EPILOG: WARISAN SANG KHAN AGUNG TAK LAMA SETELAH PEMAKAMAN KUBILAI DI BURKHAN KHALDUN, SEBUAH dewan dibentuk untuk memutuskan siapa di antara dua putra Kubilai yang akan menggantikannya, Kamala atau Temür (Temür, pilihan Kubilai, tak pernah dinyatakan secara resmi sebagai pewaris). Terjadilah perdebatan. Lalu seorang wanita terhormat dalam keluarga kekaisaran menawarkan solusi: Kubilai pernah mengatakan, barang siapa paling tahu perihal kata-kata Jenghis, dialah yang berhak memerintah. Maka, disepakatilah perlombaan bagi kedua putra yang sama-sama mengaku berhak atas takhta. Temür, yang lebih muda, sangat fasih dan pandai berpidato: dia mengungkapkan kata-kata Jenghis dengan baik. Sementara Kamala, yang berpidato tersendat-sendat, tak mampu menandinginya. Semua orang yang hadir pun berseru: “Temür berpengetahuan lebih baik… Dialah yang berhak atas mahkota dan takhta!” Di atas kertas, warisan yang Temür terima luar biasa luas. Keluarganya memerintah China, Korea, Tibet, Pakistan, Iran, sebagian besar Turki, daerah Kaukasus (Georgia, Armenia, Azerbaijan), sebagian besar wilayah Rusia yang berpenghuni, Ukraina, dan setengah wilayah Polandia. Wilayah ini mencakup seperlima dari keseluruhan daratan permukaan bumi. Tetapi kenyataannya, kekuasaan Temür atas wilayah pan Eurasia ini—seperti halnya Kubilai—hanya bersifat nominal. Akar kebudayaan nomadnya tak lebih dari sekadar romansa belaka dalam WARISAN SANG KHAN AGUNG 365 pustaka-indo.blogspot.com
pikiran para aristokrat Mongol. Meski mereka pernah mengunjungi Mongolia, tapi hubungan mereka dengan tanah leluhur ini sama dengan hubungan keturunan Irlandia di New York saat berpawai di Fifth Avenue dalam perayaan Hari St. Patrick. Kekaisaran menjadi seperti bangunan besar yang rusak berat, dan retak-retak yang terjadi ditutupi dengan berbagai kenangan tentang para pendiri agungnya. Golden Horde di Rusia selatan mulai mendirikan kekuasaan yang bertahan selama dua abad, dikenal oleh orang Rusia dengan sebutan “Tartar” (atau Tatar). Para penguasa Mongolnya—belakangan menjadi bekas Mongol—memeluk agama Islam, bekerjasama dengan penguasa Mesir lewat pertukaran diplomatik yang dilengkapi surat-surat kepercayaan bersegel emas dan salam-salam khidmat, semua itu ditulis dalam bahasa Turki. Setiap khan mengaku menjadi Keluarga Emas, keturunan Jenghis, tapi seiring perkembangan waktu, setiap penguasa akhirnya sama-sama bisa mengajukan klaim yang sama. Ketika Rusia yang tengah bangkit di bawah pemerintahan Catherine Yang Agung mencaplok Crimea pada 1783, khan setempat masih menyatakan diri sebagai keturunan Jenghis. Di Persia, para Il-khan (khan-khan bawahan), begitulah mereka menyebut diri, memperbudak, menyiksa, dan memajaki rakyat kelewat batas. Tindakan ini menumbuhkan kebencian yang sangat dalam kepada para penguasa. Perdagangan lebih diutamakan daripada pembangunan kota, yang menghasilkan kekayaan sehingga memungkinkan penguasa Mongol dapat menopang kekuasaan mereka, meskipun mereka kehilangan kontak dengan akar budaya mereka. Cucu Hulagu beralih ke agama Islam, dan memerangi penguasa Muslim lain, tapi sia-sia. Pada 1307, utusan Mongol datang menemui Edward II di Inggris: inilah usaha terakhir dalam mempromosikan diri yang berujung sia-sia. Tiga puluh tahun kemudian, penguasa terakhir Mongol wafat tanpa meninggalkan seorang pun pewaris takhta. Akhirnya, kekuasaan Mongol pun lenyap. Di Asia Tengah, para pewaris Chaghadai menguasai daerah yang amat luas tapi tidak jelas lantaran terus-menerus dirongrong oleh pertikaian antar-agama, peperangan dan percekcokan yang merugikan dua pihak yang terlibat. Di sini, tradisi nomadik masih kuat, begitu EPILOG 366 pustaka-indo.blogspot.com
pula hasrat menaklukkan. Tertahan oleh saingan dari timur dan barat yang juga berkebangsaan Mongol, para pewaris Chaghadai mengalihkan pandangan ke Afghanistan dan India di selatan, menyerang daerah ini beberapa kali dan menginsiprasi lahirnya suatu tradisi yang tetap bertahan meski kekuasaan Mongol telah jatuh ke penguasa kejam bernama Tamerlane. Meski bukan keturunan langsung Jenghis, Tamerlane menyatakan diri sebagai reinkarnasi Jenghis—berdarah rakyat biasa, pilihan langit, dan penakluk kejam. Klaim inilah yang menjelaskan mengapa keturunan Tamerlane, Babur, menyebut dirinya sebagai “Mughal” ketika berhasil meraih tampuk kekuasaan di India pada awal abad ke-16, mendirikan dinasti yang baru berakhir kala Inggris mendongkel penguasa Mughal terakhir dari singgasananya pada 1857. Perlu dicatat, sebenarnya nama Babur yaitu Bahadur, nama yang menggaungkan kata baatar (Bator) dalam bahasa Mongol. Kata ini berarti pahlawan, kata kedua dalam nama ibukota Mongolia modern, Ulan Bator (Pahlawan Merah). Bahasa Inggris modern juga memuat endapan kata ini: “mogul”, yang semula berarti orang India yang kaya, lalu orang Anglo-India yang kaya, dan kini justru jadi nama raja media. Selama 73 tahun berikutnya setelah kematian Kubilai, keturunannya di China menghubungkan timur dan barat, berbagi dengan kerabat jauh mereka terkait arus bebas perdagangan, diplomat, dan ilmuwan. Namun, orang Mongol berdiri di atas landasan yang goyah. Mereka tak lagi jadi bangsa nomad, dan pada saat yang sama tak mampu jadi benar-benar China. Walaupun beberapa di antara sepuluh penerus Kubilai dapat berbahasa China, tapi tak satu pun dari mereka mampu menulis dalam bahasa China. Penguasa dan rakyat saling memandang rendah. Memang, saat itu terdapat suasana penuh kedamaian: populasi meningkat tajam mendekati jumlah penduduk China sebelumnya; perdagangan pun makin marak. Tetapi, otoritas Mongol bergantung pada kekuasaan, sementara kekuasaan dapat berlalu dengan cepat. Pergantian kekuasaan selalu diiringi pertikaian; konspirasi dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Pada 1328, terjadi perang saudara selama dua bulan yang berakhir dengan berbagai hukuman mati. Pada 1331, wabah pes mengamuk di sebagian besar wilayah China, besar kemungkinan jadi awal Maut Hitam yang tak lama kemudian menyebar WARISAN SANG KHAN AGUNG 367 pustaka-indo.blogspot.com
ke Eropa. Di Provinsi Henan, 90 persen penduduk tewas. Lalu, tanggul Sungai Kuning jebol, menenggelamkan ribuan penduduk dan membuat aliran baru menuju laut. Merasa Mandat Langit telah selesai, para pemberontak berhasil menguasai daerah bantaran sungai Huai dan Yangtze. Para bajak laut merampok kapal-kapal yang merapat ke pantai. Bahkan di Provinsi Henan, setelah terserang wabah pes, muncul pemberontak bernama Turban Merah yang berhasil menghidupkan kembali Dinasti Song, meski tak lama (1355-1360). Kaisarnya, Toqtoa, berusaha membenahi keadaan dan memperbaiki kerusakan akibat wabah penyakit dengan mencetak uang kertas. Cara ini malah menyebabkan hiper-inflasi, dan akhirnya memaksa dia kembali pada uang perak dan perunggu. Akhirnya, permusuhan, korupsi, wabah penyakit, bencana alam, dan kekacauan sosial datang susul-menyusul hingga mencapai titik puncaknya. Pada 1368, seorang bekas biksu berhasil mengusir kaisar Mongol terakhir, Toghon Temür, kembali ke stepa-stepa Mongolia, meninggalkan sekitar 300.000 hingga 400.000 orang Mongol ke tangan pasukan Ming yang penuh dendam kesumat. Bekas kaisar ini diiringi oleh 60.000 golongan elite Mongol, berangkat berarakan menuju tanah di mana mereka jadi orang asing, sementara kehadiran mereka yang begitu banyak langsung menghancurkan ekonomi gembala. Para penguasa Mongol tak pernah menerima kejatuhan mendadak yang mereka alami. Keturunan mereka, yang dinobatkan di Karakorum, tetap menyatakan diri sebagai penguasa China yang sebenarnya. Mereka mengatakan ini sebab mereka “mengetahui” suatu “kebenaran” rahasia: bahwa Dinasti Ming sebenarnya orang Mongol. Kisah tentang kebenaran rahasia ini ditulis ringkas oleh Hok-Lam Chan, seorang profesor tamu di Universitas Washington, Seattle, dalam buku China and the Mongols. Kisahnya seperti ini: Permaisuri kaisar Yuan terakhir, Toghon Temür, sedang hamil tatkala dia ditawan dan diperistri oleh pimpinan pemberontak yang kemudian menjadi kaisar pertama Ming pada 1268. Dia berkata, “Jika aku melahirkan dalam waktu cepat, mereka pasti akan membunuh anakku.” Maka, dia pun berdoa agar kandungannya diperlama, dan ternyata BAGIAN I: MUSIM SEMI 368 pustaka-indo.blogspot.com
permohonan ini terkabul. Dia melahirkan seorang anak laki-laki setelah mengandung selama 12 bulan, dan anak itu diterima oleh kaisar pertama Ming sebagai pewarisnya. Tak hanya itu: kaisar Ming menjadikan Nanjing sebagai ibukota pemerintahannya. Tetapi pada suatu hari, pangeran muda berdarah Mongol/Ming ini bertemu “pria berpembawaan tegas, wajah kehitam-hitaman, berjubah hitam, dan mengendarai kuda hitam”. Pria ini memberitahu dia agar mendirikan kota besar dengan empat sudut (sesuai dengan empat musim), sembilan gerbang (sesuai dengan jumlah planet), serta ciri-ciri magis dan religius lainnya. “Di suatu tempat suci di tengah kota,” kata sang Penunggang Hitam itu, “dirikanlah singgasana dari permata, dengan ukiran sembilan naga yang saling terjalin. Barang siapa mendudukinya, dia akan jadi kaisar.” Maka demikianlah, pangeran “Mongol” ini pun mendirikan Beijing baru, dan tak lama kemudian istana Ming pindah ke sana. Tentu saja, semua ini hanya legenda yang tak memiliki secuil pun bukti pendukung. Tetapi, seperti kesimpulan Hok-Lam Chan, kisah ini—yang “membuktikan” adanya aliran darah Mongol dalam diri kaisar-kaisar Ming serta adanya inspirasi Mongol di balik pembangunan ibukota baru—memperoleh kekuatannya pada dekade awal maupun akhir tahun 1500-an tatkala Mongolia bersatu kembali di bawah seorang khan yang mengklaim mewarisi jubah kebesaran Kubilai: khan ini menyebut dirinya Dayan, dari kata Da Yuan, Yuan Agung, nama pilihan Kubilai untuk dinastinya. Legenda ini diceritakan turun-temurun sampai abad ke-20. Omong kosong, memang; tapi ada secuil kebenaran dalam legenda ini, karena warisan dua penakluk besar, Jenghis dan Kubilai, tetap lestari selama berabad-abad, dan bahkan tetap menentukan peta geopolitik hari ini. Walaupun China-nya Kubilai lebih luas daripada batas wilayah China tradisional, dan kendatipun dinasti-dinasti setelahnya menyatakan berusaha membangkitkan kembali China lama, namun tambahantambahan yang Kubilai ciptakan tetap menentukan agenda mereka. Dinasti Ming menerima tambahan-tambahan itu tanpa mempersoalkannya WARISAN SANG KHAN AGUNG 369 pustaka-indo.blogspot.com
sama sekali. Yunnan, yang Kubilai taklukkan selagi dia masih seorang pangeran, tetap jadi bagian China. Begitu pula daerah bantaran sungai Liao di Manchuria, sebagian besar ditinggali oleh para tawanan Korea yang terceraikan dari tanah air mereka oleh tentara Mongol. Tibet, yang akhirnya bersatu di bawah kekuasaan Mongol, juga mengakui Dinasti Ming sebagai penguasa tertinggi mereka, posisi yang selalu dinyatakan para kaisar Dinasti Ming meski dengan tingkat keberhasilan beragam. Seperti dinyatakan ilmuwan Jepang bernama Hidehiro Okada, karena asal-usul wilayah-wilayah itu sebenarnya non-China, “maka satu-satunya pembenaran yang mungkin bagi kekuasaan Dinasti Ming atas wilayah-wilayah itu adalah klaim bahwa para kaisar Ming merupakan penerus sah khan-khan Mongol.”1 Dalam soal birokrasi, administrasi, dan struktur militer, Dinasti Ming juga berhutang jasa pada bangsa Mongol. Sebagai contoh, warga sipil maupun militer diatur dan diperintah atas dasar sistem desimal yang ditetapkan Jenghis bagi bangsa yang baru dia dirikan, dan sistem ini lalu dipakai pula oleh Kubilai untuk memerintah China. Dan, demi mengklaim wilayah Mongolia-lah Dinasti Ming kembali ke Beijing. Bahkan, seperti kesimpulan Okada, “Dalam beberapa segi, Dinasti Ming pada dasarnya adalah miniatur Kekaisaran Mongol.” Hal serupa juga berlaku bagi Dinasti Manchu yang mengambil alih kekuasaan Dinasti Ming pada 1644. Tak seorang Manchu pun berpikir akan menyerahkan wilayah yang mereka peroleh berkat penaklukan Kubilai. Ketika kaisar pertama Manchu naik takhta—bahkan sebelum merebut singgasana China—dia menyatakan diri sebagai Kaisar-Khan yang Suci, Cinta Damai, dan Mahapemurah, mengklaim tradisi imperial yang lahir di masa Jenghis demi melegitimasi klaimnya atas setengah dari wilayah Kekaisaran Mongol di timur. Seperti kata Okada, kaisar Manchu mengangkangi tiga dunia: China (sebagai kaisar), Mongol (sebagai penerus Jenghis), dan Tibet (sebagai patron Buddhisme). Begitu pula di era China modern. Wilayah barat—Gansu, Ningxia, Xinjiang—berpopulasi Muslim yang punya banyak kesamaan dengan BAGIAN I: MUSIM SEMI 370 1 Hidehiro Okada, ‘China as a Successor State to the Mongol Empire’, dalam Reuven Amitai-Preiss dan David O. Morgan (ed.), The Mongol Empire and Its Legacy. pustaka-indo.blogspot.com
negara-negara berakhiran “stan” masa kini di Asia Tengah ketimbang dengan wilayah-wilayah Han di timur. Namun demikian, mereka tetap dianggap China karena Jenghis menaklukkan Asia Tengah dan Kubilai mendorong terjadinya imigrasi umat Muslim ke wilayah itu. Bagian barat Mongolia Dalam sebelumnya merupakan daerah kekuasaan bangsa Tangut, Kerajaan Xi Xia, sampai wilayah ini ditaklukkan Jenghis dan diwarisi Kubilai. Sepupunya yang membangkang, Kaidu, memang menguasai sebagian besar wilayah barat, tapi itu tak berarti wilayah tersebut bukan milik Kubilai. Atas alasan-alasan inilah China merebut kembali dari Rusia banyak wilayah yang hampir lenyap pada abad ke19. Sekarang ini, kekaisaran Kubilai-lah yang teringat manakala kita memandang wilayah negara China—ironisnya, yang tidak termasuk ke dalam wilayah ini justru Mongolia itu sendiri, yang mendapat kesempatan memperoleh kemerdekaan sendiri dan pernah jatuh ke tangan Soviet di masa-masa suram setelah Perang Dunia I. Mongolia inilah yang menarik perhatian saya. Orang Mongol sangat gugup berhadapan dengan China, yang mereka pandang sebagai bekas tuan yang selalu gatal untuk menyerang. Suatu kali, saya berada di gurun Gobi bagian selatan, memandang dataran luas yang semula saya duga kumpulan awan tapi ternyata bukan. “Apa itu?” tanya saya kepada pemandu perjalanan saya yang berkebangsaan Mongol. Dia semestinya menjawab: puncak-puncak Tien Shan yang tertutup salju. Tetapi aneh, dia justru menjawab: “China! Sangat berbahaya.” Orang Mongol telah menyaksikan betapa orang China begitu cepat merangsek ke utara sejak awal abad ke-12, melintasi Tembok Besar, menyeberangi Sungai Kuning, dan akhirnya sampai di padang rumput Mongolia. Kini, Mongolia Dalam lebih berwarna China ketimbang Mongol. Dan dari sudut komersial, berbagai tekanan yang Mongolia alami kian tahun kian kuat. Sebab, Mongolia memiliki sumber daya alam berlimpah, terutama di gurun Gobi, yang akhirnya menemukan saluran keluar di China—dengan keuangan China, transportasi China, dan tenaga kerja China. Bagi orang China, ini memang harus terjadi. Sebab, mereka akan berkata, seperti kata salah seorang pemandu saya: Tentu kita tahu bahwa Mongolia sebenarnya adalah China. Bukankah begitu? Tentu saja, ada pandangan yang sebaliknya di utara gurun Gobi: WARISAN SANG KHAN AGUNG 371 pustaka-indo.blogspot.com
China sebenarnya adalah Mongol. Tetapi akhirnya, penentunya terkait dengan demografi, 1.300 juta jiwa pasti akan jadi pemenang di antara keduanya. Jika Mongolia menjadi koloni ekonomi China (tak ada yang bicara pencaplokan politik dalam hal ini), China akan mengangkat bahu acuh tak acuh dan mengatakan bahwa orang Mongol sudah jadi anggota keluarga besar China sejak berabad-abad silam. Apa pun perkembangan pengaruh China, hal itu semata-mata kembali kepada keadaan lama yang telah dibangun oleh Jenghis, pendiri Dinasti Yuan China, dan oleh bintang dinasti ini, Kubilai. BAGIAN I: MUSIM SEMI 372 pustaka-indo.blogspot.com
DAFTAR PUSTAKA Karya-karya berikut ini sangat bermanfaat. Saya memilihnya berdasarkan pertimbangan pribadi dan sangat selektif. Hampir seluruh karya ditulis dalam bahasa Inggris. Meski berbahasa Inggris, karya-karya ini hanya mewakili sebagian bahan yang tersedia bagi para spesialis. Daftar pustaka paling lengkap bagi pembaca Inggris terdapat di dalam Weatherford (hanya yang berbahasa Inggris), serta Rossabi dan Mote, yang juga mendaftar karya-karya yang ditulis dalam bahasa Barat selain Inggris serta dalam bahasa non-Barat. Abu-Lughod, Janet L., Before European Hegemony: The World System AD 1250–1350 (Oxford dan New York: Oxford University Press, 1989). Allsen, Thomas, Culture and Conquest in Mongol Eurasia (Cambridge: Cambridge University Press, 2001). Amitai-Preiss, Reuven dan Morgan, David O. (ed.), The Mongol Empire and Its Legacy (Leiden dan Boston: Brill, 1999). Atwood, Christopher, Encyclopedia of Mongolia and the Mongol Empire (New York: Facts on File, 2004). Aung-Thwin, Michael, Pagan: The Origins of Modern Burma (Honolulu: University of Hawaii Press, 1985). Barthold, W., Turkestan Down to the Mongol Invasion (London, Luzac & Co., 1968). DAFTAR PUSTAKA 373 pustaka-indo.blogspot.com
Bartlett, W.B., The Assassins: The Story of Medieval Islam’s Secret Sect (Stroud, Glos.: Sutton, 2001). Bira, Sh., ‘Mongolian Tenggerism and Modern Globalism: A Retrospective Outlook on Globalism’, Journal of the Royal Asiatic Society, vol. 14, London, 2004. Bira, Sh., ‘The Mongolian Ideology of Tenggerism and Khubilai Khan’, makalah tidak diterbitkan, 2005. Bira, Sh., Studies in Mongolian History, Culture and Historiography (Ulaanbaatar: International Association for Mongol Studies, 2001), terutama bagian ‘Khubilai Khan and Phags-pa bla-ma’. Biran, Michael, Qaidu and the Rise of the Independent Mongol State in Central Asia (Richmond, England: Curzon, 1998). Cahill, James, Hills Beyond a River: Chinese Painting of the Yüan Dynasty 1279–1368 (New York: Weatherill, 1976). Cannadine, David dan Price, Simon (ed.), Rituals of Royalty (Cambridge: Cambridge University Press, 1992). Ch’ên Yüan, ‘Western and Central Asians in China Under the Mongols’, Monumenta Serica Monograph XV, University of California, 1966. Chan, Hok-Lam, China and the Mongols: History and Legend under the Yüan and Ming (Aldershot, Hants: Ashgate, 1999). Chen, Paul Heng-chao, Chinese Legal Tradition Under the Mongols (Princeton: Princeton University Press, 1979). Conlan, Thomas D. (esai terjemahan dan tafsiran), In Little Need of Divine Intervention: Scrolls of the Mongol Invasions of Japan (Ithaca, NY: Cornell University Press, 2001). Crump, J.I., Chinese Theatre in the Days of Kublai Khan (Tucson: University of Arizona Press, 1980). Daftary, Farhad, The Ismâ’îlıs: Their History and Doctrines (Cambridge: Cambridge University Press, 1990). Davis, Richard L., Wind Against the Mountain: The Crisis of Politics and Culture in 13th -Century China (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1996). Delgado, James P., ‘Relics of the Kamikaze’, Archaeology, vol. 56, no. 1 (Jan.–Feb. 2003). DAFTAR PUSTAKA 374 pustaka-indo.blogspot.com
Denney, Paul dan Douglas, Julie, riset ihwal trebuchet di www.artefacts.uk.com. Eckert, Carter J., dkk., Korea Old and New: A History (Seoul dan Cambridge, Mass.: Ilchokak/Harvard University Press, 1990). Farris, William Wayne, Heavenly Warriors: The Evolution of Japan’s Military, 500–1300 (Cambridge, Mass.: Harvard Council on East Asian Studies, 1992). Franke, Herbert dan Twitchett, Denis (ed.), The Cambridge History of China, vol. 6: Alien Regimes and Border States, 907–1368 (Cambridge: Cambridge University Press, 1994). Franke, Herbert, ‘Chia Ssu-tao (1213–1275): A “Bad Last Minister”?’, dalam Arthur F. Wright dan Denis Twitchett (ed.), Confucian Personalities (Stanford: Stanford University Press, 1962). Franke, Herbert, ‘Siege and Defence of Towns in Medieval China’, dalam Frank A. Kierman dan John K. Fairbank (ed.), Chinese Ways in Warfare (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1974). Franke, Herbert, China Under Mongol Rule (Aldershot, Hants: Ashgate, 1994). Franke, Herbert, From Tribal Chieftain to Universal Emperor and God: The Legitimation of the Yüan Dynasty (Munich: Bayerische Akademie der Wissenschaft, 1978). Franke, Herbert, Studien und Texte zur Kriegsgeschichte der Südlichen Sungzeit [esp. ch. 4: ‘Hsiang-yang: Gelände und Befestigungen’] (Wiesbaden: Harrassowitz, 1987). Gernet, Jacques, A History of Chinese Civilization, Edisi II, alih bahasa J.R. Foster dan Charles Hartman (Cambridge: Cambridge University Press, 1996). Goodman, Jim, The Exploration of Yunnan (Kunming: Yunnan People’s Publishing House, 2000). Grey Company, trebuchet website: www.iinet.net.au/~rmine/gctrebs.html. Groeneveldt, W.P., ‘The Expedition of the Mongols Against Java in 1293 AD’, China Review, vol. 4 (1875–6). Grousset, Réné, The Empire of the Steppes (New Brunswick, NJ: Rutgers University Press, 1970). Harvey, G.E., History of Burma (London: Longmans, Green & Co., DAFTAR PUSTAKA 375 pustaka-indo.blogspot.com
1925). Heissig, Walther, The Religions of Mongolia, alih bahasa Geoffrey Samuel (London: Routledge, 1980). Herrmann, Albert, An Historical Atlas of China (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1966). Hitti, Philip, History of the Arabs (Basingstoke: Macmillan, 2002). Htin Aung, Maung, A History of Burma (New York dan London: Columbia University Press, 1967). Jackson, Peter, The Mission of Friar William of Rubruck (London: Hakluyt Society, 1990). Jagchid, Sechin dan Bawden, C.R., ‘Some Notes on the Horse-Policy of the Yüan Dynasty’, Central Asiatic Journal, vol. 10 (1965). Jagchid, Sechin dan Hyer, Paul, Mongolia’s Culture and Society (Boulder, Colo.: Westview, 1979). Jay, Jennifer W., A Change in Dynasties: Loyalism in 13th -Century China (Washington DC: Centre for East Asian Studies, 1991). Johnson, Dale R., ‘Courtesans, Lovers, and “Gold Thread Pond” dalam Guan Hanqing’s Music Dramas’, Journal of Song–Yuan Studies, vol. 33 (2003). Juvaini, Ata-Malik, Genghis Khan: The History of the World Conqueror, alih bahasa JA Boyle (Manchester: Manchester University Press/UNESCO, 1958; Edisi II, 1997). Karcher, Stephen, Total I Ching: Myths for Change (London: Time Warner, 2003). Kates, G.N., ‘A New Date for the Origins of the Forbidden City’, Harvard Journal of Asiatic Studies, vol. 7 (1942–3). KOSUWA (Kyushu and Osaka Society for Underwater Archaeology), laporan di situs web tentang riset Takashima tentang armada Kubilai dapat dilihat di www.h3.dion.ne.jp/~uwarchae/english. Langlois, John D. (ed.), China Under Mongol Rule (Princeton: Princeton University Press, 1981). Larner, John, Marco Polo and the Discovery of the World (New York dan London: Yale University Press, 1999). Lewis, Bernard, The Assassins: A Radical Sect in Islam (London: DAFTAR PUSTAKA 376 pustaka-indo.blogspot.com
Weidenfeld & Nicolson, 1967). Li Chu-tsing, The Autumn Colors on the Ch’iao and Hua Mountains – A Landscape by Chao Meng-fu (New York: Artibus, New York University, 1964). Lin Yutang, Imperial Peking: Seven Centuries of China (London: Elek, 1961). Lindner, Rudi Paul, ‘Nomadism, Horses and Huns’, Past and Present, No. 92 (Aug. 1981). Liu Bin (ed.), Atlas of China (Beijing: China Cartographic Publishing House, 1989). Liu Jung-en (penerjemah dan penyunting), Six Yüan Plays [termasuk The Injustice Done to Tou Ngo, alias The Injustice to Dou E] (London: Penguin, 1972). Man, John, Genghis Khan: Life, Death and Resurrection (London: Transworld, 2004). Mansfield, Stephen, China: Yunnan Province (Chalfont St Peter, Bucks: Bradt Travel Guides, 2001). McMullen, David, ‘Bureaucrats and Cosmology: The Ritual Code of T’ang China’, dalam Cannadine dan Price (ed.), Rituals of Royalty. Medley, Margaret, Yüan Porcelain and Stoneware (London: Faber, 1974). Morgan, David, ‘The Mongols in Syria, 1260–1300’, dalam Peter Edbury (ed.), Crusade and Settlement (Cardiff: University College of Wales, 1985). Morgan, David, The Mongols (Oxford, UK dan Malden, Mass.: Blackwell, 1986). Mote, F.W., Imperial China 900–1800 (Cambridge, Mass. dan London: Harvard University Press, 1999). Moule, A.C., Quinsai with Other Notes on Marco Polo (Cambridge: Cambridge University Press, 1957). Mozai, Takao, ‘Kublai Khan’s Lost Fleet’, National Geographic, Nov. 1982. Needham, Joseph, Science and Civilisation in China, Jilid 5 dan 7 tentang teknologi militer. DAFTAR PUSTAKA 377 pustaka-indo.blogspot.com
Nelson, Janet, ‘The Lord’s Anointed and the People’s Choice: Carolingian Royal Ritual’, dalam Cannadine dan Price (ed.), Rituals of Royalty. Okada, Hidehiro, ‘China as a Successor State to the Mongol Empire’, dalam Amitai-Preiss dan Morgan (ed.), The Mongol Empire and Its Legacy. Olbricht, Peter, Das Postwesen in China unter der Mongolenherrschaft im 13. und 14. Jahrhundert (Wiesbaden: Harrassowitz, 1954). Peers, C.J., Medieval Chinese Armies, 1260–1520 (Oxford: Osprey, 1992). Peers, Chris, Imperial Chinese Armies (2), 590–1260 (London: Osprey, 1996). Petech, Luciano, ‘Tibetan Relations with Sung China and with the Mongols’, dalam Morris Rossabi (ed.), China Among Equals: The Middle Kingdom and its Neighbours, 10th-14th Centuries (Berkeley, Los Angeles dan London: University of California Press, 1983). Polo, Marco, The Travels of Marco Polo: The Complete Yule–Cordier Edition: Henry Yule’s 3rd (1903) terjemahan beserta anotasi, dengan Catatan dari Henri Cordier (New York: Dover, 1993). Ini adalah edisi yang saya pakai. Sedangkan edisi Ronald Latham (diterjemahkan dan diberi kata pengantar oleh dia sendiri), Marco Polo: The Travels (Penguin, 1958, dalam proses cetak) lebih mudah diperoleh. Untuk edisi-edisi lain, lihat Daftar Pustaka di dalam Larner. Rachewiltz, Igor de, (terjemahan dan komentar), The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the 13th Century (Leiden dan Boston: Brill, 2004). Rachewiltz, Igor de, dkk., In the Service of the Khan: Eminent Personalities of the Early Mongol–Yüan Era [1200–1300] (Wiesbaden: Harrassowitz, 1993). Rachewiltz, Igor de, Papal Envoys to the Great Khans (London: Faber, 1971). Rasyiduddin, The Successors of Genghis Khan, alih bahasa John Andrew Boyle (New York: Columbia University Press, 1971). Ratchnevsky, Paul, Genghis Khan: His Life and Legacy, diterjemahkan DAFTAR PUSTAKA 378 pustaka-indo.blogspot.com
dan disunting oleh Thomas Haining (Oxford, UK, dan Cambridge, Mass.: Blackwell, 1991). Rossabi, Morris (ed.), China Among Equals: The Middle Kingdom and its Neighbours, 10th-14th Centuries (Berkeley, Los Angeles dan London: University of California Press, 1983). Rossabi, Morris, Khubilai Khan: His Life and Times (Berkeley, Los Angeles dan London: University of California Press, 1988). Rossabi, Morris, Voyager from Xanadu: Rabban Sauma and the First Journey from China to the West (Tokyo, London dan New York: Kodansha, 1992). Rouleau, Father Francis, SJ, ‘The Yangchow Latin Tombstone as a Landmark of Medieval Christianity’, Musim Semi, Harvard Journal of Asiatic Studies, vol. 17, no. 3–4 (Des. 1954). Sansom, Sir George, A History of Japan to 1334 (Folkestone, Kent: Dawson, 1958, 1978). SarDesai, D.R., Southeast Asia, Past and Present (London: Macmillan, 1989). Saunders, J.J., A History of Medieval Islam (London dan New York: Routledge, 1965). Saunders, J.J., Muslims and Mongols: Essays on Medieval Asia (Christchurch, NZ: Whitcoulls, University of Canterbury, 1977). Saunders, J.J., The History of the Mongol Conquests (Philadelphia: University of Pennsylvania, 1971). Shih, Chung-wen, Injustice to Tou O (Cambridge: Cambridge University Press, 1972). Shih, Chung-wen, The Golden Age of Chinese Drama: Yüan Tsa-chü (Princeton: Princeton University Press, 1976). Smith, John Masson, ‘Ayn Jalut: Mamluk Success or Mongol Failure?’, Harvard Journal of Asiatic Studies, vol. 44, no. 2 (Dec. 1984). Stark, Freya, The Valleys of the Assassins (London: John Murray, 1934). Steinhardt, Nancy, Chinese Imperial City Planning (Honolulu: University of Hawaii Press, 1990). Tarling, Nicholas (ed.), The Cambridge History of Southeast Asia DAFTAR PUSTAKA 379 pustaka-indo.blogspot.com
(Cambridge: Cambridge University Press, 1999). Temple, Robert, The Genius of China, Kata Pengantar oleh Joseph Needham (London: Prion, 1999). The Legacy Treasure of the Great Dynasty, katalog Pameran Mongol– Yuan, Arthur M. Sackler Museum, Beijing University, 2004. Thorau, Peter, ‘The Battle of Ayn Jalut: A Re-examination’, dalam Peter Edbury (ed.), Crusade and Settlement (Cardiff: Cardiff Press, 1985). Toms, Ron, website: www.trebuchet.com. Turnbull, Stephen, Siege Weapons of the Far East (1), 612–1300 and (2) 960–1644 (Oxford: Osprey, 2001–2). Vemming, Peter, website tentang trebuchet di http://www. middelaldercentret.dk. Lihat juga rekonstruksi terakhirnya di http://www.warwicksiege.com. Wang Jiawei dan Nyima Gyaincain, The Historical Status of China’s Tibet (Beijing: China Intercontinental Press, 1997). Wang Shifu, The Romance of the Western Bower, diadaptasi oleh Xang Xuejing (Beijing: New World Press, 2000). Weatherford, Jack, Genghis Khan and the Making of the Modern World (New York: Crown, 2004). Wood, Frances, Did Marco Polo Go to China? (London: Secker & Warburg, 1995). Wylie, Turrell V., ‘The First Mongol Conquest of Tibet Reinterpreted’, Harvard Journal of Asiatic Studies, vol. 37, no. 1 (1977). Yamada, Nabaka, Ghenko: The Mongol Invasion of Japan (London: Smith, Elder & Co., 1916). Yanagida, Sumitaka, The Mongolian Invasion and Hakata [dalam bahasa Jepang] (Hakata Town, 2001). Zu An (ed.), Beihai Park (Beijing: China Pictorial, 1989). DAFTAR PUSTAKA 380 pustaka-indo.blogspot.com
A Register of Ghosts 260 Abaqa, Il-khan 183, 233, 332-33 Abdurrahman, petani pajak 24, 27 Abishqa, sepupu Kubilai 113, 116 Abu Bakar, putra Ismail 188 Afghanistan 6, 35, 38, 43, 51, 57, 64, 66, 78, 95, 367 agama 2, 6, 19, 70, 75, 150 lihat juga Buddhisme, Kristen, Islam, Taoisme Agha Khan 57, 58 Ahmad, menteri keuangan 290–301, 353 Ain Jalut, pertempuran (1260) 67, 68 Airlangga 315 Aju, jenderal 163, 164, 171, 186, 193, 195-96, 199 Alamut, kastil 47-63 Alauddin, imam 54-55 Albert dari Buxtehude 2 Aleppo 183 Alfonso V, raja Portugal 346 Alghu, khan 114, 116, 117, 231 Ali-haiya, jenderal 172 Almaligh 114, 234, 236 al-Mustasim, khalifah 59, 63 Andronicus, kaisar Byzantium 333 Annam 303, 306, 307, 310, 311, 314 Arghun, Il-khan 321, 325-26, 333, 335-37 Ariq Böke, putra Tolui hubungan dengan Tibet 147, 151 kekalahan 116-17 kematian 117 memproklamirkan diri sebagai khan 107 pasukan 105-06 para pendukung 107, 113-14, 151 perang dengan Kubilai 113-18, 151 pertemuan dengan Kubilai 116 Ariq-khaya, jenderal 185-87, 204-05, 307, 312 Arniko, arsitek 174-76, 245 arsitektur 71, 125, 245 Assassins 46, 50-59 Asutai, jenderal 116, 117 Ataqai, jenderal 307 Atisha, guru 145 Avraga 20-22, 33-34 Babur 367 badai topan 44, 45, 267, 272, 278, 281-83, 285-89 Badan Sensor 293, 362 Baita Si (Pagoda Putih) 173 Bali Balkhash, Danau 233 Banakat 290 Bani Saljuk 47 Bar Hebraeus, 19 Baraq, wakil Kubilai 232-33, 236 Batu, khan Golden Horde 27-28, 30- 33 Batur, jenderal 103 Bayan, jenderal 80, 193-203, 208, 293, 295, 307, 355-56, 361-62 381 INDEKS pustaka-indo.blogspot.com
Belgutei, saudara tiri Jenghis 355 Benjamin dari Tudela 319 Berke, khan Golden Horde 19, 107, 108, 117, 231, 322 Beufette, Renauld 182 Bira, Shagdaryn 176 Biro Urusan Militer 115, 194, 203, 242-43, 293, 298, 300 Bohemund VI, pangeran Antioch 64 Bolad, pejabat 300 bom 4, 43, 50, 76, 167-70, 219-21, 281, 286, 354 Bon, kepercayaan 144 Boniface VIII, Paus 338 Borneo 72 Bretschneider, Emil 131 bubuk mesiu 76, 167, 170, 179, 181 Buddhisme di Jepang 213, 222 di Tibet 144-46 hubungan dengan Taoisme 94-96 kitab suci 74-75 kuil 25 pendidikan Kubilai 20, 26 Burkhan Khaldun, gunung keramat 27, 100-02, 358-60, 365 Burma 5, 77, 82, 154, 303-06, 314- 15, 373, 375-76 Bushell, Stephen 89 Cahill, James 256 Cao Bin, jenderal 79, 195 Ch’angch’un, biksu Tao 95 Champa 306-07, 311, 314, 316 Chang Xi, jenderal 282 Changzhou 200 Chapar, putra Kaidu 357 Chen Yizhong, perdana menteri 201 Chen Yuan 124, 126 Chengdu 80, 100 China Beijing 121-42 Ekonomi 247-49 hubungan dengan Jepang 213-15 hubungan dengan Mongolia 371 hubungan dengan Tibet 143 pemberontakan Shandong 114-15 pengetahuan Barat mengenai 319- 20 perbatasan 225-27 perdagangan 244-45 sikap Kubilai 37-38, 96, 148, 150 Chongqing 100-01 Citizen Kane 350 Coleridge, Samuel Taylor 89, 347 Conlan, Thomas 218 Conrad, Joseph 278 Cyra, John Wayne 180 Dalai Lama 146, 158, 176 Dali xi, 77-79, 80-81 Damaskus 64, 183 David Cannadine 133, 134 Davis, Richard 186, 203, 204 Dayan 369 Dewan Upacara 135 Dinasti Han 123, 254 Dinasti Manchu 226, 370 Dinasti Ming 85, 122, 250, 368, 369, 370 Dinasti Tang 127, 134, 136 Dinasti Yuan ix, x, 113, 188, 210, 245, 246, 249, 343, 372 Diyarbakir 64 Doquz, istri Hulagu 61 Du Shizong, utusan Kubilai 222 Durchi, pengikut Ariq 113, 114 Duwa 236, 354, 357 Duzong 192 Edsen Khoroo 41, 238 Edward I, Raja Inggris 182, 185, 335 Edward II, Raja Inggris 366 Eisai, biksu 213 Eisenstein, Elizabeth 327 Erdene Zuu, biara 21 Esen Temür, cucu Kubilai 312, 315 INDEKS 382 pustaka-indo.blogspot.com
Fancheng 161, 162, 171, 183, 185, 186, 187, 191, 200 Fatimah, penasihat Töregene 31, 33, 46, 47 Franke, Herbert 149-50, 291 gabah 23, 164, 241, 291, 349 gajah 129, 138, 140-41, 156, 305- 07, 355, 361 Ganga, biksu 175, 178 Gansu, provinsi ix, 37, 40, 210, 235, 244, 257, 331, 370 Gao, biksu Budha 297-99 Gao, pemimpin Dali 80 Gernet, Jacques 70 Giotto 330, 337, 338 Goro, Gota 275, 276, 278 Guan Hanqing, penulis drama 261, 376 Guangzhou 205, 307 gurun Gobi 4, 89, 100, 107, 113, 238, 357-58, 362, 371 Gutenberg, Johannes 73, 339 Güyük, putra Ogedei 19, 27-33, 35, 147, 320-21 Haiyun, penasihat Kubilai 37, 38 Hakluyt, Richard 347 Hanoi 81, 311 Hantum, Kanselir Agung 294 Hao Jing, utusan Kubilai 159, 160 Hart, Henry 260 Hasan i-Sabbah 47 Hattin, pertempuran (1987) 66 Hebei, Provinsi 24, 25 Henan, Provinsi 368 Hoelun, ibunda Jenghis 12 hukum 19-20, 232, 246, 249-52, 262-63, 318 Hung Tsun 76 Hungaria 5, 20, 27, 29, 33, 44, 150, 320 Husain 68, 293, 296, 301 Hyer, Paul 257 I Ching 109, 130, 131, 376 Ibaqa, putri Jakha, istri Jenghis 14 Ikh-Musu, laksamana 316 Ikhtiyaruddin, arsitek 124, 127 Iki, pulau 216, 270, 272-73 India 57, 70, 72, 145-46, 158, 346, 367 Indonesia 7, 169, 304 dan Kertanegara 316 dan Majapahit 318 konglomerat kaya 93 negeri kaya 5 Indrawarman V, raja Champa 307 Isfahan 51, 52 Islam cakupan pengaruh 2-3, di Asia Tengah 107 di Yunnan 82 Ismaili 46-47 kekuasaan Hulagu 64 keruntuhan di Baghdad 62 konversi 107 proyek perang salib 332 Surga 149 Syiah dan Sunni 46-47 lihat juga Muslim Ismail, insinyur 184-86, 188, 191, 198 Ismailisme 47, 49 Jacopo d’Acqui 328 Jagchid, Sechin 234, 257 Jakha Gambu, saudara Toghrul 14 Jalaluddin, imam 53 Jalur Sutra 3, 5, 40, 58, 233, 236 Jawa 7, 303, 315-17 Jawatan Pekerjaan 125 Jawatan Peningkatan Pertanian 241 Jawatan untuk Pengelolaan Belanja Negara 292 Jawatan Urusan Negara 293 Jeng Hujen, pejabat 198 Jenghis Khan INDEKS 383 pustaka-indo.blogspot.com
anak-anak 11 gelar 238 ibu kota 21 karakter 302 kata-kata 365 kematian 5, 99 makam 83 masa muda 4, 12, 193-94 pemerintahan 369-372 penaklukan 4-5, 153-54 penasihat 22-23 pewaris 365 penobatan 146 toleransi agama 149-50 wasiat 29 Jia Sidao, jenderal 104, 187, 198 Jochi Khasar, keponakan Jenghis 36 Jochi, putra Jenghis 15, 33, 36 Jürchen 69, 70, 303 Kamala, cucu Kubilai 359, 361-62, 364-65 Kao Xing, jenderal 316 Karcher, Stephen 131 Kaungai 82, 305 kavaleri 45- 67, 76, 163, 195, 198, 214, 224, 233-34, 269, 273, 306, 355 Kazakhstan 139, 226, 232 Kediri 316, 317 kekhalifahan Abbasiyah 58 Keluarga Hojo 216 Ken Arok, pendiri Singasari 316 Kennedy, Hew 180 Kenzo Hayashida xi, 284 Kertanagara, raja Singasari 315-17 Keshik, pawang elang 34 Keynes, John Maynard 248 Khadan, pawang elang 113 khan Golden Horde 27, 107, 320, 322 Khan Khenti 359, 360 Kiev 33 Kitbuqa, jenderal 60, 64-67 Klumes, biksu 144 Komisi Urusan Tibet dan Buddha 243 Konfusianisme I Ching 109 kekuasaan Kubilai 148-49, 238-40 penasihat Kubilai 36-38, 150 pendidikan Kubilai 20 ritual kerajaan 134-35 Konstantinopel 3, 322-23, 333, 344 Kotabe, kapten 276 Köten, putra Ogedei 79, 146-48 Kristen kebijakan Hulagu 61, 64 Langit 149 Nestorian lihat Kristen Nestorian Romawi 323 Kristen Nestorian di Baghdad 61, 62, 332 di Yangzhou 329 ibu Kubilai 20, 26, 323, 331 istri Hulagu 331 kepercayaan 13, 330 konversi 13, 330 misionaris 13, 320 pendidikan Kubilai 20 suku Önggüd 331 Kubilai Khan agama 148 angkatan laut 214, 271 bahasa 36, berburu 139-42 capaian 339 ekonomi 247-49 hubungan dengan Kaidu 227-36 hubungan dengan Korea 214-15 hubungan dengan Mönkhe 148-49 istana karakter 237, 344 kekaisaran 6-7 kekayaan 137-38 kelahiran 6-7, 41 kematian 328 kematian Mönkhe sang kakak 101, INDEKS 384 pustaka-indo.blogspot.com
107 kesehatan 136, 362, 357-58 kuil 173-74 kunjungan-kunjungan Polo 324, 331 makam 359-64 menamai kekuasaannya 108-12 operasi militer melawan Yunnan 78- 82, 148 operasi militer melawan Ariq 113- 18 operasi militer melawan Burma 304- 06, 314-15 operasi militer melawan Jawa 315- 17 operasi militer melawan Jepang 214, 215, 267- operasi militer melawan Kaidu 227, 231-36 operasi militer melawan Song 36-37 operasi militer di Tibet 151-52 operasi militer melawan Vietnam 306-07, 310-13 para penasihat 22, 36,-39, 54, 79, 87, 96, 130, 148, 237, 249, 343 pemberontakan Shandong 114-15 pemerintahan 237-44 pemilihan sebagai khan 108-13 pengganti (penerus) 357-58 pernikahan 19-20, 291 ritual 133-39 sistem hukum 247-52 strategi 104, 289, 307, 312 tanah perdikan 83-84, 94, 109 pasukan 79, 195, 214 terpilih sebagai khan 151 usia senja 352-53, 361 Kuriltai, (dewan Mongol) 28, 102 Kutulun, putri Kaidu 228, 229 Kyrgyzstan 232, 233 Lao-tzu 96 Larner, John 345 Layard, Richard 263 lembu 30, 38, 45, 86, 295, 335 Leonardo da Vinci 180 Li Fu, wali kota 204 Li Ling, jenderal 255 Li Qingzhao 76 Li Tan, panglima perang 115, 242 Li, Benjamin 175 Liangzhou 37 Lien Xixian, penasihat Kubilai 83, 292 Lin Yutang 131, 377 Liu Bingzhong, penasihat Kubilai 38, 83, 87, 124, 130, 294 Liu Cheng, laksamana 171 Lu Xiufu, kanselir 205, 207 Luciano Petech 146 Mahakala, dewa 176, 177-78 Mamluk 44, 65-68, 337, 379 Manchuria 303, 354-56, 370 Mar Denha, sang Katolikos 332 Marco Polo dipenjara 326 gubernur Yangzhou 328 kematian 326 pengaruh Travels 326-29 perjalanan 323-29 tentang ‘Turki Besar” , 233 tentang Ahmad 290, 294-95 tentang Assasin 51 tentang Beijing 127 para penasihat 36-40, tanah 26 tentang uang kertas 247-48 Markos, pendeta 331-33, 336-37 Martins, Fernao 346 Matsu, Akiko 287 Medley, Margaret 246 Meng Chi, utusan Kubilai 316 Mengeser, hakim utama 34, 35 Merv 5, 58 Mesir 2, 47, 49, 57, 64- 68, 157, 231, 323, 333, 337, 341, 366 misionaris 320-21, 323, 328 INDEKS 385 pustaka-indo.blogspot.com
Mohi, pertempuran 33 Mongolia 6- 7, 11, 13-15, 160-61, 355, 357-60, 366-73, 376 Mozai, Torao 283 Muslim di China 370-71 di Yunnan 82 kebijakan Hulagu 64-66, 107, 241 konversi 107 para pejabat 23-24, 241 pengusaha 23-24 teroris 42-43 lihat juga Islam Muqali, jenderal 37, 103, 258, 259 Nablus 65, 66 Nambui, istri Kubilai 353, 361 Nanjing 79, 199, 369 Nanzhao 77, 78 Narathihipate, raja Burma 304, 315 Nasiruddin Tusi, astronom 53 Nasiruddin, putra Saiyid Ajall 53, 82, 305-06, 312 Naya, jenderal 194 Nayan, pangeran 355, 356 Nelson, Ted 350 Newton John, Olivia 350 Nicholas IV, Paus 335 Nishapur 11, 52 Nizam al-Mulk, wazir 47, 52 Nizar, pewaris takhta Fatimiyah 49-50, 52 Nizaris 50, 58 Nomukhan, putra Kubilai 234-36, 294 Odoric dari Pordenone, rahib 328 Oghul Kaimish, istri Güyük 33, 35 Okada, Hidehiro 370 orang Bai 77 Orda, putra Jochi 15 ordo, (istana tenda) 29 Padua 338, 339 Pagan 304, 314, 315, 373 Parvan, perang (1221) 66 paspor, (paiza) 323, 325 Pegolotti, Francesco 328 pembantaian 62, 81, 186, 200, perak 248-49, 292, 315-16, 360, 368 percetakan 71, 74-75, 327, 340, 342 petani 23-27, 40, 71-72, 86, 90, 99, 114, 124, 240-41, 247, 273, 291, 311 Pi Sheng 73, 75, 340 Polandia 20, 27, 179, 320, 365 Polo, Nicolo 189 Prester John 320 Purchas, Samuel 347, 348 Quanzhou (Zayton) 72, 245-46, 270, 272, 316 Qutuz, jenderal 65, 67 Reginald, insinyur 182 Ren, Benjamin 93 Roma 321, 331, 333, 335, 338 Rossabi, Morris 95, 146, 229-30, 378 Rouleau, Francis 329 Ruknuddin, imam 54-57 Rusia Golden Horde 231, 366 operasi militer Mongol 6, para pangeran 6, 27 penaklukan Mongol 98 wilayah kekuasaan Jochi 15 Sacy, Baron Antoine Silvertre de 50 Samarkand 5, 58, 232, 233 Sasaki, Randall 288 Sauma, pastur 330-31 Sauma, Rabban 338, 379 Schubert, Johannes 361 sekretariat 242, 244, 291-93, 298, 301, 362 sekte Saskya 156, 354 INDEKS 386 pustaka-indo.blogspot.com
seni 63, 71, 253, 255, 259-60, 327, 341-44 sensus 20, 36 Shaanxi 39, 244, 296 Shamanisme 20, 233 Shandong 115, 255, 341 Shen Gua 75 Shen Kua 75 Shi Tianze 25, 26 Shigi, hakim dan penulis 249, 358 Shintoisme 222 Shiregetu, pengikut Jenghis 193, 194 Shiregi, putra Mönkhe 235 Shiremun, cucu Ogedei 27, 32, 34, 35 Sichuan 78-80, 100, 146, 244, 314 Sima Qien, sejarawan 96 Singasari 316 Smith, John Masson 44, 65, 66 Sodu, gubernur 307, 311 Sohara, gunung 217, 219, 220 Song History 204 Sorkaktani, istri Tolui, ibunda Kubilai Agama 19 kematian 40 latar belakang 13 makam 40-41 pengaruh 24, 26-27, 32 Stark, Freya 48 Su Wu 255 Subedei 15, 77, 163, 203 Sumatera 315, 316 sungai Han 161-63, 171, 189, 195 Sungai Kuning 39, 79-80, 98-99, 106, 115, 121, 144, 330-31, 358, 368, 371 sungai Orkhon 21 sungai Wei 39 sutra 23, 29, 40, 58, 135-39, 192, 213, 233, 248, 258, 300, 335, 344, 360-61, 364 Syria 57- 58, 64-67, 183, 323, 330, 377 Takamasa, pejabat 276, 277 Takashima xi, 273, 282, 283, 284, 285, 289, 376 Takezaki Suenaga 218, 275 Tamerlane 367 tanah perdikan Tanzhou 204 Taoisme hubungan dengan Buddhisme 94-96 I Ching 109 penasihat Kubilai 36, 37, 148 pendidikan Kubilai 26 ritual kerajaan 134-35 Taraz, perjanjian damai 232, 233 Tarkutai (‘Si Gendut’) Kiriltuk 193 Tay Ket, perang 311 teluk Hakata 217, 223, 283 teluk Halong 312 Tembok Besar 85, 128, 137, 141, 156, 223-25, 255, 258, 362, 371 Temüge, saudara Jenghis 28, 30 Temür, cucu Kubilai 233-35, 312, 315, 356-58, 365, 368 The Romance of the Western Chamber 261 The Secret History of the Mongols 12, 21, 358, 378 Thihathu, pangeran Burma 315 Thöling 145 Tianxiang, Wen 206, 207 Tibet administrasi Kubilai 152 dikuasai Kubilai 152 hubungan China 143, 146 hubungan dengan bangsa Mongol 146-47 intervensi Kaidu 354 sejarah 143-45 sungai Yangtze 69Toghrul, (Khan Wang), raja Kerait 13-14 Tokimune, shogun 216, 222, 269 Tolui, putra Jenghis, ayah Kubilai 13- 15, 18-19, 30, 33, 35, 101-02, 227, 235 INDEKS 387 pustaka-indo.blogspot.com
Toms, Ron 180 Toqtoa, kaisar 368 Töregene, istri Ogedei 19, 28-31 Toscanelli, Pozzo 346 Tran Hung Dao, jenderal 310-14 Tran Nhan Tong, penguasa Annam 310 trebuchet, 76, 165-70, 172-73, 178- 84, 186, 191, 198, 220-21, 234, 274-75, 380 Tu Dan, biksu 175, 177, 178 Turban Merah 368 Turki 39, 47, 64-65, 237-39, 330, 339, 344, 357, 365-66 Ulan Bator 11, 21, 22, 101, 176, 360, 367 Urgench 5, 58 Uriyang-kadai, jenderal 77, 80-81, 100, 103, 163, 311 Ürümqi 354 Uzbekistan 40, 47, 143, 226, 233 Venesia 323, 326, 327 Villard de Honnecourt 183 Visconti, Teobaldo 324 Wang O, penasihat Kubilai 108 Wang Shifu, dramawan 261, 380 Wang Zhen, hakim 341 Wang Zhu, komandan militer 297-300 Wei Jian 90 Welles, Orson 350 White Horde 231 Wijaya, penguasa Majapahit 307, 317- 18 William dari Rubrouck, rahib 21, 149, 274, 320, 375-76 Wonjong, raja Korea 214, 215 Wu Zhen Ke 41 Wuchang 100, 103, 105-06, 161, 187, 196 Wuhan 100, 162, 196 Wuxing 253 Xanadu (Shang-du) pemilihan Kubilai sebagai khan 108 situs 85-87 versi modern 350-51 Xian 39, 84, 122, 127, 128, 144 Xie, Permaisuri Janda 197-98, 200- 01, 203 Xinjiang 14, 143, 233, 354-55, 370 Xiongnu 254, 255, 258 Xu Dong, ilmuwan 164 Xu Heng, penasihat Kubilai 83 Yamada, ksatria 220, 380 Yanagida, Sumitaka 223 Yang Juliang, Permaisuri Janda 205 Yang-lo, benteng 196, 197 Yangtze, sungai 69-70, 72, 77, 80- 05, 161-63, 192, 195-99, 213, 220, 270-71, 313, 368 Yangzhou 191, 199, 313, 328-29 Yao Shu 79, 294 Yasumori, Adachi 276 Yerusalem 323, 331, 333-34, 336-37 Ye-shes-’od 145 Yuan History 79, 81, 83, 183, 185- 86, 232, 270, 301 Zangpo, Rinchen 145 Zhangjiakou 86, 362 Zhangye 146, 148, 210 Zhangzhou 198 Zhao Bing, pangeran 203, 205 Zhao Mengfu 253 Zhao Mingcheng 76 Zhao Xia, pangeran 203, 205 Zhao Xian, kaisar Song 202-03, 209- 10 Zhengding 25 Zhenjiang 199 Zui Pin, pejabat 295, 296 INDEKS 388 pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com