The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Dummy Book 2707 - Antologi Bangkom ASN - COP LAN RI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ftiunai, 2021-07-27 08:50:56

Antologi Bangkom ASN

Dummy Book 2707 - Antologi Bangkom ASN - COP LAN RI

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Konversi Pengembangan Kompetensi

Bentuk dan Satuan Konversi JP
Jalur Nasional Internasional

komunitas

belajar

(community

of practices)

Ditambahkan

Sesuai JP 20% (dua

Pembelajaran JP program puluh persen)
alam terbuka pembelajar dari JP
program
(outbond) an alam
terbuka pembelajaran

(outbond) alam terbuka

(outbond)

Sumber: Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik

Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Pengembangan

Kompetensi Pegawai Negeri Sipil, 2018

Pandemi Covid-19 telah mendorong terciptanya
budaya baru pertemuan secara online melalui platform
penyedia video conference seperti zoom, skype, teams,
google meet, google duo, cisco webex dan lainnya. Kita bisa
dengan mudah mendapatkan info mengenai webinar
hampir setiap hari melalui whatsapp group, social media,
maupun website instansi terkait. Tidak hanya itu, workshop
atau pelatihan pun dewasa ini dilaksanakan secara online
atau blended learning.

418

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Gambar 2. Jumlah Pengguna Internet di Indonesia dari
Tahun 2015-2025.

Sumber: Statista, 2021
Banyaknya informasi yang masuk semakin banyak
juga informasi yang memuai begitu saja, tidak jarang kita
menemukan seseorang mengikuti lebih dari 1 kegiatan
dalam 1 waktu yang sama melalui platform video
conference. Selain itu, ada dampak negative yang siap
menyerang kapan saja. Menurut Suharta (2020) dalam
Majalah Inagara Vol. 5 yang berjudul Tren Pembelajaran
Jarak Jauh pada Masa Covid-19 dengan mengambil contoh
Pelatihan Kepemimpinan.
“pelatihan yang diselenggarakan sangat tidak
humanis bagi para pesertanya. Bayangkan Anda
harus mengikuti kelas online dimana
pembelajarannya dilakukan secara tatap maya
dari pagi hingga sore hari, dan hal tersebut
dilakukan secara berulang setiap harinya. Sudah

419

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

terbayangkan masalah kesehatan apa yang akan
Anda alami kedepan.”

KONDISI YANG DIHARAPKAN
Sebagai pelaksana kebijakan, publik, pelayan publik,

dan perekat pemersatu Bangsa, ASN harus hadir bagi
masyarakat dalam kondisi apapun. Untuk menjalankan
ketiga fungsi tersebut dibutuhkan ASN yang berkompeten.
Pengembangan kompetensi yang dilakukan seharusnya
bukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban saja sesuai
yang diamanatkan pada Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun
2017, tetapi memang bertujuan untuk meningkatkan kinerja
dan pelayanan terhadap public sebagai stakeholder utama.

Menurut penelitian dari Josh Bersin Academy (2018),
di dalam corporate terdapat 3 (tiga) karakteristik pegawai
dalam mengembangkan kompetensinya karena
dipengaruhi oleh situasi sosial atau kesehariannya.
Pertama, 68% pegawai memilih mengembangkan
kompetensinya pada saat ia bekerja atau melakukan
rutinitas sehari-hari. Kedua, 58% pegawai memilih
mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan
kecepatan masing-masing. Ketiga, 49% pegawai melakukan
pengembangan kompetensi Ketika ia membutuhkan materi
tersebut untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Gambar 3. The Evolution of Corporate Training
Sumber: Josh Bersin, 2018

420

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Untuk menjawab kebutuhan di atas, diperlukan metode

yang memperhatikan hal tersebut. Integrative Learning

Design Framework (ILDF) for Online Learning mengatakan

bahwa, "Instructional design is contextually bounded and

socially situated". Mendesain pembelajaran dalam jaringan

harus mengintegrasikan ketiga komponen

pembelajarannya: 1). model pembelajaran; 2). strategi

pembelajaran; dan 3). teknologi belajar dalam konteks

sosial tertentu. Sehingga, dalam mendesain pembelajaran

harus menguasai tiga komponen tersebut. Lantas apa yang

mendasari ILDF? Menurut penulisnya, Nada Dabbagh dan

Brenda Bannan-Ritland (2005), selama ini banyak elearning

tapi hanya lebih bersifat text-and-talking dan hanya

berfokus pada teknologinya saja ("e"), tapi melupakan dua

aspek lainnya dalam membatasi konteks atau bagaimana

situasi sosial pembelajaran itu terjadi.

Gambar 4. Integrative Learning Design Framework
Sumber: slideshare.net/uweschaeruman

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang
dapat menyesuaikan kondisi dan situasi pesertanya, tidak

421

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

hanya kecanggihan teknologi yang digunakan. Untuk itu
dibutuhkan strategi pengembangan kompetensi atau
pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kompetensi
ASN, khususnya di era digital. Dimana strategi tersebut
dapat menjawab kebutuhan ASN ditengah padatnya
aktifitas dengan minimnya waktu yang dimiliki untuk
belajar. Tentunya juga dengan memanfaatkan teknologi
agar bersifat kekinian, tetapi tidak melupakan pentingnya
substansi di dalamnya dan memperhatikan banyaknya
distraksi informasi jika belajar memanfaatkan teknologi.

TAWARAN SOLUSI
Melihat banyaknya informasi yang beredar pada saat

ini dan tingginya aktifitas ASN, maka solusi yang dapat
diterapkan dalam pengembangan kompetensi ASN dengan
pemanfaatan teknologi adalah dengan menerapkan
“Model Mini Learning Series yang disajikan dalam bentuk
Micro Learning.” Microlearning dapat diartikan sebagai
kegiatan belajar dengan skala yang kecil. Microlearning
digunakan sebagai strategi dalam merancang konten
belajar menjadi segmen-segmen kecil yang terfokus.
Konten yang dimaksud berupa learning object yang
digunakan dalam e-learning. Seperti video singkat,
infografis, gambar, artikel, bahkan kutipan.

Microlearning mampu membuat proses pembelajaran
lebih efektif karena 4 (empat) alasan, yaitu:
1. Konten belajar dibuat sangat kecil (bite sized

learning). Bahan Belajar yang disajikan sedikit demi
sedikit dalam berbagai bentuk dan format media
digital;
2. Spesifik (sempit dan dalam). Membahas satu pokok
materi yang spesifik (learning point) tapi mendalam;
3. Cepat. Penyajian konten yang singkat akan
menghasilkan waktu belajar yang singkat, sehingga

422

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Ketika di akses menggunakan ponsel, satu learning
object bisa di pahami dengan cepat. Sehingga pelajar
tidak terditraksi dengan gangguan luar konteks
belajar; dan
4. Menyesuaikan kondisi dan kebutuhan. Learning
object dapat dibuat sewaktu–waktu dibutuhkan
sehingga memudahkan untuk peserta untuk mencari
dan mengakses kembali konten tersebut.

Menurut Chaeruman dalam disertasinya pada tahun
2018, terdapat beberapa tips dalam microlearning:
1. Slicing/Chunking

Pecah materi menjadi potongan-potongan kecil.

Gambar 5. Slicing/Chunking Microlearning
Sumber: slideshare.net/uweschaeruman

2. Wordings.
Sulap judul menjadi sedikit sensasional dan provokatif tapi
tetap relevan).

3. Visualisasi.
Konkritkan konsep dengan visual, audio, audiovisual,
animasi, bukan hanya sekedar teks belaka.

4. Konversasional.
Jika menggunakan narasi, gunakan Bahasa yang bersifat
konversasional dan komunikatif.

423

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Dengan membagi konten menjadi segmen-segmen
kecil dan fokus dapat membantu peserta untuk lebih
mudah menerima serta memahami informasi yang
diberikan. Tidak hanya itu, belajar dengan konten yang
ringkas dan singkat juga memudahkan peserta untuk
mengingat materi dan mengimplementasikannya. Jadi,
keterbatasan waktu tidak dapat lagi dijadikan alasan untuk
tidak mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi.
Selain itu, materi pelatihan yang banyak dan butuh waktu
yang lama pun akan terasa ringan jika menggunakan Model
Mini Learning Series. ASN dapat menerima informasi yang
tepat dalam waktu singkat sesuai dengan kebutuhannya.

PENUTUP
Perkembangan teknologi di Era Industri 4.0 ibarat dua

bilah mata pisau, Anda memilih mengikutinya jika ingin
terus maju atau diam saja jalan ditempat bahkan tertinggal
termakan zaman. “Kecerdasan adalah kemampuan
beradaptasi terhadap perubahan” Stephen Hawking.
Beradaptasi lah terhadap perubahan agar Anda tidak
ditinggalkan oleh perubahan. Perubahan itu pasti, sesuatu
yang tidak pernah berubah yakni perubahan itu sendiri.

Pentingnya bagi ASN untuk terus mengembangkan
kompetensi ditengah keterbatasan saat ini. Model Mini
Learning Series (MLS) yang disajikan dalam bentuk
Microlearning dapat menjadi alternatif bagi ASN dalam
mengembangkan kompetensi. Karakternya yang dapat
disajikan secara singkat dan terfokus akan sangat
membantu ASN dalam menerima materi yang ingin
dipelajari.

20 (dua puluh) jam pelajaran wajib dalam 1 (satu)
tahun dapat menjadi dasar kuat bagi ASN untuk selalu
mengembangkan kompetensinya. Tujuan menghasilkan
karakter world class bureaucracy pada Road Map

424

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Reformasi Birokrasi 2020-2024 dapat di antisipasi dengan
baik dari sekarang. Dengan begitu, pelayanan publik yang
semakin berkualitas serta tata kelola yang semakin efektif
dan efisien bukan lah sebuah keniscayaan.

DAFTAR PUSTAKA
Margot , E. G. (2017). Microlearning to Boost the Employee

Experience. USA: networkRise of the Robots:
Technology and the threat of a jobless future (Basic
Books, 2015).
Firdaus, S. (2020). Majalah Inagara Vol.5 No. 1 Juni 2020
“Tren Pembelajaran Jarak Jauh.”
Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara.
Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2017 tentang
Manajemen Pegawai Negeri Sipil.
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 25
Tahun 2020 tentang Road Map Reformasi Birokrasi
2020-2024.
Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia No. 10 Tahun 2018 tentang Pengembangan
Kompetensi Pegawai Negeri Sipil.
Prensky, M. (2005).
https://aptika.kominfo.go.id/2020/01/revolusi-industri-4-
0/report.weforum.org.
https://www.prakerja.go.id/artikel/13-pekerjaan-yang-tidak-
bisa-digantikan-oleh-
robotslideshare.net/uweschaeruman.
https://joshbersin.com/2018/06/a-new/paradigm-for-
corporate-training-learning-in-the-flow-of-work.

425

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Implementasi Literasi Teknologi Pengembangan
Kompetensi Melalui Komunitas Pembelajar
Berbasis Teknologi Informasi

Witra Apdhi Yohanitas
Pusat Teknologi Pengembangan Kompetensi, Lembaga

Administrasi Negara Republik Indonesia
[email protected]

Ringkasan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menandakan peluang
masyarakat mengakses sumber informasi digital semakin terbuka dan
memperluas literasi digital. Pelaksanaan pengembangan kompetensi
melalui komunitas pembelajar juga akan lebih optimal dengan
memanfaatkan literasi teknologi. Kondisi saat ini, literasi digital menjadi
pilihan untuk mendapatkan sumber pengetahuan dengan memanfaatkan
sosial media dan internet. Pemanfaatan tekonoligi informasi dalam
pengembangan kompetensi ini bermanfaat untuk menghemat waktu,
lebih hemat biaya, memperluas jaringan, membuat keputusan yang lebih
baik, belajar lebih cepat dan efisien, ramah lingkungan. Pelaksanaannya
menuntut adanya sistem informasi yang terintegrasi terdiri dari Learning
Governance System, Learning Management System, Knowledge
Management System, Community Based Learning. Sistem yang
menekankan pengembangan kompetensi berbasis komunitas pembelajar
masih belum berkembang. LAN saat ini mengembangkan sistem tersebut
yang disebut Rumah Cerdas Widyaiswara Indonesia (RCWI). Sistem ini
dapat menjadi wadah bagi komunitas pembelajar untuk saling
berinteraksi, membuat karya tulis, saling berbagi pengetahuan, dan
pendokumentasian. Proses pengembangan sistem dilakukan dengan
desain bertumbuh, dimana menentukan prioritas dan dilakukan dengan
bertahap dengan fungsinya sebagai platform pembelajaran. Setelah
dilakukan pengujian dan penerapan, RCWI dianggap sesuai dan
memuaskan sebagai sistem yang dapat menjadi sumber pembelajaran
bagi komunitas. RCWI dapat adopsi atau diduplikasi untuk jabatan
fungsional lainnya, bahkan jika ingin digunakan untuk ASN secara umum.
Tentu harus dilakukan penyesuaian dari segi sistem dan tata kelolanya.
Kata Kunci: Literasi teknologi; literasi digital; pengembangan
kompetensi; community based learning, RCWI

426

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

PENDAHULUAN
Pengembangan kompetensi merupakan bagian dari

siklus manajemen sumber daya manusia yang sangat
berkaitan perilaku, sikap, dan kinerja. Saat ini pelaksanaan
pengembangan kompetensi sudah tidak dapat lagi
dilakukan dengan cara biasa saja seperti dari pendidikan
dan pelatihan secara klasikal. Dengan adanya kemajuan
teknologi digital, mendorong implementasi prosesnya yang
dituntut serba cepat dan dapat dilakukan secara masif.

Berbicara tentang pengembangan kompetensi, tentu
sangat terkait dengan manajemen sumber daya manusia.
Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan sebuah ilmu
mengelola sumberdaya manusia secara hubungan dan
peranannya, yang dilakukan melalui proses memperoleh,
melatih, menilai, dan memberikan kompensasi kepada
karyawan (Dessler, 2017:39), serta menemukan,
menggunakan, memelihara, dan mengembangkan manusia
(Dubois & Rothwell, 2004:33) melalui sebuah sistem yang
mempengaruhi perilaku, sikap, dan kinerja karyawan (Noe
et al., 2016:3). Perkembangan teknologi membuka peluang
bagi karyawan/ pegawai/ aparatur untuk lebih aktif
melakukan pengembangan diri dengan memanfaatkan
teknologi informasi. Disinilah peranan pimpinan/ manajer
harus mampu membaca situasi sebagai peluang
pelaksanaan pengembangan kompetensi bagi sumber daya
di lingkungan kerjanya.

Perkembangan teknologi digital memungkinkan
untuk mendapatkan informasi apapun yang dibutuhkan
guna meningkatkan kinerja kita sebagai pegawai/aparatur
sipil negara (ASN) dan karyawan. Digitalisasi ini dapat
menjadi media perantara untuk menuju praktik literasi yang
dapat menghasilkan teks berbasis cetak (Amanda, 2021).
Dengan begitu akan memudahkan untuk mendapatkan
sumber pengetahuan yang dibutuhkan. Perkembangan

427

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

teknologi digital ini akan membawa perkembangan literasi
digital. Tentu perlu didukung pembangunan teknologi
informasi dan komunikasi. Menurut (Syakilah et al., 2020)
dalam Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan
Komunikasi di Indonesia yang dilakukan BPS 2018-2019,
terjadi pertumbuhan yang signifikan dilihat dari akses &
infrastruktur, penggunaan, keahlian. Hal ini dapat terlihat
pada tabel berikut.

Tabel 1. Perkembangan Indeks Pembangunan Teknologi

Informasi Dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia 2018-2019

Subindex IP-TIK 2018 IP-TIK 2019 Pertumbuhan

(%)

Akses & 5,34 5,53 3,56
Infrastruktur

Penggunaan 4,45 4,85 8,99

Keahlian 5,76 5,84 1,31

IP-TIK 5,07 5,32 4,96

Sumber: Hasil Pengolahan Subdirektorat Statistik
Komunikasi dan TI, BPS (Syakilah et al., 2020)

Pertumbuhan pembangunan teknologi informasi dan
komunikasi menandakan peluang masyarakat mengakses
sumber informasi digital semakin terbuka. Menurut
Syakilah et al., (2020:27) pada tahun 2019, penduduk
Indonesia yang menggunakan internet sebesar 47,69
persen dan ini didukung ketersediaan infrastruktur yang
memungkinkan jangkauan internet semakin luas. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa mayoritas penduduk Indonesia
berlangganan mobile broadband, yaitu sekitar 92 pelanggan
dari 100 penduduk jika dilihat jaringan internet yang

428

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

digunakan. Di sisi lain, pelanggan fixed broadband
mengalami peningkatan selama empat tahun terakhir.
Dimana dari 100 penduduk ada 3 atau 4 penduduk
menggunakan fixed broadband. Ini membuka peluang bagi
penduduk memanfaatkan sumber digital untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Generasi saat ini tumbuh dan berkembang di atas
akses yang tidak terbatas dalam teknologi digital. Tentu
saja pola pikir dan cara belajarnya juga berbeda dengan
generasi sebelumnya. Kondisi tersebut membutuhkan
model pengembangan kompetensi yang beragam dan
disesuaikan dengan kebutuhan. Literasi digital merupakan
hal penting yang dibutuhkan untuk dapat berpartisipasi di
dunia modern sekarang ini dan sama pentingnya dengan
membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya
(Amanda, 2021).

Pelaksanaan pengembangan kompetensi juga dapat
berasal dari kepemimpinan dari seorang pemimpin
organisasi. Seorang manajer/pimpinan harus mampu
memberikan kesempatan yang sama dan memberi tugas
yang jelas (Dessler, 2017):39) serta mempengaruhi orang
lain secara individu maupun kelompok (Thoha, 2012): 262)
dalam rangka mencapai tujuan organisasi/ instansi yang
dalam hal ini pelaksanaan pengembangan kompetensi.
Melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor
38 Tahun 2017 Tentang Standar Kompetensi Jabatan
Aparatur Sipil Negara pada pasal 4 ayat 2 telah diatur tiga
kompetensi yakni kompetensi teknis, kompetensi
manajerial dan kompetensi sosial kultural.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017
tentang Manajemen PNS disebutkan bahwa
pengembangan kompetensi merupakan upaya untuk
pemenuhan kebutuhan kompetensi PNS dengan standar

429

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

kompetensi jabatan dan rencana pengembangan karier
(pasal 203 ayat 1). Untuk itu perlu dilakukan perencanaan
pengembangan sebelum akhirnya dilaksanakan dan
dievaluasi. Untuk merencanakan pengembangan
kompetensi harus dilakukan analisis kesenjangan
kompetensi PNS dengan standar kompetensi Jabatan yang
diduduki dan yang akan diduduki.

Pelaksanaan pengembangan kompetensi pegawai
ASN berdasarkan Peraturan Lembaga Administrasi Negara
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 Tentang
Pengembangan Kompetensi Pegawai Aparatur Sipil Negara
dilaksanakan dengan pemanfaatan teknologi informasi
untuk memperluas kesempatan pemenuhan hak
pengembangan kompetensi pegawai ASN. Pelaksanaannya
tentu akan menjadi dasar untuk pemberian sertifikasi
kompetensi jabatan ASN. Akan tetapi proses
pengembangan kompetensi tersebut saat ini bukan hanya
berasal dari pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara
biasa saja atau secara klasikal. Ada banyak cara yang dapat
dilakukan. Selain itu beberapa faktor dapat mempengaruhi
pelaksanaannya seperti pertama sikap atasan, rekan
sekerja, dan bawahan; kedua pengalaman; ketiga
pendidikan; keempat prestasi; kelima faktor nasib
(Yohanitas, 2019). Artinya interaksi ditempat kerja dapat
menjadi faktor penentu pelaksanaan pengembangan
kompetensi ini.

Dewasa ini, komunitas pembelajar menjadi hal yang
sering dijumpai dalam rangka pengembangan kompetensi
pegawai. Bentuknya adalah seperti forum-forum diskusi,
berbagi pengetahuan (sharing knowledge), manajemen
pengetahuan. Dan saat ini komunitas pembelajar ini
terutama dikalangan ahli banyak menggunakan istilah
komunitas praktis (community of practices). Pada
komunitas ini berkumpul para ahli dibidangnya untuk saling

430

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

memberikan pengetahuannya sehingga kompetensi yang
dimiliki anggotanya akan tersebar merata. Dokumen/
naskah yang beredar dikalangan komunitas ini tentu dapat
menjadi sebuah literasi teknologi yang mampu membantu
pengembangan kompetensi bagi karyawan/ pegawai/
aparatur yang ingin mendapatkan pengetahuan tertentu
dalam rangka pengembangan kemampuannya.

Implementasi literasi teknologi pengembangan
kompetensi tersebut tentu akan membantu proses
pengembangan kemampuan serta kinerja karyawan.
Penggunaan teknologi informasi akan mempercepat
penyebaran pengetahuan di antara komunitas pembelajar.
Pelaksanaannya selama ini belum terkoordinasi dan
terdokumentasi secara khusus. Meskipun demikian,
fasilitas teknologinya sudah banyak tersebar dan dapat
dimanfaatkan. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh
Lembaga Administrasi Negara (LAN) untuk mendukung
proses literasi teknologi pengembangan kompetensi
melalui komunitas pembelajar berbasis teknologi informasi.

KONDISI SAAT INI
Literasi digital menjadi pilihan bagi generasi saat ini

untuk mendapatkan sumber pengetahuan. Baik itu untuk
kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan kerjanya.
Platform yang digunakan juga banyak tersedia, seperti
sebuah sistem pembelajaran berbasis elektronik, sosial
media, dan berbagi dokumen. Ini juga dapat dimanfaatkan
bagi instansi pemerintahan untuk melakukan
pengembangan kompetensi.

Sumber pembelajaran untuk pengembangan
kompetensi yang saat ini tidak hanya berdasarkan satu
sumber/searah, namun dapat diperoleh dari beberapa
sumber/berbagai arah. Selain itu, pelaksanaannya juga
dapat berasal dari metode klasikal maupun non klasikal.

431

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Literasi digital ini sendiri dapat dikatakan sebagai proses
pengembangan kompetensi yang berasal dari beberapa
sumber dan dilakukan secara non klasikal.

Sebelum adanya peristiwa pandemi Covid-19,
pelaksanaan pengembangan kompetensi masih banyak
dilakukan melalui cara klasikal/ruang kelas dan berasal dari
satu sumber/searah. Meskipun penggunaan teknologi
informasi sudah diterapkan. Misalnya seperti pelaksanaan
pengembangan kompetensi melalui pendidikan dan
pelatihan. Pertemuan langsung didalam kelas memang
tidak dapat dielakkan karena transfer pengetahuan terasa
lebih cepat dilakukan.

Namun saat ini, pelaksanaannya sudah digantikan
menggunakan teknologi dengan memanfaatkan berbagai
teknologi pembelajaran dan konferensi. Lembaga
pendidikan dan lembaga pelatihan berlomba
memanfaatkan teknologi seperti kelas virtual dan sistem
pengelolaan pembelajaran (Learning Management System).
Interaksi selama menggunakan teknologi juga dilakukan,
tetapi tergantung dengan waktu yang telah ditetapkan dan
cenderung satu arah atau dari satu sumber.

Seiring berkembangnya metode penyebaran
informasi dan pengetahuan, aksesibilitas literasi teknologi
juga meningkat. Tentu saja melalui mesin pencari, kita
dapat memperoleh apa saja yang diinginkan dengan
sumber pengetahuannya yang beragam. Misalkan melalui
sistem jurnal terbuka (open journal system ), sistem berbagi
dokumen, sistem penyimpan dokumen, sistem manajemen
pengetahuan. Seluruh sistem tersebut tentu terdiri dari
sistem berbeda yang menuntut kita untuk berusaha lebih
keras mencari pengetahuan yang diinginkan, dan ruang
diskusi yang disediakan juga cukup terbatas.

Sistem tersebut memang merupakan bagian dari cara
kita berbagi pengetahuan yang pada akhirnya dapat

432

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

dimanfaatkan sebagai literasi teknologi untuk

pengembangan kompetensi serta kinerja

karyawan/pegawai/aparatur. Sistem informasi terintegrasi

tentu sangat dibutuhkan untuk mengelola sebuah literasi

teknologi dalam pengembangan kompetensi sumberdaya

aparatur. Tentu saja, komunitas pembelajar berbasis

teknologi informasi menjadi bagian terpenting dalam

literasi teknologi pengembangan kompetensi.

KONDISI YANG DIHARAPKAN
Pengembangan kompetensi melalui teknologi

pembelajaran dapat dilakukan melalui cara klasikal dan non
klasikal. Pada awalnya pembelajaran klasikal biasanya
dilakukan melalui pembelajaran searah dimana
pembelajaran dilakukan melalui instruktur. Namun seiring
perkembangannya, pembelajaran dilakukan melalui dua
arah dimana instruktur akan menjelaskan sebuah topik dan
membawa kelas dalam sebuah diskusi. Selain itu dilakukan
melalui sebuah kelompok diskusi, dimana instruktur
sebagai pengarah dan kelas akan membentuk kelompok
untuk berdiskusi. Terakhir, ada Community of practices
dimana ini merupakan kelompok diskusi untuk pembahasan
sebuah topik tertentu sesuai minat dari kelompok tersebut.

Community of Practices pertama kali diperkenalkan
oleh Etienne Wenger, menurutnya Community of Practices
adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi dalam
berbagi minat dan hobinya, kemudian mereka saling belajar
satu sama lain untuk menjadi lebih baik dalam minat dan
hobinya tersebut (Wenger, McDemort, dan Snyder: 2002).

Community of Practices merupakan adaptasi dari
konsep awal sebuah struktur sosial yang berbasis
pengetahuan (first knowledge-based social structures).
Bentuk dari Community of Practices sangat beragam
tergantung pada tujuan dan kebutuhan kelompok

433

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

pembentuk komunitas tersebut, namun struktur
mendasarnya adalah kegiatan saling berbagi pengetahuan.

Pengembangan kompetensi non klasikal lebih
mengarah pada pemanfaatan teknologi. Dan inilah yang
diharapkan oleh generasi saat ini dikarenakan teknologi
informasi yang berkembang dengan pesat. Selain itu
Pandemi Covid-19 yang terjadi menuntut model
pengembangan kompetensi berbasis teknologi
dikembangkan secara masif.

Program pengembangan kompetensi berbasis
teknologi informasi menjadi sebuah inovasi yang sejalan
dengan perkembangan Era Industri 4.0 yang tentu saja
sebagai bentuk proses pengembangan kompetensi non
klasikal. yang membawa konsekuensi pada perubahan pola
kerja dan tuntutan kerja yang ada. Era Industri 4.0,
menuntut birokrasi melakukan percepatan pelayanan,
efisiensi pelayanan, akurasi pelayanan serta fleksibilitas
kerja.

Disruptive technology menuntut berbagai perubahan
bentuk pembelajaran dari model pembelajaran dari
classical ke non classical dari model training ke learning.
Model-model pembelajaran dengan metode e-learning/
blended learning menjadi model inovasi pembelajaran
termasuk bahan pembelajaran yang berbasis IT.
Literasi teknologi dalam rangka pengembangan
kompetensi sumberdaya aparatur menuntut adanya sistem
informasi yang terintegrasi yang dapat menghubungkan.
Kondisi ini akan menjadi kondisi ideal yang dapat dilakukan
agar prosesnya dapat terdokumentasi sebagai sebuah
implementasi pengembangan kompetensi bagi
sumberdaya aparatur. Sistem informasi yang terintegrasi
tersebut terdiri dari Learning Governance System, Learning
Management System, Knowledge Management System,
Community Based Learning.

434

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Sistem informasi tersebut sudah banyak berkembang
dan menjadi sumber literasi digital bagi generasi muda,
terutama oleh sumber daya aparatur kita. Lembaga
Administrasi negara (LAN) juga sudah ikut
mengembangkan sistem tersebut sesuai dengan
kewenangannya. Meskipun kenyataannya, literasi digital
untuk pengembangan kompetensi melalui Community Base
Learning belum secara resmi dipergunakan sebagai
instrumen pengembangan kompetensi. Sistem informasi
Community Base Learning yang mengambil dari konsep
Community of Practices dimana memiliki elemen bidang
pengetahuan, komunitas dan berbagi pengetahuan. Tentu
sistem ini akan memperkaya literasi digital secara
komunitas dan mempercepat proses pengembangan
kompetensi.

TAWARAN SOLUSI
Saat ini, literasi teknologi atau digital menjadi penting

karena dapat membuat seseorang mampu untuk Pertama,
Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif; Kedua, Memecahkan
masalah; Ketiga, Berkomunikasi dengan lebih lancar;
Keempat, Berkolaborasi dengan lebih banyak orang. Tentu
saja ini menuntut minat dari kita sebagai individu untuk
ingin mengembangkan kompetensi tanpa dibatasi ruang
dan waktu (Amanda, 2021). Selain itu sumber belajar yang
tidak terbatas. Bukan hanya mencari sumber pembelajaran,
bahkan dapat menjadi sumber pembelajaran itu sendiri.

Tentu saja dengan literasi digital ini banyak manfaat
yang dapat dipetik seperti: Pertama, menghemat waktu:
mencari referensi di internet dapat dilakukan kapan saja
dan di mana saja. Kedua, hemat biaya: banyak web dan
aplikasi gratis di internet yang menawarkan diskon. Ketiga,
memperluas jaringan: menambah teman baru dari berbagai
wilayah dan negara melalui media sosial. Keempat,

435

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

membuat keputusan yang lebih baik: mencari tahu dan
membandingkan harga sebuah produk melalui internet.
Kelima, belajar lebih cepat dan efisien: mencari arti kata
tertentu menggunakan aplikasi Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) daring. Keenam, memperoleh informasi
terkini dengan cepat: mengetahui kondisi lalu lintas terkini
dengan menggunakan aplikasi. Ketujuh, ramah lingkungan:
menghemat kertas dengan menggunakan buku elektronik.
Kedelapan, memperkaya keterampilan: membuat
percobaan sains dengan melihat tutorial yang ada di
internet.

Literasi teknologi pengembangan kompetensi harus
dilakukan oleh instansi pemerintah dalam serangkaian
sistem informasi yang terintegrasi melalui Learning
Governance System, Learning Management System,
Knowledge Management System, Community Based
Learning. Sistem ini melingkupi sisi administratif dan sisi
substansif dari pelaksanaan pengembangan kompetensi
tersebut. Tentu saja kualitas sistem informasi yang akan
digunakan akan mempengaruhi penggunaannya. Karena
terdapat hubungan yang positif antara kualitas sistem dan
kualitas informasi/ pengetahuan dengan penggunaan
sistem ((Wu & Wang, 2006); (Kulkarni et al., 2007); (Halawi
et al., 2008)) dan semakin baik kualitas sistem, maka
pengguna akan sering menggunakan sistem tersebut
(DeLone & McLean, 2003). Beberapa sistem ini tentu sudah
dikembangkan dan juga ada yang belum dikembangkan
atau proses pengembangan lebih lanjut.

Pertama, Learning Governance System. Sistem ini
merupakan serangkaian sistem informasi yang mengatur
tata kelola dan pelayanan pendukung program
pengembangan kompetensi bagi sumber daya aparatur.
Dapat dikatakan meliputi sisi administratif dalam
pengimplementasian pengembangan kompetensi ASN.

436

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Sistem informasi yang sudah dan akan dikembangkan
terkait pengelolaan tata kelola dan layanan pendukung
misalnya terkait perencanaan dan evaluasi pengembangan
kompetensi, akreditasi, registrasi dan sertifikasi,
pembinaan fasilitator dan jabatan fungsional.

Kedua, Learning Management System. Sistem ini
merupakan Sistem informasi sebagai pendukung proses
pembelajaran secara daring. Learning Management System
(LMS) dapat dikatakan sebagai perangkat lunak (software)
yang secara komprehensif terintegrasi pada berbagai fitur
untuk pengiriman dan pengelolaan pelatihan/
pembelajaran (Riad & El-Ghareeb, 2008:2) seperti
keperluan administrasi, dokumentasi, laporan sebuah
kegiatan, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan secara
online, e-learning dan materi-materi pelatihan (Ryann K.
Ellis, 2009), LMS biasanya juga digunakan untuk membuat
materi perkuliahan online berbasis web dan mengelola
kegiatan pembelajaran serta hasil-hasilnya (Riyadi, 2010).
Pada LMS disediakan berbagai fitur seperti penyampaian
materi dan kemudahan akses ke sumber referensi,
penilaian, ujian online, pengumpulan feedback serta
komunikasi yang mencakup forum diskusi online, mailing list
diskusi, dan chat.

Ketiga, Knowledge Management System. Secara
singkatnya, Knowledge Management System (KMS)
merupakan Sistem informasi untuk menampung informasi
pengetahuan yang terintegrasi yang menuntut budaya dan
disiplin untuk menuangkan tacit knowledge (lisan) menjadi
explicit knowledge (tertulis). KMS digunakan sebagai usaha
yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan yang
berguna bagi sebuah organisasi, diantaranya membiasakan
budaya berkomunikasi antar personil, memberikan
kesempatan untuk belajar, dan menggalakkan saling
berbagi knowledge (Sari & Tania, 2014).

437

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Keempat, Sistem Community Based Learning. Sistem
Community Based Learning merupakan sistem informasi
yang dapat membantu komunitas pembelajar untuk saling
berbagi dan mengembangkan kompetensi setiap anggota.
Ini menjadi implementasi yang baik dari literasi digital untuk
mengembangkan kompetensi aparatur yang tentu saja
melalui berbasis teknologi informasi. Dapat dikatakan
bahwa sistem ini mendukung komunitas pembelajar yang
diterapkan dalam Community of Practices. Konsep
Community of Practices memiliki kombinasi unik yang terdiri
dari tiga elemen fundamental yaitu domain atau bidang
pengetahuan, community atau sekumpulan orang
pemerhati bidang pengetahuan tersebut, dan shared
practices yaitu kegiatan berbagi pengetahuan melalui
praktik untuk meningkatkan kemampuan pada domain
tersebut (Wenger et al., 2002).

Saat ini model pengembangan kompetensi
menggunakan konsep Community of Practices berbasis
teknologi masih belum banyak dikembangkan. Dan ini
dapat menjadi sebuah literasi teknologi yang sistematis
yang dapat disebut Community Base Learning. Disini dapat
dikatakan bahwa Community Based Learning merupakan
sistem informasi yang mendukung proses pembelajaran
berdasarkan wilayah kerja dan profesi. Pengetahuan
diberikan dari oleh dan untuk anggota komunitas.

Sistem Community Based Learning akan
mendokumentasikan aktifitas yang dilakukan oleh
komunitas yang tergabung dalam suatu Community of
Practices. Pertemuan yang dilakukan dalam suatu
komunitas akan membawa dampak penyebaran informasi
dan pengetahuan. Implementasinya akan mempercepat
proses penyebaran pengetahuan kepada sesama anggota
komunitas. Namun tidak semua anggota komunitas dapat

438

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

berkomunikasi secara langsung secara lisan dan tidak

semua juga yang mampu berkomunikasi melalui tulisan.

Lembaga Administrasi Negara (LAN)

mengembangkan sistem pembelajar basis komunitas yang

dalam hal ini masih terfokuskan kepada pada pejabat

fungsional widyaiswara. Namun tidak menutup

kemungkinan sistem ini menjadi cikal bakal berkembangnya

literasi teknologi pengembangan kompetensi melalui

komunitas pembelajar berbasis teknologi informasi bagi

seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN). Sistem tersebut

dikembangkan oleh LAN yang disebut dengan Rumah

Cerdas Widyaiswara Indonesia (RCWI).

Pengembangan sistem ini dilakukan mengingat LAN

sebagai pembina jabatan fungsional widyaiswara

menginginkan adanya platform pengembangan

kompetensi widyaiswara yang secara komunitas dapat

saling memampukan. Apalagi para widyaiswara tersebut

juga telah membentuk semua komunitas pembelajar yang

disebut dengan Community of Practices Widyaiswara.

Sistem ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi mereka

untuk saling berinteraksi, membuat karya tulis, saling

berbagi pengetahuan, dan mendokumentasikan kegiatan

tertentu yang dapat mengembangkan kompetensi

widyaiswara dalam satu komunitas pembelajar.

RCWI sebagai teknologi informasi yang dapat digunakan

oleh komunitas pembelajar sebagai media literasi teknologi

ini sendiri merupakan platform berbasis crowdsourcing

untuk mendukung widyaiswara dalam mengembangkan

kompetensi secara mandiri melalui berbagai aktivitas

profesi kewidyaiswaraan yang diharapkan dapat menjadi

sistem interaksi sosial bagi komunitas (Yohanitas, 2020).

Pengembangan Rumah Cerdas Widyaiswara memikirkan

sisi lain selain pemrograman dari sistem yaitu motivasi dan

paksaan untuk menggunakan. Oleh karena itu, Pusat

439

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Pembina Jabatan Fungsional Pengembangan Kompetensi
ASN-LAN (LAN) yang berwenang terkait kebijakan
menyusun dan merancang kebijakan pemanfaatan RCWI
sekaligus menekankan kewajiban untuk menggunakannya.
Kebijakan ini merupakan langkah untuk merangsang
motivasi dan memaksa widyaiswara untuk menggunakan
sistem RCWI.

Sistem RCWI memiliki fitur yang memungkinkan
penggunanya memperoleh informasi terkait bidang
tertentu dan saling berbagi pengetahuan. Pengembangan
RCWI juga memperhitungkan proses pengembangan
kompetensi widyaiswara melalui fitur berbagi beragam
hasil karya, mengapresiasi karya rekan sejawat melalui
rating dan voting, berdiskusi mengenai berbagai hal terkait
bidang tugas dan profesinya (LAN, 2020:2). Tentu saja LAN
sebagai pembina ikut memberikan pelayanan dan
komunikasi melalui berbagai fitur pembinaan yang
disediakan pada RCWI. Fitur tersebut diantaranya SUAR
(Broadcast info pembinaan, pengetahuan dan interaksi);
WISHARE (Widyaiswara Share); dan DASHBOARD (Outlet
dan akses). Fitur tersebut antara lain:
1. SUAR (Broadcast info pembinaan, pengetahuan dan

interaksi) adalah kelompok fitur yang dapat
digunakan oleh pembina jabatan fungsional untuk
menyampaikan informasi pembinaan, pengetahuan
dan berinteraksi dengan pejabat fungsional. Terdiri
dari :
a. Public Lecture, merupakan fitur penyampaian

informasi dan pengetahuan melalui siaran
langsung tematik yang diisi oleh pembicara
pakar via pertemuan daring, live streaming
ataupun webinar;
b. Informasi Pembinaan Widyaiswara, merupakan
fasilitas updating informasi oleh pembina terkait

440

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

kebijakan dan informasi lainnya yang perlu
diketahui oleh widyaiswara;
c. Sidang (Informasi sidang tertutup dan Terbuka),
merupakan sarana “informasi “pelaksanaan
sidang tertutup dan terbuka terhadap karya
tulis widyaiswara yang mengikuti proses orasi
ilmiah sebagai prasyarat promosi ke tingkat
utama dengan menggunakan fasilitas video
konferensi; dan
d. Wicare (Ruang Konsultasi & Knowledge
Management), merupakan sarana konsultasi
online yang disediakan oleh pembina untuk
menjawab isu-isu yang disampaikan oleh
widyaiswara.

2. WISHARE (Widyaiswara Share) adalah kelompok fitur
untuk memfasilitasi proses penulisan dalam berbagai
bentuk yang bersifat ilmiah maupun populer juga
opini dan dapat dilakukan secara individu maupun
kelompok/kolaborasi.
a. Idea Challenge, merupakan fasilitas untuk
menampung ide-ide dan gagasan cerdas dari
widyaiswara dan dapat menjadi ajang unjuk
kebolehan berpikir out of the box/ kontes ide
cerdas;
b. Wipedia, merupakan fitur yang dapat
memfasilitasi penulisan bebas terbuka secara
kolaboratif bergaya wikipedia yang terkait
dengan fakta-fakta dan fenomena popular;
c. Karya Tulis Ilmiah, merupakan fitur yang
membantu widyaiswara mengorganisasikan
karya tulis berbasis penelitian melalui tahapan
gagasan awal, proposal, hasil kajian, naskah

441

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

artikel, hingga siap dikirim ke penerbit artikel
jurnal;
d. Opini, merupakan fasilitas bagi widyaiswara
untuk merespon cepat isu aktual berdasarkan
pandangan, gagasan personal atau penalaran
peribadi dengan gaya tulisan sama dengan
kolom opini pada surat kabar;
e. Resensi – merupakan fasilitas yang membantu
widyaiswara menyampaikan kritik membangun
dan apresiasi terhadap karya orang lain (karya
dari anggota komunitas/cluster) seperti artikel,
buku, video, proyek, dan lainnya;
f. Widyaiswara berinteraksi merupakan sarana
interaksi yang disediakan untuk membangun
diskusi lebih umum saling menyapa,
berkomunikasi dan berbagi informasi baik dari
widyaiswara maupun pembina jabatan, selain
itu dapat digunakan untuk membantu
widyaiswara dalam memberikan layanan
perkonsultasian sesuai bidang spesialisasi
kepada sesama widyaiswara; dan
g. Winova, merupakan fasilitas untuk membantu
widyaiswara mengorganisasikan penemuan
inovasi yang telah dilakukan yang dilakukan
secara pribadi maupun berkelompok.

3. DASHBOARD (Outlet dan akses), adalah halaman
default RCWI yang menampilkan informasi umum,
layaknya halaman pertama koran cetak dengan
menampilkan akses berdasarkan pembagian kluster.
a. Hasil sementara atau hasil akhir suatu proses,
menampilkan hasil sementara atau hasil akhir
dari berbagai fitur/proses berdasarkan
pembagian kluster;

442

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

b. Analytics, menampilkan data analitik dari level
keanggotaan, konversi jam pembelajaran,
anggota teraktif dan sebagainya;

c. Akses fitur, merupakan sarana akses kefitur
bagi anggota kluster;Blog dan Sosial Media,
Merupakan fitur blog pribadi dan interaksi mail
lebih privasi; dan

d. Login/Registrasi, merupakan akses bagi pejabat
fungsional Widyaiswara/calon anggota
komunitas mendaftar secara mandiri, dan
masuk untuk mengakses fitur sesuai hak nya
berdasarkan pembagian kluster.

Proses pengembangan sistem dilakukan dengan
desain bertumbuh, dimana menentukan prioritas dan
dilakukan dengan bertahap dengan fungsinya sebagai
platform pembelajaran. Proses prototyping berjalan sesuai
dengan kebutuhan, maka dilakukan pembangunan
sistemnya secara agile system development dimana
melibatkan semua pihak yang berkepentingan dalam
proses desain, memanfaatkan tenaga ahli eksternal yang
didampingi tim internal dalam pembangunan, dan
melakukan uji penerimaan terhadap pengguna selama
proses pembangunan untuk memastikan kesesuaiannya
dengan kebutuhan dan kebijakan terkait.

Sebelum finalisasi sistem dilakukan juga evaluasi
sistem melalui proses uji penerapan sistem kepada
pengguna. Tentu saja selama proses uji penerapannya
ditemukan beberapa kendala seperti disfungsi fitur,
koneksi, dan versi yang masih berbasis web, serta
keamanan sistem. Lalu hasilnya lebih dari 90 % menjawab
bahwa fitur dan operasional sistem ini sangat menarik dan

443

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

menarik seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1., kesan
secara keseluruhan terhadap RCWI.

Gambar 1. Tanggapan Umum Prototype RCWI
Sumber: Hasil Pengolahan Pusat Teknologi Pengembangan

Kompetensi, LAN (LAN, 2020)
Terkait fitur yang dianggap akan bermanfaat sebagai
sarana pengembangam kompetensi melalui RCWI yang
dapat menjadi komunitas pembelajar berbasis teknologi
bagi widyaiswara didapati bahwa fitur berbagi karya tulis
ilmiah mendapat respon 84,9% dari seluruh responden.
Sedangkan posisi kedua ada pada fitur public lecture yang
mendapatkan 81,1% dari seluruh responden. Tentu saja
untuk mendapatkan data ini responden diizinkan memilih
lebih dari satu jawaban. Hasil lainnya dapat dilihat pada
grafik fitur RCWI yang dinilai bermanfaat penggunaannya di
bawah ini.

444

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Gambar 2. Fitur RCWI Yang Dinilai Bermanfaat
Penggunaannya

Sumber: Hasil Pengolahan Pusat Teknologi Pengembangan
Kompetensi, LAN (LAN, 2020)

Sistem RCWI ini diharapkan oleh pengguna akan
dapat bermanfaat sebagai media influencer sehingga
widyaiswara lain akan termotivasi untuk berkarya melalui
aktifitas lain diluar aktivitas mengajar. Ini karena RCWI
mengajak para widyaiswara untuk dapat menulis dan
membagikan karya dan pemikirannya. Hal inilah yang akan
menjadi jejaring karya bagi widyaiswara. Artinya RCWI
diharapkan menjadi sebuah sistem yang dapat
diimplementasikan sebagai literasi teknologi
pengembangan kompetensi yang tentu saja dalam hal ini
bagi komunitas widyaiswara.

Namun ada harapan dari pengguna agar diberikan
ruang/menu untuk menjaring respon/ aspirasi/ tanggapan
dari stakeholders luar (selain member)sebagai salah satu
kontrol publik. Selain itu juga ada harapan dapat dibagikan
juga melalui media sosial mikro seperti aplikasi whatsapp.
Integrasi sistem juga perlu dilakukan, mengingat adanya
sistem informasi administratif terkait widyaiswara yang
sudah ada seperti Sistem informasi WidyaIswara (SIWI),

445

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK), jurnal. Hal
ini akan sangat menarik untuk dikembangkan lebih lanjut.

Widyaiswara juga menaruh harapan dari prototype
RCWI ini agar dapat menjadi sarana crowdfunding sehingga
pengembangan materi pelatihan dapat lebih cepat
tersusun, dan mendapat informasi berbagai sosialisasi
kebijakan, pelatihan dan seminar/ webinar dan widyaiswara
pembina tiap bidang dan jadwal pelaksanaan orasi karena
ada kewajiban untuk menghadiri orasi.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah
bagaimana dengan komunitas ASN yang lain dimana
tergabung dalam sebuah komunitas yang lebih besar serta
terdiri dari berbagai jabatan fungsional? Seperti yang
dikatakan sebelumnya bahwa sistem RCWI dapat menjadi
cikal bakal literasi teknologi pengembangan kompetensi
melalui komunitas pembelajar berbasis teknologi atau
Sistem Community Based Learning. Namun jika sistem ini
akan diduplikasi, maka perlu beberapa penyesuaian dari sisi
sistem, fitur dan juga tata kelolanya.

PENUTUP
Perkembangan teknologi digital ini memungkinkan

kita untuk mendapatkan informasi apapun yang
dibutuhkan guna meningkatkan kinerja kita sebagai
pegawai (ASN). Perkembangan teknologi digital ini akan
membawa perkembangan literasi digital dan menjadi media
perantara untuk menuju praktik literasi yang dapat
menghasilkan teks berbasis cetak. Dengan begitu
memudahkan dalam mendapatkan sumber pengetahuan
yang dibutuhkan.

Sumber pembelajaran saat ini tidak hanya
berdasarkan satu sumber/searah, namun harus lebih
didorong agar generasi sekarang mendapatkannya dari
beberapa sumber/berbagai arah. Selain itu pelaksanaannya

446

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

yang menggunakan metode klasikal dapat didorong juga
menjadi non klasikal. Oleh karena itu literasi digital ini dapat
menjadi sebuah proses pengembangan kompetensi yang
berasal dari beberapa sumber dan dilakukan secara non
klasikal dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Cara
yang dilakukan beragam terutama semenjak terjadi
pandemi Covid-19. Pegawai dituntut untuk
mengembangkan teknologi dimana pegawai masih dapat
mengembangkan pengetahuan kita meski tidak ada kelas
bahkan melalui apa saja, siapa saja dan dimana saja.
Pembelajaran bersama komunitas akan mempercepat
proses berbagi pengetahuan tersebut. Untuk itu diperlukan
Sistem informasi yang terintegrasi tersebut terdiri dari
Learning Governance System, Learning Management System,
Knowledge Management System, Community Based
Learning.

Komunitas pembelajar atau saat ini lebih dikenal
dengan Community of Practices tentu membutuhkan media
informasi dan komunikasi untuk dapat saling berbagi
pengetahuan dan berdiskusi serta beraktivitas. Secara
operasional sistem itu ada di berbagai aplikasi dan sosial
media yang tersedia bebas. Namun tentu pengetahuan dan
informasi akan tersebar dan sulit ditelusuri kembali. Oleh
karena itu LAN membangun suatu sistem yang
diperuntukkan bagi komunitas pembelajar yang dalam hal
ini widyaiswara yakni RCWI.

RCWI dapat digunakan oleh komunitas pembelajar
sebagai media literasi teknologi melalui fitur-fiturnya yang
beragam diantaranya SUAR (broadcast info pembinaan,
pengetahuan dan interaksi); WISHARE (widyaiswara share);
dan DASHBOARD (outlet dan akses). RCWI dinilai sesuai
dan memuaskan sebagai sistem yang dapat menjadi
sumber pembelajaran bagi komunitas. Namun masih perlu
dilakukan perbaikan. Tentu saja RCWI dapat adopsi atau

447

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

diduplikasi untuk jabatan fungsional lainnya, bahkan jika
ingin digunakan untuk ASN secara umum. Tentu harus
dilakukan penyesuaian dari segi sistem dan tata kelolanya.

DAFTAR PUSTAKA

Amanda, S. (2021). Apa itu Literasi Digital, Prinsip Dasar,

Manfaat, dan Contohnya. Tirto.Id. https://tirto.id/apa-

itu-literasi-digital-prinsip-dasar-manfaat-dan-

contohnya-gbhL

DeLone, W. H., & McLean, E. R. (2003). The DeLone and

McLean model of information systems success: A ten-

year update. Journal of Management Information

Systems, 19(4), 9–30.

https://doi.org/10.1080/07421222.2003.11045748

Dessler, G. (2017). Human Resources Management

Fifteenth Edition. In S. Wall & B. Surette (Eds.),
Pearson Education Limited (Fifteenth). London :

Pearson Education Limited.

Dubois, D. D., & Rothwell, W. J. (2004). Competency-Based

Human Resource Management First Edition (D. J. K.
Stern & L. K. Kemp (eds.); Edisi Pert). California :

Davies-Black Publishing.

Halawi, L. A., McCarthy, R. V, & Aronson, J. E. (2008). An

Empirical Investigation of Knowledge Management

Systems’ Success. Journal of Computer Information

Systems, 48(2), 121–135.

https://doi.org/10.1080/08874417.2008.11646014

Kulkarni, U., Ravindran, S., & Freeze, R. (2007). A

Knowledge Management Success Model: Theoretical

Development and Empirical Validation. Journal of

Management Information Systems, 23(3), 309–347.

https://doi.org/10.2753/nus0742-1222230311

LAN. (2020). Pembangunan Model Rumah Cerdas Untuk

Community Of Practices (COP) Widyaiswara.

448

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Jakarta:Lembaga Administrasi Negara.

Noe, R. A., Hollenbeck, J. R., Gerhart, B. A., & Wright, P. M.
(2016). Fundamental of Human Resource Management :

Gaining A Competitive Advantage. (Sixth Edit). New
York : Mc Graw Hill Education.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan

Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 38

Tahun 2017 Tentang Standar Kompetensi Jabatan

Aparatur Sipil Negara

Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik

Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 Tentang

Pengembangan Kompetensi Pegawai Aparatur Sipil

Negara

Riad, A. M., & El-Ghareeb, H. A. (2008). A service oriented

architecture to integrate mobile assessment in

learning management systems. Turkish Online Journal

of Distance Education, 9(2), 200–219.

https://doi.org/10.17718/tojde.14156

Riyadi. (2010). Learning Management System(LMS).

https://riyadi2405.wordpress.com/2010/04/25/lms-

learning-management-system/

Ryann K. Ellis. (2009). A Field Guide to Learning

management systems. International Anesthesiology

Clinics, 48(3), 27–51.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20616636

Sari, W. K., & Tania, K. D. (2014). Penerapan Knowledge

Management System (KMS) Berbasis Web Studi

Kasus Bagian Teknisi dan Jaringan Fakultas Ilmu

Komputer Universitas Sriwijaya. Jurnal Sistem

Informasi (JSI) Sistem Informasi Fasilkom Unsri, 6(2),

2355–4614.

http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jsi/index

Syakilah, A., Untari, R., & Maharani, K. (2020). Indeks

Pembangunan Teknologi Informasi Dan Komunikasi

449

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

2019 (S. Utoyo, L. Anggraini, & E. Sari (eds.)).

Jakarta:Badan Pusat Statistik.

https://www.bps.go.id/pressrelease/download.html?

nrbvfeve=MTc1MA%3D%3D&sdfs=ldjfdifsdjkfahi&two

adfnoarfeauf=MjAyMS0wNi0xNSAxMzoyNzozMg%3

D%3D

Thoha, M. (2012). Perilaku Organisasi:Konsep Dasar Dan

Aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wenger, E., McDermott, R., & Snyder, W. M. (2002).

Cultivating Communities of Practice: A Guide to

Managing Knowledge. Harvard Business School Press.

Wu, J. H., & Wang, Y. M. (2006). Measuring KMS success: A

respecification of the DeLone and McLean’s model.

Information and Management, 43(6).

https://doi.org/10.1016/j.im.2006.05.002

Yohanitas, W. A. (2019). Strategi Pengembangan Kapasitas

Sumberdaya Aparatur Di Lembaga Administrasi Negara

(Studi Kasus Pada Jabatan Fungsional Analis

Kebijakan). STIA LAN Jakarta. Thesis.

Yohanitas, W. A. (2020). Pengujian Penerapan Prototype

Rumah Cerdas Widyaiswara sebagai Jejaring Karya

Widyaiswara. In Politeknik STIA Bandung (Ed.),

Prosiding Konferensi Nasional Ilmu Administrasi 4.0
(KNIA 4.0 – 2020) (pp. 96–102). Bandung : Politeknik

STIA Bandung.

https://drive.google.com/file/d/1sV8DIfiJNS08v3iN1y

N3d13-x1GuFjEb/view?usp=sharing

450

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

ASN Unggul: Inovasi Pelayanan Publik LAN di
Masa Pandemi Covid 19

Suseno
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia

[email protected]

Ringkasan

The COVID-19 pandemic forced schools and universities to close their
doors, impacting an unprecedented number of students worldwide. The
goal during this period was to limit meetings involving physical contact in
an effort to reduce the spread of the COVID-19 virus. Since the technology
linked to communication contributes to access to education and this has
been expanded through digital communication networks. The numerous
paths taken by innovation linked to technology point to different realities
and orientations in the process, and new methods in the educational
context. The National Institute of Public Administration (NIPA)
introduced a new innovative breakthrough digital communication
network: ASN Unggul. The innovation offers an opportunity to students
and potential students who have limited access to physically go to the
campus to attend classes. The researcher examines how the ASN Unggul
is applied. This research uses qualitative methods and descriptive
approaches. This study uses public service theory and public service
innovation. Determination of implementing informants using snowball
sampling and user informants using purposive sampling. This research
used a theory of the attributes of innovation by Everett M Rogers which
says that there are five attributes of innovation that can determine
innovation acceptance, which consists of relative advantage,
compatibility, complexity, trialability, and observability. The method in
this research is descriptive qualitative method with data collection
techniques by interview, documentation, and observation, while the
selection informant’s technique by purposive sampling technique. Based
on this fieldwork, ASN Unggul innovation was successful and accepted by
students. Five attributes of innovation by Everett M. Rogers also present
on ASN Unggul innovation. This can be seen from the perceived benefits
in the form of effectivity, efficiency of cost, and energy and the
acceptance of services with the needs of the students. However, some
problems are still found, such as internet stability.

451

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Keywords: Public Service, Government, Distance Learning LMS, ASN
Unggul, Innovation

PENDAHULUAN
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health

Organization) menyatakan bahwa penyebaran Coronavirus
Disease 2019 (COVID-19) merupakan pandemi yang
menimpa berbagai negara di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia. Pandemi ini menunjukkan peningkatan dari
waktu ke waktu dan telah mengakibatkan berbagai
kerugian termasuk korban jiwa, serta kerugian material
yang besar, serta berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi,
lingkungan hidup serta kesejahteraan masyarakat.
Pembelajaran di masa pandemi Coronavirus Disease 2019
(COVID-19) diselenggarakan antara lain melalui
pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap
menerapkan protokol kesehatan; dan/atau pembelajaran
jarak jauh.

Sebanyak 91,3% atau sekitar 1,5 miliar murid seluruh
dunia, merujuk data UNESCO per 17 April 2020, tidak dapat
menghadiri kelas karena pandemic Covid-19 (Nadia Fairuzza
Azzahra, 2020). Data tersebut termasuk 45 juta murid di
Indonesia atau sekitar 3% dari total populasi yang
terdampak menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).
Seiring dengan hal ini, sebagian besar masyarakat Indonesia
telah berusaha menjalani kehidupan baru (new normal).
Sejumlah sekolah dan universitas menerapkan sistem
belajar online atau virtual tanpa tatap muka langsung. Meski
disinyalir sistem ini menimbulkan keluhan bagi sebagian
masyarakat dengan ekonomi ke bawah, serta tinggal di
pelosok. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
daring adalah akronim 'dalam jaringan', terhubung melalui
jejaring komputer, internet, dan sebagainya. Dari berbagai
sumber dapat diketahui bahwa guru, dosen, siswa, dan
mahasiswa kini melakukan kegiatan belajar-mengajar

452

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

secara daring, termasuk pada saat pemberian/ penerimaan
tugas. New normal merupakan perubahan perilaku atau
kebiasaan untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa
namun dengan selalu menerapkan protokol kesehatan di
tengah pandemi COVID-19. Pemerintah menghimbau agar
kita beradaptasi mampu hidup “berdampingan” dengan
virus yang telah memakan jutaan korban jiwa dan
melemahkan perekonomian berbagai negara.

Menurut Farhana (2020), pembelajaran daring ialah
metode belajar yang menggunakan model interaktif
berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS),
seperti menggunakan Zoom, Google Meet, dan sebagainya.
Sedangkan sistem pembelajaran luring, merupakan sistem
pembelajaran yang memerlukan tatap muka. Menurut KBBI
Kemendikbud, luring ialah akronim atau singkatan dari luar
jaring(an), terputus dari jejaring computer. Secara bahasa,
daring lebih diartikan sebagai online dan luring sebagai
offline. Serta memiliki makna tertentu dalam teknologi
komputer dan telekomunikasi. Daring bisa juga diartikan
sebagai suatu keadaan komputer yang saling bertukar
informasi, karena sudah terhubung ke sebuah internet.
Seiring perkembangan zaman di kondisi pandemi seperti
ini, konsep apa itu daring telah diperluas. Kehidupan baru
(New Normal) ini termasuk sistem daring yang kini
diterapkan bagi para mahasiswa dan pelajar, demi menjaga
kesehatan dan keselamatan dari penyebaran virus Covid-19.
Sistem pembelajaran daring dinilai sebagai salah satu jalan
keluar.

Secara makna komputasi dan telekomunikasi ke
dalam bidang interaksi manusia dan percakapan, yang
diterapkan dalam sistem pembelajaran, rapat kerja,
pertemuan keluarga, dan masih banyak lagi. Jenis
komunikasi daring ada dua, yakni komunikasi sinkron atau
serempak, serta komunikasi asinkron atau tidak serempak.

453

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Tipe komputasi sinkron komunikasi yang
menggunakan komputer, smartphone ataupun alat bantu
lainnya yang digunakan sebagai media perantara. Sesuai
dengan namanya, “serempak”, kedua orang yang ingin
berkomunikasi tersebut memiliki waktu yang sama
atau real time. Sedangkan tipe komunikasi asinkron atau
tidak serempak berbanding terbalik. Letak perbedaannya
ialah waktu yang dilakukan untuk berkomunikasi. Pasalnya
tipe komunikasi ini dilakukan tidak pada waktu yang
bersamaan.

Di tengah pandemi Covid-19, Lembaga Administrasi
Negara (LAN) konsisten menjalankan tugas dan fungsinya
antara lain untuk meningkatkan profesionalitas birokrasi
Indonesia. Pandemi Covid-19 tidak hanya mempengaruhi
kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Pandemi ini
berimbas pada kehidupan sehari hari termasuk pelayanan
publik. Kita dipaksa menyikapi ulang sesuatu yang telah
menjadi kebiasaan atau normal. Kita memasuki era
kenormalan baru (new normal) pelayanan publik. LAN
memiliki tugas pokok dan fungsi antara lain: Pembinaan,
penjaminan mutu dan penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan sumber daya aparatur negara. Setiap instansi
pemerintahan dibentuk untuk mencapai tujuan yaitu
memberikan kepuasan bagi masyarakat, apabila tujuan
yang telah ditetapkan tercapai barulah dapat dikatakan
suatu keberhasilan.

Pusat Pengembangan Kompetensi Kepemimpinan
Nasional dan Manajerial Aparatur Sipil Negara
(Pusbangkompimnas & MASN) berkolaborasi dengan
stakeholders dari berbagai Kementerian, Lembaga,
Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota), dan
BUMN/D. Tantangan yang muncul pada tahun 2020 adalah
kejadian tidak terduga yaitu muncul dan maraknya pandemi
COVID-19. Pandemi ini telah menyebabkan perubahan pada

454

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

seluruh aspek pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan
pelatihan. Mulai pertengahan bulan Maret 2020 hingga saat
ini. Penyelenggaraan pelatihan yang semula direncanakan
dilaksanakan secara klasikal, sejak adanya pandemi,
dilakukan secara distance learning/virtual dan blended
learning. Ha ini juga mengakibatkan peraturan yang ada
harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009
pasal satu (1) Tentang Pelayanan Publik memberikan definisi
pelayanan publik sebagai berikut: “Pelayanan Publik adalah
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa, dan/atau pelayanan administrasi yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik”.

Untuk memberikan pelayanan yang prima LAN perlu
mengenali kebutuhan masyarakat dalam hal ini peserta
Pelatihan. Hal tersebut dimaksudkan agar kepuasan
masyarakat dapat meningkat dan agar pemerintah juga
mampu adaptif dan responsif pada perubahan era saat ini.
Salah satu kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan
era global yang semakin maju ini adalah dengan mampu
menguasai dan menerapkan teknologi informasi dalam
proses birokrasi. Hal ini bertujuan agar mempercepat dan
mempermudah pelaksanaan pelayanan publik sehingga
menghasilkan cara kerja birokrasi yang baru. Cara kerja
birokrasi baru tersebut secara lebih sederhana dapat
disamakan dengan Inovasi pelayanan.

Inovasi lembaga publik antara lain perubahan
organisasi yang senantiasa adaptive dan agile terhadap
kondisi dan situasi di lingkungan sekitarnya dan untuk
mengubah perilaku pegawai di organisasi tersebut. Inovasi
administrasi negara meliputi 8 (delapan) jenis antara lain
Inovasi Teknologi (Technology Innovation) menitikberatkan

455

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

dalam penggunaan teknologi baru. Penggunaan teknologi

baru ini bertujuan untuk memudahkan, mempercepat serta

memperbanyak hasil yang diproduksi. Dalam konteks sektor

publik, inovasi teknologi biasanya dilakukan melalui

introduksi e-government dan pembaruan peralatan atau

perangkat untuk menunjang pekerjaan. Penggunaan

elektronik dengan memanfaatkan teknologi informasi

membuat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh sektor

publik menjadi lebih efektif dan efisien (Direktori Inovasi

LAN, 2014).

Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari

hingga Maret 2021 di lingkungan Pusat Pelatihan

Pengembangan Kompetensi Kepemimpinan dan

Manajemen Aparatur Sipil Negara (Pusbangkompimnas &

MASN) LAN. Pusbangkompimnas & MASN merupakan

salah satu pusat pada Deputi Bidang Penyelenggaraan

Pengembangan Kompetensi (Deputi IV).

Pusbangkompimnas & MASN menjalankan salah satu fungsi

Deputi IV yaitu pengelolaan dan penyelenggaraan

pengembangan kompetensi kepemimpinan nasional dan

pengelolaan serta penyelenggaraan pengembangan

kompetensi manajerial pegawai ASN, baik secara mandiri

maupun bersama-sama lembaga pendidikan dan pelatihan

lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif

dengan jenis penelitian deskriptif.

Norman K. Denkin dalam Mudjia Rahardjo (2012)

menyatakan bahwa triangulasi merupakan gabungan atau

kombinasi berbagai metode yang digunakan untuk

mengkaji fenomena yang saling berhubungan dari sudut

pandang dan perspektif yang berbeda. Selanjutnya

dinyatakan pula bahwa triangulasi terdiri dari empat hal

yang mencakup (1) triangulasi metode, (2) triangulasi antar-

peneliti (bagi penelitian yang dilakukan secara kelompok),

(3) triangulasi sumber data, dan (4) triangulasi teori. Pada

456

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

penelitian ini, menggunakan triangulasi sumber data dan
triangulasi teori. Triangulasi sumber data melalui observasi
dan dokumen tertulis yang diperoleh dari ASN Unggul,
peserta Pelatihan, Mentor, Penguji, Widyaiswara
Pengampu Mata Pelatihan serta Penyelenggara Pelatihan.
Menggunakan triangulasi teori dimana hasil akhir penelitian
kualitatif berupa sebuah ikhtisar informasi. Informasi
tersebut selanjutnya dibandingkan dengan perspektif teori
yang relevan. Triangulasi dapat dilakukan dengan: 1)
Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil
wawancara; 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang-
orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan
sepanjang waktu; 3) Membandingkan keadaan dan
perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang
berpendidikan menengah atau tinggi, orang yang berada,
orang pemerintahan; 4) Membandingkan hasil survei
dengan isu suatu dokumen yang berkaitan.

Melalui penelitian kualitatif ini, penulis melakukan
aktivitas pengumpulan sejumlah data dalam bentuk kata
maupun gambar yang bersumber dari website ASN Unggul
dan Laporan Kinerja Pusdiklat KAN 2020. Data tersebut
mencakup hasil pengisian kuesioner oleh peserta Pelatihan
Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat 1, PKN Tingkat 2,
Reform Leader Academy (RLA), Pelatihan Kepemimpinan
Administrator (PKA) dan Pelatihan Kepemimpinan
Pengawas (PKP), catatan sebagai Pengampu mata ajar
berbagai materi pada Pendidikan Kepemimpinan yang
diselenggarakan LAN maupun Kementerian/Kelembagaan,
serta dokumentasi lainnya. Adapun tujuannya untuk
memahami bagaimana penerapan inovasi pelayanan publik
melalui inovasi ASN Unggul. Jenis data yang digunakan
merupakan data primer, yang diperoleh berasal dari
narasumber (Widyaiswara LAN dan peserta Pelatihan

457

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Kepemimpinan) dan sejumlah dokumen yang berkaitan
dengan judul penelitian; dan data sekunder berasal dari
studi pustaka yang diperoleh berdasar pada beberapa
informasi hasil telusuran media daring.

Penulis tertarik untuk lebih mengetahui mengenai
penerapan ASN Unggul dalam memfasilitasi pegawai ASN
yang menempuh pelatihan di LAN dan juga Kementerian
lain yang menggunakan fasilitas ini. Adapun tujuan karya
tulis ini adalah untuk memahami bagaimana penerapan
dan manfaat inovasi pelayanan publik distance learning
plus LMS: ASN Unggul.

KONDISI SAAT INI
Sebagaimana dimaklumi, Pemerintah menerbitkan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun
2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam
rangka percepatan penanganan coronavirus disease 2019
(COVID-19) tanggal 31 Maret 2020. Menindaklanjuti PP ini,
LAN khususnya dalam menjaga konsistensi
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya
aparatur negara, agar tujuan yang telah ditetapkan tercapai
maka diperlukan pelayanan yang baik dan berkualitas. Cara
yang ditempuh adalah dengan menciptakan inovasi
pembelajaran dari jauh (distance learning) didukung dengan
Learning Management System (LMS). Pemanfaatan ASN
Unggul dikombinasikan juga dengan aplikasi Zoom. Inovasi
ini dikenal dengan ASN Unggul. Inovasi yang diperkenalkan
melalui ASN Unggul meliputi Belajar dimanapun kapanpun.

Bersama ASN Unggul, peserta pelatihan dapat belajar
tanpa dibatasi ruang dan waktu. Mobilitas tinggi tidak
menjadi halangan, ASN Unggul tetap dapat diakses melalui
perangkat mobile.

458

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Blended learning
Penyerapan pengetahuan dapat dimaksimalkan

sekaligus mengembangkan keterampilan belajar via online
di ASN Unggul yang dikombinasikan dengan pertemuan
secara klasikal.
Flip classroom

Pemahaman peserta dimaksimalkan dengan materi
secara online dan dilengkapi dengan berinteraksi langsung
antara Widyaiswara dan peserta di dunia nyata.
Pembinaan alumni

Membangun jejaring para alumni. Komunitas alumni
dibentuk dan dibangun kolaborasi yang berkelanjutan.

Inovasi ASN Unggul ini dihadirkan untuk memberi
solusi terhadap beberapa permasalahan dan tantangan
pengembangan kompetensi ASN pada berbagai tingkatan.
Pada acara puncak perayaan HUT LAN ke-63, Kamis
(6/8/2020) platform e-learning ASN Unggul diluncurkan.
Para ASN dengan mudah mengakses platform yang sudah
dikembangkan sejak 2019 ini melalui alamat asn-
unggul.lan.go.id (Kompas.com). Pelayanan ASN Unggul ini
dihadirkan juga untuk, berkomitmen memberikan
pengalaman belajar yang lebih baik kepada pegawai ASN
Indonesia. ASN Unggul (asn-unggul.lan.go.id) merupakan
platform Learning Management Systems yang mendukung
efektivitas, efisiensi dan kualitas penyelenggaraan
pelatihan. ASN Unggul telah diterapkan dalam Pelatihan
Kepemimpinan Nasional Tingkat I, Tingkat II, RLA, PKA dan
PKP.Selama tahun 2020 Pusbangkompimnas dan MASN
telah menyelenggarakan pelatihan yang diikuti sebanyak
463 peserta. Para peserta telah memanfaatkan ASN Unggul
dalam proses pelatihan dari berbagai pelosok daerah di
seluruh Indonesia. Mereka memanfaatkan tanpa batas
waktu 24 jam sehari 7 hari seminggu. Peserta bahkan dapat

459

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

mengakses pada hari libur atau sambil mengerjakan
pekerjaan rutin di unit kerjanya.

KONDISI YANG DIHARAPKAN
Internet (Interconnected Network) merupakan

sebuah sistem komunikasi global. Internet menjalin
hubungan antar komputer-komputer dan jaringan-jaringan
komputer diseluruh penjuru dunia dengan menggunakan
paket protokol internet (TCP/IP). Web Theoria (2020)
memperkuat dengan menyatakan bahwa in 2020, close to
two-thirds of the world’s population has access to this
evolving technology, the internet.

Kehadiran internet di tahun 1990-an telah mampu
memfasilitasi komunikasi antar manusia terkait
ketidakhadiran secara fisik. Sejalan dengan hal ini, Rogers
(2003) menjelaskan bahwa the Internet is changing the very
nature of diffusion by decreasing the importance of physical
distance between people. Terkait dengan inovasi, Rogers
(1983) menjabarkan ada lima karakteristik inovasi
pelayanan publik yaitu :
a. Keunggulan Relatif (relative advantage)

Tingkat inovasi yang dianggap lebih baik atau
unggul dari yang telah ada sebelumnya.
Pengukurannya dapat dilihat dari berbagai sudut,
seperti sudut para adopter akan menilai apakah
suatu Inovasi itu relatif menguntungkan atau lebih
unggul dibanding yang lainnya atau tidak. Bagi para
adopter yang menerima secara cepat suatu inovasi,
akan mengapresiasi inovasi itu sebagai sebuah
keunggulan.
b. Kesesuaian (compatibility)

Selanjutnya tingkat kesesuaian dengan nilai
atau values, pengalaman sebelumnya, dan kebutuhan
dari para penerima. Yang dimaksud kesesuaian adalah

460

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

derajat dimana inovasi tersebut dipercaya konsisten
dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman pada
masa lalu dan kebutuhan dari para pengadopsi.
Misalnya jika suatu inovasi atau gagasan baru
tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang
berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan
mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang
sesuai (compatible).
c. Kompleksitas (complexity)

Tingkat kesulitan untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerima. Kompleksitas
adalah tingkat dimana inovasi dianggap sebagai suatu
yang sulit untuk dipahami serta digunakan. Artinya
bagi penerima yang lambat memahami dan
menguasainya tentu akan mengalami tingkat
kesulitan lebih tinggi dibanding penerima yang cepat
memahaminya. Tingkat kesulitan tersebut
berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan
seseorang untuk mempelajari istilah-istilah dalam
inovasi itu.
d. Kesiapan untuk diuji cobakan (trialability)

Trialability dipahami sebagai dapat dicoba atau
tidaknya suatu gagasan baru oleh individu penerima.
Kemampuan untuk diuji cobakan atau triability adalah
tingkat dimana suatu gagasan baru dapat diuji coba
dalam ukuran tertentu. Suatu gagasan baru yang
dapat diuji cobakan dalam pengaturan (setting)
secara umum dipercaya akan lebih cepat diadopsi.
Untuk dapat dengan cepat diadopsi, suatu gagasan
baru seyogyanya harus mampu menunjukkan
keunggulannya. Kemampuan agar dapat diuji
bertujuan guna mengurangi ketidakpastian.
Mempunyai kemungkinan untuk diuji coba terlebih

461

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

dahulu oleh para adopter untuk mengurangi
ketidakpastian mereka terhadap inovasi itu.
e. Kemampuan untuk dapat diamati (observability).

Suatu inovasi dapat mudah atau tidaknya untuk
diamati oleh pihak terkait. Semakin mudah pihak lain
melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar
kemungkinan pihak atau sekelompok orang tersebut
mengadopsi. Jika inovasi memiliki
tingkat observability yang tinggi, maka pihak lain akan
relatif mudah untuk belajar tentang inovasi tersebut
dan akan mendorong pihak lain selaku penerima
untuk memberikan penilaian apakah inovasi
itu mampu membawa manfaat lebih.

Menurut (Muluk, 2008) ada beberapa jenis inovasi
pada pelayanan sektor publik, antara lain Inovasi Sistem
Pelayanan. Inovasi ini adanya pembaharuan dalam konteks
interaksi dengan pihak lain dalam pengelolaan organisasi.
Di era digital yang semakin maju ini Lembaga Administrasi
Negara telah bertindak lebih adaptif serta tanggap dalam
memanfaatkan teknologi melalui ASN Unggul. Proses
belajar mengajar dilakukan dengan selalu berinovasi untuk
menemukan strategi yang lebih baik dalam mencapai
tujuan pemerintah.

Kehadiran ASN Unggul dalam mendukung kegiatan
belajar mengajar juga dikombinasikan dengan ketersediaan
platform Zoom. Zoom adalah suatu aplikasi komunikasi
yang memanfaatkan video. Aplikasi tersebut dapat dengan
mudah digunakan melalui berbagai perangkat seluler,
desktop, hingga telepon juga sistem ruang. Para pengguna
Zoom biasanya menggunakan aplikasi ini untuk
melakukan pertemuan, kegiatan belajar mengajar jarak
jauh, hingga Konferensi Internasional dan seminar
(webinar) yang pesertanya hingga ribuan hadir bersamaan.

462

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

TAWARAN SOLUSI
Dalam rangka tertib administrasi dalam penataan

kelembagaan serta meningkatkan pelayanan kepada
peserta berbagai tingkatan Pelatihan Kepemimpinan
Nasional, LAN selaku penjuru utama nasional, telah
melahirkan terobosan melalui inovasi pelayanan ASN
Unggul. Pusbangkompimnas dan MASN
menyelenggarakan survei kepuasan peserta pelatihan
terhadap kinerja penyelenggaraan pelatihan/ pembelajaran
jarak jauh - Distance Learning (DL).

Gambar 1. Survey Kepuasan Peserta PKN Tk. I terhadap
Penyelenggaraan Pelatihan Secara Distance Learning di

Masa Pandemi Tahun 2020

Sumber: Penulis

463

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Gambar 2. Survey Kepuasan Peserta PKN Tk. II terhadap
Penyelenggaraan Pelatihan Secara Distance Learning di

Masa Pandemi Tahun 2020

Sumber: Penulis
Gambar 3. Survey Kepuasan Peserta PKA terhadap
Penyelenggaraan Pelatihan Secara Distance Learning di

Masa Pandemi Tahun 2020

Sumber: Penulis

464

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Gambar 4. Survey Kepuasan Peserta PKP terhadap
Penyelenggaraan Pelatihan Secara Distance Learning di

Masa Pandemi Tahun 2020

Sumber: Penulis
Survei tersebut adalah: Survei Kepuasan Peserta
Pelatihan Nasional (PKN) Tingkat 1 Terhadap
Penyelenggaraan PKN secara Distance Learning Di Masa
Pandemi Tahun 2020, Tingkat 2, RLA, PKA dan PKP. Pada
aspek Kurikulum Pembelajaran, kuesioner meliputi 1).
Durasi pembelajaran menggunakan sarana distance
learning (Zoom, LMS)? 2). Efektivitas pembimbingan
menggunakan sarana distance learning (Zoom, LMS)? 3).
Efektivitas Benchmarking menggunakan sarana distance
learning (Zoom, LMS)? 4). Efektivitas seminar rancangan
proyek perubahan menggunakan sarana distance learning
(Zoom, LMS)? 5). Kesesuaian materi dengan kompetensi
yang akan dibangun? 6). Kritik/saran untuk aspek kurikulum
pembelajaran. Dari hasil survei tersebut dapat disimpulkan
bahwa rata rata hasil survei kepuasan peserta pelatihan
adalah 88 %. (Laporan Kinerja Pusdiklat KAN 2020).

465

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Merujuk pendapat Rogers (1983), maka dapat
diuraikan karakteristik inovasi ASN Unggul sebagai
berikut:
a. Relative Advantage (kemanfaatan)

Tingkat inovasi pelayanan ASN Unggul terutama
pada masa Pandemic Covid -19 yang sedang mewabah
dianggap lebih baik atau unggul dari yang telah ada
sebelumnya. Pengukurannya dapat dilihat dari
berbagai sudut. Peserta pelatihan menyatakan bahwa
ASN Unggul ini memudahkan mereka untuk kapan
saja, dimana saja dalam mengirim, mengunduh dan
mengunggah tugas tugas serta secara cepat dari
mana saja dan kapan saja. Peserta juga mudah
mendapatkan akses informasi terbaru terkait mata
pelatihan, pengajar, narasumber, materi pelatihan
dan chatting antar peserta. Bagi Pengampu/
Widyaiswara terkait terbukti sangat memudahkan
dalam memantau penugasan, pemberian nilai.
Kegiatan belajar mengajar terbukti sangat terbantu
dengan keberadaan inovasi ASN Unggul ini.
b. Compatibility (kesesuaian)

Merupakan karakteristik inovasi kedua yang
dikemukakan oleh Rogers. Inovasi ASN Unggul ini
memiliki tingkat kesesuaian dengan nilai atau values,
yang konsisten dengan nilai nilai yang berlaku. Bisa
disebut juga inovasi yang sebelumnya sudah ada
berupa website LAN. Namun dalam masa pandemic
Covid -19, website LAN yang terkait dengan Pelatihan
Kepemimpinan, telah disempurnakan melalui ASN
Unggul untuk mendukung kelancaran belajar
mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Rogers
bahwa inovasi yang dapat memudahkan dan juga
menyesuaikan dengan kebijakan yang berlaku.
Kebijakan saat ini adalah PSBB dalam New Normal.

466

Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik

Inovasi ASN dianggap sesuai dengan nilai dan norma
yang berlaku, dapat diadopsi dengan mudah. Inovasi
ASN Unggul dianggap sesuai (compatible).
c. Complexity (kerumitan)

Tingkat kesulitan untuk memahami dan
menggunakan inovasi baru termasuk prosedur baru
bagi penerima atau pengguna. Kompleksitas adalah
tingkat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang
sulit untuk dipahami serta digunakan. Artinya bagi
penerima yang lambat memahami dan
menguasainya tentu akan mengalami tingkat
kesulitan lebih tinggi dibanding penerima yang cepat
memahaminya. Tingkat kesulitan tersebut
berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan
seseorang untuk mempelajari istilah-istilah dalam
inovasi itu. Inovasi pelayanan ASN Unggul diterima
oleh para peserta pelatihan bukanlah sebagai hal yang
sangat rumit.

Peserta Pelatihan menyatakan bahwa proses
pengenalan penerapan ASN Unggul relatif singkat
sekitar satu jam. Hal ini dikarenakan prosedur yang
disediakan Penyelenggara Pelatihan LAN dianggap
cukup mudah diikuti untuk menerapkan ASN Unggul.
Tujuan pelayanan ASN Unggul telah tercapai. ASN
Unggul terbukti memudahkan peserta pelatihan yang
tersebar di seluruh penjuru tanah air dalam
menyelesaikan tugas tugas, mengunduh informasi
terbaru secara real time, 24 jam dari mana saja dan
dapat menggunakan smartphone merek apa saja. Dari
hasil observasi dan wawancara bahwa inovasi
pelayanan ASN Unggul dirasa sedikit sekali
kerumitan. Umumnya kerumitan dari peserta
pelatihan adalah sebagian belum terbiasa

467


Click to View FlipBook Version