Dalam kamus, kata yuan berarti yang pertama, yang utama, yang prinsipil, yang mendasar. Namun, maknanya tak hanya itu. Inilah yang Stephen Karcher katakan tentang yuan dalam bukunya Total I Ching: Myths for Change: Yuan adalah sumber utama dan terakhir, primum mobile, gerak di balik asal-usul absolut alam semesta. Dia adalah kekuatan musim semi dan kekuatan arah timur. Selain berarti keutamaan, dia juga mengandung pengertian “yang tertua” dan “sumber pemikiran dan pertumbuhan”. Dia mengacu pada orang arif dan hubungan dengan kebenaran dasar. Dia terkait dengan gagasan tentang ritual, kebesaran dan tindakan penciptaan. Itulah arti Yuan, nama baru yang diumumkan secara resmi pada Desember 1271. Nama ini dipilih dengan orisinalitas murni: tak ada kaisar sebelumnya yang memilih nama dinastinya bukan berupa nama tempat. Dengan begitu, silsilah dan asal-usul nama ini sama sekali tak punya cela. Tak ada nama lain yang lebih cepat ditangkap oleh perasaan orang China (dan kebetulan, inilah sebabnya Yuan juga merupakan nama mata uang negara China hari ini). Selain itu, makna religiusnya sangat tersirat merujuk pada yang sublim, berkaitan dengan Tenger, Langit Mongol. Seluruh rakyat Kubilai, berbangsa China maupun Mongol, sangat terkesan dan mengagumi pilihan kaisar baru mereka. Kota Beijing hari ini menjadi laguna yang dipenuhi kemodernan. Namun, di balik permukaannya yang berkabut akibat asap kendaraan, polusi dan gedung baru adalah citra redup sebuah kota tua, segi empat ajaib yang dibentuk oleh sistem jalan raya yang menakjubkan. Di suatu hari di musim panas, saya pergi jalan-jalan untuk membuktikan keajaiban tersebut. Saya putuskan menelusuri jalur Emil Bretschneider, seorang botanis, fisikawan dari Kedutaan Rusia dan sejarawan yang tekun tentang kota ini. Di masa dia hidup, sekitar tahun 1875, bentengbenteng orang Mongol masih menjulang di perdesaan dan diselangselingi jalan-jalan dan jalur gerobak. Empat puluh tahun kemudian, ketika sejarawan Lin Yutang menyelidikinya, dia menemukan bahwa “benteng-benteng itu benar-benar berciri perdesaan, dengan lahan per tanian dan kolam buat ternak itik. Kedengarannya sangat memesona. IBUKOTA BARU 131 pustaka-indo.blogspot.com
Pesona ini sudah lama sirna. Empat kilometer ke barat laut Taman Beihai, terdapat dataran agak tinggi yang dipenuhi pepohonan dan dibelah jalan kereta. Tempat ini seolah tak ada apa-apanya, namun dia adalah sisa-sisa benteng Kubilai yang terbuat dari tanah. Anda dapat mencapai tempat ini dengan menghindari mobil yang berlalu lalang. Jalan yang tertutupi bata-bata abu-abu dan diapit semak-semak membawa saya ke puncak. Dari sini, saya dapat melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit, jalanan dan kendaraan di tengah udara yang pekat karena polusi. Di sebuah papan peringatan tertulis: “Jagalah semak-semak ini, karena dia bernyawa.” Memang tak banyak lagi yang hidup di sini, dan tak banyak pula masa lalu yang tersisa. Sebuah kuil modern tak terpakai lagi, kecuali bagi seorang pria gundul yang memainkan semacam biola berdawai satu di lututnya. Jalanan yang sekarang riuh oleh kendaraan dahulu pernah dilewati para prajurit yang berjalan berbaris dan para anggota istana yang mencari angin. Satu blok ke utara, terdapat kanal yang dulu merupakan parit pembatas tanah kekuasaan Kubilai di sebelah utara. Saya menyusuri kanal ini, tempat masa lalu yang tak lama lagi akan menjadi tempat hiruk-pikuk Olimpiade 2008, dan saya pun sampai di Taman Yuan Da-du, nama yang berasal dari dinasti Kubilai dan nama Mongol untuk kota Beijing. Kerlap-kerlip cahaya lampu dari perahu-perahu santai menunggu para pengunjung. Seorang pemuda tidur-tiduran di atas bangku. Batu-batu jalan menutupi bekas benteng ini, yang sekarang tak berisi apa-apa selain pohon dan jalan-jalan setapak. Sebuah pilar memperlihatkan ukiran bergambar Jenghis sedang menerima utusan dan para keturunannya. Benda ini bukan peninggalan sejarah, tapi sebuah monumen: dia dibuat pada 1987, bersamaan dengan taman. Di sini, setidaknya ter - dapat satu hal yang memang berasal dari abad ke-13—dua patung kura-kura dari batu yang sedang menopang pilar persegi empat, sebagai simbol kekuasaan yang dipakai orang China dan diadopsi orang Mongol. Di balik patung ini, terdapat taman Kubilai yang sangat mewah yang dipenuhi blok-blok bangunan. Jika Anda ingin merasakan kesan tentang Beijing-nya Kubilai, lebih baik Anda menghindari jalan raya dan mencari sesuatu yang bisa membuat imajinasi Anda berkelana bebas. BAGIAN II: MUSIM PANAS 132 pustaka-indo.blogspot.com
Pada 1274, istana Beihai hampir selesai sehingga Kubilai sudah bisa mengadakan dengar pendapatnya yang pertama di aula utama (meski pekerjaan tetap terus berjalan baik di tembok-tembok maupun istanaistana yang lain). Dia pun sudah punya panggung tempat dia akan me - mentaskan drama kekuasaannya. Salah satu rahasia kekuasaan adalah bagaimana dia dipertunjukkan. Dunia modern agak curiga dan memandang miring soal pertunjukkan kekuasaan ini. Demokrasi tercoreng karenanya; kerajaan dan raja, kalau pun masih ada, dipertahankan sebagai warisan masa lalu saja, kelihatan menakjubkan namun kosong dari segi isi. Tetapi kalangan otokrat, pria-pria utama dalam sejarah, dan kadang-kadang wanita, tahu betul bahwa kekuasaan dan pertunjukkan kekuasaan harus berjalan beriringan. Dari Persia kuno sampai Nazi Jerman, dominasi politik selalu ditunjukkan dengan penggunaan simbol, ritual dan upacara untuk mementaskan cita-cita yang diyakini penguasa dan untuk mengukuhkan kekuasaannya. Setiap masyarakat memiliki cara sendirisendiri untuk melakukan hal ini. Kaisar-kaisar Romawi menjadi dewa saat dimakamkan; raja-raja Nepal mengaku sebagai pengejawantahan dewa Wisnu dengan cara menunjukkan kemurah-hatian; di Bali, raja memperlihatkan kekuasaannya dengan ikut serta dalam arak-arakan; Hitler mengubah dirinya menjadi pahlawan epos dengan melakukan pawai Nuremberg. Seperti kata sejarawan David Cannadine, para raja memerintah dengan ritus-ritus ilahiah sekaligus dengan hak-hak ilahiah. Namun di balik beragam ritus ini terdapat berbagai kemiripan mendasar (yang diperdebatkan para antropolog dan sejarawan). Ritual dan upacara itu menegaskan beberapa hal: • stabilitas negara; • kekuasaan negara atas individu; • arti penting struktur kekuasaan: hierarki penguasa, keluarga, peng - adilan, rakyat; • legitimasi penguasa; • kualitas adimanusia penguasa, yang menghubungkannya dengan dewa/tuhan. IBUKOTA BARU 133 pustaka-indo.blogspot.com
Salah satu bentuk teater yang terdapat dalam sebagian besar masyarakat adalah kegiatan berburu. Kegiatan ini, misalnya, merupakan salah satu peristiwa penting dalam Kekaisaran Frank di zaman Kaisar Charlemagne setelah dia naik takhta di tahun 800. Kegiatan ini biasa - nya jadi jalan keluar bagi krisis politik yang tak terselesaikan dalam rapat-rapat dewan, karena “berburu dilakukan dalam, dan merupakan bukti dari, ampuhnya kerjasama.”3 Dalam bentuknya yang dramatis, dan dalam perjamuan yang dilakukan setelahnya, perburuan ini menyimbolkan manfaat tindakan kolektif, baik dalam kerjasama militer maupun politik. Kubilai, yang tahu benar manfaat ritual ini namun tak punya pengalaman tentang bagaimana perburuan dilakukan dalam kultur China, memiliki tim penasihat yang memandu dia. Cukup banyak bahan yang tersedia, terutama tiga jilid karya berisi ritual-ritual kerajaan yang ditulis setengah milenium sebelumnya di zaman Dinasti Tang (618-906), ketika China masih bersatu, kaya raya, dan sangat stabil.4 Para sarjana di zaman Tang percaya bahwa ritual-ritual ini berasal dari zaman yang jauh sebelum mereka, sekitar 2.000 tahun SM, dan kemudian diubah dengan memperkenalkan praktik Konfusian di abad kedua dan pertama SM. Ada 150 ritual, esensi simbolis pemerintahan, campuran kosmologi, etika dan Konfusianisme, dengan pengaruh Buddhisme dan Tao. Di sini terdapat aturan-aturan untuk kurban dan persembahan kepada dewa di surga dan di bumi, dewa di lima penjuru angin, dewa panen, dewa matahari, dewa bulan, dewa bintang, dewa puncak-puncak suci, dewa laut dan dewa sungai; kurban untuk para leluhur; untuk Konfusius. Ada ritus untuk ritual yang teratur dan tak teratur, untuk digunakan di Gunung Tai yang suci, di mana dunia manusia dan dunia arwah bertemu; ritus untuk mereka yang berkuasa dan yang ingin merebut kekuasaan, untuk mereka yang sedang menerima dan menghibur para utusan, untuk mengumumkan kemenangan, untuk perkawinan anggota kerajaan, untuk ucapan selamat bagi anggota BAGIAN II: MUSIM PANAS 134 3 Janet Nelson, “The Lord’s Anointed and the People’s Choice: Carolingian Royal Ritual”, dalam David Cannadine dan Simon Price (ed.), Rituals of Royalty. 4 David McMullen, “Bureaucrats and Cosmology: The Ritual Code of Tang China”, dalam David Cannadine dan Simon Price (ed.), Rituals of Royalty. pustaka-indo.blogspot.com
kerajaan, untuk pelantikan, untuk menandai seseorang memasuki usia tertentu (untuk semua lapisan masyarakat dari yang tertinggi sampai kepada pejabat di lapis keenam), untuk mengirim kabar dan pemberitahuan oleh pejabat daerah, untuk aturan-aturan mengenai yang harus dilakukan setelah mengalami gagal panen, penyakit, dan perkabungan… dan berbagai variasi dari ini semua—dan selebihnya—bergantung pada apakah upacara-upacara ini dilakukan kaisar atau perwakilannya, setiap pejabat dari segala lapisan mulai dari kaisar sampai yang terendah, pejabat di level kesembilan. Ritual untuk nasib baik mensyaratkan puasa yang terdiri dari dua jenis, santai atau ketat, yang bervariasi mulai dari tujuh, lima, atau tiga hari, tergantung apakah ritualnya mayor, medium, atau minor. Ada pula aturan yang menetapkan tenda, alat musik, posisi para tamu, ucapan yang dipakai dalam doa. Berikut ini contoh bagaimana warga desa harus memberi sesajian berupa makanan, permata, dan sutra kepada dewa kesuburan dan panen. Ritual ini punya birokrasi sendiri yang besar dan rumit, terdiri dari empat divisi—masing-masing bertanggung jawab dalam soal sesaji, perjamuan kekaisaran, keluarga kaisar dan upacara-upacara bagi orang asing—dan sebuah Dewan Upacara yang termasuk ke dalam Kementerian Urusan Negara. Semua ini memerlukan ratusan ahli ritual; bahkan semuanya mencapai 17.000 pejabat-sarjana yang diperlukan oleh departemen lain karena pengetahuan mereka tentang ritual-ritual khusus yang berkaitan dengan urusan masing-masing departemen. Aparat dengan jumlah yang begitu banyak dan amat mahal ini dianggap sebagai bagian vital dari jalannya roda pemerintahan, karena dia menyediakan kerangka dan konteks bagi tindakan-tindakan manusia dan menghubungkannya dengan kosmos. Kerangka ini juga memapankan hierarki sosial, mengekang hawa nafsu manusia yang tak pantas. Dia akan menambal hal-hal yang luput dari undang-undang pidana, karena dia tak memaksa atau menghukum orang. Dia menegaskan rahmat tatanan alam semesta, dan peran kaisar dalam menjembatani bumi dan langit. Dia menjadi semacam giroskop sosial yang menjaga masyarakat agar tetap stabil (inilah alasan mengapa setiap dinasti tetap mempertahankannya, meski sudah hampir mati, sampai akhir itu sendiri datang tiba-tiba). Dinasti-dinasti setelah Tang membuat aturan ritual IBUKOTA BARU 135 pustaka-indo.blogspot.com
mereka sendiri. Jika Kubilai tak ingin diremehkan sebagai penguasa China, inilah yang harus dia lakukan. Demikianlah, di akhir usia paruh bayanya, Kubilai memperlihatkan dan mengatur segala sesuatu yang bernilai baginya, dan ini melebihi monarki mana pun di atas bumi saat itu. Jika Anda memerintah sepertiga penduduk Asia dan keluarga Anda memerintah sisanya; namun pada saat yang sama klaim kekuasaan Anda berdiri di atas sendi yang goyah; dan saat itu pun Anda sudah menanjak ke usia senja, terlalu gemuk, mudah sesak napas, dan sering meringis karena encok— maka tentulah Anda harus pintar-pintar bersandiwara sebaik mungkin. Dalam tahun-tahun setelah 1274, Kubilai memimpin monarki yang sangat kaya melebihi kerajaan mana pun dalam sejarah, dan ajaibnya dia pun tahu cara memanfaatkan kekayaan ini untuk mempertunjukkan dan memperkuat kekuasaannya. Namun dia tak akan berpura-pura menjadi orang China, mengikuti teladan Dinasti Tang dalam upacara dan ritualnya; tujuannya tetaplah menyeimbangkan Mongol dan China, dan cara yang dia pilih sudah teruji, yakni membuat orang terpesona dan kagum—ritual dan pertunjukan yang mengangkat dia dari sekadar sebagai seorang pria menjadi seorang raja, dari seorang raja menjadi seorang manusia setengah dewa. Basis kekuasaannya di istana, yang menebarkan pengaruhnya ke seluruh penjuru China dan wilayah lain, adalah 12.000 keluarga hakim, pejabat dan pegawai; dan setiap individu dalam kumpulan hakim ini memiliki tiga pasang pakaian resmi berbeda, masing-masing dengan kemewahan yang sedikit berada di bawah pakaian Kubilai sendiri. Masing-masing pakaian ini digunakan sesuai tiga acara kenegaraan berbeda: ulang tahun khan di akhir bulan September, Hari Tahun Baru, dan acara perburuan musim semi tahunan.5 Sebagai contoh adalah Hari Tahun Baru. Inilah acara yang dirancang untuk menegaskan sisi China dan sisi Mongol dalam diri Kubilai. Sebagai salah satu festival China terbesar, Hari Tahun Baru tentulah sangat penting bagi Kubilai karena salah satu arti nama dinastinya, BAGIAN II: MUSIM PANAS 136 5 Jumlah acara kenegaraan ini berbeda-beda seiring perjalanan waktu, kadang mencapai 4, kadang sampai 12 atau 13 (trois dan treize/tres sering dipertukarkan dalam keterangan Polo). pustaka-indo.blogspot.com
Yuan, adalah “yang pertama”, terutama bulan pertama dalam kalender matahari. (Saat ini, kedua kalender, matahari dan Gregorian, berjalan beriringan). Festival ini juga merupakan salah satu festival terpenting bagi orang Mongol. Seperti selalu terjadi di daerah perdesaan, di hari pertama bulan pertama setiap tahun—hari Bulan Putih—semua orang bangun pagi, memakai pakaian terbagus, lalu keluar dari tenda masingmasing, berjalan ke arah timur dan ke tempat lain yang dianggap suci, memercikkan susu atau vodka ke Langit Biru, mengibaskannya ke udara, dan kembali pulang untuk memuja patung Buddha atau— seperti sering dilakukan saat ini—memuja foto anggota keluarga yang telah meninggal. Kepala keluarga bersulang dengan susu ternak yang difermentasi ke arah Langit Biru, anak-anak menyerahkan sapu tangan sutra kepada orangtua mereka, tangan-tangan bersidekap dengan cara sedemikian rupa. Ada pula yang membungkukkan badan dan melafalkan puji syukur. Teh diminum, sanak saudara dikunjuingi, kejadian lama dikenang, jalinan sosial dieratkan. Upacara yang dilaksanakan istana Kubilai menggabungkan ritual keluarga kuno yang sederhana dengan pesta China untuk menciptakan pesta dan seremoni yang lebih meriah dan sangat besar, sebuah penegasan berlebihan atas kekuasaan pribadinya dan negara. Marco Polo menggambarkan acara ini sebagai berikut. Ribuan orang—katanya hampir 40.000, namun kita harus selalu ingat kebiasaannya memperkirakan angka-angka dengan cara gegabah—berseragam putih, semuanya berbaris di belakang keluarga kaisar, mengalir dari Tembok Besar ke daerah-daerah sekitar. Seorang pejabat tingkat tinggi—entah petinggi Shaman, pendeta Buddha atau pengurus keluarga istana, Marco Polo tak dapat memastikan—dipanggil untuk memimpin “Membungkuk dan menyembah!” dan semua yang hadir akan bersujud menyentuhkan kening ke lantai sebanyak empat kali. Lalu terdengarlah lantunan kidung, kemudian diikuti doa dari seorang menteri: “Langit agung yang melingkupi segala! Bumi yang dibimbing Langit! Kami memohon agar rahmat dilimpahkan kepada Kaisar dan Permaisuri! Panjangkanlah umur mereka sampai sepuluh ribu tahun, sampai ratusan ribu tahun!” Lalu, masing-masing menteri melangkah ke altar dan membungkuk di pedupaan yang bertuliskan nama Kubilai. Para pejabat bermunculan IBUKOTA BARU 137 pustaka-indo.blogspot.com
dari setiap sudut dengan membawa hadiah emas, perak, permata, kebanyakan terdiri dari 81 jenis, 81 adalah angka unik yang merupakan hasil dari sembilan kali sembilan; harta kekayaan kekaisaran dipamerkan di peti-peti yang diangkut oleh rombongan gajah dan unta yang dihiasi dengan mewah. Lalu tibalah saat perjamuan. Kubilai duduk di meja tertinggi, dan memang tempatnya paling tinggi, bertempat di atas panggung, dengan para pangeran dan istri mereka tepat di bawahnya. Di satu sisi terdapat meja besar berisi hidangan, dihiasi dengan ukiran hewan. Di tengah terdapat kendi anggur dari emas berukuran satu gentong dengan empat kran, tempat para pelayan menuangkan anggur ke dalam cangkircangkir emas. Terus ke ujung ruangan terdapat meja-meja lebih kecil, berjumlah ratusan, diapit oleh karpet tempat duduk para prajurit dan pengawalnya. Di salah satu sisi mimbar terdapat orkestra, dengan pemimpin yang terus memperhatikan gerak-gerik kaisar. Polo menyebutkan satu unsur yang agak janggal dari acara ini, satu detail penting yang mengingatkan kita pada asal-usul nomad Kubilai. Siapa pun yang pernah berkunjung ke Mongolia hari ini akan mengerti hal ini. Ketika memasuki ger, Anda harus berhati-hati melangkah me - lewati pembatas, sedikit ke bawah dari kerangka pintu, tanpa menyentuh - nya. Tak ada yang tahu asal-usul takhayul ini, namun tak seorang pun mengabaikan kekuatannya. Jika Anda tak sengaja menendang batas ini, itu berarti pertanda buruk; jika Anda sengaja menendangnya, itu berarti pelecehan. Aula Besar Kubilai memang tak memiliki batas yang dapat dilanggar seperti ini, namun di setiap pintu berdiri dua penjaga bersenjatakan pentungan yang mengawasi setiap pelanggaran. Kembali ke Mongolia, seorang pelayan bisa dihukum mati karena melangkah ke batas ruangan pangeran. Memang kebrutalan semacam ini tak terjadi dalam acara perjamuan Kubilai ini, namun jelas dia tak main-main. Para penjaga diperintahkan untuk mempermalukan mereka yang melanggar aturan, menelanjangi mereka atau memukul mereka dengan pentungan. Anda bisa lepas dari hukuman asalkan Anda orang asing yang tak mengerti aturan, dan Anda akan ditemui seorang pejabat senior yang akan menjelaskan kepada Anda tata krama istana. Ketika semua hadirin sudah duduk, perjamuan pun dimulai, dan mereka yang BAGIAN II: MUSIM PANAS 138 pustaka-indo.blogspot.com
berada di meja akan dilayani para pelayan. Sekali lagi, khan akan menggunakan ritual untuk menegaskan statusnya, karena para pelayan “mulut dan hidung mereka ditutup dengan sapu tangan sutra dan emas, sehingga tak ada napas yang mencemari piring atau gelas yang akan diberikan kepada Yang Mulia.” Yang Mulia dengan berwibawa akan menerima mangkuk dari pelayan. Lalu terdengarlah pengumuman yang menyatakan betapa pen - ting momen itu. Pembawa mangkuk dan makanan berlutut. Yang Mulia kemudian minum. Ketika dia berkenan menerima makanan, hal yang sama terjadi lagi. Kejadian ini akan menyela perjamuan sampai selesai, ketika semua piring sudah dibawa dan saat itulah waktu untuk hiburan, sebuah kabaret yang dimainkan para aktor, pesulap dan akrobat. Beijing baru Kubilai adalah pusat perburuan dalam skala yang sangat besar. Di bawah kendali 14.000 pemburu, wilayah pedalaman berjarak 500 km—empat puluh hari perjalanan, menurut Marco Polo—dari kota di segala penjuru dipersembahkan untuk urusan menyuplai bahan makanan istana. Seluruh binatang besar adalah milik kaisar: babi hutan, rusa, beruang, keledai liar (yang saat ini masih bisa ditemukan di Mongolia barat), kucing-kucing liar dari berbagai jenis. Untuk perburuannya sendiri, Kubilai memiliki kebun binatang kucing, cheetah dan harimau yang secara khusus dilatih guna menangkap dan membunuh mangsa-mangsa besar. Cheetah sudah lama dipelihara sebagai hewan pemburu oleh para raja di seluruh dataran Asia, namun harimau—harimau Siberia dari perbatasan utara kekaisaran Kubilai— saat itu masih baru. Polo, yang tak tahu binatang bernama harimau, menyebutnya singa “dengan kulit belang-belang indah warna hitam, merah dan putih”. Ada juga elang yang dilatih dan dipakai orang Kazakhs untuk berburu bukan hanya kelinci dan rubah, tapi juga rusa, kambing hutan, babi liar, bahkan serigala. Elang berburu dengan cakar dan paruhnya, melumpuhkan mangsa dengan sayapnya (berburu dengan elang masih dipraktikkan di Kazakhstan dan Mongolia barat hari ini). Semua ini terjadi di musim semi. Marco Polo menceritakan semua ini kepada kita. IBUKOTA BARU 139 pustaka-indo.blogspot.com
Sekarang tanggal 1 Maret. Musim dingin telah usai, musim semi sedang menjelang. Istana mempersiapkan acara perburuan tahunan musim semi, perburuan berskala besar dan sangat mewah yang dengan mudah melupakan tujuan dasar dari sebuah perburuan. Di balik kekayaan China terdapat akar Mongol, gagasan kuno klan-klan yang tersebar di bawah perintah satu orang pemimpin. Dalam kegiatan ini, Kubilai, cucu orang yang mengaku tetap punya jiwa nomad pengelana, memainkan permainan nomad itu sendiri. Istana-istana dan sebagian besar kota Beijing menjadi kosong karena pindah ke dalam ratusan kereta, ke atas punggung kuda-kuda yang berjumlah ribuan. Untuk Kubilai sendiri, ada empat gajah yang dikekang berjejer, mengangkut howdah sangat besar, sebuah kamar terbuat dari kayu, yang di bagian dalam dilapisi kain tenunan emas dan di bagian luar dihiasi kulit singa. Selusinan pelayan senior berada di belakangnya siap melayani. Sekitar 2.000 pawang anjing dan 10.000 pawang elang, begitulah kata Marco Polo, masing-masing dengan burung pemburunya, tetapi kita tak boleh memercayai hal ini begitu saja, karena ada pula sekitar 10.000 tenda; sebuah angka yang sangat luar biasa. Agar gerbang dan jalanan tak terhambat, mereka dibagi-bagi menjadi ratusan kelompok. Menurut Marco Polo, mereka tengah menuju ke selatan. Jika demikian, berarti rombongan besar ini akan segera berbelok ke arah timur melintasi dataran dan sungai-sungai yang mengalir di antara kota Beijing dan laut. Kaisar berjalan lambat sekali dengan gajah-gajahnya, kira-kira 30 km per hari, setiap sore tiba di perkemahan yang merupakan kota tenda. Di sepanjang jalan, burung-burung dari berbagai jenis menyebar dan terbang tinggi dari sarangnya. Tatkala burung-burung itu melintas, dan Kaisar sedang berbincangbincang dengan para menterinya di dalam kamar-punggung-gajahnya, salah seorang dari menteri itu akan berkata: “Yang Mulia, lihatlah burung bangau itu!” Lalu Kaisar segera memerintahkan atap kamarnya dibuka dan, ketika sudah menandai seekor bangau yang dia inginkan, dia memerintahkan salah satu elang pemburunya untuk menangkap; dan seringkali buruan itu akan segera ada di depannya…. Saya tak yakin masih ada orang di dunia ini dengan hobi dan kesenangan seperti Kubilai ini. BAGIAN II: MUSIM PANAS 140 pustaka-indo.blogspot.com
Beberapa perburuan melibatkan anjing, semacam anjing-anjing mastiff raksasa yang dilatih berburu oleh para pawangnya, yang disebut “manusia-serigala” (Marco Polo menerjemahkan istilah Mongol ini dengan benar, namun dia mengira artinya “penjaga anjing mastiff). “Ketika Yang Mulia berkendara melintasi padang rumput, Anda akan melihat anjing-anjing berdatangan sambil membawa bangkai beruang, rusa jantan, dan binatang buas lainnya.” Mereka menuju ke tempat di mana Tembok Besar bergerak turun dari dataran-dataran tinggi menuju Laut Pasifik. Setelah itu tak ada lagi Tembok Besar, dan tak ada lagi bahaya dari suku-suku nomad, karena wilayah itu semuanya milik Kubilai. Di depan, lewat celah sempit antara bukit-bukit dan laut, terdapat padang rumput Manchuria. Setelah seminggu, gajah-gajah Kubilai akan membawanya ke perkemahan yang akan menjadi pusat pemerintahan selama tiga bulan berikutnya. Tempat perkemahan ini adalah wilayah tradisional, dipilih karena luasnya dan banyaknya perburuan yang bisa dilakukan. Pawang elang dan rajawali, dengan burung-burung bertengger di pergelangan tangan dan siap beterbangan, berpencar mencari mangsa ke segala arah sejauh beberapa kilometer dari tempat itu. Tiga tenda kaisar telah siap—satu tenda besar yang dapat menampung 1.000 orang; ruang-ruang tidur; dan sebuah ruang dengar pendapat yang agak kecil. Marco Polo tak memberi tahu seperti apa bentuk tenda-tenda ini, namun masingmasing memiliki tiga sudut, yang barangkali menopang tenda utama tradisional yang ada di tengah untuk mengingatkan Kubilai pada padang rumput yang jadi asal-usulnya. Yang paling membuat Marco Polo terkesan yaitu hiasan kamarkamar istana berjalan ini. Mereka kedap cuaca karena terbuat dari kulit harimau—harimau-harimau Siberia yang saat itu belum jadi hewan langka—dan dilapisi bulu musang, pakaian Siberia paling berharga. Bayangkanlah. Sebuah tenda yang dapat menampung 1.000 orang memiliki panjang lingkaran kira-kira 125 m. Untuk menutupi dindingnya memerlukan 16.000 helai kulit bulu, saat ini kira-kira seharga 50-100 dolar per helai. Harga keseluruhan kira-kira satu juta dolar, dan ini hanya untuk tenda utama—tanpa kulit harimau yang kedap air. Di sekitar tenda utama, bertebaran tenda anggota keluarga kekaisaran— IBUKOTA BARU 141 pustaka-indo.blogspot.com
tenda istri utama Kubilai, Chabi, tiga istri lain, dan para pangeran, serta gadis-gadis dari Ongirad (klan Mongol yang biasa menyuplai jodoh untuk keturunan Jenghis) yang dibawa ke harem—dan tenda para menteri senior, pelayan, pawang elang, peternak, koki, pawang anjing, pelayan rumah tangga, para sekretaris—semuanya dengan keluarga mereka—dan tentu saja para prajurit sebagai tenaga keamanan. Inilah sebuah kota-tenda, dengan penduduk ribuan, yang kebutuhan pangannya dipasok lewat hobi-berdarah (berburu). Setiap hari, elangelang dan rajawali datang membawa daging burung bangau, angsa, itik, kelinci dan rusa, yang sudah ditandai dengan gigitan taring anjing. Kelinci, rusa jantan, rusa kecil—semuanya diperuntukkan bagi perburuan kerajaan, orang biasa dilarang berburu hewan-hewan ini untuk memastikan ketersediaan pasokan bagi acara perburuan kerajaan sampai ke timur laut China. Bersamaan dengan perburuan itu, urusan kekaisaran tetap berlanjut, dengan rapat-rapat dan audiensi-audiensi serta para pembawa pesan yang datang dan pergi, juga penerimaan para duta besar dari luar negeri. Di pusat semua ini tentulah sang kaisar: kegemukan, menderita encok, namun tetap mampu mempertahankan ciri khas nenek moyangnya dengan mengendarai kuda melintasi padang rumput. Sebuah potret dirinya oleh seorang seniman istana Liu Guan-dao menggambarkan dia bertengger “berat” di atas pelana, tertutupi jubah cerpelai, dengan Chabi berada di sampingnya. Dia didampingi dua pengawal. Adegan ini sengaja dibuat seolah-olah biasa, semacam snapshot-nya CartierBresson: perhatian keempat orang di gambar itu seakan tertuju pada sesuatu yang tak tertangkap kamera—mungkin seseorang yang sedang berseru: “Yang mulia! Ada seekor bangau di sana!” Padahal sesungguhnya tak ada elang yang bertengger di pergelangan kaisar, atau seekor anjing pemburu yang siap menerima perintah. Begitulah. Perburuan ini akan berlangsung dua setengah bulan lagi, sampai arak-arakan besar ini akan kembali pulang di pertengahan Mei, membawa kaisar dan rombongan kembali ke ibukota. Dari ibukota, dengan datangnya musim panas, persiapan keberangkatan menuju utara, ke Xanadu, pun harus dimulai. BAGIAN II: MUSIM PANAS 142 pustaka-indo.blogspot.com
7 MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET SUNGGUH TIDAK MENGGEMBIRAKAN BAGI YANG TAK MENGINGINKANNYA terjadi, saat ini Tibet adalah bagian dari China: Tibet yang terancam, terdominasi, terjajah, terkolonisasi, terduduki, dan sama sekali tak memiliki kesempatan memperoleh kembali kemerdekaannya—atau memperolehnya, karena China menganggap Tibet adalah bagian dari China sejak dulu kala. Namun, soal ini tergantung seberapa jauh Anda ingin surut ke masa lalu. Kita dapat melihat akar keterlibatan China di Tibet dengan mundur 750 tahun, ketika Kubilai mulai turun tangan. Namun masih ada akar yang lebih jauh lagi, yang memaksa kita mundur 500 tahun lagi. Masa ini perlu digali lebih jauh karena dia akan menjelaskan peran Kubilai dalam sejarah Tibet, dan karena itu akan membantu kita dalam memahami tentara China yang menjajah Tibet hari ini. Pertama, ada baiknya kita lihat beberapa latar belakang yang menunjukkan mengapa sebenarnya Tibet memang harus merdeka. Di abad ke-7, Tibet adalah sebuah kekaisaran, melingkupi dataran tinggi di bagian dalam dan gurun pasir di barat laut, membentang dari perbatasan Uzbekistan sampai ke China tengah, dari setengah Xinjiang sampai ke Teluk Bengal. Semua ini seluas 2.250 km membentang dari timur ke barat, 1.750 km dari utara ke selatan: sebuah wilayah yang MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 143 pustaka-indo.blogspot.com
lebih luas dari daerah utama China. Bahkan pada 763, sepasukan tentara Tibet pernah menaklukkan ibukota orang China, Chang-an (sekarang bernama Xian). Pada saat yang bersamaan, muncul masalah ketika Buddhisme jadi agama resmi negara. Buddhisme makin mendesak Bon, yakni kepercayaan shamanistik yang merupakan kepercayaan asli orang Tibet. Ketegangan makin meningkat ketika seorang raja di abad ke-9 jadi pembela fanatik Buddhisme. Para biksu Buddha, yang me - nerima kekayaan dan kekuasaan dari biara-biara mereka yang dibangun baru, menantang para penguasa tradisional. Para bangsawan Bon pun memberontak. Pada 838, mereka membunuh raja dengan mencopot kepalanya dari tubuhnya dan mengangkat adiknya sebagai raja, yang juga terbunuh lima tahun kemudian. Para penganut Buddha pun di - aniya, biara dihancurkan, dan kekaisaran hancur menjadi kerajaankerajaan kecil dan tuan-tuan tanah feodal. Secara politik, Tibet pun masuk ke dalam lubang hitam sejarah. Tanpa kekuasaan inti, dengan biara-biara yang telah menjadi puing-puing, sangat sedikit catatan yang tersisa. Dari reruntuhan seperti ini, Buddhisme bangkit kembali dalam beberapa sekte: yang paling dominan adalah aliran Mahayana, yang memiliki kepercayaan kompleks dan mistis dalam wujud pengejawantahan Buddha dan makhluk-makhluk gaib atau bodhisattvas. Seluruh sekte menganut Buddhisme Tantrik, dengan mantera, silabel dan rajah-rajah mistiknya, sebagai praktik tertinggi dan terbaik, dan semuanya mengambil rupa yang berciri Tibet dengan mengadopsi kidung, ritual dan diwandiwan Bon. Benih-benih kebangkitan kembali tumbuh di daerah timur dari tindak-tanduk tiga pemikir Buddha, belakangan dikenal sebagai Tiga Orang Bijak dari Kham. Mereka berhasil lolos dari pembasmian dan melarikan diri dengan buku-buku mereka ke Amdo, kini menjadi Provinsi Qinghai di China, suatu wilayah di hulu Sungai Kuning. Di sana mereka hidup di sebuah gua, mengabdikan diri untuk kehidupan biara. Sekitar tahun 950, seorang biksu dari Amdo bernama Klumes (atau kLu-mes dalam beberapa transliterasi) makin mendorong terjadinya renaisans Buddha, membawa Buddhisme ke barat kembali ke wilayah utama Tibet. Dalam apa yang dikenal sebagai “pengenalan kedua BAGIAN II: MUSIM PANAS 144 pustaka-indo.blogspot.com
Buddhisme” ini, biara-biara lama diperbaiki dan biara-biara baru mulai dibangun. Kebangkitan serupa juga terjadi di daerah barat jauh, di sana seorang anggota keluarga kerajaan melarikan diri tatkala kerajaannya runtuh. Dia dan keturunannya mendirikan tiga kerajaan kecil di daerah hulu sungai Sutlej, dekat perbatasan India hari ini. Satu dari tiga kerajaan ini, Gu-ge, jadi pusat kebangkitan Buddhis di bagian barat pegunungan Himalaya, yang kemudian dihuni penduduk berkebangsaan Tibet. Raja Gu-ge menjadi “biksu kerajaan”, Ye-shes-‘od (atau YesheÖ). Dia mengutus dua puluh satu pemuda Tibet untuk belajar ke India. Sembilan belas orang meninggal dalam masa studi mereka. Satu dari dua pelajar yang tersisa kembali ke Tibet setelah tujuh belas tahun, dan kemudian menjadi ilmuwan dan sarjana Tibet paling terkenal di abad pertengahan: dialah Rinchen Zangpo (958-1055), “Sang Penerjemah Agung”, pendiri komplek biara di Thöling, yang tetap berfungsi hingga sebagiannya hancur dalam Revolusi Kebudayaan pada 1967. Abad sepuluh dan sebelas jadi saksi betapa intensif program pem - bangunan dan perbaikan biara, serta penerjemahan teks-teks berbahasa Sanskerta, termasuk teks yang mendasari kalender Tibet berdurasi 60 tahun, dengan siklus dua belas binatang dan lima unsur. Ahli terbesar dalam sistem kalender ini adalah guru dan master berkebangsaan India, Atisha. Ye-shes-’od mengirimkan undangan kepada Atisha, yang datang ke Gu-ge di usia 60 tahun pada 1042—tahun penting, karena jadi dasar bagi kalender matahari Tibet. Atisha tinggal di biara Thöling selama tiga tahun, lalu meneruskan perjalanan di wilayah Tibet lain sampai kematiannya pada 1054. Saat itulah dia meletakkan dasardasar bagi kebangkitan Buddhisme secara sempurna, terbukti di tahun 1076 dengan adanya pertemuan besar di Gu-ge yang mempertalikan kembali aliran Buddhis timur dan barat. Penerjemahan literatur Buddhis ke dalam bahasa Tibet pun makin meningkat. Ini juga terbukti sebagai usaha penting bagi agama yang sedang merosot pengaruhnya di India akibat tekanan Islam. Pengaruh Atisha, penerjemahan, kebangkitan disiplin kehidupan biara: semua ini memastikan bahwa Tibet akan menjadi pewaris utama Buddhisme India. (Namun, hal ini tak memberi Tibet kesempatan untuk berada di bawah satu pimpinan politik. MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 145 pustaka-indo.blogspot.com
Pertarungan antara Bon dan Buddhisme tetap berlanjut sampai abad ke-17, ketika anggota sekte Gelugpa membunuh calon pewaris mahkota terakhir, membuka jalan bagi penyatuan raja akhirat dan dunia, Dalai Lama). Ini semua menunjukkan bahwa secara historis, sampai awal abad ke-13, China sama sekali tak berhak mengklaim atas Tibet. Bahkan, yang terjadi justru sebaliknya: Tibet memerintah setengah wilayah China sekarang, bahkan melirik ke arah barat, ke India, mengingat pengaruhnya yang sangat penting, Buddhisme. Lalu, atas dasar apa China mengklaim kekuasaan atas Tibet? Apa yang jadi pembenar bagi kejadian di era 1950-an, pembebasan oleh tentara Mao: saat 30.000 serdadu komunis membantai 4.000 orang Tibet, pendudukan militer, pembantaian para pemberontak pada 1959, pengungsian Dalai Lama, kematian ratusan ribu orang Tibet—sekitar satu juta menurut sebagian sumber—pemboman Jokhan, lembaga keagamaan paling berpengaruh di Tibet, perampokan atas sekitar 6.000 biara; pendek kata, penghancuran sebuah bangsa? Pembenaran atas semua aksi itu, yakni Tibet telah menjadi “China” ketika dia jatuh ke tangan orang Mongol. Bagaimana pencaplokan ini berawal? Tidak dengan cara seperti dijelaskan dalam berbagai buku. Penjelasan standar dalam buku-buku itu mengatakan bahwa penobatan Jenghis sudah lebih dari cukup untuk mendorong orang Tibet menyerahkan diri. Bukan, bukan demikian, sebagaimana dinyatakan Luciano Petech dalam analisisnya baru-baru ini,1 yang menyebut keterangan tadi “onggokan omong kosong”. Tak ada pula bukti yang menunjukkan bahwa Sorkaktani melakukan pendekatan pada 1215—tahun di mana dia dianggap me - lahirkan Kubilai di Zhangye. Hubungan pertama yang bisa dibuktikan terjadi pada 1239, oleh anak kedua Ogedei, Köten (sepupu Kubilai), yang—setelah melakukan operasi militer di Sichuan—menerima tanah perdikan di daerah per - BAGIAN II: MUSIM PANAS 146 1 “Tibetan Relations with Sung China and with the Mongols”, dalam Morris Rossabi (ed.), China Among Equals: The Middle Kingdom and its Neighbours. pustaka-indo.blogspot.com
batasan dengan Tibet, berpusat di tempat yang kini bernama Wuwei. Dia segera menginvasi Tibet tahun berikutnya, menghancurkan sebuah biara. Kematian Ogedei menunda aksi penaklukan berikutnya. Tetapi pada 1244, Köten mengirim undangan setengah memaksa kepada seorang Lama berusia 62 tahun dari biara Saskya, belahan lain kota Lhasa, tak jauh dari perbatasan Nepal. Kata-katanya menunjukkan bahwa dia menganggap Buddhisme sebagai kunci dominasi politik. “Saya memerlukan guru yang dapat memberitahu saya jalan yang harus saya tempuh. Saya memilih Anda. Datanglah kepada saya betapa pun sulit jalan yang akan Anda lalui. Jika Anda mangkir dari undangan ini di usia Anda sekarang… apakah Anda tak cemas jika saya membalasnya dengan mengirim bala tentara saya?” Karena tak punya pilihan lain, Lama ini pun memulai perjalanan jauhnya dari dataran tinggi Tibet, ditemani dua keponakannya yang berusia sembilan dan tujuh tahun, salah satunya kelak berperan penting dalam kisah Kubilai. Perjalanan ini sangat jauh: berjarak 1.700 km dari Saskya ke Wuwei, melintasi daerah-daerah paling sulit di muka bumi. Lama pun tiba di markas Köten pada 1246, namun dia tak menemukan orang Mongol karena mereka sedang mengikuti pelantikan Güyük sebagai kaisar baru. Ketika Köten kembali, keduanya akhirnya membuat kesepakatan bahwa sang Lama akan bertindak sebagai agen Mongol di Tibet. Lama menulis surat kepada berbagai pemimpin Tibet, menyarankan agar mereka bekerjasama: “Hanya ada satu jalan keluar, yaitu menyerah pada orang Mongol.” Untuk memberi “meterai” pada perjanjian ini, sang Lama mengawinkan keponakannya yang berusia tujuh tahun dengan putri Köten. Seperti kata Petech, dengan perjanjian ini, “Köten meletakkan dasar bagi pengaruh Mongol di Tibet,” pengaruh yang kini diwarisi China. Setelah itu, terjadi tiga kematian berturut-turut: kematian Güyük sebagai kaisar baru, Köten, dan sang Lama senior. Demi menegaskan haknya atas wilayah Tibet, kaisar baru mengirim pasukan dan melakukan penghancuran. Dia dan beberapa pangeran menjadi patron bagi sejumlah sekte Tibet. Salah satu pangeran itu yakni Kubilai, yang ber - saing dengan saudaranya, Mönkhe, Hulagu, dan Ariq dalam menanamkan pengaruh di Tibet. MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 147 pustaka-indo.blogspot.com
Kubilai mengambil langkah kecil dengan dampak sangat besar. Dia memang masih seorang pangeran, masih di bawah kendali kakaknya, Mönkhe. Namun dia sudah punya ambisi ingin memperluas pengaruhnya ke China utara. Kubilai sangat tahu bahwa dia perlu menyeimbangkan penasihat Chinanya yang Konfusian dan Tao dengan penasihat Buddhis. Dan kebetulan, salah seorang keponakan mendiang Lama Saskya sedang bebas di pusat kekuasaan Köten. Namanya mungkin sama sekali tak bisa diucapkan oleh lidah orang Barat (Blo-gros rGyalmtshan), namun tak lama kemudian dia memperoleh gelar Phags-pa (Guru Bangsawan), dan dengan nama inilah dia dikenal dalam sejarah. Kubilai mengundang Phags-pa, yang baru berusia 16 tahun, ke istana. Pertemuan ini menguntungkan kedua pihak—bocah remaja ini memperoleh pelindung di dunia yang sedang kacau, yang sudah setengah dikuasai orang Mongol, dan siap sedia mempersembahkan kemampuannya guna membantu memperluas kekaisaran Kubilai; sedangkan Kubilai sangat tahu bahwa pendeta muda ini, pewaris Lama senior dari salah satu sekte Tibet terkuat dan masih terlalu muda untuk dicurigai Mönkhe, adalah kunci untuk menguasai seluruh negeri. Di tahun 1251-1252, Kubilai mondar-mandir di wilayah China barat—Ordos, atau Zhangye, atau Wuwei—dalam rangka mempersiapkan invasi ke Yunnan. Di sini, dia menghadapi persoalan. Dia perlu justifikasi yang lebih baik untuk menaklukkan melebihi apa yang dia warisi dari kakek dan ayahnya. Jenghis dan putra-putranya memang sangat kuat dan berkuasa, namun punya pandangan terbatas tentang apa itu kekaisaran. Mereka percaya—bukan: mereka tahu, dengan keyakinan dan kepastian seorang penganut setia—bahwa Langit telah memberikan dunia ke tangan mereka. Memang, Jenghis sendiri tak hanya mengandalkan kekejaman. Dia juga berusaha mengelola tanah taklukannya dengan administrasi yang baik. Namun justifikasi untuk semua itu tetaplah perintah Tuhan. Tentu saja, para penguasa selalu mengklaim mendapat dukungan dari Ilahi. Bahkan, setiap dinasti China di masa sebelumnya telah menerapkan hal ini, mengatakan bahwa keberhasilan sebuah peralihan dinasti berarti kaisar baru telah dianugerahi Mandat Langit, dan hanya dia beserta keturunannya sajalah yang memenuhi syarat untuk menerapkan secara benar aturan pemerintahan yang baik, yakni BAGIAN II: MUSIM PANAS 148 pustaka-indo.blogspot.com
sistem etika dan birokrasi Konfusian yang sudah sangat kuno. Namun, seperti pendapat Herbert Franke dalam analisisnya tentang masalah ini, bangsa Mongol sangat berbeda. Terlepas apakah Jenghis pernah tahu atau tidak dari para tetangga Chinanya, dia sama sekali tak tertarik dengan omong kosong Mandat Langitnya orang China ini, dengan kesalehan dan kearifan Konfusiannya. Sejauh dia dan keturunannya ketahui, garis dasar yang jadi pegangan mereka yaitu, bahwa Langit telah memberikan dunia kepada mereka. Tugas bangsa Mongol adalah menguasai, sedangkan tugas semua bangsa lain adalah tunduk. Di dalam The Secret History tertulis: “Langit dan Bumi sepakat, Temujin (nama asli Jenghis) adalah raja dari segala tanah… Seluruh dunia dipersiapkan untukmu…” Dan tak sedikit pula catatan dari orangorang Eropa pertama yang berhubungan dengan bangsa Mongol. John dari Plano Carpini melaporkan pada 1247 bahwa orang Mongol bermaksud menaklukkan seluruh dunia, barulah setelah itu tercipta kedamaian, bahwa Jenghis dipandang sebagai “Putra Langit yang suci dan agung”—filius Dei dulcis et venerabilis—dan satu-satunya pemimpin di permukaan bumi, sebagaimana Tuhan di Langit. William dari Rubrouck juga menyatakan hal senada: Super terram non sit nisi unus dominus Chingischan–“Di seluruh permukaan bumi, hanya ada seorang pemimpin, Jenghis Khan.” Perlu dicatat di sini yakni pengertian mengenai waktu di masa lalu dan masa depan. Dalam arti tertentu, Jenghis tetap hidup, dalam semangat; dan demikianlah keadaannya, sebagaimana dapat kita saksikan tatkala mengunjungi mausoleumnya di Mongolia Dalam, atau saat menyaksikan peringatan naik takhtanya yang ke-800 pada 2006. Tetapi dalam kehidupannya sendiri, ini terbukti sebagai penyederhanaan yang berlebihan. Penaklukan tidaklah sama dengan pemerintahan. Jenghis tak hanya melakukan penaklukan. Dia juga memperkenalkan tulisan, hukum tertulis, birokrasi, dan beberapa aturan administrasi; dan para penerusnya, setelah berhasil mengatasi keberatan-keberatan dari para lawan, sebagian besar juga bergerak ke arah yang sama. Seperti diketahui bersama, keyakinan dasar orang Mongol terhadap Tenger terbukti mampu beradaptasi dengan baik. Islam dan Kristen sama-sama mengakui Langit (Tuhan). Maka Jenghis pun sangat toleran MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 149 pustaka-indo.blogspot.com
terhadap agama lain, dan karena itu para penguasa Mongol di Persia dan Asia Tengah relatif mudah menerima Islam. Seperti kata Herbert Franke, kita bisa saja membayangkan, jika orang Mongol tetap berkuasa di Hungaria setelah tahun 1242, mereka pasti akan beralih menjadi orang Kristen. Hal ini juga terjadi pada diri Kubilai. Kebutuhan pemerintahan di daerah kekuasaannya di China menuntut dia menerima Konfusianisme. Namun, itu belum cukup. Pandangannya tertuju ke balik wilayah China tradisional, ke Yunnan, ke Tibet. Dia harus melegitimasi pemerintahannya di mata orang Mongol, China, dan kebudayaan lain yang akan membentuk bagian dari kekaisaran-dunia Mongolia, sebagaimana dititahkan Langit. Akhirnya, dia tahu bahwa yang dia butuhkan adalah Buddhisme. Anda mungkin mengira Buddhisme sebagai agama damai, dan karena itu tak cocok buat kerajaan yang ditujukan untuk menaklukkan dunia. Perkiraan itu tak benar seluruhnya. Dalam Buddhisme Lama, satu dari empat raja-dewa yang bertakhta di empat penjuru mata angin adalah Vai´sravana, ksatria bersenjatakan tombak dan gada penumpas orang tak beriman. Dialah, jika Anda suka, semacam dewa perangnya Buddhisme. Tak satu pun dalam Buddhisme Lama bertentangan dengan imperialisme Mongol. Si remaja Phags-pa-lah yang menunjukkan kepada Kubilai bahwa Buddhisme dapat melayani keinginannya. Buddhisme menawarkan satu hal yang tak terdapat dalam pandangan orang China tentang sejarah, atau dalam Islam, atau dalam Kristen: ini bukan hanya karena Buddhisme mengklaim diri sebagai agama dengan kebenaran universal, tetapi karena dia juga mengandung satu model bagi “kaisar universal”, cakravartin-raja, yang memerintah rakyat dari berbagai bahasa dan “menjalankan roda Hukum”. Beberapa penguasa terdahulu telah men - coba bereksperimen dengan gagasan ini, menyamakan diri mereka dengan Buddha, meminta agar mereka disebut bodhisattva, makhluk yang telah mengalami pencerahan–Kaisar Bodhisattva atau Penyelamat Dunia Bodhisattva. Pendek kata, Buddhisme adalah jalan terbaik bagi Kubilai untuk melekatkan dirinya pada agama yang bukan saja lebih “China” tapi juga menawarkan ideologi yang mengabsahkan penaklukan dan penguasaan atas dunia. Kubilai akan menjadi kaisar sekaligus paus, BAGIAN II: MUSIM PANAS 150 pustaka-indo.blogspot.com
pemimpin gereja dan negara, sumber kesejahteraan di dunia dan ke - selamatan di akhirat. Proses ini berawal sekitar tahun 1253–tanggal persisnya masih diragukan, karena Kubilai saat itu juga terlibat dalam penaklukan Yunnan–ketika dia menerima penahbisan dari Phags-pa yang berusia 18 tahun, dilantik dalam ritus-ritus dewa tertinggi Lamaisme, Hevajra, yang pemujaannya dipusatkan di biara Saskya, tempat Phags-pa dibesarkan. Ketika Yunnan berhasil ditaklukkan, Kubilai kembali ke Xanadu, mem bawa serta Phags-pa, kunci bagi pengembangan ideologinya dan untuk masuk Tibet. Phags-pa menyelesaikan studinya, menjadi biksu penuh, dan pada 1258, saat berusia 23 tahun, dia menjadi guru Buddhis bagi Kubilai; Kubilai, yang tak lama kemudian menjadi kaisar, perlu menegaskan ajarannya sebagai penguasa universal. Status Phags-pa kian tegas ketika, pada tahun itu juga, dia turut ambil bagian dalam perdebatan ketiga dan menentukan yang diadakan Kubilai antara penganut Buddhisme dan Tao. Peristiwa ini membuat posisinya sangat kuat manakala Kubilai diangkat menjadi khan pada 1260. Di masa perang saudara dengan Ariq, sekte-sekte yang ber - tentangan di Tibet dicurigai bekerjasama dengan Ariq, dan mereka dibungkam (meski terbukti kemudian hanya sementara). Pada 1261, Kubilai memberi Phags-pa gelar Guru Bangsa dan mengangkatnya sebagai pimpinan tertinggi pendeta Buddhis di wilayah China. Tiga tahun kemudian, Kubilai memberikan perlindungan terhadap apa yang disebut Dokumen Mutiara (Pearl Document), dokumen yang menyatakan bahwa para biksu Buddhis bebas pajak dan memperoleh beberapa perlakuan istimewa lainnya. Tak lama setelah itu, dia mengirim pulang Phags-pa untuk menjadi biksu kepala di biara Saskya, bersama dengan adiknya. Sementara Kubilai mengirim bala tentaranya guna “menjinakkan” sudut-sudut terjauh wilayah Tibet yang hingga saat itu masih di luar kendali Mongol, Phags-pa dan adiknya diminta menyebarkan ajaran moral Kubilai ke seluruh penjuru negeri. Proses ini tak berjalan mudah. Penduduk lokal keberatan. Mereka menilai Phags-pa bukanlah seorang pemuda brilian, bahkan dia seorang MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 151 pustaka-indo.blogspot.com
pengkhianat karena berpakaian dan bertindak-tanduk layaknya orang Mongol. Seluruh usaha ini gagal tatkala adiknya meninggal di tahun 1267 dalam usia 29 tahun; lalu, pasukan dikirim dari Qinghai, me - numpas perlawanan dan mendirikan Biro Penaklukan yang akan mengendalikan negeri itu secara langsung. Secara politik, Phags-pa sudah tersingkir. Dia lalu menghabiskan beberapa tahun untuk mengurusi sebuah tugas yang akan kita bahas selanjutnya. Seorang berkebangsaan Mongol bernama Dasman ditugasi membangun sistem pengiriman pesan, dengan dua puluh tujuh tempat perhentian, dan mengumumkan kekuasaan Kubilai. Pada 1269, Tibet menjadi bagian integral dari kekaisaran Kubilai, dan tetap begitu sampai 80 tahun berikutnya, saat Kekaisaran Mongol runtuh. Sementara itu, Kubilai telah memiliki pengetahuan budaya yang mengejutkan. Dia telah mengidentifikasi masalah yang bersumber dari hakikat pencapaian orang Mongol, dan dari ambisinya sendiri; dan dia menginginkan Phags-pa memberikan jalan keluar untuk masalah ini. Kubilai besar di dua dunia, Mongol dan China. Dia berbicara dalam bahasa Mongol, tetapi berjuang dengan orang China. Saat ini Xanadu sedang berkembang pesat mengitarinya, dia dikelilingi oleh para penasihat China, dan mayoritas rakyatnya adalah bangsa China. Segera, jika semua berjalan dengan baik, rakyatnya akan berkembang menjadi miliunan jumlahnya. Masalah yang dia hadapi yaitu: bagaimana membentuk tata kelola pemerintahan yang dapat menjembatani dua dunia? Maklumat bagi orang Mongol memang bisa ditulis dalam bahasa Mongol, dan bagi orang China juga bisa ditulis dalam bahasa China. Tetapi, kedua sistem ini tak bisa berpadu. Bahasa Mongol memiliki susunan tulisan vertikal (dari atas ke bawah), diperkenalkan pada pemerintahan Jenghis oleh para pengikut barunya dari Uighur, yang saat ini menjadi wilayah bagian barat China. Tulisan ini disusun secara alfabetis, dan itu berarti bisa mewakili sebagian besar suara dari sebagian besar bahasa yang ada (seperti yang dapat dilakukan oleh tulisan Latin, misalnya, dalam versi bahasa BAGIAN II: MUSIM PANAS 152 pustaka-indo.blogspot.com
China yang ditulis Latin, pinyin). Namun, karena tulisan vertikal ini sebelumnya dipakai orang Uighur, bukan orang Mongol, dia memiliki beberapa kelemahan, antara lain dia tak bisa mewakili suara-suara ter - tentu dalam bahasa China. Selain itu, sebagian besar hurufnya terdiri dari tiga jenis—awal, tengah, dan akhir—sehingga jumlah keseluruhannya sekitar 80 huruf (alfabet Latin yang kita pakai hari ini berjumlah 52 huruf, itu pun kalau Anda membedakan bentuk huruf kecil dan huruf besar). Namun, dia tetap bisa bertahan. Dia tetap dipakai dalam kehidupan sehari-hari di Mongolia Dalam, dan cukup dikenal di Mongolia sendiri, asalkan tidak dalam bentuk yang dipakai di kalangan akademis atau para seniman, yakni yang tak mengikuti standar dan tak terlalu eksotik seperti huruf Cyrillic. Adapun tulisan China jauh lebih rumit, dengan ribuan huruf, masing-masing mewakili satu suku kata, dibentuk berdasarkan aturan bahwa setiap huruf harus bermula dengan konsonan dan berakhir dengan vokal atau “n”. Bagi orang China, tulisan ini sudah berfungsi dengan baik; dia mampu ekspresif seperti tulisan bangsa lain; tulisan ini sangat indah, sudah merupakan karya seni sejak awal; dan dia memiliki riwayat budaya yang mengagumkan, karena dia telah ada sejak 4.000 tahun sebelumnya—asal-usul beberapa huruf dapat dilacak kembali ke masa Shang sekitar tahun 2500 SM—dan orang China sama sekali tak punya niat mengubahnya (Mao pernah main-main dengan gagasan untuk mengubahnya, namun akhirnya menyerah). Bagi Kubilai, berusaha memaksakan tulisan Mongol kepada orang China adalah pikiran yang tak masuk akal; sama tak masuk akalnya menggunakan abjad China untuk menulis bahasa Mongol. Maka, sistem yang dipakai waktu itu yakni: pertama-tama dokumen ditulis dalam bahasa Mongol, lalu diterjemah ke dalam bahasa China. Kubilai tak ingin memberi wewenang terlalu banyak kepada para penulis dan penerjemah China, dan karena itu orang China tak diizinkan belajar bahasa Mongol, dan hanya diizinkan memakai dan mengandalkan para penerjemah ke bahasa China. Ini urusan yang menjemukan dan tidak praktis. Masalahnya tak hanya sampai di sini saja. Jenghis telah menaklukkan Xi Xia, yang sebelumnya dikuasai bangsa Tangut. Orang Tangut juga MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 153 pustaka-indo.blogspot.com
memiliki model tulisan sendiri, yang diciptakan atas perintah pendiri kerajaan, Li Yuan-hao, di abad ke-11. Sebagai model, dia memiliki tulisan dari kebudayaan wilayah dominan, China. Namun, dia juga ingin tulisan baru ini punya ciri khas Tangut, bahasa Tibet yang sama sekali tak terkait dengan bahasa China. Maka dia pun memerintahkan sarjananya, Yeli Renrong, untuk menciptakan tulisan yang sama sekali baru. Huruf Tangut, sekitar 6.000 di antaranya berhasil tercatat, memang terlihat seperti huruf China, namun sama sekali bukan huruf China dan bukan pula bahasa China. Karena Jenghis akhirnya menghancurkan kebudayaan Tangut, maka bahasanya pun lenyap dari sejarah. Baru akhir-akhir ini saja tulisan itu berhasil diurai dan ke - budayaan Tangut masih dalam tahap menyembul pelan-pelan dari kutuk an kegelapan sejarah yang diucapkan Jenghis kepada mereka. Kubilai memiliki ribuan rakyat yang berasal dari Tangut. Mereka pun harus mampu membaca maklumat-maklumatnya. Selanjutnya ada pula tulisan Khitan, orang Manchuria yang merupakan dinasti pendahulu di China utara sebelum orang Mongol. Juga Sanskerta, bahasa yang dipandang oleh rakyatnya di Tibet sebagai sumber dan asal agama mereka. Dan tentu saja, tulisan Tibet sendiri, yang saat itu sudah berusia 600 tahun. Tak lupa pula Korea, yang pernah diserang bangsa Mongol pada 1216, dan tak lama lagi akan dikunjungi kembali oleh Kubilai. Bagaimana pula dengan bahasa dan tulisan rakyat yang berada di bawah kekuasaan saudara Kubilai, Hulagu, terutama Persia? Itu baru bahasa-bahasa yang dihadapi secara langsung oleh Kubilai pada 1261. Jika semua rencananya berjalan lancar, jika seluruh China selatan jatuh ke tangan orang Mongol, mereka akan berhubungan dengan orang Burma, Vietnam, Jepang, dan siapa tahu kebudayaankebudayaan lain di wilayah sekitar. Sebuah mimpi buruk bagi birokrasi pemerintahan. Jika semuanya berjalan lancar, seluruh urusan administrasi akan berubah menjadi urusan penerjemahan. Tatkala Kubilai melihat masalah ini, dia langsung menemukan jalan keluar instan. Orang China punya China yang telah bersatu, menyatukan bermacam dialek ke dalam satu bentuk tulisan; Kubilai menginginkan satu tulisan yang akan menyatukan seluruh dunia. Xanadu sudah siap, BAGIAN II: MUSIM PANAS 154 pustaka-indo.blogspot.com
pemberontakan Ariq telah ditumpas; Kubilai sudah merencanakan pembangunan ibukota baru yang kini menjadi kota Beijing, dan tengah sibuk merencanakan invasi ke China selatan yang sudah lama tertunda. Dia perlu konsolidasi, perlu memastikan manajemen pemerintahan seefisien mungkin sebagai dasar ekspansi. Di tangannya sudah ada orang yang akan menjalankan tugas ini: Phags-pa muda, yang baru kembali dari perjalanannya yang gagal ke Tibet. Pada 1267, Kubilai memerintahkannya untuk menciptakan tulisan baru, tulisan yang mampu menuliskan bahasa apa pun yang berada di bawah kolong langit ini. Phags-pa, yang fasih berbahasa Tibet, Mongol, China, dan mungkin juga memiliki pengetahuan memadai tentang bahasa Uighur dan Sanskerta, mulai mempelajari ciri-ciri fonetik bahasa-bahasa tersebut. Dan dia lalu memodifikasi tulisan Tibet, bahasa ibunya, menjadi semacam Alfabet Fonetik Internasional yang terdiri dari sekitar 60 huruf, sebagian besar mewakili huruf vokal dan konsonan, namun beberapa yang lain mewakili suku kata yang telah umum. Tulisan Tibet dibaca dari kiri ke kanan, namun Phags-pa merancang tulisan ciptaannya dibaca secara vertikal, menyamai sistem Uighur yang diperkenalkan oleh Jenghis yang agung. Huruf-hurufnya sebagian besar terdiri dari garis lurus dengan sudut ke kanan, dan karena itulah tulisan ini dalam bahasa Mongol disebut: huruf persegi. Karena mampu mewakili bahasa Mongol dan bahasa-bahasa lain, tulisan ini mengandung banyak kelebihan bagi orang China: “Jenghis” dalam tulisan China ditransliterasi menjadi cheng ji si; sementara dalam tulisan ciptaan Phags-pa adalah jing gis. Setelah dua tahun bekerja, tugasnya pun selesai. Phags-pa me - nyerahkan tulisan barunya kepada tuannya di tahun 1269. Kubilai sangat puas, dan memberi Phags-pa gelar baru, yakni Guru Kekaisaran, dengan pendapatan yang sangat besar. Kubilai memerintahkan penulisan seluruh dokumen kerajaan dalam tulisan baru ini—dia menyebutnya “Tulisan Negara”—dan mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkannya. Tulisan ini digunakan dalam meterai serta stempel logam dan kayu— disebut paiza—yang memberi wewenang kepada para pejabat tinggi untuk meminta barang dan pelayanan dari warga sipil. “Dengan kuasa Langit Abadi, dengan perlindungan Dia Yang Teberkati (Jenghis),” MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 155 pustaka-indo.blogspot.com
bunyi teks ini pada salah satu stempel, “barang siapa tidak mematuhi (ini) akan divonis bersalah dan dihukum mati.” Inilah puncak pengaruh internasional Phags-pa. Tak lama setelah itu, dia kembali ke Tibet sebagai kepala biara dan sekte Saskya, yang berusaha menanamkan pengaruh Kubilai terhadap yang lain namun tersendat-sendat. Pada 1280, dia mendadak meninggal. Saat itu dia baru berusia 45 tahun, dan ada dugaan kuat bahwa dia meninggal karena diracun. Para pejabat Tibet menjadi tersangka. Sangkaan ini tak terbukti, namun keadilan tetap harus ditegakkan, dan yang jadi kaisar adalah Kubilai: dia menginginkan ada orang yang dihukum. Hari ini, Anda dapat melihat persoalan yang dihadapi Kubilai, dan jalan keluar yang dia ambil, tertoreh di sebuah batu. Jika Anda mengunjungi salah satu objek wisata paling menarik di China, Tembok Besar di Badaling, sedikit di luar Beijing, Anda akan melihat di balik tembok ini sebuah gerbang lengkung kuno, Teras Awan (Yun Tai), dibangun pada 1342 sebagai pintu masuk. Di permukaan batu-batu yang jadi lantainya terdapat bekas roda kereta, membuat gerbang ini seperti bekas terowongan kereta api. Jika Anda berdiri di dalam dan melihat ke atas, Anda akan melihat diri Anda dikelilingi oleh lima permukaan datar yang dipahat dengan gambaran para raja ksatria, Buddha, gajah, naga, ular, dan tetumbuhan, yang semua itu membentuk satu teks Buddhis dalam enam bahasa: Sanskerta, Tibet, Mongol, Tangut, China—dan jawaban Kubilai untuk teka-teki Babel tadi, “Tulisan Negara” yang diciptakan oleh Phags-pa. Monumen ini sekaligus memperlihatkan satu hal penting terkait tulisan baru ini, yakni ketidakpraktisan. Tulisan ini memang bagus di atas meterai, stempel batu, uang logam, bahkan keramik. Anda masih bisa melihatnya di dalam cek dari Bank Mongolia hari ini dan patungpatung tertentu, namun ini semua hanya untuk tontonan. Untuk catatan sehari-hari, tulisan ini nyaris tak pernah dimanfaatkan. Sebanyak empat kali dalam lima belas tahun setelah mengeluarkan perintah pertamanya, Kubilai mengulangi perintah untuk mempelajari dan mengajarkan tulisan baru ini. Pejabat-pejabatnya mendengarkan perintah BAGIAN II: MUSIM PANAS 156 pustaka-indo.blogspot.com
ini sebagaimana para birokrat biasa menerima perintah dari atasannya, merasakannya sebagai perintah yang membuat hidup makin jadi lebih berat: mereka bilang ya, dan kemudian tak berbuat apa pun. Sekolah khusus yang dimaksudkan untuk mengajarkan tulisan ini kekurangan guru, karena tak satu pun orang berniat mempelajarinya, dan lagi pula para pejabat kerajaan tak mau mengirim anak-anak mereka ke sekolah itu. Yang jadi masalah dengan tulisan ciptaan Phags-pa bukanlah kualitasnya. Masalahnya terletak pada manusia itu sendiri. Mempelajari tulisan jenis baru, betapa pun gampangnya, adalah kegiatan yang membosankan. Tulisan muncul dari ketiadaan hanya sebanyak empat kali dalam sejarah: di Mesopotamia, Mesir, China, dan Amerika Tengah. Setiap tulisan ini memerlukan waktu berabad-abad untuk memperoleh bentuknya yang baik dan matang. Ketika sudah matang, tulisan-tulisan ini menyebar ke dalam kebudayaan lain, karena dia adalah bagian vital dalam masyarakat-masyarakat yang kompleks. Tulisan-tulisan ini sangat awet. Secara kultural, mengubah satu tulisan sama artinya dengan mencoba menumbuhkan satu anggota tubuh tambahan. Ada beberapa contoh usaha pengubahan tulisan yang dilakukan oleh rezim-rezim otoriter: Kemal Atatürk memaksa rakyat Turki mengubah tulisan Arab menjadi tulisan Altin di tahun 1920-an; penguasa-penguasa Mongol yang mengadopsi gaya Rusia berusaha mengganti tulisan vertikal yang diperkenalkan Jenghis dengan tulisan Cyrillic pada 1941. Namun da - lam kedua kasus, pemerintah membebankan kekuasaan yang terlalu besar pada birokrasi-birokrasi yang kecil dan masyarakat-masyarakat yang belum maju. Kubilai dapat menggunakan pejabatnya untuk mengendalikan pajak, tentara dan catatan-catatan, namun dia tak akan bisa mengendalikan pikiran mereka. Berusaha mengatasi jalan buntu kultural dalam birokrasi Chinanya, Kubilai bagaikan mendayung sampan di danau yang beku. Gagal. Dalam artian tertentu, ini bukanlah masalah. Keterlibatan Kubilai di Tibet sudah lebih dari cukup untuk kepentingan kekaisarannya ketimbang pencapaiannya lewat tulisan baru tersebut. Dengan memberi jabatan MERANGKUL BUDDHA DAN TIBET 157 pustaka-indo.blogspot.com
tinggi kepada Phags-pa, dia sebenarnya menambahkan satu wilayah yang sangat luas ke dalam kekuasaannya dan mengukuhkan hubungan antara China dan Tibet yang akan menjadi dasar bagi hubungan kedua - nya di masa berikutnya. Di bawah kekuasaan Manchu, Dalai Lamalah yang berkuasa, mengukuhkan kemerdekaannya “di atas kertas” dengan dukungan Manchu, dan kadang-kadang intervensinya, sampai runtuhnya dinasti ini pada 1911 segera mengembalikan kemerdekaan Tibet yang telah hilang selama tujuh abad sebelumnya. Setelah revolusi 1949, Mao dan para propagandisnya dapat menyatakan, dan memang telah menyatakan, bahwa Tibet adalah “bagian tak terpisahkan dari China”. bahwa kemerdekaan Tibet selama 40 tahun sebelumnya adalah ilusi yang lahir karena kelemahan China, dan bahwa saat itu yang dilakukan kaum komunis hanyalah menegakkan kembali status quo. Ini tentu saja bukanlah argumen yang memiliki landasan moral yang kokoh; jika diteruskan, Inggris Raya dapat mencaplok kembali kekaisarannya. Bahkan dasar klaim China terhadap Tibet jauh lebih lemah ketimbang, misalnya, klaim Inggris Raya atas Amerika Serikat atau India, karena setidaknya Amerika Serikat dan India memang pernah dikuasai Inggris. Klaim China didasarkan fakta bahwa Tibet pertama kali diduduki tentara putra Jenghis, Ogedei, dan kemudian cucunya, Kubilai. Keduanya orang Mongol. Sejauh menyangkut Mongol, maka Mongolialah yang menaklukkan China, Mongolia yang menduduki Tibet, Mongolialah yang mendirikan Kekaisaran Mongol. Dan memang inilah yang dikoarkoarkan orang China. Untung bagi China, Kubilai memilih mendirikan sebuah dinasti China, menjadikan kakeknya sebagai pendiri anumerta, dan karena itu membalik sejarah, sehingga memungkinkan lahir keterangan di dalam berbagai buku di masa sekarang seperti berikut ini: “Kaisar China menikmati puncak kekuasaan di berbagai wilayah di bawah kedaulatannya, dan Tibet termasuk ke dalamnya.”1 Di mata orang China, Jenghis dan Kubilai adalah orang China. Dan karenanya, Tibet juga harus seperti itu. Dan sejarah pun selesai. BAGIAN II: MUSIM PANAS 158 1 Wang Jiawei dan Nyima Gyaincain, The Historical Status of China’s Tibet. pustaka-indo.blogspot.com
8 KUNCI PENAKLUKAN BEBERAPA HAL TERTENTU TAK DAPAT DITAWAR-TAWAR. BAGI KUBILAI, SALAH satunya adalah penaklukan Song. Dia sudah mencoba menginvansi, dan gagal. Seperti kakeknya, Kubilai tak berhenti hanya karena kegagalan. Dia akan melakukan segalanya jika itu akan menuai hasil. Maka ketika bala tentaranya berurusan dengan Ariq di utara, dia berubah menjadi agak lembut dan baik hati di daerah selatan, berharap menang dengan lembut atas apa yang tak bisa dia peroleh dengan kekuatan dan kekerasan. Namun ketika di tahun 1260 dia mengirim utusan ke Hangzhou guna menawarkan kesepakatan damai, utusan itu tak pernah berhasil masuk wilayah perbatasan Song. Dia tertawan, dan tetap jadi tahanan rumah selama enam belas tahun dan baru dilepaskan kepada pasukan Kubilai yang datang untuk menginvasi. Mengapa pihak Song melakukan hal itu? Para ilmuwan tak menemukan banyak keterangan tentang hal ini, karena penahanan ini hanya memberi Kubilai casus belli. Namun peristiwa ini memberi kita sedikit petunjuk tentang dunia samar spionase dan spionase-tandingan kala itu.2 Utusan itu, namanya Hao Jing, adalah anak didik seorang jenderal China utara yang membelot ke pihak Mongol setelah penaklukan Jin pada 1234. KUNCI PENAKLUKAN 159 2 Paragraf ini didasarkan pada Jennifer W. Jay, A Change in Dynasties: Loyalism in 13th-Century China. pustaka-indo.blogspot.com
Sebagai orang China, dan pembelot, dia bisa menjadi agen rahasia yang efektif. Jenderal Song yang bertugas di daerah perbatasan saat itu memerintahkan mata-matanya menjalankan tugas, dan suatu kali mengetahui isi sebuah pesan rahasia Hao Jing kepada Kubilai, di mana dia menyarankan perihal kebijakan yang seharusnya Kubilai ambil. “Ada dua cara menaklukkan negeri ini,” dia memulai: “dengan kekuatan bersenjata atau dengan strategi.” Kekuatan bersenjata terbukti gagal, dan karena itu strategilah yang dia sarankan, dan ini tentu membutuhkan kesabaran. “Kita perlu waktu untuk mendapatkan kepercayaan dari Song dan meminta agar mereka mau menyerahkan sebagian wilayahnya kepada kita serta menyerahkan upeti tahunan dalam bentuk tunai. Manakala waktunya tiba untuk menaklukkan mereka, maka saat itulah kita harus bertindak.” Dan, dia pun tak lupa melukiskan sketsa kasar rencana serangan yang kemudian memang dipakai Kubilai. Jadi kesepakatan yang dia tawarkan hanyalah taktik penundaan waktu, karena Kubilai sebenarnya tak pernah menginginkan perdamaian jangka panjang dengan Song. Dan tentu saja memang begitu. Tujuannya adalah menaklukkan, sebagaimana diamanatkan Jenghis dan Langit. Hao Jing sedang menjalankan misi palsu. Sebab itulah dia ditahan. Ketika tertawan, dia sama sekali tak dilepaskan karena khawatir dia akan memberitahu Kubilai bahwa Song telah mengetahui rencana jangka panjang Kubilai. Kubilai pun menggemeretakkan gigi—dia punya sedikit pilihan, karena hampir seluruh pasukannya dikirim untuk membereskan masalah dengan Ariq—tetapi dia tetap tenang. Dia melepaskan begitu saja 172 pedagang yang tertangkap karena melakukan perdagangan tanpa izin di sepanjang perbatasan Mongolia dan Song. Dia memberikan tanah, pakaian, dan sapi kepada para penyeberang Song, yang memang banyak jumlahnya. Namun hal ini bukanlah perdamaian murni, dan kedua pihak sama-sama mengetahuinya. Segera setelah dia sanggup, Kubilai pasti akan beralih ke selatan lagi. Operasi militer sebelumnya menunjukkan bahwa orang Mongol belum mampu menyelesaikan tugas ini. Song adalah wilayah penuh sungai dan kota, sementara Mongolia dan sebagian besar wilayah China utara tak memilikinya. Kota-kota sangatlah berharga. Di sanalah BAGIAN II: MUSIM PANAS 160 pustaka-indo.blogspot.com
orang kaya hidup, dan di sana pula pemerintahan dikendalikan—tak ada kastil seperti yang dimiliki bangsawan Eropa, tak ada tanah para bangsawan yang akan dirampas. Akibatnya, kota-kota Song bagaikan kacang berkulit keras, dipasok dengan bahan peledak, sebagian di antaranya dapat meracuni sungai-sungai, kunci bagi perdagangan dan pasokan kebutuhan mereka. Pasukan berkuda Mongol memang mampu bergerak cepat di padang terbuka. Namun sebagaimana terbukti saat penyerangan Gunung Nelayan dan Wuchang, pasukan berkuda ini belum tentu menjadi jaminan kemenangan melawan kota-kota yang terletak di sela sungai-sungai dan gunung-gunung. Orang Mongol harus mengalahkan Song dengan cara Song, dengan (a) alat yang lebih baik untuk menguasai kota dan dengan (b) kapal. Meskipun mereka telah mengenal yang pertama—prinsip pengepungan—sejak masa Jenghis, mereka hanya perlu memperbesar skala peralatan pengepungan. Tetapi kapal? Satu-satunya kapal yang mereka ketahui hanyalah perahuperahu untuk menyeberangi sungai. Untuk membuat kapal perang yang akan membawa pasukan dan senjata mondar-mandir di sungaisungai China, mereka harus memulai dari nol. Kunci untuk semua ini tentulah sungai raksasa Yangtze. Di muara sungai inilah terletak ibukota Song, Hangzhou. Masalahnya, Yangtze mengalir dari barat ke timur, sementara tentara Kubilai harus menyerang dari utara. Selain itu, ada lagi masalah lain: di antara Mongolia dan Song terdapat anak sungai, Han, yang memanjang ke selatan, membuat jalur lurus menuju Wuchang, muara Yangtze—dan Hangzhou. Sebenarnya, problem-problem di atas tersimpul pada satu masalah. Sungai Han punya kuncinya sendiri, yakni kota Xiangyang,3 yang menempatkan sungai ini di titik pertemuan dua sungai lain. Saat ini, kota Xiangyang dan kota tetangganya di seberang sungai, Fancheng, membentuk kota besar Xiangfan, titik pertemuan jalan dan jalur kereta api; kota ini hidup berkat industri dan pariwisata pegunungan Wudang di barat, yang terkenal dengan 72 puncaknya, kuil-kuil Tao dan tinjunya, dengan tekniknya yang mirip tai ji yang berasal dari masa KUNCI PENAKLUKAN 161 3 Xiangyang dapat dieja dengan beberapa cara—Saianfu dalam Marco Polo, Sayanfu dalam Rasyiduddin, Hsiang-yang dalam ejaan yang lebih belakangan namun sebelum masa pinyin. pustaka-indo.blogspot.com
Song. Di zaman Kubilai, Xiangyang adalah kota berbenteng parit, dan merupakan pusat perdagangan bagi sekitar 200.000 penduduk, yang terhubung pada kota Fancheng dengan sebuah jembatan ponton berupa perahu-perahu yang ditambatkan ke dasar sungai di kedua ujungnya. Di musim panas, ketika airnya meluap karena hujan, sungai Han—yang bertambah lebar dan berarus pelan—berkelak-kelok menuju selatan di sela-sela perbukitan Jing dan Dahong, kemudian berkelakkelok lagi di dataran rendah mirip danau di sekitar Wuhan. Xiangyang dapat ditaklukkan oleh tentara mana pun selagi mereka sanggup mengikuti arus sungai ini. Kedua pihak sama-sama tahu, karena kota ini sudah jadi target utama sebelumnya—dalam penyerangan Jin pada 1206-1207 dan operasi militer Ogedei pada 1235-1241. Xiangyang tak jatuh pada kedua penyerangan ini, namun kota ini menyerah pada orang Mongol di tahun 1236—tetapi orang Mongol hanya menguasainya sebentar saja sebelum mereka kembali ke utara. Jadi, Xiangyang harus menerima hukuman; selain itu, berkat ditemukannya catatan Hao, kota ini sibuk membangun kembali pertahanannya. Kota ini memiliki tembok batu yang kokoh sepanjang 6 km, setinggi sekitar 6-7 m, berbentuk empat persegi sepanjang satu kilometer. Tiga dari enam gerbangnya mengarah langsung ke sungai, yang merupakan jalan raya untuk memasok bahan kebutuhan kota dan merupakan jalur komunikasi selebar setengah kilometer saat banjir, terlalu dalam untuk diseberangi; di musim dingin, tatkala airnya surut, sungai ini menjadi hamparan jalur-jalur pasir; dan parit-parit kota, yang diisi langsung dengan air sungai, memiliki lebar sekitar 90 m. Ini semua berarti, para penyerang tak bisa terlalu dekat untuk menyerang tembok dengan tangga atau menara tempur, atau untuk meruntuhkannya dari dasar. Bab ini secara umum membicarakan jawaban atas masalah ini— masalah pertama dari sekian banyak masalah yang pemecahannya akhirnya mengantarkan Kubilai pada capaian tertingginya, China yang bersatu kembali. Dengan urutan mundur, argumen bagi pemecahan masalah ini yaitu: kunci untuk seluruh China adalah daerah selatan, kerajaan Song; kunci untuk daerah selatan adalah sungai Yangtze, dengan penduduknya yang padat, kota-kota, dan kekayaan pertaniannya; BAGIAN II: MUSIM PANAS 162 pustaka-indo.blogspot.com
kunci untuk menguasai sungai Yangtze, jika didekati dari utara, adalah sungai Han; kunci untuk sungai Han adalah kota Xiangyang; dan kunci yang bisa membuka Xiangyang untuk orang Mongol yaitu…—saya tak ingin memberitahu akhir cerita di sini. Yang jelas, kunci itu pasti bukanlah pasukan kavaleri yang selama ini jadi andalan orang Mongol. Saya akui bahwa bukti untuk kebenaran hal ini memang belum lengkap: sumber yang ada hanya secara umum menyinggung kemajuan operasi militer ini, kendala dan arti penting pengepungan, nama para insinyur yang memecahkan masalah teknis, dan dampak besar yang timbul kemudian. Namun penalaran saya bergerak setahap demi setahap hingga tiba pada kesimpulan yang tak terelakkan dan saya yakini benar: bahwa keberadaan negara China modern berutang banyak pada alat yang sukses menjebol pertahanan kota Xiangyang, alat yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh orang China, bahkan orang mana pun di muka bumi saat itu. Semua ini nyaris tak terpikirkan sama sekali oleh Kubilai ketika dia membangun kembali pasukannya usai menangani Ariq. Itu berarti empat tahun setelah para jenderalnya memberitahu dia bahwa mereka sudah siap, dan sembilan tahun setelah Kubilai terpaksa menyerah dan mundur dalam penyerangan pertama atas Song. Anda mungkin mengira sembilan tahun terlalu lama untuk melakukan persiapan. Namun dia sama sekali tak tahu bahwa Xiangyang akan menjadi batu sandungan, dan tentu saja dia juga tak tahu cara mengatasinya. Semua bermula dengan pasukan Mongol yang bergerak mendekati kota ini pada awal 1268, di bawah komandan muda dan terkenal, Aju—terkenal karena prestasi militer keluarganya; dia putra Uriyangkadai, yang merebut Yunnan untuk Kubilai lima belas tahun sebelumnya, dan merupakan cucu Subedei, yang saat itu sudah melegenda karena jadi otak di balik kemenangan operasi militer Jenghis dan Mönkhe ke wilayah barat. Sesaat setelah memulai tugasnya, Aju sadar dirinya memerlukan bantuan. “Pasukan yang hamba pimpin seluruhnya berasal dari kesatuan militer Mongol [yakni pasukan kavaleri],” tulisnya kepada kaisar. “Menghadapi pegunungan dan sungai-sungai, benteng-benteng KUNCI PENAKLUKAN 163 pustaka-indo.blogspot.com
dan kubu-kubu militer, hamba tak dapat berbuat apa-apa tanpa pasukan China.” Kubilai menanggapi keluhan ini: bantuan pasukan infanteri pun datang, disertai pula perahu-perahu hasil rampasan atau buatan sendiri, dan Aju akhirnya memiliki pasukan amfibi yang dia perlukan. Sepanjang perjalanan, Aju dan pasukannya tak terlalu banyak menemukan barang rampasan yang dapat dimanfaatkan untuk menopang mereka. Dalam mempersiapkan pertahanan kota, para penguasa setempat memerintahkan rakyatnya meratakan permukaan bumi, menyingkirkan segala hal yang mungkin akan membantu musuh: bangunan-bangunan tinggi, pepohonan, bebatuan, logam-logam, ubinubin, sayur-mayur dan buah-buahan, jerami, binatang, dan gabah. Sebagian besar dari ini semua dipasok di gudang dalam benteng pertahanan kota. Buku strategi militer berjudul Wu-pei ji-yao (Prinsip Persiapan Militer) 4 mencatat apa saja yang harus disimpan dalam gudang pertahanan: lentera, minyak, kapak, arang, belerang, kapur, tali, paku, jarum, kesetan, rami, sekop, alu, batu penghalus bahan kain, pispot, sikat, penumbuk, tinta, lempengan tinta, meja tulis—dan lain sebagainya. Orang sipil harus dilatih menjadi milisi, kaum wanita diperintahkan bekerja di dapur umum, anak-anak dilatih membawa makanan dan bahan bangunan. Perlakuan manusiawi harus diterapkan guna menghindari kesulitan dari pembelotan penduduk miskin yang sakit hati—spionase, sabotase. “Orang-orang miskin adalah anak-anak kita yang akan ikut memanggul senjata dan berdiri menghadang musuh dengan segenap kekuatan mereka,” kata buku ini, yang kemudian mengutip kata-kata seorang bijak, Xu Dong: “Jika sebuah kota dikepung, maka Anda mula-mula harus memperhatikan ketenangan di dalam kota dan baru setelah itu memikirkan musuh di luar.” Seluruh penduduk kota harus bersatu. Pemilik penginapan harus menenangkan tamunya, kepala biara harus menenangkan biksu bawahannya. Pemusik, pesulap, dan peramal jalanan perlu dicurigai sebagai mata-mata. Keluarga dikelompokkan menjadi per sepuluhan, dan setiap orang menenangkan dan memperhatikan keselamatan yang lain. Hanya pegawai lama yang BAGIAN II: MUSIM PANAS 164 4 Terbit sekitar tahun 1830, namun praktik-praktik yang dibahasnya sudah dilakukan sejak zaman kuno. pustaka-indo.blogspot.com
dibiarkan tetap bekerja, sementara pegawai baru dibebastugaskan. Jam malam berlaku. Setiap pojok kota memiliki petugas pemadam kebakaran, dengan gentong air raksasa, tangga, dan gancu dan katrol untuk meng atasi reruntuhan bangunan. Para ahli mempersiapkan busur ber - silang ganda dan tripelnya, yang bisa melontarkan anak panah sepanjang dua meter sejauh 200 m, sementara para teknisi memeriksa trebuchet mereka. Sekarang tibalah saatnya memperkenalkan trebuchet, sebuah alat yang akan menyita perhatian kita beberapa saat. Tulang punggung teknik pengepungan China adalah “trebuchet tarik” (traction trebuchet). Bentuk alat ini dapat kita kenali setelah direkonstruksi. Sebuah trebuchet biasanya terdiri dari tiang setinggi 4 m, dengan jarak antara satu kaki dengan kaki lain selebar 11-12 m. Tiang ini berada di atas roda bersumbu, di mana yang satu lebih tinggi dari yang lain. Di ujung yang panjang terdapat sebuah ambin, sementara di ujung yang pendek terdapat tali-tali, biasanya melekat pada palang berbentuk T. Ambin ini sangat penting, dia memperpanjang dan melipatgandakan kekuatan trebuchet tanpa menambahi beratnya. Satu ujungnya dipakukan ke kepala tiang, sementara ujung satunya lagi di - kaitkan ke sebuah cantelan. Ketika dilepas, dia akan mengayun seperti pecut, mengayun ke depan seperti mata kail di ujung tali pancing. Daya lenting alat ini mengayunkan ambin dalam garis setengah lingkaran. Ketika dia mencapai titik tertinggi, saat itulah ujung yang tak tertambat akan lepas, melontarkan peluru yang diletakkan di sana. Setiap trebuchet memiliki kru sebanyak 5-15 orang, tergantung ukurannya. Batu-batu seberat tak lebih dari dua kilo atau bahan-bahan mudah terbakar diletakkan ke ambin, lalu para kru menariknya ke ujung yang lain (dari sinilah asal istilah trebuchet tarik), ambin akan melayang, lepas dari cantelannya, dan kemudian melontarkan batubatu itu. Seluruh operasi ini memakan waktu tak lebih dari 15 detik (rekonstruksi modern atas alat ini menunjukkan bahwa satu tim yang baik dapat menembakkan 5-6 kali per menit). Tentu saja, alat ini amat sederhana dan primitif, namun sangat efektif dalam pertempuran jarak dekat: menghadapi tembok kota dan apa pun yang tingginya tak lebih dari 100 m. Di abad ke-13, alat ini adalah teknologi standar dalam KUNCI PENAKLUKAN 165 pustaka-indo.blogspot.com
pengepungan sebuah kota. Trebuchet tarik dapat dibuat di tempat, atau dibawa dengan beberapa kuda atau ditempatkan di atas kereta. Pasukan terkenal pasti memiliki alat ini beberapa buah, bahkan ada di antaranya yang memiliki ratusan. Dalam sebuah operasi militer, trebuchet-trebuchet ini membentuk kesatuan khusus dalam pengepungan, seperti satuan artileri dalam tentara modern. Namun satu hal harus diingat, bahwa mengoperasikan trebuchet adalah pekerjaan yang tak ringan, mirip balap perahu. Tim operasional perlu istirahat. Karena memerlukan alat pengangkut sendiri—beberapa ekor kuda, seekor sapi dan kereta—maka setiap trebuchet memerlukan beberapa tim yang bekerja bergantian. Pasukan khusus ini membutuhkan makanan, pakaian, senjata dan kuda-kudanya sendiri. Maka setiap trebuchet, yang paling sederhana sekali pun, memerlukan tenaga yang besar—trebuchet yang besar bahkan me - merlukan sekitar 200 anggota tim—dengan dampak yang tidak sederhana bagi para petinggi militer dalam merencanakan pergerakan pasukan, perkemahan, pengepungan, dan gerak mundur. Kerapkali trebuchet dibuat di tempat, dan tak jarang pula dia perlu perbaikan. Dapat dibayangkan pula berapa banyak tukang kayu yang dibutuhkan. Tali-tali trebuchet terbuat dari rami atau kulit, karena kualitasnya bergantung pada cuaca (dalam cuaca basah, kulit akan menyusut, sementara rami akan memelar). Tentu saja, trebuchet jadi senjata standar dalam posisi bertahan maupun menyerang. Dalam pengepungan di tahun 1206-7, Xiangyang memiliki 114 buah. Pasukan yang mengoperasikan ketapel ini bekerja relatif aman di balik tembok, dengan pasukan artileri di atas tembok yang bertugas memandu arah bidikan mereka. Sebelum pengepungan berlangsung, pasukan bertahan mengumpulkan batu sebanyak mungkin dari tempat sekitar, untuk mereka pakai sendiri dan agar pihak musuh tak dapat memakainya untuk amunisi mereka. Dalam penyerangan maupun pertahanan, trebuchet tak hanya dapat melontarkan batu, karena seluruh tentara China mempekerjakan ahli-ahli bahan peledak dan perang kimia. Teknik yang dipakai, berdasarkan eksperimentasi para kimiawan sejak 700 tahun sebelumnya, BAGIAN II: MUSIM PANAS 166 pustaka-indo.blogspot.com
berkembang mulai dari penggunaan pertama kali bubuk mesiu dalam perang yang terjadi pada abad ke-10—yakni pelontar api. Kemudian terjadilah perkembangan pesat senjata yang memanfaatkan bubuk mesiu: panah api, ranjau, dan bom-bom yang dilontarkan dengan trebuchet. Salah satu jenis bom ini terdiri dari bubuk mesiu yang dimasukkan ke dalam seruas bambu dan kemudian dicampur dengan pecahan keramik: pemakaian pertama bom berisi pecahan benda tajam. Pada awal abad ke-13, kira-kira saat orang Mongol melakukan invasi mereka yang pertama, bom ini dikembangkan menjadi senjata amat mematikan, yaitu “bom petir”, yang diledakkan di dalam selubung logam atau keramik setebal 5 cm. Orang Mongol mengalami ini ketika mereka merebut ibukota Jin, Kaifeng, pada 1232-1234: Di antara senjata yang dipakai pihak lawan yang mempertahankan kota mereka adalah bom petir yang mampu menggetarkan langit. Bom ini terbuat dari bubuk mesiu yang dimasukkan ke dalam semacam wadah besi; ketika sumbunya disulut dan proyektilnya berhamburan keluar terjadilah ledakan seperti petir, terdengar dari jarak lebih dari seratus li (kira-kira 50 km), dan luas tetumbuhan yang hangus akibat ledakan itu kira-kira setengah mou (400 m2 ). Untuk pertahanan, pasukan Mongol menggali sendiri parit-parit, yang ditutupi dengan kulit sapi; namun pasukan Jin menggilir bom dari tangan ke tangan: “Ketika mencapai parit… bom-bom itu disulut, menyebabkan tutup kulit sapi dan prajurit penyerang yang bersembunyi di dalamnya terbakar nyaris tak tersisa.” Bom ini dibuat dalam jumlah besar, “seribu atau dua ribu bom per bulan,” menurut seorang pejabat Song di tahun 1257. Dia mengeluhkan menurunnya produksi kala itu. “Mereka biasanya mengirim sepuluh atau dua puluh ribu sekaligus ke Xiangyang dan Ying-chou,” katanya, namun jumlah itu kini tak cukup. “Pemerintah ingin mempersiapkan pertahanan kota-kota bentengnya… namun cuma ini yang mereka (produsen bom) kirim! Sungguh kebodohan yang mengerikan. Bahan peledak beracun, sejarah awal perang kimia dan kuman, juga perlu disinggung di sini. Bahan ini terdiri dari banyak macam. KUNCI PENAKLUKAN 167 pustaka-indo.blogspot.com
168 Peta Kekaisaran Yuan 1270 Kekaisaran Yuan, 1270 Perbatasan Kekaisaran Yuan Daerah kekuasaan Kaidu pustaka-indo.blogspot.com
Yang paling berbahaya yaitu senjata yang benar-benar kotor dan menjijikkan, bom tai.5 Saya cenderung menyebutnya “bom tai dan kumbang”, mengingat bahannya yang aneh-aneh. Berikut ini resepnya: • 7 kg tepung tai manusia. Bahan ini berasal dari 70 kg tai manusia biasa, yang dikeringkan dan dihaluskan hingga menjadi tepung. Ini bahan utama yang akan menjadi asap beracun, yang merusak paruparu dan menginfeksi luka pada kulit. Lalu ini ditambahi: • 400 gr akar aconite, tumbuhan dengan bunga mirip kerudung yang akarnya menghasilkan racun paling mematikan. Jika menyerap ke dalam kulit, dia akan membuat lumpuh. Dan bila terhirup atau tertelan, dia akan menyebabkan pusing, sesak napas, sawan, serangan jantung. • 200 gr minyak croton. Pohon croton tumbuh di India dan Indonesia. Minyak dari bijinya dapat melepuhkan kulit, dan jika tertelan akan meradangkan lambung dan langsung menyebabkan diare. • 400 gr arsenik putih (As2 O3 ) dan senyawanya, sulfid arsenik. Kedua bahan ini, ketika meledak, menghasilkan semacam semprotan anti-hama, dan jika terhirup dalam dosis tertentu akan menyebabkan diare berkepanjangan, sakit lambung, gangguan aliran darah dan ginjal, serta kematian. • 100 gr kumbang dari jenis Mylabris. Ini bahan paling aneh dari bahan-bahan yang memang sudah aneh ini. Pertama kali melihatnya, imajinasi saya langsung mengembara. Apakah kumbang-kumbang ini memang pernah hidup? Apakah mereka bisa menciptakan ledakan dan beracun? Apakah di bumi ini ada yang menggunakan kumbang beracun sebagai senjata dalam perang? Seorang ahli kumbang di Museum Sejarah Alam, Lee Rogers, membenarkan perkiraan saya ini. Kumbang Mylabris sudah sejak lama digunakan dalam pengobatan China. Dalam jumlah kecil, senyawa kimia yang dihasilkannya, asam cantaridic, dapat merangsang organ tertentu, KUNCI PENAKLUKAN 169 5 Dari Robert Temple, The Genius of China (London: Prion, 1999), sebuah ringkasan dari karya besar Joseph Needham Science and Civilisation in China. pustaka-indo.blogspot.com
termasuk organ seksual. Kumbang ini jadi salah satu bahan aktif dalam obat kuat bernama “Spanish Fly”. Sedikit keterangan di Google menunjukkan bahwa sekarang sedang marak penelitian yang ingin membuktikan manfaat kumbang ini sebagai obat antikanker. Namun dalam dosis tinggi, jika dia kontak dengan kulit, senyawa ini bisa menyebabkan kulit melepuh. Karena itu, nama awam kumbang ini yaitu “kumbang pembakar kulit”. Setelah Anda mengumpulkan 100 gr Mylabris phalerata atau M. cichorii (hanya beberapa lusin ekor), giling hingga menjadi “bubur”, lalu keringkan, tumbuk menjadi tepung, dan kemudian Anda tinggal memasukkan bubuk ini ke dalam tas beracun Anda. Bahan-bahan ini kemudian dicampur bubuk mesiu yang diberi sumbu. Semuanya dibungkus dengan kertas tipis, diikat dengan kawat dan dilapisi damar, seperti lilin, dan sumbunya dibiarkan terjulur sedikit. Dengan berat sekitar 10-15 kg, bom tai dan kumbang ini diletakkan di ambin trebuchet, disulut dan akhirnya ditembakkan. Ini senjata khusus, membutuhkan trebuchet agak besar dengan sekitar selusin kru yang harus melontarkan bom mematikan ini setidaknya sejauh 100 m, karena jika tidak mereka akan terkena pengaruh racun senjata sendiri. Di kedua belah pihak, semua usaha ini akan berujung pada berimbangnya kekuatan masing-masing. Alasannya sederhana saja, trebuchet memiliki satu kelemahan dasar, terutama bagi pihak bertahan. Jika mereka menggunakan batu, amunisi paling murah, mereka pada saat yang sama juga menyuplai amunisi kepada pihak lawan. Batu-batu itu akan dilontarkan bolak-balik melintasi tembok kota, mengenai kepala prajurit, mematahkan bahu, menghancurkan genteng, dan sesekali berbenturan di udara. Apakah dipakai untuk menyerang atau bertahan, bayangkanlah batu yang Anda perlukan untuk menyerang sebuah kota: dua kali tembakan per menit untuk satu ketapel, ada sekitar 100 ketapel—itu berarti 12.000 batu per jam, jam demi jam, hari demi hari. Di manakah akan diperoleh batu sebanyak itu? Berapa banyak prajurit dan kuda diperlukan untuk menemukannya, memecahmecahnya, dan mengangkutnya? Karena itulah ada anggaran tambahan BAGIAN II: MUSIM PANAS 170 pustaka-indo.blogspot.com
untuk menciptakan dan membuat peluru yang lebih efektif—yaitu peluru yang bisa meledak dan menyebarkan racun, bahan kimia dan benda-benda tajam. Meski ini senjata pembunuh, namun dia hanya berfungsi dalam pertempuran jarak dekat, kira-kira dalam jarak 100 m. Dengan senjata-senjata seperti inilah pengepungan terhadap kota Xiangyang dimulai pada awal 1268, dan gerak maju pasukan Aju terhenti. Pengepungan selama lima tahun ini menjadi epos, semacam perang Troya-nya China, dengan penyerangan dan usaha penerobosan kubu musuh serta tindakan heroiknya. Pengepungan ini bahkan punya kesamaan akhir dramatis dengan perang Troya, meski itu dalam hal aksi nyata, bukan tipuan, yakni aksi dari kekuatan yang begitu besar. Sayangnya, karena kita sudah dalam zaman sejarah, bukan pra-sejarah, tak ada penyanyi kelana yang melagukan kepahlawanan orang Xiangyang, tak ada penduduk setempat yang mengarang lirik epik seperti yang dibuat Homer. Dan tentu saja, untuk tiga tahun pertama pengepungan, lantaran kita tak punya legenda yang mengisahkan kepahlawanan, kita hanya dapat menawarkan satu paragraf yang menggambarkan suasana kala itu. Blokade strategis memerlukan kapal perang, sebanyak 500 kapal, dibuat di bawah arahan laksamana Kubilai bernama Liu Cheng, pejabat senior Song yang membelot. Pembuatan ini memakan waktu selama beberapa bulan. Sepanjang musim panas, pasukan Mongol membangun kubu pertahanan di muara sungai di kedua sisi sungai Han untuk membombardir kapal-kapal Song pengangkut kebutuhan kota Xiangyang. Ketika musim dingin tiba, Aju memperluas pengepungannya melintasi sungai agar mencakup daerah Fancheng. Usaha pasukan China untuk menerobosnya berakhir pada kekalahan: ratusan tentara tertangkap dan dipancung. Setelah itu, pasukan China bertahan kokoh, dengan pasokan kebutuhan yang mereka perlukan. Di musim semi 1269, Kubilai mengirim 20.000 prajurit lagi guna memperkuat pasukan pengepung. Pada bulan Agustus, setelah 18 bulan aksi dan diam, 3.000 kapal Song datang ke sungai Han untuk menyerang kubu pertahanan Mongol yang baru. Tetapi mereka berhasil dikalahkan dan KUNCI PENAKLUKAN 171 pustaka-indo.blogspot.com
kehilangan 2.000 prajurit serta 50 kapal. Lalu, entah bagaimana, pasukan Mongol dapat menggabungkan dua kubu pertahanan di muara sungai, barangkali dengan rangkaian jembatan ponton. Cara ini tak terlalu berfungsi dengan baik, karena para komandan meminta tambahan pasukan sebanyak 70.000 orang dan 5.000 kapal. Meskipun menyebabkan inflasi dalam anggaran militer, permintaan ini menunjukkan peningkatan prestasi. Tak diragukan lagi, seperti para jenderal di Front Barat atau di Vietnam, mereka mengaku telah melihat seberkas cahaya di ujung terowongan, dan dengan sekali hentakan besar saja semuanya akan selesai. Pasukan China yang tengah bertahan, diyakinkan oleh agen rahasia yang menyusupkan perintah, uang tunai, dan surat-surat rahasia dalam bola lilin, juga tak berbeda: belum ada yang menyerah! Beberapa kali pasukan pengepung kembali harus mengambil jeda. Satu kali, di bulan Maret 1270, satu batalion pasukan khusus—“Sepuluh Ribu”—infanteri dan penunggang kuda, dengan 100 kapal, bergerak dalam operasi amfibi untuk menembus pertahanan di daerah hulu; setelah menderita kekalahan parah, mereka mundur ke balik tembok kota. Catatan tentang kerugian yang sia-sia terus berlanjut: China kehilangan 1.000 prajurit pada Oktober 1270, 2.000 prajurit pada Agustus 1271, dan lebih dari 3.000 prajurit pada bulan berikutnya. Apa yang mampu menembus kebuntuan ini? Seorang jenderal Mongol seorang Uighur bernama Ali-haiya, memberitahu Kubilai bahwa pasukan Mongol memerlukan jenis satuan artileri yang tepat. Saat itu, orang Mongol sudah punya berbagai jenis pasukan artileri— pelontar batu, trebuchet, pelontar panah—yang mengenal teknologi dan pasukan-pasukan khusus setelah pengepungan Beijing di tahun Kubilai lahir. Masalahnya adalah parit dan tembok batu Xiangyang. Pasukan artileri Mongol-China tidak memperoleh jarak yang tepat atau kekuatan yang dapat menembus pertahanan ini, dan tak ada seorang pun di Mongolia atau China ahli dalam membuat alat pengepungan yang lebih besar dan lebih kuat. Mendengar masalah ini, Kubilai akhirnya menemukan jalan keluar. Dia memerlukan perancang mesin perang terbaik di seluruh kekaisaran, dan itu berarti ada di Persia, sekitar 6.000 km dari lokasi pertempuran, sekitar dua pertiga luas kekaisaran. Ini dia ketahui karena dia mendengar BAGIAN II: MUSIM PANAS 172 pustaka-indo.blogspot.com
laporan pengepungan kota Baghdad oleh saudaranya, Hulagu, pada 1258. Tidakkah Hulagu punya ketapel tempur (catapult) untuk menghancurkan tembok kota? Kata-kata Rasyiduddin terngiang kembali dalam laporan-laporan yang ada dalam arsip Kubilai: “Mereka mengarahkan ketapel tempur ke Menara Ajami, dan merobohkannya.” Trebuchet tarik biasa tak akan mampu merobohkan tembok-tembok ini. Ini pastilah mesin yang berbeda dari biasanya. Tetapi, senjata baru ini pun belum menjamin keberhasilan. Karena itu, Xiangyang tetap tak tersentuh; dan kemenangan atas Song tetap mengawang-awang di udara. Tetapi kegagalan juga tak bisa diterima. Apa cara terbaik yang Kubilai dapat tempuh untuk memenuhi kehendak Langit? Phags-pa memberinya saran perihal yang harus dilakukan. Pertolongan roh-roh diperlukan untuk memperoleh jalan yang tepat, dengan ritual-ritual khusus yang diselenggarakan di tempat istimewa sebagai upacara persembahan kepada dewa sekaligus menegaskan kekuasaan kaisar sebagai pemimpin spiritual. Kubilai memerintahkan pembangunan kuil yang belum pernah dilihat orang sebelumnya: Baita Si, Pagoda Putih, yang hingga kini masih menjulang di pusat kota Beijing di bagian barat Kota Terlarang (pagoda ini tidak sama dengan Pagoda Putih lain di Taman Beihai). Pada 2005, saya mengunjungi tempat ini, berharap dia dapat menghidupkan Kubilai dengan satu dan lain cara dalam imajinasi saya. Dan memang demikian, karena di tempat itu muncul pertanyaan yang sebelumnya belum pernah saya pikirkan: Kubilai berdoa kepada siapa atau apa? Saya mencoba menjawab pertanyaan ini, dan akhirnya saya menemukannya—jawaban yang meski tak menakutkan, tapi cukup mengejutkan. Situs tempat Pagoda Putih berdiri adalah tempat keramat. Orangorang tak berani mendekatinya. Konon, di tempat itu pernah menyembur bola api dari dalam tanah (mungkin karena gas bumi yang ada di dalam rawa). Kubilai memerintahkan prajuritnya melakukan penggalian untuk mengetahui apa yang terdapat di dalam tanah—dan kebetulan dia menemukan puing-puing bangunan, koin-koin, dan bongkahan batu KUNCI PENAKLUKAN 173 pustaka-indo.blogspot.com
berukir naga. Ini pertanda baik yang dia perlukan. Temuan ini menandakan bahwa dulu di sini pernah berdiri istana naga, dan karena itu sangat layak dijadikan tempat berdiri kuil kerajaan. Kini saatnya menandai batas-batas kuil. Kubilai memakai cara-cara kuno orang Mongol dalam menandai daerah baru. Dia—dan mungkin salah seorang pejabatnya—menembakkan panah ke empat penjuru mata angin, setiap 200 m tembakan menandai jarak tembok yang akan dibangun. Aslinya, kuil ini tentulah merupakan kompleks bangunan seluas 400 m2 . Dinasti-dinasti berikutnya dan waktu yang terus berjalan telah merobohkan tembok dan bangunan luar, menyisakan sebagian kecil dari ukuran aslinya. Tetapi pagodanya sendiri, sebuah bangunan berbentuk kerucut terbalik yang menjulang di tengah ruang dan kantor pameran, tetap sebagaimana adanya seperti di zaman Kubilai dulu. Para wisatawan pergi ke sini untuk melihat patung-patung Buddha, simbol resmi yang menunjukkan kesiapan negara China untuk menjadikan siapa pun sebagai bagian dari satu keluarga besar. Aula Sepuluh Ribu Buddha dianggap sebagai koleksi purbakala terbesar di dunia, yang berisi miniatur patung Buddha dari seluruh dunia, berkilauan seperti batu permata. Aula Tujuh Buddha sekarang hanya berisi tiga patung Buddha, sementara empat patung lagi hancur selama Revolusi Kebudayaan. Di dalam Aula Dia Sang Agung yang Tercerahkan terdapat kaligrafi Kaisar Qian Lung abad ke-18, mengingatkan para pengunjung bahwa “pikiran Buddha seterang permata yang berkilau”. Jantung tempat ini adalah pagoda itu sendiri. Untuk membangunnya dan tempat di sekitarnya, Kubilai seperti biasa memilih seorang Buddhis: arsitek dan pelukis berkebangsaan Nepal berusia 27 tahun bernama Arniko, yang mengukuhkan reputasinya sebagai remaja cerdas di Tibet dan kemudian pindah ke China sebagai salah satu anak asuh Phags-pa, dan mulai bekerja dengan Kubilai pada 1265—ketika itu baru berusia 21 tahun—dalam pembangunan kembali sebuah patung perunggu yang menjelaskan titik-titik akupuntur. Dia kemudian banyak membangun kuil dan patung lain di seluruh wilayah China, sampai akhirnya meninggal pada 1306 di usia 62 tahun. Setiap orang bangga dengan Arniko— dan ini tidak mengherankan, karena di abad ke-13 pagoda putih se - BAGIAN II: MUSIM PANAS 174 pustaka-indo.blogspot.com
tinggi 374 m itu adalah bangunan tertinggi di Beijing. Sebuah patung dirinya—agak kurus, muda dan elok rupa—terletak di kaki pagoda itu, dibangun oleh Perkumpulan Arniko dari Nepal yang diresmikan pada 2003 dan dihadiri para pejabat tinggi Nepal. Saya ingin melihat ke dalam. Bersama pemandu saya, Silver, begitu dia menamai dirinya, saya menaiki tangga di samping patung Arniko, dan ternyata jalan ke atas terhalang oleh dinding-dinding seng. Pagoda ditutup karena sedang direnovasi. Namun di dinding itu ada pintu yang terbuka. Kami pun melangkah memasukinya. Saya agak terkejut saat melihat dua biksu berjubah merah, yang pertama kekar seperti pegulat dan yang satu lagi agak kurus, sedang memasang embel-embel persembahan. Nampaknya, peribadatan masih dilakukan di tempat ini. Biksu-biksu ini terlihat malu-malu, dan saya tak ingin mengganggu mereka dengan bertanya ini-itu. Saya pun berjalan-jalan ke sisi lain pagoda, dan kemudian melihat ke kubah besar berwarna putih yang menjulang ke matahari musim dingin yang cerah waktu itu. Saya setengah bertanya dalam hati mengapa tak ada jendela dan pintupintu. Ketika itu sayup-sayup terdengar lantunan doa. Dua biksu tadi nampaknya sedang beribadah. Saya langsung kembali ke bagian depan bangunan karena mereka saya lihat baru saja menutup pintu semacam lemari, dan mulai membakar dupa dan beras. Kali ini, kami saling berpandangan, lalu tersenyum dan saling mengangguk. Kemudian, saya memberanikan diri, saya minta Silver memperkenalkan saya. Kedua biksu ini adalah orang Tibet. Yang bertubuh besar bernama Tu Dan, sementara yang kurus bernama Ganga. Luar biasa, kata saya, tempat ini masih digunakan untuk beribadah. Memang begitu, jawab mereka, tempat ini selalu dilindungi, selalu jadi tempat untuk memperkuat hubungan antara orang China, Mongol, dan Tibet…. Lalu, kami dihampiri seorang pria berpenampilan lembut dan ramah, seorang profesional kota Beijing, yang ternyata fasih berbahasa Inggris. Benjamin Li adalah lulusan jurusan bahasa Inggris, dan dia seorang pengusaha. Dia berada di sini karena dia pengagum kuil ini, dan dia juga merupakan teman akrab kedua biksu tadi. Saya agak terkejut tatkala dia menyebut dirinya seorang penderma. Dia menjelaskan pada saya bahwa para biksu hidup sepenuhnya dari derma yang KUNCI PENAKLUKAN 175 pustaka-indo.blogspot.com
mereka terima. Lalu, saya memberikan sedekah kepada mereka untuk makan siang. Alhasil, saya mendapat balasan senyuman dan terbukanya pintu untuk perbincangan lebih lanjut. Benjamin menyenangi kuil ini. “Tempat ini sungguh indah bagi saya, tempat paling penting di Beijing, bahkan di seluruh China.” Dia menatap saya ketika saya memperlihatkan mimik keheranan. “Memang tempat yang indah dan baik. Bahkan Dalai Lama pun pernah berdoa di sini.” Saya ingin tahu lebih jauh tentang tujuan awal kuil ini. “Kuil ini dimaksudkan untuk mengalahkan Song dan menyatukan seluruh negeri. Dan ini bukan satu-satunya kuil yang ada. Masih ada kuil lain, juga dibangun oleh Arniko, di Zhuozhou, Hebei”—75 km ke barat laut Beijing—“bernama Kuil Pelindung Negeri.” Masih ada yang belum saya mengerti. Apa yang membuat kuil ini dan kembarannya di Hebei begitu istimewa, dahulu dan sekarang? Siapa atau apa yang sebenarnya disembah Kubilai? “Kuil ini diracang untuk Kubilai sebagai tempat peribadatan keluarganya.” Lalu, Benjamin mengambil jeda. Sepertinya ada rahasia yang sengaja ingin dia sembunyikan, namun tiba-tiba kebenaran tentang tempat ini muncul di depan saya. “Kuil ini dimaksudkan untuk memuja dewa bernama Mahakala.” “Mahakala? Siapa gerangan Mahakala?” “Mahakala adalah semacam… dewa perang.” Jadi, inilah dewa yang diharapkan Kubilai mau menolong dia dalam perjuangan melawan Song. Saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya. Tetapi jutaan orang di wilayah Asia, dari India sampai Jepang, menyebutnya “Sang Hitam”. Pemeluk Hindu mengenal dia sebagai salah satu perwujudan dewa Siwa, sang penghancur. Di Tibet, dia diyakini memakan orang yang tak sepenuh hati menjalankan ajaran Buddhisme. Saat itu saya belum tahu seperti apa rupanya, namun yang jelas dia bukanlah sejenis dewa yang ingin Anda temui di kegelapan malam. Untunglah, beberapa hari berikutnya saya sudah berada di Ulan Bator dengan seorang sarjana dan pemimpin Mongol bernama Shagdaryn BAGIAN II: MUSIM PANAS 176 pustaka-indo.blogspot.com
Bira, yang sedang meneliti tema ini. Mahakala adalah dewa yang dalam hal tertentu berkaitan dengan Hevajra—dewa sesembahan khusus biara Saskya pimpinan Phags-pa; dewa yang jadi sembahan Kubilai saat dia ditahbiskan oleh Phags-pa pada 1253. Delapan belas tahun kemudian, kekuasaan kekaisaran telah mengabsahkan Kubilai untuk bisa berada di bawah lindungan dewa pribadinya. Atau, seperti ungkapan Bira dalam makalah yang akan segera dia publikasikan: “Sang Khan, karena telah memiliki kontak spiritual langsung dengan dewa pelindungnya, Mahakala, pelindung agama paling utama, maka dia harus bertindak seakan-akan telah memperoleh segenap kekuatan gaib untuk mengelola kekaisarannya. Maka, khan-khan Mongol tak hanya menikmati anugerah dari Tenger, tapi juga anugerah dari dewadewa Trantrik.” Yang melakukan hal ini bukan cuma Kubilai, seperti penjelasan Benjamin: “Bagi Kubilai dan Phags-pa, dan setiap master sejak saat itu sampai Lama Penchen kesepuluh hari ini, dewa pelindung itu adalah Mahakala.” “Masihkah dia di sini?” “Masih. Dia ada di sini. Lihatlah di belakangmu”. Tu Dan pun membuka pintu yang sebelumnya telah saya lihat. Dari balik pintu itu terlihat altar kecil tempat terletak gambar Mahakala: wajahnya hitam, tiga mata yang melotot, dengan mimik bengis, bertaring, hiasan kepala berbentuk tengkorak berambut kuning. Jadi, yang dilakukan kedua biksu ini sewaktu saya tadi mengelilingi pagoda ini adalah memuja Mahakala. Di depan altar ini terdapat mangkuk perak kecil sebagai wadah cairan. “Alkohol,” kata Benjamin. “Untuk bodhisatva yang lain, Anda boleh memberi sesaji berupa bunga, buah-buahan, tapi yang tidak mengandung alkohol. Tetapi untuk dewa pelindung, khususnya yang kuat seperti Mahakala, Anda harus mempersembahkan alkohol. Dengan doa-doa yang tepat, ini seperti…, seperti”—lalu dia mengetik sebuah kata ke dalam kamus elektronik China-Inggris, jenis kamus yang selalu ditenteng para mahasiswa dan pemandu wisata—“minuman para dewa yang sangat lezat. Dan makanan, seperti dupa dan beras, menyebarkan KUNCI PENAKLUKAN 177 pustaka-indo.blogspot.com
bebauan yang memberi “makan” para roh. Kita dibuat kenyang oleh makanan, tapi roh akan kenyang dengan bebauan. Dengan cara ini, Mahakala akan jadi pelindung Anda. Dia akan membawa keberuntungan.” “Dia tak terlihat sebagai pembawa keberuntungan. Tampangnya malah seperti pembawa mimpi buruk.” Benjamin lalu menerjemahkan ucapan saya, dan ketiga pemandu saya ini pun tertawa. “Jika dia berada di pihak Anda, itu berarti nasib baik. Dia akan membuat takut roh-roh lain.” Saya pun berhenti, berharap memperoleh petunjuk lain. “Bisakah kita melihat-lihat bagian dalam pagoda?” “Tidak bisa. Renovasi ini belum selesai dalam beberapa bulan ke depan. Namun Anda boleh berkeliling lagi. Kali ini ambillah jalan memutar melawan arah jarum jam.” “Apa yang ada di dalam?” “Mahakala! Mahakala yang sesungguhnya!” Suatu hari, saya berjanji pada diri sendiri saat berkeliling, saya akan kembali, melihatnya secara langsung. Meskipun hanya sebuah patung, saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Saya akan berdoa seperti Tu Dan dan Ganga, juga membawa alkohol. Saya akan memastikan dia berada di pihak saya—seperti yang Kubilai alami pada 1271, jika tak ada aral melintang. Dengan memahami persoalan yang muncul akibat tembok-tembok yang membentengi kota Xiangyang, saya akan memperkenalkan kepada Anda seluk beluk trebuchet berbeban pengimbang (counterweight trebuchet) yang penuh misteri. Mesin perang ini adalah peralatan artileri terbesar di zamannya, dan jika trebuchet tarik bertenaga manusia dibandingkan dengannya, maka yang terakhir ini tak ada apaapanya. Dalam trebuchet berbeban pengimbang, tenaga manusia digantikan oleh kotak yang diisi pemberat (batu, tanah, atau timah). Kelebihannya: dia sangat berat, lengan pelontarnya lebih panjang, pemberat peluru, ambin lebih panjang (tanpa menambah berat keseluruhan), jarak tembaknya lebih jauh, dan—jika beban pengimbang BAGIAN II: MUSIM PANAS 178 pustaka-indo.blogspot.com
dan peluru tak diubah dari satu tembakan ke tembakan berikutnya— akurasinya lebih baik. Ukurannya yang besar memerlukan tenaga yang sangat ahli dan waktu pembuatan yang lebih lama. Karena itu, trebuchet berbeban pengimbang ini muncul agak terlambat, baru muncul di dunia Islam pada abad ke-12 dan menyebar ke Eropa tak lama setelah tentara Salib mengenalnya di tahun 1200. Sebenarnya, tak seorang pun tahu cara penyebaran alat ini. Orang China menyebut alat baru ini “ketapel Muslim”; penulis Muslim, Rasyiduddin, menyebutnya “Frankish”. Dari mana pun asal-muasal alat ini, informasi tentangnya mengalir di kedua pihak: di Eropa maupun di dunia Islam, mesin perang ini berkembang menjadi alat yang lebih khusus, yang tak cuma dapat menghancurkan tembok benteng tapi juga menyita imajinasi, memengaruhi strategi, dan menjulangkan nama para perancangnya (itulah sebabnya mereka tak pernah mencatat rahasia pembuatannya). Di akhir abad ke-15, alat ini lenyap, tergantikan oleh penggunaan bubuk mesiu. Alat ini hanya terbuat dari kayu, dan memakan tempat. Tatkala rusak, alat ini langsung menjadi rongsokan, bisa diubah jadi tiang atau papan atau kayu bakar. Tak ada trebuchet berbeban pengimbang yang bertahan hingga abad ke-20. Satu-satunya yang tersisa ditemukan pada 1890-an di sebuah gereja di Prusia timur kala itu (sekarang menjadi bagian negara Polandia). Namun ketika petugas museum mendengar berita penemuan ini, penduduk lokal keburu membakarnya. Pun tak ada rancangan akurat yang pernah ditemukan (barangkali karena para perancangnya memang menutup rapat-rapat rahasia mereka), dan seluruh ilustrasi tentang alat ini sebagian besar adalah hasil reka-reka, di mana rincian pemantik dan porosnya dirancang oleh seniman bukan spesialis. Selama bertahun-tahun, hanya segelintir sejarawan militer yang me neliti mesin perang ini. Untuk memahaminya, Anda harus me - rekonstruksinya. Saat ini ada sub-kultur penyuka “treb” yang melakukan usaha rekonstruksi ini. Dengan memadukan ilmu teoretis, sejarah, dan praktik, mereka dengan teliti—bahkan obsesif, dan tak jarang di antara mereka ada yang eksentrik—mengabdikan diri pada urusan bagaimana KUNCI PENAKLUKAN 179 pustaka-indo.blogspot.com
melontarkan benda berat sejauh mungkin tanpa menggunakan peledak. Sebagian besar usaha ini jadi bagian dari arkeologi rekonstruktif yang serius, namun dia juga melahirkan perilaku yang amat janggal, karena memerlukan kerja keras dengan hasil yang tak bisa diperkirakan, membuat mesin ini secara individual dan memberi nama khusus untuknya: Cheesechucker, Son of Cheesechucker, the Flinger Thinger. Pada 1991, Hew Kennedy, seorang tuan tanah Inggris, penemu dan sejarawan militer, tertarik dengan mesin yang digambar oleh Leonardo da Vinci yang nampaknya mampu melontarkan mayat beberapa ekor kuda. Dia merancang dan membuat sebuah trebuchet seberat 30 ton yang mampu melemparkan setengah lusin mobil, 60 piano dan puluhan bangkai babi, dan semua ini membuat dia terkenal. Karena alasan tertentu, piano menjadi amunisi yang populer bagi para “pelontar” ini, barangkali karena suara raungan dawai-dawainya ketika melayang di udara dan “mendarat” di tanah dengan bunyi khas akibat dawai-dawai yang terputus. Saluran TV, yang sangat menyukai gabungan kekuatan, drama dan kesintingan, memperlihatkan minat besar terhadap kegiatan seperti ini. Program televisi Amerika, Northern Exposure, memfilmkan ketapel (catapult) buatan John Wayne Cyra yang mampu melontarkan piano seberat 200 kg, satu per satu, sampai sembilan kali. Program itu tayang pada Oktober 1992, piano-piano itu melayang sekitar 100 m mengumandangkan nada “The Blue Danube”. Ron Toms, warga Texas (beberapa orang Texas menyenangi kegiatan ini; mereka senang dengan kekuatan dan ukuran), yang mengenal trebuchet saat masih remaja, membuat sebuah trebuchet dan menjadikan dirinya sendiri sebagai amunisi, melontarkannya 30 kaki ke udara dan mendarat di sungai. Dia dan kawan-kawannya lalu bersenang-senang di sungai sampai sore, kemudian dia membuat lagi trebuchet berbeban pengimbang yang dapat melemparkannya lebih tinggi dan lebih jauh. “Mesin penghancur diri telah datang,” tuturnya. Tom kemudian membuat yang lebih besar lagi untuk acara televisi In the Name of Science. Dia menyebut mesinnya ini monster T. Wreck: sesuai namanya, alat ini dapat melahap diplodoci: kali ini mobil-mobil. Beberapa website menyebut-nyebut rencananya untuk membuat Thor, sebuah ketapel tempur berbeban pengimbang dengan lengan sepanjang 100 kaki dan BAGIAN II: MUSIM PANAS 180 pustaka-indo.blogspot.com