The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SD NO. 1 KEROBOKAN, 2023-08-12 02:01:42

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

Kubilai Khan Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah by John Man

dan Langit Penitah—yang berkumpul di sekitar istana itu sendiri, Ruang Ketenangan Agung, yang dibangun menyerupai bangunan lain dalam gaya China, dengan atap kerucut dan tiang mengilap. Menurut Rasyiduddin, istana ini dibangun persis di pinggir danau yang ada di tengah kota, di atas sendi-sendi yang terbuat dari timah campuran, sehingga air dari sungai dan mata air bebas mengalir. Setelah dinasti Mongol runtuh pada 1368, Xanadu terlupakan. Selama 600 tahun dia dibiarkan terbengkalai, istananya yang luar biasa, alun-alun, bangunan-bangunan dan tembok-tembok kota rusak hingga tinggal gundukan tanah belaka, tak terlihat di tengah padang rumput. Seorang dokter dari kedutaan Inggris di Beijing, Stephen Bushell, tak sengaja menemukan reruntuhan ini pada 1872. Dia melaporkan telah melihat bongkahan-bongkahan pualam, sisa-sisa sebuah kuil yang besar, “bongkahan patung singa, naga dan patungpatung lain berserakan di mana-mana.” Orang Jepang juga melakukan hal serupa saat mereka menduduki Mongolia Dalam pada 1930-an, setelah tak banyak lagi yang tersisa. Sebelum dan setelah dikuasai kaum komunis pada 1949, China sama sekali tak tertarik, karena dinasti Mongol—yang didirikan orang-orang bar-bar dari balik gurun Gobi—adalah sebuah babakan sejarah negeri ini yang lebih suka dilupakan oleh penguasa baru. Di sinilah, seperti yang dihapal setiap anak sekolah dasar di Inggris dan Amerika, Kubilai mengumumkan “kubah kesenangan”-nya, dalam mimpi Samuel Taylor Coleridge pada suatu hari di musim panas tahun 1797, sebelum dia disela seorang tamu tak diundang. Mimpi Coleridge, dan puisinya, adalah fantasi; dan sungguh mengejutkan menemukan bahwa tempat dan keindahan dalam mimpi itu sebenarnya memang nyata, dan dengan mengunjungi yang satu, Anda pasti akan merasakan yang satunya lagi. Manakala saya pertama kali ke Xanadu pada 1996, tak ada tanda yang terpasang di jalan-jalan menuju ke sana. Pemandu saya sama sekali tak terganggu. “Di bawah hidung kita ada mulut,” katanya dengan nada arif seorang kakek-kakek, dan membuktikan hal itu DI XANADU 89 pustaka-indo.blogspot.com


dengan bertanya perihal arah jalan kepada sepasang petani. Kami pun bisa berkendara langsung ke tempat yang dituju, keliaran yang pernah jaya, tembok-tembok berlumut yang menjulang indah dari rerumputan bergelombang dan bunga-bunga padang rumput. Tak ada tip, tak ada tiket masuk; tak ada penjaga yang menahan laju jalan Anda sepanjang jalur yang menerobos ke luar tembok. Langit biru cerah khas langit Mongolia, udara sangat segar, dan yang terdengar hanya kicauan burung. Namun, kami tak sendirian. Setengah lusin pria sedang mengukurngukur dan membentangkan tali membentuk ruang empat persegi. Mereka adalah para arkeolog dari Hohhot, sepertinya sedang mengawali penelitian. Salah seorang dari mereka, Wei Jian, profesor tamu di Institut Arkeologi, memberi penjelasan kepada saya dengan perantaraan pemandu saya. Di bagian ini tembok-tembok, sementara di bagian sana istana. Seluruh kompleks reruntuhan ini disebut Taman Bunga Emas, dan Anda dapat melihat mengapa dari balik bunga-bunga hutan berwarna ungu dan putih ini semua reruntuhan tadi tak bisa saya kenali. “Anda lihat betapa indah tempat ini, dilindungi bukit-bukit.” Saya pun memandangi bagian kaki perbukitan di sebelah utara. Mereka seperti dipilih dengan sangat hati-hati. “Tempat ini dipilih karena alasan takhayul. Ini tempat yang tersembunyi dan sangat dalam. Di sebelah utara terdapat Gunung Naga, dengan Sungai Cahaya di sebelah selatan.” “Gunung-gunung itu terlihat seperti… payudara.” Dia tertawa. “Mereka punya altar-altar di puncak, gundukan batu. Menurut cerita, altar-altar ini disusun dan dibentuk oleh Tujuh Dewa.” Istilah yang dipakai sama dengan istilah dalam bahasa Mongol untuk rasi bintang yang kita sebut bajak, Ursa Major. “Ini harus kita teliti lebih jauh. Masih banyak yang harus kita pelajari.” Saya berjalan menelusuri padang rumput bergelombang menuju istana, dan melewati patung kecil yang tak berada di tempatnya dan kelihatan kacau—patung Turki pra-Mongol—yang berdiri kokoh seakanakan sedang menjaga, barangkali dibawa ke sini oleh rakyat Kubilai, BAGIAN I: MUSIM SEMI 90 pustaka-indo.blogspot.com


atau sudah ditemukan ada di sini dan dibiarkan begitu saja. Tanah penuh bebatuan yang bisa melukai pergelangan kaki saya jika tak hatihati. Bagian dasar istana masih ada di sini, gundukan tanah sepanjang kira-kira 50 m menjulang sekitar 6 m dari rerumputan. Selain keterangan Rasyiduddin, tak ada tanda-tanda adanya bagian bawah tanah yang mengandung air, kecuali apa yang dahulu pernah menjadi sumur di tengah sebuah halaman. Atau, barangkali bagian ini dahulu merupakan tempat dipancangkannya tiang bendera. Gundukan istana itu diapit dua gundukan lain—sisa tiga gedung besar ini menciptakan halaman bersisi tiga. Jalan-jalan dibuat melewati rerumputan di mana para turis dapat mencapai dua ujungnya di ketinggian. Di bagian depan, hampir datar dengan permukaan tanah, diberi kesan tegas oleh garis-garis lubang yang tercipta akibat cucuran air hujan dari atap sebuah kubah. Saya membayangkan tengah berkunjung ke tempat orang besar, turun dari tandu berkanopi, sebelum menaiki tangga menuju istana dan kemudian diterima oleh kaisar langsung dari mimbarnya. Namun sekarang, tak ada lagi yang tersisa di sana, tidak juga di bagian bawah. Saya terheran-heran: sebuah panggung alami dari tanah bertahan selama 700 tahun, tetapi—kecuali debu-debu yang tertumpuk selama musim panas dan batu-batu yang pecah akibat dinginnya musim dingin—bangunan-bangunannya justru tak ada yang tersisa. Memang ada batu-batu yang berserakan di antara rerumputan. Tetapi di manakah bata-bata dan ubin-ubin? Bagaimana nasib sisa-sisa kuil dan monumen yang pernah Bushell saksikan pada 1872? Apakah orang Jepang mengambilnya terlalu banyak dan hanya menyisakan puing-puing batu semata? Saya pun memungut beberapa buah batu, semuanya tanpa bentuk, tak satu pun menunjukkan seperti apa bentuknya dulu kala. Bisa jadi ini bagian pegangan dari sebuah cangkir; bisa pula bagian lengkung dari genteng; batu-batu itu terlihat seperti batu biasa. Lalu bagaimana dengan kerikil-kerikil, bagaimana dengan bebatuan yang berserakan itu: debu Xanadu? Bagaimana saya dapat berbuat sesuatu untuk semua ini? Pada 2004, saya kembali ke sana. Perubahan telah terjadi, men - cerminkan perubahan yang terjadi di seluruh pelosok China. Di sini membentang jalan raya baru yang mengarah ke timur dari Zhenglan DI XANADU 91 pustaka-indo.blogspot.com


Qi, dan terdapat papan penunjuk arah dalam bahasa China dan Inggris menuju “Yuan Shang-du”, sebuah jalan kecil yang baru dibangun, meng arah lurus ke utara melintasi padang rumput menuju sebuah perkemahan turis berisi tenda-tenda putih Mongol. Jalan itu mengitari perkemahan turis dengan dua belokan ke kanan, mengantarkan Anda ke sebuah pintu masuk, sebuah gerbang dan sebuah museum, dengan dua atau tiga penjaga dan tentu saja loket penjualan tiket masuk. Setelah melewati ini semua, saya pun sendiri lagi, seperti sebelumnya. Turis asing tak dapat bantuan apa pun, karena pemerintah setempat belum terlalu apresiatif dengan nilai dan arti penting tempat ini, terutama bagi para penutur bahasa Inggris. Beberapa tanda dan petunjuk masih ditulis dalam bahasa China. Saya masih bebas memasang tempat tidur gantung sementara bongkahan batu istana dan kerikil yang tertutupi rumput masih bebas dipungut sebagai cenderamata. Tetapi, ini tak akan berlangsung lama. Para arkeolog sudah mulai bekerja. Di tengah halaman museum berdiri kotak kaca berisi bongkahan batu pualam besar setinggi 2 m. Kotak kaca itu didirikan di atas reruntuhan istana pada 2003, saat ditemukan dua benda serupa yang sekarang disimpan dalam museum. Pualam itu bisa jadi adalah bagian dasar sebuah pilar, yang diukir begitu indah membentuk rupa naga yang melilit bunga peoni, simbol perang dan damai. Penemuan seperti ini sangat berarti. Dia merupakan petunjuk betapa menakjubkan tempat ini, betapa ahli dan terampilnya para seniman China di masa Kubilai, dan betapa dahsyat kerja yang diperlukan untuk ini—sumber batu pualam terdekat berjarak 700 km dari tempat ini. Ini semua juga menjadi bukti lebih lanjut terkait perdebatan akademis perihal apakah Marco Polo memang pernah mengunjungi China atau tidak. Marco Polo pernah mengawali salah satu deskripsinya: “Di tempat ini terdapat sebuah istana pualam yang begitu indah.” Sebuah plang dekat gundukan istana memuat tulisan: “Benda-benda ini membuktikan kehadiran Marco Polo di sini.” Perubahan terbesar tidaklah terjadi di tempat ini, melainkan di sepanjang jalan menuju ke sini. Pemandangan pertama yang kita lihat ketika mendekati Xanadu adalah perkemahan turis, terdiri dari sekitar 40 tenda khas Mongol (ger) dan tiga tenda raksasa, dengan dua BAGIAN I: MUSIM SEMI 92 pustaka-indo.blogspot.com


kubah. Ini adalah tanda bagi keadaan berikutnya. Perkemahan ini adalah ciptaan pengusaha setempat, “Benjamin” Ren (orang China yang berbisnis dengan orang Barat sering menambahi nama mereka dengan nama Barat). Benjamin sangat menarik dalam beberapa hal: tampan, cekatan, baik hati, ambisius, dan sangat tergerak untuk meng - gabungkan bisnis dengan ekologi. Sadar bahwa perkembangan industri dan agrobisnis akan merangsek dan merusak padang rumput, dia membuat rencana untuk menanami hutan dan menyelamatkan padang rumput. Disokong seorang konglomerat Indonesia, dia membeli lahan seluas satu kabupaten, menanami setengah lahan itu dengan tak kurang dari 15 juta pohon dan membuat setengahnya lagi menjadi padang rumput layaknya padang rumput yang dia lihat sebelum dirusak. Dia kini menunggu lahan itu berubah menjadi padang semak-semak. Satu langkah akan membawa ke langkah berikutnya. Kebetulan, lahan yang dia beli terletak persis di dekat Xanadu. Mampu berbahasa Inggris dengan baik, dia langsung melihat potensi pengembangan wisata, terutama dengan adanya jalan baru. Para turis tentu perlu tempat menginap. Maka, perkemahan turis pun dibuka pada 2003, menawarkan ger Mongol—yang lucunya dilengkapi dua ranjang, lampu, air kran dan toilet—serta dua restoran tenda yang mempekerjakan penduduk setempat untuk memasak menu khas Mongol dan menyuguhkan pertunjukan musik Mongolia. Di tahun pertama operasi proyek ini, Benjamin menerima 1.500 tamu, sementara pada 2004, tamunya bertambah 6.000 orang, jumlah yang kemudian berlipat enam kali saat diadakan Olimpiade Beijing 2008. Dalam iklim privatisasi hari ini, saya dapat membayangkan bagaimana Benjamin membuat kesepakatan dengan museum dan memperoleh akses langsung ke situs ini serta mendapat aliran informasi lebih dahulu. Setelah itu, semuanya akan gampang, nyaman, berjubel, dan tentu saja mahal. Jika Anda tak segera mengunjungi tempat ini, saya khawatir kelak Xanadu tak lagi jadi tempat petualangan, dan Anda tak lagi diperbolehkan memungut secara sembarangan bebatuan dan serpihan pualam. Namun ke manakah perginya sisa-sisa yang pernah disaksikan DI XANADU 93 pustaka-indo.blogspot.com


Bushell itu? Benjamin punya jawabannya. Di kota terdekat bernama Dolon Nur, banyak bangunan terbuat dari bata dan ubin yang bagus. Ingat, ini adalah wilayah yang miskin material bangunan. Nampaknya Xanadu telah ditambang, bata demi bata, ubin demi ubin, oleh para pemborong bangunan setempat. Yang mereka sisakan hanyalah sesuatu yang memang tak bisa dipakai lagi. Saya masih menyimpan bongkahan yang dulu saya pungut, dan saya tahu yang harus saya lakukan dengannya. Saya akan menumbuknya menjadi tepung dan menggunakan tepung itu untuk membuat torehan di atas meja pualam saya yang bertuliskan: Shang Du Ibukota yang sedang dibangun, berkonsep setengah Mongol dan setengah China, kenyataannya masih terlalu China bagi orang Mongol tradisional kala itu. Kembali ke Karakorum, di sana ada pihak-pihak yang iri dengan kesuksesan Kubilai: menggerundeli Kubilai telah lupa daratan, terlalu ambisius, mengimpikan kekaisarannya sendiri dengan menandingi ibukota Mönkhe. Dan, dia terlalu kaya. Pernahkah dia menggelapkan pajak yang seharusnya dikirim ke Karakorum? Mönkhe mendengar desas-desus ini, bertanya-tanya dalam hati apakah desasdesus ini benar atau tidak. Dia pun didorong-dorong untuk bertindak. Pada 1257, dia mengirim dua pemeriksa pajak guna mengaudit para pejabat Kubilai. Mereka menemukan pelanggaran, tercatat sekitar 142 pelanggaran, dan mendakwa para pejabat China. Beberapa di antaranya dihukum mati. Dan utusan ini mengambil alih pajak dari tanah perdikan Kubilai atas wewenang Mönkhe. Apa yang dilakukan Kubilai? Dia memperlemah penjagaannya, dan menahan para akuntan yang korupsi. Namun, tindakan ini, seperti dinyatakan penasihat Konfusius dan Buddhisnya, akan memancing pemberontakan. Jadi lebih baik berdamai. BAGIAN I: MUSIM SEMI 94 pustaka-indo.blogspot.com


Itulah yang dia lakukan: mulanya dia mengirim dua utusan yang bertindak seakan-akan tak terjadi apa-apa, lalu dia sendiri secara pribadi datang menemui Mönkhe sebagai adik mengunjungi kakak. Cara ini berhasil. Kedua saudara ini berpelukan sambil menangis: Kubilai dengan segala rasa sedih, ketulusan dan kesetiaan, dan Mönkhe dengan segala maaf dan kepercayaan baru. (Dia bertindak arif seperti kata-katanya: tiga tahun kemudian, dia menghukum mati akuntannya karena telah menghasutnya). Dua saudara ini sebenarnya saling membutuhkan. Kekuasaan Kubilai bergantung pada dukungan dan bantuan Mönkhe, sementara Mönkhe punya persoalan yang benihnya ditanam Jenghis sendiri sejak 30 tahun sebelumnya. Jenghis sangat terkesan dengan seorang biksu Tao lanjut usia bernama Ch’ang-ch’un, yang dibawa-bawa Jenghis dari China di sepanjang perjalanannya menuju Afghanistan untuk mengajarinya jalan Tao. Dia pun membebaskan aliran Ch’ang-ch’un dari tagihan pajak. Penganut Tao, yang semula menempati urutan terendah dalam hierarki agama yang dianut masyarakat kala itu, mengeksploitasi sumber kekayaan dan status baru dengan mengambil alih kuil-kuil Buddha. Kekayaan menjadi sumber inspirasi yang luar biasa, sehingga sektesekte Tao pun menjadi berlipat ganda. Saat itu sudah ada 81 sekte, menurut satu sumber, dengan para penganut paham asketik di satu kutub dan di kutub lain para peramal nasib yang tak lebih dari para buaya darat tukang bual, yang dengan senang hati merampas lukisan dan patung berharga dari berbagai rumah ibadah Buddha. Kalangan Buddhis keberatan dan melawan dengan kekerasan yang sama. Mereka diperkuat oleh arus biksu yang masuk dari Tibet, sebuah daerah yang tak lama kemudian menjadi bagian dari kekaisaran Kubilai (kita akan bahas secara rinci pada Bab 7). Pada 1258, orang Buddha sa ngat menyadari betapa penting kontak-kontak politik, dan amat me - nyesal dengan tindakan balas dendam mereka terhadap penganut Tao. Perpecahan ini harus segera diakhiri. Jika tidak, stabilitas di China utara akan terancam, dan tak akan tercipta basis aman dalam rangka rencana yang lebih penting dalam menginvasi Song. Kubilai adalah kunci bagi kedua masalah ini. Dalam ungkapan Morris Rossabi: DI XANADU 95 pustaka-indo.blogspot.com


“Walaupun saya tak bisa memastikan kapan terjadi peristiwa dramatis sebagaimana digambarkan kronik-kronik China, tapi saya yakin hal itu terjadi setelah Mönkhe dan Kubilai secara rasional mengevaluasi perpecahan bodoh di antara mereka.” Maka, yang pertama kali dilakukan Kubilai di awal 1258 adalah mengadakan pertemuan besar antara para pemimpin umat Tao dan Buddha, dan menyadarkan mereka. Pertemuan itu mirip sebuah konferensi. Sebanyak 300 pemimpin Buddha dan 200 pemimpin Tao datang ke Xanadu, dipandu secara terpisah oleh sekitar 200 pejabat resmi dan ilmuwan Konfusian. Kubilai duduk sebagai pemimpin. Kubu Tao berpegang pada dua dokumen yang menyatakan bahwa Lao-tzu, orang arif pendiri Taoisme, mengalami 81 kali inkarnasi— karena itulah sekte Tao berjumlah 81—dan dalam salah satu inkarnasinya dia dikenal sebagai Buddha. Sementara itu, satu dokumen lagi me - nyatakan bahwa Lao-tzu meninggal di India, tanah kelahiran Buddhisme, bukan di China. Karena itu, menurut mereka, Buddhisme sebenarnya adalah Taoisme. Ini pendapat yang melecehkan, diperburuk lagi oleh agenda Tao, yang tersimpul dalam kata kunci mereka hua-hu (mempertobatkan orang barbar). Mereka tak menyadari dengan baik bahwa Kubilai sebenarnya sangat dekat dengan Buddhisme. Istri utamanya, Chabi, penganut Buddhisme. Dia sangat terkesan dengan pengaruhnya di kalangan biksu Buddha dan nalar praktis mereka dalam menerapkan pemerintahan yang baik gaya Buddha. Dia tak perlu memperlihatkan terang-terangan prasangkanya. Orang Tao tak perlu disanggah dan dibuktikan keliru. Penasihat Kubilai ber - kebangsaan Tibet, Phags-pa, silih berganti menanyai para pemimpin Tao ihwal kebenaran teks utama mereka tentang “mempertobatkan orang barbar” yang menyatakan bahwa pendiri paham mereka, Laotzu, meninggal di India. Alangkah janggal mengapa Sima Qien (Ssuma Ch’ien dalam ortografi lama), sejarawan besar pertama dan berasal dari abad kedua, tak menyebut-nyebut masalah ini maupun dokumen yang menyatakan kebenarannya. Karena itu, simpul Phags-pa, Lao-tzu sebenarnya meninggal di China, dan dokumen tadi tentulah palsu. Orang Tao, yang tak memiliki rujukan dan argumen lain, tiba-tiba BAGIAN I: MUSIM SEMI 96 pustaka-indo.blogspot.com


terlihat bodoh. Kubilai menawari mereka kesempatan terakhir: menyuruh mereka memanggil para arwah dan jin untuk membuktikan kekuatan sihir mereka dengan melakukan hal-hal ajaib. Dan begitulah, mereka sama sekali tak mampu menunjukkan kekuatan tersebut. Akhirnya, Kubilai mengeluarkan keputusannya. Buddhisme masuk, Tao keluar. Tujuh belas pemimpin Tao dicukur gundul kepalanya, seluruh salinan teks-teks palsu tadi dihancurkan, 273 kuil dirombak menjadi kuil Buddha. Kubilai cukup arif untuk tidak bertindak kejam, sadar bahwa dia tak bisa meminggirkan penganut Tao yang berjumlah cukup banyak. Tak ada hukuman mati. Mereka hanya diminta kembali kepada status semula yang mereka miliki di awal abad itu, sebelum Ch’ang-ch’un tiba-tiba naik derajat tiga dasawarsa sebelumnya. Perdebatan tadi memperlihatkan keunggulan Kubilai sebagai pemimpin. Dia menciptakan perdamaian dengan tindakan tegas, mencerminkan kecerdasan dan kemoderatan. Semua orang setuju, dan dia pun bersiap melaksanakan tugas besar berikutnya, menginvansi Song di selatan. DI XANADU 97 pustaka-indo.blogspot.com


5 SANG PENUNTUT SEBAGAIMANA PARA DIKTATOR LAIN YANG BERHASIL, MÖNKHE SANGAT bergantung pada penaklukan besar dan cepat atas seluruh negeri asing sebagai cara untuk menyumbat pendapat yang berlawanan. Tak setiap orang dapat mengungkapkan hal ini, karena motif ini tersembunyi di balik sebuah kebenaran besar, seperti yang diketahui orang Mongol, yakni urusan mereka yang belum selesai dengan dunia. Pada 1257, Persia dan Rusia selatan berhasil “diamankan”; sekarang tinggal sisa wilayah China—dan setelah itu kawasan dunia yang belum tertundukkan. Orang Mongol berada pada posisi kuat, dengan angkatan bersenjata yang bermarkas di Xanadu (di bawah pimpinan Kubilai) dan Yunnan, China utara dan yang sebelumnya bernama Xi Xia. Tetapi, tugas yang menghadang mereka kala itu tidaklah ringan. Sepertinya tugas ini lucu dan tak masuk akal, begitu besar perbedaan di antara kedua sisi. Song adalah wilayah penuh sungai dan hutan serta pegunungan, dan sama sekali tak memiliki dataran terbuka yang menguntungkan bagi pasukan berkuda Mongol. Tanah antara Sungai Kuning dan pantai selatan saat itu, dan sampai sekarang juga, menjadi keranjang roti orang China, termasuk satu juta kilometer per segi sawah dan saluran irigasi. Ibukotanya, yang kini bernama Hangzhou (saat itu disebut Linan) adalah kota berpenduduk paling padat di dunia, sekitar 1,5 juta BAGIAN I: MUSIM SEMI 98 pustaka-indo.blogspot.com


jiwa—lebih banyak dari seluruh penduduk Mongolia. Seabad masa pemerintahan kekaisaran di sana mengubah kota ini menjadi kota besar. Menguasai ujung selatan Kanal Utama menuju Teluk Hangzhou, kota ini menjadi kota pelabuhan paling padat dan terbaik di dunia. Latar belakangnya—Puncak Pegunungan Surga, Danau Barat—sangat indah seperti juga kotanya. Bagaimana bisa orang Mongol bermimpi merebut kemenangan dalam menaklukkan kota ini, apalagi terhadap 41 kota lain dengan penduduk sekitar 100.000 jiwa lebih, atau ter - hadap 50 juta petani yang memenuhi lahan-lahan subur di sepanjang lembah sungai Yangtze? Orang Mongol tak punya sumber daya alam sendiri untuk semua itu. Mereka harus memanfaatkan China utara untuk memerangi dan menaklukkan China selatan. Pasukan berkuda Mongol pada akhirnya tak akan berguna, dan karena itu semua tergantung pada pasukan infanteri China, teknik pengepungan China, serta para teknisi berkebangsaan China. Sementara iklim menjadi sub-tropis di musim panas, dan pemandangan menjadi berliku-liku, hamparan wilayah seolah-olah tak bertepi, dan ragam penyakit pun berjangkit di manamana. Siapa yang akan berhasil melewati semua ini? Mönkhe setidaknya memiliki markas bagus, yang dibangun 30 tahun sebelumnya oleh Jenghis. Markas ini terletak 200 km di selatan Sungai Kuning dekat hulu sebuah anak sungai bernama Qing Shui yang menyusuri kelok-kelok kaki pegunungan Liupan, tempat Jenghis pernah menghabiskan musim panas tahun 1227, sebelum dia diserang penyakit yang kemudian membunuhnya. Tempat ini sangat bagus, sebab jalan keluar amat mudah, sementara memerlukan waktu seharian berkuda untuk memasuki lembah rahasia di pegunungan—hutan stepa, tanah subur, dan dipenuhi tanaman obat—di mana Jenghis mungkin pernah berusaha sia-sia mengobati penyakit yang kemudian menewaskannya. Sekarang tempat ini menjadi situs arkeologis yang penting, Kaicheng yang jadi pusat kekuasaan di mana pemimpin terakhir Xia Xia me - nyerahkannya kepada Jenghis yang tengah sekarat hanya untuk dirusak. Tempat ini berjarak 70 km dari perbatasan Song. Mönkhe tahu benar betapa berat tugas yang harus dia lalui. SANG PENUNTUT 99 pustaka-indo.blogspot.com


Rencana nya adalah memulai dengan yang besar, dengan membelah musuh menjadi dua. Tiga barisan pasukan akan bertemu di sungai Yangtze dekat Wuchang (sekarang termasuk ke dalam mega-kota Wuhan), kunci memasuki sungai Yangtze yang lebih rendah dan kemudian ke dalam ibukota, Hangzhou. Satu barisan dipimpin Kubilai sendiri, bergerak dari Xanadu melewati jalan ke arah selatan sepanjang kira-kira 1.400 km. Sebenarnya, keterlibatan Kubilai agak diragukan kala itu karena dia menderita encok, panyakit yang dia idap seumur hidup. Ketika Mönkhe menyarankan agar dia digantikan oleh salah seorang keponakan Jenghis, dia menolak. Dia baru saja menyelesaikan pertentangan antara penganut Buddha dan Tao, dan kini tibalah saat - nya bagi dia untuk mulai beraksi. “Encokku sudah lebih baik,” protesnya. “Apakah pantas kakakku pergi bertempur sementara aku di rumah bersantai-santai?” Mönkhe akhirnya membiarkannya. Di Wuchang, Kubilai akan bergabung dengan dua barisan lain: satu barisan dipimpin Uriyang-kadai, yang datang dari Yunnan (jauhnya sekitar 1.500 km), dan barisan ketiga berangkat dari Kaicheng. Mönkhe sendiri akan melaksanakan operasi militer lain langsung ke pusat wilayah ini, langsung bergerak dari selatan ke barat berjarak 650 km, mengambil alih Chengdu di jantung daerah Sichuan, dan akhirnya berbelok ke tenggara sejauh 250 km menuju Chongqing, pelabuhan sungai yang jadi penghubung antara perdagangan di muara sungai Yangtze dan daratan menuju Tibet. Mönkhe mengadakan ritual-ritual sesuai kebiasaan untuk memastikan agar Langit menyertainya, memuja roh sang kakek di makamnya di Burkhan Khaldun dan menebarkan susu dari ternak kuda betinanya mengelilingi istananya. Lalu dia bergerak menuju selatan, melintasi gurun Gobi, melewati wilayah yang pernah bernama Xi Xia dan sekarang termasuk tanah kekaisaran, menuju Kaicheng. Musim panas 1257 dia habiskan di pegunungan Liupan sembari mengumpulkan kekuatan. Musim semi berikutnya, pasukannya menguasai Chengdu dan bergerak melewati kabut Sichuan—tempat yang kabutnya amat tebal sehingga konon anjing-anjing akan menggonggong ketika mereka melihat matahari. Namun pergerakan pasukan ini sangat lambat, karena penaklukan BAGIAN I: MUSIM SEMI 100 pustaka-indo.blogspot.com


harus disertai dengan administrasi; dan di awal 1259, dia belum sampai di Chongqing. Kemudian, terjadilah jeda: untuk menguasai Chongqing, dia mula-mula harus menaklukkan benteng kuat berjarak 60 km ke utara. Berdiri kokoh di puncak bukit setinggi 400 m yang disebut Gunung Nelayan, di sekitar daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Hechuan, benteng ini mengawasi tiga sungai yang mengalir bersama sebelum akhirnya bertemu di sungai Yangtze. Operasi ini membawa Mönkhe pada jeda mematikan. Ribuan pasukannya tewas. Namun, meski sudah diperingatkan para jenderalnya, Mönkhe tetap tak mau menyerah. Di bulan Agustus, ketika berlindung dari cuaca panas ke perbukitan sekitar dan terlalu banyak minum anggur dengan dalih demi meringankan sakitnya, keadaannya makin parah akibat terjangkit masalah yang lebih serius, sepertinya terserang kolera. Dengan serangan ini, dia tak punya banyak peluang. Isi perutnya berubah menjadi air, kejang-kejang menjangkitinya, dan sepuluh hari kemudian dia meninggal. Di titik ini, seluruh operasi militer terhenti karena para pemimpin Mongol mengalihkan perhatian pada urusan suksesi kekuasaan. Pertamatama upacara pemakaman harus dilakukan, menghabiskan waktu sekitar sebulan bahkan mungkin dua bulan: mempersiapkan jenazah sebelum dibawa pulang ke Karakorum yang berjarak 1.800 km, di mana hari berkabung resmi berlangsung empat hari berturut-turut di istanaistana para wanita bangsawan, lalu prosesi akhir berupa pawai berjarak 500 km ke arah timur melewati padang rumput dan bebukitan pengapit kota Ulan Bator hari ini menuju tanah nenek moyang orang Mongol, di hulu sungai Kherlen, melalui daerah pegunungan yang menjaga lembahlembah hulu dan setelah itu barulah sampai di gunung suci Burkhan Khaldun, tempat peristirahatan terakhir Jenghis dan putranya, Tolui. Acara penghormatan terakhir yang luar biasa ini harus diikuti setiap pangeran, setiap bangsawan, setiap putri, masing-masing dengan kuda dan kereta pengiring. Acara ini berakhir dengan pendirian perkemahan yang akan mempersiapkan acara pemakaman. Pemakaman akan dilaksanakan di Tempat Terlarang yang Agung, yang memiliki menaramenara menjulang yang setiap saat mengawasi siapa pun yang mendekat. Akhirnya, sekelompok kecil peratap yang berkabung akan melintasi SANG PENUNTUT 101 pustaka-indo.blogspot.com


sepanjang 20 km lembah sungai Bogd, lalu mendaki punggung gunung yang ditutupi hutan menuju dataran terbuka di balik puncak Burkhan Khaldun. Tempat ini dirancang untuk tetap rahasia: kuda-kuda menapaki rerumputan, lalu pepohonan kecil dan semak belukar pelan-pelan akan menutupi jejak yang ditinggalkan tapak-tapak kuda itu, sementara hujan musim panas dan salju musim dingin akan menutupi kuburan sehingga berubah menjadi es abadi. Karena itu, di mana persisnya letak makam Jenghis, Tolui, dan Mönkhe serta para kaisar berikutnya masih menjadi misteri. Agenda selanjutnya, dewan agung para pangeran dan kepala suku, kuriltai, akan memilih khan pengganti. Namun, saat itu musim dingin sudah datang, sehingga pemilihan tak akan dilaksanakan hingga musim semi tiba. Itu berarti, para calon yang ingin mengajukan diri memiliki waktu tambahan untuk memastikan bahwa mereka memperoleh dukungan yang diperlukan. Lalu bagaimana dengan Kubilai? Dia baru saja menyeberangi sungai yang kini dikenal dengan nama Huai, 250 km dari wilayah Song, saat berita kematian Mönkhe datang kepadanya. Dia telah melakukan perjalanan selama beberapa minggu, melintasi daerah sepanjang 1.000 km, mengutamakan keamanan ketimbang kecepatan dengan menghindari kota benteng Xiangyang, dan 400 km lagi—mungkin sepuluh hari per jalanan—sampai ke tempat pertemuan dengan pasukan lain. Di depan telah menunggu pasukan Song. Para telik sandi mereka mendengar berita kematian Mönkhe, dan mengabarkan berita baik ini sehingga semangat perlawanan pasukan Song makin meningkat. Kubilai menghadapi pilihan sulit: duduk saja tanpa melakukan apa-apa dan memberi Song waktu untuk merencanakan serangan balasan; mundur dan melepaskan wilayah yang sudah siap ditaklukkan; atau terus maju. Dari pengalamannya selama ini, dia tahu yang harus dilakukan. Manakala kakeknya meninggal, dia baru berusia dua belas tahun; usia yang lebih dari cukup untuk terlibat dalam strategi merahasiakan kematian kakeknya dari pihak musuh kala itu, orang Tangut, karena berita kematian akan memberi semangat baru pada musuh. Dia BAGIAN I: MUSIM SEMI 102 pustaka-indo.blogspot.com


membicarakan masalah ini dengan orang kepercayaannya, Batur. Batur, seusia dengan Kubilai, berasal dari keluarga militer terkenal, cucu jenderal besar Jenghis bernama Muqali (Mukhali dalam ejaan lain). Dia mengerti, dan mereka berdua pun mengambil keputusan. Mereka akan berpura-pura bahwa kematian itu adalah berita bohong yang sengaja dirancang dan disebarkan untuk menebarkan ketakutan dan kesedihan. “Kita acuhkan saja rumor ini,” kata Kubilai, menurut Rasyiduddin. “Kita datang ke sini dengan bala pasukan bagaikan semut dan belalang. Bagaimana mungkin kita dapat mundur sementara tugas kita belum tuntas?” Pergerakannya terus melaju, menuju semesta air bernama Yangtze. Dari titik di mana dia meninggalkan daerah Three Gorges, 400 km ke hulu, Yangtze bagaikan sungai Amazon, berkelok-kelok dengan malas di sela-sela dataran persawahan, ketinggiannya hanya menyusut 2,5 cm setiap kilometer ke arah hulu. Dia lebih mirip laut di daratan ketimbang sungai, mirip gurat-gurat tetesan tinta di atas kertas. Di zaman Kubilai, Yangtze nyaris tanpa tepian, sehingga dia bisa meluber ke mana-mana. Di titik ini, sungai Yangtze adalah jejaring kelak-kelok aliran dan danau, membentuk rintangan air selebar 10 km. Menyeberanginya harus dilakukan dengan sangat cepat; dan Kubilai pun berhasil menyeberanginya, karena dia harus segera sampai di Wuchang, disusul tiga minggu kemudian oleh 20.000 pasukan Uriyangkadai dari Yunnan. Mereka harus bekerja keras kala itu, menaklukkan benteng-benteng di jalan-jalan pegunungan, kehilangan 5.000 orang akibat penyakit. Kedatangan mereka nyaris langsung melumpuhkan Wuchang. Kota ini sudah siap menyerah tatkala, di awal Oktober, rombongan pasukan Song, yang tak jadi berhadapan dengan Mönkhe karena dia keburu meninggal, datang dan mengadakan perlawanan terhadap Kubilai. Entah bagaimana, mereka berhasil melewati pasukan Mongol—mungkin lewat sungai—dan langsung memasuki kota. Ini membuktikan bahwa pengepungan yang dilakukan pasukan Mongol tak seketat yang seharusnya. Buntu. Tak ada yang jadi pemenang. Kubilai menghadapi pilihan sulit: terus mengepung Wuchang atau SANG PENUNTUT 103 pustaka-indo.blogspot.com


kembali ke Mongolia, ikut terlibat dengan urusan peralihan kekuasaan. Lama-kelamaan, strategi pasukan kekaisaran ini makin disibukkan oleh urusan kembali pulang. Pada bulan Desember, Kubilai memutuskan dirinya tak bisa lebih lama lagi dalam keraguan. Namun apa yang dipilih: menyelesaikan tugas atau mundur? Komandan pasukan Song, Jia Sidao, seorang diplomat licin yang tahu pasti tentang tekanan yang dialami lawannya, berusaha memengaruhi lawannya agar mundur. Jia, salah satu pria paling terkenal dan kontroversial di zamannya, punya peran penting dalam kisah Kubilai. Kakek dan ayahnya berasal dari kalangan militer tingkat menengah; tak ada yang istimewa, namun cukup makmur sehingga mulut Jia muda dapat disinggahi sendok perak. Di kota kelahirannya, ibukota Song, Hangzhou, dia salah seorang jeunesse dorée, yang menggemari gadisgadis cantik, minum, dan judi. Dia juga sangat beruntung. Adik perempuannya terpilih sebagai selir kaisar; dia jadi selir yang paling disenangi kaisar, memberinya seorang anak perempuan, satu-satunya anak kaisar yang bertahan hidup, dan kemudian termasuk ke dalam kelompok Wanita Kaisar Paling Berharga di harem. Pada 1236, kaisar jatuh sakit dan beberapa pejabat senior istana mulai menyusun rencana untuk menurunkannya dari takhta. Jia mendengar rencana ini, lalu dia memberitahu adiknya, yang kemudian memberitahu kaisar agar segera menyelamatkan mahkotanya. Setelah itu, Jia menerima berbagai jabatan penting. Saat itu Jia baru berusia 40 tahun, tapi dia sudah kaya raya dan berkuasa. Dia menyenangi seni dan barang antik. Dia mempunyai istana indah di perbukitan yang menghadap ke Danau Barat, tempat dia sering mengadakan pesta bagi ribuan tamunya. Dengan waktu dan harta berlimpah, dia dapat melakoni hobi-hobi yang aneh: dia menyenangi para pemain kriket berkelahi satu sama lain. Dia memang mahir dalam permainan kriket dan teknik-teknik kasarnya, dan dia pun menulis buku panduan tentang bagaimana meningkatkan dan melatih para pemain kriket yang unggul. Dia pun punya bakat sastra. Karyanya yang lain, sebuah buku umum tentang pikiran dan pengalamannya, berjudul Random Excerpts from the Hall Where One Enjoys Life, dia tulis dengan nama samaran “Orang Tua Setengah Pemalas”. Saingansaingannya tentu saja menganggap dia orang sombong dan sembrono, BAGIAN I: MUSIM SEMI 104 pustaka-indo.blogspot.com


dan selalu bergunjing tentang cara dia menggelapkan uang negara demi memperkaya Xanadunya sendiri, Taman Tandan Wewangian, dengan berbagai benda seni bernilai tinggi. Pada 1259, saat berusia 46 tahun, dia ditunjuk sebagai Perwakilan Kekaisaran, yang bertanggung jawab memperbaiki keuangan Song yang tengah guncang serta memperbaiki kekuatan angkatan bersenjata. Dengan demikian, dia bertanggung jawab penuh atas pertahanan Wuchang, serta dalam posisi yang tepat untuk memengaruhi Kubilai terkait rencana selanjutnya. Jia memilih strategi berisiko tinggi. Dia diam-diam mendekati Kubilai guna mengusulkan persekongkolan, suatu pengkhianatan yang tak lama kemudian harus dia bayar. Dia menawarkan upeti tahunan dari Song, sebagai imbalan jika orang Mongol setuju menjadikan sungai Yangtze sebagai batas baru kedua negara. Kubilai tak menerima tawaran ini. “Maksud Anda memang baik, karena Anda lebih mengutamakan perdamaian demi hidup orang banyak,” jawab Kubilai kepada utusan Jia. “Namun sekarang, setelah kami menyeberangi sungai Yangtze, apalah guna tawaran ini?” Orang Mongol tak memerlukan perjanjian damai ini untuk memperoleh apa yang dapat mereka ambil dengan mudah; dan kesepakatan perihal perbatasan baru akan menjadi kendala diplomatik manakala tiba waktunya untuk melakukan penaklukan. Lebih baik mundur sementara waktu dan kembali lagi kelak di saat yang tepat, terutama–dan inilah faktor penentunya–karena hal-hal yang tak menyenangkan sedang berlangsung di kampung halaman. Ketika Kubilai mendengar kabar dari istrinya yang sedang cemas, adik bungsunya Ariq Böke, Ariq Yang Kuat, penguasa daerah pedalaman kekaisaran, sedang menyusun pasukan sendiri atas alasan yang tak jelas. Tindakan ini pasti berhubungan dengan masalah suksesi, karena di antara tiga bersaudara yang masih hidup, Hulagu, penguasa Persia, sama sekali tak berminat kembali pulang; hanya Ariq dan Kubilai yang tersisa. Bisakah Kubilai kembali pulang? Kalau pun Kubilai ingin alasan yang lebih jauh, hal itu dia peroleh dua hari kemudian, ketika para pembawa pesan datang dari Ariq sendiri, yang tak membawa kabar SANG PENUNTUT 105 pustaka-indo.blogspot.com


apa-apa selain salam basa-basi dan kekhawatiran tentang kesehatan Kubilai. Kubilai pun curiga. Dia bertanya pada mereka apa yang sedang dilakukan tuan mereka dengan pasukan yang dia bangun. Tak menyangka Kubilai sudah mendengar apa tindakan Ariq, utusan-utusan ini pun ber - bohong. Pasukan? Pasukan apa? “Kami ini para budak yang tak tahu apa-apa. Kabar itu bohong sama sekali.” Kubilai pun mencium tipuan. Dalam pertemuan rahasia dengan para jenderal utamanya, dia memerintahkan mereka bergerak ke utara untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Ariq seorang tradisionalis. Dia tak senang melihat saudaranya melenceng dari cara-cara lama—punya istri Kristen, punya tanah perdikan di daerah China—dan dia berusaha mendapatkan dukungan di kampung halaman untuk memastikan bisa terpilih menjadi khan oleh dewan pangeran di musim semi berikutnya. Tentu saja, dia tak ingin Kubilai mengetahui rencananya. Beberapa minggu kemudian, Kubilai, setelah bergerak 600 km ke arah utara mendekati Sungai Kuning, mengirim pesan pada Ariq, menanyakan ihwal pasukan yang sedang dia bangun—untuk keperluan apa? Mengapa tak diserahkan kepadanya, Kubilai, dalam rangka merebut China? Seorang pembantu Ariq mengatakan bahwa Kubilai nampaknya sudah mengira-ngira apa yang sedang terjadi. Dia menyarankan agar Ariq mengirim pesan kepada Kubilai, mengatakan bahwa rekrutmen pasukan telah dihentikan dan berusaha meyakinkannya dengan hadiah berupa elang dan binatang pemburu lainnya. Dan begitulah. Kubilai nampaknya menerima pesan ini—“Pikiran semua orang mulai bisa tenang”—namun dia tak bisa dikibuli. Sekarang, politik jadi lebih penting ketimbang pembangunan kekaisaran. Dia langsung memerintahkan para jenderalnya untuk menghentikan pengepungan Wuchang, meninggalkan pasukan seadanya sebagai pangkalan garis depan, dan langsung bergerak pulang ke Mongolia. Setidaknya, ini merupakan akhir dari invasi ini. Tak lama setelah itu, Jia berhasil menguasai kembali apa yang telah direbut darinya. Song tetap tak tersentuh selama 20 tahun berikutnya. Kubilai memusatkan seluruh perhatiannya pada pertentangan yang dengan cepat berubah menjadi perang saudara. BAGIAN I: MUSIM SEMI 106 pustaka-indo.blogspot.com


Ketika tahun 1259 beralih ke 1260, taktik licik dibalas taktik licik tandingan, dengan pesan-pesan yang berlalu-lalang melintasi stepastepa dan gurun Gobi dengan kuda berkecepatan penuh. Dua calon kaisar salib-menyalib seakan-akan mereka dan para pendukungnya adalah bidak-bidak yang bergerak cepat dan gesit di atas papan catur. Ariq mencoba mengundang dan mengumpulkan dewan pangeran agar memilihnya menjadi khan. Namun usaha ini gagal. Cara ini jelas-jelas melanggar aturan sehingga beberapa orang pangeran tak menyetujuinya. Dia pun mencoba strategi lain. Dia mengirim pesan, memohon agar Kubilai lekas pulang dan ikut dalam acara berkabung atas saudaranya yang meninggal. Kubilai, saat itu di Beijing, tahu dia akan masuk perangkap jika dia menuruti permintaan ini. Dia membalas pesan Ariq dengan mengatakan bahwa pasukannya baru kembali dari operasi militer, dan mereka perlu istirahat. Tak lama setelah utusan Ariq pergi, Kubilai mengirim utusan kepada pasukan yang dipimpin Mönkhe saat dia meninggal. Namun, di manakah mereka berada? Mereka tetap mengucilkan diri dari hiruk-pikuk politik, dan bersembunyi di tanah orang Tangut—daerah yang dikenal dengan nama Xi Xia sebelum ditaklukkan Jenghis. Ketika memasuki musim semi, Ariq, yang baru sampai di markas musim panasnya di pegunungan Altai di Mongolia barat, menyadari bahwa dia tak bisa menunda-nunda lagi, dia tak bisa mengambil risiko melakukan perjalanan ke Karakorum, barangkali karena tempat ini berada dalam jangkauan pasukan Kubilai. Dia mengumpulkan pangeran yang bisa dipengaruhi, mengumumkan diri sebagai khan dan mengirimkan pesan, seperti diungkapkan Rasyiduddin, bahwa Hulagu, Berke (penguasa baru Golden Horde di Rusia selatan), Chaghadai di Asia Tengah dan pangeran-pangeran lain telah sepakat mengangkat Ariq sebagai khan, dan “Kalian tak boleh mematuhi kata-kata Kubilai”. Kubilai pun berang. Ini pemberontakan terang-terangan, bukan hanya menentang dia secara pribadi tapi juga tata cara lama perihal bagaimana seharusnya khan baru dipilih dalam pertemuan dewan pangeran. Pengumuman ini juga kebohongan. Dua khan, yakni khan Persia dan khan Golden Horde, tak berada di Mongolia, dan keduanya SANG PENUNTUT 107 pustaka-indo.blogspot.com


ketika itu justru bermusuhan perihal wilayah kekuasaan dan agama. Hulagu memang berniat kembali ke Mongolia setelah mendengar kematian Mönkhe, tapi kekalahan di Mata Air Goliath memaksanya berbalik. Berke telah memeluk Islam agar bisa memimpin penduduk Muslim dengan lebih baik; sedangkan Hulagu telah membunuh ribuan orang Muslim. Kedua pangeran ini—yang satu pro-Muslim sementara yang satu lagi anti-Muslim—memperebutkan wilayah yang kini bernama Azerbaijan. Ketika Hulagu kembali menyelematkan apa yang sudah dia kuasai, Berke memanfaatkan saat-saat lemah sepupunya ini dengan menyatakan perang. Jadi, bagaimana mungkin dua orang yang sedang berseteru panas ini bersepakat tentang khan baru? Ariq telah bermain api. Kubilai bukan satu-satunya pihak yang marah akibat ulah Ariq. Para pangeran dan jenderal yang tak menanggapi ajakan Ariq pun berkumpul dengan Kubilai. Demi menyelamatkan kekaisaran, hanya satu hal yang perlu dilakukan: dia harus menyatakan dirinya sebagai khan, dengan tingkat keabsahan setinggi mungkin. Ini tak bisa dilakukan dengan keabsahan total, karena akan memerlukan dewan penuh di Karakorum yang belum sepenuhnya dia kuasai. Demikianlah, pada awal Mei 1260, mereka yang mendukung Kubilai dipanggil ke Xanadu untuk perayaan.1 Kedua belah pihak relatif seimbang. Kubilai bisa saja mengajak Hulagu bergabung di pihaknya, namun Hulagu sedang sibuk melawan Berke. Sekali lagi, Kubilai harus meninggalkan sumber-sumber kekayaan China di belakangnya, yang untuk mengamankannya dia telah melakukan usaha terbaik dengan memperlihatkan kebaikan: dia memerintah dengan kebaikan dan cinta, pajak yang rendah, memberi makan penduduk yang kelaparan, menghormati para leluhur, pendeknya melakukan segala hal yang akan dilakukan oleh seorang kaisar China. Perintah dan amanat dititahkan dengan gaya lembaga China. Di bawah panduan penasihat Chinanya, Wang O, dia menjuluki kekuasaannya dengan nama Zhong Tong, “Pemerintahan Moderat”. Sebagian ilmuwan BAGIAN I: MUSIM SEMI 108 1 Ini adalah urut-urutan peristiwa menurut Rasyiduddin. Sumber lain mengatakan, pemasangan mahkota Kubilai terjadi lebih dahulu, dan tak lama kemudian diikuti oleh Ariq. Namun perbedaan ini tidak berpengaruh banyak. Siapa yang pertama mengklaim jadi khan baru tidak memengaruhi apa yang terjadi. pustaka-indo.blogspot.com


menganggap hal ini dilakukan untuk menegaskan mandat Kubilai yang pro-China, dengan mengaitkan antara pemerintahannya dan I Ching (Yi Jing dalam ejaan pinyin), Buku Perubahan, semacam kitab ramalan yang sudah berusia sekitar 2.000 tahun. Potongan sejarah ini, saya kira, hanya sedikit menerangi pilihanpilihan yang sedang dihadapi Kubilai. Asal-usul Kubilai adalah padang rumput, namun dia memiliki tanah perdikan di wilayah China; dia adalah bagian dari penakluk daerah utara dan beberapa daerah selatan, dan masih sedang bersiap-siap menaklukkan sisa wilayah lain. Sekarang, saat berada di sebuah kota bergaya China yang dibangun di padang rumput, dia akan menyatakan diri sebagai kaisar—namun kaisar apa? Kekaisaran Mongol? Kekaisaran China? Dia memerlukan bantuan untuk memilih cara terbaik menangani masalah ini. Tetapi seperti kita ketahui, dia tidak meminta agar para Shamanis Mongol melihat tulang punggung domba yang dibakar dan dipatahkan guna mendapatkan petunjuk. Dia malah memanggil ahli China yang tahu bagaimana menggunakan I Ching. I Ching menduduki posisi unik dalam kebudayaan China. Konfusianisme dan Taoisme sama-sama mengaku tecermin dalam buku ini. Sebagaimana diketahui Kubilai dari para penasihatnya, inti buku ini, I (Yi), Perubahan, berarti aliran kehidupan, disimbolkan sebagai Jalan Air atau Tao, di mana kita dapat melihat yang terjadi di masa depan dan di masa lalu asalkan kita dapat membaca simbol dengan tepat. Sistem ramalan yang sangat rumit ini, yang menggabungkan mitos, simbol, ritual, pemandangan, tabiat, bahasa, dan sifat dasar manusia lainnya, memiliki akar jauh ke masa lalu sekitar 5.000 tahun—yakni ke masa pra Dinasti Shang, sebelum Zaman Perunggu, sebelum zaman tulisan—dan tingkat kerumitan serta (menurut sebagian orang) kebijaksanaannya berkembang sesuai masa-masa selanjutnya. Dia adalah satu di antara Enam Kitab Klasik, dasar bagi segala ilmu. Setiap orang, dari kaisar hingga penyapu jalan, akan mencari petunjuk ke dalamnya di masa-masa perubahan atau saat akan membuat keputusan, terutama menyangkut saat-saat genting ketika Mandat Langit jatuh kepada sebuah dinasti baru, yang SANG PENUNTUT 109 pustaka-indo.blogspot.com


dengan itu dia menawarkan pengetahuan untuk menyelami dunia yang tak terlihat, di mana peristiwa-peristiwa di dunia jasmani memberi petunjuk. Bergantung pada tingkat skeptisisme dan kreativitas Anda, buku ini akan menjadi sebatas kumpulan nukilan yang membingungkan atau kebenaran yang menakjubkan. Seperti jalaran tinta yang diteteskan ke atas kertas, Anda dapat membaca di dalamnya masalah-masalah paling berat yang Anda rasakan dan menemukan jalan keluar yang sama sekali tak terduga. Di masa kini, banyak yang mengatakan, seperti kata Jung, bahwa buku ini adalah “sebuah cara menjelajahi ketidaksadaran”, cara menerobos pikiran yang saling berlawanan untuk sampai pada sebuah keputusan. Persoalannya, bagaimana memahami ungkapan-ungkapan dalam buku ini. Di sinilah para ahli diperlukan. Apa yang diberitahukan kepada Kubilai adalah apa yang ingin didengar oleh kaisar China mana pun. Bayangkanlah suasana ini. Kubilai, di istana barunya, sedang bingung dengan apa yang akan dia lakukan. Dia tahu bahwa bagaimana pun dia harus mengklaim takhta, tak peduli tempat dan waktunya. Namun, dia harus mengukuhkan klaim ini dengan memberi nama pada wilayah kekuasaannya, juga menetapkan kalender baru, seperti yang semestinya dilakukan setiap kaisar baru China. Tetapi, apakah itu harus dia lakukan di sini? Sekarang? Dan, apa nama kekaisaran yang harus dia pilih? Para ahli mempersiapkan diri memberi konsultasi tentang masalah yang dihadapi Kubilai, dengan 50 tangkai bunga yarrow untuk membuat satu dari 64 diagram bergaris enam (hexagram), yang kemudian akan memperlihatkan Keputusan, Gambar, dan Pendapat. Ini akan diperumit lagi oleh fakta bahwa para ahli itu berbicara dengan bahasa China sementara Kubilai tidak. Seluruh kegiatan ini berlangsung lewat perantaraan penerjemah. Setiap enam garis yang akan membentuk hexagram harus dibuat dengan menggabungkan keputusan-keputusan acak, upacara-upacara, dan perubahan-perubahan numerik yang rumit. Dan harus diingat, ini semua menyangkut bagaimana memahami perubahan. Satu tangkai disisihkan (saya tak tahu mengapa; barangkali untuk menghasilkan jumlah ganjil). Empat puluh sembilan tangkai sisanya dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Mengikuti aturanaturan kuno, Kubilai pelan-pelan memindahkan tangkai-tangkai bunga BAGIAN I: MUSIM SEMI 110 pustaka-indo.blogspot.com


dari tumpukan ke tumpukan lain dan kemudian ke tangan, sampai dia memegang sembilan atau lima tangkai di sela jari-jari tangan kanannya. Tangkai-tangkai ini disisihkan, dan diberi nilai angka-angka baru. Ini dia lakukan tiga kali. Setelah itu, tiga pilihan ini disatukan untuk menghasilkan angka terakhir, yang kemudian menghasilkan garis putus atau tak terputus, yang—tergantung angka yang ada—akan menentukan apakah transformasi diteruskan atau tidak. Kali ini, muncul garis “yang muda”, garis positif, tak terputus, sebuah garis yang tak memerlukan transformasi selanjutnya. Kubilai mengulangi prosedur ini enam kali, menghasilkan enam garis. Dan, ajaib! Keenam garis ini sama. Hexagramnya terdapat pada urutan pertama dalam katalog tradisional, “Sang Kreatif,” Qian: ——————— ——————— ——————— ——————— ——————— ——————— Hasil ini sangat luar biasa. Kehendak kreatif memancar dari surga. Dia terdiri dari dua trigram, keduanya disebut Qian. Trigram yang jadi pasangan mewakili tindakan. Maka, seluruh tanda ini merepresentasikan kekuasaan utama, kekuasaan Langit, tindakan kreatif dari Tuhan dan citra-Nya di dunia, sang pemimpin. Kubilai tahu perihal Langit, karena dari Langit Mongol atau dewa langit, Tenger, kakeknya (Jenghis) menerima mandat untuk berkuasa. Jika Kubilai membuat keputusan yang tepat dan menjadi penguasa, dia akan mewarisi mandat itu, pertama sebagai khan Mongol, dan setelah itu sebagai penakluk dunia, dan itu juga berarti dia harus jadi kaisar China, yang hanya memerintah dengan Mandat Langit. Inikah takdirnya? Jika memang begitu, apa jalan terbaik yang harus dia tempuh untuk mencapainya? Dia pun menunggu, dengan gembira. Peramal istana menyatakan Putusan: “Kerja Kreatif benar-benar SANG PENUNTUT 111 pustaka-indo.blogspot.com


akan sukses, lanjutkan dengan ketekunan.” Saya dapat membayangkan Kubilai bersorak dalam hati. “Apa?” Peramal itu menarik napas sebelum memberikan penjelasan. Ketika seseorang memperoleh pertanda seperti ini, itu berarti keberhasilan akan datang padanya dari inti alam semesta, dan segalanya bergantung pada usahanya mencari kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan orang lain lewat satu-satunya cara yang diizinkan, yaitu berpegang teguh dan tekun dengan jalan yang benar. Salah satu ciri ramalan ini adalah kata yang diterjemahkan menjadi “mahamulia (sublime)”, dan bisa juga dimaknai “asali (origin), prima (prime), pertama (first), agung (great).” Kata itu adalah yuan. Peramal itu belum selesai. Takdir khan adalah memperlihatkan empat ciri, yakni kemuliaan, kekuatan, kekuasaan, dan ketekunan. Gerakan Langit penuh kekuasaan. Maka, manusia superior membuat dirinya kuat dan tak kenal lelah. Karena dia melihat dengan begitu jelas sebab dan akibat, dia menuntaskan enam langkah di waktu yang tepat dan dia berdoa kepada surga demi kesuksesan enam langkah ini pada waktu yang tepat, seakan-akan demi enam naga. Dia menjulang tinggi mengatasi semua makhluk, dan seluruh tanah disatukan dalam damai. Sementara lain-lainnya tetap sama. Ramalan ini kabur dan mistis, dan tetap kedengaran sangat arif dan bijaksana dalam setiap versinya (versi yang saya kemukakan di sini yaitu terjemahan Cary Baynes dari terjemahan Richard Wilhem ke dalam bahasa Jerman dari bahasa China). Yang diperoleh Kubilai dari ramalan adalah pengukuhan lebih jauh bahwa dia sudah berada di jalur yang tepat. Dari pembacaan ramalan ini dia juga memperoleh nama untuk tanah kekuasaannya kelak: Zhong Tong, istilah kabur yang kadang-kadang bisa berarti Kekuasaan Pusat sekaligus Kekuasaan Moderat. Akhirnya, ketika dia sudah dimahkotai, dia makin merasa perlu memberi nama bagi apa yang kelak akan menjadi dinasti baru. Memakai nama itu sekarang akan menimbulkan kesan sombong; tapi bagaimanapun juga pembacaan ramalan tadi memberinya gagasan tentang sebuah nama dinasti yang akan tetap dia ingat sampai datang saat yang tepat untuk memakainya, nama yang menggambarkan seperti apa dinasti yang dia inginkan: yang BAGIAN I: MUSIM SEMI 112 pustaka-indo.blogspot.com


sublim, yang pertama, yang agung, Dinasti Yuan. Pada 5 Mei 1260, Kubilai mulai bertindak. Para pangeran yang berkumpul di Xanadu memohon pada Kubilai sebanyak tiga kali agar dia bersedia menerima mahkota. Seperti yang lumrah dijalankan sesuai tradisi, dia menolak dua kali; kali ketiga barulah dia menerima permintaan ini dengan rendah hati. Para pangeran mengucapkan sumpah setia mereka, dan menyatakan dia sebagai kaisar baru. Kekaisaran pun memiliki dua Khan Agung, mirip gereja Kristen memiliki dua paus, paus dan anti-paus, selama masa Pertentangan Besar pada 1378-1417. Di sini juga ada khan dan anti-khan. Lalu siapa yang menjadi khan sesungguhnya? Operasi militer ke Song mengalami penundaan. Kubilai mencoba jalur diplomasi dengan mengirim utusan ke Hangzhou, namun tanggapan Jia adalah menahan utusan ini. Sepanjang musim panas 1260, permusuhan antara dua saudara makin menjadi-jadi, masing-masing saling mendahului menaikkan taruhan. Salah seorang kepercayaan Ariq, Durchi, yang hadir saat penobatan Kubilai, melarikan diri dan membawa kabar penobatan itu. Tetapi sayang, dia berhasil dikejar dan ditangkap. Ariq kembali ke Karakorum untuk menjalankan pemerintahannya dari sana. Kubilai mencoba menaruh orangnya, Abishqa, cucu salah seorang sepupunya, untuk mengurusi daerah Chaghadai di Asia Tengah. Namun misi ini—Abishqa, dua pangeran, dan seratus prajurit— ditangkap oleh Ariq, yang punya calon sendiri untuk dinobatkan sebagai khan di daerah Chaghadai. Kemudian terjadilah gesekan bersenjata untuk pertama kalinya, di tempat yang tak dikenal, di sana Ariq mengalami kekalahan. Saat membalas kekalahan ini, Ariq berhasil menangkap Abishqa, dua pangeran, dan seratus prajurit pengiringnya. Mereka semua dihukum mati. Kubilai menutup jalur perdagangan di gurun Gobi, membuat warga Karakorum kelaparan karena sampai saat itu bahan makan mereka dipasok dari China. Dia dapat melakukan hal ini karena sepupunya, Khadan, menguasai Xi Xia dan wilayah Uighur yang lebih jauh ke barat. Kedua orang ini dapat memblokade daerah seluas 2.300 km dari Beshbaligh, di perbatasan daerah Chaghadai, sampai Xanadu. SANG PENUNTUT 113 pustaka-indo.blogspot.com


Ketika musim dingin datang, pemboikotan ini memaksa Ariq merampok para petani dan tukang yang miskin di lembah-lembah Siberia di utara. Kubilai tak mau ambil risiko. Dia merekrut lebih banyak pasukan, membawa 10.000 ekor kuda tambahan, memesan 6.000 ton beras— untuk cadangan selama setahun—lalu membawa pasukannya yang punya perbekalan cukup ke utara menuju jantung wilayah Mongolia. Tak jauh dari Karakorum dia mendengar kabar hukuman mati terhadap orang-orangnya, dan sebagai balasan dia pun menghukum mati Durchi. Ariq, saat itu terdesak ke lembah Yenisey, sumber pasokan makanannya di Siberia, menjadi putus asa. Dia mengirim permintaan maaf dan janji kepatuhan: “Aku, adikmu, telah melakukan kejahatan dan melampaui batas karena kebodohan. Kau adalah kakakku, dan… aku akan mematuhi apa pun perintahmu.” Namun Kubilai tak berhenti. Pertempuran terus berlanjut, hingga terjadi pertempuran di musim gugur berikutnya di padang rumput Mongolia timur. Dua pasukan bertempur, dengan begitu banyak korban di kedua belah pihak dan dengan hasil yang tak pasti. Namun Ariq sudah makin lemah. “Bingung dan putus asa, dengan pasukan yang sudah lemah dan kelaparan,” dalam kata-kata Rasyiduddin, “dia mundur ke hutan dan pegunungan Siberia. Para sekutu menolak dia. Alghu, penguasa bonekanya di daerah Chaghadai, tak bersedia memberi bantuan dan malah menghukum mati para pejabat Ariq; kekhanan runtuh akibat serangan dan serangan balasan, sementara ibukotanya, Almaligh, menjadi tempat “kelaparan dan bencana”. Ke kota inilah Ariq melarikan diri, mencoba mengikuti sekutunya di pedalaman Asia Tengah, sementara Kubilai sudah menguasai Karakorum di musim dingin tahun itu. Di musim semi, Ariq tak mendapat dukungan sama sekali. Para penasihatnya mengetahui hal ini dari isyarat yang mereka lihat di mana sebuah angin kencang—bulan Mei di stepa-stepa Asia Tengah terkenal dengan anginnya yang ganas—mencabut dan menerbangkan tenda utama dari 1.000 pancangnya, mencabut tiang utamanya dan melukai banyak orang yang berada di dalamnya. Bagi para penasihat Ariq, kejadian ini adalah isyarat untuk menyerah. Pada saat itu, di awal 1262, Ariq selamat berkat sebuah BAGIAN I: MUSIM SEMI 114 pustaka-indo.blogspot.com


pemberontakan melawan Kubilai yang sedang bergerak pulang. Biang keroknya datang dari Shandong, pusat China utara, daerah pantai yang kaya dekat muara Sungai Kuning. Pemimpin perang setempat, Li Tan, adalah menantu salah seorang pejabat tinggi Kubilai dan pernah membantu Mönkhe saat menyerang Song. Kubilai mengira dia sekutu setia dan mendukung aksi militernya dengan pasokan uang tunai. Taruhannya cukup baik, karena putra Li setia padanya dan karena itu dapat dijadikan semacam sandera. Namun Li, yang mengendalikan perdagangan garam dan penambangan tembaga, lebih tertarik mengembangkan tanahnya sendiri ketimbang terus bersekutu dengan Kubilai. Menurutnya, sebagai orang China, dia akan bermasa depan lebih baik dengan Song ketimbang dengan orang Mongol. Dia pun menyusun siasat agar anaknya menjauh dari istana Kubilai, lalu mengajak pasukannya untuk tidak setia kepada orang Mongol, merampok gudang persediaan. Dia jelas bermaksud mendirikan kerajaan sendiri. Butuh waktu beberapa bulan untuk menumpas dia—secara harfiah, penumpasan ini berupa hukuman dimasukkan ke dalam karung dan kemudian diinjak-injak kuda sampai mati, nasib yang ditentukan oleh tradisi orang Mongol bagi bangsawan yang melakukan kesalahan. Kubilai meneruskan penumpasan ini dengan menghukum mati mertua Li, dan setelah itu kembali pada urusannya dengan Ariq. Pemberontakan di Shandong adalah babak paling buruk, namun Kubilai tetap berhasil mengatasinya. Walaupun di masa selanjutnya dia selalu berhati-hati dalam memercayai orang China, namun dia tetap meminta saran kepada para penasihat Chinanya dengan hati-hati, dan memerintahkan pasukannya untuk melindungi warga sipil. Saat itu dia pun menyadari perlunya organisasi yang lebih baik untuk menjalankan mesin perangnya. Biro Urusan Militer, yang berdiri pada 1263, untuk pertama kalinya dalam sejarah membedakan dengan tegas antara administrasi sipil dan militer. Perang menjadi semacam cosa nostra bagi Mongol, dengan pengecualian orang China, semacam gabungan antara kementerian perang dan agen rahasia yang dijalankan orang Mongol. Ketika mendirikan lembaga ini, Kubilai mengambil langkah penting yang berbeda dari kekaisaran kakeknya yang berbasis stepa, yang disatukan oleh kesetiaan kepada pribadi Jenghis. Jawatan ini men - SANG PENUNTUT 115 pustaka-indo.blogspot.com


jadi sebuah birokrasi paralel, dengan deretan pejabat elite yang loyal bukan kepada Kubilai secara pribadi tetapi kepada ciptaannya, negara. Musim dingin 1263-4 adalah masa tersulit bagi pasukan Ariq yang terjebak di Asia Tengah. Makanan, senjata, dan teman sudah menipis. Pasukan dan kuda kelaparan. Para sekutu—bahkan beberapa anggota keluarga Ariq sendiri—membelot. Sementara di pasukan sayap, Alghu mengumpulkan pasukannya dan berbalik melawan. Pada 1264, Ariq menghadapi kenyataan bahwa dia tak bisa bertahan lebih lama lagi dan meminta gencatan senjata, adik tunduk pada kakak. Seperti dilukiskan Rasyiduddin, pertemuan kedua kakak-beradik ini sangat mengharukan. Ariq mendekati tenda raksasa Kubilai dengan cara tradisional, menyibak tirai penutup pintu dan membiarkan tirai itu menggantung di atas pundaknya, menunggu ajakan untuk masuk dari tuan rumah. Setelah dipanggil ke dalam, Ariq lalu berdiri di antara para menteri Kubilai, seperti seorang siswa nakal yang ketahuan membolos. Kedua orang bersaudara itu saling tatap. Jika ini kisah novel, saya akan katakan pada Anda bahwa keduanya saat itu terkenang masa kecil mereka, tahun-tahun yang mereka habiskan di bawah pengawasan keras Sorkaktani, kenangan tentang kebaikan dan kelebihan ibu mereka: tabah, toleran, dan pemaaf. Bahkan Rasyiduddin pun, seperti yang biasa disebut dalam skenario film, menyebut kejadian ini sebagai sebuah momen. Kubilai melunak. Kedua pria ini kemudian berurai air mata. Kubilai memberi isyarat Ariq untuk duduk. “Adikku,” katanya, “dalam perselisihan dan permusuhan ini, apakah aku yang benar ataukah kamu?” Ariq tak siap untuk mengakui bahwa yang terjadi adalah kesalahannya sendiri: “Sebelumnya akulah yang benar, tapi hari ini engkau,” katanya. Jawaban ini nyaris sudah cukup bagi Kubilai. Namun tidak bagi saudara Abishqa, pangeran yang dibunuh salah seorang jenderal Ariq, Asutai. Dia memprotes. “Aku membunuhnya atas perintah penguasa saat itu, Ariq Yang Kuat,” kata Asutai. “Hari ini, Kubilai Khan adalah penguasa seluruh muka bumi. Jika dia memerintahkan membunuhmu, aku akan melakukannya,” kata saudara Abishqa BAGIAN I: MUSIM SEMI 116 pustaka-indo.blogspot.com


Pemimpin lain berusaha menenangkan keadaan. Hari ini bukan waktunya untuk mengungkit-ngungkit masa lalu. Sekarang, saatnya kita bergembira ria. Kubilai sepakat. Ariq diberi tempat di antara para pangeran. Namun, dia tidak bebas. Hari berikutnya, dia adakan semacam rapat untuk membahas mengapa semuanya bisa terjadi. Lalu banyaklah jari yang menunjuk ketika para komandan berdebat tentang siapa yang paling banyak memengaruhi Ariq. Ini adalah persoalan pelik, karena Kubilai ingin menentukan siapa yang bersalah, namun dia punya alasan untuk tak menghukum mati adiknya. Akhirnya, sepuluh sahabat Ariq dihukum mati, sementara Ariq dan Asutai lepas dari tuntutan hukum mati, meski tetap ditahan. Lalu bagaimana dengan nasib Ariq selanjutnya? Kubilai ingin memanggil tiga khan di bawahnya—Hulagu, Berke, dan sekarang Alghu—untuk membahas masalah ini, namun ketiganya masih sibuk. Hulagu dan Berke masih berperang, sedangkan Alghu baru saja menduduki kekuasaan. Tak satu pun dari mereka bisa pulang. Lalu siapa yang mampu mengamankan khan dari saudaranya yang jadi biang masalah ini? Keluarga jelas tak bisa berbuat apa-apa; tidak pula Langit Abadi. Ariq saat itu belum berusia 50 tahun dan sehat wal afiat, sebuah peringatan bahwa kekuasaan Kubilai masih bisa terancam. Lalu tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, dalam kondisi yang tak bisa dijelaskan, begitulah Rasyiduddin menerangkan, Ariq “jatuh sakit dan meninggal”. Apakah dia dibunuh? Sebagian orang kala itu mengira demikian, dan sebagian lagi menganggap begitu di masa selanjutnya. Namun, kejadian ini adalah jalan keluar paling baik bagi persoalan yang nyaris mustahil diselesaikan ini. Selanjutnya, Langit pun langsung turun tangan. Beberapa bulan setelah kematian Ariq, Hulagu di Persia, Berke di Golden Horde, dan Alghu yang baru menduduki posisi khan di wilayah Chaghadai juga meninggal dunia. Betapa sia-sia waktu lima tahun yang mereka lalui— sebagai akibat perlawanan Ariq kepada kakaknya. Tugas besar menaklukkan China jadi tertunda, stabilitas kekuasaan Mongol di seluruh wilayah Eurasia terancam, dan daerah inti Mongolia terpecah- SANG PENUNTUT 117 pustaka-indo.blogspot.com


pecah melawan daerah Chinanya: para penguasa di tiga kekhanan saling bertikai. Lalu seluruh masalah ini selesai dengan sekali sentak. Tak masalah lagi apakah penobatannya sebagai khan sah atau tidak: Kubilai kini berkuasa penuh atas Mongolia, China utara, dan Asia Tengah, serta beberapa bagian Song, dan menguasai khan-khan kecilnya di Persia dan Rusia selatan. Sebuah potret diri Kubilai di masa ini, saat berusia 50 tahun, usia keemasannya, menggambarkannya mengenakan gaun berselendang sederhana tanpa hiasan sama sekali. Ada aura kearifan terpancar dari dirinya, namun ekspresi mukanya mencerminkan orang tanpa kompromi dalam mengemban tugas. Lalu tibalah saatnya mengarahkan pandangan kembali ke selatan. BAGIAN I: MUSIM SEMI 118 pustaka-indo.blogspot.com


Bagian II MUSIM PANAS pustaka-indo.blogspot.com


BAGIAN II: MUSIM PANAS pustaka-indo.blogspot.com


K AMPUNG HALAMAN K UBILAI Kura-kura batu (bawah), pernah jadi sendi sebuah pilar, adalah satu-satunya relik Karakorum yang tersisa, ibukota negara padang rumput Mongolia yang jadi pusat pemerintahan kekaisaran yang didirikan Jenghis Khan. Stupa-stupa di belakangnya, dibangun pada abad ke-17 dari bata-bata Karakorum, adalah bagian dari biara Erdene Zuu, yang sekarang jadi tujuan wisata paling penting di Mongolia. Di pertengahan abad ke-13, wilayah ini jadi pusat kekaisaran anak-anak Jenghis, termasuk putra sulungnya, Tolui, ayah Kubilai. Dalam potret Persia ini (atas), Tolui nampak sedang bersama istrinya, Sorkaktani, ibu Kubilai yang sangat berpengaruh. pustaka-indo.blogspot.com


S ERANGAN K E J ANTUNG I S LAM Pada 1253, kakak tertua Kubilai, Mönkhe, mengirim adiknya Hulagu untuk meneruskan penaklukan wilayah Islam dan memperluas Kekaisaran Mongol ke wilayah barat. Di sini (kanan), Mönkhe mengadakan pesta kemenangan tak lama setelah operasi militer selesai. Langkah pertama Hulagu adalah membasmi sekte terkenal Assassin, yang pemimpinnya, Hassan, konon melantik para pengikutnya dengan memberi mereka narkotika (atas) sebelum mengirim mereka dalam misi-misi pembunuhan dari pusat kekuasaannya, kastil terlarang di Alamut, di pegunungan Elburz, Iran (bawah). Pada 1258, setelah menghancurkan kastil-kastil kelompok Assassin, Hulagu meluncurkan serangan mematikan ke kota Baghdad (kanan bawah) yang masih diingat oleh umat Muslim sampai sekarang sebagai salah satu kehancuran Islam paling buruk. pustaka-indo.blogspot.com


pustaka-indo.blogspot.com


DI XANADU, BE K AS KE JAYAAN YANG TELAH SIRNA Hari ini, ibukota musim panas Kubilai, Xanadu—Shang-du, “Ibukota Atas”—adalah gundukan perbukitan, dataran berumput, dan bukit-bukit yang lama terabaikan. Istana tempat Marco Polo bertemu Kubilai berubah jadi gundukan tanah tak berbentuk (atas), yang nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda kejayaan masa lampau, kecuali sebuah pilar marmer (kiri) yang dipertunjukkan di sebuah museum tak jauh dari lokasi ini. Sebuah gerbang asli tertutupi oleh onggokan puing-puing (bawah). pustaka-indo.blogspot.com


Sebuah bukit tak jauh dari tempat tadi (kanan atas) dimahkotai dengan sebuah ovoo, kuil batu. Xanadu tak akan selamanya jadi alam liar. Di dekat tempat tadi, terdapat perkemahan bergaya Mongolia bagi para wisatawan (kanan), dibangun oleh penguasa energik dan imajinatif “Benjamin” Ren (bawah). pustaka-indo.blogspot.com


K E D ATANGAN B U D D H I S M E Kehendak Kubilai untuk memerintah China dan memperluas kekaisarannya mendorong dia untuk membangun hubungan Mongol dengan Tibet dan agama universalisnya, Buddhisme. Hubungan ini dikukuhkan pada 1244 ketika kepala sekte Saskya Tibet dipanggil dari Tibet (atas kiri) oleh sepupu Kubilai, Koten (kiri). pustaka-indo.blogspot.com


Keduanya bertemu didekat Liangzhou (kini bernama Wuwei), di tempat yang sekarang ditandai oleh 100 pagoda, dibangun setelah gempa menghancurkan pagoda asli pada 1927 (bawah). Di sini, sebuah museum didirikan untuk mengenang dan menunjukkan pentingnya hubungan Mongol-China-Tibet, yang dihiasi karya-karya seni indah meski tidak otentik, seperti mural dan patung dada dari perunggu dari ketiga pihak. Lama Saskya ini diiringi oleh dua keponakannya, salah seorang dari mereka, yakni Phags-pa (atas kanan), menjadi guru Buddhis dan penasihat Kubilai dalam rusan agama. pustaka-indo.blogspot.com


DI IB UKOTA BARU KUBILAI, S EBUAH KUIL BUD DH A Pada 1271, di bawah arahan Phagspa, Kubilai membangun Pagoda Putih (bawah), yang merupakan bangunan terbesar di ibukota barunya, Dadu. Pagoda ini masih ada hingga kini sebagai bangunan paling menarik di Beijing, dan satu-satunya bangunan Yuan yang tersisa. Arsitek pagoda ini adalah seorang berkebangsaan Nepal bernama Arniko (inset), salah satu seniman dan cendekiawan asing yang dipekerjakan Kubilai, dan sekarang menjadi simbol kerjasama ChinaNepal. Pagoda Putih masih dimanfaatkan sebagai pusat ibadah, seperti dibuktikan oleh dua biksu Tibet yang saya temui ketika saya berada di sana pada 2005 (kanan). pustaka-indo.blogspot.com


6 IBUKOTA BARU SEBAGIAN IBUKOTA NAMPAKNYA TERLAHIR DALAM KEADAAN BESAR: ROMA, Paris, London. Sebagian lagi memiliki kebesaran melebihi mereka: Brasilia, Canberra, Washington—dan Beijing. Selama 3.000 tahun kebudayaan China terpusat pada dua sungai besar di China tengah, Sungai Kuning dan Yangtze. Beijing tak pernah jadi pilihan pertama untuk dijadikan ibukota—terlalu ke utara, tak punya sungai yang bagus—sampai para pendahulu Mongol, Jin, menginvansi dari Manchuria pada 1120-an. Dengan Song selatan yang memerintah di Hangzhou, Beijing menjadi salah satu dari tiga kota besar China utara—Zhongdu, “Ibukota Tengah”, begitulah dia dikenal.1 Jadi orang utaralah, yang datang dari luar tanah China, yang membuat kota ini menjadi pusat pemerintahan, dan karena itu Jenghis pun tertarik. Kota yang ditundukkan dan dihancurkan orang Mongol pada 1215 ini cukup kecil dalam ukuran modern, sekitar 3,5 km2 . Hari ini, tempat kecil ini berada di barat laut Lapangan Tiananmen. Nyaris tak bisa ditemukan tanda-tanda keadaannya di zaman dulu, keadaan yang sejak 1260 belum pulih dari kerusakan yang diakibatkan oleh balatentara Jenghis. Pastilah pemandangan dan suara-suara Beijing di zaman IBUKOTA BARU 121 1 Dahulu, Beijing punya beberapa nama, dan kota-kota lain pun juga ada yang disebut Beijing (Ibukota Utara). Saya tidak terlalu mempertimbangkan hal ini, dan akan menyebut semuanya tetap dengan Beijing. pustaka-indo.blogspot.com


pertengahan dikembalikan ke gang-gang sempitnya: denting garpu yang dipukul-pukul tukang cukur keliling sebagai tanda kehadiran mereka, gemerincing cangkir-cangkir tembaga para penjual minuman, lonceng-lonceng yang berdentang menunjukkan jam, teriakan para pedagang kaki lima di mana-mana. Namun, tembok-tembok dan istana-istana yang terbakar masih bertebaran di mana-mana. Seorang makelar bangunan dan tanah membawa orang Kubilai berkeliling sambil berceloteh tentang potensi wilayah itu. Para calon pembeli tak dapat melihat apa-apa selain tempat yang tak punya harapan. Pada 1260-an, ketika menguasai China utara bagaikan seorang tukang tembikar sedang menimbang-nimbang tanah liat yang masih tanpa bentuk, Kubilai tentu dihadapkan pada berbagai pilihan. Dia bisa memerintah dari Beijing dan mengabaikan Xanadu. Tetapi jika dia melakukan hal demikian, berarti dia menyatakan diri sebagai orang luar untuk selamanya. Kubilai melihat ada banyak keuntungan jika dia memerintah dari China. Sebab itu dia memilih menghidupkan kembali susunan pemerintahan kuno, seperti Kaifeng atau Xian. Namun Beijing memiliki dua kelebihan utama: di antara sekian banyak kota yang mungkin dijadikan sebagai ibukota di wilayah utara, Beijing adalah kota terdekat baik dari Xanadu maupun Mongolia. Pada 1263, tujuh tahun sebelum mulai membangun Xanadu, Kubilai memutuskan untuk menjadikan Beijing sebagai ibukotanya. Ini dilakukan selangkah demi selangkah dari padang rumput Mongolia menuju China, dari Karakorum menuju Xanadu lalu ke Beijing. Dia mengabaikan Karakorum. Dia bolak-balik dari dua kota yang jadi basisnya ini, menghabiskan musim panas di Xanadu dan musim dingin di Beijing. Inilah cara dia meng - gabungkan dua dunia. Dan sebab itulah Beijing menjadi ibukota China hari ini. Tetapi, bagaimana cara terbaik membenahi tanah taklukan yang tak terurus ini? Dinasti-dinasti yang akan memerintah biasanya menandai kehadiran mereka dengan pemusnahan dan pengrusakan total (seperti yang kelak dilakukan Dinasti Ming terhadap Beijing-nya Mongol). Sekitar satu tahun berlalu tanpa keputusan yang jelas, karena pada 1261 tembok-tembok kota lama diperbaiki dan ditambah, seakanakan dia mau mulai membangun masa lalu dari pinggir. Namun BAGIAN II: MUSIM PANAS 122 pustaka-indo.blogspot.com


kehidupan baru di gang-gang kuno ini, sebagaimana dikemukakan para penasihat Kubilai, sedang mendidih penuh gelora. Membangun kota baru di atas reruntuhan kota lama berarti menerima agenda dinasti yang terkalahkan dan bahkan menyuburkan benih pemberontakan. Akhirnya, Kubilai memutuskan membangun ibukota yang sama sekali baru. Tepat di bagian utara dan timur ibukota Jin adalah tempat sempurna, yang bermula dari Bukit Barat yang menghidupi Beihai (Laut Utara). Tiga puluh tahun sebelum kedatangan orang Mongol, tempat ini begitu makmur. Keberadaan danau seluas 35 hektare di tengah taman menjadi legenda. Dahulu kala, di Laut Timur, terdapat pegunungan khayalan di mana makhluk-makhluk abadi hidup karena meminum Ramuan Keabadian. Banyak orang mencari gunung dan ramuan ini, namun tak seorang pun berhasil. Di abad ke-2 Sebelum Masehi, Kaisar Wu Di dari Dinasti Han mendapati sebuah danau ketika menggali fondasi istananya di ibukota, dengan tiga pulau kecil yang merupakan gunung khayalan tadi. Kaisar-kaisar selanjutnya melakukan hal yang sama ketika ingin membangun ibukotanya. Begitu pula dengan orang Song di Beijing pada akhir abad ke-10, mengeringkan danau yang diisi oleh aliran sebuah sungai dari Bukit Barat dan membuat tiga pulau di atasnya. Tempat dengan pemandangan begitu indah inilah yang dipilih Jin sebagai istana musim panasnya di abad ke-12, Istana Kedamaian; dia juga membangun tempat peristirahatan kedua di puncak tempat yang sekarang disebut Pulau Permata, tempat tertinggi di kota (sekarang dimahkotai dengan Dagoba Putih dari abad ke-17, semacam Menara Eiffel-nya Beijing). Bangunan kekaisaran dirusak dan diruntuhkan ketika Jenghis menduduki Beijing pada 1213-1215, namun danau itu terabaikan dan akhirnya ditumbuhi semak-semak. Lumrah saja bahwa Kubilai memilihnya sebagai titik pusat kota baru yang akan dia bangun. Karena Xanadu mewakili sisi ke-Mongol-an Kubilai, ibukota baru ini akan sepenuhnya China. Keinginan ini akan sulit diwujudkan di musim gugur 1263, ketika kaisar datang dari Xanadu untuk mengambil alih wilayah yang telah dibiarkan terbengkalai selama 50 tahun. Bayangkanlah danau yang tertimbun lumpur dan dipenuhi semakbelukar, rumah-rumah peristirahatan musim panas yang tak berpenghuni IBUKOTA BARU 123 pustaka-indo.blogspot.com


dan rusak di sepanjang pinggirnya, dan di sana-sini terdapat gubuk petani yang coba-coba mengkoloni tanah yang sebelumnya merupakan halaman istana kekaisaran. Berada di puing-puing bekas ibukota ini, Kubilai tak memiliki tempat bermalam lain kecuali di tendanya. Pepohonan kecil dan semak-semak dibersihkan dan perkemahan kekaisaran didirikan: sebuah tempat yang diperuntukkan bagi ger-ger (tenda-tenda) besar, sementara tenda yang lebih kecil untuk para pangeran dan pejabat, dan ratusan tenda lain untuk rombongan penjaga, para pengantin, kusir kereta, pemanah, pandai besi, pemahat dan ribuan pekerja lain, dan tentu saja termasuk para arsitek. Wewenang tertinggi dalam soal rancangan kota dipegang Liu Bingzhong, otak di balik pembangunan Xanadu. Namun di antara tim arsiteknya terdapat satu tokoh penting yang tak disebut dalam sumbersumber resmi China, karena dia orang Arab yang konon bernama Ikhtiyaruddin (transliterasi-ulang namanya dari versi kasar China, yakni Yeh-hei-tieh-erh-ting). Kita mengenalnya berkat jasa seorang sarjana China, Chen Yuan, yang pada 1930-an menemukan salinan prasasti yang dipersembahkan kepada putra Ikhtiyar, Muhammad-syah. Ikhtiyar barangkali pernah menunjukkan keahliannya di Persia setelah penaklukan Mongol, satu generasi sebelumnya, karena dia dipanggil Kubilai— atau, barangkali, oleh Liu Bingzhong—untuk mengepalai sebuah jawatan dalam Kementerian Pekerjaan yang mengurusi tenda-tenda (tak ada yang tahu apa persisnya tugas kementerian ini, barangkali mengurusi rumah tangga kekaisaran). Namun apa pun tugasnya, dia selama bertahun-tahun menjadi ahli dalam perencanaan kota. Saat itu, di usia tuanya, dia dipilih untuk merancang kota besar baru yang ingin dibangun Kubilai. Prasasti tadi layak dikutip agak pajang, karena dia menunjukkan betapa besar perhatian yang diberikan pada proyek ini dan makin menjelaskan apa tujuan politik Kubilai, di samping sebagai penghormatan bagi arsitek seniornya itu. Pada musim gugur 1266, kata prasasti itu, penguasa istana memerintahkan pembangunan dinding dan istana ibukota baru. Prasasti itu kemudian melanjutkan, BAGIAN II: MUSIM PANAS 124 pustaka-indo.blogspot.com


Karena Pembangunan Besar (tak ada yang tahu pasti pembangunan apa, barangkali Xanadu) hampir selesai, pengaruh nasional sedang dalam poses perluasan. Jika istana-istana dan hiasan-hiasan kota tidak indah dan tidak mengesankan, mereka tak akan mampu membangkitkan rasa hormat kepada kekaisaran. Mengikuti saransarannya, Ikhtiyar melaksanakan tugasnya tiada henti, sampai dia berhasil membuat sebuah rancangan besar. Seorang astronom memilih hari yang tepat, dan kepala urusan bahan bangunan mengumpulkan material yang diperlukan. Rancangan-rancangan detail dipersiapkan untuk pembangunan gerbang dan pintu masuk, gedung pertemuan, jalan dan pusat kediaman, ruang pesta informal dan istana-istana terpisah, kantor administrasi, tempat ibadah, rumah pasukan pengawal, ruang penyimpanan sandang, pangan dan perkakas, pusat-pusat pegawai yang bertanggung jawab atas rumah tangga kekaisaran, dan begitu pula dengan pemandian, kolam, taman, lapangan dan tempat santai, bangunan bertingkat tinggi dan paviliun bertiang serta beranda dengan atap gantung…. Pada bulan ke-12 (28 Desember 1266 hingga 26 Januari 1267), keputusan kaisar keluar, memerintahkan (tiga pejabat) dan Ikhtiyar untuk ikut terlibat dalam tugas-tugas Jawatan Pekerjaan dan melaksanakan program pembangunan istana-istana dan tembok-tembok kota. Pengukuran dilakukan dengan seksama untuk memperoleh perlengkapan yang diperlukan dan tepat, untuk meletakkan pilar-pilar dan atapatap, untuk memindahkan batu-batu, bata, kayu, dan tanah. Sangat banyak seniman dan tukang yang terlibat. Fondasi dan lantai dibentangkan, kokoh dan kuat. Semuanya memenuhi keinginan kaisar. Kerja Ikhtiyar sangat dipuji, namun saat itu dia sudah berada dalam himpitan usia. Adapun dalam sejarah resmi Yuan, nama Ikhtiyar dihilangkan, dan yang disebut hanyalah tiga kolega juniornya yang berkebangsaan China. “Bisa jadi namanya sengaja dilupakan,” kata Chen, “atau bisa juga karena kurangnya penghargaan terhadap arsitektur rancangannnya.” Namun, menurut saya, ini terjadi karena rasisme yang disengaja. Kubilai, seperti kakeknya, dengan senang hati mempekerjakan para ahli IBUKOTA BARU 125 pustaka-indo.blogspot.com


dari mana pun. Namun Beijing dengan segera menjadi ibukota yang begitu mengagumkan, dengan Kubilai sendiri sebagai raja China. Dilihat dari sudut pandang orang China: Kubilai telah menerapkan sistem kelas: orang Mongol berada di tingkat teratas, lalu diikuti orang Muslim, orang China utara, dan kemudian orang China selatan. Dalam hal ini, seorang Arab yang dipekerjakan orang Mongol mengajari orang China bagaimana membangun kota China. Tak terlalu sulit membayangkan bagaimana sekelompok sejarawan resmi China mempunyai keinginan membalas dendam atas fakta yang mempermalukan mereka ini. Ikhtiyar tercampak dari catatan sejarah—sampai Chen Yuan mengurai prasasti yang dipersembahkan bagi Muhammad-syah dan ayahnya. “Para pengunjung Peking hari ini akan terkesima menyaksikan istana-istana dan tembok-tembok kota yang sangat indah,” kata Chen, “namun siapa sangka bahwa orang yang membuat itu semua berasal dari tanah Arab?” Beihai Park yang ada hari ini, yang dulunya menjadi taman bagi kaisar dan pangeran di luar tembok kota, adalah sebuah taman untuk jalanjalan bagi semua orang, tepat berada di jantung kota. Karena itu, orang Beijing hari ini, ketika mereka berpiknik di pinggir danau di taman itu atau mengayuh perahu di atasnya, berterima kasih juga kepada Kubilai. Dialah yang mengubah danau itu menjadi Arcadia yang sekarang menjadi objek wisata; dialah yang pertama membangun jembatan menuju Pulau Permata (kemudian dia ganti degan Jembatan Kedamaian Abadi yang terbuat dari pualam sebagaimana dapat kita saksikan hari ini, dengan lengkungannya yang sangat indah); dialah yang memenuhi pemandangan sekitar danau dengan pohon-pohon langka dan tangga melingkar serta kuil-kuil dan paviliun-paviliun dengan nama yang begitu indah—Embun Emas, Pelangi Permata, Kebahagiaan yang Memanggil-manggil, Kerukunan Abadi; dialah yang membuat danau beserta pulaunya menjadi tempat indah yang membuat para pengunjung asing terpana dan melongo. Marco Polo mencatat ikanikan danau yang indah dihadang jeruji besi agar tak lepas ke sungai dari kedua mulut danau. Sekitar lima puluh tahun kemudian, Rahib Odoric dari Prodenone di timur laut Italia menyanjung kawanan angsa BAGIAN II: MUSIM PANAS 126 pustaka-indo.blogspot.com


dan itik di danau indah ini. Tentu saja, Kubilai mengganti istana lama di atas Pulau Permata dengan yang baru. Karenanya ketinggian pulau ini bertambah akibat urukan tanah yang diambil dari dasar danau. Mungkin pekerjaan ini dilakukan selama satu dasawarsa (1264-74), sementara bagian utama kota sudah mulai dibangun.2 Istana di puncak bukit ini sudah lama lenyap, namun keberadaannya terbukti oleh sebuah benda unik yang masih terdapat di tempat berdirinya. Di dalam salah satu dari tujuh ruang besar istana terdapat istana kedua, istana mini, dan istana itu sebenarnya adalah sebuah ranjang bertatahkan emas dan permata, tempat Kubilai berbaring santai ketika dia sedang mengadakan pertemuan resmi. Di samping ranjang ini terdapat kendi dari permata, kira-kira seberat 3,5 ton, diukir indah dengan motif naga yang mengarungi ombak lautan. Dari sini Kubilai dapat mengambil anggur—kendi tadi dapat memuat 3.000 liter. Setelah terombang-ambing oleh berbagai peristiwa, kendi luar biasa ini ditemukan kembali pada abad ke-18, dan ditempatkan lagi di puncak bukit, dilindungi paviliun khusus berukuran kecil dan diletakkan di atas dasar permata baru. Agak aneh bagi orang Barat, dasar tempat kendi ini membentuk gambar swastika—tak seperti yang dipakai Nazi, karena lengan-lengan swastika ini menghadap lawan arah jarum jam sesuai bentuk aslinya dalam simbol Zoroaster (nazi adalah simbol yang dipakai untuk melambangkan kuil dalam peta China). Setiap orang menganggapnya sebagai kendi keberuntungan. Para wisatawan membeli semacam jimat kecil berwarna merah untuk digantungkan di pagar pembatasnya: Semoga Beruntung Sepanjang Umur! Doa bagi Kebahagiaan Seluruh Keluarga! Ikhtiyaruddin merencanakan sebuah kota yang memiliki bentuk tradisional ibukota kuno, termasuk Xanadu. Dia dirancang untuk menjadi kota three-in-one: sebuah istana, kota dalam dan kota luar dalam wilayah segi empat. Rancangan ini mengingatkan orang pada rancangan wilayah dan kejayaan berbagai ibukota China sebelumnya, terutama Changan (kini bernama Xian), ibukota Dinasti Tang di abad ke-7 sampai abad ke-10, yang barangkali merupakan kota terbesar di IBUKOTA BARU 127 2 Lihat, G. N. Kates, “A New Date for the Origins of the Forbidden City” pustaka-indo.blogspot.com


dunia kala itu. Kubilai mungkin sama sekali tak tahu tentang Pasukan Terakota yang menarik perhatian sepuluh ribuan turis setiap tahun ke Xian, namun dia tentu sudah tahu kekuasaan panglima Changan yang telah lama mati, Kaisar Pertama, pemersatu China di abad ke-3 Sebelum Masehi, pembangun jalan-jalan, kanal-kanal, dan Tembok Besar. Jubah kekuasaan dan kejayaan inilah yang sekarang ingin diklaim Kubilai. Pada Agustus 1267, ribuan pekerja di bawah arahan Ikhtiyar mulai membangun benteng di seputar bukit dan di sepanjang tiga aliran sungai. Para pekerja menggunakan tanah, bukan batu, menggali parit untuk memperoleh material bangunan. “Sudah jadi kebiasaan di negeri ini,” tulis Rasyiduddin, “menempatkan dua papan bersisian dan mengisi ruang di antaranya dengan tanah, memadatkannya dengan cara dipukul. Setelah itu kedua papan tadi diambil, dan terciptalah sebuah tembok.” Ini pekerjaan sederhana, dan karena itu bisa selesai cepat. Sebanyak 382 kepala keluarga pemukim “liar”, yang menempati lokasi itu selama masa-masa kelam, dipindahkan dengan ganti rugi setengah paksa— mereka menerima ganti rugi di tahun 1271. Setelah setahun, temboktembok dari tanah “cetakan” setebal 10 m di bagian dasar, dan men - julang setinggi 10 m, ini bagian atasnya mengerucut menjadi setebal 3 m, sehingga ketika dilihat dari penampang samping tembok ini seperti segitiga yang terpangkas. Para pekerja telah membuat sebuah bidang persegi empat seluas 5,5 x 6,5 km, dengan keliling sekitar 28 km, serta disela oleh sebelas gerbang. Di bagian dalam terdapat tembok kedua yang berfungsi sebagai penutup Kota Kekaisaran, dan di dalam tembok kedua ini terdapat pula tembok ketiga yang di dalamnya terdapat istana dan berbagai bangunan pelengkapnya. Sebenarnya, Ikhtiyar membangun sebuah kota yang lebih baik daripada kota Xian di zaman dulu, karena dia membuat empat lapis tembok dan menciptakan istana di dalam istana. Dari bulan Maret 1271, 28.000 pekerja mulai membangun infra - stuktur Kota Kekaisaran, membuka jaringan jalan yang punya belokan ke kanan, gaya Manhattan, masing-masing blok didiami satu keluarga petinggi, lengkap dengan rumah utama. Di tengahnya, dekat danau Beihai, terdapat istana. Jejaring tembok ini dirancang hanya demi BAGIAN II: MUSIM PANAS 128 pustaka-indo.blogspot.com


tujuan keamanan. Tujuan pembangunannya yang tak diumumkan secara eksplisit, seperti tujuan pembangunan Kremlin dan Alhambra di Granada (kebetulan, keduanya dibangun tak lama sebelumnya), adalah tujuan politik dan psikologis: untuk membuat takjub setiap orang yang masuk dengan segala keagungan penghuninya. Bayangkanlah kedatangan Anda, lewat sebuah gerbang di tembok luar, melintasi jalan-jalan yang padat, lalu melewati gerbang berikutnya—yang harus dilalui dengan pemandu dan izin tertulis—menuju wilayah kantong yang begitu kaya dan berkuasa, dengan berbagai bangunan besar dan mewah, tamantaman indah dan tentara pengawal, dan akhirnya Anda sampai di kediaman kaisar, kotak permata berisi penubuhan kekuasaan yang luar biasa, pilihan Langit sendiri untuk menunjukkan betapa digdaya sebuah entitas politik sejak Kejatuhan Roma, entitas yang tak mampu disaingi kerajaan-kerajaan Arab dan Rusia. Kubilai mempunyai musuh dan lawan yang mengancam; namun mendekatinya akan menghapus pikiranpikiran semacam itu. Lama sebelum Anda dihantarkan kepada kehadiran dewa, Anda akan terpukau oleh begitu banyak julukan agung: yang kuat, yang mulia, yang kuasa, yang maha kaya tiada terkira. Inilah kesan yang digambarkan Marco Polo ketika pada 1275 dia tiba di tempat yang sehari-hari waktu itu dikenal dengan nama TurkiMongolnya, Khan-balikh, Kota Sang Khan, atau Cambaluc sebagaimana ditulis Polo. Bagi orang China, inilah Da-du, Ibukota Besar. Marco Polo mengemukakan satu catatan penting tentang gambaran istana dan taman-taman kota, yang dikelilingi tembok setinggi 10 m yang meng hubungkan 10 benteng, masing-masing memiliki gudang penyimpanan senjata dan peralatan tempur lainnya: busur, pelana, kekang kuda, senjata. Di bawah pepohonan—dari jenis-jenis langka yang dibawa dengan gajah dari tempat-tempat yang jauh—menjadi tempat berkeliaran rusa-rusa, yang tak terlihat oleh pejalan kaki, tumbuh miring sedemikian rupa sehingga air hujan cepat mengering sebelum dia mengotori kaki para aristokrat. Istana itu sendiri, dengan genteng-genteng berwarna merah, ubin-ubin kuning, hijau dan biru, merupakan satu-satunya bangunan bertingkat dengan aula tengah sangat luas yang dapat menampung 6.000 tamu untuk makan malam di bawah kubah berlukiskan binatang-binatang dengan hiasan dari IBUKOTA BARU 129 pustaka-indo.blogspot.com


emas dan perak di sana-sini. Ada pula kamar pribadi dengan jumlah tak terhitung yang terlarang bagi semua orang kecuali para elite dari pejabat elite. Akhirnya, ketika seluruh wilayah China jatuh ke tangan orang Mongol, kota ini menjadi ibukota sebuah bangsa yang telah dipersatukan. Begitulah kota ini kemudian dikenang. Jantung kota yang sekarang menjadi kota Beijing, Kota Terlarang, dibangun persis di atas ciptaan Kubilai. Pintu masuknya menghadap ke selatan, seperti “pintu” setiap tenda orang Mongol. Delapan ratus istana dan ruang pertemuan, 9.000 kamar, pintu masuk dari Lapangan Tiananmen—semua ini ber - ada di tempatnya sekarang karena Kubilai memilih menempatkan istananya di situ. Jalan bersilang-silang dan bangunan baru mulai mengubah tempat yang sebelumnya penuh reruntuhan bangunan menjadi ibukota. Kubilai harus membuat keputusan. Agar pemerintahan dan kekuasaannya jadi total, untuk memenuhi ambisi yang dia warisi dari kakeknya, dia perlu mengeluarkan pernyataan publik bahwa Langit telah menyerahinya mandat, bahwa sebuah dinasti baru saja didirikan. Dinasti ini perlu dinamai. Jelas, nama Mongol tak akan disambut baik oleh rakyatnya yang berbangsa China, terutama rakyat di daerah selatan yang akan segera dikuasai jika rencananya berjalan baik. Penasihat Chinanya, Liu Bingzhong, mengusulkan nama China yang begitu sempurna, nama yang pertama kali sudah muncul ketika Kubilai ingin membuat keputusan tentang kapan dia harus menyatakan diri sebagai kaisar. Nama itu lahir dari buku ramalan kuno, I Ching. Kata itu tertambat dalam ramalan Qian yang dilakukan di Xanadu. Kata itu sekarang makin memperoleh pengakuan di dalam serangkaian kata, semacam mantera ajaib, yang diasosiasikan dengan Jalan Air atau Tao, rumusan yang mengisyaratkan aliran kehidupan. Rangkaian kata itu adalah yuan heng li zhen. Masingmasing kata ini mewakili tahapan zaman yang telah dilalui I Ching dan masing-masing juga mengandung semesta makna. Sehubungan pembicaraan kita di sini, maka kata pertamalah yang menarik perhatian kita: yuan. BAGIAN II: MUSIM PANAS 130 pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version