The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by warsinisuharnowo, 2021-11-04 03:25:12

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

GOENAWAN MOHAMAD

7

http://facebook.com/indonesiapustaka TEMPOPUSAT DATA & ANALISA
Catatan Pinggir 9 iii

http://facebook.com/indonesiapustaka

Catatan Pinggir 7

i 7

http://facebook.com/indonesiapustaka

ii Catatan Pinggir 7

GOENAWAN MOHAMAD

7

http://facebook.com/indonesiapustaka TEMPOPUSAT DATA & ANALISA
Catatan Pinggir 7 iii

http://facebook.com/indonesiapustaka CATATAN PINGGIR 7
Goenawan Mohamad, Juli 2003 - Juni 2005
Kata pengantar: Bambang Sugiharto
Editor bahasa: Dewi Kartika Teguh W., H. Sapto Nugroho, Uu Suhardi
Korektor dan Indeks: Ade Subrata
Kulit muka, tata letak, dan ilustrasi: Edi RM
Foto pengarang: Rully Kesuma
©Goenawan Mohamad, 2006
Hak Cipta dilindungi Undang-undang.
Cetakan Pertama, Juni 2006
Cetakan Kedua, Maret 2011
Diterbitkan oleh Pusat Data dan Analisa Tempo
Kebayoran Centre, Blok A 11 - A 15,
JI. Kebayoran Baru - Mayestik
Jakarta 12440
Telp. ( 021) 725.5625 - Faks (021) 725.0524
Website: www.pdat.co.id
e-mail: [email protected]
Dicetak oleh Percetakan PT Temprint, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan

iv Catatan Pinggir 7

Daftar Isi

http://facebook.com/indonesiapustaka ix Pengantar
1 Kota Tuhan
5 Titanic
9 1944
13 NKRI
17 Gatholoco
21 Angkor
25 Syak
29 Schwarzenegger
33 Technē
37 Nippon
41 11/9
45 Imam (1)
49 Musuh
53 Said
57 Rumah
61 Gelegar
65 Korupsi
69 Emak
73 Kaya
77 Pohon-Pohon
81 Riba
85 Allah
89 Maaf
93 Dhanu
97 Tso Wang
101 Saddam

Catatan Pinggir 7 v

http://facebook.com/indonesiapustaka 2004
107 Setiap Desember Adalah Menunggu
115 Jarak
119 The Clowns
123 Asrul
127 Sepatu
131 Horor
135 Pilih
139 Parrhesia
143 Prancis
147 Grondslag
151 Karbala
155 Agama
159 Hiperboria
163 La Mezquita
167 Passion
171 Imam (2)
175 Anggrek
179 Spion
183 Ambon
187 Abu Ghuraib
191 Berber
195 Zhivago
199 Lisan
203 Si Anjing
207 Troya
211 Tertawa
215 Tepi
219 Tanggulsari
223 Ramalan
227 Karnaval
231 Darah

vi Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 235 Saksi
239 Proklamasi
243 Maharaja
247 Kynisme
251 Fantasi
255 Beslan
259 Jakarta, 10 September 2004
263 Pengebom
267 Sosok
271 1965
275 Infeksi
279 Sayu
283 Pulung
287 November
291 Saman
295 Liberalisme
299 Yakin
303 Kejadian
307 Van Gogh
311 Mati
315 Jasih

2005
321 Terang, Gelap, Harap
329 Tsunami
333 Balsam
337 Kotak Hitam
341 Surat kepada Teman yang Mencemooh Indonesia
349 Gempa
353 Beguganjang
357 Al-Ghazali
361 In Memoriam

Catatan Pinggir 7 vii

http://facebook.com/indonesiapustaka 365 Minyak
369 Adil
373 Memberi
377 Amina
381 Bandung
385 Vatikan
389 Magda
393 Takut
397 Mulyana
401 Munir
405 Guantanamo
409 Waiçak
413 Ciliwung
417 Eropa
421 Turki
425 Jacko

viii Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KOTA TUHAN

JIKA kita hidup di lorong-lorong miskin yang berlumur nar-
kotik dan bergelimang darah, jika kita tinggal di bawah per-
mukaan kota besar tempat gerombolan menembak manusia­
seperti menembak ayam, jika kita hidup di favela Rio de Ja-
neiro, di mana 20 persen penduduk tinggal dalam keadaan jorok
dan jelata, dengan kata lain, jika kita bagian dari Cidade de Deus­
seperti yang dipaparkan film sutradara Fernando Meirelles,­bisa­
kah kita melepaskan diri dari kedurjanaan?

Pertanyaan itu sama artinya dengan bisakah kita berharap. Di
”Dunia Ketiga”, di Rio ataupun Jakarta, yang dikepung kemis­
kina­ n, kejahatan, dan korupsi, harapan adalah problem pokok
yang tak diakui. Seakan-akan dia sudah ada. Seakan-akan Yang
Durjana, Evil yang menyengsarakan itu, adalah sesuatu yang
jauh, yang mustahil bisa jadi bagian dari hidup sehari-hari.

Tapi abad ke-20 yang baru lewat menunjukkan, ada orang
yang makan, minum, bersetubuh, berak, kencing, tidur, dan be­
ker­ja seperti orang kebanyakan, berkeluarga seperti orang keba­
nyakan, tapi pada saat yang sama sanggup mengerjakan tugas
mem­bunuh manusia dengan cara bengis dan dalam skala besar.
Adolf Eichmann adalah contoh yang terkenal—dan kita ingat,
birokrat yang setia di bawah pemerintahan Hitler inilah yang
meng­giring dengan rutin orang Yahudi untuk dibantai, yang jadi
contoh Hannah Arndt ketika ia berbicara tentang the banality of
evil, ”banalnya kedurjanaan”.

Kedurjanaan macam itu tentu saja tak hanya berkenaan de­
ngan­Jerman dan Holocaust. Apalagi di abad ke-21. Saya ang­gap­
yang tergambar dalam karya Meirelles, Cidade de Deus, menun-
jukkan bahwa kedurjanaan bisa jadi bagian hidup sehari-hari bu-
kan karena manusia jadi sekrup sebuah Negara yang bengis. Ke-

Catatan Pinggir 7 1

http://facebook.com/indonesiapustaka KOTA TUHAN

durjanaan juga bisa jadi begitu di wilayah yang justru ditinggal-
kan Negara, di tengah kemelaratan dan anarki­yang berlapis dan
berliku bagaikan labirin. Di sana, orang se­akan-­akan telah me­
nye­rah, tak akan bisa keluar dari jebakan ruang pengap itu.

Tentang itulah agaknya Cidade de Deus, ”Kota Tuhan” da­
lam­­karya Meirelles itu, menjawab De civitate Dei, ”Kota Tuhan”
dalam karya Santo Agustinus.

”Kota Tuhan” Agustinus di abad ke-4 adalah sebuah alternatif
bagi Roma yang roboh karena keruntuhan akhlak. ”Kota” itu—
tentu saja sebuah kiasan—tak bersendi pada kekuasaan, melain-
kan pada sukma manusia yang dengan saleh menanti datangnya
kembali Al Masih.

De civitate Dei adalah sebuah suara optimisme. Dalam gam­
bara­ n Agustinus, Tuhan bukanlah dewa-dewa Romawi pra-Kris-
ten yang melembagakan pertunjukan darah di arena seraya mem-
buat manusia takut dan menjadikannya buas. Tuhan-nya Agus-
tinus memberi manusia kemampuan untuk merenungi dan me-
nikmati hadirat-Nya, dan memberinya kem­ au­an bebas. Tuhan
itu tak akan mencopot kemauan bebas makhluk­ini meskipun
bi­la ia berbuat dosa. Karena kebesaran sikap itu, menurut Agus-
tinus, Tuhan akan lebih ”memunculkan kebaikan dari dalam ke-
durjanaan” ketimbang mencegah kedurjanaan terjadi.

Tapi, mungkinkah ada harapan seperti itu di tengah wilayah
miskin kota besar di abad ke-21?

Di ”Kota Tuhan” Meirelles, kita ketemu Li’l Dice. Sejak ke-
cil sampai dengan ketika ia dewasa dengan nama Li’l Zé—bos
lorong-lorong hitam Rio de Janeiro—ia menyelesaikan hampir­
semua soal dengan pembunuhan. Ia bisa dengan tenang­meng­ajar
seorang anak umur 10 tahun untuk menembak mati se­orang se-
bayanya yang tak berdaya.

Saya kira bahkan Santo Agustinus akan bertanya bagaimana
mungkin Tuhan menciptakan Li’l Dice. Manusia ini tamp­ ak­tak

2 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KOTA TUHAN

tahu bagaimana ia akan keluar dari labirin orang mis­kin kota itu,
yang telah berjalin dengan narkotik, kekerasan, tapi memberinya­
kekuasaan dan kebebasan. Sejak ia masih disebut Li’l Dice, Zé
memang hanya mengenal itu, bersama ratusan anak yang telah
meninggalkan orang tua, ditinggalkan orang tua.

Rumah-rumah melarat mencekik mereka, dan liku-liku­kota
besar mengajari mereka untuk tidak tercekik dengan cara yang
paling brutal. Favela Rio de Janeiro dalam Cidade de Deus adalah
sebuah kombinasi rumah piatu dengan rumah jagal. Di sana,
hari-hari bermain bertaut dengan saat-saat membantai, malam-
malam narkoba bergabung dengan jam-jam berteman. Film Mei-
relles dibuka dengan adegan Li’l Zé dan serombongan bocah
bersenjata mengejar seekor ayam yang lepas menjelang disembe-
lih, melintasi liku-liku kampung yang sempit. Mereka berteriak,
tertawa, menembak, tak takut kalau ada peluru yang mengenai
orang yang lewat.

Dari mereka, ”kebaikan” agaknya tak akan bisa muncul dari
ke­durjanaan, dan harapan patut ditertawakan. Ned, seorang pe­
muda tampan yang lurus hati, yang karena dendam bergabung
dengan salah satu kelompok hitam di favela durjana itu, bertekad
tak akan membunuh orang yang tak bersalah. Tapi pada akhir­
nya ia berbuat sama dengan bajingan lain.

Agustinus, apa yang akan Tuan katakan tentang ”Kota Tuhan”­
ini? Tentu Tuan, seorang santo dari abad ke-4, tak akan menja-
wab. Tapi mungkin ada jawab yang terlupakan. Jangan­-jangan
Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan,
melainkan pada momen-momen kini dalam hidup­—yang seben-
tar, tapi menggugah, mungkin indah. Sebagai­mana kedurjanaan
bisa jadi banal, siapa tahu mukjizat juga bisa terjadi sebagai saat
yang tak mengejutkan, dan kita sering melupakannya.

Adegan ini misalnya: dalam keadaan luka sehabis tembak-me­
nembak, Ned mencoba menghibur seorang anak yang tergele-

Catatan Pinggir 7 3

http://facebook.com/indonesiapustaka KOTA TUHAN

tak hampir mati kena peluru. Anak itu kemudian yang ternyata
membunuhnya. Tapi detik-detik ketika Ned berbicara hangat ke-
padanya mungkin adalah saat isyarat Tuhan: bahwa Ia tak me-
ninggalkan ”Kota”-Nya—atau kota mana pun—dan membuat
hidup sepenuhnya keji dan nyeri.

Dengan atau tanpa Agustinus, bersyukur itu indah.

Tempo, 6 Juli 2003

4 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TITANIC

KETIKA di bulan April 1912 kapal Titanic pelan-pelan
tengg­ elam di laut dingin di tengah malam, para penum-
pang kelas satu berusaha berebut tempat di sekoci pe-
nyelamat. Sejumlah kelasi mencegah mereka dengan menodong-
kan senjata,­karena menurut aturan anak-anak dan perempuan-
lah yang harus diberi tempat lebih dulu....

Kurang-lebih itulah yang tampil dalam film James Cameron­
yang termasyhur itu—sebuah adegan yang mengesankan­betapa­
orang-orang di kelas atas itu adalah mereka yang tak punya­­rasa
belas dan tak bisa mengalah.

Tapi sedikitnya separuh dari Titanic adalah sebuah fiksi. Ada
yang mengatakan bahwa kejadian yang sebenarnya dalam benca­
na­Titanic justru sebuah kisah kepahlawanan orang di kelas atas.
Dalam daftar malapetaka Titanic ada John Jacob Astor, Benja-
min Guggenheim, dan Isidor Straus, orang-orang kaya Amerika
terkemuka, sementara yang selamat adalah mereka­yang tak ber-
daya.

Fareed Zakaria, dalam The Future of Freedom, mengutip statis-
tik dari bencana hari itu: di antara penumpang kelas­satu, se­mua
anak kecil selamat, dan hanya lima perempuan yang mati—tiga
di antaranya bersedia tenggelam bersama suami­mereka. Benja-
min Guggenheim, misalnya, menolak ikut masuk ke dalam seko-
ci. Ia memberi tempat kepada seorang perempuan yang kemudi-
an memang selamat. Pesannya yang tera­ khir:­”Katakan kepada
istri saya.... Tak ada seorang perempuan pun tertinggal di kapal
ini hanya gara-gara Ben Guggenheim seorang pengecut.”

Dengan itu, tema pun berubah. Yang tampak ialah bahwa se-
lapis elite bukanlah dengan sendirinya sekelompok orang yang
hanya mujur dan mendapat. Pengertian noblesse oblige tak datang

Catatan Pinggir 7 5

http://facebook.com/indonesiapustaka TITANIC

dari angan-angan, bahwa siapa saja yang memiliki privilese dan
berkuasa justru wajib untuk siap memberikan diri bagi kepen­
ting­an umum dan terutama untuk nasib mereka yang lemah.­Fa-
reed Zakaria hendak mengemukakan, sebagai bagian dari argu-
mennya, bahwa dewasa ini sikap itu tengah tenggelam. Demo­
kratisasi merambah ke mana-mana tapi justru tak mendatangkan
kebebasan.

Demokratisasi perlu. Tapi, dalam pandangan Zakaria, arus
ini berbahaya bila tak tersedia satu lapisan masyarakat yang me-
mimpin, yang senantiasa menghargai hak-hak perorangan untuk
berpikir merdeka, bersuara merdeka, dan memiliki hukum yang
dijalankan secara benar. Contoh buruk adalah Gujarat. Di ne­ga­
ra bagian India itu, demokrasi berjalan, para pemimpin dipilih­
oleh rakyat banyak. Tapi demokrasi ini menghalalkan penindas­
an dan pembunuhan minoritas muslim oleh mayoritas Hindu—
sebuah demokrasi yang dalam pengertian Fareed Zakaria disebut­
”tak-liberal”. India, yang dulu dipim­pin satu lapisan atas yang
mel­ahirkan Nehru, kini sudah digantikan oleh sebuah demokrasi­
yang memanjakan purbasangka orang jalanan.

Dengan kata lain, di Gujarat, seperti halnya dalam demok­ rasi
di tempat lain, tak ada elite seperti di kapal Titanic dalam versi­
Zakaria. Tak ada orang-orang yang dalam kata-kata Ki Hajar
Dew­­ antara bersikap ing ngarsa sung tuladha: jika berada di depan,­
kita wajib memberi teladan keadilan dan kelapanga­ n hati. Ki­Ha­
jar adalah orang yang percaya pada sistem ”demokrasi dengan
kepemimpinan”.

Tapi dari mana datangnya kepemimpinan, dan bagaimana
noblesse oblige bisa tumbuh?

Zakaria memang tak membuktikan bahwa yang terjadi di Ti-
tanic mencerminkan sebuah code of honour atau patrap kehormat­
an kalangan atas. Meskipun demikian, harus diakui bahwa­se-
jarah lapisan atas tak seluruhnya hitam. Pengertian ”elite” tak ha­

6 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TITANIC

nya mengenai status, tapi juga serangkai nilai-nilai­yang mencer-
minkan rasa bangga pada keluhuran diri dan rasa percaya akan
pos­isinya dalam sejarah. Ernesto ”Che” Guevara termasuk dalam
lapisan itu: ia seorang dokter, anak keluarga kaya di Argentina,
tapi mengabdikan hidupnya buat kaum yang papa di Amerika
Latin. Ki Hajar Dewantara sendiri,­ yang datang dari Ndalem
Pa­k­ ualaman, Yogya, adalah contoh lain. Bahkan kakaknya ber­
gerak­di kalangan buruh.

Tapi tentu saja dengan sikap ing ngarsa sung tuladha saja selapis
pemimpin tak dengan sendirinya menumbuhkan dan memperta­
hankan kebebasan manusia. Kaum revolusioner di­Rusia dan di
Cina adalah sebuah elite yang siap berkorban bagi kepentingan
umum, tapi tak akan membiarkan demokrasi­ tumbuh—satu
hal yang kini juga tampak di Singapura, sebuah republik dengan
kepemimpinan yang anehnya dikagumi Zakaria.

Maka dibutuhkan sejenis elite lain. Tapi bagaimana mereka­
bi­sa dipesan, terutama di zaman ketika ideologi elitisme runtuh?
Di zaman ini, cerita tentang noblesse oblige umumnya telah digan­
tikan dengan cerita kapitalisme. Langsung atau tidak, kapitalisme­
mengajarkan bahwa hidup akan jadi lebih baik jika orang meng­
akui pamrihnya sendiri, dan bersama itu sadar akan perhitungan
untung-rugi. Sebab, dengan demikian orang bisa berunding, tak
ada yang merasa lebih suci dan tak ada orang yang tergila-gila un-
tuk jadi ”luhur” seraya menimbulkan heboh.

Uang, kapital, dan pendidikan yang meluas memang telah
men­ yebabkan kasta-kasta lama guncang atau runtuh. Sementara
itu, kini belum lahir kasta baru dengan nilai-nilai yang mantap
unt­uk menghindarkan Gujaratisme yang intoleran atau ”prema-
nokrasi” yang korup. Saya tak tahu adakah kita di­jalan buntu.
Tapi Indonesia bukannya tanpa sejarah selapis elite yang meng-
abdi.

Kartini, Agus Salim, Tan Malaka, Bung Hatta, Bung Karn­ o,­­

Catatan Pinggir 7 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TITANIC

Syahrir, Mononutu, Leimena, dan lain-lain tercatat telah­berb­ uat
yang terbaik untuk publik. Mereka memang dilupakan­dalam
masa ”Orde Baru”, ketika kehidupan politik seakan-akan sebuah
kapal Titanic dalam versi yang busuk, ketika yang di atas sampai
jam terakhir hanya hendak menye­lamatkan diri sendiri. Tapi sia-
pa tahu kini ada kesempatan untuk mengingat mereka kembali,
untuk benih baru setelah 2004.

Tempo, 13 Juli 2003

8 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 1944

DUNIA tampak sedikit lebih tenang di Dumbarton
Oaks hari itu. Musim gugur mendekat, udara bertam­
bah sejuk seperti lazimnya bulan September, dan di
rumah yang dihiasi lukisan dari zaman Bizantium dan Abad Te­
ngah itu, di antara­petak-petak kebun yang asri, empat menteri
luar negeri­bertemu—­ seakan-akan setelah itu, tak ada musim di­
ngin yang akan mencengkeram.

Sebuah cita-cita tinggi sedang hendak dicapai, sebuah rencana
besar disusun: mereka menyiapkan cetak-biru sebuah lem­baga
yang disebut ”Perserikatan Bangsa-Bangsa”. Mimpi­mereka per-
damaian, niat mereka keamanan dunia. Mereka—wakil Ameri-
ka Serikat, Inggris, Rusia, dan Cina—datang karena rasa ngeri,
tapi juga karena sangka baik.

Betapa berbeda tahun 1944 itu dengan tahun 2003. Di Dum­
barton Oaks, harapan sedang naik. Posisi keempat negeri­yang
bertemu itu di atas angin dalam perang besar yang me­landa Ero-
pa, Afrika, dan Asia. Musuh mereka, Jerman, Italia,­dan Jepang,
sud­ ah terdesak. Tapi para calon pemenang itu toh tahu betapa be-
sar ongkos konflik selama lima tahun itu. Seusai­perang,­tercatat
21 juta orang sipil tewas—setelah Hitler bunuh diri di bunkernya
di Berlin dan bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki.

Dunia gentar. Para pemimpin pelbagai negeri berupaya untuk
menemukan cara dan institusi yang dapat menyelesaikan konflik
tanpa kekerasan. Ide untuk mendirikan PBB bahkan bermula se-
belum pertemuan di Dumbarton Oaks.

Hulunya bisa ditemukan dalam Atlantic Charter yang di­susun­
Presiden AS Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Churchill
pada tahun 1941. Atau bahkan jauh sebelumnya, setiap kali ma-
nusia baru merasakan luka busuk peperangan. Imman­ uel Kant

Catatan Pinggir 7 9

http://facebook.com/indonesiapustaka 1944

telah memikirkannya pada tahun 1795. Presid­ en­Wilson melak-
sanakan gagasan yang sama pada tahun 1918, dengan mendirikan­
Liga Bangsa-Bangsa.

Kant, Wilson, dan pertemuan di Dumbarton Oaks sama-sa-
ma bertolak dari sebuah sangka baik, bahwa setelah sebuah pe­
rang­besar, bangsa-bangsa akan bersedia bekerja sama, dan be-
runding, untuk perdamaian.

Tapi tak jarang memang sangka baik itu ditertawakan oleh
me­reka yang bisa menunjukkan bahwa dunia bukanlah sebuah
res­epsi perkawinan. PBB dianggap telah keliru dalam meman-
dang bagaimana dunia ”sebenarnya”.

Mungkin karena PBB berangkat dari cita-cita yang ter­lamp­ au­
luhur hingga harus dilaksanakan dengan sikap prag­mat­ik—­ tapi
sebuah sikap pragmatik yang sering membingungkan.

Dalam cita-cita itu, perdamaian dunia akan dikaitkan dengan
perkawanan dan kesetaraan. Tapi tak mudah untuk memutus-
kan apa dan siapa yang berdamai dan setara di dunia ini. Akhir­
nya, ”bangsa”-lah yang dipilih untuk menjadi sang subyek.

Sebagai konsekuensinya, ”bangsa” harus dianggap homogen­
dal­am tubuhnya. Sebuah ”bangsa” harus diasumsikan punya
strukt­ur, punya batas dan otoritas yang mewakilinya. Walhasil,
”negara-bangsa”-lah yang diakui sebagai subyek. PBB pada akhir­
nya memang sebuah perkumpulan ”negara-bangsa”, lain tidak.

Tapi ”bangsa” bukanlah sebuah subyek yang kukuh apalagi
kekal. Pada tahun 1971, misalnya, ”bangsa Pakistan” tak lagi ber­
arti mencakup mereka yang hidup di sebelah timur. Bangladesh
menj­adi sebuah bangsa tersendiri, dan diterima sebagai anggota
PBB pada tahun 1974.

”Negara” juga tak dengan sendirinya identik dengan ”bangsa”.­
Kekuasaan yang berada di pucuk ”negara”, yang dalam sidang
PBB mengatasnamakan orang banyak yang hidup di sebuah wi­
layah, belum tentu sebuah kekuasaan yang diterima orang banyak­

10 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 1944

itu. Yakinkah kita, bisakah ”bangsa” Korea Utara di­wakili rezim
yang sekarang bertakhta? Begitu juga ”bangsa” Saud?

Dalam pada itu, ”negara” juga bisa berganti secara radikal,­se-
perti setelah robohnya Tembok Berlin pada tahun 1989. USSR
atau Uni Soviet tak lagi sebuah federasi komunis, dan Rusia ber­
diri sendiri pada tahun 1991.

”Negara-bangsa”, subyek itu, memang sebuah pengertian
yang­sering meragukan—dan juga tanpa kesetaraan: begitu besar­
beda India (penduduknya lebih dari semiliar), misalnya, dari
Brun­­ ei (penduduknya cuma 300 ribu), meskipun kedua-duanya
punya suara yang sama di PBB. Sebenarnya sejak pertemuan di
Dumbarton Oaks, telah tampak perbedaan itu: ada bangsa yang
menang dan ada yang kalah perang. Itu sebabnya sampai dengan
hari ini ada ”negara-bangsa” yang duduk dalam Dewan Keaman-
an dengan kekuasaan memveto keputusan yang diambil. Tapi ru-
panya di awal abad ke-21, Amerika, salah satu ”negara-bangsa”
yang punya posisi istimewa itu, kian merasa privilese itu tak me-
madai.

PBB, bagi pemerintahan Bush, adalah gangguan bagi kedau­
latan nasionalnya. Kini Amerika tegak seperti sebuah ben­teng
bes­ar yang memandang ke luar dengan sikap seperti memelototi­
sebuah wilayah barbar yang mengancam—dalam bentuk Al-
Qaid­ ah ataupun AIDS. Dan ia merasa bisa membereskan sendiri
wilayah barbar itu. Maka buat apa PBB?

Tapi mari kita bayangkan PBB bubar. Bayangkan sebuah du-
nia yang tanpa lembaga untuk merundingkan konflik bersenjata
antara pelbagai negeri. Bayangkan sebuah dunia tempat penyele-
saian sengketa sepenuhnya ditentukan oleh perang dan oleh siapa
yang paling kuat dalam perang itu.

Mungkin itulah yang sedang terjadi. Tapi sepenuhnya? Kini
sebuah hegemon akan tak cukup dengan hanya menggertak dan
menyuap. Dunia kian berliku dan tak terduga. Kek­ uat­an—seti-

Catatan Pinggir 7 11

http://facebook.com/indonesiapustaka 1944

daknya dalam perekonomian—tak pernah bisa bertahan sendi­
rian terus-menerus. Pada akhirnya akan diperlukan juga sebuah
daya yang bukan cuma militer, tapi daya untuk meyakinkan ten-
tang apa yang dianggap ”adil” dan ”tak adil”. Dengan kata lain,
seb­ uah ”ideologi”, yang palsu ataupun setengah palsu, tapi me­
merl­ukan percaturan pendapat. Kita tak berada di masa pra-
1944, sebelum Dumbarton Oaks, sebelum orang di dunia merasa
saling membutuhkan.

Tempo, 20 Juli 2003

12 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka NKRI

ACEH kini bukan hanya sebuah daerah yang dirajang
pe­r­ang, tapi juga sejumlah pertanyaan. Pertanyaan­itu­
semuanya berkait dengan apa sebenarnya sebuah ”In­do­
nesia”­—ya, apa sebenarnya ”Indonesia” yang hendak diperta­han­
kan.

Kata para jenderal dan politikus, keutuhan wilayah itulah
yang harus dibela. Tapi apa arti ”wilayah” sebuah negeri? Apa pu­
la ”keutuhan” itu? Kita acap lupa ”wilayah” adalah sebuah tempat­
dalam ilmu bumi, yang terbentang antara sekian garis lintang dan
sekian garis bujur. Ia sebuah ruang. Dalam riwayatnya yang pan-
jang manusia membela ruang itu sebagai membela milik sendiri,
tapi dalam hal ”Indonesia”, apa artinya ”milik”?

”Milik” pada akhirnya berarti kekuasaan, dan kekuasaan itu
berg­ erak dalam sejarah. Seandainya Raffles, orang Inggris itu,
te­rus berkuasa di Jawa dan tak menyerahkan pulau ini kepada
Bel­anda pada tahun 1816, mungkin Singapura yang kemudian­
didirikannya akan jadi bagian dari sebuah wilayah yang kini
disebut ”Indonesia”. Atau sebaliknya: bisa juga Yogy­ ak­ arta akan
termasuk sebuah negeri yang disebut ”Singapura”. Perang dan
perdagangan—kedua-duanya bukan sesuatu yang sakral—yang
membuat dan menetapkan peta bumi. Benarkah ”wilayah” be­
gitu­berarti hingga hal-hal yang lain boleh dikorbankan? Benar­
kah begitu penting ”keutuhan”?

”Keutuhan”—kata ini pun tak pasti benar dari mana da­
tangn­ ya. Yang jelas, ia mencakup pengertian yang lebih luas ke­
timbang sekadar ketentuan tapal batas. ”Keutuhan” bukan seka-
dar persoalan teritorial. Ia juga bisa berarti sumber­alam dan kese­
imbangan ekologi, termasuk hutan tropis yang hijau dan biodi-
versitas hewan yang hidup, juga para penghuni, kehidupan sosi­

Catatan Pinggir 7 13

http://facebook.com/indonesiapustaka NKRI

al, dan khazanah kebudayaan mereka. Apa artinya­”keutuhan”
yang dipertahankan bila hutan jadi terbakar,­sawah dan lumbung
hancur, dan suatu masyarakat berantakan? Apa artinya ”keutuh­
an” jika kelompok manusia yang berbeda saling membunuh dan
mengusir?

Tapi mungkin juga yang hendak dipertahankan adalah sebu­
ah ”Indonesia” sebagai ingatan yang berharga. Sejak kita kanak-
kanak, kita diberi rasa bangga akan sebuah negeri yang terben-
tang dari ”Sabang sampai Merauke”, tentang orang-orang Aceh
yang menyumbangkan yang mereka miliki buat Republik Indo-
nesia yang baru berdiri, tentang kolonialisme Belanda yang justru
mempersatukan pelbagai orang di Nusan­tara.

Kenangan itu sangat intim. Ia bagian dari identitas kita. Tapi
set­iap catatan dari masa lalu selalu mengandung apa yang luhur
dan juga apa yang brutal, apa yang mengharukan dan juga apa
yang mengerikan, bahkan memuakkan. Kenangan tentang sebu­
ah ”Indonesia” dapat berisi dokumen yang merek­ am niat mulia
yang hendak menjabat tangan orang lain yang berbeda—niat
yang membuat Sumpah Pemuda pada tahun 1928 terjadi dan se-
buah generasi baru dengan ikhlas melupak­ an­ikatan kesetiaan la­
ma mereka, untuk membangun sebuah ikatan kesetiaan baru.

Tapi sejarah persatuan itu juga dapat berupa sejarah ketidak-
ikhlasan. Bahkan sejarah kekerasan, pemaksaan, dan penyera­
gam­an. Itulah sebabnya Bung Hatta pernah memperingatk­ an
agar ”per-satu-an” dibedakan dari ”per-sate-an”.

Maka, sebuah ”Indonesia” yang manakah yang hendak kita
pert­ahankan?

Saya termasuk mereka yang akan menjawab: sebuah ”Indone­
sia” yang dengan Aceh ada di dalamnya, tapi bukan sebuah
NKRI (singkatan yang kaku dari ”Negara Kesatuan Republik In-
donesia”), yang memaksa Aceh untuk berada di dalamnya. Saya
akan menangis bila Aceh terlepas dari Republik. Tapi saya juga

14 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka NKRI

akan menangis bila Aceh dibungkam oleh mereka yang datang
atas nama Republik. ”Indonesia” yang utuh adalah Indonesia
yang punya cita-cita yang berharga untuk utuh.

Amerika Serikat adalah contoh yang tak menarik pada hari-
hari ini, tapi dulu, pada pertengahan abad ke-19, ketika se­bagian­
wilayah republik itu hendak memisahkan diri, seorang presiden
yang kurus dan arif terpaksa mengirim tentara untuk memadam-
kan ”pemberontakan” itu. Tapi bukan karena takut akan hilang-
nya sekian ribu kilometer persegi tanah. Ada yang lebih penting
ketimbang keutuhan wilayah—yakni keutuhan sebuah cita-cita
yang layak.

Maka, ketika sejumlah negara bagian di Selatan menjadi ke­
kuatan separatis karena ingin melanjutkan perbudakan, Presiden
Lincoln memutuskan: mereka harus dikalahkan. Sebuah perang
pun meletus. Korban berjatuhan, amat dahsyat. Tapi Amerika
Ser­ikat waktu itu tahu untuk apa.

Kalimat pertama pidato Presiden Lincoln di Makam Pah­
lawan­Gettysburg menjawab kenapa perang itu harus terjadi—
dan itu tak jauh dari pertanyaan mengapa Amerika Serikat harus
berdiri: ia adalah ”sebuah bangsa baru, yang dibuahi­dalam ke-
merdekaan, dan dipersembahkan untuk cita-cita­bahwa semua
manusia diciptakan sama”. Perbudakan jelas bert­entanga­ n de-
ngan cita-cita itu, dan siapa yang akan mempertahankannya de-
ngan kekerasan harus dikalahkan.

Di Indonesia belum terdengar alasan yang sejelas itu, tapi di
Aceh, tentara telah dikirim. Perang berkobar. Korban jatuh di
kedua belah pihak. Apa sebenarnya sebuah ”Indonesia” yang hen-
dak dipertahankan?

Jawabannya akan menentukan hidup kita kelak. Sebuah ”In-
donesia” yang masih bercita-cita atau sebuah ”Indonesia” yang
tanpa cita-cita? Sebuah ”Indonesia” yang pandai bernegosiasi atau
sebuah ”Indonesia” yang bagaikan preman, yang me­nangguk un-

Catatan Pinggir 7 15

http://facebook.com/indonesiapustaka NKRI

tung dari kekerasan? Sebuah ”Indonesia” yang percaya kepada
hak-hak rakyat atau sebuah ”Indonesia” yang sedang hendak me-
nampik demokrasi? Sebuah ”Indonesia” yang patut dibanggakan
atau sebuah ”Indonesia” yang bahkan oleh bangsanya sendiri ber-
henti diacuhkan?

Aceh memang sejumlah pertanyaan.

Tempo, 27 Juli 2003

16 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GATHOLOCO

TIAP sistem keimanan akan didatangi seorang Gatho-
loco—sebuah sosok negatif. Dalam khazanah Islam di
Jawa, nama tokoh ini berasal dari sebuah puisi naratif
panjang yang kontroversial.

Ia kadang digambarkan sebagai orang berbadan pendek ku-
rus, berambut keriting, berkulit muka bopeng bekas cacar, ber-
mata juling. Di mulutnya yang kecil terpasang gigi yang ruwet.
Ku­pingnya lebar, dadanya cacat dan perutnya buncit. Kulitnya
kotor seakan-akan bersisik (mbesisik mangkak), dan napasnya ter­
sengal-sengal.

Dengan kata lain, Gatholoco tampil sebagai seseorang yang
akan sulit sekali diterima orang ramai. Dan itulah yang terjadi,
ke­tika dalam kisah ini, tiga orang kiai dari Pondok Pesantren
Re­jasari menemuinya di jalan menuju Pondok Cepèkan. Segera
mereka menampik Gatholoco sebagai sebuah bentuk yang luar
biasa buruk, menggelikan, dan malah layak dikutuk: dengan te­
nang­nya makhluk ini selalu memegang bedudan, pipa bambu
untuk mengisap candu.

”Astagfirullah!” seru para kiai. Maka salah seorang dari mer­e­
ka bertanya siapa nama orang ini, dan di mana pula rum­ ahn­­ ya.

”Namaku Gatholoco,” katanya dengan suara tenang dan pe­
nuh percaya diri. ”Aku manusia lelaki sejati, dan rumahku di te­
ngah­jagat.”

Ketika ketiga kiai itu tertawa mendengar nama yang tak lazim
itu, Gatholoco tanpa tersinggung menjelaskan. Gatho, katanya,
berarti ”kepala yang rahasia” (sirah kang wadi), dan loco berarti
untuk digosokkan (pranti gosokan).

Tampak ada asosiasi antara nama itu dengan phallus, dan para
kiai tahu ada yang saru—aib, jorok dalam kaitannya dengan yang

Catatan Pinggir 7 17

http://facebook.com/indonesiapustaka GATHOLOCO

seksual—dalam ekspresi Gatholoco. Nama itu bukan saja buruk,
tapi juga ”haram, najis, lan mekruh”. Dengan kata lain, seluruh
diri Gatholoco adalah sebuah kontravensi. Ia sebuah penolakan.

Dan itulah yang dilakukannya—atau itulah yang dilakukan­
oleh penulis naskah ini. Sang tokoh dengan bangga men­ gat­a­
kan, kepada dirinya sendiri, bahwa ”ingsun seneng bantah il­
mu”,­ia senang berbantah tentang ilmu, dan ”ora mundur bantah­
kawruh”, tak akan mundur berbantah dalam perihal pe­nget­ah­ u­
an. Terutama dengan ortodoksi yang berkuasa di kalangan mus-
lim, yang dalam naskah ini dilambangkan dalam diri para kiai di
pondok-pondok.

Bagaimana sebenarnya agama Gatholoco sendiri tak begitu­
jelas—dan mungkin, sebagai sebuah kontravensi terhadap sega­
la yang bersih, lurus, dan terang, ia harus tidak jelas. Terkadang
ia mengutarakan keinginan untuk mengembalikan ke-Jawa-an
yang asli, semacam ”nasionalisme” kebudayaan yang memang tak
jarang muncul dalam perbincangan di Jawa sampai pertengaha­ n
abad ke-20.

”Agama Nabi Muhammad,” katanya, ”adalah agama orang
Arab.” Dan Tanah Jawa rusak, juga agama lamanya, karena di­
bawahkan ”orang lain” itu (kabawah mring liyan jinis).

Tapi di bagian lain, ia menganggap Nabi Muhammad sea­ kan­
akan­sebuah kekuatan yang menguasai dirinya: ”Pangucap­pa­
ngél­ingingsun, pangganda pamiyarsa, déné lésan lawan dhiri, ka­
bèh kagungané Rasulullah” (ucapan dan ingatanku, pencium dan
penglihatanku, lisanku dan diriku, semua itu milik Rasulu­l­lah).­
Dalam kesusastraan mistik atau suluk, acap kali memang ”Mu-
hammad” atau ”Nur Muhammad” disebut sebagai sebuah ke­
kuata­ n batin atau ruhani tempat manusia menemukan dirinya
yang rindu untuk menyatu dengan Allah.

Semangat ala Gatholoco memang tampak dalam pandang­an
mistisisme di mana-mana, juga dalam sejarah Kristen dan Yahu-

18 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GATHOLOCO

di: suatu dorongan dan hasrat untuk membuat iman jadi sebuah
peristiwa internal seutuhnya, ketika agama telah jadi sejenis lem-
baga yang mengatur perilaku orang. Sebab, ”perilaku” hanyalah
sesuatu yang lahiriah—satu-satunya hal yang dapat diawasi dan
dibuat beraturan dengan hukum.

Itu pula yang dikatakan Gatholoco kepada para kiai yang me­­
ngecamnya. Bagi laki-laki yang merasa lebih unggul penget­a­
huannya ketimbang para kiai ulung itu, beribadat dengan ra­pi
meng­ikuti aturan waktu salat bukanlah sikap menyembah­Tu­
han,­melainkan ”mung mangéran marang wayah”, ha­nya­mem­­
pert­uhankan waktu. Ketika Kiai Hasan Besari dari Pon­dok­­Ce-
pèkan menunjukkan bahwa Gatholoco tak pernah bers­emb­ ah­
yang, sang tamu pun menjawab tangkas: ”Sembah­yangk­ u kekal
dan tak pernah henti.” Ia bersujud ke hadapan Tuhan bersam­ a
dengan napasnya, katanya, dan tak cuma diperintah oleh jad­wal.

Discourse Gatholoco tentu saja tak mudah dikisahkan kemba-
li. Percakapan tentang pengalaman mistik menemukan problem­
dalam pem-bahasa-an. Ketika bahasa bergerak lebih ke arah sifat-
nya yang komunikatif, dan bukan sifatnya yang ekspresif, peng­
alaman yang paling batin tak akan bisa diartikulasikan.

Bentuk tembang untuk perjalanan Gatholoco sebenarnya
bukan medium yang sesuai untuk apa yang hendak disampai­
kan di sana—yakni sebuah perdebatan. Perdebatan menga­ sum­
sikan ada konvensi bersama tentang pemberian makna. Dengan
kata lain, ada sifat yang tetap dan dapat diandalkan. Tapi dalam
tembang, dalam puisi, kata sering bukan mengi­kuti­subyek yang
berdaulat dalam menetapkan makna; acap kali kata bergerak
meng­ikuti ”dorongan” puitik. Puisi men­ gand­ ung sesuatu yang
majenun.

Gatholoco sendiri majenun dan ia tahu. Tapi, katanya, ”ing­
sun edan urut margi, nunut margané kamulyan” (”aku gila sepan-
jang jalan, mengikuti jalan dalam kemuliaan”).

Catatan Pinggir 7 19

http://facebook.com/indonesiapustaka GATHOLOCO

”Gila sepanjang jalan” memang mengisyaratkan sesuatu yang
kacau dan membingungkan—bukan sebuah arah yang dengan
ajek dan mantap didatangi. Tapi ada yang mulia di sana: ada ke­
rin­duan kepada Yang Maha Benar yang tak dig­ antik­ an oleh para
pemasang rambu-rambu. Dengan segala niat baik, para pengatur
ingin menyelamatkan manusia. Tapi ia hanya menggantikan Tu-
han dengan Regulasi. Pada saat itu, tiap iman akan kedatangan
seorang Gatholoco.

Tempo, 3 Agustus 2003

20 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGKOR

HUTAN dan kesunyian, patung dan puing, kabut dan
hujan, membuat sisa-sisa kota tua Angkor Thom se­
akan-­akan­bersatu kembali dengan Waktu—tapi Wak-
tu yang agaknya tidak kita kenal. Berdiri di antara tiang batu
yang hitam dan dinding laterit yang kecokelatan yang memben-
tuk Candi Bayon, kita akan bertatapan dengan empat patung ke-
pala Buddha yang dipahat di mercu yang setinggi 45 meter itu;
kita akan terkesima menyadari sebuah sejarah 800 tahun. Tapi se­
jenak.­Sekarang.

Tentu saja saya seorang turis, yang telah membayar $ 20 untuk­
masuk ke kompleks Angkor ini. Pada akhirnya saya seorang pe­
ngun­jung dengan waktu yang terdiri dari sederet ”sejenak” dan
”sekarang” yang terukur.

Tiap turis memulai langkahnya untuk terkesima, tapi kemu-
dian, meskipun ia seorang diri, berjalan dengan waktu yang di-
tentukan oleh publik. Di pintu gerbang itu ada sebuah organisasi;
ia menawarkan tiket dan menyodorkan pengertian bahwa peng­
alaman di tengah hutan dan di antara 30 candi itu harus disu-
sun dalam satuan yang bisa dikalkulasi dengan uang yang diakui
orang ramai—karena pengalaman sedang diperjualbelikan.

Pengalaman: mungkin kini ia adalah waktu yang dikemas.­
Agaknya ada sesuatu dalam akal manusia yang mampu menge-
masnya—akal yang kian menguat peranannya dalam mod­ ern­i­­
sasi­hidup. Dengan itulah ”masa lalu” bisa dipasarkan atau diku-
tuk, ”masa depan” bisa ditawarkan atau diatur. Tak hanya­oleh
kapitalisme. Ketika Pol Pot mengubah Kamboja menjadi­”Kam-
boja Demokratik”, konon ia hancurkan candi dan patung, ia co-
pot jubah para biksu, dan ia tiadakan persembah­yangan di selu-
ruh negeri. Semua yang dianggap masuk kategori pengalaman

Catatan Pinggir 7 21

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGKOR

”masa lalu” harus dibuang. Kamboja hanya boleh siap untuk
meng­alami ”masa depan”.

Pol Pot dan Khmer Merah—orang-orang modern yang tak
me­ngenal semadhi—mengemas pengalaman sebagai sesu­atu
yang terdiri dari beberapa tahap. Bagi kaum Marxis ini, tiap ta-
hap tak akan kembali. Marx, seperti Hegel, menyajikan­sejar­ah
sebagai proses dialektik tadi-kini-dan nanti. ”Tadi” me­ngand­­ ung­
sesuatu yang akan menyebabkan ”kini” menampilkan­antitesis-
nya. Setelah itu, ”nanti” akan menghadirkan suatu Aufhebung,
sesuatu yang mengatasi bentrokan ”tadi” dan ”kini”.

Tapi siapa yang menggerakkan dialektik itu, merumuskan
man­ a yang ”tadi” dan mana yang ”kini”? Siapa yang menjadi
saksi Aufhebung yang berlangsung? Hegel, Marx, dan Pol Pot pas-
tilah mengasumsikan bahwa ada subyek (atau ”Subyek”) yang
ber­geming, tak berubah-ubah, yang mengalami dan me­ngemas
apa yang dialami, dan menyebutnya sejarah. Seperti sang turis
yang telah membayar $ 20 dan ingin mendapatkan pengalaman
yang telah dikemas. Tapi benarkah?

Jangan-jangan tidak. Saya berdiri di depan Candi Bayon. Hu-
tan dan kesunyian, patung dan puing, kabut dan hujan, dan para
biksu yang berteduh di ruang-ruang kecil candi seraya ber-se­ma­
dhi.­... Tidakkah mereka sebenarnya tengah bersatu dengan Wak-
tu yang tak terduga dalamnya—bukan waktu­yang dibentang-
kan ke khalayak ramai, bukan waktu yang gamp­ ang diukur, tapi
sebuah ekstasis. Saat yang dahsyat. Saat ketika sang subyek raib,
tak lagi berdaulat.

Buddha pun tak hanya mengajarkan dukkha (”duka”) da­lam
kehidupan. Ia juga mengajarkan anatman dan anitya: ia menun-
jukkan bahwa tak ada subyek yang sama, tak ada yang permanen.
Hidup adalah sebuah arus eksistensi yang selalu lahir kembali,
tapi tiap-tiap kali berbeda, tiap-tiap kali satu momen kelahiran
tak ingat akan kelahiran sebelumnya, juga tak akan tahu kelahir­

22 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGKOR

an yang kelak.
Ada yang berulang, tapi tak terasa sebagai repetisi dari hal

yang identik. Agaknya itulah sebabnya kematian, keberanian,
ke­sedihan, dan cinta, tak henti-hentinya ditulis dan diabadikan
oleh para penyair—dan apa yang menggetarkan dari Mahabha­
rata, yang sayu dari Shakespeare tak terasa sebagai hanya repli­
ka, tak cuma mengulang hal yang itu-itu saja. Ada gerak kemba­
li yang kekal, ada eternal return, tapi yang pulang bukanlah yang
sama, melainkan yang beda. Pada saat itu, tampak bahwa me-
mang ”beda menghuni repetisi,” kata Gilles Deleuze. Sebab mo-
men ekstasis tak pernah terulangi. Yang dahsyat tak akan jadi
dahsyat ketika ia dikemas dalam reproduksi.

Sebab itu, bagi mereka yang percaya akan dukkha, anatman,
dan anitya, patung adalah puing, hutan adalah kesunyian, dan
hujan seperti kabut. Mercu setinggi 45 meter di Candi Bayon itu,
juga Angkor Wat, bukanlah sebuah situs kebanggaan yang datang
sebagai warisan masa lalu yang agung. Mereka adalah penemuan
hari ini, kesyahduan hari ini, bagian dari duka hari ini. Sebab
apa hubungan antara si biksu muda pada abad ke-21, yang pe­
tang­itu berjalan di atas jembatan candi, dan Raja Suryav­ arman
II, pendiri candi besar abad ke-12 ini? Jika semadhi adalah sebuah
pengakuan tentang ketidak-kekalan hidup,­jika ketidak-kekalan
hidup berarti juga tidak langgengnya ker­aja­an dan benda-benda,
bukankah warisan hanyalah bentuk­an ilusi?

Namun mungkin salah satu bagian dari samsara, bahwa ilu­
si­juga ternyata diperlukan manusia—oleh para turis, misalnya.­
Mereka membayar, mereka senang untuk terkesima tentang se­
suatu yang ganjil, yang lain, dari masa silam, dan mere­ka­me­
motret. Kemudian mereka akan pergi ke tempat lain. Atau pu-
lang dan mengenang hutan, puing, patung, parit besar, sebuah
kota yang telah punah. Mereka pun merasa berbahagia karena
mengetahui sesuatu yang sebenarnya tak pernah seluruhnya ter-

Catatan Pinggir 7 23

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGKOR

ungkap. Tapi di dalam hidup yang ruwet, siapa saja berhak terse-
nyum, puas, bahwa ada yang bisa diulangi, ada yang bisa dike-
mas.

Tempo, 10 Agustus 2003

24 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SYAK

BOM, teror, dan perang selalu mengedarkan rasa takut
dan ketaksabaran—dan ketaksabaran adalah bahan bu-
ruk unt­uk demokrasi. Terutama jika kita lihat demokrasi
sebagai sesuatu yang berbeda dari diktat (dari mana kata ”dikta-
tor” ber­a­ sal) yang datang lekas. ”Demokrasi adalah pemerintah-
an dengan diskusi,” kata tokoh politik Inggris Clement Attlee.

Tapi tentu saja Attlee tak hanya bicara itu. Kalimatnya punya­
ekor: ”Demokrasi adalah pemerintahan dengan diskusi, tapi ha­
nya­efektif kalau kita bisa menghentikan orang omong.” Maka
(mengikuti Attlee), tiap pemerintahan demokratis bu­tuh­sebuah
kiat: bagaimana menggabungkan kepintaran ber­diskusi dengan
kepintaran membungkam mulut.

Tapi sebenarnya ”berdiskusi” dan ”membungkam mulut” bu­
kanl­ah dua laku yang otomatis bertentangan. Menghentikan
orang omong akan hanya sia-sia jika tindakan itu bukan­tindak­
an yang bisa diterima dengan ikhlas dan diakui sah. Akan lebih
riuh suara menggerundel, akan lebih bengis suara­mengumpat,
jika orang tak sepakat akan perlunya tutup mulut.­Walhasil, di-
perlukan sebuah diskusi untuk tak berdiskusi, diperlukan sabar
untuk tak sabar.

Kesepakatan adalah sebuah kuasa. Kata ”kuasa” juga bera­ rti­
”otoritas” dan ”amanat”. Di situlah kelebihan demokrasi: ada
hubungan yang mendasar antara pengertian ”kuasa” dan ”ama­
nat” dan juga dengan ”kesepakatan”. Dengan itulah kekuasaan
dan/atau kekuatan (yang dalam bahasa Inggris bera­ da dalam satu
kata, power) punya asal usul yang jelas, yakni dukungan orang ra-
mai yang memberikan mandat. Kekuasaan tak datang dari Tu-
han, warisan, nasib baik, atau kecerdasan si berkuasa.

Asal usul kekuasaan itulah yang seharusnya jadi awal tiap per-

Catatan Pinggir 7 25

http://facebook.com/indonesiapustaka SYAK

cakapan tentang demokrasi. Saya kira itulah kelemahan dasar te-
sis Fareed Zakaria (ia editor Newsweek edisi internasional) dalam
The Future of Freedom, meskipun ini sebuah risalah yang cerah
dan cemerlang. Zakaria tak membahas dari mana kekuasaan un-
tuk memerintah datang, dan bagaimana kekuasaan itu jadi sah
dan diterima. Ia seperti mengabaikan itu, sementara ia dengan
syak melihat demokratisasi yang kini terjadi di mana-mana.

Ia syak, sebab demokratisasi, menurut Zakaria, justru telah
me­nyebabkan kebebasan manusia terancam. Di Gujarat, India,
partisipasi rakyat banyak malah melahirkan sebuah ”demokrasi
yang illiberal”. Merekalah yang membunuh dan mendesak mino­
ritas muslim dan mengintimidasi kemerdekaan bersuara. ”Suara
rakyat suara Tuhan” pun berakhir jadi ”suara rakyat, suara Tu-
han, suara setan.”

Maka Zakaria pun lebih suka menunda demokrasi (sebab­itu
ia mengagumi Lee Kuan Yew dan memuji Soeharto). Ia mendahu-
lukan perbaikan taraf ekonomi, sampai tumbuh kelas mene­ngah­
yang bebas dari Negara, sampai tercapai pendapat­an per kapita
tertentu. Ia penerus Edmund Burke yang melihat revo­lusi dan
rakyat dengan cemas. Ia mempertahankan teori Seymour­Martin
Lipset bahwa ”kian kaya sebuah bangsa, kian besar kansnya un-
tuk mempertahankan demokrasi.”

Sebab itulah, baginya, prioritas pertama dalam membangun­
sebuah bangsa bukanlah memberi rakyat banyak kesempatan
langsung untuk mempengaruhi kebijakan. Zakaria mendahulu­
kan didirikannya lembaga-lembaga untuk mengembangkan
”konst­itusionalisme”, dengan peradilan yang mandiri, hak-hak
minoritas yang terjaga, begitu juga kemerdekaan lain manusia—
meskipun tak dijelaskannya dari mana datangnya sebuah kekua-
saan untuk menjalankan itu semua.

Tak aneh bila Zakaria pun muram tentang Indonesia. Bagi­
nya, ”Indonesia pada tahun 1998 bukanlah sebuah calon ideal­

26 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SYAK

untuk demokrasi.” Sebab dari semua negeri Asia Timur, Indone-
sialah yang paling bergantung pada sumber alam. Dalam teori
Zakaria, di sebuah negeri yang seperti itu—misalnya Arab Sau-
di yang bergantung pada minyak—tak cukup orang yang, kare-
na kebutuhan hidup, bergerak menjalankan ekonomi. Mereka-
lah kelas menengah yang tak disuapi sang penguasa dan mereka-
lah sendi demokrasi. Zakaria kembali ke tesis klasik Barrington
Moore: tak ada kelas menengah, tak ada demokrasi.

Maka di matanya, demokratisasi Indonesia yang tergopoh itu
hanya membawa hal-hal buruk. GDP mengkeret sampai hampir
50 persen. Sistem politik yang terbuka ”menghamburkan kaum
fundamentalis Islam yang, di sebuah negeri tanpa sebuah bahasa
politik yang cukup, berbicara dengan sebuah wacana yang dike-
nali—wacana agama.” Jika berhasil, kata Zakaria, kebangkitan
Islam politik di Indonesia akan mengancam sifat negara yang tak
berdasar agama ini dan ”mengembangbiakkan gerakan separa-
tis.”

Tapi tentu saja Zakaria salah, setidaknya separuh. Indonesia
tak seperti Brunei yang bergantung benar pada petrodolar diser-
tai sebuah sistem politik yang memandang Sultan sebagai sang
pemilik yang tak harus memperbaharui mandatnya tiap lima ta-
hun sekali. Kelas menengah di Indonesia memang masih lemah,
pendapatan per kapita rendah, tapi masih harus dilihat, tidakkah
politik di Indonesia sebenarnya diarahkan oleh mereka yang ber-
pendapatan per kapita US$ 3.000 ke atas.

Hasil Pemilihan Umum 1999 pun tak seperti yang diduga­
Zakaria: ”wacana agama” memang menonjol, tapi segalanya­di-
perdebatkan secara terbuka, sebab sebelumnya, kemerdekaan
bersuara dan berserikat telah direbut. Maka keragaman pend­ apat
pun tampak, juga antara mereka yang menyebut diri ”po­litisi Is-
lam”. Kaum ”fundamentalis” tak menyebabkan peru­ bahan kons­
titusi hingga Indonesia jadi ”Negara Islam”.

Catatan Pinggir 7 27

http://facebook.com/indonesiapustaka SYAK

Saya kira, di situlah berkah demokrasi: ia melahirkan kuasa
yang disepakati, dan ada proses bertukar pikiran sebelum kese­
pakatan. Ada kesabaran sebelum mulut ditutup dengan ikhlas.
Maka jika kini bom dan waswas bisa menghilangkan kesabara­ n
itu, kita tahu apa yang menunggu.

Tempo, 17 Agustus 2003

28 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SCHWARZENEGGER

JIKA ide tentang rakyat adalah ide tentang pasar, dan pe­
miliha­ n umum jadi toko kelontong besar, demokrasi akan
memilih seorang Arnold Schwarzenegger.
Laris, laris, praktis!—itu mungkin teriak penjaja dalam po­
litik di sebuah zaman ketika media akhirnya menyederhanakan
segala hal. Pilihlah dia. Tak perlu program. Tak perlu sebuah lem-
baga yang mengelola seleksi kepemimpinannya. Tak perlu orang
ramai tahu adakah mutunya telah teruji untuk memimpin sebuah
masyarakat yang, sebagaimana lazimnya, penuh dengan konflik.
Yang perlu adalah apa yang dalam pemasaran dan periklanan di­
sebut brand-name, atau merek, atau logo, yang mudah dikenal.
Praktis: tidak perlu menelisik dan mencari-cari lagi.

Saya tak hanya menulis tentang California. Indonesia yang tak
lama lagi akan memilih presidennya barangkali akan men­ g­alami
proses yang kini terjadi di negara bagian Amerika­Serikat yang
mengandung Hollywood di salah satu sudutnya itu. Di Calif­or­
nia, para pemilih lebih cenderung kepada selebritas­ketimbang
part­ai-partai. Kini orang ingin menerapkan demokrasi yang
langsung sebagaimana mereka jadi konsumen yang memesan
baju, perhiasan, film, lagu, langsung melalui Internet.

Tanpa perantara, tanpa panduan seorang connoisseur, mere­ka­
bersua dengan begitu banyak pilihan. Juga pilihan calon kepa­la
negara bagian mereka. Ketika Schwarzenegger muncul, seba­gai­
mana ia muncul dalam Terminator, sebuah film yang dinikmati
hampir semua orang, orang pun bertepuk: nah, ini dia!

Di Indonesia, Pemilihan Umum 2004 tampaknya belum
akan menampilkan seorang bintang film tenar. Tapi di sini pun,
orang akan menghadapi jorjoran sekian puluh partai­politik yang
hampir semua tanda gambarnya tak bisa kita ingat.­Pemilihan ta-

Catatan Pinggir 7 29

http://facebook.com/indonesiapustaka SCHWARZENEGGER

hun depan buat pertama kali juga akan jadi sebuah persaingan
sekian puluh calon presiden, yang prestasinya hanya sayup-sayup
sampai ke telinga banyak orang.

Pada saat yang sama, para pemilih sedang kecewa. Mereka­ke-
hilangan kepercayaan kepada partai-partai, sebagaimana mereka­
tak punya banyak harapan kepada kerja para wakil di DPR dan
DPRD. Apa gerangan yang jadi pedoman bagi para pemilih
kelak?

Pernah kita berangan-angan bahwa akan ada saatnya, ke­ti­ka­
rakyat lebih ”sadar politik”, mereka akan memilih berdasarkan­
pertimbangan yang rasional: menelaah agenda yang ditawarkan­
sang calon, meneliti prestasi dan tabiatnya, dan memb­ anding­
kann­ ya dengan partai dan tokoh lain. Pernah kita percaya bahwa
karena pendidikan sudah semakin membaik (sebuah premis yang
entah datang dari mana), Indonesia akan melahirkan pemimpin
yang mencerminkan tingkat kecerdasan baru itu. Tapi apa yang
kemudian terjadi?

Dulu, Indonesia pernah dipimpin Bung Karno, seorang lulus­
an perguruan tinggi dengan erudisi yang mengesankan, dengan
tulisan-tulisan yang terpelajar, tajam, dan menggugah. Kini ki­
ta tak tahu apa gerangan yang pernah ditulis (atau di­pikirk­ an)
Me­gawati. Dulu, Indonesia pernah punya Bung Hatta, seorang
ekonom yang banyak membaca, menelaah, mengutarakan pikir­
an, dan tak henti-hentinya berjuang bersungguh-sungguh hing-
ga ia baru menikah setelah Indonesia merdeka. Kini kita punya
seorang Hamzah Haz....

Agar tak tampak bahwa Indonesia hanya satu-satunya kisah
kem­ erosotan, baiklah saya sebutkan bahwa Amerika Serikat juga
punya pengalaman mirip: negeri yang pernah punya presi­den
seorang Thomas Jefferson ini—seorang filosof, ilmuwan, arsitek,
penemu—sekarang mendapatkan seorang George W. Bush, yang
dengan pengetahuan umum yang terbatas mengutarakan yang

30 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SCHWARZENEGGER

hanya sedikit diketahuinya dalam bahasa Inggris yang juga ter-
batas.

Tapi apa lacur, dia, seperti Megawati, juga dipilih. Tampak-
nya, di tengah hiruk-pikuk apa dan siapa para tokoh yang berseli-
weran, dia adalah sebuah Coca-Cola atau McDonald’s. Seperti
Schwarzenegger, dia punya brand-name (”Bush”) yang sudah
dikenal orang banyak.

Agaknya sesuatu telah berlangsung dalam politik dewasa
ini—sesuatu yang barangkali bisa disebut sebagai peng-kelon-
tong-an informasi. Di toko kelontong, bermacam ragam hal di-
tawarkan. Tak ada yang telah diseleksi lebih dulu, menurut jenis,
tingkat mutu, dan segmen pembeli. Dewasa ini, itulah yang ter-
jadi—melalui Internet, iklan televisi dan radio dan surat kabar,
me­lalui berita yang datang setiap jam dan hampir dari segenap
penjuru. Semuanya menghambur serentak. Semuanya tak akan
tertelan oleh siapa pun. Dan ketika para konsumen merasa mam-
pu langsung menentukan pilihannya, mereka pun akhirnya ber-
pedoman kepada ”laris, laris, praktis”. Pasar seakan-akan jadi to-
tal.

Apa pun yang dikatakan kaum ”neo-liberal”, ada yang ter­
ancam­ketika pasar jadi total: ketika perhitungan laku dan tak
laku, laris dan tak laris, menguasai semuanya, dan ketika tak ada
mediasi lagi antara yang menawar dan yang menawarkan—kare-
na mediasi itu pun ditentukan oleh kriteria laku atau tak laku.
Pernah ada masanya kita tahu bahwa buku yang laris belum tentu
buku yang bermutu. Pernah kita mendasarkan informasi kita ten-
tang ”bermutu” atau ”tidak” kepada satu atau dua orang penilai­
yang berwibawa. Tapi dewasa ini, bukan penilaian para penilai
itu saja yang digugat. Bahkan ide tentang ”bermutu” itu sendi­
ri­sudah dirobohkan, seakan-akan di sana ada kekuasaan para
cendekia yang memaksa.

Wibawa dianggap sebagai sebuah dosa. Para cendekia kini

Catatan Pinggir 7 31

http://facebook.com/indonesiapustaka SCHWARZENEGGER

telah jadi makhluk yang dicurigai. Tapi orang lupa bahwa pasar­
yang total hanyalah sebuah ilusi. Selalu ada mediasi: agen-agen
periklanan yang canggih dan humas yang bisa membuat merah
atau biru apa saja yang hitam. Dengan kampanye yang dibiayai
uang berjuta-juta, bukan konsumen yang memilih, mel­ain­kan­
konsumen yang dipilihkan. Benetton, Bush, Estee Lauder, Mega-
wati, BMW, Nike, Schwarzenegger....

Tempo, 24 Agustus 2003

32 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka Technē

LADANG yang kering, sungai yang sat, hutan yang ter-
bakar, ribuan orang yang mati karena suhu yang menye­
ngat, tenaga listrik yang gagal.... Hampir bersamaan, du-
nia dipukul oleh galaknya Alam dan gagalnya teknologi, ketika
kemarau begitu terik dan musim panas begitu ganas. Seakan-
akan Eropa, Amerika, Asia, Afrika mendadak serentak ”terkebe-
lakang”. Seakan-akan di semua tempat itu hidup manusia kem-
bali dikungkung Nasib dan Kebetulan yang tak bisa ditangkal.

Pada saat seperti ini umumnya kita akan mendengar orang
berk­ ata tentang datangnya ”balasan” bagi ketakaburan manusia.
Dan Tuhan pun akan disebut.

Tapi benarkah ketakaburan manusia selalu bertentangan de-
ngan kesadaran akan Tuhan? Manusia memang bisa memaklum-
kan, bahwa ia tak ditentukan oleh hakikat atau esensi; ia ”men-
jadi” dalam eksistensi. Ia bisa menunjukkan bahwa ia, yang me­
nurut ”hakikat” (apa itu?) tak bisa terbang, ternyata kemudian
bisa mengarungi angkasa. Kini jenis kelamin bisa diubah, kema-
tian bayi bisa dicegah, harapan untuk hidup bisa diperpanjang.
Berangsur-angsur, kodrat atau nature, begitu juga Nasib dan Ke­
betulan, jadi barang yang ganjil.

Ada yang mengatakan bahwa keadaan itu keliru, sebab ia
”asing”.­Banyak yang mengatakan bahwa ”mengalahkan Alam”
ini adalah tema utama kesadaran Eropa. Pada tahun 1930-an, pe-
nyair Sanusi Pane (juga Sjahrir, aktivis politik) mengibaratkan­
Eropa (”Barat”) sebagai Faust. Dalam drama yang ditulis Goethe,
terutama di buku kedua, Faust memang manusia yang menghim-
pun pengetahuan, menaklukkan bumi, dan membangun per­
adaba­ n.

Tapi ada yang dilupakan Sanusi Pane dan Sjahrir ketika meng-

Catatan Pinggir 7 33

http://facebook.com/indonesiapustaka technē

gunakan Faust sebagai alegori: sosok yang seperti itu sebenarnya
baru pada abad ke-19, lewat karya Goethe. Jauh sebelumnya,
dalam legenda rakyat, tokoh Faust adalah seorang peramal nasib
dan ahli sihir—satu bagian dari imajinasi yang dibentuk oleh ke-
percayaan tentang Nasib dan Kebetulan. Ia bukan sosok modern.

Dengan kata lain, tampaknya tak ada satu jenis Faust. Juga tak
ada satu jenis Arjuna.

Sanusi Pane—yang memuja apa yang dibayangkannya seba­­­
gai­ ”Timur” dengan model apa yang dibayangkannya seb­ agai­
”India”—mengemukakan sebuah ibarat tandingan: Ar­juna.­
Agakn­ ya bagi Sanusi, kesatria Pandawa dalam epos Maha­bharata
ini seorang yang hidup bersatu ke dalam Alam dan menyerap du-
nia dalam kontemplasi.

Tapi bisakah kita lupa bahwa setidaknya separuh dari sosok­
Arjuna adalah seorang penakluk? Bahkan ketika ia memutuskan
untuk bertapa, sebagaimana dikisahkan dalam cerita wayang­
Begawan Mintaraga. Sebab bertapa punya dua momen yang ber­
kait. Momen pertama adalah ketika manusia merunduk, menye­
rahkan diri kepada sebuah adidaya yang berada di atas keter­ba­
tasan insani. Momen kedua ketika ia menaklukkan alam dalam
rag­ anya (ia, Mintaraga) dan menjadi diri yang éling lan waspada,­
yang ”sadar dan waspada”. Dengan kata lain, ketika ia meng­
ambil­posisi sebagai satu subyek, atau kesadar­an, yang kukuh dan
mandiri, mengatasi carut-marut dunia. Ia sepenuhnya identik
de­ngan Karsa. Dalam kisah Mintaraga, ia adalah Karsa untuk
mendapatkan sebuah senjata yang amat sakti—buat mengalah-
kan liyan, ”yang-Lain”.

Dalam posisi itu, bertapa bukanlah momen Sidharta Gautama­
yang bermeditasi di bawah pohon Bodhi. Dalam mencapai sunya­
ta, setiap ”kini” Gautama adalah keabadian yang menggetar-
kan. Sebaliknya Mintaraga: ia tak melibatkan diri­da­lam ”kini”.
Ia melihat ke masa depan. Ia melakukan in­vestasi:­kelak, setelah

34 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka technē

pengorbanan pada hari ini, kekuasaan (senjata ”Pasopati”) akan
bisa diperoleh dan digunakan. Arjuna adalah seorang modern.

Ia menempuh sebuah laku yang produktif. Ia lebih dekat ke-
pada yang disebut Aristoteles sebagai technē , bukan theoria, bu-
kan pula praxis. Dengan theoria manusia membentuk teori, de-
ngan praxis ia menjalankan laku moral dan politik. Melalui pro­
ses­menjadi Mintaraga dan dengan bantuan para dewa, Arjuna
memproduksikan kekuasaan, seperti Faust yang dibantu Mefis-
toteles.

Sering terpikir oleh saya, jangan-jangan tak ada perpisah­an
yang radikal antara yang modern dan yang pra-modern: antara­
Faust si peramal yang hendak menggapai masa depan dan Faust si
penakluk alam yang hendak membangun masa depan. Atau an-
tara Arjuna pada momen pertama bertapa dan Mintaraga pada
momen berikutnya.

Sering terpikir oleh saya, jangan-jangan pelbagai ajaran agama
yang menampik pandangan sekuler, yang meletakkan manusia di
atas semuanya, pada dasarnya mengulang sekularisme itu dalam
cara lain—terutama ketika tiba saatnya agama berniat mengha­
silk­ an manusia yang teguh beriman secara dahsyat: manusia yang
se­lalu di ”jalan lurus”, sesuai dengan sebuah desain, cocok de-
ngan akidah.

Dengan kata lain, ketika akidah menjadi teknik (dari kata
Technē ) yang merancang manusia agar tak tergantung kepada­
Nas­ibnya yang lemah dan mudah berdosa, dan agar manusia siap
menghadapi Kebetulan, godaan yang memergokinya di jalan.
Hukum dan fikih mungkin sebuah teknologi penyel­am­ ata­ n.

Tapi tiap hukum, sebagaimana teknologi, mereduksi hidup,­
men­ yederhanakannya, agar bisa mengendalikannya. Padahal ki­
ta tahu dalam hidup selalu ada yang tak bisa dikendalik­ an, bah-
kan tak seluruhnya bisa diungkap, dirumuskan, dan diukur. Da­
lam hidup selalu terkandung ”bumi”—setidaknya dalam penger-

Catatan Pinggir 7 35

http://facebook.com/indonesiapustaka technē

tian Heidegger. ”Bumi menghantam tiap usaha untuk menem-
busnya,” kata pemikir ini, yang mengecam humanisme lama ini.
”Bumi menampilkan diri hanya ketika ia tetap tak terungkap
dan tak terjelaskan.”

Saya ingat kata-kata itu sekarang: ladang yang kering, sun­ gai­
yang sat, hutan yang terbakar.... Mesin, dan pelbagai ”jalan­lu-
rus” lain, tampaknya tak bisa terus-menerus mencegahnya.

Tempo, 31 Agustus 2003

36 Catatan Pinggir 7

NIPPON

http://facebook.com/indonesiapustaka Pendiriankoe sekarang tetaplah soedah,
Berdjoeang sampai sa’at jang achir,
BERSAMA NIPPON, madjoe melangkah,
KEBESARAN ASIA MESTILAH LAHIR ....
—Hamka, ”Diatas Roentoehan Malaka-Lama”, dalam Pandji Poestaka,

No. 25, 1943

BANYAK orang yang salah harap dan salah sasar pada ta-
hun 1943. Hamka adalah salah satu di antaranya. Ketika­
itu Indonesia diduduki Jepang, negeri yang mendamik
dada sebagai pembebas Asia, kekuatan yang meneriakkan slogan­
”Ing­gris kita linggis, Amerika kita setrika!” Seperti banyak sastra­
wan dan tokoh masyarakat di masa itu, Hamka juga menghunus­
kata ”berdjoeang”, ”madjoe” dan ”Asia” dengan tangkas—ter­
kadang terlampau tangkas.

Saya pernah bertemu dengan seorang yang ingat bahwa pada
su­atu hari tahun 1940-an itu ia melihat Hamka, novelis­(Tengge­
lamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindung­an Ka’bah) yang
sudah mulai diakui sebagai seorang tokoh masyar­akat muslim,
naik kuda ke esplanade Kota Medan, seraya diikuti­orang ramai
yang berlari-lari, untuk menunjukkan kesetiaan kepada Maha-
raja Hirohito nun jauh di negeri Nippon.

Benar atau tidak Hamka melakukan itu, tekad dalam sajaknya­
yang dimuat Pandji Poestaka yang saya kutip di atas menun­jukkan
ke mana anginnya bertiup. Itu tak sendirian. Jika kita baca seja­
rah dengan saksama, kita akan menemukan tokoh pergerakan
nas­ional Bung Karno menganjurkan pemuda­Indonesia masuk
Rom­ usha, hingga berduyun-duyun orang bekerja sampai ke ta-
nah jauh, sampai mati sengsara, untuk­ke­pentingan Jepang. Pe-
nyair Sanusi Pane, penganut theosofi,­menganggap perang yang

Catatan Pinggir 7 37

http://facebook.com/indonesiapustaka NIPPON

di­lancarkan kaum militer dari Tokyo­sebagai ”Perang Suci”. Pa-
kar hukum Supomo memandang bentuk negara fasis di bawah
Maharaja Hirohito sebagai teladan.

Dilihat pada hari ini, posisi seperti itu (ada yang kemudian­
me­n­ yebutnya sebagai sikap para ”kolaborator”) tampak tak gem­ i­
lang sama sekali. Bahkan memalukan. Pandangan yang­tersirat
di sana sering hanya gema dari argumen kalangan cerdik pandai
Jepang yang mendukung perang yang sedang berkecamuk. Pe­
rang­itu memang oleh pemerintah mereka disebut dengan gagah
sebagai ”Perang Asia Timur Raya”, tapi bagi ba­nyak manusia
lain—terutama mereka yang hidup di Cina, di Nanking khusus-
nya—ia sebuah keganasan yang terorganisasi.

Tapi tentu saja dapat dilihat cara lain: tekad ”BERSAMA
NIPPON madjoe melangkah” itu di Indonesia tumbuh dari ke-
pedihan hidup di bawah kolonialisme Eropa, guncangnya harga
diri, kebutuhan yang akut untuk punya identitas sendiri. Bahkan­
tanpa dijajah pun, benturan dengan apa yang sering dianggap se-
bagai ”Eropa” atau ”Barat”—atau apa yang disebut sebagai ”mo-
dernitas”—amat merisaukan. Sebab itulah masa itu para cende­
kiaw­ an Jepang mencoba menelaah kemungkina­ n jalan lain:
”menga­ tasi modernitas” (kindai no chôkoku).

Pemikiran ”Mazhab Kyoto”, dengan tokoh sentral Nishida
Kit­aro (1870-1945), berada di ujung tombak gerakan ini. Tapi
pada akhirnya argumennya bisa dilihat sebagai sederet apologi
bagi watak totaliter dari nasionalisme.

Dalam versi yang saya sederhanakan, pemikiran Nishida
menga­­ nggap manusia tak mungkin bersifat universal. Saya ingat­
ucapan Mayor Okura dalam novel Kalah dan Menang S. Takdir
Alisjahbana, bahwa mustahil untuk mengatakan manusia itu sa­
tu. Baginya, tempat dan komunitas menentukan subyek. Itulah
inti ”logika tempat” (basho no ronri), dalam filsafat Nishida. Du-
nia di luar sana tak terpisah dari aku di sini.

38 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka NIPPON

Dengan itu Nishida membantah dasar pikiran modern yang
dimulai oleh Descartes. Proses yang menyebabkan Descartes bisa
mengatakan cogito ergo sum dimulai dengan ”aku yang berpikir”
yang mempertanyakan ”dunia yang dipikirkan”. Mempertanya­
kan, meragukan, berarti juga melepaskan diri. Dan tak hanya
mem­ isahkan diri. Dalam pemikiran modern,­subyek (”aku yang
berpikir”) adalah pemegang peran yang mewujudkan dan mem-
bentuk sekitarnya. Dunia dikonstruksikan dan alam dikalahkan
dari sini.

Bagi Nishida, betapa salah pendirian itu. Baginya, renunga­ n
Descartes lahir dari hanya satu cara tertentu, yakni cara analitik.­
Padahal ada cara lain menerima dunia: bukan dengan analisis
yang mengurai-memisahkan, melainkan dengan menyerapnya
secara intuitif sebagai keseluruhan antara ”aku di sini” dan yang
lain yang di luar sana itu.

Tapi ada kritik yang bisa ditembakkan ke arah Nishida, yang
men­ unjukkan bahwa ia sebenarnya tak berhasil ”menga­ tasi” mo-
dernitas. Basho no ronri-nya hanya membalikkan pemikir­an Des-
cartes. Ia tak bisa melepaskan diri dari dikotomi yang ditentang-
nya sendiri. Ia menganggap tempat (”Jepang” atau ”Asia”) sebagai­
sesuatu yang di luar subyek, mutlak,­dan bisa didefinisikan ter­
sendiri. Ia mengabaikan persoalan bahwa apa itu ”Jepang”, apa
itu ”Asia”, sebagaimana apa itu ”Barat”, pada­akhirnya ditentukan­
oleh sebuah subyek dengan ke­kuasa­a­ nnya sendiri.

Tapi Nishida tidak unik. Pikirannya sebenarnya tak banyak­
berb­ eda dengan pandangan yang sering ingar pada hari ini. Dan
bukan cuma nasionalisme.

Dasar pandangan ini adalah juga sebuah ilusi geometris.­De­
ngan­ kata lain, pandangan yang melihat subyek, dan cara­nya­
meng­hayati nilai-nilai, sebagai bagian dari identitas ”tempat”
atau ”ruang” yang homogen (”Timur”, ”Amerika”). Kalau tidak,
ia dilihat sebagai bagian ”waktu” yang bisa dipetak-petak sebagai

Catatan Pinggir 7 39

http://facebook.com/indonesiapustaka NIPPON

ruang (”zaman jahiliah”, ”Abad Pertengah­an”). Dan sebagaimana­
layaknya ruang, subyek dan nilai-nilainya pun (”beradab”, ”bia­
dab”,­”beriman”, ”murtad”, dan lain-lain) seakan-akan dapat di-
tentukan batasnya, dapat diperbandingkan luas dan dalamnya.
Seakan-akan hal-hal itu akhirnya bisa dan harus dibakukan—se-
belum dibekukan.

Bukankah dari sini (dan tak hanya ketika Hamka dan lain-
lain menjunjung ”Perang Asia Timur Raya”) subyek yang berbe-
da, yang ganjil, akhirnya mati ditenggelamkan?

Tempo, 7 September 2003

40 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9

SAYA coba mengingat lagi New York 11 September 2001,
pagi, satu setengah jam sebelum Menara Kembar di World
Trade Center diserang. Saya duduk di sebuah kursi di se-
buah taman kecil tak jauh dari Penn Station, minum kopi dari ge-
las kertas, sendirian, memandang ke jalan.

Hari baru saja menyingsing kerja, tapi telah terdengar suara
se­orang penginjil kaki lima yang menyeru, di seberang sebuah
hotel, lewat pengeras suara: ”Ke mana Anda akan tinggal di alam
barzakh?”

Sekian puluh menit kemudian kota pun guncang. Dua pesa­
wat ditabrakkan ke dua gedung tinggi tak jauh dari Wall Street.
Ledakan dahsyat menyusul. Menara Kembar itu runtuh bergan-
tian. Sekitar 3.000 orang terbakar, tertimbun gedung, terlontar
dari pucuk, atau dalam keadaan ketakutan, meloncat sekian ra-
tus meter ke bawah. Hancur. Kekejaman itu seakan-akan mence­
mooh bahwa hidup bukan apa-apa. Para teroris itu seakan-akan
berseru, ”Ayo, mati ramai-ramai!”

Tapi benarkah hidup cuma seperti sebuah gerak jalan anak-
anak—berbaris santai dari titik A ke titik B, kemudian bubar?
Sang penginjil di tepi jalan itu menjanjikan keabadian. Para pem­
bajak, yang pagi itu siap mati sebagai syuhada, memb­ ayangk­­ an
firdaus. Di kaki lima dan di angkasa mereka semua meyakini
”alam barzakh”. Hidup seakan-akan ditampik.... Tapi barangkali­
ada yang keliru di sini. Hidup tak ditampik. Hanya ada sesuatu
yang Mutlak yang bisa mengabaikannya.

Hanya yang Mutlak dan rasa benci yang menegaskan paradoks­
itu: hidup harus dihancurkan karena ia begitu berharga. Hanya
yang Mutlak dan rasa benci juga yang bisa membuat kehidupan
jadi dua kubu yang pasti: kita dan mereka. Dan kata itulah yang

Catatan Pinggir 7 41


Click to View FlipBook Version