berat 25 ton, barangkali akan melontarkan Bucks bagaikan dewa perang melontarkan petir. Saat buku ini ditulis, Thor ini masih dalam tahap perencanaan. Saya jadi penggemar trebuchet karena pernah mengunjungi Kastil Caerphilly, di Wales selatan. Di kastil ini terdapat empat ketapel hasil rekonstruksi, salah satunya trebuchet berbeban pengimbang. Pada Hari Minggu Paskah yang mendung di tahun 2005, saya menyaksikan satu regu pria bertubuh kekar dengan kostum abad tengah mempersiapkan mesin ini untuk melemparkan misil ke parit yang disesaki para wisatawan. Mereka melakukan ini di bawah panduan seorang ahli bernama Paul Denney, seorang insinyur, yang bersama istrinya, Julie, serius melakukan penelitian arkeologis tentang trebuchet. Alat yang saya saksikan ini tak terlalu besar, beratnya hanya 10 ton dan beban pengimbangnya hanya 2 ton. Namun begitu, alat ini memiliki nilai lebih: cara kerja yang cepat. Hanya perlu dua orang untuk melilitkan jangkarnya, dan enam orang untuk menarik tali guna menambatkan mesin ini. Dengan semua itu, seluruh tenaga mesin ini tersimpan pelan-pelan, bagai seekor monster yang terkurung. Sebuah kait dipasangi semacam lingkar pe - micu. Lalu seorang anggota regu mengisi ambin dengan misil. Biasanya berupa benda seberat 2 kg. Dalam uji coba sebelum pertunjukan, Paul menggunakan batu seberat 5 kg. “Kau ingin menarik pemicu, John?” “Meletuskannya? Ya, tentu.” “Bukan ‘meletuskannya’. Jangan bilang begitu. Tak ada letusan di sini. Letusan hanya untuk artileri yang menggunakan bubuk mesiu. Di sini kita memakai istilah ‘melepaskan’ atau ‘menembakkan’”. Lalu, saya pun melakukannya. Ada keindahan tersendiri ketika energi yang tertahan ini dilepaskan, karena dia hanya terdiri dari unsur-unsur alami—kayu, besi, tali, dan gravitasi bumi—yang diatur sedemikian rupa. Dengan sekali sentakan kecil, pemicu akan melepaskan lengan pelontar. Beban pengimbang akan meluncur turun, lengan naik, ambin turut meluncur naik beserta misil yang ada di dalamnya. Suaranya terdengar begitu lembut, seperti helaan napas raksasa: semacam bisikan dari gandar yang bergerak, KUNCI PENAKLUKAN 181 pustaka-indo.blogspot.com
serta suara halus ambin yang terayun. Saya mengira akan terjadi liukan seperti gerak pecut yang diayunkan, namun yang saya dapati hanya liukan dalam gerak lambat, dan ini sungguh menakjubkan. Misil meluncur jauh. Lalu monster yang tertahan tadi mendarat dengan suara penuh kepuasan—mendesah dari beban pengimbang yang berayun ke depan dan ke belakang, tumpukan batu-batu pemberat yang ada di dalamnya tersusun kembali dengan sendirinya, sedangkan ambin berayun-ayun di lengan pelontar. Di ketinggian, batu misil meluncur pelan, berputar-putar, sekitar tujuh detik (saya menghitungnya), dan kemudian mendarat di parit sejauh 80 m di depan. Terjadi momen diam menakjubkan yang lama. Saya begitu terpesona. Saya ingin melakukannya lagi. Saya tak ingin melontarkan piano atau (mobil) Buick. Ini semua melibatkan logam dan menghasilkan suara bising. Yang saya inginkan adalah jawaban atas pertanyaan historis: seberapa besar dan kuat yang dapat dicapai trebuchet kayu berbeban pengimbang abad tengah? Pertanyaan ini membawa saya kembali pada pokok pembicaraan kita di sini, usaha Kubilai menaklukkan Song. Raja Edward I, Edward Longshanks, nyaris menjawab pertanyaan saya, karena dialah yang bertanggung jawab atas apa yang barangkali menjadi trebuchet terbesar di Eropa. Pada 1304, dia menyerang kastil Stirling, kunci pertahanan bangsa Scott. Pasukannya tak gentar dengan tembok-tembok kota yang kokoh serta penghuninya yang punya persediaan bertahan yang cukup. Edward justru memerintahkan insinyurnya, Reginald, membuat trebuchet berbeban pengimbang paling besar yang dia mampu. Lima tukang dan lima pembantu bekerja selama tiga bulan, dan akhirnya menghasilkan mesin bernama Lup de Guerre, Serigala Perang. Tak ada keterangan detail perihal alat ini, namun yang jelas alat ini mampu menghancurkan tembok Striling. Ketika baru melihat alat ini, begitulah kisah yang sampai kepada kita, kastil itu pun menyerah—namun Edward tak mau berhenti meski mereka sudah menyerah. Dia pun mencoba mesin raksasanya dan membuktikan bahwa alat ini memang berfungsi dengan baik. Sebuah trebuchet berukuran hampir sama, namun terbuat dari kayu, memang pernah dibuat oleh seorang ahli Prancis, Renauld BAGIAN II: MUSIM PANAS 182 pustaka-indo.blogspot.com
Beufette. Desainnya sangat otentik, didasarkan pada satu-satunya rancangan trebuchet yang diketahui para sejarawan, sebuah sketsa ciptaan seniman Prancis, Villard de Honnecourt, yang hanya dikenal lewat kumpulan gambarnya. Trebuchet Beufette sangat besar dengan beban pengimbang seberat 10 ton yang dapat melontarkan beban seberat 100 kg sejauh 200 m. Kita tahu yang sedang dihadapi Kubilai. Kita tahu kemungkinan apa yang bisa dia ambil. Kita tahu ahli yang bisa membuat alat ini tak ada di China; dia harus didatangkan dari Persia. Tak ada bukti lebih baik perihal betapa menguntungkan punya kekaisaran yang diperintah oleh anggota keluarga sendiri, yang terhubung oleh sistem komunikasi antarbenua. Surat Kubilai dibawa oleh jasa pos berkuda. Lima minggu kemudian, di tempat sejauh 6.000 km, pesannya sudah berada di Tabriz, Persia utara, pusat kekuasaan sepupu Kubilai, Abaqa, yang jadi Il-khan (khan subordinat) sejak kematian ayahnya, Hulagu, di tahun 1265. Abaqa memiliki beberapa ahli pembuat trebuchet berbeban pengimbang yang digunakan untuk mengepung kastil-kastil pertahanan selama perang salib di kota Baghdad, Aleppo, Damaskus, dan Syria. Dia menyerahkan dua di antara ahli itu kepada Kubilai, yaitu Ismail dan pembantunya, Alauddin.6 Di akhir 1271, kedua orang ini beserta keluarga mereka tiba di Xanadu, dan diberi tempat tinggal di istana sampai musim dingin berakhir. Memasuki musim semi, setelah membuat sebuah ketapel untuk menunjukkan cara kerja alat ini kepada kaisar, kedua orang ini—serta seorang pria, besar kemungkinan putra Ismail yang dididik untuk mengikuti jejaknya sebagai ahli senjata—sudah berada di medan perang, menatap tembok-tembok kota Xiangyang, parit, sungai yang lebar, dan kota Fancheng, kembaran kota Xiangyang di seberang sungai. Mari kita bayangkan diri kita sebagai Ismail. Tugas kita yaitu melemparkan batu seberat 100 kg ke tembok-tembok kota Xiangyang, KUNCI PENAKLUKAN 183 6 Rasyiduddin justru memberikan nama berbeda: Thalib dan tiga putranya, yang pasti berasal dari keluarga berbeda dari Ismail. Saya tidak mampu menentukan mana yang benar, dan akhirnya memutuskan mengikuti sumber-sumber China dalam Yuan History. pustaka-indo.blogspot.com
dan itu harus melewati jarak 100 m karena di antara kita dan tembok dibatasi parit selebar ini. Karena itu, kita terpaksa memakai mesin yang sangat besar sehingga sulit dipindah-pindahkan. Kita dan tim kita pun harus berada dalam jarak aman di luar jangkauan panah-panah musik. Akhirnya kita harus berada di jarak 200 m dari tembok. Mesin raksasa Beufette tak akan terlalu berfungsi dalam kondisi ini. Sedangkan mesin Ismail bobotnya 40 ton dan menjulang setinggi 20 m.7 Ada beberapa variabel yang harus diperhatikan terkait dengan mesin ini, misalnya berat beban pengimbang ketika dia basah; kemungkinan yang terjadi dengan tali-tali pengikat lengan pelontar tatkala dia pelan-pelan mengering; pada saat seperti apa ambin harus dilepaskan (lebih cepat untuk menciptakan lintasan yang tinggi, lebih lambat untuk menciptakan lintasan yang lebih rendah); dan pengaruh cuaca pada minyak pelumas yang memuluskan pergesekan roda-roda kayu (kecuali para insinyur Muslim ini memakai roda-roda perunggu, yang dapat bergerak dengan mulus karena dia menghasilkan pelumas sendiri). Keahlian Ismail-lah yang diharapkan mampu mengetahui seluruh rincian seperti ini, dan mendekati kemungkinan terjauh tanpa melampauinya. Namun beberapa hal tak dia ketahui sebelum dia tiba, seperti jenis kayu yang akan dipakai sebagai lengan pelontar: setiap pohon tidak sama berat dan daya tahannya, dan itu akan berubah lagi ketika dia mengering. Sekarang mari kita lihat masalah amunisi. Akurasi menjadi hal yang sangat penting di sini. Kita tak boleh memecah sembarang batu menjadi seukuran 100 kg, karena variasi berat dan bentuk menentukan apakah bidikan akan tepat atau meleset. Batu biasa bergerak tak teratur, lintasannya tak bisa diperhitungkan. Jika kita ingin bidikan kita tepat mencapai sasaran berupa pertempuran, menara atau bagian tertentu dari tembok kota dalam beberapa kali tembakan, kita memerlukan misil dengan berat dan bentuk yang sama, yakni bulat. Karena itu, kita BAGIAN II: MUSIM PANAS 184 7 Anda akan punya gambaran tentang apa saja yang dibutuhkan dan yang akan terjadi dengan mesin ini dengan memeriksa website kelompok dari Australia bernama Grey Company. Di sini Anda akan menemukan link ke “The Algorithmic Beauty of the Trebuchet”, yang—dengan menerapkan perhitungan matematika terkomputerisasi—akan menjadikan Anda seorang insinyur ketapel tempur di dunia maya. pustaka-indo.blogspot.com
memerlukan ahli pemecah batu, penggali setempat, serta pengangkutan yang baik. Di sini, kecepatan juga sangat penting. Pada bulan Juni itu, 100 kapal Song membawa sekitar 3.000 prajurit ke daerah hulu, memasuki kota setelah sebelumnya terlibat pertempuran sungai sepanjang 50 km. Satu-satunya yang tewas kala itu yaitu jenderal Song: mayatnya ditemukan terapung-apung beberapa hari kemudian, dalam keadaan masih memegang busurnya, tersangkut di tiang jembatan ponton. Ismail dan Alauddin mengerahkan timnya bekerja, mencari pohon yang cocok di hutan terdekat, dan mulai memecah batu-batu. Jika ketapel yang akan mereka cipta sebesar Serigala Perang milik Edward I, maka perlu waktu sekitar tiga bulan: pohon-pohon ditebang dan dibelah, kayu-kayu itu kemudian dibentuk sesuai kebutuhan, batu-batu dipecahpecah menjadi bulatan-bulatan, 10 ton pemberat dikumpulkan untuk dimasukkan ke beban pengimbang. Semua ini dirancang sedemikian rupa sehingga bisa dibongkar-pasang dan bisa dipindah-pindah. Di mana tempat paling baik untuk menyerang? Jenderal pasukan Mongol, Ariq-khaya, memilih tak menyerang langsung. Dia menyerang Fancheng terlebih dahulu. Pada tulisan di dalam biografinya, “Dia menganggap kota Fancheng dan Xiangyang seperti bibir dan gigi,” dan meminta izin kepada Kubilai untuk mengalihkan sasaran serangan ke kota tetangga ini. Kubilai setuju. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengisolasi Fancheng dengan menghancurkan jembatan ponton untuk memutus pasokan bahan pokok ke kota. Biografi Ariq-khaya menyimpulkan kisah ini sebagai berikut: “Pada waktu yang bersamaan, Ismail, pria dari barat ini, telah menunjukkan cara baru dalam membuat ketapel, dan Ariq-khaya pun membawa pria ini dalam pasukannya. Pada bulan pertama (Januari-Februari 1273)—meskipun Yuan History mencatat bahwa penyerangan ini terjadi pada Desember 1272— mereka membuat beberapa ketapel dan menghujani Fancheng.” Jika sekarang adalah saat pertama Ismail menggunakan mesinya, dia harus menyetelnya seperti seorang prajurit artileri, melepaskan dua kali tembakan, lalu menyesuaikan ambin dan memasang lagi kait ambin untuk mengisi peluru yang akan menghantam tembok. Dalam istilah KUNCI PENAKLUKAN 185 pustaka-indo.blogspot.com
pasukan artileri dapat dikatakan bahwa dia sedang “menyetel”. Dalam pengaturan terakhir—barangkali dengan menyelipkan sebuah simpul untuk memperpendek panjang lengan pelontar—maka tembakan ketiga akan tepat mengenai sasaran. Pasukan pertahanan Fancheng akan terpana memperhatikan peluru batu melayang lamban ke arah mereka, lalu mendarat dan meninggalkan lubang menganga di bagian atas tembok kota mereka. Seperti tertulis dalam biografi Ariq-khaya, huihui pao (ketapel Muslim) ciptaan Ismail ini mampu “menembus tembok… [karena] bantuan dari Xiangyang tak bisa lagi sampai ke dalam benteng. Fancheng pun akhirnya bisa ditaklukkan.” Di sini ada peristiwa yang menarik. Fancheng berusaha melawan sampai akhir, dan semua orang tahu nasib yang akan menimpa mereka jika tak menyerah: warga kota akan dibantai secara massal, terutama untuk membuat gentar kota-kota dan segera mau menyerah. Kubilai tak setuju dengan cara ini. Namun masalahnya, kota Xiangyang belum berhasil ditaklukkan. Dari sudut pandang pasukan Mongol, Ariq-khaya dan Aju sepakat bahwa tak ada jalan lain. Kota Fancheng harus musnah, dan itu harus dilakukan di depan umum. Dalam operasi militer ke negeri Muslim, para tukang, wanita, dan anak-anak dibebaskan karena mereka tak bisa dijadikan budak. Namun di Fancheng, tak ada alasan untuk membiarkan mereka hidup. Tak ada bedanya antara yang tua dan yang muda, sipil atau prajurit, pria, wanita, atau anak-anak. Sekitar 3.000 prajurit dan kira-kira 7.000 orang digorok lehernya seperti hewan ternak, mayat-mayat bergelimpangan dan ditumpuk di satu tempat untuk memastikan agar pembantaian ini terlihat dari kota Xiangyang yang ada di seberang sungai. Dalam ungkapan Richard Davis, “Tak ada yang bisa meruntuhkan semangat para pejuang Xiangyang selain pemandangan mengerikan dan pesan yang di luar nalar dan dipertontonkan dengan terang-terangan ini.” Kemudian Ismail diperintahkan memindahkan mesin perangnya ke dekat Xiangyang. Ini harus dilakukan dengan cepat: membongkarnya, mengangkat dan membawanya ke seberang sungai dengan cara menghanyutkannya, lalu memasangnya kembali ketika sudah sampai di Xiangyang, “di sudut kota sebelah barat laut”, menurut Yuan History. Ismail menempatkan trebuchet-nya dengan melakukan triangulasi, BAGIAN II: MUSIM PANAS 186 pustaka-indo.blogspot.com
sehingga jaraknya dengan salah satu menara Xiangyang sama dengan jarak dengan menara Fancheng. Konon misilnya berbobot 150 catty, sekitar 100 kg. Hasilnya sangat luar biasa. Tertulis dalam biografi Ariq-khaya, “Tembakan pertama mengenai menara penjaga. Kegaduhan mengguncang seisi kota seperti guntur yang bersahutan, dan mereka pun dilanda kebingungan.” Di pihak pasukan Mongol, terjadi perdebatan di antara para jenderal tentang apakah mereka akan meneruskan penyerangan ini, yang tentu saja akan berakhir dengan tumpukan mayat, tapi cara ini tidak strategis dan menumbuhkan dendam kesumat rakyat di daerah hulu yang barangkali bisa dibuat patuh. Ariq-khaya memiliki gagasan. Dia berjalan mendekati tembok kota dan memanggil pemimpin pasukan kota itu, Lü Wen-huan. “Kau telah mempertahankan kota ini selama bertahun-tahun dengan pasukan yang terisolasi,” teriaknya (barangkali memakai penerjemah). “Namun sekarang, apa pun yang mendekat pasti akan terhadang, bahkan burung di udara sekali pun. Kaisarku sangat menghargai dan mengharapkan kesetiaanmu. Jika kau menyerah beliau akan memberimu jabatan terhormat dan imbalan yang besar. Kau harus memercayai ini, dan kami pasti tak akan membunuhmu.” Lü, “curiga bagai seekor rubah”, ragu-ragu. Ariq-khaya mematahkan anak panahnya dan mengulangi janjinya. Akhirnya, Lü percaya dan menyerahkan kota pada 17 Maret 1273. Ariq-khaya memang menepati janjinya. Lü Wen-huan serta merta berubah menjadi pengkhianat di mata orang Song, dan dia pun menerima kedudukan tinggi di kubu Kubilai. Dia akan jadi aset berharga dalam operasi militer selanjutnya. Kemenangan ini tak bisa diremehkan. Jika Song ibarat kastil, Xiangyang adalah jembatan-angkatnya. Dia tak hanya membuka jalan bagi pasukan Mongol menuju wilayah utama Song, tapi juga merusak jalan roda pemerintahan Song. Di Hangzhou, Perdana Menteri Jia Sidao—musuh bebuyutan Kubilai sejak pengepungan kota Wuchang, politisi kaya raya penyuka kriket dan teknik-teknik kerasnya—mengalami kesulitan. Sebagian besar kesulitan ini adalah buah dari kesalahannya juga, sebab dia menyembunyikan kebenaran dari kaisar Song—atau KUNCI PENAKLUKAN 187 pustaka-indo.blogspot.com
begitulah yang rakyat percayai, yang berakibat fatal bagi semangat juang warga kota. Ceritanya begini: Di tahun 1270, sang kaisar bertanya kepada Jia apakah benar pengepungan Xiangyang sudah berlangsung selama tiga tahun. “Tentara utara sudah mundur,” jawab Jia. “Tetapi, siapakah yang memberitahu Yang Mulia kabar ini?” “Salah seorang selirku,” jawab kaisar. Menurut sejarah resmi Song, Jia berusaha mencari tahu siapa pelaku hal ini di antara ratusan wanita di istana, menuduhnya dengan tuduhan tak resmi—barangkali, pengkhianatan—dan kemudian memaksanya bunuh diri. Rupanya kaisar tak lupa selir mana yang memberitahu dia, tapi para pejabat istana mulai memperhatikan tindakan berlebihan Jia, dan warga kota pun mulai mengolok-olok dia dengan nyanyian. Setelah itu, “tak ada yang takut mempergunjingkan urusan yang terjadi di daerah perbatasan,” kata laporan tahunan kerajaan, yang berarti bahwa kabar tentang jatuhnya kota Xiangyang mengejutkan kaisar dan istananya seperti peluru batu yang dilontarkan dari ketapel Muslim. Kubilai yang murah hati memberi Ismail hadiah sebesar 250 tael perak—325 oz atau sekitar 9 kg, kira-kira $ 2.000 hari ini, namun uang sebanyak itu dahulu sama dengan penghasilan seorang tukang selama sepuluh tahun, cukup untuk membeli sebidang tanah andai dia punya waktu. Sayangnya dia tak sempat, pertama karena dia juga ditunjuk sebagai pimpinan pasukan artileri Muslim setempat, dan kedua karena setahun kemudian dia jatuh sakit dan meninggal. Meski demikian, tugasnya tetap berlanjut. Posisi dan keahliannya diwarisi putranya, Abu Bakar, yang kemudian menurunkan tugas ini dari generasi ke generasi nyaris hingga Dinasti Yuan runtuh. Dan sejak saat itu, ciptaannya dikenal bukan hanya sebagai ketapel (hui-hui) Muslim, tapi juga sebagai “ketapel Xiangyang”. Kisah pengepungan Xiangyang adalah salah satu pengepungan terbesar dan paling terkenal dalam sejarah China; begitu terkenalnya, sampai- BAGIAN II: MUSIM PANAS 188 pustaka-indo.blogspot.com
DEWA PELINDUNG KUBILAI YANG BARU, MAHAK ALA YANG MAHAMENAKU TK A N Dalam Buddhisme, Kubilai menemukan kebutuhan spiritual dan politiknya. Buddhisme adalah agama mapan yang dapat mengimbangi pengaruh Konfusianisme dan Taoisme. Agama ini mendukung keyakinannya bahwa dewa-langit Mongol, Tenger, memberikan dunia kepada orang Mongol untuk dikuasai. Di antara dewa yang ada di pantheon Mongol terdapat Mahakala, yang jika disembah dengan cara yang patut akan menaklukkan roh-roh lain dan membantu dia menyelesaikan tugas berat menalukkan kerajaan di China selatan, Song. Mahakala, dilihat di Pagoda Putih Beijing, memperlihatkan ciri-ciri yang mengerikan: wajah hitam legam, rahang yang menggemeretak, hiasan kepala dari tengkorak, dan tiga biji mata. pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
P ENA K L U K A N S ONG Operasi militer untuk menaklukkan Song bergantung pada pengepungan kota Xiangyang, yang terlindungi oleh sungai Han, sungai utama yang mengarah ke selatan sebelum bertemu dengan sungai Yangtze. Serangan menggunakan jembatan ponton untuk menyeberangi sungai Han tidaklah cukup (kiri jauh). Untuk menghancurkan tembok-tembok besarnya, Kubilai memanggil pembuat ketapel tempur berkebangsaan Muslim, yang ahli membuat trebuchet berbeban pengimbang, seperti yang dipakai dalam pengepungan kota Baghdad pada 1258 (kiri bawah). Trebuchet modern, seperti yang dicoba di Kastil Caerphilly, Wales (kanan bawah), beroperasi dengan cara kerja yang sama, dengan lengan pelontar dan tali yang diberi tenaga dengan beban pengimbang (inset). Ketika Xiangyang jatuh pada 1273, jalan pun terbuka sepanjang sungai Yangtze menuju ibukota Song, Hangzhou (paling bawah), “kota paling indah dan mewah di dunia” menurut Marco Polo. pustaka-indo.blogspot.com
Patung aktor China abad pertengahan yang terbuat dari tanah liat (kanan) DI C HINA B ARU - NYA K UBILAI , T R A D I S I L AMA T ERU S B ERTAHAN Tradisi lama China di bidang drama, lukisan, kaligrafi, dan seni lainnya terus bertahan seakan tidak memedulikan kekejaman dan pelecehan yang dibawa oleh para penakluk Mongol. Drama jalanan, mungkin mirip seperti yang masih bertahan sampai saat ini (atas) terus mementaskan kisah-kisah lama, seperti The Romance of the Western Chamber (kanan atas), yang sekarang dikenal dengan nama dinasti yang didirikan Kubilai—Yuan. Para seniman menciptakan lukisan hebat yang sedapat mungkin tak menyinggung-nyinggung penguasa Mongol mereka, kecuali segelintir lukisan. Dalam lukisan berjudul Sheep and Goat (kanan), Zhao Menghfu mengontraskan para kolaborator “gemuk” yang proMongol dengan para penentang “kurus” yang anti-Mongol. pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
B AGAIMANA S ANG K HAN MENAN D A I K E K U A S AANNYA Untuk mengendalikan kekaisarannya, Kubilai membangun sebuah ibukota, Dadu, di samping Beihai, “Danau Utara”. Sebagian besar karyanya telah ditukar oleh para penguasa berikutnya, namun karyanya ini tetap bisa disaksikan dalam geografi kota—seperti pula Beihai (bawah), dengan jembatan lengkung dari pualam—dan patung kura-kura dari pualam yang menyangga sebuah pilar (kiri). Bukti-bukti pemerintahan Kubilai—hukum dan reformasi ekonomi—masih tersimpan di museum dan berbagai buku sejarah. pustaka-indo.blogspot.com
Kubilai dan para pejabatnya dalam sebuah lukisan Persia (atas). Untaian uang perunggu (kiri) dari Dinasti Song, yang kemudian digantikan uang kertas Yuan (atas). pustaka-indo.blogspot.com
Seorang pejabat Dinasti Yuan—barangkali seorang Muslim, jika jenggot dianggap sebagai tanda kemusliman—tengah melakukan perjalanan tugas, dikawal oleh seorang prajurit Mongol. pustaka-indo.blogspot.com
sampai setelah Marco Polo mendengar kisah itu, dia sangat senang menceritakannya. Masalahnya, ketika Marco Polo mulai mendiktekan perjalanannya, dia rupanya terlalu sering menceritakannya dan terlalu menonjolkan dirinya, ayahnya, dan pamannya. Keterangannya tentang pengepungan “Saianfu”, jika Anda tak keberatan, telah memutarbalikkan fakta sesungguhnya. Bagi kebanyakan ilmuwan, keterangannya ini seperti bualan seseorang yang ingin menonjolkan diri sendiri. Kalau mau jujur: keterangannya itu adalah kebohongan. Berikut ini bagaimana juru tulis Marco Polo, seorang pengarang roman bernama Rustichello, mencatat apa yang didiktekan Marco Polo kepadanya dengan cara sedikit intim saat keduanya mendekam di penjara di Genoa sekitar 25 tahun setelah kejadian (kutipan ini berasal dari edisi Yule-Cordier yang terbit di tahun 1903, yang penuh dengan istilah archaisme yang memesona). Sekarang Anda harus tahu bahwa kota ini tetap bertahan melawan Kaan Agung selama tiga tahun setelah seluruh wilayah Manzi menyerah (bohong: Manzi, yakni Song, jatuh ke tangan Kubilai pada 1279, enam tahun setelah pengepungan ini berakhir). Pasukan Kaan Agung berusaha mati-matian merebutnya, namun mereka tak berhasil karena luas dan dalamnya air parit yang mengelilinginya. Akhirnya, mereka mendekati kota ini hanya dari satu sisi saja, yakni sisi utara. (Sisi utara adalah Sungai Han. Dan kita sulit mengerti bagaimana pendekatan dapat dilakukan dari arah ini). Dan saya harus katakan kepada Anda bahwa mereka tak pernah berhasil, karena alasan yang akan saya jelaskan nanti. Anda harus tahu bahwa ketika tamu Kaan Agung sudah bekerja selama tiga tahun di depan kota itu tanpa mampu merebutnya, mereka terus-menerus mengalami kegagalan. Lalu Messer Nicolo Polo dan Messer Maffeo dan Messer Marco berkata: “Kami akan memberitahu Anda cara agar kota ini mau menyerah segera.” Pasukan kaisar pun menjawab bahwa mereka akan sangat senang mengetahui cara tersebut. Semua ini terjadi di depan Kaan Agung sendiri… Lalu dia berkata kepada dua kakak beradik dan Messer Marco: “Pangeran, kami membawa serta seorang pria yang mampu KUNCI PENAKLUKAN 189 pustaka-indo.blogspot.com
membuat mangonel yang bisa melontarkan batu-batu besar yang tak mungkin bisa dihadang oleh garnisun, mereka pasti akan menyerah segera setelah mangonel atau ketapel tempur ini diarahkan ke kota.” Lalu sang Kaan memohon kepada mereka agar membuat mangonel-mangonel itu sesegera mungkin. Lalu Messer Nicolo dan saudara serta anaknya langsung menerangkan jenis dan jumlah kayu yang diperlukan, dan mereka pun mulai bekerja. Di antara pasukan Kaan terdapat dua pria, satu berkebangsaan Jerman dan satu lagi orang Kristen Nestorian, yang sangat ahli di bidang ini. Mereka diperintah membuat dua atau tiga mangonel yang mampu melontarkan batu seberat 300 pound. Begitulah, mereka akhirnya berhasil membuat tiga mangonel, masing-masing bisa melemparkan batu 300 pound, bahkan lebih. Ketika mereka selesai, dan alat itu siap digunakan, Kaisar dan yang lain sangat senang melihatnya. Dia memerintahkan agar batu-batu dilontarkan dengan alat itu di depan dia; setelah selesai uji coba, mereka mendapat pujian berlimpah atas kerja ini. Kaan pun memerintahkan agar alat ini diangkut pasukannya yang akan mengepung Saianfu. Alat-alat ini langsung dipasang sampai di perkemahan prajurit, dan prajurit Tartar itu terkagum-kagum. Apa yang bisa saya katakan pada Anda? Ketika alat-alat ini siap dan dipasang, sebuah batu dilontarkan dari masing-masingnya ke dalam kota. Bangunanbangunan pun rusak terkena hajaran batu-batu ini. Ketika warga kota menyaksikan mesin perang baru yang aneh ini, mereka terpana dan cemas, mereka saling berpandangan tak mengerti harus berkata atau berbuat apa. Mereka rapat, namun hal itu tak mampu menemukan jalan keluar dari mesin-mesin perang ini. Akhirnya, mereka sepakat bahwa mereka akan mati jika melawan; mereka pun menyerah… … Dan semua ini bisa terjadi karena Messer Nicolo, dan Messer Maffeo, dan Messer Marco turun tangan. Tindakan mereka ini tak bisa dipandang remeh. Kisah yang bagus, namun sangat mengada-ada. Marco muda, kala itu berusia 21 tahun, baru tiba di istana Kubilai Khan pada 1275, dua tahun setelah pengepungan besar itu berakhir. Dia maupun ayah dan BAGIAN II: MUSIM PANAS 190 pustaka-indo.blogspot.com
pamannya tak ada hubungannya dengan pembuatan dan penggunaan ketapel, dan sama sekali tak beralasan bagi Marco Polo untuk melibatkan Polo bersaudara dan menyingkirkan Ismail dan Alauddin. Kisah tadi terlalu dibumbui fantasi yang ingin menonjolkan diri sendiri—tak ada rincian seperti trebuchet itu, “pengikut” yang tak disebutkan namanya tak pernah lagi disebut-sebut setelah kisah tadi disampaikan, tak ada penjelasan ihwal kota Fancheng, dan generalisasi berlebihan terhadap keadaan kota Xiangyang. Jadi, nampaknya dia (atau juru tulisnya) ingin mendramatisasi— perhatikan klaim yang tak tahu malu berikut ini terkait kota Yangzhou saat itu: “dan Messer Marco Polo sendiri, yang dikisahkan buku ini, pernah menjabat sebagai gubernur selama tiga tahun penuh atas perintah Kaan Agung.” Dia tidak demikian: semua gubernur yang pernah memerintah disebutkan dalam catatan resmi, sedangkan namanya tidak tertulis. Jadi bisa kita katakan bahwa ini bukanlah pertama kali, atau yang terakhir kali, bahwa kebenaran (yang sebenarnya dialami Polo) telah dikesampingkan oleh juru-tulisnya demi kemasyhuran belaka: Ayolah, Marco! Tak seorang pun akan tahu. Ada dua poin yang harus disampaikan terkait Marco Polo ini. Pertama, sebagian penulis yang melontarkan kritik tajam padanya karena menyembunyikan kebenaran agaknya menganggap bahwa dia mengklaim menyaksikan sendiri pengepungan. Sebenarnya dia tidak demikian. Gagasan dan konstruksi cerita yang dia buat semuanya diperoleh saat dia berada di Xanadu bersama Kubilai, tempat di mana saya menduga dia pertama kali mendengar cerita ini dan kemudian mengarang-ngarangnya. Kedua, klaim bahwa dia pernah menjabat gubernur Yangzhou hanya muncul di dua edisi dari lima edisi utama karyanya, yang kesemuanya melenceng dari versi asli yang telah hilang. Jadi, barangkali Marco Polo punya nurani untuk tidak menyembunyikan kebenaran dalam edisi yang telah hilang ini. Di Hangzhou, ketika berita kejatuhan Xiangyang sampai, warga pun panik. Tiba-tiba para petinggi pemerintah mulai menyadari ancaman bahaya terhadap cara hidup mereka yang nyaman dan “beradab”, KUNCI PENAKLUKAN 191 pustaka-indo.blogspot.com
obrolan-obrolan terpelajar mereka, serta piknik-piknik mereka di Danau Barat, ritual-ritual mereka yang memakan waktu, serta kekaguman mereka pada karya seni. Sungguh tak masuk akal: tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah China bangsa barbar mengancam wilayah selatan. Istana tiba-tiba membatalkan acara kerajaan dan mengumumkan bahwa uang yang tersimpan akan dipergunakan untuk memperkuat pertahanan di Yangtze. Untuk meningkatkan semangat warga, pejabat yang bertanggung jawab atas bencana ini tak dihukum, hanya diturunkan pangkatnya. Bahkan saudara-saudara Lü Wen -huan, pejabat yang menyerahkan Xiangyang dan bergabung dengan pasukan Mongol, di - beritahu bahwa kesetiaan mereka tak diragukan oleh kaisar. Tentu saja, ini semua adalah pertanda mulai melemahnya kekuatan sebuah rezim. Setelah itu, bencana datang silih berganti. Tanpa disangka, Kaisar Duzong meninggal, padahal saat itu baru berusia 34 tahun. Lalu, Gunung Wajah Surgawi, gunung api amat indah yang berjarak sehari perjalanan berkuda ke barat Hangzhou, meletus serta menimbulkan longsor dan banjir bandang. Di China, longsor dan kematian kaisar adalah dua makna dari satu karakter huruf China yang sama, beng (hruf). Untuk menggenggam tongkat kepemimpinan, Song masih punya putra Kaisar Duzong yang masih berusia empat tahun, lalu neneknya, Janda Permaisuri Kaisar, yang sudah sakit-sakitan, serta perdana menteri yang sudah kehilangan muka, Jia. Bencana ini saling tarik satu sama lain, seperti butiran air di atas selembar sutra tua, tak seorang pun da - pat menambal kain Song yang telah sobek. Langit meng ambil kembali mandatnya. Sebuah era keemasan sedang mendekati akhirnya. BAGIAN II: MUSIM PANAS 192 pustaka-indo.blogspot.com
9 JUGGERNAUT UNTUK OPERASI MILITER LANJUTAN YANG BESAR DAN PENTING INI, KUBILAI tak ingin ada kesalahan sekecil apa pun. Dia tetap menugaskan Aju, tokoh utama pengepungan kota Xiangyang, tapi dipandu jenderalnegarawan Kubilai yang sangat dinamis dan berpengalaman luas, Bayan. Perlu penjelasan terkait dengan Bayan. Dengan menugaskannya, Kubilai memainkan dua kartu truf sekaligus, yakni kekaisaran dan keluarga, karena nenek moyang Bayan berperan besar dalam salah satu kisah paling dramatis dalam The Secret History. Peristiwa dalam kisah ini terjadi sekitar lima tahun sebelum Jenghis menjadi khan, saat dia masih bernama Temujin. Ketika itu dia berjuang menyatukan sukusuku bangsa Mongol. Karena masih muda, Temujin/Jenghis tertangkap oleh pemimpin suku musuhnya, seorang pria bertubuh besar bernama Tarkutai (“Si Gendut”) Kiriltuk. Dia berhasil melarikan diri dan mulai berpatroli melakukan pembalasan. Putus asa dan harus sembunyi, Si Gendut Kiriltuk akhirnya tertangkap oleh beberapa anak buah Jenghis— seorang pria dan dua putranya—dan terpaksa diangkut dengan gerobak karena tubuhnya terlalu berat untuk dipanggul seekor kuda. Tiga pria ini berniat menyerahkannya kepada Jenghis ketika putra-putra Si Gendut datang dengan mengendarai kuda untuk melepaskannya. Si ayah, Shiregetu, meloncat menangkap tawanan gendutnya, mengancamnya JUGGERNAUT 193 pustaka-indo.blogspot.com
dengan menodongkan pisau ke lehernya dan berteriak “Mundur!” Dan kemudian, dalam kata-kata The Secret History, untuk Kiriltuk: Jika mereka menyerang, “maka aku mati, dan aku akan membawa serta kamu menuju kematian.” Baiklah, kata Si Gendut, lakukan seperti apa kata mereka; Temujin akan membebaskanku; lagi pula, aku tak jadi membunuhnya meski aku punya kesempatan. Putra-putra Si Gendut tadi mundur. Para penangkap mulai ragu. Temujin menghargai kesetiaan, bukankah demikian? Kali ini kita mengkhianati khan kita. Tentu saja, Temujin akan membunuh kita karena pengkhianatan ketimbang memberi kita imbalan? Maka mereka pun melepaskan Kiriltuk. Ketika mereka sampai di depan Temujin, apa yang mereka perkirakan segera terbukti: “Pendapatmu bahwa kamu terlarang mengkhianati tuanmu adalah benar. Maka dia pun menunjukkan kemurah-hatiannya. Peristiwa ini menjadi gerbang keluarga menuju keterkenalan dan keberuntungan. Shiregetu tua diabadikan dalam legenda. Ketika menjadi khan pada 1206, Jenghis mengangkat kedua putranya, Naya dan Alak, sebagai komandan 1.000 pasukan; selain itu, Naya kemudian menjadi salah seorang dari tiga jenderal tertingginya. Jadi, intinya: orang yang menodongkan pisau ke leher Kiriltuk, Shiregetu, adalah buyut sang Bayan; Naya adalah paman-kakeknya; Alak adalah kakeknya, yang jadi komandan dalam operasi militer menghadapi Persia pada 1219-1220. Ayah Bayan bertempur bersama Hulagu di tahun 1256. Dia tewas dalam pertempuran ketika Bayan berusia 20 tahun. Bayan sendiri tetap bekerja bersama Hulagu selama satu dasawarsa lebih, lalu pergi ke China untuk bergabung dengan Kubilai sebagai administrator sipilnya yang paling berprestasi. Dalam jangka lima tahun, dia meraih reputasi tinggi berkat ketenangan dan kejernihan pikirannya ketika berada dalam situasi-situasi genting (dan juga kecerdasannya: dia belajar bahasa China). Karena itulah Kubilai kemudian menyuruhnya menjalankan Biro Urusan Militer, di bawah pemimpin resminya, putra sulung Kubilai. Sekarang, baru di usia 34 tahun, Bayan diperintahkan menjalankan tugas yang merupakan langkah lebih besar lagi demi mewujudkan takdir surga yang sudah dilibati keluarganya selama empat generasi. Ini tugas operasi militer yang luar biasa besar. Hari-hari indah BAGIAN II: MUSIM PANAS 194 pustaka-indo.blogspot.com
manakala kemenangan diraih pasukan kavaleri Mongol sudah lama berlalu. Pasukan kavaleri hanyalah salah satu dari tiga sayap yang ada. Pasukan yang dikumpulkan Bayan dan Aju di sekitar Xiangyang pada musim panas 1274 berjumlah sekitar 200.000 infanteri, sekitar setengahnya adalah orang China utara, didukung 800 armada tempur dan 5.000 perahu kecil guna mengangkut 70.000 pelaut, 14 orang per perahu. Ini pasukan yang lentur, mahir di darat dan laut, serta multinasional. Dan memang harus begitu, karena Song masih punya 700.000 pasukan dan 1.000 armada tempur di Yangtze. Kemenangan pasti akan datang. Namun, itu harus melalui perjuangan panjang, seperti kemenangan yang pertama kali diperoleh Kubilai dalam operasi militer di Yunnan. Seorang penasihat menyarankan dia untuk menahan diri, dan dia mendengarkan nasihat ini: “Apa yang kamu katakan tentang Cao Bin untuk tidak membunuh rakyat sipil, itulah yang akan kulakukan.” Dia pun belajar dari pengalaman, bahwa kemenangan militer harus diikuti kemenangan jenis lain, yaitu merebut hati dan pikiran rakyat biasa. Jika penaklukan Song berhasil, maka diperlukan pemerintahan yang baik, dan itu bertujuan memperkecil penderitaan penduduk sipil. Dia memerintahkan Bayan: “Tirulah Cao Bin!” Tugas Bayan yang pertama pada musim dingin 1274 adalah membawa pasukannya di muara sungai Han ke sungai Yangtze, berjarak sekitar 250 km. Masalahnya, sungai Han dihadang 100.000 prajurit yang berkemah di sekitar dua benteng yang terhubung oleh dua sungai yang bersilangan. Agar tidak melakukan pengepungan lagi, Bayan memerintahkan pasukannya menyeberangi sungai ini. Dilindungi 10.000 prajurit yang berbaris berjajar sepanjang belasan kilometer, pasukan utama membawa perahu melintasi daratan dengan galah bambu, dan mengatasi setiap serangan yang menghadang di perjalanan. Tak heran jika gerak rombongan ini sangat lambat, kira-kira 20 km per hari. Di musim semi 1275, Bayan dan Aju memimpin pasukan mereka keluar dari lembah Han menuju bantaran sungai Yangtze. Kubilai cukup bersabar dengan operasi militer kali ini, bukan hanya karena hasil akhir perang ini tergantung pada keberhasilan tahap per JUGGERNAUT 195 pustaka-indo.blogspot.com
tahap, tapi dia sendiri pernah menyeberangi sungai Yangtze persis di titik ini lima belas tahun sebelumnya, ketika Mönkhe meninggal dan pemberontakan Ariq memaksanya kembali pulang. Dia juga sangat mengenali tiga kota yang sekarang menjadi kota Wuhan, benteng besar di hulu Yang-lo, danau-danau dan teluk-teluk kecil serta kelak-kelok Yangtze yang pernah dia lintasi dalam usaha gigihnya menaklukkan Wuchang. Bagaimanapun juga, Bayan harus menaklukkan benteng Yang-lo yang seakan tak tertembus ini, yang dijaga oleh sebuah armada yang lebih besar dari armadanya. Satu-satunya peluang dia untuk menang yakni dengan menyeberangi sungai yang dijaga ketat dan mendirikan basis pasukan di tepi selatan. Serangan langsung pasti akan gagal, dan karena itu dia memilih taktik tipuan. Dia membagi pasukannya, dan memerintahkan satu bagian menyerang benteng, memaksa komandan pasukan China meminta bantuan dari daerah hulu. Lalu, pada satu malam bulan Januari yang penuh salju, dia mengirim Aju dengan setengah jumlah pasukannya 20 km ke arah hulu, membawa beberapa perahu. Mereka berjalan di sungai yang membeku dan berhasil merebut beberapa daerah kecil di pinggir sungai. Setelah fajar tiba, mereka membangun jembatan ponton, dan untuk menghadapi perlawanan dari sisa-sisa musuh, mereka membuat pos pertahanan di ujung jembatan sebelah selatan. Kembali ke daerah muara, mereka kemudian menghadapi armada Song dan entah bagaimana—kita tak pernah tahu secara rinci—mereka berhasil menang. Komandan mereka melarikan diri, dan pasukan Song yang kocar-kacir mundur ke hulu, dan benteng itu pun jatuh. Perjalanan menuju hulu di bulan berikutnya berlangsung lancar, sebagian besar berkat peran mantan komandan pasukan Xiangyang, Lü Wen-huan, yang juga pimpinan beberapa garnisun di daerah hulu. Perintah darinya, dan para komandan yang telah menyerah, membantu pasukan Mongol bergerak maju tanpa halangan. Hangzhou nyaris putus asa. Reputasi Bayan makin menjulang lewat setiap kemenangannya. Mereka menjulukinya “Seratus Mata”, inilah arti kata bai yan dalam bahasa China. Status Jia, sebaliknya, makin BAGIAN II: MUSIM PANAS 196 pustaka-indo.blogspot.com
terperosok dari hari ke hari. Para pejabat istana dan rakyat biasa mengutuk dia karena kesenangannya pada kemewahan, menumpuknumpuk harta, serta pesta-pestanya yang boros. Sebagai upaya memperbaiki namanya yang tercemar, dia memutuskan untuk memimpin sendiri pasukan Song. Pada bulan Februari itu, dia mengerahkan sekitar 100.000 pasukan ke luar kota, sekitar 40 km ke barat kota untuk menghadang laju Bayan dan pasukannya menuju hulu sungai Yangtze. Itu berarti, ibukota semakin kekurangan pasukan pada saat sedang memerlukan pasukan tambahan. Di titik ini, janda kaisar, Permaisuri Xie yang mulia, menjadi pengobar semangat rakyatnya. Dia memang tak cantik, berkulit agak gelap dan salah satu matanya mengidap katarak. Namun, dia memiliki kekuatan luar biasa selama bertahun-tahun, murah hati, sabar, tak berambisi memperluas kekuasaannya melampaui istana. Dia pun berbicara, mengajak rakyatnya turut ke medan perang: “Walau sudah tua dan tak berguna, aku terpaksa ambil bagian dalam urusan negara,” katanya tatkala berpidato. “Bagaimana mungkin keadaan sekarang melenceng dari ketentuan Langit dan Bumi? Tiga ratus tahun kejayaan— tentu saja kata-kata ini menyentuh perasaan rakyatnya… Pria-pria tangguh dengan hati dan semangat penuh kesetiaan maju ke medan tempur memerangi pasukan yang akan menumbangkan raja dan merampas kemampuan kalian.” Pidato ini berhasil. Pada bulan Maret 1257, dari seluruh penjuru negeri, para pria berdatangan bagai banjir untuk bergabung menjadi tentara, sekitar 200.000 orang. Sebulan kemudian, setelah menempuh perjalan sejauh 250 km, Jia tiba di tempat yang kini menjadi Provinsi Anhui, mengistirahatkan pasukannya di dekat Tongling dengan maksud membendung sungai. Mudah dikatakan tapi tak begitu jika dikerjakan: seperti diperlihatkan jembatan baru Tongling (dibangun pada 1995) yang melintasi sungai Yangtze yang mengalir lamban, di titik ini sungai ini memiliki lebar sekitar 2,6 km, dan bukit-bukit yang mengapit alirannya terlalu rendah dan agak jauh. Namun, di Tongling, sedikit dorongan saja akan membuat gelombang besar, dan pulau kecil di tengah arus akan menjadi kunci kemenangan. Dilengkapi 2.500 kapal perang, sebagian besar berasal dari benteng Yang-lo yang telah menyerah, Jia menunggu JUGGERNAUT 197 pustaka-indo.blogspot.com
kedatangan Bayan. Meski Bayan meraih banyak kemenangan sebelumnya, namun armada tempurnya tetap membawa pasukan terlatih yang terdiri dari kavaleri Mongol (yang juga berjalan di sisi sungai), infanteri China, pasokan informasi penting dari para komandan Song yang membelot tentang kubu-kubu pertahanan di daerah hulu, serta pasukan artileri yang mengerikan, yang dipersenjatai berbagai senjata termasuk “ketapel Xiangyang” ciptaan Ismail, alat raksasa yang tak harus diangkut pakai tenaga karena bisa dihanyutkan mengikuti arus sungai dan dikendalikan hanya dengan tambang. Apa yang akan saya ceritakan pada Anda selanjutnya (begitulah gaya bercerita Marco Polo)? Mungkin tak banyak, karena tak ada yang mencatat rincian peristiwa ini. Pasukan artileri memasang trebuchet raksasa berdaya jangkau lebih jauh—ratusan meter—jika peluru yang dilontarkan lebih ringan. Batu-batu menghujani kapal, pasukan kavaleri menyerang pantai, pasukan infanteri mendarat di pulau-pulau kecil, dan pasukan Jia yang semangat tempurnya sudah mengendor pun kocar-kacir, meninggalkan 2.000 kapal yang kemudian langsung direbut tentara Mongol. Jia melarikan diri, kalah, malu, dan harus dihukum. Para saingannya di istana mengusulkan agar dia dihukum mati. Tetapi Permaisuri Xie, yang berpengalaman selama setengah abad, tak akan melakukan hukuman itu. “Jia Sidao telah mengabdi tiada henti kepada tiga kaisar berturut-turut,” jawabnya. “Bagaimana kesalahan di satu pagi dapat menghapus jasa-jasanya yang besar kepada kekaisaran?” Meski begitu, dia tetap mencopot Jia dari jabatannya dan memindahkannya ke Zhangzhou, wilayah pantai sejauh 800 km ke selatan. Namun, dia tak bisa lepas. Dalam perjalanan menuju tempat tugas barunya, pejabat yang bertugas memimpin rombongan, seorang jenderal bernama Jeng Hujen, memerintahkan para pengiringnya mengejek dan mengolokoloknya dengan lagu-lagu yang telah mereka dengar di Hangzhou; lalu, ketika mereka hampir tiba di tempat tujuan, Jeng membunuhnya. Setelah mati, hanya kesalahan-kesalahannya yang diingat orang, dan dia dinobatkan sebagai “Pejabat Terburuk Song yang Terakhir”. BAGIAN II: MUSIM PANAS 198 pustaka-indo.blogspot.com
Sementara itu, Bayan terus memperoleh kemenangan di daerah muara. Wuwei, He Xian, kota-kota lokal di Nanjing, semuanya menyerah. Kenyataan ini menggugah setengah lusin pemimpin sipil lain untuk menyerahkan kota mereka ke kubu Mongol, dan ada pula dua di antara mereka yang memilih bunuh diri (peristiwa bunuh diri pertama dari sekian banyak lagi yang lain, sebagaimana akan kita lihat sebentar lagi). Di Nanjing, Bayan teringat rencana jangka panjang penaklukan Kubilai: menguasai dan memerintah, selamanya. Dia mengambil jeda selama empat bulan, menyiapkan pemerintahan untuk 30 kota beserta dua juta penduduknya yang baru saja dia taklukkan. Dia dijaga pasukan bertahan yang berada di kedua sisi sungai. Dari sini, dia membuka perundingan dengan Hangzhou, namun terkendala oleh perlawanan rakyat sipil dan pejabat rendahan yang anti-Mongol. Hal ini kemudian berubah menjadi masalah yang lebih besar, sebab selain pejabat militer dan petinggi pemerintahan setempat, warga masih setia dengan tanah dan kebudayaan mereka. Dan mulailah terjadi perang gerilya, yang berhasil merebut beberapa kota kembali kepada pihak Song. Pada bulan April, dua utusan Bayan dibunuh penduduk lokal sebelum me - masuki wilayah Hangzhou. Utusan berikutnya pun bernasib sama. Lalu datanglah musim panas. Pasukan Mongol dan China utara kehilangan tenaga akibat cuaca panas dan lembab. Bayan sudah siap maju lebih jauh lagi, tapi terpaksa menunda pergerakannya karena Kubilai menghadapi pemberontakan lain di kampung halaman mereka— topik ini kita bahas di bab berikutnya—dan ingin mendapat nasihat dari Bayan. Penundaan ini memungkinkan Aju mengalahkan tantangan baru dari Song dan merebut kota-kota lain, terutama kota Yangzhou dan kota pelabuhan di dekatnya, Zhenjiang. Di sini, dalam pertempuran besar lainnya, pasukan Song membendung sungai dengan kapal tongkang yang diikat satu sama lain, yang—saat hendak ditembus oleh kapal-kapal Mongol yang kecil—berubah bagaikan raksasa yang menghancurkan apa yang berada di depannya: bencana militer lain, 10.000 pasukan Mongol tewas, 10.000 lainnya tertangkap (seperti biasa, harap diingat, angka-angka ini adalah perkiraan yang terlalu tinggi). Kini, pasukan Mongol sudah berada 225 km dari muara Yangtze; di dekat ujung tanjung Shanghai terdapat Hangzhou. Ditempuh JUGGERNAUT 199 pustaka-indo.blogspot.com
lewat darat, jaraknya juga 225 km. Satu serangan terakhir akan menuntaskan segalanya. Kembali ke medan tempur di bulan September, Bayan merencanakan serangan terakhirnya, tiga ujung serangan di laut dan di darat. Dia memimpin ujung tengah dari trisula ini, menyusuri Kanal Utama. Armada utama dan pasukan darat bergerak cepat. Sayangnya, pasukan yang dipimpin Bayan mendapat persoalan, yakni perlawanan tak terduga dan mati-matian dari kota kuno dan kaya raya, Changzhou, yang terkenal karena banyak melahirkan ilmuwan—kota kunci untuk wilayah selatan Kanal Utama. Saat itu, kota ini mendapat tambahan kekuatan sebanyak 5.000 prajurit Song. Bayan memberi mereka kesempatan menyerah, menembakkan pesan yang diikatkan ke anak panah, berbunyi: “Jika kalian tetap meneruskan perlawanan keras kepala dan sia-sia ini, tak seorang bayi pun akan dibiarkan hidup untuk menyaksikan tumpukan mayat dan banjir darah. Pertimbangkanlah posisi kalian saat ini, agar tak menyesal kemudian.” Mereka tak peduli, dan tidak pula sempat hidup lebih lama untuk menyesal. Untuk kedua kalinya dalam operasi militer kali ini, pasukan Mongol melakukan pembantaian. Selama dua hari, Bayan menyerbu tempat itu bagai badai dan membantai semua orang: pasukan yang masih hidup, orang sipil, semuanya, mungkin mencapai 10.000 orang. Sekali lagi, seperti di Fancheng, tumpukan mayat dibuat menjulang seluas setengah akre di dekat gerbang kota sebelah timur. Ini semua lalu tertutupi oleh tanah, dan tetap seperti itu selama 600 tahun sampai akhir abad kemarin, ketika tulang belulang korban ditemukan menyembul dari balik tanah. Pembantaian ini, yang terjadi begitu dekat dengan ibukota, dimaksudkan untuk mempercepat penyerahan diri. Pengaruhnya yang pertama kali muncul adalah menyebarnya kepanikan dan ketakutan. Para prajurit memberontak, desersi melarikan diri, pejabat tinggi terpukul akibat kematian pengganti Jia. Permaisuri Xie tetap berusaha menunda nasib yang tak mungkin dia elakkan. Dengan rendah hati, dia kembali memohon dukungan dari rakyat. “Yakinlah, usaha kekaisaran kita melawan dan mengusir musuh hanya bergantung pada keteguhan semangat kita.” Rakyat pun diingatkan kembali pada kejayaan selama 300 tahun, dan mereka berduyun-duyun datang ke ibukota untuk BAGIAN II: MUSIM PANAS 200 pustaka-indo.blogspot.com
“mengusir musuh raja mereka”. Permohonan kedua untuk meraih dukungan rakyat ini dapat dikatakan berhasil. Rakyat datang, puluhan ribu jumlahnya, dari bukit-bukit dan dataran-dataran sekitar ibukota; namun kesetiaan tanpa arahan tak ada gunanya. Tenaga baru ini tak lebih dari sekadar gerombolan milisi yang malah menambah kebingungan dan kepanikan. Selama enam minggu, Permaisuri Xie mengirim utusan demi utusan untuk mencapai perdamaian. Meskipun ditentang pengganti Jia, sang Permaisuri tetap mengusulkan kesepakatan, bersedia membagi negeri, dia bersedia menghormati Kubilai sebagai paman kaisar muda Song. Bayan, yang berada di sekitar Hangzhou, menolak membahas perjanjian damai ini. Dia menghendaki penyerahan total. Jika tidak, dia akan meneruskan perang. Namun dia tak ingin melakukan kekerasan. Dia memberi jaminan bahwa penyerahan diri akan dibayar dengan jaminan kedamaian bagi rakyat dan jaminan keamanan bagi keluarga kerajaan. Dia mengirimkan salinan pengumuman Kubilai untuk memastikan janjinya. Sebagian petinggi kerajaan mengusulkan agar meneruskan perlawanan sampai akhir, yang lain ingin menyerah dan memberikan ibukota kepada musuh. Namun Permaisuri Xie mengambil keputusan lain. Dia memang tak punya pilihan lain. Armada Bayan dan pasukan daratnya sudah bergabung. Ibukota terkepung total, semakin lama semakin lemah karena banyak prajurit dan rakyat mengungsi ke selatan. Akhir cerita, setidaknya akhir bab ini, datang begitu cepat. Perdana menteri baru, Chen Yizhong, melarikan diri mencari aman. Pada 26 Januari 1276, Permaisuri mengirim surat kepada Bayan di markasnya sekitar 20 km ke utara kota, menyatakan pengakuannya atas kekuasaan Kubilai: “Dengan segenap kerendahan hati, saya berlutut hormat pada Yang Mulia, Yang Pengasih, Cerdas, Kaisar Pemimpin Spiritual dan Panglima Perang Yuan yang Agung.” Seminggu kemudian, pejabat kota, mewakili istana, menyerahkan stempel Dinasti Song dan pernyataan yang menerangkan keinginan kaisar untuk menyerahkan takhtanya kepada Kubilai beserta seluruh wilayah kekuasaannya. Bayan pun memasuki kota melakukan pawai kemenangan, dengan para komandan dan pasukannya berbaris megah. Ratusan gundik cantik kebingungan memikirkan nasib mereka setelah itu. Dan seratus dari mereka, JUGGERNAUT 201 pustaka-indo.blogspot.com
menunggu dengan harap-harap cemas untuk diikat bersama para kasim dan para musisi istana yang diarak menuju utara, tenggelam dalam penantian atas apa yang terjadi selanjutnya. Akhirnya, pada 21 Februari, diadakanlah upacara terakhir, sebuah upacara resmi penyerahan diri. Saat itulah Kaisar Zhao Xian, yang baru berusia lima tahun, menyerahkan istananya kepada Bayan dan membungkuk ke arah utara, arah di mana Kubilai berada. Bayan menepati kata-katanya dan kata-kata Kubilai. Tatkala pada 1215 orang Mongol merebut Beijing, ibukota Jin, mereka melakukan pesta pora penghancuran dan pembunuhan. Namun penaklukan ibukota Song kali ini sangat berbeda: peralihan kekuasaan secara damai, larangan tegas memasuki kota bagi prajurit yang tak berkepentingan, jaminan keamanan bagi keluarga kerajaan, perlindungan atas makam kerajaan, tak ada usaha mengubah mata uang, bahkan mengubah gaya berpakaian warga setempat. Pejabat Mongol-China mencatat harta kekayaan prajurit, penduduk sipil, cadangan uang tunai, dan makanan sebelum mengangkut harta rampasan itu ke utara. Milisi liar dilucuti senjatanya, sementara prajurit resmi disatukan ke dalam pasukan Bayan. Pejabat kerajaan diganti dengan orang Mongol, orang China utara dan beberapa orang Song yang membelot: namun dalam hal lain, seperti yang dengan bangga dilaporkan Bayan kepada Kubilai, “pasar-pasar yang punya sembilan cabang jalan tidak dipindahkan dan kejayaan era sebelumnya tetap seperti sedia kala.” Amanat Kubilai memerintahkan semua orang melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa. Para pejabat kerajaan sebelumnya tak akan dihukum; tempat-tempat suci akan dilindungi; para janda dan anak yatim serta orang miskin akan dibantu dari dana publik. Pada 26 Februari, rombongan pertama dari dua rombongan besar yang harus berangkat ke Beijing berangkat dari Hangzhou—300 pejabat tinggi, 3.000 kereta harta rampasan, stempel-stempel resmi kerajaan, serta para taklukan. Sebulan kemudian, Bayan, setelah menyelesaikan tugasnya, juga meninggalkan Hangzhou—atau lebih tepatnya, seluruh China selatan—dan mengalihkan kekuasaan kepada bawahannya, serta bergerak ke utara dalam rombongan kedua. Dalam BAGIAN II: MUSIM PANAS 202 pustaka-indo.blogspot.com
rombongan kedua ini terdapat keluarga kerajaan: bocah mantan kaisar, ibunya, para pangeran, para selir, sanak-saudara mereka, meninggalkan Permaisuri Xie yang tengah sakit sampai dia kuat melakukan perjalanan. Tiga bulan kemudian, di bulan Juni, rombongan besar ini tiba di ibukota, disambut Kubilai dengan penuh kegembiraan seakan-akan dia tak punya imbalan yang setimpal untuk jasa Bayan. Kubilai menyodorkan kepada Bayan 20 “pakaian berwarna sama”—yang harus dia pilih salah satunya sebagai tanda penghormatan—dan kembali menyatakan Bayan sebagai wakil pimpinan Biro Urusan Militer. “Si Mata Seratus” adalah pahlawan kekaisaran, jenius, penyelamat: titisan Subedei. Permaisuri Xie dan cucunya kemudian ditempatkan di Beijing. Mereka diserahi harta benda bebas pajak. Istri Kubilai, Chabi, secara pribadi sangat tertarik dengan kehidupan mereka. Nyonya tua ini menjalani kehidupan dengan tunjangan kecil dan pelayan yang disediakan pemerintah, dan dia meninggal enam tahun kemudian. Begitulah, secara resmi Dinasti Song berakhir bukan lewat ledakan penuh darah, tapi dalam isakan haru dan damai. * * * Namun ada lagi akhir yang lain, akhir yang sangat berbeda: akhir penuh darah, akhir penuh kemalangan, penderitaan dan kesedihan. Akhir ini adalah ”drama dengan intensitas emosi yang tak terbayangkan”, dalam kata-kata penelitian brilian Richard Davis tentang penaklukan Song.1 Awal dari akhir yang menyedihkan ini terjadi sebelum penyerahan diri secara resmi, saat pejabat istana Song diam-diam mengungsikan jauh-jauh dua pangeran muda ke selatan. Mereka adalah Zhao Xia (4) dan Zhao Bing (3), adik kaisar muda Zhao Xian, yang tak lama kemudian harus berangkat ke Xanadu. Bersama dua pangeran ini, berangkat pula semangat yang sangat berbeda dari semangat yang ditandai oleh upacara penyerahan diri tadi: semangat balas dendam dan perlawanan tanpa kompromi terhadap dominasi asing. Ada semacam JUGGERNAUT 203 1 Richard L. Davis, Wind Against the Mountain: The Crisis of Politics and Culture in 13th-Century China. pustaka-indo.blogspot.com
tindak kepahlawanan di sini, sesuatu yang mirip dengan ucapan Horatius dalam Lays of Ancient Rome karya Macaulay: Dan bagaimana seseorang dapat mati dengan cara lebih baik Selain menghadapi rintangan yang mengerikan, Demi abu bapaknya dan kuil Dewa-dewanya? Namun, di sini juga ada tragedi, seperti kebudayaan besar yang menutup mata dan telinganya, dan memilih mati saat perlawanan tak lagi mungkin. Setelah kedua pangeran ini melarikan diri, pasukan Mongol segera bergerak mengejar. Bau kematian pun memenuhi udara: bukan hanya kematian yang dipaksakan orang lain, namun juga kematian atas pilihan sendiri, apakah dicari sendiri dalam pertempuran atau dengan bunuh diri. Dalam penjelasannya tentang masa-masa mengerikan ini, Richard Davis mencatat 110 nama pria terhormat, kalau bukan pejabat dengan pangkat tinggi, yang bunuh diri. Dan masih ada ratusan orang lain dari pangkat yang lebih rendah di pemerintahan, dan ribuan rakyat biasa baik pria maupun wanita dari semua kelas. Sekadar contoh yang paling ekstrem: pada Januari 1276, Ariq-khaya menghadapi perlawanan sengit dari kota Tanzhou (kini bernama Changsha), 750 km masuk ke wilayah Provinsi Hunan. Perlawanan ini tentu saja berhasil dia padamkan. Pimpinan kota itu, Li Fu, merancang dengan hati-hati suatu bunuh diri massal untuk keluarganya dan pengurus rumah tangganya. Semuanya minum sampai mabuk; lalu dipenggal satu per satu oleh pengawal Li Fu, yang kemudian membunuh sendiri istrinya, dan akhirnya menggorok lehernya sendiri. Seorang penasihat militer menenggelamkan dirinya bersama istri dan selirnya. Seorang ilmuwan setempat membakar rumahnya, dirinya, saudaranya, dua putranya dan sekitar 40 pelayan. Di seluruh penjuru kota, menurut Song History, orang-orang “memusnahkan seluruh keluarganya. Tak ada gang di kota yang tak berisi tumpukan mayat, sementara banyak pula mayat tergantung di pohon-pohon tempat mereka menggantung diri.” Sungai Xiang penuh mayat. Apakah ini keterangan yang berlebihan? Jangan-jangan mayat- BAGIAN II: MUSIM PANAS 204 pustaka-indo.blogspot.com
mayat itu adalah korban penyerangan? Bisa jadi begitu; tapi ketika kota itu berhasil dilumpuhkan, Ariq-khaya merasa tak perlu menghukumnya, karena kota itu sudah menghukum diri dengan membunuh dirinya sendiri. Bagaimana nasib dua pangeran kecil dan rombongan pengiring mereka? Mereka dibawa ke selatan, dan selama perjalanan mereka merekrut pengikut untuk menambah kekuatan—ini bukan masalah, karena mereka membawa uang tunai sangat besar. Lalu mereka dibawa dengan kapal-kapal, menyinggahi dermaga demi dermaga sampai tiba di pantai, menuju wilayah Vietnam. Rombongan ini tidak terdiri dari segelintir pengikut setia, tetapi pasukan sebanyak 200.000 orang yang diangkut oleh armada sebanyak 1.000 kapal. Dalam perjalanan, mereka dihadang badai besar. Pangeran yang lebih tua, Zhao Xia, nyaris meninggal dalam terjangan badai ini, dan memang dia meninggal tak lama kemudian ketika mereka hampir mencapai Vietnam. Namun, pasukan Mongol menyusul mereka di darat. Dengan pangeran yang tersisa, Zhao Bing, rombongan pelarian ini mundur perlahan di sepanjang pantai menuju perairan di mana Sungai Permata (Chu Chiang) melebar menuju Hong Kong. Di sini terdapat pulau-pulau yang bisa melindungi mereka. Mereka belum kalah total. Mereka menemukan pulau yang dapat dijadikan markas untuk mempersiapkan pembalasan. Di sebelah utara terdapat perairan dangkal yang menghambat laju armada musuh. Di sebelah selatan terdapat ujung perbukitan curam yang langsung berbatasan dengan laut, kondisi yang jadi nama pulau ini, Yaishan, Bukit Terjal. Di sinilah, pada musim panas 1278, pangeran yang saat itu sudah berusia enam tahun dan para pengikut setianya—ibu tirinya, Permaisuri Yang Juliang, ibu kandungnya, seorang selir dari level lebih rendah, penasihat utama Lu Xiufu—mendirikan kediaman sementara, sedangkan sebagian besar pengikut mereka hidup di atas kapal dan sebagian lagi di pantai. Mereka bergegas mendirikan rumah-rumah sederhana dan kubu pertahanan. Pasukan Mongol cuma berjarak 80 km ke hulu, bermarkas di sebuah kota yang saat itu bernama Canton dan kini bernama Guangzhou. JUGGERNAUT 205 pustaka-indo.blogspot.com
Pada akhir Februari 1279, armada Song berkekuatan 1.000 kapal, dilengkapi dengan makanan dan air yang cukup, mempersiapkan peperangan. Menurut seorang saksi mata, kapal-kapal ini sangat me - nakjubkan, sisi-sisi lambungnya ditutupi lumpur kering untuk menahan panah-panah berapi dan peluru-peluru yang bisa meledak lainnya, melindungi papan-papan lambung kapal dari api. Dengan pangeran muda berada di kapal utama, armada ini, menurut satu keterangan, di - ikat satu sama lain dan siap melakukan serangan habis-habisan. Armada Mongol, hanya terdiri dari sekitar 300 kapal, mendekat dari muara, mengitari pantai. Karena jumlah mereka sedikit, mereka tak tergesa-gesa menyerang. Lalu, pasukan Mongol menyadari bahwa mereka lebih leluasa bergerak dibanding musuh yang kapal-kapalnya terikat satu sama lain dan itu pun dalam keadaan terjangkar. Mereka membuat blokade tempur antara kapal-kapal Song dan pantai, memutus pasokan air mereka, dan kemudian menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Mereka menunggu selama dua minggu, sesekali melakukan razia, namun perhatian lebih tertuju pada arus pasang dan cuaca. Sementara itu, pasukan Song mulai kehabisan pasokan air. Maka, di suatu pagi yang hujan pada 9 Maret, setengah armada Mongol bergerak mengikuti arus pasang menuju sisi pasukan Song yang semangatnya sudah melorot dan dalam keadaan lemah; enam jam kemudian, setengah armada lagi menyerang dari arah berlawanan dengan memanfaatkan pasang naik. Akibatnya begitu fatal bagi pasukan Song. Konon, menurut beberapa keterangan, saat itu air laut berubah merah oleh darah, dan sekitar 100.000 orang tewas. Para ilmuwan sepakat bahwa angka ini terlalu berlebihan. Namun berapa pun angka yang sebenarnya, tetap saja yang terjadi sangatlah mengerikan—barangkali 30.000 hingga 40.000 orang. Satu-satunya saksi mata yang mencatat rincian peristiwa ini adalah sang loyalis Wen Tianxiang, yang saat itu jadi sandera di salah satu kapal Mongol. Dia mencatat horor yang dia saksikan ini dalam bait-bait berikut: Langit pagi hari ini tiba-tiba menggelap; Angin dan hujan bagaikan setan; BAGIAN II: MUSIM PANAS 206 pustaka-indo.blogspot.com
Ketapel dan petir berkilatan; panah-panah turun bagai hujan… Mayat-mayat berserakan seperti helai-helai rami. Gelombang berbau amis menyobek-nyobek hatiku. Ketika pasukan Song melihat apa yang terjadi, sebagian besar mereka—ratusan, barangkali ribuan—melakukan bunuh diri dengan menceburkan diri ke air dalam keadaan terikat benda berat. Salah seorang di antara mereka yaitu Lu Xiufu, penasihat kaisar kecil. Tatkala meloncat ke air, dia menggendong pangeran enam tahun itu di punggungnya, generasi terakhir, generasi ketiga belas penguasa Song, masih dengan baju kebesarannya yang berwarna kuning dan stempel emas kerajaan yang melingkar di pergelangannya. Tamatlah riwayat penguasa terakhir Song. Bagi Wen Tianxiang, tak ada yang lebih baik dalam melukiskan kekalahan yang menyedihkan, atau yang lebih baik menyimbolkan apa yang dipandang sebagai hal tertinggi dalam kebudayaan Song, selain kesetiaan yang menuntut pengorbanan habis-habisan. Sepertinya nilai ideal ini memang abadi. Persembunyian di gunung diganti dengan liang lahat di lautan, Tanpa kekaisaran sama dengan tanpa keluarga. Bagi mereka yang punya semangat dengan akar ribuan tahun, Hidup ini tak berbatas. Wen Tianxiang punya arti penting lain selain jadi saksi mata akhir Dinasti Song. Dialah contoh para loyalis yang tetap menolak mengakui rezim baru. Dari ringkasan peristiwa-peristiwa tadi, Anda mungkin mengira Kubilai bisa tenang setelah memperoleh kemenangan. Tidak juga. Selalu ada perlawanan dari Song di segala lapisan masyarakat, disalurkan dengan berbagai cara: dengan mengucilkan diri dari masyarakat, dengan perang gerilya, dengan pembunuhan diam-diam, dan—yang lebih mencengangkan—dengan bunuh diri. Kita hanya perlu melihat bagaimana cita-cita ideal bagi Wen tadi— atau katakanlah kekerashatian, bergantung pada sudut pandang Anda— diterjemahkan dalam praktik. Sebagai orang kaya, termasuk golongan JUGGERNAUT 207 pustaka-indo.blogspot.com
cendekiawan, penyair yang disegani dan tampan, dia adalah sosok senior di istana, bahkan terlibat dalam perundingan dengan Bayan. Namun, dia sama sekali tak luwes sebagai politisi—keras, tidak toleran, arogan, dan sulit diajak kerjasama. Bahkan sebelum pertempuran terakhir, ketika keluarganya melarikan diri dari kejaran pasukan Mongol ke selatan, kesetiaannya yang begitu kokoh menyebabkan kematian ibu dan tiga anaknya. Istrinya, dua selir, dan tiga anaknya yang lain tertangkap. Istrinya menjadi tawanan selama 30 tahun. Seorang anaknya meninggal; dua yang lain tetap menjadi pelarian sampai dewasa— “Burung layang-layang muda tanpa sarang, menggigil diterpa angin musim dingin,” kata-kata indah puisi duka ayah mereka. Setelah perang, Wen menghabiskan waktu empat tahun di tahanan. Kubilai menawari kebebasan jika dia mau bergabung ke pihak Mongol. Dia menolak, terlepas dari akibatnya yang mengerikan bagi keluarganya— putri-putrinya meninggal, dan dia tak mampu mengumpulkan tulangbelulang mereka; ibunya meninggal, dan dia tak mampu memakamkan secara layak, sebuah pelanggaran atas kesalehan yang diajarkan Konfu - sianisme. Namun, dia tak ingkar—“Orang yang setia tak akan mengabdi kepada dua orang tuan,” katanya—sebuah sikap yang berujung pada bunuh diri. Dia memilih kematian demi membenarkan keyakinannya, seperti para martir lain di sepanjang sejarah. Pada Januari 1283, dia di bawa dengan kereta ke pasar kayu bakar kota Beijing, dan kemudian dihukum mati di depan kerumunan orang. Wen jadi lambang abdi yang setia, martir Song dan contoh bagaimana seharusnya sikap seorang loyalis: tidak memedulikan ikatan keluarga, kesetiaan kepada seorang tuan adalah di atas segalanya. “Ketika hidup telah ditukar dengan suatu sikap,” tulisnya, “dia tak akan berjalan sia-sia.” Bagi orang beriman, sikap ini begitu luar biasa dan mulia. Masih banyak yang lain—mungkin ribuan—yang memilih mati ketimbang tunduk, sebagian besar dengan cara bunuh diri. Ini merupakan salah satu hal paling luar biasa di awal masa pemerintahan Kubilai. Bunuh diri menjadi reaksi yang biasa diterima ketika dia berusaha menundukkan para pemimpin militer yang punya kehormatan. Namun BAGIAN II: MUSIM PANAS 208 pustaka-indo.blogspot.com
ketika dilakukan penduduk sipil maupun milisi bersenjata, dia belum pernah menyaksikan seperti yang terjadi setelah kemenangan Mongol atas Song. Tak ada yang dapat menunjukkan betapa kuat dan dalam kebudayaan Song selain tindakan ini. Selama 300 tahun, rakyat dari segala lapisan masyarakat hidup dalam kedamaian dan kemakmuran, diperintah para pejabat yang, terlepas dari kegagalan dan kesalahan mereka, bekerja dalam kerangka pengabdian terhadap gagasan pelayanan dan perilaku yang beradab. Tiga ratus tahun! Untuk stabilitas, kesatuan budaya, kemakmuran, serta kecanggihan intelektual seperti ini, orang Barat harus melihat lagi sejarah Kekaisaran Romawi. Dampaknya bagi pemikiran rakyat biasa menyebabkan melemahnya pemerintahan Song, yang disimbolkan oleh kemewahan-kemewahan hasil korupsi yang ada di Hangzhou. Semua ini hanyalah tanda tambahan bagi kehancuran yang tak terelakkan, sedangkan tanda utamanya adalah perang, yang berlangsung selama 45 tahun dan menewaskan jutaan orang dan mengusir jutaan lainnya di utara, dan sekarang merangsek pula ke daerah selatan. Anehnya, meski perang di mana-mana memang buruk dan jadi bencana, di daerah utara tak ada kebiasaan bunuh diri, barangkali karena penderitaan akibat tangan orang barbar sudah jadi makanan sehari-hari penduduk Jin, atau barangkali karena mereka selalu dapat melarikan diri ke selatan. Namun di wilayah selatan, di Song, sebagian penduduknya yang miskin dan malang memperoleh makna hidup dari kebudayaan mereka. Ketika tak ada lagi tempat lari, maka tak ada pilihan lain bagi penduduk berjumlah ribuan ini untuk menegaskan kemerdekaan kehendak mereka selain terjun ke medan perang sampai mati: mereka lebih memilih apa yang mereka anggap sebagai kematian terhormat daripada menjalani hidup yang tak punya makna dan kehormatan. Maka, satu-satunya keluarga kerajaan yang tersisa adalah cucu Permaisuri, Zhao Xian, yang baru berusia lima tahun saat secara resmi menyerahkan kerajaannya kepada Kubilai. Ketika dewasa, dia mulai mendendam pada Kubilai. Sumber-sumber yang ada biasanya hanya menjelaskan bahwa dia akhirnya dikirim ke Tibet untuk menjadi biksu, dan dia meninggal pada 1323. Namun saya mendengar penjelasan lebih menarik tentang kisah JUGGERNAUT 209 pustaka-indo.blogspot.com
hidupnya di Kuil Buddha Besar di Zhangye, Provinsi Gansu, salah satu gerbang tradisional menuju Tibet. Direktur Wu mengisahkan kepada saya: Suatu hari, Kubilai Khan bermimpi. Dalam mimpinya, seekor naga terbang dari sebuah titik di istananya. Hari berikutnya, Zhao Xian datang menghadap. Sayangnya, Kubilai melihat bahwa sanderanya ini berdiri persis di tempat naga dalam mimpinya beranjak terbang. Kejadian ini menyadarkan Kubilai bahwa Zhao adalah ancaman bagi negaranya, dan suatu hari pasti akan berusaha menumbangkan Dinasti Yuan. Inilah alasan mengapa dia kemudian mengirim Zhao untuk men - jadi biksu di sini, di Kuil Buddha Besar ini, tempat ibu Kubilai dimakam - kan. Dia tinggal di sini selama bertahun-tahun, sampai akhirnya, di usia ke 53 tahun, dia bunuh diri. Jika ini benar, ini jadi catatan kaki yang aneh bagi akhir riwayat Song: kaisar terakhirnya terbuang di sebuah pertapaan yang sangat jauh, terlupakan oleh dunia luar selama bertahun-tahun, hidup lebih lama dari orang yang menggantikannya, sampai dia, seperti sebagian besar rakyatnya, melarikan diri dari kemalangan dengan memilih kematian. BAGIAN II: MUSIM PANAS 210 pustaka-indo.blogspot.com
Bagian III MUSIM GUGUR pustaka-indo.blogspot.com
BAGIAN III: MUSIM GUGUR pustaka-indo.blogspot.com
TERBAKAR MATAHARI TERBIT 10 TERBAKAR MATAHARI TERBIT DI AMBANG MERAIH KEKUASAAN—DALAM KENYATAAN MAUPUN DI ATAS kertas—di sebagian besar wilayah Eurasia, setelah menyaksikan para laksamananya membuat dan melayarkan kapal-kapal perang mengarungi sungai Yangtze, dan setelah membuat persiapan menumpas sisa-sisa perlawanan penduduk Song di sepanjang 1.500 km garis pantai, Kubilai pun segera mengalihkan pandangan ke seberang lautan, ke Jepang. Jepang tak pernah menjalin hubungan resmi dengan China selama 400 tahun, sejak China menghukum umat Buddha di pertengahan abad ke-9. Kedua pihak tak pernah terlibat permusuhan, tak ada alasan untuk berperang. Sementara di lain sisi, keduanya telah menjalin kontak perdagangan swasta sejak lama. Di Jepang, pakaian model China menjadi tren di kalangan kelas berkuasa. Emas, perabot-perabot berpernis, pedang dan kayu mengalir dari Jepang, ditukar dengan sutra, keramik, parfum dan uang tembaga. Sebagai tanggapan terhadap makin meningkatnya minat pada Buddhisme Zen di Jepang, para biksu yang masuk ke sana membawa serta teh, sehingga akhirnya jadi bagian tak terpisahkan dari studi-studi Zen oleh biksu terkenal, Eisai, sekitar tahun 1200. Tak satu pun dari kegiatan ini melibatkan kebijakan resmi pemerintah. Namun, kebijakan resmi antar-negara pernah juga terjadi dengan pemerintah Song, dan saat itu Song sedang jadi sasaran Kubilai. Bagi ahli strategi Mongol di Xanadu, tidaklah sulit membayangkan 213 pustaka-indo.blogspot.com
bahwa pihak Jepang pasti memberi bantuan kepada Song. Karena itu, Jepang lebih baik dikuasai lebih dahulu. Seperti para imperialis lain di zaman apa pun, Kubilai melihat ada alasan kuat untuk penaklukan: dan hal itu memang sangat mungkin dilakukan. Seorang biksu dari Korea yang jadi penerjemah di istana Kubilai memberitahu dia bahwa Jepang kelak akan tunduk: mereka diperintah seorang kaisar boneka, sementara panglima perang dan para samurai yang saling bersaing hanya peduli dengan nilai-nilai kepahlawanan mereka sendiri ketimbang soal pertahanan yang sangat lemah di daerah pantai; mereka juga tak punya pasukan besar maupun panglima perang berpengalaman yang mampu menyaingi kubu Mongol. Kubilai tak hanya punya tentara dan panglima terlatih dengan pengalaman tiada banding—dia juga punya armada laut baru; dan dia punya pangkalan berupa Korea, yang pantai selatannya hanya berjarak 200 km dari Jepang. Orang Mongol mengenal Korea sejak invasi pertama mereka pada 1231. Kala itu Korea sangat kuat di bawah pimpinan kelompok tentara yang mengambil alih kekuasaan dari raja 60 tahun sebelumnya untuk memerangi orang barbar dari Manchuria. Sementara raja hanya menjadi simbol selama 30 tahun, para panglima berperang melawan Mongol, sebagian besar bertumpu pada keunggulan angkatan laut—yang memungkinkan mereka sembunyi di lepas pantai dan mendapat pasokan bahan makanan dari laut—sehingga bisa mengolok-olok pasukan kavaleri Mongol. Akibatnya, orang Mongol melakukan pembakaran, membantai, dan menjarah di daerah yang sangat luas. Pada invasi mereka di tahun 1254, mereka memperoleh 200.000 tawanan dan meluluhlantakkan sebagian besar negeri. Di tahun 1258, raja dan para pejabat istana merebut kembali kekuasaan, membunuh para pemimpin militer dan mengajukan gencatan senjata. Pangeran mahkota sendiri yang melawat ke China untuk menyerah—langsung kepada Kubilai, karena saat itu Mönkhe sedang melakukan operasi militer jauh ke wilayah barat. Semuanya berjalan lancar: raja Korea maupun Mönkhe mangkat tak lama setelah itu, dan Kubilai ditinggali tanah taklukan baru, bekas pangeran mahkota yang kemudian menjadi raja, Wonjong. Pada 1271, pasukan gabungan Korea dan Mongol memulangkan BAGIAN III: MUSIM GUGUR 214 pustaka-indo.blogspot.com
Wonjong ke ibukota lama, Kaesong, dan menumpas sisa-sisa perlawanan dari kalangan militer. Itu berarti Kubilai memiliki musuh abadi di tengah rakyat Korea dan seorang pemimpin bawahan setengah hati di dalam diri Wonjong. Dia memberikan putrinya untuk dinikahkan dengan putra Wonjong, sehingga kelak cucunya mewarisi takhta. Kedua pihak saling bertukar hadiah. Kubilai mengirim sabuk permata dan obat-obatan, dan Wonjong membalasnya dengan upeti tahunan: elangelang pemburu dan kulit ikan untuk dijadikan sepatu lembut buat kaki Kubilai yang mengidap encok. Korea menjadi koloni orang MongolChina, para pegawai pemerintahannya diawasi pasukan Mongol-China yang dilayani oleh satu korps penerjemah berbahasa Mongol. Kubilai tak disukai; tapi dia adalah kekuasaan di balik takhta. Dia memerlukan kapal; dan kapal-kapal pun bermunculan dari berbagai galangan kapal Korea, mulanya untuk kelengkapan penaklukan Song, lalu dipakai untuk mengangkut tentara Mongol-China ke Jepang. Di awal 1270-an, Kubilai mulai merancang pembenaran untuk perang yang akan dia lakukan. Pada 1266, saat pemberontakan Ariq baru selesai ditumpas dan operasi militer terhadap Song sedang dalam perencanaan, dia mengirim duta utamanya ke Jepang dengan tuntutan agar raja “negeri kecil” ini segera tunduk. Pesan itu berjalan lancar mulai dari pintu masuk di Jepang selatan, Hakata (kini Fukuoka) di daerah Kyushu, 800 km ke arah timur laut menuju Kamakura, markas (bakufu) penguasa militer Jepang, shogun, dan setengah dari jarak ini menuju penguasa boneka shogun, kaisar Jepang di Kyoto. Peristiwa ini terbukti sangat menggemparkan, kekerasan—di “negeri kecil” ini— bercampur dengan teror. Kaisar mengusulkan untuk menulis surat yang menawarkan negosiasi, namun langsung dibantah shogun yang menyuruh utusan tadi kembali pulang tanpa jawaban apa pun setelah menunggu selama enam bulan. Sebenarnya ini hanyalah soal menunggu waktu, dengan jari-jari bersilangan harap-harap cemas. Istana meng - habiskan waktu berdoa, sebuah cara sia-sia dilihat dari sudut praktis. Kebungkaman ini nampaknya menuai hasil, karena tak ada kabar yang terdengar dari Kubilai untuk beberapa tahun selanjutnya. Pasukan Kubilai sedang sibuk mengepung kota Xiangyang yang jadi kunci penaklukan Song. Baru pada September 1271 datanglah utusan lain TERBAKAR MATAHARI TERBIT 215 pustaka-indo.blogspot.com
dari Korea, yang secara resmi membawa pesan menyerah dan tunduk, sedangkan secara tak resmi memperingatkan orang Jepang untuk bersiap-siap menerima serangan. Sekali lagi, tak ada jawaban resmi, tapi kali ini para pengikut diperintahkan kembali ke wilayah masingmasing, jagabaya dan petugas keamanan diperintahkan memperkuat 30 kastil pantai yang keadaannya sudah menyedihkan. Di istana, doa semakin menjadi-jadi. Maka, ketika pada 1272 duta besar Mongol berlabuh, menuntut agar suratnya disampaikan langsung kepada kaisar, semangat tempur orang Jepang mulai hidup lagi. Sang Shogun, garis keturunan terakhir keluarga Hojo yang berkuasa, adalah pemuda penuh semangat berumur 22 tahun bernama Tokimune; dia memulangkan duta besar itu dalam kemasan peti mati—pelecehan sangat kasar terhadap Kubilai, dan sekaligus jadi undangan untuk invasi. Kubilai segera siap. Pada 1273, Xiangyang berhasil dilumpuhkan, dan membuka kembali aksi-aksi di tempat lain yang selama ini tertunda; Korea setidaknya sudah tenang; dan jumlah kapal di Korea dan Song lebih dari cukup untuk melakukan penyerangan. Pada akhir Oktober atau November 1274 (sekali lagi, tak ada waktu yang pasti), sekitar 300 kapal perang dan 400-500 perahu—dengan kru sekitar 15.000 dan kekuatan tempur nyaris mencapai 40.000 (lagi-lagi, tak ada angka pasti)—meninggalkan Masan menuju pantai di selatan Korea untuk kemudian menyeberangi laut sekitar 50 km menuju pulau Tsushima, di zaman sejarah dan pra-sejarah merupakan pijakan pertama dari tanah daratan menuju Jepang. Di daerah pantai, penduduk lokal melakukan perlawanan luar biasa tapi sia-sia yang kemudian menjadi legenda: penuh kisah kepahlawanan orang Jepang dan kekejaman orang Mongol, prajurit-prajurit yang memilih duel satu lawan satu dengan bermartabat, panah-panah beracun orang Mongol yang meluncur bagai hujan di musim semi, lautan yang jadi merah tua karena darah, bunuh diri secara terhormat sang gubernur. Konon, saat itu sekitar 6.000 orang tewas dan orang Mongol membawa 1.000 kepala ke kapal-kapal mereka untuk dibawa ke pijakan selanjutnya, daerah Iki, sekitar 50 km ke depan. Mendengar berita pergerakan pasukan Mongol, gubernur Iki BAGIAN III: MUSIM GUGUR 216 pustaka-indo.blogspot.com
mengirim pesan ke pedalaman untuk meminta bantuan, sebelum penyerangan habis-habisan, pertahanan gagah berani namun sia-sia, tindakan yang tetap menyala dalam kenangan rakyat—putri gubernur yang awalnya diselamatkan lewat laut menemui ajal di tengah laut setelah dihujani panah oleh pasukan Mongol; gubernur dan keluarganya tewas bunuh diri dengan membakar istana mereka; telapak tangan para tawanan dipakukan ke lambung kapal orang Mongol. Bagi para penyerang, pantai Kyushu adalah masalah. Pantai ini berpasir indah, namun daerah dalamnya penuh bukit-bukit curam yang tak memungkinkan laju pasukan lebih cepat. Hanya ada satu pelabuhan bagus, teluk Hakata, yang terlindung oleh pulau-pulau yang jadi pemecah ombak alami dan dua tanjung yang memanjang ke barat seakan mengucapkan selamat datang kepada kapal-kapal dari seluruh daratan Asia sebelum memasuki perairannya yang dangkal, pantainya yang berpasir lembut, serta daerah pedalaman nan landai. Pasukan Jepang bergerak dari pusat pemerintahan lokal bernama Dazaifu, di perbukitan sejauh 10 km ke tenggara Fukuoka hari ini, dan membangun kubu pertahanan di dekat pantai. Pasukan Mongol sementara berlabuh di ujung barat Hakata, mungkin tengah mempertimbangkan untuk melaju menentang arus sungai, tapi kemudian berubah pikiran dan langsung mendaratkan pasukannya tepat di tengah teluk itu. Di sana, mereka dengan mudah menghancurkan pertahanan orang Jepang yang tak tertata dengan baik dan sedikit itu. Seperti dikisahkan oleh seorang Jepang, cucu jenderal Jepang melepaskan panah bersuara sebagai isyarat untuk memulai serangan, “namun pasukan Mongol malah tertawa. Mereka lalu membalasnya dengan tabuhan genderang dan gong perang, sehingga kuda-kuda pasukan Jepang kocar-kacir karena panik. Mereka berlarian tak terkendali, tak ada yang bersedia menghadapi pasukan Mongol.” Dengan segera pasukan Mongol maju satu kilometer memasuki daratan untuk merebut bukit kecil yang sangat strategis karena memiliki sisi-sisi yang curam sehingga memberi pemandangan bagus. Bukit itu, Bukit Sohara, kini menjadi taman, dengan jalan-jalan setapak menuju TERBAKAR MATAHARI TERBIT 217 pustaka-indo.blogspot.com
puncaknya yang kekuning-kuningan, dan pemandangan dari puncak terhalang oleh gedung-gedung yang ada. Namun, pada suatu sore di musim panas itu, pasukan pengintai Mongol pastilah dapat melihat kapal-kapal mereka yang sedang terjangkar di tengah teluk, daerah Dazaifu di kejauhan sebelah tenggara, dan 5 km ke timur terdapat markas pasukan Jepang, yang dapat dituju dengan berkuda sekitar dua jam. Di antara pasukan Jepang yang bertahan hari itu, terdapat seorang ksatria muda bernama Takezaki Suenaga, dari Provinsi Higo, seorang gokenin (bawahan langsung shogun) yang kemudian memperoleh kekayaan cukup besar untuk memesan serangkaian lukisan, yang ditempelkan ke dalam dua gulungan, yang menggambarkan invasi tahun ini dan tahun 1281. Kedua gulungan itu barangkali dibuat setelah tahun 1293, saat Suenaga menjadi tuan tanah dan penjaga beberapa kuil dan tempat suci lainnya. Dia harus berjuang agar tindakannya yang berani diakui penguasa setelah invasi. Sehingga nampaknya, dia ingin mencatat perannya sendiri dalam pertempuran itu dan pada saat bersamaan menghormati orang yang telah memberinya kedudukan yang jadi tumpuan kekayaan dan pengaruhnya di kemudian hari. Gulungan Invasi ini telah berpindah dari tangan ke tangan, tetap bertahan karena nasib baik maupun karena perawatan—pernah tercebur ke laut hingga bahan perekat yang menyatukan panel-panel menjadi lepas, dan akibatnya urut-urutan panel itu tak bisa dipastikan lagi. Di akhir abad ke-18, panel-panel itu direkatkan kembali, diperbaiki dan disalin, dengan tambahan-tambahan yang dipertimbangkan sebelumnya. Kedua gulungan ini jadi terkenal sebagai gambaran hidup dan unik dari invasi—dan sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa keduanya sangat otentik. Keduanya dilengkapi dengan 69 dokumen—surat, doa, amanat, laporan—yang baru-baru ini diterjemahkan dan dianalisis oleh Thomas Conlan dari Bowdoin College, Burnswich, Maine, dalam buku luar biasa yang dicetak dari belakang ke depan, sehingga teksnya dibaca mundur dan ilustrasinya diurutkan dari kanan ke kiri, persis seperti yang ada dalam gulungan itu. Membacanya bagai membaca bahan yang lahir dari perkawinan komik dan novel. Bagian gulungan yang menggambarkan invasi tahun 1274 mem - BAGIAN III: MUSIM GUGUR 218 pustaka-indo.blogspot.com
per lihatkan Suenaga muda (berusia 29 tahun), dengan kumis dan janggut rapi, melangkah maju di tengah pepohonan cemara diiringi lima pengikut. Mereka membawa busur panjang (dibanding standar orang Mongol), yang mereka gunakan dengan begitu cekatan, melepaskannya di atas kuda, tempat anak panah di punggung, ujung kepala sampai kaki mereka terlindungi baju perang terbuat dari lempengan logam yang berlipat-lipat seperti susunan dedaunan. Suenaga adalah sosok keras kepala. Berhadapan dengan sepasukan tentara Mongol, barangkali yang turun dari Bukit Sohara, dia tak sabar untuk tidak segera bertempur. Teks yang menjelaskan gambar ini mengisahkan: Aku meneriakkan perintah maju. Tatkala aku sudah siap, pembantuku Togenda Sukemutsu berkata: “Pasukan tambahan baru segera datang. Tunggulah bantuan, pastikan ada saksi, baru serang!” Lalu kujawab: “Jalan busur dan panah adalah melakukan apa yang harus dilakukan. Serang!”… Prajurit pembawa bendera adalah yang pertama maju. Kudanya terkena panah dan dia terlempar. Aku, Suenaga, dan tiga bawahanku terluka. Setelah kudaku tertembak dan aku terjatuh, Michiyasu, seorang gokenin dari Provinsi Hizen, menyerang pasukan berkuda yang tangguh dan orang Mongol pun mundur… Aku pasti tewas jika tak ada dia. Ajaibnya, Michiyasu selamat dalam pertempuran itu, sehingga kami pun saling jadi saksi. Salah satu gambar dalam gulungan itu menunjukkan Suenaga terjatuh dari kudanya yang terluka, menyemburkan darah, sementara sebuah bom Mongol meledak di dekatnya. Bom ini jadi bahan perdebatan. Meski Conlan menganggap ini gambar tambahan yang berasal dari abad ke-18 untuk menambah drama kisah yang dilukiskan, namun ilmuwan lain percaya bahwa gambar itu asli. Salah satu dari kedua pendapat ini—atau keduanya—pastilah benar. Seperti kita ketahui, orang Mongol sudah sejak lama mengenal bahan peledak, sejak mereka menguasai Beijing pada 1215. Bom yang digambarkan meledak di dekat Suenaga adalah “bom petir”, sebuah keramik berisi TERBAKAR MATAHARI TERBIT 219 pustaka-indo.blogspot.com
bahan peledak. Bom ini pertama kali tercatat pada 1221, ketika orang Jin China utara, kala itu baru sebagian berhasil dikuasai Jenghis, tengah mengepung kota Qizhou di tepi sungai Yangtze. Jadi, barangkali inilah kali pertama orang Jepang berkenalan dengan senjata berbahan peledak. Bagaimana bom itu dilontarkan? Bukan dengan trebuchet berbeban pengimbang, yang memerlukan pemberat berton-ton dan lengan pelontar sebesar tiang kapal—dan Anda tak akan bisa mengangkutnya dengan kapal. Lagi pula, pasukan Mongol tak berniat menghancurkan tembok pelindung kastil. Bom petir tadi adalah senjata anti-personel, berbobot kira-kira 3-4 kg. Bom ini dapat dilontarkan dengan trebuchet tarik, dan sudah dipraktikkan selama dua abad sebelumnya. Kita tahu pasukan Mongol memang membawa bom-bom petir ini, terbukti dari sisa-sisa bom ini yang ditemukan di bangkai kapal Korea-Mongol (rincian hal ini akan saya sampaikan nanti). Jadi, apakah adegan ini ditambahkan kemudian ke dalam gulungan tadi atau tidak, dia tetap menceritakan sebuah kebenaran. Dengan trebuchet tarik, setengah lusin pasukan di haluan kapal dapat dengan mudah melemparkan bom petir sejauh 100 m dalam penyerangan yang akan membersihkan daerah pantai dari hadangan musuh. Sejauh ini, orang Jepang sangatlah berani. Dari kejadian kecil ini, jelaslah bahwa Suenaga, seperti samurai yang baik lainnya, terobsesi dengan kemenangan pribadi dan tak peduli dengan kurangnya komando yang terpusat. Dalam kondisi seperti ini, taktik seperti itu kadangkadang memang berhasil, terutama pasukan pemanah yang ulung. Seorang prajurit kala itu, Yamada, menjadi terkenal karena menyusun tim yang terdiri dari pemanah tangguh dan lantas menyerang beberapa pasukan Mongol yang terkucil dari kesatuannya, membunuh tiga orang di antaranya, sehingga membangkitkan tawa dan kegembiraan pihak Jepang. Satu tembakan lain mengenai wajah komandan pasukan Mongol dan mereka berhasil merebut kudanya. Namun, keberanian individual saja tak cukup. Sisa pasukan Mongol berkuda hilir-mudik antara bibir pantai dan Bukit Sohara untuk membakar kota Hakata. Saat malam turun, pasukan Jepang bergerak menjauhi pantai, BAGIAN III: MUSIM GUGUR 220 pustaka-indo.blogspot.com
berlindung ke kota Dazaifu. Terlindung oleh bukit, kota ini memiliki benteng perlindungan dari tanah dan parit yang tetap bisa dilihat sampai sekarang. Namun, pasukan Mongol belum pernah melakukan pendaratan amfibi sebelumnya. Mereka memerlukan pasokan makanan dan kebutuhan lain, terutama anak panah tambahan. Mereka tak membawa ketapel besar. Pengepungan harus ditunda. Dan lagi pula, badai mengamuk di malam itu. Malam itu jadi sangat berat bagi pihak Mongol dan Korea jika kapal-kapal mereka terjebak di tengah laut dan pasukan terperangkap di pantai tanpa dilengkapi alat untuk mundur. Pimpinan pasukan memerintahkan mereka kembali ke kapal untuk beristirahat dengan cara berenang di tengah cuaca buruk dan ombak besar. Esok hari pasti akan memberi kesempatan bagi pendaratan lain, serangan lain, dan kemenangan lain. Sayangnya, yang terjadi tak semudah itu. Manakala cuaca makin buruk, satu armada kecil terdiri dari 300 pasukan Jepang bergerak meninggalkan pantai menuju kapal-kapal Mongol. Sebagian kapal dalam armada itu berisi selusin prajurit dengan panah dan pedang, sementara sebagian lagi berisi jerami dan rerumputan kering untuk membakar kapal musuh. Kapal-kapal kecil ini lalu menerobos barisan kapal-kapal musuh, bergerak cepat demi menghindari bom-bom yang dilontarkan dengan trebuchet atau lengan pelontar dari busur-silang, dan akhirnya bisa mendekati bagian bawah lambung kapal-kapal Mongol. Banyak kapal Kubilai mulai terbakar ketika angin mulai bertiup dan para pendayung Jepang bergerak menuju teluk dan pantai yang mereka kenali dengan baik, sedangkan armada Mongol sibuk berjuang menghadapi badai dan api. Fajar mulai menyingsing, menakutkan bagi pihak Mongol dan me - nyenangkan bagi Jepang: kapal-kapal tercerai-berai oleh angin, pelanpelan terbakar, prajurit yang terluka dibiarkan terapung-apung sementara yang selamat berusaha mencari perlindungan ke Korea. Orang Korea mencatat, sekitar 13.000 prajurit tenggelam dalam peristiwa ini. Kubilai tak terlalu menggubris kekalahan ini. Itu terjadi karena masalah cuaca, tak ada hubungannya dengan élan (semangat) orang Jepang. TERBAKAR MATAHARI TERBIT 221 pustaka-indo.blogspot.com
Lain kali–dan kesempatan itu memang ada–superioritas alamiah orang Mongol pasti akan berbicara. Lalu mengapa orang Jepang tak juga bisa melihat hal yang sudah jelas? Kubilai pun kembali mengirim pesan, menuntut ketundukan. Shogun Hojo, Tokimune, maupun kaisar di Kyoto tahu apa yang harus dilakukan. Dalam catatan hariannya, seorang kerabat istana Jepang mencatat bahwa cuaca buruk, meski tak ada yang lebih buruk dari “angin yang berbalik”, hanya mungkin terjadi karena pertolongan dewa-dewa. Alangkah indahnya! Kita tak boleh berhenti bersyukur kepada dewa. Perlindungan ini hanya bisa terjadi karena banyaknya doa dan persembahan sesaji ke berbagai kuil… di seluruh penjuru negeri.” Kaisar pun berdoa, dan memerintahkan orang lain melakukan hal serupa, hingga memicu bangkitnya Shintoisme dan Buddhisme di Jepang. Tetapi, dewa hanya menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Tokimune memerintahkan provinsi-provinsi di daerah pantai Kyushu untuk membangun tembok, dan barangsiapa menghindar dari tugas militer ini berarti melakukan tindak kejahatan. Apakah gagasan ini berasal dari Tokimune sendiri ataukah dari penasihatnya? Yang jelas, ini gagasan cerdas dan orisinal, bagi orang Jepang yang belum pernah membangun banyak instalasi militer, dan karena itu tak banyak pula yang dapat mendorong kerjasama di antara suku-suku Jepang yang terpecah-pecah dan para gubernur provinsi yang saling bersaing. Semangat perlawanan mulai bangkit. Ketika rombongan utusan Kubilai datang lagi pada bulan Mei 1275, mereka dibawa ke Kamakura dan empat bulan kemudian dihukum mati (Anda dapat melihat makam pimpinan rombongan yang malang ini, Du Shizong, di sebuah kuil di Fujisawa, dekat Kamakura). Muka Kubilai telah ditampar Shogun. Pejabat istana dan sipil dirampingkan, sehingga kekayaan nasional dapat dialokasikan untuk pertahanan. Bahkan ada usulan untuk menyerang lebih dahulu: kapal-kapal baru dibangun dan krunya dilatih. Namun akhirnya, para petinggi militer memilih bertahan, fokus pada pembangunan perahu-perahu kecil dengan manuver yang lebih leluasa sehingga dapat dengan mudah mengepung kapal-kapal Korea yang BAGIAN III: MUSIM GUGUR 222 pustaka-indo.blogspot.com