Di akhir 1286, meski baru kalah di Vietnam, Kubilai kembali mencoba. Kali ini dia berhasil, tapi sukses itu semata karena persoalan dalam negeri Burma. Raja Narathihipate baru saja dibunuh putranya, Thihathu, yang menodongkan pisau ke leher bapaknya dan memaksanya menenggak racun. Kerajaan ini menuju ambang kehancuran. Komandan pasukan Kubilai kala itu, Esen Temür, cucu Kubilai yang pernah berpengalaman di Vietnam, memimpin 7.000 pasukan bergerak ke lembah Irrawady. Ketika pasukan Mongol mencapai Pagan, mereka merampok emas dan perak di biara-biara; lalu, tak mampu bertahan menghadapi cuaca, mereka pun pulang, meninggalkan Burma ke tangan panglima perang Thai yang lebih haus darah dan anarkis. Tetapi, itu semua tak cukup untuk membayar harga perang atau me - muaskan ego anggota keluarga kerajaan. * * * Raja Kertanagara dari Jawa berhasil menjadi pemimpin besar karena membawa kerajaannya menjadi salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Jawa, terutama Jawa bagian timur, terkenal karena sejarah kerajaan-kerajaan kecilnya. Tiga abad sebelumnya, salah satu kerajaan itu, Mataram, sangat kaya dengan beras dan rempah-rempah. Padi tumbuh dengan baik di atas lahan yang sangat subur karena endapan material gunung berapi, dan kapal-kapalnya memonopoli cengkeh, pala dan bunga pala di Pulau Rempah-rempah. Mataram mampu melampaui kerajaan saingan, Sriwijaya, di Sumatera, hingga pada 928 Gunung Merapi, sumber kesuburan tanah pulau Jawa, meletus dan memuntahkan debu serta lumpur panas ke lembah-lembah sungai, mengubur kota-kota dan candi-candi sedalam beberapa meter. Mataram tak pernah mampu bangkit kembali. Namun, salah seorang pangerannya yang selamat mampu mendirikan kerajaan penerus. Naik takhta di usia 20 tahun, setelah empat tahun menghabiskan masa pengungsian di sebuah biara, Airlangga membangun kembali kerajaannya dengan cepat: mendirikan ibukota baru di dekat kota Surabaya saat ini, membendung sungai, memperluas jaringan irigasi. Saat dia meninggal BATAS PERTUMBUHAN 315 pustaka-indo.blogspot.com
pada 1049, kerajaannya pecah menjadi dua kubu yang saling bermusuhan. Salah satunya keluar sebagai pemenang: Singasari, didirikan oleh seorang yatim-piatu, perampok, dan pahlawan legendaris bernama Ken Arok pada 1222 kala dia berhasil mengalahkan kerajaan kerajaan saingannya, Kediri. Kerajaan Singasari inilah yang diwarisi Kertanagara— warisan yang sulit dipertahankan karena keberadaannya bergantung pada kendali atas perdagangan rempah-rempah dan pengawasan pada bekas kerajaan Kediri yang masih mengandung bibit-bibit pemberontakan. Berambisi memperluas kerajaannya—sebagian kalangan menganggap dialah pencetus semangat kebangsaan Indonesia masa kini—Kertanagara bersekutu dengan Champa dengan mengawini seorang putri Champa. Pada 1284, dia mencoba menaklukkan Bali namun gagal, juga beberapa bagian di Sumatera. Itu sebabnya, Kertanagara tak senang manakala utusan Kubilai bernama Meng Chi tiba di Jawa pada 1289, membawa pesan kasar menuntut ketundukan pada Kubilai. Atas ketidaksopanan ini, Kertanagara menghukum Kubilai dengan menato wajah si utusan, sehingga saat si utusan kembali ke istana Kubilai, penghinaan ini terasa sangat jelas. Dan, penghinaan ini harus dibalas. Kubilai memerintahkan agar armada perangnya bersiap-siap berangkat ke selatan di bawah pimpinan Shi-pi, seorang veteran dalam penaklukan Song. Di bawah pimpinannya, pasukan darat dikomandani oleh Kao Xing, sedangkan pasukan laut dipimpin seorang Uighur bernama Ikh-Musu. Kubilai mengatakan kepada para komandannya bahwa operasi ini sangatlah ringan: “Jika kalian mampu menduduki negeri itu, maka negeri-negeri kecil lain akan tunduk dengan sendirinya; kalian hanya perlu mengirim utusan kepada mereka untuk menerima persekutuan mereka.” Selama tiga tahun, mereka mengumpulkan pasukan di Quanzhou (Zayton): 1.000 kapal, 20.000 prajurit, cadangan makanan untuk setahun, 1.000 kg perak untuk membeli perbekalan baru. Itu berarti, Kertanagara punya waktu yang lebih dari cukup untuk bersiap-siap menghadapi serangan; tapi dia keliru membaca strategi Shi-pi. Mengira sang komandan akan bergerak ke selatan menyusuri pantai, dia meminta tambahan pasukan dari Champa dan Malaya, serta mengirim pasukan ke sana guna menyergap armada Mongol. Ini BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 316 pustaka-indo.blogspot.com
merupakan kesalahan fatal. Shi-pi menempuh perjalanan 4.000 km menuju Jawa secara non-stop. Strategi ini memang berbahaya—“Angin sangat kencang dan laut tak bersahabat, sehingga kapal terombangambing dengan hebat dan prajurit tak bisa makan selama berharihari”—namun akhirnya berhasil. Shi-pi mendaratkan pasukannya pada 1293, dan tak mendapat perlawanan karena saat itu Kertanagara sibuk berperang melawan Kerajaan Kediri, dan terbunuh. Seluruh pasukannya bertempur di selatan. Shi-pi memang menemui kemudahan seperti yang Kubilai janjikan. Tetapi dia terjebak dalam pertarungan politik setempat. Menantu Kertanagara, Wijaya, yang juga berambisi dan jauh lebih saleh, mengirimi Shi-pi pesan yang menawarkan penyerahan diri jika Shi-pi bersedia membantunya menaklukkan Kediri. Tawaran ini diperkuat dengan hadiah dupa, wewangian, cula badak, dan gading. Shi-pi setuju. Wijaya mengirim rincian wilayah yang akan diserang—di tepi sungai Brantas, di kaki Gunung Wilis, 105 km barat daya Surabaya, daerah kaya padi dan memiliki pelabuhan di daerah pantai, semuanya dirinci dalam sebuah peta. Pasukan Mongol pun menuju ke sana. Seminggu kemudian, 5.000 prajurit Kediri tewas, pemimpin mereka dihukum mati, dan istana jatuh ke tangan Shi-pi. Kini saatnya melakukan upacara untuk merayakan kemenangan, dan tentu saja penerimaan secara resmi penyerahan Wijaya. Wijaya meminta 200 pria tak bersenjata di bawah pimpinan dua pejabat sebagai pengiringnya kembali ke ibukota, Majapahit, untuk mengambil hadiah. Di perjalanan, orang-orang Wijaya membunuh 200 pria tak bersenjata ini, dan mereka berbalik menyerang pasukan Mongol. Shipi melarikan diri, memimpin pasukannya bertempur mundur ke daerah pantai, kembali ke kapal mereka dan kemudian berlayar pulang. Atas kegagalan ini dan kehilangan 3.000 prajurit, Kubilai mengganjar Shi-pi dengan tujuh belas cambukan dan menyita sepertiga hartanya. Dua tahun kemudian, penerus Kubilai memulihkan nama baik Shipi. Bagaimanapun, begitu kata seorang penasihat, dia telah berlayar sejauh 12.000 km, tiba di negeri-negeri yang belum pernah dicapai dan memberi kesan mengerikan kepada penduduk setempat. Dengan BATAS PERTUMBUHAN 317 pustaka-indo.blogspot.com
begitu, berakhirlah bencana lain, dengan cara kehormatan dibayar dengan penipuan-diri sendiri. Bagi Kubilai, petualangan ini adalah contoh terbaik dari Hukum Akibat Tak Terduga. Semula ingin menghukum seorang raja, Kubilai malah membantu penerus takhta yang sah untuk mengamankan singgasananya serta membangun sebuah dinasti dan negara-bangsa. Selama 50 tahun berikutnya, ciptaan Wijaya, Kerajaan Majapahit, tumbuh menjadi kekaisaran yang sangat kaya dan berkuasa, mencakup hampir sebagian besar wilayah Indonesia sekarang—bertentangan sekali dengan tujuan Kubilai semula. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 318 pustaka-indo.blogspot.com
16 BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT HARUS DIAKUI, SEBAGIAN BESAR MASA KEKUASAAN KUBILAI MEMBUAT pengaruh China pada Barat tak terelakkan. Sayangnya, dia sangat ter - kenal justru setelah meninggal, dan itu hampir semua berkat seorang pria yang dikutip berkali-kali dalam bab-bab terdahulu: Marco Polo. Untuk memahami perbedaan yang dibuat Marco Polo, mari kita lihat apa yang Barat ketahui tentang China dan Asia Tengah sebelum Kubilai. Di abad ke-12, orang Eropa dan Timur Tengah hanya punya gambaran samar-samar tentang China. Di dunia Eropa Kristen, peta sama sekali bukanlah peta, tapi sketsa gambar iman di mana Hari Pengadilan dan Taman Firdaus sama jelasnya dengan daratan dan lautan. Monster-monster punya peran tersendiri: manusia makan hanya dengan mencium aroma apel; Sciopod, yang menggunakan tapak raksasanya sebagai pelindung dari sengatan sinar matahari. Benua yang dikenal hanya Eropa, Asia, dan Afrika, yang tergambar seperti bagian-bagian lingkaran yang saling terhubung atau gumpalan tanpa bentuk. Asia dan India jadi sama; China sama sekali tak ada. Geografi Arab, yang sedikit orang Eropa ketahui, justru lebih baik, meskipun juga tak memadai. Seorang Yahudi Spanyol, Benjamin dari Tudela, melakukan perjalanan dari Ceylon ke China pada akhir abad ke-12, tapi dia hanya mencatat sedikit tentang rincian perjalanannya. Itinerary, karangannya yang berbahasa Ibrani, pun tak diketahui orang Eropa BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 319 pustaka-indo.blogspot.com
Kristen sampai abad ke-16. Tak ada misionaris Kristen Nestorian di Asia Tengah yang menulis catatan, atau setidaknya tak ada salinan yang pernah ditemukan. Sementara kaum Kristen lain hanya tahu bahwa wilayah itu memang ada, dan berkhayal tentang legenda lain, tentang raja Kristen yang tak ada, Prester John. Jadi, ketika orang-orang Mongol Jenghis mendadak muncul di Eropa, mereka seakan-akan menyembul dari kegelapan. Dengan serbuan Jenghis yang menyapu seluruh dataran Asia Tengah dan Persia (1219- 1223), harapan awal bahwa serbuan ini adalah pertolongan orang Kristen yang ingin menyelamatkan tentara Salib sekonyong-konyong berubah menjadi ketakutan dan gigilan. Orang Eropa menyebut nama sekelompok bangsa Mongol sebagai Tatar, dan meyebut Tartar untuk semua orang Mongol—orang yang berasal dari Tartarus, wilayah kuno yang berisi orang kejam—untuk menyebut seluruh bangsa Mongol. Kejutan-kejutan kecil ini seakan jadi isyarat kehancuran. Pada 1238, pedagang ikan dari Novgorod rela menunda perjalanan mereka ke Norfolk untuk mendapatkan ikan haring Laut Utara, dan memilih tetap di rumah untuk memerangi para penyerang, situasi ini membuat pasokan ikan di Yarmouth jadi berlebih. Raja Hungaria menerima surat ancaman dari Batu, khan Golden Horde, cucu Jenghis dan sepupu Kubilai: “Bagi kalian yang tinggal di rumah dan punya benteng serta kota—bagaimana mungkin kalian bisa bertahan dari kejaranku?” Maka pada 1241, badai pun terjadi. Rusia, Polandia, Hungaria, ketiganya jatuh. Para pemimpin bangsa Eropa nyaris bersatu padu memberikan perlawanan. Tentara Salib dibujuk, permintaan bantuan dan kerjasama datang silih berganti di antara para pemimpin yang semula bermusuhan. Sebenarnya, saat itu tak perlu penyusunan kekuatan, karena tiba-tiba orang Mongol pergi begitu saja, mundur ke kampung halaman mereka karena kematian Ogedei. Setelah takhayul dan teror yang kejam, tibalah saatnya memeriksa kebenaran. Dikirimlah dua utusan paus ke Karakorum: Giovanni (John), biarawan dari wilayah yang kala itu bernama Plano (atau Piano) Carpini (atau Carpine) dan kini menjadi kota Magione di Umbria, yang hadir saat pemilihan Güyük di Karakorum pada 1246; serta Friar William, dari Rubrouck di Prancis timur laut, yang bertemu dengan Mönkhe BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 320 pustaka-indo.blogspot.com
pada 1253-1255. Keduanya sama-sama membawa pulang permintaan yang tak dapat ditawar dari khan-khan Mongol. “Dengan kuasa Tuhan, seluruh tanah, dari tempat matahari terbit sampai tempatnya tenggelam, telah tunduk ke bawah kekuasaan kami”: pernyataan dalam surat Güyük kepada paus ini menggambarkan cara pandang mereka dengan sangat jelas. Utusan-utusan lain dikirim untuk menemui penguasa Mongol di Timur Tengah. Hasilnya, Barat memperoleh informasi lebih rinci dan nyata tentang penerus Jenghis dan rakyatnya, terutama sebagai hasil dari catatan Carpini, yang bocor sebelum dia kembali. Salinan catatan ini beredar luas (sementara catatan yang lebih baik dari Rubrouck tetap tak tersalin selama tiga abad kemudian). Apa yang dibaca orang—dan mereka dengar dari Carpini sendiri, ketika dia ber keliling Eropa saat kembali dari istana Mongol—tak mampu menenangkan kegugupan mereka. Saat itu, ancaman besar ternyata berlalu begitu saja: orang Mongol telah melangkah terlalu jauh, dan terpaksa kembali menuju kekaisaran-kekaisaran kecil mereka di Rusia selatan dan Persia, di mana mereka mulai terlibat dalam urusan-urusan kenegaraan biasa—menjalin hubungan dengan negeri luar, membentuk persekutuan, dan bertengkar antarsesamanya. Negara-negara kecil inilah yang banyak diketahui Eropa. Pada saat yang bersamaan, sebuah dunia baru telah lahir di Timur Jauh—dunia Kubilai. Dunia ini sama sekali tak diketahui Barat. Tak seorang misionaris pun datang dari Roma, tidak pula utusan dari para penguasa lain, sampai dekade 1290-an—itu pun dengan komunikasi yang sangat terbatas, terutama karena kendala bahasa. Penerjemah sangat sedikit, dan itu pun dengan kualitas yang tak memadai, tak ada yang pernah tinggal cukup lama di dunia ini agar bisa fasih berbahasa China atau Mongol, dan lagi pula orang Mongol tak tertarik jadi orang Kristen. Memang, di antara mereka ada yang memeluk Kristen Nestorian—salah satunya yakni ibu Kubilai, Sorkaktani—tapi mereka sudah begitu menyatu dengan masyarakat Mongol dan China, sehingga sama sekali tak membantu bagi orang Katolik arus utama. Seperti terlihat dalam penolakan halus khan Persia, Arghun, kepada paus yang ingin membabtisnya: “Jika seseorang sudah menyembah Tuhan Yang Mahakuasa saja dan berpikir serta bertingkah laku baik, bukankah itu berarti dia sudah menerima pembabtisan?” Pendek kata, mereka tak BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 321 pustaka-indo.blogspot.com
bisa disuruh pindah agama. Saluran informasi utama tentulah jalur perdagangan. Sayangnya, bagi para sejarawan, saudagar hanya tertarik pada soal perdagangan, bukan soal perjalanan dan masalah sosial. Walaupun beberapa rute perdagangan memang terbuka, akibat kebijakan penguasa Mongol, namun di antara rute itu ada yang menghendaki perjalanan berat melintasi daratan yang sangat luas. Seorang pengelana Florentina abad ke-14 yang tak diketahui namanya mencatat, jarak dari Ukraina sampai ke Beijing memerlukan waktu selama 250 hari, pergi maupun pulang. Selain itu, ilmuwan mulai percaya bahwa pendapat tentang betapa damai dan tenang perjalanan di sepanjang Pax Mongolica agaknya terlalu berlebihan, karena orang Mongol selalu cekcok satu sama lain dan perang terbuka selalu terjadi di hampir seluruh wilayah kekuasaan Kubilai. Ketika Hulagu dan Berke saling memerangi pada 1260-an, kedua pihak sama-sama membantai pedagang pihak lawan. Siapa yang mau mempertaruhkan hidup dan menghabiskan 18 bulan perjalanan pulang-pergi melintasi Asia untuk memperoleh barang-barang yang sebenarnya bisa didapat dengan mudah dari para pedagang perantara dekat rumah? Selain itu, tentu saja selalu ada jalur laut; tapi bagi orang Barat, jalur ini jauh lebih berat. Jalur ini bermula di Teluk Persia, karena tetap tak akan ada manusia yang berlayar ke bagian selatan Afrika selama dua abad berikutnya. Dari teluk ini, kapal-kapal Arab menghabiskan waktu dua tahun sebelum tiba di Timur, ditambah dengan risiko kematian sia-sia di tengah perjalanan akibat serangan bajak laut, badai atau kerusakan lambung kapal yang cuma diikat dengan tali (kendala yang juga disebut-sebut Marco Polo). Selain itu, tak ada yang pernah mencatat pengalaman perjalanan rute laut ini. Belakangan, setelah Kubilai wafat, memang ada yang melakukan perjalanan darat, karena banyak sekali keuntungan yang dapat diperoleh di sepanjang perjalanan, berkat nasib baik maupun memang sudah diperhitungkan. Namun, satu-satunya yang mampu melakukan perjalanan darat semasa Kubilai hidup adalah keluarga Marco Polo, yang membiayai perjalanan pertama mereka dengan menjual barang dagangan di BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 322 pustaka-indo.blogspot.com
Konstantinopel: di kota ini, mereka membeli berbagai permata guna ditukarkan kepada Berke, khan Golden Horde di Sarai, dengan barangbarang—yang tak pernah diterangkan dengan jelas—yang lalu mereka jual lagi untuk bekal meneruskan perjalanan ke timur. Sebagai orang Venesia dan saudagar, usaha dagang keluarga Marco Polo, tiga bersaudara, ini punya tempat unik dalam melakukan perjalanan ke timur. Venesia menguasai beberapa bagian Konstantinopel—saat itu dikuasai orang Kristen Latin dari Gereja Yunani Ortodoks—dan daerah Akre di Syria, dan Soldaia di Crimea. Venesia menguasai rute per - dagangan yang menghubungkan Rusia dan Mesir, Timur Tengah dan Italia. Keuntungan dagang berasal dari batu amber Baltik, madu, lilin, bulu binatang dari Rusia, dan budak. Sekitar tahun 1260, Nicolo dan Maffeo, dua bersaudara, berencana melakukan perdagangan permata dengan orang Mongol di Rusia selatan, Golden Horde. Ketika mereka tiba di sana, dua malapetaka menghancurkan rencana mereka. Orang Yunani merebut kembali Konstantinopel, dan membutakan atau membunuh 50 orang saudagar Venesia; dua kekaisaran bagian Mongolia, Golden Horde dan Persia, terlibat perang saudara. Saat itu, satu-satu - nya jalan selamat yaitu terus berjalan ke timur. Tiga tahun kemudian, di Bukhara, sekelompok pejabat Mongol yang sedang melakukan perjalanan menuju tuan tertinggi mereka, Kubilai, menawari Nicolo dan Maffeo kesempatan untuk bertamu ke istana. Setahun kemudian, mereka sudah berada di hadapan Kubilai. Dia menanyai mereka tentang kepausan dan Kristen gaya Romawi, lalu membantu kepulangan mereka ke Eropa dengan memberikan sebuah lempengan emas atau peraknya (paizza) yang dapat dipakai sebagai paspor sekaligus bukti kewenangan memerintahkan sesuatu. Dengan benda itu, mereka bisa memanfaatkan stasiun-stasiun resmi milik Mongol di sepanjang perjalanan pulang. Bersama kepulangan mereka, Kubilai menyertakan pesan yang meminta agar dia dikirimi 100 misionaris, juga minyak dari lentera di Makam Kristus di Yerusalem. Permohonan ini bukan saja sikap toleran terhadap agama lain, tapi juga taktik politik yang sangat bagus. Kubilai dikelilingi para petinggi berbagai macam agama, salah satunya Kristen Nestorian. Ibu Kubilai penganut Kristen Nestorian. Ratusan orang Kristen dari berbagai sekte BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 323 pustaka-indo.blogspot.com
mengizinkannya mendirikan kelompok kepentingan lain, dan menghalangi dominasi salah satu kelompok. Tiba di kampung halaman pada 1269, Nicolo bergabung kembali dengan putranya, Marco Polo, yang saat itu berusia 15 tahun. Sayang sekali, permohonan Kubilai tak terlaksana karena paus kala itu telah meninggal dunia dan pemilihan paus baru tertunda lama. Dua tahun kemudian, tertarik dengan kekayaan dan peluang yang mereka lihat di China-nya Kubilai, dua bersaudara ini kembali berencana melakukan perjalanan, kali ini membawa serta Marco Polo. Di Akre, mereka meminta pendapat pada seorang kawan lama, Kardinal Teobaldo Visconti. Pertemuan ini sangat menguntungkan. Secara kebetulan dan nasib mujur, Visconti terpilih sebagai paus baru dan langsung memberi ketiganya surat kepercayaan resmi. Tiga setengah tahun kemudian—pada musim panas 1275—mereka sudah bersama Kubilai lagi di Xanadu. Para ilmuwan sejak lama memperdebatkan perihal kebenaran keterangan Marco Polo. Pendapat yang mengemuka pun beragam, dari yang menilai kebenarannya sangat sedikit hingga yang mengatakan keterangan itu sepenuhnya benar. Di sisi minus, Marco Polo bekerja bersama juru tulisnya, Rustichello: seorang penulis yang memoles kata-kata Marco Polo dengan nuansa sastra, karena dia memang pengarang profesional yang lihai membuat buku jadi enak dibaca. Ada sudut pandang intim yang terlalu menyolok dan banyak menggunakan kata ganti orang pertama, seolah pengarang berusaha menarik perhatian pembaca, seperti “Aduh, saya lupa menyebutkan….” Sebenarnya, dia memang sedang menarik perhatian, bukan pembaca tapi pendengar, karena saat itu adalah masa di mana teks memang dirancang untuk dibacakan dengan suara keras. Belakangan, Marco Polo sendiri, dan para penyunting lain, menambahi, memperpendek, dan menulis ulang, sehingga melahirkan beberapa versi berbeda; dengan kata lain, tak ada teks yang benar-benar asli. Gaya penulisan seperti mengobrol ini, plus kebiasaan melebihlebihkan dan sangat miskin dengan fakta kebenaran, terkadang memaksa BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 324 pustaka-indo.blogspot.com
kita mengambil jeda. Bahkan, ada yang curiga jangan-jangan Marco Polo meniru banyak hal dari buku lain. Terkait kecurigaan seperti ini, jawabannya jelas: tidak, dia tak akan bisa meniru karya lain. Buku yang dia tulis penuh rincian hal-hal yang tak mungkin orang Barat ketahui (misalnya, keramik Xanadu). Bahkan, distorsi cerita yang dia bikin sekalipun, seperti bantuan yang dia berikan dalam pembuatan ketapel tempur Xiangyang, hanya dapat dipandang sebagai pernyataan berlebihan, bukan sebagai fantasi murni. Tatkala Marco Polo dan Rustichello me - nulis buku di tahun-tahun terakhir abad itu, tak seorang pun di Barat punya gambaran tentang yang terjadi di China. Dengan begitu, ke - bohongan dan kebenaran sama-sama laku ketika dijual. Di masa kini, para ilmuwan tentu punya sumber-sumber lain untuk menyisihkan kebenaran dari kebohongan; tapi secara keseluruhan, dengan beberapa pengecualian, cerita Marco bisa dikatakan tahan uji. Kisah Marco Polo tentang masa-masa tujuh belas tahun yang dia habiskan di Chinalah yang memberitahu orang Eropa nyaris semua hal yang dia ketahui tentang Kubilai. Bagi para sejarawan di kemudian hari, Marco Polo adalah saksi mata yang tak ternilai, karena dia tiba di negeri itu lewat darat, sebelum penaklukan atas daerah selatan selesai, dan langsung masuk ke jantung China. Mereka yang datang belakangan tiba lewat laut, dan hanya melihat pelabuhan-pelabuhan selatan. Keluarga Polo berada di jantung segalanya, di istana Kubilai; bisa men - jadi insider sejauh yang dimungkinkan oleh kapasitas mereka sebagai orang asing dengan pengetahuan bahasa yang pas-pasan: Marco Polo memang menguasai beberapa kata Mongol dan China, tapi dia tak mampu menuliskannya. Kubilai menggunakan Marco Polo sebagai utusan, sebuah jabatan yang sangat penting bagi Marco Polo; namun, sebenarnya dia dapat dikatakan sebagai peliput freelance, yang bisa memberikan keterangan tentang tempat, orang-orang, dan peristiwa dari sudut pandang netral. Begitu populer keluarga Marco Polo hingga Kubilai beberapa kali menolak permohonan mereka untuk pulang. Dia akhirnya mengizinkan mereka dalam rangka mengiringi seorang putri Mongol sebagai calon mempelai yang akan dinikahkan dengan penguasa Mongol di Persia, Arghun. Kali ini, Kubilai memberi dua lempengan paspor emasnya, BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 325 pustaka-indo.blogspot.com
sehingga keamanan mereka terjamin. Kubilai juga berpesan agar mereka menyampaikan pesan-pesannya ke seluruh raja Kristen di Eropa. Dalam sebuah armada yang terdiri dari 13 kapal besar, mereka tiba di Persia pada 1293 atau 1294, setelah menempuh perjalanan dua tahun dan menemui berbagai bencana. Ketika mereka tiba, Arghun sudah meninggal. Putri tadi lalu dinikahkan dengan putra Arghun. Keluarga Polo pun pulang ke Venesia pada 1295. Entah bagaimana, di suatu tempat antara Venesia dan Genoa, Marco Polo mendapati dirinya berada di sebuah penjara orang Genoa— namun begitu, di sini nampaknya dia hidup cukup nyaman, karena di sinilah Rustichello mendapat tugas menuliskan Travels, yang selesai tak lama sebelum mereka bebas, mungkin sekitar tahun 1300. Marco Polo, saat itu berusia 40-an tahun, menikah dan kemudian dikaruniai tiga putri. Dia melanjutkan hidupnya dengan tenang dan meninggal di usia 69 tahun pada 1324. Sulit dipastikan apakah orang-orang kala itu memercayai bukunya atau tidak. Dunia yang dia tuliskan sangat jauh dan luar biasa, dan tak ada satu orang atau hal pun yang bisa membantah. Ada yang mengatakan, buku itu hanya kumpulan dongeng. Tetapi Marco Polo menyodori pembaca pengakuan yang lebih jernih daripada air bening di bagian awal kisahnya: Dalam buku ini, Anda akan menemukan berbagai hal menakjubkan… menurut penjelasan Messer Marco Polo, warga Venesia yang ter - hormat dan bijaksana, berdasarkan apa yang dia lihat dengan mata kepala sendiri. Memang ada beberapa hal yang benar-benar terjadi atau ada, tapi tak dia saksikan langsung; ini dia dengar dari orangorang yang tepercaya dan jujur. Dan kami akan mengatakan apa yang dilihat sebagaimana yang dilihat, dan apa-apa yang didengar sebagai hal yang hanya didengar. Dengan begitu, kami berharap tak ada ke bohong an yang akan mencemari kebenaran yang diutarakan buku kami ini. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 326 pustaka-indo.blogspot.com
Tetapi, apakah itu berarti jika dia bohong, dia akan mengungkapkannya terus terang? Terlepas dari semua itu, ada dua hal yang menguatkan posisinya: rincian yang dia ketengahkan sungguh luar biasa, dan tak ada legenda yang bisa membantah ceritanya. Bukunya memiliki cincin kebenaran, dan itulah yang membuatnya menarik. Travels hanya terkenal di kalangan terbatas yang mampu membeli atau meminjam sebuah salinan. Selama 25 tahun, buku ini telah diterjemahkan dari bahasa aslinya, barangkali campuran bahasa PrancisItalia, ke dalam bahasa Prancis, Tuscani, Venesia, Jerman, dan Latin. Setiap edisi terjemahannya disunting ulang agar sesuai dengan prasangka pembaca. Tetapi, apa yang sebenarnya membuat buku ini begitu populer tetap merupakan dugaan. Tak seorang pun tahu berapa jumlah salinan yang telah dibuat, siapa saja yang membacanya, atau berapa banyak orang yang pernah mendengar buku ini dibacakan dalam acara yang mirip pembacaan kisah epik oleh seorang penyair kelana. Sebagaimana ditulis ahli sejarah percetakan, Elizabeth Eisenstein: “Pertanyaan-pertanyaan semisal seperti apa bentuk publikasi di zaman pra-percetakan, atau bagaimana pesan disebarkan di zaman juru-tulis, tidak terjawab secara umum.” Yang dapat dikatakan terkait masalah ini hanyalah bahwa selama dua abad berikutnya permintaan atas bukubuku meningkat tajam, meski dengan pasokan yang sangat sedikit. Sebagian besar buku bertemakan masalah agama, dan katedral-katedral besar memiliki scriptoria para penyalin yang pelan-pelan membangun perpustakaan-perpustakaan yang sangat kecil dibanding standar yang berlaku belakangan; mereka membangun semacam gudang harta intelektual mereka sendiri. Perpustakaan katedral jarang yang punya koleksi 200-300 buku. Universitas-universitas besar yang menyombongkan diri pun tidak punya lebih banyak. Pada 1338, Universitas Sorbonne hanya punya 338 buku referensi, yang diuntai dengan sangat hati-hati, dan 1,728 buku yang bisa dipinjamkan. Semuanya karangan penulis Latin, kecuali satu buku dalam bahasa Prancis, salinan epik Roman de la Rose. Selain dari kalangan aristokrat, sangat jarang yang memiliki buku pribadi, meskipun satu buah, sementara pemilik buku dengan bahasa sehari-hari jauh lebih jarang lagi. Salinan Travels makin banyak—85 buah di antaranya berhasil BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 327 pustaka-indo.blogspot.com
bertahan sampai sekarang—sebagian ditambahi dengan ilustrasiilustrasi yang berlebihan, sehingga mengubah buku itu menjadi karya seni sekaligus laporan perjalanan. Pihak yang menanggapi Marco Polo dengan lebih serius adalah para penerjemah karyanya ke dalam bahasa Latin. Mereka mencoba menaksir kemungkinan mengonversi orang China ke agama Kristen. Bagi salah seorang dari mereka, Fransesco Pipino dari Bologna, Marco Polo “adalah pria terhormat, jujur dan saleh”, sebagaimana halnya ayah dan pamannya; sebuah penilaian yang kemudian secara serampangan ditambahi dengan penggambaran agama-agama non-Kristen sebagai kepercayaan terkutuk. Setidaknya bagi para klerik Latin, Marco Polo dapat dipercaya. Di suatu masa pada 1330-an, seorang rahib Dominikan, Jacopo d’Acqui, mengisahkan saat-saat kematian Marco Polo: “Karena begitu banyak hal luar biasa dalam buku itu, yang nyaris tak bisa dinalar, maka ketika menjelang sakaratul maut, dia diminta kawan-kawannya untuk mengoreksi buku itu dengan menghilangkan bagian-bagian yang tak benar. Dia menjawab permintaan ini dengan mengatakan bahwa apa yang dia ceritakan dalam buku itu tidak sampai setengah dari apa yang pernah dia lihat.” Pelan tapi pasti, para saudagar mulai mengolah peluang-peluang yang Marco Polo kabarkan. Pada 1330, tak sedikit orang Genoa yang melakukan perjalanan darat atas nasihat Francesco Pegolotti, nasihat yang terkesan terlalu menggampangkan: jalan ke China “relatif aman di siang hari maupun malam hari,” katanya, kecuali kau meninggal di perjalanan. Bila kejadiannya seperti ini, panglima perang setempat akan mengambil semua milikmu. Para misionaris mencoba menghadapi tantangan ini. Seorang Fransiskan, John dari Montecorvino, merencanakan pembangunan gereja Kristen pertama di Beijing pada 1294, tahun kematian Kubilai. Seorang Fransiskan lain, Odoric dari Pordenone, yang tiba pada 1322, menulis keterangan yang nyaris sama populernya dengan kisah perjalanan Marco Polo. Terkait masalah para pemeluk awal agama Kristen di China, jejakjejak yang berhasil ditemukan di masa sekarang nyaris sepenuhnya mendukung salah satu klaim Marco Polo yang paling berani, bahwa dia BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 328 pustaka-indo.blogspot.com
pernah menjadi gubernur Yangzhou selama tiga tahun. Pada musim gugur 1951, tak lama setelah kaum komunis Mao mengambil alih ke - kuasaan, sekelompok pekerja menghancurkan tembok kota Yangzhou dan menggunakan bata-batanya untuk membangun jalan baru. Para pekerja itu menemukan pecahan pualam dengan lukisan aneh di atasnya. Mereka memberikan temuan itu kepada seorang ahli barang antik, yang mengenali lukisan itu sebagai salah satu adegan kisah hidup seorang santo Kristen. Karena penasaran, dia mengirim temuan itu kepada seorang kenalan di dekat Shanghai, seorang Jesuit muda, Francis Rouleau, yang sedang berkemas meninggalkan negeri itu setelah dipaksa pergi oleh rezim penguasa baru. Rouleau, yang tahu betapa berbahaya penelitian gambar-gambar religius di bawah pengawasan orang komunis, segera menyimpan temuan tadi dan mengambil fotonya. Potongan pualam tadi memang dimusnahkan setelah dia pergi. Namun dari catatan dan foto yang dia ambil, dia membuat laporan tentang apa yang dia lihat.1 Pualam itu adalah bagian dari sebuah makam, yang dihias dengan adegan dari kisah hidup Santa Catherine—sangat pas, karena jenazah yang terkubur di makam itu bernama: Katerina Yllionis, meninggal pada Juli 1342. Beberapa tahun kemudian, sebuah makam lain ditemukan di Yangzhou, yaitu saudara laki-laki Katerina, Antonio, yang meninggal pada November 1344. Keduanya adalah anak Antonio “Ilioni”, sebagaimana tertera dalam catatan di kota kelahiran mereka, Genoa. Dia bertugas mengambil alih tanah milik seorang teman yang pernah datang ke China, lalu menetap di sana, dan nampaknya setelah itu dia mendirikan komunitas. Odoric memang menyebutkan bahwa dia tinggal bersama orang-orang Fransiskan di Yangzhou pada 1322, dan juga mencatat tiga gereja Nestorian. Nampaknya, komunitas Kristen ini dapat bertahan di sana untuk beberapa lama. Bahkan cukup lama, karena Marco Polo dikirim Kubilai ke sana untuk menjadi pemimpin mereka? Dia datang ke sana bukan untuk jadi gubernur kota, tapi gubernur bagi orang Kristen, jabatan yang bisa jadi disalahpahami atau dipelintir oleh Rustichello. BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 329 1 Romo Francis Rouelau, SJ, “The Yangchow Latin Tombstone as a Landmark of Medieval Christianity in China”. pustaka-indo.blogspot.com
Bagaimanapun, lewat Marco Polo, para saudagar, dan para misionarislah berita tentang Kubilai masuk ke dalam kesadaran masyarakat luas. Sepenggal informasi yang selalu dikoar-koarkan orang Mongol menarik perhatian saya. Tidakkah Anda tahu, kata mereka, bahwa huruf ciptaan Phags-pa disalin oleh seorang master lukis abad ke-13 dan ke-14, Giotto? Ini memang informasi remeh tapi menarik, semacam obrolan sewaktu minum kopi: Suatu hari, saya berbincang dengan ilmuwan Jepang ini, dan dia memberitahu saya… Astaga… Alangkah menakjubkan… Giotto? Benarkah? Di mana?... Oh, saya kira pasti ada hubungannya dengan jubah Kristus. Saya mendengar dan membaca hal ini berkali-kali, dan akhirnya memutuskan untuk memeriksa kebenarannya. Ya. Memang ada mata rantai yang mengaitkan Kubilai Khan dengan Giotto. Namanya Rabban (Master) Sauma, seorang biksu yang bertualang ke barat dari tanah kekuasaan Kubilai dan sejauh yang diketahui merupakan pengelana pertama yang sampai ke Eropa dari China. Sauma adalah bayangan-cermin dari Marco Polo, dengan sedikit perbedaan: dia tinggal di Eropa kurang dari setahun dan dia adalah utusan resmi yang bertugas melakukan pertemuan tingkat tinggi. Dia merupakan kisah yang luar biasa, yang versi aslinya dalam bentuk bahasa Persia telah lenyap, dan hanya tinggal versi terjemahannya dalam bahasa Syria yang campur aduk yang baru ditemukan di akhir abad ke-19. Pria ini dan perjalanannya dibangkitkan kembali secara luar biasa oleh Morris Rossabi dalam buku Voyager from Xanadu. “Di hari-hari ini, saat multikulturalisme tengah mencuat,” katanya, “sudah sepantasnyalah menuliskan kisah seorang pria yang tumbuh besar di beragam kebudayaan dan yang bekerja demi menjembatani kebudayaankebudayaan itu.” Tapi, kisah ini bukan hanya soal multikulturalisme: ini salah satu kisah “bagaimana jika”, karena Sauma nyaris berhasil membangun persekutuan orang Mongol dan orang Eropa Kristen, persekutuan yang nyaris mampu mengubah jalan sejarah. Jadi, beberapa halaman selanjutnya, kita akan mengenyampingkan Giotto, dan memusatkan perhatian pada Sauma. Sauma adalah orang Önggüd, salah satu suku Turki yang hidup di BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 330 pustaka-indo.blogspot.com
Sungai Kuning di wilayah tengah negara China sekarang dan sejak awal telah dicaplok Jenghis. Hidup di jalur perdagangan utama ke arah barat, mereka memeluk Kristen Nestorian, aliran yang menganggap Kristus terdiri dari dua hakikat, yakni Ilahi dan manusiawi, dan Maria adalah ibu sisi manusiawi Kristus, bukan sisi Ilahi-Nya. Meskipun di - nyatakan bidah oleh Roma, orang Nestorian maju pesat di Asia Tengah dan China, terkenal sebagai tabib hebat dan pengusaha sukses yang sangat toleran terhadap adat-istiadat setempat. Di antara penganut Kristen Nestorian yaitu ibu Kubilai, Sorkaktani, dan istri Hulagu. Orang Önggüd dekat dengan Jenghis, mereka pejabat-pejabat yang cekatan. Di kemudian hari, mereka juga jadi sekutu setia Kubilai dalam usaha menumpas sepupunya, Kaidu. Sauma, lahir sekitar tahun 1240, menjadi pastur di usia 25 tahun. Dia seorang pertapa di pegunungan berjarak 50 km barat daya Beijing. Terkenal berkat asketisisme dan pengetahuannya yang luas, dia akan tetap mengasingkan diri selamanya andai tak didatangi seorang murid berusia 15 tahun bernama Markos. Selama satu dasawarsa, guru dan murid ini mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia, tak tersentuh oleh berbagai perubahan penting di sekitar mereka, hingga suatu kala Markos menyarankan agar mereka berangkat ke Yerusalem untuk menerima penebusan dosa tingkat tertinggi yang bisa diterima manusia. Kedua pendeta ini tak pernah takut terhadap rintangan maupun ke - matian, dan karena itu kaum Nestorian di Beijing mendukung mereka, begitu pula Kubilai. Keduanya bisa menjadi media pencitraan diri bagi Kubilai guna meraih simpati dari sekte agama ibunya. Selain itu, secara kebetulan, kejadian ini bersamaan pula dengan kedatangan keluarga Polo kedua kalinya ke Beijing bersama Marco Polo muda. Jadi, Kubilai berharap bisa menciptakan booming kontak antara Timur dan Barat. Sauma dan Markos diharapkan dapat membawa ahli-ahli Barat yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kota Beijing yang baru Kubilai dirikan. Kubilai memberi keduanya salah satu lempengan emas resmi, paiza, yang memberi mereka wewenang untuk memanfaatkan setiap stasiun perhentian serta jaminan keamanan selama perjalanan. Mereka mengumpulkan kafilah unta, tukang kuda, tukang masak serta pengawal, dan berangkat kira-kira pada 1275. BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 331 pustaka-indo.blogspot.com
Perjalanan ini sangat lama. Tahap pertama, mereka kembali ke kampung halaman di Sungai Kuning dan terus ke Xianjiang lewat Dataran Gansu, menyusuri gurun Takla Makan sampai ke Hotan, oasis multinasional di kaki Pegunungan Kunlun. Setelah melewati daerah ini, mereka berada di luar wilayah perlindungan Kubilai, karena telah memasuki daerah kekuasaan Kaidu. Tempat ini sangat disukai para perampok. Dengan penuh perhitungan, mereka menuju ke perkemahan Kaidu di Talas, berusaha tak menyebut-nyebut Kubilai atau Persia, dua musuh Kaidu saat itu. Lalu, mereka melintasi pegunungan dan gurun, melewati panas, angin kencang, badai salju, kelaparan, haus, beberapa kali perampokan, dan akhirnya lewat Tus (kini bernama Masyhad, di Iran bagian timur laut) mereka sampai ke tempat keponakan Kubilai, Ilkhan Abaqa, di ibukota pertamanya, Maragheh; di tempat inilah tinggal pimpinan umat Nestorian, Katolikos, Patriark Mar Denha. Setelah pertemuan yang mengharukan dan ziarah ke beberapa tempat suci Nestorian di sana, mereka meneruskan perjalanan ke barat menuju Arbil di Iraq utara. Lalu, mereka mengubah rencana. Sang Katolikos mengundang mereka ke Baghdad, dan memberi mereka misi baru: membujuk Abaqa agar bersedia membantu dan mengakomodasi kepentingan kaum Nestorian. Mereka pun berangkat menuju Tabriz, ibukota baru Il-khan, yang tak hancur akibat invasi Mongol—beda dengan Bagdad—karena mereka langsung menyerah dan tunduk. Di pusat kekuasaan kosmopolit ini, dengan pasar-pasarnya yang kaya, beragam sekte Kristen dan saudagar Italia, mereka memperlihatkan paiza dari Paman Kubilai kepada Abaqa. Mereka pun mendapat segala pengakuan yang orang Nestorian kehendaki dan segala bantuan yang mereka butuhkan. Kala itu, daerah barat dilanda peperangan, dan mereka pun terhenti; tapi, ini mereka jalani dengan nyaman, karena sang Katolikos memperkenalkan keduanya sebagai pejabat tinggi, Markos sebagai pejabat metropolitan yang setara dengan uskup sedangkan Sauma sebagai “jenderal tamu” di China, semacam duta besar keliling (padahal sebelumnya dia sama sekali tak pernah berkesempatan menjalani peran semacam ini). Mereka sebenarnya keberatan dengan semua ini: mereka hanya ingin hidup sederhana; mereka hanya ingin melanjutkan perjalanan BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 332 pustaka-indo.blogspot.com
ziarah mereka. Tetapi, mereka tak punya pilihan lain. Mereka pun terpaksa menerima tawaran itu, dan menunda perjalanan. Lalu, berbagai kejadian tiba-tiba datang secara mengejutkan. Setahun kemudian, sang Katolikos meninggal dunia. Markos, saat itu berusia 36 tahun, pun ditunjuk sebagai penggantinya. Untuk lima tahun berikutnya, dia dan gurunya, yang sudah separuh baya, terlibat dalam perhelatan politik gereja dan politik lokal—kematian Abaqa, peperangan yang berat, dan konfirmasi akhir atas jabatan mereka. Pada 1286, Il-khan baru, Arghun, merasa memerlukan dukungan untuk memerangi orang Mesir dan kaum Muslim lainnya. Dia pun mengeluarkan gagasan luar biasa. Dia ingin mendekati Eropa dan menyarankan perang salib lanjutan, orang Kristen dan Mongol bergabung memerangi orang Islam. Mengingat horor yang Eropa rasakan akibat tindak-tanduk pasukan Mongol 40 tahun sebelumnya, gagasan ini kedengaran tak masuk akal sama sekali; tapi tak sepenuhnya demikian, karena 20 tahun setelah invasi Mongol ke Eropa, mereka telah menjalin kerjasama dengan tentara Salib Eropa. Mereka menyepakati hal berikut: sebagai imbalan bagi bantuan Eropa, Arghun akan menyerahkan Yerusalem. Demi kesuksesan rencana ini, dia membutuhkan utusan yang cerdas, memiliki pengalaman berkelana serta kemampuan multi - bahasa. Dan, Sauma memenuhi seluruh kriteria ini. Sejak kecil, dia menguasai bahasa Turki, China, dan barangkali juga bahasa Mongol. Dan saat itu, dia pun menguasai bahasa Persia. Ada banyak orang Italia di wilayah Il-khan, sehingga penerjemahan pun tak jadi masalah. Arghun memberikan surat-surat yang harus Sauma serahkan kepada paus, kaisar Byzantium, dan raja-raja di Prancis dan Inggris. Pada 1287, sang duta dan tiga pengiringnya berangkat menuju Laut Hitam, lalu berkapal menuju Konstantinopel. Di sini, dia bertemu Kaisar Andronicus, menziarahi beberapa tempat, mengagumi relik-relik suci— tapi misinya tak menghasilkan apa-apa, karena koalisi melawan kaum Muslim berarti persatuan gereja timur dan barat, dan itu nyaris tak mungkin terjadi saat itu. Pada Juni 1287, Sauma dan rombongan kecilnya, minus Markos (karena jabatan sebagai Katolikos mengharuskan dia tetap di rumah), BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 333 pustaka-indo.blogspot.com
berlayar melewati Sisilia dan Gunung Etna menuju Naples, kemudian meneruskan perjalanan darat ke Roma. Setibanya di sana, sang paus telah wafat, sementara paus baru belum terpilih. Sauma tetap disambut secara terhormat oleh para kardinal. Mereka bertanya banyak hal tentang tanah airnya. Meski tak pernah tercatat, jawabannya pastilah menjadi laporan terperinci pertama pada Kubilai yang pernah terdengar di Eropa. Lalu para kardinal beralih bertanya tentang keimanannya. Pertanyaan seputar masalah ini Sauma jawab dengan sangat hati-hati, lebih fokus pada bapa-bapa gereja awal ketimbang perdebatan seputar hakikat Kristus dan status Roh Kudus. Para kardinal pun tak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang berhadapan dengan penganut aliran yang selama ini mereka nyatakan bidah. Mereka sangat terkesan dengan keluasan pengetahuan Sauma. “Sungguh mengagumkan,” kata mereka, “Anda adalah seorang Kristen dan diaken Takhta Patriark di timur, datang ke sini sebagai duta besar Raja Mongol.” Sayangnya, menyangkut usulan mengobarkan perang salib lanjutan, mereka tak bisa memberi jawaban, karena paus baru belum terpilih. Kepada Sauma, para kardinal menceritakan semua kisah suci. Sauma pun diajak melihat berbagai tempat atau benda suci—tempat Paul menjadi martir (di mana usai dipenggal kepala Paul melenting tiga kali ke udara dan meneriakkan kata “Kristus! Kristus! Kristus!”), salah satu jubah Yesus yang tak dikelim, beberapa potongan kayu buaian Yesus semasa bayi, Mahkota Duri yang asli. Sauma menanggapi seluruh relik dan cerita ini dengan penuh takzim. Tetapi, dia ragu meneruskan perjalanannya. Misinya baru selesai se tengah. Masih ada raja-raja Prancis dan Inggris yang harus dia temui. Setelah tinggal di Italia yang panas selama sebulan dan setelah singgah di sana-sini, Sauma tiba di jalan-jalan berdebu Prancis. Saat itu, dia sudah berusia 60 tahun, dan waktunya sudah hampir berakhir. Tetapi di Paris, raja Prancis yang masih remaja dan ambisius, Philip yang Adil, menyambutnya secara hangat dan menyediakan kediaman yang nyaman. Setelah lelahnya hilang, dia mengutarakan maksud kedatangannya. Philip nampak begitu terkesan. Jika Mongol siap membantu merebut kembali Yerusalem, apakah yang bisa orang Kristen BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 334 pustaka-indo.blogspot.com
lakukan selain mengiyakan tawaran ini? Sebenarnya, dia juga ingin memperlihatkan kekuatannya untuk alasan tersendiri—menguasai daerah kekuasaan Inggris di tanah Prancis, menegaskan hak Prancis atas wilayah Flanders, menjaga agar Vatikan tak menyedot kekayaan gerejagereja Prancis. Yakin bahwa Philip sepenuhnya bersedia terlibat dalam Perseketuan Mongol-Eropa, Sauma meneruskan kunjungan ke Raja Edward I di Inggris, yang kebetulan berada di tanah koloni Prancisnya, Aquitaine. Sauma tiba di Bordeaux setelah perjalanan tiga minggu di bulan Oktober 1287, memperkenalkan diri dan langsung diundang untuk bertemua raja. Setelah menyerahkan hadiah dari Arghun berupa per - mata dan sutra, Sauma mengutarakan tawaran untuk melakukan perang salib. Edward menyukai rencana ini. Dia bersumpah akan meng angkat salib pada musim semi tahun itu. Tawaran itu cocok dengan rencananya. Sauma pun yakin sepenuhnya bahwa dia telah menyelesaikan dua pertiga tugasnya; sepertiga yang terakhir akan selesai ketika dia kembali ke Roma. Seolah-olah demi meresmikan kesepakatan ini, Edward meminta sekutu barunya ini memberi dia dan keluarga istananya komuni menurut tata caranya sendiri, yang sedikit berbeda dari yang berlaku dalam Katolik Roma. Komuni ini diikuti dengan perjamuan makan yang mewah—salah satu perjamuan Edward yang lain dapat menampung ratusan tamu dengan hidangan dari daging 10 lembu dan 59 domba— meski dalam pikiran Sauma terlintas perbandingan, dialah satu-satunya orang di dunia saat itu yang bisa membandingkan, bahwa ratusan tamu di sini sama sekali tak sebanding dengan 6.000 tamu yang makan malam bersama Kubilai di aula agungnya di Beijing. Semuanya kini tergantung Roma. Sebab tanpa paus, perang salib tak akan terjadi. Tetapi saat itu, paus baru belum terpilih. Musim di - ngin sudah dekat. Sauma berjalan menuju selatan, ke kota Genoa yang lembut—taman surgawi, begitulah dia menyebutnya, tempat dia dapat memakan anggur setahun penuh. Setelah tiga bulan dalam penantian, datanglah berita baik: habemus papem (paus telah terpilih). Jerome dari Ascoli diangkat sebagai Paus Nicholas IV pada 1 Maret 1288. BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 335 pustaka-indo.blogspot.com
Setelah itu datanglah undangan, dan rapat dengar pendapat pun diadakan, dengan pidato yang sangat bagus dari Sauma, penyerahan hadiah dari Arghun, dan tanggapan hangat dari Nicholas. Sauma adalah tamu terhormat, kata Nicholas, dan dia akan tinggal sampai perayaan Paskah. Sauma sangat gembira, dan dia pun diminta memimpin misa. Permohonannya terkabul, dan misa pun diadakan di depan ratus an hadirin. Tak ada yang mengerti apa yang dia katakan, tapi semua sepakat dengan apa yang terjadi. Sauma kemudian membalas dengan memohon agar menerima komuni dari paus. Permintaan ini ter kabul, di depan kerumunan banyak orang, di hari Minggu Palma, dan perayaan lain di hari Paskah, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Hari Paskah. Lalu, Sauma mohon izin untuk pulang. Nicholas keberatan, tapi Sauma berkeras: dia harus memberitahu rakyatnya mengenai sambutan meriah yang dia terima. Sauma juga berkesempatan meminta beberapa relik. Paus mulanya terganggu dengan permintaan ini: Jika kami memberikan relik kepada siapa saja yang memintanya, katanya, lama kelamaan tak ada lagi yang tersisa; tapi, tambahnya, kali ini dia akan memberikan beberapa—potongan pakaian Yesus, seperti selendang Perawan Maria, rupa-rupa relik para santo; sedangkan untuk Markos, sang Katolikos, mahkota emas bertatahkan permata, jubah ungu yang dijahit dengan benang emas, kaos kaki berhiaskan mutiara, dan cincin kepausan… …serta beberapa surat, mengesahkan posisi Markos dan Sauma, dan surat lain untuk Arghun, yang langsung to the point. Yesus telah memberikan wewenang kepada Petrus, dan kemudian kepada para paus. Arghun harus memeluk iman yang benar. Sementara untuk perang salib, pauslah yang berhak mengumumkannya dan tak ada orang lain yang dapat melakukannya, karena dialah yang akan ber - tanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan perang suci itu. Arghun harus memeluk iman Kristen, mengakui otoritas kepausan, dan Tuhan akan memberinya kekuatan untuk menaklukkan Yerusalem dan menjadi pahlawan Kristen. Pendek kata: tak ada bantuan, tak ada perang salib. Namun, ketika Sauma tiba di Persia di bulan September, Arghun BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 336 pustaka-indo.blogspot.com
tetap senang. Nampaknya, saat itu sudah ada bibit perdamaian dan diplomasi (dan harap diingat, ini terjadi hanya 60 tahun setelah kematian Jenghis, serta cuma 30 tahun setelah penghancuran Baghdad dan Kubilai naik takhta). Demi menghormati Sauma dan sang Katolikos, diadakanlah perjamuan makan selama tiga hari. Tentu saja, gagasan perang salib jadi tak jelas. Arghun mencoba menarik perhatian di Prancis dan Inggris, tapi hanya mendapat jawaban yang mengelak. Dia sendiri terpojok oleh berbagai tantangan dari Golden Horde dan pemberontak Muslim. Dia meninggal pada 1291, bersama mimpi-mimpinya tentang penaklukan lebih lanjut. Sejak saat itu, semuanya telah terlambat. Pada tahun yang sama, kaum Mamluk Mesir berhasil merebut Akre, pos Kristen terakhir di Timur Tengah, dan era perang salib pun berakhir. Sauma menghabiskan sisa hidupnya dengan gereja baru yang sangat bagus, menghabiskan waktu dengan kawan lamanya, Markos. Keduanya nyaris tak dapat memercayai perubahan hidup mereka yang semula hanyalah seorang pertapa dan seorang murid yang rajin. Pada akhir 1293, Sauma jatuh sakit di Baghdad, sekuat tenaga bertahan sampai Markos datang mengucapkan salam terakhir. Dia pun meninggal pada Januari 1294, dan kebetulan bertepatan dengan bulan kematian Kubilai. Dia dimakamkan di gereja utama Nestorian di Baghdad, dengan Markos yang tertunduk sedih di sisi liang kuburnya. Bagaimana jika Paus Nicholas mendukung aliansi tadi? Kepausan, Prancis, Inggris, dan Mongol akan bergabung membentuk tentara Salib guna mempertahankan kastil-kastil mereka di Syria, mungkin dengan akibat-akibat yang ganjil: Islam akan tersingkir dari Timur Tengah; Yerusalem diserahkan kepada paus, di bawah penguasa gabungan Inggris-Prancis-Italia-Mongol; Arghun memeluk Kristen; agama Kristen masuk ke Asia Tengah… dan itu semua berkat keputusan Kubilai yang memberikan peran kepada Sauma dan Markos untuk terlibat dalam rencana-rencananya. Sekarang, kembali pada pembahasan perihal Marco Polo, saya harus menyebutkan hal lain yang nyaris saya lupakan: kemungkinan adanya BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 337 pustaka-indo.blogspot.com
keterkaitan Sauma dengan Giotto. Ini bisa dilihat dari tulisan aneh di jubah Kristus dalam salah satu lukisan Giotto. Rabban Sauma tentu saja membawa paiza-nya sampai ke Roma. Benda itu pasti diperlihatkan di Roma dan dikagumi, huruf-hurufnya disalin. Dua belas tahun kemudian, Giotto berada di Roma, mengikuti perayaan centennial (ulang tahun emas) tahun 1300 yang diadakan Paus Boniface VIII, dan dia pastilah sibuk mencari-cari ide yang akan dimasukkan ke dalam lukisan-lukisan dia selanjutnya. Pada 1305, dia berada di Padua, bersiap-siap menggarap karya besarnya, freskofresko di Kapel Arena: 67 lukisan yang menutupi seluruh interior dengan adegan-adegan kisah hidup Kristus. Salah satu aspek orisinalitas Giotto terletak pada kemampuannya memasukkan unsur-unsur kehidupan saat itu ke dalam lukisan ciptaannya. Yang paling terkenal yakni lukisan Adoration of the Magi di mana dia memasukkan Bintang Daud, yang sebenarnya adalah Komet Halley, yang terlihat begitu indah dan luar biasa pada Oktober-November 1301. Saya mencari di setiap gambar jubah Kristus di Kapel Arena itu: tak ada tulisan aneh di sana. Namun ada dua lukisan yang membuat saya tertarik sehingga terdorong untuk memperhatikan lebih dekat. Dalam fresko Kelahiran Yesus, Perawan Maria berdiri tegak, pakaian yang dia kenakan terkesan terlalu elok dan rapi untuk suasana seperti itu. Pada busananya, yang terlihat di balik mantelnya, terdapat keliman yang memperlihatkan desain agak aneh: lekukan dan garis yang membentuk bidang persegi. Dalam fresko Kebangkitan, The Angel at the Tomb, pola serupa juga menghiasi keliman pakaian prajurit Roma yang tengah tertidur, tidak sadar bahwa saat itu di sekeliling mereka sedang terjadi keajaiban; desain yang sama pun kembali saya temukan dalam keliman baju Maria Magdalena. Saya terpaksa menyela kisah menarik ini, karena desain tersebut bukanlah huruf-huruf karya Phags-pa. Barangkali itu hanyalah tiruannya, desain yang Giotto tambahkan ke dalam lukisannya untuk memberi sentuhan eksotis—dibawa dari Timur yang penuh misteri oleh seorang pemeluk Kristen. Begitulah rinciannya; dan selang waktunya pun tak terlalu lama (17 tahun antara kunjungan Rabban Sauma dengan lukisan BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 338 pustaka-indo.blogspot.com
Giotto); bisa juga, semuanya hanya kebetulan. Tetapi bagaimanapun, ini semua terasa janggal. Barangkali memang ada rangkaian sebabakibat yang menghubungkan Xanadu dan Padua: seorang kaisar China yang berpikir keras tentang bagaimana berkomunikasi dengan rakyatnya, seorang biksu Tibet, seorang pengelana Kristen berkebangsaan Turki, seorang paus yang sangat ingin tahu tentang Kekaisaran Mongol—dan seorang seniman yang memasukkan tanda kecil “China” ke dalam adikaryanya. Berpikir tentang kemungkinan penyebaran huruf baru ini akhirnya menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Sebagian besar isi buku ini bercerita tentang capaian luar biasa Kubilai, namun kehidupan dan era masa lalunya juga tak kalah menarik untuk dibicarakan: kegagalan dan keterbatasannya. Dengan bakat kepemimpinan yang dia miliki serta dengan jangkauan kecerdasannya, apa lagi yang mungkin dia lakukan? Ada hubungan khusus antara Timur dan Barat, yang akan mengubah dunia kita dengan cara yang luar biasa. Pertanyaan yang saya maksud yakni: mengapa Kubilai tak menemukan sistem pencetakan dengan huruf yang bisa dipindah-pindah? Dia telah memilikinya. Perhatikan hal berikut: Kubilai, yang sedemikian rupa membawahi berbagai macam kebudayaan, tahu pasti bahwa tak ada tulisan yang cukup memadai untuk tujuan-tujuannya: jenis tulisan yang ada terlalu berat, atau terlalu membingungkan, atau tak bisa diterima oleh anggota keluarga kekaisarannya yang lain. Dari segi teori, huruf Phags-pa berhasil memecahkan masalah ini cukup baik. Tapi di tingkat praktik, ciptaan ini tak mampu mengakar. Kubilai sangat senang dengan buku—dalam pemerintahannya saja terdapat ribuan buku, tentu dalam masyarakatnya terdapat jutaan buku. Tetapi, buku-buku itu tak diproduksi dengan metode yang ditemukan di Barat oleh Johannes Gutenberg sekitar tahun 1450: metode ini memakai jenis huruf dari logam yang bisa dipindah-pindah untuk membuat sekaligus beberapa halaman dan menggandakannya BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 339 pustaka-indo.blogspot.com
dalam proses pencetakan. Metode pencetakan timur, yang telah ada sejak abad ke-5, dilakukan dengan mengukirkan teks atau gambar secara terbalik ke permukaan kayu, lalu melumuri kayu cetakan ini dengan tinta, dan kemudian mencetakkannya ke atas permukaan kertas. Mulanya, teknik ini dipakai untuk membuat segel, stempel, atau gambar-gambar religius; lalu, di akhir abad ke-8, buku-buku paling awal pun bermunculan. Teknologi ini sangat sederhana dan gampang, tapi sama sekali tidak efisien. Butuh berhari-hari untuk membuat satu cetakan kayu, sementara halaman buku hanya bisa dicetak satu lembar dalam sekali cetak. Setiap halaman baru memerlukan cetakan baru; makin banyak buku yang akan dicetak, makin banyak pula cetakan yang diperlukan. Cetakan-cetakan yang tak terpakai lagi memenuhi halaman bengkel percetakan. Seringkali, cetakan-cetakan itu lalu dijadikan kayu bakar. Solusi atas masalah ini sebenarnya mudah. Jika setiap karakter huruf punya cetakan sendiri, seperti dalam stempel, Anda dapat membuat teks apa pun, dan tetap bisa menggunakan karakter-karakter itu setelah pencetakan pertama. Tak perlu mengukir setiap halaman; dan tak akan ada lagi jutaan bekas cetakan. Masih ingat Pi Sheng, yang dianggap menemukan pencetakan dengan tipe huruf yang bisa dipindah di abad ke-11? Gagasannya yaitu mengukirkan karakter-karakter huruf di tanah liat basah secara terbalik, dan ukiran itu lalu dibakar. Untuk mencetak, dia memilih karakter-karakter tadi, meletakkannya ke dalam sebuah bingkai, memberi tinta, dan kemudian menempelkan kain atau kertas ke atasnya. Teknik ini bekerja dengan baik. Teknologi ini diperbaiki dan diadopsi orang Korea: pada 1234, buku pertama mereka dicetak dengan huruf logam yang bisa dipindah. Orang Mongol pertama kali menyerang Korea pada 1216, lalu bolak-balik ke sana selama 50 tahun berikutnya. Kubilailah yang akhirnya menundukkan Korea sebagai bagian dari Kekaisaran Mongol pada 1271. Jadi, besar kemungkinan Kubilai—dan penasihat ahlinya—telah mengenal teknik cetak dengan jenis huruf cetak logam yang bisa dipindah-pindah. Mereka juga tahu masalah yang muncul kala itu, dan ini lebih berat daripada pencetakan dengan blok cetak. Urusan memilih karakter yang tepat dari setidaknya 8.000 jenis huruf, bahkan 40.000 atau lebih BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 340 pustaka-indo.blogspot.com
(tergantung desain yang diinginkan), menjadi kendala besar dalam desain dan kecepatan. Selain itu, teknik ini mengancam dua bentuk seni kuno, kaligrafi dan ukir-blok cetak. Memang, masih ada yang tertarik meneruskan tradisi ini. Pada 1297, Wang Zhen, seorang guru dari Dongping di Provinsi Shandong, mencipta 30.000 karakter ke dalam blok cetak kayu yang tersimpan pada dua meja yang bisa diputar sehingga memudahkan proses pemilihan. Belakangan, pemerintah menerbitkan beberapa publikasi luar biasa dengan huruf cetak ini— seperti ensiklopedia pada 1726, terdiri dari 5.000 volume yang menggunakan 250.000 karakter—tapi untuk penggunaan sehari-hari, metode cetak ini tetap tidak praktis karena kerumitan-kerumitan teknis. Kubilai pun sampai pada jantung persoalan di balik metode cetakblok kayu atau cetak yang bisa dipindah-pindah: sistem penulisan China. Tulisan China merekam silabel-silabel.2 Inilah kendala dalam teknik cetak huruf China hingga teknik dan keperluan modern—buku yang dipasarkan secara luas, dan koran—yang mengharuskan adanya pengembangan demi industri di abad ke-20. Tetapi, Kubilai punya jawabannya, tepat di depannya. Jawaban itu berupa tulisan alfabetis yang diadopsi dari sistem tulisan bangsa Uighur atas anjuran kakeknya. Jawaban itu juga sudah ada dalam huruf alfabetis yang dibuat Phags-pa. Jadi, Kubilai mundur 3.400 tahun sebelumnya, ke masa di mana masyarakat imigran Timur Tengah di Mesir kuno mulai mengadaptasi hieroglif dan akhirnya menciptakan temuan revolusioner, alfabet. Seperti tulisan China, tulisan kuno lainnya—hieroglif Mesir, tulisan paku Mesopotamia—juga berdasarkan silabel, yang nampaknya dianggap sebagai unsur paling dasar dari bahasa. Namun, bahasa memiliki unsur dasar yang lain, yaitu suara-suara tak bermakna yang membentuk silabel. Kejeniusan alfabet—alfabet apa pun—yakni: dia hanya menggunakan beberapa simbol, tak lebih dari beberapa lusin, untuk mengekspresikan seluruh rentang suara linguistik, bahkan yang bukan BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 341 2 Dengan dua pengecualian, yang saya temukan ketika berusaha keras menghafal huruf-huruf tertulis—bunyi r gantung dan dz, misalnya dalam kata nar (di mana) dan beizi (cangkir). Kedua suara ini tak punya arti pada dirinya sendiri, dan karena itu harus dipandang sebagai “huruf”. pustaka-indo.blogspot.com
suara sekalipun (seperti jeda diam untuk mengumpulkan kekuatan sebelum mengeluarkan letupan kecil yang jadi pangkal huruf p). Alfabet bukanlah sistem satu banding satu antara suara dan simbol, seperti yang banyak disangka selama ini. Kekuatan utamanya yaitu kekaburan yang menyebabkannya sangat fleksibel. Kualitas ini membuat alfabet dapat merepresentasikan jenis suara apa pun dari bahasa mana pun, asalkan Anda menguasai kesepakatan seputar sistem transliterasi: r dalam bahasa China mirip bunyi desir (seperti s dalam kata “treasure”); r dalam bahasa Prancis mirip dengan ch dalam bahasa Skotlandia; r dalam bahasa Jerman mirip suara serak kerongkongan; suara r anak kecil dalam bahasa Inggris seringkali mirip dengan w (wound the wagged wocks the wagged wascal wan). Kombinasi fleksibilitas dan kesederhanaan ini membuat alfabet jauh lebih unggul daripada tulisan yang didasarkan pada silabel. Berarti, Kubilai telah menguasai unsur utama yang dipakai Gutenberg dua abad setelahnya; unsur-unsur yang membantu mendorong kelahiran dan perkembangan Renaisans. Di luar juru tulis dan hasil seni mereka, yang ada hanyalah perkembangan lamban; ketika pers cetak dan kemajuan lain lahir dan saling menopang: pasar yang luas dan melek huruf yang mengglobal, buku-buku murah, ilmuwan yang saling bertukar informasi dan saling bantu. Ide-ide Copernicus awalnya tak dapat dipahami dan dianggap mustahil. Tetapi setelah mewujud dalam bentuk cetak, ide-ide itu bertahan di perpustakaan, menunggu Galileo datang untuk membuktikan kebenarannya. Seorang juru tulis perlu waktu seminggu untuk menggandakan beberapa halaman dengan kualitas tinggi, serta bertahun-tahun untuk salinan Kitab Suci. Gutenberg dan timnya menyempurnakan teknologi baru dan mencetak 180 salinan Kitab Sucinya yang terkenal itu hanya dalam waktu dua tahun. Di tahun 1500, sebanyak 250 usaha percetakan beroperasi di seluruh daratan Eropa, dan menghasilkan 2.000 judul buku—sekitar 200.000 buku— per tahun. Selama tahun 1512-1525, Jerman saja berhasil mencetak satu juta buku per tahun; sepertiga dari itu semua adalah buku-buku Martin Luther, yang karyanya, yakni Ninety-Five Theses yang anti-paus itu, memulai gerakan Reformasi dan yang setelah itu dipuja sekaligus dicerca karena mengakibatkan perpecahan besar di kalangan gereja BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 342 pustaka-indo.blogspot.com
Kristen. Bermula dari Renaisans dan Reformasi, lahirlah Eropa baru, Eropa yang menaklukkan dunia, mendominasi perdagangan, mendirikan bangsa-bangsa baru, menemukan tanah-tanah baru—semua hal yang dicita-citakan Jenghis dan Kubilai untuk kekaisaran mereka. Revolusi semacam ini sangat bisa lahir di bawah naungan Kubilai. China-nya Kubilai punya teknologi, kapal, serta hubungan antar-benua lewat darat maupun laut yang akan menopang ambisi imperialnya. Dia atau para penasihatnya yang sangat cerdas seharusnya mengambil langkah berikutnya, yaitu mengubah huruf ciptaan Phags-pa menjadi huruf cetak logam, menyusunnya ke dalam sebuah bingkai, dan mulai mencetak. Ada cukup alasan finansial untuk melakukan hal ini. Di Eropa, dorongan untuk menempuh langkah ini datang dari agama: kebutuhan untuk memastikan seluruh institusi Kristen membaca Kitab Suci yang resmi dan bebas dari kesalahan. Di China-nya Kubilai, dorongan itu barangkali datang dari kebutuhan untuk mencetak uang kertas, yang berdesain rumit dan bermacam warna untuk menghindari pemalsuan. Tetapi, mengapa ini tidak terjadi? Ada beberapa tahapan teknis yang tidak ada di China. Pertama, jenis kertas yang tepat. Di China, kertas yang tersedia sangat lembut dan berdaya serap tinggi, mirip tisu toilet, sangat cocok untuk para juru tulis yang bekerja dengan kuas atau yang memakai teknik blokcetak. Di Eropa, juru tulis bekerja dengan pena yang memerlukan permukaan lebih keras dan tidak menyerap. Jenis kertas inilah yang Gutenberg perlukan untuk menghasilkan cetakan huruf yang kering dan kecil. Kedua, China tak memiliki biji zaitun atau anggur yang harus diperas dengan pemeras berat, alat yang diadaptasi Gutenberg untuk membuat mesin cetak yang memakai alat penekan. Ketiga, harus ada orang yang menemukan apa yang berhasil ditemukan kemudian oleh Gutenberg, yaitu cetakan-tangan, yang bisa menghasilkan ratusan huruf cetak per hari. Alat ini, yang sekarang hanya ada di museum, sangat penting bagi proses cetak selama 500 tahun. Alasan terakhir dan barangkali terpenting yaitu: mengapa di masa Dinasti Yuan tak terjadi revolusi cetak? Tujuan pencetakan adalah BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 343 pustaka-indo.blogspot.com
penyebaran informasi, dan saya yakin—saya menyesal mengatakan ini—orang Mongol tak punya informasi apa pun yang ingin mereka sebarkan. Secara mendasar, apa yang Kubilai ciptakan adalah PT Mongolia, “perusahaan” maha besar yang bertujuan menghasilkan kekayaan dan kekuasaan untuk dirinya sendiri, dan sama sekali tak ada yang bisa dimanfaatkan untuk mengabadikan semua itu. Ini selalu jadi masalah. Salah satu sifat utama Jenghis yaitu toleransinya. Dia dan pewarisnyalah yang dipilih Langit untuk menguasai dunia. Tetapi mengapa harus begitu, masih jadi misteri. Sepanjang hidup, dia terus bertanya-tanya mengapa Langit memberi amanat seperti itu, dan dia berharap agama lain punya jawabannya. Sifatnya yang pantang menyerah dan toleransinya yang tinggi menurun kepada penerusnya, termasuk Kubilai—dan dia juga tak punya jawaban. Tak ada kebenaran baru yang harus dikabarkan. Dan orang Mongol pun tak punya tradisi sastra dan seni. Yang dapat mereka lakukan hanyalah mendorong penyebaran seni dan sastra rakyat taklukkannya, bangsa China. Ada semacam kekosongan intelektual dan artistik dalam “perusahaan” Kekaisaran Mongol. Tujuannya hanyalah menaklukkan, membangun dan memperkaya diri. Dan saya tak yakin ini jadi satu-satunya pesan bagi penguasa mana pun, apalagi penguasa yang mengendalikan kekaisaran seluas milik Kubilai. Pada akhirnya, orang Mongol tak punya banyak hal untuk dibicarakan. Sebagaimana diketahui, Gutenberglah yang merebut kesempatan, dan Travels karangan Marco Polo yang semula tulisan tangan berubah menjadi buku cetakan, perubahan yang melahirkan akibat makin besar. Lama sebelum edisi cetaknya yang pertama muncul (di Jerman pada 1477), rute yang dilewati Marco Polo telah lenyap karena runtuhnya Kekaisaran Mongol dan kebangkitan orang Muslim—ditandai dengan penaklukan orang Turki atas Konstantinopel pada 1453. Tak ingin tunduk pada para pedagang perantara beragama Islam, para saudagar Eropa mencoba lagi menempuh rute laut menuju Timur. Sebelumnya, barang yang mereka cari—sutra, batu mulia, dan terutama rempah-rempah—dibawa oleh orang China ke Malaysia, oleh orang BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 344 pustaka-indo.blogspot.com
Arab ke India, Persia, Afrika dan Arab, dan setelah itu via Laut Merah ke wilayah Mediterania. Masalahnya, cara seperti ini sangat berat dan mahal. Harga lada timur menjadi 50 kali lipat sesampainya di dapurdapur orang Eropa. Dari sudut pandang orang Eropa, yang perlu dilakukan sudah jelas: lada harus dijemput sendiri. Maka, perlombaan menemukan dan berlayar menyusuri Tanjung Harapan pun dimulai; juga rencana besar Columbus—mencapai Timur lewat pelayaran mengitari dunia dari jalur lain, jalur barat. Saya ulangi lagi: tujuan Columbus adalah mencapai China dan tanah Khan Agung. Tetapi, tunggu dulu. Yang kita bicarakan ini terjadi pada 1490-an. Buku Marco Polo muncul sekitar tahun 1300. Dua abad telah berlalu, apakah Khan Agung masih hidup? Tentu saja tidak. Tetapi ketika orang Muslim menutup pintu jalur darat di pertengahan abad ke-14, China saat itu seakan-akan masuk ke dalam mesin penghenti waktu bagi orang Eropa. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di sana. Dalam bayangan mereka, Kubilai Khan adalah makhluk abadi, dan tak ada yang mempertanyakan anggapan aneh ini. Seperti ditulis John Larner dalam Marco Polo and the Discovery of the World, “Bagi orang Eropa, Khan Agung (yakni kaisar Yuan terakhir) masih hidup dan tetap berkuasa selama 130 tahun setelah pengusirannya dari China.” Columbus—Cristoforo Colombo—adalah pria Genoa yang kasar tapi cekatan, terbakar oleh obsesi dan mimpi-mimpinya. Setelah bertahun-tahun mencoba meminta dukungan dari Portugal tapi gagal, akhirnya dia memperoleh dukungan dari Spanyol. Dukungan ini di kemudian hari menjadi keberuntungan bagi semua orang, kecuali penduduk asli benua Amerika. Sudah jadi hal yang lumrah dalam tulisan sejarah bahwa tujuan Columbus saat itu adalah mencapai China-nya Kubilai sebagai tempat perhatian pertamanya, sebab dia telah membaca penjelasan Marco Polo tentang wilayah ini. Dalam pelayaran pertamanya pada 1492, dia mungkin membawa buku Travels untuk memastikan dia menempuh jalan yang tepat ketika tiba di sana. Apakah memang seperti ini kejadiannya atau tidak? Hal ini jadi pokok perdebatan teknis di antara para ilmuwan. Tetapi, saat ini banyak bukti menunjukkan bahwa kejadiannya tidaklah seperti itu. John Larner mengemukakan dengan baik berbagai pendapat mengenai hal ini. BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 345 pustaka-indo.blogspot.com
Singkatnya: Columbus memang memiliki salinan buku Marco Polo (dalam bahasa Latin, cetakan tahun 1490); tetapi, karena dia bukan kutu buku, nampaknya dia baru memiliki buku itu sepulang dari Dunia Baru, dan buku itu dia perlukan untuk memeriksa temuannya. Inspirasi yang melatari perjalanannya datang dari berbagai sumber, karena di abad ke-15 Marco Polo telah diterima luas sebagai seorang reporter ketimbang seorang pencerita, dan informasinya telah dimasukkan ke dalam “peta-peta”, jika kreasi fantastis dapat disebut peta. Columbus bisa jadi memiliki akses yang tepat untuk gagasannya berkat sepucuk surat yang ditulis seorang sarjana dan ahli astrologi asal Florentina bernama Pozzo Toscanelli, seorang anggota semacam persatuan ilmuwan seluruh Eropa kala itu. Di dalam kelompok ini juga terdapat seorang klerik berkebangsaan Portugis, Fernao Martins, yang menjadi kanon kota Lisbon dan penasihat Alfonso V, raja Portugal. Pada 1474, Toscanelli mengirimi Martins sebuah peta dan sebuah surat yang berisi: “Dalam kesempatan lain, aku sudah bicara padamu tentang jalan pintas, lewat laut, menuju negeri penghasil rempah-rempah, selain jalur yang kau tempuh lewat Guinea… Konon, jalur ini berupa pelabuhan terkenal bernama Zayton”—dia kala itu melukiskan pelabuhan ini mirip dengan penjelasan Marco Polo. “Pelabuhan ini diperintah seorang pangeran yang disebut Khan Agung,” yang menguasai berbagai kota, termasuk “kota besar Qinsay”, yang terletak di Provinsi Mangi (China selatan) di dekat Provinsi Cathay (China utara). Sepertinya, Columbus saat itu berada di Lisbon. Seperti kata Larner, barangkali saja dia pernah membaca atau menyalin surat Toscanelli ini. Itu berarti, dia memperoleh informasi Marco Polo dari tangan kedua. Bahwa dia memiliki informasi, itu sudah pasti. Tatkala berangkat menuju Cathay pada 1492, dia mencatat di dalam catatan hariannya bahwa sponsornya, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, menitipkan surat-surat untuk “Khan Agung dan seluruh raja dan tuan India”. Tatkala tiba di Kuba, dia menemukan sebuah sungai yang lurus ke depan, dan “berkata bahwa dia akan segera menuju Khan Agung yang dia kira berada di wilayah itu atau menuju kota Cathay yang berada dalam kekuasaan Khan Agung, yang menurutnya sangat besar sesuai dengan apa yang telah diceritakan kepadanya sebelum berangkat.” BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 346 pustaka-indo.blogspot.com
(Rujukan pada kota Cathay sebagai sebuah kota dan kata-kata “apa yang telah diceritakan kepadanya sebelum berangkat” menyiratkan bahwa dia menerima informasi Marco Polo dalam bentuk lisan bukan tulisan.) Hal ini merupakan rentetan sebab-akibat yang luar biasa. Kubilai menyambut Marco Polo, penulis Travels, yang secara tak langsung menginspirasi Columbus melakukan pelayaran bersejarahnya. Barangkali, inilah sumbangan terbesar Kubilai bagi sejarah dunia: dia adalah magnet yang menarik Columbus ke barat, dan membuat Dunia Lama akhirnya bersentuhan dengan Dunia Baru. Sejak 1249, Kubilai telah mengakar dalam kesadaran Barat, tidak lagi sebagai mimpi buruk sebagaimana kakeknya di masa sebelumnya tapi sebagai ujung pelangi sebuah monarki dengan kekayaan dan kejayaan tiada terhingga. Dalam citra seperti inilah dia menerobos masuk ke tengah para penutur berbahasa Inggris hari ini, berkat versi distortif buku Marco Polo, sebuah mimpi akibat candu dan selaan yang ter - kenal. Karya Marco Polo, Travels, masuk lewat terjemahan Italia (oleh Ramusio) ke penyusun kompilasi temuan petualangan Inggris bernama Richard Hakluyt, yang tiga jilid karya besarnya beredar pada 1598- 1600. Karya ini, dan karya Hakluyt yang tak terpublikasi, plus bahanbahan lain, disunting oleh koleganya bernama Samuel Purchas menjadi karya yang jauh lebih besar yang terbit dalam berbagai edisi, ditutup dengan Hakluytus Post-humus atau Purchas His Pilgrimes, pada 1625. Dalam kompendium ini kita dapat membaca: “Di Xanadu Kubilai Khan mendirikan istana kerajaan, menutup tempat datar seluas 16 mil dengan tembok, di mana terdapat rerumputan segar, banyak mata air yang indah, sungai-sungai yang menyenangkan, dan bermacam hewan buruan. Di tengah-tengahnya terdapat kediaman yang sangat mewah.” Demi kisah yang terkenal mengenai impian dan selaan, kita harus maju lagi 170 tahun, ke suatu malam di bulan Juni 1797. Kisah ini terjadi di sebuah ladang pertanian terpencil di lereng bukit di Exmoor dekat pantai antara Porlock dan Lynton. Lalu, muncullah penyair BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 347 pustaka-indo.blogspot.com
Samuel Taylor Coleridge, yang tinggal di situ. Dia baru saja melakukan perjalanan panjang untuk bersatu dengan alam dan tiba-tiba terserang sakit perut alang kepalang—dia menyebutnya disentri. Dia mengambil candu, membaca beberapa bagian karya Purchas, tertidur dan akhirnya bermimpi tentang versi lebih liar daripada gambaran yang baru saja dia baca. Dia dibangunkan oleh “seseorang dari Porlock yang sedang melakukan suatu urusan”—salah satu penyamar paling terkenal dalam sejarah sastra, yang namanya tetap dianonimkan oleh Coleridge karena saat itu dia sedang membuat sebuah pakaian, dan orang ini (menurut pendapat sebagian ahli) mungkin makelarnya. Dia sadar bahwa saat itu di ujung lidahnya siap meluncur puisi sepanjang lebih kurang 300 baris. Urusan bisnis itu memakan waktu satu jam, membuat dia lupa sebagian besar puisi yang telah siap dia buat. Dia mencoba mengingatingat beberapa baris, dan berjuang selama beberapa minggu kemudian untuk membuat “fragmen”, yang menjadi puisi paling terkenal dalam bahasa Inggris: Di Xanadu, Kubilai Khan Menitahkan dari kubah agung kenikmatan: Di mana Alph, sungai suci, mengalir Lewat lorong gua besar tak terukur manusia Dan bermuara ke laut tanpa matahari Dua kali lima mil tanah subur Dikelilingi tembok dan menara: Di sana taman-taman bercahaya karena lika-liku sungai kecil, Pohon-pohon menyan yang berbunga Dan di sini hutan leluhur dan perbukitan Menaungi tetumbuhan hijau bersinar bagai matahari. Ah! Di sana jurang dalam menurun terjal Ke bukit hijau yang melintangi hutan cedar! Tempat yang liar! Tetap suci dan memesona Seperti biasanya tatkala di bawah bulan yang meredup karena ratapan Wanita yang bersedih ditinggal kekasih yang kejam! Dari jurang ini, dengan kegaduhan tanpa henti, Seakan-akan bumi ini sedang tersengal-sengal, Sekonyong-konyong menderu air terjun raksasa: BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 348 pustaka-indo.blogspot.com
Di tengah deru suaranya yang setengah tertahan Bongkahan-bongkahan besar melambung bagai hujan es, Atau seperti sekam gabah berhamburan terkena pukulan alu: Dan ke tengah bebatuan menari ini, Sekonyong-konyong mencebur sungai suci. Lima mil melenggak-lenggok, Melintasi pepohonan dan lembah sungai itu mengalir, Lalu sampai di gua besar tak terukur manusia, Dan tenggelam ke dalam gemuruh samudra tanpa nyawa: Di tengah gemuruh ini, Kubilai mendengar dari kejauhan Suara-suara leluhur memerintahkan perang! Bayangan kubah kesenangan Mengawang di atas gelombang; Di manakah pernah terdengar ukuran gabungan Dari air terjun dan gua-gua. Inilah keajaiban benda langka, Kubah kesenangan yang bercahaya dengan gua-gua es! Seorang dara dengan kecapi Dalam mimpi yang pernah kualami: Dialah gadis Abyssinia, Dengan kecapinya dia menyanyikan, Lagu Gunung Abora. Dapatkah kubangkitkan dalam diriku Simfoni dan lagunya, Demi kesenangan itu, aku ‘kan menyerah padanya, Dengan musik yang keras dan panjang itu, Kan kudirikan kubah itu di udara, Kubah bercahaya itu! Gua-gua es itu! Dan semua yang mendengar akan melihatnya di sana, Dan akan menangis, Awaslah! Awaslah! Matanya yang tajam, rambutnya yang berombak! Kitarilah dia tiga kali, Dan tutup matamu karena kagum, Karena dia sedang menyantap semangka, Dan minum susu Surga Firdaus. BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 349 pustaka-indo.blogspot.com
Tentu saja, isi puisi ini tak ada hubungannya dengan Kubilai, karena di Xanadu tak ada jurang, gua, atau hutan belantara, apalagi pohon cedar. Di sana cuma ada sungai yang bergerak lamban dan bukit-bukit tanpa pepohonan yang bergelombang naik-turun: sedangkan laut, yang tak kurang cerahnya dibanding laut-laut lain, dapat dicapai dalam dua hari perjalanan berkuda. Puisi tadi bersangkut-paut dengan bukitbukit Quantock, dengan pantai Somerset yang alami, dengan lerenglereng penuh pohon, tempat yang sering disebut dalam karya sastra, dengan rasa cinta Coleridge pada alam dan dengan ketergantungannya pada candu. Saya tak yakin puisi ini masih terasa dahsyat hari ini. Kata “Momently” cukup janggal dipakai dua kali dalam enam baris. Namun, ini bisa diperdebatkan. Campuran surealis citra-citra dalam puisi inilah yang membuatnya terasa magis, dan karena itu nama Kubilai Khan menggema di dalam pikiran sang penutur berbahasa Inggris yang tak pernah mendengar Coleridge sebelumnya. Lalu, mengapa nama Xanadu juga demikian. Penggemar film pasti kaget mengetahui bahwa Xanadu adalah tempat yang benar-benar nyata, karena mereka hanya mengenalnya sebagai lahan menyeramkan milik Charles Foster Kane dalam film Orson Welles tahun 1947, Citizen Kane. Sementara penggila musik pop mengingat kata ini sebagai salah satu lagu Olivia Newton John. Ahli teknologi informasi mengenalnya sebagai nama bagi ide Ted Nelson, yakni bahwa seluruh informasi di dunia ini dapat diproduksi dalam bentuk hiperteks: Project Xanadu, “inspirasi nyata bagi World Wide Web”, seperti yang tertuang dalam situs Nelson: Perihal nama: Tidak, kami tak mengambil nama ini dari Olivia Newton-John. Xanadu adalah tempat nyata yang terletak di Mongolia (sebenarnya China, Ted), yang dijelaskan dalam sebuah puisi yang dianggap orang sebagai puisi romantik paling sempurna dalam bahasa Inggris… Sejarah puisi ini juga mengaitkan nama “Xanadu” dengan kenangan dan karya yang hilang, sebab Coleridge mengaku dia tak bisa mengingat puisi ini kembali ketika menuliskannya karena adanya selaan urusan duniawi. Kami memilih nama “Xanadu”, dengan seluruh pengertian ini, untuk merepresentasikan tempat BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 350 pustaka-indo.blogspot.com
ajaib bagi memori sastra dan kebebasan, di mana tak ada yang bakal terlupakan lagi. Mendengarkan gema suara ini lewat lorong waktu yang telah terdistorsi, kita sangat jauh dari Shang-du-nya Kubilai. Tetapi, dialah yang mengeluarkan aba-aba agar semua itu dimulai. Dan saya pikir, dia patut menerima ucapan terima kasih. BAGAIMANA TIMUR SAMPAI KE BARAT 351 pustaka-indo.blogspot.com
17 GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA TITIK BALIK SEMUA PERISTIWA TERJADI PADA 1281, SAAT KUBILAI GENAP berusia 66 tahun. Kekaisarannya telah mencapai garis batas, dan ketika menengok ke belakang, ada kesan putus asa dalam usaha memperlebar wilayah kekuasaannya. Dari sudut pandang modern, seorang psikolog mungkin akan mengatakan bahwa Kubilai, pria paling berkuasa di muka bumi kala itu, berjuang melawan keyakinan yang menyatakan mimpi-mimpi apa pun pasti akan mati, segala ambisi akan sirna, dan tubuh akan menua. Dan harapan tertinggi yang bisa dia nyatakan adalah bagaimana agar kekaisarannya dapat lestari dengan batas-batas yang telah dia miliki saat itu. Lalu, apa yang jadi biang semua itu? Depresi, pada mulanya. Pada 1281, istri tersayangnya, Chabi, pasangan sekaligus penasihat utamanya selama 41 tahun lebih, meninggal dunia. Dalam 20 tahun pertama perkawinan mereka, sebelum Kubilai dinobatkan menjadi kaisar, Chabi telah melahirkan dan membesarkan empat putra, termasuk pewaris takhta, Jingim, dan lima putri. Chabi memastikan putra-putri mereka di besarkan dan dididik dalam ragam kebudayaan yang mengitari mereka, Mongol dan China, Buddhis dan Konfusian. Dia terkenal berkat kecermatan dan cita rasanya yang tinggi. Dia pernah menyuruh para wanita bangsawan mengumpulkan tali busur panah yang tak lagi terpakai: tali itu bisa digunakan sebagai benang dan ditenun menjadi kain. Dia merancang BAGIAN I: MUSIM SEMI 352 pustaka-indo.blogspot.com
ulang topi Mongol, menambahi desainnya dengan semacam pinggiran mendatar sebagai pelindung dari sinar matahari. Dia tak buta dengan segala macam prestasi suaminya. Setelah berhasil merebut ibukota Song pada 1276, dia tak segan-segan menasihati suaminya agar tak terbawa ambisi yang membabi-buta: “Pelayan setiamu ini mendengar kisah dari zaman dahulu bahwa tak ada kerajaan yang dapat lestari selama seribu tahun.” Chabi-lah yang memastikan permaisuri Song yang tertawan mendapat perlakuan layak sebagai wanita terhormat. Lalu, terjadilah skandal pembunuhan seorang menteri Muslim yang tamak dan tak disenangi rakyat, Ahmad. Skandal ini seakan menyodorkan bukti telak betapa lemah kemampuan Kubilai menilai seseorang. Namun setidaknya, saat itu masalah suksesi sudah diatur dengan baik, dalam bentuk putra mahkota Jingim, Emas Murni, putra kedua Kubilai, dan Chabi, yang sedang di puncak kematangan umurnya, 38 tahun. Setelah pembunuhan Ahmad, Kubilai dapat kembali berkonsentrasi pada urusannya. Dia pun punya cukup alasan untuk memperistri wanita lain, Nambui, sepupu jauh Chabi—barangkali, sebelum meninggal, dia sendirilah yang memilih wanita ini untuk memastikan suaminya mendapatkan pendamping yang dia butuhkan. Niat ini nampaknya berhasil. Kubilai masih cukup sehat untuk menjalani kehidupan normal. Di usianya yang ke-70, dia dapat membuat Nambui hamil. Setelah melahirkan seorang putra, Nambui mulai bertindak sebagai perantara dan asisten Kubilai, melindunginya dari kerja-kerja berat. Jingim lambat laun mengambil alih seluruh tugas ayahnya, hingga pada 1285 seorang pejabat senior menyebarkan isu bahwa Kubilai telah turun takhta dan digantikan putranya. Dan entah bagaimana, meski sudah dilindungi dan dijaga Nambui, Kubilai tetap mendengar berita ini. Dia pun marah besar. Dalam krisis berikutnya, saat Kubilai mulai mencurigai kesetiaan putranya, tragedi lain terjadi tiba-tiba. Jingim jatuh sakit akibat penyakit yang tak diketahui, dan akhirnya dia meninggal dunia. Masih ada bekas peninggalan Kubilai tua; peninggalan yang cukup untuk satu usaha terakhir. Dia perlu melakukannya. Semua ini terjadi GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA 353 pustaka-indo.blogspot.com
ketika sepupu Kubilai yang ambisius dan selalu jadi biang masalah, Kaidu, tengah begitu giat di Asia Tengah. Dia nyaris terlupakan di China yang sibuk dengan urusan administrasi pemerintahan dan petualangan (penaklukan) luar negeri. Kaidu terlalu sibuk mengumpulkan dukungan dari seluruh pelosok kekaisaran, sampai ke Tibet di daerah selatan dan pada saat yang sama ke Manchuria di kawasan timur. Jika Kubilai tak hati-hati, dia lama-lama akan tersingkir dari daerah pedalaman nenek moyangnya sendiri. Di Tibet, seorang bocah berusia 13 tahun jadi pengganti Phags-pa yang meninggal pada 1280. Bocah itu dicomot begitu saja dari istana Mongol. Hal ini membuat penduduk setempat marah. Pada 1285, salah satu sekte Buddhis di sana, sekte Brigung, mengobarkan kekerasan dengan menyerang biara-biara sekte Phags-pa, sekte Saskya. Barangkali ini terjadi secara spontan; tapi Kaidu melihatnya sebagai peluang baginya. Bawahannya, Duwa, datang membantu pemberontak, sementara di saat yang sama dia memotong jalan menuju garnisun Kubilai dan stasiun perhentian pos di wilayah Uighur—wilayah Xinjiang hari ini. Duwa mencoba mengepung kota Khara-Khocho (kini hanya berupa reruntuhan yang berjarak 45 km ke timur dari daerah Turpan) selama enam bulan, menyerang tembok tanah dengan beberapa ketapel tempur dan 100 pelontar bom nafta—dengan hasil nihil. Dia baru menghentikan usaha ini tatkala komandan pasukan kota yang telah putus asa menyerahkan putrinya sebagai hadiah, dengan cara menurunkannya dari atas tembok. Tahun berikutnya, Kaidu berhasil menguasai Ürümqi (kala itu bernama Beshbaligh), ibukota Uighur. Pada 1288, sebanyak 1.050 tukang meninggalkan Khotan (Hotan) dan Kashgar, mencari tempat yang lebih aman di timur. Ini semua membuktikan terlalu banyak hal. Tahun berikutnya, Kubilai memerintahkan pasukannya mundur total dari Xinjiang, meninggalkan Kaidu dengan wilayah seluas dua kali wilayah kekuasaannya semula. Tetapi, itu hanya sementara. Kubilai mengirim pasukan yang dikomandoi cucunya. Pemberontak di ibukota dihancurkan, 10.000 orang tewas (begitulah menurut beberapa sumber: jumlah yang terdengar berlebihan), stasiun perhentian pos dipulihkan kembali dan otoritas Mongol dikembalikan seperti semula. Dan, Tibet kembali tenggelam ke dasar air untuk seabad kemudian. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 354 pustaka-indo.blogspot.com
Sementara itu, Kaidu tetap aktif di tempat lain. Pada 1287, dia mengancam akan bekerjasama dengan penantang baru, seorang pangeran penuh semangat berusia 30 tahun bernama Nayan, keturunan saudara tiri Jenghis, Belgutei, di Manchuria. Kubilai menghadapi kenyataan pahit: seluruh wilayah kekaisarannya di utara—wilayah lengkung stepa dari Xinjiang, terus ke tanah kelahirannya, Mongolia, hingga ke Manchuria—akan terpecah-pecah menjadi kekaisaran pastoralnomadik, sebagaimana kehendak pemberontak. Maka, untuk menyelidiki hal ini, Kubilai menunjuk seorang pahlawan: Bayan, seorang jenderal, Kanselir Utama, penakluk Song. (Bayan versus Nayan ini memang membingungkan, tapi begitulah nyatanya). Menurut salah satu sumber, Bayan berencana menghadiri jamuan makan atas undangan Nayan sebelum dia sadar bahwa itu jebakan. Begitu menyadari situasi ini, dia langsung berusaha meloloskan diri. Kubilai akhirnya mengambil tindakan yang tepat. Rincian peristiwa ini memang agak kabur. Tetapi yang jelas, dia mengirim Bayan untuk menjaga agar kedua pemberontak ini tetap terpisah dengan cara merebut Karakorum, sedangkan dia sendiri memimpin pasukan lain menyerang Nayan. Seperti biasa, Marco Polo menceritakan kisah ini dengan gaya yang berlebihan. Dalam 12 hari, Kubilai mengumpulkan pasukannya, 360.000 pasukan kavaleri dan 100.000 infanteri—jumlah yang tak masuk akal, sehingga harus kita pangkas 90 persen. Meskipun telah dipangkas, 46.000 pasukan tetaplah jumlah yang luar biasa. Ahli nujum pun dimintai pendapat, dan mereka meramalkan kemenangan. Pasukan pengintai dikirim ke garis depan untuk menangkap siapa saja yang mereka temui, sehingga mencegah bocornya informasi penyerangan ke pihak musuh. Kubilai naik ke markas-perang-berjalannya, semacam benteng mini yang dipanggul oleh empat gajah yang dikekang berjajar. Setelah 20 hari berjalan, mereka tiba di suatu dataran, mungkin suatu tempat di ruang terbuka stepa timur laut Mongolia. Para pemberontak terkejut, tapi langsung membuat formasi. Kedua pihak lalu melantunkan nyanyian perang diiringi “alat musik berdawai ganda”. Lalu, terdengarlah genderang perang—semacam tambur raksasa bergaris tengah beberapa meter yang terbungkus kulit kerbau—yang menyerukan perintah untuk menyerbu. Panah-panah berjatuhan bagai hujan, pukulan-pukulan GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA 355 pustaka-indo.blogspot.com
gada, tombak dan pedang, teriakan prajurit yang terluka, suara pertempuran bagaikan guntur: begitulah suasana peperangan sebagaimana biasa dikisahkan dalam roman-roman abad tengah. Kubilai menang; Nayan ditangkap dan dihukum mati tanpa darah mengalir, sesuai kebiasaan lama bagi para pangeran. “Dia dibungkus dengan tikar, lalu dilempar ke sana-sini sampai mati.” Kaidu, yang pernah jadi ahli strategi, mundur ke barat untuk menghindari pertempuran, tetap mempertahankan keutuhan pasukannya demi melaksanakan taktik serangan hit-and-run (dan juga karena baru saja dipusingkan oleh konflik dengan Persia, permusuhan yang tetap dia pendam seumur hidup; tapi ini kisah lain). Jadi, kali ini tak terjadi bentrokan; namun langkah mundur Kaidu ini setidaknya memutus kemungkinan terhubungnya pemberontak di Asia Tengah dan Manchuria. Berhubung Bayan memegang kendali di Karakorum dan dalam usaha membangun kembali kendali di daerah-daerah sekitar, Kaidu, yang saat itu secara de facto jadi khan Asia Dalam, tidak melakukan usaha skala besar selama tiga tahun berikutnya. Bayan dipersalahkan karena membiarkan Kaidu lolos—bahkan ada yang menuduh dia kolusi dengan Kaidu, sehingga memaksa Kubilai mencopot jabatannya sebagai komandan pasukan dan mengutus dia ke Datong di bagian selatan Provinsi Shanxi untuk menunggu perintah selanjutnya. Sebelum Bayan pergi, Kaidu keburu kembali, dan kali ini dia menerima pelajaran berat, yakni kehilangan 3.000 prajurit karena tertawan. Itu sudah cukup untuk memaksanya tetap diam di wilayah kekuasaannya sendiri, di belakang perbatasan yang dijaga para prajurit Yuan. Di lain pihak, Kubilai tak dapat berbuat apa-apa lagi untuk kembali memperoleh kontrol di wilayah Asia Tengah. Kedua pihak sama-sama menemui kebuntuan. Kebuntuan ini tetap bertahan hingga kematian Kubilai di tahun 1294, dan seterusnya. Tak ingin melanjutkan usaha ayahnya untuk memperluas wilayah di seberang lautan, penerus Kubilai, Temür, percaya bahwa pada akhirnya dia bisa menumpas pemberontakan di wilayah sendiri. Ternyata dia keliru. Pada September 1301, dia mengirim pasukan yang besar, jauh melebihi jumlah pasukan Kaidu. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 356 pustaka-indo.blogspot.com
Keduanya pun bertemu dalam empat rangkaian pertempuran di timur laut Mongolia, di mana pegunungan Atlai berujung di pinggir gurun Gobi yang berpasir. Berbagai sumber menyatakan pendapat berbeda tentang siapa yang menang. Nampaknya, dalam pertempuran ini, kekuatan mereka berimbang. Jadi, tak ada solusi final; Kaidu juga menghadapi kenyataan serupa, meski tabib-tabib China telah berupaya keras dia akhirnya tetap meninggal tak lama setelah pertempuran— akibat luka-luka, menurut Rasyiduddin, atau karena kelelahan setelah 45 tahun berperang. Tetapi bagaimanapun, dia saat itu berhasil mencapai usia 70 tahun. Duwa, yang bertindak sebagai penobat raja, memahkotai putra sulung Kaidu, Chapar—pilihan yang tidak populer: pemuda “teramat kurus dan tak menarik”, menurut Rasyiduddin. Meski demikian, dia tetap berkuasa hingga akhir hayatnya, dan selalu berusaha menyingkirkan keturunan Kaidu lainnya yang berusaha menentangnya. Chapar, yang sejak saat itu memegang kendali, melihat pertempuran sama sekali tak ada berguna. Dia akhirnya menyerah kepada Yuan di tahun 1310, dan bersedia melakukan perjalanan ke istana Yuan, perjalanan yang seharusnya dilakukan ayahnya pada 1264. Dengan demikian, Chapar mengakhiri perlawanan Asia Tengah terhadap otoritas kekaisaran. Kehilangan dalam kehidupan pribadi, pemberontakan, dan kekalahan di luar negeri: semua itu lebih dari cukup. Kubilai mulai menyukai makan dan minum. Di berbagai perjamuan istana, dia melahap dengan rakus daging domba rebus, dada kambing, telur, buah-buahan, kuekue, teh bergula, dan tentu saja minuman pilihan setiap orang Mongol: airag (susu kuda yang difermentasi, dalam bahasa Turki disebut kumiss). Kecanduan minumlah yang menggerogotinya. Airag dan anggur: dia mengonsumsi minuman ini begitu banyak setiap hari. Tatkala dia tak lagi gesit bergerak, kekuatannya menurun, dia mengalami kelebihan berat badan, menggelembung tahun demi tahun hingga mengalami obesitas yang ekstrem. Dia tahu itu semua akan membunuhnya, tapi dia tak peduli. Sadar hidupnya tak akan lama lagi, dia berdamai dengan arwah putra mahkotanya yang telah tiada, dan merencanakan putra GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA 357 pustaka-indo.blogspot.com
ketiga Jingim, Temür, sebagai penggantinya. Dia juga tahu di mana dia harus dikebumikan: di tanah kelahirannya, di tanah air bangsa Mongol, di tempat pegunungan Siberia berakhir, Khenti, dan padang rumput mulai membentang. Di sinilah kakeknya, yang memulai semuanya, dilahirkan. Di sini pula dia dikuburkan. Jenghis juga meninggal jauh dari kampung halaman, di pegunungan Liupan di Provinsi Ningxia, persis sebelum penaklukan Xi Xia. Selama tiga minggu, iring-iringan pengantar jenazah mengangkut mayatnya ke utara, melintasi Sungai Kuning, menyusuri pegunungan Helan, menuju padang rumput di dataran tinggi di Mongolia Dalam hari ini, lalu melintasi gurun Gobi dan padang-padang rumput Mongolia, dan setelah itu melintasi sungai Kherlen menuju gunung yang disucikan orang Mongol sejak mereka pertama kali datang ke tempat itu sekitar tahun 800. Gunung itu bernama Burkhan Khaldun—Khaldun Suci, begitulah orang lazim menerjemahkannya (meski ada juga yang berpendapat bahwa burkhan tak lain adalah kata kuno untuk pohon “willow”). Jenghis mengenal baik wilayah ini—dua sungai, Kherlen dan Onon, pegunungan Khenti yang jadi hulu keduanya, padang-padang rumput yang disusurinya—bagaikan mengenal pelananya sendiri. Burkhan Khaldun adalah gunung tempat Jenghis menghindari musuhmusuhnya. Di sinilah dia memperoleh wahyu (paling tidak begitulah yang diyakini rakyatnya, dan itu karena dia yang memberitahu mereka) bahwa dia mendapat dukungan dari Langit Abadi, Surga, untuk membangun sebuah bangsa dan kekaisaran. Dia berjanji akan berdoa dan memuja Burkhan Khaldun setiap hari. Tempat dan acara yang diadakan di sini terekam dengan baik dalam tradisi lisan dan tercatat dalam epos utama bangsa Mongol, The Secret History of the Mongols, yang ditulis Shigi, anak angkat Jenghis. Tidaklah masuk akal jika Jenghis dimakamkan di tempat lain, sama tak masuk akalnya jika rakyatnya merelakan tempat ini tak disucikan lagi. Orang sering mengatakan, tak seorang pun tahu di mana Jenghis dimakamkan. Pendapat ini tak dapat dipercaya. Setiap orang di Mongolia mengenal dengan baik lokasi seluas beberapa mil per segi yang jadi tempat Jenghis dikuburkan. Titik pasti di wilayah Burkhan Khaldun yang luas, melingkar, berbatu, dan penuh hutan lebat inilah yang masih misterius. Kuda-kuda dapat BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 358 pustaka-indo.blogspot.com
menjelajahi tempat ini dengan bebas, para penjaga ditempatkan dalam jarak aman, pepohonan tumbuh subur, dan hingga kini tempat pasti makam ini tetap tak diketahui. Para pemburu harta karun di zaman sekarang menganggap Burkhan Khaldun sebagai tempat di mana suatu hari kelak akan ditemukan hal luar biasa yang membuat mereka kaya raya. Namun orang Mongol yakin harta itu tak akan pernah ditemukan, karena begitulah keinginan Jenghis yang Suci. Maka, dengan kewenangan sebagai pemilik atas titik ini, Kubilai pada 1292 menunjuk cucunya, Kamala, menjadi pimpinan penjaga ordos Jenghis, istana tenda dan tanah perdikannya. Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Persia, Rasyiduddin, beberapa tahun setelah kematian Kubilai, tanah perdikan itu mencakup: Khorig Agung (Daerah Terlarang) Jenghis Khan, yang mereka namai Burkhan Khaldun, tempat di mana ordos agung Jenghis Khan berada. Tempat ini kemudian dijaga oleh Kamala. Ada empat ordos besar dan lima yang lain, semuanya sembilan, dan tak seorang pun diizinkan memasukinya. Di sana terdapat gambar mereka (keluarga kerajaan), asap dupa dan kemenyan pun terus membubung di sana. Menurut perkiraan saya, Kubilai ingin memastikan bahwa dialah, bukan Kaidu atau para pemberontak lain, yang dapat mengaku berhak atas tempat suci ini. Kuil-tenda sudah harus berdiri saat Kamala datang, menjaga makam yang telah digali 70 tahun sebelumnya dan sejak saat itu tertumbuhi semak belukar. Namun, tenda adalah bangunan sementara. Seiring perjalanan waktu, ordos yang semula berjumlah sembilan, berkurang menjadi delapan, Delapan Tenda Putih yang berfungsi sebagai kuil berjalan, yang bolak-balik melintasi tanah Mongol hingga akhirnya menetap di selatan Dongsheng di Mongolia Dalam: di sini, kedelapan tenda itu hari ini diubah menjadi Mausoleum Jenghis Khan. Kamala butuh tempat permanen untuk melaksanakan ritus-ritus penghormatan terhadap Jenghis dan Kubilai. “Di sana, Kamala juga membangun kuilnya sendiri,” tutur Rasyiduddin. Di peta, Burkhan Khaldun tertulis sebagai Khan Khenti—Raja Khenti. Sebagian kalangan mengatakan bahwa keduanya tidaklah sama. GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA 359 pustaka-indo.blogspot.com
Tetapi saya tak memercayai mereka, dan tidak pula pemerintah, karena sekali dalam tiga atau empat tahun para menteri dan anggota parlemen pergi ke sana untuk menghormati gunung ini, Jenghis, dan tentu saja Kubilai. Mereka melakukan perjalanan dengan mobil 4x4, yang dilengkapi dengan alat derek. Perjalanan ini memang sangat sulit, seperti yang saya rasakan sendiri pada 2002. Dari Ulan Bator, Anda harus berjalan ke timur sejauh 100 km menuju kota tambang batu bara, Baganuur, yang penuh cerobong asap berbagai rumah susun peninggalan era komunis yang sama sekali tak menarik. Dari sini tak ada lagi jalan mulus. Lalu, Anda akan berjalan ke utara melintasi bukit-bukit yang tertutupi rerumputan, mengikuti trektrek yang tak terlalu jelas—bagi orang Mongol, trek ini sudah dapat disebut jalan—yang akan mengantarkan Anda ke Möngönmört (berarti: Di Atas Kuda Perak). Anda terus maju, di sisi kanan Anda terdapat Kherlen, menuju wilayah tak berpenghuni yang sekarang menjadi Taman Nasional Khan Khenti. Trek-trek itu bertemu di sebuah jembatan kayu (pemerintah kadang pernah sampai ke sini). Setelah itu, Anda akan melewati jalan setapak—seringkali berlumpur dan tak bisa dilewati jika sebelumnya terjadi hujan badai—menerobos hutan willow dan cemara. Setelah berjalan sepanjang 25 km, Anda akan tiba di tanah berlumpur di lereng sebuah bukit; tempat ini disebut Gerbang. Jika mobil dapat melewati wilayah berlumpur ini, Anda akan disambut pemandangan menakjubkan di bagian atas Kherlen, dan lereng curam tanah berlumpur yang telah kering yang di kala musim hujan mirip rawa atau lumpur penjebak tank. Jika berani, Anda bisa turun dan melintasi Kherlen (sangat curam dan berbatu). Di sini, Burkhan Khaldun pun kelihatan: 2.452 m, tak terlalu tinggi, tapi rupa gunung ini mirip otot Arnold Schwarzenegger, semacam Ayer Rock-nya Mongolia, hanya saja tujuh kali lebih besar. Berjalan sejauh 18 km lagi, melintasi lembah yang membawa Anda mendekat ke sebuah tanda serta batangbatang pohon yang tersusun tegak dan tertutupi beberapa helai kain sutra warna biru dan alas sembahyang orang Tibet. Ini sebuah ovoo, tempat suci, yang biasanya terbuat dari batu, jika memang ada batubatu yang telah lunak oleh daun-daun cemara. Ini berarti, Anda sudah berada di kaki Burkhan Khaldun, dan setelah ini Anda harus mendaki. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 360 pustaka-indo.blogspot.com
Anda memerlukan waktu beberapa jam sebelum sampai ke puncak. Tak lama setelah itu, Anda akan sampai di tempat yang dulu pernah dibuat agak datar. Tempat ini juga dianggap suci. Di sini juga terdapat ovoo yang tertutupi sutra dengan beberapa onggok sesaji di bawahnya: botol vodka dan mangkok tempat dupa. Di sinilah kuil Kamala pernah berdiri, tak diragukan lagi. Pada 1961, Johannes Schubert dari Leipzig, orang Barat pertama yang mendaki gunung ini, menemukan keramikkeramik setengah bundar dan beberapa pecahan kendi di sini. Di masa kini, Anda harus sedikit berusaha keras menemukan benda-benda semacam itu di sini. Saya berhasil menemukan dua pecahan keramik. Tatkala memungutnya, saya membayangkan kejadian ini: Kamala yang baru berusia 29 tahun mengawasi 50 tukang orang China yang tengah mengerjakan tiang-tiang kayu, sementara tak jauh dari mereka ahli keramik mengolah tanah liat setempat menjadi bentuk genteng bundar yang kemudian mereka keringkan di atas tumpukan batang pohon yang ditutupi karung. Genteng-genteng ini lalu dibakar dalam tungku yang terletak tak jauh dari situ. Kamala sangat cermat melaksanakan tugasnya. Dia tahu hidup kakeknya tak akan lama lagi. Dan memang benar, setahun setelah Kamala kembali pulang, Kubilai, saat itu memasuki usia 80 tahun, nyaris tak bisa lagi melakukan apa pun tanpa bantuan istrinya, Nambui. Pada 28 Januari 1294, Hari Tahun Baru kalender matahari, Kubilai tak mampu menghadiri perayaan kenegaraan di Beijing. Tak ada pakaian putih-putih, tak ada penerimaan resmi untuk upeti dan hadiah dari para tuan tanah yang datang bertamu, tak ada pemeriksaan pasukan dengan gajah-gajah dan kuda-kuda putih yang dihias begitu mewah, tak ada jamuan makan kekaisaran di Aula Utama. Semua orang tahu bahwa akhir itu sudah dekat. Seorang utusan dikirim berkuda menemui satu-satunya pria yang barangkali mampu melepas nyawa kaisar: Bayan, yang saat itu masih menunggu perintah lanjutan di Datong, sejauh 300 km dari kota. Tiga hari kemudian—tak lebih, mengingat gentingnya situasi kala itu—Bayan sudah berada di sisi kaisar. Namun tak banyak yang dapat dia lakukan, kecuali menjanjikan GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA 361 pustaka-indo.blogspot.com
kesetiaan sampai mati. Kubilai tahu hidupnya akan berakhir, dan meminta Bayan menjadi salah satu dari tiga pelaksana wasiatnya (dua orang lainnya yaitu pimpinan badan sensor dan kepala urusan politik di Sekretariat). Setelah itu, kesehatan Kubilai makin memburuk, dan pada 18 Februari 1294 dia mangkat. Dua hari kemudian, rombongan pemakaman siap melakukan perjalanan. Mengingat kekayaan dan uang yang dia habiskan untuk berbagai operasi militer, upacara pemakaman ini terlalu sederhana. Namun, rombongan ini tetap berjumlah ratusan orang: anggota keluarga kekaisaran dan pemerintah yang cukup kuat melakukan perjalanan, juga pengawal, pengiring, tukang kuda, koki, pelayan, serta ditambah pula kuda pengganti, kereta untuk para wanita, kereta untuk tenda, dan unta pengangkut seluruh perlengkapan untuk upacara pemakaman kekaisaran. Perjalanan ini berlangsung selama tiga minggu sejauh 1.000 km. Di bagian paling depan rombongan, di belakang para pengawal, terdapat kereta jenazah Kubilai: sebuah kereta yang mengangkut tenda berisi peti mati besar, tertutup rapat, serta diisi dengan rempah-rempah dan bahan pembalsem lainnya. Menempuh jarak kira-kira 50 km per hari—kecepatan yang cukup bagus bagi rombongan seramai itu—iring-iringan ini akan memotong pegunungan yang mengelilingi Beijing di mana Tembok Besar melintas, melewati lereng-lereng bukit dan lembah menuju perbatasan kuno MongoliaChina di Kalgan (Zhangjiakou hari ini) dan terus berjalan menuju dataran Mongolia. Rombongan ini tak singgah ke Xanadu—karena akan menyita waktu selama dua hari—tapi terus berjalan menuju gurun Gobi yang berdebu, hingga akhirnya daerah berkerikil mengantarkan jalan menuju perbukitan penuh rumput, lalu sampai di dataran rendah Kherlen, dan akhirnya tiba di perbukitan yang merupakan kaki pegunungan Khenti. Saya ragu bisakah kita tahu pasti tempat pembaringan terakhir Kubilai. Ada sebuah tempat, setengah jam mendaki dari kuil Kamala, di mana Anda tak lagi menjumpai pepohonan dan tiba di dataran yang agak rendah. Puncak bukit masih agak jauh di depan, puncaknya yang berbatu kadang-kadang terlihat jelas dan tak jarang pula tertutup awan. Wilayah tempat Anda berdiri sekarang memang kelihatan seperti BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 362 pustaka-indo.blogspot.com
permakaman. Saya berpikir demikian saat pertama kali melihatnya, dan orang lain pun berpikir seperti itu. “Makam-makam” yang Anda lihat sebenarnya hanya berupa onggokan batu-batu tak beraturan, dari yang hanya seluas satu meter sampai tiga meter. Saya menerka, di sini ada ratusan makam. Sangat mudah untuk mengenalinya sebagai makam, gundukan batu sebagai penanda makam. Namun, ada satu hal yang agak janggal. Gundukan batu-batu ini berupa bongkahan tak teratur, dan semuanya pipih. Di sekitar makam-makam itu terdapat beberapa ovoo, terbuat dari batu, yang menjulang kira-kira satu meter. Cukup banyak orang yang datang ke sini untuk menjaga ovoo ini. Pertanyaannya, mengapa mereka tak sekaligus menjaga makam-makamnya? Keanehan lain, tempat ini berada di jalan utama menuju puncak, bukan tempat terbaik bagi pemakaman suci. Bukankah begitu? Saya kini sadar, kondisi tempat ini dipengaruhi oleh masalah geologis, dampak dari cuaca berembun selama berabad-abad yang membuat batu-batu tadi tercerai-berai. Cuaca dingin dan proses pengembunan ini jadi subjek kajian oleh sekelompok ahli yang saat ini masih jarang, yaitu para cryogeologis. Jika Anda membaca buku teks cryogeology, Anda akan melihat pola-pola—poligon, bundaran, cincin, dan tumpukan—yang terlihat sebagai buatan manusia, seperti bentuk lingkaran di batu. Beberapa penjelajah awal yang pertama kali melihatnya di wilayah kutub utara juga menganggapnya hasil ciptaan manusia. Namun, ini terbentuk akibat perubahan suhu yang menyebabkan ekspansi dan kontraksi halus pada batu-batu, sehingga mereka terpecah menjadi berbagai ukuran dan bentuk. Tak ada yang tahu berapa lama proses ini berlangsung, karena ini terjadi dalam skala waktu geologis. Bentuk-bentuk ini sama dengan bongkahan salju atau poligon lumpur di danau yang mengering. Batu-batu yang berserakan ini kadang memancing pikiran nakal. Jangan-jangan “makam-makam” alami ini adalah kamuflase dari makammakam yang sebenarnya? Siapa yang tahu pasti manakah makam yang asli di antara ratusan “makam” itu? Bahkan hari ini, dengan teknik arkeologi modern, penelitian tentang makam ini dapat menelan biaya jutaan dolar dan memakan waktu bertahun-tahun. Jujur saja, penelitian ini nampaknya belum akan terjadi. GUNUNG KERAMAT, MAKAM RAHASIA 363 pustaka-indo.blogspot.com
Hanya satu hal yang saya yakini: Kamala tak akan memilih tempat yang salah. Suatu kejadian kembali terlintas manakala saya mengenang lagi pendakian yang saya lakukan. Satu barisan pria melintasi pepohonan cemara dan berakhir di tanah terbuka ini. Mereka berpakaian bulu binatang untuk mengusir dingin. Sepatu kulit bertumit tinggi membenamkan kaki mereka di permukaan salju halus hingga mencapai tanah keras di dasar salju. Enam orang—bukan, mungkin delapan orang, karena jenazah yang mereka usung cukup berat—mengangkat peti mati yang tertutupi sutra warna biru dan kuning. Tak ada lama yang hadir, tak ada pula lonceng-lonceng Buddhis: ini adalah upacara kembali ke tradisi nomadik, tradisi yang Jenghis sukai. Dipimpin seorang shaman bertopeng dengan tambur kecil dan giring-giring, para pria tadi melangkah menuju dataran yang lebih tinggi, di mana terlihat pemandangan menakjubkan: lembah bersalju, sungai beku yang mengalir menuju pegunungan di kejauhan. Inilah tanah yang tak pernah dilihat khan mereka, namun tetap dianggap sebagai kampung halaman. Beberapa orang tiba lebih dahulu di sana. Dengan tangan bersarung, mereka memindahkan batu-batu dari salah satu dari ratusan onggokan batu. Di tengah suasana sedih itu, api unggun dinyalakan untuk melunakkan tanah yang mengeras bagai besi. Mereka pelan-pelan menggali liang lahat dengan sekop besi. Kemudian, muncullah seorang petugas yang memberikan penghormatan terakhir, diikuti para pengiring dan pembacaan doa oleh shaman, diiringi tabuhan genderang berirama monoton; lalu, batu-batu itu diletakkan kembali satu demi satu seperti posisi semula, sehingga tak ada lagi yang memisahkan satu onggokan batu dari onggokan batu lainnya. Kubilai dimakamkan di sisi kakeknya, Jenghis, dan keduanya menjadi bagian dari panorama alam tempat mereka dan kekaisaran mereka lahir. BAGIAN IV: MUSIM DINGIN 364 pustaka-indo.blogspot.com