http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN YANG MENCEMOOH INDONESIA
Bung—akan terjadi.
***
Tapi Bung menangkis: pemerintahan ini juga lahir dalam ke
adaan genting. Harapan yang kini terbentuk di Indonesiaber
gerak bagaikan sebuah sekoci di tengah lautan gelap ketidakp er
cayaan dengan ombak yang gusar. Bila pemerintah gawalsedikit
saja, harapan itu akan hilang, dan Indonesia akan selama-lama
nyamencemooh dirinya sendiri.
Dari mana sinisme dan apati itu berasal? Bung tunjukkan:
dari beribu-ribu arus kekecewaan langsung atau tak langsung
yang mengalir dari sumber-sumber yang luas dan menyebar.
Sumb er itu punya satu nama: korupsi.
Korupsi, kata Bung, akhirnya memang bukan sekadar keja
hatan mencuri milik Republik. Korupsi di Indonesia membunuh
Republik itu sendiri.
Ingat, kata Bung pula, sebuah kehidupan bersama memben
tuk sebuah negeri oleh jalinan sosial dan politik yang spontan,
efektif, dan lumintu. Jalinan itu sendiri tersusun dari yang sering
disebut sebagai ”modal sosial”, meskipun saya lebih suka mema
kai istilah ”buhul sosial”. Dengan kata lain: sesuatu yang mem-
perkuat tali-temali antar-warga masyarakat, karena saling mem-
percayai.
Korupsi di Indonesia telah merusak buhul sosial itu sampai ke
sudut yang paling kecil.
Bung tunjukkan kenyataan ini: begitu orang keluar dari ru
mah, ia langsung punya alasan untuk bersangka-buruk. Misalnya
suatu hari dalam kehidupan Susilo Bambang Gentolet, (”SBG”),
seorang warga Jakarta di Tanah Abang:
7.00—SBG berjalan menunggu bus lewat dekat rumah. Hu-
jan di hari keempat itu telah merusak jalan. Aspal bengkah, lu-
bang menganga, comberan mendadak terbentuk. Ia harus berha-
ti-hati agar celananya yang baru dicuci tak tersiram becek yang
342 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN YANG MENCEMOOH INDONESIA
terlontar dari roda sepeda motor yang lewat kencang.
SBG tahu jalan itu gampang rusak karena si pemborong per-
baikan tak memenuhi syarat dalam mengaduk bahan dan meng-
garap kerja. Ia tahu si pemborong melakukan itu karena menyo
gok pejabat kota praja.
7.15—Bus datang. Tidak di halte. Jakarta adalah salah satu
dari ibu kota di dunia di mana bus tak pernah mematuhi halte
dan pada saat yang tepat. Penumpang berdesak bahkan sampai
setengah keluar pintu. Bus itu sudah 45 persen rusak, dan di te
ngahkemacetan yang berjam-jam, berdiri dalam bus adalah sik-
saan sehari-hari.
SBG tahu bus kota tak bisa diperbanyak sekian kali lipat, se-
bab kendaraan pribadi tak dibatasi dengan peraturan perizinan
dan pajak yang tinggi. Bagaimana jika tiap peraturan dan tiap pa-
jak dapat dibengkokkan dengan uang sogok?
9.27—SBG tiba di tempat ia bekerja, sebuah perusahaan im-
por alat-alat kedokteran. Hari itu teman sekerjanya dapat tugas
mengantarkan beberapa puluh juta uang tunai untuk pejabat di
Departemen Anu. Begitu ia duduk ia dengar kepala bagian pema-
saran berkata mengeluh, ”Ah, kita bakal terpukul oleh banyaknya
barang selundupan....”
SBG menghela napas. Bagaimana mencegah penyelundupan
jika dinas bea cukai dapat dilewati dengan gampang?
Bung bilang cerita itu dapat diperpanjang dan dibuat dalam
pelbagai variasi. Buruk sangka sudah jadi bagian dari perc akap
an sehari-hari.
Bung pun bertanya, apa gerangan yang kini menjalin hubung
an yang spontan, efektif, dan lumintu antara orang dan orang,
lemb aga dan lembaga. Pasti bukan sebuah ”negeri”! Jika untuk
naik pangkat seorang pegawai negeri harus menyuap pegawai
negeri lain, jika wewenang menyelenggarakan hukum bisa diper-
jualbelikan oleh polisi, jaksa, dan hakim, sebuah negeri bukan
Catatan Pinggir 7 343
http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN YANG MENCEMOOH INDONESIA
lagi sebuah negeri.
Di situlah Indonesia lenyap. Bung katakan secara lebih dra-
matis: Indonesia adalah sebuah Republik yang berhenti sebagai
”re-publik”. Ia dicincang-cincang oleh pamrih privat yang terpi
sah-pisah—sejak perlunya kepentingan tambahan penghasilan
pak polisi lalu lintas sampai kepentingan mereka yang jauh tinggi
di atas.
Saya kira Bung benar. Korupsi adalah privatisasi kekuasaan
dan kesempatan. Di Indonesia, ia sebuah anarki yang melanjut-
kan hidupnya dengan baju dinas.
***
Yang menakutkan, kata Bung pula, sebuah paradoks ter-
jadi: anarki akhirnya jadi ”lembaga” ketika merasuki sebuah sek-
tor yang paling takut akan anarki—yakni birokrasi dan militer.
Kita bisa bicara banyak tentang anarki di kantor-kantor peme
rintah. Memang mereka pakai baju seragam, berolahraga bersa-
ma tiap pekan, salat bersama tiap Jumat. Tapi dari kantor mereka,
beribu-ribu kalimat dikeluarkan dan disebut peraturan, dan dari
tiap peraturan terselip keharusan penduduk untuk punya izin ini
dan itu. Kemudian, tiap kali orang men getuk untuk dapat izin,
birokrat itu akan siap untuk disuap. Walhasil, 1.000 peraturan
adalah tanda disiapkannya 1.000 pelanggaran.
Anarki di kalangan militer tak kalah memasygulkan. De-
ngan anggaran pertahanan hanya 1 persen dari GDP, Menteri
Pertahanan Juwono Sudarsono pernah menghitung bahwa hanya
30 persen dari kebutuhan militer Indonesia yang dipenuhi oleh
anggaran Negara. Selebihnya, angkatan bersenjataharus mencari
sumber pendapatannya sendiri. Tapi, menurutangka yang diter-
bitkan oleh Indonesia Corruption Watch dalam sebuah buku ten-
tang bisnis militer di Indonesia yang terbit pada tahun 2003—
angka itu dikutip dari laporan audit resmi—jumlah dana yang
diserahkan oleh unit usaha YayasanKartika Eka Paksi yang di-
344 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN YANG MENCEMOOH INDONESIA
miliki Angkatan Darat hanya Rp 142,331 miliar. Seorang per-
wira di bagian perencanaan Markas Besar TNI dikutip menga
takan bahwa seluruh kontribusi yayasan militer hanya mencapai
0,7 sampai 1 persen dari anggaran yang diperlukan.
Ingat, kata Bung pula, akhirnya korupsi bisa membunuh da
lam arti harfiah. Bulan Juli 2003, seorang pengusaha ditembak
mati di Jakarta. Bersama dia, tewas juga pengawalnya. Kemudian
dik etahui bahwa sang pengawal adalah seorang sersan Kopassus.
Sementara itu, polisi kemudian menemukan bahwa para pem
bunuhnya adalah empat anggota marinir, yang disewa oleh se
orang pengusaha lain dengan bayaran Rp 4 juta.
Apa yang terjadi jika polisi dan militer mendapatkan pengha
silan samping dengan memperdagangkan kekerasan, selain men-
jadi pengawal dan pembunuh dan menjaga sarang judi?
Dapat diperkirakan, kian tak aman keadaan, akan kian mahal
pula biaya keselamatan yang ditawarkan oleh polisiataupun ten-
tara. Bukan mustahil bahwa di daerah di mana kekerasan berke-
camuk, uang adalah, untuk mengutip kata seorang peneliti, the
silent force of the conflict. Bayangkan sesuatuyang bukan mustahil
terjadi: petugas keamanan menjual senjata kepada orang swas-
ta dan seorang prajurit yang membawa M-16 (jenis senjata) akan
pulang dengan membawa 16-M (”M” dari million). Sang petugas
mungkin merasa bersalah, tapi ia juga bisa dengan tenang menga
takan ia tak sendirian.
Inilah cemooh Bung yang lebih lanjut, menirukan cemooh
seorang perwira negeri tetangga yang pernah latihan bersama de-
ngan TNI dan polisi: Indonesia adalah sebuah republik yang ten-
taranya berangkat bertugas dengan peralatan yang bobrok dan
ransum yang buruk, sementara jenderal-jenderal polisi dan mi-
liternya punya rumah megah di dalam dan di luar negeri.
Di sini, anarki bertaut dengan ketidakadilan. Dan ketika ke
duanya berkembang terus, buhul sosial pun ambruk.
Catatan Pinggir 7 345
http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN YANG MENCEMOOH INDONESIA
***
Lalu apa yang akan terjadi? Bung memang pantas mencemo
oh, tapi mana mungkin Indonesia jadi baru dalam 100 hari? Ke-
tika pemerintah SBY menyatakan akan memerangi korupsi,ia se-
benarnya ingin mengawetkan harapan—sebab harapan itulah
yang justru rusak berat oleh ambruknya buhul sosial.
Peluang itu bukan omong kosong. Bung jangan mencibir.Ko-
rupsi di Indonesia tak datang bersama nenek moyang. Seorang
peneliti pernah mengatakan, korupsi di Mahkamah Agung baru
terjadi pada tahun 1980-an, dan sebelum masa itu, para hakim
adalah manusia-manusia yang bersih.
Sementara itu, korupsi yang meluas dan besar-besaran baru
mulai setelah Presiden Sukarno memperkenalkan konsep”Eko-
nomi Terpimpin”. Ketika itu perusahaan-perusahaan swasta
asingdiambil alih oleh Negara, dan pejabat-pejabat sipil dan mi-
liter pun duduk mengurus perkebunan, pertambangan, perda
ganga n, bahkan usaha penerbitan buku bacaan.
Ketika ”Ekonomi Terpimpin” bertaut dengan ”Demokrasi
Terp impin”, kekuasaan yang begitu besar di kalangan birokrasi
(yang oleh PKI kemudian disebut ”kapitalis birokrat”) akhirnya
tak terkendali. Itu sebabnya dalam soal korupsi, Indonesia paling
mencolok di Asia Tenggara. Thailand, Malaysia, Singapura, dan
Filipina relatif bebas dari kejahatan itu. Mereka tak pernah meng
ambil alih secara besar-besaran perusahaan swasta asing, tak per-
nah tergoda oleh sosialisme yang menjanjikan pemerataan, tapi
akhirnya hanya pandai memproduksi 1.000 pengendalian. Itu
lah sebabnya, kini korupsi yang buruk terjadi di Vietnam dan
RRC: birokrasi sosialis yang seperti gurita tetap dipertahankan,
namun kini berjabat tangan dengan kapitalisme.
Indonesia di bawah Presiden Soeharto tak mengubah struk-
tur dasar yang disiapkan Sukarno. Birokrasi tetap penting, dan
seperti di Vietnam dan RRC sekarang, melahirkan sebuah sistem
346 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN YANG MENCEMOOH INDONESIA
yang mengkombinasikan yang terburuk dari sosialisme (yakni
”kontrol”) dan yang terburuk dari kapitalisme (yakni ”kesera
kahan”).
Siapa pun tak gampang memangkas gurita kontrol dan kesera
kahan itu. Korupsi telah menjalar ke peradilan, parlemen daerah
ataupun nasional, merasuki kehidupan partai politik, lembaga
agama, dunia pers, bahkan NGO. Pemerintahan Indonesia—
anarki yang melanjutkan hidupnya dengan baju dinas itu—kini
jadi tauladan siapa saja di Indonesia. Tapi Bung tak bisa terus-
menerus mencemooh.
Siapa tahu Presiden yang dipilih rakyat dengan mayoritas yang
meyakinkan itu tak akan terus maju-mundur—meskipun itulah
konon kelemahannya yang terbesar. Siapa tahu ia akan memper-
lakukan hal-hal yang luar biasa seperti bencana di Aceh dan ko-
rupsi di seantero negeri dengan sikap ”kita bera da dalam keadaan
perang total”. Banyak pencoleng mengatasnamakan ”kebangga
an nasional” dan ”patriotisme” untuk memelihara kepentingan
mereka, tapi sikap patriotik utama sekarang adalah melawan si
nisme dengan sesuatu yang luar biasa.
Artinya, teruskan tangkap para pencoleng besar, tahan mere
ka, dan bila terbukti, kirim mereka ke Pulau Buru, bukan cuma
Nusakambangan.
Bung bilang perang total mengharuskan pekik pertempuran
yang spektakuler, dan saya setuju. Kita harus menjaga sekoci ha
rapan itu tak tenggelam dalam lautan ketidakpercayaa n yang da
lam. Kita tak ingin Indonesia ikut tenggelam. Kita tak ingin ke-
hilangan sebuah negeri yang begitu berharga.
28 Januari 2005
Tempo, 6 Februari 2005
Catatan Pinggir 7 347
http://facebook.com/indonesiapustaka
348 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka GEMPA
500 guncangan gempa masih menyusul selama delapan bu-
lan setelah tsunami melabrak kota dan membunuh ham-
pir 25 persen penduduk Lisbon. Tapi bila bencana di awal
November 1755 itu jadi sesuatu yang bersejarah, itu bukan hanya
karenaia mengerikan. Kejadian itu juga menandai satu babak
baru dalam pandangan hidup Eropa di abad ke-18—sebab se-
jak saat itu yang sekuler semakin mendesakkan posisinya, peran
Gerejaguyah, dan orang kian ragu sejauh mana sebenarn ya Tu-
han punya peran dalam gerak alam dan hidup manusia.
Di hari-hari itu para padri mengatakan: ”Berdoalah.” Dalam
trauma dan berkabung orang pun berlutut. Sudah sampai sekitar
50 ribu mayat bergelimpangan, dan kota yang anggun itu seperti
reruntukan—hanya 20 persen bangunan yang masih dapat di-
tempati—sementara lima hari lamanya kebakara n mengamuk.
Orang berlutut, berdoa, tapi gempa terus mengguncang sejak
November 1755 sampai dengan Agustus 1756.
Maka apakah arti doa sebenarnya: sebuah pertautan dengan
Tuhan untuk membuat sesuatu terjadi atau tak terjadi, atau seka-
dar ikhtiar untuk menghibur gundah? Apakah agama sebenar
nya: sebuah iman untuk penyelamatan di dunia dan akhirat,
atau, seperti kemudian dikatakan Marx, ”desah keluh makhluk
yang tertindas, hati di dunia yang tak punya hati, semangat dari
keadaan yang tanpa semangat?”
Apa pun artinya, pada akhirnya orang Lisbon percaya bahwa
bukan ora melainkan labora, bukan dengan berdoamelainkan
dengan bekerja—itulah yang membebaskan merekadari ketakut
an. Tapi tak hanya dalam hal itu Lisbon mengalamiawal ”seku-
larisasi”. ”Negara” memperkukuh kehadirannya dalam keadaan
krisis yang mencekam itu. Sebab saat itu diperlukan kekuasaan
Catatan Pinggir 7 349
http://facebook.com/indonesiapustaka GEMPA
sebuah administrasi yang melihat malapetaka sebagai problem,
bukan tanda-tanda gaib—dan problemadalah sesuatu yang ter-
lontar di hadapan manusia untuk diterobos atau dipecahkan.
Problem bukanlah misteri yang membuat manusia gemetar.
Di pucuk kekuasaan administrasi yang ingin memecahkan
problem itu duduk Marquis de Pombal. Lulusan UniversitasCo-
imbra ini baru sejak berusia 39 tahun menjadi pejabatkerajaa n.
Mula-mula sebagai diplomat. Tapi kemudian, berkatkemampu
an dan kecerdasannya, ia jadi menteri luar negeri. Seorang duta
besar Inggris mengingatnya sebagai ”satu-satunyaorang di selu-
ruh kerajaan yang mampu mengatasi perkara”.
Gempa bumi Lisbon membuktikan itu. Dengan cepat Pom
bal,waktu itu berumur 56, mengatur pembuangan mayat dengan
cara yang radikal: ribuan jenazah itu ditumpuk ke dalam sebuah
kapal besar yang biasa dipakai buat upacara, dan kapal itu diteng-
gelamkan di laut. Takut kalau menyinggung kalanga n agama,
semua dilakukan dengan diam-diam, meskipun Pombal dapat
meyakinkan Kardinal Jose Manuel untuk menyetujui langkah
nya.Dengan segera pula dijaganya agar berita mingguan di Lis-
bon tetap terbit, buat mencegah desas-desus. Waktu itu berulang
kali tersebar kabar angin bahwa sebuah gempa besar akan terjadi
lagi, dan pemerintahan Pombal menuduh, sumbernya adalah ka-
langan padri Jesuit.
Dengan itu pula sebenarnya sebuah konflik politik berlang
sung. Dalam catatan sejarah, tak ada tanda bahwa Pombal se
orang yang anti-Gereja. Ia pernah jadi duta besar Portugis untuk
Takhta Suci. Ketika di Eropa berjangkit semangat ”Pencerah-
an”, Portugal bukan Prancis yang gelisah dengan pikiran-pikir
an baru. Negeri Katolik dengan penduduk tiga juta ini punya 200
ribu pastor, ibu kotanya padat berisi 130 gedung keagamaan, ter-
masuk 40 buah gereja, dan meskipundikecam oleh Paus, Gereja
Kerajaan Portugal meneruskan praktek Inkuisisi yang buas:
350 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka GEMPA
menyiksa atau membakar hidup-hidup siapa saja yang diang-
gap murtad. Setidaknya di permukaan, tak ada gelombang anti-
Katolik di sini.
Tapi bukannya tanpa konflik. Pombal sudah agak lama ikut
dalam pergulatan politik untuk menyingkirkan Ordo Jesuit,
yang punya pengaruh besar di Portugal sebelum Raja José I ber-
takhta. Pombal menganggap mereka itulah sumber keterbela
kangan. Ilustrasi tentang konflik ini yang paling banyak ditulis
ialah ketika ia, di tengah-tengah krisis pasca-tsunami, mengha-
dapi Maladriga.
Padri berumur 66 tahun itu sebuah suara yang berpengaruh.
Ia terkenal dengan misinya ke Brasilia untuk mengkristenkan
orang-orang pribumi di seberang Atlantik itu. Ia pernahditerima
dengan penuh kehormatan oleh Raja Juan V. Setelah raja tua ini
mangkat, dan José I mulai berkuasa, nasibnya beru bah. Sang raja
muda lebih percaya kepada Pombal. Para pejabat Negara umum-
nya menganggap kaum Jesuit terlampaulepas dari kendali kera-
jaan, terutama di koloni-koloni di Amerika Latin, di mana para
padri dari Ordo itu—seperti tergambar dalam film The Mission—
melindungi orang-orang pribumi dari cengkeraman Negara.
Sejauh mana Maladriga menentang posisi penguasa sekuler
dalam soal ini tak jelas betul. Ia kemudian hanya dikenal dengan
khotbah-khotbahnya yang memaparkan bahwa bencana yang
menimpa Lisbon adalah azab bagi sebuah kota yang penuh dosa.
Mungkin khotbahnya mengandung serangan kepada sang men-
teri yang dikenal sebagai tokoh anti-Jesuit. Yang pasti, pada akhir
nya Pombal tak membiarkan ia bicara. Kelak, ia berhasil mem-
buat Maladriga dihukum oleh Inkuisisi: sang padri yang alim itu
dibakar hidup-hidup di depan umum. Dan kaum Jesuit diusir.
Tak berarti di Portugal berlangsung sekularisasi yang dengan
radikal bergerak setelah revolusi Prancis. Tapi sejarawan mencatat
bahwa tsunami di Lisbon di abad ke-18 itu adalah sebuah ”gem-
Catatan Pinggir 7 351
http://facebook.com/indonesiapustaka GEMPA
pa bumi modern pertama”—sebuah gempa bumi yang membuat
orang meletakkan misteri alam dan Tuhan lebihbaik dalam se-
buah kotak, dan berpaling kepada hidup sebagai sederet problem
dengan pemecahan yang tak bisa mutlak.
Tempo, 13 Februari 2005
352 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka BEGUGANJANG
LAKI-laki itu tampak kurang saleh. Ia tak rajin ke gereja.
Ia alpa pula mengingat lengkap 10 perintah Tuhan. Ca-
cat ini akhirnya memudahkannya masuk ke dalam daf-
tar orang yang dituduh bekerja dengan Setan dalam sihir hitam.
Hakim memutuskan: ia harus digantung.
Tapi kita tahu ia tak berdosa. Tuduhan beguganjang yang ber
kecamuk di desa itu telah membunuhnya. Seorang bocah sakit
dan sejumlah gadis berkelakuan ganjil, dan penduduk dic ekam
ketakutan diserang santet. Ketegangan menyembul di sela-sela
konflik kepentingan yang dicoba sembunyikan di tempat terpen-
cil itu. Tuduh-menuduh menyebar.
Suasana itu—gabungan yang seram antara paranoia, key a
kina n agama, dan kekuasaan—adalah yang diabadikan Arthur
Miller dalam The Crucible, sebuah karya yang akan tetap dike-
nang dunia ketika penulisnya meninggal dalam umur 89 di
rumahnya di Connecticut akhir pekan lalu, 11 Februari 2005.
Tentu, Miller menghasilkan karya yang lebih menyentuh, The
Death of Salesman, atau lebih tangkas, All My Sons. Tapi The Cru
cible akan ditengok lebih sering hari ini.
Inilah masa ketika dengan iman orang membinasakan orang
lain dan berkata, ”Siapa yang tidak bersama kami adalah musuh
kami.” Presiden Bush pernah mengucapkan kata-kata itu, sebuah
sikap yang didukung orang-orang Kristen Kanan di negerinya.
Kita tahu kaum fundamentalis Amerika itu tak sendirian: yang
Islam, yang Yahudi, dan yang Hindu, dengan alasan politik dan
theologi yang berbeda dan dengan kalimat yang berbeda pula,
beramai-ramai bersuara garang dan muram.
Miller sendiri cemas. Di tengah suasana ”perang antiteror-
isme” Bush, setahun yang lalu ia menulis sebuah esai pendek, dan
Catatan Pinggir 7 353
http://facebook.com/indonesiapustaka BEGUGANJANG
ia ingat bahwa 50 tahun yang lampau ia ”terdorong untuk menu-
lis” satu kalimat bagi pidato si tokoh hakim dalam The Crucible.
”Tuan mesti mengerti,” kata hakim itu, ”orang harusberpihak
kepada mahkamah ini, atau ia akan dianggap menentangnya.”
Tak ada jalan tengah. Sebab ”ini zaman yang tajam...—kita tak
hidup di senja remang-remang di mana iblisbercampur dengan
kebaikan dan membuat dunia bingung.”
”Zaman yang tajam” itu memang bisa datang berulang kali.
The Crucible ditulis ketika kekuasaan di Amerika, jauh sebelum
George W. Bush, mengejar-ngejar siapa saja yang berbahaya,arti
nya siapa saja yang ”komunis”. Karena kampanye Senator Mc-
Carthy, puluhan orang—termasuk yang bekerjadi dunia teater
dan film, seperti Charlie Chaplin dan Elia Kazan—dicurigai
”merah”. The House of Un-American Activities (sebuah nama
yang menggabungkan paranoia dan patriotisme) memanggil
orang-orang yang diwaspadai ke komite para wakil rakyat untuk
diu sut. Charlie Chaplin menolak dan meninggalkan Amerika se-
lama-lamanya. Sutradara Elia Kazan menyerah:ia bersedia me-
nyebutkan sederet nama kenalannya yang ”tak bersih”—sebuah
tindakan yang kemudian menjadikannya pengecut seumur hi
dup.
Miller juga tak luput. Ia diusut keikutsertaannya dalam gerak
an Kiri di masa lalu. Ia memang datang dari generasi yang jadi
dew asa di tahun 1930-an, ketika semangat Kiri bergolak penuh
amarah penuh idealisme. Ia mengakui semuanya,meskipun ia tak
pernah jadi anggota Partai Komunis. Tapi ia menampik waktu
dip aksa menyebut nama-nama lain yang ”terlibat”. Ia tak hendak
berkhianat. Ia siap dianggap menghinalembaga pengusutdi Bu
kit Kapitol itu.
Beruntung ia tak jadi dihukum, ketika kegalakan ”zaman
yang tajam” itu mereda di akhir 1950-an dan ”McCarthyisme”
berubah jadi cerita teror sebuah kepicikan. Tapi peristiwa itu
354 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka BEGUGANJANG
agakn ya mengukuhkan apa yang juga pernah dikatakannya
sendiri setelah ia menulis A View from the Bridge: ”Sekali kita me-
nerima ide bahwa kita membutuhkan ortodoksi, kita harus me
nempuh Inkuisisi.”
Dengan kata lain, ortodoksi akan bergerak ke penindasan.
Dalam sejarah agama, pelbagai bentuk Inkuisisi telah membu
nuh begitu banyak tubuh dan jiwa, dan begitu banyak orang ber-
mutu yang menderita karena itu. Dalam sejarah Islam, di Bag-
dad abad ke-9 Khalifah Al-Ma’mun menjalankan mihna untuk
memaksakan doktrin agamanya. Ia menganiaya Imam Hambali.
Dalam sejarah agama Yahudi, Patriakh di Palestina di awal mile-
nium pertama mendesak agar seorang rabbi muda yang memba-
wa Sabda baru disalib, dan berabad kemudian para ahli agama
menghukum Spinoza. Dalam sejarah Kristen, Inkuisisi Gereja
membakar hidup-hidup ratusan orang yang dianggap murtad—
sesuatu yang juga ditirukan Calvin di Jen ewa dengan membasmi
tubuh Servetus di tiang kayu.
Semua itu tak membuat ajaran yang dipaksakan itu menang.
Tapi berulang kali ortodoksi bertaut dengan kekerasan, dan teror
itu bangkit kembali. The Crucible adalah sebuah alegori untuk
paranoia Amerika tahun 1950-an. Tapi kita tahu Miller mengam-
bil ceritanya dari sejarah dusun Salem di sudut Massac husetts di
abad ke-17, ketika kaum Puritan mulai berkuasa di koloni itu.
Pada suatu saat sejumlah penduduk dianggap main santet.
Pengu sutan pun mulai dengan sengit. Selama beberapa bulan di
tahun 1692, belasan laki-laki dan perempuan diangkut untuk di-
gantung di sebuah bukit di tebing gundul. Seorang berumur80
tahun ditindih batu berat sampai mati ketika ia menolak untuk
mengaku.
The Crucible Miller menggubah kembali kejadian sejarah itu
dengan tokoh John Proctor yang akhirnya juga digantung.Proc-
tor agaknya telah lama merasa bahwa gereja dan penguasanya bu-
Catatan Pinggir 7 355
http://facebook.com/indonesiapustaka BEGUGANJANG
kanlah tempat berlindung. Ia tak mau pergi ke kebaktia nkarena
Parris, sang pengkhotbah, hanya bicara tentang ”neraka dan ku-
tukan”. ”Tuan hampir tak pernah menyebut Tuhan lagi, Tuan
Parris,” katanya.
Tentu saja Tuhan selalu disebut, Tuan Proctor. Tapi Tuhan
dalam iman dan kebencian. Artinya, sesuatu yang akan terus ada.
Carlos Fuentes, ketika memperingati ulang tahun Arthur Miller
yang ke-80, pernah mengatakan bahwa iman dan kebencian itu,
bigotry, adalah dosa abad ke-21. Akankah ia mengatakannya lagi
ketika Miller meninggal?
Tempo, 20 Februari 2005
356 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka AL-GHAZALI
BENARKAH kita tahu, atau benarkah kita tak tahu?
Pertanyaan ini mengusik peradaban berpuluh-puluh
abad—dan saya teringat Al-Ghazali.
Ia adalah tauladan besar dalam sejarah pemikiran: seorang
yang terusik, seorang yang bergulat sampai dasar dengan soal
”tahu” dan ”tak tahu”—dan dengan riwayat yang mengagumkan,
meskipun kita belum tentu sepaham dengan kesimpulannya.
Orang alim ini lahir di Tus, Iran, pada tahun 1058, anak se
orang pemintal wol (ghazzal—dari mana nama ”ghazali” ber
asal)yang ingin agar keturunannya jadi orang yang berilmu.Se-
belum orang tua itu meninggal, si Muhammad dan adiknya dise
rahkannya kepada seorang sufi agar belajar membaca dan menu-
lis. Ketika uang keluarga itu habis, Al-Ghazali masuk ke sekolah
yang menyediakan kamar dan memberikan sedikit uang saku.
Dari sinilah gairahnya untuk belajar beroleh peluang: ia berang-
kat dari tempat ke tempat, menimba ilmu seraya menulis buku.
Pada akhir tahun 1080-an, ia datang ke tempat Nizam al-
Mulk, seorang wazir yang amat terpelajar di Kota Bagdad. Di Al-
Mu’askar (”Kamp”) itu para ulama piawai berdebat tentang pe
ngetahuan agama, dan di sana Al-Ghazali menonjol. Pada umur
34, ia pun diangkat jadi Rektor Madrasah Nizamiyyah di ibu
kota itu.
Selama empat tahun, sejak 1091, ia memimpin. Posisinya be-
gitu luhur hingga seorang penulis biografinya menggambarkan-
nya dengan sedikit berlebihan: martabat dan harta Al-Ghazali
tak tersaingi bahkan oleh para wazir dan pangeran.
Pada masa inilah ia menuliskan karyanya yang termasyhur,
Tahafut al-Falasifah (Keruwetan Para Filosof), sebuah kritik yang
kukuh terhadap filsafat, sebuah hantaman yang cerdas terhadap
Catatan Pinggir 7 357
http://facebook.com/indonesiapustaka A L- GH A Z A L I
pemikiran Ibnu Sinna dan Al-Farabi. Tapi tiba-tibaAl-Ghazali
berubah: ia memutuskan untuk meninggalkan kedudukannya
yang gemilang.
Dalam otobiografinya, Al-Munqidh min al-Dalal (Selamat
dari Sesat) ia menyatakan bahwa selama itu ia merasa ia telah
mengajar bukan untuk Allah. ”Selama hampir enam bulan sejak
Rajab tahun 488 Hijriah,” demikian tulisnya, ”aku terombang-
ambing antara daya tarik duniawi dan desakan ke hidupyang ke
kal.” Pada suatu hari, lidahnya tiba-tiba kering. Ia tak bisa meng
ajar. Kesehatannya memburuk. Para dokter tak tahu bagaimana
mengobatinya dan menyimpulkan bahwa sakitnya bukanlah jas-
mani. Akhirnya Al-Ghazali pun ”berlindung kepada Allah yang
meringankan hatinya untuk menampik kedudukan dan harta,
dan lepas dari anak-anak dan sahabat”. Dibagi-bagikannya ke
kayaannya dan ditinggalkannya Bagdad.
Ia pun berkelana selama sebelas tahun ke Damaskus, Yerusa-
lem, Hebron, Madinah, Mekah, dan kembali ke Bagdad seben-
tar pada Juni 1097, sebelum ia akhirnya kembali ke Tus. Di kota
kelahiran itu ia tinggal selama sembilan tahun, berkhalwat, hidup
menyendiri. Pada tahun 1106 ia mengajar sebentar di Nishapur,
lalu ia pulang ke Tus, di mana ia wafat pada akhir tahun 1111.
Umurnya hanya mencapai 53 tahun, tapi ia telah berhasilhi
dupkekal: dari semua ulama dalam sejarah Islam selama hampir
1.000 tahun, dialah yang paling banyak dibaca dan dikenang di
madrasah di dunia. Namanya diseru sebagai ”Hujjat al-Islam”. Ia
”bukti [kebenaran] Islam”.
Orang memang dapat mengatakan bahwa Al-Ghazali dijun-
jung tinggi karena ia membela pemikiran ortodoks, dan dengan
demikian bisa mengukuhkan posisi penguasa tafsir dan penguasa
politik. Memang, ia layak berkata, sejak belum lagi berumur 20
ia ”tak berhenti mengarungi dalamnya samudra”, dan ”terjun de-
ngan tabah menenggelamkan diri... ke dalam pertanyaan yang
358 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka A L- GH A Z A L I
gulita”. Tapi selama itu ia sebenarnya tak pergijauh; ia tak ber
anjak dari dogma. Para pengkritiknya mengatak an bahwa Al-
Ghazali menggunakan metode filsafat untuk menghantam filsa-
fat sebab ia tak menyukai pemikiran bebas.
Ibn Rushd, seorang pemikir yang tak kalah ulung, yang hi
dupdi Spanyol seabad setelah penulis Tahafut al-Falasifah itu,
menunjukkan bahwa Al-Ghazali memang penuh kontradiksi.
”Abdul Hamid”, tulis Ibn Rushd, menyebut nama lain Al-Gha
zali, ”adalah seorang penganut Ash’airiyyah di antara kaum Ash
’airiyyah, seorang sufi di antara kaum sufi, dan filosof di antarafi-
losof”. Seorang penganut Ash’airiyyah umumnya bersikap orto
doks, tapi seorang filosof tak mungkin taklid kepada doktrin.
Dan bagaimana pula seorang sufi bersikap doktriner, seraya ber-
tumpu pada rasio, dalam hubungan mistiknya dengan Tuhan?
Orang akan selalu ingat, pada abad ke-12 Ibn Rushd menye
rang Tahafut al-Falasifah dengan buku Tahafut al-Tahafut (Ru-
wetnya Keruwetan)—dan agaknya ini khas pengagum Aristote
les, baginya amat penting peta yang jelas dan persis. Rasionalisme
dalam filsafat Islam dari abad ke-8 bergema lagi di pemikiran Ibn
Rushd, meskipun dengan kritik: Ibn Rushd percaya bahwa filsa-
fat dan agama ibarat dua anak yang disatukan oleh seorang ibu
penyusu, dari mana mereka tumbuh sehat.
Tapi agaknya Ibn Rushd kurang menunjukkan apresiasi ke-
pada keresahan Al-Ghazali. Guru dari Tus ini sah untuk tak puas
dengan filsafat, sebab bahkan dengan rasio, banyak hal tak bisa
kita ketahui tentang hidup di dunia dan sesudahnya.
Namun Al-Ghazali juga tak tepat dalam asumsinya, bahwa
ajaran agama akan jadi jawab segalanya. Tak ada pintu terakhir
bagi ”pertanyaan yang gulita”.
Tapi apa mau dikata: Al-Ghazali hidup pada abad ke-11. Ia
tak tahu bahwa pada abad ke-21 perenungan tak kunjung berhen-
ti dan filsafat masih bersipongang justru dengan kritik kepada
Catatan Pinggir 7 359
http://facebook.com/indonesiapustaka A L- GH A Z A L I
rasionalisme. Itu semua berlangsung disertai pengakuan bahwa
juga iman ada batasnya.
Perlu hebohkah kita? Beribu tahun yang lampau, juga Kitab
Veda (yang berarti ”pengetahuan”) mengandung lagu-puja yang
penuh pertanyaan yang gelap. Sebelum ada ”Ada” dan ”Tak Ada”,
begitulah tersebut dalam Rig Veda, ”siapa yang meliputinya?”
Satu kalimat menjawab: ”Ia yang jadi asal Penciptaan sesungguh
nya tahu, tapi mungkin ia tak tahu.”
Tempo, 27 Februari 2005
360 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka IN MEMORIAM
BEGITU banyak kematian, tapi pada kematian seseorang
yang berarti, ada sesuatu yang lain dalam kehilangan itu:
sebuah penemuan kembali.
Novelis Kuntowijoyo dan pelukis Semsar Siahaan meninggal
pekan lalu, dengan sebab yang berbeda, di tempat yang berbe-
da. Populasi dunia kesenian Indonesia yang langka penghuniini
berkurang dengan tiba-tiba. Tapi kemudian kita tahu, kita ingat:
mereka berkarya, dan tiap karya kreatif menolak ikut perten
tangan hidup dengan mati.
Kedua almarhum itu, sang novelis berusia 61 tahun dan sang
perupa 53, setahu saya tak saling mengenal. Pandangan mereka
mungkin tak sama. Pikiran Kuntowijoyo menunjukkan sikap
seo rang muslim yang tak jauh dari iman tapi dekat dengan ke-
bebasan berpikir. Dari karya-karyanya dapat dirasakan Semsar
seorang yang melihat ketidakadilan sosial sebagai sesuatu yang
tak diakui oleh kekuasaan, dan sebab itu harus diutarakan.
Temperamen dalam ekspresi mereka juga sangat berbeda.
Prosa Kuntowijoyo: lirih dan sabar hampir seperti bedaya keta
wang, dan dalam tempo yang seperti itu merangkum ide yang
serius. Khotbah di Atas Bukit dramatik dalam imajinasi, tapi tak
berteriak-teriak, Pasar memikat kita dalam deskripsi latar sosial,
tapi dengan telaten. Gambar Semsar: garis-garisnya keras, meng-
gelegak, menyusun sebuah drama yang tajam tapi kaku, meng-
utarakan sesuatu yang gawat tapi merangsang. Tak ada yang lem-
but dalam guratan tinta Cina itu.
Bila ada yang menyamakan kedua mereka, itu adalah perha-
tian mereka pada ”isi”. Kata dan kalimat bagi Kuntowijoyo—
yang juga seorang sejarawan dan analis kehidupan sosial—senan-
tiasa dibimbing oleh makna, dan bukan bermain di celah-celah
Catatan Pinggir 7 361
http://facebook.com/indonesiapustaka IN MEMORIAM
yang tak terduga di luar tata makna. Bagi Kuntow ijoyo, ”isi” atau
”makna” adalah sebuah kehadiran yang dihormati. Bagi Semsar,
garis dan warna adalah penanda dari sesuatu, artinya sebuah ti
nanda (signified), dan ia percaya bahwa tinanda itu, sebagai ”isi”,
adalah yang jadi poros sebuah karya seni, sementara ”bentuk”
bergerak di sekitarnya.
Keduanya kini tak ada di antara kita lagi. Saya tak sempat per
gi ke pemakaman Kuntowijoyo di Yogya, tapi saya sempat me
nengok jenazah Semsar yang disemayamkan di salah satu ruang
pameran Taman Ismail Marzuki, Jakarta: ia terbaring dalam peti
mati, berpakaian upacara lengkap Bali, gagah tapi diam.
Esoknya saya merasa, bahwa seperti yang telah mendahului
mereka—Asrul Sani, Umar Kayam, S. Prinka, dan yang lain-
lain—Kuntowijoyo dan Semsar seakan-akan hanya sedangpergi
ke suatu tempat yang jauh. Kita akan lama tak berjumpa—sesu
atu yang semakin galib di dunia yang kian sibuk dan kian luas
sekarang.... Dalam perpisahan ini, mereka tetap saja bagian dari
pergaulan. Di rak di sudut sana ada sebuah novel Kuntowijoyo, di
antara almari tua itu ada sebuah pigura karya Semsar.
Dan kita akan merasa bahwa sebuah novel yang cemerlang
atau sebuah gambar yang menggugah adalah sebuah bendayang
aneh: ia menjadi cemerlang atau menggugah karena terkait oleh
masa ketika kita menikmatinya, tapi ia akan terus memasuki
masa lain ketika banyak hal berubah di sekitarnya. Saya tak akan
menyebut hal ini ”abadi”, sebab sebuah karya tak pernah berada
di luar waktu. Dalam sebuah esai perihal penerjemahan, Walter
Benjamin memakai pengertian yang mungkin bisa kita pinjam.
Ia membedakan antara überleben dan fortleben, antara ”lolos hi
dup”dan ”hidup lanjut”, antara ”survival”dan ”lumintu”.
Tanpa sepenuhnya mengikuti Benjamin, saya kira dalam
karya-karya Kuntowijoyo dan Semsar—karya mereka yang ma
sihberbicara kepada kita, yang masih mengharukan kita—tam-
362 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka IN MEMORIAM
pak bahwa setiap kali mereka seakan-akan ”lolos hidup”,über
leben, terlepas dari kematian. Mungkin karena tiap kali kita ber
temu dengan sebuah lukisan yang menggetarkan, misalnya karya
Affandi, Kelenteng, atau sebuah sajak yang seperti Senjadi Pela
buhan Kecil Chairil Anwar, kita menyaksikansebuah bayang-ba
yangkeindahan yang seakan-akan sedang singgah. ”Bayang-ba
yang”dan ”singgah” adalah kata yang saya pilih, sebab keindahan
itu tak sepenuhnya tampil dalam lukisan dan sajak itu. Ada yang
terasa ada tapi mengelak dan lepas, seperti hantu, yang mungkin
juga bukan hantu. Dalam momen seperti itulah kita merasakan
karya itu menjadi lumintu, hidup lanjut terus, fortleben.
Yang hidup lanjut itu tak hanya ”isi”, melainkan yang meng
atasi ”bentuk” dan ”isi”, mengatasi ”penanda” dan ”tinanda”. Saya
tak tahu apakah kita bisa menyebutnya ”inspirasi”. Mungkin kita
bisa menyebutnya sebagai ”tilas” dari Ada, hadir ketikaAda tak
lagi mengejutkan dan mempesona, bahkan kita lupakandalam
hidup sehari-hari. Sebab itu sebuah karya seni yang menggetar-
kan seakan-akan sebuah wasiat dari Ada. Dengan itu kita bersyu-
kur karena kematian bukanlah sesuatu yang mutlak. Kita ber-
syukur pada kemungkinan bahwa oposisi antara hidup dan mati
bukanlah segala-galanya.
Syahdan, pada bulan Oktober 2004 yang suram, dalam pe-
makaman Derrida di luar Kota Paris, seorang muda, Pierre, anak
lelaki pemikir itu, membacakan sejumlah kata yang ditinggalk an
ayahnya. Di antaranya semacam pesan, ”Affirmez la survie”. Kita
perlu meneguhkan atau mengisbatkan kenyataan bahwa tiap kali
kita ”lolos hidup”.
Bagi saya itu artinya menghargai hidup tapi juga mengakui
keg entingannya, merayakan hidup tapi merasakan kerapuha n
nya. ”Merasakan kenikmatan dan menangis di hadapan ajal yang
dekat—bagi saya itu hal yang sama,” kata Derrida dalam wawan
caranya dengan harian Le Monde dua bulan sebelum ia mening-
Catatan Pinggir 7 363
http://facebook.com/indonesiapustaka IN MEMORIAM
gal.
Dan ia pun meninggal—selalu begitu banyak kematian. Kali
ini Kuntowijoyo dan Semsar. Tapi kita tahu, kita ingat: mereka
berkarya, dan tiap karya mengingatkan kita akan la survie, dan
sebab itulah yang ditinggalkan kedua seniman Indonesia itu
amat berharga.
Tempo, 6 Maret 2005
364 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MINYAK
MINYAK adalah ketakjuban. Ia berkah, ia juga ancam
an. Tentang yang pertama kita bisa bicara panjang:
kend araa n bermotor yang mudah, pesawat terbang
yang cepat, listrik di rumah dan gedung yang terang, dan segala
yang membuat hampir tiap babak hidup manusia pada zaman
ini—lahir, belajar, kerja, sakit, dan mati— ditopang oleh energi
minyak bumi. Berkah minyak bisa pula mencong: ia membuat se-
jumlah orang mendadak kaya gila-gilaan.
Minyak juga mengutuk. Daftar kutukannya tak panjang, ta
pi makin mendesak. Kini kita mengerti, misalnya, kenapapada
akhir 1990-an orang-orang U’wa sakit hati. Ketika peru sahaan
Amerika Occidental Petroleum datang mencari minyakdi tebing
Amazon di wilayah Kolombia itu—agar bisa dijual ke penghuni
kota-kota dunia yang ingin berkendaraan nyaman—orang-
orang U’wa yang miskin menyaksikan bumi mereka diobrak-
abrik. Kita dengar jerit yang sama dari orang Venezuela di Delta
Orinoco dan dari rakyat Nigeria di Delta Niger: semuanya jerit si
melarat yang menghadapi gergasi.
Tapi berangsur-angsur, yang semula hanya bertolak dari alas
an”primordial” akhirnya didukung secara universal: mengebor
tanah di tanah perawan akan merusak alam sekitarsampai tak
mungkin pulih; modal besar yang menyogok sampai ke pedalam
an akan melemparkan penduduk ke segala arah; komunitas akan
hancur.
Karena itulah pada tahun 1996 organisasi Oilwatch berdiri,
dengan jaringan di 50 negeri. Ia lahir dari tekad untuk bersama-
sama mencegah meluasnya kekuasaan minyak dalam pelbagai
bentuk, sekaligus menuntut agar planet bumi diselamatkan dari
peradaban yang terus-menerus haus BBM.
Catatan Pinggir 7 365
http://facebook.com/indonesiapustaka MINYAK
Kutukan BBM memang terkadang tak segera kentara. Keka
yaan yang luar biasa bisa datang dari minyak, yang menyebabkan
Indonesia, misalnya, pernah tumbuh pesat. Tapi bersama itu juga
berkembang sifat pongah dan tamak, sebagaimana tampak keti-
ka Pertamina jadi ”kerajaan” Ibnu Sutowopada tahun 1980-an.
Eksplorasi bumi dan laut membuat teknologi maju dan pengeta-
huan berkembang, tapi sering berkait dengan kekerasan, bahkan
penjajahan.
Tema ini sama sekali tak baru. Tema kekerasan dan kesera
kaha n itu tersirat sejak Hergé menggambar komik TintinDi Ne
geri Emas Hitam sampai ketika Hollywood membuat Blowing
Wild pada tahun 1956, ketika kita, seraya melihat Gary Cooper
digoda Barbara Stanwyck di layar putih, mendengar suara Fankie
Lane mendayu-dayu, ”Marinaku, bebaskan aku, bebaskan aku
dari emas hitam!”
”Marina mine, set me free, free from black gold....”
Bebas dari ”emas hitam” bisa juga berarti bebas dari ancama n
penjajahan. Ancaman ini bukan hanya fantasi. Pada tahun1975,
Henry Kissinger, dengan memakai nama samaran ”Miles Igno-
tus”, menulis sebuah artikel, ”Seizing Arab Oil” di majalah Harp
er’s, dengan skenario yang jelas: siapkan senjata. Sebab, Amerika
Serikat, yang begitu bergantung pada BBM dari Timur Tengah,
tak boleh kehilangan sumber hidupnya yang pokok. Maka tak
mengagetkan bila kini Perang Irak didakwa sebagai bagian dari
agenda kolonisasi macam itu. Jika diperkirakan cadangan mi
nyakdi dalam bumi AS tinggal 10 tahun, kenapa Washington
harus melepaskan sumur itu?
Maka tentara pun diperkuat. Ketika konsumsi BBM di muka
bumi meningkat, sementara bahan bakar itu bergerakhabis, dan
orang tetap merasa tak perlu mencari sumber energilain, akan
kian sengit dunia memperebutkan si ”emas hitam”. Ketegangan
antara Malaysia dan Indonesia pada hari-hari ini—setelah Ma-
366 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MINYAK
laysia mencoba memanfaatkan minyak di Ambalat, wilayah yang
dianggap Indonesia sebagai miliknya—adalah simptom yang
akan kian sering tampak. Seperti tersirat dari argumen Kissinger,
mempertahankan ”emas hitam” adalah segala-galanya. Kini pun,
kata Michael Klare dalam buku Blood and Oil, ”militer Amerika
semakin diubah untuk melayani perlindungan minyak global”.
Apa boleh buat: zaman BBM berlimpah telah berakhir, za-
man genting mulai.
Tapi ancaman tak terbatas di situ. Ada cerita Jeremy Legget,
seorang ahli pertambangan minyak dari Inggris yang mengajar
di The Royal School of Mines di London. Ia dulu seorang ”pem-
buru” minyak yang puas bila memandang di bumi Baluchistan,
misalnya, cairan memancar hitam dari liang tambang. Maklum-
lah, ia hidup makmur karena itu. Tapi pada suatu hari ia memba-
ca majalah New Scientist.
Pada Juni 1988, sejumlah pakar klimatologi bertemu di To
ronto. Hasil penelitian mereka mendorong mereka mengeluark an
sebuah peringatan yang gawat: karbon dioksida yang dilontarkan
dari mobil, motor, dan lain-lain ternyata merusak lapisan ozon
di atas kita. Jika lapisan itu musnah, malapetaka yang sedahsyat
perang nuklir menunggu bumi.
Legget terkesiap, dan ketika ia semakin yakin akan data ten-
tang kerusakan lingkungan itu, ia pun berhenti dari pekerjaan
yang membuatnya kaya. Ia bergabung dengan mereka yang anti-
minyak. Ia bergabung dengan gerakan Greenpeace yang tak hen-
ti-hentinya memperingatkan bahaya yang datang dari sana—
dan yang, bersama aktivis lain, tak sungkan mendesak agar harga
BBM jangan dibiarkan murah.
Sebab, kata mereka, minyak yang murah tak akan mendorong
orang untuk mencari dan menggunakan energi yang lain.
Tentu saja orang macam Legget belum banyak. Seandainya ia
di Indonesia kini, ia akan dicerca para politikus dan calon politi-
Catatan Pinggir 7 367
http://facebook.com/indonesiapustaka MINYAK
kus. Tapi gema Greenpeace akan terus membuat kita risau—dan
kita memang perlu risau: Bebaskan aku, bebaskan aku dari emas
hitam itu, karena angka-angka tampak jelas mengganggukenya-
manan. Kita memang bukan pabrik besar, kita bukan negeri in-
dustri, tapi tiap kali kita menghidupkan mesin motor atau mobil,
tiap kali kita menikmati berkah yang bernama BBM, kita sedang
mempercepat sebuah kutukan. Kutuka n itu tak terdengar seperti
halnya penderitaan di Delta Niger, tapi perang minyak menanti
dan ozon makin berlubang di atas bumi.
Tempo, 13 Maret 2005
368 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka ADIL
TAHUKAH Anda apa itu keadilan?” tanya Ayatullah
Khom eini. Dan pemimpin revolusi Iran itu menerus-
kan, dengan jawaban yang hanya separuh jawaban: ”Jika
Anda tak tahu, tanyakanlah ke nalar Anda, sebab nalar bertindak
bagaikan mata bagi manusia.”
Kali ini, dengan separuh jawaban itu, Khomeini keliru. De-
ngan gampang orang bisa menunjukkan bahwa keadilan tak per-
nah bisa diterangkan oleh nalar, dan bahwa nalar tak selamanya
bertindak bagaikan ”mata”, dan bahwa perumpamaan itu me
leset.
Saya punya sebuah pengalaman tentang itu. Saya pernah me
mimpin sebuah tim. Pada suatu waktu, kepada tiap anggotatim
disediakan fasilitas dan penghargaan, berupa sebuah mobil. Un-
tuk keadilan, sebuah jip dengan ukuran yang sama dan merek
yang sama diberikan kepada setiap orang, dari ketuatim samp ai
anggota di bawahnya yang berbeda-beda.Bagi saya, setelah ada
perbedaan gaji, tak perlu ada tambahan perbedaan fasilitas, yang
akhirnya lebih bersifat simbolis ketimbang fungsional. Bagi saya
tak adil bila yang di atas kian banyak mendapat, yang di bawah
tidak.
Sekitar setahun sistem ini berjalan. Kemudian beberapa ang-
gota tim yang merasa punya beban kerja yang lebih besar mulai
berpikir. Mereka akhirnya berkesimpulan bahwa tak adil menu-
tup kemungkinan bagi yang punya beban kerja lebih besar buat
menikmati fasilitas yang lebih baik, di samping gaji yang lebih
tinggi. Keadilan di sini berasas penghargaan yang berbeda sesuai
dengan kontribusi yang berbeda pula. Sama-rasa-sama-rata di-
anggap tak adil. Kata-kata Cicero berlaku: ”Keadilan yang eks-
trem adalah ketakadilan yang ekstrem”.
Catatan Pinggir 7 369
http://facebook.com/indonesiapustaka ADIL
Argumen ini menang. Sejak itu ada beberapa jenis dan merek
mobil dalam tim kami, karena yang bekerja lebih keras dan le
bihmampu dapat mobil yang tak hanya sebuah jip. Keadaan ini
diterima oleh kebanyakan anggota tim—meskipun bagi saya
ganjil.
Sejak itu jika saya ditanya, ”Tahukah Anda apa itu keadil
an?” saya akan angkat bahu. Adakah keadilan, jika subsidi BBM
dicabut, dan beban orang yang lebih miskin akan memberat—
karena menambah belanja Rp 500 baginya akan terasa lebih
menguras kantong ketimbang bagi si kaya?
Kita akan menjawab: tidak, Bung! Tapi sebuah pertanyaan
lain juga dapat diajukan: adilkah jika sedikit sekali uang negara
yang bisa dipakai buat pendidikan dan kesehatan, dibanding de-
ngan begitu besar dana yang dikeluarkan untuk menombok ong-
kos bahan bakar—di antaranya bensin bagi para pemilik Jaguar,
Audi, BMW, Mercedes-Benz?
Akan makin adilkah jika nanti, dua tahun lagi, subsidi di-
cabut? Jika harga minyak di dunia mencapai US$ 80 per barel,
sementara impor minyak bumi akan bertambah, dan Indonesia
kian bergantung pada energi dari luar, bersama dengan kian me
nurunnya produksi dalam negeri—adilkah bila sebagian besar
dana habis di sini?
Maaf, saya angkat bahu: tak ada yang bisa ditentukan secara
a priori. Tentang keadilan, saya tak akan mengutip Khomeini.
Ia begitu percaya kepada nalar sebagai pemberi jawab. Saya lebih
percaya nalar sebagai pemberi pertanyaan. Tiap kali saya meman-
dang lambang keadilan—dewi yang memegang dacin dengan
mata dibalut penutup—tiap kali saya menafsirkannya sebagai
tanda bahwa keadilan adalah sebuah keputusan yang bermula
dari posisi tak melihat.
Sebab, keadilan selalu hadir tapi nyaris tak terlihat. ”Ada ke-
adilan,” kata Jules Renard, penulis Poil de carotte itu, ”tapi kita
370 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka ADIL
tak selalu melihatnya. Keadilan tak menonjolkan diri, tapi ia ada,
tersenyum, di sebelah sana, agak di belakang ketakadilan, yang
membuat heboh.”
Sejarah manusia memang sejarah yang terjadi ketika ketak
adilan membuat heboh. Orang justru hidup dengan imajinasi
tentang keadilan—dan sebab itulah keadilan ”ada” bagaikan se-
bayang mambang, sekilas jejak—ketika yang dibicarakan itu tak
ada. Sejarah menunjukkan bahwa hidup terbentuk justru oleh
kekurangan.
Demikianlah pada mulanya imajinasi, bukan nalar, sebab
keadilan pertama-tama lebih bersipongang sebagai retorika
ketimbang rumus, lebih berwujud penggugah hati ketimbang
konsep yang selesai. Ia seperti cakrawala di seberang pantai: sesu
atu yang mirip garis panjang di mana langit menyentuh bumi—
dan kita akhirnya tahu bahwa langit tak pernah menyentuh
bumi.
Dengan imajinasi itu manusia berusaha, dan politik terjadi.
Karena keadilan selalu berarti keadilan dalam hubungannya de-
ngan orang lain, usaha menegakkannya berlangsung lewatpe-
rundingan, tuntut-menuntut, tawar-menawar, dan tak jarang
adu kekuatan dan pertumpahan darah.
Tapi tak dapat dikatakan bahwa nalar tak punya peran sama
sekali di sini. Untuk membuat keadilan singgah dalam ruang hi
dupkita, senjata mungkin perlu dihunus, tapi tak mungkin hanya
itu. Keadilan baru ”keadilan”, dan meyakinkansebagai keadilan,
bila ia sesuatu yang berlaku bagi siapa saja. Dalam tiap adu keku
ata n itu selalu tersirat seruan tentang sesuatu yang universal.
Nalarlah yang merumuskan yang universal itu. Karl Marx
menyaksikan dengan pedih ketakadilan yang ditanggungkaum
buruh, tapi ia tak hanya bersuara dengan dengus dan cerca.Ia
berbicara tentang sebuah ”sosialisme ilmiah”. Ia berb icaraten-
tang revolusi dengan teori dan angka-angka. Das Kapital, yang
Catatan Pinggir 7 371
http://facebook.com/indonesiapustaka ADIL
baru-baru ini selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan sangat mengesankan, melalui kerja keras Oei Han Djoen,
adalah sebuah bentuk dorongan untuk membuktikan bahwa ke-
adaan yang tak adil harus dipaparkan agar diterima siapa saja dan
kapan saja, tak hanya kaum proletar. Rasionalitas adalah bagian
yang tak terelakkan dari politik keadilan.
Ia bukan segala-galanya, tentu. Tapi demikian juga yang ”bu
kan-rasio”, yang ”bukan-nalar”: perut yang lapar, hati yang ma
rah, mata yang basah, kaki yang luka. Tiap kali kita men engok
kembali apa yang terjadi dalam sejarah, kita tahu ”keadilan”
adalah jejak universal yang tidak satu.
Tempo, 20 Maret 2005
372 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MEMBERI
DI bandara Meulaboh yang sepi dan tak punya apa-apa
lagi, kami menunggu sebuah pesawat datang di sebuah
kedai agak di depan landasan. Gubuk itu setengah
berdindingdengan kayu yang lusuh. Besarnya hanya 3 x 4 meter
persegi.Saya dan Sandra, dua orang dari Jakarta, duduk di bang-
ku di luarnya, di bawah pohon, memesan kopi dan nasi bung-
kus. Pada pagi yang lambat itu, hanya ada empat orang pembeli
datang silih berganti.
Tujuh meter dari sana, sebuah pos militer yang belum lama di
dirikan tampak habis bangun tidur: beberapa prajurit baru saja
mandi, seorang tentara muda memberi makan dan menga jak
omong burung, hanya beberapa orang yang sudah siap bersera-
gam. Mereka empat peleton pasukan khusus Angkatan Udara
yang dipasang untuk menjaga bandara kecil itu, yang sejak tsuna-
mi menghantam Meulaboh jadi ramai kapal terbang, membawa
pelbagai macam bantuan, pelbagai macam orang.
Dua helikopter PBB tampak diparkir di landasan. Di sekitar
itu, ribuan pohon nyiur, damar, dan angsana mengepung, sebagi
an masih tampak hitam seakan-akan hangus, bekas air laut yang
naik pada akhir Desember 2004 itu—setelah gempadan ombak
gergasi yang membuat sebagian kota pesisir itu luluh-lantak, pu-
luhan ribu orang tewas, hilang, atau hidup tak bertempat tinggal.
”Kami tinggal di kemah,” perempuan muda pemilikwarung
itu bercerita. Rumahnya lenyap, tapi tak ada keluarganya yang te
was. Ia berpakaian rapi, dengan perhiasan sekadarnya, menan-
dai bahwa ia bukan bagian dari mereka yang hancur total. Tapi
ia bisa mengisahkan penderitaan tetangga dan keluargayang ke-
matian.
Dengan budi bahasa yang halus, ia mengatakan bahwa mere
Catatan Pinggir 7 373
http://facebook.com/indonesiapustaka MEMBERI
ka yang jadi korban memang menderita, tapi tabah, karena mere
ka tak menderita sendirian. Begitu banyak orang mati. Ia berceri
ta tentang camat kotanya yang terus-menerus menemanipeng
ungsi, bahkan ikut tidur dan makan bersama di kemah. Ia me
nyebut tentang begitu banyaknya bantuan yang datang dari pel
bag ai tempat lain di Indonesia, dari banyak penjuru dunia. Sem ua
itu sampai ke kami, katanya. Bahkan berlebihan, sehingga ban-
tuan pakaian yang sudah rusak terpaksa kami bakar. Kami ba
kar diam-diam, agar mereka yang sudah mengirim dan memba
wanya kemari tak tersinggung.
Sandra terdiam dan berbisik, mungkin terkesima: ”Dalam ke-
adaan yang berat, ia masih memikirkan perasaan orang lain....”
Saya memandang ke jalanan. Apa arti ”orang lain”, pada saat
seperti ini? Sebuah sepeda motor gandeng yang sudah tua bercat
putih dengan huruf UN datang tersengal-sengal masuk ke lan-
dasan. Sebuah mobil pickup dengan logo sebuah organisasi dari
Republik Cek menyusul.
Apa arti orang lain itu, apa gerangan Aceh bagi mereka, dan
apa arti mereka bagi Aceh? Apa arti geografi dan sejarah, juga
makna tapal batas—sesuatu rekaan yang begitu sering diperebut-
kan dan dibanggakan?
Saya mendengarkan tutur pemilik warung itu dan tiba-tiba
merasa: hidup bisa sangat berbeda, jika pusat dunia tidak ada lagi.
Kita tahu ”pusat” itu biasanya dilekatkan dengan tapal batas yang
sempit di dekat diri sendiri. Dan saat itu rasanya tapal batas dan
pusat raib, dan ruang yang ”soliter” pun digantikan oleh yang ”so
lider”. Dunia jadi ramah. Bahkan yang menderita ingin menjaga
perasaan orang yang tak menderita, sebagaimana juga sebaliknya.
Ada yang agak ajaib di sini: ternyata beberapa saat lamanya di
Aceh, ekonomi bisa berhenti.
Ekonomi: sebuah proses yang bertolak bukan saja dari kelang
kaan, tapi juga dari pertukaran, daur ”mengambil-menerima”.
374 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MEMBERI
Pasar membuat prosedurnya. Di sana pusat hadirdalam bentuk
pamrih. Kepentingan diri dianggap patut. Hubungan berlang-
sung seperti kontrak.
Tapi mungkinkah itu segala-galanya? Kontrak mengandung
asumsi bahwa yang-lain akan menerima yang-seimbang. Tapi hal
itu tak akan pernah terjadi. Sebab akan selalu ada benda-benda
yang tak bisa dipindahtangankan—jimat, pusaka, kenangan,
harapan, yang terkadang tersemat dalam benda-benda. Marx
mungkin akan menyebutnya lebih mendasar: tiap benda tak ha
nyapunya nilai-tukar.
Pernah ada cita-cita untuk membangun pilihan lain, agarma-
nusia bisa kembali menikmati hidup bukan sebagai kom oditas
belaka. Tapi kini pasar menang, dan cita-cita untukmengganti-
kan ruang yang ”soliter” dengan yang ”solider” disisihkan bagai-
kan barang yang apak dan lapuk.
Memang ia tampak lapuk. Ia cita-cita yang lama. Bera bad-
abad manusia telah mendengar petuah kebajikan ini: ”jika ta
ngankananmu memberi, jangan sampai tangan kirimumenge
tahuinya”. Lebih tua lagi Jainisme dan cerita tentangsang rahib
yang menghilang begitu ia menerima amal (atau ”dan”) di de-
pan pendermanya. Sebab amal akan hilang maknanyasebagai
amal bila hal itu membuat si pemberi tergoda oleh perasaan mu-
lia. Derma juga akan hilang maknanya sebagai keikhlasan bila si
penerima dibebani utang budi. Tak ada resiprositas yang harus
kelak dilakukan. Waktu harus seakan-akan tak ada.
Tapi betapa penuh paradoks semua itu: si pemberi harus mera-
sa mampu melepaskan sesuatu dari dirinya, tapi pada saat yang
sama ia harus memandang ”sesuatu dari dirinya” itu bagian se-
buah konsep yang tak ada artinya—konsep ”milik”. Ia juga harus
ikhlas untuk tak menerima balasan, tapi agar tak direndahkan, si
penerima harus punya kesempatan untuk membalas dengan se
suatu yang baginya bernilai.
Catatan Pinggir 7 375
http://facebook.com/indonesiapustaka MEMBERI
”Memberi” akhirnya berlangsung sebagai sebuah enigma. Ia
seperti sesuatu yang mustahil, tapi betapa besar artinya. Setidak
nya di kedai itu saya tahu, bahwa dunia bisa tetap ramah, dalam
kesedihan, dengan kesedihan. Memberi berarti saling memberi,
menerima berarti saling menerima, dan tolong-menolong adalah
sebuah parodi bagi proses yang digerakkan oleh pasar.
Parodi—sebuah selingan yang sehat, bukan? Tak jauh dari ke-
dai itu ada sebuah kedai kopi lain, lebih sederhana, setengah ditu-
tup oleh robekan tenda Unicef. Seseorang telah menggantung-
kan sebuah papan nama di salah satu tiang bambunya: ”Warkop
Starbucks”.
Tempo, 27 Maret 2005
376 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka AMINA
SEBUAH persoalan yang pelik: bagaimana seorang mus-
limat akan bersikap terhadap ayat Quran yang mengizin
kansuami memukul istrinya?
Tanggal 18 Februari 2005, di Noor Cultural Centre di To-
ronto, Kanada, Amina Wadud berbicara tentang ”Qur’an, Perem-
puan, dan Kemungkinan-kemungkinan Tafsir”. Dan guru besar
studi Islam di Virginia Commonwealth University itu menjawab:
ada empat sikap yang bisa diambil.
Pertama: menafsirkannya secara harfiah. Kedua: membacanya
dengan disertai pedoman legalistis yang membatasi cara ayat itu
ditafsirkan. Ketiga: menafsir kembali berdasarkan pandangan al-
ternatif. Dan keempat: berkata ”tidak” kepada ayat Quran itu.
Amina tak menafikan kemungkinan seorang yang beriman
akan berkata ”tidak” kepada ayat itu. Jika ia jujur, ia sendiri akan
menolak untuk rela bila seorang suami diberi hak untuk memu-
kul istrinya. Katakanlah sang suami memukul karena si istri ber-
salah. Tapi bagaimana menentukan ”bersalah”? Jika posisi laki-
laki begitu tinggi, maka sang suamilah yang berhak jadi jaksa,
hakim, dan sekaligus pelaksana hukuman. Dan si istri berdiri
tanpa pembela, tanpa hak naik banding.
Amina merasa itu tak adil.
Tapi jika ia mengatakan ”tidak” kepada ayat itu, begitulah ia
berkata, tak berarti ia menampik Tuhan dan wahyu-Nya. ”Justru
Quran-lah,” kata Amina Wadud, ”yang memberi saya jalan un-
tuk mengatakan tidak kepada Quran.”
Mungkinkah? Seorang yang berkata ”tidak” kepada satu ayat
Quran tapi sementara itu menyatakan tak menampik Allah dan
wahyu-Nya?
Ruangan itu penuh. Sekitar 300 orang mendengarkan. Be-
Catatan Pinggir 7 377
http://facebook.com/indonesiapustaka AMINA
gitu Amina Wadud selesai berbicara, seseorang minta kesempat
anmembantah. Ia menuduh Amina tak bisa berbahasaArab dan
hanya mengerti satu surah saja dalam Quran. Seorang lain berpi-
dato bahwa Amina tak memahami Islam. Tapi ada yang meng
akui ceramah Amina justru membebaskannya: ”Sangat bagus
jika kita bisa hidup dengan penjelasan harfiah dan legalistis. Saya
tak bisa. Amina juga tak bisa, bukan karena ingin berbuat tak pa
tut, tapi karena ingin mencoba jadi makhluk moral yang benar
dan pelaksana amanat Allah.”
Dari celah-celah hadirin seorang berteriak, ”Agen CIA!”
Amina Wadud datang dari keluarga Kristen yang taat—
ayahnya seorang pendeta—dan masuk Islam di tahun 1970-an,
di masa gelombang kedua gerakan feminisme Amerika. Perem-
puan Afro-Amerika ini mempelajari agama di Universitas Al-
Azhar. Ia juga pernah tinggal di Libya.
”Saya seorang nigger,” katanya. Memakai jilbab, ia tampak se-
perti seorang perempuan dari Asia Selatan. Tapi jika tampakram-
butnya yang keriting, orang akan tahu ia seorang hitam. Orang
akan bersikap lain. Di Toronto hari itu seseorang menga kui: ”Jika
ada laki-laki kulit putih yang masuk Islam, kita akan segera me-
mintanya untuk jadi imam dalam salat. Jika yang masuk Islam
seorang perempuan hitam, kita akan memintanya untuk meng
urusanak-anak.”
”Saya seorang nigger,” kata Amina, suaranya bergetar. Ia ber-
cerita kenapa ia begitu peka akan diskriminasi. Seorang ”nigger”
dan sekaligus seorang perempuan di Amerika adalah seseorang
yang membawa sejarah penindasan lebih dari dua abad.
Amina menemukan dalam Islam sebuah harapan bahwa tak
akan ada diskriminasi di lingkungan ini. Sejak mula, penga nut
Islam tak hanya terdiri atas satu kelompok etnis. Seorang peme-
luk awal adalah Bilal, seorang hitam yang jadi tauladan.
Adapun terhadap perempuan....
378 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka AMINA
”Jelas bagi saya,” kata Amina suatu ketika, ”Quran bertuju
an menghilangkan semua pengertian tentang perempuan seba
gai subhuman, belum-manusia.” Quran tak bercerita bahwa wa
nita diciptakan buat Adam untuk jadi pembantu, setelah hewan-
hewan tak ada yang cocok untuk peran itu—seperti disebutkan
dalam Perjanjian Lama (Kejadian 2: 19-20): Sejak mula, kata
Amina, ”semua hal diciptakan berpasang-pasanga n,” seperti kata
Quran (51:49). Begitu nafs proto-manusia dijadikan, ia sudah ada
sandingannya (zawj) sebagai bagian dari desain Allah. Maka ke-
tika Adam bersalah memakan buah terlarang, Quran tak han ya
menyalahkan Hawa.
Tapi itu tafsir Amina Wadud, bukan? Bukankah dalam
Quran juga sering disebut bahwa wanita tak setara dengan pria?
Betul, jawabnya. Tapi ia percaya Tuhan adil, dan Quran cer-
minan sifat adil itu. Amina Wadud seakan-akan menggemakan
lagi suara Ibrahim ibn Sayyar al-Nazzam, theolog dari Basra di
abad ke-9: ”Tuhan, pintu keadilan, tak boleh digambarkan seba
gai yang punya kuasa untuk bertindak tak adil.”
Tapi salahkah Amina? Tiap tafsir selalu terbatas, mungkin
subyektif, mungkin keliru, tapi tiap pembacaan (juga yang har-
fiah) tak ada yang ”murni”, bagian dari pergulatan untuk mema-
hami Tuhan dengan keterbatasan manusia. Suatu saat konsensus
mungkin terbentuk di antara para mujtahid dan dengan umat.
Tapi seperti dipersoalkan Ibnu Rushd di abad ke-12, bagaimana
konsensus atau ijma’ tentang hal-hal yang teoretis akan sampai
kepada kepastian final? Agar sampai ke situ, kita harus tahu opini
semua ulama yang memenuhi syarat, dan membuat mereka mu-
fakat, juga tentang hal-ihwal yang esoteris.Itu mustahil. Tiap
ijma’ hanyalah sebuah ikhtiar.
Tapi kemustahilan itulah yang tak diakui. Ada orang-orang
yang gampang mengamini sebuah tasfir dan mengkafirkan tafsir
yang lain. Konon dalam bukunya, Al-Kashf ‘an Manahij al-Adilla
Catatan Pinggir 7 379
http://facebook.com/indonesiapustaka AMINA
fi ‘Aqaid al-Milla, Ibnu Rushd menyebut itulah perilaku sebagian
theolog: mereka memonopoli akses kepada kebenaran dan me
ngutuk ”siapa saja yang tak setuju kepada mereka sebagai bid’ah
atau kafir yang hak milik dan darahnya sah untuk dirampas”.
Darah Amina Wadud mungkin juga akan terampas—jika
kita percaya media di Amerika—setelah ia jadi imam salat Jumat
di New York 18 Maret 2005. Tapi ia tak risau.... ”Saya lebihmen-
jaga kemurnian niat saya,” katanya.
Tempo, 3 April 2005
380 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka BANDUNG
DI bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di
Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas
budak. Ia namai pertemuan itu ”Call”. Ia tak berkhot-
bah. Baby Suggs hanya berkata, ”Di tempat ini, di sini, kita da
ging,daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan
kaki telanjang pada rumput.”
Jika ada yang magis dalam novel Toni Morrison, Beloved, ialah
karena ia mengingatkan kita akan arti ”daging”—daging yang
pernah dirantai perbudakan, dicap seperti ternak, dan dihina
dalam apartheid. Daging ”negro”.
”Jadi seorang negro di Amerika berarti mencoba senyum ke-
tika kita ingin menangis. Berarti mencoba pegangi hidup jasmani
di tengah jiwa yang mati. Berarti menyaksikan anak kita tumbuh
dengan mendung rasa rendah diri meliputi langit mental mereka.
Berarti melihat kaki kita dipotong dan kita dihukum karena tak
bisa jalan.”
Kalimat Martin Luther King Jr. pada tahun 1960-an itu
mungk in bergema ketika Morrison menulis novelnya yang terbit
pada 1987 itu: kisah tentang sebuah rumah yang disebut hanya
dari nomornya, ”124”, tentang Beloved, si hantu dari masa silam,
tentang Sethe yang membunuh anak sendiri, dan tentang Baby
Suggs yang berharap.
Di ”Call” di hutan itu, Baby Suggs seakan-akan ingin mem u
lihkan kaki negro yang telah ”dipotong”, kaki yang tak bisa lagi
menari dan merasakan asyiknya keleluasaan.
Tapi akhirnya ia juga tak berdaya. Pada suatu hari Sethe, anak
tirinya, datang ke ”124”. Perempuan itu lari dari tuannya,pemi-
liknya. Ia telah memutuskan: lebih baik ia dan keempatanaknya
mati ketimbang jadi budak. Ketika sang pemilik datang membu-
Catatan Pinggir 7 381
http://facebook.com/indonesiapustaka BANDUNG
runya, ia pun membunuh si upik—tapi gagal menghabisi nyawa
yang lain, gagal juga bunuh diri.
Apa yang bisa dilakukan? Baby Suggs pun menyerah. Ia mere-
bahkan tubuhnya dan berkata: akhirnya si negro harus menang-
gungkan apa saja yang dilakukan si putih.
Tapi tak semua menyerah. Sementara di Amerika orang hi
tamditindas sampai ke tengah abad ke-20, di benua lain jutaan
orang dengan pelbagai warna kulit tak mau menolak untuk dise
kap dalam koloni ”orang putih”. Sejak awal abad ke-20 mereka
membentuk kekuatan. Juga dengan senjata.
Mereka disebut ”Asia-Afrika”.
Tak ayal, orang hitam di Amerika pun melihat ”Asia-Afrika”
sebagai obor. Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada bulan
April 1955 segera jadi bagian dari cerita mereka. Maka datanglah
ke Indonesia Richard Wright, penulis novel Native Son yang ter-
kenal itu, kisah tentang si Bigger Thomson yang terjepit di kehi
dupan ”putih” Amerika dan jadi pembunuh. Dari Bandung ia
menulis sebuah ”kronik” konferensi bangsa-bangsa yang tak mau
terjepit, The Color Curtain.
Buku itu terbit pada tahun 1956. Sayang tak mengesankan.
Tapi Bandung tetap bergaung. Dengarkan suara Malcolm X, No-
vember 1963, di Detroit.
”Di Bandung semua bangsa datang.... Hitam, sawo matang,
merah, atau kuning.... Nomor satu yang tak mereka izinkan
datang ke konferensi Bandung adalah orang putih.... Sekali mere
ka keluarkan orang putih, mereka tahu mereka dapat bersatu....”
”Bandung” ternyata punya banyak arti. Para pemimpin Asia
(Sukarno dan Nehru) melihatnya sebagai usaha mengatasike
teg angan militer antara Uni Soviet dan Amerika Serikat yang
mengancam seantero bumi. Bagi mereka Konferensi A-A itu le
bih merupakan suara perdamaian ketimbang pekik pedih ras
yang tertindas.
382 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka BANDUNG
Tapi bila bagi mereka ”Bandung” adalah kecaman atas dunia
yang terbelah, bagi Malcolm X ”Bandung” justru pengukuhan
sebuah dunia yang terbelah. Waktu itu ia memimpin gerakan
orang hitam yang ingin memisahkan diri dari Amerika yang
putih. Suaranya memang getir. Ketika ia beru murenam tahun,
bapaknya, seorang pendeta Baptis, dibunuh setelah menerima su-
rat ancaman dari Ku Klux Klan, dan ibunya terguncang jiwanya.
Malcolm kecil dan tujuh saudaranya telantar. ”Semua orang neg
ro marah,” katanya, ”dan saya yang paling marah.”
Marah punya daya tersendiri. Marah bisa seperti Beloved,
hantu dari masa lalu, roh si upik yang terbunuh, wakil 16 juta
bud ak yang mati di sebuah ”holocaust” yang tak pernah disebut
”holocaust”. Marah bisa membuat sejarah. Dan bila bagi si kulit
hitam sejarah itu tak ditandai oleh ”Bandung” sebagaipanggil
anperdamaian, itu karena tak jelas apa akhirnya: mungkinkah
nanti ada sintesis antara si ”hitam” dan si ”putih”, seperti sintesis
dalam bentuk masyarakat tanpa kelas menurut teori Marxis ten-
tang sejarah perjuangan buruh?
Bagi Franz Fanon, jawabnya muram. Pada suatu hari di satu
sudut Paris, seorang anak berteriak ke arahnya, ”Lihat, ianeg
ro!”. Saat itu ia sadar bahwa ia, si negro, mendapatkan kerangka
makna dirinya melalui ”tatapan” orang lain, sebuah kerangka
yang ”sudah siap, telah ada sebelumnya, menunggu” dan mudah
dipakai bahkan oleh anak-anak. Makna itu telah dipatri di warna
kulitnya. Ia ”negro”, titik.
Seakan ke-”negro”-an adalah sesuatu yang kekal, tak dipe
ngaruhisejarah. Tapi Fanon sendiri sadar, dalam perjalanan, di
dunia, ”Aku tak henti-hentinya menciptakan diriku sendiri.”Bu-
kan untuk mengingkari identitas, tapi karena identitas diri mus-
tahil jadi jerat, atau sebaliknya, jadi berhala yang disembahdan
tak berubah.
Bahkan Malcolm X berubah. Pada tahun 1964 ia ke Mekah.
Catatan Pinggir 7 383
http://facebook.com/indonesiapustaka BANDUNG
Ia baca Quran dan sadar bahwa manusia, juga dalam marahnya,
tetap manusia yang terbatas, dan sebab itu harus adil, juga kepada
musuh. Sebab manusia bukan sebuah definisi. Manusia adalah
”daging yang nangis, ketawa”, makhluk yang konkret, yang bisa
berbahagia sesaat tapi juga bisa menga tasibenci, bisa bercita-cita
tapi juga, seperti ia sendiri, Malcolm X, bisa dibunuh.
Manusia seperti itulah yang merasa diwakili di Bandung:
kombinasi antara hantu dari zaman yang zalim dan sikap gagah
ke masa depan, gerakan yang gentar tapi penuh harap. Tentang
”Call” pada bulan April 1955 itulah Wright dalam The Color Cur
tain menulis: ”Yang dinistakan, yang dihina, yang dilukai, yang
dihilangkan haknya... berkumpul di sini.”
Tempo, 10 April 2005
384 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka VATIKAN
—untuk Cak Nur
PADA suatu hari, kata orang, Stalin bertanya: ”Berapa ba
talion, sih, Vatikan punya?” Di negeri itu, kita tahu, ha
nyaada beberapa ratus orang Corpo della Garda Svizzera
yang bertugas sebagai penjaga Paus. Vatikan cuma 44 hektare,
lebihsempit dibanding The Mall di Washington DC; anggar
antahunannya sekitar 500 juta dolar, hanya 25 persen dari bujet
Universitas Harvard.
Tapi di sana duduk seorang tua yang ketika pekan lalu wafat
dan dimakamkan, sekitar 200 pembesar tinggi dunia datang un-
tuk berkabung dan memberi hormat.
Abad modern memang tak pernah kehabisan paradoks—dan
agaknya inilah yang dilihat Stalin. Kita tahu Vatikan dengan
gampang akan dimusnahkan oleh sembarang negeri denganpa-
sukan berpuluh-puluh divisi, tapi ternyata negeri-negeriyang be-
sar bahkan tetap perlu bermanis-manis dengan takhta yang ring-
kih itu. Kini, ketika Amerika Serikat ingin mempraktekkan kem-
bali asas Hobbesian—bahwa ”tiap orang diharapkan berjanji
patuh kepada yang punya kekuasaan untuk menyelamatkan atau
menghancurkan”—Gedung Putihmasih merasa perlu menyapa
Paus yang tak akan bisa meruntuhk an siapa pun.
Vatikan adalah sebuah interupsi. Berabad-abad sejarah diba
ngunoleh konflik, dan sebagaimana perang saudara Ingg ris di
abad ke-17 mengilhami Thomas Hobbes, konflik itu menunjuk-
kan bahwa hidup sering merupakan padang perburuan yang bru-
tal. Kekuatan dan kekerasan (bukan niat baik)adalah yang mem-
bentuk dunia. Tujuan hanya jadi pentingbila dihubungkan de-
ngan kemenangan dan kejayaan, dan kebenara n berpangkal di
Catatan Pinggir 7 385
http://facebook.com/indonesiapustaka VATIK A N
situ. Dari masa seperti ini sarkasme Voltaire bergaung: ”Kata
orang, Tuhan selalu berpihak pada batalion-batalion terbesar.”
Tapi itu ”kata orang”. Dalam prakteknya, apalagi di hari ini,
tak pernah ada kesepakatan di mana Tuhan berpihak. Maka se-
lalu ada kebutuhan untuk memberi makna kepada ”batalion-
batalion terbesar”, dan tak cuma memberi mereka rencana keme
nangan. La politique—pergulatan untuk kejayaa n satu pihak—
pada akhirnya juga le politique, pergulatan untuk mengisi apa
yang kurang dari kejayaan itu.
Yang kurang adalah ”pembenaran”—hingga sebuah tind ak
anpolitik dapat diterima semua pihak untuk waktu yang sed apat-
dapatnya tak terbatas. Yang kurang adalah sesuatu yang ”transen-
dental”.
Kita hidup di masa ketika siapa saja yang bersengketa, mau tak
mau, harus mengajukan argumen. Segera atau berangsur-angsur
orang tahu bahwa apa yang ”adil” dan ”lalim” tak bisa serta-merta
diputuskan sepihak dengan kekerasan. Maka ketikatak ada ha-
kim di pusat yang pasti yang akan memutuskan perkara ini, dan
yang ada hanyalah hegemoni sebuah citraatau ide yang tak mut-
lak dan tak lengkap, orang pun terus-menerus haus akan simbol-
simbol ”pembenaran”.
Vatikan, yang bukan pusat, adalah satu indikator kebutuhan
itu, rasa kekurangan yang juga dirasakan oleh negeri mana saja
yang hanya punya bujet dan bedil. Takhta Suci itu tak sempur-
na—bahkan ada yang menganggapnya tak suci benar—tapi seti-
daknya ia sebuah isyarat, bahwa dunia yang dibayangkan Hobbes
tak sepenuhnya cocok dengan kehidupan. Dalam kehidupan,
yang lemah ternyata bisa punya proteksi dan kesetiaan sendiri.
Justru ketika Sri Paus dan aparatnya tak lagi menguasai tanah
dan takhta seperti di Abad Pertengahan Erop a, dan tak lagi ter
lib at perang dan penindasan, ia bisa lebih meyakinkan sebagai
lambang ”kerajaan yang lain”.
386 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka VATIK A N
Ia hadir dengan nilai lebih karena ia dianggap bukan ”keraja
an dunia” yang tak henti-hentinya terpaut oleh kepentingan yang
sepihak dalam percaturan pamrih dan kekerasan. Bukankah Ye-
sus menampik kerajaan macam itu ketika Iblis menawarkannya
dalam ujian di padang gurun—dan sejakitu manusia tahu bah
wa kalaupun yang ”transendental” mustahil akan datang hari
ini, ”kerajaan yang lain” itu akan selalu mengimbau, akan selalu
mengingatkan apa yang kurang dari la politique?
Itulah sebenarnya yang dapat ditawarkan bukan saja oleh Va-
tikan, tapi oleh tiap agama: menghadirkan imbauan dari ”kera-
jaan yang lain”. Tapi betapa sulitnya. Agama telah jadi kelompok,
dan kelompok jadi kubu, dan tembok didirikan, juga pintu yang
tertutup.
Tak mengherankan bila ada keraguan, di manakah yang tran
sendentaldalam peta semacam itu? Bagaimanakah sebuah agama
dapat mencerminkan apa yang agung dari Tuhan selama agama
itu terlibat dalam perebutan kaveling di dunia?
Pertanyaan seperti itu kian deras, sebab kian terasa pula ku
rangnya sumber-sumber ”pembenaran” yang bisa diterimasemua
pihak di dunia sekarang. Mungkin itu sebabnya, di satu sisi kita
takut melihat menyempitnya pandangan agama-agama, di lain
sisi kita hidup dalam ketika Tuhan, sumber pembenaran yang
univ ersal, dirindukan kembali—sebuah masa ”pasca-sekuler”.
Maka, dengan susah payah agama-agama pun mulai mere
nungkan posisi masing-masing: mungkinkah yang universalse
penuhnya diwakili hanya oleh satu sistem dan tradisi kep erc aya
an yang partikular, yang tak jarang punya sejarah yang penuh da-
rah dan ketakaburan?
Dalam perenungan kembali ini, saya akan selalu teringat Nur-
cholish Madjid: ia berada di garis depan, tapi ia juga berada di se
buah tradisi yang dimulai ketika orang Islam pertama mendengar
Quran dan diingatkan bahwa banyak nabi yang dikirim Tuhan
Catatan Pinggir 7 387
http://facebook.com/indonesiapustaka VATIK A N
ke bumi, dengan aturan dan jalan masing-masing. Seandain ya
Tuhan menghendaki, bukankah Ia akan mampu membuat ma-
nusia sebuah bangsa yang satu? Dengan kata lain, mereka mende
ngar sebuah pesan, bahwa yang universal justru hadir tak dalam
bentuk sebuah pusat yang tunggal, tapi di mana saja ia tampak
jelas sebagai yang universal.
Pekan lalu, dalam perkabungan untuk Paus Yohanes Paulus
II, Vatikan adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia yang
memenuhi harapan itu. Ke sana datang Ayatullah Khatamidari
Iran, ke sana datang pula George W. Bush dari Amerika, Presiden
Israel, Perdana Menteri Palestina....
Tempo, 17 April 2005
388 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MAGDA
DENGAN tenang, dengan hati tetap, Magda Goebbels
memasukkan kapsul racun ke mulut keenam anaknya,
satu demi satu. Jika perasaannya terguncang, itu tak
tampak di wajahnya yang cantik dan keras. Begitu anak-anak
itu melepaskan nyawa, ibu itu mencium pipi mereka, mematikan
lampu kamar, dan menutup pintu, melangkah ke luar. Sejenakia
terenyak jongkok. Hanya sejenak. Segera ia kembali ke kamar
nya, duduk bermain soliter dengan kartu, serayamenunggusua-
minya bersiap mengenakan pakaian seragam petinggi PartaiNa
zi. Lalu mereka berdua keluar dari bungkerpersembunyian. Di
halaman yang suram oleh akhir musim dingin dan perang yang
kalah, Josef Goebbels mencabut pistoldari holster di pinggang-
nya. Ditembaknya Magda. Perempuan itu roboh. Lalu sang sua-
mi meledakkan peluru ke pelipisnya sendiri.
Der Untergang karya Oliver Hirshbiegel mungkin akan dike-
nang sebagai sebuah film sejarah yang impresif (meskipun se-
cara sinematik tak istimewa) dari seorang sutradara Jerman ten-
tang hari-hari terakhir Hitler yang terpojok menjelang Mei 1945.
Tapi, bagi saya, yang akan lama terkenang adalah yang dilaku-
kan Magda dalam adegan di atas: sebuah kebrutalan dengan ga
ya yang anggun, sebuah keyakinan yang berapi-api yang justru
membekukan hati, sebuah penampilan harga diri yang menakut-
kan....
Apa sebenarnya yang terjadi? Sejarah memang mencatat, Hit-
ler bersama para pendukungnya yang setia, termasuk Goebb els,
bertahan di sebuah bungker ketika tentara Sovietmeringsekmaju
memasuki Berlin. Bom nyaris tak putus-putusn ya menghantam
kota yang lelah dan mencoba tak menyerah itu. Gedung dan ma-
nusia hancur. Semua usaha pertahanan Jermanbobol, semua ren-
Catatan Pinggir 7 389
http://facebook.com/indonesiapustaka MAGDA
cana, harapan dan fantasi patah. Tapi Hitler menolak untuk me-
ninggalkan ibu kotanya. Bersama Eva Braun, kekasih yang baru
dinikahinya di hari-hari akhir dalam bungker itu, ia membunuh
dirinya dengan racun dan sebutir peluru. Josef dan Magda Goe
bbelsmengikutitauladan itu.
Kita tak akan pernah tahu persis apa yang mendorong orang-
orang ini berbuat demikian. Film Der Untergang tak mencoba
menyimpulkan. Mungkin Hitler, yang naik ke pentas sejarah de-
ngan bayangan keagungan, ingin eksit dengan bayangan yang
sama. Bukankah ia telah mendirikan Reich Ketiga seraya menak-
lukkan hampir seluruh Eropa, seperti Iskandar Yang Agung dan
Napoleon menaklukkan bentangan bumi yang luas? Haruskah
ia lari terbirit-birit meninggalkan Berlin? Suatu saat Albert Speer,
arsitek kepercayaannya, berkata kepadanya, ”Jika layar turun,
Tuan harus hadir di tempat, bukan?”
Layar memang segera turun, tapi lakon belum selesai. Di tiap
akhir pementasan, ada babak yang menentukan yang tak dapat
dirancang: tepuk tangan kagum atau teriakan cemooh para pe-
nonton. Tentu saja, sang Führer ingin memilih yang pertama.
Mungkin demikian pula semua mereka yang berada di bungker
dan pada hari terakhir Reich Ketiga itu, juga Magda dan Josef
Goebbels. Mereka mungkin ingin sebuah adegan final yang akan
mendapatkan aplaus, ingin memberikan kesan terakhir yang tak
hina, dengan kebanggaan diri tertentu.
Bila benar demikian, apa yang dilakukan Magda adalah mo
delsebuah narsisisme, tapi narsisisme dalam destruksi dan kema-
tian, sebuah ambisi estetis dalam heroisme yang gelap: Eva Braun
dan Goebbels berkaca sebelum mereka membunuh diri. Dari
film Der Untergang, bungker Hitler hadir sebagai tempat yang
terkepung, dengan rasa putus asa di sana-sini, tapi praktis tanpa
ketakutan. Tak tersirat bahwa Hitler dan Goebbels menghabisi
nyawa sendiri lantaran takut akan pembalasan; tahu mereka te
390 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MAGDA
lah menjajah seluruh Eropa, membunuhi lawan politik, menge-
lola sebuah sistem pembasmian orang Yahudi dengan cara yang
keji....
Tentu, dalam film ini Hitler tak tampak sebagai Leonidas,
raja Sparta yang bertahan sampai mati bersama 1.400 orangnya
menghadapi musuh di celah Thermopylae. Diperankan oleh ak-
tor Burno Ganz, dalam Der Untergang, Hitler berwajah kendur
dan letih, satu tangannya gemetar, jalannya pelan dan bungkuk,
pikirannya penuh ilusi, teriak marahnya tak mengguntur. Goe
bbelstampak dengan raut muka pipih dan mata seorang psikopat
yang suka omong besar—meskipun menurut catatan sejarah, ia
sebenarnya cerdas dengan selera kebudayaan yang canggih, di
samping pintar dusta secara memikat.
Bagaimanapun, mereka tak seperti Saddam Hussein berpuluh
tahun kemudian yang lari, ditinggalkan para pengawaln ya, dan
tak berani melawan bahkan dengan cara membunuh diri. Dalam
heroisme mereka yang gelap, ada yang indah, dan yang indah
itu membuat batas jadi kacau antara yang ”keji” dan yang ”mu-
lia”. Magda membunuh anak-anaknya sendiri dengan keyakinan
yang dikutip Der Untergang: tanpa Nasionalisme dan Sosialisme,
baginya tak ada masa depan yang berharga dijalani. Kita tak di-
beri tahu bagaimana gerangan ”masa depan” itu; yang kita tahu:
begitu kuat iman ibu itu, hingga ia rela mengorbankan yang di-
cintainya untuk sebuah kewajiban.... Nah, apa yang membeda-
kan keyakinan Magda dengan iman Ibrahim yang rela menyem-
belih putranya sendiri di bukit Moriah?
Apa pula beda Magda yang Nazi dari para militan Revolusi
Kebudayaan Cina? Nyonya Goebbels bisa menangkis cemooh
seorang Maois seperti Alain Badiou, yang memandang Revolusi
Nazi hanya sebuah simulacrum dari revolusi sosialis di Rusia. Di
bungker itu, pengorbanan Magda justru tanda dari yang ”kese
tiaan” kepada sang ”peristiwa”, penerusan dari suatu momen
Catatan Pinggir 7 391