pintu ruang penyimpanan harta kerajaan, namun dia tak menemukan pelayan yang masih hidup untuk memilih kunci yang benar. Akhirnya, setelah pintu ruangan itu dibuka paksa, prajurit Mongol membawa keluar 2.000 pakaian mewah, 10.000 dinar tunai, mangkuk-mangkuk berisi mutiara dan permata. Semua harta ini dengan senang hati dibagi-bagi Hulagu dengan para komandan tentaranya. Lalu, dia kembali berkata kepada sang khalifah. Baiklah. Ini kan baru harta yang terlihat. Sekarang, “beritahu pelayanku letak harta terpendammu.” BAGIAN I: MUSIM SEMI 62 pustaka-indo.blogspot.com
Khalifah memang punya harta terpendam, dan mungkin Hulagu sudah tahu sebelumnya: sebuah kolam penuh batangan emas, yang kemudian diangkat dan dibagi-bagi. Giliran selanjutnya yaitu harem, 700 wanita dan 1.000 pelayan. Tuan, tolonglah, janganlah semua wanita ini Tuan ambil. Hulagu sekali lagi berbaik hati. Khalifah boleh memilih 100 wanita yang dapat dibebaskan; sedangkan sisanya akan dibagi-bagi di antara para komandan Mongol. Hari berikutnya, seluruh harta kerajaan di istana itu—benda-benda seni kerajaan yang dihimpun selama 500 tahun—dihancurkan menjadi berkeping-keping di dekat gerbang. Selanjutnya, sebagian harta rampasan ini dikirim kepada Mönkhe di Mongolia. Sementara itu, menurut Rasyiduddin, rampasan dari Alamut, dari kastil-kastil Assassins lain, dari Georgia, Armenia, dan Iran diangkut ke sebuah benteng di sebuah pulau di Danau Orumiyeh (Urmia), danau garam di sebelah barat laut Iran. Akhirnya, ketika kota telah dipenuhi bau busuk mayat, Hulagu kembali memerintahkan pelaksanaan pembunuhan: khalifah dan para pejabatnya yang masih hidup. Al-Mustasim dan lima orang lainnya, termasuk putra sulungnya, menemui ajalnya secara mengerikan dan memalukan di dekat sebuah desa. Dua hari kemudian, putra keduanya. Hanya putra bungsunya yang dibiarkan hidup. Dia dikawinkan dengan seorang wanita Mongol, yang memberinya dua putra. Inilah akhir garis keturunan Dinasti Abbasiyah, dan untuk pertama kali dalam sejarah umat Islam dibiarkan tanpa pemimpin religius. Lalu datanglah masa-masa damai. Mayat-mayat korban penyerangan dimakamkan, pasar-pasar dibangun kembali, kantor-kantor dibuka lagi. Tiga ribu orang Mongol memulai tugas rekonstruksi di Baghdad, sementara yang lain melakukan tindakan yang diperlukan guna mengamankan sisa wilayah Dinasti Abbasiyah lainnya. Kebanyakan kota besar, seperti al-Hillah, membuka gerbang mereka. Namun beberapa di antaranya masih belum bersedia, dan mereka pun menerima konsekuensi sebagaimana biasanya: di Wasit, 15 km ke tenggara Baghdad, 40.000 orang tewas (menurut satu sumber, meski angka ini PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 63 pustaka-indo.blogspot.com
harus diterima dengan hati-hati, karena selalu kabur, dan biasanya diperkirakan secara rata-rata, padahal kenyataannya bisa berlipat sepuluh kali). Perlawanan yang terjadi sama sekali tak berarti. Wilayah Hulagu membentang dari Afghanistan hingga Teluk Persia. Georgia dan pusat Kesultanan Saljuk—wilayah yang hari ini terletak di sebelah timur Turki—pun ditundukkan. Di balik daerah ini terbentang wilayah Syria dan Mesir. Mengakhiri kisah di bagian ini, kita harus melihat ke beberapa tahun selanjutnya sebelum kembali kepada Kubilai. Syria, yang pantai-pantainya adalah tanah kekuasaan para tentara Salib, dengan dinasti Arab menguasai pedalaman Allepo dan Damaskus, merupakan sasaran selanjutnya. Ketika Hulagu sampai ke pantai Mediterania, orang Kristen segera bergabung dengan para penakluk Mongol; orang Armenia yang seagama dengan mereka juga ikut bergabung. Hulagu tetap baik hati kepada pemeluk Kristen seperti sebelumnya, dan makin brutal terhadap orang Muslim. Seorang amir yang memerintah di Diyarbakir, wilayah yang sekarang terletak di bagian tenggara Turki, membuat kesalahan dengan menyalib seorang pendeta Kristen yang sedang melakukan perjalanan menggunakan tanda pengenal Mongol. Bisa dipahami, dengan tindakan ini, berarti sang amir melawan kekuatan Hulagu, dan ini membuat keadaan lebih buruk lagi baginya. Ketika operasi militer mulai mengarah ke barat, orang Mongol mengambil alih daerah ke - kuasaan nya, menangkap dan menghukum mati dia dengan seribu sayatan: menyayat dan memotong dagingnya, lalu menyuruh sang amir memakan daging sayatan itu, dan terakhir kepalanya dipenggal dan kemudian dijadikan semacam jimat bagi tentara Mongol yang sedang bergerak. Mereka bergerak menyeberangi sungai Eufrat, dan sampai di Allepo pada 24 Januari 1260. Setelah enam hari melakukan pembantaian di sini, wilayah ini kemudian diserahkan kepada raja tentara Salib, Bohemund VI. Daerah Hamah dan Hims pun menyerah. Damaskus ditinggalkan begitu saja oleh sultannya yang melarikan diri ke Mesir, dan Kitbuqa sendiri yang memancung gubernurnya. Orang Kristen bergembira ria, membunyikan lonceng-lonceng, anggur-anggur dituang dan masjid-masjid diubah menjadi gereja. Enam abad dominasi Muslim BAGIAN I: MUSIM SEMI 64 pustaka-indo.blogspot.com
di daerah itu runtuh begitu saja. Lalu tentara Mongol berbelok ke selatan, menuju Nablus, yang pasukan garnisun penjaganya dilenyapkan karena melawan. Pada saat yang bersamaan, tentara Mongol pun memanfaatkan padang rumput yang sangat subur di perbatasan Syria. Sekarang tibalah giliran Mesir. Daerah ini dikuasai oleh mereka yang sebelumnya adalah para budak dari Turki, para Mamluk (mamluk, orang yang dimiliki), yang memperoleh jalan menuju kekuasaan sembilan tahun sebelumnya. Di saat yang bersamaan, datanglah kabar tentang peristiwa di Mongolia, peristiwa yang mengubah segala-galanya. Di bulan Agustus 1259, Mönkhe wafat (peristiwa ini akan kita bahas lagi di Bab 5). Mendengar berita ini, Hulagu kembali ke Persia dengan sebagian besar bala tentaranya, meninggalkan Kitbuqa di bawah kendali 20.000 pasukan tersisa. Sultan Mesir kala itu, Qutuz, melakukan sesuatu yang awalnya dianggap tindakan bodoh, namun akhirnya terbukti sangat cerdas. Ketika Hulagu mengirim utusan yang menyerunya menyerah, dia memenggal kepala mereka. Bagi orang Mongol, membunuh utusan adalah kejahatan barbar yang menutup kemungkinan negosiasi lebih lanjut, termasuk kemungkinan pengampunan. Tindakan itu adalah penghinaan paling buruk. Tindakan semacam inilah yang mengawali serangan Jenghis ke Khwarezm di tahun 1219. Tak ada yang bisa dilakukan untuk memastikan invasi tak akan terjadi. Barangkali, pembunuhan itu memang penyimpangan: lebih baik mati daripada harus jadi budak lagi. Namun tindakan itu juga bisa dipahami sebagai provokasi sengaja: Qutuz tahu dia punya kesempatan memukul mundur tentara Mongol yang telah berkurang karena kepulangan Hulagu, dan berusaha bertahan di saat-saat yang paling genting dari kelanjutan kekuasaannya. Di Syria, bulan Mei, sungai-sungai utama—Quwayq, Orontes (Asi), Barada, A’waj—mengalami kekeringan, dan padang rumput di sekitarnya pun mengering. Sepertiga pasukan Mongol yang tersisa bisa makan dan minum karena duapertiga pasukan sudah kembali ke timur. Mereka waktu itu langsung mengerti kebenaran paling dasar dalam operasi militer di daerah-daerah ini, kebenaran yang dengan apa adanya diungkapkan John Masson Smith: “Pasukan yang cukup kecil untuk dipusatkan di padang rumput dan air yang PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 65 pustaka-indo.blogspot.com
layak belum cukup memadai untuk menyerang orang Mamluk.” Dalam bahasa modern, orang Mongol memiliki sumber daya manusia yang rendah serta sedikit senjata dan bahan bakar untuk melakukan pertempuran. Pemimpin yang arif akan berpikir dua kali. Namun, menghadapi penghinaan karena utusannya dipenggal, sebuah tantangan terang-terangan, orang Mongol tak punya pilihan lain selain bertempur. Pada Juli 1260, sebuah pasukan berkekuatan 15.000-20.000 orang—mungkin setara atau bisa juga kurang dari pasukan Mongol (tak ada yang tahu jumlah pasti pasukan ini)—meninggalkan Mesir menuju Palestina, memasok cadangan makanan di Acre dan pada 3 September, selama Ramadhan, bersiap-siap menyerang tentara Kitbuqa di dekat Nablus. Pasukan ini sangat berbeda dengan pasukan Mongol. Di negeri Mesir dengan kawasan padang rumput yang terbatas, ratarata orang Mamluk hanya memiliki seekor kuda, yang dirawat dengan baik, lebih besar, dan lebih kuat daripada kuda gunung berukuran kuda-poni milik pasukan Mongol. Pasukan Mamluk tidak mengandalkan kecepatan, melainkan persenjataan: busur dan anak panah sudah pasti, tapi juga tombak, lembing, pedang, kapak, gada dan belati. Mereka pemanah jempolan, dengan senjata yang dibuat ahli panah (sementara busur orang Mongol dibuat sendiri di rumah) dan anak panah yang dipasok oleh pembuat anak panah profesional dalam jumlah besar. John Masson Smith memperkirakan, di peperangan Hattin, di mana pasukan Saladin mengalahkan tentara Salib pada 1187, mereka menggunakan 1,3 juta anak panah. Para tentara ini terlatih dalam hal kecepatan menembak maupun akurasinya, mampu membidik di atas pelana kuda yang sedang berlari kencang. Membawa beban berat, di daerah terbuka yang amat dikenal oleh pasukan Mongol, kuda-kuda Mamluk tak mampu mengejar musuh dan tak memungkinkan tentara mereka bertindak; namun dalam pertempuran memakai panah, orang Mongol akan kalah, seperti yang mereka alami dalam perang Parvan di Afghanistan pada 1221. Selain itu, tentara Mamluk diseleksi berdasarkan kekuatan fisik mereka, sementara tentara Mongol hanyalah tentarasipil biasa, yang dipilih sejauh mereka dapat menerima syarat-syarat dalam pertempuran. Kali ini, mereka tak mampu bertahan. Tempatnya disebut Ain Jalut, BAGIAN I: MUSIM SEMI 66 pustaka-indo.blogspot.com
Mata Air Goliath, tempat di mana lembah Jezreel berakhir dan bertemu dengan kaki perbukitan Gilboa. Di sinilah Daud melempar Goliath dengan batu. Tak ada sumber tepercaya yang tersisa tentang pertempuran ini. Namun, menurut salah satu sumber yang dianggap tepercaya,3 Qutuz tiba setelah melakukan perjalanan sepanjang 50 km dari Acre di pagi hari tanggal 3 September, memilih tempat berhenti di kawasan yang rimbun dengan pepohonan dan persediaan air yang cukup. Di belakangnya terdapat perbukitan Bilboa, dengan pemandangan matahari sedang terbit. Menurut satu keterangan, dia memecah-mecah pasukan ke lereng-lereng bukit dan ke balik pepohonan, dan mengumpulkan sisanya di kaki bukit. Orang Mongol harus mengitari bukit itu dari Jordan. Mereka bergerak pelan menuju tentara Mamluk, membuat suara yang luar biasa bising dengan tabuhan genderang perang. Terlambat bagi orang Mongol. Silau oleh sinar matahari, mereka menyadari telah terperangkap dan terkepung. Dengan bantuan tambahan yang bergerak dari sisi lembah Gilboa, pasukan kavaleri Mamluk, yang masih segar dan bersenjata lengkap, mendekati tentara Mongol yang sudah lemah. Dua pemimpin Mamluk yang bergabung dengan tentara Mongol membelot sehingga makin mengurangi kekuatan pasukan Mongol. Nyaris tak ada pasukan Mongol yang tersisa hidup. Menurut salah satu sumber, Kitbuqa bertempur sampai akhir, menyemangati pasukannya sampai kudanya dilumpuhkan, dia sendiri tertangkap dan dibawa ke hadapan Qutuz. Dia menolak menyerah, dan justru menyatakan betapa bangganya bisa jadi pelayan setia khan—“Aku tak seperti kamu, pembunuh tuanku!” adalah ucapan terakhirnya sebelum mereka memenggal kepalanya. Di sinilah, di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Tepi Barat, mesin perang Mongol akhirnya terhenti. Bagaimanapun, mereka memang tak terkalahkan. Kekuatan pasukan Mongol masih harus melakukan beberapa kali serangan lagi ke Syria. Namun usaha ini tak terlaksana karena mereka jauh dari padang rumput yang baik, sehingga PERANG PERTAMA MELAWAN TEROR 67 3 Satu laporan lisan dari Sarimuddin, dibenarkan dalam Peter Thorau, “The Battle of Ayn Jalut: A Re-examination.” pustaka-indo.blogspot.com
mereka tak memiliki dukungan alam. Ambisi Jenghis tentang dunia di bawah kekuasaan Mongol sampai di titik batasnya di barat. Ekspansi selanjutnya terletak di timur, dengan Kubilai sebagai pemimpin. Kekalahan pasukan Mongol pada 1260 ini punya gaung tersendiri hari ini. Orang Muslim, yang memandang Amerika sebagai “Mongol baru”, berharap banyak dari Ain Jalut: daerah ini membuktikan bahwa kekuatan besar yang menindas Islam tak akan bisa bertahan selamanya. Mengutip salah satu artikel tentang penaklukan Baghdad yang kedua ini: “Kaum fundamentalis percaya bahwa mereka punya alasan dalam memperkirakan kemenangan dalam peperangan ini, karena kisah Baghdad tak berakhir di tahun 1258. Orang Mamluk Mesir mampu menahan kejayaan orang Mongol di Pertempuran Ain Jalut di Palestina dua tahun kemudian.4 Sejarah, tentu saja, tak punya kekuatan terlepas dari individu yang memiliki kehendak dan mampu menerjemahkan pesannya ke dalam tindakan; tak ada alasan untuk menganggap kekurangan bahan bakar akan membatasi sekutu yang dipimpin Amerika, seperti tidak adanya padang rumput telah membatasi gerak orang Mongol. Namun, orang Muslim melihat setidaknya ada satu pesan, menambahkan keyakinan mereka dari pendudukan Mongol yang berlangsung berabad-abad berikutnya atas Persia dan Irak. Sebab, lama sebelum kekuasaan mereka berakhir, orang Mongol pindah ke agama Islam—bagi sebagian orang membuktikan bahwa Islam akhirnya akan selalu menang, apa pun kekalahan yang dialami sebelumnya. BAGIAN I: MUSIM SEMI 68 4 Husain Haqqani, “The American Mongols,” Foreign Policy, Mei-Juni 2003. pustaka-indo.blogspot.com
3 PENAKLUKAN YUNNAN SEMENTARA ITU, KUBILAI MENGARAHKAN PERHATIAN KE SELATAN, KE KEKAISARAN Song di China selatan, sebuah tantangan yang jauh lebih besar ketimbang dunia Islam. Selang 300 tahun setelah berdiri, kekaisaran Song China menjadi kekuatan pemimpin dunia. Kejayaannya tak sebanding dengan ukuran geografisnya. Wilayahnya terpangkas hampir setengah ketika Jürchen dari Manchuria menaklukkan bagian utaranya dan 40 juta rakyatnya pada 1225, dan itu hanya seperlima wilayah China yang ada hari ini— sedikit lebih kecil dibanding tanah air Kubilai. Namun, Song selatan memiliki segala hal yang tak dimiliki Mongolia: 70 juta penduduk, bahkan lebih, di ratusan kota yang tersebar di dalam dan di sekitar wilayah utama China kuno, dataran subur di pinggiran sungai yang disebut orang China dengan nama Chang, sementara orang Eropa menyebutnya Yangtze. Sungai ini, berhulu di lembah-lembah terjal di perbatasan dataran tinggi Tibet, adalah anugerah sekaligus kutukan: airnya bisa mengairi tanah pertanian namun juga kadang-kadang menenggelamkan sawah di sepanjang alirannya. Dia jadi jalan utama, yang bisa ditelusuri sepanjang 2.700 km dan di sepanjang alirannya terdapat setengah lusin kota besar China. Inilah yang dimaksud orang China ketika menyebut China sebagai “Kerajaan Tengah”, dunia antara laut dan pegunungan, juga antara wilayah utara yang kering kerontang KUBILAI KHAN 69 pustaka-indo.blogspot.com
dan wilayah selatan yang lembap, panas, di mana bukit-bukit lebat pengapit lembah-lembah Yangtze menjatuhkan kesuburan yang dibawa aliran sungai ke daerah-daerah di pinggir pantai. Betapa berbedanya dari bangsa Mongol: bangsa yang hidup di padang rumput tanpa pohon dan padang tandus berpasir, tanpa batas atau sungai yang bisa diarungi, dan penduduknya hanya satu persen dibanding populasi Kekaisaran Song, serta hanya punya satu kota kecil. Hitungan seperti ini tak akan memberi petunjuk perihal kekuatan Song yang sesungguhnya: prestasi kebudayaannya, kemajuan ekonomi, dan kesatuan politiknya. Kekaisaran Song terdiri dari enam kerajaan independen, membentuk negara-bangsa yang lebih besar dari seluruh negara tetangganya: Tangut dan Tibet di barat, Nanchao dan dua kerajaan Vietnam (seperti sekarang, namun dengan nama berbeda) di selatan. Memang, China utara telah menyerah kepada Jürchen yang menaklukkannya pada 1125, bersama dengan ibukotanya, Kaifeng; namun Kekaisaran Song di selatan tetap mempertahankan identitas budaya mereka, yang dikendalikan dari ibukota barunya, Hangzhou (yang kemudian bernama Linan). Bagaimanapun juga, Jin bukan tak punya andil, karena dua populasi China ini sama-sama berbagi bahasa dan kebudayaan yang sama, sementara perselisihan dua pemerintahan, China dan Jürchen, yang selalu terjadi di sepanjang waktu tak banyak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Di bidang kesenian, kesejahteraan, penemuan, kemajuan pemikiran— dari segi kuantitas maupun kualitas yang ingin Anda ukur dari segenap aspek kultural dan sosial—Kekaisaran Song selatan praktis tak tersaingi. Sebagai perbandingan, Islam adalah kerajaan baru yang disatukan berdasarkan agama dan perdagangan, tapi terpecah-pecah akibat pertentangan internal. China selatan meledak dengan pengetahuan, sementara Eropa masih nyenyak dalam mimpi pra-Renaisansnya. India? Asia Tenggara? Jepang? Afrika? Tak ada yang sebanding. Ilmuwan Prancis, Jacques Gernet, menggambarkan apa yang terjadi di bawah pemerintahan Song menjelang invasi Mongol sebagai renaisans, dalam pengertian orang Eropa terhadap kata ini—kembali kepada tradisi klasik, difusi pengetahuan, kemunculan fajar ilmu pengetahuan dan teknologi, pandangan humanistik baru tentang dunia—hal-hal yang BAGIAN I: MUSIM SEMI 70 pustaka-indo.blogspot.com
sebagian akan mengalir ke barat dan merasuk ke Eropa. Penggunaan kata “renaisans” ini mengundang pembandingan antara Kekaisaran Song dengan Italia abad ke-15—sebuah perbandingan yang memang layak dalam beberapa hal, kecuali renaisans Song tidak melahirkan dinamika pandangan keluar seperti terjadi di Eropa pasca-Abad Tengah: inilah masyarakat yang lebih mengutamakan kesinambungan dan tradisi ketimbang revolusi. Berikut ini gambaran kasar dunia yang hendak ditaklukkan orang Mongol, sejumlah kuntum bunga yang diambil acak dari sebuah taman yang memerlukan waktu seumur hidup untuk menjelajahinya. Di lapisan terbawah, renaisans tadi dimotori oleh metode baru dalam budidaya padi. Kehidupan jadi terasa lebih ringan bagi rakyat petani, walaupun pada akhirnya mereka tak akan termaktub dalam catatan sejarah yang—seperti kebanyakan catatan kerajaan yang resmi dalam banyak kebudayaan—ditulis para elite berpendidikan untuk tuan mereka. Bahan makanan yang lebih banyak dan berkualitas baik, pertumbuhan penduduk, perdagangan, industri baru (seperti kapas), rakyat bergerak memperbaiki hidup mereka sendiri, peningkatan pendapatan dari tanah pertanian, perluasan pendidikan, pegawai negeri yang lebih banyak—seluruh perkembangan ini saling terkait dan akhirnya menciptakan sebuah booming. Tanah kekuasaan yang luas menyediakan pendapatan bagi para tuan tanah, yang tinggal di kota. Kesejahteraan yang meningkat akhirnya mampu mendanai seni, taman, pakaian, keramik, arsitektur. Sebagian petani yang kehilangan tanah ketika tanah perdikan para tuan tanah makin meluas memilih untuk bekerja di kemiliteran atau menjadi pelayan di istana orang kaya, atau kedai-kedai minum, atau sebagai seniman penghibur, atau sebagai buruh di salah satu industri yang sedang berkembang—tambang batu bara, tambang logam, pembuatan kertas, percetakan, tambang garam, barangkali di salah satu pabrik milik pemerintah, yang sebagian mampu mempekerjakan 3.000 orang. Keramik Song menjadi salah satu kejayaan China. Kereta-kereta barang memenuhi jalanan, sementara perahuperahu di sungai dan kanal. Lantaran batas wilayahnya di pedalaman dihadang oleh kerajaan- PENAKLUKAN YUNNAN 71 pustaka-indo.blogspot.com
kerajaan “barbar”, kekaisaran Song China pun mengalihkan perhatian ke laut. Yangtze, anak sungai dan kanalnya, membentuk 50.000 km jalan air, yang dapat ditempuh kapal para saudagar menuju pelabuhanpelabuhan di pantai di mana telah menunggu kapal-kapal relasi mereka dari Eropa dan dari sini berlayar kapal-kapal dengan sistem pelayaran canggih yang dirancang sesuai dengan musim angin. Quanzhou adalah pelabuhan terbesar, yang amat terkenal di kalangan saudagar asing dengan nama Arab Zayton, mungkin semacam penyelewengan terhadap istilah China aslinya untuk mengikatkannya dengan “pohon zaitun” dalam bahasa Arab.1 Dari sini atau dari mulut sungai Yangtze, seorang kapten Song—yang melakukan perjalanan berdasarkan panduan kompasnya (penemuan yang diambil dari seorang ahli pelacak arah dua abad sebelum dia menemukan jalannya ke Eropa)—akan berangkat menuju lautan dengan kapal bertiang empat sampai enam, nyaman dan tenang dalam sebuah kamar anti-air (ruangan yang belum dikenal Eropa sampai abad ke-19) dan dengan 1.000 kelasi. Para pedagang asing menyebarkan koin Song dari Jepang sampai India. Keramik China diekspor ke Filipina, Borneo, bahkan Afrika. Sistem seleksi dan ujian untuk merekrut pegawai sipil, yang sudah mapan, diperluas, menambah kekuatan baru pada 20.000 orang “mandarin” dan 200.000-300.000 pegawai. Hukum melindungi orang kaya dan membantu orang miskin. Pejabat negara mendapat gaji cukup untuk menghindari budaya korupsi. Negara, yang pendapatannya berasal dari pajak serta monopoli garam dan tambang, memberikan perhatian yang belum pernah dilakukan sebelumnya pada rakyatnya: membangun panti asuhan buat anak yatim, rumah sakit, kanal-kanal, pemakaman umum dan lumbung persediaan, bahkan mendirikan sekolah-sekolah desa. Pajak dirombak untuk merebut hati petani agar mau bekerjasama. Pendapatan negara dari pajak sangat besar, dan dicatat dengan hati-hati. Di akhir abad ke-12, dari perdagangan laut saja, pendapatan negara per tahun mencapai 65 juta kali 1.000 koin—artinya 65 miliar koin. Setiap kaisar mengeluarkan mata uangnya BAGIAN I: MUSIM SEMI 72 1 Zaytun barangkali adalah akar kata bahasa Inggris “satin”. Gagasan ini banyak menarik perhatian, terbukti dengan banyaknya buku yang membahasnya, namun itu tidak benar. Karena “satin” lebih dahulu muncul daripada Zaytun. pustaka-indo.blogspot.com
sendiri, dan 1.000 koin, yang dijalin dengan tali yang dimasukkan ke lubang persegi di setiap koin, mencapai berat 6 kg. Ini setara dengan satu ons perak (sekitar $ 7,00 saat ini). Dengan uang ini, orang dapat membeli 60 kg beras.2 Tak lama setelah tahun 1000, Song mulai men - cetak surat berharga. Kemudian, organisasi perdagangan mulai meng - gunakan cek, yang dapat diuangkan di kantor penukaran mata uang di kota-kota besar. Bagaimana cara uang kertas dibuat? Jawaban atas pertanyaan ini memperkenalkan sifat khas masyarakat China pada umumnya, dan terutama masyarakat Song: ledakan informasi. Uang dicetak seperti halnya buku—dengan lempengan kayu, di mana gambar diukirkan pada permukaan kayu. Teknik ini mengawali ledakan catatan dan bahan bacaan yang dimulai di abad ke-8 di China, Jepang, dan Korea. Beratnya kerja yang harus dilakukan untuk setiap halaman menginspirasi langkah logis berikutnya: mencetak dengan tipe yang bisa dipindahpindahkan, gagasan yang belum muncul—atau setidaknya belum dipraktikkan—di tempat mana pun sampai Johannes Gutenberg menyempurnakan teknik revolusioner ini di Jerman pada pertengahan abad ke-15. Kisah tentang cetak-mencetak ini penting diperhatikan, karena hal ini akan menjelaskan salah satu peluang terbesar dalam sejarah yang luput dari bangsa Mongol. Gagasan ini konon dimunculkan oleh seseorang bernama Pi Sheng, yang di abad ke-11 menciptakan huruf dengan mengukirnya di lempengan tanah liat yang basah, kemudian mengeringkannya. Untuk mencetak huruf, dia memilih karakter-karakter yang dibutuhkan, menyusunnya ke dalam sebuah bingkai, mengolesinya dengan tinta, lalu menempatkan kain atau kertas ke atas lempengan tadi. Setelah itu, kain atau kertas itu sedikit ditekan, mirip teknik cetak kuningan. Tentu saja hasilnya tak terlalu bagus, karena huruf-huruf yang diukirkan ke tanah liat itu tak bisa jadi kaligrafi yang bagus. Tapi gagasan ini tetaplah sangat orisinal—namun dalam konteks kebudayaan China, ini juga sekaligus berarti akhir: pertama, karena teknik cetak cukil murah PENAKLUKAN YUNNAN 73 2 Koin ini masih sedemikian lazim sehingga Anda bisa menukarnya dengan beberapa dollar dari dealer. pustaka-indo.blogspot.com
dan efisien, teknologi yang sangat cocok dengan huruf dan ilustrasi yang dipakai China; kedua, penggunaan karakter-karakter yang bisa dipindah-pindah malah sebaliknya. Seorang penata cetak huruf China harus menyiapkan beberapa ribu karakter untuk mewakili cakupan huruf China secara keseluruhan, apalagi untuk mencetak salinansalinan, dia akan memerlukan banyak karakter yang sama, nyaris puluhan ribu karakter secara keseluruhan. Percetakan kekaisaran memiliki 200.000 karakter di abad ke-18; disusun berdasarkan rima dan disimpan dalam meja bundar yang memiliki beberapa laci, masingmasing selebar 2 m. Teknik ini, meski sudah memakai keramik atau logam, tetap saja jarang dipakai karena memakan waktu terlalu lama untuk memilih huruf-huruf untuk satu halaman. Teknik ini tak pernah dipakai untuk kegunaan mekanis sampai abad ke-19; software komputer hari inilah yang berhasil memecahkan masalah ini bagi sejarah. Tatkala Gutenberg memakai solusi serupa untuk mengatasi masalah reproduksi teks, dia memiliki kelebihan teknis—kertas dengan permukaan yang lebih keras dan cetak anggur—serta keunggulan kultural di bidang alfabet, di mana dia hanya perlu membuat beberapa ratus karakter logam (untuk huruf besar dan huruf kecil dari 26 enam alfabet yang ada, dalam beberapa versi, dan beberapa tanda baca). Barangkali karena jenis huruf mereka lebih sederhana, orang Korealah yang justru mengambil alih dan menerapkan gagasan tadi. Mereka jadi orang pertama yang menggunakan huruf logam yang bisa dipindah-pindahkan untuk mencetak 50 jilid Prescribed Ritual Texts of the Past and Present di tahun 1234. Sebagaimana diketahui, ini terjadi tak lama menjelang Song jatuh ke tangan orang Mongol, yang saat itu mereka masih dalam usaha mengumpulkan segala hal yang bisa dipakai untuk mengembangkan percetakan dengan huruf yang dapat dipindahpindahkan dua abad sebelum Gutenberg (hal ini dibahas lebih lanjut di Bab 16). Pesatnya pertumbuhan buku di kekaisaran Song China adalah bukti betapa efektif cetak cukil kayu. Kayu pir, permukaannya licin dan halus, adalah kayu pilihan untuk karya-karya biasa, sementara ilustrasi yang rumit diukir di atas kayu honey locust yang lebih keras, sedangkan untuk teksnya dibuat dari kayu boxwood yang lebih lunak. Hasilnya BAGIAN I: MUSIM SEMI 74 pustaka-indo.blogspot.com
sangat luar biasa. Perpustakaan kekaisaran di Kaifeng memiliki 80.000 jilid koleksi. Tak lama setelah Song berkuasa, seluruh kanon Buddhis diterbitkan—260.000 halaman dalam blok dua muka. Ada begitu banyak koleksi resmi dan ensiklopedia yang memuat hampir 1.000 bab. Semangat mengoleksi menjadi inspirasi bagi penemuan lukisan, kaligrafi, batu mulia, koin, tinta—semua dan segalanya. Risalah ilmiah tentang jamur, bambu, semak, buah-buahan, burung, serangga, buah sitrus, dan berbagai disiplin teknis lainnya, salah satunya (Meng-ch’i pi-t’an atau Dream Pool Essays karangan Shen Kua) menceritakan kisah Pi Sheng dan cetakan huruf yang bisa dipindah-pindahkan. Kedokteran, geografi, matematika, astronomi—semuanya memiliki risalah masing-masing. Pencetakan berjalan luar biasa, mencapai jutaan kopi. Salah satunya yaitu koleksi Buddhis abad ke-10, sebanyak 400.000 kopi, yang masih bertahan sampai saat ini. Di bawah pengaruh Si-ma Guang abad ke-11, sejarawan mengembangkan bakat literer mereka maupun minat terhadap sumber yang bagus, dengan catatan perujukan yang sistematis. Para sarjana, yang berusaha menghindari pengaruh asketisisme teologi Buddhis dan didorong oleh tes-tes berat yang harus dilalui guna memperoleh jabatan, status, dan pendapatan, berusaha kembali dan melampaui tradisi-tradisi Konfusianisme, mengukuhkan kepercayaan mereka pada akal budi dan bukti serta manfaat pendidikan: pendek kata, mereka percaya sekali pada kemajuan dalam masyarakat dan politik. Para sarjana-pejabat ini lebih tertarik pada hakikat moralitas dan implikasinya bagi kehidupan di sini dan sekarang—dan bukan pada hakikat Tuhan dan jalan-Nya, sebagaimana terjadi pada kalangan Eropa Renaisans kelak. Perdebatan agama dilakukan secara elegan, dan bukan perang agama; perdebatan itu diadakan oleh pemerintah, bukan oleh gereja. Dari minat-minat intelektual ini, bermunculanlah orang-orang cerdas dan satu orang yang jenius luar biasa: Shen Gua, semacam pendahulu da Vinci dan Darwin abad ke-11 yang telah menyadari pentingnya arti fosil, berusaha berteori tentang pegunungan yang dahulu kala merupakan dasar lautan, memperbaiki instrumen-instrumen astronomis, mengawali kemajuan dalam matematika, menggambarkan cara kerja kompas, menulis farmakologi, dan sangat berminat pada masalah politik, sejarah PENAKLUKAN YUNNAN 75 pustaka-indo.blogspot.com
dan sastra. Ini semua adalah bagian dari prestasi yang dia capai. Masyarakat kelas atas Song menolak olahraga penuh kekerasan— yang mengingatkan mereka pada kesenangan kaum barbar dan kelas rendah—serta lebih menyenangi sastra, lukisan, dan kaligrafi. Mereka menyukai hal-hal kuno: Ku-ch’uan (Ancient Coins) karangan Hung Tsun, yang terbit pada 1190-an, adalah buku pertama tentang numismatika. Sebuah katalog merekam 2.000 catatan tentang prasasti batu atau perunggu; katalog ini dibuat oleh seorang kolektor bernama Zhao Mingcheng, yang istrinya, Li Qingzhao, adalah salah satu penyair paling brilian di zamannya. Di kota-kota, para pelayan toko dan para tukang menyenangi cerita-cerita, lantunan musik singkat, pertunjukan wayang, teater wayang: tradisi yang kemudian melahirkan teater dan opera. Sebuah kekuatan budaya yang begitu besar; namun tak begitu luar biasa dalam hal militer. Kelemahan ini bukan karena jumlah—Kekaisaran Song memiliki sekitar satu juta tentara di tahun 1045. Penyebabnya adalah masalah status dan efisiensi. Para pejabat negara adalah pegawaisekaligus-sarjana, bukan tentara profesional, sedangkan para tentaranya adalah tentara bayaran dari padang rumput daerah utara, dan karena itu tak ada pasukan kavaleri yang layak diceritakan. Namun inefisiensi dalam tubuh ketentaraan ini diimbangi oleh teknologi mereka yang begitu ampuh. Tatkala kota-kota berkembang pesat, begitu pula teknik pengepungan mereka, dengan berbagai macam senjata berat yang tersedia, seperti ketapel tempur (trebuchet) tenaga manusia dan pelontar bom api yang kemudian diadopsi orang Mongol. Di awal abad ke-10, bubuk mesiu—berasal dari mineral—digunakan dalam alat pembakar yang disebut “api terbang”: semacam roket primitif. Seabad kemudian, ketapel tempur Song ini diisi bom dan granat asap. Kebudayaan besar inilah yang sekarang akan dikuasai orang Mongol, dan dampaknya agak janggal. Penaklukan ini seperti menyiram air ke minyak yang terbakar. Kebakaran menyebar ke mana-mana tak beraturan, bersama dengan bala tentara Mongol, mengalir ke barat, memengaruhi Eropa dengan gagasan dan penemuan orang China. Dan, kekuatan pendorong di balik rentetan peristiwa ini adalah Kubilai. BAGIAN I: MUSIM SEMI 76 pustaka-indo.blogspot.com
Jelaslah, serangan frontal terhadap Song, yang terlindung di balik Yangtze yang sibuk, luas dan terjaga dengan baik, akan berbuah ke - gagalan. Orang Mongol tak sudi berurusan dengan kegagalan. Mönkhe memerlukan sesuatu yang akan memberinya kemenangan. Begitulah, di sebelah barat daya Song, di luar batas wilayahnya, terdapat daerah yang jika dikuasai akan menjadi pintu gerbang menuju garis depan selanjutnya. Kubilailah yang bertanggung jawab akan hal ini, dan memang sudah saatnya. Di tahun 1252, Kubilai sudah berusia 37 tahun, dan dia belum pernah diberi tanggung jawab selain mengurusi tanah bagian nya. Saudara dan ayahnya sudah melakukan operasi militer saat berusia belasan dan dua puluhan tahun. Berhubung Kubilai belum berpengalaman, dalam operasi militer pertamanya ini, Mönkhe sangat berhati-hati dan memberikan bantuan terbaik bagi saudaranya: menyerahkan seorang jenderalnya yang paling berpengalaman, Uriyangkadai, jenderal berusia 50 tahun dan putra Subedei yang terkenal, penakluk separuh Asia dan sebagian besar Rusia di bawah pimpinan Jenghis Khan. Sasaran mereka masih sangat jauh, dan sangat berat. Daerah itu adalah jantung wilayah yang di tahun 647-937 merupakan kerajaan besar, Nanzhao, dan saat itu sudah berubah menjadi wilayah kecil yang berpusat di ibukotanya, Dali. Kota Dali, yang mengendalikan jalan— dan tentu saja lalu lintas perdagangan—antara India (yang sekarang menjadi negara Burma) dan Vietnam, adalah titik temu pegunungan lebat dan suku yang saling berperang. Sebuah wilayah yang memang sulit dijangkau, apalagi dikendalikan. Pada 751, seorang kaisar Tang berusaha menaklukkannya, dan hasilnya dia kehilangan 60.000 tentara. Tak mengherankan, informasi tentang wilayah Dali/Nanzhao masih sedikit dan tak dapat diandalkan. Legenda Thailand, misalnya, menyebut Nanzhao sebagai tanah leluhur orang Thai, tempat mereka pernah mengecap kejayaan hingga suatu ketika dihancurkan orang Mongol; saat ini ada kesepakatan di kalangan sarjana bahwa orang Thai adalah prajurit yang tak terlalu diperhitungkan di wilayah selatan. Orang Bai di Dali, yakni suku campuran antara Tibet dan Burma, sudah jadi PENAKLUKAN YUNNAN 77 pustaka-indo.blogspot.com
kelompok dominan setidaknya dari tahun 937, dan sejak itu mereka memperoleh kemerdekaan selama tiga abad di bawah keluarga kerajaan bernama Duan. Perihal wilayah ini dan kebudayaannya, hanya sedikit orang Barat yang mengetahuinya: inilah tempat yang tak terlalu diperhatikan. Orang Duan memerintah wilayah seluas 800 km— sepanjang setengah juta kilometer persegi—kira-kira seukuran Afghanistan atau Texas sekarang. Sichuan, agak ke utara, adalah wilayah berpenghujan, sehingga orang China menjuluki Dali dan daerah sekitarnya dengan sebutan Yun-nan, “Daerah Selatan yang Berawan”. Dali adalah wilayah Asia Dalam yang mirip campuran Afghanistan dan Swiss, persaingan antar-suku di daerah ini dikendalikan oleh para penguasa yang kaya raya berkat perdagangan dan yang tidak bermasalah dengan orang China, yang telah belajar menyerahkan urusan tempat ini kepada pemimpin mereka, gunung-gunungnya, danau-danaunya yang indah dan iklimnya yang damai. Hari ini, Dali masih terikat dengan akar budaya kuno dan sifat individualitasnya. Para penduduk keturunan Bai masih memakai selandang cerah yang dililitkan di baju serta topi besar dan berat. Rumah-rumah batu dihias dengan ukiran kayu di sepanjang jalan. Pagoda-pagoda Buddhis mengingatkan kita pada Nanzhao kuno. Para seniman menggarap pualam setempat, dan para turis terpukau oleh kota tua ini dengan jejeran gunung dan danaunya. Ia tetap jadi gelandangan Kathmandu seperti semula. Sedangkan bagi Mönkhe dan Kubilai, dia adalah batu loncatan untuk penaklukan selanjutnya. Rincian dari operasi yang berisiko tinggi dan menantang ini masih kabur, namun perlu dilihat lebih dekat lagi karena hal ini akan menjelaskan mengapa Yunnan kemudian menjadi bagian dari Kekaisaran Mongol dan karena itu jadi salah satu provinsi negara China modern. Bagi ahli strategi yang tinggal di Karakorum, invasi ini adalah gagasan gila. Dali, yang di satu sisi terlindung oleh Pegunungan Azure dan di sisi lain oleh danau Erhai, tak banyak menawarkan peluang untuk mendekatinya, dan dia dapat dipertahankan dengan mudah. Namun tiga abad masa damai membuat tempat ini berpuas diri dan tidak awas. Dia tak memiliki tentara. Dia adalah buah yang jatuh dari pohon dan siap dipungut, asalkan orang Mongol dapat melintasi Song. Dan itu berarti mengumpulkan pasukan mereka di wilayah yang BAGIAN I: MUSIM SEMI 78 pustaka-indo.blogspot.com
baru saja direbut dari orang Tangut, dan setelah itu turun ke selatan sejauh 1.000 km menyusuri perbatasan barat Song yang tak dijaga dengan baik. Ini semua harus berhasil dilakukan, dan itu berarti membutuhkan perencanaan yang tepat. Di akhir musim panas 1252, pasukan Kubilai berkumpul di daerah semi-gurun Ordos, tepatnya di salah satu simpul pertemuan Sungai Kuning di utara. Usaha ini menghabiskan waktu setahun: hiruk-pikuk proses yang melibatkan kereta dan peralatan perang dalam jumlah besar, dan semuanya harus menyeberangi sungai-sungai dan lembahlembah. Akhirnya, di musim gugur 1253, pasukan besar ini sampai di barat daya dekat Sungai Kuning, sekitar 350 km sebelum Tao, kemudian terus ke selatan menyusuri kaki bukit dataran rendah Tibet menuju daerah yang sekarang dikenal sebagai Sichuan. Wilayah ini memang sangat jauh, bahkan bagi orang Mongol sekalipun, namun dia sudah pernah diinvasi (untuk tidak menyebut ditaklukkan) oleh putra kedua Ogedei, Köten, pada 1239. Kubilai berkemah di padang rumput yang agak tinggi, yang hari ini menjadi Daerah Otonom Aba, tanpa sedikit pun gangguan dari penduduk lokal, terutama suku Golok yang liar dan semi-nomaden. Dan dia pun siap menyerang Dali. Jika Dali menyerah, tentu tak perlu ada penghancuran dan pem - basmian. Di kemudian hari, Yuan History karangan orang China mengisahkan bagaimana penasihat Kubilai yang berkebangsaan China berusaha menyentuh jiwa dan tabiat Kubilai sebagai orang Mongol yang ganas. Suatu malam, penasihat utamanya, Yao Shu, mengisahkan bagai mana seorang jenderal Song, Cao Bin, berhasil menaklukkan Nan - jing tanpa membunuh “seorang pun; pasar-pasar tetap buka, se akanakan yang terjadi hanyalah kembalinya sang penguasa biasa.” Pagi berikutnya, saat Kubilai mulai bertugas sebagaimana biasa, dia me ne mui Yao Shu dan berkata, “Apa yang kauceritakan semalam tentang Cao Bin yang tak membunuh seorang pun, itulah yang juga dapat kulakukan.” Berdasarkan kebiasaan yang berlaku, Kubilai mengirim tiga utusan ke Dali untuk memberi mereka kesempatan menyerah. Menteri utama Dali, kekuatan di balik penguasa Duan, menghukum mati mereka. Mungkin dia kurang informasi, terlalu percaya diri atau bisa juga tak PENAKLUKAN YUNNAN 79 pustaka-indo.blogspot.com
tahu sejarah, atau bisa juga ketiganya. Membunuh utusan adalah kejahatan diplomatik paling berat, tamparan di muka umum, dan tak ada akibat lain dari hal ini selain penyerangan dan siapa pula yang tahu betapa mengerikan akibatnya. Kubilai membagi pasukannya menjadi tiga. Satu sayap bergerak ke timur, menyusuri dataran tinggi padang rumput, sampai ke Lembah Sichuan (yang sekarang bernama Chengdu), memuat pasokan logistik dari ladang-ladang Dujiangyan yang baru panen, di mana bendungan dan pulau buatan sudah ada di sana sejak 1.500 tahun sebelumnya menjaga sungai Min. Kubilai sendiri memimpin pasukan ke selatan melintasi padang rumput, bertemu dengan pasukan pertama sekitar 350 km setelahnya, kira-kira setelah tiga hari perjalanan. Semua ini semestinya diketahui oleh orang-orang yang ada di Dali. Sementara itu, Uriyang-kadai memilih jalan sulit—tepatnya jalan yang belum ada—sekitar 150 km ke arah barat, memasuki pegunungan di Sichuan selatan, melintasi lembah dan bukit hingga sampai ke jalan utama antara Dali dan Tibet. Cara ini akan memperpendek waktu tempuh selama dua hari sebelum sampai ke Dali. Gao, pemimpin Dali, mengumpulkan pasukannya di Hulu Yangtze, yang arusnya membentuk sebuah lembah sepanjang satu hari perjalanan ke arah sebelah timur kota. Tentara Dali nampaknya kesulitan, namun orang Mongol terbiasa dengan hal ini karena telah mengalaminya berulang kali. Sungai bukanlah halangan. Mereka sudah melintasi lusinan sungai dalam perjalanan menuju selatan ini. Beberapa di antara pasukan Mongol adalah tentara senior yang pernah melintasi Sungai Kuning—bersama Jenghis di tahun 1226—menggunakan kulit domba sebagai pelampung. Cara ini merupakan prosedur standar di sana selama berabad-abad; bahkan hari ini, Anda dapat mencobanya sendiri di Lanzhou, atau di sebuah sungai di pedalaman Shapotou, dekat suatu tempat di mana tentara Jenghis menyeberang pertama kali dalam operasi militer terakhirnya. Penyeberangan ini, tentu saja, dilakukan malam hari secara diam-diam. Dipimpin seorang jenderal bernama Bayan, yang kemudian menjadi terkenal, pasukan Mongol menyerang perkemahan Gao kala fajar menyingsing, menyebabkan kerusakan dahsyat dan memaksa pasukannya segera mundur ke Dali. BAGIAN I: MUSIM SEMI 80 pustaka-indo.blogspot.com
Ketika Uriyang-kadai tiba di pinggiran danau dari utara, Dali telah jatuh ke tangan Kubilai. Di titik ini, karena perlawanan mereka, Anda pasti mengira akan terjadi pembantaian besar-besaran, layaknya semangat Jenghis. Namun Jenghis bukanlah orang biadab dan barbar. Dia membantai penduduk kota demi satu alasan: memaksa kota-kota lain menyerah. Makin banyak kota yang menyerah, makin sedikit kesulitan. Lagi pula, Anda akan memperoleh harta rampasan yang cukup, dan tentu lebih mudah membuat orang taklukan berterima kasih dengan membiarkan mereka hidup daripada melakukan pembantaian yang memancing perlawanan mati-matian. Di sini, tak ada kota lain yang akan ditaklukkan. Kubilai memerintahkan tentaranya menahan diri, mengumumkan bahwa orang biasa tak boleh dihukum karena kesalahan dan kebodohan pemimpin mereka. Apakah ini karena pengaruh penasihat Chinanya? Saya kira bukan. Kubilai saat itu sudah punya banyak pengalaman pemerintahan untuk dapat menentukan pertimbangan sendiri; namun demikian, wajar saja jika para penasihatnya— dan para penulis Yuan History—menganggap keberadaban bangsa China kala itu berpengaruh terhadap tindakan Kubilai. Semua berjalan sangat mudah. Para menteri utama dan bawahannya yang menghukum utusan Kubilai dihukum mati, itu saja. Sementara sang raja menjadi boneka di tangan para pejabat Kubilai. Seperti seorang pangeran di British India, dia diberi kemewahan agar mau tunduk, diberi gelar Maharaja, gelar agung namun kosong. Uriyangkadai, memanfaatkan Dali sebagai basis militernya, berusaha “menjinakkan” suku-suku liar di kawasan selatan dan timur, menjangkau wilayah Vietnam utara masa kini, dan menguasai Hanoi pada 1257. Namun setelah itu, dia buru-buru mundur karena tak kuasa berhadapan dengan hutan tropis, malaria, dan perlawanan penuh semangat lainnya. Semua ini memang terdengar mudah diceritakan, namun ini adalah operasi yang luar biasa. Yunnan ke Hanoi berjarak 1.000 km. Selama empat tahun pasukan Mongol telah menyusuri perbatasan barat Song, tanpa menghadapi perlawanan berarti; sekarang, mereka—terutama Kubilai sendiri—memiliki seluruh informasi yang diperlukan untuk perang tahap selanjutnya melawan daerah selatan. PENAKLUKAN YUNNAN 81 pustaka-indo.blogspot.com
Yunnan bagaikan beban tambahan yang diletakkan di atas timbangan: dia menyeimbangkan China dengan cara yang unik. Tempat ini dibiarkan diurus orang-orangnya sendiri dan hanya diawasi pasukan kecil selama 20 tahun. Dalam masa ini, perkembangan yang layak dicatat—itu pun sebagai catatan kaki—yaitu, bahwa para pejabat lokalnya menjalin persahabatan dengan seorang pimpinan daerah tetangga, Kaungai, yang terletak di bagian atas daerah Irrawaddy, dan itu terletak di rute utama menuju ke barat, ke dataran rendah Burma. Peristiwa ini, yang tak penting kala itu, berubah menjadi me - nentu kan di kemudian hari, ketika Kubilai berbalik mengarahkan perhatiannya ke Burma. Pada 1273, pejabat utama untuk mengurus Yunnan datang. Sayid Ajall adalah seorang berkebangsaan Turki yang selamat dari pembantaian Jenghis di Bukhara pada 1220 karena kakeknya menyerah di depan 1.000 pasukan berkuda. Usianya baru sembilan tahun saat itu. Dia kemudian dibesarkan di Mongolia dan China serta berhasil menapaki jenjang karier di berbagai pos pemerintahan, puncaknya di Yunnan— dengan bantuan putranya, Nasiruddin, dia sepenuhnya berhasil masuk ke dalam kekaisaran. Dampak dari berbagai peristiwa di atas masih membekas hingga saat ini dalam multikulturalisme Yunnan. Dulu, wilayah ini dihuni penduduk asli yang tidak mengancam siapa pun, kemudian diserang orang Mongol yang membawa bala tentara berkebangsaan China. Setelah itu, wilayah ini diambil alih penguasa Muslim yang mengubahnya menjadi bagian dari kekaisaran Mongol-China, dan dialah yang bertanggung jawab atas pengenalan Islam ke wilayah ini. Akibatnya, wilayah ini menarik perhatian umat Muslim. Saat ini, wilayah Yunnan dihuni setengah juta Muslim sebagai bagian dari penduduknya yang amat majemuk. BAGIAN I: MUSIM SEMI 82 pustaka-indo.blogspot.com
4 DI XANADU KEMBALI KE TANAH CHINA, KUBILAI BEREKSPERIMEN MENGELOLA TANAH kekuasaannya yang sangat luas, seakan-akan dia sedang melatih keterampilan yang diperlukan untuk kekaisaran masa depan yang menggabungkan dua dunia, Mongolia dan China. Tanah yang dia kuasai mulai kurang terlihat sebagai tanah perdikan (estates) dan makin lama makin menyerupai kerajaan-kerajaan kecil, terutama tanah utamanya di lembah Wei. Untuk mengawasi wilayah yang sangat luas ini— 50.000 km2 dengan penduduk campuran antara China dan nonChina—dia menunjuk orang Uighur berusia 20 tahun, Lien Xixian, yang juga mempekerjakan seorang penganut Konfusianisme yang terhormat, Xu Heng. Dalam kata-kata Yuan History yang berbungabunga, kedua orang ini mengadopsi cita-cita Konfusianisme “mengurangi kekerasan dan menolong yang lemah”. Bersama seorang penasihat Kubilai yang lain, seorang pendeta Buddha bernama Liu Bingzhong, mereka mendirikan kembali sekolah-sekolah, melarang orang Mongol memperbudak para ilmuwan dan mencetak uang kertas. Dalam sebuah memorandum yang panjang, Liu menjelaskan langkah yang perlu diambil Kubilai untuk menjaga agar masyarakat tetap berjalan lancar dan tenang, menyatakan bahwa administrasi pemerintahan yang baik bergantung pada pamong praja yang baik, dan itu hanya bisa lahir dari sekolah bermutu baik. Akibatnya, Liu yang berpengatahuan luas KUBILAI KHAN 83 pustaka-indo.blogspot.com
menasihati Kubilai agar bertindak layaknya kaisar China. Dia harus mengodifikasi pajak dan sistem hukum, memperkenalkan kembali ujian dan tes bagi calon pamong praja, serta membiayai penulisan sejarah dinasti sebelumnya, tugas yang diembankan tradisi kepada setiap penguasa baru China. Tetapi Kubilai tentu tak akan melangkah sejauh itu. Tak akan ada ujian untuk calon pamong praja, karena hal itu akan berarti bahwa seluruh penasihat dan pegawainya akan berasal dari orang China; dan tak akan ada penulisan sejarah Dinasti Jin, karena hal itu akan dilihat orang China sebagai pernyataan tentang pendirian dinasti baru, yang akan dilihat orang Mongol sebagai usaha merampas otoritas dan kekuasaan kakaknya. Barangkali, itulah yang diinginkan Liu; namun tidak demikian halnya dengan Kubilai. Kubilai sudah siap menggabungkan dua dunia, dan di tahun 1256 dia mengambil keputusan besar pertamanya agar keseimbangan ini jadi permanen. Dia memerlukan pusat kekuasaan yang lebih baik. Dia belum memiliki sebuah kota yang memadai di tanah kekuasaannya. Dia tak bisa terus mempertahankan nilai-nilai tradisional Mongol dengan kota-tenda dan istana bergeraknya jika dia ingin memperoleh kepercayaan dan dukungan dari rakyatnya yang berkebangsaan China, sementara dia sangat bergantung kepada mereka dari segi pendapatan. Demikianlah, dan ini mungkin berkat nasihat Liu, dia akhirnya memutuskan untuk membangun pusat kekuasaan yang tetap, sebuah ibukota. Mengapa tidak? Ogedei punya satu ibukota di Karakorum; kakaknya, Hulagu, telah memilih beberapa kota Islam; pemerintahan di China utara juga membutuhkan hal serupa. Namun ini harus dilakukan dengan hati-hati. Penguasa China asli tentu akan mengambil alih ibukota lama, bisa Xian atau Kaifeng, keduanya berada di wilayah tanah perdikannya, atau bahkan bisa juga Beijing, yang saat itu sudah bisa bangkit lagi setelah diserang Jenghis pada 1215. Namun Kubilai bukanlah orang China, dan dia tak akan berbuat demikian menurut kacamata keluarga dan rekan-rekannya sesama Mongol. Para penasihat Chinanya memahami hal ini, dan menyarankan agar dia memilih tempat yang cocok. Kubilai mengenali wilayah di mana ibukota barunya harus dibangun, BAGIAN I: MUSIM SEMI 84 pustaka-indo.blogspot.com
karena tak ada banyak pilihan jika dia ingin mempertahankan dua kebudayaan tetap dalam keadaan seimbang. Ibukota itu harus tetap berada dalam jangkauan Beijing, yang kemudian dikenal dengan nama Zhongdu, Ibukota Pusat; dia juga harus berada di padang rumput, di wilayah tradisional Mongolia. Padang rumput di Mongolia Dalam, yang sekarang dikuasai orang China yang menyebar dari dataran rendah, sangat dekat dengan Beijing di peta, cuma 250 km, namun dalam kenyataannya sangat terpisah dan jauh, bahkan jika ditempuh lewat jalan bagus yang sudah ada sekarang akibat ledakan ekonomi. Perjalanan menuju lokasi ini memakan waktu tujuh jam: selama perjalanan Anda akan melewati stepa, tanjakantanjakan landai menuju lereng perbukitan, dan ini memperpanjang perjalanan sejauh 100 km lagi. Anda mengarah ke timur laut, menjauh dari kepadatan lalu lintas kota dan polusi, melalui jalan tol yang dilewati sekitar satu juta turis setiap tahun yang ingin melihat Tembok Besar (the Great Wall). Bangunan ini tak perlu mengherankan kita, karena dia dibangun jauh sebelum zaman Kubilai. Perhatian kita lebih baik diarahkan pada bukit-bukit bergelombang bagai ombak di lautan yang dinaik-turuni Tembok ini. Perbukitan ini adalah pertahanan alami terakhir kota Beijing: dua wilayah yang ditutupi pepohonan, pegunungan Jungdu dan Xi, dengan lereng yang terjal dan jurang yang dalam, sebuah pemandangan mirip kertas timah yang diremas-remas. Rute kuno dilalui lewat Jalan Kecil Juyong, yang lebarnya hanya belasan meter di bagian yang paling sempit. Jalur ini tak bisa dilewati oleh jalan tol: maka jalur ke utara, jalan yang dipenuhi lenguhan truk, terpaksa memotong dinding-dinding perbukitan, sedangkan arah ke selatan tidak kelihatan karena berada di balik perbukitan ini. Wilayah ini dapat dipertahankan dengan mudah, dan kebanyakan pasukan pasti berhenti di sini; namun lain halnya dengan pasukan Mongol pada 1213. Mereka terus berjalan melewati pegunungan dan sampai ke baliknya. Itulah sebabnya Dinasti Ming, khawatir dengan kebangkitan orang Mongol, membangun Tembok (Besar) di sepanjang pegunungan ini, dan itu pula sebabnya Tembok (Besar) ini terdiri dari banyak tembok, terdiri dari banyak bagian yang menjaga lereng bukit di mana pasukanpasukan tangguh dan kuda-kuda perkasa dapat mencuri-curi masuk. DI XANADU 85 pustaka-indo.blogspot.com
Anda sekarang dapat mendaki beberapa ratus kaki, dan setelah itu seakan sedang melayang di udara. Perjalanan 100 km berikutnya relatif mudah. Rambu-rambu jalan dalam bahasa Inggris memperingatkan kebosanan dan kejenuhan: “Don’t try fatigue driving!” (Jangan mengemudi saat bosan!), “Do not drive tiredly” (Jangan mengemudi saat letih!). Perhentian selanjutnya, Zhangjiakou, kira-kira tujuh jam dari Beijing; saat ini bisa ditempuh dalam dua jam jika jalanan tak macet. Zhangjiakou adalah kota bersejarah, namun Anda tak akan menyangka hal ini jika hanya memperhatikan bangunan apartemen yang sekarang menjulang memenuhi kota yang dulunya dipenuhi kawanan kuda dan jalan-jalan kecil. Kota ini pernah menjadi tapal batas antara dataran rendah China dan wilayah padang rumput Mongolia. Inilah sebabnya orang Mongol (dan para penjelajah asing) menamainya Kalgan, kata yang dalam bahasa Mongol berarti “Gerbang”. Lewat gerbang ini mengalirlah perdagangan antara Rusia, Mongolia, dan China. Seabad lalu, kota ini dihuni 7.000 usaha dagang, dengan ratus - an kereta lembu dan ratusan ribu unta yang melewati gerbang sempitnya menuju utara. Di tahun 1917, revolusi Rusia memusnahkan tempat ini, dan daerah pedalamannya menjadi terkenal sebagai sarang penyamun. Sekarang, kota ini dibangun kembali oleh dewan daerah utara China menjadi provinsi perbatasannya, Mongolia Dalam, sementara pengaruh Mongol di kota ini sudah lenyap sama sekali, setidaknya begitulah yang saya lihat. Satu-satunya peran kota ini sebagai kota bersejarah terletak pada pemandangannya, jalan yang berlika-liku menyusuri daerah pertanian dan desa-desa di padang datar wilayah Mongolia. Jika Anda berbelok ke timur, mobil Anda akan melintasi papan bertuliskan pesan: “Selamat Datang di Mongolia Dalam”. Sebuah papan penunjuk arah yang dipegang oleh patung besar orang Mongol yang memegang tali kekang kuda menyarankan kita agar menjaga dan melindungi padang rumput—perlindungan yang memang amat dibutuhkan, karena saat ini tak banyak lagi padang rumput yang tersisa. Di Zhenglan Qi, sebuah jalur kereta api baru yang mengarah ke utara sedang dibangun untuk memasukkan lebih banyak petani dan “memperadabkan” daerah perbatasan ini dengan lebih banyak mesin bajak dan kota-kota. BAGIAN I: MUSIM SEMI 86 pustaka-indo.blogspot.com
Di kejauhan masih terbentang dataran terbuka yang pernah menggugah jiwa Kubilai. Wilayah ini juga merupakan daerah yang kaya dengan sejarah, di sinilah Jenghis mendirikan markas tentara dalam operasi militernya menuju Beijing di selatan, dan saat dia kembali dari penaklukan. Sebab itulah Kubilai mengarahkan perhatian para penasihatnya ke daerah ini. Dipimpin Liu Bingzhong, Kelompok Penasihat Teratai Emas, begitulah Kubilai menyebut mereka, mengikuti upacara-upacara wajib yang meramalkan wilayah bumi (geomancy) dan menemukan tempat yang oleh para penutur berbahasa Inggris disebut Xanadu, dan oleh Kubilai kemudian disebut Shang-du, Ibukota Atas (lawan dari Dadu, Beijing, Ibukota Besar, ketika sudah berada di bawah kekuasaan orang Mongol). Ada sebuah legenda tentang daerah ini. Daerah ini mulanya disebut Lung Gang, Punggung Naga. Karena itu, Liu dan Kelompok Penasihat Teratai Emasnya pertama-tama harus membacakan mantera agar sang naga pergi, dan menegakkan pancang besi yang diisi dengan kekuatan magis untuk menjaga agar sang naga tidak kembali. Di tengah wilayah ini juga terdapat sebuah danau, yang harus dikeringkan terlebih dahulu dan kemudian diisi lagi. Di sini tak banyak yang bisa dimanfaatkan untuk membuat bangunan—jarang terdapat pohon, tak ada gundukan batu. Istana utama Xanadu, kuil-kuil, gedung pemerintahan, istana tambahan dan rumah pejabat kekaisaran harus dibangun sedikit demi sedikit, dengan kawanan hewan pengangkut dan kereta yang membawa gelondongan kayu dan batu (tentu saja batu pualam sebagaimana bisa Anda saksikan sekarang) dari tempat yang berjarak ratusan kilometer. Kubilai sedikit enggan menyebut tempat barunya sebagai ibukota, dia lebih senang menyebutnya tempat peristirahatan musim panas. Setelah menghabiskan waktu tiga tahun pembangunan, ditambah lagi empat tahun, tempat itu dikenal dengan nama Kai-ping, dan baru dinamai ulang dengan nama Shang-du pada 1263. Namun, tempat ini sejak semula memang dimaksudkan sebagai ibukota, walaupun lebih ditujukan sebagai pusat administrasi pemerintahan dan tempat peristirahatannya DI XANADU 87 pustaka-indo.blogspot.com
ketimbang sebagai kota tempat tinggal warga, lebih mirip Versailles daripada Paris. Kota ini terdiri dari tiga bagian, semuanya berbentuk bujur sangkar, dibangun dengan gaya ibukota China. Kota Terluar kira-kira berjarak 2,2 km dari ujung ke ujung, secara keseluruhan sekitar 9 km2 : bukan sekitar “16 mil” sebagaimana disebutkan oleh sumber Marco Polo yang kurang tepercaya. Tetapi ini sudah lebih dari cukup guna me - nampung rumah-rumah berdinding bata dan kayu untuk warga biasa, yang terpusat di salah satu pojok seluas kira-kira satu kilometer per segi dan dengan hati-hati dipisahkan dari bagian utara. Bagian utara adalah taman bersegi empat, Taman Kaisar. Di sinilah, menurut catatan yang terpampang di gerbang masuk yang ada saat ini, “keberuntungan bertakhta”. Marco Polo memang meninggalkan catatan terkait hal ini. Rusa-rusa yang tengah merumput, menatap malu-malu di sela-sela pepohonan, minum dari sungai-sungai dan mata air pegunungan. Inilah Arcadia-nya Kubilai, sebuah padang rumput Mongolia buatan, di mana dia dapat memanah seekor kijang dengan busurnya, melepaskan macan tutul yang sudah jinak sebagai umpan bagi macan tutul lainnya, dan melepaskan elang pemburu untuk mengamati burung nuri dari udara. Di sini dia juga memiliki paviliun dari bambu, sekitar 15 m2 , sebuah tempat di mana dia tetap dapat mengamati para penunggang kuda sambil berteduh dari sinar matahari atau hujan di bawah atapnya yang terbuat dari rotan belah yang disusun sedemikian apik menyerupai genteng. Di tempat nan damai seperti ini, Kubilai juga membangun Tenda Istana Agungnya, titik pusat dewan pemerintahan ala Mongol. Di pojok sebelah tenggara Kota Terluar terdapat Kota Kekaisaran, sekitar 1,4 km2 , dikelilingi tembok bata setinggi 4 m. Kompleks ini berisi gedung pemerintahan, rumah kerajinan, dan beberapa kuil Tao dan Buddha, semuan berjejer di pinggir-pinggir jalan. Tempat yang jadi jantung, Kota Istana, terletak di dalam Kota Kekaisaran. Sebenarnya, area bujur sangkar tempat istana berada tidak lah persis seperti bujur sangkar, karena luasnya 570 x 620 m, dengan garis lingkar sekitar 2 km. Di sini terdapat enam gedung pertemuan—aula Kaca, Kemakmuran, Kearifan, Kejernihan, Wangi, BAGIAN I: MUSIM SEMI 88 pustaka-indo.blogspot.com